P. 1
tugas bu winda

tugas bu winda

|Views: 509|Likes:

More info:

Published by: Anitha Qliquerspenguasahatiku on Mar 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

Eboni atau kayu hitam (Diospyros celebica Bakh.) mempunyai kayu teras berwarna
hitam atau coklat kehitaman dengan tingkat dekoratif yang tinggi sehingga sangat
cocok untuk digunakan sebagai meubel dan bahan dekoratif lainnya, selain itu jenis
kayu ini juga tergolong jaga kuat dan awet, sehingga kayu ini bernilai ekonomi tinggi
dan permintaan konsumen semakin bertambah dari waktu ke waktu. Jumlah/populasi
kayu hitam semakin berkurang selain disebabkan karena eksploitasi yang berlebihan,
juga karena kurangnya upaya pelestarian dan konservasinya, ditambah karakteristik
eboni yang lambat pertumbuhannya, tiap pertumbuhan sekitar 0,5 cm/th, selain itu
kurangnya penelitian yang dapat mendukung upaya pemanfaatan dan pelestariannya.
Kondisi-kondisi tersebut memberikan indikasi bahwa pengelolaan dan pemanfaatan
kayu hitam mulai saat ini harus seoptimal mungkin dan seharusnya ada tindakan-
tindakan khusus mengingat keberadaannya yang semakin langka dan merupakan flora
endemik Sulawesi.

Deskripsi

Pohon Dyospyros celebica dapat mencapai tinggi 40 m, diameter 100 cm, dengan tajuk
berbentuk selindris sampai kerucut, percabangannya agak lateral dengan percabangan
sangat kokoh. Sistem perakaran sangat dalam, luas dan intensif. Kulit luar bewarna
hitam dan mengelupas kecil-keci sejalan dengan bertambahnya umur pohon.
(Samingan, 1973; Tantra, 1980). Bunga berukuran kecil, buah berdaging dan
merupakan makanan bagi satwa baik burung maupun mamalia (Oka, 2001).
Diospyros celebica dapat tumbuh pada berbagai type tanah, mulai dari tanah
berkapur, tanah liat sampai tanah berpasir atau berbatu pada ketinggian 25 m sampai
350 m dpl (Tantra, 1980). Pada hutan alam di Sulawesi jenis ini banyak ditemukan
pada daerah yang memiliki curah hujan lebih dari 1500 mm.

Populasi

Menurut hasil survey, komposisi eboni dalam tegakan hutan eboni hanya sekitar 10%.
Kerapatan antara 1-6 batang/ha dengan volume kayu teras rata-rata 2 m3

/ha. Batang
dengan teras berkualitas baik terjadi setelah dimeter lebih 40 cm. Inventarisasi
permudaan eboni pada tahun 1974-an saja menunjukkan bahwa pohon eboni dengan
diameter lebih 50 cm di areal kerja HPH Sinar Kaili Sulteng, sudah jarang karena habis
di panen. (Sunaryo, 2001). Word Conservation Union (IUCN), dalam daftarnya
mencantumkan Diospyros celebica Bakh termasuk ke dalam kategori vulnerable (VU AL
cd) yang artinya berada pada batas beresiko tinggi untuk punah di alam. Kriteria
penetapan status ini adalah jumlahnya diperkirakan tereduksi atau berkurang lebih dari
20% dari jumlah sepuluh tahun yang lalu dan perlu dijadikan target utama untuk
konservasi baik habitat maupun jenisnya. Namun melihat kecenderungan pemanfaatan
yang berlebihan saat ini kemungkinan status ini telah berubah lebih buruk lagi. (Samedi
dan Ilmi Kurniawati, 2001).

Upaya Pelestarian

Upaya pelestarian eboni dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pemanfaatannya,
sehingga pelestariannya haruslah merupakan kegiatan terpadu dalam suatau
pengelolaan, mulai dari penanaman bibit sampai kepada pemanfaatannya menjadi
barang jadi, sehingga dapat memeberikan nilai optimal, tidak hanya nilai ekonomi tapi
juga nilai ekologis dan nilai sosial budaya, mengingat jenis ini merupakan jenis endemik
Sulawesi.

Sulawesi Utara- Langusei (Ficus minahassae)

Langusei

(Ficus

minahassae) merupakan

tumbuhan

yang
menjadi maskot Sulawesi Utara. Pohon Langusei yang masih berkerabat
dekat dengan Beringin (Ficus benjamina) ini telah ditetapkan menjadi Flora
Identitas Sulawesi Utara. Langusei mendampingi Tarsius yang ditetapkan
menjadi Fauna Identitas Sulawesi Utara.
Yang khas dari pohon Langusei (Ficus minahassae) adalah bunganya yang
berbentuk bongkol sehingga menyerupai buah. Bunga Langusei tersusun
menjurai kebawah sepanjang hingga satu meter.
Pohon Langusei merupakan tumbuhan yang sering disebut juga Mahangkusei,
Tambing-tambing, Werenkusei, dan Tulupow. Dalam bahasa Inggris tanaman
ini dikenal sebagai Fig Tree. Sedang dalam bahasa latin nama tumbuhan ini
adalah Ficus minahassae.
Diskripsi dan Ciri Pohon Langusei. Pohon Langusei (Ficus minahassae)
berukuran sedang dengan tinggi sekitar 15 meter. Pohon Langusei rindang
karena mempunyai banyak cabang dan lebat. Permukaan kulit batangnya
halus dan kulit tersebut mudah terkelupas yang bila kering akar, tampak
serat-seratnya yang halus. Daun tumbuhan Langusei berukuran kecil
berbentuk bulat telur dengan ujung lancip.

Perbungaannya muncul dari batangnya, sering dimulai dari dekat tanah
sampai pada cabang-cabang utamanya. Bunga ini tersusun menjuntai ke
bawah dengan panjang mencapai 1 meter lebih. Bunga-bunga Langusei
membentuk bongkol sehingga nampak seperti buahnya. Bunganya sebenarnya
ada di dalam dan bisa tampak bila dipotong secara melintang.
Bongkol yang di dalamnya terdapat bunganya itulah kemudian yang berubah
menjadi buah langusei. Buah ini tidak akan gugur hingga buah tersebut
masak. Di dalam buah tersebut terdapat bijinya yang kecil-kecil.Pohon
Langusei merupakan tumbuhan asli Indonesia yang tersebar di
pulau Sulawesibagian utara, kepulauan Sangir dan Talaud. Persebaran pohon
yang ditetapkan menjadi flora identitas Sulawesi Utara ini mencapai Papua
dan Filipina.

Langusei tumbuh di hutan campuran pada daerah dataran rendah hingga
ketinggian 700 meter dpl. Tumbuhan bernama latin Ficus minahassae ini
dapat tumbuh baik di daerah dengan curah hujan rendah, bahkan pada tanah-
tanah kurang subur dan berkapur.
Manfaat. Beberapa bagian tumbuhan Langusei telah dimanfaatkan oleh
masyarakat Sulawesi Utara sejak dulu. Bagian yang dimanfaatkan seperti kulit
kayu Langusei yang sering dijadikan bahan pembuat pakaian atapun tali
karena memiliki serat yang lembut dan halus namun ulet dan kuat. Daun
Langusei dipergunakan sebagai campuran obat. Buahnya juga sering
digunakan sebagai campuran minuman tradisional.

Timtim- ampupu (lucalyptus urophylla)

ini adalah nama kayu paling banyak digunakan orang timor untuk bahan membuat rumah

bulatnya. tergolong sebagai kayu eucalyptus, kayu ini banyak terdapat di timor barat hingga

ke timor leste.

selain digunakan untuk rangka bangunan, batang kayu ini -yang berukuran besar- bisa

dibelah menjadi dua dan setelah dihilangkan isinya maka bentuk setengah tabung itu bisa

digunakan untuk penutup bubungan atap rumah bulat. menurut orang-orang di fatmnasi,

penutup bubungan yang menggunakan kayu ampupu ini lebih baik dari pada hanya

menganyam alang-alang di bubungan itu. anyaman alang-alang masih bisa tertembus air

bocor.

kayu ini hanya diletakkan begitu saja di bubungan. ia menjepit alang-alang penutup

bubungan sehingga tidak memungkinkan air hujan merembes bocor ke dalam rumah.

peletakannya lateral terhadap arah angin, atau pada umumnya diletakkan sesumbu

denganentrance [pintu] rumah. untuk menghindari terlontar karena tekanan angin

barat/timur yang pada musim-musim tertentu amat kuat. dengan alasan yang sama, pintu

rumah bulat umumnya berada di selatan atau utara.

Irian jaya- Matoa (Pometia pinnata)

Matoa (Pometia pinnata) adalah tanaman khas Papua dan menjadi flora identitas
Provinsi Papua Barat. Matoa termasuk ke dalam famili Sapindaceae. Pohon matoa dapat
tumbuh tinggi dan memiliki kayu yang cukup keras. Tinggi pohon 50 m, akar papan
tingginya mencapai 5 m, daun majemuk berseling, bersirip genap, tangkai daun
panjang ± 1 m, anak daun 4 - 13 pasang bentuknya bundar memanjang dengan tepi
yang bergerigi. Mahkota bunga agak berbulu pada bagian luar, kelopak bunga agak
menyatu.

Buahnya berbentuk bulat melonjong seukuran telur puyuh atau buah pinang (keluarga
Palem) dengan panjang 1,5-5 cm dan berdiameter 1-3 cm, kulit licin berwarna coklat
kehitaman bila masak (kalau masih muda berwarna kuning kehijauan, ada juga yang
menyebut hijau-kekuningan). Kulit ari putih bening melekat pada biji, manis dan
harum.Rasa buahnya "ramai", dan susah didefinisikan. Coba saja tanya kepada yang
pernah memakannya, maka ada yang bilang rasanya masin, seperti antara rasa buah
leci dan buah rambutan. Ada juga yang merasakannya sangat manis seperti buah
kelengkeng. Ada yang bilang manis legit. Ada lagi yang merasakan aromanya seperti
antara buah kelengkeng dan durian. Pendeknya, buah matoa berasa enak, kata mereka
yang suka.

Tanaman ini mudah diperbanyak/ dikembang biakkan melalui biji, dan cara lain seperti
cangkok serta okulasi. Matoa tumbuh di daerah yang sejuk atau dengan kata lain lebih
mudah tumbuh di pada ketinggian 900 - 1700 m dpl, topografi datar atau miring,
meskipun dapat pula tumbuh di dataran rendah, dengan waktu berbunga bulan Juli -
Agustus dan berbuah pada bulan November - Februari.
Selama ini orang mengenal buah matoa berasal dari Papua, padahal sebenarnya pohon
matoa tumbuh juga di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa pada ketinggian hingga

sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. Selain di Indonesia pohon matoa juga
tumbuh di Malaysia, tentunya juga di Papua New Guinea (belahan timurnya Papua),
serta di daerah tropis Australia.
Di Papua sendiri pohon matoa sebenarnya tumbuh secara liar di hutan-hutan. Ini
adalah sejenis tumbuhan rambutan, atau dalam ilmu biologi disebut berasal dari
keluarga rambutan-rambutanan (Sapindaceae). Sedangkan jenisnya dalam bahasa latin
disebut pometia pinnata.
Di Papua New Guinea, buah matoa dikenal dengan sebutan taun. Sedangkan di daerah-
daerah lainnya, sebutannya juga bermacam-macam, antara lain : ganggo, jagir,
jampania, kasai, kase, kungkil, lamusi, lanteneng, lengsar, mutoa, pakam, sapen,
tawan, tawang dan wusel. Artinya, buah ini sebenarnya juga dijumpai di daerah-daerah
lain di Indonesia. Oleh karena itu, meskipun orang lebih mengenai buah matoa ini
berasal dari Papua, namun jangan heran kalau di sebuah shopping center di Yogya
Anda akan menjumpai buah matoa dari Temanggung.
Buah matoa yang dijumpai di Jawa atau tempat-tempat lain, pada umumnya tidak
sebagai hasil budidaya, melainkan sekedar hasil sampingan dari tanaman hias yang
tumbuh di halaman-halaman yang cukup luas, atau bahkan hasil dari pohon matoa
yang tumbuh liar. Di Papua, pohon matoa yang semula tumbuh liar kini menjadi
semakin naik gengsinya. Apalagi semenjak (mantan) presiden Megawati mencanangkan
penanaman berbagai jenis pohon asli Indonesia seperti cempaka Aceh, meranti
Kalimantan dan matoa Papua sebagai pohon lestari, di kawasan Gelora Bung Karno
Jakarta, beberapa tahun yang lalu.
Dari pohon matoa, selain diambil buahnya, batang kayunya juga sangat bermanfaat
dan bernilai ekonomis. Tinggi pohonnya dapat mencapai 40-50 meter dengan ukuran
diameter batangnya dapat mencapai 1 meter hingga 1.8 meter. Batang kayu pohon
matoa termasuk keras tetapi mudah dikerjakan. Banyak dimanfaatkan sebagai papan,
bahan lantai, bahan bangunan, perabot rumah tangga, dsb. yang ternyata tampilan
kayunya juga cukup indah.
Maka, dapat dimaklumi kalau umumnya masyarakat Papua akan dengan bangga
menyebut buah matoa sebagai buah khasnya propinsi Papua. Pohon ini berbunga
sepanjang tahun, maka pohon matoa pun dapat dikatakan berbuah hampir sepanjang
waktu. Oleh karena itu, buah matoa relatif mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional di
Papua.

Namun sebaiknya hati-hati : Kalau ada yang menawarkan matoa yang ukurannyasangat
besar dan menjadi makanan kesukaan butho (raksasa), maka itu pasti matoahari...

NTT-CENDANA (sandalwood,santalium album)

Cendana, atau cendana wangi, merupakan pohon penghasil kayucendana dan minyak cendana.

Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta

sangkur keris(warangka). Kayu yang baik bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad.

Konon di Sri Lanka kayu ini digunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-

9. Di Indonesia, kayu ini banyak ditemukan diNusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Timor,

meskipun sekarang ditemukan pula di Pulau Jawa dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.

Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon

inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup

mendukung kehidupannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau

dibudidayakan.

Kayu cendana wangi (Santalum album) kini sangat langka dan harganya sangat mahal. Kayu

yang berasal dari daerah Mysoram di India selatan biasanya dianggap yang paling bagus

kualitasnya. Di Indonesia, kayu cendana dari Timor juga sangat dihargai. Sebagai gantinya

sejumlah pakar aromaterapi dan parfum menggunakan kayu cendana jenggi (Santalum

spicatum). Kedua jenis kayu ini berbeda konsentrasi bahan kimia yang dikandungnya, dan oleh

karena itu kadar harumnya pun berbeda.

Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan.

Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan

terutama untuk penyembuhan caraAyurveda, dan untuk menghilangkan rasa cemas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->