PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIKULTURAL Dikutip dari : http://lubisgrafura.wordpress.

com/2007/09/10/pembelajaran-berbasismultikultural/

Apa itu Pembelajaran Berbasis Multikultural? Pembelajaran multikultural adalah kebijakan dalam praktik pendidikan dalam mengakui, menerima dan menegaskan perbedaan dan persamaan manusia yang dikaitkan dengan gender, ras, kelas, (Sleeter and Grant, 1988). Pendidikan multikultural adalah suatu sikap dalam memandang keunikan manusia dengan tanpa membedakan ras, budaya, jenis kelamin, seks, kondisi jasmaniah atau status ekonomi seseorang (Skeel, 1995). Pendidikan multikultural (multicultural education) merupakan strategi pendidikan yang memanfaatkan keberagaman latar belakang kebudayaan dari para peserta didik sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap multikultural. Strategi ini sangat bermanfaat, sekurang-kurangnya bagi sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat membentuk pemahaman bersama atas konsep kebudayaan, perbedaan budaya, keseimbangan, dan demokrasi dalam arti yang luas (Liliweri, 2005). Pendidikan multuikultural didefinisikan sebagai sebuah kebijakan sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemeliharaan budaya dan saling memiliki rasa hormat antara seluruh kelompok budaya di dalam masyarakat. Pembelajaran multikultural pada dasarnya merupakan program pendidikan bangsa agar komunitas multikultural dapat berpartisipasi dalam mewujudkan kehidupan demokrasi yang ideal bagi bangsanya (Banks, 1993). Dalam konteks yang luas, pendidikan multikultural mencoba membantu menyatukan bangsa secara demokratis, dengan menekankan pada perspektif pluralitas masyarakat di berbagai bangsa, etnik, kelompok budaya yang berbeda. Dengan demikian sekolah dikondisikan untuk mencerminkan praktik dari nilai-nilai demokrasi. Kurikulum menampakkan aneka kelompok budaya yang berbeda dalam masyarakat, bahasa, dan dialek; dimana para pelajar lebih baik berbicara tentang rasa hormat di antara mereka dan menunjung tinggi nilai-nilai kerjasama, dari pada membicarakan persaingan dan prasangka di antara sejumlah pelajar yang berbeda dalam hal ras, etnik, budaya dan kelompok status sosialnya. Pembelajaran berbasis multikultural didasarkan pada gagasan filosofis tentang kebebasan, keadilan, kesederajatan dan perlindungan terhadap hak-hak manusia. Hakekat pendidikan multikultural mempersiapkan seluruh siswa untuk bekerja secara aktif menuju kesamaan struktur dalam organisasi dan lembaga sekolah. Pendidikan multikultural bukanlah kebijakan yang mengarah pada pelembagaan pendidikan dan pengajaran inklusif dan pengajaran oleh propaganda pluralisme lewat kurikulum yang berperan bagi kompetisi budaya individual.

Pembelajaran berbasis multikultural berusaha memberdayakan siswa untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberi kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda etnis atau rasnya secara langsung. Pendidikan multikultural juga membantu siswa untuk mengakui ketepatan dari pandangan-pandangan budaya yang beragam, membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka, menyadarkan siswa bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok masyarakat (Savage & Armstrong, 1996). Pendidikan multikultural diselenggarakan dalam upaya mengembangkan kemampuan siswa dalam memandang kehidupan dari berbagai perspektif budaya yang berbeda dengan budaya yang mereka miliki, dan bersikap positif terhadap perbedaan budaya, ras, dan etnis. (Farris & Cooper, 1994). Tujuan pendidikan dengan berbasis multikultural dapat diidentifikasi: (1) untuk memfungsikan peranan sekolah dalam memandang keberadaan siswa yang beraneka ragam; (2) untuk membantu siswa dalam membangun perlakuan yang positif terhadap perbedaan kultural, ras, etnik, kelompok keagamaan; (3) memberikan ketahanan siswa dengan cara mengajar mereka dalam mengambil keputusan dan keterampilan sosialnya; (4) untuk membantu peserta didik dalam membangun ketergantungan lintas budaya dan memberi gambaran positif kepada mereka mengenai perbedaan kelompok (Banks, dalam Skeel, 1995) Di samping itu, pembelajaran berbasis multikultural dibangun atas dasar konsep pendidikan untuk kebebasan (Dickerson, 1993; Banks, 1994); yang bertujuan untuk: (1) membantu siswa atau mahasiswa mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk berpartisipasi di dalam demokrasi dan kebebasan masyarakat; (2) memajukan kekebasan, kecakapan, keterampilan terhadap lintas batas-batas etnik dan budaya untuk berpartisipasi dalam beberapa kelompok dan budaya orang lain.

Mengapa perlu Pembelajaran Berbasis Multikultural? Rasional tentang pentingnya pendidikan multikultural, karena startegi pendidikan ini dipandang memiliki keutamaan-keutamaan, terutama dalam: (1) memberikan terobosan baru pembelajaran yang mampu meningkatkan empati dan mengurangi prasangka siswa atau mahasiswa sehingga tercipta manusia (warga negara) antarbudaya yang mampu menyelesaikan konflik dengan tanpa kekerasan (nonviolent); (2) menerapkan pendekatan dan strategi pembelajaran yang potensial dalam mengedepankan proses interaksi sosial dan memiliki kandungan afeksi yang kuat; (3) model pembelajaran multikultural membantu guru dalam mengelola proses pembelajaran menjadi lebih efisien dan efektif, terutama memberikan kemampuan peserta didik dalam membangun kolaboratif dan memiliki komitmen nilai yang tinggi dalam kehidupan masyarakat yang serba majemuk; (4) memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia dalam penyelesaian dan mengelola konflik yang bernuansa SARA yang timbul di masyarakat dengan cara meningkatkan empati dan mengurangi prasangka.

Kondisi keberagaman masyarakat dan budaya, secara positif menggambarkan kekayaan potensi sebuah masyarakat yang bertipe pluralis, namun secara negatif orang merasa tidak nyaman karena tidak saling mengenal budaya orang lain. Setiap etnik atau ras cenderung mempunyai semangat dan ideologi yang etnosentris, yang menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior daripada kelompok etnik atau ras lain (Jones, dalam Liliweri, 2003). Terjadinya tidak saling mengenal identitas budaya orang lain, bisa mendorong meningkatnya prasangka terhadap orang lain, berupa sikap antipati yang didasarkan pada kesalahan generalisasi yang diekspresikan sebagai perasaan. Prasangka juga diarahkan kepada sebuah kelompok secara keseluruhan, atau kepada seseorang hanya karena itu adalah anggota kelompok tertentu. Secara demikian, prasangka memiliki potensi dalam mengambinghitamkan orang lain melalui stereotipe, diskriminasi dan penciptaan jarak sosial (Bennet dan Janet, 1996) Melalui pembelajaran multikultural, subyek belajar dapat mencapai kesuksesan dalam mengurangi prasangka dan diskriminasi (Banks, 1996). Dengan kata lain, variabel sekolah terbentuk dimana besar kelompok rasial dan etnis yang memiliki pengalaman dan hak yang sama dalam proses pendidikan. Pelajar mampu mengembangkan keterampilannya dalam memutuskan sesuatu secara bijak. Mereka lebih menjadi suatu subyek dari pada menjadi obyek dalam suatu kurikulum. Mereka menjadi individu yang mampu mengatur dirinya sendiri dan merefleksi kehidupan untuk bertindak secara aktif. Mereka membuat keputusan dan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan konsep, pokok-pokok masalah yang mereka pelajari. Mereka mengembangkan visi sosial yang lebih baik dan memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan serta mengkonstruksinya dengan sistematis dan empatis. Seharusnya guru mengetahui bagaimana berperilaku terhadap para pelajar yang bermacam-macam kulturnya di dalam kelas. Mereka mengetahui perbedaanperbedaan nilai-nilai dan kultur dan bentuk-bentuk perilaku yang beraneka ragam.

Dimensi dan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Multikultural James A. Banks (1993, 1994-a), mengidentifikasi ada lima dimensi pendidikan multikultural yang diperkirakan dapat membantu guru dalam mengimplementasikan beberapa program yang mampu merespon terhadap perbedaan pelajar (siswa), yaitu: 1. Dimensi integrasi isi/materi (content integration). Dimensi ini digunakan oleh guru untuk memberikan keterangan dengan ‘poin kunci’ pembelajaran dengan merefleksi materi yang berbeda-beda. Secara khusus, para guru menggabungkan kandungan materi pembelajaran ke dalam kurikulum dengan beberapa cara pandang yang beragam. Salah satu pendekatan umum adalah mengakui kontribusinya, yaitu guru-guru bekerja ke dalam kurikulum mereka dengan membatasi fakta tentang semangat kepahlawanan dari berbagai kelompok. Di samping itu, rancangan pembelajaran dan unit pembelajarannya tidak dirubah. Dengan beberapa pendekatan, guru menambah beberapa unit atau topik secara khusus yang berkaitan dengan materi multikultural.

2. Dimensi konstruksi pengetahuan (knowledge construction). Suatu dimensi dimana para guru membantu siswa untuk memahami beberapa perspektif dan merumuskan kesimpulan yang dipengaruhi oleh disiplin pengetahuan yang mereka miliki. Dimensi ini juga berhubungan dengan pemahaman para pelajar terhadap perubahan pengetahuan yang ada pada diri mereka sendiri; 3. Dimensi pengurangan prasangka (prejudice ruduction). Guru melakukan banyak usaha untuk membantu siswa dalam mengembangkan perilaku positif tentang perbedaan kelompok. Sebagai contoh, ketika anak-anak masuk sekolah dengan perilaku negatif dan memiliki kesalahpahaman terhadap ras atau etnik yang berbeda dan kelompok etnik lainnya, pendidikan dapat membantu siswa mengembangkan perilaku intergroup yang lebih positif, penyediaan kondisi yang mapan dan pasti. Dua kondisi yang dimaksud adalah bahan pembelajaran yang memiliki citra yang positif tentang perbedaan kelompok dan menggunakan bahan pembelajaran tersebut secara konsisten dan terus-menerus. Penelitian menunjukkan bahwa para pelajar yang datang ke sekolah dengan banyak stereotipe, cenderung berperilaku negatif dan banyak melakukan kesalahpahaman terhadap kelompok etnik dan ras dari luar kelompoknya. Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan teksbook multikultural atau bahan pengajaran lain dan strategi pembelajaran yang kooperatif dapat membantu para pelajar untuk mengembangkan perilaku dan persepsi terhadap ras yang lebih positif. Jenis strategi dan bahan dapat menghasilkan pilihan para pelajar untuk lebih bersahabat dengan ras luar, etnik dan kelompok budaya lain. 4. Dimensi pendidikan yang sama/adil (equitable pedagogy). Dimensi ini memperhatikan cara-cara dalam mengubah fasilitas pembelajaran sehingga mempermudah pencapaian hasil belajar pada sejumlah siswa dari berbagai kelompok. Strategi dan aktivitas belajar yang dapat digunakan sebagai upaya memperlakukan pendidikan secara adil, antara lain dengan bentuk kerjasama (cooperatve learning), dan bukan dengan cara-cara yang kompetitif (competition learning). Dimensi ini juga menyangkut pendidikan yang dirancang untuk membentuk lingkungan sekolah, menjadi banyak jenis kelompok, termasuk kelompok etnik, wanita, dan para pelajar dengan kebutuhan khusus yang akan memberikan pengalaman pendidikan persamaan hak dan persamaan memperoleh kesempatan belajar. 5. Dimensi pemberdayaan budaya sekolah dan struktur sosial (empowering school culture and social structure). Dimensi ini penting dalam memperdayakan budaya siswa yang dibawa ke sekolah yang berasal dari kelompok yang berbeda. Di samping itu, dapat digunakan untuk menyusun struktur sosial (sekolah) yang memanfaatkan potensi budaya siswa yang beranekaragam sebagai karakteristik struktur sekolah setempat, misalnya berkaitan dengan praktik kelompok, iklim sosial, latihan-latihan, partisipasi ekstra kurikuler dan penghargaan staff dalam merespon berbagai perbedaan yang ada di sekolah.

Pendekatan yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran di kelas multikultural adalah pendekatan kajian kelompok tunggal (Single Group Studies) dan pendekatan perspektif ganda (Multiple Perspektives Approach). Pendidikan multikultural di Indonesia pada umumnya memakai pendekatan kajian kelompok tunggal. Pendekatan ini dirancang untuk membantu siswa dalam mempelajari pandangan-pandangan kelompok tertentu secara lebih mendalam. Oleh karena itu, harus tersedia data-data tentang sejarah kelompok itu, kebiasaan, pakaian, rumah, makanan, agama yang dianut, dan tradisi lainnya. Data tentang kontribusi kelompok itu terhadap perkembangan musik, sastra, ilmu pengetahuan, politik dan lain-lain harus dihadapkan pada siswa. Pendekatan ini terfokus pada isu-isu yang sarat dengan nilai-nilai kelompok yang sedang dikaji. Sedangkan pendekatan perspektif ganda (Multiple Perspectives) adalah pendekatan yang terfokus pada isu tunggal yang dibahas dari berbagai perspektif kelompok-kelompok yang berbeda. Pada umumnya, guru-guru memiliki berbagai perspektif dalam pembelajarannya. Dalam kaitan ini, Bannet dan Spalding (1992) menyarankan agar pembelajaran menggunakan pendekatan perspektif ganda, dengan alasan pendekatan itu nampak lebih efektif. Pendekatan perspektif ganda membantu siswa untuk menyadari bahwa suatu peristiwa umum sering diinterpretasikan secara berbeda oleh orang lain, dimana interpretasinya sering didasarkan atas nilai-nilai kelompok yang mereka ikuti. Solusi yang dianggap baik oleh suatu kelompok (karena solusi itu sesuai dengan nilai-nilainya), sering tidak dianggap baik oleh kelompok lainnya karena tidak cocok dengan nilai yang diikutinya (Savage & Armstrong, 1996). Keunggulan pendekatan perspektif ganda ini terletak pada proses berpikir kritis terhadap isu yang sedang dibahas sehingga mendorong siswa untuk menghilangkan prasangka buruk. Interaksi dengan pandangan kelompok yang berbeda-bebada memungkinkan siswa untuk berempati. Hasil penelitian (Byrnes, 1988) membuktikan bahwa siswa yang rendah prasangkanya menunjukkan sikap yang lebih sensitif dan terbuka terhadap pandangan orang lain. Mereka juga mampu berpikir kritis, karena mereka lebih bersikap terbuka, fleksibel, dan menaruh hormat pada pendapat yang berbeda (Walsh, 1988). Bahan pelajaran dan aktivitas belajar yang kuat aspek afektifnya tentang kehidupan bersama dalam perbedaan kultur terbukti efektif untuk mengembangkan perspektif yang fleksibel (Byrnes, 1988). Siswa yang memiliki rasa empati yang besar memungkinkan dia untuk menaruh rasa hormat terhadap perbedaan cara pandang. Tentu saja hal itu akan mampu mengurangi prasangka buruk terhadap kelompok lain. Membaca buku sastra multietnik dapat mengurangi stereotipe negatif tentang budaya orang lain (Walker-Dalhouse, 1992). Pendekatan perspektif ganda mengandung dua sasaran yaitu meningkatkan empati dan menurunkan prasangka. Empati terhadap kultur yang berbeda merupakan prasyarat bagi upaya menurunkan prasangka.

sosial dan nasional. (10) mengembangkan perilaku adil dalam kehidupan. suku. rtnis dan budaya). (9) mengembangkan kesadaran budaya daerah dan nasional. keterampilan (skills). bisa menjadi stereotipe siswa ketika merespon stimulus di kelasnya. (b) tuntutan belajar dan pembelajaran. berbangsa dan bernegara. lagu Indonesia Raya. dengan memperhatikan referensi latar budaya siswanya. (12) menyelenggarakan ‘proyek budaya’ dengan cara pemahaman dan sosialisasi terhadap simbol-simbol identitas nasional. (11) membangun kerukunan hidup. mata pencaharian. antara lain meliputi: (1) menghormati perbedaan antar teman ( gaya pakaian. Guru sebaiknya menggunakan metode mengajar yang efektif. Lambang negara Garuda Pancasila. (2) menampilkan perilaku yang didasari oleh keyakinan ajaran agama masing-masing. Latar belakang kultural siswa akan mempengaruhi gaya belajarnya. Analisis materi potensial yang relevan dengan pembelajaran berbasis multikultural. apakah ia sudah menampilkan perilaku dan sikap yang mencerminkan jiwa multikultural. dan sebagainya. 2. dan etika atau karakter (ethic atau disposition). (7) menjaga kehormatan diri dan bangsa. (5) mengembangkan sikap kekeluargaan antar suku bangsa dan antra bangsa-bangsa. terutama terfokus membuat orang untuk belajar dan menjadikan kegiatan belajar adalah proses kehidupan. agama. yang meliputi: (a) tuntutan kompetensi mata pelajaran yang harus dibekalkan kepada peserta didik berupa pengetahuan (knowledge). ras/etnis dan golongan serta latar ekonomi orang tua. (8) mengembangkan sikap disiplin diri. Melakukan analisis faktor potensial bernuansa multikultural Analisis faktor yang dipandang penting dijadikan pertimbangan dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis multikultural. suku. bahkan budaya nasional yang menggambarkan puncak-pucak budaya di daerah. (d) analisis terhadap latar kondisi siswa.Bagaimana Mengembangkan Pembelajaran Berbasis Multikultural? Ada beberapa hal yang perlu dijadikan perhatian dalam mengembangkan pembelajaran berbasis multikultural 1. (c) kompetensi guru dalam menerapkan pendekatan multikultural. Secara alamiah siswa sudah menggambarkan masyarakat belajar yang multikultural. (4) membangun kehidupan atas dasar kerjasama umat beragama untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan. bendera Merah Putih. Agama. Siswa bisa dipastikan memiliki pilihan menarik terhadap potensi budaya yang ada di daerah masing-masing: (e) karakteristik materi pembelajaran yang bernuansa multikultural. (6) tanggung jawab daerah (lokal) dan nasional. baik berupa pesan pembelajaran maupun pesan lain yang disampaikan oleh teman di kelasnya. Menetapkan strategi pembelajaran berkadar multikultural . (3) kesadaran bermasyarakat. seperti bahasa Indonesia. Guru harus bertanya dulu pada diri sendiri.

Namun demikian. dan selanjutnya menggali nilai-nilai yang terkandung dalam budaya daerah asal tersebut. digunakan untuk memfasilitasi siswa dalam melakukan kegiatan eksplorasi budaya lokal untuk menemukan konsep budaya apa yang dianggap menarik bagi dirinya dari budaya daerah masing-masing. salah satu indikasinya ditampakkan oleh siswa dalam perolehan hasil pembelajaran yang dialami. suasana belajar yang kondusif. Sedangkan strategi analisis nilai. Siswa mampu menatap perspektif global sebagai suatu realitas yang tidak selalu dimaknai secara emosional. penggunaan strategi cooperative learning. . unjuk kerja dan partisipasi yang ditampilkan oleh siswa dalam pembelajaran dengan cara diskusi dan curah pendapat. diharapkan mampu meningkatkan kadar partisipasi siswa dalam melakukan rekomendasi nilai-nilai lokal serta membangun cara pandang kebangsaan. akan tetapi juga rasional serta tetap sadar akan jati diri bangsa dan negaranya. Kemampuan akademik tersebut. antara lain: strategi kegiatan belajar bersama-sama (Cooperative Learning). juga mampu melakukan pilihan-pilihan rasional (rational choice) ketika berhadapan dengan isu-isu lokal. dan harus tergambar dalam langkahlangkah model pembelajaran berbasis multikultural. agama etnis dan budayanya. Dari kemampuan ini. siswa memiliki keterampilan mengembangkan kecakapan hidup dalam menghormati budaya lain. pola pembelajaran berbasis multikultural dilakukan untuk meningkatkan kesadaran diri siswa terhadap nilai-nilai keberbedaan dan keberagaman yang melekat pada kehidupan siswa lokal sebagai faktor yang sangat potensial dalam membangun cara pandang kebangsaan. Strategi cooperative learning.Pilihan strategi yang digunakan dalam mengembangkan pembelajaraan berbasis multikultural. strategi analisis sosial (Social Investigation). penggunaan strategi cooperative learning dalam pembelajaran dapat meningkatkan kualitas dan efektivitas proses belajar siswa. nasional dan global. Dengan kesadaran diri siswa terhadap nilai-nilai lokal. dari setting ekspresi dan komitmen nilai-nilai budaya lokal (cara pandang lokal) menuju kerangka dan bangunan tata pikir atau cara pandang yang lebih luas dalam lingkup nasional (cara pandang kebangsaan). digunakan untuk menandai adanya perkembangan kemampuan siswa dalam belajar bersama-sama mensosialisasikan konsep dan nilai budaya lokal dari daerahnya dalam komunitas belajar bersama teman. yang meliputi rasional berpendapat. Strategi Pencapaian Konsep. yang dipadukan dengan strategi pencapaian konsep (Concept Attainment) dan strategi analisis nilai (Value Analysis). akomodatif. siswa dengan siswa dalam pembelajaran. dan mampu mengelola konflik dengan tanpa kekerasan (conflict non violent). Dalam tataran belajar dengan pendekatan multikultural. toleransi terhadap perbedaan. Bertolak dari keempat strategi pembelajaran di atas. membangun interaksi aktif antara siswa dengan guru. terbuka dan jujur dalam berinteraksi dengan teman (orang lain) yang berbeda suku. Kriteria yang dapat digunakan untuk mengetahui keberhasilan kegiatan belajar siswa adalah laporan kerja (makalah). memiliki empati yang tinggi terhadap perbedaan budaya lain. difokuskan untuk melatih kemampuan siswa berpikir secara induktif. Selain itu. siswa di samping memiliki ketegaran dan ketangguhan secara pribadi. toleransi dan empati terhadap menatap nilai-nilai budaya daerah asal teman. masing-masing strategi pembelajaran secara fungsional memiliki tekanan yang berbeda. Beberapa Pilhan strategi ini dilaksanakan secara simultan.

(2) analisis latar kultural (setting analysis). yaitu prinsip: dari yang mudah ke sukar. dengan pendekatan multikultural harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip “4 W dan 1 H”. dan (5) menuangkan dalam format pembelajaran. kriteria lain yang dapat digunakan adalah unjuk kerja yang ditampilkan oleh guru di dalam melaksanakan pendekatan multikultural dalam pembelajarannya. dari yang sederhana ke sulit. Kelima tahapan proses dalam merumuskan rancangan pembelajaran PKn tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut: a. dari lingkungan sempit/dekat menuju lingkungan yang meluas. 2000) b. c. Analisis latar kultural dikembangkan dari pendekatan kultural dan siklus kehidupan (life clycle). regional. yang karakteristiknya meliputi pengetahuan moral. pengenalan moral. Selain itu. analisis latar juga mempertimbangkan nilainilai kultural yang tumbuh dan berkembang serta dijunjung tinggi oleh suatu masyarakat serta kemungkinan kemanfaatannya bagi kehidupan siswa. Analisis isi. (3) pemetaan materi (maping contents). dan penetapan materi pembelajaran PKn. yaitu proses untuk melakukan identifikasi. Why (mengapa). penyusunan rencana tindakan. d. Selain itu. Menyusunan rancangan pembelajaran berbasis multikultural Penyusunan rancangan pembelajaran PKn yang bernuansa multikultural. kelima prinsip ini. diskusi dan refleksi hasil pelaksanaan tindakan. seleksi. Di samping itu. yang di dalamnya mengandung dua konsep. yaitu: What (apa). Guru yang bersangkutan selalu terlibat dalam setiap fase kegiatan pembelajaran. Where (di mana) dan How (bagaimana). 3. kompetensi dasar yang dimiliki. baik dalam kegiatan diskusi dan refleksi hasil temuan awal. Proses ini bisa ditempuh dengan berpedoman atau menggunakan rambu-rambu materi yang terdapat dalam GBPP. pengamatan dalam pelaksaan tindakan. Pengorganisasian Materi PKn. dan konsep manusia beserta aktivitasnya yang mencakup seluruh aspek kehidupan. dari konkrit ke abstraks. yaitu konsep wilayah atau lingkungan (lokal. dan penentuan/penyususunan rencana tindakan selanjutnya dalam pencapain tujuan pembelajaran. (4) pengorganisasian materi (contents organizing) pembelajaran PKn. urutan (sequence) dan keluasan (scope) materi. yaitu: (1) analisis isi (content analysis). serta ketrampilan yang dikembangkan. dalam menganalisis materi guru hendaknya juga menggunakan pendekatan nilai-moral. antara lain mengenai materi standar minimal. When (kapan). pembiasaan moral dan pelakonan moral (Depdiknas. nasional dan global). dapat dilakukan melalui lima tahapan utama. Pemetaan materi pembelajaran yang berkaitan erat dengan prinsip yang harus dikembangkan dalam mengajarkan nilai dan moral. dalam menuju . pelaksanaan tindakan. harus diwarnai oleh ciri-ciri pembelajaran dengan multikultural.serta perkembangan prestasi belajar siswa setelah mengikuti tes di akhir pembelajaran. Dalam rancangan pembelajaran PKn.

dan (d) memproyeksikan prospek nilai-nilai dan filosofi dari masalah terpilih dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dan bernegara. kesenian dan organisasi sosial setempat. Tahap Kegiatan Deskripsi Kegiatan 1. dimensi pengurangan prasangka (prejudice reduction). di hadapan teman atau kelompok lain. (c) menggali nilai-nilai dan landasan filosofik yang digunakan oleh masyarakat asal siswa. ras/etnis. 4. Studi eksplorasi diri dan lingkungan sosial-budaya (lokal) siswa yang potensial dengan substansi multikultural Menugaskan kepada siswa untuk melakukan eksplorasi lokal. . antara lain dimensi isi/materi (content integration). Selain itu. bisa masalah stereotipe. dimensi pendidikan yang sama/adil (eguitable pedagogy). bahasa daerah. Menuangkan ke dalam tahapan model pembelajaran berbasis multikultural. Presentasi hasil eksplorasi Siswa mempresentasikan hasil eksplorasi (bisa individual atau kelompok) terhadap masalah lokal yang menarik bagi dirinya. Guru merekam beberapa masukan dan komentar yang muncul di antara mereka. dimohon untuk mengalisis dan memberi komentar terhadap presentasi hasil eksplorasi masalah terpilih. Tahapan proses tindakan yang dilakukan dalam mengembangkan pembelajaran pembelajaran berbasis multikultural dikemukakan dalam matriks berikut. e. (b) menggambarkan bagaimana ekspresinya (perangkat dan tampilan). No.pelakonan (experiences) nilai-moral yang berlandaskan pada asas empatisitas tinggi dan kejujuran serta saling menghargai keunggulan masing-masing. dengan ketentuan: (a) memilih masalah yang menarik bagi mereka. agama. suku. adat-kebiasaan. 2. Expert opinion Guru memberikan komentar mengenai hasil eksplorasi yang dipresentasikan dan beberapa komentar teman. dan dimensi pemberdayaan budaya sekolah dan sruktur sosial (empawering school culture and social structure) Kesemuanya dilakukan dengan memberdayakan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bermultikultural. 3. Peer group analysis Teman lain atau siswa yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok. Secara bergiliran masing-masing siswa atau kelompok memprensentasikan hasil analisisnya. dimensi konstruksi pengetahuan (konwledge construction). pengorganisasian materi pembelajaran perlu memperhatikan beberapa dimensi yang mampu menggambarkan karakteristik kerja multikultural. yang meliputi diri sendiri dan lingkungan sosial-budaya bernuansa multikultural (daerah asal).

dan evaluasi pembelajaran penuangan dalam format rancangan pembelajaran. metode dan teknik pembelajaran multikultural.5. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK): 1. • Menjelaskan alasan perlunya kesadaran membina dan melestarikan nudaya daerah dan nasional. penetapan media. Refleksi. adalah menetapkan topik pembelajaran yang mengandung pesan multikultural. Pokok Bahasan/Topik: Mengembangkan Kesadaran Berbudaya Jenjang : SMP Kelas : III (tiga) Semester : 1 (satu) I. . organisasi materi. Siswa dapat mengenali jenis-jenis budaya (adat kebiasaan. Alternatif. upacara adat/budaya. Menyusun Rancangan Pembelajaran PKn dengan Pendekatan Multikultural Beberapa perangkat yang diperlukan dala menyusun rancangan pembelajaran berbasis multikultural. Kompetensi Dasar Pembelajaran: • Siswa dapat mendeskripsikan keanekaragaman budaya daerah sebagai kekayaan kebudayaan nasional. Rancangan pembelajaran dengan pendekatan multikultural dapat dikemukakan sebagai berikut. topik yang diangkat dalam pembelajaran dengan pendekatan multikultural adalah “Mengembangkan Kesadaran Berbudaya”. kesenian daerah dan benda-benda budaya yang berasal di lingkungan daerahnya. • Berperilaku dalam pengembangan dan pelestarian budaya daerah dan nasional. II. antara lain. rekomendasi dan membangun komitmen Guru bersama siswa melakukan refleksi tampilan siswa dan rekomendasi terhadap keunggulan nilai-nilai budaya lokal yang diperkirakan memiliki potensi dan prospek dalam membangun komitmen nilai yang dapat digunakan sebagai perekat persatuan dan kesatuan baik dalam kehidupan lokal maupun kehidupan nasional (cara pandang kebangsaan) f. penetapan strategi.

Siswa dapat mencocokkan nulai-nilai budaya daerah teman lain dengan nilai-nilai budaya daerah sendiri. Metode yang dominan: dialog/diskusi. (3) Buku-buku PKn untuk SMP Kelas III. pendidikan. nilai sosial/kemanusiaan. Siswa dapat melakukan komitmen untuk melestarikan nilai-nilai budaya bersama terhadap pengaruh negatif dan positif nilai-nilai budaya asing. 6. Siswa dapat menentukan sikap (kompromis) untuk memberlakukan nilai-nilai budaya yang cocok antara budaya daerah sendiri dan budaya daerah teman yang lain. Siswa dapat menyebutkan nilai-nilai luhur budaya daerah yang paling disukai (misalnya: nilai religius/keagamaan. nilai ekonomi. nilai kerukunan/gotong royong/persatuan. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah strategi analisis nilai b. Siswa dapat menentukan sikap terhadap nilai-nilai budaya daerahnya yang tidak cocok dengan nilai budaya daerah teman. Kegiatan Awal Pembelajaran: 1.2. dan keadilan). Siswa dapat mengkomunikasikan jenis dan nilai-nilai dari budaya daerah yang disukainya. Kegiatan Awal Pembelajaran: . tanya jawab dan refleksi. nilai kerjasama/musyawarah. 4. Siswa dapat menentukan kegiatan untuk mengembangkan nilai-nilai budaya daerah yang cocok baik budaya daerah sendiri maupun budaya daerah teman lain. Siswa dapat menunjukkan salah satu jenis kebudayaan yang paling disukai yang berasal dari daerahnya. agar pelakonan siswa lebih bersifat alamiah. 10. 1. Proses Belajar-Mengajar Hal-hal yang perlu dipersiapkan: a. resitasi (penugasan). curah pendapat. Media dan mumber: (1) Puisi Bhinneka Tunggal Ika. 5. III. Siswa dapat menemukenali jenis dan nilai-nilai luhur dari budaya daerah yang disukai oleh teman lain dari budaya daerah masing-masing. 7. 3. c. (2) Gambar benda budaya daerah (diusahakan yang tidak sama dengan kebudayaan daerah siswa di kelas pembelajaran. 8. 9.

Guru mengidentifikasi variasi perbedaan daerah asal siswa. 3. 2. yaitu yang berbeda-beda pada dasarnya adalah satu. Sebagai bahan apersepsi guru bercerita tentang keanekaragaman budaya di Nusantara. .1. Guru mengajak siswa untuk membaca puisi “Bhinneka Tunggal Ika’. Kegiatan Inti Pembelajaran (1). Thalib) Penjelasan guru (alternatif): Dari syair puisi yang telah kita baca tadi. dan selanjutnya curah pendapat isi kandungan puisi dalam kaitannya dengan keperluan pembelajaran. kamu dapat memetik makna realitas kehidupan bangsa kita (Indonesia). Puisi “Bhinneka Tunggal Ika” Bhinneka Tunggal Ika Lambang negara kita Republik Indonesia Beribu-ribu pulaunya Berjuta-juta rakyatnya Namun satu citanya Bhinneka Tunggal Ika Ikrar kita bersama Kita bina selamanya Persatuan bangsa Kesatuan jiwa Indonesia bahagia (Syair: A. 2. Guru mengkomunikasikan topik (pokok bahasan) pembelajaran kepada sisiwa. Dalam semboyan itu mengandung makna pula adanya panggilan kita untuk membina budaya dalam arti memiliki kesadaran untuk mengembangkan serta melestarikannya. sedangkan keanekaragaman budaya daerah adalah kekayaan dan isi dari kehidupan berbangsa dan bermasyarakat Indonesia. terutama semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Persatuan dan kesatuan adalah jiwa kita.

d. tanggapan bukan diartikan sebagai ‘bantahan’.(2). Menugasi siswa uintuk membangun sikap kompromis dalam memberlakukan nilai-nilai budaya yang cocok (sama) dari seluruh budaya daerah. a. Cara berpikir yang demikian inilah sebenarnya merupakan bagian dari cara pandang kebangsaan Indonesia. teman yang lain memperhatikan dan menulis jenis budaya dan nilai-nilai apa saja yang disampaikan oleh teman. Jika kegiatan kitas (anak-anak). Pada saat satu teman menyampaikan perasaan dan sikapnya. Guru mempersilahkan siswa untuk memperkenalkan diri (nama. Menugasi siswa untuk mengidentifikasi (menuliskan) nilai-nilai budaya daerah teman lain yang cocok (sama) dengan nilai budaya daerah sendiri. tetapi lebih banyak digunakan sebagai media membanguh empati dalam menerima perbedaan nilainilai budaya. maka akan semakin banyak nilai-nilai yang sama dan berlaku di seluruh Indonesia. Agar tidak rawan konflik. e. Mempersilahkan siswa untuk mengkomunikasikan jenis budaya daerahnya dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya kepada teman lain. (4). menuliskan hasil kompromis siswa di papan tulis dan meminta siswa menuliskan di buku masing-masing. lalu mau diapakan?”. (Guru atau bisa meminta teman untuk menuliskan di papan). . f. (3). baik dari udaya daerah sendiri maupun budaya daerah teman. sehingga mempermudah untuk melakukan dialog secara mendalam. etnis. ditambah dengan menggali nilai-nilai budaya daerah lebih banyak lagi. Kegiatan ini dilakukan ketika kegiatan (d) dilakukan. Menanyakan perasaan dan sikap siswa (satu persatu) terhadap nilai-nilai budaya daerah yang tidak cocok (tidak sama) dengan nilai budaya daerah teman. Melakukan kegiatan pembelajaran yang diadaptasi dari tuntutan tujuan pembelajaran (tujuan nomor 1 sampai dengan 10). teman lain diminta mencermati dan menyapaikan tanggapannya. Membentuk formasi kelas. Guru memfasilitasi. jika memungkinkan dengan posisi melingkar. dan sebagainya). c. b. Misalnya guru mengajukan pertanyaan: “Nilai-nilai daerah anak-anak yang kebetulan tidak sama dengan nilai budaya teman anda. agama. Guru memberikan penegasan kepada siswa bahwa nilai-nilai budaya yang sama itu termasuk sebagian nilai-nilai dari kebudayaan nasional. Sikap kompromis seyogyanya diarahkan pada sikap positif untuk menerima niali-nilai budaya yang cocok (sama) dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. daerah asal. Pada saat teman menyampaikan nilai-nilai budaya daerahnya. Guru atau menugasi seorang siswa mengidentifikasi dengan menuliskan di papan tulis. Mempersilahkan siswa untuk menemukenali jenis dan nilai budaya daerah yang disukai teman lain dari budaya daerah masing-masing.

Guru memfasilitasi dengan mengajak anak-anak untuk mengidentifikasi dampak negatif dan positifnya nilai-nilai budaya asing. seyogyanya perlu dilestarikan dan dikembangklan. . Melakukan penilaian hasil belajar (diasumsikan penilaian proses telah dilakukan selama pembelajaran berlangsung).g. Apa yang perlu dilakukan siswa terhadap materi yang telah dipelajari dan menganjurkan kepada siswa untuk selalu menghormati dan bersikap adaptif jika mereka hidup di masyarakat budaya daerah orang lain. menggusur dan bahkan mengganti kebudayaan nasional dengan nilai-nilai budaya asing. 3. bagaimana caranya untuk mengembangkan nilai-nilai budaya daerah yang cocok (sama) baik budaya daerah sendiri maupun budaya dari daerah teman. Guru memberikan pemantapan kepada siswa. Guru Pengajar. serta bagaimana menyikapi pengaruh negatif budaya asing dan pengaruh positif bagi kebudayaan nasional Indonesia. Hal-hal yang perlu ditegaskan sekitar: • Jika nilai-nilai budaya suatu daerah masih dipandang bermanfaat. • Nilai-nilai budaya asing yang bersifat positif perlu diterima untuk memperkuat kebudayaan nasional dan bukan untuk mengikis. i. h. Menugasi siswa untuk melakukan komitmen dalam melestarikan nilai-nilai budaya bersama (nasional) terhadap pengaruh dan komunikasi dengan nilai-nilai budaya asing. Misalnya apa yang dirasakan dan bisa didapatkan dari kegiatan pembelajaran ini. (5). Menugasi siswa untuk melakukan curah pendapat (brainstorming). Kebudayaan nasional harus selalu tegar terhadap pengaruh kebudayaan asing bersifat negatif. • Nilai-nilai budaya daerah yang memiliki kesamaan dengan nilai-nilai budaya daerah lain di nusantara. dan kesan cara belajar yang digunakan kegiatan pembelajaran. Guru mempersilahkan beberapa siswa untuk melakukan refleksi sekitar kesan secara umum dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. perlu dilestarikan dan dikembangkan. (2) Menyampaikan informasi tindak lanjut pembelajaran. karena justru itu yang menggambarkan kehidupan budaya bangsa Indonesia. Kegiatan ini senantiasa dipersepsikan untuk membangun kehidupan dalam lingkup yang levih luas (kehidupan nasional). Kegiatan Akhir Pembelajaran (1) Melakukan refleksi.

C. Darling. J. 75 (200-203).C.A. Banks. 1994b. edited by L Darling-Hammond. & Modgil . Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan. Social Education. J.S. the Interminable Debate. “Multicultural Education: Its Effects on Studies’ Racial abd Gender Role Attitude” In Handbook of Research on Social Teaching and Learning. 3rd ed. P3G. 2003. S. Banks.M.A. . Dimentions and Practice” In Review of Research in Education. Muhamad. 1988. 2002.&Cooper. Byrnes. 1984. J. C. The Social Studies. “Multicultural Education: Establishing the Foundations”.I. XX:3(263-292). Iowa: Brown&Benchmark Publishers.Hammond. 1986. Multiethnic Education: Theory and Practice. Banks. & Spalding. Elementary Social Studies: a Whole language Approach. 52 (267-271). Bennett.E.P.: American Educational Research Association. edited by L.A. In Theory and Reseach in Social Education. Dufty. 1993.A. “Multicultural Educatian: Historical Development. D.: American Educational Research Association. New York: MacMillan. J. P. & Verma S. D. “Teaching the Social Studies: Multiple Approaches for Multiple Perspectives”. Boston: Allyn and Boston. Washington. J. D. In Modgil.: MacMillan. Jakarta. vol. Farris. Dimentions and Practrice” In Review of Research in Education. New York. Banks. 1994. Suparlan.DAFTAR PUSTAKA Al-Hakim. 1991.A. 1992.A. 1993. Dirjen Dikdasmen. Ali. Vol 19.C.) Multicultural Education . “Remodelling Australian Society and Culture: A Study in Education for a Pluralistic Society” . “Children and Prejudice”. London: The Falmer Press. Washington. Freedman. “Multicultral Education: Historical Development. (eds. “Multicultural Education: Its Effects on Studies’ Racial and Gender Role Attitude” In Handbook of Research on Sociel Teachng and Learning. Banks. 1992. D. Strategi Pembelajaran Berdasarkan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT). 19. Penerbit Buku Kompas.J.

New Jersey. Jurnal Pendidikan No. Jakarta. C. Motivasi dan Keterampilan Mengajar. Prasetyo. Venon S. Clifford. Ohio: Prentice Hall. Inc. Alo. T. and Gender. 1980. New York. Class.A. P3G.edumailto:webmaster@cocc. Mapping Theories Webmaster@cocc. Yogyakarta.R. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. C. Elementary Social Studies: Challenge for Tomarrow”s World. Sleeter. 1992.edu of Multicultural Education. Dalam Mimbar Pendidikan. Making Choices for Multicultural Education. New York: Macmillan Publishing Company. D. BAB I KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM MERESPON TANTANGAN GLOBALISASI Analisis pemikiran H. & Grant. Joyce.. T. New York: Harcourt Brace College Publishers. The Interpretation of Culture. 1973. & Grant. 1988. & Donald Ely.G. Models of Teaching. Bandung. New York. Walsh. Tilaar . PAU-UT. 1996. Bantam Books.C.Geertz. Bandung. D. Gerlach. Joni. Irawan. 1971. 1996. 1988. Dalam Mimbar Pendidikan. Lickona. Strategi Belajar-Mengajar Suatu Tinjauan Pengantar. 2005. Englewood Cliff. New Jersey. Suciati. Prentice Hall. A. “Perspektif Multikultural dalam Pengajaran Sejarah”. “Orientasi Pendidikan Politik dalam Membina Nilai-nilai Moral”. Liliweri. Fife Approaches to Race. Class. Jurnal Pendidikan No. Effective Teaching in Elementary Social Studies. Inc.J. New York. 1996. Teaching and Media. C. R. Wiriaatmadja. and Gender. MacMillan Publishing Compeny.V.K. File Approaches to Race. 4 Tahun XV 1996. LKiS. W.E. Skeel. 2001.& Agatucci.E. Savage. Basic Books. Teori Belajar. Raka. T.& Armstrong. IGK Wardani. Jakarta. 1992. 1996. A Systematic Approach. Bruce and Marsha Weil. Sumpeno. Sleeter. 1995. 4 Tahun XV 1996. Prasangka & Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural. Making Choice for Multicultural Education. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dengan kata lain pendidikan multikultural meupakan gejala baru dalam pergaulan umat manusia yang mendambakan persaman hak.agama. serta memebongkar praktik-praktik diskriminatif dalam proses pendidikan.nepotisme. Kristen protestan.Latar Belakang Masalah Indonesia adalah salah satu negara yang multikultural terbesar didunia. dan jumlah penduduk kurang lebih 200 juta jiwa. termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama untuk semua orang .000 pulau besar dan kecil. kebenaran dari pernyataan ini dapat dilihat dari sosio kultur maupun geografis yang begitu beragam dan luas. bahwa pendidikan sebagai ruang tranformasi budaya hendaknya selalu mengedepankan wawasan multikultural. akan dapat menimbulkan berbagai macam persoalan seprti yang sekarang ini dihadapi bangsa ini. serta bnerbagai macam kepercayaan. premanisme. kekerasan etnis cina di Jakarta pada bulan mei 1998 dan perang antara islam Kristen di maluku utara pada tahun 1999-2003. Sebelum perang dunia II boleh dikatakan pendidikan multikultural belum dikenal.bahasa . Sebagaimana yang masih kita ketahui peranginya dalam dunia pendidikan nasional kita. Seperti korupsi. Malah pendidikan dijadikan sebagai alat politik untuk melanggengkan kekuasaan yang memonopoli sistem pendidikan untuk kelompok atau golongan tertentu. Berdasarkan permasalahan seperti diatas maka pendidikan multikulturalisme menawarkan satu altrnatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan berbasis pemanfaatan keragaman yang ada dimasyarakat. Contoh konkrit terjadinya tragedy pembunuhan besar-besaran tehadap pengikut partai PKI pada tahun 1965.budha. separatisme.kekerasan. perusakan lingkunghan dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk selalu menghargai hak-hak orang lain adalah bentuk nyata dari multikulturalisme itu. perseteruan politik.A. . gender. kemiskinsn . akan tetapi juga akan menigkatkan kesadaran mereka agar selalu berperilaku humanis. Begitu juga seorang guru tidak hanya menguasai materi secra professional tetapi juga harus mamapu meneanamkan nilai-nbilai inti dari pendidikan multikultural sepreti : humanisme. Dengan jumlah yang ad diwilayah NKRI sekitar kurang lebih 13. Khususnya yang ada pada siswa seperti: keragaman etnis. budaya .bahkan hingga saat inj.terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. hindu. bukan monokultural. Untuk memperbaiki kekurangan dan kegagalan. Katholik. Wacana pendidikan multikultural salah satu isu yang mencuat kepermukan di era globalisasi seperti saat ini mengandaikan. Walaupun pendidikan multikultural merupakan pendidikan relatif baru di dalam dunia pendidikan. Dalam penerapan strategi dan konsep pendidikan multikultural yang terpenting dalam strategi ini tidak hanya bertujuan agar supaya siswa mudah memahami pelajaran yang dipelajari. demokratis dan pluralisme. Keragaman ini diakui atau tidak. status sosial.konghucu. kemampuan umur dan ras. pluraklis dan demokratis. kolusi . Selain itu juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti Islam.

trnformasi diri.karena ia mendapatkan jawaban yang dihadapinya. Hal ini senada dengan pendapat Suharsini Arikunto bahwa masalah merupakan bagian ”kebutuhan” seseorang untuk dipecahkan.ada ajaran kita tidak boleh membeda-beda etnis. orang lain mengadakan penelitian. Dengan menggunakan berbagai macam cara dan strategi pendidikan serta mengimplementasikanya yang mempunyai visi dan misi yang selalu menegakan dan mnenghargai pluralisme. Dalam kondisi seperti ini. Dalam wacana pendidikan multikultural banyak dilakukan berbagai mcam cara diantaranya diadakan loka karya. Rumusan Masalah Setiap masalah merupakan suatu problem yang memerlukan pemecahan agar arah dan tujuan penelitian dapat sesuai dengan apa yang diharapkn. maupun dimasyarkat luas. hingga metode pengajaran yang disampaikan oleh guru dalam proses belajar mengajar (PBM) diruang kelas hingga penggalan-penggalan terakhir dari abad ke-20 sistem penyelenggaraan pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh pendekatan keseragaman (Etatisme) lengkap dengan kekuassaan birokrasi yang ketat. maka pendidikan multikultural di Indonesia perlu mempertimbangkan kombinasi model yang ada. Dalam doktrin islam. seminar-seminar disekolah-sekol. keadilan dan kemanusiaan yang akan datang.yang berbunyi bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskrinminatif dengan menjunjung tinggi hak asai manusia (HAM). . pebndekatan ini sejalan dengan prinsif penyelenggaraan pendidikan yang termaktub dalam undang undang dan sistem pendidikan (SISDIKNAS) tahun 2003 pasal 4 ayat 1. Manusia sama.dalam islam tidak ada pembedaan dan pembatasan diantara manusia dalam haknya untuk menuntut atau memperoleh ilmu pengetahusn. “pendidikan multicultural dapat mencakup tiga hal jenis tranformasi yaitu.pendidikan multikultural merupakan pendekatan progresif. yang membedakan adalah ketaqwaan kepada Allah SWT. Wajah monokulturalisme didunia pendidikan kita masih kentara sekali bila kita tilik dari berbagai dimensi pendidikan. bahkan otoriter. demkrasi dan humanisme. selalu menegakan nilainilai demokrasi. agar seperti yang diajukan Groski.tranformasi sekolah dan proses belajar mengajar serta tranformasi masyarakat”. dan kemajemukan bangsa. toeransi dan mengurangi prasangka antar kelompok. Mulai dari kuirikulum. materi pelajaran. nilai agama. Diharapkan para generasi penerus menjadi ”Generasi Multikultural” yang menghargai perbedaan. ras dan lain sebagainya.ah. tuntutan dari dalam dan luar negeri akan pendekatan yang semakin seragam dan demokratis terus mendesak dan perlu di implementasikan. Untuk mewujudkan model-model tersebut. Pendidikan multikultural juga didasarkan pada keadilan sosial dan persamaan hak dalam pendidikan. B.Dalam konteks ini. nilai kultur. untuk menigkatkan kepekaan sosial. Dalam kaitanya dengan pendidikan multikultural hal ini mencerminkan bagaimana tingginya penghargaan islam terhadap ilmu pengetahuan.

Ingin mengetahui seberapa jauh konsep pendidikan multicultural yang diterapkan diindonesia. Sedangkan sebagai sumber sekunder penulis menggunakan berbagai literature buku.Metode Penelitian dan Sumber data Data-data yang diperlukan dalam sebuah penelitian ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan sebuah pemikiran tentang pendidikan kemudian dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian Librari reseach (Riset Kepustakaan) sebgai metode pengumpulan data drngan membaca dan menelaah literature-literatur yang berhubungan dengan permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan diatas. 2. Untuk mendapatkan pijakan dan landasan yang konkrit dalam rangka merumuskan tujuan penelitan.ada beberapa kegunaan yang penulis harapkan dalam penelitian. internet.Berdasarkan pendapat diatas dapat diambil suatu pengertian. Tujuan Penelitian 1. 1. E. 3. Tilaar. Bahan- . Untuk melengkapi tufgas-tugas dan persyaratan dalm menempuh gelar sarjana PAI pada fakultas tarbiyah IAIT kediri. Untuk sumber primer penulis menggunakan buku “Multikulturalisme tantangan-tantangan Gelobal masa depan dalam tranformasi pendidikan nasional”.maka penulis dapat merumuskan penelitian ini sebagai berikut: 1.A. 2. dan media-media lain yang berhubungan dengan rumusan masalah tersebut diatas.R. seberapa jauh signifikansi konsep pendidikan multikulturalime dalam problematika pendidikan C. Ingin mengetahui seberapa jauh signifikansi konsep pendidikan multikultural dalam problematika pendidikan. Sebagai khasanah disiplin ilmu pendidikan bagi fakultas tarbiyah melangsungkan kegiatan pendidikan. yang ditulis oleh: H. Kegunaan Penelitian Dari kerangka pemikiran diatas. Bagaimana konsep pendidikan multikulturalisme diindonesia 2. D. majalah. bahwa masalah adalah ssuatu yang menjadi sasaran peneltian yang perlu dipecahkan melalui proses penelitian. Berpangkal pada latar belakangmasalah diatas.

maka perlu diberi gambaran secara singkat tentang sistematika pembahasan judul skripsi ini. . Sistematika Penulisan Untuk mencapai pembhasan yang sistematis dalam penelitian ini. Adapun sistematika dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari: Latar belakang masalah. agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam memahami judul skripsi ini maka penulis jelaskan beberapa istilah untuk menyamakan pemahaman dalam judul skripsi ini yaitu: “ Konsep pendidikan Multikulturalisme dalam merespon tantangan globalisasi” . Multikultural :Keanekaragaman kebudayaan dalam suatu komunitas atau bangsa. Sistematika Penulisan. G. Kegunaan Penelitian. : Visi Dan Misi PendidikanNasional BAB IV : BAB V : Penutup Yang Berisi Kesimpulan dan Saran-Saran.Konsep pendidikan : Suatu ide atau gagasan proses perubahan sikap dan tata laku seseoarang kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upanya pengajaran dan pelatihan. agar penulis ini lebih dalam dan obyektif. 1. Metode Penelitian dan Sumber data.bahan itu penulis jadikan sebagai bahan yang melengkapi. BAB II : Konsep Pendidikan Multikultural : Pengertian pendidikan Multikultural : Kondisi Masyarakat : Masyarakat Berbasis Ilmu Pengetahuan BAB III : Konsep Pendidikan Multikultural Dalam SISDIKANAS : Politik dan Multikultural :Pendidikan Multikultural dalam Dimensi Pendidikan Nasional. 2. F. tujuan Penelitian. Definisi Istilah Sesuai dengan judul penulis ajukan.

pendidikan multikultural memberikan secerah harapan dalam mengatasi berbagai gejolak masyarakat yang terjadi akhir-akhir ini. Misalnya suku jawa. bahasa. dan mulai merambah ke bidang budaya dan peradaban bangsa. Pendidikan multikultural. keyakinan. Misalnya etnis cina. Hanya saja model pendidikan multikultural ini semakin tereduksi dengan adanya kolonialisasi di bibidang ploitik. kebenaran dari pernyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Pengertian Pendidikan Multikultural Indonesia adalah merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Proses inilah yang dikenal dengan pendidikan multikultural. ambon. pendidikan multikultural yang tidak menjadikan semua manusia sebagai manusia yang . heterogenitas. Dua.BAB II KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURAL A. dan menghargai antar satu dengan yang lainnya. Semua suku itu ternyata secara kultural telah mampu beradaptasi dengan suku-suku asli negara Indonesia. selain itu. dan menjanjikan pendidikan yang layak dan kelihatannya tepat dan kompatibel untuk membangun bangsa kita adalah dengan model pendidikan multikultural. Falsafah bangsa Indonesia adalah bhineka tunggal ika. khususnya yang ada pada siswa seperti keragaman etnis. relatif tepat. Dengan demikian. minang. etnis arya. ekonomi. membantu. pendidikan multikultural secara inhern sudah ada sejak bangsa Indonesia ini ada. adalah pendidikan yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai. Satu. Sebagai negara berkembang. etnis erofa.betapa dapat dilihat dalam potret kronologis bangsa ini yang sarat dengan masuknya berbagai suku bangsa asing dan terus berakulturasi dengan masyarakat pribumi. ternyata sebagian besar dilakukan dengan damai tanpa adanya penindasan yang berlebihan. papua. suku dayak. etnis afrika dan sebagainya. agama. kemampuan. menjadikan pendidikan sebagai salah satu sarana startegis dalam upanya membangun jati diri bangsa adalah sebuah langkah yang bagus.budaya. etnis arab. pluralitas dan keragaman. Proses adaptasi dan akulturasi yang berlangsung di antara suku-suku tersebut dengan etnis yang datang kemudian itu. batak. gender. status sosial.1 Hal ini didasarkan pada beberapa pertimbangan berikut. berkaitan dengan hal ini. bugis. maka pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat. suka gotong royong. apapun aspeknya dalam masyarakat. Indonesia termasuk salah satu dari sekian puluh negara berkembang. umur dan ras. dan suku sunda.

3 Pada konteks Indonesia. Kekersan muncul ketika saluran kedamaian sudah tidak ada lagi. agama. Dalam dimensi lain pendidikan multikultural merupakan pengembangan kurikulum dan aktifitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan.yang sering dikenal dengan nama kecerdasan ganda (multiple intelligence). Ketuntasan penyelesaian berbagai masalah masyarakat adalah prasyarat bagi munculnya kedamaian. Fanatisme yang sempit juga bisa meyebabkan munculnya kekerasan. Empat. atau bahkan sistem pemikiran baik di bidang pendidikan. dan keharmonisan kehidupan masyarakat Indonesia. Inilah yang diharapkan menjadi salah satu pilar kedamaian. dan aspek kehidupan lainnya. toleran.bermodel sama. dan saling menghargai. Dengan alasannya. pendidikan multikultural menentang pendidikan yang beroreintasi bisnis. Dalam pasal itu dijelaskan.20 tahun 2003 sistem pendidikan nasional. lembaga pendidikan baik sekolah atau perguruan tinggi berlomba-lomba menjadikan lembaga pendidikannya sebagai sebuah institusi yang mampu menghasilkan income yang besar. untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta didik.2 Dengan demikian Pendidikan multikultural merupakan respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah. kesejahteraan. melainkan pendidikan yang harus mengakomodir semua jenis kecerdasan. Kekerasan tersebut sebagai akibat dari akumulasinya berbagai persoalan masyarakat yang tidak diselesaikan secara tuntas dan saling menerima. salah satunya dengan mengembangkan model pendidikan multikultural. sosial. hukum. Dan fanatisme ini juga berdimensi etnis. Atas dasar ini maka penerapan multikulturalisme menuntut kesadaran dari masing-masing budaya lokal untuk saling mengakui dan menghormati keanekaragaman budaya yang dibalut semangat kerukunan dan perdamain. budaya. atau bahkan berkepercayaan yang sama pula. berkepribadian sama. Era reformasi ternyata tidak hanya membawa berkah bagi bangsa kita namun juga memberi peluang meningkatnya kecenderungan primordialisme. suku. Paradigma multikultural secara implisit juga menjadi salah satu concern dari pasal 4 UU No. ekonomi. sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. politik. bahasa. Untuk itu. bahwa pendidikan yang sebenarnya bagi bangsa Indonesia bukanlah pendidikan keterampilan belaka. prestasi dan perhatian terhadap orang-orang non eropa. pendidikan multikultural sebagai resistensi fanatisme yang mengarah pada berbagai jenis kekerasan. Pada saat ini. berintelektual sama. sejarah. perbincangan tentang konsep pendidikan multikultural semakin memperoleh momentum pasca runtuhnya rezim otoriter militeristik orde baru karena hempasan badai reformasi.4 Paradigma pendidikan multikultural dalam konteks ini memberi pelajaran kepada kita untuk memiliki apresiasi respek terhadap budaya dan agama-agama orang lain. Padahal semua orang tahu. kebahagian. Yaitu pendidikan yang mampu mengakomodir sekian ribu perbedaan dalam sebuah wadah yang harmonis. bahwa pendidikan . Tiga. dirasakan kita perlu menerapkan paradigma pendidikan multikultural untuk menangkal semangat primordialisme. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang barang kali perlu dikaji dan direnungkan ulang bagi subjek pendidikan di Indonesia.

nilai kultural. Pendidikan multikulturalisme biasanya mempunyai cirri-ciri sebagai berikut: 1. sosial.5 James banks (1994) menjelaskan: bahwa pendidikan multikultural memiliki beberapa dimensi yang saling berkaitan satu dengan yang lain”. pluralis. generalisasi dan teori dalam mata pelajaran atau disiplin ilmu. tidak diskriminatif. Kondisi Masyarakat . the knowledge construction process. respek. Evaluasinya ditentukan pada penilaian terhadap tingkah laku anak didik yang meliputi persepsi. apresiasi. dan tindakan terhadap budaya lainnya. pendidikan multikultural sebagai sebuah konsep atau pemikiran yang tidak muncul dalam ruangan yang kosong. akan tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran mereka agar selalu berprilaku humanis. 2. ekonomi. nilai keagamaan. yaitu mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka. nilai-nilai bangsa. yaitu: Pertama. yaitu menyusuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka mempasilitasi prestasi akademik siswa yang beragambaik dari segi ras. yaitu mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar. Keempat. Ketiga. dan demokrasi. Metodenya demokratis. dengan menjunjung tinggi HAM. tujuan utama dari pendidikan multikultural adalah untuk menanamkan sikap simpati. dan nilai-nilai kelompok etnis (cultural). an equity paedagogy.diselenggarakan secara demokratis. dan yang terpenting dari strategi pendidikan multikultural ini tidak hanya bertujuan agar supaya siswa mudah memahami pelajaran yang dipelajarinya. dan intelektual yang mendorong kemunculannya. budaya. 3. dan kemajemukan bangsa. Kedua. Tujuanya membentuk” manusia budaya” dan menciptakan “masyarakat berbudaya (berperadaban)”.6 Dalam konteks ini dapat dikatakan. dan empati terhadap penganut agama dan budaya yang berbeda. Content integration.7 B. prejudice reduction. (culture ) ataupun sosial. yang menghargai aspek-aspek perbedaan dan keberagaman budaya bangsa dan kelompok etnis (multikulturalis). apresiasi. yaitu membawa siswa untuk memahami implikasi budaya kedalam sebuah mata pelajaran (disiplin). Dalam sejarahnya. Materinya mengajarkan nilai-nilai luhur kemanusian. 4. namun ada interes politik.

terkontrol.semua perubahan tersebut terjadi didalam ruang lingkup negara dan bangsa. Masyarakat dan bangsa Indonesia yang relatif aman. yaitu: “globalisasi. Kekuatan-kekuatan kramat mengikat masyarakat tradisional baik didalam hubungan kekuasaan maupun di dalam aspek kehidupan. revolusi gender.modernisasi gelombang kedua ini membawa manusia kepada apa yang disebut suatu masyarakat penuh resiko. Ada pameo pada masa kolonial yang mengatakan bahwa bangsa jawa adalah bangsa yang paling lembut di dunia. Dengan demikian munculah gelombang modernisasi yang pertama. bahwa dia adalah bagian dari kehidupan yang lebih besar yaitu kehidupan umat manusia yang mempunyai tujuan. dan oleh sebab itu pula dunia kehidupannya bergerak dengan sangat lambat. Menurut Ulrich Beck’ mengemukakan: “Lima proses yang secara simultan menimpa masyarakat dunia dewasa ini. Masyarakat tradisional adalah suatu bentuk masyarakat yang relatif stabil. Seperti yang telah dijelaskan didalam pendahuluan masyarakat yang dapat mengambil keputusan dengan tepat adalah masyarakat yang terdidik. Revolusi transfortasi dan informasi telah menyebabkan setiap individu menyadari akan dirinya sendiri. kesadaran akan kehidupan sangat terbatas. apakah dia terasing atau merupakan bagian dari umat manusia. perkembangan industri yang menyerap lapangan kerja baru disamping pertanian. baik oleh kekuatan natural seperti kekuasaan raja yang feudal sampai kepada kekuatan supernatural yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya.Manusia yang hidup didalam milenium ketiga berada didalam suatu dunia yang jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Belum pernah terjadi didalam sejarah umat manusia. dan bahkan dapat menerima “ penjajahan” selama 350 tahun. hidup tenang penuh dengan kepastian. merupakan cirri dari masyarakat tradisional. pengangguran. rasa kebersamaan dalam suatu kelompok ataupun dalam ikatan suatu negara dan bangsa. Kehidupan masyarakat diikat oleh kesatuan tradisi yang sifatnya mengikat baik moral etis bahkan teologis. Di dalam suatu masyarakat tradisional. cita-cita. kepastian yang dinikmati oleh manusia menghilang dan secara simultan lahirlah perubahan-perubahan sosial yang dahsyat dan tidak dapat diatasi lagi oleh manusia. Bangsa yang lemah lembut. Dalam perjalananya masyarakat Indonesia menuntut proses pengambilan keputusan yang tepat. individualisme. Masyarakat yang stabil tersebut kini menjadi berantakan didalam kehidupan yang tidak menentu. Dunia berubah dengan sangat cepat sehingga muncullah suatu proses penyadaran diri dari setiap insane yang hidupdi bumi ini. Gelombang modernisasi pertama seperti yang terlihat didalam masyarakat barat yang sifatnya sederhana. dan resiko global karena krisis lingkungan dan krisis moneter seperti yang terjadi dinegara kita pada tahun 1997”. Gelombang modernisasi pertama berjalan hampir dua abad lamanya. seseorang menyadari bahwa dia tidak hidup terasing dari dunia dan masyarakat lainnya. Namun dengan demikian munculnya gelombang modernitas kedua. yang menguasai ilmu . semuanya diatur. Perubahan besar yang terjadi di muka bumi ini dengan lahirnya masyarakat industri pada abad ke-18 di eropa. dan tertutup. perubahan-perubahan linier. tidak bergejolak.

Konsep masa depan yang penuh resiko sangat perlu agar bisa membedakan dengan jelas antara yang alamiah (nature) dengan budaya (culture). Secara seksama apa yang akan terjadi dimasa depan. Adapun kualitas-kualitas yang dimaksud meliputi: kualitas fisik dan non fisik. yang dimiliki. serta masyaraka dunia. daya tahan tubuhnya kesehatan jasmaninya.pengetahuan dan teknologi. Kedua kualitas tersebut. yang menuntut hak-hak politik dari warga negara. hingga mudah retaknya struktur keluarga inti yang dikenal didalam masyarakat tradisional. Hal ini disebabkan karena terjadi perubahan-perubahan yang dahsyat didalam masyarakat dunia akibat lahirnya demokrasi poltik. tidak semua manusia dapat demikian. kiranya manusia dapat mengikuti percaturan dunia adalah manusia-manusia yang mempunyai kualitas-kualitas tertentu. tenaga fisik. Masyarakat masa depan berorientasi kepada masa depan yang cerah yang telah diperhitungkan. Kualitas demikian. . Berdasarkan uraian mengenai masyarakat masa depan yang penuh dengan resiko. perubahan peranan gender. Glokalisme merupakan sintesa antara Globalisasi dan lokalisme. non fisik dan kejiwaan. serta dibimbing oleh moral untuk kemaslahatan masyarakat dan bangsanya. Seiring dengan perkembangan dan tuntutan jaman maka lahirlah konsep masyarakat individualitas yang baru. perubahan relasi antar manusia didalam membangun keluarga.8 1. Masyarakat Masa Depan Masyarakat masa depan mengalihkan pemikiran manusia bukan kepada masa lalu tetapi kemasa yang akan datang. Sementara kualitas non fisik berkaitan dengan hal-hal yang bersifat batiniah. karena kualitas fisik diperlukan untuk diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menyangkut dan mendukung bagi tercapainya kualitas non fisik. Kualitas fisik menyangkut kualitas lahiriyah dan jasmaniyah seseorang. kesegaran atau kebugaran raganya. Dalam pengertian. maka sekurang-kurangnya kita mempunyai pegangan hidup secara mantap untuk menghadapi masa depan yang lebih baik. Gelombang globalisaai yang mendapat reaksi dari kekuatan lokal atau lokalisme. diindikasikan oleh ukuran badannya. Dengan demikian pengaruh dari Globalisasi yang berjalan sangat cepat sehingga menghancurkan sendi-sendi dan struktur kehidupan lokal. saling melengkapi. dan lahirlah apa yang disebut demokrasi cultural yang mengubah dasar-dasar hidup keluarga yang stabil didalam masyarakat tradisional. Kualitas non fisik demikian meliputi: kualitas pribadi. sehingga konsep-konsep yang lama tidak dapat digunakan lagi. Untuk mengetahui resiko masa depan adalah merupakan sintesa antara pengetahuan dan ketidaksadaran (unclearness). diikuti oleh demokrasi sosial yaitu keinginan untuk membangun suatu masyarkat sejahtera. fisik dan non fisik. kualitas hubungan dengan pihak lain dan kualitas kekayaanya.

peranan ilmu pengetahuan yang dimuali dari abad pencerahan telah melepaskan masyarakat tradisioanal yang terkungkung oleh tradisi dan kekuasaan Gereja yang koserfatif. Dalam masyarakat barat. dia senantiasa mengendalikan diri agar tidak terjerembab kedalam Lumpur kehidupan yang sesat. Ini sangat penting oleh karena ia hidup dalam kerangka dan wadah nation yang hampir setiap harinya akan senantiasa berinteraksi dengan sesamanya. 6. Kualitas pendidikan sangat penting artinya. Perkembangan ilmu pengetahuan yang menyebabkan penerapan teknologi didalam pengembangan industri telah melahirkan negara-negara industrsi pada abad ke-18. ketaqwaan kepada tuhan yang maha esa. Mengajarkan anak didik dilembaga pendidikan kearah karya nyata. ilmu pengetahuan juga telah menyebabkan tuntutan terhadap pendidikan rakyat yang berwujud wajib belajar pada negara-negara maju dimulai pada abad ke-19. antara lain disebabkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.Jika manusia Indonesia yang dibutuhkan di masa depan diindikasikan oleh kualitas-kualitas sebagaimana disebutkan diatas. agar ketika terlibat dalam arus percaturan dunia. Ini sangat diperlukan. kedisiplinan demikian harus dimulai dari diri sendiri. Peningkatan kemandirian anak melalui pengejaran. Ini harus menjadi kebijaksanaan pendidikan. mengingat manusia dimasa depan yang dapat berkompetensi serta membawa bangsanya dalam percaturan dunia yang sedang berubah. Penanaman kedisiplinan yang tinggi kepada peserta didik dilembaga-lembaga pendidikan. 3. Masyarakat Berbasis Ilmu Pengetahuan Telah kita lihat transformasi masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Penanaman kesetiakawanan diantar teman sebangsa. Ini harus dilakukan agar anak didik sejak dini berlatih untuk banyak berkarya. Dan. 7. 4. Penigkatan kualitas pendidikan harus diprioritaskan. 5. karena hanya manusia yang berkualitas saja yang bisa bertahan hidup dimasa depan. perkembangan ilmu pengetahuan pada negara-negara tersebut telah memasuki kebijakan politik kolonial dari para penjajah.9 C. Rakyat diberi pendidikan meskipun sangat terbatas untuk melepaskan diri dari kungkungan . Di Indonesia telah lahir apa yang disebut dengan “politik etis” yang memaksa untuk secara moral penghisapan yang dilakukanya dinegara jajahanya. 2. maka harus ada kebijaksanaan pendidikan yang relevan adalah sebagai berikut: 1. adalah manusia yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain ataupun negara lain. Peningkatan kesiapan peserta didik untuk menghadapi dunia yang selalu berubah dengan perkembangan jaman yang terus berkembang. Penanaman keimanan.

Didala konteks inilah dipertayakan tempat dan peranan lembaga pendidikan untuk ikut serta dalam masyarakat industri masa depan. Sejalan dengan meningkatnya tingkat pendidikan. melainkan peningakatan kemampuan analitis dari suatu bangsa untuk melihat perkembangan masyarakatnya.kebodohan dan kemiskinan.11 1. kita telah mempunyai acuan bersama pengembangan system pendidikan nasional untuk menghadapi masyarakat masa depan. tapi disamping itu juga terdapat berbagai hal yang negatif. Dengan pendidikan itu pulalah dilahirkan benih-benih nasionalisme yang kemudian menjadi kekuatan yang menghancurkan kolonialisme itu sendiri. Masyarakat industri masa depan memberi peluang yang besar bagi pengembangan manusia. karena kemajuan pendidikan suatu bangsa juga merupakan dasar dari perkembangan demokrasi. Seperti telah dijelaskan. bukan berarti bahwa yang dipentingkan ialah rasionalisme. Globalisasi tidak lepas dari anomaly. Dalam kaitan ini. Pencerdasan kehidupan bangsa antara lain berarti membangun suatu masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan. khususnya teknologi komunikasi. Kesadaran terhadap harga diri. terutam didunia ke tiga. kesadran terhadap tradisi dan kebudayaan sendiri terbuka karena pendidikan. Diakui bahwa globalisasi telah memberikan banyak hal yang positif dalam kehidupan umat manusia. dengan lahirnya UU No. Arus uang seharusnya bergerak dari negara kaya ke negara miskin. Kemajuan pendidikan suatu bangsa juga merupakan dasar dari perkembangan demokrasi. globalisasi justru menjadi ajang mentransfer kekayaan dari simiskin kepada yang kaya. tetapi yang terakhir justru sebaliknya. telah menyebabkan perubahan yang sangat besar dalam kehidupan manusia yang tidak diperkirakan sebelumnya. . Globalisasi dan Kemajuan Ilmu Pengetahuan Salah satu gelombang dahsyat yang melanda kehidapn umat manusia dewasa ini adalah globalisai.10 salah satu program yang dapat menyiapkan dan merekayasa arah perkembangan masyarakat Indonesia untuk menjadikan masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan ialah dengan mengedepankan pendidikan. Perkembangan demokrasi berjalan bersama-sama dengan kebangkitan nasionalisme. terjadi pencerahan kehidupan suatu bangsa dan negara. Namun dapat menjadi “ pembunuh” pengembangan manusia apabila masyarakat tidak dipersiapkan untuk hidup dan menghidupi masyarakat industri tersebut. maka kelas-kelas didalam masyarakat seperti kelas penjajah yang mempunyai hak-hak istimewa yang dibedakan dengan bangsa terjajah yang tidak mempunyai hak-hak seperti hak-hak yang diberikan kepada kaum penjajah (kaum putih). Didalam hal ini. Malahan PBB menganggap program pendidikan merupakan salah satu dinamisator dalam pengembangan manusia.2 tahun 1989 tentang SISDIKNAS. Didalam pembukaan undang-undang dasar 1945 dijelaskan bahwa salah satu tujuan utama kemerdekaan ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan pendidikan.

Bahkan nyata sekali. globalisasi juga secara radikal merubah kehidupan manusia.14 BAB III . Karena itu. Tetapi lebih jauh dari itu. globalisasi yang manusiawi menjadi tuntutan zaman yang takan terelakan. dan segelintir konglomerat dunia. malah semakin menjadi-jadi. pendidikan kita harus menyiapkan tenaga kerja yang juga berkualitas internasional. tekstil. Dipihak lain kemiskinan diseluruh dunia bukannya berkurang . sumber daya manusia saat ini justru harus berkompetisi secara global. Kondisi seperti ini cepat atau lambat akan mengisolasi bangsa kita dari proses transfer teknologi mutakhir yang dilahirkan oleh masyarakat dan peradaban dunia sebagai akibat tidak dimilikinya kemampuan komunikasi antar bangsa. bukan hanya perekonomian melainkan juga struktur soaial dan kebudayaan dari suku-suku di negara-negara terbelakang itu. Globalisasi telah menimbulkan ketidakpastian dan kegamangan dari rakyat yang berjuta-juta bahkan bermiliar-miliar di negara-negara berkembang. dan sebagainya. dibutuhkan lembaga yang kuat dan transparan. Jika kita mengabaikan gerakan globalisasi. Kualitas pekerjaan yang menghasilkan barang untuk pasar global juga harus memiliki kualitas secara nasional.Globalisasi menurut Stiglitz “diyakini memiliki potensi besar jika ditata dan dikontrol”. Komoditas ekspor kita kenegara-negara maju seperti alat-alat elektronika. Agar globalisasi berjalan lebih manusiawi. Tanpa memperhatikan persyaran perdagangan internasional. harus mengikuti standar interasional. Hal ini perlu diterjemahkan oleh sisitem pendidikan nasional kedalam program-program dan proses belajar mengajar secara operasional. sekaligus memihak dunia yang miskin. seperangkat institusi yang dapat memandu kebijakan ekonomi. Perubahan radikal dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern merupakan Shock yang menghancurkan. kita sebagai bangsa tidak akan dapat mengambil bagian dalam tata perekonomian pasar global. Globalisasi itu sendiri dipelopri oleh negara-negara industri besar yang berakibat pemiskinan negara-negara yang sedang berkembang. pendidikan kita dalam jangka panjang hanya akan menghasilkan SDM yang berkualitas lokal. Konsekuensinya. Selain proses pembentukan korporasi internasional yang mematikan modal kecil. Dibawa komando supermasi kapitalisme global yang culas dan kejam. terutama di negaranegara berkembang. kayu lapis.13 Gerakan globalisasi saat ini sangat terasa dampaknya pada system kehidupan sosial ekonomi kita. kerajinan tangan.12 Globalisasi telah melahirkan kapital internasional dari korporasi-korporasi besar yang ternyata hanya menguntungkan negara-negar besar yang bermodal. politik dan sosial lebih adil. sebenarnya pendidikan nasional kita juga perlu memikirkan muatan global dalam aspek pengajarannya untuk bidang-bidang studi yang relevan. peserta didik kita perlu memiliki keunggulan kompotitif secara global.

akan menambah keberhasilan fungsi dan peran pendidikan umumnya. maka pendidikan dalam multikulturalisme telah merupakn suatu realitas sosial yang akan dihadapi oleh dunia pendidikan dimasa-masa yang akan datang. Implikasinya. Sedangakan semangat kebangsaan adalah keinginan yang amat mendasar dari setiap komponen masyarakat untuk berbangsa.15 Multikulturalisme merupakan suatu perkembangan yang relatif baru dalam khasanah ilmu pengetahuan.Karakter dan semangat seperti itu akan berkembang. penguatan disatu sisi. khususnya dalam ilmu-ilmu sosial.17dengan demikian pendidikan tidak dapat dipisahkan dari perubahan sosial dan kehidupan manusia didalam berbgai kaitannya dengan masalah kebudayaan.16 Pendidikan merupakan kebutuhan paling esensial bagi setiap manusia. maupun pemerintah pada era reformasi ini.itu berarti. negara. Transformasi dalam dunia pendidikan selalu harus diupayakan agar pendidikan benar-benar dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana telah diamanatkan oleh pendiri republik yang dituangkan dalam UUD 1945. Adapun perekat pendidikan yang dipakai ialah pembangunan karakter dan semangat kebangsaan atau nation and character building (NCB). Disisi lain. dan sebagainya. Artinya. berdiri sama tinggi dengan negara-negara lain. toleran. pendidikan juga berperan memberi perekat berbagai perpedaan diantara komunitas kultural atau kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang budaya berbeda agar lebih meningkat komitmennya dalam berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini karakter kebangsaan merupakan penbembangan jati diri bangsa Indonesia yang pernah dikenal sebagai bangsa yang ramah. Namun dengan demikian multikulturalisme terus berkembang sesuai dengan perubahan sosial yang dihadapi oleh umat manusia khususnya didalam era dunia terbuka dan era demokritisai kehidupan. akan memberi penguatan pada sisi lain. disisi lain masyarakat multikultural dengan segala karakternya memiliki potensi signifikan untuk mensukseskan fungsi dan peran pendidikan. langsung atau tidak langsung. dilakukannya penguatan pada kedua sisi secara simultan akan memberi hasil yang optimal. Penguatan terhadap pendidikan. baik secara natural maupun kultural. Dalam konteks membangun masyarakat multikultural selain berperan meningkatkan mutu bangsa agar dapat duduk sama rendah. misalnya dengan memperbaiki sistem dan mengefektifkan kegiatan belajar. sopan. bila pada satu sisi pendidikan memiliki peran signifikan guna membangun masyarakat multikultural. penguatan pada masyarakat multikultural.KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM SISDIKNAS Pendidikan dan masyarakat multikultural memiliki hubungan timbal balik (reciprocalrelayionship). manuju tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa. baik dari sisi peran pendidikan maupun pembangunan masyarakat multikultural sendiri. yaitu dengan mengelola potensi yang dimiliki secara benar. . akan menambah keberhasilan dalam membangun masyarakat multikultural. pendidikan harus selalu ditumbuhkembangkan secara sistematis oleh para pengambil kebijakan yang berwenang di negara ini.

Kesejahteraan atau welvarisme merupakan suatu kondisi sosial yang menjadi harapan semua orang. yang akan melipuiti disiplin-disiplin ilmu yang lain seperti ilmu politik. Tepat landasan. tepat ruang. Oreintasi yang seharunya dibangun dan diperhatikan antara lain meliputi: 1. tepat kuantitatif. khususnya falsafah posmoderenisme. global. globalis. Dalam hal ini dimaksudkan agar dalam perjalanan sejarah pendidikan multikultural nantinya tidak kehilangan arah atu bahkan berlawanan dengan nilai-nilai dasar multikulturalisme. aliran. Orientasi kesejahteraan. hegemoni dan dominasi hegemoni adalah dua istilah yang sangat populer bagi kaum tertindas. Kesejahteraan selama ini hanya dijadikan sebagai slogan kosong. melainkan juga dibidang pelayanan terhadap masyarakat. lingkungan. golongan dan agama. akan tetapi tidak pernah dijadikan orientasi oleh siapapun. Kebersamaan yang hakiki juga akan membawa kepada kedamaian yang tidak ada batasannya. tetapi memerlukan suatu konsep pemikiran serta pengembangan yang meminta partisipasi antardisiplin. tepat proses.18 Dengan demikian multikulturalisme dan pendidikan bukanlah masalah teknis pendidikan belaka. pluralitas dan heterogenitas merupakan sebuah kenyataan yang tidak mungkin ditindas secara fasis dengan memunculkan sikap fanatisme terhadap sebuah kebenaran yang diyakini oleh orang banyak. dan neoliberalis.19 beberapa pemikiran “ besar” dalam sejarah pemikiran kita lahir dari pergaulan para pemikir pada situasi politik dan kebudayaan. 2. Orientasi propesional. filsafat. tepat waktu. Orientasi mengakui pluralitas dan heterogenitas.Peran pendidikan didalam multikuklturalisme hanya dapat dimengerti didalam kaitannya dengan falsafah hidup. 5. Kebersamaan yang dibangun adalah kebersamaan yang masing-maising pihak tidak merasa dirugikan dirinya sendiri. dan sosiologi. Kebersamaan atau kooperativisme merupakan sebuah nilai yang sangat mulia dalam masyarakat yang plural dan heterogen. tepat anggaran. dan tepat tujuan. orang lain. Tentunya kebersamaan yang dibangun disini adalah kebersamaan yang sama sekali terlepas dari unsur kolutif maupun koruptif. Orientasi kemanusiaan. 3. ras. antropologi. 6. diatas semua suku. Kemanusian besifat universal. kenyataan sosial. Orientasi anti hegemoni dan anti dominasi. Kemanusian atau humanisme merupakan sebuah nilai kodrati yang menjadi landasan sekaligus tujuan pendidikan. Konsistensi terhadap sebuah orientasi harus dibuktikan dengan prilaku menuju pada terciptanya kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan sering diucapkan. serta negara. Pendidikan yang berpijak pada budaya “ pribumi” bersemi ditengah dominanya model pendidikan belanda yang . Hanya saja kedua istilah tersebut tidak pernah digunakan atau bahkan dihindari jauh-jauh oleh para pengikut paham liberalis. 4. kapitalis. Karena hegemoni bukan hanya dibidang politik. Propesional merupakan sebuah nilai yang dipandang dari aspek apapun adalah sangat tepat. tepat pelaku. Orientasi kebersamaan. tepat kualitatif.

sebagai usaha “politik” kearah cita-cita bersama yang mulia. Indonesia adalah salah satu negara bangsa di dunia yang meniscayakan multietnik dan agama tumbuh dalam masyarakat yang pluralis. Maka munculah berbagai teori. Dalam alam reformasi hegemoni negara relatif cair dan kebebasan berpendapat praktis lebih dijamin. Didalam polarisasi kekuatan inilah muncul berbagai bentuk pemerintahan yang mengatur kehidupan bersama manusia untuk mencapai kesejahteraan. tetapi yang lebih penting darlam masyarakat yang demokratis adalah memiliki kebesaran hati.fakta itu menegaskan hegemoni negara dalam kebijakan dan praktik pendidikan menjadi konteks jitu yang mengasah counter dis course bagi visi pendidikan penguasa. Padahal demokrasi yang sejati memerlukan warga negara yang baik. Demokrasi tidak hanya memerlukan hukum. ruang kontemplasi untuk memikirkan berbagai persoalan itu terlibas dalam kebisingan “ pembaruan”. mau bekerja sama dengan kelompok lain untuk mencapai tujuan demi kesejahteraan bersama. lembaga. pemikiran mengenai demokrasi telah seumur dengan kehidupan manusia diatas muka bumi ini. atau peraturan yang mantap.22 Tapi akhir-akhir ini demokrasi sering dipahami dalam konteks yang salah. Politik Dan Multikulturalisme Sejarah kehidupan bersama manusia ditandai oleh adanya kekuatan-kekuatan yang mengatur polarisasi antara hak dan kewajiban individu serta hak dan kewajiban kolektif atau masyarakat. Didalam upanya untuk mengatur kehidupan bersama munculah teori-teori kehidupan bersama manusia dan cara mengatur serta memimpin kehidupan bersama tersebut. mungkin lebih kompleks karena prinsip kesetaraan kepentingan. Fakta. Salah satu konsep hidup bersama manusia.manusia adalah makhluk yang mempunyai harga diri (dignity) yang meminta pengakuan dari sesamanya.beriorentasi barat dan diskriminatif. pendidikan yang mengacu kepada trans etnik dan agama harus diusung sedemikian rupa agar tercipta relasi yang dinamis dan harmonis. pemetaan persoalan-persoalan pendidikan melulu bertolak dari hal-hal kasatmata. ternyata menuai kontropersi dan kritik. Berbagai masalah pendidikan kita pada alam reformasi tidak berkurang. konsep.20 Multikulturalisme adalah keniscayaan yang tak bisa ditolak di indonesia. atau mampu mengkombinasikan semangat untuk menegakan pendiriannya dengan suatu kesadaran bahea seseorang tidak dapat mewujudkan semua . Gelombang reaksi pro dan kontra begitu memanas dari masyarakat khususnya bagi para pelaku pendidikan dan pemuka agama yang masing-masing berseteru ingin menyampaikan dan sekaligus mempertahankan aspirasinya. Namun. Manusia bukanlah makhluk tak bernyawa atupun yang hidup bersama hanya berdasarkan insting belaka. Karena itu.21 A. dan pelaksanaan bagaimana mencapai kebahagian tersebut. Akibatnya. sehingga yang terjadi adalah pemaksaan kehendak dengan tekanan kekerasan dengan kelmpok tertentu terhadap seseorang atau kelompok lain. Ketetapan UU Sisdiknas 2003. sehingga kebebasan berdemokrasi sering diartikan dengan kebebasan berdemontrasi.

Upaya untuk membangun suatu masyarakat madani indonesisa yang berdasarkan kebudayaan indonesia. pendidikan telah digunakan atau salah digunakan di dalam pembentukan bangsa tersebut. pendidikan multikultural atau demokratis mutlak dibutuhkan. Bagi negar-negara baru yang terlepas dari kolonialisme seperti Indonesia. dan politik ditanah air. Bahkan pendidikan nasional telah dijadikan salah satu sarana untuk melawan kolonialisme. Kebudayaan indonesia yang menjadi adalah suatu pegangan dari setiap insan dan setiap identitas budaya mikro indonesia. “Right to Culture” dan identitas budaya lokal. pendidikan telah berperan penting didalam membangun masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dimengerti oleh karena apa yang disebut budaya indonesia sebagai budaya mainstream belum jelas bagi kita semua. Multikulturalisme meskipun didorong oleh pengakuan tergadap hak asasi manusia. Untuk mendidik warga negara yang baik. yang pendidikannya jauh lebih baik dari pendidikan pada zaman kolonial dalam arti kuantitatif. yaitu budaya indonesia yang sedang menjadi memang harus terus menerus kita bangun atau merupakan suatu proses yang tanpa ujung. sekaligus ditekankan sistem nilai baru yang . 2. Lahirnya identitas kesukuan sebagai perkembangan budaya mikro di indonesia. lahir dan berkembangnya multikulturalisme serta praktik pendidikan multikultural dibeberapa negara yang telah melaksanakan pendidikan multikultural. Keadaan bangsa Indonesia pada waktu terakhir ini tidak terlepas dari jasa maupun dosa yang diperbuat oleh pendidikan nasional. Pada masa sejak jaman kemerdekaan. Pendidikan nasional telah berjasa melahirkan manusia-manusia masa kini. kini tibalah saatnya kita untuk mencoba menyusun konsep pendidikan multikultural yang sekiranya dapat dikembangkan ditanah air kita sesuai dengan kondisi sosial.23 Didalam sejarah pembentukan suatu bangsa. namun akibat globalisasi pengakuan tersebut diarahkan juga kepada hak-hak yang lain yaitu hak akan kebudayaan (right to culture). Oleh sebab itu ditengah-tengah maraknya identitas kesukuan.yang diinginkannya. Namun demikian hal tersebut merupakan sesuatu yang harus diwujdkan oleh setiap insan indonesia dari generasi ke generasi. Pendidikan Multikultural Dalam Dimensi Pendidikan Nasional Setelah kita ketahui. Hal tersebut merupakan suatu sistem nilai yang baru yang ini kemudian memerlukan suatu proses yang mana perwujudannya antara lain melalui proses dalam pendidikan nasional.24 B. Pendidikan nasional tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab dalam proses pembusukan rasa nasionalime dewasa ini dan tanggung jawab moral terhadap gejala integrasi bangsa dewasa ini. Kebudayaan indonesia yang menjadi. budaya. Pendidikan multikultural mempunyai dimensi sebagai berikut: 1. Identitas budaya makro. memang semuanya itu memerlukan masa transisi yaitu seakan-akan melorotnya rasa kebangsaan dan persatuan indonesia. pendidikan nasional telah tumbuh bersama-sama dengan kebangkitan nasional.

Sedangkan kehidupan sosial-budaya di indonesia menuntut pendidikan hati (Pedagogy of hert) yaitu diarahkan kepada rasa persatuan dari bangsa Indonesia yang pluralistiks 6. Pendidikan multikultural Merupakan suatu rekontruksi sosial. 4. Ini semua akan menyebabkan pergeseran-pergeseran horizontal yang tidak dikenal sebelumnya. Pedagogik tradisional membatasi proses pendidikan didalam ruangan sekolah yang sarat dengan pendidikan intelektualistik. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan menghidupkan kembali pendidikan budi pekerti terutama ditingkat pendidikan dasar. Disamping pengakuan akan pluralitas budaya kita juga harus mampu mewujudkan kebudayaan indonesia yang dimiliki oleh suatu negara-bangsa.25 C.VI dan VII mengenai visi indonesia masa depan serta etika kehidupan berbangsa perlu dijadikan pedoman yang sangat berharga dalam pengembangan konsep Pendidikan multikultural. Jelas kiranya untuk melaksanakan konsep Pendidikan multikultural didalam masyarakat pluralitas tapi sekaligus diarahkan kepada terwujdnya masyarakat indonesia baru. Salah satu masalah yang timbul akibat berkembangnya rasa kedaerahan. maka pedagogik yang tradisional tidak dapat kita gunakan lagi. Pendidikan Nasional . melengkapi pendidikan agama yang sudah ditangani dengan UU No. TAP/MPR RI Tahun 2001 No. Hal tersebut bukannya suatu yang mudah karena memerlukan paradigm shift didalam proses pendidikan bangsa indonesia. 3.akan kita wujdkan. dari perorangan maupun suatu suku bangsa indonesia. Pendidikan multikultural di indonesia memerlukan pedagogik baru. telah menimbulkan rasa kelompok yang berlebihan. 5. 20 Tahun 2003. identitas kesukuan. Pendidikan multikultural bertujuan untuk mewujdkan visi indonesia masa depan serta etika berbangsa. kita tidak bisa menerima konsep pendidikan multikultural yang deskriftif yaitu hanya sekedar mengakakui pluralitas budaya dari suku-suku bangsa di indonesia. Konsep pendidikan multikultural yang normatif. yaitu sistem nilai ke indonesiaan. upaya untuk melihat kembalai kehidupan sosial yang ada dewasa ini. Sebagai suatu paradigma baru didalam sistem pendidikan nasional. Untuk mewujdkan semuanya jangan sampai konsep pendidikan multikultural normatif sebagai suatu paksaan yang menghilangkan keanekaragaman budaya-budaya lokal. maka perlu dirumuskan bagaimana sistem pendidikan nasional diarahkan kepada pemeliharaan dan pengembangan konsep negara-bangsa yaitu negara kesatuan republik indonesia yang didasarkan kepada kekayaan kebudayaan dari berbagai suku bangsa di indonesia. Adapun konsep pendidikan multikultural normatif adalah konsep yang dapat kita gunakan untuk mewujdkan cita-cita tersebut. suatu rekontruksi sosial artinya. Akan tetapi konsep pendidikan multikultural normatif harus mampu memperkuat identiatas suatu suku yang kemudian dapat menyumbangkan bagi terwujudnya suatu kebudayaan indonesia yang dimiliki oleh seluruh bangsa indonesia.

dan kualitas pendidikan. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) merumuskan filsafat pendidikan nasional.Pendidikan merupakan institusi yang sangat penting bagi proses penyiapan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia indonesia yang benar-benar berkualitas. pada hakekatnya merupakan konsepsi tentang tujuan NKRI bidang pendidikan. mustahil sistem pendidikan nasional akan berhasil menyentuh dan memecahkan persoalan esensial yang berkaitan dengan aspek relevansi. dan selanjutnya dijabarkan lebih lanjut oleh para penyelenggara negara dalam bidang pendidikan dalam rumusan kebijakan. Dari program itu memang bisa diyakinkan bahwa pendidikan nasional kita secara makro cukup menjanjikan penyediaan sumber daya manusia yang benar-benar memiliki kompetitif. Tanpa mempersiapkan masa depan mereka untuk hidup dimasa depan mereka untuk hidup diabad-21 dengan berbagai unggulan kompetitif yang harus dimiliki. sedangkan tujuan pendidikan nasional yang lebih operasional disusun oleh pihak pelaksana (eksekutif). Jika “mencerdaskan kehidupan bangsa” disepakati sebagai konsensus nasional sebagai tujuan pendidikan nasinal jangka panjang. yakni presiden dan jajaranya bersama-sama dengan Dewan Perwakian Rakyat (DPR). yang dituangkan dalam ketentuan hukum yang disebut Undang-Undang tentang sistem pendidikan nasional. Jika mekanisme ini dapat diterima. Tanpa inovasi yang sistematis. Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR). . program. dan kualitas pendidikan. telah mengesahkanya menjadi satu dari empat tujuan negara yang harus diusahakan atau diimplementasikan secara operasional dalam kegiatan pembangunan bidang pendidikan. Agar dapat melakukan inovasi. yaitu peningkatan relevansi. sesbagai penjelmaan dari amanat rakyat. dan kegiatan. kesimpang siuran tentang siapa yang berhak merumuskan tujuan pendidikan menjadi agak jelas. dan kualitas pendidikan. Untuk dapat meningkatan relevansi. kita harus melakukan inovasi dunia pendidikan dalam arti yang luas secara terus menerus. sebagaimana disebutkan dalam pembukaan UUD 1945. Tujuan negara dalam pendidikan ini rumusannya telah benar-benar selaras dengan konsepsi kecerdasan ganda (multiple intelligence) yang dewasa ini sedang laris manis dibahas oleh para pakar psikologi dan pendidikan sebasgai wacana hangat dalam dun ia ilmu pengetahuan.26 Dengan demikian kita perlu merenungkan kembali untuk menetapkan agenda esensial pendidikan nasional agar dapat mengisi dan merespon abad-21 yang dimana kita kenal dengan arus globalisasi dengan tanpa keraguan dengan masa depan anak muda penerus anak bangsa ini. kita juga memerlukan penelitian diberbagai bidang dan jenjang pendidikan. efisiensi. bangsa kita akan tenggelam dalam setiap percaturan dunia yang semakin global. Mencerdaskan kehdupan bangsa. Mengingat rumusan tujuan negara itu amat singkat dan filosofis akademis. yang sejak tanggal 18 Agustus 1945 telah menjadi kesepakatan nasional. maka rumusan tujuan negara dalam bidang pendidikan itu barangkali dapat dikategorikan sebagai filsafat pendidikan nasional. secara operasional tujuan itu harus dijabarkan dalam rumusan tujuan pendidikan yang lebih operasional yang akan disusun oleh pihak eksekutif. efisiensi. Saat ini pemerintah telah memiliki program pendidikan nasional yang amat strategis. efisiensi.

meningkatkan martabat dalam rangka mencapai tujuan nasional. Hal ini berarti bahwa sistem pendidikan nasional merupakan subsistem dari pembangunan nasional. mewujudkan tujuan nasional melalui manusia-manusia Indonesia oleh karena itu pendidikan di selenggarakan untuk setiap manusia Indonesia sehingga manusia Indonesia tersebut memiliki kemampuan mengembangkan diri. Sisdiknas merupakan suatu sistem dari sistem kehidupan nasional. berdisiplin. Maka menurut fungsi tersebut jelas sekali bahwa pendidikan diselenggarakan adalah untuk: 1.27 .28. administrasi sebagai faktor karsa dari SISMENNAS yang meliputi dua hal: 1. Dalam pengaturan partisipasi perseorangan dan kelompok masyarakat. meningkatkan mutu kehidupan. mnenguasai sumber informsi dalam bidang iptek dan seni. sehingga dalam penyelenggaraanya sisitem tersebut menjadi acuan secara nasional yang dapat menghadapi tantangan global yang menuntut pendidikan dapat berperan menyejahterakan umat manusia. Pengaturan kekuasaan dan kewenangan. 27.29 dan 30 Tahun 1990) telah mengatur hak dan kewajiban perseorangan maupun kelompok masyarakat dalam pengembangan pendidikan misalnya mengenai pendidikan swasta atau pendidikan yang berdasarkan keyakinan tertentu serta fungsi pemerintah dalam mengatur berbagai jenis pendidikan. Pengaturan partisipasi perorangan dan kelompok 2. 2 Tahun 1989 beserta PP pelaksanaannya yang sudah ada (No. meningkatkan mutu kehidupan manusia Indonesia 3. Berbagai pertimbangan menjadi perhatian untuk mengembangkan sistem tersebut. meningkatkan martabat manusia Indonesia Dan 4. mengembangkan kemampuan manusia Indonesia 2. bertanggung jawab. 2 / 1989 pasal 3 adalah “untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional”. UU No.Penyelenggara pendidikan negara yang memiliki tanggung jawab yang besar dalam menata pendidikan sebagai bagian dari perencanaan sistem nasional. yang sadar akan hak dan kewajibannya. yaitu suatu masyarakat yang berperadaban yang menjunjung tingggi nilai-nilai kemanusiaan. Sistem pendidikan nasional UUSPN No. demokratis.35 Upaya pencapaian tujuan nasional tersebut adalah untuk menciptakan masyarakat madan. Sebagai suatu subsistem pembangunan. budaya dan agama.

bahkan merupakan kesepakatan hukum yang ditetapkan berdasarkan undang-undang yang resmi yang termuat dalam lembaran Negara Republik Indonesia No. maka pelaksanaan pendidikan nasioanl harus memiliki visi dan misi yang jelas dan tegas. Pencapaian kemajuan-kemajuan daya kemempuan dan kecerdasan sumberdaya manusia (SDM) yang diusahakan melalui pembangunan seakan terbenam dalam kerendahan budi. Dengan kedudukan seperti itu. Dengan mempertimbangkan kondisi seperti ini. pejalanan kehidupan berbangsa dinegara Indonesia telah dirundung konflikkonflik yang cukup tajam. pada segenap lapisan masyarakatnya. Visi dan misi itu bertumpu pada kenyataan. peradaban dan kebudayaan diseluruh penjuru bumi mengalami perkembangan secara berklanjutan yang salah satu dampaknya adalah munculnya persoalaln-persoalan kehidupan yang semakin meningkat.1. Visi dan Misi Pendidikan Nasional Secara nasional pendidikan harus mempunyai arti positif bagi bangsa. yakni integrasi nasional diseluruh tanah air Indonesia. Yang dimaksud arti positif pendidikan disini adalah harapan bersama bangsa indonesia. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. pendidikan nasional harus menjadi wahana dan sarana menikatkan kecerdasan bangsa secara berkelanjutan dalam rangka pendidikan sepanjang hayat (life long education). aneka ragam persoalan kehiduan yang semakin menigkat kualitas dan kompleksitasnya sebagai dampak dari perkembangan peradaban dan kebudayaan secara . Ketiga. Maka sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang dasar 1945. Kedua. maka visi dan misi integrasi nasioanal menjadi prioritas pendidikan nasional. yakni Undang-Undang Republik Indonesia No. Dalam arti bahwa pendidikan nasional harus sanggup menjadi wahana dan sarana untuk merekatkan kembali hubungan individu. Kelima. Kelangsungan hidup manusia sebagian besar amat bergangtung kepada kualitas kecerdasan sebagai modal dasar untuk memecahkan aneka ragam persoalan dimaksud. 78 Tahun 2003. dalam suasana yang diliputi konflik dan perpecahan. dan kesejahteraan segenap lapisan bangsa. Sehingga tergambar martabat kemanusiaan bangsa ini demikian merosot. demi tewujudnya cita-cita kemerdekaan. kedaimaian. maka tindak kekerasan pada berbagai lapangan kehidupan bisa mencapai besaran dan kedalaman yang membahayakan ketentraman. krisis bangsa indonesia yang merambah hampir keseluruh sektor kehidupan pada akhirnya dan pada dasarnya menggambarkan kemerosotan spiritualitas dan moralitas luhur bangsa. Pendidikan nasional dalam konteks demikian mengemban visi dan misi memulihkan dan meningkatkan martabat bangsa diseluruh wilayah Tanah Air. dan bangsa. baik kualitas maupun kompleksitasnya. bahkan bisa mencapai eskalasi demikian tinggi sehingga menimbulkan perpecahan dan sekaligus mengancam persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. bahwa: Pertama. masyarakat. Untuk mengatasi persoalan ini maka keunggulan akhlak keagamaan dan budi pekerti merupakan visi dan misi pendidikan nasional Keempat.

29 Selain amandemen IV Undang-Undang Dasar 1945 maka pada Tahun 2003 kita mempunyai Undang-Undang sistem pendidikan yang baru. Mulai dari pemerintah. dan beragam. BAB IV . Selain itu.berkelanjutan. Sarana pendidikan disediakan cukup. pendidikan nasional mengemban visi dan misi integrasi nasional. disertai dengan pengembangan sumberdaya manusia untuk melaksanakan program-program sistem nasional tersebut dengan penyediaan tenaga (guru) yang mendapat penghargaan yang setimpal. spiritual dan moralitas bangsa. UndangUndang tersbut dapat merumuskan tujuan pendidikan yang sangat ideal dan yang sangat bagus namun menimbulkan kesulitan didalam pelaksanaanya karena terlalu abstrak dan sangat sulit diwujudkan. tidak ada sesuatu yang mengikat dan menunjang sistem pendidikan nasional dalam mencapai tujuan nasional. Salah satu yang mengganjal didalam proses pengesahan Undang-Undang tersebut adalah apa sebenarnya yang dimaksud dengan”pendidikan yang berkualitas” akhirnya. martabat kemanusiaan. kecerdasan. Kita masih ingat hiruk-pikuk dinamika masyarakat pada waktu persiapan dan pengesahan Undang-Undang tersebut. Amandemen IV Undang-Undang dasar 1945 dengan baik merumuskan pentingnya pendidikan didalam pembangunan bangsa. Sebaliknya sektor-sektor yang berjenis-berjenis itu membantu perkembangan suatu sistem pendidikan yang mantap dan berkelanjutan. Sistem pendidikan nasional menunjang berbagai program dengan menyiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan. masyarakat. segenap manusia yang terlibat dalam proyek perndidikan harus mengacu kearah visi dan misi diatas. dan kecakapan hidup. tapi harus juga disertai dengan kecakapan-kecakapan hidup spesifik yang tepat. dan bangsa ini secara keseluruhan dan bersamabersama. Setiap ganti pemerintahan. sesuai. Masing-masing sektor dikenal mempunyai egoisme sektoral yang sangat kuat sehingga berjalan sesuai keinginannya masing-masing. Singkatnya. Bahkan ada beberapa daerah atau Kabupaten yang sangat minim memberikan perhatian terhadap pendidikan.28 Pameo umum mengatakan bahwa Indonesia tidak mempunyai tujuan pendidikan yang jelas. akan mudah diatasi dan dipecahkan tidak saja dengan kualitas kecerdasan yang memadai. Artinya. ganti menteri ganti kebijakan. Untuk mencapai tujuan yang mulia tersebut ditentukan anggaran belanja pendidikan didalam APBN / APBD sekurang-kurangnya 20 %. Pada tahun 2004 angka 20 % APBN / APBD merupakan angin surga yang tidak terwujud. Kelima visi dan misi ini harus mengejewantah kedalam seluruh satuan sistem pendidikan nasional sebagai sebuah usaha proyeksi masadepan bangsa yang lebih baik. Karenanya pendidikan nasional harus sanggup menjadi wahana dan sarana untuk menawarkan berbagai kecakapan hidup (life skills) spesifik yang benarbear diperlukan.

demikian pula membangun masyarakat Indonesia yang multikultural. Multikulturalisme merupakan suatu resiko yang perlu diambil didalam membina masyarakat bangsa Indonesia. Materi pendidikan agama. misalnya. upaya-upaya memperlunak kebekuan dan mencairkan kekakuan pemikiran keagamaan dan kemanusiaan dari masing. Multikulturalisme merupakan pilihan atau resiko yang perlu diambil oleh keputusan masyarakat bangsa indonesia agar dapat survive dimasa depan. lebih terfokus pada upaya mengurusi masalah keyakinan seorang hamba dengan tuhannya.IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM SISDIKNAS DI INDONESIA Dalam bab ini penulis akan menganalisa tentang konsep pendidikan Multikultural dalam Sistem pendidikan nasional di Indonesia. tapi sayangnya tidak diikuti dengan sejumlah upaya secara sungguh-sungguh dan kontinue untuk mempormulasikannya kedalam gagasan yang lebih aflikatif. Bahkan dapat dikatakan. memiliki kencenderungan untuk mengajarkan pendidikan agama secara parsial (kulitnya saja).masing agama dan budaya belum dianggap terlalu penting untuk digiring kearah pendidikan. serta menjaga persatuan dan kesatuan serta tekad untuk membangun suatu dunia yang lain. Seakan-akan masalah surga atau kebahagian hanya dapat diperoleh dengan cara ibadah atau aqidah saja. Amat sedikit yang mau mengakui kalau persoalan kpnplik dan kekerasan itu berkait erat dengan praktik pengajaran (pendidikan) agama dan moral yang belum memupuk kerukunan bersama. yaitu dunia yang bebas dari kemiskinan serta pengakuan terhadap hak asasi semua manusia Indonesia. atau pakar ilmu sosial dalam menganalisis akar persoalan konplik cenderung menjadikan kesenjangan ekonomi dan sosial sebagai kambing hitam. . pesantren. pengakuan terhadap kebhinekaan budaya masyarakat dan bangsa Indonesia. Sebaliknya para elit politik dan elit agama. paham pengembangan liberalisme yang tepat. Sebaliknya pendidikan agama kurang peduli dengan isu-isu umum semacam sikap antikorupsi. Apalagi semenjak ada himbauan presiden megawati sukarno putri kepada departemen agama untuk mengembangkan pola pendidikan agama yang berwawasan multikultural. Sebagai implikasinya. Diatas konsep multikulturalisme inilah diambil keputusan-keputusan yang rasional. dan masyarakat umumnya. Mulai dari segi materi dan metodelogi yang diajarkan disekolah. upaya mempromosikan konsep pendidikan multikultural sebagai bagian dari upaya meredam potensi konflik horisontal maupun vertikal bangsa akibat salah paham soal SARA belum berjalan secara signifikan. dan kepadulian terhadap sesama. Wacana pendidikan multikulturalisme memang sempat menghangat di mass media dan banyak menjadi bahan diskusi di sejumlah forum. Hingga kini belum muncul respon sungguh-sungguh untuk menindaklanjutinya. wajibnya transformasi sosial. adanya kebebasan beragama dan beribadah sesuai dengan keyakinannya. seminar. Mungkin dengan pendidikan multikultural dapt menjadi salah satu solusi bagi pendidikan di Indonesia. demokratis. Memperbincangkan konsep pendidikan multikultural ditengah kehidupan masyarakat yang masih rawan konplik bernuansa SARA seperti sekarang tentunya sangat signifikan.

kondisi situasi bangsa saat ini belum benar-benar steril dari ancaman konplik etnis dan agama. dan lain-lain. Oleh sebab itu Bhineka Tunggal Ika merupakan pengertian kesejarahan masyarakat dan bangsa Indonesia karena menunjukan keadaan masa lalu. separatisme.Fenomena diatas tentu saja patut disesalkan. priyayi. Proses ini merupakan suatu proses yang berkisanambungan tanpa akhir. dan tugas untuk mewujudkannya dimasa yang akan datang. dan seterusnya. Sanggauledo.untuk itu. radikalisme agama. karena merupakan suatu tugas dari setiap anggota masyarakat Indonesia yang terdiri dari berjenisjenis etnis untuk bertekad membangun suatu masyarakat yang bersatu. Bahkan dapat dikatakan serangkaian kerusuhan yang memakan ribuan korban tewas seperti kasus pekalongan (1995). Kalimantan Barat (1996 dan1997). sampai Sampit. kita juga telah berkomitmen untuk mewujudkan tatanan masyarakat indonesia baru yang lebih toleran dan dapat menerima dan memberi didalam perbedaan budaya (multikultural). demokratis dalam perikehidupannya (democratizatioan). di bangun berbagai program pendokumentasian. Kalimantan Timur (2000) sewaktu-waktu bisa dapat terjadi jika tanpa antisipatif secara dini. Tasikmalaya (1996). kemiskinan. memiliki kebangsaan diri baik secara individual maupun kolektif (human dignity) serta mendasarkan diri pada kehidupan beragama dalam pergaulannya (religionism). Disamping itu. Keanekaan Indonesia kemudian dikenali. santri. tanpa memandang miskin. pemahaman dan pelestaraian aneka budaya bangsa Indonesia sebagaimana yang tampak dalam berbagai program pembangunan dimasa Orde Baru. Mengajarkan multikulturalisme lebih dari memastikan bahwa peserta didik dalam suatu kelas atau sekolah belajar dar berbagai latar belakang. budaya ekonomi. persoalan masa kini. suku. Pasalnya.2 Kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia diberkahi dengan kenyataan adanya berbagai budaya etnis sebagaimana yang diakuai didalam lambang negara “Bhineka Tunggal Ika. dan disintegrasi bangsa. penindasan dan keterbelakangan kelompok-kelompok minoritas dalam berbagai bidang sosial. dan dikukuhkan di dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang menjadi pedoman kehidupan bangsa Indonesia secara menyeluruh dan yang berlaku hingga saat ini. saat ini konsep pendidikan multikulturalisme yang berintikan penekanan upaya internalisasi dan karakterisasi sikap toleransi terhadap perbedaan agama. kaya. Ambon dan Maluku sejak 1999. Multikulturalisme . ras. Pendidikan multikultural yang mulai berkembang di Indonesia lebih diarahkan agar semua entitas bangsa dapat masuk kedalam lembaga yang disebut pendidikan. Alasannya. sebagai realisasi dari rumusan abstrak pengenalan. adat dan lain-lain dikalangan peserta didik sangat kita butuhkan. mampu menegakkan keadilan dan hukum (law enforcement). menghadirkan konsep pendidikan multikultural merupakan bagian dari usaha komprensif dalam mencegah dan menanggulangi konflik bernuansa SARA.1 Menurut Zakiyuddin Baidhawy Menyatakan:s Bahwa paradigma pendidikan multikultural mencakup subjek-subjek tentang ketidakadilan. Rengasdengklok (1997). dan pengukuhan keanekaan itu. diakui. pengakuan.” Lambang negara tersebut bukan sesuatu yang telah jadi tapi yang menjadi.

3 . yang mengandung implikasi negatif pada rekonstruksi kebudayaan Indonesia yang multikultural. pengkhianatan terhadap kesepakatan untuk hidup bersama dibawah payung Negara Kesatuan Republik Indonesia. yakni pendidikan multikultural. karena diikat oleh satu tujuan yaitu ingin membangun satu masyarakat ynag adil dan makmur untuk seluruh masyarakat. yang berkesinambungan. dengan terjadinya berbagai gesekekan horizontal. Ketiga. juga terjadi peningkatan fenomena atau gejala “ provinsialisme” yang hampir tumpang tindih dengan “etnisitas. penghianatan terhadap ikrar bersama untuk hidup rukun. Menurut Franz Magnis Suseno: Didalam masa kritis yang dilewati oleh bngsa Indonesia pada akhir-akhir ini. berakhirnya sentralisme kekuasaan yang pada masa orde baru memaksakan monokulturalisme yang nyaris seragam. Terlebih pada masa otonomi dan desentralisasi yang baru diberlakukan sejak Tahun 1999 hingga saat ini. bahwa di Indonesia pendidikan multikultural relatif baru dikenal sebagai suatu pendekatan yang dianggap lebih sesuai bagai masyarakat Indonesia yang heterogen. plural. Penelitian ini dimaksudkan sebagai sumbangsih pemikiran terhadap fenomena aktual tentang wacana baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. akan dapat menimbulkan tidak hanya disintegrasi sosio-kultural yang amat parah.” Berbarengan dengan otonomisasi dan desentralisasi kekuasaan pemerintah.” Kecenderungan ini jika tidak terkendali. antara lain dengan meremehkan eksistensi kebhinekaan budaya bangsa Indonesia dan terlalu mementingkan budaya dari satu-dua kelompok entis saja. Gerakan ini tentunya lahir karena kekhilafan-kekhilafan yang kita buat. wacan pendidikan multikultural di Indonesia belum tuntas dikaji oleh berbagai kalangan. menunjukan gejala-gejala pengkhianatan terhadap tiga asas kehidupan masyarakat bangsa Indonesia yaitu: Pertama. bahkan juga disintegrasi politik. Menurut Azumardi azra: pada level nasional. dan yang menentukan mati hidupnya negara-bngsa Indonesia. termasuk para pakar dan pemerhati pendidikan sekalipun. yaitu bangsa Indonesia. pengkhianatan terhadap sumpah pemuda tahun 1928.2 Hingga saat ini. Pendidikan multikultural yang dikembngkan di Indonesia sejalan dengan pengembangan demokrasi yang dijalankan sebagai counter terhadap kebijakan desenttralisasi dan otonomi daerah (otoda). Perlu diketahui. memunculkan reaksi balik.merupakan suatu masalah yang mendasar. penuh toleransi. Terlihat gejala-gejala separatisme untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. yaitu keinginan untuk membangun satu bangsa. Kedua.

Pendidikan jarak jauh tersebut dapat diselenggarakan pada semua jalur. Kemajuan komunikasi yang global seperti internet. sehingga semua penyelenggara pendidikan dan satuan pendidikan formal. maka penyerapan tenaga kerja akan ditentukan oleh kompetensi. Adapun Dalam mengantisifasi perkembngan global dan kemajuan teknologi komunikasi. yang diberikan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi kepada peserta didik dan masyarakat yang dinyatakan lulus setelah mengikuti uji kompetensi tertentu (pasal 61 ayat 3). harus berbentuk badan hukum pendidikan (pasal 53 ayat1). dan jenis pendidikan. menghadapkan dunia pendidikan pada tantangantantangan baru yang tidak sederhana. Dalam menghadapi tantangan globalisasi yang sedang melanda dunia. Dengan demikian.4 Menurut Chirzin: Proses globalisasi dengan percepatan mengglindingnya liberalisasi ekonomi dan sistem perdagangan bebas secara global. Dalam menghadapi globalisasi. maka pendidikan jarak jauh diakomodasikan dalam Sisdiknas. yaitu Amerika. baik yang didirikan oleh pemerintah maupun masyarakat. Globalisasi membuat dunia menjadi sebuah kampung . baik oleh pemerintah pusat maupun oleh pemerintah daerah (pasal 50 ayat 3) untuk itu perlu dibentuk suatu badan hukum pendidikan. juga telah membawa dampak terhadap pendidikan moral kita. Hal ini merupakan tantangan bagi dunia pendidikan kita. lihat saja dengan adanya internet dengan mudahnya gambar-gambarfornografi diakses oleh anakanak usia sekolah melalui teknologi informasi itu. sebagai paradigma baru pendidikan. Kemudian berusaha mendominir dunia dengan kekuatan. Badan hukum pendidikan yang dimaksud akan berfungsi memberikan pelayanan kepada peserta didik (pasal 53 ayat 2). Maka dunia pendidikan harus mempersiapkan untuk menghadapi tantangan globalisasi pada semua jenjang pendidikan yang dapat dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertarap internasional. Eropa dan jepang yang melakukan ekspansi besar-besaran. jenjang.A. dikendalikan oleh banyak kekuatan termasuk teknolgi baru dan bertambahnya arus modal secara bebas. badan hukum pendidikan akan memberikan landasan hukum yang kuat kepada penyelenggara pendidikan dan satuan pendidikan nasional yang bertaraf internasional dalam menghadapi persaingan global. globalisa juga merupakan proses yang berlangsung panjang dan bergerak maju secara dramastis dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini. Pendidikan Multikultural dan Tantangan Globalisasi Globalisai adalah proses pertumbuhan negara-negara maju. yang berfungsi untuk memberi pelayanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler (pasal 31 ayat 1dan 2). yang diamana di satu sisi harus mengikuti kemajuan ilmu dan teknologi disisi lain berimplikasi kepada rusaknya nilai-nilai moral akibat berbenturan dengan nilai budaya luar seiring dengan kemajuan informasi yang mengglobal.

pendidikan berfungsi untuk membantu secara sadar perkembangan jasmani dan rohani para peserta didik. Setidaknya hal itu bisa dilihat dalam dua presfektif. Dalam pemaparan diatas maka jelas pendidikan sangat penting sekali untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makamur dan yang inklusif bagi semua lapisan masyarakat Indonesia. Fungsi pendidikan sedikit disinggung pada babII pasal 3 dalam UU Sisdiknas 2003. mulai dari yanga awam hingga politisi hingga pejabat pemerintah. status sosial. etnis. UU Sisdiknas Kearah Pendidikan Multikultural . Pendidikan hadir di tengah-tengah masyarakat memiliki banyak fungsi yang tidak hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut Nurkolis: Pendidikan sebagai investasi jangka panjang sumber daya manusia (SDM) Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi. bahkan dunia. dan lain sebagainya. bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. budaya. sosial.kecil yang memudahkan setiap warga dunia untuk berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. secara luas. negara bangsa. Pendidikan juga Selain berfungsi sebagaimana yang telah disebutkan diatas. secara sempit. B. pengembangan kebudayaan dan pengembangan bangsa. agama.5 Dalam perkembangannya pendidikan di Indonesia mengalami perubaha-perubahan yang boleh dikatakan agak lumayan maju. pendidikan bisa juga berfungsi sebagai investasi jangka panjang. pendidikan berfungsi sebagai pengembangan pribadi. kultur. pengembangan warga negara. Situasi yang demikian mengakibatkan terbukanya ide atau gagasan dari satu tempat ketempat lain sehingga sulit disensor jika bertentangan dengan nilai-nilai budaya penerima ide atau gagasan. tetapi juga berfungsi sebagai pencerdasan diri. hanya berorientasi mengejar uang untuk memperkaya diri sendiri dan tidak pernah berfikir panjang. Lebih khusus di Indonesia karena. Kedua. Penyebannya pemerintah selama ini tidak pernah menempatkan pendidikan sebagai prioritas terpenting. Pertama.6 Ada beberapa fungsi pendidikan sebagaimana tela dikemukakan diatas.walaupun belum sepenuhnya memenuhi target dari tujuan bangsa Indonesia itu sendiri. ras. Masyarakat Indonesia. Hal ini sangat relefan sekali dengan konsep pendidikan multikultural yang dimana pendidikan ini tidak mempeta-petakan baik itu bahasa.

sebagai usaha”Politik” kearah cita-cita bersama yang mulia. Masyarakat pendidikan terbelah antara yang pro dan yang kontra.Pameo masyarakat mengenai sistem pendidikan nasional kita yang mengatakan. Kebijakan yang dikeluarkan tak pelak mengundang kritik dan sekaligus harapan bagi keberadaan sistem pendidikan yang lebih baik. sarat akan pelbagai kepentingan politik. Bahkan para pemuka agama dan mayarakat khususnya islam dan kristen tampil kepermukaan untuk menuarakan apa yang seharusnya dikukuhkan dalam RUU Sisdiknas. Yogyakarta. RUU Sisdiknas mengemuka pertama kali karena adanya dua versi: Versi DPR (27 Mei 2002) dan Versi pemerintah (20 dan 28 Februari 2003). atau mengenai prosentase jam mata pelajaran. Manado. Manajemen Berbasis Sekolah (Scool Based Management). seperti kepangkatan guru atau dosen. agaknya mengandung kebenaran. Makasar. ganti mentri pendidikan. mayoritas penganut agama Islam cenderung menyetujui dan sedangkan penganut agama Kristen cenderung tidak setuju. dan tradisi yang dianutnya. Dengan adanya dua versi ini kemudian melahirkan polemik yang membawa kontroversi dan kecurigaan dimasyarakat. dan Nusa Tenggara Timur. adalah salah satu Undang-Undang yang sarat kontroversi. baik di DPR maupun di pemerintah. pasti bakal ganti peraturan. dan Sekolah Berbasis Masyarakat (Scool Based Community) dan aturanaturan lain kependidikan lainnya. Palembang. Sekolah Berbasis Kompetensi (School Based Competence). UU Sisdiknas 2003. Kenyataan yang muncul setiap ganti mentri biasanya adalah berubahnya orientasi. Masyarakat menilai bahwa pembahasan RUU itu. Pasal 6. Surabaya. misalnya. dan kelayakan sistem sekolah. UU Pendidikan yang sejatinya perlu membangun sistem pendidikan yang membebaskan (Fredom for) dipandang menjadi kerdil karena terjebak pada sentralisme yang terlalu kuat (Pasal 58 Ayat 2. Khususnya antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Semua sivitas akademika perguruan tinggi dan sekolah-sekolah berdemontrasi berkenaan dengan RUU Sisdiknas itu sebagai usaha memperjuangkan aspirasinya baik yang pro maupun yang kontra yang sesuai dengan visi. Denpasar. Pertama. Ketetapan UU Sisdiknas 2003. akreditasi. kurikulum baik mengenai volume kurikulum muatan nasional (kurnas) dan kurikulum muatan lokal (kurlok). misi. tidak saja dipusat(Jakarta). alokasi anggaran. Hal ini terlihat dari proses pengesahan rancangan Undang-Undang tersebut. Jika dipetakan secara terbuka akan tersibak dua kubu yang kontroversial demikian. Kedua. dan Pasal 63). karakteristik kelulusan. Gelombang reaksi yang pro dan kontra begitu memanas dari masyarakat khususnya begitu juga bagi para pelaku pendidikan dan pemuka agama yang masing-masing berseteru ingin menyampaikan dan sekaligus mempertahankan aspirasinya. Reaksi atas RUU Sisdiknas cukup masif. . tetapi juga di beberapa daerah di Indonesia seperti Medan. ternyata menuai kontraversi dan kritikan. RUU Sisdiknas dinilai oleh mereka yang kontra bahwa negara ingin mengambil alih peran keluarga secara menyeluruh dalam konteks pendidikan agama. dan atau mengenai penekanan-penekanan khusus orientasi kurikulum yang dibangun seperti metode CBSA.

Namun dalam pandangan sebagian orang yang lain. apabila kita tidak dapat melihat sisi positif didalamnya. diakui atau tidak merupakan bagian dari problem kultural yang salah satu penyebabnya adalah keragaman kultur yang ada dalam masyasarakat kita. dan pelanggaran terhadap hak-hak azasi manusia (HAM) yang terus terjadi hiangga hari ini dengan segala bentuknya seperti kriminalitas. kekerasan dalam rumah tangga. dan lebih menerima dan menghargai kawan yang beragama lain. pengesampingan terhadap nilainilai budaya lokal..Ketiga. semua kita dapat saling mengenal dan bahu membahu dalam membangun sebuah negeri.kekerasan antar pemeluk agama dan sebagainya adalah wujud nyata dari problematika kultural yang ada. politik uang. pengesampingan hak-hak minoritas. kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dengan mengerti agama-agama lain maka dimungkinkan para anak didik dapat berkomunikasi dengan lebih berempati. Keakraban yang dinamis dan harmonis dikalangan pelajar yang beragam akan terjalin bilamana masing-masing pelajar secara umum mengenal atau mengetahui ajaran agama lain. demokrasi. ketidak adilan. Namun disisi lain. Dalam pandangan mereka anak didik dinilai hanya diperkenalkan hanya mempelajari dan memahami agamanya sendiri. Kesimpulan Dari pemaparan diatas. korupsi. Keragaman itu sendiri adalah rahamat Tuhan yang dianugerahkan pada bangsa dan negeri ini. kemnusiaan dan pluralisme dalam pergaulan didalam masyarakat yang mempunyai latar belakang kultural yang beragam adalah dengan melalui penerapan pendidikan . maka penulis memperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: Krisis multidimensi yang dialami negeri ini. untuk mewujudkan masyarakat yang menerima atas segala perbedaan yang ada dalam masyarakat dan bangsa Indonesia kita ini.7 BAB V PENUTUP A. Salah satu upaya preventif untuk membangun kesadaran dan pemahaman generasi masa depan akan pentingnya selalu menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. kerja sama lebih erat. saling terbuka. Tentu hal yang demikian akan mengharuskan adanya Guru atau peserta didik yang inklusif agar tercipta suasana keterbukaan yang menghargai antar sesama perbedaan. bahwa didalam lembaga pendidikan terdapat unsur-unsur pembelajaran informal disamping formal. RUU Sisdiknas mengesankan mengebiri dan mengerdilkan anak didik dalam pengetahuan keagamaan. Karena dengan begitu. keragaman itu dapat menjadi salah satu sumber malapetaka yang dapat mengakibatkan adanya kecurigaan dan rasa saling tidak percaya dari satu kelompok terhadap kelompok-kelompok yang lain. Diantaranya adalah diskriminasi.

seorang guru atau dosen tidak hanya bertanggung jawab agar peser ta didik mempunyai pemahaman dan keahlian terhadap mata pelajaran yang diajarkanya. diharapkan penerapan pendidikan multikultural ini dapat di implementasikan secara maksimal dan efektif. seperti kepala sekolah. diharapkan segala bentuk diskriminasi. melainkan juga mempunyai sikap (afektif) yang demokratis. Harapan dari semua ini adalah bahwa institusi pendidikan kita. Dengan diterapkannya konsep dan strategi ini. kemampuan. serta tujuan para pengmbil kebijakan di daerah dan pusat dapat memaksimalkan pengemabngan pendidikan mmultikultural ini. perlu juga dukungan dari sekolah atau kampus sebagai sebuah institusi pendidikan. dengan adanya dukungan dari guru atau dosen institusi pendidikan dan para pengambil kebijakan lain. Dukungan lain yang akan sangat berarti bagi pengembangan pendidikan multikultural adalah dari para pengambil kebijakan baik dari pemerintah tingkat pusat. institusi pendidikan dan para pengambil kebijakan pendidikan lainya. dapat menghasilkan lulusan sekolah atau universitas yang tidak hanya mempunyai kemampuan kognitif (pengetahuan). corak masyarakat Indonesia yang bhineka tunggal ika bukan lagi keanekaragaman suku bangsa tetapi juga keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesi. . humanis. ras. Karena strategi dan konsep pendidikan ini tidak hanya bertujuan agar peserta didik memahami dan ahli dalam disiplin ilmu yang dipelajarinya. dan menejemen pendidikan yang diterapkan sekolah. dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Akan tetapi kerja sama dan kesamaan persepsi. sekaligus dapat mempraktekan nilai-nilai pluralisme.multikultural. Bangunan Indonesia baru atau perombakan tatanan kehidupan orde baru adalah sebuah “masyarakat multikultural Indonesia” yang didirikan diatas puing-puing tatanan kehidupan orde baru yang bercorak “masyarakat majemuk ”(plural society). dan psikomotorik (keterampilan). demokrasi. kurikulum. membuat dan menerapkan kebijakan lokal masing-masing. Agar tujuan pendidikan multikultural ini dapat dicapai. gender. Guru atau dosen perlu memahami konsep dan stategi pendidikan multikultural agar nilai-nilai utama yang terkandung dalam strategi dan konsep pendidikan tersebut seperti pluralisme. umur dan kelas sosisal-ekonomi dapat diminimalkan. demokrasi. Akan tetapi. Disamping itu. Akhirnya. humanisme dan keadilan terkait dengan perbedaan kultural yang ada disekitar kita. Dukungan ini sangat penting meskipun dalam era otonomi daerah sekarang ini para pengambil kebijakan di daerah mempunyai hak berinistiatif. dan keadilan dapat juga diajarkan sekaligus dipraktekkan dihadapan para siswa sedemikian rupa. komite sekolah maupun kepala adminstrasi sekolah. baik dipusat maupun daerah. humanisme. juga bagaiman caranya agar siswa mempunnyai. kekerasan dan ketidak adilan yang sebagian besar dilatar belakangi oleh adanya perbedaan kultural seper ti perbedaan agama. Sehingga. maka diperlukan adanya peran serta dan dukungan dari guru atau dosen. maupun di daerah ditingkatan institusi pendidikan itu sendiri. Dukungan ini dapat diwujudkan dengan menerapkan konsep dan strategi pendidikan multikultural kedalam tujuan pembelajaran. akan tetapi juga bertanggung jawab untu k menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. pluralis dan adil. keadilan dan pluralisme. demokrasi. etnis. bahasa.

Utamanya. praktis. 3. sebuah ideologi yang mengakui dan mengagumkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual dan secara kebudayaan. utamanya para stake holder. Saat ini. Maka. sebagai landasan pengembangan kurukulum penidikan nasional. terwujudnya keteraturan sosial dan rasa aman dalam kehidupan masyarakat yang menjamin kelancaran produktivitas warga madsyarakat. 2. pemerintah bebas KKN. Saran-Saran Dalam penulisan skripsi ini. pendidikan multikultural sebagai pembina agar sisiwa tidak tercerabut dari akar budayanya selain sebagai sarana alternatif perpecahan konflik. Pendidikan multikultural sebagai sarana alternatif pemecahan konflik sosial. penulis dapat menyimpulkan dari hasil pemaparan diatas tentang bagaimana konsep pendidikan multikultural dan signifikansinya di Indonesia yang diantaranya adalah: 1. sebagai berikut: 1. supaya merespon arus globalisasi yang secara langsung maupun tidak berdampak pada sendi-sendi dunia pendidikan nasionl di Indonesia. 4. Maka. Kepada pemerintah khususnya. bukan sumber perpecahan. menyangkut isu global saat ini yaitu pendidikan multikultural. Dari ringakasan diatas. Inti dasri cita-cita tersebut adalah terwujudnya sebuah masyarakat sipil yang demokratis. B. atau guna memberikan sejumlah materi dan isiu pelajaran yang harus dikuasai siswa dengan ukuran atau tinfgakatan tertentu. Daam melakukan pengembangan kurikulum sebagai titik tolak dalam proses belajar mengajar. Menciptakan masyarakat multikultrural. pendidikan multikultural mempunyai dua tanggung jawab besar: menyaiapkan bangsa Indonesia untuk menghadapi arus budaya luar di era globalisasi dan menyatukan bangsa sendiri yang terdiri dari berbagai budaya. ditegakkanya hukum untuk supremasi keadilan. kita bisa mendapatkan gambaran secara umum tentang konsep pendidikan dan konsep multikulturalisme.Acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multikutural yaitu. Cita-cita reformasi untukl membangun Indonesia baru harus dilakukan dengan cara membangun kembali dari hasil perombakan terhadap keseluruhan tatanan kehidupan yang dibangun oleh orde baru. perlu kiranya penulis memberikan saran kepada berbagai pihak. pendidikan multikultural juga signiifikan dalam membina siswa agar mereka tidak tercerabut dari akar budaya yang dimiliki sebelumnya tatkal berhadapan dengan realitas sosial dan budaya di era globalisasi. Spektrum kultur masyarakat Indonesia yang amat beragam menjadi tantangan bagi dunia pendidikan guna mengolah perbedaan tersebut menjadi suatu aset. pemerhati masalah pendidikan dan multikulturalisme di Indonesia. dan kehidupan ekonomi yang menyejahterakan rakyat Indonesia. . maka pendidikan multikultural sebagai landasan pengembangan kurikulum menjadi sangat penting.

4. Thoha. Kamus Ilmiah Populer. Zaenal. Ainurrofiq. M. Sosiologi Pendidikan. Dahlan. 2. staf pengajar. Emoh Sekolah. 3. Kepada pengamat dan pemerhati masalah pendidikan. Imam“Mandeknya Pemikiran Pendidikan”. Yogyakarta: Inspealahimas Karya Press. 2005. sehingga peserta didik memiliki kompetensi nilai-nilai multikulturalisme. hendaknya hendaknya menanamkan nilaui-nilai multikulturalisme dalam proses belajar mengajar (PBM) dengan cara memberikan menyangkut relitas multikultural dan mempraktekkan dalam kehidupan nyata. 2001. Pendidikan Multikultural. Surabaya: Arloka. agar bekerja sama dalam mewujudkan masyarakat multikulturalisme (bhineka tunggal ika) sebagaimana telah diperjuangkan oleh para praktisi pendidikan negeri ini. 2004. DAFTAR PUSTAKA Ainul. Al Barry. Jakarta: Ciputat Press. agar terus berusaha membumikan wacana pendidikan multikultural melalui berbagai media. baik media massa maupun media elektronik. 2003. 18 Januari 2007. dosen. 2005.pemerintah hendaknya mnemikirkan secara srius realitas multikultural di Indonesia dengan memasukkan kurikulum yang berdasar pada semangat multikulturalisme. Dan kepada semua elemen masyarakat dan civil siciety. Kepada praktisi pendidikan (guru. Dawam. Kompas. Kenylenehan Gusdur. dll). Muhyi. Batubara. atau media-mesia lain yang lebih efektif dan efesien. ustadz. Arifin. . Cahyono. Jakarta: Gama Media. Yaqin. Yogyakarta: Pilar Media.

Yogyakarta: Inspeal. Jamaluddin. 2004. Sistem Pendidikan Nasional. Pengantar Pendidikan. 2005. 2006 . Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.2005. Fadjar. 2006. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Bumi Aksara. Kartini.Malik. Kompilasi Pemikiran Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Pendidikan Multikultural. Redja. Ali. 2004. 2005. Yogyakarta: Taufiqiyah Sa’adah. Mudyahardjo. Holistika Pemikiran Pendidikan. Jakarta: Balai Pustaka. . Idris. ……….………. 1999. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta: Pradnya Paramita. Imron. Kartono. 2002. Kediri. Mahfud Choerul. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Platform Reformasi Pendidikan Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. IAIT Press. Pendidikan Multikultural. 1996. Kebijaksanaan Pendidikan Di Indonesia.

H. Suwignyo. Sumartana. Filsafat Pendidikan Islam. Saiful. Yogyakarta: Lkis. Administrasi Pendidikan Kontemporer. 2005.“Menuntut Globalisasi Yang Manusiawi. 2006. Politik Pendidikan penguasa. Benny. 15 Februari 2007. 2006. Toto. 2006. 2000. Surabaya: Media Centre. Suharto. Benni. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. 1997.” Kompas. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. yogyakarta: Ar-Ruzz. Yogyakarta: pustaka Pelajar. 2001. Pluralisme. Suparlan. Jakarta: Rineka Karya. Saala. Konflik dan Pendidikan Agama Di Indonesia. . Suyanto. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem pendidikan asional. Manifesto Pendidikan Di Indonesia. Susetyo. Yogyakarta: Ar-ruz Media. Bandung: Alfa Beta. Yogyakarta: Hikayat. Bandung: Fokus Mrdia. 2004. Pendidikan Di Indonesia Memasuki Milenium III. 2005. Landasan Kependidikan.Pidarta. Setiawan. Made. 2005. Standar nasional Pendidikan. Agus.

Tilaar. Tholkhah. Yunus Firdaus. Multikulturalisme tantangan-tantangan global masa depan dalam transformsi pendidikan nasional. Yogyakarta: Logung Pustaka. Zuhairini. Jakarta: Grasindo. ………. Pendidikan. Imam.A. Zubaedi. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2003. Pendidikan Berbasis Masyarakat. Jakarta: Raja Grafindo Persada. H. 2005. Jakarta: Rineka Cipta. Filsafat pandidikan Islam. ………. Membuka Jendela Pendidikan. 2005. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1995.Kebudayaan. M. dan masyarakat Madani Indonesia. keren banget-banget-banget-banget ga ampe kepikiran Film kartun bisa dibikin animasi kaya gitu bikinnya pake flash apa ya' apa 3Dmax he-he-he. Transformer Ngelihat karya Bang Steven bikin aku tambah ngiler aja nanti filmnya yang lain. 2004. 2004. Manajemen Pendidikan Nasional. Pendidikan Berbasis Realitas Sosial.R. Jakarta: Bumi Aksara. 2004. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful