PENGKAJIAN KEBUTUHAN BELAJAR Pengkajian yang komprehensif tentang kebutuhan belajar dapat digali dari riwayat keperawatan dan

hasil pengkajian fisik serta melalui informasi dari orang yang dekat dengan klien. Pengkajian juga mencakup karakteristik klien yang mungkin akan mempengaruhi proses belajar, misalnya kesiapan belajar, motivasi untuk belajar, dan tingkat kemampuan membaca. Selain penggalian data melalui wawancara, perawat juga harus melakukan observasi terhadap kemampuan dan kebutuhan-kebutuhan klien. Kebutuhan belajar dapat juga diidentifikasi dari pertanyaan klien terhadap perawat tentang sesuatu hal yang tidak mereka ketahui atau tidak terampil dalam melakukannya. A. Pengkajian Faktor Predisposisi 1. Pengkajian riwayat keperawatan Informasi tentang usia akan memberi petunjuk mengenai status perkembangan seseorang, sehingga dapat memberikan arah mengenai isi pendidikan kesehatan dan pendekatan yang harus digunakan. Pertanyaan yang diajukan hendaknya sederhana. Pada klien lanjut usia (lansia), pertanyaan diajukan dengan perlahan dan diulang. Status perkembangan, terutama pada klien anak, dapat dikaji melalui observasi ketika anak melakukan aktivitas atau bermain, sehingga perawat mendapat data tentang kemampuan motorik dan perkembangan intektualnya. Persepsi klien tentang keadaan masalah kesehatannya saat ini dan bagaimana mereka menaruh perhatian terhadap masalahnya dapat memberikan informasi kepada perawat tentang seberapa jauh pengetahuan mereka mengenai masalahnya dan pengaruhnya terhadap kebiasaan aktivitas sehari-hari. Informasi

man/penpromkes

1

kebiasaan mempertahankan kesehatan. contohnya adalah kepercayaan tidak boleh menerima tranfusi darah. Yang lain mungkin dapat belajar man/penpromkes 2 . Keadaan ekonomi klien dapat berpengaruh terhadap proses belajar klien. perawat tetap harus mengkaji dan menilai klien secara individual. karena hal ini tidak selalu terjadi. Kepercayaan klien tentang kesehatan. Bagaimanapun. Jika tidak. Perawat sangat penting mengetahui hal tersebut. Oleh karena itu. Bagaimana cara klien belajar adalah hal yang sangat penting untuk diketahui. Kepercayaan dalam budaya tersebut dapat berhubungan dengan kebiasaan makan. kebiasaan menangani keadaan sakit. Cara belajar yang terbaik bagi setiap individu bervariasi. kepercayaan tentang agama yang dianut. karena perencanaan pendidikan kesehatan dirancang sesuai dengan sumber-sumber yang ada pada klien agar tujuan tercapai. rancangan tidak akan sesuai dan sulit untuk dilaksanakan. tidak boleh menjadi donor organ tubuh. Cara terbaik seseorang dalam belajar mungkin dengan melihat atau menonton untuk memahami sesuatu dengan baik. Berbagai daerah mempunyai kepercayaan dan praktik-praktik tersendiri. Dilain pihak. namun demikian tidak boleh menarik asumsi bahwa setiap individu dalam suatu etnik dengan kultur tertentu mempunyai kebiasaan yang sama. dan tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi. yang lain mungkin belajar tidak dengan cara melihat.ini dapat memberi petunjuk kepada perawat untuk memberi arahan yang tepat serta sumber-sumber lain yang dapat digunakan oleh klien. dan peran gender merupakan faktor penting dalam mengembangkan rencana pendidikan kesehatan. Kepercayaan yang penting digali pada klien. perawat harus mengkaji hal ini dengan baik. tetapi dengan cara melakukan secara actual dan menemukan bagaimana cara-cara mengerjakan sesuatu hal. serta gaya hidup.

Sebuah teknik akan sangat efektif untuk beberapa klien. Pengkajian Kesiapan Klien untuk Belajar Klien yang siap untuk belajar sering dapat dibedakan dengan klien yang tidak siap. 2. Anggota keluarga atau teman dekat mungkin dapat membantu klien dalam mengembangkan keterampilan di rumah dan mempertahankan perubahan gaya hidup yang diperlukan klien. Hal lain yang mencakup pengkajian fisik adalah pernyataan klien tentang kapasitas fisik untuk belajar dan untuk aktivitas perawatan diri sendiri. Perawat perlu meluangkan waktu dan memupuk keterampilan untuk mengkaji klien dan mengidentifikasi gaya belajar. kekuatan fisik. sebaliknya teknik lain akan cocok untuk klien dengan gaya belajar yang berbeda. misalnya man/penpromkes 3 . untuk kemudian mengadaptasi pendidikan kesehatan yang sesuai dengan cara-cara klien belajar. Seorang klien yang siap belajar mungkin mencari informasi. Toleransi aktivitas juga dapat mempengaruhi kapasitas klien untuk melakukan aktivitas. status nutrisi. Perawat perlu mengkaji system pendukung klien untuk menentukan siapa saja sasaran pendidikan yang mungkin dapat mempertinggi dan mendorong proses belajar klien. 3. Pengkajian fisk Pengkajian fisik secara umum dapat memberikan petunjuk terhadap kebutuhan belajar klien. Contohnya: status mental. Kemampuan melihat dan mendengar memberi pengaruh besar terhadap pemilihan substansi dan pendekatan dalam mengajar. Fungsi system muskuloskelet mempengaruhi kemampuan keterampilan psikomotor dan perawatan diri.dengan baik dengan membaca sesuatu yang dipresentasikan oleh orang lain. Menggunakan variasi teknik mengajar dan variasi aktivitas selama mengajar adalah jalan yang baik untuk memenuhi kebutuhan gaya belajar klien.

Pengkajian Motivasi Secara umum dapat diterima bahwa seseorang harus mempunyai keinginan belajar demi keefektifan pembelajaran. kecemasan. Kesiapan emosi. ketakutan. tukar pendapat dengan sesama klien yang pada umumnya menunjukkan ketertarikan. apakah klien tidak dalam pengaruh zat yang mengganggu tingkat kesadaran? Pertanyaan itu sangat penting untuk dikaji.melalui bertanya. Sudahkah klien dapat berhubungan dengan rasa saling percaya dengan perawat? Ataukah klien belum mau menjalin komunikasi karena masih belum menaruh rasa percaya. membaca buku atau artikel. atau lain hal. misalnya terhadap nyeri. tetapi harus menunggu sampai keadaan klien memungkinkan dapat menerima proses pembelajaran. Apakah secara emosi klien siap untuk belajar? Klien dalam keadaan cemas. Perawat tidak dapat memaksakan. Kesiapan berkomunikasi. Kesiapan kognitif. Kesiapan fisik penting di kaji oleh perawat apakah klien dapat memfokuskan perhatian atau lebih berfokus status fisiknya. pengingkaran terhadap penyakit. pusing.rasa malu atau adanya man/penpromkes 4 . penolakan terhadao status kesehatan. kurangnya dorongan dari lingkungan social. mengantuk. lelah. atau dalam keadaan berduka karena keadaan kesehatannya atau keadaan keluarganya biasanya tidak siap untuk belajar. 4. depresi. Motivasi seseorang dapat dipengaruhi oleh masalah keuangan. Motivasi dan memberi rangsangan atau jalan untuk belajar merupakan faktor penentu yang sangat kuat untuk kesuksesan dalam mendidik klien dan berhubungan erat dengan pemenuhan kebutuhan klien. klien yang tidak siap belajar biasanya lebih suka untuk menghindari masalah atau situasi. Dilain pihak. Hubungan saling percaya antara perawat dank lien menentukan komunikasi dua arah yang diperlukan dalam proses belajar mengajar. Dapatkah klien berpikir secara jernih? apakah klien dalam keadaan sadar penuh.

Mengkaji tingkat kesenangan membaca klien. Pengkajian Kemampuan Membaca Ketidakmampuan membaca dan menulis dapat ditemukan pada setiap langkah kehidupan. a. Contohnya. Berikan sesuatu untuk dibaca dan kemudian minta klien menjelaskan apa yang dibacanya dengan menggunakan bahasanya sendiri. Motivasi juga dipengaruhi oleh sikap dan kepercayaan. Motivasi memang sulit untuk dikaji. pada semua suku dan pada setiap tingkat sosial ekonomi. 1. tetapi sering sulit dipraktikkan. Pengkajian tentang motivasi belajar sering merupakan bagian dari pengkajian kesehatan secara umum atau diangkat sebagai msalah yang spesifik. motivasi belajar seorang pria setengah baya yang dinyatakan hipertensi dan mulai mendapat pengobatan anti hipertensi untuk mengendalikan tekanan darahnya mungkin akan rendah jika teman dekatnya menceritakan bahwa ia impotent setelah mendapat pengobatan yang sama.konsep diri yang negatif. mungkin dapat ditunjukka secara verbal atau juga secara nonverbal. tawarkan kepada klien beberapa pilihan cara belajar (membaca. Jika memungkinkan. Jika ragu-ragu. Bagaimana seorang perawat dapat menentukan tingkat kemampuan membaca klien? Melakukan pengujian secara langsung adalah cara yang terbaik. Berikut ini dijelaskan cara mengkaji tingkat kemampuan membaca klien. Penampilan seseorang dan penggunaan bahasa tidak mengindikasikan bahwa ia mampu membaca dan menulis. gunakan materi bacaan yang mudah dan jika man/penpromkes 5 . Banyak orang dengan kemampuan membaca dan menulis rendah memiliki intelegensi rata-rata dan berbicara dengan baik. Seorang perawat ketika mengkaji motivasi dan kemampuan klien harus betulbetul mengerti sepenuhnya tentang subjek belajar. menonton/melihat atau mendengarkan).

seseorang dalam keadaan stress sebaiknya dimulai dengan materi sederhana. Menggunakan indeks SMOG untuk mengkaji tingkat kemampuan membaca klien terhadap materi pendidikan kesehatan sehingga kemudian dapat ditentukan kesesuaian materi untuk populasi yang akan membacanya. 10 kalimat dari tengah dan 10 kalimat dari bagian akhir bacaan. Hitunglah semua kata yang mengandung 3 atau lebih suku kata (Syllabes). Berikut ini disajikan cara menentukan Tingkat Kesiapan dari pada Materi Tertulis dengan menggunakan indeks SMOG. untuk belajar klien. Tulis kalimat-kalimat pendek d. b. Ambillah 10 kalimat dari bagian awal. Gunakanlah kata-kata yang lebih pendek b. maka lakukanlah: a. kemudian jumlahkan. “Untuk menentukan tingkat materi bacaan. Kemudian temukan jumlah tersebut didalam daftar dibawah ini dan baca menyilang untuk menemukan tingkat/grade bacaan/materi belajar. pilihlah 30 kalimat dalam bacaan. Hindari kata-kata dengan beberapa suku kata c. Jelaskan peristilahan-peristilahan yang digunakan e.” Untuk menurunkan tingkat bacaan dan menyederhanakan materi pendidikan kesehatan untuk klien. baru kemudian ditambahkan yang lebih kompleks. Gunakan kata-kata yang mudah dan sering digunakan Tebel Indeks SMOG Jumlah kata-kata yang mengandung 3 atau lebih suku kata 0–2 3–6 7 – 12 13 – 20 21 – 30 Tingkat bacaan 4 5 6 7 8 man/penpromkes 6 .

Sumber daya dimaksud meliputi fasilitas yang ada. Pengkajian Faktor Penguat Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. mungkin sebagian mempunyai pengaruh yang sangat kuat dibandingkan dengan yang lainnya dalam mempengaruhi perubahan perilaku. atau sumber-sumber lain yang serupa. penguat diberikan oleh perawat. dan keluarga.31 – 42 43 – 56 57 – 72 73 – 90 B. pimpinan sekolah. wawasan yang bernilai bagi perencana pendidikan kesehatan dapat diperoleh. dokter. misalnya. teman sebaya. waktu dapat dijangkau? Bagaimana keterampilan klien untuk melakukan perubahan perilaku perlu diketahui . C. Pengkajian Faktor Pemungkin 9 10 11 12 Faktor pemungkin mencakup keterampilan serta sumber daya yang penting untuk menampilkan perilaku yang sehat. Di dalam pendidikan kesehatan klien di rumah sakit. Faktor ini juga menyangkut keterjangkauan sumber tersebut oleh klien: apakah biaya. untuk menjamin bahwa sasaran pendidikan kesehatan mempunyai kesempatan yang maksimum man/penpromkes 7 . Sumber penguat tersebut bergantung kepada tujuan dan jenis program. jarak. Pengaruh itu tidak sama. ruangan yang ada. personalia yang tersedia. Apakah faktor penguat itu positif atau negative tergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berpengaruh. atau klien lain dan keluarga. Di dalam pendidikan kesehatan di sekolah penguat mungkin berasal dari guru. karena dengan mengetahui sejauh mana klien memiliki keterampilan pemungkin. ahli gizi. Perawat perlu mengkaji secara cermat faktor penguat ini.

kurangnya ketertarikan dalam belajar. Karakteristik definisi tersebut adalah: adanya pengungkapan secara verbal tentang masalah. dan tidak dapat menunjukkan pengetahuannya tentang tindakan-tindakan keperawatan kesehatan yang penting untuk mempertahankan kesehatan (NANDA). Kurang Pengetahuan. tidak familiarnya klien dengan sumber informasi.untuk mendapat umpan balik yang mendukung selama berlangsungnya proses perubahan perilaku. adanya kesalahpenafsiran. Kurang pengetahuan: efek pengobatan berhubungan dengan adanya perbedaan bahasa dan kesalahan penafsiran informasi. permusuhan. man/penpromkes 8 . tidak dapat belajar. keterbatasan pengetahuan. agitasi. keluarga. Defenisi Kurang Pengetahuan adalah: pernyataan pada saat individu. PENEGAKAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan kebutuhan belajar dikelompokkan di bawah kategori. Kurang pengetahuan: diet Diabetes Mellitus berhubungan dengan tidak familiarnya diri dengan program yang harus diikuti. 4. atau komunitas tidak dapat memahami. ketaksesuaian perilaku atau adanya perilaku berlebihan. misalnya hysteria. ketakakuratan penampilan dalam suatu uji. Kurang pengetahuan: diet rendah kalori berhubungan dengan tidak punya pengalaman. Faktor-faktor yang berhubungan atau menjadi penyebab dari kurangnya pengetahuan mencakup kurangnya keterpaparan informasi. 2. Kurang pengetahuan: perawatan pra operasi berhubungan dengan belum adanya pengalaman menghadapi prosedur pembedahan. 3. kurang mengulang pelajaran. ketakakuratan mengikuti suatu instruksi. atau apatis. Sebagai contoh diagnosis keperawatan yang dikemukakan oleh North Americans Nursing Diagnosis Assosiation (NANDA) adalah sebagai berikut 1.

Menentukan Prioritas Pengajaran man/penpromkes 9 . 2. 3. 4. Melibatkan klien saat perencanaan dapat meningkatkan terciptanya perencanaan yang berguna dan merangsang motivasi klien. Klien yang membantu merumuskan perencanaan pengajaran akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Risiko tinggi terjadinya gangguan proses menjadi orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam merawat bayi dan menyusui. Cara lain untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar klien adalah menuliskan Kurang Pengetahuan sebagai etiologi atau bagian kedua dari pernyataan diagnosis keperawatan. Risiko tinggi terjadinya penularan tuberculosis paru pada anggota keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam hal cara-cara dan pencegahan penularan. Kurangnya pengetahuan: Bahaya keamanan di rumah berhubungan dengan adanya penolakan terhadap penurunan kesehatan dan kurangnya ketertarikan untuk belajar. Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan dalam hal penyakit menular seksual dan pencegahannya. Risiko tinggi terjadinya injuri/rudapaksa berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam teknik penggunaan tongkat untuk berjalan. Sebagai contoh: 1. 6. PERENCANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN Mengembangkan perencanaan pengajaran adalah menyelesaikan sejumlah langkah. A. Kurangnya pengetahuan: penyalahgunaan zat berhubungan dengan kurangnya ketertarikan dalam mempelajari informasi.5.

Kriteria untuk memprioritaskan pengajaran di dalam komunitas antara lain adalah: kesadaran komunitas terhadap masalah.Kebutuhan belajar klien harus diurut berdasarkan prioritas. atau komunitas yang lebih besar. berat serta konsekwensi jika masalah tidak terpecahkan (Goeppinger and Shuster. faktor predisposisi. motivasi komunitas memecahkan masalah. skala prioritas yang dikembangkan oleh Bailon dan Maglaya (1988) dapat dipergunakan. Jika klien adalah sebuah keluarga. seseorang yang baru dinyatakan mengidap penyakit Diabetes Mellitus akan mau mengatur diet sesuai dengan yang dianjurkan sebelum ia tahu bagaimana pengaruh diet tersebut terhadap status gula darah dan kesehatannya. Ketika menetapkan hal ini baik sekali diingat mengenai tiga ranah belajar yaitu kognitif. Menetapkan Tujuan Belajar Tujuan belajar yang ditetapkan dapat disamakan dengan tujuan pada proses asuhan keperawatan. dan penguat. contoh lain. Perawat juga dapat menggunakan kerangka pikir lain. penentuan prioritas belajar hendaknya secara lebih luas mempertimbangkan faktor lain yang telah dikaji yakni. dan psikomotor. seperti hierarki kebutuhan menurut teori Maslow untuk menetapkan prioritas belajar. Perawat dan klien hendaknya melakukannya secara bersama-sama. afektif. Khusus untuk memprioritaskan pengajaran dikeluarga. Tujuan belajar yang man/penpromkes 10 . 1988). kemampuan perawat untuk mempengaruhi pemecahan masalah. B. pemungkin. kelompok. Salah satu yang menjadi criteria yang diprioritaskan adalah motivasi klien untuk berkonsentrasi pada kebutuhan belajar kebutuhan belajar yang telah diidentifikasikan sebagai contoh seseorang yang ingin mengetahui segala sesuatu tentang penyakit jantung koroner mungkin tidak siap untuk memepelajari bagaimana mengubah gaya hidupnya sampai pada saat ia menemukan kebutuhannya untuk belajar tentang penyakit tersebut: atau.

tetapi frekuensinya sering (kognitif). dan perencanaan metode evaluasi belajar. klien dapat menjelaskan alas an ia harus makan dalam porsi sedikit.dirancang dengan baik akan menuntun perencanaan tentang isi atau substansi. hal yang dapat dilihat. Beberapa ketentuan umum dalam merumuskan tujuan belajar adalah sebagai berikut: 1. sementara aktivitasnya dapat diukur. klien dapat menguraikan perasaan meningkatnya rasa nyaman setelah pemberian obat (afektif). Perhatikan kata-kata yang digunakan dalam membuat tujuan pada tabel berikut. 2. strategi. Tujuan belajar dapat diobservasi. Tujuan tidak dinyatakan dalam perilaku perawat. Tujuan belajar dinyatakan di dalam perilaku atau penampilan yang dikehendaki. DOMAIN AFEKTIF Merubah Menjawab Menentukan Memilih Melengkapi Menyepakati Menuruti/mengikuti Mempertahankan Mendiskusikan Membantu Bekerjasama KOGNITIF Membandingkan Membedakan Menguraikan Menggambarkan Menjelaskan Mengidentifikasi Memberi tanda Mengurutkan Menjodohkan Menamakan Menyiapkan PSIKOMOTOR Beradaptasi Memulai Merangkai Menghitung Mengalikan Merubah Membangun Menciptakan Mendemonstrasikan Memanipulasi Mengukur man/penpromkes 11 . klien dapat berjalan di sekitar tempat tidur. aktivitas. contohnya: klien dapat menunjukkan atau mendemonstrasikan teknik pemberian ASI dengan benar (psikomotor). misalnya: perawat tidak mengajari klien tentang diet. metode. Misalnya.

Contohnya: Klien akan menyebutkan tiga hal yang mempengaruhi kadar gula darah. D. Memilih Strategi Belajar man/penpromkes 12 . konsistensi. C. budaya. kapan. buku. Dalam tujuan harus terkandung kondisi yang diinginkan untuk mengklarifikasi dimana. informasi yang dibutuhkan mencapai tujuan dengan baik harus diseleksi dari berbagai sumber informasi. atau bagaimana perilaku ditampilkan. Dalam tujuan harus tercakup criteria waktu yang spesifik. 4.Merencanakan Meletakkan kembali Menyatakan kembali Memecahkan Merangkum Menggaris bawahi Menulis Berpartisipasi Merespon Memperbaiki Memverifikasi Menggerakkan Mengorganisir Bereaksi Menunjukkan Mengerjakan 3. Contohnya klien dapat berjalan dari ujung tempat tidur ke ujung lainnya tanpa menggunakan tongkat pembantu. dan perawat lain atau dokter atau anggota tim pelayanan kesehatan lain. Sumber yang dipilih hendaknya: akurat. atau dengan kata lain. Pengetahuan yang dibutuhkan perawat dapat diperoleh melalui pendidikan. Pada akhir diskusi kedua. disesuaikan dengan usia klien. jurnal keperawatan. didasarkan atas tujuan belajar. klien dapat mendemonstrasikan injeksi insulin sendiri dalam dosis dan cara yang benar sebelum pasien dipulangkan. serta dipilih dengan mempertimbangkan waktu dan sumber daya yang kungkin untuk mengajar. terbaru. dan kemampuan. Memilih Substansi (Isi Materi) Isi pembelajaran sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai.

Alat Bantu mengajar sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai. dan cocok dengan pengajar dan berbagai faktor lain perlu dipertimbangkan. Membuat Rencana Evaluasi man/penpromkes 13 .Memilih metode mengajar hendaknya cocok untuk individu. Sebagai contoh. Alat Bantu mengajar membantu belajar. Beberapa tujuan belajar mungkin dapat dicapai dengan mudah melalui tatap muka satu persatu antara perawat dengan klien. Oleh karena itu. cocok dengan materi yang dipelajari. tetapi bukan suatu pengganti untuk berhubungan dengan manusia. jika tujuan belajarnya adalah: “Klien dapat mengganti balutan pada kakinya dengan teknik steril”. Metode yang cocok untuk itu adalah metode privat yang disarankan oleh perawat. Alat ini baik sekali digunakan untuk menambah atau menguatkan mengajar dengan strategi tatap muka. E. F. Memilih Alat Bantu Mengajar Alat bantu mengajar telah dibahas pada bab sebelumnya. lihat kembali kegunaan dan kecocokan penggunaan alat bantu pada pembahasan sebelumnya. tetapi yang lain dapat dengan mudah dicapai dengan diskusi kelompok. diskusi kelompok tidak mungkin diadakan. Di lain pihak jika tujuan belajarnya adalah “Klien dapat mendiskusikan perasaannya tentang bagaimana kembali ke rumah sesudah mengalami serangan jantung”. tujuan akan lebih mudah dicapai dengan diskusi kelompok dengan klien lain yang mempunyai perasaan yang sama. itu pilihlah alat Bantu secara hati-hati.

apakah sesuai atau terjadi perubahan dalam pelaksanaannya. dan tindakannya. Evaluasi dapat dibedakan: 1. sikap. dan alat bantu peraga. 2. dan indikator apa yang akan dipakai dalam evaluasi itu. DAFTAR PUSTAKA man/penpromkes 14 . misalnya waktu dan sasaran yang akan dievaluasi. Evaluasi pendidikan kesehatan. tempat. yakni sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dengan pendidikan kesehatan yang dimaksud.Rencana evaluasi harus disebutkan dalam perencanaan kegiatan pendidikan kesehatan. Misalnya tentang jadwal waktu. Evaluasi hasil kegiatan. Misalnya terjadinya perubahan pengetahuan. yakni menilai langkah-langkah yang telah dijadwalkan dalam perencanaan.

Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan. Rineka Cipta. Jakarta 2. Buku Kedokteran-EGC. et. Al. (2002)..1. Strategi Belajar Mengajar. G.. man/penpromkes 15 . Aswan Z. (2002). Jakarta. Daftar Acuan : Suliha. Syaiful BD.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful