http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgibin/content.cgi/artikel/teologi_politik-konsep_negara_dalam_quran.

single Masalah negara merupakan urusan duniawi yang bersifat umum, karena itu ia termasuk wilayah ijtihad umat Islam. Mereka harus berusaha untuk menjadikan al-Qur'ân sebagai sistem yang konkrit supaya dapat diterjemahkan dalam pemerintahan sepanjang zaman. Dalam rangka menyusun teori politik mengenai konsep negara yang ditekankan bukanlah struktur "negara Islam", melainkan substruktur dan tujuannya. Struktur negara termasuk wilayah ijtihad kaum muslimin sehingga bisa berubah. Sementara substruktur dan tujuannya tetap menyangkut prinsip-prinsip bernegara secara Islami. Namun penting untuk dicatat, bahwa al-Qur'ân mengandung nilai-nilai dan ajaran yang bersifat etis mengenai aktifitas sosial-politik umat manusia. Ajaran ini mencakup prinsip-prinsip tentang keadilan, persamaan, persaudaraan, musyawarah, dan lain-lain. Untuk itu, sepanjang negara berpegang kepada prinsip-prinsip tersebut maka pembentukan "negara Islam" dalam pengertian yang formal dan ideologis bukanlah kebutuhan yang urgen.

Pendahuluan
Kesimpulan yang terlalu gegabah jika Islam (al-Qur'ân) dikatakan agama yang hanya mengatur persoalan ritual semata. Islam adalah agama universal, agama yang membawa misi rahmatan lil âlamîn. Islam juga memberikan konsep kepada manusia mengenai persoalan yang terkait dengan urusan duniawi, seperti, bagaimana mengatur sistem perekonomian, penegakan hukum, konsep politik, dan sebagainya. Salah satu bukti tercatat dalam sejarah, ketika Nabi hijrah ke kota Madinah beliau mampu menyatukan masyarakat yang majemuk, terdiri dari berbagai agama dan peradaban yang berbeda dalam satu tatanan masyarakat madani. Dan perjanjian yang belliau deklarasikan dengan orang-orang Yahudi adalah satu cermin terbentuknya negara yang berciri demokrasi. Perjanjian itu mengandung kebijaksanaan politik Nabi untuk menciptakan kestabilan bernegara. Politik yang dimaksud, sebagaimana ungkap Ramlan Surbakti dimaknai sebagai upaya manusia meraih kesempurnaannya atau perjalanan menuju kemaslahatan. Atau, dalam bahasa Aristoteles mengajarkan bagaimana bertindak tepat dan hidup bahagia. Dengan pemahaman ini, politik bernilai luhur, sakral dan tidak bertentangan dengan agama. Setiap manusia yang beragama niscaya berpolitik. Karena itu berpolitik merupakan sesuatu yang inheren dengan kemanusiaan. Pemikiran politik di kalangan umat Islam, khususnya dalam sistem pergantian kepala negara (khalîfah) mencuat pada saat Nabi saw wafat. Munculnya pemikiran di bidang ini paling awal jika dibandingkan dengan pemikiran dalam bidang teologi dan hukum. Sebab, kebutuhan akan adanya seorang pemimpin untuk meneruskan misi yang dibangun Nabi sangat mendesak dan tidak bisa ditunda. Sehingga tidak mengherankan kalau masyarakat Madinah sibuk memikirkan penggantinya, dan penguburan Nabi menjadi soal kedua bagi mereka. Dalam makalah ini penulis ingin membaca dan mengkaji kembali konsep negara dalam al-Qur'ân yang diyakini sebagai kitab hudan (petunjuk) dan menaburkan kemaslahatan bagi kehidupan manusia.

Embrio Pemikiran Politik Islam

Pemikiran di bidang politik sebagai cikal bakal diskursus konsep negara baru muncul pada periode dinasti 'Abbasiyah. Karya-karya intelektual muslim (Sunni) sebelumnya lebih terfokus pada persoalan fiqh, kalam, dan hadis. Hal ini terjadi karena meskipun faktor yang menyebabkan munculnya kelompok-kelompok atau aliran-aliran dalam Islam adalah persoalan politik, tetapi wacana intelektual yang mengemuka lebih awal adalah masalah teologi yang kemudian diikuti masalah hukum. Ada dua faktor yang menyebabkan terabaikannya disiplin ilmu politik pada periode ini.

Pertama, meskipun paham-paham Islam lahir dari sebuah pergolakan politik, implikasi dari lahirnya kelompok politik yang ada adalah munculnya persoalan teologis. Karena persoalan ini membutuhkan pemecahan yang serius pada saat itu. Kedua, hubungan intelektual dunia Islam dengan dunia luar, khususnya peradaban Yunani belum berjalan secara intens.

Namun tidak bisa disangkal walaupun diskursus konsep negara baru muncul pada periode dinasti 'Abbasiyah tetapi ketegangan dan benturan internal mengenai pengganti kedudukan Nabi sebagai pemimpin merupakan awal sumber konflik berbias politik di kalangan umat Islam. Dalam pertemuan yang berlangsung di Saqîfah Banî Sa'âdah muncul tiga ide politik, yaitu: Kembali ke Sistem Kabilah Setiap kabilah mengangkat pemimpin mereka sendiri. Ide ini muncul dari kalangan Banî Khazraj dan kaum separatis (riddah). Sistem Hak Warisan Ide ini lahir dari kalangan Banî Hâsyim berdasarkan pemikiran dan kebiasaan orang Arab selatan. Tokoh terkemuka pendukukng ide ini ialah al-Abbâs, 'Alî, dan Zubair. Ide Persatuan Melalui Permusyawaratan Ide ini didukung kaum muhajirin, kecuali Banî Hâsyim. Ide ini selain sesuai dengan perintah alQur'ân agar umat Islam tidak terpecah belah dan selalu bermusyawarah atas asas persatuan yang berkeadilan dalam memecahkan setiap persoalan. Sebenarnya pemikiran politik Islam sejak awal sampai dengan masa Ibn Taimiyah merupakan produk teori yang lahir dari kelompok dalam tubuh umat Islam, dan secara umum merupakan tanggapan pada suasana sejarah yang spesifik. Dua dari kelompok tersebut adalah Khawârij dan Syi'ah, mereka mengajukan pandangannya tentang ciri-ciri pemerintahan Islam pada awal sejarah negara Islam dengan menghasilkan teori imâmah bagi Syi'ah yang bersifat mistis, dan kecendrungan berpikir revolusioner bagi Khawârij. Kelompok yang ketiga hadir adalah Sunni yang mengedepankan teori kekhilafahannya. Di bawah pemerintahan 'Abbasiyah dunia ilmu pengetahuan mengalami masa keemasan, khususnya dalam dua ratus tahun pertama dari lima ratus tahun keemasan dinasti itu. Berkat kelonggaran dan bahkan dukungan dari para penguasa waktu itu di mana kegiatan para ilmuwan

dari berbagai disiplin amat melonjak. Dengan demikian, perkenalan para ilmuwan Islam dengan alam pikiran Yunani makin meluas dan mendalam. Proses ini pada gilirannya menimbulkan masalah kenegaraan secara rasional dan kemudian lahirlah sejumlah pemikir Islam beserta gagasannya. Misalnya, Syihâb al-Dîn Ahmad Ibn Abî Râbi' kemudian disusul al-Farabi, alMâwardi, al-Ghazali, Ibn Taimiyah yang hidup setelah runtuhnya kekuasaan 'Abbasiyah di Baghdad, dan Ibn Khaldûn yang hidup pada abad XIV M. Mereka itu dapat dianggap sebagai eksponen yang mewakili pemikiran politik umat Islam pada zaman pertengahan. Munawir Sjadzali berpendapat, terdapat dua ciri umum mengenai gagasan politik dari enam pemikir di atas.

Pertama, pada pendapat mereka tampak jelas adanya pengaruh alam pikiran Yunani, terutama pandangan Plato meskipun kadar pengaruh itu tidak sama antara satu pemikir dengan pemikir yang lain. Kedua, selain al-Farabi, mereka mendasarkan pemikirannya atas penerimaan terhadap sistem kekuasaan yang ada pada zaman mereka masing-masing.

Jatuhnya Baghdad pada pertengahan abad XIII M yang menandai tamatnya dinasti 'Abbasiyah yang disebabkan faktor-faktor internal, yang kemudian disusul munculnya problem baru dari luar maka muncullah gerakan pembaharuan atau mungkin lebih tepat pemurnian kembali ajaran Islam dengan pengertian dasar dan sasaran yang tidak selalu sama antara satu gerakan dengan gerakan yang lain. Juga dalam pandangan Munawir terdapat tiga hal yang melatarbelakangi pemikiran politik Islam kontemporer yang muncul setelah jatuhnya Baghdad atau pada waktu menjelang akhir abad XIX M.
 

Pertama, kemunduran dan kerapuhan dunia Islam yang disebabkan faktor-faktor internal yang berakibat munculnya gerakan pembaharuan dan pemurnian. Kedua, rongrongan Barat terhadap keutuhan kekuasaan politik dan wilayah dunia Islam yang berakhir dengan dominasi atau penjajahan negara Barat atas sebagian besar wilayah dunia Islam, dengan akibat rusaknya hubungan yang selama ini baik antara dunia Islam dan Barat, dan berkembangnya di kalangan umat Islam semangat permusuhan dan sikap anti Barat. Ketiga, keunggulan Barat dalam bidang ilmu, teknologi, dan organisasi.

Para pemikir politik Islam pada periode pembaharuan (purifikasi) ini dapat dikategorikan dalam tiga varian besar, yaitu: Kelompok Konservatif Ciri yang menonjol dari kelompok ini adalah adanya aksioma ideologis yang dibangun berdasarkan ajaran Islam bahwa, Islam adalah agama yang sempurna, lengkap, komprehensip, dan berlaku universal untuk seluruh umat manusia di semua tempat dan waktu. Tokoh kelompok ini, Sayyid Quthb, Hasan al-Bannâ, Hasan al-Turabî, dan Abul A'lâ al-Maududî.

manusia itu tidak dapat hidup sendirian yang disebabkan oleh dua hal. Tokoh kelompok ini adalah 'Ali 'Abd al-Râziq dan Thahâ Husein. Kelompok Liberal Kelompok ini pada intinya ingin melihat perubahan radikal-fundamental dalam pola berpikir umat Islam yang dianggap stagnan dengan mengedepankan semangat dekonstruksi pemikiran Islam yang telah mapan. tanpa kekuasaan negara yang bersifat memaksa agama berada dalam bahaya. Konsep Negara dalam al-Qur'ân Para pemikir politik Islam abad pertengahan banyak mengadopsi pikiran Plato dan Aristoteles mengenai konsep terbentuknya negara. kemudian lahirlah kelompok petani. Kedua. Tokoh kelompok ini. sebagaimana kehendak Allah menjadikan mereka sebagai khalîfah-Nya untuk memakmurkan bumi. Untuk itu diperlukan tempat tertentu. hal itu hanya mungkin melalui pergaulan antara laki-laki dan perempuan serta keluarga. organisasi kemasyarakatan suatu kemestian bagi manusia. kebutuhan akan keturunan demi kelangsungan hidup umat manusia. Tanpa disiplin hukum wahyu. Seperti dikatakan al-Ghazalî. pakaian. Jamaluddîn al-Afghanî dan Muhammad 'Abduh. Dalam dunia Islam. dan progesivisme dalam Islam. Tanpa itu eksistensi mereka tidak akan sempurna. saling membantu dalam penyediaan bahan makanan. dan sebagainya. Agama dan negara dalam hal ini tidak dapat dipisahkan. legitimasi keagamaan berasal dari Tuhan dan diturunkan lewat garis . Dalam pandangannya. Kebutuhan akan kerja sama untuk mengadakan segala yang diperlukan bersama akan berakibat timbulnya semacam pembagian tugas di antara anggota masyarakat. Paradigma ini dianut kelompok Syi'ah. Mereka berangkat dari asumsi dasar bahwa manusia adalah makhluk sosial. secara umum kita menemukan tiga bentuk paradigma tentang hubungan agama dan negara.   Pertama. karenanya menurut paradigma ini negara merupakan lembaga politik dan keagamaan sekaligus. pekerja.Kelompok Modernis Kelompok ini mengajukan upaya reformasi dalam rangka menemukan kembali rasionalisme. Dalam pandangan Ibn Taimiyah negara dan agama saling berkelindan. Wilayah agama juga meliputi politik atau negara. Semua faktor ini memerlukan kerja sama yang baik antar sesamanya. di mana pemikiran politiknya memandang bahwa negara (imâmah atau kepemimpinan) adalah lembaga keagamaan dan mempunyai fungsi kenabian. dan pendidikan anak. ungkap Din Syamsuddin. negara pasti menjadi sebuah organisasi yang tiranik. Juga dengan Ibn Khaldûn. Paradigma pertama memecahkan masalah dikotomi dengan mengajukan konsep bersatunya agama dan negara. saintisme. dan dari sinilah lahir suatu negara.

tidak pula mendesak kepada kaum muslimin tentang sistem pemerintahan tertentu lewat mana mereka harus diperintah. Menurut salah seorang kelompok ini. Pemeliharaan agama dan pengaturan dunia merupakan dua jenis aktivitas yang berbeda. Namun dia menolak istilah teokrasi. Paradigma kedua memandang agama dan negara berhubungan secara simbiotik. Seorang pemikir lain yang juga dapat disebut sebagai pembawa pandangan simbiosa agama dan negara adalah al-Ghazalî (w.keturunan Nabi. Legitimasi politik harus berdasarkan legitimasi keagamaan. karena dengan agama negara dapat berkembang dalam bimbingan etika dan moral. Konsep far'i izâdî yang menjadi dasar simbiosa agama dan negara dalam pemikirannya mempunyai akar sejarah pada pemikiran pra-Islam Iran. Islam tidak menetapkan rezim pemerintahan tertentu. Dalam konteks Islam. Berbeda dengan pemikiran politik Sunni. 1979 M). negara bersifat teokrasi. dan ekonomi serta mempertimbangkan perkembangan sosial dan tuntutan zaman. tetapi Islam telah memberikan kebebasan mutlak untuk mengorganisasi negara sesuai dengan kondisi intelektual. keadilan. yaitu berhubungan erat secara timbal balik dan saling memerlukan. dikatakan bahwa Islam (al-Qur'ân) tidak mempunyai kaitan apapun dengan sistem pemerintahan kekhalifahan. Sebaliknya. dan hal ini hanya dimiliki para keturunan Nabi SAW. sosial. Sementara Syi'ah menekankan wilâyah (kecintaan dan pengabdian kepada Tuhan) dan ishmah (kesucian dari dosa) yang hanya dimiliki para keturunan Nabi yang berhak dan absah untuk menjadi kepala negara (imâm). karena konsepsinya memang mengandung unsur demokrasi. atau paling tidak menolak determinasi Islam akan bentuk tertentu pada negara. Al-Mâwardî (w. tetapi sebuah sistem duniawi. syari'at tidak mengenal pemisahan antara agama dan politik (negara). kelompok ini menekankan ijma' (konsesus) dan bai'ah (penbaiatan) kepada kepala negara. yaitu adanya peluang bagi rakyat untuk memilih pemimpin negara. Pada tahun 1925 'Ali Abdur Raziq menerbitkan risalah yang berjudul al-Islâm Wa ushûl alHukm. dan memilih istilah teodemokrasi. Paradigma ini menolak baik hubungan integralistik maupun simbiotik antara agama dan negara. termasuk dengan khulafâur râsyidîn bahwa aktivitas mereka bukan sebuah sistem politik keagamaan. 1111 M). Peradigma ketiga bersifat sekuralistik. negara memerlukan agama. karena dengan negara agama dapat berkembang. Sebagai lembaga politik yang didasarkan atas legitimasi keagamaan dan mempunyai fungsi menyelenggarakan "kedaulatan Tuhan" dalam perspektif syi'ah. Bahkan ia menolak keras . Keduanya merupakan dua dimensi dari misi kenabian. seperti pengetahuan. 1058 M) menegaskan bahwa kepemimpinan negara merupakan instrumen untuk meneruskan misi kenabian guna memelihara agama dan mengatur dunia. Konsep ini mengandung arti kualitas tertentu yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin atau kepala negara. al-Maududî (w. Dalam hal ini agama memerlukan negara. namun berhubungan secara simbiotik. Syari'at adalah skema kehidupan yang sempurna dan meliputi seluruh tatanan kemasyarakatan. paradigma sekuralistik menolak pendasaran agama pada negara. dan kearifan. tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang. Kualitas demikian diyakini bersumber pada Tuhan dan bersifat titisan.

Menurut aliran pemikiran ini. karena logika tentang kesesuaian agama ini untuk sepanjang masa dan tempat menuntut agar permasalahan yang selalu berubah secara evolusi diserahkan kepada akal pikiran manusia menurut kepentingan umum yang telah digariskan agama. akan tetapi ungkapan tersebut hanya bersifat insidental dan tidak ada pengaruhnya terhadap mekanisme teori politik atau model tertentu dari sebuah negara. Tetapi hal ini tidak berarti pembentukan negara merupakan salah satu ajaran dasar Islam. Seorang pemikir muslim Mesir. yaitu penafsiran terhadap al-Qur'ân dan Hadis yang mengandalkan pengertian bahasa. Dengan demikian ia mampu mengantisipasi perkembangan zaman. Islam memandang penting kekuasaan politik.pendapat yang mengatakan bahwa Nabi pernah mendirikan suatu negara di Madinah. Persoalan negara adalah persoalan duniawi yang telah diserahkan Tuhan kepada akal manusia untuk mengaturnya sesuai dengan arah kecendrungan akal dan pengetahuannya. Sedangkan kecenderungan rasionalistik menampilkan penafsiran yang rasional dan kontekstual. Menurutnya. polarisasi kecenderungan para pemikir politik Islam dalam memandang konsep negara dapat dikelompokkan kepada: 1. Jika sistem khalîfah masih tetap menjadi pilihan sebagai model pemerintahan maka bentuk demikianpun harus mengikuti perkembangan masyarakat dalam kehidupan materi dan kebebasan berpikir. menurut 'Abduh Islam tidak menetapkan suatu bentuk pemerintahan. tetapi bukan karena tuntutan agama. Meskipun terdapat berbagai ungkapan yang merujuk kepada kekuasaan politik dan otoritas. Secara umum. Ia sebenarnya tidak bermaksud mengatakan bahwa Islam tidak menganjurkan pembentukan suatu negara. Beberapa kalangan pemikir muslim berpendapat bahwa Islam tidak meletakkan suatu pola baku tentang teori negara yang harus dijalankan umat. 2. Islam sebagai agama tidak menentukan suatu sistem pemerintahan tertentu bagi kaum muslim. masyarakat Islam bukanlah masyarakat politik. Pendapat di atas ada kemiripan dengan 'Abduh. melainkan tuntutan situasi sosial dan politik itu sendiri. melakukan perang. Nabi adalah utusan Allah. Muhammad 'Imarah. mengumpulkan jizyah (pajak). dan bahkan jihad tidak berhubungan dan tidak merefleksikan fungsinya sebagai utusan Tuhan. Ini mengandung makna. Sebaliknya. bukan seorang kepala negara atau pemimpin politik. Idealistik dan realistik Pendekatan pertama cenderung melakukan idealisasi terhadap sistem pemerintahan . istilah "daulah" yang berarti negara tidak ditemukan dalam alQur'ân. Dalam perspektif teologis dan historis untuk membuktikan bahwa tindakan politik Nabi seperti. Akan tetapi selalu ada peluang bagi masyarakat untuk mewujudkan bentuk pemerintahan Islam yang sesuai dengan konteks budaya. Dari pandangannya dapat disimpulkan. Dengan lain ungkapan. kekuasaan politik diperlukan umat Islam. 'Abduh menghendaki suatu pemerintahan yang dinamis. sebagaimana dikutip Bahtiar Effendy mengatakan. Skripturalistik dan rasionalistik Kecenderungan skripturalistik menampilkan pemahaman yang bersifat tekstual dan literal.

2. yang pada gilirannya menampilkan konsep negara dan simbolisasi keagamaan. 4. Ajaran ini mencakup prinsip-prinsip tentang keadilan. tetapi lebih memusatkan perhatian pada bagaimana mengisinya dengan etika dan moralitas agama. sehingga walaupun mereka berada dalam rangka pengamalan ajaran Islam. Perdamaian dan persaudaraan (QS. melainkan substruktur dan tujuannya. Formalistik dan substantivistik Pendekatan formalistik cenderung mementingkan bentuk dari pada isi. 49:10) Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqkwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. karena orientasi mereka yang bersifat realistik terhadap kenyataan politik. Tugas cendekiawan muslim adalah berusaha secara terus menerus untuk menjadikan al-Qur'ân sebagai sistem yang konkrit supaya dapat diterjemahkan dalam pemerintahan sepanjang zaman. persaudaraan. sementara kaum realis cenderung untuk menerimanya. Panduan al-Qur'ân juga sunnah bersifat umum. bahwa al-Qur'ân mengandung nilai-nilai dan ajaran yang bersifat etis mengenai aktifitas sosial politik umat manusia. Sementara substruktur dan tujuannya tetap menyangkut prinsip-prinsip bernegara secara Islami. permasalahan politik termasuk wilayah ijtihad umat Islam. Ia termasuk wilayah ijtihad kaum muslimin sehingga bisa berubah. Sebenarnya masalah politik atau pengaturan negara termasuk urusan duniawi yang bersifat umum. dan lain-lain. menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. 2:126) Dan ingatlah ketika Ibrahim berdo'a. Keadilan (QS. 3. Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa. Ada beberapa ayat al-Qur'ân yang menggambarkan prinsip-prinsip di atas. persamaan. 3. Inilah yang dilakukan empat khalîfah sesudah Nabi. Kelompok ini tidak mempersoalkan bagaimana bentuk dan format sebuah negara. 5. Musyawarah (QS. Menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran (QS. musyawarah. Kaum idealis cenderung menolak format kenegaraan yang ada. pendekatan substantivistik cenderung menekankan isi dari pada bentuk. dan berimanlah kepada Allah. Keamanan (QS. Sebaliknya. Sebab struktur negara akan berbeda di satu tempat dan tempat lainnya.dengan menawarkan nilai-nilai Islam yang ideal. Dalam rangka menyusun teori politik Islam mengenai konsep negara yang ditekankan bukanlah struktur "negara Islam". Karena itu. 5:8) Berlaku adillah kalian karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Namun penting untuk dicatat. pengorganisasian pemerintahnya berbeda antara satu dengan lainnya. . atau secara implisit menampilkan sebagai ciri negara demokrasi di antaranya adalah: 1. 42:38) Sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka. Untuk itu sepanjang negara berpegang kepada prinsip-prinsip tersebut maka pembentukan "negara Islam" dalam pengertian yang formal dan ideologis tidaklah begitu penting. 3:110) Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.

hak-hak asasi manusia (huqûq al-adamî). Tetapi sebaliknya. apabila prinsip-prinsip di atas benar-benar ditegakkan dalam sebuah negara. keadilan ('adâlah). 16:97). Tuhan akan melanggengkan suatu negara yang menjaga prinsip keadilan. tetapi eksistensinya adalah sebagai alat belaka dan bukan lembaga keagamaan itu sendiri. Sepanjang negara berpegang kepada nilai-nilai yang ada dalam al-Qur'ân maka pembentukan "negara Islam" dalam pengertian yang formal dan ideologis tidaklah begitu penting. musyawarah (syûrâ). al-Islâm Wa Ushûl al-Hukm Lî 'Ali 'Abdur Râziq (beirut: Dâr al-Fikr. Firman Allah tersebut: Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. negara sebagai sesuatu yang perlu untuk menegakkan suruhan agama. 16:97 dan 40:40) Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. Islam hanya memiliki seperangkat nilai etis yang dapat dijadikan rujukan dalam penyelenggaraan negara yang sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Apa yang dikatakan Ibn Taimiyah. Persamaan (QS. perdamaian (shalâh). . 34:15). Penulis berkeyakinan. Suatu alat dalam makna yang lazim dipahami mungkin akan lebih canggih berbanding dengan alat yang lain yang dipergunakan di masa silam meskipun keduanya dipergunakan untuk mencapai maksud yang sama. Persoalan politik (negara) lebih merupakan urusan kreatifitas manusia. Yang penting adalah substansinya. Tuhan akan menghancurkan apabila nilai-nilai tersebut dikesampingkan. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun (QS. keamanan (aman) dan lain-lain bisa direalisasikan dalam konteks bernegara. artinya nilai-nilai al-Qur'ân seperti. Sebagai wilayah fiqh maka setiap rumusan dan interpretasi yang dihasilkan tentu berbeda. atau kerangka wilayah fiqh yang perlu dilakukan ijtihad. Penutup Al-Qur'ân maupun sunnah tidak memiliki preferensi terhadap sistem politik yang mapan untuk menetukan bentuk legal-formal negara yang ideal. Buku Bacaan 'Imârah. tetapi sebuah realita yang bisa dirasakan. persamaan (musâwah). Sehingga pada akhirnya baldatun toyyibatun wa robbun ghafur bukan hanya sekedar ide dan cita-cita. karena paradigma yang digunakan pun juga berbeda. tanpa melihat simbol atau bentuk legal-formal negara itu sendiri maka apa yang Allah telah lukiskan dalam al-Qur'ân surat Saba' ayat 15 akan dapat dirasakan. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (QS. (kepada mereka dikatakan): Makanlah olehmu rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. Jadi. Muhammad. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. 1972) Al-Qur'an al-Karim. maka manusia tentu tidak akan menggunakan alat yang sama dari suatu masa ke masa yang lain. kalau negara adalah alat yang perlu untuk menegakkan agama.6. walaupun negara tersebut secara formal bukan negara Islam.

M. 2. Harun. Nourouzzaman. 2000 Effendy. Membaca Pikiran Gus Dur dan Amien Rais tentang Demokrasi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. RI. "Usaha Pencarian konsep Negara dalam sejarah Pemikiran Politik Islam". sekarang sedang menimba ilmu pada PPs (S3) IAIN Sunan Ampel Surabaya. 1966) Shiddiqi. Islam dan Tata Negara Ajaran. 1986) Pulungan. Political Concepts in the Qur'an (Lahore: Islamic Book Foundation. Perbandingan (Jakarta: UI Press. 1995) Khan. Islam dan Negara Transformasi Pemikiran dan Praktek Politik Islam di Indonesia (Jakarta: Paramadina.terj. . 1999) Thaba. Suyuthi. 1995) Rahman. Pemikiran politik Ibn Taimiyah. terj. 1992). Yusril Ihza. 1982) ______________. 1999) Nasution. Umaruddin. Memahami Ilmu Politik (Jakarta: Grafindo. Teologi Islam. 1996) Penulis: Akhmad Muzakki Rois Qismut Tarbiyah wat Ta'lim Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Nurul Huda Mergosono-Malang. Munawir. 1995) Madjid. Abu Zahra dalam Politik Demi Tuhan (Bandung: Pustaka Hidayah. Departemen Agama. Fazlur. Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan. J. Januari-Maret 1994). Anas Mahyudin (Bandung: Pustaka. Din. Fiqh Siyasah Ajaran. Qamaruddin. Sejarah. 3. 1992) Mahendra. Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru (Jakarta: Gema Insani Press. Kemanusiaan. "Islamika Jurnal Dialog Pemikiran Islam" (kerja sama Mizan dan Missi. ed. Nurcholis. Abdul Azîz. Ramlan. Aliran-Aliran. Islam (New Tork: The Chicago University Press. dan kemodernan (Jakarta: Paramadina. Khalid Ibrahim. 1998) Jindan. Jeram-Jeram Peradaban Muslim (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. 1996) Sjadzali. Teori Politik Islam Telaah Kritis Ibn Taimiyah Tentang Pemerintahan Islam. dan Pemikiran (Jakarta: UI Press. Syamsuddin. No. Sejarah. Masrohin (Surabaya: Risalah Gusti. Analisa. Sejarah dan Pemikiran (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1991) Surbakti. Masdar. ter. Bahtiar.

prinsipnya adalah apabila ada hanya satu orang yang mempunyai kriteria sebagaimana tersebut di atas. Oleh karena kompleksnya persoalan yang diatur oleh islam. ras. ekonomi. maka disyariatkan bahwa pemimpin adalah seorang mujtahid yang paham dengan islam dan benar-benar konsisten untuk memperjuangkan agama ini. islam mengatur dua macam hukum. politik dan semua aspek kehidupan agar selalu berada dalam batasan syariat Allah. keahlian dan kemampuan untuk memahami berbagai persoalan yang muncul melalui pemahaman berdasarkan Alquran dan sunnah.sebagai sarana dan upaya untuk mewujudkan sistem sosial. Sebagai panduan hidup maka islam menjadikan Alquran dan sunnah sebagai dasar menyelesaikan semua masalah. Mampu berijtihad artinya mempunyai pengetahuan. suku. Dalam hal ini. Beberapa tujuan yang ingin diwujudkan dari pemerintahan islam. maka perlu dilakukan pemilihan. Adapun jika lebih dari satu orang mujtahid. Dalam hal ini. maka dialah yang paling tepat untuk dijadikan sebagai pemimpin.wordpress. 2.com/2010/07/09/konsep-pemerintahan-islamdalam-perspektif-ibnu-taimiyah Konsep Pemerintahan Islam dalam Perspektif Ibnu Taimiyah Juli 9. . yaitu hukum yang berkenaan dengan manusia dengan Allah dan hukum tentang hubungan manusia dengan manusia. Hal ini penting dilakukan sebagai upaya untuk menjaga tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintahan Islam. Jika sudah menjadi pemimpin. Dalam hal ini pemilihan murni atas dasar syariat dan tidak ada hubungannya dengan masalah bangsa.http://zulchizar. dan sejenisnya. Adil maksudnya bahwa ia merupaan seorang yang mampu menempatkan kebenaran di atas segalanya. Beberapa kriteria dari mujtahid tersebut antara lain adalah: 1. baik secara langsung (untuk masyarakat yang sudah paham islam) atau pun diwakili oleh para dewan sebagai kelompok orang yang paling mengerti tentang syariat. Artinya bahwa tidak boleh karena kesalahan dalam strategi menyebabkan tujuan yang ingin dicapai terbengkalai. layaknya diturunkan. antara lain: a). keturunan. 2010 oleh zulchizar Oleh : Achmad Fauzi Zulchizar Islam merupakan agama sempurna yang menginginkan manusia hidup dalam kebaikan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat. terhindar dari dosa atau upaya untuk menempatkan seseorang atau sekelompok orang pada posisi yang tidak tepat. Seseorang yang tidak memenuhi kriteria sebagaimana tersebut di atas tidak berhak memimpin.

maka salah seorang di antara mereka selayaknya menjadi pemimpin. tidak dapat terlaksana dengan sempurna tanpa intervensi penguasa politik yang resmi. “bila ada tiga orang melakukan perjalanan. Ia mengatakan bahwa negara dan agama sesungguhnya saling berkaitan. Aspek fungsional negara inilah yang seringkali ditekankan Ibnu Taimiyah dalam berbagai pandangan tentang negara. yaitu hukum Allah. c)Menghindarkan terjadinya berbagai tindakan tidak adil dan kejahatan akibat pemerintahan yang otoriter. Lebih lanjut. Contohnya adalah sabda Nabi saw. negara pasti menjadi sebuah organisasi yang tirani. konsep Ibnu Taimiyah mengenai kebutuhan manusia akan negara didasarkan pada akal dan hadist. Artinya. Lantas bagaimana bentuk pemerintahan Islam yang pas untuk menerapkan syariat Islam ?. e). distribusi manfaat di kalangan yang berhak menerimanya. Buku ini sedikitpun tidak menyinggung tentang bentuk konstitusi negara Islam.b). ia sama sekali tidak tertarik pada negara dan formasinya meskipun menerima negara itu sebagai sebuah kebutuhan agama.Memberikan manusia kesempatan untuk selalu berkembang misalnya dalam bidang pertanian. Tanpa kekuasaan negara agama berada dalam keadaan bahaya sedangkan tanpa disiplin hukum wahyu. Hal ini disebabkan karena berbagai tugas keagamaan penting yang ditentukan dalam Al-Quran dan As-Sunnah seperti mengumpulkan zakat. perdagangan. bekerja sama dan menikmati berbagai manfaat kepemimpinan tanpa peduli apakah mereka menganut suatu agama atau tidak. negara Islam yang dianggap memenuhi syarat adalah sebuah pemerintahan yang mendasarkan pada syariat sebagai penguasa tertinggi. media. Buku ini hanya menampilkan bahasan mengenai urgensi kekuasaan dalam menerapkan syariat dan kewajiban ummat untuk mematuhinya.Mewujudkan masyarakat madani yang selalu berpegang pada Alquran dan sunnah. Menurut pandangan Ibnu Taimiyah.Menggerakkan da’wah amar ma’ruf nahi mungkar sehingga orang-orang tertarik dengan kemuliaan islam.” Itulah dua contoh dari hadist-hadist yang dikemukakan. Meskipun Ibnu taimiyah tidak begitu memikirkan mengenai masalah format bentuk pemerintahan tetapi Ia lebih melihat kepada urgensi dari kekuasaan pemerintah untuk mendukung tegaknya syariat Islam. Argumen rasional itu juga diperkuat oleh beberapa landasan Sunnah Nabi saw.” dan juga sabda beliau “Enam puluh tahun berada di bawah tirani lebih baik daripada semalam tanpa pemerintahan. . penulis lebih tertarik dengan buku karya Ibnu Taimiyah yang berjudul as-Siyasah asy-Syar’iyyah (Pemerintahan menurut syariat) untuk menjawab pertanyaan ini. menghukum tindakan kriminal. d). tidak ada dasar dalam Al-Quran dan As-Sunnah tentang teori khilafah tradisional maupun teori imamah yang mutlak. Oleh sebab itu. maupun lainnya selama tidak bertentangan dengan syariat Allah. Argumen rasionalnya terletak pada kebutuhan universal semua manusia untuk tergabung. ia melihat Islam sebagai suatu tata sosial yang mempunyai hukum tertinggi.

‘lebih layak’.Konsep Praktis Negara Khilafah (Negara Islam) Oleh: Ust. Akibatnya. Cara ini memudahkan mereka untuk meyakinkan kaum Muslim bahwa Islam tidak memiliki konsep negara.3 Ia menyatakan. republik. kerajaan. Meskipun suara-suara mereka tidak bergaung di tengah-tengah masyarakat dan hampir pasti tidak . negara-negara kafir imperialis telah berhasil meracuni kaum Muslim tentang gambarannya dengan gambaran yang sangat buruk sedemikian rupa. Ini membuahkan kebingungan di tengahtengah umat yang sedang limbung. sebagian besar kaum Muslim menjauhkan diri serta mencampakkan institusi tersebut seraya berpaling pada institusi lain yang dianggapnya ‘lebih modern’. dalam perkara pemerintahan. atau fuehrerstaat (fascis).2 yang mengatakan.” Pendapat-pendapat serupa muncul di negeri ini melalui corong Dr. “Hukum al-Quran tidak menetapkan bagaimana mestinya negara menurut ilmu hukum negara ini. “Bentuk pemerintahan Islam dapat berbentuk apa saja: otokrasi.” Tuduhan miring yang sangat masyhur dan menyesatkan datang dari ‘Ali Abdul Raziq. Syaifullah Mukadimah Meskipun institusi Daulah Khilafah Islamiyah baru dihancurkan pada awal abad ini. diktator. Mengumpulkan Kekeliruan Banyak intelektual Muslim yang melontarkan pendapat-pendapat bernada miring terhadap eksistensi dan praktik Rasulullah saw. apakah harus berbentuk republik. Barat berhasil memanipulasi sejarah. pemerintahan yang berdasarkan atau musyawarah sosial (Bolsyewik). maupun Gus Dur. dan ‘lebih beradab’.” Demikian juga pernyataan Dr. A. yaitu sistem republik yang diciptakan Barat. “Dewasa ini. lalu mengemasnya dengan indah melalui tangan-tangan terampil intelektual maupun ‘ulama’ kaum Muslim yang pemikiran-pemikiran maupun pandanganpandangannya berhasil mereka racuni. Abdoerraoef SH. mereka berani menegaskan bahwa di dalam al-Quran tidak ada dan tidak ditemukan konsep tentang negara. Terserah kepada manusia untuk memilih bentuk negara masing-masing asal alat organisasi dan cara-cara bekerjanya sesuai dengan apa yang ditentukan oleh hukum al-Quran. konstitusional. Malah. birokrasi. monarkhi. Nurcholis Majid c. Sebut saja pendapat ‘Abdul Razzaq Naufal1 yang mengatakan.s. dan para sahabat utama adalah sistem pemerintahan republik yang memilih kepala negaranya melalui pemilihan umum. lalu memunculkan perdebatan-perdebatan yang tidak perlu dan berujung pada makin lemahnya kekuatan kaum Muslim. sistem pemerintahan yang mendekati sistem pemerintahan di zaman Rasulullâh saw.

yang tidak tersisa lagi dari keislaman mereka kecuali hanya sekadar . Mereka berbicara dan menulis di bawah tekanan realitas menyedihkan yang menyelimuti kaum Muslim. sikap sebagian kaum Muslim terhadap tuduhan-tuduhan menyesatkan itu juga keliru. Apa yang mereka lakukan sesungguhnya bertujuan untuk mengebiri vitalitas ajaran Islam. Muncullah kemudian pernyataanpernyataan menyesatkan seperti. lalu dia bersikap membela (diri terhadap) Islam. Islam-negara. hal itu adalah sesuatu yang salah dan berbahaya. Sikap Umat Islam Sayangnya. sebagaimana sikap Barat terhadap agamanya (Nasrani). karena dapat mendorong untuk tidak memperhatikan nash-nash apa adanya—sesuai dengan makna syariat dan bahasanya (dalalah syar‘iyyah dan lughawiyyah). Orang-orang yang berdiri pada posisi membela Islam ini sesungguhnya telah kalah secara rûhiyah maupun ‘aqliyyah. dan sejenisnya. ada pula yang menggabungkan antara pemikiran Islam dengan pemikiran kufur. Di antara mereka lalu bersikap defensif apologetik (membela diri dengan cara keliru). Mereka menghendaki agar Islam yang dipahami oleh kaum Muslim adalah ‘Islam spiritual’. Pemikiran-pemikiran Islam-ideologi. “Islam mengenal sistem republik. Lebih dari itu. dan RasulNya (yang dijamin kebenarannya) tidak akan berubah menjadi salah atau tidak layak meskipun seluruh bangsa-bangsa di dunia mencapnya sebagai salah atau tidak layak. tetapi republik Islam.menampakkan bekasnya sama sekali. Islam-politik. bahwa umat Islam akan menjadi ancaman besar dan lawan yang paling tangguh serta akan mengancam eksistensi dan kepentingan-kepentingan mereka apabila kaum Muslim mulai menyentuh perkara-perkara Islam-ideologi. mereka mengatakan bahwa masalah inti yang tidak dapat dipenuhi oleh Islam adalah masalah bentuk negara dan pengadilan kekuasaan. sikap membela Islam ini akan bermuara pada pemahaman atas nash-nash seperti yang diinginkan oleh para orientalis karena adanya rasa takut terhadap serangan para orientalis sehingga sampai pada pendapat yang lain. penerapan hukum-hukum Allah Swt. Islam-politik. Mereka berusaha meragukan sistem pemerintahan Islam dengan pernyataan bahwa Islam tidak mempunyai konsep yang baku mengenai negara. pemikiran-pemikiran seperti itu tergolong pemikiran yang menyesatkan dan keliru yang kepalsuan dan bahayanya harus diungkapkan. apa pun perkaranya. Ketika seseorang ingin membahas tentang hukum syariat. dll. Padahal seharusnya. Dengan begitu. Bahkan.4 Islam hanya mengajarkan prinsip-prinsip yang harus dipenuhi oleh negara. Jika seseorang terpengaruh dengan tuduhan terhadap Islam. seorang Muslim hanya merujuk pada sumber-sumber hukum yang menjadi harta berharga milik seluruh kaum Muslim. Mereka pun menyadari.” “Syura dalam sistem pemerintahan Islam sama dengan demokrasi dalam sistem pemerintahan sekular”. ia wajib membatasi persoalan tersebut dengan dalil-dalil syariat saja tanpa perlu memperhatikan sikap orang-orang lain. Sebab. argumentasi dan dasar pijakan dalam setiap aspek dan aktivitas kehidupan hanya mengacu pada nash-nash syariat saja. Islamnegara dan sejenisnya mereka telikung dan mereka jauhkan dari umat ini sejauh mungkin. Seorang Muslim tidak perlu mendengarkan atau memperhatikan komentar maupun reaksi orang-orang (kafir) lain tatkala menjalankan hukum-hukum Allah Swt.

bukan untuk memahami nash apa adanya. pemerintahan.. kita pasti berhadapan dengan beberapa hal yang prinsipil. dalam memaparkan hukum-hukumnya. zakat. disebutkan bahwa Rasulullah saw. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. Penjelasan al-Quran dalam hal ini sama halnya dengan penjelasan hukum-hukum Islam lainnya semisal shalat. Tujuannya adalah untuk melepaskan diri dari tuduhan-tuduhan musuh. yaitu tidak menetapkan seluruh rincian aturan kehidupan (layaknya ensiklopedi seperti dalam masalah sosial. berfirman: Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Rasulullah saw. Masalah kedaulatan. Penjelasan Rasul ini dituangkan melalui praktik (Sunnah Rasulullah saw. bukan manusia. Contoh yang paling baik tentang perkara ini adalah sikap sebagian intelektual Muslim terhadap tudingan Barat bahwa jihad itu adalah tindakan bar-bar dan tidak menghargai hak-hak dan kedaulatan negara lain. Dalam suatu riwayat Abu Ubaid al-Qasimi. Pada kenyataannya. menjelaskan seraya menegaskan masalah ini ketika beliau menjelaskan ayat-ayat hukum yang bersifat pan legistik tersebut. Islam memerintahkan kepada kaum Muslim dan negara agar hanya tunduk pada hukum syariat Islam dan menjadikan Asy-Syâri‘ (Allah Swt. al-Quran tidak menerangkan secara pan legistik. secara menyeluruh dan detil yang notabene tidak keluar dari ketentuan Allah Swt. Konsep Negara Menurut al-Quran dan as-Sunnah Al-Quran sebagai pedoman dan asas kehidupan bagi negara dan masyarakat telah menentukan sistem kehidupan dan negara (pemerintahan) dalam bentuk konsep dan prinsip-prinsip asasinya. jual-beli. hukum.namanya saja. (QS al-An‘am [6]: 57). ekonomi. Oleh karena itu. politik. pernah bersabda:5 .) dalam aktivitas pemerintahan beliau dan masa sesudahnya (kekhilafahan). Allah Swt. budaya. dan seterusnya.5 Jika kita membahas tentang sistem pemerintahan. Tudingan tersebut lalu dikomentari oleh sebagian intelektual Muslim yang membatasi jihad dengan pengertian perang defensif saja. dan seterusnya). Al-Quran menjelaskan pokok-pokok permasalahan pemerintahan Islam dalam bentuk fondasi (sebagai sumber pokok legislasi) bagi penjelasan yang terperinci oleh Rasulullah saw. keadaan tersebut memerlukan adanya penjelasan dari Rasulullah saw. antara lain: 1.) sebagai pihak yang berdaulat. dari ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka menganggap bahwa pengertian jihad seperti itu akan membebaskan kita dari sesuatu yang dapat mendiskreditkan Islam di mata musuh-musuhnya.

Masalah kekuasaan.6 Sesungguhnya banyak hadis yang menjelaskan tentang metode pengangkatan khalifah. Islam telah menyerahkan hak dalam kekuasaan ini kepada umat. Kewajiban mengangkat seorang khalifah (kepala negara) Dalam al-Quran ada beberapa ayat yang berkaitan dengan masalah pemerintahan. (QS an-Nur [24]: 55). . di muka bumi dan menjadikannya sebagai landasan dalam roda pemerintahannya. untuk setia mendengarkan dan menaatinya. Pertama. ada dua hal yang penting untuk dikaji.7 Sistem ini dilakukan melalui pemilihan umum yang bebas dari unsur paksaan dan intimidasi. dan ketaatan kepada ulil amri serta keterkaitannya dengan hukum syariat dan penolakan terhadap hukum thâghût (kufur). kekuasaan. yaitu dengan baiat. baik dalam keadaan yang kami senangi ataupun yang tidak kami senangi. maka kewajiban rakyat untuk mennaatinya. Apabila ia menjalankan hukum tersebut. Metode ini ditegaskan hanya dengan (satu) jenis. kewajiban mengangkat seorang pemimpin (kepala negara). Dengan demikian.Kewajiban imam (pemimpin atau khalifah) adalah menjalankan urusan (hukum terhadap umat dan negara) sesuai dengan wahyu yang telah diturunkan Allah dan menyampaikan amanat. kewajiban kepala negara adalah menerapkan hukum Allah Swt. semua hal selalu terkait dengan hukum syariat. kedua. bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi. Dari rangkaian ayat tersebut. 2. baik dalam keadaan susah maupun mudah. 3. (HR Muslim). Ayat ini menegaskan bahwa kekuasaan itu berada (diserahkan kepada) kaum Muslim. Lalu umat menyerahkan hak pengaturan dan pemeliharaan urusan mereka kepada kepala negara (khalifah) yang terpilih dalam pemilihan umum dan dibaiat oleh mereka. sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih di antara kalian (kaum Muslim yang menerapkan syariat Islam). Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Ubadah ibn Shamit: Kami telah membaiat Rasulullah saw.

Artinya. Ulil amri adalah penguasa yang mempunyai kedudukan paling tinggi dalam kepemimpinan Islam. (QS anNisa’ [4]: 59).Menyangkut yang pertama. kaum Muslim wajib mengangkat seorang ulil amri dan menaatinya. yaitu adanya sebuah institusi pemerintahan Islam yang menegakkan sistem hukum Islam dan tersebarnya dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Penafsiran seperti itu banyak terdapat pada kitab-kitab tafsir besar lainnya. Dalil di atas sekaligus sebagai kewajiban bagi kaum Muslim untuk mewujudkan adanya khalifah karena Allah tidak memerintahkan untuk menaati sesuatu yang wujudnya tidak ada. berupa hukum-hukum syariat Islam. untuk mengatur seluruh urusan kaum Muslim dan memutuskan seluruh perkara mereka berdasarkan perintah-Nya. Menyangkut yang kedua. seruan itu ditujukan kepada seluruh kaum Muslim (khiththâb ‘âm). kaum Muslim harus memahami bahwa kewajiban mewujudkan khalifah dibatasi obyeknya hanya untuk seorang khalifah yang menjadi pemimpin kaum Muslim di seluruh dunia. Sebab. Pada kenyataannya. selain kepada Rasulullah saw. Ini adalah dalil yang tegas yang menunjukkan bahwa hanya satu kepemimpinan dalam Dunia Islam. Walaupun merupakan seruan kepada Rasulullah saw. Mufasirin sepakat mengatakan bahwa ulil amri adalah khalifah atau umara (amir). taatilah Allah serta taatilah Rasul dan ulil amri di antara kalian. bunuhlah orang terakhir yang dibaiat.10 ia juga merupakan yang berlaku bagi seluruh kaum Muslim. bersabda:11 Jika ada dua khalifah yang dibaiat (pada waktu yang bersamaan). dalil itu tidak ada takhsis-nya. kecuali ada dalil yang men-takhsis-nya. memerintahkan kepada Rasulullah saw. Di samping itu.9 Perintah pada ayat ini merupakan perintah wajib bagi Rasulullah saw. Allah Swt. Karena itu. Dalam menafsirkan ayat tersebut. Keberadaan sistem ini menjadikannya sebagai kewajiban utama bagi seluruh kaum Muslim untuk mewujudkannya. taat kepada khalifah adalah suatu kewajiban syariat atas kaum Muslim. menegakkan hukum-hukum-Nya berarti pula menegakkan sistem kekhilafahan.. Oleh karena itu. Hai orang-orang beriman. Ibn Hazm8) berkata bahwa ayat ini menunjukkan kewajiban adanya seorang imam. Ia adalah khalifah (Imam al-A‘zham) yang mengatur seluruh urusan umat Islam (waliy[u] al-amri). Rasulullah saw. . menurut kaidah ushul. hanya sistem inilah yang mampu menegakkan sistem hukum Islam.

Dengan kata lain. Sa‘id ibn Zaid berkata. baik sebagai kepala negara maupun pejabat tingkat daerah. Saat itu. adalah aneh rasanya kalau kepala negara diangkat dari kalangan non-Muslim. Budha. Ulil amri adalah pengatur urusan umat Islam.” 4. Allah Swt. Oleh karena itu. Pada ayat tersebut dan ayat al-Quran lainnya. bagaimana mungkin mereka dapat melaksanakan sistem hukum Islam dan mau mengurusi urusan kaum Muslim di tengah kebencian yang ada pada hati mereka. berfirman: Hai orang-orang yang beriman.14 . (QS an-Nisa’ [4]: 59). janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) kalian dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)? (QS an-Nisa’ [4]: 144). kepala negara tidak boleh dijabat dari kalangan yang tidak meyakini akidah Islam. taatilah Allah serta taatilah Rasul dan ulil amri di antara kalian. berfirman: Hai orang-orang yang beriman.12 Perhatian utama ini jelas terlihat ketika pengangkatan (pembaitan) Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah. Al-Quran telah melarang kaum Muslim mengangkat kepala negara dari kalangan non-Muslim seperti dari kalangan Nasrani. Allah Swt. Dalil tersebut sekaligus menghendaki adanya kesatuan Dunia Islam dan mengharamkan adanya perpecahan dengan adanya dua atau lebih sistem kepemimpinan/pemerintahan di Dunia Islam.yaitu seorang khalifah yang diangkat dengan cara baiat. Yahudi. kata ulil amri selalu dikaitkan dengan kaum Muslim. Kepala negara wajib dari kalangan kaum Muslim. Sebab.13 “Mereka (kaum Muslim) tidak suka hidup barang sehari pun tanpa adanya pemimpin jamaah (khalifah). dan lain-lain. Al-Quran menyebutkan bahwa khalifah (ulil amri) wajib diangkat dari kalangan kaum Muslim semata. Komunis. Ayat ini juga mengharamkan kaum Muslim untuk mengangkat orang-orang kafir sebagai penguasa. Dalam masalah kepemimpinan ini. para sahabat sepakat untuk tidak membuat kevakuman dengan tidak adanya seorang khalifah pun lebih dari 3 (tiga) hari. Hindu. Kewajiban ini juga telah disepakati oleh seluruh sahabat (Ijma Sahabat).

jika engkau membulatkan tekad. Rasulullah saw. dan lain-lain). Karena itu.17 dan yang sejenisnya. telah menentukan syarat ini sebagai salah satu dari beberapa syarat kepala negara. Dengan demikian. wakil kepala negara. berfirman: Bermusyawarahlah engkau dengan mereka dalam urusan itu (ekonomi. Artinya. Kemudian. memerintahkan Nabi saw. ketua mahkamah mazhâlim. hadis tersebut secara tegas menyatakan keharaman menjadikan wanita sebagai penguasa/pemerintah. bersabda:18 Tidak akan beruntung suatu kaum (dalam mengurusi pemerintahan) bila mereka memilih perempuan menjadi pemimpin mereka. politik. Ibn Hazm berkata. Perempuan tidak dibenarkan menduduki jabatan kepala negara dan jabatan dalam struktur pemerintahan di bawahnya yang selalu berhubungan keputusan dan kebijakan. dan Rasul-Nya. Allah Swt. bertawakallah kepada Allah. merinci dalam Sunnahnya (bagaimana beliau melakukan musyawarah. 5. (QS Ali ‘Imran [3]: 159). wali suatu negeri. Kata walla jika dikaitkan dengan kata al-amr maknanya adalah menjadikan penguasa atau pemerintah.19 Badan-badan dalam Struktur Negara 1.Wajibnya persyaratan kepala negara dari kalangan kaum Muslim dan bukan dari kalangan nonIslam adalah perintah Allah Swt. “Seluruh golongan kalangan kaum Muslim (dari berbagai mazhab dan firqah) tidak ada di antara mereka yang membolehkan perempuan menjadi imam (pemimpin). Majlis Syura (Majelis Umat) Al-Quran tidak menjelaskan secara rinci setiap struktur yang ada pada sistem pemerintahan Islam. Rasulullah saw. Rasulullah saw. Al-Quran hanya menentukannya secara global saja dan menganjurkan kaum Muslim untuk selalu bermusyawarah.15 Para sahabat serta para ulama fikih dan ushul juga memiliki pandangan yang sama tanpa adanya perbedaan pendapat. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. . Allah Swt. Dalam masalah ini. frasa wallaw amrahum imrâ’at[an] mengandung makna menjadikan wanita sebagai penguasa atau pemegang jabatan pemerintahan. perempuan tidak dibenarkan menjadi kepala negara. pembantu kepala negara (wazir). Para mufassir tidak berselisih tentang hal ini. untuk bermusyawarah dan meminta pendapat kaum Muslim. Kepala negara wajib dari kalangan laki-laki. Dalam ayat ini.

‘Abdurrahman bin ‘Auf. Abu Ubaidah. masih berada di tengah-tengah umat Islam. Dalam perkembangannya. dan wakil khalifah di bagian Timur dan Barat. Dengan demikian. Para Amir.20 Mereka adalah Abu Bakar.21 Sementara itu. mengepalai. kedudukan Khalifah dikenal sebagai Amirul Mukminin. Ibn Mas‘ud. camat (amir ath-thusuh). .23 Said Hawwa mengatakan bahwa waliy al-amri adalah Khalifah yang diangkat berdasarkan hasil musyawarah kaum Muslim. Bilal. amir adalah pejabat pemerintahan yang diangkat untuk mengatur dan memelihara salah satu urusan kaum Muslim. dan setiap pejabat yang mempunyai kekuasaan syar‘î (berdasarkan ketentuan syariat). Ulil amri dibantu oleh kepala bagian dan bawahan lainnya.26 para qâdhî. dan kapan hasil permufakatan itu beliau ambil sebagai keputusan). amir wilayah (amir al-wilâyah). ‘Ali. dan mengatur suatu urusan negara. 2. istilah ulil amri ternyata mencakup seluruh aparat/pejabat negara yang memiliki wewenang/kekuasaan (dan pejabat peradilan). dan amir haji (amir alhajj). Dari sekian pendapat. Mu‘adz bin Jabal. istilah ulil amri di dalam al-Quran berlaku untuk pejabat negara atau penguasa dan tidak boleh diartikan secara sempit atau terbatas untuk masa tertentu. ‘Utsman. Ubay bin Khalaf. Ketika itu. Al-Quran menyebutkan istilah ini pada surat an-Nisa’ (4) ayat 59. ketua seluruh pejabat (amir alumara’). Ketika Rasulullah saw. atau berkedudukan setingkat dengan bupati (amir al-istân). pada kurun sesudahnya. Bahkan. ‘Umar.22 Pendapat terakhir ini adalah pendapat hampir sebagian besar ahli tafsir. Sebab. beliau mengangkat tujuh orang dari kalangan Muhajirin dan tujuh orang lainnya dari kalangan Anshar. dan Zaid bin Tsabit. istilah ini atau istilah lain di dalam al-Quran memiliki pengertian yang luas. Abu Hurairah berpendapat bahwa ulil amri adalah orang yang menjabat sebagai amir. Menurut istilah syariat. istilah di dalam al-Quran yang dijelaskan secara garis besar (global) selalu diikuti dengan penjelasan mendalam oleh Sunnah Rasul.dalam perkara apa saja. Hamzah. Abu Dzar.25 Sementara itu. Pada masa tersebut bertambah jabatan setingkat jaksa agung (amir al-qadhâ’). amir yang menjabat komandan pasukan panah (amir ar-rumât). atau kepala desa (amir ar-rustaq). Maimun bin Mahran (sahabat) dan Maqhal (tokoh tâbi‘în) berpendapat bahwa ulil amri adalah orang yang menjabat sebagai komandan pasukan perang ketika Nabi saw masih hidup. istilah amir juga dipakai untuk jabatan kepala staf keamanan (shâhib asy-syurthah). Sa‘ad bin ‘Ubadah. Berdasarkan pengertian syariat di atas.24 sedangkan ash-Shabuni mengatakan bahwa ulil amri adalah para penguasa. Imam asy-Syaukani berpendapat bahwa ulil amri adalah para imam (sultan atau khalifah. Ketika itu dikenal amir yang menjabat komandan perang (amir as-sariyah). istilah amir dipergunakan untuk nama beberapa jabatan yang mengurusi suatu urusan. Sebatas inilah yang dipahami oleh para sahabat dan tâbi‘în. Pada masa Khulafa ar-Rasyidin. istilah ulil amri yang tercantum di dalam al-Quran adalah setiap orang yang diangkat sekaligus menjabat.

adalah aneh rasanya kalau kepala negara diangkat dari kalangan non-Muslim. Dalam Perang Tabuk. janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) kalian dengan meninggalkan orang-orang Mukmin.27 4. kepala negara tidak boleh dijabat dari kalangan yang tidak meyakini akidah Islam.. Budha. Keharusan ini berlaku karena pada masa Rasulullah saw. Yahudi. misalnya. Hindu. beliau mengangkat Muhammad bin Maslamah sebagai pengganti beliau dalam mengurusi pemerintahan. baik sebagai kepala negara maupun pejabat tingkat daerah. Al-Quran menyebutkan bahwa khalifah (ulil amri) wajib diangkat dari kalangan kaum Muslim semata. yakni tatkala Rasulullah saw. bagaimana mungkin mereka dapat melaksanakan sistem hukum Islam dan mau mengurusi urusan kaum Muslim di tengah kebencian yang ada pada hati mereka. Pada ayat tersebut dan ayat al-Quran lainnya. Allah Swt. dan lain-lain. taatilah Allah serta taatilah Rasul dan ulil amri di antara kalian. Sebab. Ayat ini juga mengharamkan kaum Muslim untuk mengangkat orang-orang kafir sebagai penguasa. ketika memimpin jamaah haji. kata ulil amri selalu dikaitkan dengan kaum Muslim. Al-Quran telah melarang kaum Muslim mengangkat kepala negara dari kalangan non-Muslim seperti dari kalangan Nasrani. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)? (QS an-Nisa’ [4]: 144). Kepala negara wajib dari kalangan kaum Muslim. Jabatan ini diperlukan apabila khalifah berhalangan atau tidak berada di tempat (pusat) pemerintahan. Allah Swt. berfirman: Hai orang-orang yang beriman. Dengan kata lain. Sa‘ad bin ‘Ubadah pernah diangkat untuk jabatan ini pada tahun pertama Hijrah. Komunis. Pejabat ini diharuskan keberadaannya dalam pemerintahan Daulah Islamiyah.3. pejabat ini diperlukan ketika beliau ke luar menuju medan perang atau karena ada urusan lainnya yang menyebabkan beliau tidak berada di pusat pemerintahan. sibuk memimpin dalam Perang al-Abwa’. Ulil amri adalah pengatur urusan umat Islam. (QS an-Nisa’ [4]: 59). berfirman: Hai orang-orang yang beriman. Wakil Khalifah. Oleh karena itu.14 .

“Seluruh golongan kalangan kaum Muslim (dari berbagai mazhab dan firqah) tidak ada di antara mereka yang membolehkan perempuan menjadi imam (pemimpin). perempuan tidak dibenarkan menjadi kepala negara. wali suatu negeri. Majlis Syura (Majelis Umat) Al-Quran tidak menjelaskan secara rinci setiap struktur yang ada pada sistem pemerintahan Islam. memerintahkan Nabi saw. 5. Allah Swt.Wajibnya persyaratan kepala negara dari kalangan kaum Muslim dan bukan dari kalangan nonIslam adalah perintah Allah Swt. Ketika .19 Badan-badan dalam Struktur Negara 1. merinci dalam Sunnahnya (bagaimana beliau melakukan musyawarah. bertawakallah kepada Allah. Ibn Hazm berkata. Rasulullah saw. dan Rasul-Nya. Para mufassir tidak berselisih tentang hal ini. Dalam ayat ini. dan lain-lain). telah menentukan syarat ini sebagai salah satu dari beberapa syarat kepala negara. Artinya. Kemudian. politik. Dalam masalah ini. Allah Swt. Karena itu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Kepala negara wajib dari kalangan laki-laki. Rasulullah saw. jika engkau membulatkan tekad. berfirman: Bermusyawarahlah engkau dengan mereka dalam urusan itu (ekonomi. frasa wallaw amrahum imrâ’at[an] mengandung makna menjadikan wanita sebagai penguasa atau pemegang jabatan pemerintahan. Al-Quran hanya menentukannya secara global saja dan menganjurkan kaum Muslim untuk selalu bermusyawarah. hadis tersebut secara tegas menyatakan keharaman menjadikan wanita sebagai penguasa/pemerintah. untuk bermusyawarah dan meminta pendapat kaum Muslim. bersabda:18 Tidak akan beruntung suatu kaum (dalam mengurusi pemerintahan) bila mereka memilih perempuan menjadi pemimpin mereka. dan kapan hasil permufakatan itu beliau ambil sebagai keputusan).15 Para sahabat serta para ulama fikih dan ushul juga memiliki pandangan yang sama tanpa adanya perbedaan pendapat. Kata walla jika dikaitkan dengan kata al-amr maknanya adalah menjadikan penguasa atau pemerintah. Perempuan tidak dibenarkan menduduki jabatan kepala negara dan jabatan dalam struktur pemerintahan di bawahnya yang selalu berhubungan keputusan dan kebijakan. Dengan demikian. pembantu kepala negara (wazir). (QS Ali ‘Imran [3]: 159). ketua mahkamah mazhâlim. Rasulullah saw. wakil kepala negara.17 dan yang sejenisnya. dalam perkara apa saja.

Al-Quran menyebutkan istilah ini pada surat an-Nisa’ (4) ayat 59. istilah ini atau istilah lain di dalam al-Quran memiliki pengertian yang luas. amir adalah pejabat pemerintahan yang diangkat untuk mengatur dan memelihara salah satu urusan kaum Muslim. dan setiap pejabat yang mempunyai kekuasaan syar‘î (berdasarkan ketentuan syariat).25 Sementara itu. istilah amir dipergunakan untuk nama beberapa jabatan yang mengurusi suatu urusan. Abu Ubaidah. dan amir haji (amir alhajj). istilah ulil amri di dalam al-Quran berlaku untuk pejabat negara atau penguasa dan tidak boleh diartikan secara sempit atau terbatas untuk masa tertentu. kedudukan Khalifah dikenal sebagai Amirul Mukminin. 3. Wakil Khalifah. Abu Hurairah berpendapat bahwa ulil amri adalah orang yang menjabat sebagai amir. amir wilayah (amir al-wilâyah).23 Said Hawwa mengatakan bahwa waliy al-amri adalah Khalifah yang diangkat berdasarkan hasil musyawarah kaum Muslim. Ketika itu dikenal amir yang menjabat komandan perang (amir as-sariyah). Maimun bin Mahran (sahabat) dan Maqhal (tokoh tâbi‘în) berpendapat bahwa ulil amri adalah orang yang menjabat sebagai komandan pasukan perang ketika Nabi saw masih hidup. atau kepala desa (amir ar-rustaq). Sa‘ad bin ‘Ubadah.26 para qâdhî. istilah ulil amri ternyata mencakup seluruh aparat/pejabat negara yang memiliki wewenang/kekuasaan (dan pejabat peradilan).20 Mereka adalah Abu Bakar. Para Amir. 2. camat (amir ath-thusuh). pada kurun sesudahnya. Dengan demikian. beliau mengangkat tujuh orang dari kalangan Muhajirin dan tujuh orang lainnya dari kalangan Anshar. dan Zaid bin Tsabit. . ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Berdasarkan pengertian syariat di atas. Dalam perkembangannya. ‘Utsman. Ibn Mas‘ud. dan wakil khalifah di bagian Timur dan Barat. ‘Ali. mengepalai.itu. Ulil amri dibantu oleh kepala bagian dan bawahan lainnya. dan mengatur suatu urusan negara. Bahkan. Imam asy-Syaukani berpendapat bahwa ulil amri adalah para imam (sultan atau khalifah.21 Sementara itu. istilah di dalam al-Quran yang dijelaskan secara garis besar (global) selalu diikuti dengan penjelasan mendalam oleh Sunnah Rasul. istilah ulil amri yang tercantum di dalam al-Quran adalah setiap orang yang diangkat sekaligus menjabat.24 sedangkan ash-Shabuni mengatakan bahwa ulil amri adalah para penguasa. ‘Umar. Pada masa Khulafa ar-Rasyidin. amir yang menjabat komandan pasukan panah (amir ar-rumât). Abu Dzar. Mu‘adz bin Jabal. Menurut istilah syariat. masih berada di tengah-tengah umat Islam. Sebab. Ketika Rasulullah saw.22 Pendapat terakhir ini adalah pendapat hampir sebagian besar ahli tafsir. Sebatas inilah yang dipahami oleh para sahabat dan tâbi‘în. istilah amir juga dipakai untuk jabatan kepala staf keamanan (shâhib asy-syurthah). Bilal. Ubay bin Khalaf. Hamzah. atau berkedudukan setingkat dengan bupati (amir al-istân). Dari sekian pendapat. Pada masa tersebut bertambah jabatan setingkat jaksa agung (amir al-qadhâ’). ketua seluruh pejabat (amir alumara’).

Pejabat ini diharuskan keberadaannya dalam pemerintahan Daulah Islamiyah. Sa‘ad bin ‘Ubadah pernah diangkat untuk jabatan ini pada tahun pertama Hijrah. 5. sebagaimana dituturkan Abi Sa‘id al-Khudri: Pembantuku dari penduduk bumi (Madinah) adalah Abu Bakar dan ‘Umar. Dalam masa pemerintahan Rasulullah Saw. Pejabat ini memiliki tugas yang penting. bersabda. pada masa lampau memiliki daerah yang terus meluas. Dalam Perang Tabuk. Rasulullah saw. Pembantu Umum Pemerintahan. para mudir (setingkat dengan direktur) dipilih dari para sahabat utama untuk membantu urusan kenegaraan. mulai urusan perang. ‘Atab bin Usaid diangkat sebagai wali di Makkah setelah ditaklukkan. (HR at-Tirmidzi).30 Dalam menjalankan tugasnya. sampai mengumumkan sesuatu kepada kaum Muslim. yaitu Badzan bin Sassan. beliau mengangkat Muhammad bin Maslamah sebagai pengganti beliau dalam mengurusi pemerintahan. pejabat ini diperlukan ketika beliau ke luar menuju medan perang atau karena ada urusan lainnya yang menyebabkan beliau tidak berada di pusat pemerintahan. misalnya.. sibuk memimpin dalam Perang al-Abwa’. diangkat sebagai wali untuk daerah Yaman setelah ia masuk Islam. yakni tatkala Rasulullah saw. Dalam catatan sejarah. Setiap kawasan besar dipimpin oleh seorang wali (gubernur) dan setiap kawasan kecil yang berada di bawah pengawasan wali dipimpin oleh seorang amil. kedua orang tersebut giat membantu Rasulullah saw. Sekretaris Negara (Amir as-Sirr). mengangkat Hudzaifah bin al-Yaman sebagai amir as-sirr28 (semacam Setneg). para wali kadang-kadang diberikan kewenangan untuk mengatur masalah administrasi dan mengurusi urusan . dalam berbagai urusan. beliau membagi wilayah tersebut menjadi 12 wilayah. Dalam sejarah. Rasulullah saw. Setiap wilayah dibagi lagi menjadi bagianbagian kecil yang disebut imâlah. ketika memimpin jamaah haji.Jabatan ini diperlukan apabila khalifah berhalangan atau tidak berada di tempat (pusat) pemerintahan.29 Muadz bin Jabal serta Hudzaifah bin al-Yaman juga pernah diangkat oleh Rasulullah saw. sebagai wali di daerah Yaman. 6. Hampir semua rahasia dan kebijakan negara dipegang orang ini. Pemerintahan Rasulullah saw. pengadilan. Pejabat ini pula yang memegang cap/stempel negara. Mantan Wakil Raja Kisra. dan Qada’ah ad-Dausi sebagai amil untuk kabilah Bani Asad.27 4. Keharusan ini berlaku karena pada masa Rasulullah saw. Penguasa Daerah. beliau mengangkat Amr bin Sa‘id di kawasan Wadi al-Qurra.. Untuk pejabat setingkat amil. Karena itu.

yaitu langsung mengadili pelakunya di tempat untuk kasus-kasus pelanggaran yang mengganggu hak-hak masyarakat secara luas.33 Menurut riwayat ath-Thabrani dari Masruq. dan Zubaid. Namun demikian. mengatur masalah keuangan. Keenam orang itu adalah ‘Umar. Pada keadaan pertama (waliy al-‘âmah).34 Dalam urusan peradilan. Setiap Muslim atau mereka yang telah Islam memiliki kewajiban dan hak yang sama.: Hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Para fukaha menyebut kewenangan ini dengan sebutan wilâyah al-‘âmah (kekuasaan menyeluruh). Rasulullah saw. kadangkadang tugas tersebut diambil-alih sendiri oleh Rasulullah saw. Pada masa Rasulullah saw. ada tugas yang disebut qadhâ al-hisbah. Ubay bin Ka‘ab. di antaranya. misalnya hanya mengurusi administrasi keuangan saja atau bidang peradilan saja di wilayahnya.” (HR al-Hakim dengan sanad sahih). dan lain-lain. yang bertugas mencegah kezaliman di tengah-tengah masyarakat. mengangkat Farwah bin Sahal menjadi wali di Murad. (QS al-Maidah [5]: 49). tidak memaksakan kehendak terhadap Ahlul Kitab untuk meninggalkan agamanya. menentukan mekanisme tugas dan pola pelaksanaan hukum. Mishaj. Rasulullah saw. Sa‘id bin al-‘Ash bertugas di pasar kota Makkah.31 Dalam pengangkatan pejabat daerah tersebut. Rasulullah saw.negara di wilayahnya seperti urusan peradilan. Ada beberapa orang penjabat wali yang juga mempunyai tugas sebagai qâdhî seperti Mu‘adz bin Jabal dan ‘Ali bin Abi Thalib di Yaman (Selatan dan Utara).32 7. ‘Ali. Pada keadaan kedua. ada pula wali yang diberikan kewenangan untuk tugas yang terbatas. mengangkat Rasyid bin ‘Abdillah sebagai amir untuk keperluan pengadilan dan kezaliman serta bertindak untuk mengawasi dan mencegah kezaliman. Rasulullah saw. dan Abu Musa al-Asy‘ari. ‘Abdullah bin Mas‘ud. pernah berkata kepada ‘Ali ketika ia diangkat untuk menjabat sebagai hakim di Yaman (yang artinya). Seluruh wali ini hanya mengatur masalah keuangan. Zaid bin Tsabit. Semua kasus peradilan pada masa Rasulullah saw. .35 Selain tugas-tugas peradilan di atas. hakim pada masa Rasulullah saw ada enam orang. dijalankan berdasarkan perintah Allah Swt. Khalid bin Sa‘id al-Ash menjadi wali di Hadramaut. Mu‘adz bin Jabal pernah diangkat sebagai wali sekaligus qâdhî untuk wilayah Yaman serta diberi wewenang sebagai komandan perang. pengaturan keuangan. dan administrasi lainnya. “Ajarkan kepada mereka hukum syariat (Islam) dan putuskanlah perkara (berdasarkan syariat) di antara mereka. Namun demikian. Badan Peradilan (al-Qadhâ’)..

antara lain: seksi pencatatan sukarelawan militer. seksi logistik (amunisi. Angkatan Bersenjata. jumlah tentara Muslim sekitar 30. Ada urusan administrasi negara yang terkenal dan dijalankan pada masa Rasulullah saw. telah membagi angkatan bersenjata ke dalam beberapa induk pasukan tempur (sariyyah). menyelamatkan arsip (dokumen). Setiap induk pasukan dikepalai oleh satu komandan pasukan. ‘Ali bin Abi Thalib pernah bertugas sebagai jurutulis untuk keperluan perjanjian antar negara.40 Setiap induk pasukan ini memiliki dua bendera. yaitu dewan pertahanan negara dengan beberapa seksinya.—jika tidak dikatakan bodoh—jika ada sebagian orang (terutama intelektual Muslim maupun sebagian ‘ulama’) yang menyebutkan bahwa pemerintahan pada masa Rasulullah saw. serta Mughirah bin Syu‘bah jurutulis untuk bidang simpan-pinjam dan bidang muamalah. harta rampasan perang. Mu‘aiqib bin Abi Fathimah bertugas sebagai jurutulis untuk urusan ghanîmah (harta rampasan perang). Sungguh sangat keliru. Ketika Rasulullah saw. yaitu bendera berwarna putih (liwa) dan bendera berwarna hitam (rayah).43 Penutup Dari seluruh uraian di atas.42 Untuk keperluan ini. telah membangun suatu kerangka struktur pemerintahan Daulah Islamiyah yang sangat kokoh. Kedua bendera tersebut bertuliskan kalimat syahadat. Mustafa al-A‘zhami38 mencatat tidak kurang dari 61 jurutulis yang bertugas pada masa Rasulullah saw. beliau selalu menugaskan sebagian tentara (semacam polisi kota) untuk menjaga ketertiban dan keamanan kota. Rasulullah saw. konseptor surat. beliau banyak mengangkat jurutulis untuk membantu administrasi.000 pasukan penunggang kuda (kavaleri) yang semuanya siap tempur. Sungguh sangat keliru . Kaum Muslim yang mendaftar dan dilatih oleh negara kelak menjadi tentara cadangan.37 Dr. Rasulullah saw.sedangkan ‘Umar bertugas di pasar kota Madinah. terjun langsung ke medan perang. jelas terbukti bahwa Rasulullah saw. yang tugasnya mencatat wahyu yang turun. dan sangat awam terhadap sejarah/sirah Rasulullah saw.39 9. Untuk keperluan ini. Dalam hal hak dan kewajiban militer. dan lain-lain. berlebih-lebihan. mengangkat Qaisy bin Sa‘ad sebagai pejabat (komandan) yang mengendalikan polisi kota (shâhib asy-syurthah). seksi tata administrasi perkantoran (dîwan al-insyâ’).36 8. kadang-kdang Rasulullah saw.41 Dalam hal pertahanan dan keamanan negara. wafat. dan lain-lain). itu setingkat dengan RT/RW. Bidang Administrasi. Struktur administrasi ini dijalankan juga oleh Rasulullah saw. Ketika itu.000 personil pasukan infanteri dan 6. Tugas jurutulis ini setara dengan dirjen. seluruh kaum Muslim dapat (boleh) dilatih oleh negara untuk keperluan perang. penterjemah bahasa. Zubair bin ‘Awwam jurutulis keuangan untuk bidang zakat. Tentara cadangan ini memudahkan mobilisasi tentara untuk keperluan perang.

Al-Quran dan Masyarakat Modern. Mahabenar Allah Yang berfirman: Sesungguhnya pada hal yang demikian terdapat peringatan bagi orang-orang yang memiliki akal atau menggunakan pendengarannya. hlm. kami telah menyampaikan! Catatan kaki: 1) Abdur Razzaq Naufal. Al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm. I dan V. Akan tetapi. 101. Sesungguhnya suara-suara seperti itu terasa ganjil. (QS Qaf [50]: 37). 87. baiat diartikan sebagai sumpah. dan lain-lain— jika tidak ada institusi negara yang menerapkannya. apalagi disuarakan oleh orang-orang yang mengaku cendekiawan Muslim. 5) Lihat: Abu Ubaid al-Qasimy dalam. sosial. hlm. 82-83 (Edisi Beirut). Al-Quran dan Ilmu Hukum. pengertian bahasa tidak dapat dipakai dalam pemahaman tentang hal ini. bahwa dalam catatan sejarah Islam. 6) Said Hawwa. sedangkan dia menyaksikan semua itu.apabila seseorang berani mengatakan bahwa Islam tidak mempunyai konsep kenegaraan yang baku atau menyatakan bahwa bentuk pemerintahan Islam diserahkan kepada manusia untuk menentukannya sesuai dengan kehendaknya. politik luar dan dalam negeri. 9) Perhatikan QS al-Maidah 48-49. ekonomi dan perdagangan. 12 pada hadis no. 130-131. hlm. Ya Allah. bagi kaum Muslim. 2) Abdoerraoef. pengaturan dan pelayanan masyarakat. hlm. Al-Asas fî at-Tafsîr. 3) Ali Abdur Raziq. 261. jld. berapa ribu ayat al-Quran maupun hadis-hadis Nabi saw. 10) Lihat: Al-Amidi. “Islam Tak Punya Konsep Baku Mengenai Negara. peradilan. 3572. Lagi pula. 4) Lihat: Kompas dalam artikel. . Al-Fishâl. hlm. hlm. pemerintahan Islam (Daulah Islamiyah) sanggup bertahan sampai 13 abad lamanya sebelum para penjajah Barat menghancurkannya melalui tipudaya dan makar jahatnya. hlm. Al-Islâm wa Ushûl al-Hukm. 8) Ibn Hazm. IV. jld I. VII. Kitâb al-Amwâl. 7) Dalam pengertian bahasa. jld. saksikanlah. Apakah mereka tidak mengetahui. 11. hlm. yang akan dicampakkan—yang seluruhnya menyerukan kaum Muslim untuk menerapkan hukumhukum Islam dalam aspek jihad (aktivitas militer). pendidikan.” tanggal18 November 1986.

25 Lihat: Ash-Shabuni. 285. vol. I. 28-29. 27 Lihat: Sîrah Ibn Hisyâm. hlm. Al-Fishâl. 14) Sinyalemen ini banyak terbukti untuk periode sekarang. selalu ditindas dan teraniaya. 13) Lihat: Târîkh at-Thabarî. Namun. jld. I. hlm. 314. lihat: Ibn Quthaybah. hlm. jld. jld. Fath al-Qadîr. dan Ibn al-Arabi. jld. Tafsîr az-Zamakhsyariî. 185. 20 Lihat: Musnad Imam Ahmad. V. jld. 481. hlm. Nizhâm al-Hukm wa al-Idârah fî ad-Dawlah alIslâmiyyah. hlm. hlm. Ad-Durr al-Manstûr. V. hlm. I. hadis no. jld. hlm. jld. hlm. misalnya. hlm. 1103. 535. 451. hlm. I. 19 Lihat: Ibn Hazm. V. I. jld. I. 18 Lihat: Shahîh al-Bukhârî. hlm. 24 Lihat: Said Hawwa. hlm. IV. bahwa kebanyakan kaum Muslim minoritas (bahkan mayoritas) yang berada di bawah pemimpin non-Muslim. hlm. hlm. jld. hlm. Ibn Hazm. II. hlm. Safwât at-Tafâsîr. XII. 21 Lihat: Tafsîr at-Thabarî. . 574. Syarh Aqâ’id an-Nasafiyah. jld. 16217 Badan ini mirip Mahkamah Agung. IV. Ahkâm al-Qur’ân. 110. 15) Lihat: Tafsîr Zamakhsyari. II. Al-Asâs fî at-Tafsîr. 9856. Tafsîr ath-Thabarî. 447. jld. 28 Lihat: Muhammad ‘Abdullah asy-Syabani. 147-150. Al-Musâmarah. I. 22 Lihat: Imam as-Suyuthi. hadis no. 525. 591. jld. Ia hanya dibenarkan menjadi hakim di bidang pengadilan lainnya. perempuan tidak dibenarkan menduduki jabatan kepala Mahkamah Mazhalim. Al-Fishâl. 24. 23 Lihat. jld. Ahkâm al-Qur’an. jld. hlm. 26 Lihat: Asy-Syaukani. hlm. 110. Ibn ‘Arabi. 241. 16) Lihat: Imam Nasafi. jld. 519. hlm. jld. jld. Al-Imâmah wa as-Siyâsah. V. 147. 4425 dan 7099.11) Lihat: Shahîh Muslim bi Syarh an-Nawawî. I. II. 251-252. hlm. alAiji. II. hlm. 259-261. dan jld. Tafsîr ath-Thabarî. Tafsîr Qurthubî. 12) Untuk jelasnya.

al-Juhasyiari. jld. 34 Ibid. Lihat: Taqiyuddin anNabhani. 40 Lihat: Anwar ar-Rifai. hlm. 31 Wali-wali tersebut diperintahkan untuk memungut zakat di wilayahnya. 12-13. op. 69-71. 258. 247. 114-180. hlm. dan hadis riwayat at-Tirmidzi. jld. 39 Lihat: Al-Qalqasyandi. 42 Ibid. 141. 91-92. 33 Hadis ini dikutip oleh al-Qattani. hlm. 36 Lihat: Al-Qattani. Nizhâm al-Hukumah an-Nabawiyyah. An-Nuzhum al-Islâmiyyah.com/search/?init=srp&sfxp&q=ulil+jil#/note.29 Lihat: Al-Qattani. Nizhâm al-Hukm fî Islâm. hlm. Lihat: Muhammad Hamidullah. Lihat hadis riwayat al-Bukhari dari Anas bin Malik. hlm. 385. op. hlm. hlm. Nizhâm. jld. hlm. 287. dalam kitab. no. Al-Wuzârâ’ wa al-Kuttâb. I. mengadili. 243-244.. hlm. hlm.cit. I. menangkap. II.facebook. 41 Lihat: Al-Qattani. 7155. dan menjaga penjara. hlm. jld. hlm.cit. 32 Teladan untuk hal ini adalah surat Rasulullah saw. 3939. 35 Lihat: Taqiyuddin an-Nabhani. 19-26. http://www. Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm. I. jld. 206-209. Kuttâb an-Nabi. 95. 38 Dr. Muhammad Mustafa al-A‘zhami. hlm. Shubh al-‘Asyâ’. al-Watsâ’iq as-Siyâsiyyah li al-‘Ahdi an-Nabawi. 30 Ibid.php?note_id=169398934525&ref= nf . hlm. 37 Ibid. kepada ‘Amr bin Hazm yang memerintahkan agar memberikan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan syariat Islam. hlm.. I. 43 Ia dan anak buahnya bertugas menjaga keamanan. 318. no. 241.

Islam mengatur seluruh kehidupan manusia baik di bidang Politik. social. Ini menunjukkan bahwa telah ada pada zaman Rasulullah praktek bernegara. Namun masalah tersebut masih wajar. 2010 by brigdhero by. ekonomi. Yang terpenting bagi aktivis gerakan Islam ialah memasukkan nilai-nilai Islam dalam konstitusi menuju Khilafah Islamiyyah manhaj Nubuwwah yang dirindukan itu. Rabb semesta alam. yang telah memberikan segala kenikmatan kepada penyusun sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah ini untuk memenuhi persyaratan administrasi Dauroh Marhalah 3 (DM3) yang diadakan oleh KAMMI Teritorial IV. walaupun terjadi perbedaan pendapat. Hal ini didukung oleh Sunnah/piqih siroh mengenai gagasan Rosul dalam rangka mempersatukan masyarakat madinah yang heterogen. Semoga makalah ini bermanfaat bagi siapa pun . Dalam makalah ini penyusun menyadari masih jauh dari kesempurnaan. Karena Negara sebagai alat yang sangat mampu mengimplementasikan wahyu-wahyu Allah dalam kehidupan umat manusia. banyak para ulama yang melakukan redefinisi tentang konsep Negara dan bentuknya. pemerintahan. Islam adalah ajaran yang universal dan integral.wordpress. Iman Munandar (makalah ini pernah disampaikan untuk mengikuti DM 3 KAMMI) ABSTRAKSI Qur’an Surat an-Anisa ayat 58-59 menunjukkan bahwa kedudukan kedaulatan atau dikenal dengan Negara dalam Islam sangat strategis. Pasca khilafah runtuh dan munculnya Negara bangsa. ekonomi. social. Kata Pengantar Untaian puja dan puji hanya bagi Allah. system pemerintahan. hukum. budaya. yang lebih dikenal dengan piagam madinah. Praktek bernegara dalam Islam telah ada pada zaman Rosulullah hingga runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah runtuh pada tahun 1924M. budaya. Negara ialah sebuah alat yang sangat efektif untuk mengimplementasikan wahyu-wahyu Allah ke dalam kehidupan umat manusia. dan lain sebagainya. oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan. Dan semua pengurus dan kader KAMMI UNISBA atas doanya.com/2010/09/23/al-ahkam-assuthoniyyah-dan-konsepsi-negaramenurut-perspektif-al-qur%E2%80%99an-dan-assunnah/ Al-Ahkam Assuthoniyyah dan Konsepsi Negara Menurut perspektif alQur’an dan Assunnah Posted on September 23. Terima kasih banyak kepada akh Kadir atas dorongan untuk mengikuti DM3 dan gagasangagasan yang sangat luar biasa dalam menjemput masa depan Islam. Islam tidak dapat dipisahkan dari politik.http://brigdhero. ilmu pengetahuan.

juga yang ingin terus menggali potensinya dalam bidang ilmu pengetahuan dalam rangka redefinisi kembali Negara Islam. Semoga Allah Swt. ini didasari rindu akan peradaban Islam yang telah lama hilang. dalam makalah ini akan mencoba menguraikan dan menganalisa teori-teori tentang konsep atau Hukum Tata Negara menurut perspektif al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan kelompok kedua. Setidaknya ada dua kelompok yang berpendapat. Yang menarik dalan tulisan Anis Matta. berpendapat Islam dan Negara harus dipisahkan[1]. “. Menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang tangguh dalam amar ma‟ruf nahi munkar. khususnya konsep Negara islam kini banyak bermunculan. 14 Desember 2008 Penyusun BAB I PENDAHULUAN A.. khususnya buku tentang al-Ahkam al-Suthoniyyah fi al-Wilayah adDiniyyah karya imam al-Mawardi yang fenomenal dan mencoba mengaitkannya dengan konsep Negara Islam menurut para ahli lainnya. Sebagai gantinya muncul konsep Negara etnis dan konsep Negara Agama”[2]. B.bahwa era konsep Negara-bangsa (Nation State) yang menjadikan nasionalisme sebagai ruhnya telah berakhir. Latar Belakang Masalah konsep Negara menurut perspektif Islam hingga kini masih menjadi perdebatan.. Identifikasi Masalah Wilayah penelitian : Wilayah penelitian dari makalah ini adalah konsep dan bentuk Negara dalam Islam yang terdapat dalam literature-literatur konsep Negara baik klasik muapun modern. Namun sekali lagi. bahwa Islam dan Negara merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. namun dalam makalah ini mencoba menguraikan dan menganalisa teori-teori ulama klasik mengenai konsep daulah menurut Islam. Perumusan Masalah Dalam perumusan masalah ini dibagi ke dalam dua bagian sebagai berikut: 1. Di sini tidak akan menjelaskan perbedaan pendapat dua kelompok tersebut. Konsep Negara Agama. yaitu yang pertama. Amiin. Pendekatan penelitian : pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan komparatif normatif Jenis masalah : jenis masalah dalam penelitian ini adalah masalah hukum Islam maupun pendapat para ahli Hukum Islam dan ilmuwan .

(Q. (Q. Karena Negara sebagai alat yang sangat mampu mengimplementasikan wahyu-wahyu Allah dalam kehidupan umat manusia.ããBù’t br& (#rxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #’ n<Î) $ygÎ=÷dr& #sŒÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAô‰ yèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $KÏèÏR /ä3ÝàÏètƒ ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. Islam adalah ajaran yang universal dan integral. pemerintahan. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Rumusan masalah Untuk mengarahkan makalah ini. Islam mengatur seluruh kehidupan manusia baik di bidang Politik. dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. $Jè‹ Ïÿxœ #ZŽ •ÅÁt/ ÇÎÑÈ 58.Anggapan Dasar ¨bÎ) ©!$# öNä. . dan lain sebagainya. jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. ekonomi. an-Nisa :58) $pkr’¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ ÏÛr&ur tAqß™§•9$# Í<’ré&ur ͍öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt»uZs? Îû &äóÑx« çnrãsù n<Î) «!$# ÉAqß™ §•9$#ur bÎ) ÷LäêYä. taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya). yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. 2. social. 3. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ ø9$#ur Ì•ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׍öyz ß`|¡ômr&ur ¸xÍrù’s? ÇÎÒÈ 59. Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya). anNisa:59) Ayat di atas menunjukkan bahwa kedudukan kedaulatan atau dikenal dengan Negara dalam Islam sangat strategis. dan ulil amri di antara kamu. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Hai orang-orang yang beriman.II.S. Hal ini didukung oleh Sunnah/piqih siroh mengenai gagasan Rosul dalam rangka mempersatukan masyarakat madinah yang heterogen. Ini menunjukkan bahwa telah ada pada zaman Rasulullah praktek bernegara. budaya. Bagaimana konsep dan bentukNegara perspektif al-Qur’an dan Sunnah? Bagaimana kedudukan Negara dalam Islam? Bagaimana konsep Islam mengenai politik. ilmu pengetahuan.Tujuan Penulisan Tujuan penulisan ini dimaksudkan sebagai berikut. yang lebih dikenal dengan piagam madinah. maka dibuatlah rumusan masalah sebagai berikut : 1.S. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. system pemerintahan. dan hukum C. D. ekonomi.

dan hukum. BAB II PEMBAHASAN DAN ANALISA Bab ini menguraikan pembahasan tentang konsep dan bentuk Negara. E. kedudukan Negara. Negara merupakan sarana atau alat untuk mengimplementasi kehendak dan cita cita warga negaranya. untuk mengetahui konsep Islam mengenai politik. identifikasi atau rumusan masalah. Dan menganalisa masalahmasalah tersebut. Ada yang menyatakan bentuk khilafah. bahwa prinsip prisnsip bernegara telah dipraktekkan oleh Rosulullah Saw. bisa dilihat dari tujuan setiap Negara.Definisi dan Bentuk Negara Banyak pendapat para sarjana dan tokoh gerakan Islam merumuskan definisi dan bentuk Negara menurut perspektif Islam. BAB II PEMBAHASAN DAN ANALISA A. ekonomi. untuk mengetahui konsep dan bentuk Negara perspektif al-Qur’an dan Sunnah 2. dan konsep Islam mengenai system pemerintahan. Definisi Negara yang dikemukakan oleh Roger H. faktanya ialah piagam madinah dan menjadikan semua persoalan yang tidak bisa diatasi . ekonomi. Sistematika Penulisan Systematika penulisan terdiri dari sub bab sebagai berikut .1. metode penelitian dan sistematika pembahasan. anggapan dasar.system pemerintahan. Negara bangsa. BAB III KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini merupakan bab penutup. Soltau ialah : “Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat”[3] Menurut Anton Minardi. untuk mengetahui kedudukan Negara dalam Islam 3. berisi kesimpulan dan saran yang kiranya bermanfaat untuk aktivis gerakan mahasiswa dalan redefinisi tentang konsep Negara yang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah. tujuan penulisan. BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah. dan hukum. republic. dan lain sebagainya.

Yang menjadi pertanyaan kenapa tidak dijelaskan tentang Negara dalam Islam? Sebetulnya dalam literature-literatur klasik secara implicit menjelaskan tentang konsep Negara dan bentuknya. B.ããBù’t br& (#rxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #n<Î) $ygÎ=÷dr& #sÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAô‰ yèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $KÏèÏR /ä3ÝàÏètƒ ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $pkr’¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# (#qãèÏÛr&ur tAqߍ§9$# Í<’ré&ur ͍öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“ »uZs? ’ Îû &äóÓx« çnr– Š ã•sù ’ n<Î) «!$# . “Negara Islam adalah Negara yang merdeka. “Negara Islam ialah Negara yang didirikan atau dihuni oleh umat Islam dalam rangka memenuhi keinginan mereka untuk melaksanakan perintah Allah melalui wahyu-Nya. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Ini menunjukkan bahwa praktek bernegara telah ada pada zaman Rosulullah. dan lain lain[4]. John L. Robert N Bellah. namun bisa dilihat dari bab tentang Pengangkatan Imam hingga bab Ketentuanketentuan seputar Hisbah menunjukkan bawa praktek bernegara dalam Islam telah ada sejak zaman Rosulullah Saw. tegak di atas syari’at Islam. Ini menunjukkan bahwa menerapkan hukum Allah dalam kehidupan manusia ini membutuhkan sebuah alat kekuasaan.” Fazlur Rahman berpendapat bawa . Antony Black. Implementasi Negara tidak ditentukan secara khusus. memproklamasikan prinsip prinsip yang lurus. $Jè‹ Ïÿxœ #ZŽ •ÅÁt/ ÇÎÑÈ 58. Banyak dalil-dalil untuk menegakkan dan menetapkan suatu perkara dengan hukum Allah. Diantara dalil yang berbicara masalah tersebut ialah : * ¨bÎ) ©!$# öNä. Negara islam berbentuk khilafah. yaitu. Montgomery Watt. tetapi yang paling penting yang hars dimiliki ialah syuro / musyarah.[5] Dalam buku al-Ahkam Suthoniyyah. dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Hal ini diakui oleh para orientalis seperti. karena menegakkan hukum Islam dalam kehidupan masyarakat secara sempurna dan efektif melalui Negara. bekerja dalam rangka menerapkan system sosialnya. tidak menjelaska definisi tentang Negara Islam. Negara. Sedangkan bentuk Negara yang dikatakan oleh Hasan al-Banna ialah.dikembalikan kepada Rosulullah untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Esposito. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. Khilafah Islam didahului oleh berdirinya pemerintahan islam di Negara Negara Islam. karya imam al-Mawardi. Khilafah adalah kekuasaan umum yang paling tinggi dalam agama Islam. dan melakukan dakwah yang bijak ke segenap umat manusia.Kedudukan Negara dalam al-Qur’an dan Sunnah Kedudukan Negara dalam Islam sangat penting. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.

D. C. penunjukkan imam sebelumnya[6]. hingga pemilihan kholifah dipilih dengan dua cara.[9] Abdillah Toha menyatakan bahwa. Masih banyak dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah yang membicarakan praktek bernegara. maka yang terjadi ialah bentuk Negara Bangsa yang sekuler. pemilihan oleh ahlu al-aqdi wa al-hal (Parlemen). partisipasi dalam pesta demokrasi. dan nation state yang sekuler tidak membawa harapan bagi umat Islam untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek dan sesak. Pada dasarnya semua gerakan Islam ingin menegakkan system pemerintahan khilafah ala manhaj nubuwwah. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ ø9$#ur Ì•ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׍öyz ß`|¡ômr&ur ¸xÍrù’s? ÇÎÒÈ 59. Hai orang-orang yang beriman. Ekonomi Islam atau lebih sering di sebut Ekonomi Syari’ah sebagai alternatif dari system ekonomi yang ada. pertama. Ada juga gerakan Islam yang tidak sepakat dengan system Negara bangsa yang relegius. dan ulil amri di antara kamu. Bisa dilihat dari pengangkatan Imam/Kholifah. Di atas menunjukkan bahwa kedudukan Negara dalam Islam sangatlah penting. Kedua. Atau lebih tepatnya disebut system pemerintahahn khilafah ala manhaj nubuwwah yaitu pemerintahan yang pernah diterapkan oleh para sahabat.Sistem Pemerintahan Islam Dalam buku al-Ahkam Suthoniyyah menunjukkan bahwa system pemerintahan Islam ialah berbentuk Khilafah. taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya). yaitu bani Abbasiyyah. namun dalam tahap implementasi berbeda-beda. Ini dipengaruhi pada masa hidup imam al-Mawardhi system pemerintahan yang berlaku pada saat itu ialah khilafah kerajaan. Kedua. . yaitu . System Khilafah kerajaan tenggelam.pertama. Boleh dikatakan bahwa konsep pemerintahan yang ditawarkan oleh imam al-Mawardi mendekati pada system demokrasy tidak langsung. Buku tersebut menjadi fenomenal karena berani mendobrak system status quo. pemerintahan berdasarkan musyawarah[7]. jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.Konsep Islam mengenai Sistem Ekonomi System ekonomi Islam tidak termasuk pada system ekonomi liberal atau pasar maupun system ekonomi sosialis maupun Social Market yang bermula di Jerman kemudian berkembang di negra Eropa. disebut juga Khulafaur Rasyidin. Muncullah gagasan-gagasan Negara Bangsa yang relegius yang diusung oleh aktivis gerakan Islam untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh umat Islam. yaitu kekuasaan turun menurun.ÉAqß™ §•9$#ur bÎ) ÷LäêYä. Setelah Khilafah Ustmaniyyah runtuh pada tahun 1924 Masehi. khilafah berdasarkan pemilihan. criteriakriteria kholifah. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu. System khilafah ala manhaj nubuwwah sebagai berikut. muncullah nation state yang sekuler[8]. Ada yang melalui legal formal. Pada masa transisi itu lewat. ada juga melalui non legal formal. Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya). yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

orang yang kembali (mengambil riba). Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. E. orangorang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. . dan urusannya (terserah) kepada Allah. ãPqà)t Ï%©!$# çmäܬ6ytFt ß`»sÜø¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºs öNßg¯Rr’Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìø‹ t7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh•9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìø‹ t7ø9$# tP§•ymur (#4qt/Ìh•9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§‘ 4‘ ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y™ ÿ¼çnãøBr&ur n<Î) «!$# ( ïÆtBur y$tã y7Í´¯»s9′ré’sù Ü=»ysô¹r& ͍$¨Z9$# ( öNèd $pkŽ Ïù š crà$Î#»yz ÇËÐÎÈ 275. Orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. karena riba dianggap sebagai salah satu unsure yang menghalangi tujuan utama Ekonomi Syari’ah. mereka kekal di dalamnya. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. lebih pantas disebut sebagai Ekonomi Politik Islam.” [10] Sebagaimana firman Allah Swt. Ekonomi Syari’ah bertumpu kepada suatu system ekonomi tanpa riba atau bunga bank. Seperti di Indonesia UU RI Nomor 21 Tahun 2008 yang mengatur Perbankan Syari’ah. padi dengan padi. [174] Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba yang dimaksud dalam ayat ini Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah. Hingga kini banyak Negara Islam menerapkan system ekonomi Syari’ah menjadi legal dalam kontsitusi. dan sebagainya. Dalam literature-literatur klasik Peradilan Islam dikenal dengan istilah Qodhi atau lembaga kehakiman. Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis. adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat).“Ekonomi Syari’ah bukanlah sebuah bangunan teori ekonomi yang membahas hukum penawaran dan permintaan umpamanya. Sebagai berikut : úïÏ%©!$# tbqè=à2ù’t (#4qt/Ðh9$# w tbqãBqà)t wÎ) $yJx. boleh tidak dikembalikan. [176] Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini. Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka.Konsep Islam mengenai Peradilan Peradilan sebagai tempat untuk menyelesaikan suatu perkara baik perdata maupun pidana dan memberi keputusan terhadap perkara tersebut. [175] Maksudnya: orang yang mengambil Riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan. Keadaan mereka yang demikian itu. Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan). seperti penukaran emas dengan emas. yakni adanya keadilan bagi distribusi pendapatan dan kekayaan.

Hal ini tidak terlepas dari pengaruh perkembangan politik pada masa hidup para ahli. 4. Mengetahui hukum-hukum syari’at. 6. legistatif. dan jasmani 7. Ijtihad. Baik hadist Qauliyah maupun fi’liyah. . dan Ijtihad. Saran-saran dalam rangka fastabiqul khoirot dalam ilmu pengetahuan sangat diharapkan. Pada dasarnya pendapat para ahli mengenai konsep dan Negara berdasarkan al-Qur’an. 1. dan yudikatif[12]. hal ini dalam Islam ialah wajar. Teori trias politika yang memisahkan kekuasaan eksekutif. BAB III KESIMPULAN DAN SARAN Dalil-dalil al-Qur’an berbicara tentang masalah Negara sebagai alat implementasi wahyu-wahyu Allah dalam kehidupan umat manusia. semua persoalan hukum dikembalikan kepada beliau dan beliau menyelesaikan perkara-perkara tersebut. Syarat-syarat Hakim dalam buku al-Ahkam as-Suthoniyyah sebagai berikut. Laki-laki yang baligh 2. sebelum muncul teori Trias Polika yang digagas oleh Montesquieu pada abad 19 Masehi.Pada masa Rosulullah. penglihatan. Zaid bin Tsabit. misal ibnu Mas’ud. Telah ada praktek bernegara. harus mempunyai pengetahuan tentang hal-hal dzaruri(urgen) untuk diketahui. Qiyas. Dan mereka telah sepakat bawa pada zaman Rosulullah Saw. Setelah Rosulullah wafat. Mempunyai akal untuk mengetahui taklif (perintah). Merdeka Islam Adil Sehat pendengaran. Hakim-hakim pada masa Khulafaur Rasyidin maupun Tabiin dalam menyelesaikan suatu perkara mereka berpedoman pada al-Qur’an. Sunnah. hingga ia cerdas membedakan segala sesuatu yang benar. 5. Lembaga kehakiman atau yudikatif telah ada pada zaman Rosulullah. dan lain-lain. as-Sunnah. yang mengambil peran sebagai hakim ialah para sahabat yang faqih dalam bidang Hukum Islam dalam. Wallahu „alam bi showab. ilmu-ilmu dasar (ushul) dan cabang-cabangnya (furu)[13] . Semoga tulisan ini bermanfaat bagi aktivis gerakan Islam maupun masyarakat pada umumnya. 3. Dalam perkembangannya para ahli berbeda pendapat mengenai konsep dan bentuk Negara menurut Islam. dan lain sebagainya[11]. Hal ini juga didukung oleh hadis nabi Saw.

(TERAJU:Jakarta. Dasar dasar Ilmu Politik (Jakarta : Gramedia.DAFTAR PUSTAKA Anis Matta. al-Ahkam as-Suthoniyyah. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam. 2008 Bahsan Mustofa. Pedoman Bernegara dalam Islam. (Jakarta : Insan Media Publising House. ROSDA. Pustaka kaustar. Dasar dasar Ilmu Politik. 2003) hal.54-55 [2] Anis Matta. Hal. Insan Media. Yusuf Qardhawy.cit hal 35-36 [6] Imam Mawardi. hal. 1999 [1] Anton Minardi. Johnson. 2007) hal.1-6 [7] Op.Jakarta. Prisma Press. 2008) hal. Menikmati Demokrasi. menikmati Demokrasi. ahkam suthoniyyah. 31-34 [5] Op. 2003) hal. Citra Aditya bakti.2001 Imam al-Mawardi. 2003 Paul M. Jakarta : Gramedia. Anton Minardhi. Bandung. 85-86 [8] Salah satu contohnya ialah Negara Turki.Bandung.hal. Konsep Negara dan Gerakan Baru Islam menuju modern sejahtera. 54 [3] Miriam Budiarjo. Jakarta.viii .cit. 2000) hal.cit. 2003 Miriam Budiarjo. TERAJU. 2003.Bandung. Johnson. 2007 Anton Minardhi. Sistem Hukum Administrasi Negara Indonesia. [9] Paul M. Lihat buku Berperang Demi Tuhan. v-xii. kamus Ekonomi Politik. KAMUS Ekonomi Politik. 2000 Jaih Mubarok. [10] Ibid. Karen Amstrong. Jakarta. (Jakarta:Darul Falah. (Bandung:Prisma Press. Konsep Negara dan Gerakan Baru Islam.39 [4] Op.Jakarta. Anton Minardi.Darul Falah. yang dipelopori oleh Kemal Attaturk yang meminggirkan system Islam dari wilayah public.

[12] Bahsan Mustafa.122-125. 2001) hal. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam. (ROSDA. 2003) hal.hal.cit.[11] Jaih Mubarok. Imam al-Mawardi.358. (Citra Aditya Bakti:Bandung. .Bandung.1-3 [13] Op. Sistem Hukum Administrasi Negara Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful