PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA

, DI DESA CIKARAWANG BOGOR

IMA MARYANA ULFAH

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
IMA MARYANA ULFAH. Clean and Health Behavior, Nutritional Knowledge, and Caring Pattern, of Which Its Relation with Diarrhoea in Five-Year Babies in Cikarawang Village, Bogor. Supervised by CLARA M. KUSHARTO and SITI MADANIJAH Five-year babies are susceptible group for health and nutritional troubles. Mostly (70-80%), diarrhoea patients are five-year babies and 1-2% from those patients have a risk to experient dehydration. If they are not being help, they possibly will be die. Research general purpose is studied about the clean and health behavior, nutritional knowledge, and caring pattern of which its relation with diarrhoea in five-year babies in Cikarawang village, Bogor. Research design is Cross Sectional Study. Location of research is selected in purposive. Number of example is 56 five-year babies. Data is analysed descriptively and inferensia by Spearmann’s correlation test. Result of research shows that approximately half of examples (46,4%) suffers from diarrhoea. Nutritional status (p<0,05) and age from examples (p<0,01) have negatively and significantly correlation with diarrhoea. Environmental sanitary landfill--distance between water source and septic tank is less 10 m-- and dismissal of garbages are conditions that cause high case of diarrhoea. Mother who did not give exclusive ASI also causes infected diseases as diarrhoea. Self hygiene of five-year babies, accustoms to clean hand before eating and after, accustoms in bathroom, and wear sandals when out of the house must be considered to be not easy to come down with diarrhoea. Key words : diarrhoea, five-year babies, nutritional status, exclusive ASI, environmental sanitary

RINGKASAN
IMA MARYANA ULFAH. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pengetahuan Gizi, dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang, Bogor. Dibimbing oleh CLARA M. KUSHARTO dan SITI MADANIJAH. Diare merupakan salah satu contoh penyakit infeksi, sehingga akan menular. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Anak balita merupakan kelompok penduduk pasif dan rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makannya. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang, Bogor. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik anak balita, (2) Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita, (3) Mengidentifikasi karakteristik keluarga, (4) Mengidentifikasi PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, (5) Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita, (6) Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, dan (7) Menganalisis kaitan antara PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang, Bogor pada bulan Desember 2007 sampai April 2008. Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur), status gizi dan kesehatan anak balita, karakteristik keluarga (besar keluarga, umur, pendidikan, pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga), PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS. Data-data tersebut diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for window versi 11,5. Keterkaitan antar variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 46,4% anak balita mengalami diare selama tiga bulan terakhir. Lebih dari separuh anak balita (66,1%) adalah perempuan. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30,2±11,7 bulan. Proporsi terbesar umur anak balita (39,3%) berkisar antara 24-36 bulan, sisanya berumur ≤23 bulan (32,1%) dan berumur ≥37 bulan (28,6%). Terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0,01) antara umur anak balita dengan diare. Sebagian

besar anak balita (96,4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2,5 kg) dan sebanyak 3,6% anak balita memiliki berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Berdasarkan indeks BB/TB dan BB/U, sebagian besar anak balita memiliki status gizi normal, sedangkan menurut indeks TB/U berstatus gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0,05). Sebanyak 91,1% anak balita mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Diare merupakan jenis penyakit ke tiga terbesar (46,4%) yang dialami anak balita selama tiga bulan terakhir setelah panas (71,4%) dan ISPA (73,2%) dengan frekuensi tertinggi yaitu 1-2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Lebih dari separuh responden (60,7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 5,3±1,8 orang. Proporsi terbesar umur baik ayah maupun ibu berturutturut sebanyak 39,3% dan 44,6% berkisar antara 20-30 tahun (dewasa muda). Rata-rata umur ayah yaitu 33,0±6,8 tahun dan rata-rata umur ibu yaitu 27,7±5,7 tahun. Proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35,7%) yaitu SLTA/sederajat dan ibu (51,8%) yaitu SD/sederajat. Proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta dan jasa angkutan (33,9% dan 28,6%) dan sebagian besar ibu (75,0%) tidak bekerja. Proporsi terbesar pendapatan perkapita perbulan keluarga responden (58,9%) adalah >Rp150 000.00. Proporsi terbesar responden (69,6%) memiliki PHBS kategori tinggi dan 30,4% kategori sedang. Proporsi terbesar responden (48,2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang, sisanya tinggi dan rendah (42,9% dan 8,9%). Sebanyak 71,4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan 28,6% kategori tinggi. Lebih dari separuh responden (55,4%) memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi dan 44,6% kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi ibu. Sedangkan umur ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai serta Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare anak balita. Selain itu, jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), membiasakan Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB, menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika ke luar rumah. Serta, pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan, personal hygiene, dan pelayanan kesehatan) dan pentingnya ASI eksklusif.

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT. PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA. DI DESA CIKARAWANG BOGOR IMA MARYANA ULFAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

drh. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. MS NIP 130 541 472 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. MAgr NIP 131 124 019 Tanggal Lulus: . Bogor Nama NIM : Ima Maryana Ulfah : A54104065 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. Ir. Dr. Clara M. Didy Sopandie. MSc NIP 131 414 958 Dr. Kusharto. Ir. Pengetahuan Gizi.Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Siti Madanijah.

sungguh luar biasa karena atas rahmat. MSi selaku dosen penguji atas arahan dan saran yang diberikan. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. 3. 5. 4. Dr. Dr. Prof. MS dan Megawati Simanjuntak SP atas arahan dan saran selama proses pengolahan dan analisis data penelitian. MSc. Dadang Sukandar. Pengetahuan Gizi. hidayah dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Dr. Oleh karena itu. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesejahteraan Rakyat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua keikhlasan bantuan yang telah diberikan. Ir. arahan dan dukungan semangat yang luar biasa kepada penulis. MSc selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan. yaitu kepada: 1. Ir. Dr. MS selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik yang dengan sabar dan penuh pengertian mendengarkan curahan hati serta memberikan bimbingan dan dorongan semangat yang luar biasa kepada penulis. Pihak Desa Cikarawang. 2. Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari dukungan beberapa pihak. MKes. 6. Ir. MS selaku dosen pemandu seminar dan Katrin Roosita. Ir. Bogor”. Alhamdulillah. Clara M. Ikeu Tanziha. . Tien Herawati SP. Kusharto. SP. drh. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Puskesmas Cangkurawok dan ibu-ibu kader Kampung Carang Pulang. Desa Cikarawang atas bantuannya selama proses pengambilan data penelitian. Ikeu Ekayanti. Siti Madanijah. Dr. 7.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah swt senantiasa penulis panjatkan.

dorongan semangat. RHEMAND (Nda. Sahabat seperjuangan penulis Angelica Gabriel “My Beloved Friend”. Venny. 40 dan GM 42. Tiche. Adin. Yesa. Abah. Sahabat-sahabat terbaik penulis Eka. Agustus 2008 Ima Maryana Ulfah . dan Ibnu Akbar atas saran-saran yang telah diberikan untuk kesempurnaan penulisan skripsi. Devita. Teman-teman BUD Cianjur (Dini dan Ade). Firdaus. temen seperjuangan KKP. teman-teman relawan Klaten. 10. Lola. MpokIde. GMSK 39. curahan hati dan keceriaan sampai terselesaikannya skripsi ini. 11. Wisma JASMINE dan FAIRUSH terima kasih atas kebersamaan yang indah. Ardi. 13. Mama. Bogor. Dede Aab serta keluarga besar di Cianjur atas semua kasih sayang. penghuni AS-SAKINAH. perhatian. Yuli. Rekan-rekan pembahas Edo Rizky Fernando. Yulia. Dhyta. Bung). Ari dan Gamasakers 41 atas bantuan. Teteh Milah. Once. Friska. Dini. Any. atas bantuan. Kakang Rizki. Nur. Maul. BKGers (Semangat yo). Rizka. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. 43. dan doa untuk keberhasilan penulis. kebersamaan yang indah dan keceriannya. OMDA CIANJUR. Dedew. 12. dukungan semangat. Ira. DausBek. Noorma. 9. Ati. Noni. Bapak Mashudi dan Bapak Dian atas dorongan semangatnya. teman-teman pameran PIMNAS XXI di Semarang. Ena. Mei.8. Rika. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Henny. Arina. Manto. Vina dan Emil. saran. tumpangan kamar. Sri.

Divisi Dana Usaha dalam Seminar Konsultasi Gizi yang berjudul “Control Yourself From 3 Hypers (Hipertensi.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 02 Maret 1986 dari ayah H. Hiperkolesterol dan Hiperglikemia)”. Penulis memilih Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK). selama masa perkuliahan penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Pendidikan Gizi tahun ajaran . Hasan Mulyadi dan Ibu Hj. penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen FEMA. Tahun 2006 penulis pernah mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian dengan judul “Persepsi dan Sikap Mahasiswa Calon Bapak terhadap Pemberian ASI oleh Ibu kepada Bayi” yang berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan terlibat dalam tim pameran PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Gizi dan Keluarga X (NPGK X)”. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Tahun 2007 penulis mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang pendidikan dengan judul ”Reformasi Pendidikan dan Perubahan Kurikulum serta Aplikasinya terhadap Pembentukan Kualitas Bangsa Indonesia” dan lolos sebagai 10 besar terbaik di IPB. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber. Bogor” dan berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Pada tahun yang sama penulis pernah menjadi relawan pada “Posko Penanganan Tumbuh Kembang Anak Korban Gempa di Kabupaten Klaten” yang diadakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Penulis merupakan putri ke dua dari empat bersaudara. Desa Cikarawang. Serta. Siti Romlah. Cianjur dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kabupaten Cianjur. Semarang. Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi dalam Seminar Nasional “Nuansa Pangan. Fakultas Pertanian. Pada tahun yang sama penulis mengikuti PKM bidang ilmiah dengan judul “Kajian Keadaan Lingkungan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Sehat Keluarga di Kampung Carang Pulang. Selain itu. Tahun 2006-2008 penulis aktif dalam organisasi otonom yaitu Badan Konsultasi Gizi (BKG). 2007/2008.

............................. 6 Karakteristik Keluarga .............................................................................................................................. 32 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)........................................................ viii DAFTAR LAMPIRAN.... 22 Disain........................................................................................................... 47 Pola Asuh Makan........................................................... 47 Pola Asuh Kesehatan .......................................................................................................... 35 Pengetahuan Gizi ............................................................................................................................................................................... 21 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ........................................ 16 Pola Asuh ........ 9 Pengetahuan Gizi ........................................................................................................ 22 Definisi Operasional ................................................................................................................................. 16 Pola Asuh Makan...................................... 18 KERANGKA PEMIKIRAN.................................................. 3 Kegunaan Penelitian ................................................... 5 Penyakit Diare ......... 1 Latar Belakang ............... ix PENDAHULUAN ...................................................... 4 Karakteristik Anak balita .................................. 17 Pola Asuh Kesehatan ............................................ 45 Pola Asuh ......................................... 21 Jenis dan Cara Pengumpulan Data...................................... vi DAFTAR GAMBAR ....................... 28 Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita .............................................................................................................. 3 TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 51 Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita....................................................................................................................... 4 Status Gizi dan Kesehatan Anak balita ................................................................................................................................................. 7 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)..................... 24 HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................................................................................................................... 19 METODE PENELITIAN ........................................................ 21 Pengolahan dan Analisis Data ........... 2 Hipotesis................................................................................................................................................ 26 Karakteristik Anak Balita.................................................................. 26 Keadaan Umum Daerah Penelitian ................. Pengetahuan ........................................................................................ 1 Tujuan.......................................................................................................... 54 Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS................................................................................................ Tempat dan Waktu ......................................... 29 Karakteristik Keluarga Contoh.....................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL.........

........................... 66 ............ Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan..............................................................................Gizi................................................................................. 58 Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ... 58 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 57 Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita.... 62 LAMPIRAN ........................................... 60 Kesimpulan....................................... 60 Saran ........................... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ....................................... 56 Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita .... 56 Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita .......................... 55 Kaitan antara PHBS.............................. Pengetahuan Gizi................................................................. 61 DAFTAR PUSTAKA ................................

. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit........................................................................................................ 28 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi................................. 34 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan... 21 Cara pengolahan dan analisis data ................................................................................... 41 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL .................................................................................................................... 31 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit ............................................. 40 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah..................... 37 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat.............. 37 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan responden .......................................................................... 34 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan .................... umur dan berat badan lahir........ 36 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang.......... 33 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan............ 30 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit............... 32 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur... 42 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal membantu persalinan ...... 26 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin..DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis dan cara pengumpulan data ................. 40 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban.......... 45 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi ................................................................. 35 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene ..... 42 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan .................................................................................................................. 31 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit.. 38 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air ...................................................................................................................................... 29 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir..... 44 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB......................................... 32 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga .......................... 46 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan ..... 45 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS ........................... 23 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya.......................... 27 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin................................

....................................................... 56 40 Kaitan antara pengetahuan gizi responden dengan diare anak balita ........ 54 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS ............................................................................................... 58 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita....... 50 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan............................ 48 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita. 54 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita ................................................ 55 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita ..... 51 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan ...................... 46 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita ................................................................ 57 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita . 49 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita................................responden .......................................................................................................... 47 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita........................................................................ 53 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita .................................... 58 ......................................................................

....................... Pengetahuan Gizi...... 10 2 Kerangka Pemikiran PHBS... 20 .DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum . Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Kaitannya dengan Diare Anak Balita ...............................

............ jarak dan daya jangka .................. 67 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi............. 67 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan............................................. 68 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel ...... 70 ........... kemudahan dihubungi dan cara pelayanan .............................. 67 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban benar pengetahuan gizi ... .....................DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan...............................................

Selain itu. AID) telah merangkum hasil dari berbagai penelitian mengenai dampak perbaikan keadaan air bersih dan sanitasi di negara-negara sedang berkembang yang menyatakan bahwa perbaikan kualitas dan kuantitas air bersih dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 37%. Dari keempat faktor tersebut. dan perilaku terhadap upaya kesehatan. Menurut Henrik L.PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. kulit dan hepatitis A (Cairncross dan Feachem 1993 diacu dalam Irianti et al. Untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi. perilaku hidup sehat (40%). faktor lingkungan dan perilaku hidup sehat sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Anonymous (2000) diacu dalam Sari (2004) menyatakan bahwa yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman atau perumahan. Serta perbaikan pembuangan tinja dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 22% (World Bank 1992 diacu dalam Irianti et al. Badan Amerika Serikat untuk bantuan pembangunan internasional (U. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lingkungan (30%). 2002). ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan (BPS 2002). Contoh perilaku tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan. sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih pun sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dampak kesehatan lingkungan yang buruk adalah tingginya angka kesakitan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water related diseases) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tinja (excreta-related diseases) sepert diare. pelayanan kesehatan (10%). kebersihan perorangan. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. 2002). serta air dan udara yang bersih. gaya hidup. tempat kerja. sekolah dan tempat umum. dan keturunan (20%). Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam .S.

Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan. Di Indonesia. pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang. Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai aspek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. secara umum lebih dari dua juta anak meninggal akibat diare setiap tahunnya. Mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan (Marotz et al. dan sosial. mental. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. . diare adalah pembunuh anak balita nomor dua terbesar setelah ISPA (Rimbatmaja 2007). Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). 2005). Kosek et al. merawat anak. (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007). Bogor. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. Dalam hal ini. memberikan makan anak. kebersihan anak. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebesar 42-47% (Curtis dan Cairncross 2003 diacu dalam Rimbatmaja 2007). Tujuan Tujuan Umum Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). pengetahuan gizi dan pola asuh yang diduga menyebabkan terjadinya diare pada anak balita.

pengetahuan gizi. Terdapat kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. Terdapat kaitan negatif antara PHBS. pengetahuan gizi. 2. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Menganalisis kaitan antara PHBS. . 2. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada instansi terkait khususnya Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menindak lanjuti perihal yang menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. 6.Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk : 1. Mengidentifikasi karakteristik keluarga. pengetahuan gizi. supaya lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk keberlangsungan hidup yang berkualitas. 7. pengetahuan gizi. Hipotesis 1. Mengidentifikasi karakteristik anak balita. Terdapat kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. 3. Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. 4. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Mengidentifikasi PHBS. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. 5. Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. pengetahuan gizi. Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita. 3. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dan bahan masukan untuk menyusun kembali perencanaan dan strategi dalam penentuan kebijakan. Serta bagi masyarakat Desa Cikarawang khususnya.

Berat Badan Lahir Bayi yang dilahirkan prematur atau dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terhadap mortalitas dan morbiditas akut dalam jangka panjang (Alberman 1994 diacu dalam Rahayu 2006). Akan tetapi. Orang tua harus dapat meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai isu lingkungan yang kompleks serta pengaruhpengaruhnya (Marotz et al. Sedangkan jika anak yang lahir pertama kali adalah anak laki-laki. pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi dengan berat badan lahir cukup (Alisyahbana 1983 diacu dalam Firlie 2001). maka mereka memiliki keistimewaan karena memperoleh pekerjaan rumah tangga yang lebih sedikit dibandingkan yang perempuan serta diberi kesempatan untuk mengabaikannya (Hurlock 1982). Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling ideal untuk mulai memperkenalkan kepada anak tentang perilaku-perilaku dasar yang berhubungan dengan gaya hidup sehat. 2005).TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin Anak perempuan khususnya anak sulung diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. . Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian. dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama. Orang tua harus dapat memanfaatkan rasa ingin tahu anak dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan masalah kesehatan. gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental dan intelektual yang lebih tinggi dengan berat badan lahir normal (Utomo 1998 diacu dalam Firlie 2001). Umur Menurut Hurlock (1982) sikap. selama tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi. kebiasaan. sangat menentukkan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. Pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. Bayi BBLR mortalitasnya lebih tinggi. daya tahan terhadap penyakit lebih rendah. keselamatan dan gizi.

tinggi badan menurut umur (TB/U). Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Lebih lanjut Riyadi (2001) menyatakan kenaikan berat badan tiap bulan adalah indikator kesehatan anak yang paling peka. Oleh karena itu. salah satunya dengan antropometri. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini. Karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan mendadak seperti penurunan nafsu makan dan terserang penyakit infeksi. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Riyadi (2001) menyatakan status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. Status gizi anak dinilai dengan mengunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Menurut Riyadi (2001) berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberi gambaran tentang masa tubuh (otot dan lemak). Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi (BPS 2002). berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. Indeks ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi underweight dan overweight. . Indeks BB/U mampu menggambarkan status gizi pada saat kini. Status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk dan biasanya dapat dilihat melalui indikator angka kesakitan yaitu persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. maka indeks ini merupakan ineks kekurusan (wasting). berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan bila dibandingkan tinggi badan. Indeks BB/TB dapat memberikan gambaran proporsi BB relatif terhadap TB. Indeks TB/U mengambarkan status gizi masa lalu (stunting). Oleh karena itu. Menurut Riyadi (2001) tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang mengambarkan keadaan pertumbuhan skeletal.Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita Menurut BPS (2002) aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk yaitu status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi.

Selain itu. keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia. parasit (jamur. Suharyono (1988) diacu dalam As’ad (2002) penyebab prevalensi yang tinggi dari penyakit diare di negara yang sedang berkembang yaitu kombinasi dari sumber air yang tercemar. apalagi air yang digunakan tidak dimasak sampai mendidih terlebih dahulu. lalat) atau oleh tangan yang kotor. Salmomella (5-18%). menggunakan sumber air yang tercemar. E. bakteri. Vibrio cholera (5%). cacing. Menurut Latifah et al. buang air besar bukan pada tempatnya dan pencemaran makanan oleh serangga (kecoa. coli (20-30%). Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada anak yang lebih besar (Suharyono 1988 diacu dalam As’ad 2002). bahkan dapat berupa air saja. (2002d) diare adalah suatu kondisi buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer.6%). Ditinjau dari sudut patofisologi. Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya. alergi terhadap susu. Penggunaan air yang sudah tercemar juga dijadikan media pencemaran penyakit diare. kurang gizi dan daya tahan tubuh rendah (Saroso 2007). Penyebab diare diantaranya yaitu virus. protozoa). Kuman yang paling sering menjadi penyebab diare akut pada anak yaitu Rotavirus (30. Sedangkan diare akut adalah diare yang timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar juga ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). sehingga akan menular.4-36. dan Shigella (2-5%). Penyakit diare dapat menular apabila adanya kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti pada makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi baik oleh serangga maupun tangan yang tidak bersih.Penyakit Diare Penyakit diare merupakan penyakit infeksi. defisiensi zat gizi yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. yang terjadi lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari). penyebab diare akut yaitu: . menurut Dinkes (2003) penyakit diare juga dapat ditularkan melalui beberapa cara diantaranya pemakaian botol susu yang tidak bersih. Kuman-kuman tersebut ditularkan secara faecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Diare ada dua jenis yaitu diare akut dan diare kronis.

Hal ini disebabkan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga. gugup). 2. Kematian diare akibat dehidrasi (kehilangan banyak cairan tubuh) dapat dicegah dengan Oral Rehydration Therapy (ORT). Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. makanan yang pedas. makanan yang terlalu asam). Rumah .Defisiensi imun terutama Sig A (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan terjadinya pelipatgandaan bakteri atau flora usus dan jamur terutama Candida. Selain itu.BBLR dan bayi baru lahir Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dengan dehidrasi. Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi. Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. ORT dapat dilakukan dengan memberikan cairan (air) melalui mulut selama anak mengalami diare (Santrock 2002). alergi dan sebagainya.Malabsorpsi makanan . Diare sekresi (Secretory diarrhea) yang disebabkan oleh: . makanan (misalnya keracunan makanan.Infeksi virus.Hiperperistaltik usus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989).1. karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonymous 1985 diacu dalam Harianto 2004).Kekurangan kalori protein dan mineral . gangguan syaraf. Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk. Diare osmotic (Osmotic diarrhea) yang disebabkan oleh: . gangguan psikis (ketakutan. kuman-kuman patogen dan apatogen . . hawa dingin.

Menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di luar rumah. Umur Orangtua Orangtua muda terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat (Sukarni 1989). pendidikan keikutsertaan pendidikan non formal dari orang tua dan anak-anak sangat penting dalam menentukkan status kesehatan. Dengan demikian. Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan. Umur ibu berkaitan dengan pengalaman ibu mengasuh anaknya dimana ibu yang relatif muda memungkinkan ibu kurang berpengalaman dalam mengasuh anaknya (Hurlock 1993). Pekerjaan Orangtua Pada masyarakat tradisional. serta hygiene dan dalam kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga (Madanijah 2003). Pendidikan Orangtua Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga (Rahmawati 2006). dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik (Berg 1986). Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. fertilitas.yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan . karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya Pengetahuan dan terhadap perawatan formal kesehatan. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006).

dan lingkungan hidup (Entjang 1985). .sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989). manusia sebagai tuan rumah. Pendapatan Orangtua Kondisi ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga lainnya. kesejahteraan ibu dan anak. Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. Pada tingkat keluarga. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2001). serta pengobatan dan perawatan (Entjang 1985). terutama bagi warga kelas ekonomi bawah. serta kualitas tumbuh kembang anak balita (Gunarsa & Gunarsa 1985). akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. diantaranya pendidikan keluarga. rohani. Hal ini tidak terlepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak yang selalu sehat (Khomsan 2005). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Keluarga dengan pendapatan terbatas besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. Dengan demikian. kesehatan dan gizi balita. penurunan daya beli akan menurunkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan. Usaha kesehatan pokok (Basic Health Services) yang diajukan organisasi kesehatan sedunia (WHO) sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat diantaranya yaitu higiene dan sanitasi lingkungan. Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi (Hardinsyah 1997). kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu penyebab penyakit. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan. perawatan kesehatan dan pemeriksaan. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002).

1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010) (Manda et al. Program PHBS adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan. perilaku kesehatan (40%). Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetik dan kependudukan (20%). 2005). masyarakat yang sesuai dengan norma-norma kesehatan. keluarga dan masyarakat. menghuni rumah sehat. cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar. makan dengan gizi seimbang. perilaku sehat. menolong dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang tinggi (Sinaga et al. . lingkungan kesehatan (30%). Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat. Menurut Depkes RI (2006) indikator PHBS antara lain mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. menurut Henrik L. 2006).Masalah determinan kesehatan. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Kebijakan Indonesia sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat. Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. dan pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata. kelompok. memiliki akses dan menggunakan jamban. 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. terutama pada aspek budaya perorangan. memiliki akses dan menggunakan air bersih. Kependudukan/ keturunan Lingkungan kesehatan Derajat kesehatan morbiditas dan mortalitas Program dan pelayanan kesehatan Perilaku kesehatan Gambar 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum. dan program dan pelayanan kesehatan (10%).

menimbang balita setiap bulan. memeriksakan kehamilan. dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dan bebas dari pencemaran. 3. dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan lingkungan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang 1985). Higiene dan sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik. pakaian bersih. Usaha kesehatan perorangan (personal hygiene) yaitu mandi minimal 2kali sehari. Menurut Widyati & Yuliarsih (2002) kesehatan masyarakat dibagi menjadi dua yaitu kesehatan kuratif (penyembuhan penyakit). ikut keluarga berencana dan lain sebagainya. MMR. menjaga kerja bakti dengan masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan. sikap dan praktik keluarga yang mampu mengonsumsi makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan. Usaha kesehatan preventif dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1. dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. menyikat gigi. sosial. Higiene dan Sanitasi Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yg menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. Gizi Seimbang Perilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan. diberikan saat balita (BCG. olahraga dan lain-lain. Aneka ragam makanan yaitu makan sebanyak 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan (Dinkes DKI Jakarta 2002). Cara menjaga lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. persalinan ditolong tenaga kesehatan. Usaha kesehatan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja). preventif (pencegahan penyakit). memanfaatkan sarana kesehatan. Usaha higiene sanitasi adalah usaha kesehatan preventif (mencegah supaya tidak sakit). . menjaga saluran air agar tidak mampet. dan folio) untuk mencegah datangnya penyakit 2. biologi. hepatitis. Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati & Yuliarsih 2002).membuang sampah dan limbah pada tempat yang semestinya. Usaha pengebalan atau imunisasi.

5. mie. sirap dan nipah. kacang panjang. jagung. teraso. pisang. daun katuk. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir lancar. wortel. kacang-kacangan. dan kenyamanan manusia. tegel atau semen. daun singkong. singkong. tempe. 3. seng. (2002b) rumah adalah tempat manusia berlindung dari panas terik matahari. ubi. Rumah Sehat Menurut Latifah et al. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya balita. dan 3) sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur seperti bayam. 2) lauk pauk sebagai sumber zat pembangun seperti ikan. pepaya. Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. 2. buncis. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. sehinga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. telur. Rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini. tahu. hujan dan hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan.Kelompok bahan makanan tersebut adalah 1) makanan pokok sebagai sumber zat tenaga seperti beras. kangkung. ayam. keamanan. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. . semangka. Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. dan kayu atau bambu. sawi. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan (Dinkes DKI Jakarta 2002). daging. jeruk. nanas (Dinkes DKI Jakarta 2002). diantaranya: 1. asbes gelombang. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik dilakukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. 4. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng.

Air bersih belum tentu dikatakan sehat. 7. Jika anggota keluarga ada empat orang. (1997) sumber air minum yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. Syarat kimiawi: tidak mengandung zat-zat berbahaya seperti zat-zat racun atau zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. menurut Widyati & Yuliarsih (2002) air bersih dan sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Menurut Subandriyo et al. Sanitasi Air Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. Selain itu kandang ternak harus memiliki tempat penampungan kotoran. Syarat fisik: syarat air yang dilihat dari fisiknya antara lain jernih. Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi dengan jamban atau WC (Water Closet). sumur yang terlindungi. maka paling sedikit harus ada satu kamar mandi. Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah. air ledeng. karena menurut Entjang (1993) untuk memperoleh air minum yang sehat dapat diperoleh melalui 1) sumber air yang bersih. dan mata air yang terlindungi. 8. 4) memasak air sampai mendidih sebelum diminum. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. Selain itu. tidak berasa. 5) menggunakan alat-alat minum yang bersih (termasuk gayung sebagai alat pengambil air harus bersih). Syarat bakteriologis: air yang tidak mengandung penyakit. tidak berwarna. 2002b). dan tidak berbau. Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut WC atau . Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya.6. c. 3) wadah penampung air disertai dengan tutup dan sering dibersihkan. Sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi minimum 10 meter dan dinding sumur 1 meter di atas tanah dan 3 meter dalam tanah serta harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar perembesan air dari sekitar tidak terjadi. 2) tangan dan tempat penampungan air bersih. b.

2002a). tidak boleh mengotori sumber air minum seperti mata air atau sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci serta tidak pada tempat yang sering terkena banjir (Latifah et al. dan 3) air limbah yang berasal dari industri atau pabrik (air buangan dari pabrik tahu dan tapioka. air bekas mencuci pakaian). tidak pada tempat yang sering digunakan orang untuk lalu lintas. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. sumur penampungan feses dan lubang resapan. Sampah Sampah adalah segala sesuatu yang tidak terpakai lagi dan harus dibuang. Jangan membiarkan sampah terlalu lama pada tempat pengumpulan sampah dan sebaiknya tidak melebihi 3x24 jam (Widyati & Yuliarsih 2003). Tinja dari jamban dalam kamar mandi harus disalurkan melalui pipa dan ditampung di tangki septik (Latifah et al. pabrik kimia). 2002c). kloset (lubang tempat masuk feses). pabrik cat. 2002c). Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Menurut Latifah et al. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. . juga mengandung lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit (Latifah et al. air buangan dapur. Bahaya sampah yang tidak ditangani dengan baik mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. Menurut Sukarni (1989) sarana pembuangan kotoran harus memenuhi persyaratan yaitu bangunan jamban harus mempunyai rumah kakus. pabrik kertas. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. Kotoran-kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan (Depkes RI 1995 diacu dalam Amperansyah 1999). pabrik baja.kakus. dari restoran dan dari kolam renang). Tempat yang dijadikan pembuangan sampah harus jauh jaraknya dari pemukiman. Sumber air limbah yaitu 1) air limbah yang berasal dari rumah tangga (air dari kamar mandi. lantai yang disemen. pijakan kaki. 2) air limbah yang berasal dari perusahaan atau pusat perdagangan (air buangan dari hotel. dari pabrik tinta.

secara ekonomis. Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan.Syarat-syarat pembuangan air limbah diantaranya tidak mengotori sumber air bersih. Ada dua jenis sistem pembuangan air limbah yaitu menyalurkan air limbah tanpa diolah sebelumnya dan menyalurkan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat pendapatan perkapita keluarga. Penyaluran air limbah tanpa diolah dapat dilakukan dengan menggunakan tanki septik dan sistem riol. pembuangan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua yaitu pelayanan kesehatan tradisional dan pelayanan kesehatan modern. Untuk memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keterjaminan mutu. 2002c). tidak menjadi tempat berkembang biak serangga perantara penyakit (lalat dan nyamuk) dan tidak menimbulkan bau dan merusak pemandangan (Latifah et al. Berdasarkan hasil penelitian Sirajudin (1981) diacu dalam Herman (2005) masyarakat lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat belum optimal. maka pelayanan kesehatan tersebut akan mahal. 2002c). sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin. petugas kesehatan dan praktek dokter. jarak fisik dan sarana perhubungan yang tidak lancar antara pusat pelayanan kesehatan dengan tempat tinggal penduduk. biasanya digunakan untuk membuang air limbah yang berasal dari industri/pabrik dan peternakan atau rumah pemotongan hewan (Latifah et al. Menurut BPS (2002) fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan oleh penduduk desa untuk berobat adalah Puskesmas. antara lain sistem pelayanan yang ada selama ini belum diterima oleh masyarakat. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat tergantung oleh keadaan ekonomi. Menurut BPS (2005) pada tahun 2005 secara umum persalinan . oleh karena itu sulit memenuhi tiga syarat tersebut. Sedangkan. Hal ini menurut Sukarni (1994) disebabkan oleh beberapa hal. pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak dan belum seluruh Puskesmas dipimpin oleh dokter. lokasi pusat-pusat pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak atau lebih banyak berada di kota-kota besar.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nutrition Assesment Educational Project di Washington (1999) diacu dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa rendahnya perhatian terhadap masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan atau pemahaman tentang gizi yang baik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata dan telinga. pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Persalinan oleh dokter. mencegah memburuknya keadaan gizi. Cicely William diacu dalam Berg (1986) melaporkan studi di Afrika Barat bahwa gizi kurang tidak terjadi karena kemiskinan harta. bidan dan tenaga medis lainnya. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa balita. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan yaitu mengikuti perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. terutama bayi. bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau tenaga bukan medis lainnya. .balita ditolong oleh tenaga medis diantaranya oleh dokter. mencegah ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan. Kegunaan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita. Pola Asuh Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. balita dan ibu hamil. dan mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut (Dinkes DKI Jakarta 2002). Pengetahuan Gizi Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan adalah hasil dari tahu. Mendidik menyangkut pola ajar (proses sosialisasi). akan tetapi disebabkan oleh kemiskinan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan keluarga khususnya anak-anak.

Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) pada usia anak di bawah lima tahun merupakan masa yang . Masalah makan pada anak dapat terjadi karena anak meniru pola makan orang tuanya yang makan pada saat menjalani diet untuk menurunkan berat badan (Khomsan 2004). maka ibu dengan mudah memberikan makan kepada anaknya dan dapat merasakan bahwa situasi waktu makan adalah saat-saat yang mambahagiakan (Tambingon 1999). perumahan. melalui berbagai bentuk interaksi antara ibu dan anak. sanitasi lingkungan dan lainnya (Soendjojo. Marotz et al. dan sosial. Pola Asuh Makan Pola asuh makan adalah praktik yang diterapkan ibu khususnya yang berkaitan dengan situasi dan cara makan. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada anak balita yaitu gizi anak. merawat anak. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran kepada anak mengenai isu-isu lingkungan. Dalam hal ini. Hikmat & Soemartono 2000 diacu dalam Adnyadewi 2004). mental. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. Pola asuh dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. stimulasi dini. Menurut Hurlock (1982) penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. kebersihan anak. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. imunisasi.pengertian dan perasaan serta keterampilan dan pengetahuan. (2005) menyatakan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. memberikan makan anak. anak-anak sering mengalami fase sulit makan. Pada usia pra sekolah. Membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan (Hardinsyah & Martianto 1992). dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak. keluarga berencana. kesehatan anak. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang.

terutama oleh orang tuanya (Depkes RI 1997 diacu dalam Rahayu 2006). Sedangkan ayah berperan dalam hal interaksi sosial dan mengajarkan norma budaya kepada anak baik laki-laki maupun perempuan yang ada di lingkungannya (Santrock 2002). Anak seyogiayanya diberi kesempatan untuk memilih makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari orangtua. Anak balita yang tidak terawat baik fisik maupun makanannya akan mudah terserang penyakit. dimengerti. Ketika anak sedang makan. Pendidikan dan kekuasaan orang tua mampu meningkatkan kemampuan pengasuhan dan perawatan anak dengan lebih baik dalam suatu keluarga (Aronson 1991). artinya sangat tergantung dari diri sendiri yang praktiknya harus diketahui. perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. Menurut Khomsan (2004) orang tua yang pilih-pilih makanan (picky eaters) dan tidak suka sayur secara tidak langsung akan menyebabkan anak berperilaku makan seperti orang tuanya.tergolong rawan. Higiene diri sangat penting diketahui dan dipraktikan oleh setiap orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat. suasana makan haruslah menyenangkan sehingga anak tidak seperti pesakitan di meja makan. Mengingat bayi dan anak adalah individu pasif. Oleh karena itu. Selain itu. Ibu berperan secara konsisten bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan perawatan fisik anak. . orang tua jangan terlalu banyak memberi nasehat. hal ini terlihat dari banyaknya orang yang terkena penyakit karena tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995 diacu dalam Rahayu 2006). Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. Higiene diri adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis. dan dilaksanakan oleh setiap individu (Suklan 2000 diacu dalam Rahayu 2006). maka penjagaan kesehatannya merupakan tanggungjawab individu dewasa di sekitarnya. Perawatan kesehatan anak balita akan mempengaruhi tingkat morbiditasnya. kondisi fisik masih lemah. Pola Asuh Kesehatan Menurut Rahayu (2006) pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena ia belum sanggup untuk merawat dirinya sendiri. kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi.

PHBS yang disertai dengan pengetahuan gizi yang baik mampu membentuk perilaku yang baik pula. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). sehingga akan berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. higiene dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. Oleh karena itu. Menurut Madanijah (2003) pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). Penyakit diare yang diderita oleh anak balita akan mempengaruhi status gizinya. rohani. . lingkungan kesehatan. Anak balita yang tidak terawat baik fisik mapun makannya akan mudah terserang penyakit infeksi contohnya diare. Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.KERANGKA PEMIKIRAN Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetika dan kependudukan. faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Masalah kesehatan merupakan masalah yang komplek karena terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makan bagi anak balita. Mengingat anak balita merupakan kelompok individu pasif dan merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. perilaku kesehatan serta pelayanan kesehatan. Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik. Menurut Henrik L. Dari keempat faktor tersebut. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan.

pola asuh makan dan pola psuh kesehatan kaitannya dengan diare anak balita. .Umur Orangtua . pengetahuan gizi.Pola Asuh Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu Status Gizi Anak Balita Diare Anak Balita Keterangan: = Variabel yang diteliti = Hubungan yang dianalisis Gambar 2 Kerangka pemikiran PHBS.Pola Asuh Makan .Pendapatan Keluarga Pengetahuan Gizi Ibu Karakteristik Anak Balita .Pendidikan Orangtua .Karakteristik Keluarga .Berat Badan Lahir Pola Asuh .Pekerjaan Orangtua .Umur .Besar Keluarga .Jenis Kelamin .

observasi Pengisian kuesioner Wawancara Monografi Desa Cikarawang Kuesioner 5 6 7 8 Primer Primer Primer Sekunder Kuesioner Kuesioner Kuesioner . Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang.Berat badan lahir BB/TB BB/U TB/U Pernah/tidak sakit Frekuensi sakit Lama sakit Besar keluarga Umur orang tua Pendidikan orangtua Pekerjaan orangtua Pendapatan keluarga Jenis data Primer. Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data No 1 Variabel Karakteristik anak balita Status gizi anak balita Status kesehatan (diare anak balita) Karaktersitik keluarga PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh Lokasi penelitian Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Data . Kecamatan Darmaga. status gizi dan kesehatan anak balita. timbangan injak dan mikrotoa Kuesioner 2 3 Primer Wawancara 4 Primer Wawancara Wawancara. umur. Desa Cikarawang. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008. Desa Cikarawang. Kabupaten Bogor. karakteristik keluarga (besar keluarga. Berdasarkan Tabel 1 data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur). Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang.Umur . Tempat dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional study yaitu data diambil pada waktu tertentu secara bersamaan. pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga).METODE PENELITIAN Desain. pendidikan. sekunder Primer Cara pengumpulan data Wawancara Wawancara dan antropometri Alat ukur Kuesioner. KMS Kuesioner.Jenis kelamin . Menurut Nasution (2003) jumlah sampel 10% dari total populasi dianggap cukup memadai dalam sebuah penelitian.

Selain itu, data primer juga meliputi PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS (Tabel 1). Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Program komputer yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for Window versi 11,5. Status gizi anak balita dikategorikan menjadi gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (zscore -2SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Sedangkan status kesehatan diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, jenis penyakit, frekuensi dan lama sakit selama tiga bulan terakhir (Tabel 2). Total skor PHBS dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu PHBS rendah (24-38), PHBS sedang (39-53) dan PHBS tinggi (54-67). PHBS aspek pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan, kunjungan ke pelayanan kesehatan, persepsi jarak, persepsi daya jangkau, akses terhadap sumber informasi, persepsi terhadap kemudahan petugas kesehatan, serta persepsi cara pelayanan petugas kesehatan disajikan dalam bentuk deskriptif (Tabel 2). Pengetahuan gizi dinilai dengan pemberian skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Menurut Khomsan (2000) jawaban pengetahuan gizi diklasifikasikan ke dalam 3 kriteria, yaitu pengetahuan gizi baik (>80%), pengetahuan gizi sedang (60%-80%) dan pengetahuan gizi kurang (<60%) (Tabel 2). Data pola asuh makan diperoleh dengan memodifikasi kuesioner dari penelitian yang telah dilakukan oleh Khairunnisak (2004) yaitu dengan memberikan 16 pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Data pola asuh kesehatan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup sebanyak 24 pertanyaan. Total skor dari pertanyaan tersebut dikategorikan

menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72). Tabel 2 Cara pengolahan dan analisis data
No Variabel Sub Variabel a. Jenis kelamin b. Umur (bulan) • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kategori ≤23 24-36 ≥37 (Turner & Helms 1991) BBLR (<2,5) Non BBLR (≥2,5) Gizi kurang (z-score <-2SD) Gizi normal (z-score -2SD-+2SD) Gizi lebih (z-score >+2SD) 1 2 ≥3 1-3 4-7 8-14 >14 Remaja (13-19) Dewasa muda (20-30) Dewasa madya (31-50) (Turner & Helms 1991) Kecil (≤4) Besar (>4) Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi Buruh tani/kebun Petani pemiliki Pedagang/wiraswasta Pegawai negeri/swasta Jasa angkutan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Ibu Rumah Tangga (IRT) Lainnya ≤Rp 100 000.00 Rp 100 001.00-150 000.00 >Rp 150 000.00 Rendah (24-38) Sedang (39-53) Tinggi (54-67) (Subandriyo et al. 1997) Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) (Khomsan 2000) Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) (Slamet 1993) Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (57-72) (Slamet 1993)

1

Karakteristik anak balita

c. Berat badan lahir (kg) 2 Status gizi anak balita BB/TB, BB/U, TB/U a. Pernah/tidak sakit b. Frekuensi sakit (kali/3 bulan)

3

Status kesehatan anak balita (diare)

c. Lama sakit (hari)

a. Umur orangtua (tahun)

b. Besar keluarga (orang)

c. Pendidikan orangtua 4 Karakteristik keluarga

d. Pekerjaan orangtua

e. Pendapatan keluarga

5

PHBS ibu

6

Pengetahuan gizi ibu

a. Pola asuh makan 7 Pola asuh b. Pola asuh kesehatan

Definisi Operasional Contoh adalah anak yang berada pada golongan usia satu sampai dengan lima tahun yang akan diamati status gizi dan status kesehatannya khususnya diare. Status gizi anak balita adalah kondisi kesehatan tubuh anak balita yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diperoleh dengan menggunakan metode antropometri. Indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB, BB/U, dan TB/U. Status gizi dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan perhitungan zskor yaitu gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (z-score -2 SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Status kesehatan anak balita adalah kondisi kesehatan (riwayat sakit) anak balita dalam tiga bulan terakhir yang meliputi jenis penyakit, frekuensi sakit (berapa kali sakit) dan lama sakit (dalam hari) dengan menggunakan kuesioner. Diare pada anak balita adalah kejadian buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari pada anak balita. Besar keluarga adalah banyaknya orang yang tinggal (hidup) di bawah satu atap yang sama dan makan dari satu dapur yang sama. Pendidikan orang tua adalah lama pendidikan formal (pendidikan terakhir) ayah dan ibu, diklasifikasikan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi (PT). Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dimiliki ayah dan ibu yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi buruh tani atau kebun, petani pemilik, pedagang atau wiraswasta, pegawai negri/swasta, jasa angkutan, Pembantu Rumah Tangga (PRT), Ibu Rumah Tangga (IRT). Pendapatan perkapita perbulan adalah jumlah pendapatan yang dinilai dengan uang (rupiah) perbulan yang dibagi dengan besar keluarga dan diklasifikasikan menjadi <Rp100 000.00, Rp100 001.00-150 000.00 dan >Rp150 000.00. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu adalah tindakan atau aktivitas ibu tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Berdasarkan

rumus interval total skor PHBS diklasifikasikan menjadi rendah (2438), sedang (39-53) dan tinggi (54-67). Pengetahuan gizi ibu adalah pengetahuan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan meliputi definisi dan fungsi zat gizi, sumber pangan dengan kandungan zat gizi tertentu, akibat defisiensi zat gizi, akibat mengonsumsi makanan yang tidak bersih, waktu pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, definisi dan pencegahan diare, serta penanganan saat anak balita mengalami diare. Pengetahuan gizi diklasifikasikan menjadi tiga menurut Khomsan (2000) yaitu baik (>80%), sedang (60%-80%) dan kurang (<60%). Pola asuh makan adalah cara dan kebiasaan ibu dalam memenuhi kebutuhan makan anak balita yang meliputi riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Pola asuh kesehatan adalah cara dan kebiasaan ibu memperlakukan anak balita dalam penerapan kebersihan diri dan perilaku kesehatan lingkungan. Total skor dari aspek pola asuh kesehatan yaitu 24-72 yang dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72).

073 2 0. gereja. pura. Perkantoran b. Perkebunan rakyat b. Empang/tebat Total Sumber: Data dasar profil desa 2007/2008 Luas ha 0 25. Kolam c.23 33.18 0.03 0.86 0.007 0. perkantoran. Sawah tadah hujan d. Sekolah c. Pasar e.0 0. Tempat peribadatan (masjid.HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian Berdasarkan data dasar profil desa tahun 2007/2008 luas wilayah Desa Cikarawang yaitu 225.226 8 0 38.510 225.0 Batas wilayah Desa Cikarawang yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cisadane.075 0. Tambak b.88 0.0 11. Sedangkan dari desa ke ibukota kabupaten sejauh 35 km dan dapat dicapai selama dua jam. Desa Cikarawang merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 700 m dpl. .84 % 0.0 0.32 8.070 52. dan lain sebagainya (Tabel 3). dan lain-lain).430 0 0 0 0.22 100. dll) g. pertanian sawah. 84 ha.54 0. Pertokoan/perdagangan d.0 0.925 0 0 0.07 3. sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Ciapus. Sawah pengairan teknis (irigasi) b. Kuburan/makam h.260 18. bangunan-bangunan (sekolah.19 0. Jarak dari desa ke ibukota kecamatan adalah sejauh 3 km dan dapat ditempuh selama setengah jam. Terminal f. Perkebunan swasta Pemukiman Umum Bangunan a. Lain-lain Perikanan Darat/Air Tawar a. Jalan i.35 2. Sawah pengairan setengah teknis c. Sawah pasang surut Perkebunan a.0 0.10 23. Perkebunan Negara c.016 0. perkebunan. masjid. vihara.800 4. kuburan.0 0. yang dipergunakan untuk pemukiman umum.455 75.0 16. jalan. Tabel 3 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya Penggunaan Pertanian Sawah a. sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Cisadane-Ciapus dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situ Gede.

tujuh Rukun Warga (RW) dan 32 Rukun Tetangga (RT).Desa Cikarawang terdiri dari tiga Dusun. sisanya berada di Kampung Carang Pulang. Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya masyarakat . dan Dusun III terdiri dari RW 5. keluarga sejahtera II (300 KK). dan keluarga sejahtera III (100 KK). fasilitas penyediaan air bersih di Desa Cikarawang sebagian besar berasal dari sumur pribadi atau mata air pribadi. hanya sepuluh bangunan MCK yang sudah ditembok rapi dan sisanya belum ditembok. Selain itu. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan aparat desa. Dusun II terdiri dari RW 3 dan 4. sampai saat ini Desa Cikarawang telah memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang diperuntukkan bagi masyarakat secara umum di dua belas tempat. Jumlah penduduk Desa Cikarawang seluruhnya adalah sebanyak 8 175 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2 000 KK. RW 1 dan 2 berada di Kampung Cangkrang. Kedua belas bangunan MCK yang dibangun tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Kedua belas MCK tersebut dibangun berdasarkan bantuan pemerintah daerah Kabupaten Bogor (PKPS BBMIP) tahun 2005. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Cikarawang paling banyak berada pada golongan usia anak balita. Namun. Tabel 4 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin Umur (Tahun) 0-5 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 Jumlah Laki-Laki 443 408 392 379 389 398 304 311 261 215 183 158 189 144 4 174 Perempuan 515 366 389 369 374 378 285 288 251 193 160 141 147 145 4 001 Jumlah 958 774 781 748 763 776 589 599 512 408 343 299 336 289 8 175 Sumber : Data dasar profil desa 2007/2008 Penggolongan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga dibagi ke dalam empat kelompok yaitu keluarga pra sejahtera (900 KK). 6 dan 7. Dusun I terdiri dari RW 1 dan 2. keluarga sejahtera I (700 KK).

sisanya berumur ≤23 bulan (32.0 . mandi.6 96. Menurut Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) bayi dengan BBLR memiliki mortalitas lebih tinggi dan daya tahan terhadap penyakit lebih rendah serta pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi yang memiliki berat badan lahir cukup.5 kg. cuci dan kakus. umur.6 100. sebagian besar anak balita (96.0 32. Tabel 5 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin. Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari Puskesmas Cangkurawok bahwa proporsi anak balita yang berjenis kelamin perempuan di Kampung Carang Pulang lebih banyak dibandingkan laki-laki. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30.2±11.4 kg. Karakteristik Anak Balita Karakteristik anak balita dalam penelitian ini menjelaskan mengenai jenis kelamin.4 100. Akan tetapi. Berat badan lahir anak balita berkisar antara 2-4 kg dengan rata-rata 3.6%). dan berat badan lahir.1%) dan berumur ≥37 bulan (28.1 100. umur dan berat badan lahir Karakteristik Anak balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Umur (bulan) ≤23 24-36 ≥37 Total Berat Badan Lahir (kg) <2. Proporsi terbesar umur anak balita (39.5 Total n 19 37 56 18 22 16 56 2 54 56 % 33. Berdasarkan Tabel 5.7 bulan.5 ≥2.5 kg).3 28.9 66. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh anak balita (66.1 39. sebanyak 3.4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2.yang menggunakan air sungai/hujan/sumur dan mata air yang tidak terlindungi sebagai sumber air minum.1%) berjenis kelamin perempuan.6% anak balita memiliki Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat badan <2.0 3.3%) berkisar antara 24-36 bulan.1±0.

dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. Tabel 6 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih Total n 3 52 1 56 BB/TB % 5.1 43 76. penyerapan.0 0 0.Status Gizi dan Kesehatan Anak balita Status Gizi Anak balita Berdasarkan perhitungan z-score indeks BB/TB pada Tabel 6 sebagian besar anak balita (92.0 Status gizi erat kaitannya dengan penyakit infeksi. Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek dibandingkan dengan berat badan. Riyadi (2001) menyatakan bahwa indeks BB/U sebagai indikator status gizi mampu menggambarkan status gizi pada masa kini.8%) termasuk ke dalam status gizi normal dan 23.4% anak balita memiliki status gizi kurang dan 1.0 56 100.9 0 0.8% berstatus gizi lebih.0 56 100.0 Indeks Antropometri BB/U TB/U n % n % 13 23. Hiswani (2003) menyatakan bahwa masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan .9% berstatus gizi normal.8 24 42. proporsi terbesar anak balita (57. Sisanya sebanyak 5. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini (Riyadi 2001). Berbeda halnya dengan status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U.2% berstatus gizi kurang (Tabel 6). Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. salah satunya dengan antropometri.8 100. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu. Berdasarkan indeks BB/U sebagian besar anak balita (76.1%) termasuk ke dalam status gizi rendah.2 32 57.4 92. WHO (1983) diacu dalam Riyadi (2001) interpretasi status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. Menurut Riyadi (2001) dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. sisanya 42. Berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan apabila dibandingkan tinggi badan. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal.9%) memiliki status gizi yang tergolong normal.9 1.

borok dan alergi terhadap beberapa jenis pangan seperti ikan asin. Anak yang mengalami gizi kurang memiliki kesempatan lebih besar menderita penyakit infeksi terutama penyakit diare.2%) dan diare (46. Anak-anak yang kurang gizi menyebabkan rusaknya sistem imun sehingga mudah terkena penyakit. Tabel 8 menunjukkan bahwa penyakit yang tidak pernah dialami seluruh anak balita adalah campak. Status Kesehatan Anak balita Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi. Tabel 7 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir Status Kesehatan Sakit Tidak Sakit Total N 51 5 56 % 91. Penyakit kulit yang dialami anak balita antara lain panu. kurap. Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa hampir seluruh anak balita (91.4%). ISPA (73. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0.masalah penyakit infeksi. Aritonang (1996) dan Victoria et al (1999) diacu dalam Briawan & Herawati (2005) menyatakan kurang gizi adalah faktor pra kondisi yang memudahkan anak menderita penyakit infeksi khususnya infeksi saluran pernapasan dan diare.1%) mengalami sakit dan hanya 8. Hikmat & Soemartono (2000) diacu dalam Adnyadewi (2004) untuk meningkatkan status kesehatan anak balita diperlukan suatu perhatian dalam hal gizi.9 100 Menurut Soendjojo. stimulasi dini. status gizi yang baik akan mempengaruhi status kesehatan seseorang. imunisasi. Menurut BPS (2002) status gizi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk.05). Jenis penyakit yang paling banyak dialami anak balita selama tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 yaitu panas (71. Oleh karena itu. perumahan.9% anak balita tidak mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. bisul.1 8. sanitasi lingkungan dan lainnya. . keluarga berencana.4%). kesehatan.

0 12 23.6%). diare (30.4%). ISPA 2 kali (30.1 7 12. . sehingga yang bertanggungjawab dalam hal kebersihan diri adalah orang dewasa khususnya ibu dari anak balita.6 Frekuensi sakit anak balita selama tiga bulan terakhir cukup bervariasi.6 0.4 73.0 0 0.0 19.4 10. ISPA (44.0 1 16.0 0 0.4 46.0 14 35.4%) dan diare 1 kali (32.Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit Jenis Penyakit Panas ISPA TBC Campak Cacar Diare Kulit Lainnya n 40 41 2 0 3 26 6 2 % 71.1%).2 3.7 0.7 2 100.0 0. tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya.0 0 ≥3 % 30.7 3. Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya Frekuensi Sakit (kali) 1 2 % N % n 35. Penyakit kulit erat kaitannya dengan kebersihan diri seseorang.0 1.0 5.0 N 14 13 0 3 18 3 2 Tabel 10 menunjukkan sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu panas (57.3 0.4 11 0. Sebagian besar anak balita menderita penyakit panas sebanyak 1-2 kali (35%).0 0 32.1%).8 33. Mandi minimal 2 kali sehari dengan menggunakan air bersih dan sabun merupakan salah satu cara agar terhindar dari penyakit kulit.4%) dan kulit (5.0 0 0.0 0 100. Sedangkan frekuensi untuk jenis penyakit lainnya adalah 1 kali (Tabel 9). Anak balita adalah individu pasif.2 17 30.5 1 50.

Seorang anak akan memperoleh hubungan antar pribadi pertama kali dalam lingkungan .3 1 1. Responden menyatakan untuk penyakit TBC.8 1.0 0 0.5 1 1.0 0.8 2 3.4 5.Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama hari sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya 1-3 N 32 25 0 0 17 3 1 % 57.0 1.3±1.6 14.7 100.1 44. meso dan makro).0 >14 n 0 0 0 0 0 1 1 % 0. Karakterisitik Keluarga Contoh Besar Keluarga Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3-10 orang dengan ratarata 5. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden (60.0 0 0.8 orang.0 30. Lama hari penyakit TBC lebih dari 14 hari.0 0.6 0. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.3 60. Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga Kecil (≤4 orang) Besar (>4 orang) Total n 22 34 56 % 39.0 0.0 0.4 0.8 Selain jenis penyakit di atas.6 0 0.8 23. kedua anak balita sedang melakukan pengobatan rutin sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter hingga benar-benar kedua anak balita tersebut dinyatakan sembuh.8 n 7 13 0 1 8 2 0 Lama Sakit (hari) 4-7 8-14 % n % 12. TBC termasuk ke dalam jenis penyakit ISPA yang bersifat kronis.0 1.0 0.0 Puspitawati (2007) menyatakan keluarga merupakan salah satu lembaga sosial yang tidak dapat berdiri sendiri. frekuensi penyakit TBC tidak diikut sertakan dalam tabel frekuensi sakit (Tabel 9) dikarenakan penyakit tersebut sudah berlangsung cukup lama yaitu selama 32 hari dan saat penelitian dilaksanakan penyakit tersebut masih diderita kedua anak balita. Keluarga sangat tergantung dengan dan juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (mikro.4 1.7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang.8 3.2 3 5.0 0.

Umur Orang Tua Umur ayah berkisar antara 23-50 tahun dengan rata-rata 33. tingkat pendidikan ayah lebih tinggi dibandingkan dengan ibu.0 .7%) yaitu SLTA/sederajat. sedangkan ibu (51.8 tahun.8% ibu yang berpendidikan akademi/diploma/PT. cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak. Jumlah keluarga yang banyak dapat mempengaruhi kondisi gizi dan kesehatan dari anggota keluarga. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa besar keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi sedangkan menurut Suharini (1998) diacu dalam Madihah (2002) bahwa jumlah anggota keluarga yang besar disertai dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga menderita kurang gizi. Secara keseluruhan tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu masih rendah karena keduanya masih banyak yang berpendidikan SD/sederajat dan hanya 3.7 tahun.6% ) berumur antara 20-30 tahun. Menurut Hurlock (1993) orang tua muda.6% saja ayah dan 1.3%) maupun ibu (44.1 39.3 28.6 100.8%) yaitu SD/sederajat. Ayah n 18 22 16 56 % 32. proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35.0 n 18 25 13 56 Ibu % 32.3 100. Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997).7±5. terutama ibu. Tabel 12 menunjukkan bahwa proporsi terbesar baik ayah (39.6 23. Sedangkan umur ibu berkisar antara 19-47 tahun dengan rata-rata 27. Tabel 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Tabel 13. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu.keluarga. Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa muda (Turner & Helms 1991).1 44.0±6. Selain itu.

0 n 0 7 1 0 6 42 0 56 Ibu % 0. Tabel 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan Buruh tani/kebun Pedagang/wiraswasta Pegawai negri/swasta Jasa angkutan PRT IRT Lainnya Total Ayah n 10 8 19 16 0 0 3 56 % 17. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.6 100. fertilitas.9%) dan jasa angkutan (28. Dengan demikian. Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta (33.4 100.0 12.0 Menurut Rahmawati (2006) pada masyarakat tradisional.0 0.6 0.9 14. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa proporsi terbesar tingkat pendidikan ibu (51.9 28.0 5.0 100.7 10.0 10. menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di . Oleh karena itu.8 0.0 n 29 20 6 1 56 Ibu % 51.7 1.0 0.7 3.6 35.Tabel 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Ayah n 18 16 20 2 56 % 32. sebagian besar ibu (75. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga.8 35. secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimilikinya.7 75.0%) tidak bekerja atau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT).0 Menurut Sukarni (1989) pendidikan orang tua akan menentukan status kesehatan.3 33.5 1. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi daripada yang berpendidikan rendah. Selain itu.8 100. Sedangkan.1 28.6%).8%) adalah SD/sederajat.

9 100. Rata-rata pendapatan perkapita perbulan responden yaitu Rp210 113.2% responden memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar Rp100 001. Sebanyak 23.00-150 000.00 100 001.2 58.00/kapita/bulan. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). lebih dari separuh responden (58.00±Rp597 650.00-Rp150 000.9.00.00. Dengan demikian. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh responden (58.00. Menurut BPS (2005).9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas garis kemiskinan.00.9% berpendapatan <Rp100 000.00±Rp106 712.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar >Rp150 000. Proporsi terbesar responden (55.9 23. . Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga perbulan berkisar antara Rp300 000.9%) selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar serta melakukan aktivitas mandi dua kali setiap harinya.00 >150 000.3.luar rumah. Sukarni (1989) menyatakan bahwa pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan.8.00 Total n 10 13 33 56 % 17.0 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Higiene Tabel 16 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (58. garis kemiskinan untuk Kabupaten Bogor yaitu Rp150 000.00 dengan rata-rata Rp1 073 393. Kebiasaan menggosok gigi merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari penyakit khususnya sakit gigi.4%) menggosok gigi dua kali setiap harinya. Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan (Rp/kap/bln) <100 000. Kebiasaan mandi minimal dua kali dalam sehari merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.00 dan sebanyak 17.00 sampai Rp2 620 000.

2 kali/hari c.9 0.1 0. memasak tetapi tidak sampai mendidih c.0 32. memasak sampai mendidih Membersihkan kamar mandi dalam seminggu a.9%) melakukan aktivitas mencuci di kamar mandi pribadi.9 anak balita dapat dilakukan dengan membiasakan memasak air sampai mendidih sebelum .0 100.4 37. ≥ 3 kali/hari Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari? a.0 55. sungai b.7 67. tidak memasak air b. 2 kali c. ya Kebiasaan mandi dalam sehari? a. ≥ 3 kali Melakukan aktivitas mencuci a.0 0. 1 kali b. 1 kali/hari b.1%). Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene PHBS aspek Higiene Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar a. 1 kali b.6 0.9 41. dua kali (30.Tabel 16 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum.0 58. dengan alasan agar terhindar dari penyakit khususnya sakit diare karena kuman dalam air tersebut mati. salah satu cara untuk menurunkan tingkat kesakitan khususnya diare pada diminum. kamar mandi umum c. 2 kali c.3 58.5 21.4 10.5%). kamar mandi pribadi n 1 22 33 0 33 23 0 31 25 0 0 56 18 17 21 12 6 38 % 1.8 39. Frekuensi responden membersihkan kamar mandi dalam satu minggu terlihat pada Tabel 16 yaitu satu kali (32. akan tetapi masih ada responden yang melakukan aktvitas mencuci di sungai yaitu sebanyak 21.7%. kadang-kadang c. Tidak b.4% dan di kamar mandi umum sebanyak 10. Oleh karena itu. 3 kali Memasak air untuk minum a. Lebih dari separuh responden (67.4%) dan ≥ tiga kali (37. Menurut Suririnah (2007) air yang tidak dimasak sampai mendidih maka akan menjadi media pencemaran untuk penyakit diare.1 30.4 44.

00-150 <100 000. Hanya 3. lauk pauk.0 100.8 6.3 3. sayur dan buah.0 3 28 2 33 9. protein hewani b.0 100. Keluarga dengan pendapatan terbatas. nasi. lauk pauk. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002).1% n 4 50 2 responden % 7. sayur c.6 100.3 3.1 84.00 N % n % n % 1 9 0 10 10. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang . protein hewani Nasi. nasi. sebanyak 6.0 0.0 0.Gizi Seimbang Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 sebagian besar responden (89. lauk pauk. protein nabati.00 >150 000. nasi.0 100.00 000. protein nabati dan sayur. sayur dan buah) adalah berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan >Rp150 000. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.3%) menyatakan bahwa menu makan yang biasa disajikan untuk keluarga yaitu makanan pokok. Kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. Tabel 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan per kapita perbulan responden Menu Makan Keluarga Nasi. lauk pauk. Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang PHBS aspek gizi seimbang Menu makan keluarga sehari-hari a.0 Total n 4 50 2 56 % 7.0 90.1 89.00 atau di atas garis kemiskinan menurut BPS Kabupaten Bogor tahun 2005.6% responden yang biasa menyediakan menu makan beragam yaitu nasi.6 yang selalu menyediakan menu makan keluarga secara beragam (nasi.0 Mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik untuk keberlangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang.0 0 13 0 13 0. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. protein nabati dan sayur Nasi. sayur dan buah Berdasarkan Tabel 18.1 89. sayur dan buah Total Pendapatan Perkapita Perbulan (Rp/Kap/Bln) 100 001. besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh.1 100.

tembok Letak kandang ternak a.6 28.7 Tabel 19 menunjukkan sebagian besar jenis lantai rumah responden (96.9 m2 c. >10 m dari rumah c. marmer/keramik/ubin/tegel/ teraso/semen Jendela rumah a. sehingga Menurut memudahkan Notoatmodjo (1997) rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit. Rumah Sehat Tabel 19 memperlihatkan bahwa separuh responden (51.beraneka ragam yaitu akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita (Dinkes DKI Jakarta 2002).6 35. <7. terbuka Atap rumah a. <10 m dari rumah b.8%) memilik luas hunian ≥10.5 m2 b. kayu c. tegel atau semen. seluruhnya tanah/lainnya b. Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah et al. ada.8 69. tidak ada b. bambu/lainnya b. seng/asbes/kayu c.6 60.0 m2 perkapita. teraso. Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat PHBS aspek rumah sehat Luas hunian a. (2002b) bahwa salah satu syarat rumah sehat yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik.6 96. Luas hunian yang tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga menyebabkan penularan pertukaran penyakit oksigen diantara kurang anggota optimal keluarga.8 0 3. tidak punya n 6 21 29 0 2 54 1 39 16 0 2 54 0 3 53 20 2 34 % 10.7 3.4%) adalah berjenis marmer/keramik/ubin/tegel/teraso/semen. kayu/ bambu c.4 94. tertutup c. ijuk/daun-daunan/lainnya b.4 0 5. 7. ada.7 37. dan kayu atau bambu.9. Hasil penelitian .5 51.4 1.0 m2 Jenis lantai rumah a. BPS (2004) menyatakan bahwa salah satu indikator rumah sehat menurut WHO adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 m2 perkapita.6 96. beton/genteng Dinding rumah a.6 0 3.5. ≥10.

2002b).6%) berada dalam keadaan tertutup (Tabel 19).6%) yaitu ledeng/sumur terlindung/mata air terlindung (Tabel 20). Keberadaan kandang ternak di sekitar rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan karena memudahkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kotoran ternak. (2002b) menyatakan fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Menurut Latifah et al. (2002b) lantai rumah berupa tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. (1997) menyatakan bahwa sumber air minum yang . Serta dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. Menurut Latifah et al. Menurut Latifah et al. Ada tidaknya jendela di setiap ruangan yang dapat dibuka dan ditutup berhubungan dengan ventilasi udara. Atap rumah sebagian besar responden (96. (2002b) syarat rumah sehat lainnya yaitu kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya.6% dinding rumah responden berupa tembok (Tabel 19). Air yang digunakan sehari-hari harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan. Lebih dari separuh responden (60. seng. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran responden dalam menjaga kenyamanan serta kebersihan rumah masih rendah. asbes gelombang.7% responden memiliki kandang ternak dengan jarak antara kandang ternak dengan rumah yaitu <10 m (Tabel 19). Menurut Latifah et al. Hal senada juga diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa dinding yang paling baik adalah tembok. Sumber air minum yang digunakan sebagian besar responden (78. (2002b) atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. dan sebanyak 94. Sanitasi Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia.menunjukkan bahwa tidak ada satu responden pun memiliki jenis lantai rumah berupa tanah. Lebih dari separuh jendela responden (69.4%) berupa genteng/beton. Latifah et al. sirap dan nipah.7%) tidak memiliki kandang ternak dan sebanyak 35. (2002b) air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. Rumah yang sehat memerlukan jendela yang cukup untuk jalan masuknya cahaya ke dalam rumah. Lebih lanjut Subandriyo et al.

<10 m c. kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik Tempat keluarga mandi a. Kondisi tersebut menyebabkan sumber air tercemar oleh bakteri yang dapat dijadikan media penularan penyakit diare. sungai b.5 53.6%) dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m (Tabel 20). Tidak punya b.6 17. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan tempat penampungan kotoran minimum 10 m. Menurut Subandriyo et al. kakus sendiri/kakus bersama tanpa tangki septik c. Menurut Depkes RI (1995) diacu dalam Amperansyah (1999) kakus digunakan untuk menyimpan kotoran (hajat). sumur tak terlindungi/mata air tak terlindungi c. Kamar mandi umum c.5 53.1 3. Proporsi terbesar responden (53. Sungai/pancuran b.9 .6 33. Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air PHBS aspek sanitasi air Sumber air minum.6 12.4 12. Sebagian besar keluarga responden (80.6 80.9 n 2 10 44 7 30 19 % 3. sumur yang terlindungi dan mata air yang terlindungi. Kamar mandi pribadi n 9 2 45 7 2 47 % 16.4%) melakukan aktivitas buang hajat yaitu di tempat kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik (Tabel 21).bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban PHBS aspek kepemilikan jamban Tempat keluarga biasa buang hajat a. mandi. air sungai/air hujan/lainnya b. dan kakus a.6 83.9 78. air ledeng. ≥10 m Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut kakus. cuci. ledeng/sumur terlindungi/mata air terlindungi Jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat a. sangat disarankan bagi masyarakat memiliki kakus yang dilengkapi dengan tangki septik. sehingga tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan. Oleh karena itu.

(2002c) bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik yaitu dapat menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit (seperti cacing. lubang sampah tertutup/dibuat kompos Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Lebih dari separuh responden (67.7%) terbiasa membuang sampah di tempat terbuka/di pekarangan dan tanpa dikumpulkan dan sebanyak 39. Sehingga. Selain itu. (2002c) sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. Lebih dari separuh responden (60. sampah maupun air limbah.7 39. lubang sampah terbuka c. sehingga berdampak terhadap status kesehatan keluarga. Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat kesehatan. Menurut Latifah et al. akan tetapi sebanyak 12.3% responden membuang sampah pada lubang terbuka (Tabel 22).5% responden melakukan aktivitas mandi di sungai/pancuran. Menurut Latifah et al.3 0. kemungkinan air sungai/pancuran tercemar oleh bakteri lebih tinggi dibandingkan dengan air di kamar mandi pribadi yang sumber airnya berasal dari ledeng atau sumur yang terlindungi. Perilaku tersebut belum mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang dapat menularkan penyakit diare.9%) melakukan aktivitas mandi di kamar mandi pribadi. Hal ini disebabkan oleh tidak terlindunginya air tersebut dari kotoran baik tinja. Sampah Seluruh responden terbiasa membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya.9%) terbiasa membuang air limbah di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air (Tabel 23). Air sungai/pancuran bukan merupakan sumber air yang bersih dan sehat. Perilaku tersebut masih jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat.Berdasarkan Tabel 21 sebagian besar responden (83. Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah PHBS aspek penanganan sampah Tempat pembuangan sampah a. sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. tempat terbuka di pekarangan dan tanpa dikumpulkan b. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) sumber air yang tercemar merupakan salah satu media yang dapat menularkan penyakit diare. N 34 22 0 % 60.0 . mampu mengundang lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit.

Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar.0 n 38 0 18 % 67. Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. ke dalam tangki septik Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa seluruh responden biasa melakukan pemeriksaan kehamilan di Posyandu. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. Lebih lanjut Satoto (2004) menyatakan jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan kehamilan. Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan Pelayanan kesehatan Pemeriksaan kehamilan a.1 Nadesul (2005) menyatakan bahwa kehamilan merupakan masa yang sangat penting karena pada saat itu mutu seorang anak ditentukan. di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air b. Kondisi janin yang sehat akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak selanjutnya.8%) adalah dekat. Puskesmas (76. sebagian besar responden menyatakan bahwa jarak ke Posyandu (96. Menurut Fogel dan Woods (1995) hal 431 diacu dalam Satoto (2004) perempuan yang tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah daripada yang memperoleh perawatan kehamilan yang memadai.8%) dan praktik bidan (51. pemeliharaan kesehatan. ke dalam lubang tertutup tanpa tangki septik c. pemeliharaan kebersihan dan sebagainya. . Dukun b. Puskesmas dan praktik bidan. Posyandu/Puskesmas/praktik bidan n 0 56 % 0. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa alasan utama responden mengunjungi ketiga fasilitas pelayanan kesehatan tersebut adalah jarak yang dekat dan terjangkau.9 0.4%).0 32.Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL PHBS aspek SPAL Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) a.0 100. Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya. Berdasarkan Lampiran 1.

daya jangkau (biaya) juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan. lebih dari separuh responden pernah mendapatkan informasi gizi dari ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut yaitu dokter Puskesmas (57.6%) dan praktik bidan (75.6%). bidan Puskesmas (73. lebih dari separuh responden (69.3%) adalah mudah.9%) dan praktik bidan (64. sehingga rasa kekeluargaan diantara mereka masih cukup tinggi.Selain jarak.4% responden menyatakan bahwa saat persalinan dibantu oleh dukun paraji. Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara kader Posyandu dan responden dapat terjalin dengan baik. Hampir seluruh responden menyatakan bahwa cara pelayanan dokter Puskesmas (96. Berdasarkan Tabel 25. Tidak berbeda halnya dengan dokter dan bidan Puskesmas serta praktik bidan.3%). seluruh responden menyatakan bahwa kader Posyandu mudah dihubungi dan cara pelayanannya pun baik. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa daya jangkau ke Posyandu (98. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden. Selain itu. Satoto (2004) menyatakan bahwa biaya pemeriksaan kehamilan di Posyandu.2%). Apalagi di Posyandu. Pada umumnya baik bidan Puskesmas maupun praktik bidan lebih mudah dihubungi dibandingkan dengan dokter Puskesmas. Berdasarkan Lampiran 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi gizi dari kader Posyandu (92.0%) adalah baik. Berdasarkan Lampiran 1. Puskesmas (83. Puskesmas dan bidan desa sangat murah karena pasien hanya membayar retribusi. Hal ini disebabkan oleh pembagian jadwal tugas dokter yang berbeda antara kedua Puskesmas yang berada di Desa Cikarawang. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut juga mudah dihubungi yaitu dokter Puskesmas (62.1%). pasien sama sekali tidak dipungut biaya.5%). Akan tetapi.9%). Selain itu. Berdasarkan Lampiran 2.6%) saat persalinan dibantu oleh bidan baik oleh bidan Puskesmas maupun praktik bidan. bidan Puskesmas (94. dan praktik bidan (67.2%) dan praktik bidan (64. bahkan mereka akan memperoleh vitamin secara gratis.9%). Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal antara kader Posyandu dan responden yang berdekatan karena merupakan warga setempat. bidan Puskesmas (94.4%). Satoto (2004) . selain membantu persalinan dukun paraji juga ikut membantu memandikan bayi dan “ngurut” ibu setelah melahirkan sampai usia 40 hari kelahiran. sebanyak 30.

sangat dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah atau Wanita Usia Subur (WUS) menerapkan program KB. Sehingga. Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa seluruh responden ikut dalam program Keluarga Berencana (KB). Dukun b. Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden menyatakan bahwa jarak ke tempat dukun paraji dekat (66. makanan-makanan tersebut tidak baik dikonsumsi. Alasan dukun paraji yang mendasari pantangan tersebut yaitu rahim ibu masih luka. talas. roti.menyatakan bahwa dukun akan melakukan pemijatan pasca melahirkan untuk mengembalikan stamina tubuh ibu dan bayinya akan memperoleh perawatan sampai tali pusatnya lepas. ikan asin. Tabel 26 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu berobat ke tenaga medis ketika anggota keluarga sakit. Seluruh responden selalu membawa anak balita ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan berat badan (Tabel 26). Secara umum responden hanya mendapatkan nasihat-nasihat berupa pantangan setelah melahirkan seperti tidak boleh makan yang manis (”bolu”). durian. daging kambing. Berdasarkan Lampiran 2.6%). Menurut BPS (2004) penimbangan anak balita merupakan salah satu upaya dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk melihat tumbuh kembangnya.4 69. Hal ini disebabkan oleh jarak dan daya jangkau ke rumah sakit jauh .6%) menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi gizi dari dukun paraji. Perawatan tersebut dilakukan sampai 40 hari dengan biaya yang relatif murah. Berdasarkan hasil wawancara. Puskesmas/praktik bidan n 17 39 % 30. Oleh karena itu. ubi. buah nangka. Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pertolongan persalinan Pelayanan kesehatan Pertolongan saat persalinan a. mie instan. proporsi terbesar responden (44. pisang.6 Alasan utama responden menggunakan tenaga bukan kesehatan (dukun paraji) saat persalinan yaitu jarak yang dekat dan terjangkau. Menurut BPS (2006) program KB merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.1%) dan mudah dijangkau (69. kangkung dan sebagainya. responden lebih sering mengunjungi Puskesmas untuk berobat ketika sakit dibandingkan rumah sakit.

9%. ini menunjukkan bahwa kesadaran responden dalam berperilaku hidup bersih dan sehat sudah cukup baik (Tabel 27).0 0.6 100. Tindakan yang didasari oleh .0 100. Ya Tempat berobat keluarga ketika sakit a.0 Pengetahuan Gizi Tabel 28 menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden (48. penanganan sampah dan SPAL serta pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (69. Pada umumnya responden mengunjungi rumah sakit ketika anggota keluarga mengalami sakit yang cukup parah sehingga membutuhkan pengawasan dan perawatan dokter yang cukup intensif. masih ada responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah yaitu sebanyak 8. Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan.0 Berdasarkan pemaparan di atas mengenai aspek PHBS yang meliputi higiene.4% kategori sedang. Tabel 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS Kategori PHBS Rendah (24-38) Sedang (39-53) Baik (54-67) Total n 0 17 39 56 % 0.9% kategori tinggi.6%) memiliki PHBS termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 30. Tidak ada satu responden pun yang memiliki kategori PHBS rendah. Ya Penimbangan anak balita di Posyandu a. Tidak b. Akan tetapi. Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB. gizi seimbang.0 30. rumah sehat.2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 42.0 100. Dukun b. sanitasi air. Puskesmas/praktik bidan/klinik/rumah sakit n 0 56 0 56 0 56 % 0. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit Pelayanan kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) a.dan sulit.0 0.0 100. Tidak b. kepemilikan jamban.4 69.

0 Tabel 29 menunjukkan bahwa secara umum responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah memiliki tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) juga. Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawati (2006) bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan. Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi responden (p<0. jenis pangan sumber Fe (57.6%).0 100.0 100.6%).2 42.0 100. Tabel 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan responden Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Total Tingkat Pendidikan SD/sederajat N 5 17 7 29 % 17.1%) dan pemberian ASI eksklusif (41.2 58.1 100.0 SLTA/sederajat n 0 3 3 6 % 0.0 100.0 SLTP/sederajat n 0 7 13 20 % 0. jenis pangan karbohidrat (44.0 35.9 100.0 0.0 65.0 50.0 50.6%). zat gizi untuk pertumbuhan (44. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi responden atau sebaliknya. Tabel 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) Total n 5 27 24 56 % 8.6 24.1%).9 48. Hal ini mengindikasikan bahwa kelima pertanyaan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertanyaan lainnya.9 100.01). Berdasarkan Lampiran 3 dapat diketahui bahwa terdapat lima pertanyaan pengetahuan gizi yang dapat dijawab responden kurang dari 60%.0 Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi pun menjadi lebih baik.0 Total n 5 27 24 56 % 8.9 48. Kelima pertanyaan tersebut adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (53. .pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.2 42.0 Akademi/Dip loma/PT N % 0 0 1 1 0.

dan sosial. mental.9 53. cara mempersiapkan makanan. orang tua harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. susu formula. Marotz et al. Hanya 41. lama pemberian ASI eksklusif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah enam bulan. Menurut Sukarni (1989) dan Madanijah (2003) tingkat pendidikan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan. Pada umumnya setelah anak berusia empat bulan bahkan kurang. biskuit. Tabel 30 menunjukkan bahwa sebanyak 75. responden sudah memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang.1% responden yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.1 26 46. Tabel 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Anak diberi ASI eksklusif (ASI saja hingga 6 bln) Anak diberi kolostrum? ASI diberikan sesuai permintaan bayi? ASI diberikan sampai anak berusia 2 tahun? Ya n 14 48 38 30 % 25.7 67. (2005) menyatakan bahwa masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilakuperilaku gaya hidup sehat. cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Pola Asuh Makan Pola asuh makan pada penelitian ini meliputi riwayat menyusui dan penyapihan.3 18 32. Pola Asuh Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya secara fisik. Akan tetapi. Karena pendidikan akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang yang akan berdampak terhadap status kesehatan dan status gizi keluarga.4 . bubur bayi dan lainnya.0 8 14.0 85.Pada umumnya responden mengetahui lama pemberian ASI eksklusif yaitu empat bulan. Dalam hal ini.6 Tidak n % 42 75. Ketidakmampuan responden menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan benar kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya pendidikan responden.0% responden tidak memberikan ASI eksklusif (6 bulan). cara memperkenalkan makan.

sehingga dapat mengurangi risiko terserang diare. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.1 46. Lebih dari separuh responden (67. sebagian besar responden (85.6 3.Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi. Tabel 31 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92. frekuensi memberikan makanan utama dan memberikan makanan kudapan. Tabel 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita Cara memperkenalkan makan anak balita Anak dibiasakan mengonsumsi makanan beragam Pertimbangan ibu dalam memperkenalkan makan kepada anak berdasarkan faktor gizi Ibu membiasakan menyediakan kudapan untuk anak setiap hari Ibu memberikan makan kepada anak sebanyak tiga kali sehari Ya n 52 23 26 54 % 92.9 53. pertimbangan dalam hal memberikan makan karena faktor gizi.7%) memberikan kolostrum kepada anaknya. Krisnatuti & Yenrina (2000) menyatakan bahwa kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran. bahkan sangat mudah dan murah memberikannya kepada bayi (Dinkes DKI Jakarta 2002). Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.6%). Berdasarkan Tabel 30. Soekirman dan Martianto (2005) bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi intestinal.9 41.4 96. Akibat . Sehingga tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) yang dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi seperti yang diperoleh dari kolostrum.4 Tidak n % 4 33 30 2 7. Hal senada diungkapkan oleh Masithah. Cara memperkenalkan makan untuk anak balita meliputi membiasakan mengonsumsi makanan beragam.6 Menurut Dinkes DKI Jakarta (2002) fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Kolostrum mengandung zat gizi untuk sistem kekebalan tubuh anak dari penyakit. Kebiasaan ini sangat baik karena dengan memberikan makanan beragam mampu memperbaiki status gizi anak balita sehingga terhindar dari gizi kurang.1 58.9%) memberikan makanan yang beragam kepada anak balita.9%) memberikan ASI sesuai dengan permintaan dan memberikan ASI sampai usia 2 tahun (53.

pengolahan. Akan tetapi. Kuman-kuman tersebut akan membentuk toksin yang tahan panas.3% responden menghangatkan kembali makanan sebelum dikonsumsi. sehingga sebanyak 89.tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. Menurut Krisnatuti & Yenrina (2000) ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk membentuk kondisi anak sehat yaitu makanan bergizi dan sanitasi (kebersihan).1%) sudah memperhatikan faktor gizi sebagai pertimbangan dalam memberikan makan kepada anak balita (Tabel 31). Berdasarkan Tabel 32 sebagian besar responden (87. Faktor kebersihan harus selalu dijaga pada setiap tahapan penyediaan makanan bayi.2 Tidak n % 7 48 6 1 12. sehingga tidak dapat . siang.4%) memberikan makan utama untuk anak balita yaitu tiga kali dalam sehari (Tabel 31). sebagian besar responden (96. sampai penyajian termasuk kebersihan peralatan makanan yang akan digunakan. Menurut Pujiarto (2007) makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam mengakibatkan kuman tumbuh subur dalam makanan tersebut.5 14.7% tidak melakukan aktivitas memasak tiga kali sehari (Tabel 32). Kurang dari separuh responden (41.9% responden memberikan makan anak balita sesuai dengan kondisi keuangan keluarga. Tabel 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita Cara mempersiapkan makanan anak balita Ibu mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak Ibu memasak makanan dalam sehari dilakukan secara bertahap (pagi. sore/malam) Ibu terbiasa memanaskan/menghangatkan kembali makanan sesaat sebelum dikonsumsi Ibu selalu menutup makanan sebelum dihidangkan Ya n 49 8 50 55 % 87.7 1. Keadaan ini berdampak pada kebiasaan responden yaitu sebanyak 53. Mulai dari tahap persiapan.5 85. Pada umumnya responden memasak satu sampai dua kali sehari.7 10.3 89.8 Berbeda halnya dengan kebiasaan memasak responden yaitu sebanyak 85.5%) mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak balita.6% tidak memberikan makanan kudapan setiap harinya kepada anak balita.3 98. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita. Sesuai dengan jawaban yang diperoleh dari responden saat wawancara dapat diketahui bahwa sebanyak 58.

pada umumnya responden memberikan makan sambil jalan-jalan atau aktivitas lainnya. sehingga makanan tersebut cukup aman untuk dikonsumsi dan mampu mengurangi penyebaran penularan penyakit yang membahayakan manusia. Responden mengeluh anak balita mulai sulit makan.2 16. sebanyak 94. Akan tetapi. Oleh karena itu.2% responden masih memberikan makan kepada anak balita dengan cara disuapi. Tabel 33 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (80. Hal ini bertujuan agar makanan tetap terjaga kebersihannya. agar anak balita mau makan. maka sebelum dilakukan proses menghangatkan makanan harus terlebih dahulu disimpan dalam lemari pendingin. lalat) dengan makanan. Sebagian besar responden (98. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak balita.4%) sudah mulai membiasakan anak balita untuk makan sendiri.4 Tabel 33 menunjukkan sebanyak 83. lebih baik dibandingkan dengan menghangatkan kembali makanan tersebut.6 n 11 15 47 3 Tidak % 19.9 5. pilih-pilih serta jarang habis.6 26. Membiasakan menutup makanan sebelum dihidangkan dapat mengurangi kontak fisik serangga (kecoa.9% responden belum membiasakan anak balita makan di meja makan (makan bersama). Kalaupun makanan yang diolah bersisa.4 73. merayu) Ya n 45 41 9 53 % 80. kalaupun mau makan itupun dalam jumlah yang sedikit. Kebiasaan memasak secukupnya sesuai dengan kebutuhan. Tabel 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita Cara memberikan makan anak balita Ibu membiasakan anak makan sendiri dengan asumsi sudah dapat memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut tanpa tumpah Ibu memberikan makan kepada anak dengan cara disuapi Ibu memberikan makan pada anak di meja makan (makan bersama) Cara mengapresiasi proses makan anak balita Ibu selalu berusaha agar anak menghabiskan makanannya (membujuk.2%) selalu menutup makanannya sebelum disajikan/disantap (Tabel 32). Sehingga.8 83.1 94. Hal ini dikarenakan anak balita tersebut belum bisa memegang sendok dengan benar sehingga saat memasukkan makanan ke dalam mulut masih tumpah.dihancurkan dengan memasak makanan tersebut.6% responden selalu melakukan kegiatan . sebanyak 73.

Oleh karena itu.4% responden membiasakan anak balita mandi dua kali dalam sehari dan sebanyak 94. Hasil penelitian mengenai kategori pola asuh makan dapat dilihat pada Tabel 34.9% anak balita selalu menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi. merayu atau memberikan pujian. Berdasarkan pemaparan di atas dari ke lima aspek pola asuh makan dapat diketahui bahwa sebanyak 71. n 0 40 16 56 % 0.6% selalu menggunakan sabun ketika memandikan anak balita. Menurut Khomsan (2004) membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu.1% responden membiasakan anak balita agar menggunakan handuk yang sama dan milik pribadi (tidak gonta-ganti).6%) membiasakan anak balita menggosok gigi ≥2 kali/sehari dan sebanyak 64.1% responden mulai membiasakan gosok gigi saat berusia ≤1 tahun (Lampiran 4). Pada usia pra sekolah. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. Lebih dari separuh responden (52. Seluruh responden menyatakan bahwa selalu mengganti pakaian anak balita sehabis mandi dan sebanyak 91. Tabel 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan Pola Asuh Makan Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) Total Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Lampiran 4 dapat diketahui bahwa sebanyak 80.0 .4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan sebanyak 28.6 100.2% responden belum membiasakan anak balita menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan dan hanya 21.6% kategori tinggi.apersepsi supaya anak balita mau makan misalnya dengan cara membujuk. Tidak ada satu responden pun yang memiliki pola asuh makan kategori rendah.0 71.4 28. Akan tetapi. Lebih lanjut Hurlock (1982) menyatakan penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. anak sering mengalami fase sulit makan. sebanyak 77. menurut Hardinsyah & Martianto (1992) perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan.

Sebanyak 67.Sebanyak 77. Serta sebanyak 51.5% menggunakan air bersih untuk mencuci tangannya. Sebanyak 46. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebanyak 42-47% Kebersihan kuku juga sangat penting untuk diperhatikan. Selain itu.3% responden membiasakan menyisir rambut anak balita 2-3 kali/hari. kebiasaan tersebut mampu mencegah terjadinya penyakit diare.8% responden sudah membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan saat berusia 1-2 tahun.9%) keramas menggunakan sampo. Sebanyak 71. Walaupun masih ada responden sebanyak 21.6%) kadang-kadang dibiasakan untuk mencuci kakinya setelah bermain. Menurut Tjitarsa (1992).9% anak balita sudah dibiasakan mencuci kaki sebelum pergi tidur oleh responden dan lebih dari separuh anak balita (53.4% responden sudah membiasakan anak balita menggunting kuku ≥3 kali dalam satu bulan dan sebanyak 39. Lebih dari separuh responden (64.3%) tidak memperbolehkan . Menurut Notoatmodjo (2003) kotoran manusia (tinja) adalah sumber penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan manusia.2% responden membiasakan mencuci rambut anak balita (keramas) sebanyak ≥3 kali/minggu dan sebagian besar anak balita (92.3%) selalu menggunakan sabun ketika mencuci tangan anak setelah buang air besar dan sebagian besar responden (82. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh saat wawancara bahwa rambut anak balita tipis dan pendek sehingga tidak perlu disisir untuk merapikannya. Curtis & Cairncross (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007) mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Sebagian besar responden (89. karena kuku yang panjang dan tidak terawat mampu menularkan penyakit.4% yang menyisir rambut anak balita hanya 1 kali/hari.1%) sudah membiasakan anak untuk buang air besar pada tempat semestinya yaitu kamar mandi (Lampiran 4). Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan sabun dan air bersih sangat penting dilakukan karena dapat menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan.3% anak balita dibiasakan selalu menggunakan alas kaki ketika bermain atau berada di luar rumah. akan tetapi cukup dengan menggunakan tangan responden yaitu dengan cara “dielus-elus” (Lampiran 4).4% responden membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan dan sebanyak 87. sebanyak 64.

sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan signifikan dengan kedua pola asuh tersebut.4 100.6% kategori sedang (Tabel 35). Lebih dari separuh responden (58. Lingkungan rumah yang bersih akan menciptakan lingkungan nyaman yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang. sebagai contoh yaitu mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat semestinya.9%) sudah membiasakan anak balita untuk membuang sampah pada tempatnya (Lampiran 4). Pengetahuan gizi ibu yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula seperti dalam hal perilaku bersih dan sehat.0 Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara PHBS ibu dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan (P<0. Tabel 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan Pola Asuh Kesehatan Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (56-72) Total n 0 25 31 56 % 0.6 55. Pola asuh kesehatan seperti ini cukup baik. . Menurut Rahayu (2006).01). kondisi fisik masih lemah dan kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. karena dengan membuang sampah pada tempatnya mampu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya. memberikan makan dan menjaga kebersihan anak balita.0 44.4%) memiliki pola asuh kesehatan termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 44. Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.anak balita bermain tanpa memakai celana dan separuh responden (50.0%) kadang-kadang memperbolehkan anak balita bermain tanah (Lampiran 4). Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (55. terdapat kecenderungan apabila pengetahuan gizi ibu baik maka kedua pola asuh tersebut pun akan baik. Akan tetapi. pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena anak balita belum mampu untuk merawat dirinya sendiri. Menurut Entjang (1985) lingkungan hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang.

0 Total n 26 32 56 % 46. Persentase anak balita yang mengalami diare dengan umur 24-36 bulan dan ≥37 bulan berturut-turut yaitu 45.6 100.5% dan 25. Muniasir (2007) menyatakan bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh.4 53.0 Uji korelasi Spearman menunjukan terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0.0 16 100.0 Total n 26 32 56 % 53.Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita Tabel 36 menunjukkan bahwa anak balita dengan umur ≤23 bulan mengalami diare lebih tinggi (66. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh variasi data penelitian mengenai BBLR yang relatif kecil. sehingga sangat mudah terserang penyakit infeksi.6 46.0 .7 33.0 12 54.0 24 44.4 0. Bayi dan balita memiliki sistem imunitas tubuh yang masih lemah. Tabel 37 menunjukkan bahwa secara umum anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mengalami diare selama tiga bulan terakhir.0 54 100.6 100. Sistem imunitas tubuh berkembang sesuai dengan umur seseorang.0%.5 12 75. Semakin tinggi umur anak balita maka tingkat diare semakin rendah.7%) dibandingkan dengan anak balita yang memiliki umur >23 bulan. Namun.0 22 100. hasil analisis korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare.0 30 55.0 Umur (bulan) 24-36 ≥ 37 N % N % 10 45. Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) menyatakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki daya tahan terhadap penyakit juga lebih rendah.3 100. Tabel 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total n 12 6 18 ≤ 23 % 66. Tabel 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total N 2 0 2 Berat Badan Lahir BBLR Non BBLR % n % 100.5 4 25. salah satunya diare.4 100.01) antara umur anak balita dengan diare.

Responden dengan tingkat pendidikan di atas SLTP/sederajat. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS responden (p<0. 0.8 41.0 30. Persentase tersebut lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur 31-50 tahun (28.8 100.0%) memiliki PHBS kategori tinggi. Pengetahuan Gizi.7 10.8%).6 23.0 100.0 32.0.Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS.0 n 29 20 6 1 56 18 25 13 56 Total % 51.01). .01).8 35. Tabel 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS PHBS Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ibu SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Sedang n % 13 4 0 0 17 6 9 2 17 76. sebagian besar memiliki PHBS kategori tinggi yaitu SLTP/sederajat (41.9 11.8 100.8%) dan 20-30 tahun (41.2 100. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Tabel 38 menunjukkan sebagian besar responden (76.0%).4%) dan akademi/diploma/PT (2.0 35. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.0 28. Hasil analisis juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan gizi responden (p<0.5 0.4 2. Semakin tinggi pendidikan responden maka PHBSnya pun semakin tinggi pula. SLTA/sederajat (15.6 100.8 100.0 15. Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pemahaman atau pengetahuan seseorang terhadap perawatan kesehatan dan kesadarannya terhadap kesehatan anak-anak dan keluarga.6%).3 52.1 44. Hasil analisis menunjukkan umur responden tidak berhubungan signifikan dengan PHBS.0 Tinggi n 16 16 6 1 39 12 16 11 39 % 41.5%) dengan tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) memiliki PHBS kategori sedang.0 41.0 Tabel 38 juga menunjukkan responden dengan umur 13-19 tahun (30.7 1.5 23.

4 53.1%) dibandingkan anak balita dengan PHBS responden kategori sedang (26. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar responden dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m. Tabel 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita PHBS Diare Diare Tidak Diare Total n 7 10 17 Sedang % 26. Menurut Subandriyo et al.Namun. tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan gizi responden.7 100. .0 n 26 30 56 Total % 46. Kaitan antara PHBS.0 Aspek PHBS yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran. Sehingga. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita Berdasarkan Tabel 39 dapat diketahui bahwa kecenderungan anak balita dengan PHBS responden kategori tinggi mengalami diare lebih besar (73.1 66. kebiasaan membuang sampah dan SPAL responden yang belum sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat. cuci dan kakus).0 n 19 20 39 Tinggi % 73.3 100.9 33.9%). air tetap terjaga kebersihannya dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (minum. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi (tempat penampungan kotoran) minimum 10 m. Pengetahuan Gizi. PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). hasil analisis menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan pola asuh makan maupun dengan pola asuh kesehatan. Tujuannya adalah supaya tidak terjadi interaksi antara mikroorganisme dengan air yang biasa digunakan untuk kebutuhan hidup seharihari. mandi. Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS responden dengan diare anak balita.6 100. Selain itu juga.

(2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan.4 53. hasil uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita. sampah juga mampu mencemari sumber air. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing.6 100.7 5 100. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. Tabel 40 Kaitan antara pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi n % n % N % 3 60. Akan tetapi. Sampah yang dibiarkan di tempat terbuka dapat dijadikan media berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare.3 14 58.0 Total n 24 32 56 % 46.0 18 66.3%).Berdasarkan yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya mengenai aspek PHBS. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) penggunaan air yang sudah tercemar tersebut dapat dijadikan media pencemaran penyakit diare. Menurut Latifah et al.3%) dan tinggi (58.3 2 40.0 24 100. Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita Tabel 40 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu rendah mengalami diare lebih besar (60. Keadaan ini juga mampu mencemari sumber air.0 27 100. secara umum mereka membuang sampah di pekarangan dan lubang sampah terbuka.0 9 33. Selain itu.) dibandingkan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu kategori sedang (33.0 tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan . Namun. sebagian besar responden membuang air limbah bukan pada tempat semestinya yaitu di pekarangan.0%. Tidak berbeda halnya dengan SPAL responden. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan penyakit diare. Perilaku seperti ini sangat jauh dari indikator perilaku hidup bersih dan sehat. dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak membuang sampah pada tempat yang semestinya.7 10 41.

0%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi (45.0 10 62.6 100.5 24 60.0 16 100.2%).5 40 100. Pemberian ASI eksklusif erat kaitannya dengan meningkatnya kekebalan tubuh seorang anak.0%).6 100.0 14 45. Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Tabel 42 menunjukkan ada kecenderungan ibu dengan pola asuh kesehatan kategori sedang memiliki persentase anak balita yang mengalami diare lebih besar (48.0 17 54. Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak balita.2 13 52.0 Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita yaitu kebiasaan ibu dalam hal mencuci tangan anak balita sebelum makan. Tabel 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh kesehatan Sedang Tinggi n % n % 12 48.5%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh makan kategori rendah (40. Namun. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.0 Total n 26 30 56 % 46. hasil analisis korelasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita.Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita Tabel 41 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh makan kategori tinggi memiliki anak balita yang mengalami diare lebih besar (62.0 31 100.0 6 37.8 25 100.4 53. Tabel 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh makan Sedang Tinggi n % n % 16 40. hasil analisis juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan diare anak balita.4 53. Rendahnya kesadaran ibu dalam hal pembiasaan mencuci . Dengan demikian.0 Total n 26 30 56 % 46.0 Aspek pola asuh makan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain mengenai pemberian ASI eksklusif.

Menurut Sadeque dan Ghosh (2005) salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan anak balita yaitu dengan membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. membiasakan anak balita menggunakan kamar mandi ketika buang air besar merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat kejadian diare. Hasil penelitian menunjukkan masih ada beberapa ibu yang belum membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Lingkungan yang tidak bersih. Selain kebersihan tangan anak balita.tangan anak balita sebelum makan diduga menjadi penyebab tingginya diare pada anak balita. Selain kebersihan tangan dan kaki. . kebersihan kaki pun harus diperhatikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh contoh belum dibiasakan menggunakan alas kaki (sandal) ketika keluar rumah. Bahkan masih ada beberapa ibu yang tidak membiasakan mencuci tangan anak balita. Hal senada juga diungkapkan oleh Suririnah (2007) bahwa perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare. kemudian tidak membiasakan menggunakan sandal ketika keluar rumah dapat menjadi sumber penyebaran kuman dan apabila tidak dihambat penyebarannya maka dapat menimbulkan penyakit seperti diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh ibu menyatakan kadang-kadang membiasakan anak balita mencuci tangan sebelum makan. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) tangan yang kotor dapat menjadi media penularan penyakit diare.

Dengan demikian.0%) tidak bekerja.6%).00.9% 28. Proporsi terbesar umur anak balita (39.3%) maupun ibu (44.4% anak balita memiliki berat badan lahir cukup (≥2. 2. 6. Status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. Proporsi terbesar (58. Hasil analisis menunjukkan umur anak balita berhubungan sangat signifikan dengan diare (p<0.4%) serta pola asuh makan kategori sedang (71.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1.6%) berada pada kategori usia muda (20-30 tahun). Proporsi terbesar responden memiliki PHBS (69.01).1%) mengalami sakit selama tiga bulan terakhir dan hampir 50% anak balita mengalami diare dengan frekuensi tertinggi yaitu 2 kali dan lama sakit 1-3 hari. 3. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu. dan tidak berhubungan signifikan dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.9%) pendapatan perkapita perbulan responden adalah >Rp 150 000.3%) berkisar antara 24-36 bulan dan 96.05). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB.5 kg). Tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi. Hampir 50% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang. Secara umum responden memiliki PHBS. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang baik. Sedangkan umur ibu tidak berhubungan . BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. Tingkat pendidikan pegawai ayah lebih tinggi dan (SLTA/sederajat) angkutan dibandingkan dan ibu (SD/sederajat).4%).1%) adalah perempuan. TB/U) dengan diare (p<0.6%) dan pola asuh kesehatan kategori tinggi (55. 5. sisanya tinggi dan rendah (42. Hampir seluruh anak balita (91. 4. Lebih dari separuh responden (60. Lebih dari separuh anak balita (66. Sedangkan anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare.9%). sedangkan ibu (75.9% dan 8.7%) merupakan keluarga besar (>4orang) dan hampir separuh umur baik ayah (39. proporsi terbesar pekerjaan ayah yaitu negeri/swasta jasa (33.

Sehingga. pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan. Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu berkenaan dengan kebersihan tangan dan kaki serta kebiasaan Buang Air Besar (BAB) bukan pada tempatnya. Saran Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya diare pada anak balita hendaknya menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. pengetahuan gizi ibu. aspek pola asuh makan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Selain itu. mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. Pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah diare dengan membangun fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan. pola asuh makan maupun pola asuh kesehatan. PHBS. menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika keluar rumah. 7. Sedangkan. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi. pengetahuan gizi.signifikan baik dengan PHBS. dan Kakus (MCK). Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor risiko kejadian diare anak balita dengan menggunakan analisis regresi logistik. . Aspek PHBS yang diduga menyebabkan diare anak balita adalah jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran <10 m. masyarakat setempat hendaknya memperhatikan jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran dan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan. personal hygiene. Cuci. Selain itu. diperoleh informasi mengenai faktor dominan yang lebih berpengaruh terhadap kejadian diare anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. membiasakan BAB di kamar mandi. dan pelayanan kesehatan) serta pola asuh makan dalam hal pemberian ASI eksklusif dan penyiapan makanan sehari-hari. pembuangan sampah dan limbah bukan pada tempatnya.

Jakarta: BPS. 2003. Harianto. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kota Bogor [skripsi]. Ekonomi Gizi. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Statistik Indonesia. 2004. . Jakarta: BPS. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: BPS. [terhubung berkala]. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. As’ad S. Diktat Mata Kuliah yang tidak dipublikasikan. 1985. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. [terhubung berkala] www. Fakultas Pertanian.diare. 2006. Jakarta: CV Rajawali. Entjang I. 2004. Jakarta: Citra Aditya Bakti. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Statistik Indonesia. Gunarsa. Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak. Faktor risiko penyakit diare pada bayi di Provinsi Kalimantan Selatan: analisis data sekunder SDKI tahun 1997 [skripsi]. Martianto D. Institut Pertanian Bogor. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga. Institut Pertanian Bogor. Bogor: Fakultas pertanian. www. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Briawan D. 1985. . 2006. Universitas Indonesia. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. Makasar: Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. . 1979. Hardinsyah. Health and Safety in Child Care. . Zahara DN. Berg A. Bogor: Fakultas pertanian. 2005. 2002. Penyuluhan penggunaan oralit untuk menanggulangi diare di masyarakat. 1992. Laporan akhir penelitian studi kajian wanita. Faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas anak baduta pada keluarga miskin dan tidak miskin [skripsi]. Aronson SS. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. Institut Pertanian Bogor.DAFTAR PUSTAKA Adnyadewi IGA. Azwar A. 2004. Hardinsyah.html [9 November 2007]. 1997. 2001. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Peran anggota rumah tangga di dalam pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Indikator Kesejahteraan Rakyat. Majalah Ilmu Kefarmasian 1(1): 27-33. Jakarta: BPS. 2005. Amperansyah. Terjemahan dari: The Nutrition Factor. Gizi Terapan. [BPS] Biro Pusat Statistik.html [3 Oktober 2007].gizi. 2002. Its Role in National Development. Statistik Kesehatan. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Firlie D. 1991. New York: HarperCollins. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. Jakarta: Penerbit Mutiara. _____. [Dinkes] Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Konseling Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). . [terhubung berkala]. Diare. 1999. Herawati T. 2002. 1993. Bandung: Penerbit Alumni. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. penerjemah. Gunarsa. 1986.

Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI. Bogor: kerjasama pusat kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor.farmasi. . 2004. Jakarta: Puspa Swara. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. 2004. 2003. M Zarkasih. 2002a. 2000. [terhubung berkala].id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat. Faktor-faktor predisposisi yang berhubungan dengan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI) di Kecamatan Banua Lawas. 2002. Herman. Buku 1 Kebersihan Diri dan Lingkungan. Madihah. Jakarta : PT Grasindo Anggota Ikapi.go. Krisnatuti D dan Yenrina R. 2005. . Fakultas Ekologi Manusia.www. Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [skripsi].pdf.dinkes-sulsel. . Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Pengetahuan.pdf. Kabupaten . Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. Bogor: Fakultas Pertanian. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Zalbawi S. Hubungan kualitas pengasuhan dan perilaku hidup sehat dengan status gizi dan kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kecamatan Bogor Barat [skripsi]. Evi D. Institut Pertanian Bogor. [23 uli 2008]. Psikologi Perkembangan. Sumali MA. 2002c. _________. Latifah M. http://library.pdf [15 November 2007]. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat. Buku 10 Mengenal Berbagai Penyakit dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. Bogor: Fakultas Pertanian. [3 Hiswani.ac. . 2005. 1993. Perkembangan Anak Jilid 2. Khomsan A. www. 1982.ac. Irianti S. Pedoman pengembangan kabupaten/kota percontohan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Manda S. Jakarta: Erlangga. Penelitian dalam rangka penerapan sistem pembuangan tinja dan sampah tepat guna Desa Pantai di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Lamongan. M Tjandrasa. penerjemah. Buku 8 Pengenalan Sampah dan Air Limbah. 2000. dan Suprapti. Buletin Penelitian Kesehatan 27(3 dan 4-1999/2000): 346-363. Hurlock EB. 2002d. MD Djamaludin. Kecamatan Tamansari. Ed ke-5. Institut Pertanian Bogor. Jakarta: Erlangga. Institut pertanian Bogor. Khairunnisak I. [terhubung berkala]. 2006. 2002b. Oktober 2007].ui. Wahida S. sikap dan perilaku pengguna tanaman obat di desa Sukajadi. Nurahmi.jurnal. Buku 5 Rumah Sehat. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kejadiaannya sangat erat dengan keadaan sanitasi lingkungan.id/download/fkm/fkm-hiswani7.usu.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104.

Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Model pendidikan “G1-PSI-SEHAT” bagi ibu serta dampaknya terhadap perilaku ibu. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Bogor: Fakultas Pertanian. Bogor: Fakultas Pertanian. ___________ . Notoatmodjo S. Muniasir Z.mosleh@bdonline. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Madanijah S. Marie ZC. 2005. 2007. Bukan Suplemen!.org. 2003. Pengantar Ekologi Keluarga. 2005. Nadesul H. Soekirman. Ghosh SK. Marotz LR. Ed ke-8. 1997. 2003. Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor. Bogor: Fakultas Pertanian. Pola Asuh-Asupan Nutrisi dan Pertumbuhan Anak. 2001. Life-Span Development. dan status gizi anak usia dini [disertasi].com. New York: McGraw-Hill . Edisi ke-6. Pujiarto P. Media Gizi dan Keluarga 29 (2):29-39. konsumsi pangan. Safety. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Institut Pertanian Bogor. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Puspa Swara. Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak batita di Desa Mulya Harja. [15 November 2007]. Jakarta : Rineka Cipta. 2007. lingkungan pembelajaran. Nasution. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. [terhubung berkala]. Tantangan bernama higinitas. 2005. 2007. www. Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. Imunomodulator. Riyadi. 2003. Pola asuh dan status gizi anak balita keluarga penerima dan bukan penerima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) [skripsi]. 1993. Institutional and Legal Challenge for the Rural Poor. Santrock JW. 2007. Drajat M. [terhubung berkala]. Environmental Sanitation Promotion: A Social. Masithah T. Universitas Indonesia. Diktat Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rimbatmaja. Institut Pertanian Bogor.co. United State: Thomson Delmar Learning.koalisi. 2005. Bogor: Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. 2002. Desa Sukamantri. Makanan Sehat untuk Ibu Hamil. 2006. Rahayu S. Health.php?kat=3&emonth=02&eyear=2007 &pg=hns-23k. 2006. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di taman pendidikan karakter sutera alam. Jakarta: Ghalia Indonesia. Makalah Seminar Sehari. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Metodologi Penelitian Kesehatan. parentsguide. R. Rahmawati D. Yogyakarta: Ando Offset. www. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. . Sadeque MU. Institut Pertanian Bogor. Jeanettia MR.id/dsp_content. [terhubung berkala]. Kemitraan dalam Mengatasi Masalah Gizi di Indonesia.Tabalong Kalimantan Selatan tahun 2002 [skripsi]. Bogor [skripsi]. Puspitawati H. and Nutrition for Young Child.

Sosial Budaya Gizi. Sinaga D. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Widyati R. 1989. dan Yekti HE. Suhardjo.htm. Ed ke-4. Turner JS. Diare mendadak dan penanganannya. 1991. Kecamatan Cugenang. Dewi MDH.articles. [terhubung berkala]. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Pola pengasuhan ibu anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita di Kota Madya Manado. 2005.net/files/vol-08-02-2005-4. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Life-Span Development.infoibu. Fakultas Pertanian. [terhubung berkala]. 2007. JMPK 8(2).com. 2004. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Saroso S. Tambingon HN. Cianjur. Kondisi geografis dan sosial ekonomi hubungannya dengan pembangunan kesehatan serta kondisi rumah rehat di Desa Gasol dan Cijedil. Bandung: Penerbit ITB dan Universitas Udayana.php.jmpk-online. Bogor: Pusat Antar Universitas. 2004. [terhubung berkala]. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): studi kasus di Kabupaten Bantul 2003. Solo: Dabara Publiser. Petunjuk Praktikum Kesehatan Masyarakat. 1994. Provinsi Sulawesi Utara [tesis]. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. [3 Oktober 2007]. www. Sehat itu Hak: Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. ______.pdf. www. [3 Oktober 2007].Sari RA.diare. 2002. Satoto. Sukarni. Jawa Barat [skripsi]. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Bandung: Eja Insani. Suririnah. 1992. [3 Oktober 2007]. Slamet Y. Departemen Pendidikan Nasional. Subandriyo VU. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi. Hygiene dan Sanitasi Umum dan Perhotelan. 1997. 2007. Bogor: Institut Pertanian Bogor. 1993. Helms DB. Institut Pertanian Bogor. Diare. Topatimasang. 2005. Soekirman. Institut Pertanian Bogor. Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Bersalin: Antara Harapan Hidup dan Kenyataan Kematian. Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial. www. 2000. . Mubasysyir H. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Sumali MA. Yuliarsih. 1999. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Pendidikan Kesehatan: Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar. 1989. Tjitarsa IB. Fortworth: Rinehart and Winston. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

LAMPIRAN .

4 n 37 54 43 29 5 0 Jarak Dekat % 66.4 94.93 n 12 54 53 42 56 7 32 Cara Pelayanan Baik % 21.9 26.5 53. 10.3 92.9 92.2 83. 3.5 94. 9.6 25 44.93 0 12.7 14. 8.8 12.9 0.1 7. 4.8 8.36 8.0 62.9 64.4 3.9 10.6 25 48 43 32 39 54 49 53 52 48 23 44.1 100 n 39 55 47 36 9 4 Daya Jangkau Mudah % 69.4 96.7 41.9 Lampiran 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi.3 4 24 15 7 4 7 25 7.6 67. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan zat gizi? Zat-zat gizi apa saja yang dibutuhkan oleh tubuh? Apa zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan anak? Apakah ibu dapat menyebutkan jenis pangan yang termasuk sumber karbohidrat? Dapatkah ibu menyebutkan kelompok bahan pangan mana yang banyak mengandung zat gizi protein hewani? Apakah ibu dapat menyebutkan susunan menu yang baik? Dapatkah ibu menyebutkan jenis makanan sumber zat besi? Apa nama kondisi ibu jika selama masa kehamilan ibu mengalami pusing. 11. 5.1 Kurang n 1 2 3 2 0 6 1 % 1.8 51.1 96.0 0.2 48.8 3.5 5.4 87. 13.57 23.9 85.4 100.9 3.0 100.4 19.1 12.3 16.6 0.2 64.1 73.6 n 25 0 0 35 30 45 % 44. jarak dan daya jangkau Jenis Pelayanan Kesehatan n Praktek Dukun Paraji Posyandu Puskesmas Praktek Bidan Klinik/Balai Pengobatan Rumah Sakit 31 56 56 21 26 11 Kunjungan Tidak Pernah pernah % 55.9 100 10.0 n 19 2 13 27 51 56 Jauh % 33. 14. 12.6 0 11 1.4 1. 6.6 96.6 5.8 Lampiran 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban pengetahuan gizi No 1.6 Kemudahan Dihubungi Mudah n 8 35 53 38 56 6 28 % 14.4 76.93 37.1 n 17 1 9 20 47 52 Sulit % 30.Lampiran 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaann pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan. 7.7 83.5 94.6 75 100 12.8 16.7 76.5 8.1 69.1 57. cepat lelah dan lesu? Garam dapur yang bagaimana yang baik untuk digunakan? Apa yang terjadi pada bayi yang dilahirkan apabila selama masa kehamilan terjadi kekurangan zat besi? Apa akibat yang ditimbulkan bila anak kekurangan makan dalam jangka waktu yang lama? Apa akibat dari makanan dan minuman yang tidak bersih? Bagaimana cara yang baik dalam mempersiapkan botol atau tabung susu bayi? Sampai umur berapa sebaiknya bayi diberi ASI saja? Jawaban Benar n % 43 76.6 80.5 7.1 42.3 62.5 44.6 98.6 92.5 57.6 85.0 37.5 46.8 57.8 30 53.1 .7 50 n 5 21 3 5 0 7 5 Sulit % 8.1 35. 2. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan Petugas Gizi dan Kesehatan Dokter RS Dokter Puskesmas Bidan Puskesmas Bidan Desa/Praktik Bidan Kader posyandu Mantri Dukun Paraji Informasi Gizi Tidak Pernah Pernah n % n % 9 32 41 36 52 6 8 16.2 91.

1 kali/hari c. 16.6 43. 17. 20.6 91. 1 kali/minggu b. 3.0 5. .0 14.1 2.6 94.1 92. 12.2 0 7. Tidak b. Tidak pernah b.0 77. Sejak anak berusia > 2 tahun b.9 33.9 77. 9.3 1. 5.4 19. Kadang-kadang c.6 96.8 7. Selalu n 0 45 11 0 3 53 16 10 30 25 19 12 16 3 37 44 5 7 44 11 1 4 8 44 0 4 52 12 36 8 0 0 56 3 2 51 % 0.2 19. ≥ 2 kali/hari Apakah anak dibiasakan menggunakan handuk bersih yang sama (tidak gonta-ganti) setelah mandi? a.4 96.6 28.3 64. Ya.3 77. 8. ≥ 3 kali/minggu Apakah anak setiap keramas menggunakan sampo? a.6 0.8 12.4 64. Kadang-kadang c. 1 kali/hari c.4 94. Tidak pernah b.0 5. Selalu Apakah anak dibiasakan menyisir rambut? a. Pertanyaan Pada usia berapa anak boleh diberikan makanan seperti orang dewasa? Apa yang dimaksud dengan diare? Apa yang ibu lakukan ketika anak mengalami diare? Kemana ibu biasa membawa anak berobat saat mengalami diare? Apa yang ibu berikan saat anak mengalami diare? Apakah kegunaan sabun yang dipakai saat cuci tangan? Jawaban Benar n % 46 40 53 53 54 54 82. Tidak b. Kadang-kadang c. Tidak pernah b. 4.No 15. Kadang-kadang c. 1 kali/hari b. 19. Selalu Berapa kali anak dibiasakan keramas setiap minggu? a. Ya.0 0. 6.4 Lampiran 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan No 1. Kadang-kadang c. 18.0 80.1 71.4 3. Ya. 2 kali/hari c. Ya.3 14.3 0. Tidak pernah b. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setiap hari? a. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap menggosok gigi menggunakan pasta gigi? a.2 8. 2-3 kali/hari c. ≥ 3 kali/hari Apakah anak setiap mandi menggunakan sabun mandi? a. Ya.9 21.4 94. Kadang-kadang c. ≥ 2 kali/hari Sejak kapan ibu membiasakan anak menggosok gigi? a. 11. ≥ 4 kali/hari Apakah anak dibiasakan mengganti pakaian setelah mandi? a. Pola Asuh Kesehatan Berapa kali anak dibiasakan mandi setiap hari? a. 10.1 5. 1 kali/hari b.5 52. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi sebelum tidur? a.1 17. Ya. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setelah makan? a. 2 kali/minggu c.1 28. Tidak pernah b. 7. Tidak pernah b. Sejak anak berusia 1-2 tahun c.3 21. Ya.0 100.

Tidak pernah b. 23.9 46./WC.0 10.4 64. Ya. Tidak pernah b.3 0.1 39.2 21. 16. Sejak anak berusia 1-2 tahun c. Kadang-kadang c.3 14. Selalu Sejak kapan ibu membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan? a. Kadang-kadang c.5 5. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki sebelum tidur? a. Kadang-kadang c.3 16. ≥ 3 kali/bulan Apakah anak dibiasakan memakai alas kaki ketika bermain/berada diluar rumah? a.1 53. Kadang-kadang c. 1-2 kali/bulan c. Selalu Apakah anak dibiasakan buang air besar pada tempat semestinya (kakus. Tidak b.6 30.4 67.7 42. Selalu Apakah ibu mencegah anak bermain tanah? a.9 18.4 89. 19.No 13.8 87.9 26.7 7.6 58.8 16. Tidak pernah b.4 30.1 82. Tidak pernah b. Pola Asuh Kesehatan Apakah anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan? a. 20.0 28.6 71.4 32. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk menggunting kukunya setiap bulan? a. Kadang-kadang c. . Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih? a.0 23.4 3. 15. Tidak pernah b.8 30. Selalu Apakah anak setiap mencuci tangan setelah buang air besar menggunakan sabun dan air bersih? a.1 51. Kadang-kadang c. Selalu Apakah ibu meperbolehkan anak bermain tanpa memakai celana? a. Kadang-kadang c. Tidak pernah b. 6 4 46 0 16 40 2 32 22 9 30 17 50 0 6 1 17 38 15 28 13 12 11 33 10.8 50. Sejak anak berusia > 2 tahun b. Kadang-kadang c.6 57. Selalu Apakah anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya? a. Tidak pernah b.1 10. 21. Kadang-kadang c. 24. Tidak pernah b. Tidak pernah b. Tidak pernah b. jamban)? a. Kadang-kadang c. 17.1 0.4 19. Selalu n 6 24 26 18 29 9 6 1 49 3 17 36 % 10. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki setelah bermain? a.7 1. Ya.7 1. 22.

004 r= 0.184 r= 0.026 p= 0.095 p= 0.311 PHBS ibu p= 0.013 r -0.177 p= 0.191 r= -0.154 p= 0.000 r= -615** Umur ibu p= 0.988 r= 0.059 p= 0.791 r= 0.897 r= -0.138 p= 0.258 r= 0.586 r= 0.134 r= 0.905 r= 0.330* p= 0.203 p= 0.334 r= 0.186 r= -0.370 r= -0.264* p= 0.036 p= 0.369 r= 0.576 r= 0.087 r= -0.531** p= 0.055 r= 0.179 p= 0.000 p= 0.293* p= 0.356 r= 0.440** Diare anak balita p= 0.000 r= 0.252 p= 0.008 r= -0.074 p= 0.002 p= 0.117 p= 0.023 p= 0.122 p= 0.384** Pengetahuan gizi ibu p= 0.485 r= -0.486 r= 0.180 p= 0.029 r= -0.095 p= 0.131 p= 0.112 p= 0.095 r= 0.108 p= 0.915 r= -0.286 r= 0.001 r= 0.000 r= 0.403 r= 114 p= 0.050 r= 0.052 r= -0.476 r= 0.203 p= 0.145 p= 0.122 p= 0.097 p= 0.310 r= 0.015 p= 0.222 p= 0.227 r= 0.164 Pola asuh kesehatan p= 0.655 r= 0.068 p= 0.231 p= 0.148 p= 0.228 r= 0.643 r= -0.076 Pendidikan ibu p= 0.126 p= 0.961 r= -0.063 p= 0.275 r= 0.061 r= 0.113 Status gizi (BB/TB) p= 0.292* Pola asuh makan p= 0.865 r= 0.164 p= 0.018 - Keterangan:** Signifikan pada α 1% * Signifikan pada α 5% .020 r= -0.000 r= 0.016 p= 0.428 r= 0.486** p= 0.391 r= 0.350** p= 0.134 r= 0.Lampiran 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel Variabel Umur contoh BBLR Status gizi (BB/TB) Status gizi (TB/U) Umur ibu Pendidikan ibu PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Diare anak balita Umur contoh BBLR p= 0.476** p= 0.408 r= 0.619 r= 0.100 r= -0.226 Status gizi (TB/U) p= 0.029 r= 0.007 p= 0.852 r= 0.999 r= 0.258 p= 0.413 r= 0.261 p= 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful