PENERAPAN SANKSI PIDANA DI BAWAH ANCAMAN MINIMUM KHUSUS DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI

TESIS

Oleh: ANGGI PRAYURISMAN, SH. Bp. 0921211061

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2011

2

PENERAPAN SANKSI PIDANA DI BAWAH ANCAMAN MINIMUM KHUSUS DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI

A. Latar Belakang Permasalahan Korupsi merupakan musuh bagi setiap Negara di dunia. Korupsi yang telah mengakar akan membawa konsekuensi terhambatnya pembangunan di suatu negara. Ketidakberhasilan pemerintah memberantas korupsi akan semakin melemahkan citra pemerintah dimata masyarakat. Dalam pelaksanaannya dapat terlihat dalam bentuk ketidakpercayaan masyarakat, ketidakpatuhan masyarakat terhadap hukum, dan bertambahnya jumlah angka kemiskinan di negara tersebut. Di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang tertuang dalam Pasal 1 ayat (3) bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Dari Pasal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa negara Indonesia berdasarkan hukum (Rechtstaat), dan bukan berdasarkan kekuasaaan belaka (Macshstaat). Ini berarti bahwa Republik Indonesia adalah negara hukum yang demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, menjunjung tinggi hak asasi manusia, dan menjamin semua warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan serta wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Hukum menetapkan apa yang harus dilakukan, apa yang boleh dilakukan serta apa yang dilarang untuk dilakukan. Sasaran hukum yang hendak dituju bukan saja orang yang nyata-nyata berbuat melawan hukum, melainkan juga perbuatan hukum yang mungkin terjadi, dan kepada alat perlengkapan negara untuk bertindak menurut hukum. Sistem bekerjanya hukum yang demikian merupakan salah satu bentuk dari penegakan hukum.1

1

Evi Hartanti. Tindak Pidana Korupsi. Jakarta: Sinar Grafika. 2007. Hal. 1.

3

Proses pembangunan dapat menimbulkan kemajuan dalam kehidupan masyarakat, selain itu juga dapat mengakibatkan perubahan kondisi sosial masyarakat yang memiliki dampak negatif, terutama menyangkut masalah peningkatan tindak pidana yang meresahkan masyarakat. Salah satu tindak pidana yang dikatakan cukup fenomenal adalah masalah korupsi. Tindak pidana ini tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Di tengah upaya pembangunan nasional di berbagai bidang, aspirasi masyarakat untuk memberantas korupsi dan bentuk penyimpangan lainnya semakin meningkat, karena dalam kenyataan adanya perbuatan korupsi telah menimbulkan kerugian negara yang sangat besar yang pada gilirannya dapat berdampak pada timbulnya krisis di berbagai bidang. Untuk itu, upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi perlu semakin ditingkatkan dan diintensifkan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kepentingan masyarakat. Bersamaan dengan perkembangan peradaban umat manusia bentuk, jenis dan cara korupsi juga terus berkembang semakin canggih. Kejahatan korupsi merupakan kejahatan yang dilakukan secara sistematis dan terorganisasi serta dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kedudukan dan peranan penting dalam tatanan sosial masyarakat oleh karena itu kejahatan ini sering disebut white collar crime atau kejahatan kerah putih. Menyadari kompleksnya permasalahan korupsi di tengah-tengah krisis multidimensional serta ancaman nyata yang pasti akan terjadi, yaitu dampak dari kejahatan ini. Maka tindak pidana korupsi dapat dikategorikan sebagai permasalahan nasional yang harus dihadapi secara sungguh-sungguh melalui keseimbangan langkah-langkah yang tegas dengan melibatkan semua potensi yang ada dalam masyarakat khususnya pemerintah dan aparat penegak hukum.2 Pemberantasan dan pembuktian terjadinya suatu tindak pidana korupsi tidaklah mudah seperti membalikkan tangan. Tindak pidana korupsi dapat terungkap setelah berlangsung dalam waktu yang lama. Umumnya tindak pidana korupsi melibatkan keuntungan
2

sekelompok pidana korupsi

orang

yang

saling

menikmati akan

dari

tindak

tersebut.

Kekhawatiran

Ibid. Hal. 2.

3 . tindak pidana korupsi itu dilakukan secara terorganisir dalam lingkungan kerjanya. Secara umum dalam setiap negara hukum dapat dilihat bekerjanya tiga prinsip dasar yaitu supremasi hukum. KORUPSI. 2005. 2011. 4 Elwi Danil. Tindak Pidana dan Pemberantasannnya. Atas dasar itu pada tanggal 9 April 1957. maka diantara sekelompok orang tersebut akan saling menutupi sehingga secara sadar atau tidak sadar. Legalitas dalam arti hukum. Hlm. Hlm. Dalam penjabaran selanjutnya. 2.4 Bertolak dari kenyataan tersebut di atas diperlukan adanya keleluasaan bagi pengusaha untuk bertindak terhadap para pelaku korupsi. Kepala Staf Angkatan Darat. 3. selaku penguasa militer pada waktu itu mengeluarkan Peraturan Nomor Prt/PM/06/1957. Jakarta : PT. perhatikan Pasal 423 dan Pasal 425 KUHP. Jaminan perlindungan hak asasi manusia . Konsep. yang didasarkan pada pemikiran bahwa pada waktu itu tidak ada usaha yang serius untuk memberantas perbuatan-perbuatan yang merugikan keuangan dan perekonomian Negara. Jakarta. pada setiap negara hukum akan terlihat ciri-ciri adanya : 3 1. 45. yaitu bahwa baik pemerintah/negara maupun warga negara dalam bertindak harus berdasarkan atas dan melalui hukum. Dengan mengandalkan ketentuan sebagaimana yang diatur di dalam KUHP tersebut ternyata dirasakan dan dipandang tidak efektif. Akibatnya banyak pelaku penyelewengan keuangan dan perekonomian negara yang tidak dapat diajukan ke pengadilan karena perbuatannya tidak memenuhi rumusan sebagaimana yang diatur di dalam KUHP. Panduan Pemasyarakatan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 28.4 keterlibatannya sebagai tersangka. kesetaraan atau persamaan kedudukan di depan hukum dan penegakan hukum dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum. MPR-RI. Ketika Sekjen MPR RI. Upaya memberantas korupsi bukanlah hal yang baru. jika kita meneliti sejarah peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang upaya untuk memberantas tindak pidana korupsi sebenarnya hal tersebut telah ada sejak diberlakukannya KUHP di Indonesia pada tanggal 1 Januari 1918. Rajawali Pers. Kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka .

Pada era pemerintahan Presiden B. Kemudian ketika Baharuddin Lopa menduduki jabatan Menteri Kehakiman. 13 Tahun 1970 tentang Komisi Empat dan pengangkatan Dr. Mohamad Hatta sebagai Penasehat Presiden dalam bidang pemberantasan korupsi. Kitab Undang – undang Hukum Pidana. Lembaran Negara Nomor 72 Tahun 1960. 417. dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi. Pada tahun 1960.J.5 Pada pemerintahan orde baru. 423. Akan tetapi karena keadaan yang memaksa dan tidak memungkinkan untuk membentuk sebuah Undangundang. Didalam Undangundang ini ada beberapa Pasal dalam ketentuan lama yang diganti diantaranya Pasal 40 sampai dengan Pasal 50 diganti dengan Pasal 17 sampai dengan Pasal 21 ditambah dengan beberapa Pasal dalam KUHP diantaranya Pasal 415. pemerintah memandang perlu untuk menggantinya dengan peraturan yang berbentuk Undang-undang. 416. Setelah melalui berbagai proses maka pada tanggal 29 Maret 1971 Undang-undang Nomor 24 Prp Tahun 1960 diubah lagi dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.Soesilo. Lembaran Negara No. 425 dan Pasal 435 KUHP. ( Politeia – Bogor ) . 31 Tahun 1999. dan disiarkan dalam Berita Negara (BN) Nomor 40/1958. dirubah dengan Undang-undang Nomor 5 R. maka instrument hukum yang dipergunakan untuk itu adalah dengan diterbitkannya sebuah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 24 Prp Tahun 1960 tentang Pengusutan. Undangundang tindak pidana korupsi diganti lagi tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1999. 19 Tahun 1971. pemerintah menganggap bahwa Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tersebut kurang sempurna maka melalui Undang-undang No. dalam peraturan ini dapat dilihat keinginan Penguasa pada waktu itu untuk menambah peraturan tersebut agar lebih efektif dalam memberantas korupsi. Penuntutan. maka pada tanggal 16 April 1958.5 Undang-undang dalam keadaan bahaya akan habis masa berlakunya Pemerintah telah berusaha pula untuk menggantinya. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999. karena didorong oleh desakan aspirasi masyarakat maka presiden telah mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) No. Habibie. diumumkan berlakunya Peraturan Pemberantasan Korupsi yaitu Peraturan Penguasa Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Darat Nomor Prt/Perpu/013/1958. Cetak ulang 1994.

10. Dalam ketentuan Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang baru ini terdapat beberapa hal yang merupakan penerapan ketentuanketentuan baru.000. 2. jelas bertujuan untuk sesegara mungkin mampu menanggulangi dan memberantas semakin maraknya tindak pidana korupsi yang terjadi serta tidak lupa tujuan utama yang lainnya guna se-efisien dan se-efektif mungkin dapat mengurangi dan mengembalikan kerugian keuangan negara yang ditimbulkan oleh perbuatan korupsi tersebut.000. apalagi jika di .(sepuluh juta) terdakwalah yang membuktikan bahwa uang tersebut bukan berasal dari tindak pidana korupsi . Adanya pemberlakuan sanksi pidana minimum khusus. sedang terhadap tindak pidana korupsi yang nilainya diatas Rp. hal ini diberlakukan bagi delik korupsi yang nilainya Rp. Lahirnya Undang-undang Pemberantrasan Tindak Pidana Korupsi yang bersamaan dengan diundangkannya Undang-undang No.(lima juta) atau lebih . 3. 5.. Adanya beban pembuktian terbalik.(sepuluh juta) jaksa penuntut umum mempunyai kewajiban untuk membuktikan adanya tindak pidana korupsi. yang selanjutnya dalam penulisan ini disingkat dengan Undang-Undang Pemberantrasan Tindak Pidana Korupsi.000. Dari sejarah perjalanan panjang pemerintahan di Indonesia tampak bahwa pemerintah Indonesia adalah pemerintahan yang anti korupsi sehingga dari satu pemerintahan kepemerintahan yang lain. 10. menjadi pasal-pasal delik korupsi dan mencabut pasal-pasal tersebut dari KUHP. namun walaupun demikian korupsi masih tetap tumbuh subur dinegara yang anti korupsi ini. diantaranya : 1. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.6 20 Tahun 2001 dan masih berlaku hingga kini. tindak Pidana Korupsi yang nilainya kerugian Negaranya sampai dengan Rp. Kondisi Negara Indonesia dari segi fiskal dan moneter pada kurun waktu pembentukan dan masa akan diundangkannya peraturan perundang-undangan yang menyangkut tentang tindak pidana korupsi tersebut diatas adalah sangat kritis dimana utang luar negeri sangat tinggi jumlahnya.000.. dari satu orde ke orde yang lain tampak upaya untuk memberantas tindak pidana korupsi.000. Pengambilalihan beberapa pasal dari KUHP..000.

00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 200.000. yaitu karena adanya sikap pembuat Undang-undang dalam hal ini pemerintah dan DPR RI yang menetapkan sistem straf minimum rules ( aturan hukuman minimal ) tetapi telah memposisikan lamanya pidana dalam kedua Pasal tersebut berbeda dengan prinsip-prinsip yang umum yang terdapat dalam ketentuan-ketentuan pidana umum yang sudah berlaku di Indonesia selama ini. 1.” Dalam praktek ditemui adanya putusan dari hakim dalam mengadili perkara tindak pidana korupsi yang menjatuhkan ancaman pidana kepada .000.000. Pasal 2 dari Undang-undang Pemberantrasan Tindak Pidana Korupsi. atau sedang memiliki suatu kewenangan tertentu jika ia terbukti melakukan perbuatan memperkaya kaya diri sendiri atau orang lain.” Inti dari Pasal 2 ini adalah adanya larangan bagi setiap orang dengan tidak memandang apakah ia dalam posisi menduduki suatu jabatan tertentu. atau koorporasi yang dapat merugikan keuangan negara maka ia dapat dipidana.000.000. 1.00 (satu milyar rupiah). Jika kita bandingkan bunyi Pasal 2 tersebut dengan bunyi Pasal 3 yang berbunyi : “Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp.000. 50.000.00 (satu milyar rupiah). kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun.000. dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. menyalahgunakan kewenangan.7 teliti secara mendalam ada hal-hal yang sangat menggelitik dan memaksa penulis untuk melakukan analisis secara yuridis terhadap ketentuan sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 2 dan Pasal 3 dari Undang-undang pemberantrasan tindak pidana korupsi.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000. berbunyi sebagai berikut : “Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

dalam berkas yang terpisah pemeriksaan yang dilakukan oleh Majelis Hakim yang diketuai Boedi Hartono. Morowali sebagaimana di dalam dakwaan jaksa penuntut umum Cabang Kejaksaan Negeri Poso di Kolonedale.579.Sus/2011/PN. Dimana dalam tuntutannya Jaksa Mintarjo. denda Rp 500 juta (subsider enam bulan penjara).org. register pidana nomor 91/Pid. Asrofie dan H.6 Tindak pidana korupsi lainnya. sehingga negara dirugikan sebesar Rp. H. pukul 11. SH menuntut terdakwa dengan 7 (tujuh) tahun penjara. 2007. SH. Ketua DPRD Jateng 1999-2004 dalam persidangan perkara dugaan penyelewengan APBD 2003 senilai Rp 14. 2006. dan uang pengganti sebesar Rp.2008 dan dana Alokasi Dana Desa (ADD) TA. pada hari Jumat. 27 juta.Pso. atas nama terdakwa Joni Alminus Mbatono yang di duga melakukan tindak pidana korupsi penyimpangan dana Bantuan Pembangunan Desa / Kelurahan(BPD/K) TA. 2009 di seluruh desa di Kab.8 terdakwa dengan menerobos aturan minimum khusus sebagai mana yang telah diatur di dalam Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang telah penulis sampaikan diatas.-. Soejatno SW. Dalam putusannya tertanggal 04 Agustus 2011 majelis hakim yang diketuai oleh Nawawi Diakses dari http://antikorupsi. tanggal 30 Desember 2011.30 wib. 443 juta (subsider satu tahun penjara).8 miliar. 8. dan Wahono Ilyas masing-masing dengan hukuman pidana 10 bulan dengan masa percobaan 20 bulan ketiganya tidak dikenai denda dan hanya Wahono yang diwajibkan membayar uang pengganti senilai Rp. memvonis 1 (satu) tahun penjara dengan masa percobaan 2 (dua) tahun serta denda Rp 500 juta (subsider tiga bulan kurungan) kepada Mardijo. Diantaranya Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang hakim yang diketuai oleh Abid Saleh Mendrofa SH. 6 . Keempat terdakwa ini dijerat dengan Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. menjatuhkan putusan pada mantan Ketua dan Wakil Ketua Panitia Rumah Tangga (PRT) DPRD Jateng 1999-2004 yakni Drs. M. Sementara itu.480. SH. yang penjatuhan pidana di bawah batas minimum khusus juga ditemui dalam putusan Pengadilan Negeri Poso.

63 juta kepada saksi Drs. 8. (51).480. Dalam aksinya. Darwie Salim. terdakwa-terdakwa di dakwa oleh penuntut umum melakukan korupsi senilai Rp. 69 juta. 7 Ibid. menjabat Kepala Bidang Pengendalian Aset RSCM dalam Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medik No. menyatakan terdakwa Joni Alminus Mbatono telah tebukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 3 UUPTK Jo Pasal 55 ayat (1 ) ke 1e KUHP “Turut Serta Melakukan Korupsi” dan hanya menjatuhkan pidana penjara selama 6 (enam) bulan tanpa diharuskan membayar uang pengganti. dan hakim anggota Adil Kasim.000. Moh As’ad. .MH. Terdakwa Ir Darizal mendapat bagian sebesar Rp 10 juta dan terdakwa Drg. Darizal menjabat Koordinator Inventarisasi Aset RSCM sedangkan Drg. 50. SH. SH. dua unit mesin cuci dan lima unit panel serta delapan unit tangki air seharga Rp. tanggal 30 Desember 2011. SH. SH. pukul 11. 50 juta atau di ganti kurungan 3 (tiga) bulan penjara kepada terdakwa Ir. dengan Hakim Anggota Agoeng Rahardjo. dan Makmun Masduki.000. HK. .4922 tanggal 1 September 2005 ditunjuk sebagai Panitia Penghapusan Barang Milik/Kekayaan Negara (BM/KN).30 wib. Helmy Rustam.1. 69 juta di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat (Jakpus) dengan cara Ir. MH.( lima puluh juta rupiah) subsidair 3 ( tiga) bulan kurungan dan membayar uang pengganti sebesar Rp. MH. MM. MM. Helmy Rustam.579. MH. Hasil penjualan barang-barang tersebut sebesar Rp. Sementara dalam tuntutannya jaksa menuntut dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 3 (tiga) bulan dan denda sebesar Rp.9 Pomolango.06. Diakses pada hari Jumat.(delapan juta lima ratus tujuh puluh Sembilan ribu empat ratus delapan puluh rupiah). dengan Majelis Hakim yang diketuai oleh Lexy Mamonto. Helmy Rustam. 6 juta kepada saksi Ir. dan Dwiyantoro. SH. Selain itu.2. 34 juta langsung dibagi-bagikan kepada 15 orang. terdakwa menjual dua unit Cubical bekas merek MG (berupa panel dan trafo) seharga Rp. SH. juga pernah menerapkan sanksi pidana di bawah minimum khusus dengan hukuman setahun penjara dengan masa percobaan 2 (dua) tahun dan mewajibkan membayar denda sebesar Rp. terdakwa juga menjual lima unit travo.7 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Maka total aset yang dijual sebesar Rp.00. Darizal (53) dan terdakwa Drg. .

Beberapa putusan pengadilan sudah ada yang menjatuhkan pidana di bawah ancaman pidana Aminal Umam. 295 Juni 2010. Dengan demikian diharapkan hakim memeriksa dan mengadili perkara yang menjadi wewenangnya harus berdasarkan pada ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang akhirnya termuat dalam suatu putusan apabila terdakwa telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah maka putusan hakim dapat berupa pemidanaan. Jakarta. Terdakwa-terdakwa dituntut selama setahun penjara. Terdakwa – terdakwa terbukti melanggar Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) KUHP.5 juta dibagikan kepada 13 orang yang terlibat sebagai Panitia. sebesar Rp. Tidak adanya formulasi tentang aturan/pedoman pemidanaan dalam Undang-undang khusus di luar KUHP yang mencantumkan pidana khusus dalam rumusan deliknya akan menimbulkan permasalahan dalam penerapannya. Selanjutanya uang Rp. Sisanya. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur bahwa pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa. 35 juta oleh terdakwa Ir Darizal dimasukkan ke rekening Bidang Aset RSCM. Terkait dengan ketentuan tersebut.10 MM. Penerapan Pidana Minimum Khusus. 2010. Setidaknya ketika hakim yang mengadili perkara pidana khusus tersebut dihadapkan pada banyaknya faktor-faktor yang meringankan pidana tersebut. mengadili dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih tidak ada atau kurang jelas.8 Ketentuan dalam Pasal 10 ayat (1) Undang-undang No. Pasal 5 ayat (1) mengatur bahwa hakim wajib menggali. 16. 16. 50 juta atau subsidair tiga bulan kurungan. mendapat bagian Rp 7. IKAHI. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.5 juta. 8 . denda Rp. Varia Peradilan Tahun XXV No. Beranjak dari permasalahan tersebut mengenai ide dasar pidana minimum khusus dan kemungkinan adanya dominasi faktor-faktor yang meringankan pada perkara tertentu (kasuistis) maka ditemukan rasio perlunya formulasi aturan/pedoman pemidanaan terhadap pidana minimum khusus. Hlm.

berintikan kebenaran dan keadilan. Unsur sosiologis yaitu mempertimbangkan tata nilai budaya yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. maka hakim akan menjatuhkan vonis berupa :9 1. Dilepaskan dari tuntutan hukum bila terdakwa ternyata tidak dapat dipertanggungjawabkan secara rohaninya (ada gangguan jiwa) atau juga ternyata pembelaan yang memaksa. 3 Tahun 2001 mengatur tentang perkara-perkara Hukum yang perlu mendapat perhatian pengadilan menyebutkan bahwa terhadap perkara-perkara tertentu khususnya tindak pidana korupsi hendaknya hakim menganut satu pendirian yang sama dalam memberantas sampai keakar-akarnya dengan melaksanakan aturan hukum tertulis yang ada untuk itu. 2. Pembebasan jika apa yang didakwakan tidak terbukti atau terbukti tetapi bukan perbuatan pidana melainkan perdata. Hlm 7. Unsur yuridis yang merupakan unsur pertama dan utama. 3. Penghukuman bila terbukti kesalahan terdakwa. Putusan hakim akan menjadi putusan majelis hakim dan kemudian akan menjadi putusan pengadilan yang menyidangkan dan memutus perkara yang bersangkutan dimana sesudah dilakukan pemeriksaan selesai. Dalam putusannya hakim juga berpedoman pada 3 (tiga) hal yaitu : 1. Disampaikan pada Rakerda 4 Peradilan Lingkungan Mahkamah Agung di Medan. Penerapan Ancaman Pidana Minimal Dalam Putusan Hakim. Diakui memang bahwa Undang-undang memberikan kebebasan terhadap hakim dalam menjatuhkan berat ringannya hukuman yaitu minimal atau maksimal namun kebebasan yang dimaksud adalah haruslah sesuai dengan Pasal 12 KUHP yaitu : Hidayat Mana. Unsur filosofis. 2. 3.11 minimum khusus sebagaimana rumusan deliknya. meski diketahui dalam Surat Edaran Mahkamah Agung No. 9 . 2010. Demikian juga halnya putusan pemidanaan yang berdasar pada yuridis formal dimana putusan hakim yang menjatuhkan hukuman pemidanaan kepada seseorang terdakwa yaitu berisi perintah untuk menghukum terdakwa sesuai dengan ancaman pidana (Straftmaat) yang tertuang dalam pasal pidana yang didakwakan.

Rumusan Permasalahan . (3) Pidana penjara selama waktu tertentu boleh dijatuhkan untuk dua puluh tahun berturut-turut dalam hal kejahatan yang pidananya hakim boleh memilih antara pidana mati. B. dan pidana penjara selama waktu tertentu. maka penulis tertarik untuk meneliti dan membahas masalah bagaimana pendapat hakim dalam penerapan sanksi pidana di bawah ancaman minimum khusus dalam putusannya dan untuk itu Penulis mengambil judul sebagai berikut : “Penerapan Sanksi Pidana Di Bawah Ancaman Minimum Khusus Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi“. pidana seumur hidup. Dalam arti hakim terikat dengan batas minimal dan batas maksimal sehingga hakim dinilai telah menegakkan Undang-Undang dengan tepat dan benar. begitu juga dalam hal batas lima belas tahun dilampaui sebab tambahan pidana karena perbarengan. tentunya hakim dalam menjatuhkan putusan pemidanaan haruslah sesuai dengan bunyi Pasal dakwaan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dan berpedoman pada unsur-unsur yang ada dalam setiap putusan. Berdasarkan uraian tersebut diatas. pengulangan atau karena ditentukan Pasal 52. atau antara pidana penjara seumur hidup dan pidana penjara selama waktu tertentu. Sehubungan dengan pernyataan di atas. (2) Pidana penjara selama waktu tertentu paling pendek satu hari dan paling lama lima belas tahun berturut-turut. (4) Pidana penjara selama waktu tertentu sekali-kali tidak boleh melebihi dua puluh tahun. penulis juga dapat memahami apabila ada hakim yang berani menerobos yaitu menjatuhkan pidana di bawah batas minimal dengan alasan “rasa keadilan dan hati nurani” artinya hakim yang bersangkutan tidak mengikuti bunyi Undang-undang yang secara tegas tertulis hal ini dapat saja terjadi karena hakim dalam putusannya harus berdasarkan pada kerangka hukum yaitu penegakan hukum dan penegakan keadilan.12 (1) Pidana penjara ialah seumur hidup atau selama waktu tertentu.

ketertiban dan kepastian hukum. Kerangka Teoritis . Manfaat Penelitian 1. Secara teoritis hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi orang banyak guna pengembangan ilmu pengetahuan teknologi dan ilmu hukum khususnya dibidang hukum pidana. Secara praktis hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi praktisi hukum sehingga dapat dijadikan dasar berfikir dan bertindak bagi aparat penegak hukum khususnya. Bagaimanakah penerapan sanksi pidana di bawah ancaman minimum khusus dalam perkara tindak pidana korupsi ? 2. E. Kerangka Teoritis dan Konseptual. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian dan penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengungkapkan kedudukan putusan hakim yang menerapkan sanksi pidana di bawah ancaman minimum khusus dalam perkara tindak pidana korupsi. maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut : 1. D. Faktor-faktor apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim untuk menerapkan sanksi pidana di bawah ancaman minimum khusus dalam perkara tindak pidana korupsi ? C. 2. Untuk mengungkapkan faktor-faktor apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim untuk menerapkan sanksi pidana di bawah ancaman minimum khusus dalam perkara tindak pidana korupsi. Bagaimanakah kedudukan putusan hakim yang menerapkan sanksi pidana di bawah ancaman minimum khusus dalam perkara tindak pidana korupsi ? 3. 2. hakim dalam menerapkan hukum berdasarkan penjatuhan pidana minimum khusus dalam tindak pidana narkotika guna mewujudkan keadilan. 1. 3. Untuk mengungkapkan penerapan sanksi pidana di bawah ancaman minimum khusus dalam perkara tindak pidana korupsi.13 Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dikemukakan di atas.

2) Hakim tidak boleh menginterpretasikan Undang-undang untuk menjaga kezaliman . 4) Dalam mengadili setiap kejahatan. ketidaksamaan hukum dan ketidakadilan. yang pertama dibentuk oleh undang-undang dengan batas berlakunya.10 Cesare Beccaria yang merupakan satu tokoh aliran klasik. penulis terkenal dei deliti edele pene (on crimes and punishment). Aliran Klasik Aliran klasik ini muncul sebagai reaksi terhadap ancient regime yang menimbulkan ketidakpastian hukum. hakim harus menarik kesimpulan dari dua pertimbangan.11 b. 27. aliran ini ingin mengobjektifkan hukum pidana dari sifat-sifat pribadi si pelaku. Aliran ini terutama menghendaki hukum pidana yang tersusun secara sistematis. 3) Pembuat Undang-undang bertugas menetapkan apa yang diancam dengan pidana dengan bahasa yang dimengerti . Menurutnya prinsip yang terpenting adalah : 1) Bahwa pidana harus ditentukan sebelumnya oleh Undang-undang dan bahwa hakim terikat pada Undang-undang ini dan pidana yang kejam tidak ada gunanya . Secara garis besar. 1983. yang kedua adalah pertanyaan apakah perbuatan konkrit yang akan diadili itu bertentangan dengan undangundang atau tidak.14 Dalam ilmu hukum terdapat berbagai aliran pemikiran yang berbeda dalam memandang sifat hukum beserta unsur-unsur yang ada dalam hukum tersebut. Aliran Modern Aliran modern ini lahir pada Abad ke-19 dan yang menjadi pusat perhatiannya adalah usaha-usaha untuk menemukan sebab kejahatan dengan menggunakan metode ilmu alam dan bermaksud untuk langsung Andi Hamzah dan Siri Rahayu. 11 Ibid. aliran-aliran dalam ilmu hukum pidana dapat dibagi menjadi : a. Hal. 10 . Jakarta : Akademika Pressindo. 38. Hal. Suatu Tinjauan Ringkasan Sistem Pemiidanaan Indonesia.

Adami Chazawi. Dasar pijakan dari teori ini adalah “Pembalasan”. Pelajaran Hukum Pidana. 153. sedangkan 60% lagi karena faktor lingkunganlah yang memainkan perananan disamping telah ditentukan secara biologis. Teori Absolut / Teori Pembalasan. Ferri dan Garafalo. 2. Ditujukan untuk memenuhi kepuasan dari perasaan dendam dikalangan masyarakat (sudut objektif dari pembalasan) . Teori Relatif (utilitarian atau doeltheorieen) berusaha mencari dasar pembenaran dari suatu pidana. Teori Relatif / Teori Tujuan.13 Tindakan pembalasan di dalam penjatuhan pidana mempunyai dua arah yaitu :14 a. 162. Negara berhak untuk menjatuhkan pidana kepada penjahat karena telah melakukan penyerangan atau perkosaan pada hak dan kepentingan hukum (pribadi. Ditujukan kepada penjahatnya (sudut subjektif dari pembalasan) . inilah dasar pembenar dari penjatuhan penderitaan berupa pidana itu kepada penjahat. Lambroso percaya bahwa setiap penjahat mempunyai kebutuhan yang berbeda sehingga merupakan kebodohan. masyarakat atau Negara) yang telah dilindungi. Menurut penelitian yang dilakukan 40% penyebab orang menjadi penjahat adalah karena keturunan. Hal.12 Terdapat berbagai teori yang membahas alasan-alasan yang membenarkan (justification) penjatuhan hukuman diantaranya : 1. . b. Hal. Lambrosso dalam karyanya uomo delin quente menyampaikan bahwa penjahat adalah manusia yang dilahirkan sebagai penjahat yang dikarenakan keturunan yang tetap tinggal pada tingkat manusia primitif. Para penganut teori relatif ini tidak melihat pidana itu sebagai pembalasan dan 12 13 Ibid. semata-mata pada suatu tujuan tertentu.15 mendekati dan mempengaruhi penjahat secara positif sejauh dia masih dapat diperbaiki. Aliran modern ini dipelopori oleh Lambroso. 14 Ibid. PT Raja Grafindo : Jakarta. 39. Hal.

Sejalan dengan hal tersebut di atas. Teori Gabungan. Hal.16 Menurut pandangan teori gabungan selain dimaksudkan sebagai upaya pembalasan atas perbuatan jahat yang telah dilakukan oleh seseorang. 16 Ibid. Keadilan . Kepastian hukum. Gustav Radbruch (1961) dengan Ajaran Teori Prioritas Bakunya mengemukakan bahwa ketiga ide dasar hukum itu merupakan tujuan hukum secara bersama-sama.15 3. . Dasar pembenaran adanya pidana menurut teori tujuan terletak pada tujuannya. 24. 217. 15 16 Ibid. misalnya pencegahan dan rehabilitasi yang kesemuanya harus dicapai oleh suatu rencana pemidanaan. Pelopor dari teori gabungan ini adalah Pellegrino Rossi (1787-1884). melainkan pemidanaan itu cara untuk mencapai tujuan yang lain dari pemidanaan itu sendiri.16 karena itu tidak mengakui bahwa pemidanaan itulah yang menjadi tujuan utama. 17 Ibid. pidana tersebut tidak boleh melampaui suatu pembalasan yang adil. Kemanfaatan . Dengan menyimak pandangan teori gabungan ini terlihat gambaran bahwa teori ini mempunyai kecenderungan yang sama dengan yang dikatakan oleh Muladi sebagai retributifvisme teleologis. dan 3. Pidana dan pemidanaan terdiri dari proses kegiatan terhadap pelaku tindak pidana yang dengan satu cara tertentu diharapkan untuk dapat mengasimilasikan kembali narapidana dalam masyarakat. yaitu : 17 1. Pemidanaan dengan demikian mempunyai tujuan yang lain dari pemidanaan itu sendiri. Pandangan ini menganjurkan untuk mengintegrasikan beberapa fungsi sekaligus dan bersifat utilitarian. Hal. Pemidanaan dengan demikian mempunyai tujuan sehingga teori ini disebut juga dengan teori tujuan. 2. Hlm. Pidana dijatuhkan bukan karena orang berbuat jahat melainkan supaya orang jangan melakukan kejahatan sehingga ketertiban di dalam masyarakat akan tercipta.

ataupun antara keadilan dan kemanfaatan. Penerapan bermakna perbuatan atau tindakan melaksanakan sesuatu atau perihal untuk mempraktikkan suatu hal. Misalnya saja. Dari penjelasan mengenai teori-teori di atas maka penulis dalam menyusun tesis ini berpijak dengan menggunakan teori gabungan dalam penjatuhan pidana dan teori tujuan hukum yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch (1961) . tetapi disisi lain sering merugikan kemanfaatan bagi masyarakat luas. kemudian kemanfaatan. Penerapan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2. dengan semakin kompleksnya kehidupan manusia di era modern. atau antara kepastian hukum dan kemanfaatan. Jakarta. 1997. bila kemanfaatan masyarakat luas dipuaskan. dan terakhir barulah kepastian hukum. Sehingga Radbruch berkesimpulan bahwa dalam implementasinya harus digunakan asas prioritas. Hlm. Atau sebaliknya. cara. sebab bisa jadi kemanfaatan lebih diprioritaskan ketimbang keadilan dan kepastian hukum atau mungkin dalam kasus tertentu kepastian hukumlah yang lebih diprioritaskan ketimbang kemanfaatan dan keadilan.18 Blom (1986) menjelaskan penerapan adalah mencakup kemampuan untuk menerapkan informasi pada suatu kasus atau problem yang konkret Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. dalam kasus-kasus hukum tertentu. karena tidak jarang terjadi benturan antara kepastian hukum dengan keadilan.17 Dalam praktik. fakta menunjukkan bahwa terjadi pertentangan pada saat menerapkan tujuan hukum tersebut secara bersama-sama. tergugat. Dalam perkembangan selanjutnya. maka perasaan keadilan bagi orang tertentu dikorbankan. 18 . 745. Kerangka Konseptual a. Balai Pustaka. hakim yang senantiasa ingin menghendaki putusannya adil (menurut persepsi keadilan yang dianut hakim tentunya) bagi penggugat. pilihan prioritas yang sudah dibakukan kadang-kadang justru bertentangan dengan kebutuhan hukum dalam kasuskasus tertentu. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. dimana prioritas pertama adalah keadilan. atau terdakwa. penerapan berasal dari kata terap yang berarti proses.

perampasan barang dan pengumuman keputusan Hakim. Bogor. sanksi berarti hukuman yang dijatuhkan oleh pengadilan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. tanggal 22 November 2010 Pukul. Politeia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi II Cetakan IX. 360.20 Sanksi pidana dalam perundang-undangan kita adalah sebagaimana diatur dalam Pasal 10 KUHP yang menyebutkan bahwa pidana pokok yang terdiri dari pidana mati.22 Sudarto mendefenisikan dengan pidana ialah penderitaan yang sengaja dibebankan www. Soesilo.21 R. pidana kurungan dan pidana denda serta pidana tambahan yaitu pencabutan hak-hak tertentu. sanksi dapat berarti kontrol sosial. Istilah pidana lebih tepat dari istilah hukuman karena hukum sudah lazim merupakan terjemahan dari recht.co. pidana penjara. Sedangkan dalam konteks sosiologi. 11. Sanksi Pidana Pengertian sanksi pada umumnya adalah alat pemaksa agar seseorang mentaati norma-norma yang berlaku. Hlm.Soeroso menggunakan istilah ”hukuman” untuk menyebut ”pidana” dan yang merumuskan telah bahwa huuman adalah suatu perasaan tidak enak/sengsara yang dijatuhkan oleh Hakim dengan vonis kepada orang melanggar undang-undang hukum pidana. 19 . Petra Christian University Library.19 b. Dalam konteks hukum. yang adakalanya disebut dengan istilah hukuman. Pidana berasal kata straf (Belanda). Sanksi dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Belanda “sanctie”. Jakarta. Hlm.18 dan baru. Sanksi dalam hukum pidana yang berupa pidana merupakan sanksi negatif dan hal inilah yang membedakan sanksi hukum pidana dengan sanksi-sanksi hukum lain. Kanter dan S. 21 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. pengertian pidana adalah hukum kejahatan (hukum untuk perkara kejahatan/kriminal). Storia Grafika. 20 E. Jakarta. Hlm. 1997. Sianturi. KUHP Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Balai Pustaka.Y. Diakses Pada hari Senin. Asas-Asas hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. Edisi I Cetakan IX. 29. Adanya kemampuan dinyatakan dalam aplikasi suatu rumus ada persoalan yang belum dihadapi atau aplikasi suatu metode kerja pada pemecahan problem baru.R. 35. 2002. 1996.25 wib. 22 R.id.

yaitu untuk delik-delik tertentu yang dipandang sangat merugikan. Bandung. yakni paling tinggi sampai 20 tahun. 365 ayat 4 KUHP). Terhadap undangundang khusus tersebut dikenal adanya ancaman pidana minimum khusus Barda Nawawi Arief. Dalam KUHP boleh menjatuhkan pidana penjara sampai melebihi batas maksimum 15 (lima belas) tahun yakni 20 (dua puluh tahun).128. 2002. dalam hal apabila terjadi pengulangan atau perbarengan ( karena dapat ditambah sepertiganya) atau tindak pidana tertentu sebagai alternatif dari pidana mati (misal Pasal 104. membahayakan atau meresahkan masyarakat dan delik-delik yang dikualifikasir oleh akibatnya (Erfolsqualifizierte delikte) sebagai ukuran kuantitatif yang dapat dijadikan patokan bahwa delik-delik yang diancam dengan pidana penjara di atas 7 (tujuh) tahun yang dapat diberi ancaman minimum khusus. 23 . Ancaman Minimum Khusus Dalam KUHP sendiri tidak dikenal adanya anncaman pidana minimal khusus yang ada hanya ancaman pidana minimal umum sehingga aturan umum berorientasi pada sistem maksimum. Maksimum khusus pidana penjara yang diancamkan jauh melebihi maksimum umum dalam KUHP (15 tahun). baik mengenai pidana penjara maupun pidana denda dan tidak menggunakan sistem dengan menetapkan ancaman pidana maksimum umum dan minimum umum seperti dalam KUHP. d. Bunga Rampai Kebijakan hukum Pidana. c. Hal ini berbeda dengan aturan/undang-undang khusus yang dibuat untuk suatu tindak pidana tertentu yang pengaturannya berada di luar KUHP. karena delik-delik itulah yang digolongkan sangat berat. 340. Citra Aditya Bakti.19 kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Hlm.23 Sistem pemidanaan pada tindak pidana korupsi menetapkan ancaman minimum khusus dan maksimum khusus. Sistem Pidana Minimum Khusus Barda Nawawi Arief menyatakan bahwa sistem pidana minimum khusus merupakan suatu pengecualian.

2000. yang menguraikan istilah korupsi dalam berbagai bidang. seperti Inggris: Corruption. 16. e. Corrupt. Pola minimal dan maksimal umum yang diatur dalam KUHP menyebutkan bahwa untuk pidana penjara lamanya seseorang dipenjara adalah satu hari dan maksimal 15 tahun atau 20 tahun untuk tindak pidana pemberatan sedangkan dalam tindak pidana diluar KUHP pola pidana minimum khusus untuk pidana penjara bervariasi / tidak ada pola yang baku dan untuk ancaman maksimum khususnya juga bervariasi tergantung kepada delik / tindak pidana yang diperbuat. gejala dimana para pejabat. Chalmers.24 Baharuddin Lopa sebagai seorang penegak Hukum mengutip pendapat dari David M.Citra Aditya Bakti. f. dan Belanda : Corruptie (korruptie). Bandung: PT. . Tindak Pidana Korupsi. yang berhubungan dengan manipulasi di bidang ekonomi. Istilah korupsi berasal dari bahasa latin Corruptie atau Corruptus. disebutkan bahwa Corruptio itu berasal dari kata Corrumpore.20 terhadap sanksi pidananya baik berupa pidana penjara maupun pidana denda. Tindak Pidana Korupsi 24 Lilik Mulyadi. corruptore = merusak. dan yang menyangkut bidang kepentingan umum. pemalsuan serta ketidak beresan lainnya. Dari bahasa latin inilah. Selanjutnya. yakni yang menyangkut masalah penyuapan. istilah Corruptio turun ke berbagai bahasa di Eropa. badanbadan negara menyalahgunakan wewenang dengan terjadinya penyuapan. Hal. Namun standarisasi ancaman minimum khusus tersebut bervariasi dan tidak berpola tergantung kepada jenis tindak pidananya sehingga dalam aturan dan pedoman untuk pelaksanaan/penerapannya tidak ada secara baku yang akan dijadikan acuan untuk melaksanakannya.suatu kata latin kuno. Korupsi Secara umum yang dimaksud dengan korupsi dalam ensiklopedia Indonesia istilah “korupsi” berasal dari bahasa Latin corruption = penyuapan . Prancis : Corruption.

kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara (Pasal 3 UU No.21 Tindak pidana korupsi merupakan salah satu bagian dari hukum pidana khusus di samping mempunyai spesifikasi tertentu yang berbeda dengan hukum pidana umum. berdasarkan dalil-dalil.25 Menurut Sunaryati Hartono. 5. Jakarta. rumus-rumus dan teori-teori suatu ilmu (atau beberapa cabang ilmu) tertentu. Pengantar Penelitian Hukum. Soerjono Soekanto. 31 Tahun 1999). Tindak Pidana Korupsi menurut Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 adalah sebagai berikut: 1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara (Pasal 2 UU No. Tindak Pidana Korupsi memiliki pengertian yang hampir sama dengan korupsi. Penelitian Hukum. seperti adanya penyimpangan dalam hukum acara serta apabila ditinjau dari materi yang diatur. metode penelitian adalah cara atau jalan atau proses pemeriksaan atau penyelidikan yang menggunakan cara penalaran dan berfikir yang logis-analitis (logika). Metode Penelitian Istilah “metodologi” berasal dari kata “metode” yang berarti “jalan ke”. F. : Kencana. Maka tindak pidana korupsi secara langsung maupun tidak langsung dimaksudkan menekan seminimal mungkin terjadinya kebocoran dan penyimpangan terhadap keuangan dan perekonomian negara. 2009. 26. 25 26 . 31 Tahun 1999). peristiwa sosial atau peristiwa hukum yang tertentu. untuk menguji kebenaran (atau mengadakan verifikasi) suatu hipotesis atau teori tentang gejala-gejala atau peristiwa alamiah. 1986. 2) Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.26 Peter Mahmud Marzuki. Hal. Jakarta : UI-Press. menyalahgunakan kewenangan.Hal.

Sifat penelitian hukum ini sejalan dengan sifat ilmu hukum itu sendiri. bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier sebagai data utama. Ringkasan Metodologi Penelitian Hukum Empiris. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. Hal. penulis menggunakan jenis penelitian hukum normatif yaitu penelitian yang menggunakan bahan pustaka atau data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer. 30 Peter Mahmud Marzuki. Op cit. 29 Bambang Waluyo. Jakarta : Rajagrafindo Persada. 106. Tipe dan Pendekatan Penelitian. Hal. Dalam penelitian ini. sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari sesuatu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan cara menganalisisnya. 1990. dimana Penulis tidak perlu mencari data langsung ke lapangan. Hal. Alat Pengumpulan Bahan Hukum Soerjono Soekanto. Ilmu hukum mempunyai sifat sebagai ilmu yang preskriptif. Jakarta : Indonesia Hillco.28 Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode.22 Metode adalah cara kerja atau tata kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan. 27 Sedangkan penelitian merupakan suatu kerja ilmiah yang bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis. Jakarta : Sinar Grafika. 22.30 Dalam penelitian ini penulis akan memberikan preskriptif mengenai penerapan dan kedudukan putusan hakim dalam penjatuhan sanksi pidana di bawah ancaman minimum khusus terhadap perkara tindak pidana korupsi. Hal. 2001. 1. artinya sebagai ilmu yang bersifat preskriptif ilmu hukum mempelajari tujuan hukum.29 Dengan demikian metode penelitian adalah upaya ilmiah untuk memahami dan memecahkan suatu masalah berdasarkan metode tertentu. Penelitian Hukum dalam Praktek. 2. 27 . 1996. 6. dan pemilihan jenis penelitian tersebut tergantung pada perumusan masalah yang ditentukan dalam penelitian tersebut. dan norma-norma hukum. Penelitian secara umum dapat digolongkan dalam beberapa jenis. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut : 1. 28 Soerjono Soekanto dan Sri Mumadji. metodologis dan konsisten. konsepkonsep hukum.

teori.23 Dalam penelitian hukum normatif ini. koran atau karya tulis lainnya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. 24B dan 24C pada Bab IX tentang Kekuasaan Kehakiman. penulis memperoleh data dari bahan-bahan pustaka yang lazimnya disebut dengan data sekunder. yang mencakup bahan hukum primer. Pelaksanaan operasional kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung. Kekuasaan yang dimaksud merupakan suatu kaidah yang berisi suatu hak. dan mendalami bahan-bahan hukum tersebut serta mengutip teori-teori atau konsep-konsep dari sejumlah literatur baik buku-buku. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum Setelah bahan hukum primer. kemudian penulis mengumpulkan bahan hukum tersebut dalam lembaran-lembaran yang disediakan. sekunder dan tersier terkumpul dan dirasa telah cukup lengkap. sehingga dapat diartikan kekuasaan sebagai kaidah yang mengandung makna perkenan atau kebolehan untuk bertindak. a. kemudian dilakukan interprestasi untuk menarik suatu kesimpulan dari permasalahan penelitian ini. 3. Teknik analisis kualitatif dilakukan dengan cara menganalisa bahan hukum berdasarkan konsep. kemudian diolah secara kualitatif. yaitu hak untuk menentukan hukum. jurnal. makalah. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. . peraturan perundang-undangan. Perwujudan amanat ini dituangkan dalam UndangUndang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang baru menggantikan Undang-Undang No. Penerapan Sanksi Pidana Di Bawah Ancaman Minimum Khusus Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi Analisa Beberapa Putusan Hakim Yang Menjatuhkan Pidana di Bawah Ancaman Minimum Khusus Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi Di dalam Undang-Undang Dasar 1945 kekuasaan kehakiman diatur pada Pasal 24 Pasal 24A. G. pandangan pakar ataupun pandangan penulis sendiri. sekunder dan tersier yang selanjutnya penulis mempelajari.

Selanjutnya dari ketiga putusan hakim tersebut dapat dijabarkan Putusan Pengadilan Negeri Semarang atas nama terdakwa Mardijo. Dimana dalam tuntutannya Jaksa Mintarjo. Ketua DPRD Jateng 1999-2004 dalam persidangan perkara dugaan penyelewengan APBD 2003 senilai Rp 14. dan uang pengganti sebesar Rp. memvonis terdakwa dengan pidana 1 (satu) tahun penjara dengan masa percobaan 2 (dua) tahun serta denda Rp. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam penulisan tesis ini penulis akan mengambil tiga contoh putusan yang telah dijatuhkan oleh hakim pada tingkat pertama ( pengadilan negeri ) dimana pidana yang dijatuhkan oleh hakim tersebut tidak sesuai dengan ancaman pidana yang telah diatur dalam Undang-undang sebagai berikut : 1. 2007. 500 juta (subsider tiga bulan kurungan). Morowali sebagaimana di dalam dakwaan jaksa penuntut umum Cabang Kejaksaan Negeri Poso di Kolonedale. 2009 di seluruh desa di Kab. 2008 dan dana Alokasi Dana Desa (ADD) TA. 2.Sus /2011/PN.24 Berkaitan dengan kebebasan yang dimiliki oleh hakim. sehingga negara . yang diketuai oleh Abid Saleh Mendrofa SH. terlihat bahwa hakim disini tidak lagi memposisikan dirinya sebagai corong dari pembentuk undang-undang. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang. 443 juta (subsider satu tahun penjara). SH menuntut terdakwa dengan 7 (tujuh) tahun penjara. termasuk di dalam penjatuhan putusan terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang dikaitkan dengan penjatuhan pidana di bawah batas minimum khusus dari ketentuan Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 2006. sebab putusan yang dijatuhkan tidak sama dengan ketentuan yang telah diatur di dalam Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tersebut. denda Rp 500 juta (subsider enam bulan penjara).8 miliar. Putusan Nomor 91/Pid. Pengadilan Negeri Poso atas nama terdakwa JONI ALMINUS MBATONO yang di duga melakukan tindak pidana korupsi penyimpangan dana Bantuan Pembangunan Desa / Kelurahan (BPD/K) TA.Pso.

SH. MH. MH.1. 16. 3. Darwie Salim. SH. Terdakwa Ir. Darizal menjabat Koordinator Inventarisasi Aset RSCM sedangkan Drg. 63 juta kepada saksi Drs.579. Moh As’ad.5 juta. 69 juta. menjabat Kepala Bidang Pengendalian Aset RSCM dalam Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medik No. dan Dwiyantoro.25 dirugikan sebesar Rp. SH. SH. Dalam putusannya tertanggal 04 Agustus 2011 majelis hakim yang diketuai oleh Nawawi Pomolango. Darizal (53) dan terdakwa Drg. tindak pidana “Turut Serta Melakukan Korupsi” sebagaimana diatur dalam Pasal 3 UUPTK Jo Pasal 55 ayat (1 ) ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.00. 6 juta kepada saksi Ir. MH. Helmy Rustam. MM. menyatakan terdakwa Joni Alminus Mbatono telah tebukti bersalah melakukan 1e KUHP. Dalam aksinya. 34 juta langsung dibagi-bagikan kepada 15 orang.480.06. Selanjutanya uang Rp. 8. dan Makmun Masduki.2. Helmy Rustam. Hasil penjualan barang-barang tersebut sebesar Rp.5 juta dibagikan kepada 13 orang yang terlibat sebagai Panitia. dengan Majelis Hakim yang diketuai oleh Lexy Mamonto. MM. terdakwa menjual dua unit Cubical bekas merek MG (berupa panel dan trafo) seharga Rp.4922 tanggal 1 September 2005 ditunjuk sebagai Panitia Penghapusan Barang Milik/Kekayaan Negara (BM/KN). 69 juta di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat (Jakpus) dengan cara Ir. terdakwa juga menjual lima unit travo. Selain itu. SH. HK. Helmy Rustam. dengan Hakim Anggota Agoeng Rahardjo. mendapat bagian Rp 7. dua unit mesin cuci dan lima unit panel serta delapan unit tangki air seharga Rp. SH. menjatuhkan hukuman 1 (satu) tahun penjara dengan masa percobaan 2 (dua) tahun dan mewajibkan membayar denda sebesar Rp 50 juta subsidair tiga bulan kurungan kepada terdakwa Ir. MH. Para terdakwa di dakwa oleh penuntut umum melakukan korupsi senilai Rp. MM. Maka total aset yang dijual sebesar Rp. . Darizal mendapat bagian sebesar Rp 10 juta dan terdakwa Drg. dan hakim anggota Adil Kasim.-. (51).

00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. terlihat bahwa jaksa selaku penuntut umum dalam tuntutannya mengacu pada Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 443 juta (subsider satu tahun penjara).000. Pidana denda paling sedikit Rp. dalam putusannya hakim menjatuhkan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dengan dengan masa percobaan 2 (dua) tahun serta denda Rp. 500 juta (subsider tiga bulan kurungan) kepada terdakwa Mardijo tanpa membayar uang pengganti.000. Pidana penjara dengan batas maksimal seumur hidup dan batas minimal penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun . Asrofie dan H.000. maka penulis akan menganalisa ancaman pidana yang terdapat di dalam Pasal 3 Undangundang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan putusan yang dijatukan oleh hakim. Soejatno SW. 1. sebesar Rp. Dari ketiga putusan hakim sebagaimana yang telah diuraikan diatas. H. Jelas bahwa putusan yang dijatuhkan oleh majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini telah melakukan penyimpangan terhadap Pasal 3 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 2. M. (mantan Ketua DPRD Jawa Tengah 1999-2004). sebagai berikut : 1. 50. Dalam putusan atas nama terdakwa Mardijo. Mengenai ancaman pidana yang terdapat di dalam Pasal 3 ini.00 (satu milyar rupiah). dan Wahono Ilyas. 35 juta oleh terdakwa Ir Darizal dimasukkan ke rekening Bidang Aset RSCM. Hal yang sama juga terjadi terhadap berkas pemeriksaan mantan Ketua dan Wakil Ketua Panitia Rumah Tangga (PRT) DPRD Jateng 1999-2004 yakni Drs. cs.000. .000. yaitu : 1.26 Sisanya. yaitu dari segi pidana penjaranya dimana batas minimal yang diatur adalah 1 (satu) tahun penjara serta majelis hakim mengenyampingkan tuntutan dari jaksa penuntut umum agar terdakwa membayar uang pengganti sebesar Rp. SH. Sebagaimana putusan yang sudah disebutkan diatas.

50. Dalam praktek peradilan sendiri mengenai penerapan sanksi pidana di bawah ancaman minimum khusus oleh Hakim dalam tindak pidana korupsi baik ditingkat pemeriksaan pada Pengadilan Negeri. tanpa dikenai pidana denda sebagaimana diatur dalam Pasal 3 yaitu minimal pidana denda sebesar Rp. Pandangan Hakim Terhadap Praktek Penerapan Sanksi Pidana di Bawah Ancaman Minimum Khusus Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi.Pso.000. b. Sementara itu terhadap putusan nomor 91/Pid. dari segi penjatuhan pidana penjara sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 3 yaitu minimal 1 (satu) tahun .27 2. Hakim yang menjatuhkan putusan tindak pidana korupsi di bawah minimum khusus yang ada dalam Undang-undang aturan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi .000.000. Pengadilan Negeri Poso atas nama terdakwa JONI ALMINUS MBATONO dalam putusan yang dijatuhkan oleh majelis hakim yang memeriksa dan mengadli perkara ini juga melakukan penyimpangan terhadap Pasal 3 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi : a. ... 3.(lima puluh juta rupiah).000. 2. yaitu : 1.(lima puluh juta rupiah). 50.Sus /2011/PN. Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung sendiri terdapat dua pendapat yang ada. Untuk putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. disini majelis hakim juga melakukan penyimpangan terhadap batas minimum ancaman pidana penjara sebagai mana yang disebut dalam Pasal 3 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sedangkan untuk pidana denda terdakwa diwajibkan untuk membayar oleh majelis hakim sebesar Rp. Hakim yang menjatuhkan putusan tindak pidana korupsi sesuai dengan aturan minimum khusus yang ada dalam Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi . b.

2007. Kedudukan Putusan Hakim Yang Menerapkan Sanksi Pidana Di Bawah Ancaman Minimum Khusus Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi a. Sedangkan peradilan yang berkualitas merupakan produk dari kinerja para penyelenggara peradilan tersebut. Di luar kerangka itu. Sedangkan di dalam Pasal 19 Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Universitas Indonesia : Jakarta. 2005. Hakim (pengadilan) merupakan salah satu dari empat komponen sistem peradilan pidana (criminal justice system). ilmu pengetahuan dan kemampuan. Pembentukan Hukum Melalui Putusan Pengadilan dalam Perkara Pidana. 3-6.33 Mardjono Reksodiputro. Hlm. Ia bebas menentukan timbulnya keyakinan dalam dirinya berdasarkan alat-alat bukti yang dihadapkan di depan persidangan. tidak boleh ada hal-hal yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjatuhkan putusan. Kemandirian para penyelenggara dilakukan dalam meningkatkan integritas. 31 .31 Di dalam pasal 1 angka 8 KUHAP disebutkan bahwa hakim merupakan pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili. 19 Agustus 1997. 140. Kebijaksanaan Dan Strategi Penegakan Sistem Peradilan Di Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa adanya kemandirian atau kebebasan hakim dalam menjatuhkan putusan. Alumni : Bandung. kejahatan. Hlm.28 2. Lemhanas. Hlm 24. 32 Poentang Moerad.32 Adapun sasaran penyelenggaraan kekuasaan kehakiman adalah untuk menumbuhkan kemandirian para penyelenggara kekuasaan kehakiman dalam rangka mewujudkan peradilan yan berukualitas. Kiminologi dan system Peradialan Pidana. dimana menurut Mardjono Reksodiputro. Hakim dan Kekuasan Kehakiman. disebutkan bahwa hakim dan hakim konstitusi adalah pejabat negara yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur di dalam undang-undang. 33 Sarwata. sistem salah peradilan satu pidana usaha bertujuan untuk untuk menanggulangi masyarakat mengendalikan terjadinya kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi yang dapat diterimanya.

Dengan demikian penjatuhan pidana di bawah ancaman minimum khusus dari ketentuan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi yang dilakukan oleh hakim dapat dikatakan tidak dibenarkan berdasarkan asas legalitas (nulla poena sine lege) yang di dalamnya mengandung unsur kepastian hukum. Adanya hasil Rakernas yang diadakan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan jajaran Pengadilan Tingkat Banding dari 4 (empat) peradilan seluruh Indonesia yang diadakan di Palembang tanggal 09 Oktober 2009. Asas Legalitas sebagaimana yang dimaksud di dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP yaitu nulla poena sine lege (tidak ada pidana tanpa undangundang) memberikan makna bahwa setiap sanksi pidana haruslah ditentukan di dalam undang-undang. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Bapak Harifin A. Berkaitan dengan penjatuhan pidana di bawah batas minimum khusus dari ketentuan suatu undang-undang oleh hakim. yang menyatakan bahwa hakim dapat menjatuhkan putusan di bawah pidana minimum khusus dengan syarat asalkan didukung oleh bukti dan pertimbangan hukum yang sistematis. sampai sejauh ini belum ada ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur secara khusus mengenai hakim dapat menjatuhkan pidana di bawah batas minimum khusus dari ketentuan undang-undang. Tumpa yang menjelaskan pada prinsipnya hakim memang wajib melaksanakan ketentuan yang diatur dalam undang- . Oleh karena itu seorang hakim tidak boleh menjatuhkan pidana selain dari yang telah ditentukan dalam ketentuan undang-undang. Kedudukan Putusan Hakim Yang Menerapkan Sanksi Pidana Di Bawah Ancaman Minimum Khusus Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi Dihubungkan Dengan Asas Legalitas ( Nulla Poena Sine lege). sebagaimana pula penjatuhan pidana di bawah ancaman minimum dari ketentuan UndangUndang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi oleh para hakim.29 b. jelas dan logis serta penerapannya hanya bersifat kasuistis dan tidak berlaku umum.

karena efektifitas dan keefisienan komponen setiap sistemnya sangat dibutukan untuk mendukung keberhasilan tujuan guna memberantas tindak pidana korupsi yang semakin meningkat jumlahnya. Hasil kegiatan dari setiap komponen akan mempengaruhi komponen yang lain dan akan berpengaruh dalam pencapaian tujuan sistem peradilan pidana itu sendiri. tapi dia juga harus memper-timbangkan rasa keadilan di masyarakat". .30 undang. 3.go. Diakses pada tanggal 21 Juni 2011 pukul 13. • Hasil Rakernas Mahkamah Agung tersebut jika dilihat dari susunan hierarki peraturan perundang-undangan yang ada tidak dikenal dan kekuatan berlakunya hanya sebagai panduan interen bagi hakim dilingkungan Mahkamah Agung sendiri. termasuk ketentuan pidana dibawah batas minimal dalam tindak pidana korupsi. Adapun faktor-faktor yang menjadi pertimbangan 34 www.id. yaitu : • Hal ini dikarenakan hasil Rakernas Mahkamah Agung tersebut telah mengaburkan kepastian hukum yang terkandung di dalam asas legalitas itu sendiri . Penanganan tindak pidana korupsi tidak terlepas dari sistem peradilan pidana.mahkamahagung. terutama perkara tindak pidana korupsi yang menjadi acuan bagi hakim adalah surat dakwaan dan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum serta fakta-fakta yang ditemui selama proses pemeriksaan dipersidangan harus dipertimbangkan dalam putusan oleh hakim.34 Dari uraian yang telah penulis paparkan di atas. Namun. prinsip itu tak berlaku secara rigid "tentu seorang hakim bukan hanya corong dari undang-undang. Faktor-Faktor Yang Menjadi Pertimbangan Hakim Menerapkan Sanksi Pidana Di Bawah Ancaman Minimum Khusus Dalam Tindak Pidana Korupsi.30 wib. Hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap suatu perkara. menurut hemat penulis sendiri tetap saja apa yang telah diuraikan di atas dianggap bertentangan dengan asas legalitas (nulla poena sine lege).

yaitu hakim yang menjatuhkan putusan pidana sesuai dengan aturan minimum khusus yang ada dalam Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan hakim yang menjatuhkan putusan pidana di bawah aturan minimum khusus yang ada dalam Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. guna mencapai putusan yang memiliki rasa keadilan. Hendaknya hakim selalu berusaha untuk meningkatkan diri. 2. dimana di dalam putusan hakim harus memasukkan ketiga unsur tersebut sehingga akan menghasilkan putusan yang lebih berkualitas dan memenuhi harapan bagi para pencari keadilan. Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan hakim menerapkan sanksi pidana di bawah ancaman minimum khusus dalam tindak pidana korupsi. . kepastian hukum dan kemanfaatan. PENUTUP 1. Kedudukan putusan hakim yang menerapkan sanksi pidana di bawah ancaman minimum khusus dalam perkara tindak pidana korupsi tidak dapat dibenarkan berdasarkan asas legalitas yang di dalamnya mengandung unsur keadilan. dapat dibagi factor internal dan eksternal. Terdapat dua pendapat dikalangan hakim terhadap penerapan sanksi pidana di bawah ancaman minimum khusus dalam tindak pidana korupsi. Fakor Internal : b. Kesimpulan a. menambah pengalaman dan menajamkan analisis untuk dapat menentukan faktor yang dianggap rasional untuk dijadikan dasar pertimbangan putusannya. Fakor Eksternal : H. Hakim dengan kebebasannya.31 bagi hakim dalam menjatuhkan putusan pidana tindak pidana korupsi dengan ancaman pidana di bawah minimum khusus diantaranya sebagai berikut : a. memegang peranan penting dalam menjatuhkan putusan pemidanaan khususnya dalam perkara tindak pidana korupsi. Saran a. c. b.

diharapkan bagi para hakim memiliki satu persepsi yang sama dalam menerapkan pidana sehingga tidak ada lagi timbul dua pendapat yang berbeda dalam hal ini.32 b. Munculnya Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menganut sistem pidana dengan batas minimum khusus. PT raja Grafindo : Jakarta. Menguak Teori Hukum dan Teori Peradilan. DAFTAR PUSTAKA Achmad Ali. 2009. Jakarta. Adami Chazawi. Kencana Media Gorup. 2010 . Pelajaran Hukum Pidana.

Tindak Pidana Korupsi. Leden Marpaung. Darwan Prints. Sianturi. 1992. Lilik Mulyadi. Elwi Danil. Bandung. Jakarta: Sinar Grafika. Wiryono.Citra Aditya Bakti. Masalah Korupsi dan Pemecahannya. R.R. 2002. Ridwan Halim. Jakarta : Rajawali Pers. Baharuddin Lopa & Moh. Asas-Asas hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. 2005. 2010. Citra Aditya . Jakarta. 1983. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 295 Juni 2010. Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia. Jakarta. 2011. : Kencana.Yamin. 2005. Andi Hamzah dan Siri Rahayu. 2000. E. Peter Mahmud Marzuki. Jakarta : Akademika Pressindo. Politeia. Poentang Moerad. Jakarta. Kanter dan S.Citra Aditya Bakti. Bandung : PT. Soesilo. 2009. 2005. Penanganan Perkara Pidana. Eddy Djunaedi. Proses Grafika. Bandung: PT. 1983. Storia Grafika. Barda Nawawi Arief.Y. Cetakan III Bandung : Alumni 1986. Hukum Pidana dalam Tanya Jawab. Citra Aditya Bakti. ---------Hukum Acara Pidana Indonesia. KUHP Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Kipas Putih Aksara : Jakarta.33 Aminal Umam. Penelitian Hukum. Jakarta : tanpa Penerbit. 1996. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. ---------Tindak Pidana Korupsi. 2009. Ghalia Indonesia : Jakarta. Varia Peradilan Tahun XXV No. Bogor. Bandung. IKAHI. 2002. R. Suatu Tinjauan Ringkasan Sistem Pemiidanaan Indonesia. Pembentukan Hukum Melalui Putusan Pengadilan dalam Perkara Pidana. Konsep Tindak Pidana dan Pemberantasannya. Korupsi. Alumni : Bandung. Bakti. Jakarta: Sinar PT. 2002. 1983. Penerapan Pidana Minimum Khusus. “Pedoman Pemidanaan dan Pengamatan Narapidana”.

Wirjono Prodjodikoro. Lemhanas. ---------.Citra Aditya Bakti. Bunga Rampai Hukum. 1993). Pembahasan Undang-Undang Pemberantasan Korupsi. Ichtiar Baru: Jakarta. 1974. Jakarta : UI-Press. Soerjono Soekanto. Saut Panjaitan. Dasar-Dasar Ilmu Hukum (Asas. Palembang. Wiyono. Jakarta : Indonesia Hillco. Tindak Pidana .Ringkasan Metodologi Penelitian Hukum Empiris. Soerjono Soekanto dan Sri Mumadji.Universitas Sriwijaya. Kebijaksanaan Dan Strategi Penegakan Sistem Peradilan Di Indonesia. 19 Agustus 1997. Sinar Grafika : Jakarta. 1986.34 Sarwata. Pengertian dan Sistematika). (Bandung: PT. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. Pengantar Penelitian Hukum. Pitlo. 2005. Bab-Bab tentang Penemuan Hukum. Sudikno Mertokusumo dan A. Jakarta : Rajagrafindo Persada. 2001. 1998. 1990.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful