P. 1
Pemilihan Langsung Dan Pengebangan Demokrasi

Pemilihan Langsung Dan Pengebangan Demokrasi

|Views: 71|Likes:
Published by Arif Gunawan

More info:

Published by: Arif Gunawan on Mar 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/03/2012

pdf

text

original

ANGGOTA KELOMPOK=    BIMA DWI ANANG DWI HERINANINGTYAS ARIF GUNAWAN (11306144016) (11306144028) (11306144034

)

PILKADA LANGSUNG DAN PENGEMBANGAN DEMOKRASI
A. Pendahuluan Pilkada Langsung adalah singkatan dari Pemilihan Kepala Daerah Langsung dan untuk peringkasan penyebutan sering disebut Pilkada saja (YPBHI-NSN dan Friedrich Nauman Stiftung. 2005). Namun, orang sudah faham bahwa yang dimaksud Pilkada adalah Pilkada Langsung. Berdasarkan PP No. 6 tahun 2004 tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, pada pasal 1 ayat (1) dirumuskan bahwa Pilkada adalah “Sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat di wilayah provinsi dan atau kabupaten/kota berdasarkan Pancasila dan Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah”. Lanjutan dari Pasal tersebut, pada ayat (2) disebutkan bahwa “Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah Gubernur dan Wakil Gubernur untuk provinsi, Bupati dan Wakil Bupati untuk kabupaten, dan Walikota dan Wakil Walikota untuk kota”. Berdasarkan dua ayat PP di atas, maka Pilkada yang akan digelar di Kabupaten Sintang pada Mei 2010 nanti adalah untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati periode 2010 s.d 2015 sebagaimana pernah dilakukan pada tahun 2005 yang lalu. Pilkada pertama di seluruh Indonesia dilaksanakan pada tahun 2005 yang meliputi sebanyak 210 wilayah pemilihan, sedangkan pada tahun 2010 akan terdapat sebanyak 246 daerah pemilihan kabupaten kota dan 7 pemilihan Gubernur. Pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Setelah amandemen keempat UUD 1945 pada 2002, pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres), yang semula dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat sehingga pilpres pun dimasukkan ke dalam rezim pemilu. Pilpres sebagai bagian dari pemilu diadakan pertama kali pada Pemilu 2004. Pada 2007, berdasarkan UndangUndang Nomor 22 Tahun 2007, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala

tanpa ada pengistimewaan ataupun diskriminasi terhadap peserta atau pemilih tertentu. B.Sudahkah peran serta masyarakat dalam pengembangan demokrasi 2. Asas adil adalah perlakuan yang sama terhadap peserta pemilu dan pemilih. Rumusan masalah 1. Pilkada sebagai wujud demokrasi di tingkat lokal. 3. Pemilihan umum di Indonesia menganut asas "Luber" yang merupakan singkatan dari "Langsung. Pilkada Meninggalkan Benih Konflik (?) C. kemudian Rahasia berarti suara yang diberikan oleh pemilih bersifat rahasia hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri. Asas jujur mengandung arti bahwa pemilihan umum harus dilaksanakan sesuai dengan aturan untuk memastikan bahwa setiap warga negara yang memiliki hak dapat memilih sesuai dengan kehendaknya dan setiap suara pemilih memiliki nilai yang sama untuk menentukan wakil rakyat yang akan terpilih. Asas jujur dan adil mengikat tidak hanya kepada pemilih ataupun peserta pemilu. Langsung berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya secara langsung dan tidak boleh diwakilkan. Di tengah masyarakat. Umum. Kemudian di era reformasi berkembang pula asas "Jurdil" yang merupakan singkatan dari "Jujur dan Adil". istilah "pemilu" lebih sering merujuk kepada pemilu legislatif dan pemilu presiden dan wakil presiden yang diadakan setiap 5 tahun sekali. tetapi juga penyelenggara pemilu. permasalahan yang dihadapi oleh organisasi masyarakat sipil dalam mengimplementasikan perannya terkait dengan aspek enabling environment (faktor eksternal) dan kapasitas organisasi serta pengembangan karakter (faktor internal). memperoleh gambaran mengenai profil perkembangan masyarakat sipil dalam konteks kontribusi peran . yaitu persoalan menyangkut kontribusi peran masyarakat sipil terhadap proses demokratisasi yang bergulir. Pembahasan  Sudahkah peran serta masyarakat dalam pengembangan demokrasi (?) Berkembangnya masyarakat sipil di Indonesia memunculkan persoalan penting untuk dijawab sekaligus juga menjadi alasan mendasar bagi dilakukannya studi ini. Asal "Luber" sudah ada sejak zaman Orde Baru.daerah (pilkada) juga dimasukkan sebagai bagian dari rezim pemilu. Bebas berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Bebas dan Rahasia". Umum berarti pemilihan umum dapat diikuti seluruh warga negara yang sudah memiliki hak menggunakan suara.

Sebagai konsekuensinya.sebagai aktor penting pemajuan demokrasi. Dalam konteks konsolidasi dan penguatan demokrasi. political equity. mereka juga bisa lebih leluasa meminta pertanggungjawaban dari para pemimpin yang telah dipilihnya itu. Terlaksananya Pilkada langsung menunjukkan adanya peningkatan demokrasi karena rakyat secara individu dan kelompok terlibat dalam proses melahirkan pemerintah atau pejabat negara. akan lebih baik digunakan untuk proyek-proyek pembangunan yang menguntungkan rakyat. 2007). realitasnya Pilkada harus berlangsung dan kehadirannya telah menggeser kekuatan sentralistik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pilkada hanya membuangbuang uang dan waktu saja. dan menyusun rekomendasi kebijakan terkait dengan kontribusi dan peningkatan peran masyarakat sipil dalam proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. 1971). Rakyat di daerah. Pilkada yang dalam dimaksudkan sebagai demokrasi lokal adalah upaya untuk mewujudkan local accountability. dan local representative as balance power for controlling local executive (lembaga perwakilan rakyat sebagai pengontrol eksekutif daerah). local own income and distribute them for people welfare (memiliki pendapatan daerah untuk didistribusikan bagi kesejahteraan penduduk). Pelaksanaan Pilkada secara langsung memperoleh tanggapan yang cukup beragam di dalam masyarakat. lebih otonom karena sebagai penentu pemimpin daerah. model gerakan. dan dinamika ekonomi politik lokal dan nasional. dan local responsiveness. jaringan). Sebagian melihat Pilkada sebagai langkah lanjut untuk meningkatkan kualitas demokrasi di daerah.  Pilkada sebagai wujud demokrasi di tingkat lokal. Apapun pendapat tersebut. Siapapun yang memenangkan pertarungan dalam Pilkada ditetapkan sebagai kepala daerah (local executive) yang memiliki legal authority of power (teritorial kekuasaan yang jelas). di dalam hal ini. (3) peran masyarakat dalam mendorong perkembangan LSM/organisasi masyarakat sipil di Indonesia cukup signifikan. (2) organisasi masyarakat sipil memiliki potensi penting bagi proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. Salah satunya yaitu : (1) hubungan negara–masyarakat sipil di Indonesia sangat dipengaruhi oleh konteks lokal (budaya masyarakat dan budaya politik). Hasil pilkada adalah tampilnya seorang pejabat publik yang dimiliki oleh rakyat tanpa membedakan darimana asal dan usul keberadaannya karena dia telah ditempatkan sebagai pengayom bagi rakyat. finansial. yang merupakan tujuan dari desentralisasi (Cheema dan Rondinelli. pelaksanaannya memperoleh tanggapan yang kritis. Pilkada langsung menjadi pilar yang memperkukuh bangunan demokrasi secara nasional (Dahl. di sisi yang lain. karakter organisasi masyarakat sipil (SDM dan manajemen. Tetapi. Hadirnya pemerintah yang dipilih dan ditentukan oleh daerah paling tidak menjadi sinyal bagi membaiknya sistem layanan publik . Biaya yang cukup besar itu.

(3) konflik yang bersumber dari . Setiap warga Negara memiliki hak yang sama untuk dipilih dan memilih. yang terjadi sebagai akibat dari terjadinya persaingan kepentingan yang bertentangan dengan masalah psikologis. Harris (2005) menyatakan bahwa terdapat lima sumber konflik potensial baik menjelang. Konflik Pilkada bermuara dari tiga titik. Sumber konflik tersebut adalah: (1) mobilisasi politik atas nama etnik. konflik kepentingan. Diantara proses itu. Terdapat proses untuk dapat tampil menjadi pemenang Pilkada. Kedua. selama proses pemenangan Pilkada berlangsung. 2004).  Pilkada Meninggalkan Benih Konflik (?) Berapapun jumpah kandidat yang akan berlaga dalam Pilkada. yang terjadi sebagai akibat dari ketimpangan dalam akses dan kontrol terhadap sumber daya pilkada. konflik struktural. pemenang akhir tetap satu pasang yang merupakan suara terbanyak yang sah berdasarkan PP tentang Pilkada. Oleh karena itu. saat penyelenggaraan. Kesamaan ini juga menimbulkan konflik karena masing-masing pihak merasa sebagai pihak yang paling berhak.bagi rakyat di daerah sebagai esensi dari kehadiran pemerintahan daerah yang legitimate. Ketiga. daerah. agama. konflik hubungan. dan darah. Intensitas konflik ketiga merupakan yang paling tinggi karena konflik tersebut terjadi di tingkat paling bawah dan terjadi karena adanya ketidaksetaraan dalam pola hubungan dalam mengakses sumber daya. maka konflik Pilkada semacam itu akan dapat mengarah kepada pertikaian yang secara terusmenerus dan menjurus pada lingkaran setan (tautological cyrcle) yang tidak saja sulit ditelusuri awal mulanya tetapi menyebabkan tindakan destruktif secara missal (Mair et al. Pertama. Pilkada sebagai salah satu jalan untuk mencari legitimate kekuasaan di tingkat lokal dalam Negara demokrasi. berbagai benih konflik kepentingan akan terjadi dan bila tidak dikelola secara baik dapat berlangsung hingga proses Pilkada usai dan menjadi tindak kekerasan yang menimbulkan akibat bagi orang lain dan “mengganggu” kinerja pemerintah yang legitimate. akan bersinggungan dengan kepentingan pihak lain. yang terjadi sebagai akibat adanya kesalahan persepsi atau salah komunikasi akibat terbatasnya sumber daya dalam mencapai tujuan bersama. Jika benih perselisihan ini tidak dicarikan solusi terbaik. (2) konflik yang bersumber dari kampanye negatif (saling cecar) antar pasangan calon kepala daerah. maupun pengumuman hasil Pilkada.

konflik kekuasaan di tingkat lokal tak terhindarkan sebagai konsekuensi logis dari mengendurnya 'cengkraman' pusat pada daerah. darah. bila berbagai persoalan sebagaimana tersebut di atas tidak tuntas atau tidak dieleminir. lemahnya kapasitas lokal dalam mengelola konflik. Pilkada adalah jalan tercepat untuk mewujudkan akomodasi politik para elit nasional dan lokal. konflik juga akan berlanjut bilamana terdapat perbedaan dalam perhitungan hasil Pilkada atau adanya temuan dari pasangan yang kalah bahwa pemenang pemilu telah melakukan tindak penyelewengan selama proses pilkada. asal-usul. Pilkada muncul sebagai konsekwensi dari desentralisasi politik yang dinafasi oleh semangat reformasi. dan lain-lain).premanisme politik dan pemaksaan kehendak. (4) konflik yang bersumber dari manipulasi dan kecurangan penghitungan suara hasil Pilkada. Jelas. Selain mencari pemimpin yang legitimate. dan (5) konflik yang bersumber dari perbedaan penafsiran terhadap aturan main penyelenggaraan Pilkada. Desentralisasi ditandai dengan beralihnya arena pertarungan dari pusat ke daerah. dan sebagainya. Konflik bisa terjadi karena ada persepsi bahwa pilkada merupakan pertarungan zero sum game. maka Pilkada dapat mengarah pada konflik kepentingan di tingkat lokal yang memberi konbtribusi pada melemahnya kinerja pemerintah yang telah susah- . Tidak hanya berhenti di situ. lemahnya dialektika untuk mencari nilai-nilai ideal dan membangun visi bersama. Bila hal demikian yang terjadi. Lokal menjadi lokus bagi berbagai pihak untuk melakukan konsolidasi agar mendapat tempat di hati masyarakat. Fenomena Money politics. Keberatan tersebut diperadilaankan dan sampai ke Mahkamah Konstitusi (MK) atau Mahkamah Agung (MA) dan oleh MK atau MA dinyatakan bahwa keberatan tersebut tidak cukup bukti sehingga pemenang pemilu adalah pasangan yang diprotes. mencuatnya politisasi identitas politik yang berbau primordial (agama. lemahnya aturan main. Peran Panwaslu dan Bawaslu adalah sangat penting agar berbagai fenomena yang disebutkan di atas tidak berkembang menjadi konflik Pilkada. etnis. maka upaya penggoyangan kepada Bupati terpilih akan terus saja terjadi dan berpotensi menimbulkan konflik baru. Namun. Pilkada juga dimaksudkan untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan demokrasi sehingga Pilkada adalah untuk memperkuat iklim demokrasi lokal. lemahnya kultur “orang kalah yang baik”. dan seterusnya semuanya dapat menjadi bibit konflik yang perlu dinetralisir sejak awal sebelum pesta Pilkada berlangsung. kultur pragmatisme jangka pendek.

D. Penyelesaian sedini mungkin setiap masalah yang muncul menjadi penting agar penyelenggaraan Pilkada berlangsung aman. Namun. Pilkada secara langsung merupakan disain kelembagaan untuk mempercepat proses pematangan demokrasi di daerah. Pilkada telah menuntun pemimpin untuk secara konsistem menjalin hubungan dengan konstituen yang salah satunya diwujudkan melalui optimalisasi anggran daerah bagi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. kualitas demokrasi yang dipertontonkan melalui panggung perlemen ini dianggap belum cukup kuat untuk menumbuhkan kehidupan demokrasi yang lebih substansial. Peristiwa pembakaran gedung DPR yang pernah terjadi di daerah ini sebagai salah satu bentuk kekerasan dalam Pilkada hendaknya tidak pernah terulang kembali. Realitas menunjukkan bahwa setelah pemilihan legislative. Ada beberapa keunggulan pilkada dengan model demokratis secara langsung sebagaimana diterapkan di Indonesia sejak 2004 melalui Pilpres I dan . khususnya yang berkaitan dengan responsibilitas. keberlanjutan hubungan dan tanggung jawab wakil rakyat dengan konstituen pemilih seakan putus dengan diangkatnya wakil rakyat menjadi anggota lembaga perwakilan. Penutup Munculnya transisi demokrasi di Indonesia dimulai dari penerapan multi partai yang dimaksudkan sebagai penguatan lembaga perwakilan rakyat. Kehidupan demokrasi di tingkat lokal menjadi lahan praktek bagi mewujudkan semangat multikulturalisme yang sangat dibutuhkan bagi terwujutnya harmonisasi dalam etnis pada pemerintahan demokratis. Pilkada merupakan salah satu media pembelajaran demokrasi bagi masyarakat daerah dan sekaligus untuk terwujudnya hak-hak esensial individu seperti kesamaan hak politik dan kesempatan untuk menempatkan posisi individu dalam pemerintahan daerah. Berikut akan disajikan beberapa potensi konflik yang berkaitan dengan tahapan pilkada dan kemungkinan masalah yang timbul serta pihak yang bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. terkendali dan fair serta terbebas dari konflik dan kekerasan. akuntabilitas dan transparansi.payah “bertarung” memenangkan Pilkada.

Daftar pustaka Haris. D. maka sungguh disayangkan bila ajang ini harus cacat dan dibikin rusak dengan praktek money politic. Pertama. Decentralizing Governance: Emerging Concept and Practices. 16424. S. G. 2005. sehingga dapat akses dan kontrol masyarakat yang lebih kuat terhadap arena dan aktor yang terlibat dalam proses pilkada. partisipasi publik dan percepatan mencapai kesejahteraan bagi masyarakat di tingkat local. Brookings Institution Press: Washington. “„Mengelola Potensi Konflik Pilkada”. Ketiga. 10 Mei. Otho H.Peikada 2005. melibatkan partisipasi masyarakat konstituen secara luas. Kompas. memberi ruang dan pilihan terbuka bagi masyarakat untuk menentukan calon pemimpin yang hebat (memiliki kapasitas. Rondinelli. Shabbir and Dennis A. integritas dan komitmen yang kuat) dan legitimate di mata masyarakat. Cheema. partai politik dan konstituen untuk mewujudkan akuntabilitas pemerintah lokal. Mengingat besarnya manfaat pilkada langsung bagi pengembangan demokrasi. Hadi1 1. Kedua. tidak siap kalah dan lain-lain. Indonesia . Sangat dibutuhkan peran dan kejujuran dari semua pihak agar dapat mewujudkan Pilkada Demokratis dan harmonis. Departemen Sosiologi. FISIP. terjadinya kontrak sosial antara kandidat. 2007. Universitas Indonesia. unfair game. E.C.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->