PENGKAJIAN KEBUTUHAN BELAJAR Pengkajian yang komprehensif tentang kebutuhan belajar dapat digali dari riwayat keperawatan dan

hasil pengkajian fisik serta melalui informasi dari orang yang dekat dengan klien. Pengkajian juga mencakup karakteristik klien yang mungkin akan mempengaruhi proses belajar, misalnya kesiapan belajar, motivasi untuk belajar, dan tingkat kemampuan membaca. Selain penggalian data melalui wawancara, perawat juga harus melakukan observasi terhadap kemampuan dan kebutuhan-kebutuhan klien. Kebutuhan belajar dapat juga diidentifikasi dari pertanyaan klien terhadap perawat tentang sesuatu hal yang tidak mereka ketahui atau tidak terampil dalam melakukannya. A. Pengkajian Faktor Predisposisi 1. Pengkajian riwayat keperawatan Informasi tentang usia akan memberi petunjuk mengenai status perkembangan seseorang, sehingga dapat memberikan arah mengenai isi pendidikan kesehatan dan pendekatan yang harus digunakan. Pertanyaan yang diajukan hendaknya sederhana. Pada klien lanjut usia (lansia), pertanyaan diajukan dengan perlahan dan diulang. Status perkembangan, terutama pada klien anak, dapat dikaji melalui observasi ketika anak melakukan aktivitas atau bermain, sehingga perawat mendapat data tentang kemampuan motorik dan perkembangan intektualnya. Persepsi klien tentang keadaan masalah kesehatannya saat ini dan bagaimana mereka menaruh perhatian terhadap masalahnya dapat memberikan informasi kepada perawat tentang seberapa jauh pengetahuan mereka mengenai masalahnya dan pengaruhnya terhadap kebiasaan aktivitas sehari-hari. Informasi

man/penpromkes

1

kepercayaan tentang agama yang dianut. Dilain pihak. yang lain mungkin belajar tidak dengan cara melihat. contohnya adalah kepercayaan tidak boleh menerima tranfusi darah. kebiasaan menangani keadaan sakit. namun demikian tidak boleh menarik asumsi bahwa setiap individu dalam suatu etnik dengan kultur tertentu mempunyai kebiasaan yang sama. Jika tidak. kebiasaan mempertahankan kesehatan. karena hal ini tidak selalu terjadi. Berbagai daerah mempunyai kepercayaan dan praktik-praktik tersendiri. tidak boleh menjadi donor organ tubuh. Bagaimana cara klien belajar adalah hal yang sangat penting untuk diketahui. Oleh karena itu. karena perencanaan pendidikan kesehatan dirancang sesuai dengan sumber-sumber yang ada pada klien agar tujuan tercapai. rancangan tidak akan sesuai dan sulit untuk dilaksanakan.ini dapat memberi petunjuk kepada perawat untuk memberi arahan yang tepat serta sumber-sumber lain yang dapat digunakan oleh klien. Cara terbaik seseorang dalam belajar mungkin dengan melihat atau menonton untuk memahami sesuatu dengan baik. Perawat sangat penting mengetahui hal tersebut. tetapi dengan cara melakukan secara actual dan menemukan bagaimana cara-cara mengerjakan sesuatu hal. Kepercayaan yang penting digali pada klien. dan peran gender merupakan faktor penting dalam mengembangkan rencana pendidikan kesehatan. Kepercayaan klien tentang kesehatan. Yang lain mungkin dapat belajar man/penpromkes 2 . perawat tetap harus mengkaji dan menilai klien secara individual. Keadaan ekonomi klien dapat berpengaruh terhadap proses belajar klien. Kepercayaan dalam budaya tersebut dapat berhubungan dengan kebiasaan makan. perawat harus mengkaji hal ini dengan baik. serta gaya hidup. Bagaimanapun. dan tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi. Cara belajar yang terbaik bagi setiap individu bervariasi.

status nutrisi. 3. Kemampuan melihat dan mendengar memberi pengaruh besar terhadap pemilihan substansi dan pendekatan dalam mengajar. misalnya man/penpromkes 3 . Perawat perlu meluangkan waktu dan memupuk keterampilan untuk mengkaji klien dan mengidentifikasi gaya belajar. Sebuah teknik akan sangat efektif untuk beberapa klien. 2. Seorang klien yang siap belajar mungkin mencari informasi. untuk kemudian mengadaptasi pendidikan kesehatan yang sesuai dengan cara-cara klien belajar. Anggota keluarga atau teman dekat mungkin dapat membantu klien dalam mengembangkan keterampilan di rumah dan mempertahankan perubahan gaya hidup yang diperlukan klien. Pengkajian fisk Pengkajian fisik secara umum dapat memberikan petunjuk terhadap kebutuhan belajar klien. Menggunakan variasi teknik mengajar dan variasi aktivitas selama mengajar adalah jalan yang baik untuk memenuhi kebutuhan gaya belajar klien.dengan baik dengan membaca sesuatu yang dipresentasikan oleh orang lain. Pengkajian Kesiapan Klien untuk Belajar Klien yang siap untuk belajar sering dapat dibedakan dengan klien yang tidak siap. sebaliknya teknik lain akan cocok untuk klien dengan gaya belajar yang berbeda. Perawat perlu mengkaji system pendukung klien untuk menentukan siapa saja sasaran pendidikan yang mungkin dapat mempertinggi dan mendorong proses belajar klien. Toleransi aktivitas juga dapat mempengaruhi kapasitas klien untuk melakukan aktivitas. kekuatan fisik. Fungsi system muskuloskelet mempengaruhi kemampuan keterampilan psikomotor dan perawatan diri. Contohnya: status mental. Hal lain yang mencakup pengkajian fisik adalah pernyataan klien tentang kapasitas fisik untuk belajar dan untuk aktivitas perawatan diri sendiri.

tukar pendapat dengan sesama klien yang pada umumnya menunjukkan ketertarikan. pengingkaran terhadap penyakit. 4. klien yang tidak siap belajar biasanya lebih suka untuk menghindari masalah atau situasi. Perawat tidak dapat memaksakan. kurangnya dorongan dari lingkungan social. Sudahkah klien dapat berhubungan dengan rasa saling percaya dengan perawat? Ataukah klien belum mau menjalin komunikasi karena masih belum menaruh rasa percaya. ketakutan. Kesiapan fisik penting di kaji oleh perawat apakah klien dapat memfokuskan perhatian atau lebih berfokus status fisiknya. lelah. Dapatkah klien berpikir secara jernih? apakah klien dalam keadaan sadar penuh. atau lain hal. apakah klien tidak dalam pengaruh zat yang mengganggu tingkat kesadaran? Pertanyaan itu sangat penting untuk dikaji. Motivasi dan memberi rangsangan atau jalan untuk belajar merupakan faktor penentu yang sangat kuat untuk kesuksesan dalam mendidik klien dan berhubungan erat dengan pemenuhan kebutuhan klien. misalnya terhadap nyeri. Dilain pihak. membaca buku atau artikel. Kesiapan emosi. pusing. kecemasan. mengantuk. Kesiapan berkomunikasi. Pengkajian Motivasi Secara umum dapat diterima bahwa seseorang harus mempunyai keinginan belajar demi keefektifan pembelajaran. Apakah secara emosi klien siap untuk belajar? Klien dalam keadaan cemas.rasa malu atau adanya man/penpromkes 4 . Motivasi seseorang dapat dipengaruhi oleh masalah keuangan. Hubungan saling percaya antara perawat dank lien menentukan komunikasi dua arah yang diperlukan dalam proses belajar mengajar. tetapi harus menunggu sampai keadaan klien memungkinkan dapat menerima proses pembelajaran. atau dalam keadaan berduka karena keadaan kesehatannya atau keadaan keluarganya biasanya tidak siap untuk belajar.melalui bertanya. depresi. Kesiapan kognitif. penolakan terhadao status kesehatan.

Motivasi memang sulit untuk dikaji. Bagaimana seorang perawat dapat menentukan tingkat kemampuan membaca klien? Melakukan pengujian secara langsung adalah cara yang terbaik. Banyak orang dengan kemampuan membaca dan menulis rendah memiliki intelegensi rata-rata dan berbicara dengan baik. pada semua suku dan pada setiap tingkat sosial ekonomi. gunakan materi bacaan yang mudah dan jika man/penpromkes 5 . Jika memungkinkan. menonton/melihat atau mendengarkan). 1. tetapi sering sulit dipraktikkan. Penampilan seseorang dan penggunaan bahasa tidak mengindikasikan bahwa ia mampu membaca dan menulis. Pengkajian tentang motivasi belajar sering merupakan bagian dari pengkajian kesehatan secara umum atau diangkat sebagai msalah yang spesifik. Jika ragu-ragu. Contohnya. mungkin dapat ditunjukka secara verbal atau juga secara nonverbal. Motivasi juga dipengaruhi oleh sikap dan kepercayaan. Mengkaji tingkat kesenangan membaca klien.konsep diri yang negatif. tawarkan kepada klien beberapa pilihan cara belajar (membaca. Berikut ini dijelaskan cara mengkaji tingkat kemampuan membaca klien. Berikan sesuatu untuk dibaca dan kemudian minta klien menjelaskan apa yang dibacanya dengan menggunakan bahasanya sendiri. Pengkajian Kemampuan Membaca Ketidakmampuan membaca dan menulis dapat ditemukan pada setiap langkah kehidupan. motivasi belajar seorang pria setengah baya yang dinyatakan hipertensi dan mulai mendapat pengobatan anti hipertensi untuk mengendalikan tekanan darahnya mungkin akan rendah jika teman dekatnya menceritakan bahwa ia impotent setelah mendapat pengobatan yang sama. Seorang perawat ketika mengkaji motivasi dan kemampuan klien harus betulbetul mengerti sepenuhnya tentang subjek belajar. a.

pilihlah 30 kalimat dalam bacaan. Berikut ini disajikan cara menentukan Tingkat Kesiapan dari pada Materi Tertulis dengan menggunakan indeks SMOG. Tulis kalimat-kalimat pendek d. Menggunakan indeks SMOG untuk mengkaji tingkat kemampuan membaca klien terhadap materi pendidikan kesehatan sehingga kemudian dapat ditentukan kesesuaian materi untuk populasi yang akan membacanya.” Untuk menurunkan tingkat bacaan dan menyederhanakan materi pendidikan kesehatan untuk klien. untuk belajar klien. kemudian jumlahkan. b. “Untuk menentukan tingkat materi bacaan. Gunakan kata-kata yang mudah dan sering digunakan Tebel Indeks SMOG Jumlah kata-kata yang mengandung 3 atau lebih suku kata 0–2 3–6 7 – 12 13 – 20 21 – 30 Tingkat bacaan 4 5 6 7 8 man/penpromkes 6 . Ambillah 10 kalimat dari bagian awal. maka lakukanlah: a. baru kemudian ditambahkan yang lebih kompleks. 10 kalimat dari tengah dan 10 kalimat dari bagian akhir bacaan. Hindari kata-kata dengan beberapa suku kata c.seseorang dalam keadaan stress sebaiknya dimulai dengan materi sederhana. Jelaskan peristilahan-peristilahan yang digunakan e. Gunakanlah kata-kata yang lebih pendek b. Hitunglah semua kata yang mengandung 3 atau lebih suku kata (Syllabes). Kemudian temukan jumlah tersebut didalam daftar dibawah ini dan baca menyilang untuk menemukan tingkat/grade bacaan/materi belajar.

Pengkajian Faktor Pemungkin 9 10 11 12 Faktor pemungkin mencakup keterampilan serta sumber daya yang penting untuk menampilkan perilaku yang sehat. Pengkajian Faktor Penguat Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Sumber penguat tersebut bergantung kepada tujuan dan jenis program. untuk menjamin bahwa sasaran pendidikan kesehatan mempunyai kesempatan yang maksimum man/penpromkes 7 . karena dengan mengetahui sejauh mana klien memiliki keterampilan pemungkin. dokter. Faktor ini juga menyangkut keterjangkauan sumber tersebut oleh klien: apakah biaya. Pengaruh itu tidak sama. ahli gizi. penguat diberikan oleh perawat. teman sebaya. mungkin sebagian mempunyai pengaruh yang sangat kuat dibandingkan dengan yang lainnya dalam mempengaruhi perubahan perilaku. pimpinan sekolah. Di dalam pendidikan kesehatan klien di rumah sakit. Sumber daya dimaksud meliputi fasilitas yang ada. ruangan yang ada. Apakah faktor penguat itu positif atau negative tergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berpengaruh. personalia yang tersedia. waktu dapat dijangkau? Bagaimana keterampilan klien untuk melakukan perubahan perilaku perlu diketahui . wawasan yang bernilai bagi perencana pendidikan kesehatan dapat diperoleh. Perawat perlu mengkaji secara cermat faktor penguat ini. atau klien lain dan keluarga. Di dalam pendidikan kesehatan di sekolah penguat mungkin berasal dari guru.31 – 42 43 – 56 57 – 72 73 – 90 B. jarak. dan keluarga. C. misalnya. atau sumber-sumber lain yang serupa.

Kurang pengetahuan: diet rendah kalori berhubungan dengan tidak punya pengalaman. permusuhan.untuk mendapat umpan balik yang mendukung selama berlangsungnya proses perubahan perilaku. 4. ketakakuratan penampilan dalam suatu uji. keterbatasan pengetahuan. keluarga. Sebagai contoh diagnosis keperawatan yang dikemukakan oleh North Americans Nursing Diagnosis Assosiation (NANDA) adalah sebagai berikut 1. kurang mengulang pelajaran. atau komunitas tidak dapat memahami. ketaksesuaian perilaku atau adanya perilaku berlebihan. misalnya hysteria. Karakteristik definisi tersebut adalah: adanya pengungkapan secara verbal tentang masalah. atau apatis. PENEGAKAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan kebutuhan belajar dikelompokkan di bawah kategori. Kurang pengetahuan: diet Diabetes Mellitus berhubungan dengan tidak familiarnya diri dengan program yang harus diikuti. 2. Defenisi Kurang Pengetahuan adalah: pernyataan pada saat individu. dan tidak dapat menunjukkan pengetahuannya tentang tindakan-tindakan keperawatan kesehatan yang penting untuk mempertahankan kesehatan (NANDA). tidak dapat belajar. Kurang Pengetahuan. tidak familiarnya klien dengan sumber informasi. Kurang pengetahuan: perawatan pra operasi berhubungan dengan belum adanya pengalaman menghadapi prosedur pembedahan. 3. Faktor-faktor yang berhubungan atau menjadi penyebab dari kurangnya pengetahuan mencakup kurangnya keterpaparan informasi. kurangnya ketertarikan dalam belajar. ketakakuratan mengikuti suatu instruksi. adanya kesalahpenafsiran. Kurang pengetahuan: efek pengobatan berhubungan dengan adanya perbedaan bahasa dan kesalahan penafsiran informasi. man/penpromkes 8 . agitasi.

3. Klien yang membantu merumuskan perencanaan pengajaran akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Melibatkan klien saat perencanaan dapat meningkatkan terciptanya perencanaan yang berguna dan merangsang motivasi klien. Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan dalam hal penyakit menular seksual dan pencegahannya. Risiko tinggi terjadinya penularan tuberculosis paru pada anggota keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam hal cara-cara dan pencegahan penularan. Risiko tinggi terjadinya injuri/rudapaksa berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam teknik penggunaan tongkat untuk berjalan. Menentukan Prioritas Pengajaran man/penpromkes 9 . 6. Kurangnya pengetahuan: Bahaya keamanan di rumah berhubungan dengan adanya penolakan terhadap penurunan kesehatan dan kurangnya ketertarikan untuk belajar. PERENCANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN Mengembangkan perencanaan pengajaran adalah menyelesaikan sejumlah langkah. 4. Kurangnya pengetahuan: penyalahgunaan zat berhubungan dengan kurangnya ketertarikan dalam mempelajari informasi.5. A. Risiko tinggi terjadinya gangguan proses menjadi orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam merawat bayi dan menyusui. 2. Sebagai contoh: 1. Cara lain untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar klien adalah menuliskan Kurang Pengetahuan sebagai etiologi atau bagian kedua dari pernyataan diagnosis keperawatan.

dan penguat. faktor predisposisi. Jika klien adalah sebuah keluarga. 1988). kelompok. Tujuan belajar yang man/penpromkes 10 . pemungkin. Salah satu yang menjadi criteria yang diprioritaskan adalah motivasi klien untuk berkonsentrasi pada kebutuhan belajar kebutuhan belajar yang telah diidentifikasikan sebagai contoh seseorang yang ingin mengetahui segala sesuatu tentang penyakit jantung koroner mungkin tidak siap untuk memepelajari bagaimana mengubah gaya hidupnya sampai pada saat ia menemukan kebutuhannya untuk belajar tentang penyakit tersebut: atau. Khusus untuk memprioritaskan pengajaran dikeluarga. seseorang yang baru dinyatakan mengidap penyakit Diabetes Mellitus akan mau mengatur diet sesuai dengan yang dianjurkan sebelum ia tahu bagaimana pengaruh diet tersebut terhadap status gula darah dan kesehatannya. Perawat juga dapat menggunakan kerangka pikir lain. Kriteria untuk memprioritaskan pengajaran di dalam komunitas antara lain adalah: kesadaran komunitas terhadap masalah. contoh lain. atau komunitas yang lebih besar. seperti hierarki kebutuhan menurut teori Maslow untuk menetapkan prioritas belajar. motivasi komunitas memecahkan masalah. Ketika menetapkan hal ini baik sekali diingat mengenai tiga ranah belajar yaitu kognitif. berat serta konsekwensi jika masalah tidak terpecahkan (Goeppinger and Shuster. B. afektif. Perawat dan klien hendaknya melakukannya secara bersama-sama. Menetapkan Tujuan Belajar Tujuan belajar yang ditetapkan dapat disamakan dengan tujuan pada proses asuhan keperawatan. dan psikomotor. skala prioritas yang dikembangkan oleh Bailon dan Maglaya (1988) dapat dipergunakan. penentuan prioritas belajar hendaknya secara lebih luas mempertimbangkan faktor lain yang telah dikaji yakni. kemampuan perawat untuk mempengaruhi pemecahan masalah.Kebutuhan belajar klien harus diurut berdasarkan prioritas.

hal yang dapat dilihat. strategi. Beberapa ketentuan umum dalam merumuskan tujuan belajar adalah sebagai berikut: 1. dan perencanaan metode evaluasi belajar. misalnya: perawat tidak mengajari klien tentang diet. Tujuan belajar dapat diobservasi. klien dapat berjalan di sekitar tempat tidur. sementara aktivitasnya dapat diukur. tetapi frekuensinya sering (kognitif). klien dapat menjelaskan alas an ia harus makan dalam porsi sedikit. Misalnya. aktivitas. Tujuan belajar dinyatakan di dalam perilaku atau penampilan yang dikehendaki. metode. Perhatikan kata-kata yang digunakan dalam membuat tujuan pada tabel berikut.dirancang dengan baik akan menuntun perencanaan tentang isi atau substansi. klien dapat menguraikan perasaan meningkatnya rasa nyaman setelah pemberian obat (afektif). contohnya: klien dapat menunjukkan atau mendemonstrasikan teknik pemberian ASI dengan benar (psikomotor). 2. Tujuan tidak dinyatakan dalam perilaku perawat. DOMAIN AFEKTIF Merubah Menjawab Menentukan Memilih Melengkapi Menyepakati Menuruti/mengikuti Mempertahankan Mendiskusikan Membantu Bekerjasama KOGNITIF Membandingkan Membedakan Menguraikan Menggambarkan Menjelaskan Mengidentifikasi Memberi tanda Mengurutkan Menjodohkan Menamakan Menyiapkan PSIKOMOTOR Beradaptasi Memulai Merangkai Menghitung Mengalikan Merubah Membangun Menciptakan Mendemonstrasikan Memanipulasi Mengukur man/penpromkes 11 .

Contohnya: Klien akan menyebutkan tiga hal yang mempengaruhi kadar gula darah. Memilih Strategi Belajar man/penpromkes 12 . terbaru. Sumber yang dipilih hendaknya: akurat. Memilih Substansi (Isi Materi) Isi pembelajaran sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai. atau dengan kata lain. dan kemampuan. didasarkan atas tujuan belajar. kapan. jurnal keperawatan. 4. Dalam tujuan harus terkandung kondisi yang diinginkan untuk mengklarifikasi dimana. Dalam tujuan harus tercakup criteria waktu yang spesifik. C. Pengetahuan yang dibutuhkan perawat dapat diperoleh melalui pendidikan. dan perawat lain atau dokter atau anggota tim pelayanan kesehatan lain.Merencanakan Meletakkan kembali Menyatakan kembali Memecahkan Merangkum Menggaris bawahi Menulis Berpartisipasi Merespon Memperbaiki Memverifikasi Menggerakkan Mengorganisir Bereaksi Menunjukkan Mengerjakan 3. Pada akhir diskusi kedua. buku. serta dipilih dengan mempertimbangkan waktu dan sumber daya yang kungkin untuk mengajar. disesuaikan dengan usia klien. D. atau bagaimana perilaku ditampilkan. konsistensi. klien dapat mendemonstrasikan injeksi insulin sendiri dalam dosis dan cara yang benar sebelum pasien dipulangkan. informasi yang dibutuhkan mencapai tujuan dengan baik harus diseleksi dari berbagai sumber informasi. Contohnya klien dapat berjalan dari ujung tempat tidur ke ujung lainnya tanpa menggunakan tongkat pembantu. budaya.

dan cocok dengan pengajar dan berbagai faktor lain perlu dipertimbangkan. Alat Bantu mengajar sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai. tetapi yang lain dapat dengan mudah dicapai dengan diskusi kelompok. Membuat Rencana Evaluasi man/penpromkes 13 . tujuan akan lebih mudah dicapai dengan diskusi kelompok dengan klien lain yang mempunyai perasaan yang sama. diskusi kelompok tidak mungkin diadakan. tetapi bukan suatu pengganti untuk berhubungan dengan manusia. Alat Bantu mengajar membantu belajar. cocok dengan materi yang dipelajari. E. F. Di lain pihak jika tujuan belajarnya adalah “Klien dapat mendiskusikan perasaannya tentang bagaimana kembali ke rumah sesudah mengalami serangan jantung”. Memilih Alat Bantu Mengajar Alat bantu mengajar telah dibahas pada bab sebelumnya. jika tujuan belajarnya adalah: “Klien dapat mengganti balutan pada kakinya dengan teknik steril”. lihat kembali kegunaan dan kecocokan penggunaan alat bantu pada pembahasan sebelumnya. Oleh karena itu. Sebagai contoh. Beberapa tujuan belajar mungkin dapat dicapai dengan mudah melalui tatap muka satu persatu antara perawat dengan klien. Metode yang cocok untuk itu adalah metode privat yang disarankan oleh perawat.Memilih metode mengajar hendaknya cocok untuk individu. itu pilihlah alat Bantu secara hati-hati. Alat ini baik sekali digunakan untuk menambah atau menguatkan mengajar dengan strategi tatap muka.

Evaluasi dapat dibedakan: 1.Rencana evaluasi harus disebutkan dalam perencanaan kegiatan pendidikan kesehatan. yakni menilai langkah-langkah yang telah dijadwalkan dalam perencanaan. 2. misalnya waktu dan sasaran yang akan dievaluasi. Misalnya terjadinya perubahan pengetahuan. tempat. dan tindakannya. apakah sesuai atau terjadi perubahan dalam pelaksanaannya. Misalnya tentang jadwal waktu. DAFTAR PUSTAKA man/penpromkes 14 . Evaluasi pendidikan kesehatan. dan indikator apa yang akan dipakai dalam evaluasi itu. Evaluasi hasil kegiatan. yakni sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dengan pendidikan kesehatan yang dimaksud. dan alat bantu peraga. sikap.

(2002). Rineka Cipta.. Strategi Belajar Mengajar. Syaiful BD. Jakarta. man/penpromkes 15 . (2002).1. Daftar Acuan : Suliha. Aswan Z.. Buku Kedokteran-EGC. G. et. Al. Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan. Jakarta 2.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.