Fisiologi Plasenta

 Plasenta memiliki beberapa fungsi, termasuk transfer nutrisi dan oksigen dari ibu pada fetus, membuang sisa metabolisme dari fetus, dan sintesis protein serta hormon.  Plasenta pada manusia diklasifikasikan sebagai hemokorioendotel, karena hanya ada tiga lapis sel yang memisahkan sirkulasi maternal dan fetal: tropoblas fetus, stroma vili fetus, dan endotel kapiler fetus. Vili fetus akan tersimpan dalam ruang intervilli yang berisi darah ibu.   Vili plasenta akan menghasilkan perbandingan luas permukaan/volume yang tinggi dengan luas permukaan total saat aterm sekitar 10 m2. Transfer melalui plasenta akan terjadi melalui difusi pasif (oksigen, CO2, elektrolit, gula sederhana), transport aktif (besi, vitamin C), atau difusi fasilitasi menggunakan karier (glukosa, imunoglobulin).  Terdapat cadangan plasenta yang berjumlah besar; 30-40% vili plasenta bisa hilang tanpa menyebabkan insufisiensi plasenta.

Fisiologi Fetus Nutrisi  Embrio hampir seluruhnya tersusun atas air. Namun setelah usia kehamilan 10 minggu, fetus akan bergantung pada nutrisi dari sirkulasi ibu melalui plasenta yang sedang berkembang.  Rata-rata berat badan fetus saat aterm adalah 3400g. Berat badan lahir akan dipengaruhi oleh ras, status sosial ekonomi, paritas, faktor genetik, diabetes, merokok dan jenis kelamin fetus. Saat aterm, fetus mengalami penambahan berat badan sekitar 30 g/hari.

Sistem kardiovaskuler  Jantung fetus mulai berdetak pada usia kehamilan 4-5 minggu.

dan duktus venosus akan mengalami konstriksi. Hal ini diperkirakan terjadi akibat perubahan tekanan oksigen dalam waktu beberapa menit setelah lahir. dan vena umbilikalis akan menjadi ligamentum teres. dan ditemukan terutama pada bayi prematur. dapat terjadi hipoplasia pulmonal.  Maturasi fungsional menghasilkan peningkatan jumlah surfaktan dalam paru.  Surfaktan merupakan substansi heterogen yang mirip deterjen yang akan menurunkan tegangan permukaan alveoli dan mencegah terjadinya kolaps alveoli setelah lahir. Duktus venosus akan mengalami penutupan fungsional dalam wakti 10-90 jam setelah lahir. Kemampuan fetus untuk “menghirup” cairan amnion ke dalam paru pada usia kehamilan 16-22 minggu nampak penting untuk perkembangan paru normal. Terapi steroid antenatal akan memicu produksi surfaktan dan mengurangi risiko RDS sebesar 50%. Bagian distal dari arteri umbilikalis akan mengalami atrofi dalam waktu 3-4 hari dan kemudian akan berubah menjadi ligamentum umbilikalis. duktus arteriosus. Gangguan pernapasan akibat defisiensi surfaktan disebut sebagai hyaline membrane disease (HMD) atau respiratory distress syndrome (RDS). . Pembuluh darah umbilikalis. tetapi penutupan anatomis dan pembentukan ligamentum venosum baru terjadi setelah usia 2-3 minggu. Sistem pernapasan   Beberapa saat setelah lahir. Bila hal ini tidak terjadi. Surfaktan dihasilkan pada paru oleh pneumosit tipe II. Setelah lahir. Gerakan dada fetus dapat mulai terdeteksi pada kehamilan 11 minggu.  Volume darah fetoplasenta saat aterm adalah 120 mL/kg. foramen ovale. sirkulasi fetus akan menjalani perubahan hemodinamik yang cukup besar. paru-paru fetus harus sudah dapat memberikan oksigen dan membuang CO2 bila fetus ingin bertahan hidup.

Saat aterm. hepar akan menyimpan sejumlah besar glikogen dan jalur enzim yang bertanggung jawab pada maturasi sintesis glukosa. dan mengalami peningkatan sampai 18 g/dL saat aterm. Hemoglobin dalam darah fetus akan meningkat sampai tingkat dewasa sebesar 15 g/dL pada pertengahan masa kehamilan. Perubahan dari hemoglobin F menjadi hemoglobin A dimulai pada usia  kehamilan 32-34 minggu. 75% hemoglobin total adalah hemoglobin F. Sistem gastrointestinal   Usus halus dapat mulai melakukan peristaltik pada usia kehamilan 11 minggu. Rata-rata hematokrit fetus adalah 50%. Fungsi ginjal akan menunjukkan perbaikan secara bertahap seiring dengan berjalannya kehamilan.  Hemoglobin F (hemoglobin fetus) menunjukka afinitas yang lebih tinggi untuk oksigen dibandingkan dengan hemoglobin A (hemoglobin dewasa). Hepar fetus akan mengabsorbsi obat secara cepat tetapi melakukan metabolisme dengan lambat karena jalur detoksikasi dan inaktivasi obat melalui hepar masih belum berkembang dengan baik sampai akhir masa perkembangan fetus.Darah fetus   Lokasi hematopoiesis akan mengalami perubahan sesuai dengan usia kehamilan. terutama setelah 16 minggu. . Sistem genitourinaria   Fetus mulai mengeluarkan urin pada awal masa kehamilan.  Selama trimester terakhir. Hemoglobin A ditemukan pada fetus mulai usia kehamilan 11 minggu dan menunjukkan peningkatan linier seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Pada usia kehamilan 16 minggu. fetus mulai dapat menelan. dan urin fetus merupakan komponen utama dari cairan amnion.

Steroid gonad adalah penentu utama dari perilaku seksual. . Sehingga. Sehingga. Sistem endokrin (Bab 36)   Baik oksitosin maupun vasopresin akan dihasilkan oleh neurohipofisis fetus pada usia kehamilan 10-12 minggu. dan dalam darah serta lien pada kehamilan 12 minggu.  Limfosit B mulai nampak di fetus hepar pada kehamilan 9 minggu.Sistem saraf  Perkembangan saraf akan terus terjadi selama masa kehamilan dan sampai usia dua tahun setelah lahir. Tiroid fetus mulai berfungsi pada usia kehamilan 12 minggu.  Fetus tidak memerlukan banyak IgG (imunitas pasif) dari kolostrum. Sistem imunitas  Ig G fetus hampir semuanya berasal dari ibu. bayi prematur memiliki kadar IgG yang sangat rendah dalam sirkulasi. walaupun IgA pada ASI dapat melindungi terhadap beberapa infeksi enterik. tetapi IgG dalam jumlah besar akan diperoleh pada 4 minggu terakhir kehamilan. IgM tidak dapat mengalami transportasi aktif melalui plasenta. mata fetus sudah mulai sensitif terhadap cahaya. kadar IgM pada fetus dapat secara akuran menunjukkan respon sistem imunitas fetus terhadap infeksi. Transport IgG yang diperantarai oleh reseptor dari ibu pada fetus dimulai pada usia kehamilan 16 minggu.   Fetus dapat mulai mendengar suara setelah 24-26 minggu. Sel T akan keluar dari timus fetus pada kehamilan 14 minggu. Perkembangan sistem saraf pusat memerlukan aktivitas tiroid normal. Hanya sedikit sekali hormon tiroid fetus yang diperoleh dari ibu. Setelah 28 minggu.

Progesteron sangat penting untuk keberhasilan kehamilan. Sebagai contoh. operasi pengangkatan corpus luteum atau pemberian antagonis reseptor progesteron (seperti RU 486 (Mifeperistone®)) sebelum usia kehamilan 7 minggu (49 hari) akan menyebabkan terjadinya abortus. mencapai puncaknya sebesar 80 000-100 000 mIU/mL pada usia kehamilan sekitar 8-10 minggu. human placental lactogen. hormon steroid.  hCG hanya dihasilkan oleh sel sinsitiotropoblas dan dapat terdeteksi dalam serum maternal 8-9 hari setelah konsepsi. dan thyroid-stimulating hormone (TSH). Beberapa diantaranya akan dibahas di bawah ini.Endokrinologi dalam kehamilan Plasenta merupakan sumber yang kaya akan hormon. yang hanya mulai menjadi bermakna secara klinis bila kadar hCG nampak menunjukkan peningkatan yang bermakna seperti pada kehamilan mola. .025% TSH).  hCG juga memiliki aktivitas tirotropik (0. proopiomelanokortin. tetapi memiliki subunit β khusus. Kemudian. prolaktin. konsentrasi hCG akan berkurang menjadi 10 000-20 000 mIU/mL dan menetap pada kadar tersebut selama sisa masa kehamilan.  Kadar hCG akan bertambah dua kali lipat tiap 48 jam pada beberapa minggu pertama kehamilan. folliclestimulating hormone (FSH). Human chorionic gonadrotopin  Human chorionic gonadrotopin (hCG) adalah hormon protein heterodimer yang memiliki subunit α yang sama dengan luteinizing hormone (LH). Hormon ini nampak berhubungan erat dengan LH. termasuk human chorionic gonadrotopin. oksitosin. corticotropin-releasing hormone. Ini merupakan dasar dari semua pemeriksaan kehamilan standar. growth hormone.  Fungsi utama dari hCG adalah mempertahakan produksi progesteron dari corpus luteum ovarium sampai plasenta dapat mengambil alih produksi progesteron pada usia kehamilan 8 minggu. dan gonadrotopinreleasing hormone.

  Produksi hPL berbanding lurus dengan massa plasenta dam kadarnya akan mengalami peningkatan yang stabil selama kehamilan. Pada plasenta.  Perkembangan yang lambat dari pemahaman mengenai mekanisme proses persalinan pada manusia menunjukkan sulitnya menggunakan mekanisme . Hormon steroid   Plasenta merupakan sumber utama dari progesteron dan estrogen selam akehamilan. dan jumlah anak yang dihasilkan pada tiap kehamilan). tetapi dia memiliki aktivitas yang menyerupai antiinsulin dan dapat terlibat dalam terjadinya resistensi insulin yang khas terjadi pada kehamilan. Pengendalian endokrin dari persalinan  Keberhasilan reproduksi sangat penting untuk kelangsungan hidup spesies. estrogen disintesis dari prekursor androgen dan sangat penting untuk mempersiapkan uterus untuk persalinan. lamanya kehamilan.Human placental lactogen  Human placental lactogen (hPL) merupakan hormon protein yang hanya dihasilkan oleh plasenta dan berhubungan erat dengan prolaktin maupun growth hormone. Fungsi hPL belum diketahui. Tiap spesies telah menyelesaikan masalah persalinan dengan berbagai cara yang berbeda. Progesteron terutama diperoleh dari substrat materal (kolesterol) dan dapat berperan penting untuk mempertahankan ketenangan uterus sebelum persalinan. Perbedaan ini dapat menunjukkan status evolusi dari organisme tersebut atau dapat menunjukkan solusi untuk masalah reproduksi yang dihadapi oleh tiap spesies (seperti perbedaan plasentasi.

fetus adalah yang mengendalika waktu terjadinya persalinan. Plasenta merupakan sumber utama dari estrogen. Dimulainya persalinan  Cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa. sementara estriol hampir seluruhnya diperoleh dari DHEAS fetus. Estrogen tidak menyebabkan terjadinya kontraksi uterus. Estron dan estradiol-17β terutama berasal dari androgen C19 maternal (testosteron dan androstenedion). dan hal ini ditemukan pada semua spesies.  Aktivasi aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal pada fetus saat kehamilan aterm akan menghasilkan kelebihan pelepasan DHEAS dari zona intermdia (fetal) kelenjar adrenal fetus. Di plasenta.  Plasenta pada manusia merupakan organ steroidogenik yang tidak lengkap. Kelebihan androgen ini akan disuplai oleh fetus dalam bentuk dehidroepiandrostenedion sulfat (DHEAS).pengendalian endokrin pada banyak spesies binatang guna memahami mekanisme parakrin/autokrin dari persalinan pada manusia. Selain DHEAS.  Kehamilan pada manusia ditandai oleh kondisi hiperestrogenik dengan tingkat yang paling tinggi dari seluruh kingdom mamalia. DHEAS dirubah hampir seluruhnya menjadi estriol (16-hidroksiestradiol-17β). reseptor oksitosin. Hal ini kemungkinan terjadi melalui aktivasi aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal fetus sebelum onset persalinan. kelenjar adrenal fetus yang membesar juga menghasilkan kortisol yang memiliki dua fungsi: . tetapi memicu serangkaian perubahan miometrium  (termasuk peningkatan jumlah reseptor prostaglandin. pada sebagian besar binatang vivipar. DHEAS kemudian mengalami 16-hidroksilasi di hepar fetus yang akan melewati sirkulasi fetal menuju plasenta. dan gap junction) yang meningkatkan kapasitas kontraksi miometrium. dan produksi estrogen dari plasenta memerlukan prekursor androgen. Konsentrasi estrogen pada sirkulasi maternal akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.

(Efek stimulasi kortisol pada CRH plasenta ini dapat dilawan oleh umpan balik inhibisi kortisol pada CRH maternal.)  Oksitosin plasenta bekerja langsung pada miometrium untuk menyebabkan terjadinya  kontraksi dan secara tidak langsung meningkatka produksi prostaglandin (terutama prostaglandin F2α (PGF2α)) oleh desidua.  PGF2α terutama berasal dari fetoplasenta dan mungkin lebih berperan dalam memicu “pematangan” (maturasi) serviks dan pecahnya ketuban secara spontan (SROM).(i) Mempersiapkan sistem organ fetus untuk kehidupan ekstrauterin. (ii) Memicu produksi sejumlah produk plasenta. oksitosin. dan prostaglandin (terutama prostaglandin E2 (PGE2)). PGF2α terutama dihasilkan oleh desidua maternal dan bekerja pada miometrium untuk meningkatkan jumlah reseptor oksitosin dan gap junction sehingga akan memicu kontraksi uterus.  CRH plasenta memulai terjadinya lingkar umpan balik positif dengan menstimulasi aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal fetus untuk menghasilkan lebih banyak DHEAS dan lebih banyak kortisol yang kemudian akan meningkatkan produksi CRH dari plasenta. ternasuk corticotropin-releasing hormone (CRH). .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful