PENGKAJIAN KEBUTUHAN BELAJAR Pengkajian yang komprehensif tentang kebutuhan belajar dapat digali dari riwayat keperawatan dan

hasil pengkajian fisik serta melalui informasi dari orang yang dekat dengan klien. Pengkajian juga mencakup karakteristik klien yang mungkin akan mempengaruhi proses belajar, misalnya kesiapan belajar, motivasi untuk belajar, dan tingkat kemampuan membaca. Selain penggalian data melalui wawancara, perawat juga harus melakukan observasi terhadap kemampuan dan kebutuhan-kebutuhan klien. Kebutuhan belajar dapat juga diidentifikasi dari pertanyaan klien terhadap perawat tentang sesuatu hal yang tidak mereka ketahui atau tidak terampil dalam melakukannya. A. Pengkajian Faktor Predisposisi 1. Pengkajian riwayat keperawatan Informasi tentang usia akan memberi petunjuk mengenai status perkembangan seseorang, sehingga dapat memberikan arah mengenai isi pendidikan kesehatan dan pendekatan yang harus digunakan. Pertanyaan yang diajukan hendaknya sederhana. Pada klien lanjut usia (lansia), pertanyaan diajukan dengan perlahan dan diulang. Status perkembangan, terutama pada klien anak, dapat dikaji melalui observasi ketika anak melakukan aktivitas atau bermain, sehingga perawat mendapat data tentang kemampuan motorik dan perkembangan intektualnya. Persepsi klien tentang keadaan masalah kesehatannya saat ini dan bagaimana mereka menaruh perhatian terhadap masalahnya dapat memberikan informasi kepada perawat tentang seberapa jauh pengetahuan mereka mengenai masalahnya dan pengaruhnya terhadap kebiasaan aktivitas sehari-hari. Informasi

man/penpromkes

1

perawat harus mengkaji hal ini dengan baik. Kepercayaan klien tentang kesehatan. karena hal ini tidak selalu terjadi. Kepercayaan yang penting digali pada klien. kepercayaan tentang agama yang dianut. perawat tetap harus mengkaji dan menilai klien secara individual. Cara belajar yang terbaik bagi setiap individu bervariasi.ini dapat memberi petunjuk kepada perawat untuk memberi arahan yang tepat serta sumber-sumber lain yang dapat digunakan oleh klien. Kepercayaan dalam budaya tersebut dapat berhubungan dengan kebiasaan makan. Dilain pihak. Jika tidak. kebiasaan mempertahankan kesehatan. Perawat sangat penting mengetahui hal tersebut. tetapi dengan cara melakukan secara actual dan menemukan bagaimana cara-cara mengerjakan sesuatu hal. Yang lain mungkin dapat belajar man/penpromkes 2 . dan peran gender merupakan faktor penting dalam mengembangkan rencana pendidikan kesehatan. Bagaimanapun. serta gaya hidup. dan tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi. rancangan tidak akan sesuai dan sulit untuk dilaksanakan. tidak boleh menjadi donor organ tubuh. namun demikian tidak boleh menarik asumsi bahwa setiap individu dalam suatu etnik dengan kultur tertentu mempunyai kebiasaan yang sama. contohnya adalah kepercayaan tidak boleh menerima tranfusi darah. Oleh karena itu. Berbagai daerah mempunyai kepercayaan dan praktik-praktik tersendiri. yang lain mungkin belajar tidak dengan cara melihat. karena perencanaan pendidikan kesehatan dirancang sesuai dengan sumber-sumber yang ada pada klien agar tujuan tercapai. kebiasaan menangani keadaan sakit. Cara terbaik seseorang dalam belajar mungkin dengan melihat atau menonton untuk memahami sesuatu dengan baik. Bagaimana cara klien belajar adalah hal yang sangat penting untuk diketahui. Keadaan ekonomi klien dapat berpengaruh terhadap proses belajar klien.

Fungsi system muskuloskelet mempengaruhi kemampuan keterampilan psikomotor dan perawatan diri. status nutrisi.dengan baik dengan membaca sesuatu yang dipresentasikan oleh orang lain. kekuatan fisik. sebaliknya teknik lain akan cocok untuk klien dengan gaya belajar yang berbeda. Pengkajian fisk Pengkajian fisik secara umum dapat memberikan petunjuk terhadap kebutuhan belajar klien. Seorang klien yang siap belajar mungkin mencari informasi. Hal lain yang mencakup pengkajian fisik adalah pernyataan klien tentang kapasitas fisik untuk belajar dan untuk aktivitas perawatan diri sendiri. Toleransi aktivitas juga dapat mempengaruhi kapasitas klien untuk melakukan aktivitas. Perawat perlu mengkaji system pendukung klien untuk menentukan siapa saja sasaran pendidikan yang mungkin dapat mempertinggi dan mendorong proses belajar klien. Anggota keluarga atau teman dekat mungkin dapat membantu klien dalam mengembangkan keterampilan di rumah dan mempertahankan perubahan gaya hidup yang diperlukan klien. Contohnya: status mental. untuk kemudian mengadaptasi pendidikan kesehatan yang sesuai dengan cara-cara klien belajar. Perawat perlu meluangkan waktu dan memupuk keterampilan untuk mengkaji klien dan mengidentifikasi gaya belajar. Sebuah teknik akan sangat efektif untuk beberapa klien. misalnya man/penpromkes 3 . Kemampuan melihat dan mendengar memberi pengaruh besar terhadap pemilihan substansi dan pendekatan dalam mengajar. Pengkajian Kesiapan Klien untuk Belajar Klien yang siap untuk belajar sering dapat dibedakan dengan klien yang tidak siap. Menggunakan variasi teknik mengajar dan variasi aktivitas selama mengajar adalah jalan yang baik untuk memenuhi kebutuhan gaya belajar klien. 2. 3.

depresi. membaca buku atau artikel. Apakah secara emosi klien siap untuk belajar? Klien dalam keadaan cemas. tukar pendapat dengan sesama klien yang pada umumnya menunjukkan ketertarikan.rasa malu atau adanya man/penpromkes 4 . Kesiapan fisik penting di kaji oleh perawat apakah klien dapat memfokuskan perhatian atau lebih berfokus status fisiknya. atau lain hal. pusing. atau dalam keadaan berduka karena keadaan kesehatannya atau keadaan keluarganya biasanya tidak siap untuk belajar. lelah. apakah klien tidak dalam pengaruh zat yang mengganggu tingkat kesadaran? Pertanyaan itu sangat penting untuk dikaji. kecemasan. Kesiapan kognitif. Hubungan saling percaya antara perawat dank lien menentukan komunikasi dua arah yang diperlukan dalam proses belajar mengajar. klien yang tidak siap belajar biasanya lebih suka untuk menghindari masalah atau situasi. tetapi harus menunggu sampai keadaan klien memungkinkan dapat menerima proses pembelajaran. mengantuk. Motivasi seseorang dapat dipengaruhi oleh masalah keuangan. Sudahkah klien dapat berhubungan dengan rasa saling percaya dengan perawat? Ataukah klien belum mau menjalin komunikasi karena masih belum menaruh rasa percaya. Dapatkah klien berpikir secara jernih? apakah klien dalam keadaan sadar penuh.melalui bertanya. pengingkaran terhadap penyakit. 4. Motivasi dan memberi rangsangan atau jalan untuk belajar merupakan faktor penentu yang sangat kuat untuk kesuksesan dalam mendidik klien dan berhubungan erat dengan pemenuhan kebutuhan klien. penolakan terhadao status kesehatan. Dilain pihak. Pengkajian Motivasi Secara umum dapat diterima bahwa seseorang harus mempunyai keinginan belajar demi keefektifan pembelajaran. kurangnya dorongan dari lingkungan social. Kesiapan emosi. Kesiapan berkomunikasi. ketakutan. misalnya terhadap nyeri. Perawat tidak dapat memaksakan.

Banyak orang dengan kemampuan membaca dan menulis rendah memiliki intelegensi rata-rata dan berbicara dengan baik. motivasi belajar seorang pria setengah baya yang dinyatakan hipertensi dan mulai mendapat pengobatan anti hipertensi untuk mengendalikan tekanan darahnya mungkin akan rendah jika teman dekatnya menceritakan bahwa ia impotent setelah mendapat pengobatan yang sama. Contohnya.konsep diri yang negatif. Pengkajian tentang motivasi belajar sering merupakan bagian dari pengkajian kesehatan secara umum atau diangkat sebagai msalah yang spesifik. Seorang perawat ketika mengkaji motivasi dan kemampuan klien harus betulbetul mengerti sepenuhnya tentang subjek belajar. Pengkajian Kemampuan Membaca Ketidakmampuan membaca dan menulis dapat ditemukan pada setiap langkah kehidupan. Bagaimana seorang perawat dapat menentukan tingkat kemampuan membaca klien? Melakukan pengujian secara langsung adalah cara yang terbaik. tawarkan kepada klien beberapa pilihan cara belajar (membaca. Jika memungkinkan. Berikut ini dijelaskan cara mengkaji tingkat kemampuan membaca klien. tetapi sering sulit dipraktikkan. Berikan sesuatu untuk dibaca dan kemudian minta klien menjelaskan apa yang dibacanya dengan menggunakan bahasanya sendiri. a. menonton/melihat atau mendengarkan). Motivasi memang sulit untuk dikaji. Mengkaji tingkat kesenangan membaca klien. pada semua suku dan pada setiap tingkat sosial ekonomi. Motivasi juga dipengaruhi oleh sikap dan kepercayaan. mungkin dapat ditunjukka secara verbal atau juga secara nonverbal. 1. gunakan materi bacaan yang mudah dan jika man/penpromkes 5 . Jika ragu-ragu. Penampilan seseorang dan penggunaan bahasa tidak mengindikasikan bahwa ia mampu membaca dan menulis.

Hitunglah semua kata yang mengandung 3 atau lebih suku kata (Syllabes). untuk belajar klien. b.seseorang dalam keadaan stress sebaiknya dimulai dengan materi sederhana. Ambillah 10 kalimat dari bagian awal. Jelaskan peristilahan-peristilahan yang digunakan e. maka lakukanlah: a. Tulis kalimat-kalimat pendek d. 10 kalimat dari tengah dan 10 kalimat dari bagian akhir bacaan.” Untuk menurunkan tingkat bacaan dan menyederhanakan materi pendidikan kesehatan untuk klien. Menggunakan indeks SMOG untuk mengkaji tingkat kemampuan membaca klien terhadap materi pendidikan kesehatan sehingga kemudian dapat ditentukan kesesuaian materi untuk populasi yang akan membacanya. kemudian jumlahkan. Berikut ini disajikan cara menentukan Tingkat Kesiapan dari pada Materi Tertulis dengan menggunakan indeks SMOG. Gunakanlah kata-kata yang lebih pendek b. baru kemudian ditambahkan yang lebih kompleks. pilihlah 30 kalimat dalam bacaan. Gunakan kata-kata yang mudah dan sering digunakan Tebel Indeks SMOG Jumlah kata-kata yang mengandung 3 atau lebih suku kata 0–2 3–6 7 – 12 13 – 20 21 – 30 Tingkat bacaan 4 5 6 7 8 man/penpromkes 6 . Kemudian temukan jumlah tersebut didalam daftar dibawah ini dan baca menyilang untuk menemukan tingkat/grade bacaan/materi belajar. Hindari kata-kata dengan beberapa suku kata c. “Untuk menentukan tingkat materi bacaan.

ruangan yang ada. pimpinan sekolah. Pengkajian Faktor Pemungkin 9 10 11 12 Faktor pemungkin mencakup keterampilan serta sumber daya yang penting untuk menampilkan perilaku yang sehat. Perawat perlu mengkaji secara cermat faktor penguat ini. teman sebaya. Di dalam pendidikan kesehatan di sekolah penguat mungkin berasal dari guru. Apakah faktor penguat itu positif atau negative tergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berpengaruh. dan keluarga. Pengkajian Faktor Penguat Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Sumber daya dimaksud meliputi fasilitas yang ada. Faktor ini juga menyangkut keterjangkauan sumber tersebut oleh klien: apakah biaya. C. atau sumber-sumber lain yang serupa.31 – 42 43 – 56 57 – 72 73 – 90 B. atau klien lain dan keluarga. jarak. personalia yang tersedia. karena dengan mengetahui sejauh mana klien memiliki keterampilan pemungkin. waktu dapat dijangkau? Bagaimana keterampilan klien untuk melakukan perubahan perilaku perlu diketahui . ahli gizi. Sumber penguat tersebut bergantung kepada tujuan dan jenis program. dokter. Di dalam pendidikan kesehatan klien di rumah sakit. mungkin sebagian mempunyai pengaruh yang sangat kuat dibandingkan dengan yang lainnya dalam mempengaruhi perubahan perilaku. penguat diberikan oleh perawat. untuk menjamin bahwa sasaran pendidikan kesehatan mempunyai kesempatan yang maksimum man/penpromkes 7 . wawasan yang bernilai bagi perencana pendidikan kesehatan dapat diperoleh. Pengaruh itu tidak sama. misalnya.

permusuhan. PENEGAKAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan kebutuhan belajar dikelompokkan di bawah kategori. 3. tidak familiarnya klien dengan sumber informasi. Faktor-faktor yang berhubungan atau menjadi penyebab dari kurangnya pengetahuan mencakup kurangnya keterpaparan informasi. kurang mengulang pelajaran. 4. ketaksesuaian perilaku atau adanya perilaku berlebihan. atau apatis. keterbatasan pengetahuan. Kurang pengetahuan: perawatan pra operasi berhubungan dengan belum adanya pengalaman menghadapi prosedur pembedahan. Sebagai contoh diagnosis keperawatan yang dikemukakan oleh North Americans Nursing Diagnosis Assosiation (NANDA) adalah sebagai berikut 1. tidak dapat belajar. atau komunitas tidak dapat memahami. Kurang pengetahuan: diet Diabetes Mellitus berhubungan dengan tidak familiarnya diri dengan program yang harus diikuti. misalnya hysteria.untuk mendapat umpan balik yang mendukung selama berlangsungnya proses perubahan perilaku. 2. dan tidak dapat menunjukkan pengetahuannya tentang tindakan-tindakan keperawatan kesehatan yang penting untuk mempertahankan kesehatan (NANDA). ketakakuratan penampilan dalam suatu uji. Defenisi Kurang Pengetahuan adalah: pernyataan pada saat individu. keluarga. Kurang pengetahuan: efek pengobatan berhubungan dengan adanya perbedaan bahasa dan kesalahan penafsiran informasi. Kurang pengetahuan: diet rendah kalori berhubungan dengan tidak punya pengalaman. kurangnya ketertarikan dalam belajar. agitasi. man/penpromkes 8 . ketakakuratan mengikuti suatu instruksi. adanya kesalahpenafsiran. Kurang Pengetahuan. Karakteristik definisi tersebut adalah: adanya pengungkapan secara verbal tentang masalah.

Risiko tinggi terjadinya penularan tuberculosis paru pada anggota keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam hal cara-cara dan pencegahan penularan. PERENCANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN Mengembangkan perencanaan pengajaran adalah menyelesaikan sejumlah langkah. Kurangnya pengetahuan: penyalahgunaan zat berhubungan dengan kurangnya ketertarikan dalam mempelajari informasi. Klien yang membantu merumuskan perencanaan pengajaran akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. A. Melibatkan klien saat perencanaan dapat meningkatkan terciptanya perencanaan yang berguna dan merangsang motivasi klien. 4. 2. Sebagai contoh: 1.5. Cara lain untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar klien adalah menuliskan Kurang Pengetahuan sebagai etiologi atau bagian kedua dari pernyataan diagnosis keperawatan. Risiko tinggi terjadinya injuri/rudapaksa berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam teknik penggunaan tongkat untuk berjalan. 6. Risiko tinggi terjadinya gangguan proses menjadi orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam merawat bayi dan menyusui. Kurangnya pengetahuan: Bahaya keamanan di rumah berhubungan dengan adanya penolakan terhadap penurunan kesehatan dan kurangnya ketertarikan untuk belajar. Menentukan Prioritas Pengajaran man/penpromkes 9 . Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan dalam hal penyakit menular seksual dan pencegahannya. 3.

Jika klien adalah sebuah keluarga. Perawat juga dapat menggunakan kerangka pikir lain. kelompok. contoh lain. B. Tujuan belajar yang man/penpromkes 10 . atau komunitas yang lebih besar. afektif. Khusus untuk memprioritaskan pengajaran dikeluarga. skala prioritas yang dikembangkan oleh Bailon dan Maglaya (1988) dapat dipergunakan. faktor predisposisi. dan psikomotor. Salah satu yang menjadi criteria yang diprioritaskan adalah motivasi klien untuk berkonsentrasi pada kebutuhan belajar kebutuhan belajar yang telah diidentifikasikan sebagai contoh seseorang yang ingin mengetahui segala sesuatu tentang penyakit jantung koroner mungkin tidak siap untuk memepelajari bagaimana mengubah gaya hidupnya sampai pada saat ia menemukan kebutuhannya untuk belajar tentang penyakit tersebut: atau. Ketika menetapkan hal ini baik sekali diingat mengenai tiga ranah belajar yaitu kognitif. Kriteria untuk memprioritaskan pengajaran di dalam komunitas antara lain adalah: kesadaran komunitas terhadap masalah. motivasi komunitas memecahkan masalah. pemungkin. seperti hierarki kebutuhan menurut teori Maslow untuk menetapkan prioritas belajar.Kebutuhan belajar klien harus diurut berdasarkan prioritas. penentuan prioritas belajar hendaknya secara lebih luas mempertimbangkan faktor lain yang telah dikaji yakni. dan penguat. Perawat dan klien hendaknya melakukannya secara bersama-sama. berat serta konsekwensi jika masalah tidak terpecahkan (Goeppinger and Shuster. 1988). Menetapkan Tujuan Belajar Tujuan belajar yang ditetapkan dapat disamakan dengan tujuan pada proses asuhan keperawatan. seseorang yang baru dinyatakan mengidap penyakit Diabetes Mellitus akan mau mengatur diet sesuai dengan yang dianjurkan sebelum ia tahu bagaimana pengaruh diet tersebut terhadap status gula darah dan kesehatannya. kemampuan perawat untuk mempengaruhi pemecahan masalah.

Misalnya. sementara aktivitasnya dapat diukur. Tujuan belajar dinyatakan di dalam perilaku atau penampilan yang dikehendaki. misalnya: perawat tidak mengajari klien tentang diet. strategi. Tujuan tidak dinyatakan dalam perilaku perawat. 2. contohnya: klien dapat menunjukkan atau mendemonstrasikan teknik pemberian ASI dengan benar (psikomotor). klien dapat menjelaskan alas an ia harus makan dalam porsi sedikit. aktivitas.dirancang dengan baik akan menuntun perencanaan tentang isi atau substansi. Tujuan belajar dapat diobservasi. DOMAIN AFEKTIF Merubah Menjawab Menentukan Memilih Melengkapi Menyepakati Menuruti/mengikuti Mempertahankan Mendiskusikan Membantu Bekerjasama KOGNITIF Membandingkan Membedakan Menguraikan Menggambarkan Menjelaskan Mengidentifikasi Memberi tanda Mengurutkan Menjodohkan Menamakan Menyiapkan PSIKOMOTOR Beradaptasi Memulai Merangkai Menghitung Mengalikan Merubah Membangun Menciptakan Mendemonstrasikan Memanipulasi Mengukur man/penpromkes 11 . tetapi frekuensinya sering (kognitif). hal yang dapat dilihat. metode. Beberapa ketentuan umum dalam merumuskan tujuan belajar adalah sebagai berikut: 1. klien dapat menguraikan perasaan meningkatnya rasa nyaman setelah pemberian obat (afektif). klien dapat berjalan di sekitar tempat tidur. Perhatikan kata-kata yang digunakan dalam membuat tujuan pada tabel berikut. dan perencanaan metode evaluasi belajar.

buku. atau dengan kata lain. konsistensi. Contohnya: Klien akan menyebutkan tiga hal yang mempengaruhi kadar gula darah. jurnal keperawatan. Memilih Strategi Belajar man/penpromkes 12 . Memilih Substansi (Isi Materi) Isi pembelajaran sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai. dan kemampuan. C. Dalam tujuan harus tercakup criteria waktu yang spesifik. D. Sumber yang dipilih hendaknya: akurat. terbaru. atau bagaimana perilaku ditampilkan. Pada akhir diskusi kedua. budaya. disesuaikan dengan usia klien. dan perawat lain atau dokter atau anggota tim pelayanan kesehatan lain. Contohnya klien dapat berjalan dari ujung tempat tidur ke ujung lainnya tanpa menggunakan tongkat pembantu. 4.Merencanakan Meletakkan kembali Menyatakan kembali Memecahkan Merangkum Menggaris bawahi Menulis Berpartisipasi Merespon Memperbaiki Memverifikasi Menggerakkan Mengorganisir Bereaksi Menunjukkan Mengerjakan 3. didasarkan atas tujuan belajar. serta dipilih dengan mempertimbangkan waktu dan sumber daya yang kungkin untuk mengajar. kapan. Pengetahuan yang dibutuhkan perawat dapat diperoleh melalui pendidikan. informasi yang dibutuhkan mencapai tujuan dengan baik harus diseleksi dari berbagai sumber informasi. Dalam tujuan harus terkandung kondisi yang diinginkan untuk mengklarifikasi dimana. klien dapat mendemonstrasikan injeksi insulin sendiri dalam dosis dan cara yang benar sebelum pasien dipulangkan.

Di lain pihak jika tujuan belajarnya adalah “Klien dapat mendiskusikan perasaannya tentang bagaimana kembali ke rumah sesudah mengalami serangan jantung”. Beberapa tujuan belajar mungkin dapat dicapai dengan mudah melalui tatap muka satu persatu antara perawat dengan klien. diskusi kelompok tidak mungkin diadakan. dan cocok dengan pengajar dan berbagai faktor lain perlu dipertimbangkan. tujuan akan lebih mudah dicapai dengan diskusi kelompok dengan klien lain yang mempunyai perasaan yang sama. Alat Bantu mengajar sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai. Metode yang cocok untuk itu adalah metode privat yang disarankan oleh perawat.Memilih metode mengajar hendaknya cocok untuk individu. tetapi bukan suatu pengganti untuk berhubungan dengan manusia. Sebagai contoh. Oleh karena itu. jika tujuan belajarnya adalah: “Klien dapat mengganti balutan pada kakinya dengan teknik steril”. lihat kembali kegunaan dan kecocokan penggunaan alat bantu pada pembahasan sebelumnya. cocok dengan materi yang dipelajari. tetapi yang lain dapat dengan mudah dicapai dengan diskusi kelompok. Memilih Alat Bantu Mengajar Alat bantu mengajar telah dibahas pada bab sebelumnya. itu pilihlah alat Bantu secara hati-hati. Alat ini baik sekali digunakan untuk menambah atau menguatkan mengajar dengan strategi tatap muka. Alat Bantu mengajar membantu belajar. Membuat Rencana Evaluasi man/penpromkes 13 . E. F.

dan indikator apa yang akan dipakai dalam evaluasi itu. Misalnya terjadinya perubahan pengetahuan. Misalnya tentang jadwal waktu. apakah sesuai atau terjadi perubahan dalam pelaksanaannya. sikap. Evaluasi pendidikan kesehatan. DAFTAR PUSTAKA man/penpromkes 14 . yakni menilai langkah-langkah yang telah dijadwalkan dalam perencanaan. dan tindakannya. Evaluasi hasil kegiatan. dan alat bantu peraga. yakni sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dengan pendidikan kesehatan yang dimaksud. Evaluasi dapat dibedakan: 1.Rencana evaluasi harus disebutkan dalam perencanaan kegiatan pendidikan kesehatan. tempat. 2. misalnya waktu dan sasaran yang akan dievaluasi.

Rineka Cipta. Jakarta. Buku Kedokteran-EGC.1. (2002). Syaiful BD. et. Strategi Belajar Mengajar. Daftar Acuan : Suliha. man/penpromkes 15 . Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan. (2002). Al. Aswan Z. Jakarta 2.. G..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful