P. 1
58620003-karawitan

58620003-karawitan

|Views: 176|Likes:
Published by Dewi Fadhillah

More info:

Published by: Dewi Fadhillah on Mar 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/05/2015

pdf

text

original

BAB.

I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Istilah Gamelan menunjuk kepada seperangkat instrumen, struktur musikal atau bentuk, sedangkan istilah karawitan menunjuk kepada seni sastra dan komposisi musik gamelan serta menunjuk keahlian atau ketrampilan seseorang dalam memainkan gamelan. Instrumen gamelan dapat berfungsi artistik maupun ritual, tetapi jarang dipergunakan dalam sebuah konser yang mandiri, melainkan lebih sering digunakan untuk mengiringi tarian ataupun drama. Kebanyakan karya-karya seni karawitan yang dimainkan dengan berbagai ansambel gamelan biasanya bersifat tradisional dan anonimus. Karenanya, usia sebuah komposisi karawitan sangat sulit untuk ditentukan. Seringkali seorang Empu Karawitan menambah atau mengurangi komposisi karawitan yang dimainkan, begitu juga beberapa gaya yang tersendiri sangat lazim pada periode tertentu dan wilayah yang tertentu. Oleh karenanya sebuah komposisi karawitan dapat mengembangkan perbedaanperbedaan dari sebuah wilayah dengan wilayah lainnya sepanjang waktu. Inilah yang menyebabkan munculnya gaya yang berbeda-beda. Dalam konteks gaya musikal karawitan yang hendak diuraikan dalam karya tulis ini adalah Bidang Keahlian Karawitan Yogyakarta, Surakarta dan Jawa Timuran (Surabayan). B. Tujuan Berdasarkan latar belakang di atas materi yang akan dibahas adalah: 1. Mengenal Karawitan Jogjakarta 2. Menganal Karawitan Surakarta 3. Mengenal Karawitan Jawa Timuran
1

BAB. II KAJIAN PUSTAKA Sejarah gamelan dapat dirunut sejak dari munculnya budaya perunggu yang muncul pada sekitar pertengahan milenium kedua sebelum masehi dan dihubungkan dengan tahap-tahap budaya Dong Dau dan Go Mun yang berada di wilayah Dong Son, Vietnam Utara. Budaya perunggu menyebar ke Asia Tenggara dan pada zaman Majapahit telah diketemukan instrumen gamelan perunggu dalam bentuk ansambel lengkap. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa teknologi pembuatan gamelan sudah mencapai tahap kemajuan pada zaman Majapahit pada Abad XIII. Dalam perkembangannya gamelan telah menjadi perangkat orkestra yang lebih besar dan lebih lengkap seperti sekarang ini. Sebuah gamelan orkestra lengkap di Jawa memiliki sistem pelarasan (tuning system), Slendro dan Pelog, yang dapat dibedakan menurut karakternya. Slendro terdiri dari 5 nada yang memiliki karakter merangsang, menggerakkan, penuh fantasi dan cemerlang. Pelog terdiri atas 7 nada yang memiliki karakter tenang dan menghanyutkan. Setiap modus atau sistem pelarasan tersebut memiliki sistem nada atau modus lainnya yang disebut pathet. Terdapat 3 pathet yang utama dalam tiap-tiap sistem pelarasan tersebut yaitu: pathet bem, pathet nem dan pathet barang. Instrumen yang ada meliputi: pertama, instrumen yang sangat jarang dimainkan tetapi yang secara struktural sangat penting seperti Kethuk, kemudian instrument Balungan, instrumen gesek (Rebab), instrumen tiup (Suling) dan Kendhang.

2

Gong Suwukan. Bentuk Kawatan (String Instruments) Ricikan gamelan dengan kawat yang ditegangkan sebagai sumber bunyinya yaitu: Rebab. Saron Ricik. 4. Macam-macam Instrumen Gamelan Seperangkat Gamelan Ageng laras slendro dan pelog terdiri atas beberapa macam instrument yang setiap jenis satuannya disebut ricikan. Kendhang Penuntung dan Kendhang Ketipung. Gong Kemodong dan Gong Ageng. Gender Barung. 5. Calempung. Bonang Barung. bahan dan cara memainkannya seperangkat Gamelan Ageng tersebut dapat digolongkan menjadi jenis ricikan: bentuk tebokan. Kethuk. Kendhang Ageng. Saron Peking. dan Siter. 3. Ricikan gamelan yang menggunakan kulit atau selaput tipis yang direnggangkan sebagai sumber bunyi adalah Kendhang. 1. Kempyang. Ditinjau dari bentuk. bentuk bilah. Gender Penerus dan Gambang. bentuk pencon. Bonang Penerus. Kendhang Batangan. Engkuk Emong. Bentuk Pipa (Wind Instruments) 3 . 2. Ricikan gamelan yang berbentuk bilah yaitu: Saron Demung. Ricikan Kendhang termasuk jenis instrumen bentuk tebokan karena bidang yang ditabuh menyerupai tebok (Slap). Kempul. bentuk kawatan dan bentuk pipa. Bentuk Bilah (Colotomic Instruments).A. Gender Penembung/Slenthem. Ricikan Kendhang menurut bentuk dan ukurannya ada beberapa macam yaitu: teteg (bedug). Kenong. Bentuk Pencon (Gong Chimes Instruments) Ricikan gamelan yang berbentuk pencon yaitu: Bonang Panembung. Bentuk Tebokan (Two-headed drums).

Adapun ricikan Kecer berupa kepingan yang banyaknya 2 pasang. Inilah yang belakangan ini. B. Gaya individual. misalnya. bentuknya seperti buah pisang. Gaya musik kraton dan musik rakyat. Satuan udara yang berada di dalam ricikan Suling itu sebagai sumber bunyi. satu untuk Laras Slendro berlubang 4. 2. adalah tipologi karakteristik zaman tertentu yang menghasilkan gaya musical tertentu. Gaya lokal. karawitan untuk ritual di keraton. Misalnya. sehubungan dengan isu globalisasi. dan satu lagi untuk Laras Pelog berlubang 6. terdapat ricikan yang digunakan dalam sajian gendhing tertentu yaitu Kemanak dan Kecer. 4. 3. Gaya periodikal. Contoh lebih ekstrim gaya musikal abad 20 dan kontemporer. Ada dua buah Suling. gaya musik karawitan pada zaman abad ke XVI dan ke XVIII berbeda dalam teknik dan penggarapan komposisi.Ricikan gamelan yang berbentuk pipa yang dibuat dari buluh (bambu) yaitu suling. Selain ricikan-ricikan gamelan tersebut di atas. adalah tipologi karakteristik yang menonjol dalam hal fungsi dan garapan estetik. yakni sifat-sifat lokal suatu daerah yang diakui memiliki sifat-sifat estetis dan ekspresif berbeda dengan daerah lainnya. Ricikan kemanak dalam seperangkat Gamelan Ageng ada dua buah. Pengertian tentang Gaya Musikal (musical style) Gaya musikal adalah ciri khas atau karakteristik musikal yang dihasilkan dari beberapa kondisi: 1. 4 . diletakkan di atas satu pangkon. adalah tipologi karakteristik seorang tokoh pencipta gendhinggendhing yang membedakannya dengan pencipta gendhing lainnya. kemudian kita sebut sebagai entitas local genius.

Tanggung dan Antal.tentu berbeda dalam hal fungsi dan estetiknya dengan karawitan di dalam masyarakat pedesaan. selain itu berfungsi pula sebagai pengiring dalam pementasan wayang orang. Gambang. Genderan dan lain-lain. 5 . bentuk ladrang dan bentuk ketawang. misalnya. Penyajian Soran dapat dimainkan dengan tempo Seseg. Calempung/Siter dan Suling dengan menggunakan variasi permainan tempo yang berbeda-beda. Soran Adalah penyajian gendhing-gendhing dengan volume tabuhan yang keras. dagelan Mataram. 5. Gaya dalam bentuk musikal. wayang kulit. Suling dan Siter. Rebab. Nyamleng. Bentuk penyajian karawitan Lirihan itu masih dapat di bedakan lagi berdasarkan instrumen yang dipergunakan. ketoprak. Gambang. dll. Rebab. semua instrumen ditabuh kecuali Gender. antara lain: 1. Fungsi Gamelan Gamelan Ageng atau lengkap selalu disajikan dalam bentuk Uyon -uyon baik Soran maupun Lirihan. Lirihan Adalah penyajian gendhing-gendhing dengan volume tabuhan yang halus atau pelan. Siteran. C. antara lain: Gadon. semua instrumen ditabuh meskipun yang diutamakan adalah tabuh Ngarep seperti Gender. tari-tarian Jawa dan lainlainnya. adalah tipologi karakteristik yang dapat di bedakan dari berbagai bentuk karya musikal yang ada. 2. Penyajian karawitan dapat dibedakan lagi menjadi beberapa nomor atau repertoar.

wayang kulit.Selain berfungsi untuk penyajian gendhing-gendhing dan mengiringi pementasan wayang orang. 2. Gamelan Munggang Gamelan Munggang yang mempunyai tiga nada di Keraton Yogyakarta bernama Kanjeng Kyai Guntur Laut. Gamelan Munggang ditabuh untuk menyambut penobatan Sultan. rampog macan. dagelan Mataram. dalam perayaan sekaten ditabuh mulai tanggal 5 Mulud petang hari sampai tanggal 12 Mulud di pagongan Masjid Besar. di Yogyakarta gamelan sekati bernama Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga. 1 Kendhang Penuntung dan 2 buah Gong. gamelan sekati ditabuh pula untuk Supitan/Tetesan putra/putri Sultan dan Sakarsa menyambut tamu agung. tari-tarian Jawa dan lain-lain. Instrumen yang ada dalam gamelan sekati terdiri atas: 2 Gong Ageng. 1 Kenong Japan. menyambut tamu agung. mantu. 2 Saron Peking. Kendhang Gendhing. yang terdiri atas: 4 Racakan berisi tiga buah Bonang (pencon) yang besar. 1 Bedug. masih ada beberapa set gamelan yang berfungsi sebagai sarana upacara. 1 Saron Demung. 1 pasang Lojeh. 2 Bende. Dalem. Selalu ditabuh untuk memperingati hari kelahiran dan wafat Nabi Muhammad SAW. Gamelan upacara tersebut adalah: 1. 1 Sampur dan 1 Bonang. maleman. Gamelan Sekati. 1 Kempyang. ketoprak. 6 . garebegan dan lain-lain sakarsa Dalem. 2 Saron Ricik. supitan/tetesan putra/putri Sultan.

Awalan lagu (melodi) sindenan cenderung berangkat dari nada-nada tinggi. 7 . Ricikan Struktural (Kethuk. 8. Kenong. 4. Untuk Gendhing Sakcakra. khusus bentuk gendhing Gedhog (gendhing Gedhog Tamu. Sakayak. Ciri-Ciri Tabuhan/Garap Gendhing 1. 2. 5. dan Gong) digunakan pada semua jenis gendhing. Untuk Gendhing Sakgiro dan Sakgagahan menggunakan 2 (dua) buah kendhang yaitu: Kendhang Bem dan Kendhang Ketipung. 3. Sakluwung. Permainan pada instrumen Gambang. Tidak menggunakan Kempyang dalam garap gendhing. Instrumen Gender Lanang (Penerus) lebih dominan daripada Gender Babok dalam garap gendhing.D. dan Suling cenderung berangkat dari nada-nada tinggi. Sakjonjang. Siter. gendhing Gedhog Sendarum dan gendhing Gedhog) tidak menggunakan Kempul. 6. Kempul. Syair (cakepan) lagu sindenan menggunakan Wangsalan dan Parikan. Saklambang dan Sakpamijen menggunakan 1 (satu) Kendhang yaitu Kendhang Gedugan. Saksamirah. 7.

Karena kedekatan jarak geografis ini.BAB. III PEMBAHASAN Sebuah komposisi karawitan dapat mengembangkan perbedaan-perbedaan dari sebuah wilayah dengan wilayah lainnya sepanjang waktu. Kedua. meski dengan tetangga terdekat. 8 . instrumen musik gamelan produk Yogyakarta dan Surakarta sangat tipis perbedaannya. Pertama. Gaya merupakan spesifikasi yang ditandai oleh ciri fisik. Secara fisik. yakni Surakarta. Inilah yang menyebabkan munculnya gaya yang berbeda-beda. bentuk ornamentasi ukiran pada kayu-kayu penyangga instrument berbeda secara jelas. Gaya Yogyakarta muncul sejak Sultan Hamengku Buwana I mendirikan kraton Yogyakarta pada 1756. karawitan berfungsi sebagai pengiring dengan bentuk garapan Soran atau keras. Pada mulanya karawitan Yogyakarta memiliki konsep estetik yang lebih cenderung kepada iringan tari. Pendapat ini dapat diperkuat oleh adanya pertunjukan tari ³Lawung´ yang diciptakan oleh raja Yogyakarta pertama. Selanjutnya karawitan tersebut secara kontinyu berjalan dengan baik. estetik dan sistem bekerja yang dimiliki oleh perorangan atau kelompok tertentu yang diakui eksistensinya serta berpotensi untuk mempengaruhi individu ataupun kelompok secara sengaja ataupun tidak sengaja. sebetulnya menjadi agak sulit bagi kalangan awam untuk membedakan secara musical kedua gaya tersebut. Karawitan Yogyakarta sering juga disebut sebagai gaya mataraman. A. instrumen gamelan Yogyakarta (saron dan demung) yang lazim disebut ricikan balungan produk Yogyakarta cenderung lebih tebal dibanding produk Surakarta. Karawitan Yogyakarta (Yogyakartan school) Karawitan Yogyakarta memiliki garap (musical style) yang berbeda dengan yang lain.

Instrumen pencon terdiri atas. Ia selalu mengedepankan kaidahkaidah ilmu karawitan yang menekankan nilai estetika dan etika. Fisik tersebut akan mendukung dalam pembentukan gaya secara ekplisit. terutama Saron dan Demung (lazim disebut ricikan balungan). Antara Yogyakarta dan Surakarta bagi orang awam akan sulit membedakan. Karawitan mandiri memerlukan aspek-aspek tertentu untuk menumbuhkan perhatian estetis dari para penonton atau pendengarnya. namun mampu menjadi pertunjukan yang mandiri. Kempyang. Bonang Barung. Karawitan Yogyakarta memiliki garap yang berbeda dengan gaya lain. bahkan perbedaan ini sering menjadi polemik.Pada perkembangannya karawitan ini tidak hanya disajikan sebagai iringan tari. Bonang Penembuh. dapat dilihat secara fisik dan non-fisik. dan Gong. Kenong. Untuk mendeskripsikan karawitan Yogyakarta. Karawitan mandiri dalam pertunjukannya disebut uyon-uyon atau klenengan. 9 . tetapi bagi pelaku seninya sangat mudah membedakannya. Aspek non-fisik dapat diamati melalui teknik penyajian. dan pelog terdiri dari tujuh bilah. karawitan ini dikategorikan menjadi dua. gaya yang hampir sama yakni Surakarta. Dari perspektif garap (works). yakni garap Soran (keras) dan garap Lirihan (lembut). Kempul. dan Bonang Penerus. sedangkan nonfisiknya berkaitan dengan repertoar gendhing serta garap karawitan atau unsur lain yang sifatnya auditif. dan Japan. Gamelan berlaras slendro terdiri enam bilah. Secara fisik adalah berbagai hal yang meliputi penggunaan ricikan atau instrumen gamelan dengan berbagai aksesorisnya atau hal-hal yang bersifat visual. Gamelan Yogyakarta cenderung berfisik tebal terutama untuk instrumen yang berbentuk bilah.

Kenong. yakni penyajian dengan volume tabuhan keras. yaitu komposisi lagu yang terdiri atas delapan ketegan (hitungan). Karawitan Yogyakarta pada perkembangannya teridentifikasi menjadi gaya keistanaan dan gaya di luar istana. Gaya yang pertama hanya berlaku dilingkungan keraton. Bonang. struktur naratifnya selalu 10 . bagian ini merupakan augmentasi dari bagian dados. Siter. dengan karakter yang berwibawa. dan Kendhang.Karawitan Yogyakarta dapat disajikan dengan garapan Soran. yaitu lagu yang masih sederhana. Adapun bentuk tersebut antara lain: Lancaran. Candra (bagi Laras Slendro) atau Sarayudan (bagi Laras Pelog) memiliki 16 ketegan. melalui pangkat ndhawah. Jangga (Slendro) atau Semang (Pelog) memiliki 128 ketegan. Gong. Tempo Kendhang terdiri atas seseg. selanjutnya akan berakhir pada bagian suwuk. berlanjut pada bagian dados. Saron. Ladrang terdiri atas 32 ketegan. seremonial. Gambang. tanggung. dan bentuk yang lain adalah Lahela memiliki 32 ketegan. instrumen yang berperan antara lain. Gender. Bubaran yaitu komposisi lagu yang terdiri atas 16 ketegan. dan antal. yaitu bagian awal dari lagu yang biasa dilakukan oleh instrumen Rebab dalam garapan Lirihan. Selain itu dapat juga disajikan secara Lirihan. Dari bagian dados akan dilanjutkan kebagian dhawah. Ketawang terdiri atas 16 ketegan. Suling.masing. Pada penggarapan ini banyak diperani oleh instrumen lembut (ngajeng) seperti: Rebab. yaitu volume tabuhan yang lembut (lirih). yang dapat memunculkan berbagai bentuk sebagai manifestasi dari gendhing tertentu. Dari buka menuju kebagian lamba. dan Kendhang. Lagu yang dimainkan dalam karawitan ini selalu memiliki pola-pola tertentu. dan instrumen Bonang dalam garapan Soran. Penyajian karawitan yang dalam konsernya disebut uyon-uyon selalu dimulai dari buka. Mawur memiliki 256 ketegan. formal. Bagian ini merupakan lagu pokok yang ditampilkan oleh seluruh instrumen dengan cara masing.

11 . 7. Hal demikian karena para pelaku seninya berperan aktif mengadakan elaborasi garap agar menjadi berkualitas bagi aspek Musikologi. 11. Saron Ricik 8 buah (Slendro dan Pelog). Kendhang 3 buah: Kendhang Ketipung. 18. 8. Bonang Penerus 2 buah (Slendro dan Pelog). 2 Pelog Bem dan Pelog Barang. 19. Calempung 3 buah (1 Slendro dan 2 Pelog). 5. Rebab 3 buah (1 Slendro dan 2 Pelog). Saron Peking 2 buah (Slendro dan Pelog). Gamelan Yogyakarta lengkap terdiri atas: 1. 10. Kempul 11 buah berlaras Slendro 5 buah dan Pelog 6 buah. 16. Gaya yang kedua sudah terpengaruhi oleh gaya lain. 2. 13. Gender Penerus juga berjumlah seperti Gender Barung di atas. Bonang Penembung 2 buah (Slendro dan Pelog). 17.berorientasi kepada nilai adiluhung (etika Jawa). Ageng (gendhing) dan Batangan. 3. Gambang 3 buah (1 Slendro dan 2 Pelog). sedang pelog 2 buah berlaras Bem dan Barang. 15. 4. Kenong 11 buah berlaras Slendro 5 buah dan Pelog 6 buah. Kethuk 2 buah untuk Laras Slendro dan Pelog. Bonang Barung 2 buah (Slendro dan Pelog). serta mengedepankan nilai hiburan. Gender Barung berlaras Slendro 1 buah. Kenong Japan 2 buah untuk Laras Slendro dan Pelog. 6. 12. Kempyang 1 buah berlaras Pelog. sehingga karakternya lebih komunal. Saron Demung 4 buah 2 (Slendro dan Pelog). 14. 9. Gender Penembung 2 buah (Slendro dan Pelog). Suling 3 batang: 1 Slendro.

22. sedang salah satu puncak kemajuan seni karawitan Yogyakarta pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.2.2. 1 Ciri-ciri Karawitan Yogyakarta: 5.3 Mungguh dan Tangguh selaras dengan lingkungan dan fungsi penyajian. 2 Ciri Garap/Teknis: 5. 21.2.2 Greget dan antep: mengandung ekspresi kesungguhan.2 Bonang nglagu. 3. 5.1 Prasaja: yang dimaksud adalah ³lugu´ yang mempunyai makna mendasar 5.4 Agung mengandung makna bahwa yang utuh dan bulat. 5. Di bawah ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan eksistensi dan Gaya Yogyakarta.1.3 Pada gendhing tertentu Demung Imbal. Sesudah proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Dapat dikatakan bahwa setiap Sultan telah mengembangkan seni karawitan Yogyakarta. 5.1. 5. 12 . Bedhug 1 buah. 2. 5. 4.20.1 Prinsip gendhing disajikan secara Soran. Seni Karawitan di Kraton Yogyakarta telah dimulai dan berkembang sejak zaman pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. seni karawitan Yogyakarta mengalami perkembangan yang pesat dan didukung oleh masyarakat seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta di samping Kraton Yogyakarta.1. Ciri-ciri dan garap seni Karawitan Yogyakarta: 5.1. Gong Suwukan (Siyem) 6 buah berlaras Slendro dan Pelog. 5. 1. Karawitan Yogyakarta telah diakui ³ADA´. Gong Ageng 2 buah berlaras Slendro dan Pelog.

2. Karawitan Surakarta (Surakartan school) Karawitan Surakarta semula berpusat dan berkembang di dalam Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran.2.8 Kempul pada gendhing Ketawang 2 kali dalam satu gongan.2.15 Bonang Penerus ditabuh menonjol. 5. Masa pemerintahan Mangkunegoro IV (1853-1881) merupakan zaman keemasan Mangkunegaran di bidang kesenian.2.7 Bonang Penembung nibani.2. 5.2.4 Pada gendhing tertentu Saron Ricik Mancer.2.10 Pada gendhing tertentu dikenal penggunaan Bedhug dan Kenong Japan.14 Peking ditabuh sungsun. Kegiatan berkesenian di Keraton Kasunanan Surakarta dimulai sejak pemerintahan Paku Buwana II (1725-1749) Raja Kartasura dan pemerintahan Paku Buwana III (1749-1788) Raja Surakarta.5 Slenthem (gender penembung) mBandhul/Ngeyut. 5.2. Selanjutnya berkembang dengan baik pada masa pemerintahan Paku Buwana ke IV.13 Kendhangan mempunyai banyak tepakan.2. 5. V dan IX hingga mencapai zaman keemasan di bidang kesenian pada masa pemerintahan Paku Buwana X (1893.11 Lagu Suling sejalan dengan Sindhen. B. 5. Perlu diketahui bahwa masa kehidupan Mangkunagoro IV adalah sezaman dengan kehidupan Paku Buwono IX dan pujangga 13 .2.1939).5. 5. 5. 5.2. 5. 5.12 Tabuhan Gambang banyak ngukel. 5.2. Setiap Sunan (Raja) penerusnya telah memberi kontribusi terhadap perkembangan seni karawitan Surakarta. mendahului dengan miraga.6 Kethuk tidak nitir.9 Pada gendhing Ketawang dikenal wirama satu (sesegan).

Ketiga tokoh tersebut sama-sama menaruh minat terhadap sastra Jawa. 4. maka lahirlah gendhing-gendhing yasan Mangkunagoro IV yang mengetengahkan vokal sebagai tulang punggungnya atau ciri khasnya. 3 buah (1 buah Laras Slendro dan 2 buah Laras Pelog Nem dan Barang). Gendhing-gendhing yang sangat terkenal buah karya Mangkunagoro IV ini sebagian besar berbentuk Ketawang. Kejutan ini menggelitik bakat seni Mangkunagoro IV yang menimbulkan inspirasi terhadap dirinya. Tidak heran apabila saling mempengaruhi di antara karya cipta masing-masing. Gender Barung. secara periodik Paku Buwono IX dan Mangkunagoro IV selalu mengadakan sarasehan mengenai beberapa hal di Pasanggrahan Langenharjo (sebelah selatan lokasi Solo Baru). Ng. Ronggowarsito. 14 . Paku Buwono IX menyajikan klenengan dengan menghidangkan ³Ladrang Pangkur Laras Slendro Pathet Sanga´ dengan disertai sebuah kejutan yaitu menampilkan suara koor pria berirama metris seiring melodi gendhing yang sekarang lazim disebut gerong. Pada sebuah sarasehan.agung Keraton Kasunanan Surakarta R. Gender Penerus juga berjumlah seperti Gender Barung. Mangkunagoro IV tumbuh menjadi raja pinandita yang memiliki keahlian dalam bidang kepujanggaan. Dalam sarasehan itu juga dihidangkan sajian seni pertunjukan diantaranya klenengan (karawitan concert). Gambang 3 buah (1 buah Laras Slendro dan 2 buah Laras Pelog Nem dan Barang). Karena pergaulannya dengan sang pujangga. Munculnya lagu gerongan merupakan kejutan baru pada masa itu. Pada zaman pemerintahan Paku Buwono IX (1861-1893). 2. 3. Gamelan Surakarta lengkap terdiri atas: 1. Rebab 2 buah (Ponthang untuk Rebab Laras Slendro dan Byur untuk Rebab Laras Pelog).

3 atau 5 dan dalam laras pelog bernada 2. Bonang Barung 2 buah (Laras Slendro = 12 pencon dan Pelog = 14 pencon). Kenong Japan 2 buah (Laras Slendro dan Pelog). Ketipung. 21.5. Kempyang 2 buah (Kempyang Laras Slendro bernada 1 dan Pelog bernada 6).Kendhang 4 buah (terdiri: Kendhang Ageng. Bedhug 1 buah. 12. Bonang Penembung juga berjumlah seperti Bonang Barung 13. khusus untuk gendhing-gendhing dalam laras slendro) 20. bernada 7 dan 6. 7. Gong Kemodhong (dalam laras slendro bernada 2. Kethuk 2 buah (Kethuk Laras Slendro bernada 2 dan Pelog bernada 6). 4 atau 2 buah (Laras Slendro dan Pelog) masing-masing 7 bilah. Siter Dhara 2 buah (Laras Slendro dan Pelog). 15 . Batangan/Ciblon dan Sabet/Wayangan). Suling 2 buah (Laras Slendro dan Pelog). Saron Penerus 4 atau 2 buah (Laras Slendro dan Pelog). Kempul dua set (Laras Slendro dan Pelog). 3. Engkuk dan Kemong satu set (Engkuk bernada 6 atau 1 dan Kemong bernada 5 atau 6. 10. Demung 4 atau 2 buah (Laras Slendro dan Pelog) masing-masing 7 bilah. Kemanak 2 buah. 18. Bonang Penerus juga berjumlah seperti Bonang Barung. 19. 17. 11. 15. 22. 5 atau 6). 9. Saron Barung 8. Clempung 2 buah (Laras Slendro dan Pelog). 6. 14. 23. 24. Siter Penerus 2 buah (Laras Slendro dan Pelog). Slenthem 2 buah (Laras Slendro dan Pelog). 25. Kenong dua set (Laras Slendro dan Pelog). 8. 16.

Gong Suwukan (dalam laras slendro bernada 1 atau 2 dan dalam laras pelog bernada 1 atau 2). 1 Ciri-ciri Karawitan Surakarta: 5. agung dan luhur (bermakna ayem. Kemong. 4. 5 atau 6).1. Kenong Japan. 1. 5. Di bawah ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan eksistensi Karawitan Surakarta. Karawitan Surakarta telah diakui keberadaannya. sedangkan perkembangan seni karawitan Surakarta yang menonjol yaitu pada zaman pemerintahan Sunan Paku Buwono ke IV. nglungit dan rumit. Clempung. Seni Karawitan di Kraton Kasunanan Surakarta telah dimulai dan berkembang sejak zaman pemerintahan Sunan Paku Buwono II/III dan mengalami perkembangan dengan baik hingga mencapai zaman keemasan pada masa pemeritahan Sunan Paku Buwono X. 5. tentrem dan merdika) 5.2 Alus. Siter Dhara serta Kemanak hanya dimiliki oleh perorangan/Intuisi tertentu. Engkuk. Catatan: Untuk Bonang Penembung. V. 2. 3 atau 5 dan dalam laras pelog bernada 3. Sesudah proklamasi kemerdekaan.26. Gong Ageng (dalam laras slendro bernada 2. Ciri-ciri dan garap seni Karawitan Surakarta: 5. 27. seni karawitan Surakarta mengalami perkembangan yang pesat. IX. karena didukung oleh masyarakat pencinta karawitan baik di dalam dan luar negeri.1. dan sebagai puncak keemasan di bidang kesenian pada masa pemerintahan Paku Buwono ke X serta Mangkunegara IV.1 Prenes. Dapat dikatakan bahwa setiap Sunan (Raja) telah mengembangkan seni Karawitan Surakarta.3 Mungguh (sesuai dengan karakter masing-masing gendhing) 16 . 3. ngrawit.1.

2. 5. sedih.2.2 Bonang sebagai pemangku lagu.2.2.13 Pada gendhing tertentu Kempul digarap ngguguk dan mbalung.15 Pada gendhing tertentu menggunakan ricikan Bedhug dan Kenong Japan.2.2.1 Prinsip gendhing disajikan secara halus dalam volume sedang.2.17 Pada bagian gendhing tertentu sering menggunakan ricikan Engkuk dan Kemong.2. 5.2.3 Kendhang sebagai pamurba irama. 5. 5. 5. 5.2.2. untuk bentuk Ketawang Gendhing tidak menggunakan Kempul dan pada Gendhing bentuk Ladrang serta Lancaran dalam satu gongan terdapat tiga kali tabuhan kempul.2.2.4 Rasa gendhing meliputi antara lain regu. 5. 5.(Rohnya gendhing) 5.14 Pada gendhing bentuk Ketawang dalam satu gongan terdapat satu kali tabuhan Kempul. 17 .10 Pada gendhing tertentu Kethuk di garap salahan dan nonthongi. 5. 5.12 Pada gendhing tertentu Kenong digarap goyang dan nitir.2. dsb.1.8 Pada gendhing tertentu Saron Barung digarap ngendhongi dan mancer.6 Ricikan Struktural sebagai pemangku irama. 5. gecul.7 Pada gendhing tertentu Demung digarap imbal atau mancer. 2 Ciri Garap/Teknis: 5. 5.5.5 Rebab sebagai pamurba yatmaka. 5.2.11 Pada Bonang Penembung digarap nibani dengan seleh gembyang. 5.9 Pada gendhing tertentu Slenthem digarap pinjalan atau kinthilan 5.2.2.4 Gender sebagai pamurba lagu. 5.16 Pada gendhing garap tertentu (Bedhayan) sering mengunakan ricikan Kemanak.

21 Untuk ricikan Kendhang. imbal dan sekaran. 5.2. 5. 5. Struktural dan Kendhang.19 Tabuhan Gambang selain ngukel juga nggembyang.23 Bonang Penerus digarap nikeli (rangkap dua) dari garap Bonang Barung. Pada gendhing garap wiled dan rangkep.2. ricikan ini juga berfungsi sebagai pendukung irama serta lagu.2. 5.18 Ornamen lagu Sulingan berkelit (melodic filler) sejalan dengan lagu Sindhenan. Kendhang dan Vokal.24 Karawitan Surakarta juga mengenal pengelompokan gendhing. nitir dan grontolan. 5. 5.2. Bonang Barung.22 Saron Penerus digarap nikeli disesuaikan dengan jenis irama yang digunakan. 5.5. Garap Bonangan disajikan dengan volume tabuhan keras meliputi ricikan Balungan. kempyung. 5. Gendhing Gambang (buka dilakukan oleh Gambang) dan Gendhing Kendhang (buka dilakukan oleh Kendang).2.2.26 Untuk gendhing-gendhing tradisi Surakarta lebih diutamakan garap ricikan depan seperti: Rebab. Gendhing Gender (buka dilakukan oleh Gender) Gendhing Rebab (buka dilakukan oleh Rebab).2.25 Dalam penyajiannya gendhing-gendhing Surakarta digarap dengan ³laya´ agak sesek (tempo cepat).2. 5.2. Garap Alusan meliputi ricikan 18 .27 Karawitan Surakarta mengenal Garap Bonangan dan Garap Alusan. tebokan besar ditepak dengan tangan kanan dan tebokan kecil ditepak dengan tangan kiri. Gender Barung. seperti: Gendhing Bonang (buka dan garap gendhing didominasi oleh ricikan Bonang).2.20 Pada gendhing tertentu Bonang digarap klenangan.

etnis Banyuwangi. Karawitan Jawati muran (East Java school) Berdasarkan wilayah budaya. bahkan karawitan di seluruh Jawa Timur mengalami kemunduran. Jawa Timur terbagi dalam 6 etnis dengan latar belakang. Ini merupakan bukti bahwa wilayah kerajaan tersebut memiliki pusat kebudayaan istana yang sarat dengan nilai-nilai tradisi dalam kehidupan karawitannya. corak dan bentuk yang sangat spesifik dibanding dengan etnis lainnya. Struktural dan Vokal. Kuatnya pengaruh orkestrasi karawitan Mataram pada karawitan Jawatimuran dikarenakan hampir semua Adipati di Jawa Timur berasal dari Jawa Tengah. Dalam upacara ³srada´ pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Pengaruh Mataram mendominasi setelah terjadi perjanjian Giyanti (1755). Keenam etnis itu meliputi etnis Jawatimuran. C. Kehancuran Majapahit di bawah pemerintahan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (1527) menyebabkan tradisi musik karawitan hilang tanpa dapat dilacak eksistensinya sebagai musik klasik istana. karawitan berperan penting dalam pertunjukan wayang dan tari topeng.Balungan. disajikan dengan volume tabuhan lembut serta kadang-kadang juga disertai dengan volume tabuhan keras dalam teknik sabetan (sesegan). etnis Madura. Pada abad XI ± XII diawali dari kerajaan Kediri yang kemudian diteruskan oleh kerajaan Majapahit pada abad XIII ± XIV. Garap. etnis Tengger. Majakerta adalah salah satu pusat perkembangan musik tradisi karawitan Jawa timuran. 19 . etnis PesisirUtara dan etnis Jawa tengahan. ketika Mataram terbagi menjadi dua. Setelah periode tersebut karawitan Jawatimuran baik dalam jenis orkestrasinya maupun dalam bentuk garap gendhing banyak dipengaruhi oleh pemerintahan Demak. Pajang dan Mataram.

Wilayah budaya Malangan yang meliputi: Malang. Gresik. Tulungagung. Blitar dan Trenggalek. Wilayah budaya Lumajang yang meliputi. Wilayah budaya Banyuwangi yang meliputi Banyuwangi dan sekitarnya. Terkecuali wilayah budaya Banyuwangi dengan ansembel karawitan Bali (gong gebyar). Pacitan. Propinsi Jawa Timur dapat dikelompokkan dalam berbagai wilayah budaya yakni: Wilayah budaya pesisir barat yang meliputi. 20 . Surabaya sampai dengan Situbondo. Kepanjen. Wilayah budaya pesisir timur yang meliputi. Magetan. Propinsi Jawa Timur adalah belahan sebelah timur pulau Jawa yang secara administrative terbagi dalam 38 kota dan kabupatan menurut wilayah budaya yang ada. Karawitan dalam bentuk ansambel besar (seperti di Yogyakarta dan Surakarta) banyak tersebar di seluruh Jawa Timur. Motif permainan dan penggarapan yang spesifik dengan sebutan misalnya: Karawitan garap Malangan Karawitan garap Tulungagung Karawitan garap Suroboyoan Dsb. akan tetapi karawitan tersebut di setiap wilayah memiliki motif permainan yang berbeda-beda serta nuansa spesifik yang berbeda pula. Lamongan. Lumajang. Ngawi. Wilayah budaya Kediri yang meliputi: Kediri. tempat di mana pernah menjadi pusat keraton Majapahit itu sampai sekarang masih ada kesenian karawitan Jawatimuran yang melahirkan para seniman dan empu karawitan. Nganjuk. Batu. Di daerah Trowulan Majakerta. yang meliputi: Madiun. Wilayah budaya Madiun. Tuban dan Bojonegoro.. Lawang. Jember. Ponorogo.Terbukti banyak benda pusaka atau komposisi karawitan masih tersimpan dengan baik diberbagai daerah di Jawa Timur.

Bonang Penerus 2 buah berlaras Pelog dan Slendro 21 . Siter 2 buah berlaras Pelog dan Slendro 6. Oleh karena itu hal tersebut cukup beralasan apabila karawitan Suroboyoan sebagai pilihan pembahasan penyusunan karya tulis ini. Suling terdiri atas 1 batang berlaras Slendro. Bonang Babok 2 buah berlaras Pelog dan Slendro 8. dan predikat yang dicapai sebagai seorang ahli dalam karawitan gaya Surabaya. Laras Pelog 2 buah (Pelog Bem dan Pelog Barang) 3. istilah pathet. seolaholah karawitan Suroboyoan mewakili seluruh wajah karawitan di Jawa Timur. jenis gendhing. Laras Pelog 2 buah (Pelog Bem dan Pelog Barang) 2. permainan (tabuhan) pada masing-masing alat. secara politis sangat diuntungkan dalam penyebaran motif garap permainan karawitannya. Ciri gamelan karawitan Jawatimuran dapat dikatakan lengkap apabila terdiri atas: 1.Surabaya sebagai kota metropolitan sekaligus sebagai pusat pemerintahan. Gender Lanang terdiri atas Laras Slendro 1 buah. Gender Babok terdiri atas Laras Slendro 1 buah. Spesifikasi karawitan Suroboyoan tidak terdapat pada jenis dalam satu ansambel (kecuali kendhang batang) akan tetapi terletak pada. dan fungsi tersebut dalam setiap penyajian. Rebab 2 buah berlaras Pelog dan Slendro 5. penyebutannya. Gambang 2 buah berlaras Pelog dan Slendro 4. Oleh karena itu kiranya sangat perlu dikupas lebih jauh bagaimana tingkat permainannya. Laras Pelog 2 batang (Pelog Bem dan Pelog Barang) 7. dinamika.

Kethuk 2 buah berlaras Pelog dan Slendro 15. Laras Pelog 2 buah 13. Saron Barung 2 buah berlaras Slendro dengan pethit 2. Kendhang Bem. Gong Barang Laras Slendro 1 buah 22 . Gong 2 buah berlaras Pelog dan Slendro 18. Peking 2 buah berlaras Pelog dan Slendro 14. Gong Suwukan 2 buah berlaras Pelog dan Slendro 19. Kendhang 3 buah (Kendhang Ketipung. Slenthem 2 buah berlaras Pelog dan Slendro 12. Kempul 2 buah berlaras Pelog dan Slendro 17. Kenong 2 set berlaras Pelog dan Slendro 16. Demung 2 buah berlaras Pelog dan Slendro 11.9. dan Kendhang Gedugan) 10.

Kesimpulan 1. etnis Tengger. Karena kedekatan jarak geografis ini. B. etnis Banyuwangi.BAB. yakni Surakarta. 3. IV PENUTUP A. Karawitan Yogyakarta memiliki garap (musical style) yang berbeda dengan yang lain. Saran 1. corak dan bentuk yang sangat spesifik dibanding dengan etnis lainnya. Bentuk ornamentasi ukiran pada kayu-kayu penyangga instrument gamelan Yogyakarta berbeda secara jelas dengan Surakarta. etnis Madura. meski dengan tetangga terdekat. sebetulnya menjadi agak sulit bagi kalangan awam untuk membedakan secara musical kedua gaya tersebut. Keenam etnis itu meliputi etnis Jawatimuran. Sebahgai generasi penerus hendaknya mengenal berbagai budaya bangnga sehingga sehingga jati diri bangsa tetap terjaga. Secara fisik. 2. Gamelan Yogyakarta (saron dan demung) yang lazim disebut ricikan balungan produk Yogyakarta cenderung lebih tebal dibanding produk Surakarta. instrumen musik gamelan produk Yogyakarta dan Surakarta sangat tipis perbedaannya. Berdasarkan wilayah budaya. etnis PesisirUtara dan etnis Jawa tengahan. Jawa Timur terbagi dalam 6 etnis dengan latar belakang. 23 . Majakerta adalah salah satu pusat perkembangan musik tradisi karawitan Jawa timuran.

wikipedia.id diakses tanggal 29 Mei 2009 pukul 16.57 WIB www.com diakses tanggal 29 Mei 2009 pukul 15.35 WIB www.45 WIB www.ganeshadigitallibrary. Malang. Biro Administrasi Akademik.48 WIB manongan.00 WIB www. «««2000.id diakses tanggal 30 Mei 2009 pukul 11.DAFTAR PUSTAKA .go.depdiknas.com diakses tanggal 28 Mei 2009 pukul 16.Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.com diakses tanggal 27 Mei 2009 pukul 17.blogspot.e-kuta.com diakses tanggal 28 Mei 2009 pukul 16.27 WIB 24 .indoskripsi. Universitas negeri Malang www.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->