P. 1
kuesioner

kuesioner

|Views: 3,672|Likes:
Published by amelamanrosalin1100

More info:

Published by: amelamanrosalin1100 on Mar 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/15/2013

pdf

text

original

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA

, DI DESA CIKARAWANG BOGOR

IMA MARYANA ULFAH

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
IMA MARYANA ULFAH. Clean and Health Behavior, Nutritional Knowledge, and Caring Pattern, of Which Its Relation with Diarrhoea in Five-Year Babies in Cikarawang Village, Bogor. Supervised by CLARA M. KUSHARTO and SITI MADANIJAH Five-year babies are susceptible group for health and nutritional troubles. Mostly (70-80%), diarrhoea patients are five-year babies and 1-2% from those patients have a risk to experient dehydration. If they are not being help, they possibly will be die. Research general purpose is studied about the clean and health behavior, nutritional knowledge, and caring pattern of which its relation with diarrhoea in five-year babies in Cikarawang village, Bogor. Research design is Cross Sectional Study. Location of research is selected in purposive. Number of example is 56 five-year babies. Data is analysed descriptively and inferensia by Spearmann’s correlation test. Result of research shows that approximately half of examples (46,4%) suffers from diarrhoea. Nutritional status (p<0,05) and age from examples (p<0,01) have negatively and significantly correlation with diarrhoea. Environmental sanitary landfill--distance between water source and septic tank is less 10 m-- and dismissal of garbages are conditions that cause high case of diarrhoea. Mother who did not give exclusive ASI also causes infected diseases as diarrhoea. Self hygiene of five-year babies, accustoms to clean hand before eating and after, accustoms in bathroom, and wear sandals when out of the house must be considered to be not easy to come down with diarrhoea. Key words : diarrhoea, five-year babies, nutritional status, exclusive ASI, environmental sanitary

RINGKASAN
IMA MARYANA ULFAH. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pengetahuan Gizi, dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang, Bogor. Dibimbing oleh CLARA M. KUSHARTO dan SITI MADANIJAH. Diare merupakan salah satu contoh penyakit infeksi, sehingga akan menular. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Anak balita merupakan kelompok penduduk pasif dan rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makannya. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang, Bogor. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik anak balita, (2) Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita, (3) Mengidentifikasi karakteristik keluarga, (4) Mengidentifikasi PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, (5) Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita, (6) Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, dan (7) Menganalisis kaitan antara PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang, Bogor pada bulan Desember 2007 sampai April 2008. Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur), status gizi dan kesehatan anak balita, karakteristik keluarga (besar keluarga, umur, pendidikan, pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga), PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS. Data-data tersebut diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for window versi 11,5. Keterkaitan antar variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 46,4% anak balita mengalami diare selama tiga bulan terakhir. Lebih dari separuh anak balita (66,1%) adalah perempuan. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30,2±11,7 bulan. Proporsi terbesar umur anak balita (39,3%) berkisar antara 24-36 bulan, sisanya berumur ≤23 bulan (32,1%) dan berumur ≥37 bulan (28,6%). Terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0,01) antara umur anak balita dengan diare. Sebagian

besar anak balita (96,4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2,5 kg) dan sebanyak 3,6% anak balita memiliki berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Berdasarkan indeks BB/TB dan BB/U, sebagian besar anak balita memiliki status gizi normal, sedangkan menurut indeks TB/U berstatus gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0,05). Sebanyak 91,1% anak balita mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Diare merupakan jenis penyakit ke tiga terbesar (46,4%) yang dialami anak balita selama tiga bulan terakhir setelah panas (71,4%) dan ISPA (73,2%) dengan frekuensi tertinggi yaitu 1-2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Lebih dari separuh responden (60,7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 5,3±1,8 orang. Proporsi terbesar umur baik ayah maupun ibu berturutturut sebanyak 39,3% dan 44,6% berkisar antara 20-30 tahun (dewasa muda). Rata-rata umur ayah yaitu 33,0±6,8 tahun dan rata-rata umur ibu yaitu 27,7±5,7 tahun. Proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35,7%) yaitu SLTA/sederajat dan ibu (51,8%) yaitu SD/sederajat. Proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta dan jasa angkutan (33,9% dan 28,6%) dan sebagian besar ibu (75,0%) tidak bekerja. Proporsi terbesar pendapatan perkapita perbulan keluarga responden (58,9%) adalah >Rp150 000.00. Proporsi terbesar responden (69,6%) memiliki PHBS kategori tinggi dan 30,4% kategori sedang. Proporsi terbesar responden (48,2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang, sisanya tinggi dan rendah (42,9% dan 8,9%). Sebanyak 71,4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan 28,6% kategori tinggi. Lebih dari separuh responden (55,4%) memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi dan 44,6% kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi ibu. Sedangkan umur ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai serta Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare anak balita. Selain itu, jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), membiasakan Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB, menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika ke luar rumah. Serta, pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan, personal hygiene, dan pelayanan kesehatan) dan pentingnya ASI eksklusif.

DI DESA CIKARAWANG BOGOR IMA MARYANA ULFAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT. PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA.

MAgr NIP 131 124 019 Tanggal Lulus: . MS NIP 130 541 472 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Kusharto. Clara M.Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Dr. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. Bogor Nama NIM : Ima Maryana Ulfah : A54104065 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. drh. MSc NIP 131 414 958 Dr. Didy Sopandie. Ir. Ir. Pengetahuan Gizi. Dr. Siti Madanijah.

SP. Kusharto. Ir. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah swt senantiasa penulis panjatkan. 3. Desa Cikarawang atas bantuannya selama proses pengambilan data penelitian. Clara M. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesejahteraan Rakyat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Alhamdulillah. MS selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik yang dengan sabar dan penuh pengertian mendengarkan curahan hati serta memberikan bimbingan dan dorongan semangat yang luar biasa kepada penulis. MSc. Pihak Desa Cikarawang. Ir. Dr. yaitu kepada: 1. Ir. Oleh karena itu. Ir. MS dan Megawati Simanjuntak SP atas arahan dan saran selama proses pengolahan dan analisis data penelitian. Prof. MS selaku dosen pemandu seminar dan Katrin Roosita. 6. Dr. penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua keikhlasan bantuan yang telah diberikan. Puskesmas Cangkurawok dan ibu-ibu kader Kampung Carang Pulang. Ikeu Tanziha. MSi selaku dosen penguji atas arahan dan saran yang diberikan. Pengetahuan Gizi. drh. MKes. Dr. Dadang Sukandar. Siti Madanijah. hidayah dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. MSc selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan. 7. 4. Dr. . arahan dan dukungan semangat yang luar biasa kepada penulis. Bogor”. 2. Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari dukungan beberapa pihak. Tien Herawati SP. sungguh luar biasa karena atas rahmat. 5. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Ikeu Ekayanti. Dr.

Bogor. Arina. Wisma JASMINE dan FAIRUSH terima kasih atas kebersamaan yang indah. DausBek. Nur. Manto. Sri. Maul. Bapak Mashudi dan Bapak Dian atas dorongan semangatnya. Bung). Noni. dan doa untuk keberhasilan penulis. Rekan-rekan pembahas Edo Rizky Fernando. tumpangan kamar. perhatian. Mama. Dedew. 10. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Dede Aab serta keluarga besar di Cianjur atas semua kasih sayang. Kakang Rizki. 43. kebersamaan yang indah dan keceriannya. Teteh Milah. Yesa. Henny. 12. penghuni AS-SAKINAH. Ardi. Teman-teman BUD Cianjur (Dini dan Ade). Ena. Sahabat seperjuangan penulis Angelica Gabriel “My Beloved Friend”. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. 40 dan GM 42. Yuli. atas bantuan. Noorma. Venny. Mei. Dini. RHEMAND (Nda. curahan hati dan keceriaan sampai terselesaikannya skripsi ini. Lola. Tiche. dukungan semangat. Agustus 2008 Ima Maryana Ulfah . teman-teman pameran PIMNAS XXI di Semarang. Vina dan Emil. dorongan semangat. teman-teman relawan Klaten. Adin. Devita. dan Ibnu Akbar atas saran-saran yang telah diberikan untuk kesempurnaan penulisan skripsi. Once. MpokIde. Sahabat-sahabat terbaik penulis Eka. Dhyta. 9. 11. temen seperjuangan KKP. Ira. BKGers (Semangat yo). Ari dan Gamasakers 41 atas bantuan. Rizka. Yulia. 13. OMDA CIANJUR.8. Rika. Friska. Abah. saran. Any. Firdaus. Ati. GMSK 39.

Pada tahun yang sama penulis mengikuti PKM bidang ilmiah dengan judul “Kajian Keadaan Lingkungan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Sehat Keluarga di Kampung Carang Pulang. Serta. Tahun 2006 penulis pernah mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian dengan judul “Persepsi dan Sikap Mahasiswa Calon Bapak terhadap Pemberian ASI oleh Ibu kepada Bayi” yang berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Selain itu. Siti Romlah. Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi dalam Seminar Nasional “Nuansa Pangan. Hiperkolesterol dan Hiperglikemia)”. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Hasan Mulyadi dan Ibu Hj. Tahun 2006-2008 penulis aktif dalam organisasi otonom yaitu Badan Konsultasi Gizi (BKG). Penulis memilih Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK). Cianjur dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kabupaten Cianjur. Tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan terlibat dalam tim pameran PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Pada tahun yang sama penulis pernah menjadi relawan pada “Posko Penanganan Tumbuh Kembang Anak Korban Gempa di Kabupaten Klaten” yang diadakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK).RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 02 Maret 1986 dari ayah H. Tahun 2007 penulis mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang pendidikan dengan judul ”Reformasi Pendidikan dan Perubahan Kurikulum serta Aplikasinya terhadap Pembentukan Kualitas Bangsa Indonesia” dan lolos sebagai 10 besar terbaik di IPB. Divisi Dana Usaha dalam Seminar Konsultasi Gizi yang berjudul “Control Yourself From 3 Hypers (Hipertensi. penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen FEMA. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber. Gizi dan Keluarga X (NPGK X)”. Fakultas Pertanian. Bogor” dan berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Semarang. selama masa perkuliahan penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Pendidikan Gizi tahun ajaran . 2007/2008. Desa Cikarawang. Penulis merupakan putri ke dua dari empat bersaudara.

......................................... 29 Karakteristik Keluarga Contoh......................................................................................................................................... Tempat dan Waktu ................................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL........................................................................................................ 18 KERANGKA PEMIKIRAN.......................................... 5 Penyakit Diare .................................................................. 28 Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita ........................... 16 Pola Asuh ......................... 4 Status Gizi dan Kesehatan Anak balita ... 22 Disain.................................................................................................................................... 4 Karakteristik Anak balita ...................................... 3 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... Pengetahuan ......................... 26 Karakteristik Anak Balita............................ vi DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................................................... viii DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................................................................................................................................................. 24 HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................................... 35 Pengetahuan Gizi .................................. 1 Tujuan................................................................................................................................................................................... 21 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh .......................................................................................... 3 Kegunaan Penelitian ........................... 21 Pengolahan dan Analisis Data .............................................................. 1 Latar Belakang ... 2 Hipotesis................................................................................. 16 Pola Asuh Makan............................................................................... 54 Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS..................................... 9 Pengetahuan Gizi ..................................................................... 32 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)............................................................................................................... 26 Keadaan Umum Daerah Penelitian ............. 17 Pola Asuh Kesehatan ....... 22 Definisi Operasional ............................. ix PENDAHULUAN ................................................................................ 6 Karakteristik Keluarga ............................................................................................................................................................. 7 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)............................................................................................................................................. 51 Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita............. 19 METODE PENELITIAN ...................................... 21 Jenis dan Cara Pengumpulan Data. 47 Pola Asuh Makan..................................................................................... 47 Pola Asuh Kesehatan .......................................... 45 Pola Asuh ...

....... 57 Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita........................................................................................................... 62 LAMPIRAN ..................... 66 . Pengetahuan Gizi................................................................................................................................... 60 Saran ................................................................. 61 DAFTAR PUSTAKA ............................................................. 58 KESIMPULAN DAN SARAN ............ 55 Kaitan antara PHBS........................................................... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ............................... 60 Kesimpulan........................ Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan.....Gizi......... 56 Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita ..................................... 56 Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita .. 58 Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita .

.. 38 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air ................ 26 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin................................................................................... 42 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan .................................................................................................................................... 34 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan ..................................................................... 44 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB................................................... umur dan berat badan lahir.......................... 37 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan responden ............ 32 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga ... 37 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat. 33 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan................. 46 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan ........... 35 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene ................................................ 21 Cara pengolahan dan analisis data ........................ 42 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal membantu persalinan ............... 23 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya................... 29 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir.................. 40 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah.......................................................................................... 40 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban................................... penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit................................................... 32 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur................... 30 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit.............................................................................................................. 41 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL ......... 31 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit............. 27 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin................... 28 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi........................................................ 45 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi .................... 45 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS ................... 34 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan........ 31 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit .....DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis dan cara pengumpulan data ................................. 36 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang.............................................

................................................ 58 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita....................... 47 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita.... 50 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan...................... 54 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS .................................................................... 54 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita .......responden ...... 49 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita.......................................................................................... 48 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita............ 56 40 Kaitan antara pengetahuan gizi responden dengan diare anak balita ................................................................................................................................................................................................................................... 46 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita ....................... 57 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita ...... 53 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita ........................................... 55 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita ..................................... 51 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan ............ 58 ......................

.......... Pengetahuan Gizi............... 20 .......... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Kaitannya dengan Diare Anak Balita ...... 10 2 Kerangka Pemikiran PHBS.DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum .......................

.................. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan ........... 68 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel ........ jarak dan daya jangka ................................. ..............DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan......................................... 67 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan............................................... 70 . 67 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi.......... 67 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban benar pengetahuan gizi .......................

pelayanan kesehatan (10%). Untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi. sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih pun sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam . kulit dan hepatitis A (Cairncross dan Feachem 1993 diacu dalam Irianti et al. 2002). dan perilaku terhadap upaya kesehatan. Anonymous (2000) diacu dalam Sari (2004) menyatakan bahwa yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman atau perumahan. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lingkungan (30%). Dampak kesehatan lingkungan yang buruk adalah tingginya angka kesakitan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water related diseases) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tinja (excreta-related diseases) sepert diare. Badan Amerika Serikat untuk bantuan pembangunan internasional (U. Contoh perilaku tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. serta air dan udara yang bersih. tempat kerja. sekolah dan tempat umum. dan keturunan (20%). kebersihan perorangan. Selain itu. 2002). faktor lingkungan dan perilaku hidup sehat sangat mempengaruhi derajat kesehatan. AID) telah merangkum hasil dari berbagai penelitian mengenai dampak perbaikan keadaan air bersih dan sanitasi di negara-negara sedang berkembang yang menyatakan bahwa perbaikan kualitas dan kuantitas air bersih dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 37%. Dari keempat faktor tersebut.S. perilaku hidup sehat (40%). Serta perbaikan pembuangan tinja dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 22% (World Bank 1992 diacu dalam Irianti et al. Menurut Henrik L.PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan (BPS 2002). gaya hidup.

dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Kosek et al. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebesar 42-47% (Curtis dan Cairncross 2003 diacu dalam Rimbatmaja 2007). Tujuan Tujuan Umum Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. memberikan makan anak. penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai aspek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007). diare adalah pembunuh anak balita nomor dua terbesar setelah ISPA (Rimbatmaja 2007). mental. . kebersihan anak. merawat anak. Bogor. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan (Marotz et al. Masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang. 2005). Mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. secara umum lebih dari dua juta anak meninggal akibat diare setiap tahunnya. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Di Indonesia. dan sosial. Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan. Dalam hal ini. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. pengetahuan gizi dan pola asuh yang diduga menyebabkan terjadinya diare pada anak balita.

Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk : 1. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pengetahuan gizi. Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. pengetahuan gizi. Mengidentifikasi PHBS. 2. Mengidentifikasi karakteristik keluarga. 5. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dan bahan masukan untuk menyusun kembali perencanaan dan strategi dalam penentuan kebijakan. 3. . pengetahuan gizi. Serta bagi masyarakat Desa Cikarawang khususnya. Hipotesis 1. supaya lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk keberlangsungan hidup yang berkualitas. Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. pengetahuan gizi. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. 6. 4. 2. 7. pengetahuan gizi. Terdapat kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. Mengidentifikasi karakteristik anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Terdapat kaitan negatif antara PHBS. Terdapat kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. 3. Menganalisis kaitan antara PHBS. Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada instansi terkait khususnya Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menindak lanjuti perihal yang menyebabkan terjadinya diare pada anak balita.

Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling ideal untuk mulai memperkenalkan kepada anak tentang perilaku-perilaku dasar yang berhubungan dengan gaya hidup sehat. Sedangkan jika anak yang lahir pertama kali adalah anak laki-laki. Pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian. . Bayi BBLR mortalitasnya lebih tinggi. pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi dengan berat badan lahir cukup (Alisyahbana 1983 diacu dalam Firlie 2001). daya tahan terhadap penyakit lebih rendah. selama tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi.TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin Anak perempuan khususnya anak sulung diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. 2005). dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama. gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental dan intelektual yang lebih tinggi dengan berat badan lahir normal (Utomo 1998 diacu dalam Firlie 2001). Umur Menurut Hurlock (1982) sikap. keselamatan dan gizi. kebiasaan. maka mereka memiliki keistimewaan karena memperoleh pekerjaan rumah tangga yang lebih sedikit dibandingkan yang perempuan serta diberi kesempatan untuk mengabaikannya (Hurlock 1982). Akan tetapi. Orang tua harus dapat memanfaatkan rasa ingin tahu anak dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan masalah kesehatan. Berat Badan Lahir Bayi yang dilahirkan prematur atau dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terhadap mortalitas dan morbiditas akut dalam jangka panjang (Alberman 1994 diacu dalam Rahayu 2006). Orang tua harus dapat meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai isu lingkungan yang kompleks serta pengaruhpengaruhnya (Marotz et al. sangat menentukkan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua.

Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini. Menurut Riyadi (2001) berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberi gambaran tentang masa tubuh (otot dan lemak). Indeks BB/U mampu menggambarkan status gizi pada saat kini. penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. Karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan mendadak seperti penurunan nafsu makan dan terserang penyakit infeksi. Indeks BB/TB dapat memberikan gambaran proporsi BB relatif terhadap TB. salah satunya dengan antropometri. Oleh karena itu. tinggi badan menurut umur (TB/U). Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi (BPS 2002). Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. . Status gizi anak dinilai dengan mengunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). Status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk dan biasanya dapat dilihat melalui indikator angka kesakitan yaitu persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Menurut Riyadi (2001) tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang mengambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Indeks ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi underweight dan overweight. Lebih lanjut Riyadi (2001) menyatakan kenaikan berat badan tiap bulan adalah indikator kesehatan anak yang paling peka. Indeks TB/U mengambarkan status gizi masa lalu (stunting). maka indeks ini merupakan ineks kekurusan (wasting).Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita Menurut BPS (2002) aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk yaitu status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi. dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Riyadi (2001) menyatakan status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan bila dibandingkan tinggi badan. Oleh karena itu.

cacing. bahkan dapat berupa air saja. Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada anak yang lebih besar (Suharyono 1988 diacu dalam As’ad 2002). Diare ada dua jenis yaitu diare akut dan diare kronis. Penyakit diare dapat menular apabila adanya kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti pada makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi baik oleh serangga maupun tangan yang tidak bersih. lalat) atau oleh tangan yang kotor. menggunakan sumber air yang tercemar. E. defisiensi zat gizi yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. apalagi air yang digunakan tidak dimasak sampai mendidih terlebih dahulu. kurang gizi dan daya tahan tubuh rendah (Saroso 2007). Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya. Selain itu. Ditinjau dari sudut patofisologi. alergi terhadap susu. bakteri. Salmomella (5-18%). menurut Dinkes (2003) penyakit diare juga dapat ditularkan melalui beberapa cara diantaranya pemakaian botol susu yang tidak bersih. dan Shigella (2-5%).Penyakit Diare Penyakit diare merupakan penyakit infeksi. sehingga akan menular. coli (20-30%). Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar juga ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). penyebab diare akut yaitu: . protozoa). Penyebab diare diantaranya yaitu virus.4-36. parasit (jamur. Sedangkan diare akut adalah diare yang timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari. (2002d) diare adalah suatu kondisi buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer. Menurut Latifah et al. yang terjadi lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari). Kuman-kuman tersebut ditularkan secara faecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Kuman yang paling sering menjadi penyebab diare akut pada anak yaitu Rotavirus (30. buang air besar bukan pada tempatnya dan pencemaran makanan oleh serangga (kecoa. Suharyono (1988) diacu dalam As’ad (2002) penyebab prevalensi yang tinggi dari penyakit diare di negara yang sedang berkembang yaitu kombinasi dari sumber air yang tercemar.6%). Vibrio cholera (5%). keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia. Penggunaan air yang sudah tercemar juga dijadikan media pencemaran penyakit diare.

Selain itu.Infeksi virus.Defisiensi imun terutama Sig A (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan terjadinya pelipatgandaan bakteri atau flora usus dan jamur terutama Candida. gugup). kuman-kuman patogen dan apatogen . 2. makanan yang terlalu asam). Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. alergi dan sebagainya.1. Diare osmotic (Osmotic diarrhea) yang disebabkan oleh: . Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. ORT dapat dilakukan dengan memberikan cairan (air) melalui mulut selama anak mengalami diare (Santrock 2002).Malabsorpsi makanan . Rumah .BBLR dan bayi baru lahir Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dengan dehidrasi.Kekurangan kalori protein dan mineral . hawa dingin. . gangguan psikis (ketakutan. Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi. Diare sekresi (Secretory diarrhea) yang disebabkan oleh: . karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonymous 1985 diacu dalam Harianto 2004). Hal ini disebabkan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga. Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk. gangguan syaraf. makanan (misalnya keracunan makanan. makanan yang pedas. Kematian diare akibat dehidrasi (kehilangan banyak cairan tubuh) dapat dicegah dengan Oral Rehydration Therapy (ORT). besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989).Hiperperistaltik usus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia.

Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006). Menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di luar rumah.yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Umur ibu berkaitan dengan pengalaman ibu mengasuh anaknya dimana ibu yang relatif muda memungkinkan ibu kurang berpengalaman dalam mengasuh anaknya (Hurlock 1993). Pendidikan Orangtua Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. Pekerjaan Orangtua Pada masyarakat tradisional. Dengan demikian. Umur Orangtua Orangtua muda terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. serta hygiene dan dalam kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga (Madanijah 2003). karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya Pengetahuan dan terhadap perawatan formal kesehatan. fertilitas. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik (Berg 1986). informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat (Sukarni 1989). Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan . pendidikan keikutsertaan pendidikan non formal dari orang tua dan anak-anak sangat penting dalam menentukkan status kesehatan. Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga (Rahmawati 2006).

Usaha kesehatan pokok (Basic Health Services) yang diajukan organisasi kesehatan sedunia (WHO) sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat diantaranya yaitu higiene dan sanitasi lingkungan. Dengan demikian. Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. serta pengobatan dan perawatan (Entjang 1985). Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan. Hal ini tidak terlepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak yang selalu sehat (Khomsan 2005). kesehatan dan gizi balita. kesejahteraan ibu dan anak. Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2001). . perawatan kesehatan dan pemeriksaan. Pada tingkat keluarga. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. penurunan daya beli akan menurunkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan. diantaranya pendidikan keluarga. rohani. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu penyebab penyakit. kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. terutama bagi warga kelas ekonomi bawah. Pendapatan Orangtua Kondisi ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga lainnya. Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi (Hardinsyah 1997). serta kualitas tumbuh kembang anak balita (Gunarsa & Gunarsa 1985). karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002).sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989). dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). manusia sebagai tuan rumah. akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. dan lingkungan hidup (Entjang 1985). Keluarga dengan pendapatan terbatas besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh.

masyarakat yang sesuai dengan norma-norma kesehatan. menolong dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang tinggi (Sinaga et al. Program PHBS adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan. keluarga dan masyarakat. memiliki akses dan menggunakan jamban. Menurut Depkes RI (2006) indikator PHBS antara lain mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. lingkungan kesehatan (30%). dan pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata. menghuni rumah sehat. cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar. dan program dan pelayanan kesehatan (10%). Kebijakan Indonesia sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat. Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 2006). menurut Henrik L. Kependudukan/ keturunan Lingkungan kesehatan Derajat kesehatan morbiditas dan mortalitas Program dan pelayanan kesehatan Perilaku kesehatan Gambar 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum. makan dengan gizi seimbang. 1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010) (Manda et al. 2005). Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetik dan kependudukan (20%). perilaku kesehatan (40%). memiliki akses dan menggunakan air bersih. 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. terutama pada aspek budaya perorangan. perilaku sehat.Masalah determinan kesehatan. kelompok. .

Higiene dan sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik. menimbang balita setiap bulan. Usaha kesehatan preventif dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1. 3. . dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan lingkungan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang 1985). menjaga kerja bakti dengan masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan. ikut keluarga berencana dan lain sebagainya. Aneka ragam makanan yaitu makan sebanyak 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan (Dinkes DKI Jakarta 2002). pakaian bersih. hepatitis. dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. preventif (pencegahan penyakit). Menurut Widyati & Yuliarsih (2002) kesehatan masyarakat dibagi menjadi dua yaitu kesehatan kuratif (penyembuhan penyakit). memanfaatkan sarana kesehatan. Gizi Seimbang Perilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan. Higiene dan Sanitasi Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yg menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. biologi. menyikat gigi. diberikan saat balita (BCG.membuang sampah dan limbah pada tempat yang semestinya. Usaha higiene sanitasi adalah usaha kesehatan preventif (mencegah supaya tidak sakit). Usaha kesehatan perorangan (personal hygiene) yaitu mandi minimal 2kali sehari. memeriksakan kehamilan. Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati & Yuliarsih 2002). menjaga saluran air agar tidak mampet. dan folio) untuk mencegah datangnya penyakit 2. MMR. olahraga dan lain-lain. persalinan ditolong tenaga kesehatan. Usaha kesehatan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja). dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dan bebas dari pencemaran. sosial. Cara menjaga lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. sikap dan praktik keluarga yang mampu mengonsumsi makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan. Usaha pengebalan atau imunisasi.

Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. nanas (Dinkes DKI Jakarta 2002). singkong. diantaranya: 1. daun singkong. 5. Rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini. 2. buncis. kacang-kacangan. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan (Dinkes DKI Jakarta 2002). dan kenyamanan manusia. tahu. wortel. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. keamanan. ayam. pepaya. pisang. jagung. semangka.Kelompok bahan makanan tersebut adalah 1) makanan pokok sebagai sumber zat tenaga seperti beras. daun katuk. hujan dan hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. sirap dan nipah. Rumah Sehat Menurut Latifah et al. jeruk. Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. dan kayu atau bambu. ubi. telur. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. mie. asbes gelombang. tempe. seng. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik dilakukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. . maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya balita. tegel atau semen. daging. 4. dan 3) sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur seperti bayam. teraso. sawi. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir lancar. kangkung. kacang panjang. 2) lauk pauk sebagai sumber zat pembangun seperti ikan. sehinga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. (2002b) rumah adalah tempat manusia berlindung dari panas terik matahari. 3.

Air bersih belum tentu dikatakan sehat. 7. menurut Widyati & Yuliarsih (2002) air bersih dan sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. karena menurut Entjang (1993) untuk memperoleh air minum yang sehat dapat diperoleh melalui 1) sumber air yang bersih. dan tidak berbau. Jika anggota keluarga ada empat orang. 2002b). Syarat kimiawi: tidak mengandung zat-zat berbahaya seperti zat-zat racun atau zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. dan mata air yang terlindungi. Selain itu kandang ternak harus memiliki tempat penampungan kotoran. Menurut Subandriyo et al. Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. 2) tangan dan tempat penampungan air bersih. tidak berwarna. tidak berasa. Syarat fisik: syarat air yang dilihat dari fisiknya antara lain jernih. 3) wadah penampung air disertai dengan tutup dan sering dibersihkan.6. (1997) sumber air minum yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. 4) memasak air sampai mendidih sebelum diminum. sumur yang terlindungi. b. 8. Selain itu. Syarat bakteriologis: air yang tidak mengandung penyakit. c. Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut WC atau . Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah. Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi dengan jamban atau WC (Water Closet). maka paling sedikit harus ada satu kamar mandi. 5) menggunakan alat-alat minum yang bersih (termasuk gayung sebagai alat pengambil air harus bersih). Sanitasi Air Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. air ledeng. Sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi minimum 10 meter dan dinding sumur 1 meter di atas tanah dan 3 meter dalam tanah serta harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar perembesan air dari sekitar tidak terjadi.

Tempat yang dijadikan pembuangan sampah harus jauh jaraknya dari pemukiman. air bekas mencuci pakaian). Jangan membiarkan sampah terlalu lama pada tempat pengumpulan sampah dan sebaiknya tidak melebihi 3x24 jam (Widyati & Yuliarsih 2003). pabrik kimia). pijakan kaki. lantai yang disemen. pabrik baja. 2002c). sumur penampungan feses dan lubang resapan. Sumber air limbah yaitu 1) air limbah yang berasal dari rumah tangga (air dari kamar mandi. pabrik kertas. Bahaya sampah yang tidak ditangani dengan baik mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Menurut Latifah et al. . Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. Sampah Sampah adalah segala sesuatu yang tidak terpakai lagi dan harus dibuang. dan 3) air limbah yang berasal dari industri atau pabrik (air buangan dari pabrik tahu dan tapioka. pabrik cat. dari pabrik tinta. Tinja dari jamban dalam kamar mandi harus disalurkan melalui pipa dan ditampung di tangki septik (Latifah et al. Menurut Sukarni (1989) sarana pembuangan kotoran harus memenuhi persyaratan yaitu bangunan jamban harus mempunyai rumah kakus. 2002a). kloset (lubang tempat masuk feses). dari restoran dan dari kolam renang). Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. juga mengandung lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit (Latifah et al. tidak pada tempat yang sering digunakan orang untuk lalu lintas. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Kotoran-kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan (Depkes RI 1995 diacu dalam Amperansyah 1999). tidak boleh mengotori sumber air minum seperti mata air atau sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci serta tidak pada tempat yang sering terkena banjir (Latifah et al. 2) air limbah yang berasal dari perusahaan atau pusat perdagangan (air buangan dari hotel.kakus. air buangan dapur. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. 2002c).

Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat belum optimal. Menurut BPS (2005) pada tahun 2005 secara umum persalinan . pembuangan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak dan belum seluruh Puskesmas dipimpin oleh dokter. biasanya digunakan untuk membuang air limbah yang berasal dari industri/pabrik dan peternakan atau rumah pemotongan hewan (Latifah et al. lokasi pusat-pusat pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak atau lebih banyak berada di kota-kota besar. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat pendapatan perkapita keluarga. petugas kesehatan dan praktek dokter. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat tergantung oleh keadaan ekonomi. maka pelayanan kesehatan tersebut akan mahal.Syarat-syarat pembuangan air limbah diantaranya tidak mengotori sumber air bersih. 2002c). Berdasarkan hasil penelitian Sirajudin (1981) diacu dalam Herman (2005) masyarakat lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua yaitu pelayanan kesehatan tradisional dan pelayanan kesehatan modern. jarak fisik dan sarana perhubungan yang tidak lancar antara pusat pelayanan kesehatan dengan tempat tinggal penduduk. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. Sedangkan. Ada dua jenis sistem pembuangan air limbah yaitu menyalurkan air limbah tanpa diolah sebelumnya dan menyalurkan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. secara ekonomis. oleh karena itu sulit memenuhi tiga syarat tersebut. Untuk memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keterjaminan mutu. Penyaluran air limbah tanpa diolah dapat dilakukan dengan menggunakan tanki septik dan sistem riol. sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin. Menurut BPS (2002) fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan oleh penduduk desa untuk berobat adalah Puskesmas. 2002c). tidak menjadi tempat berkembang biak serangga perantara penyakit (lalat dan nyamuk) dan tidak menimbulkan bau dan merusak pemandangan (Latifah et al. antara lain sistem pelayanan yang ada selama ini belum diterima oleh masyarakat. Hal ini menurut Sukarni (1994) disebabkan oleh beberapa hal.

Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau tenaga bukan medis lainnya. mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa balita. Kegunaan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita. dan mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut (Dinkes DKI Jakarta 2002).balita ditolong oleh tenaga medis diantaranya oleh dokter. . dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pola Asuh Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. mencegah memburuknya keadaan gizi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nutrition Assesment Educational Project di Washington (1999) diacu dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa rendahnya perhatian terhadap masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan atau pemahaman tentang gizi yang baik. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). balita dan ibu hamil. Cicely William diacu dalam Berg (1986) melaporkan studi di Afrika Barat bahwa gizi kurang tidak terjadi karena kemiskinan harta. pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. akan tetapi disebabkan oleh kemiskinan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan keluarga khususnya anak-anak. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. terutama bayi. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan yaitu mengikuti perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga. bidan dan tenaga medis lainnya. Mendidik menyangkut pola ajar (proses sosialisasi). Persalinan oleh dokter. mencegah ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan. Pengetahuan Gizi Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan adalah hasil dari tahu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata dan telinga.

merawat anak. Pada usia pra sekolah. Pola Asuh Makan Pola asuh makan adalah praktik yang diterapkan ibu khususnya yang berkaitan dengan situasi dan cara makan. sanitasi lingkungan dan lainnya (Soendjojo. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran kepada anak mengenai isu-isu lingkungan. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Pola asuh dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan (Hardinsyah & Martianto 1992). Dalam hal ini. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. keluarga berencana. imunisasi. melalui berbagai bentuk interaksi antara ibu dan anak. Menurut Hurlock (1982) penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. Hikmat & Soemartono 2000 diacu dalam Adnyadewi 2004). mental. stimulasi dini. Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) pada usia anak di bawah lima tahun merupakan masa yang . Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak. Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada anak balita yaitu gizi anak. anak-anak sering mengalami fase sulit makan.pengertian dan perasaan serta keterampilan dan pengetahuan. memberikan makan anak. Membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Marotz et al. dan sosial. kesehatan anak. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. (2005) menyatakan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. Masalah makan pada anak dapat terjadi karena anak meniru pola makan orang tuanya yang makan pada saat menjalani diet untuk menurunkan berat badan (Khomsan 2004). maka ibu dengan mudah memberikan makan kepada anaknya dan dapat merasakan bahwa situasi waktu makan adalah saat-saat yang mambahagiakan (Tambingon 1999). kebersihan anak. perumahan.

Oleh karena itu.tergolong rawan. Ibu berperan secara konsisten bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan perawatan fisik anak. Perawatan kesehatan anak balita akan mempengaruhi tingkat morbiditasnya. Sedangkan ayah berperan dalam hal interaksi sosial dan mengajarkan norma budaya kepada anak baik laki-laki maupun perempuan yang ada di lingkungannya (Santrock 2002). maka penjagaan kesehatannya merupakan tanggungjawab individu dewasa di sekitarnya. Mengingat bayi dan anak adalah individu pasif. kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. Anak seyogiayanya diberi kesempatan untuk memilih makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari orangtua. suasana makan haruslah menyenangkan sehingga anak tidak seperti pesakitan di meja makan. Pola Asuh Kesehatan Menurut Rahayu (2006) pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena ia belum sanggup untuk merawat dirinya sendiri. terutama oleh orang tuanya (Depkes RI 1997 diacu dalam Rahayu 2006). Menurut Khomsan (2004) orang tua yang pilih-pilih makanan (picky eaters) dan tidak suka sayur secara tidak langsung akan menyebabkan anak berperilaku makan seperti orang tuanya. Higiene diri adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis. Pendidikan dan kekuasaan orang tua mampu meningkatkan kemampuan pengasuhan dan perawatan anak dengan lebih baik dalam suatu keluarga (Aronson 1991). . Ketika anak sedang makan. Anak balita yang tidak terawat baik fisik maupun makanannya akan mudah terserang penyakit. artinya sangat tergantung dari diri sendiri yang praktiknya harus diketahui. hal ini terlihat dari banyaknya orang yang terkena penyakit karena tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995 diacu dalam Rahayu 2006). dan dilaksanakan oleh setiap individu (Suklan 2000 diacu dalam Rahayu 2006). dimengerti. Higiene diri sangat penting diketahui dan dipraktikan oleh setiap orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat. orang tua jangan terlalu banyak memberi nasehat. Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. Selain itu. kondisi fisik masih lemah. perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan.

Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetika dan kependudukan. Oleh karena itu. diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makan bagi anak balita. PHBS yang disertai dengan pengetahuan gizi yang baik mampu membentuk perilaku yang baik pula. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006).KERANGKA PEMIKIRAN Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik. Penyakit diare yang diderita oleh anak balita akan mempengaruhi status gizinya. Anak balita yang tidak terawat baik fisik mapun makannya akan mudah terserang penyakit infeksi contohnya diare. sehingga akan berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. Menurut Madanijah (2003) pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. higiene dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. Menurut Henrik L. Mengingat anak balita merupakan kelompok individu pasif dan merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. perilaku kesehatan serta pelayanan kesehatan. . Dari keempat faktor tersebut. Masalah kesehatan merupakan masalah yang komplek karena terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. rohani. lingkungan kesehatan.

pengetahuan gizi. pola asuh makan dan pola psuh kesehatan kaitannya dengan diare anak balita.Umur Orangtua .Umur .Pola Asuh Makan .Pola Asuh Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu Status Gizi Anak Balita Diare Anak Balita Keterangan: = Variabel yang diteliti = Hubungan yang dianalisis Gambar 2 Kerangka pemikiran PHBS. .Pendapatan Keluarga Pengetahuan Gizi Ibu Karakteristik Anak Balita .Pendidikan Orangtua .Jenis Kelamin .Besar Keluarga .Berat Badan Lahir Pola Asuh .Karakteristik Keluarga .Pekerjaan Orangtua .

METODE PENELITIAN Desain. status gizi dan kesehatan anak balita. sekunder Primer Cara pengumpulan data Wawancara Wawancara dan antropometri Alat ukur Kuesioner. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang.Jenis kelamin . observasi Pengisian kuesioner Wawancara Monografi Desa Cikarawang Kuesioner 5 6 7 8 Primer Primer Primer Sekunder Kuesioner Kuesioner Kuesioner . Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. KMS Kuesioner. Kecamatan Darmaga. Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. timbangan injak dan mikrotoa Kuesioner 2 3 Primer Wawancara 4 Primer Wawancara Wawancara. Tempat dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional study yaitu data diambil pada waktu tertentu secara bersamaan.Berat badan lahir BB/TB BB/U TB/U Pernah/tidak sakit Frekuensi sakit Lama sakit Besar keluarga Umur orang tua Pendidikan orangtua Pekerjaan orangtua Pendapatan keluarga Jenis data Primer. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang. pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga). Desa Cikarawang. Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data No 1 Variabel Karakteristik anak balita Status gizi anak balita Status kesehatan (diare anak balita) Karaktersitik keluarga PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh Lokasi penelitian Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Data . Kabupaten Bogor. pendidikan. umur. karakteristik keluarga (besar keluarga.Umur . Berdasarkan Tabel 1 data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur). Desa Cikarawang. Menurut Nasution (2003) jumlah sampel 10% dari total populasi dianggap cukup memadai dalam sebuah penelitian.

Selain itu, data primer juga meliputi PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS (Tabel 1). Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Program komputer yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for Window versi 11,5. Status gizi anak balita dikategorikan menjadi gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (zscore -2SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Sedangkan status kesehatan diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, jenis penyakit, frekuensi dan lama sakit selama tiga bulan terakhir (Tabel 2). Total skor PHBS dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu PHBS rendah (24-38), PHBS sedang (39-53) dan PHBS tinggi (54-67). PHBS aspek pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan, kunjungan ke pelayanan kesehatan, persepsi jarak, persepsi daya jangkau, akses terhadap sumber informasi, persepsi terhadap kemudahan petugas kesehatan, serta persepsi cara pelayanan petugas kesehatan disajikan dalam bentuk deskriptif (Tabel 2). Pengetahuan gizi dinilai dengan pemberian skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Menurut Khomsan (2000) jawaban pengetahuan gizi diklasifikasikan ke dalam 3 kriteria, yaitu pengetahuan gizi baik (>80%), pengetahuan gizi sedang (60%-80%) dan pengetahuan gizi kurang (<60%) (Tabel 2). Data pola asuh makan diperoleh dengan memodifikasi kuesioner dari penelitian yang telah dilakukan oleh Khairunnisak (2004) yaitu dengan memberikan 16 pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Data pola asuh kesehatan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup sebanyak 24 pertanyaan. Total skor dari pertanyaan tersebut dikategorikan

menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72). Tabel 2 Cara pengolahan dan analisis data
No Variabel Sub Variabel a. Jenis kelamin b. Umur (bulan) • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kategori ≤23 24-36 ≥37 (Turner & Helms 1991) BBLR (<2,5) Non BBLR (≥2,5) Gizi kurang (z-score <-2SD) Gizi normal (z-score -2SD-+2SD) Gizi lebih (z-score >+2SD) 1 2 ≥3 1-3 4-7 8-14 >14 Remaja (13-19) Dewasa muda (20-30) Dewasa madya (31-50) (Turner & Helms 1991) Kecil (≤4) Besar (>4) Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi Buruh tani/kebun Petani pemiliki Pedagang/wiraswasta Pegawai negeri/swasta Jasa angkutan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Ibu Rumah Tangga (IRT) Lainnya ≤Rp 100 000.00 Rp 100 001.00-150 000.00 >Rp 150 000.00 Rendah (24-38) Sedang (39-53) Tinggi (54-67) (Subandriyo et al. 1997) Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) (Khomsan 2000) Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) (Slamet 1993) Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (57-72) (Slamet 1993)

1

Karakteristik anak balita

c. Berat badan lahir (kg) 2 Status gizi anak balita BB/TB, BB/U, TB/U a. Pernah/tidak sakit b. Frekuensi sakit (kali/3 bulan)

3

Status kesehatan anak balita (diare)

c. Lama sakit (hari)

a. Umur orangtua (tahun)

b. Besar keluarga (orang)

c. Pendidikan orangtua 4 Karakteristik keluarga

d. Pekerjaan orangtua

e. Pendapatan keluarga

5

PHBS ibu

6

Pengetahuan gizi ibu

a. Pola asuh makan 7 Pola asuh b. Pola asuh kesehatan

Definisi Operasional Contoh adalah anak yang berada pada golongan usia satu sampai dengan lima tahun yang akan diamati status gizi dan status kesehatannya khususnya diare. Status gizi anak balita adalah kondisi kesehatan tubuh anak balita yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diperoleh dengan menggunakan metode antropometri. Indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB, BB/U, dan TB/U. Status gizi dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan perhitungan zskor yaitu gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (z-score -2 SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Status kesehatan anak balita adalah kondisi kesehatan (riwayat sakit) anak balita dalam tiga bulan terakhir yang meliputi jenis penyakit, frekuensi sakit (berapa kali sakit) dan lama sakit (dalam hari) dengan menggunakan kuesioner. Diare pada anak balita adalah kejadian buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari pada anak balita. Besar keluarga adalah banyaknya orang yang tinggal (hidup) di bawah satu atap yang sama dan makan dari satu dapur yang sama. Pendidikan orang tua adalah lama pendidikan formal (pendidikan terakhir) ayah dan ibu, diklasifikasikan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi (PT). Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dimiliki ayah dan ibu yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi buruh tani atau kebun, petani pemilik, pedagang atau wiraswasta, pegawai negri/swasta, jasa angkutan, Pembantu Rumah Tangga (PRT), Ibu Rumah Tangga (IRT). Pendapatan perkapita perbulan adalah jumlah pendapatan yang dinilai dengan uang (rupiah) perbulan yang dibagi dengan besar keluarga dan diklasifikasikan menjadi <Rp100 000.00, Rp100 001.00-150 000.00 dan >Rp150 000.00. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu adalah tindakan atau aktivitas ibu tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Berdasarkan

rumus interval total skor PHBS diklasifikasikan menjadi rendah (2438), sedang (39-53) dan tinggi (54-67). Pengetahuan gizi ibu adalah pengetahuan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan meliputi definisi dan fungsi zat gizi, sumber pangan dengan kandungan zat gizi tertentu, akibat defisiensi zat gizi, akibat mengonsumsi makanan yang tidak bersih, waktu pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, definisi dan pencegahan diare, serta penanganan saat anak balita mengalami diare. Pengetahuan gizi diklasifikasikan menjadi tiga menurut Khomsan (2000) yaitu baik (>80%), sedang (60%-80%) dan kurang (<60%). Pola asuh makan adalah cara dan kebiasaan ibu dalam memenuhi kebutuhan makan anak balita yang meliputi riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Pola asuh kesehatan adalah cara dan kebiasaan ibu memperlakukan anak balita dalam penerapan kebersihan diri dan perilaku kesehatan lingkungan. Total skor dari aspek pola asuh kesehatan yaitu 24-72 yang dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72).

32 8.HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian Berdasarkan data dasar profil desa tahun 2007/2008 luas wilayah Desa Cikarawang yaitu 225. Perkantoran b.03 0.226 8 0 38. perkantoran. Jarak dari desa ke ibukota kecamatan adalah sejauh 3 km dan dapat ditempuh selama setengah jam.84 % 0. Pasar e. Tempat peribadatan (masjid.510 225. Kuburan/makam h.0 11. Sawah tadah hujan d.260 18.54 0. Sawah pengairan teknis (irigasi) b.070 52. masjid. Terminal f.073 2 0.22 100. Sawah pengairan setengah teknis c. 84 ha. Empang/tebat Total Sumber: Data dasar profil desa 2007/2008 Luas ha 0 25. Desa Cikarawang merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 700 m dpl. pura. Tambak b.075 0.07 3. sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Cisadane-Ciapus dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situ Gede. dll) g.10 23. Kolam c. Jalan i. Sekolah c. dan lain-lain).18 0.23 33. vihara.0 Batas wilayah Desa Cikarawang yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cisadane.19 0. bangunan-bangunan (sekolah.430 0 0 0 0.0 0. .0 0. Lain-lain Perikanan Darat/Air Tawar a. Perkebunan swasta Pemukiman Umum Bangunan a.88 0.86 0.0 0. Pertokoan/perdagangan d. gereja. Sedangkan dari desa ke ibukota kabupaten sejauh 35 km dan dapat dicapai selama dua jam.007 0.0 0.0 0.016 0. perkebunan. Perkebunan rakyat b.0 16. Sawah pasang surut Perkebunan a. Tabel 3 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya Penggunaan Pertanian Sawah a.925 0 0 0. yang dipergunakan untuk pemukiman umum. Perkebunan Negara c.800 4.455 75. jalan. dan lain sebagainya (Tabel 3). sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Ciapus. kuburan.35 2. pertanian sawah.

fasilitas penyediaan air bersih di Desa Cikarawang sebagian besar berasal dari sumur pribadi atau mata air pribadi. Selain itu. Namun. Dusun II terdiri dari RW 3 dan 4. Tabel 4 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin Umur (Tahun) 0-5 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 Jumlah Laki-Laki 443 408 392 379 389 398 304 311 261 215 183 158 189 144 4 174 Perempuan 515 366 389 369 374 378 285 288 251 193 160 141 147 145 4 001 Jumlah 958 774 781 748 763 776 589 599 512 408 343 299 336 289 8 175 Sumber : Data dasar profil desa 2007/2008 Penggolongan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga dibagi ke dalam empat kelompok yaitu keluarga pra sejahtera (900 KK).Desa Cikarawang terdiri dari tiga Dusun. Kedua belas MCK tersebut dibangun berdasarkan bantuan pemerintah daerah Kabupaten Bogor (PKPS BBMIP) tahun 2005. Jumlah penduduk Desa Cikarawang seluruhnya adalah sebanyak 8 175 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2 000 KK. RW 1 dan 2 berada di Kampung Cangkrang. Dusun I terdiri dari RW 1 dan 2. keluarga sejahtera II (300 KK). hanya sepuluh bangunan MCK yang sudah ditembok rapi dan sisanya belum ditembok. tujuh Rukun Warga (RW) dan 32 Rukun Tetangga (RT). Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan aparat desa. dan keluarga sejahtera III (100 KK). keluarga sejahtera I (700 KK). Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Cikarawang paling banyak berada pada golongan usia anak balita. dan Dusun III terdiri dari RW 5. Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya masyarakat . sampai saat ini Desa Cikarawang telah memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang diperuntukkan bagi masyarakat secara umum di dua belas tempat. Kedua belas bangunan MCK yang dibangun tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. 6 dan 7. sisanya berada di Kampung Carang Pulang.

Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari Puskesmas Cangkurawok bahwa proporsi anak balita yang berjenis kelamin perempuan di Kampung Carang Pulang lebih banyak dibandingkan laki-laki. sisanya berumur ≤23 bulan (32. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh anak balita (66.4 100. mandi. Proporsi terbesar umur anak balita (39.yang menggunakan air sungai/hujan/sumur dan mata air yang tidak terlindungi sebagai sumber air minum.1±0. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30.6%).4 kg.1 39. umur dan berat badan lahir Karakteristik Anak balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Umur (bulan) ≤23 24-36 ≥37 Total Berat Badan Lahir (kg) <2. cuci dan kakus.1 100.0 .5 kg).3%) berkisar antara 24-36 bulan. Menurut Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) bayi dengan BBLR memiliki mortalitas lebih tinggi dan daya tahan terhadap penyakit lebih rendah serta pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi yang memiliki berat badan lahir cukup.6 96. Tabel 5 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2.9 66. sebagian besar anak balita (96. Berat badan lahir anak balita berkisar antara 2-4 kg dengan rata-rata 3.3 28. dan berat badan lahir.2±11.5 Total n 19 37 56 18 22 16 56 2 54 56 % 33.5 ≥2.1%) dan berumur ≥37 bulan (28. Berdasarkan Tabel 5.1%) berjenis kelamin perempuan.6 100.0 32. Akan tetapi. umur.6% anak balita memiliki Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat badan <2.7 bulan. sebanyak 3.5 kg. Karakteristik Anak Balita Karakteristik anak balita dalam penelitian ini menjelaskan mengenai jenis kelamin.0 3.

4% anak balita memiliki status gizi kurang dan 1.0 56 100.8 100. Riyadi (2001) menyatakan bahwa indeks BB/U sebagai indikator status gizi mampu menggambarkan status gizi pada masa kini. proporsi terbesar anak balita (57. Tabel 6 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih Total n 3 52 1 56 BB/TB % 5. dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara.1 43 76.0 Indeks Antropometri BB/U TB/U n % n % 13 23. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. Menurut Riyadi (2001) dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur.0 56 100. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu. WHO (1983) diacu dalam Riyadi (2001) interpretasi status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal.2 32 57. Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini (Riyadi 2001).Status Gizi dan Kesehatan Anak balita Status Gizi Anak balita Berdasarkan perhitungan z-score indeks BB/TB pada Tabel 6 sebagian besar anak balita (92. Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek dibandingkan dengan berat badan.8 24 42. Berbeda halnya dengan status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U.2% berstatus gizi kurang (Tabel 6).0 0 0.4 92. Hiswani (2003) menyatakan bahwa masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan . penyerapan.9%) memiliki status gizi yang tergolong normal. Sisanya sebanyak 5.8%) termasuk ke dalam status gizi normal dan 23. salah satunya dengan antropometri.9% berstatus gizi normal. Berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan apabila dibandingkan tinggi badan.0 Status gizi erat kaitannya dengan penyakit infeksi.9 0 0.1%) termasuk ke dalam status gizi rendah.9 1. sisanya 42. Berdasarkan indeks BB/U sebagian besar anak balita (76.8% berstatus gizi lebih.

1 8. stimulasi dini.2%) dan diare (46.9 100 Menurut Soendjojo. imunisasi. Tabel 8 menunjukkan bahwa penyakit yang tidak pernah dialami seluruh anak balita adalah campak.4%). kurap. Oleh karena itu. ISPA (73. status gizi yang baik akan mempengaruhi status kesehatan seseorang. borok dan alergi terhadap beberapa jenis pangan seperti ikan asin.4%). Aritonang (1996) dan Victoria et al (1999) diacu dalam Briawan & Herawati (2005) menyatakan kurang gizi adalah faktor pra kondisi yang memudahkan anak menderita penyakit infeksi khususnya infeksi saluran pernapasan dan diare. . Penyakit kulit yang dialami anak balita antara lain panu. Anak-anak yang kurang gizi menyebabkan rusaknya sistem imun sehingga mudah terkena penyakit. Tabel 7 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir Status Kesehatan Sakit Tidak Sakit Total N 51 5 56 % 91.masalah penyakit infeksi. Jenis penyakit yang paling banyak dialami anak balita selama tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 yaitu panas (71. kesehatan. Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa hampir seluruh anak balita (91. sanitasi lingkungan dan lainnya. perumahan.05). Hikmat & Soemartono (2000) diacu dalam Adnyadewi (2004) untuk meningkatkan status kesehatan anak balita diperlukan suatu perhatian dalam hal gizi.1%) mengalami sakit dan hanya 8. Anak yang mengalami gizi kurang memiliki kesempatan lebih besar menderita penyakit infeksi terutama penyakit diare. bisul. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0. keluarga berencana. Status Kesehatan Anak balita Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi.9% anak balita tidak mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Menurut BPS (2002) status gizi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk.

4%) dan diare 1 kali (32.0 19.1 7 12. tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya.0 0 0. Anak balita adalah individu pasif.0 0 32.4 73. . diare (30.4 46.2 3.7 3.0 0 0. ISPA (44.0 14 35.6 0.4%). Sebagian besar anak balita menderita penyakit panas sebanyak 1-2 kali (35%).1%). Sedangkan frekuensi untuk jenis penyakit lainnya adalah 1 kali (Tabel 9).0 0 0. sehingga yang bertanggungjawab dalam hal kebersihan diri adalah orang dewasa khususnya ibu dari anak balita.0 1.3 0.0 5.0 1 16. Mandi minimal 2 kali sehari dengan menggunakan air bersih dan sabun merupakan salah satu cara agar terhindar dari penyakit kulit.7 0.4 10.4%) dan kulit (5.0 N 14 13 0 3 18 3 2 Tabel 10 menunjukkan sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu panas (57.8 33.6%).0 0. Penyakit kulit erat kaitannya dengan kebersihan diri seseorang.2 17 30.Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit Jenis Penyakit Panas ISPA TBC Campak Cacar Diare Kulit Lainnya n 40 41 2 0 3 26 6 2 % 71.5 1 50. Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya Frekuensi Sakit (kali) 1 2 % N % n 35. ISPA 2 kali (30.4 11 0.0 0 ≥3 % 30.0 0 100.1%).6 Frekuensi sakit anak balita selama tiga bulan terakhir cukup bervariasi.7 2 100.0 12 23.

7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. meso dan makro).5 1 1. TBC termasuk ke dalam jenis penyakit ISPA yang bersifat kronis.6 0 0.7 100. kedua anak balita sedang melakukan pengobatan rutin sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter hingga benar-benar kedua anak balita tersebut dinyatakan sembuh.8 Selain jenis penyakit di atas.0 0. Seorang anak akan memperoleh hubungan antar pribadi pertama kali dalam lingkungan .0 0. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.8 1.0 0 0. Keluarga sangat tergantung dengan dan juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (mikro.0 0 0. Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga Kecil (≤4 orang) Besar (>4 orang) Total n 22 34 56 % 39. Karakterisitik Keluarga Contoh Besar Keluarga Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3-10 orang dengan ratarata 5.0 >14 n 0 0 0 0 0 1 1 % 0.0 0. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden (60.3 60.0 0.8 2 3.6 14.0 Puspitawati (2007) menyatakan keluarga merupakan salah satu lembaga sosial yang tidak dapat berdiri sendiri.6 0.8 3.0 0.0 1.1 44. frekuensi penyakit TBC tidak diikut sertakan dalam tabel frekuensi sakit (Tabel 9) dikarenakan penyakit tersebut sudah berlangsung cukup lama yaitu selama 32 hari dan saat penelitian dilaksanakan penyakit tersebut masih diderita kedua anak balita.4 5.3±1.4 0.8 n 7 13 0 1 8 2 0 Lama Sakit (hari) 4-7 8-14 % n % 12.Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama hari sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya 1-3 N 32 25 0 0 17 3 1 % 57.0 0.8 orang.2 3 5.3 1 1.4 1.8 23. Lama hari penyakit TBC lebih dari 14 hari.0 30.0 1. Responden menyatakan untuk penyakit TBC.

6 100.3 28. Sedangkan umur ibu berkisar antara 19-47 tahun dengan rata-rata 27. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). Suhardjo (1989) menyatakan bahwa besar keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi sedangkan menurut Suharini (1998) diacu dalam Madihah (2002) bahwa jumlah anggota keluarga yang besar disertai dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga menderita kurang gizi. Jumlah keluarga yang banyak dapat mempengaruhi kondisi gizi dan kesehatan dari anggota keluarga.7±5. terutama ibu. Menurut Hurlock (1993) orang tua muda.1 39.3 100. proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35.8%) yaitu SD/sederajat.0 .6% ) berumur antara 20-30 tahun. Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa muda (Turner & Helms 1991).7 tahun.8 tahun. Tabel 12 menunjukkan bahwa proporsi terbesar baik ayah (39. sedangkan ibu (51. cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak. Umur Orang Tua Umur ayah berkisar antara 23-50 tahun dengan rata-rata 33. Tabel 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Tabel 13. Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu.1 44.0 n 18 25 13 56 Ibu % 32.8% ibu yang berpendidikan akademi/diploma/PT.6% saja ayah dan 1. tingkat pendidikan ayah lebih tinggi dibandingkan dengan ibu.keluarga. Ayah n 18 22 16 56 % 32. Secara keseluruhan tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu masih rendah karena keduanya masih banyak yang berpendidikan SD/sederajat dan hanya 3.7%) yaitu SLTA/sederajat.0±6. Selain itu.3%) maupun ibu (44.6 23.

dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.0 0. secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimilikinya.7 10.8 35.4 100.0 Menurut Rahmawati (2006) pada masyarakat tradisional.3 33. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa proporsi terbesar tingkat pendidikan ibu (51.0 5.8 100. Dengan demikian. Tabel 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan Buruh tani/kebun Pedagang/wiraswasta Pegawai negri/swasta Jasa angkutan PRT IRT Lainnya Total Ayah n 10 8 19 16 0 0 3 56 % 17.9%) dan jasa angkutan (28.Tabel 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Ayah n 18 16 20 2 56 % 32. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi daripada yang berpendidikan rendah. Selain itu. Oleh karena itu.9 28.0 n 29 20 6 1 56 Ibu % 51.0 10.0 0.8%) adalah SD/sederajat.6 35.5 1.0 Menurut Sukarni (1989) pendidikan orang tua akan menentukan status kesehatan.9 14. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga. fertilitas.6 100.7 3.0 100. menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di .6 0.0 12.0%) tidak bekerja atau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). sebagian besar ibu (75.0 n 0 7 1 0 6 42 0 56 Ibu % 0.1 28.7 1. Sedangkan. Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta (33.7 75.8 0.6%).

Kebiasaan mandi minimal dua kali dalam sehari merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.0 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Higiene Tabel 16 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (58.00 Total n 10 13 33 56 % 17. Proporsi terbesar responden (55.00±Rp106 712. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh responden (58. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007).8.00±Rp597 650.00 >150 000. Kebiasaan menggosok gigi merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari penyakit khususnya sakit gigi.9% berpendapatan <Rp100 000.9 23.00. Sukarni (1989) menyatakan bahwa pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan. lebih dari separuh responden (58. Rata-rata pendapatan perkapita perbulan responden yaitu Rp210 113.4%) menggosok gigi dua kali setiap harinya.9%) selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar serta melakukan aktivitas mandi dua kali setiap harinya.00-Rp150 000.2 58.00 sampai Rp2 620 000.00. Menurut BPS (2005).9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas garis kemiskinan. Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan (Rp/kap/bln) <100 000. .3. Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga perbulan berkisar antara Rp300 000.00 100 001.2% responden memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar Rp100 001.00-150 000.00/kapita/bulan. garis kemiskinan untuk Kabupaten Bogor yaitu Rp150 000.00 dan sebanyak 17. Dengan demikian. Sebanyak 23.00.00.00 dengan rata-rata Rp1 073 393.9.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar >Rp150 000.luar rumah.9 100.

9%) melakukan aktivitas mencuci di kamar mandi pribadi. dua kali (30.Tabel 16 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum. sungai b.9 41. 2 kali c. dengan alasan agar terhindar dari penyakit khususnya sakit diare karena kuman dalam air tersebut mati.7 67. 2 kali/hari c. kamar mandi umum c.9 0.4%) dan ≥ tiga kali (37. akan tetapi masih ada responden yang melakukan aktvitas mencuci di sungai yaitu sebanyak 21. ≥ 3 kali Melakukan aktivitas mencuci a.1 30.4 44. kadang-kadang c. salah satu cara untuk menurunkan tingkat kesakitan khususnya diare pada diminum. memasak tetapi tidak sampai mendidih c.0 58.4 10. 1 kali b. ≥ 3 kali/hari Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari? a. memasak sampai mendidih Membersihkan kamar mandi dalam seminggu a.0 100. Tidak b.5 21.0 55. Oleh karena itu.4 37.7%.6 0. Frekuensi responden membersihkan kamar mandi dalam satu minggu terlihat pada Tabel 16 yaitu satu kali (32.3 58. Lebih dari separuh responden (67.0 32.1%). tidak memasak air b.8 39.9 anak balita dapat dilakukan dengan membiasakan memasak air sampai mendidih sebelum . 2 kali c.5%). kamar mandi pribadi n 1 22 33 0 33 23 0 31 25 0 0 56 18 17 21 12 6 38 % 1.1 0. 1 kali/hari b. Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene PHBS aspek Higiene Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar a. Menurut Suririnah (2007) air yang tidak dimasak sampai mendidih maka akan menjadi media pencemaran untuk penyakit diare.0 0. 3 kali Memasak air untuk minum a. ya Kebiasaan mandi dalam sehari? a. 1 kali b.4% dan di kamar mandi umum sebanyak 10.

sayur dan buah.0 3 28 2 33 9. besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh.00-150 <100 000. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002).6 100. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang .6 yang selalu menyediakan menu makan keluarga secara beragam (nasi. nasi. protein hewani Nasi. sebanyak 6.Gizi Seimbang Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 sebagian besar responden (89. protein nabati dan sayur. Tabel 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan per kapita perbulan responden Menu Makan Keluarga Nasi.0 100.1 100. lauk pauk. lauk pauk.3 3. Hanya 3.0 100. sayur c. Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang PHBS aspek gizi seimbang Menu makan keluarga sehari-hari a. sayur dan buah) adalah berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan >Rp150 000.3 3.6% responden yang biasa menyediakan menu makan beragam yaitu nasi. sayur dan buah Berdasarkan Tabel 18. lauk pauk. nasi. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.00 N % n % n % 1 9 0 10 10.3%) menyatakan bahwa menu makan yang biasa disajikan untuk keluarga yaitu makanan pokok.0 0 13 0 13 0.1 84.00 >150 000. protein nabati.8 6.00 atau di atas garis kemiskinan menurut BPS Kabupaten Bogor tahun 2005.1 89.1 89.0 0. Kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin.0 0. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Keluarga dengan pendapatan terbatas.00 000.0 Mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik untuk keberlangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang.0 100.1% n 4 50 2 responden % 7.0 90. lauk pauk.0 Total n 4 50 2 56 % 7. nasi. protein nabati dan sayur Nasi. protein hewani b. sayur dan buah Total Pendapatan Perkapita Perbulan (Rp/Kap/Bln) 100 001.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah et al. dan kayu atau bambu.6 0 3. 7.8 0 3. terbuka Atap rumah a. bambu/lainnya b.0 m2 perkapita.6 96.9 m2 c.4 1.7 3.7 37.4 94. tembok Letak kandang ternak a.8 69. BPS (2004) menyatakan bahwa salah satu indikator rumah sehat menurut WHO adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 m2 perkapita. Hasil penelitian . kayu c.5 m2 b.8%) memilik luas hunian ≥10. <7. <10 m dari rumah b. >10 m dari rumah c. teraso. tertutup c. Luas hunian yang tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga menyebabkan penularan pertukaran penyakit oksigen diantara kurang anggota optimal keluarga.7 Tabel 19 menunjukkan sebagian besar jenis lantai rumah responden (96.6 35. seluruhnya tanah/lainnya b.6 28.beraneka ragam yaitu akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita (Dinkes DKI Jakarta 2002). ijuk/daun-daunan/lainnya b. tidak ada b. (2002b) bahwa salah satu syarat rumah sehat yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik.5 51.9. ada. ≥10. marmer/keramik/ubin/tegel/ teraso/semen Jendela rumah a.6 96. Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat PHBS aspek rumah sehat Luas hunian a. ada.0 m2 Jenis lantai rumah a. beton/genteng Dinding rumah a.6 60. kayu/ bambu c.5. seng/asbes/kayu c. sehingga Menurut memudahkan Notoatmodjo (1997) rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit. Rumah Sehat Tabel 19 memperlihatkan bahwa separuh responden (51.4 0 5. tegel atau semen.4%) adalah berjenis marmer/keramik/ubin/tegel/teraso/semen. tidak punya n 6 21 29 0 2 54 1 39 16 0 2 54 0 3 53 20 2 34 % 10.

dan sebanyak 94.6%) yaitu ledeng/sumur terlindung/mata air terlindung (Tabel 20). Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran responden dalam menjaga kenyamanan serta kebersihan rumah masih rendah. Atap rumah sebagian besar responden (96. 2002b). Lebih dari separuh responden (60. Latifah et al. Ada tidaknya jendela di setiap ruangan yang dapat dibuka dan ditutup berhubungan dengan ventilasi udara. Lebih lanjut Subandriyo et al. sirap dan nipah. Menurut Latifah et al. Keberadaan kandang ternak di sekitar rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan karena memudahkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kotoran ternak. (1997) menyatakan bahwa sumber air minum yang . (2002b) air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. Lebih dari separuh jendela responden (69. asbes gelombang.7% responden memiliki kandang ternak dengan jarak antara kandang ternak dengan rumah yaitu <10 m (Tabel 19). Rumah yang sehat memerlukan jendela yang cukup untuk jalan masuknya cahaya ke dalam rumah.4%) berupa genteng/beton. Serta dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. seng.menunjukkan bahwa tidak ada satu responden pun memiliki jenis lantai rumah berupa tanah. Sumber air minum yang digunakan sebagian besar responden (78. Sanitasi Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. (2002b) atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. Air yang digunakan sehari-hari harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan. (2002b) syarat rumah sehat lainnya yaitu kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Menurut Latifah et al.6%) berada dalam keadaan tertutup (Tabel 19). (2002b) lantai rumah berupa tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. Menurut Latifah et al. Menurut Latifah et al.6% dinding rumah responden berupa tembok (Tabel 19). sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. (2002b) menyatakan fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. Hal senada juga diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa dinding yang paling baik adalah tembok.7%) tidak memiliki kandang ternak dan sebanyak 35.

Tidak punya b.6 12. ≥10 m Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut kakus.6 33. Kamar mandi pribadi n 9 2 45 7 2 47 % 16. sungai b. Sebagian besar keluarga responden (80. air sungai/air hujan/lainnya b.6%) dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m (Tabel 20).bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. Kamar mandi umum c. mandi. Proporsi terbesar responden (53. Oleh karena itu. sumur yang terlindungi dan mata air yang terlindungi.6 80. Sungai/pancuran b. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan tempat penampungan kotoran minimum 10 m.6 17. Menurut Subandriyo et al.9 . air ledeng. kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik Tempat keluarga mandi a. Kondisi tersebut menyebabkan sumber air tercemar oleh bakteri yang dapat dijadikan media penularan penyakit diare.9 n 2 10 44 7 30 19 % 3.1 3. sehingga tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan. <10 m c.9 78. cuci. dan kakus a.5 53.4 12. Menurut Depkes RI (1995) diacu dalam Amperansyah (1999) kakus digunakan untuk menyimpan kotoran (hajat).5 53. sangat disarankan bagi masyarakat memiliki kakus yang dilengkapi dengan tangki septik. ledeng/sumur terlindungi/mata air terlindungi Jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat a. sumur tak terlindungi/mata air tak terlindungi c. kakus sendiri/kakus bersama tanpa tangki septik c. Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air PHBS aspek sanitasi air Sumber air minum.6 83. Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban PHBS aspek kepemilikan jamban Tempat keluarga biasa buang hajat a.4%) melakukan aktivitas buang hajat yaitu di tempat kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik (Tabel 21).

sampah maupun air limbah. Sehingga.7%) terbiasa membuang sampah di tempat terbuka/di pekarangan dan tanpa dikumpulkan dan sebanyak 39. Hal ini disebabkan oleh tidak terlindunginya air tersebut dari kotoran baik tinja. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) sumber air yang tercemar merupakan salah satu media yang dapat menularkan penyakit diare. Air sungai/pancuran bukan merupakan sumber air yang bersih dan sehat.7 39. Sampah Seluruh responden terbiasa membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya. mampu mengundang lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit. tempat terbuka di pekarangan dan tanpa dikumpulkan b. (2002c) bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik yaitu dapat menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit (seperti cacing. Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah PHBS aspek penanganan sampah Tempat pembuangan sampah a. sehingga berdampak terhadap status kesehatan keluarga. Lebih dari separuh responden (60. kemungkinan air sungai/pancuran tercemar oleh bakteri lebih tinggi dibandingkan dengan air di kamar mandi pribadi yang sumber airnya berasal dari ledeng atau sumur yang terlindungi. Perilaku tersebut belum mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat. Menurut Latifah et al. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang dapat menularkan penyakit diare. Perilaku tersebut masih jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat.3% responden membuang sampah pada lubang terbuka (Tabel 22). Selain itu. Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat kesehatan. lubang sampah terbuka c.Berdasarkan Tabel 21 sebagian besar responden (83.9%) terbiasa membuang air limbah di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air (Tabel 23). Menurut Latifah et al. lubang sampah tertutup/dibuat kompos Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Lebih dari separuh responden (67. akan tetapi sebanyak 12. sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. (2002c) sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. N 34 22 0 % 60.5% responden melakukan aktivitas mandi di sungai/pancuran.0 .3 0.9%) melakukan aktivitas mandi di kamar mandi pribadi.

terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya.8%) dan praktik bidan (51. . Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya.Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL PHBS aspek SPAL Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) a. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa alasan utama responden mengunjungi ketiga fasilitas pelayanan kesehatan tersebut adalah jarak yang dekat dan terjangkau. Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air b. pemeliharaan kesehatan. Puskesmas (76. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar. Dukun b. Puskesmas dan praktik bidan. Lebih lanjut Satoto (2004) menyatakan jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan kehamilan.1 Nadesul (2005) menyatakan bahwa kehamilan merupakan masa yang sangat penting karena pada saat itu mutu seorang anak ditentukan.0 n 38 0 18 % 67. Kondisi janin yang sehat akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak selanjutnya. pemeliharaan kebersihan dan sebagainya. Berdasarkan Lampiran 1.4%). ke dalam tangki septik Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa seluruh responden biasa melakukan pemeriksaan kehamilan di Posyandu. ke dalam lubang tertutup tanpa tangki septik c.8%) adalah dekat.0 32. Menurut Fogel dan Woods (1995) hal 431 diacu dalam Satoto (2004) perempuan yang tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah daripada yang memperoleh perawatan kehamilan yang memadai. Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan Pelayanan kesehatan Pemeriksaan kehamilan a. sebagian besar responden menyatakan bahwa jarak ke Posyandu (96.9 0.0 100. Posyandu/Puskesmas/praktik bidan n 0 56 % 0.

2%) dan praktik bidan (64. Hampir seluruh responden menyatakan bahwa cara pelayanan dokter Puskesmas (96.4%). Satoto (2004) . Tidak berbeda halnya dengan dokter dan bidan Puskesmas serta praktik bidan. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa daya jangkau ke Posyandu (98. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden.1%).3%).3%) adalah mudah.6%). Selain itu. bahkan mereka akan memperoleh vitamin secara gratis. bidan Puskesmas (94.6%) dan praktik bidan (75. Selain itu.9%).9%) dan praktik bidan (64. sehingga rasa kekeluargaan diantara mereka masih cukup tinggi. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut juga mudah dihubungi yaitu dokter Puskesmas (62. Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal antara kader Posyandu dan responden yang berdekatan karena merupakan warga setempat. Puskesmas dan bidan desa sangat murah karena pasien hanya membayar retribusi. lebih dari separuh responden pernah mendapatkan informasi gizi dari ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut yaitu dokter Puskesmas (57. Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara kader Posyandu dan responden dapat terjalin dengan baik.5%). selain membantu persalinan dukun paraji juga ikut membantu memandikan bayi dan “ngurut” ibu setelah melahirkan sampai usia 40 hari kelahiran. Satoto (2004) menyatakan bahwa biaya pemeriksaan kehamilan di Posyandu. seluruh responden menyatakan bahwa kader Posyandu mudah dihubungi dan cara pelayanannya pun baik. Berdasarkan Lampiran 2.2%).6%) saat persalinan dibantu oleh bidan baik oleh bidan Puskesmas maupun praktik bidan. Berdasarkan Lampiran 1. Hal ini disebabkan oleh pembagian jadwal tugas dokter yang berbeda antara kedua Puskesmas yang berada di Desa Cikarawang. Akan tetapi.4% responden menyatakan bahwa saat persalinan dibantu oleh dukun paraji. sebanyak 30. pasien sama sekali tidak dipungut biaya. daya jangkau (biaya) juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan. bidan Puskesmas (73. Berdasarkan Tabel 25.0%) adalah baik. lebih dari separuh responden (69.Selain jarak. Pada umumnya baik bidan Puskesmas maupun praktik bidan lebih mudah dihubungi dibandingkan dengan dokter Puskesmas. dan praktik bidan (67. Berdasarkan Lampiran 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi gizi dari kader Posyandu (92. Apalagi di Posyandu. bidan Puskesmas (94. Puskesmas (83.9%).

Berdasarkan hasil wawancara. Sehingga. Seluruh responden selalu membawa anak balita ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan berat badan (Tabel 26). Dukun b. Alasan dukun paraji yang mendasari pantangan tersebut yaitu rahim ibu masih luka. ubi. Tabel 26 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu berobat ke tenaga medis ketika anggota keluarga sakit.menyatakan bahwa dukun akan melakukan pemijatan pasca melahirkan untuk mengembalikan stamina tubuh ibu dan bayinya akan memperoleh perawatan sampai tali pusatnya lepas. roti. Hal ini disebabkan oleh jarak dan daya jangkau ke rumah sakit jauh .1%) dan mudah dijangkau (69. Menurut BPS (2004) penimbangan anak balita merupakan salah satu upaya dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk melihat tumbuh kembangnya. Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa seluruh responden ikut dalam program Keluarga Berencana (KB). Secara umum responden hanya mendapatkan nasihat-nasihat berupa pantangan setelah melahirkan seperti tidak boleh makan yang manis (”bolu”). mie instan.6%). Oleh karena itu. sangat dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah atau Wanita Usia Subur (WUS) menerapkan program KB. proporsi terbesar responden (44. Puskesmas/praktik bidan n 17 39 % 30.6%) menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi gizi dari dukun paraji. Perawatan tersebut dilakukan sampai 40 hari dengan biaya yang relatif murah. Menurut BPS (2006) program KB merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. pisang. Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden menyatakan bahwa jarak ke tempat dukun paraji dekat (66. responden lebih sering mengunjungi Puskesmas untuk berobat ketika sakit dibandingkan rumah sakit. ikan asin. Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pertolongan persalinan Pelayanan kesehatan Pertolongan saat persalinan a. talas. buah nangka. daging kambing. durian.6 Alasan utama responden menggunakan tenaga bukan kesehatan (dukun paraji) saat persalinan yaitu jarak yang dekat dan terjangkau. kangkung dan sebagainya.4 69. Berdasarkan Lampiran 2. makanan-makanan tersebut tidak baik dikonsumsi.

rumah sehat.6%) memiliki PHBS termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 30. gizi seimbang.9%. Tidak b.9% kategori tinggi.0 30. masih ada responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah yaitu sebanyak 8. Tidak ada satu responden pun yang memiliki kategori PHBS rendah.0 100. Pada umumnya responden mengunjungi rumah sakit ketika anggota keluarga mengalami sakit yang cukup parah sehingga membutuhkan pengawasan dan perawatan dokter yang cukup intensif.6 100. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit Pelayanan kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) a.4 69. Tindakan yang didasari oleh .0 0. Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Akan tetapi. penanganan sampah dan SPAL serta pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (69.dan sulit.2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 42.0 Pengetahuan Gizi Tabel 28 menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden (48.4% kategori sedang. kepemilikan jamban. Dukun b. Tidak b. Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB.0 Berdasarkan pemaparan di atas mengenai aspek PHBS yang meliputi higiene.0 100. Ya Penimbangan anak balita di Posyandu a.0 100.0 0. ini menunjukkan bahwa kesadaran responden dalam berperilaku hidup bersih dan sehat sudah cukup baik (Tabel 27). Ya Tempat berobat keluarga ketika sakit a. sanitasi air. Tabel 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS Kategori PHBS Rendah (24-38) Sedang (39-53) Baik (54-67) Total n 0 17 39 56 % 0. Puskesmas/praktik bidan/klinik/rumah sakit n 0 56 0 56 0 56 % 0.

6%). Tabel 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) Total n 5 27 24 56 % 8.0 35. Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi responden (p<0.6 24. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi responden atau sebaliknya.2 42.0 0.0 100. Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawati (2006) bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan.0 Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi pun menjadi lebih baik.1%) dan pemberian ASI eksklusif (41. zat gizi untuk pertumbuhan (44.0 50.9 48.0 SLTA/sederajat n 0 3 3 6 % 0.0 Total n 5 27 24 56 % 8. Kelima pertanyaan tersebut adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (53. Hal ini mengindikasikan bahwa kelima pertanyaan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertanyaan lainnya.pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.9 100.9 100. jenis pangan karbohidrat (44.0 65.0 Tabel 29 menunjukkan bahwa secara umum responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah memiliki tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) juga.0 100.6%). Berdasarkan Lampiran 3 dapat diketahui bahwa terdapat lima pertanyaan pengetahuan gizi yang dapat dijawab responden kurang dari 60%.9 48.0 SLTP/sederajat n 0 7 13 20 % 0.1%).2 58. Tabel 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan responden Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Total Tingkat Pendidikan SD/sederajat N 5 17 7 29 % 17.1 100.0 100.0 100. jenis pangan sumber Fe (57.0 Akademi/Dip loma/PT N % 0 0 1 1 0.01).2 42.6%). .0 50.

9 53. Dalam hal ini. Hanya 41.Pada umumnya responden mengetahui lama pemberian ASI eksklusif yaitu empat bulan.6 Tidak n % 42 75. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. cara mempersiapkan makanan. Pola Asuh Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya secara fisik. bubur bayi dan lainnya. responden sudah memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang.7 67.0 8 14. Marotz et al. Akan tetapi. Tabel 30 menunjukkan bahwa sebanyak 75. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. susu formula.1% responden yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Menurut Sukarni (1989) dan Madanijah (2003) tingkat pendidikan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan.4 .1 26 46. Tabel 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Anak diberi ASI eksklusif (ASI saja hingga 6 bln) Anak diberi kolostrum? ASI diberikan sesuai permintaan bayi? ASI diberikan sampai anak berusia 2 tahun? Ya n 14 48 38 30 % 25. cara memperkenalkan makan. dan sosial. (2005) menyatakan bahwa masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilakuperilaku gaya hidup sehat. mental. orang tua harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan.0 85. Pada umumnya setelah anak berusia empat bulan bahkan kurang. Karena pendidikan akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang yang akan berdampak terhadap status kesehatan dan status gizi keluarga.3 18 32. biskuit. Ketidakmampuan responden menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan benar kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya pendidikan responden.0% responden tidak memberikan ASI eksklusif (6 bulan). lama pemberian ASI eksklusif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah enam bulan. Pola Asuh Makan Pola asuh makan pada penelitian ini meliputi riwayat menyusui dan penyapihan.

9 41. Kolostrum mengandung zat gizi untuk sistem kekebalan tubuh anak dari penyakit. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.6 Menurut Dinkes DKI Jakarta (2002) fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. frekuensi memberikan makanan utama dan memberikan makanan kudapan. sehingga dapat mengurangi risiko terserang diare.6%). Lebih dari separuh responden (67. Kebiasaan ini sangat baik karena dengan memberikan makanan beragam mampu memperbaiki status gizi anak balita sehingga terhindar dari gizi kurang. Hal senada diungkapkan oleh Masithah.9%) memberikan makanan yang beragam kepada anak balita. Sehingga tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) yang dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi seperti yang diperoleh dari kolostrum.9 53.4 Tidak n % 4 33 30 2 7. Krisnatuti & Yenrina (2000) menyatakan bahwa kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran. Soekirman dan Martianto (2005) bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi intestinal.4 96. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.6 3.1 46.7%) memberikan kolostrum kepada anaknya.9%) memberikan ASI sesuai dengan permintaan dan memberikan ASI sampai usia 2 tahun (53. Tabel 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita Cara memperkenalkan makan anak balita Anak dibiasakan mengonsumsi makanan beragam Pertimbangan ibu dalam memperkenalkan makan kepada anak berdasarkan faktor gizi Ibu membiasakan menyediakan kudapan untuk anak setiap hari Ibu memberikan makan kepada anak sebanyak tiga kali sehari Ya n 52 23 26 54 % 92. sebagian besar responden (85.1 58. Berdasarkan Tabel 30.Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi. Akibat . pertimbangan dalam hal memberikan makan karena faktor gizi. Tabel 31 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92. Cara memperkenalkan makan untuk anak balita meliputi membiasakan mengonsumsi makanan beragam. bahkan sangat mudah dan murah memberikannya kepada bayi (Dinkes DKI Jakarta 2002).

3 89.3% responden menghangatkan kembali makanan sebelum dikonsumsi.7 10. siang.4%) memberikan makan utama untuk anak balita yaitu tiga kali dalam sehari (Tabel 31). Mulai dari tahap persiapan. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita.9% responden memberikan makan anak balita sesuai dengan kondisi keuangan keluarga. sampai penyajian termasuk kebersihan peralatan makanan yang akan digunakan. sehingga sebanyak 89. sebagian besar responden (96.5 85.5 14. pengolahan. Sesuai dengan jawaban yang diperoleh dari responden saat wawancara dapat diketahui bahwa sebanyak 58. Menurut Krisnatuti & Yenrina (2000) ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk membentuk kondisi anak sehat yaitu makanan bergizi dan sanitasi (kebersihan). Kuman-kuman tersebut akan membentuk toksin yang tahan panas.7 1.6% tidak memberikan makanan kudapan setiap harinya kepada anak balita. Faktor kebersihan harus selalu dijaga pada setiap tahapan penyediaan makanan bayi.2 Tidak n % 7 48 6 1 12. sore/malam) Ibu terbiasa memanaskan/menghangatkan kembali makanan sesaat sebelum dikonsumsi Ibu selalu menutup makanan sebelum dihidangkan Ya n 49 8 50 55 % 87.tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam.3 98.8 Berbeda halnya dengan kebiasaan memasak responden yaitu sebanyak 85. sehingga tidak dapat . Menurut Pujiarto (2007) makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam mengakibatkan kuman tumbuh subur dalam makanan tersebut. Pada umumnya responden memasak satu sampai dua kali sehari. Berdasarkan Tabel 32 sebagian besar responden (87. Keadaan ini berdampak pada kebiasaan responden yaitu sebanyak 53. Akan tetapi.1%) sudah memperhatikan faktor gizi sebagai pertimbangan dalam memberikan makan kepada anak balita (Tabel 31). Tabel 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita Cara mempersiapkan makanan anak balita Ibu mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak Ibu memasak makanan dalam sehari dilakukan secara bertahap (pagi. Kurang dari separuh responden (41.7% tidak melakukan aktivitas memasak tiga kali sehari (Tabel 32).5%) mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak balita.

Akan tetapi. Oleh karena itu. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak balita.6 26. Hal ini bertujuan agar makanan tetap terjaga kebersihannya.9 5.dihancurkan dengan memasak makanan tersebut.2 16.6% responden selalu melakukan kegiatan . sebanyak 73.8 83. pilih-pilih serta jarang habis. Tabel 33 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (80. Tabel 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita Cara memberikan makan anak balita Ibu membiasakan anak makan sendiri dengan asumsi sudah dapat memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut tanpa tumpah Ibu memberikan makan kepada anak dengan cara disuapi Ibu memberikan makan pada anak di meja makan (makan bersama) Cara mengapresiasi proses makan anak balita Ibu selalu berusaha agar anak menghabiskan makanannya (membujuk.1 94.9% responden belum membiasakan anak balita makan di meja makan (makan bersama). Membiasakan menutup makanan sebelum dihidangkan dapat mengurangi kontak fisik serangga (kecoa. Sebagian besar responden (98. agar anak balita mau makan. lalat) dengan makanan.6 n 11 15 47 3 Tidak % 19. Kalaupun makanan yang diolah bersisa. sebanyak 94. Kebiasaan memasak secukupnya sesuai dengan kebutuhan. merayu) Ya n 45 41 9 53 % 80.4 Tabel 33 menunjukkan sebanyak 83. Hal ini dikarenakan anak balita tersebut belum bisa memegang sendok dengan benar sehingga saat memasukkan makanan ke dalam mulut masih tumpah. maka sebelum dilakukan proses menghangatkan makanan harus terlebih dahulu disimpan dalam lemari pendingin. Responden mengeluh anak balita mulai sulit makan.2%) selalu menutup makanannya sebelum disajikan/disantap (Tabel 32). kalaupun mau makan itupun dalam jumlah yang sedikit. pada umumnya responden memberikan makan sambil jalan-jalan atau aktivitas lainnya. Sehingga. lebih baik dibandingkan dengan menghangatkan kembali makanan tersebut.4 73. sehingga makanan tersebut cukup aman untuk dikonsumsi dan mampu mengurangi penyebaran penularan penyakit yang membahayakan manusia.2% responden masih memberikan makan kepada anak balita dengan cara disuapi.4%) sudah mulai membiasakan anak balita untuk makan sendiri.

6%) membiasakan anak balita menggosok gigi ≥2 kali/sehari dan sebanyak 64. anak sering mengalami fase sulit makan.6 100.6% kategori tinggi. Akan tetapi. Tabel 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan Pola Asuh Makan Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) Total Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Lampiran 4 dapat diketahui bahwa sebanyak 80.1% responden membiasakan anak balita agar menggunakan handuk yang sama dan milik pribadi (tidak gonta-ganti). Pada usia pra sekolah. Lebih lanjut Hurlock (1982) menyatakan penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai.4% responden membiasakan anak balita mandi dua kali dalam sehari dan sebanyak 94. menurut Hardinsyah & Martianto (1992) perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan.6% selalu menggunakan sabun ketika memandikan anak balita. Oleh karena itu. Menurut Khomsan (2004) membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu.0 71.9% anak balita selalu menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi. merayu atau memberikan pujian. Hasil penelitian mengenai kategori pola asuh makan dapat dilihat pada Tabel 34.apersepsi supaya anak balita mau makan misalnya dengan cara membujuk. sebanyak 77. Seluruh responden menyatakan bahwa selalu mengganti pakaian anak balita sehabis mandi dan sebanyak 91. Berdasarkan pemaparan di atas dari ke lima aspek pola asuh makan dapat diketahui bahwa sebanyak 71. Lebih dari separuh responden (52. n 0 40 16 56 % 0.4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan sebanyak 28.2% responden belum membiasakan anak balita menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan dan hanya 21. Tidak ada satu responden pun yang memiliki pola asuh makan kategori rendah.0 .4 28.1% responden mulai membiasakan gosok gigi saat berusia ≤1 tahun (Lampiran 4). Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang.

Sebagian besar responden (89.2% responden membiasakan mencuci rambut anak balita (keramas) sebanyak ≥3 kali/minggu dan sebagian besar anak balita (92.1%) sudah membiasakan anak untuk buang air besar pada tempat semestinya yaitu kamar mandi (Lampiran 4). sebanyak 64. kebiasaan tersebut mampu mencegah terjadinya penyakit diare.3%) selalu menggunakan sabun ketika mencuci tangan anak setelah buang air besar dan sebagian besar responden (82. Selain itu.9% anak balita sudah dibiasakan mencuci kaki sebelum pergi tidur oleh responden dan lebih dari separuh anak balita (53.4% responden membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan dan sebanyak 87. Lebih dari separuh responden (64. Sebanyak 46.9%) keramas menggunakan sampo.6%) kadang-kadang dibiasakan untuk mencuci kakinya setelah bermain. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebanyak 42-47% Kebersihan kuku juga sangat penting untuk diperhatikan.5% menggunakan air bersih untuk mencuci tangannya. Sebanyak 67.3% anak balita dibiasakan selalu menggunakan alas kaki ketika bermain atau berada di luar rumah. Curtis & Cairncross (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007) mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Walaupun masih ada responden sebanyak 21. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan sabun dan air bersih sangat penting dilakukan karena dapat menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan.4% yang menyisir rambut anak balita hanya 1 kali/hari.Sebanyak 77. karena kuku yang panjang dan tidak terawat mampu menularkan penyakit. Menurut Tjitarsa (1992). Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh saat wawancara bahwa rambut anak balita tipis dan pendek sehingga tidak perlu disisir untuk merapikannya. akan tetapi cukup dengan menggunakan tangan responden yaitu dengan cara “dielus-elus” (Lampiran 4). Serta sebanyak 51.3% responden membiasakan menyisir rambut anak balita 2-3 kali/hari. Menurut Notoatmodjo (2003) kotoran manusia (tinja) adalah sumber penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan manusia. Sebanyak 71.3%) tidak memperbolehkan .4% responden sudah membiasakan anak balita menggunting kuku ≥3 kali dalam satu bulan dan sebanyak 39.8% responden sudah membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan saat berusia 1-2 tahun.

0%) kadang-kadang memperbolehkan anak balita bermain tanah (Lampiran 4). Lingkungan rumah yang bersih akan menciptakan lingkungan nyaman yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang.4 100. sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan signifikan dengan kedua pola asuh tersebut. Menurut Rahayu (2006). memberikan makan dan menjaga kebersihan anak balita. Tabel 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan Pola Asuh Kesehatan Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (56-72) Total n 0 25 31 56 % 0.0 Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara PHBS ibu dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan (P<0. pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena anak balita belum mampu untuk merawat dirinya sendiri. Lebih dari separuh responden (58. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. . Menurut Entjang (1985) lingkungan hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Pengetahuan gizi ibu yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula seperti dalam hal perilaku bersih dan sehat. Pola asuh kesehatan seperti ini cukup baik.6% kategori sedang (Tabel 35). Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat.01). kondisi fisik masih lemah dan kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi.9%) sudah membiasakan anak balita untuk membuang sampah pada tempatnya (Lampiran 4). sebagai contoh yaitu mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat semestinya. terdapat kecenderungan apabila pengetahuan gizi ibu baik maka kedua pola asuh tersebut pun akan baik. Akan tetapi. karena dengan membuang sampah pada tempatnya mampu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya.0 44.6 55. Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (55.4%) memiliki pola asuh kesehatan termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 44.anak balita bermain tanpa memakai celana dan separuh responden (50.

salah satunya diare. Persentase anak balita yang mengalami diare dengan umur 24-36 bulan dan ≥37 bulan berturut-turut yaitu 45.6 100.4 0. sehingga sangat mudah terserang penyakit infeksi.4 100. Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) menyatakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki daya tahan terhadap penyakit juga lebih rendah. Tabel 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total n 12 6 18 ≤ 23 % 66.0 24 44.0 . Sistem imunitas tubuh berkembang sesuai dengan umur seseorang.5 12 75.0 12 54.0 54 100.4 53.01) antara umur anak balita dengan diare.6 46.0 16 100.7 33.0 30 55. Semakin tinggi umur anak balita maka tingkat diare semakin rendah.0%.0 Umur (bulan) 24-36 ≥ 37 N % N % 10 45.5% dan 25. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh variasi data penelitian mengenai BBLR yang relatif kecil. Muniasir (2007) menyatakan bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh.7%) dibandingkan dengan anak balita yang memiliki umur >23 bulan.0 Total n 26 32 56 % 53. Bayi dan balita memiliki sistem imunitas tubuh yang masih lemah.3 100.5 4 25. Tabel 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total N 2 0 2 Berat Badan Lahir BBLR Non BBLR % n % 100. Namun. Tabel 37 menunjukkan bahwa secara umum anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mengalami diare selama tiga bulan terakhir.Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita Tabel 36 menunjukkan bahwa anak balita dengan umur ≤23 bulan mengalami diare lebih tinggi (66.0 22 100.6 100.0 Total n 26 32 56 % 46. hasil analisis korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare.0 Uji korelasi Spearman menunjukan terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0.

0 100. Tabel 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS PHBS Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ibu SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Sedang n % 13 4 0 0 17 6 9 2 17 76. Semakin tinggi pendidikan responden maka PHBSnya pun semakin tinggi pula.7 10.0 30.0%). Persentase tersebut lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur 31-50 tahun (28. Responden dengan tingkat pendidikan di atas SLTP/sederajat. Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pemahaman atau pengetahuan seseorang terhadap perawatan kesehatan dan kesadarannya terhadap kesehatan anak-anak dan keluarga.Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS responden (p<0. Hasil analisis menunjukkan umur responden tidak berhubungan signifikan dengan PHBS.3 52.8 35.0 Tabel 38 juga menunjukkan responden dengan umur 13-19 tahun (30.0%) memiliki PHBS kategori tinggi.4 2.8 100.0 15. Hasil analisis juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan gizi responden (p<0. SLTA/sederajat (15. Pengetahuan Gizi.5 23.8%).8 100.0 Tinggi n 16 16 6 1 39 12 16 11 39 % 41.0 41.8 41.0 n 29 20 6 1 56 18 25 13 56 Total % 51.6 23.2 100. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Tabel 38 menunjukkan sebagian besar responden (76.01).8 100. 0. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.8%) dan 20-30 tahun (41.6 100.5%) dengan tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) memiliki PHBS kategori sedang.6%).01).4%) dan akademi/diploma/PT (2.0 35.1 44. .7 1. sebagian besar memiliki PHBS kategori tinggi yaitu SLTP/sederajat (41.0 28.9 11.0.5 0.0 32.

3 100. tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan gizi responden. air tetap terjaga kebersihannya dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (minum.9 33. Kaitan antara PHBS. Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS responden dengan diare anak balita. Tujuannya adalah supaya tidak terjadi interaksi antara mikroorganisme dengan air yang biasa digunakan untuk kebutuhan hidup seharihari.9%).1%) dibandingkan anak balita dengan PHBS responden kategori sedang (26. Sehingga. Menurut Subandriyo et al. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi (tempat penampungan kotoran) minimum 10 m. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar responden dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m. Pengetahuan Gizi. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita Berdasarkan Tabel 39 dapat diketahui bahwa kecenderungan anak balita dengan PHBS responden kategori tinggi mengalami diare lebih besar (73.4 53. kebiasaan membuang sampah dan SPAL responden yang belum sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat. mandi.1 66.7 100. Selain itu juga. Tabel 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita PHBS Diare Diare Tidak Diare Total n 7 10 17 Sedang % 26. hasil analisis menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan pola asuh makan maupun dengan pola asuh kesehatan. .0 Aspek PHBS yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran.6 100.0 n 26 30 56 Total % 46. PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). cuci dan kakus).0 n 19 20 39 Tinggi % 73.Namun.

Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita Tabel 40 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu rendah mengalami diare lebih besar (60. dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak membuang sampah pada tempat yang semestinya. Tabel 40 Kaitan antara pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi n % n % N % 3 60. Namun.0 27 100. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan penyakit diare. sampah juga mampu mencemari sumber air.3 2 40.4 53.7 5 100.6 100. Menurut Latifah et al. Perilaku seperti ini sangat jauh dari indikator perilaku hidup bersih dan sehat. sebagian besar responden membuang air limbah bukan pada tempat semestinya yaitu di pekarangan. hasil uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita.0%.0 9 33. secara umum mereka membuang sampah di pekarangan dan lubang sampah terbuka. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan.) dibandingkan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu kategori sedang (33.3%) dan tinggi (58.0 Total n 24 32 56 % 46. Sampah yang dibiarkan di tempat terbuka dapat dijadikan media berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare.Berdasarkan yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya mengenai aspek PHBS. Tidak berbeda halnya dengan SPAL responden.0 18 66. Akan tetapi.3%). Keadaan ini juga mampu mencemari sumber air. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. Selain itu.3 14 58. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing.0 tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan . Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) penggunaan air yang sudah tercemar tersebut dapat dijadikan media pencemaran penyakit diare.0 24 100.7 10 41.

0 16 100.6 100.5 24 60.8 25 100.0 Total n 26 30 56 % 46.0 Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita yaitu kebiasaan ibu dalam hal mencuci tangan anak balita sebelum makan. Namun. Pemberian ASI eksklusif erat kaitannya dengan meningkatnya kekebalan tubuh seorang anak. Dengan demikian. Tabel 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh makan Sedang Tinggi n % n % 16 40.0 14 45.Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita Tabel 41 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh makan kategori tinggi memiliki anak balita yang mengalami diare lebih besar (62.5%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh makan kategori rendah (40.0%).0 17 54. Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Tabel 42 menunjukkan ada kecenderungan ibu dengan pola asuh kesehatan kategori sedang memiliki persentase anak balita yang mengalami diare lebih besar (48.2 13 52. Rendahnya kesadaran ibu dalam hal pembiasaan mencuci .0 Aspek pola asuh makan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain mengenai pemberian ASI eksklusif. hasil analisis korelasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak balita.4 53. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.0 6 37.6 100.0 10 62.0 31 100.0%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi (45.4 53.0 Total n 26 30 56 % 46. Tabel 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh kesehatan Sedang Tinggi n % n % 12 48.5 40 100. hasil analisis juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan diare anak balita.2%).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh contoh belum dibiasakan menggunakan alas kaki (sandal) ketika keluar rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh ibu menyatakan kadang-kadang membiasakan anak balita mencuci tangan sebelum makan. Selain kebersihan tangan anak balita. Menurut Sadeque dan Ghosh (2005) salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan anak balita yaitu dengan membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. . kebersihan kaki pun harus diperhatikan. Selain kebersihan tangan dan kaki. membiasakan anak balita menggunakan kamar mandi ketika buang air besar merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat kejadian diare. kemudian tidak membiasakan menggunakan sandal ketika keluar rumah dapat menjadi sumber penyebaran kuman dan apabila tidak dihambat penyebarannya maka dapat menimbulkan penyakit seperti diare. Hal senada juga diungkapkan oleh Suririnah (2007) bahwa perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare. Hasil penelitian menunjukkan masih ada beberapa ibu yang belum membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Bahkan masih ada beberapa ibu yang tidak membiasakan mencuci tangan anak balita.tangan anak balita sebelum makan diduga menjadi penyebab tingginya diare pada anak balita. Lingkungan yang tidak bersih. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) tangan yang kotor dapat menjadi media penularan penyakit diare.

9%). Proporsi terbesar (58. 4.00. 6. 2. Sedangkan umur ibu tidak berhubungan . akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.01). pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang baik. Hampir seluruh anak balita (91. TB/U) dengan diare (p<0.3%) berkisar antara 24-36 bulan dan 96. Secara umum responden memiliki PHBS. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. Hasil analisis menunjukkan umur anak balita berhubungan sangat signifikan dengan diare (p<0.1%) mengalami sakit selama tiga bulan terakhir dan hampir 50% anak balita mengalami diare dengan frekuensi tertinggi yaitu 2 kali dan lama sakit 1-3 hari.5 kg). Hampir 50% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang.6%) berada pada kategori usia muda (20-30 tahun). Tingkat pendidikan pegawai ayah lebih tinggi dan (SLTA/sederajat) angkutan dibandingkan dan ibu (SD/sederajat).7%) merupakan keluarga besar (>4orang) dan hampir separuh umur baik ayah (39.4% anak balita memiliki berat badan lahir cukup (≥2.9% 28.6%) dan pola asuh kesehatan kategori tinggi (55.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Proporsi terbesar umur anak balita (39.9%) pendapatan perkapita perbulan responden adalah >Rp 150 000. Proporsi terbesar responden memiliki PHBS (69. sedangkan ibu (75. sisanya tinggi dan rendah (42.05).4%).6%). Tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi. Lebih dari separuh responden (60. Status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. 5. dan tidak berhubungan signifikan dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.1%) adalah perempuan. 3. Lebih dari separuh anak balita (66.4%) serta pola asuh makan kategori sedang (71.0%) tidak bekerja. proporsi terbesar pekerjaan ayah yaitu negeri/swasta jasa (33. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB.3%) maupun ibu (44. Dengan demikian.9% dan 8. Sedangkan anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare.

pengetahuan gizi. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor risiko kejadian diare anak balita dengan menggunakan analisis regresi logistik. membiasakan BAB di kamar mandi. Sehingga. Aspek PHBS yang diduga menyebabkan diare anak balita adalah jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran <10 m. menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika keluar rumah. Selain itu. pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan. dan Kakus (MCK). pola asuh makan maupun pola asuh kesehatan. 7. Pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah diare dengan membangun fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan. diperoleh informasi mengenai faktor dominan yang lebih berpengaruh terhadap kejadian diare anak balita. Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu berkenaan dengan kebersihan tangan dan kaki serta kebiasaan Buang Air Besar (BAB) bukan pada tempatnya. Saran Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya diare pada anak balita hendaknya menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. Sedangkan. masyarakat setempat hendaknya memperhatikan jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran dan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan.signifikan baik dengan PHBS. Cuci. personal hygiene. pembuangan sampah dan limbah bukan pada tempatnya. PHBS. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi. mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. aspek pola asuh makan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. . dan pelayanan kesehatan) serta pola asuh makan dalam hal pemberian ASI eksklusif dan penyiapan makanan sehari-hari. pengetahuan gizi ibu. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Selain itu.

Bogor: Institut Pertanian Bogor. Bandung: Penerbit Alumni. Berg A. [BPS] Biro Pusat Statistik. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. 2002. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. [terhubung berkala]. Jakarta: BPS. Statistik Indonesia.html [3 Oktober 2007]. Jakarta: Citra Aditya Bakti. Jakarta: BPS. 2003. [terhubung berkala]. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Jakarta: CV Rajawali.gizi. New York: HarperCollins. Hardinsyah. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Konseling Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). 1993. Jakarta: BPS. 2006. Entjang I. Hardinsyah. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kota Bogor [skripsi]. As’ad S. 2001.html [9 November 2007]. penerjemah. Martianto D. 1979. Its Role in National Development. Amperansyah. [terhubung berkala] www. Zahara DN. 1991. Firlie D. .DAFTAR PUSTAKA Adnyadewi IGA. Faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas anak baduta pada keluarga miskin dan tidak miskin [skripsi]. Diktat Mata Kuliah yang tidak dipublikasikan. Gunarsa. . Statistik Indonesia. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Majalah Ilmu Kefarmasian 1(1): 27-33. . _____. Institut Pertanian Bogor. . Herawati T.diare. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. 2004. 1992. 2002. 1997. www. 2004. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. [Dinkes] Dinas Kesehatan DKI Jakarta. 2005. Aronson SS. Briawan D. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. Gizi Terapan. Bogor: Fakultas pertanian. Jakarta: Penerbit Mutiara. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga. Health and Safety in Child Care. Ekonomi Gizi. . Peran anggota rumah tangga di dalam pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. 2006. 2004. Makasar: Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Institut Pertanian Bogor. Jakarta: BPS. Bogor: Fakultas pertanian. Gunarsa. Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Statistik Kesehatan. Diare. Penyuluhan penggunaan oralit untuk menanggulangi diare di masyarakat. Faktor risiko penyakit diare pada bayi di Provinsi Kalimantan Selatan: analisis data sekunder SDKI tahun 1997 [skripsi]. 1999. 1985. 1986. Indikator Kesejahteraan Rakyat. 1985. 2002. Harianto. Universitas Indonesia. Azwar A. Laporan akhir penelitian studi kajian wanita. Institut Pertanian Bogor. 2005. Terjemahan dari: The Nutrition Factor. Fakultas Pertanian.

1982. Buku 10 Mengenal Berbagai Penyakit dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. . Nurahmi. Kabupaten . 2002d. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kejadiaannya sangat erat dengan keadaan sanitasi lingkungan.pdf.id/download/fkm/fkm-hiswani7. 2000. Wahida S.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104. Krisnatuti D dan Yenrina R. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. . Jakarta : PT Grasindo Anggota Ikapi. . Khairunnisak I. www. Jakarta: Puspa Swara. Bogor: kerjasama pusat kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Sumali MA. M Zarkasih. 2006.pdf [15 November 2007]. Buku 8 Pengenalan Sampah dan Air Limbah. Kecamatan Tamansari. Evi D. 2002.usu. [23 uli 2008]. Ed ke-5.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat. Institut pertanian Bogor.pdf. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat. 2002a. Jakarta: Erlangga. 2005. Pedoman pengembangan kabupaten/kota percontohan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. _________. 1993. 2004. MD Djamaludin.ui. 2003.www. 2005. Latifah M. Manda S. 2004. Jakarta: Erlangga. Hubungan kualitas pengasuhan dan perilaku hidup sehat dengan status gizi dan kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kecamatan Bogor Barat [skripsi]. Faktor-faktor predisposisi yang berhubungan dengan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI) di Kecamatan Banua Lawas. . penerjemah.go. dan Suprapti.ac. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI.jurnal. Zalbawi S. Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [skripsi]. Irianti S. http://library.dinkes-sulsel. Perkembangan Anak Jilid 2. 2002c. Penelitian dalam rangka penerapan sistem pembuangan tinja dan sampah tepat guna Desa Pantai di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Lamongan. Hurlock EB. Pengetahuan. Herman. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. M Tjandrasa. Oktober 2007]. Bogor: Fakultas Pertanian. Buku 5 Rumah Sehat. [terhubung berkala].ac. Psikologi Perkembangan. Buletin Penelitian Kesehatan 27(3 dan 4-1999/2000): 346-363. [3 Hiswani.farmasi. Madihah. Buku 1 Kebersihan Diri dan Lingkungan. Fakultas Ekologi Manusia. 2002b. [terhubung berkala]. sikap dan perilaku pengguna tanaman obat di desa Sukajadi. 2000. Khomsan A.

id/dsp_content. Soekirman. New York: McGraw-Hill . Drajat M. 2005. Life-Span Development. Jakarta: Puspa Swara.com. Metodologi Penelitian Kesehatan.mosleh@bdonline. Bogor: Fakultas Pertanian. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Institut Pertanian Bogor. 1993. 2007. Health. lingkungan pembelajaran. 2007. Marotz LR. Jakarta : Rineka Cipta. Rahayu S. Tantangan bernama higinitas. 2007. Rahmawati D. konsumsi pangan. Madanijah S. Desa Sukamantri.org. [terhubung berkala]. Makanan Sehat untuk Ibu Hamil. 2003. Fakultas Ekologi Manusia. Marie ZC. Makalah Seminar Sehari. [terhubung berkala]. Bogor: Fakultas Pertanian. 2005. Institut Pertanian Bogor. Notoatmodjo S. Safety. Edisi ke-6. Institutional and Legal Challenge for the Rural Poor. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Kemitraan dalam Mengatasi Masalah Gizi di Indonesia. 2005. dan status gizi anak usia dini [disertasi]. Sadeque MU. Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. R. Ghosh SK. Pengantar Ekologi Keluarga. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Jakarta: Ghalia Indonesia. Institut Pertanian Bogor. 2005. Masithah T. Fakultas Pertanian. 2006. Pujiarto P. 2002. United State: Thomson Delmar Learning. Imunomodulator. Pola Asuh-Asupan Nutrisi dan Pertumbuhan Anak.koalisi. 2006. Bogor: Program Pascasarjana. Model pendidikan “G1-PSI-SEHAT” bagi ibu serta dampaknya terhadap perilaku ibu. Media Gizi dan Keluarga 29 (2):29-39. . 2003. Institut Pertanian Bogor. 1997. Rimbatmaja. 2003. Institut Pertanian Bogor. Bogor: Fakultas Pertanian. Jeanettia MR. Ed ke-8. Nadesul H. www. 2001. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. 2007. Nasution. and Nutrition for Young Child. Environmental Sanitation Promotion: A Social. Santrock JW. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bogor [skripsi]. Pola asuh dan status gizi anak balita keluarga penerima dan bukan penerima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) [skripsi]. Diktat Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Institut Pertanian Bogor. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat.php?kat=3&emonth=02&eyear=2007 &pg=hns-23k. [15 November 2007]. Riyadi. ___________ .co. Universitas Indonesia. Muniasir Z. parentsguide.Tabalong Kalimantan Selatan tahun 2002 [skripsi]. www. Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak batita di Desa Mulya Harja. Bukan Suplemen!. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di taman pendidikan karakter sutera alam. Yogyakarta: Ando Offset. Jakarta: Rineka Cipta. [terhubung berkala]. Puspitawati H.

Sehat itu Hak: Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Widyati R. ______. Pendidikan Kesehatan: Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar. Bandung: Eja Insani. Cianjur.infoibu. 2005. www. 1991. Satoto. Departemen Pendidikan Nasional. Solo: Dabara Publiser. dan Yekti HE. 1994. 2002. Fakultas Pertanian. Subandriyo VU. Soekirman.pdf. 1997. Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial. www. Institut Pertanian Bogor. 2007. Topatimasang. Pola pengasuhan ibu anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita di Kota Madya Manado. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. www. Fortworth: Rinehart and Winston. [terhubung berkala]. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor. Tambingon HN. Jawa Barat [skripsi]. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. 2007. 1993. 2004.jmpk-online. Kondisi geografis dan sosial ekonomi hubungannya dengan pembangunan kesehatan serta kondisi rumah rehat di Desa Gasol dan Cijedil. 1989. [3 Oktober 2007].php. Petunjuk Praktikum Kesehatan Masyarakat. Tjitarsa IB. 2000. Turner JS. Helms DB. Suririnah. [3 Oktober 2007]. Diare mendadak dan penanganannya. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. .net/files/vol-08-02-2005-4. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sinaga D. JMPK 8(2). 2005. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): studi kasus di Kabupaten Bantul 2003.com. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Fakultas Pertanian. 1992. [3 Oktober 2007]. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat. Bogor: Pusat Antar Universitas.diare. Bandung: Penerbit ITB dan Universitas Udayana. Slamet Y. Dewi MDH. Institut Pertanian Bogor. Sukarni. Suhardjo. [terhubung berkala]. Sosial Budaya Gizi.articles. [terhubung berkala]. Diare. 2004. Hygiene dan Sanitasi Umum dan Perhotelan. Provinsi Sulawesi Utara [tesis]. Kecamatan Cugenang. Saroso S. Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Bersalin: Antara Harapan Hidup dan Kenyataan Kematian.htm. Yuliarsih. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Ed ke-4. Sumali MA. 1989. Mubasysyir H. Life-Span Development. 1999.Sari RA.

LAMPIRAN .

1 57.6 75 100 12.1 12. 7.6 Kemudahan Dihubungi Mudah n 8 35 53 38 56 6 28 % 14.0 100. 5.3 92. 4.1 .7 41.1 73.4 19. 14.4 94.4 87. 13.5 46.5 57.1 69.1 n 17 1 9 20 47 52 Sulit % 30. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan zat gizi? Zat-zat gizi apa saja yang dibutuhkan oleh tubuh? Apa zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan anak? Apakah ibu dapat menyebutkan jenis pangan yang termasuk sumber karbohidrat? Dapatkah ibu menyebutkan kelompok bahan pangan mana yang banyak mengandung zat gizi protein hewani? Apakah ibu dapat menyebutkan susunan menu yang baik? Dapatkah ibu menyebutkan jenis makanan sumber zat besi? Apa nama kondisi ibu jika selama masa kehamilan ibu mengalami pusing.93 0 12.6 25 44.5 7.5 8.0 62.8 57.4 76. 10.5 53.6 0 11 1.2 83.6 0.6 80.8 12. 9. 2.Lampiran 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaann pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.0 0. 11.9 64.9 0.7 50 n 5 21 3 5 0 7 5 Sulit % 8.1 7.3 62.6 92.1 100 n 39 55 47 36 9 4 Daya Jangkau Mudah % 69.6 67.93 n 12 54 53 42 56 7 32 Cara Pelayanan Baik % 21.4 1. cepat lelah dan lesu? Garam dapur yang bagaimana yang baik untuk digunakan? Apa yang terjadi pada bayi yang dilahirkan apabila selama masa kehamilan terjadi kekurangan zat besi? Apa akibat yang ditimbulkan bila anak kekurangan makan dalam jangka waktu yang lama? Apa akibat dari makanan dan minuman yang tidak bersih? Bagaimana cara yang baik dalam mempersiapkan botol atau tabung susu bayi? Sampai umur berapa sebaiknya bayi diberi ASI saja? Jawaban Benar n % 43 76.9 Lampiran 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi. jarak dan daya jangkau Jenis Pelayanan Kesehatan n Praktek Dukun Paraji Posyandu Puskesmas Praktek Bidan Klinik/Balai Pengobatan Rumah Sakit 31 56 56 21 26 11 Kunjungan Tidak Pernah pernah % 55.2 64.7 83.6 98.3 4 24 15 7 4 7 25 7. 12.8 51.8 8.4 96.7 14.57 23.0 37.6 n 25 0 0 35 30 45 % 44. 6.4 n 37 54 43 29 5 0 Jarak Dekat % 66.9 100 10.4 100.1 Kurang n 1 2 3 2 0 6 1 % 1.9 85.1 35.5 94.36 8.6 5. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan Petugas Gizi dan Kesehatan Dokter RS Dokter Puskesmas Bidan Puskesmas Bidan Desa/Praktik Bidan Kader posyandu Mantri Dukun Paraji Informasi Gizi Tidak Pernah Pernah n % n % 9 32 41 36 52 6 8 16.5 94.8 3.6 85.1 42.9 3.6 25 48 43 32 39 54 49 53 52 48 23 44.0 n 19 2 13 27 51 56 Jauh % 33.1 96.93 37.9 92.6 96.2 91.5 5.2 48.8 30 53.7 76.9 26. 3.4 3.9 10.8 Lampiran 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban pengetahuan gizi No 1. 8.5 44.8 16.3 16.

6 96.1 28.4 19.1 5. 4. 1 kali/minggu b.6 91. Ya. 2 kali/minggu c.3 14. 11.0 14. 20. 17. Tidak pernah b.8 7.3 21.0 5. 10. 1 kali/hari b.2 19. 3. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setelah makan? a. 9.0 5. 16. Sejak anak berusia 1-2 tahun c. ≥ 3 kali/hari Apakah anak setiap mandi menggunakan sabun mandi? a.4 94. 2 kali/hari c. Ya. Selalu Berapa kali anak dibiasakan keramas setiap minggu? a. Tidak b.No 15. 7. 1 kali/hari c. Kadang-kadang c.3 0.0 80. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.3 1. . Tidak pernah b. Selalu Apakah anak dibiasakan menyisir rambut? a. Ya.1 2. Sejak anak berusia > 2 tahun b. Tidak pernah b. Ya. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap menggosok gigi menggunakan pasta gigi? a.4 96.6 28. Ya.2 0 7. 1 kali/hari b. 1 kali/hari c. Kadang-kadang c.6 43.4 3. Tidak pernah b.9 21.3 64. Pertanyaan Pada usia berapa anak boleh diberikan makanan seperti orang dewasa? Apa yang dimaksud dengan diare? Apa yang ibu lakukan ketika anak mengalami diare? Kemana ibu biasa membawa anak berobat saat mengalami diare? Apa yang ibu berikan saat anak mengalami diare? Apakah kegunaan sabun yang dipakai saat cuci tangan? Jawaban Benar n % 46 40 53 53 54 54 82.4 Lampiran 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan No 1.8 12.1 71. Selalu n 0 45 11 0 3 53 16 10 30 25 19 12 16 3 37 44 5 7 44 11 1 4 8 44 0 4 52 12 36 8 0 0 56 3 2 51 % 0. 6.2 8.9 77.0 0. Kadang-kadang c.1 17.5 52. ≥ 2 kali/hari Sejak kapan ibu membiasakan anak menggosok gigi? a.9 33.4 64. Kadang-kadang c. 8. 5. 2-3 kali/hari c. 18. ≥ 4 kali/hari Apakah anak dibiasakan mengganti pakaian setelah mandi? a. Ya. Pola Asuh Kesehatan Berapa kali anak dibiasakan mandi setiap hari? a.4 94. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setiap hari? a. Tidak b.0 100.1 92. Ya. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi sebelum tidur? a. ≥ 3 kali/minggu Apakah anak setiap keramas menggunakan sampo? a. Kadang-kadang c. 12. 19.3 77.6 0.6 94. ≥ 2 kali/hari Apakah anak dibiasakan menggunakan handuk bersih yang sama (tidak gonta-ganti) setelah mandi? a.0 77. Tidak pernah b.

Selalu Apakah anak setiap mencuci tangan setelah buang air besar menggunakan sabun dan air bersih? a.1 0. jamban)? a. Selalu Apakah anak dibiasakan buang air besar pada tempat semestinya (kakus. Tidak pernah b.1 51. Kadang-kadang c.0 10. Kadang-kadang c.3 16.9 26.1 39.7 1. Selalu Apakah ibu meperbolehkan anak bermain tanpa memakai celana? a. Tidak pernah b.4 19. Tidak pernah b. Ya. Kadang-kadang c.9 46. Tidak pernah b.No 13.3 14. Sejak anak berusia > 2 tahun b.7 1. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki sebelum tidur? a. 20.8 50. 21. Selalu Sejak kapan ibu membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan? a.7 7.3 0. Kadang-kadang c. Kadang-kadang c. ≥ 3 kali/bulan Apakah anak dibiasakan memakai alas kaki ketika bermain/berada diluar rumah? a.7 42.0 28.6 71./WC.8 30. Tidak pernah b. Selalu Apakah ibu mencegah anak bermain tanah? a.4 89.4 64.4 32.0 23. Kadang-kadang c. 16.4 30. 19. 15. Tidak pernah b. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki setelah bermain? a. Tidak pernah b.4 67. Tidak pernah b.8 87. Kadang-kadang c.6 57. .6 58.8 16. Tidak pernah b. 22. Ya. Pola Asuh Kesehatan Apakah anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan? a.5 5. Selalu n 6 24 26 18 29 9 6 1 49 3 17 36 % 10. Tidak pernah b.4 3. 6 4 46 0 16 40 2 32 22 9 30 17 50 0 6 1 17 38 15 28 13 12 11 33 10.9 18. 23. Selalu Apakah anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya? a.1 53. Sejak anak berusia 1-2 tahun c. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih? a.1 10. Kadang-kadang c.2 21.6 30. Kadang-kadang c. Kadang-kadang c. 17.1 82. Tidak b. 1-2 kali/bulan c. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk menggunting kukunya setiap bulan? a. 24.

095 p= 0.311 PHBS ibu p= 0.619 r= 0.164 p= 0.228 r= 0.122 p= 0.852 r= 0.131 p= 0.117 p= 0.905 r= 0.476** p= 0.154 p= 0.330* p= 0.586 r= 0.148 p= 0.134 r= 0.015 p= 0.485 r= -0.180 p= 0.113 Status gizi (BB/TB) p= 0.050 r= 0.897 r= -0.138 p= 0.164 Pola asuh kesehatan p= 0.191 r= -0.029 r= -0.095 p= 0.000 r= 0.292* Pola asuh makan p= 0.391 r= 0.068 p= 0.007 p= 0.408 r= 0.865 r= 0.576 r= 0.961 r= -0.384** Pengetahuan gizi ibu p= 0.486** p= 0.087 r= -0.074 p= 0.059 p= 0.227 r= 0.369 r= 0.018 - Keterangan:** Signifikan pada α 1% * Signifikan pada α 5% .226 Status gizi (TB/U) p= 0.061 r= 0.097 p= 0.008 r= -0.413 r= 0.184 r= 0.179 p= 0.013 r -0.145 p= 0.063 p= 0.643 r= -0.186 r= -0.370 r= -0.052 r= -0.029 r= 0.002 p= 0.016 p= 0.791 r= 0.203 p= 0.095 r= 0.334 r= 0.112 p= 0.258 p= 0.122 p= 0.310 r= 0.275 r= 0.261 p= 0.036 p= 0.Lampiran 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel Variabel Umur contoh BBLR Status gizi (BB/TB) Status gizi (TB/U) Umur ibu Pendidikan ibu PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Diare anak balita Umur contoh BBLR p= 0.055 r= 0.350** p= 0.403 r= 114 p= 0.000 r= 0.486 r= 0.988 r= 0.222 p= 0.126 p= 0.476 r= 0.231 p= 0.440** Diare anak balita p= 0.001 r= 0.203 p= 0.108 p= 0.252 p= 0.356 r= 0.026 p= 0.258 r= 0.023 p= 0.655 r= 0.531** p= 0.134 r= 0.100 r= -0.020 r= -0.004 r= 0.264* p= 0.076 Pendidikan ibu p= 0.999 r= 0.000 p= 0.000 r= -615** Umur ibu p= 0.000 r= 0.177 p= 0.428 r= 0.286 r= 0.915 r= -0.293* p= 0.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->