PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA

, DI DESA CIKARAWANG BOGOR

IMA MARYANA ULFAH

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
IMA MARYANA ULFAH. Clean and Health Behavior, Nutritional Knowledge, and Caring Pattern, of Which Its Relation with Diarrhoea in Five-Year Babies in Cikarawang Village, Bogor. Supervised by CLARA M. KUSHARTO and SITI MADANIJAH Five-year babies are susceptible group for health and nutritional troubles. Mostly (70-80%), diarrhoea patients are five-year babies and 1-2% from those patients have a risk to experient dehydration. If they are not being help, they possibly will be die. Research general purpose is studied about the clean and health behavior, nutritional knowledge, and caring pattern of which its relation with diarrhoea in five-year babies in Cikarawang village, Bogor. Research design is Cross Sectional Study. Location of research is selected in purposive. Number of example is 56 five-year babies. Data is analysed descriptively and inferensia by Spearmann’s correlation test. Result of research shows that approximately half of examples (46,4%) suffers from diarrhoea. Nutritional status (p<0,05) and age from examples (p<0,01) have negatively and significantly correlation with diarrhoea. Environmental sanitary landfill--distance between water source and septic tank is less 10 m-- and dismissal of garbages are conditions that cause high case of diarrhoea. Mother who did not give exclusive ASI also causes infected diseases as diarrhoea. Self hygiene of five-year babies, accustoms to clean hand before eating and after, accustoms in bathroom, and wear sandals when out of the house must be considered to be not easy to come down with diarrhoea. Key words : diarrhoea, five-year babies, nutritional status, exclusive ASI, environmental sanitary

RINGKASAN
IMA MARYANA ULFAH. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pengetahuan Gizi, dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang, Bogor. Dibimbing oleh CLARA M. KUSHARTO dan SITI MADANIJAH. Diare merupakan salah satu contoh penyakit infeksi, sehingga akan menular. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Anak balita merupakan kelompok penduduk pasif dan rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makannya. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang, Bogor. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik anak balita, (2) Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita, (3) Mengidentifikasi karakteristik keluarga, (4) Mengidentifikasi PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, (5) Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita, (6) Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, dan (7) Menganalisis kaitan antara PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang, Bogor pada bulan Desember 2007 sampai April 2008. Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur), status gizi dan kesehatan anak balita, karakteristik keluarga (besar keluarga, umur, pendidikan, pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga), PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS. Data-data tersebut diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for window versi 11,5. Keterkaitan antar variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 46,4% anak balita mengalami diare selama tiga bulan terakhir. Lebih dari separuh anak balita (66,1%) adalah perempuan. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30,2±11,7 bulan. Proporsi terbesar umur anak balita (39,3%) berkisar antara 24-36 bulan, sisanya berumur ≤23 bulan (32,1%) dan berumur ≥37 bulan (28,6%). Terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0,01) antara umur anak balita dengan diare. Sebagian

besar anak balita (96,4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2,5 kg) dan sebanyak 3,6% anak balita memiliki berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Berdasarkan indeks BB/TB dan BB/U, sebagian besar anak balita memiliki status gizi normal, sedangkan menurut indeks TB/U berstatus gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0,05). Sebanyak 91,1% anak balita mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Diare merupakan jenis penyakit ke tiga terbesar (46,4%) yang dialami anak balita selama tiga bulan terakhir setelah panas (71,4%) dan ISPA (73,2%) dengan frekuensi tertinggi yaitu 1-2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Lebih dari separuh responden (60,7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 5,3±1,8 orang. Proporsi terbesar umur baik ayah maupun ibu berturutturut sebanyak 39,3% dan 44,6% berkisar antara 20-30 tahun (dewasa muda). Rata-rata umur ayah yaitu 33,0±6,8 tahun dan rata-rata umur ibu yaitu 27,7±5,7 tahun. Proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35,7%) yaitu SLTA/sederajat dan ibu (51,8%) yaitu SD/sederajat. Proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta dan jasa angkutan (33,9% dan 28,6%) dan sebagian besar ibu (75,0%) tidak bekerja. Proporsi terbesar pendapatan perkapita perbulan keluarga responden (58,9%) adalah >Rp150 000.00. Proporsi terbesar responden (69,6%) memiliki PHBS kategori tinggi dan 30,4% kategori sedang. Proporsi terbesar responden (48,2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang, sisanya tinggi dan rendah (42,9% dan 8,9%). Sebanyak 71,4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan 28,6% kategori tinggi. Lebih dari separuh responden (55,4%) memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi dan 44,6% kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi ibu. Sedangkan umur ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai serta Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare anak balita. Selain itu, jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), membiasakan Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB, menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika ke luar rumah. Serta, pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan, personal hygiene, dan pelayanan kesehatan) dan pentingnya ASI eksklusif.

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT. DI DESA CIKARAWANG BOGOR IMA MARYANA ULFAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA.

Bogor Nama NIM : Ima Maryana Ulfah : A54104065 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. Ir. Kusharto. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. Pengetahuan Gizi. Ir. Didy Sopandie. drh. Siti Madanijah. Dr. Dr. MAgr NIP 131 124 019 Tanggal Lulus: . MSc NIP 131 414 958 Dr.Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Clara M. MS NIP 130 541 472 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian Prof.

6. Dr. Ir. Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari dukungan beberapa pihak. Prof. yaitu kepada: 1. Dr. Ikeu Ekayanti. 4. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua keikhlasan bantuan yang telah diberikan. 7. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. drh. MS selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik yang dengan sabar dan penuh pengertian mendengarkan curahan hati serta memberikan bimbingan dan dorongan semangat yang luar biasa kepada penulis. MSc.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah swt senantiasa penulis panjatkan. Ikeu Tanziha. 2. Ir. MSi selaku dosen penguji atas arahan dan saran yang diberikan. Pengetahuan Gizi. Kusharto. arahan dan dukungan semangat yang luar biasa kepada penulis. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesejahteraan Rakyat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Desa Cikarawang atas bantuannya selama proses pengambilan data penelitian. 5. Dr. Tien Herawati SP. Pihak Desa Cikarawang. SP. MKes. Alhamdulillah. MS selaku dosen pemandu seminar dan Katrin Roosita. hidayah dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. MS dan Megawati Simanjuntak SP atas arahan dan saran selama proses pengolahan dan analisis data penelitian. Dr. Ir. . MSc selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan. Siti Madanijah. 3. Dadang Sukandar. Puskesmas Cangkurawok dan ibu-ibu kader Kampung Carang Pulang. Oleh karena itu. sungguh luar biasa karena atas rahmat. Ir. Clara M. Dr. Bogor”.

Manto. Dedew. GMSK 39. dukungan semangat. tumpangan kamar. DausBek. 11. Bapak Mashudi dan Bapak Dian atas dorongan semangatnya. Teman-teman BUD Cianjur (Dini dan Ade). Venny. Once. Dini. OMDA CIANJUR. Noni. teman-teman pameran PIMNAS XXI di Semarang. Mama. Rizka. Adin. Rekan-rekan pembahas Edo Rizky Fernando. Henny. perhatian. Abah. Wisma JASMINE dan FAIRUSH terima kasih atas kebersamaan yang indah. Yesa. Lola. Bogor. Tiche. saran. Sri. 43. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Ari dan Gamasakers 41 atas bantuan. Yulia.8. Ardi. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. 12. 40 dan GM 42. MpokIde. Kakang Rizki. Ira. RHEMAND (Nda. Noorma. Sahabat seperjuangan penulis Angelica Gabriel “My Beloved Friend”. Dede Aab serta keluarga besar di Cianjur atas semua kasih sayang. Friska. Yuli. Ena. Any. Agustus 2008 Ima Maryana Ulfah . Vina dan Emil. curahan hati dan keceriaan sampai terselesaikannya skripsi ini. temen seperjuangan KKP. 10. atas bantuan. teman-teman relawan Klaten. Teteh Milah. Bung). Firdaus. Rika. Sahabat-sahabat terbaik penulis Eka. Devita. dan doa untuk keberhasilan penulis. 13. kebersamaan yang indah dan keceriannya. Nur. dorongan semangat. Maul. dan Ibnu Akbar atas saran-saran yang telah diberikan untuk kesempurnaan penulisan skripsi. Arina. Ati. Dhyta. 9. BKGers (Semangat yo). Mei. penghuni AS-SAKINAH.

Tahun 2006 penulis pernah mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian dengan judul “Persepsi dan Sikap Mahasiswa Calon Bapak terhadap Pemberian ASI oleh Ibu kepada Bayi” yang berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Hasan Mulyadi dan Ibu Hj. Gizi dan Keluarga X (NPGK X)”. Serta. Pada tahun yang sama penulis mengikuti PKM bidang ilmiah dengan judul “Kajian Keadaan Lingkungan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Sehat Keluarga di Kampung Carang Pulang. Tahun 2007 penulis mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang pendidikan dengan judul ”Reformasi Pendidikan dan Perubahan Kurikulum serta Aplikasinya terhadap Pembentukan Kualitas Bangsa Indonesia” dan lolos sebagai 10 besar terbaik di IPB. Hiperkolesterol dan Hiperglikemia)”. Pada tahun yang sama penulis pernah menjadi relawan pada “Posko Penanganan Tumbuh Kembang Anak Korban Gempa di Kabupaten Klaten” yang diadakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Fakultas Pertanian. Semarang. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). 2007/2008. Bogor” dan berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi dalam Seminar Nasional “Nuansa Pangan. Desa Cikarawang. selama masa perkuliahan penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Pendidikan Gizi tahun ajaran . Siti Romlah. Divisi Dana Usaha dalam Seminar Konsultasi Gizi yang berjudul “Control Yourself From 3 Hypers (Hipertensi. Selain itu.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 02 Maret 1986 dari ayah H. Tahun 2006-2008 penulis aktif dalam organisasi otonom yaitu Badan Konsultasi Gizi (BKG). penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen FEMA. Penulis memilih Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK). Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber. Penulis merupakan putri ke dua dari empat bersaudara. Tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan terlibat dalam tim pameran PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Cianjur dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kabupaten Cianjur.

.............. 19 METODE PENELITIAN ..........................................................................................................................................................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL................... 51 Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita........... 21 Jenis dan Cara Pengumpulan Data.......................................................... 7 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).................................................................................................. 24 HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................................................... 32 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)......................... 2 Hipotesis........................................................................................................................................ 3 TINJAUAN PUSTAKA .... 1 Latar Belakang ............... 26 Karakteristik Anak Balita...................................................... 17 Pola Asuh Kesehatan ................................................................................................ 21 Pengolahan dan Analisis Data ................................................................................................................................................... 45 Pola Asuh ..................................................................................... 54 Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS....................................... 4 Karakteristik Anak balita ....................................................... 9 Pengetahuan Gizi ....................................... 3 Kegunaan Penelitian ....................................................................................... 18 KERANGKA PEMIKIRAN.. vi DAFTAR GAMBAR ................................. viii DAFTAR LAMPIRAN........ 26 Keadaan Umum Daerah Penelitian ....................................................................................................................................................................................... 47 Pola Asuh Kesehatan .................. 4 Status Gizi dan Kesehatan Anak balita ..................................... 47 Pola Asuh Makan................................... 16 Pola Asuh .................................................. 29 Karakteristik Keluarga Contoh............................................................................................................................................. 6 Karakteristik Keluarga ........................................................................................................... ix PENDAHULUAN .............................................................................. Pengetahuan ..................................................................................................................................................................................................... 35 Pengetahuan Gizi .... 21 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh .................................................. 1 Tujuan...................... 28 Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita ............................................................................................................ 22 Disain....................................................................................................................................................................................................... 5 Penyakit Diare ............. 16 Pola Asuh Makan............................... Tempat dan Waktu .......................... 22 Definisi Operasional ................................

......................... 57 Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita................ 60 Saran .................. 58 KESIMPULAN DAN SARAN .................. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan.............................. 56 Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita ................................................Gizi..................................................................... 66 ........................................................ 62 LAMPIRAN .. Pengetahuan Gizi.................................................................. 56 Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita ....................................... 60 Kesimpulan........................................................................ 58 Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita .............................................. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ...................................... 61 DAFTAR PUSTAKA ........ 55 Kaitan antara PHBS......................

................ 33 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan............ 35 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene ............................................................................ 38 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air ......... 45 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS ...... 44 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB........................................... 42 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan ............................... 21 Cara pengolahan dan analisis data ........................................................ 37 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan responden ............................................................ 27 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin..........DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis dan cara pengumpulan data ................. 45 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi .............................................................. 37 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat................................. 40 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah................................................................................................................ 31 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit................................................................................ 36 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang.............. umur dan berat badan lahir.......... 23 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya.............. 42 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal membantu persalinan ......... 40 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban... 30 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit............................................................. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit...................... 29 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir............. 32 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga .............................. 46 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan .................................................... 31 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit ............. 26 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin..... 32 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur...................................................................................... 28 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi...................... 34 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan....................................................... 34 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan .............. 41 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL .................................

responden ..... 51 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan ...................... 53 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita ........................................................ 56 40 Kaitan antara pengetahuan gizi responden dengan diare anak balita ...................................................................................................................................................................... 54 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS .................... 54 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita ... 58 ............ 47 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita.................................. 55 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita ...................................... 50 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan............................ 49 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita..................... 58 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita..................................................................................... 48 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita..................................... 46 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita .................................................................................... 57 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita .......................................

......DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum ........ 10 2 Kerangka Pemikiran PHBS............... Pengetahuan Gizi.............................. 20 ... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Kaitannya dengan Diare Anak Balita ...

..........DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.......... 67 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi............... jarak dan daya jangka .............. 67 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan.. 67 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban benar pengetahuan gizi ........................ kemudahan dihubungi dan cara pelayanan ........ 70 ....................................................................................... 68 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel ... .................................

Blum diacu dalam Topatimasang (2005) derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lingkungan (30%). perilaku hidup sehat (40%).PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. Contoh perilaku tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan. Menurut Henrik L. dan keturunan (20%). pelayanan kesehatan (10%). kebersihan perorangan. Selain itu. Serta perbaikan pembuangan tinja dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 22% (World Bank 1992 diacu dalam Irianti et al. tempat kerja. 2002). serta air dan udara yang bersih. faktor lingkungan dan perilaku hidup sehat sangat mempengaruhi derajat kesehatan. 2002). gaya hidup. sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih pun sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.S. dan perilaku terhadap upaya kesehatan. Badan Amerika Serikat untuk bantuan pembangunan internasional (U. Untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi. ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan (BPS 2002). Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam . Anonymous (2000) diacu dalam Sari (2004) menyatakan bahwa yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman atau perumahan. AID) telah merangkum hasil dari berbagai penelitian mengenai dampak perbaikan keadaan air bersih dan sanitasi di negara-negara sedang berkembang yang menyatakan bahwa perbaikan kualitas dan kuantitas air bersih dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 37%. kulit dan hepatitis A (Cairncross dan Feachem 1993 diacu dalam Irianti et al. Dari keempat faktor tersebut. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. sekolah dan tempat umum. Dampak kesehatan lingkungan yang buruk adalah tingginya angka kesakitan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water related diseases) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tinja (excreta-related diseases) sepert diare.

Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan. merawat anak. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan (Marotz et al. mental. 2005).dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Di Indonesia. (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007). . Bogor. Kosek et al. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. kebersihan anak. Dalam hal ini. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebesar 42-47% (Curtis dan Cairncross 2003 diacu dalam Rimbatmaja 2007). Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. secara umum lebih dari dua juta anak meninggal akibat diare setiap tahunnya. dan sosial. pengetahuan gizi dan pola asuh yang diduga menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. Masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang. memberikan makan anak. penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai aspek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Tujuan Tujuan Umum Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). diare adalah pembunuh anak balita nomor dua terbesar setelah ISPA (Rimbatmaja 2007).

Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada instansi terkait khususnya Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menindak lanjuti perihal yang menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. Mengidentifikasi karakteristik anak balita. pengetahuan gizi. 3. Menganalisis kaitan antara PHBS. pengetahuan gizi. pengetahuan gizi. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. 5. . Terdapat kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. Serta bagi masyarakat Desa Cikarawang khususnya. pengetahuan gizi. Terdapat kaitan negatif antara PHBS. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Mengidentifikasi PHBS. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dan bahan masukan untuk menyusun kembali perencanaan dan strategi dalam penentuan kebijakan. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. supaya lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk keberlangsungan hidup yang berkualitas. 4. 7. pengetahuan gizi. 3. 2. 2. Mengidentifikasi karakteristik keluarga. 6.Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk : 1. Hipotesis 1. Terdapat kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS.

sangat menentukkan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. selama tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi. kebiasaan. 2005). Umur Menurut Hurlock (1982) sikap. Orang tua harus dapat memanfaatkan rasa ingin tahu anak dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan masalah kesehatan. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian. Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling ideal untuk mulai memperkenalkan kepada anak tentang perilaku-perilaku dasar yang berhubungan dengan gaya hidup sehat. Sedangkan jika anak yang lahir pertama kali adalah anak laki-laki. Bayi BBLR mortalitasnya lebih tinggi. Berat Badan Lahir Bayi yang dilahirkan prematur atau dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terhadap mortalitas dan morbiditas akut dalam jangka panjang (Alberman 1994 diacu dalam Rahayu 2006). maka mereka memiliki keistimewaan karena memperoleh pekerjaan rumah tangga yang lebih sedikit dibandingkan yang perempuan serta diberi kesempatan untuk mengabaikannya (Hurlock 1982).TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin Anak perempuan khususnya anak sulung diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. Akan tetapi. pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi dengan berat badan lahir cukup (Alisyahbana 1983 diacu dalam Firlie 2001). keselamatan dan gizi. daya tahan terhadap penyakit lebih rendah. . Pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. Orang tua harus dapat meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai isu lingkungan yang kompleks serta pengaruhpengaruhnya (Marotz et al. dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama. gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental dan intelektual yang lebih tinggi dengan berat badan lahir normal (Utomo 1998 diacu dalam Firlie 2001).

Oleh karena itu. Menurut Riyadi (2001) berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberi gambaran tentang masa tubuh (otot dan lemak). penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. . Status gizi anak dinilai dengan mengunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). Oleh karena itu. Status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk dan biasanya dapat dilihat melalui indikator angka kesakitan yaitu persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. Indeks ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi underweight dan overweight. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Menurut Riyadi (2001) tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang mengambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Indeks BB/U mampu menggambarkan status gizi pada saat kini. Indeks BB/TB dapat memberikan gambaran proporsi BB relatif terhadap TB. Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi (BPS 2002). Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur.Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita Menurut BPS (2002) aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk yaitu status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi. Lebih lanjut Riyadi (2001) menyatakan kenaikan berat badan tiap bulan adalah indikator kesehatan anak yang paling peka. Indeks TB/U mengambarkan status gizi masa lalu (stunting). Riyadi (2001) menyatakan status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. Karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan mendadak seperti penurunan nafsu makan dan terserang penyakit infeksi. maka indeks ini merupakan ineks kekurusan (wasting). Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini. dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. salah satunya dengan antropometri. berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan bila dibandingkan tinggi badan. berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. tinggi badan menurut umur (TB/U).

cacing. Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya. keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia. buang air besar bukan pada tempatnya dan pencemaran makanan oleh serangga (kecoa. coli (20-30%). Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada anak yang lebih besar (Suharyono 1988 diacu dalam As’ad 2002). Sedangkan diare akut adalah diare yang timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari. Penyebab diare diantaranya yaitu virus. menurut Dinkes (2003) penyakit diare juga dapat ditularkan melalui beberapa cara diantaranya pemakaian botol susu yang tidak bersih. defisiensi zat gizi yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. penyebab diare akut yaitu: . Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar juga ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). E. Menurut Latifah et al. Suharyono (1988) diacu dalam As’ad (2002) penyebab prevalensi yang tinggi dari penyakit diare di negara yang sedang berkembang yaitu kombinasi dari sumber air yang tercemar. Ditinjau dari sudut patofisologi. lalat) atau oleh tangan yang kotor. Penggunaan air yang sudah tercemar juga dijadikan media pencemaran penyakit diare. alergi terhadap susu. protozoa). Kuman-kuman tersebut ditularkan secara faecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar.6%). Selain itu. kurang gizi dan daya tahan tubuh rendah (Saroso 2007). Salmomella (5-18%). (2002d) diare adalah suatu kondisi buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer. Vibrio cholera (5%). Penyakit diare dapat menular apabila adanya kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti pada makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi baik oleh serangga maupun tangan yang tidak bersih. menggunakan sumber air yang tercemar. parasit (jamur. Kuman yang paling sering menjadi penyebab diare akut pada anak yaitu Rotavirus (30.Penyakit Diare Penyakit diare merupakan penyakit infeksi. dan Shigella (2-5%). yang terjadi lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari). bakteri. bahkan dapat berupa air saja. Diare ada dua jenis yaitu diare akut dan diare kronis.4-36. sehingga akan menular. apalagi air yang digunakan tidak dimasak sampai mendidih terlebih dahulu.

makanan (misalnya keracunan makanan. Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. makanan yang pedas. hawa dingin. gangguan syaraf. Kematian diare akibat dehidrasi (kehilangan banyak cairan tubuh) dapat dicegah dengan Oral Rehydration Therapy (ORT).1. alergi dan sebagainya. . Selain itu. Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi. karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonymous 1985 diacu dalam Harianto 2004). kuman-kuman patogen dan apatogen .Kekurangan kalori protein dan mineral . Rumah . Diare osmotic (Osmotic diarrhea) yang disebabkan oleh: .Defisiensi imun terutama Sig A (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan terjadinya pelipatgandaan bakteri atau flora usus dan jamur terutama Candida.Infeksi virus. Hal ini disebabkan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga.Malabsorpsi makanan . gugup). Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk. Diare sekresi (Secretory diarrhea) yang disebabkan oleh: . 2. gangguan psikis (ketakutan. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). ORT dapat dilakukan dengan memberikan cairan (air) melalui mulut selama anak mengalami diare (Santrock 2002). Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. makanan yang terlalu asam).Hiperperistaltik usus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia.BBLR dan bayi baru lahir Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dengan dehidrasi.

Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006). Pekerjaan Orangtua Pada masyarakat tradisional. karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik (Berg 1986). serta hygiene dan dalam kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga (Madanijah 2003). pendidikan keikutsertaan pendidikan non formal dari orang tua dan anak-anak sangat penting dalam menentukkan status kesehatan. Umur ibu berkaitan dengan pengalaman ibu mengasuh anaknya dimana ibu yang relatif muda memungkinkan ibu kurang berpengalaman dalam mengasuh anaknya (Hurlock 1993). Umur Orangtua Orangtua muda terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga (Rahmawati 2006). Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan. Pendidikan Orangtua Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. fertilitas.yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan . informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat (Sukarni 1989). Menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di luar rumah. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya Pengetahuan dan terhadap perawatan formal kesehatan. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Dengan demikian.

Usaha kesehatan pokok (Basic Health Services) yang diajukan organisasi kesehatan sedunia (WHO) sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat diantaranya yaitu higiene dan sanitasi lingkungan. Keluarga dengan pendapatan terbatas besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. diantaranya pendidikan keluarga. serta pengobatan dan perawatan (Entjang 1985). dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). dan lingkungan hidup (Entjang 1985). Pendapatan Orangtua Kondisi ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga lainnya. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu penyebab penyakit. Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan. Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi (Hardinsyah 1997). serta kualitas tumbuh kembang anak balita (Gunarsa & Gunarsa 1985). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. perawatan kesehatan dan pemeriksaan. Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. kesehatan dan gizi balita.sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989). Dengan demikian. terutama bagi warga kelas ekonomi bawah. rohani. Pada tingkat keluarga. . kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. penurunan daya beli akan menurunkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan. akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. Hal ini tidak terlepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak yang selalu sehat (Khomsan 2005). karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2001). kesejahteraan ibu dan anak. manusia sebagai tuan rumah. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani.

Program PHBS adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan. Menurut Depkes RI (2006) indikator PHBS antara lain mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. 1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010) (Manda et al. lingkungan kesehatan (30%). Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat.Masalah determinan kesehatan. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. menolong dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang tinggi (Sinaga et al. perilaku kesehatan (40%). dan pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata. keluarga dan masyarakat. masyarakat yang sesuai dengan norma-norma kesehatan. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetik dan kependudukan (20%). Kependudukan/ keturunan Lingkungan kesehatan Derajat kesehatan morbiditas dan mortalitas Program dan pelayanan kesehatan Perilaku kesehatan Gambar 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum. menghuni rumah sehat. memiliki akses dan menggunakan air bersih. makan dengan gizi seimbang. cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar. 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. memiliki akses dan menggunakan jamban. 2006). perilaku sehat. Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. dan program dan pelayanan kesehatan (10%). kelompok. . Kebijakan Indonesia sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat. menurut Henrik L. 2005). terutama pada aspek budaya perorangan.

preventif (pencegahan penyakit). hepatitis. Usaha kesehatan perorangan (personal hygiene) yaitu mandi minimal 2kali sehari. persalinan ditolong tenaga kesehatan. memanfaatkan sarana kesehatan. dan folio) untuk mencegah datangnya penyakit 2. sikap dan praktik keluarga yang mampu mengonsumsi makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan. . Gizi Seimbang Perilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan. Usaha kesehatan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja). MMR. sosial. Aneka ragam makanan yaitu makan sebanyak 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan (Dinkes DKI Jakarta 2002). ikut keluarga berencana dan lain sebagainya. Higiene dan Sanitasi Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yg menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. biologi. menjaga saluran air agar tidak mampet. dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dan bebas dari pencemaran. Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati & Yuliarsih 2002). Higiene dan sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik. memeriksakan kehamilan. pakaian bersih. menimbang balita setiap bulan. Usaha pengebalan atau imunisasi. 3. menyikat gigi. dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. Usaha higiene sanitasi adalah usaha kesehatan preventif (mencegah supaya tidak sakit).membuang sampah dan limbah pada tempat yang semestinya. Menurut Widyati & Yuliarsih (2002) kesehatan masyarakat dibagi menjadi dua yaitu kesehatan kuratif (penyembuhan penyakit). Cara menjaga lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. Usaha kesehatan preventif dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1. dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan lingkungan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang 1985). menjaga kerja bakti dengan masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan. diberikan saat balita (BCG. olahraga dan lain-lain.

Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. wortel. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. pepaya. 2) lauk pauk sebagai sumber zat pembangun seperti ikan. tempe. sawi. 2. Rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini. . daging. teraso. seng. daun singkong. jagung. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan (Dinkes DKI Jakarta 2002). telur. tegel atau semen. dan kenyamanan manusia. mie. dan 3) sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur seperti bayam. sehinga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. semangka. daun katuk. jeruk. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. buncis. 4.Kelompok bahan makanan tersebut adalah 1) makanan pokok sebagai sumber zat tenaga seperti beras. singkong. pisang. nanas (Dinkes DKI Jakarta 2002). kangkung. (2002b) rumah adalah tempat manusia berlindung dari panas terik matahari. sirap dan nipah. kacang panjang. Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. diantaranya: 1. 3. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. hujan dan hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan. kacang-kacangan. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik dilakukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. dan kayu atau bambu. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. asbes gelombang. tahu. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya balita. ayam. ubi. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir lancar. Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. keamanan. 5. Rumah Sehat Menurut Latifah et al.

Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. maka paling sedikit harus ada satu kamar mandi. Selain itu kandang ternak harus memiliki tempat penampungan kotoran. Syarat kimiawi: tidak mengandung zat-zat berbahaya seperti zat-zat racun atau zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. 3) wadah penampung air disertai dengan tutup dan sering dibersihkan. Syarat fisik: syarat air yang dilihat dari fisiknya antara lain jernih. menurut Widyati & Yuliarsih (2002) air bersih dan sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. b. sumur yang terlindungi. Sanitasi Air Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah. Sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi minimum 10 meter dan dinding sumur 1 meter di atas tanah dan 3 meter dalam tanah serta harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar perembesan air dari sekitar tidak terjadi. Air bersih belum tentu dikatakan sehat. (1997) sumber air minum yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. 5) menggunakan alat-alat minum yang bersih (termasuk gayung sebagai alat pengambil air harus bersih). dan tidak berbau. Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. karena menurut Entjang (1993) untuk memperoleh air minum yang sehat dapat diperoleh melalui 1) sumber air yang bersih. tidak berwarna. 8. Menurut Subandriyo et al. Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi dengan jamban atau WC (Water Closet). Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut WC atau . 2002b). Syarat bakteriologis: air yang tidak mengandung penyakit. tidak berasa. 7. dan mata air yang terlindungi. 4) memasak air sampai mendidih sebelum diminum. Selain itu. c. 2) tangan dan tempat penampungan air bersih. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Jika anggota keluarga ada empat orang. air ledeng.6.

Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Menurut Latifah et al. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. sumur penampungan feses dan lubang resapan. tidak boleh mengotori sumber air minum seperti mata air atau sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci serta tidak pada tempat yang sering terkena banjir (Latifah et al. Tinja dari jamban dalam kamar mandi harus disalurkan melalui pipa dan ditampung di tangki septik (Latifah et al. Tempat yang dijadikan pembuangan sampah harus jauh jaraknya dari pemukiman. dari restoran dan dari kolam renang). juga mengandung lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit (Latifah et al. dari pabrik tinta. air buangan dapur. Jangan membiarkan sampah terlalu lama pada tempat pengumpulan sampah dan sebaiknya tidak melebihi 3x24 jam (Widyati & Yuliarsih 2003). . kloset (lubang tempat masuk feses). pabrik baja. Sumber air limbah yaitu 1) air limbah yang berasal dari rumah tangga (air dari kamar mandi. pabrik kimia). dan 3) air limbah yang berasal dari industri atau pabrik (air buangan dari pabrik tahu dan tapioka. Kotoran-kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan (Depkes RI 1995 diacu dalam Amperansyah 1999). Menurut Sukarni (1989) sarana pembuangan kotoran harus memenuhi persyaratan yaitu bangunan jamban harus mempunyai rumah kakus. 2002c). Sampah Sampah adalah segala sesuatu yang tidak terpakai lagi dan harus dibuang. Bahaya sampah yang tidak ditangani dengan baik mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. air bekas mencuci pakaian).kakus. lantai yang disemen. tidak pada tempat yang sering digunakan orang untuk lalu lintas. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. 2002c). pijakan kaki. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. pabrik kertas. 2) air limbah yang berasal dari perusahaan atau pusat perdagangan (air buangan dari hotel. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. pabrik cat. 2002a).

sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin. Menurut BPS (2002) fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan oleh penduduk desa untuk berobat adalah Puskesmas. oleh karena itu sulit memenuhi tiga syarat tersebut. jarak fisik dan sarana perhubungan yang tidak lancar antara pusat pelayanan kesehatan dengan tempat tinggal penduduk. pembuangan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. antara lain sistem pelayanan yang ada selama ini belum diterima oleh masyarakat. secara ekonomis. lokasi pusat-pusat pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak atau lebih banyak berada di kota-kota besar. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. biasanya digunakan untuk membuang air limbah yang berasal dari industri/pabrik dan peternakan atau rumah pemotongan hewan (Latifah et al. Penyaluran air limbah tanpa diolah dapat dilakukan dengan menggunakan tanki septik dan sistem riol. pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak dan belum seluruh Puskesmas dipimpin oleh dokter. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat tergantung oleh keadaan ekonomi. 2002c). Untuk memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keterjaminan mutu. Ada dua jenis sistem pembuangan air limbah yaitu menyalurkan air limbah tanpa diolah sebelumnya dan menyalurkan air limbah dengan diolah terlebih dahulu.Syarat-syarat pembuangan air limbah diantaranya tidak mengotori sumber air bersih. Berdasarkan hasil penelitian Sirajudin (1981) diacu dalam Herman (2005) masyarakat lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. Menurut BPS (2005) pada tahun 2005 secara umum persalinan . Sedangkan. Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua yaitu pelayanan kesehatan tradisional dan pelayanan kesehatan modern. Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. 2002c). maka pelayanan kesehatan tersebut akan mahal. Hal ini menurut Sukarni (1994) disebabkan oleh beberapa hal. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat pendapatan perkapita keluarga. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat belum optimal. petugas kesehatan dan praktek dokter. tidak menjadi tempat berkembang biak serangga perantara penyakit (lalat dan nyamuk) dan tidak menimbulkan bau dan merusak pemandangan (Latifah et al.

. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa balita. akan tetapi disebabkan oleh kemiskinan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan keluarga khususnya anak-anak. mencegah ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan yaitu mengikuti perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga. pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Pola Asuh Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. dan mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut (Dinkes DKI Jakarta 2002). Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nutrition Assesment Educational Project di Washington (1999) diacu dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa rendahnya perhatian terhadap masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan atau pemahaman tentang gizi yang baik. bidan dan tenaga medis lainnya. terutama bayi. mencegah memburuknya keadaan gizi.balita ditolong oleh tenaga medis diantaranya oleh dokter. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. Cicely William diacu dalam Berg (1986) melaporkan studi di Afrika Barat bahwa gizi kurang tidak terjadi karena kemiskinan harta. Mendidik menyangkut pola ajar (proses sosialisasi). bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau tenaga bukan medis lainnya. balita dan ibu hamil. Persalinan oleh dokter. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata dan telinga. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). Pengetahuan Gizi Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan adalah hasil dari tahu. Kegunaan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita.

Dalam hal ini. Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) pada usia anak di bawah lima tahun merupakan masa yang . Pola asuh dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. kebersihan anak. Hikmat & Soemartono 2000 diacu dalam Adnyadewi 2004). Pola Asuh Makan Pola asuh makan adalah praktik yang diterapkan ibu khususnya yang berkaitan dengan situasi dan cara makan.pengertian dan perasaan serta keterampilan dan pengetahuan. maka ibu dengan mudah memberikan makan kepada anaknya dan dapat merasakan bahwa situasi waktu makan adalah saat-saat yang mambahagiakan (Tambingon 1999). imunisasi. stimulasi dini. merawat anak. keluarga berencana. dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Pada usia pra sekolah. kesehatan anak. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. melalui berbagai bentuk interaksi antara ibu dan anak. mental. sanitasi lingkungan dan lainnya (Soendjojo. Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan (Hardinsyah & Martianto 1992). orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran kepada anak mengenai isu-isu lingkungan. (2005) menyatakan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. perumahan. Menurut Hurlock (1982) penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. Masalah makan pada anak dapat terjadi karena anak meniru pola makan orang tuanya yang makan pada saat menjalani diet untuk menurunkan berat badan (Khomsan 2004). Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. memberikan makan anak. Marotz et al. dan sosial. Membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada anak balita yaitu gizi anak. anak-anak sering mengalami fase sulit makan.

Mengingat bayi dan anak adalah individu pasif. terutama oleh orang tuanya (Depkes RI 1997 diacu dalam Rahayu 2006). Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. hal ini terlihat dari banyaknya orang yang terkena penyakit karena tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995 diacu dalam Rahayu 2006). kondisi fisik masih lemah. Ketika anak sedang makan. Pola Asuh Kesehatan Menurut Rahayu (2006) pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena ia belum sanggup untuk merawat dirinya sendiri. Higiene diri sangat penting diketahui dan dipraktikan oleh setiap orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat. maka penjagaan kesehatannya merupakan tanggungjawab individu dewasa di sekitarnya. Selain itu. kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. orang tua jangan terlalu banyak memberi nasehat. Higiene diri adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis. artinya sangat tergantung dari diri sendiri yang praktiknya harus diketahui. Pendidikan dan kekuasaan orang tua mampu meningkatkan kemampuan pengasuhan dan perawatan anak dengan lebih baik dalam suatu keluarga (Aronson 1991). Sedangkan ayah berperan dalam hal interaksi sosial dan mengajarkan norma budaya kepada anak baik laki-laki maupun perempuan yang ada di lingkungannya (Santrock 2002). Perawatan kesehatan anak balita akan mempengaruhi tingkat morbiditasnya. Oleh karena itu. perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. Anak seyogiayanya diberi kesempatan untuk memilih makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari orangtua. Menurut Khomsan (2004) orang tua yang pilih-pilih makanan (picky eaters) dan tidak suka sayur secara tidak langsung akan menyebabkan anak berperilaku makan seperti orang tuanya. .tergolong rawan. Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. dimengerti. suasana makan haruslah menyenangkan sehingga anak tidak seperti pesakitan di meja makan. Anak balita yang tidak terawat baik fisik maupun makanannya akan mudah terserang penyakit. dan dilaksanakan oleh setiap individu (Suklan 2000 diacu dalam Rahayu 2006). Ibu berperan secara konsisten bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan perawatan fisik anak.

rohani. Anak balita yang tidak terawat baik fisik mapun makannya akan mudah terserang penyakit infeksi contohnya diare. perilaku kesehatan serta pelayanan kesehatan. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan. Menurut Madanijah (2003) pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. Oleh karena itu. Menurut Henrik L. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik. Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makan bagi anak balita. faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. higiene dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. Dari keempat faktor tersebut. Mengingat anak balita merupakan kelompok individu pasif dan merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Masalah kesehatan merupakan masalah yang komplek karena terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. sehingga akan berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. lingkungan kesehatan. Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan.KERANGKA PEMIKIRAN Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. . Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetika dan kependudukan. PHBS yang disertai dengan pengetahuan gizi yang baik mampu membentuk perilaku yang baik pula. Penyakit diare yang diderita oleh anak balita akan mempengaruhi status gizinya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006).

Pola Asuh Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu Status Gizi Anak Balita Diare Anak Balita Keterangan: = Variabel yang diteliti = Hubungan yang dianalisis Gambar 2 Kerangka pemikiran PHBS. pola asuh makan dan pola psuh kesehatan kaitannya dengan diare anak balita.Karakteristik Keluarga .Umur Orangtua .Umur .Pekerjaan Orangtua .Pendapatan Keluarga Pengetahuan Gizi Ibu Karakteristik Anak Balita .Besar Keluarga .Berat Badan Lahir Pola Asuh .Jenis Kelamin .Pendidikan Orangtua . .Pola Asuh Makan . pengetahuan gizi.

Kecamatan Darmaga. sekunder Primer Cara pengumpulan data Wawancara Wawancara dan antropometri Alat ukur Kuesioner. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang. timbangan injak dan mikrotoa Kuesioner 2 3 Primer Wawancara 4 Primer Wawancara Wawancara. Kabupaten Bogor.METODE PENELITIAN Desain. Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data No 1 Variabel Karakteristik anak balita Status gizi anak balita Status kesehatan (diare anak balita) Karaktersitik keluarga PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh Lokasi penelitian Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Data . status gizi dan kesehatan anak balita. pendidikan. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang. observasi Pengisian kuesioner Wawancara Monografi Desa Cikarawang Kuesioner 5 6 7 8 Primer Primer Primer Sekunder Kuesioner Kuesioner Kuesioner .Umur . Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh.Berat badan lahir BB/TB BB/U TB/U Pernah/tidak sakit Frekuensi sakit Lama sakit Besar keluarga Umur orang tua Pendidikan orangtua Pekerjaan orangtua Pendapatan keluarga Jenis data Primer. umur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008. Tempat dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional study yaitu data diambil pada waktu tertentu secara bersamaan. Desa Cikarawang. Desa Cikarawang.Jenis kelamin . KMS Kuesioner. pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga). Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. karakteristik keluarga (besar keluarga. Menurut Nasution (2003) jumlah sampel 10% dari total populasi dianggap cukup memadai dalam sebuah penelitian. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Berdasarkan Tabel 1 data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur).

Selain itu, data primer juga meliputi PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS (Tabel 1). Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Program komputer yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for Window versi 11,5. Status gizi anak balita dikategorikan menjadi gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (zscore -2SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Sedangkan status kesehatan diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, jenis penyakit, frekuensi dan lama sakit selama tiga bulan terakhir (Tabel 2). Total skor PHBS dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu PHBS rendah (24-38), PHBS sedang (39-53) dan PHBS tinggi (54-67). PHBS aspek pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan, kunjungan ke pelayanan kesehatan, persepsi jarak, persepsi daya jangkau, akses terhadap sumber informasi, persepsi terhadap kemudahan petugas kesehatan, serta persepsi cara pelayanan petugas kesehatan disajikan dalam bentuk deskriptif (Tabel 2). Pengetahuan gizi dinilai dengan pemberian skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Menurut Khomsan (2000) jawaban pengetahuan gizi diklasifikasikan ke dalam 3 kriteria, yaitu pengetahuan gizi baik (>80%), pengetahuan gizi sedang (60%-80%) dan pengetahuan gizi kurang (<60%) (Tabel 2). Data pola asuh makan diperoleh dengan memodifikasi kuesioner dari penelitian yang telah dilakukan oleh Khairunnisak (2004) yaitu dengan memberikan 16 pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Data pola asuh kesehatan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup sebanyak 24 pertanyaan. Total skor dari pertanyaan tersebut dikategorikan

menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72). Tabel 2 Cara pengolahan dan analisis data
No Variabel Sub Variabel a. Jenis kelamin b. Umur (bulan) • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kategori ≤23 24-36 ≥37 (Turner & Helms 1991) BBLR (<2,5) Non BBLR (≥2,5) Gizi kurang (z-score <-2SD) Gizi normal (z-score -2SD-+2SD) Gizi lebih (z-score >+2SD) 1 2 ≥3 1-3 4-7 8-14 >14 Remaja (13-19) Dewasa muda (20-30) Dewasa madya (31-50) (Turner & Helms 1991) Kecil (≤4) Besar (>4) Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi Buruh tani/kebun Petani pemiliki Pedagang/wiraswasta Pegawai negeri/swasta Jasa angkutan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Ibu Rumah Tangga (IRT) Lainnya ≤Rp 100 000.00 Rp 100 001.00-150 000.00 >Rp 150 000.00 Rendah (24-38) Sedang (39-53) Tinggi (54-67) (Subandriyo et al. 1997) Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) (Khomsan 2000) Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) (Slamet 1993) Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (57-72) (Slamet 1993)

1

Karakteristik anak balita

c. Berat badan lahir (kg) 2 Status gizi anak balita BB/TB, BB/U, TB/U a. Pernah/tidak sakit b. Frekuensi sakit (kali/3 bulan)

3

Status kesehatan anak balita (diare)

c. Lama sakit (hari)

a. Umur orangtua (tahun)

b. Besar keluarga (orang)

c. Pendidikan orangtua 4 Karakteristik keluarga

d. Pekerjaan orangtua

e. Pendapatan keluarga

5

PHBS ibu

6

Pengetahuan gizi ibu

a. Pola asuh makan 7 Pola asuh b. Pola asuh kesehatan

Definisi Operasional Contoh adalah anak yang berada pada golongan usia satu sampai dengan lima tahun yang akan diamati status gizi dan status kesehatannya khususnya diare. Status gizi anak balita adalah kondisi kesehatan tubuh anak balita yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diperoleh dengan menggunakan metode antropometri. Indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB, BB/U, dan TB/U. Status gizi dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan perhitungan zskor yaitu gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (z-score -2 SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Status kesehatan anak balita adalah kondisi kesehatan (riwayat sakit) anak balita dalam tiga bulan terakhir yang meliputi jenis penyakit, frekuensi sakit (berapa kali sakit) dan lama sakit (dalam hari) dengan menggunakan kuesioner. Diare pada anak balita adalah kejadian buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari pada anak balita. Besar keluarga adalah banyaknya orang yang tinggal (hidup) di bawah satu atap yang sama dan makan dari satu dapur yang sama. Pendidikan orang tua adalah lama pendidikan formal (pendidikan terakhir) ayah dan ibu, diklasifikasikan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi (PT). Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dimiliki ayah dan ibu yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi buruh tani atau kebun, petani pemilik, pedagang atau wiraswasta, pegawai negri/swasta, jasa angkutan, Pembantu Rumah Tangga (PRT), Ibu Rumah Tangga (IRT). Pendapatan perkapita perbulan adalah jumlah pendapatan yang dinilai dengan uang (rupiah) perbulan yang dibagi dengan besar keluarga dan diklasifikasikan menjadi <Rp100 000.00, Rp100 001.00-150 000.00 dan >Rp150 000.00. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu adalah tindakan atau aktivitas ibu tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Berdasarkan

rumus interval total skor PHBS diklasifikasikan menjadi rendah (2438), sedang (39-53) dan tinggi (54-67). Pengetahuan gizi ibu adalah pengetahuan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan meliputi definisi dan fungsi zat gizi, sumber pangan dengan kandungan zat gizi tertentu, akibat defisiensi zat gizi, akibat mengonsumsi makanan yang tidak bersih, waktu pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, definisi dan pencegahan diare, serta penanganan saat anak balita mengalami diare. Pengetahuan gizi diklasifikasikan menjadi tiga menurut Khomsan (2000) yaitu baik (>80%), sedang (60%-80%) dan kurang (<60%). Pola asuh makan adalah cara dan kebiasaan ibu dalam memenuhi kebutuhan makan anak balita yang meliputi riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Pola asuh kesehatan adalah cara dan kebiasaan ibu memperlakukan anak balita dalam penerapan kebersihan diri dan perilaku kesehatan lingkungan. Total skor dari aspek pola asuh kesehatan yaitu 24-72 yang dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72).

pertanian sawah.070 52.19 0.54 0.0 0. 84 ha.0 0. Sawah pengairan setengah teknis c.925 0 0 0. sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Ciapus. Tambak b.260 18. Pasar e.35 2. Sedangkan dari desa ke ibukota kabupaten sejauh 35 km dan dapat dicapai selama dua jam.073 2 0.016 0. Jarak dari desa ke ibukota kecamatan adalah sejauh 3 km dan dapat ditempuh selama setengah jam. Sawah pengairan teknis (irigasi) b.510 225.0 0.86 0. dll) g. Terminal f.0 16.22 100.10 23.007 0.0 11.0 0.07 3. perkebunan. sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Cisadane-Ciapus dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situ Gede. Perkebunan Negara c. perkantoran. Kolam c. Tempat peribadatan (masjid. Lain-lain Perikanan Darat/Air Tawar a.84 % 0.226 8 0 38. bangunan-bangunan (sekolah.800 4.0 Batas wilayah Desa Cikarawang yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cisadane. .18 0. Perkebunan rakyat b. gereja. Sawah pasang surut Perkebunan a. yang dipergunakan untuk pemukiman umum. Desa Cikarawang merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 700 m dpl.0 0. Tabel 3 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya Penggunaan Pertanian Sawah a. Empang/tebat Total Sumber: Data dasar profil desa 2007/2008 Luas ha 0 25. Kuburan/makam h.455 75. Pertokoan/perdagangan d. Jalan i. dan lain-lain).075 0.88 0. Perkebunan swasta Pemukiman Umum Bangunan a. Sawah tadah hujan d. vihara. masjid. kuburan. dan lain sebagainya (Tabel 3).HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian Berdasarkan data dasar profil desa tahun 2007/2008 luas wilayah Desa Cikarawang yaitu 225. Sekolah c. pura.03 0.23 33. Perkantoran b. jalan.32 8.430 0 0 0 0.

Tabel 4 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin Umur (Tahun) 0-5 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 Jumlah Laki-Laki 443 408 392 379 389 398 304 311 261 215 183 158 189 144 4 174 Perempuan 515 366 389 369 374 378 285 288 251 193 160 141 147 145 4 001 Jumlah 958 774 781 748 763 776 589 599 512 408 343 299 336 289 8 175 Sumber : Data dasar profil desa 2007/2008 Penggolongan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga dibagi ke dalam empat kelompok yaitu keluarga pra sejahtera (900 KK). dan Dusun III terdiri dari RW 5. hanya sepuluh bangunan MCK yang sudah ditembok rapi dan sisanya belum ditembok. Selain itu. dan keluarga sejahtera III (100 KK). sisanya berada di Kampung Carang Pulang. Jumlah penduduk Desa Cikarawang seluruhnya adalah sebanyak 8 175 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2 000 KK. tujuh Rukun Warga (RW) dan 32 Rukun Tetangga (RT). sampai saat ini Desa Cikarawang telah memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang diperuntukkan bagi masyarakat secara umum di dua belas tempat. 6 dan 7. keluarga sejahtera II (300 KK).Desa Cikarawang terdiri dari tiga Dusun. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Cikarawang paling banyak berada pada golongan usia anak balita. Dusun II terdiri dari RW 3 dan 4. keluarga sejahtera I (700 KK). fasilitas penyediaan air bersih di Desa Cikarawang sebagian besar berasal dari sumur pribadi atau mata air pribadi. Namun. Dusun I terdiri dari RW 1 dan 2. RW 1 dan 2 berada di Kampung Cangkrang. Kedua belas MCK tersebut dibangun berdasarkan bantuan pemerintah daerah Kabupaten Bogor (PKPS BBMIP) tahun 2005. Kedua belas bangunan MCK yang dibangun tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya masyarakat . Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan aparat desa.

sebanyak 3. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh anak balita (66.6 96. Karakteristik Anak Balita Karakteristik anak balita dalam penelitian ini menjelaskan mengenai jenis kelamin. cuci dan kakus.6%).0 32. Berdasarkan Tabel 5.6% anak balita memiliki Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat badan <2.1 39. mandi.1%) dan berumur ≥37 bulan (28.1%) berjenis kelamin perempuan.7 bulan. Akan tetapi.0 .2±11. sisanya berumur ≤23 bulan (32.4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2. Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari Puskesmas Cangkurawok bahwa proporsi anak balita yang berjenis kelamin perempuan di Kampung Carang Pulang lebih banyak dibandingkan laki-laki.3%) berkisar antara 24-36 bulan. Tabel 5 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.4 100.4 kg. dan berat badan lahir. umur.3 28. sebagian besar anak balita (96. umur dan berat badan lahir Karakteristik Anak balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Umur (bulan) ≤23 24-36 ≥37 Total Berat Badan Lahir (kg) <2. Menurut Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) bayi dengan BBLR memiliki mortalitas lebih tinggi dan daya tahan terhadap penyakit lebih rendah serta pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi yang memiliki berat badan lahir cukup. Proporsi terbesar umur anak balita (39.9 66.yang menggunakan air sungai/hujan/sumur dan mata air yang tidak terlindungi sebagai sumber air minum.0 3.1±0.1 100.5 kg.5 ≥2. Berat badan lahir anak balita berkisar antara 2-4 kg dengan rata-rata 3.6 100.5 Total n 19 37 56 18 22 16 56 2 54 56 % 33.5 kg).

8% berstatus gizi lebih. Hiswani (2003) menyatakan bahwa masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan .4 92. Berbeda halnya dengan status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U.0 Status gizi erat kaitannya dengan penyakit infeksi. proporsi terbesar anak balita (57. Sisanya sebanyak 5.0 56 100. Berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan apabila dibandingkan tinggi badan.1 43 76.9 1. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini (Riyadi 2001). Menurut Riyadi (2001) dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur.0 56 100. Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi.4% anak balita memiliki status gizi kurang dan 1. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.Status Gizi dan Kesehatan Anak balita Status Gizi Anak balita Berdasarkan perhitungan z-score indeks BB/TB pada Tabel 6 sebagian besar anak balita (92.8 100.2% berstatus gizi kurang (Tabel 6).0 Indeks Antropometri BB/U TB/U n % n % 13 23. penyerapan. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal.9% berstatus gizi normal. Tabel 6 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih Total n 3 52 1 56 BB/TB % 5.1%) termasuk ke dalam status gizi rendah.9%) memiliki status gizi yang tergolong normal. sisanya 42. Riyadi (2001) menyatakan bahwa indeks BB/U sebagai indikator status gizi mampu menggambarkan status gizi pada masa kini.8 24 42.2 32 57. WHO (1983) diacu dalam Riyadi (2001) interpretasi status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. Berdasarkan indeks BB/U sebagian besar anak balita (76. salah satunya dengan antropometri. dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara.0 0 0. Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek dibandingkan dengan berat badan.9 0 0.8%) termasuk ke dalam status gizi normal dan 23.

9% anak balita tidak mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. keluarga berencana. imunisasi.4%). kurap. Tabel 8 menunjukkan bahwa penyakit yang tidak pernah dialami seluruh anak balita adalah campak. Aritonang (1996) dan Victoria et al (1999) diacu dalam Briawan & Herawati (2005) menyatakan kurang gizi adalah faktor pra kondisi yang memudahkan anak menderita penyakit infeksi khususnya infeksi saluran pernapasan dan diare. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0. Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa hampir seluruh anak balita (91. sanitasi lingkungan dan lainnya. Menurut BPS (2002) status gizi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk. borok dan alergi terhadap beberapa jenis pangan seperti ikan asin.1 8.9 100 Menurut Soendjojo. Status Kesehatan Anak balita Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi. . Tabel 7 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir Status Kesehatan Sakit Tidak Sakit Total N 51 5 56 % 91. Hikmat & Soemartono (2000) diacu dalam Adnyadewi (2004) untuk meningkatkan status kesehatan anak balita diperlukan suatu perhatian dalam hal gizi. Anak-anak yang kurang gizi menyebabkan rusaknya sistem imun sehingga mudah terkena penyakit. status gizi yang baik akan mempengaruhi status kesehatan seseorang. Jenis penyakit yang paling banyak dialami anak balita selama tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 yaitu panas (71.1%) mengalami sakit dan hanya 8. Penyakit kulit yang dialami anak balita antara lain panu. kesehatan.4%).05). perumahan. stimulasi dini.masalah penyakit infeksi. Oleh karena itu. Anak yang mengalami gizi kurang memiliki kesempatan lebih besar menderita penyakit infeksi terutama penyakit diare. ISPA (73. bisul.2%) dan diare (46.

4 11 0.0 0 0. ISPA (44.4%) dan diare 1 kali (32.3 0.1%). ISPA 2 kali (30.0 14 35.0 0 32. Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya Frekuensi Sakit (kali) 1 2 % N % n 35. tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya.6%).Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit Jenis Penyakit Panas ISPA TBC Campak Cacar Diare Kulit Lainnya n 40 41 2 0 3 26 6 2 % 71.0 0 ≥3 % 30.6 0.2 17 30.0 12 23. sehingga yang bertanggungjawab dalam hal kebersihan diri adalah orang dewasa khususnya ibu dari anak balita.1%).5 1 50.0 0 0.7 2 100.0 1. Sebagian besar anak balita menderita penyakit panas sebanyak 1-2 kali (35%).7 0.0 5.6 Frekuensi sakit anak balita selama tiga bulan terakhir cukup bervariasi.4 73. diare (30.0 N 14 13 0 3 18 3 2 Tabel 10 menunjukkan sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu panas (57.4 46.0 0 0.0 0.1 7 12. .8 33.0 1 16. Anak balita adalah individu pasif. Mandi minimal 2 kali sehari dengan menggunakan air bersih dan sabun merupakan salah satu cara agar terhindar dari penyakit kulit.4%).0 0 100. Penyakit kulit erat kaitannya dengan kebersihan diri seseorang.0 19.4%) dan kulit (5.4 10.2 3.7 3. Sedangkan frekuensi untuk jenis penyakit lainnya adalah 1 kali (Tabel 9).

0 0 0.3 60.6 14.Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama hari sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya 1-3 N 32 25 0 0 17 3 1 % 57. meso dan makro).0 1.0 0.0 0 0.0 0.4 1.0 0. Keluarga sangat tergantung dengan dan juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (mikro. Karakterisitik Keluarga Contoh Besar Keluarga Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3-10 orang dengan ratarata 5.8 n 7 13 0 1 8 2 0 Lama Sakit (hari) 4-7 8-14 % n % 12.0 1.8 23.6 0.7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang.6 0 0. Seorang anak akan memperoleh hubungan antar pribadi pertama kali dalam lingkungan .8 orang.0 30. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden (60.0 >14 n 0 0 0 0 0 1 1 % 0. Responden menyatakan untuk penyakit TBC. Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga Kecil (≤4 orang) Besar (>4 orang) Total n 22 34 56 % 39.0 Puspitawati (2007) menyatakan keluarga merupakan salah satu lembaga sosial yang tidak dapat berdiri sendiri.3 1 1. TBC termasuk ke dalam jenis penyakit ISPA yang bersifat kronis.0 0.0 0.8 1.0 0.8 2 3.8 3. kedua anak balita sedang melakukan pengobatan rutin sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter hingga benar-benar kedua anak balita tersebut dinyatakan sembuh.2 3 5. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. Lama hari penyakit TBC lebih dari 14 hari.7 100.5 1 1.4 5.3±1.8 Selain jenis penyakit di atas.4 0.1 44. frekuensi penyakit TBC tidak diikut sertakan dalam tabel frekuensi sakit (Tabel 9) dikarenakan penyakit tersebut sudah berlangsung cukup lama yaitu selama 32 hari dan saat penelitian dilaksanakan penyakit tersebut masih diderita kedua anak balita.

7±5.8 tahun. Ayah n 18 22 16 56 % 32. Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa besar keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi sedangkan menurut Suharini (1998) diacu dalam Madihah (2002) bahwa jumlah anggota keluarga yang besar disertai dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga menderita kurang gizi.0±6. Tabel 12 menunjukkan bahwa proporsi terbesar baik ayah (39. Selain itu. sedangkan ibu (51. Secara keseluruhan tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu masih rendah karena keduanya masih banyak yang berpendidikan SD/sederajat dan hanya 3.7 tahun.6 23. sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. tingkat pendidikan ayah lebih tinggi dibandingkan dengan ibu.3 28.keluarga.7%) yaitu SLTA/sederajat. Umur Orang Tua Umur ayah berkisar antara 23-50 tahun dengan rata-rata 33. Tabel 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Tabel 13.0 .6% saja ayah dan 1.6% ) berumur antara 20-30 tahun.3%) maupun ibu (44. Menurut Hurlock (1993) orang tua muda.3 100. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35.0 n 18 25 13 56 Ibu % 32. Jumlah keluarga yang banyak dapat mempengaruhi kondisi gizi dan kesehatan dari anggota keluarga. Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa muda (Turner & Helms 1991).6 100. Sedangkan umur ibu berkisar antara 19-47 tahun dengan rata-rata 27. terutama ibu.8%) yaitu SD/sederajat.8% ibu yang berpendidikan akademi/diploma/PT.1 44.1 39.

6%).0 n 29 20 6 1 56 Ibu % 51. Oleh karena itu. fertilitas.0 0.Tabel 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Ayah n 18 16 20 2 56 % 32.0 Menurut Sukarni (1989) pendidikan orang tua akan menentukan status kesehatan.7 10. Tabel 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan Buruh tani/kebun Pedagang/wiraswasta Pegawai negri/swasta Jasa angkutan PRT IRT Lainnya Total Ayah n 10 8 19 16 0 0 3 56 % 17.3 33.6 35. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa proporsi terbesar tingkat pendidikan ibu (51. Sedangkan. Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta (33.0 12.0 10.9%) dan jasa angkutan (28. Dengan demikian. sebagian besar ibu (75.0 5.6 0.0 100.4 100. secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimilikinya. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi daripada yang berpendidikan rendah. Selain itu.7 3.8 35.6 100.8 100.0 n 0 7 1 0 6 42 0 56 Ibu % 0.0 0.0 Menurut Rahmawati (2006) pada masyarakat tradisional.5 1.0%) tidak bekerja atau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT).9 14.1 28.7 75.7 1.8%) adalah SD/sederajat. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga.8 0. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.9 28. menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di .

2 58.9 23.2% responden memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar Rp100 001. Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga perbulan berkisar antara Rp300 000. garis kemiskinan untuk Kabupaten Bogor yaitu Rp150 000. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh responden (58.00-Rp150 000.00/kapita/bulan.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas garis kemiskinan. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007).8. Proporsi terbesar responden (55. Kebiasaan menggosok gigi merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari penyakit khususnya sakit gigi. .00. lebih dari separuh responden (58.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar >Rp150 000.00 dengan rata-rata Rp1 073 393. Kebiasaan mandi minimal dua kali dalam sehari merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.4%) menggosok gigi dua kali setiap harinya.9%) selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar serta melakukan aktivitas mandi dua kali setiap harinya.00 dan sebanyak 17.9 100.9. Rata-rata pendapatan perkapita perbulan responden yaitu Rp210 113.3.00 Total n 10 13 33 56 % 17. Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan (Rp/kap/bln) <100 000.luar rumah. Sukarni (1989) menyatakan bahwa pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan.0 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Higiene Tabel 16 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (58.00±Rp106 712.00. Sebanyak 23.00 100 001.00 >150 000.00.00. Dengan demikian.9% berpendapatan <Rp100 000.00-150 000. Menurut BPS (2005).00±Rp597 650.00 sampai Rp2 620 000.

2 kali c. dua kali (30. Tidak b. memasak tetapi tidak sampai mendidih c. 3 kali Memasak air untuk minum a.7%.9 41. kamar mandi pribadi n 1 22 33 0 33 23 0 31 25 0 0 56 18 17 21 12 6 38 % 1.9%) melakukan aktivitas mencuci di kamar mandi pribadi. 1 kali b.1%). salah satu cara untuk menurunkan tingkat kesakitan khususnya diare pada diminum.0 55. ≥ 3 kali/hari Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari? a. Lebih dari separuh responden (67.4 10. ya Kebiasaan mandi dalam sehari? a. memasak sampai mendidih Membersihkan kamar mandi dalam seminggu a.3 58.9 0.5%). akan tetapi masih ada responden yang melakukan aktvitas mencuci di sungai yaitu sebanyak 21. ≥ 3 kali Melakukan aktivitas mencuci a. kamar mandi umum c.0 32.9 anak balita dapat dilakukan dengan membiasakan memasak air sampai mendidih sebelum .0 100. Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene PHBS aspek Higiene Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar a. 1 kali b. Oleh karena itu.4 44. 2 kali/hari c.Tabel 16 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum.4%) dan ≥ tiga kali (37.4 37.7 67. 1 kali/hari b. Frekuensi responden membersihkan kamar mandi dalam satu minggu terlihat pada Tabel 16 yaitu satu kali (32. dengan alasan agar terhindar dari penyakit khususnya sakit diare karena kuman dalam air tersebut mati. tidak memasak air b.8 39.6 0.0 0. 2 kali c. kadang-kadang c. sungai b.4% dan di kamar mandi umum sebanyak 10.1 0.0 58. Menurut Suririnah (2007) air yang tidak dimasak sampai mendidih maka akan menjadi media pencemaran untuk penyakit diare.5 21.1 30.

0 90. sebanyak 6. protein hewani Nasi.6 100.0 0 13 0 13 0. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang . Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.00 000.6% responden yang biasa menyediakan menu makan beragam yaitu nasi. Hanya 3.3 3. nasi. nasi. sayur dan buah) adalah berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan >Rp150 000.0 100. Keluarga dengan pendapatan terbatas.1 84. lauk pauk. sayur dan buah. protein hewani b.0 Total n 4 50 2 56 % 7.00 atau di atas garis kemiskinan menurut BPS Kabupaten Bogor tahun 2005. lauk pauk. protein nabati. lauk pauk. Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang PHBS aspek gizi seimbang Menu makan keluarga sehari-hari a.3 3. lauk pauk.0 0. Tabel 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan per kapita perbulan responden Menu Makan Keluarga Nasi. protein nabati dan sayur Nasi. nasi. sayur c.0 Mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik untuk keberlangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. Kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. protein nabati dan sayur. sayur dan buah Total Pendapatan Perkapita Perbulan (Rp/Kap/Bln) 100 001.6 yang selalu menyediakan menu makan keluarga secara beragam (nasi. besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh.0 100.00 >150 000. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga.1 89.3%) menyatakan bahwa menu makan yang biasa disajikan untuk keluarga yaitu makanan pokok. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002).0 3 28 2 33 9.1 100.0 0.Gizi Seimbang Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 sebagian besar responden (89.1 89. sayur dan buah Berdasarkan Tabel 18.00-150 <100 000.8 6.1% n 4 50 2 responden % 7.0 100.00 N % n % n % 1 9 0 10 10.

8%) memilik luas hunian ≥10.6 60. ijuk/daun-daunan/lainnya b.0 m2 Jenis lantai rumah a. <10 m dari rumah b. seng/asbes/kayu c. ada. ada.6 28. <7. tegel atau semen. dan kayu atau bambu.7 3.4 94. kayu/ bambu c. 7.9 m2 c. tertutup c.5.6 96. teraso. beton/genteng Dinding rumah a. tidak ada b. tembok Letak kandang ternak a.8 69. Hasil penelitian . Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat PHBS aspek rumah sehat Luas hunian a. tidak punya n 6 21 29 0 2 54 1 39 16 0 2 54 0 3 53 20 2 34 % 10.6 96.8 0 3. Rumah Sehat Tabel 19 memperlihatkan bahwa separuh responden (51.9. Luas hunian yang tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga menyebabkan penularan pertukaran penyakit oksigen diantara kurang anggota optimal keluarga. bambu/lainnya b.6 0 3.7 Tabel 19 menunjukkan sebagian besar jenis lantai rumah responden (96.6 35. seluruhnya tanah/lainnya b.4%) adalah berjenis marmer/keramik/ubin/tegel/teraso/semen.5 51. (2002b) bahwa salah satu syarat rumah sehat yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik.0 m2 perkapita. kayu c.4 1. >10 m dari rumah c.4 0 5. terbuka Atap rumah a.5 m2 b. sehingga Menurut memudahkan Notoatmodjo (1997) rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit. marmer/keramik/ubin/tegel/ teraso/semen Jendela rumah a. ≥10.beraneka ragam yaitu akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita (Dinkes DKI Jakarta 2002). BPS (2004) menyatakan bahwa salah satu indikator rumah sehat menurut WHO adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 m2 perkapita. Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah et al.7 37.

2002b). Lebih lanjut Subandriyo et al. (2002b) atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al.6%) berada dalam keadaan tertutup (Tabel 19).7% responden memiliki kandang ternak dengan jarak antara kandang ternak dengan rumah yaitu <10 m (Tabel 19). Menurut Latifah et al. Latifah et al. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran responden dalam menjaga kenyamanan serta kebersihan rumah masih rendah. Lebih dari separuh jendela responden (69. Menurut Latifah et al.7%) tidak memiliki kandang ternak dan sebanyak 35.6%) yaitu ledeng/sumur terlindung/mata air terlindung (Tabel 20).4%) berupa genteng/beton. asbes gelombang. Hal senada juga diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa dinding yang paling baik adalah tembok. (2002b) menyatakan fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. Lebih dari separuh responden (60. Air yang digunakan sehari-hari harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan. (2002b) lantai rumah berupa tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. Serta dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah.menunjukkan bahwa tidak ada satu responden pun memiliki jenis lantai rumah berupa tanah. sirap dan nipah. dan sebanyak 94. Sumber air minum yang digunakan sebagian besar responden (78. (2002b) air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman.6% dinding rumah responden berupa tembok (Tabel 19). Ada tidaknya jendela di setiap ruangan yang dapat dibuka dan ditutup berhubungan dengan ventilasi udara. (2002b) syarat rumah sehat lainnya yaitu kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Keberadaan kandang ternak di sekitar rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan karena memudahkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kotoran ternak. Rumah yang sehat memerlukan jendela yang cukup untuk jalan masuknya cahaya ke dalam rumah. Menurut Latifah et al. Atap rumah sebagian besar responden (96. Menurut Latifah et al. Sanitasi Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. (1997) menyatakan bahwa sumber air minum yang . seng.

air ledeng. Kondisi tersebut menyebabkan sumber air tercemar oleh bakteri yang dapat dijadikan media penularan penyakit diare. dan kakus a.6 17. Oleh karena itu.6 80. Tidak punya b. sungai b.5 53. Proporsi terbesar responden (53.6 83. ledeng/sumur terlindungi/mata air terlindungi Jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat a.4 12. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan tempat penampungan kotoran minimum 10 m.6 33.5 53. Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban PHBS aspek kepemilikan jamban Tempat keluarga biasa buang hajat a.6%) dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m (Tabel 20). <10 m c.9 n 2 10 44 7 30 19 % 3.1 3. mandi.4%) melakukan aktivitas buang hajat yaitu di tempat kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik (Tabel 21). Sebagian besar keluarga responden (80.6 12.9 . Kamar mandi umum c. Menurut Subandriyo et al. sumur tak terlindungi/mata air tak terlindungi c. Sungai/pancuran b. sumur yang terlindungi dan mata air yang terlindungi. kakus sendiri/kakus bersama tanpa tangki septik c. Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air PHBS aspek sanitasi air Sumber air minum. kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik Tempat keluarga mandi a.bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. Menurut Depkes RI (1995) diacu dalam Amperansyah (1999) kakus digunakan untuk menyimpan kotoran (hajat). Kamar mandi pribadi n 9 2 45 7 2 47 % 16. ≥10 m Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut kakus. air sungai/air hujan/lainnya b. sehingga tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan. cuci.9 78. sangat disarankan bagi masyarakat memiliki kakus yang dilengkapi dengan tangki septik.

Menurut Latifah et al. Selain itu.9%) terbiasa membuang air limbah di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air (Tabel 23).3 0. akan tetapi sebanyak 12. Air sungai/pancuran bukan merupakan sumber air yang bersih dan sehat. Perilaku tersebut masih jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat. Menurut Latifah et al. lubang sampah terbuka c. Lebih dari separuh responden (60. Hal ini disebabkan oleh tidak terlindunginya air tersebut dari kotoran baik tinja. mampu mengundang lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit.7 39. sehingga berdampak terhadap status kesehatan keluarga. sampah maupun air limbah. Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah PHBS aspek penanganan sampah Tempat pembuangan sampah a. Perilaku tersebut belum mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat. Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat kesehatan. Sampah Seluruh responden terbiasa membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya.7%) terbiasa membuang sampah di tempat terbuka/di pekarangan dan tanpa dikumpulkan dan sebanyak 39. sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Sehingga. N 34 22 0 % 60.0 . Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) sumber air yang tercemar merupakan salah satu media yang dapat menularkan penyakit diare.5% responden melakukan aktivitas mandi di sungai/pancuran.Berdasarkan Tabel 21 sebagian besar responden (83. (2002c) bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik yaitu dapat menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit (seperti cacing. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang dapat menularkan penyakit diare. lubang sampah tertutup/dibuat kompos Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Lebih dari separuh responden (67. (2002c) sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. tempat terbuka di pekarangan dan tanpa dikumpulkan b.9%) melakukan aktivitas mandi di kamar mandi pribadi. kemungkinan air sungai/pancuran tercemar oleh bakteri lebih tinggi dibandingkan dengan air di kamar mandi pribadi yang sumber airnya berasal dari ledeng atau sumur yang terlindungi.3% responden membuang sampah pada lubang terbuka (Tabel 22).

Posyandu/Puskesmas/praktik bidan n 0 56 % 0. Berdasarkan Lampiran 1.9 0. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. pemeliharaan kesehatan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa alasan utama responden mengunjungi ketiga fasilitas pelayanan kesehatan tersebut adalah jarak yang dekat dan terjangkau. pemeliharaan kebersihan dan sebagainya. Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya. di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air b.4%). Lebih lanjut Satoto (2004) menyatakan jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan kehamilan.0 n 38 0 18 % 67.0 32.Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL PHBS aspek SPAL Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) a. Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan Pelayanan kesehatan Pemeriksaan kehamilan a. Puskesmas dan praktik bidan. Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. Kondisi janin yang sehat akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak selanjutnya. Dukun b.8%) dan praktik bidan (51. ke dalam lubang tertutup tanpa tangki septik c.1 Nadesul (2005) menyatakan bahwa kehamilan merupakan masa yang sangat penting karena pada saat itu mutu seorang anak ditentukan. Menurut Fogel dan Woods (1995) hal 431 diacu dalam Satoto (2004) perempuan yang tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah daripada yang memperoleh perawatan kehamilan yang memadai. . sebagian besar responden menyatakan bahwa jarak ke Posyandu (96. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar.0 100.8%) adalah dekat. Puskesmas (76. ke dalam tangki septik Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa seluruh responden biasa melakukan pemeriksaan kehamilan di Posyandu.

pasien sama sekali tidak dipungut biaya. Hal ini disebabkan oleh pembagian jadwal tugas dokter yang berbeda antara kedua Puskesmas yang berada di Desa Cikarawang.9%). daya jangkau (biaya) juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan. lebih dari separuh responden (69.6%). proporsi terbesar responden menyatakan bahwa daya jangkau ke Posyandu (98.3%) adalah mudah. Satoto (2004) . Puskesmas (83. selain membantu persalinan dukun paraji juga ikut membantu memandikan bayi dan “ngurut” ibu setelah melahirkan sampai usia 40 hari kelahiran. Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal antara kader Posyandu dan responden yang berdekatan karena merupakan warga setempat.9%).Selain jarak.6%) saat persalinan dibantu oleh bidan baik oleh bidan Puskesmas maupun praktik bidan. Satoto (2004) menyatakan bahwa biaya pemeriksaan kehamilan di Posyandu.1%). sehingga rasa kekeluargaan diantara mereka masih cukup tinggi. Selain itu. Berdasarkan Tabel 25. seluruh responden menyatakan bahwa kader Posyandu mudah dihubungi dan cara pelayanannya pun baik. bahkan mereka akan memperoleh vitamin secara gratis. Berdasarkan Lampiran 1. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut juga mudah dihubungi yaitu dokter Puskesmas (62. sebanyak 30. Tidak berbeda halnya dengan dokter dan bidan Puskesmas serta praktik bidan.4%). Pada umumnya baik bidan Puskesmas maupun praktik bidan lebih mudah dihubungi dibandingkan dengan dokter Puskesmas.3%).4% responden menyatakan bahwa saat persalinan dibantu oleh dukun paraji. bidan Puskesmas (94. Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara kader Posyandu dan responden dapat terjalin dengan baik. lebih dari separuh responden pernah mendapatkan informasi gizi dari ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut yaitu dokter Puskesmas (57. Akan tetapi.0%) adalah baik. Berdasarkan Lampiran 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden.5%). Apalagi di Posyandu. Berdasarkan Lampiran 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi gizi dari kader Posyandu (92.2%) dan praktik bidan (64.6%) dan praktik bidan (75. bidan Puskesmas (94.9%) dan praktik bidan (64. Hampir seluruh responden menyatakan bahwa cara pelayanan dokter Puskesmas (96.2%). Puskesmas dan bidan desa sangat murah karena pasien hanya membayar retribusi. Selain itu. bidan Puskesmas (73. dan praktik bidan (67.

Berdasarkan Lampiran 2. Puskesmas/praktik bidan n 17 39 % 30. Tabel 26 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu berobat ke tenaga medis ketika anggota keluarga sakit. makanan-makanan tersebut tidak baik dikonsumsi.6%) menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi gizi dari dukun paraji.menyatakan bahwa dukun akan melakukan pemijatan pasca melahirkan untuk mengembalikan stamina tubuh ibu dan bayinya akan memperoleh perawatan sampai tali pusatnya lepas. daging kambing. mie instan. Alasan dukun paraji yang mendasari pantangan tersebut yaitu rahim ibu masih luka. roti.6 Alasan utama responden menggunakan tenaga bukan kesehatan (dukun paraji) saat persalinan yaitu jarak yang dekat dan terjangkau. Menurut BPS (2004) penimbangan anak balita merupakan salah satu upaya dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk melihat tumbuh kembangnya.6%). Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa seluruh responden ikut dalam program Keluarga Berencana (KB). sangat dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah atau Wanita Usia Subur (WUS) menerapkan program KB. pisang. Hal ini disebabkan oleh jarak dan daya jangkau ke rumah sakit jauh . ikan asin. proporsi terbesar responden (44. talas. Seluruh responden selalu membawa anak balita ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan berat badan (Tabel 26). Berdasarkan hasil wawancara.1%) dan mudah dijangkau (69. Perawatan tersebut dilakukan sampai 40 hari dengan biaya yang relatif murah. kangkung dan sebagainya. Menurut BPS (2006) program KB merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden menyatakan bahwa jarak ke tempat dukun paraji dekat (66. buah nangka. Oleh karena itu. Sehingga. durian. responden lebih sering mengunjungi Puskesmas untuk berobat ketika sakit dibandingkan rumah sakit. Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pertolongan persalinan Pelayanan kesehatan Pertolongan saat persalinan a. Secara umum responden hanya mendapatkan nasihat-nasihat berupa pantangan setelah melahirkan seperti tidak boleh makan yang manis (”bolu”). ubi.4 69. Dukun b.

ini menunjukkan bahwa kesadaran responden dalam berperilaku hidup bersih dan sehat sudah cukup baik (Tabel 27).0 0.9%.9% kategori tinggi.0 100. sanitasi air. kepemilikan jamban. Tidak b.2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 42. Tidak b.6 100. rumah sehat. Pada umumnya responden mengunjungi rumah sakit ketika anggota keluarga mengalami sakit yang cukup parah sehingga membutuhkan pengawasan dan perawatan dokter yang cukup intensif. Ya Penimbangan anak balita di Posyandu a. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit Pelayanan kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) a.6%) memiliki PHBS termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 30.0 0.0 Berdasarkan pemaparan di atas mengenai aspek PHBS yang meliputi higiene. Akan tetapi. Dukun b. masih ada responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah yaitu sebanyak 8.0 Pengetahuan Gizi Tabel 28 menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden (48. Tidak ada satu responden pun yang memiliki kategori PHBS rendah.dan sulit.4 69. Tabel 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS Kategori PHBS Rendah (24-38) Sedang (39-53) Baik (54-67) Total n 0 17 39 56 % 0. Ya Tempat berobat keluarga ketika sakit a.0 100. Tindakan yang didasari oleh . Puskesmas/praktik bidan/klinik/rumah sakit n 0 56 0 56 0 56 % 0.0 100. Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB. penanganan sampah dan SPAL serta pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (69.0 30. Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan.4% kategori sedang. gizi seimbang.

9 100.0 Akademi/Dip loma/PT N % 0 0 1 1 0.1%). Kelima pertanyaan tersebut adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (53.6%). zat gizi untuk pertumbuhan (44.6%).9 48.2 42.0 Tabel 29 menunjukkan bahwa secara umum responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah memiliki tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) juga. Tabel 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) Total n 5 27 24 56 % 8.6%).0 35.1%) dan pemberian ASI eksklusif (41. jenis pangan karbohidrat (44.2 42.0 Total n 5 27 24 56 % 8.0 50.9 100.pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi responden atau sebaliknya.01). Hal ini mengindikasikan bahwa kelima pertanyaan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertanyaan lainnya. jenis pangan sumber Fe (57.0 100.0 65.0 100. Tabel 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan responden Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Total Tingkat Pendidikan SD/sederajat N 5 17 7 29 % 17.1 100.0 100.0 Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi pun menjadi lebih baik.0 50.2 58. Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi responden (p<0.9 48.0 SLTA/sederajat n 0 3 3 6 % 0.0 SLTP/sederajat n 0 7 13 20 % 0. . Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawati (2006) bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan.6 24. Berdasarkan Lampiran 3 dapat diketahui bahwa terdapat lima pertanyaan pengetahuan gizi yang dapat dijawab responden kurang dari 60%.0 0.0 100.

Dalam hal ini. responden sudah memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang.6 Tidak n % 42 75.4 . Tabel 30 menunjukkan bahwa sebanyak 75.Pada umumnya responden mengetahui lama pemberian ASI eksklusif yaitu empat bulan. bubur bayi dan lainnya. (2005) menyatakan bahwa masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilakuperilaku gaya hidup sehat.9 53. Pola Asuh Makan Pola asuh makan pada penelitian ini meliputi riwayat menyusui dan penyapihan. cara memperkenalkan makan. Marotz et al. dan sosial. Hanya 41.0 85. cara mempersiapkan makanan. Ketidakmampuan responden menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan benar kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya pendidikan responden.7 67. cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. lama pemberian ASI eksklusif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah enam bulan. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. Karena pendidikan akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang yang akan berdampak terhadap status kesehatan dan status gizi keluarga. Tabel 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Anak diberi ASI eksklusif (ASI saja hingga 6 bln) Anak diberi kolostrum? ASI diberikan sesuai permintaan bayi? ASI diberikan sampai anak berusia 2 tahun? Ya n 14 48 38 30 % 25. orang tua harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan.1% responden yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Pola Asuh Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya secara fisik.0% responden tidak memberikan ASI eksklusif (6 bulan). biskuit. susu formula.3 18 32. Akan tetapi. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.0 8 14. mental. Pada umumnya setelah anak berusia empat bulan bahkan kurang. Menurut Sukarni (1989) dan Madanijah (2003) tingkat pendidikan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan.1 26 46.

Krisnatuti & Yenrina (2000) menyatakan bahwa kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran. Tabel 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita Cara memperkenalkan makan anak balita Anak dibiasakan mengonsumsi makanan beragam Pertimbangan ibu dalam memperkenalkan makan kepada anak berdasarkan faktor gizi Ibu membiasakan menyediakan kudapan untuk anak setiap hari Ibu memberikan makan kepada anak sebanyak tiga kali sehari Ya n 52 23 26 54 % 92. Hal senada diungkapkan oleh Masithah. Berdasarkan Tabel 30. sebagian besar responden (85.6 3. Cara memperkenalkan makan untuk anak balita meliputi membiasakan mengonsumsi makanan beragam. Soekirman dan Martianto (2005) bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi intestinal. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.7%) memberikan kolostrum kepada anaknya. Akibat . Kolostrum mengandung zat gizi untuk sistem kekebalan tubuh anak dari penyakit.9%) memberikan makanan yang beragam kepada anak balita.1 46.9 41. Lebih dari separuh responden (67. pertimbangan dalam hal memberikan makan karena faktor gizi.1 58. Sehingga tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) yang dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi seperti yang diperoleh dari kolostrum.6%). sehingga dapat mengurangi risiko terserang diare. Tabel 31 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92.Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi. bahkan sangat mudah dan murah memberikannya kepada bayi (Dinkes DKI Jakarta 2002).6 Menurut Dinkes DKI Jakarta (2002) fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. frekuensi memberikan makanan utama dan memberikan makanan kudapan.4 96.9%) memberikan ASI sesuai dengan permintaan dan memberikan ASI sampai usia 2 tahun (53.9 53.4 Tidak n % 4 33 30 2 7. Kebiasaan ini sangat baik karena dengan memberikan makanan beragam mampu memperbaiki status gizi anak balita sehingga terhindar dari gizi kurang.

5 14.3 89.7% tidak melakukan aktivitas memasak tiga kali sehari (Tabel 32).9% responden memberikan makan anak balita sesuai dengan kondisi keuangan keluarga.3% responden menghangatkan kembali makanan sebelum dikonsumsi.5 85. pengolahan.tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam.2 Tidak n % 7 48 6 1 12. sehingga tidak dapat .5%) mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak balita. Tabel 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita Cara mempersiapkan makanan anak balita Ibu mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak Ibu memasak makanan dalam sehari dilakukan secara bertahap (pagi. Menurut Krisnatuti & Yenrina (2000) ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk membentuk kondisi anak sehat yaitu makanan bergizi dan sanitasi (kebersihan). Kuman-kuman tersebut akan membentuk toksin yang tahan panas. Mulai dari tahap persiapan.4%) memberikan makan utama untuk anak balita yaitu tiga kali dalam sehari (Tabel 31). Faktor kebersihan harus selalu dijaga pada setiap tahapan penyediaan makanan bayi.1%) sudah memperhatikan faktor gizi sebagai pertimbangan dalam memberikan makan kepada anak balita (Tabel 31). siang. Berdasarkan Tabel 32 sebagian besar responden (87. Kurang dari separuh responden (41. Menurut Pujiarto (2007) makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam mengakibatkan kuman tumbuh subur dalam makanan tersebut.8 Berbeda halnya dengan kebiasaan memasak responden yaitu sebanyak 85. sampai penyajian termasuk kebersihan peralatan makanan yang akan digunakan.6% tidak memberikan makanan kudapan setiap harinya kepada anak balita.7 1.3 98. Sesuai dengan jawaban yang diperoleh dari responden saat wawancara dapat diketahui bahwa sebanyak 58. Akan tetapi. Keadaan ini berdampak pada kebiasaan responden yaitu sebanyak 53.7 10. Pada umumnya responden memasak satu sampai dua kali sehari. sore/malam) Ibu terbiasa memanaskan/menghangatkan kembali makanan sesaat sebelum dikonsumsi Ibu selalu menutup makanan sebelum dihidangkan Ya n 49 8 50 55 % 87. sebagian besar responden (96. sehingga sebanyak 89. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita.

6 26. Tabel 33 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (80. pada umumnya responden memberikan makan sambil jalan-jalan atau aktivitas lainnya. sehingga makanan tersebut cukup aman untuk dikonsumsi dan mampu mengurangi penyebaran penularan penyakit yang membahayakan manusia.1 94.2% responden masih memberikan makan kepada anak balita dengan cara disuapi. kalaupun mau makan itupun dalam jumlah yang sedikit.4 Tabel 33 menunjukkan sebanyak 83. Tabel 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita Cara memberikan makan anak balita Ibu membiasakan anak makan sendiri dengan asumsi sudah dapat memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut tanpa tumpah Ibu memberikan makan kepada anak dengan cara disuapi Ibu memberikan makan pada anak di meja makan (makan bersama) Cara mengapresiasi proses makan anak balita Ibu selalu berusaha agar anak menghabiskan makanannya (membujuk.2 16. Responden mengeluh anak balita mulai sulit makan.6% responden selalu melakukan kegiatan . sebanyak 94. pilih-pilih serta jarang habis. Kebiasaan memasak secukupnya sesuai dengan kebutuhan. maka sebelum dilakukan proses menghangatkan makanan harus terlebih dahulu disimpan dalam lemari pendingin. agar anak balita mau makan. merayu) Ya n 45 41 9 53 % 80. lebih baik dibandingkan dengan menghangatkan kembali makanan tersebut.8 83. Oleh karena itu. Sebagian besar responden (98. Kalaupun makanan yang diolah bersisa. Membiasakan menutup makanan sebelum dihidangkan dapat mengurangi kontak fisik serangga (kecoa.9 5.4%) sudah mulai membiasakan anak balita untuk makan sendiri. Hal ini bertujuan agar makanan tetap terjaga kebersihannya.6 n 11 15 47 3 Tidak % 19.4 73. Sehingga. Hal ini dikarenakan anak balita tersebut belum bisa memegang sendok dengan benar sehingga saat memasukkan makanan ke dalam mulut masih tumpah.dihancurkan dengan memasak makanan tersebut. Akan tetapi.9% responden belum membiasakan anak balita makan di meja makan (makan bersama). sebanyak 73. lalat) dengan makanan.2%) selalu menutup makanannya sebelum disajikan/disantap (Tabel 32). Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak balita.

Oleh karena itu. merayu atau memberikan pujian.6%) membiasakan anak balita menggosok gigi ≥2 kali/sehari dan sebanyak 64.1% responden membiasakan anak balita agar menggunakan handuk yang sama dan milik pribadi (tidak gonta-ganti). Lebih dari separuh responden (52.4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan sebanyak 28.9% anak balita selalu menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi.4 28. Akan tetapi. Lebih lanjut Hurlock (1982) menyatakan penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. n 0 40 16 56 % 0. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang.1% responden mulai membiasakan gosok gigi saat berusia ≤1 tahun (Lampiran 4). Tabel 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan Pola Asuh Makan Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) Total Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Lampiran 4 dapat diketahui bahwa sebanyak 80.0 .0 71. Berdasarkan pemaparan di atas dari ke lima aspek pola asuh makan dapat diketahui bahwa sebanyak 71.6% kategori tinggi. Seluruh responden menyatakan bahwa selalu mengganti pakaian anak balita sehabis mandi dan sebanyak 91. Hasil penelitian mengenai kategori pola asuh makan dapat dilihat pada Tabel 34.2% responden belum membiasakan anak balita menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan dan hanya 21. Tidak ada satu responden pun yang memiliki pola asuh makan kategori rendah. sebanyak 77.6% selalu menggunakan sabun ketika memandikan anak balita. menurut Hardinsyah & Martianto (1992) perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan.4% responden membiasakan anak balita mandi dua kali dalam sehari dan sebanyak 94.apersepsi supaya anak balita mau makan misalnya dengan cara membujuk. anak sering mengalami fase sulit makan. Pada usia pra sekolah.6 100. Menurut Khomsan (2004) membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu.

4% responden sudah membiasakan anak balita menggunting kuku ≥3 kali dalam satu bulan dan sebanyak 39. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan sabun dan air bersih sangat penting dilakukan karena dapat menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan. akan tetapi cukup dengan menggunakan tangan responden yaitu dengan cara “dielus-elus” (Lampiran 4). Curtis & Cairncross (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007) mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Lebih dari separuh responden (64.5% menggunakan air bersih untuk mencuci tangannya.9%) keramas menggunakan sampo. Sebanyak 46. Walaupun masih ada responden sebanyak 21. karena kuku yang panjang dan tidak terawat mampu menularkan penyakit. Sebagian besar responden (89.1%) sudah membiasakan anak untuk buang air besar pada tempat semestinya yaitu kamar mandi (Lampiran 4). Menurut Notoatmodjo (2003) kotoran manusia (tinja) adalah sumber penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan manusia.4% responden membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan dan sebanyak 87.2% responden membiasakan mencuci rambut anak balita (keramas) sebanyak ≥3 kali/minggu dan sebagian besar anak balita (92.6%) kadang-kadang dibiasakan untuk mencuci kakinya setelah bermain.4% yang menyisir rambut anak balita hanya 1 kali/hari. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebanyak 42-47% Kebersihan kuku juga sangat penting untuk diperhatikan.3% anak balita dibiasakan selalu menggunakan alas kaki ketika bermain atau berada di luar rumah. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh saat wawancara bahwa rambut anak balita tipis dan pendek sehingga tidak perlu disisir untuk merapikannya.Sebanyak 77.9% anak balita sudah dibiasakan mencuci kaki sebelum pergi tidur oleh responden dan lebih dari separuh anak balita (53. Menurut Tjitarsa (1992).3%) selalu menggunakan sabun ketika mencuci tangan anak setelah buang air besar dan sebagian besar responden (82. Selain itu. Serta sebanyak 51.3% responden membiasakan menyisir rambut anak balita 2-3 kali/hari. sebanyak 64. kebiasaan tersebut mampu mencegah terjadinya penyakit diare.8% responden sudah membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan saat berusia 1-2 tahun.3%) tidak memperbolehkan . Sebanyak 67. Sebanyak 71.

Lebih dari separuh responden (58.0 44.9%) sudah membiasakan anak balita untuk membuang sampah pada tempatnya (Lampiran 4). sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan signifikan dengan kedua pola asuh tersebut. kondisi fisik masih lemah dan kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi.0 Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara PHBS ibu dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan (P<0. karena dengan membuang sampah pada tempatnya mampu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya.6% kategori sedang (Tabel 35). Tabel 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan Pola Asuh Kesehatan Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (56-72) Total n 0 25 31 56 % 0.4%) memiliki pola asuh kesehatan termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 44.6 55.01). pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena anak balita belum mampu untuk merawat dirinya sendiri. memberikan makan dan menjaga kebersihan anak balita. Lingkungan rumah yang bersih akan menciptakan lingkungan nyaman yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang. terdapat kecenderungan apabila pengetahuan gizi ibu baik maka kedua pola asuh tersebut pun akan baik. Pengetahuan gizi ibu yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula seperti dalam hal perilaku bersih dan sehat. Akan tetapi.4 100. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Pola asuh kesehatan seperti ini cukup baik.0%) kadang-kadang memperbolehkan anak balita bermain tanah (Lampiran 4). Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (55. sebagai contoh yaitu mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat semestinya. Menurut Entjang (1985) lingkungan hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang. .anak balita bermain tanpa memakai celana dan separuh responden (50. Menurut Rahayu (2006). Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat.

Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) menyatakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki daya tahan terhadap penyakit juga lebih rendah. sehingga sangat mudah terserang penyakit infeksi.0 Total n 26 32 56 % 46. Tabel 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total n 12 6 18 ≤ 23 % 66. Muniasir (2007) menyatakan bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh.6 46. Namun. Tabel 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total N 2 0 2 Berat Badan Lahir BBLR Non BBLR % n % 100.0 16 100.0 54 100.0%.5 4 25.6 100.0 22 100. hasil analisis korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare.6 100.0 12 54. Tabel 37 menunjukkan bahwa secara umum anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mengalami diare selama tiga bulan terakhir.4 100.3 100.5% dan 25.0 .0 Umur (bulan) 24-36 ≥ 37 N % N % 10 45. Sistem imunitas tubuh berkembang sesuai dengan umur seseorang. Semakin tinggi umur anak balita maka tingkat diare semakin rendah.0 24 44. salah satunya diare. Bayi dan balita memiliki sistem imunitas tubuh yang masih lemah.7 33.5 12 75.0 30 55.Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita Tabel 36 menunjukkan bahwa anak balita dengan umur ≤23 bulan mengalami diare lebih tinggi (66. Persentase anak balita yang mengalami diare dengan umur 24-36 bulan dan ≥37 bulan berturut-turut yaitu 45.7%) dibandingkan dengan anak balita yang memiliki umur >23 bulan.01) antara umur anak balita dengan diare.0 Uji korelasi Spearman menunjukan terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh variasi data penelitian mengenai BBLR yang relatif kecil.0 Total n 26 32 56 % 53.4 0.4 53.

2 100. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS responden (p<0.01). 0.7 10.9 11.0 28.3 52.6 23.8%).0 35. Tabel 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS PHBS Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ibu SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Sedang n % 13 4 0 0 17 6 9 2 17 76.Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS.1 44. SLTA/sederajat (15.0 15.0 Tabel 38 juga menunjukkan responden dengan umur 13-19 tahun (30.8 100. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.7 1.8 100.0 n 29 20 6 1 56 18 25 13 56 Total % 51. Pengetahuan Gizi.0 Tinggi n 16 16 6 1 39 12 16 11 39 % 41. Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pemahaman atau pengetahuan seseorang terhadap perawatan kesehatan dan kesadarannya terhadap kesehatan anak-anak dan keluarga. Hasil analisis menunjukkan umur responden tidak berhubungan signifikan dengan PHBS. sebagian besar memiliki PHBS kategori tinggi yaitu SLTP/sederajat (41.5 0. Semakin tinggi pendidikan responden maka PHBSnya pun semakin tinggi pula. Responden dengan tingkat pendidikan di atas SLTP/sederajat.4 2. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Tabel 38 menunjukkan sebagian besar responden (76.5 23. Persentase tersebut lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur 31-50 tahun (28.5%) dengan tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) memiliki PHBS kategori sedang.0.01).0 41.0 32.6%).0%).8 100.0 30.8 35.4%) dan akademi/diploma/PT (2. .6 100.8 41. Hasil analisis juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan gizi responden (p<0.0 100.8%) dan 20-30 tahun (41.0%) memiliki PHBS kategori tinggi.

7 100.9 33. Menurut Subandriyo et al. mandi.6 100. Kaitan antara PHBS. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar responden dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m.0 n 19 20 39 Tinggi % 73. cuci dan kakus). Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS responden dengan diare anak balita. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi (tempat penampungan kotoran) minimum 10 m. . Selain itu juga. Tujuannya adalah supaya tidak terjadi interaksi antara mikroorganisme dengan air yang biasa digunakan untuk kebutuhan hidup seharihari. Tabel 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita PHBS Diare Diare Tidak Diare Total n 7 10 17 Sedang % 26.9%). PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). kebiasaan membuang sampah dan SPAL responden yang belum sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat.0 n 26 30 56 Total % 46. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita Berdasarkan Tabel 39 dapat diketahui bahwa kecenderungan anak balita dengan PHBS responden kategori tinggi mengalami diare lebih besar (73.3 100.1%) dibandingkan anak balita dengan PHBS responden kategori sedang (26.4 53. air tetap terjaga kebersihannya dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (minum. tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan gizi responden.0 Aspek PHBS yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran.Namun.1 66. Sehingga. Pengetahuan Gizi. hasil analisis menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan pola asuh makan maupun dengan pola asuh kesehatan.

Tidak berbeda halnya dengan SPAL responden. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Sampah yang dibiarkan di tempat terbuka dapat dijadikan media berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare.0 tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan .3 14 58. sampah juga mampu mencemari sumber air. dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak membuang sampah pada tempat yang semestinya. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan penyakit diare. sebagian besar responden membuang air limbah bukan pada tempat semestinya yaitu di pekarangan.6 100.3 2 40.4 53.) dibandingkan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu kategori sedang (33. Selain itu. Akan tetapi.0 18 66.0 Total n 24 32 56 % 46. Keadaan ini juga mampu mencemari sumber air.0 9 33.3%) dan tinggi (58. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) penggunaan air yang sudah tercemar tersebut dapat dijadikan media pencemaran penyakit diare. hasil uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita.0 27 100. Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita Tabel 40 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu rendah mengalami diare lebih besar (60. Perilaku seperti ini sangat jauh dari indikator perilaku hidup bersih dan sehat. Tabel 40 Kaitan antara pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi n % n % N % 3 60.Berdasarkan yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya mengenai aspek PHBS.7 10 41. Menurut Latifah et al. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia.3%).7 5 100. secara umum mereka membuang sampah di pekarangan dan lubang sampah terbuka.0%.0 24 100. Namun.

5 40 100. Dengan demikian.0 14 45.0 Total n 26 30 56 % 46.0 10 62.Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita Tabel 41 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh makan kategori tinggi memiliki anak balita yang mengalami diare lebih besar (62. hasil analisis korelasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Tabel 42 menunjukkan ada kecenderungan ibu dengan pola asuh kesehatan kategori sedang memiliki persentase anak balita yang mengalami diare lebih besar (48. Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak balita.0 Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita yaitu kebiasaan ibu dalam hal mencuci tangan anak balita sebelum makan.4 53.4 53.0 31 100.0 Total n 26 30 56 % 46.2 13 52.0%).8 25 100.0 17 54.6 100.5 24 60.0 16 100. hasil analisis juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan diare anak balita. Rendahnya kesadaran ibu dalam hal pembiasaan mencuci .2%). Namun.0 6 37. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.6 100. Tabel 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh makan Sedang Tinggi n % n % 16 40.5%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh makan kategori rendah (40. Pemberian ASI eksklusif erat kaitannya dengan meningkatnya kekebalan tubuh seorang anak.0 Aspek pola asuh makan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain mengenai pemberian ASI eksklusif. Tabel 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh kesehatan Sedang Tinggi n % n % 12 48.0%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi (45.

Hal senada juga diungkapkan oleh Suririnah (2007) bahwa perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare. Selain kebersihan tangan anak balita. Selain kebersihan tangan dan kaki. . Lingkungan yang tidak bersih. Menurut Sadeque dan Ghosh (2005) salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan anak balita yaitu dengan membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. kebersihan kaki pun harus diperhatikan. kemudian tidak membiasakan menggunakan sandal ketika keluar rumah dapat menjadi sumber penyebaran kuman dan apabila tidak dihambat penyebarannya maka dapat menimbulkan penyakit seperti diare.tangan anak balita sebelum makan diduga menjadi penyebab tingginya diare pada anak balita. Bahkan masih ada beberapa ibu yang tidak membiasakan mencuci tangan anak balita. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) tangan yang kotor dapat menjadi media penularan penyakit diare. membiasakan anak balita menggunakan kamar mandi ketika buang air besar merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat kejadian diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh contoh belum dibiasakan menggunakan alas kaki (sandal) ketika keluar rumah. Hasil penelitian menunjukkan masih ada beberapa ibu yang belum membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh ibu menyatakan kadang-kadang membiasakan anak balita mencuci tangan sebelum makan.

dan tidak berhubungan signifikan dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Lebih dari separuh responden (60. Proporsi terbesar umur anak balita (39.1%) adalah perempuan. Tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi. Hampir 50% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang. proporsi terbesar pekerjaan ayah yaitu negeri/swasta jasa (33. Sedangkan umur ibu tidak berhubungan . sisanya tinggi dan rendah (42. TB/U) dengan diare (p<0.6%) dan pola asuh kesehatan kategori tinggi (55.4% anak balita memiliki berat badan lahir cukup (≥2. Lebih dari separuh anak balita (66. Proporsi terbesar (58.6%) berada pada kategori usia muda (20-30 tahun). 2.0%) tidak bekerja. Secara umum responden memiliki PHBS. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB. sedangkan ibu (75. 5.5 kg). BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal.4%).1%) mengalami sakit selama tiga bulan terakhir dan hampir 50% anak balita mengalami diare dengan frekuensi tertinggi yaitu 2 kali dan lama sakit 1-3 hari. 3. Dengan demikian. Tingkat pendidikan pegawai ayah lebih tinggi dan (SLTA/sederajat) angkutan dibandingkan dan ibu (SD/sederajat).01).KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. 4.05).6%).9%) pendapatan perkapita perbulan responden adalah >Rp 150 000.4%) serta pola asuh makan kategori sedang (71. Status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. Sedangkan anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare.9% dan 8. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.3%) berkisar antara 24-36 bulan dan 96. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang baik.9%). Hampir seluruh anak balita (91.7%) merupakan keluarga besar (>4orang) dan hampir separuh umur baik ayah (39. 6.9% 28. Proporsi terbesar responden memiliki PHBS (69.3%) maupun ibu (44.00. Hasil analisis menunjukkan umur anak balita berhubungan sangat signifikan dengan diare (p<0.

signifikan baik dengan PHBS. Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu berkenaan dengan kebersihan tangan dan kaki serta kebiasaan Buang Air Besar (BAB) bukan pada tempatnya. pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan. mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. aspek pola asuh makan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. diperoleh informasi mengenai faktor dominan yang lebih berpengaruh terhadap kejadian diare anak balita. Aspek PHBS yang diduga menyebabkan diare anak balita adalah jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran <10 m. Sedangkan. pembuangan sampah dan limbah bukan pada tempatnya. masyarakat setempat hendaknya memperhatikan jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran dan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan. menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika keluar rumah. personal hygiene. 7. Sehingga. membiasakan BAB di kamar mandi. pengetahuan gizi ibu. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. dan pelayanan kesehatan) serta pola asuh makan dalam hal pemberian ASI eksklusif dan penyiapan makanan sehari-hari. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor risiko kejadian diare anak balita dengan menggunakan analisis regresi logistik. Selain itu. Pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah diare dengan membangun fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan. Saran Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya diare pada anak balita hendaknya menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. Selain itu. Cuci. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi. . pengetahuan gizi. pola asuh makan maupun pola asuh kesehatan. PHBS. dan Kakus (MCK).

[terhubung berkala]. Diare. Zahara DN. 1986. 2004. Martianto D. Fakultas Pertanian. Bogor: Fakultas pertanian. Gizi Terapan. . Jakarta: BPS. Gunarsa. Amperansyah. 2004. . Berg A. Jakarta: BPS. Briawan D. Herawati T. Jakarta: BPS. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kota Bogor [skripsi]. Firlie D. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. 1997. penerjemah. Terjemahan dari: The Nutrition Factor. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. [terhubung berkala]. 1992. Jakarta: Penerbit Mutiara. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. 2002. New York: HarperCollins. 2004. [Dinkes] Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Statistik Kesehatan. Laporan akhir penelitian studi kajian wanita. Statistik Indonesia. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bogor: Institut Pertanian Bogor. 1985. 2002. 1999. 2005. Institut Pertanian Bogor. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. 1991. Ekonomi Gizi. Penyuluhan penggunaan oralit untuk menanggulangi diare di masyarakat. Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak. [BPS] Biro Pusat Statistik. Konseling Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). Bandung: Penerbit Alumni. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. Faktor risiko penyakit diare pada bayi di Provinsi Kalimantan Selatan: analisis data sekunder SDKI tahun 1997 [skripsi]. Aronson SS. Entjang I.diare. [terhubung berkala] www. Diktat Mata Kuliah yang tidak dipublikasikan. Bogor: Fakultas pertanian. Hardinsyah. Institut Pertanian Bogor. Majalah Ilmu Kefarmasian 1(1): 27-33. Makasar: Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Health and Safety in Child Care. 2006. 1979.DAFTAR PUSTAKA Adnyadewi IGA. Faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas anak baduta pada keluarga miskin dan tidak miskin [skripsi].html [3 Oktober 2007]. Jakarta: CV Rajawali. Jakarta: BPS. 2006. www. Harianto. . Statistik Indonesia. Jakarta: Citra Aditya Bakti.gizi. Gunarsa. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. 2003. As’ad S. Indikator Kesejahteraan Rakyat.html [9 November 2007]. Institut Pertanian Bogor. . . _____. 2001. 2002. 2005. Peran anggota rumah tangga di dalam pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. 1985. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Hardinsyah. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. Its Role in National Development. 1993. Universitas Indonesia. Azwar A.

2002. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI. Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. Institut Pertanian Bogor.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104. . Kecamatan Tamansari.farmasi. 1982. [23 uli 2008]. M Zarkasih. 1993. www. Jakarta: Erlangga. 2004.usu. 2002a. _________. Faktor-faktor predisposisi yang berhubungan dengan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI) di Kecamatan Banua Lawas.pdf. 2002c. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. .jurnal. M Tjandrasa. Hubungan kualitas pengasuhan dan perilaku hidup sehat dengan status gizi dan kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kecamatan Bogor Barat [skripsi]. Wahida S. 2005. Hurlock EB. Bogor: kerjasama pusat kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Zalbawi S. 2002b. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Pengetahuan. Buletin Penelitian Kesehatan 27(3 dan 4-1999/2000): 346-363. Manda S. penerjemah. [terhubung berkala]. Buku 8 Pengenalan Sampah dan Air Limbah. 2003. Pedoman pengembangan kabupaten/kota percontohan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. .id/download/fkm/fkm-hiswani7. Penelitian dalam rangka penerapan sistem pembuangan tinja dan sampah tepat guna Desa Pantai di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Lamongan. Herman. Nurahmi. Krisnatuti D dan Yenrina R. Ed ke-5. Latifah M. . sikap dan perilaku pengguna tanaman obat di desa Sukajadi. Bogor: Fakultas Pertanian. [terhubung berkala]. Jakarta: Puspa Swara. Kabupaten . Jakarta: Erlangga. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat.ui. Buku 5 Rumah Sehat. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kejadiaannya sangat erat dengan keadaan sanitasi lingkungan. dan Suprapti. [3 Hiswani. Bogor: Fakultas Pertanian. Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [skripsi]. Sumali MA. Perkembangan Anak Jilid 2. Evi D. 2004. Irianti S.pdf.ac. Buku 1 Kebersihan Diri dan Lingkungan. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat. 2006. 2002d. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor.pdf [15 November 2007]. Madihah. Khairunnisak I. 2005. 2000.www.dinkes-sulsel. Jakarta : PT Grasindo Anggota Ikapi. Institut pertanian Bogor.ac. MD Djamaludin. Khomsan A. Buku 10 Mengenal Berbagai Penyakit dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. Oktober 2007]. http://library. 2000. Psikologi Perkembangan.go.

id/dsp_content. Tantangan bernama higinitas.mosleh@bdonline. konsumsi pangan.org. Institut Pertanian Bogor. Puspitawati H. 2005.Tabalong Kalimantan Selatan tahun 2002 [skripsi]. Ghosh SK. lingkungan pembelajaran. 2002. 2003. Fakultas Ekologi Manusia. Bogor: Program Pascasarjana. Rahayu S. Jakarta: Puspa Swara. Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. Jakarta: Ghalia Indonesia. Nasution. 2003. Life-Span Development. 1993. Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak batita di Desa Mulya Harja. Media Gizi dan Keluarga 29 (2):29-39. Santrock JW. Makanan Sehat untuk Ibu Hamil. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Bogor: Fakultas Pertanian. United State: Thomson Delmar Learning. 2005. parentsguide. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di taman pendidikan karakter sutera alam. Ilmu Kesehatan Masyarakat. New York: McGraw-Hill . www. 2003. Institut Pertanian Bogor. Metodologi Penelitian Kesehatan. Institut Pertanian Bogor. Makalah Seminar Sehari. Model pendidikan “G1-PSI-SEHAT” bagi ibu serta dampaknya terhadap perilaku ibu. Bogor: Fakultas Pertanian. and Nutrition for Young Child. Jeanettia MR. Drajat M. Rahmawati D. Desa Sukamantri. 2006. Bogor: Fakultas Pertanian. Riyadi. Institut Pertanian Bogor. Universitas Indonesia. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. 2006. 2005. Notoatmodjo S. R. Masithah T. Diktat Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Marotz LR. Environmental Sanitation Promotion: A Social.koalisi. ___________ . Sadeque MU. [terhubung berkala]. 2007. [terhubung berkala]. Yogyakarta: Ando Offset. dan status gizi anak usia dini [disertasi]. Bogor [skripsi]. Institutional and Legal Challenge for the Rural Poor. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Kemitraan dalam Mengatasi Masalah Gizi di Indonesia. Safety. Pujiarto P.php?kat=3&emonth=02&eyear=2007 &pg=hns-23k. [15 November 2007]. Jakarta: Rineka Cipta. Marie ZC. Pola Asuh-Asupan Nutrisi dan Pertumbuhan Anak. Pengantar Ekologi Keluarga. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. . Nadesul H. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Institut Pertanian Bogor. Soekirman. Jakarta : Rineka Cipta. Fakultas Pertanian. www. Bukan Suplemen!. Pola asuh dan status gizi anak balita keluarga penerima dan bukan penerima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) [skripsi]. 2007. [terhubung berkala]. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. 2007. Rimbatmaja. Institut Pertanian Bogor. Health. Edisi ke-6.com. Ed ke-8. Madanijah S. 1997. 2001. 2005. Imunomodulator.co. Muniasir Z. 2007.

[3 Oktober 2007]. Satoto. Life-Span Development.php. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat. ______. Provinsi Sulawesi Utara [tesis]. 2005. 2004.pdf.jmpk-online. [3 Oktober 2007]. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Departemen Pendidikan Nasional. [3 Oktober 2007]. Diare. Helms DB. Sumali MA. Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial. 1992. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. 1989. Solo: Dabara Publiser. Cianjur. JMPK 8(2). 1994. Fakultas Pertanian. 1999. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Kondisi geografis dan sosial ekonomi hubungannya dengan pembangunan kesehatan serta kondisi rumah rehat di Desa Gasol dan Cijedil. Yuliarsih. Pola pengasuhan ibu anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita di Kota Madya Manado. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Bandung: Penerbit ITB dan Universitas Udayana. [terhubung berkala]. 1989. 2002.net/files/vol-08-02-2005-4. Soekirman. dan Yekti HE. www. Mubasysyir H. Institut Pertanian Bogor. Tjitarsa IB. www. Hygiene dan Sanitasi Umum dan Perhotelan. Saroso S. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. 2005. Bandung: Eja Insani. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi. Sosial Budaya Gizi.Sari RA. Suhardjo. Tambingon HN.diare. Fakultas Pertanian. Sinaga D. 2007. Ed ke-4.infoibu. Topatimasang. Dewi MDH. Suririnah. www.htm. Turner JS. Widyati R. Sehat itu Hak: Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. 2007. Jawa Barat [skripsi]. Sukarni. 1993. [terhubung berkala]. [terhubung berkala]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. . Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Bersalin: Antara Harapan Hidup dan Kenyataan Kematian. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): studi kasus di Kabupaten Bantul 2003. Fortworth: Rinehart and Winston. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Subandriyo VU. 2004. Bogor: Pusat Antar Universitas. 1997. Slamet Y. Diare mendadak dan penanganannya.articles. Institut Pertanian Bogor. Pendidikan Kesehatan: Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar.com. 1991. Fakultas Pertanian. Petunjuk Praktikum Kesehatan Masyarakat. 2000. Kecamatan Cugenang.

LAMPIRAN .

1 96.4 94.6 92. 2.0 0. 9.6 0.93 n 12 54 53 42 56 7 32 Cara Pelayanan Baik % 21.93 0 12.9 85. 7.6 75 100 12.6 96.0 37. 10.36 8.6 98.6 25 48 43 32 39 54 49 53 52 48 23 44.1 7.4 3.4 19.5 94. 5.4 100. 6.6 85.Lampiran 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaann pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.9 10.6 25 44.9 Lampiran 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi. 4.2 91. jarak dan daya jangkau Jenis Pelayanan Kesehatan n Praktek Dukun Paraji Posyandu Puskesmas Praktek Bidan Klinik/Balai Pengobatan Rumah Sakit 31 56 56 21 26 11 Kunjungan Tidak Pernah pernah % 55.7 50 n 5 21 3 5 0 7 5 Sulit % 8.1 42.5 7.57 23.1 Kurang n 1 2 3 2 0 6 1 % 1.9 92.4 87.4 96.5 94.93 37.5 44.6 5. 13.5 53.8 12.0 62.9 26.6 80.7 76. 12.7 41.7 14.5 57. 3.1 .8 16.1 35.4 76.2 83.1 12.5 5.0 100.0 n 19 2 13 27 51 56 Jauh % 33.3 4 24 15 7 4 7 25 7.6 n 25 0 0 35 30 45 % 44.9 3.6 0 11 1.9 64. 11. 14.2 64.8 Lampiran 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban pengetahuan gizi No 1.1 100 n 39 55 47 36 9 4 Daya Jangkau Mudah % 69.8 30 53.1 73. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan zat gizi? Zat-zat gizi apa saja yang dibutuhkan oleh tubuh? Apa zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan anak? Apakah ibu dapat menyebutkan jenis pangan yang termasuk sumber karbohidrat? Dapatkah ibu menyebutkan kelompok bahan pangan mana yang banyak mengandung zat gizi protein hewani? Apakah ibu dapat menyebutkan susunan menu yang baik? Dapatkah ibu menyebutkan jenis makanan sumber zat besi? Apa nama kondisi ibu jika selama masa kehamilan ibu mengalami pusing.4 n 37 54 43 29 5 0 Jarak Dekat % 66.1 n 17 1 9 20 47 52 Sulit % 30. cepat lelah dan lesu? Garam dapur yang bagaimana yang baik untuk digunakan? Apa yang terjadi pada bayi yang dilahirkan apabila selama masa kehamilan terjadi kekurangan zat besi? Apa akibat yang ditimbulkan bila anak kekurangan makan dalam jangka waktu yang lama? Apa akibat dari makanan dan minuman yang tidak bersih? Bagaimana cara yang baik dalam mempersiapkan botol atau tabung susu bayi? Sampai umur berapa sebaiknya bayi diberi ASI saja? Jawaban Benar n % 43 76.8 51.3 62.6 67.8 8.1 69.8 3.8 57.4 1.2 48.3 92.9 100 10.6 Kemudahan Dihubungi Mudah n 8 35 53 38 56 6 28 % 14.7 83.5 8.1 57. 8.9 0.5 46. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan Petugas Gizi dan Kesehatan Dokter RS Dokter Puskesmas Bidan Puskesmas Bidan Desa/Praktik Bidan Kader posyandu Mantri Dukun Paraji Informasi Gizi Tidak Pernah Pernah n % n % 9 32 41 36 52 6 8 16.3 16.

1 17.4 3.2 19. Selalu Apakah anak dibiasakan menyisir rambut? a.6 0. Selalu n 0 45 11 0 3 53 16 10 30 25 19 12 16 3 37 44 5 7 44 11 1 4 8 44 0 4 52 12 36 8 0 0 56 3 2 51 % 0. Kadang-kadang c. 8. Ya. 16.3 14.6 28.1 71. Kadang-kadang c.0 5. ≥ 2 kali/hari Sejak kapan ibu membiasakan anak menggosok gigi? a. Ya. 1 kali/minggu b.No 15.6 94.2 0 7. 19. Tidak pernah b. 10. ≥ 4 kali/hari Apakah anak dibiasakan mengganti pakaian setelah mandi? a.0 77. Tidak pernah b. 17. 1 kali/hari b. . Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap menggosok gigi menggunakan pasta gigi? a.4 Lampiran 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan No 1.5 52.0 0. 9. ≥ 3 kali/minggu Apakah anak setiap keramas menggunakan sampo? a. Ya.3 77. 20. 4.9 21. Pertanyaan Pada usia berapa anak boleh diberikan makanan seperti orang dewasa? Apa yang dimaksud dengan diare? Apa yang ibu lakukan ketika anak mengalami diare? Kemana ibu biasa membawa anak berobat saat mengalami diare? Apa yang ibu berikan saat anak mengalami diare? Apakah kegunaan sabun yang dipakai saat cuci tangan? Jawaban Benar n % 46 40 53 53 54 54 82.9 77. Tidak pernah b. 6.6 91.4 96.1 2. Pola Asuh Kesehatan Berapa kali anak dibiasakan mandi setiap hari? a.6 96.3 0. Sejak anak berusia 1-2 tahun c.4 64. 11.0 100. 2 kali/minggu c.0 14.2 8.8 7. Tidak pernah b. Ya.9 33. 18.4 19. Ya. Tidak pernah b. 2-3 kali/hari c. Selalu Berapa kali anak dibiasakan keramas setiap minggu? a. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi sebelum tidur? a. Ya. 1 kali/hari b. Tidak b.0 80.4 94. 7. Tidak pernah b.6 43. 5. Kadang-kadang c. 2 kali/hari c. Ya. 1 kali/hari c.8 12.3 64.3 1. Tidak b.3 21.1 92.1 28. Kadang-kadang c. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setiap hari? a. ≥ 2 kali/hari Apakah anak dibiasakan menggunakan handuk bersih yang sama (tidak gonta-ganti) setelah mandi? a. Kadang-kadang c. 3. ≥ 3 kali/hari Apakah anak setiap mandi menggunakan sabun mandi? a. 1 kali/hari c.1 5.4 94. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setelah makan? a. 12. Kadang-kadang c. Sejak anak berusia > 2 tahun b.0 5.

7 7.4 30.6 58. Kadang-kadang c. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki sebelum tidur? a.9 46. 20. Selalu n 6 24 26 18 29 9 6 1 49 3 17 36 % 10. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki setelah bermain? a. Kadang-kadang c.7 1.0 23. Kadang-kadang c. 19. Kadang-kadang c.7 1. Sejak anak berusia > 2 tahun b.4 32.0 10.6 71. Tidak pernah b.9 18.4 89. 21. Ya.1 39. Kadang-kadang c. 23. 1-2 kali/bulan c.1 53. Selalu Sejak kapan ibu membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan? a. jamban)? a. Tidak pernah b. Tidak b. Kadang-kadang c. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk menggunting kukunya setiap bulan? a.0 28. 6 4 46 0 16 40 2 32 22 9 30 17 50 0 6 1 17 38 15 28 13 12 11 33 10. 22. Kadang-kadang c. Selalu Apakah anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya? a.9 26.1 10. Tidak pernah b.4 64. Tidak pernah b.8 30. Tidak pernah b. Tidak pernah b./WC. Tidak pernah b. Selalu Apakah anak dibiasakan buang air besar pada tempat semestinya (kakus.1 51. ≥ 3 kali/bulan Apakah anak dibiasakan memakai alas kaki ketika bermain/berada diluar rumah? a. Selalu Apakah ibu meperbolehkan anak bermain tanpa memakai celana? a.6 30. Tidak pernah b.1 82. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih? a.No 13.8 87.5 5. Selalu Apakah anak setiap mencuci tangan setelah buang air besar menggunakan sabun dan air bersih? a. 17.3 14.7 42. Kadang-kadang c.8 16. 24. Tidak pernah b.8 50.3 16. Pola Asuh Kesehatan Apakah anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan? a. 16. 15. Tidak pernah b.6 57.4 19. Sejak anak berusia 1-2 tahun c.3 0.1 0.4 3. .4 67. Kadang-kadang c. Selalu Apakah ibu mencegah anak bermain tanah? a. Kadang-kadang c. Ya.2 21.

134 r= 0.026 p= 0.227 r= 0.095 r= 0.203 p= 0.122 p= 0.061 r= 0.164 Pola asuh kesehatan p= 0.643 r= -0.004 r= 0.586 r= 0.179 p= 0.476 r= 0.275 r= 0.164 p= 0.002 p= 0.311 PHBS ibu p= 0.001 r= 0.018 - Keterangan:** Signifikan pada α 1% * Signifikan pada α 5% .029 r= 0.063 p= 0.334 r= 0.999 r= 0.486 r= 0.007 p= 0.177 p= 0.020 r= -0.117 p= 0.126 p= 0.370 r= -0.865 r= 0.226 Status gizi (TB/U) p= 0.095 p= 0.252 p= 0.068 p= 0.029 r= -0.050 r= 0.000 r= 0.095 p= 0.292* Pola asuh makan p= 0.016 p= 0.791 r= 0.122 p= 0.310 r= 0.131 p= 0.074 p= 0.138 p= 0.350** p= 0.988 r= 0.897 r= -0.186 r= -0.369 r= 0.148 p= 0.486** p= 0.036 p= 0.476** p= 0.015 p= 0.000 r= 0.052 r= -0.Lampiran 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel Variabel Umur contoh BBLR Status gizi (BB/TB) Status gizi (TB/U) Umur ibu Pendidikan ibu PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Diare anak balita Umur contoh BBLR p= 0.261 p= 0.000 p= 0.440** Diare anak balita p= 0.413 r= 0.961 r= -0.403 r= 114 p= 0.852 r= 0.330* p= 0.180 p= 0.576 r= 0.184 r= 0.108 p= 0.145 p= 0.531** p= 0.286 r= 0.203 p= 0.000 r= 0.000 r= -615** Umur ibu p= 0.655 r= 0.154 p= 0.087 r= -0.293* p= 0.356 r= 0.915 r= -0.008 r= -0.013 r -0.485 r= -0.023 p= 0.391 r= 0.228 r= 0.619 r= 0.258 r= 0.428 r= 0.097 p= 0.113 Status gizi (BB/TB) p= 0.134 r= 0.112 p= 0.231 p= 0.384** Pengetahuan gizi ibu p= 0.408 r= 0.100 r= -0.905 r= 0.055 r= 0.059 p= 0.222 p= 0.191 r= -0.264* p= 0.258 p= 0.076 Pendidikan ibu p= 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful