14

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
15










STANDAR PERENCANAAN
IRIGASI






























KRITERIA PERENCANAAN
BAGIAN
BANGUNAN UTAMA
KP – 02








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
16






KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGAIRAN

Nomor : 185/KPTS/A/1986

T E N T A N G

STANDAR PERENCANAAN IRIGASI



DIREKTUR JENDERAL PENGAIRAN



Menimbang : a. bahwa dalam rangka peningkatan dan pemantapan

pelaksanaan/penyelenggaraan pembangunan irigasi

di lingkungan



Direktorat Jenderal Pengairan perlu adanya

keseragaman dalam

kegiatan perencanaan pembangunan irigasi;

b. bahwa hasil pertemuan ”Diskusi Pemantapan

Standardisasi

Perencanaan Irigasi”, yang diadakan oleh Direktorat
Jenderal Pengairan pada bulan Agustus 1986,
dpandang memadai untuk dikukuhkan sebagai
Standar Perencanaan Irigasi di lingkungan Direktorat
Jenderal Pengaiaran;
c. Bahwa untuk maksud tersebut perlu diatur dengan

Surat Keputusan;



Mengingat : 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia No.15/M
Tahun 1982;


1974;
2. Keputusan Presiden Republik Indonesia No.44 Tahun










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
17








1984;
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia No.15 Tahun



4. Keputusan Presiden Republik Indonesia

No.211/KPTS/1984;

5. Keputusan Direktur Jenderal Pengairan

No.45/KPTS/A/1984;

M E M U T U S K A N :



Menetapkan :

PERTAMA : Mengukuhkan hasil pertemuan “Diskusi Pemantapan
Standardisasi Perencanaan Irigasi”, sebagai Standar
Perencanaan Irigasi terdiri dari:










Utama
KRITERIA PERENCANAAN:

1. KP – 01 Kriteria Perencanaan-Bagian Perencanaan

Jaringan Irigasi

2. KP – 02 Kriteria Perencanaan-Bagian Bangunan



3. KP – 03 Kriteria Perencanaan-Bagian Saluran

4. KP – 04 Kriteria Perencanaan-Bagian Bangunan

5. KP – 05 Kriteria Perencanaan-Bagian Petak Tersier

6. KP – 06 Kriteria Perencanaan-Bagian Parameter

Bangunan

7. KP – 07 Kriteria Perencanaan-Bagian Standar

Penggambaran



BANGUNAN IRIGASI :

8. BI – 01 Tipe Bangunan Irigasi








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
18






9. BI – 01 Tipe Bangunan Irigasi

PERSYARATAN TEKNIS :

10. PT – 01 Persyaratan Teknis – Bagian Perencanaan

Jaringan Irigasi

11. PT – 02 Persyaratan Teknis – Bagian Pengukuran

12. PT – 03 Persyaratan Teknis – Bagian Penyelidikan

Geoteknik



KEDUA : Semua pihak yang melakukan kegiatan pembangunan
irigasi, wajib


pada Diktum
memperhatikan ketentuan-ketentuan yang tercantum



PERTAMA.

KETIGA : Direktur Irigasi I bertugas memonitor pelaksanaan Surat
keputusan ini


Standar



PERTAMA,
dan menampung umpan balik guna penyempurnaan



Perencanaan Irigasi sebagaimana tersebut pada Diktum



sesuai dengan perkembangan.

KEEMPAT : Keputusan ini mulai berlaku pada hari / tanggal
ditetapkan dengan ketentuan akan diadakan perubahan
dn perbaikan seperlunya apabila dikemudian hari
ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapannya.


TEMBUSAN : Surat Keputusan ini disampaikan kepada Yth:

1. Bapak Menteri Pekerjaan Umum

2. Sekretaris Jenderal Departemen Pekerjaan Umum








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
19






3. Inspektur Jenderal Departemen Pekerjaan Umum

4. Kepala Balitbang Departemen Pekerjaan Umum

5. Sekretaris Direktorat Jenderal Pengairan

6. Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum Bidang

Pengembangan Irigasi

7. Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum Bidang

Pengembangan

Persungaian

8. Para Kepala Kantor Wilayah/Kepala DPUP up. Kepala
bagian
Pengairan di seluruh Indonesia.

9. Para Kepala Biro Departemen Pekerjaan Umum

10. Para Direktur di lingkungan Direktorat Jenderal

Pengairan

11. Kepala Puslitbang Pengairan

12. Para Kepala Bagian dan Kepala Sub. Dit. di
lingkungan Direktorat Jenderal Pengairan
13. Kepala Bidang Diklat Pengairan

14. Para Pemimpin Proyek di lingkungan Direktorat

Jenderal Pengairan

15. Arsip







JAKARTA



DESEMBER 1986
DITETAPKAN DI :



PADA TANGGAL: 1










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
20








JENDERAL PENGAIRAN
DIREKTUR



PENGANTAR
Standar Perencanaan Irigasi ini telah disiapkan dan disusun dalam

3 kelompok:

1. Kriteria Perencanaan

2. Gambar Bangunan irigasi

3. Persyaratan Teknis



Kriteria Perencanaan terdiri atas 7 bagian, berisi instruksi, standar
dan prosedur
bagi perencana dalam merencanakan irigasi teknis. Kriteria Perencanaan
terdiri atas 7 buku berisikan kriteria perencanaan teknis untuk
Perencanaan Irigasi (System Planning), Perencanaan Bangunan Irigasi
Jaringan Utama dan Jaringan Tersier, Parameter Bangunan dan Standar
Penggambaran


Gambar Bangunan Irigasi terdiri atas 2 bagian, yaitu: Tipe

Bangunan Irigasi, yang

berisi kumpulan gambar-gambar contoh sebagai informasi dan
memberikan gambaran bentuk dan model bangunan.
Standar Bangunan Irigasi yang berisi kumpulan gambar-gambar
bangunan yang telah distandardisasi dan langsung bisa dipakai. Untuk
yang pertama, perencana masih harus melakukan usaha khusus berupa
analisis, perhitungan dan penyesuaian dalam perncanan teknis.


Persyaratan Teknis terdiri atas 4 bagian, berisi syarat-syarat
teknis yang minimal harus dipenuhi dalam merencanakan pembangunan
Irigasi. Tambahan persyaratan dimungkinkan tergantung keadaan
setempat dan keperluannya.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama







Meskipun Standar Perencanan Irigasi ini, dengan batasan-batasan
dan syarat berlakunya seperti tertuang dalam tiap bagian buku, telah
dibuat sedemikian sehingga siap pakai untuk perekayasa yang belum
memiliki banyak pengalaman, tetapi dalam penerapannya masih
memerlukan kajian teknik dari pemakainya. Dengan demikian siapa pun
yang akan menggunakan Standar ini tidak akan lepas dari tanggung
jawabnya sebagai perencana dalam merencanakan bangunan irigasi
yang aman dan memadai.


Setiap masalah di luar, batasan-batasan dan syarat berlakunya
Standar ini, harus dipecahkan dengan keahlian khusus dan/atau lewat
konsultasi khusus dengan badan-badan yang ditugaskan melakukan
pembinaan keirigasian, yaitu:
1. Direktorat Irigasi I

2. Direktorat Irigasi II

3. Puslitbang Air

Hal yang sama juga berlaku bagi masalah-masalah, yang meskipun
terletak dalam batas-batas dan syarat berlakunya standar ini,
mempunyai tingkat kesulitan dan kepentingan yang khusus.


Semoga Standar Peencanaan Irigasi ini bisa bermanfaat dan
memberikan sumbangan dalam pengembangan irigasi di Indonensia.
Kami sangat mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan ke arah
kesempurnaan Standar ini
Jakarta, 1 Desember 1986

Direktur Irigasi I










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama






DAFTAR ISI



1. PENDAHULUAN

1.1 Umum ....................................................................... 1
1.2 Definisi ....................................................................... 1

1.3 Kesahihan/Validitas ...................................................... 1

1.4 Jenis-jenis Bangunan Utama........................................... 2

1.4.1 Bendung Tetap................................................... 3
1.4.2 Bendung Gerak .................................................. 3
1.4.3 Bendung Karet .................................................. 4
1.4.4 Bendung Saringan Bawah ................................... 5
1.4.5 Pompa ............................................................. 5
1.4.6 Pengambilan Bebas ............................................ 6
1.4.7 Bendung Tipe Gergaji ........................................ 6

1.5 Bagian-bagian Bangunan Utama ..................................... 6

1.5.5 Bangunan Perkuatan Sungai ................................ 13
1.5.6 Bangunan pelengkap ........................................... 13

2. DATA

2.1 Pendahuluan ................................................................. 15
2.2 Data kebutuhan air multisektor ....................................... 16
2.3 Data Topografi .............................................................. 17
2.4 Data Hidrologi ............................................................... 18

2.4.1 Debit banjir........................................................ 18
2.4.2 Debit andalan..................................................... 20
2.4.3 Neraca air .......................................................... 20

2.5 Data Morfologi .............................................................. 20

2.5.1 Morfologi ........................................................... 21
2.5.2 Geometrik sungai ............................................... 21








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
25






2.6 Data Geologi Teknik....................................................... 21

2.6.1 Geologi .............................................................. 21
2.6.2 Data Mekanika Tanah ......................................... 22



3. BANGUNAN BENDUNG

3.1 Umum .......................................................................... 23
3.2 Syarat – syarat Penentuan Lokasi Bendung...................... 23

3.2.2 Morfologi sungai ................................................. 36

3.3 Muka Air ...................................................................... 38

3.4 Topografi ...................................................................... 39 3.5
3.6 Metode Pelaksanaan ...................................................... 40

3.7 Aksesibilitas dan Tingkat Pelayanan ............................... 41

3.8 Tipe Bangunan .............................................................. 41


3.8.1 Umum ............................................................... 41


3.8.2 Bangunan pengatur muka air .............................. 43


3.8.3 Bangunan – bangunan muka air bebas................. 45




4. PERENCANAAN HIDROLIS

4.1 Umum ....................................................................... 48

4.2 Bendung pelimpah......................................................... 48

4.2.1 Lebar bendung ................................................... 48
4.2.2 Perencanaan Mercu ............................................ 50
4.2.3 Pelimpah gigi gergaji .......................................... 61
4.2.4 Tata letak dan Bentuk gigi................................... 62
4.2.5 Pangkal bendung................................................ 64
4.2.6 Peredam energi .................................................. 65
4.2.7 Kolam loncat air ................................................. 67
4.2.8 Peredam energi tipe bak tenggelam ..................... 72








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
26






4.2.9 Kolam Vlugter .................................................... 76

4.2.10 Modifikasi Peredam Energi .................................. 76

4.3 Bendung gerak .............................................................. 86

4.3.1 Pengaturan Muka Air ......................................... 86

4.3.2 Tata letak .......................................................... 87
4.3.3 Pintu ................................................................. 88
4.3.4 Bangunan Pelengkap Bendung Gerak ................... 91

4.4 Bendung karet ............................................................. 92


4.4.1 Lebar bendung ................................................... 92

4.4.2 Perencanaan mercu (tabung karet) ...................... 93

4.4.3 Pembendungan .................................................. 95

4.4.4 Penampungan dan Pelepasan .............................. 96

4.4.5 Peredaman energi .............................................. 96

4.4.6 Panjang lantai hilir bendung ................................ 96
4.5 Pompa ....................................................................... 98

4.5.1 Tata letak .......................................................... 98

4.5.2 Bangunan pelengkap pompa .............................. 98

4.5.3 Tenaga pompa ................................................... 99

4.6 Bendung Saringan Bawah............................................... 103

4.6.1 Tata letak .......................................................... 103

4.6.2 Bangunan pelengkap Bendung Saringan Bawah .... 108

4.7 Pengambilan bebas........................................................ 109





5. BANGUNAN PENGAMBILAN DAN PEMBILAS

5.1 Tata Letak .................................................................... 112

5.2 Bangunan Pengambilan.................................................. 112

5.3 Pembilas ....................................................................... 116








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
27






5.4 Pembilas Bawah ............................................................ 119

5.5 Pintu ............................................................................ 123

5.5.1 Umum ............................................................... 123

5.5.3 Pintu bilas.......................................................... 127



6. PERENCANAAN BANGUNAN

6.1 Umum .......................................................................... 129

6.2 Penggunaan bahan khusus ............................................. 129

6.2.1 Lindungan permukaan ........................................ 129

6.2.2 Lindungan dari pasangan batu kosong ................. 130

6.2.3 Filter ................................................................. 131

6.2.4 Bronjong ........................................................... 133

6.3 Bahan Pondasi .............................................................. 134

6.4 Analisis Stabilitas ........................................................... 136

6.4.1 Gaya-gaya yang bekerja pada bangunan .............. 136

6.4.2 Tekanan air........................................................ 136

6.4.3 Tekanan Lumpur ................................................ 141

6.4.4 Gaya gempa ...................................................... 141

6.4.5 Berat bangunan.................................................. 142

6.4.6 Reaksi Pondasi ................................................... 142

6.4.7 Analisis Stabilitas Bendung Karet ......................... 144

6.5 Kebutuhan Stabilitas ...................................................... 145

6.5.1 Ketahanan terhadap gelincir ................................ 145

6.5.2 Guling ............................................................... 147

6.5.3 Stabilitas terhadap erosi bawah tanah (piping)...... 148

6.5.4 Perencanaan kekuatan tubuh bendung dari

tabung karet ...................................................... 152

6.6 Detail Bangunan ............................................................ 155








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
28






6.6.2 Perlindungan terhadap erosi bawah tanah ............ 157

6.6.3 Peredam energi ................................................. 160



7. PERENCANAAN KANTONG LUMPUR

7.1 Pendahuluan ................................................................. 162

7.2 Sedimen ....................................................................... 162

7.3 Kondisi-kondisi batas ..................................................... 163

7.3.1 Bangunan Pengambilan ..................................... 163

7.3.2 Jaringan Saluran ............................................... 165

7.3.3 Topografi ......................................................... 165

7.4 Dimensi Kantong Lumpur ............................................... 166

7.4.1 Panjang dan lebar kantong lumpur ..................... 168

7.4.2 Volume tampungan ........................................... 171

7.5 Pembersihan ................................................................. 171

7.5.1 Pembersihan secara hidrolis............................... 174

7.5.2 Pembersihan secara manual/mekanis .................. 175

7.6 Pencekan Terhadap Berfungsinya Kantong Lumpur ......... 177

7.6.1 Efisiensi pengendapan ....................................... 177

7.6.2 Efisiensi pembilasan ........................................... 177

7.7 Tata Letak Kantong Lumpur, Pembilas dan

Pembilas di Saluran Primer ............................................ 178

7.7.1 Tata Letak ........................................................ 178

Pembilas 180

Pengambilan saluran primer ...................................................... 181

Saluran pembilas...................................................................... 182

7.8 Perencanaan Bangunan ................................................ 183



8. PENGATURAN SUNGAI DAN BANGUNAN PELENGKAP








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
29






8.1 Lindungan Terhadap Gerusan ........................................ 184

8.1.1 Lindungan dasar sungai ..................................... 184

8.1.2 Lindungan tanggul sungai .................................. 185

8.2 Tanggul ....................................................................... 189

8.2.1 Panjang dan elevasi ........................................... 189

8.2.2 Arah poros ........................................................ 189

8.2.3 Tinggi jagaan .................................................... 190

8.2.4 Potongan melintang ........................................... 190

8.2.5 Pembuang ........................................................ 191

8.3 Sodetan sungai ............................................................ 192



9. PENYELIDIKAN MODEL HIDROLIS

9.1 Umum ....................................................................... 195

9.2 Penyelidikan Model untuk Bangunan Bendung ................ 195

9.2.1 Lokasi dan tata letak .......................................... 195

9.2.2 Pekerjaan pengaturan sungai ............................. 197

9.2.3 Bentuk mercu bendung pelimpah ........................ 198

9.2.4 Pintu bendung gerak dan bendung ambang ......... 199

9.2.5 Kolam olak ........................................................ 200

9.2.6 Eksploitasi pintu bendung gerak.......................... 201

9.2.7 Pengambilan dan pembilas ................................. 201

9.2.8 Saluran pengarah dan kantong lumpur ................ 201

9.3 Kriteria untuk Penyelidikan dengan model....................... 202





10. METODE PELAKSANAAN

Umum .................................................................................. 204

Pelaksanaan di Sungai .............................................................. 204








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
30






Pelaksanaan di Tempat Kering................................................... 204



LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar instansi-instansi yang dapat diminta data .......... 207

Lampiran 2 Tabel-tabel .............................................................. 208

Lampiran 3 Tabel untuk penyelidikan model ................................ 211








































DAFTAR GAMBAR










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
31






Gambar Uraian hal



1.1 Bangunan Utama...................................................... 7
1.2 Denah dan potongan melintang bendung gerak dan


potongan melintang bendung saringan bawah ............ 10
1.3 Pengambilan dan pembilas ........................................ 12



3.1 Ruas-ruas sungai...................................................... 33
3.2 Akibat banjir lahar .................................................... 33
3.3 Agradasi dan degradasi............................................. 34
3.4 Pengaruh rintangan (cek) alamiah ............................. 35
3.5 Terbentuknya delta .................................................. 36
3.6 Morfologi sungai....................................................... 37
3.7 Sungai bermeander dan terowongan.......................... 37
3.8 Metode pelaksanaan alternatif ................................... 41



4.1 Lebar efektif mercu .................................................. 49
4.2 Bentuk-bentuk mercu ............................................... 50
4.3 Bendung dengan mercu bulat .................................... 52
4.4 Tekanan pada mercu bendung bulat sebagai fungsi


perbandingan H
1
/r .................................................... 53
4.5 Harga-harga koefisien C
0
untuk bendung


ambang bulat sebagai fungsi perbandingan H
1
/r ......... 53
4.6 Koefisien C
1
sebagai fungsi perbandingan p/H
1
............ 54
4.7 Harga-harga koefisien C
2
untuk bendung


mercu Ogee dengan muka hulu melengkung


(menurut USBR, 1960)` ............................................ 54
4.8 Faktor pengurangan aliran tenggelam sebagai fungsi









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
32






H
2
/H
1
....................................................................... 55

4.9 Bentuk-bentuk bendung mercu Ogee

(U.S. Army Corps of Engineers, Waterways

Experimental Station) ............................................... 57

4.10 Faktor koreksi untuk selain tinggi energi rencana

pada bendung mercu Ogee (menurut VEN TE CHOW),

1959, 1959, berdasarkan data USBR dan WES) ........... 58

4.11 Faktor pengurangan aliran tenggelam sebagai fungsi
p
2
/H
1
dan H
2
/H
1
. (Disadur dari U.S. Army
Corps of Engineers, Waterways Experimental Station) . 59

4.12 Harga-harga Cv sebagai fungsi perbandingan luas

o
1
C
d
A * / A
1

untuk bagian pengontrol segi empat


(dari Bos, 1977) ....................................................... 60
4.13 Potongan hulu dan tampak pengontrol ....................... 61
4.14 Denah pelimpah bentuk gergaji ................................ 63
4.15 Pangkal bendung...................................................... 65
4.16 Peredam energi ........................................................ 66
4.17 Metode Perencanaan kolam loncat air ........................ 67
4.18 Parameter-parameter loncat air ................................. 69
4.19 Hubungan percobaan antara Fr
u
, y
2
/y
u
‟ dan n/yu


untuk ambang ujung pendek (menurut Forster


dan Skrinde, 1950) ................................................... 70
4.20 Karakterisitik kolam olak untuk dipakai dengan


bilangan Froude di atas 4,5 ; kolam USBR Tipe


III (Bradley dan Peterka, 1957) ................................. 70
4.21 Blok-blok halang dan blok-blok muka ......................... 71
4.22 Peredam energi tipe bak tenggelam ........................... 72
4.23 Jari-jari minimum bak ............................................... 74







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
33






4.24 Batas minimum tinggi air hilir .................................... 75

4.25 Batas maksimum tinggi air hilir .................................. 75

4.26 Kolam olak menurut Vlugter ...................................... 76

4.27 Potongan memanjang bendung tetap dengan peredam

energi tipe MDO ...................................................... 83

4.28 Potongan memanjang bendung tetap dengan peredam

energi tipe MDS ...................................................... 83

4.29 Grafik MDO – 1 Pengaliran melalui mercu bendung .... 84
4.30 Grafik MDO – 1a Penentuan bahaya kavitasi di hilir


mercu bendung ........................................................ 84

4.31 Grafik MDO – 2 Penentuan kedalaman lantai peredam

energi .................................................................... 85

4.32 Grafik MDO – 3 Penentuan panjang lantai peredam

energi .................................................................... 85

4.33 Macam-macam tipe pintu .......................................... 91

4.34 Tata letak & komponen bendung karet....................... 93

4.35 Potongan melintang bendung karet............................ 93

4.36 Penampang lintang pada pusat V-notch ..................... 95

4.37 Tampak depan tabung karet yang alami V-notch......... 95

4.38 Loncat air di hilir bendung karet ................................ 97

4.39 Sketsa panjang lantai hilir untuk y
i
besar .................... 97

4.40 Koefisien debit µ untuk permukaan pintu datar atau

lengkung ................................................................. 100

4.41 Variasi dalam perencanaan roda sudut (impeller),
kecepatan spesifik dan karakteristik tinggi
energi-debit pompa .................................................. 101

4.42 Tipe-tipe stasiun pompa tinggi energi rendah ............. 103

4.43 Tipe-tipe tata letak bendung saringan bawah.............. 104








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
34






4.44 Hidrolika saringan bawah .......................................... 106

4.45 Aliran bertekanan ..................................................... 107

4.46 Penyelidikan model oleh Habermaas, yang mem-
perlihatkan banyaknya sedimen yang masuk ke
dalam pengambilan .................................................. 109

4.47 Pintu aliran bawah.................................................... 110



5.1 Tipe pintu pengambilan ............................................ 114

5.2 Geometri bangunan pengambilan .............................. 115

5.3 Bentuk-bentuk jeruji kisi-kisi penyaring dan harga-

harga | ................................................................... 116

5.4 Geometri pembilas.................................................... 117

5.5 Pembilas samping..................................................... 118

5.6 Metode menemukan tinggi dinding pemisah ............... 119

5.7 Pembilas bawah ....................................................... 121

5.8 Pusaran (vortex) dan kantong udara di bawah penutup

atas saluran pembilas bawah..................................... 123

5.9 Gaya-gaya yang bekerja pada pintu ........................... 124

5.10 Sekat air dari karet untuk bagian (A), dasar (B)

dan atas (C) pada pintu baja ..................................... 125

5.11 Tipe-tipe pintu pengambilan: pintu sorong kayu

dan baja .................................................................. 126

5.12 Pintu pengambilan tipe radial .................................... 126

5.13 Tipe-tipe pintu bilas .................................................. 128

5.14 Aerasi pintu sorong yang terendam............................ 128



6.1 Grafik untuk perencanaan ukuran pasangan batu

kosong .................................................................... 131








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
35






6.2 Contoh filter antara pasangan batu kosong dan

bahan asli (tanah dasar) ........................................... 132

6.3 Detail bronjong ........................................................ 134

6.4 Gaya angkat untuk bangunan yang dibangun pada

pondasi batuan ........................................................ 137

6.5 Konstruksi jaringan aliran menggunakan analog

listrik ....................................................................... 138

6.6 Contoh jaringan aliran di bawah dam pasangan

batu pada pasir ........................................................ 139

6.7 Gaya angkat pada pondasi bendung........................... 140

6.8 Unsur-unsur persamaan distribusi tekanan

pada pondasi ........................................................... 143

6.9 Tebal lantai kolam olak ............................................. 148

6.10 Metode angka rembesan Lane ................................... 150

6.11 Ujung hilir bangunan; sketsa parameter-

parameter stabilitas .................................................. 152

6.12 Sketsa gaya tarik pada tabung karet .......................... 153

6.13 Dinding penahan gravitasi dari pasangan batu ............ 155

6.14 Perlindungan terhadap rembesan melibat

pangkal bendung...................................................... 156

6.15 Lantai hulu .............................................................. 158

6.16 Dinding-dinding halang di bawah lantai hulu

atau tubuh bendung ................................................. 159

6.17 Alur pembuang/filter dibawah kolam olak ................... 160



7.1 Konsentrasi sedimen ke arah vertikal ......................... 164

7.2 Tipe tata letak kantong lumpur .................................. 165

7.3 Skema kantong lumpur ............................................. 166








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
36






7.4 Hubungan antara diameter saringan dan

kecepatan endap untuk air tenang ............................ 169



7.5 Potongan melintang dan potongan memanjang
kantong lumpur yang menunjukkan metode
pembuatan tampungan ............................................. 170

7.6 Tegangan geser kritis dan kecepatan geser
kritis sebagai fungsi besarnya butir untuk
µs = 2.650 kg/m
3
(pasir)........................................... 173

7.7 Gaya tarik (traksi) pada bahan kohesif ....................... 174

7.8 Grafik penbuangan sedimen Camp untuk

aliran turbulensi (Camp, 1945) .................................. 177

7.9 Tata letak kantong lumpur yang dianjurkan ................ 178

7.10 Tata letak kantong lumpur dengan saluran primer

berada pada trase yang sama dengan kantong ........... 179

7.11 Pengelak sedimen .................................................... 181

7.12 Saluran pengarah ..................................................... 182



8.1 Pengarah aliran ........................................................ 186

8.2 Contoh krib .............................................................. 187

8.3 Krib dari bronjong dan kayu ...................................... 188

8.4 Kurve pengempangan ............................................... 190

8.5 Potongan melintang tanggul ...................................... 191

8.6 Cara memecahkan masalah pembuangan air .............. 192

8.7 Kopur dan sodetan ................................................... 193

8.8 Tipe tanggul penutup ............................................... 194



10.1 Grafik untuk menentukkan perhitungan risiko








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
37






yang diterima........................................................... 205







DAFTAR TABEL



Tabel Uraian hal



4.1 Harga-harga koefisien kontraksi................................. 50

4.2 Harga-harga K dan n ................................................ 56

4.3 Berkurangnya efisiensi mesin .................................... 100

4.4 Kebulatan bahan bakar maksimum untuk stasiun

pompa yang baik...................................................... 102

4.5 Harga-harga c yang bergantung kepada

Kemiringan saringan (Frank) ..................................... 106



6.1 Harga-harga perkiraan daya dukung yang
diizinkan (disadur dari British Standard
Code of Practice CP 2004) ......................................... 135

6.2 Sudut gesekan dalam c dan kohesi c.......................... 135

6.3 Harga-harga ç .......................................................... 137

6.4 Harga-harga perkiraan untuk koefisien gesekan .......... 146

6.5 Harga-harga minimum angka rembesan

Lane (C
1
) ................................................................. 150



8.1 Harga-harga kemiringan talut utnuk tanggul

tanah homogen (menurut USBR, 1978) ...................... 191










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
38






A.2.1 Nilai-nilai banding tanpa dimensi untuk

Loncat Air (dari Bos, Replogle dan Clemmens,

1984) ...................................................................... 208

A.3.1 Penyelidikan dengan model untuk bangunan

utama di ruas atas sungai ......................................... 211

A.3.2 Penyelidikan dengan model untuk bangunan

utama di ruas tengah sungai ..................................... 213

A.3.3 Penyelidikan dengan model untuk bangunan

utama di ruas bawah sungai...................................... 219













































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
39






1. PENDAHULUAN



1.1 Umum

Kriteria Perencanaan Jaringan lrigasi ini merupakan bagian Standar
Kriteria Perencanaan pada Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Kriteria
Perencanaan terdiri dari bagian-bagian berikut :
KP – 01 Perencanaan Jaringan Irigasi
KP – 02 Bangunan Utama (Head works)
KP – 03 Saluran
KP – 04 Bangunan

KP – 05 Parameter Bangunan

KP – 06 Petak Tersier

KP – 07 Standar Penggambaran.



Kriteria tersebut dilengkapi dengan:

- Gambar-gambar Tipe dan Standar Bangunan Irigasi

- Persyaratan Teknis untuk Pengukuran, Penyelidikan dan Perencanaan

- Buku Petunjuk Perencanaan.



1.2 Definisi

Bangunan utama dapat didefinisikan sebagai: “semua bangunan yang
direncanakan di sungai atau aliran air untuk membelokkan air ke dalam
jaringan irigasi, biasanya dilengkapi dengan kantong lumpur agar bisa
mengurangi kandungan sedimen yang berlebihan serta memungkinkan
untuk mengukur dan mengatur air yang masuk”.


1.3 Kesahihan/Validitas










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
40






Kriteria, praktek-praktek yang dianjurkan, pedoman serta metode-
metode perencanaan yang dibicarakan dalam Bagian Perencanaan
Bangunan Utama ini sahih untuk semua bangunan yang beda tinggi
energinya (muka air hulu terhadap air hilir) tidak lebih dari 6 m. Untuk
bangunan-bangunan ini di andaikan bahwa luas pembuang sungai
kurang dari 500 km
2
dan bahwa debit maksimum pengambilan adalah 25
m
3
/dt. Batasan ini dipilih karena mencakup bangunan utama yang dapat
direncana berdasarkan kriteria yang diberikan di sini.
Untuk bangunan-bangunan di luar ruang lingkup ini, diperlukan nasihat-
nasihat ahli. Juga untuk bangunan-bangunan yang di cakup dalam
Standar ini, jika diperkirakan akan timbul masalah-masalah khusus, maka
diperlukan konsultasi dengan ahli-ahli yang bersangkutan.
Lembaga-lembaga yang dapat menyediakan jasa keahlian adalah:
- Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air di Bandung,
yang memberikan jasa-jasa keahlian di bidang hidrologi, geologi,
mekanika tanah serta teknik hidrolika.
Lembaga ini memiliki laboratorium hidrolika dengan staf yang sangat
berpengalaman.
- Sub-Direktorat Perencanaan Teknis Direktorat Irigasi, serta

Direktorat Sungai, Danau dan Waduk.



1.4 Jenis – jenis Bangunan Utama

Pengaliran air dari sumber air berupa sungai atau danau ke jaringan
irigasi untuk keperluan irigasi pertanian, pasokan air baku dan keperluan
lainnya yang memerlukan suatu bangunan disebut dengan bangunan
utama.
Untuk kepentingan keseimbangan lingkungan dan kebutuhan daerah di

hilir bangunan utama, maka aliran air sungai tidak diperbolehkan disadap








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
41






seluruhnya. Namun harus tetap dialirkan sejumlah 5% dari debit yang
ada.
Salah satu bangunan utama yang mempunyai fungsi membelokkan air
dan menampung air disebut bendungan, yang kriteria perencanaannya
tidak tercakup dalam kriteria ini.
Kriteria perencanaan bendungan dan bangunan pelengkap lainnya akan
dipersiapkan secara terpisah oleh institusi yang berwenang.
Ada 6 (enam) bangunan utama yang sudah pernah atau sering dibangun

di Indonesia, antara lain:



1.4.1 Bendung Tetap
Bangunan air ini dengan kelengkapannya dibangun
melintang sungai atau sudetan, dan sengaja dibuat
untuk meninggikan muka air dengan ambang tetap
sehingga air sungai dapat disadap dan dialirkan
secara gravitasi ke jaringan irigasi. Kelebihan airnya
dilimpahkan ke hilir dengan terjunan yang dilengkapi
dengan kolam olak dengan maksud untuk meredam
energi.
Ada 2 (dua) tipe atau jenis bendung tetap dilihat dari
bentuk struktur ambang pelimpahannya, yaitu:
(a) Ambang tetap yang lurus dari tepi ke tepi kanan sungai artinya as
ambang tersebut berupa garis lurus yang menghubungkan dua titik
tepi sungai.
(b) Ambang tetap yang berbelok-belok seperti gigi gergaji. Type seperti
ini diperlukan bila panjang ambang tidak mencukupi dan biasanya
untuk sungai dengan lebar yang kecil tetapi debit airnya besar.
Maka dengan menggunakan tipe ini akan didapat panjang ambang







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
42






yang lebih besar, dengan demikian akan didapatkan kapasitas
pelimpahan debit yang besar. Mengingat bentuk fisik ambang dan
karakter hidrolisnya, disarankan bendung type gergaji ini dipakai
pada saluran. Dalam hal diterapkan di sungai harus memenuhi
syarat sebagai berikut:
1. Debit relatif stabil
2. Tidak membawa material terapung berupa batang-batang pohon
3. Efektivitas panjang bendung gergaji terbatas pada kedalaman air
pelimpasan tertentu.


1.4.2 Bendung Gerak Vertikal

ndung ini terdiri dari tubuh bendung dengan ambang tetap yang rendah dilengkapi
dengan pintu-pintu yang dapat digerakkan vertikal maupun radial. Tipe
ini mempunyai fungsi ganda, yaitu mengatur tinggi muka air di hulu
bendung kaitannya dengan muka air banjir dan meninggikan muka air
sungai kaitannya dengan penyadapan air untuk berbagai keperluan.
Operasional di lapangan dilakukan dengan membuka pintu seluruhnya
pada saat banjir besar atau membuka pintu sebagian pada saat banjir
sedang dan kecil. Pintu ditutup sepenuhnya pada saat saat kondisi
normal, yaitu untuk kepentingan penyadapan air. Tipe bendung gerak ini
hanya dibedakan dari bentuk pintu-pintunya antara lain:
(a) Pintu geser atau sorong, banyak digunakan untuk lebar dan tinggi
bukaan yang kecil dan sedang. Diupayakan pintu tidak terlalu berat
karena akan memerlukan peralatan angkat yang lebih besar dan
mahal. Sebaiknya pintu cukup ringan tetapi memiliki kekakuan yang
tinggi sehingga bila diangkat tidak mudah bergetar karena gaya
dinamis aliran air.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
43






(b) Pintu radial, memiliki daun pintu berbentuk lengkung (busur) dengan
lengan pintu yang sendinya tertanam pada tembok sayap atau pilar.
Konstruksi seperti ini dimaksudkan agar daun pintu lebih ringan
untuk diangkat dengan menggunakan kabel atau rantai. Alat
penggerak pintu dapat dapat pula dilakukan secara hidrolik dengan
peralatan pendorong dan penarik mekanik yang tertanam pada
tembok sayap atau pilar.


1.4.3 Bendung Karet (Bendung Gerak Horisontal)

ndung karet memiliki 2 (dua) bagian pokok, yaitu :

1) Tubuh bendung yang terbuat dari karet

2) Pondasi beton berbentuk plat beton sebagai dudukan tabung karet,
serta dilengkapi satu ruang kontrol dengan beberapa perlengkapan
(mesin) untuk mengontrol mengembang dan mengempisnya tabung
karet.
ndung ini berfungsi meninggikan muka air dengan cara mengembungkan tubuh
bendung dan menurunkan muka air dengan cara mengempiskannya.
Tubuh bendung yang terbuat dari tabung karet dapat diisi dengan udara
atau air. Proses pengisian udara atau air dari pompa udara atau air
dilengkapi dengan instrumen pengontrol udara atau air (manometer).


1.4.4 Bendung Saringan Bawah

Bendung ini berupa bendung pelimpah yang dilengkapi dengan saluran
penangkap dan saringan.
Bendung ini meloloskan air lewat saringan dengan membuat bak
penampung air berupa saluran penangkap melintang sungai dan
mengalirkan airnya ke tepi sungai untuk dibawa ke jaringan irigasi.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
44






Operasional di lapangan dilakukan dengan membiarkan sedimen dan
batuan meloncat melewati bendung, sedang air diharapkan masuk ke
saluran penangkap.
Sedimen yang tinggi diendapkan pada saluran penangkap pasir yang
secara periodik dibilas masuk sungai kembali.


1.4.5 Pompa

Ada beberapa jenis pompa didasarkan pada tenaga penggeraknya,
antara lain:
a. Pompa air yang digerakkan oleh tenaga manusia (pompa tangan),

b. Pompa air dengan penggerak tenaga air (air terjun dan aliran air),

c. Pompa air dengan penggerak berbahan bakar minyak

d. Pompa air dengan penggerak tenaga listrik.

mpa digunakan bila bangunan-bangunan pengelak yang lain tidak dapat memecahkan
permasalahan pengambilan air dengan gravitasi, atau kalau pengambilan
air relative sedikit dibandingkan dengan lebar sungai. Dengan instalasi
pompa pengambilan air dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.
Namun dalam operasionalnya memerlukan biaya operasi dan
pemeliharaannya cukup mahal terutama dengan makin mahalnya bahan
bakar dan tenaga listrik.
ri cara instalasinya pompa dapat dibedakan atas pompa yang mudah dipindah-
pindahkan karena ringan dan mudah dirakit ulang setelah dilepas
komponennya dan pompa tetap (stationary) yang dibangun/dipasang
dalam bangunan rumah pompa secara permanen.


1.4.6 Pengambilan Bebas

Pengambilan air untuk irigasi ini langsung dilakukan dari sungai dengan
meletakkan bangunan pengambilan yang tepat ditepi sungai, yaitu pada







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
45






tikungan luar dan tebing sungai yang kuat atau massive. Bangunan
pengambilan ini dilengkapi pintu, ambang rendah dan saringan yang
pada saat banjir pintu dapat ditutup supaya air banjir tidak meluap ke
saluran induk.
Kemampuan menyadap air sangat dipengaruhi elevasi muka air di sungai
yang selalu bervariasi tergantung debit pengaliran sungai saat itu.
Pengambilan bebas biasanya digunakan untuk daerah irigasi dengan
luasan yang kecil sekitar 150 ha dan masih pada tingkat irigasi ½
(setengah) teknis atau irigasi sederhana.



1.4.7 Bendung Tipe Gergaji

Diperkenankan dibangun dengan syarat harus dibuat di sungai yang
alirannya stabil, tidak ada tinggi limpasan maksimum, tidak ada material
hanyutan yang terbawa oleh aliran.


1.5 Bagian-bagian Bangunan Utama

Bangunan utama terdiri dari berbagai bagian yang akan dijelaskan secara
terinci dalam pasal berikut ini. Pembagiannya dibuat sebagai berikut :



























Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama












46











tanggul banjir

pengambilan
bendung





kolam olak
pembilas


bukit






konstruksi
lindungan
sungai
- bronjong
-
krib





pembilas
saluran
pembilas





















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
47








Gambar 1.1 Bangunan Utama



- Bangunan bendung

- Bangunan pengambilan

- Bangunan pembilas (penguras)

- Kantong lumpur

- Perkuatan sungai

- Bangunan-bangunan pelengkap

Gambar 1.1 menunjukkan tata letak tipe-tipe bangunan utama.



1.5.1 Bangunan Bendung

Bangunan bendung adalah bagian dari bangunan utama yang benar-
benar dibangun di dalam air. Bangunan ini diperlukan untuk
memungkinkan dibelokkannya air sungai ke jaringan irigasi, dengan jalan
menaikkan muka air di sungai atau dengan memperlebar pengambilan di
dasar sungai seperti pada tipe bendung saringan bawah (bottom rack
weir).
Bila bangunan tersebut juga akan dipakai untuk mengatur elevasi air di

sungai, maka ada dua tipe yang dapat digunakan, yakni:

(1) bendung pelimpah dan
(2) bendung gerak (barrage)

Gambar 1.2 memberikan beberapa tipe denah dan potongan melintang
bendung gerak dan potongan melintang bendung saringan bawah.
Bendung adalah bangunan pelimpah melintang sungai yang memberikan
tinggi muka air minimum kepada bangunan pengambilan untuk
keperluan irigasi. Bendung merupakan penghalang selama terjadi banjir









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
48






dan dapat menyebabkan genangan luas di daerah-daerah hulu bendung
tersebut.
Bendung gerak adalah bangunan berpintu yang dibuka selama aliran
besar; masalah yang ditimbulkannya selama banjir kecil saja. Bendung
gerak dapat mengatur muka air di depan pengambilan agar air yang
masuk tetap sesuai dengan kebutuhan irigasi. Bendung gerak
mempunyai kesulitan-kesulitan eksploitasi karena pintunya harus tetap
dijaga dan dioperasikan dengan baik dalam keadaan apa pun.
Bendung saringan bawah adalah tipe bangunan yang dapat menyadap
air dari sungai tanpa terpengaruh oleh tinggi muka air. Tipe ini terdiri
dari sebuah parit terbuka yang terletak tegak lurus terhadap aliran
sungai. Jeruji Baja (saringan) berfungsi untuk mencegah masuknya batu-
batu bongkah ke dalam parit. Sebenarnya bongkah dan batu-batu
dihanyutkan ke bagian hilir sungai. Bangunan ini digunakan di
bagian/ruas atas sungai di mana sungai hanya mengangkut bahan-bahan
yang berukuran sangat besar.
Untuk keperluan-keperluan irigasi, bukanlah selalu merupakan keharusan
untuk meninggikan muka air di sungai. Jika muka air sungai cukup
tinggi, dapat dipertimbangkan pembuatan pengambilan bebas; bangunan
yang dapat mengambil air dalam jumlah yang cukup banyak selama
waktu pemberian air irigasi, tanpa membutuhkan tinggi muka air tetap di
sungai.
Dalam hal ini pompa dapat juga dipakai untuk menaikkan air sampai
elevasi yang diperlukan. Akan tetapi, karena biaya pengelolannya tinggi,
maka harga air irigasi mungkin menjadi terlalu tinggi pula.













Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
49





































































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama










50

















A
pengambilan
utama
A

pembilas

dinding pemisah


denah bendung
gerak dengan
pintu radial







jembatan



pintu
radial blok
halang


potongan A-A
pelat pancang






potongan
(searah aliran sungai)
penyadap air
tipe tiroller
pelat pancang






saringan dari baja





Gambar 1.2 Denah dan potongan melintang bendung gerak dan potongan
melintang bendung saringan Bawah









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
51









1.5.2 Pengambilan

Pengambilan (lihat Gambar 1.3) adalah sebuah bangunan berupa pintu
air. Air irigasi dibelokkan dari sungai melalui bangunan ini. Pertimbangan
utama dalam merencanakan sebuah bangunan pengambilan adalah debit
rencana pengelakan sedimen.


1.5.3 Pembilas

Pada tubuh bendung tepat di hilir pengambilan, dibuat bangunan
pembilas (lihat Gambar 1.3) guna mencegah masuknya bahan sedimen
kasar ke dalam jaringan saluran irigasi. Pembilas dapat direncanakan
sebagai:
(1) pembilas pada tubuh bendung dekat pengambilan
(2) pembilas bawah (undersluice)

(3) shunt undersluice

(4) pembilas bawah tipe boks.

Tipe (2) sekarang umum dipakai; tipe (1) adalah tipe tradisional; tipe

(3) dibuat di luar lebar bersih bangunan bendung dan tipe (4)
menggabung pengambilan dan pembilas dalam satu bidang atas bawah.
Perencanaan pembilas dengan dinding pemisah dan pembilas bawah
telah diuji dengan berbagai penyelidikan model. Aturan-aturan terpenting
yang ditetapkan melalui penyelidik ini diberikan dalam Bab 5.


















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama








52













Saluran primer


B




pangkal
bendung
pangkal
bendung

A pintu pengambilan
pengambilan utama

lantai atas
pembilas bawah




pintu bilas

A

pembilas
DENAH

dinding pemisah C

C
pilar

B








Pembilas bawah


POTONGAN A - A







mercu
bendung





POTONGAN B-B
kolam olak

POTONGAN C-C









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
53








Gambar 1.3 Pengambilan dan pembilas





1.5.4 Kantong lumpur

Kantong lumpur mengendapkan fraksi-fraksi sedimen yang lebih besar
dari fraksi pasir halus tetapi masih termasuk pasir halus dengan diameter
butir berukuran 0,088 mm dan biasanya ditempatkan persis di sebelah
hilir pengambilan. Bahan-bahan yang lebih halus tidak dapat ditangkap
dalam kantong lumpur biasa dan harus diangkut melalui jaringan saluran
ke sawah-sawah. Bahan yang telah mengendap di dalam kantong
kemudian dibersihkan secara berkala. Pembersihan ini biasanya
dilakukan dengan menggunakan aliran air yang deras untuk
menghanyutkan bahan endapan tersebut kembali ke sungai. Dalam hal-
hal tertentu, pembersihan ini perlu dilakukan dengan cara lain, yaitu
dengan jalan mengeruknya atau dilakukan dengan tangan.


1.5.5 Bangunan Perkuatan Sungai

Pembuatan bangunan perkuatan sungai khusus di sekitar bangunan
utama untuk menjaga agar bangunan tetap berfungsi dengan baik,
terdiri dari:
(1) Bangunan perkuatan sungai guna melindungi bangunan terhadap
kerusakan akibat penggerusan dan sedimentasi. Pekerjaan-
pekerjaan ini umumnya berupa krib, matras batu, pasangan batu
kosong dan/atau dinding pengarah.
(2) Tanggul banjir untuk melindungi lahan yang berdekatan terhadap
genangan akibat banjir.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
54






(3) Saringan bongkah untuk melindungi pengambilan atau pembilas,
agar bongkah tidak menyumbah bangunan selama terjadi banjir.
(4) Tanggul penutup untuk menutup bagian sungai lama atau, bila
bangunan bendung dibuat di kopur, untuk mengelakkan sungai
melalui bangunan tersebut.


1.5.6 Bangunan pelengkap

Bangunan-bangunan atau perlengkapan yang akan ditambahkan ke
bangunan utama diperlukan keperluan :
(1) Pengukuran debit dan muka air di sungai maupun di saluran;

(2) Rumah untuk opreasi pintu;

(3) Peralatan komunikasi, tempat teduh serta perumahan untuk
tenaga operasional, gudang dan ruang kerja untuk kegiatan
operasional dan pemeliharaan;
(4) jembatan di atas bendung, agar seluruh bagian bangunan utama
mudah di jangkau, atau agar bagian-bagian itu terbuka untuk
umum.
(5) instalasi tenaga air mikro atau mini, tergantung pada hasil evaluasi
ekonomi serta kemungkinan hidrolik. Instalasi ini bisa dibangun di
dalam bangunan bendung atau di ujung kantong lumpur atau di
awal saluran.
(6) bangunan tangga ikan (fish ladder) diperlukan pada lokasi yang

senyatanya perlu dijaga keseimbangan lingkungannya sehingga
kehidupan biota tidak terganggu. Pada lokasi diluar pertimbangan
tersebut tidak diperlukan tangga ikan.













Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
55






2. DATA



2.1 Pendahuluan

Data-data yang dibutuhkan untuk perencanaan bangunan utama dalam
suatu jaringan irigasi adalah:
(a) Data kebutuhan air multisektor: merupakan data kebutuhan air
yang diperlukan dan meliputi jumlah air yang diperlukan untuk
irigasi pertanian, jumlah kebutuhan air minum, jumlah kebutuhan
air baku untuk rumah tangga penggelontoran limbah kota dan air
untuk stabilitas aliran sungai dan kehidupan biota alami.
(b) Data topografi: peta yang meliputi seluruh daerah aliran sungai
peta situasi untuk letak bangunan utama; gambar-gambar
potongan memanjang dan melintang sungai di sebelah hulu
maupun hilir dari kedudukan bangunan utama.
(c) Data hidrologi: data aliran sungai yang meliputi data banjir yang
andal. Data ini harus mencakup beberapa periode ulang; daerah
hujan; tipe tanah dan vegetasi yang terdapat di daerah aliran.
Elevasi tanah dan luas lahan yang akan didrain menyusut luas.
(d) Data morfologi: kandungan sedimen, kandungan sedimen dasar
(bedload) maupun layang (suspended load) termasuk distribusi
ukuran butir, perubahan-perubahan yang terjadi pada dasar
sungai, secara horisontal maupun vertikal, unsur kimiawi sedimen.
(e) Data geologi: kondisi umum permukaan tanah daerah yang
bersangkutan; keadaan geologi lapangan, kedalaman lapisan
keras, sesar, kelulusan (permeabilitas) tanah, bahaya gempa bumi,
parameter yang harus dipakai.
(f) Data mekanika tanah: bahan pondasi, bahan konstruksi, sumber
bahan timbunan, batu untuk pasangan batu kosong, agregat untuk







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
56






beton, batu belah untuk pasangan batu, parameter tanah yang
harus digunakan.
(g) Standar untuk perencanaan: peraturan dan standar yang telah
ditetapkan secara nasional, seperti PBI beton, daftar baja,
konstruksi kayu Indonesia, dan sebagainya.
(h) Data lingkungan dan ekologi

(i) Data elevasi bendung sebagai hasil perhitungan muka air saluran
dan dari luas sawah yang diairi.
Dalam Lampiran A disajikan sebuah daftar lembaga-lembaga dan
instansi-instansi pemerintah yang menyediakan informasi dan data
mengenai pokok masalah yang telah disebutkan di atas.


2.2 Data kebutuhan air multisektor

Data-data jumlah kebutuhan air yang diperlukan adalah sebagai berikut:

(a) Jumlah kebutuhan air irigasi pada saat kebutuhan puncak dari
irigasi untuk luas potensial irigasi dengan pembagian golongan
atau tanpa golongan.
(b) Jumlah kebutuhan air minum dengan proyeksi kebutuhan 25 tahun
kedepan dengan mempertimbangkan kemungkinan perluasan kota,
pemukiman dan pertumbuhan penduduk yang didapat dari institusi
yang menangani air minum.
(c) Jumlah kebutuhan air baku untuk industri terutama kawasan-
kawasan industri dengan perkiraan pertumbuhan industri 10%.
(d) Jumlah kebutuhan air untuk penggelontoran limbah perkotaan
pada saluran pembuang perkotaan.
(e) Jumlah kebutuhan air untuk stabilitas aliran sungai dan kehidupan
biota air (dalam rangka penyiapan OP bendung).









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
57












2.3 Data Topografi

Data-data topografi yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

(i) Peta Rupa Bumi sebagai peta dasar dengan skala 1 : 50.000 atau
lebih besar yang menunjukkan hulu sungai sampai muara. Garis-
garis ketinggian (kontur) setiap 25 m sehingga dapat diukur profil
memanjang sungai dan luas daerah aliran sungainya. Dalam hal
tidak tersedia peta rupa bumi 1 : 50.000 maka dapat dipergunakan
peta satelit sebagai informasi awal lokasi bangunan dan informasi
lokasi daerah studi. Namun demikian peta satelit ini tidak bisa
menggantikan peta rupa bumi skala 1 : 50.000.
(ii) Peta situasi sungai di mana ada rencana bangunan utama akan
dibuat. Peta ini sebaiknya berskala 1 : 2.000. Peta itu harus meliputi
jarak 1 km ke hulu dan 1 km ke hilir dari bangunan utama, dan
melebar 250 dari masing-masing tepi sungai termasuk bantaran
sungai. Garis ketinggian setiap 1,0 m, kecuali di dasar sungai garis
ketinggian setiap 0,50 m. Peta itu harus mencakup lokasi alternatif
yang sudah diidentifikasi serta panjang yang diliput harus memadai
agar dapat diperoleh infomasi mengenai bentuk denah sungai dan
memungkinkan dibuatnya sodetan/kopur dan juga untuk
merencana tata letak dan trase tanggul penutup. Peta itu harus
mencantumkan batas-batas yang penting, seperti batas-batas desa,
sawah dan seluruh prasarananya. Harus ditunjukkan pula titik-titik
tetap (Benchmark) yang ditempatkan di sekiar daerah yang
bersangkutan, lengkap dengan koordinat dan elevasinya.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
58






(iii) Gambar potongan memanjang sungai dengan potongan melintang
setiap 50 m. Potongan memanjang skala horisontalnya 1 : 2000;
skala vertikalnya 1 : 200. Skala untuk potongan melintang 1 : 200
horisontal dan 1 : 200 vertikal. Panjang potongan melintangnya
adalah 50 m tepi sungai. Elevasi akan diukur pada jarak maksimum
25 m atau untuk beda ketinggian 0,25 m tergantung mana yang
dapat dicapai lebih dahulu. Dalam potongan memanjang sungai,
letak pencatat muka air otomatis (AWLR) dan papan duga harus
ditunjukkan dan titik nolnya harus diukur.
(iv) Pengukuran situasi bendung dengan skala 1 : 200 atau 1 : 500
untuk areal seluas kurang lebih 50 ha (1.000 x 500 m
2
). Peta
tersebut harus memperlihatkan bagian-bagian lokasi bangunan
utama secara lengkap, termasuk lokasi kantong lumpur dan
tanggul penutup dengan garis ketinggian setiap 0,25 m.
Foto udara jika ada akan sangat bermanfaat untuk penyelidikan
lapangan. Apabila foto udara atau citra satelit dari berbagai tahun
pengambilan juga tersedia, maka ini akan lebih menguntungkan untuk
penyelidikan perilaku dasar sungai.
Bangunan yang ada di sungai di hulu dan hilir bangunan utama yang
direncanakan harus diukur dan dihubungkan dengan hasil-hasil
pengukuran bangunan utama.


2.4 Data Hidrologi

2.4.1Debit banjir

Data-data yang diperlukan untuk perencanaan bangunan utama adalah:

(1) Data untuk menghitung berbagai besaran banjir rencana

(2) Data untuk menilai debit rendah andalan, dan

(3) Data untuk membuat neraca air sungai secara keseluruhan








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
59






Banjir rencana maksimum untuk bangunan bendung diambil sebagai
debit banjir dengan periode ulang 100 tahun. Banjir dengan periode
ulang 1.000 tahun diperlukan untuk mengetahui tinggi tanggul banjir dan
mengontrol keamanan bangunan utama.
Analisa perhitungan bentuk mercu dan permukaan tubuh bendung
bagian hilir didasarkan atas debit yang paling dominan terhadap daya
gerus dan daya hisap, yang ditetapkan debit dengan periode ulang 5 –
25 tahun.

Sedangkan analisa perhitungan kolam olak didasarkan atas debit
dominan yang mengakibatkan efek degradasi dasar sungai di hilir kolam
olak. Debit dominan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan formasi
material dasar sungai terhadap gerusan, yang ditetapkan debit dengan
periode ulang 25 – 100 tahun.
Untuk bangunan yang akan dibuat di hilir waduk, banjir rencana
maksimum akan diambil sebagai debit dengan periode ulang 100 tahun
dari daerah antara dam dan bangunan bendung, ditambah dengan aliran
dari outflow waduk setelah dirouting yang disebabkan oleh banjir dengan
periode ulang 100 tahun.
Elevasi tanggul hilir sungai dari bangunan utama didasarkan pada tinggi
banjir dengan periode ulang 5 sampai 24 tahun.
Periode ulang tersebut (5-25 tahun) akan ditetapkan berdasarkan jumlah
penduduk yang terkena akibat banjir yang mungkin terjadi, serta pada
nilai ekonomis tanah dan semua prasarananya. Biasanya di sebelah hulu
bangunan utama tidak akan dibuat tanggul sungai untuk melindungi
lahan dari genangan banjir.
Saluran pengelak, jika diperlukan selama pelaksanaan, biasanya
direncana berdasarkan banjir dengan periode ulang 25 tahun, kecuali









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
60






kalau perhitungan risiko menghasilkan periode ulang lain yang lebih
cocok (lihat Bab 10.2).
Rangkaian data debit banjir untuk berbagai periode ulang harus andal.
Hal ini berarti bahwa harga-harga tersebut harus didasarkan pada
catatan-catatan banjir yang sebenarnya yang mencakup jangka waktu
lama (sekitar 20 tahun).
Apabila data semacam ini tidak tersedia (dan begitulah yang sering
terjadi), kita harus menggunakan cara lain, misalnya berdasarkan data
curah hujan di daerah aliran sungai. Jika ini tidak berhasil, kita usahakan
cara lain berdasarkan data yang diperoleh dari daerah terdekat (untuk
penjelasan lebih lanjut, lihat KP-01, Perencanaan Jaringan Irigasi).
Debit banjir dengan periode-periode ulang berikut harus diperhitungkan

1, 5, 25, 50, 100, 1000 tahun.



2.4.2 Debit andalan

Debit andalan dihitung berdasarkan data debit aliran rendah, dengan
panjang data minimal 20 tahun, debit andalan dibutuhkan untuk menilai
luas daerah potensial yang dapat diairi dari sungai yang bersangkutan.
Perhitungan debit rendah andalan dengan periode ulang yang diperlukan
(biasanya 5 tahun), dibutuhkan untuk menilai luas daerah potensial yang
dapat diairi dari sungai yang bersangkutan.
Adalah penting untuk memperkirakan debit ini seakurat mungkin. Cara
terbaik untuk memenuhi persyaratan ini adalah dengan melakukan
pengukuran debit (atau membaca papan duga) tiap hari. Jika tidak
tersedia data mengenai muka air dan debit, maka debit rendah harus di
hitung berdasarkan curah hujan dan data limpasan air hujan dari daerah
aliran sungai.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
61






2.4.3 Neraca air
Neraca air (water balance) seluruh sungai harus dibuat guna
mempertimbangkan perubahan alokasi/penjatahan air akibat dibuatnya
bangunan utama.
Hak atas air, penyadapan air di hulu dan hilir sungai pada bangunan
bendung serta kebutuhan air di masa datang, harus ditinjau kembali.


2.5 Data Morfologi

Konstruksi bangunan bendung di sungai akan mempunyai 2 konsekuensi

(akibat) terhadap morfologi sungai yaitu:

(1) Konstruksi itu akan mengubah kebebasan gerak sungai ke arah
horisontal
(2) Konsentrasi sedimen akan berubah karena air dan sedimen
dibelokkan, dari sungai dan hanya sedimennya saja yang akan
digelontorkan kembali ke sungai.




2.5.1 Morfologi

(a) Data-data fisik yang diperlukan dari sungai untuk perencanaan
bendung adalah:
- Kandungan dan ukuran sedimen disungai tersebut

- Tipe dan ukuran sedimen dasar yang ada

- Pembagian (distribusi) ukuran butir dari sedimen yang ada

- Banyaknya sedimen dalam waktu tertentu

- Pembagian sedimen secara vertikal dalam sungai.

- Floting debris.












Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
62






(b) Data historis profil melintang sungai dan gejala terjadinya
degradasi dan agradasi sungai dimana lokasi bendung
direncanakan dibangun.


2.5.2Geometrik Sungai

Data geometri sungai yang dibutuhkan berupa bentuk dan ukuran dasar
sungai terdalam, alur palung dan lembah sungai secara vertikal dan
horisontal mencakup parameter-parameter yang disebut di bawah.
- lebar

- kemiringan

- ketinggian

Profil sungai, mencakup profil dasar, tebing alur dan palung sungai. Data
tersebut merupakan data topografi (lihat uraian Data Topografi).


2.6 Data Geologi Teknik

2.6.1 Geologi

Geologi permukaan suatu daerah harus diliput pada peta geologi
permukaan. Skala peta yang harus dipakai adalah:
(a) Peta daerah dengan skala 1:100.000 atau 1:50.000

(b) Peta semidetail dengan skala 1:25.000 atau 1:5.000

(c) Peta detail dengan skala 1:2.000 atau 1:100.

Peta-peta tersebut harus menunjukkan geologi daerah yang
bersangkutan, daerah pengambilan bahan bangunan, detail-detail
geologis yang perlu diketahui oleh perekayasa, seperti: tipe batuan,
daerah geser, sesar, daerah pecahan, jurus dan kemiringan lapisan.
Berdasarkan pengamatan dari sumuran dan paritan uji, perubahan-
perubahan yang terjadi dalam formasi tanah maupun tebal dan derajat
pelapukan tanah penutup (overburden) harus diperkirakan.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
63






Dalam banyak hal, pemboran mungkin diperlukan untuk secara tepat
mengetahui lapisan dan tipe batuan. Hal ini sangat penting untuk
pondasi bendung. Adalah perlu untuk mengetahui kekuatan pondasi
maupun tersedianya batu di daerah sekitar untuk menentukan lokasi
bendung itu sendiri, dan juga untuk keperluan bahan bangunan yang
diperlukan, seperti misalnya agregat untuk beton, batu untuk pasangan
atau untuk batu candi, pasir dan kerikil. Untuk memperhitungkan
stabilitas bendung, kekuatan gempa perlu diketahui.


2.6.2 Data Mekanika Tanah
Cara terbaik untuk memperoleh data tanah pada lokasi bangunan
bendung ialah dengan menggali sumur dan parit uji, karena sumuran
dan paritan ini akan memungkinkan diadakannya pemeriksaan visual dan
diperolehnya contoh tanah yang tidak terganggu. Apabila pemboran
memang harus dilakukan karena adanya lapisan air tanah atau karena
dicatat dalam borlog.
Kelulusan tanah harus diketahui agar gaya angkat dan perembesan
dapat diperhitungkan.



























Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
64






3. BANGUNAN BENDUNG



Umum

Lokasi bangunan bendung dan pemilihan tipe yang paling cocok
dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu:
- Tipe, bentuk dan morfologi sungai

- Kondisi hidrolis anatara lain elevasi yang diperlukan untuk irigasi

- Topografi pada lokasi yang direncanakan,

- Kondisi geologi teknik pada lokasi,

- Metode pelaksanaan

- Aksesibilitas dan tingkat pelayanan

Faktor-faktor yang disebutkan di atas akan dibicarakan dalam pasal-pasal
berikut. Pasal terakhir akan memberikan tipe-tipe bangunan yang cocok
untuk digunakan sebagai bangunan bendung dalam kondisi yang
berbeda-beda.


3.2 Syarat-syarat Penentuan Lokasi Bendung

Aspek yang mempengaruhi dalam pemilihan lokasi bendung adalah :

1. Pertimbangan topografi

2. Kemantapan geoteknik fondasi bendung

3. Pengaruh hidraulik

4. Pengaruh regime sungai

5. Tingkat kesulitan saluran induk

6. Ruang untuk bangunan pelengkap bendung

7. Luas layanan irigasi

8. Luas daerah tangkapan air

9. Tingkat kemudahan pencapaian

10. Biaya pembangunan








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
65






11. Kesepakatan stakeholder



1. Pertimbangan topografi

Lembah sungai yang sempit berbentuk huruf V dan tidak terlalu dalam
adalah lokasi yang ideal untuk lokasi bendung, karena pada lokasi ini
volume tubuh bendung dapat menjadi minimal. Lokasi seperti ini mudah
didapatkan pada daerah pegunungan, tetapi di daerah datar dekat pantai
tentu tidak mudah mendapatkan bentuk lembah seperti ini. Di daerah
transisi (middle reach) kadang-kadang dapat ditemukan disebelah hulu
kaki bukit. Sekali ditemukan lokasi yang secara topografis ideal untuk
lokasi bendung, keadaan topografi di daerah tangkapan air juga perlu
dicek. Apakah topografinya terjal sehingga mungkin terjadi longsoran
atau tidak. Topografi juga harus dikaitkan dengan karakter hidrograf
banjir, yang akan mempengaruhi kinerja bendung. Demikian juga
topografi pada daerah calon sawah harus dicek. Yang paling dominan
adalah pengamatan elevasi hamparan tertinggi yang harus diairi. Analisa
ketersediaan selisih tinggi energi antara elevasi puncak bendung pada
lokasi terpilih dan elevasi muka air pada sawah tertinggi dengan
keperluan energi untuk membawa air ke sawah tersebut akan
menentukan tinggi rendahnya bendung yang diperlukan. Atau kalau
perlu menggeser ke hulu atau ke hilir dari lokasi yang sementara terpilih.
Hal ini dilakukan mengingat tinggi bendung sebaiknya dibatasi 6-7 m.
Bendung yang lebih tinggi akan memerlukan kolam olak ganda (double
jump)


2. Kemantapan geoteknik

Keadaan geoteknik fondasi bendung harus terdiri dari formasi batuan
yang baik dan mantap. Pada tanah aluvial kemantapan fondasi







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
66






ditunjukkan dengan angka standar penetration test (SPT)>40. Bila angka
SPT<40 sedang batuan keras jauh dibawah permukaan, dalam batas-
batas tertentu dapat dibangun bendung dengan tiang pancang. Namun
kalau tiang pancang terlalu dalam dan mahal sebaiknya dipertimbangkan
pindah lokasi.


Stratigrafi batuan lebih disukai menunjukkan lapisan miring ke arah hulu.
Kemiringan ke arah hilir akan mudah terjadinya kebocoran dan erosi
buluh. Sesar tanah aktif harus secara mutlak dihindari, sesar tanah pasif
masih dapat dipertimbangkan tergantung justifikasi ekonomis untuk
melakukan perbaikan fondasi.
Geoteknik tebing kanan dan kiri bendung juga harus dipertimbangkan
terhadap kemungkinan bocornya air melewati sisi kanan dan kiri
bendung. Formasi batuan hilir kolam harus dicek ketahanan terhadap
gerusan air akibat energi sisa air yang tidak bisa dihancurkan dalam
kolam olak.
Akhirnya muara dari pertimbangan geoteknik ini adalah daya dukung
fondasi bendung dan kemungkinan terjadi erosi buluh dibawah dan
samping tubuh bendung, serta ketahanan batuan terhadap gerusan.


3. Pengaruh Hidraulik

Keadaan hidraulik yang paling ideal bila ditemukan lokasi bendung pada
sungai yang lurus. Pada lokasi ini arah aliran sejajar, sedikit arus
turbulen, dan kecenderungan gerusan dan endapan tebing kiri kanan
relatif sedikit. Dalam keadaan terpaksa, bila tidak ditemukan bagian yang
lurus, dapat ditolerir lokasi bendung tidak pada bagian sungai yang lurus
betul. Perhatian khusus harus diberikan pada posisi bangunan
pengambilan yang harus terletak pada tikungan luar sungai. Hal ini







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
67






dimaksudkan agar pengambilan air irigasi bisa lancar masuk ke intake
dengan mencegah adanya endapan didepan pintu pengambilan. Maksud
ini akan lebih ditunjang apabila terdapat bagian sungai yang lurus pada
hulu lokasi bendung.
Kadang-kadang dijumpai keadaan yang dilematis. Semua syarat-syarat
pemilihan lokasi bendung sudah terpenuhi, tetapi syarat hidraulik yang
kurang menguntungkan. Dalam keadaan demikian dapat diambil jalan
kompromi dengan membangun bendung pada kopur atau melakukan
perbaikan hidraulik dengan cara perbaikan sungai (river training). Kalau
alternatif kopur yang dipilih maka bagian hulu bendung pada kopur harus
lurus dan cukup panjang untuk mendapatkan keadaan hidraulis yang
cukup baik.


4. Pengaruh regime sungai

Regime sungai mempunyai pengaruh yang cukup dominan dalam
pemilihan lokasi bendung. Salah satu gambaran karakter regime sungai
yaitu adanya perubahan geometri sungai baik. secara horizontal ke kiri
dan ke kanan atau secara vertikal akibat gerusan dan endapan sungai.
Bendung di daerah pegunungan dimana kemiringan sungai cukup besar,
akan terjadi kecenderungan gerusan akibat gaya seret aliran sungai yang
cukup besar. Sebaliknya di daerah dataran dimana kemiringan sungai
relatif kecil akan ada pelepasan sedimen yang dibawa air menjadi
endapan tinggi di sekitar bendung. Jadi dimanapun kita memilih lokasi
bendung tidak akan terlepas dari pengaruh endapan atau gerusan
sungai. Kecuali di pegunungan ditemukan lokasi bendung dengan dasar
sungai dari batuan yang cukup kuat, sehingga mempunyai daya tahan
batuan terhadap gerusan air yang sangat besar, maka regime sungai
hampir tidak mempunyai pengaruh terhadap lokasi bendung.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
68






Yang perlu dihindari adalah lokasi dimana terjadi perubahan kemiringan
sungai yang mendadak, karena ditempat ini akan terjadi endapan atau
gerusan yang tinggi. Perubahan kemiringan dari besar menjadi kecil akan
mengurangi gaya seret air dan akan terjadi pelepasan sedimen yang
dibawa air dari hulu. Dan sebaliknya perubahan kemiringan dari kecil ke
besar akan mengkibatkan gerusan pada hilir bendung. Meskipun
keduanya dapat diatasi dengan rekayasa hidraulik, tetapi hal yang
demikan tidak disukai mengingat memerlukan biaya yang tinggi.
Untuk itu disarankan memilih lokasi yang relatif tidak ada perubahan
kemiringan sungai.




5. Tingkat kesulitan saluran induk

Lokasi bendung akan membawa akibat arah trace saluran induk. Pada
saat lokasi bendung dipilih dikaki bukit, maka saluran induk biasanya
berupa saluran kontur pada kaki bukit yang pelaksanaannya tidak terlalu
sulit. Namun hal ini biasanya elevasi puncak bendung sangat terbatas,
sehingga luas layanan irigasi juga terbatas. Hal ini disebabkan karena
tinggi bendung dibatasi 6-7 m saja.
Untuk mengejar ketinggian dalam rangka mendapatkan luas layanan
yang lebih luas, biasanya lokasi bendung digeser ke hulu. Dalam
keadaan demikian saluran induk harus menyusuri tebing terjal dengan
galian yang cukup tinggi. Sejauh galian lebih kecil 8 m dan timbunan
lebih kecil 6 m, maka pembuatan saluran induk tidak terlalu sulit. Namun
yang harus diperhatikan adalah formasi batuan di lereng dimana saluran
induk itu terletak. Batuan dalam volume besar dan digali dengan teknik
peledakan akan mengakibatkan biaya yang sangat mahal, dan sebisa
mungkin dihindari. Kalau dijumpai hal yang demikian, lokasi bendung







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
69






digeser sedikit ke hilir untuk mendapatkan solusi yang kompromistis
antara luas area yang didapat dan kemudahan pembuatan saluran induk.


6. Ruang untuk bangunan pelengkap bendung

Meskipun dijelaskan dalam butir 1 bahwa lembah sempit adalah
pertimbangan topografis yang paling ideal, tetapi juga harus
dipertimbangkan tentang perlunya ruangan untuk keperluan bangunan
pelengkap bendung. Bangunan tersebut adalah kolam pengendap,
bangunan kantor dan gudang, bangunan rumah penjaga pintu, saluran
penguras lumpur, dan komplek pintu penguras, serta bangunan
pengukur debit. Kolam pengendap dan saluran penguras biasanya
memerlukan panjang 300 – 500 m dengan lebar 40 – 60 m, diluar tubuh
bendung. Lahan tambahan diperlukan untuk satu kantor, satu gudang
dan 2-3 rumah penjaga bendung. Pengalaman selama ini sebuah rumah
penjaga bendung tidak memadai, karena penghuni tunggal akan terasa
jenuh dan cenderung meninggalkan lokasi.


7. Luas layanan irigasi

Lokasi bendung harus dipilih sedemikian sehingga luas layanan irigasi
agar pengembangan irigasi dapat layak. Lokasi bendung kearah hulu
akan mendapatkan luas layanan lebih besar bendung cenderung
dihilirnya. Namun demikian justifikasi dilakukan untuk mengecek
hubungan antara tinggi luas layanan irigasi. Beberapa bendung yang
sudah definitip, kadang-kadang dijumpai penurunan 1 m, yang dapat
menghemat beaya pembangunan hanya mengakibatkan pengurangan
luas beberapa puluh Ha saja. Oleh karena itu kajian tentang kombinasi
tinggi bendung dan luas layanan irigasi perlu dicermati sebelum diambil
keputusan final.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
70








8. Luas daerah tangkapan air

Pada sungai bercabang lokasi bendung harus dipilih sebelah hulu atau
hilir cabang anak sungai. Pemilihan sebelah hilir akan mendapatkan
daerah tangkapan air yang lebih besar, dan tentunya akan mendapatkan
debit andalan lebih besar, yang muaranya akan mendapatkan potensi
irigasi lebih besar. Namun pada saat banjir elevasi deksert harus tinggi
untuk menampung banjir 100 tahunan ditambah tinggi jagaan (free
board) atau menampung debit 1000 tahunan tanpa tinggi jagaan.
Lokasi di hulu anak cabang sungai akan mendapatkan debit andalan dan

debit banjir relatip kecil, namun harus membuat bangunan silang sungai
untuk membawa air di hilirnya. Kajian teknis, ekonomis, dan sosial harus'
dilakukan dalam memilih lokasi bendung terkait dengan luas daerah
tangkapan air.






9. Tingkat kemudahan pencapaian

Setelah lokasi bendung ditetapkan secara definitip, akan dilanjutkan
tahap perencanaan detail, sebagi dokumen untuk pelaksanaan
implementasinya. Dalam tahap pelaksanaan inilah dipertimbangkan
tingkat kemudahan pencapaian dalam rangka mobilisasi alat dan bahan
serta demobilisasi setelah selesai pelaksanaan fisik.
Memasuki tahap operasi dan pemeliharaan bendung, tingkat kemudahan
pencapaian juga amat penting. Kegiatan pemeliharaan, rehabilitasi, dan
inspeksi terhadap kerusakan bendung memerlukan jalan masuk yang
memadai untuk kelancaran pekerjaan.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
71






Atas dasar pertimbangan tersebut maka dalam menetapkan lokasi
bendung harus dipertimbangkan tingkat kemudahan pencapaian lokasi.


10. Biaya pembangunan

Dalam pemilihan lokasi bendung, perlu adanya pertimbangan pemilihan
beberapa alternatif, dengan memperhatikan adanya faktor dominan.
Faktor dominan tersebut ada yang saling memperkuat dan ada yang
saling melemahkan. Dari beberapa alternatip tersebut selanjutnya
dipertimbangkan metode pelaksanaannya serta pertimbangan lainnya
antara lain dari segi O & P. Hal ini antara lain akan menentukan
besarnya beaya pembangunan. Biasanya beaya pembangunan ini adalah
pertimbangan terakhir untuk dapat memastikan lokasi bendung dan
layak dilaksanakan.


11. Kesepakatan pemangku kepentingan

Sesuai amanat dalam UU No. 7/2004 tentang Sumberdaya Air dan
Peraturan Pemerintah No. 20/2006 tentang Irigasi bahwa keputusan
penting dalam pengembangan sumberdaya air atau irigasi harus
didasarkan kesepakatan pemangku kepentingan lewat konsultasi publik.
Untuk itu keputusan mengenai lokasi bendungpun harus dilakukan lewat
konsultasi publik, dengan menyampaikan seluas-luasnya mengenai
alternatif-alternatif lokasi, tinjauan dari aspek teknis, ekonomis, dan
sosial. Keuntungan dan kerugiannya, dampak terhadap para pemakai air
di hilir bendung, keterpaduan antar sektor, prospek pemakaian air di
masa datang harus disampaikan pada pemangku kepentingan terutama
masyarakat tani yang akan memanfaatkan air irigasi.


Rekomendasi syarat pemilihan lokasi bendung sebagai berikut:








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
72






1. Topografi : dipilih lembah sempit dan tidak terlalu dalam dengan
mempetimbangkan topografi di daerah tangkapan air maupun
daerah layanan irigasi
2. Geoteknik : dipilih dasar sungai yang mempunyai daya dukung kuat,
stratigrafi lapisan batuan miring ke arah hulu, tidak ada sesar aktif,
tidak ada erosi buluh, dan dasar sungai hilir bendung tahan terhadap
gerusan air. Disamping itu diusahakan keadaan batuan tebing kanan
dan kiri bendung cukup kuat dan stabil serta relatif tidak terdapat
bocoran samping.
3. Hidraulik : dipilih bagian sungai yang lurus. Jika bagian sungai lurus
tidak didapatkan, lokasi bendung ditolerir pada belokan sungai;
dengan syarat posisi bangunan intake harus terletak pada tikungan
luar dan terdapat bagian sungai yang lurus di hulu bendung. Kalau
yang terakhir inipun tidak terpenuhi perlu dipertimbangkan
pembuatan bendung di kopur atau dilakukan rekayasa perbaikan
sungai (river training).
4. Regime sungai : Hindari lokasi bendung pada bagian sungai dimana

terjadi perubahan kemiringan sungai secara mendadak, dan hindari
bagian sungai dengan belokan tajam. Pilih bagian sungai yang lurus
mempunyai kemiringan relatif tetap sepanjang penggal tertentu.
5. Saluran induk : Pilih lokasi bendung sedemikian sehingga
pembangunan saluran induk dekat bendung tidak terlalu sulit dan
tidak terlalu mahal. Hindari trace saluran menyusuri tebing terjal
apalagi berbatu. Usahakan ketinggian galian tebing pada saluran
induk kurang dari 8 m dan ketinggian timbunan kurang dari 6 m.
6. Ruang untuk bangunan pelengkap : Lokasi bendung harus dapat
menyediakan ruangan untuk bangunan pelengkap bendung,
utamanya untuk kolam pengendap dan saluran penguras dengan







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
73






panjang dan lebar masing-masing kurang lebih 300 – 500 m dan 40

– 60 m.

7. Luas layanan irigasi : Lokasi bendung harus sedemikian sehingga
dapat memberikan luas layanan yang memadai terkait dengan
kelayakan sistem irigasi. Elaborasi tinggi bendung (yang dibatasi
sampai dengan 6 – 7 m), menggeser lokasi bendung ke hulu
atau ke hilir, serta luas layanan irigasi harus dilakukan untuk
menemukan kombinasi yang paling optimal.
8. Luas daerah tangkapan air : Lokasi bendung harus dipilih dengan
mempertimbangkan luas daerah tangkapan, terkait dengan debit
andalan yang didapat dan debit banjir yang mungkin terjadi
menghantam bendung. Hal ini harus dikaitkan dengan luas layanan
yang didapat dan ketinggian lantai layanan dan pembangunan
bangunan melintang anak sungai (kalau ada).
9. Pencapaian mudah : Lokasi bendung harus refatip mudah dicapai
untuk keperluan mobilisasi alat dan bahan saat pembangunan fisik
maupun operasi dan pemeliharaan. Kemudahan melakukan inspeksi
oleh aparat pemerintah juga harus dipertimbangkan masak-masak.
10. Beaya pembangunan yang efisien : dari berbagai alternatif lokasi
bendung dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang dominan,
akhirnya dipilih lokasi bendung yang beaya konstruksinya minimal
tetapi memberikan ouput yang optimal.
11. Kesepakatan stakeholder : apapun keputusannya, yang penting
adalah kesepakatan antar pemangku kepentingan lewat konsultasi
publik. Untuk itu direkomendasikan melakukan sosialisasi pemilihan
lokasi bendung.
Ada beberapa karakteristik sungai yang perlu dipertimbangkan agar

dapat diperoleh perencanaan bangunan bendung yang baik. Beberapa di








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
74






antaranya adalah: kemiringan dasar sungai, bahan-bahan dasar dan
morfologi sungai Diandaikan bahwa jumlah air yang mengalir dan
distribusinya dalam waktu bertahun-tahun telah dipelajari dan dianggap
memadai untuk kebutuhan irigasi.


3.2.1Kemiringan dasar sungai dan bahan dasar

Kemiringan dasar sungai bisa bervariasi dari sangat curam sampai
hampir datar di dekat laut. Dalam beberapa hal, ukuran bahan dasar
akan bergantung kepada kemiringan dasar. Gambar 3.1 memberikan
ilustrasi berbagai bagian sungai berkenaan dengan kemiringan ini.
Di daerah pengunungan, kemiringan sungai curam dan bahan-bahan
dasar berkisar antara batu-batu sangat besar sampai pasir. Batu
berdiameter sampai 1000 mm bisa hanyut selama banjir besar dan
berhenti di depan pengambilan serta mengganggu berfungsinya
bangunan pengambilan.
Di daerah-daerah aliran sungai di mana terdapat kegiatan gunung api,
banjir besar dapat menghanyutkan endapan bahan-bahan volkanik
menjadi banjir lahar. Dalam perencanaan bangunan, lahar ini tidak dapat
diperhitungkan; tindakan-tindakan mencegah terjadinya banjir lahar
demikian sebaiknya diambil di tempat lain.























Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




75






ruas atas
kemiringan dasar
curam
ruas tengah
kemiringan dasar
sedang
ruas bawah
kemiringan dasar
landai



laut


dam
bendung







saluran
suplesi


bendung gerak

dam

bendung
laut


laut




Gambar 3.1 Ruas-ruas sungai



dasar baru

dasar lama



dasar baru



erosi akibat lahar

endapan lahar
dasar lama
di ruas atas sungai

Gambar 3.2 Akibat banjir lahar
di ruas tengah sungai



Selain lahar, daerah-daerah yang mengandung endapan volkanik dapat

menghasilkan bahan-bahan sedimen yang berlebihan untuk jangka
waktu lama.











Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
76






Di daerah-daerah gunung api muda (Jawa, Sumatera dan Bali), tinggi
dasar ruas-ruas sungai yang curam biasanya belum stabil dan degredasi
atau agradasi umumnya tinggi.
Kecendrungan degradasi mungkin untuk sementara waktu berbalik
menjadi agradasi, jika lebih banyak lagi sedimen masuk ke dasar sungai
setelah terjadi tanah longsor atau banjir lahar di sepanjang sungai
bagian atas.







tinggi mula dasar sungai

degradasi


tinggi dasar
sungai sekarang


agradasi


Gambar 3.3 Agradasi dan degradasi


Sungai-sungai yang sudah stabil dapat dijumpai di daerah-daerah
gunung atau gunung api tua dan pengaruh dari gejala-gejala agradasi
atau degradasi terhadap tinggi dasar sungai tidak akan tampak
sepanjang umur proyek. Gunung-gunung yang lebih tua terdapat di
Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya serta di pulau-pulau lain yang lebih
kecil di seluruh kepulauan Nusantara.
Terdapatnya batu singkapan atau rintangan alamiah berupa batu-batu
besar dapat menstabilkan tinggi dasar sungai sampai beberapa kilometer
di sebelah hulu; cek ini penting sehubungan dengan degradasi. Apabila

di dasar sungai terdapat cek dam alamiah berupa batu besar, maka
stabilitas dam tersebut selama terjadi banjir besar hendaknya diselidiki,
sebab kegagalan akan berakibat degradasi yang cepat di sebelah hulu.






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


77






Kadang-kadang lapisan konglomerat sementasi merupakan cek di sungai.
Lapisan-lapisan konglomerat ini rawan terhadap abrasi cepat oleh bahan-
bahan sedimen keras yang bergerak di sungai. Lapisan ini dapat
menghilang sebelum umur bangunan yang diharapkan lewat.
Di luar daerah pegunungan kemiringan dasar sungai akan menjadi lebih
kecil dan bahan-bahan sedimen dasarnya terdiri dari pasir, kerikil dan
batu kali. Potongan dasar sungai yang dalam bisa merupakan petunjuk
bahwa degradasi sedang terjadi atau bahwa dasar tersebut telah
mencapai tinggi yang seimbang. Hal ini hanya dapat dipastikan bila
keadaan tersebut telah berlangsung lama.
Jika dasar sungai menjadi dangkal atau lebar, terisi pasir dan kerikil,
maka hal ini dapat dijadikan petunjuk bahwa dasar tersebut sedang
mengalami agradasi secara berangsur-angsur.
Dam atau rintangan alamiah (lihat gambar 3.4) yang ada akan menjaga
kestabilan dasar sungai sampai ruas tertentu, sedangkan sebelah hilir
atau hulu ruas tersebut mengalami degradasi atau agradasi.


dasar stabil




rintangan
alamiah
agradasi
bendung
tinggi dasar mula


degradasi

Gambar 3.4 Pengaruh rintangan (cek) alamiah


Pekerjaan-pekerjaan pengaturan sungai, seperti sodetan meander dan
pembuatan krib atau lindungan tanggul, juga akan mempengaruhi gerak
dasar sungai. Pada umumnya pekerjaan-pekerjaan ini akan
menyebabkan degradasi dasar sungai akibat kapasitas angkutnya
bertambah.






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




78






Dasar sungai di ruas bawah akan terdiri dari pasir sedang dan halus,
mungkin dengan lapisan lanau dan lempung.
Apabila sungai mengalir ke laut atau danau, maka kemiringan dasarnya
kecil, dan tergantung pada banyaknya sedimen yang diangkut oleh
sungai itu, sebuah delta dapat terbentuk.
Terbentuknya delta merupakan pertanda pasti bahwa ruas bawah sungai
dalam keadaan agradasi.






kerucut aluvial

delta laut









laut




Gambar 3.5 Terbentuknya delta


3.2.2Morfologi sungai

Apabila tanggul sungai terdiri dari batu, konglomerat sementasi atau
batu-batu, maka dapat diandaikan bahwa sungai itu stabil dengan
dasarnya yang sekarang.
Jika dasar sungai penuh dengan batu-batu dan kerikil-kerikil, maka arah
sungai tidak akan tetap dan palung kecil akan berpindah-pindah selama
terjadi banjir besar.










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




79






Vegetasi alamiah bisa membuat tanggul menjadi stabil. Tanggul yang
tidak ditumbuhi pepohonan dan semak belukar akan mudah terkena
erosi.
Sebaiknya, di daerah-daerah lahar tanggul-tanggul batu yang stabil
dapat terkikis dan palung besar yang lebar bisa terbentuk di sungai itu.
Dalam keadaan aslinya, hanya sedikit saja sungai yang lurus sampai
jarak yang jauh. Bahkan pada ruas lurus mungkin terdapat pasir, kerikil
atau bongkah-bongkah batu. Kecendrungan alamiah suatu sungai yang
mengalir melalui daerah-daerah endapan alluvial adalah terjadinya
meandering atau anyaman (braiding), tergantung apakah terbentuk alur
tunggal atau beberapa alur kecil. Bahkan pada ruas yang berbeda dapat
terbentuk meander dan anyaman.

tanggul stabil







tanggul stabil



palung kecil
berpindah
dasar
stabil





Gambar 3.6 Morfologi sungai


Biasanya terdapat lebar tertentu di sungai tempat di sepanjang sungai
yang merupakan batas meander. Ini disebut batas meander. Besarnya
batas meander ini merupakan data penting perencanaan tanggul banjir
di sepanjang sungai.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




80









batas meander


tanggul stabil
sungai bermeander
sungai berayam


Gambar 3.7 Sungai bermeander dan terowongan


Untuk perencanaan bangunan utama, kita perlu mengetahui apakah
meander di lokasi bangunan yang direncana stabil atau rawan terhadap
erosi selama terjadi banjir.
Apabila tersedia peta-peta foto udara lama, maka peta-peta ini akan
diperiksa dengan seksama guna membuat penyesuaian-penyesuaian
morfologi sungai.
Penduduk setempat mungkin dapat memberikan keterangan yang
bermanfaat mengenai stabilitas tanggul sungai.
Pada waktu mengevaluasi stabilitas tanggul sungai, naiknya muka air
setelah selesainya pelaksanaan bangunan bendung harus
diperhitungkan. Ada satu hal yang harus mendapat perhatian khusus,
yakni apakah vegetasi yang ada mampu bertahan hidup pada muka air
tinggi, atau akan lenyap beberapa waktu kemudian. Tindakan-tindakan
apa saja yang akan diambil guna mempertahankan stabilitas tanggul?
Ruas-ruas yang teranyam tidak akan memberikan kondisi yang baik
untuk perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan bendung, karena aliran-
aliran rendah tersebut akan tersebar di dasar sungai lebar yang terdiri
dari pasir.
Ruas-ruas demikian sebaiknya dihindari, kalau mungkin, atau dipilih
bagian yang sempit dengan aliran alur yang terkonsentrasi.
Sungai-sungai tertentu mempunyai bantaran pada ruas-ruas yang landai
yang akan tergenang banjir beberapa kali setiap tahunnya. Di sepanjang






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
81






sungai mungkin terbentuk tanggul-tanggul rendah alamiah akibat
endapan pasir halus dan lanau. Selama banjir besar tanggul-tanggul ini
bisa bobol dan mengakibatkan arah dasar sungai berubah sama sekali.


3.3 Muka Air

Muka air rencana di depan pengambilan bergantung pada:

(1) elevasi muka air yang diperlukan untuk irigasi (eksploitasi normal)

(2) beda tinggi energi pada kantong lumpur yang diperlukan untuk
membilas sedimen dari kantong
(3) beda tinggi energi pada bangunan pembilas yang diperlukan untuk
membilas sedimen dekat pintu pengambilan.
(4) beda tinggi energi yang diperlukan untuk meredam energi pada
kolam olak.
Untuk elevasi muka air yang diperlukan, tinggi, kedalaman air dan
kehilangan tinggi energi berikut harus dipertimbangkan:
- elevasi sawah yang akan diairi

- kedalaman air di sawah

- kehilangan tinggi energi di saluran dan boks tersier

- kehilangan tinggi energi di bangunan sadap tersier

- variasi muka air untuk eksploitasi di jaringan primer

- panjang dan kemiringan saluran primer

- kehilangan tinggi energi pada bangunan-bangunan di jaringan primer
sipon, pengatur, flum, dan sebagainya
- kehilangan tinggi energi di bangunan utama



3.4 Topografi

Topografi pada lokasi yang direncanakan sangat mempengaruhi
perencanaan dan biaya pelaksanaan bangunan utama:







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
82






- harus cukup tempat di tepi sungai untuk membuat kompleks
bangunan utama termasuk kantong lumpur dan bangunan (-
bangunan) pembilas.
- Topografi sangat memperngaruhi panjang serta tata letak tanggul
banjir dan tanggul penutup, kalau ini diperlukan
- Topografi harus dipelajari untuk membuat perencanaan trase saluran
primer yang tidak terlalu mahal.


3.5 Kondisi Geologi Teknik

Yang paling penting adalah pondasi bangunan utama. Daya dukung dan
kelulusan tanah bawah merupakan hal-hal penting yang sangat
berpengaruh terhadap perencanaan bangunan utama besar sekali.
Masalah-masalah lain yang harus diselidiki adalah kekuatan bahan
terhadap erosi, tersedianya bahan bangunan (sumber bahan timbunan)
serta parameter-parameter tanah untuk stabilitas tanggul.


3.6 Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan akan dipertimbangkan juga dalam pemilihan lokasi
yang cocok pada tahap awal penyelidikan.
Pada gambar 3.8 diberikan 2 alternatif pelaksanaan yang biasa
diterapkan yaitu:
(A) pelaksanaan di sungai

(B) pelaksanaan pada sodetan/kopur di samping sungai

lokasi yang dipilih harus cocok dengan metode pelaksanaan dan
pekerjaan-pekerjaan sementara yang dibutuhkan.
Pekerjaan-pekerjaan sementara yang harus dipertimbangkan adalah:

- Kemungkinan pembuatan saluran pengelak










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
83






Saluran pengelak akan dibuat jika konstruksi dilaksanakan di dasar
sungai yang dikeringkan. Kemudian aliran sungai akan dibelokkan
untuk sementara.
- Bendungan sementara

Bendungan sementara (cofferdam) adalah bangunan sementara di
sungai untuk melindungi lokasi pekerjaan.
- Tempat kerja (construction pit)

Tempat kerja adalah tempat di mana bangunan akan dibuat.
Biasanya lokasi cukup dalam dan perlu dijaga tetap kering dengan
jalan memompa air di dalamnya.
- Kopur (sudetan)

Jika pekerjaan dilakukan di luar alur sungai di tempat yang kering
dan dilakukan dengan memiintas (disodet), maka ini disebut kopur;
dimana lengan sungai lama kemudian harus ditutup.
- Dewatering (pengeringan air permukaan dan penurunan muka air
tanah)
- Tanggul penutup

Tanggul penutup diperlukan untuk menutup saluran pengelak atau
lengan sungai lama setelah pelaksanaan konstruksi bendung
pengelak selesai.


3.7 Aksesibilitas dan Tingkat Pelayanan

Kemudahan transportasi, sarana dan prasarana menuju lokasi bangunan
akan sangat membantu dalam persiapan pelaksanaan pekerjaan,
pelaksanaan pembangunan bendung maupun dalam melaksanakan
kegiatan operasi dan pemeliharaan bila bangunan bendung telah selesai
dibangun dan mulai dioperasikan.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




84






3.8 Tipe Bangunan

3.8.1Umum

Bangunan dapat digolongkan menjadi dua, yakni bangunan yang
mempengaruhi dan yang tidak mempengaruhi muka air hulu.
Termasuk dalam kategori pertama adalah bendung pelimpah dan
bendung gerak. Kedua tipe tersebut mampu membendung air sampai
tinggi minimum yang diperlukan. Pintu bendung gerak mempunyai pintu
yang dapat dibuka selama banjir guna mengurangi tinggi
pembendungannya. Bendung pelimpah tidak bisa mengurangi tinggi
muka air hulu sewaktu banjir.

alternatif A

alternatif B

bendung gerak
sodetan

bendung



ruang kerja
tanggul
penutup


tanggul
sementara


tanggul sementara
tahap ke-2

sungai lama

Gambar 3.8 Metode pelaksanaan alternatif
Kategori bangunan kedua meliputi pengambilan bebas, pompa dan
bendung saringan bawah. Tak satu pun dari tipe-tipe bangunan ini yang
mempengaruhi muka air.
Semua bangunan ini dapat dibuat dari pasangan batu atau beton, atau
campuran kedua bahan ini yang masing-masing bahan bangunannya
mempengaruhi bentuk dan perencanaan bangunan tersebut.
Bahan-bahan lain jarang dipakai di Indonesia dan tidak akan dibicarakan

di sini.

(i) Pasangan batu








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
85






Sampai saat ini pasangan batu dilaksanakan dengan cara tidak
standart dan belum ditemukan cara mengontrol kekuatan
pasangan batu. Kualitas pasangan batu kali sangat ditentukan oleh
komposisi campuran dan kerapatan adukan dalam speci antar
batu. Hal ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kedisiplinan tukang
dalam merocok adukan dan tingkat kejujuran pengawas lapangan.
Perilaku tukang dan pengawas yang kurang memadai dapat
mengakibatkan rendahnya mutu pasangan batu kali.
Pasangan batu kali dapat dipakai pada bangunan melintang sungai
dengan syarat-syarat batasan sebagai berikut :
a. Tinggi bendung maksimum 3 m
b. Lebar sungai maksimum 30 m
c. Debit sungai per satuan lebar dengan periode ulang 100 tahun
maksimum 8 m
3
/dt/m
d. Tinggi tembok penahan tanah maksimum 6 m

Bangunan atau bagian bangunan diluar syarat-syarat batasan di
atas akan memakai material lain misalnya beton, yang tentunya
memerlukan biaya lebih mahal, namun lebih memberikan jaminan
kualitas dan keamanan bangunan.
Pasangan batu akan dipakai apabila bahan bangunan ini (batu-batu
berukuran besar) dapat ditemukan di atau dekat daerah itu.
Permukaan bendung yang terkena abrasi langsung dengan air dan
pasir, biasanya dilindungi dengan lapisan batu keras yang dipasang
rapat-rapat. Batu ini disebut batu candi, yaitu batu-batu yang
dikerjakan dengan tangan dan dibentuk seperti kubus agar dapat
dipasang serapat mungkin.
(ii) Beton










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
86






Di Indonesia beton digunakan untuk bendung pelimpah skala besar
dan tinggi melebihi syarat-syarat batasan seperti tersebut dalam
butir (i). Meskipun biayanya tinggi, tetapi lebih memberikan
jaminan kualitas dan keamanan bangunan. Hal ini bisa tercapai
karena prosedur pelaksanaan dan kontrol kekuatan bahan
mengacu pada standart yang sudah baku. Di samping itu di
daerah-daerah di mana tidak terdapat batu yang cocok untuk
konstruksi pasangan batu, beton merupakan alternatif.
(iii) Beton Komposit

Bendung skala besar dan/atau tinggi melebihi batasan syarat-
syarat dalam butir (i) yang terbuat dari beton, akan memerlukan
biaya yang mahal mengingat volumenya yang besar. Dalam hal
demikian tanpa mengurangi syarat-syarat keamanan struktur
bangunan diperbolehkan menggunakan beton komposit, yaitu
struktur beton yang di dalam tubuhnya diisi dengan pasangan batu
kali.
Tebal lapisan luar beton minimal 60 cm.



3.8.2Bangunan pengatur muka air

(a) Bendung pelimpah

Tipe bangunan bendung yang paling umum dipakai di Indonesia adalah
bandung pelimpah. Bendung ini dibuat melintang sungai untuk
menghasilkan elevasi air minimum agar air tersebut bisa dielakkan.
Perencanaan hidrolis, bendung pelimpah akan dibicarakan secara rinci
pada bab 4.


(b) Bendung gerak










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
87






Dengan pintu-pintunya (pintu sorong, pintu radial dan sebagainya),
bendung gerak dapat mengatur muka air di sungai. Di daerah-daerah
alluvial yang datar di mana meningginya muka air di sungai mempunyai
konsekuensi-konsekuensi yang luas (tanggul banjir yang panjang),
pemakaian konstruksi bendung gerak dibenarkan. Karena menggunakan
bagian-bagian yang bergerak, seperti pintu dengan peralatan angkatnya
bendung tipe ini menjadi konstruksi yang mahal dan membutuhkan
eksploitasi yang lebih teliti.
Penggunaan bendung gerak dapat dipetimbangkan jika:

- kemiringan dasar sungai kecil/relatif datar

- peninggian dasar sungai akibat konstruksi bendung tetap tidak dapat
diterima karena ini akan mempersulit pembuangan air atau
membahayakan pekerjaan sungai yang telah ada akibat meningginya
muka air.
- debit banjir tidak bisa dilewatkan dengan aman melalui bendung
tetap
- pondasi kuat: pilar untuk pintu harus kaku dan penurunan tanah
akan menyebabkan pintu-pintu itu tidak dapat dioperasikan.
(c) Bendung karet

Bendung karet pada dasarnya adalah bendung gerak horisontal yang
mengatur muka air dengan mengembangkan dan mengempiskan tubuh
bendung yang teruat dari tabung karet yang berisi udara atau air. Udara
atau air dimasukkan dari instalasi pompa udara atau air yang terletak
tidak jauh dari lokasi bendung melalui pipa. Bangunan ini memerlukan
eksploitasi yang teliti dan mahal.
Dalam merencanakan bendung karet perlu diperhatikan persyaratan
penting yang harus diikuti yaitu :









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
88






(1) Kondisi aliran sungai tidak mengangkut sedimen kasar, tidak
mengangkut sampah yang besar dan keras, serta tidak mengandung
limbah kimia yang dapat bereaksi dengan karet.
(2) Sungai memiliki aliran subkritik dan tidak terjadi sedimentasi yang
berat sehingga mengganggu mekanisme kembang kempisnya karet.
(3) Bahan tabung karet harus terbuat dari material yang elastis, kuat,
tahan lama dan tidak mudah terabrasi.
(4) Pemilihan bahan karet baik jenis kekuatan maupun dimensi
disesuaikan dengan kemampuan produsen untuk menyediakannya.
(5) Harus aman dari gangguan publik dan aman dari sengatan matahari

(6) Perencanaan operasi dan pemeliharaan yang rinci dan ketat.



3.8.3Bangunan-bangunan muka air bebas

(a) Pengambilan bebas

Bangunan pengambilan bebas langka dipakai karena persyaratan untuk
berfungsinya bangunan tersebut dengan baik sangat sulit dipenuhi.
Persyaratan ini adalah:
- kebutuhan pengambilan kecil dibandingkan dengan debit sungai
andalan
- kedalaman dan selisih tinggi energi yang cukup untuk pengelakan
pada aliran normal
- tanggul sungai yang stabil pada lokasi bangunan pengambilan

- bahan dasar yang kecil pada pengambilan dan sedikit bahan layang

Agar sedimen yang masuk tetap minimal, pengambilan sebaiknya dibuat

di ujung tikungan luar sungai untuk memanfaatkan aliran helikoidal.
Kadang-kadang pula dibuat kantong lumpur atau pengelak sedimen di
hilir pengambilan.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
89






Karena persyaratan-persyaratan yang disebutkan di atas, biasanya
pengambilan bebas dijumpai di ruas sungai di mana kemiringan sungai
curam; dasar tanggul sungai stabil (batu keras).


(b) Pompa

Pompa merupakan metode yang fleksibel untuk mengelakkan air dari
sungai. Tetapi, karena biaya energinya mahal (biasanya bahan bakar
atau listrik), pompa akan digunakan hanya apabila pemecahan
berdasarkan gravitasi tidak mungkin serta analisis untung-rugi
menunjukkan bahwa instalasi pompa memang layak.
Dalam keadaan khusus ada dua tipe pompa yang mungkin dipakai.
Kedua tipe ini tidak bergabung pada bahan bakar atau listrik. Tipe-tipe
tersebut adalah:
(1) Pompa naik hidrolis (hydraulic ram pump), yang bekerja atas dasar

momentum aliran air dan dengan cara itu pompa dapat menaikkan
sedikit dari air tersebut. Karena jumlah air yang dinaikkan sedikit.
Tipe pompa ini umumnya hanya digunakan untuk memompa air
minum.
(2) Pompa yang digerakkan dengan air terjun.
Di dasar pipa (shaft) vertikal dipasang sebuah rotor di mana air
terjun menyebabkan pipa berputar. Di atas terdapat pompa kecil
yang menaikkan air sedikit saja.


(c) Bendung Saringan Bawah

Bendung saringan bawah atau Tiroller mengelakkan air lewat dasar
sungai. Flum yang dipasang tegak lurus terhadap dasar sungai
mengelakkan air melalui tepi sungai. Flum tersebut dipasangi saringan
yang jerujinya searah dengan aliran sungai. Saringan itu akan







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
90






menghalangi masuknya bahan-bahan sedimen kasar di dasar sungai

(untuk potongan melintang tipe bendung ini lihat gambar (1.2). Bahan-
bahan yang lebih halus harus dipisahkan dengan konstruksi pengelak
sedimen yang ada di belakang bangunan bendung. Perencanaan
saringan bawah harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh,
karena hal ini akan menentukan berfungsinya bangunan dengan baik.
Tipe bendung ini terutama cocok digunakan di daerah pegunungan.
Karena hampir tidak mempunyai bagian yang memerlukan eksploitasi,
bangunan ini dapat bekerja tanpa pengawasan. Juga, penggunaan
saringan bawah ini sangat menguntungkan di bagian sungai yang
kemiringannya curam dengan bahan sedimen yang lebih besar.
Karena bendungan saringan bawah tidak mempunyai bagian yang
merupakan penghalang aliran sungai dan bahan dasar kasar, maka
bendung ini tidak mudah rusak akibat hempasan batu-batu bongkah
yang diangkut aliran. Batu-batu ini akan lolos begitu saja ke hilir sungai.

































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
91






4. PERENCANAAN HIDROLIS



4.1 Umum

Perencanaan hidrolis bagian-bagian pokok bangunan utama akan
dijelaskan dalam pasal-pasal berikut ini. Perencanaan tersebut mencakup
tipe-tipe bangunan yang telah dibicarakan dalam pasal-pasal terdahulu,
yakni:
- bendung pelimpah

- bendung mekanis

- bendung karet

- pengambilan bebas

- pompa dan

- bendung saringan bawah

Di sini akan diberikan kriteria hidrolis untuk bagian-bagian dari tipe
bangunan yang dipilih dan sebagai referensi tambahan dapat digunakan
SNI 03-1724-1989, SNI 03-2401-1991.


4.2 Bendung Pelimpah

4.2.1Lebar Bendung
Lebar bendung, yaitu jarak antara pangkal-pangkalnya (abutment),
sebaiknya sama dengan lebar rata-rata sungai pada bagian yang stabil.
Di bagian ruas bawah sungai, lebar rata-rata ini dapat diambil pada debit
penuh (bankful discharge): di bagian ruas atas mungkin sulit untuk
menentukan debit penuh. Dalam hal ini banjir mean tahunan dapat
diambil untuk menentukan lebar rata-rata bendung.
Lebar maksimum bendung hendaknya tidak lebih dari 1,2 kali lebar rata-
rata sungai pada ruas yang stabil.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


92






Untuk sungai-sungai yang mengangkut bahan-bahan sedimen kasar yang
berat, lebar bendung tersebut harus lebih disesuaikan lagi terhadap lebar
rata-rata sungai, yakni jangan diambil 1,2 kali lebar sungai tersebut.
Agar pembuatan bangunan peredam energi tidak terlalu mahal, maka
aliran per satuan lebar hendaknya dibatasi sampai sekitar 12-
14.m
3
/dt.m
1
, yang memberikan tinggi energi maksimum sebesar 3,5 –

4,5 m (lihat Gambar 4.1)

Lebar efektif mercu (B
e
) dihubungkan dengan lebar mercu yang
sebenarnya (B), yakni jarak antara pangkal-pangkal bendung dan/atau
tiang pancang, dengan persamaan berikut:
B
e
= B – 2 (nK
p
+ K
a
) H
1


di mana: n = jumlah pilar

K
p
= koefisien kontraksi pilar

K
a
= koefisien kontraksi pangkal bendung

H
1
= tinggi energi, m

Harga – harga koefisien K
a
dan K
p
diberikan pada tabel 4.1

I II

I

H1
pembilas






B1

II B1e
B2 B3

B2e Bs

H1

ka.H1



Kp.H1 Kp.H1 Kp.H1

Ka.H1

Kp.H1


Bs = 0.8Bs

B = B1 + B2 + B3
Be = B1e + B2e + Bs







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
93






Gambar 4.1 Lebar efektif mercu

Tabel 4.1 Harga-harga koefisien K
a
dan K
p


Bentuk Pilar

Untuk pilar berujung segi empat dengan sudut
sudut yang dibulatkan pada jari-jari yang-
hampir sama dengan 0,1 dari tebal pilar
Untuk pilar berujung bulat

Untuk pilar berujung runcing

Bentuk Pangkal Tembok K
a


Untuk pangkal tembok segi empat dengan tembok
hulu pada 90
0
ke arah aliran
Untuk pangkal tembok bulat dengan tembok hulu pada
90
0
ke arah aliran dengan 0,5 H
1
> r > 0.15 H
1


Untuk pangkal tembok bulat di mana r > 0.5 H
1
dan
tembok hulu tidak lebih dari 450 ke arah aliran


Dalam memperhitungkan lebar efektif, lebar pembilas yang sebenarnya

(dengan bagian depan terbuka) sebaiknya diambil 80% dari lebar
rencana untuk mengkompensasi perbedaan koefisiensi debit
dibandingkan dengan mercu bendung itu sendiri (lihat Gambar 4.1)


4.2.2Perencanaan Mercu

Di Indonesia pada umumnya digunakan dua tipe mercu untuk bendung
pelimpah : tipe Ogee dan tipe bulat (lihat Gambar 4.2).















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
94










R1 R




mercu tipe ogee
mercu tipe bulat


Gambar 4.2 Bentuk – bentuk mercu

Kedua bentuk mercu tersebut dapat dipakai baik untuk konstruksi beton
maupun pasangan batu atau bentuk kombinasi dari keduanya.
Kemiringan maksimum muka bendung bagian hilir yang dibicarakan di
sini berkemiringan 1 banding 1 batas bendung dengan muka hilir vertikal
mungkin menguntungkan jika bahan pondasinya dibuat dari batu keras
dan tidak diperlukan kolam olak. Dalam hal ini kavitasi dan aerasi tirai
luapan harus diperhitungkan dengan baik.
(1) Mercu bulat

Bendung dengan mercu bulat (lihat Gambar 4.2) memiliki harga
koefisiensi debit yang jauh lebih tinggi (44%) dibandingkan dengan
koefisiensi bendung ambang lebar. Pada sungai, ini akan banyak
memberikan keuntungan karena bangunan ini akan mengurangi tinggi
muka air hulu selama banjir. Harga koefisiensi debit menjadi lebih tinggi
karena lengkung streamline dan tekanan negatif pada mercu.
Tekanan pada mercu adalah fungsi perbandingan antara H
1
dan r (H
1
/r)

(lihat Gambar 4.4). Untuk bendung dengan dua jari-jari (R
2
) (lihat
Gambar 4.2), jari-jari hilir akan digunakan untuk menemukan harga
koefisien debit.
Untuk menghindari bahaya kavitasi lokal, tekanan minimum pada mercu
bendung harus dibatasi sampai – 4 m tekanan air jika mercu terbuat dari
beton; untuk pasangan batu tekanan subatmosfir sebaiknya dibatasi
sampai –1 m tekanan air.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


95






2
V1 /2g




h1
H1

V1



p



y


r
1 V2

1
2
v2 /2g


h2
H2


2-3H, maks
.




Gambar 4.3 Bendung dengan mercu bulat


Dari Gambar 4.4 tampak bahwa jari-jari mercu bendung pasangan batu
akan berkisar antara 0,3 sampai 0,7 kali H
1maks
dan untuk mercu bendung
beton dari 0,1 sampai 0,7 kali H.
1maks

Persamaan tinggi energi-debit untuk bendung ambang pendek dengan

pengontrol segi empat adalah:

Q = C
d
2/3 2 / 3gb H
1
1,5


di mana:Q = debit, m
3
/dt

C
d
= koefisien debit (C
d
= C
0
C
1
C
2
)
g = percepatan gravitasi, m/dt
2
(~ 9,8)

b = panjang mercu, m

H
1
= tinggi energi di atas mercu, m.
Koefisien debit C
d
adalah hasil dari:
- C
0
yang merupakan fungsi H
1
/r (lihat Gambar 4.5)

- C
1
yang merupakan fungsi p/H
1
(lihat Gambar 4.6), dan

-
C
2
yang merupakan fungsi p/H
1
dan kemiringan muka hulu bendung

(lihat Gambar 4.7)









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
96






C
0
mempunyai harga maksimum 1,49 jika H
1
/r lebih dari 5,0 seperti
diperlihatkan pada Gambar 4.5.
1.0

r =~

0.0


-1.0


-2.0


-3.0
h1~H1
y~0.7H1

r
p/ g

1
1


-4.0
0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

perbandingan H1/r

Gambar 4.4 Tekanan pada mercu bendung bulat sebagai fungsi perbandingan
H
1
/r

Harga-harga C
0
pada Gambar 4.5 sahih (valid) apabila mercu bendung
cukup tinggi di atas rata-rata alur pengarah (p/H
1
> sekitar 1,5).
Dalam tahap perencanaan p dapat diambil setengah jarak dari mercu
sampai dasar rata-rata sungai sebelum bendung tersebut dibuat. Untuk
harga-harga p/h
1
yang kurang dari 1,5, maka Gambar 4.6 dapat dipakai
untuk menemukan faktor pengurangan C
1.
























Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama






x
x
97






1.5

1.4

1.3

1.2

1.1

1.0


x


+
+
x
x
x
x
x
x
x
x




catatan sahih jika P/H1 > 1.5
0.9
x

x
0.8

0.7

0.6
0
1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 10.0
x r = 0.025 m. - G.D.MATTHEW 1963 perbandingan H1/r
o r = ............. - A.L. VERWOERD 1941
+ r = 0.030 m. - A.W.v.d.OORD 1941
r = 0.0375 m. L.ESCANDE &
r = 0.075 m. F.SANANES 1959

Gambar 4.5 Harga-harga koefisien C
0
untuk bendung ambang bulat sebagai
fungsi perbandingan H
1
/r
P/H1 ~ 1.5
1.0

0.99



0.9 +


+
0.8
+





0.7
+ w.j.v.d. OORD 1941




0
perbandingan P/H1
1.0 2.0 3.0


Gambar 4.6 Koefisien C
1
sebagai fungsi perbandingan P/H
1


Harga-harga koefisien koreksi untuk pengaruh kemiringan muka
bendung bagian hulu terhadap debit diberikan pada Gambar 4.7. Harga
koefisien koreksi, C
2
, diandaikan kurang lebih sama dengan harga faktor
koreksi untuk bentuk-bentuk mercu tipe Ogee.










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama








98







1.04



1.02



1.00




1:0.67



1:0.33




1:1
2
V1 /2g


H1

p

kemiringan sudut
terhadap garis vertikal
1:0.33 18°26'
1:0.67 33°41'
1:1 45°00'



0.98
0

perbandingan P/H1

0.5 1.0 1.5

Gambar 4.7 Harga-harga koefisien C2 untuk bendung mercu tipe Ogee dengan
muka hulu melengkung (menurut USBR, 1960)


Harga-harga faktor pengurangan aliran tenggelam f sebagai fungsi
perbandingan tenggelam dapat diperoleh dari Gambar 4.8. Faktor
pengurangan aliran tenggelam mengurangi debit dalam keadaan
tenggelam.


1.0

0.9

0.8

0.7

0.6

0.5

0.4





+

+

data dari :
+ A.L.VERWOERD 1941 +
W.J.v.d.OORD 1941
0.3

0.2

0.1

0
H2/H1=1/3
+
+
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0
faktor pengurangan aliran tenggelam f

Gambar 4.8 Faktor pengurangan aliran tenggelam sebagai fungsi H
2
/H
1



(2) Mercu Ogee







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
99






Mercu Ogee berbentuk tirai luapan bawah dari bandung ambang tajam
aerasi. Oleh karena itu mercu ini tidak akan memberikan tekanan
subatmosfir pada permukaan mercu sewaktu bendung mengalirkan air
pada debit rencana. Untuk debit yang lebih rendah, air akan memberikan
tekanan ke bawah pada mercu.
Untuk merencanakan permukaan mercu Ogee bagian hilir, U.S. Army

Corps of Engineers telah mengembangkan persamaan berikut:

Y 1 X

=

[ ]
n

hd K hd

di mana x dan y adalah koordinat-koordinat permukaan hilir (lihat
Gambar 4.9) dan h
d
adalah tinggi energi rencana di atas mecu. Harga-
harga K dan n adalah parameter. Harga-harga ini bergantung kepada
kecepatan dan kemiringan permukaan belakang. Tabel 4.2 menyajikan
harga-harga K dan n untuk berbagai kemiringan hilir dan kecepatan
pendekatan yang rendah.


Tabel 4.2 Harga-harga K dan n

Kemiringan per

mukaan hilir

vertikal 2.0001,850

3 : 1 1,936 1,836
3 : 2 1,939 1,810
1 : 1 1,873 1,776

Bagian hulu mercu bervariasi sesuai dengan kemiringan permukaan hilir

(lihat Gambar 4.9).

Persamaan antara tinggi energi dan debit untuk bendung mercu Ogee
adalah:








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
100






Q = C
d
2/3 2 / 3gb H
1
1,5


di mana:
Q = debit, m
3
/dt

C
d
= koefisien debit (C
d
= C
0
C
1
C
2
)
G = percepatan gravitasi, m/dt
2
(~ 9,8)

b = lebar mercu, m

H
1
= tinggi enegi di atas ambang, m.






H1
hd




0.282 hd
0.175 hd

X
1.85
= 2.0hd
0.85
y



asal
koordinat
x




H1
hd

3 - 4 h1 maks



0.214 hd
0.115 hd

1.810 0 .810
X = 1.939 hd y



X

R=0.2 hd
Y

R=0.5 hd

R=0.22 hd
y

0.67
1

R=0.48 hd

sumbu mercu
diundurkan



1.836 0.836
X = 1.939 hd y
1.776 0.776
X = 1.873 hd y

H1
hd


0.237 hd
0.139 hd
x

H1
hd


0.119 hd
x

R = 0.21 hd


R = 0.68 hd

Y
0.33
1
1
Y

1


R = 0.45 hd




Gambar 4.9 Bentuk-bentuk bendung mercu Ogee (U.S.Army Corps of Engineers,
Waterways Experimental Stasion)












Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


101









1.3

1.2

1.1

1.0

0.9

0.8

0.7

0.6

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

0
0.70





muka hulun vertikal














0.75 0.80 0.85 0.90 0.95 1.00
faktor koreksi C1
Gambar 4.10 Faktor koreksi untuk selain tinggi energi rencana pada bendung
mercu Ogee (menurut Ven Te Chow, 1959, berdasarkan data
USBR dan WES)


Koefisien debit efektif C
e
adalah hasil C
0,
C
1
dan C
2
(C
e
= C
0
C
1
C
2
).

- C
0
adalah konstanta (= 1,30),

- C
1
adalah fungsi p/h
d
dan H
1
/h
d‟
dan

-
C
2
adalah faktor koreksi untuk permukaan hulu.

Faktor koreksi C
1
disajikan pada Gambar 4.10 dan sebaiknya dipakai
untuk berbagai tinggi bendung di atas dasar sungai.
Harga-harga C
1
pada Gambar 4.10 berlaku untuk bendung mercu Ogee
dengan permukaan hulu vertikal. Apabila permukaan bendung bagian
hulu miring, koefisien koreksi tanpa dimensi C
2
harus dipakai; ini adalah
fungsi baik kemiringan permukaan bendung maupun perbandingan p/H
1
.
Harga-harga C
2
dapat diperoleh dari Gambar 4.7.
Gambar 4.11 menyajikan faktor pengurangan aliran tenggelam f untuk

dua perbandingan: perbandingan aliran tenggelam H
2
/H
1
dan P
2
/H
1
.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


102








-0.2


-0.1


0

H1
H2

p p2


0.1


0.2


0.3


0.4


0.5


0.6

1.0

0.995

0.99


0.98


0.97

0.96


0.7


0.8


0.9


1.0








0.60
0.40
0.20

0.94

0.92
0.90

0.85
0.80
0.70
0.60
0.40
0.20
0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0

perbandingan
P2/H1

Gambar 4.11 Faktor pengurangan aliran tenggelam sebagai fungsi p
2
/H
1
dan
H
2
/H
1
. (Disadur dari US Army Corps of Engineers Waterways
Experimental Station)


(3) Kecepatan datang (approach velocity)

Jika dalam rumus-rumus debit di atas dipakai kedalaman air h
1
, bukan
tinggi energi H
1
, maka dapat dimasukkan sebuah koefisien kecepatan
datang C
v
ke persamaan debit tersebut. Harga-harga koefisien ini dapat
dibaca dari Gambar 4.12.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




pengontro l segiempat

u = 1.5




103










1.20



1.15



1.10



1.05



1.00
0

0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8
perbandingan luas
1 Cd A*/A1


Gambar 4.12 Harga-harga C
v
sebagai fungsi perbandingan luas o
1
C
d
A*/A
1
untuk bagian pengontrol segi empat (dari Bos, 1977)


Gambar ini memberikan harga-harga C
v
untuk bendung segi empat
sebagai fungsi perbandingan luas.
Perbandingan luas = o
1
C
d
A*/A
1


di mana:

o
1
= koefisiensi pembagian/distribusi kecepatan dalam alur pengarah

(approach channel). Untuk keperluan-keperluan praktis harga
tersebut boleh diandaikan sebagai konstan; o = 1,04
A
1 = luas dalam alur pengarah
A* = luas semu potongan melintang aliran di atas mercu bendung jika

kedalaman aliran akan sama dengan h
1
(lihat Gambar 4.13).
















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


104










B1
Bc

pengontrol


z1

A1 A
1

bc
alur
pengarah

h1
y1

P1


b1


Gambar 4.13 Potongan hulu dan tampak depan pengontrol


4.2.3 Pelimpah gigi gergaji

Pada beberapa lokasi rencana pembuatan bendung, didapatkan sungai
yang mempunyai karakteristik lebar sungai kecil, debit cukup besar
dengan fluktuasi antara debit rendah dan debit tinggi yang tidak terlalu
jauh, dan tidak membawa material bawaan yang besar (besarnya sungai
di daerah hilir). Untuk karakteristik sungai yang demikian jika dibangun
bendung dengan pelimpah alinyemen lurus akan memerlukan panjang
pelimpah yang besar, sehingga perlu area yang besar dan biaya yang
mahal.
Dari hasil beberapa penelitian untuk sungai dengan karakteristik di atas
lebih sesuai digunakan pelimpah dengan alinyemen berbentuk gigi
gergaji, karena dengan bentuk seperti itu pada bentang sungai yang
sama mempunyai panjang pelimpah yang lebih besar.
Parameter yang harus diperhatikan sebelum merencanakan type ini

adalah :

(1) Lokasi, tinggi mercu, debit banjir rencana dan stabilitas perlu
didesain dengan mengacu pada acuan yang ada pada pelimpah
ambang tetap biasa.






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
(3) Bentuk dasar trapezium

terbaik.

(4) Bentuk mercu pelimpah

105






(2) Bendung tipe gigi gergaji kurang sesuai untuk dibangun pada
sungai dengan angkutan material dasar sungai batu gelinding,
sungai yang membawa hanyutan batang-batang pohon dalam
jumlah yang besar sehingga akan menimbulkan benturan yang
dapat merusak tubuh bendung atau tumpukan sampah yang dapat
mengakibatkan penurunan kapasitas pelimpahan bendung.
(3) Radius atau jari-jari mercu perlu diambil lebih besar atau sama
dengan 0,10 m.


4.2.4 Tata letak dan bentuk gigi gergaji

(1) Pelimpah dengan bentuk dasar segitiga menghasilkan kapasitas
pelimpahan terbesar, tetapi jarak antara dinding-dinding pelimpah
bagian ujung udik dan hilir pada bentuk segitiga sangat dekat.
Keadaan ini mengakibatkan pelimpah bentuk segitiga sangat peka
terhadap akibat perubahan muka air hilir dan mudah terjadi
kehilangan aerasi akibat tumbukan aliran air menyilang yang jatuh
dari dinding-dinding pelimpah.
(2) Pada pelimpah dengan bentuk dasar persegi panjang terjadi
pengkonsentrasian aliran menuju pelimpah. Keadaan ini
menimbulkan penurunan muka air diatas pelimpah dan
mengakibatkan penurunan kapasitas pelimpah.
memberikan efektifitas pelimpahan yang



sangat berpengaruh terhadap kapasitas

pelimpahan, bentuk mercu setengah lingkaran mempunyai
koefisien pelimpahan (c), yang lebih besar daripada koefisien
pelimpahan mercu dengan bentuk tajam (c
t
).









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
106






Jika kapasitas pelimpahan bendung tipe gergaji dengan besar pelipatan

l
g

panjang mercu
b
dan nilai koefisien pelimpahan c
t
adalah sebesar Q
t,


l
g

kapasitas pelimpahan bendung gergaji dengan
b
yang sama tetapi

dengan koefisien pelimpahan c adalah Qg =

f
c
t
c

x Qt.

A A
a
h

Udik
b
Arah Aliran

a
p
2a

c
hilir



denah untuk jenis lantai hilir datar Potongan A-A untuk jenis lantai hilir


A A
h


Udik
b
Arah Aliran

a
p

2a

c
hilir


denah untuk jenis lantai hilir miring
Potongan A-A untuk jenis lantai hilir



Gambar 4.14 Denah pelimpah bentuk gergaji


Notasi dari gambar didepan adalah:

a = setengah lebar bagian dinding ujung-ujung gigi gergaji

b = lebar lurus satu gigi gergaji

c = panjang bagian dinding sisi gigi gergajji p
= tinggi pembendungan






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
107






h = tinggi tekan hidrolik muka air udik diukur dari mercu bendung. L
g

= panjang satu gigi gergaji = 4a + 2c
h

= perbandingan antara tinggi tekan hidrolik, h dengan tinggi
p

bendung atau pelimpah diukur dari lantai udik, p.

b

= perbandingan antara lebar satu gigi b dengan tinggi bendung p
p

l
g

= perbandingan antara panjang mercu pelimpah gergaji yang
b


terbentuk
· = sudut antara sisi pelimpah dengan arah aliran utama air
n = jumlah “gigi” pelimpah gergaji

Q
g

= nilai perbandingan antara besar debit pada pelimpah gergaji
Q
n

dibandingkan dengan besar debit pelimpahan jika digunakan
pelimpah lurus biasa dengan lebar bentang yang sama.


4.2.5Pangkal bendung
Pangkal-pangkal bendung (abutment) menghubungkan bendung dengan
tanggul-tanggul sungai dan tanggul-tanggul banjir. Pangkal bendung
harus mengarahkan aliran air dengan tenang di sepanjang
permukaannya dan tidak menimbulkan turbulensi. Gambar 4.14
memberikan dimensi-dimensi yang dianjurkan untuk pangkal bendung
dan peralihan (transisi).















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


108









maks 1:1
0.50 m
R1>h1

.


R2>0.5h2 R3>1m


maks 1:1
a
R=1.5a



L1 > 2hmaks L2>2h1
L3>4h3








Q100
h2

hmaks
h1

Q100

h3




Gambar 4.15 Pangkal bendung


Elevasi pangkal bendung di sisi hulu bendung sebaiknya lebih tinggi
daripada elevasi air (yang terbendung) selama terjadi debit rencana.
Tinggi jagaan yang harus diberikan adalah 0,75 m sampai 1,50 m,
bergantung kepada kurve debit sungai di tempat itu; untuk kurve debit
datar 0,75 m akan cukup; sedang untuk kurve yang curam akan
diperlukan 1,50 m untuk memberikan tingkat keamanan yang sama.


4.2.6 Peredam energi

Aliran di atas bendung di sungai dapat menunjukkan berbagai perilaku di
sebelah bendung akibat kedalaman air yang ada h
2
. Gambar 4.15
menyajikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dari pola aliran di
atas bendung.
Kasus A menunjukkan aliran tenggelam yang menimbulkan sedikit saja
gangguan di permukaan berupa timbulnya gelombang. Kasus B
menunjukkan loncatan tenggelam yang lebih diakibatkan oleh kedalaman







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama






h2
109






air hilir yang lebih besar, daripada oleh kedalaman konjugasi. Kasus C
adalah keadaan loncat air di mana kedalaman air hilir sama dengan
kedalaman konjugasi loncat air tersebut. Kasus D terjadi apabila
kedalaman air hilir kurang dari kedalaman konjugasi; dalam hal ini
loncatan akan bergerak ke hilir.





y2
h2




A B





yu
y2=h2 y2



C D

Gambar 4.16 Peredam energi


Semua tahap ini bisa terjadi di bagian hilir bendung yang di bangun di
sungai. Kasus D adalah keadaan yang tidak boleh terjadi, karena
loncatan air akan menghempas bagian sungai yang tak terlindungi dan
umumnya menyebabkan penggerusan luas.


Debit rencana

Untuk menemukan debit yang akan memberikan keadaan terbaik untuk
peredaman energi, semua debit harus dicek dengan muka air hilirnya.
Jika degradasi mungkin terjadi, maka harus dibuat perhitungan dengan
muka air hilir terendah yang mungkin terjadi untuk mencek apakah
degradasi mungkin terjadi. Degradasi harus dicek jika:






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


110








(a) bendung dibangun pada sodetan (kopur)

(b) sungai itu sungai alluvial dan bahan tanah yang dilalui rawan
terhadap erosi
(c) terdapat waduk di hulu bangunan.

Bila degradasi sangat mungkin terjadi, tetapi tidak ada data pasti yang
tersedia, maka harga sembarang degradasi 2,50 m harus digunakan
dalam perencanaan kolam olak, tetapi dengan fungsi sebagai berikut:
(a) Untuk analisa stabilitas bendung
(b) Untuk menyiapkan cut off end sill / analisa dimensi curve
(c) Untuk keperluan perhitungan piping/seepage

(d) Untuk perhitungan kolam olak/dimensi





muka air hulu 1/3 H1



penurunan
tinggi dasar
2/3H1
H1
aliran tak tenggelam aliran tenggelam
tinggi mercu


z + 0.5H1





-4.0



H2
muka air hilir
kedalaman konjugasi y2

tinggi dasar hilir

degradasi
H1

z
.
2
H2
1
v1

0
q

Gambar 4.17 Metode perencanaan kolam loncat air


4.2.7Kolam loncat air

Gambar 4.17 memberikan penjelasan mengenai metode perencanaan.
Dari grafik q versus H
1
dan tinggi jatuh 2, kecepatan (v
1
) awal loncatan
dapat ditemukan dari:






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
111






v
1
= 2g (1/ 2H
1
+ z )


di mana: v
1
= kecepatan awal loncatan, m/dt
g = percepatan gravitasi, m/dt
2
(~ 9,8)
H
1
= tinggi energi di atas ambang, m
z = tinggi jatuh, m.

Dengan q = v
1
y
1
, dan rumus untuk kedalaman konjugasi dalam loncat air
adalah:
9
y
2
= ½ (

y
u

1 + 8 Fr
2
÷1)


di mana : Fr =


di mana :
9
v
1

gy
u


y
2
= kedalaman air di atas ambang ujung, m
y
u
= kedalaman air di awal loncat air, m
Fr= bilangan Froude

v
1
= kecepatan awal loncatan, m/dt
g = percepatan gravitasi, m/dt
2
(~ 9,8)

kedalaman konjugasi untuk setiap q dapat ditemukan dan diplot. Untuk
menjaga agar loncatan tetap dekat dengan muka miring bendung dan di
atas lantai, maka lantai harus diturunkan hingga kedalaman air hilir
sekurang-kurangnya sama dengan kedalaman konjugasi.
Untuk aliran tenggelam, yakni jika muka air hilir lebih tinggi dari 2/3 H
1


di atas mercu, tidak diperlukan peredam energi.

Dalam menghitung gejala loncat air, Tabel 4.3 dapat pula digunakan

(lihat Lampiran 2) beserta Gambar 4.17.
Panjang kolam






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


112






Panjang kolam loncat air di belakang Potongan U (Gambar 4.17)
biasanya kurang dari panjang bebas loncatan tersebut adanya ambang
ujung (end sill). Ambang yang berfungsi untuk memantapkan aliran ini
umumnya ditempatkan pada jarak
L
j
= 5 (n + y
2
)

di mana:



L
j
= panjang kolam, m

n = tinggi ambang ujung, m

y
2
= kedalaman air di atas ambang, m.

di belakang Potongan U. Tinngi yang diperlukan ambang ujung ini
sebagai fungsi bilangan Froude (Fr
u
), kedalaman air yang masuk y
u
, dan
tinggi muka air hilir, dapat ditentukan dari Gambar 4.18.
bagian pengontrol

H1
yc






> 2
Hu




H
ambang
ujung
Z
sudut 1
runcing
yu

bidang persamaan

H2 n
y2



panjang kemiringan Lj
potongan U


bulat r ~ 0.5H1

alternatif peralihan

Z
1

1



panjang
kemiringan
diperpendek


Gambar 4.18Parameter-parameter loncat air











Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




113






9

8
yu


Vu
7

Vd yd
V2
y2


n

n
yu
=4

6 n = 0.0238 m.
n = 0.0366 m.
n = 0.0539 m.
5 n = 0.0079 m.
n < 0
4

X
batas bawah
X
jangkauan percobaan
X

X

X

3

n

2 yu
=2

n
n


y2 < yc
yu
=1/2 yu
=1

1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
harga Fru

Gambar 4.19 Hubungan percobaan antara Fr
u
, y
2
/y
u
untuk ambang ujung
pendek (menurut Forster dan Skrinde, 1950)

Panjang kolam olak dapat sangat diperpendek dengan menggunakan
blok-blok halang dan blok-blok muka. Gambar 4.19 menyajikan dimensi
kolam olak USBR tipe III yang dapat dipakai jika bilangan Froude tidak
lebih dari 4.5.











n3 =



blok muka

yu(4+Fru)
6





yu








blok halang


n3




0.5 yu
yu
yu
yu


1
1
> (h+y2) +0.60
H

0.2n3


0.675 n3
0.75 n3
0.75 n3
yu(18+Fru)
n =
18

n


2
1



ambang ujung


0.82 y2

2.7 y2

potongan U









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
114






Gambar 4.20 Karakteristik kolam olak untuk dipakai dengan bilangan Froude
di atas 4,5; kolam USBR Tipe III (Bradley dan Peterka, 1957)
Jika kolam itu dibuat dari pasangan batu, blok halang dan blok muka

dapat dibuat seperti ditunjukkan pada Gambar 4.20.






pelat baja

kerangka
besi siku

balok beton
bertulang dengan:
-blok muka
-blok halang
pasangan batu









Gambar 4.21 Blok-blok halang dan blok–blok muka


Tipe kolam

Terlepas dari kondisi hidrolis, yang dapat dijelaskan dengan bilangan
Froude dan kedalaman air hilir, kondisi dasar sungai dan tipe sedimen
yang diangkut memainkan peranan penting dalam pemilihan tipe kolam
olak:
(a) Bendung di sungai yang mengangkut bongkah atau batu-batu
besar dengan dasar yang relatif tahan gerusan, biasanya cocok
dengan kolam olak tipe bak tenggelam/submerged bucket (lihat
Gambar 4.21);
(b) Bendung di sungai yang mengangkut batu-batu besar, tetapi
sungai itu mengandung bahan alluvial,






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


115






dengan dasar tahan gerusan, akan menggunakan kolam loncat air
tanpa blok-blok halang (lihat Gambar 4.17) atau tipe bak
tenggelam/peredam energi.
(c) Bendung sungai yang hanya mengangkut bahan-bahan sedimen
halus dapat direncanakan dengan kolam loncat air yang
diperpendek dengan menggunakan blok-blok halang (lihat Gambar
4.19)

Untuk tipe kolam olak yang terakhir, daya gerus sedimen yang terangkut
harus dipertimbangkan dengan mengingat bahan yang harus dipakai
untuk membuat blok.


4.2.8 Peredam energi tipe bak tenggelam

Jika kedalaman konjugasi hilir dari loncat air terlalu tinggi dibanding
kedalaman air normal hilir, atau kalau diperkirakan akan terjadi
kerusakan pada lantai kolam yang panjang akibat batu-batu besar yang
terangkut lewat atas bendung, maka dapat dipakai peredam energi yang
relatif pendek tetapi dalam. Perilaku hidrolis peredam energi tipe ini
terutama bergantung kepada terjadinya kedua pusaran; satu pusaran
permukaan bergerak ke arah berlawanan dengan arah jarum jam di atas
bak, dan sebuah pusaran permukaan bergerak ke arah putaran jarum
jam dan terletak di belakang ambang ujung. Dimensi-dimensi umum
sebuah bak yang berjari-jari besar diperlihatkan pada Gambar 4.21.
tinggi kecepatan

q
hc


H

muka air
hilir

1
1
90°

a=0.1R
lantai lindung
T


elevasi
dasar lengkung








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
116






Gambar 4.22 Peredam energi tipe bak tenggelam

Kolam olak tipe bak tenggelam telah digunakan sejak lama dengan
sangat berhasil pada bendung-bendung rendah dan untuk bilangan-
bilangan Fruode rendah. Kriteria yang dipakai untuk perencanaan diambil
dari bahan-bahan oleh Peterka dan hasil-hasil penyelidikan dengan
model. Bahan ini telah diolah oleh Institut Teknik Hidrolika di Bandung
guna menghasilkan serangkaian kriteria perencanaan untuk kolam
dengan tinggi energi rendah ini.
Parameter-parameter dasar untuk perencanaan tipe bak tenggelam
sebagaimana diberikan oleh USBR (Peterka, 1974) sulit untuk diterapkan
bagi perencanaan bendung dengan tinggi energi rendah.
Oleh sebab itu, parameter-parameter dasar ini sebagai jari-jari bak,
tinggi energi dan kedalaman air telah dirombak kembali menjadi
parameter-parameter tanpa dimensi dengan cara membaginya dengan
kedalaman kritis.
q
2

h
c
= 3
g

di mana:

h
c
= kedalaman air kritis, m
q = debit per lebar satuan, m
3
/dt.m

g = percepatan gravitasi, m/dt (~ 9,8)



Jari-jari minimum bak yang diizinkan (R
min
) diberikan pada Gambar 4.22,

di mana garis menerus adalah garis asli dari kriteria USBR. Di bawah
AH/h
c
= 2,5 USBR tidak memberikan hasil-hasil percobaan. Sejauh ini
penyelidikan dengan model yang dilakukan oleh IHE menunjukkan
bahwa garis putus-putus Gambar ini menghasilkan kriteria yang bagus









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
117






untuk jari-jari minimum bak yang diizinkan bagi bangunan-bangunan
dengan tinggi energi rendah ini.


3




2








1
1
H
hc

2 3 4 5 6 7 8 9 10 20

Gambar 4.23 Jari – jari minimum bak


Batas minimum tinggi air hilir (T
min
) diberikan pada Gambar 4.24.

Untuk AH/h
c
di atas 2,4 garis tersebut merupakan “envelope” batas tinggi air
hilir yang diberikan oleh USBR bagi batas minimum tinggi air hilir (bak
bercelah), “sweep-out limit”, batas minimum tinggi air hilir yang
dipengaruhi oleh jari-jari bak dan batas tinggi air hilir untuk bak tetap.
Dibawah AH/h
c
= 2,4 garis tersebut menggambarkan kedalaman
konjugasi suatu loncat air. Dengan pertimbangan bahwa kisaran harga
AH/h
c
yang kurang dari 2,4 berada di luar jangkauan percobaan USBR,
maka diputuskanlah untuk mengambil kedalaman konjugasi sebagai
kedalaman minimum air hilir dari bak untuk harga AH/h
c
yang lebih kecil
dari 2,4.
Pengalaman telah menunjukkan bahwa banyak bendung rusak akibat
gerusan lokal yang terjadi tepat di sebelah hilirnya dan kadang-kadang
kerusakan ini diperparah lagi oleh degradasi dasar sungai. Oleh karena








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama






bias y ang dipak ai

118






itu, dianjurkan untuk menentukan kedalaman air hilir berdasarkan
perkiraan degradasi dasar sungai yang akan terjadi di masa datang.





5

4

3


2

A h
= 2.4

hc


1
1
A H
hc

2 3 4 5 6 7 8 9 10 20

Gambar 4.24 Batas minimum tinggi air hilir


Dari penyelidikan model terhadap bak tetap, IHE menyimpulkan bahwa
pengaruh kedalaman tinggi air hilir terhadap bekerjanya bak sebagai
peredam enegi, ditentukan oleh perbandingan h
2
/h
1
(lihat Gambar 4.25).
Jika h
2
/h
1
lebih tinggi dari 2/3, maka aliran akan menyelam ke dalam bak
dan tidak ada efek peredaman yang bisa diharapkan.


3
h2

h1
2



1


0
0 1 2 3 4 5
h1 dalam m








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


g
D
119






Gambar 4.25 Batas maksimum tinggi air hilir





hc=2/3
H

r
r
z
hc =


z

r r
r


1
R
R

1
jika 0.5 <
hc
< 2.0

t = 2.4 hc + 0.4 z (1)
jika 2.0 <
z
< 15.0 :

hc

alternati
f
a
2a t
t = 3.0 hc + 0.1 z (2)
a = 0.28 hc
hc
(3)

z
L
D = R = L (4)
(ukuran dalam m)

Gambar 4.26 Kolam olak menurut Vlugter


4.2.9Kolam Vlugter

Kolam Vlugter, yang detail rencananya diberikan pada Gambar 4.25,
telah terbukti tidak andal untuk dipakai pada tinggi air hilir di atas dan di
bawah tinggi muka air yang sudah diuji di laboratorium. Penyelidikan
menunjukkan bahwa tipe bak tenggelam, yang perencanaannya mirip
dengan kolam Vlugter, lebih baik. Itulah sebabnya mengapa pemakaian
kolam Vlugter tidak lagi dianjurkan jika debit selalu mengalami fluktuasi
misalnya pada bendung di sungai.


4.2.10 Modifikasi Peredam Energi

Ada beberapa modifikasi peredam energi tipe Vlugter, Schoklizt yang
telah dilakukan penelitiannya dan dapat digunakan dalam perencanaan
dengan mengacu RSNI T-04-2002 dapat digunakan antara lain adalah
tipe-tipe MDO, MDS.
Peredam energi tipe MDO terdiri dari lantai datar, di ujung hilir lantai
dilengkapi dengan ambang hilir tipe gigi ompong dan dilengkapi dengan
rip rap. Sedangkan peredam energi tipe MDS terdiri dari lantai datar, di





Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
120






ujung hilir lantai dilengkapi dengan ambang hilir tipe gigi ompong
ditambah dengan bantalan air dan dilengkapi dengan rip rap. Bantalan
air yang dimaksud di sini adalah ruang di atas lantai disediakan untuk
lapisan air sebagai bantalan pencegah atau pengurangan daya bentur
langsung batu gelundung terhadap lantai dasar peredam energi.
Sebelum mendesain type ini perlu ditentukan terlebih dahulu nilai
parameter :
a) tipe mercu bendung harus bentuk bulat dengan satu atau dua
jari-jari.
b) permukaan tubuh bendung bagian hilir dibuat miring dengan
perbandingan kemiringan 1 : m atau lebih tegak dari kemiringan
1 : 1.

c) tubuh bendung dan peredam energi harus dilapisi dengan
lapisan tahan aus.
d) elevasi dasar sungai atau saluran di hilir tubuh bendung yang
ditentukan, dengan memperhitungkan kemungkinan terjadinya
degradasi dasar sungai.
e) elevasi muka air hilir bendung yang dihitung, berdasarkan
elevasi dasar sungai dengan kemungkinan perubahan geometri
badan sungai.
Selain parameter di atas kriteria desain yang disyaratkan yaitu :

a) tinggi air udik bendung dibatasi maksimum 4 meter;

b) tinggi pembendungan (dihitung dari elevasi mercu bendung
sampai dengan elevasi dasar sungai di hilir) maksimum 10
meter.
Dalam hal tinggi air udik bendung lebih dari 4 meter dan atau tinggi
pembangunan lebih dari 10 meter tata cara peredam energi tipe MDO









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
121






dan MDS ini masih dapat digunakan asalkan dimensinya perlu diuji
dengan model test.
Penggunaan type MDO dan MDS dapat juga dimodifikasi dan dilakukan
pengembangan pemakaiannya.
1) dimensi hidraulik peredam energi tipe MDO dapat diterapkan di
hilir tubuh bendung dengan bidang miring lebih tegak dari
perbandingan 1 : 1.
2) tubuh bendung dengan peredam energi tipe MDO dapat
dilengkapi dengan pembilas sedimen tipe undersluice tanpa
mengubah dimensi hidraulik peredam energi tipe MDO.
Data awal yang harus ditentukan terlebih dahulu adalah :

a) debit desain banjir dengan memperhitungkan tingkat keamanan
bangunan air terhadap bahaya banjir.
b) debit desain penggerusan, dapat diambil sama dengan debit
alur penuh.
c) lengkung debit sungai di hilir rencana bendung berdasarkan
data geometri-hidrometri-hidraulik morfologi sungai.


Grafik-grafik yang dipakai dalam desain hidraulik bendung dengan
kelengkapannya, meliputi :
a) grafik pengaliran melalui mercu bendung dapat dilihat dalam grafik

MDO-1 pada lampiran A1 (RSNI T-04-2002)

b) grafik untuk mengetahui bahaya kavitasi di hilir mercu bendung
dapat dilihat dalam MDO-1a pada lampiran A2 (RSNI T-04-2002)
c) grafik untuk menentukan dimensi peredam energi tipe MDO dan MDS
dapat dilihat dalam grafik MDO-2 dan MDO-3 pada lampiran A3 dan
A4 (RSNI T-04-2002)









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
p
122






Rumus-rumus yang digunakan dalam desain hidraulik ini meliputi :

1) debit desain persatuan lebar pelimpah :

- untuk bahaya banjir : q
df
= Q
df
/B
p (01)
- untuk bahaya penggerusan : q
df
= Q
dp
/B
p
(02)

2) dimensi radius mercu bendung = r, : 1.00 m s r s 3.00 m (03)
3) tinggi dan elevasi muka air di udik bendung :


H
udp
dan El
udp

H
udf
dan El
udf


El
udp
= M + H
udp
, untuk penggerusan

El
udf
= M + H
udf
, untuk banjir

H
udp
dan H
udf
dihitung dengan grafik MDO-1 (04)

4) tinggi terjun bendung :

- pada Q
df
adalah Z
df
= H
udf
– H
idf
(05)

- pada Q
dp
adalah Z
dp
= H
udp
– H
idp
(06)
H
idf
dan H
idp
diperoleh dari grafik lengkung debit sungai.
5) parameter energi (E) untuk menentukan dimensi hidraulik peredam
energi tipe MDO dan MDS dihitung dengan :
E
dp
= q
dp
/(g x Z
d
3
)
1/2


6) kedalaman lantai peredam energi (D
s
) dihitung dengan :
(07)

D
s
= (D
s
) (D
s
/D
s
) (08)
D
s
/D
s
dicari dengan grafik MDO-2
7) panjang lantai dasar peredam energi (L
s
) dihitung dengan : L
s
= (D
s
) (L
s
/D
s
)
L
s
/D
s
dicari dengan grafik MDO-3

8) tinggi ambang hilir dihitung dengan :

a = (0,2 a 0,3) D
s
(10)

9) lebar ambang hilir dihitung :

b = 2 x a(11)








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
123






10) Elevasi Dekzerk tembok pangkal bendung ditentukan dengan :

E
i
D
zu
= M + H
udf
+ F
b
; untuk tembok pangkal udik (12)
E
i
D
zi
= M + H
idf
+ F
b
; untuk tembok pangkal hilir (13)
Fb diambil : 1.00 meter s Fb s 1.50 meter
11) Ujung tembok pangkal bendung tegak ke arah hilir (Lpi) ditempatkan
lebih kurang di tengah-tengah panjang lantai peredam energi:
L
pi
= L
p
+ ½ L
s
(14)

12) Panjang tembok sayap hilir (L
si
) dihitung dari ujung hilir lantai
peredam energi diambil :
L
s
s L
si
s 1.5 L
s


Tebing sungai yang tidak jauh dari tepi sisi lantai peredam energi,
maka ujung hilir tembok sayap hilir dilengkungkan masuk ke dalam
tebing sungai. Dan bagi tebing sungai yang jauh dari tepi sisi lantai
peredam energi maka ujung tembok sayap hilir dilengkungkan balik
ke udik sehingga tembok sayap hilir berfungsi sebagai tembok
pengarah arus hilir bendung. Bentuk ini dapat diperhatikan pada
contoh gambar dalam lampiran D2.
13) Panjang tembok pangkal bendung di bagian udik (L
pu
) bagian yang
tegak dihitung dari sumbu mercu bendung :
0.5 L
s
s L
pu
s L
s
(15)

14) Panjang tembok sayap udik ditentukan :

- Bagi tebing sungai yang tidak jauh dari sisi tembok pangkal
bendung, ujung tembok sayap udik dilengkungkan masuk ke
tebing dengan panjang total tembok pangkal bendung ditambah
sayap udik:
0.50 L
s
s L
su
s 1.50 L
s
(16)

- Bagi tebing sungai yang jauh dari sisi tembok pangkal bendung
atau palung sungai di udik bendung yang relatif jauh lebih besar







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
124






dibandingkan dengan lebar pelimpah bendung maka tembok
sayap udik perlu diperpanjang dengan tembok pengarah arus
yang panjangnya diambil minimum 2 x L
p
(17)
15) Kedalaman bantalan air pada tipe MDS ditentukan :

S = D
s
+ (1.00 m sampai dengan 2.00 m) (18)





Dengan :

Q
df = debit desain untuk bahaya banjir (m3/s)
Q
dp
= debit desain untuk bahaya penggerusan (m3/s)
B
p
= lebar pelimpah (m)
q
df
= Qdf/Bp (m3/s/m‟)
q
dp
= Qdp/Bp (m3/s/m‟)
D
2
= tinggi muka air sungai di hilir bendung dengan dasar sungai

terdegradasi (m)
r = radius mercu bendung diambil antara 1.00 meter sampai

dengan 3.00 meter
H
udf
= tinggi air diatas mercu bendung pada debit desain banjir (m)

H
udp
= tinggi air diatas mercu bendung pada debit desain


penggerusan (m)
Hidp = tinggi air dihilir bendung pada debit desain penggerusan (m)
Hidf = tinggi air dihilir bendung pada debit desain banjir (m)
Zdf = perbedaan elevasi muka air udik dan hilir pada debit desain

banjir (m)
Zdp = perbedaan elevasi muka air udik dan hilir pada debit desain

penggerusan (m)
Dzu = elevasi dekzerk tembok pangkal bendung bagian udik (m)
Dzi = elevasi dekzerk tembok pangkal bendung bagian hilir (m)








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
125






Fb = tinggi jagaan diambil antara 1.00 meter s/d 1.50 meter
E = parameter tidak berdimensi
Ls = panjang lantai peredam tinggi
Lb = jarak sumbu mercu bendung sampai perpotongan bidang

miring dengan lantai dasar bendung (m)

Lpi = panjang tembok sayap hilir dari ujung hilir lantai peredam


energi ke hilir (m)
S = kedalaman bantalan air peredam energi tipe MDS (m)
Lpu = panjang tembok pangkal udik bendung dari sumbu mercu

bendung ke udik (m)
Lsu = panjang tembok sayap udik (m)

Lpa = panjang tembok pengarah arus udik tembok sayap udik (m)
g = percepatan / gravitasi



Perhitungan dan penentuan dimensi hidraulik tubuh bendung dan

peredam energinya dengan langkah sebagai berikut :

1) hitung debit desain untuk bahaya banjir dan untuk bahaya
penggerusan;
2) hitung lebar pelimpah bendung efektif;

3) hitung debit desain persatuan lebar pelimpah;

4) tentukan nilai radius mercu bendung, r;

5) untuk nilai radius mercu bendung tersebut; periksa kavitasi di
bidang hilir tubuh bendung dengan bantuan grafik MDO 1a, jika
tekanan berada di daerah positif pemilihan radius mercu bendung;
diijinkan;
6) jika tekanan berada di daerah negatif, tentukan nilai radius mercu
bendung yang lebih besar dan ulangi pemeriksaan kavitasi sehingga
tekanan berada di daerah positif;







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
126






7) hitung elevasi muka air udik bendung dengan bantuan grafik MDO-

1;

8) hitung tinggi terjun bendung, Z;

9) hitung parameter tidak berdimensi, E;

10) hitung kedalaman lantai peredam energi, Ds;

11) hitung nilai panjang lantai datar, Ls;

12) tentukan tinggi bantalan air, S, untuk peredam energi tipe MDS;

13) tetapkan tinggi ambang hilir dan lebarnya, a dan b;

14) tentukan tata letak, elevasi puncak, panjang, kemiringan dan

kedalaman tembok pangkal bendung;

15) tentukan tata letak, elevasi puncak, panjang, kemiringan dan

kedalaman tembok sayap hilir;

16) tentukan tata letak, elevasi puncak, panjang, kemiringan dan

kedalaman tembok sayap udik;

17) tentukan tata letak, elevasi puncak, panjang, kemiringan dan

kedalaman tembok pengarah arus;


18) lengkapi laki-laki tembok sayap hilir dan di hilir ambang hilir

peredam energi dengan rip rap.



Gambar 4.27 Potongan memanjang bendung tetap dengan peredam energi
tipe MDO






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
127










Gambar 4.28 Potongan memanjang bendung tetap dengan peredam energi
tipe MDS

Untuk grafik-grafik yang dipakai akan diberikan pada gambar berikut :





Gambar 4.29 Grafik MDO – 1 Pengaliran melalui mercu bendung


















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
128








Gambar 4.30 Grafik MDO – 1a Penentuan bahaya kavitasi di hilir mercu
bendung






























Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
129









Gambar 4.31 Grafik MDO – 2 Penentuan kedalaman lantai peredam energi




Gambar 4.32 Grafik MDO – 3 Penentuan panjang lantai peredam energi






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
130






4.3 Bendung gerak

Pada umumnya bendung gerak adalah bangunan yang sangat rumit dan
harus direncana oleh ahli-ahli yang berpengalaman dibantu oleh ahli-ahli
di bidang hidrolika, teknik mekanika dan konstruksi baja.



4.3.1 Pengaturan muka air

Bendung gerak dibangun untuk memenuhi keperluan muka air normal
dalam rangka pengambilan dan mengurangi efek genangan akibat muka
air banjir yang diakibatkannya.
Prinsip pembangunan bendung gerak seperti ini membawa implikasi
pengaturan muka air banjir sebagai berikut :
a) Muka air banjir tetap

Muka air banjir dipertahankan tetap, baik sebelum maupun
sesudah pembangunan. Kalau lebar efektif bendung gerak
dipertahankan sama dengan lebar sungai asli sebelum
pembangunan maka elevasi ambang tubuh bendung dibut sama
dengan elevasi dasar sungai.
Dalam keadaan ini tidak ada penumpukan sedimen di depan
bendung, diperlukan peredam energi lebih sederhana dan seluruh
tekanan hidrodinamis air pada kondisi muka air normal
dilimpahkan sepenuhnya ke pintu air. Namun demikian untuk
kemudahan operasi dan pemeliharaan pintu, dimensi pintu air
dibatasi sesuai dengan tipenya.
b) Muka air banjir berubah

Karena pertimbangan tertentu muka air banjir dimungkinkan lebih
tinggi dibanding dengan muka air banjir sebelum pembangunan.
Elevasi ambang tubuh bendung dibuat lebih tinggi dari elevasi
dasar sungai asli, dengan maksud mengurangi beban tekanan







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
131






hidrodinamis air pada pintu. Kombinasi tinggi tubuh bendung dan
pintu air dijelaskan pada sub bab 4.3.4.
Dalam keadaan ini penumpukan sedimen didepan bendung diatur
sedemikian, sehingga tidak ada sedimen yang masuk ke intake
dan tidak ada penumpukan sedimen di atas mercu tubuh
bendung yang dapat menganggu operasional pintu.


4.3.2 Tata letak

Bendung gerak harus memiliki paling sedikit 2 bukaan, agar bangunan
itu tetap dapat berfungsi, jika salah satu pintu rusak. Karena alasan itu
pula, bangunan ini harus aman pada waktu mengalirkan debit maksimum
sementara sebuah pintu tidak berfungsi.
Ada dua kriteria saling bertentangan yang mempengaruhi lebar total
bendung gerak, yakni:
(1) Makin tinggi bangunan, makin melonjak harga pintu dan pilar,
dengan alasan ini lebih disukai kalau bangunan itu dibuat lebih
lebar, bukan lebih tinggi;
(2) kapasitas lolosnya sedimen akan lebih baik pada bangunan yang
lebih sempit serta kecepatan aliran yang lebih tinggi.
Dalam kasus-kasus tertentu, mungkin akan menguntungkan untuk
merencanakan bangunan campuran:sebagian bendung gerak dan
sebagian bendung tetap.
Hal-hal semacam itu mungkin terjadi jika bangunan dibuat di:

(1) sungai yang sangat lebar dengan perbedaan yang besar antara
debit rendah dan debit puncak atau
(2) sungai dengan dasar air normal yang sempit tetapi bantaran lebar,
yang digunakan jika harus mengalirkan banjir tinggi.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
132






Dalam perencanaan harus diandaikan bahwa dalam keadaan kritis
sebuah pintu akan tersumbat dalam posisi tertutup.
Bila pintu dibuat terlalu lebar, maka akan sulit untuk mengatur muka air.
Kalau dibuat lebih banyak bukaan, maka aliran mudah diarahkan agar
sedimen tidak masuk ke pengambilan.


4.3.3 Pintu

Ada banyak tipe pintu :

(a) Pintu sorong dipakai dengan tinggi maksimum sampai 3 m dan
lebar tidak lebih dari 3 m. Pintu tipe ini hanya digunakan untuk
bukaan kecil, karena untuk bukaan yang lebih besar alat-alat
angkatnya akan terlalu berat untuk menangggulangi gaya gesekan
pada sponeng. Untuk bukaan yang lebih besar dapat dipakai pintu
rol, yang mempunyai keuntungan tambahan karena di bagian atas
terdapat lebih sedikit gesekan, dan pintu dapat diangkat dengan
kabel baja atau rantai baja. Ada dua tipe pintu rol yang dapat
dipertimbangkan, yaitu pintu Stoney dengan roda yang tidak
dipasang pada pintu, tetapi pada kerangka yang terpisah;dan pintu
rol biasa yang dipasang langsung pada pintu.
(b) Pintu rangkap (dua pintu) adalah pintu sorong / rol yang terdiri
dari dua pintu, yang tidak saling berhubungan, yang tidak dapat
diangkat atau diturunkan. Oleh sebab itu, pintu-pintu ini dapat
mempunyai debit melimpah (overflowing discharge) dan debit
dasar (bottom discharge). Keuntungan dari pemakaian pintu ini
adalah dapat dioperasikan dengan alat angkat yang lebih ringan.
Contoh khas dari tipe ini adalah tipe pintu segmen ganda (hook
type gate). Pintu ini dipakai dengan tinggi sampai 20 m dan lebar
sampai 50 m.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
133






(c) Pintu segmen atau radial memiliki keuntungan bahwa tidak ada
gaya gesekan yang harus diperhitungkan. Oleh karena itu, alat-alat
angkatnya bisa dibuat kecil dan ringan. Sudah biasa untuk
memberi pintu radial kemungkinan mengalirkan air melalui puncak
pintu, dengan jalan menurunkan pintu atau memasang
katup/tingkap gerak pada puncak pintu. Debit diatas ini
bermanfaat untuk menggelontor benda-benda hanyut di atas
bendung.
(d) Dalam memilih dan merencanakan pintu untuk bendung gerak
harus memperhatikan 3 (tiga) hal penting yaitu:
(1) Justifikasi teknis, sosial dan ekonomi dalam menentukan
kombinasi tinggi tubuh bendung dan tinggi pintu air.
Tinggi pembendungan air sungai dibagi menjadi dua yaitu
bagian tinggi pembendungan bawah yang ditahan oleh tubuh
bendung dan bagian tinggi pembendungan atas yang ditahan
oleh pintu air. Kombinasi keduanya ditentukan oleh
pertimbangan teknis, sosial dan ekonomi.
Tubuh bendung yang tinggi menyebabkan volume tubuh
bendung yang besar, pondasi yang kuat, kolam olak yang
mahal, elevasi muka air banjir dan tanggul penutup lebih
tinggi, kemungkinan timbulnya permasalahan resetlement
penduduk akibat elevasi muka air banjir yang tinggi; relative
biaya pembangunan tubuh bendung dan kolam olak lebih
mahal. Sebagai kombinasinya pintu air yang rendah
mengakibatkan pintu ringan, alat penggerak pintu
berkapasitas rendah, biaya operasional pintu lebih murah.
Namun sebaliknya tubuh bendung yang rendah
menyebabkan volume tubuh bendung yang kecil, pondasi







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
134






lebih ringan, kolam olak relatif murah, elevasi muka air banjir
dan tanggul penutup lebih rendah, tidak ada permasalahan
resetlement penduduk akibat elevasi muka air banjir; relative
biaya pembangunan tubuh bendung dan kolam olak lebih
murah.
Sebaliknya kombinasinya pintu air yang tinggi mengakibatkan
pintu berat, diperlukan alat penggerak pintu berkapasitas
tinggi, biaya operasional pintu lebih mahal.
(2) Kemudahan dan keamanan operasional pintu.

Pintu yang ringan tetapi memiliki kekakuan cukup sangat
diperlukan agar pintu tidak mudah melendut dan bergetar
bila terkena tekanan dan arus air, sehingga memudahkan
pengoperasian dan pintu tidak cepat rusak.
(3) Biaya operasional dan pemeliharaan (O – P) yang rendah

Pintu yang berat memerlukan pasokan daya listrik besar
untuk mengubah tenaga listrik menjadi tenaga mekanik yang
kuat pada saat mengangkat pintu, dan mengingat mahalnya
harga listrik maka akan berdampak pada peningkatan biaya
operasi. Disamping itu pintu yang terlalu besar memerlukan
biaya pelumasan dan pengecatan pintu yang relatif lebih
besar.





















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
135


















Pintu sorong Pintu stoney Pintu riol Dua pintu ( segmen ganda )

















Pintu segmen atau radial Pintu segmen atau radial dengan katup

Gambar 4.33 Macam-macam tipe pintu bendung gerak vertikal



4.3.4 Bangunan Pelengkap Bendung Gerak

Bendung gerak selalu dilengkapi dengan bangunan-bangunan lain seperti
bangunan peredam energi, bangunan pangkal bendung, pelindung
tebing dan pelindung dasar sungai.
Dalam pemilihan tipe peredam energi supaya memperhatikan besarnya
debit rencana serta beda tinggi muka air dihulu dan hilir kondisi dasar
sungai berupa batuan keras, batuan lunak atau endapan material serta
kemungkinan terjadinya penggerusan.
Pada bendung gerak ada 2 (tipe) lantai dasar sebagai tempat tumpuan
pintu sorong atau pintu radial yaitu:







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
136






(a) Lantai dasar (crest) yang tinggi biasanya maksimum 0,5 m
tingginya dari dasar sungai dipilih bila diperlukan pembendungan
untuk menahan batu-batu yang terbawa arus sungai sehingga
batu-batu tersebut tidak mempersulit penutupan pintu karena
batu-batu itu akan mengganjal pintu bila terjadi penutupan pintu
sehingga pintu menjadi cepat rusak, biasanya untuk sungai
dengan material berupa kerikil dan kerakal diperlukan lantai dasar
bendung gerak yang tebal dan kuat untuk mengatasi gaya angkat
air (up lift) dan sebagai tumpuan bagi beban pintu yang berat.
(b) Lantai dasar rendah:

- Lantai dasar (crest) yang rendah dipilih apabila kemiringan
dasar sungai atau elevasi dasar sungai akan dipertahankan
tetap seperti semula.
- Gaya angkat air tidak terlalu besar dan pintu tidak terlalu berat
sehingga tidak memerlukan lantai atau dudukan pintu yang
tebal dan kuat.
- Peredam energi yang di pilih dapat lebih sederhana.

Peralatan penggerak atau pengatur pintu ditempatkan diatas pilar-pilar
berupa motor penggerak dan terpisah untuk tiap-tiap pintu dengan
sistim kendali (kontrol) yang terpusat pada bangunan pengendali yang
terletak tidak jauh dari lokasi bendung dan disekitar hulu bendung,
dimana pintu pintu tersebut dapat dioperasikan secara bersamaan atau
satu persatu.


4.4 Bendung Karet

4.4.1 Lebar Bendung












Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
137






Lebar bendung supaya diupayakan sama dengan lebar normal alur
sungai dan dibatasi oleh kemampuan produsen tabung karet dan
kemudahan pengangkutan bahan tabung karet ke lokasi.






Lantai
hilir

Ruang
Petugas

Pompa &
Ruang
genset

kontrol
Instrumen
otomatisasi



Tubuh


Bangunan pengambilan



Saluran pembilas
Lantai hulu



Gambar 4.34 Tata letak dan Komponen Bendung Karet



Jembatan








Lantai hulu
Pilar

Tubuh
bendung
Fondasi




Lantai hilir


Gambar 4.35 Potongan Melintang Bendung Karet


4.4.2 Perencanaan Mercu (Tabung Karet)

Secara hidrolis bendung karet harus memiliki taraf muka air yang
direncanakan dan dapat dikempiskan secara cepat bila terjadi banjir,






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
138






tinggi bendung karet umumnya tidak melebihi 5 m karena konstruksi
bendung karet dengan tinggi lebih dari 5 m sudah tidak efisiensi lagi.
Mercu bendung diletakkan pada elevasi yang diperlukan untuk pelayanan
muka air pengambilan atau didasarkan pada perhitungan bagi
penyediaan volume tampungan air dihilir bendung.


Debit limpasan pada pembendungan maksimum

Total debit limpasan pada pembendungan maksimum dihitung dengan
rumus :
Q
w
= C
w
L h
1
3/2


dengan :
Q
w
adalah debit limpasan pada pembendungan maksimum (m
3
/s) C
w

adalah koefisien limpasan (m
1/2
/s),
L adalah panjang bentang bendung (m),

h
1
adalah tinggi pembendungan maksimum (m).
Besarnya C
w
bisa didekati dengan rumus:
C
w
= 1,77 (h
1
/H) + 1,05 (untuk 0 < h
1
/H < 0,3)



Debit spesifik pada V-Notch

Debit pada V-notch dihitung dengan asumsi karet pada pusat V-notch
mengempis total, sedangkan di bagian lain masih mengembang
sempurna. Sementara itu, muka air hulu sama dengan muka air pada
pembendungan maksimum.
Besarnya debit dihitung dengan rumus:
q
V
= C
v
(H+h1)
3/2


dengan:
q
v
adalah debit spesifik pada V-notch (m
3
/s)
C
v
adalah koefisien aliran yang bisa diambil 1,38 (m
1/2
/s)








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
139






H adalah tinggi bendung (m)

h
1
adalah tinggi pembendungan maksimum (m)

q
V
= debit limpasan pada pembendungan maksimum

Aliran di luar V-Notch
qw


h1
Aliran pada V-Notch

qv
He



H
Hi




Gambar 4.36 Penampang lintang pada pusat V-notch





h1
Aliran pada V - Notch

qv
H
Aliran di luar V-Notch qw



Gambar 4.37 Tampak Depan Tabung Karet yang alami V-notch


4.4.3 Pembendungan

Pada bendung karet tinggi pembendungan harus dibatasi untuk
menghindari terjadinya:
(a) Ancaman banjir didaerah hulu

(b) Peningkatan energi terjunan yang berlebihan

(c) Vibrasi yang akan merusak tabung karet

Kedalaman air diatas mercu ditetapkan tidak melebihi 0,3 H dengan H

adalah tinggi bendung. Kedalaman air diatas mercu maksimum ini








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
140






menentukan elevasi muka air pengempisan yang merupakan batas muka
air tertinggi karena bendung karet harus sudah dikempiskan.




4.4.4Penampungan dan Pelepasan

Untuk penampungan dan pelepasan air dilakukan dengan pengisian
udara pada tabung karet sehingga terjadi pengembangan tabung karet
karena adanya pengempangan, pada bendung dengan volume
tampungan yang besar dengan debit yang relatif kecil, pengisian
tampungan memerlukan waktu yang lama untuk menghindari pelepasan
volume tampungan yang besar, pengempangan dapat dilakukan secara
bertahap.


4.4.5Peredaman Energi

Limpasan air diatas mercu bendung menimbulkan terjunan dan olakan
dihilir bendung karet yang menyebabkan terjadinya gerusan lokal.
Olakan dihilir bendung berupa loncatan air yang tempatnya dapat
diperkirakan dengan analisa hidrolis.
Loncatan air ini akan menimbulkan olakan air yang akan menggerus
dasar sungai sehingga mengakibatkan terganggunya stabilitas bendung.
Untuk menghindari gangguan ini diperlukan perlindungan dasar sungai
berupa lantai dari beton atau pasangan batu untuk meredam sisa energi
loncatan air.


4.4.6Panjang Lantai Hilir Bendung

(a) Hitungan panjang air loncat dilakukan dengan asumsi loncatan air
sempurna dengan panjang loncat air L
j
akibat peralihan dari aliran
superkritik ke aliran subkritik.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
141






L
j
= 6 (Y
i
– Y
1
)




y i
yo
y l




L s L j


Gambar 4.38 Loncat air di hilir bendung karet


Karena dasar sungai yang harus dilindungi adalah dari bendung sampai
ujung hilir air loncat maka dapat dirumuskan sebagai:
L
hi
= L
t
+ L
j
+ L
o



L o L I L I i




H


y i




L t


L j


Gambar 4.39Sketsa panjang lantai hilir untuk yi besar


(b) Kolam Loncat Air

Panjang kolam loncat air menjadi berkurang dari panjang bebas
loncatan tersebut karena adanya ambang ujung (end sill) dan
ditempatkan pada jarak:
Lj = 5 (µ + Y
2
)

di mana:



L
j
= panjang kolam, m







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
142






µ = tinggi ambang ujung, m

Y
2
= kedalaman air di atas ambang, m

4.5 Pompa

4.5.1Tata letak

Dalam pemilihan lokasi rumah/stasiun pompa harus memperhatikan
beberapa faktor-faktor penting, yaitu:
- Dapat melakukan pengambilan air secara maksimum pada muka air
rendah atau muka air tinggi.
- Air tidak mengandung banyak bahan sedimen

- Air tidak mambawa bahan hanyutan berupa sampah atau kayu

- Ada jalan masuk (akses) untuk melakukan pekerjaan
konstruksi/instalasi dan kegiatan operasi pemeliharaan ( O & P ),
- Terlindung dari banjir

- Terletak pada tanah yang stabil

- Rumah/stasiun pompa dapat dikombinasikan dengan bangunan
utama yang lain-lain seperti waduk, bendung biasa atau bendung
gerak.


4.5.2 Bangunan pelengkap pompa

(a) Bangunan hidrolis yang terdiri dari bangunan pengambilan, pintu-
pintu, kantong lumpur termasuk bangunan pembilas diperlukan
untuk mengurangi bahan endapan. Bangunan ini diperlukan
mengingat air sungai banyak mengandung sedimen membuat
pompa akan bekerja lebih berat dan mengakibatkan motor
penggerak kipas menjadi lebih cepat panas dan mudah terbakar.
(b) Pompa harus terlindung dari panas matahari dan hujan agar tidak
cepat rusak, untuk itu harus dibuat rumah pelindung atau rumah









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
143






pompa/stasiun pompa yang konstruksinya cukup kuat terhadap
getaran pompa, gempa dan tahan kebakaran.
(c) Bangunan generator diperlukan untuk meletakkan mesin generator
dan tangki bahan bakar.
(d) Gudang penyimpanan suku cadang, bahan pelumas, bahan bakar
dan generator termasuk suku cadangnya terletak tidak jauh dari
rumah pompa/stasiun pompa dan ada jalan dari gudang ke rumah
pompa untuk keperluan kemudahan operasi dan pemeliharaan ( O
& P ) pompa.



4.5.3Tenaga pompa

Tenaga yang diperlukan untuk mengangkat air dalam suatu satuan
waktu adalah:




di mana:
Q h

HP =
76

HP = tenaga kuda (Horse Power)
Q = debit, I/dt
H = gaya angkat vertikal, m

Kombinasi dengan efisiensi pompa menghasilkan:









Q h Ep


di mana:
WHP = BHP x efisiensi =
76

WHP = tenaga yang dihasilkan (tenaga air) dalam satuan tenaga kuda

(HP)

BHP = tenaga yang dipakai (penahan) dalam satuan HP
Ep = persentase efisiensi










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




4
3
144







0.80
a
8
7
0.80
6
5

h1
3.5
a
2.5
0.70
0.70



0.60


0.50
h1

a
a

1 3 5 7 9 11 13
h 1
/
a

0.60


0.50
h1
/
a = 2.5
b

0 30° 60° 90°

Gambar 4.40 Koefisien debitµ untuk permukaan pintu datar atau lengkung



Efisiensi untuk pompa yang dioperasikan dengan baik adalah sekitar 75
persen dan untuk mesin 90 persen, memberikan efisiensi total sekitar 65
persen.
Gambar 4.42 memperlihatkan berbagai tipe pompa serta karakteristik
debitnya.
Efisiensi mesin yang dipakai akan berkurang dalam hal-hal berikut (lihat

Tabel 4.3)


Tabel 4.3 Berkurangnya efisiensi mesin




1.

Untuk tiap ketinggian 300 m di atas permukaan laut

3
2. Jika temperatur pada waktu eksploitasi di atas 18
0
C 1
3. Untuk perlengkapan yang menggunakan alat penukar panas 5
4. Radiator, kipas (fan) 5
5. Untuk operasi dengan beban terus-menerus 20
6. Kehilangan tenaga pada alat transmisi (Drive losses) 0 – 15










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama







145






Kecepatan
Spesifik
Potongan
Melintang
Tipe
Pompa
Karakteristik
tinggi energi
debit

Ns =



(a) 500

rpm

gpm *)
H
3
4







Sentrifugal
(aliran
radial)






Tinggi energi
besar Debit
kecil

(b) 1000




(c) 2000


(d) 3000



(e) 5000


(f) 10.000
Francis







aliran
campuran


Aliran turbin
(aliran sumber)
Tinggi energi
dan
Debit sedang









Tinggi energi
rendah
Debit besar


*) rpm = putaran per menit
gpm = galon per menit (0,075 lt/dt)
H = angkatan ke atas/ kaki (0,3048 m)


Gambar 4.41 Variasi dalam perencanaan roda sudut (impeller), kecepatan
spesifik dan karakteristik tinggi energi-debit pompa


Tabel 4.4 memberikan jumlah kebutuhan bahan bakar maksimum untuk
sebuah instalasi pompa yang baik, yang mempunyai efisiensi pompa
sekurang-kurangnya 75%
Kapasitas pompa yang diperlukan biasanya dibagi-bagi menjadi sejumlah
pompa untuk fleksibilitas eksploitasi dan untuk menjaga jika terjadi
kerusakan atau pemeliharaan yang dijadwalkan untuk suatu unit.






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
146






Biasanya dibuat instalasi tambahan sebagai cadangan.

Tipe-tipe stasiun pompa diberikan pada Gambar 4.42


Tabel 4.4 Kebutuhan Bahan bakar Maksimum untuk stasiun pompa yang baik

Bahan

Debit bakar

Air TinggiTenaga Pro- Diesel bensin / Gas
(m
3
/hr) (m) air pane



20 7,5 4,2 2,7 3,5 350

100 50 18,510,5 6,2 8,5 860 21

70 26,0 14,7 9,0 11,7




20 11

6,2 3,7

5,2 510
150 50 28

15,7 9,5

13,0

70

39 22,0 13,5 18,2 1800




20 15 8,5 5,2 6,7
200 50 37 21,0 12,5 16,5

70 52 29,5 17,7 23,5 2400



20 19 10,7 6,5 8,5

250 50 16,5 26,5 16,0 21,0

70 65 36,7 22,2 20,2















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
Gambar 4.32 Tipe - tipe stasiun pompa tinggi energi rendah






147







Peralatan
pembersih
kisi-kisi
penyaring

kisi-kisi
penyaring Motor




Balok pengangkat
Katup


Saluran


Pipa tekan


Pompa









Motor
Saluran
Gir siku



Pintu katup

Motor

Saluran



Pompa Pompa



Gambar 4.42Tipe-tipe stasiun pompa tinggi energi rendah


Bendung Saringan Bawah

Tata letak

Bendung saringan bawah atau bendung Tyroller (lihat Gambar 4.43)
dapat direncana dengan berhasil di sungai yang kemiringan
memanjangnya curam, mengangkut bahan-bahan berukuran besar dan
memerlukan bangunan dengan elevasi rendah.
Dalam perencanaannya hal-hal berikut hendaknya dipertimbangkan:

1) Bendung saringan bawah tidak cocok untuk sungai yang fluktuasi
bahan angkutannya besar. Sungai di daerah-daerah gunung api
muda dapat mempunyai agradasi dan degradasi yang besar dalam
jangka waktu singkat.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama








148






2) Dasar sungai yang rawan gerusan memerlukan pondasi yang cukup
dalam.
3) Bendung harus direncana dengan seksama agar aman terhadap
rembesan.
4) Konstruksi saringan hendaknya dibuat sederhana, tahan benturan
batu dan mudah dibersihkan jika tersumbat.
5) Bangunan harus dilengkapi dengan kantong lumpur/pengelak
sedimen yang cocok dengan kapasitas tampung memadai dan
kecepatan aliran cukup untuk membilas partikel, satu di depan pintu
pengambilan dan satu di awal primer.
6) Harus dibuat pelimpah yang cocok di saluran primer untuk menjaga
jika terjadi kelebihan air.




Pintu pengambilan



Saluran primer





Pintu darurat
Saluran dengan
baja batangan
di bagian atas


Bangunan pembilas








Gambar 4.43 Tipe-tipe tata letak bendung saringan bawah












Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


149






Perencanaan saringan dan saluran akan didasarkan pada kebutuhan
pengambilan serta kecepatan yang dibutuhkan untuk mencegah
masuknya sedimen ke dalam saluran bertekanan.
Panjang saringan ke arah aliran di sungai yang diperlukan untuk
mengelakkan air dalam jumlah tertentu per meter lebar bendung,
ditentukan dengan rumus di bawah ini (lihat Gambar 4.34). Rumus ini
dijabarkan dengan mengandaikan garis energi horisontal di atas saringan
dan permukaan air eliptik.

L = 2.561

9
q
0
ì h
1


di mana: L = panjang kerja saringan ke arah aliran, m
q = debit per meter lebar, m
3
/dt.m

ì = P µ 2g cos θ

P = n/m (untuk n dan m lihat Gambar 4.34)

µ = 0,66 P-
0,16
(
m
)
0,13
unt 0,3 <
m
< 5,0

h
1
h
1


g = percepatan gravitasi, m/dt (≈ 9,8)

θ = kemiringan saringan, derajat
h
1
= c. 2/3 H
H= kedalaman energi di hulu saringan, m.

Untuk c lihat Tabel 4.5.




















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
meli
2


L
l
150






garis energi



H
q
n
h1




Q potongan
m
ntang
jeruji kisi-kisi
penyaring


Gambar 4.44 Hidrolika saringan bawah


Tabel 4.5 Harga-harga c yang bergantung kepada kemiringan saringan (Frank)

θ
0

0

2

4

6

8

10

12



Debit dalam saluran bertekanan, dapat dijelaskan dengan rumus berikut

(lihat Gambar 4.35)

I
s
÷ I
e
÷
dh


Q
gA
2

= · q

dx
(1 ÷
Q
·
dA
)

gA
3
dh

yang menghasilkan:









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


151






2 2 2 2
∆h = h
2
– h
1
= (I
s
– I
e
) ∆x -
9
Q
2
÷ Q
1
-

A + A
2

2 g
1 2

2
9
v
2
÷ v
1
2g

Kecepatan minimum dalam saluran bertekanan dapat ditemukan dari
diameter maksimum sedimen yang akan dibiarkan bergerak (rumus
didasarkan pada r
cr
= 0,047d, Meyer-Peter):
v
2
≥ 32 (
h
)
1/3
d

d

v = kecepatan, m/dt h
= kedalaman air, m d
= diameter butir, m







Q1=A1.V1
q
1 2

Ie
Iw

h1



Ie.Ax

Ah = h2-h1

Is.A x o
.

h2
Is
Q2=A2.V2


x A X = X2 - X1

X1 X2

Gambar 4.45 Aliran bertekanan




Kemiringan yang termasuk dalam kecepatan ini adalah:

d
9 / 7

I = 0.20
q
6 / 7


di mana:

I = kemiringan energi, m/m
d = diameter butir, m
q = v.h,m
3
/dt.m







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
152






v = kecepatan aliran, m/dt

h = kedalaman air, m.



4.6.2Bangunan Pelengkap Bendung Saringan Bawah

Mengingat bendung ini cocok dibangun disungai dengan kemiringan
memanjang yang curam, maka tubuh bendung harus kuat dan stabil
mengatasi tekanan sedimen ukuran besar seperti pasir, kerakal dan
tekanan hidrodinamis air yang besar akibat kecepatan tinggi yang
mendekati kecepatan kritis. Untuk itu diperlukan pondasi yang dalam dan
kuat.
(a) Untuk menghindari masuknya sedimen ke dalam saluran, perlu
dilengkapi kantong lumpur pada bangunan utama. Mengingat
banyaknya sedimen dari ukuran besar sampai kecil sebaiknya
dilakukan dua kali pengurasan. Satu penguras di depan
pengambilan dan satu di awal saluran primer. Dengan cara seperti
ini diharapkan kandungan sedimen dalam air yang mengalir di
jaringan irigasi melalui seperti saluran induk menjadi minimal.
(b) Tembok pangkal bendung pada kedua sisi harus kokoh karena
berfungsi sebagai pemegang tubuh bendung dari tekanan air yang
kuat dan juga berfungsi sebagai tembok penahan tebing dari
kelongsoran.
(c) Jeruji besi harus dilas pada dudukan plat besi yang dijangkar

(angker) dengan kedalaman minimal 40 cm dengan ujung jangkar
dibengkokkan minimal 5 cm. Jeruji besi dipilih dari profil besi baja
I, dan atau H, dengan kekakuan cukup sehingga tidak mudah
melendut.
(d) Pintu pengambilan dan pintu penguras harus cukup kuat menahan

tekanan sedimen serta mudah pengoperasiannya dan tidak bocor.








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
153








4.7 Pengambilan Bebas

Pengambilan dibuat di tempat yang tepat sehingga dapat mengambil air
dengan baik dan sedapat mungkin menghindari masuknya sedimen.
Terlepas dari pemilihan lokasi pengambilan yang benar di sungai,
masuknya sedimen dipengaruhi oleh sudut antara pengambilan dan
sungai, penggunaan dan ketinggian ambang penahan sedimen
(skimming wall), kecepatan aliran masuk dan sebagainya.

Gambar 4.46 menunjukkan sebagian dari penyelidikan model yang
dilakukan oleh Habermaas yang memperlihatkan pengaruh situasi-jari-
jari tikungan sungai, derajat tikungan, posisi pengambilan-terhadap
pembagian sedimen layang pada pengambilan dan sungai.
250 50



100

pengambilan



78%




100
50



50%
22 22%
50%


100
62



100
39
38%


62%
100
95



100


5%
95%


89%
11% 0%
100%


Gambar 4.46 Penyelidikan model Habermaas, yang memperlihatkan
banyaknya sedimen yang masuk ke dalam pengambilan
















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama











154






v1 2/2g
Tinggi muka air untuk
aliran tenggelam
Aliran tak tenggelam



sungai H1 h1

a
pengambilan


h2
h2


Gambar 4.47 Pintu aliran bawah


1.0


0.8


0.6


0.4


0.2


0
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
h2/a

Gambar 4.48 Koefisien K untuk debit tenggelam (dari Schmidt)


Agar mampu mengatasi tinggi muka air yang berubah-ubah di sungai,
pengambilan harus direncanakan sebagai pintu aliran bawah. Rumus
debit yang dapat dipakai adalah (lihat Gambar 4.28):



di mana:
Q = K µ a B 2gh
1


Q = debit, m
3
/dt

K = faktor untuk aliran tenggelam (lihat Gbr. 4.29)

µ = koefisiensi debit (lihat Gambar 4.30)

a = bukaan pintu, m







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
155






B = lebar pintu, m
g = percepatan gravitasi, m/dt
2
(~ 9,8)

h
1
= kedalaman air di depan pintu di atas ambang,m

Pengambilan bebas sebaiknya diseliki dengan model agar pengambilan
itu dapat ditempatkan di lokasi yang tepat supaya jumlah sedimen yang
masuk dapat diusahakan sesedikit mungkin.



















































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
156






5 BANGUNAN PENGAMBILAN DAN PEMBILAS



5.1 Tata letak

Bangunan pengambilan berfungsi untuk mengelakkan air dari sungai
dalam jumlah yang diinginkan dan bangunan pembilas berfungsi untuk
mengurangi sebanyak mungkin benda-benda terapung dan fraksi-fraksi
sedimen kasar yang masuk ke jaringan saluran irigasi.
Pengambilan sebaiknya dibuat sedekat mungkin dengan pembilas dan as
bendung atau bendung gerak.
Lebih disukai jika pengambilan ditempatkan di ujung tikungan luar
sungai atau pada ruas luar guna memperkecil masuknya sedimen.
Bila dengan bendung pelimpah air harus diambil untuk irigasi di kedua
sisi sungai, maka pengambilan untuk satu sisi (kalau tidak terlalu besar)
bisa dibuat pada pilar pembilas, dan airnya dapat dialirkan melalui siphon
dalam tubuh bendung ke sisi lainnya (lihat juga Gambar 1.3).
Dalam kasus lain, bendung dapat dibuat dengan pengambilan dan
pembilas di kedua sisi.
Kadang-kadang tata letak akan dipengaruhi oleh kebutuhan akan
jembatan. Dalam hal ini mungkin kita terpaksa menyimpang dari kriteria
yang telah ditetapkan.
Adalah penting untuk merencanakan dinding sayap dan dinding
pengarah, sedemikian rupa sehingga dapat sebanyak mungkin dihindari
dan aliran menjadi mulus (lihat juga Gambar 4.14). Pada umumnya ini
berarti bahwa lengkung-lengkung dapat diterapkan dengan jari-jari
minimum ½ kali kedalaman air.


5.2 Bangunan Pengambilan










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


157






Pembilas pengambilan dilengkapi dengan pintu dan bagian depannya
terbuka untuk menjaga jika terjadi muka air tinggi selama banjir,
besarnya bukaan pintu bergantung kepada kecepatan aliran masuk yang
diizinkan. Kecepatan ini bergantung kepada ukuran butir bahan yang
dapat diangkut.
Kapasitas pengambilan harus sekurang-kurangnya 120% dari kebutuhan
pengambilan (dimension requirement) guna menambah fleksibilitas dan
agar dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi selama umur proyek.
Rumus dibawah ini memberikan perkiraan kecepatan yang dimaksud:
v
2
≥ 32 (
h
)
1/3
d

d

di mana:

v : kecepatan rata-rata, m/dt
h : kedalaman air, m
d : diameter butir, m

Dalam kondisi biasa, rumus ini dapat disederhanakan menjadi:
v ≈ 10 d
0.5


Dengan kecepatan masuk sebesar 1,0 – 2,0 m/dt yang merupakan
besaran perencanaan normal, dapat diharapkan bahwa butir-butir
berdiameter 0,01 sampai 0,04 m dapat masuk.
Q = µ b a 2gz

di mana: Q = debit, m
3
/dt

µ = koefisiensi debit: untuk bukaan di bawah permukaan air
dengan
kehilangan tinggi energi, µ = 0,80

b = lebar bukaan, m
a = tinggi bukaan, m
g = percepatan gravitasi, m/dt
2
(≈ 9,8)







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
158






z = kehilangan tinggi energi pada bukaan, m

Gambar 5.1 menyajikan dua tipe pintu pengambilan.

p ~ 0.50 - 1.50 m
d ~ 0.15 - 0.25 m
z ~ 0.15 - 0.30 m
n
~
0.05 m
t
~
0.10 m

z
t
z
n



a
h
a
h

d d

p p
a b


Gambar 5.1 Tipe pintu pengambilan


Bila pintu pengambilan dipasangi pintu radial, maka µ = 0,80 jika ujung
pintu bawah tenggelam 20 cm di bawah muka air hulu dan kehilangan
energi sekitar 10 cm.
Untuk yang tidak tenggelam, dapat dipakai rumus-rumus dan grafik-
grafik yang diberikan pada pasal 4.4.
Elevasi mercu bendung direncana 0,10 di atas elevasi pengambilan yang
dibutuhkan untuk mencegah kehilangan air pada bendung akibat
gelombang.
Elevasi ambang bangunan pengambilan ditentukan dari tinggi dasar
sungai. Ambang direncana di atas dasar dengan ketentuan berikut:
- 0,50 m jika sungai hanya mengangkut lanau

- 1,00 m bila sungai juga mengangkut pasir dan kerikil

- 1,50 m kalau sungai mengangkut batu-batu bongkah.

Harga-harga itu hanya dipakai untuk pengambilan yang digabung
dengan pembilas terbuka; jika direncana pembilas bawah, maka kriteria






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
159






ini tergantung pada ukuran saluran pembilas bawah. Dalam hal ini
umumnya ambang pengambilan direncanakan 0 < p < 20 cm di atas
ujung penutup saluran pembilas bawah.
Bila pengambilan mempunyai bukaan lebih dari satu, maka pilar
sebaiknya dimundurkan untuk menciptakan kondisi aliran masuk yang
lebih mulus (lihat Gambar 5.2).


R

R=0.5h R=0.5h






Gambar 5.2 Geometri bangunan pengambilan


Pengambilan hendaknya selalu dilengkapi dengan sponeng skot balok di
kedua sisi pintu, agar pintu itu dapat dikeringkan untuk keperluan-
keperluan pemeliharaan dan perbaikan.
Guna mencegah masuknya benda-benda hanyut, puncak bukaan
direncanakan di bawah muka air hulu. Jika bukaan berada di atas muka
air, maka harus dipakai kisi-kisi penyaring. Kisi-kisi penyaring direncana
dengan rumus berikut:
Kehilangan tinggi energi melalui saringan adalah:

v
2

H
f
= c
2 g

s

di mana: c = β ( )
4/3
sin o
b

di mana: h
f
= kehilangan tinggi energi

v = kecepatan dating (approach velocity)
g = percepatan gravitasi m/dt
2
(≈ 9,8)







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




160






c = koefisien yang bergantung kepada:

β = faktor bentuk (lihat gambar 5.3)

s = tebal jeruji, m

L = panjang jeruji, m (lihat Gambar 5.3)

b = jarak bersih antar jeruji b ( b > 50 mm), m
o = sudut kemiringan dari horisontal, dalam derajat.

s s b s


s
L (l/s = 5)
s b s


| = 2.24 | = 1.8

Gambar 5.3 Bentuk – bentuk jeruji kisi-kisi penyaring dan harga – harga |


5.3 Pembilas

Lantai pembilas merupakan kantong tempat mengendapnya bahan-
bahan kasar di depan pembilas pengambilan. Sedimen yang terkumpul
dapat dibilas dengan jalan membuka pintu pembilas secara berkala guna
menciptakan aliran terkonsentrasi tepat di depan pengambilan.
Pengalaman yang diperoleh dari banyak bendung dan pembilas yang
sudah dibangun, telah menghasilkan beberapa pedoman menentukan
lebar pembilas:
- lebar pembilas ditambah tebal pilar pembagi sebaiknya sama dengan

1/6 – 1/10 dari lebar bersih bendung (jarak antara pangkal-
pangkalnya), untuk sungai-sungai yang lebarnya kurang dari 100 m.
- lebar pembilas sebaiknya diambil 60% dari lebar total pengambilan
termasuk pilar-pilarnya.
Juga untuk panjang dinding pemisah, dapat diberikan harga empiris.
Dalam hal ini sudut a pada Gambar 5.4 sebaiknya diambil sekitar 60
0
sampai 70
0
.






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


161










W



Tinggi tanggul
Tinggi tanggul



~ 0.6 w




As Bendung



Gambar 5.4 Geometri pembilas


Pintu pada pembilas dapat direncana dengan bagian depan terbuka atau
tertutup (lihat juga Gambar 5.11)
Pintu dengan bagian depan terbuka memiliki keuntungan-keuntungan
berikut:
- ikut mengatur kapasitas debit bendung, karena air dapat mengalir
melalui pintu-pintu yang tertutup selama banjir.
- pembuangan benda-benda terapung lebih mudah, khususnya bila
pintu dibuat dalam dua bagian dan bagian atas dapat diturunkan
(lihat juga Gambar 5.13c).
Kelemahan-kelemahannya:
- sedimen akan terangkut ke pembilas selama banjir; hal ini bisa
menimbulkan masalah, apalagi kalau sungai mengangkut banyak
bongkah. Bongkah-bongkah ini dapat menumpuk di depan pembilas
dan sulit disingkirkan.
- benda-benda hanyut bisa merusakkan pintu.










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




162






- karena debit di sungai lebih besar daripada debit di pengambilan,
maka air akan mengalir melalui pintu pembilas; dengan demikian
kecepatan menjadi lebih tinggi dan membawa lebih banyak sedimen.
Sekarang kebanyakan pembilas direncana dengan bagian depan tebuka.
Jika bongkah yang terangkut banyak, kadang-kadang lebih
menguntungkan untuk merencanakan pembilas samping (shunt sluice),
lihat Gambar 5.5. Pembilas tipe ini terletak di luar bentang bersih
bendung dan tidak menjadi penghalang jika terjadi banjir.











Saluran Primer

Alat Ukur














Gambar 5.5 Pembilas samping


Bagian atas pemisah berada di atas muka air selama pembilasan
berlangsung. Untuk menemukan elevasi ini, eksploitasi pembilas tersebut
harus dipelajari. Selama eksploitasi biasa dengan pintu pengambilan
terbuka, pintu pembilas secara berganti-ganti akan dibuka dan ditutup
untuk mencegah penyumbatan.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




163






Pada waktu mulai banjir pintu pengambilan akan ditutup (tinggi muka air
sekitar 0,50 m sampai 1,0 m di atas mercu dan terus bertambah), pintu
pembilas akan dibiarkan tetap tertutup. Pada saat muka air surut kembali
menjadi 0,50 sampai 1,0 m di atas mercu dan terus menurun, pintu
pengambilan tetap tertutup dan pintu pembilas dibuka untuk
menggelontor sedimen.
Karena tidak ada air yang boleh mengalir di atas dinding pemisah selama
pembilasan (sebab aliran ini akan mengganggu), maka elevasi dinding
tersebut sebaiknya diambil 0,50 atau 1,0 m di atas tinggi mercu.
Jika pembilasan harus didasarkan pada debit tertentu di sungai yang
masih cukup untuk itu muka dinding pemisah, dapat ditentukan dari
Gambar 5.6.
Biasanya lantai pembilas pada pada kedalaman rata-rata sungai. Namun
demikian, jika hal ini berarti terlalu dekat dengan ambang pengambilan,
maka lantai itu dapat ditempatkan lebih rendah asal pembilasan dicek
sehubungan dengan muka air hilir (tinggi energi yang tersedia untuk
menciptakan kecepatan yang diperlukan).


Kurve debit
pembilas
Kurve deb
O
it
O
ben
O
d
.
ung


mercu bendung
Qw

tinggi dinding pemisah



mercu bendung

dinding pembilas
(d.p)
Qs
d.p
Q1
debit banjir

Gambar 5.6 Metode menemukan tinggi dinding pemisah


5.4 Pembilas bawah







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
164






Pembilas bawah direncana untuk mencegah masuknya angkutan
sedimen dasar fraksi pasir yang lebih kasar ke dalam pengambilan.
“Mulut” pembilas bawah ditempatkan di hulu pengambilan di mana ujung
penutup pembilas membagi air menjadi dua lapisan: lapisan atas
mengalir ke pengambilan dan lapisan bawah mengalir melalui saluran
pembilas bawah lewat bendung (lihat Gambar 5.7)
Pintu di ujung pembilas bawah akan tetap terbuka selama aliran air
rendah pada musim kemarau pintu pembilas tetap ditutup agar air tidak
mengalir. Untuk membilas kandungan sedimen dan agar pintu tidak
tersumbat, pintu tersebut akan dibuka setiap hari selama kurang lebih 60
menit.
Apabila benda-benda hanyut mengganggu eksploitasi pintu pembilas
sebaiknya di pertimbangkan untuk membuat pembilas dengan dua buah
pintu, di mana pintu atas dapat diturunkan agar benda-benda hanyut
dapat lewat (lihat juga Gambar 5.13c).

































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama










165









Saluran primer
Aliran ke pengambilan
Aliran melalui pembilas bawah


B






A A



DENAH
Penutup atas
pembilas bawah
B




Satu pintu bilas
Sponeng untuk
Skat balok


Pembilas bawah

POTONGAN A - A ( 1 )





Mercu
bendung
Dua pintu bilas







POTONGAN B - B ( 2 )

Gambar 5.7 Pembilas bawah
POTONGAN A - A ( 2 )











Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
166






Jika kehilangan tinggi energi bangunan pembilas kecil, maka hanya
diperlukan satu pintu, dan jika dibuka pintu tersebut akan memberikan
kehilangan tinggi energi yang lebih besar di bangunan pembilas.
Bagian depan pembilas bawah biasanya direncana di bawah sudut
dengan bagian depan pengambilan.
Dimensi-dimensi dasar pembilas bawah adalah:

- tinggi saluran pembilas bawah hendaknya lebih besar dari 1,5 kali
diameter terbesar sedimen dasar di sungai
- tinggi saluran pembilas bawah sekurang-kurangnya 1,0 m,

- tinggi sebaiknya diambil 1/3 sampai 1/4 dari kedalaman air di depan
pengambilan selama debit normal.
Dimensi rata-rata dari pembilas bawah yang direncanakan dan dibangun
berkisar dari:
- 5 sampai 20 m untuk panjang saluran pembilas bawah

- 1 sampai 2 m untuk panjang tinggi saluran pembilas bawah

- 0,20 sampai 0,35 m untuk tebal beton bertulang.

Luas saluran pembilas bawah (lebar kali tinggi) harus sedemikian rupa
sehingga kecepatan minimum dapat dijaga (v = 1,0 – 1,5 m/dt). Tata
letak saluran pembilas bawah harus direncana dengan hati-hati untuk
menghindari sudut mati (dead corner) dengan kemungkinan terjadinya
sedimentasi atau terganggunya aliran.
Sifat tahan gerusan dari bahan dipakai untuk lining saluran pembilas
bawah membatasi kecepatan maximum yang diizinkan dalam saluran
bawah, tetapi kecepatan minimum bergantung kepada ukuran butir
sedimen yang akan dibiarkan tetap bergerak.
Karena adanya kemungkinan terjadinya pusaran udara, di bawah
penutup atas saluran pembilas bawah dapat terbentuk kavitasi, lihat









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




167






Gambar 5.8. Oleh karena itu, pelat baja bertulang harus dihitung
sehubungan dengan beton yang ditahannya.





pusaran air pusaran air








Gambar 5.8 Pusaran (vortex) dan kantong udara di bawah penutup atas saluran
pembilas bawah




5.5 Pintu

5.5.1Umum

Dalam merencanakan pintu, faktor-faktor berikut harus dipertimbangkan:

- berbagai beban yang bekerja pada pintu

- alat pengangkat: - tenaga mesin



- kedap air dan sekat

- bahan bangunan

(1) Pembebanan pintu

- tenaga manusia

Pada pintu sorong tekanan air diteruskan ke sponeng, dan pada pintu
radial ke bantalan pusat. Pintu sorong kayu direncana sedemikian rupa
sehingga masing-masing balok kayu mampu menahan beban dan
meneruskannya ke sponeng; untuk pintu sorong baja, gaya tersebut
harus dibawa oleh balok. Lihat Gambar 5.9.











Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


168








pintu sorong

1/n
rencana jarak
balok untuk
pintu plat baja


1/n

l

1/n




pintu
radial
1/n


Gambar 5.9 Gaya – gaya yang bekerja pada pintu


(2) Alat pengangkat

Alat pengangkat dengan stang biasanya dipakai untuk pintu-pintu lebih
kecil. Untuk pintu-pintu yang dapat menutup sendiri, karena digunakan
rantai berat sendiri atau kabel baja tegangan tinggi.
Pemilihan tenaga manusia atau mesin bergantung pada ukuran dan
berat pintu, tersedianya tenaga listrik, waktu eksploitasi, mudah/tidaknya
eksploitasi pertimbangan-pertimbangan ekonomis.
(3) Kedap air

Umumnya pintu sorong memperoleh kekedapannya dari pelat perunggu
yang dipasang pada pintu. Pelat-pelat ini juga di pasang untuk
mengurangi gesekan. Jika pintu sorong harus dibuat kedap sama sekali,
maka sekat atasnya juga dapat dibuat dari perunggu. Sekat dasarnya
bisa dibuat dari kayu atau karet.
Pintu sorong dan radial dari baja menggunakan sekat karet tipe modern
seperti ditunjukkan pada Gambar 5.10.












Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama






169







pintu pelai karet
pada bangunan
pelat karet
pada pintu


karet

pintu



bentuk asli
pelat karet
pelat baja
di dasar bangunan pintu



Gambar 5.10 Sekat air dari karet untuk bagian samping (A), dasar (B) dan atas
(C) pada pintu baja


(4) Bahan bangunan

Pintu yang dipakai untuk pengambilan dan pembilas dibuat dari kayu
dengan kerangka (mounting) baja, atau dibuat dari pelat baja yang
diperkuat dengan gelagar baja. Pelat-pelat perunggu dipasang pada
pintu untuk mengurangi gesekan di antara pintu dengan sponengnya.
Pintu berukuran kecil jarang memerlukan rol.


5.5.2 Pintu pengambilan

Biasanya pintu pengambilan adalah pintu sorong kayu sederhana (lihat
Gambar 5.11). Bila di daerah yang bersangkutan harga kayu mahal,
maka dapat dipakai baja.
Jika air di depan pintu sangat dalam, maka eksploitasi pintu sorong
mungkin sulit. Kalau demikian halnya, pintu radial atau segmen akan
lebih baik (lihat Gambar 5.12).

















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama



Bagian
epan
re buka



170






I Pintu kayu dengan sekat
samping dan atas ( perunggu )
II Pintu baja dengan sekat
samping dan dasar ( kayu keras )



C - C



D B
A
d
Bagian
C
t

depan
tertutu
p



B B
D D
T


A
C


Gambar 5.11 Tipe – tipe pintu pengambilan: pintu sorong kayu dan baja







rantai atau
kabel pengangkat

















Gambar 5.12 Pintu pengambilan tipe radial











Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
p 1
171






5.5.3Pintu bilas

Ada bermacam-macam pintu bilas yang bisa digunakan, yakni:

- satu pintu tanpa pelimpah (bagian depan tertutup, lihat Gambar 5.13

a)

- satu pintu dengan pelimpah (bagian depan terbuka, lihat Gambar

5.13 b)

- dua pintu, biasanya hanya dengan pelimpah (lihat Gambar 5.13 c)

- pintu radial dengan katup agar dapat membilas benda-benda
terapung (lihat Gambar 5.13 d)
Apabila selama banjir aliran air akan lewat di atas pintu, maka bagian
atas pintu harus direncana sedemikian rupa, sehingga tidak ada getaran
dan tirai luapannya harus diaerasi secukupnya. (lihat Gambar 5.14). Dimensi
kebutuhan aerasi dapat diperkirakan dengan pertolongan rumus berikut:




di mana:

q
udara
= 0.1
f
q
air
y / h
1.5

q
udara
= udara yang diperlukan untuk aerasi per m‟ lebar pintu, m
3
/dt
q
air
= debit di atas pintu, m
3
/dt.m
y
p
= kedalaman air di atas tirai luapan, m
h
1
= kedalaman air di atas pintu, m





















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


satu pi
bagian

Pembilas
bawah



satu pint
bagian d

Pembilas
bawah

172










ntu kayu dan
depan tertutup
u kayu dan
epan terbuka





A B











Pembilas
bawah



pintu atas dapat diturunkan
untuk menghanyutkan
benda-benda hanyut
dua pintu kayu
pintu bawah dapat diangkat
untuk pembilas
bagian atas dapat
digerakkan guna
menghanyutkan
benda-benda hanyut





pintu radial

C D


Gambar 5.13 Tipe – tipe pintu bilas


Untuk menemukan dimensi pipa, kecepatan udara maksimum di dalam
pipa boleh diambil 40-50 m/dt.
Stang pengangkat dari pintu dengan bagian depan terbuka, ditempatkan

di luar bukaan bersih (di dalam sponeng) guna melindunginya dari
benda-benda terapung.

Ventilasi
aerasi aliran di bagian
depan pintu yang terbuka

h1





yp




Gambar 5.14 Aerasi pintu sorong yang terendam






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
173






6 PERENCANAAN BANGUNAN


6.1 Umum
Sifat-sifat bahan bangunan diuraikan dalam KP – 06 Parameter
Bangunan.
Penggunaan bahan khusus serta analisis stabilitas bangunan utama akan
dibicarakan dalam bab ini.


6.2 Penggunaan bahan Khusus
6.2.1Lindungan permukaan
Tipe dan ukuran sedimen yang diangkut oleh sungai akan mempengaruhi
pemilihan bahan yang akan dipakai untuk membuat permukaan
bangunan yang langsung bersentuhan dengan aliran air. Ada tiga tipe
bahan yang bisa dipakai untuk melindungi bangunan terhadap gerusan
(abrasi), yakni:

- Batu Candi, yakni pasangan batu keras alamiah yang dibuat bentuk
blok-blok segi empat atau persegi dan dipasang rapat-rapat.
Pasangan batu tipe ini telah terbukti sangat tahan abrasi dan dipakai
pada banyak bendung yang terkena abrasi keras.
Bila tersedia batu-batu keras yang berkualitas baik, seperti andesit,
basal, diabase, diorit, gabro, granit atau grano-diorit, maka
dianjurkan untuk membuat permukaan dari bahan ini pada
permukaan bendung yang dibangun di sungai-sungai yang
mengangkut sedimen abrasif (berdaya gerus kuat).
- Beton, jika direncana dengan baik dan dipakai di tempat yang benar,
merupakan bahan lindungan yang baik pula, beton yang dipakai
untuk lindungan permukaan sebaiknya mengandung agregat
berukuran kecil, bergradasi baik dan berkekuatan tinggi.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


174






- Baja, kadang-kadang dipakai di tempat yang terkena hempasan
berat oleh air yang mengandung banyak sedimen. Khususnya blok
halang di kolam olak dan lantai tepat di bawah pintu dapat dilindungi
dengan pelat-pelat baja.
Pada kolam olak tipe bak tenggelam, kadang-kadang dipakai rel baja
guna melindungi bak terhadap benturan batu-batu bongkah.


6.2.2 Lindungan dari pasangan batu kosong

Pasangan batu kosong (rip-rap) dipakai sebagai selimut lindung bagi
tanah asli (dasar sungai) tepat di hilir bangunan.
Batu yang dipakai untuk pasangan batu kosong harus keras, padat dan
awet, serta berberat jenis 2,4.
Panjang lindungan dari pasangan batu kosong sebaiknya diambil 4 kali
kedalaman lubang gerusan lokal, dihitung dengan rumus empiris.
Rumus ini adalah rumus empiris Lacey untuk menghitung kedalaman
lubang gerusan:
R = 0,47 (
Q
)
1 / 3

f

di mana: R = kedalaman gerusan dibawah permukaan air banjir, m
Q = debit, m
3
/dt

f = faktor lumpur Lacey
f = 1,76 D
m
0,5

D
m
= Diameter nilai tengah (mean) untuk bahan jelek, mm

Untuk menghitung turbulensi dan aliran yang tidak stabil, R ditambah 1,5

nya lagi (data empiris).

Tebal lapisan pasangan batu kosong sebaiknya diambil 2 sampai 3 kali
d
40
, dicari dari kecepatan rata-rata aliran dengan bantuan Gambar 6.1.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
175






Gambar 6.1 dapat dipakai untuk menentukan d
40
dari campuran
pasangan batu kosong dari kecepatan rata-rata selama terjadi debit
rencana di atas ambang bangunan. d
40
dari campuran berarti bahwa
60% dari campuran ini sama diameternya atau lebih besar. Ukuran batu

hendaknya hampir serupa ke semua arah.



diameter butir d40 dalam meter
0.0001 0.0005 0.001 0.005 0.01 0.05 0.1 0.4
10.0
8.0
6.0

4.0


2.0


1.0
0.8
0.6

0.4


0.2


0.1

0.000001 0.00001 0.0001 0.001 0.01 0.1 1.0 10 100
berat butir dalam kg

Gambar 6.1 Grafik untuk perencanaan ukuran pasangan batu kosong


6.2.3 Filter

Filter (saringan) berfungsi mencegah hilangnya bahan dasar halus
melalui bangunan lindung. Filter harus ditempatkan antara pasangan
batu kosong dan tanah bawah atau antara pembuang dan tanah bawah.
Ada tiga tipe filter yang bisa dipakai:
- filter kerikil-pasir yang digradasi

- kain filter sintetis

- ijuk.

Di sini akan dijelaskan pembagian butir filter.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama






176






Kain filter sintetis makin mudah didapat dan kalau direncanakan dengan
baik bisa memberi keuntungan-keuntungan ekonomis.
Mereka yang akan memakai kriteria ini dianjurkan untuk mempelajari
brosur perencanaan dari pabrik.
Penggunaan ijuk biasanya terbatas pada lubang pembuang di dinding
penahan. Pemakaiannya di bawah pasangan batu kosong dan pada
pembuang-pembuang besar, belum didukung oleh kepustakaan yang
ada; jadi sebaiknya tidak dipraktekkan.
Aliran air
Lindungan
terhadap
erosi

saringan


Pas. batu kosong


Kerikil

Kerikil halus


3

Konstruksi
lindung
2

1

Bahan asli Tanah dasar

Gambar 6.2 Contoh filter antara pasangan batu kosong dan bahan asli (tanah
dasar)


Filter yang digradasi (lihat Gambar 6.2) hendaknya direncana menurut
aturan-aturan berikut:
(1) *Kelulusan tanah (USBR,1973):

d lapisan 3


d lapisan 2


d lapisan 1

15
,
d
15
lapisan 2

15
,
d
15
lapisan 1

15
= 5 sampai 40
d
15
tan ah dasar


Perbandingan 5 – 40 seperti yang disebutkan di atas dirinci lagi sebagai
berikut:
(a) butir bulat homogen (kerikil) 5 – 10

(b) butir runcing homogen (pecahan kerikil, batu) 6 – 20

(c) butir bergradasi baik 12 – 40







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
(1) pasir, kerikil halus 0,05 sampai 0,10 m
(2) kerikil 0,10 sampai 0,20 m
(3) batu 1,5 sampai 2 kali

yang lebih besar.

177






(2) *Stabilitas, perbandingan d
15
/d
85
(Bertram, 1940):

d lapisan 3


d lapisan 2


d lapisan 1

15
,
d
85
lapisan 2

15
,
d
85
lapisan 1

15
s 5
d
85
tan ah dasar


d lapisan 3

d lapisan 2

d lapisan 1

50
,
d
50
lapisan 2

50
,
d
50
lapisan 1

50
= 5 sampai 60
d
50
tan ah dasar






dengan:

(a) butir bulat homogen (kerikil) 5 – 10

(b) butir runcing homogen (pecahan kerikil, batu) 10 – 30

(c) butir bergradasi baik 12 – 60

Agar filter tidak tersumbat, maka d
5
harus sama atau lebih besar dari

0,75 mm untuk semua lapisan filter.

Tebal minimum untuk filter yang dibuat di bawah kondisi kering adalah:





diameter batu



Bila filter harus ditempatkan di bawah air, maka harga-harga ini

sebaiknya ditambah 1,5 sampai 2 kali.



6.2.4Bronjong

Bronjong dibuat di lapangan, berbentuk bak dari jala-jala kawat yang
diisi dengan batu yang cocok ukurannya. Matras jala-jala kawat ini
diperkuat dengan kawat-kawat besar atau baja tulangan pada ujung-
ujungnya. Ukuran yang biasa adalah 2 m x 1 m x 0,5 m. Bak-bak yang
terpisah-pisah ini kemudian diikat bersama-sama untuk membentuk satu
konstruksi yang homogen.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama






178






Bronjong tidak boleh digunakan untuk bagian-bagian permanen dari
bangunan utama; bronjong hanya boleh dipakai untuk pekerjaan-
pekerjaan pengatur sungai di hulu atau hilir bangunan bendung dari batu
atau beton.
Keuntungan menggunakan bronjong adalah:

- kemungkinan membuat lindungan berat dengan batu-batu yang
berukuran lebih kecil dan lebih murah.
- fleksibilitas konstruksi tersebut untuk dapat mengikuti tinggi
permukaan yang terkena erosi.
Untuk mencegah agar tidak ada bahan pondasi yang hilang, di antara
tanah dasar dan lindungan dari bronjong harus selalu diberi filter yang
memadai. Ijuk adalah saringan yang baik dan dapat ditempatkan di
bawah semua bronjong.
Pada Gambar 6.3 disajikan detail bronjong.



200 - 300 cm



100 - 200 cm
50







Matras - batu
Bronjong


Penggerusan


Saringan dari ijuk atau pasir

Gambar 6.3 Detail bronjong








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
179






6.3 Bahan Pondasi
Metode untuk menghitung besarnya daya dukung (bearing pressure)
serta harga-harga perkiraan diberikan dalam KP - 06 Parameter
Bangunan.
Parameter bahan seperti sudut gesekan dalam dan kohesi untuk bahan-
bahan pondasi yang sering dijumpai, diberikan pada Tabel 6.1 dan 6.2
bersama-sama dengan perkiraan daya dukung sebagai harga-harga
teoritis untuk perhitungan-perhitungan pendahuluan.






Tabel 6.1 Harga-harga perkiraan daya dukung yang diizinkan (disadur dari
British Standard Code of Practice CP 2004)


Jenis
daya dukung
kN/m
2
kgf/cm
2

1. batu sangat keras

2. batu kapur/batu pasir keras

3. kerikil berkerapatan sedang
atau pasir dan kerikil
4. pasir berkerapatan sedang

5. lempung kenyal

6. lempung teguh

7. lempung lunak dan lumpur
10,000

4,000



200 – 600

100 – 300

150 – 300

75 – 150

1 < 75
100

40



2- 6

1-3

1,5-3

0,75-1,5

< 0,75


Tabel 6.2 Sudut gesekan dalam φ dan kohesi c


Jenis tanah Φ
0
c(kN/m
2
) c(kgf/cm
2
)











Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
180






pasir lepas
pasir padat
pasir lempungan
lempung
30 – 32,5

32,5 – 35

18 – 22

15 - 30
0

0

10

10 - 20
0

0

0,1

0,1 – 0,2


Bangunan bendung biasanya dibangun pada permukaan dasar yang

keras seperti batuan keras atau kerikil dan pasir yang dipadatkan dengan
baik.
Dalam hal ini penurunan bangunan tidak menjadi masalah.

Jika bahan pondasi ini tidak dapat diperoleh, maka pondasi bangunan
harus direncana dengan memperhitungkan gaya-gaya sekunder yang
ditimbulkan oleh penurunan yang tidak merata maupun risiko terjadinya
erosi bawah tanah (piping) akibat penurunan tersebut.




6.4 Analisis Stabilitas

6.4.1 Gaya-gaya yang bekerja pada bangunan
Gaya-gaya yang bekerja pada bangunan bendung dan mempunyai arti
penting dalam perencanaan adalah:
(a) tekanan air, dalam dan luar
(b) tekanan lumpur (sediment pressure)

(c) gaya gempa

(d) berat bangunan

(e) reaksi pondasi.



6.4.2 Tekanan air

Gaya tekan air dapat dibagi menjadi gaya hidrostatik dan gaya
hidrodinamik. Tekanan hidrostatik adalah fungsi kedalaman di bawah







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
181






permukaan air. Tekanan air akan selalu bekerja tegak lurus terhadap
muka bangunan. Oleh sebab itu agar perhitungannya lebih mudah, gaya
horisontal dan vertikal dikerjakan secara terpisah.
Tekanan air dinamik jarang diperhitungkan untuk stabilitas bangunan
bendung dengan tinggi energi rendah.
Gaya tekan ke atas. Bangunan bendung mendapat tekanan air bukan
hanya pada permukaan luarnya, tetapi juga pada dasarnya dan dalam
tubuh bangunan itu. Gaya tekan ke atas, yakni istilah umum untuk
tekanan air dalam, menyebabkan berkurangnya berat efektif bangunan
diatasnya.
Rumus gaya tekan ke atas untuk bangunan yang didirikan pada pondasi
batuan adalah (lihat Gambar 6.4):
W
u
= ct
w
[h
2
+ ½ ξ (h
1
– h
2
)] A

di mana:

c = proposi luas di mana tekanan hidrostatik bekerja (c = 1,
untuk semua tipe pondasi)
t
w
= berat jenis air, kN/m
3


h
2
= kedalaman air hilir, m

ξ = proposi tekanan (proportion of net head) diberikan pada

Tabel 6.3

h
1
= kedalaman air hulu, m
A = luas dasar, m
2


W
u
= gaya tekan ke atas resultante, kN


















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
182












h1


h2



batuan

½ ç (h1 – h2) Yw .


Wu Ywh2
batuan


Gambar 6.4 Gaya angkat untuk bangunan yang dibangun pada pondasi
buatan


Tabel 6.3 Harga-harga ξ

Tipe pondasi batuan



berlapis horisontal

sedang, pejal (massive)

baik, pejal



Gaya tekan ke atas untuk bangunan pada permukaan tanah dasar
(subgrade) lebih rumit. Gaya angkat pada pondasi itu dapat ditemukan
dengan membuat jaringan aliran (flownet), atau dengan asumsi-asumsi
yang digunakan oleh Lane untuk teori angka rembesan (weighted creep
theory).
Gaya tekan ke atas untuk bangunan pada permukaan tanah dasar
(subgrade) lebih rumit. Gaya angkat pada pondasi itu dapat ditemukan
dengan membuat jaringan aliran (flownet). Dalam hal ditemui kesulitan
berupa keterbatasan waktu pengerjaan dan tidak tersedianya perangkat







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


183






lunak untuk menganalisa jaringan aliran, maka perhitungan dengan
asumsi-asumsi yang digunakan oleh Lane untuk teori angka rembesan
(weighted creep theory) bisa diterapkan.

Jaringan aliran dapat dibuat dengan:

(1) plot dengan tangan

(2) analog listrik atau
(3) menggunakan metode numeris (numerical method) pada komputer.
Dalam metode analog listrik, aliran air melalui pondasi dibandingkan
dengan aliran listrik melalui medan listrik daya-antar konstan. Besarnya
voltase sesuai dengan tinggi piezometrik, daya-antar dengan kelulusan
tanah dan aliran listrik dengan kecepatan air (lihat Gambar 6.5)
Untuk pembuatan jaringan aliran bagi bangunan utama yang dijelaskan
disini, biasanya cukup diplot dengan tangan saja.
Contoh jaringan aliran di bawah bendung pelimpah diberikan pada

Gambar 6.6.



+ -



pengukuran volt


garis-garis
ekuipotensial

medan listrik



Gambar 6.5 Konstruksi jaringan aliran menggunakan analog listrik















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


184








garis-garis
ekuipotensial
H

garis-garis aliran











batas kedap air

Gambar 6.6 Contoh jaringan aliran di bawah dam pasangan batu pada pasir



Dalam teori angka rembesan Lane, diandaikan bahwa bidang horisontal
memiliki daya tahan terhadap aliran (rembesan) 3 kali lebih lemah
dibandingkan dengan bidang vertikal.
Ini dapat dipakai untuk menghitung gaya tekan ke atas di bawah
bendung dengan cara membagi beda tinggi energi pada bendung sesuai
dengan panjang relatif di sepanjang pondasi.






























Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama





H
Hx
1


2


185










H

4 5
3 6 7
14


8 9
hx

x h
10
11


12 13







Lx

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14


Qx h
(10-11)/3



H

(2-3)/3
(4-5)/3

(6-7)/3
(8-9)/3

Px=Hx -
Lx
. H

L


(12-13)/3



Gambar 6.7 Gaya angkat pada pondasi bendung


Dalam bentuk rumus, ini berarti bahwa gaya angkat pada titik x di
sepanjang dasar bendung dapat dirumuskan sebagai berikut:
f
L
x


di mana:
P
x
= H
x
- ∆H
L

P
x
= gaya angkat pada x, kg/m
2


L = pnjang total bidang kontak bendung dan tanah
bawah, m
L
x
= jarak sepanjang bidang kontak dari hulu sampai x, m







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
186






∆H = beda tinggi energi, m

H
x
= tinggi energi di hulu bendung, m

Dan di mana L dan L
x
adalah jarak relatif yang dihitung menurut cara
Lane, bergantung kepada arah bidang tersebut. Bidang yang membentuk
sudut 45
0
atau lebih terhadap bidang horisontal, dianggap vertikal.


6.4.3 Tekanan lumpur

Tekanan lumpur yang bekerja terhadap muka hulu bendung atau
terhadap pintu dapat dihitung sebagai berikut:


t h
2

1 ÷ sin 0

P
s
=

s
( )

2 1 + sin 0

di mana:

P
s
: gaya yang terletak pada 2/3 kedalaman adri atas lumpur yang
bekerja secara horisontal
t
s
: berat lumpur, kN

h : dalamnya lumpur, m

Φ : sudut gesekan dalam, derajat.

Beberapa andaian/asumsi dapat dibuat seperti berikut:
G ÷1

t
s
= t
s‟

G

di mana: t
s‟
= berat volume kering tanah ≈ 16 kN/m
3
(≈ 1.600 kgf/m
3
)

λ = berat volume butir = 2,65
menghasilkan t
s
= 10 kN/m
3
(≈ 1.000 kgf/m
3
)
Sudut gesekan dalam, yang bisa diandaikan 30
0
untuk kebanyakan hal,
menghasilkan:
P
s
= 1,67 h
2











Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
187






6.4.4 Gaya gempa

Harga-harga gaya gempa diberikan dalam bagian Parameter Bangunan.
Harga-harga tersebut didasarkan pada peta Indonesia yang menujukkan
berbagai daerah dan risiko. Faktor minimum yang akan dipertimbangkan
adalah 0,1 g perapatan gravitasi sebagai harga percepatan. Faktor ini
hendaknya dipertimbangkan dengan cara mengalikannya dengan massa
bangunan sebagai gaya horisontal menuju ke arah yang paling tidak
aman, yakni arah hilir.


6.4.5Berat bangunan

Berat bangunan bergantung kepada bahan yang dipakai untuk membuat
bangunan itu.
Untuk tujuan-tujuan perencanaan pendahuluan, boleh dipakai harga-
harga berat volume di bawah ini.
pasangan batu
beton tumbuk
beton bertulang 24 kN/m
3
(≈ 2.400 kgf/m
3
)



Berat volume beton tumbuk bergantung kepada berat volume agregat
serta ukuran maksimum kerikil yang digunakan.
Untuk ukuran maksimum agregat 150 mm dengan berat volume 2,65,
berat volumenya lebih dari 24 kN/m
3
(≈ 2.400 kgf/m
3
).


6.4.6Reaksi Pondasi

Reaksi pondasi boleh diandaikan berbentuk trapesium dan tersebar
secara linier.











Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
188






W1

W2


W3


R

P1
(P)

(W)

U' U
P2
Pusat Grafitasi
9 1 2
p''
3
e
7
p'
4 5
6
z
y
m''

m'
8


l

Gambar 6.8 Unsur-unsur persamaan distribusi tekanan pada pondasi


Gambar 6.8, rumus-rumus berikut dapat diturunkan dengan mekanika
sederhana.
Tekanan vertikal pondasi adalah:




dimana:

E (W )

p =
A

E (W ) e

+ m
I

p = tekanan vertikal pondasi

∑ (W) = keseluruhan gaya vertikal, termasuk tekanan ke atas, tetapi

tidak termasuk reaksi pondasi.
A = luas dasar, m
2


e = eksentrisitas pembebanan, atau jarak dari pusat gravitasi
dasar (base) sampai titik potong resultante dengan dasar
I = momen kelembaban (moment of inertia) dasar di sekitar

pusat gravitasi







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama








189






m = jarak dari titik pusat luas dasar sampai ke titik di mana
tekanan dikehendaki
Untuk dasar segi empat dengan panjang ℓ dan lebar 1,0 m, I = ℓ
3
/12 dan

A = 1, rumus tadi menjadi:
E (W )

p =
A

12 e

{ 1 + m }


2


sedangkan tekanan vertikal pondasi pada ujung bangunan ditentukan
dengan rumus:
E (W )

p‟ =

6 e

{ 1 +

}


dengan m‟ = m” = ½ ℓ
E (W ) 6 e

P” =


{ 1 +

}


Bila harga e dari Gambar 6.8 dan persamaan (6.12) lebih besar dari 1/6

(lihat pula Gambar 6.8), maka akan dihasilkan tekanan negatif pada
ujung bangunan. Biasanya tarikan tidak diizinkan, yang memerlukan
irisan yang mempunyai dasar segi empat sehingga resultante untuk
semua kondisi pembebanan jatuh pada daerah inti.


6.4.7Analisa Stabilitas Bendung Karet

(a) Fondasi

Fondasi bendung karet dapat dibedakan yaitu fondasi langsung yang
dibangun diatas lapisan tanah yang kuat dan fondasi tidak langsung
(dengan tiang pancang) yang dibangun pada lapisan lunak.

Pada fondasi langsung menahan bangunan atas dan relatif ringan
membutuhkan massa yang lebih besar untuk menjaga stabilitas
terhadap penggulingan dan penggeseran. Untuk menghemat biaya
konstruksi, fondasi dibuat dari beton bertulang sebagai selimut dan
diisi dengan pasangan beton komposit.






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
190






(b) Gaya-gaya yang bekerja pada bangunan

(1) Gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pelimpah adalah:

- Tekanan air, dari dalam dan luar

- Gaya gempa

- Berat bangunan

- Reaksi pondasi

Lantai pondasi pada bendung karet mendapat tekanan air bukan hanya
pada permukaan luarnya, tetapi juga pada dasarnya dan dalam tubuh
bangunan itu. Gaya tekan ke atas, yakni istilah umum untuk tekanan air
didalam menyebabkan berkurangnya berat efektif bangunan di atasnya.
Rumus gaya ini dapat dilihat pada sub bab 6.4.2.


6.5 Kebutuhan Stabilitas

Ada tiga penyebab runtuhnya bangunan gravitasi, yaitu:
(1) gelincir (sliding)

(a) sepanjang sendi horisontal atau hampir horisontal di atas
pondasi
(b) sepanjang pondasi, atau

(c) sepanjang kampuh horisontal atau hampir horisontal dalam
pondasi.
(2) guling (overturning)

(a) di dalam bendung
(b) pada dasar (base), atau

(c) pada bidang di bawah dasar.
(3) erosi bawah tanah (piping).



6.5.1 Ketahanan terhadap gelincir










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
191






Tangen θ, sudut antara garis vertikal dan resultante semua gaya,
termasuk gaya angkat, yang bekerja pada bendung di atas semua
bidang horisontal, harus kurang dari koefisien gesekan yang diizinkan
pada bidang tersebut.
E (H ) f

= tan θ <

E (V ÷U ) S

di mana:

∑ (H) keseluruhan gaya horizontal yang bekerja pada bangunan,
kN
∑ (V-U) keseluruhan gaya vertikal (V), dikurangi gaya tekan ke
atas yang bekerja pada bangunan, kN
θ sudut resultante semua gaya, terhadap garis vertikal, derajat

f koefisien gesekan

S faktor keamanan

Harga-harga perkiraan untuk koefisien gesekan f diberikan pada Tabel

6.4


Tabel 6.4 Harga-harga perkiraan untuk koefisien gesekan

Bahan



Pasangan batu pada pasangan batu

Batu keras berkualitas baik

Kerikil
Pasir
Lempung


Untuk bangunan-bangunan kecil, seperti bangunan-bangunan yang

dibicarakan di sini, di mana berkurangnya umur bangunan, kerusakan







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
192






besar dan terjadinya bencana besar belum dipertimbangkan, harga-
harga faktor keamanan (S) yang dapat diterima adalah: 2,0 untuk
kondisi pembebanan normal dan 1,25 untuk kondisi pembebanan
ekstrem.
Kondisi pembebanan ekstrem dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1) Tak ada aliran di atas mercu selama gempa, atau

(2) Banjir rencana maksimum.

Apabila, untuk bangunan-bangunan yang terbuat dari beton, harga yang
aman untuk faktor gelincir yang hanya didasarkan pada gesekan saja
(persamaan 6.14) ternyata terlampaui, maka bangunan bisa dianggap
aman jika faktor keamanan dari rumus itu yang mencakup geser
(persamaan 6.15), sama dengan atau lebih besar dari harga-harga faktor
keamanan yang sudah ditentukan.
f E (V ÷ U ) + c A

Σ (H) ≤
S

di mana: c = satuan kekuatan geser bahan, kN/m
2


A = luas dasar yang dipertimbangkan, m
2


arti simbol-simbol lain seperti pada persamaan 6.14.

Harga-harga faktor keamanan jika geser juga dicakup, sama dengan
harga-harga yang hanya mencakup gesekan saja, yakni 2,0 untuk
kondisi normal dan 1,25 untuk kondisi ekstrem.
Untuk beton, c (satuan kekuatan geser) boleh diambil 1.100 kN/m
2
( =
110 Tf/m
2
)

Persamaan 6.15 mungkin hanya digunakan untuk bangunan itu sendiri.
Kalau rumus untuk pondasi tersebut akan digunakan, perencana harus
yakin bahwa itu kuat dan berkualitas baik berdasarkan hasil pengujian.
Untuk bahan pondasi nonkohesi, harus digunakan rumus yang hanya
mencakup gesekan saja (persamaan 6.14).







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
193








6.5.2 Guling

Agar bangunan aman terhadap guling, maka resultante semua gaya
yang bekerja pada bagian bangunan di atas bidang horisontal, termasuk
gaya angkat, harus memotong bidang ini pada teras. Tidak boleh ada
tarikan pada bidang irisan mana pun.
Besarnya tegangan dalam bangunan dan pondasi harus tetap
dipertahankan pada harga-harga maksimal yang dianjurkan.
Untuk pondasi, harga-harga daya dukung yang disebutkan dalam Tabel
6.1 bisa digunakan. Harga-harga untuk beton adalah sekitar 4,0 N/mm
2
atau 40 kgf/cm
2
, pasangan batu sebaiknya mempunyai kekuatan
manimum 1,5 sampai 3,0 N/mm
2
atau 15 sampai 30 kgf/cm
2
.
Tiap bagian bangunan diandaikan berdiri sendiri dan tidak mungkin ada
distribusi gaya-gaya melalui momen lentur (bending moment). Oleh
sebab itu, tebal lantai kolam olak dihitung sebagai berikut (lihat Gambar
6.9):
Px ÷Wx

d
x
≥ S
t
di mana: d
x
= tebal lantai pada titikx, m
P
x
= gaya angkat pada titik x, kg/m
2


W
x
= kedalaman air pada titik x, m
t = berat jenis bahan, kg/m
3


S = faktor keamanan (= 1,5 untuk kondisi normal, 1,25

untuk kondisi ekstrem)
















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


194













Wx

dx


x
px


Gambar 6.9 Tebal lantai kolam olak


6.5.3 Stabilitas terhadap erosi bawah tanah (piping)

Bangunan-bangunan utama seperti bendung dan bendung gerak harus
dicek stabilitasnya terhadap erosi bawah tanah dan bahaya runtuh akibat
naiknya dasar galian (heave) atau rekahnya pangkal hilir bangunan.
Bahaya terjadinya erosi bawah tanah dapat dianjurkan dicek dengan

jalan membuat jaringan aliran/flownet (lihat pasal 6.4.2). Dalam hal
ditemui kesulitan berupa keterbatasan waktu pengerjaan dan tidak
tersedianya perangkat lunak untuk menganalisa jaringan aliran, maka
perhitungan dengan beberapa metode empiris dapat diterapkan, seperti:
- Metode Bligh

- Metode Lane

- Metode Koshia.

Metode Lane, disebut metode angka rembesan Lane (weighted creep
ratio method), adalah yang dianjurkan untuk mencek bangunan-
bangunan utama untuk mengetahui adanya erosi bawah tanah. Metode
ini memberikan hasil yang aman dan mudah dipakai. Untuk bangunan-
bangunan yang relatif kecil, metode-metode lain mungkin dapat
memberikan hasil-hasil yang lebih baik, tetapi penggunaannya lebih sulit.
Metode Lane diilustrasikan pada Gambar 6.10 dan memanfaatkan Tabel
6.5. Metode ini membandingkan panjang jalur rembesan di bawah






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

H




AB

BC
3


CD


DE

EF
3


FG
L

195






bangunan di sepanjang bidang kontak bangunan/pondasi dengan beda
tinggi muka air antara kedua sisi bangunan.
Di sepanjang jalur perkolasi ini, kemiringan yang lebih curam dari 45
0


dianggap vertikal dan yang kurang dari 45
0
dianggap horisontal. Jalur
vertikal dianggap memiliki daya tahan terhadap aliran 3 kali lebih kuat
daripada jalur horisontal.
Oleh karena itu, rumusnya adalah:
E L
v


+1/ 3 E L
H

C
L
=
H

di mana: C
L
: Angka rembesan Lane (lihat Tabel 6.5)

Σ L
v
: jumlah panjang vertikal, m

Σ L
H
: jumlah panjang horisontal, m

H : beda tinggi muka air, m





H



A

B C E F

G H



D






GH
3



Gambar 6.10 Metode angka rembesan Lane


Table 6.5 Harga-harga minimum angka rembesan Lane (C
L
)






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
196








Pasir sangat halus atau lanau

Pasir halus
Pasir sedang
Pasir kasar
Kerikil halus
Kerikil sedang
Kerikil kasar termasuk berangkal

Bongkah dengan sedikit berangkal dan kerikil

Lempung lunak
Lempung sedang
Lempung keras
Lempung sangat keras




Angka-angka rembesan pada Tabel 6.5 di atas sebaiknya dipakai:

a. 100% jika tidak dipakai pembuang, tidak dibuat jaringan aliran dan
tidak dilakukan penyelidikan dengan model;
b. 80% kalau ada pembuangan air, tapi tidak ada penyelidikan maupun
jaringan aliran;
c. 70% bila semua bagian tercakup.

Menurut Creagen, Justin dan Hinds, hal ini menunjukkan diperlukannya
keamanan yang lebih besar jika telah dilakukan penyelidikan detail.
Untuk mengatasi erosi bawah tanah elevasi dasar hilir harus diasumsikan
pada pangkal koperan hilir. Untuk menghitung gaya tekan ke atas, dasar
hilir diasumsikan di bagian atas ambang ujung.
Keamanan terhadap rekah bagian hilir bangunan bisa dicek dengan
rumus berikut:







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




197






s (1+ a / s)
S =
h
s

di mana:S = faktor keamanan

s = kedalaman tanah, m

a = tebal lapisan pelindung, m
h
s
= tekanan air pada kedalaman s, kg/m
2


Gambar 6.11 memberikan penjelasan simbol-simbol yang digunakan.
Tekanan air pada titik C dapat ditemukan dari jaringan aliran atau garis
angka rembesan Lane.
Rumus di atas mengandaikan bahwa volume tanah di bawah air dapat
diambil 1 (t
w
=t
s
= 1). Berat volume bahan lindung di bawah air adalah
1. Harga keamanan S sekurang-kurangnya 2.










hy

bendung
K a
M


y
S



C




hs


Gambar 6.11 Ujung hilir bangunan; sketsa parameter-parameter stabilitas


6.5.4 Perencanaan kekuatan tubuh bendung dari tabung karet







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
198






(1) Bahan karet

Lembaran karet terbuat dari bahan karet asli atau sintetik yang
elastik, kuat, keras dan tahan lama.
Pada umumnya bahan karet yang digunakan memiliki spesifikasi
sebagai berikut:
(i) Kekerasan Tes abrasi dengan beban 1 kg pada putaran 1000

kali tidak melampui 0,8 mm.

(ii) Kuat tarik
Kuat tarik pada suhu normal ≥ 150 kg/cm
2
.
Kuat tarik pada suhu 100
o
≥ 120 kg/cm
2

Bahan karet di perkuat dengan susunan benang nilon yang
memberikan kekuatan tarik sesuai dengan kebutuhan, dengan
bahan karet berupa karet sintetis.
(2) Kekuatan

Kekuatan lembaran karet harus mampu menahan gaya tekanan air
dikombinasikan dengan gaya tekanan udara dari dalam tubuh
bendung.


h
2
/2g

h
1 T T



Y

D = H
F
w




T
u
T
i

Gambar 6.12Sketsa gaya tarik pada tabung karet









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
199














dimana:
T = 0,5 H
pb

F
w
= 0,5 t
w
[ Y
2
– (h
1
+ v
2/2
g)
2
]
T
i
= T + 0,5 F
w

T
u
= T – 0,5 F
w




T adalah gaya tarik pada selubung tabung karet (N/m) H
adalah tinggi bendung (m)
ρ
b
adalah tekanan udara dalam tabung karet (Pa)

F
w
adalah gaya tekanan air dari hulu pada tubuh bendung

(N/m)
t
w
adalah berat jenis air, diambil 9810 N/m
3


Y adalah tinggi air dihulu bendung (m)

h
1
adalah air dihulu bendung, diatas mercu maksimum (m)

v adalah kecepatan rata-rata aliran air dihulu bendung (m/s)
g adalah gravitasi, diambil 9,81 m/s
2


T
i
adalah gaya pada angker hilir (N/m) T
u

adalah gaya pada angker hulu (N/m)
Kekuatan tarik lumbaran karet pada arah aliran air ditetapkan dengan
rumus :


dimana:
K
T
= n T
i




K
T
adalah kekuatan tarik karet searah aliran air (N/m)

n adalah angka keamanan, diambil 8
Kekuatan tarik searah as bendung ditentukan sebesar 60
0
/K
T


Tebal lembaran karet ditentukan oleh tebal susunan benang nilon
ditambah lapisan penutup di kedua sisinya untuk menjamin kedap udara.
Lapisan penutup sisi luar dibuat lebih tebal untuk pengamanan terhadap









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
2
200






goresan ataupun abrasi oleh benda keras. Tebal lapisan penutup diambil
minimal 3 mm dipermukaan dalam dan 7 mm dipermukaan luar.
(3) Sistim penjepitan

Pencetakan tabung karet pada fondasi berupa penjepitan dengan
menggunakan baja yang diangker. Untuk bendung rendah dengan
H ≤ 1,00 m dapat digunakan angker tunggal, sedangkan untuk H ≥

1,00 m digunakan angker ganda, untuk daerah pasang surut harus
digunakan angker ganda.
(4) Kebutuhan luasan karet

Untuk membentuk tabung karet dengan tinggi H yang

direncanakan, diperlukan lembaran karet dengan lebar tertentu (W) (lihat tabel..…
Penjepitan pada ujung tabung karet yang berada pada tembok tepi
atau pilar dibuat hingga ketinggian H + 10% H.

Bentuk dan panjang lembaran karet ditentukan dengan perhitungan
sebagai berikut:
L = L
o
+ 2 L
s
+ 2a
1


W = 2B
o
+ 2a

L
s
= 1,10 H 1+ m
2






dimana:
a
1
=
2a

Bo

(B
o / 2
)

+ Ls
2


L adalah panjang total lembaran karet (m)
W adalah lebar lembaran karet (m)
L
o
adalah lebar dasar panel bendung (m)

L
s
adalah panjang tambahan bahan karet untuk lekukan
samping bendung (m)
m adalah faktor horisontal kemiringan tembok tepi atau pilar

B
o
adalah setengah keliling tabung karet (m)







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




201






Referensi pada buku T-09-2004-A



6.6 Detail Bangunan

6.6.1 Dinding penahan

Dinding penahan gravitasi setinggi tidak lebih dari 3 m bisa direncana
dengan potongan melintang empiris seperti diberikan pada Gambar 6.12.
dengan :
b = 0,260 h untuk dinding dengan bagian depan vertikal

B = 0,425 h

b = 0,230 h untuk dinding dengan bagian depan kurang dari

1:1/3

B = 0,460 h.

b=0.260h

30 cm

b=0.230h

30 cm


30 cm
30 cm



h h






B=0.425h
B=0.425h


Gambar 6.13 Dinding penahan gravitasi dari pasangan batu



















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


202














a


A A



b
c



DENAH BENDUNG
Pelat pancang ( balok , kayu atau beton bertulang )












Pelat pancang

POTONGAN A - A








Pelat pancang


POTONGAN B
POTONGAN C

Gambar 6.14 Perlindungan terhadap rembesan melibat pangkal bendung








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
203








Dinding penahan yang lebih tinggi dan dinding penahan yang mampu
menahan momen lentur (beton bertulang atau pelat pancang baja) harus
direncana berdasarkan hasil-hasil perhitungan stabilitas. Perhitungan
pembebanan tanah dan stabilitas di belakang dinding penahan dijelaskan
dalam KP-06 Parameter Bangunan.
Karena dinding penahan di sebelah hulu bangunan utama mungkin tidak
dilengkapi dengan sarana-sarana pembuang akibat adanya bahaya
rembesan, maka dalam melakukan perhitungan kita hendaknya
mengandaikan tekanan air penuh di belakang dinding.
Kebutuhan stabilitas untuk bangunan-bangunan ini dapat dijelaskan
seperti dalam pasal 6.4.2.


6.6.2 Perlindungan terhadap erosi bawah tanah

Untuk melindungi bangunan dari bahaya erosi bawah tanah, ada
beberapa cara yang bisa ditempuh. Kebanyakan bangunan hendaknya
menggunakan kombinasi beberapa konstruksi lindung.
Pertimbangan utama dalam membuat lindungan terhadap erosi bawah
tanah adalah mengurangi kehilangan beda tinggi energi per satuan
panjang pada jalur rembesan serta ketidakterusan (discontinuities) pada
garis ini.
Dalam perencanaan bangunan, pemilihan konstruksi-konstruksi lindung
berikut dapat dipakai sendiri-sendiri atau dikombinasi dengan:
- lantai hulu

- dinding halang

- filter pembuang

- konstruksi pelengkap.










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


204






Penting disadari bahwa erosi bawah tanah adalah masalah tiga dimensi
dan bahwa semua konstruksi lindung harus bekerja ke semua arah dan
oleh sebab itu termasuk pangkal bendung (abutment) dan bangunan
pengambilan (lihat Gambar 6.13).


Lantai hulu

Lantai hulu akan memperpanjang jalur rembesan. Karena gaya tekan ke
atas di bawah lantai diimbangi oleh tekanan air di atasnya, maka lantai
dapat dibuat tipis. Persyaratan terpenting adalah bahwa lantai kedap air,
demikian pula sambungannya dengan tubuh bendung. Sifat kedap air ini
dapat dicapai dengan foil plastik atau lempung kedap air di bawah lantai
dan sekat karet yang menghubungkan lantai dan tubuh bendung. Contoh
sambungan yang dianjurkan antara lantai dan tubuh bendung diberikan
pada Gambar 6.15.


lantai hulu dari
beton (tebal 15 cm) lempung
tubuh
bendung







Sekat air dari karet


Gambar 6.15 Lantai hulu


Salah satu penyebab utama runtuhnya konstruksi ini adalah bahaya
penurunan tidak merata (diferensial) antara lantai dan tubuh bendung.
Oleh sebab itu, sambungan harus direncana dan dilaksanakan dengan
amat hati-hati.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
205






Lantai itu sendiri dapat dibuat dari beton bertulang dengan tebal 0,10 m,
atau pasangan batu setebal 0,20 – 0,25 cm. Adalah penting untuk
menggunakan sekat air dari karet yang tidak akan rusak akibat adanya
penurunan tidak merata.
Keuntungan dari pembuatan lantai hulu adalah bahwa biayanya lebih
murah dibanding dinding halang vertikal yang dalam, karena yang
disebut terakhir ini memerlukan pengeringan dan penggalian. Tapi,
sebagaimana dikemukakan oleh Lane dalam teorinya, panjang horisontal
rembesan adalah 3 kali kurang efektif dibanding panjang vertikal dengan
panjang yang sama.
Dinding halang (Cut-off)

Dinding halang bisa berupa dinding beton bertulang atau pasangan batu,
inti tanah kedap air atau pudel atau dengan pelat pancang baja atau
kayu.
Pelat pancang mahal dan harus dibuat dengan hati-hati untuk
menciptakan kondisi yang benar-benar tertutup. Terdapatnya batu-batu
besar atau kerikil kasar di dasar sungai tidak menguntungkan untuk pelat
pancang yang kedap air. Tanah yang paling cocok untuk pelat pancang
adalah tanah berbutir halus dan tanah berlapis horisontal.
Pudel yang baik atau inti tanah kedap air bisa merupakan dinding halang
yang baik sekali, tapi sulit disambung ke bangunan itu sendiri.
Metode yang dianjurkan untuk membuat dinding halang adalah dengan
beton bertulang atau pasangan batu.
Agar gaya tekan ke atas pada bangunan dapat sebanyak mungkin
dikurangi, maka tempat terbaik untuk dinding halang adalah di ujung
hulu bangunan, yaitu di pangkal (awal) lantai hulu atau di bawah bagian
depan tubuh bendung. (lihat Gambar 6.16).









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
206












dinding halang (koperan)

Pelat perancang halang

dinding halang (koperan)

Gambar 6.16 Dinding – dinding halang di bawah lantai hulu atau tubuh
bendung


Alur pembuang/Filter

Alur pembuang dibuat untu mengurangi gaya angkat di bawah kolam
olak bendung pelimpah karena di tempat-tempat ini tidak cukup tersedia
berat pengimbang dari tubuh bendung.
Untuk mencegah hilangnya bahan padat melalui pembuang ini,
konstruksi sebaiknya dibuat dengan filter yang dipasang terbalik dari
kerikil atau pasir bergradasi baik atau bahan filter sintetis.
Gambar 6.17 memperlihatkan lokasi yang umum dipilih untuk
menempatkan filter serta detail konstruksinya.


Konstruksi pelengkap

Jika bagian-bagian bendung mempunyai kedalaman pondasi yang
berbeda-beda, maka ada bahaya penurunan tidak merata yang
mengakibatkan retak-retak dan terjadinya jalur-jalur pintasan erosi
bawah tanah. Adalah penting untuk mencek kemungkinan-kemungkinan
ini, serta memantapkan konstruksi di tempat-tempat ini, jika diperlukan.















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




207






pipa pembuang

kerikil bergradasi baik
pasir/kerikil bergradasi baik





saringan
tanah dasar

Gambar 6.17 Alur pembuang/filter di bawah kolam olak


Selama pelaksanaan perlu selalu diingat untuk membuat sambungan
yang bagus antara bangunan dan tanah bawah. Jika tanah bawah
menjadi jenuh air akibat hujan, maka lapisan atas ini harus ditangani
sedemikian sehingga mencegah kemungkinan terjadinya erosi bawah
tanah atau jalur gelincir (sliding path).


6.6.3 Peredam Energi

Beda tinggi energi di atas bendung terhadap air hilir dibatasi sampai 7 m.
Jika ditemukan tinggi terjunan lebih dari 7 m dan keadaan geologi dasar
sungai relatif tidak kuat sehingga perlu kolam olak maka perlu dibuat
bendung tipe cascade yang mempunyai lebih dari satu kolam olak. Hal ini
dimaksudkan agar energi terjunan dapat direduksi dalam dua kolam olak
sehingga kolam olak sebelah hilir tidak terlalu berat meredam energi.
Keadaan demikian akan mengakibatkan lantai peredam dan dasar sungai
dihilir koperan (end sill) dapat lebih aman.


















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
208






7. PERENCANAAN KANTONG LUMPUR



7.1 Pendahuluan

Walaupun telah ada usaha untuk merencanakan sebuah bangunan
pengambilan dan pengelak sedimen yang dapat mencegah masuknya
sedimen ke dalam jaringan saluran irigasi, masih ada banyak partikel-
partikel halus yang masuk ke jaringan tersebut. Untuk mencegah agar
sedimen ini tidak mengendap di seluruh saluran irigasi, bagian awal dari
saluran primer persis di belakang pengambilan direncanakan untuk
berfungsi sebagai kantong lumpur.
Kantong lumpur itu merupakan pembesaran potongan melintang saluran
sampai panjang tertentu untuk mengurangi kecepatan aliran dan
memberi kesempatan kepada sedimen untuk mengendap.
Untuk menampung endapan sedimen ini, dasar bagian saluran tersebut
diperdalam atau diperlebar. Tampungan ini dibersihkan tiap jangka
waktu tertentu (kurang lebih sekali seminggu atau setengah bulan)
dengan cara membilas sedimennya kembali ke sungai dengan aliran
terkonsentrasi yang berkecepatan tinggi.


7.2 Sedimen

Perencanaan kantong lumpur yang memadai bergantung kepada
tersedianya data-data yang memadai mengenai sedimen di sungai.
Adapun data-data yang diperlukan adalah:
- pembagian butir

- penyebaran ke arah vertikal

- sedimen layang

- sedimen dasar

- volume








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
209






Jika tidak ada data yang tersedia, ada beberapa harga praktis yang bisa
dipakai untuk bangunan utama berukuran kecil. Dalam hal ini volume
bahan layang yang harus diendapkan, diandaikan 0,6
0
/
00
(permil) dari
volume air yang mengalir melalui kantong.
Ukuran butir yang harus diendapkan bergantung kepada kapasitas
angkutan sedimen di jaringan saluran selebihnya. Dianjurkan bahwa
sebagian besar (60 – 70%) dari pasir halus terendapkan: partikel-partikel
dengan diameter di atas 0,06 – 0,07 mm.


7.3 Kondisi-kondisi batas

7.3.1Bangunan Pengambilan

Yang pertama-tama mencegah masuknya sedimen ke dalam saluran
irigasi adalah pengambilan dan pembilas, dan oleh karena itu
pengambilan yang direncanakan dengan baik dapat mengurangi biaya
pembuatan kantong lumpur yang mahal.
Penyebaran sedimen ke arah vertikal memberikan ancar-ancar
diambilnya beberapa langkah perencanaan untuk membangun sebuah
pengambilan yang dapat berfungsi dengan baik.
Partikel-partikel yang lebih halus di sungai diangkut dalam bentuk
sedimen layang dan tersebar merata di seluruh kedalaman aliran.
Semakin besar dan berat partikel yang terangkut, semakin partikel-
partikel itu terkonsentrasi ke dasar sungai; bahan-bahan yang terbesar
diangkut sebagai sedimen dasar. Gambar 7.1 memberikan illustrasi
mengenai sebaran sedimen ke arah vertikal di dua sungai (a) dan (b);
pada awal (c) dan ujung (d) kantong lumpur.
Dari gambar tersebut, jelas bahwa perencanaan pengambilan juga
dimaksudkan untuk mencegah masuknya lapisan air yang lebih rendah,
yang banyak bermuatan partikel-partikel kasar.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


a








C








b










d






210








7.3.2Jaringan Saluran

Jaringan saluran direncana untuk membuat kapasitas angkutan sedimen
konstant atau makin bertambah di arah hilir. Dengan kata lain: sedimen
yang memasuki jaringan saluran akan diangkut lewat jaringan tersebut ke
sawah-sawah. Dalam kaitan dengan perencanaan kantong lumpur, ini
berarti bahwa kapasitas angkutan sedimen pada bagian awal dari saluran
primer penting artinya untuk ukuran partikel yang akan diendapkan.
Biasanya ukuran partikel ini diambil 0,06 – 0,07 mm guna memperkecil
kemiringan saluran primer.


sungai ngasinan
0
awal kantong lumpur
0


1.00 1.00


2.00 2.00


3.00
0

0.40 0.80 1.20 1.60 2.00 2.40
konsentrasi sedimen dalam kg/m³
0 0.40 0.80 1.20 1.60 2.00 2.40
konsentrasi sedimen dalam kg/m³



sungai brantas
0
ujung kantong lumpur
0


1.00 1.00


2.00 2.00


3.00 0 0.40 0.80 1.20 1.60 2.00 2.40
konsentrasi sedimen dalam kg/m³

0 0.40 0.80 1.20 1.60 2.00 2.40
konsentrasi sedimen dalam kg/m³

C s 0.07 mm

0.14 mm < C s 0.32 mm

0.07 mm < C s 0.14 mm

Gambar 7.1 Konsentrasi sedimen ke arah vertikal

0.32 mm < C s 0.75 mm












Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
211






Bila kemiringan saluran primer serta kapasitas angkutan jaringan
selebihnya dapat direncana lebih besar, maka tidak perlu menambah
ukuran minimum partikel yang diendapkan. Umumnya hal ini akan
menghasilkan kantong lumpur yang lebih murah, karena dapat dibuat
lebih pendek.








7.3.3Topografi

Keadaan topografi tepi sungai maupun kemiringan sungai itu sendiri
akan sangat berpengaruh terhadap kelayakan ekonomis pembuatan
kantong lumpur.
Kantong lumpur dan bangunan-bangunan pelengkapnya memerlukan
banyak ruang, yang tidak selalu tersedia. Oleh karena itu, kemungkinan
penempatannya harus ikut dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi
bangunan utama.
Kemiringan sungai harus curam untuk menciptakan kehilangan tinggi
energi yang diperlukan untuk pembilasan di sepanjang kantong
lumpur.Tinggi energi dapat diciptakan dengan cara menambah elevasi
mercu, tapi hal ini jelas akan memperbesar biaya pembuatan bangunan.


7.4 Dimensi Kantong Lumpur

Pada Gambar 7.2 diberikan tipe tata letak kantong lumpur sebagai
bagian dari bangunan utama.













Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama










e
212






a

b2 b1





d1
f


c


a bendung
b1 pembilas
b2 pengambilan utama
c kantong lumpur
d1 pembilas
d2

d2 pengambilan saluran primer
e saluran primer
f saluran pembilas



Gambar 7.2 Tipe tata letak kantong lumpur


7.4.1Panjang dan lebar kantong lumpur

Dimensi-dimensi L (panjang) dan B (lebar) kantong lumpur dapat
diturunkan dari Gambar 7.3.
Partikel yang masuk ke kolam pada A, dengan kecepatan endap partikel

w dan kecepatan air v harus mencapai dasar pada C. Ini berakibat
bahwa, partikel, selama waktu (H/w) yang diperlukan untuk mencapai
dasar, akan berjalan (berpindah) secara horisontal sepanjang jarak L
dalam waktu L/v.


A
v
v
w
H H
w C




L B









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
213






Gambar 7.3 Skema kantong lumpur
H L Q

Jadi:

= , dengan v =

w v HB

di mana: H = kedalaman aliran saluran, m

w = kecepatan endap partikel sedimen, m/dt

L = panjang kantong lumpur, m

v = kecepatan aliran air, m/dt
Q = debit saluran, m
3
/dt

B = lebar kantong lumpur, m

Q

ini menghasilkan: LB =
W

Karena sangat sederhana, rumus ini dapat dipakai untuk membuat
perkiraan awal dimensi-dimensi tersebut. Untuk perencanaan yang lebih
detail, harus dipakai faktor koreksi guna menyelaraskan faktor-faktor
yang mengganggu, seperti:
- turbulensi air

- pengendapan yang terhalang

- bahan layang sangat banyak.

Velikanov menganjurkan faktor-faktor koreksi dalam rumus berikut:

Q ì
2


v (H
0.5


÷ 0.2)
2

LB = · · ·

w 7.51 w H

Di mana: L = panjang kantong lumpur, m

B = lebar kantong lumpur, m
Q = debit saluran, m
3
/dt

w = kecepatan endap partikel sedimen, m/dt

ì = koefisiensi pembagian/distribusi Gauss

ì adalah fungsi D/T, di mana D = jumlah sedimen yang
diendapkan dan T = jumlah sedimen yang diangkut







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
214






ì = 0 untuk D/T = 0,5 ; ì = 1,2 untuk D/T = 0,95 dan

ì = 1,55 untuk D/T = 0,98

v = kecepatan rata-rata aliran, m/dt

H = kedalaman aliran air di saluran, m

Dimensi kantong sebaiknya juga sesuai dengan kaidah bahwa L/B > 8,
untuk mencegah agar aliran tidak “meander” di dalam kantong.
Apabila topografi tidak memungkinkan diturutinya kaidah ini, maka
kantong harus dibagi-bagi ke arah memanjang dengan dinding-dinding
pemisah (devider wall) untuk mencapai perbandingan antara L dan B ini.
Dalam rumus-rumus ini, penentuan kecepatan endap amat penting
karena sangat berpengaruh terhadap dimensi kantong lumpur. Ada dua
metode yang bisa dipakai untuk menentukan kecepatan endap, yakni:
(1) Pengukuran di tempat

(2) Dengan rumus/grafik



(1) Pengkuran kecepatan endap terhadap contoh-contoh yang diambil
dari sungai adalah metode yang paling akurat jika dilaksanakan
oleh tenaga berpengalaman.
Metode ini dijelaskan dalam ”Konstruksi Cara-cara untuk
mengurangi Angkutan Sedimen yang Akan Masuk ke Intake dan
Saluran Irigasi” (DPMA, 1981). Dalam metode ini dilakukan analisis tabung pengen

(2) Dalam metode kedua, digunakan grafik Shields (gambar 7.4) untuk
kecepatan endap bagi partikel-partikel individual (discrete particles)
dalam air yang tenang.
Rumus Velikanov menggunakan kecepatan endap ini.

Faktor-faktor lain yang akan dipertimbangkan dalam pemilihan dimensi
kantong lumpur adalah:









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
215






(1) kecepatan aliran dalam kantong lumpur hendaknya cukup rendah,
sehingga partikel yang telah mengendap tidak menghambur lagi.
(2) turbulensi yang mengganggu proses pengendapan harus dicegah.

(3) kecepatan hendaknya tersebar secara merata di seluruh potongan
melintang, sehingga sedimentasi juga dapat tersebar merata.
(4) kecepatan aliran tidak boleh kurang dari 0,30 m/dt, guna mencegah
tumbuhnya vegetasi.
(5) peralihan/transisi dari pengambilan ke kantong dan dari kantong ke
saluran primer
harus mulus, tidak menimbulkan turbulensi atau pusaran.



7.4.2Volume tampungan

Tampungan sedimen di luar (di bawah) potongan melintang air bebas
dapat mempunyai beberapa macam bentuk Gambar 7.5 memberikan
beberapa metode pembuatan volume tampungan.

































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


216









10.00
8.00
6.00

4.00


2.00


1.00
0.80
0.60
10
8
Ps = 2650 kg/m ³
Pw = 1000 kg/m ³
6

F.B = faktor bentuk = C a.b
(F.B = 0.7 untuk pasir alamiah)
4

c kec il ; a besar ; b sedang a
tiga sumbu yang saling
tegak lurus
2

Red = butir bilangan
Rey nolds = w.do/U
1

0.40


0.20


0.10
0.08
0.06

0.04


0.02



0.2 0.4 0.6
1
2 4 6 8
10
20 40 60 0.2 0.4 0.6 1 2 4
100 mm/dt = 0.1 m/dt
kecepatan endap w dalam mm/dt-m/dt

Gambar 7.4 Hubungan antara diameter saringan dan kecepatan endap untuk air
tenang


Volume tampungan bergantung kepada banyaknya sedimen (sedimen
dasar maupun sedimen layang) yang akan hingga tiba saat pembilasan.















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama








217






1.5
alternatif 1 alternatif 2
1
1
1.5
1
1
1

1

kantong lumpur
kantong lumpur
a. kantong lumpur dengan
dinding vertikal dan
tanpa lindungan dasar
b. kemiringan talut bisa lebih
curam akibat pasangan



potongan melintang
pada pengambilan



potongan melintang
pada ujung kantong lumpur
kantong lumpur


alternatif
dengan cara
mengecilkan

alternatif
dengan lebar
dasar konstan
lebar dasr
diperke
.
cil
lebar dasar
konstan.
lebih dasar
d kombinasi alternatif " c "
(potongan memanjang)




muka air normal
muka air
pada akhir pembilasan



Is
kantong lumpur

ds = diperdalam
IL
ds
ISL

d1


Is
kantong lumpur
I IL

ISL
ds

L L

e potongan melintang (skematik)

f alternatif dengan penurunan
dasar pada pengambilan

Gambar 7.5 Potongan melintang dan potongan memanjang kantong lumpur
yang menunjukkan metode pembuatan tampungan


Banyaknya sedimen yang terbawa oleh aliran masuk dapat ditentukan
dari: (1) pengukuran langsung di lapangan (2) rumus angkutan sedimen
yang cocok (Einstein – Brown, Meyer – Peter Mueller), atau kalau tidak
ada data yang andal: (3) kantong lumpur yang ada di lokasi lain yang
sejenis. Sebagai perkiraan kasar yang masih harus dicek ketepatannya,
jumlah bahan dalam aliran masuk yang akan diendapkan adalah 0,5‰.






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
218






Kedalaman tampungan di ujung kantong lumpur (d
s
pada Gambar 7.5)
biasanya sekitar 1,0 m untuk jaringan kecil (sampai 10 m
3
/dt), hingga
2,50 m untuk saluran yang sangat besar (100 m
3
/dt).



7.5 Pembersihan

Pembersihan kantong lumpur, pembuangan endapan sedimen dari
tampungan, dapat dilakukan dengan pembilasan secara hidrolis
(hydraulic flushing), pembilasan secara manual atau secara mekanis.
Metode pembilasan secara hidrolis lebih disukai karena biayanya tidak
mahal. Kedua metode lainnya akan dipertimbangkan hanya kalau metode
hidrolis tidak mungkin dilakukan.
Jarak waktu pembilasan kantong lumpur, tergantung pada eksploitasi
jaringan irigasi, banyaknya sedimen di sungai, luas tampungan serta
tersedianya debit air sungai yang dibutuhkan untuk pembilasan. Untuk
tujuan-tujuan perencanaan, biasanya diambil jarak waktu satu atau dua
minggu.


7.5.1Pembersihan secara hidrolis

Pembilasan secara hidrolis membutuhkan beda tinggi muka air dan debit
yang memadai pada kantong lumpur guna menggerus dan menggelontor
bahan yang telah terendap kembali ke sungai. Frekuensi dan lamanya
pembilasan bergantung pada banyaknya bahan yang akan dibilas, tipe
bahan kohesif atau nonkohesif) dan tegangan geser yang tersedia oleh
air.
Kemiringan dasar kantong serta pembilasan hendaknya didasarkan pada
besarnya tegangan geser yang diperlukan yang akan dipakai untuk
menggerus sedimen yang terendap.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
219






Dianjurkan untuk mengambil debit pembilasan sebesar yang dapat
diberikan oleh pintu pengambilan dan beda tinggi muka air. Untuk
keperluan-keperluan perencanaan, debit pembilasan di ambil 20% lebih
besar dari debit normal pengambilan. Tegangan geser yang diperlukan
tergantung pada tipe sedimen yang bisa berupa:
(1) Pasir lepas, dalam hal ini parameter yang terpenting adalah ukuran
butirnya, atau
(2) Partikel-partikel pasir, lanau dan lempung dengan kohesi tertentu. Jika
bahan yang mengendap terdiri dari pasir lepas, maka untuk
menentukan besarnya tegangan geser yang diperlukan dapat dipakai
grafik Shields. Lihat Gambar 7.6. Besarnya tegangan geser dan
kecepatan geser untuk diameter pasir terbesar yang akan dibilas
sebaiknya dipilih di atas harga kritis. Dalam grafik ini ditunjukkan dengan
kata “bergerak” (movement).
Untuk keperluan perhitungan pendahuluan, kecepatan rata-rata yang

diperlukan selama pembilasan dapat diandaikan sebagai berikut:

1,0 m/dt untuk pasir halus

1,5 m/dt untuk pasir kasar

2,0 m/dt untuk kerikil dan pasir kasar.

Bagi bahan-bahan kohesif, dapat dipakai Gambar 7.7, yang diturunkan
dari data USBR oleh Lane.





















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


220






1.0
0.8
0.6
0.5
0.4
0.3

0.2




BERGERAK
100
80
60
50
40
30

20


0.10
0.08
0.06
0.05
0.04
0.03
10
8
t cr = 800d 6
d > 4.10
-3 5

4
3

0.02

0.01
0.008
0.006
0.005
0.004
0.003


U.cr





t cr


TIDAK BERGERAK

2

1.0
0.8
0.6
0.5
0.4
0.3

0.002

0.2

0.001
0.01

Ps = 2.650 kg/m
3


2 3 4 5 6 8 0.1 2 3 4 5 6 8 1.0 2 3 4 5 6 8 10 2 3 4 5 6 8 100
d dalam milimeter

0.1

Gambar 7.6 Tegangan geser kritis dan kecepatan geser kritis sebagai fungsi
besarnya butir untuk µ
s
= 2.650 kg/m
3
(pasir)


Makin tinggi kecepatan selama pembilasan, operasi menjadi semakin
cepat. Namun demikian, besarnya kecepatan hendaknya selalu dibawah
kecepatan kritis, karena kecepatan superkritis akan mengurangi
efektivitas proses pembilasan.


























Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


221






10

8

6
data - ussr

(ref.11,LANE 1955)

4

3


2

lepas


1.0

0.8
cukup
padat

0.6
0.5

0.4

0.3


0.2



pasir non-kohesit
<0.2 mm


padat


sangat
padat




0.1
0.8 1.0 2 3 4 5 6 8 10 20 30 40 50 60 80 100
gaya geser dalam N/m2

Gambar 7.7 Gaya tarik (traksi) pada bahan kohesif



7.5.2Pembersihan secara manual/mekanis

Pembersihan kantong lumpur dapat juga dilakukan dengan peralatan
mekanis. Pembersihan kantong lumpur secara menyeluruh jarang
dilakukan secara manual. Dalam hal-hal tertentu, pembersihan secara
manual bermanfaat untuk dilakukan di samping pembilasan secara
hidrolis terhadap bahan-bahan kohesif atau bahan-bahan yang sangat
kasar. Dengan menggunakan tongkat, bahan endapan ini dapat diaduk
dan dibuat lepas sehingga mudah terkuras dan hanyut.










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
222






Pembersihan secara mekanis bisa menggunakan mesin penggeruk,
pompa (pasir), singkup tarik/backhoe atau mesin-mesin sejenis itu.
Semua peralatan ini mahal dan sebaiknya tidak usah dipakai.
7.6 Pencekan Terhadap Berfungsinya Kantong Lumpur Perencanaan
kantong lumpur hendaknya mencakup cek terhadap efisiensi
pengendapan dan efisiensi pembilasan.


7.6.1 Efisiensi pengendapan

Untuk mencek efisiensi kantong lumpur, dapat dipakai grafik
pembuangan sedimen dari Camp. Grafik pada Gambar 7.8 memberikan
efisiensi sebagai fungsi dari dua parameter.
Kedua parameter itu adalah w/w
0
dan w/v
0


di mana: w = kecepatan endap partikel-partikel yang ukurannya di
luar ukuran partikel yang direncana, m/dt
w
0
= kecepatan endap rencana, m/dt

v
0
= kecepatan rata-rata aliran daalm kantong lumpur, m/dt
Dengan menggunakan grafik Camp, efisiensi proses pengendapan untuk
partikel-partikel dengan kecepatan endap yang berbeda-beda dari
kecepatan endap partikel rencana, dapat dicek.
Suspensi sedimen dapat dicek dengan menggunakan kriteria Shinohara

Tsubaki. Bahan akan tetap berada dalam suspensi penuh jika:
v - 5

>

w 3

di mana: v - (kecepatan geser) = (g h I)
0.5
, m/dt
g = percepatan gravitasi, m/dt
2
(~ 9,8)

h = kedalaman air, m

I = kemiringan energi

w = kecepatan endap sedimen, m/dt








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
223






Efisiensi pengendapan sebaiknya dicek untuk dua keadaan yang
berbeda:
- untuk kantong kosong

- untuk kantong penuh

Untuk kantong kosong, kecepatan minimum harus dicek. Kecepatan ini
tidak boleh terlalu kecil yang memungkinkan tumbuhnya vegetasi atau
mengendapnya partikel-partikel lempung.
Menurut Vlugter, untuk:

w

v >
1,61

di mana: v = kecepatan rata-rata, m/dt

w = kecepatan endap sedimen, m/dt

I = kemiringan energi

semua bahan dengan kecepatan endap w akan berada dalam suspensi
pada sembarang konsentrasi.

































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
224






a. pengaruh aliran turbulensi terhadap sedimentasi

aliran masuk
aliran keluar


daerah sedimentasi

b.efisiensi sedimentasi partikel-patikel individual untuk aliran turbulensi
1.0


0.9


0.8


0.7


0.6


0.5


0.4


0.3


0.2


0.1
W
2.0

Wo

1.5

1.2
1.1
1.0
0.9
0.8
0.7
0.6

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1


0
0.001

2 3 4 6 8
0.01

2 3 4 6 8

0.1

2 3 4 6 8

1.0
W/vo

Gambar 7.8 Grafik pembuangan sedimen Camp untuk aliran turbelensi (Camp,
1945)



Apabila kantong penuh, maka sebaiknya dicek apakah pengendapan
masih efektif dan apakah bahan yang sudah mengendap tidak akan
menghambur lagi. Yang pertama dapat dicek dengan menggunakan
grafik Camp (lihat Gambar 7.8) dan yang kedua dengan grafik Shields
(lihat Gambar 7.6).



7.6.2Efisiensi pembilasan






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
225






Efisiensi pembilasan bergantung kepada terbentuknya gaya geser yang
memadai pada permukaan sedimen yang telah mengendap dan pada
kecepatan yang cukup untuk menjaga agar tetap dalam keadaan
suspensi sesudah itu.
Gaya geser dapat dicek dengan grafik Shields (lihat Gambar 7.6); dan
kriteria suspensi dari Shinohara/Tsubaki (lihat persamaan 7.3).


7.7 Tata Letak Kantong Lumpur, Pembilas dan Pengambilan di

Saluran Primer

7.7.1 Tata letak

Tata letak terbaik untuk kantong lumpur, saluran pembilas dan saluran
primer adalah bila saluran pembilas merupakan kelanjutan dari kantong
lumpur dan saluran primer mulai dari samping kantong (lihat Gambar
7.9).

Ambang pengambilan di saluran primer sebaiknya cukup tinggi di atas
tinggi maksimum sedimen guna mencegah masuknya sedimen ke dalam
saluran.
Kemungkinan tata letak lain diberikan pada Gambar 7.10. Di sini saluran
primer terletak di arah yang sama dengan kantong lumpur.

























Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


226












pintu pengambilan


kantong lumpur
B
pembilas


saluran
pembilas


. L .
peralihan




garis sedimentasi maksimum



tampungan sedimen
pembilas




Gambar 7.9 Tata letak kantong lumpur yang dianjurkan
Pembilas terletak di samping kantong. Agar pembilasan berlangsung
mulus, perlu dibuat dinding pengarah rendah yang mercunya sama
dengan tinggi maksimum sedimen dalam kantong.
Dalam hal-hal tertentu, misalnya air yang tersedia di sungai melimpah,
pembilas dapat direncanakan sebagai pengelak sedimen/sand ejector
(lihat Gambar 7.11).

Kadang-kadang karena keadaan topografi, kantong lumpur dibuat jauh
dari pengambilan. Kedua bangunan tersebut akan dihubungkan dengan
saluran pengarah (feeder canal). Lihat Gambar 7.12.
















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


227












pintu pengambilan



kantong lumpur
B
dinding
pengarah rendah
pintu
pengambilan


saluran
primer


L




dinding
pengarah rendah



tampungan sedimen
pintu
pengambilan

Gambar 7.10 Tata letak kantong lumpur dengan saluran primer berada pada
trase yang sama dengan Kantong


Kecepatan aliran dalam saluran pengarah harus cukup memadai agar
dapat mengangkut semua fraksi sedimen yang masuk ke jaringan
saluran pada lokasi pengambilan ke kantong lumpur. Di mulut kantong
lumpur kecepatan aliran harus banyak dikurangi dan dibagi secara
merata di seluruh lebar kantong. Oleh karena itu peralihan/transisi
antara saluran pengarah dan kantong lumpur hendaknya direncana
dengan seksama menggunakan dinding pengarah dan alat-alat distribusi
aliran lainnya.


7.7.2Pembilas

Dianjurkan agar aliran pada pembilas direncana sebagai aliran bebas
selama pembilasan berlangsung. Dengan demikian pembilasan tidak
akan terpengaruh oleh tinggi muka air di hilir pembilas.






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama






228






Kriteria utama dalam perencanaan bangunan ini adalah bahwa operasi
pembilasan tidak boleh terganggu atau mendapat pengaruh negatif dari
lubang pembilas dan bahwa kecepatan untuk pembilasan akan tetap
dijaga.
Dianjurkan untuk membuat bangunan pembilas lurus dengan kantong
lumpur.


denah



saluran
primer


A A

kantong
lum pur


dinding
pengarah

kehilangan
tinggi energi
sangat kecil


saluran
pembilas



pengambilan
saluran primer






potongan A-A

Gambar 7.11 Pengelak Sedimen
pengelak sedimen



Agar aliran melalui pembilas bisa mulus, lebar total lubang pembilas

termasuk pilar dibuat sama dengan lebar rata-rata kantong lumpur.






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


229






Pintu bangunan pembilas harus kedap air dan mampu menahan tekanan air
dari kedua sisi. Pintu-pintu itu dibuat dengan bagian depan tertutup.


7.7.3Pengambilan saluran primer

Pengambilan dari kantong lumpur ke saluran primer digabung menjadi
satu bangunan dengan pembilas agar seluruh panjang kantong lumpur
dapat dimanfaatkan. Agar supaya air tidak mengalir kembali ke saluran
primer selama pembilasan, pengambilan harus ditutup (dengan pintu)
atau ambang dibuat cukup tinggi agar air tidak mengalir kembali.

s a lu r a n p e n g a r a h
d in d in g p e n g a r a h
6 - 1 0
1
k a n t o n g
l u m p u
r
1
6 - 1 0


















Gambar 7.12 Saluran Pengarah


Selain mengatur debit, bangunan ini juga harus bisa mengukurnya.
Kedua fungsi tersebut, mengukur dan mengatur, dapat digabung atau
dipisah.
Untuk tipe gabungan, pintu Romijn atau Crump-de Gruyter dapat
dianjurkan untuk dipakai sebagai pintu pengambilan.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
230






Khususnya untuk mengukur dan mengatur debit yang besar, kedua
fungsi ini lebih baik dipisah. Dalam hal ini fungsi mengatur dilakukan
dengan pintu sorong atau pintu radial, dan fungsi mengukur dengan alat
ukur ambang lebar.
Pintu dari alat-alat ukur diuraikan dalam KP – 04 Bangunan.



7.7.4Saluran pembilas

Selama pembilasan, air yang penuh dengan sedimen dialirkan kembali ke
sungai asal, atau sungai yang sama tetapi di hilir bangunan utama,
sungai lain atau ke cekungan.
Untuk perencanaan potongan memanjang saluran, diperlukan kurve
muka air – debit sungai pada aliran keluar dan bagan frekuensi
terjadinya muka air tinggi di tempat itu.

Pengalaman telah menunjukkan bahwa perencanaan yang didasarkan
pada kemungkinan pembilasan dengan menggunakan muka air sungai

dengan periode ulang 20% - 40%, akan memberikan hasil yang

memadai.

Lebih disukai jika saluran pembilas dihubungkan langsung dengan dasar
sungai. Bila sungai sangat dalam pada aliran keluar, maka pembuatan
salah satu dari kemungkinan-kemungkinan berikut hendaknya
dipertimbangkan:
- bangunan terjun dengan kolam olak dekat sungai

- got miring di sepanjang saluran

- bangunan terjun dengan kolam olak dengan kedalaman yang cukup,
tepat di hilir bangunan pembilas.


7.8 Perencanaan Bangunan










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
231






Pasangan (lining) kantong lumpur harus mendapat perhatian khusus
berhubung adanya kecepatan air yang tinggi selama dilakukan
pembilasan serta fluktuasi muka air yang sering terjadi dengan cepat.
Pasangan hendaknya cukup berat dan dengan permukaan yang mulus
agar mampu menahan kecepatan air yang tinggi. Untuk menahan
tekanan ke atas akibat fluktuasi muka air, sebaiknya dilengkapi dengan
filter dan lubang pembuang.
Bila kantong lumpur dipisah dengan sebuah dinding pengarah dan
adalah mungkin bahwa sebuah ruang kering dan bersih sementara yang
lainnya penuh, maka stabilitas dinding pemisah terhadap pembebanan ini
harus dicek.









































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
232






8. PENGATURAN SUNGAI DAN BANGUNAN PELENGKAP



8.1 Lindungan Terhadap Gerusan

Bangunan yang dibuat di sungai akan menyebabkan terganggunya aliran
normal dan akan menimbulkan pola aliran baru di sekitar bangunan,
yang dapat menyebabkan terjadinya penggerusan lokal/setempat (local
scouring) di dasar dan tepi sungai. Adalah mungkin untuk melindungi
bagian sungai di sekitar bangunan utama terhadap efek penggerusan
semacam ini. Harap dicatat bahwa konstruksi-konstruksi lindung yang
dibicarakan di sini tidak akan bermanfaat untuk mengatasi penurunan
dasar sungai yang meliputi jangka waktu lama (degradasi). Hanya
perencanaan bangunan itu sendiri yang akan mampu melindungi
bangunan itu terhadap degradasi sungai.


8.1.1 Lindungan dasar sungai

Penggerusan lokal di hilir kolam olak dapat diatasi dengan lindungan
dari pasangan batu kosong. Jika di daerah itu cukup tersedia batu-batu
yang berkualitas baik dan beratnya memadai, maka dapat dibuat lapisan
pasangan batu kosong. Bila direncana dengan baik, lapisan ini sangat
menguntungkan dan awet (lihat bagian 6.2.2). Agar tanah asli tidak
hanyut, maka pasangan batu kosong sebaiknya selalu ditempatkan pada
filter yang sesuai (lihat bagian 6.2.3).
Bronjong (lihat bagian 6.2.4) merupakan alternatif yang bagus, jika
hanya batu-batu berukuran kecil saja yang tersedia, misalnya batu kali.
Bronjong pun, karena merupakan perlindungan terbuka, sebaiknya
ditempatkan pada filter yang sesuai: filter pasir-kerikil atau filter kain
sintetis.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
233






Bronjong tidak boleh digunakan untuk bagian-bagian bangunan utama
yang permanen. Bronjong paling sesuai untuk konstruksi pengaturan
sungai.
Pada umumnya tidak dianjurkan untuk memakai lindungan tertutup
seperti pasangan batu di hilir bangunan di sungai, karena ini akan
memperpanjang jalur rembesan dan menambah gaya tekan ke atas
(uplift).

Penggerusan lokal tepat di hulu tubuh bendung atau pilar bendung
gerak, umum terjadi. Perlindungan terhadap penggerusan semacam ini
adalah dengan membuat pasangan batu atau lantai beton di depan
bangunan. Disini lindungan tertutup akan menguntungkan karena akan
dapat mengurangi gaya tekan ke atas.
Karena pengaruh pencepatan aliran biasanya jauh lebih kecil daripada
pengaruh penurunan kecepatan, maka panjang lindungan hulu terhadap
gerusan lokal akan berkisar antara 2 sampai 3 kali kedalaman air
rencana. Di hilir, panjang lindungan ini sekurang-kurangnya 4 kali
kedalaman lubang gerusan (lihat Bab 6.2.2).


8.1.2 Lindungan tanggul sungai

Pekerjaan lindungan sungai berupa bronjong, pasangan batu kosong
pasangan batu atau pelat beton.
Harus diperhatikan bahwa kedalaman pondasi lindungan memadai atau
bagian dari konstruksi tersebut bisa mengikuti penggerusan dasar sungai
tanpa hilangnya stabilitas bangunan secara keseluruhan.
Mungkin diperlukan pekerjaan pengaturan sungai guna memperbaiki pola
aliran di hulu bangunan atau untuk memantapkan bagian tanggul sungai
yang belum stabil.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


234






Di ruas atas yang curam, palung kecil sungai itu mungkin tidak stabil dan
diperlukan beberapa krib untuk menstabilkan dasar sungai di dekat
pengambilan (lihat Gambar 8.1).
Di ruas-ruas tengah dan bawah, biasanya lokasi bendung akan dipilih di
ruas yang stabil. Pada sungai teranyam (braided river) atau sungai
dengan tanggul pasir yang berpindah-pindah, ruas stabil seperti yang
dimaksud mungkin tidak ada.
Setelah pembuatan bendung atau bendung gerak di sungai semacam itu,
dasar sungai di bagian hulu akan naik dan cenderung kurang stabil
daripada sebelumnya. Mungkin diperlukan pekerjaan pengaturan sungai
yang ekstensif guna menstabilkan aliran di hulu bangunan yang baru.





tanggul banjir












bantaran terancam
kri
b

pengambilan







krib



bendung
gerak






bendungan


tanggul banjir





Gambar 8.1 Pengarah aliran








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama



235








Di hilir bangunan utama, bahaya penggerusan tanggul sungai biasanya
lebih besar karena turbelensi dan kecepatan air lebih tinggi.
Di sungai yang relatif lebar dan dalam, krib mungkin merupakan cara
pemecahan yang ekonomis.
Jarak antara masing-masing krib adalah:

C
2
h

L < o
2g

di mana: L = jarak antar krib, m

· = parameter empiris (~ 0,6)


C = koefisien Chezy, m
1/2
/dt (~ 45 untuk sungai)

h = mean (nilai tengah) kedalaman air, m
g = percepatan gravitasi, m/dt
2
(~ 9,8)
Kalau tidak ada alur/trase krib yang paling cocok yang dapat diputuskan,
maka sebaiknya diambil pemecahan termurah, yaitu yang tegak lurus
terhadap tanggung (lihat Gambar 8.2).




aliran sungai
krib















krib batu buangan




denah










potongan



Gambar 8.2 Contoh krib









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama










bronjong

matres




236






Tinggi mercu krib sebaiknya paling tidak sama dengan elevasi bantaran.
Kemiringan lapis lindung tanggul dan krib biasanya berkisar antara 1: 2,5
sampai 1 : 3,5 untuk kemiringan di bawah muka air dan 1 : 1,5 sampai 1
: 2,5 untuk kemiringan di luar air. Kemiringan ujung krib kadang-kadang
diambil 1 : 5 sampai 1 : 10 untuk mengurangi pusaran air/vortex dan
efeknya.



muka air-rata-rata

muka air-rendah
rata-rata



potongan A












denah
A

krib dari bronjong

B
matras dihubungkan
satu sama lain
(engsel)


penggerusan

muka air-tinggi normal
pilar kayu
muka air
rata-rata
gelagar
muka air
rendah
normal




krib terbuat dari kayu (tipe terbuka)

Gambar 8.3 Krib dari bronjong dan kayu

pilar kayu
gelagar






potongan B








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
237






Krib dapat dibuat dengan tipe “terbuka” seperti ditunjukkan pada
Gambar 8.3 air bisa mengalir melalui bangunan ini, yang biasanya dibuat
dari pilar-pilar kayu yang dipancang ke dasar sungai dan dipasang rapat
satu sama lain, guna menahan aliran. Bangunan terbuka ini kurang kuat
dan mudah rusak selama banjir.






8.2 Tanggul

8.2.1 Panjang dan elevasi

Kurve pengempangan digunakan untuk menghitung panjang dan elevasi
tanggul banjir di sepanjang sungai untuk banjir dengan periode ulang
yang berbeda-beda.
Perhitungan yang tepat untuk kurve pengempangan dapat dikerjakan
dengan metode langkah standar (standar step method) bila potongan
melintang, kemiringan dan faktor kekerasan sungai ke arah hulu lokasi
bendung sudah diketahui sampai jarak yang cukup jauh.
Perkiraan kurve pengempangan yang cukup akurat dan aman adalah

(lihat Gambar 8.4).

x

z = h ( 1 - )
2

L

for

h

>1
a

h


L =
2h

I

a + h

for s1
a
L =
I

di mana: a = kedalaman air di sungai tanpa bendung, m

h = tinggi air berhubung adanya bendung (dimuka bendung), m

L = panjang total di mana kurve pengempangan terlihat, m

z = kedalaman air pada jarak x dari bendung, m






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


238






x = jarak dari bendung, m

I = kemiringan sungai

Akibat agradasi sungai di hulu bendung, permanen, elevasi tanggul harus
dicek untuk memastikan apakah tanggul itu sudah aman terhadap banjir
selama umur bangunan.


8.2.2Arah poros

Tanggul banjir sebaiknya selalu jauh dari dasar air rendah sungai, atau
dilindungi dari bahaya erosi akibat aliran yang cepat.


Z


h


a

x

L


Gambar 8.4 Kurve pengempangan


Tinggi jagaan

Tanggul banjir sebaiknya direncana 0,25 m di atas elevasi pangkal
bendung (abutment) guna menciptakan keamanan ekstra: selama terjadi
banjir yang luar biasa besar, bendung dan pangkalnya akan melimpah
dulu, melindungi bangunan agar tidak terlanda banjir.


8.2.4Potongan melintang

Tanggul banjir akan direncana dengan lebar atas 3 m. Jika tanggul itu
harus juga menyangga jalan di atasnya, maka lebar itu hendaknya
ditambah sesuai dengan kebutuhan.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
239






Kemiringan hulu dan hilir diambil menurut harga-harga yang diberikan
pada Tabel 8.1 di bawah ini. Harga-harga itu dianjurkan untuk tanggul
tanah homogen (seragam) dengan pondasi yang stabil. Tanggul tanah
tidak homogen harus direncana sesuai dengan teori yang sudah ada.












Tabel 8.1 Harga-harga kemiringan talut untuk tanggul tanah homogen (menurut
USBR, 1978).

Klasifikasi tanah
1)





GW, GP, SW, SP

GC, GM, SC, SM
CL, ML
CH, MH

1)
Menurut Unified Soil Classification System (lihat KP – 06 Parameter bangunan)



Tanggul yang tingginya lebih dari 5 m sebaiknya dicek stabilitasnya
dengan menggunakan metode yang cocok. Dalam KP – 06 Parameter
Bangunan diberikan metode-metode yang dianjurkan.
Bila pondasi tanggul tidak kedap air, maka harus dibuat parit halang

(cut-off trench) yang dalamnya sampai 1/3 dari tinggi air. Lihat Gambar

8.5










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


240






tanah seragam
dipadatkan

H


H/3

dinding halang kupasan



Gambar 8.5 Potongan Melintang Tanggul


8.2.5 Pembuang

Pembuangn air (drainase) daerah di belakang tanggul banjir sampai ke
sungai harus dipertimbangkan, khususnya jika tanggul sejajar dengan
sungai (lihat Gambar 8.6).
Kebutuhan pembuangan air dapat dipenuhi dengan membuat saluran
pembuang paralel yang mengalirkan airnya ke kantong lumpur, atau
dengan pembuang yang memintas melalui tanggul dan dilengkapi
dengan pintu otomatis yang menjaga agar air tidak masuk selama muka
air tinggi.
Kemudian akan terjadi genangan dan oleh karena itu sistem ini tidak
cocok untuk daerah-daerah yang berpenduduk.
Bila tidak dapat dipakai pintu otomatis, maka dapat dipilih pintu sorong
jika tenaga eksploitasinya tersedia.



















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
241








pem buang sejajar





sungai
bendung






pint
u



Gambar 8.5 Cara memecahkan masalah pembuangan air


8.3 Sodetan sungai

Kadang-kadang lebih menguntungkan untuk membuat bangunan utama

di luar alur sungai yang ada dan membelokkan sungai itu sesudah
pelaksanaan selesai. Dalam metode pelaksanaan ini, masalah keteknikan
sungai hendaknya mendapat perhatian yang sungguh-sungguh selama
perencanaan, misalnya alur sodetan, dimensi alur, perubahan dasar
sungai serta penutupan sungai.
Tata letak

Tata letak yang tepat untuk sodetan bergantung kepada banyak faktor:

geologi, geologi teknik, bangunan, topografi dan sebagainya.

Namun demikian, ada beberapa pertimbangan umum berdasarkan
perilaku sungai yang dapat diberikan di sini, yaitu:
- gangguan morfologi sungai diusahakan sesedikit mungkin














Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama




242






s odetan (k opur) C

A =A'


bendung baru


tanggul penutup


denah

B



bendung
baru






A



potongan m em anjang


B
A'

C

Gambar 8.7 Kopur atau sodetan


- menurunnya dasar sungai akibat adanya sodetan harus dipikirkan
kedalaman pondasi bangunan di sebelah hulu hendaknya dicek.
Gambar 8.7 memberikan contoh sodetan pada sungai berminder. Jarak
antara A dan C diperpendek dengan sodetan. Dasar sungai akan turun
guna mendapatkan kembali keseimbangan batasnya (ultimate
equilibrium). Ini akan memerlukan banyak waktu, tetapi koperan hilir
bendung dan pangkal bendung harus aman terhadap erosi semacam ini.
Tanggul penutup









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


243






Penutupan dasar sungai lama dan pembelokan sungai tersebut ke atau
melalui bangunan utama yang baru hendaknya direncanakan secara
terinci.
Ada beberapa hal yang akan membantu dalam perencanaan ini, yaitu:

- aliran harus dibelokkan melalui sodetan (dan bangunan utama)

dengan sedikit menaikkan muka air hulu.

- Penutupan sungai harus dilakukan pada waktu terjadi aliran kecil
yang meliputi jangka waktu lama.
- Penutupan harus dilakukan dengan amat cepat

- Bahan yang dipakai untuk menutup sebaiknya bahan berat dan
tersedia dalam jumlah yang cukup.
Bila penutupan awal telah berhasil, maka tanggul penutup itu diperkuat
supaya menjadi permanen. Tanggul harus diberi lindungan terhadap
erosi, terutama sisi yang terkena air sungai.
Dalam beberapa hal, tanggul penutup lebih baik dibuat jauh dari sodetan
setelah aliran sungai berhasil dibelokkan. Dalam hal ini „lengan‟ sungai 9
yang mati di hulu tanggul penutup akan terisi sedimen dan menambah
aman tanggul tersebut.


muka banjir

muka air
rendah



sedimentasi yang
akan terjadi

tanggul penutup
sementara (batu berat)
tanggul penutup
-permanen





pembuang di
kaki tanggul

Gambar 8.8 Tipe Tanggul Penutup
9. PENYELIDIKAN MODEL HIDROLIS







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
244








9.1 Umum

Model hidrolis dipakai untuk mensimulasi perilaku hidrolis pada prototip
bendung atau bendung gerak yang direncanakan dengan skala lebih
kecil.
Kemungkinan lain untuk mensimulasi perilaku hidrolis adalah membuat
model matematika pada komputer. Pengukuran langsung di lapangan
atau dalam model fisik harus dilakukan untuk memantapkan hasil-hasil
yang diperoleh dari perhitungan komputer.
Penyelidikan model dilakukan untuk meyelidiki perilaku (performance)

hidrolis dari seluruh bangunan atau masing-masing komponennya. Model
komputer dipakai untuk studi banjir dan gejala morfologi seperti agradasi
dan degradasi yang akan terjadi di sungai itu.
Ahli yang bertanggung jawab atas perencanaan jaringan irigasi, harus
memutuskan apakah penyelidikan model diperlukan atau tidak,
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut:
- apakah kondisi lokasi sedemikian rupa sehingga akan timbul masalah-
masalah yang tidak bisa dipecahkan dengan pengalaman yang ada
sekarang.
- apakah masalah-masalah bangunan begitu kompleks sehingga
dengan parameter-parameter dan standar perencanaan yang ada
tidak mungkin dibuat suatu perencanaan akhir yang dapat diterima.
- apakah hasil-hasil penyelidikan model itu akan berarti banyak
menghemat biaya.
- apakah aturan-aturan pendahuluan untuk eksploitasi dan
pemeliharaan bangunan nanti tidak dapat ditetapkan berdasarkan
pengalaman sebelumnya.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
245






- Apakah biaya pelaksanaan penyelidikan model tidak besar
dibandingkan dengan seluruh biaya pelaksanaan bangunan.
Pasal 9.2 menjelaskan komponen-komponen bangunan bendung yang

dapat diselidiki dalam model hidrolis, dengan mempertimbangkan kondisi
lokasi yang sebenarnya.
Kriteria untuk menentukan perlunya melakukan penyelidikan model
diberikan pada pasal 9.3.


9.2 Penyelidikan Model untuk Bangunan Bendung
Komponen-komponen bangunan bendung berikut serta konstruksi-
konstruksi pelengkapnya dapat diselidiki dalam model hidrolis:
- lokasi dan tatal letak umum bangunan bendung

- pekerjaan pengaturan sungai di hulu bangunan

- bentuk mercu bendung pelimpah tetap

- pintu-pintu utama bendung gerak termasuk bentuk ambangnya

- kolam olak dan efisiensinya sebagai peredam energi

- eksploitasi pintu bendung gerak sehubungan dengan penggerusan
lindungan dasar dan dasar sungai
- kompleks pembilas/pengambilan sehubungan dengan pengelakkan
sedimen
- saluran pengarah dan kantong lumpur sehubungan dengan sitribusi
kecepatan yang seragam.


9.2.1Lokasi dan tata letak

Sebelum memulai pelaksanaan model, lokasi harus dipilih dan tata letak
umum harus dibuat. Kriteria yang harus dipertimbangkan untuk
pemilihan lokasi dan penentuan dimensi-dimensi utama telah dibicarakan
dalam Bab 3.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
246






Penyelidikan model biasanya tidak dipakai untuk
pemilihan lokasi. Alasan utamanya adalah bahwa
perencanaan hidrolis hanyalah merupakan salah satu
dari banyak kriteria yang menentukan pemilihan
lokasi. Tata letak pendahuluan bangunan utama bisa
dicek dalam model, yang dilakukan untuk pekerjaan-
pekerjaan bangunan yang besar dan rumit. Untuk
bangunan utama yang sederhana, pencekan
semacam ini tidak perlu.
Apabila bangunan bendung akan dibuat di salah satu
dari saluran cabang di daerah delta sungai, maka
penyelidikan akan diperlukan untuk menentukan
konsekuensi-konsekuensi hidrolik dan morfologi
untuk jaringan sungai pada umumnya dan saluran
cabang dari bangunan utama khususnya. Dalam hal
ini, lokasi bangunan di sungai harus diselidiki secara
lebih mendetail.
Walaupun masalah-masalah ini dapat diselidiki dalam
model fisik, namun sudah tersedia pula model-model
komputer untuk mensimulasi perilaku hidrolis dan
morfologis sungai, dengan mengandaikan bahwa
proyek berada di tempat yang benar. Penggunaan
model-model komputer akan lebih murah, cepat dan
tergantung pada data yang tersedia, hasil-hasilnya
akan mempunyai tingkat ketepatan yang sama
dibanding dengan hasil-hasil model fisik.


9.2.2 Pekerjaan Pengaturan Sungai








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
247






Mungkin diperlukan pekerjaan pengaturan sungai
guna memperbaiki pola aliran di hulu bangunan atau
untuk memantapkan tanggul sungai yang belum
stabil.
Di ruas-ruas sungai bagian atas yang curam, palung
kecil yang ada mungkin tidak stabil dan kadang-
kadang melewati pengambilan. Kalau demikian
halnya, diperlukan krib untuk menstabilkan palung
kecil dekat pengambilan. Ini adalah pekerjaan yang
relatif kecil dan bisa rusak akibat banjir besar dan
perlu diperbaiki sewaktu-waktu. Oleh sebab itu
penyelidikan model bukan merupakan keharusan.
Pekerjaan lindungan tanggul biasanya dapat
direncana menurut aturan-aturan umum
perencanaan, tanpa penyelidikan dengan model.
Perlu diperhatikan agar kedalaman pondasi
lingkungan cukup kuat, atau agar bagian-bagian
konstruksi itu dapat mengikuti penggerusan dasar
sungai tanpa mengurangi stabilitas bangunan secara
keseluruhan.
Lokasi bendung biasanya akan dipilih di ruas sungai
yang stabil. Tetapi pada sungai teranyam atau
sungai dengan sistem tanggul pasir yang berpindah-
pindah, ruas stabil seperti ini mungkin tidak ada.
Setelah pembuatan bendung atau bendung gerak di
sungai semacam ini, dasar sungai di sebelah hulu
akan naik dan cenderung kurang stabil daripada
sebelumnya. Pekerjaan pengaturan sungai perlu







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
248






dilaksanakan secara menyeluruh (ekstensif) guna
menstabilkan aliran di hulu bendungan yang baru.
Dalam perencanaan pekerjaan pengaturan sungai,
pola aliran yang menuju ke pengambilan harus
diperhitungkan sehubungan dengan banyaknya
sedimen yang akan masuk ke jaringan saluran irigasi.
Hal ini penting khususnya bila air diambil pada kedua
sisi sungai.
Oleh sebab itu, untuk bendung atau bendung gerak
semacam ini, dianjurkan untuk menyelidiki pola
aliran dan tata letak pekerjaan sungai dalam model
hidrolis, karena sifatnya yang kompleks, perencanaan
pendahuluan mungkin tidak bisa memenuhi semua
persyaratan dan penyelidikan model dapat
menunjukan banyak kemungkinan untuk perbaikan.
Hasil-hasil penyelidikan model akan banyak
memungkinkan penghematan biaya pelaksanaan.


9.2.3 Bentuk Mercu Bendung Pelimpah

Sampai saat ini telah banyak dilakukan penyelidikan
bentuk mercu bendung dengan model dan hasil-
hasilnya telah banyak diterbitkan dalam buku-buku
teks.
Mercu-mercu tipe Ogee dan tipe bulat yang umum
dipakai di Indonesia telah banyak diselidiki;
parameter-parameter perencanaannya diberikan
dalam pasal 4.2.2.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
249






Penyelidikan model diperlukan hanya kalau situasi
tertentu menimbulkan masalah yang sulit dipecahkan
dengan kemampuan yang ada serta parameter-
parameter yang tersedia tidak dapat diterapkan.


9.2.4 Pintu Bendung Gerak dan Bentuk

Ambang

Sudah banyak metode yang dipakai untuk
merencanakan pintu bendung gerak, bergantung
kepada persyaratan-persyaratan khusus proyek serta
selera seni pada waktu perencanaan sedang dibuat.
Kebanyakan perencanaan modern menggunakan
pintu radial atau pintu sorong; pintu sorong besar
tidak praktis karena gaya gesekannya besar.
Pintu ini biasanya direncana sebagai pintu aliran
bawah (undershot), dan asal saja beberapa kriteria
dasar perencanaannya diikuti, maka tidak lagi
diperlukan pengujian dengan model untuk mencek
harga-harga koefisien debit atau perilaku getaran
(vibrasi) untuk ukuran-ukuran pintu yang biasa
direncana.
Apabila digunakan pintu radial atau sorong sebagai
gabungan antara pintu aliran bawah dan aliran atas,
maka masalah-masalah hidromekanik yang timbul
akan lebih rumit. Debit pembuang, misalnya yang
digunakan untuk membersihkan benda-benda hanyut
di pengempangan hulu, tidak akan memerlukan
penyelidikan dengan model secara teliti. Tetapi pintu







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
250






yang dapat diturunkan sampai rendah sekali, atau
pintu yang mempunyai katup yang besar di bagian
atasnya untuk mengatur tinggi muka
pengempangan, biasanya harus diselidiki dengan
model untuk mencek unjuk kerja hidrolis dan
perilaku hidromekanik pintu tersebut. Pengujian
semacam ini amat rumit dan sedapat mungkin
hindari perencanaan tipe pintu ini dalam
perencanaan bangunan utama biasa untuk irigasi.
Perencanaan hidrolis ambang dapat dilakukan tanpa
penyelidikan dengan model. Kecepatan aliran di hilir
pintu dapat dihitung; bahan yang akan dipakai untuk
menahan derasnya kecepatan aliran harus dipilih
dengan seksama dengan mempertimbangkan abrasi
akibat bahan-bahan dasar yang tajam.






9.2.5 Kolam Olak

Sudah banyak penyelidikan baik dengan prototip
maupun dengan model yang telah dilakukan dengan
menentukan parameter-parameter yang akan
menghasilkan perencanaan yang andal dan irit biaya.
Kriteria utama yang harus dipenuhi agar kolam olak
dapat berfungsi dengan baik adalah energi harus
dapat diredam secara efisien di dalam air sehingga
dasar sungai di sebelah hilir tidak akan tergerus
terlalu dalam atau rusak berat sehingga usaha







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
251






perbaikannya akan berada di luar jangkauan
pekerjaan pemeliharaan biasa.
Kolam loncat air (hydraulic jump basin) telah banyak
diselidiki dan keandalannya terbukti baik di lapangan.
Kolam ini dapat direncana tanpa penyelidikan model,
asal saja parameter-parameter perencanaan yang
sesungguhnya berada dalam ruang lingkup
penerapan. Masalah pokoknya adalah degradasi atau
menurunnya dasar sungai setelah bendung atau
bendung gerak dibangun. Besarnya degradasi ini
harus diperkirakan dan kolam olak direncana sesuai
dengan keadaan yang akan terjadi ini dan dengan
keadaan tinggi muka air dan dasar sungai yang
sekarang. Bila parameter-parameter perencanaan
kolam olak ternyata tidak dapat memberikan cara
pemecahan yang memuaskan atas kedua keadaan
tersebut di atas, maka akan diperlukan tambahan
penyelidikan dengan model guna memperoleh hasil
perencanaan yang seimbang dan paling efektif dari
segi biaya.
Peredam energi tipe bak tenggelam (submerged
bucked dissipator) telah diselidiki oleh USBR.
Sebagian besar dari penyelidikan itu dilakukan
terhadap tipe bak berlubang (slotted bucket) untuk
pelimpah energi tinggi.
Jika tinggi energi masih dapat dikerjakan dengan
data-data yang diberikan oleh Puslitbang Air, maka
data-data ini dapat dipakai untuk menyelesaikan







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
252






perencanaan akhir. Dalam perencanaan ini degradasi
dasar sungai yang mungkin akan terjadi di waktu
yang akan datang, harus dipertimbangkan.


9.2.6 Eksploitasi Pintu Bendung Gerak

Untuk bendung gerak berpintu banyak dan mungkin
dengan pengambilan di kedua sisi sungai, cara
terbaik eksploitasi pintu-pintu ini dapat diselidiki
dengan model. Ada dua fenomena/gejala yang akan
diselidiki dengan model demikian, yakni: (1)
masuknya sedimen ke dalam jaringan saluran irigasi,
dan (2) kedalaman maksimum penggerusan
sehubungan dengan cara eksploitasi pintu ini.


9.2.7 Pengambilan dan Pembilas

Untuk debit saluran dengan besaran normal, tidak
diperlukan penyelidikan dengan model secara
mendetail untuk pengambilan dan pembilas. Kini
sudah banyak sekali tipe pengambilan untuk
berbagai keadaan lapangan. Di samping itu juga
telah tersedia hasil-hasil penyelidikan dengan model.
Kritera perencanaan untuk pengambilan dan
pembilas, akan memberikan dasar yang cukup
memadai untuk menyelesaikan perencanaan hidrolis
akhir.
Bila sungai mengangkut batu-batu besar selama
banjir, bisa dipertimbangkan untuk memasang









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
253






saringan (screen) agar batu-batu tersebut tetap jauh
dari pengambilan.
Kemampuan kerja saringan semacam itu dapat
diselidiki dengan model. Kriteria perencanaan bagi
saringan ini hampir tidak mungkin ditetapkan, karena
melihat banyak faktor yang tidak diketahui.


9.2.8 Saluran Pengarah dan Kantong

Lumpur

Saluran pengarah (feeder canal) biasanya berupa
bagian saluran melengkung yang mengantarkan
debit dari pengambilan ke kantog lumpur.
Kecepatan aliran di dalam saluran pengarah harus
cukup tinggi untuk mengangkut semua fraksi
sedimen yang masuk ke jaringan saluran pada
pengambilan. Di mulut kantong lumpur, kecepatan
aliran akan sangat diperlambat dan distribusinya
merata di seluruh lebar kantong. Oleh sebab itu,
peralihan antara saluran pengarah dan kantong
lumpur harus direncana secara seksama, dilengkapi
dengan dinding pengarah dan alat-alat pengatur
distribusi aliran lainnya.
Penyelidikan dengan model secara mendetail akan
sangat membantu menciptakan distribusi aliran yang
seragam/merata.
Kemampuan kerja kantong lumur tidak bisa diselidiki
di laboratorium, karena adanya efek skala.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
254






9.3 Kriteria untuk Penyelidikan dengan

Model

Sebagaimana telah disebutkan dalam pasal 9.1,
perencana harus memutuskan apakah diperlukan
penyelidikan dengan model atau tidak.
Untuk dapat memilih kriteria yang dapat diterapkan
untuk kondisi-kondisi tertentu di lapangan, klasifikasi
situasi yang benar-benar dijumpai di lapangan
diberikan pada Tabel A.3.1, A.3.2 dan A.3.3 (lihat
Lampiran 3).
Klasifikasi tersebut didasarkan pada hal-hal berikut:

- ruas sungai; atas, tengah, bawah

- lebar rata-rata sungai dan aliran permukaan (overland flow)

- debit per lebar satuan sungai

- ukuran butir bahan dasar yang diangkut oleh sungai

- besar debit saluran.

Berdasarkan klasifikasi ini, dianjurkan agar
penyelidikan model dilakukan untuk komponen-
komponen bangunan utama berikut:
- lokasi dan tata letak umum

- pekerjaan pengaturan sungai

- pintu-pintu bendung termasuk ambang

- kolam olak

- eksploitasi pintu

- pengambilan dan pembilas

- saluran pengarah dan kantong lumpur

- bangunan pembilas










Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
255






Pada tabel-tabel itu disebutkan apakah penyelidikan
model dianjurkan atau tidak.
Ruang lingkup proyek, yang dijelaskan pada tabel-
tabel tersebut, berada di luar jangkuan bangunan
yang dianggap sahih/valid bagi standar perencanaan.
Hal ini dicantumkan karena, pertama: tidak dapat
diberikan definisi yang tepat untuk istilah proyek
“standar”, dan kedua: ruang lingkup itu memberikan
indikasi mengenai penyelidikan model bagaimana
yang diperlukan untuk bangunan-bangunan yang
lebih besar.









































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
256






10. METODE PELAKSANAAN



10.1 Umum

Besarnya pekerjaan untuk sebuah bendung dan
bangunan-bangunan pelengkapnya, serta kenyataan
bahwa bendung tersebut harus dibangun di sungai,
memaksa kita untuk
mempertimbangkan persyaratan-persyaratan
yang diperlukan selama pelaksanaan.
Metode pelaksanaan yang akan
diterapkan harus diperikan (dideskripsikan) dengan
jelas agar tidak menimbulkan masalah selama
pelaksanaan. Ada dua metode yang dapat
dipertimbangkan: pelaksanaan di dasar sungai dan
pelaksanaan yang sama sekali ada di luar dasar
sungai.


10.2 Pelaksanaan di Sungai

Sungai harus dibelokkan selama pelaksanaan
berlangsung. Untuk ini sebagian dari sungai tersebut
dikeringkan, atau seluruh aliran sungai dibelokkan
melalui saluran atau terowongan pengelak. Untuk
merencanakan elevasi tanggul pengelak (coffer dam)
yang menutup sungai dan melindungi ruang kerja,
maka kemungkinan melimpahnya banjir dan banjir
rencana selama pelaksanaan berlangsung harus
ditentukan.











Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
257






Untuk mengukur risiko ini dapat digunakan grafik
pada Gambar 10.1 yang memberikan perhitungan
risiko yang diterima selama umur bangunan.
Umur sebuah saluran atau bendung pengelak
biasanya dua sampai tiga tahun, bergantung kepada
waktu pelaksanaan.
Apakah risiko melimpahnya bendungan pengelak
akan menjadi tanggungan pihak kontaktor atau
perencana diputuskan dengan jelas dalam dokumen
kontrak. Pada umumnya itu menjadi tanggung jawab
kontraktor dengan pihak Pemberi Pekerjaan
menunjukkan tinggi keamanan yang terendah.
Selama perencanaan, pemilihan metode pelaksanaan
harus juga didasarkan pada kelayakan dan biayanya.
Dan tergantung pada keahlian Pelaksana Pekerjaan,
harus diputuskan metode mana yang hendak diikuti.
Hal-hal yang harus dicek dan dipersiapkan selama
perencanaan pendahuluan adalah:
- tanggul pengelak

- saluran atau terowongan pengelak

- pembuangan air (drainase).






















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
258








1000
800
600

400
300
200
(Pr = perhitungan risiko yang diterima)
1% 5% Pr dalam


100
80
60

40
30

20


10
8
6

4
3

2


1
1 2 3 4 5 6 8 10 20 30 40 50 60 80 10
umur bangunan yang diinginkan d dalam tahun

Gambar 10.1 Grafik untuk menentukan perhitungan

risiko yang diterima



- jadwal pelaksanaan

- tersedianya bahan bangunan

- debit maksimum sungai selama pelaksanaan

- pengeringan (dewatering) lokasi pekerjaan

Berkenaan dengan jadwal waktu, kadang-kadang
orang bisa bekerja di dasar sungai tanpa
memerlukan terlalu banyak perlindungan dengan
merencanakan pekerjaan itu menurut musim:
kebanyakan daerah di Indonesia mempunyai musim







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
259






kering dan penghujan yang berlainan dan dengan
demikian terdapat perbedaan-perbedaan besar
dalam hal ini debit sungai.


10.3 Pelaksanaan di tempat Kering
Dalam banyak hal, metode pelaksanaan ini akan
lebih disukai. Bangunan dibuat di luar dasar sungai,
kemudian sungai itu dielakkan sesudah pelaksanaan
selesai. Metode ini disebut “pelaksanaan pada
sudetan” (kopur).
Risiko kerusakan yang diakibatkan oleh penggenaan
ruang kerja, kecil saja dan dijumpai sedikit saja
hambatan pelaksanaan.
Jika ternyata layak, maka metode pelaksanaan ini
akan dipilih, bahkan kalau biayanya mahal sekali
pun. Baik risiko kerusakan bahan maupun kerusakan-
kerusakan lain selama pelaksanaan harus sedapat
mungkin dihindari. Hal ini hendaknya mendapat
perhatian khusus.
Pembelokan aliran sungai setelah pembuatan
bendung atau bendung gerak selesai, dilakukan
dengan tanggul penutup. Tanggul tersebut akan
dibangun sedekat mungkin dengan mulut sodetan.
Guna mengurangi beda muak air pada tanggul
penutup selama pelaksanaan, muka air di depan
bangunan utama yang baru harus dijaga agar tetap
rendah, dengan cara membuka pintu pengambilan
dan melewatkan air sebanyak mungkin melalui pintu-







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
260






pintu itu. Tanggul penutup merupakan tanggul
sementara saja, jika tanggul permanen akan dibuat
di tempat lain mungkin lebih ekonomis.

























































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
261



























LAMPIRAN 1








































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
262













Lampiran 1 Daftar instansi-instansi yang dapat diminta data

Umum:

Perpustakaan PU Jl. Pattimura 20
Jakarta

LIPI Jl. Jend. Sudirman
Jakarta
Jl. Sangkuriang Cisitu
Bandung

Data Topografi:

BAKOSURTANAL Jl. Raya Jakarta
Bogor
- peta-peta topografi dan Km. 46 Cibinong
foto-foto udara Tlp. 82062-82063

DPUP Di Ibukota Propinsi

PU SEKSI PENGUKURAN Jl. Pattimura 20
Jakarta

PENGUKURAN GEOLOGI INDONESIA Jl. Diponegoro 59
Tlp. 73205/8
Bandung

Data Hidrologi:

DPMA seksi Hidrologi Jl. Ir.H.Juanda 193
- data sebagian besar sungai Bandung
pusat koleksi data juga
kumpulan data-data dari
masa sebelum P.D.II

PLN Bagian Tenaga Air Jl. Hasan Mustopo 55







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
263






Tlp. 72053
Bandung

Bina Program Pengairan Jl. Pattimura 20
Jakarta
























































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
264





























LAMPIRAN 2






































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

v
v
Tabel A.2.1 Nilai-nilai banding tanpa dimensi untuk Loncat Air (dari Bos,
Replogle dan Clemmens, 1984)



AH
H
1

f
Y
d
H
1

f
Y
d
Y
u





2
d
2 gH
1

f
Y
u
H
1





f
H
d
H
1

2
u
2 gH
1

f
H
u
H
1



1.6937 7.00 0.2195 3.0737 3.2932

1.5368

0.0627

1.5995

1.7851

7.20

0.2157

3.1839 3.3996

1.5531

0.0614

1.6145

1.8778

7.40

0.2121

3.2950 3.5071

1.5691

0.0602

1.6293

1.9720

7.60

0.2085

3.4072 3.6157

1.5847

0.0590

1.6437

2.0674

7.80

0.2051

3.4723 3.7254

1.6001

0.0579

1.6580

2.1641

8.00

0.2019

3.6343 3.8361

1.6152

0.0568

1.6720

2.2620

8.20

0.1988

3.7490 3.9478

1.6301

0.0557

1.6858

2.3613

8.40

0.1958

3.8649 4.0607

1.6646

0.0548

1.6994

2.4615

8.60

0.1929

3.9814 4.1743

1.6589

0.0538

1.7127

2.5630

8.80

0.1901

4.0988 4.2889

1.6730

0.0529

1.7259


2.6656


9.00


0.1874


4.2171

4.4045

1.6869

0.0521

1.7389

2.7694

9.20

0.1849

4.3363 4.5211

1.7005

0.0512

1.7517

2.8741

9.40

0.1823

4.4561 4.6385

1.7139

0.0504

1.7643

2.9801

9.60

0.1799

4.5770 4.7569

1.7271

0.0497

1.7768

3.0869

9.80

0.1775

4.6985 4.8760

1.7402

0.0489

1.7891

3.1949

10.00

0.1753

4.8208 4.9961

1.7530

0.0482

1.8012








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
v
v
3.4691

10.50

0.1699

5.1300 5.2999

1.7843

0.0465

1.8309

3.7491

11.00

0.1649

5.4437 5.6087

1.8146

0.0450

1.8594

4.0351

11.50

0.1603

5.7623 5.9227

1.8439

0.0436

1.8875

4.3267

12.00

0.1560

6.0853 6.2413

1.8723

0.0423

1.9146


4.6233


12.50


0.1520


6.4124

6.5644

1.9000

0.0411

1.9411

4.9252

13.00

0.1482

6.7437 6.8919

1.9268

0.0399

1.9667

5.2323

13.50

0.1447

7.0794 7.2241

1.9529

0.0389

1.9917

5.5424

14.00

0.1413

7.4189 7.5602

1.9799

0.0379

2.0178

5.8605

14.50

0.1381

7.7625 7.9006

2.0032

0.0369

2.0401



Tabel A.2.1 Nilai-nilai banding tanpa dimensi untuk Loncat Air (dari Bos,
Replogle dan Clemmens, 1984)



AH
H
1

f
Y
d
H
1

f
Y
d
Y
u





2
d
2 gH
1

f
Y
u
H
1





f
H
d
H
1

2
u
2 gH
1

f
H
u
H
1



6.1813 15.00 0.1351 8.1096
8.2447 2.0274

0.0361

2.0635

6.5066

15.50

0.1323

8.4605
8.5929 2.0511

0.0352

2.0863

6.8363

16.00

0.1297

8.8153
8.9450 2.0742

0.0345

2.1087

7.1702

16.50

0.1271

9.1736
9.3007 2.0968

0.0337

2.1305

7.5081

17.00

0.1247

9.5354
9.6601 2.1190

0.0330

2.1520


7.8498 17.50 0.1223 9.9005
10.0229 2.1407 0.0323 2.1731
8.1958 18.00 0.1201 10.2693
10.3894 2.1619 0.0317 2.1936






Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
8.5438 18.50 0.1180 10.6395
10.7575 2.1830 0.0311 2.2141
8.8985 19.00 0.1159 11.0164
11.1290 2.2033 0.0305 2.2339
9.2557 19.50 0.1140 11.3951
11.5091 2.2234 0.0300 2.2534

9.6160 20.00 0.1122 11.7765
11.7765 2.2432 0.0295 2.2727




















































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama



















LAMPIRAN 3










































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
Tabel A.3.1 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas atas
sungai


DATA SUNGAI LOKASI DAN TATA
LETAK UMUM
PEKERJAAN PE-
NGATURAN
SUNGAI
BENTUK MERCU
BENDUNG
- bendung
tetap
- lebar dasar
sungai s 50 m
- debit
q s 10
m
3
/dt/m
- sungai
mengang-
kut
berangkal/
bongkah, 64-
500 mm,
bahan
dasar – 2000
mm
- debit saluran
s 10 m
3
/dt
- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- lokasi dan tata
letak
bergantung pd
kondisi lapangan
- pilihan terbaik
pada
ruas stabil
palung
kecil di tepi
pengambilan
- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- pengaturan
palung kecil
dihulu dengan
krib
- lokasi krib
berdasarkan
kondisi lapangan
- penyelidikan
model
tak dianjurkan


- bendung
tetap
- lebar sungai
20 – 100 m
- debit
q s 10 –20
m
3
/dt/m
- sungai
mengang-
kut bongkah
ukuran 1500
m
- debit saluran
5 - 20 m
3
/dt
- penyelidikan
model
tak dianjurkan
- lokasi dan tata
letak
bergantung pd
kondisi lapangan
- pilihan terbaik pd
ruas stabil
palung
kecil di tepi
pengambilan
- penyelidikan
model
tak
dianjurkan
- pengaturan
palung kecil
dihulu dgn krib
- lokasi krib
berdasarkan
kondisi
lapangan
- perbaikan krib
perlu
sering dilakukan
- penyelidikan
model
diperlukan
untuk
hal-hal
istimewa
- pengaruh
kemiringan/merc
u bertangga (jika
direncanakan)
terhadap
kemampuan
kolam olak
diselidiki dgn
model
- muka hulu
terhempas







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama





KOLAM OLAK PENGAMBILAN DAN
PEMBILAS

bongkah,
lindungan berat
dianjurkan
SALURAN PENGARAH
& KANTONG LUMPUR


- penyelidikan model
tak dianjurkan
- tipe bak tenggelam
yang
dianjurkan
- pasangan batu candi
- penyelidikan model
tak dianjurkan
- penyelidikan
model tak
dianjurkan












- penyelidikan
model diperlukan
untuk hal-hal
istimewa
- penyelidikan model
tiga
dimensi dianjurkan
untuk
penggerusan di hilir
bendung
tanpa kolam olak
- penyelidikan model
dianjurkan
- pengendapan batu-
batu besar di depan
pengambilan
- efektivitas pembilas;
saringan bongkah
- alternatif pengambilan
tipe saringan bawah
- penyelidikan model
tak dianjurkan





















Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama







Tabel A.3.2 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas tengah
sungai


DATA SUNGAI LOKASI TATA
LETAK UMUM
PEKERJAAN PE -
NGATURAN
SUNGAI
BENTUK MERCU
BENDUNG
- bendung tetap
- lebar dasar
sungai s 50 m
tak
ada aliran
permukaan
selama
banjir
- debit
q = 12 - 14
m
3
/dt/m
- sungai
mengang-
kut kerikil
sampai
ukuran 64 mm
- debit saluran
s 10 m
3
/dt
- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- penyelidikan
model
tak
dianjurkan
- penyelidikan
model
tak
dianjurkan


- bendung tetap
- lebar dasar
sungai 50 –
150 m
tak ada aliran
permukaan
- debit
q = 14 - 18
m
3
/dt/m
- sungai
mengang-
kut kerikil
- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- penyelidikan
model
tak
dianjurkan
- penyelidikan
model
dianjurkan








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

sampai
ukuran 64 mm
- debit saluran
5 – 30 m
3
/dt






KOLAM OLAK PENGAMBILAN DAN
PEMBILAS
SALURAN PENGARAH
& KANTONG LUMPUR


- penyelidikan
model
tak dianjurkan
- penyelidikan
model
tak dianjurkan
- sebaiknya dipakai
pembilas
bawah
- penyelidikan
model tak
dianjurkan














- penyelidikan mod el
dianjurkan untuk
hal-
hal
khusus
- selidiki gerusan lokal
bila
debit bervariasi
sepanjang mercu;
ini
perlu teristimewa
jika
mercu miring
- penyelidikan
model dianjurkan
- sebaiknya dipakai
pembilas bawah
- penyelidikan
model
tak dianjurkan











Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

















Tabel A.3.2 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas tengah
sungai


DATA SUNGAI LOKASI TATA
LETAK UMUM
PEKERJAAN PE -
NGATURAN
SUNGAI
BENTUK MERCU
BENDUNG
- bendung tetap
- lebar dasar
sungai sangat
lebar
- debit per m
lebar
relatif rendah
- sungai
teranyam
dengan banyak
serokan
terpisah
- sungai banyak
mengangkut
pasir
dan kerikil
- debit saluran
5 – 20 m
3
/dt
-
penyelidika
n
model tak
dianjurkan
- penyelidikan
model
dianjurkan
lokasi &
dimensi
pekerjaan
pengaturan
sungai
sebaiknya
lebih
dimantapkan
dengan tes
model
- penyelidikan
model
tak
dianjurkan


- bendung tetap
- lebar dasar
s 50 m
- debit
q s 10 m
3
/dt/m
- sungai
-
penyelidika
n
model tak
dianjurkan
- penyelidikan
model
tak
dianjurkan
- penyelidikan
model
dianjurkan
- pintu
direncana
berdasarkan








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

mengang-
kut kerikil
sampai
ukuran 64 mm
- debit saluran
s 10 m
3
/dt
- elevasi
pengempangan
tinggi

parameter
perencanaan
yang
ada














KOLAM OLAK EKSPLOITASI
PINTU
PENGAMBILAN
DAN PEMBILAS
SALURAN
PENGARAH
& KANTONG
LUMPUR


- penyelidikan
model
dianjurkan
- efek variasi
debit
harus diselidiki
dengan model
tiga
dimensi
- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- sebaiknya
dipakai
pembilas
bawah
- penyelidikan
model tak
dianjurkan









- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- pakai kolam
- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- sebaiknya
- penyelidikan
model tak
dianjurkan








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

locat air
- lindungi blok
halang dan blok
muka dengan
pelat baja

dipakai
pembilas
bawah






















Tabel A.3.2 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas tengah
sungai


DATA SUNGAI LOKASI DAN
TATA
LETAK UMUM
PEKERJAAN PE-
NGATURAN
SUNGAI
BENTUK
MERCU
BENDUNG


- bendung gerak
- lebar sungai 50
– 150 m
- debit
q = 10 -15
m
3
/dt/m
- sungai
mengangkut
pasir dan
kerikil ukuran
64
mm
- debit
saluran
10 –
50
m
3
/dt
-
eleva
si
peng
empa
nga
- penyelidikan model
dianjurkan
- tata letak &
lokasi
dicek dengan model
dasar gerak
- penyelidikan model
dianjurkan
- pekerjaan
pengaturan sungai di
optimasi
-
pen
yelid
ika n
mod
el
dia
njur
kan
-
unt
uk
pint
u-
pint
u
khu
sus
(tipe
gab
ung
an
aliran
atas
&
aliran
bawa
h);
uji
untuk
ment
es
berfu
ngsin
ya
gabu
ngan







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

n tinggi
































KOLAM
OLAK
EKSPLOATASI
PINTU
PENGAMBILAN
DAN PEMBILAS
SALURAN
PENGARAH &
KANTONG
LUMPUR


- penyelidikan
model
dianjurkan
-
verifi
kasi
hasil
peren
cana
an pendahuluan
dg
model dasar
gerak - penyelidikan
model
dianjurkan
- aturan
eksploitasi
pintu
- sedimen yang
masuk
saluran irigasi
sedikit
- gerusan lokal
terbatas
- penyelidikan
model
dianjurkan
- efisiensi
pengelakan
sedimen
- penyelidikan
model
dianjurkan
- selidiki tata
letak &
morfologi
saluran
pengarah &
peralihan
untuk kolam
yang
sangat lebar









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama







































Tabel A.3.3 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas bawah
sungai


DATA SUNGAI LOKASI DAN
TATA
LETAK UMUM
PEKERJAAN PE-
NGATURAN
SUNGAI
BENTUK
MERCU
BENDUNG


- bendung tetap
- lebar sungai 50

150 m
- debit
q = 14 -18
m
3
/dt/m
- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- penyelidikan
model tak
dianjurkan
-
penyelidika
n
model tak
dianjurkan








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

- sungai
mengangkut
pasir kasar
- debit saluran
10 – 30 m
3
/s


- bendung gerak
- lebar sungai s
50 m
- debit
q s 10 -15
m
3
/dt/m
- sungai
mengangkut
pasir & lanau
- elevasi
pengempangan
lebih tinggi
daripada tanah
disekitarnya
- debit saluran s
10 m
3
/dt
- penyelidikan
model
dianjurkan
- penyelidikan
model
dianjurkan
-
penyelidika
n
model tak
dianjurkan















KOLAM
OLAK
EKSPLOATASI
PINTU
PENGAMBILAN
DAN PEMBILAS
SALURAN
PENGARAH &
KANTONG
LUMPUR


- penyelidikan
model
diperlukan
dalam hal-hal
khusus
- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- sebaiknya
dipakai
- penyelidikan
model tak
dianjurkan







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

- unt debit yg sgt
bervariasi,
diperlukan tes
dgn
model dasar
grak,
khususnya pada
mercu miring

pembilas bawah


- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- sebaiknya pakai
kolam loncat air
- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- penyelidikan
model tak
dianjurkan
- sebaiknya
dipakai
pembilas bawah
- boleh tidak
dipakai
pembilas bawah
jika sungai
hanya
mengangkut
pasir, lanau dan
lempung sangat
halus
- penyelidikan
model tak
dianjurkan














Tabel A.3.3 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas bawah
sungai


DATA SUNGAI LOKASI DAN
TATA
LETAK UMUM
PEKERJAAN PE-
NGATURAN
SUNGAI
BENTUK MERCU
BENDUNG
- bendung gerak
- lebar sungai 50
- penyelidikan
model
- penyelidikan
model
- penyelidikan
model







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama


150 m
- debit
q = 10 -15
m
3
/dt/m
- sungai angkut
pasir & lanau
- elevasi
pengempanga
n lebih tinggi
dari tanah
sekitarnya
- debit saluran s
10 m
3
/s

dianjurkan
- tata letak
pendahuluan
& lokasi dicek
dengan model
dasar gerak

dianjurkan
- pekerjaan
pengaturan
sungai unt
mengatur
dan melindungi
bangunan di
optimasi

dianjurkan
- untuk pintu-
pintu
khusus
(kombinasi
tipe aliran atas
&
aliran bawah),
perlu model
unt
mencek dan
memperbaiki
berfungsinya
bangunan































KOLAM
OLAK
EKSPLOATASI
PINTU
PENGAMBILAN
DAN PEMBILAS
SALURAN
PENGARAH &
KANTONG
LUMPUR


- penyelidikan - - penyelidikan - penyelidikan








Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

model
dianjurkan
- hasil
perencanaan
pendahuluan
diverifikasi dg
model dasar
gerak

penyelidika
n
model
dianjurkan
- aturan-aturan
eksploitasi
pintu
ditetapkan

model
dianjurkan
- selidiki &
tingkatkan
efisiensi
sistem
pengelak
sedimen
dianjurkan unt
pakai pembilas
bawah, kecuali
sungai hanya
mengangkut
pasir, lanau &
lempung halus

model tak
dianjurkan
- untuk kantong
yg
lebar, selidiki
tata
letak &
morfologi
saluran
pengarah &
peralihan ke
kantong
lumpur dgn
model, jika
sekiranya
akan timbul
masalah









































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
























DAFTAR PUSTAKA





































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama












DAFTAR PUSTAKA




BOS, M.G. (Ed); Discharge measurement structures. Publication
20, ILRI, Wageningen 1977.

BOS, M.G., REPLOGLEJA., and CLEMMENS, A.J.: Flow measuring
flumes for open channel systems. John Wiley, New York 1984.

BOUVARD,M: Barrages mobiles et ouvrages de derivation, a partie
de rivieres transportant des materiaux solides. Eyrolles, Paris 1984.

BRADLEY, J.N., and PETERKA,A.J: The hydraulic design of stilling
basins. Journal of the Hydraulics division, ASCE, Vol.83, No.HY5,
1957.

CAMP, T.R.: Sedimentation and the design of settling tanks.
Transactions ASCE, 1946.

CHOW,V.T.: Open channel hydraulic. McGraw-Hill, New York
1959.

CHOW,V.T.: Handbook of Applied Hydrology. McGraw-Hill,
London, 1964.

CREAGER,W.P., JUSTIN,J.D. & HINDS,J.: Engineering for Dams,
Volumes I,II & III. John Wiley & Sons, New York, 1945.

DAVIDENKOFF,R.: Unterlaufigkeit von Stauwerken. Wernerverlag
Dusseldorf, 1970.







Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

DPMA: Pengamanan Sungai Serta Pengendalian Aliran
(Diutamakan Penggunaan Konstruksi Bronjong), 1978.

FORSTER,J.W., SKRINDE,R.A.: Control of the hydraulic jump by
sills Transactions ASCE, Vol.115, 1950.

JASSEN,P.P.(Ed).; Principles of River Engineering. Pitman, London
1979.

LANE,E.W.: Security from under-seepage of masonry dams on
earth foundations. Transactions ASCE, Vol.100, 1935.

LANGKEMME IRRIGATION PROJECT: Hydraulic Model Test and
Related Study Design Note, Nippon Koei, PT Buana Archicon.

MEMED,M.: Cara-cara konstruksi untuk mengurangi angkutan
sedimen yang akan masuk ke intake dan saluran pengairan. DPMA
Bandung, 1981.

MEMED,M. and ERMAN,M.: Penggunaan lapisan batu “Candi”
sebagai perkuatan terhadap bahaya benturan batu dan
mengurangi kerusakan akibat abrasi/goresan oleh pasir batu yang
terbawa aliran pada bendung. DPMA Bandung, 1980.

MEMED,M. and ERMAN,M., and SYARIF S.: Pengelak Angkutan
Sedimen tipe undersluice dengan perencanaan hidrolisnya, Jilid I &
II. DPMA Bandung, 1981.

PETERKA,A.J.: Hydraulic design of stilling basins and energy
dissipators. USBR, Washington DC 1958 (rev.1964)

PRESS,H.: Stauanlagen und Wasserkraftwerke, Teil II : Wehre.
Wilhelm Ernst & Sohn, Berlin 1959).

SCHOKLITSCH,A.: Handbuch des Wasserbaues, Volumes I and II.
Springer Verlag, Vienna, 1962.









Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama
SCS: Design of open channels, Technical Release No.25. USDA
Soil Conservation Service, Washington DC, 1977.

SOENARNO: Perhitungan bendung tetap. Directorate of Irrigation,
Bandung 1972.

USBR: Design of Small Dams. Denver, USA

VLUGTER,H.: Het transport van vaste stoffen door stroomend
water. De Ingenieur in Ned-Indie No.3,1941.
















































Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

15

STANDAR PERENCANAAN IRIGASI

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN UTAMA KP – 02

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

16

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGAIRAN Nomor : 185/KPTS/A/1986 TENTANG STANDAR PERENCANAAN IRIGASI DIREKTUR JENDERAL PENGAIRAN Menimbang di lingkungan Direktorat keseragaman dalam kegiatan perencanaan pembangunan irigasi; b. bahwa hasil pertemuan ”Diskusi Pemantapan Standardisasi Perencanaan Irigasi”, yang diadakan oleh Direktorat Jenderal dpandang Pengairan memadai pada untuk bulan Agustus 1986, sebagai dikukuhkan Jenderal Pengairan perlu adanya : a. bahwa dalam rangka peningkatan dan pemantapan pelaksanaan/penyelenggaraan pembangunan irigasi

Standar Perencanaan Irigasi di lingkungan Direktorat Jenderal Pengaiaran; c. Bahwa untuk maksud tersebut perlu diatur dengan Surat Keputusan; Mengingat Tahun 1982; 2. Keputusan Presiden Republik Indonesia No.44 Tahun 1974; : 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia No.15/M

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

17

3. Keputusan Presiden Republik Indonesia No.15 Tahun 1984; 4. Keputusan No.211/KPTS/1984; 5. Keputusan Direktur Jenderal Pengairan No.45/KPTS/A/1984; MEMUTUSKAN: Menetapkan PERTAMA : : Mengukuhkan hasil pertemuan “Diskusi Pemantapan Standardisasi Perencanaan Irigasi”, sebagai Standar Perencanaan Irigasi terdiri dari: KRITERIA PERENCANAAN: 1. KP – 01 Kriteria Perencanaan-Bagian Perencanaan Jaringan Irigasi 2. KP – 02 Kriteria Perencanaan-Bagian Bangunan Utama 3. KP – 03 Kriteria Perencanaan-Bagian Saluran 4. KP – 04 Kriteria Perencanaan-Bagian Bangunan 5. KP – 05 Kriteria Perencanaan-Bagian Petak Tersier 6. KP – 06 Kriteria Perencanaan-Bagian Parameter Bangunan 7. KP – 07 Kriteria Perencanaan-Bagian Penggambaran BANGUNAN IRIGASI : 8. BI – 01 Tipe Bangunan Irigasi Standar Presiden Republik Indonesia

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

18

9. BI – 01 Tipe Bangunan Irigasi PERSYARATAN TEKNIS : 10. PT – 01 Persyaratan Teknis – Bagian Perencanaan Jaringan Irigasi 11. PT – 02 Persyaratan Teknis – Bagian Pengukuran 12. PT – 03 Persyaratan Teknis – Bagian Penyelidikan Geoteknik KEDUA irigasi, wajib memperhatikan ketentuan-ketentuan yang tercantum pada Diktum PERTAMA. KETIGA keputusan ini dan menampung umpan balik guna penyempurnaan Standar Perencanaan Irigasi sebagaimana tersebut pada Diktum PERTAMA, sesuai dengan perkembangan. KEEMPAT : Keputusan ini mulai berlaku pada hari / tanggal ditetapkan dengan ketentuan akan diadakan perubahan dn perbaikan seperlunya apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapannya. TEMBUSAN : Surat Keputusan ini disampaikan kepada Yth: 1. Bapak Menteri Pekerjaan Umum 2. Sekretaris Jenderal Departemen Pekerjaan Umum : Direktur Irigasi I bertugas memonitor pelaksanaan Surat : Semua pihak yang melakukan kegiatan pembangunan

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

9. Kepala Puslitbang Pengairan 12. Staf 7. Para Kepala Kantor Wilayah/Kepala DPUP up. Dit. Kepala bagian Pengairan di seluruh Indonesia.19 3. Para Kepala Biro Departemen Pekerjaan Umum 10. Para Kepala Bagian dan Kepala Sub. Staf Ahli Ahli Menteri Menteri Pekerjaan Pekerjaan Umum Umum Bidang Bidang Pengembangan Irigasi Pengembangan Persungaian 8. di lingkungan Direktorat Jenderal Pengairan 13. Kepala Balitbang Departemen Pekerjaan Umum 5. Kepala Bidang Diklat Pengairan 14. Arsip DITETAPKAN JAKARTA PADA DESEMBER 1986 DI : 1 TANGGAL: Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Sekretaris Direktorat Jenderal Pengairan 6. Para Direktur di lingkungan Direktorat Jenderal Pengairan 11. Para Pemimpin Proyek di lingkungan Direktorat Jenderal Pengairan 15. Inspektur Jenderal Departemen Pekerjaan Umum 4.

20 DIREKTUR JENDERAL PENGAIRAN .

Kriteria Perencanaan 2. berisi syarat-syarat teknis yang minimal harus dipenuhi dalam merencanakan pembangunan Irigasi. Untuk yang pertama. berisi instruksi. perencana masih harus melakukan usaha khusus berupa analisis. Gambar Bangunan irigasi 3. yang berisi Standar kumpulan gambar-gambar contoh sebagai kumpulan informasi dan memberikan gambaran bentuk dan model bangunan. Bangunan Irigasi yang berisi gambar-gambar bangunan yang telah distandardisasi dan langsung bisa dipakai. yaitu: Tipe Bangunan Irigasi. Parameter Bangunan dan Standar Penggambaran Gambar Bangunan Irigasi terdiri atas 2 bagian. standar dan prosedur bagi perencana dalam merencanakan irigasi teknis. Tambahan persyaratan dimungkinkan tergantung keadaan setempat dan keperluannya.PENGANTAR Standar Perencanaan Irigasi ini telah disiapkan dan disusun dalam 3 kelompok: 1. Persyaratan Teknis terdiri atas 4 bagian. perhitungan dan penyesuaian dalam perncanan teknis. Perencanaan Bangunan Irigasi Jaringan Utama dan Jaringan Tersier. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Persyaratan Teknis Kriteria Perencanaan terdiri atas 7 bagian. Kriteria Perencanaan terdiri atas 7 buku berisikan kriteria perencanaan teknis untuk Perencanaan Irigasi (System Planning).

mempunyai tingkat kesulitan dan kepentingan yang khusus. harus dipecahkan dengan keahlian khusus dan/atau lewat konsultasi khusus dengan badan-badan yang ditugaskan melakukan pembinaan keirigasian. tetapi dalam penerapannya masih memerlukan kajian teknik dari pemakainya. batasan-batasan dan syarat berlakunya Standar ini. yaitu: 1. dengan batasan-batasan dan syarat berlakunya seperti tertuang dalam tiap bagian buku. yang meskipun terletak dalam batas-batas dan syarat berlakunya standar ini. 1 Desember 1986 Direktur Irigasi I Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .Meskipun Standar Perencanan Irigasi ini. Semoga Standar Peencanaan Irigasi ini bisa bermanfaat dan memberikan sumbangan dalam pengembangan irigasi di Indonensia. Dengan demikian siapa pun yang akan menggunakan Standar ini tidak akan lepas dari tanggung jawabnya sebagai perencana dalam merencanakan bangunan irigasi yang aman dan memadai. telah dibuat sedemikian sehingga siap pakai untuk perekayasa yang belum memiliki banyak pengalaman. Puslitbang Air Hal yang sama juga berlaku bagi masalah-masalah. Direktorat Irigasi I 2. Direktorat Irigasi II 3. Setiap masalah di luar. Kami sangat mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan ke arah kesempurnaan Standar ini Jakarta.

................. DATA 2.......2 Data kebutuhan air multisektor .................................................. Bendung Gerak .................................. Debit andalan................................6 1............... Pompa ........ 2......................4..............................1 Pendahuluan ......5 Data Morfologi ... 1.............1 2.................................................................... PENDAHULUAN 1.... Neraca air ......................................5......................... Bendung Karet ............ 2....3 Data Topografi .... Bendung Tipe Gergaji .....4............................... 2.........................................................5..2 Definisi ....................5.............................................. Geometrik sungai .. 1................................................. 1 1 1 2 3 3 4 5 5 6 6 6 13 13 15 16 17 18 18 20 20 20 21 21 1..................4...............3 2..... 1....7 Bendung Tetap..........3 Kesahihan/Validitas ......4 Data Hidrologi ..4.4 Jenis-jenis Bangunan Utama.......2 1................... 2.4..........4....................... Bendung Saringan Bawah ....................................................4.1 2............................................................. 1............................2 Debit banjir..............4 1. 1........4....2 2................................................................. 2......DAFTAR ISI 1.... 1........................1 1....5 1.............4.....................................3 1........ Pengambilan Bebas .................................1 Umum ..... Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .......................................6 Bangunan pelengkap .............................4.......................5 Bagian-bagian Bangunan Utama ........ Morfologi ..........................................5 Bangunan Perkuatan Sungai ..5.............................. 2.....................

..2................. Geologi ...................... 3.........2...................... Pelimpah gigi gergaji ........7 Aksesibilitas dan Tingkat Pelayanan .......... 3.........4 Topografi ........ 3.................................. 3.......1 4................2....8.............................................25 2.............. 48 48 48 50 61 62 64 65 67 72 4..........8 .....................6..1 Umum .......... 3..... Lebar bendung .. 21 21 22 BANGUNAN BENDUNG 3.......2 Morfologi sungai ....8 Tipe Bangunan ...........................................................................................3 4............................ 3.......................................8.... 3.2 Bangunan pengatur muka air ..............................................6...................2 Bendung pelimpah.. PERENCANAAN HIDROLIS 4.......2.... 2..............2 3......... Perencanaan Mercu ..................... Peredam energi ............................ Peredam energi tipe bak tenggelam ...................1 2......... Data Mekanika Tanah .................................................. 23 23 36 38 39 40 41 41 41 43 45 3..2............................................................2..................... Tata letak dan Bentuk gigi.............7 4.....................1 Umum ...........................2 Syarat – syarat Penentuan Lokasi Bendung...8...............6 Data Geologi Teknik.................2 4.........................6 Metode Pelaksanaan ....4 4............................ 3............................1 Umum 4..........2....5 4...........2.........2............... 3..........................5 4...3 Bangunan – bangunan muka air bebas.............................. Pangkal bendung.... Kolam loncat air ................6 4................................................... Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .............. 3......................................................3 Muka Air ....................

.................................4 4. 103 Bangunan pelengkap Bendung Saringan Bawah .................................... 108 4..............................2 Bangunan Pengambilan.............................................. Lebar bendung ....................................... 4...... 112 5...............................................................6.....4............4................3..3 Pembilas ..... 4.......... 103 Tata letak ......................................3....................... Tenaga pompa ..................1 4........................ 116 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .2............... Pembendungan ......................5.4 Bendung karet ...7 Pengambilan bebas...........6 Bendung Saringan Bawah................10 Modifikasi Peredam Energi . Penampungan dan Pelepasan .... 109 5...............................5.................1 4..4..3 4.... Perencanaan mercu (tabung karet) ...................................................3............6 4............... Pintu ...............4...................2 4........3...........2 4............................ 112 5........ Tata letak ......................1 Tata Letak .................................................. BANGUNAN PENGAMBILAN DAN PEMBILAS 5.1 4...............................2 Pengaturan Muka Air .......................26 4..................................................... 4..... Peredaman energi ..................5......9 Kolam Vlugter ...................................4 4................ Panjang lantai hilir bendung ............................ Bangunan Pelengkap Bendung Gerak .............. Bangunan pelengkap pompa .........2......6........ Tata letak .... 4............3 4............................................................... 76 76 86 86 87 88 91 92 92 93 95 96 96 96 98 98 98 99 4.....................2 4................5 Pompa .............3 4..............................................4......4....5 4..3 Bendung gerak ..........1 4. 4....

............................1 6.......2............................4 6................................. Umum .......... 130 6................................3 6............27 5....4 Analisis Stabilitas .3 Bahan Pondasi ..... 141 Berat bangunan.................................................3 Filter ..............4................................ 131 6.. 129 6..................4.6 Detail Bangunan ............4 Bronjong ..............4 Gaya-gaya yang bekerja pada bangunan .................... 141 Gaya gempa .2......... 133 6................... 145 Guling ................4.......2 6..........1 Lindungan permukaan .5....................... 119 5...........................7 6....5..................... 136 Tekanan air..5........4 Pembilas Bawah .......................................................... 134 6.............................................2 Penggunaan bahan khusus ............................................................2.... 147 Stabilitas terhadap erosi bawah tanah (piping)....................... 136 6............................4................5 6.................................... 123 5.. 155 6..... 142 Analisis Stabilitas Bendung Karet .............................. 152 6. 129 6.............1 6.......4................. 145 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .........................6 6.......5 Pintu ....4.........2 Lindungan dari pasangan batu kosong ......................3 6..................................................................3 6...5.....5 Kebutuhan Stabilitas ........ 129 6.......... 136 Tekanan Lumpur ..........1 5................................5.......2............................................................ 142 Reaksi Pondasi .................1 Umum ......5.......................................2 6............ 148 Perencanaan kekuatan tubuh bendung dari tabung karet . 144 Ketahanan terhadap gelincir .................. 127 PERENCANAAN BANGUNAN 6.......... 123 Pintu bilas.............................4..........................................................................

....................... 168 Volume tampungan ...7 Bangunan Pengambilan ...........1 Tata Letak ..................8 8.................................. 162 7................ Perlindungan terhadap erosi bawah tanah ........................ 171 Pencekan Terhadap Berfungsinya Kantong Lumpur ........ 175 Efisiensi pengendapan ............ 163 7.......... Perencanaan Bangunan ..............................5...........................................1 Pendahuluan ....2 Sedimen ..................... 178 180 Pembilas Pengambilan saluran primer ............................................. 177 7.... 160 PERENCANAAN KANTONG LUMPUR 7........... 163 Jaringan Saluran .............. 165 Topografi ..4.................1 7........ 178 7... 181 Saluran pembilas......1 7..............................3........................................................................ 171 Pembersihan secara hidrolis..........................3 7.......... 162 7...................... 177 Tata Letak Kantong Lumpur........1 7...5....................................6..3 Kondisi-kondisi batas ....4............2 6...................... 183 PENGATURAN SUNGAI DAN BANGUNAN PELENGKAP Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .. 166 7..................... 177 Efisiensi pembilasan ..........2 7........................................3..... 174 Pembersihan secara manual/mekanis ........6......4 Dimensi Kantong Lumpur ...3 7.................... 157 Peredam energi ....2 7........................................6 7........2 7.........28 6...........5 Pembersihan ..........................................2 7............ 182 7............6....................7............3..............6........ Pembilas dan Pembilas di Saluran Primer ...........................1 7................ 165 Panjang dan lebar kantong lumpur ...................................................

.........2.......................... 192 PENYELIDIKAN MODEL HIDROLIS 9.2.... 199 Kolam olak ..........1 9.............................1 8....... 191 8...2..........2 Umum ............. 201 Pengambilan dan pembilas ........ 195 Penyelidikan Model untuk Bangunan Bendung ...... 198 Pintu bendung gerak dan bendung ambang ..............................1....... 184 8...........6 9................................................................2 9.......... 201 Kriteria untuk Penyelidikan dengan model.. METODE PELAKSANAAN Umum ......................... 204 Pelaksanaan di Sungai ..............2 8..................3 8........................2.........................................................2.............. 190 8.........1 9.............. 189 Tinggi jagaan .................3 9....................7 9........2....3 9..................2.................................................................... 189 Arah poros ..................8 9............. 184 Lindungan tanggul sungai .....3 Lokasi dan tata letak ............... 200 Eksploitasi pintu bendung gerak.........................1 8.... 195 9...................... 190 Potongan melintang ................. 189 8...........................4 Lindungan dasar sungai .........29 8........1 Lindungan Terhadap Gerusan ...2.. 185 Panjang dan elevasi ....5 9..............2.................2......................................2 Tanggul ............ 204 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama ..5 Pembuang ................. 202 10..... Sodetan sungai ................................4 9.................................2...........2 8....2........... 201 Saluran pengarah dan kantong lumpur . 197 Bentuk mercu bendung pelimpah ............ 195 Pekerjaan pengaturan sungai ..........................................................2..1...................

................. 207 Lampiran Lampiran 2 Tabel-tabel ........ 211 DAFTAR GAMBAR Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama ....................... 208 3 Tabel untuk penyelidikan model ...................................30 Pelaksanaan di Tempat Kering....................... 204 LAMPIRAN Lampiran 1 Daftar instansi-instansi yang dapat diminta data ..................................................

............ Bendung dengan mercu bulat .....7 Uraian Bangunan Utama........... Ruas-ruas sungai...............3 4......... 1960)` ........................2 4...................3 3.....................8 Faktor pengurangan aliran tenggelam sebagai fungsi Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .......................2 1........................5 3........1 3..................... Harga-harga koefisien C2 untuk bendung mercu Ogee dengan muka hulu melengkung (menurut USBR. Koefisien C1 sebagai fungsi perbandingan p/H1 .......................... Tekanan pada mercu bendung bulat sebagai fungsi perbandingan H1/r ................................................................................. hal 7 10 12 33 33 34 35 36 37 37 41 49 50 52 53 53 54 54 4.................. Pengaruh rintangan (cek) alamiah ..... Harga-harga koefisien C0 untuk bendung ambang bulat sebagai fungsi perbandingan H1/r ..... Akibat banjir lahar ......4 3..... Bentuk-bentuk mercu .........1 1......... Morfologi sungai.. Terbentuknya delta .....6 4.........................5 4........ Agradasi dan degradasi........................... Denah dan potongan melintang bendung gerak dan potongan melintang bendung saringan bawah ............. Pengambilan dan pembilas ...1 4...........................................................3 3.......................2 3........7 3....................... Lebar efektif mercu ......8 4...................................................... Metode pelaksanaan alternatif ...................31 Gambar 1.......... Sungai bermeander dan terowongan............................6 3........................................4 4.............

....................... y2/yu‟ dan n/yu untuk ambang ujung pendek (menurut Forster dan Skrinde....................19 Potongan hulu dan tampak pengontrol ...............................................32 H2/H1....14 4...16 4............. 70 71 72 74 70 60 61 63 65 66 67 69 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .............. 4...... Army Corps of Engineers........15 4... Jari-jari minimum bak .................................. Metode Perencanaan kolam loncat air ....................17 4.................................21 4. Waterways Experimental Station) ......... 1959.............................. 4...10 Faktor koreksi untuk selain tinggi energi rencana pada bendung mercu Ogee (menurut VEN TE CHOW)..... 4..... berdasarkan data USBR dan WES) ..........20 Karakterisitik kolam olak untuk dipakai dengan bilangan Froude di atas 4..........13 4... 1977) ..... Parameter-parameter loncat air ..... Hubungan percobaan antara Fru... Waterways Experimental Station) ....................5 ................ Pangkal bendung......... 1950) ........ kolam USBR Tipe III (Bradley dan Peterka..... 1957) .......... Army Corps of Engineers......S.....................23 Blok-blok halang dan blok-blok muka .... 4...................................................9 Bentuk-bentuk bendung mercu Ogee (U...................... 4..............18 4. Denah pelimpah bentuk gergaji ...12 Harga-harga Cv sebagai fungsi perbandingan luas 55 57 58 59 1 Cd A * / A1 untuk bagian pengontrol segi empat (dari Bos......................... 1959..22 4.. 4.............S.. (Disadur dari U........... 4................. Peredam energi tipe bak tenggelam ...............11 Faktor pengurangan aliran tenggelam sebagai fungsi p2/H1 dan H2/H1............ Peredam energi ................

...................................... Sketsa panjang lantai hilir untuk yi besar . Koefisien debit  untuk permukaan pintu datar atau 75 75 76 83 83 84 84 85 85 91 93 93 95 95 97 97 lengkung .... Potongan memanjang bendung tetap dengan peredam energi tipe MDO ................ Loncat air di hilir bendung karet ............................... Grafik MDO – 3 Penentuan panjang lantai peredam energi ............ Kolam olak menurut Vlugter ........................... kecepatan spesifik dan karakteristik tinggi energi-debit pompa ...............40 4......... 103 Tipe-tipe tata letak bendung saringan bawah...................................32 4.......................35 4.. Macam-macam tipe pintu .....................................25 4........ 100 Variasi dalam perencanaan roda sudut (impeller)....... Grafik MDO – 2 Penentuan kedalaman lantai peredam energi .......................34 4..................................................................43 Tipe-tipe stasiun pompa tinggi energi rendah ............. Grafik MDO – 1 Pengaliran melalui mercu bendung ..............38 4........33 4.... Batas maksimum tinggi air hilir ...........33 4. Grafik MDO – 1a Penentuan bahaya kavitasi di hilir mercu bendung ............... Tampak depan tabung karet yang alami V-notch........................36 4.....................................30 4....................... Penampang lintang pada pusat V-notch . Potongan memanjang bendung tetap dengan peredam energi tipe MDS .41 Batas minimum tinggi air hilir ...... Potongan melintang bendung karet......................42 4....................................37 4.........29 4....24 4...27 4.............. Tata letak & komponen bendung karet...........................................................................28 4....................... 104 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama ...39 4.......... 101 4...................26 4...............31 4......

........................................................................................... yang memperlihatkan banyaknya sedimen yang masuk ke dalam pengambilan ........10 5.............45 4........................11 5.....................34 4.......1 Pintu aliran bawah............. 128 Aerasi pintu sorong yang terendam..........13 5..................................................... 119 Pembilas bawah ........................................ 121 Pusaran (vortex) dan kantong udara di bawah penutup atas saluran pembilas bawah.....................................6 5.... 128 Grafik untuk perencanaan ukuran pasangan batu kosong ....................7 5.......................................47 5......................... dasar (B) dan atas (C) pada pintu baja ............. 117 Pembilas samping..... 106 Aliran bertekanan ............3 5....................12 5......................................... 126 Pintu pengambilan tipe radial .............................................4 5.............................................1 5...........2 5.. 126 Tipe-tipe pintu bilas ......... 116 Geometri pembilas.............8 5................ 124 Sekat air dari karet untuk bagian (A)........................ 123 Gaya-gaya yang bekerja pada pintu ... 118 Metode menemukan tinggi dinding pemisah .................................................. 114 Geometri bangunan pengambilan ...............5 5.... 125 Tipe-tipe pintu pengambilan: pintu sorong kayu dan baja .................... 109 4...................14 6.......... 107 Penyelidikan model oleh Habermaas................. 131 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama ..................................... 115 Bentuk-bentuk jeruji kisi-kisi penyaring dan hargaharga  ......44 4....46 Hidrolika saringan bawah .................. 110 Tipe pintu pengambilan ...............9 5.....

........... 150 Ujung hilir bangunan....4 6....16 6......................................... 134 Gaya angkat untuk bangunan yang dibangun pada pondasi batuan ...........10 6.............................. 143 Tebal lantai kolam olak .......7 6........................................6 6.................11 6..................5 6.........................................................9 6...................................................... 140 Unsur-unsur persamaan distribusi tekanan pada pondasi ..............................................2 7.. 156 Lantai hulu ...... 159 Alur pembuang/filter dibawah kolam olak ..35 6................... 155 Perlindungan terhadap rembesan melibat pangkal bendung............................................................. 152 Sketsa gaya tarik pada tabung karet ....................................................12 6....... 138 Contoh jaringan aliran di bawah dam pasangan batu pada pasir .8 6..................................... 166 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .......................2 6................................................................... 164 Tipe tata letak kantong lumpur .................................. 132 Detail bronjong ....3 6..................................................3 Contoh filter antara pasangan batu kosong dan bahan asli (tanah dasar) ......15 6..... 158 Dinding-dinding halang di bawah lantai hulu atau tubuh bendung . 137 Konstruksi jaringan aliran menggunakan analog listrik . 165 Skema kantong lumpur ........................................13 6. sketsa parameterparameter stabilitas .........17 7. 148 Metode angka rembesan Lane .........................1 7....14 6....... 160 Konsentrasi sedimen ke arah vertikal ............................. 153 Dinding penahan gravitasi dari pasangan batu ........ 139 Gaya angkat pada pondasi bendung...

.....8 10....................4 8............ 182 Pengarah aliran .......650 kg/m3 (pasir)... 170 7...5 Potongan melintang dan potongan memanjang kantong lumpur yang menunjukkan metode pembuatan tampungan ............................................... 179 Pengelak sedimen .. 193 Tipe tanggul penutup ....................................... 187 Krib dari bronjong dan kayu ...............5 8........................................ 1945) .......2 8.......11 7...... 169 7.......12 8......... 186 Contoh krib .........................10 7...... 192 Kopur dan sodetan ..................6 8.......6 Tegangan geser kritis dan kecepatan geser kritis sebagai fungsi besarnya butir untuk s = 2.......................... 178 Tata letak kantong lumpur dengan saluran primer berada pada trase yang sama dengan kantong ....................7 7.............1 8.......7 8...9 7.4 Hubungan antara diameter saringan dan kecepatan endap untuk air tenang ............. 191 Cara memecahkan masalah pembuangan air .................3 8................................... 177 Tata letak kantong lumpur yang dianjurkan ................... 173 7.....36 7......................................................................................... 194 Grafik untuk menentukkan perhitungan risiko Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama ............... 188 Kurve pengempangan ...................1 Gaya tarik (traksi) pada bahan kohesif ....................... 190 Potongan melintang tanggul .......... 174 Grafik penbuangan sedimen Camp untuk aliran turbulensi (Camp...8 7...................................................... 181 Saluran pengarah ......................

..............................4 6...2 6...........5 Uraian Harga-harga koefisien kontraksi..... 191 hal 50 56 Berkurangnya efisiensi mesin ................... 137 Harga-harga perkiraan untuk koefisien gesekan .............................................. Harga-harga K dan n ........3 6..........................................................................1 Harga-harga perkiraan daya dukung yang diizinkan (disadur dari British Standard Code of Practice CP 2004) ........................ 100 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .................. 102 Harga-harga c yang bergantung kepada Kemiringan saringan (Frank) ......... 135 6........................................................1 Harga-harga kemiringan talut utnuk tanggul tanah homogen (menurut USBR..... 205 DAFTAR TABEL Tabel 4................ 150 8..........2 4.......3 4........ 146 Harga-harga minimum angka rembesan Lane (C1) ............ 135 Harga-harga  ..................................4 4....... 106 6. 1978) .....37 yang diterima...........................................................5 Sudut gesekan dalam  dan kohesi c.. Kebulatan bahan bakar maksimum untuk stasiun pompa yang baik..............................1 4...

..38 A............ Replogle dan Clemmens.................3.............. 208 A.............. 1984) ............1 A. 211 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas tengah sungai .................. 213 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas bawah sungai..............3......2 A.................1 Nilai-nilai banding tanpa dimensi untuk Loncat Air (dari Bos............................3................... 219 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .......3 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas atas sungai ..2..............

Gambar-gambar Tipe dan Standar Bangunan Irigasi .Persyaratan Teknis untuk Pengukuran. 1.39 1. biasanya dilengkapi dengan kantong lumpur agar bisa mengurangi kandungan sedimen yang berlebihan serta memungkinkan untuk mengukur dan mengatur air yang masuk”. PENDAHULUAN 1. Penyelidikan dan Perencanaan .1 Umum Kriteria Perencanaan Jaringan lrigasi ini merupakan bagian Standar Kriteria Perencanaan pada Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. 1. Kriteria tersebut dilengkapi dengan: . Kriteria Perencanaan terdiri dari bagian-bagian berikut : KP – 01 Perencanaan Jaringan Irigasi KP – 02 Bangunan Utama (Head works) KP – 03 Saluran KP – 04 Bangunan KP – 05 Parameter Bangunan KP – 06 Petak Tersier KP – 07 Standar Penggambaran.2 Definisi Bangunan utama dapat didefinisikan sebagai: “semua bangunan yang direncanakan di sungai atau aliran air untuk membelokkan air ke dalam jaringan irigasi.3 Kesahihan/Validitas Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .Buku Petunjuk Perencanaan.

Untuk kepentingan keseimbangan lingkungan dan kebutuhan daerah di hilir bangunan utama. 1. jika diperkirakan akan timbul masalah-masalah khusus. pedoman serta metodemetode perencanaan yang dibicarakan dalam Bagian Perencanaan Bangunan Utama ini sahih untuk semua bangunan yang beda tinggi energinya (muka air hulu terhadap air hilir) tidak lebih dari 6 m. Lembaga ini memiliki laboratorium hidrolika dengan staf yang sangat berpengalaman. Untuk bangunan-bangunan di luar ruang lingkup ini. praktek-praktek yang dianjurkan. Danau dan Waduk. pasokan air baku dan keperluan lainnya yang memerlukan suatu bangunan disebut dengan bangunan utama. Sub-Direktorat Perencanaan Teknis Direktorat Irigasi. Untuk bangunan-bangunan ini di andaikan bahwa luas pembuang sungai kurang dari 500 km2 dan bahwa debit maksimum pengambilan adalah 25 m3/dt. Juga untuk bangunan-bangunan yang di cakup dalam Standar ini.4 Jenis – jenis Bangunan Utama Pengaliran air dari sumber air berupa sungai atau danau ke jaringan irigasi untuk keperluan irigasi pertanian. yang memberikan jasa-jasa keahlian di bidang hidrologi. Batasan ini dipilih karena mencakup bangunan utama yang dapat direncana berdasarkan kriteria yang diberikan di sini. Lembaga-lembaga yang dapat menyediakan jasa keahlian adalah: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air di Bandung. maka diperlukan konsultasi dengan ahli-ahli yang bersangkutan.40 Kriteria. diperlukan nasihatnasihat ahli. mekanika tanah serta teknik hidrolika. serta Direktorat Sungai. maka aliran air sungai tidak diperbolehkan disadap Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . geologi.

(b) Ambang tetap yang berbelok-belok seperti gigi gergaji. yaitu: (a) Ambang tetap yang lurus dari tepi ke tepi kanan sungai artinya as ambang tersebut berupa garis lurus yang menghubungkan dua titik tepi sungai.41 seluruhnya. Kelebihan airnya dilimpahkan ke hilir dengan terjunan yang dilengkapi dengan kolam olak dengan maksud untuk meredam energi.4. Ada 6 (enam) bangunan utama yang sudah pernah atau sering dibangun di Indonesia.1 Bendung Tetap Bangunan air ini dengan kelengkapannya dibangun melintang sungai atau sudetan. antara lain: 1. Namun harus tetap dialirkan sejumlah 5% dari debit yang ada. Kriteria perencanaan bendungan dan bangunan pelengkap lainnya akan dipersiapkan secara terpisah oleh institusi yang berwenang. yang kriteria perencanaannya tidak tercakup dalam kriteria ini. Salah satu bangunan utama yang mempunyai fungsi membelokkan air dan menampung air disebut bendungan. Maka dengan menggunakan tipe ini akan didapat panjang ambang Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Type seperti ini diperlukan bila panjang ambang tidak mencukupi dan biasanya untuk sungai dengan lebar yang kecil tetapi debit airnya besar. Ada 2 (dua) tipe atau jenis bendung tetap dilihat dari bentuk struktur ambang pelimpahannya. dan sengaja dibuat untuk meninggikan muka air dengan ambang tetap sehingga air sungai dapat disadap dan dialirkan secara gravitasi ke jaringan irigasi.

Pintu ditutup sepenuhnya pada saat saat kondisi normal. Efektivitas panjang bendung gergaji terbatas pada kedalaman air pelimpasan tertentu. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . yaitu untuk kepentingan penyadapan air. Mengingat bentuk fisik ambang dan karakter hidrolisnya. Diupayakan pintu tidak terlalu berat karena akan memerlukan peralatan angkat yang lebih besar dan mahal.4.2 Bendung Gerak Vertikal ndung ini terdiri dari tubuh bendung dengan ambang tetap yang rendah dilengkapi dengan pintu-pintu yang dapat digerakkan vertikal maupun radial. 1. banyak digunakan untuk lebar dan tinggi bukaan yang kecil dan sedang. Tidak membawa material terapung berupa batang-batang pohon 3.42 yang lebih besar. Debit relatif stabil 2. Tipe ini mempunyai fungsi ganda. Dalam hal diterapkan di sungai harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1. yaitu mengatur tinggi muka air di hulu bendung kaitannya dengan muka air banjir dan meninggikan muka air sungai kaitannya dengan penyadapan air untuk berbagai keperluan. dengan demikian akan didapatkan kapasitas pelimpahan debit yang besar. Tipe bendung gerak ini hanya dibedakan dari bentuk pintu-pintunya antara lain: (a) Pintu geser atau sorong. disarankan bendung type gergaji ini dipakai pada saluran. Sebaiknya pintu cukup ringan tetapi memiliki kekakuan yang tinggi sehingga bila diangkat tidak mudah bergetar karena gaya dinamis aliran air. Operasional di lapangan dilakukan dengan membuka pintu seluruhnya pada saat banjir besar atau membuka pintu sebagian pada saat banjir sedang dan kecil.

3 Bendung Karet (Bendung Gerak Horisontal) ndung karet memiliki 2 (dua) bagian pokok. Konstruksi seperti ini dimaksudkan agar daun pintu lebih ringan untuk diangkat dengan menggunakan kabel atau rantai. yaitu : 1) Tubuh bendung yang terbuat dari karet 2) Pondasi beton berbentuk plat beton sebagai dudukan tabung karet.4 Bendung Saringan Bawah Bendung ini berupa bendung pelimpah yang dilengkapi dengan saluran penangkap dan saringan. Tubuh bendung yang terbuat dari tabung karet dapat diisi dengan udara atau air.4. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . 1. Proses pengisian udara atau air dari pompa udara atau air dilengkapi dengan instrumen pengontrol udara atau air (manometer). Alat penggerak pintu dapat dapat pula dilakukan secara hidrolik dengan peralatan pendorong dan penarik mekanik yang tertanam pada tembok sayap atau pilar. Bendung ini meloloskan air lewat saringan dengan membuat bak penampung air berupa saluran penangkap melintang sungai dan mengalirkan airnya ke tepi sungai untuk dibawa ke jaringan irigasi. 1. serta dilengkapi satu ruang kontrol dengan beberapa perlengkapan (mesin) untuk mengontrol mengembang dan mengempisnya tabung karet.43 (b) Pintu radial. memiliki daun pintu berbentuk lengkung (busur) dengan lengan pintu yang sendinya tertanam pada tembok sayap atau pilar. ndung ini berfungsi meninggikan muka air dengan cara mengembungkan tubuh bendung dan menurunkan muka air dengan cara mengempiskannya.4.

Pompa air yang digerakkan oleh tenaga manusia (pompa tangan). ri cara instalasinya pompa dapat dibedakan atas pompa yang mudah dipindahpindahkan karena ringan dan mudah dirakit ulang setelah dilepas komponennya dan pompa tetap (stationary) yang dibangun/dipasang dalam bangunan rumah pompa secara permanen.6 Pengambilan Bebas Pengambilan air untuk irigasi ini langsung dilakukan dari sungai dengan meletakkan bangunan pengambilan yang tepat ditepi sungai. Namun dalam operasionalnya memerlukan biaya operasi dan pemeliharaannya cukup mahal terutama dengan makin mahalnya bahan bakar dan tenaga listrik.4. antara lain: a. Pompa air dengan penggerak tenaga air (air terjun dan aliran air). 1. yaitu pada Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Dengan instalasi pompa pengambilan air dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.44 Operasional di lapangan dilakukan dengan membiarkan sedimen dan batuan meloncat melewati bendung. 1. sedang air diharapkan masuk ke saluran penangkap. atau kalau pengambilan air relative sedikit dibandingkan dengan lebar sungai. Pompa air dengan penggerak berbahan bakar minyak d. b. Pompa air dengan penggerak tenaga listrik. mpa digunakan bila bangunan-bangunan pengelak yang lain tidak dapat memecahkan permasalahan pengambilan air dengan gravitasi. Sedimen yang tinggi diendapkan pada saluran penangkap pasir yang secara periodik dibilas masuk sungai kembali.5 Pompa Ada beberapa jenis pompa didasarkan pada tenaga penggeraknya.4. c.

Pengambilan bebas biasanya digunakan untuk daerah irigasi dengan luasan yang kecil sekitar 150 ha dan masih pada tingkat irigasi ½ (setengah) teknis atau irigasi sederhana. tidak ada tinggi limpasan maksimum. Pembagiannya dibuat sebagai berikut : Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .7 Bendung Tipe Gergaji Diperkenankan dibangun dengan syarat harus dibuat di sungai yang alirannya stabil. 1.45 tikungan luar dan tebing sungai yang kuat atau massive. ambang rendah dan saringan yang pada saat banjir pintu dapat ditutup supaya air banjir tidak meluap ke saluran induk. Bangunan pengambilan ini dilengkapi pintu. 1.5 Bagian-bagian Bangunan Utama Bangunan utama terdiri dari berbagai bagian yang akan dijelaskan secara terinci dalam pasal berikut ini.4. tidak ada material hanyutan yang terbawa oleh aliran. Kemampuan menyadap air sangat dipengaruhi elevasi muka air di sungai yang selalu bervariasi tergantung debit pengaliran sungai saat itu.

46 tanggul banjir pengambilan bukit bendung kolam olak pembilas konstruksi lindungan sungai .bronjong krib pembilas saluran pembilas Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

Bangunan bendung . Bila bangunan tersebut juga akan dipakai untuk mengatur elevasi air di sungai.5.2 memberikan beberapa tipe denah dan potongan melintang bendung gerak dan potongan melintang bendung saringan bawah. Bendung adalah bangunan pelimpah melintang sungai yang memberikan tinggi muka air minimum kepada bangunan pengambilan untuk keperluan irigasi.Bangunan pembilas (penguras) .Perkuatan sungai . 1. yakni: (1) bendung pelimpah dan (2) bendung gerak (barrage) Gambar 1. Bendung merupakan penghalang selama terjadi banjir Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .1 Bangunan Utama .Kantong lumpur .1 menunjukkan tata letak tipe-tipe bangunan utama. dengan jalan menaikkan muka air di sungai atau dengan memperlebar pengambilan di dasar sungai seperti pada tipe bendung saringan bawah (bottom rack weir). Bangunan ini diperlukan untuk memungkinkan dibelokkannya air sungai ke jaringan irigasi.1 Bangunan Bendung Bangunan bendung adalah bagian dari bangunan utama yang benarbenar dibangun di dalam air. maka ada dua tipe yang dapat digunakan.47 Gambar 1.Bangunan-bangunan pelengkap Gambar 1.Bangunan pengambilan .

48 dan dapat menyebabkan genangan luas di daerah-daerah hulu bendung tersebut. dapat dipertimbangkan pembuatan pengambilan bebas. karena biaya pengelolannya tinggi. masalah yang ditimbulkannya selama banjir kecil saja. Akan tetapi. maka harga air irigasi mungkin menjadi terlalu tinggi pula. Bendung saringan bawah adalah tipe bangunan yang dapat menyadap air dari sungai tanpa terpengaruh oleh tinggi muka air. Bendung gerak mempunyai kesulitan-kesulitan eksploitasi karena pintunya harus tetap dijaga dan dioperasikan dengan baik dalam keadaan apa pun. Jeruji Baja (saringan) berfungsi untuk mencegah masuknya batubatu bongkah ke dalam parit. bukanlah selalu merupakan keharusan untuk meninggikan muka air di sungai. Bendung gerak dapat mengatur muka air di depan pengambilan agar air yang masuk tetap sesuai dengan kebutuhan irigasi. Sebenarnya bongkah dan batu-batu dihanyutkan ke bagian hilir sungai. dapat mengambil air dalam jumlah yang cukup banyak selama waktu pemberian air irigasi. Tipe ini terdiri dari sebuah parit terbuka yang terletak tegak lurus terhadap aliran sungai. bangunan yang sungai. Dalam hal ini pompa dapat juga dipakai untuk menaikkan air sampai elevasi yang diperlukan. Bendung gerak adalah bangunan berpintu yang dibuka selama aliran besar. tanpa membutuhkan tinggi muka air tetap di Bangunan ini digunakan di bagian/ruas atas sungai di mana sungai hanya mengangkut bahan-bahan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Untuk keperluan-keperluan irigasi. yang berukuran sangat besar. Jika muka air sungai cukup tinggi.

49 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

50 A pengambilan utama pembilas A dinding pemisah denah bendung gerak dengan pintu radial jembatan pintu radial blok halang potongan A-A pelat pancang pelat pancang potongan (searah aliran sungai) penyadap air tipe tiroller saringan dari baja Gambar 1.2 Denah dan potongan melintang bendung gerak dan potongan melintang bendung saringan Bawah Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

1.3) adalah sebuah bangunan berupa pintu air.2 Pengambilan Pengambilan (lihat Gambar 1. Aturan-aturan terpenting yang ditetapkan melalui penyelidik ini diberikan dalam Bab 5.51 1. tipe (1) adalah tipe tradisional. Pembilas dapat direncanakan sebagai: (1) (2) (3) (4) pembilas pada tubuh bendung dekat pengambilan pembilas bawah (undersluice) shunt undersluice pembilas bawah tipe boks. tipe (3) dibuat di luar lebar bersih bangunan bendung dan tipe (4) menggabung pengambilan dan pembilas dalam satu bidang atas bawah.3) guna mencegah masuknya bahan sedimen kasar ke dalam jaringan saluran irigasi.3 Pembilas Pada tubuh bendung tepat di hilir pengambilan. Air irigasi dibelokkan dari sungai melalui bangunan ini. dibuat bangunan pembilas (lihat Gambar 1. Tipe (2) sekarang umum dipakai.5. Perencanaan pembilas dengan dinding pemisah dan pembilas bawah telah diuji dengan berbagai penyelidikan model. Pertimbangan utama dalam merencanakan sebuah bangunan pengambilan adalah debit rencana pengelakan sedimen.5. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

A mercu bendung POTONGAN B-B POTONGAN C-C kolam olak Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .52 Saluran primer B pangkal bendung A pintu pengambilan pengambilan utama pangkal bendung A pembilas lantai atas pembilas bawah DENAH dinding pemisah pintu bilas C C B pilar Pembilas bawah POTONGAN A .

4 Kantong lumpur Kantong lumpur mengendapkan fraksi-fraksi sedimen yang lebih besar dari fraksi pasir halus tetapi masih termasuk pasir halus dengan diameter butir berukuran 0. Dalam halhal tertentu. aliran Pembersihan air yang ini biasanya untuk menggunakan deras menghanyutkan bahan endapan tersebut kembali ke sungai. Bahan-bahan yang lebih halus tidak dapat ditangkap dalam kantong lumpur biasa dan harus diangkut melalui jaringan saluran ke sawah-sawah.53 Gambar 1.088 mm dan biasanya ditempatkan persis di sebelah hilir pengambilan. pembersihan ini perlu dilakukan dengan cara lain. Bahan yang telah mengendap di dalam kantong kemudian dilakukan dibersihkan dengan secara berkala.5. 1. pasangan batu kosong dan/atau dinding pengarah.5 Bangunan Perkuatan Sungai Pembuatan bangunan perkuatan sungai khusus di sekitar bangunan utama untuk menjaga agar bangunan tetap berfungsi dengan baik. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . (2) Tanggul banjir untuk melindungi lahan yang berdekatan terhadap genangan akibat banjir. terdiri dari: (1) Bangunan perkuatan sungai guna melindungi bangunan terhadap kerusakan akibat penggerusan dan sedimentasi. matras batu. Pekerjaanpekerjaan ini umumnya berupa krib. yaitu dengan jalan mengeruknya atau dilakukan dengan tangan.3 Pengambilan dan pembilas 1.5.

(5) instalasi tenaga air mikro atau mini. (6) bangunan tangga ikan (fish ladder) diperlukan pada lokasi yang senyatanya perlu dijaga keseimbangan lingkungannya sehingga kehidupan biota tidak terganggu. tergantung pada hasil evaluasi ekonomi serta kemungkinan hidrolik. tempat teduh serta perumahan untuk tenaga operasional. 1. Tanggul penutup untuk menutup bagian sungai lama atau.6 Bangunan pelengkap Bangunan-bangunan atau perlengkapan yang akan ditambahkan ke bangunan utama diperlukan keperluan : (1) (2) (3) Pengukuran debit dan muka air di sungai maupun di saluran. Pada lokasi diluar pertimbangan tersebut tidak diperlukan tangga ikan. untuk mengelakkan sungai melalui bangunan tersebut. agar bongkah tidak menyumbah bangunan selama terjadi banjir. atau agar bagian-bagian itu terbuka untuk umum.5. gudang dan ruang kerja untuk kegiatan operasional dan pemeliharaan. bila bangunan bendung dibuat di kopur. agar seluruh bagian bangunan utama mudah di jangkau.54 (3) (4) Saringan bongkah untuk melindungi pengambilan atau pembilas. (4) jembatan di atas bendung. Instalasi ini bisa dibangun di dalam bangunan bendung atau di ujung kantong lumpur atau di awal saluran. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Peralatan komunikasi. Rumah untuk opreasi pintu.

55 2. parameter yang harus dipakai. secara horisontal maupun vertikal. 2. gambar-gambar potongan memanjang dan melintang sungai di sebelah hulu maupun hilir dari kedudukan bangunan utama. kedalaman lapisan keras. bahan konstruksi. kandungan sedimen dasar (bedload) maupun layang (suspended load) termasuk distribusi ukuran butir. batu untuk pasangan batu kosong. (f) Data mekanika tanah: bahan pondasi. Data ini harus mencakup beberapa periode ulang. (d) Data morfologi: kandungan sedimen. perubahan-perubahan yang terjadi pada dasar sungai. sesar.1 DATA Pendahuluan Data-data yang dibutuhkan untuk perencanaan bangunan utama dalam suatu jaringan irigasi adalah: (a) Data kebutuhan air multisektor: merupakan data kebutuhan air yang diperlukan dan meliputi jumlah air yang diperlukan untuk irigasi pertanian. bahaya gempa bumi. Elevasi tanah dan luas lahan yang akan didrain menyusut luas. (b) Data topografi: peta yang meliputi seluruh daerah aliran sungai peta situasi untuk letak bangunan utama. (c) Data hidrologi: data aliran sungai yang meliputi data banjir yang andal. jumlah kebutuhan air minum. jumlah kebutuhan air baku untuk rumah tangga penggelontoran limbah kota dan air untuk stabilitas aliran sungai dan kehidupan biota alami. kelulusan (permeabilitas) tanah. (e) Data geologi: kondisi umum permukaan tanah daerah yang bersangkutan. keadaan geologi lapangan. daerah hujan. sumber bahan timbunan. unsur kimiawi sedimen. tipe tanah dan vegetasi yang terdapat di daerah aliran. agregat untuk Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

2 Data kebutuhan air multisektor Data-data jumlah kebutuhan air yang diperlukan adalah sebagai berikut: (a) Jumlah kebutuhan air irigasi pada saat kebutuhan puncak dari irigasi untuk luas potensial irigasi dengan pembagian golongan atau tanpa golongan. (h) (i) Data lingkungan dan ekologi Data elevasi bendung sebagai hasil perhitungan muka air saluran dan dari luas sawah yang diairi. konstruksi kayu Indonesia. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . parameter tanah yang harus digunakan. seperti PBI beton. (c) (d) (e) Jumlah kebutuhan air baku untuk industri terutama kawasankawasan industri dengan perkiraan pertumbuhan industri 10%. dan sebagainya. 2. daftar baja. Jumlah kebutuhan air untuk stabilitas aliran sungai dan kehidupan biota air (dalam rangka penyiapan OP bendung). Jumlah kebutuhan air untuk penggelontoran limbah perkotaan pada saluran pembuang perkotaan. (b) Jumlah kebutuhan air minum dengan proyeksi kebutuhan 25 tahun kedepan dengan mempertimbangkan kemungkinan perluasan kota. Dalam Lampiran A disajikan sebuah daftar lembaga-lembaga dan instansi-instansi pemerintah yang menyediakan informasi dan data mengenai pokok masalah yang telah disebutkan di atas. batu belah untuk pasangan batu. pemukiman dan pertumbuhan penduduk yang didapat dari institusi yang menangani air minum. (g) Standar untuk perencanaan: peraturan dan standar yang telah ditetapkan secara nasional.56 beton.

Garisgaris ketinggian (kontur) setiap 25 m sehingga dapat diukur profil memanjang sungai dan luas daerah aliran sungainya.000. Peta itu harus mencantumkan batas-batas yang penting. Peta itu harus mencakup lokasi alternatif yang sudah diidentifikasi serta panjang yang diliput harus memadai agar dapat diperoleh infomasi mengenai bentuk denah sungai dan memungkinkan dibuatnya sodetan/kopur dan juga untuk merencana tata letak dan trase tanggul penutup. Dalam hal tidak tersedia peta rupa bumi 1 : 50. Harus ditunjukkan pula titik-titik tetap (Benchmark) yang ditempatkan di sekiar daerah yang bersangkutan.3 Data Topografi Data-data topografi yang dibutuhkan adalah sebagai berikut: (i) Peta Rupa Bumi sebagai peta dasar dengan skala 1 : 50. Peta itu harus meliputi jarak 1 km ke hulu dan 1 km ke hilir dari bangunan utama.0 m. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . kecuali di dasar sungai garis ketinggian setiap 0.000 maka dapat dipergunakan peta satelit sebagai informasi awal lokasi bangunan dan informasi lokasi daerah studi.50 m.000. dan melebar 250 dari masing-masing tepi sungai termasuk bantaran sungai. seperti batas-batas desa. lengkap dengan koordinat dan elevasinya. sawah dan seluruh prasarananya.57 2.000 atau lebih besar yang menunjukkan hulu sungai sampai muara. Namun demikian peta satelit ini tidak bisa menggantikan peta rupa bumi skala 1 : 50. (ii) Peta situasi sungai di mana ada rencana bangunan utama akan dibuat. Garis ketinggian setiap 1. Peta ini sebaiknya berskala 1 : 2.

(iv) Pengukuran situasi bendung dengan skala 1 : 200 atau 1 : 500 untuk areal seluas kurang lebih 50 ha (1. Elevasi akan diukur pada jarak maksimum 25 m atau untuk beda ketinggian 0. maka ini akan lebih menguntungkan untuk penyelidikan perilaku dasar sungai. dan Data untuk membuat neraca air sungai secara keseluruhan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .25 m tergantung mana yang dapat dicapai lebih dahulu.000 x 500 m2). letak pencatat muka air otomatis (AWLR) dan papan duga harus ditunjukkan dan titik nolnya harus diukur.4 Data Hidrologi 2. Foto udara jika ada akan sangat bermanfaat untuk penyelidikan lapangan. 2. Potongan memanjang skala horisontalnya 1 : 2000.58 (iii) Gambar potongan memanjang sungai dengan potongan melintang setiap 50 m. termasuk lokasi kantong lumpur dan tanggul penutup dengan garis ketinggian setiap 0. Apabila foto udara atau citra satelit dari berbagai tahun pengambilan juga tersedia. Dalam potongan memanjang sungai. Panjang potongan melintangnya adalah 50 m tepi sungai.4.25 m.1Debit banjir Data-data yang diperlukan untuk perencanaan bangunan utama adalah: (1) (2) (3) Data untuk menghitung berbagai besaran banjir rencana Data untuk menilai debit rendah andalan. Skala untuk potongan melintang 1 : 200 horisontal dan 1 : 200 vertikal. Peta tersebut harus memperlihatkan bagian-bagian lokasi bangunan utama secara lengkap. skala vertikalnya 1 : 200. Bangunan yang ada di sungai di hulu dan hilir bangunan utama yang direncanakan harus diukur dan dihubungkan dengan hasil-hasil pengukuran bangunan utama.

yang ditetapkan debit dengan periode ulang 5 – 25 tahun. kecuali Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Debit dominan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan formasi material dasar sungai terhadap gerusan. Saluran pengelak. banjir rencana maksimum akan diambil sebagai debit dengan periode ulang 100 tahun dari daerah antara dam dan bangunan bendung. Analisa perhitungan bentuk mercu dan permukaan tubuh bendung bagian hilir didasarkan atas debit yang paling dominan terhadap daya gerus dan daya hisap. Periode ulang tersebut (5-25 tahun) akan ditetapkan berdasarkan jumlah penduduk yang terkena akibat banjir yang mungkin terjadi. Banjir dengan periode ulang 1.59 Banjir rencana maksimum untuk bangunan bendung diambil sebagai debit banjir dengan periode ulang 100 tahun. Untuk bangunan yang akan dibuat di hilir waduk. jika diperlukan selama pelaksanaan. serta pada nilai ekonomis tanah dan semua prasarananya. Biasanya di sebelah hulu bangunan utama tidak akan dibuat tanggul sungai untuk melindungi lahan dari genangan banjir. biasanya direncana berdasarkan banjir dengan periode ulang 25 tahun.000 tahun diperlukan untuk mengetahui tinggi tanggul banjir dan mengontrol keamanan bangunan utama. yang ditetapkan debit dengan periode ulang 25 – 100 tahun. ditambah dengan aliran dari outflow waduk setelah dirouting yang disebabkan oleh banjir dengan periode ulang 100 tahun. Elevasi tanggul hilir sungai dari bangunan utama didasarkan pada tinggi banjir dengan periode ulang 5 sampai 24 tahun. Sedangkan analisa perhitungan kolam olak didasarkan atas debit dominan yang mengakibatkan efek degradasi dasar sungai di hilir kolam olak.

100.2). debit andalan dibutuhkan untuk menilai luas daerah potensial yang dapat diairi dari sungai yang bersangkutan.2 Debit andalan Debit andalan dihitung berdasarkan data debit aliran rendah. 50. Adalah penting untuk memperkirakan debit ini seakurat mungkin. Jika tidak tersedia data mengenai muka air dan debit. Cara terbaik untuk memenuhi persyaratan ini adalah dengan melakukan pengukuran debit (atau membaca papan duga) tiap hari. Rangkaian data debit banjir untuk berbagai periode ulang harus andal. misalnya berdasarkan data curah hujan di daerah aliran sungai. Jika ini tidak berhasil. maka debit rendah harus di hitung berdasarkan curah hujan dan data limpasan air hujan dari daerah aliran sungai. kita usahakan cara lain berdasarkan data yang diperoleh dari daerah terdekat (untuk penjelasan lebih lanjut. Perhitungan debit rendah andalan dengan periode ulang yang diperlukan (biasanya 5 tahun). 1000 tahun. dengan panjang data minimal 20 tahun.60 kalau perhitungan risiko menghasilkan periode ulang lain yang lebih cocok (lihat Bab 10. Apabila data semacam ini tidak tersedia (dan begitulah yang sering terjadi). Debit banjir dengan periode-periode ulang berikut harus diperhitungkan 1.4. 25. 2. lihat KP-01. dibutuhkan untuk menilai luas daerah potensial yang dapat diairi dari sungai yang bersangkutan. 5. kita harus menggunakan cara lain. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Hal ini berarti bahwa harga-harga tersebut harus didasarkan pada catatan-catatan banjir yang sebenarnya yang mencakup jangka waktu lama (sekitar 20 tahun). Perencanaan Jaringan Irigasi).

.Banyaknya sedimen dalam waktu tertentu .Kandungan dan ukuran sedimen disungai tersebut .Pembagian sedimen secara vertikal dalam sungai.Tipe dan ukuran sedimen dasar yang ada . penyadapan air di hulu dan hilir sungai pada bangunan bendung serta kebutuhan air di masa datang.4. Hak atas air.61 2.Floting debris.5 Data Morfologi Konstruksi bangunan bendung di sungai akan mempunyai 2 konsekuensi (akibat) terhadap morfologi sungai yaitu: (1) (2) Konstruksi itu akan mengubah kebebasan gerak sungai ke arah horisontal Konsentrasi sedimen akan berubah karena air dan sedimen dibelokkan.Pembagian (distribusi) ukuran butir dari sedimen yang ada . dari sungai dan hanya sedimennya saja yang akan digelontorkan kembali ke sungai.5. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . harus ditinjau kembali.3 Neraca air Neraca air (water balance) seluruh sungai harus dibuat guna mempertimbangkan perubahan alokasi/penjatahan air akibat dibuatnya bangunan utama. 2.1 (a) Morfologi Data-data fisik yang diperlukan dari sungai untuk perencanaan bendung adalah: . 2.

jurus dan kemiringan lapisan. sungai dan gejala terjadinya dimana lokasi bendung sungai 2. mencakup profil dasar.6 Data Geologi Teknik 2. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . pengambilan bahan bangunan. tebing alur dan palung sungai. daerah geser.2Geometrik Sungai Data geometri sungai yang dibutuhkan berupa bentuk dan ukuran dasar sungai terdalam. sesar. detail-detail geologis yang perlu diketahui oleh perekayasa. Skala peta yang harus dipakai adalah: (a) Peta daerah dengan skala 1:100.000 atau 1:5.000 atau 1:100. daerah pecahan.1 Geologi Geologi permukaan suatu daerah harus diliput pada peta geologi permukaan. 2.000 (b) Peta semidetail dengan skala 1:25.62 (b) Data historis profil melintang degradasi dan agradasi direncanakan dibangun.000 (c) Peta detail dengan skala 1:2. Peta-peta tersebut daerah harus menunjukkan geologi daerah yang bersangkutan. seperti: tipe batuan. alur palung dan lembah sungai secara vertikal dan horisontal mencakup parameter-parameter yang disebut di bawah.5.000 atau 1:50. Berdasarkan pengamatan dari sumuran dan paritan uji.6. Data tersebut merupakan data topografi (lihat uraian Data Topografi). perubahanperubahan yang terjadi dalam formasi tanah maupun tebal dan derajat pelapukan tanah penutup (overburden) harus diperkirakan. lebar kemiringan ketinggian Profil sungai.

Hal ini sangat penting untuk pondasi bendung. kekuatan gempa perlu diketahui. pemboran mungkin diperlukan untuk secara tepat mengetahui lapisan dan tipe batuan.2 Data Mekanika Tanah Cara terbaik untuk memperoleh data tanah pada lokasi bangunan bendung ialah dengan menggali sumur dan parit uji. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Kelulusan tanah harus diketahui agar gaya angkat dan perembesan dapat diperhitungkan. dan juga untuk keperluan bahan bangunan yang diperlukan. karena sumuran dan paritan ini akan memungkinkan diadakannya pemeriksaan visual dan diperolehnya contoh tanah yang tidak terganggu. Apabila pemboran memang harus dilakukan karena adanya lapisan air tanah atau karena dicatat dalam borlog. Adalah perlu untuk mengetahui kekuatan pondasi maupun tersedianya batu di daerah sekitar untuk menentukan lokasi bendung itu sendiri. Untuk memperhitungkan stabilitas bendung. pasir dan kerikil. batu untuk pasangan atau untuk batu candi.63 Dalam banyak hal. seperti misalnya agregat untuk beton. 2.6.

Pertimbangan topografi 2. BANGUNAN BENDUNG Umum Lokasi bangunan bendung dan pemilihan tipe yang paling cocok dipengaruhi oleh banyak faktor. Kemantapan geoteknik fondasi bendung 3. Biaya pembangunan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Tingkat kemudahan pencapaian 10. Pengaruh hidraulik 4.64 3. Pasal terakhir akan memberikan tipe-tipe bangunan yang cocok untuk digunakan sebagai bangunan bendung dalam kondisi yang berbeda-beda. yaitu: Tipe. Kondisi geologi teknik pada lokasi. bentuk dan morfologi sungai Kondisi hidrolis anatara lain elevasi yang diperlukan untuk irigasi Topografi pada lokasi yang direncanakan. 3. Pengaruh regime sungai 5. Ruang untuk bangunan pelengkap bendung 7. Luas daerah tangkapan air 9. Metode pelaksanaan Aksesibilitas dan tingkat pelayanan Faktor-faktor yang disebutkan di atas akan dibicarakan dalam pasal-pasal berikut. Tingkat kesulitan saluran induk 6. Luas layanan irigasi 8.2 Syarat-syarat Penentuan Lokasi Bendung Aspek yang mempengaruhi dalam pemilihan lokasi bendung adalah : 1.

keadaan topografi di daerah tangkapan air juga perlu dicek. Apakah topografinya terjal sehingga mungkin terjadi longsoran atau tidak. Pada tanah aluvial kemantapan fondasi Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . tetapi di daerah datar dekat pantai tentu tidak mudah mendapatkan bentuk lembah seperti ini. Di daerah transisi (middle reach) kadang-kadang dapat ditemukan disebelah hulu kaki bukit. Atau kalau perlu menggeser ke hulu atau ke hilir dari lokasi yang sementara terpilih. Demikian juga topografi pada daerah calon sawah harus dicek. Kemantapan geoteknik Keadaan geoteknik fondasi bendung harus terdiri dari formasi batuan yang baik dan mantap. karena pada lokasi ini volume tubuh bendung dapat menjadi minimal. Yang paling dominan adalah pengamatan elevasi hamparan tertinggi yang harus diairi. Topografi juga harus dikaitkan dengan karakter hidrograf banjir. Bendung yang lebih tinggi akan memerlukan kolam olak ganda (double jump) 2. yang akan mempengaruhi kinerja bendung. Sekali ditemukan lokasi yang secara topografis ideal untuk lokasi bendung. Analisa ketersediaan selisih tinggi energi antara elevasi puncak bendung pada lokasi terpilih dan elevasi muka air pada sawah tertinggi dengan keperluan energi untuk membawa air ke sawah tersebut akan menentukan tinggi rendahnya bendung yang diperlukan. Lokasi seperti ini mudah didapatkan pada daerah pegunungan. Pertimbangan topografi Lembah sungai yang sempit berbentuk huruf V dan tidak terlalu dalam adalah lokasi yang ideal untuk lokasi bendung. Hal ini dilakukan mengingat tinggi bendung sebaiknya dibatasi 6-7 m. Kesepakatan stakeholder 1.65 11.

bila tidak ditemukan bagian yang lurus. sesar tanah pasif masih dapat dipertimbangkan tergantung justifikasi ekonomis untuk melakukan perbaikan fondasi. 3. Geoteknik tebing kanan dan kiri bendung juga harus dipertimbangkan terhadap kemungkinan bocornya air melewati sisi kanan dan kiri bendung. Stratigrafi batuan lebih disukai menunjukkan lapisan miring ke arah hulu. dan kecenderungan gerusan dan endapan tebing kiri kanan relatif sedikit. serta ketahanan batuan terhadap gerusan. Pengaruh Hidraulik Keadaan hidraulik yang paling ideal bila ditemukan lokasi bendung pada sungai yang lurus.66 ditunjukkan dengan angka standar penetration test (SPT)>40. Namun kalau tiang pancang terlalu dalam dan mahal sebaiknya dipertimbangkan pindah lokasi. Sesar tanah aktif harus secara mutlak dihindari. Perhatian khusus harus diberikan pada posisi bangunan pengambilan yang harus terletak pada tikungan luar sungai. Kemiringan ke arah hilir akan mudah terjadinya kebocoran dan erosi buluh. dalam batasbatas tertentu dapat dibangun bendung dengan tiang pancang. sedikit arus turbulen. Hal ini Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Dalam keadaan terpaksa. Bila angka SPT<40 sedang batuan keras jauh dibawah permukaan. Akhirnya muara dari pertimbangan geoteknik ini adalah daya dukung fondasi bendung dan kemungkinan terjadi erosi buluh dibawah dan samping tubuh bendung. Formasi batuan hilir kolam harus dicek ketahanan terhadap gerusan air akibat energi sisa air yang tidak bisa dihancurkan dalam kolam olak. Pada lokasi ini arah aliran sejajar. dapat ditolerir lokasi bendung tidak pada bagian sungai yang lurus betul.

secara horizontal ke kiri dan ke kanan atau secara vertikal akibat gerusan dan endapan sungai. Kecuali di pegunungan ditemukan lokasi bendung dengan dasar sungai dari batuan yang cukup kuat. Jadi dimanapun kita memilih lokasi bendung tidak akan terlepas dari pengaruh endapan atau gerusan sungai. Maksud ini akan lebih ditunjang apabila terdapat bagian sungai yang lurus pada hulu lokasi bendung. Pengaruh regime sungai Regime sungai mempunyai pengaruh yang cukup dominan dalam pemilihan lokasi bendung. Semua syarat-syarat pemilihan lokasi bendung sudah terpenuhi. maka regime sungai hampir tidak mempunyai pengaruh terhadap lokasi bendung. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .67 dimaksudkan agar pengambilan air irigasi bisa lancar masuk ke intake dengan mencegah adanya endapan didepan pintu pengambilan. 4. Dalam keadaan demikian dapat diambil jalan kompromi dengan membangun bendung pada kopur atau melakukan perbaikan hidraulik dengan cara perbaikan sungai (river training). Kadang-kadang dijumpai keadaan yang dilematis. Bendung di daerah pegunungan dimana kemiringan sungai cukup besar. akan terjadi kecenderungan gerusan akibat gaya seret aliran sungai yang cukup besar. Kalau alternatif kopur yang dipilih maka bagian hulu bendung pada kopur harus lurus dan cukup panjang untuk mendapatkan keadaan hidraulis yang cukup baik. Sebaliknya di daerah dataran dimana kemiringan sungai relatif kecil akan ada pelepasan sedimen yang dibawa air menjadi endapan tinggi di sekitar bendung. sehingga mempunyai daya tahan batuan terhadap gerusan air yang sangat besar. tetapi syarat hidraulik yang kurang menguntungkan. Salah satu gambaran karakter regime sungai yaitu adanya perubahan geometri sungai baik.

maka pembuatan saluran induk tidak terlalu sulit. Dan sebaliknya perubahan kemiringan dari kecil ke besar akan mengkibatkan gerusan pada hilir bendung.68 Yang perlu dihindari adalah lokasi dimana terjadi perubahan kemiringan sungai yang mendadak. lokasi bendung Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Pada saat lokasi bendung dipilih dikaki bukit. Batuan dalam volume besar dan digali dengan teknik peledakan akan mengakibatkan biaya yang sangat mahal. Untuk itu disarankan memilih lokasi yang relatif tidak ada perubahan kemiringan sungai. karena ditempat ini akan terjadi endapan atau gerusan yang tinggi. Perubahan kemiringan dari besar menjadi kecil akan mengurangi gaya seret air dan akan terjadi pelepasan sedimen yang dibawa air dari hulu. Hal ini disebabkan karena tinggi bendung dibatasi 6-7 m saja. tetapi hal yang demikan tidak disukai mengingat memerlukan biaya yang tinggi. dan sebisa mungkin dihindari. Meskipun keduanya dapat diatasi dengan rekayasa hidraulik. Kalau dijumpai hal yang demikian. Namun hal ini biasanya elevasi puncak bendung sangat terbatas. Namun yang harus diperhatikan adalah formasi batuan di lereng dimana saluran induk itu terletak. Sejauh galian lebih kecil 8 m dan timbunan lebih kecil 6 m. Untuk mengejar ketinggian dalam rangka mendapatkan luas layanan yang lebih luas. 5. Dalam keadaan demikian saluran induk harus menyusuri tebing terjal dengan galian yang cukup tinggi. sehingga luas layanan irigasi juga terbatas. biasanya lokasi bendung digeser ke hulu. Tingkat kesulitan saluran induk Lokasi bendung akan membawa akibat arah trace saluran induk. maka saluran induk biasanya berupa saluran kontur pada kaki bukit yang pelaksanaannya tidak terlalu sulit.

bangunan kantor dan gudang. yang dapat menghemat beaya pembangunan hanya mengakibatkan pengurangan luas beberapa puluh Ha saja. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . saluran penguras lumpur. Pengalaman selama ini sebuah rumah penjaga bendung tidak memadai. Lokasi bendung kearah hulu akan mendapatkan luas layanan lebih besar bendung cenderung dihilirnya. 7. Namun demikian justifikasi dilakukan untuk mengecek hubungan antara tinggi luas layanan irigasi. satu gudang dan 2-3 rumah penjaga bendung. tetapi juga harus dipertimbangkan tentang perlunya ruangan untuk keperluan bangunan pelengkap bendung. Bangunan tersebut adalah kolam pengendap. karena penghuni tunggal akan terasa jenuh dan cenderung meninggalkan lokasi. Beberapa bendung yang sudah definitip. diluar tubuh bendung. Lahan tambahan diperlukan untuk satu kantor. serta bangunan pengukur debit. kadang-kadang dijumpai penurunan 1 m. dan komplek pintu penguras. 6. bangunan rumah penjaga pintu. Luas layanan irigasi Lokasi bendung harus dipilih sedemikian sehingga luas layanan irigasi agar pengembangan irigasi dapat layak. Oleh karena itu kajian tentang kombinasi tinggi bendung dan luas layanan irigasi perlu dicermati sebelum diambil keputusan final.69 digeser sedikit ke hilir untuk mendapatkan solusi yang kompromistis antara luas area yang didapat dan kemudahan pembuatan saluran induk. Ruang untuk bangunan pelengkap bendung Meskipun dijelaskan dalam butir 1 bahwa lembah sempit adalah pertimbangan topografis yang paling ideal. Kolam pengendap dan saluran penguras biasanya memerlukan panjang 300 – 500 m dengan lebar 40 – 60 m.

Kajian teknis. dan sosial harus' dilakukan dalam memilih lokasi bendung terkait dengan luas daerah tangkapan air.70 8. ekonomis. yang muaranya akan mendapatkan potensi irigasi lebih besar. dan tentunya akan mendapatkan debit andalan lebih besar. Tingkat kemudahan pencapaian Setelah lokasi bendung ditetapkan secara definitip. Lokasi di hulu anak cabang sungai akan mendapatkan debit andalan dan debit banjir relatip kecil. rehabilitasi. dan inspeksi terhadap kerusakan bendung memerlukan jalan masuk yang memadai untuk kelancaran pekerjaan. Luas daerah tangkapan air Pada sungai bercabang lokasi bendung harus dipilih sebelah hulu atau hilir cabang anak sungai. sebagi dokumen untuk pelaksanaan implementasinya. akan dilanjutkan tahap perencanaan detail. 9. tingkat kemudahan pencapaian juga amat penting. Pemilihan sebelah hilir akan mendapatkan daerah tangkapan air yang lebih besar. Namun pada saat banjir elevasi deksert harus tinggi untuk menampung banjir 100 tahunan ditambah tinggi jagaan (free board) atau menampung debit 1000 tahunan tanpa tinggi jagaan. Memasuki tahap operasi dan pemeliharaan bendung. namun harus membuat bangunan silang sungai untuk membawa air di hilirnya. Kegiatan pemeliharaan. Dalam tahap pelaksanaan inilah dipertimbangkan tingkat kemudahan pencapaian dalam rangka mobilisasi alat dan bahan serta demobilisasi setelah selesai pelaksanaan fisik. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

11. 7/2004 tentang Sumberdaya Air dan Peraturan Pemerintah No. keterpaduan antar sektor. Rekomendasi syarat pemilihan lokasi bendung sebagai berikut: Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . 10. Biasanya beaya pembangunan ini adalah pertimbangan terakhir untuk dapat memastikan lokasi bendung dan layak dilaksanakan. Keuntungan dan kerugiannya. Faktor dominan tersebut ada yang saling memperkuat dan ada yang saling melemahkan. Untuk itu keputusan mengenai lokasi bendungpun harus dilakukan lewat konsultasi publik. prospek pemakaian air di masa datang harus disampaikan pada pemangku kepentingan terutama masyarakat tani yang akan memanfaatkan air irigasi. Biaya pembangunan Dalam pemilihan lokasi bendung. dan sosial.71 Atas dasar pertimbangan tersebut maka dalam menetapkan lokasi bendung harus dipertimbangkan tingkat kemudahan pencapaian lokasi. dengan memperhatikan adanya faktor dominan. Dari beberapa alternatip tersebut selanjutnya dipertimbangkan metode pelaksanaannya serta pertimbangan lainnya antara lain dari segi O & P. 20/2006 tentang Irigasi bahwa keputusan penting dalam pengembangan sumberdaya air atau irigasi harus didasarkan kesepakatan pemangku kepentingan lewat konsultasi publik. dampak terhadap para pemakai air di hilir bendung. perlu adanya pertimbangan pemilihan beberapa alternatif. dengan menyampaikan seluas-luasnya mengenai alternatif-alternatif lokasi. Kesepakatan pemangku kepentingan Sesuai amanat dalam UU No. tinjauan dari aspek teknis. ekonomis. Hal ini antara lain akan menentukan besarnya beaya pembangunan.

dan hindari bagian sungai dengan belokan tajam. utamanya untuk kolam pengendap dan saluran penguras dengan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . lokasi bendung ditolerir pada belokan sungai. Kalau yang terakhir inipun tidak terpenuhi perlu dipertimbangkan pembuatan bendung di kopur atau dilakukan rekayasa perbaikan sungai (river training). Usahakan ketinggian galian tebing pada saluran induk kurang dari 8 m dan ketinggian timbunan kurang dari 6 m. Hindari trace saluran menyusuri tebing terjal apalagi berbatu. dan dasar sungai hilir bendung tahan terhadap gerusan air. tidak ada sesar aktif. Regime sungai : Hindari lokasi bendung pada bagian sungai dimana terjadi perubahan kemiringan sungai secara mendadak. 6. Pilih bagian sungai yang lurus mempunyai kemiringan relatif tetap sepanjang penggal tertentu. Geoteknik : dipilih dasar sungai yang mempunyai daya dukung kuat. 4. Ruang untuk bangunan pelengkap : Lokasi bendung harus dapat menyediakan ruangan untuk bangunan pelengkap bendung. stratigrafi lapisan batuan miring ke arah hulu. tidak ada erosi buluh.72 1. Topografi : dipilih lembah sempit dan tidak terlalu dalam dengan mempetimbangkan topografi di daerah tangkapan air maupun daerah layanan irigasi 2. Saluran induk : Pilih lokasi bendung sedemikian sehingga pembangunan saluran induk dekat bendung tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mahal. 3. dengan syarat posisi bangunan intake harus terletak pada tikungan luar dan terdapat bagian sungai yang lurus di hulu bendung. Hidraulik : dipilih bagian sungai yang lurus. Disamping itu diusahakan keadaan batuan tebing kanan dan kiri bendung cukup kuat dan stabil serta relatif tidak terdapat bocoran samping. 5. Jika bagian sungai lurus tidak didapatkan.

Pencapaian mudah : Lokasi bendung harus refatip mudah dicapai untuk keperluan mobilisasi alat dan bahan saat pembangunan fisik maupun operasi dan pemeliharaan. akhirnya dipilih lokasi bendung yang beaya konstruksinya minimal tetapi memberikan ouput yang optimal. Kesepakatan stakeholder : apapun keputusannya. Untuk itu direkomendasikan melakukan sosialisasi pemilihan lokasi bendung. Luas daerah tangkapan air : Lokasi bendung harus dipilih dengan mempertimbangkan luas daerah tangkapan. Elaborasi tinggi bendung (yang dibatasi sampai dengan 6 – 7 m). Luas layanan irigasi : Lokasi bendung harus sedemikian sehingga dapat memberikan luas layanan yang memadai terkait dengan kelayakan sistem irigasi. Ada beberapa karakteristik sungai yang perlu dipertimbangkan agar dapat diperoleh perencanaan bangunan bendung yang baik. terkait dengan debit andalan yang didapat dan debit banjir yang mungkin terjadi menghantam bendung. Beaya pembangunan yang efisien : dari berbagai alternatif lokasi bendung dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang dominan. yang penting adalah kesepakatan antar pemangku kepentingan lewat konsultasi publik. 10. Hal ini harus dikaitkan dengan luas layanan yang didapat dan ketinggian lantai layanan dan pembangunan bangunan melintang anak sungai (kalau ada). 8. Beberapa di Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Kemudahan melakukan inspeksi oleh aparat pemerintah juga harus dipertimbangkan masak-masak. 9. 11.73 panjang dan lebar masing-masing kurang lebih 300 – 500 m dan 40 – 60 m. menggeser lokasi bendung ke hulu atau ke hilir. 7. serta luas layanan irigasi harus dilakukan untuk menemukan kombinasi yang paling optimal.

Di daerah-daerah aliran sungai di mana terdapat kegiatan gunung api. Dalam perencanaan bangunan. lahar ini tidak dapat diperhitungkan. Gambar 3. 3. kemiringan sungai curam dan bahan-bahan dasar berkisar antara batu-batu sangat besar sampai pasir.1 memberikan ilustrasi berbagai bagian sungai berkenaan dengan kemiringan ini. banjir besar dapat menghanyutkan endapan bahan-bahan volkanik menjadi banjir lahar. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Dalam beberapa hal. Di daerah pengunungan.1Kemiringan dasar sungai dan bahan dasar Kemiringan dasar sungai bisa bervariasi dari sangat curam sampai hampir datar di dekat laut. tindakan-tindakan mencegah terjadinya banjir lahar demikian sebaiknya diambil di tempat lain. Batu berdiameter sampai 1000 mm bisa hanyut selama banjir besar dan berhenti di depan pengambilan serta mengganggu berfungsinya bangunan pengambilan.74 antaranya adalah: kemiringan dasar sungai.2. bahan-bahan dasar dan morfologi sungai Diandaikan bahwa jumlah air yang mengalir dan distribusinya dalam waktu bertahun-tahun telah dipelajari dan dianggap memadai untuk kebutuhan irigasi. ukuran bahan dasar akan bergantung kepada kemiringan dasar.

2 Akibat banjir lahar Selain lahar.1 Ruas-ruas sungai dasar baru dasar lama dasar baru erosi akibat lahar di ruas atas sungai dasar lama endapan lahar di ruas tengah sungai Gambar 3.75 ruas atas kemiringan dasar curam ruas tengah kemiringan dasar sedang ruas bawah kemiringan dasar landai laut dam bendung saluran suplesi bendung gerak dam bendung laut laut Gambar 3. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . daerah-daerah yang mengandung endapan volkanik dapat menghasilkan bahan-bahan sedimen yang berlebihan untuk jangka waktu lama.

cek ini penting sehubungan dengan degradasi. maka stabilitas dam tersebut selama terjadi banjir besar hendaknya diselidiki. Kecendrungan degradasi mungkin untuk sementara waktu berbalik menjadi agradasi.76 Di daerah-daerah gunung api muda (Jawa. jika lebih banyak lagi sedimen masuk ke dasar sungai setelah terjadi bagian atas. tanah longsor atau banjir lahar di sepanjang sungai tinggi mula dasar sungai degradasi tinggi dasar sungai sekarang agradasi Gambar 3. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Sulawesi dan Irian Jaya serta di pulau-pulau lain yang lebih kecil di seluruh kepulauan Nusantara. tinggi dasar ruas-ruas sungai yang curam biasanya belum stabil dan degredasi atau agradasi umumnya tinggi. Sumatera dan Bali). Apabila di dasar sungai terdapat cek dam alamiah berupa batu besar. Gunung-gunung yang lebih tua terdapat di Kalimantan. sebab kegagalan akan berakibat degradasi yang cepat di sebelah hulu. Terdapatnya batu singkapan atau rintangan alamiah berupa batu-batu besar dapat menstabilkan tinggi dasar sungai sampai beberapa kilometer di sebelah hulu.3 Agradasi dan degradasi Sungai-sungai yang sudah stabil dapat dijumpai di daerah-daerah gunung atau gunung api tua dan pengaruh dari gejala-gejala agradasi atau degradasi terhadap tinggi dasar sungai tidak akan tampak sepanjang umur proyek.

Dam atau rintangan alamiah (lihat gambar 3. Lapisan ini dapat menghilang sebelum umur bangunan yang diharapkan lewat. Jika dasar sungai menjadi dangkal atau lebar. dasar stabil agradasi rintangan alamiah degradasi bendung tinggi dasar mula Gambar 3. Pada umumnya pekerjaan-pekerjaan ini akan menyebabkan degradasi dasar sungai akibat kapasitas angkutnya bertambah. maka hal ini dapat dijadikan petunjuk bahwa dasar tersebut sedang mengalami agradasi secara berangsur-angsur. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . terisi pasir dan kerikil. Potongan dasar sungai yang dalam bisa merupakan petunjuk bahwa degradasi sedang terjadi atau bahwa dasar tersebut telah mencapai tinggi yang seimbang. juga akan mempengaruhi gerak dasar sungai. kerikil dan batu kali. sedangkan sebelah hilir atau hulu ruas tersebut mengalami degradasi atau agradasi. seperti sodetan meander dan pembuatan krib atau lindungan tanggul. Hal ini hanya dapat dipastikan bila keadaan tersebut telah berlangsung lama.4 Pengaruh rintangan (cek) alamiah Pekerjaan-pekerjaan pengaturan sungai. Di luar daerah pegunungan kemiringan dasar sungai akan menjadi lebih kecil dan bahan-bahan sedimen dasarnya terdiri dari pasir. Lapisan-lapisan konglomerat ini rawan terhadap abrasi cepat oleh bahanbahan sedimen keras yang bergerak di sungai.77 Kadang-kadang lapisan konglomerat sementasi merupakan cek di sungai.4) yang ada akan menjaga kestabilan dasar sungai sampai ruas tertentu.

sebuah delta dapat terbentuk.78 Dasar sungai di ruas bawah akan terdiri dari pasir sedang dan halus.2. Apabila sungai mengalir ke laut atau danau. Terbentuknya delta merupakan pertanda pasti bahwa ruas bawah sungai dalam keadaan agradasi. kerucut aluvial delta laut laut Gambar 3.5 Terbentuknya delta 3.2Morfologi sungai Apabila tanggul sungai terdiri dari batu. konglomerat sementasi atau batu-batu. maka dapat diandaikan bahwa sungai itu stabil dengan dasarnya yang sekarang. Jika dasar sungai penuh dengan batu-batu dan kerikil-kerikil. maka kemiringan dasarnya kecil. dan tergantung pada banyaknya sedimen yang diangkut oleh sungai itu. mungkin dengan lapisan lanau dan lempung. maka arah sungai tidak akan tetap dan palung kecil akan berpindah-pindah selama terjadi banjir besar. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

Dalam keadaan aslinya. Tanggul yang tidak ditumbuhi pepohonan dan semak belukar akan mudah terkena erosi.79 Vegetasi alamiah bisa membuat tanggul menjadi stabil. kerikil atau bongkah-bongkah batu. Bahkan pada ruas yang berbeda dapat terbentuk meander dan anyaman. Besarnya batas meander ini merupakan data penting perencanaan tanggul banjir di sepanjang sungai. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .6 Morfologi sungai Biasanya terdapat lebar tertentu di sungai tempat di sepanjang sungai yang merupakan batas meander. Kecendrungan alamiah suatu sungai yang mengalir melalui daerah-daerah endapan alluvial adalah terjadinya meandering atau anyaman (braiding). Bahkan pada ruas lurus mungkin terdapat pasir. tergantung apakah terbentuk alur tunggal atau beberapa alur kecil. Sebaiknya. hanya sedikit saja sungai yang lurus sampai jarak yang jauh. Ini disebut batas meander. di daerah-daerah lahar tanggul-tanggul batu yang stabil dapat terkikis dan palung besar yang lebar bisa terbentuk di sungai itu. tanggul stabil tanggul stabil dasar stabil palung kecil berpindah Gambar 3.

Pada waktu mengevaluasi stabilitas tanggul sungai. karena aliranaliran rendah tersebut akan tersebar di dasar sungai lebar yang terdiri dari pasir. yakni apakah vegetasi yang ada mampu bertahan hidup pada muka air tinggi. kita perlu mengetahui apakah meander di lokasi bangunan yang direncana stabil atau rawan terhadap erosi selama terjadi banjir. Tindakan-tindakan apa saja yang akan diambil guna mempertahankan stabilitas tanggul? Ruas-ruas yang teranyam tidak akan memberikan kondisi yang baik untuk perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan bendung. Penduduk setempat mungkin dapat memberikan keterangan yang bermanfaat mengenai stabilitas tanggul sungai. naiknya muka air setelah selesainya pelaksanaan bangunan bendung harus diperhitungkan. Apabila tersedia peta-peta foto udara lama.7 Sungai bermeander dan terowongan Untuk perencanaan bangunan utama. atau akan lenyap beberapa waktu kemudian. Ada satu hal yang harus mendapat perhatian khusus. Di sepanjang Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Sungai-sungai tertentu mempunyai bantaran pada ruas-ruas yang landai yang akan tergenang banjir beberapa kali setiap tahunnya.80 batas meander tanggul stabil sungai bermeander sungai berayam Gambar 3. atau dipilih bagian yang sempit dengan aliran alur yang terkonsentrasi. maka peta-peta ini akan diperiksa dengan seksama guna membuat penyesuaian-penyesuaian morfologi sungai. kalau mungkin. Ruas-ruas demikian sebaiknya dihindari.

kedalaman air dan kehilangan tinggi energi berikut harus dipertimbangkan: .variasi muka air untuk eksploitasi di jaringan primer .kehilangan tinggi energi di bangunan utama 3.panjang dan kemiringan saluran primer .81 sungai mungkin terbentuk tanggul-tanggul rendah alamiah akibat endapan pasir halus dan lanau.kedalaman air di sawah . Untuk elevasi muka air yang diperlukan.kehilangan tinggi energi di bangunan sadap tersier . beda tinggi energi yang diperlukan untuk meredam energi pada kolam olak.kehilangan tinggi energi di saluran dan boks tersier .kehilangan tinggi energi pada bangunan-bangunan di jaringan primer sipon.elevasi sawah yang akan diairi . 3.4 Topografi Topografi pada lokasi yang direncanakan sangat mempengaruhi perencanaan dan biaya pelaksanaan bangunan utama: Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . tinggi. flum. pengatur. Selama banjir besar tanggul-tanggul ini bisa bobol dan mengakibatkan arah dasar sungai berubah sama sekali. dan sebagainya .3 Muka Air Muka air rencana di depan pengambilan bergantung pada: (1) (2) (3) (4) elevasi muka air yang diperlukan untuk irigasi (eksploitasi normal) beda tinggi energi pada kantong lumpur yang diperlukan untuk membilas sedimen dari kantong beda tinggi energi pada bangunan pembilas yang diperlukan untuk membilas sedimen dekat pintu pengambilan.

6 Metode Pelaksanaan Metode pelaksanaan akan dipertimbangkan juga dalam pemilihan lokasi yang cocok pada tahap awal penyelidikan.Topografi harus dipelajari untuk membuat perencanaan trase saluran primer yang tidak terlalu mahal.5 Kondisi Geologi Teknik Yang paling penting adalah pondasi bangunan utama. 3. tersedianya bahan bangunan (sumber bahan timbunan) serta parameter-parameter tanah untuk stabilitas tanggul. Masalah-masalah lain yang harus diselidiki adalah kekuatan bahan terhadap erosi.Topografi sangat memperngaruhi panjang serta tata letak tanggul banjir dan tanggul penutup. Pekerjaan-pekerjaan sementara yang harus dipertimbangkan adalah: Kemungkinan pembuatan saluran pengelak Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . 3.8 diberikan 2 alternatif pelaksanaan yang biasa diterapkan yaitu: (A) (B) pelaksanaan di sungai pelaksanaan pada sodetan/kopur di samping sungai lokasi yang dipilih harus cocok dengan metode pelaksanaan dan pekerjaan-pekerjaan sementara yang dibutuhkan.82 . kalau ini diperlukan . Daya dukung dan kelulusan tanah bawah merupakan hal-hal penting yang sangat berpengaruh terhadap perencanaan bangunan utama besar sekali.harus cukup tempat di tepi sungai untuk membuat kompleks bangunan utama termasuk kantong lumpur dan bangunan (bangunan) pembilas. Pada gambar 3. .

3. Kemudian aliran sungai akan dibelokkan untuk sementara. maka ini disebut kopur.7 Aksesibilitas dan Tingkat Pelayanan membantu dalam persiapan pelaksanaan pekerjaan. Dewatering (pengeringan air permukaan dan penurunan muka air tanah) Tanggul penutup Tanggul penutup diperlukan untuk menutup saluran pengelak atau lengan sungai lama pengelak selesai. dimana lengan sungai lama kemudian harus ditutup.83 Saluran pengelak akan dibuat jika konstruksi dilaksanakan di dasar sungai yang dikeringkan. sarana dan prasarana menuju lokasi bangunan akan sangat pelaksanaan pembangunan bendung maupun dalam melaksanakan kegiatan operasi dan pemeliharaan bila bangunan bendung telah selesai dibangun dan mulai dioperasikan. Biasanya lokasi cukup dalam dan perlu dijaga tetap kering dengan jalan memompa air di dalamnya. Bendungan sementara Bendungan sementara (cofferdam) adalah bangunan sementara di sungai untuk melindungi lokasi pekerjaan. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Kopur (sudetan) Jika pekerjaan dilakukan di luar alur sungai di tempat yang kering dan dilakukan dengan memiintas (disodet). Tempat kerja (construction pit) Tempat kerja adalah tempat di mana bangunan akan dibuat. setelah pelaksanaan konstruksi bendung Kemudahan transportasi.

Pintu bendung gerak mempunyai pintu yang dapat dibuka selama banjir guna mengurangi tinggi pembendungannya.84 3. Semua bangunan ini dapat dibuat dari pasangan batu atau beton.8 Tipe Bangunan 3.8 Metode pelaksanaan alternatif Kategori bangunan kedua meliputi pengambilan bebas. Bahan-bahan lain jarang dipakai di Indonesia dan tidak akan dibicarakan di sini. Kedua tipe tersebut mampu membendung air sampai tinggi minimum yang diperlukan. (i) Pasangan batu Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .8. yakni bangunan yang mempengaruhi dan yang tidak mempengaruhi muka air hulu. pompa dan bendung saringan bawah.1Umum Bangunan dapat digolongkan menjadi dua. alternatif A alternatif B bendung gerak sodetan bendung ruang kerja tanggul penutup sungai lama tanggul sementara tanggul sementara tahap ke-2 Gambar 3. Termasuk dalam kategori pertama adalah bendung pelimpah dan bendung gerak. atau campuran kedua bahan ini yang masing-masing bahan bangunannya mempengaruhi bentuk dan perencanaan bangunan tersebut. Bendung pelimpah tidak bisa mengurangi tinggi muka air hulu sewaktu banjir. Tak satu pun dari tipe-tipe bangunan ini yang mempengaruhi muka air.

Tinggi bendung maksimum 3 m b. Debit sungai per satuan lebar dengan periode ulang 100 tahun maksimum 8 m3/dt/m d. biasanya dilindungi dengan lapisan batu keras yang dipasang rapat-rapat. Perilaku tukang dan pengawas yang kurang memadai dapat mengakibatkan rendahnya mutu pasangan batu kali. Permukaan bendung yang terkena abrasi langsung dengan air dan pasir. (ii) Beton Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . yaitu batu-batu yang dikerjakan dengan tangan dan dibentuk seperti kubus agar dapat dipasang serapat mungkin. Batu ini disebut batu candi.85 Sampai saat ini pasangan batu dilaksanakan dengan cara tidak standart dan belum ditemukan cara mengontrol kekuatan pasangan batu. Pasangan batu akan dipakai apabila bahan bangunan ini (batu-batu berukuran besar) dapat ditemukan di atau dekat daerah itu. Lebar sungai maksimum 30 m c. namun lebih memberikan jaminan kualitas dan keamanan bangunan. yang tentunya memerlukan biaya lebih mahal. Hal ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kedisiplinan tukang dalam merocok adukan dan tingkat kejujuran pengawas lapangan. Tinggi tembok penahan tanah maksimum 6 m Bangunan atau bagian bangunan diluar syarat-syarat batasan di atas akan memakai material lain misalnya beton. Pasangan batu kali dapat dipakai pada bangunan melintang sungai dengan syarat-syarat batasan sebagai berikut : a. Kualitas pasangan batu kali sangat ditentukan oleh komposisi campuran dan kerapatan adukan dalam speci antar batu.

menghasilkan elevasi air minimum agar air tersebut bisa dielakkan. Hal ini bisa tercapai karena prosedur pelaksanaan dan kontrol kekuatan bahan mengacu pada standart yang sudah baku. (iii) Beton Komposit Bendung skala besar dan/atau tinggi melebihi batasan syaratsyarat dalam butir (i) yang terbuat dari beton.86 Di Indonesia beton digunakan untuk bendung pelimpah skala besar dan tinggi melebihi syarat-syarat batasan seperti tersebut dalam butir (i). tetapi lebih memberikan jaminan kualitas dan keamanan bangunan. Perencanaan hidrolis. (b) Bendung gerak Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Dalam hal demikian tanpa mengurangi syarat-syarat keamanan struktur bangunan diperbolehkan menggunakan beton komposit.2Bangunan pengatur muka air (a) Bendung pelimpah Bendung ini dibuat melintang sungai untuk Tipe bangunan bendung yang paling umum dipakai di Indonesia adalah bandung pelimpah. 3. Meskipun biayanya tinggi. Tebal lapisan luar beton minimal 60 cm. beton merupakan alternatif. yaitu struktur beton yang di dalam tubuhnya diisi dengan pasangan batu kali. bendung pelimpah akan dibicarakan secara rinci pada bab 4. akan memerlukan biaya yang mahal mengingat volumenya yang besar. Di samping itu di daerah-daerah di mana tidak terdapat batu yang cocok untuk konstruksi pasangan batu.8.

Karena menggunakan bagian-bagian yang bergerak. Bangunan ini memerlukan eksploitasi yang teliti dan mahal. seperti pintu dengan peralatan angkatnya bendung tipe ini menjadi konstruksi yang mahal dan membutuhkan eksploitasi yang lebih teliti. debit banjir tidak bisa dilewatkan dengan aman melalui bendung tetap (c) pondasi kuat: pilar untuk pintu harus kaku dan penurunan tanah akan menyebabkan pintu-pintu itu tidak dapat dioperasikan.87 Dengan pintu-pintunya (pintu sorong. pintu radial dan sebagainya). pemakaian konstruksi bendung gerak dibenarkan. Bendung karet Bendung karet pada dasarnya adalah bendung gerak horisontal yang mengatur muka air dengan mengembangkan dan mengempiskan tubuh bendung yang teruat dari tabung karet yang berisi udara atau air. Penggunaan bendung gerak dapat dipetimbangkan jika: kemiringan dasar sungai kecil/relatif datar peninggian dasar sungai akibat konstruksi bendung tetap tidak dapat diterima karena ini muka air. bendung gerak dapat mengatur muka air di sungai. Udara atau air dimasukkan dari instalasi pompa udara atau air yang terletak tidak jauh dari lokasi bendung melalui pipa. Dalam merencanakan bendung karet perlu diperhatikan persyaratan penting yang harus diikuti yaitu : akan mempersulit pembuangan air atau membahayakan pekerjaan sungai yang telah ada akibat meningginya Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Di daerah-daerah alluvial yang datar di mana meningginya muka air di sungai mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang luas (tanggul banjir yang panjang).

8. pengambilan sebaiknya dibuat di ujung tikungan luar sungai untuk memanfaatkan aliran helikoidal. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . (5) Harus aman dari gangguan publik dan aman dari sengatan matahari (6) Perencanaan operasi dan pemeliharaan yang rinci dan ketat. tahan lama dan tidak mudah terabrasi. serta tidak mengandung limbah kimia yang dapat bereaksi dengan karet. (2) Sungai memiliki aliran subkritik dan tidak terjadi sedimentasi yang berat sehingga mengganggu mekanisme kembang kempisnya karet. tidak mengangkut sampah yang besar dan keras. 3.3Bangunan-bangunan muka air bebas (a) Pengambilan bebas Bangunan pengambilan bebas langka dipakai karena persyaratan untuk berfungsinya bangunan tersebut dengan baik sangat sulit dipenuhi. Kadang-kadang pula dibuat kantong lumpur atau pengelak sedimen di hilir pengambilan. (4) Pemilihan bahan karet baik jenis kekuatan maupun dimensi disesuaikan dengan kemampuan produsen untuk menyediakannya. Persyaratan ini adalah: kebutuhan pengambilan kecil dibandingkan dengan debit sungai andalan kedalaman dan selisih tinggi energi yang cukup untuk pengelakan pada aliran normal tanggul sungai yang stabil pada lokasi bangunan pengambilan bahan dasar yang kecil pada pengambilan dan sedikit bahan layang Agar sedimen yang masuk tetap minimal. (3) Bahan tabung karet harus terbuat dari material yang elastis. kuat.88 (1) Kondisi aliran sungai tidak mengangkut sedimen kasar.

Flum tersebut dipasangi saringan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . (b) Pompa Pompa merupakan metode yang fleksibel untuk mengelakkan air dari sungai. karena biaya energinya mahal (biasanya bahan bakar atau listrik). biasanya pengambilan bebas dijumpai di ruas sungai di mana kemiringan sungai curam. berdasarkan pompa gravitasi akan tidak digunakan mungkin hanya serta apabila analisis pemecahan untung-rugi menunjukkan bahwa instalasi pompa memang layak. Karena jumlah air yang dinaikkan sedikit. Flum yang dipasang yang jerujinya searah dengan mengelakkan air melalui tepi sungai. yang bekerja atas dasar momentum aliran air dan dengan cara itu pompa dapat menaikkan sedikit dari air tersebut. Saringan itu akan Bendung saringan bawah atau Tiroller mengelakkan sungai. Kedua tipe ini tidak bergabung pada bahan bakar atau listrik. Tipe pompa ini umumnya hanya digunakan untuk memompa air minum. (2) Pompa yang digerakkan dengan air terjun.89 Karena persyaratan-persyaratan yang disebutkan di atas. dasar tanggul sungai stabil (batu keras). Tetapi. Dalam keadaan khusus ada dua tipe pompa yang mungkin dipakai. (c) Bendung Saringan Bawah air lewat dasar tegak lurus terhadap dasar sungai aliran sungai. Tipe-tipe tersebut adalah: (1) Pompa naik hidrolis (hydraulic ram pump). Di dasar pipa (shaft) vertikal dipasang sebuah rotor di mana air terjun menyebabkan pipa berputar. Di atas terdapat pompa kecil yang menaikkan air sedikit saja.

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . penggunaan saringan bawah ini sangat menguntungkan di bagian sungai yang kemiringannya curam dengan bahan sedimen yang lebih besar. Tipe bendung ini terutama cocok digunakan di daerah pegunungan.2). maka bendung ini tidak mudah rusak akibat hempasan batu-batu bongkah yang diangkut aliran. Juga. Batu-batu ini akan lolos begitu saja ke hilir sungai.90 menghalangi masuknya bahan-bahan sedimen kasar di dasar sungai (untuk potongan melintang tipe bendung ini lihat gambar (1. karena hal ini akan menentukan berfungsinya bangunan dengan baik. Perencanaan saringan bawah harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Bahanbahan yang lebih halus harus dipisahkan dengan konstruksi pengelak sedimen yang ada di belakang bangunan bendung. Karena hampir tidak mempunyai bagian yang memerlukan eksploitasi. Karena bendungan saringan bawah tidak mempunyai bagian yang merupakan penghalang aliran sungai dan bahan dasar kasar. bangunan ini dapat bekerja tanpa pengawasan.

91

4.

PERENCANAAN HIDROLIS

4.1 Umum Perencanaan hidrolis bagian-bagian pokok bangunan utama akan dijelaskan dalam pasal-pasal berikut ini. Perencanaan tersebut mencakup tipe-tipe bangunan yang telah dibicarakan dalam pasal-pasal terdahulu, yakni: bendung pelimpah bendung mekanis

bendung karet
pengambilan bebas pompa dan bendung saringan bawah

Di sini akan diberikan kriteria hidrolis untuk bagian-bagian dari tipe bangunan yang dipilih dan sebagai referensi tambahan dapat digunakan

SNI 03-1724-1989, SNI 03-2401-1991.
4.2 Bendung Pelimpah

4.2.1Lebar Bendung Lebar bendung, yaitu jarak antara pangkal-pangkalnya (abutment), sebaiknya sama dengan lebar rata-rata sungai pada bagian yang stabil. Di bagian ruas bawah sungai, lebar rata-rata ini dapat diambil pada debit penuh (bankful discharge): di bagian ruas atas mungkin sulit untuk menentukan debit penuh. Dalam hal ini banjir mean tahunan dapat diambil untuk menentukan lebar rata-rata bendung. Lebar maksimum bendung hendaknya tidak lebih dari 1,2 kali lebar ratarata sungai pada ruas yang stabil.

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

92

Untuk sungai-sungai yang mengangkut bahan-bahan sedimen kasar yang berat, lebar bendung tersebut harus lebih disesuaikan lagi terhadap lebar rata-rata sungai, yakni jangan diambil 1,2 kali lebar sungai tersebut. Agar pembuatan bangunan peredam energi tidak terlalu mahal, maka aliran per
3 1

satuan lebar

hendaknya

dibatasi

sampai

sekitar

12-

14.m /dt.m , yang memberikan tinggi energi maksimum sebesar 3,5 – 4,5 m (lihat Gambar 4.1) Lebar efektif mercu (Be) dihubungkan dengan lebar mercu yang sebenarnya (B), yakni jarak antara pangkal-pangkal bendung dan/atau tiang pancang, dengan persamaan berikut: Be = B – 2 (nKp + K a) H1 di mana: n = jumlah pilar Kp = koefisien kontraksi pilar Ka = koefisien kontraksi pangkal bendung H1 = tinggi energi, m Harga – harga koefisien Ka dan Kp diberikan pada tabel 4.1
I I H1 II

pembilas

B1 II H1 ka.H1 Kp.H1 B1e

B2 B2e

B3 Bs

Ka.H1 Kp.H1 Kp.H1 Kp.H1

Bs = 0.8Bs B = B1 + B2 + B3 Be = B1e + B2e + Bs

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

93

Gambar 4.1 Lebar efektif mercu
Tabel 4.1 Harga-harga koefisien Ka dan Kp

Bentuk Pilar Untuk pilar berujung segi empat dengan sudut sudut yang dibulatkan pada jari-jari yanghampir sama dengan 0,1 dari tebal pilar Untuk pilar berujung bulat Untuk pilar berujung runcing Bentuk Pangkal Tembok Untuk pangkal tembok segi empat dengan tembok hulu pada 900 ke arah aliran Untuk pangkal tembok bulat dengan tembok hulu pada 900 ke arah aliran dengan 0,5 H1 > r > 0.15 H1 Untuk pangkal tembok bulat di mana r > 0.5 H1 dan tembok hulu tidak lebih dari 450 ke arah aliran Dalam memperhitungkan lebar efektif, lebar pembilas yang sebenarnya (dengan bagian depan terbuka) sebaiknya diambil 80% dari lebar rencana untuk mengkompensasi perbedaan koefisiensi debit dibandingkan dengan mercu bendung itu sendiri (lihat Gambar 4.1) 4.2.2Perencanaan Mercu Di Indonesia pada umumnya digunakan dua tipe mercu untuk bendung pelimpah : tipe Ogee dan tipe bulat (lihat Gambar 4.2). Ka

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

94

R1

R

mercu tipe ogee

mercu tipe bulat

Gambar 4.2 Bentuk – bentuk mercu

Kedua bentuk mercu tersebut dapat dipakai baik untuk konstruksi beton maupun pasangan batu atau bentuk kombinasi dari keduanya. Kemiringan maksimum muka bendung bagian hilir yang dibicarakan di sini berkemiringan 1 banding 1 batas bendung dengan muka hilir vertikal mungkin menguntungkan jika bahan pondasinya dibuat dari batu keras dan tidak diperlukan kolam olak. Dalam hal ini kavitasi dan aerasi tirai luapan harus diperhitungkan dengan baik. (1) Mercu bulat Bendung dengan mercu bulat (lihat Gambar 4.2) memiliki harga koefisiensi debit yang jauh lebih tinggi (44%) dibandingkan dengan koefisiensi bendung ambang lebar. Pada sungai, ini akan banyak memberikan keuntungan karena bangunan ini akan mengurangi tinggi muka air hulu selama banjir. Harga koefisiensi debit menjadi lebih tinggi karena lengkung streamline dan tekanan negatif pada mercu. Tekanan pada mercu adalah fungsi perbandingan antara H1 dan r (H1 /r) (lihat Gambar 4.4). Untuk bendung dengan dua jari-jari (R2) (lihat Gambar 4.2), jari-jari hilir akan digunakan untuk menemukan harga koefisien debit. Untuk menghindari bahaya kavitasi lokal, tekanan minimum pada mercu bendung harus dibatasi sampai – 4 m tekanan air jika mercu terbuat dari beton; untuk pasangan batu tekanan subatmosfir sebaiknya dibatasi sampai –1 m tekanan air.

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

95

V1 /2g

2

v2 /2g V1 h1 H1 y h2 p r 1 1 . V2 H2

2

2-3H, maks

Gambar 4.3 Bendung dengan mercu bulat

Dari Gambar 4.4 tampak bahwa jari-jari mercu bendung pasangan batu akan berkisar antara 0,3 sampai 0,7 kali H1maks dan untuk mercu bendung beton dari 0,1 sampai 0,7 kali H.1maks Persamaan tinggi energi-debit untuk bendung ambang pendek dengan pengontrol segi empat adalah: Q = Cd 2/3

2 / 3gb H1 1,5

di mana:Q = debit, m3/dt Cd = koefisien debit (Cd = C0C1C2) g = percepatan gravitasi, m/dt2 ( 9,8) b = panjang mercu, m H1 = tinggi energi di atas mercu, m. Koefisien debit Cd adalah hasil dari: - C0 yang merupakan fungsi H1/r (lihat Gambar 4.5) - C1 yang merupakan fungsi p/H1 (lihat Gambar 4.6), dan
-

C2 yang merupakan fungsi p/H1 dan kemiringan muka hulu bendung (lihat Gambar 4.7)

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

96

C0 mempunyai harga maksimum 1,49 jika H1/r lebih dari 5,0 seperti diperlihatkan pada Gambar 4.5.
1.0 r =~ 0.0

-1.0

-2.0 h1~H1

y~0.7H1 r

p/ g 1 1

-3.0

-4.0

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

perbandingan H1/r

Gambar 4.4 Tekanan pada mercu bendung bulat sebagai fungsi perbandingan H1/r

Harga-harga C0 pada Gambar 4.5 sahih (valid) apabila mercu bendung cukup tinggi di atas rata-rata alur pengarah (p/H1  sekitar 1,5). Dalam tahap perencanaan p dapat diambil setengah jarak dari mercu sampai dasar rata-rata sungai sebelum bendung tersebut dibuat. Untuk harga-harga p/h1 yang kurang dari 1,5, maka Gambar 4.6 dapat dipakai untuk menemukan faktor pengurangan C1.

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

97

1.5 1.4 1.3 1.2 1.1
x x x x x x x + + x xx x x x

catatan sahih jika P/H1 > 1.5

1.0 0.9 0.8 0.7 0.6 0

1.0

2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 x r = 0.025 m. - G.D.MATTHEW 1963 perbandingan H1/r o r = ............. - A.L. VERWOERD 1941 + r = 0.030 m. - A.W.v.d.OORD 1941 r = 0.0375 m. L.ESCANDE & r = 0.075 m. F.SANANES 1959

10.0

Gambar 4.5 Harga-harga koefisien C0 untuk bendung ambang bulat sebagai fungsi perbandingan H1/r
P/H1 ~ 1.5 1.0 0.99

0.9 + +

+

0.8

+ w.j.v.d. OORD 1941 0.7

0 perbandingan P/H1

1.0

2.0

3.0

Gambar 4.6 Koefisien C1 sebagai fungsi perbandingan P/H1

Harga-harga

koefisien koreksi

untuk pengaruh

kemiringan

muka

bendung bagian hulu terhadap debit diberikan pada Gambar 4.7. Harga koefisien koreksi, C2, diandaikan kurang lebih sama dengan harga faktor koreksi untuk bentuk-bentuk mercu tipe Ogee.

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

1 0 0 0.d.0 0. Faktor pengurangan tenggelam.L.VERWOERD 1941 W.4 0.04 H1 p V1 /2g kemiringan sudut terhadap garis vertikal 1:0.67 1:1 1.5 0.0 1.2 0.5 1.9 0. 1.6 0.5 0.9 1.02 1:0.3 0.1 0.33 0.5 Gambar 4.J.33 18°26' 1:0. 1960) Harga-harga faktor pengurangan aliran tenggelam f sebagai fungsi perbandingan tenggelam dapat diperoleh dari Gambar 4.3 0.67 33°41' 1:1 45°00' 2 1.7 Harga-harga koefisien C2 untuk bendung mercu tipe Ogee dengan muka hulu melengkung (menurut USBR.8 0.6 faktor pengurangan aliran tenggelam f 0.98 1.8 Faktor pengurangan aliran tenggelam sebagai fungsi H2/H1 (2) Mercu Ogee Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .8.8 0.7 0.OORD 1941 aliran tenggelam mengurangi debit dalam keadaan + + + H2/H1=1/3 + + Gambar 4.98 0 perbandingan P/H1 0.0 data dari : + A.00 1:0.4 0.v.2 0.7 0.

939 1. air akan memberikan tekanan ke bawah pada mercu.776 Bagian hulu mercu bervariasi sesuai dengan kemiringan permukaan hilir (lihat Gambar 4. Persamaan antara tinggi energi dan debit untuk bendung mercu Ogee adalah: Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Untuk debit yang lebih rendah. Harga-harga ini bergantung kepada kecepatan dan kemiringan permukaan belakang.99 Mercu Ogee berbentuk tirai luapan bawah dari bandung ambang tajam aerasi. Tabel 4. Army Corps of Engineers telah mengembangkan persamaan berikut: Y 1 X = [ ]n hd K hd di mana x dan y adalah koordinat-koordinat permukaan hilir (lihat Gambar 4. Hargaharga K dan n adalah parameter.836 1.0001. U.S.810 1.9).936 1.873 1. Tabel 4. Oleh karena itu mercu ini tidak akan memberikan tekanan subatmosfir pada permukaan mercu sewaktu bendung mengalirkan air pada debit rencana.850 3:1 3:2 1:1 1.2 menyajikan harga-harga K dan n untuk berbagai kemiringan hilir dan kecepatan pendekatan yang rendah.9) dan hd adalah tinggi energi rencana di atas mecu. Untuk merencanakan permukaan mercu Ogee bagian hilir.2 Harga-harga K dan n Kemiringan per mukaan hilir vertikal 2.

282 hd 0.776 = 1.2 hd R=0.68 hd R = 0.33 1 x 1 1 Y Y R = 0.45 hd Gambar 4. Waterways Experimental Stasion) Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .5 Q = debit.Army Corps of Engineers.4 h1 maks X H1 0. m. m3/dt Cd = koefisien debit (Cd = C0C1C2) G = percepatan gravitasi.21 hd 0.9 Bentuk-bentuk bendung mercu Ogee (U.237 hd 0.8) b = lebar mercu.119 hd X 1.48 hd y 1.939 hd 0 .85 = 2.5 hd sumbu mercu diundurkan X H1 hd 0. X 1.22 hd 0.115 hd X R=0. m/dt2 ( 9.836 y H1 hd 0.810 = 1. m H1= tinggi enegi di atas ambang.939 hd 0.S.100 Q = Cd 2/3 di mana: 2 / 3gb H1 1.85 y H1 hd 0.873 hd 0.0hd 0.139 hd 1.67 1 R=0.810 y asal koordinat x Y hd R=0.175 hd 3 .214 hd 0.836 = 1.776 y x R = 0.

berdasarkan data USBR dan WES) Koefisien debit efektif Ce adalah hasil C0. ini adalah fungsi baik kemiringan permukaan bendung maupun perbandingan p/H1.5 0. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . - C0 adalah konstanta (= 1. C1 dan C2 (Ce = C0C1C2).75 faktor koreksi C1 muka hulun vertikal 0. C1 adalah fungsi p/hd dan H1/hd‟ dan C2 adalah faktor koreksi untuk permukaan hulu.101 1.90 0.6 0.10 berlaku untuk bendung mercu Ogee dengan permukaan hulu vertikal.00 Gambar 4. Harga-harga C1 pada Gambar 4.8 0. Apabila permukaan bendung bagian hulu miring.70 0. 1959.10 Faktor koreksi untuk selain tinggi energi rencana pada bendung mercu Ogee (menurut Ven Te Chow.0 0. Gambar 4.30).1 0 0.11 menyajikan faktor pengurangan aliran tenggelam f untuk dua perbandingan: perbandingan aliran tenggelam H2/H1 dan P2/H1.9 0. Harga-harga C2 dapat diperoleh dari Gambar 4.7.10 dan sebaiknya dipakai untuk berbagai tinggi bendung di atas dasar sungai.80 0.1 1. koefisien koreksi tanpa dimensi C2 harus dipakai.7 0.4 0. Faktor koreksi C1 disajikan pada Gambar 4.3 0.3 1.95 1.2 1.2 0.85 0.

92 0.9 1. bukan tinggi energi H1.60 0.40 0.98 0.2 H1 -0. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .5 0.5 P2/H1 2.40 0. (Disadur dari US Army Corps of Engineers Waterways Experimental Station) (3) Kecepatan datang (approach velocity) Jika dalam rumus-rumus debit di atas dipakai kedalaman air h1.1 p H2 p2 0 0.7 0.4 0.2 0.0 0.5 3.85 0.80 0.5 4.96 0. Harga-harga koefisien ini dapat dibaca dari Gambar 4.11 Faktor pengurangan aliran tenggelam sebagai fungsi p2/H1 dan H2/H1.0 2.102 -0.1 1.3 0.20 0 0. maka dapat dimasukkan sebuah koefisien kecepatan datang Cv ke persamaan debit tersebut.94 0.12.90 0.8 0.97 0.6 0.0 3.5 1.0 0.20 0.70 0.60 0.995 0.0 perbandingan Gambar 4.99 0.0 1.

15 1.4 1 Cd A*/A1 0. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .04 A1 = luas dalam alur pengarah A* = luas semu potongan melintang aliran di atas mercu bendung jika kedalaman aliran akan sama dengan h1 (lihat Gambar 4.20 1.103 1.00 0 0.8 Gambar 4. Perbandingan luas = di mana: untuk bendung segi empat  1 Cd A*/A1 1 = koefisiensi pembagian/distribusi kecepatan dalam alur pengarah (approach channel).1 0. Untuk keperluan-keperluan praktis harga tersebut boleh diandaikan sebagai konstan.5 0.2 perbandingan luas 0.6 0.12 Harga-harga Cv sebagai fungsi perbandingan luas  1 Cd A*/A1 untuk bagian pengontrol segi empat (dari Bos.05 1.5 1.  = 1.3 0.13). 1977) Gambar ini memberikan harga-harga Cv sebagai fungsi perbandingan luas.10 pengontro l segiempat u = 1.7 0.

debit cukup besar dengan fluktuasi antara debit rendah dan debit tinggi yang tidak terlalu jauh. sehingga perlu area yang besar dan biaya yang mahal. Dari hasil beberapa penelitian untuk sungai dengan karakteristik di atas lebih sesuai digunakan pelimpah dengan alinyemen berbentuk gigi gergaji. didapatkan sungai yang mempunyai karakteristik lebar sungai kecil.13 Potongan hulu dan tampak depan pengontrol 4.2. Untuk karakteristik sungai yang demikian jika dibangun bendung dengan pelimpah alinyemen lurus akan memerlukan panjang pelimpah yang besar.3 Pelimpah gigi gergaji Pada beberapa lokasi rencana pembuatan bendung. dan tidak membawa material bawaan yang besar (besarnya sungai di daerah hilir). Parameter yang harus diperhatikan sebelum merencanakan type ini adalah : (1) Lokasi. tinggi mercu.104 B1 Bc pengontrol z1 1 A1 bc A alur pengarah h1 y1 P1 b1 Gambar 4. debit banjir rencana dan stabilitas perlu didesain dengan mengacu pada acuan yang ada pada pelimpah ambang tetap biasa. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . karena dengan bentuk seperti itu pada bentang sungai yang sama mempunyai panjang pelimpah yang lebih besar.

(3) Radius atau jari-jari mercu perlu diambil lebih besar atau sama dengan 0. tetapi jarak antara dinding-dinding pelimpah bagian ujung udik dan hilir pada bentuk segitiga sangat dekat. 4.10 m.4 Tata letak dan bentuk gigi gergaji (1) Pelimpah dengan bentuk dasar segitiga menghasilkan kapasitas pelimpahan terbesar.2. Bentuk dasar trapezium memberikan efektifitas pelimpahan yang terbaik. (2) Pada pelimpah dengan bentuk dasar persegi panjang terjadi pengkonsentrasian menimbulkan (3) (4) aliran menuju pelimpah.105 (2) Bendung tipe gigi gergaji kurang sesuai untuk dibangun pada sungai dengan angkutan material dasar sungai batu gelinding. Bentuk mercu pelimpah sangat berpengaruh terhadap kapasitas pelimpahan. yang lebih besar daripada koefisien pelimpahan mercu dengan bentuk tajam (ct). sungai yang membawa hanyutan batang-batang pohon dalam jumlah yang besar sehingga akan menimbulkan benturan yang dapat merusak tubuh bendung atau tumpukan sampah yang dapat mengakibatkan penurunan kapasitas pelimpahan bendung. muka air diatas Keadaan pelimpah ini dan penurunan mengakibatkan penurunan kapasitas pelimpah. Keadaan ini mengakibatkan pelimpah bentuk segitiga sangat peka terhadap akibat perubahan muka air hilir dan mudah terjadi kehilangan aerasi akibat tumbukan aliran air menyilang yang jatuh dari dinding-dinding pelimpah. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . bentuk mercu setengah lingkaran mempunyai koefisien pelimpahan (c).

14 Denah pelimpah bentuk gergaji Notasi dari gambar didepan adalah: a b c = setengah lebar bagian dinding ujung-ujung gigi gergaji = lebar lurus satu gigi gergaji = panjang bagian dinding sisi gigi gergajji p = tinggi pembendungan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . kapasitas pelimpahan bendung gergaji dengan dengan koefisien pelimpahan c adalah Qg = A a A lg b yang sama tetapi f t c x Qt.106 Jika kapasitas pelimpahan bendung tipe gergaji dengan besar pelipatan panjang mercu lg b dan nilai koefisien pelimpahan ct adalah sebesar Qt. c h Udik b Arah Aliran a c hilir 2a p denah untuk jenis lantai hilir datar Potongan A-A untuk jenis lantai hilir A A h p Udik b Arah Aliran a c hilir 2a Potongan A-A untuk jenis lantai hilir denah untuk jenis lantai hilir miring Gambar 4.

h dengan tinggi p bendung atau pelimpah diukur dari lantai udik. Lg = panjang satu gigi gergaji = 4a + 2c h = perbandingan antara tinggi tekan hidrolik. b = perbandingan antara lebar satu gigi b dengan tinggi bendung p p lg = perbandingan antara panjang mercu pelimpah gergaji yang b terbentuk  n = sudut antara sisi pelimpah dengan arah aliran utama air = jumlah “gigi” pelimpah gergaji Qg = nilai perbandingan antara besar debit pada pelimpah gergaji Qn dibandingkan dengan besar debit pelimpahan jika digunakan pelimpah lurus biasa dengan lebar bentang yang sama.107 h = tinggi tekan hidrolik muka air udik diukur dari mercu bendung. 4.2. p. di sepanjang 4. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .14 permukaannya Gambar memberikan dimensi-dimensi yang dianjurkan untuk pangkal bendung dan peralihan (transisi).5Pangkal bendung Pangkal-pangkal bendung (abutment) menghubungkan bendung dengan tanggul-tanggul sungai dan tanggul-tanggul banjir. Pangkal bendung harus mengarahkan dan aliran air dengan tidak menimbulkan tenang turbulensi.

15 Pangkal bendung Elevasi pangkal bendung di sisi hulu bendung sebaiknya lebih tinggi daripada elevasi air (yang terbendung) selama terjadi debit rencana.5h2 R3>1m maks 1:1 a R=1. Tinggi jagaan yang harus diberikan adalah 0. Gambar 4.6 Peredam energi Aliran di atas bendung di sungai dapat menunjukkan berbagai perilaku di sebelah bendung akibat kedalaman air yang ada h2.50 m untuk memberikan tingkat keamanan yang sama.50 m R1>h1 maks 1:1 .108 0.75 m sampai 1. sedang untuk kurve yang curam akan diperlukan 1.2.5a L1 > 2hmaks L2>2h1 L3>4h3 Q100 hmaks h1 h2 h3 Q100 Gambar 4.50 m. bergantung kepada kurve debit sungai di tempat itu. untuk kurve debit datar 0. 4.75 m akan cukup. Kasus B menunjukkan loncatan tenggelam yang lebih diakibatkan oleh kedalaman Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . R2>0. Kasus A menunjukkan aliran tenggelam yang menimbulkan sedikit saja gangguan di permukaan berupa timbulnya gelombang.15 menyajikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dari pola aliran di atas bendung.

y2 h2 A B yu y2=h2 y2 h2 C D Gambar 4.16 Peredam energi Semua tahap ini bisa terjadi di bagian hilir bendung yang di bangun di sungai. daripada oleh kedalaman konjugasi. dalam hal ini loncatan akan bergerak ke hilir. Debit rencana Untuk menemukan debit yang akan memberikan keadaan terbaik untuk peredaman energi. karena loncatan air akan menghempas bagian sungai yang tak terlindungi dan umumnya menyebabkan penggerusan luas. Kasus D adalah keadaan yang tidak boleh terjadi. Jika degradasi mungkin terjadi. semua debit harus dicek dengan muka air hilirnya.109 air hilir yang lebih besar. Degradasi harus dicek jika: Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Kasus D terjadi apabila kedalaman air hilir kurang dari kedalaman konjugasi. Kasus C adalah keadaan loncat air di mana kedalaman air hilir sama dengan kedalaman konjugasi loncat air tersebut. maka harus dibuat perhitungan dengan muka air hilir terendah yang mungkin terjadi untuk mencek apakah degradasi mungkin terjadi.

2. Bila degradasi sangat mungkin terjadi. kecepatan (v1) awal loncatan dapat ditemukan dari: Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .0 0 tinggi dasar hilir v1 2 H2 degradasi q Gambar 4.7Kolam loncat air Gambar 4. Dari grafik q versus H1 dan tinggi jatuh 2. tetapi tidak ada data pasti yang tersedia. maka harga sembarang degradasi 2.110 (a) (b) (c) bendung dibangun pada sodetan (kopur) sungai itu sungai alluvial dan bahan tanah yang dilalui rawan terhadap erosi terdapat waduk di hulu bangunan. H2 -4. tetapi dengan fungsi sebagai berikut: (a) (b) (c) (d) Untuk analisa stabilitas bendung Untuk menyiapkan cut off end sill / analisa dimensi curve Untuk keperluan perhitungan piping/seepage Untuk perhitungan kolam olak/dimensi muka air hulu 1/3 H1 penurunan tinggi dasar 2/3H1 aliran tenggelam z + 0.50 m harus digunakan dalam perencanaan kolam olak.5H1 H1 aliran tak tenggelam tinggi mercu muka air hilir kedalaman konjugasi y2 H1 z 1 .17 Metode perencanaan kolam loncat air 4.17 memberikan penjelasan mengenai metode perencanaan.

m/dt2 ( 9. m. Panjang kolam Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . tidak diperlukan peredam energi.3 dapat pula digunakan (lihat Lampiran 2) beserta Gambar 4.111 v1 = 2g (1/ 2H 1  z ) di mana: v1 = kecepatan awal loncatan. m/dt g = percepatan gravitasi. Tabel 4. yakni jika muka air hilir lebih tinggi dari 2/3 H1 di atas mercu. Dalam menghitung gejala loncat air. m yu= kedalaman air di awal loncat air. m z = tinggi jatuh. m/dt g = percepatan gravitasi. Untuk aliran tenggelam. maka lantai harus diturunkan hingga kedalaman air hilir sekurang-kurangnya sama dengan kedalaman konjugasi.8) kedalaman konjugasi untuk setiap q dapat ditemukan dan diplot. m Fr= bilangan Froude v1= kecepatan awal loncatan. dan rumus untuk kedalaman konjugasi dalam loncat air adalah: 9 2 y 2 = ½ ( 1  8 Fr 1) yu 9 di mana : Fr = di mana : v1 gy u y2= kedalaman air di atas ambang ujung. Dengan q = v1y1.8) H1= tinggi energi di atas ambang.17. m/dt2 ( 9. Untuk menjaga agar loncatan tetap dekat dengan muka miring bendung dan di atas lantai.

di belakang Potongan U.18. Ambang yang berfungsi untuk memantapkan aliran ini umumnya ditempatkan pada jarak Lj di mana: Lj = panjang kolam. m. dapat ditentukan dari Gambar 4. dan tinggi muka air hilir. kedalaman air yang masuk yu. m y2= kedalaman air di atas ambang. Tinngi yang diperlukan ambang ujung ini sebagai fungsi bilangan Froude (Fru). bagian pengontrol = 5 (n + y2) H1 yc H >2 ambang ujung Z sudut runcing bidang persamaan 1 Hu yu H2 n y2 panjang kemiringan potongan U Lj bulat r ~ 0.5H1 alternatif peralihan Z 1 1 panjang kemiringan diperpendek Gambar 4. m n = tinggi ambang ujung.112 Panjang kolam loncat air di belakang Potongan U (Gambar 4.17) biasanya kurang dari panjang bebas loncatan tersebut adanya ambang ujung (end sill).18Parameter-parameter loncat air Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

0079 m.2n3 0. 1950) Panjang kolam olak dapat sangat diperpendek dengan menggunakan blok-blok halang dan blok-blok muka.675 n3 0. y2/yu untuk ambang ujung pendek (menurut Forster dan Skrinde.60 H blok muka yu(4+Fru) 6 0. n = 0.19 menyajikan dimensi kolam olak USBR tipe III yang dapat dipakai jika bilangan Froude tidak lebih dari 4. n = 0. > (h+y2) +0. n<0 X X X X X batas bawah jangkauan percobaan 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Gambar 4. Gambar 4.0238 m.113 9 8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 harga Fru n =1 n yu =1/2 yu n yu =2 y2 < yc Vu yu Vd yd V2 y2 n n yu =4 n = 0.19 Hubungan percobaan antara Fr u.75 n3 yu(18+Fru) 18 ambang ujung yu n3 n 0.0539 m. n = 0.82 y2 2.7 y2 potongan U Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .0366 m.5.75 n3 0.5 yu yu yu yu blok halang n= 1 1 2 1 n3 = 0.

biasanya cocok dengan kolam olak tipe bak tenggelam/submerged bucket (lihat Gambar 4. yang dapat dijelaskan dengan bilangan Froude dan kedalaman air hilir. tetapi sungai itu mengandung bahan alluvial. blok halang dan blok muka dapat dibuat seperti ditunjukkan pada Gambar 4. kolam USBR Tipe III (Bradley dan Peterka. kondisi dasar sungai dan tipe sedimen yang diangkut memainkan peranan penting dalam pemilihan tipe kolam olak: (a) Bendung di sungai yang mengangkut bongkah atau batu-batu besar dengan dasar yang relatif tahan gerusan. (b) Bendung di sungai yang mengangkut batu-batu besar.21 Blok-blok halang dan blok–blok muka Tipe kolam Terlepas dari kondisi hidrolis. 1957) Jika kolam itu dibuat dari pasangan batu.114 Gambar 4.20. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .5. pelat baja kerangka besi siku balok beton bertulang dengan: -blok muka -blok halang pasangan batu Gambar 4.20 Karakteristik kolam olak untuk dipakai dengan bilangan Froude di atas 4.21).

tinggi kecepatan q H hc muka air hilir 1 1 a=0. akan menggunakan kolam loncat air tanpa blok-blok halang (lihat Gambar 4. satu pusaran permukaan bergerak ke arah berlawanan dengan arah jarum jam di atas bak.2. Dimensi-dimensi umum sebuah bak yang berjari-jari besar diperlihatkan pada Gambar 4.115 dengan dasar tahan gerusan. 4.19) Untuk tipe kolam olak yang terakhir.21. maka dapat dipakai peredam energi yang relatif pendek tetapi dalam.17) atau tipe bak tenggelam/peredam energi. dan sebuah pusaran permukaan bergerak ke arah putaran jarum jam dan terletak di belakang ambang ujung.1R 90° lantai lindung T elevasi dasar lengkung Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . (c) Bendung sungai yang hanya mengangkut bahan-bahan sedimen halus 4. atau kalau diperkirakan akan terjadi kerusakan pada lantai kolam yang panjang akibat batu-batu besar yang terangkut lewat atas bendung. daya gerus sedimen yang terangkut harus dipertimbangkan dengan mengingat bahan yang harus dipakai untuk membuat blok. Perilaku hidrolis peredam energi tipe ini terutama bergantung kepada terjadinya kedua pusaran.8 Peredam energi tipe bak tenggelam dapat direncanakan dengan kolam loncat air yang diperpendek dengan menggunakan blok-blok halang (lihat Gambar Jika kedalaman konjugasi hilir dari loncat air terlalu tinggi dibanding kedalaman air normal hilir.

di mana garis menerus adalah garis asli dari kriteria USBR. Oleh sebab itu. Bahan ini telah diolah oleh Institut Teknik Hidrolika di Bandung guna menghasilkan serangkaian kriteria perencanaan untuk kolam dengan tinggi energi rendah ini. m q g = debit per lebar satuan. m/dt ( 9. Sejauh ini penyelidikan dengan model yang dilakukan oleh IHE menunjukkan bahwa garis putus-putus Gambar ini menghasilkan kriteria yang bagus Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .m = percepatan gravitasi.8) 3 q2 g Jari-jari minimum bak yang diizinkan (Rmin) diberikan pada Gambar 4. Parameter-parameter dasar untuk perencanaan tipe bak tenggelam sebagaimana diberikan oleh USBR (Peterka. Kriteria yang dipakai untuk perencanaan diambil dari bahan-bahan oleh Peterka dan hasil-hasil penyelidikan dengan model. 1974) sulit untuk diterapkan bagi perencanaan bendung dengan tinggi energi rendah.22. hc = di mana: hc = kedalaman air kritis. m3/dt.22 Peredam energi tipe bak tenggelam Kolam olak tipe bak tenggelam telah digunakan sejak lama dengan sangat berhasil pada bendung-bendung rendah dan untuk bilanganbilangan Fruode rendah. tinggi energi dan kedalaman air telah dirombak kembali menjadi parameter-parameter tanpa dimensi dengan cara membaginya dengan kedalaman kritis.5 USBR tidak memberikan hasil-hasil percobaan.116 Gambar 4. Di bawah H/hc = 2. parameter-parameter dasar ini sebagai jari-jari bak.

4 garis tersebut merupakan “envelope” batas tinggi air hilir yang diberikan oleh USBR bagi batas minimum tinggi air hilir (bak bercelah). maka diputuskanlah untuk mengambil kedalaman konjugasi sebagai kedalaman minimum air hilir dari bak untuk harga H/hc yang lebih kecil dari 2. Oleh karena Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .23 Jari – jari minimum bak Batas minimum tinggi air hilir (Tmin) diberikan pada Gambar 4. “sweep-out limit”. Dibawah H/hc = 2. Dengan pertimbangan bahwa kisaran harga H/hc yang kurang dari 2.4 garis tersebut menggambarkan kedalaman konjugasi suatu loncat air.4 berada di luar jangkauan percobaan USBR. Pengalaman telah menunjukkan bahwa banyak bendung rusak akibat gerusan lokal yang terjadi tepat di sebelah hilirnya dan kadang-kadang kerusakan ini diperparah lagi oleh degradasi dasar sungai.4.24. batas minimum tinggi air hilir yang dipengaruhi oleh jari-jari bak dan batas tinggi air hilir untuk bak tetap. 3 2 1 1 H hc 2 3 4 5 6 7 8 9 10 20 Gambar 4. Untuk H/hc di atas 2.117 untuk jari-jari minimum bak yang diizinkan bagi bangunan-bangunan dengan tinggi energi rendah ini.

dianjurkan untuk menentukan kedalaman air hilir berdasarkan perkiraan degradasi dasar sungai yang akan terjadi di masa datang.118 itu.25). ditentukan oleh perbandingan h2/h1 (lihat Gambar 4. IHE menyimpulkan bahwa pengaruh kedalaman tinggi air hilir terhadap bekerjanya bak sebagai peredam enegi.4 1 1 H 2 3 4 5 6 7 8 9 10 20 hc Gambar 4. 3 h1 2 h2 1 bias y ang dipakai 0 0 1 2 h1 dalam m 3 4 5 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Jika h2/h1 lebih tinggi dari 2/3. maka aliran akan menyelam ke dalam bak dan tidak ada efek peredaman yang bisa diharapkan. 5 4 3 2 h hc = 2.24 Batas minimum tinggi air hilir Dari penyelidikan model terhadap bak tetap.

di Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .5 < < 2. Sedangkan peredam energi tipe MDS terdiri dari lantai datar.0 hc + 0.9Kolam Vlugter Kolam Vlugter.26 Kolam olak menurut Vlugter 4.25 Batas maksimum tinggi air hilir hc=2/3 H r r r r r 1 1 R R z hc = q² g z jika 0.0 < t = 2.0 : hc t = 3. yang detail rencananya diberikan pada Gambar 4.28 hc L D=R=L (4) (ukuran dalam m) Gambar 4. di ujung hilir lantai dilengkapi dengan ambang hilir tipe gigi ompong dan dilengkapi dengan rip rap.1 z (2) hc (3) z alternati f a = 0. Schoklizt yang telah dilakukan penelitiannya dan dapat digunakan dalam perencanaan dengan mengacu RSNI T-04-2002 dapat digunakan antara lain adalah tipe-tipe MDO.25.2. telah terbukti tidak andal untuk dipakai pada tinggi air hilir di atas dan di bawah tinggi muka air yang sudah diuji di laboratorium.4 hc + 0.0 hc D a 2a t jika 2. yang perencanaannya mirip dengan kolam Vlugter. 4.4 z (1) z < 15. lebih baik. Peredam energi tipe MDO terdiri dari lantai datar.10 Modifikasi Peredam Energi Ada beberapa modifikasi peredam energi tipe Vlugter. Penyelidikan menunjukkan bahwa tipe bak tenggelam.2.119 Gambar 4. MDS. Itulah sebabnya mengapa pemakaian kolam Vlugter tidak lagi dianjurkan jika debit selalu mengalami fluktuasi misalnya pada bendung di sungai.

c) tubuh bendung dan peredam energi harus dilapisi dengan lapisan tahan aus.120 ujung hilir lantai dilengkapi dengan ambang hilir tipe gigi ompong ditambah dengan bantalan air dan dilengkapi dengan rip rap. b) permukaan tubuh bendung bagian hilir dibuat miring dengan perbandingan kemiringan 1 : m atau lebih tegak dari kemiringan 1 : 1. e) elevasi muka air hilir bendung yang dihitung. Selain parameter di atas kriteria desain yang disyaratkan yaitu : a) tinggi air udik bendung dibatasi maksimum 4 meter. b) tinggi pembendungan (dihitung dari elevasi mercu bendung sampai dengan elevasi dasar sungai di hilir) maksimum 10 meter. d) elevasi dasar sungai atau saluran di hilir tubuh bendung yang ditentukan. dengan memperhitungkan kemungkinan terjadinya degradasi dasar sungai. Bantalan air yang dimaksud di sini adalah ruang di atas lantai disediakan untuk lapisan air sebagai bantalan pencegah atau pengurangan daya bentur langsung batu gelundung terhadap lantai dasar peredam energi. Sebelum mendesain type ini perlu ditentukan terlebih dahulu nilai parameter : a) tipe mercu bendung harus bentuk bulat dengan satu atau dua jari-jari. berdasarkan elevasi dasar sungai dengan kemungkinan perubahan geometri badan sungai. Dalam hal tinggi air udik bendung lebih dari 4 meter dan atau tinggi pembangunan lebih dari 10 meter tata cara peredam energi tipe MDO Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

Penggunaan type MDO dan MDS dapat juga dimodifikasi dan dilakukan pengembangan pemakaiannya. dapat diambil sama dengan debit alur penuh.121 dan MDS ini masih dapat digunakan asalkan dimensinya perlu diuji dengan model test. Data awal yang harus ditentukan terlebih dahulu adalah : a) debit desain banjir dengan memperhitungkan tingkat keamanan bangunan air terhadap bahaya banjir. 2) tubuh bendung dengan peredam energi tipe MDO dapat dilengkapi dengan pembilas sedimen tipe undersluice tanpa mengubah dimensi hidraulik peredam energi tipe MDO. 1) dimensi hidraulik peredam energi tipe MDO dapat diterapkan di hilir tubuh bendung dengan bidang miring lebih tegak dari perbandingan 1 : 1. meliputi : a) grafik pengaliran melalui mercu bendung dapat dilihat dalam grafik MDO-1 pada lampiran A1 (RSNI T-04-2002) b) grafik untuk mengetahui bahaya kavitasi di hilir mercu bendung dapat dilihat dalam MDO-1a pada lampiran A2 (RSNI T-04-2002) c) grafik untuk menentukan dimensi peredam energi tipe MDO dan MDS dapat dilihat dalam grafik MDO-2 dan MDO-3 pada lampiran A3 dan A4 (RSNI T-04-2002) Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . b) debit desain penggerusan. Grafik-grafik yang dipakai dalam desain hidraulik bendung dengan kelengkapannya. c) lengkung debit sungai di hilir rencana bendung berdasarkan data geometri-hidrometri-hidraulik morfologi sungai.

pada Qdp adalah Zdp = Hudp – Hidp Hidf dan Hidp diperoleh dari grafik lengkung debit sungai.2 a 0. : 1.122 Rumus-rumus yang digunakan dalam desain hidraulik ini meliputi : 1) debit desain persatuan lebar pelimpah : untuk bahaya banjir : qdf = Qdf/Bp (01) (02) (03) untuk bahaya penggerusan : qdf = Qdp/Bp 2) dimensi radius mercu bendung = r.00 m  r  3.pada Qdf adalah Zdf = Hudf – Hidf . untuk banjir Hudp dan Hudf dihitung dengan grafik MDO-1 4) tinggi terjun bendung : .00 m 3) tinggi dan elevasi muka air di udik bendung : Hudp dan Eludp Hudf dan Eludf Eludp = M + Hudp. 5) (04) (05) (06) parameter energi (E) untuk menentukan dimensi hidraulik peredam energi tipe MDO dan MDS dihitung dengan : Edp = qdp/(g x Zd p3)1/2 (07) (08) 6) kedalaman lantai peredam energi (Ds) dihitung dengan : Ds = (Ds) (Ds/Ds) Ds/Ds dicari dengan grafik MDO-2 7) panjang lantai dasar peredam energi (Ls) dihitung dengan : Ls = (Ds) (Ls/Ds) Ls/Ds dicari dengan grafik MDO-3 8) tinggi ambang hilir dihitung dengan : a = (0.3) Ds 9) lebar ambang hilir dihitung : b = 2 x a(11) (10) Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . untuk penggerusan Eludf = M + Hudf.

untuk tembok pangkal hilir Fb diambil : 1.5 Ls  Lpu  Ls 14) Panjang tembok sayap udik ditentukan :  Bagi tebing sungai yang tidak jauh dari sisi tembok pangkal bendung.50 Ls  Lsu  1.50 Ls (16)  Bagi tebing sungai yang jauh dari sisi tembok pangkal bendung atau palung sungai di udik bendung yang relatif jauh lebih besar (15) (14) 12) Panjang tembok sayap hilir (Lsi) dihitung dari ujung hilir lantai (12) (13) Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . ujung tembok sayap udik dilengkungkan masuk ke tebing dengan panjang total tembok pangkal bendung ditambah sayap udik: 0.5 Ls Tebing sungai yang tidak jauh dari tepi sisi lantai peredam energi.123 10) Elevasi Dekzerk tembok pangkal bendung ditentukan dengan : EiDzu = M + Hudf + Fb . 13) Panjang tembok pangkal bendung di bagian udik (Lpu) bagian yang tegak dihitung dari sumbu mercu bendung : 0.00 meter  Fb  1. untuk tembok pangkal udik EiDzi = M + Hidf + Fb . maka ujung hilir tembok sayap hilir dilengkungkan masuk ke dalam tebing sungai. Dan bagi tebing sungai yang jauh dari tepi sisi lantai peredam energi maka ujung tembok sayap hilir dilengkungkan balik ke udik sehingga tembok sayap hilir berfungsi sebagai tembok pengarah arus hilir bendung. Bentuk ini dapat diperhatikan pada contoh gambar dalam lampiran D2.50 meter 11) Ujung tembok pangkal bendung tegak ke arah hilir (Lpi) ditempatkan lebih kurang di tengah-tengah panjang lantai peredam energi: Lpi = Lp + ½ Ls peredam energi diambil : Ls  Lsi  1.

00 meter tinggi air diatas mercu bendung pada debit desain banjir (m) tinggi air diatas mercu bendung pada debit desain penggerusan (m) Hidp = Hidf = Zdf = tinggi air dihilir bendung pada debit desain penggerusan (m) tinggi air dihilir bendung pada debit desain banjir (m) perbedaan elevasi muka air udik dan hilir pada debit desain banjir (m) Zdp = Dzu = Dzi = perbedaan elevasi muka air udik dan hilir pada debit desain penggerusan (m) elevasi dekzerk tembok pangkal bendung bagian udik (m) elevasi dekzerk tembok pangkal bendung bagian hilir (m) Hudp = Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .00 m sampai dengan 2.124 dibandingkan dengan lebar pelimpah bendung maka tembok sayap udik perlu diperpanjang dengan tembok pengarah arus yang panjangnya diambil minimum 2 x Lp 15) Kedalaman bantalan air pada tipe MDS ditentukan : S = Ds + (1.00 meter sampai dengan 3.00 m) (18) (17) Dengan : Qdf Qdp Bp qdf qdp D2 r Hudf = = = = = = = = debit desain untuk bahaya banjir (m3/s) debit desain untuk bahaya penggerusan (m3/s) lebar pelimpah (m) Qdf/Bp (m3/s/m‟) Qdp/Bp (m3/s/m‟) tinggi muka air sungai di hilir bendung dengan dasar sungai terdegradasi (m) radius mercu bendung diambil antara 1.

jika tekanan berada di daerah positif pemilihan radius mercu bendung. r. diijinkan.00 meter s/d 1. hitung lebar pelimpah bendung efektif. tentukan nilai radius mercu bendung yang lebih besar dan ulangi pemeriksaan kavitasi sehingga tekanan berada di daerah positif.125 Fb E Ls Lb Lpi S = = = = = = tinggi jagaan diambil antara 1. untuk nilai radius mercu bendung tersebut. tentukan nilai radius mercu bendung. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . 6) jika tekanan berada di daerah negatif. hitung debit desain persatuan lebar pelimpah. periksa kavitasi di bidang hilir tubuh bendung dengan bantuan grafik MDO 1a.50 meter parameter tidak berdimensi panjang lantai peredam tinggi jarak sumbu mercu bendung sampai perpotongan bidang miring dengan lantai dasar bendung (m) panjang tembok sayap hilir dari ujung hilir lantai peredam energi ke hilir (m) kedalaman bantalan air peredam energi tipe MDS (m) panjang tembok pangkal udik bendung dari sumbu mercu bendung ke udik (m) panjang tembok sayap udik (m) panjang tembok pengarah arus udik tembok sayap udik (m) percepatan / gravitasi Lpu = Lsu Lpa g = = = Perhitungan dan penentuan dimensi hidraulik tubuh bendung dan peredam energinya dengan langkah sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) hitung debit desain untuk bahaya banjir dan untuk bahaya penggerusan.

15) tentukan tata letak. 14) tentukan tata letak. panjang. kemiringan kedalaman tembok pangkal bendung. hitung tinggi terjun bendung. 13) tetapkan tinggi ambang hilir dan lebarnya. Z. panjang. elevasi puncak. panjang. hitung parameter tidak berdimensi. 12) tentukan tinggi bantalan air. E.126 7) 8) 9) hitung elevasi muka air udik bendung dengan bantuan grafik MDO1. a dan b. untuk peredam energi tipe MDS. dan dan dan dan Gambar 4. 17) tentukan tata letak. 10) hitung kedalaman lantai peredam energi. Ds. elevasi puncak. elevasi puncak. panjang. 11) hitung nilai panjang lantai datar. kemiringan kedalaman tembok sayap udik. elevasi puncak. kemiringan kedalaman tembok sayap hilir. 18) lengkapi laki-laki tembok sayap hilir dan di hilir ambang hilir peredam energi dengan rip rap. kemiringan kedalaman tembok pengarah arus. 16) tentukan tata letak. Ls.27 Potongan memanjang bendung tetap dengan peredam energi tipe MDO Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . S.

127 Gambar 4.29 Grafik MDO – 1 Pengaliran melalui mercu bendung Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .28 Potongan memanjang bendung tetap dengan peredam energi tipe MDS Untuk grafik-grafik yang dipakai akan diberikan pada gambar berikut : Gambar 4.

30 bendung Grafik MDO – 1a Penentuan bahaya kavitasi di hilir mercu Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .128 Gambar 4.

31 Grafik MDO – 2 Penentuan kedalaman lantai peredam energi Gambar 4.129 Gambar 4.32 Grafik MDO – 3 Penentuan panjang lantai peredam energi Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

diperlukan peredam energi lebih sederhana dan seluruh tekanan hidrodinamis air pada kondisi muka air normal dilimpahkan sepenuhnya ke pintu air.3 Bendung gerak Pada umumnya bendung gerak adalah bangunan yang sangat rumit dan harus direncana oleh ahli-ahli yang berpengalaman dibantu oleh ahli-ahli di bidang hidrolika.130 4. Kalau lebar efektif bendung gerak dipertahankan sama dengan lebar sungai asli sebelum pembangunan maka elevasi ambang tubuh bendung dibut sama dengan elevasi dasar sungai. b) Muka air banjir berubah Karena pertimbangan tertentu muka air banjir dimungkinkan lebih tinggi dibanding dengan muka air banjir sebelum pembangunan. dimensi pintu air dibatasi sesuai dengan tipenya. Elevasi ambang tubuh bendung dibuat lebih tinggi dari elevasi dasar sungai asli. baik sebelum maupun sesudah pembangunan.1 Pengaturan muka air Bendung gerak dibangun untuk memenuhi keperluan muka air normal dalam rangka pengambilan dan mengurangi efek genangan akibat muka air banjir yang diakibatkannya. Prinsip pembangunan bendung gerak seperti ini membawa implikasi pengaturan muka air banjir sebagai berikut : a) Muka air banjir tetap Muka air banjir dipertahankan tetap. 4. Namun demikian untuk kemudahan operasi dan pemeliharaan pintu. Dalam keadaan ini tidak ada penumpukan sedimen di depan bendung.3. teknik mekanika dan konstruksi baja. dengan maksud mengurangi beban tekanan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

yakni: (1) Makin tinggi bangunan. yang digunakan jika harus mengalirkan banjir tinggi. sehingga tidak ada sedimen yang masuk ke intake dan tidak ada penumpukan sedimen di atas mercu tubuh bendung yang dapat menganggu operasional pintu.4. mungkin akan menguntungkan untuk merencanakan bangunan campuran:sebagian bendung gerak dan sebagian bendung tetap. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Dalam kasus-kasus tertentu. bangunan ini harus aman pada waktu mengalirkan debit maksimum sementara sebuah pintu tidak berfungsi.2 Tata letak Bendung gerak harus memiliki paling sedikit 2 bukaan. dengan alasan ini lebih disukai kalau bangunan itu dibuat lebih lebar. makin melonjak harga pintu dan pilar. Kombinasi tinggi tubuh bendung dan pintu air dijelaskan pada sub bab 4. Karena alasan itu pula. Dalam keadaan ini penumpukan sedimen didepan bendung diatur sedemikian.131 hidrodinamis air pada pintu. Hal-hal semacam itu mungkin terjadi jika bangunan dibuat di: (1) (2) sungai yang sangat lebar dengan perbedaan yang besar antara debit rendah dan debit puncak atau sungai dengan dasar air normal yang sempit tetapi bantaran lebar.3. agar bangunan itu tetap dapat berfungsi. bukan lebih tinggi. Ada dua kriteria saling bertentangan yang mempengaruhi lebar total bendung gerak. 4.3. (2) kapasitas lolosnya sedimen akan lebih baik pada bangunan yang lebih sempit serta kecepatan aliran yang lebih tinggi. jika salah satu pintu rusak.

Keuntungan dari pemakaian pintu ini adalah dapat dioperasikan dengan alat angkat yang lebih ringan.3 Pintu Ada banyak tipe pintu : (a) Pintu sorong dipakai dengan tinggi maksimum sampai 3 m dan lebar tidak lebih dari 3 m. yang mempunyai keuntungan tambahan karena di bagian atas terdapat lebih sedikit gesekan. pintu-pintu ini dapat mempunyai debit melimpah (overflowing discharge) dan debit dasar (bottom discharge). tetapi pada kerangka yang terpisah. maka aliran mudah diarahkan agar sedimen tidak masuk ke pengambilan. 4. Pintu ini dipakai dengan tinggi sampai 20 m dan lebar sampai 50 m. yang tidak saling berhubungan. yaitu pintu Stoney dengan roda yang tidak dipasang pada pintu. Pintu tipe ini hanya digunakan untuk bukaan kecil. Ada dua tipe pintu rol yang dapat dipertimbangkan. Bila pintu dibuat terlalu lebar.dan pintu rol biasa yang dipasang langsung pada pintu. dan pintu dapat diangkat dengan kabel baja atau rantai baja. yang tidak dapat diangkat atau diturunkan. maka akan sulit untuk mengatur muka air. Contoh khas dari tipe ini adalah tipe pintu segmen ganda (hook type gate).3. Untuk bukaan yang lebih besar dapat dipakai pintu rol. (b) Pintu rangkap (dua pintu) adalah pintu sorong / rol yang terdiri dari dua pintu. Kalau dibuat lebih banyak bukaan.132 Dalam perencanaan harus diandaikan bahwa dalam keadaan kritis sebuah pintu akan tersumbat dalam posisi tertutup. Oleh sebab itu. karena untuk bukaan yang lebih besar alat-alat angkatnya akan terlalu berat untuk menangggulangi gaya gesekan pada sponeng. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

bermanfaat untuk menggelontor benda-benda hanyut di atas (d) Dalam memilih dan merencanakan pintu untuk bendung gerak harus memperhatikan 3 (tiga) hal penting yaitu: (1) Justifikasi teknis. Tubuh bendung yang tinggi menyebabkan volume tubuh bendung yang besar. pondasi yang kuat. Sudah biasa untuk memberi pintu radial kemungkinan mengalirkan air melalui puncak pintu. Sebagai kombinasinya pintu ringan. sosial dan ekonomi. Kombinasi keduanya ditentukan oleh pertimbangan teknis. relative biaya pembangunan tubuh bendung dan kolam olak lebih mahal. elevasi muka air banjir dan tanggul penutup lebih tinggi. kemungkinan timbulnya permasalahan resetlement penduduk akibat elevasi muka air banjir yang tinggi. Oleh karena itu. tubuh pintu alat bendung air yang rendah pintu rendah mengakibatkan Namun penggerak yang berkapasitas rendah. biaya operasional pintu lebih murah. alat-alat angkatnya bisa dibuat kecil dan ringan. kolam olak yang mahal. pondasi Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . atau Debit memasang diatas ini katup/tingkap bendung.133 (c) Pintu segmen atau radial memiliki keuntungan bahwa tidak ada gaya gesekan yang harus diperhitungkan. sosial dan ekonomi dalam menentukan kombinasi tinggi tubuh bendung dan tinggi pintu air. Tinggi pembendungan air sungai dibagi menjadi dua yaitu bagian tinggi pembendungan bawah yang ditahan oleh tubuh bendung dan bagian tinggi pembendungan atas yang ditahan oleh pintu air. sebaliknya menyebabkan volume tubuh bendung yang kecil. dengan jalan gerak menurunkan pada puncak pintu pintu.

dan mengingat mahalnya harga listrik maka akan berdampak pada peningkatan biaya operasi. Sebaliknya kombinasinya pintu air yang tinggi mengakibatkan pintu berat. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . tidak ada permasalahan resetlement penduduk akibat elevasi muka air banjir. sehingga memudahkan pengoperasian dan pintu tidak cepat rusak. relative biaya pembangunan tubuh bendung dan kolam olak lebih murah. diperlukan alat penggerak pintu berkapasitas tinggi.134 lebih ringan. Pintu yang ringan tetapi memiliki kekakuan cukup sangat diperlukan agar pintu tidak mudah melendut dan bergetar bila terkena tekanan dan arus air. biaya operasional pintu lebih mahal. Disamping itu pintu yang terlalu besar memerlukan biaya pelumasan dan pengecatan pintu yang relatif lebih besar. elevasi muka air banjir dan tanggul penutup lebih rendah. (2) Kemudahan dan keamanan operasional pintu. (3) Biaya operasional dan pemeliharaan (O – P) yang rendah Pintu yang berat memerlukan pasokan daya listrik besar untuk mengubah tenaga listrik menjadi tenaga mekanik yang kuat pada saat mengangkat pintu. kolam olak relatif murah.

bangunan pangkal bendung. pelindung tebing dan pelindung dasar sungai.4 Bangunan Pelengkap Bendung Gerak Bendung gerak selalu dilengkapi dengan bangunan-bangunan lain seperti bangunan peredam energi.3. batuan lunak atau endapan material serta kemungkinan terjadinya penggerusan.33 Macam-macam tipe pintu bendung gerak vertikal 4. Pada bendung gerak ada 2 (tipe) lantai dasar sebagai tempat tumpuan pintu sorong atau pintu radial yaitu: Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .135 Pintu sorong Pintu stoney Pintu riol Dua pintu ( segmen ganda ) Pintu segmen atau radial Pintu segmen atau radial dengan katup Gambar 4. Dalam pemilihan tipe peredam energi supaya memperhatikan besarnya debit rencana serta beda tinggi muka air dihulu dan hilir kondisi dasar sungai berupa batuan keras.

Peralatan penggerak atau pengatur pintu ditempatkan diatas pilar-pilar berupa motor penggerak dan terpisah untuk tiap-tiap pintu dengan sistim kendali (kontrol) yang terpusat pada bangunan pengendali yang terletak tidak jauh dari lokasi bendung dan disekitar hulu bendung. (b) Lantai dasar rendah: Lantai dasar (crest) yang rendah dipilih apabila kemiringan dasar sungai atau elevasi dasar sungai akan dipertahankan tetap seperti semula. biasanya untuk sungai dengan material berupa kerikil dan kerakal diperlukan lantai dasar bendung gerak yang tebal dan kuat untuk mengatasi gaya angkat air (up lift) dan sebagai tumpuan bagi beban pintu yang berat.4 Bendung Karet 4. Gaya angkat air tidak terlalu besar dan pintu tidak terlalu berat sehingga tidak memerlukan lantai atau dudukan pintu yang tebal dan kuat. 4.136 (a) Lantai dasar (crest) yang tinggi biasanya maksimum 0.4. dimana pintu pintu tersebut dapat dioperasikan secara bersamaan atau satu persatu.5 m tingginya dari dasar sungai dipilih bila diperlukan pembendungan untuk menahan batu-batu yang terbawa arus sungai sehingga batu-batu tersebut tidak mempersulit penutupan pintu karena batu-batu itu akan mengganjal pintu bila terjadi penutupan pintu sehingga pintu menjadi cepat rusak.1 Lebar Bendung Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Peredam energi yang di pilih dapat lebih sederhana.

35 Potongan Melintang Bendung Karet 4.4. Lantai hilir Ruang Petugas Pompa & Ruang genset kontrol Instrumen otomatisasi Tubuh Lantai hulu Saluran pembilas Bangunan pengambilan Gambar 4.137 Lebar bendung supaya diupayakan sama dengan lebar normal alur sungai dan dibatasi oleh kemampuan produsen tabung karet dan kemudahan pengangkutan bahan tabung karet ke lokasi.34 Tata letak dan Komponen Bendung Karet Jembatan Pilar Lantai hulu Tubuh bendung Fondasi Lantai hilir Gambar 4.2 Perencanaan Mercu (Tabung Karet) Secara hidrolis bendung karet harus memiliki taraf muka air yang direncanakan dan dapat dikempiskan secara cepat bila terjadi banjir. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

Sementara itu. adalah panjang bentang bendung (m). adalah tinggi pembendungan maksimum (m).77 (h1/H) + 1.05 (untuk 0 < h1/H < 0.3) Debit spesifik pada V-Notch Debit pada V-notch dihitung dengan asumsi karet pada pusat V-notch mengempis total. Besarnya debit dihitung dengan rumus: qV = Cv (H+h1)3/2 dengan: qv Cv adalah debit spesifik pada V-notch (m3/s) adalah koefisien aliran yang bisa diambil 1. sedangkan pembendungan maksimum.38 (m1/2/s) di bagian lain masih mengembang sempurna. Cw = 1. muka air hulu sama dengan muka air pada 3/2 Besarnya Cw bisa didekati dengan rumus: Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Debit limpasan pada pembendungan maksimum Total debit limpasan pada pembendungan maksimum dihitung dengan rumus : Qw = Cw L h1 dengan : Qw L h1 adalah debit limpasan pada pembendungan maksimum (m3/s) Cw adalah koefisien limpasan (m1/2/s). Mercu bendung diletakkan pada elevasi yang diperlukan untuk pelayanan muka air pengambilan atau didasarkan pada perhitungan bagi penyediaan volume tampungan air dihilir bendung.138 tinggi bendung karet umumnya tidak melebihi 5 m karena konstruksi bendung karet dengan tinggi lebih dari 5 m sudah tidak efisiensi lagi.

3 Pembendungan karet tinggi pembendungan harus dibatasi untuk Pada bendung (a) (b) (c) menghindari terjadinya: Ancaman banjir didaerah hulu Peningkatan energi terjunan yang berlebihan Vibrasi yang akan merusak tabung karet Kedalaman air diatas mercu ditetapkan tidak melebihi 0. Kedalaman air diatas mercu maksimum ini Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .37 Tampak Depan Tabung Karet yang alami V-notch 4.3 H dengan H adalah tinggi bendung.139 H h1 qV adalah tinggi bendung (m) adalah tinggi pembendungan maksimum (m) = debit limpasan pada pembendungan maksimum Aliran di luar V-Notch qw h1 Aliran pada V-Notch qv He H Hi Gambar 4.Notch qv Gambar 4.4.36 Penampang lintang pada pusat V-notch h1 H Aliran di luar V-Notch qw Aliran pada V .

4. pada bendung dengan volume tampungan yang besar dengan debit yang relatif kecil. Loncatan air ini akan menimbulkan olakan air yang akan menggerus dasar sungai sehingga mengakibatkan terganggunya stabilitas bendung.6Panjang Lantai Hilir Bendung (a) Hitungan panjang air loncat dilakukan dengan asumsi loncatan air sempurna dengan panjang loncat air Lj akibat peralihan dari aliran superkritik ke aliran subkritik. Olakan dihilir bendung berupa loncatan air yang tempatnya dapat diperkirakan dengan analisa hidrolis.4. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .5Peredaman Energi Limpasan air diatas mercu bendung menimbulkan terjunan dan olakan dihilir bendung karet yang menyebabkan terjadinya gerusan lokal.4Penampungan dan Pelepasan Untuk penampungan dan pelepasan air dilakukan dengan pengisian udara pada tabung karet sehingga terjadi pengembangan tabung karet karena adanya pengempangan. 4.4. pengempangan dapat dilakukan secara bertahap.140 menentukan elevasi muka air pengempisan yang merupakan batas muka air tertinggi karena bendung karet harus sudah dikempiskan. pengisian tampungan memerlukan waktu yang lama untuk menghindari pelepasan volume tampungan yang besar. Untuk menghindari gangguan ini diperlukan perlindungan dasar sungai berupa lantai dari beton atau pasangan batu untuk meredam sisa energi loncatan air. 4.4.

m Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .38 Lj Loncat air di hilir bendung karet Karena dasar sungai yang harus dilindungi adalah dari bendung sampai ujung hilir air loncat maka dapat dirumuskan sebagai: Lhi = Lt + Lj + Lo L o LI L Ii H yi Lt Lj Gambar 4.39Sketsa panjang lantai hilir untuk yi besar (b) Kolam Loncat Air Panjang kolam loncat air menjadi berkurang dari panjang bebas loncatan tersebut karena adanya ambang ujung (end sill) dan ditempatkan pada jarak: Lj = 5 (µ + Y2) di mana: Lj = panjang kolam.141 Lj = 6 (Yi – Y1) yi yo yl Ls Gambar 4.

5 Pompa 4. Air tidak mengandung banyak bahan sedimen Air tidak mambawa bahan hanyutan berupa sampah atau kayu Ada jalan masuk (akses) untuk melakukan pekerjaan konstruksi/instalasi dan kegiatan operasi pemeliharaan ( O & P ).5. bendung biasa atau bendung gerak. untuk itu harus dibuat rumah pelindung atau rumah Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .142 µ = tinggi ambang ujung. Bangunan ini diperlukan mengingat air sungai banyak mengandung sedimen membuat pompa akan bekerja lebih berat dan mengakibatkan motor penggerak kipas menjadi lebih cepat panas dan mudah terbakar.2 (a) Bangunan pelengkap pompa Bangunan hidrolis yang terdiri dari bangunan pengambilan. m Y2 = kedalaman air di atas ambang. m 4.1Tata letak Dalam pemilihan lokasi rumah/stasiun pompa harus memperhatikan beberapa faktor-faktor penting. yaitu: Dapat melakukan pengambilan air secara maksimum pada muka air rendah atau muka air tinggi. pintupintu. kantong lumpur termasuk bangunan pembilas diperlukan untuk mengurangi bahan endapan. Terlindung dari banjir Terletak pada tanah yang stabil Rumah/stasiun pompa dapat dikombinasikan dengan bangunan utama yang lain-lain seperti waduk.5. 4. (b) Pompa harus terlindung dari panas matahari dan hujan agar tidak cepat rusak.

143 pompa/stasiun pompa yang konstruksinya cukup kuat terhadap getaran pompa.5. I/dt = gaya angkat vertikal. m Qh 76 Kombinasi dengan efisiensi pompa menghasilkan: WHP = BHP x efisiensi di mana: WHP = tenaga yang dihasilkan (tenaga air) dalam satuan tenaga kuda (HP) BHP = tenaga yang dipakai (penahan) dalam satuan HP Ep = persentase efisiensi = Q h Ep 76 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . 4.3Tenaga pompa Tenaga yang diperlukan untuk mengangkat air dalam suatu satuan waktu adalah: HP = di mana: HP = tenaga kuda (Horse Power) Q H = debit. Gudang penyimpanan suku cadang. bahan pelumas. (c) (d) Bangunan generator diperlukan untuk meletakkan mesin generator dan tangki bahan bakar. gempa dan tahan kebakaran. bahan bakar dan generator termasuk suku cadangnya terletak tidak jauh dari rumah pompa/stasiun pompa dan ada jalan dari gudang ke rumah pompa untuk keperluan kemudahan operasi dan pemeliharaan ( O & P ) pompa.

3 Berkurangnya efisiensi mesin 1.3) Tabel 4.5 0.40 Koefisien debit untuk permukaan pintu datar atau lengkung Efisiensi untuk pompa yang dioperasikan dengan baik adalah sekitar 75 persen dan untuk mesin 90 persen.60 0.42 memperlihatkan berbagai tipe pompa serta karakteristik debitnya.144 a 0.70 0.50 0 30° 60° 90° Gambar 4. Efisiensi mesin yang dipakai akan berkurang dalam hal-hal berikut (lihat Tabel 4.80 0. 3. memberikan efisiensi total sekitar 65 persen. Gambar 4. 4. 5.60 h1 /a = 2. Untuk tiap ketinggian 300 m di atas permukaan laut Jika temperatur pada waktu eksploitasi di atas 180C Untuk perlengkapan yang menggunakan alat penukar panas Radiator.70 0.5 b 0.5 3 2. kipas (fan) Untuk operasi dengan beban terus-menerus Kehilangan tenaga pada alat transmisi (Drive losses) 0 – 15 3 1 5 5 20 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . 2. 6.80 4 5 3.50 a 1 3 h 1/ a 5 7 9 11 13 h1 a h1 a 87 6 0.

yang mempunyai efisiensi pompa sekurang-kurangnya 75% Kapasitas pompa yang diperlukan biasanya dibagi-bagi menjadi sejumlah pompa untuk fleksibilitas eksploitasi dan untuk menjaga jika terjadi kerusakan atau pemeliharaan yang dijadwalkan untuk suatu unit. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .075 lt/dt) H = angkatan ke atas/ kaki (0.4 memberikan jumlah kebutuhan bahan bakar maksimum untuk sebuah instalasi pompa yang baik.3048 m) Gambar 4.41 Variasi dalam perencanaan roda sudut (impeller).000 *) rpm = putaran per menit gpm = galon per menit (0. kecepatan spesifik dan karakteristik tinggi energi-debit pompa Tabel 4.145 Kecepatan Spesifik Potongan Melintang Tipe Pompa Karakteristik tinggi energi debit Ns = (a) rpm gpm *) H34 Sentrifugal (aliran radial) Tinggi energi besar Debit kecil 500 (b) 1000 (c) 2000 Francis Tinggi energi dan Debit sedang (d) 3000 (e) 5000 aliran campuran Aliran turbin (aliran sumber) Tinggi energi rendah Debit besar (f) 10.

2 12.5 9.42 Tabel 4.5 5.2 8.0 8.5 5.7 22.0 14.510.7 6.5 2400 8.0 22.0 17.2 18.5 21.2 3.5 19 65 6.7 6.146 Biasanya dibuat instalasi tambahan sebagai cadangan.7 15.4 Kebutuhan Bahan bakar Maksimum untuk stasiun pompa yang baik Bahan Debit Air (m /hr) 3 bakar TinggiTenaga (m) air ProDiesel bensin / pane Gas 20 100 50 70 20 150 50 70 20 200 50 70 20 250 50 70 7.0 20.5 16. Tipe-tipe stasiun pompa diberikan pada Gambar 4.7 16.0 26.7 3.7 10.5 860 350 21 11.5 4.2 2.7 36.5 26.2 510 13.7 11 28 39 15 37 52 29.0 1800 6.5 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .5 13.5 21.5 23.2 9.2 16.5 18.

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .43) dapat direncana dengan berhasil di sungai yang kemiringan memanjangnya curam.42Tipe-tipe stasiun pompa tinggi energi rendah Bendung Saringan Bawah Tata letak Bendung saringan bawah atau bendung Tyroller (lihat Gambar 4.147 Katup Peralatan pembersih kisi-kisi penyaring kisi-kisi penyaring Motor Pipa tekan Pompa Saluran Balok pengangkat Gambar 4. mengangkut bahan-bahan berukuran besar dan memerlukan bangunan dengan elevasi rendah. Sungai di daerah-daerah gunung api muda dapat mempunyai agradasi dan degradasi yang besar dalam jangka waktu singkat. Dalam perencanaannya hal-hal berikut hendaknya dipertimbangkan: 1) Bendung saringan bawah tidak cocok untuk sungai yang fluktuasi bahan angkutannya besar.32 Tipe .tipe stasiun pompa tinggi energi rendah Gir siku Motor Saluran Motor Saluran Pintu katup Pompa Pompa Gambar 4.

satu di depan pintu pengambilan dan satu di awal primer. Konstruksi saringan hendaknya dibuat sederhana.43 Tipe-tipe tata letak bendung saringan bawah Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . 6) Harus dibuat pelimpah yang cocok di saluran primer untuk menjaga jika terjadi kelebihan air. Bangunan harus dilengkapi dengan kantong lumpur/pengelak sedimen yang cocok dengan kapasitas tampung memadai dan kecepatan aliran cukup untuk membilas partikel. Bendung harus direncana dengan seksama agar aman terhadap rembesan. tahan benturan batu dan mudah dibersihkan jika tersumbat. Pintu pengambilan Saluran primer Pintu darurat Saluran dengan baja batangan di bagian atas Bangunan pembilas Gambar 4.148 2) 3) 4) 5) Dasar sungai yang rawan gerusan memerlukan pondasi yang cukup dalam.

m3/dt.8) θ = kemiringan saringan. Rumus ini dijabarkan dengan mengandaikan garis energi horisontal di atas saringan dan permukaan air eliptik. ditentukan dengan rumus di bawah ini (lihat Gambar 4.34).16 ( m 0.561 di mana: 9 q0  h1 L = panjang kerja saringan ke arah aliran.13 m ) unt 0. m q = debit per meter lebar.m = µ 2g cos θ  = n/m (untuk n dan m lihat Gambar 4.66 -0.5.149 Perencanaan saringan dan saluran akan didasarkan pada kebutuhan pengambilan serta kecepatan yang dibutuhkan untuk mencegah masuknya sedimen ke dalam saluran bertekanan. 2/3 H H= kedalaman energi di hulu saringan.0 h1 h1 g = percepatan gravitasi. Untuk c lihat Tabel 4. m.34) µ = 0.3 < < 5. Panjang saringan ke arah aliran di sungai yang diperlukan untuk mengelakkan air dalam jumlah tertentu per meter lebar bendung. L = 2. derajat h1= c. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . m/dt (≈ 9.

5 Harga-harga c yang bergantung kepada kemiringan saringan (Frank) θ0 0 2 4 6 8 10 12 Debit dalam saluran bertekanan. dapat dijelaskan dengan rumus berikut (lihat Gambar 4.35) Q dh gA 2 = q dx Q 2 dA (1   ) gA 3 dh  I s  I e  yang menghasilkan: Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .44 Hidrolika saringan bawah Tabel 4.150 garis energi H q n h1 L l Q potongan melintang jeruji kisi-kisi penyaring m Gambar 4.

m 1 q Ie Iw Q1=A1. m/dt h = kedalaman air.  x x X1 2 Ie.45 Aliran bertekanan Kemiringan yang termasuk dalam kecepatan ini adalah: I = 0.X1 Is h2 Q2=A2.h. m/m d = diameter butir.x h = h2-h1 h d h1 .047d. Meyer-Peter): v2 ≥ 32 ( ) 1/3 d v = kecepatan.V1 Is.m3/dt.20 di mana: I = kemiringan energi.V2 X2 Gambar 4.m d 9/7 q6/7 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .  X = X2 . m q = v. m d = diameter butir.151 ∆h = h2 – h1= (Is – Ie) ∆x - 9 v  v1 2 2g A  A2 2g 1 2 2 9 2 Q2 2  Q1 2 2 Kecepatan minimum dalam saluran bertekanan dapat ditemukan dari diameter maksimum sedimen yang akan dibiarkan bergerak (rumus didasarkan pada rcr = 0.

dengan kekakuan cukup sehingga tidak mudah melendut. (a) Untuk menghindari masuknya sedimen ke dalam saluran. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Satu penguras di depan pengambilan dan satu di awal saluran primer.6. maka tubuh bendung harus kuat dan stabil mengatasi tekanan sedimen ukuran besar seperti pasir. kerakal dan tekanan hidrodinamis air yang besar akibat kecepatan tinggi yang mendekati kecepatan kritis. m/dt h = kedalaman air.152 v = kecepatan aliran. m. perlu dilengkapi kantong lumpur pada bangunan utama. (c) Jeruji besi harus dilas pada dudukan plat besi yang dijangkar (angker) dengan kedalaman minimal 40 cm dengan ujung jangkar dibengkokkan minimal 5 cm. Mengingat banyaknya sedimen dari ukuran besar sampai kecil sebaiknya dilakukan dua kali pengurasan. Jeruji besi dipilih dari profil besi baja I. (b) Tembok pangkal bendung pada kedua sisi harus kokoh karena berfungsi sebagai pemegang tubuh bendung dari tekanan air yang kuat dan juga berfungsi sebagai tembok penahan tebing dari kelongsoran. Dengan cara seperti ini diharapkan kandungan sedimen dalam air yang mengalir di jaringan irigasi melalui seperti saluran induk menjadi minimal. Untuk itu diperlukan pondasi yang dalam dan kuat. (d) Pintu pengambilan dan pintu penguras harus cukup kuat menahan tekanan sedimen serta mudah pengoperasiannya dan tidak bocor. 4.2Bangunan Pelengkap Bendung Saringan Bawah Mengingat bendung ini cocok dibangun disungai dengan kemiringan memanjang yang curam. dan atau H.

yang memperlihatkan banyaknya sedimen yang masuk ke dalam pengambilan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Gambar 4. masuknya sedimen dipengaruhi oleh sudut antara pengambilan dan sungai. penggunaan dan ketinggian ambang penahan sedimen (skimming wall). posisi pengambilan-terhadap pembagian sedimen layang pada pengambilan dan sungai.46 menunjukkan sebagian dari penyelidikan model yang dilakukan oleh Habermaas yang memperlihatkan pengaruh situasi-jarijari tikungan sungai. 250 50 pengambilan 100 22 100 62 78% 22% 38% 62% 100 39 11% 89% 100% 100 0% 100 50 50% 50% 100 95 5% 95% Gambar 4. kecepatan aliran masuk dan sebagainya.7 Pengambilan Bebas Pengambilan dibuat di tempat yang tepat sehingga dapat mengambil air dengan baik dan sedapat mungkin menghindari masuknya sedimen.153 4. derajat tikungan.46 Penyelidikan model Habermaas. Terlepas dari pemilihan lokasi pengambilan yang benar di sungai.

8 0.4 0.2 0 Pintu aliran bawah 0 2 h2/a 4 6 8 10 12 14 16 18 20 Gambar 4. m3/dt = faktor untuk aliran tenggelam (lihat Gbr. pengambilan harus direncanakan sebagai pintu aliran bawah.48 Koefisien K untuk debit tenggelam (dari Schmidt) Agar mampu mengatasi tinggi muka air yang berubah-ubah di sungai.28): Q=KaB di mana: Q K  a = debit.30) = bukaan pintu.47 1.29) = koefisiensi debit (lihat Gambar 4.0 0.6 0. Rumus debit yang dapat dipakai adalah (lihat Gambar 4. m 2gh1 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .154 v1 2/2g Tinggi muka air untuk aliran tenggelam Aliran tak tenggelam sungai H1 h1 a pengambilan h2 h2 Gambar 4. 4.

m = percepatan gravitasi.m Pengambilan bebas sebaiknya diseliki dengan model agar pengambilan itu dapat ditempatkan di lokasi yang tepat supaya jumlah sedimen yang masuk dapat diusahakan sesedikit mungkin.8) h1 = kedalaman air di depan pintu di atas ambang. m/dt2 ( 9.155 B g = lebar pintu. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

156 5 BANGUNAN PENGAMBILAN DAN PEMBILAS 5. sedemikian rupa sehingga dapat sebanyak mungkin dihindari dan aliran menjadi mulus (lihat juga Gambar 4. Kadang-kadang tata letak akan dipengaruhi oleh kebutuhan akan jembatan. maka pengambilan untuk satu sisi (kalau tidak terlalu besar) bisa dibuat pada pilar pembilas.2 Bangunan Pengambilan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Pada umumnya ini berarti bahwa lengkung-lengkung dapat diterapkan dengan jari-jari minimum ½ kali kedalaman air. Bila dengan bendung pelimpah air harus diambil untuk irigasi di kedua sisi sungai. Dalam kasus lain.3). Lebih disukai jika pengambilan ditempatkan di ujung tikungan luar sungai atau pada ruas luar guna memperkecil masuknya sedimen. Adalah penting untuk merencanakan dinding sayap dan dinding pengarah. dan airnya dapat dialirkan melalui siphon dalam tubuh bendung ke sisi lainnya (lihat juga Gambar 1.14). Dalam hal ini mungkin kita terpaksa menyimpang dari kriteria yang telah ditetapkan. 5.1 Tata letak Bangunan pengambilan berfungsi untuk mengelakkan air dari sungai dalam jumlah yang diinginkan dan bangunan pembilas berfungsi untuk mengurangi sebanyak mungkin benda-benda terapung dan fraksi-fraksi sedimen kasar yang masuk ke jaringan saluran irigasi. Pengambilan sebaiknya dibuat sedekat mungkin dengan pembilas dan as bendung atau bendung gerak. bendung dapat dibuat dengan pengambilan dan pembilas di kedua sisi.

80 b a g = lebar bukaan. m Dalam kondisi biasa. m3/dt µ = koefisiensi debit: untuk bukaan di bawah permukaan air dengan kehilangan tinggi energi. m/dt h : kedalaman air. dapat diharapkan bahwa butir-butir berdiameter 0.8) Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Kecepatan ini bergantung kepada ukuran butir bahan yang dapat diangkut.04 m dapat masuk. m/dt2 (≈ 9. µ = 0. rumus ini dapat disederhanakan menjadi: v ≈ 10 d0.5 Dengan kecepatan masuk sebesar 1. Kapasitas pengambilan harus sekurang-kurangnya 120% dari kebutuhan pengambilan (dimension requirement) guna menambah fleksibilitas dan agar dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi selama umur proyek. m = percepatan gravitasi.0 m/dt yang merupakan besaran perencanaan normal. m = tinggi bukaan.157 Pembilas pengambilan dilengkapi dengan pintu dan bagian depannya terbuka untuk menjaga jika terjadi muka air tinggi selama banjir. Q=µba di mana: h d 2gz Q = debit. Rumus dibawah ini memberikan perkiraan kecepatan yang dimaksud: v2 ≥ 32 ( ) 1/3 d di mana: v : kecepatan rata-rata. m d : diameter butir. besarnya bukaan pintu bergantung kepada kecepatan aliran masuk yang diizinkan.01 sampai 0.0 – 2.

0.10 di atas elevasi pengambilan yang dibutuhkan untuk mencegah kehilangan air pada bendung akibat gelombang. Elevasi mercu bendung direncana 0.05 m t  0.80 jika ujung pintu bawah tenggelam 20 cm di bawah muka air hulu dan kehilangan energi sekitar 10 cm.50 m d  0. maka kriteria Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . dapat dipakai rumus-rumus dan grafikgrafik yang diberikan pada pasal 4.50 . jika direncana pembilas bawah. Ambang direncana di atas dasar dengan ketentuan berikut: 0.4. maka µ = 0.50 m kalau sungai mengangkut batu-batu bongkah.25 m z  0.15 .15 . Harga-harga itu hanya dipakai untuk pengambilan yang digabung dengan pembilas terbuka. Elevasi ambang bangunan pengambilan ditentukan dari tinggi dasar sungai.00 m bila sungai juga mengangkut pasir dan kerikil 1. Untuk yang tidak tenggelam.50 m jika sungai hanya mengangkut lanau 1. p  0.10 m z a t h d p a z a n h d b p Gambar 5.1 menyajikan dua tipe pintu pengambilan.0.30 m n  0.1 Tipe pintu pengambilan Bila pintu pengambilan dipasangi pintu radial.158 z = kehilangan tinggi energi pada bukaan. m Gambar 5.1.

159 ini tergantung pada ukuran saluran pembilas bawah. Guna mencegah masuknya benda-benda hanyut. Bila pengambilan mempunyai bukaan lebih dari satu.5h Gambar 5. agar pintu itu dapat dikeringkan untuk keperluankeperluan pemeliharaan dan perbaikan.5h R=0. maka harus dipakai kisi-kisi penyaring. puncak bukaan direncanakan di bawah muka air hulu.2 Geometri bangunan pengambilan Pengambilan hendaknya selalu dilengkapi dengan sponeng skot balok di kedua sisi pintu. Kisi-kisi penyaring direncana dengan rumus berikut: Kehilangan tinggi energi melalui saringan adalah: Hf = c di mana: di mana: v2 2g s 4/3 ) sin  b c=β( hf = kehilangan tinggi energi v = kecepatan dating (approach velocity) g = percepatan gravitasi m/dt2 (≈ 9. R R=0. maka pilar sebaiknya dimundurkan untuk menciptakan kondisi aliran masuk yang lebih mulus (lihat Gambar 5. Dalam hal ini umumnya ambang pengambilan direncanakan 0 < p < 20 cm di atas ujung penutup saluran pembilas bawah. Jika bukaan berada di atas muka air.2).8) Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

untuk sungai-sungai yang lebarnya kurang dari 100 m. Juga untuk panjang dinding pemisah. dalam derajat.4 sebaiknya diambil sekitar 600 sampai 700.3 Pembilas Lantai pembilas merupakan kantong tempat mengendapnya bahanbahan kasar di depan pembilas pengambilan. m L = panjang jeruji.24  s b s s b s  = 1. Dalam hal ini sudut a pada Gambar 5.3) s = tebal jeruji.8 Gambar 5. m (lihat Gambar 5. Sedimen yang terkumpul dapat dibilas dengan jalan membuka pintu pembilas secara berkala guna menciptakan aliran terkonsentrasi tepat di depan pengambilan. Pengalaman yang diperoleh dari banyak bendung dan pembilas yang sudah dibangun. dapat diberikan harga empiris.lebar pembilas sebaiknya diambil 60% dari lebar total pengambilan termasuk pilar-pilarnya.3 Bentuk – bentuk jeruji kisi-kisi penyaring dan harga – harga    5.160 c = koefisien yang bergantung kepada: β = faktor bentuk (lihat gambar 5. telah menghasilkan beberapa pedoman menentukan lebar pembilas: .3) b = jarak bersih antar jeruji b ( b > 50 mm).lebar pembilas ditambah tebal pilar pembagi sebaiknya sama dengan 1/6 – 1/10 dari lebar bersih bendung (jarak antara pangkalpangkalnya). Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . s s L (l/s = 5)  = 2. m  = sudut kemiringan dari horisontal. .

161 W Tinggi tanggul Tinggi tanggul ~ 0. karena air dapat mengalir melalui pintu-pintu yang tertutup selama banjir.sedimen akan terangkut ke pembilas selama banjir. Bongkah-bongkah ini dapat menumpuk di depan pembilas dan sulit disingkirkan. khususnya bila pintu dibuat dalam dua bagian dan bagian atas dapat diturunkan (lihat juga Gambar 5. . Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . . Kelemahan-kelemahannya: . hal ini bisa menimbulkan masalah.11) Pintu dengan bagian depan terbuka memiliki keuntungan-keuntungan berikut: .13c).4 Geometri pembilas Pintu pada pembilas dapat direncana dengan bagian depan terbuka atau tertutup (lihat juga Gambar 5.benda-benda hanyut bisa merusakkan pintu. apalagi kalau sungai mengangkut banyak bongkah.pembuangan benda-benda terapung lebih mudah.ikut mengatur kapasitas debit bendung.6 w As Bendung Gambar 5.

kadang-kadang lebih menguntungkan untuk merencanakan pembilas samping (shunt sluice).162 . Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Saluran Primer Alat Ukur Gambar 5. Pembilas tipe ini terletak di luar bentang bersih bendung dan tidak menjadi penghalang jika terjadi banjir. eksploitasi pembilas tersebut harus dipelajari. Jika bongkah yang terangkut banyak. lihat Gambar 5. Sekarang kebanyakan pembilas direncana dengan bagian depan tebuka.karena debit di sungai lebih besar daripada debit di pengambilan.5 Pembilas samping Bagian atas pemisah berada di atas muka air selama pembilasan berlangsung. Selama eksploitasi biasa dengan pintu pengambilan terbuka. maka air akan mengalir melalui pintu pembilas. dengan demikian kecepatan menjadi lebih tinggi dan membawa lebih banyak sedimen. pintu pembilas secara berganti-ganti akan dibuka dan ditutup untuk mencegah penyumbatan.5. Untuk menemukan elevasi ini.

163 Pada waktu mulai banjir pintu pengambilan akan ditutup (tinggi muka air sekitar 0. tinggi dinding pemisah mercu bendung mercu bendung Qw Qs debit banjir dinding pembilas (d.50 m sampai 1. Jika pembilasan harus didasarkan pada debit tertentu di sungai yang masih cukup untuk itu muka dinding pemisah.p Q1 Gambar 5.0 m di atas tinggi mercu. Karena tidak ada air yang boleh mengalir di atas dinding pemisah selama pembilasan (sebab aliran ini akan mengganggu).0 m di atas mercu dan terus menurun. jika hal ini berarti terlalu dekat dengan ambang pengambilan. maka lantai itu dapat ditempatkan lebih rendah asal pembilasan dicek sehubungan dengan muka air hilir (tinggi energi yang tersedia untuk menciptakan kecepatan yang diperlukan). maka elevasi dinding tersebut sebaiknya diambil 0. pintu pembilas akan dibiarkan tetap tertutup. dapat ditentukan dari Gambar 5. Pada saat muka air surut kembali menjadi 0. Namun demikian.50 atau 1. pintu pengambilan tetap tertutup dan pintu pembilas dibuka untuk menggelontor sedimen.6.4 Pembilas bawah Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .6 Metode menemukan tinggi dinding pemisah 5. Kurve debit pembilas Kurve debit bendung OOO .0 m di atas mercu dan terus bertambah).p) d.50 sampai 1. Biasanya lantai pembilas pada pada kedalaman rata-rata sungai.

di mana pintu atas dapat diturunkan agar benda-benda hanyut dapat lewat (lihat juga Gambar 5.13c). Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Apabila benda-benda hanyut mengganggu eksploitasi pintu pembilas sebaiknya di pertimbangkan untuk membuat pembilas dengan dua buah pintu. “Mulut” pembilas bawah ditempatkan di hulu pengambilan di mana ujung penutup pembilas membagi air menjadi dua lapisan: lapisan atas mengalir ke pengambilan dan lapisan bawah mengalir melalui saluran pembilas bawah lewat bendung (lihat Gambar 5. pintu tersebut akan dibuka setiap hari selama kurang lebih 60 menit. Untuk membilas kandungan sedimen dan agar pintu tidak tersumbat.7) Pintu di ujung pembilas bawah akan tetap terbuka selama aliran air rendah pada musim kemarau pintu pembilas tetap ditutup agar air tidak mengalir.164 Pembilas bawah direncana untuk mencegah masuknya angkutan sedimen dasar fraksi pasir yang lebih kasar ke dalam pengambilan.

165 Aliran ke pengambilan Aliran melalui pembilas bawah Saluran primer B A A DENAH Penutup atas pembilas bawah B Satu pintu bilas Sponeng untuk Skat balok Pembilas bawah POTONGAN A .A ( 1 ) Mercu bendung Dua pintu bilas POTONGAN B .7 Pembilas bawah POTONGAN A .A ( 2 ) Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .B ( 2 ) Gambar 5.

0. Dimensi-dimensi dasar pembilas bawah adalah: .tinggi saluran pembilas bawah sekurang-kurangnya 1. Luas saluran pembilas bawah (lebar kali tinggi) harus sedemikian rupa sehingga kecepatan minimum dapat dijaga (v = 1. di bawah penutup atas saluran pembilas bawah dapat terbentuk kavitasi. lihat Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .5 sampai 20 m untuk panjang saluran pembilas bawah . dan jika dibuka pintu tersebut akan memberikan kehilangan tinggi energi yang lebih besar di bangunan pembilas.0 – 1.1 sampai 2 m untuk panjang tinggi saluran pembilas bawah . maka hanya diperlukan satu pintu. Dimensi rata-rata dari pembilas bawah yang direncanakan dan dibangun berkisar dari: . Tata letak saluran pembilas bawah harus direncana dengan hati-hati untuk menghindari sudut mati (dead corner) dengan kemungkinan terjadinya sedimentasi atau terganggunya aliran.tinggi sebaiknya diambil 1/3 sampai 1/4 dari kedalaman air di depan pengambilan selama debit normal.5 kali diameter terbesar sedimen dasar di sungai .0 m.5 m/dt). Sifat tahan gerusan dari bahan dipakai untuk lining saluran pembilas bawah membatasi kecepatan maximum yang diizinkan dalam saluran bawah. Bagian depan pembilas bawah biasanya direncana di bawah sudut dengan bagian depan pengambilan.35 m untuk tebal beton bertulang.tinggi saluran pembilas bawah hendaknya lebih besar dari 1.20 sampai 0.166 Jika kehilangan tinggi energi bangunan pembilas kecil. tetapi kecepatan minimum bergantung kepada ukuran butir sedimen yang akan dibiarkan tetap bergerak. Karena adanya kemungkinan terjadinya pusaran udara. .

pelat baja bertulang harus dihitung sehubungan dengan beton yang ditahannya.berbagai beban yang bekerja pada pintu . . untuk pintu sorong baja. pusaran air pusaran air Gambar 5. Pintu sorong kayu direncana sedemikian rupa sehingga masing-masing balok kayu mampu menahan beban dan meneruskannya ke sponeng.167 Gambar 5. faktor-faktor berikut harus dipertimbangkan: .alat pengangkat: . dan pada pintu radial ke bantalan pusat.8 Pusaran (vortex) dan kantong udara di bawah penutup atas saluran pembilas bawah 5.8.kedap air dan sekat .bahan bangunan (1) Pembebanan pintu Pada pintu sorong tekanan air diteruskan ke sponeng. gaya tersebut harus dibawa oleh balok.tenaga mesin .1Umum Dalam merencanakan pintu. Oleh karena itu.5. Lihat Gambar 5.5 Pintu 5.9.tenaga manusia Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

tersedianya tenaga listrik. Pelat-pelat ini juga di pasang untuk mengurangi gesekan. (3) Kedap air Umumnya pintu sorong memperoleh kekedapannya dari pelat perunggu yang dipasang pada pintu. waktu eksploitasi.10.168 pintu sorong 1/n rencana jarak balok untuk pintu plat baja 1/n l 1/n 1/n pintu radial Gambar 5.9 Gaya – gaya yang bekerja pada pintu (2) Alat pengangkat Alat pengangkat dengan stang biasanya dipakai untuk pintu-pintu lebih kecil. Pintu sorong dan radial dari baja menggunakan sekat karet tipe modern seperti ditunjukkan pada Gambar 5. Untuk pintu-pintu yang dapat menutup sendiri. Jika pintu sorong harus dibuat kedap sama sekali. Sekat dasarnya bisa dibuat dari kayu atau karet. mudah/tidaknya eksploitasi pertimbangan-pertimbangan ekonomis. Pemilihan tenaga manusia atau mesin bergantung pada ukuran dan berat pintu. karena digunakan rantai berat sendiri atau kabel baja tegangan tinggi. maka sekat atasnya juga dapat dibuat dari perunggu. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

11). Kalau demikian halnya.169 pintu pelai karet pada bangunan pelat karet pada pintu karet pintu pelat karet pelat baja di dasar bangunan bentuk asli pintu Gambar 5.2 Pintu pengambilan Biasanya pintu pengambilan adalah pintu sorong kayu sederhana (lihat Gambar 5. dasar (B) dan atas (C) pada pintu baja (4) Bahan bangunan Pintu yang dipakai untuk pengambilan dan pembilas dibuat dari kayu dengan kerangka (mounting) baja. Pintu berukuran kecil jarang memerlukan rol. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .10 Sekat air dari karet untuk bagian samping (A). 5. Pelat-pelat perunggu dipasang pada pintu untuk mengurangi gesekan di antara pintu dengan sponengnya. pintu radial atau segmen akan lebih baik (lihat Gambar 5.5. Bila di daerah yang bersangkutan harga kayu mahal. Jika air di depan pintu sangat dalam. maka eksploitasi pintu sorong mungkin sulit. maka dapat dipakai baja.12). atau dibuat dari pelat baja yang diperkuat dengan gelagar baja.

170 I Pintu kayu dengan sekat samping dan atas ( perunggu ) II Pintu baja dengan sekat samping dan dasar ( kayu keras ) C-C D A Bagian depan tertutu p C B Bagian depan t r buka e B B T A D D C Gambar 5.12 Pintu pengambilan tipe radial Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .11 Tipe – tipe pintu pengambilan: pintu sorong kayu dan baja rantai atau kabel pengangkat Gambar 5.

171 5. m = kedalaman air di atas pintu.13 b) . lihat Gambar 5. m3/dt qair yp h1 = debit di atas pintu.14).5 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . m f q air y p / h1 1.pintu radial dengan katup agar dapat membilas benda-benda terapung (lihat Gambar 5.3Pintu bilas Ada bermacam-macam pintu bilas yang bisa digunakan.13 a) .satu pintu tanpa pelimpah (bagian depan tertutup. (lihat Gambar 5.1 di mana: qudara = udara yang diperlukan untuk aerasi per m‟ lebar pintu. yakni: .satu pintu dengan pelimpah (bagian depan terbuka. biasanya hanya dengan pelimpah (lihat Gambar 5.dua pintu. maka bagian atas pintu harus direncana sedemikian rupa.13 c) .13 d) Apabila selama banjir aliran air akan lewat di atas pintu.5.m = kedalaman air di atas tirai luapan. sehingga tidak ada getaran dan tirai luapannya harus diaerasi secukupnya. m3/dt. lihat Gambar 5. Dimensi kebutuhan aerasi dapat diperkirakan dengan pertolongan rumus berikut: qudara = 0.

172 satu pi ntu kayu dan bagian depan tertutup Pembilas bawah A Pembilas bawah satu pint u kayu dan bagian d epan terbuka B pintu atas dapat diturunkan untuk menghanyutkan benda-benda hanyut dua pintu kayu pintu bawah dapat diangkat untuk pembilas C bagian atas dapat digerakkan guna menghanyutkan benda-benda hanyut Pembilas bawah pintu radial D Gambar 5. kecepatan udara maksimum di dalam pipa boleh diambil 40-50 m/dt. ditempatkan di luar bukaan bersih (di dalam sponeng) guna melindunginya dari benda-benda terapung.14 Aerasi pintu sorong yang terendam Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Stang pengangkat dari pintu dengan bagian depan terbuka. Ventilasi h1 aerasi aliran di bagian depan pintu yang terbuka yp Gambar 5.13 Tipe – tipe pintu bilas Untuk menemukan dimensi pipa.

1Lindungan permukaan Tipe dan ukuran sedimen yang diangkut oleh sungai akan mempengaruhi pemilihan bahan yang akan dipakai untuk membuat permukaan bangunan yang langsung bersentuhan dengan aliran air. dianjurkan permukaan diorit. yang granit atau grano-diorit. basal. Penggunaan bahan khusus serta analisis stabilitas bangunan utama akan dibicarakan dalam bab ini.2. Beton. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . yakni pasangan batu keras alamiah yang dibuat bentuk blok-blok segi empat atau persegi dan dipasang rapat-rapat. seperti andesit. jika direncana dengan baik dan dipakai di tempat yang benar. Pasangan batu tipe ini telah terbukti sangat tahan abrasi dan dipakai pada banyak bendung yang terkena abrasi keras. yakni: Batu Candi.173 6 PERENCANAAN BANGUNAN 6. Ada tiga tipe bahan yang bisa dipakai untuk melindungi bangunan terhadap gerusan (abrasi).2 Penggunaan bahan Khusus 6. Bila tersedia batu-batu keras yang berkualitas baik. diabase. 6. gabro. merupakan bahan lindungan yang baik pula.1 Umum Sifat-sifat bahan bangunan diuraikan dalam KP – 06 Parameter Bangunan. maka dari di bahan ini pada yang sungai-sungai untuk membuat bendung permukaan dibangun mengangkut sedimen abrasif (berdaya gerus kuat). beton yang dipakai untuk lindungan permukaan sebaiknya mengandung agregat berukuran kecil. bergradasi baik dan berkekuatan tinggi.

47 ( )1 / 3 di mana: R = kedalaman gerusan dibawah permukaan air banjir. Panjang lindungan dari pasangan batu kosong sebaiknya diambil 4 kali kedalaman lubang gerusan lokal. kadang-kadang dipakai di tempat yang terkena hempasan berat oleh air yang mengandung banyak sedimen. serta berberat jenis 2. R ditambah 1. m Q = debit. dihitung dengan rumus empiris. Pada kolam olak tipe bak tenggelam.2. kadang-kadang dipakai rel baja guna melindungi bak terhadap benturan batu-batu bongkah.76 Dm0.174 - Baja. Q f Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .1. 6. Tebal lapisan pasangan batu kosong sebaiknya diambil 2 sampai 3 kali d40.4. Khususnya blok halang di kolam olak dan lantai tepat di bawah pintu dapat dilindungi dengan pelat-pelat baja. mm Untuk menghitung turbulensi dan aliran yang tidak stabil. Rumus ini adalah rumus empiris Lacey untuk menghitung kedalaman lubang gerusan: R = 0.2 Lindungan dari pasangan batu kosong Pasangan batu kosong (rip-rap) dipakai sebagai selimut lindung bagi tanah asli (dasar sungai) tepat di hilir bangunan. Batu yang dipakai untuk pasangan batu kosong harus keras.5 D m = Diameter nilai tengah (mean) untuk bahan jelek. padat dan awet. dicari dari kecepatan rata-rata aliran dengan bantuan Gambar 6. m3/dt f = faktor lumpur Lacey f = 1.5 nya lagi (data empiris).

01 0.8 0.4 0.001 0.00001 0.6 0.175 Gambar 6. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .0001 10. Ada tiga tipe filter yang bisa dipakai: filter kerikil-pasir yang digradasi kain filter sintetis ijuk. Di sini akan dijelaskan pembagian butir filter.000001 0.0 6.0 1. d40 dari campuran berarti bahwa 60% dari campuran ini sama diameternya atau lebih besar.3 Filter Filter (saringan) berfungsi mencegah hilangnya bahan dasar halus melalui bangunan lindung.0005 0.0 4.0 8.1 dapat dipakai untuk menentukan d40 dari campuran pasangan batu kosong dari kecepatan rata-rata selama terjadi debit rencana di atas ambang bangunan. Filter harus ditempatkan antara pasangan batu kosong dan tanah bawah atau antara pembuang dan tanah bawah.001 0.1 0.01 0.005 0.1 Grafik untuk perencanaan ukuran pasangan batu kosong 6.0 0.1 1. diameter butir d40 dalam meter 0.0 2.4 0.0001 0.2 0.05 0. Ukuran batu hendaknya hampir serupa ke semua arah.0 10 100 berat butir dalam kg Gambar 6.1 0.2.

2) hendaknya direncana menurut aturan-aturan berikut: (1) *Kelulusan tanah (USBR. Aliran air Lindungan terhadap erosi saringan Pas.1973): d15 lapisan 3 . Penggunaan ijuk biasanya terbatas pada lubang pembuang di dinding penahan. jadi sebaiknya tidak dipraktekkan. Pemakaiannya di bawah pasangan batu kosong dan pada pembuang-pembuang besar. belum didukung oleh kepustakaan yang ada.2 Contoh filter antara pasangan batu kosong dan bahan asli (tanah dasar) Filter yang digradasi (lihat Gambar 6. d 15 lapisan 1 d15 lapisan 1  5 sampai 40 d 15 tan ah dasar Perbandingan 5 – 40 seperti yang disebutkan di atas dirinci lagi sebagai (a) butir bulat homogen (kerikil) (b) butir runcing homogen (pecahan kerikil.176 Kain filter sintetis makin mudah didapat dan kalau direncanakan dengan baik bisa memberi keuntungan-keuntungan ekonomis. Mereka yang akan memakai kriteria ini dianjurkan untuk mempelajari brosur perencanaan dari pabrik. batu kosong Kerikil Kerikil halus Bahan asli Tanah dasar 3 2 1 Konstruksi lindung Gambar 6. d 15 lapisan 2 berikut: d15 lapisan 2 . batu) (c) butir bergradasi baik 5 – 10 6 – 20 12 – 40 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

Bak-bak yang terpisah-pisah ini kemudian diikat bersama-sama untuk membentuk satu konstruksi yang homogen. 6. batu) 10 – 30 Agar filter tidak tersumbat.10 sampai 0.5 sampai 2 kali diameter batu yang lebih besar.75 mm untuk semua lapisan filter. d 85 lapisan 2 d50 lapisan 3 . Tebal minimum untuk filter yang dibuat di bawah kondisi kering adalah: (1) pasir.10 m 0.05 sampai 0. Ukuran yang biasa adalah 2 m x 1 m x 0.177 (2) *Stabilitas. maka d5 harus sama atau lebih besar dari Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . 5 – 10 12 – 60 (b) butir runcing homogen (pecahan kerikil. kerikil halus (2) kerikil (3) batu 0. Matras jala-jala kawat ini diperkuat dengan kawat-kawat besar atau baja tulangan pada ujungujungnya. d 50 lapisan 2 d15 lapisan 2 . Bila filter harus ditempatkan di bawah air. berbentuk bak dari jala-jala kawat yang diisi dengan batu yang cocok ukurannya. 1940): d15 lapisan 3 . maka harga-harga ini sebaiknya ditambah 1. perbandingan d15/d85 (Bertram.2.5 m. d 85 lapisan 1 d50 lapisan 2 . d 50 lapisan 1 d15 lapisan 1 5 d 85 tan ah dasar d 50 lapisan 1  5 sampai 60 d 50 tan ah dasar dengan: (a) butir bulat homogen (kerikil) (c) butir bergradasi baik 0.4Bronjong Bronjong dibuat di lapangan.20 m 1.5 sampai 2 kali.

batu Penggerusan Bronjong Saringan dari ijuk atau pasir Gambar 6. Ijuk adalah saringan yang baik dan dapat ditempatkan di bawah semua bronjong. 200 .3 Detail bronjong Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . bronjong hanya boleh dipakai untuk pekerjaanpekerjaan pengatur sungai di hulu atau hilir bangunan bendung dari batu atau beton.3 disajikan detail bronjong.200 cm 50 Matras . Keuntungan menggunakan bronjong adalah: .kemungkinan membuat lindungan berat dengan batu-batu yang berukuran lebih kecil dan lebih murah.fleksibilitas konstruksi tersebut untuk dapat mengikuti tinggi permukaan yang terkena erosi. . Pada Gambar 6.178 Bronjong tidak boleh digunakan untuk bagian-bagian permanen dari bangunan utama.300 cm 100 . Untuk mencegah agar tidak ada bahan pondasi yang hilang. di antara tanah dasar dan lindungan dari bronjong harus selalu diberi filter yang memadai.

kerikil berkerapatan sedang atau pasir dan kerikil 4. diberikan pada Tabel 6. Parameter bahan seperti sudut gesekan dalam dan kohesi untuk bahanbahan pondasi yang sering dijumpai.6 1-3 1. Tabel 6.000 200 – 600 100 – 300 150 – 300 75 – 150 1 < 75 kgf/cm2 100 40 2. lempung kenyal 6.75-1.179 6.1 Harga-harga perkiraan daya dukung yang diizinkan (disadur dari British Standard Code of Practice CP 2004) Jenis 1.2 bersama-sama dengan perkiraan daya dukung sebagai harga-harga teoritis untuk perhitungan-perhitungan pendahuluan. lempung lunak dan lumpur daya dukung kN/m2 10. batu sangat keras 2.2 Sudut gesekan dalam φ dan kohesi c Jenis tanah Φ 0 c(kN/m2) c(kgf/cm2) Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .1 dan 6.5-3 0. pasir berkerapatan sedang 5.5 < 0. lempung teguh 7.3 Bahan Pondasi Metode untuk menghitung besarnya daya dukung (bearing pressure) serta harga-harga perkiraan diberikan dalam KP .75 Tabel 6.06 Parameter Bangunan.000 4. batu kapur/batu pasir keras 3.

6. dalam dan luar (b) tekanan lumpur (sediment pressure) (c) gaya gempa (d) berat bangunan (e) reaksi pondasi. Tekanan hidrostatik adalah fungsi kedalaman di bawah Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .5 – 35 18 – 22 15 .5 32.4 Analisis Stabilitas 6.30 0 0 10 10 .2 Tekanan air Gaya tekan air dapat dibagi menjadi gaya hidrostatik dan gaya hidrodinamik.1 0.1 Gaya-gaya yang bekerja pada bangunan Gaya-gaya yang bekerja pada bangunan bendung dan mempunyai arti penting dalam perencanaan adalah: (a) tekanan air. maka pondasi bangunan harus direncana dengan memperhitungkan gaya-gaya sekunder yang ditimbulkan oleh penurunan yang tidak merata maupun risiko terjadinya erosi bawah tanah (piping) akibat penurunan tersebut.180 pasir lepas pasir padat pasir lempungan lempung 30 – 32.20 0 0 0. 6.4.2 Bangunan bendung biasanya dibangun pada permukaan dasar yang keras seperti batuan keras atau kerikil dan pasir yang dipadatkan dengan baik.4.1 – 0. Dalam hal ini penurunan bangunan tidak menjadi masalah. Jika bahan pondasi ini tidak dapat diperoleh.

tetapi juga pada dasarnya dan dalam tubuh bangunan itu.181 permukaan air. Gaya tekan ke atas. m = luas dasar. Bangunan bendung mendapat tekanan air bukan hanya pada permukaan luarnya. menyebabkan berkurangnya berat efektif bangunan diatasnya. Tekanan air akan selalu bekerja tegak lurus terhadap muka bangunan. kN/m3 = kedalaman air hilir. Rumus gaya tekan ke atas untuk bangunan yang didirikan pada pondasi batuan adalah (lihat Gambar 6. kN Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Tekanan air dinamik jarang diperhitungkan untuk stabilitas bangunan bendung dengan tinggi energi rendah.4): Wu = cw [h2 + ½ ξ (h1 – h2)] A di mana: c w h2 ξ h1 A Wu = proposi luas di mana tekanan hidrostatik bekerja (c = 1. m = proposi tekanan (proportion of net head) diberikan pada Tabel 6.3 = kedalaman air hulu. Oleh sebab itu agar perhitungannya lebih mudah. yakni istilah umum untuk tekanan air dalam. m2 = gaya tekan ke atas resultante. untuk semua tipe pondasi) = berat jenis air. Gaya tekan ke atas. gaya horisontal dan vertikal dikerjakan secara terpisah.

Dalam hal ditemui kesulitan berupa keterbatasan waktu pengerjaan dan tidak tersedianya perangkat Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . batuan Wu Ywh2 Gambar 6. Gaya angkat pada pondasi itu dapat ditemukan dengan membuat jaringan aliran (flownet).4 Gaya angkat untuk bangunan yang dibangun pada pondasi buatan Tabel 6. Gaya tekan ke atas untuk bangunan pada permukaan tanah dasar (subgrade) lebih rumit. atau dengan asumsi-asumsi yang digunakan oleh Lane untuk teori angka rembesan (weighted creep theory). Gaya angkat pada pondasi itu dapat ditemukan dengan membuat jaringan aliran (flownet).3 Harga-harga ξ Tipe pondasi batuan berlapis horisontal sedang.182 h1 h2 batuan ½  (h1 – h2) Yw . pejal Gaya tekan ke atas untuk bangunan pada permukaan tanah dasar (subgrade) lebih rumit. pejal (massive) baik.

Contoh jaringan aliran di bawah bendung pelimpah diberikan pada Gambar 6. maka perhitungan dengan asumsi-asumsi yang digunakan oleh Lane untuk teori angka rembesan (weighted creep theory) bisa diterapkan. biasanya cukup diplot dengan tangan saja.6. daya-antar dengan kelulusan tanah dan aliran listrik dengan kecepatan air (lihat Gambar 6.5 Konstruksi jaringan aliran menggunakan analog listrik Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Besarnya voltase sesuai dengan tinggi piezometrik. Dalam metode analog listrik.183 lunak untuk menganalisa jaringan aliran. aliran air melalui pondasi dibandingkan dengan aliran listrik melalui medan listrik daya-antar konstan.5) Untuk pembuatan jaringan aliran bagi bangunan utama yang dijelaskan disini. + pengukuran volt garis-garis ekuipotensial medan listrik Gambar 6. Jaringan aliran dapat dibuat dengan: (1) plot dengan tangan (2) analog listrik atau (3) menggunakan metode numeris (numerical method) pada komputer.

184 H garis-garis ekuipotensial garis-garis aliran batas kedap air Gambar 6. diandaikan bahwa bidang horisontal memiliki daya tahan terhadap aliran (rembesan) 3 kali lebih lemah dibandingkan dengan bidang vertikal. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .6 Contoh jaringan aliran di bawah dam pasangan batu pada pasir Dalam teori angka rembesan Lane. Ini dapat dipakai untuk menghitung gaya tekan ke atas di bawah bendung dengan cara membagi beda tinggi energi pada bendung sesuai dengan panjang relatif di sepanjang pondasi.

m f x L L ∆H Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . m = jarak sepanjang bidang kontak dari hulu sampai x.185 Hx H 1 4 2 3 5 6 x 7 8 9 10 11 12 13 14 H h hx Lx 1 23 4 5 67 89 10 11 12 13 14 Qx (10-11)/3 h (4-5)/3 H (2-3)/3 (6-7)/3 (8-9)/3 Px=Hx Lx .7 Gaya angkat pada pondasi bendung Dalam bentuk rumus. ini berarti bahwa gaya angkat pada titik x di sepanjang dasar bendung dapat dirumuskan sebagai berikut: P x = Hx di mana: Px L Lx = gaya angkat pada x. kg/m2 = pnjang total bidang kontak bendung dan tanah bawah. L H (12-13)/3 Gambar 6.

65 menghasilkan s = 10 kN/m3 (≈ 1. menghasilkan: Ps = 1. yang bisa diandaikan 300 untuk kebanyakan hal. bergantung kepada arah bidang tersebut. dianggap vertikal. kN : dalamnya lumpur.600 kgf/m3) λ = berat volume butir = 2. Bidang yang membentuk sudut 450 atau lebih terhadap bidang horisontal.000 kgf/m3) Sudut gesekan dalam. m : sudut gesekan dalam.3 Tekanan lumpur Tekanan lumpur yang bekerja terhadap muka hulu bendung atau terhadap pintu dapat dihitung sebagai berikut: Ps =  di mana: Ps s h Φ  s h 2 1  sin  ( ) 2 1  sin  : gaya yang terletak pada 2/3 kedalaman adri atas lumpur yang bekerja secara horisontal : berat lumpur. derajat.186 ∆H Hx = beda tinggi energi.4. m = tinggi energi di hulu bendung. Beberapa andaian/asumsi dapat dibuat seperti berikut: s = s‟ G 1 G di mana: s‟ = berat volume kering tanah ≈ 16 kN/m3 (≈ 1.67 h2 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . m Dan di mana L dan Lx adalah jarak relatif yang dihitung menurut cara Lane. 6.

Harga-harga tersebut didasarkan pada peta Indonesia yang menujukkan berbagai daerah dan risiko.4. Untuk ukuran maksimum agregat 150 mm dengan berat volume 2. boleh dipakai hargaharga berat volume di bawah ini. Faktor minimum yang akan dipertimbangkan adalah 0. yakni arah hilir. 6.4. pasangan batu beton tumbuk beton bertulang 24 kN/m3 (≈ 2. berat volumenya lebih dari 24 kN/m3 (≈ 2.1 g perapatan gravitasi sebagai harga percepatan.187 6.5Berat bangunan Berat bangunan bergantung kepada bahan yang dipakai untuk membuat bangunan itu. Faktor ini hendaknya dipertimbangkan dengan cara mengalikannya dengan massa bangunan sebagai gaya horisontal menuju ke arah yang paling tidak aman.4 Gaya gempa Harga-harga gaya gempa diberikan dalam bagian Parameter Bangunan.6Reaksi Pondasi Reaksi pondasi boleh diandaikan berbentuk trapesium dan tersebar secara linier.65. 6.400 kgf/m3) Berat volume beton tumbuk bergantung kepada berat volume agregat serta ukuran maksimum kerikil yang digunakan.400 kgf/m3). Untuk tujuan-tujuan perencanaan pendahuluan. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .4.

188

W1 W2

W3

R P1 (P) U' 9 p'' 7 4 z y m'' 1

(W)

U 2 3 e 5

Pusat Grafitasi

P2

p'

6 m' l

8

Gambar 6.8 Unsur-unsur persamaan distribusi tekanan pada pondasi

Gambar 6.8, rumus-rumus berikut dapat diturunkan dengan mekanika sederhana. Tekanan vertikal pondasi adalah: p= dimana: p = tekanan vertikal pondasi tidak termasuk A e I = luas dasar, m
2

 (W )  (W ) e + m A I

∑ (W) = keseluruhan gaya vertikal, termasuk tekanan ke atas, tetapi reaksi pondasi.

= eksentrisitas pembebanan, atau jarak dari pusat gravitasi dasar (base) sampai titik potong resultante dengan dasar = momen kelembaban (moment of inertia) dasar di sekitar pusat gravitasi

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

189

m

= jarak dari titik pusat luas dasar sampai ke titik di mana tekanan dikehendaki

Untuk dasar segi empat dengan panjang ℓ dan lebar 1,0 m, I = ℓ3/12 dan A = 1, rumus tadi menjadi: p=

 (W ) 12 e {1+ 2 m} A 

sedangkan tekanan vertikal pondasi pada ujung bangunan ditentukan dengan rumus: p‟ =

 (W ) 6e {1+ }    (W ) 6e {1+ }  

dengan m‟ = m” = ½ ℓ P” =

Bila harga e dari Gambar 6.8 dan persamaan (6.12) lebih besar dari 1/6 (lihat pula Gambar 6.8), maka akan dihasilkan tekanan negatif pada ujung bangunan. Biasanya tarikan tidak diizinkan, yang memerlukan irisan yang mempunyai dasar segi empat sehingga resultante untuk semua kondisi pembebanan jatuh pada daerah inti. 6.4.7Analisa Stabilitas Bendung Karet (a) Fondasi Fondasi bendung karet dapat dibedakan yaitu fondasi langsung yang dibangun diatas lapisan tanah yang kuat dan fondasi tidak langsung (dengan tiang pancang) yang dibangun pada lapisan lunak. Pada fondasi langsung menahan bangunan atas dan relatif ringan membutuhkan massa yang lebih besar untuk menjaga stabilitas terhadap penggulingan dan penggeseran. Untuk menghemat biaya konstruksi, fondasi dibuat dari beton bertulang sebagai selimut dan diisi dengan pasangan beton komposit.

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

190

(b) Gaya-gaya yang bekerja pada bangunan (1) Gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pelimpah adalah:  Tekanan air, dari dalam dan luar  Gaya gempa  Berat bangunan  Reaksi pondasi Lantai pondasi pada bendung karet mendapat tekanan air bukan hanya pada permukaan luarnya, tetapi juga pada dasarnya dan dalam tubuh bangunan itu. Gaya tekan ke atas, yakni istilah umum untuk tekanan air didalam menyebabkan berkurangnya berat efektif bangunan di atasnya. Rumus gaya ini dapat dilihat pada sub bab 6.4.2. 6.5 Kebutuhan Stabilitas Ada tiga penyebab runtuhnya bangunan gravitasi, yaitu: (1) gelincir (sliding) (a) sepanjang sendi horisontal atau hampir horisontal di atas pondasi (b) sepanjang pondasi, atau (c) sepanjang kampuh horisontal atau hampir horisontal dalam pondasi. (2) guling (overturning) (a) di dalam bendung (b) pada dasar (base), atau (c) pada bidang di bawah dasar. (3) erosi bawah tanah (piping). 6.5.1 Ketahanan terhadap gelincir

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

191

Tangen θ, sudut antara garis vertikal dan resultante semua gaya, termasuk gaya angkat, yang bekerja pada bendung di atas semua bidang horisontal, harus kurang dari koefisien gesekan yang diizinkan pada bidang tersebut.

 (H ) f = tan θ <  (V U ) S
di mana: ∑ (H) keseluruhan gaya horizontal yang bekerja pada bangunan, kN ∑ (V-U) keseluruhan gaya vertikal (V), dikurangi gaya tekan ke atas yang bekerja pada bangunan, kN θ sudut resultante semua gaya, terhadap garis vertikal, f koefisien gesekan S faktor keamanan Harga-harga perkiraan untuk koefisien gesekan f diberikan pada Tabel 6.4
Tabel 6.4 Harga-harga perkiraan untuk koefisien gesekan

derajat

Bahan

Pasangan batu pada pasangan batu Batu keras berkualitas baik Kerikil Pasir Lempung

Untuk bangunan-bangunan kecil, seperti bangunan-bangunan yang dibicarakan di sini, di mana berkurangnya umur bangunan, kerusakan

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

192

besar dan terjadinya bencana besar belum dipertimbangkan, hargaharga faktor keamanan (S) yang dapat diterima adalah: 2,0 untuk kondisi pembebanan normal dan 1,25 untuk kondisi pembebanan ekstrem. Kondisi pembebanan ekstrem dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Tak ada aliran di atas mercu selama gempa, atau (2) Banjir rencana maksimum. Apabila, untuk bangunan-bangunan yang terbuat dari beton, harga yang aman untuk faktor gelincir yang hanya didasarkan pada gesekan saja (persamaan 6.14) ternyata terlampaui, maka bangunan bisa dianggap aman jika faktor keamanan dari rumus itu yang mencakup geser (persamaan 6.15), sama dengan atau lebih besar dari harga-harga faktor keamanan yang sudah ditentukan. Σ (H) ≤ di mana: c A

f  (V  U )  c A S

= satuan kekuatan geser bahan, kN/m2 = luas dasar yang dipertimbangkan, m2

arti simbol-simbol lain seperti pada persamaan 6.14. Harga-harga faktor keamanan jika geser juga dicakup, sama dengan harga-harga yang hanya mencakup gesekan saja, yakni 2,0 untuk kondisi normal dan 1,25 untuk kondisi ekstrem. Untuk beton, c (satuan kekuatan geser) boleh diambil 1.100 kN/m2 ( = 110 Tf/m2) Persamaan 6.15 mungkin hanya digunakan untuk bangunan itu sendiri. Kalau rumus untuk pondasi tersebut akan digunakan, perencana harus yakin bahwa itu kuat dan berkualitas baik berdasarkan hasil pengujian. Untuk bahan pondasi nonkohesi, harus digunakan rumus yang hanya mencakup gesekan saja (persamaan 6.14).

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

Besarnya tegangan dalam bangunan dan pondasi harus tetap dipertahankan pada harga-harga maksimal yang dianjurkan.193 6.25 untuk kondisi ekstrem) Wx = kedalaman air pada titik x.0 N/mm2 atau 40 kgf/cm2.2 Guling Agar bangunan aman terhadap guling. Harga-harga untuk beton adalah sekitar 4. Oleh sebab itu.5. kg/m3 = faktor keamanan (= 1. kg/m2 = berat jenis bahan. m Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . pasangan batu sebaiknya mempunyai kekuatan manimum 1. termasuk gaya angkat. tebal lantai kolam olak dihitung sebagai berikut (lihat Gambar 6.9): dx ≥ S  Px Wx  di mana: dx Px  S = tebal lantai pada titikx. 1.0 N/mm2 atau 15 sampai 30 kgf/cm2.5 untuk kondisi normal.5 sampai 3. m = gaya angkat pada titik x. Tidak boleh ada tarikan pada bidang irisan mana pun. harus memotong bidang ini pada teras. Untuk pondasi. maka resultante semua gaya yang bekerja pada bagian bangunan di atas bidang horisontal. harga-harga daya dukung yang disebutkan dalam Tabel 6.1 bisa digunakan. Tiap bagian bangunan diandaikan berdiri sendiri dan tidak mungkin ada distribusi gaya-gaya melalui momen lentur (bending moment).

9 Tebal lantai kolam olak px 6.194 Wx dx x Gambar 6.4. disebut metode angka rembesan Lane (weighted creep ratio method). seperti: Metode Bligh Metode Lane Metode Koshia. Metode ini memberikan hasil yang aman dan mudah dipakai. Metode Lane diilustrasikan pada Gambar 6. Dalam hal ditemui kesulitan berupa keterbatasan waktu pengerjaan dan tidak tersedianya perangkat lunak untuk menganalisa jaringan aliran. tetapi penggunaannya lebih sulit. Untuk bangunanbangunan yang relatif kecil.10 dan memanfaatkan Tabel 6.3 Stabilitas terhadap erosi bawah tanah (piping) Bangunan-bangunan utama seperti bendung dan bendung gerak harus dicek stabilitasnya terhadap erosi bawah tanah dan bahaya runtuh akibat naiknya dasar galian (heave) atau rekahnya pangkal hilir bangunan.2). Metode ini membandingkan panjang jalur rembesan di bawah Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . maka perhitungan dengan beberapa metode empiris dapat diterapkan. Bahaya terjadinya erosi bawah tanah dapat dianjurkan dicek dengan jalan membuat jaringan aliran/flownet (lihat pasal 6. adalah yang dianjurkan untuk mencek bangunanbangunan utama untuk mengetahui adanya erosi bawah tanah. Metode Lane. metode-metode lain mungkin dapat memberikan hasil-hasil yang lebih baik.5.5.

Di sepanjang jalur perkolasi ini. Jalur vertikal dianggap memiliki daya tahan terhadap aliran 3 kali lebih kuat daripada jalur horisontal. kemiringan yang lebih curam dari 450 dianggap vertikal dan yang kurang dari 450 dianggap horisontal.195 bangunan di sepanjang bidang kontak bangunan/pondasi dengan beda tinggi muka air antara kedua sisi bangunan.10 Table 6. m H A B C E F G H D H AB BC 3 CD L DE EF 3 FG GH 3 Gambar 6. Oleh karena itu. rumusnya adalah: CL = di mana: CL  Lv 1/ 3  L H H : Angka rembesan Lane (lihat Tabel 6. m Σ LH : jumlah panjang horisontal.5) Σ Lv : jumlah panjang vertikal.5 Metode angka rembesan Lane Harga-harga minimum angka rembesan Lane (CL) Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . m H : beda tinggi muka air.

b. tidak dibuat jaringan aliran dan tidak dilakukan penyelidikan dengan model. hal ini menunjukkan diperlukannya keamanan yang lebih besar jika telah dilakukan penyelidikan detail. 70% bila semua bagian tercakup. Menurut Creagen.196 Pasir sangat halus atau lanau Pasir halus Pasir sedang Pasir kasar Kerikil halus Kerikil sedang Kerikil kasar termasuk berangkal Bongkah dengan sedikit berangkal dan kerikil Lempung lunak Lempung sedang Lempung keras Lempung sangat keras Angka-angka rembesan pada Tabel 6. Untuk menghitung gaya tekan ke atas.5 di atas sebaiknya dipakai: a. c. Untuk mengatasi erosi bawah tanah elevasi dasar hilir harus diasumsikan pada pangkal koperan hilir. 80% kalau ada pembuangan air. Justin dan Hinds. 100% jika tidak dipakai pembuang. tapi tidak ada penyelidikan maupun jaringan aliran. dasar hilir diasumsikan di bagian atas ambang ujung. Keamanan terhadap rekah bagian hilir bangunan bisa dicek dengan rumus berikut: Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

sketsa parameter-parameter stabilitas 6. Rumus di atas mengandaikan bahwa volume tanah di bawah air dapat diambil 1 (w =s = 1).4 Perencanaan kekuatan tubuh bendung dari tabung karet Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .11 Ujung hilir bangunan. kg/m2 Gambar 6. m hs = tekanan air pada kedalaman s.11 memberikan penjelasan simbol-simbol yang digunakan. hy bendung K a M y S C hs Gambar 6. Berat volume bahan lindung di bawah air adalah 1.5. Harga keamanan S sekurang-kurangnya 2.197 S = di mana:S s a s (1 a / s) hs = faktor keamanan = kedalaman tanah. Tekanan air pada titik C dapat ditemukan dari jaringan aliran atau garis angka rembesan Lane. m = tebal lapisan pelindung.

(ii) Kuat tarik Kuat tarik pada suhu normal ≥ 150 kg/cm2. dengan bahan karet berupa karet sintetis. Kuat tarik pada suhu 100o ≥ 120 kg/cm2 Bahan karet di perkuat dengan susunan benang nilon yang memberikan kekuatan tarik sesuai dengan kebutuhan. kuat. h 2/2g h1 T T Y D=H Fw Tu Ti Gambar 6. Pada umumnya bahan karet yang digunakan memiliki spesifikasi sebagai berikut: (i) Kekerasan Tes abrasi dengan beban 1 kg pada putaran 1000 kali tidak melampui 0.198 (1) Bahan karet Lembaran karet terbuat dari bahan karet asli atau sintetik yang elastik.12Sketsa gaya tarik pada tabung karet Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .8 mm. keras dan tahan lama. (2) Kekuatan Kekuatan lembaran karet harus mampu menahan gaya tekanan air dikombinasikan dengan gaya tekanan udara dari dalam tubuh bendung.

5 w [ Y2 – (h1 + 2/2 g)2 ] Ti = T + 0.199 T = 0.5 Fw dimana: T ρb Fw w Y h1 v g Ti adalah gaya tarik pada selubung tabung karet (N/m) H adalah tinggi bendung (m) adalah tekanan udara dalam tabung karet (Pa) adalah gaya tekanan air dari hulu pada tubuh bendung (N/m) adalah berat jenis air.5 Fw Tu = T – 0. diambil 8 Kekuatan tarik searah as bendung ditentukan sebesar 600/KT Tebal lembaran karet ditentukan oleh tebal susunan benang nilon ditambah lapisan penutup di kedua sisinya untuk menjamin kedap udara.81 m/s2 adalah gaya pada angker hilir (N/m) Tu adalah gaya pada angker hulu (N/m) Kekuatan tarik lumbaran karet pada arah aliran air ditetapkan dengan rumus : KT = n T i dimana: KT n adalah kekuatan tarik karet searah aliran air (N/m) adalah angka keamanan. diatas mercu maksimum (m) adalah kecepatan rata-rata aliran air dihulu bendung (m/s) adalah gravitasi. diambil 9.5 Hpb Fw = 0. Lapisan penutup sisi luar dibuat lebih tebal untuk pengamanan terhadap Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . diambil 9810 N/m3 adalah tinggi air dihulu bendung (m) adalah air dihulu bendung.

untuk daerah pasang surut harus digunakan angker ganda..200 goresan ataupun abrasi oleh benda keras. diperlukan lembaran karet dengan lebar tertentu (W) (lihat tabel. Bentuk dan panjang lembaran karet ditentukan dengan perhitungan sebagai berikut: L = Lo+ 2 Ls + 2a1 W = 2Bo + 2a Ls = 1.00 m digunakan angker ganda. sedangkan untuk H ≥ 1. (4) Kebutuhan luasan karet Untuk membentuk tabung karet dengan tinggi H yang direncanakan. Tebal lapisan penutup diambil minimal 3 mm dipermukaan dalam dan 7 mm dipermukaan luar. Untuk bendung rendah dengan H ≤ 1.… Penjepitan pada ujung tabung karet yang berada pada tembok tepi atau pilar dibuat hingga ketinggian H + 10% H.10 H a1 = dimana: L W Lo Ls m Bo adalah panjang total lembaran karet (m) adalah lebar lembaran karet (m) adalah lebar dasar panel bendung (m) adalah panjang tambahan bahan karet untuk lekukan samping bendung (m) adalah faktor horisontal kemiringan tembok tepi atau pilar adalah setengah keliling tabung karet (m) 1 m 2 2a (Bo / 2 ) 2  Ls 2 Bo Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . (3) Sistim penjepitan Pencetakan tabung karet pada fondasi berupa penjepitan dengan menggunakan baja yang diangker.00 m dapat digunakan angker tunggal.

201 Referensi pada buku T-09-2004-A 6.6 Detail Bangunan 6.230h 30 cm 30 cm 30 cm h h B=0.425h B=0.1 Dinding penahan Dinding penahan gravitasi setinggi tidak lebih dari 3 m bisa direncana dengan potongan melintang empiris seperti diberikan pada Gambar 6.12.230 h untuk dinding dengan bagian depan kurang dari 1:1/3 = 0.460 h.13 Dinding penahan gravitasi dari pasangan batu Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .260 h untuk dinding dengan bagian depan vertikal = 0.425 h = 0. dengan : b B b B = 0.425h Gambar 6.6.260h 30 cm b=0. b=0.

202 a A b A c DENAH BENDUNG Pelat pancang ( balok .14 POTONGAN C Perlindungan terhadap rembesan melibat pangkal bendung Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .A Pelat pancang POTONGAN B Gambar 6. kayu atau beton bertulang ) Pelat pancang POTONGAN A .

Pertimbangan utama dalam membuat lindungan terhadap erosi bawah tanah adalah mengurangi kehilangan beda tinggi energi per satuan panjang pada jalur rembesan serta ketidakterusan (discontinuities) pada garis ini. Karena dinding penahan di sebelah hulu bangunan utama mungkin tidak dilengkapi dengan sarana-sarana pembuang akibat adanya bahaya rembesan. Perhitungan pembebanan tanah dan stabilitas di belakang dinding penahan dijelaskan dalam KP-06 Parameter Bangunan. maka dalam melakukan perhitungan kita hendaknya mengandaikan tekanan air penuh di belakang dinding. Dalam perencanaan bangunan. ada beberapa cara yang bisa ditempuh.2 Perlindungan terhadap erosi bawah tanah Untuk melindungi bangunan dari bahaya erosi bawah tanah.203 Dinding penahan yang lebih tinggi dan dinding penahan yang mampu menahan momen lentur (beton bertulang atau pelat pancang baja) harus direncana berdasarkan hasil-hasil perhitungan stabilitas.6.filter pembuang .konstruksi pelengkap.lantai hulu .dinding halang .4.2. pemilihan konstruksi-konstruksi lindung berikut dapat dipakai sendiri-sendiri atau dikombinasi dengan: . Kebutuhan stabilitas untuk bangunan-bangunan ini dapat dijelaskan seperti dalam pasal 6. Kebanyakan bangunan hendaknya menggunakan kombinasi beberapa konstruksi lindung. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . 6.

15. maka lantai dapat dibuat tipis. Oleh sebab itu.13).204 Penting disadari bahwa erosi bawah tanah adalah masalah tiga dimensi dan bahwa semua konstruksi lindung harus bekerja ke semua arah dan oleh sebab itu termasuk pangkal bendung (abutment) dan bangunan pengambilan (lihat Gambar 6. Persyaratan terpenting adalah bahwa lantai kedap air. demikian pula sambungannya dengan tubuh bendung. Sifat kedap air ini dapat dicapai dengan foil plastik atau lempung kedap air di bawah lantai dan sekat karet yang menghubungkan lantai dan tubuh bendung. Contoh sambungan yang dianjurkan antara lantai dan tubuh bendung diberikan pada Gambar 6. sambungan harus direncana dan dilaksanakan dengan amat hati-hati. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .15 Lantai hulu Salah satu penyebab utama runtuhnya konstruksi ini adalah bahaya penurunan tidak merata (diferensial) antara lantai dan tubuh bendung. Lantai hulu Lantai hulu akan memperpanjang jalur rembesan. lantai hulu dari beton (tebal 15 cm) tubuh bendung lempung Sekat air dari karet Gambar 6. Karena gaya tekan ke atas di bawah lantai diimbangi oleh tekanan air di atasnya.

Agar gaya tekan ke atas pada bangunan dapat sebanyak mungkin dikurangi. Keuntungan dari pembuatan lantai hulu adalah bahwa biayanya lebih murah dibanding dinding halang vertikal yang dalam. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . atau pasangan batu setebal 0. (lihat Gambar 6. karena yang disebut terakhir ini memerlukan pengeringan dan penggalian. Pelat pancang mahal dan harus dibuat dengan hati-hati untuk menciptakan kondisi yang benar-benar tertutup. maka tempat terbaik untuk dinding halang adalah di ujung hulu bangunan. tapi sulit disambung ke bangunan itu sendiri. sebagaimana dikemukakan oleh Lane dalam teorinya.25 cm.20 – 0. Adalah penting untuk menggunakan sekat air dari karet yang tidak akan rusak akibat adanya penurunan tidak merata. Tanah yang paling cocok untuk pelat pancang adalah tanah berbutir halus dan tanah berlapis horisontal. panjang horisontal rembesan adalah 3 kali kurang efektif dibanding panjang vertikal dengan panjang yang sama. inti tanah kedap air atau pudel atau dengan pelat pancang baja atau kayu. Dinding halang (Cut-off) Dinding halang bisa berupa dinding beton bertulang atau pasangan batu. Metode yang dianjurkan untuk membuat dinding halang adalah dengan beton bertulang atau pasangan batu. Tapi. Terdapatnya batu-batu besar atau kerikil kasar di dasar sungai tidak menguntungkan untuk pelat pancang yang kedap air.16).10 m.205 Lantai itu sendiri dapat dibuat dari beton bertulang dengan tebal 0. Pudel yang baik atau inti tanah kedap air bisa merupakan dinding halang yang baik sekali. yaitu di pangkal (awal) lantai hulu atau di bawah bagian depan tubuh bendung.

Adalah penting untuk mencek kemungkinan-kemungkinan ini.17 memperlihatkan lokasi yang umum dipilih untuk menempatkan filter serta detail konstruksinya.16 Dinding – dinding halang di bawah lantai hulu atau tubuh bendung Alur pembuang/Filter Alur pembuang dibuat untu mengurangi gaya angkat di bawah kolam olak bendung pelimpah karena di tempat-tempat ini tidak cukup tersedia berat pengimbang dari tubuh bendung. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . serta memantapkan konstruksi di tempat-tempat ini. Konstruksi pelengkap Jika bagian-bagian bendung mempunyai kedalaman pondasi yang berbeda-beda.206 dinding halang (koperan) Pelat perancang halang dinding halang (koperan) Gambar 6. Untuk mencegah hilangnya bahan padat melalui pembuang ini. konstruksi sebaiknya dibuat dengan filter yang dipasang terbalik dari kerikil atau pasir bergradasi baik atau bahan filter sintetis. jika diperlukan. maka ada bahaya penurunan tidak merata yang mengakibatkan retak-retak dan terjadinya jalur-jalur pintasan erosi bawah tanah. Gambar 6.

17 Alur pembuang/filter di bawah kolam olak Selama pelaksanaan perlu selalu diingat untuk membuat sambungan yang bagus antara bangunan dan tanah bawah.207 pipa pembuang kerikil bergradasi baik pasir/kerikil bergradasi baik saringan tanah dasar Gambar 6. Keadaan demikian akan mengakibatkan lantai peredam dan dasar sungai dihilir koperan (end sill) dapat lebih aman. maka lapisan atas ini harus ditangani sedemikian sehingga mencegah kemungkinan terjadinya erosi bawah tanah atau jalur gelincir (sliding path). 6.3 Peredam Energi Beda tinggi energi di atas bendung terhadap air hilir dibatasi sampai 7 m.6. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Jika ditemukan tinggi terjunan lebih dari 7 m dan keadaan geologi dasar sungai relatif tidak kuat sehingga perlu kolam olak maka perlu dibuat bendung tipe cascade yang mempunyai lebih dari satu kolam olak. Jika tanah bawah menjadi jenuh air akibat hujan. Hal ini dimaksudkan agar energi terjunan dapat direduksi dalam dua kolam olak sehingga kolam olak sebelah hilir tidak terlalu berat meredam energi.

bagian awal dari saluran primer persis di belakang pengambilan direncanakan untuk berfungsi sebagai kantong lumpur.1 Pendahuluan Walaupun telah ada usaha untuk merencanakan sebuah bangunan pengambilan dan pengelak sedimen yang dapat mencegah masuknya sedimen ke dalam jaringan saluran irigasi. PERENCANAAN KANTONG LUMPUR 7. Adapun data-data yang diperlukan adalah: . Tampungan ini dibersihkan tiap jangka waktu tertentu (kurang lebih sekali seminggu atau setengah bulan) dengan cara membilas sedimennya kembali ke sungai dengan aliran terkonsentrasi yang berkecepatan tinggi. masih ada banyak partikelpartikel halus yang masuk ke jaringan tersebut.pembagian butir .sedimen dasar . 7.2 Sedimen Perencanaan kantong lumpur yang memadai bergantung kepada tersedianya data-data yang memadai mengenai sedimen di sungai.volume Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .208 7. Untuk mencegah agar sedimen ini tidak mengendap di seluruh saluran irigasi. Kantong lumpur itu merupakan pembesaran potongan melintang saluran sampai panjang tertentu untuk mengurangi kecepatan aliran dan memberi kesempatan kepada sedimen untuk mengendap.penyebaran ke arah vertikal . Untuk menampung endapan sedimen ini.sedimen layang . dasar bagian saluran tersebut diperdalam atau diperlebar.

Dari gambar tersebut.1 memberikan illustrasi mengenai sebaran sedimen ke arah vertikal di dua sungai (a) dan (b). pada awal (c) dan ujung (d) kantong lumpur. Dalam hal ini volume bahan layang yang harus diendapkan.3 Kondisi-kondisi batas 7. 7. ada beberapa harga praktis yang bisa dipakai untuk bangunan utama berukuran kecil. diandaikan 0.07 mm. jelas bahwa perencanaan pengambilan juga dimaksudkan untuk mencegah masuknya lapisan air yang lebih rendah.06 – 0. Dianjurkan bahwa sebagian besar (60 – 70%) dari pasir halus terendapkan: partikel-partikel dengan diameter di atas 0. dan oleh karena itu pengambilan yang direncanakan dengan baik dapat mengurangi biaya pembuatan kantong lumpur yang mahal. bahan-bahan yang terbesar diangkut sebagai sedimen dasar. Penyebaran sedimen ke arah vertikal memberikan ancar-ancar diambilnya beberapa langkah perencanaan untuk membangun sebuah pengambilan yang dapat berfungsi dengan baik.3.60/00 (permil) dari volume air yang mengalir melalui kantong.209 Jika tidak ada data yang tersedia. yang banyak bermuatan partikel-partikel kasar.1Bangunan Pengambilan Yang pertama-tama mencegah masuknya sedimen ke dalam saluran irigasi adalah pengambilan dan pembilas. Partikel-partikel yang lebih halus di sungai diangkut dalam bentuk sedimen layang dan tersebar merata di seluruh kedalaman aliran. Semakin besar dan berat partikel yang terangkut. Ukuran butir yang harus diendapkan bergantung kepada kapasitas angkutan sedimen di jaringan saluran selebihnya. Gambar 7. semakin partikelpartikel itu terkonsentrasi ke dasar sungai. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

32 mm 0.75 mm Gambar 7.40 0.14 mm <   0.06 – 0.00 0 sungai brantas 0 b 1.210 7.2Jaringan Saluran Jaringan saluran direncana untuk membuat kapasitas angkutan sedimen konstant atau makin bertambah di arah hilir.40 0.40 0.00 2.60 2.07 mm <   0. Biasanya ukuran partikel ini diambil 0.00 3.20 1.60 2.00 0 awal kantong lumpur C 0 0.00 2.40 konsentrasi sedimen dalam kg/m³ 0 1.00 2.40 konsentrasi sedimen dalam kg/m³ 0.80 1.00 3.00 0 ujung kantong lumpur d 0.00 sungai ngasinan 0 a 1.1 Konsentrasi sedimen ke arah vertikal Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .07 mm 0.60 2.00 2. Dengan kata lain: sedimen yang memasuki jaringan saluran akan diangkut lewat jaringan tersebut ke sawah-sawah.07 mm guna memperkecil kemiringan saluran primer.60 2.80 1.00 2.00 2.20 1.80 1.40 0.80 1.40 konsentrasi sedimen dalam kg/m³   0. ini berarti bahwa kapasitas angkutan sedimen pada bagian awal dari saluran primer penting artinya untuk ukuran partikel yang akan diendapkan.20 1.14 mm 0. 0 1.32 mm <   0.00 2.20 1.3. Dalam kaitan dengan perencanaan kantong lumpur.40 konsentrasi sedimen dalam kg/m³ 0.00 2.

Kemiringan sungai harus curam untuk menciptakan kehilangan tinggi energi yang diperlukan untuk pembilasan di sepanjang kantong lumpur. maka tidak perlu menambah ukuran minimum partikel yang diendapkan. yang tidak selalu tersedia.2 diberikan tipe tata letak kantong lumpur sebagai bagian dari bangunan utama. kemungkinan penempatannya harus ikut dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi bangunan utama.Tinggi energi dapat diciptakan dengan cara menambah elevasi mercu. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Umumnya hal ini akan menghasilkan kantong lumpur yang lebih murah. 7.3.211 Bila kemiringan saluran primer serta kapasitas angkutan jaringan selebihnya dapat direncana lebih besar.3Topografi Keadaan topografi tepi sungai maupun kemiringan sungai itu sendiri akan sangat berpengaruh terhadap kelayakan ekonomis pembuatan kantong lumpur. tapi hal ini jelas akan memperbesar biaya pembuatan bangunan.4 Dimensi Kantong Lumpur Pada Gambar 7. 7. Oleh karena itu. karena dapat dibuat lebih pendek. Kantong lumpur dan bangunan-bangunan pelengkapnya memerlukan banyak ruang.

Ini berakibat bahwa. akan berjalan (berpindah) secara horisontal sepanjang jarak L dalam waktu L/v. partikel. dengan kecepatan endap partikel w dan kecepatan air v harus mencapai dasar pada C. selama waktu (H/w) yang diperlukan untuk mencapai dasar.2 Tipe tata letak kantong lumpur 7.4.212 a b2 b1 d1 c f a b1 b2 c bendung pembilas pengambilan utama kantong lumpur d1 d2 e f pembilas pengambilan saluran primer saluran primer saluran pembilas d2 e Gambar 7.1Panjang dan lebar kantong lumpur Dimensi-dimensi L (panjang) dan B (lebar) kantong lumpur dapat diturunkan dari Gambar 7. A v v w w C H H L B Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .3. Partikel yang masuk ke kolam pada A.

m = debit saluran. di mana D = jumlah sedimen yang diendapkan dan T = jumlah sedimen yang diangkut Di mana: L B Q w  Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . m/dt = koefisiensi pembagian/distribusi Gauss  adalah fungsi D/T. m = lebar kantong lumpur. harus dipakai faktor koreksi guna menyelaraskan faktor-faktor yang mengganggu. m3/dt B = lebar kantong lumpur. rumus ini dapat dipakai untuk membuat perkiraan awal dimensi-dimensi tersebut.3 Skema kantong lumpur Jadi: H L Q = .51 w H = panjang kantong lumpur. m/dt Q = debit saluran. m = kecepatan endap partikel sedimen. m3/dt = kecepatan endap partikel sedimen. seperti: turbulensi air pengendapan yang terhalang bahan layang sangat banyak. m ini menghasilkan: LB = Q W Karena sangat sederhana. dengan v = w v HB H w = kedalaman aliran saluran. m/dt di mana: L = panjang kantong lumpur.5  0. m v = kecepatan aliran air. Velikanov menganjurkan faktor-faktor koreksi dalam rumus berikut: LB = Q  2 v (H 0.213 Gambar 7. Untuk perencanaan yang lebih detail.2) 2       w 7.

digunakan grafik Shields (gambar 7. Ada dua metode yang bisa dipakai untuk menentukan kecepatan endap.95 dan  = 1. Metode ini dijelaskan dalam ”Konstruksi Cara-cara untuk mengurangi Angkutan Sedimen yang Akan Masuk ke Intake dan Saluran Irigasi” (DPMA. yakni: (1) (2) (1) Pengukuran di tempat Dengan rumus/grafik Pengkuran kecepatan endap terhadap contoh-contoh yang diambil dari sungai adalah metode yang paling akurat jika dilaksanakan oleh tenaga berpengalaman. Rumus Velikanov menggunakan kecepatan endap ini.  = 1.214  = 0 untuk D/T = 0. 1981). untuk mencegah agar aliran tidak “meander” di dalam kantong. Dalam metode ini dilakukan analisis tabung pengen (2) Dalam metode kedua. Faktor-faktor lain yang akan dipertimbangkan dalam pemilihan dimensi kantong lumpur adalah: Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .4) untuk kecepatan endap bagi partikel-partikel individual (discrete particles) dalam air yang tenang. m/dt = kedalaman aliran air di saluran. Apabila topografi tidak memungkinkan diturutinya kaidah ini. Dalam rumus-rumus ini.55 untuk D/T = 0. maka kantong harus dibagi-bagi ke arah memanjang dengan dinding-dinding pemisah (devider wall) untuk mencapai perbandingan antara L dan B ini.98 v H = kecepatan rata-rata aliran.2 untuk D/T = 0.5 . m Dimensi kantong sebaiknya juga sesuai dengan kaidah bahwa L/B > 8. penentuan kecepatan endap amat penting karena sangat berpengaruh terhadap dimensi kantong lumpur.

kecepatan aliran tidak boleh kurang dari 0. peralihan/transisi dari pengambilan ke kantong dan dari kantong ke saluran primer harus mulus. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . tidak menimbulkan turbulensi atau pusaran. sehingga sedimentasi juga dapat tersebar merata. 7. turbulensi yang mengganggu proses pengendapan harus dicegah. guna mencegah tumbuhnya vegetasi. kecepatan hendaknya tersebar secara merata di seluruh potongan melintang.2Volume tampungan Tampungan sedimen di luar (di bawah) potongan melintang air bebas dapat mempunyai beberapa macam bentuk Gambar 7.5 memberikan beberapa metode pembuatan volume tampungan.4.215 (1) (2) (3) (4) (5) kecepatan aliran dalam kantong lumpur hendaknya cukup rendah.30 m/dt. sehingga partikel yang telah mengendap tidak menghambur lagi.

B = 0.00 4.06 0.00 0.80 0. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . b sedang a tiga sumbu yang saling tegak lurus Red = butir bilangan Rey nolds = w.00 2.60 0.08 0.7 untuk pasir alamiah) c kec il . a besar .4 Hubungan antara diameter saringan dan kecepatan endap untuk air tenang Volume tampungan bergantung kepada banyaknya sedimen (sedimen dasar maupun sedimen layang) yang akan hingga tiba saat pembilasan.6 1 2 4 6 8 10 20 40 60 0.00 8.10 0.2 0.216 10.02 0.00 Ps = 2650 kg/m ³ Pw = 1000 kg/m ³ F.40 1 0.6 1 100 mm/dt = 0.do/U 10 8 6 4 2 1.20 0.2 0.B = faktor bentuk = C a.04 0.1 m/dt 2 4 kecepatan endap w dalam mm/dt-m/dt Gambar 7.4 0.b (F.4 0.00 6.

kantong lumpur dengan dinding vertikal dan tanpa lindungan dasar kantong lumpur b. kemiringan talut bisa lebih curam akibat pasangan potongan melintang pada pengambilan potongan melintang pada ujung kantong lumpur alternatif dengan cara mengecilkan lebih dasar alternatif dengan lebar dasar konstan kantong lumpur lebar dasr diperkecil . atau kalau tidak ada data yang andal: (3) kantong lumpur yang ada di lokasi lain yang sejenis.5‰. lebar dasar .5 1 alternatif 1 1 alternatif 2 1 1 1 1.5 Potongan melintang dan potongan memanjang kantong lumpur yang menunjukkan metode pembuatan tampungan Banyaknya sedimen yang terbawa oleh aliran masuk dapat ditentukan dari: (1) pengukuran langsung di lapangan (2) rumus angkutan sedimen yang cocok (Einstein – Brown. konstan d kombinasi alternatif " c " (potongan memanjang) muka air normal muka air pada akhir pembilasan Is kantong lumpur ds = diperdalam L e potongan melintang (skematik) IL ds ISL d1 Is kantong lumpur L ISL I IL ds f alternatif dengan penurunan dasar pada pengambilan Gambar 7. jumlah bahan dalam aliran masuk yang akan diendapkan adalah 0. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Meyer – Peter Mueller).5 1 kantong lumpur a.217 1. Sebagai perkiraan kasar yang masih harus dicek ketepatannya.

50 m untuk saluran yang sangat besar (100 m3/dt). luas tampungan serta tersedianya debit air sungai yang dibutuhkan untuk pembilasan. Frekuensi dan lamanya pembilasan bergantung pada banyaknya bahan yang akan dibilas. hingga 2. (hydraulic flushing).218 Kedalaman tampungan di ujung kantong lumpur (ds pada Gambar 7. pembilasan secara manual atau secara mekanis. pembuangan endapan sedimen dari tampungan. tipe bahan kohesif atau nonkohesif) dan tegangan geser yang tersedia oleh air.5 Pembersihan dapat dilakukan dengan pembilasan secara hidrolis Pembersihan kantong lumpur. 7. tergantung pada eksploitasi jaringan irigasi.1Pembersihan secara hidrolis Pembilasan secara hidrolis membutuhkan beda tinggi muka air dan debit yang memadai pada kantong lumpur guna menggerus dan menggelontor bahan yang telah terendap kembali ke sungai.0 m untuk jaringan kecil (sampai 10 m3/dt).5) biasanya sekitar 1. Jarak waktu pembilasan kantong lumpur. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . 7. Kemiringan dasar kantong serta pembilasan hendaknya didasarkan pada besarnya tegangan geser yang diperlukan yang akan dipakai untuk menggerus sedimen yang terendap. banyaknya sedimen di sungai.5. biasanya diambil jarak waktu satu atau dua minggu. Untuk tujuan-tujuan perencanaan. Metode pembilasan secara hidrolis lebih disukai karena biayanya tidak mahal. Kedua metode lainnya akan dipertimbangkan hanya kalau metode hidrolis tidak mungkin dilakukan.

dalam hal ini parameter yang terpenting adalah ukuran butirnya. lanau dan lempung dengan kohesi tertentu. Dalam grafik ini ditunjukkan dengan kata “bergerak” (movement). Tegangan geser yang diperlukan tergantung pada tipe sedimen yang bisa berupa: (1) (2) Pasir lepas. Bagi bahan-bahan kohesif. dapat dipakai Gambar 7. Untuk keperluan-keperluan perencanaan. atau Partikel-partikel pasir.0 m/dt untuk kerikil dan pasir kasar.219 Dianjurkan untuk mengambil debit pembilasan sebesar yang dapat diberikan oleh pintu pengambilan dan beda tinggi muka air. debit pembilasan di ambil 20% lebih besar dari debit normal pengambilan.0 m/dt untuk pasir halus 1. Besarnya tegangan geser dan kecepatan geser untuk diameter pasir terbesar yang akan dibilas sebaiknya dipilih di atas harga kritis. kecepatan rata-rata yang diperlukan selama pembilasan dapat diandaikan sebagai berikut: 1.6. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Lihat Gambar 7. maka untuk menentukan besarnya tegangan geser yang diperlukan dapat dipakai grafik Shields. yang diturunkan dari data USBR oleh Lane.5 m/dt untuk pasir kasar 2. Jika bahan yang mengendap terdiri dari pasir lepas. Untuk keperluan perhitungan pendahuluan.7.

8 0.03 0.06 0.650 kg/m 3 0.8 0.6 0.3 0.002  cr 0.6 0.0 2 3 4 5 6 8 10 2 3 4 5 6 8 100 Gambar 7.220 1.1 2 3 4 5 6 8 0.01 0.650 kg/m3 (pasir) Makin tinggi kecepatan selama pembilasan.10 0.003 0.10 -3 6 5 4 3 2 TIDAK BERGERAK 1.2 100 80 60 50 40 30 BERGERAK 20 0.05 0.6 Tegangan geser kritis dan kecepatan geser kritis sebagai fungsi besarnya butir untuk s = 2.1 d dalam milimeter 2 3 4 5 6 8 1. karena kecepatan superkritis akan mengurangi efektivitas proses pembilasan.5 0.cr 10 8  cr = 800d d > 4.3 0.02 U.004 0.006 0.2 Ps = 2.0 0. operasi menjadi semakin cepat.008 0.001 0.0 0. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Namun demikian.5 0.04 0. besarnya kecepatan hendaknya selalu dibawah kecepatan kritis.08 0.4 0.005 0.4 0.01 0.

Dengan menggunakan tongkat.ussr (ref. bahan endapan ini dapat diaduk dan dibuat lepas sehingga mudah terkuras dan hanyut.5.5 0.3 0. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .4 0.8 0. pembersihan secara manual bermanfaat untuk dilakukan di samping pembilasan secara hidrolis terhadap bahan-bahan kohesif atau bahan-bahan yang sangat kasar.2 padat pasir non-kohesit <0.7 Gaya tarik (traksi) pada bahan kohesif 7.221 10 8 6 4 3 2 lepas 1.LANE 1955) cukup padat 0.0 0.2Pembersihan secara manual/mekanis Pembersihan kantong lumpur dapat juga dilakukan dengan peralatan mekanis.8 1.11. Pembersihan kantong lumpur secara menyeluruh jarang dilakukan secara manual.1 0. Dalam hal-hal tertentu.2 mm sangat padat data .0 2 3 4 5 6 8 10 20 30 40 50 60 80 100 gaya geser dalam N/m2 Gambar 7.6 0.

m/dt = kecepatan rata-rata aliran daalm kantong lumpur.222 Pembersihan secara mekanis bisa menggunakan mesin penggeruk.6 Pencekan Terhadap Berfungsinya Kantong Lumpur Perencanaan kantong lumpur hendaknya mencakup cek terhadap efisiensi pengendapan dan efisiensi pembilasan.5. pompa (pasir). m/dt = kecepatan endap rencana. Suspensi sedimen dapat dicek dengan menggunakan kriteria Shinohara Tsubaki. 7.8) h = kedalaman air. m/dt Dengan menggunakan grafik Camp.6. Semua peralatan ini mahal dan sebaiknya tidak usah dipakai.8 memberikan efisiensi sebagai fungsi dari dua parameter. 7. dapat dipakai grafik pembuangan sedimen dari Camp. m I = kemiringan energi w = kecepatan endap sedimen. Bahan akan tetap berada dalam suspensi penuh jika: v 5 > w 3 di mana: v  (kecepatan geser) = (g h I)0. efisiensi proses pengendapan untuk partikel-partikel dengan kecepatan endap yang berbeda-beda dari kecepatan endap partikel rencana.1 Efisiensi pengendapan Untuk mencek efisiensi kantong lumpur. Kedua parameter itu adalah w/w0 dan w/v0 di mana: w0 v0 w = kecepatan endap partikel-partikel yang ukurannya di luar ukuran partikel yang direncana. dapat dicek. m/dt g = percepatan gravitasi. m/dt2 ( 9. Grafik pada Gambar 7. m/dt Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . singkup tarik/backhoe atau mesin-mesin sejenis itu.

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . m/dt I = kemiringan energi semua bahan dengan kecepatan endap w akan berada dalam suspensi pada sembarang konsentrasi. Menurut Vlugter.untuk kantong kosong . m/dt w = kecepatan endap sedimen. kecepatan minimum harus dicek.untuk kantong penuh Untuk kantong kosong.61 v = kecepatan rata-rata.223 Efisiensi pengendapan sebaiknya dicek untuk dua keadaan yang berbeda: . Kecepatan ini tidak boleh terlalu kecil yang memungkinkan tumbuhnya vegetasi atau mengendapnya partikel-partikel lempung. untuk: v> di mana: w 1.

maka sebaiknya dicek apakah pengendapan masih efektif dan apakah bahan yang sudah mengendap tidak akan menghambur lagi.2 1.5 1.5 0.8) dan yang kedua dengan grafik Shields (lihat Gambar 7. 1945) Apabila kantong penuh.9 0.2 0.efisiensi sedimentasi partikel-patikel individual untuk aliran turbulensi 1. Yang pertama dapat dicek dengan menggunakan grafik Camp (lihat Gambar 7.0 0.4 0.8 0.1 0 0.001 W Wo 2. pengaruh aliran turbulensi terhadap sedimentasi aliran masuk aliran keluar daerah sedimentasi b.7 0.8 Grafik pembuangan sedimen Camp untuk aliran turbelensi (Camp.6 0.1 2 W/vo 3 4 6 8 0.6 0. 7.6.0 Gambar 7.0 0.9 0.1 1.7 0.3 0.5 0.01 2 3 4 6 8 0.8 0.224 a.0 1.3 0.6).2Efisiensi pembilasan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .2 0.1 2 3 4 6 8 1.4 0.

Ambang pengambilan di saluran primer sebaiknya cukup tinggi di atas tinggi maksimum sedimen guna mencegah masuknya sedimen ke dalam saluran.6). Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . dan kriteria suspensi dari Shinohara/Tsubaki (lihat persamaan 7.1 Tata Letak Kantong Lumpur. 7. Pembilas dan Pengambilan di Saluran Primer Tata letak Tata letak terbaik untuk kantong lumpur.225 Efisiensi pembilasan bergantung kepada terbentuknya gaya geser yang memadai pada permukaan sedimen yang telah mengendap dan pada kecepatan yang cukup untuk menjaga agar tetap dalam keadaan suspensi sesudah itu. Kemungkinan tata letak lain diberikan pada Gambar 7. Gaya geser dapat dicek dengan grafik Shields (lihat Gambar 7.3).10.7 7.7. saluran pembilas dan saluran primer adalah bila saluran pembilas merupakan kelanjutan dari kantong lumpur dan saluran primer mulai dari samping kantong (lihat Gambar 7.9). Di sini saluran primer terletak di arah yang sama dengan kantong lumpur.

misalnya air yang tersedia di sungai melimpah. Kedua bangunan tersebut akan dihubungkan dengan saluran pengarah (feeder canal). perlu dibuat dinding pengarah rendah yang mercunya sama dengan tinggi maksimum sedimen dalam kantong.226 pintu pengambilan pembilas B kantong lumpur saluran pembilas . Dalam hal-hal tertentu.12. Agar pembilasan berlangsung mulus. Lihat Gambar 7. L peralihan . garis sedimentasi maksimum tampungan sedimen pembilas Gambar 7. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . kantong lumpur dibuat jauh dari pengambilan.11). pembilas dapat direncanakan sebagai pengelak sedimen/sand ejector (lihat Gambar 7.9 Tata letak kantong lumpur yang dianjurkan Pembilas terletak di samping kantong. Kadang-kadang karena keadaan topografi.

7. Dengan demikian pembilasan tidak akan terpengaruh oleh tinggi muka air di hilir pembilas.10 Tata letak kantong lumpur dengan saluran primer berada pada trase yang sama dengan Kantong Kecepatan aliran dalam saluran pengarah harus cukup memadai agar dapat mengangkut semua fraksi sedimen yang masuk ke jaringan saluran pada lokasi pengambilan ke kantong lumpur.227 pintu pengambilan pintu pengambilan B kantong lumpur dinding pengarah rendah L saluran primer dinding pengarah rendah pintu pengambilan tampungan sedimen Gambar 7. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Oleh karena itu peralihan/transisi antara saluran pengarah dan kantong lumpur hendaknya direncana dengan seksama menggunakan dinding pengarah dan alat-alat distribusi aliran lainnya.2Pembilas Dianjurkan agar aliran pada pembilas direncana sebagai aliran bebas selama pembilasan berlangsung.7. Di mulut kantong lumpur kecepatan aliran harus banyak dikurangi dan dibagi secara merata di seluruh lebar kantong.

228 Kriteria utama dalam perencanaan bangunan ini adalah bahwa operasi pembilasan tidak boleh terganggu atau mendapat pengaruh negatif dari lubang pembilas dan bahwa kecepatan untuk pembilasan akan tetap dijaga. denah saluran primer A kantong lum pur dinding pengarah kehilangan tinggi energi sangat kecil saluran pembilas A pengambilan saluran primer pengelak sedimen potongan A-A Gambar 7. lebar total lubang pembilas termasuk pilar dibuat sama dengan lebar rata-rata kantong lumpur.11 Pengelak Sedimen Agar aliran melalui pembilas bisa mulus. Dianjurkan untuk membuat bangunan pembilas lurus dengan kantong lumpur. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

12 Saluran Pengarah Selain mengatur debit. pengambilan harus ditutup (dengan pintu) atau ambang dibuat cukup tinggi agar air tidak mengalir kembali. bangunan ini juga harus bisa mengukurnya. mengukur dan mengatur. s a lu r a n p e n g a r a h d in d in g p e n g a r a h 1 1 6 -1 0 k a n to n g lu m p u r 6 -1 0 Gambar 7.3Pengambilan saluran primer Pengambilan dari kantong lumpur ke saluran primer digabung menjadi satu bangunan dengan pembilas agar seluruh panjang kantong lumpur dapat dimanfaatkan. Kedua fungsi tersebut. Untuk tipe gabungan. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Agar supaya air tidak mengalir kembali ke saluran primer selama pembilasan.7. dapat digabung atau dipisah. 7. pintu Romijn atau Crump-de Gruyter dapat dianjurkan untuk dipakai sebagai pintu pengambilan.229 Pintu bangunan pembilas harus kedap air dan mampu menahan tekanan air dari kedua sisi. Pintu-pintu itu dibuat dengan bagian depan tertutup.

kedua fungsi ini lebih baik dipisah.bangunan terjun dengan kolam olak dekat sungai .7.40%.8 Perencanaan Bangunan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Bila sungai sangat dalam pada aliran keluar. 7.got miring di sepanjang saluran .4Saluran pembilas Selama pembilasan.230 Khususnya untuk mengukur dan mengatur debit yang besar. Pengalaman telah menunjukkan bahwa perencanaan yang didasarkan pada kemungkinan pembilasan dengan menggunakan muka air sungai dengan periode ulang 20% . Dalam hal ini fungsi mengatur dilakukan dengan pintu sorong atau pintu radial.bangunan terjun dengan kolam olak dengan kedalaman yang cukup. Lebih disukai jika saluran pembilas dihubungkan langsung dengan dasar sungai. atau sungai yang sama tetapi di hilir bangunan utama. Pintu dari alat-alat ukur diuraikan dalam KP – 04 Bangunan. 7. diperlukan kurve muka air – debit sungai pada aliran keluar dan bagan frekuensi terjadinya muka air tinggi di tempat itu. Untuk perencanaan potongan memanjang saluran. tepat di hilir bangunan pembilas. akan memberikan hasil yang memadai. air yang penuh dengan sedimen dialirkan kembali ke sungai asal. maka pembuatan salah satu dari kemungkinan-kemungkinan berikut hendaknya dipertimbangkan: . sungai lain atau ke cekungan. dan fungsi mengukur dengan alat ukur ambang lebar.

sebaiknya dilengkapi dengan filter dan lubang pembuang. maka stabilitas dinding pemisah terhadap pembebanan ini harus dicek. Untuk menahan tekanan ke atas akibat fluktuasi muka air. Bila kantong lumpur dipisah dengan sebuah dinding pengarah dan adalah mungkin bahwa sebuah ruang kering dan bersih sementara yang lainnya penuh.231 Pasangan (lining) kantong lumpur harus mendapat perhatian khusus berhubung adanya kecepatan air yang tinggi selama dilakukan pembilasan serta fluktuasi muka air yang sering terjadi dengan cepat. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Pasangan hendaknya cukup berat dan dengan permukaan yang mulus agar mampu menahan kecepatan air yang tinggi.

maka pasangan batu kosong sebaiknya selalu ditempatkan pada filter yang sesuai (lihat bagian 6. Adalah mungkin untuk melindungi bagian sungai di sekitar bangunan utama terhadap efek penggerusan semacam ini. Harap dicatat bahwa konstruksi-konstruksi lindung yang dibicarakan di sini tidak akan bermanfaat untuk mengatasi penurunan dasar sungai yang meliputi jangka waktu lama (degradasi). Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .232 8.1 PENGATURAN SUNGAI DAN BANGUNAN PELENGKAP Lindungan Terhadap Gerusan Bangunan yang dibuat di sungai akan menyebabkan terganggunya aliran normal dan akan menimbulkan pola aliran baru di sekitar bangunan. misalnya batu kali.1.3). Agar tanah asli tidak hanyut. Bronjong pun. Bila direncana dengan baik.1 Lindungan dasar sungai Penggerusan lokal di hilir kolam olak dapat diatasi dengan lindungan dari pasangan batu kosong. Hanya perencanaan bangunan itu sendiri yang akan mampu melindungi bangunan itu terhadap degradasi sungai.2. jika hanya batu-batu berukuran kecil saja yang tersedia. Bronjong (lihat bagian 6. 8. 8. sebaiknya ditempatkan pada filter yang sesuai: filter pasir-kerikil atau filter kain sintetis.2. yang dapat menyebabkan terjadinya penggerusan lokal/setempat (local scouring) di dasar dan tepi sungai. Jika di daerah itu cukup tersedia batu-batu yang berkualitas baik dan beratnya memadai. lapisan ini sangat menguntungkan dan awet (lihat bagian 6.2. karena merupakan perlindungan terbuka. maka dapat dibuat lapisan pasangan batu kosong.4) merupakan alternatif yang bagus.2).

umum terjadi. pasangan batu kosong pasangan batu atau pelat beton. maka panjang lindungan hulu terhadap gerusan lokal akan berkisar antara 2 sampai 3 kali kedalaman air rencana.233 Bronjong tidak boleh digunakan untuk bagian-bagian bangunan utama yang permanen. 8. Bronjong paling sesuai untuk konstruksi pengaturan sungai. karena ini akan memperpanjang jalur rembesan dan menambah gaya tekan ke atas (uplift). Disini lindungan tertutup akan menguntungkan karena akan dapat mengurangi gaya tekan ke atas. panjang lindungan ini sekurang-kurangnya 4 kali kedalaman lubang gerusan (lihat Bab 6. Karena pengaruh pencepatan aliran biasanya jauh lebih kecil daripada pengaruh penurunan kecepatan.1. Mungkin diperlukan pekerjaan pengaturan sungai guna memperbaiki pola aliran di hulu bangunan atau untuk memantapkan bagian tanggul sungai yang belum stabil. Di hilir. Harus diperhatikan bahwa kedalaman pondasi lindungan memadai atau bagian dari konstruksi tersebut bisa mengikuti penggerusan dasar sungai tanpa hilangnya stabilitas bangunan secara keseluruhan.2. Perlindungan terhadap penggerusan semacam ini adalah dengan membuat pasangan batu atau lantai beton di depan bangunan.2 Lindungan tanggul sungai Pekerjaan lindungan sungai berupa bronjong. Pada umumnya tidak dianjurkan untuk memakai lindungan tertutup seperti pasangan batu di hilir bangunan di sungai. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Penggerusan lokal tepat di hulu tubuh bendung atau pilar bendung gerak.2).

ruas stabil seperti yang dimaksud mungkin tidak ada. tanggul banjir kri b pengambilan bendung gerak bantaran terancam krib bendungan tanggul banjir Gambar 8.234 Di ruas atas yang curam. Di ruas-ruas tengah dan bawah. Setelah pembuatan bendung atau bendung gerak di sungai semacam itu. Mungkin diperlukan pekerjaan pengaturan sungai yang ekstensif guna menstabilkan aliran di hulu bangunan yang baru. biasanya lokasi bendung akan dipilih di ruas yang stabil. palung kecil sungai itu mungkin tidak stabil dan diperlukan beberapa krib untuk menstabilkan dasar sungai di dekat pengambilan (lihat Gambar 8. Pada sungai teranyam (braided river) atau sungai dengan tanggul pasir yang berpindah-pindah.1). dasar sungai di bagian hulu akan naik dan cenderung kurang stabil daripada sebelumnya.1 Pengarah aliran Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

2 Contoh krib Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . m  = parameter empiris ( 0. yaitu yang tegak lurus terhadap tanggung (lihat Gambar 8.6) C = koefisien Chezy. krib mungkin merupakan cara pemecahan yang ekonomis. bahaya penggerusan tanggul sungai biasanya lebih besar karena turbelensi dan kecepatan air lebih tinggi.235 Di hilir bangunan utama. Jarak antara masing-masing krib adalah: L<  di mana: C 2h  2g L = jarak antar krib. denah aliran sungai krib krib batu buangan potongan Gambar 8.8) Kalau tidak ada alur/trase krib yang paling cocok yang dapat diputuskan. maka sebaiknya diambil pemecahan termurah. Di sungai yang relatif lebar dan dalam. m/dt2 ( 9.2). m1/2/dt ( 45 untuk sungai) h = mean (nilai tengah) kedalaman air. m g = percepatan gravitasi.

3 Krib dari bronjong dan kayu Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .236 Tinggi mercu krib sebaiknya paling tidak sama dengan elevasi bantaran.5 untuk kemiringan di bawah muka air dan 1 : 1.5 untuk kemiringan di luar air. Kemiringan lapis lindung tanggul dan krib biasanya berkisar antara 1: 2.5 sampai 1 : 3.5 sampai 1 : 2. Kemiringan ujung krib kadang-kadang diambil 1 : 5 sampai 1 : 10 untuk mengurangi pusaran air/vortex dan efeknya. muka air-rata-rata muka air-rendah rata-rata bronjong matres potongan A denah krib dari bronjong B A matras dihubungkan satu sama lain (engsel) penggerusan muka air-tinggi normal pilar kayu muka air rata-rata gelagar muka air rendah normal pilar kayu gelagar krib terbuat dari kayu (tipe terbuka) potongan B Gambar 8.

Perhitungan yang tepat untuk kurve pengempangan dapat dikerjakan dengan metode langkah standar (standar step method) bila potongan melintang. m h = tinggi air berhubung adanya bendung (dimuka bendung). yang biasanya dibuat dari pilar-pilar kayu yang dipancang ke dasar sungai dan dipasang rapat satu sama lain. Perkiraan kurve pengempangan yang cukup akurat dan aman adalah (lihat Gambar 8. z=h(1for for x 2 ) L 2h h 1 L = a I h 1 a ah L   I di mana: a = kedalaman air di sungai tanpa bendung.4). guna menahan aliran.237 Krib dapat dibuat dengan tipe “terbuka” seperti ditunjukkan pada Gambar 8. 8.2 Tanggul 8. m L = panjang total di mana kurve pengempangan terlihat.1 Panjang dan elevasi Kurve pengempangan digunakan untuk menghitung panjang dan elevasi tanggul banjir di sepanjang sungai untuk banjir dengan periode ulang yang berbeda-beda. Bangunan terbuka ini kurang kuat dan mudah rusak selama banjir. m z = kedalaman air pada jarak x dari bendung. m Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .3 air bisa mengalir melalui bangunan ini. kemiringan dan faktor kekerasan sungai ke arah hulu lokasi bendung sudah diketahui sampai jarak yang cukup jauh.2.

Z h a x L Gambar 8.2Arah poros Tanggul banjir sebaiknya selalu jauh dari dasar air rendah sungai.25 m di atas elevasi pangkal bendung (abutment) guna menciptakan keamanan ekstra: selama terjadi banjir yang luar biasa besar. permanen.238 x = jarak dari bendung.4 Kurve pengempangan Tinggi jagaan Tanggul banjir sebaiknya direncana 0. bendung dan pangkalnya akan melimpah dulu. Jika tanggul itu harus juga menyangga jalan di atasnya. atau dilindungi dari bahaya erosi akibat aliran yang cepat. m I = kemiringan sungai Akibat agradasi sungai di hulu bendung. maka lebar itu hendaknya ditambah sesuai dengan kebutuhan. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .2. melindungi bangunan agar tidak terlanda banjir. elevasi tanggul harus dicek untuk memastikan apakah tanggul itu sudah aman terhadap banjir selama umur bangunan.4Potongan melintang Tanggul banjir akan direncana dengan lebar atas 3 m. 8.2. 8.

GP.239 Kemiringan hulu dan hilir diambil menurut harga-harga yang diberikan pada Tabel 8. Tanggul tanah tidak homogen harus direncana sesuai dengan teori yang sudah ada. ML CH. maka harus dibuat parit halang (cut-off trench) yang dalamnya sampai 1/3 dari tinggi air. Dalam KP – 06 Parameter Bangunan diberikan metode-metode yang dianjurkan.1 di bawah ini. Tabel 8. Lihat Gambar Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . MH 1) Menurut Unified Soil Classification System (lihat KP – 06 Parameter bangunan) Tanggul yang tingginya lebih dari 5 m sebaiknya dicek stabilitasnya dengan menggunakan metode yang cocok.1 Harga-harga kemiringan talut untuk tanggul tanah homogen (menurut USBR. Klasifikasi tanah1) GW. SC. SP GC. 1978). Bila pondasi tanggul 8. SM CL. SW. Harga-harga itu dianjurkan untuk tanggul tanah homogen (seragam) dengan pondasi yang stabil.5 tidak kedap air. GM.

Bila tidak dapat dipakai pintu otomatis. khususnya jika tanggul sejajar dengan sungai (lihat Gambar 8. Kemudian akan terjadi genangan dan oleh karena itu sistem ini tidak cocok untuk daerah-daerah yang berpenduduk.6).5 Potongan Melintang Tanggul 8. Kebutuhan pembuangan air dapat dipenuhi dengan membuat saluran pembuang paralel yang mengalirkan airnya ke kantong lumpur.2.5 Pembuang Pembuangn air (drainase) daerah di belakang tanggul banjir sampai ke sungai harus dipertimbangkan.240 tanah seragam dipadatkan H H/3 dinding halang kupasan Gambar 8. maka dapat dipilih pintu sorong jika tenaga eksploitasinya tersedia. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . atau dengan pembuang yang memintas melalui tanggul dan dilengkapi dengan pintu otomatis yang menjaga agar air tidak masuk selama muka air tinggi.

perubahan dasar sungai serta penutupan sungai.3 Sodetan sungai Kadang-kadang lebih menguntungkan untuk membuat bangunan utama di luar alur sungai yang ada dan membelokkan sungai itu sesudah pelaksanaan selesai. geologi teknik.5 Cara memecahkan masalah pembuangan air 8. Dalam metode pelaksanaan ini. Tata letak Tata letak yang tepat untuk sodetan bergantung kepada banyak faktor: geologi. Namun demikian. misalnya alur sodetan. yaitu: gangguan morfologi sungai diusahakan sesedikit mungkin Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . ada beberapa pertimbangan umum berdasarkan perilaku sungai yang dapat diberikan di sini. topografi dan sebagainya. masalah keteknikan sungai hendaknya mendapat perhatian yang sungguh-sungguh selama perencanaan. dimensi alur. bangunan.241 pem buang sejajar sungai bendung pint u Gambar 8.

Ini akan memerlukan banyak waktu.242 s odetan (k opur) A =A' C bendung baru tanggul penutup denah B bendung baru A B potongan m em anjang Gambar 8. Jarak antara A dan C diperpendek dengan sodetan.7 Kopur atau sodetan A' C - menurunnya dasar sungai akibat adanya sodetan harus dipikirkan kedalaman pondasi bangunan di sebelah hulu hendaknya dicek.7 memberikan contoh sodetan pada sungai berminder. Gambar 8. Dasar sungai akan turun guna mendapatkan kembali keseimbangan batasnya (ultimate equilibrium). Tanggul penutup Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . tetapi koperan hilir bendung dan pangkal bendung harus aman terhadap erosi semacam ini.

Ada beberapa hal yang akan membantu dalam perencanaan ini. Penutupan sungai harus dilakukan pada waktu terjadi aliran kecil yang meliputi jangka waktu lama.8 Tipe Tanggul Penutup pembuang di kaki tanggul 9. yaitu: aliran harus dibelokkan melalui sodetan (dan bangunan utama) dengan sedikit menaikkan muka air hulu. tanggul penutup lebih baik dibuat jauh dari sodetan setelah aliran sungai berhasil dibelokkan.243 Penutupan dasar sungai lama dan pembelokan sungai tersebut ke atau melalui bangunan utama yang baru hendaknya direncanakan secara terinci. PENYELIDIKAN MODEL HIDROLIS Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Penutupan harus dilakukan dengan amat cepat Bahan yang dipakai untuk menutup sebaiknya bahan berat dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Bila penutupan awal telah berhasil. maka tanggul penutup itu diperkuat supaya menjadi permanen. Dalam beberapa hal. muka banjir muka air rendah tanggul penutup -permanen sedimentasi yang akan terjadi tanggul penutup sementara (batu berat) Gambar 8. terutama sisi yang terkena air sungai. Dalam hal ini „lengan‟ sungai 9 yang mati di hulu tanggul penutup akan terisi sedimen dan menambah aman tanggul tersebut. Tanggul harus diberi lindungan terhadap erosi.

244 9. Pengukuran langsung di lapangan atau dalam model fisik harus dilakukan untuk memantapkan hasil-hasil yang diperoleh dari perhitungan komputer. apakah masalah-masalah bangunan begitu kompleks sehingga dengan parameter-parameter dan standar perencanaan yang ada tidak mungkin dibuat suatu perencanaan akhir yang dapat diterima. Ahli yang bertanggung jawab atas perencanaan jaringan irigasi. apakah hasil-hasil penyelidikan model itu akan berarti banyak menghemat biaya. apakah aturan-aturan pendahuluan untuk eksploitasi dan pemeliharaan bangunan nanti tidak dapat ditetapkan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Kemungkinan lain untuk mensimulasi perilaku hidrolis adalah membuat model matematika pada komputer.1 Umum Model hidrolis dipakai untuk mensimulasi perilaku hidrolis pada prototip bendung atau bendung gerak yang direncanakan dengan skala lebih kecil. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Model komputer dipakai untuk studi banjir dan gejala morfologi seperti agradasi dan degradasi yang akan terjadi di sungai itu. harus memutuskan apakah penyelidikan model diperlukan atau tidak. Penyelidikan model dilakukan untuk meyelidiki perilaku (performance) hidrolis dari seluruh bangunan atau masing-masing komponennya. berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut: apakah kondisi lokasi sedemikian rupa sehingga akan timbul masalahmasalah yang tidak bisa dipecahkan dengan pengalaman yang ada sekarang.

Kriteria yang harus dipertimbangkan dalam Bab 3. lokasi harus dipilih dan tata letak umum harus dibuat.2 Penyelidikan Model untuk Bangunan Bendung Komponen-komponen bangunan bendung berikut serta konstruksikonstruksi pelengkapnya dapat diselidiki dalam model hidrolis: lokasi dan tatal letak umum bangunan bendung pekerjaan pengaturan sungai di hulu bangunan bentuk mercu bendung pelimpah tetap pintu-pintu utama bendung gerak termasuk bentuk ambangnya kolam olak dan efisiensinya sebagai peredam energi eksploitasi pintu bendung gerak sehubungan dengan penggerusan lindungan dasar dan dasar sungai kompleks pembilas/pengambilan sehubungan dengan pengelakkan sedimen saluran pengarah dan kantong lumpur sehubungan dengan sitribusi kecepatan yang seragam. Kriteria untuk menentukan perlunya melakukan penyelidikan model diberikan pada pasal 9. 9.2.3. untuk pemilihan lokasi dan penentuan dimensi-dimensi utama telah dibicarakan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Pasal 9. 9.1Lokasi dan tata letak Sebelum memulai pelaksanaan model. dengan mempertimbangkan kondisi lokasi yang sebenarnya.245 - Apakah biaya pelaksanaan penyelidikan model tidak besar dibandingkan dengan seluruh biaya pelaksanaan bangunan.2 menjelaskan komponen-komponen bangunan bendung yang dapat diselidiki dalam model hidrolis.

namun sudah tersedia pula model-model komputer untuk mensimulasi perilaku hidrolis dan morfologis sungai. hasil-hasilnya akan mempunyai tingkat ketepatan yang sama dibanding dengan hasil-hasil model fisik. Alasan utamanya adalah bahwa perencanaan hidrolis hanyalah merupakan salah satu dari banyak kriteria yang menentukan pemilihan lokasi. Penggunaan model-model komputer akan lebih murah.2. yang dilakukan untuk pekerjaanpekerjaan bangunan yang besar dan rumit. pencekan semacam ini tidak perlu. lokasi bangunan di sungai harus diselidiki secara lebih mendetail. Tata letak pendahuluan bangunan utama bisa dicek dalam model. Walaupun masalah-masalah ini dapat diselidiki dalam model fisik. Dalam hal ini. dengan mengandaikan bahwa proyek berada di tempat yang benar. cepat dan tergantung pada data yang tersedia. Untuk bangunan utama yang sederhana. 9.246 Penyelidikan model biasanya tidak dipakai untuk pemilihan lokasi. Apabila bangunan bendung akan dibuat di salah satu dari saluran cabang di daerah delta sungai. maka penyelidikan akan diperlukan untuk menentukan konsekuensi-konsekuensi hidrolik dan morfologi untuk jaringan sungai pada umumnya dan saluran cabang dari bangunan utama khususnya.2 Pekerjaan Pengaturan Sungai Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

Di ruas-ruas sungai bagian atas yang curam. Setelah pembuatan bendung atau bendung gerak di sungai semacam ini. Pekerjaan pengaturan sungai perlu Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Kalau demikian halnya. ruas stabil seperti ini mungkin tidak ada. Tetapi pada sungai teranyam atau sungai dengan sistem tanggul pasir yang berpindahpindah. Ini adalah pekerjaan yang relatif kecil dan bisa rusak akibat banjir besar dan perlu diperbaiki sewaktu-waktu. palung kecil yang ada mungkin tidak stabil dan kadangkadang melewati pengambilan. Lokasi bendung biasanya akan dipilih di ruas sungai yang stabil. Oleh sebab itu penyelidikan model bukan merupakan keharusan. tanpa penyelidikan dengan model. diperhatikan lingkungan cukup kuat. Pekerjaan direncana Perlu lindungan menurut tanggul biasanya dapat umum pondasi aturan-aturan agar kedalaman perencanaan. atau agar bagian-bagian konstruksi itu dapat mengikuti penggerusan dasar sungai tanpa mengurangi stabilitas bangunan secara keseluruhan. dasar sungai di sebelah hulu akan naik dan cenderung kurang stabil daripada sebelumnya. diperlukan krib untuk menstabilkan palung kecil dekat pengambilan.247 Mungkin diperlukan pekerjaan pengaturan sungai guna memperbaiki pola aliran di hulu bangunan atau untuk memantapkan tanggul sungai yang belum stabil.

perencanaannya Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . diberikan parameter-parameter dalam pasal 4. dianjurkan untuk menyelidiki pola aliran dan tata letak pekerjaan sungai dalam model hidrolis. 9. perencanaan pendahuluan mungkin tidak bisa memenuhi semua persyaratan Hasil-hasil dan penyelidikan model model akan dapat banyak menunjukan banyak kemungkinan untuk perbaikan. Dalam perencanaan pekerjaan pengaturan sungai. penyelidikan memungkinkan penghematan biaya pelaksanaan.2. pola aliran yang menuju ke pengambilan harus diperhitungkan sehubungan dengan banyaknya sedimen yang akan masuk ke jaringan saluran irigasi.2. Hal ini penting khususnya bila air diambil pada kedua sisi sungai.248 dilaksanakan secara menyeluruh (ekstensif) guna menstabilkan aliran di hulu bendungan yang baru. karena sifatnya yang kompleks.2. Mercu-mercu tipe Ogee dan tipe bulat yang umum dipakai di Indonesia telah banyak diselidiki. untuk bendung atau bendung gerak semacam ini.3 Bentuk Mercu Bendung Pelimpah Sampai saat ini telah banyak dilakukan penyelidikan bentuk mercu bendung dengan model dan hasilhasilnya telah banyak diterbitkan dalam buku-buku teks. Oleh sebab itu.

misalnya yang digunakan untuk membersihkan benda-benda hanyut di pengempangan hulu.4 Ambang Sudah banyak metode yang dipakai untuk merencanakan pintu bendung gerak. dan asal saja beberapa kriteria dasar perencanaannya diikuti. tidak akan memerlukan penyelidikan dengan model secara teliti. Pintu ini biasanya direncana sebagai pintu aliran bawah (undershot). bergantung kepada persyaratan-persyaratan khusus proyek serta selera seni pada waktu perencanaan sedang dibuat. Tetapi pintu Pintu Bendung Gerak dan Bentuk Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . pintu sorong besar tidak praktis karena gaya gesekannya besar. maka tidak lagi diperlukan pengujian dengan model untuk mencek harga-harga koefisien debit atau perilaku getaran (vibrasi) untuk ukuran-ukuran pintu yang biasa direncana. 9. Apabila digunakan pintu radial atau sorong sebagai gabungan antara pintu aliran bawah dan aliran atas.2. Kebanyakan perencanaan modern menggunakan pintu radial atau pintu sorong. Debit pembuang. maka masalah-masalah hidromekanik yang timbul akan lebih rumit.249 Penyelidikan model diperlukan hanya kalau situasi tertentu menimbulkan masalah yang sulit dipecahkan dengan kemampuan yang ada serta parameterparameter yang tersedia tidak dapat diterapkan.

Perencanaan hidrolis ambang dapat dilakukan tanpa penyelidikan dengan model. Kecepatan aliran di hilir pintu dapat dihitung. biasanya harus diselidiki dengan model untuk mencek unjuk kerja hidrolis dan Pengujian ini dalam perilaku hidromekanik pintu tersebut.5 Kolam Olak Sudah banyak penyelidikan baik dengan prototip maupun dengan model yang telah dilakukan dengan menentukan parameter-parameter yang akan menghasilkan perencanaan yang andal dan irit biaya. Kriteria utama yang harus dipenuhi agar kolam olak dapat berfungsi dengan baik adalah energi harus dapat diredam secara efisien di dalam air sehingga dasar sungai di sebelah hilir tidak akan tergerus terlalu dalam atau rusak berat sehingga usaha Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .2. hindari perencanaan tipe pintu semacam ini amat rumit dan sedapat mungkin perencanaan bangunan utama biasa untuk irigasi. atau pintu yang mempunyai katup yang besar di bagian atasnya untuk mengatur tinggi muka pengempangan.250 yang dapat diturunkan sampai rendah sekali. 9. bahan yang akan dipakai untuk menahan derasnya kecepatan aliran harus dipilih dengan seksama dengan mempertimbangkan abrasi akibat bahan-bahan dasar yang tajam.

Masalah pokoknya adalah degradasi atau menurunnya dasar sungai setelah bendung atau bendung gerak dibangun. maka data-data ini dapat dipakai untuk menyelesaikan itu dilakukan terhadap tipe bak berlubang (slotted bucket) untuk Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . maka akan diperlukan tambahan penyelidikan dengan model guna memperoleh hasil perencanaan yang seimbang dan paling efektif dari segi biaya. Besarnya degradasi ini harus diperkirakan dan kolam olak direncana sesuai dengan keadaan yang akan terjadi ini dan dengan keadaan tinggi muka air dan dasar sungai yang sekarang. Kolam ini dapat direncana tanpa penyelidikan model. Bila parameter-parameter perencanaan kolam olak ternyata tidak dapat memberikan cara pemecahan yang memuaskan atas kedua keadaan tersebut di atas. asal saja parameter-parameter perencanaan yang sesungguhnya berada dalam ruang lingkup penerapan. Jika tinggi energi masih dapat dikerjakan dengan data-data yang diberikan oleh Puslitbang Air. Peredam energi tipe bak tenggelam (submerged bucked dissipator) telah diselidiki oleh USBR. Sebagian besar dari penyelidikan pelimpah energi tinggi.251 perbaikannya akan berada di luar jangkauan pekerjaan pemeliharaan biasa. Kolam loncat air (hydraulic jump basin) telah banyak diselidiki dan keandalannya terbukti baik di lapangan.

Ada dua fenomena/gejala yang akan diselidiki dan (2) dengan model demikian.252 perencanaan akhir.6 Eksploitasi Pintu Bendung Gerak Untuk bendung gerak berpintu banyak dan mungkin dengan pengambilan di kedua sisi sungai. Bila sungai mengangkut batu-batu besar selama banjir.2. harus dipertimbangkan. yakni: (1) masuknya sedimen ke dalam jaringan saluran irigasi. tidak diperlukan sudah mendetail untuk pengambilan dan pembilas.2. 9. Kritera perencanaan untuk pengambilan dan pembilas. Kini banyak berbagai keadaan lapangan. akan memberikan akhir. kedalaman maksimum penggerusan sehubungan dengan cara eksploitasi pintu ini. cara terbaik eksploitasi pintu-pintu ini dapat diselidiki dengan model.7 Pengambilan dan Pembilas penyelidikan dengan model secara sekali tipe pengambilan untuk Untuk debit saluran dengan besaran normal. Di samping itu juga telah tersedia hasil-hasil penyelidikan dengan model. 9. Dalam perencanaan ini degradasi dasar sungai yang mungkin akan terjadi di waktu yang akan datang. bisa dipertimbangkan untuk memasang dasar yang cukup memadai untuk menyelesaikan perencanaan hidrolis Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

karena adanya efek skala. Kriteria perencanaan bagi saringan ini hampir tidak mungkin ditetapkan. Kemampuan kerja kantong lumur tidak bisa diselidiki di laboratorium. Saluran Pengarah dan Kantong Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . Kecepatan aliran di dalam saluran pengarah harus cukup tinggi untuk mengangkut semua fraksi sedimen yang masuk ke jaringan saluran pada pengambilan. peralihan antara saluran pengarah dan kantong lumpur harus direncana secara seksama.2. Di mulut kantong lumpur. Oleh sebab itu.8 Lumpur Saluran pengarah (feeder canal) biasanya berupa bagian saluran melengkung yang mengantarkan debit dari pengambilan ke kantog lumpur. kecepatan aliran akan sangat diperlambat dan distribusinya merata di seluruh lebar kantong. Penyelidikan dengan model secara mendetail akan sangat membantu menciptakan distribusi aliran yang seragam/merata. 9. Kemampuan kerja saringan semacam itu dapat diselidiki dengan model.253 saringan (screen) agar batu-batu tersebut tetap jauh dari pengambilan. karena melihat banyak faktor yang tidak diketahui. dilengkapi dengan dinding pengarah dan alat-alat pengatur distribusi aliran lainnya.

254

9.3 Model

Kriteria untuk Penyelidikan dengan

Sebagaimana telah disebutkan dalam pasal 9.1, perencana harus memutuskan apakah diperlukan penyelidikan dengan model atau tidak. Untuk dapat memilih kriteria yang dapat diterapkan untuk kondisi-kondisi tertentu di lapangan, klasifikasi situasi yang benar-benar Lampiran 3). Klasifikasi tersebut didasarkan pada hal-hal berikut: - ruas sungai; atas, tengah, bawah - lebar rata-rata sungai dan aliran permukaan (overland flow) - debit per lebar satuan sungai - ukuran butir bahan dasar yang diangkut oleh sungai - besar debit saluran. Berdasarkan klasifikasi ini, dianjurkan agar penyelidikan model dilakukan untuk komponen bangunan utama berikut: - lokasi dan tata letak umum - pekerjaan pengaturan sungai - pintu-pintu bendung termasuk ambang - kolam olak - eksploitasi pintu - pengambilan dan pembilas - saluran pengarah dan kantong lumpur - bangunan pembilas komponendijumpai di lapangan diberikan pada Tabel A.3.1, A.3.2 dan A.3.3 (lihat

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

255

Pada tabel-tabel itu disebutkan apakah penyelidikan model dianjurkan atau tidak. Ruang lingkup proyek, yang dijelaskan pada tabeltabel tersebut, berada di luar jangkuan bangunan yang dianggap sahih/valid bagi standar perencanaan. Hal ini dicantumkan karena, pertama: tidak dapat diberikan definisi yang tepat untuk istilah proyek “standar”, dan kedua: ruang lingkup itu memberikan indikasi mengenai penyelidikan model bagaimana yang diperlukan untuk bangunan-bangunan yang lebih besar.

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

256

10.

METODE PELAKSANAAN 10.1 Umum

Besarnya pekerjaan untuk sebuah bendung dan bangunan-bangunan pelengkapnya, serta kenyataan bahwa bendung tersebut harus dibangun di sungai, memaksa yang kita untuk selama pelaksanaan. yang akan selama dapat mempertimbangkan persyaratan-persyaratan diperlukan Metode pelaksanaan jelas agar tidak pelaksanaan. Ada

diterapkan harus diperikan (dideskripsikan) dengan menimbulkan masalah dua metode yang

dipertimbangkan: pelaksanaan di dasar sungai dan pelaksanaan yang sama sekali ada di luar dasar sungai. 10.2 Sungai Pelaksanaan di Sungai harus dibelokkan selama pelaksanaan

berlangsung. Untuk ini sebagian dari sungai tersebut dikeringkan, atau seluruh aliran sungai dibelokkan melalui saluran atau terowongan pengelak. Untuk merencanakan elevasi tanggul pengelak (coffer dam) yang menutup sungai dan melindungi ruang kerja, maka kemungkinan melimpahnya banjir dan banjir rencana selama pelaksanaan berlangsung ditentukan. harus

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

257

Untuk mengukur risiko ini dapat digunakan grafik pada Gambar 10.1 yang memberikan perhitungan risiko yang diterima selama umur bangunan. Umur sebuah saluran atau bendung pengelak biasanya dua sampai tiga tahun, bergantung kepada waktu pelaksanaan. Apakah risiko melimpahnya bendungan pengelak akan menjadi tanggungan pihak kontaktor atau perencana diputuskan dengan jelas dalam dokumen kontrak. Pada umumnya itu menjadi tanggung jawab kontraktor dengan pihak Pemberi Pekerjaan menunjukkan tinggi keamanan yang terendah. Selama perencanaan, pemilihan metode pelaksanaan harus juga didasarkan pada kelayakan dan biayanya. Dan tergantung pada keahlian Pelaksana Pekerjaan, harus diputuskan metode mana yang hendak diikuti. Hal-hal yang harus dicek dan dipersiapkan selama perencanaan pendahuluan adalah: - tanggul pengelak - saluran atau terowongan pengelak - pembuangan air (drainase).

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

258

1000 800 600 400 300 200 100 80 60 40 30 20 10 8 6 4 3 2 1

(Pr = perhitungan risiko yang diterima) 1% 5% Pr dalam

1

2

3

4

5 6

8 10

20

30

40 50 60

80 10

umur bangunan yang diinginkan d dalam tahun

Gambar 10.1

Grafik untuk menentukan perhitungan risiko yang diterima

- jadwal pelaksanaan - tersedianya bahan bangunan - debit maksimum sungai selama pelaksanaan - pengeringan (dewatering) lokasi pekerjaan Berkenaan dengan jadwal waktu, kadang-kadang orang bisa bekerja di dasar itu sungai tanpa musim: memerlukan terlalu banyak perlindungan dengan merencanakan pekerjaan menurut kebanyakan daerah di Indonesia mempunyai musim

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama

kecil saja dan dijumpai sedikit saja hambatan pelaksanaan. bahkan kalau biayanya mahal sekali pun. muka air di depan bangunan utama yang baru harus dijaga agar tetap rendah. maka metode pelaksanaan ini akan dipilih. dengan cara membuka pintu pengambilan dan melewatkan air sebanyak mungkin melalui pintuini disebut “pelaksanaan pada Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . kemudian sungai itu dielakkan sesudah pelaksanaan selesai.3 Pelaksanaan di tempat Kering Dalam banyak hal.259 kering dan penghujan yang berlainan dan dengan demikian terdapat perbedaan-perbedaan besar dalam hal ini debit sungai. Metode sudetan” (kopur). dilakukan dengan tanggul penutup. Jika ternyata layak. Risiko kerusakan yang diakibatkan oleh penggenaan ruang kerja. Guna mengurangi beda muak air pada tanggul penutup selama pelaksanaan. metode pelaksanaan ini akan lebih disukai. 10. Bangunan dibuat di luar dasar sungai. Tanggul tersebut akan dibangun sedekat mungkin dengan mulut sodetan. Pembelokan aliran sungai setelah pembuatan bendung atau bendung gerak selesai. Baik risiko kerusakan bahan maupun kerusakankerusakan lain selama pelaksanaan harus sedapat mungkin dihindari. Hal ini hendaknya mendapat perhatian khusus.

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . jika tanggul permanen akan dibuat di tempat lain mungkin lebih ekonomis. Tanggul penutup merupakan tanggul sementara saja.260 pintu itu.

261 LAMPIRAN 1 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

Pattimura 20 Jakarta Jl.data sebagian besar sungai pusat koleksi data juga kumpulan data-data dari masa sebelum P. Jend. Raya Jakarta Km. Diponegoro 59 Tlp. Hasan Mustopo 55 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .H.Juanda 193 Bandung Jl.II PLN Bagian Tenaga Air Jl. Sangkuriang Cisitu Bandung Data Topografi: BAKOSURTANAL Bogor . Pattimura 20 Jakarta Jl.262 Lampiran 1 Daftar instansi-instansi yang dapat diminta data Umum: Perpustakaan PU LIPI Jl. 82062-82063 Di Ibukota Propinsi Jl. Ir. 73205/8 Bandung Data Hidrologi: DPMA seksi Hidrologi . 46 Cibinong Tlp.peta-peta topografi dan foto-foto udara DPUP PU SEKSI PENGUKURAN PENGUKURAN GEOLOGI INDONESIA Jl. Sudirman Jakarta Jl.D.

263 Tlp. Pattimura 20 Jakarta Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . 72053 Bandung Bina Program Pengairan Jl.

264 LAMPIRAN 2 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

.

6646 1.80 0.00 7.2157 0.6301 1.9814 1.6343 3.6730 8.7254 3.6858 1.0529 0.7139 1.2950 3.2121 0.7517 1.6937 1.7569 4.4561 4. Replogle dan Clemmens.5995 3.60 9.5368 1.0482 0.0548 f u Y H1 f vu 2 gH1 Hd H1 3.0504 0.2195 0.0512 0.4072 3.1929 0.7891 1.3996 3.8012 4.3613 2.1874 0.0602 0.2085 0.00 8.1901 2 1.6656 2.6293 3.1799 0.4615 2.0869 3.0579 0.5770 4.0590 0.8649 3.5691 7.0557 0.40 8.3363 4.1823 0.0497 0.7694 2.0614 0.8361 3.4723 3.7127 1.80 10.5071 3.9720 2.0737 3.6580 1.2620 2.7005 1.1949 1.7402 1.6001 1.1958 0.6720 1.2171 4.6589 1.1775 0.7530 9.1 Nilai-nilai banding tanpa dimensi untuk Loncat Air (dari Bos.0489 0.40 7.80 8.7851 1.1753 1.6152 1.0674 2.7389 1.8760 4.8778 1.0568 0.6145 1.9961 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .6985 4.7768 1.0627 0.2019 0.7271 1. 1984) H H1 f d Yd f Yu Y H1 7.5847 1.7259 4.20 9.2889 1.5630 1.6385 4.2051 0.0988 2 f Hu H1 vd 2 gH1 0.60 1.6994 2.00 0.1743 4.0538 0.9801 3.2.20 1.8208 4.1839 1.1641 2.1988 0.8741 2.5211 4.2932 3.40 9.6437 1.1849 0.0607 4.0521 0.6869 1.00 9.4045 4.7490 3.20 8.Tabel A.7643 1.9478 4.5531 1.6157 3.60 7.

8594 1.2999 5.1731 10.5424 5.5081 9.00 13.0450 0.9006 Tabel A.1447 0.8439 1.8605 1.00 16.5066 8.5929 6.8363 8.50 0.9917 2.0337 0.1520 0.0423 0.0351 4.0853 6.1936 0.0742 2.0436 0.9799 2.3.5354 9.3007 7.0323 2.3894 f u Y H1 f vu 2 gH1 Hd H1 8.0401 5.1413 0.0635 2.50 16.7625 5.9146 1.0352 0.7843 1.9268 1.0274 2.0345 0.1300 5.8723 1.4605 8.0794 7. 1984) H H1 f d Yd f Yu Y H1 15.4189 7.9667 1.0389 0.9005 0.0032 10.0229 2.50 17.2.1736 9.0411 0.8498 8.0369 0.1560 0.1096 8.1649 0.1702 9.1407 18.1603 0.0465 0.1619 10.1271 0.1351 0.0178 2.9252 5.50 12.1323 0.9529 1.4691 3.5644 6.1958 2.2323 5. Replogle dan Clemmens.0863 2.9000 1.2241 7.7437 7.2693 2.6601 7.6233 4.1247 2 6.8919 7.00 17.0379 0.1381 1.00 12.5602 7.8875 1.00 14.2413 6.9227 6.0511 2.1201 0.1223 0.8153 9.50 11.4437 5.0330 0.8146 1.1190 2.1 Nilai-nilai banding tanpa dimensi untuk Loncat Air (dari Bos.7623 6.00 2.1087 2.3267 4.50 14.0317 2 f Hu H1 vd 2 gH1 0.1305 2.8309 1.1482 0.50 10.0399 0.1813 8.0968 2.4124 6.1520 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .9450 7.1297 0.2447 6.00 11.00 15.7491 4.0361 0.50 13.6087 5.1699 0.9411 1.

0295 0.2557 9.3951 11.7765 11.1140 0.1290 11.50 2.6160 11.0305 0.50 20.1159 0.8.2534 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .2234 0.2033 2.0300 10.00 19.2432 2.2141 11.5438 10.6395 2.00 2.7765 2.1830 19.2727 2.8985 9.7575 8.2339 2.1180 0.1122 0.0164 11.5091 18.0311 0.

LAMPIRAN 3 Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

lokasi krib berdasarkan kondisi lapangan BENTUK MERCU BENDUNG .debit q  10 m3/dt/m .penyelidikan model tak dianjurkan pengaturan palung kecil dihulu dengan krib .sungai mengangkut bongkah ukuran 1500 m .bendung tetap .pengaturan palung kecil dihulu dgn krib .lokasi dan tata letak bergantung pd kondisi lapangan .lebar sungai 20 – 100 m .Tabel A.1 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas atas sungai DATA SUNGAI .penyelidikan model tak dianjurkan .penyelidikan model tak dianjurkan .pilihan terbaik pd ruas stabil palung kecil di tepi pengambilan .lokasi dan tata letak bergantung pd kondisi lapangan . bahan dasar – 2000 mm .debit saluran 5 .20 m3/dt .perbaikan krib perlu sering dilakukan .penyelidikan model diperlukan untuk hal-hal istimewa .3.lokasi krib berdasarkan kondisi lapangan .debit saluran  10 m3/dt LOKASI DAN TATA LETAK UMUM .penyelidikan model tak dianjurkan .sungai mengangkut berangkal/ bongkah.penyelidikan model tak dianjurkan .muka hulu terhempas .debit q  10 –20 m3/dt/m .pengaruh kemiringan/merc u bertangga (jika direncanakan) terhadap kemampuan kolam olak diselidiki dgn model . 64500 mm.pilihan terbaik pada ruas stabil palung kecil di tepi pengambilan PEKERJAAN PENGATURAN SUNGAI .bendung tetap .lebar dasar sungai  50 m .

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

lindungan berat dianjurkan SALURAN PENGARAH & KANTONG LUMPUR .penyelidikan model tak dianjurkan .penyelidikan model tak dianjurkan .pasangan batu candi .penyelidikan model tiga dimensi dianjurkan untuk penggerusan di hilir bendung tanpa kolam olak .penyelidikan model dianjurkan . saringan bongkah .penyelidikan model tak dianjurkan .tipe bak tenggelam yang dianjurkan .alternatif pengambilan tipe saringan bawah .efektivitas pembilas.KOLAM OLAK PENGAMBILAN DAN PEMBILAS bongkah.penyelidikan model tak dianjurkan .pengendapan batubatu besar di depan pengambilan .penyelidikan model diperlukan untuk hal-hal istimewa .

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

lebar dasar sungai 50 – 150 m tak ada aliran permukaan .bendung tetap .penyelidikan model tak dianjurkan BENTUK MERCU BENDUNG .3.penyelidikan model tak dianjurkan .sungai mengangkut kerikil .debit saluran  10 m3/dt LOKASI TATA LETAK UMUM .2 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas tengah sungai DATA SUNGAI .Tabel A.bendung tetap .debit q = 14 .18 m3/dt/m .penyelidikan model tak dianjurkan PEKERJAAN PE NGATURAN SUNGAI .sungai mengangkut kerikil sampai ukuran 64 mm .penyelidikan model tak dianjurkan .14 m3/dt/m .penyelidikan model tak dianjurkan .debit q = 12 .lebar dasar sungai  50 m tak ada aliran permukaan selama banjir .penyelidikan model dianjurkan .

Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

debit saluran 5 – 30 m3/dt KOLAM OLAK PENGAMBILAN DAN PEMBILAS SALURAN PENGARAH & KANTONG LUMPUR .penyelidikan model tak dianjurkan .sampai ukuran 64 mm .penyelidikan model tak dianjurkan .penyelidikan model tak dianjurkan .sebaiknya dipakai pembilas bawah .penyelidikan mod el .

penyelidikan model dianjurkan . ini perlu teristimewa jika mercu miring .sebaiknya dipakai pembilas bawah .penyelidikan model tak dianjurkan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .selidiki gerusan lokal bila debit bervariasi sepanjang mercu.dianjurkan untuk halhal khusus .

debit saluran 5 – 20 m3/dt LOKASI TATA LETAK UMUM penyelidika n model tak dianjurkan PEKERJAAN PE NGATURAN SUNGAI .3.penyelidikan model tak dianjurkan .debit per m lebar relatif rendah .2 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas tengah sungai DATA SUNGAI .sungai banyak mengangkut pasir dan kerikil .Tabel A.sungai teranyam dengan banyak serokan terpisah .penyelidikan model dianjurkan lokasi & dimensi pekerjaan pengaturan sungai sebaiknya lebih dimantapkan dengan tes model BENTUK MERCU BENDUNG .lebar dasar sungai sangat lebar .bendung tetap .

penyelidikan model tak dianjurkan .lebar dasar  50 m .debit 3 q  10 m /dt/m .penyelidikan model dianjurkan .bendung tetap .sungai - penyelidika n model tak dianjurkan ..pintu direncana berdasarkan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

efek variasi debit harus diselidiki dengan model tiga dimensi .penyelidikan model tak dianjurkan .penyelidikan model dianjurkan .debit saluran 3  10 m /dt .penyelidikan model tak dianjurkan .mengangkut kerikil sampai ukuran 64 mm .sebaiknya dipakai pembilas bawah .elevasi pengempangan tinggi parameter perencanaan yang ada KOLAM OLAK EKSPLOITASI PINTU PENGAMBILAN DAN PEMBILAS SALURAN PENGARAH & KANTONG LUMPUR .

pakai kolam .sebaiknya .penyelidikan model tak dianjurkan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .penyelidikan model tak dianjurkan ..penyelidikan model tak dianjurkan .penyelidikan model tak dianjurkan .

sungai mengangkut pasir dan kerikil ukuran 64 mm .locat air .penyelidikan model dianjurkan .debit saluran 10 – 50 m3/dt eleva si peng empa nga .lebar sungai 50 – 150 m .3.tata letak & lokasi dicek dengan model dasar gerak .bendung gerak .debit q = 10 -15 m3/dt/m .2 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas tengah sungai DATA SUNGAI LOKASI DAN TATA LETAK UMUM PEKERJAAN PENGATURAN SUNGAI BENTUK MERCU BENDUNG .lindungi blok halang dan blok muka dengan pelat baja dipakai pembilas bawah Tabel A.

uji untuk ment es berfu ngsin ya gabu ngan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama ..pekerjaan pengaturan sungai di optimasi - - pen yelid ika n mod el dia njur kan unt uk pint upint u khu sus (tipe gab ung an aliran atas & aliran bawa h).penyelidikan model dianjurkan .

n tinggi KOLAM OLAK EKSPLOATASI PINTU PENGAMBILAN DAN PEMBILAS SALURAN PENGARAH & KANTONG LUMPUR .penyelidikan model dianjurkan - verifi kasi hasil peren cana an pendahuluan dg model dasar .

gerusan lokal terbatas .gerak .selidiki tata letak & morfologi saluran pengarah & peralihan untuk kolam yang sangat lebar Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .penyelidikan model dianjurkan .efisiensi pengelakan sedimen .aturan eksploitasi pintu .penyelidikan model dianjurkan .penyelidikan model dianjurkan .sedimen yang masuk saluran irigasi sedikit .

3 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas bawah sungai DATA SUNGAI LOKASI DAN TATA LETAK UMUM PEKERJAAN PENGATURAN SUNGAI BENTUK MERCU BENDUNG .Tabel A.3.

bendung tetap .lebar sungai 50 – 150 m .penyelidikan model tak dianjurkan - penyelidika n model tak dianjurkan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .penyelidikan model tak dianjurkan .debit q = 14 -18 m3/dt/m ..

elevasi pengempangan lebih tinggi daripada tanah disekitarnya ..sungai mengangkut pasir & lanau .penyelidikan model dianjurkan - penyelidika n model tak dianjurkan .debit saluran 10 – 30 m3/s .bendung gerak .penyelidikan model dianjurkan .debit q  10 -15 m3/dt/m .sungai mengangkut pasir kasar .debit saluran  10 m3/dt .lebar sungai  50 m .

sebaiknya dipakai .penyelidikan model tak dianjurkan .penyelidikan model tak dianjurkan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .penyelidikan model diperlukan dalam hal-hal khusus .KOLAM OLAK EKSPLOATASI PINTU PENGAMBILAN DAN PEMBILAS SALURAN PENGARAH & KANTONG LUMPUR .

penyelidikan model tak dianjurkan .3.sebaiknya pakai kolam loncat air ..boleh tidak dipakai pembilas bawah jika sungai hanya mengangkut pasir.penyelidikan model tak dianjurkan . diperlukan tes dgn model dasar grak.3 Penyelidikan dengan model untuk bangunan utama di ruas bawah sungai . khususnya pada mercu miring pembilas bawah .penyelidikan model tak dianjurkan .unt debit yg sgt bervariasi.sebaiknya dipakai pembilas bawah . lanau dan lempung sangat halus .penyelidikan model tak dianjurkan Tabel A.

penyelidikan model .bendung gerak .LOKASI DAN TATA LETAK UMUM .penyelidikan model BENTUK MERCU BENDUNG .penyelidikan model Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .lebar sungai 50 DATA SUNGAI PEKERJAAN PENGATURAN SUNGAI .

elevasi pengempanga n lebih tinggi dari tanah sekitarnya .sungai angkut dasar gerak pasir & lanau .– dianjurkan 150 m . perlu model unt mencek dan memperbaiki berfungsinya bangunan KOLAM OLAK EKSPLOATASI PINTU PENGAMBILAN DAN PEMBILAS SALURAN PENGARAH & KANTONG LUMPUR .debit saluran  10 m3/s dianjurkan .debit pendahuluan & lokasi dicek q = 10 -15 m3/dt/m dengan model .untuk pintupintu khusus (kombinasi tipe aliran atas & aliran bawah).tata letak .pekerjaan pengaturan sungai unt mengatur dan melindungi bangunan di optimasi dianjurkan .

.penyelidikan Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .penyelidikan - .penyelidikan .

jika sekiranya akan timbul masalah Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .selidiki & tingkatkan efisiensi sistem pengelak sedimen dianjurkan unt pakai pembilas bawah. kecuali sungai hanya mengangkut pasir. lanau & lempung halus model tak dianjurkan . selidiki tata letak & morfologi saluran pengarah & peralihan ke kantong lumpur dgn model.hasil perencanaan pendahuluan diverifikasi dg model dasar gerak penyelidika n model dianjurkan .model dianjurkan .aturan-aturan eksploitasi pintu ditetapkan model dianjurkan .untuk kantong yg lebar.

DAFTAR PUSTAKA Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .

. JUSTIN.: Handbook London. and CLEMMENS. John Wiley & Sons. New York of Applied Hydrology.T.J.V.M: Barrages mobiles et ouvrages de derivation.R. Wageningen 1977.G.D.R. John Wiley. 1945. Journal of the Hydraulics division. (Ed). New York.. CHOW. a partie de rivieres transportant des materiaux solides.: 1959.A. A. Paris 1984. & HINDS. McGraw-Hill.: Sedimentation and the design of settling tanks.HY5. M. Transactions ASCE.V.DAFTAR PUSTAKA BOS.: Flow measuring flumes for open channel systems. McGraw-Hill. DAVIDENKOFF. 1946. T. CREAGER. M.G.. 1957.83. Wernerverlag Dusseldorf. 1964.P. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . BOS.II & III.: Unterlaufigkeit von Stauwerken. Discharge measurement structures. ASCE.N. Eyrolles.. BOUVARD.: Engineering for Dams.J: The hydraulic design of stilling basins. Open channel hydraulic. Publication 20. ILRI.T. Volumes I. J. BRADLEY. and PETERKA. REPLOGLEJA. New York 1984. CHOW.J. 1970.J.W. CAMP. Vol. No.

MEMED. 1981. 1950.: Security from under-seepage of masonry dams on earth foundations. and SYARIF S. London 1979.A. Springer Verlag. 1981.J. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama . JASSEN.M.M.1964) PRESS.DPMA: Pengamanan Sungai Serta Pengendalian (Diutamakan Penggunaan Konstruksi Bronjong).W. Teil II : Wilhelm Ernst & Sohn.: Hydraulic design of stilling basins and energy dissipators. Principles of River Engineering. LANGKEMME IRRIGATION PROJECT: Hydraulic Model Test and Related Study Design Note.A.: Control of the hydraulic jump by sills Transactions ASCE. 1962. PETERKA. Transactions ASCE. Pitman. Berlin 1959).P. USBR.: Cara-cara konstruksi untuk mengurangi angkutan sedimen yang akan masuk ke intake dan saluran pengairan. Jilid I & II. and ERMAN.. and ERMAN.115. DPMA Bandung. SCHOKLITSCH.: Penggunaan lapisan batu “Candi” sebagai perkuatan terhadap bahaya benturan batu dan mengurangi kerusakan akibat abrasi/goresan oleh pasir batu yang terbawa aliran pada bendung.R. Vol.J.M. MEMED. DPMA Bandung.M.W. Wehre. Vol.: Stauanlagen und Wasserkraftwerke.P. MEMED. DPMA Bandung. Vienna. 1978. Volumes I and II.. 1980. LANE. PT Buana Archicon.: Pengelak Angkutan Sedimen tipe undersluice dengan perencanaan hidrolisnya..(Ed). Nippon Koei.M. Washington DC 1958 (rev.A.: Handbuch des Wasserbaues.H.E. Aliran FORSTER.100. SKRINDE. 1935.

SCS: Design of open channels. USBR: Design of Small Dams.H.: Het transport van vaste stoffen door stroomend water. Kriteria Perencanaan – Bangunan Utama .25.3. Denver. SOENARNO: Perhitungan bendung tetap. De Ingenieur in Ned-Indie No. Washington DC. USDA Soil Conservation Service. 1977. Technical Release No. USA VLUGTER.1941. Bandung 1972. Directorate of Irrigation.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful