P. 1
PENGKAJIAN KEBUTUHAN BELAJAR

PENGKAJIAN KEBUTUHAN BELAJAR

3.0

|Views: 1,683|Likes:
Published by Kurnia Harli

More info:

Published by: Kurnia Harli on Mar 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2014

pdf

text

original

PENGKAJIAN KEBUTUHAN BELAJAR Pengkajian yang komprehensif tentang kebutuhan belajar dapat digali dari riwayat keperawatan dan

hasil pengkajian fisik serta melalui informasi dari orang yang dekat dengan klien. Pengkajian juga mencakup karakteristik klien yang mungkin akan mempengaruhi proses belajar, misalnya kesiapan belajar, motivasi untuk belajar, dan tingkat kemampuan membaca. Selain penggalian data melalui wawancara, perawat juga harus melakukan observasi terhadap kemampuan dan kebutuhan-kebutuhan klien. Kebutuhan belajar dapat juga diidentifikasi dari pertanyaan klien terhadap perawat tentang sesuatu hal yang tidak mereka ketahui atau tidak terampil dalam melakukannya. A. Pengkajian Faktor Predisposisi 1. Pengkajian riwayat keperawatan Informasi tentang usia akan memberi petunjuk mengenai status perkembangan seseorang, sehingga dapat memberikan arah mengenai isi pendidikan kesehatan dan pendekatan yang harus digunakan. Pertanyaan yang diajukan hendaknya sederhana. Pada klien lanjut usia (lansia), pertanyaan diajukan dengan perlahan dan diulang. Status perkembangan, terutama pada klien anak, dapat dikaji melalui observasi ketika anak melakukan aktivitas atau bermain, sehingga perawat mendapat data tentang kemampuan motorik dan perkembangan intektualnya. Persepsi klien tentang keadaan masalah kesehatannya saat ini dan bagaimana mereka menaruh perhatian terhadap masalahnya dapat memberikan informasi kepada perawat tentang seberapa jauh pengetahuan mereka mengenai masalahnya dan pengaruhnya terhadap kebiasaan aktivitas sehari-hari. Informasi

man/penpromkes

1

karena hal ini tidak selalu terjadi. namun demikian tidak boleh menarik asumsi bahwa setiap individu dalam suatu etnik dengan kultur tertentu mempunyai kebiasaan yang sama. kebiasaan mempertahankan kesehatan. Cara belajar yang terbaik bagi setiap individu bervariasi. Kepercayaan dalam budaya tersebut dapat berhubungan dengan kebiasaan makan. serta gaya hidup.ini dapat memberi petunjuk kepada perawat untuk memberi arahan yang tepat serta sumber-sumber lain yang dapat digunakan oleh klien. Yang lain mungkin dapat belajar man/penpromkes 2 . Dilain pihak. dan peran gender merupakan faktor penting dalam mengembangkan rencana pendidikan kesehatan. contohnya adalah kepercayaan tidak boleh menerima tranfusi darah. yang lain mungkin belajar tidak dengan cara melihat. Bagaimana cara klien belajar adalah hal yang sangat penting untuk diketahui. kepercayaan tentang agama yang dianut. karena perencanaan pendidikan kesehatan dirancang sesuai dengan sumber-sumber yang ada pada klien agar tujuan tercapai. tetapi dengan cara melakukan secara actual dan menemukan bagaimana cara-cara mengerjakan sesuatu hal. Keadaan ekonomi klien dapat berpengaruh terhadap proses belajar klien. Kepercayaan klien tentang kesehatan. tidak boleh menjadi donor organ tubuh. Oleh karena itu. Kepercayaan yang penting digali pada klien. Perawat sangat penting mengetahui hal tersebut. perawat tetap harus mengkaji dan menilai klien secara individual. dan tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi. kebiasaan menangani keadaan sakit. Jika tidak. rancangan tidak akan sesuai dan sulit untuk dilaksanakan. Bagaimanapun. perawat harus mengkaji hal ini dengan baik. Cara terbaik seseorang dalam belajar mungkin dengan melihat atau menonton untuk memahami sesuatu dengan baik. Berbagai daerah mempunyai kepercayaan dan praktik-praktik tersendiri.

Contohnya: status mental. Menggunakan variasi teknik mengajar dan variasi aktivitas selama mengajar adalah jalan yang baik untuk memenuhi kebutuhan gaya belajar klien. status nutrisi. Pengkajian Kesiapan Klien untuk Belajar Klien yang siap untuk belajar sering dapat dibedakan dengan klien yang tidak siap. kekuatan fisik. untuk kemudian mengadaptasi pendidikan kesehatan yang sesuai dengan cara-cara klien belajar. Seorang klien yang siap belajar mungkin mencari informasi. Pengkajian fisk Pengkajian fisik secara umum dapat memberikan petunjuk terhadap kebutuhan belajar klien. misalnya man/penpromkes 3 . sebaliknya teknik lain akan cocok untuk klien dengan gaya belajar yang berbeda. 3. Sebuah teknik akan sangat efektif untuk beberapa klien. Anggota keluarga atau teman dekat mungkin dapat membantu klien dalam mengembangkan keterampilan di rumah dan mempertahankan perubahan gaya hidup yang diperlukan klien. Perawat perlu mengkaji system pendukung klien untuk menentukan siapa saja sasaran pendidikan yang mungkin dapat mempertinggi dan mendorong proses belajar klien. Kemampuan melihat dan mendengar memberi pengaruh besar terhadap pemilihan substansi dan pendekatan dalam mengajar. 2.dengan baik dengan membaca sesuatu yang dipresentasikan oleh orang lain. Toleransi aktivitas juga dapat mempengaruhi kapasitas klien untuk melakukan aktivitas. Fungsi system muskuloskelet mempengaruhi kemampuan keterampilan psikomotor dan perawatan diri. Hal lain yang mencakup pengkajian fisik adalah pernyataan klien tentang kapasitas fisik untuk belajar dan untuk aktivitas perawatan diri sendiri. Perawat perlu meluangkan waktu dan memupuk keterampilan untuk mengkaji klien dan mengidentifikasi gaya belajar.

Kesiapan fisik penting di kaji oleh perawat apakah klien dapat memfokuskan perhatian atau lebih berfokus status fisiknya.melalui bertanya. apakah klien tidak dalam pengaruh zat yang mengganggu tingkat kesadaran? Pertanyaan itu sangat penting untuk dikaji. ketakutan. Kesiapan emosi. mengantuk. Dapatkah klien berpikir secara jernih? apakah klien dalam keadaan sadar penuh. 4. Sudahkah klien dapat berhubungan dengan rasa saling percaya dengan perawat? Ataukah klien belum mau menjalin komunikasi karena masih belum menaruh rasa percaya. depresi. Motivasi seseorang dapat dipengaruhi oleh masalah keuangan. atau dalam keadaan berduka karena keadaan kesehatannya atau keadaan keluarganya biasanya tidak siap untuk belajar. Dilain pihak. lelah. klien yang tidak siap belajar biasanya lebih suka untuk menghindari masalah atau situasi. misalnya terhadap nyeri. Apakah secara emosi klien siap untuk belajar? Klien dalam keadaan cemas. pusing. membaca buku atau artikel. tetapi harus menunggu sampai keadaan klien memungkinkan dapat menerima proses pembelajaran. Hubungan saling percaya antara perawat dank lien menentukan komunikasi dua arah yang diperlukan dalam proses belajar mengajar. tukar pendapat dengan sesama klien yang pada umumnya menunjukkan ketertarikan. penolakan terhadao status kesehatan. atau lain hal. Perawat tidak dapat memaksakan. Kesiapan kognitif. kurangnya dorongan dari lingkungan social. Motivasi dan memberi rangsangan atau jalan untuk belajar merupakan faktor penentu yang sangat kuat untuk kesuksesan dalam mendidik klien dan berhubungan erat dengan pemenuhan kebutuhan klien.rasa malu atau adanya man/penpromkes 4 . Kesiapan berkomunikasi. Pengkajian Motivasi Secara umum dapat diterima bahwa seseorang harus mempunyai keinginan belajar demi keefektifan pembelajaran. pengingkaran terhadap penyakit. kecemasan.

tawarkan kepada klien beberapa pilihan cara belajar (membaca. Pengkajian Kemampuan Membaca Ketidakmampuan membaca dan menulis dapat ditemukan pada setiap langkah kehidupan. gunakan materi bacaan yang mudah dan jika man/penpromkes 5 . Bagaimana seorang perawat dapat menentukan tingkat kemampuan membaca klien? Melakukan pengujian secara langsung adalah cara yang terbaik. Seorang perawat ketika mengkaji motivasi dan kemampuan klien harus betulbetul mengerti sepenuhnya tentang subjek belajar. motivasi belajar seorang pria setengah baya yang dinyatakan hipertensi dan mulai mendapat pengobatan anti hipertensi untuk mengendalikan tekanan darahnya mungkin akan rendah jika teman dekatnya menceritakan bahwa ia impotent setelah mendapat pengobatan yang sama. Motivasi juga dipengaruhi oleh sikap dan kepercayaan. Jika memungkinkan. menonton/melihat atau mendengarkan). Banyak orang dengan kemampuan membaca dan menulis rendah memiliki intelegensi rata-rata dan berbicara dengan baik. tetapi sering sulit dipraktikkan. Pengkajian tentang motivasi belajar sering merupakan bagian dari pengkajian kesehatan secara umum atau diangkat sebagai msalah yang spesifik.konsep diri yang negatif. Motivasi memang sulit untuk dikaji. Berikut ini dijelaskan cara mengkaji tingkat kemampuan membaca klien. 1. Berikan sesuatu untuk dibaca dan kemudian minta klien menjelaskan apa yang dibacanya dengan menggunakan bahasanya sendiri. Jika ragu-ragu. Penampilan seseorang dan penggunaan bahasa tidak mengindikasikan bahwa ia mampu membaca dan menulis. a. Mengkaji tingkat kesenangan membaca klien. mungkin dapat ditunjukka secara verbal atau juga secara nonverbal. Contohnya. pada semua suku dan pada setiap tingkat sosial ekonomi.

“Untuk menentukan tingkat materi bacaan.” Untuk menurunkan tingkat bacaan dan menyederhanakan materi pendidikan kesehatan untuk klien. pilihlah 30 kalimat dalam bacaan.seseorang dalam keadaan stress sebaiknya dimulai dengan materi sederhana. Hitunglah semua kata yang mengandung 3 atau lebih suku kata (Syllabes). Jelaskan peristilahan-peristilahan yang digunakan e. Menggunakan indeks SMOG untuk mengkaji tingkat kemampuan membaca klien terhadap materi pendidikan kesehatan sehingga kemudian dapat ditentukan kesesuaian materi untuk populasi yang akan membacanya. b. baru kemudian ditambahkan yang lebih kompleks. Gunakan kata-kata yang mudah dan sering digunakan Tebel Indeks SMOG Jumlah kata-kata yang mengandung 3 atau lebih suku kata 0–2 3–6 7 – 12 13 – 20 21 – 30 Tingkat bacaan 4 5 6 7 8 man/penpromkes 6 . Gunakanlah kata-kata yang lebih pendek b. maka lakukanlah: a. Hindari kata-kata dengan beberapa suku kata c. untuk belajar klien. Berikut ini disajikan cara menentukan Tingkat Kesiapan dari pada Materi Tertulis dengan menggunakan indeks SMOG. Ambillah 10 kalimat dari bagian awal. kemudian jumlahkan. 10 kalimat dari tengah dan 10 kalimat dari bagian akhir bacaan. Tulis kalimat-kalimat pendek d. Kemudian temukan jumlah tersebut didalam daftar dibawah ini dan baca menyilang untuk menemukan tingkat/grade bacaan/materi belajar.

personalia yang tersedia. pimpinan sekolah. Pengkajian Faktor Pemungkin 9 10 11 12 Faktor pemungkin mencakup keterampilan serta sumber daya yang penting untuk menampilkan perilaku yang sehat. Perawat perlu mengkaji secara cermat faktor penguat ini. Pengkajian Faktor Penguat Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. waktu dapat dijangkau? Bagaimana keterampilan klien untuk melakukan perubahan perilaku perlu diketahui . atau sumber-sumber lain yang serupa. Di dalam pendidikan kesehatan klien di rumah sakit. jarak. karena dengan mengetahui sejauh mana klien memiliki keterampilan pemungkin. misalnya. wawasan yang bernilai bagi perencana pendidikan kesehatan dapat diperoleh. Sumber penguat tersebut bergantung kepada tujuan dan jenis program. mungkin sebagian mempunyai pengaruh yang sangat kuat dibandingkan dengan yang lainnya dalam mempengaruhi perubahan perilaku. Sumber daya dimaksud meliputi fasilitas yang ada. dan keluarga. atau klien lain dan keluarga. C. Faktor ini juga menyangkut keterjangkauan sumber tersebut oleh klien: apakah biaya. Apakah faktor penguat itu positif atau negative tergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berpengaruh. untuk menjamin bahwa sasaran pendidikan kesehatan mempunyai kesempatan yang maksimum man/penpromkes 7 . Pengaruh itu tidak sama. Di dalam pendidikan kesehatan di sekolah penguat mungkin berasal dari guru. ruangan yang ada. dokter. ahli gizi.31 – 42 43 – 56 57 – 72 73 – 90 B. penguat diberikan oleh perawat. teman sebaya.

misalnya hysteria. Kurang pengetahuan: perawatan pra operasi berhubungan dengan belum adanya pengalaman menghadapi prosedur pembedahan. Kurang pengetahuan: diet rendah kalori berhubungan dengan tidak punya pengalaman. man/penpromkes 8 . keterbatasan pengetahuan.untuk mendapat umpan balik yang mendukung selama berlangsungnya proses perubahan perilaku. tidak familiarnya klien dengan sumber informasi. ketaksesuaian perilaku atau adanya perilaku berlebihan. 4. dan tidak dapat menunjukkan pengetahuannya tentang tindakan-tindakan keperawatan kesehatan yang penting untuk mempertahankan kesehatan (NANDA). Kurang pengetahuan: diet Diabetes Mellitus berhubungan dengan tidak familiarnya diri dengan program yang harus diikuti. Kurang Pengetahuan. atau komunitas tidak dapat memahami. kurangnya ketertarikan dalam belajar. PENEGAKAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan kebutuhan belajar dikelompokkan di bawah kategori. ketakakuratan penampilan dalam suatu uji. Karakteristik definisi tersebut adalah: adanya pengungkapan secara verbal tentang masalah. Faktor-faktor yang berhubungan atau menjadi penyebab dari kurangnya pengetahuan mencakup kurangnya keterpaparan informasi. adanya kesalahpenafsiran. 2. 3. Defenisi Kurang Pengetahuan adalah: pernyataan pada saat individu. Sebagai contoh diagnosis keperawatan yang dikemukakan oleh North Americans Nursing Diagnosis Assosiation (NANDA) adalah sebagai berikut 1. keluarga. kurang mengulang pelajaran. tidak dapat belajar. atau apatis. ketakakuratan mengikuti suatu instruksi. permusuhan. agitasi. Kurang pengetahuan: efek pengobatan berhubungan dengan adanya perbedaan bahasa dan kesalahan penafsiran informasi.

Menentukan Prioritas Pengajaran man/penpromkes 9 . Kurangnya pengetahuan: Bahaya keamanan di rumah berhubungan dengan adanya penolakan terhadap penurunan kesehatan dan kurangnya ketertarikan untuk belajar. Klien yang membantu merumuskan perencanaan pengajaran akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Risiko tinggi terjadinya gangguan proses menjadi orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam merawat bayi dan menyusui. Cara lain untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar klien adalah menuliskan Kurang Pengetahuan sebagai etiologi atau bagian kedua dari pernyataan diagnosis keperawatan. Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan dalam hal penyakit menular seksual dan pencegahannya. A. 6.5. 4. PERENCANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN Mengembangkan perencanaan pengajaran adalah menyelesaikan sejumlah langkah. Risiko tinggi terjadinya penularan tuberculosis paru pada anggota keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam hal cara-cara dan pencegahan penularan. Sebagai contoh: 1. Melibatkan klien saat perencanaan dapat meningkatkan terciptanya perencanaan yang berguna dan merangsang motivasi klien. Kurangnya pengetahuan: penyalahgunaan zat berhubungan dengan kurangnya ketertarikan dalam mempelajari informasi. 2. Risiko tinggi terjadinya injuri/rudapaksa berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam teknik penggunaan tongkat untuk berjalan. 3.

1988). contoh lain. Perawat dan klien hendaknya melakukannya secara bersama-sama. penentuan prioritas belajar hendaknya secara lebih luas mempertimbangkan faktor lain yang telah dikaji yakni. skala prioritas yang dikembangkan oleh Bailon dan Maglaya (1988) dapat dipergunakan. dan penguat. afektif. seseorang yang baru dinyatakan mengidap penyakit Diabetes Mellitus akan mau mengatur diet sesuai dengan yang dianjurkan sebelum ia tahu bagaimana pengaruh diet tersebut terhadap status gula darah dan kesehatannya. kemampuan perawat untuk mempengaruhi pemecahan masalah. berat serta konsekwensi jika masalah tidak terpecahkan (Goeppinger and Shuster. Menetapkan Tujuan Belajar Tujuan belajar yang ditetapkan dapat disamakan dengan tujuan pada proses asuhan keperawatan. motivasi komunitas memecahkan masalah. dan psikomotor. Khusus untuk memprioritaskan pengajaran dikeluarga. atau komunitas yang lebih besar. seperti hierarki kebutuhan menurut teori Maslow untuk menetapkan prioritas belajar. B.Kebutuhan belajar klien harus diurut berdasarkan prioritas. faktor predisposisi. pemungkin. Jika klien adalah sebuah keluarga. Tujuan belajar yang man/penpromkes 10 . Perawat juga dapat menggunakan kerangka pikir lain. Salah satu yang menjadi criteria yang diprioritaskan adalah motivasi klien untuk berkonsentrasi pada kebutuhan belajar kebutuhan belajar yang telah diidentifikasikan sebagai contoh seseorang yang ingin mengetahui segala sesuatu tentang penyakit jantung koroner mungkin tidak siap untuk memepelajari bagaimana mengubah gaya hidupnya sampai pada saat ia menemukan kebutuhannya untuk belajar tentang penyakit tersebut: atau. kelompok. Ketika menetapkan hal ini baik sekali diingat mengenai tiga ranah belajar yaitu kognitif. Kriteria untuk memprioritaskan pengajaran di dalam komunitas antara lain adalah: kesadaran komunitas terhadap masalah.

dan perencanaan metode evaluasi belajar. tetapi frekuensinya sering (kognitif). strategi. Tujuan tidak dinyatakan dalam perilaku perawat. klien dapat berjalan di sekitar tempat tidur. hal yang dapat dilihat. metode. sementara aktivitasnya dapat diukur. Misalnya. Tujuan belajar dinyatakan di dalam perilaku atau penampilan yang dikehendaki. aktivitas. klien dapat menjelaskan alas an ia harus makan dalam porsi sedikit. Tujuan belajar dapat diobservasi. 2. misalnya: perawat tidak mengajari klien tentang diet. Perhatikan kata-kata yang digunakan dalam membuat tujuan pada tabel berikut. DOMAIN AFEKTIF Merubah Menjawab Menentukan Memilih Melengkapi Menyepakati Menuruti/mengikuti Mempertahankan Mendiskusikan Membantu Bekerjasama KOGNITIF Membandingkan Membedakan Menguraikan Menggambarkan Menjelaskan Mengidentifikasi Memberi tanda Mengurutkan Menjodohkan Menamakan Menyiapkan PSIKOMOTOR Beradaptasi Memulai Merangkai Menghitung Mengalikan Merubah Membangun Menciptakan Mendemonstrasikan Memanipulasi Mengukur man/penpromkes 11 . klien dapat menguraikan perasaan meningkatnya rasa nyaman setelah pemberian obat (afektif).dirancang dengan baik akan menuntun perencanaan tentang isi atau substansi. contohnya: klien dapat menunjukkan atau mendemonstrasikan teknik pemberian ASI dengan benar (psikomotor). Beberapa ketentuan umum dalam merumuskan tujuan belajar adalah sebagai berikut: 1.

4. konsistensi. atau dengan kata lain. klien dapat mendemonstrasikan injeksi insulin sendiri dalam dosis dan cara yang benar sebelum pasien dipulangkan. Sumber yang dipilih hendaknya: akurat. Dalam tujuan harus tercakup criteria waktu yang spesifik. Pengetahuan yang dibutuhkan perawat dapat diperoleh melalui pendidikan. Memilih Substansi (Isi Materi) Isi pembelajaran sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai. jurnal keperawatan. Contohnya klien dapat berjalan dari ujung tempat tidur ke ujung lainnya tanpa menggunakan tongkat pembantu. Memilih Strategi Belajar man/penpromkes 12 . atau bagaimana perilaku ditampilkan.Merencanakan Meletakkan kembali Menyatakan kembali Memecahkan Merangkum Menggaris bawahi Menulis Berpartisipasi Merespon Memperbaiki Memverifikasi Menggerakkan Mengorganisir Bereaksi Menunjukkan Mengerjakan 3. Pada akhir diskusi kedua. budaya. didasarkan atas tujuan belajar. C. dan kemampuan. D. buku. Contohnya: Klien akan menyebutkan tiga hal yang mempengaruhi kadar gula darah. terbaru. informasi yang dibutuhkan mencapai tujuan dengan baik harus diseleksi dari berbagai sumber informasi. disesuaikan dengan usia klien. serta dipilih dengan mempertimbangkan waktu dan sumber daya yang kungkin untuk mengajar. dan perawat lain atau dokter atau anggota tim pelayanan kesehatan lain. Dalam tujuan harus terkandung kondisi yang diinginkan untuk mengklarifikasi dimana. kapan.

Di lain pihak jika tujuan belajarnya adalah “Klien dapat mendiskusikan perasaannya tentang bagaimana kembali ke rumah sesudah mengalami serangan jantung”. Membuat Rencana Evaluasi man/penpromkes 13 . lihat kembali kegunaan dan kecocokan penggunaan alat bantu pada pembahasan sebelumnya. jika tujuan belajarnya adalah: “Klien dapat mengganti balutan pada kakinya dengan teknik steril”. Alat ini baik sekali digunakan untuk menambah atau menguatkan mengajar dengan strategi tatap muka. tetapi yang lain dapat dengan mudah dicapai dengan diskusi kelompok. tetapi bukan suatu pengganti untuk berhubungan dengan manusia. Oleh karena itu. itu pilihlah alat Bantu secara hati-hati.Memilih metode mengajar hendaknya cocok untuk individu. Metode yang cocok untuk itu adalah metode privat yang disarankan oleh perawat. Memilih Alat Bantu Mengajar Alat bantu mengajar telah dibahas pada bab sebelumnya. Sebagai contoh. dan cocok dengan pengajar dan berbagai faktor lain perlu dipertimbangkan. Beberapa tujuan belajar mungkin dapat dicapai dengan mudah melalui tatap muka satu persatu antara perawat dengan klien. F. cocok dengan materi yang dipelajari. tujuan akan lebih mudah dicapai dengan diskusi kelompok dengan klien lain yang mempunyai perasaan yang sama. Alat Bantu mengajar sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai. diskusi kelompok tidak mungkin diadakan. E. Alat Bantu mengajar membantu belajar.

apakah sesuai atau terjadi perubahan dalam pelaksanaannya. yakni menilai langkah-langkah yang telah dijadwalkan dalam perencanaan. Evaluasi pendidikan kesehatan. Misalnya tentang jadwal waktu. DAFTAR PUSTAKA man/penpromkes 14 . Evaluasi dapat dibedakan: 1. yakni sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dengan pendidikan kesehatan yang dimaksud. Evaluasi hasil kegiatan.Rencana evaluasi harus disebutkan dalam perencanaan kegiatan pendidikan kesehatan. dan tindakannya. misalnya waktu dan sasaran yang akan dievaluasi. sikap. dan indikator apa yang akan dipakai dalam evaluasi itu. tempat. dan alat bantu peraga. 2. Misalnya terjadinya perubahan pengetahuan.

Al. Aswan Z. (2002). Rineka Cipta. (2002).. et. Jakarta 2. Daftar Acuan : Suliha. G. Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan. Syaiful BD. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. man/penpromkes 15 . Buku Kedokteran-EGC..1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->