PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA

, DI DESA CIKARAWANG BOGOR

IMA MARYANA ULFAH

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
IMA MARYANA ULFAH. Clean and Health Behavior, Nutritional Knowledge, and Caring Pattern, of Which Its Relation with Diarrhoea in Five-Year Babies in Cikarawang Village, Bogor. Supervised by CLARA M. KUSHARTO and SITI MADANIJAH Five-year babies are susceptible group for health and nutritional troubles. Mostly (70-80%), diarrhoea patients are five-year babies and 1-2% from those patients have a risk to experient dehydration. If they are not being help, they possibly will be die. Research general purpose is studied about the clean and health behavior, nutritional knowledge, and caring pattern of which its relation with diarrhoea in five-year babies in Cikarawang village, Bogor. Research design is Cross Sectional Study. Location of research is selected in purposive. Number of example is 56 five-year babies. Data is analysed descriptively and inferensia by Spearmann’s correlation test. Result of research shows that approximately half of examples (46,4%) suffers from diarrhoea. Nutritional status (p<0,05) and age from examples (p<0,01) have negatively and significantly correlation with diarrhoea. Environmental sanitary landfill--distance between water source and septic tank is less 10 m-- and dismissal of garbages are conditions that cause high case of diarrhoea. Mother who did not give exclusive ASI also causes infected diseases as diarrhoea. Self hygiene of five-year babies, accustoms to clean hand before eating and after, accustoms in bathroom, and wear sandals when out of the house must be considered to be not easy to come down with diarrhoea. Key words : diarrhoea, five-year babies, nutritional status, exclusive ASI, environmental sanitary

RINGKASAN
IMA MARYANA ULFAH. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pengetahuan Gizi, dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang, Bogor. Dibimbing oleh CLARA M. KUSHARTO dan SITI MADANIJAH. Diare merupakan salah satu contoh penyakit infeksi, sehingga akan menular. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Anak balita merupakan kelompok penduduk pasif dan rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makannya. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang, Bogor. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik anak balita, (2) Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita, (3) Mengidentifikasi karakteristik keluarga, (4) Mengidentifikasi PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, (5) Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita, (6) Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, dan (7) Menganalisis kaitan antara PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang, Bogor pada bulan Desember 2007 sampai April 2008. Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur), status gizi dan kesehatan anak balita, karakteristik keluarga (besar keluarga, umur, pendidikan, pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga), PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS. Data-data tersebut diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for window versi 11,5. Keterkaitan antar variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 46,4% anak balita mengalami diare selama tiga bulan terakhir. Lebih dari separuh anak balita (66,1%) adalah perempuan. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30,2±11,7 bulan. Proporsi terbesar umur anak balita (39,3%) berkisar antara 24-36 bulan, sisanya berumur ≤23 bulan (32,1%) dan berumur ≥37 bulan (28,6%). Terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0,01) antara umur anak balita dengan diare. Sebagian

besar anak balita (96,4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2,5 kg) dan sebanyak 3,6% anak balita memiliki berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Berdasarkan indeks BB/TB dan BB/U, sebagian besar anak balita memiliki status gizi normal, sedangkan menurut indeks TB/U berstatus gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0,05). Sebanyak 91,1% anak balita mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Diare merupakan jenis penyakit ke tiga terbesar (46,4%) yang dialami anak balita selama tiga bulan terakhir setelah panas (71,4%) dan ISPA (73,2%) dengan frekuensi tertinggi yaitu 1-2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Lebih dari separuh responden (60,7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 5,3±1,8 orang. Proporsi terbesar umur baik ayah maupun ibu berturutturut sebanyak 39,3% dan 44,6% berkisar antara 20-30 tahun (dewasa muda). Rata-rata umur ayah yaitu 33,0±6,8 tahun dan rata-rata umur ibu yaitu 27,7±5,7 tahun. Proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35,7%) yaitu SLTA/sederajat dan ibu (51,8%) yaitu SD/sederajat. Proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta dan jasa angkutan (33,9% dan 28,6%) dan sebagian besar ibu (75,0%) tidak bekerja. Proporsi terbesar pendapatan perkapita perbulan keluarga responden (58,9%) adalah >Rp150 000.00. Proporsi terbesar responden (69,6%) memiliki PHBS kategori tinggi dan 30,4% kategori sedang. Proporsi terbesar responden (48,2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang, sisanya tinggi dan rendah (42,9% dan 8,9%). Sebanyak 71,4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan 28,6% kategori tinggi. Lebih dari separuh responden (55,4%) memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi dan 44,6% kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi ibu. Sedangkan umur ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai serta Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare anak balita. Selain itu, jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), membiasakan Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB, menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika ke luar rumah. Serta, pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan, personal hygiene, dan pelayanan kesehatan) dan pentingnya ASI eksklusif.

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT. DI DESA CIKARAWANG BOGOR IMA MARYANA ULFAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA.

Didy Sopandie.Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Bogor Nama NIM : Ima Maryana Ulfah : A54104065 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. Clara M. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. Ir. MAgr NIP 131 124 019 Tanggal Lulus: . Dr. Siti Madanijah. drh. Ir. Pengetahuan Gizi. Kusharto. MSc NIP 131 414 958 Dr. MS NIP 130 541 472 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr.

Prof. hidayah dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. MS selaku dosen pemandu seminar dan Katrin Roosita. yaitu kepada: 1. Puskesmas Cangkurawok dan ibu-ibu kader Kampung Carang Pulang. 3. Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari dukungan beberapa pihak. sungguh luar biasa karena atas rahmat. Dr.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah swt senantiasa penulis panjatkan. Ir. Bogor”. MS selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik yang dengan sabar dan penuh pengertian mendengarkan curahan hati serta memberikan bimbingan dan dorongan semangat yang luar biasa kepada penulis. Dr. Dr. . Oleh karena itu. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. 4. MSi selaku dosen penguji atas arahan dan saran yang diberikan. 2. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. Ir. Siti Madanijah. MSc selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan. Tien Herawati SP. Dr. 5. Dadang Sukandar. Ikeu Tanziha. Kusharto. drh. Alhamdulillah. arahan dan dukungan semangat yang luar biasa kepada penulis. Ikeu Ekayanti. penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua keikhlasan bantuan yang telah diberikan. MS dan Megawati Simanjuntak SP atas arahan dan saran selama proses pengolahan dan analisis data penelitian. 6. Ir. MKes. Desa Cikarawang atas bantuannya selama proses pengambilan data penelitian. Pengetahuan Gizi. Clara M. SP. Pihak Desa Cikarawang. Ir. 7. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesejahteraan Rakyat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). MSc. Dr.

Ari dan Gamasakers 41 atas bantuan. 40 dan GM 42.8. dan doa untuk keberhasilan penulis. Ati. Rekan-rekan pembahas Edo Rizky Fernando. temen seperjuangan KKP. kebersamaan yang indah dan keceriannya. Adin. 11. teman-teman pameran PIMNAS XXI di Semarang. 43. 13. Friska. curahan hati dan keceriaan sampai terselesaikannya skripsi ini. Dedew. Mama. Bapak Mashudi dan Bapak Dian atas dorongan semangatnya. Yesa. tumpangan kamar. Henny. Kakang Rizki. Dini. Nur. Abah. saran. Any. 9. 12. Firdaus. MpokIde. dan Ibnu Akbar atas saran-saran yang telah diberikan untuk kesempurnaan penulisan skripsi. Wisma JASMINE dan FAIRUSH terima kasih atas kebersamaan yang indah. Bogor. Noorma. Tiche. Devita. Bung). Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Vina dan Emil. Venny. BKGers (Semangat yo). Yulia. Mei. penghuni AS-SAKINAH. Dede Aab serta keluarga besar di Cianjur atas semua kasih sayang. Arina. teman-teman relawan Klaten. Teteh Milah. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. 10. atas bantuan. Ena. perhatian. Maul. RHEMAND (Nda. Sri. dukungan semangat. dorongan semangat. Once. Noni. Sahabat seperjuangan penulis Angelica Gabriel “My Beloved Friend”. OMDA CIANJUR. Agustus 2008 Ima Maryana Ulfah . Rizka. Ardi. Lola. Yuli. Sahabat-sahabat terbaik penulis Eka. Teman-teman BUD Cianjur (Dini dan Ade). Manto. Dhyta. Rika. GMSK 39. Ira. DausBek.

Tahun 2006-2008 penulis aktif dalam organisasi otonom yaitu Badan Konsultasi Gizi (BKG). Penulis memilih Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK). penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen FEMA.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 02 Maret 1986 dari ayah H. Hasan Mulyadi dan Ibu Hj. Desa Cikarawang. Serta. Divisi Dana Usaha dalam Seminar Konsultasi Gizi yang berjudul “Control Yourself From 3 Hypers (Hipertensi. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Fakultas Pertanian. Hiperkolesterol dan Hiperglikemia)”. selama masa perkuliahan penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Pendidikan Gizi tahun ajaran . Pada tahun yang sama penulis mengikuti PKM bidang ilmiah dengan judul “Kajian Keadaan Lingkungan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Sehat Keluarga di Kampung Carang Pulang. 2007/2008. Tahun 2006 penulis pernah mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian dengan judul “Persepsi dan Sikap Mahasiswa Calon Bapak terhadap Pemberian ASI oleh Ibu kepada Bayi” yang berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber. Gizi dan Keluarga X (NPGK X)”. Siti Romlah. Tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan terlibat dalam tim pameran PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Penulis merupakan putri ke dua dari empat bersaudara. Bogor” dan berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi dalam Seminar Nasional “Nuansa Pangan. Cianjur dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kabupaten Cianjur. Tahun 2007 penulis mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang pendidikan dengan judul ”Reformasi Pendidikan dan Perubahan Kurikulum serta Aplikasinya terhadap Pembentukan Kualitas Bangsa Indonesia” dan lolos sebagai 10 besar terbaik di IPB. Selain itu. Pada tahun yang sama penulis pernah menjadi relawan pada “Posko Penanganan Tumbuh Kembang Anak Korban Gempa di Kabupaten Klaten” yang diadakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Semarang.

........................... 18 KERANGKA PEMIKIRAN......................................................................................................................................................... 7 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)................................................................................................. 28 Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita .. 1 Tujuan................................................................................................................................................. ix PENDAHULUAN ............................................................................................................................................. 29 Karakteristik Keluarga Contoh... 51 Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita............................................................................................................................................ 32 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)............. 3 TINJAUAN PUSTAKA . viii DAFTAR LAMPIRAN............................................................ 2 Hipotesis........................................................................................................... vi DAFTAR GAMBAR ...................... 19 METODE PENELITIAN ... 21 Pengolahan dan Analisis Data ................................................. 35 Pengetahuan Gizi ................ 47 Pola Asuh Kesehatan ..................... 1 Latar Belakang ...................... 54 Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS............. 4 Status Gizi dan Kesehatan Anak balita .................. 5 Penyakit Diare .................................. 17 Pola Asuh Kesehatan .................. 16 Pola Asuh Makan.................................... 6 Karakteristik Keluarga ....................................................................................................................................................... 26 Keadaan Umum Daerah Penelitian .................................................................................. 16 Pola Asuh ................................................................... 22 Disain............................................................................................................. 47 Pola Asuh Makan......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... 22 Definisi Operasional .................................................................................... 21 Jenis dan Cara Pengumpulan Data.............................................................................................................................................................................. 45 Pola Asuh .................................................................... Tempat dan Waktu ................................................................................... Pengetahuan ........................................................... 21 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ............................................................................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL................................................... 24 HASIL DAN PEMBAHASAN ......... 26 Karakteristik Anak Balita....................................................... 4 Karakteristik Anak balita .............................................. 3 Kegunaan Penelitian ..................... 9 Pengetahuan Gizi ......................

.................................. 56 Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita ....................................................................................... 61 DAFTAR PUSTAKA .......................... 60 Kesimpulan.............Gizi..................................... 62 LAMPIRAN ......................... 60 Saran .................................................................. 58 Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ............................... 56 Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita ............................................................ Pengetahuan Gizi............ Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ............................................ 57 Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita.... 66 ..................................................... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan................................................. 58 KESIMPULAN DAN SARAN ...... 55 Kaitan antara PHBS..........................

34 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan......................................... 35 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene ........................................... 23 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya............................................................................................... 37 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan responden ............................... 41 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL ............................. 40 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah............................ 42 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal membantu persalinan ............. 34 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan ........................ 37 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat.. 36 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang.......................................................... 32 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga ..................... 31 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit .......... 28 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi. 27 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.......... 26 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin........... 21 Cara pengolahan dan analisis data .. 45 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS ..................................................................... 29 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir.. umur dan berat badan lahir................ 31 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit........ penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit....................... 46 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan ................................. 44 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB................................................................... 38 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air ............................................DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis dan cara pengumpulan data .. 42 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan ................. 30 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit............................................................................. 32 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur.................................................................................................................................................................................... 40 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban............... 45 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi . 33 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan..........................................................................................................

............................................................................ 58 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita................................................................ 53 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita ........................................ 58 .........................................responden ................................... 47 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita.............................. 49 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita................................................ 48 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita.................................................................... 51 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan ............................ 50 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan...... 56 40 Kaitan antara pengetahuan gizi responden dengan diare anak balita .. 55 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita ............... 54 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita ............................................................... 54 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS ............................................................................. 57 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita .......................... 46 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita ...............................

............. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Kaitannya dengan Diare Anak Balita .......... Pengetahuan Gizi................. 10 2 Kerangka Pemikiran PHBS.DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum ...... 20 ..................

........ 67 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi......................... kemudahan dihubungi dan cara pelayanan ....... 67 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban benar pengetahuan gizi ....................................................DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.... 70 ................... ................................. 68 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel ......................................... jarak dan daya jangka ............ 67 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan.....

sekolah dan tempat umum.S. Anonymous (2000) diacu dalam Sari (2004) menyatakan bahwa yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman atau perumahan. Selain itu. Serta perbaikan pembuangan tinja dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 22% (World Bank 1992 diacu dalam Irianti et al. dan keturunan (20%). pelayanan kesehatan (10%). AID) telah merangkum hasil dari berbagai penelitian mengenai dampak perbaikan keadaan air bersih dan sanitasi di negara-negara sedang berkembang yang menyatakan bahwa perbaikan kualitas dan kuantitas air bersih dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 37%. gaya hidup. Dari keempat faktor tersebut.PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. kulit dan hepatitis A (Cairncross dan Feachem 1993 diacu dalam Irianti et al. tempat kerja. 2002). kebersihan perorangan. Menurut Henrik L. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. perilaku hidup sehat (40%). Dampak kesehatan lingkungan yang buruk adalah tingginya angka kesakitan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water related diseases) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tinja (excreta-related diseases) sepert diare. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lingkungan (30%). dan perilaku terhadap upaya kesehatan. ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan (BPS 2002). serta air dan udara yang bersih. Untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi. Contoh perilaku tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan. sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih pun sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. faktor lingkungan dan perilaku hidup sehat sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam . 2002). Badan Amerika Serikat untuk bantuan pembangunan internasional (U.

pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang. diare adalah pembunuh anak balita nomor dua terbesar setelah ISPA (Rimbatmaja 2007). Bogor. mental. merawat anak. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebesar 42-47% (Curtis dan Cairncross 2003 diacu dalam Rimbatmaja 2007). Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. 2005). penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai aspek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). memberikan makan anak.dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. kebersihan anak. pengetahuan gizi dan pola asuh yang diduga menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan (Marotz et al. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). Dalam hal ini. . Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. Tujuan Tujuan Umum Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. Kosek et al. secara umum lebih dari dua juta anak meninggal akibat diare setiap tahunnya. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. Di Indonesia. Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan. dan sosial. Mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007).

Terdapat kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. 6. Serta bagi masyarakat Desa Cikarawang khususnya. pengetahuan gizi. 3. 2. 2. Mengidentifikasi karakteristik anak balita. Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. 5. pengetahuan gizi.Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk : 1. 3. Terdapat kaitan negatif antara PHBS. pengetahuan gizi. . Hipotesis 1. Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. pengetahuan gizi. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada instansi terkait khususnya Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menindak lanjuti perihal yang menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. pengetahuan gizi. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dan bahan masukan untuk menyusun kembali perencanaan dan strategi dalam penentuan kebijakan. Terdapat kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Mengidentifikasi karakteristik keluarga. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. 4. Menganalisis kaitan antara PHBS. Mengidentifikasi PHBS. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. 7. supaya lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk keberlangsungan hidup yang berkualitas.

Berat Badan Lahir Bayi yang dilahirkan prematur atau dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terhadap mortalitas dan morbiditas akut dalam jangka panjang (Alberman 1994 diacu dalam Rahayu 2006).TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin Anak perempuan khususnya anak sulung diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. Umur Menurut Hurlock (1982) sikap. . selama tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi. dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian. gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental dan intelektual yang lebih tinggi dengan berat badan lahir normal (Utomo 1998 diacu dalam Firlie 2001). Sedangkan jika anak yang lahir pertama kali adalah anak laki-laki. Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling ideal untuk mulai memperkenalkan kepada anak tentang perilaku-perilaku dasar yang berhubungan dengan gaya hidup sehat. daya tahan terhadap penyakit lebih rendah. Bayi BBLR mortalitasnya lebih tinggi. sangat menentukkan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. 2005). maka mereka memiliki keistimewaan karena memperoleh pekerjaan rumah tangga yang lebih sedikit dibandingkan yang perempuan serta diberi kesempatan untuk mengabaikannya (Hurlock 1982). kebiasaan. keselamatan dan gizi. Pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. Orang tua harus dapat memanfaatkan rasa ingin tahu anak dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan masalah kesehatan. Akan tetapi. Orang tua harus dapat meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai isu lingkungan yang kompleks serta pengaruhpengaruhnya (Marotz et al. pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi dengan berat badan lahir cukup (Alisyahbana 1983 diacu dalam Firlie 2001).

Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita Menurut BPS (2002) aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk yaitu status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi. Indeks BB/TB dapat memberikan gambaran proporsi BB relatif terhadap TB. Menurut Riyadi (2001) tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang mengambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi (BPS 2002). Status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk dan biasanya dapat dilihat melalui indikator angka kesakitan yaitu persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. Riyadi (2001) menyatakan status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. Oleh karena itu. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini. Indeks BB/U mampu menggambarkan status gizi pada saat kini. Indeks TB/U mengambarkan status gizi masa lalu (stunting). Menurut Riyadi (2001) berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberi gambaran tentang masa tubuh (otot dan lemak). Indeks ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi underweight dan overweight. Karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan mendadak seperti penurunan nafsu makan dan terserang penyakit infeksi. . penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. tinggi badan menurut umur (TB/U). Status gizi anak dinilai dengan mengunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). salah satunya dengan antropometri. Oleh karena itu. berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. maka indeks ini merupakan ineks kekurusan (wasting). berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan bila dibandingkan tinggi badan. Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Lebih lanjut Riyadi (2001) menyatakan kenaikan berat badan tiap bulan adalah indikator kesehatan anak yang paling peka.

bakteri. dan Shigella (2-5%). Penyakit diare dapat menular apabila adanya kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti pada makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi baik oleh serangga maupun tangan yang tidak bersih. Salmomella (5-18%). Menurut Latifah et al.6%). Vibrio cholera (5%). menurut Dinkes (2003) penyakit diare juga dapat ditularkan melalui beberapa cara diantaranya pemakaian botol susu yang tidak bersih.4-36. Kuman-kuman tersebut ditularkan secara faecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada anak yang lebih besar (Suharyono 1988 diacu dalam As’ad 2002). (2002d) diare adalah suatu kondisi buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer. protozoa). cacing. defisiensi zat gizi yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar juga ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). yang terjadi lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari). Diare ada dua jenis yaitu diare akut dan diare kronis. coli (20-30%). Ditinjau dari sudut patofisologi. Penggunaan air yang sudah tercemar juga dijadikan media pencemaran penyakit diare. bahkan dapat berupa air saja. sehingga akan menular. lalat) atau oleh tangan yang kotor. apalagi air yang digunakan tidak dimasak sampai mendidih terlebih dahulu. penyebab diare akut yaitu: . Suharyono (1988) diacu dalam As’ad (2002) penyebab prevalensi yang tinggi dari penyakit diare di negara yang sedang berkembang yaitu kombinasi dari sumber air yang tercemar. Sedangkan diare akut adalah diare yang timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari. buang air besar bukan pada tempatnya dan pencemaran makanan oleh serangga (kecoa. parasit (jamur. Selain itu. E. menggunakan sumber air yang tercemar. kurang gizi dan daya tahan tubuh rendah (Saroso 2007). keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia. Kuman yang paling sering menjadi penyebab diare akut pada anak yaitu Rotavirus (30.Penyakit Diare Penyakit diare merupakan penyakit infeksi. alergi terhadap susu. Penyebab diare diantaranya yaitu virus. Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya.

1. alergi dan sebagainya. Hal ini disebabkan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga. ORT dapat dilakukan dengan memberikan cairan (air) melalui mulut selama anak mengalami diare (Santrock 2002). Diare sekresi (Secretory diarrhea) yang disebabkan oleh: . besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). makanan yang terlalu asam). Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. Diare osmotic (Osmotic diarrhea) yang disebabkan oleh: . gugup). hawa dingin. Selain itu. Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi.Kekurangan kalori protein dan mineral . gangguan syaraf.Defisiensi imun terutama Sig A (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan terjadinya pelipatgandaan bakteri atau flora usus dan jamur terutama Candida. karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonymous 1985 diacu dalam Harianto 2004). Kematian diare akibat dehidrasi (kehilangan banyak cairan tubuh) dapat dicegah dengan Oral Rehydration Therapy (ORT). 2.Malabsorpsi makanan .Hiperperistaltik usus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia. . kuman-kuman patogen dan apatogen . makanan yang pedas. Rumah . gangguan psikis (ketakutan. Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk. makanan (misalnya keracunan makanan.Infeksi virus. Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga.BBLR dan bayi baru lahir Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dengan dehidrasi.

pendidikan keikutsertaan pendidikan non formal dari orang tua dan anak-anak sangat penting dalam menentukkan status kesehatan. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006). informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat (Sukarni 1989). Umur Orangtua Orangtua muda terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Dengan demikian.yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya Pengetahuan dan terhadap perawatan formal kesehatan. serta hygiene dan dalam kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga (Madanijah 2003). Pendidikan Orangtua Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan . Menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di luar rumah. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga (Rahmawati 2006). Umur ibu berkaitan dengan pengalaman ibu mengasuh anaknya dimana ibu yang relatif muda memungkinkan ibu kurang berpengalaman dalam mengasuh anaknya (Hurlock 1993). Pekerjaan Orangtua Pada masyarakat tradisional. fertilitas. karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik (Berg 1986). Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan.

karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi (Hardinsyah 1997). perawatan kesehatan dan pemeriksaan. dan lingkungan hidup (Entjang 1985). kesehatan dan gizi balita. Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. diantaranya pendidikan keluarga. penurunan daya beli akan menurunkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan. terutama bagi warga kelas ekonomi bawah. Pendapatan Orangtua Kondisi ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga lainnya. serta pengobatan dan perawatan (Entjang 1985). Keluarga dengan pendapatan terbatas besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. manusia sebagai tuan rumah. Pada tingkat keluarga. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Hal ini tidak terlepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak yang selalu sehat (Khomsan 2005). Dengan demikian.sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989). kesejahteraan ibu dan anak. Usaha kesehatan pokok (Basic Health Services) yang diajukan organisasi kesehatan sedunia (WHO) sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat diantaranya yaitu higiene dan sanitasi lingkungan. Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan. Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2001). Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu penyebab penyakit. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). . serta kualitas tumbuh kembang anak balita (Gunarsa & Gunarsa 1985). rohani. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin.

kelompok. dan pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetik dan kependudukan (20%). menghuni rumah sehat. makan dengan gizi seimbang. 2005). 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. perilaku kesehatan (40%). Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. memiliki akses dan menggunakan air bersih. perilaku sehat. lingkungan kesehatan (30%). menurut Henrik L. keluarga dan masyarakat. Program PHBS adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. menolong dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang tinggi (Sinaga et al. . 1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010) (Manda et al. masyarakat yang sesuai dengan norma-norma kesehatan. 2006). Kebijakan Indonesia sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat. Kependudukan/ keturunan Lingkungan kesehatan Derajat kesehatan morbiditas dan mortalitas Program dan pelayanan kesehatan Perilaku kesehatan Gambar 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum. memiliki akses dan menggunakan jamban. Menurut Depkes RI (2006) indikator PHBS antara lain mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar. dan program dan pelayanan kesehatan (10%). terutama pada aspek budaya perorangan.Masalah determinan kesehatan.

sosial. Usaha higiene sanitasi adalah usaha kesehatan preventif (mencegah supaya tidak sakit). ikut keluarga berencana dan lain sebagainya. menimbang balita setiap bulan. memanfaatkan sarana kesehatan. memeriksakan kehamilan. Menurut Widyati & Yuliarsih (2002) kesehatan masyarakat dibagi menjadi dua yaitu kesehatan kuratif (penyembuhan penyakit). Cara menjaga lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. Gizi Seimbang Perilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan. dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan lingkungan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang 1985). diberikan saat balita (BCG. Usaha kesehatan perorangan (personal hygiene) yaitu mandi minimal 2kali sehari. Higiene dan sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik. . 3. olahraga dan lain-lain. biologi. menjaga saluran air agar tidak mampet. Usaha kesehatan preventif dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1. Higiene dan Sanitasi Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yg menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. hepatitis. sikap dan praktik keluarga yang mampu mengonsumsi makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan. MMR.membuang sampah dan limbah pada tempat yang semestinya. menjaga kerja bakti dengan masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan. Usaha kesehatan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja). Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati & Yuliarsih 2002). persalinan ditolong tenaga kesehatan. menyikat gigi. dan folio) untuk mencegah datangnya penyakit 2. pakaian bersih. preventif (pencegahan penyakit). Usaha pengebalan atau imunisasi. dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. Aneka ragam makanan yaitu makan sebanyak 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan (Dinkes DKI Jakarta 2002). dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dan bebas dari pencemaran.

dan kayu atau bambu. Rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini. kacang-kacangan. daging. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. tegel atau semen. teraso. buncis. diantaranya: 1. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya balita. seng. Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. tempe. jeruk. telur. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir lancar. dan 3) sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur seperti bayam. kangkung. 2. dan kenyamanan manusia. asbes gelombang. keamanan. 5. pepaya. Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. 4. wortel. Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. (2002b) rumah adalah tempat manusia berlindung dari panas terik matahari. ubi. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. nanas (Dinkes DKI Jakarta 2002). daun singkong. ayam. tahu. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. sehinga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. mie. Rumah Sehat Menurut Latifah et al. hujan dan hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan. singkong. 3. . sirap dan nipah. kacang panjang. semangka. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan (Dinkes DKI Jakarta 2002). jagung. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik dilakukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. pisang. daun katuk.Kelompok bahan makanan tersebut adalah 1) makanan pokok sebagai sumber zat tenaga seperti beras. sawi. 2) lauk pauk sebagai sumber zat pembangun seperti ikan.

Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. 3) wadah penampung air disertai dengan tutup dan sering dibersihkan. Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut WC atau . Selain itu. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Air bersih belum tentu dikatakan sehat.6. tidak berasa. b. air ledeng. Sanitasi Air Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. sumur yang terlindungi. 8. (1997) sumber air minum yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. karena menurut Entjang (1993) untuk memperoleh air minum yang sehat dapat diperoleh melalui 1) sumber air yang bersih. maka paling sedikit harus ada satu kamar mandi. 4) memasak air sampai mendidih sebelum diminum. c. tidak berwarna. menurut Widyati & Yuliarsih (2002) air bersih dan sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. 7. dan tidak berbau. Menurut Subandriyo et al. 2002b). Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. dan mata air yang terlindungi. Jika anggota keluarga ada empat orang. Syarat fisik: syarat air yang dilihat dari fisiknya antara lain jernih. Syarat bakteriologis: air yang tidak mengandung penyakit. Sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi minimum 10 meter dan dinding sumur 1 meter di atas tanah dan 3 meter dalam tanah serta harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar perembesan air dari sekitar tidak terjadi. Syarat kimiawi: tidak mengandung zat-zat berbahaya seperti zat-zat racun atau zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. Selain itu kandang ternak harus memiliki tempat penampungan kotoran. 5) menggunakan alat-alat minum yang bersih (termasuk gayung sebagai alat pengambil air harus bersih). 2) tangan dan tempat penampungan air bersih. Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah. Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi dengan jamban atau WC (Water Closet).

Menurut Sukarni (1989) sarana pembuangan kotoran harus memenuhi persyaratan yaitu bangunan jamban harus mempunyai rumah kakus. pabrik kertas. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. Bahaya sampah yang tidak ditangani dengan baik mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. air bekas mencuci pakaian). pabrik kimia). tidak boleh mengotori sumber air minum seperti mata air atau sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci serta tidak pada tempat yang sering terkena banjir (Latifah et al. air buangan dapur. juga mengandung lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit (Latifah et al. 2002c). sumur penampungan feses dan lubang resapan. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. 2002c). Tempat yang dijadikan pembuangan sampah harus jauh jaraknya dari pemukiman. dan 3) air limbah yang berasal dari industri atau pabrik (air buangan dari pabrik tahu dan tapioka. dari restoran dan dari kolam renang). Sumber air limbah yaitu 1) air limbah yang berasal dari rumah tangga (air dari kamar mandi. lantai yang disemen. Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Menurut Latifah et al. Sampah Sampah adalah segala sesuatu yang tidak terpakai lagi dan harus dibuang. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan.kakus. kloset (lubang tempat masuk feses). 2) air limbah yang berasal dari perusahaan atau pusat perdagangan (air buangan dari hotel. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. pijakan kaki. dari pabrik tinta. pabrik baja. Tinja dari jamban dalam kamar mandi harus disalurkan melalui pipa dan ditampung di tangki septik (Latifah et al. Jangan membiarkan sampah terlalu lama pada tempat pengumpulan sampah dan sebaiknya tidak melebihi 3x24 jam (Widyati & Yuliarsih 2003). tidak pada tempat yang sering digunakan orang untuk lalu lintas. pabrik cat. 2002a). Kotoran-kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan (Depkes RI 1995 diacu dalam Amperansyah 1999). .

pembuangan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. jarak fisik dan sarana perhubungan yang tidak lancar antara pusat pelayanan kesehatan dengan tempat tinggal penduduk.Syarat-syarat pembuangan air limbah diantaranya tidak mengotori sumber air bersih. Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua yaitu pelayanan kesehatan tradisional dan pelayanan kesehatan modern. Ada dua jenis sistem pembuangan air limbah yaitu menyalurkan air limbah tanpa diolah sebelumnya dan menyalurkan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat pendapatan perkapita keluarga. Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. antara lain sistem pelayanan yang ada selama ini belum diterima oleh masyarakat. tidak menjadi tempat berkembang biak serangga perantara penyakit (lalat dan nyamuk) dan tidak menimbulkan bau dan merusak pemandangan (Latifah et al. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat belum optimal. biasanya digunakan untuk membuang air limbah yang berasal dari industri/pabrik dan peternakan atau rumah pemotongan hewan (Latifah et al. 2002c). secara ekonomis. lokasi pusat-pusat pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak atau lebih banyak berada di kota-kota besar. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat tergantung oleh keadaan ekonomi. sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin. 2002c). Berdasarkan hasil penelitian Sirajudin (1981) diacu dalam Herman (2005) masyarakat lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. Untuk memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keterjaminan mutu. Menurut BPS (2002) fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan oleh penduduk desa untuk berobat adalah Puskesmas. petugas kesehatan dan praktek dokter. Sedangkan. Penyaluran air limbah tanpa diolah dapat dilakukan dengan menggunakan tanki septik dan sistem riol. pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak dan belum seluruh Puskesmas dipimpin oleh dokter. oleh karena itu sulit memenuhi tiga syarat tersebut. maka pelayanan kesehatan tersebut akan mahal. Menurut BPS (2005) pada tahun 2005 secara umum persalinan . Hal ini menurut Sukarni (1994) disebabkan oleh beberapa hal.

Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa balita. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. akan tetapi disebabkan oleh kemiskinan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan keluarga khususnya anak-anak. Pola Asuh Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. dan mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut (Dinkes DKI Jakarta 2002). Cicely William diacu dalam Berg (1986) melaporkan studi di Afrika Barat bahwa gizi kurang tidak terjadi karena kemiskinan harta. Persalinan oleh dokter. bidan dan tenaga medis lainnya. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan Gizi Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan adalah hasil dari tahu. . balita dan ibu hamil. mencegah memburuknya keadaan gizi. mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nutrition Assesment Educational Project di Washington (1999) diacu dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa rendahnya perhatian terhadap masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan atau pemahaman tentang gizi yang baik. bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau tenaga bukan medis lainnya. Kegunaan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita.balita ditolong oleh tenaga medis diantaranya oleh dokter. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata dan telinga. Mendidik menyangkut pola ajar (proses sosialisasi). Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan yaitu mengikuti perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga. mencegah ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). terutama bayi.

Pada usia pra sekolah. Dalam hal ini. Marotz et al. dan sosial. Pola asuh dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada anak balita yaitu gizi anak. perumahan. maka ibu dengan mudah memberikan makan kepada anaknya dan dapat merasakan bahwa situasi waktu makan adalah saat-saat yang mambahagiakan (Tambingon 1999). dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak. sanitasi lingkungan dan lainnya (Soendjojo. kesehatan anak. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. kebersihan anak. Masalah makan pada anak dapat terjadi karena anak meniru pola makan orang tuanya yang makan pada saat menjalani diet untuk menurunkan berat badan (Khomsan 2004).pengertian dan perasaan serta keterampilan dan pengetahuan. merawat anak. stimulasi dini. Menurut Hurlock (1982) penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. Hikmat & Soemartono 2000 diacu dalam Adnyadewi 2004). Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. memberikan makan anak. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. keluarga berencana. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran kepada anak mengenai isu-isu lingkungan. (2005) menyatakan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) pada usia anak di bawah lima tahun merupakan masa yang . Membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan (Hardinsyah & Martianto 1992). imunisasi. anak-anak sering mengalami fase sulit makan. mental. melalui berbagai bentuk interaksi antara ibu dan anak. Pola Asuh Makan Pola asuh makan adalah praktik yang diterapkan ibu khususnya yang berkaitan dengan situasi dan cara makan.

Ketika anak sedang makan. Pendidikan dan kekuasaan orang tua mampu meningkatkan kemampuan pengasuhan dan perawatan anak dengan lebih baik dalam suatu keluarga (Aronson 1991). suasana makan haruslah menyenangkan sehingga anak tidak seperti pesakitan di meja makan. Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. Anak seyogiayanya diberi kesempatan untuk memilih makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari orangtua. hal ini terlihat dari banyaknya orang yang terkena penyakit karena tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995 diacu dalam Rahayu 2006). orang tua jangan terlalu banyak memberi nasehat. kondisi fisik masih lemah. perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. Higiene diri sangat penting diketahui dan dipraktikan oleh setiap orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat. dimengerti. Pola Asuh Kesehatan Menurut Rahayu (2006) pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena ia belum sanggup untuk merawat dirinya sendiri. Perawatan kesehatan anak balita akan mempengaruhi tingkat morbiditasnya. kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. Menurut Khomsan (2004) orang tua yang pilih-pilih makanan (picky eaters) dan tidak suka sayur secara tidak langsung akan menyebabkan anak berperilaku makan seperti orang tuanya. terutama oleh orang tuanya (Depkes RI 1997 diacu dalam Rahayu 2006). Ibu berperan secara konsisten bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan perawatan fisik anak. dan dilaksanakan oleh setiap individu (Suklan 2000 diacu dalam Rahayu 2006). Anak balita yang tidak terawat baik fisik maupun makanannya akan mudah terserang penyakit. Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. Oleh karena itu. Mengingat bayi dan anak adalah individu pasif. Sedangkan ayah berperan dalam hal interaksi sosial dan mengajarkan norma budaya kepada anak baik laki-laki maupun perempuan yang ada di lingkungannya (Santrock 2002).tergolong rawan. maka penjagaan kesehatannya merupakan tanggungjawab individu dewasa di sekitarnya. . Selain itu. Higiene diri adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis. artinya sangat tergantung dari diri sendiri yang praktiknya harus diketahui.

karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan. . faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002).KERANGKA PEMIKIRAN Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). lingkungan kesehatan. Menurut Henrik L. Dari keempat faktor tersebut. Menurut Madanijah (2003) pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. higiene dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. rohani. Oleh karena itu. PHBS yang disertai dengan pengetahuan gizi yang baik mampu membentuk perilaku yang baik pula. Mengingat anak balita merupakan kelompok individu pasif dan merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makan bagi anak balita. perilaku kesehatan serta pelayanan kesehatan. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Masalah kesehatan merupakan masalah yang komplek karena terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Anak balita yang tidak terawat baik fisik mapun makannya akan mudah terserang penyakit infeksi contohnya diare. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetika dan kependudukan. sehingga akan berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. Penyakit diare yang diderita oleh anak balita akan mempengaruhi status gizinya. Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan.

Karakteristik Keluarga . .Umur . pola asuh makan dan pola psuh kesehatan kaitannya dengan diare anak balita.Berat Badan Lahir Pola Asuh . pengetahuan gizi.Pendidikan Orangtua .Pola Asuh Makan .Pola Asuh Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu Status Gizi Anak Balita Diare Anak Balita Keterangan: = Variabel yang diteliti = Hubungan yang dianalisis Gambar 2 Kerangka pemikiran PHBS.Umur Orangtua .Pendapatan Keluarga Pengetahuan Gizi Ibu Karakteristik Anak Balita .Jenis Kelamin .Besar Keluarga .Pekerjaan Orangtua .

karakteristik keluarga (besar keluarga. pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga). Menurut Nasution (2003) jumlah sampel 10% dari total populasi dianggap cukup memadai dalam sebuah penelitian. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang.METODE PENELITIAN Desain. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Desa Cikarawang. observasi Pengisian kuesioner Wawancara Monografi Desa Cikarawang Kuesioner 5 6 7 8 Primer Primer Primer Sekunder Kuesioner Kuesioner Kuesioner . Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data No 1 Variabel Karakteristik anak balita Status gizi anak balita Status kesehatan (diare anak balita) Karaktersitik keluarga PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh Lokasi penelitian Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Data . KMS Kuesioner. sekunder Primer Cara pengumpulan data Wawancara Wawancara dan antropometri Alat ukur Kuesioner.Jenis kelamin . Tempat dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional study yaitu data diambil pada waktu tertentu secara bersamaan. pendidikan. Kecamatan Darmaga. Kabupaten Bogor. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Berdasarkan Tabel 1 data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur). umur. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang. timbangan injak dan mikrotoa Kuesioner 2 3 Primer Wawancara 4 Primer Wawancara Wawancara.Berat badan lahir BB/TB BB/U TB/U Pernah/tidak sakit Frekuensi sakit Lama sakit Besar keluarga Umur orang tua Pendidikan orangtua Pekerjaan orangtua Pendapatan keluarga Jenis data Primer. Desa Cikarawang. status gizi dan kesehatan anak balita.Umur .

Selain itu, data primer juga meliputi PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS (Tabel 1). Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Program komputer yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for Window versi 11,5. Status gizi anak balita dikategorikan menjadi gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (zscore -2SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Sedangkan status kesehatan diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, jenis penyakit, frekuensi dan lama sakit selama tiga bulan terakhir (Tabel 2). Total skor PHBS dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu PHBS rendah (24-38), PHBS sedang (39-53) dan PHBS tinggi (54-67). PHBS aspek pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan, kunjungan ke pelayanan kesehatan, persepsi jarak, persepsi daya jangkau, akses terhadap sumber informasi, persepsi terhadap kemudahan petugas kesehatan, serta persepsi cara pelayanan petugas kesehatan disajikan dalam bentuk deskriptif (Tabel 2). Pengetahuan gizi dinilai dengan pemberian skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Menurut Khomsan (2000) jawaban pengetahuan gizi diklasifikasikan ke dalam 3 kriteria, yaitu pengetahuan gizi baik (>80%), pengetahuan gizi sedang (60%-80%) dan pengetahuan gizi kurang (<60%) (Tabel 2). Data pola asuh makan diperoleh dengan memodifikasi kuesioner dari penelitian yang telah dilakukan oleh Khairunnisak (2004) yaitu dengan memberikan 16 pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Data pola asuh kesehatan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup sebanyak 24 pertanyaan. Total skor dari pertanyaan tersebut dikategorikan

menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72). Tabel 2 Cara pengolahan dan analisis data
No Variabel Sub Variabel a. Jenis kelamin b. Umur (bulan) • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kategori ≤23 24-36 ≥37 (Turner & Helms 1991) BBLR (<2,5) Non BBLR (≥2,5) Gizi kurang (z-score <-2SD) Gizi normal (z-score -2SD-+2SD) Gizi lebih (z-score >+2SD) 1 2 ≥3 1-3 4-7 8-14 >14 Remaja (13-19) Dewasa muda (20-30) Dewasa madya (31-50) (Turner & Helms 1991) Kecil (≤4) Besar (>4) Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi Buruh tani/kebun Petani pemiliki Pedagang/wiraswasta Pegawai negeri/swasta Jasa angkutan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Ibu Rumah Tangga (IRT) Lainnya ≤Rp 100 000.00 Rp 100 001.00-150 000.00 >Rp 150 000.00 Rendah (24-38) Sedang (39-53) Tinggi (54-67) (Subandriyo et al. 1997) Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) (Khomsan 2000) Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) (Slamet 1993) Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (57-72) (Slamet 1993)

1

Karakteristik anak balita

c. Berat badan lahir (kg) 2 Status gizi anak balita BB/TB, BB/U, TB/U a. Pernah/tidak sakit b. Frekuensi sakit (kali/3 bulan)

3

Status kesehatan anak balita (diare)

c. Lama sakit (hari)

a. Umur orangtua (tahun)

b. Besar keluarga (orang)

c. Pendidikan orangtua 4 Karakteristik keluarga

d. Pekerjaan orangtua

e. Pendapatan keluarga

5

PHBS ibu

6

Pengetahuan gizi ibu

a. Pola asuh makan 7 Pola asuh b. Pola asuh kesehatan

Definisi Operasional Contoh adalah anak yang berada pada golongan usia satu sampai dengan lima tahun yang akan diamati status gizi dan status kesehatannya khususnya diare. Status gizi anak balita adalah kondisi kesehatan tubuh anak balita yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diperoleh dengan menggunakan metode antropometri. Indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB, BB/U, dan TB/U. Status gizi dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan perhitungan zskor yaitu gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (z-score -2 SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Status kesehatan anak balita adalah kondisi kesehatan (riwayat sakit) anak balita dalam tiga bulan terakhir yang meliputi jenis penyakit, frekuensi sakit (berapa kali sakit) dan lama sakit (dalam hari) dengan menggunakan kuesioner. Diare pada anak balita adalah kejadian buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari pada anak balita. Besar keluarga adalah banyaknya orang yang tinggal (hidup) di bawah satu atap yang sama dan makan dari satu dapur yang sama. Pendidikan orang tua adalah lama pendidikan formal (pendidikan terakhir) ayah dan ibu, diklasifikasikan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi (PT). Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dimiliki ayah dan ibu yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi buruh tani atau kebun, petani pemilik, pedagang atau wiraswasta, pegawai negri/swasta, jasa angkutan, Pembantu Rumah Tangga (PRT), Ibu Rumah Tangga (IRT). Pendapatan perkapita perbulan adalah jumlah pendapatan yang dinilai dengan uang (rupiah) perbulan yang dibagi dengan besar keluarga dan diklasifikasikan menjadi <Rp100 000.00, Rp100 001.00-150 000.00 dan >Rp150 000.00. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu adalah tindakan atau aktivitas ibu tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Berdasarkan

rumus interval total skor PHBS diklasifikasikan menjadi rendah (2438), sedang (39-53) dan tinggi (54-67). Pengetahuan gizi ibu adalah pengetahuan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan meliputi definisi dan fungsi zat gizi, sumber pangan dengan kandungan zat gizi tertentu, akibat defisiensi zat gizi, akibat mengonsumsi makanan yang tidak bersih, waktu pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, definisi dan pencegahan diare, serta penanganan saat anak balita mengalami diare. Pengetahuan gizi diklasifikasikan menjadi tiga menurut Khomsan (2000) yaitu baik (>80%), sedang (60%-80%) dan kurang (<60%). Pola asuh makan adalah cara dan kebiasaan ibu dalam memenuhi kebutuhan makan anak balita yang meliputi riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Pola asuh kesehatan adalah cara dan kebiasaan ibu memperlakukan anak balita dalam penerapan kebersihan diri dan perilaku kesehatan lingkungan. Total skor dari aspek pola asuh kesehatan yaitu 24-72 yang dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72).

Kuburan/makam h.016 0. Tabel 3 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya Penggunaan Pertanian Sawah a. Perkebunan Negara c.430 0 0 0 0. dan lain-lain). Jarak dari desa ke ibukota kecamatan adalah sejauh 3 km dan dapat ditempuh selama setengah jam.0 0. Lain-lain Perikanan Darat/Air Tawar a.23 33.88 0.0 16. Tambak b. Jalan i. .HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian Berdasarkan data dasar profil desa tahun 2007/2008 luas wilayah Desa Cikarawang yaitu 225.075 0.54 0. sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Ciapus.19 0.925 0 0 0.007 0. pura.22 100. Sekolah c. perkantoran. yang dipergunakan untuk pemukiman umum. Pertokoan/perdagangan d.03 0. perkebunan. kuburan.0 0. Terminal f. Tempat peribadatan (masjid. Perkebunan swasta Pemukiman Umum Bangunan a.84 % 0.0 0.226 8 0 38. Perkebunan rakyat b.07 3. Desa Cikarawang merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 700 m dpl.35 2.510 225.0 Batas wilayah Desa Cikarawang yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cisadane.86 0.18 0. masjid. Kolam c. 84 ha. Pasar e. dll) g. Sedangkan dari desa ke ibukota kabupaten sejauh 35 km dan dapat dicapai selama dua jam.10 23.800 4. jalan. Perkantoran b.0 0. sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Cisadane-Ciapus dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situ Gede.260 18.0 11. Sawah pengairan setengah teknis c.073 2 0. gereja. Sawah tadah hujan d. Sawah pasang surut Perkebunan a.455 75.070 52. Empang/tebat Total Sumber: Data dasar profil desa 2007/2008 Luas ha 0 25. Sawah pengairan teknis (irigasi) b. bangunan-bangunan (sekolah.32 8.0 0. vihara. pertanian sawah. dan lain sebagainya (Tabel 3).

hanya sepuluh bangunan MCK yang sudah ditembok rapi dan sisanya belum ditembok. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Cikarawang paling banyak berada pada golongan usia anak balita. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan aparat desa. Kedua belas bangunan MCK yang dibangun tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. sisanya berada di Kampung Carang Pulang. 6 dan 7. RW 1 dan 2 berada di Kampung Cangkrang. Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya masyarakat . Dusun I terdiri dari RW 1 dan 2. dan keluarga sejahtera III (100 KK). Tabel 4 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin Umur (Tahun) 0-5 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 Jumlah Laki-Laki 443 408 392 379 389 398 304 311 261 215 183 158 189 144 4 174 Perempuan 515 366 389 369 374 378 285 288 251 193 160 141 147 145 4 001 Jumlah 958 774 781 748 763 776 589 599 512 408 343 299 336 289 8 175 Sumber : Data dasar profil desa 2007/2008 Penggolongan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga dibagi ke dalam empat kelompok yaitu keluarga pra sejahtera (900 KK). Selain itu. dan Dusun III terdiri dari RW 5. Kedua belas MCK tersebut dibangun berdasarkan bantuan pemerintah daerah Kabupaten Bogor (PKPS BBMIP) tahun 2005. keluarga sejahtera II (300 KK). Namun. Jumlah penduduk Desa Cikarawang seluruhnya adalah sebanyak 8 175 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2 000 KK. tujuh Rukun Warga (RW) dan 32 Rukun Tetangga (RT).Desa Cikarawang terdiri dari tiga Dusun. fasilitas penyediaan air bersih di Desa Cikarawang sebagian besar berasal dari sumur pribadi atau mata air pribadi. sampai saat ini Desa Cikarawang telah memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang diperuntukkan bagi masyarakat secara umum di dua belas tempat. keluarga sejahtera I (700 KK). Dusun II terdiri dari RW 3 dan 4.

6% anak balita memiliki Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat badan <2.3 28. umur. Karakteristik Anak Balita Karakteristik anak balita dalam penelitian ini menjelaskan mengenai jenis kelamin. sebanyak 3.5 ≥2.1%) dan berumur ≥37 bulan (28.2±11. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30.5 kg).6 96.0 . dan berat badan lahir. sebagian besar anak balita (96.4 kg. Berdasarkan Tabel 5. sisanya berumur ≤23 bulan (32. cuci dan kakus.7 bulan.1 100. Proporsi terbesar umur anak balita (39.0 32. Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari Puskesmas Cangkurawok bahwa proporsi anak balita yang berjenis kelamin perempuan di Kampung Carang Pulang lebih banyak dibandingkan laki-laki.5 Total n 19 37 56 18 22 16 56 2 54 56 % 33.6 100.yang menggunakan air sungai/hujan/sumur dan mata air yang tidak terlindungi sebagai sumber air minum.9 66.3%) berkisar antara 24-36 bulan.1%) berjenis kelamin perempuan.0 3.6%). umur dan berat badan lahir Karakteristik Anak balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Umur (bulan) ≤23 24-36 ≥37 Total Berat Badan Lahir (kg) <2. Berat badan lahir anak balita berkisar antara 2-4 kg dengan rata-rata 3.1 39. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh anak balita (66. Tabel 5 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin. mandi.1±0.4 100. Menurut Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) bayi dengan BBLR memiliki mortalitas lebih tinggi dan daya tahan terhadap penyakit lebih rendah serta pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi yang memiliki berat badan lahir cukup.4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2.5 kg. Akan tetapi.

0 56 100.9 1. WHO (1983) diacu dalam Riyadi (2001) interpretasi status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. salah satunya dengan antropometri. Hiswani (2003) menyatakan bahwa masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan .8%) termasuk ke dalam status gizi normal dan 23. proporsi terbesar anak balita (57. Riyadi (2001) menyatakan bahwa indeks BB/U sebagai indikator status gizi mampu menggambarkan status gizi pada masa kini.1 43 76.2% berstatus gizi kurang (Tabel 6). penyerapan. Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek dibandingkan dengan berat badan.9% berstatus gizi normal.0 0 0. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu. Tabel 6 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih Total n 3 52 1 56 BB/TB % 5. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. Berdasarkan indeks BB/U sebagian besar anak balita (76.8 24 42.4 92.9 0 0. Menurut Riyadi (2001) dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Berbeda halnya dengan status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U.0 Indeks Antropometri BB/U TB/U n % n % 13 23.9%) memiliki status gizi yang tergolong normal.0 56 100. Sisanya sebanyak 5.0 Status gizi erat kaitannya dengan penyakit infeksi. sisanya 42.8 100.4% anak balita memiliki status gizi kurang dan 1.1%) termasuk ke dalam status gizi rendah. dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. Berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan apabila dibandingkan tinggi badan. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini (Riyadi 2001).Status Gizi dan Kesehatan Anak balita Status Gizi Anak balita Berdasarkan perhitungan z-score indeks BB/TB pada Tabel 6 sebagian besar anak balita (92.2 32 57. Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi.8% berstatus gizi lebih.

Status Kesehatan Anak balita Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi. status gizi yang baik akan mempengaruhi status kesehatan seseorang.2%) dan diare (46. borok dan alergi terhadap beberapa jenis pangan seperti ikan asin. ISPA (73.1 8.9 100 Menurut Soendjojo. Menurut BPS (2002) status gizi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk. Hikmat & Soemartono (2000) diacu dalam Adnyadewi (2004) untuk meningkatkan status kesehatan anak balita diperlukan suatu perhatian dalam hal gizi. stimulasi dini. kesehatan.4%). Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa hampir seluruh anak balita (91. Penyakit kulit yang dialami anak balita antara lain panu. imunisasi.masalah penyakit infeksi. Oleh karena itu. sanitasi lingkungan dan lainnya. Anak yang mengalami gizi kurang memiliki kesempatan lebih besar menderita penyakit infeksi terutama penyakit diare.1%) mengalami sakit dan hanya 8.05).4%). perumahan. . bisul. keluarga berencana. Jenis penyakit yang paling banyak dialami anak balita selama tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 yaitu panas (71. Anak-anak yang kurang gizi menyebabkan rusaknya sistem imun sehingga mudah terkena penyakit.9% anak balita tidak mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. kurap. Tabel 8 menunjukkan bahwa penyakit yang tidak pernah dialami seluruh anak balita adalah campak. Aritonang (1996) dan Victoria et al (1999) diacu dalam Briawan & Herawati (2005) menyatakan kurang gizi adalah faktor pra kondisi yang memudahkan anak menderita penyakit infeksi khususnya infeksi saluran pernapasan dan diare. Tabel 7 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir Status Kesehatan Sakit Tidak Sakit Total N 51 5 56 % 91. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0.

Penyakit kulit erat kaitannya dengan kebersihan diri seseorang. sehingga yang bertanggungjawab dalam hal kebersihan diri adalah orang dewasa khususnya ibu dari anak balita.0 1 16.1 7 12.0 0 0.5 1 50.4 46.4%).0 0 0.4%) dan diare 1 kali (32.0 0 32.6 Frekuensi sakit anak balita selama tiga bulan terakhir cukup bervariasi. ISPA 2 kali (30.0 0.4%) dan kulit (5. tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya.4 10.Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit Jenis Penyakit Panas ISPA TBC Campak Cacar Diare Kulit Lainnya n 40 41 2 0 3 26 6 2 % 71.0 N 14 13 0 3 18 3 2 Tabel 10 menunjukkan sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu panas (57.0 12 23.0 14 35.7 3. ISPA (44.0 0 ≥3 % 30.7 0. Mandi minimal 2 kali sehari dengan menggunakan air bersih dan sabun merupakan salah satu cara agar terhindar dari penyakit kulit.7 2 100.2 3.4 73.0 0 0.0 0 100. . Sedangkan frekuensi untuk jenis penyakit lainnya adalah 1 kali (Tabel 9).1%).0 19. Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya Frekuensi Sakit (kali) 1 2 % N % n 35. diare (30. Anak balita adalah individu pasif.3 0.8 33.0 1.4 11 0.1%).2 17 30.6%).6 0. Sebagian besar anak balita menderita penyakit panas sebanyak 1-2 kali (35%).0 5.

5 1 1.0 0.8 3.6 14.1 44.0 0.3±1. Responden menyatakan untuk penyakit TBC.Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama hari sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya 1-3 N 32 25 0 0 17 3 1 % 57.8 23.0 0.8 orang. Keluarga sangat tergantung dengan dan juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (mikro.8 Selain jenis penyakit di atas.0 >14 n 0 0 0 0 0 1 1 % 0.0 0 0.8 n 7 13 0 1 8 2 0 Lama Sakit (hari) 4-7 8-14 % n % 12. Lama hari penyakit TBC lebih dari 14 hari.0 1.3 1 1.0 1.4 5.0 0. Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga Kecil (≤4 orang) Besar (>4 orang) Total n 22 34 56 % 39.6 0.0 Puspitawati (2007) menyatakan keluarga merupakan salah satu lembaga sosial yang tidak dapat berdiri sendiri. Karakterisitik Keluarga Contoh Besar Keluarga Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3-10 orang dengan ratarata 5.0 0.3 60.2 3 5.6 0 0.0 30.0 0 0.8 2 3.0 0. meso dan makro). kedua anak balita sedang melakukan pengobatan rutin sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter hingga benar-benar kedua anak balita tersebut dinyatakan sembuh. Seorang anak akan memperoleh hubungan antar pribadi pertama kali dalam lingkungan . frekuensi penyakit TBC tidak diikut sertakan dalam tabel frekuensi sakit (Tabel 9) dikarenakan penyakit tersebut sudah berlangsung cukup lama yaitu selama 32 hari dan saat penelitian dilaksanakan penyakit tersebut masih diderita kedua anak balita. TBC termasuk ke dalam jenis penyakit ISPA yang bersifat kronis.7 100.7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden (60.4 0. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.8 1.4 1.

keluarga.1 44.6% saja ayah dan 1.6% ) berumur antara 20-30 tahun. sedangkan ibu (51.7%) yaitu SLTA/sederajat. sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. Menurut Hurlock (1993) orang tua muda.3%) maupun ibu (44. Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa muda (Turner & Helms 1991). Tabel 12 menunjukkan bahwa proporsi terbesar baik ayah (39. Sedangkan umur ibu berkisar antara 19-47 tahun dengan rata-rata 27.6 100.1 39.8% ibu yang berpendidikan akademi/diploma/PT.6 23. Ayah n 18 22 16 56 % 32. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa besar keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi sedangkan menurut Suharini (1998) diacu dalam Madihah (2002) bahwa jumlah anggota keluarga yang besar disertai dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga menderita kurang gizi. terutama ibu. proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35.0±6. Umur Orang Tua Umur ayah berkisar antara 23-50 tahun dengan rata-rata 33.7 tahun.0 n 18 25 13 56 Ibu % 32. Secara keseluruhan tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu masih rendah karena keduanya masih banyak yang berpendidikan SD/sederajat dan hanya 3. tingkat pendidikan ayah lebih tinggi dibandingkan dengan ibu. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). Tabel 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Tabel 13.8 tahun.3 28. Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997).3 100.8%) yaitu SD/sederajat. Selain itu.0 . Jumlah keluarga yang banyak dapat mempengaruhi kondisi gizi dan kesehatan dari anggota keluarga. cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak.7±5.

0 Menurut Sukarni (1989) pendidikan orang tua akan menentukan status kesehatan.0 n 29 20 6 1 56 Ibu % 51. menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di .7 1.0 n 0 7 1 0 6 42 0 56 Ibu % 0. Oleh karena itu.0 10. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimilikinya.6 100.1 28.0%) tidak bekerja atau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT).7 3. Dengan demikian.0 12.6 35. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa proporsi terbesar tingkat pendidikan ibu (51.6%).7 10.7 75.8 35.8%) adalah SD/sederajat. Sedangkan.5 1.3 33. Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta (33.0 100.8 0.0 5.9 14.0 Menurut Rahmawati (2006) pada masyarakat tradisional. fertilitas. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi daripada yang berpendidikan rendah.9 28.8 100. Tabel 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan Buruh tani/kebun Pedagang/wiraswasta Pegawai negri/swasta Jasa angkutan PRT IRT Lainnya Total Ayah n 10 8 19 16 0 0 3 56 % 17.0 0.Tabel 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Ayah n 18 16 20 2 56 % 32.4 100. sebagian besar ibu (75. Selain itu.9%) dan jasa angkutan (28.6 0.0 0.

2 58.00-Rp150 000.9 23. Rata-rata pendapatan perkapita perbulan responden yaitu Rp210 113.00-150 000.00 dengan rata-rata Rp1 073 393.00.luar rumah.9% berpendapatan <Rp100 000.00.00.4%) menggosok gigi dua kali setiap harinya.00/kapita/bulan. Proporsi terbesar responden (55. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007).8. Kebiasaan mandi minimal dua kali dalam sehari merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.9%) selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar serta melakukan aktivitas mandi dua kali setiap harinya. Menurut BPS (2005).2% responden memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar Rp100 001.0 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Higiene Tabel 16 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (58.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas garis kemiskinan. Sebanyak 23. Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga perbulan berkisar antara Rp300 000. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh responden (58.00 >150 000.00 Total n 10 13 33 56 % 17.9 100. lebih dari separuh responden (58. Sukarni (1989) menyatakan bahwa pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan. garis kemiskinan untuk Kabupaten Bogor yaitu Rp150 000.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar >Rp150 000. Dengan demikian.9.00 100 001. Kebiasaan menggosok gigi merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari penyakit khususnya sakit gigi.00±Rp597 650.00 dan sebanyak 17.00 sampai Rp2 620 000.3.00. Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan (Rp/kap/bln) <100 000. .00±Rp106 712.

Frekuensi responden membersihkan kamar mandi dalam satu minggu terlihat pada Tabel 16 yaitu satu kali (32.0 100. Lebih dari separuh responden (67.4%) dan ≥ tiga kali (37. salah satu cara untuk menurunkan tingkat kesakitan khususnya diare pada diminum. akan tetapi masih ada responden yang melakukan aktvitas mencuci di sungai yaitu sebanyak 21.4 44. kadang-kadang c. 2 kali/hari c. kamar mandi umum c. dua kali (30. Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene PHBS aspek Higiene Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar a.0 0. 1 kali/hari b.1 30. 2 kali c.8 39. 3 kali Memasak air untuk minum a. memasak tetapi tidak sampai mendidih c.1%).9 anak balita dapat dilakukan dengan membiasakan memasak air sampai mendidih sebelum .Tabel 16 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum. ≥ 3 kali Melakukan aktivitas mencuci a. kamar mandi pribadi n 1 22 33 0 33 23 0 31 25 0 0 56 18 17 21 12 6 38 % 1. ≥ 3 kali/hari Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari? a. Tidak b. Menurut Suririnah (2007) air yang tidak dimasak sampai mendidih maka akan menjadi media pencemaran untuk penyakit diare. 1 kali b.7%.9%) melakukan aktivitas mencuci di kamar mandi pribadi.4 37.3 58. dengan alasan agar terhindar dari penyakit khususnya sakit diare karena kuman dalam air tersebut mati. sungai b.7 67.0 58. memasak sampai mendidih Membersihkan kamar mandi dalam seminggu a.1 0. tidak memasak air b. ya Kebiasaan mandi dalam sehari? a.5%).4% dan di kamar mandi umum sebanyak 10.9 0.6 0.4 10. 1 kali b.5 21. Oleh karena itu.0 32. 2 kali c.0 55.9 41.

6% responden yang biasa menyediakan menu makan beragam yaitu nasi. sebanyak 6. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.0 90. nasi. protein nabati. Keluarga dengan pendapatan terbatas. Tabel 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan per kapita perbulan responden Menu Makan Keluarga Nasi.00 N % n % n % 1 9 0 10 10. sayur dan buah) adalah berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan >Rp150 000. besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. sayur dan buah Total Pendapatan Perkapita Perbulan (Rp/Kap/Bln) 100 001.3 3.00 atau di atas garis kemiskinan menurut BPS Kabupaten Bogor tahun 2005.0 0.3 3. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). sayur c.6 100. sayur dan buah.0 100. lauk pauk.8 6.0 100.6 yang selalu menyediakan menu makan keluarga secara beragam (nasi.0 100.0 3 28 2 33 9. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. protein nabati dan sayur. protein hewani b.1 100. sayur dan buah Berdasarkan Tabel 18.0 Total n 4 50 2 56 % 7.1 89. Kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin.0 0 13 0 13 0. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga.Gizi Seimbang Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 sebagian besar responden (89.0 Mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik untuk keberlangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang. nasi.1 89. Hanya 3. lauk pauk.0 0. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang .1 84.1% n 4 50 2 responden % 7. Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang PHBS aspek gizi seimbang Menu makan keluarga sehari-hari a. protein hewani Nasi. lauk pauk.00-150 <100 000.3%) menyatakan bahwa menu makan yang biasa disajikan untuk keluarga yaitu makanan pokok. lauk pauk.00 >150 000. nasi.00 000. protein nabati dan sayur Nasi.

Rumah Sehat Tabel 19 memperlihatkan bahwa separuh responden (51.5 m2 b. seluruhnya tanah/lainnya b. seng/asbes/kayu c. terbuka Atap rumah a. 7. ≥10. Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat PHBS aspek rumah sehat Luas hunian a. tertutup c.4 1. ada.6 0 3.8 0 3. tembok Letak kandang ternak a. marmer/keramik/ubin/tegel/ teraso/semen Jendela rumah a.7 37.5.5 51. <7. <10 m dari rumah b. tidak punya n 6 21 29 0 2 54 1 39 16 0 2 54 0 3 53 20 2 34 % 10.9.6 28.8%) memilik luas hunian ≥10.6 96.9 m2 c. Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah et al.4%) adalah berjenis marmer/keramik/ubin/tegel/teraso/semen. ada.0 m2 perkapita.7 Tabel 19 menunjukkan sebagian besar jenis lantai rumah responden (96.6 60. kayu/ bambu c.4 94. tegel atau semen. >10 m dari rumah c. (2002b) bahwa salah satu syarat rumah sehat yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik.8 69. tidak ada b. Luas hunian yang tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga menyebabkan penularan pertukaran penyakit oksigen diantara kurang anggota optimal keluarga.4 0 5. ijuk/daun-daunan/lainnya b. BPS (2004) menyatakan bahwa salah satu indikator rumah sehat menurut WHO adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 m2 perkapita. sehingga Menurut memudahkan Notoatmodjo (1997) rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit. teraso.6 35. beton/genteng Dinding rumah a. kayu c. bambu/lainnya b.0 m2 Jenis lantai rumah a. Hasil penelitian .7 3.6 96.beraneka ragam yaitu akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita (Dinkes DKI Jakarta 2002). dan kayu atau bambu.

sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Hal senada juga diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa dinding yang paling baik adalah tembok. (2002b) air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. (2002b) lantai rumah berupa tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. seng. Serta dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. (2002b) atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. Keberadaan kandang ternak di sekitar rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan karena memudahkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kotoran ternak. dan sebanyak 94. Menurut Latifah et al. (2002b) syarat rumah sehat lainnya yaitu kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Menurut Latifah et al. Ada tidaknya jendela di setiap ruangan yang dapat dibuka dan ditutup berhubungan dengan ventilasi udara. Lebih dari separuh jendela responden (69. Rumah yang sehat memerlukan jendela yang cukup untuk jalan masuknya cahaya ke dalam rumah. (2002b) menyatakan fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar.menunjukkan bahwa tidak ada satu responden pun memiliki jenis lantai rumah berupa tanah.7%) tidak memiliki kandang ternak dan sebanyak 35. Air yang digunakan sehari-hari harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan. 2002b).7% responden memiliki kandang ternak dengan jarak antara kandang ternak dengan rumah yaitu <10 m (Tabel 19).6%) yaitu ledeng/sumur terlindung/mata air terlindung (Tabel 20).4%) berupa genteng/beton. Lebih lanjut Subandriyo et al. sirap dan nipah. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran responden dalam menjaga kenyamanan serta kebersihan rumah masih rendah. Menurut Latifah et al. asbes gelombang.6%) berada dalam keadaan tertutup (Tabel 19). Latifah et al.6% dinding rumah responden berupa tembok (Tabel 19). Sanitasi Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Sumber air minum yang digunakan sebagian besar responden (78. Menurut Latifah et al. (1997) menyatakan bahwa sumber air minum yang . Atap rumah sebagian besar responden (96. Lebih dari separuh responden (60.

6 33.6 17. Tidak punya b.1 3. Menurut Depkes RI (1995) diacu dalam Amperansyah (1999) kakus digunakan untuk menyimpan kotoran (hajat).5 53.6 80. sumur tak terlindungi/mata air tak terlindungi c. <10 m c. Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air PHBS aspek sanitasi air Sumber air minum.6 12.4 12. sehingga tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan.9 . cuci. air sungai/air hujan/lainnya b.5 53. dan kakus a. Sungai/pancuran b. Kamar mandi pribadi n 9 2 45 7 2 47 % 16.4%) melakukan aktivitas buang hajat yaitu di tempat kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik (Tabel 21). Menurut Subandriyo et al. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan tempat penampungan kotoran minimum 10 m. Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban PHBS aspek kepemilikan jamban Tempat keluarga biasa buang hajat a. sangat disarankan bagi masyarakat memiliki kakus yang dilengkapi dengan tangki septik. air ledeng. kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik Tempat keluarga mandi a.6%) dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m (Tabel 20). Sebagian besar keluarga responden (80. Kondisi tersebut menyebabkan sumber air tercemar oleh bakteri yang dapat dijadikan media penularan penyakit diare.9 n 2 10 44 7 30 19 % 3.bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. Oleh karena itu. ledeng/sumur terlindungi/mata air terlindungi Jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat a.6 83. sumur yang terlindungi dan mata air yang terlindungi. Kamar mandi umum c. Proporsi terbesar responden (53. ≥10 m Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut kakus. sungai b.9 78. mandi. kakus sendiri/kakus bersama tanpa tangki septik c.

Perilaku tersebut masih jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat.3% responden membuang sampah pada lubang terbuka (Tabel 22). Perilaku tersebut belum mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang dapat menularkan penyakit diare. sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. lubang sampah terbuka c. Lebih dari separuh responden (60. (2002c) bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik yaitu dapat menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit (seperti cacing. mampu mengundang lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit.9%) terbiasa membuang air limbah di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air (Tabel 23). kemungkinan air sungai/pancuran tercemar oleh bakteri lebih tinggi dibandingkan dengan air di kamar mandi pribadi yang sumber airnya berasal dari ledeng atau sumur yang terlindungi. Air sungai/pancuran bukan merupakan sumber air yang bersih dan sehat. akan tetapi sebanyak 12. Hal ini disebabkan oleh tidak terlindunginya air tersebut dari kotoran baik tinja. tempat terbuka di pekarangan dan tanpa dikumpulkan b.7 39. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) sumber air yang tercemar merupakan salah satu media yang dapat menularkan penyakit diare. Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah PHBS aspek penanganan sampah Tempat pembuangan sampah a.7%) terbiasa membuang sampah di tempat terbuka/di pekarangan dan tanpa dikumpulkan dan sebanyak 39. Menurut Latifah et al.Berdasarkan Tabel 21 sebagian besar responden (83. Selain itu. Sampah Seluruh responden terbiasa membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya. Menurut Latifah et al. (2002c) sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. lubang sampah tertutup/dibuat kompos Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Lebih dari separuh responden (67.9%) melakukan aktivitas mandi di kamar mandi pribadi.5% responden melakukan aktivitas mandi di sungai/pancuran. Sehingga. N 34 22 0 % 60.0 . Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat kesehatan. sehingga berdampak terhadap status kesehatan keluarga.3 0. sampah maupun air limbah.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa alasan utama responden mengunjungi ketiga fasilitas pelayanan kesehatan tersebut adalah jarak yang dekat dan terjangkau.0 100. ke dalam tangki septik Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa seluruh responden biasa melakukan pemeriksaan kehamilan di Posyandu. Puskesmas dan praktik bidan. Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya. ke dalam lubang tertutup tanpa tangki septik c.0 n 38 0 18 % 67. . Menurut Fogel dan Woods (1995) hal 431 diacu dalam Satoto (2004) perempuan yang tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah daripada yang memperoleh perawatan kehamilan yang memadai.Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL PHBS aspek SPAL Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) a. Posyandu/Puskesmas/praktik bidan n 0 56 % 0.0 32.8%) dan praktik bidan (51. pemeliharaan kebersihan dan sebagainya. Puskesmas (76. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air b.1 Nadesul (2005) menyatakan bahwa kehamilan merupakan masa yang sangat penting karena pada saat itu mutu seorang anak ditentukan. Berdasarkan Lampiran 1. Dukun b. Lebih lanjut Satoto (2004) menyatakan jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan kehamilan. Kondisi janin yang sehat akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak selanjutnya.4%).8%) adalah dekat.9 0. Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan Pelayanan kesehatan Pemeriksaan kehamilan a. sebagian besar responden menyatakan bahwa jarak ke Posyandu (96. pemeliharaan kesehatan. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar.

Selain jarak.4% responden menyatakan bahwa saat persalinan dibantu oleh dukun paraji.3%).6%). selain membantu persalinan dukun paraji juga ikut membantu memandikan bayi dan “ngurut” ibu setelah melahirkan sampai usia 40 hari kelahiran. lebih dari separuh responden pernah mendapatkan informasi gizi dari ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut yaitu dokter Puskesmas (57.2%) dan praktik bidan (64. pasien sama sekali tidak dipungut biaya. dan praktik bidan (67.9%) dan praktik bidan (64.9%). bidan Puskesmas (73. sebanyak 30.4%). Selain itu. daya jangkau (biaya) juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan.0%) adalah baik. Berdasarkan Lampiran 2. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut juga mudah dihubungi yaitu dokter Puskesmas (62. bidan Puskesmas (94. Berdasarkan Lampiran 1. Berdasarkan Tabel 25.6%) dan praktik bidan (75. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa daya jangkau ke Posyandu (98.5%). Pada umumnya baik bidan Puskesmas maupun praktik bidan lebih mudah dihubungi dibandingkan dengan dokter Puskesmas. Puskesmas dan bidan desa sangat murah karena pasien hanya membayar retribusi. Selain itu. Akan tetapi. Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara kader Posyandu dan responden dapat terjalin dengan baik. sehingga rasa kekeluargaan diantara mereka masih cukup tinggi.9%). Hampir seluruh responden menyatakan bahwa cara pelayanan dokter Puskesmas (96. Puskesmas (83. bidan Puskesmas (94. seluruh responden menyatakan bahwa kader Posyandu mudah dihubungi dan cara pelayanannya pun baik. bahkan mereka akan memperoleh vitamin secara gratis. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden. Berdasarkan Lampiran 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi gizi dari kader Posyandu (92. Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal antara kader Posyandu dan responden yang berdekatan karena merupakan warga setempat. Satoto (2004) . Satoto (2004) menyatakan bahwa biaya pemeriksaan kehamilan di Posyandu.3%) adalah mudah.1%). Apalagi di Posyandu.6%) saat persalinan dibantu oleh bidan baik oleh bidan Puskesmas maupun praktik bidan. lebih dari separuh responden (69. Hal ini disebabkan oleh pembagian jadwal tugas dokter yang berbeda antara kedua Puskesmas yang berada di Desa Cikarawang. Tidak berbeda halnya dengan dokter dan bidan Puskesmas serta praktik bidan.2%).

Hal ini disebabkan oleh jarak dan daya jangkau ke rumah sakit jauh . Menurut BPS (2004) penimbangan anak balita merupakan salah satu upaya dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk melihat tumbuh kembangnya. Perawatan tersebut dilakukan sampai 40 hari dengan biaya yang relatif murah.menyatakan bahwa dukun akan melakukan pemijatan pasca melahirkan untuk mengembalikan stamina tubuh ibu dan bayinya akan memperoleh perawatan sampai tali pusatnya lepas. roti. buah nangka.6%). Puskesmas/praktik bidan n 17 39 % 30. kangkung dan sebagainya. Alasan dukun paraji yang mendasari pantangan tersebut yaitu rahim ibu masih luka. Secara umum responden hanya mendapatkan nasihat-nasihat berupa pantangan setelah melahirkan seperti tidak boleh makan yang manis (”bolu”). Seluruh responden selalu membawa anak balita ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan berat badan (Tabel 26).4 69. Berdasarkan Lampiran 2. Menurut BPS (2006) program KB merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.6%) menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi gizi dari dukun paraji.1%) dan mudah dijangkau (69. Tabel 26 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu berobat ke tenaga medis ketika anggota keluarga sakit. talas. ubi. ikan asin.6 Alasan utama responden menggunakan tenaga bukan kesehatan (dukun paraji) saat persalinan yaitu jarak yang dekat dan terjangkau. Berdasarkan hasil wawancara. Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pertolongan persalinan Pelayanan kesehatan Pertolongan saat persalinan a. durian. Sehingga. sangat dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah atau Wanita Usia Subur (WUS) menerapkan program KB. mie instan. Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden menyatakan bahwa jarak ke tempat dukun paraji dekat (66. makanan-makanan tersebut tidak baik dikonsumsi. daging kambing. pisang. proporsi terbesar responden (44. responden lebih sering mengunjungi Puskesmas untuk berobat ketika sakit dibandingkan rumah sakit. Dukun b. Oleh karena itu. Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa seluruh responden ikut dalam program Keluarga Berencana (KB).

4% kategori sedang. Ya Penimbangan anak balita di Posyandu a. Tidak ada satu responden pun yang memiliki kategori PHBS rendah.4 69.0 100.0 30. Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB.6 100. Puskesmas/praktik bidan/klinik/rumah sakit n 0 56 0 56 0 56 % 0.dan sulit. sanitasi air.6%) memiliki PHBS termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 30. rumah sehat.0 Berdasarkan pemaparan di atas mengenai aspek PHBS yang meliputi higiene.2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 42. kepemilikan jamban.9% kategori tinggi. Tidak b.0 100.0 100. Pada umumnya responden mengunjungi rumah sakit ketika anggota keluarga mengalami sakit yang cukup parah sehingga membutuhkan pengawasan dan perawatan dokter yang cukup intensif. Akan tetapi. Tabel 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS Kategori PHBS Rendah (24-38) Sedang (39-53) Baik (54-67) Total n 0 17 39 56 % 0.0 0.0 0. Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan.0 Pengetahuan Gizi Tabel 28 menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden (48. ini menunjukkan bahwa kesadaran responden dalam berperilaku hidup bersih dan sehat sudah cukup baik (Tabel 27). Tidak b. Tindakan yang didasari oleh . Ya Tempat berobat keluarga ketika sakit a. penanganan sampah dan SPAL serta pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (69. masih ada responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah yaitu sebanyak 8.9%. gizi seimbang. Dukun b. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit Pelayanan kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) a.

pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.6%). Tabel 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) Total n 5 27 24 56 % 8.1%).9 48. Kelima pertanyaan tersebut adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (53.2 58.0 100.0 SLTP/sederajat n 0 7 13 20 % 0. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi responden atau sebaliknya.6%). Berdasarkan Lampiran 3 dapat diketahui bahwa terdapat lima pertanyaan pengetahuan gizi yang dapat dijawab responden kurang dari 60%. .1%) dan pemberian ASI eksklusif (41. zat gizi untuk pertumbuhan (44.0 SLTA/sederajat n 0 3 3 6 % 0.2 42.0 50. Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi responden (p<0. jenis pangan sumber Fe (57.0 Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi pun menjadi lebih baik.6 24.01).0 100.0 50.0 0. Hal ini mengindikasikan bahwa kelima pertanyaan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertanyaan lainnya.9 100.2 42. jenis pangan karbohidrat (44.0 Tabel 29 menunjukkan bahwa secara umum responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah memiliki tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) juga.0 35.0 100.0 100. Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawati (2006) bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan.0 65.9 48.0 Akademi/Dip loma/PT N % 0 0 1 1 0.6%).0 Total n 5 27 24 56 % 8.9 100. Tabel 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan responden Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Total Tingkat Pendidikan SD/sederajat N 5 17 7 29 % 17.1 100.

6 Tidak n % 42 75.4 . responden sudah memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang. susu formula. Menurut Sukarni (1989) dan Madanijah (2003) tingkat pendidikan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan. cara memperkenalkan makan. Tabel 30 menunjukkan bahwa sebanyak 75. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.0 8 14. Ketidakmampuan responden menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan benar kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya pendidikan responden.9 53. dan sosial. Pola Asuh Makan Pola asuh makan pada penelitian ini meliputi riwayat menyusui dan penyapihan.0 85. bubur bayi dan lainnya. Hanya 41. orang tua harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan.3 18 32. mental. cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita.1% responden yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. biskuit.0% responden tidak memberikan ASI eksklusif (6 bulan).1 26 46. lama pemberian ASI eksklusif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah enam bulan. Tabel 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Anak diberi ASI eksklusif (ASI saja hingga 6 bln) Anak diberi kolostrum? ASI diberikan sesuai permintaan bayi? ASI diberikan sampai anak berusia 2 tahun? Ya n 14 48 38 30 % 25.Pada umumnya responden mengetahui lama pemberian ASI eksklusif yaitu empat bulan. Karena pendidikan akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang yang akan berdampak terhadap status kesehatan dan status gizi keluarga. Dalam hal ini. Marotz et al. cara mempersiapkan makanan. Pada umumnya setelah anak berusia empat bulan bahkan kurang.7 67. Akan tetapi. Pola Asuh Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya secara fisik. (2005) menyatakan bahwa masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilakuperilaku gaya hidup sehat.

6 3. sebagian besar responden (85. Tabel 31 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92.Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi. bahkan sangat mudah dan murah memberikannya kepada bayi (Dinkes DKI Jakarta 2002).4 Tidak n % 4 33 30 2 7.9%) memberikan makanan yang beragam kepada anak balita.1 58. Cara memperkenalkan makan untuk anak balita meliputi membiasakan mengonsumsi makanan beragam. Lebih dari separuh responden (67. sehingga dapat mengurangi risiko terserang diare. Berdasarkan Tabel 30.7%) memberikan kolostrum kepada anaknya. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. Sehingga tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) yang dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi seperti yang diperoleh dari kolostrum.6 Menurut Dinkes DKI Jakarta (2002) fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Akibat . frekuensi memberikan makanan utama dan memberikan makanan kudapan. Soekirman dan Martianto (2005) bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi intestinal. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA. Tabel 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita Cara memperkenalkan makan anak balita Anak dibiasakan mengonsumsi makanan beragam Pertimbangan ibu dalam memperkenalkan makan kepada anak berdasarkan faktor gizi Ibu membiasakan menyediakan kudapan untuk anak setiap hari Ibu memberikan makan kepada anak sebanyak tiga kali sehari Ya n 52 23 26 54 % 92. pertimbangan dalam hal memberikan makan karena faktor gizi.4 96.1 46. Kolostrum mengandung zat gizi untuk sistem kekebalan tubuh anak dari penyakit.9 53.6%).9 41. Kebiasaan ini sangat baik karena dengan memberikan makanan beragam mampu memperbaiki status gizi anak balita sehingga terhindar dari gizi kurang. Krisnatuti & Yenrina (2000) menyatakan bahwa kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran.9%) memberikan ASI sesuai dengan permintaan dan memberikan ASI sampai usia 2 tahun (53. Hal senada diungkapkan oleh Masithah.

9% responden memberikan makan anak balita sesuai dengan kondisi keuangan keluarga.7% tidak melakukan aktivitas memasak tiga kali sehari (Tabel 32). Berdasarkan Tabel 32 sebagian besar responden (87. Akan tetapi. Pada umumnya responden memasak satu sampai dua kali sehari.7 10.8 Berbeda halnya dengan kebiasaan memasak responden yaitu sebanyak 85.6% tidak memberikan makanan kudapan setiap harinya kepada anak balita.1%) sudah memperhatikan faktor gizi sebagai pertimbangan dalam memberikan makan kepada anak balita (Tabel 31).3 98.5%) mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak balita. sehingga tidak dapat . siang. sore/malam) Ibu terbiasa memanaskan/menghangatkan kembali makanan sesaat sebelum dikonsumsi Ibu selalu menutup makanan sebelum dihidangkan Ya n 49 8 50 55 % 87. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita. sehingga sebanyak 89.2 Tidak n % 7 48 6 1 12. sebagian besar responden (96. Menurut Krisnatuti & Yenrina (2000) ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk membentuk kondisi anak sehat yaitu makanan bergizi dan sanitasi (kebersihan). Faktor kebersihan harus selalu dijaga pada setiap tahapan penyediaan makanan bayi. Kuman-kuman tersebut akan membentuk toksin yang tahan panas. Tabel 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita Cara mempersiapkan makanan anak balita Ibu mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak Ibu memasak makanan dalam sehari dilakukan secara bertahap (pagi. Sesuai dengan jawaban yang diperoleh dari responden saat wawancara dapat diketahui bahwa sebanyak 58.3% responden menghangatkan kembali makanan sebelum dikonsumsi.4%) memberikan makan utama untuk anak balita yaitu tiga kali dalam sehari (Tabel 31). Mulai dari tahap persiapan. Menurut Pujiarto (2007) makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam mengakibatkan kuman tumbuh subur dalam makanan tersebut. pengolahan. Kurang dari separuh responden (41. Keadaan ini berdampak pada kebiasaan responden yaitu sebanyak 53. sampai penyajian termasuk kebersihan peralatan makanan yang akan digunakan.5 85.tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam.5 14.3 89.7 1.

maka sebelum dilakukan proses menghangatkan makanan harus terlebih dahulu disimpan dalam lemari pendingin.4%) sudah mulai membiasakan anak balita untuk makan sendiri. Akan tetapi. Hal ini bertujuan agar makanan tetap terjaga kebersihannya.9 5.6 n 11 15 47 3 Tidak % 19. Responden mengeluh anak balita mulai sulit makan. Kebiasaan memasak secukupnya sesuai dengan kebutuhan.4 Tabel 33 menunjukkan sebanyak 83.1 94.9% responden belum membiasakan anak balita makan di meja makan (makan bersama). merayu) Ya n 45 41 9 53 % 80. agar anak balita mau makan.6 26. lebih baik dibandingkan dengan menghangatkan kembali makanan tersebut. Hal ini dikarenakan anak balita tersebut belum bisa memegang sendok dengan benar sehingga saat memasukkan makanan ke dalam mulut masih tumpah.dihancurkan dengan memasak makanan tersebut. kalaupun mau makan itupun dalam jumlah yang sedikit.6% responden selalu melakukan kegiatan .8 83. Tabel 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita Cara memberikan makan anak balita Ibu membiasakan anak makan sendiri dengan asumsi sudah dapat memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut tanpa tumpah Ibu memberikan makan kepada anak dengan cara disuapi Ibu memberikan makan pada anak di meja makan (makan bersama) Cara mengapresiasi proses makan anak balita Ibu selalu berusaha agar anak menghabiskan makanannya (membujuk. Oleh karena itu. pada umumnya responden memberikan makan sambil jalan-jalan atau aktivitas lainnya. Kalaupun makanan yang diolah bersisa. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak balita. Tabel 33 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (80. sebanyak 94.2%) selalu menutup makanannya sebelum disajikan/disantap (Tabel 32). Sehingga.2% responden masih memberikan makan kepada anak balita dengan cara disuapi.4 73. Membiasakan menutup makanan sebelum dihidangkan dapat mengurangi kontak fisik serangga (kecoa. sehingga makanan tersebut cukup aman untuk dikonsumsi dan mampu mengurangi penyebaran penularan penyakit yang membahayakan manusia. pilih-pilih serta jarang habis. lalat) dengan makanan.2 16. sebanyak 73. Sebagian besar responden (98.

Oleh karena itu. Lebih dari separuh responden (52.4 28. menurut Hardinsyah & Martianto (1992) perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan.1% responden membiasakan anak balita agar menggunakan handuk yang sama dan milik pribadi (tidak gonta-ganti). sebanyak 77.2% responden belum membiasakan anak balita menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan dan hanya 21.1% responden mulai membiasakan gosok gigi saat berusia ≤1 tahun (Lampiran 4).0 . Berdasarkan pemaparan di atas dari ke lima aspek pola asuh makan dapat diketahui bahwa sebanyak 71. Menurut Khomsan (2004) membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Tidak ada satu responden pun yang memiliki pola asuh makan kategori rendah. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang.6% selalu menggunakan sabun ketika memandikan anak balita.0 71.4% responden membiasakan anak balita mandi dua kali dalam sehari dan sebanyak 94. Akan tetapi.4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan sebanyak 28.9% anak balita selalu menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi.6% kategori tinggi. Lebih lanjut Hurlock (1982) menyatakan penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. Tabel 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan Pola Asuh Makan Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) Total Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Lampiran 4 dapat diketahui bahwa sebanyak 80. merayu atau memberikan pujian.6 100. n 0 40 16 56 % 0. Seluruh responden menyatakan bahwa selalu mengganti pakaian anak balita sehabis mandi dan sebanyak 91. Hasil penelitian mengenai kategori pola asuh makan dapat dilihat pada Tabel 34. anak sering mengalami fase sulit makan. Pada usia pra sekolah.6%) membiasakan anak balita menggosok gigi ≥2 kali/sehari dan sebanyak 64.apersepsi supaya anak balita mau makan misalnya dengan cara membujuk.

Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebanyak 42-47% Kebersihan kuku juga sangat penting untuk diperhatikan.2% responden membiasakan mencuci rambut anak balita (keramas) sebanyak ≥3 kali/minggu dan sebagian besar anak balita (92. Walaupun masih ada responden sebanyak 21.5% menggunakan air bersih untuk mencuci tangannya.3%) tidak memperbolehkan .9%) keramas menggunakan sampo. karena kuku yang panjang dan tidak terawat mampu menularkan penyakit. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan sabun dan air bersih sangat penting dilakukan karena dapat menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh saat wawancara bahwa rambut anak balita tipis dan pendek sehingga tidak perlu disisir untuk merapikannya. Sebanyak 71. kebiasaan tersebut mampu mencegah terjadinya penyakit diare. Selain itu.6%) kadang-kadang dibiasakan untuk mencuci kakinya setelah bermain. Menurut Tjitarsa (1992). sebanyak 64.3% anak balita dibiasakan selalu menggunakan alas kaki ketika bermain atau berada di luar rumah. akan tetapi cukup dengan menggunakan tangan responden yaitu dengan cara “dielus-elus” (Lampiran 4).Sebanyak 77. Sebanyak 46. Sebagian besar responden (89. Serta sebanyak 51.1%) sudah membiasakan anak untuk buang air besar pada tempat semestinya yaitu kamar mandi (Lampiran 4).4% yang menyisir rambut anak balita hanya 1 kali/hari. Menurut Notoatmodjo (2003) kotoran manusia (tinja) adalah sumber penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan manusia.3%) selalu menggunakan sabun ketika mencuci tangan anak setelah buang air besar dan sebagian besar responden (82. Lebih dari separuh responden (64. Sebanyak 67.9% anak balita sudah dibiasakan mencuci kaki sebelum pergi tidur oleh responden dan lebih dari separuh anak balita (53.8% responden sudah membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan saat berusia 1-2 tahun.4% responden membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan dan sebanyak 87.4% responden sudah membiasakan anak balita menggunting kuku ≥3 kali dalam satu bulan dan sebanyak 39. Curtis & Cairncross (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007) mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare.3% responden membiasakan menyisir rambut anak balita 2-3 kali/hari.

anak balita bermain tanpa memakai celana dan separuh responden (50.0%) kadang-kadang memperbolehkan anak balita bermain tanah (Lampiran 4).6 55. Tabel 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan Pola Asuh Kesehatan Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (56-72) Total n 0 25 31 56 % 0.4 100. Menurut Rahayu (2006). Lingkungan rumah yang bersih akan menciptakan lingkungan nyaman yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang. Akan tetapi. . Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.6% kategori sedang (Tabel 35).01). Pola asuh kesehatan seperti ini cukup baik. Menurut Entjang (1985) lingkungan hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang.9%) sudah membiasakan anak balita untuk membuang sampah pada tempatnya (Lampiran 4). Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (55. sebagai contoh yaitu mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat semestinya.4%) memiliki pola asuh kesehatan termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 44. Pengetahuan gizi ibu yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula seperti dalam hal perilaku bersih dan sehat. Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. terdapat kecenderungan apabila pengetahuan gizi ibu baik maka kedua pola asuh tersebut pun akan baik.0 Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara PHBS ibu dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan (P<0. kondisi fisik masih lemah dan kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. memberikan makan dan menjaga kebersihan anak balita. Lebih dari separuh responden (58.0 44. pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena anak balita belum mampu untuk merawat dirinya sendiri. sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan signifikan dengan kedua pola asuh tersebut. karena dengan membuang sampah pada tempatnya mampu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya.

Muniasir (2007) menyatakan bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh.0%.6 100.4 100.5 12 75.6 100.01) antara umur anak balita dengan diare.0 Uji korelasi Spearman menunjukan terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0. Tabel 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total N 2 0 2 Berat Badan Lahir BBLR Non BBLR % n % 100.5% dan 25.4 0. Bayi dan balita memiliki sistem imunitas tubuh yang masih lemah.3 100. Sistem imunitas tubuh berkembang sesuai dengan umur seseorang.5 4 25.0 22 100. salah satunya diare.7 33. Semakin tinggi umur anak balita maka tingkat diare semakin rendah.6 46.Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita Tabel 36 menunjukkan bahwa anak balita dengan umur ≤23 bulan mengalami diare lebih tinggi (66. hasil analisis korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh variasi data penelitian mengenai BBLR yang relatif kecil.0 30 55.0 .0 12 54.0 16 100. Persentase anak balita yang mengalami diare dengan umur 24-36 bulan dan ≥37 bulan berturut-turut yaitu 45.0 24 44. Tabel 37 menunjukkan bahwa secara umum anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mengalami diare selama tiga bulan terakhir. sehingga sangat mudah terserang penyakit infeksi.0 54 100.0 Total n 26 32 56 % 46.4 53. Tabel 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total n 12 6 18 ≤ 23 % 66. Namun.0 Total n 26 32 56 % 53.7%) dibandingkan dengan anak balita yang memiliki umur >23 bulan.0 Umur (bulan) 24-36 ≥ 37 N % N % 10 45. Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) menyatakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki daya tahan terhadap penyakit juga lebih rendah.

0%) memiliki PHBS kategori tinggi.7 1.0 15.5 23.01).8 41. Persentase tersebut lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur 31-50 tahun (28.5%) dengan tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) memiliki PHBS kategori sedang.6 23.0 30. Hasil analisis menunjukkan umur responden tidak berhubungan signifikan dengan PHBS. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Tabel 38 menunjukkan sebagian besar responden (76.8 100.1 44.0 Tabel 38 juga menunjukkan responden dengan umur 13-19 tahun (30.0 41.Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS. 0. Pengetahuan Gizi.0 35. Hasil analisis juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan gizi responden (p<0.6%).4 2. sebagian besar memiliki PHBS kategori tinggi yaitu SLTP/sederajat (41.0 n 29 20 6 1 56 18 25 13 56 Total % 51.0 32.0 28.0%). Semakin tinggi pendidikan responden maka PHBSnya pun semakin tinggi pula.9 11.8%).2 100.0.01).3 52. Responden dengan tingkat pendidikan di atas SLTP/sederajat.8 100. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS responden (p<0.0 100.8 35.8 100.0 Tinggi n 16 16 6 1 39 12 16 11 39 % 41.6 100.8%) dan 20-30 tahun (41.7 10.5 0. SLTA/sederajat (15. . Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Tabel 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS PHBS Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ibu SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Sedang n % 13 4 0 0 17 6 9 2 17 76.4%) dan akademi/diploma/PT (2. Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pemahaman atau pengetahuan seseorang terhadap perawatan kesehatan dan kesadarannya terhadap kesehatan anak-anak dan keluarga.

Sehingga.9%). tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan gizi responden. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi (tempat penampungan kotoran) minimum 10 m.9 33.Namun. Tabel 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita PHBS Diare Diare Tidak Diare Total n 7 10 17 Sedang % 26. .1 66. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar responden dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m.4 53. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita Berdasarkan Tabel 39 dapat diketahui bahwa kecenderungan anak balita dengan PHBS responden kategori tinggi mengalami diare lebih besar (73. Kaitan antara PHBS. cuci dan kakus). Pengetahuan Gizi.1%) dibandingkan anak balita dengan PHBS responden kategori sedang (26. Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS responden dengan diare anak balita. PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). air tetap terjaga kebersihannya dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (minum.6 100. mandi.0 Aspek PHBS yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran. hasil analisis menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan pola asuh makan maupun dengan pola asuh kesehatan. kebiasaan membuang sampah dan SPAL responden yang belum sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat.0 n 19 20 39 Tinggi % 73. Menurut Subandriyo et al. Tujuannya adalah supaya tidak terjadi interaksi antara mikroorganisme dengan air yang biasa digunakan untuk kebutuhan hidup seharihari. Selain itu juga.0 n 26 30 56 Total % 46.3 100.7 100.

Keadaan ini juga mampu mencemari sumber air. secara umum mereka membuang sampah di pekarangan dan lubang sampah terbuka. Akan tetapi.7 5 100. sebagian besar responden membuang air limbah bukan pada tempat semestinya yaitu di pekarangan. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan penyakit diare.0%. Perilaku seperti ini sangat jauh dari indikator perilaku hidup bersih dan sehat.7 10 41.4 53.0 Total n 24 32 56 % 46.0 24 100.0 18 66. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. hasil uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita.0 27 100.0 tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan . sampah juga mampu mencemari sumber air. Sampah yang dibiarkan di tempat terbuka dapat dijadikan media berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita Tabel 40 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu rendah mengalami diare lebih besar (60. Tidak berbeda halnya dengan SPAL responden.6 100. Namun.3%).3 2 40. Tabel 40 Kaitan antara pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi n % n % N % 3 60.0 9 33.Berdasarkan yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya mengenai aspek PHBS. dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak membuang sampah pada tempat yang semestinya.) dibandingkan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu kategori sedang (33. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) penggunaan air yang sudah tercemar tersebut dapat dijadikan media pencemaran penyakit diare. Selain itu. Menurut Latifah et al.3%) dan tinggi (58.3 14 58.

4 53. hasil analisis juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan diare anak balita. Tabel 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh makan Sedang Tinggi n % n % 16 40.8 25 100.0%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi (45.5%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh makan kategori rendah (40. Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Tabel 42 menunjukkan ada kecenderungan ibu dengan pola asuh kesehatan kategori sedang memiliki persentase anak balita yang mengalami diare lebih besar (48.0 Total n 26 30 56 % 46.6 100.0 17 54.0%).2%).6 100. Pemberian ASI eksklusif erat kaitannya dengan meningkatnya kekebalan tubuh seorang anak.0 Total n 26 30 56 % 46.2 13 52.4 53. Dengan demikian.5 40 100.0 6 37.0 16 100.0 Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita yaitu kebiasaan ibu dalam hal mencuci tangan anak balita sebelum makan. Tabel 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh kesehatan Sedang Tinggi n % n % 12 48. Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak balita.5 24 60. hasil analisis korelasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Namun. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.0 14 45.0 Aspek pola asuh makan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain mengenai pemberian ASI eksklusif.0 31 100. Rendahnya kesadaran ibu dalam hal pembiasaan mencuci .Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita Tabel 41 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh makan kategori tinggi memiliki anak balita yang mengalami diare lebih besar (62.0 10 62.

membiasakan anak balita menggunakan kamar mandi ketika buang air besar merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat kejadian diare.tangan anak balita sebelum makan diduga menjadi penyebab tingginya diare pada anak balita. Lingkungan yang tidak bersih. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) tangan yang kotor dapat menjadi media penularan penyakit diare. Hasil penelitian menunjukkan masih ada beberapa ibu yang belum membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh contoh belum dibiasakan menggunakan alas kaki (sandal) ketika keluar rumah. kebersihan kaki pun harus diperhatikan. Selain kebersihan tangan dan kaki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh ibu menyatakan kadang-kadang membiasakan anak balita mencuci tangan sebelum makan. kemudian tidak membiasakan menggunakan sandal ketika keluar rumah dapat menjadi sumber penyebaran kuman dan apabila tidak dihambat penyebarannya maka dapat menimbulkan penyakit seperti diare. Menurut Sadeque dan Ghosh (2005) salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan anak balita yaitu dengan membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Selain kebersihan tangan anak balita. Bahkan masih ada beberapa ibu yang tidak membiasakan mencuci tangan anak balita. Hal senada juga diungkapkan oleh Suririnah (2007) bahwa perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare. .

Proporsi terbesar umur anak balita (39. Lebih dari separuh anak balita (66.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. 2.1%) adalah perempuan. sedangkan ibu (75. sisanya tinggi dan rendah (42. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB.00.9%). Hampir 50% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang.0%) tidak bekerja.7%) merupakan keluarga besar (>4orang) dan hampir separuh umur baik ayah (39. Hasil analisis menunjukkan umur anak balita berhubungan sangat signifikan dengan diare (p<0.9% dan 8. 4. Proporsi terbesar responden memiliki PHBS (69. TB/U) dengan diare (p<0. Dengan demikian.5 kg).4%) serta pola asuh makan kategori sedang (71.9%) pendapatan perkapita perbulan responden adalah >Rp 150 000.4% anak balita memiliki berat badan lahir cukup (≥2. 5. dan tidak berhubungan signifikan dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.01). Proporsi terbesar (58. Hampir seluruh anak balita (91.3%) berkisar antara 24-36 bulan dan 96. Sedangkan umur ibu tidak berhubungan . Secara umum responden memiliki PHBS. Sedangkan anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare. 3. 6.3%) maupun ibu (44. Lebih dari separuh responden (60. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang baik.1%) mengalami sakit selama tiga bulan terakhir dan hampir 50% anak balita mengalami diare dengan frekuensi tertinggi yaitu 2 kali dan lama sakit 1-3 hari.6%) berada pada kategori usia muda (20-30 tahun). Tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi.9% 28.05). Tingkat pendidikan pegawai ayah lebih tinggi dan (SLTA/sederajat) angkutan dibandingkan dan ibu (SD/sederajat). akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu. proporsi terbesar pekerjaan ayah yaitu negeri/swasta jasa (33.4%).6%).6%) dan pola asuh kesehatan kategori tinggi (55.

Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi. pengetahuan gizi. dan pelayanan kesehatan) serta pola asuh makan dalam hal pemberian ASI eksklusif dan penyiapan makanan sehari-hari. membiasakan BAB di kamar mandi. Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu berkenaan dengan kebersihan tangan dan kaki serta kebiasaan Buang Air Besar (BAB) bukan pada tempatnya. diperoleh informasi mengenai faktor dominan yang lebih berpengaruh terhadap kejadian diare anak balita. pengetahuan gizi ibu. PHBS. Selain itu. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika keluar rumah. pola asuh makan maupun pola asuh kesehatan. Sedangkan. Pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah diare dengan membangun fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan. pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan. masyarakat setempat hendaknya memperhatikan jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran dan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor risiko kejadian diare anak balita dengan menggunakan analisis regresi logistik. Selain itu. pembuangan sampah dan limbah bukan pada tempatnya. Sehingga. . aspek pola asuh makan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Cuci. Saran Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya diare pada anak balita hendaknya menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. Aspek PHBS yang diduga menyebabkan diare anak balita adalah jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran <10 m. dan Kakus (MCK).signifikan baik dengan PHBS. personal hygiene. 7.

Firlie D. 2002. Jakarta: Penerbit Mutiara. [Dinkes] Dinas Kesehatan DKI Jakarta. [terhubung berkala] www. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. New York: HarperCollins. Laporan akhir penelitian studi kajian wanita. Konseling Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI).html [3 Oktober 2007]. 1999. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. Harianto. Bandung: Penerbit Alumni. Jakarta: BPS. 1992. Berg A. . Martianto D. Jakarta: CV Rajawali. Hardinsyah. Diktat Mata Kuliah yang tidak dipublikasikan. 2002. Terjemahan dari: The Nutrition Factor. . Institut Pertanian Bogor. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Entjang I. . Aronson SS. Gizi Terapan. Bogor: Fakultas pertanian. Herawati T. 2006. [terhubung berkala]. Briawan D. 2004. www. 1991.gizi. Indikator Kesejahteraan Rakyat. . _____. 1986.html [9 November 2007]. 2005. As’ad S. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kota Bogor [skripsi]. Jakarta: BPS.DAFTAR PUSTAKA Adnyadewi IGA. 1979. Bogor: Fakultas pertanian. [terhubung berkala]. 1997. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Peran anggota rumah tangga di dalam pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. . Universitas Indonesia. Faktor risiko penyakit diare pada bayi di Provinsi Kalimantan Selatan: analisis data sekunder SDKI tahun 1997 [skripsi]. 2004. Majalah Ilmu Kefarmasian 1(1): 27-33. Makasar: Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Health and Safety in Child Care. Hardinsyah. 1985. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Jakarta: BPS. Ilmu Kesehatan Masyarakat. 1985. Statistik Indonesia. Its Role in National Development. Statistik Indonesia. Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak.diare. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Pertanian. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. Ekonomi Gizi. Zahara DN. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. 2001. 1993. Azwar A. Statistik Kesehatan. Diare. 2005. 2004. Jakarta: Citra Aditya Bakti. 2003. [BPS] Biro Pusat Statistik. Gunarsa. Institut Pertanian Bogor. 2002. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga. penerjemah. 2006. Amperansyah. Faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas anak baduta pada keluarga miskin dan tidak miskin [skripsi]. Penyuluhan penggunaan oralit untuk menanggulangi diare di masyarakat. Gunarsa. Jakarta: BPS.

Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [skripsi]. Psikologi Perkembangan.ac.usu. www. Zalbawi S. Irianti S. 2000. penerjemah. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. Khairunnisak I. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat. 2002b. Kecamatan Tamansari. Buletin Penelitian Kesehatan 27(3 dan 4-1999/2000): 346-363. 1982. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kejadiaannya sangat erat dengan keadaan sanitasi lingkungan. Wahida S. Krisnatuti D dan Yenrina R. Institut pertanian Bogor.dinkes-sulsel. [terhubung berkala].pdf. 2004. Faktor-faktor predisposisi yang berhubungan dengan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI) di Kecamatan Banua Lawas. Sumali MA.go. Oktober 2007].id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat.pdf. Nurahmi. 2004. [3 Hiswani. Buku 8 Pengenalan Sampah dan Air Limbah. Bogor: kerjasama pusat kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Hurlock EB. Pengetahuan. Buku 10 Mengenal Berbagai Penyakit dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Pedoman pengembangan kabupaten/kota percontohan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. 2002.ui. Fakultas Ekologi Manusia. 2003. Buku 5 Rumah Sehat. [23 uli 2008]. Jakarta: Puspa Swara. Jakarta: Erlangga. .www. Institut Pertanian Bogor. M Tjandrasa. Institut Pertanian Bogor. MD Djamaludin. Bogor: Fakultas Pertanian. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. dan Suprapti. Herman. Madihah. Jakarta: Erlangga. 2002a. sikap dan perilaku pengguna tanaman obat di desa Sukajadi.id/download/fkm/fkm-hiswani7. 2000. 2002d. Buku 1 Kebersihan Diri dan Lingkungan. Kabupaten . . [terhubung berkala].farmasi. 2006.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104. Latifah M. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Bogor: Fakultas Pertanian. 2002c. . 2005. _________. Evi D. Hubungan kualitas pengasuhan dan perilaku hidup sehat dengan status gizi dan kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kecamatan Bogor Barat [skripsi].jurnal.pdf [15 November 2007]. Jakarta : PT Grasindo Anggota Ikapi. http://library. Khomsan A. 1993. Ed ke-5. 2005. Penelitian dalam rangka penerapan sistem pembuangan tinja dan sampah tepat guna Desa Pantai di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Lamongan. .ac. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI. Manda S. Perkembangan Anak Jilid 2. M Zarkasih.

2001. Jakarta: Ghalia Indonesia. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Diktat Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. 2003. Nasution. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Marie ZC. Rahayu S. Jakarta: Puspa Swara. Bukan Suplemen!. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di taman pendidikan karakter sutera alam. Soekirman. [terhubung berkala]. Bogor [skripsi]. Universitas Indonesia. 2005. 2003.com. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Nadesul H. Institut Pertanian Bogor. and Nutrition for Young Child. parentsguide. Edisi ke-6. Jakarta: Rineka Cipta. Institut Pertanian Bogor. 2007. Fakultas Ekologi Manusia. Jeanettia MR. 1997. Bogor: Fakultas Pertanian. 2002. Ghosh SK. United State: Thomson Delmar Learning. Tantangan bernama higinitas. Media Gizi dan Keluarga 29 (2):29-39.mosleh@bdonline. Model pendidikan “G1-PSI-SEHAT” bagi ibu serta dampaknya terhadap perilaku ibu. Bogor: Program Pascasarjana. Rimbatmaja. 2006. [terhubung berkala]. Pengantar Ekologi Keluarga. Makanan Sehat untuk Ibu Hamil. Kemitraan dalam Mengatasi Masalah Gizi di Indonesia. Rahmawati D. 2006. www. Puspitawati H.org.php?kat=3&emonth=02&eyear=2007 &pg=hns-23k. Drajat M. Institutional and Legal Challenge for the Rural Poor. Imunomodulator. Marotz LR. Institut Pertanian Bogor. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta. [15 November 2007]. Makalah Seminar Sehari. Sadeque MU.co. New York: McGraw-Hill . Pola asuh dan status gizi anak balita keluarga penerima dan bukan penerima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) [skripsi]. 2005. Environmental Sanitation Promotion: A Social. Ed ke-8. Pola Asuh-Asupan Nutrisi dan Pertumbuhan Anak.koalisi. Pujiarto P. Life-Span Development. . ___________ .id/dsp_content. 1993. Desa Sukamantri. Yogyakarta: Ando Offset. Madanijah S. 2007. Fakultas Pertanian. Santrock JW. 2005. Institut Pertanian Bogor. lingkungan pembelajaran. R. Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. www. Muniasir Z. Bogor: Fakultas Pertanian. konsumsi pangan. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Metodologi Penelitian Kesehatan. Notoatmodjo S. 2007. 2005. [terhubung berkala]. Riyadi.Tabalong Kalimantan Selatan tahun 2002 [skripsi]. Masithah T. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak batita di Desa Mulya Harja. Safety. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Health. dan status gizi anak usia dini [disertasi]. 2007. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Institut Pertanian Bogor. 2003.

2005. Diare mendadak dan penanganannya. Petunjuk Praktikum Kesehatan Masyarakat. Solo: Dabara Publiser. Tambingon HN.infoibu. www. Bandung: Penerbit ITB dan Universitas Udayana. Soekirman. [3 Oktober 2007]. .jmpk-online. Hygiene dan Sanitasi Umum dan Perhotelan. dan Yekti HE. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Widyati R. Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Bersalin: Antara Harapan Hidup dan Kenyataan Kematian. Subandriyo VU. 2000.htm. Dewi MDH. 1991. 2005. Turner JS. Cianjur. 2002. Sosial Budaya Gizi. 2007. Sukarni. Institut Pertanian Bogor. Fortworth: Rinehart and Winston. Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial. JMPK 8(2).net/files/vol-08-02-2005-4. Institut Pertanian Bogor. Kecamatan Cugenang. 1989. Topatimasang. 1999. Ed ke-4. Tjitarsa IB. Helms DB. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Institut Pertanian Bogor.pdf. 1993. Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Kondisi geografis dan sosial ekonomi hubungannya dengan pembangunan kesehatan serta kondisi rumah rehat di Desa Gasol dan Cijedil. 2007. Satoto. 1997. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. [3 Oktober 2007]. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): studi kasus di Kabupaten Bantul 2003. ______. Pola pengasuhan ibu anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita di Kota Madya Manado. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. [terhubung berkala].articles. Provinsi Sulawesi Utara [tesis]. Diare. Bandung: Eja Insani.diare. 1989. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat. www. Yuliarsih. Pendidikan Kesehatan: Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. [terhubung berkala]. www. Sehat itu Hak: Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. Suririnah. Saroso S. Departemen Pendidikan Nasional. Fakultas Pertanian. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. [terhubung berkala].php.Sari RA. [3 Oktober 2007]. Fakultas Pertanian. Suhardjo. 2004. Mubasysyir H. 1992.com. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Life-Span Development. Slamet Y. Sumali MA. 1994. Bogor: Pusat Antar Universitas. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Sinaga D. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2004.

LAMPIRAN .

5 5.6 75 100 12.1 35.5 44. 8.2 83.1 Kurang n 1 2 3 2 0 6 1 % 1.6 25 48 43 32 39 54 49 53 52 48 23 44. 13. jarak dan daya jangkau Jenis Pelayanan Kesehatan n Praktek Dukun Paraji Posyandu Puskesmas Praktek Bidan Klinik/Balai Pengobatan Rumah Sakit 31 56 56 21 26 11 Kunjungan Tidak Pernah pernah % 55.8 51.2 91. 12.57 23. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan zat gizi? Zat-zat gizi apa saja yang dibutuhkan oleh tubuh? Apa zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan anak? Apakah ibu dapat menyebutkan jenis pangan yang termasuk sumber karbohidrat? Dapatkah ibu menyebutkan kelompok bahan pangan mana yang banyak mengandung zat gizi protein hewani? Apakah ibu dapat menyebutkan susunan menu yang baik? Dapatkah ibu menyebutkan jenis makanan sumber zat besi? Apa nama kondisi ibu jika selama masa kehamilan ibu mengalami pusing.5 94.8 30 53.3 62.9 10. 6. 9.4 19.1 100 n 39 55 47 36 9 4 Daya Jangkau Mudah % 69.1 96.3 16.6 0.1 69.6 Kemudahan Dihubungi Mudah n 8 35 53 38 56 6 28 % 14. 3.9 64.0 n 19 2 13 27 51 56 Jauh % 33.8 12.93 n 12 54 53 42 56 7 32 Cara Pelayanan Baik % 21.Lampiran 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaann pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.2 64.6 n 25 0 0 35 30 45 % 44.9 92. 5.4 94. 7.3 4 24 15 7 4 7 25 7.6 0 11 1.9 0.6 67.9 85.4 87.7 14.8 3.1 42.0 37.3 92. 2.1 n 17 1 9 20 47 52 Sulit % 30.0 100.9 26.9 3.6 98.36 8.93 0 12. 4. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan Petugas Gizi dan Kesehatan Dokter RS Dokter Puskesmas Bidan Puskesmas Bidan Desa/Praktik Bidan Kader posyandu Mantri Dukun Paraji Informasi Gizi Tidak Pernah Pernah n % n % 9 32 41 36 52 6 8 16.2 48.4 n 37 54 43 29 5 0 Jarak Dekat % 66. cepat lelah dan lesu? Garam dapur yang bagaimana yang baik untuk digunakan? Apa yang terjadi pada bayi yang dilahirkan apabila selama masa kehamilan terjadi kekurangan zat besi? Apa akibat yang ditimbulkan bila anak kekurangan makan dalam jangka waktu yang lama? Apa akibat dari makanan dan minuman yang tidak bersih? Bagaimana cara yang baik dalam mempersiapkan botol atau tabung susu bayi? Sampai umur berapa sebaiknya bayi diberi ASI saja? Jawaban Benar n % 43 76.4 76.8 16.5 57.1 .6 96.4 1.6 5.9 Lampiran 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi.1 7.5 94.0 0.4 3.1 73.0 62.93 37.8 Lampiran 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban pengetahuan gizi No 1. 14.8 57.1 57.7 50 n 5 21 3 5 0 7 5 Sulit % 8.9 100 10.7 83.6 92.4 96.8 8.7 76. 11. 10.5 53.4 100.6 25 44.7 41.6 80.5 8.1 12.5 7.6 85.5 46.

6. Tidak pernah b.2 19. Kadang-kadang c. ≥ 2 kali/hari Apakah anak dibiasakan menggunakan handuk bersih yang sama (tidak gonta-ganti) setelah mandi? a.4 3. Ya.2 8.0 100.8 12. Ya. 4. 17. 1 kali/hari c.6 96. 2 kali/hari c. Selalu Berapa kali anak dibiasakan keramas setiap minggu? a. Kadang-kadang c.1 5.0 14.1 28. 9. Ya.1 2. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap menggosok gigi menggunakan pasta gigi? a. 16. 18. 7. Tidak pernah b.4 64.6 28. Kadang-kadang c. 2-3 kali/hari c. Tidak b.4 94.No 15. 8. 5.0 5.6 94.6 0. Pola Asuh Kesehatan Berapa kali anak dibiasakan mandi setiap hari? a.6 91. 20.2 0 7.0 5. Tidak pernah b. Ya.0 80. Ya. 1 kali/hari c. 2 kali/minggu c. Sejak anak berusia 1-2 tahun c. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setelah makan? a.5 52.3 14.0 77. Ya. Kadang-kadang c.3 77. Pertanyaan Pada usia berapa anak boleh diberikan makanan seperti orang dewasa? Apa yang dimaksud dengan diare? Apa yang ibu lakukan ketika anak mengalami diare? Kemana ibu biasa membawa anak berobat saat mengalami diare? Apa yang ibu berikan saat anak mengalami diare? Apakah kegunaan sabun yang dipakai saat cuci tangan? Jawaban Benar n % 46 40 53 53 54 54 82.4 Lampiran 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan No 1. 12. Ya. 1 kali/hari b. 1 kali/minggu b. Selalu n 0 45 11 0 3 53 16 10 30 25 19 12 16 3 37 44 5 7 44 11 1 4 8 44 0 4 52 12 36 8 0 0 56 3 2 51 % 0. 11.9 33. Tidak pernah b.4 94.8 7.1 71. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi sebelum tidur? a. 10.6 43.4 96. 1 kali/hari b. 3. Tidak pernah b.3 21. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.0 0.1 92. .1 17. Kadang-kadang c. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setiap hari? a.3 1. ≥ 4 kali/hari Apakah anak dibiasakan mengganti pakaian setelah mandi? a. ≥ 2 kali/hari Sejak kapan ibu membiasakan anak menggosok gigi? a. Tidak b. 19.3 0.9 21. Selalu Apakah anak dibiasakan menyisir rambut? a.4 19. ≥ 3 kali/hari Apakah anak setiap mandi menggunakan sabun mandi? a.3 64. ≥ 3 kali/minggu Apakah anak setiap keramas menggunakan sampo? a.9 77. Sejak anak berusia > 2 tahun b.

Kadang-kadang c. Kadang-kadang c.2 21.0 23. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih? a. Tidak b. Selalu Apakah anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya? a.4 32.6 71. 24.1 39.7 1. 23.1 10. Ya. Kadang-kadang c. Tidak pernah b. Tidak pernah b. 19.1 53. jamban)? a. 20. 15.6 58.4 3. Tidak pernah b. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.8 16.8 30.4 67.1 51. Tidak pernah b. Tidak pernah b. ≥ 3 kali/bulan Apakah anak dibiasakan memakai alas kaki ketika bermain/berada diluar rumah? a.4 64.5 5. Tidak pernah b.0 28. Selalu Apakah anak dibiasakan buang air besar pada tempat semestinya (kakus.9 18. Kadang-kadang c. Selalu n 6 24 26 18 29 9 6 1 49 3 17 36 % 10.9 46.7 1. Sejak anak berusia > 2 tahun b. 16.3 0.8 87.1 82. Selalu Apakah anak setiap mencuci tangan setelah buang air besar menggunakan sabun dan air bersih? a. Kadang-kadang c.7 7. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk menggunting kukunya setiap bulan? a./WC.3 14.1 0. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.4 30. Selalu Apakah ibu mencegah anak bermain tanah? a.No 13. Kadang-kadang c. Kadang-kadang c.3 16. Pola Asuh Kesehatan Apakah anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan? a.6 57. Tidak pernah b.8 50. 17. Ya. 21. Selalu Sejak kapan ibu membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan? a.6 30. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki sebelum tidur? a. Selalu Apakah ibu meperbolehkan anak bermain tanpa memakai celana? a. 6 4 46 0 16 40 2 32 22 9 30 17 50 0 6 1 17 38 15 28 13 12 11 33 10. 22. Kadang-kadang c.4 89. Tidak pernah b.9 26.4 19.7 42. 1-2 kali/bulan c. . Sejak anak berusia 1-2 tahun c.0 10. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki setelah bermain? a.

145 p= 0.356 r= 0.222 p= 0.264* p= 0.531** p= 0.476** p= 0.087 r= -0.865 r= 0.191 r= -0.292* Pola asuh makan p= 0.186 r= -0.258 r= 0.226 Status gizi (TB/U) p= 0.134 r= 0.016 p= 0.008 r= -0.052 r= -0.988 r= 0.227 r= 0.000 r= 0.154 p= 0.852 r= 0.476 r= 0.036 p= 0.905 r= 0.122 p= 0.095 p= 0.061 r= 0.643 r= -0.391 r= 0.138 p= 0.100 r= -0.074 p= 0.228 r= 0.122 p= 0.177 p= 0.004 r= 0.275 r= 0.203 p= 0.112 p= 0.403 r= 114 p= 0.655 r= 0.023 p= 0.055 r= 0.369 r= 0.252 p= 0.961 r= -0.148 p= 0.068 p= 0.164 p= 0.029 r= -0.408 r= 0.184 r= 0.311 PHBS ibu p= 0.203 p= 0.231 p= 0.000 r= 0.076 Pendidikan ibu p= 0.915 r= -0.000 p= 0.384** Pengetahuan gizi ibu p= 0.293* p= 0.440** Diare anak balita p= 0.428 r= 0.897 r= -0.180 p= 0.310 r= 0.619 r= 0.258 p= 0.018 - Keterangan:** Signifikan pada α 1% * Signifikan pada α 5% .059 p= 0.576 r= 0.117 p= 0.015 p= 0.486** p= 0.001 r= 0.020 r= -0.179 p= 0.791 r= 0.286 r= 0.108 p= 0.050 r= 0.095 p= 0.095 r= 0.413 r= 0.486 r= 0.097 p= 0.334 r= 0.370 r= -0.007 p= 0.113 Status gizi (BB/TB) p= 0.000 r= -615** Umur ibu p= 0.063 p= 0.000 r= 0.485 r= -0.002 p= 0.164 Pola asuh kesehatan p= 0.999 r= 0.Lampiran 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel Variabel Umur contoh BBLR Status gizi (BB/TB) Status gizi (TB/U) Umur ibu Pendidikan ibu PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Diare anak balita Umur contoh BBLR p= 0.131 p= 0.126 p= 0.026 p= 0.586 r= 0.029 r= 0.350** p= 0.013 r -0.134 r= 0.261 p= 0.330* p= 0.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.