PENGKAJIAN KEBUTUHAN BELAJAR Pengkajian yang komprehensif tentang kebutuhan belajar dapat digali dari riwayat keperawatan dan

hasil pengkajian fisik serta melalui informasi dari orang yang dekat dengan klien. Pengkajian juga mencakup karakteristik klien yang mungkin akan mempengaruhi proses belajar, misalnya kesiapan belajar, motivasi untuk belajar, dan tingkat kemampuan membaca. Selain penggalian data melalui wawancara, perawat juga harus melakukan observasi terhadap kemampuan dan kebutuhan-kebutuhan klien. Kebutuhan belajar dapat juga diidentifikasi dari pertanyaan klien terhadap perawat tentang sesuatu hal yang tidak mereka ketahui atau tidak terampil dalam melakukannya. A. Pengkajian Faktor Predisposisi 1. Pengkajian riwayat keperawatan Informasi tentang usia akan memberi petunjuk mengenai status perkembangan seseorang, sehingga dapat memberikan arah mengenai isi pendidikan kesehatan dan pendekatan yang harus digunakan. Pertanyaan yang diajukan hendaknya sederhana. Pada klien lanjut usia (lansia), pertanyaan diajukan dengan perlahan dan diulang. Status perkembangan, terutama pada klien anak, dapat dikaji melalui observasi ketika anak melakukan aktivitas atau bermain, sehingga perawat mendapat data tentang kemampuan motorik dan perkembangan intektualnya. Persepsi klien tentang keadaan masalah kesehatannya saat ini dan bagaimana mereka menaruh perhatian terhadap masalahnya dapat memberikan informasi kepada perawat tentang seberapa jauh pengetahuan mereka mengenai masalahnya dan pengaruhnya terhadap kebiasaan aktivitas sehari-hari. Informasi

man/penpromkes

1

namun demikian tidak boleh menarik asumsi bahwa setiap individu dalam suatu etnik dengan kultur tertentu mempunyai kebiasaan yang sama. kebiasaan mempertahankan kesehatan. Jika tidak. tetapi dengan cara melakukan secara actual dan menemukan bagaimana cara-cara mengerjakan sesuatu hal. Kepercayaan dalam budaya tersebut dapat berhubungan dengan kebiasaan makan. Cara belajar yang terbaik bagi setiap individu bervariasi. Kepercayaan klien tentang kesehatan. Yang lain mungkin dapat belajar man/penpromkes 2 . dan tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi. serta gaya hidup. perawat tetap harus mengkaji dan menilai klien secara individual. Keadaan ekonomi klien dapat berpengaruh terhadap proses belajar klien. rancangan tidak akan sesuai dan sulit untuk dilaksanakan. Berbagai daerah mempunyai kepercayaan dan praktik-praktik tersendiri. Dilain pihak. Perawat sangat penting mengetahui hal tersebut. contohnya adalah kepercayaan tidak boleh menerima tranfusi darah. karena perencanaan pendidikan kesehatan dirancang sesuai dengan sumber-sumber yang ada pada klien agar tujuan tercapai. yang lain mungkin belajar tidak dengan cara melihat.ini dapat memberi petunjuk kepada perawat untuk memberi arahan yang tepat serta sumber-sumber lain yang dapat digunakan oleh klien. tidak boleh menjadi donor organ tubuh. Cara terbaik seseorang dalam belajar mungkin dengan melihat atau menonton untuk memahami sesuatu dengan baik. kepercayaan tentang agama yang dianut. Kepercayaan yang penting digali pada klien. Bagaimanapun. dan peran gender merupakan faktor penting dalam mengembangkan rencana pendidikan kesehatan. Bagaimana cara klien belajar adalah hal yang sangat penting untuk diketahui. Oleh karena itu. karena hal ini tidak selalu terjadi. kebiasaan menangani keadaan sakit. perawat harus mengkaji hal ini dengan baik.

Pengkajian fisk Pengkajian fisik secara umum dapat memberikan petunjuk terhadap kebutuhan belajar klien. Fungsi system muskuloskelet mempengaruhi kemampuan keterampilan psikomotor dan perawatan diri. Kemampuan melihat dan mendengar memberi pengaruh besar terhadap pemilihan substansi dan pendekatan dalam mengajar. Anggota keluarga atau teman dekat mungkin dapat membantu klien dalam mengembangkan keterampilan di rumah dan mempertahankan perubahan gaya hidup yang diperlukan klien. Seorang klien yang siap belajar mungkin mencari informasi. Pengkajian Kesiapan Klien untuk Belajar Klien yang siap untuk belajar sering dapat dibedakan dengan klien yang tidak siap. Sebuah teknik akan sangat efektif untuk beberapa klien. Hal lain yang mencakup pengkajian fisik adalah pernyataan klien tentang kapasitas fisik untuk belajar dan untuk aktivitas perawatan diri sendiri. 3. status nutrisi. Toleransi aktivitas juga dapat mempengaruhi kapasitas klien untuk melakukan aktivitas. misalnya man/penpromkes 3 . Contohnya: status mental. Perawat perlu meluangkan waktu dan memupuk keterampilan untuk mengkaji klien dan mengidentifikasi gaya belajar. Menggunakan variasi teknik mengajar dan variasi aktivitas selama mengajar adalah jalan yang baik untuk memenuhi kebutuhan gaya belajar klien. 2. sebaliknya teknik lain akan cocok untuk klien dengan gaya belajar yang berbeda. Perawat perlu mengkaji system pendukung klien untuk menentukan siapa saja sasaran pendidikan yang mungkin dapat mempertinggi dan mendorong proses belajar klien. untuk kemudian mengadaptasi pendidikan kesehatan yang sesuai dengan cara-cara klien belajar.dengan baik dengan membaca sesuatu yang dipresentasikan oleh orang lain. kekuatan fisik.

kecemasan. membaca buku atau artikel. Kesiapan fisik penting di kaji oleh perawat apakah klien dapat memfokuskan perhatian atau lebih berfokus status fisiknya. mengantuk. Motivasi seseorang dapat dipengaruhi oleh masalah keuangan. Kesiapan emosi. atau lain hal. Sudahkah klien dapat berhubungan dengan rasa saling percaya dengan perawat? Ataukah klien belum mau menjalin komunikasi karena masih belum menaruh rasa percaya. tetapi harus menunggu sampai keadaan klien memungkinkan dapat menerima proses pembelajaran. Apakah secara emosi klien siap untuk belajar? Klien dalam keadaan cemas. klien yang tidak siap belajar biasanya lebih suka untuk menghindari masalah atau situasi. apakah klien tidak dalam pengaruh zat yang mengganggu tingkat kesadaran? Pertanyaan itu sangat penting untuk dikaji. atau dalam keadaan berduka karena keadaan kesehatannya atau keadaan keluarganya biasanya tidak siap untuk belajar. Dilain pihak.rasa malu atau adanya man/penpromkes 4 . Hubungan saling percaya antara perawat dank lien menentukan komunikasi dua arah yang diperlukan dalam proses belajar mengajar. Kesiapan berkomunikasi. Perawat tidak dapat memaksakan.melalui bertanya. depresi. pusing. ketakutan. misalnya terhadap nyeri. pengingkaran terhadap penyakit. penolakan terhadao status kesehatan. tukar pendapat dengan sesama klien yang pada umumnya menunjukkan ketertarikan. Motivasi dan memberi rangsangan atau jalan untuk belajar merupakan faktor penentu yang sangat kuat untuk kesuksesan dalam mendidik klien dan berhubungan erat dengan pemenuhan kebutuhan klien. 4. Pengkajian Motivasi Secara umum dapat diterima bahwa seseorang harus mempunyai keinginan belajar demi keefektifan pembelajaran. Kesiapan kognitif. lelah. Dapatkah klien berpikir secara jernih? apakah klien dalam keadaan sadar penuh. kurangnya dorongan dari lingkungan social.

Seorang perawat ketika mengkaji motivasi dan kemampuan klien harus betulbetul mengerti sepenuhnya tentang subjek belajar. Mengkaji tingkat kesenangan membaca klien. Motivasi juga dipengaruhi oleh sikap dan kepercayaan. Berikut ini dijelaskan cara mengkaji tingkat kemampuan membaca klien. Contohnya. Berikan sesuatu untuk dibaca dan kemudian minta klien menjelaskan apa yang dibacanya dengan menggunakan bahasanya sendiri. Jika ragu-ragu. Penampilan seseorang dan penggunaan bahasa tidak mengindikasikan bahwa ia mampu membaca dan menulis. a. tetapi sering sulit dipraktikkan. 1. gunakan materi bacaan yang mudah dan jika man/penpromkes 5 . Motivasi memang sulit untuk dikaji. tawarkan kepada klien beberapa pilihan cara belajar (membaca. pada semua suku dan pada setiap tingkat sosial ekonomi. motivasi belajar seorang pria setengah baya yang dinyatakan hipertensi dan mulai mendapat pengobatan anti hipertensi untuk mengendalikan tekanan darahnya mungkin akan rendah jika teman dekatnya menceritakan bahwa ia impotent setelah mendapat pengobatan yang sama. menonton/melihat atau mendengarkan).konsep diri yang negatif. mungkin dapat ditunjukka secara verbal atau juga secara nonverbal. Banyak orang dengan kemampuan membaca dan menulis rendah memiliki intelegensi rata-rata dan berbicara dengan baik. Pengkajian tentang motivasi belajar sering merupakan bagian dari pengkajian kesehatan secara umum atau diangkat sebagai msalah yang spesifik. Bagaimana seorang perawat dapat menentukan tingkat kemampuan membaca klien? Melakukan pengujian secara langsung adalah cara yang terbaik. Jika memungkinkan. Pengkajian Kemampuan Membaca Ketidakmampuan membaca dan menulis dapat ditemukan pada setiap langkah kehidupan.

“Untuk menentukan tingkat materi bacaan. untuk belajar klien. kemudian jumlahkan. Tulis kalimat-kalimat pendek d. 10 kalimat dari tengah dan 10 kalimat dari bagian akhir bacaan. b. Kemudian temukan jumlah tersebut didalam daftar dibawah ini dan baca menyilang untuk menemukan tingkat/grade bacaan/materi belajar.” Untuk menurunkan tingkat bacaan dan menyederhanakan materi pendidikan kesehatan untuk klien. Hitunglah semua kata yang mengandung 3 atau lebih suku kata (Syllabes). Gunakanlah kata-kata yang lebih pendek b. Ambillah 10 kalimat dari bagian awal. Jelaskan peristilahan-peristilahan yang digunakan e. Gunakan kata-kata yang mudah dan sering digunakan Tebel Indeks SMOG Jumlah kata-kata yang mengandung 3 atau lebih suku kata 0–2 3–6 7 – 12 13 – 20 21 – 30 Tingkat bacaan 4 5 6 7 8 man/penpromkes 6 . Hindari kata-kata dengan beberapa suku kata c.seseorang dalam keadaan stress sebaiknya dimulai dengan materi sederhana. Menggunakan indeks SMOG untuk mengkaji tingkat kemampuan membaca klien terhadap materi pendidikan kesehatan sehingga kemudian dapat ditentukan kesesuaian materi untuk populasi yang akan membacanya. baru kemudian ditambahkan yang lebih kompleks. Berikut ini disajikan cara menentukan Tingkat Kesiapan dari pada Materi Tertulis dengan menggunakan indeks SMOG. maka lakukanlah: a. pilihlah 30 kalimat dalam bacaan.

Sumber daya dimaksud meliputi fasilitas yang ada. atau sumber-sumber lain yang serupa. mungkin sebagian mempunyai pengaruh yang sangat kuat dibandingkan dengan yang lainnya dalam mempengaruhi perubahan perilaku. Di dalam pendidikan kesehatan di sekolah penguat mungkin berasal dari guru. untuk menjamin bahwa sasaran pendidikan kesehatan mempunyai kesempatan yang maksimum man/penpromkes 7 . teman sebaya. dokter. personalia yang tersedia. Pengkajian Faktor Pemungkin 9 10 11 12 Faktor pemungkin mencakup keterampilan serta sumber daya yang penting untuk menampilkan perilaku yang sehat. karena dengan mengetahui sejauh mana klien memiliki keterampilan pemungkin. ahli gizi. atau klien lain dan keluarga. C. Faktor ini juga menyangkut keterjangkauan sumber tersebut oleh klien: apakah biaya. pimpinan sekolah.31 – 42 43 – 56 57 – 72 73 – 90 B. Di dalam pendidikan kesehatan klien di rumah sakit. Sumber penguat tersebut bergantung kepada tujuan dan jenis program. jarak. Perawat perlu mengkaji secara cermat faktor penguat ini. wawasan yang bernilai bagi perencana pendidikan kesehatan dapat diperoleh. Pengkajian Faktor Penguat Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. ruangan yang ada. dan keluarga. waktu dapat dijangkau? Bagaimana keterampilan klien untuk melakukan perubahan perilaku perlu diketahui . misalnya. penguat diberikan oleh perawat. Pengaruh itu tidak sama. Apakah faktor penguat itu positif atau negative tergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berpengaruh.

keluarga. PENEGAKAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan kebutuhan belajar dikelompokkan di bawah kategori. ketaksesuaian perilaku atau adanya perilaku berlebihan. 2. permusuhan. Kurang pengetahuan: diet rendah kalori berhubungan dengan tidak punya pengalaman. agitasi. kurang mengulang pelajaran. Faktor-faktor yang berhubungan atau menjadi penyebab dari kurangnya pengetahuan mencakup kurangnya keterpaparan informasi. Kurang pengetahuan: efek pengobatan berhubungan dengan adanya perbedaan bahasa dan kesalahan penafsiran informasi. 4. keterbatasan pengetahuan. atau komunitas tidak dapat memahami. Karakteristik definisi tersebut adalah: adanya pengungkapan secara verbal tentang masalah. tidak dapat belajar. ketakakuratan penampilan dalam suatu uji. man/penpromkes 8 . adanya kesalahpenafsiran. Sebagai contoh diagnosis keperawatan yang dikemukakan oleh North Americans Nursing Diagnosis Assosiation (NANDA) adalah sebagai berikut 1. 3. Kurang Pengetahuan. Kurang pengetahuan: perawatan pra operasi berhubungan dengan belum adanya pengalaman menghadapi prosedur pembedahan. Kurang pengetahuan: diet Diabetes Mellitus berhubungan dengan tidak familiarnya diri dengan program yang harus diikuti.untuk mendapat umpan balik yang mendukung selama berlangsungnya proses perubahan perilaku. Defenisi Kurang Pengetahuan adalah: pernyataan pada saat individu. atau apatis. ketakakuratan mengikuti suatu instruksi. tidak familiarnya klien dengan sumber informasi. dan tidak dapat menunjukkan pengetahuannya tentang tindakan-tindakan keperawatan kesehatan yang penting untuk mempertahankan kesehatan (NANDA). kurangnya ketertarikan dalam belajar. misalnya hysteria.

4. 2. Kurangnya pengetahuan: penyalahgunaan zat berhubungan dengan kurangnya ketertarikan dalam mempelajari informasi. Menentukan Prioritas Pengajaran man/penpromkes 9 . Risiko tinggi terjadinya penularan tuberculosis paru pada anggota keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam hal cara-cara dan pencegahan penularan. Melibatkan klien saat perencanaan dapat meningkatkan terciptanya perencanaan yang berguna dan merangsang motivasi klien.5. Cara lain untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar klien adalah menuliskan Kurang Pengetahuan sebagai etiologi atau bagian kedua dari pernyataan diagnosis keperawatan. Klien yang membantu merumuskan perencanaan pengajaran akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Risiko tinggi terjadinya gangguan proses menjadi orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam merawat bayi dan menyusui. 6. PERENCANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN Mengembangkan perencanaan pengajaran adalah menyelesaikan sejumlah langkah. Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan dalam hal penyakit menular seksual dan pencegahannya. Sebagai contoh: 1. A. Risiko tinggi terjadinya injuri/rudapaksa berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam teknik penggunaan tongkat untuk berjalan. 3. Kurangnya pengetahuan: Bahaya keamanan di rumah berhubungan dengan adanya penolakan terhadap penurunan kesehatan dan kurangnya ketertarikan untuk belajar.

dan penguat. B. Salah satu yang menjadi criteria yang diprioritaskan adalah motivasi klien untuk berkonsentrasi pada kebutuhan belajar kebutuhan belajar yang telah diidentifikasikan sebagai contoh seseorang yang ingin mengetahui segala sesuatu tentang penyakit jantung koroner mungkin tidak siap untuk memepelajari bagaimana mengubah gaya hidupnya sampai pada saat ia menemukan kebutuhannya untuk belajar tentang penyakit tersebut: atau. atau komunitas yang lebih besar. contoh lain. dan psikomotor. Perawat dan klien hendaknya melakukannya secara bersama-sama.Kebutuhan belajar klien harus diurut berdasarkan prioritas. Jika klien adalah sebuah keluarga. berat serta konsekwensi jika masalah tidak terpecahkan (Goeppinger and Shuster. skala prioritas yang dikembangkan oleh Bailon dan Maglaya (1988) dapat dipergunakan. Menetapkan Tujuan Belajar Tujuan belajar yang ditetapkan dapat disamakan dengan tujuan pada proses asuhan keperawatan. Khusus untuk memprioritaskan pengajaran dikeluarga. seperti hierarki kebutuhan menurut teori Maslow untuk menetapkan prioritas belajar. kemampuan perawat untuk mempengaruhi pemecahan masalah. Perawat juga dapat menggunakan kerangka pikir lain. kelompok. Tujuan belajar yang man/penpromkes 10 . 1988). faktor predisposisi. penentuan prioritas belajar hendaknya secara lebih luas mempertimbangkan faktor lain yang telah dikaji yakni. motivasi komunitas memecahkan masalah. seseorang yang baru dinyatakan mengidap penyakit Diabetes Mellitus akan mau mengatur diet sesuai dengan yang dianjurkan sebelum ia tahu bagaimana pengaruh diet tersebut terhadap status gula darah dan kesehatannya. Kriteria untuk memprioritaskan pengajaran di dalam komunitas antara lain adalah: kesadaran komunitas terhadap masalah. afektif. Ketika menetapkan hal ini baik sekali diingat mengenai tiga ranah belajar yaitu kognitif. pemungkin.

metode. DOMAIN AFEKTIF Merubah Menjawab Menentukan Memilih Melengkapi Menyepakati Menuruti/mengikuti Mempertahankan Mendiskusikan Membantu Bekerjasama KOGNITIF Membandingkan Membedakan Menguraikan Menggambarkan Menjelaskan Mengidentifikasi Memberi tanda Mengurutkan Menjodohkan Menamakan Menyiapkan PSIKOMOTOR Beradaptasi Memulai Merangkai Menghitung Mengalikan Merubah Membangun Menciptakan Mendemonstrasikan Memanipulasi Mengukur man/penpromkes 11 . Beberapa ketentuan umum dalam merumuskan tujuan belajar adalah sebagai berikut: 1. 2. klien dapat menjelaskan alas an ia harus makan dalam porsi sedikit. aktivitas. misalnya: perawat tidak mengajari klien tentang diet. hal yang dapat dilihat. Perhatikan kata-kata yang digunakan dalam membuat tujuan pada tabel berikut. dan perencanaan metode evaluasi belajar.dirancang dengan baik akan menuntun perencanaan tentang isi atau substansi. klien dapat menguraikan perasaan meningkatnya rasa nyaman setelah pemberian obat (afektif). Tujuan belajar dinyatakan di dalam perilaku atau penampilan yang dikehendaki. Misalnya. tetapi frekuensinya sering (kognitif). klien dapat berjalan di sekitar tempat tidur. Tujuan belajar dapat diobservasi. sementara aktivitasnya dapat diukur. contohnya: klien dapat menunjukkan atau mendemonstrasikan teknik pemberian ASI dengan benar (psikomotor). strategi. Tujuan tidak dinyatakan dalam perilaku perawat.

Pada akhir diskusi kedua. C. dan perawat lain atau dokter atau anggota tim pelayanan kesehatan lain. konsistensi. disesuaikan dengan usia klien. D. Contohnya klien dapat berjalan dari ujung tempat tidur ke ujung lainnya tanpa menggunakan tongkat pembantu. Dalam tujuan harus tercakup criteria waktu yang spesifik. dan kemampuan. atau bagaimana perilaku ditampilkan. klien dapat mendemonstrasikan injeksi insulin sendiri dalam dosis dan cara yang benar sebelum pasien dipulangkan.Merencanakan Meletakkan kembali Menyatakan kembali Memecahkan Merangkum Menggaris bawahi Menulis Berpartisipasi Merespon Memperbaiki Memverifikasi Menggerakkan Mengorganisir Bereaksi Menunjukkan Mengerjakan 3. kapan. informasi yang dibutuhkan mencapai tujuan dengan baik harus diseleksi dari berbagai sumber informasi. didasarkan atas tujuan belajar. budaya. jurnal keperawatan. serta dipilih dengan mempertimbangkan waktu dan sumber daya yang kungkin untuk mengajar. 4. Dalam tujuan harus terkandung kondisi yang diinginkan untuk mengklarifikasi dimana. atau dengan kata lain. Memilih Substansi (Isi Materi) Isi pembelajaran sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai. Memilih Strategi Belajar man/penpromkes 12 . terbaru. Pengetahuan yang dibutuhkan perawat dapat diperoleh melalui pendidikan. buku. Contohnya: Klien akan menyebutkan tiga hal yang mempengaruhi kadar gula darah. Sumber yang dipilih hendaknya: akurat.

tujuan akan lebih mudah dicapai dengan diskusi kelompok dengan klien lain yang mempunyai perasaan yang sama. E. Alat Bantu mengajar membantu belajar. Alat Bantu mengajar sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai. Sebagai contoh. diskusi kelompok tidak mungkin diadakan. Beberapa tujuan belajar mungkin dapat dicapai dengan mudah melalui tatap muka satu persatu antara perawat dengan klien.Memilih metode mengajar hendaknya cocok untuk individu. lihat kembali kegunaan dan kecocokan penggunaan alat bantu pada pembahasan sebelumnya. Oleh karena itu. tetapi yang lain dapat dengan mudah dicapai dengan diskusi kelompok. Memilih Alat Bantu Mengajar Alat bantu mengajar telah dibahas pada bab sebelumnya. tetapi bukan suatu pengganti untuk berhubungan dengan manusia. jika tujuan belajarnya adalah: “Klien dapat mengganti balutan pada kakinya dengan teknik steril”. cocok dengan materi yang dipelajari. Alat ini baik sekali digunakan untuk menambah atau menguatkan mengajar dengan strategi tatap muka. Di lain pihak jika tujuan belajarnya adalah “Klien dapat mendiskusikan perasaannya tentang bagaimana kembali ke rumah sesudah mengalami serangan jantung”. dan cocok dengan pengajar dan berbagai faktor lain perlu dipertimbangkan. Membuat Rencana Evaluasi man/penpromkes 13 . Metode yang cocok untuk itu adalah metode privat yang disarankan oleh perawat. F. itu pilihlah alat Bantu secara hati-hati.

Misalnya tentang jadwal waktu. dan indikator apa yang akan dipakai dalam evaluasi itu. yakni sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dengan pendidikan kesehatan yang dimaksud. sikap. 2. dan alat bantu peraga. Evaluasi hasil kegiatan. Evaluasi dapat dibedakan: 1. Misalnya terjadinya perubahan pengetahuan. tempat.Rencana evaluasi harus disebutkan dalam perencanaan kegiatan pendidikan kesehatan. apakah sesuai atau terjadi perubahan dalam pelaksanaannya. Evaluasi pendidikan kesehatan. DAFTAR PUSTAKA man/penpromkes 14 . dan tindakannya. misalnya waktu dan sasaran yang akan dievaluasi. yakni menilai langkah-langkah yang telah dijadwalkan dalam perencanaan.

G. (2002). (2002). Al. Rineka Cipta. Strategi Belajar Mengajar. Syaiful BD. Jakarta...1. Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan. et. man/penpromkes 15 . Buku Kedokteran-EGC. Daftar Acuan : Suliha. Aswan Z. Jakarta 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful