PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA

, DI DESA CIKARAWANG BOGOR

IMA MARYANA ULFAH

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
IMA MARYANA ULFAH. Clean and Health Behavior, Nutritional Knowledge, and Caring Pattern, of Which Its Relation with Diarrhoea in Five-Year Babies in Cikarawang Village, Bogor. Supervised by CLARA M. KUSHARTO and SITI MADANIJAH Five-year babies are susceptible group for health and nutritional troubles. Mostly (70-80%), diarrhoea patients are five-year babies and 1-2% from those patients have a risk to experient dehydration. If they are not being help, they possibly will be die. Research general purpose is studied about the clean and health behavior, nutritional knowledge, and caring pattern of which its relation with diarrhoea in five-year babies in Cikarawang village, Bogor. Research design is Cross Sectional Study. Location of research is selected in purposive. Number of example is 56 five-year babies. Data is analysed descriptively and inferensia by Spearmann’s correlation test. Result of research shows that approximately half of examples (46,4%) suffers from diarrhoea. Nutritional status (p<0,05) and age from examples (p<0,01) have negatively and significantly correlation with diarrhoea. Environmental sanitary landfill--distance between water source and septic tank is less 10 m-- and dismissal of garbages are conditions that cause high case of diarrhoea. Mother who did not give exclusive ASI also causes infected diseases as diarrhoea. Self hygiene of five-year babies, accustoms to clean hand before eating and after, accustoms in bathroom, and wear sandals when out of the house must be considered to be not easy to come down with diarrhoea. Key words : diarrhoea, five-year babies, nutritional status, exclusive ASI, environmental sanitary

RINGKASAN
IMA MARYANA ULFAH. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pengetahuan Gizi, dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang, Bogor. Dibimbing oleh CLARA M. KUSHARTO dan SITI MADANIJAH. Diare merupakan salah satu contoh penyakit infeksi, sehingga akan menular. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Anak balita merupakan kelompok penduduk pasif dan rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makannya. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang, Bogor. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik anak balita, (2) Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita, (3) Mengidentifikasi karakteristik keluarga, (4) Mengidentifikasi PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, (5) Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita, (6) Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, dan (7) Menganalisis kaitan antara PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang, Bogor pada bulan Desember 2007 sampai April 2008. Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur), status gizi dan kesehatan anak balita, karakteristik keluarga (besar keluarga, umur, pendidikan, pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga), PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS. Data-data tersebut diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for window versi 11,5. Keterkaitan antar variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 46,4% anak balita mengalami diare selama tiga bulan terakhir. Lebih dari separuh anak balita (66,1%) adalah perempuan. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30,2±11,7 bulan. Proporsi terbesar umur anak balita (39,3%) berkisar antara 24-36 bulan, sisanya berumur ≤23 bulan (32,1%) dan berumur ≥37 bulan (28,6%). Terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0,01) antara umur anak balita dengan diare. Sebagian

besar anak balita (96,4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2,5 kg) dan sebanyak 3,6% anak balita memiliki berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Berdasarkan indeks BB/TB dan BB/U, sebagian besar anak balita memiliki status gizi normal, sedangkan menurut indeks TB/U berstatus gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0,05). Sebanyak 91,1% anak balita mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Diare merupakan jenis penyakit ke tiga terbesar (46,4%) yang dialami anak balita selama tiga bulan terakhir setelah panas (71,4%) dan ISPA (73,2%) dengan frekuensi tertinggi yaitu 1-2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Lebih dari separuh responden (60,7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 5,3±1,8 orang. Proporsi terbesar umur baik ayah maupun ibu berturutturut sebanyak 39,3% dan 44,6% berkisar antara 20-30 tahun (dewasa muda). Rata-rata umur ayah yaitu 33,0±6,8 tahun dan rata-rata umur ibu yaitu 27,7±5,7 tahun. Proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35,7%) yaitu SLTA/sederajat dan ibu (51,8%) yaitu SD/sederajat. Proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta dan jasa angkutan (33,9% dan 28,6%) dan sebagian besar ibu (75,0%) tidak bekerja. Proporsi terbesar pendapatan perkapita perbulan keluarga responden (58,9%) adalah >Rp150 000.00. Proporsi terbesar responden (69,6%) memiliki PHBS kategori tinggi dan 30,4% kategori sedang. Proporsi terbesar responden (48,2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang, sisanya tinggi dan rendah (42,9% dan 8,9%). Sebanyak 71,4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan 28,6% kategori tinggi. Lebih dari separuh responden (55,4%) memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi dan 44,6% kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi ibu. Sedangkan umur ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai serta Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare anak balita. Selain itu, jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), membiasakan Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB, menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika ke luar rumah. Serta, pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan, personal hygiene, dan pelayanan kesehatan) dan pentingnya ASI eksklusif.

PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA. DI DESA CIKARAWANG BOGOR IMA MARYANA ULFAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT.

Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. MSc NIP 131 414 958 Dr. Dr. Clara M. Bogor Nama NIM : Ima Maryana Ulfah : A54104065 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. MAgr NIP 131 124 019 Tanggal Lulus: . Pengetahuan Gizi. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. MS NIP 130 541 472 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Siti Madanijah. Ir. Didy Sopandie. drh. Kusharto. Dr. Ir.

Pihak Desa Cikarawang. 6. MKes. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. Bogor”. Ikeu Tanziha. Dr. drh. Alhamdulillah.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah swt senantiasa penulis panjatkan. 3. Kusharto. Ir. MSc. Puskesmas Cangkurawok dan ibu-ibu kader Kampung Carang Pulang. . Prof. Clara M. 4. penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua keikhlasan bantuan yang telah diberikan. Ikeu Ekayanti. MS dan Megawati Simanjuntak SP atas arahan dan saran selama proses pengolahan dan analisis data penelitian. hidayah dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Dadang Sukandar. MSc selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan. Dr. Ir. sungguh luar biasa karena atas rahmat. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesejahteraan Rakyat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). yaitu kepada: 1. 2. Tien Herawati SP. 5. Oleh karena itu. arahan dan dukungan semangat yang luar biasa kepada penulis. Desa Cikarawang atas bantuannya selama proses pengambilan data penelitian. Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari dukungan beberapa pihak. Ir. Pengetahuan Gizi. Dr. SP. MS selaku dosen pemandu seminar dan Katrin Roosita. MSi selaku dosen penguji atas arahan dan saran yang diberikan. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. 7. Siti Madanijah. MS selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik yang dengan sabar dan penuh pengertian mendengarkan curahan hati serta memberikan bimbingan dan dorongan semangat yang luar biasa kepada penulis. Dr. Dr. Ir.

Kakang Rizki. Dede Aab serta keluarga besar di Cianjur atas semua kasih sayang. dan doa untuk keberhasilan penulis. Wisma JASMINE dan FAIRUSH terima kasih atas kebersamaan yang indah. Arina. Manto. Venny. Ari dan Gamasakers 41 atas bantuan. Vina dan Emil. Abah. Any. Dini. Sri. Lola. 43. saran. Rizka. teman-teman pameran PIMNAS XXI di Semarang. Yuli. temen seperjuangan KKP. dorongan semangat. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Ena. Ira. Henny. DausBek. MpokIde. kebersamaan yang indah dan keceriannya. 9. penghuni AS-SAKINAH. tumpangan kamar. Firdaus. Bung). Friska. Yulia. Noorma. teman-teman relawan Klaten. 11. Sahabat seperjuangan penulis Angelica Gabriel “My Beloved Friend”. 13. Sahabat-sahabat terbaik penulis Eka. 12. Dhyta. Teman-teman BUD Cianjur (Dini dan Ade). atas bantuan. 10. Yesa. Ardi. Noni. BKGers (Semangat yo). Mei. Tiche. OMDA CIANJUR. RHEMAND (Nda. Mama. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Agustus 2008 Ima Maryana Ulfah . Nur. Rika. perhatian. Once. Bogor. Dedew. Rekan-rekan pembahas Edo Rizky Fernando. dan Ibnu Akbar atas saran-saran yang telah diberikan untuk kesempurnaan penulisan skripsi. Ati. GMSK 39. Devita. Adin. curahan hati dan keceriaan sampai terselesaikannya skripsi ini. Maul. Bapak Mashudi dan Bapak Dian atas dorongan semangatnya.8. dukungan semangat. Teteh Milah. 40 dan GM 42.

Pada tahun yang sama penulis mengikuti PKM bidang ilmiah dengan judul “Kajian Keadaan Lingkungan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Sehat Keluarga di Kampung Carang Pulang. Pada tahun yang sama penulis pernah menjadi relawan pada “Posko Penanganan Tumbuh Kembang Anak Korban Gempa di Kabupaten Klaten” yang diadakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Serta. Cianjur dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kabupaten Cianjur. Tahun 2006-2008 penulis aktif dalam organisasi otonom yaitu Badan Konsultasi Gizi (BKG). Selain itu. Fakultas Pertanian. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Bogor” dan berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Semarang. Siti Romlah. Penulis merupakan putri ke dua dari empat bersaudara. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber. Hasan Mulyadi dan Ibu Hj. Tahun 2007 penulis mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang pendidikan dengan judul ”Reformasi Pendidikan dan Perubahan Kurikulum serta Aplikasinya terhadap Pembentukan Kualitas Bangsa Indonesia” dan lolos sebagai 10 besar terbaik di IPB. Divisi Dana Usaha dalam Seminar Konsultasi Gizi yang berjudul “Control Yourself From 3 Hypers (Hipertensi. Gizi dan Keluarga X (NPGK X)”. Tahun 2006 penulis pernah mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian dengan judul “Persepsi dan Sikap Mahasiswa Calon Bapak terhadap Pemberian ASI oleh Ibu kepada Bayi” yang berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi dalam Seminar Nasional “Nuansa Pangan. penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen FEMA. Hiperkolesterol dan Hiperglikemia)”. selama masa perkuliahan penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Pendidikan Gizi tahun ajaran . Penulis memilih Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK). 2007/2008.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 02 Maret 1986 dari ayah H. Desa Cikarawang. Tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan terlibat dalam tim pameran PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA).

................... 54 Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS.................... 16 Pola Asuh .................................. 47 Pola Asuh Makan.................................................................. 6 Karakteristik Keluarga ..............................................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL...................................................... 18 KERANGKA PEMIKIRAN.................. 29 Karakteristik Keluarga Contoh............................................................................................................................................ 3 TINJAUAN PUSTAKA ....... Tempat dan Waktu ............... 26 Keadaan Umum Daerah Penelitian ......................................................................................................................................... 35 Pengetahuan Gizi .................................................................................................................................................................................... 45 Pola Asuh ....................................................... 9 Pengetahuan Gizi ............................. 1 Latar Belakang ................................................... 1 Tujuan...................... 22 Disain................................................................................................................................................................................ 19 METODE PENELITIAN ...................................................... 22 Definisi Operasional .................................................................................................................................................. 17 Pola Asuh Kesehatan ........................................... 2 Hipotesis...................................................................................................................................... 7 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)........................................................................................................................................................ 16 Pola Asuh Makan.............................. 21 Jenis dan Cara Pengumpulan Data.. viii DAFTAR LAMPIRAN..................................................... 24 HASIL DAN PEMBAHASAN .............................. vi DAFTAR GAMBAR ................................................................... 4 Karakteristik Anak balita ......... 21 Pengolahan dan Analisis Data .......... 5 Penyakit Diare ........................................................................ 51 Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita....................................................................................................... 28 Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita ............................................................................ 32 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)..................................................................................................................................................................................... 4 Status Gizi dan Kesehatan Anak balita ........................................................................................................................... 21 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ............... 26 Karakteristik Anak Balita....................................................................................................................... 3 Kegunaan Penelitian ..................................................................... 47 Pola Asuh Kesehatan .......................................... ix PENDAHULUAN .. Pengetahuan ..........

..... 56 Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita ....................................................................................................................... 57 Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita......... 60 Kesimpulan.................. 60 Saran ...... 58 KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 56 Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita .............. 66 ................................................................. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan..................................................................................................Gizi....... 55 Kaitan antara PHBS........... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ....................................... 61 DAFTAR PUSTAKA ...... Pengetahuan Gizi............................................................. 62 LAMPIRAN ................ 58 Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ..............................................

................ 26 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin............... 41 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL ........................................................................... 30 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit.................................................. 33 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan... umur dan berat badan lahir..................................... 36 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang.................................................... 37 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan responden ....... 46 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan ...................... 34 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan.......................... 28 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi........................................................... 40 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah........ 21 Cara pengolahan dan analisis data ..................................................................................................................DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis dan cara pengumpulan data ......... 45 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi ........................................................................... 32 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga ....................................... 42 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal membantu persalinan .................................. 38 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air ............................................................ 40 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban............ 27 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin...................................... 44 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB.... 45 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS ................ 31 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit.............................. 37 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat. 32 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur........... 42 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan . 34 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan .............. 31 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit ..................... 23 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya............................ 29 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir............................................................................................................. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit....................................... 35 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene ......................................................

............ 47 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita............................................................................................................................ 51 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan ......................................................................... 56 40 Kaitan antara pengetahuan gizi responden dengan diare anak balita ........ 49 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita........... 50 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan..................................................................................................................................... 46 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita ......................................................... 58 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita............................ 53 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita ....responden ................................................................... 48 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita........ 55 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita ...... 57 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita ........... 58 .......... 54 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita ...................................................................... 54 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS ............................

................. Pengetahuan Gizi. 20 ..........................DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum ........... 10 2 Kerangka Pemikiran PHBS....... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Kaitannya dengan Diare Anak Balita ...

70 ............................................. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan .................... ........ jarak dan daya jangka ......................DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan............................... 68 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel ................................ 67 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi...... 67 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan........... 67 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban benar pengetahuan gizi ...............................

kulit dan hepatitis A (Cairncross dan Feachem 1993 diacu dalam Irianti et al. Selain itu. Badan Amerika Serikat untuk bantuan pembangunan internasional (U. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam . AID) telah merangkum hasil dari berbagai penelitian mengenai dampak perbaikan keadaan air bersih dan sanitasi di negara-negara sedang berkembang yang menyatakan bahwa perbaikan kualitas dan kuantitas air bersih dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 37%. 2002). Contoh perilaku tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan.S. Dampak kesehatan lingkungan yang buruk adalah tingginya angka kesakitan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water related diseases) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tinja (excreta-related diseases) sepert diare. dan perilaku terhadap upaya kesehatan. 2002). Anonymous (2000) diacu dalam Sari (2004) menyatakan bahwa yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman atau perumahan. serta air dan udara yang bersih. pelayanan kesehatan (10%). faktor lingkungan dan perilaku hidup sehat sangat mempengaruhi derajat kesehatan. ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan (BPS 2002). sekolah dan tempat umum. perilaku hidup sehat (40%). kebersihan perorangan.PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. gaya hidup. Dari keempat faktor tersebut. Serta perbaikan pembuangan tinja dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 22% (World Bank 1992 diacu dalam Irianti et al. sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih pun sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi. dan keturunan (20%). Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lingkungan (30%). tempat kerja. Menurut Henrik L.

diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). dan sosial. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan (Marotz et al. Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan. secara umum lebih dari dua juta anak meninggal akibat diare setiap tahunnya. Masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007). merawat anak. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Kosek et al. Di Indonesia. Dalam hal ini. memberikan makan anak. 2005). Mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. Bogor. kebersihan anak. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebesar 42-47% (Curtis dan Cairncross 2003 diacu dalam Rimbatmaja 2007). penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai aspek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). . diare adalah pembunuh anak balita nomor dua terbesar setelah ISPA (Rimbatmaja 2007). mental. pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. pengetahuan gizi dan pola asuh yang diduga menyebabkan terjadinya diare pada anak balita.dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Tujuan Tujuan Umum Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

pengetahuan gizi. Terdapat kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. 6. Menganalisis kaitan antara PHBS. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. 3. 2. 7. 5. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pengetahuan gizi. Terdapat kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. Serta bagi masyarakat Desa Cikarawang khususnya. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dan bahan masukan untuk menyusun kembali perencanaan dan strategi dalam penentuan kebijakan. 3. pengetahuan gizi. . Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada instansi terkait khususnya Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menindak lanjuti perihal yang menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Mengidentifikasi PHBS. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita.Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk : 1. Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. Terdapat kaitan negatif antara PHBS. Mengidentifikasi karakteristik anak balita. supaya lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk keberlangsungan hidup yang berkualitas. Mengidentifikasi karakteristik keluarga. Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita. 4. pengetahuan gizi. 2. Hipotesis 1. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. pengetahuan gizi. Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita.

maka mereka memiliki keistimewaan karena memperoleh pekerjaan rumah tangga yang lebih sedikit dibandingkan yang perempuan serta diberi kesempatan untuk mengabaikannya (Hurlock 1982). kebiasaan. . Berat Badan Lahir Bayi yang dilahirkan prematur atau dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terhadap mortalitas dan morbiditas akut dalam jangka panjang (Alberman 1994 diacu dalam Rahayu 2006). selama tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi. Orang tua harus dapat meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai isu lingkungan yang kompleks serta pengaruhpengaruhnya (Marotz et al. Akan tetapi. dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama. Bayi BBLR mortalitasnya lebih tinggi. Orang tua harus dapat memanfaatkan rasa ingin tahu anak dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan masalah kesehatan. Umur Menurut Hurlock (1982) sikap. pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi dengan berat badan lahir cukup (Alisyahbana 1983 diacu dalam Firlie 2001). Sedangkan jika anak yang lahir pertama kali adalah anak laki-laki. Pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. 2005). sangat menentukkan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian. Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling ideal untuk mulai memperkenalkan kepada anak tentang perilaku-perilaku dasar yang berhubungan dengan gaya hidup sehat. keselamatan dan gizi. gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental dan intelektual yang lebih tinggi dengan berat badan lahir normal (Utomo 1998 diacu dalam Firlie 2001). daya tahan terhadap penyakit lebih rendah.TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin Anak perempuan khususnya anak sulung diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adiknya.

Lebih lanjut Riyadi (2001) menyatakan kenaikan berat badan tiap bulan adalah indikator kesehatan anak yang paling peka. dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. maka indeks ini merupakan ineks kekurusan (wasting). . tinggi badan menurut umur (TB/U). Oleh karena itu. salah satunya dengan antropometri. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Indeks BB/U mampu menggambarkan status gizi pada saat kini. Riyadi (2001) menyatakan status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. Menurut Riyadi (2001) tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang mengambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Status gizi anak dinilai dengan mengunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). Status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk dan biasanya dapat dilihat melalui indikator angka kesakitan yaitu persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu. Indeks ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi underweight dan overweight. Indeks TB/U mengambarkan status gizi masa lalu (stunting). Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi (BPS 2002).Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita Menurut BPS (2002) aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk yaitu status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi. penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. Menurut Riyadi (2001) berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberi gambaran tentang masa tubuh (otot dan lemak). Indeks BB/TB dapat memberikan gambaran proporsi BB relatif terhadap TB. berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini. berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan bila dibandingkan tinggi badan. Karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan mendadak seperti penurunan nafsu makan dan terserang penyakit infeksi.

(2002d) diare adalah suatu kondisi buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer. Sedangkan diare akut adalah diare yang timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari. yang terjadi lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari). Penggunaan air yang sudah tercemar juga dijadikan media pencemaran penyakit diare. menggunakan sumber air yang tercemar. menurut Dinkes (2003) penyakit diare juga dapat ditularkan melalui beberapa cara diantaranya pemakaian botol susu yang tidak bersih. sehingga akan menular. cacing. Ditinjau dari sudut patofisologi. Penyakit diare dapat menular apabila adanya kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti pada makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi baik oleh serangga maupun tangan yang tidak bersih. bakteri. Selain itu. lalat) atau oleh tangan yang kotor. protozoa). Suharyono (1988) diacu dalam As’ad (2002) penyebab prevalensi yang tinggi dari penyakit diare di negara yang sedang berkembang yaitu kombinasi dari sumber air yang tercemar. Penyebab diare diantaranya yaitu virus. Vibrio cholera (5%). apalagi air yang digunakan tidak dimasak sampai mendidih terlebih dahulu. Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya. penyebab diare akut yaitu: . buang air besar bukan pada tempatnya dan pencemaran makanan oleh serangga (kecoa. parasit (jamur. keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia.4-36. bahkan dapat berupa air saja. Salmomella (5-18%). alergi terhadap susu.6%). Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar juga ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). Kuman-kuman tersebut ditularkan secara faecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Menurut Latifah et al. Kuman yang paling sering menjadi penyebab diare akut pada anak yaitu Rotavirus (30. defisiensi zat gizi yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. kurang gizi dan daya tahan tubuh rendah (Saroso 2007). Diare ada dua jenis yaitu diare akut dan diare kronis. Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada anak yang lebih besar (Suharyono 1988 diacu dalam As’ad 2002). coli (20-30%). dan Shigella (2-5%).Penyakit Diare Penyakit diare merupakan penyakit infeksi. E.

Kekurangan kalori protein dan mineral . kuman-kuman patogen dan apatogen . makanan yang pedas. makanan yang terlalu asam). Selain itu. hawa dingin. Hal ini disebabkan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga.Hiperperistaltik usus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). Diare osmotic (Osmotic diarrhea) yang disebabkan oleh: . Kematian diare akibat dehidrasi (kehilangan banyak cairan tubuh) dapat dicegah dengan Oral Rehydration Therapy (ORT). Diare sekresi (Secretory diarrhea) yang disebabkan oleh: .Malabsorpsi makanan . alergi dan sebagainya. . karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonymous 1985 diacu dalam Harianto 2004).BBLR dan bayi baru lahir Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dengan dehidrasi. Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. 2. makanan (misalnya keracunan makanan. Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi.Infeksi virus. Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk.1.Defisiensi imun terutama Sig A (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan terjadinya pelipatgandaan bakteri atau flora usus dan jamur terutama Candida. gangguan syaraf. ORT dapat dilakukan dengan memberikan cairan (air) melalui mulut selama anak mengalami diare (Santrock 2002). Rumah . gangguan psikis (ketakutan. gugup).

Menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di luar rumah. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat (Sukarni 1989). pendidikan keikutsertaan pendidikan non formal dari orang tua dan anak-anak sangat penting dalam menentukkan status kesehatan. Pendidikan Orangtua Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. Umur Orangtua Orangtua muda terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik (Berg 1986). serta hygiene dan dalam kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga (Madanijah 2003). Pekerjaan Orangtua Pada masyarakat tradisional. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya Pengetahuan dan terhadap perawatan formal kesehatan. Umur ibu berkaitan dengan pengalaman ibu mengasuh anaknya dimana ibu yang relatif muda memungkinkan ibu kurang berpengalaman dalam mengasuh anaknya (Hurlock 1993). Dengan demikian. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006).yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan. fertilitas. Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan . biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga (Rahmawati 2006).

Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi (Hardinsyah 1997). akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Pada tingkat keluarga. kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. Hal ini tidak terlepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak yang selalu sehat (Khomsan 2005). serta pengobatan dan perawatan (Entjang 1985). karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). diantaranya pendidikan keluarga. dan lingkungan hidup (Entjang 1985). Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. rohani. kesehatan dan gizi balita. kesejahteraan ibu dan anak. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). Keluarga dengan pendapatan terbatas besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. Usaha kesehatan pokok (Basic Health Services) yang diajukan organisasi kesehatan sedunia (WHO) sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat diantaranya yaitu higiene dan sanitasi lingkungan. serta kualitas tumbuh kembang anak balita (Gunarsa & Gunarsa 1985). Pendapatan Orangtua Kondisi ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga lainnya. terutama bagi warga kelas ekonomi bawah. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. . Dengan demikian. manusia sebagai tuan rumah. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu penyebab penyakit. Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan. perawatan kesehatan dan pemeriksaan. Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2001).sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989). penurunan daya beli akan menurunkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan.

Kebijakan Indonesia sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Program PHBS adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan. perilaku sehat. Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. Menurut Depkes RI (2006) indikator PHBS antara lain mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.Masalah determinan kesehatan. 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. 1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010) (Manda et al. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat. menghuni rumah sehat. terutama pada aspek budaya perorangan. keluarga dan masyarakat. dan pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata. kelompok. menolong dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang tinggi (Sinaga et al. perilaku kesehatan (40%). lingkungan kesehatan (30%). cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar. makan dengan gizi seimbang. memiliki akses dan menggunakan jamban. Kependudukan/ keturunan Lingkungan kesehatan Derajat kesehatan morbiditas dan mortalitas Program dan pelayanan kesehatan Perilaku kesehatan Gambar 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum. 2005). memiliki akses dan menggunakan air bersih. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetik dan kependudukan (20%). 2006). menurut Henrik L. masyarakat yang sesuai dengan norma-norma kesehatan. . dan program dan pelayanan kesehatan (10%).

Aneka ragam makanan yaitu makan sebanyak 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan (Dinkes DKI Jakarta 2002). Usaha kesehatan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja). Higiene dan sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik. sosial. . menjaga kerja bakti dengan masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan. menjaga saluran air agar tidak mampet. Gizi Seimbang Perilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan. 3. dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. menyikat gigi. biologi.membuang sampah dan limbah pada tempat yang semestinya. dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan lingkungan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang 1985). memanfaatkan sarana kesehatan. Usaha kesehatan preventif dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1. sikap dan praktik keluarga yang mampu mengonsumsi makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan. Menurut Widyati & Yuliarsih (2002) kesehatan masyarakat dibagi menjadi dua yaitu kesehatan kuratif (penyembuhan penyakit). Usaha pengebalan atau imunisasi. hepatitis. menimbang balita setiap bulan. dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dan bebas dari pencemaran. ikut keluarga berencana dan lain sebagainya. memeriksakan kehamilan. Cara menjaga lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. pakaian bersih. diberikan saat balita (BCG. Usaha kesehatan perorangan (personal hygiene) yaitu mandi minimal 2kali sehari. dan folio) untuk mencegah datangnya penyakit 2. preventif (pencegahan penyakit). Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati & Yuliarsih 2002). MMR. persalinan ditolong tenaga kesehatan. Usaha higiene sanitasi adalah usaha kesehatan preventif (mencegah supaya tidak sakit). Higiene dan Sanitasi Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yg menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. olahraga dan lain-lain.

Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. Rumah Sehat Menurut Latifah et al. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik dilakukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. ayam. dan 3) sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur seperti bayam. pepaya. pisang. nanas (Dinkes DKI Jakarta 2002). singkong. 4. jagung. seng. dan kenyamanan manusia. teraso. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. sehinga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. Rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir lancar. jeruk. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya balita. telur. Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. 3. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. (2002b) rumah adalah tempat manusia berlindung dari panas terik matahari. kangkung. tahu. daging. 2. asbes gelombang. sawi. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. . ubi. hujan dan hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan (Dinkes DKI Jakarta 2002). daun katuk. 2) lauk pauk sebagai sumber zat pembangun seperti ikan. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. semangka.Kelompok bahan makanan tersebut adalah 1) makanan pokok sebagai sumber zat tenaga seperti beras. 5. tempe. kacang-kacangan. Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. daun singkong. diantaranya: 1. buncis. tegel atau semen. keamanan. mie. wortel. dan kayu atau bambu. kacang panjang. sirap dan nipah.

(1997) sumber air minum yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah. Syarat bakteriologis: air yang tidak mengandung penyakit. menurut Widyati & Yuliarsih (2002) air bersih dan sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. b.6. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Jika anggota keluarga ada empat orang. 3) wadah penampung air disertai dengan tutup dan sering dibersihkan. Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. 4) memasak air sampai mendidih sebelum diminum. maka paling sedikit harus ada satu kamar mandi. 5) menggunakan alat-alat minum yang bersih (termasuk gayung sebagai alat pengambil air harus bersih). Air bersih belum tentu dikatakan sehat. 7. air ledeng. 2) tangan dan tempat penampungan air bersih. Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut WC atau . Sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi minimum 10 meter dan dinding sumur 1 meter di atas tanah dan 3 meter dalam tanah serta harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar perembesan air dari sekitar tidak terjadi. tidak berwarna. dan tidak berbau. tidak berasa. karena menurut Entjang (1993) untuk memperoleh air minum yang sehat dapat diperoleh melalui 1) sumber air yang bersih. 8. Selain itu kandang ternak harus memiliki tempat penampungan kotoran. Sanitasi Air Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. dan mata air yang terlindungi. Menurut Subandriyo et al. sumur yang terlindungi. 2002b). Syarat fisik: syarat air yang dilihat dari fisiknya antara lain jernih. Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi dengan jamban atau WC (Water Closet). Syarat kimiawi: tidak mengandung zat-zat berbahaya seperti zat-zat racun atau zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. Selain itu. c.

2) air limbah yang berasal dari perusahaan atau pusat perdagangan (air buangan dari hotel. sumur penampungan feses dan lubang resapan. juga mengandung lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit (Latifah et al.kakus. Sampah Sampah adalah segala sesuatu yang tidak terpakai lagi dan harus dibuang. Bahaya sampah yang tidak ditangani dengan baik mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. Sumber air limbah yaitu 1) air limbah yang berasal dari rumah tangga (air dari kamar mandi. Jangan membiarkan sampah terlalu lama pada tempat pengumpulan sampah dan sebaiknya tidak melebihi 3x24 jam (Widyati & Yuliarsih 2003). Kotoran-kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan (Depkes RI 1995 diacu dalam Amperansyah 1999). Menurut Sukarni (1989) sarana pembuangan kotoran harus memenuhi persyaratan yaitu bangunan jamban harus mempunyai rumah kakus. pabrik cat. pabrik baja. pijakan kaki. 2002c). pabrik kertas. air bekas mencuci pakaian). pabrik kimia). (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. 2002c). Tempat yang dijadikan pembuangan sampah harus jauh jaraknya dari pemukiman. Tinja dari jamban dalam kamar mandi harus disalurkan melalui pipa dan ditampung di tangki septik (Latifah et al. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. . Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. air buangan dapur. tidak boleh mengotori sumber air minum seperti mata air atau sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci serta tidak pada tempat yang sering terkena banjir (Latifah et al. lantai yang disemen. tidak pada tempat yang sering digunakan orang untuk lalu lintas. Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Menurut Latifah et al. dari restoran dan dari kolam renang). 2002a). dan 3) air limbah yang berasal dari industri atau pabrik (air buangan dari pabrik tahu dan tapioka. dari pabrik tinta. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. kloset (lubang tempat masuk feses).

2002c). pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak dan belum seluruh Puskesmas dipimpin oleh dokter. jarak fisik dan sarana perhubungan yang tidak lancar antara pusat pelayanan kesehatan dengan tempat tinggal penduduk. Menurut BPS (2005) pada tahun 2005 secara umum persalinan . maka pelayanan kesehatan tersebut akan mahal. secara ekonomis. Ada dua jenis sistem pembuangan air limbah yaitu menyalurkan air limbah tanpa diolah sebelumnya dan menyalurkan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. pembuangan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. antara lain sistem pelayanan yang ada selama ini belum diterima oleh masyarakat. 2002c). Menurut BPS (2002) fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan oleh penduduk desa untuk berobat adalah Puskesmas. sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin.Syarat-syarat pembuangan air limbah diantaranya tidak mengotori sumber air bersih. Hal ini menurut Sukarni (1994) disebabkan oleh beberapa hal. tidak menjadi tempat berkembang biak serangga perantara penyakit (lalat dan nyamuk) dan tidak menimbulkan bau dan merusak pemandangan (Latifah et al. biasanya digunakan untuk membuang air limbah yang berasal dari industri/pabrik dan peternakan atau rumah pemotongan hewan (Latifah et al. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat belum optimal. petugas kesehatan dan praktek dokter. Berdasarkan hasil penelitian Sirajudin (1981) diacu dalam Herman (2005) masyarakat lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. Sedangkan. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat tergantung oleh keadaan ekonomi. Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua yaitu pelayanan kesehatan tradisional dan pelayanan kesehatan modern. oleh karena itu sulit memenuhi tiga syarat tersebut. lokasi pusat-pusat pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak atau lebih banyak berada di kota-kota besar. Untuk memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keterjaminan mutu. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat pendapatan perkapita keluarga. Penyaluran air limbah tanpa diolah dapat dilakukan dengan menggunakan tanki septik dan sistem riol.

diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau tenaga bukan medis lainnya. dan mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut (Dinkes DKI Jakarta 2002). terutama bayi. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Cicely William diacu dalam Berg (1986) melaporkan studi di Afrika Barat bahwa gizi kurang tidak terjadi karena kemiskinan harta. mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. Persalinan oleh dokter. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan yaitu mengikuti perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa balita. pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. bidan dan tenaga medis lainnya. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Pengetahuan Gizi Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan adalah hasil dari tahu. mencegah ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata dan telinga. balita dan ibu hamil. Kegunaan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita. . akan tetapi disebabkan oleh kemiskinan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan keluarga khususnya anak-anak.balita ditolong oleh tenaga medis diantaranya oleh dokter. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nutrition Assesment Educational Project di Washington (1999) diacu dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa rendahnya perhatian terhadap masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan atau pemahaman tentang gizi yang baik. mencegah memburuknya keadaan gizi. Mendidik menyangkut pola ajar (proses sosialisasi). Pola Asuh Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi.

memberikan makan anak. Masalah makan pada anak dapat terjadi karena anak meniru pola makan orang tuanya yang makan pada saat menjalani diet untuk menurunkan berat badan (Khomsan 2004). Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada anak balita yaitu gizi anak. imunisasi. stimulasi dini. Pada usia pra sekolah. kebersihan anak. maka ibu dengan mudah memberikan makan kepada anaknya dan dapat merasakan bahwa situasi waktu makan adalah saat-saat yang mambahagiakan (Tambingon 1999). mental. Marotz et al. Menurut Hurlock (1982) penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan (Hardinsyah & Martianto 1992). Hikmat & Soemartono 2000 diacu dalam Adnyadewi 2004). Membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran kepada anak mengenai isu-isu lingkungan. Dalam hal ini. Pola asuh dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Pola Asuh Makan Pola asuh makan adalah praktik yang diterapkan ibu khususnya yang berkaitan dengan situasi dan cara makan. dan sosial. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) pada usia anak di bawah lima tahun merupakan masa yang . keluarga berencana. sanitasi lingkungan dan lainnya (Soendjojo. perumahan. kesehatan anak. melalui berbagai bentuk interaksi antara ibu dan anak.pengertian dan perasaan serta keterampilan dan pengetahuan. merawat anak. (2005) menyatakan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. anak-anak sering mengalami fase sulit makan.

Oleh karena itu. hal ini terlihat dari banyaknya orang yang terkena penyakit karena tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995 diacu dalam Rahayu 2006). Menurut Khomsan (2004) orang tua yang pilih-pilih makanan (picky eaters) dan tidak suka sayur secara tidak langsung akan menyebabkan anak berperilaku makan seperti orang tuanya. Ketika anak sedang makan. suasana makan haruslah menyenangkan sehingga anak tidak seperti pesakitan di meja makan. Sedangkan ayah berperan dalam hal interaksi sosial dan mengajarkan norma budaya kepada anak baik laki-laki maupun perempuan yang ada di lingkungannya (Santrock 2002).tergolong rawan. artinya sangat tergantung dari diri sendiri yang praktiknya harus diketahui. kondisi fisik masih lemah. kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. orang tua jangan terlalu banyak memberi nasehat. Pola Asuh Kesehatan Menurut Rahayu (2006) pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena ia belum sanggup untuk merawat dirinya sendiri. perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. Anak balita yang tidak terawat baik fisik maupun makanannya akan mudah terserang penyakit. Mengingat bayi dan anak adalah individu pasif. Pendidikan dan kekuasaan orang tua mampu meningkatkan kemampuan pengasuhan dan perawatan anak dengan lebih baik dalam suatu keluarga (Aronson 1991). maka penjagaan kesehatannya merupakan tanggungjawab individu dewasa di sekitarnya. Selain itu. dimengerti. Ibu berperan secara konsisten bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan perawatan fisik anak. . Anak seyogiayanya diberi kesempatan untuk memilih makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari orangtua. Perawatan kesehatan anak balita akan mempengaruhi tingkat morbiditasnya. Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. terutama oleh orang tuanya (Depkes RI 1997 diacu dalam Rahayu 2006). Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. Higiene diri adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis. dan dilaksanakan oleh setiap individu (Suklan 2000 diacu dalam Rahayu 2006). Higiene diri sangat penting diketahui dan dipraktikan oleh setiap orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat.

Anak balita yang tidak terawat baik fisik mapun makannya akan mudah terserang penyakit infeksi contohnya diare. PHBS yang disertai dengan pengetahuan gizi yang baik mampu membentuk perilaku yang baik pula. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. perilaku kesehatan serta pelayanan kesehatan. rohani. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makan bagi anak balita. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetika dan kependudukan. . faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). Masalah kesehatan merupakan masalah yang komplek karena terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu. Menurut Henrik L. lingkungan kesehatan.KERANGKA PEMIKIRAN Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Penyakit diare yang diderita oleh anak balita akan mempengaruhi status gizinya. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan. Menurut Madanijah (2003) pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. Mengingat anak balita merupakan kelompok individu pasif dan merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. sehingga akan berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik. higiene dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. Dari keempat faktor tersebut. Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan.

Berat Badan Lahir Pola Asuh .Pekerjaan Orangtua .Umur Orangtua .Karakteristik Keluarga . pengetahuan gizi.Pola Asuh Makan . .Jenis Kelamin . pola asuh makan dan pola psuh kesehatan kaitannya dengan diare anak balita.Pendapatan Keluarga Pengetahuan Gizi Ibu Karakteristik Anak Balita .Umur .Pola Asuh Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu Status Gizi Anak Balita Diare Anak Balita Keterangan: = Variabel yang diteliti = Hubungan yang dianalisis Gambar 2 Kerangka pemikiran PHBS.Besar Keluarga .Pendidikan Orangtua .

pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga). pendidikan. umur. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Desa Cikarawang.Umur . timbangan injak dan mikrotoa Kuesioner 2 3 Primer Wawancara 4 Primer Wawancara Wawancara. Desa Cikarawang. Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data No 1 Variabel Karakteristik anak balita Status gizi anak balita Status kesehatan (diare anak balita) Karaktersitik keluarga PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh Lokasi penelitian Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Data . observasi Pengisian kuesioner Wawancara Monografi Desa Cikarawang Kuesioner 5 6 7 8 Primer Primer Primer Sekunder Kuesioner Kuesioner Kuesioner . Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008. Kabupaten Bogor. Kecamatan Darmaga. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang. status gizi dan kesehatan anak balita.METODE PENELITIAN Desain.Jenis kelamin .Berat badan lahir BB/TB BB/U TB/U Pernah/tidak sakit Frekuensi sakit Lama sakit Besar keluarga Umur orang tua Pendidikan orangtua Pekerjaan orangtua Pendapatan keluarga Jenis data Primer. Tempat dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional study yaitu data diambil pada waktu tertentu secara bersamaan. Berdasarkan Tabel 1 data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur). KMS Kuesioner. sekunder Primer Cara pengumpulan data Wawancara Wawancara dan antropometri Alat ukur Kuesioner. karakteristik keluarga (besar keluarga. Menurut Nasution (2003) jumlah sampel 10% dari total populasi dianggap cukup memadai dalam sebuah penelitian. Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai.

Selain itu, data primer juga meliputi PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS (Tabel 1). Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Program komputer yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for Window versi 11,5. Status gizi anak balita dikategorikan menjadi gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (zscore -2SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Sedangkan status kesehatan diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, jenis penyakit, frekuensi dan lama sakit selama tiga bulan terakhir (Tabel 2). Total skor PHBS dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu PHBS rendah (24-38), PHBS sedang (39-53) dan PHBS tinggi (54-67). PHBS aspek pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan, kunjungan ke pelayanan kesehatan, persepsi jarak, persepsi daya jangkau, akses terhadap sumber informasi, persepsi terhadap kemudahan petugas kesehatan, serta persepsi cara pelayanan petugas kesehatan disajikan dalam bentuk deskriptif (Tabel 2). Pengetahuan gizi dinilai dengan pemberian skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Menurut Khomsan (2000) jawaban pengetahuan gizi diklasifikasikan ke dalam 3 kriteria, yaitu pengetahuan gizi baik (>80%), pengetahuan gizi sedang (60%-80%) dan pengetahuan gizi kurang (<60%) (Tabel 2). Data pola asuh makan diperoleh dengan memodifikasi kuesioner dari penelitian yang telah dilakukan oleh Khairunnisak (2004) yaitu dengan memberikan 16 pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Data pola asuh kesehatan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup sebanyak 24 pertanyaan. Total skor dari pertanyaan tersebut dikategorikan

menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72). Tabel 2 Cara pengolahan dan analisis data
No Variabel Sub Variabel a. Jenis kelamin b. Umur (bulan) • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kategori ≤23 24-36 ≥37 (Turner & Helms 1991) BBLR (<2,5) Non BBLR (≥2,5) Gizi kurang (z-score <-2SD) Gizi normal (z-score -2SD-+2SD) Gizi lebih (z-score >+2SD) 1 2 ≥3 1-3 4-7 8-14 >14 Remaja (13-19) Dewasa muda (20-30) Dewasa madya (31-50) (Turner & Helms 1991) Kecil (≤4) Besar (>4) Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi Buruh tani/kebun Petani pemiliki Pedagang/wiraswasta Pegawai negeri/swasta Jasa angkutan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Ibu Rumah Tangga (IRT) Lainnya ≤Rp 100 000.00 Rp 100 001.00-150 000.00 >Rp 150 000.00 Rendah (24-38) Sedang (39-53) Tinggi (54-67) (Subandriyo et al. 1997) Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) (Khomsan 2000) Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) (Slamet 1993) Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (57-72) (Slamet 1993)

1

Karakteristik anak balita

c. Berat badan lahir (kg) 2 Status gizi anak balita BB/TB, BB/U, TB/U a. Pernah/tidak sakit b. Frekuensi sakit (kali/3 bulan)

3

Status kesehatan anak balita (diare)

c. Lama sakit (hari)

a. Umur orangtua (tahun)

b. Besar keluarga (orang)

c. Pendidikan orangtua 4 Karakteristik keluarga

d. Pekerjaan orangtua

e. Pendapatan keluarga

5

PHBS ibu

6

Pengetahuan gizi ibu

a. Pola asuh makan 7 Pola asuh b. Pola asuh kesehatan

Definisi Operasional Contoh adalah anak yang berada pada golongan usia satu sampai dengan lima tahun yang akan diamati status gizi dan status kesehatannya khususnya diare. Status gizi anak balita adalah kondisi kesehatan tubuh anak balita yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diperoleh dengan menggunakan metode antropometri. Indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB, BB/U, dan TB/U. Status gizi dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan perhitungan zskor yaitu gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (z-score -2 SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Status kesehatan anak balita adalah kondisi kesehatan (riwayat sakit) anak balita dalam tiga bulan terakhir yang meliputi jenis penyakit, frekuensi sakit (berapa kali sakit) dan lama sakit (dalam hari) dengan menggunakan kuesioner. Diare pada anak balita adalah kejadian buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari pada anak balita. Besar keluarga adalah banyaknya orang yang tinggal (hidup) di bawah satu atap yang sama dan makan dari satu dapur yang sama. Pendidikan orang tua adalah lama pendidikan formal (pendidikan terakhir) ayah dan ibu, diklasifikasikan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi (PT). Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dimiliki ayah dan ibu yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi buruh tani atau kebun, petani pemilik, pedagang atau wiraswasta, pegawai negri/swasta, jasa angkutan, Pembantu Rumah Tangga (PRT), Ibu Rumah Tangga (IRT). Pendapatan perkapita perbulan adalah jumlah pendapatan yang dinilai dengan uang (rupiah) perbulan yang dibagi dengan besar keluarga dan diklasifikasikan menjadi <Rp100 000.00, Rp100 001.00-150 000.00 dan >Rp150 000.00. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu adalah tindakan atau aktivitas ibu tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Berdasarkan

rumus interval total skor PHBS diklasifikasikan menjadi rendah (2438), sedang (39-53) dan tinggi (54-67). Pengetahuan gizi ibu adalah pengetahuan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan meliputi definisi dan fungsi zat gizi, sumber pangan dengan kandungan zat gizi tertentu, akibat defisiensi zat gizi, akibat mengonsumsi makanan yang tidak bersih, waktu pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, definisi dan pencegahan diare, serta penanganan saat anak balita mengalami diare. Pengetahuan gizi diklasifikasikan menjadi tiga menurut Khomsan (2000) yaitu baik (>80%), sedang (60%-80%) dan kurang (<60%). Pola asuh makan adalah cara dan kebiasaan ibu dalam memenuhi kebutuhan makan anak balita yang meliputi riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Pola asuh kesehatan adalah cara dan kebiasaan ibu memperlakukan anak balita dalam penerapan kebersihan diri dan perilaku kesehatan lingkungan. Total skor dari aspek pola asuh kesehatan yaitu 24-72 yang dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72).

0 0.0 11.35 2.0 0.HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian Berdasarkan data dasar profil desa tahun 2007/2008 luas wilayah Desa Cikarawang yaitu 225. . dan lain-lain). Sekolah c.070 52. Empang/tebat Total Sumber: Data dasar profil desa 2007/2008 Luas ha 0 25. Jalan i. bangunan-bangunan (sekolah. Sawah pengairan setengah teknis c. Tabel 3 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya Penggunaan Pertanian Sawah a. vihara.0 Batas wilayah Desa Cikarawang yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cisadane. Sawah tadah hujan d.260 18.32 8.007 0. dan lain sebagainya (Tabel 3). Perkebunan Negara c.0 0. Sawah pengairan teknis (irigasi) b. Perkantoran b. Pertokoan/perdagangan d.510 225.226 8 0 38. Tempat peribadatan (masjid. dll) g.455 75. perkantoran.0 0.54 0. 84 ha. Desa Cikarawang merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 700 m dpl. Pasar e. Jarak dari desa ke ibukota kecamatan adalah sejauh 3 km dan dapat ditempuh selama setengah jam. pura. gereja. perkebunan. Sedangkan dari desa ke ibukota kabupaten sejauh 35 km dan dapat dicapai selama dua jam. sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Ciapus. Kolam c.19 0. Perkebunan swasta Pemukiman Umum Bangunan a.016 0.073 2 0.0 16.075 0.0 0. yang dipergunakan untuk pemukiman umum.430 0 0 0 0. pertanian sawah. kuburan.800 4.88 0. Tambak b.03 0. Sawah pasang surut Perkebunan a. jalan. sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Cisadane-Ciapus dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situ Gede. Kuburan/makam h.18 0.925 0 0 0.86 0. Lain-lain Perikanan Darat/Air Tawar a. masjid. Terminal f.23 33.22 100.10 23.07 3.84 % 0. Perkebunan rakyat b.

tujuh Rukun Warga (RW) dan 32 Rukun Tetangga (RT). sisanya berada di Kampung Carang Pulang. Dusun I terdiri dari RW 1 dan 2. keluarga sejahtera II (300 KK). Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Cikarawang paling banyak berada pada golongan usia anak balita. sampai saat ini Desa Cikarawang telah memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang diperuntukkan bagi masyarakat secara umum di dua belas tempat. Kedua belas bangunan MCK yang dibangun tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan aparat desa. hanya sepuluh bangunan MCK yang sudah ditembok rapi dan sisanya belum ditembok. Jumlah penduduk Desa Cikarawang seluruhnya adalah sebanyak 8 175 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2 000 KK. dan keluarga sejahtera III (100 KK). Namun. Selain itu.Desa Cikarawang terdiri dari tiga Dusun. Kedua belas MCK tersebut dibangun berdasarkan bantuan pemerintah daerah Kabupaten Bogor (PKPS BBMIP) tahun 2005. Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya masyarakat . Dusun II terdiri dari RW 3 dan 4. 6 dan 7. keluarga sejahtera I (700 KK). Tabel 4 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin Umur (Tahun) 0-5 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 Jumlah Laki-Laki 443 408 392 379 389 398 304 311 261 215 183 158 189 144 4 174 Perempuan 515 366 389 369 374 378 285 288 251 193 160 141 147 145 4 001 Jumlah 958 774 781 748 763 776 589 599 512 408 343 299 336 289 8 175 Sumber : Data dasar profil desa 2007/2008 Penggolongan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga dibagi ke dalam empat kelompok yaitu keluarga pra sejahtera (900 KK). fasilitas penyediaan air bersih di Desa Cikarawang sebagian besar berasal dari sumur pribadi atau mata air pribadi. RW 1 dan 2 berada di Kampung Cangkrang. dan Dusun III terdiri dari RW 5.

5 Total n 19 37 56 18 22 16 56 2 54 56 % 33.3%) berkisar antara 24-36 bulan. Menurut Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) bayi dengan BBLR memiliki mortalitas lebih tinggi dan daya tahan terhadap penyakit lebih rendah serta pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi yang memiliki berat badan lahir cukup. mandi.0 3. Berat badan lahir anak balita berkisar antara 2-4 kg dengan rata-rata 3.3 28.1 39.6% anak balita memiliki Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat badan <2. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh anak balita (66.0 .1%) dan berumur ≥37 bulan (28.5 kg. Akan tetapi. Berdasarkan Tabel 5.4 kg. umur dan berat badan lahir Karakteristik Anak balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Umur (bulan) ≤23 24-36 ≥37 Total Berat Badan Lahir (kg) <2. Proporsi terbesar umur anak balita (39. cuci dan kakus. dan berat badan lahir.5 ≥2. Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari Puskesmas Cangkurawok bahwa proporsi anak balita yang berjenis kelamin perempuan di Kampung Carang Pulang lebih banyak dibandingkan laki-laki. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30.2±11.0 32.6 100.1%) berjenis kelamin perempuan.4 100. sebanyak 3.6 96. Karakteristik Anak Balita Karakteristik anak balita dalam penelitian ini menjelaskan mengenai jenis kelamin.1 100. sisanya berumur ≤23 bulan (32. Tabel 5 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.9 66.6%).7 bulan. umur.1±0.yang menggunakan air sungai/hujan/sumur dan mata air yang tidak terlindungi sebagai sumber air minum. sebagian besar anak balita (96.4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2.5 kg).

8 100.9%) memiliki status gizi yang tergolong normal.0 56 100.Status Gizi dan Kesehatan Anak balita Status Gizi Anak balita Berdasarkan perhitungan z-score indeks BB/TB pada Tabel 6 sebagian besar anak balita (92.2% berstatus gizi kurang (Tabel 6). sisanya 42. Riyadi (2001) menyatakan bahwa indeks BB/U sebagai indikator status gizi mampu menggambarkan status gizi pada masa kini. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini (Riyadi 2001).8%) termasuk ke dalam status gizi normal dan 23.9% berstatus gizi normal. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal.9 0 0.0 Indeks Antropometri BB/U TB/U n % n % 13 23.0 Status gizi erat kaitannya dengan penyakit infeksi. proporsi terbesar anak balita (57.1 43 76. penyerapan.8% berstatus gizi lebih. Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi.4% anak balita memiliki status gizi kurang dan 1.2 32 57. Tabel 6 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih Total n 3 52 1 56 BB/TB % 5. Berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan apabila dibandingkan tinggi badan.1%) termasuk ke dalam status gizi rendah. dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara.9 1. Berdasarkan indeks BB/U sebagian besar anak balita (76.0 0 0. salah satunya dengan antropometri. Menurut Riyadi (2001) dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur.0 56 100. Berbeda halnya dengan status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U. Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek dibandingkan dengan berat badan. Sisanya sebanyak 5.8 24 42.4 92. Hiswani (2003) menyatakan bahwa masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan . WHO (1983) diacu dalam Riyadi (2001) interpretasi status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.

Penyakit kulit yang dialami anak balita antara lain panu. Jenis penyakit yang paling banyak dialami anak balita selama tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 yaitu panas (71. perumahan.9% anak balita tidak mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Anak yang mengalami gizi kurang memiliki kesempatan lebih besar menderita penyakit infeksi terutama penyakit diare.1%) mengalami sakit dan hanya 8. Status Kesehatan Anak balita Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi. stimulasi dini. Aritonang (1996) dan Victoria et al (1999) diacu dalam Briawan & Herawati (2005) menyatakan kurang gizi adalah faktor pra kondisi yang memudahkan anak menderita penyakit infeksi khususnya infeksi saluran pernapasan dan diare. Anak-anak yang kurang gizi menyebabkan rusaknya sistem imun sehingga mudah terkena penyakit. ISPA (73.masalah penyakit infeksi. Tabel 8 menunjukkan bahwa penyakit yang tidak pernah dialami seluruh anak balita adalah campak. .1 8. Oleh karena itu. Tabel 7 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir Status Kesehatan Sakit Tidak Sakit Total N 51 5 56 % 91. imunisasi. keluarga berencana.9 100 Menurut Soendjojo. Menurut BPS (2002) status gizi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk. borok dan alergi terhadap beberapa jenis pangan seperti ikan asin.4%). kurap. Hikmat & Soemartono (2000) diacu dalam Adnyadewi (2004) untuk meningkatkan status kesehatan anak balita diperlukan suatu perhatian dalam hal gizi. kesehatan.2%) dan diare (46. bisul. status gizi yang baik akan mempengaruhi status kesehatan seseorang.4%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0. sanitasi lingkungan dan lainnya. Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa hampir seluruh anak balita (91.05).

0 0 0.6%).Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit Jenis Penyakit Panas ISPA TBC Campak Cacar Diare Kulit Lainnya n 40 41 2 0 3 26 6 2 % 71.0 19. Mandi minimal 2 kali sehari dengan menggunakan air bersih dan sabun merupakan salah satu cara agar terhindar dari penyakit kulit.4%) dan diare 1 kali (32.0 1 16.0 0 ≥3 % 30.0 0 100. Penyakit kulit erat kaitannya dengan kebersihan diri seseorang.0 14 35.7 3. ISPA 2 kali (30.5 1 50.0 5.0 0. sehingga yang bertanggungjawab dalam hal kebersihan diri adalah orang dewasa khususnya ibu dari anak balita.0 0 32.0 N 14 13 0 3 18 3 2 Tabel 10 menunjukkan sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu panas (57.0 0 0.6 0.2 17 30.7 2 100.3 0.7 0.4%) dan kulit (5.4%).4 46. diare (30.2 3.8 33.6 Frekuensi sakit anak balita selama tiga bulan terakhir cukup bervariasi.1%). Sedangkan frekuensi untuk jenis penyakit lainnya adalah 1 kali (Tabel 9). . tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya.0 0 0.0 12 23.1 7 12.4 11 0.4 73. Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya Frekuensi Sakit (kali) 1 2 % N % n 35. Sebagian besar anak balita menderita penyakit panas sebanyak 1-2 kali (35%).0 1.1%).4 10. ISPA (44. Anak balita adalah individu pasif.

4 0. Lama hari penyakit TBC lebih dari 14 hari. Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga Kecil (≤4 orang) Besar (>4 orang) Total n 22 34 56 % 39.3±1.8 1.1 44.6 14.8 Selain jenis penyakit di atas.0 1.8 n 7 13 0 1 8 2 0 Lama Sakit (hari) 4-7 8-14 % n % 12.0 0. Responden menyatakan untuk penyakit TBC.0 Puspitawati (2007) menyatakan keluarga merupakan salah satu lembaga sosial yang tidak dapat berdiri sendiri. TBC termasuk ke dalam jenis penyakit ISPA yang bersifat kronis.0 0.8 23.0 >14 n 0 0 0 0 0 1 1 % 0. frekuensi penyakit TBC tidak diikut sertakan dalam tabel frekuensi sakit (Tabel 9) dikarenakan penyakit tersebut sudah berlangsung cukup lama yaitu selama 32 hari dan saat penelitian dilaksanakan penyakit tersebut masih diderita kedua anak balita.8 3.0 30.4 1. Seorang anak akan memperoleh hubungan antar pribadi pertama kali dalam lingkungan .8 orang.5 1 1.7 100.0 0.7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. meso dan makro).0 0.0 0. Karakterisitik Keluarga Contoh Besar Keluarga Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3-10 orang dengan ratarata 5.2 3 5.0 1. Keluarga sangat tergantung dengan dan juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (mikro.0 0 0.3 1 1.0 0.3 60. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden (60.4 5.Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama hari sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya 1-3 N 32 25 0 0 17 3 1 % 57.8 2 3. kedua anak balita sedang melakukan pengobatan rutin sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter hingga benar-benar kedua anak balita tersebut dinyatakan sembuh.6 0.6 0 0. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.0 0 0.

Ayah n 18 22 16 56 % 32. Tabel 12 menunjukkan bahwa proporsi terbesar baik ayah (39.0 n 18 25 13 56 Ibu % 32. tingkat pendidikan ayah lebih tinggi dibandingkan dengan ibu. sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu.1 44.8 tahun. proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35.8%) yaitu SD/sederajat.0 . Secara keseluruhan tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu masih rendah karena keduanya masih banyak yang berpendidikan SD/sederajat dan hanya 3.3 28.6 100. Sedangkan umur ibu berkisar antara 19-47 tahun dengan rata-rata 27.3 100.6% ) berumur antara 20-30 tahun.0±6.7±5. Umur Orang Tua Umur ayah berkisar antara 23-50 tahun dengan rata-rata 33. terutama ibu. Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). sedangkan ibu (51.6 23. Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa muda (Turner & Helms 1991).7%) yaitu SLTA/sederajat.6% saja ayah dan 1. cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak. Menurut Hurlock (1993) orang tua muda.1 39. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989).7 tahun.8% ibu yang berpendidikan akademi/diploma/PT.3%) maupun ibu (44. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa besar keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi sedangkan menurut Suharini (1998) diacu dalam Madihah (2002) bahwa jumlah anggota keluarga yang besar disertai dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga menderita kurang gizi. Selain itu. Jumlah keluarga yang banyak dapat mempengaruhi kondisi gizi dan kesehatan dari anggota keluarga. Tabel 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Tabel 13.keluarga.

6 0. Sedangkan.8 0.5 1. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga.7 1.8 35.7 10. Oleh karena itu. Selain itu.4 100.0 Menurut Sukarni (1989) pendidikan orang tua akan menentukan status kesehatan.0 10.6 35.6%).0 100.Tabel 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Ayah n 18 16 20 2 56 % 32.0 5. Dengan demikian.7 3. menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di . dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimilikinya.0 Menurut Rahmawati (2006) pada masyarakat tradisional. fertilitas.0 0.9%) dan jasa angkutan (28. Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta (33. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa proporsi terbesar tingkat pendidikan ibu (51. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi daripada yang berpendidikan rendah.0 12. Tabel 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan Buruh tani/kebun Pedagang/wiraswasta Pegawai negri/swasta Jasa angkutan PRT IRT Lainnya Total Ayah n 10 8 19 16 0 0 3 56 % 17.1 28.9 28.3 33.0 0.0 n 29 20 6 1 56 Ibu % 51.8 100.0%) tidak bekerja atau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). sebagian besar ibu (75.8%) adalah SD/sederajat.7 75.9 14.6 100.0 n 0 7 1 0 6 42 0 56 Ibu % 0.

00±Rp106 712. Kebiasaan mandi minimal dua kali dalam sehari merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.9%) selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar serta melakukan aktivitas mandi dua kali setiap harinya.00 Total n 10 13 33 56 % 17.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas garis kemiskinan. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh responden (58.00 dan sebanyak 17.00 sampai Rp2 620 000.00±Rp597 650. Rata-rata pendapatan perkapita perbulan responden yaitu Rp210 113.9 100. Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga perbulan berkisar antara Rp300 000.00/kapita/bulan.00.00 dengan rata-rata Rp1 073 393.9% berpendapatan <Rp100 000.00.00-Rp150 000.00.00-150 000. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007).2 58. . Sukarni (1989) menyatakan bahwa pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan.0 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Higiene Tabel 16 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (58.3. Proporsi terbesar responden (55. Dengan demikian. lebih dari separuh responden (58.luar rumah.2% responden memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar Rp100 001. Menurut BPS (2005).9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar >Rp150 000.9. Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan (Rp/kap/bln) <100 000. garis kemiskinan untuk Kabupaten Bogor yaitu Rp150 000.00.4%) menggosok gigi dua kali setiap harinya.00 100 001.00 >150 000.9 23. Kebiasaan menggosok gigi merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari penyakit khususnya sakit gigi. Sebanyak 23.8.

0 32.0 55. 2 kali c. memasak sampai mendidih Membersihkan kamar mandi dalam seminggu a. ≥ 3 kali/hari Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari? a.9 41.6 0.0 58. Oleh karena itu.1 0.7 67. kadang-kadang c.1%). 3 kali Memasak air untuk minum a. salah satu cara untuk menurunkan tingkat kesakitan khususnya diare pada diminum.0 100.4% dan di kamar mandi umum sebanyak 10. dua kali (30. Menurut Suririnah (2007) air yang tidak dimasak sampai mendidih maka akan menjadi media pencemaran untuk penyakit diare. kamar mandi umum c. 1 kali b.1 30. Frekuensi responden membersihkan kamar mandi dalam satu minggu terlihat pada Tabel 16 yaitu satu kali (32.Tabel 16 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum.9%) melakukan aktivitas mencuci di kamar mandi pribadi.0 0.4 37. Lebih dari separuh responden (67. 2 kali c.4 10. tidak memasak air b.9 anak balita dapat dilakukan dengan membiasakan memasak air sampai mendidih sebelum . sungai b.5%). 1 kali/hari b. ya Kebiasaan mandi dalam sehari? a.7%.8 39. Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene PHBS aspek Higiene Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar a.4%) dan ≥ tiga kali (37. 2 kali/hari c. memasak tetapi tidak sampai mendidih c. kamar mandi pribadi n 1 22 33 0 33 23 0 31 25 0 0 56 18 17 21 12 6 38 % 1.4 44. dengan alasan agar terhindar dari penyakit khususnya sakit diare karena kuman dalam air tersebut mati. 1 kali b. akan tetapi masih ada responden yang melakukan aktvitas mencuci di sungai yaitu sebanyak 21.5 21. ≥ 3 kali Melakukan aktivitas mencuci a. Tidak b.3 58.9 0.

Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang PHBS aspek gizi seimbang Menu makan keluarga sehari-hari a.0 Mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik untuk keberlangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang.3 3. protein nabati. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.0 0.6 100.6 yang selalu menyediakan menu makan keluarga secara beragam (nasi. sayur dan buah Berdasarkan Tabel 18. besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh.0 0. protein nabati dan sayur.1 89. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. nasi. nasi.3 3.Gizi Seimbang Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 sebagian besar responden (89. Hanya 3.3%) menyatakan bahwa menu makan yang biasa disajikan untuk keluarga yaitu makanan pokok.0 3 28 2 33 9.0 100.00 >150 000. nasi.00 000.00 atau di atas garis kemiskinan menurut BPS Kabupaten Bogor tahun 2005. lauk pauk. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.1 100.0 90. sayur dan buah) adalah berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan >Rp150 000. sayur dan buah. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). protein hewani b. protein nabati dan sayur Nasi.00 N % n % n % 1 9 0 10 10.00-150 <100 000. lauk pauk.0 Total n 4 50 2 56 % 7.0 0 13 0 13 0. protein hewani Nasi. sayur c. Tabel 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan per kapita perbulan responden Menu Makan Keluarga Nasi.1 89.6% responden yang biasa menyediakan menu makan beragam yaitu nasi. sebanyak 6.8 6.1% n 4 50 2 responden % 7.1 84. sayur dan buah Total Pendapatan Perkapita Perbulan (Rp/Kap/Bln) 100 001. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang . Kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. Keluarga dengan pendapatan terbatas. lauk pauk.0 100. lauk pauk.0 100.

BPS (2004) menyatakan bahwa salah satu indikator rumah sehat menurut WHO adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 m2 perkapita. tidak ada b.6 60. (2002b) bahwa salah satu syarat rumah sehat yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah et al. tidak punya n 6 21 29 0 2 54 1 39 16 0 2 54 0 3 53 20 2 34 % 10. marmer/keramik/ubin/tegel/ teraso/semen Jendela rumah a. Rumah Sehat Tabel 19 memperlihatkan bahwa separuh responden (51. >10 m dari rumah c.8%) memilik luas hunian ≥10.6 28.7 Tabel 19 menunjukkan sebagian besar jenis lantai rumah responden (96. ijuk/daun-daunan/lainnya b.6 96.4 94.0 m2 perkapita. kayu/ bambu c. dan kayu atau bambu. tertutup c.7 37. <7.4 0 5.9 m2 c.9.5 51. seng/asbes/kayu c. Luas hunian yang tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga menyebabkan penularan pertukaran penyakit oksigen diantara kurang anggota optimal keluarga. terbuka Atap rumah a.beraneka ragam yaitu akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita (Dinkes DKI Jakarta 2002). Hasil penelitian . tegel atau semen.0 m2 Jenis lantai rumah a. teraso.4 1.5. Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat PHBS aspek rumah sehat Luas hunian a.6 0 3. seluruhnya tanah/lainnya b.8 0 3.7 3. sehingga Menurut memudahkan Notoatmodjo (1997) rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit. 7. tembok Letak kandang ternak a. bambu/lainnya b.5 m2 b. ada. ≥10.6 35.4%) adalah berjenis marmer/keramik/ubin/tegel/teraso/semen. beton/genteng Dinding rumah a.8 69. ada. kayu c. <10 m dari rumah b.6 96.

7%) tidak memiliki kandang ternak dan sebanyak 35. Atap rumah sebagian besar responden (96. Latifah et al. dan sebanyak 94. Sanitasi Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Lebih lanjut Subandriyo et al. Hal senada juga diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa dinding yang paling baik adalah tembok. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran responden dalam menjaga kenyamanan serta kebersihan rumah masih rendah. 2002b).6%) berada dalam keadaan tertutup (Tabel 19). (2002b) lantai rumah berupa tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. (2002b) syarat rumah sehat lainnya yaitu kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Menurut Latifah et al. Keberadaan kandang ternak di sekitar rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan karena memudahkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kotoran ternak. (2002b) atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. Menurut Latifah et al.6% dinding rumah responden berupa tembok (Tabel 19). (1997) menyatakan bahwa sumber air minum yang . Rumah yang sehat memerlukan jendela yang cukup untuk jalan masuknya cahaya ke dalam rumah. Lebih dari separuh responden (60. seng. asbes gelombang. Lebih dari separuh jendela responden (69. Menurut Latifah et al.6%) yaitu ledeng/sumur terlindung/mata air terlindung (Tabel 20). (2002b) air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. (2002b) menyatakan fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. Sumber air minum yang digunakan sebagian besar responden (78.menunjukkan bahwa tidak ada satu responden pun memiliki jenis lantai rumah berupa tanah. Serta dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah.4%) berupa genteng/beton. Ada tidaknya jendela di setiap ruangan yang dapat dibuka dan ditutup berhubungan dengan ventilasi udara.7% responden memiliki kandang ternak dengan jarak antara kandang ternak dengan rumah yaitu <10 m (Tabel 19). Air yang digunakan sehari-hari harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. sirap dan nipah. Menurut Latifah et al.

sangat disarankan bagi masyarakat memiliki kakus yang dilengkapi dengan tangki septik.9 n 2 10 44 7 30 19 % 3.9 . kakus sendiri/kakus bersama tanpa tangki septik c. ≥10 m Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut kakus. <10 m c. kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik Tempat keluarga mandi a.6 12.5 53. sungai b. Menurut Subandriyo et al. sumur tak terlindungi/mata air tak terlindungi c.6 80. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan tempat penampungan kotoran minimum 10 m. sehingga tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan. Proporsi terbesar responden (53.bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa.4 12.6 83.6 33. Menurut Depkes RI (1995) diacu dalam Amperansyah (1999) kakus digunakan untuk menyimpan kotoran (hajat).9 78. Kamar mandi umum c. air sungai/air hujan/lainnya b. Sungai/pancuran b. Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban PHBS aspek kepemilikan jamban Tempat keluarga biasa buang hajat a.6 17. Oleh karena itu. mandi.6%) dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m (Tabel 20).1 3. Kondisi tersebut menyebabkan sumber air tercemar oleh bakteri yang dapat dijadikan media penularan penyakit diare. cuci. air ledeng. ledeng/sumur terlindungi/mata air terlindungi Jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat a.4%) melakukan aktivitas buang hajat yaitu di tempat kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik (Tabel 21). Sebagian besar keluarga responden (80. Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air PHBS aspek sanitasi air Sumber air minum. Tidak punya b. dan kakus a.5 53. Kamar mandi pribadi n 9 2 45 7 2 47 % 16. sumur yang terlindungi dan mata air yang terlindungi.

9%) melakukan aktivitas mandi di kamar mandi pribadi.3% responden membuang sampah pada lubang terbuka (Tabel 22).7%) terbiasa membuang sampah di tempat terbuka/di pekarangan dan tanpa dikumpulkan dan sebanyak 39. tempat terbuka di pekarangan dan tanpa dikumpulkan b.5% responden melakukan aktivitas mandi di sungai/pancuran. Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat kesehatan.0 . Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah PHBS aspek penanganan sampah Tempat pembuangan sampah a. Air sungai/pancuran bukan merupakan sumber air yang bersih dan sehat. kemungkinan air sungai/pancuran tercemar oleh bakteri lebih tinggi dibandingkan dengan air di kamar mandi pribadi yang sumber airnya berasal dari ledeng atau sumur yang terlindungi.9%) terbiasa membuang air limbah di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air (Tabel 23). Perilaku tersebut masih jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat.3 0.7 39. (2002c) sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. Menurut Latifah et al. sehingga berdampak terhadap status kesehatan keluarga. Sehingga. Menurut Latifah et al. sampah maupun air limbah. Hal ini disebabkan oleh tidak terlindunginya air tersebut dari kotoran baik tinja. lubang sampah tertutup/dibuat kompos Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Lebih dari separuh responden (67. Selain itu.Berdasarkan Tabel 21 sebagian besar responden (83. Sampah Seluruh responden terbiasa membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya. N 34 22 0 % 60. lubang sampah terbuka c. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) sumber air yang tercemar merupakan salah satu media yang dapat menularkan penyakit diare. sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. (2002c) bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik yaitu dapat menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit (seperti cacing. akan tetapi sebanyak 12. mampu mengundang lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang dapat menularkan penyakit diare. Perilaku tersebut belum mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat. Lebih dari separuh responden (60.

0 100.8%) dan praktik bidan (51. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. Berdasarkan Lampiran 1.1 Nadesul (2005) menyatakan bahwa kehamilan merupakan masa yang sangat penting karena pada saat itu mutu seorang anak ditentukan. Puskesmas (76. Dukun b. . Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan Pelayanan kesehatan Pemeriksaan kehamilan a.0 32. ke dalam lubang tertutup tanpa tangki septik c. Posyandu/Puskesmas/praktik bidan n 0 56 % 0. Kondisi janin yang sehat akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak selanjutnya.0 n 38 0 18 % 67. ke dalam tangki septik Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa seluruh responden biasa melakukan pemeriksaan kehamilan di Posyandu. sebagian besar responden menyatakan bahwa jarak ke Posyandu (96. Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya.4%). pemeliharaan kebersihan dan sebagainya.9 0.Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL PHBS aspek SPAL Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) a. pemeliharaan kesehatan. Menurut Fogel dan Woods (1995) hal 431 diacu dalam Satoto (2004) perempuan yang tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah daripada yang memperoleh perawatan kehamilan yang memadai. Puskesmas dan praktik bidan. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar. Lebih lanjut Satoto (2004) menyatakan jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan kehamilan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa alasan utama responden mengunjungi ketiga fasilitas pelayanan kesehatan tersebut adalah jarak yang dekat dan terjangkau. di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air b.8%) adalah dekat.

Hampir seluruh responden menyatakan bahwa cara pelayanan dokter Puskesmas (96. Selain itu. daya jangkau (biaya) juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan.6%) saat persalinan dibantu oleh bidan baik oleh bidan Puskesmas maupun praktik bidan.3%) adalah mudah. Satoto (2004) .6%) dan praktik bidan (75.0%) adalah baik. sebanyak 30. selain membantu persalinan dukun paraji juga ikut membantu memandikan bayi dan “ngurut” ibu setelah melahirkan sampai usia 40 hari kelahiran. Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara kader Posyandu dan responden dapat terjalin dengan baik. pasien sama sekali tidak dipungut biaya. Tidak berbeda halnya dengan dokter dan bidan Puskesmas serta praktik bidan. Berdasarkan Lampiran 2. Apalagi di Posyandu. bidan Puskesmas (94. Puskesmas dan bidan desa sangat murah karena pasien hanya membayar retribusi. dan praktik bidan (67. Satoto (2004) menyatakan bahwa biaya pemeriksaan kehamilan di Posyandu. Hal ini disebabkan oleh pembagian jadwal tugas dokter yang berbeda antara kedua Puskesmas yang berada di Desa Cikarawang.Selain jarak.9%). Puskesmas (83.3%).5%). Berdasarkan Lampiran 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi gizi dari kader Posyandu (92. lebih dari separuh responden (69.2%). seluruh responden menyatakan bahwa kader Posyandu mudah dihubungi dan cara pelayanannya pun baik. sehingga rasa kekeluargaan diantara mereka masih cukup tinggi. Pada umumnya baik bidan Puskesmas maupun praktik bidan lebih mudah dihubungi dibandingkan dengan dokter Puskesmas. bidan Puskesmas (73.1%).4% responden menyatakan bahwa saat persalinan dibantu oleh dukun paraji. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden.2%) dan praktik bidan (64. Berdasarkan Lampiran 1.9%). Selain itu. Akan tetapi. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa daya jangkau ke Posyandu (98.4%). Berdasarkan Tabel 25. bidan Puskesmas (94. bahkan mereka akan memperoleh vitamin secara gratis. Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal antara kader Posyandu dan responden yang berdekatan karena merupakan warga setempat. lebih dari separuh responden pernah mendapatkan informasi gizi dari ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut yaitu dokter Puskesmas (57.9%) dan praktik bidan (64. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut juga mudah dihubungi yaitu dokter Puskesmas (62.6%).

roti. pisang. sangat dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah atau Wanita Usia Subur (WUS) menerapkan program KB. Sehingga. buah nangka. Alasan dukun paraji yang mendasari pantangan tersebut yaitu rahim ibu masih luka. Menurut BPS (2004) penimbangan anak balita merupakan salah satu upaya dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk melihat tumbuh kembangnya. Tabel 26 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu berobat ke tenaga medis ketika anggota keluarga sakit.menyatakan bahwa dukun akan melakukan pemijatan pasca melahirkan untuk mengembalikan stamina tubuh ibu dan bayinya akan memperoleh perawatan sampai tali pusatnya lepas.6 Alasan utama responden menggunakan tenaga bukan kesehatan (dukun paraji) saat persalinan yaitu jarak yang dekat dan terjangkau. Menurut BPS (2006) program KB merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa seluruh responden ikut dalam program Keluarga Berencana (KB). durian. daging kambing. Secara umum responden hanya mendapatkan nasihat-nasihat berupa pantangan setelah melahirkan seperti tidak boleh makan yang manis (”bolu”).1%) dan mudah dijangkau (69. Perawatan tersebut dilakukan sampai 40 hari dengan biaya yang relatif murah.6%). talas. Berdasarkan Lampiran 2. Puskesmas/praktik bidan n 17 39 % 30. proporsi terbesar responden (44. mie instan.6%) menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi gizi dari dukun paraji. kangkung dan sebagainya. makanan-makanan tersebut tidak baik dikonsumsi.4 69. Dukun b. ubi. Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden menyatakan bahwa jarak ke tempat dukun paraji dekat (66. Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pertolongan persalinan Pelayanan kesehatan Pertolongan saat persalinan a. Seluruh responden selalu membawa anak balita ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan berat badan (Tabel 26). Berdasarkan hasil wawancara. ikan asin. Oleh karena itu. responden lebih sering mengunjungi Puskesmas untuk berobat ketika sakit dibandingkan rumah sakit. Hal ini disebabkan oleh jarak dan daya jangkau ke rumah sakit jauh .

0 0. Tidak ada satu responden pun yang memiliki kategori PHBS rendah. rumah sehat.dan sulit. Dukun b.0 30.4 69.9%. sanitasi air.0 Pengetahuan Gizi Tabel 28 menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden (48.6%) memiliki PHBS termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 30.0 100. Puskesmas/praktik bidan/klinik/rumah sakit n 0 56 0 56 0 56 % 0.4% kategori sedang. Ya Penimbangan anak balita di Posyandu a. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit Pelayanan kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) a. Tabel 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS Kategori PHBS Rendah (24-38) Sedang (39-53) Baik (54-67) Total n 0 17 39 56 % 0. ini menunjukkan bahwa kesadaran responden dalam berperilaku hidup bersih dan sehat sudah cukup baik (Tabel 27). penanganan sampah dan SPAL serta pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (69.0 0. Tidak b. Tidak b.0 100. Pada umumnya responden mengunjungi rumah sakit ketika anggota keluarga mengalami sakit yang cukup parah sehingga membutuhkan pengawasan dan perawatan dokter yang cukup intensif.0 100. Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB. Ya Tempat berobat keluarga ketika sakit a. Akan tetapi.6 100. kepemilikan jamban.2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 42. Tindakan yang didasari oleh . gizi seimbang.0 Berdasarkan pemaparan di atas mengenai aspek PHBS yang meliputi higiene. masih ada responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah yaitu sebanyak 8.9% kategori tinggi.

0 100. Tabel 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) Total n 5 27 24 56 % 8.01). Kelima pertanyaan tersebut adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (53. Tabel 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan responden Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Total Tingkat Pendidikan SD/sederajat N 5 17 7 29 % 17.6 24.0 100.2 58.0 50.6%).0 Total n 5 27 24 56 % 8.9 48.1%).2 42.pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.0 50.0 SLTA/sederajat n 0 3 3 6 % 0. Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawati (2006) bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan. Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi responden (p<0.9 100.0 65.9 48.0 SLTP/sederajat n 0 7 13 20 % 0.6%).6%).1%) dan pemberian ASI eksklusif (41. jenis pangan karbohidrat (44. .2 42. zat gizi untuk pertumbuhan (44.9 100. Berdasarkan Lampiran 3 dapat diketahui bahwa terdapat lima pertanyaan pengetahuan gizi yang dapat dijawab responden kurang dari 60%.0 Tabel 29 menunjukkan bahwa secara umum responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah memiliki tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) juga.0 100. jenis pangan sumber Fe (57. Hal ini mengindikasikan bahwa kelima pertanyaan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertanyaan lainnya.0 Akademi/Dip loma/PT N % 0 0 1 1 0.0 100.0 Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi pun menjadi lebih baik.1 100.0 35.0 0. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi responden atau sebaliknya.

Dalam hal ini. mental. cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Pada umumnya setelah anak berusia empat bulan bahkan kurang.4 . Hanya 41.0 8 14. cara mempersiapkan makanan. Tabel 30 menunjukkan bahwa sebanyak 75.6 Tidak n % 42 75.0% responden tidak memberikan ASI eksklusif (6 bulan). biskuit. lama pemberian ASI eksklusif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah enam bulan. susu formula.Pada umumnya responden mengetahui lama pemberian ASI eksklusif yaitu empat bulan. Pola Asuh Makan Pola asuh makan pada penelitian ini meliputi riwayat menyusui dan penyapihan.1% responden yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Karena pendidikan akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang yang akan berdampak terhadap status kesehatan dan status gizi keluarga. Pola Asuh Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya secara fisik. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. responden sudah memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang. orang tua harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan. Akan tetapi. bubur bayi dan lainnya.3 18 32.9 53. Marotz et al. (2005) menyatakan bahwa masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilakuperilaku gaya hidup sehat. Tabel 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Anak diberi ASI eksklusif (ASI saja hingga 6 bln) Anak diberi kolostrum? ASI diberikan sesuai permintaan bayi? ASI diberikan sampai anak berusia 2 tahun? Ya n 14 48 38 30 % 25. dan sosial. cara memperkenalkan makan. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita.0 85. Menurut Sukarni (1989) dan Madanijah (2003) tingkat pendidikan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan. Ketidakmampuan responden menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan benar kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya pendidikan responden.1 26 46.7 67.

sebagian besar responden (85. Sehingga tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) yang dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi seperti yang diperoleh dari kolostrum. Cara memperkenalkan makan untuk anak balita meliputi membiasakan mengonsumsi makanan beragam.9%) memberikan makanan yang beragam kepada anak balita. frekuensi memberikan makanan utama dan memberikan makanan kudapan.6 Menurut Dinkes DKI Jakarta (2002) fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Lebih dari separuh responden (67. Hal senada diungkapkan oleh Masithah.4 96. Akibat .6%). pertimbangan dalam hal memberikan makan karena faktor gizi. Soekirman dan Martianto (2005) bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi intestinal. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. Berdasarkan Tabel 30.1 46. Tabel 31 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92.1 58. Kolostrum mengandung zat gizi untuk sistem kekebalan tubuh anak dari penyakit.7%) memberikan kolostrum kepada anaknya.Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi. Tabel 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita Cara memperkenalkan makan anak balita Anak dibiasakan mengonsumsi makanan beragam Pertimbangan ibu dalam memperkenalkan makan kepada anak berdasarkan faktor gizi Ibu membiasakan menyediakan kudapan untuk anak setiap hari Ibu memberikan makan kepada anak sebanyak tiga kali sehari Ya n 52 23 26 54 % 92. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA. Kebiasaan ini sangat baik karena dengan memberikan makanan beragam mampu memperbaiki status gizi anak balita sehingga terhindar dari gizi kurang.6 3. Krisnatuti & Yenrina (2000) menyatakan bahwa kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran.9 41. sehingga dapat mengurangi risiko terserang diare. bahkan sangat mudah dan murah memberikannya kepada bayi (Dinkes DKI Jakarta 2002).9 53.9%) memberikan ASI sesuai dengan permintaan dan memberikan ASI sampai usia 2 tahun (53.4 Tidak n % 4 33 30 2 7.

sore/malam) Ibu terbiasa memanaskan/menghangatkan kembali makanan sesaat sebelum dikonsumsi Ibu selalu menutup makanan sebelum dihidangkan Ya n 49 8 50 55 % 87. Akan tetapi.7 10. sebagian besar responden (96. siang. Menurut Krisnatuti & Yenrina (2000) ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk membentuk kondisi anak sehat yaitu makanan bergizi dan sanitasi (kebersihan).7% tidak melakukan aktivitas memasak tiga kali sehari (Tabel 32).3% responden menghangatkan kembali makanan sebelum dikonsumsi.3 98.8 Berbeda halnya dengan kebiasaan memasak responden yaitu sebanyak 85. sehingga tidak dapat . pengolahan. Mulai dari tahap persiapan. Pada umumnya responden memasak satu sampai dua kali sehari. Kurang dari separuh responden (41. Sesuai dengan jawaban yang diperoleh dari responden saat wawancara dapat diketahui bahwa sebanyak 58. Keadaan ini berdampak pada kebiasaan responden yaitu sebanyak 53.2 Tidak n % 7 48 6 1 12. Tabel 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita Cara mempersiapkan makanan anak balita Ibu mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak Ibu memasak makanan dalam sehari dilakukan secara bertahap (pagi. Faktor kebersihan harus selalu dijaga pada setiap tahapan penyediaan makanan bayi.1%) sudah memperhatikan faktor gizi sebagai pertimbangan dalam memberikan makan kepada anak balita (Tabel 31).3 89.tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam.6% tidak memberikan makanan kudapan setiap harinya kepada anak balita. Menurut Pujiarto (2007) makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam mengakibatkan kuman tumbuh subur dalam makanan tersebut. sampai penyajian termasuk kebersihan peralatan makanan yang akan digunakan. Kuman-kuman tersebut akan membentuk toksin yang tahan panas. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita. Berdasarkan Tabel 32 sebagian besar responden (87.5 85.5%) mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak balita.4%) memberikan makan utama untuk anak balita yaitu tiga kali dalam sehari (Tabel 31).7 1.9% responden memberikan makan anak balita sesuai dengan kondisi keuangan keluarga.5 14. sehingga sebanyak 89.

Membiasakan menutup makanan sebelum dihidangkan dapat mengurangi kontak fisik serangga (kecoa. Hal ini dikarenakan anak balita tersebut belum bisa memegang sendok dengan benar sehingga saat memasukkan makanan ke dalam mulut masih tumpah.dihancurkan dengan memasak makanan tersebut. Akan tetapi.2%) selalu menutup makanannya sebelum disajikan/disantap (Tabel 32). pilih-pilih serta jarang habis. Sebagian besar responden (98. agar anak balita mau makan.6 n 11 15 47 3 Tidak % 19. Hal ini bertujuan agar makanan tetap terjaga kebersihannya. maka sebelum dilakukan proses menghangatkan makanan harus terlebih dahulu disimpan dalam lemari pendingin.1 94.4 73. merayu) Ya n 45 41 9 53 % 80. lalat) dengan makanan. Tabel 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita Cara memberikan makan anak balita Ibu membiasakan anak makan sendiri dengan asumsi sudah dapat memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut tanpa tumpah Ibu memberikan makan kepada anak dengan cara disuapi Ibu memberikan makan pada anak di meja makan (makan bersama) Cara mengapresiasi proses makan anak balita Ibu selalu berusaha agar anak menghabiskan makanannya (membujuk. kalaupun mau makan itupun dalam jumlah yang sedikit. pada umumnya responden memberikan makan sambil jalan-jalan atau aktivitas lainnya.9 5.8 83. sebanyak 94. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak balita. sebanyak 73. lebih baik dibandingkan dengan menghangatkan kembali makanan tersebut. Kebiasaan memasak secukupnya sesuai dengan kebutuhan.9% responden belum membiasakan anak balita makan di meja makan (makan bersama). Kalaupun makanan yang diolah bersisa.6% responden selalu melakukan kegiatan . Responden mengeluh anak balita mulai sulit makan.4 Tabel 33 menunjukkan sebanyak 83. Oleh karena itu.2% responden masih memberikan makan kepada anak balita dengan cara disuapi.6 26. Tabel 33 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (80.2 16. Sehingga.4%) sudah mulai membiasakan anak balita untuk makan sendiri. sehingga makanan tersebut cukup aman untuk dikonsumsi dan mampu mengurangi penyebaran penularan penyakit yang membahayakan manusia.

Menurut Khomsan (2004) membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu.0 .0 71. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang.6%) membiasakan anak balita menggosok gigi ≥2 kali/sehari dan sebanyak 64. Berdasarkan pemaparan di atas dari ke lima aspek pola asuh makan dapat diketahui bahwa sebanyak 71.6% selalu menggunakan sabun ketika memandikan anak balita.4% responden membiasakan anak balita mandi dua kali dalam sehari dan sebanyak 94. Tabel 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan Pola Asuh Makan Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) Total Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Lampiran 4 dapat diketahui bahwa sebanyak 80. n 0 40 16 56 % 0. Akan tetapi. Lebih lanjut Hurlock (1982) menyatakan penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. menurut Hardinsyah & Martianto (1992) perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan.apersepsi supaya anak balita mau makan misalnya dengan cara membujuk. Tidak ada satu responden pun yang memiliki pola asuh makan kategori rendah. Hasil penelitian mengenai kategori pola asuh makan dapat dilihat pada Tabel 34. Lebih dari separuh responden (52.4 28. anak sering mengalami fase sulit makan. merayu atau memberikan pujian.1% responden membiasakan anak balita agar menggunakan handuk yang sama dan milik pribadi (tidak gonta-ganti). Pada usia pra sekolah.4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan sebanyak 28. Seluruh responden menyatakan bahwa selalu mengganti pakaian anak balita sehabis mandi dan sebanyak 91.1% responden mulai membiasakan gosok gigi saat berusia ≤1 tahun (Lampiran 4).6 100.6% kategori tinggi. Oleh karena itu. sebanyak 77.9% anak balita selalu menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi.2% responden belum membiasakan anak balita menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan dan hanya 21.

3% anak balita dibiasakan selalu menggunakan alas kaki ketika bermain atau berada di luar rumah.9% anak balita sudah dibiasakan mencuci kaki sebelum pergi tidur oleh responden dan lebih dari separuh anak balita (53. Serta sebanyak 51.3% responden membiasakan menyisir rambut anak balita 2-3 kali/hari. sebanyak 64.6%) kadang-kadang dibiasakan untuk mencuci kakinya setelah bermain. karena kuku yang panjang dan tidak terawat mampu menularkan penyakit. Menurut Tjitarsa (1992). Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebanyak 42-47% Kebersihan kuku juga sangat penting untuk diperhatikan. Selain itu. kebiasaan tersebut mampu mencegah terjadinya penyakit diare. Menurut Notoatmodjo (2003) kotoran manusia (tinja) adalah sumber penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan manusia. Sebanyak 46.9%) keramas menggunakan sampo. Lebih dari separuh responden (64.1%) sudah membiasakan anak untuk buang air besar pada tempat semestinya yaitu kamar mandi (Lampiran 4).5% menggunakan air bersih untuk mencuci tangannya.4% responden sudah membiasakan anak balita menggunting kuku ≥3 kali dalam satu bulan dan sebanyak 39. Walaupun masih ada responden sebanyak 21.8% responden sudah membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan saat berusia 1-2 tahun. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan sabun dan air bersih sangat penting dilakukan karena dapat menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan.4% responden membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan dan sebanyak 87. Sebanyak 67.4% yang menyisir rambut anak balita hanya 1 kali/hari.3%) selalu menggunakan sabun ketika mencuci tangan anak setelah buang air besar dan sebagian besar responden (82. Sebagian besar responden (89.2% responden membiasakan mencuci rambut anak balita (keramas) sebanyak ≥3 kali/minggu dan sebagian besar anak balita (92. Curtis & Cairncross (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007) mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Sebanyak 71.Sebanyak 77.3%) tidak memperbolehkan . Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh saat wawancara bahwa rambut anak balita tipis dan pendek sehingga tidak perlu disisir untuk merapikannya. akan tetapi cukup dengan menggunakan tangan responden yaitu dengan cara “dielus-elus” (Lampiran 4).

Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (55. Lingkungan rumah yang bersih akan menciptakan lingkungan nyaman yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang. terdapat kecenderungan apabila pengetahuan gizi ibu baik maka kedua pola asuh tersebut pun akan baik.6 55. karena dengan membuang sampah pada tempatnya mampu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya.anak balita bermain tanpa memakai celana dan separuh responden (50. Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. Menurut Rahayu (2006). Pengetahuan gizi ibu yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula seperti dalam hal perilaku bersih dan sehat. Pola asuh kesehatan seperti ini cukup baik.9%) sudah membiasakan anak balita untuk membuang sampah pada tempatnya (Lampiran 4).0%) kadang-kadang memperbolehkan anak balita bermain tanah (Lampiran 4). pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena anak balita belum mampu untuk merawat dirinya sendiri.4%) memiliki pola asuh kesehatan termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 44. Menurut Entjang (1985) lingkungan hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Akan tetapi.6% kategori sedang (Tabel 35). . sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan signifikan dengan kedua pola asuh tersebut. Tabel 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan Pola Asuh Kesehatan Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (56-72) Total n 0 25 31 56 % 0. kondisi fisik masih lemah dan kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi.4 100. memberikan makan dan menjaga kebersihan anak balita.0 Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara PHBS ibu dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan (P<0. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.0 44. sebagai contoh yaitu mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat semestinya.01). Lebih dari separuh responden (58.

0 30 55.4 53.Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita Tabel 36 menunjukkan bahwa anak balita dengan umur ≤23 bulan mengalami diare lebih tinggi (66. Persentase anak balita yang mengalami diare dengan umur 24-36 bulan dan ≥37 bulan berturut-turut yaitu 45. Namun. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh variasi data penelitian mengenai BBLR yang relatif kecil. Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) menyatakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki daya tahan terhadap penyakit juga lebih rendah.5 12 75.0 12 54.0 16 100. Sistem imunitas tubuh berkembang sesuai dengan umur seseorang.4 100. Semakin tinggi umur anak balita maka tingkat diare semakin rendah.7 33. sehingga sangat mudah terserang penyakit infeksi.01) antara umur anak balita dengan diare.0 54 100.0%.5% dan 25.5 4 25.0 Total n 26 32 56 % 53.0 Total n 26 32 56 % 46.0 22 100. salah satunya diare.4 0.6 46. Muniasir (2007) menyatakan bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh.0 Umur (bulan) 24-36 ≥ 37 N % N % 10 45. hasil analisis korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare.6 100. Tabel 37 menunjukkan bahwa secara umum anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mengalami diare selama tiga bulan terakhir.3 100.0 . Tabel 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total n 12 6 18 ≤ 23 % 66. Bayi dan balita memiliki sistem imunitas tubuh yang masih lemah. Tabel 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total N 2 0 2 Berat Badan Lahir BBLR Non BBLR % n % 100.7%) dibandingkan dengan anak balita yang memiliki umur >23 bulan.0 24 44.6 100.0 Uji korelasi Spearman menunjukan terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0.

8 41. 0. Tabel 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS PHBS Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ibu SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Sedang n % 13 4 0 0 17 6 9 2 17 76. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Tabel 38 menunjukkan sebagian besar responden (76.5%) dengan tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) memiliki PHBS kategori sedang.8 100. Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pemahaman atau pengetahuan seseorang terhadap perawatan kesehatan dan kesadarannya terhadap kesehatan anak-anak dan keluarga.8 35.01).8 100.0 35. Persentase tersebut lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur 31-50 tahun (28.9 11. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.0 30.0 28. . Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS responden (p<0.Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS.6 23. Hasil analisis menunjukkan umur responden tidak berhubungan signifikan dengan PHBS. Semakin tinggi pendidikan responden maka PHBSnya pun semakin tinggi pula. Pengetahuan Gizi.0 n 29 20 6 1 56 18 25 13 56 Total % 51.0 100.0%) memiliki PHBS kategori tinggi.5 23.01).8 100. Responden dengan tingkat pendidikan di atas SLTP/sederajat.0 Tinggi n 16 16 6 1 39 12 16 11 39 % 41.2 100.4%) dan akademi/diploma/PT (2.4 2.0 15.1 44. SLTA/sederajat (15.6 100.6%).0 Tabel 38 juga menunjukkan responden dengan umur 13-19 tahun (30.8%) dan 20-30 tahun (41.8%).0 41.0%).0 32.0.3 52.5 0. Hasil analisis juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan gizi responden (p<0.7 10. sebagian besar memiliki PHBS kategori tinggi yaitu SLTP/sederajat (41.7 1.

1 66.4 53. mandi.9%).Namun. kebiasaan membuang sampah dan SPAL responden yang belum sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat. air tetap terjaga kebersihannya dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (minum. Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS responden dengan diare anak balita.7 100. PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006).0 n 26 30 56 Total % 46. Selain itu juga.0 Aspek PHBS yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran. Tabel 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita PHBS Diare Diare Tidak Diare Total n 7 10 17 Sedang % 26.9 33. Pengetahuan Gizi.0 n 19 20 39 Tinggi % 73. Kaitan antara PHBS. Tujuannya adalah supaya tidak terjadi interaksi antara mikroorganisme dengan air yang biasa digunakan untuk kebutuhan hidup seharihari. Menurut Subandriyo et al. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita Berdasarkan Tabel 39 dapat diketahui bahwa kecenderungan anak balita dengan PHBS responden kategori tinggi mengalami diare lebih besar (73. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi (tempat penampungan kotoran) minimum 10 m.3 100. tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan gizi responden.1%) dibandingkan anak balita dengan PHBS responden kategori sedang (26. hasil analisis menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan pola asuh makan maupun dengan pola asuh kesehatan. .6 100. cuci dan kakus). Sehingga. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar responden dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m.

4 53. secara umum mereka membuang sampah di pekarangan dan lubang sampah terbuka. Sampah yang dibiarkan di tempat terbuka dapat dijadikan media berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare.0 18 66. hasil uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita.3%) dan tinggi (58. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan.3%). Menurut Latifah et al. dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak membuang sampah pada tempat yang semestinya. sampah juga mampu mencemari sumber air. Tabel 40 Kaitan antara pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi n % n % N % 3 60.6 100.0 24 100. sebagian besar responden membuang air limbah bukan pada tempat semestinya yaitu di pekarangan.3 2 40.Berdasarkan yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya mengenai aspek PHBS. Selain itu. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) penggunaan air yang sudah tercemar tersebut dapat dijadikan media pencemaran penyakit diare. Tidak berbeda halnya dengan SPAL responden. Keadaan ini juga mampu mencemari sumber air. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia.0 9 33.7 5 100.0 Total n 24 32 56 % 46.7 10 41. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan penyakit diare. Perilaku seperti ini sangat jauh dari indikator perilaku hidup bersih dan sehat.0%.) dibandingkan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu kategori sedang (33. Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita Tabel 40 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu rendah mengalami diare lebih besar (60. Akan tetapi.3 14 58. Namun.0 27 100.0 tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan .

0 31 100. Pemberian ASI eksklusif erat kaitannya dengan meningkatnya kekebalan tubuh seorang anak. Tabel 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh makan Sedang Tinggi n % n % 16 40.6 100.2 13 52.Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita Tabel 41 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh makan kategori tinggi memiliki anak balita yang mengalami diare lebih besar (62. hasil analisis juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan diare anak balita.0 Total n 26 30 56 % 46. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA. Rendahnya kesadaran ibu dalam hal pembiasaan mencuci .0%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi (45.4 53. Namun.5%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh makan kategori rendah (40.0 10 62.5 40 100.0 14 45. Tabel 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh kesehatan Sedang Tinggi n % n % 12 48.0 16 100.0 Aspek pola asuh makan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain mengenai pemberian ASI eksklusif. Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak balita.0 17 54.5 24 60.0 Total n 26 30 56 % 46.4 53.2%). hasil analisis korelasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita.0%).0 6 37.0 Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita yaitu kebiasaan ibu dalam hal mencuci tangan anak balita sebelum makan. Dengan demikian. Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Tabel 42 menunjukkan ada kecenderungan ibu dengan pola asuh kesehatan kategori sedang memiliki persentase anak balita yang mengalami diare lebih besar (48.6 100.8 25 100.

Lingkungan yang tidak bersih. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) tangan yang kotor dapat menjadi media penularan penyakit diare. Hal senada juga diungkapkan oleh Suririnah (2007) bahwa perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare. kebersihan kaki pun harus diperhatikan. Menurut Sadeque dan Ghosh (2005) salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan anak balita yaitu dengan membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. kemudian tidak membiasakan menggunakan sandal ketika keluar rumah dapat menjadi sumber penyebaran kuman dan apabila tidak dihambat penyebarannya maka dapat menimbulkan penyakit seperti diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh contoh belum dibiasakan menggunakan alas kaki (sandal) ketika keluar rumah. Bahkan masih ada beberapa ibu yang tidak membiasakan mencuci tangan anak balita. . Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh ibu menyatakan kadang-kadang membiasakan anak balita mencuci tangan sebelum makan. Selain kebersihan tangan anak balita. Selain kebersihan tangan dan kaki. membiasakan anak balita menggunakan kamar mandi ketika buang air besar merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat kejadian diare. Hasil penelitian menunjukkan masih ada beberapa ibu yang belum membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi.tangan anak balita sebelum makan diduga menjadi penyebab tingginya diare pada anak balita.

Sedangkan anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare. Lebih dari separuh anak balita (66.01).4%).1%) adalah perempuan.9%) pendapatan perkapita perbulan responden adalah >Rp 150 000. 3. 6. 4. Proporsi terbesar responden memiliki PHBS (69.9% 28. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB.9% dan 8.6%) dan pola asuh kesehatan kategori tinggi (55. Hasil analisis menunjukkan umur anak balita berhubungan sangat signifikan dengan diare (p<0. sisanya tinggi dan rendah (42.7%) merupakan keluarga besar (>4orang) dan hampir separuh umur baik ayah (39. Sedangkan umur ibu tidak berhubungan .4% anak balita memiliki berat badan lahir cukup (≥2.0%) tidak bekerja. Status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal.05). 2. proporsi terbesar pekerjaan ayah yaitu negeri/swasta jasa (33. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu. Secara umum responden memiliki PHBS.3%) berkisar antara 24-36 bulan dan 96. TB/U) dengan diare (p<0.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1.5 kg). Lebih dari separuh responden (60.9%). dan tidak berhubungan signifikan dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.6%) berada pada kategori usia muda (20-30 tahun).00. Tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi.3%) maupun ibu (44. Dengan demikian. Proporsi terbesar umur anak balita (39. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. 5. sedangkan ibu (75.6%).4%) serta pola asuh makan kategori sedang (71. Tingkat pendidikan pegawai ayah lebih tinggi dan (SLTA/sederajat) angkutan dibandingkan dan ibu (SD/sederajat). Proporsi terbesar (58. Hampir 50% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang.1%) mengalami sakit selama tiga bulan terakhir dan hampir 50% anak balita mengalami diare dengan frekuensi tertinggi yaitu 2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Hampir seluruh anak balita (91. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang baik.

pengetahuan gizi ibu. Selain itu. masyarakat setempat hendaknya memperhatikan jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran dan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan. mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Selain itu. menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika keluar rumah. Sehingga.signifikan baik dengan PHBS. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi. diperoleh informasi mengenai faktor dominan yang lebih berpengaruh terhadap kejadian diare anak balita. membiasakan BAB di kamar mandi. pengetahuan gizi. Sedangkan. Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu berkenaan dengan kebersihan tangan dan kaki serta kebiasaan Buang Air Besar (BAB) bukan pada tempatnya. Aspek PHBS yang diduga menyebabkan diare anak balita adalah jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran <10 m. 7. PHBS. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor risiko kejadian diare anak balita dengan menggunakan analisis regresi logistik. aspek pola asuh makan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Saran Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya diare pada anak balita hendaknya menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. Pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah diare dengan membangun fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan. pola asuh makan maupun pola asuh kesehatan. . pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan. Cuci. dan pelayanan kesehatan) serta pola asuh makan dalam hal pemberian ASI eksklusif dan penyiapan makanan sehari-hari. dan Kakus (MCK). personal hygiene. pembuangan sampah dan limbah bukan pada tempatnya.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. Entjang I. _____. Faktor risiko penyakit diare pada bayi di Provinsi Kalimantan Selatan: analisis data sekunder SDKI tahun 1997 [skripsi]. As’ad S. 1985. penerjemah. 2002. 2004. 1992. Aronson SS. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kota Bogor [skripsi]. Gunarsa. Martianto D. Diktat Mata Kuliah yang tidak dipublikasikan. Its Role in National Development. New York: HarperCollins. Majalah Ilmu Kefarmasian 1(1): 27-33. 2006. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Bandung: Penerbit Alumni. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Laporan akhir penelitian studi kajian wanita. Zahara DN. Ilmu Kesehatan Masyarakat.html [3 Oktober 2007]. . Jakarta: Citra Aditya Bakti. 1997. 1985. Penyuluhan penggunaan oralit untuk menanggulangi diare di masyarakat.html [9 November 2007]. Peran anggota rumah tangga di dalam pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Bogor: Fakultas pertanian. . Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Health and Safety in Child Care. Azwar A. Fakultas Pertanian. 2002.DAFTAR PUSTAKA Adnyadewi IGA. 1979. [terhubung berkala]. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Statistik Indonesia. Diare. Firlie D. 2004. 1991. Berg A. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. Hardinsyah. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. 1986. Jakarta: BPS. . Bogor: Fakultas pertanian. Indikator Kesejahteraan Rakyat. 1999. [Dinkes] Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Briawan D. 2004. Universitas Indonesia. . Terjemahan dari: The Nutrition Factor. Amperansyah. Jakarta: CV Rajawali. Gunarsa. Jakarta: Penerbit Mutiara. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga. Hardinsyah. Jakarta: BPS. 2005. Makasar: Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas anak baduta pada keluarga miskin dan tidak miskin [skripsi]. [terhubung berkala].gizi. Ilmu Kesehatan Masyarakat. 2006. 2002. Jakarta: BPS. .diare. Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Statistik Kesehatan. www. Ekonomi Gizi. [terhubung berkala] www. Konseling Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). Statistik Indonesia. 1993. [BPS] Biro Pusat Statistik. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Gizi Terapan. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. 2001. 2005. Institut Pertanian Bogor. Harianto. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Herawati T. Jakarta: BPS. 2003.

dinkes-sulsel. 2004. 2005. Bogor: Fakultas Pertanian.farmasi. dan Suprapti. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. Pedoman pengembangan kabupaten/kota percontohan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. [terhubung berkala].go. http://library. Irianti S. 2005. Wahida S. 2004. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat. Institut Pertanian Bogor. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Bogor: kerjasama pusat kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. 2006. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Ed ke-5. Evi D. 2002. Hurlock EB. 1993.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani7. M Zarkasih. 2002c. penerjemah.pdf [15 November 2007]. Sumali MA. Hubungan kualitas pengasuhan dan perilaku hidup sehat dengan status gizi dan kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kecamatan Bogor Barat [skripsi]. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kejadiaannya sangat erat dengan keadaan sanitasi lingkungan.jurnal. Krisnatuti D dan Yenrina R.ac. Psikologi Perkembangan.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104. Latifah M. Buku 5 Rumah Sehat. Khomsan A. Penelitian dalam rangka penerapan sistem pembuangan tinja dan sampah tepat guna Desa Pantai di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Lamongan. . Buku 1 Kebersihan Diri dan Lingkungan. Jakarta: Erlangga. Faktor-faktor predisposisi yang berhubungan dengan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI) di Kecamatan Banua Lawas. 2000. Pengetahuan. Jakarta : PT Grasindo Anggota Ikapi. Perkembangan Anak Jilid 2. 2003. [terhubung berkala]. 1982. [3 Hiswani. Zalbawi S. Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [skripsi]. Jakarta: Erlangga.pdf. 2002d. Khairunnisak I. . _________.pdf. Kecamatan Tamansari. Institut Pertanian Bogor. Bogor: Fakultas Pertanian. [23 uli 2008]. Buku 10 Mengenal Berbagai Penyakit dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan.usu. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Buletin Penelitian Kesehatan 27(3 dan 4-1999/2000): 346-363. M Tjandrasa. Nurahmi. 2000. Buku 8 Pengenalan Sampah dan Air Limbah. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Herman. Jakarta: Puspa Swara. Institut pertanian Bogor.www. MD Djamaludin.ui. sikap dan perilaku pengguna tanaman obat di desa Sukajadi. 2002b. www. Oktober 2007]. Fakultas Ekologi Manusia. Madihah. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI. . Manda S. Kabupaten . . 2002a.

New York: McGraw-Hill . Universitas Indonesia. Makanan Sehat untuk Ibu Hamil. Bukan Suplemen!. Bogor [skripsi]. 2005. Jakarta: Ghalia Indonesia. Sadeque MU. Safety. Puspitawati H. Bogor: Program Pascasarjana. Madanijah S. Metodologi Penelitian Kesehatan. 2003. 2003. Model pendidikan “G1-PSI-SEHAT” bagi ibu serta dampaknya terhadap perilaku ibu. 2005.com. Soekirman. [terhubung berkala]. Marotz LR. and Nutrition for Young Child. dan status gizi anak usia dini [disertasi]. Bogor: Fakultas Pertanian.Tabalong Kalimantan Selatan tahun 2002 [skripsi]. 2006. [terhubung berkala]. Santrock JW. 2005. lingkungan pembelajaran. www. . 2007. Drajat M.php?kat=3&emonth=02&eyear=2007 &pg=hns-23k. Masithah T. Jeanettia MR. [terhubung berkala]. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. 2006.mosleh@bdonline. 1993. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di taman pendidikan karakter sutera alam. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Puspa Swara. 2002. 2007. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen.co.koalisi. 2001. Jakarta: Rineka Cipta. Institutional and Legal Challenge for the Rural Poor. Rahayu S. R. 2003. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Institut Pertanian Bogor. 2007. Pola Asuh-Asupan Nutrisi dan Pertumbuhan Anak. 2007. Rahmawati D. Tantangan bernama higinitas. Notoatmodjo S. Bogor: Fakultas Pertanian. Desa Sukamantri. Institut Pertanian Bogor. [15 November 2007]. Muniasir Z. Institut Pertanian Bogor. 1997.id/dsp_content. Riyadi. Pujiarto P.org. Yogyakarta: Ando Offset. Diktat Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak batita di Desa Mulya Harja. Bogor: Fakultas Pertanian. Ed ke-8. Rimbatmaja. Nadesul H. parentsguide. Jakarta : Rineka Cipta. Fakultas Ekologi Manusia. 2005. Health. Imunomodulator. United State: Thomson Delmar Learning. Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. Kemitraan dalam Mengatasi Masalah Gizi di Indonesia. Marie ZC. Edisi ke-6. www. Pola asuh dan status gizi anak balita keluarga penerima dan bukan penerima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) [skripsi]. Pengantar Ekologi Keluarga. Nasution. Media Gizi dan Keluarga 29 (2):29-39. Institut Pertanian Bogor. ___________ . Makalah Seminar Sehari. Environmental Sanitation Promotion: A Social. Ghosh SK. konsumsi pangan. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Life-Span Development.

Ed ke-4. 1989. Fakultas Pertanian. Sinaga D. 1999. Pola pengasuhan ibu anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita di Kota Madya Manado. www. dan Yekti HE. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Suririnah. Slamet Y. Mubasysyir H. Dewi MDH. 2004. Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. [3 Oktober 2007]. Institut Pertanian Bogor. Bogor: Pusat Antar Universitas. 2002.com.diare. Saroso S.htm. Sehat itu Hak: Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. 2005. Turner JS. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): studi kasus di Kabupaten Bantul 2003. Subandriyo VU. Satoto. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Helms DB. [terhubung berkala]. Jawa Barat [skripsi].jmpk-online. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Fortworth: Rinehart and Winston. Institut Pertanian Bogor. Kondisi geografis dan sosial ekonomi hubungannya dengan pembangunan kesehatan serta kondisi rumah rehat di Desa Gasol dan Cijedil. 2005. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi. 1989. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Bersalin: Antara Harapan Hidup dan Kenyataan Kematian. 2004. Tjitarsa IB. 2000. 1997. 1994.articles. Suhardjo. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. ______.pdf. www. Cianjur. 2007. Bandung: Eja Insani. Yuliarsih. Sosial Budaya Gizi. www.infoibu. Widyati R. Institut Pertanian Bogor. Diare mendadak dan penanganannya. Fakultas Pertanian. . [terhubung berkala]. Kecamatan Cugenang. Provinsi Sulawesi Utara [tesis]. 1993. 2007. [terhubung berkala].php. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Diare. Hygiene dan Sanitasi Umum dan Perhotelan. Sukarni. 1991. Solo: Dabara Publiser. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat. Institut Pertanian Bogor. Life-Span Development. Fakultas Pertanian. Bandung: Penerbit ITB dan Universitas Udayana. Pendidikan Kesehatan: Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar. Sumali MA. Petunjuk Praktikum Kesehatan Masyarakat. 1992.net/files/vol-08-02-2005-4. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. JMPK 8(2). Bogor: Institut Pertanian Bogor. [3 Oktober 2007].Sari RA. [3 Oktober 2007]. Departemen Pendidikan Nasional. Topatimasang. Tambingon HN. Soekirman.

LAMPIRAN .

93 n 12 54 53 42 56 7 32 Cara Pelayanan Baik % 21.5 44. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan zat gizi? Zat-zat gizi apa saja yang dibutuhkan oleh tubuh? Apa zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan anak? Apakah ibu dapat menyebutkan jenis pangan yang termasuk sumber karbohidrat? Dapatkah ibu menyebutkan kelompok bahan pangan mana yang banyak mengandung zat gizi protein hewani? Apakah ibu dapat menyebutkan susunan menu yang baik? Dapatkah ibu menyebutkan jenis makanan sumber zat besi? Apa nama kondisi ibu jika selama masa kehamilan ibu mengalami pusing.1 12.0 0.5 94.6 96.9 92.2 48.3 62. 5.93 0 12.57 23.8 3. 12.0 62.6 98.8 8.6 85.3 16.8 57.6 75 100 12.9 3.0 100. 3.1 73.4 n 37 54 43 29 5 0 Jarak Dekat % 66.9 10.6 0 11 1.6 5.1 35.Lampiran 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaann pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.6 25 48 43 32 39 54 49 53 52 48 23 44.8 16.2 91.9 100 10. 14.6 80.6 92.4 19.6 67.93 37.9 64. 13.2 83.5 8.2 64. 8.4 96.1 . 6.5 46. cepat lelah dan lesu? Garam dapur yang bagaimana yang baik untuk digunakan? Apa yang terjadi pada bayi yang dilahirkan apabila selama masa kehamilan terjadi kekurangan zat besi? Apa akibat yang ditimbulkan bila anak kekurangan makan dalam jangka waktu yang lama? Apa akibat dari makanan dan minuman yang tidak bersih? Bagaimana cara yang baik dalam mempersiapkan botol atau tabung susu bayi? Sampai umur berapa sebaiknya bayi diberi ASI saja? Jawaban Benar n % 43 76. jarak dan daya jangkau Jenis Pelayanan Kesehatan n Praktek Dukun Paraji Posyandu Puskesmas Praktek Bidan Klinik/Balai Pengobatan Rumah Sakit 31 56 56 21 26 11 Kunjungan Tidak Pernah pernah % 55.7 14.7 41.1 69.5 5.8 51.6 Kemudahan Dihubungi Mudah n 8 35 53 38 56 6 28 % 14. 10.8 12.4 1.8 30 53.3 4 24 15 7 4 7 25 7.1 57.1 n 17 1 9 20 47 52 Sulit % 30. 2.3 92.7 76.9 Lampiran 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi.5 94. 4. 9.36 8.1 42.5 57.1 96.5 53.5 7.6 25 44.7 50 n 5 21 3 5 0 7 5 Sulit % 8.0 n 19 2 13 27 51 56 Jauh % 33.1 7.9 0.7 83.8 Lampiran 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban pengetahuan gizi No 1.1 100 n 39 55 47 36 9 4 Daya Jangkau Mudah % 69. 11.4 76.4 94. 7.9 26.0 37.6 n 25 0 0 35 30 45 % 44. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan Petugas Gizi dan Kesehatan Dokter RS Dokter Puskesmas Bidan Puskesmas Bidan Desa/Praktik Bidan Kader posyandu Mantri Dukun Paraji Informasi Gizi Tidak Pernah Pernah n % n % 9 32 41 36 52 6 8 16.1 Kurang n 1 2 3 2 0 6 1 % 1.4 87.9 85.6 0.4 3.4 100.

Tidak b. 9.4 94. 16. Selalu Apakah anak dibiasakan menyisir rambut? a. Tidak pernah b.6 91.0 77. ≥ 2 kali/hari Sejak kapan ibu membiasakan anak menggosok gigi? a. 1 kali/hari b.No 15. Selalu Berapa kali anak dibiasakan keramas setiap minggu? a. Ya.6 96.9 21. Tidak pernah b. ≥ 3 kali/minggu Apakah anak setiap keramas menggunakan sampo? a. Pertanyaan Pada usia berapa anak boleh diberikan makanan seperti orang dewasa? Apa yang dimaksud dengan diare? Apa yang ibu lakukan ketika anak mengalami diare? Kemana ibu biasa membawa anak berobat saat mengalami diare? Apa yang ibu berikan saat anak mengalami diare? Apakah kegunaan sabun yang dipakai saat cuci tangan? Jawaban Benar n % 46 40 53 53 54 54 82.0 0.3 1. 1 kali/hari b.6 43.2 19.3 64. 1 kali/minggu b. 1 kali/hari c.1 28.3 14.8 7. ≥ 3 kali/hari Apakah anak setiap mandi menggunakan sabun mandi? a. Pola Asuh Kesehatan Berapa kali anak dibiasakan mandi setiap hari? a. Ya.4 Lampiran 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan No 1. 19.3 21.0 5.0 5. Sejak anak berusia > 2 tahun b.1 17.4 94. 7. Tidak pernah b. Kadang-kadang c. 2 kali/hari c. Kadang-kadang c. 4.3 0. 2 kali/minggu c. Kadang-kadang c.5 52. 2-3 kali/hari c. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.1 5. 18.4 3.3 77. ≥ 2 kali/hari Apakah anak dibiasakan menggunakan handuk bersih yang sama (tidak gonta-ganti) setelah mandi? a.4 19. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap menggosok gigi menggunakan pasta gigi? a. 20. Kadang-kadang c. 5. 10. ≥ 4 kali/hari Apakah anak dibiasakan mengganti pakaian setelah mandi? a.2 0 7. Ya. Sejak anak berusia 1-2 tahun c.6 94. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setelah makan? a.1 71. 3. 8. Ya. Ya. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi sebelum tidur? a.4 96.9 77.6 0. 6. Kadang-kadang c. 17. Tidak b.0 100.0 14.9 33. 1 kali/hari c. 11.1 92. .2 8. Tidak pernah b.0 80.4 64. Ya.1 2. 12. Selalu n 0 45 11 0 3 53 16 10 30 25 19 12 16 3 37 44 5 7 44 11 1 4 8 44 0 4 52 12 36 8 0 0 56 3 2 51 % 0.6 28. Ya. Tidak pernah b.8 12. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setiap hari? a.

Tidak pernah b. Ya.8 16. 16.4 32. Sejak anak berusia > 2 tahun b. Tidak pernah b. 17. 23.7 1.4 3. Selalu Apakah anak dibiasakan buang air besar pada tempat semestinya (kakus. 24.0 10.1 53. Ya. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih? a. Selalu n 6 24 26 18 29 9 6 1 49 3 17 36 % 10.7 7.4 30. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki sebelum tidur? a.1 0. 20.9 46. jamban)? a. Selalu Sejak kapan ibu membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan? a. Pola Asuh Kesehatan Apakah anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan? a. .4 89. Kadang-kadang c.5 5. Kadang-kadang c.0 23. Kadang-kadang c.0 28.3 14. 19. 22. Tidak pernah b./WC. Sejak anak berusia 1-2 tahun c. Tidak b. Tidak pernah b. Tidak pernah b.3 0. Selalu Apakah anak setiap mencuci tangan setelah buang air besar menggunakan sabun dan air bersih? a. Kadang-kadang c. Kadang-kadang c. Kadang-kadang c. Tidak pernah b.1 10. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki setelah bermain? a.4 67.6 58. Selalu Apakah ibu meperbolehkan anak bermain tanpa memakai celana? a. Selalu Apakah anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya? a.1 82.6 30.4 64. Kadang-kadang c.8 87.8 50. Tidak pernah b. Kadang-kadang c. 15.No 13. Tidak pernah b. Kadang-kadang c. 21.7 42. ≥ 3 kali/bulan Apakah anak dibiasakan memakai alas kaki ketika bermain/berada diluar rumah? a.9 26.6 71.1 51.9 18.6 57. 6 4 46 0 16 40 2 32 22 9 30 17 50 0 6 1 17 38 15 28 13 12 11 33 10. Selalu Apakah ibu mencegah anak bermain tanah? a. Kadang-kadang c.1 39.3 16. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk menggunting kukunya setiap bulan? a.4 19.7 1.8 30. Tidak pernah b.2 21. Tidak pernah b. 1-2 kali/bulan c.

476** p= 0.852 r= 0.113 Status gizi (BB/TB) p= 0.095 p= 0.036 p= 0.531** p= 0.008 r= -0.330* p= 0.148 p= 0.095 r= 0.001 r= 0.000 r= -615** Umur ibu p= 0.619 r= 0.108 p= 0.258 r= 0.068 p= 0.350** p= 0.905 r= 0.356 r= 0.076 Pendidikan ibu p= 0.184 r= 0.134 r= 0.413 r= 0.007 p= 0.227 r= 0.029 r= 0.191 r= -0.000 r= 0.264* p= 0.576 r= 0.026 p= 0.655 r= 0.186 r= -0.391 r= 0.226 Status gizi (TB/U) p= 0.177 p= 0.865 r= 0.231 p= 0.286 r= 0.252 p= 0.334 r= 0.275 r= 0.222 p= 0.179 p= 0.126 p= 0.023 p= 0.180 p= 0.097 p= 0.428 r= 0.000 p= 0.061 r= 0.311 PHBS ibu p= 0.440** Diare anak balita p= 0.384** Pengetahuan gizi ibu p= 0.087 r= -0.370 r= -0.059 p= 0.486 r= 0.988 r= 0.074 p= 0.145 p= 0.050 r= 0.408 r= 0.020 r= -0.292* Pola asuh makan p= 0.052 r= -0.095 p= 0.122 p= 0.486** p= 0.476 r= 0.485 r= -0.293* p= 0.055 r= 0.261 p= 0.122 p= 0.154 p= 0.063 p= 0.961 r= -0.004 r= 0.015 p= 0.586 r= 0.029 r= -0.258 p= 0.897 r= -0.369 r= 0.000 r= 0.643 r= -0.164 p= 0.018 - Keterangan:** Signifikan pada α 1% * Signifikan pada α 5% .403 r= 114 p= 0.915 r= -0.131 p= 0.016 p= 0.134 r= 0.112 p= 0.203 p= 0.791 r= 0.164 Pola asuh kesehatan p= 0.100 r= -0.138 p= 0.999 r= 0.002 p= 0.000 r= 0.Lampiran 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel Variabel Umur contoh BBLR Status gizi (BB/TB) Status gizi (TB/U) Umur ibu Pendidikan ibu PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Diare anak balita Umur contoh BBLR p= 0.117 p= 0.228 r= 0.203 p= 0.310 r= 0.013 r -0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful