1

LIFE SKILLS DALAM PENDIDIKAN IPA

I.

PENDAHULUAN Hingga sekarang, dunia pendidikan masih diwarnai praktik-praktik yang

menghambat proses pembongkaran potensi peserta didik. Kebanyakan sekolah selama ini menerjemahkan pendidikan IPA sekedar untuk transfer of knowledge dari guru kepada peserta didik dengan hapalan teori maupun rumus-rumus, sekedar untuk bisa menjawab soal-soal ujian, tetapi seringkali tidak sanggup untuk mengaplikasikannya ke dalam realitas yang ada di sekelilingnya. Pendidikan dengan demikian tidak cukup memberi bekal life skills kepada peserta didik untuk dapat menyelesaikan problem riel yang seharusnya mereka jawab dan selesaikan. Menurut Firdaus M Yunus (2004:IX), pendidikan di Indonesia selama ini hanya berfungsi “membunuh” kreativitas peserta didik, karena lebih banyak mengedepankan aspek verbalisme. Verbalisme merupakan asas pendidikan yang menekankan hapalan bukannya pemahaman, mengedepankan formulasi daripada substansi, dan lebih menyukai keseragaman bukan kemandirian serta lebih senang klasikal daripada petualangan intelektual. Realitas ini jugalah yang menyebabkan pendidikan kita menghasilkan sekian banyak orang yang cakap mengerjakan soal, namun tidak faham atas makna rumus-rumus yang ia operasikan dan angka-angaka yang ia tuliskan. Pendidikan seolah menjadi tidak harus bersentuhan dengan persoalan yang telah merealita yaitu untuk menjawab problem mendasar yang tengah dihadapi oleh peserta didik atau lingkungannya. Pendidikan yang bergaya verbalistik ini pulalah yang menyebabkan pendidikan IPA menjadi kurang diminati, karena tidak dapat menjawab persoalan keseharian dan jauh dari pembekalan atas life skills yang bermanfaat langsung bagi perjalanan hidup peserta didik. Seringkali dalam proses pendidikan IPA materi tidak sejalan dengan kenyataan yang dihadapi oleh peserta didik. Padahal setiap proses pendidikan seharusnya mengandung berbagai bentuk pelajaran dengan muatan lokal yang signifikan dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga output pendidikan adalah manusia yang sanggup untuk memetakan dan sekaligus memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat dengan life skills yang ia dapatkan di bangku sekolahnya.

Definisi lain tentang life skills diungkapkan oleh lifeskills4kids (2000:1) bahwa. kecakapan hidup dimengerti sebagai kemampuan individual untuk dapat belajar sehingga seseorang memperoleh kesuksesan dalam hidupnya. melindungi diri sendiri untuk mencapai tujuan dalam hidupnya. life skills didefinisikan sebagai (semacam) petunjuk praktis yang membantu anak-anak untuk belajar bagaimana merawat tubuh. selama ini peserta didik diajarkan untuk terus-menarus menjadi “pemulung” produk-produk ilmiah barat tanpa pernah diarahkan untuk mencoba mengeluarkan produk-produk orisinil dari pikirannya sendiri. kepandaian. Menurut Djohar. Sehingga Life skills secara bahasa dapat diartikan sebagai kecakapan. kecakapan dimaknai sebagai kemampuan belajar untuk melakukan sesuatu secara lebih baik. bekerja sama dengan orang lain. tumbuh untuk menjadi seorang individu.2 Gaya pembelajaran yang mengarahkan peserta didik untuk senantiasa teks book juga telah mematikan kreativitas peserta didik. Kecakapan tidak hanya diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu. Sehingga dalam hal . sedangkan skill adalah kecakapan. Secara esensial. II. Jadi mampu melakukan sesuatu saja belum cukup untuk dikatakan sebagai cakap. Indikator seseorang telah memperoleh life skills dengan demikian dapat dilihat dari sejauhmana ia mampu eksis dalam kehidupannya di tengah-tengah masyarakat. Peserta didik tidak dibiasakan untuk mengkonstruksi sendiri bangunan pengetahuan berdasarkan pengetahuan yang telah didapat sebelumnya dan atas pembacaannya terhadap realitas yang ada di sekelilingnya. kepandaian atau ketrampilan hidup. Umumnya dalam penggunaan sehari-hari orang menyebut life skills dengan istilah kecakapan hidup. Selain itu. Demikianlah IOWA State University mensyaratkan aspek kesempurnaan dalam konteks skill. produktif dan mampu memperoleh kepuasan hidup. Konsep Dasar Kecakapan Hidup (Life Skills) Life skills atau biasa disebut sebagai kecakapan hidup jika dirunut dari segi bahasa berasal dari dua kata yaitu life dan skill. Kondisi ini telah menyebabkan “kematian” thingking skills yang menjadi bagian dari konsep life skills. melainkan kemampuan untuk melakukan sesuatu tersebut harus ditunjukan secara lebih baik dan diperoleh melalui suatu aktivitas belajar. maka dapat dikatakan orang tersebut memiliki life skills yang baik. Apabila seseorang mampu produktif dan membuat berbagai kesuksesan. Penjelasan secara lebih komperehensif menurut IOWA State University (2003: 1). membuat keputusan-keputusan yang logis. lebih daripada itu. ketrampilan. Life berarti hidup.

Istilah life skills menurut Depdiknas (2002: 5) tidak semata-mata diartikan memiliki ketrampilan tertentu (vocational job) saja. peluang usaha dan potensi ekonomi atau industri yang ada di masyarakat. namun ia harus memiliki kemampuan dasar pendukungnya secara fungsional seperti membaca. Orang yang sedang menempuh pendidikan pun memerlukan kecakapan hidup untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. berinteraksi antara pengetahuan yang diyakini sebagai unsur penting untuk hidup lebih mandiri. bekerja dalam tim. Life skills memotivasi anak-anak dengan cara membantunya untuk memahami diri dan potensinya sendiri dalam kehidupan. menghitung. Pengertian kecakapan hidup lebih luas dari ketrampilan vokasional atau ketrampilan untuk bekerja.3 ini yang akan menjadi tolok ukur life skills pada diri seseorang adalah terletak pada kemampuannya untuk meraih tujuan (goal) hidupnya. seseorang selalu menemui berbagai macam permasalahan dan juga memerlukan pemecahan dari permasalahan yang dihadapi tersebut. Kecakapan hidup (life skill) adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan. Kapanpun dan dimanapun berada. terus belajar di tempat kerja dan mempergunakan teknologi. Orang yang bekerja dan orang yang tidak bekerja misalnya ibu rumah atau orang sudah pensiun memerlukan kecakapan hidup untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. terkait dengan kebutuhan pasar kerja. Keduanya. dan memecahkan masalah. sehingga mereka mampu menyusun tujuan-tujuan hidup dan melakukan proses problem solving apabila dihadapkan pada persoalan-persoalan hidup. Life skills dengan demikian memiliki cakupan yang luas. kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya (Anonim. merumuskan. 2002). Program pendidikan life skills menurut Anwar (2004: 20) adalah pendidikan yang dapat memberikan bekal ketrampilan yang praktis terpakai. Depdiknas (2002: 8) melukiskan komponen life skills dalam sebuah diagram klasifikasi sebagaimana tertera di bawah ini. Pendidikan yang berorientasi pada life skills berarti harus senantiasa cerdas menangkap setiap kebutuhan masyarakat. yaitu lembaga pendidikan dan masyarakat harus mengupayakan adanya pola hubungan yang dinamis untuk mengkomunikasikan berbagai persoalan yang harus ditangani oleh lembaga pendidikan. . mengelola sumber daya.

Diagram Klasifikasi Life Skills Life skills yang harus dikembangkan dalam dunia pendidikan setidaknya terbagi dalam dua kategori. dan mengambil keputusan. yaitu pertama General Life Skills (GLS) dan Spesific Life Skills (SLS). Sedangkan dalam kecakapan sosial mencakup kecakapan berkomunikasi (communication skill) dan kecakapan bekerjasama (collaboration skill). Masing-masing jenis kecakapan itu dapat dibagi menjadi sub kecakapan. serta memecahkan masalah secara kreatif. mengolah. kecakapan sosial (social skill) dan kecakapan berpikir (thinking skill). Kecakapan ini terdiri dari kecakapan akademik (academic skill) atau kecakapan intelektual. Kecapakan berpikir mencakup antara lain kecakapan mengenali dan menemukan informasi. dan kecakapan vokasional (vocational skill).4 Gambar 1. . Kecakapan vokasional terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memerlukan keterampilan motorik. Spesific Life Skills (SLS) adalah kecakapan untuk menghadapi pekerjaan atau keadaan tertentu. Kecakapan akademik terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memerlukan pemikiran atau kerja intelektual. General Life Skills (GLS) terdiri atas kecakapan personal (personal skill).

dalam mencari jawaban suatu persoalan didasarkan atas pertimbangan rasional dan objektivitas dengan melalui observasi atau kegiatan eksperimen untuk memperoleh data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.5 III. (2) formulating hypotheses. (4) making obsevation. Sund (1973: 12) menjelaskan tentang bagaimana suatu pemahaman IPA ditemukan atau yang sekarang dikenal sebagai metode IPA (scientific method). prinsipprinsip. Suyoso (2001: 1-4) mengungkapkan bahwa nilai intelektualitas IPA menuntut kecerdasan dan ketekunan. Secara lebih terperinci. (5) collecting data from the experiment. Karakteristik IPA Objek kajian pendidikan IPA berada pada berbagai persoalan/fenomena alam. Trowbidge dan Byebee (1986: 38) memberikan sekema umum ilmu pengetahuan sebagai berikut : Gambar 2. . (6) drawing conclutions. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Supriyadi (1999: 1) bahwa objek kajian IPA adalah segala fenomena lingkungan (alam) yang berujud titik kecil hingga alam raya yang sangat besar. yaitu (1) stating the problem. Setidaknya ada enam langkah untuk melakukan proses IPA . fakta-fakta. konsep-konsep. IPA sebagai tubuh ilmu pengetahuan Jadi karakteristik IPA yang kemudian membedakannya dengan ilmu pengetahuan yang lain adalah bahwa IPA ditempuh melalui berbagai penemuan proses empiris secara berkelanjutan yang masing-masing akan memberi kontribusi dengan berbagai jalan untuk membentuk sistem unik yang disebut IPA. proses penemuan. dan memiliki sikap ilmiah. IPA menurut Depdiknas (2003: 6) merupakan cara mencari tahu tentang alam semesta secara sistematis untuk menguasai pengetahuan. (3) designing an experiment. Robert B.

ketrampilan. Penerapan Life Skill Dalam Pendidikan IPA Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan yang semakin terpuruk dengan fenomena lulusan yang kurang qualified. pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa sehingga apa yang dipelajari siswa menyentuh persoalanpersoalan yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Pada pelaksanaan di SMU/MA dapat dilakukan melalui tiga cara. Komponen kegiatan reorientasi meliputi : a. pemilihan pendekatan dan atau metode pembelajaran yang variatif sehingga mampu melatihkan kecakapan hidup. KBK memiliki konsep pendekatan pembelajaran yang berbeda dengan kurikulum 1994. . yaitu berbasis kompetensi dimana fokus program sekolah adalah para siswa serta apa yang akan dikerjakan oleh mereka dengan memperhatikan kecakapan hidup (life skill) dan pembelajaran kontekstual. ketrampilan. dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi merupakan pengetahuan. 2005). yaitu: 1. dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu (Rosyidah.6 Melihat karakteristik IPA sebagaimana yang diungkapkan di atas. belajar bukan hanya untuk menambah pengetahuan tetapi juga memperoleh ketrampilan dan akhirnya terjadi perubahan sikap. Implikasi dari penerapan pendidikan berbasis kompetensi adalah perlunya pengembangan silabus dan sistem penilaian yang menjadikan peserta didik mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan dengan mengintegrasikan life skill. Reorientasi pembelajaran Pendapat masyarakat. dan b. dalam arti memeiliki kontribusi yang memadai dalam rangka meningkatkan kapasitas life skills siswa. orangtua dan murid yang menyebutkan bahwa belajar hanya untuk memperoleh pengetahuan saja itu harus segera diubah. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus akan memungkinkan seseorang menjadi kompeten dalam arti memiliki pengetahuan. Oleh sebab itu perlu adanya perubahan orientasi. pengaitan bahan ajar dengan lingkungan kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan life skill di sekolah harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisiologis dan psikologis peserta didik. IV. pemerintah telah merumuskan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). maka agar pembelajaran IPA lebih bermakna bagi siswa.

dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. baik kuantitas maupun kualitasnya. (1) pembekalan kecakapan akademik dan kecakapan generik. Pembekalan kecakapan vokasional Pembekalan kecakapan vokasional hanya diberikan kepada siswa yang berpotensi tidak melanjutkan pendidikan dan putus sekolah. (6) tidak memerlukan guru khusus. (3) tidak memerlukan perubahan kurikulum. Reformasi sekolah ini harus menyentuh paling sedikit mengenai kultur sekolah. Yang harus dilakukan adalah mengubah proses penbelajaran sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan. Tingkah laku siswa meliputi pengetahuan. Oleh karena itu pembelajaran mempunyai tujuan untuk membantu siswa memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah. sosial. ketrampilan. lembaga pendidikan memiliki peranan penting dalam membantu mempersiapkan peserta didik agar mampu hidup secara produktif di tengah masyarakat dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya. manajemen sekolah dan hubungan sinergi dengan mesyarakat. (4) tidak memerlukan tambahan alokasi waktu. budaya. bukan mata pelajaran baru.7 Pelaksanaan reorientasi pembelajaran mempunyai karakteristik sebagai berikut. (5) tidak memerlukan buku pelajaran baru. mencerdaskan serta membuat siswa cakap dalam menyelesaikan masalah. Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan . (2) bukan meteri yang disisipkan mata pelajaran tertentu. Dalam kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi) telah diupayakan untuk mensinergikan berbagai mata pelajaran dengan kecakapan hidup (Life Skills) sebagai pengalaman belajar. 2. Seiring dengan perubahan tersebut. Reformasi sekolah Keberhasilan kedua komponen diatas akan tercapai apabila sekolah melakukan reformasi. 3. Pelaksanaannya dilakukan dengan pemberian pendidikan dan latihan (diklat) paket keahlian tertentu yang sedang diperlukan di dunia kerja. ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan yang sangat pesat terjadi dalam berbagai bidang seperti politik.

maka semestinya pendidikan IPA dengan menggunakan pendekatan STM diharapkan mampu membekali peserta didik dengan life skills agar dapat bertahan hidup di alam dengan segala dinamikanya. Pendekatan ini menuntut agar peserta didik diikutsertakan dalam penentuan tujuan. STM dipandang sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia.8 potensi yang dimiliki peserta didik. dan evaluasi pembelajaran. cara mendapatkan informasi. pembelajaran dengan pendekatan STM haruslah diselenggarakan dengan cara mengintegrasikan berbagai disiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yang terjadi di antara sains. perencanaan. sikap ilmiah. Dalam pendekatan ini siswa diajak untuk meningkatakan kreativitas. sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Salah satu alternative untuk dapat mengembangkan life skills adalah pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) yang diterjemahkan dari akronim bahasa Inggris STS (“Science-Technology-Society”). Ada beberapa prinsip yang harus dimunculkan dalam pendekatan STM menurut National Science Teachers Association (1990:2) yaitu sebagai berikut: 1) Peserta didik melakukan identifikasi terhadap persoalan dan dampak yang ditimbulkan dari persoalan tersebut yang muncul di sekitar lingkungannya 2) Menggunakan sumberdaya lokal untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam penyelesaian persoalan yang telah berhasil diidentifikasi 3) Menfokuskan pembelajaran pada akibat yang ditimbulkan oleh sains dan teknologi bagi peserta didik 4) Pandangan bahwa pemahaman terhadap konten sains lebih berharga daripada sekedar mampu mengerjakan soal . Dengan demikian. tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalam pengembangan pembelajaran di era sekarang ini. Sesuai dengan objek kajian IPA yaitu segala fenomena alam. teknologi dan masyarakat. menghajatkan agar pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas senantiasa bersesuaian dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat. menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik. Adapun yang digunakan sebagai penata (organizer) dalam pendekatan STM adalah isu-isu dalam masyarakat yang ada kaitannya dengan Sains dan Teknologi. pelaksanaan.

Pendidikan life skills dapat dilakukan melalui kegiatan intra/ekstrakurikuler untuk mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan karakteristik. serta kecakapan kejuruan yang berkaitan dengan pengembangan akhlak peserta didik sehingga mampu menghadapi tuntutan dan tantangan hidup dalam kehidupan. terutama karir yang berhubungan dengan sains dan teknologi 7) Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengalaman tentang aturan hidup bermasyarakat yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang telah diidentifikasi Pendekatan STM menghajatkan agar peserta didik mampu merespon setiap perkembangan di masyarakat secara scientific. yaitu adanya fenomena bahwa lulusan lembaga-lembaga pendidikan formal belum cukup dibekali life skills. itu berarti bahwa peserta didik diarahkan untuk memiliki thinking skills dan sekaligus academic skills agar bisa eksis hidup di masyarakat. sikap yang didalamnya termasuk fisik dan mental. maka pendidikan IPA dengan menggunakan pendekatan STM dapat dijadikan sebagai alternatif pemecahan terhadap persoalan yang ada. Secara sederhana dapat dituliskan bahwa persoalan yang sekarang banyak muncul. dan spiritual dalam prospek pengembangan diri. yang materinya menyatu pada sejumlah mata pelajaran yang ada. PENUTUP Dari pengertian di atas. Kecakapan itu menyangkut aspek pengetahuan. Isi dan bahan pelajaran tersebut menyatu dalam mata pelajaran yang terintegrasi sehingga secara struktur tidak berdiri sendiri.9 5) Adanya penekanan kepada keterampilan proses yang dapat digunakan peserta didik untuk menyelesaikan persoalannya sendiri 6) Adanya penekanan pada kesadaran berkarir. dapat diartikan bahwa pendidikan life skills merupakan kecakapan-kecakapan yang secara praktis dapat membekali peserta didik dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan. emosional. . V. Penentuan isi dan bahan pelajaran kecakapan hidup dikaitkan dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan agar peserta didik mengenal dan memiliki bekal dalam menjalankan kehidupan dikemudian hari.

2005.10 DAFTAR PUSTAKA Nurohman. UNY Susento. Sabar.Universitas Sanata Dharma Yogyakarta .Life-Skill Dalam Pendidikan Matematika Realistik. Penerapan Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat (Stm) Dalam Pembelajaran Ipa Sebagai Upaya Peningkatan Life Skills Peserta Didik. Buletin PMRI ed 7-Juni 2005.

11 MAKALAH LIFE SKILL DALAM PENDIDIKAN IPA Disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Dasar-dasar Pendidikan IPA Disusun oleh : Yanuar Hadi Saputro Linda Indiyarti Putri Ratna Adi Wardaniati (0402509071) (0402509045) (0402509041) JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2009 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful