PENGKAJIAN KEBUTUHAN BELAJAR Pengkajian yang komprehensif tentang kebutuhan belajar dapat digali dari riwayat keperawatan dan

hasil pengkajian fisik serta melalui informasi dari orang yang dekat dengan klien. Pengkajian juga mencakup karakteristik klien yang mungkin akan mempengaruhi proses belajar, misalnya kesiapan belajar, motivasi untuk belajar, dan tingkat kemampuan membaca. Selain penggalian data melalui wawancara, perawat juga harus melakukan observasi terhadap kemampuan dan kebutuhan-kebutuhan klien. Kebutuhan belajar dapat juga diidentifikasi dari pertanyaan klien terhadap perawat tentang sesuatu hal yang tidak mereka ketahui atau tidak terampil dalam melakukannya. A. Pengkajian Faktor Predisposisi 1. Pengkajian riwayat keperawatan Informasi tentang usia akan memberi petunjuk mengenai status perkembangan seseorang, sehingga dapat memberikan arah mengenai isi pendidikan kesehatan dan pendekatan yang harus digunakan. Pertanyaan yang diajukan hendaknya sederhana. Pada klien lanjut usia (lansia), pertanyaan diajukan dengan perlahan dan diulang. Status perkembangan, terutama pada klien anak, dapat dikaji melalui observasi ketika anak melakukan aktivitas atau bermain, sehingga perawat mendapat data tentang kemampuan motorik dan perkembangan intektualnya. Persepsi klien tentang keadaan masalah kesehatannya saat ini dan bagaimana mereka menaruh perhatian terhadap masalahnya dapat memberikan informasi kepada perawat tentang seberapa jauh pengetahuan mereka mengenai masalahnya dan pengaruhnya terhadap kebiasaan aktivitas sehari-hari. Informasi

man/penpromkes

1

kepercayaan tentang agama yang dianut. perawat tetap harus mengkaji dan menilai klien secara individual. rancangan tidak akan sesuai dan sulit untuk dilaksanakan. Kepercayaan dalam budaya tersebut dapat berhubungan dengan kebiasaan makan. Oleh karena itu. kebiasaan mempertahankan kesehatan. Cara terbaik seseorang dalam belajar mungkin dengan melihat atau menonton untuk memahami sesuatu dengan baik. dan peran gender merupakan faktor penting dalam mengembangkan rencana pendidikan kesehatan. kebiasaan menangani keadaan sakit. Keadaan ekonomi klien dapat berpengaruh terhadap proses belajar klien. karena hal ini tidak selalu terjadi. serta gaya hidup. Jika tidak. Kepercayaan klien tentang kesehatan. Berbagai daerah mempunyai kepercayaan dan praktik-praktik tersendiri. Dilain pihak. yang lain mungkin belajar tidak dengan cara melihat. perawat harus mengkaji hal ini dengan baik. namun demikian tidak boleh menarik asumsi bahwa setiap individu dalam suatu etnik dengan kultur tertentu mempunyai kebiasaan yang sama. tidak boleh menjadi donor organ tubuh.ini dapat memberi petunjuk kepada perawat untuk memberi arahan yang tepat serta sumber-sumber lain yang dapat digunakan oleh klien. Perawat sangat penting mengetahui hal tersebut. contohnya adalah kepercayaan tidak boleh menerima tranfusi darah. Yang lain mungkin dapat belajar man/penpromkes 2 . tetapi dengan cara melakukan secara actual dan menemukan bagaimana cara-cara mengerjakan sesuatu hal. Kepercayaan yang penting digali pada klien. Bagaimanapun. Bagaimana cara klien belajar adalah hal yang sangat penting untuk diketahui. karena perencanaan pendidikan kesehatan dirancang sesuai dengan sumber-sumber yang ada pada klien agar tujuan tercapai. dan tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi. Cara belajar yang terbaik bagi setiap individu bervariasi.

untuk kemudian mengadaptasi pendidikan kesehatan yang sesuai dengan cara-cara klien belajar. 2. kekuatan fisik. Perawat perlu meluangkan waktu dan memupuk keterampilan untuk mengkaji klien dan mengidentifikasi gaya belajar. Pengkajian Kesiapan Klien untuk Belajar Klien yang siap untuk belajar sering dapat dibedakan dengan klien yang tidak siap. Fungsi system muskuloskelet mempengaruhi kemampuan keterampilan psikomotor dan perawatan diri. Sebuah teknik akan sangat efektif untuk beberapa klien. Seorang klien yang siap belajar mungkin mencari informasi. Anggota keluarga atau teman dekat mungkin dapat membantu klien dalam mengembangkan keterampilan di rumah dan mempertahankan perubahan gaya hidup yang diperlukan klien. 3. sebaliknya teknik lain akan cocok untuk klien dengan gaya belajar yang berbeda. Kemampuan melihat dan mendengar memberi pengaruh besar terhadap pemilihan substansi dan pendekatan dalam mengajar. misalnya man/penpromkes 3 . Perawat perlu mengkaji system pendukung klien untuk menentukan siapa saja sasaran pendidikan yang mungkin dapat mempertinggi dan mendorong proses belajar klien. Pengkajian fisk Pengkajian fisik secara umum dapat memberikan petunjuk terhadap kebutuhan belajar klien. Toleransi aktivitas juga dapat mempengaruhi kapasitas klien untuk melakukan aktivitas. Hal lain yang mencakup pengkajian fisik adalah pernyataan klien tentang kapasitas fisik untuk belajar dan untuk aktivitas perawatan diri sendiri.dengan baik dengan membaca sesuatu yang dipresentasikan oleh orang lain. Contohnya: status mental. status nutrisi. Menggunakan variasi teknik mengajar dan variasi aktivitas selama mengajar adalah jalan yang baik untuk memenuhi kebutuhan gaya belajar klien.

Perawat tidak dapat memaksakan. pusing. depresi. ketakutan. apakah klien tidak dalam pengaruh zat yang mengganggu tingkat kesadaran? Pertanyaan itu sangat penting untuk dikaji. Sudahkah klien dapat berhubungan dengan rasa saling percaya dengan perawat? Ataukah klien belum mau menjalin komunikasi karena masih belum menaruh rasa percaya.rasa malu atau adanya man/penpromkes 4 . tukar pendapat dengan sesama klien yang pada umumnya menunjukkan ketertarikan. membaca buku atau artikel. lelah. 4. Motivasi seseorang dapat dipengaruhi oleh masalah keuangan. Hubungan saling percaya antara perawat dank lien menentukan komunikasi dua arah yang diperlukan dalam proses belajar mengajar. tetapi harus menunggu sampai keadaan klien memungkinkan dapat menerima proses pembelajaran. atau lain hal. Kesiapan berkomunikasi. pengingkaran terhadap penyakit. Dilain pihak. Apakah secara emosi klien siap untuk belajar? Klien dalam keadaan cemas.melalui bertanya. Kesiapan fisik penting di kaji oleh perawat apakah klien dapat memfokuskan perhatian atau lebih berfokus status fisiknya. Motivasi dan memberi rangsangan atau jalan untuk belajar merupakan faktor penentu yang sangat kuat untuk kesuksesan dalam mendidik klien dan berhubungan erat dengan pemenuhan kebutuhan klien. Kesiapan kognitif. Kesiapan emosi. misalnya terhadap nyeri. klien yang tidak siap belajar biasanya lebih suka untuk menghindari masalah atau situasi. Dapatkah klien berpikir secara jernih? apakah klien dalam keadaan sadar penuh. Pengkajian Motivasi Secara umum dapat diterima bahwa seseorang harus mempunyai keinginan belajar demi keefektifan pembelajaran. penolakan terhadao status kesehatan. mengantuk. atau dalam keadaan berduka karena keadaan kesehatannya atau keadaan keluarganya biasanya tidak siap untuk belajar. kecemasan. kurangnya dorongan dari lingkungan social.

mungkin dapat ditunjukka secara verbal atau juga secara nonverbal. tawarkan kepada klien beberapa pilihan cara belajar (membaca. Pengkajian Kemampuan Membaca Ketidakmampuan membaca dan menulis dapat ditemukan pada setiap langkah kehidupan. Mengkaji tingkat kesenangan membaca klien. Banyak orang dengan kemampuan membaca dan menulis rendah memiliki intelegensi rata-rata dan berbicara dengan baik. Jika memungkinkan. Motivasi memang sulit untuk dikaji. Berikut ini dijelaskan cara mengkaji tingkat kemampuan membaca klien. menonton/melihat atau mendengarkan). Bagaimana seorang perawat dapat menentukan tingkat kemampuan membaca klien? Melakukan pengujian secara langsung adalah cara yang terbaik. Berikan sesuatu untuk dibaca dan kemudian minta klien menjelaskan apa yang dibacanya dengan menggunakan bahasanya sendiri. Pengkajian tentang motivasi belajar sering merupakan bagian dari pengkajian kesehatan secara umum atau diangkat sebagai msalah yang spesifik. a. Contohnya. Penampilan seseorang dan penggunaan bahasa tidak mengindikasikan bahwa ia mampu membaca dan menulis. motivasi belajar seorang pria setengah baya yang dinyatakan hipertensi dan mulai mendapat pengobatan anti hipertensi untuk mengendalikan tekanan darahnya mungkin akan rendah jika teman dekatnya menceritakan bahwa ia impotent setelah mendapat pengobatan yang sama. Motivasi juga dipengaruhi oleh sikap dan kepercayaan. 1. Seorang perawat ketika mengkaji motivasi dan kemampuan klien harus betulbetul mengerti sepenuhnya tentang subjek belajar. gunakan materi bacaan yang mudah dan jika man/penpromkes 5 . Jika ragu-ragu.konsep diri yang negatif. pada semua suku dan pada setiap tingkat sosial ekonomi. tetapi sering sulit dipraktikkan.

Tulis kalimat-kalimat pendek d. kemudian jumlahkan. Ambillah 10 kalimat dari bagian awal. Gunakanlah kata-kata yang lebih pendek b. untuk belajar klien. Menggunakan indeks SMOG untuk mengkaji tingkat kemampuan membaca klien terhadap materi pendidikan kesehatan sehingga kemudian dapat ditentukan kesesuaian materi untuk populasi yang akan membacanya.seseorang dalam keadaan stress sebaiknya dimulai dengan materi sederhana. maka lakukanlah: a. “Untuk menentukan tingkat materi bacaan. pilihlah 30 kalimat dalam bacaan. b. Berikut ini disajikan cara menentukan Tingkat Kesiapan dari pada Materi Tertulis dengan menggunakan indeks SMOG. Jelaskan peristilahan-peristilahan yang digunakan e. Gunakan kata-kata yang mudah dan sering digunakan Tebel Indeks SMOG Jumlah kata-kata yang mengandung 3 atau lebih suku kata 0–2 3–6 7 – 12 13 – 20 21 – 30 Tingkat bacaan 4 5 6 7 8 man/penpromkes 6 . 10 kalimat dari tengah dan 10 kalimat dari bagian akhir bacaan. baru kemudian ditambahkan yang lebih kompleks. Hitunglah semua kata yang mengandung 3 atau lebih suku kata (Syllabes).” Untuk menurunkan tingkat bacaan dan menyederhanakan materi pendidikan kesehatan untuk klien. Hindari kata-kata dengan beberapa suku kata c. Kemudian temukan jumlah tersebut didalam daftar dibawah ini dan baca menyilang untuk menemukan tingkat/grade bacaan/materi belajar.

Pengkajian Faktor Pemungkin 9 10 11 12 Faktor pemungkin mencakup keterampilan serta sumber daya yang penting untuk menampilkan perilaku yang sehat. teman sebaya. karena dengan mengetahui sejauh mana klien memiliki keterampilan pemungkin. misalnya. C. atau klien lain dan keluarga. waktu dapat dijangkau? Bagaimana keterampilan klien untuk melakukan perubahan perilaku perlu diketahui . dan keluarga. Di dalam pendidikan kesehatan klien di rumah sakit. Faktor ini juga menyangkut keterjangkauan sumber tersebut oleh klien: apakah biaya. Sumber penguat tersebut bergantung kepada tujuan dan jenis program. personalia yang tersedia. atau sumber-sumber lain yang serupa. ahli gizi. penguat diberikan oleh perawat.31 – 42 43 – 56 57 – 72 73 – 90 B. Pengkajian Faktor Penguat Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. untuk menjamin bahwa sasaran pendidikan kesehatan mempunyai kesempatan yang maksimum man/penpromkes 7 . ruangan yang ada. Perawat perlu mengkaji secara cermat faktor penguat ini. Di dalam pendidikan kesehatan di sekolah penguat mungkin berasal dari guru. Pengaruh itu tidak sama. wawasan yang bernilai bagi perencana pendidikan kesehatan dapat diperoleh. Sumber daya dimaksud meliputi fasilitas yang ada. dokter. Apakah faktor penguat itu positif atau negative tergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berpengaruh. jarak. mungkin sebagian mempunyai pengaruh yang sangat kuat dibandingkan dengan yang lainnya dalam mempengaruhi perubahan perilaku. pimpinan sekolah.

ketakakuratan mengikuti suatu instruksi. Karakteristik definisi tersebut adalah: adanya pengungkapan secara verbal tentang masalah. Faktor-faktor yang berhubungan atau menjadi penyebab dari kurangnya pengetahuan mencakup kurangnya keterpaparan informasi. kurangnya ketertarikan dalam belajar. man/penpromkes 8 . dan tidak dapat menunjukkan pengetahuannya tentang tindakan-tindakan keperawatan kesehatan yang penting untuk mempertahankan kesehatan (NANDA). keterbatasan pengetahuan. adanya kesalahpenafsiran. permusuhan. Sebagai contoh diagnosis keperawatan yang dikemukakan oleh North Americans Nursing Diagnosis Assosiation (NANDA) adalah sebagai berikut 1. Defenisi Kurang Pengetahuan adalah: pernyataan pada saat individu. Kurang pengetahuan: diet rendah kalori berhubungan dengan tidak punya pengalaman. agitasi.untuk mendapat umpan balik yang mendukung selama berlangsungnya proses perubahan perilaku. ketakakuratan penampilan dalam suatu uji. keluarga. PENEGAKAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan kebutuhan belajar dikelompokkan di bawah kategori. atau komunitas tidak dapat memahami. 2. kurang mengulang pelajaran. Kurang Pengetahuan. Kurang pengetahuan: efek pengobatan berhubungan dengan adanya perbedaan bahasa dan kesalahan penafsiran informasi. Kurang pengetahuan: perawatan pra operasi berhubungan dengan belum adanya pengalaman menghadapi prosedur pembedahan. misalnya hysteria. 4. tidak familiarnya klien dengan sumber informasi. ketaksesuaian perilaku atau adanya perilaku berlebihan. atau apatis. 3. tidak dapat belajar. Kurang pengetahuan: diet Diabetes Mellitus berhubungan dengan tidak familiarnya diri dengan program yang harus diikuti.

2. Menentukan Prioritas Pengajaran man/penpromkes 9 . Melibatkan klien saat perencanaan dapat meningkatkan terciptanya perencanaan yang berguna dan merangsang motivasi klien. Kurangnya pengetahuan: penyalahgunaan zat berhubungan dengan kurangnya ketertarikan dalam mempelajari informasi. PERENCANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN Mengembangkan perencanaan pengajaran adalah menyelesaikan sejumlah langkah. Sebagai contoh: 1. A.5. Cara lain untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar klien adalah menuliskan Kurang Pengetahuan sebagai etiologi atau bagian kedua dari pernyataan diagnosis keperawatan. Risiko tinggi terjadinya penularan tuberculosis paru pada anggota keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam hal cara-cara dan pencegahan penularan. 6. 3. Risiko tinggi terjadinya injuri/rudapaksa berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam teknik penggunaan tongkat untuk berjalan. Kurangnya pengetahuan: Bahaya keamanan di rumah berhubungan dengan adanya penolakan terhadap penurunan kesehatan dan kurangnya ketertarikan untuk belajar. Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan dalam hal penyakit menular seksual dan pencegahannya. Risiko tinggi terjadinya gangguan proses menjadi orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam merawat bayi dan menyusui. Klien yang membantu merumuskan perencanaan pengajaran akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. 4.

kemampuan perawat untuk mempengaruhi pemecahan masalah. Perawat dan klien hendaknya melakukannya secara bersama-sama. skala prioritas yang dikembangkan oleh Bailon dan Maglaya (1988) dapat dipergunakan. Menetapkan Tujuan Belajar Tujuan belajar yang ditetapkan dapat disamakan dengan tujuan pada proses asuhan keperawatan. faktor predisposisi. pemungkin. motivasi komunitas memecahkan masalah. afektif. seseorang yang baru dinyatakan mengidap penyakit Diabetes Mellitus akan mau mengatur diet sesuai dengan yang dianjurkan sebelum ia tahu bagaimana pengaruh diet tersebut terhadap status gula darah dan kesehatannya. atau komunitas yang lebih besar. Tujuan belajar yang man/penpromkes 10 . Khusus untuk memprioritaskan pengajaran dikeluarga. B. contoh lain.Kebutuhan belajar klien harus diurut berdasarkan prioritas. penentuan prioritas belajar hendaknya secara lebih luas mempertimbangkan faktor lain yang telah dikaji yakni. kelompok. seperti hierarki kebutuhan menurut teori Maslow untuk menetapkan prioritas belajar. Kriteria untuk memprioritaskan pengajaran di dalam komunitas antara lain adalah: kesadaran komunitas terhadap masalah. Jika klien adalah sebuah keluarga. dan penguat. berat serta konsekwensi jika masalah tidak terpecahkan (Goeppinger and Shuster. Perawat juga dapat menggunakan kerangka pikir lain. 1988). dan psikomotor. Salah satu yang menjadi criteria yang diprioritaskan adalah motivasi klien untuk berkonsentrasi pada kebutuhan belajar kebutuhan belajar yang telah diidentifikasikan sebagai contoh seseorang yang ingin mengetahui segala sesuatu tentang penyakit jantung koroner mungkin tidak siap untuk memepelajari bagaimana mengubah gaya hidupnya sampai pada saat ia menemukan kebutuhannya untuk belajar tentang penyakit tersebut: atau. Ketika menetapkan hal ini baik sekali diingat mengenai tiga ranah belajar yaitu kognitif.

Beberapa ketentuan umum dalam merumuskan tujuan belajar adalah sebagai berikut: 1. Tujuan belajar dapat diobservasi. DOMAIN AFEKTIF Merubah Menjawab Menentukan Memilih Melengkapi Menyepakati Menuruti/mengikuti Mempertahankan Mendiskusikan Membantu Bekerjasama KOGNITIF Membandingkan Membedakan Menguraikan Menggambarkan Menjelaskan Mengidentifikasi Memberi tanda Mengurutkan Menjodohkan Menamakan Menyiapkan PSIKOMOTOR Beradaptasi Memulai Merangkai Menghitung Mengalikan Merubah Membangun Menciptakan Mendemonstrasikan Memanipulasi Mengukur man/penpromkes 11 . strategi. aktivitas. sementara aktivitasnya dapat diukur. Misalnya.dirancang dengan baik akan menuntun perencanaan tentang isi atau substansi. Tujuan belajar dinyatakan di dalam perilaku atau penampilan yang dikehendaki. 2. klien dapat berjalan di sekitar tempat tidur. misalnya: perawat tidak mengajari klien tentang diet. Tujuan tidak dinyatakan dalam perilaku perawat. tetapi frekuensinya sering (kognitif). dan perencanaan metode evaluasi belajar. contohnya: klien dapat menunjukkan atau mendemonstrasikan teknik pemberian ASI dengan benar (psikomotor). klien dapat menguraikan perasaan meningkatnya rasa nyaman setelah pemberian obat (afektif). metode. Perhatikan kata-kata yang digunakan dalam membuat tujuan pada tabel berikut. klien dapat menjelaskan alas an ia harus makan dalam porsi sedikit. hal yang dapat dilihat.

serta dipilih dengan mempertimbangkan waktu dan sumber daya yang kungkin untuk mengajar. C. klien dapat mendemonstrasikan injeksi insulin sendiri dalam dosis dan cara yang benar sebelum pasien dipulangkan. informasi yang dibutuhkan mencapai tujuan dengan baik harus diseleksi dari berbagai sumber informasi. 4. Contohnya klien dapat berjalan dari ujung tempat tidur ke ujung lainnya tanpa menggunakan tongkat pembantu. Sumber yang dipilih hendaknya: akurat. D. Dalam tujuan harus terkandung kondisi yang diinginkan untuk mengklarifikasi dimana. Pengetahuan yang dibutuhkan perawat dapat diperoleh melalui pendidikan. didasarkan atas tujuan belajar. atau bagaimana perilaku ditampilkan.Merencanakan Meletakkan kembali Menyatakan kembali Memecahkan Merangkum Menggaris bawahi Menulis Berpartisipasi Merespon Memperbaiki Memverifikasi Menggerakkan Mengorganisir Bereaksi Menunjukkan Mengerjakan 3. budaya. dan kemampuan. disesuaikan dengan usia klien. kapan. dan perawat lain atau dokter atau anggota tim pelayanan kesehatan lain. Pada akhir diskusi kedua. atau dengan kata lain. buku. terbaru. konsistensi. Memilih Substansi (Isi Materi) Isi pembelajaran sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai. Memilih Strategi Belajar man/penpromkes 12 . Dalam tujuan harus tercakup criteria waktu yang spesifik. jurnal keperawatan. Contohnya: Klien akan menyebutkan tiga hal yang mempengaruhi kadar gula darah.

Memilih metode mengajar hendaknya cocok untuk individu. Alat Bantu mengajar membantu belajar. Di lain pihak jika tujuan belajarnya adalah “Klien dapat mendiskusikan perasaannya tentang bagaimana kembali ke rumah sesudah mengalami serangan jantung”. tetapi yang lain dapat dengan mudah dicapai dengan diskusi kelompok. diskusi kelompok tidak mungkin diadakan. dan cocok dengan pengajar dan berbagai faktor lain perlu dipertimbangkan. Alat Bantu mengajar sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai. Memilih Alat Bantu Mengajar Alat bantu mengajar telah dibahas pada bab sebelumnya. jika tujuan belajarnya adalah: “Klien dapat mengganti balutan pada kakinya dengan teknik steril”. E. cocok dengan materi yang dipelajari. lihat kembali kegunaan dan kecocokan penggunaan alat bantu pada pembahasan sebelumnya. tujuan akan lebih mudah dicapai dengan diskusi kelompok dengan klien lain yang mempunyai perasaan yang sama. Metode yang cocok untuk itu adalah metode privat yang disarankan oleh perawat. F. Alat ini baik sekali digunakan untuk menambah atau menguatkan mengajar dengan strategi tatap muka. Oleh karena itu. Membuat Rencana Evaluasi man/penpromkes 13 . tetapi bukan suatu pengganti untuk berhubungan dengan manusia. itu pilihlah alat Bantu secara hati-hati. Beberapa tujuan belajar mungkin dapat dicapai dengan mudah melalui tatap muka satu persatu antara perawat dengan klien. Sebagai contoh.

Evaluasi dapat dibedakan: 1. Misalnya tentang jadwal waktu. 2. Evaluasi pendidikan kesehatan. apakah sesuai atau terjadi perubahan dalam pelaksanaannya. misalnya waktu dan sasaran yang akan dievaluasi.Rencana evaluasi harus disebutkan dalam perencanaan kegiatan pendidikan kesehatan. Evaluasi hasil kegiatan. tempat. dan indikator apa yang akan dipakai dalam evaluasi itu. yakni sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dengan pendidikan kesehatan yang dimaksud. DAFTAR PUSTAKA man/penpromkes 14 . dan alat bantu peraga. sikap. Misalnya terjadinya perubahan pengetahuan. yakni menilai langkah-langkah yang telah dijadwalkan dalam perencanaan. dan tindakannya.

(2002). Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan.. Syaiful BD. Strategi Belajar Mengajar. Daftar Acuan : Suliha. Rineka Cipta.. Al. Jakarta.1. Aswan Z. (2002). man/penpromkes 15 . Jakarta 2. G. et. Buku Kedokteran-EGC.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful