PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA

, DI DESA CIKARAWANG BOGOR

IMA MARYANA ULFAH

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
IMA MARYANA ULFAH. Clean and Health Behavior, Nutritional Knowledge, and Caring Pattern, of Which Its Relation with Diarrhoea in Five-Year Babies in Cikarawang Village, Bogor. Supervised by CLARA M. KUSHARTO and SITI MADANIJAH Five-year babies are susceptible group for health and nutritional troubles. Mostly (70-80%), diarrhoea patients are five-year babies and 1-2% from those patients have a risk to experient dehydration. If they are not being help, they possibly will be die. Research general purpose is studied about the clean and health behavior, nutritional knowledge, and caring pattern of which its relation with diarrhoea in five-year babies in Cikarawang village, Bogor. Research design is Cross Sectional Study. Location of research is selected in purposive. Number of example is 56 five-year babies. Data is analysed descriptively and inferensia by Spearmann’s correlation test. Result of research shows that approximately half of examples (46,4%) suffers from diarrhoea. Nutritional status (p<0,05) and age from examples (p<0,01) have negatively and significantly correlation with diarrhoea. Environmental sanitary landfill--distance between water source and septic tank is less 10 m-- and dismissal of garbages are conditions that cause high case of diarrhoea. Mother who did not give exclusive ASI also causes infected diseases as diarrhoea. Self hygiene of five-year babies, accustoms to clean hand before eating and after, accustoms in bathroom, and wear sandals when out of the house must be considered to be not easy to come down with diarrhoea. Key words : diarrhoea, five-year babies, nutritional status, exclusive ASI, environmental sanitary

RINGKASAN
IMA MARYANA ULFAH. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pengetahuan Gizi, dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang, Bogor. Dibimbing oleh CLARA M. KUSHARTO dan SITI MADANIJAH. Diare merupakan salah satu contoh penyakit infeksi, sehingga akan menular. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Anak balita merupakan kelompok penduduk pasif dan rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makannya. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang, Bogor. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik anak balita, (2) Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita, (3) Mengidentifikasi karakteristik keluarga, (4) Mengidentifikasi PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, (5) Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita, (6) Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, dan (7) Menganalisis kaitan antara PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang, Bogor pada bulan Desember 2007 sampai April 2008. Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur), status gizi dan kesehatan anak balita, karakteristik keluarga (besar keluarga, umur, pendidikan, pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga), PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS. Data-data tersebut diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for window versi 11,5. Keterkaitan antar variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 46,4% anak balita mengalami diare selama tiga bulan terakhir. Lebih dari separuh anak balita (66,1%) adalah perempuan. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30,2±11,7 bulan. Proporsi terbesar umur anak balita (39,3%) berkisar antara 24-36 bulan, sisanya berumur ≤23 bulan (32,1%) dan berumur ≥37 bulan (28,6%). Terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0,01) antara umur anak balita dengan diare. Sebagian

besar anak balita (96,4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2,5 kg) dan sebanyak 3,6% anak balita memiliki berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Berdasarkan indeks BB/TB dan BB/U, sebagian besar anak balita memiliki status gizi normal, sedangkan menurut indeks TB/U berstatus gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0,05). Sebanyak 91,1% anak balita mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Diare merupakan jenis penyakit ke tiga terbesar (46,4%) yang dialami anak balita selama tiga bulan terakhir setelah panas (71,4%) dan ISPA (73,2%) dengan frekuensi tertinggi yaitu 1-2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Lebih dari separuh responden (60,7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 5,3±1,8 orang. Proporsi terbesar umur baik ayah maupun ibu berturutturut sebanyak 39,3% dan 44,6% berkisar antara 20-30 tahun (dewasa muda). Rata-rata umur ayah yaitu 33,0±6,8 tahun dan rata-rata umur ibu yaitu 27,7±5,7 tahun. Proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35,7%) yaitu SLTA/sederajat dan ibu (51,8%) yaitu SD/sederajat. Proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta dan jasa angkutan (33,9% dan 28,6%) dan sebagian besar ibu (75,0%) tidak bekerja. Proporsi terbesar pendapatan perkapita perbulan keluarga responden (58,9%) adalah >Rp150 000.00. Proporsi terbesar responden (69,6%) memiliki PHBS kategori tinggi dan 30,4% kategori sedang. Proporsi terbesar responden (48,2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang, sisanya tinggi dan rendah (42,9% dan 8,9%). Sebanyak 71,4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan 28,6% kategori tinggi. Lebih dari separuh responden (55,4%) memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi dan 44,6% kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi ibu. Sedangkan umur ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai serta Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare anak balita. Selain itu, jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), membiasakan Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB, menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika ke luar rumah. Serta, pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan, personal hygiene, dan pelayanan kesehatan) dan pentingnya ASI eksklusif.

DI DESA CIKARAWANG BOGOR IMA MARYANA ULFAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA.PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT.

MSc NIP 131 414 958 Dr. Kusharto. Ir. Didy Sopandie. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. MS NIP 130 541 472 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian Prof.Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. drh. Ir. Dr. Pengetahuan Gizi. Siti Madanijah. Dr. MAgr NIP 131 124 019 Tanggal Lulus: . Bogor Nama NIM : Ima Maryana Ulfah : A54104065 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. Clara M.

MSi selaku dosen penguji atas arahan dan saran yang diberikan. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Pengetahuan Gizi. Ikeu Tanziha. Ir. Pihak Desa Cikarawang. Dr. 5. Dr. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesejahteraan Rakyat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). SP. Dr. drh.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah swt senantiasa penulis panjatkan. Dadang Sukandar. Dr. Ir. Kusharto. MSc. 3. Puskesmas Cangkurawok dan ibu-ibu kader Kampung Carang Pulang. MS selaku dosen pemandu seminar dan Katrin Roosita. 2. 4. Ikeu Ekayanti. Ir. yaitu kepada: 1. MS dan Megawati Simanjuntak SP atas arahan dan saran selama proses pengolahan dan analisis data penelitian. 7. Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari dukungan beberapa pihak. Siti Madanijah. MKes. Bogor”. Alhamdulillah. Desa Cikarawang atas bantuannya selama proses pengambilan data penelitian. hidayah dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua keikhlasan bantuan yang telah diberikan. Ir. Tien Herawati SP. arahan dan dukungan semangat yang luar biasa kepada penulis. 6. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. sungguh luar biasa karena atas rahmat. . Prof. MSc selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan. Dr. Clara M. MS selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik yang dengan sabar dan penuh pengertian mendengarkan curahan hati serta memberikan bimbingan dan dorongan semangat yang luar biasa kepada penulis. Oleh karena itu.

11. 12. Manto. Ari dan Gamasakers 41 atas bantuan. dan doa untuk keberhasilan penulis. Rizka. Sri. Yulia. dan Ibnu Akbar atas saran-saran yang telah diberikan untuk kesempurnaan penulisan skripsi. Mei. Nur. Adin. MpokIde. Friska. Abah. temen seperjuangan KKP. 9.8. Ira. Tiche. 10. Ati. Teteh Milah. Yesa. DausBek. teman-teman pameran PIMNAS XXI di Semarang. tumpangan kamar. Noni. 40 dan GM 42. 43. Kakang Rizki. teman-teman relawan Klaten. Rekan-rekan pembahas Edo Rizky Fernando. curahan hati dan keceriaan sampai terselesaikannya skripsi ini. Bapak Mashudi dan Bapak Dian atas dorongan semangatnya. Ena. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Dini. Maul. Noorma. Vina dan Emil. Any. kebersamaan yang indah dan keceriannya. Teman-teman BUD Cianjur (Dini dan Ade). Henny. RHEMAND (Nda. Mama. Yuli. BKGers (Semangat yo). saran. Once. Bogor. Wisma JASMINE dan FAIRUSH terima kasih atas kebersamaan yang indah. Venny. Devita. dukungan semangat. penghuni AS-SAKINAH. dorongan semangat. GMSK 39. atas bantuan. perhatian. Ardi. Sahabat seperjuangan penulis Angelica Gabriel “My Beloved Friend”. Dhyta. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Dede Aab serta keluarga besar di Cianjur atas semua kasih sayang. Bung). 13. Lola. OMDA CIANJUR. Firdaus. Arina. Dedew. Rika. Sahabat-sahabat terbaik penulis Eka. Agustus 2008 Ima Maryana Ulfah .

selama masa perkuliahan penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Pendidikan Gizi tahun ajaran . Tahun 2006-2008 penulis aktif dalam organisasi otonom yaitu Badan Konsultasi Gizi (BKG). Tahun 2007 penulis mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang pendidikan dengan judul ”Reformasi Pendidikan dan Perubahan Kurikulum serta Aplikasinya terhadap Pembentukan Kualitas Bangsa Indonesia” dan lolos sebagai 10 besar terbaik di IPB. Selain itu. Hasan Mulyadi dan Ibu Hj. penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen FEMA. Pada tahun yang sama penulis mengikuti PKM bidang ilmiah dengan judul “Kajian Keadaan Lingkungan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Sehat Keluarga di Kampung Carang Pulang.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 02 Maret 1986 dari ayah H. Hiperkolesterol dan Hiperglikemia)”. Semarang. Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi dalam Seminar Nasional “Nuansa Pangan. Desa Cikarawang. Divisi Dana Usaha dalam Seminar Konsultasi Gizi yang berjudul “Control Yourself From 3 Hypers (Hipertensi. Fakultas Pertanian. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber. Gizi dan Keluarga X (NPGK X)”. Cianjur dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kabupaten Cianjur. Tahun 2006 penulis pernah mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian dengan judul “Persepsi dan Sikap Mahasiswa Calon Bapak terhadap Pemberian ASI oleh Ibu kepada Bayi” yang berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Bogor” dan berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Siti Romlah. 2007/2008. Tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan terlibat dalam tim pameran PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Penulis merupakan putri ke dua dari empat bersaudara. Penulis memilih Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK). Pada tahun yang sama penulis pernah menjadi relawan pada “Posko Penanganan Tumbuh Kembang Anak Korban Gempa di Kabupaten Klaten” yang diadakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Serta.

............................................................................... 24 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................................................. 9 Pengetahuan Gizi .............................................................................. 2 Hipotesis.. 47 Pola Asuh Kesehatan .............................................................................. 35 Pengetahuan Gizi ..................... 54 Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS................................... 22 Disain...................................... 21 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh .................................................................. 21 Jenis dan Cara Pengumpulan Data.............................................................................. Tempat dan Waktu ................... 32 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).................................................................................................................. 26 Keadaan Umum Daerah Penelitian ........................................................................................................................................................................................................................................................................................ 47 Pola Asuh Makan.... 22 Definisi Operasional .......... 51 Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita..................................................................................... 28 Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita .............................................................................................................................................................. 3 TINJAUAN PUSTAKA ............................... 1 Latar Belakang .. 29 Karakteristik Keluarga Contoh. 19 METODE PENELITIAN .......................... 26 Karakteristik Anak Balita........ 5 Penyakit Diare ..................................... 1 Tujuan.......... 17 Pola Asuh Kesehatan .. 7 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)............................ 18 KERANGKA PEMIKIRAN.....................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL.................................................................. 45 Pola Asuh ..................... 4 Status Gizi dan Kesehatan Anak balita ................ viii DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................................................................. 16 Pola Asuh Makan........................................... ix PENDAHULUAN ......... 4 Karakteristik Anak balita .. Pengetahuan ........................................................................ 6 Karakteristik Keluarga ............................................................................ 3 Kegunaan Penelitian ..................................... 16 Pola Asuh .............................................. vi DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. 21 Pengolahan dan Analisis Data ....................................................................................

.................... 60 Kesimpulan........................................................................................................................................................................ 61 DAFTAR PUSTAKA ..................... 58 Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ............................... 60 Saran ................. 58 KESIMPULAN DAN SARAN ........................ 56 Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita ..... 57 Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita................................................... 66 ..... Pengetahuan Gizi.......................................................................... 55 Kaitan antara PHBS.................. 62 LAMPIRAN ...............Gizi............................................................. 56 Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita ............ Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ....................... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan............................

.......... 28 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi........................................................ 31 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit ........ 44 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB..................................................................................................................................................... 41 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL .. 34 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan................................................. 27 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.................................. 40 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah. 45 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi ........... umur dan berat badan lahir. 29 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir....................................... 32 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga ........... 45 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS ............ 34 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan ........................................................................................... 21 Cara pengolahan dan analisis data ................ 23 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya........................................................................................................ 40 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban................................................................................. 33 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan................................................ 38 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air ............................................................................. 37 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan responden ..... 37 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat.............. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit.... 36 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang.......... 35 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene ..... 31 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit............DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis dan cara pengumpulan data .......... 32 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur............... 42 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan .......... 26 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin................................................................................................................................. 42 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal membantu persalinan ...................... 46 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan ....................................... 30 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit....

................................................. 57 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita ....................................... 49 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita......... 46 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita ................................................... 56 40 Kaitan antara pengetahuan gizi responden dengan diare anak balita .............. 54 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS ...................................................................... 58 ........................................... 58 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita............................................................................................................................................... 53 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita .... 48 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita.........................................................responden .......... 47 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita....................................... 54 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita ................ 50 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan................................................................................. 55 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita . 51 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan ........................

.......................... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Kaitannya dengan Diare Anak Balita .. 20 ..... 10 2 Kerangka Pemikiran PHBS..... Pengetahuan Gizi..............DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum .............

.............................................DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan........ 67 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan...... kemudahan dihubungi dan cara pelayanan .................... 68 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel ............... 70 ................ .................................. 67 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi......... 67 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban benar pengetahuan gizi .......................................... jarak dan daya jangka ...........

S. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam . Contoh perilaku tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan. Dampak kesehatan lingkungan yang buruk adalah tingginya angka kesakitan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water related diseases) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tinja (excreta-related diseases) sepert diare. pelayanan kesehatan (10%). sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih pun sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Badan Amerika Serikat untuk bantuan pembangunan internasional (U. kulit dan hepatitis A (Cairncross dan Feachem 1993 diacu dalam Irianti et al. Dari keempat faktor tersebut. AID) telah merangkum hasil dari berbagai penelitian mengenai dampak perbaikan keadaan air bersih dan sanitasi di negara-negara sedang berkembang yang menyatakan bahwa perbaikan kualitas dan kuantitas air bersih dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 37%.PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan (BPS 2002). serta air dan udara yang bersih. sekolah dan tempat umum. Anonymous (2000) diacu dalam Sari (2004) menyatakan bahwa yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman atau perumahan. Untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi. 2002). dan perilaku terhadap upaya kesehatan. gaya hidup. dan keturunan (20%). Menurut Henrik L. tempat kerja. perilaku hidup sehat (40%). Blum diacu dalam Topatimasang (2005) derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lingkungan (30%). Selain itu. Serta perbaikan pembuangan tinja dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 22% (World Bank 1992 diacu dalam Irianti et al. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. faktor lingkungan dan perilaku hidup sehat sangat mempengaruhi derajat kesehatan. 2002). kebersihan perorangan.

pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang. mental. Di Indonesia. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. diare adalah pembunuh anak balita nomor dua terbesar setelah ISPA (Rimbatmaja 2007). (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007). Tujuan Tujuan Umum Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kosek et al. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebesar 42-47% (Curtis dan Cairncross 2003 diacu dalam Rimbatmaja 2007). Bogor. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan. memberikan makan anak. merawat anak. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai aspek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). 2005). kebersihan anak. Masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. secara umum lebih dari dua juta anak meninggal akibat diare setiap tahunnya. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi.dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. . Dalam hal ini. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan (Marotz et al. pengetahuan gizi dan pola asuh yang diduga menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. dan sosial. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989).

Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk : 1. supaya lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk keberlangsungan hidup yang berkualitas. 3. pengetahuan gizi. Mengidentifikasi karakteristik keluarga. 2. 3. pengetahuan gizi. pengetahuan gizi. Terdapat kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. Terdapat kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. Mengidentifikasi karakteristik anak balita. Hipotesis 1. 5. Mengidentifikasi PHBS. Terdapat kaitan negatif antara PHBS. 2. Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. 6. Menganalisis kaitan antara PHBS. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. 7. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. 4. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. . Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada instansi terkait khususnya Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menindak lanjuti perihal yang menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita. Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dan bahan masukan untuk menyusun kembali perencanaan dan strategi dalam penentuan kebijakan. pengetahuan gizi. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pengetahuan gizi. Serta bagi masyarakat Desa Cikarawang khususnya.

Umur Menurut Hurlock (1982) sikap. sangat menentukkan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama. Akan tetapi. Orang tua harus dapat memanfaatkan rasa ingin tahu anak dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan masalah kesehatan. Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling ideal untuk mulai memperkenalkan kepada anak tentang perilaku-perilaku dasar yang berhubungan dengan gaya hidup sehat. maka mereka memiliki keistimewaan karena memperoleh pekerjaan rumah tangga yang lebih sedikit dibandingkan yang perempuan serta diberi kesempatan untuk mengabaikannya (Hurlock 1982). 2005). daya tahan terhadap penyakit lebih rendah. Orang tua harus dapat meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai isu lingkungan yang kompleks serta pengaruhpengaruhnya (Marotz et al. Sedangkan jika anak yang lahir pertama kali adalah anak laki-laki.TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin Anak perempuan khususnya anak sulung diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian. . pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi dengan berat badan lahir cukup (Alisyahbana 1983 diacu dalam Firlie 2001). gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental dan intelektual yang lebih tinggi dengan berat badan lahir normal (Utomo 1998 diacu dalam Firlie 2001). keselamatan dan gizi. kebiasaan. selama tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi. Bayi BBLR mortalitasnya lebih tinggi. Pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. Berat Badan Lahir Bayi yang dilahirkan prematur atau dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terhadap mortalitas dan morbiditas akut dalam jangka panjang (Alberman 1994 diacu dalam Rahayu 2006).

Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi (BPS 2002). tinggi badan menurut umur (TB/U). Status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk dan biasanya dapat dilihat melalui indikator angka kesakitan yaitu persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. Indeks ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi underweight dan overweight. dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. Menurut Riyadi (2001) berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberi gambaran tentang masa tubuh (otot dan lemak). Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini. Indeks BB/TB dapat memberikan gambaran proporsi BB relatif terhadap TB. salah satunya dengan antropometri. Oleh karena itu. Status gizi anak dinilai dengan mengunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. Lebih lanjut Riyadi (2001) menyatakan kenaikan berat badan tiap bulan adalah indikator kesehatan anak yang paling peka. Indeks TB/U mengambarkan status gizi masa lalu (stunting). Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan mendadak seperti penurunan nafsu makan dan terserang penyakit infeksi. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). . Indeks BB/U mampu menggambarkan status gizi pada saat kini. maka indeks ini merupakan ineks kekurusan (wasting). Oleh karena itu. Riyadi (2001) menyatakan status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan bila dibandingkan tinggi badan.Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita Menurut BPS (2002) aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk yaitu status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi. Menurut Riyadi (2001) tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang mengambarkan keadaan pertumbuhan skeletal.

keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia. Diare ada dua jenis yaitu diare akut dan diare kronis. Penyakit diare dapat menular apabila adanya kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti pada makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi baik oleh serangga maupun tangan yang tidak bersih. E. bahkan dapat berupa air saja. Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada anak yang lebih besar (Suharyono 1988 diacu dalam As’ad 2002). alergi terhadap susu. defisiensi zat gizi yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Vibrio cholera (5%). Selain itu. lalat) atau oleh tangan yang kotor. Menurut Latifah et al. sehingga akan menular. Salmomella (5-18%). (2002d) diare adalah suatu kondisi buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar juga ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). buang air besar bukan pada tempatnya dan pencemaran makanan oleh serangga (kecoa. bakteri. Ditinjau dari sudut patofisologi. apalagi air yang digunakan tidak dimasak sampai mendidih terlebih dahulu. menggunakan sumber air yang tercemar. Suharyono (1988) diacu dalam As’ad (2002) penyebab prevalensi yang tinggi dari penyakit diare di negara yang sedang berkembang yaitu kombinasi dari sumber air yang tercemar. cacing. menurut Dinkes (2003) penyakit diare juga dapat ditularkan melalui beberapa cara diantaranya pemakaian botol susu yang tidak bersih.Penyakit Diare Penyakit diare merupakan penyakit infeksi. Kuman yang paling sering menjadi penyebab diare akut pada anak yaitu Rotavirus (30. Penggunaan air yang sudah tercemar juga dijadikan media pencemaran penyakit diare. protozoa). yang terjadi lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari). Sedangkan diare akut adalah diare yang timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari. kurang gizi dan daya tahan tubuh rendah (Saroso 2007). dan Shigella (2-5%). coli (20-30%). Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya.6%). parasit (jamur.4-36. penyebab diare akut yaitu: . Penyebab diare diantaranya yaitu virus. Kuman-kuman tersebut ditularkan secara faecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar.

BBLR dan bayi baru lahir Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dengan dehidrasi. gugup). kuman-kuman patogen dan apatogen . ORT dapat dilakukan dengan memberikan cairan (air) melalui mulut selama anak mengalami diare (Santrock 2002). Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi. Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. makanan yang pedas. Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk. alergi dan sebagainya. . makanan (misalnya keracunan makanan. 2.Defisiensi imun terutama Sig A (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan terjadinya pelipatgandaan bakteri atau flora usus dan jamur terutama Candida.Infeksi virus.Hiperperistaltik usus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia. Hal ini disebabkan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga. gangguan syaraf. Selain itu. Diare osmotic (Osmotic diarrhea) yang disebabkan oleh: . Rumah . besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989).Malabsorpsi makanan . karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonymous 1985 diacu dalam Harianto 2004). Diare sekresi (Secretory diarrhea) yang disebabkan oleh: . Kematian diare akibat dehidrasi (kehilangan banyak cairan tubuh) dapat dicegah dengan Oral Rehydration Therapy (ORT). hawa dingin. makanan yang terlalu asam). gangguan psikis (ketakutan. Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga.Kekurangan kalori protein dan mineral .1.

serta hygiene dan dalam kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga (Madanijah 2003). informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat (Sukarni 1989). Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan . Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya Pengetahuan dan terhadap perawatan formal kesehatan.yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). pendidikan keikutsertaan pendidikan non formal dari orang tua dan anak-anak sangat penting dalam menentukkan status kesehatan. Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006). fertilitas. Umur ibu berkaitan dengan pengalaman ibu mengasuh anaknya dimana ibu yang relatif muda memungkinkan ibu kurang berpengalaman dalam mengasuh anaknya (Hurlock 1993). Dengan demikian. Umur Orangtua Orangtua muda terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga (Rahmawati 2006). Pekerjaan Orangtua Pada masyarakat tradisional. karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik (Berg 1986). Menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di luar rumah. Pendidikan Orangtua Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.

. Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2001). penurunan daya beli akan menurunkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan. kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. diantaranya pendidikan keluarga. serta pengobatan dan perawatan (Entjang 1985). Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi (Hardinsyah 1997). Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu penyebab penyakit. perawatan kesehatan dan pemeriksaan. serta kualitas tumbuh kembang anak balita (Gunarsa & Gunarsa 1985). dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). Pendapatan Orangtua Kondisi ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga lainnya. Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002).sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989). terutama bagi warga kelas ekonomi bawah. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. dan lingkungan hidup (Entjang 1985). Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan. kesehatan dan gizi balita. Usaha kesehatan pokok (Basic Health Services) yang diajukan organisasi kesehatan sedunia (WHO) sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat diantaranya yaitu higiene dan sanitasi lingkungan. Hal ini tidak terlepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak yang selalu sehat (Khomsan 2005). rohani. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Keluarga dengan pendapatan terbatas besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. kesejahteraan ibu dan anak. Dengan demikian. manusia sebagai tuan rumah. Pada tingkat keluarga.

Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat. kelompok. dan pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata. 2006). masyarakat yang sesuai dengan norma-norma kesehatan.Masalah determinan kesehatan. memiliki akses dan menggunakan jamban. menurut Henrik L. perilaku sehat. 2005). 1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010) (Manda et al. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. perilaku kesehatan (40%). menolong dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang tinggi (Sinaga et al. makan dengan gizi seimbang. Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. Kependudukan/ keturunan Lingkungan kesehatan Derajat kesehatan morbiditas dan mortalitas Program dan pelayanan kesehatan Perilaku kesehatan Gambar 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetik dan kependudukan (20%). keluarga dan masyarakat. memiliki akses dan menggunakan air bersih. terutama pada aspek budaya perorangan. . 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. Menurut Depkes RI (2006) indikator PHBS antara lain mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Program PHBS adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan. lingkungan kesehatan (30%). cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar. Kebijakan Indonesia sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat. dan program dan pelayanan kesehatan (10%). menghuni rumah sehat.

memanfaatkan sarana kesehatan. Higiene dan sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik. dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dan bebas dari pencemaran. diberikan saat balita (BCG. Menurut Widyati & Yuliarsih (2002) kesehatan masyarakat dibagi menjadi dua yaitu kesehatan kuratif (penyembuhan penyakit). dan folio) untuk mencegah datangnya penyakit 2. Aneka ragam makanan yaitu makan sebanyak 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan (Dinkes DKI Jakarta 2002). Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati & Yuliarsih 2002). Usaha kesehatan preventif dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1. Cara menjaga lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. hepatitis. Higiene dan Sanitasi Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yg menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. biologi. preventif (pencegahan penyakit). sosial. Gizi Seimbang Perilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan. persalinan ditolong tenaga kesehatan. ikut keluarga berencana dan lain sebagainya. menjaga kerja bakti dengan masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan. Usaha higiene sanitasi adalah usaha kesehatan preventif (mencegah supaya tidak sakit). dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan lingkungan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang 1985). 3.membuang sampah dan limbah pada tempat yang semestinya. pakaian bersih. Usaha kesehatan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja). dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. menyikat gigi. menjaga saluran air agar tidak mampet. MMR. Usaha kesehatan perorangan (personal hygiene) yaitu mandi minimal 2kali sehari. memeriksakan kehamilan. . sikap dan praktik keluarga yang mampu mengonsumsi makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan. Usaha pengebalan atau imunisasi. menimbang balita setiap bulan. olahraga dan lain-lain.

semangka. teraso. dan 3) sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur seperti bayam. sirap dan nipah. tempe. Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. daging. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. 3. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir lancar. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. asbes gelombang. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik dilakukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. singkong. nanas (Dinkes DKI Jakarta 2002). 4. seng. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya balita. dan kenyamanan manusia. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan (Dinkes DKI Jakarta 2002). . jeruk. sehinga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. diantaranya: 1. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. kacang-kacangan. tahu. jagung. Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. ubi. kangkung. hujan dan hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan. telur. ayam. sawi.Kelompok bahan makanan tersebut adalah 1) makanan pokok sebagai sumber zat tenaga seperti beras. Rumah Sehat Menurut Latifah et al. daun katuk. daun singkong. (2002b) rumah adalah tempat manusia berlindung dari panas terik matahari. pepaya. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. 2) lauk pauk sebagai sumber zat pembangun seperti ikan. keamanan. Rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini. wortel. 5. pisang. 2. kacang panjang. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. dan kayu atau bambu. Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. tegel atau semen. buncis. mie.

2) tangan dan tempat penampungan air bersih. air ledeng. Air bersih belum tentu dikatakan sehat. b. Syarat kimiawi: tidak mengandung zat-zat berbahaya seperti zat-zat racun atau zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut WC atau . sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. tidak berasa. 4) memasak air sampai mendidih sebelum diminum. Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. 5) menggunakan alat-alat minum yang bersih (termasuk gayung sebagai alat pengambil air harus bersih). Sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi minimum 10 meter dan dinding sumur 1 meter di atas tanah dan 3 meter dalam tanah serta harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar perembesan air dari sekitar tidak terjadi. tidak berwarna. 3) wadah penampung air disertai dengan tutup dan sering dibersihkan. Selain itu kandang ternak harus memiliki tempat penampungan kotoran. Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah. Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi dengan jamban atau WC (Water Closet). dan tidak berbau. 7. Syarat bakteriologis: air yang tidak mengandung penyakit. dan mata air yang terlindungi. Selain itu. karena menurut Entjang (1993) untuk memperoleh air minum yang sehat dapat diperoleh melalui 1) sumber air yang bersih.6. (1997) sumber air minum yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. menurut Widyati & Yuliarsih (2002) air bersih dan sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Syarat fisik: syarat air yang dilihat dari fisiknya antara lain jernih. Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Jika anggota keluarga ada empat orang. 2002b). maka paling sedikit harus ada satu kamar mandi. c. sumur yang terlindungi. 8. Menurut Subandriyo et al. Sanitasi Air Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman.

Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. 2002a). tidak pada tempat yang sering digunakan orang untuk lalu lintas. pabrik baja. 2002c). 2002c). dari pabrik tinta. 2) air limbah yang berasal dari perusahaan atau pusat perdagangan (air buangan dari hotel. kloset (lubang tempat masuk feses). Sumber air limbah yaitu 1) air limbah yang berasal dari rumah tangga (air dari kamar mandi. air buangan dapur. pabrik kertas. dari restoran dan dari kolam renang). Kotoran-kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan (Depkes RI 1995 diacu dalam Amperansyah 1999). Tinja dari jamban dalam kamar mandi harus disalurkan melalui pipa dan ditampung di tangki septik (Latifah et al. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. pabrik kimia). kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. pijakan kaki. air bekas mencuci pakaian). .kakus. tidak boleh mengotori sumber air minum seperti mata air atau sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci serta tidak pada tempat yang sering terkena banjir (Latifah et al. Sampah Sampah adalah segala sesuatu yang tidak terpakai lagi dan harus dibuang. dan 3) air limbah yang berasal dari industri atau pabrik (air buangan dari pabrik tahu dan tapioka. Jangan membiarkan sampah terlalu lama pada tempat pengumpulan sampah dan sebaiknya tidak melebihi 3x24 jam (Widyati & Yuliarsih 2003). pabrik cat. juga mengandung lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit (Latifah et al. Menurut Sukarni (1989) sarana pembuangan kotoran harus memenuhi persyaratan yaitu bangunan jamban harus mempunyai rumah kakus. sumur penampungan feses dan lubang resapan. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Menurut Latifah et al. Bahaya sampah yang tidak ditangani dengan baik mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. lantai yang disemen. Tempat yang dijadikan pembuangan sampah harus jauh jaraknya dari pemukiman.

Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat tergantung oleh keadaan ekonomi. Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. Menurut BPS (2002) fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan oleh penduduk desa untuk berobat adalah Puskesmas. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat pendapatan perkapita keluarga. pembuangan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. petugas kesehatan dan praktek dokter. secara ekonomis.Syarat-syarat pembuangan air limbah diantaranya tidak mengotori sumber air bersih. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. Penyaluran air limbah tanpa diolah dapat dilakukan dengan menggunakan tanki septik dan sistem riol. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat belum optimal. sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin. Untuk memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keterjaminan mutu. tidak menjadi tempat berkembang biak serangga perantara penyakit (lalat dan nyamuk) dan tidak menimbulkan bau dan merusak pemandangan (Latifah et al. 2002c). lokasi pusat-pusat pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak atau lebih banyak berada di kota-kota besar. jarak fisik dan sarana perhubungan yang tidak lancar antara pusat pelayanan kesehatan dengan tempat tinggal penduduk. maka pelayanan kesehatan tersebut akan mahal. Menurut BPS (2005) pada tahun 2005 secara umum persalinan . biasanya digunakan untuk membuang air limbah yang berasal dari industri/pabrik dan peternakan atau rumah pemotongan hewan (Latifah et al. Hal ini menurut Sukarni (1994) disebabkan oleh beberapa hal. Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua yaitu pelayanan kesehatan tradisional dan pelayanan kesehatan modern. Ada dua jenis sistem pembuangan air limbah yaitu menyalurkan air limbah tanpa diolah sebelumnya dan menyalurkan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. 2002c). antara lain sistem pelayanan yang ada selama ini belum diterima oleh masyarakat. Sedangkan. Berdasarkan hasil penelitian Sirajudin (1981) diacu dalam Herman (2005) masyarakat lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. oleh karena itu sulit memenuhi tiga syarat tersebut. pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak dan belum seluruh Puskesmas dipimpin oleh dokter.

balita dan ibu hamil. mencegah memburuknya keadaan gizi. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. akan tetapi disebabkan oleh kemiskinan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan keluarga khususnya anak-anak. mencegah ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan. bidan dan tenaga medis lainnya. bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau tenaga bukan medis lainnya. pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Mendidik menyangkut pola ajar (proses sosialisasi). Pola Asuh Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Kegunaan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa balita. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nutrition Assesment Educational Project di Washington (1999) diacu dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa rendahnya perhatian terhadap masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan atau pemahaman tentang gizi yang baik. Persalinan oleh dokter. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan yaitu mengikuti perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata dan telinga.balita ditolong oleh tenaga medis diantaranya oleh dokter. Pengetahuan Gizi Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan adalah hasil dari tahu. mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. terutama bayi. Cicely William diacu dalam Berg (1986) melaporkan studi di Afrika Barat bahwa gizi kurang tidak terjadi karena kemiskinan harta. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. dan mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut (Dinkes DKI Jakarta 2002). .

Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada anak balita yaitu gizi anak. Dalam hal ini. melalui berbagai bentuk interaksi antara ibu dan anak. Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) pada usia anak di bawah lima tahun merupakan masa yang . Pola asuh dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Menurut Hurlock (1982) penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. Pada usia pra sekolah. perumahan. kebersihan anak. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. mental. merawat anak. Pola Asuh Makan Pola asuh makan adalah praktik yang diterapkan ibu khususnya yang berkaitan dengan situasi dan cara makan. kesehatan anak. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. memberikan makan anak. Marotz et al. dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran kepada anak mengenai isu-isu lingkungan. Masalah makan pada anak dapat terjadi karena anak meniru pola makan orang tuanya yang makan pada saat menjalani diet untuk menurunkan berat badan (Khomsan 2004). Hikmat & Soemartono 2000 diacu dalam Adnyadewi 2004). Membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. dan sosial. maka ibu dengan mudah memberikan makan kepada anaknya dan dapat merasakan bahwa situasi waktu makan adalah saat-saat yang mambahagiakan (Tambingon 1999). Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. keluarga berencana.pengertian dan perasaan serta keterampilan dan pengetahuan. stimulasi dini. imunisasi. sanitasi lingkungan dan lainnya (Soendjojo. Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan (Hardinsyah & Martianto 1992). (2005) menyatakan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. anak-anak sering mengalami fase sulit makan.

Higiene diri adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis. Oleh karena itu. Anak balita yang tidak terawat baik fisik maupun makanannya akan mudah terserang penyakit. perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. hal ini terlihat dari banyaknya orang yang terkena penyakit karena tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995 diacu dalam Rahayu 2006). suasana makan haruslah menyenangkan sehingga anak tidak seperti pesakitan di meja makan. Anak seyogiayanya diberi kesempatan untuk memilih makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari orangtua. terutama oleh orang tuanya (Depkes RI 1997 diacu dalam Rahayu 2006). maka penjagaan kesehatannya merupakan tanggungjawab individu dewasa di sekitarnya. kondisi fisik masih lemah. . dimengerti. Ibu berperan secara konsisten bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan perawatan fisik anak. Pendidikan dan kekuasaan orang tua mampu meningkatkan kemampuan pengasuhan dan perawatan anak dengan lebih baik dalam suatu keluarga (Aronson 1991). Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. Menurut Khomsan (2004) orang tua yang pilih-pilih makanan (picky eaters) dan tidak suka sayur secara tidak langsung akan menyebabkan anak berperilaku makan seperti orang tuanya. kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi.tergolong rawan. Pola Asuh Kesehatan Menurut Rahayu (2006) pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena ia belum sanggup untuk merawat dirinya sendiri. artinya sangat tergantung dari diri sendiri yang praktiknya harus diketahui. Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. Higiene diri sangat penting diketahui dan dipraktikan oleh setiap orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat. Sedangkan ayah berperan dalam hal interaksi sosial dan mengajarkan norma budaya kepada anak baik laki-laki maupun perempuan yang ada di lingkungannya (Santrock 2002). Mengingat bayi dan anak adalah individu pasif. orang tua jangan terlalu banyak memberi nasehat. dan dilaksanakan oleh setiap individu (Suklan 2000 diacu dalam Rahayu 2006). Ketika anak sedang makan. Perawatan kesehatan anak balita akan mempengaruhi tingkat morbiditasnya. Selain itu.

. sehingga akan berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). Masalah kesehatan merupakan masalah yang komplek karena terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Anak balita yang tidak terawat baik fisik mapun makannya akan mudah terserang penyakit infeksi contohnya diare. Menurut Madanijah (2003) pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. PHBS yang disertai dengan pengetahuan gizi yang baik mampu membentuk perilaku yang baik pula. higiene dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Menurut Henrik L. diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makan bagi anak balita. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Oleh karena itu. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan. lingkungan kesehatan.KERANGKA PEMIKIRAN Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. rohani. Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik. Dari keempat faktor tersebut. Mengingat anak balita merupakan kelompok individu pasif dan merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. perilaku kesehatan serta pelayanan kesehatan. Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. Penyakit diare yang diderita oleh anak balita akan mempengaruhi status gizinya. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetika dan kependudukan.

pengetahuan gizi.Umur .Pekerjaan Orangtua .Pola Asuh Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu Status Gizi Anak Balita Diare Anak Balita Keterangan: = Variabel yang diteliti = Hubungan yang dianalisis Gambar 2 Kerangka pemikiran PHBS.Umur Orangtua .Berat Badan Lahir Pola Asuh . .Pola Asuh Makan .Jenis Kelamin .Karakteristik Keluarga .Pendidikan Orangtua .Besar Keluarga . pola asuh makan dan pola psuh kesehatan kaitannya dengan diare anak balita.Pendapatan Keluarga Pengetahuan Gizi Ibu Karakteristik Anak Balita .

Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang. status gizi dan kesehatan anak balita. Kabupaten Bogor. Berdasarkan Tabel 1 data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur). KMS Kuesioner.Berat badan lahir BB/TB BB/U TB/U Pernah/tidak sakit Frekuensi sakit Lama sakit Besar keluarga Umur orang tua Pendidikan orangtua Pekerjaan orangtua Pendapatan keluarga Jenis data Primer. Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder.Umur . Desa Cikarawang. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. karakteristik keluarga (besar keluarga.METODE PENELITIAN Desain. observasi Pengisian kuesioner Wawancara Monografi Desa Cikarawang Kuesioner 5 6 7 8 Primer Primer Primer Sekunder Kuesioner Kuesioner Kuesioner . umur. pendidikan. timbangan injak dan mikrotoa Kuesioner 2 3 Primer Wawancara 4 Primer Wawancara Wawancara. Menurut Nasution (2003) jumlah sampel 10% dari total populasi dianggap cukup memadai dalam sebuah penelitian. Tempat dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional study yaitu data diambil pada waktu tertentu secara bersamaan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008.Jenis kelamin . Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data No 1 Variabel Karakteristik anak balita Status gizi anak balita Status kesehatan (diare anak balita) Karaktersitik keluarga PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh Lokasi penelitian Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Data . Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang. pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga). Kecamatan Darmaga. sekunder Primer Cara pengumpulan data Wawancara Wawancara dan antropometri Alat ukur Kuesioner. Desa Cikarawang.

Selain itu, data primer juga meliputi PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS (Tabel 1). Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Program komputer yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for Window versi 11,5. Status gizi anak balita dikategorikan menjadi gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (zscore -2SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Sedangkan status kesehatan diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, jenis penyakit, frekuensi dan lama sakit selama tiga bulan terakhir (Tabel 2). Total skor PHBS dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu PHBS rendah (24-38), PHBS sedang (39-53) dan PHBS tinggi (54-67). PHBS aspek pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan, kunjungan ke pelayanan kesehatan, persepsi jarak, persepsi daya jangkau, akses terhadap sumber informasi, persepsi terhadap kemudahan petugas kesehatan, serta persepsi cara pelayanan petugas kesehatan disajikan dalam bentuk deskriptif (Tabel 2). Pengetahuan gizi dinilai dengan pemberian skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Menurut Khomsan (2000) jawaban pengetahuan gizi diklasifikasikan ke dalam 3 kriteria, yaitu pengetahuan gizi baik (>80%), pengetahuan gizi sedang (60%-80%) dan pengetahuan gizi kurang (<60%) (Tabel 2). Data pola asuh makan diperoleh dengan memodifikasi kuesioner dari penelitian yang telah dilakukan oleh Khairunnisak (2004) yaitu dengan memberikan 16 pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Data pola asuh kesehatan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup sebanyak 24 pertanyaan. Total skor dari pertanyaan tersebut dikategorikan

menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72). Tabel 2 Cara pengolahan dan analisis data
No Variabel Sub Variabel a. Jenis kelamin b. Umur (bulan) • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kategori ≤23 24-36 ≥37 (Turner & Helms 1991) BBLR (<2,5) Non BBLR (≥2,5) Gizi kurang (z-score <-2SD) Gizi normal (z-score -2SD-+2SD) Gizi lebih (z-score >+2SD) 1 2 ≥3 1-3 4-7 8-14 >14 Remaja (13-19) Dewasa muda (20-30) Dewasa madya (31-50) (Turner & Helms 1991) Kecil (≤4) Besar (>4) Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi Buruh tani/kebun Petani pemiliki Pedagang/wiraswasta Pegawai negeri/swasta Jasa angkutan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Ibu Rumah Tangga (IRT) Lainnya ≤Rp 100 000.00 Rp 100 001.00-150 000.00 >Rp 150 000.00 Rendah (24-38) Sedang (39-53) Tinggi (54-67) (Subandriyo et al. 1997) Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) (Khomsan 2000) Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) (Slamet 1993) Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (57-72) (Slamet 1993)

1

Karakteristik anak balita

c. Berat badan lahir (kg) 2 Status gizi anak balita BB/TB, BB/U, TB/U a. Pernah/tidak sakit b. Frekuensi sakit (kali/3 bulan)

3

Status kesehatan anak balita (diare)

c. Lama sakit (hari)

a. Umur orangtua (tahun)

b. Besar keluarga (orang)

c. Pendidikan orangtua 4 Karakteristik keluarga

d. Pekerjaan orangtua

e. Pendapatan keluarga

5

PHBS ibu

6

Pengetahuan gizi ibu

a. Pola asuh makan 7 Pola asuh b. Pola asuh kesehatan

Definisi Operasional Contoh adalah anak yang berada pada golongan usia satu sampai dengan lima tahun yang akan diamati status gizi dan status kesehatannya khususnya diare. Status gizi anak balita adalah kondisi kesehatan tubuh anak balita yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diperoleh dengan menggunakan metode antropometri. Indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB, BB/U, dan TB/U. Status gizi dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan perhitungan zskor yaitu gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (z-score -2 SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Status kesehatan anak balita adalah kondisi kesehatan (riwayat sakit) anak balita dalam tiga bulan terakhir yang meliputi jenis penyakit, frekuensi sakit (berapa kali sakit) dan lama sakit (dalam hari) dengan menggunakan kuesioner. Diare pada anak balita adalah kejadian buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari pada anak balita. Besar keluarga adalah banyaknya orang yang tinggal (hidup) di bawah satu atap yang sama dan makan dari satu dapur yang sama. Pendidikan orang tua adalah lama pendidikan formal (pendidikan terakhir) ayah dan ibu, diklasifikasikan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi (PT). Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dimiliki ayah dan ibu yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi buruh tani atau kebun, petani pemilik, pedagang atau wiraswasta, pegawai negri/swasta, jasa angkutan, Pembantu Rumah Tangga (PRT), Ibu Rumah Tangga (IRT). Pendapatan perkapita perbulan adalah jumlah pendapatan yang dinilai dengan uang (rupiah) perbulan yang dibagi dengan besar keluarga dan diklasifikasikan menjadi <Rp100 000.00, Rp100 001.00-150 000.00 dan >Rp150 000.00. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu adalah tindakan atau aktivitas ibu tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Berdasarkan

rumus interval total skor PHBS diklasifikasikan menjadi rendah (2438), sedang (39-53) dan tinggi (54-67). Pengetahuan gizi ibu adalah pengetahuan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan meliputi definisi dan fungsi zat gizi, sumber pangan dengan kandungan zat gizi tertentu, akibat defisiensi zat gizi, akibat mengonsumsi makanan yang tidak bersih, waktu pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, definisi dan pencegahan diare, serta penanganan saat anak balita mengalami diare. Pengetahuan gizi diklasifikasikan menjadi tiga menurut Khomsan (2000) yaitu baik (>80%), sedang (60%-80%) dan kurang (<60%). Pola asuh makan adalah cara dan kebiasaan ibu dalam memenuhi kebutuhan makan anak balita yang meliputi riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Pola asuh kesehatan adalah cara dan kebiasaan ibu memperlakukan anak balita dalam penerapan kebersihan diri dan perilaku kesehatan lingkungan. Total skor dari aspek pola asuh kesehatan yaitu 24-72 yang dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72).

0 Batas wilayah Desa Cikarawang yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cisadane. Tambak b.0 0. Sekolah c. gereja. Perkebunan Negara c.35 2. Sawah pasang surut Perkebunan a.10 23.86 0. perkantoran. Sawah tadah hujan d. kuburan. Desa Cikarawang merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 700 m dpl. Tempat peribadatan (masjid.510 225.0 11. vihara.016 0. Kuburan/makam h. Terminal f.32 8.18 0. sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Cisadane-Ciapus dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situ Gede. jalan.54 0.0 0. Sawah pengairan teknis (irigasi) b.84 % 0.0 0.455 75. Tabel 3 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya Penggunaan Pertanian Sawah a.260 18. Sedangkan dari desa ke ibukota kabupaten sejauh 35 km dan dapat dicapai selama dua jam.07 3. perkebunan.0 16.19 0.0 0. pura. Lain-lain Perikanan Darat/Air Tawar a.430 0 0 0 0.03 0. Sawah pengairan setengah teknis c.925 0 0 0. sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Ciapus.800 4.HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian Berdasarkan data dasar profil desa tahun 2007/2008 luas wilayah Desa Cikarawang yaitu 225. Empang/tebat Total Sumber: Data dasar profil desa 2007/2008 Luas ha 0 25. dll) g. Perkebunan swasta Pemukiman Umum Bangunan a. yang dipergunakan untuk pemukiman umum. pertanian sawah. 84 ha. Perkantoran b.075 0. Pertokoan/perdagangan d.22 100.88 0.23 33. bangunan-bangunan (sekolah.0 0. Kolam c.073 2 0. masjid. dan lain-lain).070 52. Pasar e. dan lain sebagainya (Tabel 3). Jalan i. .226 8 0 38. Jarak dari desa ke ibukota kecamatan adalah sejauh 3 km dan dapat ditempuh selama setengah jam.007 0. Perkebunan rakyat b.

keluarga sejahtera I (700 KK). dan Dusun III terdiri dari RW 5. Namun. RW 1 dan 2 berada di Kampung Cangkrang. hanya sepuluh bangunan MCK yang sudah ditembok rapi dan sisanya belum ditembok. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Cikarawang paling banyak berada pada golongan usia anak balita. keluarga sejahtera II (300 KK). sisanya berada di Kampung Carang Pulang. tujuh Rukun Warga (RW) dan 32 Rukun Tetangga (RT). Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya masyarakat . Selain itu. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan aparat desa. fasilitas penyediaan air bersih di Desa Cikarawang sebagian besar berasal dari sumur pribadi atau mata air pribadi. Kedua belas MCK tersebut dibangun berdasarkan bantuan pemerintah daerah Kabupaten Bogor (PKPS BBMIP) tahun 2005. Dusun I terdiri dari RW 1 dan 2. Dusun II terdiri dari RW 3 dan 4.Desa Cikarawang terdiri dari tiga Dusun. sampai saat ini Desa Cikarawang telah memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang diperuntukkan bagi masyarakat secara umum di dua belas tempat. 6 dan 7. Kedua belas bangunan MCK yang dibangun tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Tabel 4 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin Umur (Tahun) 0-5 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 Jumlah Laki-Laki 443 408 392 379 389 398 304 311 261 215 183 158 189 144 4 174 Perempuan 515 366 389 369 374 378 285 288 251 193 160 141 147 145 4 001 Jumlah 958 774 781 748 763 776 589 599 512 408 343 299 336 289 8 175 Sumber : Data dasar profil desa 2007/2008 Penggolongan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga dibagi ke dalam empat kelompok yaitu keluarga pra sejahtera (900 KK). dan keluarga sejahtera III (100 KK). Jumlah penduduk Desa Cikarawang seluruhnya adalah sebanyak 8 175 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2 000 KK.

7 bulan.5 ≥2. sebagian besar anak balita (96.4 kg. cuci dan kakus.1 100.6% anak balita memiliki Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat badan <2. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh anak balita (66. Proporsi terbesar umur anak balita (39.6%).0 .2±11.5 kg. Menurut Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) bayi dengan BBLR memiliki mortalitas lebih tinggi dan daya tahan terhadap penyakit lebih rendah serta pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi yang memiliki berat badan lahir cukup.5 kg).1%) dan berumur ≥37 bulan (28.6 96.4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2.yang menggunakan air sungai/hujan/sumur dan mata air yang tidak terlindungi sebagai sumber air minum.0 3. sebanyak 3. sisanya berumur ≤23 bulan (32.3 28. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30. Berat badan lahir anak balita berkisar antara 2-4 kg dengan rata-rata 3. umur dan berat badan lahir Karakteristik Anak balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Umur (bulan) ≤23 24-36 ≥37 Total Berat Badan Lahir (kg) <2.6 100. umur. Karakteristik Anak Balita Karakteristik anak balita dalam penelitian ini menjelaskan mengenai jenis kelamin.1%) berjenis kelamin perempuan.0 32.3%) berkisar antara 24-36 bulan. Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari Puskesmas Cangkurawok bahwa proporsi anak balita yang berjenis kelamin perempuan di Kampung Carang Pulang lebih banyak dibandingkan laki-laki.5 Total n 19 37 56 18 22 16 56 2 54 56 % 33.1±0.4 100. Tabel 5 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.9 66.1 39. mandi. Akan tetapi. Berdasarkan Tabel 5. dan berat badan lahir.

2% berstatus gizi kurang (Tabel 6).8 24 42.0 Status gizi erat kaitannya dengan penyakit infeksi. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini (Riyadi 2001).1 43 76. Menurut Riyadi (2001) dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. salah satunya dengan antropometri.9%) memiliki status gizi yang tergolong normal. proporsi terbesar anak balita (57.2 32 57.8%) termasuk ke dalam status gizi normal dan 23. penyerapan.4 92.9 1. Riyadi (2001) menyatakan bahwa indeks BB/U sebagai indikator status gizi mampu menggambarkan status gizi pada masa kini. Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. Tabel 6 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih Total n 3 52 1 56 BB/TB % 5. Berbeda halnya dengan status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U.9% berstatus gizi normal.0 56 100.Status Gizi dan Kesehatan Anak balita Status Gizi Anak balita Berdasarkan perhitungan z-score indeks BB/TB pada Tabel 6 sebagian besar anak balita (92.4% anak balita memiliki status gizi kurang dan 1. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.8 100.0 Indeks Antropometri BB/U TB/U n % n % 13 23. Hiswani (2003) menyatakan bahwa masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan .0 0 0. Sisanya sebanyak 5.0 56 100. WHO (1983) diacu dalam Riyadi (2001) interpretasi status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. Berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan apabila dibandingkan tinggi badan.1%) termasuk ke dalam status gizi rendah.8% berstatus gizi lebih. Berdasarkan indeks BB/U sebagian besar anak balita (76. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. sisanya 42. Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek dibandingkan dengan berat badan.9 0 0.

1 8. status gizi yang baik akan mempengaruhi status kesehatan seseorang. Aritonang (1996) dan Victoria et al (1999) diacu dalam Briawan & Herawati (2005) menyatakan kurang gizi adalah faktor pra kondisi yang memudahkan anak menderita penyakit infeksi khususnya infeksi saluran pernapasan dan diare. .masalah penyakit infeksi. Tabel 7 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir Status Kesehatan Sakit Tidak Sakit Total N 51 5 56 % 91. Anak-anak yang kurang gizi menyebabkan rusaknya sistem imun sehingga mudah terkena penyakit.9 100 Menurut Soendjojo. bisul. Oleh karena itu. Penyakit kulit yang dialami anak balita antara lain panu.9% anak balita tidak mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. kurap. sanitasi lingkungan dan lainnya. keluarga berencana. Status Kesehatan Anak balita Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi. ISPA (73. borok dan alergi terhadap beberapa jenis pangan seperti ikan asin.05).2%) dan diare (46. Jenis penyakit yang paling banyak dialami anak balita selama tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 yaitu panas (71. imunisasi. Hikmat & Soemartono (2000) diacu dalam Adnyadewi (2004) untuk meningkatkan status kesehatan anak balita diperlukan suatu perhatian dalam hal gizi.4%). kesehatan.1%) mengalami sakit dan hanya 8. perumahan. stimulasi dini. Menurut BPS (2002) status gizi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk. Anak yang mengalami gizi kurang memiliki kesempatan lebih besar menderita penyakit infeksi terutama penyakit diare. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0.4%). Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa hampir seluruh anak balita (91. Tabel 8 menunjukkan bahwa penyakit yang tidak pernah dialami seluruh anak balita adalah campak.

Anak balita adalah individu pasif.7 0.1%).4 10. tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya.1 7 12.0 5.5 1 50. Sebagian besar anak balita menderita penyakit panas sebanyak 1-2 kali (35%).1%).4%) dan kulit (5.3 0.8 33.0 19.0 0. Mandi minimal 2 kali sehari dengan menggunakan air bersih dan sabun merupakan salah satu cara agar terhindar dari penyakit kulit.7 3.2 17 30.Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit Jenis Penyakit Panas ISPA TBC Campak Cacar Diare Kulit Lainnya n 40 41 2 0 3 26 6 2 % 71.2 3.4%).0 0 0.0 0 ≥3 % 30.6 Frekuensi sakit anak balita selama tiga bulan terakhir cukup bervariasi. diare (30.0 0 100. Sedangkan frekuensi untuk jenis penyakit lainnya adalah 1 kali (Tabel 9). ISPA (44.0 1 16.6 0.4 73.6%).0 12 23. .4%) dan diare 1 kali (32.0 0 32.0 0 0.0 1.7 2 100.4 11 0.4 46. Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya Frekuensi Sakit (kali) 1 2 % N % n 35.0 0 0. sehingga yang bertanggungjawab dalam hal kebersihan diri adalah orang dewasa khususnya ibu dari anak balita.0 14 35.0 N 14 13 0 3 18 3 2 Tabel 10 menunjukkan sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu panas (57. Penyakit kulit erat kaitannya dengan kebersihan diri seseorang. ISPA 2 kali (30.

2 3 5.0 30.6 0 0. TBC termasuk ke dalam jenis penyakit ISPA yang bersifat kronis. Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga Kecil (≤4 orang) Besar (>4 orang) Total n 22 34 56 % 39.0 >14 n 0 0 0 0 0 1 1 % 0. kedua anak balita sedang melakukan pengobatan rutin sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter hingga benar-benar kedua anak balita tersebut dinyatakan sembuh.3±1.8 Selain jenis penyakit di atas. Karakterisitik Keluarga Contoh Besar Keluarga Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3-10 orang dengan ratarata 5.4 1.3 1 1.0 0.0 0 0.7 100.8 3.Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama hari sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya 1-3 N 32 25 0 0 17 3 1 % 57. frekuensi penyakit TBC tidak diikut sertakan dalam tabel frekuensi sakit (Tabel 9) dikarenakan penyakit tersebut sudah berlangsung cukup lama yaitu selama 32 hari dan saat penelitian dilaksanakan penyakit tersebut masih diderita kedua anak balita.6 14.8 1.8 orang.7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang.4 5.6 0.0 Puspitawati (2007) menyatakan keluarga merupakan salah satu lembaga sosial yang tidak dapat berdiri sendiri. Lama hari penyakit TBC lebih dari 14 hari.3 60. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden (60.0 0.0 0 0.4 0.0 0.0 1. Responden menyatakan untuk penyakit TBC.0 0.1 44.8 n 7 13 0 1 8 2 0 Lama Sakit (hari) 4-7 8-14 % n % 12.0 0. meso dan makro).8 2 3.0 1.8 23. Keluarga sangat tergantung dengan dan juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (mikro.0 0. Seorang anak akan memperoleh hubungan antar pribadi pertama kali dalam lingkungan .5 1 1.

Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa muda (Turner & Helms 1991).7%) yaitu SLTA/sederajat.6% ) berumur antara 20-30 tahun.7 tahun.6 100.0 . Tabel 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Tabel 13.6% saja ayah dan 1.3%) maupun ibu (44.7±5. sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu.8%) yaitu SD/sederajat. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). tingkat pendidikan ayah lebih tinggi dibandingkan dengan ibu.3 100.1 44. Sedangkan umur ibu berkisar antara 19-47 tahun dengan rata-rata 27. Tabel 12 menunjukkan bahwa proporsi terbesar baik ayah (39. Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997).6 23. Jumlah keluarga yang banyak dapat mempengaruhi kondisi gizi dan kesehatan dari anggota keluarga. Umur Orang Tua Umur ayah berkisar antara 23-50 tahun dengan rata-rata 33. cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak. Secara keseluruhan tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu masih rendah karena keduanya masih banyak yang berpendidikan SD/sederajat dan hanya 3. terutama ibu. sedangkan ibu (51. Menurut Hurlock (1993) orang tua muda. Selain itu.3 28. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa besar keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi sedangkan menurut Suharini (1998) diacu dalam Madihah (2002) bahwa jumlah anggota keluarga yang besar disertai dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga menderita kurang gizi.8 tahun.1 39.keluarga.0 n 18 25 13 56 Ibu % 32.8% ibu yang berpendidikan akademi/diploma/PT. proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35.0±6. Ayah n 18 22 16 56 % 32.

Dengan demikian.8 100.0 12.0 10.8 0. Selain itu.7 75. fertilitas.0%) tidak bekerja atau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.5 1.8 35.6 0. Tabel 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan Buruh tani/kebun Pedagang/wiraswasta Pegawai negri/swasta Jasa angkutan PRT IRT Lainnya Total Ayah n 10 8 19 16 0 0 3 56 % 17. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa proporsi terbesar tingkat pendidikan ibu (51.0 5.0 0. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga.0 Menurut Sukarni (1989) pendidikan orang tua akan menentukan status kesehatan.7 10. menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di .6 100.0 n 0 7 1 0 6 42 0 56 Ibu % 0.9%) dan jasa angkutan (28. Sedangkan. sebagian besar ibu (75.0 0.9 28. Oleh karena itu.7 3.0 n 29 20 6 1 56 Ibu % 51.6%). Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta (33.7 1. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi daripada yang berpendidikan rendah. secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimilikinya.1 28.0 100.4 100.3 33.6 35.9 14.8%) adalah SD/sederajat.Tabel 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Ayah n 18 16 20 2 56 % 32.0 Menurut Rahmawati (2006) pada masyarakat tradisional.

9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas garis kemiskinan.00 sampai Rp2 620 000.00 100 001.4%) menggosok gigi dua kali setiap harinya. Sukarni (1989) menyatakan bahwa pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan.00-Rp150 000. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh responden (58.2 58.00. Kebiasaan mandi minimal dua kali dalam sehari merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya. lebih dari separuh responden (58.00-150 000. garis kemiskinan untuk Kabupaten Bogor yaitu Rp150 000.0 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Higiene Tabel 16 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (58.00/kapita/bulan.00. Kebiasaan menggosok gigi merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari penyakit khususnya sakit gigi.9% berpendapatan <Rp100 000. Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga perbulan berkisar antara Rp300 000. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007).00 >150 000.00 dengan rata-rata Rp1 073 393.00±Rp106 712.9%) selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar serta melakukan aktivitas mandi dua kali setiap harinya.00.8.9.luar rumah. Sebanyak 23. Menurut BPS (2005).9 100.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar >Rp150 000.00 dan sebanyak 17. .00. Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan (Rp/kap/bln) <100 000.3.00 Total n 10 13 33 56 % 17. Rata-rata pendapatan perkapita perbulan responden yaitu Rp210 113.2% responden memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar Rp100 001. Proporsi terbesar responden (55.9 23. Dengan demikian.00±Rp597 650.

kamar mandi pribadi n 1 22 33 0 33 23 0 31 25 0 0 56 18 17 21 12 6 38 % 1.0 0.5%). Frekuensi responden membersihkan kamar mandi dalam satu minggu terlihat pada Tabel 16 yaitu satu kali (32. dua kali (30. memasak sampai mendidih Membersihkan kamar mandi dalam seminggu a.1%).0 55. Tidak b.1 0. ≥ 3 kali/hari Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari? a. kamar mandi umum c.9 anak balita dapat dilakukan dengan membiasakan memasak air sampai mendidih sebelum . Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene PHBS aspek Higiene Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar a.1 30. 2 kali c.7%. 1 kali b. 1 kali b.9 0.6 0. 1 kali/hari b. Menurut Suririnah (2007) air yang tidak dimasak sampai mendidih maka akan menjadi media pencemaran untuk penyakit diare. kadang-kadang c.0 100. tidak memasak air b. ≥ 3 kali Melakukan aktivitas mencuci a. 2 kali c. sungai b. ya Kebiasaan mandi dalam sehari? a.7 67. salah satu cara untuk menurunkan tingkat kesakitan khususnya diare pada diminum. Lebih dari separuh responden (67.8 39.0 32. 3 kali Memasak air untuk minum a.4%) dan ≥ tiga kali (37. dengan alasan agar terhindar dari penyakit khususnya sakit diare karena kuman dalam air tersebut mati.5 21. 2 kali/hari c.4% dan di kamar mandi umum sebanyak 10.9 41. akan tetapi masih ada responden yang melakukan aktvitas mencuci di sungai yaitu sebanyak 21. Oleh karena itu.Tabel 16 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum.4 44.9%) melakukan aktivitas mencuci di kamar mandi pribadi.0 58.3 58.4 37.4 10. memasak tetapi tidak sampai mendidih c.

Gizi Seimbang Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 sebagian besar responden (89.1 89.0 Mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik untuk keberlangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. sayur c.0 100. sayur dan buah Total Pendapatan Perkapita Perbulan (Rp/Kap/Bln) 100 001.0 0.0 0 13 0 13 0.6% responden yang biasa menyediakan menu makan beragam yaitu nasi.0 100. sayur dan buah) adalah berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan >Rp150 000. nasi.0 Total n 4 50 2 56 % 7.00 atau di atas garis kemiskinan menurut BPS Kabupaten Bogor tahun 2005. Tabel 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan per kapita perbulan responden Menu Makan Keluarga Nasi. sebanyak 6.00-150 <100 000. protein nabati.1 100.0 3 28 2 33 9. sayur dan buah Berdasarkan Tabel 18.3 3. protein nabati dan sayur.1 84. Kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. lauk pauk. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang .0 100. nasi.00 >150 000.00 N % n % n % 1 9 0 10 10. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.1 89. lauk pauk.0 90. besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002).8 6.3 3. lauk pauk. lauk pauk.1% n 4 50 2 responden % 7.0 0.6 100. sayur dan buah.3%) menyatakan bahwa menu makan yang biasa disajikan untuk keluarga yaitu makanan pokok.00 000. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. protein nabati dan sayur Nasi. Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang PHBS aspek gizi seimbang Menu makan keluarga sehari-hari a. protein hewani b. Hanya 3. protein hewani Nasi. Keluarga dengan pendapatan terbatas. nasi.6 yang selalu menyediakan menu makan keluarga secara beragam (nasi.

5.8%) memilik luas hunian ≥10.4 1. >10 m dari rumah c.8 69.7 37.5 51.6 60. seng/asbes/kayu c.4 94.7 3. tidak punya n 6 21 29 0 2 54 1 39 16 0 2 54 0 3 53 20 2 34 % 10. Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat PHBS aspek rumah sehat Luas hunian a.8 0 3.4 0 5. 7. seluruhnya tanah/lainnya b. Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah et al. tertutup c. tidak ada b. ada. (2002b) bahwa salah satu syarat rumah sehat yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik.6 28.9 m2 c.4%) adalah berjenis marmer/keramik/ubin/tegel/teraso/semen. Luas hunian yang tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga menyebabkan penularan pertukaran penyakit oksigen diantara kurang anggota optimal keluarga.6 0 3. bambu/lainnya b. terbuka Atap rumah a.beraneka ragam yaitu akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita (Dinkes DKI Jakarta 2002). marmer/keramik/ubin/tegel/ teraso/semen Jendela rumah a.9. ada. teraso. beton/genteng Dinding rumah a. ≥10.0 m2 perkapita. ijuk/daun-daunan/lainnya b. sehingga Menurut memudahkan Notoatmodjo (1997) rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit. dan kayu atau bambu. tegel atau semen. kayu c. Rumah Sehat Tabel 19 memperlihatkan bahwa separuh responden (51. kayu/ bambu c. Hasil penelitian .7 Tabel 19 menunjukkan sebagian besar jenis lantai rumah responden (96. <10 m dari rumah b.6 96.0 m2 Jenis lantai rumah a. <7.5 m2 b. tembok Letak kandang ternak a.6 35. BPS (2004) menyatakan bahwa salah satu indikator rumah sehat menurut WHO adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 m2 perkapita.6 96.

(2002b) air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. Ada tidaknya jendela di setiap ruangan yang dapat dibuka dan ditutup berhubungan dengan ventilasi udara.4%) berupa genteng/beton. (2002b) menyatakan fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. Menurut Latifah et al. Latifah et al. (2002b) lantai rumah berupa tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Lebih lanjut Subandriyo et al. (2002b) atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. seng. Rumah yang sehat memerlukan jendela yang cukup untuk jalan masuknya cahaya ke dalam rumah. Serta dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. Sumber air minum yang digunakan sebagian besar responden (78. Keberadaan kandang ternak di sekitar rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan karena memudahkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kotoran ternak.7%) tidak memiliki kandang ternak dan sebanyak 35. Lebih dari separuh jendela responden (69. Hal senada juga diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa dinding yang paling baik adalah tembok. Menurut Latifah et al.6% dinding rumah responden berupa tembok (Tabel 19).menunjukkan bahwa tidak ada satu responden pun memiliki jenis lantai rumah berupa tanah. Atap rumah sebagian besar responden (96. Sanitasi Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. sirap dan nipah. (1997) menyatakan bahwa sumber air minum yang . (2002b) syarat rumah sehat lainnya yaitu kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. dan sebanyak 94. Menurut Latifah et al. Air yang digunakan sehari-hari harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan. asbes gelombang. Lebih dari separuh responden (60. 2002b). Menurut Latifah et al.7% responden memiliki kandang ternak dengan jarak antara kandang ternak dengan rumah yaitu <10 m (Tabel 19).6%) yaitu ledeng/sumur terlindung/mata air terlindung (Tabel 20).6%) berada dalam keadaan tertutup (Tabel 19). Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran responden dalam menjaga kenyamanan serta kebersihan rumah masih rendah.

5 53. Kamar mandi umum c. sungai b. sangat disarankan bagi masyarakat memiliki kakus yang dilengkapi dengan tangki septik.6 83.1 3. Tidak punya b.6 17. air ledeng. sehingga tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan. Sebagian besar keluarga responden (80. kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik Tempat keluarga mandi a. <10 m c. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan tempat penampungan kotoran minimum 10 m.4%) melakukan aktivitas buang hajat yaitu di tempat kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik (Tabel 21). kakus sendiri/kakus bersama tanpa tangki septik c. Oleh karena itu. Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air PHBS aspek sanitasi air Sumber air minum.9 n 2 10 44 7 30 19 % 3. mandi.6 33.6%) dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m (Tabel 20). ≥10 m Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut kakus.6 80. Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban PHBS aspek kepemilikan jamban Tempat keluarga biasa buang hajat a. cuci. sumur yang terlindungi dan mata air yang terlindungi.4 12. Menurut Subandriyo et al. dan kakus a. air sungai/air hujan/lainnya b. sumur tak terlindungi/mata air tak terlindungi c. Kamar mandi pribadi n 9 2 45 7 2 47 % 16.bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. ledeng/sumur terlindungi/mata air terlindungi Jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat a.5 53.9 78. Menurut Depkes RI (1995) diacu dalam Amperansyah (1999) kakus digunakan untuk menyimpan kotoran (hajat).9 . Sungai/pancuran b. Kondisi tersebut menyebabkan sumber air tercemar oleh bakteri yang dapat dijadikan media penularan penyakit diare. Proporsi terbesar responden (53.6 12.

Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat kesehatan. akan tetapi sebanyak 12.3% responden membuang sampah pada lubang terbuka (Tabel 22). sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. sampah maupun air limbah.3 0. Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah PHBS aspek penanganan sampah Tempat pembuangan sampah a. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang dapat menularkan penyakit diare. tempat terbuka di pekarangan dan tanpa dikumpulkan b. Sehingga. Sampah Seluruh responden terbiasa membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) sumber air yang tercemar merupakan salah satu media yang dapat menularkan penyakit diare.0 . Selain itu. lubang sampah tertutup/dibuat kompos Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Lebih dari separuh responden (67. mampu mengundang lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit. sehingga berdampak terhadap status kesehatan keluarga. Perilaku tersebut masih jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat. Air sungai/pancuran bukan merupakan sumber air yang bersih dan sehat. (2002c) sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare.9%) melakukan aktivitas mandi di kamar mandi pribadi. Perilaku tersebut belum mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat. (2002c) bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik yaitu dapat menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit (seperti cacing.Berdasarkan Tabel 21 sebagian besar responden (83.7 39. Menurut Latifah et al.5% responden melakukan aktivitas mandi di sungai/pancuran. N 34 22 0 % 60. Menurut Latifah et al.7%) terbiasa membuang sampah di tempat terbuka/di pekarangan dan tanpa dikumpulkan dan sebanyak 39. kemungkinan air sungai/pancuran tercemar oleh bakteri lebih tinggi dibandingkan dengan air di kamar mandi pribadi yang sumber airnya berasal dari ledeng atau sumur yang terlindungi. Hal ini disebabkan oleh tidak terlindunginya air tersebut dari kotoran baik tinja. lubang sampah terbuka c. Lebih dari separuh responden (60.9%) terbiasa membuang air limbah di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air (Tabel 23).

terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya.Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL PHBS aspek SPAL Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) a.9 0. Puskesmas dan praktik bidan. Menurut Fogel dan Woods (1995) hal 431 diacu dalam Satoto (2004) perempuan yang tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah daripada yang memperoleh perawatan kehamilan yang memadai. ke dalam tangki septik Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa seluruh responden biasa melakukan pemeriksaan kehamilan di Posyandu. Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. sebagian besar responden menyatakan bahwa jarak ke Posyandu (96. . Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan Pelayanan kesehatan Pemeriksaan kehamilan a. di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air b. Lebih lanjut Satoto (2004) menyatakan jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan kehamilan.4%).0 100. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar.8%) adalah dekat.8%) dan praktik bidan (51. Berdasarkan Lampiran 1.1 Nadesul (2005) menyatakan bahwa kehamilan merupakan masa yang sangat penting karena pada saat itu mutu seorang anak ditentukan. Kondisi janin yang sehat akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak selanjutnya. Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya.0 n 38 0 18 % 67. ke dalam lubang tertutup tanpa tangki septik c. pemeliharaan kesehatan. pemeliharaan kebersihan dan sebagainya.0 32. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa alasan utama responden mengunjungi ketiga fasilitas pelayanan kesehatan tersebut adalah jarak yang dekat dan terjangkau. Posyandu/Puskesmas/praktik bidan n 0 56 % 0. Puskesmas (76. Dukun b.

Apalagi di Posyandu. bidan Puskesmas (94.6%) saat persalinan dibantu oleh bidan baik oleh bidan Puskesmas maupun praktik bidan. bidan Puskesmas (73. Satoto (2004) . Pada umumnya baik bidan Puskesmas maupun praktik bidan lebih mudah dihubungi dibandingkan dengan dokter Puskesmas.1%). lebih dari separuh responden (69.0%) adalah baik. Selain itu.3%). proporsi terbesar responden menyatakan bahwa daya jangkau ke Posyandu (98. sehingga rasa kekeluargaan diantara mereka masih cukup tinggi. Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara kader Posyandu dan responden dapat terjalin dengan baik. dan praktik bidan (67.4%).9%). Berdasarkan Lampiran 2. Tidak berbeda halnya dengan dokter dan bidan Puskesmas serta praktik bidan. Berdasarkan Tabel 25. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut juga mudah dihubungi yaitu dokter Puskesmas (62.6%) dan praktik bidan (75.4% responden menyatakan bahwa saat persalinan dibantu oleh dukun paraji. Akan tetapi. Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal antara kader Posyandu dan responden yang berdekatan karena merupakan warga setempat. selain membantu persalinan dukun paraji juga ikut membantu memandikan bayi dan “ngurut” ibu setelah melahirkan sampai usia 40 hari kelahiran. daya jangkau (biaya) juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan. Puskesmas (83. Hampir seluruh responden menyatakan bahwa cara pelayanan dokter Puskesmas (96. seluruh responden menyatakan bahwa kader Posyandu mudah dihubungi dan cara pelayanannya pun baik. Satoto (2004) menyatakan bahwa biaya pemeriksaan kehamilan di Posyandu. Puskesmas dan bidan desa sangat murah karena pasien hanya membayar retribusi. bidan Puskesmas (94.6%). sebanyak 30.Selain jarak. bahkan mereka akan memperoleh vitamin secara gratis.9%). Hal ini disebabkan oleh pembagian jadwal tugas dokter yang berbeda antara kedua Puskesmas yang berada di Desa Cikarawang. Selain itu.3%) adalah mudah.9%) dan praktik bidan (64.5%). Berdasarkan Lampiran 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi gizi dari kader Posyandu (92.2%). pasien sama sekali tidak dipungut biaya. Berdasarkan Lampiran 1. lebih dari separuh responden pernah mendapatkan informasi gizi dari ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut yaitu dokter Puskesmas (57.2%) dan praktik bidan (64. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden.

Berdasarkan hasil wawancara.4 69. buah nangka. Berdasarkan Lampiran 2. roti. Menurut BPS (2006) program KB merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa seluruh responden ikut dalam program Keluarga Berencana (KB). Dukun b. Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden menyatakan bahwa jarak ke tempat dukun paraji dekat (66. daging kambing. talas. ubi. durian. Hal ini disebabkan oleh jarak dan daya jangkau ke rumah sakit jauh .6%).6 Alasan utama responden menggunakan tenaga bukan kesehatan (dukun paraji) saat persalinan yaitu jarak yang dekat dan terjangkau. ikan asin. Secara umum responden hanya mendapatkan nasihat-nasihat berupa pantangan setelah melahirkan seperti tidak boleh makan yang manis (”bolu”). proporsi terbesar responden (44.6%) menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi gizi dari dukun paraji. Alasan dukun paraji yang mendasari pantangan tersebut yaitu rahim ibu masih luka. mie instan. pisang. sangat dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah atau Wanita Usia Subur (WUS) menerapkan program KB. Sehingga.menyatakan bahwa dukun akan melakukan pemijatan pasca melahirkan untuk mengembalikan stamina tubuh ibu dan bayinya akan memperoleh perawatan sampai tali pusatnya lepas. Seluruh responden selalu membawa anak balita ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan berat badan (Tabel 26). Menurut BPS (2004) penimbangan anak balita merupakan salah satu upaya dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk melihat tumbuh kembangnya. Oleh karena itu. kangkung dan sebagainya. Puskesmas/praktik bidan n 17 39 % 30. Perawatan tersebut dilakukan sampai 40 hari dengan biaya yang relatif murah. makanan-makanan tersebut tidak baik dikonsumsi. Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pertolongan persalinan Pelayanan kesehatan Pertolongan saat persalinan a. Tabel 26 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu berobat ke tenaga medis ketika anggota keluarga sakit.1%) dan mudah dijangkau (69. responden lebih sering mengunjungi Puskesmas untuk berobat ketika sakit dibandingkan rumah sakit.

Pada umumnya responden mengunjungi rumah sakit ketika anggota keluarga mengalami sakit yang cukup parah sehingga membutuhkan pengawasan dan perawatan dokter yang cukup intensif. Ya Penimbangan anak balita di Posyandu a.6 100. Tidak ada satu responden pun yang memiliki kategori PHBS rendah. kepemilikan jamban. ini menunjukkan bahwa kesadaran responden dalam berperilaku hidup bersih dan sehat sudah cukup baik (Tabel 27). rumah sehat.0 100. Akan tetapi.0 Pengetahuan Gizi Tabel 28 menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden (48. Tindakan yang didasari oleh .4% kategori sedang. penanganan sampah dan SPAL serta pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (69. Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan.0 100. Puskesmas/praktik bidan/klinik/rumah sakit n 0 56 0 56 0 56 % 0. masih ada responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah yaitu sebanyak 8. Tidak b. gizi seimbang.0 0.0 30.6%) memiliki PHBS termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 30.dan sulit.2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 42. Tabel 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS Kategori PHBS Rendah (24-38) Sedang (39-53) Baik (54-67) Total n 0 17 39 56 % 0.9% kategori tinggi. sanitasi air. Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB.9%.0 Berdasarkan pemaparan di atas mengenai aspek PHBS yang meliputi higiene.0 100. Tidak b.4 69. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit Pelayanan kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) a.0 0. Ya Tempat berobat keluarga ketika sakit a. Dukun b.

0 50.1%).2 42. .9 100. jenis pangan karbohidrat (44.0 Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi pun menjadi lebih baik.9 100.6%).1 100.0 Total n 5 27 24 56 % 8.2 42.0 0. Berdasarkan Lampiran 3 dapat diketahui bahwa terdapat lima pertanyaan pengetahuan gizi yang dapat dijawab responden kurang dari 60%. Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi responden (p<0.9 48. Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawati (2006) bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan.0 50.0 65.01).0 Tabel 29 menunjukkan bahwa secara umum responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah memiliki tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) juga.0 SLTP/sederajat n 0 7 13 20 % 0.6 24.0 SLTA/sederajat n 0 3 3 6 % 0.9 48.2 58. zat gizi untuk pertumbuhan (44.0 100.0 35. Kelima pertanyaan tersebut adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (53. Tabel 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan responden Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Total Tingkat Pendidikan SD/sederajat N 5 17 7 29 % 17.1%) dan pemberian ASI eksklusif (41. Tabel 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) Total n 5 27 24 56 % 8.6%). Hal ini mengindikasikan bahwa kelima pertanyaan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertanyaan lainnya.6%). jenis pangan sumber Fe (57.0 100.pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.0 100.0 100. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi responden atau sebaliknya.0 Akademi/Dip loma/PT N % 0 0 1 1 0.

0 8 14.0 85. bubur bayi dan lainnya. responden sudah memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang. Pola Asuh Makan Pola asuh makan pada penelitian ini meliputi riwayat menyusui dan penyapihan. Tabel 30 menunjukkan bahwa sebanyak 75. mental.0% responden tidak memberikan ASI eksklusif (6 bulan). cara mempersiapkan makanan. biskuit. Menurut Sukarni (1989) dan Madanijah (2003) tingkat pendidikan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan.3 18 32.Pada umumnya responden mengetahui lama pemberian ASI eksklusif yaitu empat bulan. susu formula. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Tabel 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Anak diberi ASI eksklusif (ASI saja hingga 6 bln) Anak diberi kolostrum? ASI diberikan sesuai permintaan bayi? ASI diberikan sampai anak berusia 2 tahun? Ya n 14 48 38 30 % 25.7 67. Ketidakmampuan responden menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan benar kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya pendidikan responden. Marotz et al. cara memperkenalkan makan. (2005) menyatakan bahwa masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilakuperilaku gaya hidup sehat.1 26 46. Pada umumnya setelah anak berusia empat bulan bahkan kurang. Pola Asuh Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya secara fisik. lama pemberian ASI eksklusif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah enam bulan.4 . dan sosial.9 53. Akan tetapi. Hanya 41.6 Tidak n % 42 75. Karena pendidikan akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang yang akan berdampak terhadap status kesehatan dan status gizi keluarga.1% responden yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. orang tua harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. Dalam hal ini.

sebagian besar responden (85. Sehingga tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) yang dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi seperti yang diperoleh dari kolostrum.4 Tidak n % 4 33 30 2 7. Kebiasaan ini sangat baik karena dengan memberikan makanan beragam mampu memperbaiki status gizi anak balita sehingga terhindar dari gizi kurang. Lebih dari separuh responden (67. pertimbangan dalam hal memberikan makan karena faktor gizi. Hal senada diungkapkan oleh Masithah. Cara memperkenalkan makan untuk anak balita meliputi membiasakan mengonsumsi makanan beragam. Kolostrum mengandung zat gizi untuk sistem kekebalan tubuh anak dari penyakit.1 46. frekuensi memberikan makanan utama dan memberikan makanan kudapan. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.9%) memberikan ASI sesuai dengan permintaan dan memberikan ASI sampai usia 2 tahun (53.7%) memberikan kolostrum kepada anaknya. sehingga dapat mengurangi risiko terserang diare. Krisnatuti & Yenrina (2000) menyatakan bahwa kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran.4 96.9 53. Soekirman dan Martianto (2005) bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi intestinal.9 41. Akibat .9%) memberikan makanan yang beragam kepada anak balita.1 58. Tabel 31 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.6 Menurut Dinkes DKI Jakarta (2002) fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. bahkan sangat mudah dan murah memberikannya kepada bayi (Dinkes DKI Jakarta 2002).6%). Berdasarkan Tabel 30. Tabel 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita Cara memperkenalkan makan anak balita Anak dibiasakan mengonsumsi makanan beragam Pertimbangan ibu dalam memperkenalkan makan kepada anak berdasarkan faktor gizi Ibu membiasakan menyediakan kudapan untuk anak setiap hari Ibu memberikan makan kepada anak sebanyak tiga kali sehari Ya n 52 23 26 54 % 92.Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi.6 3.

Sesuai dengan jawaban yang diperoleh dari responden saat wawancara dapat diketahui bahwa sebanyak 58. Tabel 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita Cara mempersiapkan makanan anak balita Ibu mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak Ibu memasak makanan dalam sehari dilakukan secara bertahap (pagi.7 1.tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. sore/malam) Ibu terbiasa memanaskan/menghangatkan kembali makanan sesaat sebelum dikonsumsi Ibu selalu menutup makanan sebelum dihidangkan Ya n 49 8 50 55 % 87. Kurang dari separuh responden (41. sampai penyajian termasuk kebersihan peralatan makanan yang akan digunakan.5 14.7% tidak melakukan aktivitas memasak tiga kali sehari (Tabel 32). Mulai dari tahap persiapan.1%) sudah memperhatikan faktor gizi sebagai pertimbangan dalam memberikan makan kepada anak balita (Tabel 31).7 10.3 98. Keadaan ini berdampak pada kebiasaan responden yaitu sebanyak 53.5 85. sehingga sebanyak 89.6% tidak memberikan makanan kudapan setiap harinya kepada anak balita. Pada umumnya responden memasak satu sampai dua kali sehari. Kuman-kuman tersebut akan membentuk toksin yang tahan panas. pengolahan. Berdasarkan Tabel 32 sebagian besar responden (87. Faktor kebersihan harus selalu dijaga pada setiap tahapan penyediaan makanan bayi. Akan tetapi.3% responden menghangatkan kembali makanan sebelum dikonsumsi. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita. Menurut Krisnatuti & Yenrina (2000) ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk membentuk kondisi anak sehat yaitu makanan bergizi dan sanitasi (kebersihan).8 Berbeda halnya dengan kebiasaan memasak responden yaitu sebanyak 85.4%) memberikan makan utama untuk anak balita yaitu tiga kali dalam sehari (Tabel 31).9% responden memberikan makan anak balita sesuai dengan kondisi keuangan keluarga. sehingga tidak dapat .3 89.5%) mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak balita. siang.2 Tidak n % 7 48 6 1 12. Menurut Pujiarto (2007) makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam mengakibatkan kuman tumbuh subur dalam makanan tersebut. sebagian besar responden (96.

Kebiasaan memasak secukupnya sesuai dengan kebutuhan. sehingga makanan tersebut cukup aman untuk dikonsumsi dan mampu mengurangi penyebaran penularan penyakit yang membahayakan manusia. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak balita. agar anak balita mau makan. Oleh karena itu.4%) sudah mulai membiasakan anak balita untuk makan sendiri.4 73. lebih baik dibandingkan dengan menghangatkan kembali makanan tersebut. pada umumnya responden memberikan makan sambil jalan-jalan atau aktivitas lainnya. Sebagian besar responden (98. merayu) Ya n 45 41 9 53 % 80.9 5.1 94. kalaupun mau makan itupun dalam jumlah yang sedikit.dihancurkan dengan memasak makanan tersebut. pilih-pilih serta jarang habis. Akan tetapi. Hal ini dikarenakan anak balita tersebut belum bisa memegang sendok dengan benar sehingga saat memasukkan makanan ke dalam mulut masih tumpah.4 Tabel 33 menunjukkan sebanyak 83.6 26.6% responden selalu melakukan kegiatan . sebanyak 94.8 83.9% responden belum membiasakan anak balita makan di meja makan (makan bersama). sebanyak 73.2% responden masih memberikan makan kepada anak balita dengan cara disuapi. Kalaupun makanan yang diolah bersisa. Responden mengeluh anak balita mulai sulit makan. Tabel 33 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (80. Sehingga.2 16.2%) selalu menutup makanannya sebelum disajikan/disantap (Tabel 32). Tabel 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita Cara memberikan makan anak balita Ibu membiasakan anak makan sendiri dengan asumsi sudah dapat memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut tanpa tumpah Ibu memberikan makan kepada anak dengan cara disuapi Ibu memberikan makan pada anak di meja makan (makan bersama) Cara mengapresiasi proses makan anak balita Ibu selalu berusaha agar anak menghabiskan makanannya (membujuk. Hal ini bertujuan agar makanan tetap terjaga kebersihannya.6 n 11 15 47 3 Tidak % 19. maka sebelum dilakukan proses menghangatkan makanan harus terlebih dahulu disimpan dalam lemari pendingin. Membiasakan menutup makanan sebelum dihidangkan dapat mengurangi kontak fisik serangga (kecoa. lalat) dengan makanan.

0 71.6% selalu menggunakan sabun ketika memandikan anak balita.2% responden belum membiasakan anak balita menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan dan hanya 21.6 100.6%) membiasakan anak balita menggosok gigi ≥2 kali/sehari dan sebanyak 64. Oleh karena itu. Tabel 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan Pola Asuh Makan Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) Total Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Lampiran 4 dapat diketahui bahwa sebanyak 80. Akan tetapi. sebanyak 77. merayu atau memberikan pujian.1% responden membiasakan anak balita agar menggunakan handuk yang sama dan milik pribadi (tidak gonta-ganti). Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. menurut Hardinsyah & Martianto (1992) perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. Menurut Khomsan (2004) membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Lebih lanjut Hurlock (1982) menyatakan penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai.4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan sebanyak 28.1% responden mulai membiasakan gosok gigi saat berusia ≤1 tahun (Lampiran 4).0 . anak sering mengalami fase sulit makan. Seluruh responden menyatakan bahwa selalu mengganti pakaian anak balita sehabis mandi dan sebanyak 91.6% kategori tinggi.9% anak balita selalu menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi. Hasil penelitian mengenai kategori pola asuh makan dapat dilihat pada Tabel 34. n 0 40 16 56 % 0. Pada usia pra sekolah. Tidak ada satu responden pun yang memiliki pola asuh makan kategori rendah.apersepsi supaya anak balita mau makan misalnya dengan cara membujuk. Lebih dari separuh responden (52.4% responden membiasakan anak balita mandi dua kali dalam sehari dan sebanyak 94. Berdasarkan pemaparan di atas dari ke lima aspek pola asuh makan dapat diketahui bahwa sebanyak 71.4 28.

6%) kadang-kadang dibiasakan untuk mencuci kakinya setelah bermain.3%) tidak memperbolehkan . Menurut Tjitarsa (1992). Menurut Notoatmodjo (2003) kotoran manusia (tinja) adalah sumber penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan manusia. Sebanyak 46. sebanyak 64.3% responden membiasakan menyisir rambut anak balita 2-3 kali/hari.Sebanyak 77. akan tetapi cukup dengan menggunakan tangan responden yaitu dengan cara “dielus-elus” (Lampiran 4). Walaupun masih ada responden sebanyak 21. Sebanyak 67.5% menggunakan air bersih untuk mencuci tangannya.2% responden membiasakan mencuci rambut anak balita (keramas) sebanyak ≥3 kali/minggu dan sebagian besar anak balita (92. Serta sebanyak 51. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebanyak 42-47% Kebersihan kuku juga sangat penting untuk diperhatikan.9% anak balita sudah dibiasakan mencuci kaki sebelum pergi tidur oleh responden dan lebih dari separuh anak balita (53.4% yang menyisir rambut anak balita hanya 1 kali/hari. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan sabun dan air bersih sangat penting dilakukan karena dapat menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan.3% anak balita dibiasakan selalu menggunakan alas kaki ketika bermain atau berada di luar rumah. karena kuku yang panjang dan tidak terawat mampu menularkan penyakit. Curtis & Cairncross (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007) mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare.3%) selalu menggunakan sabun ketika mencuci tangan anak setelah buang air besar dan sebagian besar responden (82. Sebanyak 71. Selain itu. Lebih dari separuh responden (64.8% responden sudah membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan saat berusia 1-2 tahun.9%) keramas menggunakan sampo. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh saat wawancara bahwa rambut anak balita tipis dan pendek sehingga tidak perlu disisir untuk merapikannya.4% responden membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan dan sebanyak 87.1%) sudah membiasakan anak untuk buang air besar pada tempat semestinya yaitu kamar mandi (Lampiran 4). Sebagian besar responden (89. kebiasaan tersebut mampu mencegah terjadinya penyakit diare.4% responden sudah membiasakan anak balita menggunting kuku ≥3 kali dalam satu bulan dan sebanyak 39.

sebagai contoh yaitu mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat semestinya. Menurut Entjang (1985) lingkungan hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Tabel 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan Pola Asuh Kesehatan Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (56-72) Total n 0 25 31 56 % 0. pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena anak balita belum mampu untuk merawat dirinya sendiri.anak balita bermain tanpa memakai celana dan separuh responden (50.4 100. kondisi fisik masih lemah dan kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan signifikan dengan kedua pola asuh tersebut. Pola asuh kesehatan seperti ini cukup baik.6% kategori sedang (Tabel 35). Akan tetapi.0%) kadang-kadang memperbolehkan anak balita bermain tanah (Lampiran 4).9%) sudah membiasakan anak balita untuk membuang sampah pada tempatnya (Lampiran 4). Lingkungan rumah yang bersih akan menciptakan lingkungan nyaman yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang. Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (55. Pengetahuan gizi ibu yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula seperti dalam hal perilaku bersih dan sehat. memberikan makan dan menjaga kebersihan anak balita.0 Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara PHBS ibu dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan (P<0.4%) memiliki pola asuh kesehatan termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 44.01). Lebih dari separuh responden (58. . karena dengan membuang sampah pada tempatnya mampu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.6 55. terdapat kecenderungan apabila pengetahuan gizi ibu baik maka kedua pola asuh tersebut pun akan baik. Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat.0 44. Menurut Rahayu (2006).

6 100.0 Total n 26 32 56 % 53. sehingga sangat mudah terserang penyakit infeksi.6 46.0%.0 16 100.7 33. Bayi dan balita memiliki sistem imunitas tubuh yang masih lemah.4 100. Tabel 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total N 2 0 2 Berat Badan Lahir BBLR Non BBLR % n % 100. Sistem imunitas tubuh berkembang sesuai dengan umur seseorang.0 24 44.6 100. Persentase anak balita yang mengalami diare dengan umur 24-36 bulan dan ≥37 bulan berturut-turut yaitu 45. Namun. Tabel 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total n 12 6 18 ≤ 23 % 66.0 Total n 26 32 56 % 46.0 Uji korelasi Spearman menunjukan terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0.0 .0 30 55. Semakin tinggi umur anak balita maka tingkat diare semakin rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh variasi data penelitian mengenai BBLR yang relatif kecil.5% dan 25.0 Umur (bulan) 24-36 ≥ 37 N % N % 10 45. Muniasir (2007) menyatakan bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh.0 54 100.01) antara umur anak balita dengan diare. Tabel 37 menunjukkan bahwa secara umum anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mengalami diare selama tiga bulan terakhir.4 0.7%) dibandingkan dengan anak balita yang memiliki umur >23 bulan.5 4 25.3 100. Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) menyatakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki daya tahan terhadap penyakit juga lebih rendah.4 53.0 12 54.0 22 100. salah satunya diare.5 12 75.Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita Tabel 36 menunjukkan bahwa anak balita dengan umur ≤23 bulan mengalami diare lebih tinggi (66. hasil analisis korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare.

8 35. SLTA/sederajat (15.8 100.4 2.Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS.3 52.0 n 29 20 6 1 56 18 25 13 56 Total % 51.8 41. .01).8 100. Semakin tinggi pendidikan responden maka PHBSnya pun semakin tinggi pula.0 Tinggi n 16 16 6 1 39 12 16 11 39 % 41.2 100. Responden dengan tingkat pendidikan di atas SLTP/sederajat.8%) dan 20-30 tahun (41.7 1.6 100.0%). Hasil analisis juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan gizi responden (p<0.0 30.0 15.0 Tabel 38 juga menunjukkan responden dengan umur 13-19 tahun (30.5 0. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.0 32. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS responden (p<0.8%).4%) dan akademi/diploma/PT (2.0 100.6%).5 23.7 10.9 11. Hasil analisis menunjukkan umur responden tidak berhubungan signifikan dengan PHBS. Pengetahuan Gizi. Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pemahaman atau pengetahuan seseorang terhadap perawatan kesehatan dan kesadarannya terhadap kesehatan anak-anak dan keluarga. sebagian besar memiliki PHBS kategori tinggi yaitu SLTP/sederajat (41.0 28. 0.0.1 44.6 23.5%) dengan tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) memiliki PHBS kategori sedang.0%) memiliki PHBS kategori tinggi.01). Persentase tersebut lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur 31-50 tahun (28. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Tabel 38 menunjukkan sebagian besar responden (76.8 100.0 35.0 41. Tabel 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS PHBS Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ibu SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Sedang n % 13 4 0 0 17 6 9 2 17 76.

Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita Berdasarkan Tabel 39 dapat diketahui bahwa kecenderungan anak balita dengan PHBS responden kategori tinggi mengalami diare lebih besar (73. Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS responden dengan diare anak balita.0 n 26 30 56 Total % 46. Kaitan antara PHBS.9%).0 n 19 20 39 Tinggi % 73.3 100. Pengetahuan Gizi. air tetap terjaga kebersihannya dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (minum.6 100. mandi.9 33. Menurut Subandriyo et al.1 66.1%) dibandingkan anak balita dengan PHBS responden kategori sedang (26. hasil analisis menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan pola asuh makan maupun dengan pola asuh kesehatan. PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan gizi responden. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar responden dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m. kebiasaan membuang sampah dan SPAL responden yang belum sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Tujuannya adalah supaya tidak terjadi interaksi antara mikroorganisme dengan air yang biasa digunakan untuk kebutuhan hidup seharihari. Sehingga.4 53. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi (tempat penampungan kotoran) minimum 10 m.Namun.7 100. Tabel 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita PHBS Diare Diare Tidak Diare Total n 7 10 17 Sedang % 26.0 Aspek PHBS yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran. . Selain itu juga. cuci dan kakus).

3%) dan tinggi (58. Tabel 40 Kaitan antara pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi n % n % N % 3 60. sampah juga mampu mencemari sumber air. Selain itu.0 27 100.0 9 33.Berdasarkan yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya mengenai aspek PHBS. Akan tetapi.7 10 41. Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita Tabel 40 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu rendah mengalami diare lebih besar (60.3 2 40. hasil uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita.3%).0 Total n 24 32 56 % 46.3 14 58.0%.0 18 66. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) penggunaan air yang sudah tercemar tersebut dapat dijadikan media pencemaran penyakit diare. Tidak berbeda halnya dengan SPAL responden.4 53.) dibandingkan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu kategori sedang (33. secara umum mereka membuang sampah di pekarangan dan lubang sampah terbuka. Sampah yang dibiarkan di tempat terbuka dapat dijadikan media berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare.0 24 100. dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak membuang sampah pada tempat yang semestinya. sebagian besar responden membuang air limbah bukan pada tempat semestinya yaitu di pekarangan. Perilaku seperti ini sangat jauh dari indikator perilaku hidup bersih dan sehat.0 tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan . Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan penyakit diare. Namun. Menurut Latifah et al. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan.6 100.7 5 100. Keadaan ini juga mampu mencemari sumber air.

6 100.0%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi (45.0 Total n 26 30 56 % 46.8 25 100. Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Tabel 42 menunjukkan ada kecenderungan ibu dengan pola asuh kesehatan kategori sedang memiliki persentase anak balita yang mengalami diare lebih besar (48.0%).0 6 37.2 13 52.5 24 60.0 Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita yaitu kebiasaan ibu dalam hal mencuci tangan anak balita sebelum makan. Dengan demikian. Pemberian ASI eksklusif erat kaitannya dengan meningkatnya kekebalan tubuh seorang anak.0 14 45.4 53.0 Total n 26 30 56 % 46.5%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh makan kategori rendah (40.5 40 100.0 10 62. Namun.Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita Tabel 41 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh makan kategori tinggi memiliki anak balita yang mengalami diare lebih besar (62.6 100. Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak balita.0 16 100. hasil analisis juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan diare anak balita.0 31 100.0 Aspek pola asuh makan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain mengenai pemberian ASI eksklusif.2%). Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA. hasil analisis korelasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita.0 17 54. Tabel 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh kesehatan Sedang Tinggi n % n % 12 48. Rendahnya kesadaran ibu dalam hal pembiasaan mencuci .4 53. Tabel 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh makan Sedang Tinggi n % n % 16 40.

Menurut Sadeque dan Ghosh (2005) salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan anak balita yaitu dengan membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Hasil penelitian menunjukkan masih ada beberapa ibu yang belum membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Lingkungan yang tidak bersih. .tangan anak balita sebelum makan diduga menjadi penyebab tingginya diare pada anak balita. membiasakan anak balita menggunakan kamar mandi ketika buang air besar merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat kejadian diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh contoh belum dibiasakan menggunakan alas kaki (sandal) ketika keluar rumah. Hal senada juga diungkapkan oleh Suririnah (2007) bahwa perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare. Bahkan masih ada beberapa ibu yang tidak membiasakan mencuci tangan anak balita. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) tangan yang kotor dapat menjadi media penularan penyakit diare. Selain kebersihan tangan dan kaki. Selain kebersihan tangan anak balita. kemudian tidak membiasakan menggunakan sandal ketika keluar rumah dapat menjadi sumber penyebaran kuman dan apabila tidak dihambat penyebarannya maka dapat menimbulkan penyakit seperti diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh ibu menyatakan kadang-kadang membiasakan anak balita mencuci tangan sebelum makan. kebersihan kaki pun harus diperhatikan.

Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB.1%) adalah perempuan.4%). pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang baik.0%) tidak bekerja. Secara umum responden memiliki PHBS. 5. Lebih dari separuh responden (60. Hampir 50% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang.9% dan 8.01). Proporsi terbesar umur anak balita (39. 3. Tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi.00.7%) merupakan keluarga besar (>4orang) dan hampir separuh umur baik ayah (39. Proporsi terbesar responden memiliki PHBS (69.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. sisanya tinggi dan rendah (42. sedangkan ibu (75.6%).5 kg). BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. Proporsi terbesar (58. 2.9% 28. 4. Hampir seluruh anak balita (91. Status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. TB/U) dengan diare (p<0. Lebih dari separuh anak balita (66. dan tidak berhubungan signifikan dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.05). proporsi terbesar pekerjaan ayah yaitu negeri/swasta jasa (33. 6. Tingkat pendidikan pegawai ayah lebih tinggi dan (SLTA/sederajat) angkutan dibandingkan dan ibu (SD/sederajat).6%) dan pola asuh kesehatan kategori tinggi (55.9%) pendapatan perkapita perbulan responden adalah >Rp 150 000.4% anak balita memiliki berat badan lahir cukup (≥2. Sedangkan umur ibu tidak berhubungan . Hasil analisis menunjukkan umur anak balita berhubungan sangat signifikan dengan diare (p<0. Dengan demikian.4%) serta pola asuh makan kategori sedang (71.6%) berada pada kategori usia muda (20-30 tahun).1%) mengalami sakit selama tiga bulan terakhir dan hampir 50% anak balita mengalami diare dengan frekuensi tertinggi yaitu 2 kali dan lama sakit 1-3 hari.9%). akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.3%) maupun ibu (44. Sedangkan anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare.3%) berkisar antara 24-36 bulan dan 96.

masyarakat setempat hendaknya memperhatikan jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran dan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan. Sedangkan. diperoleh informasi mengenai faktor dominan yang lebih berpengaruh terhadap kejadian diare anak balita. Cuci. pengetahuan gizi. 7. Pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah diare dengan membangun fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan. Aspek PHBS yang diduga menyebabkan diare anak balita adalah jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran <10 m. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor risiko kejadian diare anak balita dengan menggunakan analisis regresi logistik. pengetahuan gizi ibu. . Selain itu. mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. dan pelayanan kesehatan) serta pola asuh makan dalam hal pemberian ASI eksklusif dan penyiapan makanan sehari-hari. Selain itu. pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi. menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika keluar rumah. Saran Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya diare pada anak balita hendaknya menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. membiasakan BAB di kamar mandi. Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu berkenaan dengan kebersihan tangan dan kaki serta kebiasaan Buang Air Besar (BAB) bukan pada tempatnya. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. personal hygiene. aspek pola asuh makan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. pembuangan sampah dan limbah bukan pada tempatnya. Sehingga. dan Kakus (MCK). PHBS. pola asuh makan maupun pola asuh kesehatan.signifikan baik dengan PHBS.

Health and Safety in Child Care. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Diare. Gunarsa. [Dinkes] Dinas Kesehatan DKI Jakarta. 1997. As’ad S. Jakarta: Citra Aditya Bakti. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. 1985. 1986. 2004. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Amperansyah. . Zahara DN.diare. 2005. 2004. Bogor: Institut Pertanian Bogor. .html [3 Oktober 2007]. Jakarta: Penerbit Mutiara. Institut Pertanian Bogor. 2006. Peran anggota rumah tangga di dalam pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Statistik Indonesia. Ekonomi Gizi. Institut Pertanian Bogor. Jakarta: CV Rajawali. Statistik Indonesia. 1979. 1999. 1992. 2002. Jakarta: BPS. Makasar: Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Fakultas Pertanian. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. Bogor: Fakultas pertanian. Universitas Indonesia. Laporan akhir penelitian studi kajian wanita. Institut Pertanian Bogor. Penyuluhan penggunaan oralit untuk menanggulangi diare di masyarakat. . Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Faktor risiko penyakit diare pada bayi di Provinsi Kalimantan Selatan: analisis data sekunder SDKI tahun 1997 [skripsi]. 1985. Gunarsa. 1991. . Briawan D. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Hardinsyah. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. 2002. Berg A. Jakarta: BPS. Aronson SS. [terhubung berkala] www. Terjemahan dari: The Nutrition Factor. 2002. Majalah Ilmu Kefarmasian 1(1): 27-33. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kota Bogor [skripsi]. [BPS] Biro Pusat Statistik. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. Martianto D. 2006. Herawati T. Firlie D.html [9 November 2007]. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Gizi Terapan. penerjemah. Jakarta: BPS. Harianto. www.DAFTAR PUSTAKA Adnyadewi IGA. Its Role in National Development. Diktat Mata Kuliah yang tidak dipublikasikan. Konseling Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). 2005. [terhubung berkala]. Jakarta: BPS. 2001. Statistik Kesehatan. Bogor: Fakultas pertanian. Faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas anak baduta pada keluarga miskin dan tidak miskin [skripsi]. 1993. 2004. [terhubung berkala]. Indikator Kesejahteraan Rakyat. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga. . Hardinsyah. Bandung: Penerbit Alumni. _____. Ilmu Kesehatan Masyarakat. New York: HarperCollins. 2003. Entjang I. Azwar A.gizi. Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak.

www. Psikologi Perkembangan. Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor.go. Jakarta: Erlangga. Buku 1 Kebersihan Diri dan Lingkungan. 2003. .pdf [15 November 2007]. 2004. Bogor: Fakultas Pertanian. Nurahmi. Penelitian dalam rangka penerapan sistem pembuangan tinja dan sampah tepat guna Desa Pantai di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Lamongan. Latifah M. Herman.jurnal. M Zarkasih. 2004. Krisnatuti D dan Yenrina R. 2002a. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat. 2002c. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan.ac. 2002. M Tjandrasa. MD Djamaludin.farmasi. 2002b. Jakarta : PT Grasindo Anggota Ikapi. 2000. sikap dan perilaku pengguna tanaman obat di desa Sukajadi. . Sumali MA. 2005. Buku 8 Pengenalan Sampah dan Air Limbah.pdf. Manda S. Hubungan kualitas pengasuhan dan perilaku hidup sehat dengan status gizi dan kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kecamatan Bogor Barat [skripsi]. Evi D. Wahida S. Pedoman pengembangan kabupaten/kota percontohan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Zalbawi S. [terhubung berkala]. Ed ke-5. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kejadiaannya sangat erat dengan keadaan sanitasi lingkungan.dinkes-sulsel.www. Institut Pertanian Bogor. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. Buku 10 Mengenal Berbagai Penyakit dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. _________. Bogor: Fakultas Pertanian. Khomsan A. Pengetahuan. penerjemah. http://library. Jakarta: Erlangga. . 1993. Kecamatan Tamansari. Madihah. . Buletin Penelitian Kesehatan 27(3 dan 4-1999/2000): 346-363. [23 uli 2008].usu. [3 Hiswani. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Buku 5 Rumah Sehat.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat. Institut pertanian Bogor.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104. Faktor-faktor predisposisi yang berhubungan dengan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI) di Kecamatan Banua Lawas. 2000. [terhubung berkala]. dan Suprapti. Perkembangan Anak Jilid 2. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor.ac. Oktober 2007]. Kabupaten .id/download/fkm/fkm-hiswani7. Bogor: kerjasama pusat kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. 2006. 2005. Irianti S.pdf. 2002d. Hurlock EB.ui. Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [skripsi]. 1982. Khairunnisak I. Jakarta: Puspa Swara. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI.

Marie ZC.id/dsp_content. Universitas Indonesia. www. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di taman pendidikan karakter sutera alam. Nasution. 2003. Fakultas Ekologi Manusia. parentsguide. Madanijah S. United State: Thomson Delmar Learning. Bogor: Fakultas Pertanian. Santrock JW. 2005. Ghosh SK. 2007. Makanan Sehat untuk Ibu Hamil. Bukan Suplemen!. Institut Pertanian Bogor. Media Gizi dan Keluarga 29 (2):29-39. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Pengantar Ekologi Keluarga. konsumsi pangan. 1993. [terhubung berkala]. Rahayu S. Marotz LR. New York: McGraw-Hill . Safety. Muniasir Z. . dan status gizi anak usia dini [disertasi]. Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak batita di Desa Mulya Harja. Bogor: Fakultas Pertanian. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. 2002. Jakarta: Puspa Swara. 2005. lingkungan pembelajaran. 1997. Pujiarto P. Jakarta: Ghalia Indonesia. Riyadi. 2003. Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. Tantangan bernama higinitas. 2007. Fakultas Pertanian. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Rimbatmaja. 2005. Health. Bogor: Program Pascasarjana. Drajat M. R. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. [terhubung berkala]. Puspitawati H. 2003. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Bogor: Fakultas Pertanian. Rahmawati D. Institut Pertanian Bogor. Pola Asuh-Asupan Nutrisi dan Pertumbuhan Anak.org. Ed ke-8. Metodologi Penelitian Kesehatan.com. Diktat Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Life-Span Development. [15 November 2007]. 2005. www.koalisi. Yogyakarta: Ando Offset. Institut Pertanian Bogor. Desa Sukamantri. Institut Pertanian Bogor. Notoatmodjo S. Institutional and Legal Challenge for the Rural Poor. Bogor [skripsi].mosleh@bdonline. 2007. 2006. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Nadesul H. Institut Pertanian Bogor. Kemitraan dalam Mengatasi Masalah Gizi di Indonesia. Soekirman. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Makalah Seminar Sehari. Edisi ke-6. [terhubung berkala]. 2006. Jakarta: Rineka Cipta. Model pendidikan “G1-PSI-SEHAT” bagi ibu serta dampaknya terhadap perilaku ibu. 2007. Institut Pertanian Bogor. ___________ .Tabalong Kalimantan Selatan tahun 2002 [skripsi]. 2001. Jeanettia MR. Sadeque MU. Masithah T. Imunomodulator.co.php?kat=3&emonth=02&eyear=2007 &pg=hns-23k. Environmental Sanitation Promotion: A Social. Jakarta : Rineka Cipta. Pola asuh dan status gizi anak balita keluarga penerima dan bukan penerima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) [skripsi]. and Nutrition for Young Child.

Subandriyo VU. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): studi kasus di Kabupaten Bantul 2003. Institut Pertanian Bogor. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi.jmpk-online. Provinsi Sulawesi Utara [tesis]. Bogor: Pusat Antar Universitas. Fakultas Pertanian. Mubasysyir H. ______. 2007. Suhardjo. dan Yekti HE. Diare mendadak dan penanganannya. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Suririnah. 1997. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Saroso S.articles. [terhubung berkala]. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. www. Tjitarsa IB. Ed ke-4. Sehat itu Hak: Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. Yuliarsih.pdf. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Slamet Y. 1993. Petunjuk Praktikum Kesehatan Masyarakat. [3 Oktober 2007].php. Kecamatan Cugenang. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat. 2005.htm. Institut Pertanian Bogor.Sari RA. www. [3 Oktober 2007]. [terhubung berkala]. Life-Span Development.net/files/vol-08-02-2005-4. 2004. 2002. Helms DB. Sosial Budaya Gizi. Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Bersalin: Antara Harapan Hidup dan Kenyataan Kematian. Institut Pertanian Bogor. 2004.infoibu. Kondisi geografis dan sosial ekonomi hubungannya dengan pembangunan kesehatan serta kondisi rumah rehat di Desa Gasol dan Cijedil. Tambingon HN. 2007. 2005. Sukarni. 1991. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. www. 1999. 1989.com. Fakultas Pertanian. 1989. Institut Pertanian Bogor. . Fortworth: Rinehart and Winston. [terhubung berkala]. Soekirman. Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial. Bandung: Penerbit ITB dan Universitas Udayana. JMPK 8(2).diare. Dewi MDH. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1992. Sinaga D. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Diare. 2000. Fakultas Pertanian. 1994. Pola pengasuhan ibu anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita di Kota Madya Manado. Pendidikan Kesehatan: Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar. Bandung: Eja Insani. Satoto. Widyati R. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Hygiene dan Sanitasi Umum dan Perhotelan. Jawa Barat [skripsi]. Sumali MA. Topatimasang. Turner JS. Cianjur. Solo: Dabara Publiser. [3 Oktober 2007].

LAMPIRAN .

12.93 0 12.6 0 11 1. jarak dan daya jangkau Jenis Pelayanan Kesehatan n Praktek Dukun Paraji Posyandu Puskesmas Praktek Bidan Klinik/Balai Pengobatan Rumah Sakit 31 56 56 21 26 11 Kunjungan Tidak Pernah pernah % 55.2 83. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan zat gizi? Zat-zat gizi apa saja yang dibutuhkan oleh tubuh? Apa zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan anak? Apakah ibu dapat menyebutkan jenis pangan yang termasuk sumber karbohidrat? Dapatkah ibu menyebutkan kelompok bahan pangan mana yang banyak mengandung zat gizi protein hewani? Apakah ibu dapat menyebutkan susunan menu yang baik? Dapatkah ibu menyebutkan jenis makanan sumber zat besi? Apa nama kondisi ibu jika selama masa kehamilan ibu mengalami pusing.4 100.1 n 17 1 9 20 47 52 Sulit % 30.4 3.2 64.9 10.5 46.1 100 n 39 55 47 36 9 4 Daya Jangkau Mudah % 69. cepat lelah dan lesu? Garam dapur yang bagaimana yang baik untuk digunakan? Apa yang terjadi pada bayi yang dilahirkan apabila selama masa kehamilan terjadi kekurangan zat besi? Apa akibat yang ditimbulkan bila anak kekurangan makan dalam jangka waktu yang lama? Apa akibat dari makanan dan minuman yang tidak bersih? Bagaimana cara yang baik dalam mempersiapkan botol atau tabung susu bayi? Sampai umur berapa sebaiknya bayi diberi ASI saja? Jawaban Benar n % 43 76.4 87.0 62.5 94.3 4 24 15 7 4 7 25 7.8 Lampiran 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban pengetahuan gizi No 1. 13.7 41.7 50 n 5 21 3 5 0 7 5 Sulit % 8.2 48.4 19.1 35.5 53.5 44.9 3.8 30 53.5 8.8 16.9 100 10.4 76. 5.6 Kemudahan Dihubungi Mudah n 8 35 53 38 56 6 28 % 14.8 12.1 69.8 57.8 51.1 73.3 62.1 7.3 92.7 76. 2.Lampiran 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaann pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan. 9.5 57.4 94.9 85.1 57.6 n 25 0 0 35 30 45 % 44.6 25 44.4 n 37 54 43 29 5 0 Jarak Dekat % 66.9 92.9 0. 11.1 42.6 67. 6.7 14.93 37.6 0.0 37.2 91.7 83.0 n 19 2 13 27 51 56 Jauh % 33.6 98.6 75 100 12.5 5.6 92.36 8.3 16.1 12.1 .8 3.0 0.6 25 48 43 32 39 54 49 53 52 48 23 44.6 85. 8.9 64.4 96. 3.9 26.1 Kurang n 1 2 3 2 0 6 1 % 1. 4.0 100. 7. 14. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan Petugas Gizi dan Kesehatan Dokter RS Dokter Puskesmas Bidan Puskesmas Bidan Desa/Praktik Bidan Kader posyandu Mantri Dukun Paraji Informasi Gizi Tidak Pernah Pernah n % n % 9 32 41 36 52 6 8 16.8 8.5 7.6 80. 10.57 23.93 n 12 54 53 42 56 7 32 Cara Pelayanan Baik % 21.1 96.4 1.6 5.6 96.5 94.9 Lampiran 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi.

Ya.4 Lampiran 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan No 1. Pertanyaan Pada usia berapa anak boleh diberikan makanan seperti orang dewasa? Apa yang dimaksud dengan diare? Apa yang ibu lakukan ketika anak mengalami diare? Kemana ibu biasa membawa anak berobat saat mengalami diare? Apa yang ibu berikan saat anak mengalami diare? Apakah kegunaan sabun yang dipakai saat cuci tangan? Jawaban Benar n % 46 40 53 53 54 54 82.6 43.1 17. Sejak anak berusia 1-2 tahun c.4 3. Kadang-kadang c.3 21.No 15. 2-3 kali/hari c. 10. 2 kali/hari c.4 64. 2 kali/minggu c. Pola Asuh Kesehatan Berapa kali anak dibiasakan mandi setiap hari? a.3 1. 11. Tidak pernah b. 19.6 0.1 2.9 21.6 28. 7.4 96. 18.1 71. Kadang-kadang c. ≥ 4 kali/hari Apakah anak dibiasakan mengganti pakaian setelah mandi? a. 4. Kadang-kadang c. ≥ 2 kali/hari Apakah anak dibiasakan menggunakan handuk bersih yang sama (tidak gonta-ganti) setelah mandi? a. 5. Ya. ≥ 2 kali/hari Sejak kapan ibu membiasakan anak menggosok gigi? a. Ya. Sejak anak berusia > 2 tahun b.8 12. 9.0 0. 1 kali/hari c.9 33. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setiap hari? a. Ya.2 8. Selalu Berapa kali anak dibiasakan keramas setiap minggu? a.0 77. 1 kali/minggu b.4 94.0 14. Tidak pernah b.9 77.1 5. Tidak pernah b. . 16.6 96. Tidak pernah b.6 94. Ya. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setelah makan? a.5 52. Kadang-kadang c.3 77.4 94. Kadang-kadang c.0 80.0 5.8 7.0 100. Kadang-kadang c. ≥ 3 kali/minggu Apakah anak setiap keramas menggunakan sampo? a.0 5.3 64. 1 kali/hari b. Tidak pernah b. Tidak b. ≥ 3 kali/hari Apakah anak setiap mandi menggunakan sabun mandi? a.3 0. Selalu Apakah anak dibiasakan menyisir rambut? a. 1 kali/hari b.2 19. Ya.1 28.2 0 7. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi sebelum tidur? a. Tidak pernah b. 12. Ya. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap menggosok gigi menggunakan pasta gigi? a.6 91. 17. Tidak b. Selalu n 0 45 11 0 3 53 16 10 30 25 19 12 16 3 37 44 5 7 44 11 1 4 8 44 0 4 52 12 36 8 0 0 56 3 2 51 % 0.1 92.3 14.4 19. 3. 1 kali/hari c. 20. 8. 6.

Selalu Apakah anak dibiasakan buang air besar pada tempat semestinya (kakus. Selalu Sejak kapan ibu membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan? a. Kadang-kadang c. 6 4 46 0 16 40 2 32 22 9 30 17 50 0 6 1 17 38 15 28 13 12 11 33 10. Tidak pernah b. Selalu Apakah ibu mencegah anak bermain tanah? a.1 10.8 30.5 5.4 67.1 0. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.4 19.6 71. Kadang-kadang c. Kadang-kadang c. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih? a.7 1.6 30.4 64. Kadang-kadang c.7 42.2 21. Tidak pernah b. Ya.9 26. Pola Asuh Kesehatan Apakah anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan? a. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk menggunting kukunya setiap bulan? a. Tidak pernah b.3 0. Tidak pernah b. . jamban)? a.9 46. Tidak pernah b.1 51.1 53. 21.6 58. Tidak pernah b. 20. Kadang-kadang c. Selalu Apakah ibu meperbolehkan anak bermain tanpa memakai celana? a. 24. Selalu Apakah anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya? a.8 16. Selalu n 6 24 26 18 29 9 6 1 49 3 17 36 % 10.8 87.1 39. Selalu Apakah anak setiap mencuci tangan setelah buang air besar menggunakan sabun dan air bersih? a. Ya.4 89.3 14.No 13. Kadang-kadang c. ≥ 3 kali/bulan Apakah anak dibiasakan memakai alas kaki ketika bermain/berada diluar rumah? a. 16. Sejak anak berusia > 2 tahun b. Tidak pernah b. 22.7 1. Kadang-kadang c.6 57. 19.8 50. 17. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki setelah bermain? a. 23.0 23. Kadang-kadang c.4 32. Tidak b.3 16. Kadang-kadang c. Sejak anak berusia 1-2 tahun c. 1-2 kali/bulan c. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki sebelum tidur? a.4 3.9 18. Tidak pernah b.1 82.7 7.4 30. 15.0 28. Tidak pernah b./WC.0 10.

063 p= 0.897 r= -0.177 p= 0.643 r= -0.134 r= 0.000 r= 0.486 r= 0.154 p= 0.252 p= 0.999 r= 0.145 p= 0.191 r= -0.029 r= -0.988 r= 0.486** p= 0.095 p= 0.164 Pola asuh kesehatan p= 0.100 r= -0.408 r= 0.203 p= 0.576 r= 0.113 Status gizi (BB/TB) p= 0.485 r= -0.184 r= 0.059 p= 0.258 p= 0.087 r= -0.476 r= 0.180 p= 0.134 r= 0.403 r= 114 p= 0.001 r= 0.413 r= 0.148 p= 0.068 p= 0.203 p= 0.227 r= 0.186 r= -0.440** Diare anak balita p= 0.293* p= 0.619 r= 0.095 r= 0.016 p= 0.655 r= 0.275 r= 0.261 p= 0.310 r= 0.013 r -0.369 r= 0.007 p= 0.074 p= 0.076 Pendidikan ibu p= 0.097 p= 0.000 r= 0.138 p= 0.384** Pengetahuan gizi ibu p= 0.428 r= 0.334 r= 0.179 p= 0.002 p= 0.061 r= 0.112 p= 0.865 r= 0.905 r= 0.226 Status gizi (TB/U) p= 0.122 p= 0.023 p= 0.531** p= 0.008 r= -0.915 r= -0.108 p= 0.350** p= 0.228 r= 0.004 r= 0.117 p= 0.164 p= 0.052 r= -0.015 p= 0.231 p= 0.000 r= 0.131 p= 0.330* p= 0.476** p= 0.292* Pola asuh makan p= 0.286 r= 0.026 p= 0.391 r= 0.126 p= 0.020 r= -0.Lampiran 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel Variabel Umur contoh BBLR Status gizi (BB/TB) Status gizi (TB/U) Umur ibu Pendidikan ibu PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Diare anak balita Umur contoh BBLR p= 0.055 r= 0.356 r= 0.586 r= 0.222 p= 0.095 p= 0.029 r= 0.000 p= 0.018 - Keterangan:** Signifikan pada α 1% * Signifikan pada α 5% .000 r= -615** Umur ibu p= 0.852 r= 0.791 r= 0.050 r= 0.036 p= 0.311 PHBS ibu p= 0.122 p= 0.258 r= 0.264* p= 0.370 r= -0.961 r= -0.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.