P. 1
Protokol Kyoto

Protokol Kyoto

|Views: 386|Likes:
Published by Maya Elvira

More info:

Published by: Maya Elvira on Mar 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/08/2014

pdf

text

original

Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah

persetujuaninternasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluarankarbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global. Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02 °C dan 0,28 °C pada tahun 2050. (sumber: Nature, Oktober 2003) Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). [1] Ia dinegosiasikan di Kyoto pada Desember 1997, dibuka untuk penanda tanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada 15 Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004.
Daftar isi
[sembunyikan]

    

1 Detil Protokol 2 Status persetujuan 3 Status terkini para pemerintah 4 Lihat pula 5 Pranala luar

[sunting]Detil

Protokol

Menurut rilis pers dari Program Lingkungan PBB: "Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2%

dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC - yang dihitung sebagai ratarata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia." [2] Protokol Kyoto adalah protokol kepada Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC, yang diadopsi pada Pertemuan Bumi di Rio de Janeiro pada 1992). Semua pihak dalam UNFCCC dapat menanda tangani atau meratifikasi Protokol Kyoto, sementara pihak luar tidak diperbolehkan. Protokol Kyoto diadopsi pada sesi ketiga Konferensi Pihak Konvensi UNFCCC pada 1997 di Kyoto, Jepang. Sebagian besar ketetapan Protokol Kyoto berlaku terhadap negara-negara maju yang disenaraikan dalam Annex I dalam UNFCCC.
[sunting]Status

persetujuan

Pada saat pemberlakuan persetujuan pada Februari 2005, ia telah diratifikasi oleh 141 negara, yang mewakili 61% dari seluruh emisi [3]. Negara-negara tidak perlu menanda tangani persetujuan tersebut agar dapat meratifikasinya: penanda tanganan hanyalah aksi simbolis saja. Daftar terbaru para pihak yang telah meratifikasinya ada di sini [4]. Menurut syarat-syarat persetujuan protokol, ia mulai berlaku "pada hari ke-90 setelah tanggal saat di mana tidak kurang dari 55 Pihak Konvensi, termasuk Pihak-pihak dalam Annex I

yang bertanggung jawab kepada setidaknya 55 persen dari seluruh emisi karbon dioksida pada 1990 dari Pihak-pihak dalam Annex I, telah memberikan alat ratifikasi mereka, penerimaan, persetujuan atau pemasukan." Dari kedua syarat tersebut, bagian "55 pihak" dicapai pada 23 Mei 2002 ketika Islandia meratifikasi. Ratifikasi oleh Rusia pada 18 November2004 memenuhi syarat "55 persen" dan menyebabkan pesetujuan itu mulai berlaku pada 16 Februari 2005.
[sunting]Status

terkini para pemerintah

Lihat pula: Daftar penanda tangan Protokol Kyoto Hingga 3 Desember 2007, 174 negara telah meratifikasi protokol tersebut, termasuk Kanada, Tiongkok, India, Jepang, Selandia Baru, Rusia dan 25 negara anggota Uni Eropa, sertaRumania dan Bulgaria. Ada dua negara yang telah menanda tangani namun belum meratifikasi protokol tersebut: Amerika Serikat (tidak berminat untuk meratifikasi)  Kazakstan Pada awalnya AS, Australia, Italia, Tiongkok, India dan negara-negara berkembang telah bersatu untuk melawan strategi terhadap adanya kemungkinan Protokol Kyoto II atau persetujuan lainnya yang bersifat mengekang. [5] Namun pada awal Desember 2007 Australia akhirnya ikut seta meratifikasi protokol tersebut setelah terjadi pergantian pimpinan di negera tersebut.

[sunting]

3 %. Amerika Serikat dengan sikapnya yang angkuh berani mengabaikan peringatan para ilmuwan yang memperingatkan bahwa bumi sedang terancam oleh bayangan perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global tersebut. 2008 Sikap Amerika Serikat yang tetap keukeh menolak meratifikasi Protocol Kyoto dinilai dunia sebagai sebuah arogansi negara adidaya ini Amerika Serikat dengan Bush sebagai pimpinannya yang tetap menolak berkompromi. telah “ menyerah “ dan meratifikasinya segera setelah perdana menteri yang baru Kevin rudd di lantik . segera. rata-rata orang amerika melepas gas karbon delapan kali lebih besar dari penduduk dunia lainnya. menurut data yang dibuat oleh World Resources Institute. Dan bahkan. dan untuk mencegah penumpukan gas rumah kaca yang lebih besar. Negara. Amerika Serikat menolak model kesepakatan Kyoto karena Protocol itu mengharuskan negara. Itu berarti. . Protocol yang pada awalnya diteken oleh 39 negara industri maju pada 11 Desember 1997 kini . Protocol Kyoto itu pada dasarnya hanya ingin mengatakan bahwa pemanasan global.negara industri maju untuk mengurangi emisi 6 jenis gas rumah kaca . dan batu bara ) di hampir seluruh negara industri maju. salah satunya Co2 . bila dihitung dengan lebih cermat. Keprihatinan dunia pada sikap Amerika Serikat ini kembali menjadi sorotan bersamaan dengan dibukanya Konferensi PBB Tentang Perubahan Iklim yang baru saja dibuka oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Sebenarnya. Padahal Australia yang ketika masa kepemimpinan Perdana Menteri John Howard bersepakat dengan presiden AS George W Bush untuk tidak meratifikasi protokol Kyoto . Itu berarti hanya tinggal Amerika Serikat-lah satu-satunya negara industri maju yang belum meratifikasi Protocol Kyoto . pada 3 Desember lalu. secara bertahap sedikitnya 5. Sebuah hal yang sangat disayangkan.2 % sampai tahun 2012 . yang diiringi dengan perubahan iklim .kini di pandang banyak negara menjadi batu sandungan dalam upaya dunia internasional meredam proses pemanasan global. menurut data dari secretariat Unites nations framework Convention On climate Change ( konfensi kerangka kerja PBB tentang perubahan iklim / UNFCCC ) . negara itu menghasilkan hampir lima milyar ton gas karbon. dan 151 diantaranya telah meratifikasi .AS dan Protokol Kyoto Posted in keikutsertaan AS dalam OI by nurulamerikaserikat on June 2. protocol mengamanatkan adanya pengurangan emisi yang harus dilaksanakan per Februari 2005 Washington sepertinya mengingkari kenyataan bahwa negaranya yang hanya berpenduduk 5 % dari total populasi dunia itu ternyata tercatat sebagai penyumbang terbesar emisi global dengan 30. 1999.negara tersebut kemudian dikelompokkan sebagai Negara ANNEX – 1 . disebabkan oleh penumpukan gas – gas rumah kaca di atmosfer bumi yang merupakan hasil dari penggunaan bahan bakar fosil ( minyak. gas. Rachmat Witoelar. telah mendapat dukungasn 194 negara .

Dengan atau tanpa keikutsertaan Amerika Serikat. Kedua. Penolakan Amerika Serikat tersebut hampir saja membuyarkan kesepakatan. Presiden George W. selagi Amerika Serikat terus-menerus berkelit terhadap tekanan dunia atas Protocol Kyoto. Amerika Serikat tidak setuju pada pandangan Protokal Kyoto atas China dan India yang digolongkan sebagai negara berkembang. karena model Protocol Kyoto segera akan memukul perekonomian Amerika Serikat. Untungnya Rusia kemudian meratifikasi protokol tadi. . Padahal pada awalnya Amerika Serikat mendukung Protocol Kyoto. sehingga syarat dukungan dari 55 % negara industri maju untuk menyatakan Protocol Kyoto mengikat secara hukum pun terpenuhi. Karena. Belum lagi kebutuhan energinya yang 55 % masih ditopang oleh sumber energi yang paling kotor. alasan gangguan ekonomi misalnya. hanya membuat dunia makin prihatin. takut akan angka pengurangan 7 %. bahkan sudah sejak 1999 telah berhasil mengurangi emisi gas rumah kacanya sebesar 19 % tanpa mengganggu roda ekonominya. Apalagi bila kita melihat keborosan negara itu dalam penggunaan bahan bakar fosil.Hal ini memang gila. Sebagai contoh. sebab standarisasi mesin secara mendadak dianggap hanya akan menimbulkan goncangan yang berakibat pada naiknya harga barang-barang konsumsi dan besar kemungkinan akan memicu pengangguran. sehingga tidak dibebankan keharusan untuk mengurangi emisinya. Memang beberapa alasan resmi kemudian dikemukakan oleh Presiden Bush dalam upaya menolak Protocol Kyoto. target emisi 7% bagi Amerika Serikat dianggapnya tidak berdasarkan pertimbangan ilmiah. dalam sehari saja mereka bisa menenggak minyak bumi sampai 18 juta barrel. Karena. Pertama. Amerika Serikat juga menolak target pengurangan emisi 7 % yang bahkan diikutinya dengan tuduhan yang tidak mendasar. alasan-alasan yang dikemukakan pemerintah Amerika Serikat tersebut tetap saja tidak bisa dipahami oleh dunia internasional sebagai alasan yang logis dan bahkan dunia melihat alasan itu sebagai alasan yang tidak realistis. negara-negara berkembang sudah lebih maju dengan melakukan aksi nyata. awal 2001. Namun. menjadi alasan yang tidak realistis bila kita melihat bahwa semua negara pun mengalami situasi yang sama. Kemudian. Uni Eropa malah lebih berani. Namun entah mengapa begitu masuk gedung putih. kecemburuan Amerika Serikat kepada China juga dinilai dunia sebagai hal yang berlebihan. yakni batu bara. hal tersebut akan membuat kita semakin tercengang. karena di saat Amerika Serikat terus menolak. Alasan ketiga. China . Bush menyatakan menarik diri dan merasa tak terikat lagi dengan target penurunan emisi sebesar 7 % seperti yang amanatkan Protocol Kyoto. Hal ini begitu aneh terdengar. Bukti kepiawaian negara berpenduduk terbanyak di dunia itu dalam menerapkan kebijakan energi yang efisien dan dengan melakukan konservasi energi.

Partai mengusung George W. sebuah organisasi non pemerintah. bahwa ternyata sekitar USD 64 juta telah di berikan oleh sektor sumber daya alam untuk modal kampanye.4 juta. segera akan kita dapati hal-hal yang lebih mencengangkan lagi. seperti yang kita ketahui sebagiannya adalah negara industri maju. Namun. bisa bersikap lebih keras dan berani. Partai tempat Bush bernaung. Exxon mobil misalnya. Dan inilah hasilnya. Raksasa kapitalis Asia ini terlihat begitu tenang dalam menghadapi target 6 % yang dibebankan kepadanya. Ternyata jumlah yang dikucurkan para saudagar minyak bumi dan gas untuk musim kampanye 19992000 tersebut. Dan lagi-lagi. raksasa minyak Amerika ini tercatat sebagai penyumbang terbesar kas Partai Republik. Kekursi presiden Amerika Serikat. Investigasi itu menunjukkan bahwa raksasa-raksasa minyak adalah donator terbesar bagi Partai Republik. Menimbang hal ini.Kumpulan negara-negara Eropa barat itu. Dengan menyumbangkan dana kampanye sampai USD 1. Sedangkan bila kita mau melihat yang lebih besar lagi. Kerena tentulah Bush bukanlah seseorang yang lupa akan jasa-jasa pihak yang membantunya naik ke puncak kekuasaan. akan terungkap. dalam menolak ajakan dunia untuk ikut serta dalam gerakan internasional melawan pemanasan global. tentu tidaklah mengherankan bila kita melihat sikap arogan Bush dalam menolak Protocol. apakah mungkin ada alasan lain dibalik penolakan Amerika serikat tersebut? GreenPeace. bila kita mau merinci lebih jauh lagi aliran dana kampanye Presiden Amerika Serikat tahun 1999-2000. telah mencapai USD 32juta yang 78 %-nya mengucur masuk dengan deras ke kas Partai Republik. untuk mengurangi emisi gas rumah kacanya. Alasan-alasan ekonomi yang mereka gunakan untuk menolak protokol justru mengundang banyak kecurigaan dari berbagai pihak. Greenpeace tidaklah asal tuduh. tapi ternyata bukan saja Uni Eropa yang legowo dengan target tinggi tersebut. dalam hal ini Bush. 75 % di antaranya kembali masuk dan dinikmati oleh Partai Republik. pernyataan mereka didasarkan dari hasil investigasi yang mereka lakukan. Hal yang bertolak belakang memang. Bila memperhatikan hal-hal di atas tentulah kita akan menjadi maklum melihat sikap keras kepala Amerika. Dia dengan tega melawan kepentingan segenap umat manusia . Meraka bahkan dengan lantang memasang target 8 %. Jepang pun nyatanya mempunyai sikap yang sama. Bush kepuncak hirarki kekuasaan. Lalu kenapa Amerika Serikat begitu takut? Ketakutan Amerika Serikat yang diwujudakannya dengan sikap arogan itu memang begitu aneh terlihat. dengan tegas malah menuding bahwa sikap Washington itu adalah hasil dari sebuah rekayasa dan lobi dari para pengusaha terutama para pengusaha minyak di Amerika. Dunia bertanya.

maka diharapkan akan terwujud kesatuan global yang berjalan dengan penuh harmonisasi. Namun sepatutnya. Dengan jiwa kebersamaan yang penuh tenggang rasa dan kekeluargaan. Hal itulah yang seharusnya kita kedepankan.janganlah kita menjadi manusia individualis yang haus kekuasaan. Kesatuaan yang solid dengan keindahan rasa kebersamaan dan semangat gotong-royong. pemanasan global yang telah menjadi permasalahan bersama ini bias kita selesaikan bersama pula. Dan janganlah pula sengaja menutup mata pada kenyataan http://camarcacat. Bukan dengan jiwa yang individualistis. Kepentingan bersama haruslah di atas segala-galanya.hanya karena membela keserakahan segelintir orang di belakangnya.com/2008/02/02/alasan-terselubung-amerika-menolak-protokol-kyoto/ . Kesatuan dalam perbedaan. Sesuatu yang amat sangat melukai rasa kemanusiaan kita. Karena dengan jiwa yang di penuhi semangat kekeluargaan.wordpress.

khususnya kegiatan pembakaran bahan bakar fosil (batubara. dan “mekanisme pembangunan bersih” (clean development mechanism).id .Ratifikasi Protokol Kyoto. gas bumi) merupakan penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca (khususnya  Hanan Nugroho. Conference of the Parties (COP) dari badan itu pada tahun telah menghasilkan kesepakatan internasional untuk memanajemeni perubahan iklim global. dengan dokumen dikenal sebagai Protokol Kyoto. pemanfaatan “rosot” (sinks). Ekonomi dan Lingkungan di Sekolah Pascasarjana Ilmu Pengetahuan Energi. Protokol Kyoto dilengkapi dengan mekanisme perdagangan emisi (emission trading). global bawah 1997 yang Protokol Kyoto berisikan kesepakatan legal pemerintah negara-negara Annex I (pada umumnya negara industri) mengenai target kuantitatif pengurangan emisi gas rumah kaca untuk diterapkan pada periode 2008-2012. ditandai antara lain dengan dibentuknya Badan Khusus di Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai perubahan iklim. Emisi gas rumah kaca (green house gases) dianggap sebagai penyebab perubahan iklim global yang ditakutkan itu. Mekanisme Pembangunan Bersih dan Pengembangan Sektor Energi Indonesia: Catatan Strategis Hanan Nugroho 1 Pendahuluan Kekhawatiran masyarakat bumi bahwa perubahan iklim akan membawa dampak dahsyat telah tumbuh dengan cepat. Universitas Kyoto. Untuk mencapai target yang ditetapkan. minyak bumi. yaitu UNFCCC (UN Framework Convention on Climate Change). fungsional perencana dalam bidang energi di BAPPENAS. Sektor energi. penerapan bersama (JI). Email: nugrohohn@bappenas.go. Mengikuti program doktoral di bidang Energi.

Indonesia juga adalah negara agraris. potensi perdagangan karbon / mekanisme pembangunan bersih. Indonesia adalah negara dimana sektor energi memberikan sumbangan besar tak hanya untuk menggerakkan ekonomi nasional. Ekspor minyak bumi. karena dampaknya yang cukup besar terhadap sektor energi. Protokol Kyoto. sektor ini akan terkena dampak langsung kesepakatan dunia mengenai manajemen perubahan iklim tersebut. tapi juga dalam menyumbangkan pendapatan langsung dari penjualan produk-produk energi. Namun demikian. mempunyai hutan–hutan tropis serta garis pantai yang terpanjang di dunia. Indonesia pada dasarnya setuju untuk meratifikassi Protokol Kyoto dan telah membuat sejumlah langkah untuk menyiapkan hal itu. Negara .berupaya melindungi gaya hidup royal energi dan berkilah agar upaya pengurangan emisi dunia dilakukan sedikit saja di negara mereka. khususnya bahan bakar fosil. benturan kepentingan terjadi. sehingga perubahan iklim yang akan berpengaruh terhadap pemanasaan global merupakan masalah yang menjadi perhatian negara ini. 2 Mekanisme Lentur Protokol Kyoto dan Sektor Energi Kekhawatiran masyarakat bumi bahwa perubahan iklim global akan membawa dampak dahsyat adalah serupa. Di sisi lain. Masalah ”bersama” ini cenderung disikapi oleh negara miskin/negara kepulauan kecil dengan berbagai tuntutan dan oleh negara-negara berkembang dengan mempertahankan hak “membuat kesalahan sama” yang dulu dilakukan negara-negara industri. khususnya melalui fasilitas mekanisme pembangunan bersih (CDM) yang disediakannya memungkinkan negara berkembang seperti Indonesia untuk mendapatkan manfaat dalam bentuk aliran finansial maupun teknologi dari negara maju. gas bumi dan batubara merupakan sumber utama pendapatan pemerintah sejak lebih 3 dekade yang lalu.karbondioksida. CO2) dan oleh karena itu. namun ketika mendiskusikan cara mengatasinya. perdagangan bahan bakar fosil serta kemungkinan perubahan kecenderungannya untuk menjadi bahan antisipasi dan perencanaan strategis yang mesti disiapkan oleh Indonesia. Tulisan ini menguraikan hal-hal pokok mengenai Protokol Kyoto. negara-negara industri -pemilik kekhawatiran sekaligus pencemar lingkungan terbesar. Indonesia perlu mempelajari implikasi Protokol Kyoto untuk menentukan masa depan sektor energi. khususnya peluang ekonomi dari perdagangan bahan bakar fosil serta perdagangan karbon nantinya.

Sekitar tiga-per-empat dari emisi gas rumah kaca yang dipancarkan bumi pada tahun 1990 berasal dari kegiatan pembakaran bahan bakar fosil. terdiri dari 33 negara Annex-I dan 93 negara Annex II telah meratifikasi Protokol Kyoto. produksi. ratifikasi Protokol Kyoto oleh Indonesia tinggal menunggu tanda tangan persetujuan Presiden. Saat tulisan ini disiapkan (pertengahan Oktober 2004). Amerika Serikat. sementara ratifikasi oleh Rusia -yang juga menghasilkan kandungan emisi sangat besar. dengan Jepang serta negara-negara Eropa Barat dan Skandinavia sebagai pelopornya) pada suatu target kuantitatif pengurangan emisi gas rumah kaca. pencemar terbesar dunia.unfccc. menolak untuk meratikasi Protokol Kyoto. Namun demikian. khususnya dengan kegiatan pembakaran bahan bakar fosil (terutama batubara. sejumlah 126 negara. distribusi energi serta dikembangkannya teknologi energi akrab lingkungan atau yang menghasilkan sesedikit mungkin emisi gas rumah kaca. . negara-negara tersebut secara bersama-bersama (dengan target pengurangan emisi yang dapat berbeda untuk masing-masing negara) harus bisa mencapai pengurangan emisi karbondioksida sebesar 5 (lima) persen di bawah emisi karbondioksida mereka pada tahun 1990. bukan negara Annex-I. telah menyiapkan langkah-langkah untuk meratifikasi Protokol Kyoto tersebut. Sidang COP-3 di Kyoto secara gemilang telah berhasil mengikat kesepakatan negaranegara Annex-I (sebagian besar negara industri. Indonesia. 2.1 Implikasi bagi sektor energi Sektor energi.sedang ditunggu karena pengaruhnya yang akan sangat penting dalam kemajuan proses ratifikasi total. minyak bumi dan gas bumi) adalah penyebab utama emisi karbondioksida (CO 2 )yang dianggap bertanggungjawab terhadap perubahan iklim global dan yang ditargetkan untuk dikurangi oleh Protokol Kyoto.int). khususnya karbondioksdia.pengekspor energi. Protokol Kyoto akan mengikat secara hukum internasional setelah 55 persen dari jumlah negara penandatangan kesepakatan (Annex-I) atau yang mewakili 55 persen dari emisi negaranegara tersebut telah meratifikasi Protokol Kyoto. Inti kesepakatan adalah bahwa pada periode 2008-2012. tak setuju target pengurangan emisi yang berarti menurunkan konsumsi dunia akan komoditi andalan mereka. Jumlah negara ini telah jauh melewati angka 55 persen dari penandatangan kesepakatan Protokol Kyoto (http://www. dampak penerapan Protokol Kyoto bagi sektor energi sangat jelas: mendesak dilakukannya perubahan pola konsumsi. Berdasarkan hubungan ini.2 persen atau masih dibawah besaran 55 persen yang disyaratkan agar Protokol Kyoto dapat diterapkan secara hukum internasional (enter into force). Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia telah menyetujui ratifikasi Protokol Kyoto dan pada saat tulisan ini dibuat (awal Oktober 2004). khususnya OPEC. emisi karbondioksida dari negara-negara yang telah meratifikasi Protokol Kyoto tersebut baru mencapai 44.

mengarahkan pengembangan industri ke yang tidak boros energi. khususnya oleh negara-negara Annex-I.Konsumsi energi dunia perlu dikurangi atau diefisienkan karena pola konsumsi energi ini berkaitan langsung dengan tingkat emisi gas rumah kaca yang diproduksi bumi. Bagi negara pengekspor bahan bakar fosil. mengurangi industri berat. kapasitas pembangkitan tenaga nuklir direncanakan mencapai 54. dari batubara ke gas alam atau ke panas bumi dan nuklir). Pola konsumsi yang berubah akan membawa pengaruh terhadap pola produksi dan perdagangan internasional bahan-bahan bakar fosil. negara yang efisiensi pemanfaatan energi dan baku lingkungannya telah terdepan di dunia. pengetatan baku lingkungan maupun riset energi baru yang dilakukannya akan dapat membantu seluruh target pengurangan emisi yang dicanangkan Protokol Kyoto.org). menyubsidi pengembangan teknologi batubara bersih. tidak cukup optimis bahwa langkah-langkah efisiensi teknologi. pajak.jp).or. Langkah utama Jepang mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil adalah memanfaatkan nuklir. akan dihambat oleh target pengurangan emisi Protokol Kyoto tersebut. Pembangkitan energi -sektor terdepan yang terkena dampak pengurangan emisiperlu diubah dari pemakaian bahan bakar beremisi tinggi ke yang rendah atau ke yang hampir tak menghasilkan polusi (misalnya. Hanya negara dengan industri bahan . namun beberapa kecenderungan dapat diperkirakan (http://www. di luar pertumbuhan sebagaimana biasanya (business as usual). Amanat Protokol Kyoto berpengaruh jelas pada kebijakan energi yang dikembangkan. Kebijakan subsidi. Studi rinci menghitung dampak penerapan Protokol Kyoto pada penurunan pendapatan ekspor energi suatu negara berkembang belum banyak dilakukan. Namun Jepang. seperti bahan bakar hidrogen. Selain berimplikasi agar konsumsi energi -khususnya oleh negara-negara industridikurangi.3 GW (lebih dua kali kapasitas pembangkitan PLN sekarang). memassalkan angkutan umum berpolusi rendah serta menerapkan baku lingkungan yang makin ketat juga menjadi bagian dari kebijakan energi Jepang. Protokol Kyoto juga mendesak agar efisiensi penggunanan energi ditingkatkan atau intensitas energi (rasio antara konsumsi energi dengan nilai ekonomi yang dihasilkannya) diperbaiki. Sebagai contoh adalah pemerintah Jepang.ieej. photo-voltaic). Dengan beroperasinya pembangkit di Shika tahun 2006 dan 9 reaktor baru di tahun 2008. Meningkatkan efisiensi teknologi. dan harga energi perlu ditinjau untuk mendorong penggunaan energi bersih dan menjamin bahwa energi digunakan secara hemat.eia. implikasi pengurangan emisi berupa penurunan konsumsi energi dapat mengandung arti pengurangan pendapatan ekspor. pada tahun diawalinya penerapan Protokol Kyoto. Pertumbuhan permintaan batubara dan minyak bumi khususnya. dengan meningkatkan pangsa pembangkitan listrik tenaga nuklir menjadi 42 persen di tahun 2010 (http://www. yang pada umumnya dikonsumsi oleh negara-negara industri dan sebagian besar bahan bakunya diproduksi oleh negara-negara berkembang. air. maupun coal bed methane dan DME (di-metil-ethene). angin. dan biomass. Langkah lain yang dilakukan Jepang adalah meningkatkan pemakaian sumber energi terbarukan (renewables) seperti sel surya (solar cell. Negeri itu juga sangat aktif dalam riset-riset untuk mengembangkan sumber-sumber energi di masa depan.

khususnya di negara-negara industri penghasil batubara. Termasuk dalam mekanisme lentur Protokol Kyoto tersebut adalah perdagangan emisi (emission trading. Sebaliknya. CDM). Protokol Kyoto dilengkapi dengan mekanisme lentur (flexible mechanisms) yang menjadi bagian sangat penting dari Protokol tersebut.2 Mekanisme lentur Protokol Kyoto Untuk mencapai target pengurangan emisi karbondioksida yang ditetapkannya. ET). upaya-upaya yang dilakukan tidak akan . diterapkannya baku lingkungan yang ketat serta adanya kecenderungan harga naik karena dikuranginya subsidi. CER) tersebut akan diberikan kepada negara Annex-I. Daya tarik tradisional bahan bakar ini pada harga yang murah tidak lagi memikat karena meningkatnya preferensi ke bahan bakar bersih. yang dapat dilakukan misalnya di bursa karbon dunia yang diharapkan berkembang. Dengan fasilitas CDM.bakar fosil yang memiliki volume ekspor besar dan biaya produksi rendah saja yang berpotensi menikmati rente pendapatan ekspor bahan bakar fosil mereka nanti. mekanisme yang melibatkan negara berkembang (bukan negara Annex-I) adalah yang dikenal sebagai mekanisme pembangunan bersih (CDM). Perdagangan emisi merupakan mekanisme untuk menjual dan membeli izin untuk melakukan pencemaran (emission permit) atau melakukan perdagangan karbon. JI) dan “mekanisme pembangunan bersih” (clean development mechanism. Tanpa meratifikasi Protokol Kyoto. Selanjutnya. hingga jangka menengah gas bumi. serta untuk membantu negara Annex-I mencapai target pengurangan emisi mereka. Penerapan bersama (JI) mewadahi mekanisme untuk melakukan investasi proyek pengurangan emisi di suatu negara Annex-I oleh suatu negara Annex-I lainnya. CDM merupakan mekanisme Protokol Kyoto yang memungkinkan negara Annex-I dan negara berkembang bekerja-sama untuk melakukan “pembangunan bersih”. 2. Investasi negara Annex-I di negara berkembang yang menghasilkan penurunan emisi akan disertifikasi dan kredit dari “pengurangan emisi yang disertifikasi” (certified emission reduction. Kelebihan dari CDM yang tidak dipunyai oleh mekanisme lentur Protokol Kyoto lainnya adalah bahwa CER yang diperoleh sejak tahun 2000 hingga 2007 dapat digunakan sebagai kredit untuk memenuhi target pengurangan emisi dalam periode pertama penerapan Protokol Kyoto (2008-2012). Bagaimanapun juga. karena tingkat emisinya yang terkecil dibandingkan bahan bakar fosil lainnya. negara Annex-I dapat memenuhi kewajiban pengurangan emisinya dengan melakukan proyek “pengurangan emisi” di suatu negara berkembang dan sang negara berkembang mendapatkan kompensasi finansial dan teknologi dari kerja-sama tersebut. upaya-upaya melakukan proyek CDM hanya akan dihargai nantinya bila negara berkembang tempat melakukan proyek-proyek CDM tersebut telah meratifikasi Protokol Kyoto. penerapan bersama (joint implementation. Ekspor batubara (penghasil emisi terbesar di antara bahan bakar fosil lainnya) akan terkena dampak paling besar. akan menjadi pilihan utama dari peralihan penggunaan batubara dan minyak bumi. Kredit pengurangan emisi yang diperoleh dari pelaksanaan proyek tersebut akan diberikan kepada negara yang melakukan investasi. Tujuan CDM sebagai ditegaskan oleh Protokol Kyoto (Pasal 12) adalah membantu negara berkembang melakukan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan turut menyumbang bagi pencapaian tujuan pengurangan emisi global.

baik bahan bakar fosil maupun untuk sumber-sumber energi terbarukan (renewables) masih akan tumbuh cukup besar di Indonesia. dengan meminjam model perencanaan energi MARKAL (MARKet ALlocation). seperti pemanfaatan mesin-mesin co-generation dan teknologi batubara bersih (clean coal technology) juga dapat dipertimbangkan sebagai proyek CDM untuk mendapatkan CER. Dalam kategori ini termasuk pengembangan tenaga surya (angin. emisi yang kita hasilkan “masih sangat sedikit” dibandingkan yang dipancarkan oleh banyak negara-negara industri. pangsa Indonesia dalam pasar karbon dunia. renewables) sudah cukup maksimal (misalnya Jepang). di antaranya terhadap pertumbuhan konsumsi energi Indonesia. namun yang lebih efisien dan lebih bersih dibandingkan yang ada sekarang. kebutuhan akan energi. biofuel.diakui sebagai kegiatan resmi CDM dan tidak bisa diberikan kredit atau certificate emission reduction-nya. 3 Mekanisme pembangunan bersih dan sektor energi Indonesia Pembangunan ekonomi Indonesia membutuhkan banyak tambahan energi. Di pihak lain. sel surya). Kecenderungan pertumbuhan konsumsi energi primer yang menonjol tampak pada. Diperlihatkan pangsa konsumsi minyak bumi. serta potensi Indonesia dalam melakukan proyek-proyek mekanisme pembangunan bersih. dibiayai oleh Bank Dunia). Di sisi lain. dan nuklir. karena “pengurangan emisi” adalah dibandingkan dengan suatu “base line” tertentu yang dapat berupa teknologi energi yang sekarang digunakan. maka peluang untuk mendapatkan CER dari sektor energi di Tanah Air akan berada pada pemanfaatan teknologi energi untuk sumber-sumber energi terbarukan (renewables). khususnya batubara. Teknologi energi di bidang bahan bakar fosil. Dengan perkataan lain. Interaksi pembangunan ekonomi. NSS. air. panas bumi (geothermal). memproyeksikan komposisi pemakaian energi primer (primary energy mix) di Indonesia hingga tahun 2025. Studi tersebut melakukan analisis. bagi negara Annex-I yang target pengurangan emisinya terbatasi pada efisiensi teknologi yang sulit ditingkatkan dan penggunaan bahan bakar bersihnya (gas bumi. misalnya yang dilakukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dalam National Strategy Study on Clean Development Mechanism in Indonesia (NSS. 2001. yang dalam kurun 2-3 dekade terakhir ini juga memiliki tingkat pertumbuhan konsumsi energi yang jauh di atas rata-rata dunia. kemudian diperkirakan besaran emisi karbondioksida (CO2 ) yang dihasilkan dari kegiatan pemanfaatan energi (Tabel 1). penambahan energi dan pengurangan dampak lingkungan yang semakin kompleks di tanah air nanti berpotensi melahirkan banyak kegiatan yang masuk kategori “mekanisme pembangunan bersih” Protokol Kyoto. batubara. Berdasarkan proyeksi konsumsi energi primer tersebut. “membeli” pengurangan emisi seperti di Indonesia adalah pilihan yang rasional. Upaya-upaya untuk melakukan perhitungan potensi memperoleh manfaat dari penerapan proyek-proyek CDM tentu saja masih terbuka lebar untuk dilakukan. Potensi Indonesia untuk mendapatkan manfaat dari mekanisme pembangunan bersih Protokol Kyoto pernah dihitung. Dalam skim CDM. tenaga air (hydropower) dan biomass. . nuklir. Sektor energi Indonesia dapat menawarkan daya tarik itu ke pasar emisi internasional untuk memperoleh dana dan teknologi energi bersih. gas bumi.

9 TOTAL 228 246 298 392 526 672 3. Indonesia memiliki potensi cukup besar untuk menjadi tempat bagi proyek-proyek CDM. dan sebagiannya sangat dipengaruhi oleh kesiapan institusi .1 1.4 3. termasuk biaya persiapan proyek. Namun demikian. Hingga tahun 2012. biayabiaya transaksi masih sulit diperhitungkan. Berdasarkan skenario standar. Kepada siapa pendapatan itu akan diterimakan dan bagaimana kemudian ia akan digunakan sangat tergantung pada perjanjian-perjanjian (contractual agreement) yang nantinya dilakukan.4 0.4 5. beberapa di antaranya menjanjikan biaya proyek yang sangat murah. Perkiraan emisi karbondioksida dari sektor energi Indonesia hingga tahun 2025 Total emisi CO2 (juta TON) Sektor Industri Rumah Tangga Transportasi Pbk.6 juta dari penjualan ini perlu dibayarkan untuk “biaya adaptasi” (adaption fund). pemantauan dan akreditasi. Penjualan sejumlah rata-rata 25 MT CO2 per tahun selama periode komitmen (2008-2012) akan menghasilkan pendapatan sekitar $ 228 juta. Analisis sensitivitas dari pemodelan yang dilakukan menunjukkan bahwa besaran CDM di Indonesia dapat bervariasi cukup besar. tergantung pada teknologi yang diterapkan serta biaya yang mengikuti nantinya. Sejumlah $ 4. 2001. Secara global.3 Sumber: NSS on CDM in Indonesia. Tenaga Listrik Industri Energi Pertumbuhan Rata-rata 2025 141 25 168 275 63 2000 58 21 55 54 40 2005 66 22 61 66 30 2010 73 23 76 90 35 2015 91 23 99 152 27 2020 109 22 128 220 48 (% per tahun) 2. Biaya yang dibutuhkan untuk menerapkan proyek-proyek CDM diperkirakan sekitar $ 130 juta.Tabel 1. sebagian besar dari angka ini akan dipergunakan untuk biaya-biaya transaksi (transaction costs). pendapatan dari proyek-proyek CDM di Indonesia diperkirakan mencapai $ 94 juta. NSS menghitung bahwa volume total CDM yang dapat dihasilkan di Indonesia hingga 2012 nanti adalah sekitar 125 MT CO2.

di dalam negeri yang akan menangani proyek-proyek CDM serta aturan internasional yang dikembangkan berkenaan dengan CDM. GTZ (Jerman) maupun Bank Dunia secara aktif melakukan promosi mengenai mekanisme pembangunan bersih di Tanah Air. Selain itu. yang merupakan rintisan proyek CDM namun belum akan dihitung CER-nya juga telah dilakukan di Tanah Air.5 dan 3. Skenario pesimis dan optimis menunjukkan potensi pangsa Indonesia dalam pasar CDM dunia adalah 1.yang berpotensi untuk menghasilkan pendapatan dari skim proyek CDM. khususnya dengan kegiatan pengembangan energi terbarukan. Pembentukan badan yang akan memanajemeni proyek-proyek CDM (sebuah Designated National Authority) akan sangat berguna untuk menjamin agar Indonesia dapat memanfaatkan semaksimum mungkin peluangnya untuk merebut proyek-proyek CDM yang ditawarkan di pasar global. agar terdapat proses seleksi dan administrasi yang cukup baik bagi proyek-proyek CDM yang dilakukan di Tanah Air.5 persen. efisiensi dan konservasi energi. Tabel 2 menunjukkan nama sejumlah proyek di sektor energi -termasuk lokasi dan pelakunya. Sebagian besar dari potensi melakukan proyek-proyek CDM akan berada pada sektor energi. Unsur-unsur dari instansi Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan (stake holders) perlu dikonsolidasikan untuk menyiapkan dan mengisi Badan baru penanganan CDM tersebut. Beberapa proyek dalam kerangka AIJ (activities implemented jointly). Besarnya potensi Indonesia untuk menjadi tempat bagi proyek-proyek CDM juga ditunjukkan. antara lain dengan telah mulai beroperasinya sejumlah perusahaan Jepang dan Eropa Barat yang menawarkan kerja sama untuk melakukan persiapan proyek-proyek dalan kerangka mekanisme pembangunan bersih di Indonesia. penerapan teknologi energi. Organisasi kerja sama bilateral dan multilateral seperti NEDO (Jepang). .

Tabel 2. NTT Gangga. Banggai. Banggai. Central Sulawesi Walenrang. East Java Torgamba Plantation. Luwu. Maggarai. Bronzeoak Ltd. Jayapura East Nusa Tenggara (NTT) Negara-negara E7. Kolaka. West Java PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Ponorogo. NTB Attingola. Unocal Geothermal Indonesia PLN PLN PLN Geothermal power plant Ulumbu Project Cluster: Small Hydro in Irian Papua -Mini hydro power plant Tatui -Micro hydro power plant Amai Project Cluster: Renewable Energy in East & West Nusa Tenggara (NTT & NTB) -Renewable Energy Supply Systems (RESS) (AJJ) -Mini hydro power plant Ndunggango -Mini hydro power plant Santong Project Cluster: Rural Electrification in Sulawesi -Micro hydro power plant Mongang -Mini hydro power plant Lobong -Mini hydro power plant Kalumpang -Mini hydro power plant Hanga hanga I -Mini hydro power plant Hanga hanga II -Mini hydro power plant Sansarino -Mini hydro power plant Batu Sitanduk -Mini hydro power plant Kadundung -Mini hydro power plant Usu Malili -Mini hydro power plant Sambilam Bo -Mini hydro power plant Rante Balla -Coal drying plant at Suralaya power plant -Paper sludge and solid waste recycle for steam generation .. dilanjutkan KLH PLN PLN Ndungga. South Sulawesi Malili. Ende. PT. Mongondow. Ajar Surya Wisesa (AJJ) Waste recycling and emission capturing at tapioca starch plant Use of palm oil palntation wastes in a co-generation facility Using palm oil mill waste to generate electricity Rice husk generation Cogeneration in industry Microhydro power plants Energy efficiency in textile industry Sumber utama: NSS on CDM in Indonesia Satar Messe. Kandidat proyek-proyek mekanisme pembangunan bersih (CDM) sektor energi Nama Proyek Geothermal power plant Sarulla Lokasi North Sumatera Pemilik / Pelaksana Proyek PLN. Gorontalo. PERTAMINA Panas Bumi. Bolaang. South Sulawesi Belopa. South Sulawesi Sinjai. South Sulawesi Mowewe. Uwu. South Sulawesi West Java Bekasi. Central Sulawesi Luwuk. of Energy . Luwu.PT. of Energy Min. NTT Yapen Selatan. Central Sulawesi Ampana Kota. North Sumatera Gorontalo Some scaterred projects Some scaterred projects West Java Bronzeoak Ltd. North Sumatera Pangkalan Brendan. Catra Nusantara Local Government Min. Yapen Waropen Depabre. North Sulawesi Passi. Poso. Lombok Barat. South East Sulawesi Basessang Tempe. Banggai. North Sulawesi Luwuk.

1 20. transportasi.3 24.4 30.4 Perdagangan bahan bakar fosil Indonesia Indonesia adalah negara dimana sektor energi memberikan sumbangan besar tak hanya untuk menggerakkan ekonomi nasional (menjadi bahan bakar kegiatan industri.2 157. Nota Keuangan. khususnya sejak Indonesia mengalami krisis ekonomi/finansial 1997/98 yang lalu.6 20. Ditunjukkan pula angka subsidi BBM (bahan bakar minyak).4 22.5 13. rumah tangga dan kegiatan lainnya) tapi juga dalam bentuk pendapatan langsung dari penjualan bahan bakar fosil.8 301.2 35. Hal ini nampak nyata. yaitu subsidi yang diberikan pemerintah Indonesia kepada Pertamina (perusahaan pertambangan minyak negara) untuk melayani penduduk Indonesia mengkonsumsi bahan bakar minyak (khususnya bensin.3 31.2 108. gas bumi dan batubara merupakan sumber utama pendapatan ekspor nasional sekaligus pendapatan pemerintah. Penerimaan minyak dan gas bumi dan subsidi BBM Tahun 1992/93 1993/94 1994/95 1995/96 1996/97 1997/98 1998/99 1999/00 2001 2002 2003 Penerimaan Dalam Negeri 48.2 31. Tabel 3 memperlihatkan perkembangan penerimaan dalam negeri pemerintah (pusat) Indonesia. dan minyak tanah).9 56.8 286.7 32.6 78.7 74. yang tercantum dalam Nota Keuangan naskah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).5 89.3 13.7 1.3 12.3 0.4 9.2 70. sejak industri perminyakan Indonesia dibangkitkan kembali pada era Repelita I (periode awal 70-an lalu).4 22.1 66.2 Penerimaan Minyak & Gas Bumi 15.6 Sumber: Statistik Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas).0 25.8 27.5 16. serta besaran dan pangsa minyak dan gas bumi dalam penerimaan dalam negeri pemerintah Indonesia tersebut.5 187. .4 41.8 68.7 1. Meskipun pangsa minyak dan gas bumi dalam perekonomian nasional kemudian menurun karena perkembangan industri manufaktur. peranan yang besar dari ekspor bahan bakar fosil kembali meningkat dan menjadi sangat penting.4 58. solar.7 26.1 35.4 71. Tabel 3.0 % Minyak & Gas Bumi / Total 31. Pendapatan dari mengekspor minyak bumi.3 20.8 Subsidi BBM 0.9 336.

yang kebutuhan bahan bakar fosilnya hampir seluruhnya mengandalkan pada impor.989 98. pangsa impor bahan bakar fosil dari Indonesia itu dari keseluruhan impor bahan bakar fosil Jepang adalah sekitar 10 persen untuk minyak mentah.932 280. perubahan paradigma yang radikal terhadap bahan bakar fosil yang dibawa oleh Protokol Kyoto. sekitar separuh dari eskpor minyak mentah. perlu sedari dini mempelajari dampak dari penerapan Protokol Kyoto. Tabel 4-A.9 . Bagi Jepang sendiri. khususnya batubara. dan strategi baru perdagangan bahan bakar fosil perlu dikembangkan.975 Total Volume (1000 B/D) 283. termasuk empat besar pengekspor batubara dunia. Selama sedasa-warsa terakhir. Bahan bakar fosil Indonesia selama beberapa dekade telah diekspor ke beberapa negara tujuan dengan Jepang merupakan negera tujuan utama. Perkembangan ekspor minyak mentah Indonesia Tahun Tujuan  1996 1997 1998 Jepang 106.1 3.458. Pangsa ekspor ke Jepang ditunjukkan.823 85. Ekspor bahan bakar fosil memiliki nilai finansial yang jauh lebih besar daripada potensi pendapatan yang mungkin diperoleh Indonesia dari perdagangan karbon melalui melalui mekanisme pembangunan bersih (CDM) nantinya. dan pengekspor terbesar di dunia untuk gas alam cair (LNG: liquefied natural gas). LPG (liquefied petroleum gas) dan gas bumi melalui pipa.711. Angka ini belum termasuk ekspor batubara dan LPG yang juga berkembang pesat. Dampak penerapan Protokol Kyoto perlu diantisipasi dengan cermat oleh Indonesia. Ekspor minyak mentah dan LNG seperti ditunjukkan oleh Table 4-A dan 4-B bernilai antara US$ 8 – 12 milyar setiap tahunnya. lebih se-per-empat dari eskpor batubara dan lebih tiga-perempat dari ekspor LNG Indonesia ditujukan ke Jepang. Perlu dicatat bahwa selain mengekspor minyak bumi dan LNG.Dengan peranan bahan bakar fosil yang sedemikian penting dalam perekonomian nasionalnya. untuk memperlihatkan pangsanya yang sangat penting dalam tujuan ekspor bahan bakar fosil Indonesia.8 5. dapat mengakibatkan penurunan pada perdagangan bahan bakar fosil Indonesia. Sebagai ilustrasi Tabel 4 (4-A dan 4-B) menunjukkan perkembangan ekspor bahan bakar fosil utama Indonesia minyak bumi dan gas bumi (LNG).) 5. Indonesia juga mengekspor batubara. Ditunjukkan volume dan nilai finansial dari ekspor minyak bumi (mentah: crude oil & condensate) dan ekspr LNG tersebut dan batubara. 7 persen untuk batubara dan 50 persen untuk gas bumi cair (LNG). Indonesia.740 287. melalui mekanisme pambangunan bersihnya.365 Total Value (US$ mill.444. memungkinkan Indonesia untuk memperoleh manfaat dari perdagangan karbon dunia nanti. Di satu sisi Protokol Kyoto. Namun di sisi lain. yang juga adalah pengekspor minyak bumi terbesar di kawasan TimurJauh (satu-satunya anggauta OPEC dari kawasan ini).

387. juga dari Malaysia dan Vietnam.399 223.762 320. dan Australia telah membentuk Asia Timur sebagai kawasan perdagangan LNG terbesar di dunia.0 Sumber: Statistik Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Tabel 4-B.9 3.8 6.543 Total Value (US$ mill.8 4. yang didatangkan selain dari kawasan Timur Tengah.024 1.866 61.940 1.035.153 110. Perdagangan LNG dengan tujuan Jepang.978 714.) 4.655 933.734.400.375.274 4.884 Taiwan 78.552 78.398 155.389. Selain mengekspor.785 1. Indonesia juga di awal abad ke-21 melakukan ekspor gas bumi melalui pipa ke negara tetangga Malaysia dan .987 97.426 Korea 335.141 958.751 285.5 6. negara-negara industri Asia Timur lainnya (khususnya Korea Selatan dan Taiwan).1 5. Indonesia juga mengekspor dan mengimpor sejumlah produk-produk minyak (oil products).484 120.2 4.395.742 372.1999 2000 2001 2002 94.282.323 200.500 241. Walaupun permintaan akan minyak bumi Indonesia dari konsumen di luar negeri terus meningkat.646 432.660 870.807 77.949.065 1.318 927.512.0 Sumber: Statistik Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Ekspor minyak mentah (crude oil) ditujukan ke Jepang. Korea Selatan.802.5 7. yang membutuhkan gas bumi untuk pembangkitan tenaga listrik dan gas kota.549 1.3 5. Malaysia.766 212.936 1.489.238. Ekspor gas bumi Indonesia dalam bentuk LNG dilakukan pertama kali pada tahun 1977 dengan tujuan ekspor Jepang. namun kemampuan untuk memenuhi permintaan tersebut dihambat oleh peningkatan konsumsi di dalam negeri sendiri yang terus berkembang. Australia dan sejumlah kecil ke kawasan ASEAN. Peningkatan permintaan minyak mentah yang menonjol tahun-tahun belakangan ini datang dari negeri Cina.720 74.1 6.595.224 371.232 Total Volume (MMBTU) 1.501.730. dengan mengandalkan lapangan produksi dan pemrosesan di Bontang (Kalimantan Selatan) dan Arun (Aceh).260.772 936.612 217.519 145. Ekspor LNG selanjutnya ditujukan ke Korea Selatan (1986) dan Taiwan (1990). Indonesia juga mengimpor minyak mentah. Perkembangan ekspor LNG Indonesia Tahun Tujuan  1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Jepang 955. Amerika Serikat. serta oleh kemampuan produksi yang juga menurun.370. khususnya minyak tanah (kerosene) yang diimpor dari Singapura. Taiwan dan dengan pemasok utama Indonesia.

Pertumbuhan ekspor untuk melayani kawasan-kawasan yang sangat tergantung pada impor bahan bakar fosil dari luar tersebut telah membuat Indonesia tumbuh menjadi 3 besar pengeskpor batubara di dunia. masih sangat kecil. Untuk diekspor. OPEC. Ekspor batubara Indonesia berkembang dalam periode 80-an. khususnya untuk melayani permintaan negara-negara industri Asia Timur (Taiwan. Volume ekspor gas bumi melalui pipa ini. ketika permintaan pemakaian batubara. karena jatuhnya kurs mata uang kita. status pengimpor neto untuk produk minyak bahkan telah kita alami sejak periode krisis 1997/98 yang lalu. Mengingat cadangan minyak bumi kita yang kecil (dibandingkan dengan anggota OPEC yang lain) maka keputusan produksi. dengan menggunakan OWEM (Opec World Energy Model) telah mencoba melakukan studi mengenai dampak Protokol Kyoto terhadap pendapatan ekspor minyak bumi negara-negara OPEC. 4. ekspor atau untuk digunakan di dalam negeri (dengan harga murah seperti sekarang ini) perlu dikaji lebih dalam dan diubah untuk memberikan kemanfaatan yang lebih baik bagi Indonesia. berdasarkan pemahaman terhadap hal-hal yang mendasar mengenai perdagangan bahan bakar fosil. Perkembangan yang penting diperhatikan dalam perdagangan minyak bumi kita adalah mulai tergelincirnya status Indonesia sebagai negara pengimpor neto (net importing country) pertengahan tahun 2004 ini. Ditinjau dari segi finansial. dibandingkan dengan volume LNG yang diekspor. produksi minyak bumi kita yang tidak banyak tarik menarik dengan peningkatan permintaan BBM di dalam negeri yang terus meningkat. dimana harga jual bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri menjadi jauh lebih murah dibandingkan harga belinya. Perkembangan produksi dan ekspor batubara Indonesia selanjutnya berjalan sangat pesat. khususnya untuk pembangkit tenaga listrik sedang tumbuh cepat di dunia. Selain itu Indonesia juga mengekspor LPG (liquefied petroleum gas) yang bersumber dari lapangan/pemrosesan yang sama dengan yang menghasilkan LNG (di Bontang dan Arun). namun dampak terhadap satu per satu negara OPEC tidak diperlihatkan. Perlu dicatat bahwa dari segi perdagangan produk minyak (oil product) kita telah mengalami transisi menjadi pengimpor neto beberapa masa sebelumnya. Walaupun demikian. beberapa perkiraan dapat dikemukakan Menghadapi penurunan permintaan minyak bumi. .Singapura. biaya produksi minyak bumi Indonesia yang tinggi dan cenderung meningkat merupakan penghambat untuk mendapatkan keuntungan ekspor.1 Perdagangan minyak bumi Sampai saat ini studi formal yang cukup rinci/mendalam mengenai dampak penerapan Protokol Kyoto terhadap perdagangan bahan bakar fosil Indonesia belum dilakukan. Jepang dan Korea Selatan).

Cadangan terbukti (proven reserves) gas bumi maupun batubara di Tanah Air adalah lebih besar dibandingkan minyak bumi. syukurlah kita memiliki cadangan gas alam -primadona bahan bakar nanti. 4. Pembangunan pembangkit listrik di mulut tambang batubara (mine mouth power plant) juga akan berkembang. seperti Cina dan Amerika Serikat. khususnya Cina. permintaan domestik akan batubara akan tumbuh. Catatan perlu diberikan untuk pengembangan ekspor maupun pemakaian gas bumi di dalam negeri. meskipun permintaan oleh beberapa negara. Di sisi yang lain.yang cukup besar. karena sanksi lingkungan di dalam negeri yang masih lunak. Kebijakan untuk memperoleh komposisi pemanfaatan energi yang optimum (energy mix policy) perlu ditetapkan. Harga batubara di pasar Asia –berlainan dengan di Eropa. khususnya briket batubara. khususnya untuk industri berskala menengah seperti pabrik semen. Di sisi lain. yang pangsa permintaannya akan meningkat. Tantangan yang perlu segera diatasi adalah menjadikan batubara. menghindari batubara akan menjadi pola umum. yang sesungguhnya lebih bernilai bila diekspor daripada dikonsumsi di dalam negeri dengan harga murah. Mengingat ketersediaan cadangan sumberdaya energi yang cukup besar dan bervariasi tersebut. . termasuk untuk memasok listrik ke sistem JAMALI yang telah terinterkoneksi dengan sistem Sumatera. Untuk gas bumi.diperkirakan akan tertekan ke bawah karena persaingan pemasokan dengan Australia. Walaupun ekspor batubara Indonesia yang ditujukan ke negara-negara bukan penandatangan Protokol Kyoto masih akan cukup banyak. untuk menjadi bahan bakar di industri-industri kecil dan rumah tangga. Amerika Serikat dan Afrika Selatan. dengan target pertama mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan mengembangkan substitusinya. seperti pengembangan jaringan transmisi dan distribusi gas bumi. yaitu upaya untuk melakukan efisiensi dan konservasi pemakaian BBM (khususnya di sektor transportasi) dan mewujudkan subtitusi BBM melalui pembangunan infrastruktur gas bumi dan batubara (termasuk pembangunan sarana/prasarana energi terbarukan). maka peluang kita untuk memperoleh pendapatan dari ekspor minyak bumi dalam era penerapan Protokol Kyoto akan sangat kecil. batubara Indonesia berpotensi mengalami penurunan pendapatan ekspor. ketergantungan konsumsi energi kita yang sangat tinggi terhadap minyak bumi tak dapat dipertahankan lagi.2 Batubara dan gas bumi Dalam era Protokol Kyoto. digantikan dengan penetapan harga yang lebih mencerminkan nilai ekonomi dari pengusahaan BBM. harga dari kedua jenis bahan bakar fosil ini juga lebih murah dibandingkan minyak bumi. Dalam hal ini. serta jaringan infrastruktur batubara di dalam negeri perlu dilakukan dengan tajam dan diwujudkan pembangunannya. Pengembangan batubara untuk keperluan domestik penting dilakukan untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel (BBM) yang masih banyak terdapat. Kebijakan subsidi yang diberikan oleh Pemerintah untuk konsumsi BBM perlu segera diubah. Pemanfaatan batubara di dalam negeri sebagai bahan bakar sektor industri juga akan meningkat.Indonesia sesungguhnya memiliki cadangan sumberdaya energi yang kaya dan bervariasi. Tanpa melakukan pembenahan ke dalam. masih akan meningkat. rencana pengembangan infrastruktur energi. tersebar di banyak tempat di luar JAMALI (Jawa-Madura-Bali). baik oleh konsumen lama seperti Jepang maupun oleh konsumen baru.

seperti pipa transmisi. yang akan sangat besar peranannya untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi. harganya murah relatif terhadap minyak bumi. penggunaannya untuk pembangkit tenaga listrik membutuhkan waktu konstruksi yang cepat dan biaya lebih murah dibandingkan pembangkit termal lainnya. Walaupun Jepang akan lebih berhati-hati dalam menentukan keputusan impor bahan bakar fosilnya nanti. Pengembangan ekspor gas bumi Indonesia. masih akan menjadi favorit pembangkit tenaga listrik di Jepang karena sifatnya yang bisa langsung dibakar tanpa melalui proses pengilangan (refinery). petrokimia). Mengembangkan pasar ekspor baru dari konsumen tradisional seperti Jepang ke negara-negara lain di Asia yang permintaan energinya besar dan tumbuh cepat (seperti Cina dan India) akan merupakan pola alternatif. Menghadapi situasi ini. menunjukkan kadar gravity dan kandungan sulfur dari suatu jenis minyak mentah) yang dipunyai oleh sebagian minyak mentah Indonesia. sifat “ringan dan manis” (light and sweet. Kendala bagi pengembangan ekspor gas bumi adalah ketersediaan infrastruktur untuk memproses dan menyalurkannya dari lapangan-lapangan produksi/pemrosesan ke lokasi-lokasi konsumennya. karena itu perhitungan yang matang mutlak dilakukan sebelum investasi bagi pembangunan infrastruktur gas bumi dimulai. Gas bumi selain bersih juga memiliki kandungan panas/daya bakar yang sangat baik. Indonesia perlu melakukan pencarian alternatif-palternatif baru bagi perdagangan bahan bakar fosilnya. Gas bumi adalah pilihan yang baik bagi pembangkit tenaga listrik selain bagi bahan bakar industri dan bahan baku (pupuk. baik dalam bentuk LNG atau disalurkan melalui pipa juga perlu memperhatikan amanat Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi Nomer 22/2001 yang menegaskan prioritas pemanfaatan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. distribusi maupun terminal penerimaan LNG bersifat “tidak dapat dipindah” (fixed). Pembangunan infrastruktur gas bumi membutuhkan biaya yang sangat mahal dan waktu pembangunan yang cukup lama. Jepang sebagai tujuan utama ekspor bahan bakar fosil Indonesia adalah juga pelopor dan tokoh Protokol Kyoto. analisis terhadap perubahan kecenderungan impor Jepang terhadap bahan bakar fosil Indonesia perlu dilakukan lebih cermat. Menjadi pertanyaan adalah bagaimana prospek eskpor minyak mentah Indonesia . Infrastruktur penyaluran gas bumi. yang akan mengubah prinsip-prinsip konsumsi energinya sesuai semangat Protokol Kyoto.3 Perubahan orientasi perdagangan bahan bakar fosil Pola permintaan bahan bakar fosil akan berubah karena perubahan pandangan terhadap bahan bakar fosil sebagai penafsiran masing-masing negara terhadap Protokol Kyoto. Untuk minyak bumi. perlu dikembangkan untuk membawa gas bumi dari lokasi keterediaannya di Sumatera/Kalimantan ke pusat-pusat konsumsi energi Indonesia di pulau Jawa. Selain itu.Gas bumi karena kandungan emisinya yang paling rendah dibandingkan bahan bakar fosil lainnya akan merupakan pilihan bahan bakar yang banyak diminati dan berkembang permintaannya nanti. masih terhambat oleh ketersediaan infrastruktur yang sangat kurang. infrastruktur gas bumi seperti pipa transmisi. Pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri. 4. masih akan menjadi bahan bakar impor favorit Jepang. minyak mentah dari lapangan Minas khususnya. Terlepas dari kecenderungan bahwa minyak bumi memiliki kadar emisi yang tinggi dibandingkan gas bumi.

dan dengan tujuan untuk mengurangi pangsa konsumsi minyak bumi. Ikut meratifikasi Protokol Kyoto . Harga LNG ke Jepang juga mungkin tertekan karena berkembangnya volume perdagangan serta pasar spot LNG di dunia. Kecenderungan penurunan ekspor bahan bakar fosil ke Jepang. 5 Ringkasan dan kesimpulan Karena posisi geografisnya sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia dan memiliki hutan-hutan tropis luas yang menyangga iklim dunia. digunakan sebagai bahan bakar untuk mengembangkan industri manufaktur yang terus dilakukannya.yang dihasilkan dari lapangan-lapangan lain. walaupun permintaan akan gas bumi (LNG) masih akan terjaga. Negara-negara tetangga di ASEAN. khususnya ke negara-negara yang permintaan energinya besar dan tumbuh cepat. tak boleh diabaikan adalah potensi pemakaian bahan bakar fosil. minyak bumi dan gas bumi. khususnya jenis steam coal masih akan mendapat tempat dalam pasar ekspor ke Jepang. yang seperti Cina. secara umum dapat diatasi dengan mengubah orientasi pasar ekspor. Kebutuhan Cina akan minyak bumi dan batubara juga tetap tinggi. yang kandungan emisinya lebih buruk dibandingkan Minas. Pangsa ekspor batubara Indonesia ke Jepang cenderung menurun dibandingkan tujuan ekspor Taiwan dan Korea Selatan. Indonesia perlu terlibat aktif dalam menyikapi masalah perubahan iklim global. Pemasokan gas ke Singapura. namun pendapatan dari ekspor LNG ke Jepang mungkin tidak meningkat. Namun demikian. dimana Indonesia dapat memasoknya. Negara tetanga seperti Filipina akan membutuhkan pasokan batubara dari Indonesia. yang membuat kapasitas supplai gas bumi ke Jepang meningkat. seiring dengan perkembangan ekonomi dan peningkatan kebutuhan energi mereka. khususnya ekspor LNG ke India. Penggunaan batubara dan gas bumi di dalam negeri perlu dikembangkan untuk pembangkit tenaga listrik. termasuk gas bumi impor. menjadi bahan bakar bagi kegiatan industri dan rumah tangga. dapat dikembankan sebagai tujuan ekspor. Indonesia dapat mengembangkan. Pertanyaannya adalah apakah Indonesia dalam era Protokol Kyoto nanti masih dapat menyediakan batubara bermutu tinggi seperti yang selama ini dapat kita eskpor? Ekspor gas bumi ke Jepang -walaupun gas bumi akan merupakan bahan bakar favoritmesti memperhitungkan persaingan dengan pemasok gas bumi lain dari Timur Tengah dan selesainya proyek Sakhalin untuk mengalirkan gas bumi dari kawasan Siberia ke Jepang. Konsumsi energi Cina yang semula sangat mengandalkan batubara akan bergeser ke pemakaian bahan bakar yang lebih bersih. sedang mengalami pertumbuhan konsumsi energi yang cukup besar dan mengubah komposisi pemakaian bahan bakarnya ke yang lebih bersih lingkungan. Cina. batubara dengan kandungan panas yang tinggi dan kadar sulfur rendah. Namun demikian. Malaysia maupun pengembangan jaringan baru gas bumi ke Filipina merupakan alternatif yang layak ditempuh. yang permintaannya masih tumbuh dengan cepat. membutuhkan banyak tambahan bahan bakar fosil. khususnya batubara dan gas bumi di dalam negeri sendiri. Perubahan pasar ekspor juga dapat dilakukan ke India. yang ekonominya besar dan tumbuh cepat. baik batubara. yang selama ini bukan merupakan pasar besar bagi perdagangan bahan bakar fosil Indonesia. Dengan demikian.

Peran aktif tersebut penting karena Indonesia juga adalah negeri yang memiliki beraneka-ragam sumberdaya energi dan sektor energi memiliki peranan luas dalam ekonomi nasionalnya. bio-fuel. seberapa besar jumlah batubara bermutu tinggi itu masih dapat disediakan nantinya. akan berubah sebagai akibat dari diterapkannya Protokol Kyoto. serta pemanfaatan teknologi bersih (seperti dalam pembangkitan tenaga listrik) dapat pula ditawarkan sebagai proyek CDM untuk menghasilkan manfaat ekonomi. Antisipasi terhadap dampak Protokol Kyoto terhadap perdagangan bahan fosil kita perlu ditujukan khususnya dengan memperhatikan perubahan pandangan Jepang terhadap impor bahan bakar fosil dari Indonesia. perdagangan dan produksi energi. Di satu sisi. Demikian pula. Tujuan ekspor bahan bakar fosil Indonesia yang telah dikembangkan secara tradisional adalah Jepang sebagai pasar utama. peningkatan konsumsi energi dan pengurangan dampak lingkungan yang semakin kompleks di tanah air berpotensi melahirkan banyak proyek CDM.termasuk bagian dari peran Indonesia untuk ikut terlibat dalam manajemen perubahan iklim global tersebut. Perhitungan yang dilakukan National Strategy Study on CDM in Indonesia memperkirakan potensi Indonesia untuk mendapat manfaat ekonomi dari pelaksanaan proyek-proyek CDM dalam periode pertama komitmen Protokol Kyoto (2008-2012) adalah sekitar $ 94 juta. Gas bumi sebagai sumber energi bersih tetap akan menarik perhatian Jepang. Interaksi pembangunan ekonomi. namun eskpor LNG Indonesia ke Jepang akan disaingi dengan impor gas Jepang dari kawasan Timur Tengah dan pengembangan jaringan pipa gas dari Siberia. Segera setelah meratifikasi Protokol Kyoto. Selain itu. Sektor energi. proyek-proyek efisiensi dan konservasi energi (yang dapat diterapkan khususnya di sektor transportasi dan energi). sel surya. Hambatan untuk mengembangkan ekspor kedua jenis bahan bakar fosil itu terletak pada: (i) untuk minyak mentah. namun minyak mentah Indonesia dari jenis “ringan dan manis” masih akan dapat menembus pasar ekspor Jepang. Menawarkan portofolio kandidat proyek-proyek CDM sektor energi ke pasar emisi internasional kita nantinya akan merupakan suatu pilihan yang realistis. . tenaga angin dan panas bumi. Walaupun Jepang memiliki preferensi yang kuat ke pengunaaan bahan bakar fosil yang lebih bersih. Hal terakhir ini perlu diantisipasi lebih baik. sebagai penyebab emisi gas rumah kaca terbesar. adalah tugas yang mesti segera diwujudkan. memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperoleh manfaat dalam bentuk aliran finansial dan teknologi. volume ekspor yang terus menurun karena meningkatnya permintaan di dalam negeri dan merosotnya kemampuan produksi (ii) untuk batubara. Dampak Protokol Kyoto terhadap sektor energi dan ekonomi Indonesia dapat dilihat dari sisi yang berbeda. pembentukan Designated National Authority untuk memanajemeni proyekproyek CDM. Termasuk dalam potensi proyek-proyek CDM di sektor energi adalah pembangunan proyekproyek energi terbarukan (renewables) seperti hydro. batubara dari jenis yang bernilai kalori tinggi dan beremisi rendah masih akan dapat diekspor ke Jepang. khususnya melalui fasilitas “mekanisme pembangunan bersih”-nya. dan negara-negara industri Asia Timur lainnya (Korea Selatan dan Taiwan) sebagai pasar besar berikutnya. merupakan sektor yang akan terkena pengaruh langsung dan terbesar dari penerapan Protokol Kyoto. penerapan Protokol Kyoto akan mengakibatkan pola perdagangan bahan bakar fosil Indonesia berubah. khususnya bahan bakar fosil. Pola konsumsi. Di lain sisi. Protokol Kyoto.

gas bumi maupun batubara dari kedua negeri raksasa yang sebelumnya mengandalkan batubara sebagai sumber energi primernya terus meningkat didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang yang berkembang. khususnya Cina dan India perlu dikembangkan untuk menjadi tujuan ekspor utama bahan bakar fosil Indonesia. Karena perdagangan bahan bakar fosil merupakan andalan pendapatan nasional dan karena nilai finansial perdagangan bahan bakar fosil ini jauh lebih besar daripada potensi mendapatkan manfaat ekonomi dari proyek-proyek CDM. Kebutuhan akan minyak bumi. . Kawasan di Asia yang kebutuhan energinya besar. Pengembangan ekspor bahan bakar fosil dalam era penerapan Protokol Kyoto perlu pula mempertimbangkan kebutuhan bahan bakar fosil di dalam negeri yang meningkat cepat dan perlu dipenuhi. maka analisis yang mendalam dibutuhkan untuk memperthitungkan dampak penerapan Protokol Kyoto terhadap perdagangan bahan bakar fosil Indonesia. Tujuan ekspor lain yang perlu dikembangkan/diperlihara adalah negara-negara industri Asia Timur dan ASEAN. sedang tumbuh cepat dan bukan penandatangan kesepakatan Protokol Kyoto (non-Annex I). khususnya untuk gas bumi dan batubara.Mengubah orientasi pasar ekspor bahan bakar fosil merupakan pilihan yang selayaknya dilakukan Indonesia.

Handbook of energy and economic statistics in Japan. Hanan. Draft. Environment. 2001. Energy. All. Nugroho. Nugroho. Vienna. Universitas Kyoto: Sekolah Pascasarjana Ilmu Pengetahuan Energi. Pengembangan industri hilir gas bumi Indonesia: tantangan dan gagasan. Oxford: Oxford Institute for Energy Studies Grubb. Hanan. et. IX/3/2004. 2004. The Kyoto Protocol. 2004. Tokyo: IEEJ. Nugroho. 2004. 2004. Increasing the share of natural gas in national industry and consumption: infrastructure developmet plan? Jakarta: Perencanaan Pembangunan No. 2004. Proceeding: The 19th World Energy Congress & . In Press. 2001.Daftar Pustaka Barnes. Tokyo: United Nations University Press. Gas energy pricing in Indonesia for promoting the sustainable economic growth. Disiapkan untuk World Regional Renewable Energy Congress & Exhibition 2005 in Jakarta. Hanan. Financing Indonesia’s renewable energy. 6 Juli 2004. Nugroho. Menuju komposisi pemanfaatan energi yang optimum di Indonesia: pengembangan model ekonomi-energi dan identifikasi kebutuhan infrastruktur energi. Nugroho. 1997. National Strategy Study on Clean Development Mechanism in Indonesia. Jakarta: Perencanaan Pembangunan No. 1995. Tidak dipublikasikan. 1999. Austria. Nugroho. dipresentasikan di kantor OPEC. Nugroho. Penyediaan BBM Nasional. Hanan & Hari Kristijo. halaman 20-33. Hanan. Mei 2004. Republic of Indonesia. Institute of Energy Economics of Japan. Hanan. and Economy: Strategies for Sustainability. Kaya. Makalah. Yokobori. Philiph. Nugroho. energy Jakarta: Kompas. Hanan. 2004. IX/4/2004. Energy in Asia. a guide and assessment. Indonesia: the political economy of energy. et all. Hanan. Analyzing Indonesia’s export of fossil fuels. Ministry of Environment. halaman 32-52. London: Royal Institute of International Affairs. Yoichi & K. Michael. Masalah Besar Menghadang.

ieej. Keizai to Kankou. Jakarta: November 2004.Exhibition.or. Sydney. Hanan et all.gov http://www. All. Forthcoming. 2001.int http://www. Rizal. Journal. Primana. Hanan Nugroho et. Paris: OECD Nuclear Agency. Paper. Indonesia: Enerugi. 2002. OECD Nuclear Energy Agency. 2001. 5-9 September 2004. Japan Society of Energy & Resources: Oktober. Indonesia: deregulation of power industry after the implementation of new electricity law.unfccc. Nuclear energy and the Kyoto Protocol.jp . Nugroho.eia.org http://www.doe.iea. Modelling Indonesia’s energy and infrastructure by INOSYD. 2004. dipresentasikan di Kongres World Energy Council. http://www. Widodo. Komite Nasional Indonesia.

Foto-1. Di kota tua yang selama 1000 tahun lebih pernah menjadi ibukota Jepang ini. dilahirkan Protokol Kyoto mengenai perubahan iklim global pada tahun 1997. khususnya bahan bakar fosil. Pembakaran bahan bakar fosil. Kyoto. seperti pada pembangkitan tenaga listrik tenaga batubara dan transportasi perkotaan. Penerapan Protokol Kyoto akan memberikan dampak besar terhadap kegiatan konsumsi. produksi dan perdagangan energi. Foto2. . merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca dunia.

seperti juga panas bumi. Foto-4. Untuk bahan bakar fosil. . Teknologi seperti ini akan berkembang pemakaiannya. Pembangkitan energi dari sumber-sumber energi terbarukan seperti tenaga angin dan tenaga surya pada gambar di atas merupakan teknologi energi yang bersahabat dengan Protokol Kyoto.Foto-3. Kyoto juga menjadi tempat bagi banyak riset teknologi energi efisien dan ramah lingkungan. bio-fuel. sel bahan bakar (fuel cell) dan nuklir. Contoh bus berbahan bakar gas. gas bumi akan menjadi primadona. dan sebuah mobil eksperimen berbahan bakar bio-diesel di Kyoto.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->