PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA

, DI DESA CIKARAWANG BOGOR

IMA MARYANA ULFAH

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
IMA MARYANA ULFAH. Clean and Health Behavior, Nutritional Knowledge, and Caring Pattern, of Which Its Relation with Diarrhoea in Five-Year Babies in Cikarawang Village, Bogor. Supervised by CLARA M. KUSHARTO and SITI MADANIJAH Five-year babies are susceptible group for health and nutritional troubles. Mostly (70-80%), diarrhoea patients are five-year babies and 1-2% from those patients have a risk to experient dehydration. If they are not being help, they possibly will be die. Research general purpose is studied about the clean and health behavior, nutritional knowledge, and caring pattern of which its relation with diarrhoea in five-year babies in Cikarawang village, Bogor. Research design is Cross Sectional Study. Location of research is selected in purposive. Number of example is 56 five-year babies. Data is analysed descriptively and inferensia by Spearmann’s correlation test. Result of research shows that approximately half of examples (46,4%) suffers from diarrhoea. Nutritional status (p<0,05) and age from examples (p<0,01) have negatively and significantly correlation with diarrhoea. Environmental sanitary landfill--distance between water source and septic tank is less 10 m-- and dismissal of garbages are conditions that cause high case of diarrhoea. Mother who did not give exclusive ASI also causes infected diseases as diarrhoea. Self hygiene of five-year babies, accustoms to clean hand before eating and after, accustoms in bathroom, and wear sandals when out of the house must be considered to be not easy to come down with diarrhoea. Key words : diarrhoea, five-year babies, nutritional status, exclusive ASI, environmental sanitary

RINGKASAN
IMA MARYANA ULFAH. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pengetahuan Gizi, dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang, Bogor. Dibimbing oleh CLARA M. KUSHARTO dan SITI MADANIJAH. Diare merupakan salah satu contoh penyakit infeksi, sehingga akan menular. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Anak balita merupakan kelompok penduduk pasif dan rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makannya. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang, Bogor. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik anak balita, (2) Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita, (3) Mengidentifikasi karakteristik keluarga, (4) Mengidentifikasi PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, (5) Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita, (6) Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, dan (7) Menganalisis kaitan antara PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang, Bogor pada bulan Desember 2007 sampai April 2008. Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur), status gizi dan kesehatan anak balita, karakteristik keluarga (besar keluarga, umur, pendidikan, pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga), PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS. Data-data tersebut diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for window versi 11,5. Keterkaitan antar variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 46,4% anak balita mengalami diare selama tiga bulan terakhir. Lebih dari separuh anak balita (66,1%) adalah perempuan. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30,2±11,7 bulan. Proporsi terbesar umur anak balita (39,3%) berkisar antara 24-36 bulan, sisanya berumur ≤23 bulan (32,1%) dan berumur ≥37 bulan (28,6%). Terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0,01) antara umur anak balita dengan diare. Sebagian

besar anak balita (96,4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2,5 kg) dan sebanyak 3,6% anak balita memiliki berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Berdasarkan indeks BB/TB dan BB/U, sebagian besar anak balita memiliki status gizi normal, sedangkan menurut indeks TB/U berstatus gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0,05). Sebanyak 91,1% anak balita mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Diare merupakan jenis penyakit ke tiga terbesar (46,4%) yang dialami anak balita selama tiga bulan terakhir setelah panas (71,4%) dan ISPA (73,2%) dengan frekuensi tertinggi yaitu 1-2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Lebih dari separuh responden (60,7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 5,3±1,8 orang. Proporsi terbesar umur baik ayah maupun ibu berturutturut sebanyak 39,3% dan 44,6% berkisar antara 20-30 tahun (dewasa muda). Rata-rata umur ayah yaitu 33,0±6,8 tahun dan rata-rata umur ibu yaitu 27,7±5,7 tahun. Proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35,7%) yaitu SLTA/sederajat dan ibu (51,8%) yaitu SD/sederajat. Proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta dan jasa angkutan (33,9% dan 28,6%) dan sebagian besar ibu (75,0%) tidak bekerja. Proporsi terbesar pendapatan perkapita perbulan keluarga responden (58,9%) adalah >Rp150 000.00. Proporsi terbesar responden (69,6%) memiliki PHBS kategori tinggi dan 30,4% kategori sedang. Proporsi terbesar responden (48,2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang, sisanya tinggi dan rendah (42,9% dan 8,9%). Sebanyak 71,4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan 28,6% kategori tinggi. Lebih dari separuh responden (55,4%) memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi dan 44,6% kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi ibu. Sedangkan umur ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai serta Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare anak balita. Selain itu, jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), membiasakan Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB, menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika ke luar rumah. Serta, pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan, personal hygiene, dan pelayanan kesehatan) dan pentingnya ASI eksklusif.

PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA. DI DESA CIKARAWANG BOGOR IMA MARYANA ULFAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT.

Didy Sopandie. Siti Madanijah. Clara M. MAgr NIP 131 124 019 Tanggal Lulus: . MSc NIP 131 414 958 Dr. Ir. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. Dr. Kusharto. Ir.Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. drh. Bogor Nama NIM : Ima Maryana Ulfah : A54104065 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. MS NIP 130 541 472 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Pengetahuan Gizi. Dr.

Dr. Oleh karena itu. hidayah dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Ikeu Tanziha. Dr. Pihak Desa Cikarawang. arahan dan dukungan semangat yang luar biasa kepada penulis. sungguh luar biasa karena atas rahmat.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah swt senantiasa penulis panjatkan. Desa Cikarawang atas bantuannya selama proses pengambilan data penelitian. Dr. MS selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik yang dengan sabar dan penuh pengertian mendengarkan curahan hati serta memberikan bimbingan dan dorongan semangat yang luar biasa kepada penulis. Ir. Puskesmas Cangkurawok dan ibu-ibu kader Kampung Carang Pulang. Clara M. Bogor”. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Ir. MS selaku dosen pemandu seminar dan Katrin Roosita. MS dan Megawati Simanjuntak SP atas arahan dan saran selama proses pengolahan dan analisis data penelitian. Dr. Kusharto. Dr. 2. Pengetahuan Gizi. penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua keikhlasan bantuan yang telah diberikan. drh. MSi selaku dosen penguji atas arahan dan saran yang diberikan. 3. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesejahteraan Rakyat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Prof. Ir. MSc. Tien Herawati SP. Alhamdulillah. Ir. 4. . 5. 6. 7. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. yaitu kepada: 1. Siti Madanijah. Dadang Sukandar. Ikeu Ekayanti. Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari dukungan beberapa pihak. MSc selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan. SP. MKes.

tumpangan kamar. Rizka. Arina. Tiche. Ena. Bogor. Once. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. 11. Any. Yulia. Henny. Bung). Venny. 10. Abah. BKGers (Semangat yo). DausBek. Rika.8. Lola. Teteh Milah. Sahabat-sahabat terbaik penulis Eka. saran. kebersamaan yang indah dan keceriannya. Teman-teman BUD Cianjur (Dini dan Ade). Manto. Dhyta. Bapak Mashudi dan Bapak Dian atas dorongan semangatnya. Ira. Sahabat seperjuangan penulis Angelica Gabriel “My Beloved Friend”. Vina dan Emil. dukungan semangat. Dedew. OMDA CIANJUR. Mei. teman-teman pameran PIMNAS XXI di Semarang. Rekan-rekan pembahas Edo Rizky Fernando. Dede Aab serta keluarga besar di Cianjur atas semua kasih sayang. Noorma. Ari dan Gamasakers 41 atas bantuan. Yuli. atas bantuan. Firdaus. Dini. dan Ibnu Akbar atas saran-saran yang telah diberikan untuk kesempurnaan penulisan skripsi. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Sri. MpokIde. dan doa untuk keberhasilan penulis. dorongan semangat. Wisma JASMINE dan FAIRUSH terima kasih atas kebersamaan yang indah. Adin. 40 dan GM 42. Ati. 9. temen seperjuangan KKP. Maul. Kakang Rizki. 12. Ardi. penghuni AS-SAKINAH. Yesa. Nur. Devita. curahan hati dan keceriaan sampai terselesaikannya skripsi ini. RHEMAND (Nda. Agustus 2008 Ima Maryana Ulfah . Mama. GMSK 39. teman-teman relawan Klaten. 13. Friska. 43. perhatian. Noni.

Tahun 2007 penulis mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang pendidikan dengan judul ”Reformasi Pendidikan dan Perubahan Kurikulum serta Aplikasinya terhadap Pembentukan Kualitas Bangsa Indonesia” dan lolos sebagai 10 besar terbaik di IPB. Penulis merupakan putri ke dua dari empat bersaudara.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 02 Maret 1986 dari ayah H. Semarang. Tahun 2006-2008 penulis aktif dalam organisasi otonom yaitu Badan Konsultasi Gizi (BKG). Hasan Mulyadi dan Ibu Hj. penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen FEMA. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Fakultas Pertanian. Siti Romlah. Divisi Dana Usaha dalam Seminar Konsultasi Gizi yang berjudul “Control Yourself From 3 Hypers (Hipertensi. Pada tahun yang sama penulis pernah menjadi relawan pada “Posko Penanganan Tumbuh Kembang Anak Korban Gempa di Kabupaten Klaten” yang diadakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Cianjur dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kabupaten Cianjur. Pada tahun yang sama penulis mengikuti PKM bidang ilmiah dengan judul “Kajian Keadaan Lingkungan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Sehat Keluarga di Kampung Carang Pulang. Tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan terlibat dalam tim pameran PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Bogor” dan berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Selain itu. Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi dalam Seminar Nasional “Nuansa Pangan. Serta. Penulis memilih Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK). selama masa perkuliahan penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Pendidikan Gizi tahun ajaran . 2007/2008. Hiperkolesterol dan Hiperglikemia)”. Desa Cikarawang. Tahun 2006 penulis pernah mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian dengan judul “Persepsi dan Sikap Mahasiswa Calon Bapak terhadap Pemberian ASI oleh Ibu kepada Bayi” yang berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Gizi dan Keluarga X (NPGK X)”.

............................................................ 4 Karakteristik Anak balita ............................ 24 HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................................................... ix PENDAHULUAN .......... 4 Status Gizi dan Kesehatan Anak balita .................................. 54 Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS............................................................................................................................ 2 Hipotesis............................................ 51 Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita...... 21 Jenis dan Cara Pengumpulan Data.................... Pengetahuan .................................................... 7 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)... 28 Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita .......... 19 METODE PENELITIAN ..................................... viii DAFTAR LAMPIRAN...... 21 Pengolahan dan Analisis Data .......... 22 Disain..........................................................................................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL............................... 26 Keadaan Umum Daerah Penelitian ......................................................................................... 26 Karakteristik Anak Balita............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... 18 KERANGKA PEMIKIRAN............................................. 1 Tujuan...................................................... 32 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)............... 16 Pola Asuh Makan................................................................................................................................ Tempat dan Waktu ....... 47 Pola Asuh Makan.................................................................................................................................................................. 3 TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................................................................................................................................................................................... 22 Definisi Operasional ................................................................................... vi DAFTAR GAMBAR ............................ 29 Karakteristik Keluarga Contoh. 1 Latar Belakang ............................................................................ 45 Pola Asuh ..................................................................................... 47 Pola Asuh Kesehatan ..................................................................................................... 5 Penyakit Diare .... 3 Kegunaan Penelitian ........................................ 6 Karakteristik Keluarga ................................................................................. 16 Pola Asuh ............... 17 Pola Asuh Kesehatan ........................................................................................ 9 Pengetahuan Gizi ........... 21 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ........... 35 Pengetahuan Gizi ..........................................................................................................................................................................

............................... 66 ................................................................. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan.... 62 LAMPIRAN .......................................................... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ....... 61 DAFTAR PUSTAKA ...................Gizi........ 57 Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita.............. 58 Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ................................................................................................. Pengetahuan Gizi.............. 56 Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita ............... 56 Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita ...................... 60 Saran ........................... 55 Kaitan antara PHBS..................................................................................................................... 58 KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................ 60 Kesimpulan...

......................................... 34 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan.......................................................................................... 44 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB................. 37 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat.................. 38 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air .................................................................... 34 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan ....... 35 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene .......................................... 33 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan........... 26 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin...... 45 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi ... 41 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL ........................... 21 Cara pengolahan dan analisis data . 45 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS .................... 46 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan .......................................... 23 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya..... umur dan berat badan lahir.................................................... 42 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan ........................................................... 32 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga ... 40 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban................ penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit.................................. 30 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit.............................................................................................. 31 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit......... 27 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.................................................... 32 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur...................................................... 42 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal membantu persalinan ............................................DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis dan cara pengumpulan data . 37 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan responden ........................................................... 40 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah.................................................. 31 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit .................................................... 36 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang.................................... 29 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir................................ 28 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi..................................

........... 55 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita ........................................................... 54 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS . 58 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita.................... 48 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita.... 54 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita ............................................................ 57 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita ................responden ................................................................................................. 56 40 Kaitan antara pengetahuan gizi responden dengan diare anak balita ........ 47 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita........................................... 53 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita ..... 51 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan ..................................................................................................................................... 49 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita................................................................................ 46 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita ....................................... 58 .............................................................. 50 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan............

.DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum ................ 20 ...................... 10 2 Kerangka Pemikiran PHBS.. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Kaitannya dengan Diare Anak Balita ... Pengetahuan Gizi.....................

........ 68 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel .........DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan....................................................... 67 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan................. ........................................... 67 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban benar pengetahuan gizi ......................................... kemudahan dihubungi dan cara pelayanan . jarak dan daya jangka ................ 70 ........ 67 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi........

Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam . Dari keempat faktor tersebut. tempat kerja. Badan Amerika Serikat untuk bantuan pembangunan internasional (U. AID) telah merangkum hasil dari berbagai penelitian mengenai dampak perbaikan keadaan air bersih dan sanitasi di negara-negara sedang berkembang yang menyatakan bahwa perbaikan kualitas dan kuantitas air bersih dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 37%. Selain itu. faktor lingkungan dan perilaku hidup sehat sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Serta perbaikan pembuangan tinja dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 22% (World Bank 1992 diacu dalam Irianti et al. 2002). Untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi. sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih pun sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Menurut Henrik L. Contoh perilaku tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan. gaya hidup.S. dan perilaku terhadap upaya kesehatan. kebersihan perorangan. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lingkungan (30%). Anonymous (2000) diacu dalam Sari (2004) menyatakan bahwa yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman atau perumahan. 2002). Dampak kesehatan lingkungan yang buruk adalah tingginya angka kesakitan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water related diseases) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tinja (excreta-related diseases) sepert diare. dan keturunan (20%). kulit dan hepatitis A (Cairncross dan Feachem 1993 diacu dalam Irianti et al. sekolah dan tempat umum. serta air dan udara yang bersih.PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. pelayanan kesehatan (10%). perilaku hidup sehat (40%). ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan (BPS 2002).

Bogor. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Tujuan Tujuan Umum Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kosek et al. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebesar 42-47% (Curtis dan Cairncross 2003 diacu dalam Rimbatmaja 2007). Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. dan sosial. mental. diare adalah pembunuh anak balita nomor dua terbesar setelah ISPA (Rimbatmaja 2007). pengetahuan gizi dan pola asuh yang diduga menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. memberikan makan anak. penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai aspek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). . Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan. Mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. kebersihan anak. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. secara umum lebih dari dua juta anak meninggal akibat diare setiap tahunnya. merawat anak. Di Indonesia. Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi.dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007). diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). Dalam hal ini. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan (Marotz et al. 2005). Masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat.

2. supaya lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk keberlangsungan hidup yang berkualitas. pengetahuan gizi. . pengetahuan gizi. 4. Hipotesis 1. 6. Serta bagi masyarakat Desa Cikarawang khususnya.Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk : 1. Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. 7. Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. Terdapat kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. Menganalisis kaitan antara PHBS. Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita. 2. 3. 3. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. 5. pengetahuan gizi. pengetahuan gizi. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dan bahan masukan untuk menyusun kembali perencanaan dan strategi dalam penentuan kebijakan. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Terdapat kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. pengetahuan gizi. Mengidentifikasi karakteristik keluarga. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Terdapat kaitan negatif antara PHBS. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada instansi terkait khususnya Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menindak lanjuti perihal yang menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. Mengidentifikasi PHBS. Mengidentifikasi karakteristik anak balita.

gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental dan intelektual yang lebih tinggi dengan berat badan lahir normal (Utomo 1998 diacu dalam Firlie 2001). Bayi BBLR mortalitasnya lebih tinggi.TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin Anak perempuan khususnya anak sulung diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. . Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling ideal untuk mulai memperkenalkan kepada anak tentang perilaku-perilaku dasar yang berhubungan dengan gaya hidup sehat. Sedangkan jika anak yang lahir pertama kali adalah anak laki-laki. maka mereka memiliki keistimewaan karena memperoleh pekerjaan rumah tangga yang lebih sedikit dibandingkan yang perempuan serta diberi kesempatan untuk mengabaikannya (Hurlock 1982). Orang tua harus dapat memanfaatkan rasa ingin tahu anak dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan masalah kesehatan. Berat Badan Lahir Bayi yang dilahirkan prematur atau dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terhadap mortalitas dan morbiditas akut dalam jangka panjang (Alberman 1994 diacu dalam Rahayu 2006). Orang tua harus dapat meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai isu lingkungan yang kompleks serta pengaruhpengaruhnya (Marotz et al. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian. daya tahan terhadap penyakit lebih rendah. Akan tetapi. Pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. selama tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi. 2005). kebiasaan. Umur Menurut Hurlock (1982) sikap. dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama. sangat menentukkan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi dengan berat badan lahir cukup (Alisyahbana 1983 diacu dalam Firlie 2001). keselamatan dan gizi.

tinggi badan menurut umur (TB/U). Indeks ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi underweight dan overweight. salah satunya dengan antropometri. Karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan mendadak seperti penurunan nafsu makan dan terserang penyakit infeksi. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita Menurut BPS (2002) aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk yaitu status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi. berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan bila dibandingkan tinggi badan. Riyadi (2001) menyatakan status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi (BPS 2002). Indeks BB/U mampu menggambarkan status gizi pada saat kini. Oleh karena itu. Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Oleh karena itu. berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. Status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk dan biasanya dapat dilihat melalui indikator angka kesakitan yaitu persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. maka indeks ini merupakan ineks kekurusan (wasting). penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. Menurut Riyadi (2001) berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberi gambaran tentang masa tubuh (otot dan lemak). Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini. . dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Menurut Riyadi (2001) tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang mengambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Status gizi anak dinilai dengan mengunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). Lebih lanjut Riyadi (2001) menyatakan kenaikan berat badan tiap bulan adalah indikator kesehatan anak yang paling peka. Indeks TB/U mengambarkan status gizi masa lalu (stunting). Indeks BB/TB dapat memberikan gambaran proporsi BB relatif terhadap TB.

apalagi air yang digunakan tidak dimasak sampai mendidih terlebih dahulu. yang terjadi lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari). lalat) atau oleh tangan yang kotor. Sedangkan diare akut adalah diare yang timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari. Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada anak yang lebih besar (Suharyono 1988 diacu dalam As’ad 2002). buang air besar bukan pada tempatnya dan pencemaran makanan oleh serangga (kecoa. keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia. Suharyono (1988) diacu dalam As’ad (2002) penyebab prevalensi yang tinggi dari penyakit diare di negara yang sedang berkembang yaitu kombinasi dari sumber air yang tercemar. Kuman yang paling sering menjadi penyebab diare akut pada anak yaitu Rotavirus (30. Vibrio cholera (5%). alergi terhadap susu. cacing. Selain itu. E. bakteri. Kuman-kuman tersebut ditularkan secara faecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. bahkan dapat berupa air saja. menggunakan sumber air yang tercemar.6%). sehingga akan menular. Ditinjau dari sudut patofisologi. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar juga ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). Penggunaan air yang sudah tercemar juga dijadikan media pencemaran penyakit diare. protozoa). defisiensi zat gizi yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Diare ada dua jenis yaitu diare akut dan diare kronis. (2002d) diare adalah suatu kondisi buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer. parasit (jamur. Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya. kurang gizi dan daya tahan tubuh rendah (Saroso 2007).Penyakit Diare Penyakit diare merupakan penyakit infeksi. Penyebab diare diantaranya yaitu virus.4-36. Penyakit diare dapat menular apabila adanya kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti pada makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi baik oleh serangga maupun tangan yang tidak bersih. Menurut Latifah et al. coli (20-30%). dan Shigella (2-5%). menurut Dinkes (2003) penyakit diare juga dapat ditularkan melalui beberapa cara diantaranya pemakaian botol susu yang tidak bersih. penyebab diare akut yaitu: . Salmomella (5-18%).

Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. hawa dingin. kuman-kuman patogen dan apatogen . alergi dan sebagainya. makanan yang pedas.Malabsorpsi makanan . Rumah . . Selain itu. Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk. 2.Kekurangan kalori protein dan mineral . Hal ini disebabkan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga. makanan (misalnya keracunan makanan.BBLR dan bayi baru lahir Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dengan dehidrasi. Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. gangguan syaraf.Hiperperistaltik usus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia. Kematian diare akibat dehidrasi (kehilangan banyak cairan tubuh) dapat dicegah dengan Oral Rehydration Therapy (ORT). gangguan psikis (ketakutan. Diare osmotic (Osmotic diarrhea) yang disebabkan oleh: . Diare sekresi (Secretory diarrhea) yang disebabkan oleh: .Defisiensi imun terutama Sig A (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan terjadinya pelipatgandaan bakteri atau flora usus dan jamur terutama Candida.Infeksi virus. makanan yang terlalu asam).1. Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonymous 1985 diacu dalam Harianto 2004). ORT dapat dilakukan dengan memberikan cairan (air) melalui mulut selama anak mengalami diare (Santrock 2002). gugup).

Pendidikan Orangtua Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya Pengetahuan dan terhadap perawatan formal kesehatan. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Umur Orangtua Orangtua muda terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu.yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga (Rahmawati 2006). Umur ibu berkaitan dengan pengalaman ibu mengasuh anaknya dimana ibu yang relatif muda memungkinkan ibu kurang berpengalaman dalam mengasuh anaknya (Hurlock 1993). Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan . Dengan demikian. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006). pendidikan keikutsertaan pendidikan non formal dari orang tua dan anak-anak sangat penting dalam menentukkan status kesehatan. karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik (Berg 1986). fertilitas. serta hygiene dan dalam kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga (Madanijah 2003). Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. Pekerjaan Orangtua Pada masyarakat tradisional. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat (Sukarni 1989). Menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di luar rumah. Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan.

perawatan kesehatan dan pemeriksaan. Usaha kesehatan pokok (Basic Health Services) yang diajukan organisasi kesehatan sedunia (WHO) sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat diantaranya yaitu higiene dan sanitasi lingkungan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani.sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989). Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan. Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. kesehatan dan gizi balita. Hal ini tidak terlepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak yang selalu sehat (Khomsan 2005). kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. serta pengobatan dan perawatan (Entjang 1985). rohani. terutama bagi warga kelas ekonomi bawah. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). Pada tingkat keluarga. kesejahteraan ibu dan anak. . Pendapatan Orangtua Kondisi ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga lainnya. Keluarga dengan pendapatan terbatas besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2001). Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi (Hardinsyah 1997). penurunan daya beli akan menurunkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan. Dengan demikian. dan lingkungan hidup (Entjang 1985). Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. manusia sebagai tuan rumah. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu penyebab penyakit. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). serta kualitas tumbuh kembang anak balita (Gunarsa & Gunarsa 1985). diantaranya pendidikan keluarga.

Masalah determinan kesehatan. menurut Henrik L. 2005). terutama pada aspek budaya perorangan. perilaku sehat. Kependudukan/ keturunan Lingkungan kesehatan Derajat kesehatan morbiditas dan mortalitas Program dan pelayanan kesehatan Perilaku kesehatan Gambar 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum. Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. makan dengan gizi seimbang. dan program dan pelayanan kesehatan (10%). dan pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata. 2006). menolong dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang tinggi (Sinaga et al. kelompok. . Kebijakan Indonesia sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat. memiliki akses dan menggunakan jamban. memiliki akses dan menggunakan air bersih. masyarakat yang sesuai dengan norma-norma kesehatan. 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetik dan kependudukan (20%). lingkungan kesehatan (30%). Program PHBS adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan. keluarga dan masyarakat. 1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010) (Manda et al. menghuni rumah sehat. perilaku kesehatan (40%). Menurut Depkes RI (2006) indikator PHBS antara lain mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.

menjaga kerja bakti dengan masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan. Gizi Seimbang Perilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan. menyikat gigi. hepatitis. Usaha kesehatan perorangan (personal hygiene) yaitu mandi minimal 2kali sehari. menjaga saluran air agar tidak mampet. Usaha higiene sanitasi adalah usaha kesehatan preventif (mencegah supaya tidak sakit). Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati & Yuliarsih 2002). dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan lingkungan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang 1985). memanfaatkan sarana kesehatan. diberikan saat balita (BCG. biologi. Menurut Widyati & Yuliarsih (2002) kesehatan masyarakat dibagi menjadi dua yaitu kesehatan kuratif (penyembuhan penyakit). Usaha kesehatan preventif dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1. ikut keluarga berencana dan lain sebagainya. dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. sosial. dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dan bebas dari pencemaran. 3.membuang sampah dan limbah pada tempat yang semestinya. Higiene dan Sanitasi Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yg menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. Usaha kesehatan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja). pakaian bersih. Higiene dan sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik. dan folio) untuk mencegah datangnya penyakit 2. Aneka ragam makanan yaitu makan sebanyak 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan (Dinkes DKI Jakarta 2002). Usaha pengebalan atau imunisasi. menimbang balita setiap bulan. persalinan ditolong tenaga kesehatan. sikap dan praktik keluarga yang mampu mengonsumsi makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan. Cara menjaga lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. memeriksakan kehamilan. MMR. olahraga dan lain-lain. . preventif (pencegahan penyakit).

3. telur. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. jagung. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya balita. daun katuk. dan kenyamanan manusia. seng. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir lancar. diantaranya: 1. singkong. kacang-kacangan. teraso. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. 2. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. 2) lauk pauk sebagai sumber zat pembangun seperti ikan. buncis. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan (Dinkes DKI Jakarta 2002).Kelompok bahan makanan tersebut adalah 1) makanan pokok sebagai sumber zat tenaga seperti beras. kangkung. Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. 4. pisang. Rumah Sehat Menurut Latifah et al. Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. ubi. wortel. dan 3) sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur seperti bayam. hujan dan hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan. asbes gelombang. daging. ayam. kacang panjang. jeruk. 5. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. dan kayu atau bambu. pepaya. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik dilakukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. sirap dan nipah. (2002b) rumah adalah tempat manusia berlindung dari panas terik matahari. tegel atau semen. tahu. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. nanas (Dinkes DKI Jakarta 2002). keamanan. mie. sehinga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. sawi. Rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini. tempe. semangka. daun singkong. .

Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. b. sumur yang terlindungi. 2) tangan dan tempat penampungan air bersih. dan tidak berbau. 2002b). (1997) sumber air minum yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. dan mata air yang terlindungi. 3) wadah penampung air disertai dengan tutup dan sering dibersihkan. 4) memasak air sampai mendidih sebelum diminum. air ledeng. 7. Air bersih belum tentu dikatakan sehat. Sanitasi Air Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. Syarat bakteriologis: air yang tidak mengandung penyakit. Jika anggota keluarga ada empat orang. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Menurut Subandriyo et al. maka paling sedikit harus ada satu kamar mandi.6. tidak berwarna. Selain itu. Selain itu kandang ternak harus memiliki tempat penampungan kotoran. Syarat kimiawi: tidak mengandung zat-zat berbahaya seperti zat-zat racun atau zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. 8. Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut WC atau . karena menurut Entjang (1993) untuk memperoleh air minum yang sehat dapat diperoleh melalui 1) sumber air yang bersih. Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah. Syarat fisik: syarat air yang dilihat dari fisiknya antara lain jernih. menurut Widyati & Yuliarsih (2002) air bersih dan sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi minimum 10 meter dan dinding sumur 1 meter di atas tanah dan 3 meter dalam tanah serta harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar perembesan air dari sekitar tidak terjadi. tidak berasa. 5) menggunakan alat-alat minum yang bersih (termasuk gayung sebagai alat pengambil air harus bersih). Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. c. Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi dengan jamban atau WC (Water Closet).

Sumber air limbah yaitu 1) air limbah yang berasal dari rumah tangga (air dari kamar mandi. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Tempat yang dijadikan pembuangan sampah harus jauh jaraknya dari pemukiman. 2002a). Sampah Sampah adalah segala sesuatu yang tidak terpakai lagi dan harus dibuang. juga mengandung lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit (Latifah et al. lantai yang disemen. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. pabrik kertas. dari pabrik tinta. sumur penampungan feses dan lubang resapan. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. pabrik kimia). 2002c). pijakan kaki. Jangan membiarkan sampah terlalu lama pada tempat pengumpulan sampah dan sebaiknya tidak melebihi 3x24 jam (Widyati & Yuliarsih 2003). tidak boleh mengotori sumber air minum seperti mata air atau sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci serta tidak pada tempat yang sering terkena banjir (Latifah et al. Kotoran-kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan (Depkes RI 1995 diacu dalam Amperansyah 1999). kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. tidak pada tempat yang sering digunakan orang untuk lalu lintas. Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Menurut Latifah et al.kakus. kloset (lubang tempat masuk feses). Bahaya sampah yang tidak ditangani dengan baik mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. 2) air limbah yang berasal dari perusahaan atau pusat perdagangan (air buangan dari hotel. dari restoran dan dari kolam renang). air buangan dapur. . pabrik cat. Tinja dari jamban dalam kamar mandi harus disalurkan melalui pipa dan ditampung di tangki septik (Latifah et al. pabrik baja. dan 3) air limbah yang berasal dari industri atau pabrik (air buangan dari pabrik tahu dan tapioka. 2002c). Menurut Sukarni (1989) sarana pembuangan kotoran harus memenuhi persyaratan yaitu bangunan jamban harus mempunyai rumah kakus. air bekas mencuci pakaian).

Menurut BPS (2005) pada tahun 2005 secara umum persalinan . tidak menjadi tempat berkembang biak serangga perantara penyakit (lalat dan nyamuk) dan tidak menimbulkan bau dan merusak pemandangan (Latifah et al. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat tergantung oleh keadaan ekonomi. 2002c). maka pelayanan kesehatan tersebut akan mahal. Menurut BPS (2002) fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan oleh penduduk desa untuk berobat adalah Puskesmas. petugas kesehatan dan praktek dokter. antara lain sistem pelayanan yang ada selama ini belum diterima oleh masyarakat. Sedangkan. biasanya digunakan untuk membuang air limbah yang berasal dari industri/pabrik dan peternakan atau rumah pemotongan hewan (Latifah et al. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua yaitu pelayanan kesehatan tradisional dan pelayanan kesehatan modern. Berdasarkan hasil penelitian Sirajudin (1981) diacu dalam Herman (2005) masyarakat lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat belum optimal. 2002c). Hal ini menurut Sukarni (1994) disebabkan oleh beberapa hal.Syarat-syarat pembuangan air limbah diantaranya tidak mengotori sumber air bersih. oleh karena itu sulit memenuhi tiga syarat tersebut. Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak dan belum seluruh Puskesmas dipimpin oleh dokter. pembuangan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. Untuk memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keterjaminan mutu. secara ekonomis. sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin. jarak fisik dan sarana perhubungan yang tidak lancar antara pusat pelayanan kesehatan dengan tempat tinggal penduduk. lokasi pusat-pusat pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak atau lebih banyak berada di kota-kota besar. Ada dua jenis sistem pembuangan air limbah yaitu menyalurkan air limbah tanpa diolah sebelumnya dan menyalurkan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat pendapatan perkapita keluarga. Penyaluran air limbah tanpa diolah dapat dilakukan dengan menggunakan tanki septik dan sistem riol.

dan mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut (Dinkes DKI Jakarta 2002). akan tetapi disebabkan oleh kemiskinan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan keluarga khususnya anak-anak. mencegah ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan. Kegunaan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita. Pola Asuh Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi.balita ditolong oleh tenaga medis diantaranya oleh dokter. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan yaitu mengikuti perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga. terutama bayi. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. Mendidik menyangkut pola ajar (proses sosialisasi). Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Pengetahuan Gizi Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan adalah hasil dari tahu. bidan dan tenaga medis lainnya. balita dan ibu hamil. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau tenaga bukan medis lainnya. pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. mencegah memburuknya keadaan gizi. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa balita. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata dan telinga. Cicely William diacu dalam Berg (1986) melaporkan studi di Afrika Barat bahwa gizi kurang tidak terjadi karena kemiskinan harta. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nutrition Assesment Educational Project di Washington (1999) diacu dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa rendahnya perhatian terhadap masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan atau pemahaman tentang gizi yang baik. . mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Persalinan oleh dokter.

Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan (Hardinsyah & Martianto 1992). Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. kesehatan anak. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. dan sosial. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran kepada anak mengenai isu-isu lingkungan. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. Marotz et al. maka ibu dengan mudah memberikan makan kepada anaknya dan dapat merasakan bahwa situasi waktu makan adalah saat-saat yang mambahagiakan (Tambingon 1999). Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) pada usia anak di bawah lima tahun merupakan masa yang . dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. melalui berbagai bentuk interaksi antara ibu dan anak. perumahan. stimulasi dini. memberikan makan anak. Hikmat & Soemartono 2000 diacu dalam Adnyadewi 2004). Pada usia pra sekolah. (2005) menyatakan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. kebersihan anak. Membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. merawat anak. Menurut Hurlock (1982) penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. mental. sanitasi lingkungan dan lainnya (Soendjojo. Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada anak balita yaitu gizi anak. imunisasi. anak-anak sering mengalami fase sulit makan. Dalam hal ini. keluarga berencana. Pola Asuh Makan Pola asuh makan adalah praktik yang diterapkan ibu khususnya yang berkaitan dengan situasi dan cara makan.pengertian dan perasaan serta keterampilan dan pengetahuan. Pola asuh dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Masalah makan pada anak dapat terjadi karena anak meniru pola makan orang tuanya yang makan pada saat menjalani diet untuk menurunkan berat badan (Khomsan 2004).

Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. hal ini terlihat dari banyaknya orang yang terkena penyakit karena tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995 diacu dalam Rahayu 2006). Perawatan kesehatan anak balita akan mempengaruhi tingkat morbiditasnya. Selain itu. Ketika anak sedang makan. suasana makan haruslah menyenangkan sehingga anak tidak seperti pesakitan di meja makan. Sedangkan ayah berperan dalam hal interaksi sosial dan mengajarkan norma budaya kepada anak baik laki-laki maupun perempuan yang ada di lingkungannya (Santrock 2002). Pendidikan dan kekuasaan orang tua mampu meningkatkan kemampuan pengasuhan dan perawatan anak dengan lebih baik dalam suatu keluarga (Aronson 1991). Menurut Khomsan (2004) orang tua yang pilih-pilih makanan (picky eaters) dan tidak suka sayur secara tidak langsung akan menyebabkan anak berperilaku makan seperti orang tuanya. . Higiene diri sangat penting diketahui dan dipraktikan oleh setiap orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat. Oleh karena itu. orang tua jangan terlalu banyak memberi nasehat. perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. Pola Asuh Kesehatan Menurut Rahayu (2006) pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena ia belum sanggup untuk merawat dirinya sendiri. artinya sangat tergantung dari diri sendiri yang praktiknya harus diketahui. Anak seyogiayanya diberi kesempatan untuk memilih makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari orangtua. kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. dimengerti.tergolong rawan. Mengingat bayi dan anak adalah individu pasif. dan dilaksanakan oleh setiap individu (Suklan 2000 diacu dalam Rahayu 2006). Anak balita yang tidak terawat baik fisik maupun makanannya akan mudah terserang penyakit. Higiene diri adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis. terutama oleh orang tuanya (Depkes RI 1997 diacu dalam Rahayu 2006). Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. Ibu berperan secara konsisten bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan perawatan fisik anak. kondisi fisik masih lemah. maka penjagaan kesehatannya merupakan tanggungjawab individu dewasa di sekitarnya.

Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik. Penyakit diare yang diderita oleh anak balita akan mempengaruhi status gizinya. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Menurut Madanijah (2003) pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. higiene dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. . dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). Mengingat anak balita merupakan kelompok individu pasif dan merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makan bagi anak balita. sehingga akan berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. Dari keempat faktor tersebut. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). Masalah kesehatan merupakan masalah yang komplek karena terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. perilaku kesehatan serta pelayanan kesehatan. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetika dan kependudukan. Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. Menurut Henrik L. lingkungan kesehatan. PHBS yang disertai dengan pengetahuan gizi yang baik mampu membentuk perilaku yang baik pula. Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. rohani.KERANGKA PEMIKIRAN Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Oleh karena itu. faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Anak balita yang tidak terawat baik fisik mapun makannya akan mudah terserang penyakit infeksi contohnya diare. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani.

Umur Orangtua .Pola Asuh Makan .Karakteristik Keluarga .Pekerjaan Orangtua .Umur . pengetahuan gizi.Pendidikan Orangtua .Pola Asuh Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu Status Gizi Anak Balita Diare Anak Balita Keterangan: = Variabel yang diteliti = Hubungan yang dianalisis Gambar 2 Kerangka pemikiran PHBS.Berat Badan Lahir Pola Asuh . . pola asuh makan dan pola psuh kesehatan kaitannya dengan diare anak balita.Besar Keluarga .Jenis Kelamin .Pendapatan Keluarga Pengetahuan Gizi Ibu Karakteristik Anak Balita .

Berat badan lahir BB/TB BB/U TB/U Pernah/tidak sakit Frekuensi sakit Lama sakit Besar keluarga Umur orang tua Pendidikan orangtua Pekerjaan orangtua Pendapatan keluarga Jenis data Primer. KMS Kuesioner. Kecamatan Darmaga. observasi Pengisian kuesioner Wawancara Monografi Desa Cikarawang Kuesioner 5 6 7 8 Primer Primer Primer Sekunder Kuesioner Kuesioner Kuesioner . Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Desa Cikarawang.Jenis kelamin .Umur . timbangan injak dan mikrotoa Kuesioner 2 3 Primer Wawancara 4 Primer Wawancara Wawancara. Menurut Nasution (2003) jumlah sampel 10% dari total populasi dianggap cukup memadai dalam sebuah penelitian. pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga).METODE PENELITIAN Desain. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang. umur. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. status gizi dan kesehatan anak balita. karakteristik keluarga (besar keluarga. sekunder Primer Cara pengumpulan data Wawancara Wawancara dan antropometri Alat ukur Kuesioner. Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data No 1 Variabel Karakteristik anak balita Status gizi anak balita Status kesehatan (diare anak balita) Karaktersitik keluarga PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh Lokasi penelitian Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Data . Kabupaten Bogor. pendidikan. Berdasarkan Tabel 1 data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008. Desa Cikarawang. Tempat dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional study yaitu data diambil pada waktu tertentu secara bersamaan. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder.

Selain itu, data primer juga meliputi PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS (Tabel 1). Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Program komputer yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for Window versi 11,5. Status gizi anak balita dikategorikan menjadi gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (zscore -2SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Sedangkan status kesehatan diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, jenis penyakit, frekuensi dan lama sakit selama tiga bulan terakhir (Tabel 2). Total skor PHBS dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu PHBS rendah (24-38), PHBS sedang (39-53) dan PHBS tinggi (54-67). PHBS aspek pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan, kunjungan ke pelayanan kesehatan, persepsi jarak, persepsi daya jangkau, akses terhadap sumber informasi, persepsi terhadap kemudahan petugas kesehatan, serta persepsi cara pelayanan petugas kesehatan disajikan dalam bentuk deskriptif (Tabel 2). Pengetahuan gizi dinilai dengan pemberian skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Menurut Khomsan (2000) jawaban pengetahuan gizi diklasifikasikan ke dalam 3 kriteria, yaitu pengetahuan gizi baik (>80%), pengetahuan gizi sedang (60%-80%) dan pengetahuan gizi kurang (<60%) (Tabel 2). Data pola asuh makan diperoleh dengan memodifikasi kuesioner dari penelitian yang telah dilakukan oleh Khairunnisak (2004) yaitu dengan memberikan 16 pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Data pola asuh kesehatan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup sebanyak 24 pertanyaan. Total skor dari pertanyaan tersebut dikategorikan

menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72). Tabel 2 Cara pengolahan dan analisis data
No Variabel Sub Variabel a. Jenis kelamin b. Umur (bulan) • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kategori ≤23 24-36 ≥37 (Turner & Helms 1991) BBLR (<2,5) Non BBLR (≥2,5) Gizi kurang (z-score <-2SD) Gizi normal (z-score -2SD-+2SD) Gizi lebih (z-score >+2SD) 1 2 ≥3 1-3 4-7 8-14 >14 Remaja (13-19) Dewasa muda (20-30) Dewasa madya (31-50) (Turner & Helms 1991) Kecil (≤4) Besar (>4) Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi Buruh tani/kebun Petani pemiliki Pedagang/wiraswasta Pegawai negeri/swasta Jasa angkutan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Ibu Rumah Tangga (IRT) Lainnya ≤Rp 100 000.00 Rp 100 001.00-150 000.00 >Rp 150 000.00 Rendah (24-38) Sedang (39-53) Tinggi (54-67) (Subandriyo et al. 1997) Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) (Khomsan 2000) Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) (Slamet 1993) Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (57-72) (Slamet 1993)

1

Karakteristik anak balita

c. Berat badan lahir (kg) 2 Status gizi anak balita BB/TB, BB/U, TB/U a. Pernah/tidak sakit b. Frekuensi sakit (kali/3 bulan)

3

Status kesehatan anak balita (diare)

c. Lama sakit (hari)

a. Umur orangtua (tahun)

b. Besar keluarga (orang)

c. Pendidikan orangtua 4 Karakteristik keluarga

d. Pekerjaan orangtua

e. Pendapatan keluarga

5

PHBS ibu

6

Pengetahuan gizi ibu

a. Pola asuh makan 7 Pola asuh b. Pola asuh kesehatan

Definisi Operasional Contoh adalah anak yang berada pada golongan usia satu sampai dengan lima tahun yang akan diamati status gizi dan status kesehatannya khususnya diare. Status gizi anak balita adalah kondisi kesehatan tubuh anak balita yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diperoleh dengan menggunakan metode antropometri. Indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB, BB/U, dan TB/U. Status gizi dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan perhitungan zskor yaitu gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (z-score -2 SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Status kesehatan anak balita adalah kondisi kesehatan (riwayat sakit) anak balita dalam tiga bulan terakhir yang meliputi jenis penyakit, frekuensi sakit (berapa kali sakit) dan lama sakit (dalam hari) dengan menggunakan kuesioner. Diare pada anak balita adalah kejadian buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari pada anak balita. Besar keluarga adalah banyaknya orang yang tinggal (hidup) di bawah satu atap yang sama dan makan dari satu dapur yang sama. Pendidikan orang tua adalah lama pendidikan formal (pendidikan terakhir) ayah dan ibu, diklasifikasikan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi (PT). Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dimiliki ayah dan ibu yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi buruh tani atau kebun, petani pemilik, pedagang atau wiraswasta, pegawai negri/swasta, jasa angkutan, Pembantu Rumah Tangga (PRT), Ibu Rumah Tangga (IRT). Pendapatan perkapita perbulan adalah jumlah pendapatan yang dinilai dengan uang (rupiah) perbulan yang dibagi dengan besar keluarga dan diklasifikasikan menjadi <Rp100 000.00, Rp100 001.00-150 000.00 dan >Rp150 000.00. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu adalah tindakan atau aktivitas ibu tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Berdasarkan

rumus interval total skor PHBS diklasifikasikan menjadi rendah (2438), sedang (39-53) dan tinggi (54-67). Pengetahuan gizi ibu adalah pengetahuan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan meliputi definisi dan fungsi zat gizi, sumber pangan dengan kandungan zat gizi tertentu, akibat defisiensi zat gizi, akibat mengonsumsi makanan yang tidak bersih, waktu pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, definisi dan pencegahan diare, serta penanganan saat anak balita mengalami diare. Pengetahuan gizi diklasifikasikan menjadi tiga menurut Khomsan (2000) yaitu baik (>80%), sedang (60%-80%) dan kurang (<60%). Pola asuh makan adalah cara dan kebiasaan ibu dalam memenuhi kebutuhan makan anak balita yang meliputi riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Pola asuh kesehatan adalah cara dan kebiasaan ibu memperlakukan anak balita dalam penerapan kebersihan diri dan perilaku kesehatan lingkungan. Total skor dari aspek pola asuh kesehatan yaitu 24-72 yang dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72).

sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Cisadane-Ciapus dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situ Gede. Tempat peribadatan (masjid.070 52. Perkantoran b. Sawah pasang surut Perkebunan a. Jarak dari desa ke ibukota kecamatan adalah sejauh 3 km dan dapat ditempuh selama setengah jam. masjid. kuburan. jalan. Empang/tebat Total Sumber: Data dasar profil desa 2007/2008 Luas ha 0 25.35 2.800 4. Tabel 3 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya Penggunaan Pertanian Sawah a. Sedangkan dari desa ke ibukota kabupaten sejauh 35 km dan dapat dicapai selama dua jam. Kolam c. Tambak b.0 0. Lain-lain Perikanan Darat/Air Tawar a.19 0. Sawah tadah hujan d. Pasar e.54 0. pertanian sawah.007 0. Perkebunan rakyat b. dll) g. Perkebunan Negara c.510 225. Pertokoan/perdagangan d.073 2 0. .32 8. bangunan-bangunan (sekolah. Terminal f.925 0 0 0.430 0 0 0 0. Sekolah c. Sawah pengairan teknis (irigasi) b.23 33.455 75. gereja. dan lain sebagainya (Tabel 3).0 0. Perkebunan swasta Pemukiman Umum Bangunan a.0 0.03 0. perkebunan. perkantoran. dan lain-lain).84 % 0. vihara.86 0.0 0.10 23. Sawah pengairan setengah teknis c.HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian Berdasarkan data dasar profil desa tahun 2007/2008 luas wilayah Desa Cikarawang yaitu 225.18 0.0 16.260 18.0 0.22 100.075 0.0 Batas wilayah Desa Cikarawang yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cisadane.88 0. sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Ciapus. 84 ha. Kuburan/makam h.016 0.226 8 0 38. Jalan i.07 3. Desa Cikarawang merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 700 m dpl.0 11. pura. yang dipergunakan untuk pemukiman umum.

sisanya berada di Kampung Carang Pulang. fasilitas penyediaan air bersih di Desa Cikarawang sebagian besar berasal dari sumur pribadi atau mata air pribadi. Jumlah penduduk Desa Cikarawang seluruhnya adalah sebanyak 8 175 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2 000 KK. Kedua belas bangunan MCK yang dibangun tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. hanya sepuluh bangunan MCK yang sudah ditembok rapi dan sisanya belum ditembok. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan aparat desa. Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya masyarakat . sampai saat ini Desa Cikarawang telah memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang diperuntukkan bagi masyarakat secara umum di dua belas tempat. tujuh Rukun Warga (RW) dan 32 Rukun Tetangga (RT). keluarga sejahtera I (700 KK). Namun. dan Dusun III terdiri dari RW 5. Kedua belas MCK tersebut dibangun berdasarkan bantuan pemerintah daerah Kabupaten Bogor (PKPS BBMIP) tahun 2005.Desa Cikarawang terdiri dari tiga Dusun. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Cikarawang paling banyak berada pada golongan usia anak balita. Tabel 4 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin Umur (Tahun) 0-5 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 Jumlah Laki-Laki 443 408 392 379 389 398 304 311 261 215 183 158 189 144 4 174 Perempuan 515 366 389 369 374 378 285 288 251 193 160 141 147 145 4 001 Jumlah 958 774 781 748 763 776 589 599 512 408 343 299 336 289 8 175 Sumber : Data dasar profil desa 2007/2008 Penggolongan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga dibagi ke dalam empat kelompok yaitu keluarga pra sejahtera (900 KK). dan keluarga sejahtera III (100 KK). Selain itu. keluarga sejahtera II (300 KK). Dusun I terdiri dari RW 1 dan 2. RW 1 dan 2 berada di Kampung Cangkrang. Dusun II terdiri dari RW 3 dan 4. 6 dan 7.

Tabel 5 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.6 100.1 100.1%) berjenis kelamin perempuan.5 Total n 19 37 56 18 22 16 56 2 54 56 % 33.0 32.3 28.1 39.3%) berkisar antara 24-36 bulan. Menurut Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) bayi dengan BBLR memiliki mortalitas lebih tinggi dan daya tahan terhadap penyakit lebih rendah serta pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi yang memiliki berat badan lahir cukup. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh anak balita (66.6% anak balita memiliki Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat badan <2. cuci dan kakus. mandi. Berdasarkan Tabel 5.6 96.4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2. Karakteristik Anak Balita Karakteristik anak balita dalam penelitian ini menjelaskan mengenai jenis kelamin. sebagian besar anak balita (96.0 .5 kg.9 66.2±11.1±0.4 kg.5 ≥2.1%) dan berumur ≥37 bulan (28.5 kg). Proporsi terbesar umur anak balita (39. sebanyak 3. Berat badan lahir anak balita berkisar antara 2-4 kg dengan rata-rata 3. sisanya berumur ≤23 bulan (32. Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari Puskesmas Cangkurawok bahwa proporsi anak balita yang berjenis kelamin perempuan di Kampung Carang Pulang lebih banyak dibandingkan laki-laki.4 100. umur dan berat badan lahir Karakteristik Anak balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Umur (bulan) ≤23 24-36 ≥37 Total Berat Badan Lahir (kg) <2.0 3. Akan tetapi.yang menggunakan air sungai/hujan/sumur dan mata air yang tidak terlindungi sebagai sumber air minum.7 bulan.6%). dan berat badan lahir. umur.

Tabel 6 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih Total n 3 52 1 56 BB/TB % 5. proporsi terbesar anak balita (57. Berbeda halnya dengan status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U.1%) termasuk ke dalam status gizi rendah.4% anak balita memiliki status gizi kurang dan 1.8%) termasuk ke dalam status gizi normal dan 23.8 24 42. Hiswani (2003) menyatakan bahwa masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan . Berdasarkan indeks BB/U sebagian besar anak balita (76. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini (Riyadi 2001). Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek dibandingkan dengan berat badan. salah satunya dengan antropometri. Menurut Riyadi (2001) dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur.0 56 100.8 100.0 0 0. Riyadi (2001) menyatakan bahwa indeks BB/U sebagai indikator status gizi mampu menggambarkan status gizi pada masa kini.Status Gizi dan Kesehatan Anak balita Status Gizi Anak balita Berdasarkan perhitungan z-score indeks BB/TB pada Tabel 6 sebagian besar anak balita (92. Sisanya sebanyak 5.2% berstatus gizi kurang (Tabel 6).1 43 76.4 92.0 Status gizi erat kaitannya dengan penyakit infeksi.9%) memiliki status gizi yang tergolong normal. sisanya 42.2 32 57.0 Indeks Antropometri BB/U TB/U n % n % 13 23. Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. WHO (1983) diacu dalam Riyadi (2001) interpretasi status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal.9 0 0.9% berstatus gizi normal. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. Berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan apabila dibandingkan tinggi badan. dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. penyerapan.9 1.0 56 100.8% berstatus gizi lebih.

Jenis penyakit yang paling banyak dialami anak balita selama tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 yaitu panas (71.05). perumahan. Oleh karena itu.masalah penyakit infeksi. Anak-anak yang kurang gizi menyebabkan rusaknya sistem imun sehingga mudah terkena penyakit.9% anak balita tidak mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Tabel 7 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir Status Kesehatan Sakit Tidak Sakit Total N 51 5 56 % 91.2%) dan diare (46. Status Kesehatan Anak balita Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi. . imunisasi. ISPA (73. Penyakit kulit yang dialami anak balita antara lain panu. stimulasi dini.4%). Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa hampir seluruh anak balita (91.9 100 Menurut Soendjojo. Anak yang mengalami gizi kurang memiliki kesempatan lebih besar menderita penyakit infeksi terutama penyakit diare. Hikmat & Soemartono (2000) diacu dalam Adnyadewi (2004) untuk meningkatkan status kesehatan anak balita diperlukan suatu perhatian dalam hal gizi. Menurut BPS (2002) status gizi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk. sanitasi lingkungan dan lainnya. keluarga berencana. kesehatan.1 8. borok dan alergi terhadap beberapa jenis pangan seperti ikan asin. bisul. kurap. Tabel 8 menunjukkan bahwa penyakit yang tidak pernah dialami seluruh anak balita adalah campak.4%). status gizi yang baik akan mempengaruhi status kesehatan seseorang.1%) mengalami sakit dan hanya 8. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0. Aritonang (1996) dan Victoria et al (1999) diacu dalam Briawan & Herawati (2005) menyatakan kurang gizi adalah faktor pra kondisi yang memudahkan anak menderita penyakit infeksi khususnya infeksi saluran pernapasan dan diare.

0 14 35.0 1.4%) dan kulit (5. Anak balita adalah individu pasif.1%).7 3.0 19. Mandi minimal 2 kali sehari dengan menggunakan air bersih dan sabun merupakan salah satu cara agar terhindar dari penyakit kulit.7 0.5 1 50.0 0 0.7 2 100. Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya Frekuensi Sakit (kali) 1 2 % N % n 35.4 46.6 0.1 7 12. Sebagian besar anak balita menderita penyakit panas sebanyak 1-2 kali (35%).0 0 32.0 0 ≥3 % 30.0 5.0 12 23. ISPA (44.3 0. ISPA 2 kali (30.0 0.0 1 16. tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya.0 0 0.4 73.0 N 14 13 0 3 18 3 2 Tabel 10 menunjukkan sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu panas (57. sehingga yang bertanggungjawab dalam hal kebersihan diri adalah orang dewasa khususnya ibu dari anak balita.2 3.4%). Penyakit kulit erat kaitannya dengan kebersihan diri seseorang.6%). Sedangkan frekuensi untuk jenis penyakit lainnya adalah 1 kali (Tabel 9). diare (30.Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit Jenis Penyakit Panas ISPA TBC Campak Cacar Diare Kulit Lainnya n 40 41 2 0 3 26 6 2 % 71.4 10.4%) dan diare 1 kali (32. .8 33.2 17 30.1%).0 0 100.6 Frekuensi sakit anak balita selama tiga bulan terakhir cukup bervariasi.0 0 0.4 11 0.

0 0. frekuensi penyakit TBC tidak diikut sertakan dalam tabel frekuensi sakit (Tabel 9) dikarenakan penyakit tersebut sudah berlangsung cukup lama yaitu selama 32 hari dan saat penelitian dilaksanakan penyakit tersebut masih diderita kedua anak balita. Lama hari penyakit TBC lebih dari 14 hari.0 0 0.Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama hari sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya 1-3 N 32 25 0 0 17 3 1 % 57.7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Seorang anak akan memperoleh hubungan antar pribadi pertama kali dalam lingkungan .4 5. Keluarga sangat tergantung dengan dan juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (mikro.0 0. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden (60. Karakterisitik Keluarga Contoh Besar Keluarga Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3-10 orang dengan ratarata 5.0 1.6 0. TBC termasuk ke dalam jenis penyakit ISPA yang bersifat kronis. Responden menyatakan untuk penyakit TBC.0 0.0 0.4 0.7 100.0 0.8 1. meso dan makro).0 0.8 3.8 Selain jenis penyakit di atas.2 3 5. Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga Kecil (≤4 orang) Besar (>4 orang) Total n 22 34 56 % 39.3 60. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.6 0 0.0 1.8 23.0 >14 n 0 0 0 0 0 1 1 % 0.1 44.0 30.3±1.3 1 1. kedua anak balita sedang melakukan pengobatan rutin sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter hingga benar-benar kedua anak balita tersebut dinyatakan sembuh.8 orang.8 2 3.6 14.5 1 1.0 0 0.4 1.0 Puspitawati (2007) menyatakan keluarga merupakan salah satu lembaga sosial yang tidak dapat berdiri sendiri.8 n 7 13 0 1 8 2 0 Lama Sakit (hari) 4-7 8-14 % n % 12.

1 39.8%) yaitu SD/sederajat. Tabel 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Tabel 13.6% ) berumur antara 20-30 tahun. sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. Menurut Hurlock (1993) orang tua muda. tingkat pendidikan ayah lebih tinggi dibandingkan dengan ibu.6 23.0±6.3%) maupun ibu (44.0 n 18 25 13 56 Ibu % 32. proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35. Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Suhardjo (1989) menyatakan bahwa besar keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi sedangkan menurut Suharini (1998) diacu dalam Madihah (2002) bahwa jumlah anggota keluarga yang besar disertai dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga menderita kurang gizi.8% ibu yang berpendidikan akademi/diploma/PT. Tabel 12 menunjukkan bahwa proporsi terbesar baik ayah (39. Umur Orang Tua Umur ayah berkisar antara 23-50 tahun dengan rata-rata 33.6 100. Secara keseluruhan tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu masih rendah karena keduanya masih banyak yang berpendidikan SD/sederajat dan hanya 3. Ayah n 18 22 16 56 % 32.6% saja ayah dan 1.7±5. Selain itu. Jumlah keluarga yang banyak dapat mempengaruhi kondisi gizi dan kesehatan dari anggota keluarga. Sedangkan umur ibu berkisar antara 19-47 tahun dengan rata-rata 27.7 tahun.8 tahun.0 .1 44. sedangkan ibu (51.keluarga. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989).3 100. cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak. terutama ibu. Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa muda (Turner & Helms 1991).7%) yaitu SLTA/sederajat.3 28.

Selain itu.6 35.Tabel 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Ayah n 18 16 20 2 56 % 32. Tabel 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan Buruh tani/kebun Pedagang/wiraswasta Pegawai negri/swasta Jasa angkutan PRT IRT Lainnya Total Ayah n 10 8 19 16 0 0 3 56 % 17.8 0.4 100. fertilitas. Dengan demikian.7 10.7 3.7 1. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.8 35.0 5.6 0. Sedangkan.0%) tidak bekerja atau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT).9%) dan jasa angkutan (28.0 0.0 12. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga. Oleh karena itu.9 28. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa proporsi terbesar tingkat pendidikan ibu (51. menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di .1 28.0 Menurut Sukarni (1989) pendidikan orang tua akan menentukan status kesehatan.7 75. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi daripada yang berpendidikan rendah.0 n 0 7 1 0 6 42 0 56 Ibu % 0.9 14.8 100.8%) adalah SD/sederajat. secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimilikinya. sebagian besar ibu (75.3 33.0 100.0 n 29 20 6 1 56 Ibu % 51.6%).0 0.6 100.0 10.5 1. Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta (33.0 Menurut Rahmawati (2006) pada masyarakat tradisional.

garis kemiskinan untuk Kabupaten Bogor yaitu Rp150 000. . Menurut BPS (2005). Kebiasaan mandi minimal dua kali dalam sehari merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Dengan demikian. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007).00±Rp597 650.00.9% berpendapatan <Rp100 000. Sebanyak 23.00.2 58. Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga perbulan berkisar antara Rp300 000.8.3.0 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Higiene Tabel 16 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (58.9. Rata-rata pendapatan perkapita perbulan responden yaitu Rp210 113.00 dengan rata-rata Rp1 073 393.00 sampai Rp2 620 000. Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan (Rp/kap/bln) <100 000. lebih dari separuh responden (58. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh responden (58.00±Rp106 712. Kebiasaan menggosok gigi merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari penyakit khususnya sakit gigi.luar rumah.00.00. Proporsi terbesar responden (55. Sukarni (1989) menyatakan bahwa pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan.9 100.00-150 000.00 Total n 10 13 33 56 % 17.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar >Rp150 000.4%) menggosok gigi dua kali setiap harinya.00-Rp150 000.00/kapita/bulan.00 >150 000.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas garis kemiskinan.9 23.9%) selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar serta melakukan aktivitas mandi dua kali setiap harinya.00 100 001.2% responden memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar Rp100 001.00 dan sebanyak 17.

Frekuensi responden membersihkan kamar mandi dalam satu minggu terlihat pada Tabel 16 yaitu satu kali (32. salah satu cara untuk menurunkan tingkat kesakitan khususnya diare pada diminum.7 67.7%. tidak memasak air b. memasak tetapi tidak sampai mendidih c. akan tetapi masih ada responden yang melakukan aktvitas mencuci di sungai yaitu sebanyak 21.0 55. kadang-kadang c.0 58. 3 kali Memasak air untuk minum a. dua kali (30.0 32. Oleh karena itu. Tidak b.1 0. kamar mandi pribadi n 1 22 33 0 33 23 0 31 25 0 0 56 18 17 21 12 6 38 % 1.9 41. 1 kali b.1 30.4 37. 2 kali/hari c. 2 kali c.8 39.5 21. 1 kali b.5%). memasak sampai mendidih Membersihkan kamar mandi dalam seminggu a. Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene PHBS aspek Higiene Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar a.4% dan di kamar mandi umum sebanyak 10.1%).6 0. ≥ 3 kali Melakukan aktivitas mencuci a.4 10.0 100. kamar mandi umum c. 2 kali c.9 0. ya Kebiasaan mandi dalam sehari? a.3 58.9 anak balita dapat dilakukan dengan membiasakan memasak air sampai mendidih sebelum .0 0. 1 kali/hari b. Menurut Suririnah (2007) air yang tidak dimasak sampai mendidih maka akan menjadi media pencemaran untuk penyakit diare.9%) melakukan aktivitas mencuci di kamar mandi pribadi.Tabel 16 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum.4%) dan ≥ tiga kali (37. ≥ 3 kali/hari Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari? a.4 44. Lebih dari separuh responden (67. sungai b. dengan alasan agar terhindar dari penyakit khususnya sakit diare karena kuman dalam air tersebut mati.

0 90. besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. sebanyak 6. sayur c. protein hewani Nasi.1 89.6 yang selalu menyediakan menu makan keluarga secara beragam (nasi. Tabel 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan per kapita perbulan responden Menu Makan Keluarga Nasi.8 6. sayur dan buah Berdasarkan Tabel 18. nasi. protein nabati dan sayur Nasi. sayur dan buah Total Pendapatan Perkapita Perbulan (Rp/Kap/Bln) 100 001. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.1 84.0 0.0 100.3 3.0 0. Hanya 3.00 000. lauk pauk. nasi.0 3 28 2 33 9.3%) menyatakan bahwa menu makan yang biasa disajikan untuk keluarga yaitu makanan pokok.3 3.00-150 <100 000.1 100.0 Total n 4 50 2 56 % 7. nasi. sayur dan buah) adalah berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan >Rp150 000.00 >150 000. sayur dan buah.0 100. Keluarga dengan pendapatan terbatas.0 0 13 0 13 0.6 100. lauk pauk.Gizi Seimbang Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 sebagian besar responden (89. lauk pauk.00 N % n % n % 1 9 0 10 10. protein nabati dan sayur. Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang PHBS aspek gizi seimbang Menu makan keluarga sehari-hari a. lauk pauk.0 100.1% n 4 50 2 responden % 7.00 atau di atas garis kemiskinan menurut BPS Kabupaten Bogor tahun 2005. protein nabati. protein hewani b.0 Mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik untuk keberlangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). Kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang .1 89.6% responden yang biasa menyediakan menu makan beragam yaitu nasi.

<10 m dari rumah b. tegel atau semen. Hasil penelitian .9. Rumah Sehat Tabel 19 memperlihatkan bahwa separuh responden (51.8 0 3. beton/genteng Dinding rumah a. sehingga Menurut memudahkan Notoatmodjo (1997) rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit. tidak ada b. ada. tertutup c. terbuka Atap rumah a. kayu/ bambu c.7 3. Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah et al.5. <7.4 94.0 m2 perkapita. seluruhnya tanah/lainnya b. seng/asbes/kayu c. >10 m dari rumah c.8%) memilik luas hunian ≥10. teraso. tidak punya n 6 21 29 0 2 54 1 39 16 0 2 54 0 3 53 20 2 34 % 10. BPS (2004) menyatakan bahwa salah satu indikator rumah sehat menurut WHO adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 m2 perkapita.4 1. kayu c.6 28.beraneka ragam yaitu akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita (Dinkes DKI Jakarta 2002).8 69. 7. Luas hunian yang tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga menyebabkan penularan pertukaran penyakit oksigen diantara kurang anggota optimal keluarga.7 Tabel 19 menunjukkan sebagian besar jenis lantai rumah responden (96. Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat PHBS aspek rumah sehat Luas hunian a.4 0 5. tembok Letak kandang ternak a. ≥10. marmer/keramik/ubin/tegel/ teraso/semen Jendela rumah a.6 96.9 m2 c.6 35. ada. (2002b) bahwa salah satu syarat rumah sehat yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik.6 60.5 51.0 m2 Jenis lantai rumah a.6 96. bambu/lainnya b.7 37.6 0 3.4%) adalah berjenis marmer/keramik/ubin/tegel/teraso/semen.5 m2 b. dan kayu atau bambu. ijuk/daun-daunan/lainnya b.

Air yang digunakan sehari-hari harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan. Lebih dari separuh jendela responden (69. Sumber air minum yang digunakan sebagian besar responden (78. Serta dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. Lebih dari separuh responden (60.6% dinding rumah responden berupa tembok (Tabel 19). (2002b) menyatakan fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. asbes gelombang. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al.7% responden memiliki kandang ternak dengan jarak antara kandang ternak dengan rumah yaitu <10 m (Tabel 19). Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran responden dalam menjaga kenyamanan serta kebersihan rumah masih rendah. (2002b) lantai rumah berupa tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut.7%) tidak memiliki kandang ternak dan sebanyak 35. (2002b) atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. Menurut Latifah et al. seng. (2002b) syarat rumah sehat lainnya yaitu kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya.menunjukkan bahwa tidak ada satu responden pun memiliki jenis lantai rumah berupa tanah. (2002b) air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. Keberadaan kandang ternak di sekitar rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan karena memudahkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kotoran ternak. (1997) menyatakan bahwa sumber air minum yang . 2002b). Menurut Latifah et al. Sanitasi Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia.6%) berada dalam keadaan tertutup (Tabel 19).6%) yaitu ledeng/sumur terlindung/mata air terlindung (Tabel 20). Menurut Latifah et al. sirap dan nipah. dan sebanyak 94. Latifah et al. Rumah yang sehat memerlukan jendela yang cukup untuk jalan masuknya cahaya ke dalam rumah. Atap rumah sebagian besar responden (96. Ada tidaknya jendela di setiap ruangan yang dapat dibuka dan ditutup berhubungan dengan ventilasi udara.4%) berupa genteng/beton. Lebih lanjut Subandriyo et al. Menurut Latifah et al. Hal senada juga diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa dinding yang paling baik adalah tembok.

6 33.9 n 2 10 44 7 30 19 % 3.6%) dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m (Tabel 20).5 53. mandi. Proporsi terbesar responden (53. kakus sendiri/kakus bersama tanpa tangki septik c. Tidak punya b. Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air PHBS aspek sanitasi air Sumber air minum.6 83.6 17.4%) melakukan aktivitas buang hajat yaitu di tempat kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik (Tabel 21).bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban PHBS aspek kepemilikan jamban Tempat keluarga biasa buang hajat a. air ledeng. Kamar mandi umum c. sangat disarankan bagi masyarakat memiliki kakus yang dilengkapi dengan tangki septik. Kondisi tersebut menyebabkan sumber air tercemar oleh bakteri yang dapat dijadikan media penularan penyakit diare. sungai b. air sungai/air hujan/lainnya b.6 80. cuci. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan tempat penampungan kotoran minimum 10 m. <10 m c.9 78. Menurut Subandriyo et al. sumur tak terlindungi/mata air tak terlindungi c. ledeng/sumur terlindungi/mata air terlindungi Jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat a. sehingga tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan. Sebagian besar keluarga responden (80.1 3. Kamar mandi pribadi n 9 2 45 7 2 47 % 16. sumur yang terlindungi dan mata air yang terlindungi. Sungai/pancuran b.4 12.9 . dan kakus a. Menurut Depkes RI (1995) diacu dalam Amperansyah (1999) kakus digunakan untuk menyimpan kotoran (hajat). ≥10 m Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut kakus. kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik Tempat keluarga mandi a.6 12. Oleh karena itu.5 53.

lubang sampah terbuka c. sampah maupun air limbah. Lebih dari separuh responden (60.0 .3 0. Menurut Latifah et al. lubang sampah tertutup/dibuat kompos Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Lebih dari separuh responden (67.7%) terbiasa membuang sampah di tempat terbuka/di pekarangan dan tanpa dikumpulkan dan sebanyak 39. Perilaku tersebut belum mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang dapat menularkan penyakit diare. Hal ini disebabkan oleh tidak terlindunginya air tersebut dari kotoran baik tinja. Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah PHBS aspek penanganan sampah Tempat pembuangan sampah a. (2002c) sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare.9%) terbiasa membuang air limbah di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air (Tabel 23).3% responden membuang sampah pada lubang terbuka (Tabel 22). Air sungai/pancuran bukan merupakan sumber air yang bersih dan sehat. Menurut Latifah et al. Sampah Seluruh responden terbiasa membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya.7 39. Sehingga. N 34 22 0 % 60. Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat kesehatan. mampu mengundang lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit. Perilaku tersebut masih jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat.Berdasarkan Tabel 21 sebagian besar responden (83.5% responden melakukan aktivitas mandi di sungai/pancuran. akan tetapi sebanyak 12. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) sumber air yang tercemar merupakan salah satu media yang dapat menularkan penyakit diare. kemungkinan air sungai/pancuran tercemar oleh bakteri lebih tinggi dibandingkan dengan air di kamar mandi pribadi yang sumber airnya berasal dari ledeng atau sumur yang terlindungi. (2002c) bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik yaitu dapat menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit (seperti cacing.9%) melakukan aktivitas mandi di kamar mandi pribadi. sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. tempat terbuka di pekarangan dan tanpa dikumpulkan b. Selain itu. sehingga berdampak terhadap status kesehatan keluarga.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa alasan utama responden mengunjungi ketiga fasilitas pelayanan kesehatan tersebut adalah jarak yang dekat dan terjangkau. Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya. Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan.1 Nadesul (2005) menyatakan bahwa kehamilan merupakan masa yang sangat penting karena pada saat itu mutu seorang anak ditentukan.0 32. Posyandu/Puskesmas/praktik bidan n 0 56 % 0.0 100. ke dalam tangki septik Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa seluruh responden biasa melakukan pemeriksaan kehamilan di Posyandu. Puskesmas dan praktik bidan. Puskesmas (76.8%) dan praktik bidan (51.0 n 38 0 18 % 67. di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air b. pemeliharaan kesehatan. Kondisi janin yang sehat akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak selanjutnya. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar. Dukun b. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. Berdasarkan Lampiran 1. Lebih lanjut Satoto (2004) menyatakan jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan kehamilan.8%) adalah dekat. Menurut Fogel dan Woods (1995) hal 431 diacu dalam Satoto (2004) perempuan yang tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah daripada yang memperoleh perawatan kehamilan yang memadai. .Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL PHBS aspek SPAL Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) a. Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan Pelayanan kesehatan Pemeriksaan kehamilan a.4%). sebagian besar responden menyatakan bahwa jarak ke Posyandu (96. pemeliharaan kebersihan dan sebagainya.9 0. ke dalam lubang tertutup tanpa tangki septik c.

Berdasarkan Lampiran 2.Selain jarak.1%). Apalagi di Posyandu. pasien sama sekali tidak dipungut biaya.2%). Puskesmas (83. sebanyak 30.5%).4% responden menyatakan bahwa saat persalinan dibantu oleh dukun paraji. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden.4%). Selain itu.3%). proporsi terbesar responden menyatakan bahwa daya jangkau ke Posyandu (98. selain membantu persalinan dukun paraji juga ikut membantu memandikan bayi dan “ngurut” ibu setelah melahirkan sampai usia 40 hari kelahiran.6%). seluruh responden menyatakan bahwa kader Posyandu mudah dihubungi dan cara pelayanannya pun baik. Akan tetapi. dan praktik bidan (67. Berdasarkan Lampiran 1. Tidak berbeda halnya dengan dokter dan bidan Puskesmas serta praktik bidan. Selain itu. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut juga mudah dihubungi yaitu dokter Puskesmas (62.2%) dan praktik bidan (64.9%).0%) adalah baik. Satoto (2004) . Puskesmas dan bidan desa sangat murah karena pasien hanya membayar retribusi. bidan Puskesmas (73. Hampir seluruh responden menyatakan bahwa cara pelayanan dokter Puskesmas (96. bidan Puskesmas (94.6%) saat persalinan dibantu oleh bidan baik oleh bidan Puskesmas maupun praktik bidan. lebih dari separuh responden pernah mendapatkan informasi gizi dari ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut yaitu dokter Puskesmas (57. lebih dari separuh responden (69. Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara kader Posyandu dan responden dapat terjalin dengan baik.9%).6%) dan praktik bidan (75. Hal ini disebabkan oleh pembagian jadwal tugas dokter yang berbeda antara kedua Puskesmas yang berada di Desa Cikarawang. Satoto (2004) menyatakan bahwa biaya pemeriksaan kehamilan di Posyandu. sehingga rasa kekeluargaan diantara mereka masih cukup tinggi. bahkan mereka akan memperoleh vitamin secara gratis.3%) adalah mudah. Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal antara kader Posyandu dan responden yang berdekatan karena merupakan warga setempat. Berdasarkan Lampiran 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi gizi dari kader Posyandu (92. Pada umumnya baik bidan Puskesmas maupun praktik bidan lebih mudah dihubungi dibandingkan dengan dokter Puskesmas. bidan Puskesmas (94.9%) dan praktik bidan (64. daya jangkau (biaya) juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan. Berdasarkan Tabel 25.

talas. sangat dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah atau Wanita Usia Subur (WUS) menerapkan program KB.menyatakan bahwa dukun akan melakukan pemijatan pasca melahirkan untuk mengembalikan stamina tubuh ibu dan bayinya akan memperoleh perawatan sampai tali pusatnya lepas. Menurut BPS (2006) program KB merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. roti.1%) dan mudah dijangkau (69. Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pertolongan persalinan Pelayanan kesehatan Pertolongan saat persalinan a. buah nangka. Tabel 26 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu berobat ke tenaga medis ketika anggota keluarga sakit. ikan asin. proporsi terbesar responden (44.6%) menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi gizi dari dukun paraji. Alasan dukun paraji yang mendasari pantangan tersebut yaitu rahim ibu masih luka. daging kambing.6%). Perawatan tersebut dilakukan sampai 40 hari dengan biaya yang relatif murah. Oleh karena itu. Hal ini disebabkan oleh jarak dan daya jangkau ke rumah sakit jauh . Berdasarkan hasil wawancara. ubi. kangkung dan sebagainya. Dukun b. mie instan. durian. Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa seluruh responden ikut dalam program Keluarga Berencana (KB). responden lebih sering mengunjungi Puskesmas untuk berobat ketika sakit dibandingkan rumah sakit. pisang.6 Alasan utama responden menggunakan tenaga bukan kesehatan (dukun paraji) saat persalinan yaitu jarak yang dekat dan terjangkau. Puskesmas/praktik bidan n 17 39 % 30. Menurut BPS (2004) penimbangan anak balita merupakan salah satu upaya dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk melihat tumbuh kembangnya. Berdasarkan Lampiran 2.4 69. Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden menyatakan bahwa jarak ke tempat dukun paraji dekat (66. Sehingga. makanan-makanan tersebut tidak baik dikonsumsi. Seluruh responden selalu membawa anak balita ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan berat badan (Tabel 26). Secara umum responden hanya mendapatkan nasihat-nasihat berupa pantangan setelah melahirkan seperti tidak boleh makan yang manis (”bolu”).

Akan tetapi. rumah sehat. ini menunjukkan bahwa kesadaran responden dalam berperilaku hidup bersih dan sehat sudah cukup baik (Tabel 27). Tidak b. Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB. masih ada responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah yaitu sebanyak 8. Pada umumnya responden mengunjungi rumah sakit ketika anggota keluarga mengalami sakit yang cukup parah sehingga membutuhkan pengawasan dan perawatan dokter yang cukup intensif.6%) memiliki PHBS termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 30. Tidak ada satu responden pun yang memiliki kategori PHBS rendah.0 0. Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. gizi seimbang.0 Berdasarkan pemaparan di atas mengenai aspek PHBS yang meliputi higiene.0 100.4 69.0 0. sanitasi air. Ya Tempat berobat keluarga ketika sakit a. Dukun b. Tindakan yang didasari oleh .6 100. Ya Penimbangan anak balita di Posyandu a.9%.dan sulit.0 100. Tabel 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS Kategori PHBS Rendah (24-38) Sedang (39-53) Baik (54-67) Total n 0 17 39 56 % 0. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit Pelayanan kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) a. kepemilikan jamban. Puskesmas/praktik bidan/klinik/rumah sakit n 0 56 0 56 0 56 % 0. penanganan sampah dan SPAL serta pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (69.0 100.4% kategori sedang. Tidak b.0 Pengetahuan Gizi Tabel 28 menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden (48.0 30.2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 42.9% kategori tinggi.

0 35.0 Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi pun menjadi lebih baik.01).0 Tabel 29 menunjukkan bahwa secara umum responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah memiliki tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) juga.6%).0 SLTP/sederajat n 0 7 13 20 % 0. Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawati (2006) bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi responden atau sebaliknya.9 100. .0 50.0 Akademi/Dip loma/PT N % 0 0 1 1 0. Tabel 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) Total n 5 27 24 56 % 8. Berdasarkan Lampiran 3 dapat diketahui bahwa terdapat lima pertanyaan pengetahuan gizi yang dapat dijawab responden kurang dari 60%.0 100.9 100.0 SLTA/sederajat n 0 3 3 6 % 0. zat gizi untuk pertumbuhan (44.0 50.6%). Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi responden (p<0.9 48.0 0.0 100. Hal ini mengindikasikan bahwa kelima pertanyaan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertanyaan lainnya.1 100.6 24.9 48. Kelima pertanyaan tersebut adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (53. Tabel 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan responden Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Total Tingkat Pendidikan SD/sederajat N 5 17 7 29 % 17.0 100.6%).2 42. jenis pangan karbohidrat (44.1%) dan pemberian ASI eksklusif (41.pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.0 Total n 5 27 24 56 % 8. jenis pangan sumber Fe (57.0 100.2 58.0 65.1%).2 42.

1% responden yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. orang tua harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan.0% responden tidak memberikan ASI eksklusif (6 bulan). bubur bayi dan lainnya. (2005) menyatakan bahwa masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilakuperilaku gaya hidup sehat. Tabel 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Anak diberi ASI eksklusif (ASI saja hingga 6 bln) Anak diberi kolostrum? ASI diberikan sesuai permintaan bayi? ASI diberikan sampai anak berusia 2 tahun? Ya n 14 48 38 30 % 25. Pada umumnya setelah anak berusia empat bulan bahkan kurang. Karena pendidikan akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang yang akan berdampak terhadap status kesehatan dan status gizi keluarga.3 18 32. dan sosial. Tabel 30 menunjukkan bahwa sebanyak 75.7 67. Dalam hal ini. lama pemberian ASI eksklusif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah enam bulan.4 .1 26 46. Pola Asuh Makan Pola asuh makan pada penelitian ini meliputi riwayat menyusui dan penyapihan. Hanya 41. mental.6 Tidak n % 42 75. biskuit. cara memperkenalkan makan. Akan tetapi. cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. susu formula. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Menurut Sukarni (1989) dan Madanijah (2003) tingkat pendidikan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan. responden sudah memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang. Marotz et al. cara mempersiapkan makanan. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita.9 53. Pola Asuh Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya secara fisik.Pada umumnya responden mengetahui lama pemberian ASI eksklusif yaitu empat bulan.0 8 14. Ketidakmampuan responden menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan benar kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya pendidikan responden.0 85.

Cara memperkenalkan makan untuk anak balita meliputi membiasakan mengonsumsi makanan beragam.4 96. sehingga dapat mengurangi risiko terserang diare. Berdasarkan Tabel 30. Soekirman dan Martianto (2005) bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi intestinal.9%) memberikan makanan yang beragam kepada anak balita. Tabel 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita Cara memperkenalkan makan anak balita Anak dibiasakan mengonsumsi makanan beragam Pertimbangan ibu dalam memperkenalkan makan kepada anak berdasarkan faktor gizi Ibu membiasakan menyediakan kudapan untuk anak setiap hari Ibu memberikan makan kepada anak sebanyak tiga kali sehari Ya n 52 23 26 54 % 92. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. frekuensi memberikan makanan utama dan memberikan makanan kudapan. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.1 46.9 41. Akibat . bahkan sangat mudah dan murah memberikannya kepada bayi (Dinkes DKI Jakarta 2002).4 Tidak n % 4 33 30 2 7.Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi.6%). pertimbangan dalam hal memberikan makan karena faktor gizi. Tabel 31 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92.9%) memberikan ASI sesuai dengan permintaan dan memberikan ASI sampai usia 2 tahun (53.6 3. Lebih dari separuh responden (67. Kebiasaan ini sangat baik karena dengan memberikan makanan beragam mampu memperbaiki status gizi anak balita sehingga terhindar dari gizi kurang.7%) memberikan kolostrum kepada anaknya.1 58. Hal senada diungkapkan oleh Masithah.9 53. Sehingga tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) yang dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi seperti yang diperoleh dari kolostrum. Kolostrum mengandung zat gizi untuk sistem kekebalan tubuh anak dari penyakit.6 Menurut Dinkes DKI Jakarta (2002) fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Krisnatuti & Yenrina (2000) menyatakan bahwa kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran. sebagian besar responden (85.

5%) mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak balita. sampai penyajian termasuk kebersihan peralatan makanan yang akan digunakan.5 14.3% responden menghangatkan kembali makanan sebelum dikonsumsi. Sesuai dengan jawaban yang diperoleh dari responden saat wawancara dapat diketahui bahwa sebanyak 58. Keadaan ini berdampak pada kebiasaan responden yaitu sebanyak 53. Tabel 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita Cara mempersiapkan makanan anak balita Ibu mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak Ibu memasak makanan dalam sehari dilakukan secara bertahap (pagi.4%) memberikan makan utama untuk anak balita yaitu tiga kali dalam sehari (Tabel 31).6% tidak memberikan makanan kudapan setiap harinya kepada anak balita. Akan tetapi. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita.7 1. Kuman-kuman tersebut akan membentuk toksin yang tahan panas. Faktor kebersihan harus selalu dijaga pada setiap tahapan penyediaan makanan bayi.8 Berbeda halnya dengan kebiasaan memasak responden yaitu sebanyak 85.1%) sudah memperhatikan faktor gizi sebagai pertimbangan dalam memberikan makan kepada anak balita (Tabel 31).3 89. sehingga tidak dapat . Menurut Pujiarto (2007) makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam mengakibatkan kuman tumbuh subur dalam makanan tersebut. sehingga sebanyak 89. siang.7 10. Pada umumnya responden memasak satu sampai dua kali sehari. Berdasarkan Tabel 32 sebagian besar responden (87. Kurang dari separuh responden (41.3 98. sore/malam) Ibu terbiasa memanaskan/menghangatkan kembali makanan sesaat sebelum dikonsumsi Ibu selalu menutup makanan sebelum dihidangkan Ya n 49 8 50 55 % 87. Mulai dari tahap persiapan.2 Tidak n % 7 48 6 1 12.5 85.9% responden memberikan makan anak balita sesuai dengan kondisi keuangan keluarga.tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam.7% tidak melakukan aktivitas memasak tiga kali sehari (Tabel 32). Menurut Krisnatuti & Yenrina (2000) ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk membentuk kondisi anak sehat yaitu makanan bergizi dan sanitasi (kebersihan). pengolahan. sebagian besar responden (96.

Sebagian besar responden (98. Oleh karena itu. Akan tetapi. merayu) Ya n 45 41 9 53 % 80.4 Tabel 33 menunjukkan sebanyak 83. Tabel 33 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (80. Tabel 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita Cara memberikan makan anak balita Ibu membiasakan anak makan sendiri dengan asumsi sudah dapat memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut tanpa tumpah Ibu memberikan makan kepada anak dengan cara disuapi Ibu memberikan makan pada anak di meja makan (makan bersama) Cara mengapresiasi proses makan anak balita Ibu selalu berusaha agar anak menghabiskan makanannya (membujuk. sebanyak 73.2 16. Kalaupun makanan yang diolah bersisa.9 5. pilih-pilih serta jarang habis. Sehingga.2%) selalu menutup makanannya sebelum disajikan/disantap (Tabel 32).4%) sudah mulai membiasakan anak balita untuk makan sendiri. Responden mengeluh anak balita mulai sulit makan.1 94. lalat) dengan makanan. Kebiasaan memasak secukupnya sesuai dengan kebutuhan.6 n 11 15 47 3 Tidak % 19. agar anak balita mau makan.6 26.6% responden selalu melakukan kegiatan . Hal ini bertujuan agar makanan tetap terjaga kebersihannya. Membiasakan menutup makanan sebelum dihidangkan dapat mengurangi kontak fisik serangga (kecoa.2% responden masih memberikan makan kepada anak balita dengan cara disuapi. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak balita. pada umumnya responden memberikan makan sambil jalan-jalan atau aktivitas lainnya.8 83. maka sebelum dilakukan proses menghangatkan makanan harus terlebih dahulu disimpan dalam lemari pendingin. sebanyak 94.9% responden belum membiasakan anak balita makan di meja makan (makan bersama). kalaupun mau makan itupun dalam jumlah yang sedikit. Hal ini dikarenakan anak balita tersebut belum bisa memegang sendok dengan benar sehingga saat memasukkan makanan ke dalam mulut masih tumpah. lebih baik dibandingkan dengan menghangatkan kembali makanan tersebut.dihancurkan dengan memasak makanan tersebut. sehingga makanan tersebut cukup aman untuk dikonsumsi dan mampu mengurangi penyebaran penularan penyakit yang membahayakan manusia.4 73.

apersepsi supaya anak balita mau makan misalnya dengan cara membujuk. Lebih lanjut Hurlock (1982) menyatakan penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. merayu atau memberikan pujian. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. Lebih dari separuh responden (52. Menurut Khomsan (2004) membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu.1% responden membiasakan anak balita agar menggunakan handuk yang sama dan milik pribadi (tidak gonta-ganti). Pada usia pra sekolah.4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan sebanyak 28.9% anak balita selalu menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi. n 0 40 16 56 % 0.0 . Oleh karena itu.0 71. Tabel 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan Pola Asuh Makan Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) Total Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Lampiran 4 dapat diketahui bahwa sebanyak 80.6 100.4 28. menurut Hardinsyah & Martianto (1992) perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. Akan tetapi.2% responden belum membiasakan anak balita menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan dan hanya 21. Seluruh responden menyatakan bahwa selalu mengganti pakaian anak balita sehabis mandi dan sebanyak 91.6% selalu menggunakan sabun ketika memandikan anak balita.4% responden membiasakan anak balita mandi dua kali dalam sehari dan sebanyak 94. Tidak ada satu responden pun yang memiliki pola asuh makan kategori rendah.6% kategori tinggi. Hasil penelitian mengenai kategori pola asuh makan dapat dilihat pada Tabel 34. Berdasarkan pemaparan di atas dari ke lima aspek pola asuh makan dapat diketahui bahwa sebanyak 71.6%) membiasakan anak balita menggosok gigi ≥2 kali/sehari dan sebanyak 64. sebanyak 77. anak sering mengalami fase sulit makan.1% responden mulai membiasakan gosok gigi saat berusia ≤1 tahun (Lampiran 4).

4% yang menyisir rambut anak balita hanya 1 kali/hari.6%) kadang-kadang dibiasakan untuk mencuci kakinya setelah bermain. sebanyak 64. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebanyak 42-47% Kebersihan kuku juga sangat penting untuk diperhatikan. Menurut Tjitarsa (1992). Menurut Notoatmodjo (2003) kotoran manusia (tinja) adalah sumber penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan manusia. Sebanyak 46.3%) selalu menggunakan sabun ketika mencuci tangan anak setelah buang air besar dan sebagian besar responden (82.5% menggunakan air bersih untuk mencuci tangannya.3%) tidak memperbolehkan . Walaupun masih ada responden sebanyak 21.9%) keramas menggunakan sampo. Sebagian besar responden (89. karena kuku yang panjang dan tidak terawat mampu menularkan penyakit. kebiasaan tersebut mampu mencegah terjadinya penyakit diare.9% anak balita sudah dibiasakan mencuci kaki sebelum pergi tidur oleh responden dan lebih dari separuh anak balita (53.1%) sudah membiasakan anak untuk buang air besar pada tempat semestinya yaitu kamar mandi (Lampiran 4).4% responden membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan dan sebanyak 87. Sebanyak 71.8% responden sudah membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan saat berusia 1-2 tahun. Curtis & Cairncross (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007) mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Lebih dari separuh responden (64.Sebanyak 77. Serta sebanyak 51. akan tetapi cukup dengan menggunakan tangan responden yaitu dengan cara “dielus-elus” (Lampiran 4).3% anak balita dibiasakan selalu menggunakan alas kaki ketika bermain atau berada di luar rumah.4% responden sudah membiasakan anak balita menggunting kuku ≥3 kali dalam satu bulan dan sebanyak 39. Sebanyak 67.2% responden membiasakan mencuci rambut anak balita (keramas) sebanyak ≥3 kali/minggu dan sebagian besar anak balita (92. Selain itu. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh saat wawancara bahwa rambut anak balita tipis dan pendek sehingga tidak perlu disisir untuk merapikannya. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan sabun dan air bersih sangat penting dilakukan karena dapat menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan.3% responden membiasakan menyisir rambut anak balita 2-3 kali/hari.

sebagai contoh yaitu mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat semestinya. Pola asuh kesehatan seperti ini cukup baik. Pengetahuan gizi ibu yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula seperti dalam hal perilaku bersih dan sehat.4 100. Akan tetapi. Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (55. memberikan makan dan menjaga kebersihan anak balita. pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena anak balita belum mampu untuk merawat dirinya sendiri. Lingkungan rumah yang bersih akan menciptakan lingkungan nyaman yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang. Menurut Entjang (1985) lingkungan hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang. sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan signifikan dengan kedua pola asuh tersebut. Lebih dari separuh responden (58. terdapat kecenderungan apabila pengetahuan gizi ibu baik maka kedua pola asuh tersebut pun akan baik. Tabel 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan Pola Asuh Kesehatan Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (56-72) Total n 0 25 31 56 % 0.0 Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara PHBS ibu dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan (P<0. Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. karena dengan membuang sampah pada tempatnya mampu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya. kondisi fisik masih lemah dan kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi.0 44. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.0%) kadang-kadang memperbolehkan anak balita bermain tanah (Lampiran 4).6% kategori sedang (Tabel 35). Menurut Rahayu (2006).6 55.01). .4%) memiliki pola asuh kesehatan termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 44.anak balita bermain tanpa memakai celana dan separuh responden (50.9%) sudah membiasakan anak balita untuk membuang sampah pada tempatnya (Lampiran 4).

5% dan 25. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh variasi data penelitian mengenai BBLR yang relatif kecil. Namun.7%) dibandingkan dengan anak balita yang memiliki umur >23 bulan.6 46.5 12 75. Tabel 37 menunjukkan bahwa secara umum anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mengalami diare selama tiga bulan terakhir.7 33.0 Total n 26 32 56 % 53.6 100.4 53.0 12 54.0 22 100. Tabel 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total n 12 6 18 ≤ 23 % 66.0 . sehingga sangat mudah terserang penyakit infeksi. Tabel 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total N 2 0 2 Berat Badan Lahir BBLR Non BBLR % n % 100.4 100.0 16 100. Bayi dan balita memiliki sistem imunitas tubuh yang masih lemah.3 100. Semakin tinggi umur anak balita maka tingkat diare semakin rendah.6 100.0%.0 24 44.0 Uji korelasi Spearman menunjukan terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0.5 4 25.4 0. Sistem imunitas tubuh berkembang sesuai dengan umur seseorang.0 Umur (bulan) 24-36 ≥ 37 N % N % 10 45. Muniasir (2007) menyatakan bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh.01) antara umur anak balita dengan diare. hasil analisis korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare.0 Total n 26 32 56 % 46. Persentase anak balita yang mengalami diare dengan umur 24-36 bulan dan ≥37 bulan berturut-turut yaitu 45. Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) menyatakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki daya tahan terhadap penyakit juga lebih rendah.Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita Tabel 36 menunjukkan bahwa anak balita dengan umur ≤23 bulan mengalami diare lebih tinggi (66.0 30 55. salah satunya diare.0 54 100.

8%).8 41.0 Tinggi n 16 16 6 1 39 12 16 11 39 % 41. .6 23.0 28. Hasil analisis menunjukkan umur responden tidak berhubungan signifikan dengan PHBS. sebagian besar memiliki PHBS kategori tinggi yaitu SLTP/sederajat (41.3 52.5 23.6%).0. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Tabel 38 menunjukkan sebagian besar responden (76. Responden dengan tingkat pendidikan di atas SLTP/sederajat.0 30. 0.7 10. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.8 100.0 32. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS responden (p<0. Tabel 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS PHBS Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ibu SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Sedang n % 13 4 0 0 17 6 9 2 17 76.Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS.0 15.0 41.8 100.8 100.4 2.0%) memiliki PHBS kategori tinggi.2 100.0 35.4%) dan akademi/diploma/PT (2. Pengetahuan Gizi. Semakin tinggi pendidikan responden maka PHBSnya pun semakin tinggi pula. Hasil analisis juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan gizi responden (p<0.01). Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pemahaman atau pengetahuan seseorang terhadap perawatan kesehatan dan kesadarannya terhadap kesehatan anak-anak dan keluarga.0 100.8%) dan 20-30 tahun (41.0 n 29 20 6 1 56 18 25 13 56 Total % 51.8 35.0 Tabel 38 juga menunjukkan responden dengan umur 13-19 tahun (30.0%).1 44.5 0.7 1.6 100.01).9 11. Persentase tersebut lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur 31-50 tahun (28.5%) dengan tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) memiliki PHBS kategori sedang. SLTA/sederajat (15.

Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS responden dengan diare anak balita.3 100. Menurut Subandriyo et al.0 n 19 20 39 Tinggi % 73. cuci dan kakus). Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita Berdasarkan Tabel 39 dapat diketahui bahwa kecenderungan anak balita dengan PHBS responden kategori tinggi mengalami diare lebih besar (73. kebiasaan membuang sampah dan SPAL responden yang belum sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Kaitan antara PHBS. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar responden dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi (tempat penampungan kotoran) minimum 10 m.0 Aspek PHBS yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran.6 100.7 100.4 53.1 66. mandi. . Tabel 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita PHBS Diare Diare Tidak Diare Total n 7 10 17 Sedang % 26. hasil analisis menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan pola asuh makan maupun dengan pola asuh kesehatan. Sehingga.Namun.9 33. Selain itu juga.1%) dibandingkan anak balita dengan PHBS responden kategori sedang (26. tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan gizi responden.0 n 26 30 56 Total % 46. Pengetahuan Gizi. Tujuannya adalah supaya tidak terjadi interaksi antara mikroorganisme dengan air yang biasa digunakan untuk kebutuhan hidup seharihari.9%). air tetap terjaga kebersihannya dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (minum. PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006).

dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak membuang sampah pada tempat yang semestinya. Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita Tabel 40 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu rendah mengalami diare lebih besar (60. Namun. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan penyakit diare.0 Total n 24 32 56 % 46.6 100. hasil uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita. Akan tetapi.7 10 41.0 27 100. sebagian besar responden membuang air limbah bukan pada tempat semestinya yaitu di pekarangan. Selain itu. Perilaku seperti ini sangat jauh dari indikator perilaku hidup bersih dan sehat.4 53.3%) dan tinggi (58.3 2 40.3%).) dibandingkan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu kategori sedang (33. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Tabel 40 Kaitan antara pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi n % n % N % 3 60.0 tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan . Sampah yang dibiarkan di tempat terbuka dapat dijadikan media berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare.0 24 100. Tidak berbeda halnya dengan SPAL responden. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing.0 9 33. Keadaan ini juga mampu mencemari sumber air.0%. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) penggunaan air yang sudah tercemar tersebut dapat dijadikan media pencemaran penyakit diare. Menurut Latifah et al.0 18 66. sampah juga mampu mencemari sumber air.7 5 100.3 14 58. secara umum mereka membuang sampah di pekarangan dan lubang sampah terbuka.Berdasarkan yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya mengenai aspek PHBS. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia.

Namun.0 Total n 26 30 56 % 46.0 Total n 26 30 56 % 46.2 13 52. hasil analisis korelasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita.4 53.2%).5%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh makan kategori rendah (40.6 100. Pemberian ASI eksklusif erat kaitannya dengan meningkatnya kekebalan tubuh seorang anak.6 100. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.0 10 62.0 16 100.Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita Tabel 41 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh makan kategori tinggi memiliki anak balita yang mengalami diare lebih besar (62. hasil analisis juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan diare anak balita.0 6 37. Tabel 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh kesehatan Sedang Tinggi n % n % 12 48.0 31 100.5 40 100.4 53.0 Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita yaitu kebiasaan ibu dalam hal mencuci tangan anak balita sebelum makan.5 24 60.0 Aspek pola asuh makan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain mengenai pemberian ASI eksklusif. Dengan demikian.0 14 45. Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Tabel 42 menunjukkan ada kecenderungan ibu dengan pola asuh kesehatan kategori sedang memiliki persentase anak balita yang mengalami diare lebih besar (48. Tabel 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh makan Sedang Tinggi n % n % 16 40.0 17 54.0%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi (45. Rendahnya kesadaran ibu dalam hal pembiasaan mencuci .8 25 100.0%). Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak balita.

Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) tangan yang kotor dapat menjadi media penularan penyakit diare. kebersihan kaki pun harus diperhatikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh contoh belum dibiasakan menggunakan alas kaki (sandal) ketika keluar rumah. Lingkungan yang tidak bersih. kemudian tidak membiasakan menggunakan sandal ketika keluar rumah dapat menjadi sumber penyebaran kuman dan apabila tidak dihambat penyebarannya maka dapat menimbulkan penyakit seperti diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh ibu menyatakan kadang-kadang membiasakan anak balita mencuci tangan sebelum makan. membiasakan anak balita menggunakan kamar mandi ketika buang air besar merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat kejadian diare. Selain kebersihan tangan dan kaki.tangan anak balita sebelum makan diduga menjadi penyebab tingginya diare pada anak balita. Hasil penelitian menunjukkan masih ada beberapa ibu yang belum membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Bahkan masih ada beberapa ibu yang tidak membiasakan mencuci tangan anak balita. Selain kebersihan tangan anak balita. Hal senada juga diungkapkan oleh Suririnah (2007) bahwa perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare. . Menurut Sadeque dan Ghosh (2005) salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan anak balita yaitu dengan membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi.

5. Sedangkan anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare. Proporsi terbesar umur anak balita (39.9%) pendapatan perkapita perbulan responden adalah >Rp 150 000. Sedangkan umur ibu tidak berhubungan . 6. Proporsi terbesar (58.01).6%) dan pola asuh kesehatan kategori tinggi (55.05). Proporsi terbesar responden memiliki PHBS (69.5 kg).4% anak balita memiliki berat badan lahir cukup (≥2. sisanya tinggi dan rendah (42. Lebih dari separuh responden (60.3%) maupun ibu (44.6%) berada pada kategori usia muda (20-30 tahun). pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang baik.00. Lebih dari separuh anak balita (66. proporsi terbesar pekerjaan ayah yaitu negeri/swasta jasa (33.6%). akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu. sedangkan ibu (75.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1.0%) tidak bekerja. Status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal.3%) berkisar antara 24-36 bulan dan 96. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB. Dengan demikian.9%). Hasil analisis menunjukkan umur anak balita berhubungan sangat signifikan dengan diare (p<0. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. Hampir 50% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang.1%) adalah perempuan. 3.4%) serta pola asuh makan kategori sedang (71.1%) mengalami sakit selama tiga bulan terakhir dan hampir 50% anak balita mengalami diare dengan frekuensi tertinggi yaitu 2 kali dan lama sakit 1-3 hari.7%) merupakan keluarga besar (>4orang) dan hampir separuh umur baik ayah (39. Tingkat pendidikan pegawai ayah lebih tinggi dan (SLTA/sederajat) angkutan dibandingkan dan ibu (SD/sederajat). dan tidak berhubungan signifikan dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi.4%).9% dan 8. Hampir seluruh anak balita (91. TB/U) dengan diare (p<0. 4. 2. Secara umum responden memiliki PHBS.9% 28.

Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor risiko kejadian diare anak balita dengan menggunakan analisis regresi logistik. Pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah diare dengan membangun fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan. pola asuh makan maupun pola asuh kesehatan. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita.signifikan baik dengan PHBS. dan pelayanan kesehatan) serta pola asuh makan dalam hal pemberian ASI eksklusif dan penyiapan makanan sehari-hari. personal hygiene. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi. Selain itu. diperoleh informasi mengenai faktor dominan yang lebih berpengaruh terhadap kejadian diare anak balita. Sedangkan. pembuangan sampah dan limbah bukan pada tempatnya. Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu berkenaan dengan kebersihan tangan dan kaki serta kebiasaan Buang Air Besar (BAB) bukan pada tempatnya. aspek pola asuh makan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan. masyarakat setempat hendaknya memperhatikan jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran dan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan. 7. menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika keluar rumah. Sehingga. dan Kakus (MCK). Selain itu. Saran Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya diare pada anak balita hendaknya menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. Cuci. pengetahuan gizi ibu. mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. pengetahuan gizi. PHBS. membiasakan BAB di kamar mandi. Aspek PHBS yang diduga menyebabkan diare anak balita adalah jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran <10 m. .

2004. Zahara DN. 2004. [terhubung berkala]. Majalah Ilmu Kefarmasian 1(1): 27-33. 2002. Diare. Laporan akhir penelitian studi kajian wanita.diare. Entjang I. Jakarta: BPS. Ekonomi Gizi. Herawati T. Institut Pertanian Bogor. 2005. 2006. Gizi Terapan. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Statistik Indonesia. Peran anggota rumah tangga di dalam pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Indikator Kesejahteraan Rakyat. . Hardinsyah. Azwar A.DAFTAR PUSTAKA Adnyadewi IGA. 1992. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. Briawan D. 1986. 1999. Berg A. Hardinsyah. Jakarta: BPS. 2004. Institut Pertanian Bogor. penerjemah. Fakultas Pertanian.html [9 November 2007]. _____. Its Role in National Development. Jakarta: BPS. Konseling Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). Gunarsa. 1991.gizi. Ilmu Kesehatan Masyarakat. 2003. Universitas Indonesia. Statistik Indonesia.html [3 Oktober 2007]. Martianto D. 2005. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. Statistik Kesehatan. New York: HarperCollins. Terjemahan dari: The Nutrition Factor. Bogor: Fakultas pertanian. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. . Bandung: Penerbit Alumni. Aronson SS. 2001. 2002. 1985. Diktat Mata Kuliah yang tidak dipublikasikan. [BPS] Biro Pusat Statistik. Bogor: Fakultas pertanian. 1997. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. Makasar: Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. . Ilmu Kesehatan Masyarakat. 1979. . [Dinkes] Dinas Kesehatan DKI Jakarta. 2002. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Jakarta: BPS. Jakarta: Penerbit Mutiara. Institut Pertanian Bogor. Jakarta: Citra Aditya Bakti. www. . Firlie D. As’ad S. Faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas anak baduta pada keluarga miskin dan tidak miskin [skripsi]. Amperansyah. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. [terhubung berkala] www. Health and Safety in Child Care. Harianto. 2006. 1993. [terhubung berkala]. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kota Bogor [skripsi]. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga. Faktor risiko penyakit diare pada bayi di Provinsi Kalimantan Selatan: analisis data sekunder SDKI tahun 1997 [skripsi]. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Penyuluhan penggunaan oralit untuk menanggulangi diare di masyarakat. Jakarta: CV Rajawali. Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak. Gunarsa. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. 1985.

Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Penelitian dalam rangka penerapan sistem pembuangan tinja dan sampah tepat guna Desa Pantai di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Lamongan. Jakarta: Erlangga. Fakultas Ekologi Manusia. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat. Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [skripsi]. 2002b. Kecamatan Tamansari. Kabupaten . Wahida S. 2005. Khomsan A. Hurlock EB. penerjemah.www. MD Djamaludin.dinkes-sulsel. Madihah. Khairunnisak I. . http://library. Jakarta: Puspa Swara. Buku 10 Mengenal Berbagai Penyakit dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan.farmasi.jurnal. Sumali MA. . . [terhubung berkala]. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. 2000. Buku 8 Pengenalan Sampah dan Air Limbah. 2004. Psikologi Perkembangan. 2000. Jakarta: Erlangga. Pengetahuan. Institut Pertanian Bogor. 1993. 2005. Institut Pertanian Bogor. Bogor: Fakultas Pertanian. 1982. Hubungan kualitas pengasuhan dan perilaku hidup sehat dengan status gizi dan kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kecamatan Bogor Barat [skripsi]. Krisnatuti D dan Yenrina R. dan Suprapti.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104. Oktober 2007]. Zalbawi S. Perkembangan Anak Jilid 2. [23 uli 2008].ui. _________. [3 Hiswani.pdf [15 November 2007]. www.id/download/fkm/fkm-hiswani7. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Bogor: kerjasama pusat kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. 2006. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. . 2004.usu. Bogor: Fakultas Pertanian. Latifah M. Buletin Penelitian Kesehatan 27(3 dan 4-1999/2000): 346-363.ac.ac. Evi D. Herman.pdf. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI. Jakarta : PT Grasindo Anggota Ikapi.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat. Nurahmi. [terhubung berkala].pdf. sikap dan perilaku pengguna tanaman obat di desa Sukajadi. Faktor-faktor predisposisi yang berhubungan dengan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI) di Kecamatan Banua Lawas. 2002c. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kejadiaannya sangat erat dengan keadaan sanitasi lingkungan. Ed ke-5. 2002d. Irianti S. 2002. Manda S. M Tjandrasa. Pedoman pengembangan kabupaten/kota percontohan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Institut pertanian Bogor. Buku 1 Kebersihan Diri dan Lingkungan. M Zarkasih. Buku 5 Rumah Sehat. 2003.go. 2002a.

2002. Santrock JW. R. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. 2005. Safety. 2006. 2005. Institut Pertanian Bogor. Marotz LR. parentsguide. Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak batita di Desa Mulya Harja. Institut Pertanian Bogor. Environmental Sanitation Promotion: A Social. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Ghosh SK. Universitas Indonesia. Model pendidikan “G1-PSI-SEHAT” bagi ibu serta dampaknya terhadap perilaku ibu. Imunomodulator.php?kat=3&emonth=02&eyear=2007 &pg=hns-23k. Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. Rimbatmaja. Institutional and Legal Challenge for the Rural Poor. .koalisi. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di taman pendidikan karakter sutera alam. and Nutrition for Young Child. Soekirman. 1997. Desa Sukamantri.com. Makalah Seminar Sehari. 2001. 2003. Institut Pertanian Bogor. [15 November 2007]. New York: McGraw-Hill . Health. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta. ___________ . Madanijah S. United State: Thomson Delmar Learning. Pengantar Ekologi Keluarga. 1993. 2006. 2003. 2007. Ed ke-8.org. Muniasir Z. Jeanettia MR. konsumsi pangan. 2005. Rahmawati D. Drajat M. Pujiarto P. Jakarta : Rineka Cipta. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Tantangan bernama higinitas. 2007. www. lingkungan pembelajaran. Diktat Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Kemitraan dalam Mengatasi Masalah Gizi di Indonesia. Bogor: Fakultas Pertanian. Metodologi Penelitian Kesehatan. 2007. Masithah T. Fakultas Ekologi Manusia. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. [terhubung berkala]. 2005. Institut Pertanian Bogor.mosleh@bdonline. Pola Asuh-Asupan Nutrisi dan Pertumbuhan Anak. Institut Pertanian Bogor.co. Bogor [skripsi]. Bogor: Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Media Gizi dan Keluarga 29 (2):29-39. Yogyakarta: Ando Offset. 2003. Jakarta: Puspa Swara. Bogor: Fakultas Pertanian. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Nadesul H.Tabalong Kalimantan Selatan tahun 2002 [skripsi]. Rahayu S. Edisi ke-6. Sadeque MU. Riyadi. [terhubung berkala]. Life-Span Development. Nasution. Pola asuh dan status gizi anak balita keluarga penerima dan bukan penerima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) [skripsi]. Fakultas Pertanian. Marie ZC. Makanan Sehat untuk Ibu Hamil. www. [terhubung berkala]. Jakarta: Ghalia Indonesia. Bukan Suplemen!. Puspitawati H. Notoatmodjo S. 2007. dan status gizi anak usia dini [disertasi].id/dsp_content. Bogor: Fakultas Pertanian.

Sari RA. 2004. Helms DB. Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial. Topatimasang. 1992. Life-Span Development. www. Petunjuk Praktikum Kesehatan Masyarakat. Suhardjo. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Pendidikan Kesehatan: Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar. Widyati R. 2007.htm. Departemen Pendidikan Nasional. Sinaga D. Suririnah. Sukarni. Cianjur. Fakultas Pertanian. Saroso S. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 1989. 1999. 1989. Hygiene dan Sanitasi Umum dan Perhotelan. www.php. Diare. [terhubung berkala]. dan Yekti HE. [terhubung berkala]. Slamet Y. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat. Institut Pertanian Bogor. Solo: Dabara Publiser. Diare mendadak dan penanganannya. [3 Oktober 2007]. Sosial Budaya Gizi. www. 1993. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. 2000. 1994.jmpk-online. Sumali MA. Mubasysyir H. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. 1991. Jawa Barat [skripsi]. Provinsi Sulawesi Utara [tesis]. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat.net/files/vol-08-02-2005-4.com. Institut Pertanian Bogor. 2004. 1997. 2002. 2007. Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Bersalin: Antara Harapan Hidup dan Kenyataan Kematian. Ed ke-4. Subandriyo VU. Bogor: Pusat Antar Universitas. 2005. JMPK 8(2).infoibu.diare.pdf. Tambingon HN. [3 Oktober 2007]. Yuliarsih. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): studi kasus di Kabupaten Bantul 2003. Soekirman. [terhubung berkala]. Pola pengasuhan ibu anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita di Kota Madya Manado. Bandung: Penerbit ITB dan Universitas Udayana. Sehat itu Hak: Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. Satoto. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bandung: Eja Insani. . Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Dewi MDH. Fakultas Pertanian. [3 Oktober 2007]. ______. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi. Tjitarsa IB. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. 2005.articles. Fortworth: Rinehart and Winston. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Turner JS. Kondisi geografis dan sosial ekonomi hubungannya dengan pembangunan kesehatan serta kondisi rumah rehat di Desa Gasol dan Cijedil. Kecamatan Cugenang.

LAMPIRAN .

1 100 n 39 55 47 36 9 4 Daya Jangkau Mudah % 69.0 100.1 n 17 1 9 20 47 52 Sulit % 30.2 48. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan zat gizi? Zat-zat gizi apa saja yang dibutuhkan oleh tubuh? Apa zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan anak? Apakah ibu dapat menyebutkan jenis pangan yang termasuk sumber karbohidrat? Dapatkah ibu menyebutkan kelompok bahan pangan mana yang banyak mengandung zat gizi protein hewani? Apakah ibu dapat menyebutkan susunan menu yang baik? Dapatkah ibu menyebutkan jenis makanan sumber zat besi? Apa nama kondisi ibu jika selama masa kehamilan ibu mengalami pusing. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan Petugas Gizi dan Kesehatan Dokter RS Dokter Puskesmas Bidan Puskesmas Bidan Desa/Praktik Bidan Kader posyandu Mantri Dukun Paraji Informasi Gizi Tidak Pernah Pernah n % n % 9 32 41 36 52 6 8 16.7 50 n 5 21 3 5 0 7 5 Sulit % 8.9 85.4 96.9 92.9 26.3 4 24 15 7 4 7 25 7. 14.4 3.93 37.4 19.6 Kemudahan Dihubungi Mudah n 8 35 53 38 56 6 28 % 14. 7. 4.3 16.5 8.5 57.1 69.6 0 11 1.0 0. 13. 12.1 12. jarak dan daya jangkau Jenis Pelayanan Kesehatan n Praktek Dukun Paraji Posyandu Puskesmas Praktek Bidan Klinik/Balai Pengobatan Rumah Sakit 31 56 56 21 26 11 Kunjungan Tidak Pernah pernah % 55.57 23.8 Lampiran 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban pengetahuan gizi No 1.6 85.9 64.2 64.5 53.5 7.6 92.4 n 37 54 43 29 5 0 Jarak Dekat % 66.1 7.6 5.9 10.6 80.4 87.6 96. 10.8 30 53.Lampiran 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaann pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.1 96.9 0. 9.36 8.4 94.4 76.8 16.5 94. 5.5 5.8 3.7 41.0 62.6 75 100 12.2 83.6 67.8 12.1 .5 94. 11.1 73.1 35.0 37.9 100 10.1 Kurang n 1 2 3 2 0 6 1 % 1.93 n 12 54 53 42 56 7 32 Cara Pelayanan Baik % 21.6 25 48 43 32 39 54 49 53 52 48 23 44.7 83.0 n 19 2 13 27 51 56 Jauh % 33. 3.6 n 25 0 0 35 30 45 % 44.8 51.7 14.6 0.3 92.4 100.9 Lampiran 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi. 6.8 8.6 98.5 44.2 91. cepat lelah dan lesu? Garam dapur yang bagaimana yang baik untuk digunakan? Apa yang terjadi pada bayi yang dilahirkan apabila selama masa kehamilan terjadi kekurangan zat besi? Apa akibat yang ditimbulkan bila anak kekurangan makan dalam jangka waktu yang lama? Apa akibat dari makanan dan minuman yang tidak bersih? Bagaimana cara yang baik dalam mempersiapkan botol atau tabung susu bayi? Sampai umur berapa sebaiknya bayi diberi ASI saja? Jawaban Benar n % 43 76. 2.9 3.8 57.1 57.7 76.4 1.3 62. 8.5 46.6 25 44.93 0 12.1 42.

0 5.0 100. 2-3 kali/hari c. 2 kali/hari c.5 52.4 96.6 94. 1 kali/hari b.3 1.3 0. ≥ 3 kali/hari Apakah anak setiap mandi menggunakan sabun mandi? a. 20. Kadang-kadang c. 8.0 80. Tidak pernah b. Ya.2 8. 1 kali/hari b.No 15. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setelah makan? a. Selalu Berapa kali anak dibiasakan keramas setiap minggu? a. Kadang-kadang c. 12. Pola Asuh Kesehatan Berapa kali anak dibiasakan mandi setiap hari? a.1 92. Sejak anak berusia 1-2 tahun c.2 0 7.1 17. ≥ 4 kali/hari Apakah anak dibiasakan mengganti pakaian setelah mandi? a. 19. 1 kali/minggu b. 2 kali/minggu c.9 33.6 0. Kadang-kadang c.1 2.4 3. 16. Tidak b. 10. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi sebelum tidur? a.6 96.8 12. 17. 18.0 0. Selalu n 0 45 11 0 3 53 16 10 30 25 19 12 16 3 37 44 5 7 44 11 1 4 8 44 0 4 52 12 36 8 0 0 56 3 2 51 % 0.0 14.3 14. 7. Ya. Ya. Tidak pernah b.0 5.1 5.2 19. Ya.4 94.4 64. ≥ 2 kali/hari Sejak kapan ibu membiasakan anak menggosok gigi? a. Tidak pernah b. Tidak pernah b.0 77. Pertanyaan Pada usia berapa anak boleh diberikan makanan seperti orang dewasa? Apa yang dimaksud dengan diare? Apa yang ibu lakukan ketika anak mengalami diare? Kemana ibu biasa membawa anak berobat saat mengalami diare? Apa yang ibu berikan saat anak mengalami diare? Apakah kegunaan sabun yang dipakai saat cuci tangan? Jawaban Benar n % 46 40 53 53 54 54 82.3 64.6 91. ≥ 3 kali/minggu Apakah anak setiap keramas menggunakan sampo? a. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setiap hari? a. Ya. ≥ 2 kali/hari Apakah anak dibiasakan menggunakan handuk bersih yang sama (tidak gonta-ganti) setelah mandi? a.4 Lampiran 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan No 1.3 77. Tidak pernah b. 3. 1 kali/hari c. Kadang-kadang c. Tidak b. Ya. 9. Kadang-kadang c. 11. 5.1 28. Ya.6 28.8 7.4 19. 1 kali/hari c. Selalu Apakah anak dibiasakan menyisir rambut? a. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap menggosok gigi menggunakan pasta gigi? a. Tidak pernah b.9 77. .3 21.9 21. 4. Sejak anak berusia > 2 tahun b.4 94.1 71.6 43. 6. Kadang-kadang c.

Kadang-kadang c.7 1. Tidak pernah b. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.1 51. 20. . Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki setelah bermain? a. Ya. Tidak pernah b. Sejak anak berusia > 2 tahun b. 16. 6 4 46 0 16 40 2 32 22 9 30 17 50 0 6 1 17 38 15 28 13 12 11 33 10. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.1 82. Tidak pernah b. Selalu Apakah ibu meperbolehkan anak bermain tanpa memakai celana? a. Selalu Apakah ibu mencegah anak bermain tanah? a.0 23.4 3.8 16. Kadang-kadang c. Tidak pernah b. 22.6 57. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih? a.4 19.4 30.0 10. Tidak pernah b.9 18. Sejak anak berusia 1-2 tahun c.3 0. jamban)? a.2 21. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki sebelum tidur? a. Kadang-kadang c.8 30.6 71.4 67.1 53.1 0. Selalu Apakah anak setiap mencuci tangan setelah buang air besar menggunakan sabun dan air bersih? a.0 28. Selalu n 6 24 26 18 29 9 6 1 49 3 17 36 % 10.4 64. Tidak pernah b. Tidak pernah b. 17. 1-2 kali/bulan c. ≥ 3 kali/bulan Apakah anak dibiasakan memakai alas kaki ketika bermain/berada diluar rumah? a. Kadang-kadang c. Selalu Apakah anak dibiasakan buang air besar pada tempat semestinya (kakus. 24.9 46.9 26.7 42.4 89.No 13.8 50. 21. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk menggunting kukunya setiap bulan? a.3 16.7 7. Kadang-kadang c. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.4 32.6 30.3 14.6 58.7 1.1 10. 23. 15. Selalu Sejak kapan ibu membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan? a.1 39./WC. Kadang-kadang c. Ya. Tidak b.5 5. Selalu Apakah anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya? a. Pola Asuh Kesehatan Apakah anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan? a. Kadang-kadang c.8 87. 19.

029 r= -0.095 p= 0.203 p= 0.154 p= 0.356 r= 0.117 p= 0.988 r= 0.000 r= 0.485 r= -0.126 p= 0.310 r= 0.413 r= 0.222 p= 0.258 p= 0.852 r= 0.275 r= 0.164 p= 0.258 r= 0.138 p= 0.330* p= 0.311 PHBS ibu p= 0.001 r= 0.264* p= 0.074 p= 0.004 r= 0.643 r= -0.095 r= 0.403 r= 114 p= 0.191 r= -0.961 r= -0.226 Status gizi (TB/U) p= 0.252 p= 0.008 r= -0.100 r= -0.586 r= 0.113 Status gizi (BB/TB) p= 0.905 r= 0.440** Diare anak balita p= 0.384** Pengetahuan gizi ibu p= 0.000 r= -615** Umur ibu p= 0.476 r= 0.486 r= 0.Lampiran 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel Variabel Umur contoh BBLR Status gizi (BB/TB) Status gizi (TB/U) Umur ibu Pendidikan ibu PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Diare anak balita Umur contoh BBLR p= 0.013 r -0.476** p= 0.180 p= 0.076 Pendidikan ibu p= 0.164 Pola asuh kesehatan p= 0.334 r= 0.000 p= 0.016 p= 0.531** p= 0.179 p= 0.915 r= -0.007 p= 0.134 r= 0.865 r= 0.023 p= 0.999 r= 0.112 p= 0.350** p= 0.134 r= 0.061 r= 0.055 r= 0.203 p= 0.059 p= 0.029 r= 0.428 r= 0.087 r= -0.177 p= 0.261 p= 0.897 r= -0.145 p= 0.131 p= 0.227 r= 0.108 p= 0.370 r= -0.184 r= 0.020 r= -0.026 p= 0.619 r= 0.286 r= 0.015 p= 0.148 p= 0.036 p= 0.486** p= 0.655 r= 0.000 r= 0.391 r= 0.068 p= 0.293* p= 0.122 p= 0.231 p= 0.002 p= 0.095 p= 0.228 r= 0.000 r= 0.186 r= -0.576 r= 0.063 p= 0.018 - Keterangan:** Signifikan pada α 1% * Signifikan pada α 5% .791 r= 0.122 p= 0.050 r= 0.369 r= 0.408 r= 0.097 p= 0.052 r= -0.292* Pola asuh makan p= 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful