kuesioner

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA

, DI DESA CIKARAWANG BOGOR

IMA MARYANA ULFAH

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
IMA MARYANA ULFAH. Clean and Health Behavior, Nutritional Knowledge, and Caring Pattern, of Which Its Relation with Diarrhoea in Five-Year Babies in Cikarawang Village, Bogor. Supervised by CLARA M. KUSHARTO and SITI MADANIJAH Five-year babies are susceptible group for health and nutritional troubles. Mostly (70-80%), diarrhoea patients are five-year babies and 1-2% from those patients have a risk to experient dehydration. If they are not being help, they possibly will be die. Research general purpose is studied about the clean and health behavior, nutritional knowledge, and caring pattern of which its relation with diarrhoea in five-year babies in Cikarawang village, Bogor. Research design is Cross Sectional Study. Location of research is selected in purposive. Number of example is 56 five-year babies. Data is analysed descriptively and inferensia by Spearmann’s correlation test. Result of research shows that approximately half of examples (46,4%) suffers from diarrhoea. Nutritional status (p<0,05) and age from examples (p<0,01) have negatively and significantly correlation with diarrhoea. Environmental sanitary landfill--distance between water source and septic tank is less 10 m-- and dismissal of garbages are conditions that cause high case of diarrhoea. Mother who did not give exclusive ASI also causes infected diseases as diarrhoea. Self hygiene of five-year babies, accustoms to clean hand before eating and after, accustoms in bathroom, and wear sandals when out of the house must be considered to be not easy to come down with diarrhoea. Key words : diarrhoea, five-year babies, nutritional status, exclusive ASI, environmental sanitary

RINGKASAN
IMA MARYANA ULFAH. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pengetahuan Gizi, dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang, Bogor. Dibimbing oleh CLARA M. KUSHARTO dan SITI MADANIJAH. Diare merupakan salah satu contoh penyakit infeksi, sehingga akan menular. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Anak balita merupakan kelompok penduduk pasif dan rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makannya. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang, Bogor. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik anak balita, (2) Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita, (3) Mengidentifikasi karakteristik keluarga, (4) Mengidentifikasi PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, (5) Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita, (6) Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, dan (7) Menganalisis kaitan antara PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang, Bogor pada bulan Desember 2007 sampai April 2008. Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur), status gizi dan kesehatan anak balita, karakteristik keluarga (besar keluarga, umur, pendidikan, pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga), PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS. Data-data tersebut diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for window versi 11,5. Keterkaitan antar variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 46,4% anak balita mengalami diare selama tiga bulan terakhir. Lebih dari separuh anak balita (66,1%) adalah perempuan. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30,2±11,7 bulan. Proporsi terbesar umur anak balita (39,3%) berkisar antara 24-36 bulan, sisanya berumur ≤23 bulan (32,1%) dan berumur ≥37 bulan (28,6%). Terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0,01) antara umur anak balita dengan diare. Sebagian

besar anak balita (96,4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2,5 kg) dan sebanyak 3,6% anak balita memiliki berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Berdasarkan indeks BB/TB dan BB/U, sebagian besar anak balita memiliki status gizi normal, sedangkan menurut indeks TB/U berstatus gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0,05). Sebanyak 91,1% anak balita mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Diare merupakan jenis penyakit ke tiga terbesar (46,4%) yang dialami anak balita selama tiga bulan terakhir setelah panas (71,4%) dan ISPA (73,2%) dengan frekuensi tertinggi yaitu 1-2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Lebih dari separuh responden (60,7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 5,3±1,8 orang. Proporsi terbesar umur baik ayah maupun ibu berturutturut sebanyak 39,3% dan 44,6% berkisar antara 20-30 tahun (dewasa muda). Rata-rata umur ayah yaitu 33,0±6,8 tahun dan rata-rata umur ibu yaitu 27,7±5,7 tahun. Proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35,7%) yaitu SLTA/sederajat dan ibu (51,8%) yaitu SD/sederajat. Proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta dan jasa angkutan (33,9% dan 28,6%) dan sebagian besar ibu (75,0%) tidak bekerja. Proporsi terbesar pendapatan perkapita perbulan keluarga responden (58,9%) adalah >Rp150 000.00. Proporsi terbesar responden (69,6%) memiliki PHBS kategori tinggi dan 30,4% kategori sedang. Proporsi terbesar responden (48,2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang, sisanya tinggi dan rendah (42,9% dan 8,9%). Sebanyak 71,4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan 28,6% kategori tinggi. Lebih dari separuh responden (55,4%) memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi dan 44,6% kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi ibu. Sedangkan umur ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai serta Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare anak balita. Selain itu, jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), membiasakan Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB, menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika ke luar rumah. Serta, pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan, personal hygiene, dan pelayanan kesehatan) dan pentingnya ASI eksklusif.

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT. DI DESA CIKARAWANG BOGOR IMA MARYANA ULFAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA.

Dr. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. Ir. Ir.Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Bogor Nama NIM : Ima Maryana Ulfah : A54104065 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. MAgr NIP 131 124 019 Tanggal Lulus: . Pengetahuan Gizi. drh. Clara M. MS NIP 130 541 472 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Siti Madanijah. Kusharto. MSc NIP 131 414 958 Dr. Didy Sopandie. Dr.

Ir. yaitu kepada: 1. hidayah dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Pengetahuan Gizi. Ikeu Tanziha. drh. Ikeu Ekayanti. 7. 4. Alhamdulillah. Prof. sungguh luar biasa karena atas rahmat. MS selaku dosen pemandu seminar dan Katrin Roosita. arahan dan dukungan semangat yang luar biasa kepada penulis. Dr. Pihak Desa Cikarawang. Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari dukungan beberapa pihak. Dr. Dr. Siti Madanijah. 2. 5. MSc. Ir. Oleh karena itu. MKes. Kusharto. Dadang Sukandar.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah swt senantiasa penulis panjatkan. 6. Tien Herawati SP. . Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesejahteraan Rakyat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Desa Cikarawang atas bantuannya selama proses pengambilan data penelitian. Clara M. MS dan Megawati Simanjuntak SP atas arahan dan saran selama proses pengolahan dan analisis data penelitian. 3. Dr. Ir. Ir. Dr. MSc selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan. Puskesmas Cangkurawok dan ibu-ibu kader Kampung Carang Pulang. penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua keikhlasan bantuan yang telah diberikan. MSi selaku dosen penguji atas arahan dan saran yang diberikan. Bogor”. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. MS selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik yang dengan sabar dan penuh pengertian mendengarkan curahan hati serta memberikan bimbingan dan dorongan semangat yang luar biasa kepada penulis. SP.

Teteh Milah. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. 43. Bogor. Venny. Sahabat seperjuangan penulis Angelica Gabriel “My Beloved Friend”. Yulia. Mei. Teman-teman BUD Cianjur (Dini dan Ade). perhatian. Devita. atas bantuan. Once. RHEMAND (Nda. 10. Bapak Mashudi dan Bapak Dian atas dorongan semangatnya. 12. temen seperjuangan KKP. Abah. dan Ibnu Akbar atas saran-saran yang telah diberikan untuk kesempurnaan penulisan skripsi. Lola. Arina. curahan hati dan keceriaan sampai terselesaikannya skripsi ini. BKGers (Semangat yo). Mama. Ena. 40 dan GM 42. Friska. Dini. Any. Nur. saran. Maul. Dhyta. Wisma JASMINE dan FAIRUSH terima kasih atas kebersamaan yang indah. 13. MpokIde. penghuni AS-SAKINAH. Yesa. teman-teman pameran PIMNAS XXI di Semarang. Vina dan Emil. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Kakang Rizki. Tiche. Ati. Ari dan Gamasakers 41 atas bantuan. Adin.8. Sri. Rekan-rekan pembahas Edo Rizky Fernando. OMDA CIANJUR. 11. dorongan semangat. Manto. Yuli. GMSK 39. Henny. Noorma. Ira. dukungan semangat. 9. Noni. Agustus 2008 Ima Maryana Ulfah . Sahabat-sahabat terbaik penulis Eka. DausBek. Bung). kebersamaan yang indah dan keceriannya. dan doa untuk keberhasilan penulis. Dede Aab serta keluarga besar di Cianjur atas semua kasih sayang. Rizka. Ardi. Rika. Dedew. teman-teman relawan Klaten. Firdaus. tumpangan kamar.

Tahun 2007 penulis mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang pendidikan dengan judul ”Reformasi Pendidikan dan Perubahan Kurikulum serta Aplikasinya terhadap Pembentukan Kualitas Bangsa Indonesia” dan lolos sebagai 10 besar terbaik di IPB. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Serta. Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi dalam Seminar Nasional “Nuansa Pangan. Hiperkolesterol dan Hiperglikemia)”. Gizi dan Keluarga X (NPGK X)”. Penulis memilih Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK). 2007/2008. Tahun 2006-2008 penulis aktif dalam organisasi otonom yaitu Badan Konsultasi Gizi (BKG). Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber. Hasan Mulyadi dan Ibu Hj. penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen FEMA. selama masa perkuliahan penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Pendidikan Gizi tahun ajaran . Cianjur dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kabupaten Cianjur. Desa Cikarawang. Siti Romlah. Penulis merupakan putri ke dua dari empat bersaudara. Pada tahun yang sama penulis pernah menjadi relawan pada “Posko Penanganan Tumbuh Kembang Anak Korban Gempa di Kabupaten Klaten” yang diadakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Divisi Dana Usaha dalam Seminar Konsultasi Gizi yang berjudul “Control Yourself From 3 Hypers (Hipertensi. Semarang. Fakultas Pertanian. Bogor” dan berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Tahun 2006 penulis pernah mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian dengan judul “Persepsi dan Sikap Mahasiswa Calon Bapak terhadap Pemberian ASI oleh Ibu kepada Bayi” yang berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Pada tahun yang sama penulis mengikuti PKM bidang ilmiah dengan judul “Kajian Keadaan Lingkungan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Sehat Keluarga di Kampung Carang Pulang.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 02 Maret 1986 dari ayah H. Tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan terlibat dalam tim pameran PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Selain itu.

............................................................................................................. 16 Pola Asuh ............. 3 TINJAUAN PUSTAKA ....... 47 Pola Asuh Kesehatan ................................................................... 32 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)....... 21 Jenis dan Cara Pengumpulan Data........................................................................... Pengetahuan ......................... 28 Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita .................................. 29 Karakteristik Keluarga Contoh............................................................................................................................................................................. 7 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). ix PENDAHULUAN . 3 Kegunaan Penelitian ............................. 19 METODE PENELITIAN ................................................................................................................................................................................................................ 54 Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS.............................................................................................................. 22 Definisi Operasional ............................................................... 17 Pola Asuh Kesehatan .... viii DAFTAR LAMPIRAN....... 1 Tujuan.................................................................................................. 6 Karakteristik Keluarga ........................................................................................... 21 Pengolahan dan Analisis Data .............................................................. 18 KERANGKA PEMIKIRAN............................... 45 Pola Asuh .......................................................................... Tempat dan Waktu ...................................................................................................................................................................................................... 22 Disain.............. 24 HASIL DAN PEMBAHASAN ............. 51 Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita................................................. 47 Pola Asuh Makan.................................................................................................................................... 26 Karakteristik Anak Balita............... 26 Keadaan Umum Daerah Penelitian .......................... 4 Karakteristik Anak balita ...........DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL........................................................................................................... 4 Status Gizi dan Kesehatan Anak balita ................................................................................................................................................................... 21 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ................................................................................................................. 1 Latar Belakang ........................................................................................ vi DAFTAR GAMBAR ... 35 Pengetahuan Gizi ............................................................................................................................................................................................................................ 16 Pola Asuh Makan......................... 9 Pengetahuan Gizi ........................................................................................................................ 2 Hipotesis..................... 5 Penyakit Diare ....

..................................... 58 KESIMPULAN DAN SARAN .................... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan.............................. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ............................................. 60 Kesimpulan.................................................................................................................. 58 Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ................ 55 Kaitan antara PHBS..................................................................... 62 LAMPIRAN .................................................... 66 ................................................. 60 Saran ................................................... 56 Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita ....................... Pengetahuan Gizi..........................Gizi........... 61 DAFTAR PUSTAKA .... 57 Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita..................... 56 Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita .....

..................................................... 34 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan................................................. 32 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur.....DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis dan cara pengumpulan data .......................... 41 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL ................... 31 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit . 42 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal membantu persalinan ............................... 44 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB........................ 35 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene ............................................................................................................................................................................ 37 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat... 34 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan ..................................................... 28 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi. 26 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin................................... 36 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang............................ penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit.............................. 40 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban......................................................... 45 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS ..................................................................................................... 37 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan responden ............. umur dan berat badan lahir............ 38 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air ............................... 31 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit.......................................... 29 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir................ 21 Cara pengolahan dan analisis data ..................... 45 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi . 27 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin. 46 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan ................. 42 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan .................................... 23 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya...... 40 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah.............................................. 33 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan................................................................. 30 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit........................................................ 32 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga ............................

................. 46 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita ................. 47 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita............................................. 53 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita ................................................................. 58 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita.................................................................. 55 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita ............................................ 54 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita ............... 58 .......... 54 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS ..........................responden ........................................... 56 40 Kaitan antara pengetahuan gizi responden dengan diare anak balita ...................................................................................... 48 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita...... 50 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan.................................................. 49 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita............................................................ 57 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita . 51 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan ...................................................................................................

.............DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum .. 20 . 10 2 Kerangka Pemikiran PHBS..................... Pengetahuan Gizi.......... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Kaitannya dengan Diare Anak Balita ..................

..DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan..... 68 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel . 67 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban benar pengetahuan gizi ........... kemudahan dihubungi dan cara pelayanan ........................................................... 70 ............................. 67 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan..................................... jarak dan daya jangka ......... ............. 67 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi........................................

2002). Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam . Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. tempat kerja. kebersihan perorangan. sekolah dan tempat umum. Badan Amerika Serikat untuk bantuan pembangunan internasional (U. kulit dan hepatitis A (Cairncross dan Feachem 1993 diacu dalam Irianti et al. 2002). AID) telah merangkum hasil dari berbagai penelitian mengenai dampak perbaikan keadaan air bersih dan sanitasi di negara-negara sedang berkembang yang menyatakan bahwa perbaikan kualitas dan kuantitas air bersih dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 37%.S. gaya hidup. Anonymous (2000) diacu dalam Sari (2004) menyatakan bahwa yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman atau perumahan. faktor lingkungan dan perilaku hidup sehat sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Contoh perilaku tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lingkungan (30%). Selain itu. pelayanan kesehatan (10%). serta air dan udara yang bersih. dan keturunan (20%). Menurut Henrik L. sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih pun sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan (BPS 2002). dan perilaku terhadap upaya kesehatan. Untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi. perilaku hidup sehat (40%). Dari keempat faktor tersebut. Serta perbaikan pembuangan tinja dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 22% (World Bank 1992 diacu dalam Irianti et al. Dampak kesehatan lingkungan yang buruk adalah tingginya angka kesakitan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water related diseases) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tinja (excreta-related diseases) sepert diare.

diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). . Dalam hal ini. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebesar 42-47% (Curtis dan Cairncross 2003 diacu dalam Rimbatmaja 2007). penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai aspek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi.dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. 2005). orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan (Marotz et al. secara umum lebih dari dua juta anak meninggal akibat diare setiap tahunnya. merawat anak. pengetahuan gizi dan pola asuh yang diduga menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. diare adalah pembunuh anak balita nomor dua terbesar setelah ISPA (Rimbatmaja 2007). memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Kosek et al. (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007). pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang. Tujuan Tujuan Umum Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan. mental. Di Indonesia. Mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. Masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. Bogor. kebersihan anak. memberikan makan anak. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. dan sosial.

supaya lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk keberlangsungan hidup yang berkualitas. 5. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. 3. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Mengidentifikasi karakteristik anak balita. 2. Terdapat kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dan bahan masukan untuk menyusun kembali perencanaan dan strategi dalam penentuan kebijakan. Menganalisis kaitan antara PHBS. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. 6. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita. Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. pengetahuan gizi. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada instansi terkait khususnya Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menindak lanjuti perihal yang menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. pengetahuan gizi. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Hipotesis 1. 2. 4. Mengidentifikasi PHBS. Serta bagi masyarakat Desa Cikarawang khususnya. Terdapat kaitan negatif antara PHBS. pengetahuan gizi. Terdapat kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. Mengidentifikasi karakteristik keluarga. 7. pengetahuan gizi. . pengetahuan gizi.Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk : 1. 3.

kebiasaan. Berat Badan Lahir Bayi yang dilahirkan prematur atau dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terhadap mortalitas dan morbiditas akut dalam jangka panjang (Alberman 1994 diacu dalam Rahayu 2006). Bayi BBLR mortalitasnya lebih tinggi. Umur Menurut Hurlock (1982) sikap. 2005). gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental dan intelektual yang lebih tinggi dengan berat badan lahir normal (Utomo 1998 diacu dalam Firlie 2001). Akan tetapi.TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin Anak perempuan khususnya anak sulung diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian. dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama. Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling ideal untuk mulai memperkenalkan kepada anak tentang perilaku-perilaku dasar yang berhubungan dengan gaya hidup sehat. selama tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi. Orang tua harus dapat memanfaatkan rasa ingin tahu anak dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan masalah kesehatan. keselamatan dan gizi. sangat menentukkan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. daya tahan terhadap penyakit lebih rendah. maka mereka memiliki keistimewaan karena memperoleh pekerjaan rumah tangga yang lebih sedikit dibandingkan yang perempuan serta diberi kesempatan untuk mengabaikannya (Hurlock 1982). Sedangkan jika anak yang lahir pertama kali adalah anak laki-laki. . pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi dengan berat badan lahir cukup (Alisyahbana 1983 diacu dalam Firlie 2001). Orang tua harus dapat meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai isu lingkungan yang kompleks serta pengaruhpengaruhnya (Marotz et al. Pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun.

Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan bila dibandingkan tinggi badan. Indeks BB/U mampu menggambarkan status gizi pada saat kini.Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita Menurut BPS (2002) aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk yaitu status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi. Riyadi (2001) menyatakan status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. Lebih lanjut Riyadi (2001) menyatakan kenaikan berat badan tiap bulan adalah indikator kesehatan anak yang paling peka. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Indeks BB/TB dapat memberikan gambaran proporsi BB relatif terhadap TB. salah satunya dengan antropometri. . Karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan mendadak seperti penurunan nafsu makan dan terserang penyakit infeksi. Indeks ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi underweight dan overweight. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini. maka indeks ini merupakan ineks kekurusan (wasting). Oleh karena itu. Indeks TB/U mengambarkan status gizi masa lalu (stunting). Oleh karena itu. tinggi badan menurut umur (TB/U). Menurut Riyadi (2001) tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang mengambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi (BPS 2002). Status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk dan biasanya dapat dilihat melalui indikator angka kesakitan yaitu persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. Status gizi anak dinilai dengan mengunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). Menurut Riyadi (2001) berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberi gambaran tentang masa tubuh (otot dan lemak). penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil.

parasit (jamur. cacing. Selain itu.Penyakit Diare Penyakit diare merupakan penyakit infeksi. Diare ada dua jenis yaitu diare akut dan diare kronis. Ditinjau dari sudut patofisologi. defisiensi zat gizi yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. dan Shigella (2-5%).4-36. Kuman yang paling sering menjadi penyebab diare akut pada anak yaitu Rotavirus (30. bahkan dapat berupa air saja. Salmomella (5-18%). (2002d) diare adalah suatu kondisi buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer. Penyakit diare dapat menular apabila adanya kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti pada makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi baik oleh serangga maupun tangan yang tidak bersih. Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya. protozoa). alergi terhadap susu. penyebab diare akut yaitu: . Penyebab diare diantaranya yaitu virus. Sedangkan diare akut adalah diare yang timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari. Kuman-kuman tersebut ditularkan secara faecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. menurut Dinkes (2003) penyakit diare juga dapat ditularkan melalui beberapa cara diantaranya pemakaian botol susu yang tidak bersih. Menurut Latifah et al. bakteri. E. lalat) atau oleh tangan yang kotor. Suharyono (1988) diacu dalam As’ad (2002) penyebab prevalensi yang tinggi dari penyakit diare di negara yang sedang berkembang yaitu kombinasi dari sumber air yang tercemar. Vibrio cholera (5%).6%). coli (20-30%). sehingga akan menular. Penggunaan air yang sudah tercemar juga dijadikan media pencemaran penyakit diare. kurang gizi dan daya tahan tubuh rendah (Saroso 2007). yang terjadi lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari). Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar juga ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada anak yang lebih besar (Suharyono 1988 diacu dalam As’ad 2002). keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia. buang air besar bukan pada tempatnya dan pencemaran makanan oleh serangga (kecoa. menggunakan sumber air yang tercemar. apalagi air yang digunakan tidak dimasak sampai mendidih terlebih dahulu.

2. alergi dan sebagainya.1. . makanan yang pedas. Hal ini disebabkan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga. Kematian diare akibat dehidrasi (kehilangan banyak cairan tubuh) dapat dicegah dengan Oral Rehydration Therapy (ORT). Rumah .Malabsorpsi makanan . Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk. gugup). gangguan psikis (ketakutan. Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga.Kekurangan kalori protein dan mineral . makanan yang terlalu asam). Selain itu. ORT dapat dilakukan dengan memberikan cairan (air) melalui mulut selama anak mengalami diare (Santrock 2002).Hiperperistaltik usus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia. kuman-kuman patogen dan apatogen . Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. gangguan syaraf. Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi. karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonymous 1985 diacu dalam Harianto 2004).Infeksi virus. hawa dingin. Diare sekresi (Secretory diarrhea) yang disebabkan oleh: . besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989).BBLR dan bayi baru lahir Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dengan dehidrasi. Diare osmotic (Osmotic diarrhea) yang disebabkan oleh: . makanan (misalnya keracunan makanan.Defisiensi imun terutama Sig A (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan terjadinya pelipatgandaan bakteri atau flora usus dan jamur terutama Candida.

Pekerjaan Orangtua Pada masyarakat tradisional. karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik (Berg 1986). Pendidikan Orangtua Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga (Rahmawati 2006). informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat (Sukarni 1989). pendidikan keikutsertaan pendidikan non formal dari orang tua dan anak-anak sangat penting dalam menentukkan status kesehatan. Menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di luar rumah. fertilitas. Umur ibu berkaitan dengan pengalaman ibu mengasuh anaknya dimana ibu yang relatif muda memungkinkan ibu kurang berpengalaman dalam mengasuh anaknya (Hurlock 1993). dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). serta hygiene dan dalam kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga (Madanijah 2003). Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan . Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya Pengetahuan dan terhadap perawatan formal kesehatan. Umur Orangtua Orangtua muda terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006). Dengan demikian.

karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). . terutama bagi warga kelas ekonomi bawah. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. serta pengobatan dan perawatan (Entjang 1985). manusia sebagai tuan rumah. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2001). akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. rohani.sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989). Hal ini tidak terlepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak yang selalu sehat (Khomsan 2005). Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu penyebab penyakit. Keluarga dengan pendapatan terbatas besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. diantaranya pendidikan keluarga. Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. dan lingkungan hidup (Entjang 1985). kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. Dengan demikian. penurunan daya beli akan menurunkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan. perawatan kesehatan dan pemeriksaan. kesejahteraan ibu dan anak. Pada tingkat keluarga. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). serta kualitas tumbuh kembang anak balita (Gunarsa & Gunarsa 1985). Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi (Hardinsyah 1997). Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan. kesehatan dan gizi balita. Usaha kesehatan pokok (Basic Health Services) yang diajukan organisasi kesehatan sedunia (WHO) sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat diantaranya yaitu higiene dan sanitasi lingkungan. Pendapatan Orangtua Kondisi ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga lainnya.

menurut Henrik L. . 1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010) (Manda et al. kelompok. dan program dan pelayanan kesehatan (10%). Kebijakan Indonesia sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat. perilaku kesehatan (40%). 2006). keluarga dan masyarakat. Menurut Depkes RI (2006) indikator PHBS antara lain mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. lingkungan kesehatan (30%). Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetik dan kependudukan (20%). Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No.Masalah determinan kesehatan. masyarakat yang sesuai dengan norma-norma kesehatan. terutama pada aspek budaya perorangan. perilaku sehat. makan dengan gizi seimbang. menghuni rumah sehat. memiliki akses dan menggunakan jamban. Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. menolong dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang tinggi (Sinaga et al. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat. 2005). 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. dan pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata. memiliki akses dan menggunakan air bersih. Kependudukan/ keturunan Lingkungan kesehatan Derajat kesehatan morbiditas dan mortalitas Program dan pelayanan kesehatan Perilaku kesehatan Gambar 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum. Program PHBS adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan. cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar.

dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. Usaha pengebalan atau imunisasi. Higiene dan sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik. menjaga kerja bakti dengan masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan. Usaha kesehatan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja). menimbang balita setiap bulan. hepatitis. Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati & Yuliarsih 2002). Cara menjaga lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. diberikan saat balita (BCG. Usaha kesehatan preventif dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1.membuang sampah dan limbah pada tempat yang semestinya. Menurut Widyati & Yuliarsih (2002) kesehatan masyarakat dibagi menjadi dua yaitu kesehatan kuratif (penyembuhan penyakit). olahraga dan lain-lain. memanfaatkan sarana kesehatan. . menjaga saluran air agar tidak mampet. biologi. dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dan bebas dari pencemaran. 3. memeriksakan kehamilan. Higiene dan Sanitasi Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yg menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. persalinan ditolong tenaga kesehatan. Gizi Seimbang Perilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan. Usaha higiene sanitasi adalah usaha kesehatan preventif (mencegah supaya tidak sakit). ikut keluarga berencana dan lain sebagainya. Aneka ragam makanan yaitu makan sebanyak 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan (Dinkes DKI Jakarta 2002). Usaha kesehatan perorangan (personal hygiene) yaitu mandi minimal 2kali sehari. menyikat gigi. sikap dan praktik keluarga yang mampu mengonsumsi makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan. dan folio) untuk mencegah datangnya penyakit 2. sosial. preventif (pencegahan penyakit). pakaian bersih. dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan lingkungan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang 1985). MMR.

dan kayu atau bambu. daging. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. daun singkong. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir lancar. 2) lauk pauk sebagai sumber zat pembangun seperti ikan. 4. Rumah Sehat Menurut Latifah et al. dan kenyamanan manusia. tegel atau semen. sawi. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. ayam. telur. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya balita. 5. diantaranya: 1. daun katuk. buncis. semangka. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. mie. kangkung. dan 3) sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur seperti bayam. sirap dan nipah. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan (Dinkes DKI Jakarta 2002). hujan dan hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan. kacang panjang. Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. tahu. singkong. pisang. (2002b) rumah adalah tempat manusia berlindung dari panas terik matahari. pepaya. teraso. wortel. 3. nanas (Dinkes DKI Jakarta 2002). 2. sehinga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik dilakukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. asbes gelombang. . Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. tempe. ubi.Kelompok bahan makanan tersebut adalah 1) makanan pokok sebagai sumber zat tenaga seperti beras. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. seng. Rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini. kacang-kacangan. keamanan. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. jeruk. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. jagung.

Syarat bakteriologis: air yang tidak mengandung penyakit. Air bersih belum tentu dikatakan sehat. Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. (1997) sumber air minum yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. air ledeng. 2002b). c. karena menurut Entjang (1993) untuk memperoleh air minum yang sehat dapat diperoleh melalui 1) sumber air yang bersih. Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut WC atau . menurut Widyati & Yuliarsih (2002) air bersih dan sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Selain itu kandang ternak harus memiliki tempat penampungan kotoran.6. sumur yang terlindungi. 3) wadah penampung air disertai dengan tutup dan sering dibersihkan. 2) tangan dan tempat penampungan air bersih. Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi dengan jamban atau WC (Water Closet). b. 8. Jika anggota keluarga ada empat orang. tidak berwarna. Syarat fisik: syarat air yang dilihat dari fisiknya antara lain jernih. Sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi minimum 10 meter dan dinding sumur 1 meter di atas tanah dan 3 meter dalam tanah serta harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar perembesan air dari sekitar tidak terjadi. dan mata air yang terlindungi. 7. Selain itu. tidak berasa. 4) memasak air sampai mendidih sebelum diminum. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah. maka paling sedikit harus ada satu kamar mandi. Sanitasi Air Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. 5) menggunakan alat-alat minum yang bersih (termasuk gayung sebagai alat pengambil air harus bersih). Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Menurut Subandriyo et al. Syarat kimiawi: tidak mengandung zat-zat berbahaya seperti zat-zat racun atau zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. dan tidak berbau.

Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. Sumber air limbah yaitu 1) air limbah yang berasal dari rumah tangga (air dari kamar mandi. air bekas mencuci pakaian). Bahaya sampah yang tidak ditangani dengan baik mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. Jangan membiarkan sampah terlalu lama pada tempat pengumpulan sampah dan sebaiknya tidak melebihi 3x24 jam (Widyati & Yuliarsih 2003). Tinja dari jamban dalam kamar mandi harus disalurkan melalui pipa dan ditampung di tangki septik (Latifah et al. pabrik cat. pabrik baja. kloset (lubang tempat masuk feses). Sampah Sampah adalah segala sesuatu yang tidak terpakai lagi dan harus dibuang. 2002a). dan 3) air limbah yang berasal dari industri atau pabrik (air buangan dari pabrik tahu dan tapioka. tidak pada tempat yang sering digunakan orang untuk lalu lintas. . pabrik kimia). 2002c). Tempat yang dijadikan pembuangan sampah harus jauh jaraknya dari pemukiman. 2) air limbah yang berasal dari perusahaan atau pusat perdagangan (air buangan dari hotel. pijakan kaki. air buangan dapur. tidak boleh mengotori sumber air minum seperti mata air atau sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci serta tidak pada tempat yang sering terkena banjir (Latifah et al. dari pabrik tinta. Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Menurut Latifah et al. sumur penampungan feses dan lubang resapan. pabrik kertas. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. lantai yang disemen. dari restoran dan dari kolam renang). 2002c). Kotoran-kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan (Depkes RI 1995 diacu dalam Amperansyah 1999).kakus. juga mengandung lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit (Latifah et al. Menurut Sukarni (1989) sarana pembuangan kotoran harus memenuhi persyaratan yaitu bangunan jamban harus mempunyai rumah kakus. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan.

Sedangkan. jarak fisik dan sarana perhubungan yang tidak lancar antara pusat pelayanan kesehatan dengan tempat tinggal penduduk.Syarat-syarat pembuangan air limbah diantaranya tidak mengotori sumber air bersih. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat pendapatan perkapita keluarga. sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin. Menurut BPS (2002) fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan oleh penduduk desa untuk berobat adalah Puskesmas. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat tergantung oleh keadaan ekonomi. petugas kesehatan dan praktek dokter. Untuk memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keterjaminan mutu. 2002c). Hal ini menurut Sukarni (1994) disebabkan oleh beberapa hal. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. pembuangan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua yaitu pelayanan kesehatan tradisional dan pelayanan kesehatan modern. biasanya digunakan untuk membuang air limbah yang berasal dari industri/pabrik dan peternakan atau rumah pemotongan hewan (Latifah et al. Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. 2002c). maka pelayanan kesehatan tersebut akan mahal. pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak dan belum seluruh Puskesmas dipimpin oleh dokter. Menurut BPS (2005) pada tahun 2005 secara umum persalinan . secara ekonomis. Penyaluran air limbah tanpa diolah dapat dilakukan dengan menggunakan tanki septik dan sistem riol. antara lain sistem pelayanan yang ada selama ini belum diterima oleh masyarakat. Ada dua jenis sistem pembuangan air limbah yaitu menyalurkan air limbah tanpa diolah sebelumnya dan menyalurkan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. Berdasarkan hasil penelitian Sirajudin (1981) diacu dalam Herman (2005) masyarakat lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. lokasi pusat-pusat pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak atau lebih banyak berada di kota-kota besar. tidak menjadi tempat berkembang biak serangga perantara penyakit (lalat dan nyamuk) dan tidak menimbulkan bau dan merusak pemandangan (Latifah et al. oleh karena itu sulit memenuhi tiga syarat tersebut. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat belum optimal.

Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata dan telinga. . Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Mendidik menyangkut pola ajar (proses sosialisasi). mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa balita. Persalinan oleh dokter.balita ditolong oleh tenaga medis diantaranya oleh dokter. Kegunaan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita. akan tetapi disebabkan oleh kemiskinan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan keluarga khususnya anak-anak. dan mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut (Dinkes DKI Jakarta 2002). mencegah memburuknya keadaan gizi. balita dan ibu hamil. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nutrition Assesment Educational Project di Washington (1999) diacu dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa rendahnya perhatian terhadap masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan atau pemahaman tentang gizi yang baik. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan yaitu mengikuti perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga. Pengetahuan Gizi Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan adalah hasil dari tahu. pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. mencegah ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan. terutama bayi. Cicely William diacu dalam Berg (1986) melaporkan studi di Afrika Barat bahwa gizi kurang tidak terjadi karena kemiskinan harta. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau tenaga bukan medis lainnya. Pola Asuh Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. bidan dan tenaga medis lainnya.

Dalam hal ini. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran kepada anak mengenai isu-isu lingkungan. sanitasi lingkungan dan lainnya (Soendjojo. Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan (Hardinsyah & Martianto 1992). memberikan makan anak. Pola asuh dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. maka ibu dengan mudah memberikan makan kepada anaknya dan dapat merasakan bahwa situasi waktu makan adalah saat-saat yang mambahagiakan (Tambingon 1999). Masalah makan pada anak dapat terjadi karena anak meniru pola makan orang tuanya yang makan pada saat menjalani diet untuk menurunkan berat badan (Khomsan 2004). dan sosial. Pola Asuh Makan Pola asuh makan adalah praktik yang diterapkan ibu khususnya yang berkaitan dengan situasi dan cara makan. Hikmat & Soemartono 2000 diacu dalam Adnyadewi 2004). melalui berbagai bentuk interaksi antara ibu dan anak. (2005) menyatakan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. Marotz et al. Pada usia pra sekolah. kebersihan anak.pengertian dan perasaan serta keterampilan dan pengetahuan. mental. dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. Membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Menurut Hurlock (1982) penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. kesehatan anak. Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada anak balita yaitu gizi anak. merawat anak. keluarga berencana. imunisasi. anak-anak sering mengalami fase sulit makan. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. perumahan. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) pada usia anak di bawah lima tahun merupakan masa yang . stimulasi dini.

Sedangkan ayah berperan dalam hal interaksi sosial dan mengajarkan norma budaya kepada anak baik laki-laki maupun perempuan yang ada di lingkungannya (Santrock 2002). dimengerti. Higiene diri sangat penting diketahui dan dipraktikan oleh setiap orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat. Menurut Khomsan (2004) orang tua yang pilih-pilih makanan (picky eaters) dan tidak suka sayur secara tidak langsung akan menyebabkan anak berperilaku makan seperti orang tuanya. orang tua jangan terlalu banyak memberi nasehat. Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. Higiene diri adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis. Ketika anak sedang makan. Ibu berperan secara konsisten bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan perawatan fisik anak. Anak seyogiayanya diberi kesempatan untuk memilih makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari orangtua. maka penjagaan kesehatannya merupakan tanggungjawab individu dewasa di sekitarnya. Pola Asuh Kesehatan Menurut Rahayu (2006) pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena ia belum sanggup untuk merawat dirinya sendiri. terutama oleh orang tuanya (Depkes RI 1997 diacu dalam Rahayu 2006). Oleh karena itu. . kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. Mengingat bayi dan anak adalah individu pasif. Pendidikan dan kekuasaan orang tua mampu meningkatkan kemampuan pengasuhan dan perawatan anak dengan lebih baik dalam suatu keluarga (Aronson 1991). suasana makan haruslah menyenangkan sehingga anak tidak seperti pesakitan di meja makan. Anak balita yang tidak terawat baik fisik maupun makanannya akan mudah terserang penyakit. Selain itu. dan dilaksanakan oleh setiap individu (Suklan 2000 diacu dalam Rahayu 2006). Perawatan kesehatan anak balita akan mempengaruhi tingkat morbiditasnya. kondisi fisik masih lemah. hal ini terlihat dari banyaknya orang yang terkena penyakit karena tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995 diacu dalam Rahayu 2006).tergolong rawan. artinya sangat tergantung dari diri sendiri yang praktiknya harus diketahui.

Anak balita yang tidak terawat baik fisik mapun makannya akan mudah terserang penyakit infeksi contohnya diare. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetika dan kependudukan. PHBS yang disertai dengan pengetahuan gizi yang baik mampu membentuk perilaku yang baik pula. faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002).KERANGKA PEMIKIRAN Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. Mengingat anak balita merupakan kelompok individu pasif dan merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Menurut Madanijah (2003) pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. sehingga akan berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). Oleh karena itu. Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik. rohani. higiene dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. Penyakit diare yang diderita oleh anak balita akan mempengaruhi status gizinya. Menurut Henrik L. lingkungan kesehatan. perilaku kesehatan serta pelayanan kesehatan. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan. Dari keempat faktor tersebut. Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makan bagi anak balita. Masalah kesehatan merupakan masalah yang komplek karena terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. . Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.

Pekerjaan Orangtua . .Karakteristik Keluarga . pengetahuan gizi.Pendidikan Orangtua .Pola Asuh Makan .Berat Badan Lahir Pola Asuh . pola asuh makan dan pola psuh kesehatan kaitannya dengan diare anak balita.Jenis Kelamin .Besar Keluarga .Umur .Umur Orangtua .Pola Asuh Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu Status Gizi Anak Balita Diare Anak Balita Keterangan: = Variabel yang diteliti = Hubungan yang dianalisis Gambar 2 Kerangka pemikiran PHBS.Pendapatan Keluarga Pengetahuan Gizi Ibu Karakteristik Anak Balita .

Desa Cikarawang. Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008. KMS Kuesioner. umur.Berat badan lahir BB/TB BB/U TB/U Pernah/tidak sakit Frekuensi sakit Lama sakit Besar keluarga Umur orang tua Pendidikan orangtua Pekerjaan orangtua Pendapatan keluarga Jenis data Primer. status gizi dan kesehatan anak balita. karakteristik keluarga (besar keluarga. Berdasarkan Tabel 1 data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur). Kecamatan Darmaga. Desa Cikarawang. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh.Umur . Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data No 1 Variabel Karakteristik anak balita Status gizi anak balita Status kesehatan (diare anak balita) Karaktersitik keluarga PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh Lokasi penelitian Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Data . Kabupaten Bogor. sekunder Primer Cara pengumpulan data Wawancara Wawancara dan antropometri Alat ukur Kuesioner. Tempat dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional study yaitu data diambil pada waktu tertentu secara bersamaan. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder.Jenis kelamin . Menurut Nasution (2003) jumlah sampel 10% dari total populasi dianggap cukup memadai dalam sebuah penelitian. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang.METODE PENELITIAN Desain. timbangan injak dan mikrotoa Kuesioner 2 3 Primer Wawancara 4 Primer Wawancara Wawancara. pendidikan. pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga). observasi Pengisian kuesioner Wawancara Monografi Desa Cikarawang Kuesioner 5 6 7 8 Primer Primer Primer Sekunder Kuesioner Kuesioner Kuesioner .

Selain itu, data primer juga meliputi PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS (Tabel 1). Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Program komputer yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for Window versi 11,5. Status gizi anak balita dikategorikan menjadi gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (zscore -2SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Sedangkan status kesehatan diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, jenis penyakit, frekuensi dan lama sakit selama tiga bulan terakhir (Tabel 2). Total skor PHBS dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu PHBS rendah (24-38), PHBS sedang (39-53) dan PHBS tinggi (54-67). PHBS aspek pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan, kunjungan ke pelayanan kesehatan, persepsi jarak, persepsi daya jangkau, akses terhadap sumber informasi, persepsi terhadap kemudahan petugas kesehatan, serta persepsi cara pelayanan petugas kesehatan disajikan dalam bentuk deskriptif (Tabel 2). Pengetahuan gizi dinilai dengan pemberian skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Menurut Khomsan (2000) jawaban pengetahuan gizi diklasifikasikan ke dalam 3 kriteria, yaitu pengetahuan gizi baik (>80%), pengetahuan gizi sedang (60%-80%) dan pengetahuan gizi kurang (<60%) (Tabel 2). Data pola asuh makan diperoleh dengan memodifikasi kuesioner dari penelitian yang telah dilakukan oleh Khairunnisak (2004) yaitu dengan memberikan 16 pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Data pola asuh kesehatan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup sebanyak 24 pertanyaan. Total skor dari pertanyaan tersebut dikategorikan

menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72). Tabel 2 Cara pengolahan dan analisis data
No Variabel Sub Variabel a. Jenis kelamin b. Umur (bulan) • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kategori ≤23 24-36 ≥37 (Turner & Helms 1991) BBLR (<2,5) Non BBLR (≥2,5) Gizi kurang (z-score <-2SD) Gizi normal (z-score -2SD-+2SD) Gizi lebih (z-score >+2SD) 1 2 ≥3 1-3 4-7 8-14 >14 Remaja (13-19) Dewasa muda (20-30) Dewasa madya (31-50) (Turner & Helms 1991) Kecil (≤4) Besar (>4) Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi Buruh tani/kebun Petani pemiliki Pedagang/wiraswasta Pegawai negeri/swasta Jasa angkutan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Ibu Rumah Tangga (IRT) Lainnya ≤Rp 100 000.00 Rp 100 001.00-150 000.00 >Rp 150 000.00 Rendah (24-38) Sedang (39-53) Tinggi (54-67) (Subandriyo et al. 1997) Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) (Khomsan 2000) Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) (Slamet 1993) Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (57-72) (Slamet 1993)

1

Karakteristik anak balita

c. Berat badan lahir (kg) 2 Status gizi anak balita BB/TB, BB/U, TB/U a. Pernah/tidak sakit b. Frekuensi sakit (kali/3 bulan)

3

Status kesehatan anak balita (diare)

c. Lama sakit (hari)

a. Umur orangtua (tahun)

b. Besar keluarga (orang)

c. Pendidikan orangtua 4 Karakteristik keluarga

d. Pekerjaan orangtua

e. Pendapatan keluarga

5

PHBS ibu

6

Pengetahuan gizi ibu

a. Pola asuh makan 7 Pola asuh b. Pola asuh kesehatan

Definisi Operasional Contoh adalah anak yang berada pada golongan usia satu sampai dengan lima tahun yang akan diamati status gizi dan status kesehatannya khususnya diare. Status gizi anak balita adalah kondisi kesehatan tubuh anak balita yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diperoleh dengan menggunakan metode antropometri. Indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB, BB/U, dan TB/U. Status gizi dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan perhitungan zskor yaitu gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (z-score -2 SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Status kesehatan anak balita adalah kondisi kesehatan (riwayat sakit) anak balita dalam tiga bulan terakhir yang meliputi jenis penyakit, frekuensi sakit (berapa kali sakit) dan lama sakit (dalam hari) dengan menggunakan kuesioner. Diare pada anak balita adalah kejadian buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari pada anak balita. Besar keluarga adalah banyaknya orang yang tinggal (hidup) di bawah satu atap yang sama dan makan dari satu dapur yang sama. Pendidikan orang tua adalah lama pendidikan formal (pendidikan terakhir) ayah dan ibu, diklasifikasikan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi (PT). Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dimiliki ayah dan ibu yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi buruh tani atau kebun, petani pemilik, pedagang atau wiraswasta, pegawai negri/swasta, jasa angkutan, Pembantu Rumah Tangga (PRT), Ibu Rumah Tangga (IRT). Pendapatan perkapita perbulan adalah jumlah pendapatan yang dinilai dengan uang (rupiah) perbulan yang dibagi dengan besar keluarga dan diklasifikasikan menjadi <Rp100 000.00, Rp100 001.00-150 000.00 dan >Rp150 000.00. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu adalah tindakan atau aktivitas ibu tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Berdasarkan

rumus interval total skor PHBS diklasifikasikan menjadi rendah (2438), sedang (39-53) dan tinggi (54-67). Pengetahuan gizi ibu adalah pengetahuan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan meliputi definisi dan fungsi zat gizi, sumber pangan dengan kandungan zat gizi tertentu, akibat defisiensi zat gizi, akibat mengonsumsi makanan yang tidak bersih, waktu pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, definisi dan pencegahan diare, serta penanganan saat anak balita mengalami diare. Pengetahuan gizi diklasifikasikan menjadi tiga menurut Khomsan (2000) yaitu baik (>80%), sedang (60%-80%) dan kurang (<60%). Pola asuh makan adalah cara dan kebiasaan ibu dalam memenuhi kebutuhan makan anak balita yang meliputi riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Pola asuh kesehatan adalah cara dan kebiasaan ibu memperlakukan anak balita dalam penerapan kebersihan diri dan perilaku kesehatan lingkungan. Total skor dari aspek pola asuh kesehatan yaitu 24-72 yang dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72).

. yang dipergunakan untuk pemukiman umum. dan lain-lain).0 0.0 0. gereja.35 2. Tambak b. Tabel 3 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya Penggunaan Pertanian Sawah a.18 0.03 0.19 0.007 0. Tempat peribadatan (masjid. kuburan. Pasar e. Perkantoran b.800 4. masjid. Jalan i.0 Batas wilayah Desa Cikarawang yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cisadane. perkantoran.075 0. vihara. Sawah tadah hujan d.430 0 0 0 0.22 100.925 0 0 0. Kuburan/makam h. Lain-lain Perikanan Darat/Air Tawar a. Sawah pasang surut Perkebunan a.0 0. Sawah pengairan setengah teknis c. jalan. sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Cisadane-Ciapus dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situ Gede.0 11. Sawah pengairan teknis (irigasi) b.455 75. sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Ciapus. Terminal f.073 2 0. 84 ha. Perkebunan swasta Pemukiman Umum Bangunan a.54 0.07 3.10 23. Perkebunan Negara c. Kolam c. Sedangkan dari desa ke ibukota kabupaten sejauh 35 km dan dapat dicapai selama dua jam.0 0.84 % 0.HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian Berdasarkan data dasar profil desa tahun 2007/2008 luas wilayah Desa Cikarawang yaitu 225.86 0.260 18. pertanian sawah.226 8 0 38. dll) g. pura. Sekolah c. bangunan-bangunan (sekolah.88 0. Empang/tebat Total Sumber: Data dasar profil desa 2007/2008 Luas ha 0 25. Perkebunan rakyat b. perkebunan.070 52. Pertokoan/perdagangan d. Desa Cikarawang merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 700 m dpl.510 225.016 0. dan lain sebagainya (Tabel 3).0 0. Jarak dari desa ke ibukota kecamatan adalah sejauh 3 km dan dapat ditempuh selama setengah jam.0 16.23 33.32 8.

keluarga sejahtera I (700 KK). Kedua belas MCK tersebut dibangun berdasarkan bantuan pemerintah daerah Kabupaten Bogor (PKPS BBMIP) tahun 2005. Namun. sampai saat ini Desa Cikarawang telah memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang diperuntukkan bagi masyarakat secara umum di dua belas tempat. Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya masyarakat . 6 dan 7. hanya sepuluh bangunan MCK yang sudah ditembok rapi dan sisanya belum ditembok. Dusun I terdiri dari RW 1 dan 2. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Cikarawang paling banyak berada pada golongan usia anak balita. Dusun II terdiri dari RW 3 dan 4. sisanya berada di Kampung Carang Pulang. tujuh Rukun Warga (RW) dan 32 Rukun Tetangga (RT). Tabel 4 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin Umur (Tahun) 0-5 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 Jumlah Laki-Laki 443 408 392 379 389 398 304 311 261 215 183 158 189 144 4 174 Perempuan 515 366 389 369 374 378 285 288 251 193 160 141 147 145 4 001 Jumlah 958 774 781 748 763 776 589 599 512 408 343 299 336 289 8 175 Sumber : Data dasar profil desa 2007/2008 Penggolongan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga dibagi ke dalam empat kelompok yaitu keluarga pra sejahtera (900 KK). fasilitas penyediaan air bersih di Desa Cikarawang sebagian besar berasal dari sumur pribadi atau mata air pribadi. Kedua belas bangunan MCK yang dibangun tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. dan keluarga sejahtera III (100 KK). Selain itu. keluarga sejahtera II (300 KK).Desa Cikarawang terdiri dari tiga Dusun. Jumlah penduduk Desa Cikarawang seluruhnya adalah sebanyak 8 175 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2 000 KK. dan Dusun III terdiri dari RW 5. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan aparat desa. RW 1 dan 2 berada di Kampung Cangkrang.

dan berat badan lahir. cuci dan kakus.0 32.5 kg.5 ≥2. sebagian besar anak balita (96. Berat badan lahir anak balita berkisar antara 2-4 kg dengan rata-rata 3.yang menggunakan air sungai/hujan/sumur dan mata air yang tidak terlindungi sebagai sumber air minum. sebanyak 3.6 96.6%). Menurut Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) bayi dengan BBLR memiliki mortalitas lebih tinggi dan daya tahan terhadap penyakit lebih rendah serta pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi yang memiliki berat badan lahir cukup.3%) berkisar antara 24-36 bulan. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh anak balita (66.1 100.5 kg).4 kg.1%) berjenis kelamin perempuan.6% anak balita memiliki Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat badan <2.1%) dan berumur ≥37 bulan (28.4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2. umur dan berat badan lahir Karakteristik Anak balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Umur (bulan) ≤23 24-36 ≥37 Total Berat Badan Lahir (kg) <2.1 39. mandi. Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari Puskesmas Cangkurawok bahwa proporsi anak balita yang berjenis kelamin perempuan di Kampung Carang Pulang lebih banyak dibandingkan laki-laki. Proporsi terbesar umur anak balita (39. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30. umur.5 Total n 19 37 56 18 22 16 56 2 54 56 % 33. sisanya berumur ≤23 bulan (32.4 100.6 100.9 66. Karakteristik Anak Balita Karakteristik anak balita dalam penelitian ini menjelaskan mengenai jenis kelamin.2±11.0 .0 3.3 28. Berdasarkan Tabel 5. Tabel 5 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.1±0. Akan tetapi.7 bulan.

Riyadi (2001) menyatakan bahwa indeks BB/U sebagai indikator status gizi mampu menggambarkan status gizi pada masa kini. Hiswani (2003) menyatakan bahwa masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan .4% anak balita memiliki status gizi kurang dan 1.8 100. Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. Tabel 6 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih Total n 3 52 1 56 BB/TB % 5. Sisanya sebanyak 5.2% berstatus gizi kurang (Tabel 6).0 56 100.2 32 57. Berbeda halnya dengan status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U. salah satunya dengan antropometri. Menurut Riyadi (2001) dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur.8% berstatus gizi lebih.9 1. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini (Riyadi 2001).9%) memiliki status gizi yang tergolong normal.0 Status gizi erat kaitannya dengan penyakit infeksi.1%) termasuk ke dalam status gizi rendah. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal.0 Indeks Antropometri BB/U TB/U n % n % 13 23.Status Gizi dan Kesehatan Anak balita Status Gizi Anak balita Berdasarkan perhitungan z-score indeks BB/TB pada Tabel 6 sebagian besar anak balita (92.8%) termasuk ke dalam status gizi normal dan 23. Berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan apabila dibandingkan tinggi badan. WHO (1983) diacu dalam Riyadi (2001) interpretasi status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek dibandingkan dengan berat badan.4 92.8 24 42.1 43 76. sisanya 42.9% berstatus gizi normal.0 56 100. dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.9 0 0. proporsi terbesar anak balita (57. penyerapan.0 0 0. Berdasarkan indeks BB/U sebagian besar anak balita (76.

ISPA (73. Aritonang (1996) dan Victoria et al (1999) diacu dalam Briawan & Herawati (2005) menyatakan kurang gizi adalah faktor pra kondisi yang memudahkan anak menderita penyakit infeksi khususnya infeksi saluran pernapasan dan diare. Tabel 7 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir Status Kesehatan Sakit Tidak Sakit Total N 51 5 56 % 91. Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa hampir seluruh anak balita (91. keluarga berencana. perumahan. Hikmat & Soemartono (2000) diacu dalam Adnyadewi (2004) untuk meningkatkan status kesehatan anak balita diperlukan suatu perhatian dalam hal gizi.masalah penyakit infeksi. Penyakit kulit yang dialami anak balita antara lain panu. Menurut BPS (2002) status gizi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0.4%).9 100 Menurut Soendjojo. imunisasi. borok dan alergi terhadap beberapa jenis pangan seperti ikan asin.05). Anak yang mengalami gizi kurang memiliki kesempatan lebih besar menderita penyakit infeksi terutama penyakit diare. kurap. sanitasi lingkungan dan lainnya. Anak-anak yang kurang gizi menyebabkan rusaknya sistem imun sehingga mudah terkena penyakit. Tabel 8 menunjukkan bahwa penyakit yang tidak pernah dialami seluruh anak balita adalah campak. stimulasi dini. . Oleh karena itu. bisul. Status Kesehatan Anak balita Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi. status gizi yang baik akan mempengaruhi status kesehatan seseorang.2%) dan diare (46. kesehatan.1 8.1%) mengalami sakit dan hanya 8.9% anak balita tidak mengalami sakit selama tiga bulan terakhir.4%). Jenis penyakit yang paling banyak dialami anak balita selama tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 yaitu panas (71.

7 2 100.1%).2 17 30.0 0 0. Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya Frekuensi Sakit (kali) 1 2 % N % n 35.7 3.0 14 35.4 73. sehingga yang bertanggungjawab dalam hal kebersihan diri adalah orang dewasa khususnya ibu dari anak balita.4%) dan kulit (5.0 19.Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit Jenis Penyakit Panas ISPA TBC Campak Cacar Diare Kulit Lainnya n 40 41 2 0 3 26 6 2 % 71. . Sedangkan frekuensi untuk jenis penyakit lainnya adalah 1 kali (Tabel 9).0 0 100. tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya.0 0 0.4 11 0.0 0 32. Sebagian besar anak balita menderita penyakit panas sebanyak 1-2 kali (35%).8 33.6%).0 12 23.0 1 16.1 7 12.0 N 14 13 0 3 18 3 2 Tabel 10 menunjukkan sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu panas (57. Mandi minimal 2 kali sehari dengan menggunakan air bersih dan sabun merupakan salah satu cara agar terhindar dari penyakit kulit.7 0.4%) dan diare 1 kali (32.2 3.0 1.5 1 50.3 0.0 0.1%).0 0 0. Anak balita adalah individu pasif. diare (30. ISPA 2 kali (30.4 46.0 0 ≥3 % 30.4%).4 10.6 Frekuensi sakit anak balita selama tiga bulan terakhir cukup bervariasi. Penyakit kulit erat kaitannya dengan kebersihan diri seseorang.6 0. ISPA (44.0 5.

8 orang.0 Puspitawati (2007) menyatakan keluarga merupakan salah satu lembaga sosial yang tidak dapat berdiri sendiri.4 1.8 23.6 0.0 0.4 5.0 0.0 >14 n 0 0 0 0 0 1 1 % 0.8 Selain jenis penyakit di atas.0 0 0.0 0.3 1 1.0 0 0.2 3 5. kedua anak balita sedang melakukan pengobatan rutin sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter hingga benar-benar kedua anak balita tersebut dinyatakan sembuh.3 60.7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang.8 2 3.0 30.7 100. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden (60.0 0.0 1. Keluarga sangat tergantung dengan dan juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (mikro.0 1. Karakterisitik Keluarga Contoh Besar Keluarga Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3-10 orang dengan ratarata 5.1 44.0 0. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. frekuensi penyakit TBC tidak diikut sertakan dalam tabel frekuensi sakit (Tabel 9) dikarenakan penyakit tersebut sudah berlangsung cukup lama yaitu selama 32 hari dan saat penelitian dilaksanakan penyakit tersebut masih diderita kedua anak balita. meso dan makro). Seorang anak akan memperoleh hubungan antar pribadi pertama kali dalam lingkungan .6 14.8 3. TBC termasuk ke dalam jenis penyakit ISPA yang bersifat kronis.Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama hari sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya 1-3 N 32 25 0 0 17 3 1 % 57.6 0 0.4 0.0 0. Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga Kecil (≤4 orang) Besar (>4 orang) Total n 22 34 56 % 39.8 1. Lama hari penyakit TBC lebih dari 14 hari.3±1. Responden menyatakan untuk penyakit TBC.8 n 7 13 0 1 8 2 0 Lama Sakit (hari) 4-7 8-14 % n % 12.5 1 1.

Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa muda (Turner & Helms 1991). Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Menurut Hurlock (1993) orang tua muda.7±5. Ayah n 18 22 16 56 % 32. Umur Orang Tua Umur ayah berkisar antara 23-50 tahun dengan rata-rata 33.6% ) berumur antara 20-30 tahun.0 . terutama ibu. Tabel 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Tabel 13. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989).7%) yaitu SLTA/sederajat. Secara keseluruhan tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu masih rendah karena keduanya masih banyak yang berpendidikan SD/sederajat dan hanya 3.1 39. sedangkan ibu (51. Sedangkan umur ibu berkisar antara 19-47 tahun dengan rata-rata 27.8%) yaitu SD/sederajat. cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak.6 100. tingkat pendidikan ayah lebih tinggi dibandingkan dengan ibu.keluarga.1 44. sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa besar keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi sedangkan menurut Suharini (1998) diacu dalam Madihah (2002) bahwa jumlah anggota keluarga yang besar disertai dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga menderita kurang gizi.0 n 18 25 13 56 Ibu % 32.6 23.3 28.8 tahun.0±6.6% saja ayah dan 1.8% ibu yang berpendidikan akademi/diploma/PT.3%) maupun ibu (44. Selain itu.7 tahun. Jumlah keluarga yang banyak dapat mempengaruhi kondisi gizi dan kesehatan dari anggota keluarga.3 100. Tabel 12 menunjukkan bahwa proporsi terbesar baik ayah (39.

7 3. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi daripada yang berpendidikan rendah.6%).7 10.Tabel 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Ayah n 18 16 20 2 56 % 32. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa proporsi terbesar tingkat pendidikan ibu (51.8 100. secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimilikinya. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga.9 28. Selain itu.9%) dan jasa angkutan (28.0 n 29 20 6 1 56 Ibu % 51.8 0. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Dengan demikian.8%) adalah SD/sederajat.0 0. Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta (33.0 Menurut Rahmawati (2006) pada masyarakat tradisional.0 0.3 33.9 14.1 28. fertilitas.0 5.0 12.7 1. Tabel 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan Buruh tani/kebun Pedagang/wiraswasta Pegawai negri/swasta Jasa angkutan PRT IRT Lainnya Total Ayah n 10 8 19 16 0 0 3 56 % 17.8 35.0 10. Oleh karena itu.6 0.6 35.0 n 0 7 1 0 6 42 0 56 Ibu % 0. menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di .5 1. sebagian besar ibu (75.7 75.6 100.0 Menurut Sukarni (1989) pendidikan orang tua akan menentukan status kesehatan.0%) tidak bekerja atau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Sedangkan.4 100.0 100.

0 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Higiene Tabel 16 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (58.00.8. Sebanyak 23.3.9.00±Rp106 712. garis kemiskinan untuk Kabupaten Bogor yaitu Rp150 000.00.00 sampai Rp2 620 000. Dengan demikian.9% berpendapatan <Rp100 000. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007).9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar >Rp150 000.00 dengan rata-rata Rp1 073 393. Menurut BPS (2005). Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan (Rp/kap/bln) <100 000. .00 >150 000.00 dan sebanyak 17. Kebiasaan mandi minimal dua kali dalam sehari merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Kebiasaan menggosok gigi merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari penyakit khususnya sakit gigi. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh responden (58.00/kapita/bulan. Rata-rata pendapatan perkapita perbulan responden yaitu Rp210 113.luar rumah. Sukarni (1989) menyatakan bahwa pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan.00 Total n 10 13 33 56 % 17.00.00 100 001.9%) selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar serta melakukan aktivitas mandi dua kali setiap harinya.00.00-150 000. Proporsi terbesar responden (55.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas garis kemiskinan.9 100.9 23.2 58.4%) menggosok gigi dua kali setiap harinya. Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga perbulan berkisar antara Rp300 000. lebih dari separuh responden (58.00-Rp150 000.2% responden memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar Rp100 001.00±Rp597 650.

9 0.0 0.1 30.5 21.1%).4 44. 2 kali c. Oleh karena itu. memasak sampai mendidih Membersihkan kamar mandi dalam seminggu a. salah satu cara untuk menurunkan tingkat kesakitan khususnya diare pada diminum.0 100. dengan alasan agar terhindar dari penyakit khususnya sakit diare karena kuman dalam air tersebut mati.4 10.0 32.7 67. kadang-kadang c.Tabel 16 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum. akan tetapi masih ada responden yang melakukan aktvitas mencuci di sungai yaitu sebanyak 21. 3 kali Memasak air untuk minum a.6 0.1 0. Menurut Suririnah (2007) air yang tidak dimasak sampai mendidih maka akan menjadi media pencemaran untuk penyakit diare.8 39. tidak memasak air b. Lebih dari separuh responden (67. 2 kali/hari c.9 41. Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene PHBS aspek Higiene Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar a.9 anak balita dapat dilakukan dengan membiasakan memasak air sampai mendidih sebelum . 1 kali b. 2 kali c.3 58.0 55.0 58. 1 kali/hari b.5%). memasak tetapi tidak sampai mendidih c. Tidak b. ≥ 3 kali/hari Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari? a.4% dan di kamar mandi umum sebanyak 10.4 37.4%) dan ≥ tiga kali (37. kamar mandi umum c. sungai b. dua kali (30.9%) melakukan aktivitas mencuci di kamar mandi pribadi. Frekuensi responden membersihkan kamar mandi dalam satu minggu terlihat pada Tabel 16 yaitu satu kali (32.7%. kamar mandi pribadi n 1 22 33 0 33 23 0 31 25 0 0 56 18 17 21 12 6 38 % 1. 1 kali b. ya Kebiasaan mandi dalam sehari? a. ≥ 3 kali Melakukan aktivitas mencuci a.

Keluarga dengan pendapatan terbatas. sayur c. Hanya 3.00 000. lauk pauk.0 3 28 2 33 9. sayur dan buah Total Pendapatan Perkapita Perbulan (Rp/Kap/Bln) 100 001.1 84.6 yang selalu menyediakan menu makan keluarga secara beragam (nasi.6 100.0 0.3%) menyatakan bahwa menu makan yang biasa disajikan untuk keluarga yaitu makanan pokok. lauk pauk. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. protein nabati.0 0 13 0 13 0. Tabel 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan per kapita perbulan responden Menu Makan Keluarga Nasi.1 89.0 Total n 4 50 2 56 % 7. besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. protein nabati dan sayur Nasi. protein hewani b.8 6.0 100.00 atau di atas garis kemiskinan menurut BPS Kabupaten Bogor tahun 2005. sebanyak 6.1% n 4 50 2 responden % 7.1 100.Gizi Seimbang Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 sebagian besar responden (89. nasi.1 89. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002).0 100. sayur dan buah. Kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang . nasi.00 N % n % n % 1 9 0 10 10. lauk pauk.0 90.00 >150 000.0 Mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik untuk keberlangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang. protein nabati dan sayur.3 3.6% responden yang biasa menyediakan menu makan beragam yaitu nasi. sayur dan buah) adalah berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan >Rp150 000.0 0. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang PHBS aspek gizi seimbang Menu makan keluarga sehari-hari a. protein hewani Nasi. nasi. lauk pauk.00-150 <100 000. sayur dan buah Berdasarkan Tabel 18.0 100.3 3.

terbuka Atap rumah a.5 m2 b. marmer/keramik/ubin/tegel/ teraso/semen Jendela rumah a.9.0 m2 Jenis lantai rumah a. ≥10. ijuk/daun-daunan/lainnya b. sehingga Menurut memudahkan Notoatmodjo (1997) rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit. 7.7 3. (2002b) bahwa salah satu syarat rumah sehat yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik.7 37. bambu/lainnya b.8%) memilik luas hunian ≥10. <7. <10 m dari rumah b. beton/genteng Dinding rumah a. Luas hunian yang tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga menyebabkan penularan pertukaran penyakit oksigen diantara kurang anggota optimal keluarga. tegel atau semen. ada.6 60.beraneka ragam yaitu akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita (Dinkes DKI Jakarta 2002).6 28.5.6 96. Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah et al. tembok Letak kandang ternak a. seluruhnya tanah/lainnya b. kayu c.6 96. dan kayu atau bambu.4 94. tidak punya n 6 21 29 0 2 54 1 39 16 0 2 54 0 3 53 20 2 34 % 10.0 m2 perkapita. seng/asbes/kayu c.8 69. Rumah Sehat Tabel 19 memperlihatkan bahwa separuh responden (51. ada. BPS (2004) menyatakan bahwa salah satu indikator rumah sehat menurut WHO adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 m2 perkapita. Hasil penelitian .7 Tabel 19 menunjukkan sebagian besar jenis lantai rumah responden (96. Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat PHBS aspek rumah sehat Luas hunian a. tertutup c. kayu/ bambu c.4 0 5.4%) adalah berjenis marmer/keramik/ubin/tegel/teraso/semen.4 1. teraso.9 m2 c. tidak ada b.8 0 3.6 35.5 51.6 0 3. >10 m dari rumah c.

Hal senada juga diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa dinding yang paling baik adalah tembok. 2002b). Menurut Latifah et al. Menurut Latifah et al. Sumber air minum yang digunakan sebagian besar responden (78. Keberadaan kandang ternak di sekitar rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan karena memudahkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kotoran ternak. (2002b) air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. Lebih dari separuh jendela responden (69.4%) berupa genteng/beton. seng.7%) tidak memiliki kandang ternak dan sebanyak 35.6%) berada dalam keadaan tertutup (Tabel 19). Serta dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. (2002b) menyatakan fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. (2002b) lantai rumah berupa tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. asbes gelombang.7% responden memiliki kandang ternak dengan jarak antara kandang ternak dengan rumah yaitu <10 m (Tabel 19). Menurut Latifah et al. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran responden dalam menjaga kenyamanan serta kebersihan rumah masih rendah. dan sebanyak 94.6% dinding rumah responden berupa tembok (Tabel 19). Air yang digunakan sehari-hari harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan. Latifah et al. Lebih dari separuh responden (60. Sanitasi Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. sirap dan nipah. (2002b) atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. Rumah yang sehat memerlukan jendela yang cukup untuk jalan masuknya cahaya ke dalam rumah.menunjukkan bahwa tidak ada satu responden pun memiliki jenis lantai rumah berupa tanah. Lebih lanjut Subandriyo et al. Menurut Latifah et al.6%) yaitu ledeng/sumur terlindung/mata air terlindung (Tabel 20). Atap rumah sebagian besar responden (96. Ada tidaknya jendela di setiap ruangan yang dapat dibuka dan ditutup berhubungan dengan ventilasi udara. (2002b) syarat rumah sehat lainnya yaitu kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. (1997) menyatakan bahwa sumber air minum yang .

Menurut Subandriyo et al. sumur tak terlindungi/mata air tak terlindungi c. air sungai/air hujan/lainnya b.6 83. sangat disarankan bagi masyarakat memiliki kakus yang dilengkapi dengan tangki septik. sumur yang terlindungi dan mata air yang terlindungi. Sebagian besar keluarga responden (80.6 12. Kondisi tersebut menyebabkan sumber air tercemar oleh bakteri yang dapat dijadikan media penularan penyakit diare. mandi. Kamar mandi umum c.6 17. Proporsi terbesar responden (53. Tidak punya b.5 53. dan kakus a. ledeng/sumur terlindungi/mata air terlindungi Jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat a. sungai b.6%) dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m (Tabel 20). Kamar mandi pribadi n 9 2 45 7 2 47 % 16. ≥10 m Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut kakus. kakus sendiri/kakus bersama tanpa tangki septik c. cuci. Sungai/pancuran b.9 . Menurut Depkes RI (1995) diacu dalam Amperansyah (1999) kakus digunakan untuk menyimpan kotoran (hajat).bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. Oleh karena itu. kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik Tempat keluarga mandi a. Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban PHBS aspek kepemilikan jamban Tempat keluarga biasa buang hajat a.9 n 2 10 44 7 30 19 % 3. sehingga tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan tempat penampungan kotoran minimum 10 m.9 78. <10 m c. Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air PHBS aspek sanitasi air Sumber air minum.6 33.5 53. air ledeng.4 12.1 3.4%) melakukan aktivitas buang hajat yaitu di tempat kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik (Tabel 21).6 80.

Menurut Latifah et al. N 34 22 0 % 60.3% responden membuang sampah pada lubang terbuka (Tabel 22). (2002c) bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik yaitu dapat menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit (seperti cacing. sehingga berdampak terhadap status kesehatan keluarga. Air sungai/pancuran bukan merupakan sumber air yang bersih dan sehat.5% responden melakukan aktivitas mandi di sungai/pancuran. Perilaku tersebut belum mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu.9%) terbiasa membuang air limbah di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air (Tabel 23). sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. tempat terbuka di pekarangan dan tanpa dikumpulkan b. kemungkinan air sungai/pancuran tercemar oleh bakteri lebih tinggi dibandingkan dengan air di kamar mandi pribadi yang sumber airnya berasal dari ledeng atau sumur yang terlindungi. Sehingga.3 0. (2002c) sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. Hal ini disebabkan oleh tidak terlindunginya air tersebut dari kotoran baik tinja. Menurut Latifah et al.0 . mampu mengundang lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit.7%) terbiasa membuang sampah di tempat terbuka/di pekarangan dan tanpa dikumpulkan dan sebanyak 39.9%) melakukan aktivitas mandi di kamar mandi pribadi. Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat kesehatan. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang dapat menularkan penyakit diare.Berdasarkan Tabel 21 sebagian besar responden (83. lubang sampah tertutup/dibuat kompos Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Lebih dari separuh responden (67.7 39. akan tetapi sebanyak 12. Lebih dari separuh responden (60. Sampah Seluruh responden terbiasa membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya. sampah maupun air limbah. Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah PHBS aspek penanganan sampah Tempat pembuangan sampah a. Perilaku tersebut masih jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat. lubang sampah terbuka c. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) sumber air yang tercemar merupakan salah satu media yang dapat menularkan penyakit diare.

Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan Pelayanan kesehatan Pemeriksaan kehamilan a.8%) adalah dekat. pemeliharaan kebersihan dan sebagainya. Kondisi janin yang sehat akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak selanjutnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa alasan utama responden mengunjungi ketiga fasilitas pelayanan kesehatan tersebut adalah jarak yang dekat dan terjangkau. Menurut Fogel dan Woods (1995) hal 431 diacu dalam Satoto (2004) perempuan yang tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah daripada yang memperoleh perawatan kehamilan yang memadai. Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. Lebih lanjut Satoto (2004) menyatakan jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan kehamilan.0 100. ke dalam lubang tertutup tanpa tangki septik c.Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL PHBS aspek SPAL Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) a.8%) dan praktik bidan (51. sebagian besar responden menyatakan bahwa jarak ke Posyandu (96. Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya. .0 32. Puskesmas dan praktik bidan.4%). terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya.0 n 38 0 18 % 67. pemeliharaan kesehatan. Puskesmas (76. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar. Posyandu/Puskesmas/praktik bidan n 0 56 % 0.1 Nadesul (2005) menyatakan bahwa kehamilan merupakan masa yang sangat penting karena pada saat itu mutu seorang anak ditentukan. di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air b. ke dalam tangki septik Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa seluruh responden biasa melakukan pemeriksaan kehamilan di Posyandu. Berdasarkan Lampiran 1.9 0. Dukun b.

1%). Berdasarkan Tabel 25. selain membantu persalinan dukun paraji juga ikut membantu memandikan bayi dan “ngurut” ibu setelah melahirkan sampai usia 40 hari kelahiran. Pada umumnya baik bidan Puskesmas maupun praktik bidan lebih mudah dihubungi dibandingkan dengan dokter Puskesmas. sebanyak 30. bidan Puskesmas (73. Satoto (2004) menyatakan bahwa biaya pemeriksaan kehamilan di Posyandu.3%) adalah mudah.6%) saat persalinan dibantu oleh bidan baik oleh bidan Puskesmas maupun praktik bidan. Tidak berbeda halnya dengan dokter dan bidan Puskesmas serta praktik bidan. dan praktik bidan (67.4% responden menyatakan bahwa saat persalinan dibantu oleh dukun paraji. pasien sama sekali tidak dipungut biaya. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden. seluruh responden menyatakan bahwa kader Posyandu mudah dihubungi dan cara pelayanannya pun baik. Akan tetapi. Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara kader Posyandu dan responden dapat terjalin dengan baik. Berdasarkan Lampiran 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi gizi dari kader Posyandu (92. Selain itu. sehingga rasa kekeluargaan diantara mereka masih cukup tinggi. Satoto (2004) .9%). Puskesmas dan bidan desa sangat murah karena pasien hanya membayar retribusi. lebih dari separuh responden pernah mendapatkan informasi gizi dari ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut yaitu dokter Puskesmas (57.2%). Berdasarkan Lampiran 1. bahkan mereka akan memperoleh vitamin secara gratis. lebih dari separuh responden (69.3%). Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal antara kader Posyandu dan responden yang berdekatan karena merupakan warga setempat. daya jangkau (biaya) juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan.Selain jarak. Berdasarkan Lampiran 2.4%). bidan Puskesmas (94.2%) dan praktik bidan (64.6%). Apalagi di Posyandu. Puskesmas (83. Hampir seluruh responden menyatakan bahwa cara pelayanan dokter Puskesmas (96.6%) dan praktik bidan (75.9%). bidan Puskesmas (94. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut juga mudah dihubungi yaitu dokter Puskesmas (62. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa daya jangkau ke Posyandu (98. Selain itu. Hal ini disebabkan oleh pembagian jadwal tugas dokter yang berbeda antara kedua Puskesmas yang berada di Desa Cikarawang.0%) adalah baik.5%).9%) dan praktik bidan (64.

kangkung dan sebagainya. mie instan. Puskesmas/praktik bidan n 17 39 % 30.6 Alasan utama responden menggunakan tenaga bukan kesehatan (dukun paraji) saat persalinan yaitu jarak yang dekat dan terjangkau. ubi. Tabel 26 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu berobat ke tenaga medis ketika anggota keluarga sakit. responden lebih sering mengunjungi Puskesmas untuk berobat ketika sakit dibandingkan rumah sakit. Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden menyatakan bahwa jarak ke tempat dukun paraji dekat (66.1%) dan mudah dijangkau (69. pisang. sangat dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah atau Wanita Usia Subur (WUS) menerapkan program KB. Menurut BPS (2006) program KB merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Berdasarkan hasil wawancara. durian. makanan-makanan tersebut tidak baik dikonsumsi.menyatakan bahwa dukun akan melakukan pemijatan pasca melahirkan untuk mengembalikan stamina tubuh ibu dan bayinya akan memperoleh perawatan sampai tali pusatnya lepas. Secara umum responden hanya mendapatkan nasihat-nasihat berupa pantangan setelah melahirkan seperti tidak boleh makan yang manis (”bolu”).6%) menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi gizi dari dukun paraji. proporsi terbesar responden (44. ikan asin. Hal ini disebabkan oleh jarak dan daya jangkau ke rumah sakit jauh . Seluruh responden selalu membawa anak balita ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan berat badan (Tabel 26). roti. buah nangka. talas. Berdasarkan Lampiran 2.6%). daging kambing. Dukun b. Oleh karena itu. Perawatan tersebut dilakukan sampai 40 hari dengan biaya yang relatif murah. Alasan dukun paraji yang mendasari pantangan tersebut yaitu rahim ibu masih luka. Sehingga. Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa seluruh responden ikut dalam program Keluarga Berencana (KB). Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pertolongan persalinan Pelayanan kesehatan Pertolongan saat persalinan a. Menurut BPS (2004) penimbangan anak balita merupakan salah satu upaya dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk melihat tumbuh kembangnya.4 69.

dan sulit. Tidak b. masih ada responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah yaitu sebanyak 8. Tabel 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS Kategori PHBS Rendah (24-38) Sedang (39-53) Baik (54-67) Total n 0 17 39 56 % 0. gizi seimbang.0 100.9% kategori tinggi.0 Berdasarkan pemaparan di atas mengenai aspek PHBS yang meliputi higiene.0 30.4% kategori sedang. Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB.6 100. Puskesmas/praktik bidan/klinik/rumah sakit n 0 56 0 56 0 56 % 0. Tindakan yang didasari oleh . Tidak b. Akan tetapi. Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan.0 0. Ya Tempat berobat keluarga ketika sakit a. Ya Penimbangan anak balita di Posyandu a.4 69. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit Pelayanan kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) a. ini menunjukkan bahwa kesadaran responden dalam berperilaku hidup bersih dan sehat sudah cukup baik (Tabel 27). penanganan sampah dan SPAL serta pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (69.0 100.0 Pengetahuan Gizi Tabel 28 menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden (48.9%. rumah sehat. kepemilikan jamban. sanitasi air. Dukun b.0 0. Tidak ada satu responden pun yang memiliki kategori PHBS rendah.6%) memiliki PHBS termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 30. Pada umumnya responden mengunjungi rumah sakit ketika anggota keluarga mengalami sakit yang cukup parah sehingga membutuhkan pengawasan dan perawatan dokter yang cukup intensif.0 100.2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 42.

1 100. Tabel 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan responden Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Total Tingkat Pendidikan SD/sederajat N 5 17 7 29 % 17.0 SLTP/sederajat n 0 7 13 20 % 0.pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.1%) dan pemberian ASI eksklusif (41.9 48.0 Akademi/Dip loma/PT N % 0 0 1 1 0.2 58.0 SLTA/sederajat n 0 3 3 6 % 0. Kelima pertanyaan tersebut adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (53. Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawati (2006) bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan. zat gizi untuk pertumbuhan (44. Hal ini mengindikasikan bahwa kelima pertanyaan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertanyaan lainnya.9 100.2 42.0 Tabel 29 menunjukkan bahwa secara umum responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah memiliki tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) juga.0 50.0 50.0 Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi pun menjadi lebih baik.9 48.0 100.1%). Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi responden atau sebaliknya.01).6 24. Tabel 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) Total n 5 27 24 56 % 8.6%).2 42.0 Total n 5 27 24 56 % 8. jenis pangan sumber Fe (57.0 100. Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi responden (p<0. jenis pangan karbohidrat (44. Berdasarkan Lampiran 3 dapat diketahui bahwa terdapat lima pertanyaan pengetahuan gizi yang dapat dijawab responden kurang dari 60%.9 100. .6%).0 35.6%).0 65.0 0.0 100.0 100.

1 26 46. Menurut Sukarni (1989) dan Madanijah (2003) tingkat pendidikan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan. cara mempersiapkan makanan.9 53. dan sosial.3 18 32. Hanya 41. susu formula. Pola Asuh Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya secara fisik.0 85. Akan tetapi.0% responden tidak memberikan ASI eksklusif (6 bulan).1% responden yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Pada umumnya setelah anak berusia empat bulan bahkan kurang.4 . cara memperkenalkan makan. mental. Tabel 30 menunjukkan bahwa sebanyak 75. orang tua harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan. Dalam hal ini. Karena pendidikan akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang yang akan berdampak terhadap status kesehatan dan status gizi keluarga. responden sudah memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang.0 8 14. lama pemberian ASI eksklusif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah enam bulan. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Marotz et al. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita.Pada umumnya responden mengetahui lama pemberian ASI eksklusif yaitu empat bulan. biskuit. (2005) menyatakan bahwa masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilakuperilaku gaya hidup sehat.7 67. Ketidakmampuan responden menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan benar kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya pendidikan responden. Pola Asuh Makan Pola asuh makan pada penelitian ini meliputi riwayat menyusui dan penyapihan.6 Tidak n % 42 75. bubur bayi dan lainnya. Tabel 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Anak diberi ASI eksklusif (ASI saja hingga 6 bln) Anak diberi kolostrum? ASI diberikan sesuai permintaan bayi? ASI diberikan sampai anak berusia 2 tahun? Ya n 14 48 38 30 % 25. cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita.

Akibat .6%).4 96.4 Tidak n % 4 33 30 2 7.1 46. Berdasarkan Tabel 30. Krisnatuti & Yenrina (2000) menyatakan bahwa kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran. frekuensi memberikan makanan utama dan memberikan makanan kudapan. Tabel 31 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92.9 53. bahkan sangat mudah dan murah memberikannya kepada bayi (Dinkes DKI Jakarta 2002). Hal senada diungkapkan oleh Masithah. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. Cara memperkenalkan makan untuk anak balita meliputi membiasakan mengonsumsi makanan beragam.6 3.9%) memberikan makanan yang beragam kepada anak balita. Tabel 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita Cara memperkenalkan makan anak balita Anak dibiasakan mengonsumsi makanan beragam Pertimbangan ibu dalam memperkenalkan makan kepada anak berdasarkan faktor gizi Ibu membiasakan menyediakan kudapan untuk anak setiap hari Ibu memberikan makan kepada anak sebanyak tiga kali sehari Ya n 52 23 26 54 % 92. Lebih dari separuh responden (67.9%) memberikan ASI sesuai dengan permintaan dan memberikan ASI sampai usia 2 tahun (53. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.6 Menurut Dinkes DKI Jakarta (2002) fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.7%) memberikan kolostrum kepada anaknya. pertimbangan dalam hal memberikan makan karena faktor gizi.9 41. Kolostrum mengandung zat gizi untuk sistem kekebalan tubuh anak dari penyakit. Sehingga tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) yang dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi seperti yang diperoleh dari kolostrum.1 58. Soekirman dan Martianto (2005) bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi intestinal. Kebiasaan ini sangat baik karena dengan memberikan makanan beragam mampu memperbaiki status gizi anak balita sehingga terhindar dari gizi kurang. sebagian besar responden (85.Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi. sehingga dapat mengurangi risiko terserang diare.

9% responden memberikan makan anak balita sesuai dengan kondisi keuangan keluarga. pengolahan. Kuman-kuman tersebut akan membentuk toksin yang tahan panas.2 Tidak n % 7 48 6 1 12.5 14. Kurang dari separuh responden (41.7 10.8 Berbeda halnya dengan kebiasaan memasak responden yaitu sebanyak 85. Tabel 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita Cara mempersiapkan makanan anak balita Ibu mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak Ibu memasak makanan dalam sehari dilakukan secara bertahap (pagi. sore/malam) Ibu terbiasa memanaskan/menghangatkan kembali makanan sesaat sebelum dikonsumsi Ibu selalu menutup makanan sebelum dihidangkan Ya n 49 8 50 55 % 87.7 1.3 98.5%) mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak balita. Keadaan ini berdampak pada kebiasaan responden yaitu sebanyak 53. Berdasarkan Tabel 32 sebagian besar responden (87. Faktor kebersihan harus selalu dijaga pada setiap tahapan penyediaan makanan bayi. Akan tetapi.6% tidak memberikan makanan kudapan setiap harinya kepada anak balita. Sesuai dengan jawaban yang diperoleh dari responden saat wawancara dapat diketahui bahwa sebanyak 58.3 89.tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. Pada umumnya responden memasak satu sampai dua kali sehari. Menurut Pujiarto (2007) makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam mengakibatkan kuman tumbuh subur dalam makanan tersebut.5 85. sebagian besar responden (96. sehingga tidak dapat . maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita.4%) memberikan makan utama untuk anak balita yaitu tiga kali dalam sehari (Tabel 31). sehingga sebanyak 89. Menurut Krisnatuti & Yenrina (2000) ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk membentuk kondisi anak sehat yaitu makanan bergizi dan sanitasi (kebersihan). siang.1%) sudah memperhatikan faktor gizi sebagai pertimbangan dalam memberikan makan kepada anak balita (Tabel 31).7% tidak melakukan aktivitas memasak tiga kali sehari (Tabel 32). sampai penyajian termasuk kebersihan peralatan makanan yang akan digunakan. Mulai dari tahap persiapan.3% responden menghangatkan kembali makanan sebelum dikonsumsi.

sebanyak 94.6 26. sebanyak 73.dihancurkan dengan memasak makanan tersebut. agar anak balita mau makan. Kebiasaan memasak secukupnya sesuai dengan kebutuhan. sehingga makanan tersebut cukup aman untuk dikonsumsi dan mampu mengurangi penyebaran penularan penyakit yang membahayakan manusia. Oleh karena itu.4%) sudah mulai membiasakan anak balita untuk makan sendiri. pilih-pilih serta jarang habis.1 94.8 83.2% responden masih memberikan makan kepada anak balita dengan cara disuapi. Hal ini dikarenakan anak balita tersebut belum bisa memegang sendok dengan benar sehingga saat memasukkan makanan ke dalam mulut masih tumpah.4 73.2%) selalu menutup makanannya sebelum disajikan/disantap (Tabel 32).4 Tabel 33 menunjukkan sebanyak 83.6% responden selalu melakukan kegiatan .6 n 11 15 47 3 Tidak % 19. kalaupun mau makan itupun dalam jumlah yang sedikit. Sebagian besar responden (98. Tabel 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita Cara memberikan makan anak balita Ibu membiasakan anak makan sendiri dengan asumsi sudah dapat memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut tanpa tumpah Ibu memberikan makan kepada anak dengan cara disuapi Ibu memberikan makan pada anak di meja makan (makan bersama) Cara mengapresiasi proses makan anak balita Ibu selalu berusaha agar anak menghabiskan makanannya (membujuk.9% responden belum membiasakan anak balita makan di meja makan (makan bersama). Akan tetapi.9 5. Membiasakan menutup makanan sebelum dihidangkan dapat mengurangi kontak fisik serangga (kecoa. merayu) Ya n 45 41 9 53 % 80. maka sebelum dilakukan proses menghangatkan makanan harus terlebih dahulu disimpan dalam lemari pendingin. lebih baik dibandingkan dengan menghangatkan kembali makanan tersebut. Hal ini bertujuan agar makanan tetap terjaga kebersihannya. Sehingga. Tabel 33 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (80. Responden mengeluh anak balita mulai sulit makan. lalat) dengan makanan. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak balita. pada umumnya responden memberikan makan sambil jalan-jalan atau aktivitas lainnya.2 16. Kalaupun makanan yang diolah bersisa.

6%) membiasakan anak balita menggosok gigi ≥2 kali/sehari dan sebanyak 64. Lebih dari separuh responden (52. Akan tetapi.6 100. Oleh karena itu.1% responden mulai membiasakan gosok gigi saat berusia ≤1 tahun (Lampiran 4).0 .4% responden membiasakan anak balita mandi dua kali dalam sehari dan sebanyak 94. sebanyak 77. anak sering mengalami fase sulit makan.4 28. n 0 40 16 56 % 0. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. Pada usia pra sekolah.apersepsi supaya anak balita mau makan misalnya dengan cara membujuk. merayu atau memberikan pujian. Hasil penelitian mengenai kategori pola asuh makan dapat dilihat pada Tabel 34. menurut Hardinsyah & Martianto (1992) perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan.0 71.2% responden belum membiasakan anak balita menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan dan hanya 21. Berdasarkan pemaparan di atas dari ke lima aspek pola asuh makan dapat diketahui bahwa sebanyak 71. Lebih lanjut Hurlock (1982) menyatakan penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai.1% responden membiasakan anak balita agar menggunakan handuk yang sama dan milik pribadi (tidak gonta-ganti). Seluruh responden menyatakan bahwa selalu mengganti pakaian anak balita sehabis mandi dan sebanyak 91. Tidak ada satu responden pun yang memiliki pola asuh makan kategori rendah. Menurut Khomsan (2004) membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu.9% anak balita selalu menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi. Tabel 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan Pola Asuh Makan Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) Total Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Lampiran 4 dapat diketahui bahwa sebanyak 80.6% kategori tinggi.6% selalu menggunakan sabun ketika memandikan anak balita.4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan sebanyak 28.

Sebanyak 77.9% anak balita sudah dibiasakan mencuci kaki sebelum pergi tidur oleh responden dan lebih dari separuh anak balita (53. Walaupun masih ada responden sebanyak 21. akan tetapi cukup dengan menggunakan tangan responden yaitu dengan cara “dielus-elus” (Lampiran 4). Curtis & Cairncross (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007) mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare.3% anak balita dibiasakan selalu menggunakan alas kaki ketika bermain atau berada di luar rumah.6%) kadang-kadang dibiasakan untuk mencuci kakinya setelah bermain.3%) selalu menggunakan sabun ketika mencuci tangan anak setelah buang air besar dan sebagian besar responden (82. Menurut Notoatmodjo (2003) kotoran manusia (tinja) adalah sumber penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan manusia. Menurut Tjitarsa (1992). Sebanyak 46. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan sabun dan air bersih sangat penting dilakukan karena dapat menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebanyak 42-47% Kebersihan kuku juga sangat penting untuk diperhatikan. sebanyak 64. Sebagian besar responden (89. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh saat wawancara bahwa rambut anak balita tipis dan pendek sehingga tidak perlu disisir untuk merapikannya. Serta sebanyak 51. karena kuku yang panjang dan tidak terawat mampu menularkan penyakit.8% responden sudah membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan saat berusia 1-2 tahun. kebiasaan tersebut mampu mencegah terjadinya penyakit diare.1%) sudah membiasakan anak untuk buang air besar pada tempat semestinya yaitu kamar mandi (Lampiran 4).4% responden membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan dan sebanyak 87.4% yang menyisir rambut anak balita hanya 1 kali/hari.4% responden sudah membiasakan anak balita menggunting kuku ≥3 kali dalam satu bulan dan sebanyak 39.3% responden membiasakan menyisir rambut anak balita 2-3 kali/hari.5% menggunakan air bersih untuk mencuci tangannya. Lebih dari separuh responden (64. Sebanyak 71.9%) keramas menggunakan sampo. Sebanyak 67.2% responden membiasakan mencuci rambut anak balita (keramas) sebanyak ≥3 kali/minggu dan sebagian besar anak balita (92. Selain itu.3%) tidak memperbolehkan .

Tabel 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan Pola Asuh Kesehatan Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (56-72) Total n 0 25 31 56 % 0. Akan tetapi. sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan signifikan dengan kedua pola asuh tersebut. karena dengan membuang sampah pada tempatnya mampu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya.6% kategori sedang (Tabel 35). pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena anak balita belum mampu untuk merawat dirinya sendiri. memberikan makan dan menjaga kebersihan anak balita.0%) kadang-kadang memperbolehkan anak balita bermain tanah (Lampiran 4).0 44.01). kondisi fisik masih lemah dan kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi.4%) memiliki pola asuh kesehatan termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 44. sebagai contoh yaitu mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat semestinya. Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (55. Menurut Entjang (1985) lingkungan hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang.6 55.anak balita bermain tanpa memakai celana dan separuh responden (50. Lebih dari separuh responden (58.4 100.9%) sudah membiasakan anak balita untuk membuang sampah pada tempatnya (Lampiran 4). . Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Menurut Rahayu (2006). Pengetahuan gizi ibu yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula seperti dalam hal perilaku bersih dan sehat. Pola asuh kesehatan seperti ini cukup baik. terdapat kecenderungan apabila pengetahuan gizi ibu baik maka kedua pola asuh tersebut pun akan baik.0 Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara PHBS ibu dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan (P<0. Lingkungan rumah yang bersih akan menciptakan lingkungan nyaman yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang. Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat.

0 22 100.7%) dibandingkan dengan anak balita yang memiliki umur >23 bulan.01) antara umur anak balita dengan diare.0 16 100.6 100. hasil analisis korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Tabel 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total n 12 6 18 ≤ 23 % 66.0%.6 46.0 30 55.5 12 75. Namun.0 Total n 26 32 56 % 53.4 100. salah satunya diare.5 4 25.4 53. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh variasi data penelitian mengenai BBLR yang relatif kecil.0 54 100.4 0. sehingga sangat mudah terserang penyakit infeksi. Semakin tinggi umur anak balita maka tingkat diare semakin rendah. Bayi dan balita memiliki sistem imunitas tubuh yang masih lemah. Sistem imunitas tubuh berkembang sesuai dengan umur seseorang. Tabel 37 menunjukkan bahwa secara umum anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mengalami diare selama tiga bulan terakhir.Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita Tabel 36 menunjukkan bahwa anak balita dengan umur ≤23 bulan mengalami diare lebih tinggi (66.0 Uji korelasi Spearman menunjukan terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0.6 100. Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) menyatakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki daya tahan terhadap penyakit juga lebih rendah. Tabel 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total N 2 0 2 Berat Badan Lahir BBLR Non BBLR % n % 100.0 Umur (bulan) 24-36 ≥ 37 N % N % 10 45.0 24 44.5% dan 25.3 100. Muniasir (2007) menyatakan bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh.0 12 54.0 Total n 26 32 56 % 46. Persentase anak balita yang mengalami diare dengan umur 24-36 bulan dan ≥37 bulan berturut-turut yaitu 45.0 .7 33.

0 Tinggi n 16 16 6 1 39 12 16 11 39 % 41.7 1.0 15.4%) dan akademi/diploma/PT (2.01).8 35.Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS.5 23. SLTA/sederajat (15.8 100.6 100.0 41. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS responden (p<0.0.4 2.8 100.0 Tabel 38 juga menunjukkan responden dengan umur 13-19 tahun (30. 0. Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pemahaman atau pengetahuan seseorang terhadap perawatan kesehatan dan kesadarannya terhadap kesehatan anak-anak dan keluarga. sebagian besar memiliki PHBS kategori tinggi yaitu SLTP/sederajat (41.0%) memiliki PHBS kategori tinggi.7 10. . Hasil analisis menunjukkan umur responden tidak berhubungan signifikan dengan PHBS.5%) dengan tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) memiliki PHBS kategori sedang. Tabel 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS PHBS Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ibu SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Sedang n % 13 4 0 0 17 6 9 2 17 76. Pengetahuan Gizi.6%).0 30.0 100. Persentase tersebut lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur 31-50 tahun (28.6 23. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Tabel 38 menunjukkan sebagian besar responden (76.0 32. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.8 41.0 n 29 20 6 1 56 18 25 13 56 Total % 51.1 44.8 100. Responden dengan tingkat pendidikan di atas SLTP/sederajat.3 52. Semakin tinggi pendidikan responden maka PHBSnya pun semakin tinggi pula.0 28.9 11.5 0.2 100.0 35.8%) dan 20-30 tahun (41. Hasil analisis juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan gizi responden (p<0.0%).01).8%).

cuci dan kakus).0 n 19 20 39 Tinggi % 73.1 66.0 n 26 30 56 Total % 46.9%). Sehingga. Tujuannya adalah supaya tidak terjadi interaksi antara mikroorganisme dengan air yang biasa digunakan untuk kebutuhan hidup seharihari. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita Berdasarkan Tabel 39 dapat diketahui bahwa kecenderungan anak balita dengan PHBS responden kategori tinggi mengalami diare lebih besar (73.Namun. Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS responden dengan diare anak balita. Pengetahuan Gizi. .9 33. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi (tempat penampungan kotoran) minimum 10 m.0 Aspek PHBS yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran.7 100. Selain itu juga.1%) dibandingkan anak balita dengan PHBS responden kategori sedang (26.3 100. Kaitan antara PHBS. Menurut Subandriyo et al.6 100. tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan gizi responden. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar responden dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m. air tetap terjaga kebersihannya dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (minum.4 53. Tabel 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita PHBS Diare Diare Tidak Diare Total n 7 10 17 Sedang % 26. kebiasaan membuang sampah dan SPAL responden yang belum sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat. hasil analisis menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan pola asuh makan maupun dengan pola asuh kesehatan. mandi. PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006).

Tidak berbeda halnya dengan SPAL responden.7 10 41. hasil uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita.0 Total n 24 32 56 % 46. Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita Tabel 40 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu rendah mengalami diare lebih besar (60.0 tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan .0 27 100.0%.7 5 100. secara umum mereka membuang sampah di pekarangan dan lubang sampah terbuka. Menurut Latifah et al.3%). sampah juga mampu mencemari sumber air. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. Perilaku seperti ini sangat jauh dari indikator perilaku hidup bersih dan sehat. Tabel 40 Kaitan antara pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi n % n % N % 3 60.3%) dan tinggi (58. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) penggunaan air yang sudah tercemar tersebut dapat dijadikan media pencemaran penyakit diare. Keadaan ini juga mampu mencemari sumber air. Namun.) dibandingkan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu kategori sedang (33.6 100. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan penyakit diare. Akan tetapi. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan.3 14 58. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing.Berdasarkan yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya mengenai aspek PHBS.0 18 66. Selain itu.4 53.3 2 40. Sampah yang dibiarkan di tempat terbuka dapat dijadikan media berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare.0 9 33.0 24 100. sebagian besar responden membuang air limbah bukan pada tempat semestinya yaitu di pekarangan. dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak membuang sampah pada tempat yang semestinya.

5 24 60.2 13 52. Tabel 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh kesehatan Sedang Tinggi n % n % 12 48. Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak balita.0 10 62.5 40 100. Dengan demikian.0 Total n 26 30 56 % 46.6 100. Tabel 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh makan Sedang Tinggi n % n % 16 40.0 Total n 26 30 56 % 46.8 25 100. hasil analisis juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan diare anak balita.0 Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita yaitu kebiasaan ibu dalam hal mencuci tangan anak balita sebelum makan.0 Aspek pola asuh makan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain mengenai pemberian ASI eksklusif.4 53. hasil analisis korelasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Pemberian ASI eksklusif erat kaitannya dengan meningkatnya kekebalan tubuh seorang anak.2%). Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Tabel 42 menunjukkan ada kecenderungan ibu dengan pola asuh kesehatan kategori sedang memiliki persentase anak balita yang mengalami diare lebih besar (48. Rendahnya kesadaran ibu dalam hal pembiasaan mencuci .0 14 45.0 31 100.0 6 37.0%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi (45.Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita Tabel 41 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh makan kategori tinggi memiliki anak balita yang mengalami diare lebih besar (62.0%). Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.0 16 100.6 100.5%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh makan kategori rendah (40.0 17 54.4 53. Namun.

tangan anak balita sebelum makan diduga menjadi penyebab tingginya diare pada anak balita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh contoh belum dibiasakan menggunakan alas kaki (sandal) ketika keluar rumah. Selain kebersihan tangan anak balita. Hasil penelitian menunjukkan masih ada beberapa ibu yang belum membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Lingkungan yang tidak bersih. Hal senada juga diungkapkan oleh Suririnah (2007) bahwa perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare. Bahkan masih ada beberapa ibu yang tidak membiasakan mencuci tangan anak balita. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) tangan yang kotor dapat menjadi media penularan penyakit diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh ibu menyatakan kadang-kadang membiasakan anak balita mencuci tangan sebelum makan. kebersihan kaki pun harus diperhatikan. Menurut Sadeque dan Ghosh (2005) salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan anak balita yaitu dengan membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. . Selain kebersihan tangan dan kaki. kemudian tidak membiasakan menggunakan sandal ketika keluar rumah dapat menjadi sumber penyebaran kuman dan apabila tidak dihambat penyebarannya maka dapat menimbulkan penyakit seperti diare. membiasakan anak balita menggunakan kamar mandi ketika buang air besar merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat kejadian diare.

9% dan 8. Sedangkan umur ibu tidak berhubungan .5 kg). sedangkan ibu (75.00.9%) pendapatan perkapita perbulan responden adalah >Rp 150 000.6%) berada pada kategori usia muda (20-30 tahun). 5.3%) maupun ibu (44. Hampir seluruh anak balita (91. Status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. Tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi. 3.01).KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Hampir 50% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang. 4. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang baik. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB.3%) berkisar antara 24-36 bulan dan 96. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal.1%) adalah perempuan.4%). Sedangkan anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare. dan tidak berhubungan signifikan dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.6%). Lebih dari separuh responden (60.6%) dan pola asuh kesehatan kategori tinggi (55. Proporsi terbesar (58. Secara umum responden memiliki PHBS.0%) tidak bekerja.4% anak balita memiliki berat badan lahir cukup (≥2.05).7%) merupakan keluarga besar (>4orang) dan hampir separuh umur baik ayah (39.9%). Proporsi terbesar umur anak balita (39. TB/U) dengan diare (p<0. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu. Dengan demikian. proporsi terbesar pekerjaan ayah yaitu negeri/swasta jasa (33.9% 28. 6. Proporsi terbesar responden memiliki PHBS (69.4%) serta pola asuh makan kategori sedang (71. Lebih dari separuh anak balita (66. Tingkat pendidikan pegawai ayah lebih tinggi dan (SLTA/sederajat) angkutan dibandingkan dan ibu (SD/sederajat).1%) mengalami sakit selama tiga bulan terakhir dan hampir 50% anak balita mengalami diare dengan frekuensi tertinggi yaitu 2 kali dan lama sakit 1-3 hari. sisanya tinggi dan rendah (42. 2. Hasil analisis menunjukkan umur anak balita berhubungan sangat signifikan dengan diare (p<0.

pembuangan sampah dan limbah bukan pada tempatnya. Selain itu. Saran Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya diare pada anak balita hendaknya menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika keluar rumah. dan Kakus (MCK). mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan. Pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah diare dengan membangun fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan. aspek pola asuh makan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Sedangkan. PHBS. pengetahuan gizi ibu. masyarakat setempat hendaknya memperhatikan jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran dan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan.signifikan baik dengan PHBS. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. dan pelayanan kesehatan) serta pola asuh makan dalam hal pemberian ASI eksklusif dan penyiapan makanan sehari-hari. Aspek PHBS yang diduga menyebabkan diare anak balita adalah jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran <10 m. 7. pola asuh makan maupun pola asuh kesehatan. diperoleh informasi mengenai faktor dominan yang lebih berpengaruh terhadap kejadian diare anak balita. . Cuci. Selain itu. Sehingga. membiasakan BAB di kamar mandi. pengetahuan gizi. Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu berkenaan dengan kebersihan tangan dan kaki serta kebiasaan Buang Air Besar (BAB) bukan pada tempatnya. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi. personal hygiene. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor risiko kejadian diare anak balita dengan menggunakan analisis regresi logistik.

Fakultas Pertanian. Herawati T. 1985. 1985. Gunarsa. . Bogor: Institut Pertanian Bogor. www. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. 2002. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2002. 2006. Jakarta: Citra Aditya Bakti. Laporan akhir penelitian studi kajian wanita. Jakarta: BPS. Terjemahan dari: The Nutrition Factor. Amperansyah. Universitas Indonesia. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. [terhubung berkala].html [3 Oktober 2007]. Bogor: Fakultas pertanian. Entjang I. Jakarta: BPS. 1991. penerjemah. 1999. Peran anggota rumah tangga di dalam pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak balita.html [9 November 2007]. Gunarsa. Jakarta: CV Rajawali. 2002. Majalah Ilmu Kefarmasian 1(1): 27-33. Gizi Terapan. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. 2004. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. 2001. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Zahara DN. 1997. Bogor: Fakultas pertanian. Jakarta: Penerbit Mutiara. Institut Pertanian Bogor. Martianto D. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Makasar: Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Bandung: Penerbit Alumni. Health and Safety in Child Care.diare. Indikator Kesejahteraan Rakyat. . Penyuluhan penggunaan oralit untuk menanggulangi diare di masyarakat. Konseling Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). .gizi. [BPS] Biro Pusat Statistik. Diktat Mata Kuliah yang tidak dipublikasikan. Firlie D. 2004. 1992. 2005.DAFTAR PUSTAKA Adnyadewi IGA. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. 2006. [terhubung berkala]. Statistik Indonesia. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Harianto. [Dinkes] Dinas Kesehatan DKI Jakarta. . Ekonomi Gizi. Faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas anak baduta pada keluarga miskin dan tidak miskin [skripsi]. Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak. Hardinsyah. 1979. Briawan D. 1993. New York: HarperCollins. Institut Pertanian Bogor. Faktor risiko penyakit diare pada bayi di Provinsi Kalimantan Selatan: analisis data sekunder SDKI tahun 1997 [skripsi]. Its Role in National Development. Diare. 2003. Statistik Kesehatan. Jakarta: BPS. Aronson SS. Institut Pertanian Bogor. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kota Bogor [skripsi]. _____. Hardinsyah. 2005. Jakarta: BPS. Azwar A. [terhubung berkala] www. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. 1986. Berg A. As’ad S. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga. . Statistik Indonesia.

1982. Institut pertanian Bogor. Buletin Penelitian Kesehatan 27(3 dan 4-1999/2000): 346-363. Hubungan kualitas pengasuhan dan perilaku hidup sehat dengan status gizi dan kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kecamatan Bogor Barat [skripsi]. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI. Penelitian dalam rangka penerapan sistem pembuangan tinja dan sampah tepat guna Desa Pantai di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Lamongan. Psikologi Perkembangan. 2005. Ed ke-5. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. M Tjandrasa. Bogor: kerjasama pusat kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. 2004. sikap dan perilaku pengguna tanaman obat di desa Sukajadi. Kecamatan Tamansari. Buku 1 Kebersihan Diri dan Lingkungan. [terhubung berkala]. 2002c. Wahida S.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104. Pengetahuan. M Zarkasih. Perkembangan Anak Jilid 2. Pedoman pengembangan kabupaten/kota percontohan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Bogor: Fakultas Pertanian. Herman. 2002.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat. 2006.www. Nurahmi. Fakultas Ekologi Manusia.go. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. [23 uli 2008]. Oktober 2007]. Manda S. 2002d. Hurlock EB. Evi D. 2003.jurnal. . Latifah M. 2002b. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kejadiaannya sangat erat dengan keadaan sanitasi lingkungan. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. Khomsan A. Jakarta: Erlangga. Buku 5 Rumah Sehat. Buku 10 Mengenal Berbagai Penyakit dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. Krisnatuti D dan Yenrina R. 2000. 2002a.pdf.id/download/fkm/fkm-hiswani7. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor.dinkes-sulsel. . Institut Pertanian Bogor.ac. . Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. 2005. Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [skripsi]. 2004. . Jakarta: Puspa Swara. Bogor: Fakultas Pertanian. www. penerjemah. dan Suprapti.pdf [15 November 2007].usu. Faktor-faktor predisposisi yang berhubungan dengan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI) di Kecamatan Banua Lawas. MD Djamaludin. [terhubung berkala]. 2000. Zalbawi S. Khairunnisak I. Jakarta: Erlangga. Madihah. Irianti S. Sumali MA. _________.farmasi. Kabupaten . http://library. 1993.ui. Buku 8 Pengenalan Sampah dan Air Limbah.pdf. Jakarta : PT Grasindo Anggota Ikapi. [3 Hiswani.ac. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat.

[15 November 2007]. Tantangan bernama higinitas. Sadeque MU. Edisi ke-6. Rahayu S. R. Pola Asuh-Asupan Nutrisi dan Pertumbuhan Anak. Muniasir Z. . Nadesul H. [terhubung berkala]. Health. www. United State: Thomson Delmar Learning. Santrock JW. Masithah T. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Fakultas Ekologi Manusia. 2003. Jakarta: Ghalia Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. www. 2005. 1997. 2001. Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak batita di Desa Mulya Harja.id/dsp_content. Institut Pertanian Bogor. Pujiarto P. 2007. 2005. 2007.Tabalong Kalimantan Selatan tahun 2002 [skripsi].com. ___________ . konsumsi pangan. Jeanettia MR. Desa Sukamantri. Drajat M. and Nutrition for Young Child. Ghosh SK. Institut Pertanian Bogor. Model pendidikan “G1-PSI-SEHAT” bagi ibu serta dampaknya terhadap perilaku ibu. Institutional and Legal Challenge for the Rural Poor. Bukan Suplemen!. Soekirman. Marotz LR. 2005. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di taman pendidikan karakter sutera alam. Bogor [skripsi]. 2006. Bogor: Fakultas Pertanian. 2006. New York: McGraw-Hill . Pengantar Ekologi Keluarga. Rimbatmaja. Imunomodulator. Madanijah S. Life-Span Development. [terhubung berkala]. Ilmu Kesehatan Masyarakat.mosleh@bdonline. Universitas Indonesia. 2007. Bogor: Fakultas Pertanian.koalisi. Institut Pertanian Bogor. 1993. Makalah Seminar Sehari. Kemitraan dalam Mengatasi Masalah Gizi di Indonesia. Bogor: Fakultas Pertanian. 2007. Pola asuh dan status gizi anak balita keluarga penerima dan bukan penerima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) [skripsi]. Fakultas Pertanian. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Media Gizi dan Keluarga 29 (2):29-39. Metodologi Penelitian Kesehatan. Institut Pertanian Bogor. dan status gizi anak usia dini [disertasi].php?kat=3&emonth=02&eyear=2007 &pg=hns-23k. Safety. Marie ZC. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. 2003. Puspitawati H. Yogyakarta: Ando Offset. lingkungan pembelajaran. parentsguide. Jakarta : Rineka Cipta. 2002. Rahmawati D. 2003. 2005. Makanan Sehat untuk Ibu Hamil. Environmental Sanitation Promotion: A Social. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Notoatmodjo S. [terhubung berkala]. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Diktat Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga.co. Institut Pertanian Bogor. Jakarta: Puspa Swara. Bogor: Program Pascasarjana. Ed ke-8. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Nasution. Institut Pertanian Bogor. Riyadi.org.

Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Jawa Barat [skripsi]. Suririnah. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Dewi MDH. JMPK 8(2). Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial.net/files/vol-08-02-2005-4. Widyati R. 1992. Fakultas Pertanian. Tambingon HN. Yuliarsih. Helms DB. Mubasysyir H. Pendidikan Kesehatan: Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Subandriyo VU. 1989. Kecamatan Cugenang. Institut Pertanian Bogor. 2004. www. Satoto. Fakultas Pertanian.Sari RA. Turner JS. www. Bogor: Pusat Antar Universitas. Bandung: Eja Insani. 1994. [terhubung berkala].diare. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): studi kasus di Kabupaten Bantul 2003. 2000. Petunjuk Praktikum Kesehatan Masyarakat.htm. Institut Pertanian Bogor. dan Yekti HE.com. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Sehat itu Hak: Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. Institut Pertanian Bogor. 1991. 2007. Sosial Budaya Gizi. www.articles. Cianjur.jmpk-online. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi. Diare mendadak dan penanganannya. Kondisi geografis dan sosial ekonomi hubungannya dengan pembangunan kesehatan serta kondisi rumah rehat di Desa Gasol dan Cijedil. 1993. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Bandung: Penerbit ITB dan Universitas Udayana. ______. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat.php. Departemen Pendidikan Nasional. . Life-Span Development.infoibu. Suhardjo. 2005. Solo: Dabara Publiser. Institut Pertanian Bogor. Fortworth: Rinehart and Winston. 2004. 2007. Saroso S. Topatimasang. [terhubung berkala]. 1997. Pola pengasuhan ibu anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita di Kota Madya Manado. Ed ke-4. Bogor: Institut Pertanian Bogor. [3 Oktober 2007]. Hygiene dan Sanitasi Umum dan Perhotelan. Sinaga D. Diare. [3 Oktober 2007]. Slamet Y. Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Bersalin: Antara Harapan Hidup dan Kenyataan Kematian. 2005. Fakultas Pertanian.pdf. Tjitarsa IB. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sukarni. [3 Oktober 2007]. Sumali MA. Provinsi Sulawesi Utara [tesis]. 1999. 2002. Soekirman. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. [terhubung berkala]. 1989.

LAMPIRAN .

1 42.8 57.6 92.9 Lampiran 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi.4 96.3 16.3 92. 10. 8.5 94. 12.6 96.5 53.1 7.4 n 37 54 43 29 5 0 Jarak Dekat % 66.6 5.4 87.4 1.3 4 24 15 7 4 7 25 7. 13. 6. 5. 7.8 16.6 80. 14.0 n 19 2 13 27 51 56 Jauh % 33.93 n 12 54 53 42 56 7 32 Cara Pelayanan Baik % 21. cepat lelah dan lesu? Garam dapur yang bagaimana yang baik untuk digunakan? Apa yang terjadi pada bayi yang dilahirkan apabila selama masa kehamilan terjadi kekurangan zat besi? Apa akibat yang ditimbulkan bila anak kekurangan makan dalam jangka waktu yang lama? Apa akibat dari makanan dan minuman yang tidak bersih? Bagaimana cara yang baik dalam mempersiapkan botol atau tabung susu bayi? Sampai umur berapa sebaiknya bayi diberi ASI saja? Jawaban Benar n % 43 76.6 98.9 3.0 100.9 100 10.1 57.6 67.8 8.1 Kurang n 1 2 3 2 0 6 1 % 1.6 n 25 0 0 35 30 45 % 44.0 0.6 25 48 43 32 39 54 49 53 52 48 23 44. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan Petugas Gizi dan Kesehatan Dokter RS Dokter Puskesmas Bidan Puskesmas Bidan Desa/Praktik Bidan Kader posyandu Mantri Dukun Paraji Informasi Gizi Tidak Pernah Pernah n % n % 9 32 41 36 52 6 8 16.1 73.6 0 11 1.1 69.4 19.93 0 12.6 85.5 94.8 3. 2.5 57.7 83.9 92. 11.9 85.2 48.5 44.2 64.8 51.4 94.6 0.9 0.9 26. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan zat gizi? Zat-zat gizi apa saja yang dibutuhkan oleh tubuh? Apa zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan anak? Apakah ibu dapat menyebutkan jenis pangan yang termasuk sumber karbohidrat? Dapatkah ibu menyebutkan kelompok bahan pangan mana yang banyak mengandung zat gizi protein hewani? Apakah ibu dapat menyebutkan susunan menu yang baik? Dapatkah ibu menyebutkan jenis makanan sumber zat besi? Apa nama kondisi ibu jika selama masa kehamilan ibu mengalami pusing.7 14.8 Lampiran 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban pengetahuan gizi No 1.36 8. 4.1 100 n 39 55 47 36 9 4 Daya Jangkau Mudah % 69.1 .1 35.1 96.1 n 17 1 9 20 47 52 Sulit % 30. 9. jarak dan daya jangkau Jenis Pelayanan Kesehatan n Praktek Dukun Paraji Posyandu Puskesmas Praktek Bidan Klinik/Balai Pengobatan Rumah Sakit 31 56 56 21 26 11 Kunjungan Tidak Pernah pernah % 55.6 Kemudahan Dihubungi Mudah n 8 35 53 38 56 6 28 % 14.4 3.0 62.2 83.7 41.6 25 44.6 75 100 12.7 50 n 5 21 3 5 0 7 5 Sulit % 8.3 62.57 23.5 46.7 76.4 76.8 12.1 12.93 37.9 64.5 5.5 7.9 10. 3.Lampiran 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaann pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.0 37.8 30 53.5 8.2 91.4 100.

8 7. 1 kali/minggu b.9 21. Pola Asuh Kesehatan Berapa kali anak dibiasakan mandi setiap hari? a.0 14. Tidak pernah b. ≥ 3 kali/minggu Apakah anak setiap keramas menggunakan sampo? a.No 15.8 12. Kadang-kadang c.6 43.1 28. ≥ 4 kali/hari Apakah anak dibiasakan mengganti pakaian setelah mandi? a. 9. Ya. Selalu n 0 45 11 0 3 53 16 10 30 25 19 12 16 3 37 44 5 7 44 11 1 4 8 44 0 4 52 12 36 8 0 0 56 3 2 51 % 0. 1 kali/hari c. Kadang-kadang c.0 100.3 14.1 5. 2 kali/minggu c.0 5. ≥ 3 kali/hari Apakah anak setiap mandi menggunakan sabun mandi? a.1 92. 16.6 96.3 0. Ya. Tidak b. 4.4 94.0 77. Sejak anak berusia 1-2 tahun c.9 33.4 Lampiran 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan No 1. Ya.1 17. Kadang-kadang c. 11. . Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setiap hari? a. Ya.9 77.6 94. 7.4 64. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap menggosok gigi menggunakan pasta gigi? a. Selalu Berapa kali anak dibiasakan keramas setiap minggu? a.0 5. Kadang-kadang c. 2-3 kali/hari c. 19.1 71. 5.4 19. 20. Tidak pernah b. 12.4 96.0 80. 6. Selalu Apakah anak dibiasakan menyisir rambut? a. Tidak b.3 1. Ya.2 19.1 2. Tidak pernah b. 3. ≥ 2 kali/hari Sejak kapan ibu membiasakan anak menggosok gigi? a. 10. Kadang-kadang c. 18.3 77.2 0 7. Ya.3 21.0 0.3 64. Kadang-kadang c. 2 kali/hari c. Tidak pernah b. 1 kali/hari c. Sejak anak berusia > 2 tahun b.6 91. ≥ 2 kali/hari Apakah anak dibiasakan menggunakan handuk bersih yang sama (tidak gonta-ganti) setelah mandi? a. Pertanyaan Pada usia berapa anak boleh diberikan makanan seperti orang dewasa? Apa yang dimaksud dengan diare? Apa yang ibu lakukan ketika anak mengalami diare? Kemana ibu biasa membawa anak berobat saat mengalami diare? Apa yang ibu berikan saat anak mengalami diare? Apakah kegunaan sabun yang dipakai saat cuci tangan? Jawaban Benar n % 46 40 53 53 54 54 82.4 3.6 28. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setelah makan? a. 1 kali/hari b.4 94. 8. Ya. 1 kali/hari b.5 52. Tidak pernah b. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi sebelum tidur? a. Tidak pernah b.2 8. 17.6 0.

Tidak pernah b. Tidak pernah b. 15. Kadang-kadang c.9 26.3 16.0 23. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki sebelum tidur? a.8 30. Tidak pernah b. Tidak pernah b. 20.4 19.0 28. Sejak anak berusia 1-2 tahun c.7 7.9 46.0 10.1 10.6 57. Selalu n 6 24 26 18 29 9 6 1 49 3 17 36 % 10.8 16. Tidak b.1 51.5 5.1 82. .3 0. jamban)? a. Kadang-kadang c. Selalu Apakah ibu meperbolehkan anak bermain tanpa memakai celana? a. Kadang-kadang c. ≥ 3 kali/bulan Apakah anak dibiasakan memakai alas kaki ketika bermain/berada diluar rumah? a.4 67.8 87. Selalu Apakah anak setiap mencuci tangan setelah buang air besar menggunakan sabun dan air bersih? a. Tidak pernah b.4 89. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki setelah bermain? a.9 18. 17.6 30.2 21. Pola Asuh Kesehatan Apakah anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan? a. 16.7 42. Sejak anak berusia > 2 tahun b. Kadang-kadang c.1 39./WC. Kadang-kadang c.4 3.4 64. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.6 58. Selalu Apakah anak dibiasakan buang air besar pada tempat semestinya (kakus. Kadang-kadang c.6 71. Tidak pernah b.3 14.7 1. 21. Ya. 23.4 32.8 50. 1-2 kali/bulan c.4 30. Ya.No 13. Kadang-kadang c. 6 4 46 0 16 40 2 32 22 9 30 17 50 0 6 1 17 38 15 28 13 12 11 33 10. Selalu Apakah ibu mencegah anak bermain tanah? a.1 0. Tidak pernah b. 22. Kadang-kadang c. Tidak pernah b. Selalu Sejak kapan ibu membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan? a. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih? a. 19. Kadang-kadang c. Selalu Apakah anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya? a. Tidak pernah b.7 1. 24.1 53. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk menggunting kukunya setiap bulan? a.

915 r= -0.036 p= 0.408 r= 0.258 r= 0.076 Pendidikan ibu p= 0.180 p= 0.000 r= -615** Umur ibu p= 0.068 p= 0.122 p= 0.000 r= 0.001 r= 0.961 r= -0.440** Diare anak balita p= 0.485 r= -0.016 p= 0.261 p= 0.029 r= -0.007 p= 0.999 r= 0.476 r= 0.108 p= 0.154 p= 0.117 p= 0.311 PHBS ibu p= 0.391 r= 0.227 r= 0.134 r= 0.063 p= 0.231 p= 0.052 r= -0.643 r= -0.384** Pengetahuan gizi ibu p= 0.275 r= 0.865 r= 0.852 r= 0.008 r= -0.061 r= 0.126 p= 0.095 p= 0.055 r= 0.059 p= 0.264* p= 0.226 Status gizi (TB/U) p= 0.258 p= 0.330* p= 0.113 Status gizi (BB/TB) p= 0.164 p= 0.138 p= 0.020 r= -0.292* Pola asuh makan p= 0.015 p= 0.087 r= -0.097 p= 0.Lampiran 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel Variabel Umur contoh BBLR Status gizi (BB/TB) Status gizi (TB/U) Umur ibu Pendidikan ibu PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Diare anak balita Umur contoh BBLR p= 0.369 r= 0.000 r= 0.164 Pola asuh kesehatan p= 0.586 r= 0.018 - Keterangan:** Signifikan pada α 1% * Signifikan pada α 5% .013 r -0.476** p= 0.023 p= 0.095 p= 0.486** p= 0.203 p= 0.026 p= 0.905 r= 0.252 p= 0.576 r= 0.293* p= 0.004 r= 0.179 p= 0.403 r= 114 p= 0.791 r= 0.286 r= 0.095 r= 0.131 p= 0.988 r= 0.145 p= 0.186 r= -0.370 r= -0.310 r= 0.531** p= 0.050 r= 0.000 r= 0.148 p= 0.413 r= 0.122 p= 0.112 p= 0.029 r= 0.428 r= 0.350** p= 0.074 p= 0.655 r= 0.184 r= 0.002 p= 0.486 r= 0.203 p= 0.100 r= -0.228 r= 0.356 r= 0.000 p= 0.191 r= -0.134 r= 0.334 r= 0.177 p= 0.222 p= 0.897 r= -0.619 r= 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful