TRAUMA TORAKS

II. Pertimbangan Umum A. Pasien cedera dada seringkali berada dalam kondisi yang kritis dan memerlukan diagnosis yang cepat serta terapi yang adekuat. Torakotomi darurat hanya diperlukan pada sekitar 10% kasus trauma dada mayor. 90% lainnya, memerlukan prosedur resusitasi yang tersedia di UGD, berperalatan lengkap diikuti dengan perawatan rawat inap yang tepat. B. ABC hendaknya diperiksa segera setelah pasien datang di UGD: jalan napas harus terjamin lancar dan pernapasan serta sirkulasi ditopang, jika perlu. C. Jalan napas 1. Jika jalan napas tidak paten, harus dibuat paten segera. Obstruksi sering disebabkan oleh lidah pasien, dan pengarahan rahang dengan mendorong mandibula ke depan seringkali sudah cukuo untuk membuka jalan napas. Bantuan dengan selang oral atau nasal dapat juga membantu. Benda asing, termasuk gigi yang dislokasi, harus dikeluarkan. 2. Intubasi endotrakheal (ET) mungkin diperlukan jika jalan napas tidak dapat diperbaiki dengan langkah-langkah di atas atau jika pasien tidak mendapatkan ventilasi yang cukup. a. Intubasi orotrakheal dapat dilakukan jika terauma vertebrae cervicales sudah disingkirkan secara klinis maupun radiologis. jika masih ada kemungkinan cedera tulang belakang dan intubasi harus dipasang, kepala harus distabilkan dan ditahan dalam posisi yang netral oleh seorrang assisten, lalu proseedur ini dapat dilakukan tanpa menggerakkan vertebrae cervicales.

b. E. Sirkulasi. atau pada kassus trauma wajah masif. D. ventilasi dibantu dengan alat bantu kantong berkatup yang dihubungkan dengan masker atau ETT. jalan napas yang kecil seperti itu harus segera diganti dengan slang yang lebih besar dan dimasukkan lewat suatu insisi. Insisi dilakukan melewati kulit dan membran krikotiroid. nomor 4) yang dipotong pendek. Ktrikotirotomi mungkin diperlukan jika intubasi tidak berhasil. Amati dada dan lakukan auskultasi paru. (b) Kartilago tiroid distabilkan dengan satu tangan sementara tangan yang satunya melakukan insisi melintang 1 hingga 2 cm. (c) Insisi ini kemudia diperluas dan sebuah slang dimasukkan. infus cairan dan darah melalui jalur 4. pernapasan passien mungkin belum adekuat. Perfusi harus dipertahankan dengan megendalaikan perdarahan. dekompresi tension . (1) Di UGD. Jika perlu. Sekalipun jalan napas sudah bersih. krikotirotomi lebih disukai dari pada trakeostomi karena lebih mudah dilakukan dengan cepat. Meskipun demikian. (d) Jarum berkaliber besar atau alat krikotirotomi komersial dapat dipasang sementara ssebagai alternatif yang lebih mudah dan lebih cepat dibanding dengan krikotirotomi bedah yang formal. berkaliber besar sesuai indikasi. Dapat dipakai alat trakeostomi atau slang endotrakheal (ETT) kecil (misalnya. (2) Krikotirotomi dilakukan dengan cara berikut: (a) Lokasi membrana krikotiroidea ada pada celah melintang yang terletak disebelah kaudal kartilago tiroid dan disebelah sefal kartilago krikoid. Pernapasan. jika ada kemungkinan kuat cedera vertebrae cervicales.

distensi vena leher. Pneumotoraks. Fraktur iga sederhana terasa nyeri. sianosis. 4. Fraktur Iga 1. Luka tembus yaang nyata dengan aliran udara yang melewati defek dinding dada. Dispnea dengan suara napas yang meredup dan timpani pada satu sisi. Sebuah segmen dinding dada bergerak paradoksal. b.pneumotoraks atau tamponade perikardium. Meskipunn demikian. khususnya pada orang dewasa sehingga mengakibatkan etelektasis dan pneumonia. yaitu. tetapi bunyi napas simetris. dan syok.b) . F. II. mungkin dengan emfisema subkutan. kedalam saat inspirasi dan keuar saat ekspirasi. 5. Umum a. Pemeriksaan awal dapat mengungkapkan patologi dasar yang serius sebagai berikut: 1. nyerinya dapat membatasi pernapasan dan menghalangi batuk yang adekuat. Fraktur iga multipel dapat menyebabkan fail chest (lihat bagian 2. 2. tetapi jarang serius. Hipotensi. atau torakotomi terbuka dengan kompresi aorta dan massase jantung internal (lihat pokok-pokok berikut). Tension pneumotoraks. 3. yang dapat diikuti dengan distensi vena leher. Pneumotoraks terbuka (sucking chest wound). Tanda-tanda yang disebut diatas ditambah dengan deviassi trakhea. Diagnosis dan Terapi Trauma Dada Trauma dada dapat berupa trauma tumpul atau trauma tembus dan dapat mengakibatkan cedera yang bervariasi dari cedera ringan hinngga mematikan. Tamponade perikardium. A. Flail chest.

Diagnosis a. Terapi a. d. b. seperi hidrokodon atau kodein yang dikombinasi dengan aspirin atau asetaminofen setiap 4 jam. Jangan sampai mengenai pembuluh darah interkostales dan parenkim paru. hepar. Fraktur iga pertama atau kedua berhubungan dengan insiden cedera pembuluh darah besar yang tinggi. . (2) Tempat penyuntikan di bawah tepi bawah iga.c. antara tempat fraktur dan prosesus spinosus. tetapi secara klinis mirip dengan fraktur iga. atau bergerak. Fraktur iga bawah dapat disertai cedera limfa. c.5% 2-5 ml. Blok nervus interkostalis dapat digunakan untuk mengatasi nyeri berat akibat fraktur iga. Foto thoraks. diinfiltrasikan di sekitar n. termasuk gambar iga yang rinci. Sebagaian besar dinding dada anterior munngkin terdiri dari kartilago yang tidak mengalami klassifikasi sehingga tidak radiopak. 3. Dengan demikian. atau ginjal. bernapas dalam. Pertimbangkan aortografi. 2. 0. Nyeri biasanya berkurang dengan analgetik oral. b. akan mengkonfirmasi diagnosis dan membantu menyingkirkan kemungkinan adanya pneumotoraks atau hemotoraks. (1) Bupivakain (marceine). Interkostalis pada iga yang fraktur serta iga-iga di atas dan dibawah yang cedera. Pasien dengan fraktur iga sederhana mengalami nyeri tekan pada palpasi dann mengeluh nyeri yang bertambah sewaktu batuk. kartilago iga yang mengalami fkatur tidak tampak pada radiografi.

Diagnosis Pergerakan paradoksal segmen yang mengambang tadi dapat diketahui dengan observasi atau palpasi langsung. Umum a. dapat terjadi dada yang tidak stabila atau fail chest b. fraktur multipel. cedera penyerta yang signifikan. Pengikatan dada yang kuat tidak dianjukan. penyakit kardiorespirasi yang ada sebelumnya.kiri fungsional dan hipoksia. Faktor-faktor yang mungkin mengharuskan pasien di rawat di rumah sakit. Jika beberapa iga atau sternum mengalami fraktur pada dua sisi tempat benturan. 2. yaitu bergerak masuk ketika tekanan intra torakss negatif saat inspirasi dan bergerak keluar saat ekspirasi. B. Akan tetapi. Flail Chest 1. 3. adalah kontusio paru. nilai gas darah abnormal atau komplikasi seperti pneumotoraks. Semakin berat dan luas kontusio ini maka semakin berat juga kelainnan pertukaran gasnya. d. Terapi . faktor penyebab utama terjadinya hipoksia pada cedera ini. Sabuk iga yang mudah dilepas. Karena dapat membatassi pernapasan. dikaitkan dengan velcro dapat memberikan rasa nyaman. adalah faktor usia.c. c. Gerakan paradoksal ini mengakibatkan volume tidal menurun sehinngga terjadi pirau (shunt) kanan-ke. Segmen dinding dada yang tidak tertopang bergerak secara paradoksal. Yang juga timbul. dan pneumonia. tetapi pasien harus diingatkan tentang perlunya bernapas dalam dan panjang secara periodik untuk mencegah hipoaerasi retensi sekret.

Pneumotoraks dapat digolongkan sebagai pneumotoraks sederhana. diterpi dengan torakostomi slang. . Di UGD. c. c. Cedera-cedera terkait. Umum a. atau terbuka. Pneumotoraks traumatik dapat terjadi pada cederraa tumpul atau tembus dan dapat disertai dengan hemotoraks. tension. khususnya jika analisis gas darah memperlihatkan ventilasi atau oksigenasi yang tidak adekuat. Segmen yang mengambang harus di stabikan. Dua kategori yang terakhir dapat cepat menjadi fatal. Dilapangan. b. Jumlah relatif udara di dalam ruang pleura perlu dipastikan dan perlu ditetapkan apakah ruangan ini mengalami tegangan.a. atau dari atmosfer sekitarnya jika dinding dada tertembus. Udara dapat masuk ke ruang pleura dada dari trakhea. Pneumotoraks 1. stabilisasi internal adalah pendekatan paling baik untuk kasus yang sudah jelas sepoerti flail chest. bronkhus. seperti pneumotoraks dan hemotoraks. Blok nervus interkostalis terutama bermanfaat unntuk nyeri berat C. jika organ-organ ini rusak. karena ventilasi tekanan positif dapat menyebabkan pneumotoraks pada paru yang mengalami cedera maka slang-slang dada seringkali juga dipasang pada pasien ketika ventilasi mekanink dipasang d. Stabilisasi internal terdiri dari intubasi ET dan ventilasi tekanan positif. atau paru. para medis dapat menempatkan pasien dengan posisi terlentang atau dekubitus sehingga segmen yang mengambang tadi terletak menempel pada tempat tidur b.

aliran darah yang melalui sirkulasi sentral akan menurun secara signifikan yang mengakibatkan hipotensi arterial dan syok. Paru disisi cedera menjadi kolaps. . dan oksigenasi menjadi terganggu. udara dapat masuk dan keluar dari ruang pleura dari setiap pernapsan sehingga menyebabkan paru didalamnya kolaps. Pneumotoraks sederhana a. 3. Ketika tekanan intrapleura meninggi dan kedua paru tertekan. dan paru sebelah juga terkompresi d. Tension pneumotoraks a. Hipoksia yang sangat berat dapat timbul e. Namun. faktor-faktor ini hilang. jika defek dinding dada cukup lebar. Pneumotoraks terbuka (sucking chest wound) a. Jika udara memasuki ruang pleura. Walaupun ada trauma tembus dinding dada. Tension pneumotoraks adalah keadaan darurat yang gawat. b. udara yang masuk ke ruang pleura lebih banyak yang berasal dari paru-paru yang rusak daripada dari defek dinding dada b. 4. Pleura parietal dan visceral seharusnya dipertahankan tetap berkontak karena ada gabungan antara tekanan intrapleura yang negatif dan tarikan kapiler oleh sejumlah kecil cairan pleura. Tekanan intrapleura terus meninngkat sekalipun paru sudah kolaps total c. b. akan tercipta efek bola berkatup. c. Keadaan inni dapat mematikan dalam beberapa menit kalau tidak segera dikoreksi. Jika lebih banyak udara masuk ruang pleura pada saat inspirasi dibandingkan dengan yang keluar pada saat ekspirasi. Akhirnya tekanan ini menjadi demikian tinggi sehingga mediastinum terdorong ke sisi berlawanan.2. f.

atau dugaan tamponade perikardium jika bunyi pernapssan normal. (3) Pneumotoraks terbuka (a) Gelembunng-gelembug udara dapat terlihat bergerak melewati darah didalam luka . Syok dengan distensi vena leher memberi dugaan kuat tension pneumotoraks jika bunyi pernapasan meredup/asimetrik. trauma jika juga disertai kehilangan darah yang banyak (b) Deviasi trakhea posisi yang berlawanan dari pneumotoraks yang terdeteksi dengan palpasi leher (c) Pergeseran jantung kesisi berlawanan yang terdeteksi dengan perkusi dan auskultasi dada (d) Syok. Pnemotoraks terbuka dapat cepat menjadi fatal. Syok akibat kehilangan darah akan menyebabkan kolaps pada vena-vena leher. kecuali bila segera dilakukan koreksi 5. Diagnosis a.c. (a) Bunyi pernapasan yang meredup pada auskultasi diatas sisi dada yang sakit (b) Dapat ditemukan timpani pada perkusi (c) Mungkin ada emfisema subkutan (d) Tanda-tanda ini mungkin tidak jelas jika pneumotoraks kecil (2) Tension pneumotoraks (a) Distensi vena leher sering sulit dinilai. Pemeriksaan fisik (1) Pneumotoraks sederhana. Gejala: dispnea dan nyeri dada pleuritik b.

Tarapi a. Observasi mungkin sudah cukup untuk terapi pneumotoraks spontan kecil (<10%) tanpa gejala . (4) Petunjuk-petunjuk tentang pneumotoraks berikut ini mungkin terdeteksi pada foto terlentang.(b) Bunyi desis yang khas dapat terdengar ketika udara melintasi defek dinding dada c. (3) Foto tegak sangat dianjurkan jika ada fraktur tulang belakang dan hemodinamik pasien stabil. Foto toraks (1) Terpisahnya permukaan pleura fiseral dari parietal merupakan tanda nyata pneumotoraks (a) Tepi paru tampak jelas disebelah medial pleura parietal (b) Gambaran garis-garis pembuluh darah paru tidak tampak didaerah antara kedua permukaan pleura (2) Foto dalam keadaan ekspirasi dapat membantu menampakkan pneumotoraks yang tersamar karena saat ekspirasi paru menjadi lebih kecil dengan garis-garis pembuluh darah yang lebih terkonsentrasi sedangkan jumlah udara didalam pleura tetap kontan. Pneumotoraks kecil dan sedang mungkin sulit terlihat pada foto terlentang karena udara akan membentuk lapisan di atas seluruh permukaan paru. (a) Satu lapang paru lebih lusen dibanding dengan lapisan paru lainnya (b) Pneumomediastinum (c) Pneumoperikardium (d) Emfisema subkutan 6.

Demikaian juga untuk pneumotoraks spontan berukuran sedang hingga besar. dapat dipakai pada pneumotoraks spontan (2) Ruang interkostal ke-4 hingga ke-6.b. (7) Masukkan heostat ke dalam ruang pleura dan bukalah hemostat untuk memperbesar lubang pleura (8) Masukkan jari bersarung ke dalam rongga pleura untuk meyakinkan rongga pleura sudah tercapai dan tidak ada perlengketan yang akan menggang penempatan slang. (5) Buatlah insisi kecil sampai ke tulang iga (6) Dengan menggunakan sebuah hemostat kecil. hendaknya digunakan pada trauma agar drainase lebih baik untuk hemotoraks yang mungkin terjadi (3) Lakukan perkusi saat ekspirasi penuh untuk meyakinkan bahwa tempat tersebut tidak berada di atas hepar atau limpa. kecuali yang sangat minor. . lakukan infiltrasi luas dengan lidokain (xlocaine) sampai periosteum dan permukaan pleura. dan garis midaksila. digaris midklavikula. (4) Setelah mempersiapkan kulit. Tehnik trakeostomi slang: (1) Ruang interkostal kedua. lakukan diseksi tumpul naik ke atas margo superior iga tersebut sehingga terhindar dari berkas neurovaskular yang berjalan disepanjang tepi bawah iga. d. Pemasangan alat terkatup satu arah melalui dinding dada dapat digunakan tanpa perlu penyedotan untuk drainase pneumotoraks kecil c. Torakostomi slang dengan penyedotan kontinu dianjurkan untuk semua pneumotoraks traumatik.

(10) Sambungkan slang dengan suatu sekat air (water seal0 dan penyedot kontinu pada tekanan-20 cm air. Pneumotoraks terbuka (1) Luka terbuka harus ditutup segera. (2) Jika penutupan luka terbuka tadi tidak segera diikuti dengan torakostomi slang-terutama jika diperlukan intubasi dan ventilasi bantuan. Tension pneumotoraks (1) Udara bertekanan harus segera dibebaskan (2) Hendaknya digunakan jarum berkaliber besar (lebih baik dipasang pada tabung semprit yang diisi larutan saline) untuk melonggarkan tekanan. tetapi pasti berbahaya kalau pneumotoraksnya kecil. (13) Untuk pasien trauma. Mula-mula dapat ditutup dengan tangan pemeriksa yang memakai sarung tangan. lepaskan perban . Jika hal ini terjadi. kemudian dipasang plester kassa petrolatum sesegera mungkin.kadang kala dapat timbul tension pneumotorax. Yakinkan bahwa sebuah lubang-lubang samping pada slang sudah berada didalam rongga pleura. Pneumotoraks spontan dapat diterapi dengan slang lebih kecil (10-12 french). f. e.(9) Pasang sebuah klem pada slang dan masukkan. (3) Tidakan ini dilakukan pada ruang interkostal kedua pada garis midklavikula (4) Kemudian dipasang slang dada seperti diuraikan di atas. (11) Jahitkan slang ke dinding dada dengan jahitan matras horizontal dan pasang plester petrolatum kedap udara (12) Penggunaan trokar masih kontroversial. gunakan slang berkaliber besar (36 french).

D. Foto toraks (1) Cairan terlihat dibawah basis paru pada foto tegak . Ini sering terjadi pada situasi trauma dada mayor dan sering disertai dengan pneumotoraks. Hemotoraks 1. Umum a. Pemeriksaan fisik (1) Bunyi pernapasan meredup (2) Pekak pada perkusi. c. c. kecuali bila disertai dengan pneumotoraks yang signifikan. Hemotoraks adalah pengumpulan darah didalam rongga pleura. atau organ-organ intratoraks. Gejala (1) Nyeri dada pleuritik (2) Dispnea b. b. pembuluh besar. Hemotoraks dapat disebabkan oleh cedera pembuluh darah dinding dada. Hemotoraks besar dapat menimbulkan hal-hal berikut: (1) Syok hipovolemik (2) Hipoksia akibat gangguan ekspansi paru 2.penutup untuk memungkinkan udara terkompresi melalui defek dinding dada. (3) Darinase slang pada dada dapat dimulai secepat mungkinn melalui insisi yang terpisaah (4) Pasien mungkin memerlukan operasi definitif untuk reparasi dinding d ada. seperti paru jantung atau esofagus. Diagnosis a.

(2) Hemotoraks mungkin kurang tampak pada foto terlentang dan hanya tampak gambaran berkabut pada sisi yang sakit 3. Jika perdarahan menetap dengan kecepatan lebih dari 7ml/kg/jam. Hemotoraks yang signifikan harus dialirkan melalui slang torakostomi yang dihubungkan dengan sekat air. Kontusio Paru 1. . Darah dibuang dan paru dikembangkan kembali. penurunan PO2. Pemulihan volume darah dengan cairan atau darah IV harus dimulai segera d. Kontusio paru dapat menimbulkan sindrom distres pernapasan dewas. Kontusio paru dapat timbul segera setelah trauma atau dalam 72 jam pertama dan ditandai dengan dispnea. Torakostomi di ruang operasi perlu dipikirkan jika pada torakostomi slang awal ditemukan darah lebih dari 20 ml/kg. arteri. 3. Ruptur trakea atau bronkus 1. F. c. atau jika pasien tetap hipotensi-meskipun sudah diberi resusitasi adekuat dan tempat-tempat perdarahan lain sudah disingkirkan E. Drainase dari slang dada akan mencerminkan beratnya perdarahan. Hemotoraks yang sangat kecil dapat diatasi dengan observasi b. hemoptisis dan edema paru. Terapi a. Kontusio paru berat dapat diikuti dengan sekret trakeobronkial yang banyak. Pneumomediastinum atau pneumotoraks biasanya terjadi. 4. ronki dan infiltrat yang tampak pada foto toraks 2. Terapi kontusio yang signifikan adalah intubasi ET untuk dapat melakukan penyedotan dan memasang ventilasi mekanik dengan continous positive endexpiratory pressure (PEEP).

3. Ruptur diafragma dapat terlihat setelah terjadi trauma tumpul. 8. keluhan pertama adalah dispnea dan nyeri dada sebelah kiri yang mungkin menjalar ke bahu. tension pneumimediastinum dapat timbul dan menyebabkan kompresi trakea. 9. Satu atau beberapa slang dada dapat dipasang jika ada pneumotoraks. 6. dan mencegah kebocoran udara lebih lanjut akibat tekanan intra trakeal tinggi yang terjadi pada saat batukatau manuver valsalva. Pada herniasi akut. 5. Reparasi operatif untuk laserasi trakea atau bronkus diindikasikan sesegera mungkin setelah kondisi pasien stabil G. Perubahan fisiologi pernapasan sangat mirip dengan yang ditemukan pada pneumotoraks. terutama di leher. Bronkoskopi akan menegakkan diagnosis. 5. Emfisema subkutan. mungkin menunjjukkan ada cedera jalan napas yang serius. Diagnosis dibuat dengan radiografi yang dapat memperlihatkan saluran usus berada di dalam dada. Ruptur diafragma 1. Ruptur jalan napas dapat mengakibatkan pemasukan udara ke paru tidak adekuat. Tension pneumotoraks dapat timbul 3. temuan-temuan radiografi awal mungkin ringan .2. 2. isi abdomen dapat mengalami herniasi ke dalam dada. membersihkan sekret. Tanda ruptur dapat muncul segera setelah kejadian atau dapat tertunda berbulan-bulan. 4. Jika defeknya besar. Jika pasien memerlukan ventilasi mekanik. Trakeostomi dapat dipakai untuk mengendalikan pernapasan. 4. Robekan biasanya disisi kiri. baik pada dada maupun pada abdomen. Namun. 7.

4. 6. I. Oleh karena itu. 2. Trauma seperti ini biasanya langsung fatal. Cedera Aorta dan Pembuluh Darah Besar 1. kontusio miokardium mungkin tidak jelas pada saat pasien datang. 5. 2. Trauma tumpul dada dapat menyebabkan kontusio miokardium.. Terapi dengan pembedahan. H. Cedera yang terjadi mungkin mirip dengan infak miokardium. Deselerasi cepat merupakan mekanisme paling sering dalam trauma aorta tidaktembus dan menyebabkan diseksi atau ruptur ekstra perikardial. Kontusio Miokardium 1. 3. Perubahan enzim dan kelainan elektrokardiografi (EKG) dapat berlangsung dalam perjalanan waktu yang sama seperti pada infak non traumatik. 6. Aortografi atau CT toraks hendaknya dilakukan jika foto toraks memperlihatkan pelebaran mediastinum atau jika ada dugaan klinis kuat terjadi trauma pembuluh darah besar. tetapi sejumlah kecil korban dapat bertahan cukup lama hingga sampai di Rumah Sakit. Trauma tembus aorta torakalis dapat menyebabkan tamponade jantung atau hemotoraks tergantung pada tempat cederanya. . intraperikardial atau ekstraperikardial. Terapi: reduksi hernia secara operatif dan reparasi diafragma yang rupur harys dilakukan sesegera mungkin. meskipun kerusakannya dapat sembuh total dan perjalanan klinisnya biasanya lebih jinak. Fraktur iga pertama atau kedua dapat disertai trauma pembuluh darah besar. Resusitasi cairan harus diberikan untuk memeprtahankan tekanan darah.sehingga hanya memperlihatkan atelektasis basis paru atau tepi diafraga yang kabur.

6. pasien yang dicurigai mengalami kontusio miokardium hendaknya dirawat di rumah sakit ntuk pementauan jantung. Jika denyut nadi teraba. tanda-tanda ini mungkin tidak ada. (1) Aspirasi dilakukan dengan jarum spinal pendek ukuran 16 atau 18 yang disambungkan dengan kunci 3 jalur (three way stopcock) dan semprit 50 ml . dan pulpus paradoksus (tekanan darah turun lebih dari 10 mmHg pada inspirasi). Pengisian diastolik dan volume sekuncup menurun 3. aspirasi jarum merupakan terapi awalnya dan sering dapat menyelamatkan nyawa. tekanan darah yang turun dan distensi vena leher (tanpa ada tanda-tanda tension pneumotoraks yang lain) merupakan indikasi kuat terjadinya tamponade perikardium akut. Terapi: a. anaeka gangguan konduksi. 4. Temuan-temuan inni biasanya dietmukan dini. Temuan-temuan lain pada tamponade dapat mencakup tekanan nadi mengecil. Perubahan EKG dapat meliputi sinus takikardia. Tamponade jantung terjadi karena pengumpulan darah di kantong perikardium akibat trauma tumpul atau trauma tembus. dan jika tidak ada bukan berarti tamponade jantung akut dapat disingkirkan. Tamponade Jantung 1. 4. 2. Hilangnya gejala setelah beberapa jam mengecilkan kemungkinan kontusio miokardim. dan disritmia lain. Namun. blok cabang berkas kanan. Karena perjalanan klinisnya dapat berupa resiko disritmia yang serius dan komplikasi lain.3. Syok berat yang tidak sebanding dengan jumlah darah yang hilang perlu diduga kuat sebagai kasus tamponade. J. Pada orang yang menderita trauma dada. bunyi jantung melemah. 5.

Indikasi a. (3) Kateter vena sentral dapat dipasangkan melalui jarum tersebut dan dibiarkan ke tempat yang memungkinkan tindakan aspirasi periodik untuk mencegah pengumpulan cairan kembali. b. Torakotomi Terbuka di UGD 1. K. kemudian terus dimajukan sampai terlihat arus cedera (curent of injury) pada monitor. kemudian sedikit ditarik kembali ke ruang perikardium. dan bekuan darah tidak mudah di aspirasi melalu jarum. kecuali dalam keadaan sangat darurat. Torakotomi di ruang operasi adalah terapi definitif untuk semua pasien dengan luka tembus pada jantung dan hemoperikardium akut dan tamponade. Trauma (1) Perdarahan dari sumber manapun dengan denyut karotis dan femoralis yang tak teraba. prosesus xifoideus dan di arahkan ke sefal dan ke kiri sampai darah dapat di aspirasi.(2) Jarum di tusukkan sedikit disebelah kiri. . c. yang sekarang menyentuh permukaan perikardium. Tindakan ini hendaknya dilakukan dengan pementauan EKG. Aspirasi jarum pada tamponade perikardium traumatik akut mungkin sulit dilakukan dan sering hanya merupakan prosedur sementara. dan cairan di aspirasi. Torakotomi segera di UGD kadangkala diperlukan untuk menyelamtkan jiwa sampai dapat dilakukan bedah definitif di ruang operasi. Cairan perikardium traumatik yang utama adalah darah (hemoperikardium). Kedalaman tusukan biasanya 3-4 cm. Jarum. Sebuah klem aligator digunakan sebagai sadapan (lead) EKG dan disambungkan ke jarum.

e. darah akan ter pirau ke organ-organ vital d. Bantal-bantal kasa yang dibasiahi dengan cairan . (3) Kantong perikardium dikosongkan dari bekuan. Seharusnya. b.(2) Cedera dada dengan denyut tak teraba. Jika arteri-arteri koroner tertutup lemak atau jika perikardium tampak keruh karena darah subperikardium. Jika ada kemungkinan hemoperikardium. perikardium dibuka. Insisi dibuat diruang interkostal ke-4 kiri dari sebuah titik kira-kira2-3 cm disebelah lateral sternum (untuk menghindari pembuluh darah dada profunda) menuju ke garis midaksila. Dengan demikian. arteri koroner dapat terlihat lewat perikardium apabila tidak ada perdarahan perikardium. dapat dipakai paddle interna langsung ke jantung. c. Untuk perdarahan yang deras. Fibrilasi ventrikel refrakter dengan jantunng yang pada dasarnya sehat. Retraktor-retraktor pembuka iga digunakan untuk menampakkan jantung. bulalah perikardium dengan cara sebagai berikut. dan jantung dilepaskan keluar dari perikardium. Pada orang yang menderita fibrilasi ventrikel refrakter. Hanya sedikit yang memerluka penjahitan di UGD. (1) Nervus phrenicus dicari lebih dahulu (2) Insisi longitudinal pada perikardium dibuat sejajar nervus phrenicus. Prosedur a. aorta di kompresi tepat diatas diafragma dengan klem pembuluh darah atau dengan jari doter. (4) Luka-luka pada jantung dapat dikontrol sementara dengan tekanan jari. b. (1) Elektrocution (kematian akibat listrik) (2) Hipotermia 2.

Manual Kedokteran Darurat hal 30-43. (Bresler. biasanya tindakan diatas sudah cukup: (2) Pada hipotermia menghangatkan jantung dalam cairan saline hangat dapat menghasilkan defibrilasi yang baik. g.saline digunakan untuk memisahkan paddle dari permukaan perikardium. massase jantung internal dilakukan sesuai indikasi. Pasien dibawa ke ruang operasi sesegera mungkin untuk terapi definitif.Michael Jay. 3050 J sudah cukup.EGC.2007. f. (1) Pada elektrocution.Jakarta . Selama prosedur dijalankan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful