P. 1
Sel Volta

Sel Volta

|Views: 291|Likes:
Published by Wahyu Putra

More info:

Published by: Wahyu Putra on Mar 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2014

pdf

text

original

Sel Volta

Nama kelompok :

Wahyu Semadi Putra (22) I Wyn Mahapapma Jelantik (12) Ni Kadek Sri Saskarani (02) Ni Made Citra Riesti Wulan (25)

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA SMA NEGERI 2 AMLAPURA 2010/2011

SEL VOLTA

A. TUJUAN 1. Untuk memahami reaksi redoks dalam sel volta 2. Untuk memahami reaksi redoks dengan sel volta B. LANDASAN TEORI Sel volta atau sel galvani adalah suatu sel elektrokimia yang terdiri atas dua buah elektrode yang dapat menghasilkan energi listrik akibat terjadinya reaksi redoks secara spontan pada kedua elektroda tersebut. Kemudian Alessandro Volta ini yang lumayan jenius. Saat Luigi Galvani(1737 ± 1798) mengamati bahwa paha kodok yang dibedahnya bergetar setelah ditusuk dan dihubungkan dengan dua logam, Volta malah lebih antusias mencari alasan. Galvani menduga, getaran ini ditimbulkan oleh listrik yang berasal dari jaringan tubuh kodok dan lingkungan disekitarnya. Petir, misalnya. Tentu saja petir mengandung muatan listrik sangat tinggi. Kemudian, Volta mengulangi percobaannya. Kali ini, dia menusuk kodok dengan dua logam, dihubungkan kembali, tapi pada saat cuaca cerah. Supaya apa? Supaya bisa dibuktikan, apakah listrik benar-benar berasal dari petir. Hasilnya? Paha kodok tetap bergetar. Ia lantas berpikir bahwa arus listrik yang menimbulkan getaran tersebut disebabkan oleh kedua logam yang ditusukkannya ke tubuh kodok. Dengan kata lain, energi kimia ternyata dapat menghasilkan energi listrik. Begitulah kira-kira.Tahun 1799 kemudian Volta membuat alat yang dapat mengubah energi kimia menjadi energi listrik. Disebutlah alat ini sebagai sel Volta sebagai bentuk apresiasi atas penemuannya. Tapi, ternyata ada syarat agar energi listrik dapat dihasilkan, yakni reaksinya harus berlangsung spontan. Hasil teknologi ini merupakan pengembangan hasil penelitian dari Alexander Volta. Reaksi redoks spontan Reaksi redoks spontan adalah reaksi redoks yang berlangsung serta merta. Contonya adalah reaksi antara logam zink dengan larutan tembaga (II) sulfat. Jika sepotong logam zink dimasukkan didalam larutan (II) sulfat, segera terjadi reaksi dimana logam zink sedikit demi sedikit melarut, sedangkan ion tembaga (II) diendapkan. Reaksi ini bersifat eksoterm yang ditandai dengan naiknya suhu larutan. Reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut : Zn(s) + Cu2+(aq) Zn2+(aq) + Cu(s)

Sementara itu reaksi kebalikannya, yaitu reaksi antara logam tembaga dengan larutan zink sulfat tidak terjadi. Oleh karena itu reaksi kebalikannya, dikatakan reaksi tidak spontan. Notasi Sel Volta Susunan suatu sel volta dinyatakan dengan suatu notasi singkat yang disebut diagram sel. Untuk contoh diatas diagram selnya dinyatakan sebagai berikut : Zn | Zn2+ || Cu2+ | Cu Oksidasi Reduksi

Dari penelitian volta disebutkan bahwa jika suatu deretan zat dimasukan kelarutan asam atau garam maka akan melepaskan muatan-muatan listrik. Sel Volta atau Sel Galvani adalah suatu sel elektrokimia yang terdiri atas dua buah elektrode yang dapat menghasilkan energi listrik akibat terjadinya reaksi redoks secara spontan pada kedua elektroda tersebut. 1) Deret volta
a) Li,,K, Ba, Ca, Na, Mg, Al, Mn, Zn, Fe, Ni, Sn, Pb, (H), Cu, Hg, Ag, Pt, Au.

b) Semakin ke kanan, semakin mudah direduksi dan sukar di oksidasi. c) Semakin ke kiri semakin mudah dioksidasi dan sukar direduksi. 2) Prinsip kerja Pada anode terjadi reaksi oksidasi dan pada katode terjadi reaksi reduksi. Arus elektron mengalir dari katode ke anode. Arus listrik mengalir dari katode ke anode. Adanya jembatan garam untuk menyetimbangkan ion-ion dalam larutan. Terjadi perubahan energi: energi kimia menjadi energi listrik. C. ALAT DAN BAHAN
1. Gelas Kimia 2 buah 2. Gelas Ukur 3. Jembatan Garam 4. Kabel 5. Penjepit

6. Voltmeter 7. Elektroda (Sn, Pb, Fe, Cu, Zn) 8. Larutan FeCl3, PbSO4, ZnSO4, SnCl2, CuSO4 (0,1 M) 9. Saklar

D. LANGKAH KERJA 1. Masukkan 50 ml larutan SnSO4 2. Masukkan 50 ml larutan CuSO4 0,1M ke dalam gelas kimia kemudian 0,1M ke dalam gelas kimia kemudian masukkan lempeng Sn (Timah) dalam larutan tersebut! masukkan lempeng Cu (Tembaga) dalam larutan tersebut! 3. Hubungan kedua larutan dengan jembatan garam dan hubungkan pula kedua lempeng logam yang dijepit dengan penjepit yang telah dihubungkan dengan kabel melalui voltmeter yang dilengkapi dengan saklar! - Jika jarum bergerak ke arah negatif, putuskan hubungan itu! - Jika jarum bergerak ke arah positif, bacalah beda potensialnya! 4. Ulangi langkah 1–3 dengan pasangan setengah sel yang lain!
a) Cu (katoda) dan Fe (Anoda),

b) Sn (katoda) dan Zn (Anoda), c) Fe (katoda) dan Zn (Anoda), d) Pb (Katoda) dan Fe (Anoda).

SnSO4
E. HASIL PENGAMATAN

Sn

No.

Anoda

Katoda

E°sel pada Basic meter

E° sel Perhitungan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Sn Fe Zn Zn Fe Fe Sn Zn Zn Pb

Cu Cu Sn Fe Pb Sn Pb Cu Pb Cu

+0,40 V +0,41 V +0,40 V +0,20 V +0,49 V -0,03 V +0,02 V +0,82 V +0,50 V +0,44 V

+0,48 V +0,78 V +0,62 V +0,32 V +0,31 V +0,30 V +0,01 V +1,1 V +0,63 V +0,47 V

F. Pembahasan Sel volta didapatkan dari logam-logam yang dapat mengalami reaksi spontan. Tentu saja logam itu telah ditentukan sebagai anode dan katode, karena jika belum ditentukan anode dan katodenya maka didapatkan hasil yang mungkin berkebalikan ada yang positif dan negative. Oleh karena itu, kelompok kami sudah mementukan logam-logam sebagai katode dan anode berdasarkan deret volta. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut : 1. Logam Sn sebagai anode dan Cu sebagai Katode Pada rangkaian tersebut logam Sn dimasukkan ke dalam larutan garan SnSO4, sedangkan logam Cu dicelupkan kedalam larutan CuSO4. Dimana logam

timah akan larut sambil melepaskan 2 elektron, electron yang dilepaskan tidak memasuki larutan tetapi tertinggal pada logam timah itu. Electron tersebut selanjutnya akan mengalir ke logam tembaga melalui kawat penghantar yang dihubungkan dalam rangkaian tertutup. Selanjutnya ion Cu2+ akan mengambil electron dari tembaga kemudian mengendap. Untuk menghindari larutan timah bersifat positif dan larutan tembaga bersifat negative, dalam percobaan tersebut dihubungkan dengan jembatan garam NaCl. Dimana Cl- akan menetralkan Sn2+ dan Na+ akan menetralkan ion SO42-. Dengan adanya jembatan garam, maka electron dapat mengalir yang menimbulkan arus listrik. Hal itu ditunjukkan pada voltmeter yang sebagai indicator adanya arus listrik. Dalam percobaan tersebut ditunjukkan 0,12 V. Adapun reaksi redoks yang berlangsung dapat dituliskan sebagai berikut : Sn(s) + Cu2+(aq) → Sn2+(aq) + Cu(s) E sel = +0,40 V Berdasarkan tabel hasil percobaan, dengan cara yang sama seperti dijelaskan dalam hasil data No.1 begitu juga hasil data selanjutnya yang prinsip kerjanya sama. Untuk lebih jelasnya reaksi redoks yang berlangsung dalam setiap data dijelaskan sebagai berikut : 2. Logam Fe sebagai anode dan Cu sebagai Katode Logam Fe dimasukkan ke dalam larutan garam FeCl 3 dan logam Cu dimasukkan ke dalam CuSO4 serta hasil pengukuran yang didapatkan +0.41 V. Reaksi redoks dapat dituliskan sebagai berikut : Fe(s) + Cu2+(aq) → Fe2+(aq) + Cu(s) E sel = +0,41 V 3. Logam Zn sebagai anode dan Sn sebagai Katode Logam Zn dimasukkan ke dalam larutan garam ZnSO4 dan logam Sn dimasukkan ke dalam SnCl2 serta hasil pengukuran yang didapatkan +0,40 V. Reaksi redoks dapat dituliskan sebagai berikut : Zn(s) + Sn2+(aq) → Zn2+(aq) + Sn(s) E sel = +0,40 V

4. Logam Zn sebagai anode dan Fe sebagai Katode Logam Zn dimasukkan ke dalam larutan garam ZnSO4 dan logam Fe dimasukkan ke dalam FeCl3 serta hasil pengukuran yang didapatkan +0,20 V. Reaksi redoks dapat dituliskan sebagai berikut : Zn(s) + Fe2+(aq) → Zn2+(aq) + Fe(s) E sel = +0,20 V 5. Logam Fe sebagai anode dan Pb sebagai Katode

Logam Fe dimasukkan ke dalam larutan garam FeCl3 dan logam Pb dimasukkan ke dalam PbSO4 serta hasil pengukuran yang didapatkan +0,49 V. Reaksi redoks dapat dituliskan sebagai berikut : Fe(s) + Pb2+(aq) → Fe2+(aq) + Pb(s) E sel = +0,49 V 6. Logam Fe sebagai anode dan Sn sebagai Katode Logam Fe dimasukkan ke dalam larutan garam FeCl3 dan logam Sn dimasukkan ke dalam SnCl2 serta hasil pengukuran yang didapatkan -0,03 V. Reaksi redoks dapat dituliskan sebagai berikut : Fe(s) + Sn2+(aq) → Fe2+(aq) + Sn(s) E sel = -0,03 V Berdasarkan data diatas kami menyadari ada terjadi ketimpangan berdasarkan kebenaran teori yang ada, mungkin hal itu disebabkan karena tertukarnya letak katode dengan anoda yang menyebabkan nilai pada basic meter menjadi minus. 7. Logam Sn sebagai anode dan Pb sebagai Katode Logam Sn dimasukkan ke dalam larutan garam SnCl2 dan logam Pb dimasukkan ke dalam PbSO4 serta hasil pengukuran yang didapatkan +0,02 V. Reaksi redoks dapat dituliskan sebagai berikut : Sn(s) + Pb2+(aq) → Sn2+(aq) + Pb(s) E sel = +0,02 V 8. Logam Zn sebagai anode dan Cu sebagai Katode Logam Zn dimasukkan ke dalam larutan garam ZnSO4 dan logam Cu dimasukkan ke dalam CuSO4 serta hasil pengukuran yang didapatkan +0,82 V. Reaksi redoks dapat dituliskan sebagai berikut : Zn(s) + Cu2+(aq) → Zn2+(aq) + Cu(s) E sel = +0,82 V 9. Logam Zn sebagai anode dan Pb sebagai Katode Logam Zn dimasukkan ke dalam larutan garam ZnSO4 dan logam Pb dimasukkan ke dalam PbSO4 serta hasil pengukuran yang didapatkan +0,50 V. Reaksi redoks dapat dituliskan sebagai berikut : Zn(s) + Pb2+(aq) → Zn2+(aq) + Pb(s) E sel = +0,50 V 10. Logam Pb sebagai anode dan Cu sebagai Katode Logam Pb dimasukkan ke dalam larutan garam PbSO4 dan logam Cu dimasukkan ke dalam CuSO4 serta hasil pengukuran yang didapatkan +0,44 V. Reaksi redoks dapat dituliskan sebagai berikut : Pb(s) + Cu2+(aq) → Pb2+(aq) + Cu(s) E sel = +0,44 V

Berdasarkan hasil perhitungan secara langsung, maksudnya berdasarkan percobaan yang ditunjukkan oleh voltmeter pada setiap sampel percobaan dapat dibandingkan dengan hasil perhitungan data potensial electrode standar. Berdasarkan data tersebut terdapat ketimpangan yang jauh significant perbedaannya. Kejadian ini dapat dijelaskan bahwa pada percobaan yang kami lakukan terdapat kekurangan jembatan garam yang terlalu sedikit. Hal ini dapat menyebabkan tidak seimbang antara garam yang menetralkan muatan baik dari larutan anode yang bersifat positif maupun dari larutan katode yang bersifat negative. Dimana keadaan ini dapat menghambat pelarutan logam anode sehingga pelepasan electron juga terhambat. G. Kesimpulan Reaksi redoks spontan dapat menimbulkan arus listrik. Salah satu alat yang dapat membuktikan hal ini adala sel volta. Dengan sel volta dapat diketahui kereaktifan logam atau daya desak logam yang dinyatakan dalam deret volta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->