BAB I PENDAHULUAN

1.1. Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari praktikum ini, antar lain: 1.2.1. Menambah pengetahuan tentang lingkungan secara khusus dalam bidang pencemaran air. 1.2.2. Memahami dam menganalisa tingkat pencemaran parit Perdana dengan menggunakan parameter DO dan BOD. 1.2.3. Melatih keterampilan mahasiswa dalam melakukan penelitian dan praktikum di laboratorium. 1.2.4. Untuk menyelesaikan tugas yang diberikan pada modul Lingkungan Hidup mahasiswa semester satu Prodi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UNTAN.

1.2. Prinsip Percobaan Oksigen terlarut di dalam botol sampel mengoksidasi MnSO4 yang ditambahkan ke dalam sampel dalam keadaan alkalis. Sehingga terjadi endapan MnO2 (reaksi 1)

Dengan penambahan asam sulfat dan kalsium ioida, maka akan dibebaskan molekul iodine yang setara dengan oksigen terlarut (reaksi II). Iodin yang dibebaskan dianalisa dengan metode titrasi iodometri, yaitu dengan larutan standar natrium tiosulfat dan amilum sebagai indicator. ( ( ) (Reaksi II) )

(Reaksi I)

1

1.3. Latar Belakang

Lingkungan hidup sebagai daerah di mana makhluk hidup berada memberikan banyak manfaat selain sebagai tempat tinggal saja. Pemanfaatan lingkungan hidup ini ternyata tidak sebaik yang kita harapkan. Selain dimanfaatkan, ternyata lingkungan hidup juga tidak dijaga kelestariannya sehingga muncul masalah dalam lingkungan hidup. Masalah lingkungan hidup yang terjadi pada saat ini menjadi keresahan kita bersama. Karena baik secara langsung maupun tidak langsung, setiap permasalahan yang terjadi dari lingkungan hidup memberikan dampak kepada kita sebagai salah satu unsur dalam lingkungan hidup tersebut. Oleh karena itu, analisis tentang setiap masalah lingkungan hidup sangat membantu kita untuk mencegah pencemaran terhadap lingkungan hidup lebih jauh lagi. Air merupakan bahan esensial dan sangat penting bagi semua makhluk hidup terutama bagi kehidupan manusia. Bagi manusia, air tidak pernah dapat digantikan oleh senyawa lain manapun. Tubuh manusia terdiri dari 65% air dan sekitar 47 liter air terdapat pada orang dewasa. Setiap harinya 2,50 liter dari jumlah air tersebut harus diganti dengan air yang baru. Diperkirakan dari sejumlah air yang harus diganti, 1,5 liter berasal dari air minum dan sekitar 1 liter berasal dari bahan makanan yang dikonsumsi. Menurut WHO jumlah air minum yang harus dipenuhi agar dapat mencapai syarat kesehatan adalah 86,4 liter per kapita per hari, sedang kondisi di Indonesia ditentukan sebesar 60 liter per hari. Faktanya Air digunakan manusia dalam berbagai kegiatan dan aktivitas. Namun dalam penggunaannya manusia sering melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat air berpotensi besar tercemar. Seperti membuang sampah rumah tangga di parit atau membuang limbah hasil industri ke sungai yang menyebabkan pencemaran air. Pencemaran air adalah penambahan unsur atau organisme laut kedalam air, sehingga pemanfaatannya dapat terganggu. Berbagai jenis pencemar yang banyak memasuki badan air, berasal dari: a. Sumber domestik ( rumah tangga, perkampungan, kota, pasar, jalan) dan sebagainya. b. Sumber nondomestic (pabrik, industri, pertanian, peternakan, perikanan, serta sumber-sumber lainnya.

2

Pencemaran air dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan sosial, karena adanya gangguan oleh adanya zat-zat beracun atau muatan bahan organik yang berlebih. Keadaan ini akan menyebabkan DO (dissolve oxygen) atau oksigen terlarut dalam air pada kondisi yang kritis, atau merusak kadar kimia air. Rusaknya kadar kimia air tersebut akan berpengaruh terhadap fungsi dari air. Banyak dampak negatif yang dapat ditimbulkan antara lain dapat menyebabkan kelumpuhan ikan, karena otak tidak mendapat suplai oksigen serta kematian karena kekurangan oksigen (anoxia) yang disebabkan jaringan tubuh ikan tidak dapat mengikat oksigen yang terlarut dalam darah (JONES, 1964). Secara khusus, pada masyarakat Pontianak yang memiliki banyak parit. Masyarakat memanfaatkan parit untuk berbagai keperluan, seperti MCK, transportasi, dan lain sebagainya. Namun, secara kasat mata parit yang dimanfaatkan masyarakat tersebut telah mengalami pencemaran, karena adanya kebiasaan masyarakat mengotori parit dengan membuang sampah di sungai tersebut. Analisis tentang kualitas air yang ada di parit kota Pontianak, khususnya Parit Sepakat 2 dapat dilakukan lewat perhitungan DO (dissolve oxygen) dan BOD (Biological oxygen demand) air tersebut. Tulisan ini lebih difokuskan pada dua parameter dimaksud. Dengan adanya parameter tersebut maka kita akan mengetahui ambang batas pencemaran dan kualitas air dalam suatu perairan serta adanya analisis ini sangat membantu kita untuk dapat mencegah pencemaran terhadap lingkungan hidup lebih jauh lagi.

3

air waduk. Dalam proses sampling. mata air. Setiap tempat pengambilan contoh air mewakili setiap kualitas air. Kebutuhan oksigen kimiawi bagi proses deoksigenasi dalam suatu perairan atau air limbah yang man pada saat campuran contoh air yang diambil dari titik-titik yang berbeda kedalamannya pada waktu yang sama. nilai atau kadar bahan pencemar atau komponen lain yang terkandung di dalam air. Pada lapisan atas danau atau waduk suhunya relatif sama untuk lapisan danau atau waduk mengalami penurunan suhu yang cukup besar (lebih dari1°C/m) lapisan bawah danau atau waduk yang mempunyai suhu relatif sama dan lebih dingin dari lapisan di atasnya. air rawa dan air gua. Penanganan khusus perlu diterapkan untuk jenis bahan yang akan disampling. 2008). indikator kualitas atau disebut sebagai “atribut”.1. Oleh karena hanya sebagian saja dari batch yang diambil sampelnya untuk pengujian. air saluran. Alat yang digunakan dalam pengambil contoh air yang sederhana dapat berupa ember plastik yang dilengkapi dengan tali.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. bagian tersebut harus mewakili batch tersebut.Sampling Pengambilan sample (sampling) adalah tahap awal dalam proses dimana data hasil karakteristik suatu batch produk dikumpulksan untuk proses evaluasi.dihomogenkan dan dibagi menjadi dua atau lebih sub contoh air dan diperlakukan seperti contoh uji. biasanya lapisan ini mengandung kadar oksigen yang rendah dan relative stabil sifat-sifat pada air permukaan yang ditunjukkan dengan besaran. Air permukaan merupakan air yang terdiri atas air sungai. harus ditetapkan dan menggambarkan karakteristik batch yang dimaksud. air danau. selanjutnya dikirim ke beberapa laboratorium yang berbeda. dengan volume yang sama contoh air tersebut dikumpulkan dalam satu wadah. sehingga proses seleksi sample merupakan tahap kritis (penting) dalam sistem penjaminan mutu (quality assurance system). gayung plastik yang bertangkai panjang Sedangkan Alat yang digunakan dalam pengambil contoh air untuk kedalaman tertentu atau point sampler pengambilan contoh air pada 4 . terutama yang berisiko terhadap kemungkinan kontaminasi (Wibowo. Kontaminasi merupakan hal yang harus diperhatikan. Hasil pengujian sample tersebut akan menentukan nasib batch tersebut.

1 Penentuan lokasi dan titik pengambilan sampel air sungai Lokasi pengambilan sampel lingkungan yang dapat menggambarkan kondisi sesungguhnya pada daerah dan waktu tertentu.1.1.kedalaman yang telah ditentukan pada sungai yang relatif dalam. apakah lokasi dan titik tersebut representative d.1. adakah suatu lokasi dan titik yang telah ditentukan berdasarkan ketentuan yang berlaku c. bagaimana lokasi dan titik pengambilan dapat diketahui dan bagaimana memastikan bahwa pengambil sampel dapat kembali ke lokasi dan titik yang sama atau mengarahkan orang lain ke sana. 2003).1 Aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan sampel 2.57-2008 ). misalkan sampel adalah bagian terpilih dari materi yang memiliki sifat-sifat yang pada dasarnya sama dengan keseluruhan materi (Khopkar. Sifat fisika dari pengotor (kontaminan) akan mempengaruhi metode sampling. Sebelum menentukan lokasi dan titik pengambilan sampel lingkungan : a. sampling suatu cairan murni atau cairan homogen tentu prosedurnya sederhana karena biasanya cairan bersifat homogen (Khopkar. ketepatan metode pengujian dan keadaan dari materi yang digunakan. 2003). 2. Suatu sampel yang ideal harus memiliki semua sifat intensif yang identik dengan keseluruhan materi darimana dia berasal. Dalam teknik sampling terdapat istilah-istilah yang perlu dimengerti secara jelas. Ada dua tipe point sampler yaitu tipe vertikal dan horizontal (SNI 6989. 5 . Penarikan sampel membutuhkan pengalaman. danau atau waduk. apa tujuan pengambilan sampel b. Sampling bukanlah suatu pengembangan modern tetapi pendahuluan metode statistic dan kontrol kualitas dalam berbagai industri telah berperan banyak terhadap kedudukannya sekarang ini. Faktor-faktor yang harus diperhatikan terutama adalah variasi yang diperbolehkan dalam materi. Di dalam cairan. apa yang harus direkam untuk menunjukkan mengapa lokasi dan titik tersebut representatif atau tidak. f. parameter apa yang dianalisis di lokasi e.

cuaca dan kondisi setempat. suhu. jumlah dan volume sampel tergantung pada parameter yang akan diuji. DO. dan distribusi polutan di lingkungan dan perlu dibuat arsip sampel yaitu merupakan sampel yang disimpan di laboratorium sedemikian rupa sehingga kondisinya terpelihara dalam waktu tertentu apabila diperlukan pengujian ulang.1. Sampel lingkungan menunjukkan keseragaman secara visual. Parameter Sekunder : parameter yang terbentuk akibat adanya interaksi .Penentuan lokasi dan titik pengambilan sampel lingkungan harus memperhatikan fasilitas untuk menuju lokasi dan aksesibilitas ke titik pengambilan.1. jumlah dan volume sampel Ukuran.1.4 Homogenitas sampel Homogenitas didefinisikan sebagai sesuatu yang mempunyai komposisi yang sama pada setiap titik dan setiap saat. transformasi atau reaksi kimia antar parameter primer menjadi senyawa lain Pengukuran parameter lapangan harus ditujukan terhadap faktor-faktor yang dapat memastikan kesahihan hasil pengujian (sesuai ISO 19025).1. DHL. Parameter Primer : senyawa kimia yang masuk ke dalam lingkungan tanpa berinteraksi dengan senyawa lain b. jika pengambilan sampel sesaat (discrete samplem / grab sample) 6 . Parameter yang harus diukur terhadap sampel air sungai adalah : pH.1.2 Parameter kualitas lingkungan Parameter kualitas lingkungan ada 2 : a. kekeruhan. Bila perlu dapat juga menggunakan GPS (global positioning system) 2. 2. debit air. metode pengujian digunakan. Pengawetan sampel dapat dilakukan dengan menambahkan asam klorida atau asam sulfat sampai pH < 2 dan kemudian disimpan dalam refrigerator. Pengukuran dilakukan sebagai bahan interpretasi data hasil pengujian di laboratorium 2.1.Untuk pengambilan sampel air sungai dapat dilakukan melalui jembatan dan titik pengambilan dapat diidentifikasi secara pasti.3 Ukuran. Sampel dapat bertahan sampai 28 hari.

2 Tinjauan Umum mengenai Teknik Sampling Air Permukaan 2. pengambilan sampel air sungai tidak mungkin dilakukan pada saat hujan deras turun. kedalaman. Sampel lingkungan menunjukkan ketidakseragaman. Homogenitas media lingkungan sangat tergantung pada kondisi lingkungan. Pengambilan air sungai juga ditentukan oleh lebar dan panjang sungai.1. 2. Sebagai contoh. 2. jika dilakukan pengambilan sampel gabungan (composite sample) atau sampel terpadu (integrated sample). masalah yang dihadapi dan tujuan yang ditetapkan. alat pengambil contoh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a) Terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat contoh b) Mudah dicuci dari bekas contoh sebelumnya c) Contoh mudah dipindahkan ke dalam wadah penampung tanpa ada sisa bahan tersuspensi di dalamnya d) Mudah dan aman di bawa e) Kapasitas alat tergantung dari tujuan pengujian 7 .5 Jumlah titik pengambilan sampel Penetapan jumlah titik pengambilan sampel ditentukan oleh biaya. debit air sungai dan karakteristik polutan dalam sungai.1.1.dengan asumsi sampel tersebut cukup homogeny.6 Waktu pengambilan sampel Pendekatan dalam waktu pengambilan sampel adalah dengan mengasumsikan saat media lingkungan yang akan diambil sampelnya cukup homogen atau konstan sehingga sampel dapat mewakili kondisi yang disyaratkan.1. karena terjadi pengenceran air sungai oleh hujan.1 Alat Pengambilan Contoh Menurut Anonim (2008).1.2. 2.1. Hal ini berakibat kualitas air sungai yang sesungguhnya tidak tergambarkan.

B.Anonim (2008) juga menyatakan bahwa jenis alat pengambil contoh terdiri dari: a. Alat pengambil contoh sederhana Alat pengambil contoh sederhana dapat berupa ember plastik yang dilengkapi dengan tali. gayung plastik yang bertangkai panjang. Contoh alat pengambil air botol biasa secara langsung b. Handle (tipe teleskopi yang terbuat dari aluminium atau stanlestil. Alat pengambil contoh pada kedalaman tertentu Alat pengambil contoh untuk kedalaman tertentu atau point sampler 8 . Contoh alat pengambil contoh sederhana gayung bertangkai panjang Keterangan gambar : A. alat sederhana ini paling sering digunakan dan dipakai untuk mengambil air permukaan atau air sungai kecil yang relatif dangkal. Pengambil contoh terbuat dari polietilen. Gambar 1. Dalam praktiknya. Gambar 2.

2 Titik Pengambilan Contoh Air Permukaan Anonim (2003) menyatakan bahwa lokasi sampling di sungai dilakukan dengan arah memanjang.digunakan untuk mengambil contoh air pada kedalaman yang telah ditentukan pada sungai yang relatif dalam. Ada dua tipe point sampler yaitu tipe vertikal dan horizontal Gambar 3. contoh diambil pada satu titik ditengah sungai pada kedalaman 0.2 dan 0.5 kali kedalaman dari permukaan. Menurut Anonim (2008). contoh diambil pada dua titik masingmasing pada jarak 1/3 dan 2/3 lebar sungai pada kedalaman 0. b) Sungai dengan debit antara 5-150 m3/detik. contoh diambil minimum pada enam titik masing-masing pada jarak ¼.8 kali kedalaman dari permukaan.5 kali kedalaman dari permukaan. 9 .2. Contoh alat pengambil contoh air point sampler tipe horizontal. 2. ½ dan ¾ lebar sungai pada kedalaman 0.1. titik pengambilan sampel air sungai ditentukan berdasarkan debit air sungai (debit air sungai didapatkan dari hasil praktikum kelompok sebelumnya) yang diatur sebagai berikut: a) Sungai dengan debit kurang dari 5 m3/detik. c) Sungai dengan debit lebih dari 150 m3/detik. danau atau waduk.

Kecepatan difusi oksigen dari udara. proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. 10 . Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (SALMIN. 2000). salinitas.Gambar 5. seperti kekeruhan air. ODUM (1971) menyatakan bahwa kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik.OKSIGEN TERLARUT (DO) Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen =DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan. pergerakan massa air dan udara seperti arus. suhu. Disamping itu. Titik pengambilan contoh sungai 2. gelombang dan pasang surut.2. tergantung sari beberapa faktor.

Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relative lebih sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak. Karena peranannya yang penting ini.7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 % (HUET. karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis. Selain itu. karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. 1978). peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan. Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara bebas. sangat berperan dalam menguraikan senyawa kimia beracun rnenjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak beracun. Dalam kondisi anaerobik. Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (SWINGLE. Sebagaimana diketahui bahwa oksigen berperan sebagai pengoksidasi dan pereduksi bahan kimia beracun menjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak beracun. stadium dan aktifitasnya. kadar oksigen akan lebih tinggi. Idealnya. 11 . kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1. KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut (ANONIMOUS. oksigen yang dihasilkan akan mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas. Organisme tertentu. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut. 1968). Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). air buangan industri dan limbah sebelum dibuang ke lingkungan umum terlebih dahulu diperkaya kadar oksigennya. Dalam kondisi aerobik. memiliki daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut (WARDOYO. oksigen juga menentukankan biologis yang dilakukan oleh organisme aerobic atau anaerobik. oksigen juga sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk pernapasan. karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. 1970). 2004).Pada lapisan permukaan. Karena proses oksidasi dan reduksi inilah maka peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi beban pencemaran pada perairan secara alami maupun secara perlakuan aerobik yang ditujukan untuk memurnikan air buangan industri dan rumah tangga. Disamping itu. seperti mikroorganisme.

Reaksi kimia yang akan terjadi adalah : Katoda : O2 + 2 H2O + 4Anoda : Pb + 2 HO4HO- PbO + H2O + 2e Aliran reaksi yang terjadi tersebut tergantung dari aliran oksigen pada katoda. Pada alat DO meter. Reaksi kimia yang terjadi dapat dirumuskan sebagai berikut : MnCI2 + NaOH Mn(OH)2 + 2 NaCI 2 Mn(OH)2 + O2 2 MnO2 + 2 H20 MnO2 + 2 KI + 2 H2O Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH I2 + 2 Na2S2C3 Na2S4O6 + 2 NaI b. Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. Metoda elektrokimia Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DO meter. Dengan menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. sehingga akan terjadi endapan Mn02. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 den Na0H . Hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi iodometri ialah penentuan titik akhir titrasinya.KI. Secara keseluruhan. Prinsip kerjanya adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda yang direndam dalarn larutan elektrolit. standarisasi 12 .2. Difusi oksigen dari sampel ke elektrodaberbanding lurus terhadap konsentrasi oksigen terlarut.1 ANALISIS OKSIGEN TERLARUT (DO) Oksigen terlarut dapat dianalisis atau ditentukan dengan 2 macam cara. elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat semi permeable terhadap oksigen. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S203) dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji).2. probe ini biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan anoda timbal (Pb). Penentuan oksigen terlarut (DO) dengan cara titrasi berdasarkan metoda WINKLER lebih analitis apabila dibandingkan dengan cara alat DO meter. yaitu : a. Metoda titrasi dengan cara WINKLER Metoda titrasi dengan cara WINKLER secara umum banyak digunakan untuk menentukan kadar oksigen terlarut.

pada kondisi aerobik. Hal ini penting diperhatikan mengingat kelarutan oksigen dalam air terbatas dan hanya berkisar ± 9 ppm pads suhu 20°C (SAWYER & MC CARTY.1973). Dengan mengikuti prosedur penimbangan kaliumbikromat dan standarisasi tiosulfat secara analitis. pada kondisi yang harnpir sama dengan kondisi yang ada di alam. 1978). peranan kalibrasi alat sangat menentukan akurasinya hasil penentuan. contoh yang diperiksa harus bebas dari udara luar untuk rnencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di udara bebas. Sedangkan penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter. Selama pemeriksaan BOD.3 KEBUTUHAN OKSIGEN BIOLOGI (BOD) Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik. Peranan suhu dan salinitas ini sangat vital terhadap akurasi penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter. Pemeriksaan BOD tersebut dianggap sebagai suatu prosedur oksidasi dimana organisme hidup bertindak sebagai medium untuk menguraikan bahan organik menjadi CO2 dan H2O. secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air buangan. Reaksi oksidasi selama pemeriksaan BOD merupakan hasil dari 13 . Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama organisme tersebut menguraikan bahan organic yang ada dalam suatu perairan. Berdasarkan pengalaman di lapangan. akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih akurat. Konsentrasi air buangan/sampel tersebut juga harus berada pada suatu tingkat pencemaran tertentu. Parameter BOD. penentuan oksigen terlarut dengan cara titrasi lebih dianjurkan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Alat DO meter masih dianjurkan jika sifat penentuannya hanya bersifat kisaran. sebagaimana lazimnya alat yang digital. 2. melibatkan bermacam-macam organisme dan menyangkut reaksi oksidasi dengan hasil akhir karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Disamping itu. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (PESCOD. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran pencemaran dari tingkat hulu ke muara. Penguraian bahan organik secara biologis di alam. hal ini untuk menjaga supaya oksigen terlarut selalu ada selama pemeriksaan. harus diperhatikan suhu dan salinitas sampel yang akan diperiksa.larutan tiosulfat dan pembuatan larutan standar kaliumbikromat yang tepat.

sementara sampel yang lainnya diinkubasi selama 5 hari pada suhu 20°C. Nilai BOD 5 hari merupakan bagian dari total BOD dan nilai BOD 5 hari merupakan 70 .aktifitas biologis dengan kecepatan reaksi yang berlangsung sangat dipengaruhi oleh jumlah populasi dan suhu. Sebagaimana diketahui bahwa. terlebih dahulu diukur DO nya (DO 0 hari). sehingga perlu diperhitungkan.8. Dalam praktek untuk penentuan BOD yang berdasarkan pada pemeriksaan oksigen terlarut (DO). 1978). sehingga dapat mempengaruhi hasil penentuan BOD. kualitas aimya perlu diperhatikan dan secara umum yang dipakai aquades yang telah mengalami demineralisasi.80% dari nilai BOD total (SAWYER & MC CARTY.5 . Penentuan waktu inkubasi adalah 5 hari. biasanya berlangsung selama 5 hari dengan anggapan bahwa selama waktu itu persentase reaksi cukup besar dari total BOD. biasanya dilakukan secara langsung atau dengan cara pengenceran. dapat mengurangi kemungkinan hasil oksidasi ammonia (NH3) yang cukup tinggi. waktu yang diperlukan untuk proses oksidasi yang sempurna sehingga bahan organik terurai menjadi CO2 dan H2O adalah tidak terbatas. Sebagai contoh adalah 10% pengenceran akan menggunakan sepersepuluh dari kecepatan penggunaan sampel 100% (SAWYER & MC CARTY. Dalam hal dilakukan pengenceran. Kadar BOD ditentukan dengan rumus : 5 X [ kadar { DO(0 hari) .DO (5 hari) }] ppm 14 . Secara teoritis. selanjutnya setelah 5 hari diukur DO nya (DO 5 hari). Dengan cara pengenceran pengukuran BOD didasarkan atas kecepatan degradasi biokimia bahan organik yang berbanding langsung dengan banyaknya zat yang tidak teroksidasi pada saat tertentu. sehingga sampel mendekati kejenuhan oksigen terlarut. Untuk menentukan BOD. 1978). pengencer yang digunakan adalah standard sea water (SSW). Kecepatan dimana oksigen yang digunakan dalam pengenceran sampel berbanding lurus dengan persentase sampel yang ada dalam pengenceran dengan anggaapan faktor lainnya adalah konstan.5 dan untuk menjaga agar pH-nya konstan bisa digunakan larutan penyangga (buffer) fosfat. ammonia sebagai hasil sampingan ini dapat dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat. Karenanya selama pemeriksaan BOD. suhu harus diusahakan konstan pada 20°C yang merupakan suhu yang umum di alam. Untuk analisis air laut. Dalam prakteknya dilaboratoriurn. Oerajat keasaman (pH) air pengencer biasanya berkisar antara 6. Prosedur secara umum adalah menyesuaikan sampel pada suhu 20°C dan mengalirkan oksigen atau udara kedalam air untuk memperbesar kadar oksigen terlarut dan mengurangi gas yang terlarut. Oksidasi nitrogen anorganik ini memerlukan oksigen terlarut.

dan proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri aerobik. reaksi tersebut juga berlangsung pada badan air sungai. 5 hari supaya 75% dan 20 hari supaya 100% tercapai.ml/L = B/B -2 x 5. Berikut ini adalah tabel nilai DO dan BOD untuk tingkat pencemaran perairan. air dan amioniak. Tingkat pencemaran perairan berdasarkan nilai DO dan BOD Tingkat pencemaran Parameter DO (ppm) BOD Tingkst pencemaran Parameter DO (ppm) Rendah Sedang Tinggi >5 0-5 0 BOD 0-10 10-20 25 Sumber : WIROSARJONO (1974) 2. 5.2 = volume air dalam botol sampel setelah ditambah 1 ml larutan MnCl2 dan 1 ml NaOH .6 x 10 x N x V Dimana : B = volume botol sampel BOD = 250 ml B .01 N yang ditambahkan N = normalitas tiosulfat V = volume tiosulfat yang dibutuhkan untuk titrasi. Atas dasar reaksi tersebut.KI.1 Prinsip Analisa Pemeriksaan BOD didasarkan atas reaksi oksidasi zat organik dengan oksigen didalam air.Selama penentuan oksigen terlarut. diusahakan seminimal mungkin larutan sampai yang akan diperiksa tida berkontak dengan udara bebas. Tentu saja.3.Sebagian hasil oksidasi akan terbentuk karbondioksida. yang memerlukan kira – kira 2 hari dimana 50 % reaksi telah tercapai. sebaiknya digunakan botol sampel BOD dengan volume 250 ml dan semua isinya dititrasi secara langsung. Tabel 1.6 = konstanta yang sama dengan ml oksigen ~ 1 mgrek tiosulfat 10 = volume K2Cr2O7 0. Perhitungan kadar DO nya : DO. baik untuk DO maupun BOD. maka analisa BOD dapat dipergunakan untuk menaksir beban pencemaran zat organik. air danau maupun di instalasi pengolahan air buangan yang 15 . Khusus untuk penentuan BOD.

kekurangan nutrient (garam) dan kekurangan bakteri yang dibutuhkan proses tersebut. semua sampel yang mengandung BOD 6 mg O2/L harus diencerkan supaya syarat tersebut dapat dipenuhi. Hal ini menunjukkan nitrifikasi pada botol BOD tidak berlaku. Karena reaksi BOD dilakukan didalam botol yang tertutup. zat beracun. Dengan kata lain. Oleh karena itu. maka jumlah oksigen yang telah dipakai adalah perbedaan antara kadar oksigen didalam larutan pada t = 0 (biasanya baru ditambah oksigen dengan aerasi.Nitrifikasi juga membutuhkan oksigen.2 Gangguan – ganguan pada analisa BOD Ada 5 jenis gangguan yang umumnya terdapat pada analisa BOD yaitu nitrifikasi. 16 . tes BOD berlaku sebagai simulasi (berbuat seolah – olah terjadi) suatu proses biologis secara alamiah. NH3 amoniak berubah menjadi NO3. yaitu konsentrasi kejenuhan) dan kadarnya pada t = 5 hari (konsentrasi sisa ≥ 2 mg O2/L agar hasi cukup teliti). walaupun kemungkinan suhu tinggi seperti di daerah tropis. namun di beberpa literatur terdapat lama inkubasi 6 jam atau 2 hari atau 20 hari.(nitrat) lewat NO2. kemasukan udara pada botolnya.(nitrit) oleh jenis bakteri tertentu.menerima air buangan yang mengandung zat organik tersebut. hingga mempunyai istilah yang lengkap BOD205 (angka 20 menunjukkan temperatur inkubasi dan 5 menunjukkan lama waktu inkubasi). jumlah zat organik yang ada didalam air diukur melalui jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk mengoksidasi zat tersebut. Demikian. Reaksi biologis pada tes BOD dilakukan pada temperature inkubasi 20oc dan dilakukan selama 5 hari. seperti pada raksi karbon yang menstimulasi suatu proses alam. hingga = 9 mg O2/L. Proses nitrifikasi dapat mulai terjadi didalam botol BOD setelah 2 sampai 10 hari.3. Oleh karena itu di dalam analisa BOD baku pertumbuhan bakteri penyebab proses nitrifikasi harus di halangi dengan inhibitor. Di alam terbuka ada 2 sebab yang mencegah pertumbuhan bakteri nitrrifikasi: seringkali nitrifikasi ini tidak terjadi (misalnya karena suhu 100C atau karena air sungai yang tercemar telah sampai ke muara). mempercepat proses nitrifikasi secara alamiah. 2. Gangguan – ganguan tersebut akan diuraikan sebagai berikut : a.

maka hanya sebagian jumlah bakteri akan aktif dalam oksidasi zat organik tersebut. Masuk (keluarnya) oksigen dari botol selama waktu inkubasi harus di cegah. d. Catatan : Kalau smpel mengandung racun. 17 . memang cara ini terbatas. maka cara pembenihan selalu harus diikuti dengan baik. yaitu pada saat t = 0. Zat beracun dapat memperlambat pertumbuhan bakteri (yaitu memperlambat reaksi BOD) bahkan membunuh organisme tersebut. Kalau zat tersebut memang sangat beracun hingga bakteri – bakteri tidak bisa hidup sama sekali atau sukar berkembang. pertumbuhan bakteri terhalang maka angka BOD rendah. hingga pengenceran maksimum yang di perbolehkan adalah kira – kira 10 kali (Alaerts. Botolnya harus ditutup dengan hati – hati (diatas tutup botol) bisa di beri air. Karena benih dari bermacam – macam bakteri kurang jumlahnya atau kurang cocok bagi jenis air buangan yang akan dianalisa. Mg dan sebagainya). gelembung udara dapat dikeluarkan dengan mengetuk botol. sehingga menjamin jumlah populasi bakteri yang diperlukan. Karena kekurangan nutrient secukupnya sebelum masa inkubasi. hingga BOD yang tercatat akan lebih rendah dari angka COD suatu sampel yang tidak mengandung zat beracun. Nutrien merupakan slah satu syarat bagi kehidupan bakteri – bakteri. c. K. Cara lain untk mendeteksi gangguan – gangguan tersebut adalah dengan pengenceran sampel supaya dosis zat beracun dapat berada di bawah konsentrasi yang berbahaya.Oleh karena itu pada waktu inkubasi botol BOD harus disimpang ditempat gelap. Nutrien terbentuk dari bermacam – macam garam (Fe.b. e. 1987). gelembung udara tidak boleh ada di dalam botol.

Botol winkler 2 buah 4. Pengukur kedalaman 8. Ember 1 buah 2.1. Alat tulis 13. tali dengan pita setiap 0. Botol winkler b. Alat-alat yang digunakan dalam pada pengujian di laboratorium 1.BAB III METODOLOGI 3. 2. Alat dan Bahan 3. Botol yang telah dimodifikasi 1 buah 3. ph meter digital 1 buah 4. 6. Spidol permanen 14.1. Gayung 10. Pipet ukur 2 ml 2 buah 8. Stop watch 9. thermometer 1 buah 5. Pipet tetes 1 buah. Water filler 1 buah 7. Labu elemenyer 3 buah. Alat a.5 m 7. Pipet pump 1 buah. Kamera 12. 5. 1 gelas ukur 100 ml. 1 buah pipet tetes 18 . Alat-alat yang digunakan dalam pengambilan sampel kami terdiri dari 1. Tali rafia 1 gulung 11. Kayu ukuran 2m 2 buah 6.1. 3. Pipet ukur 25 ml 1 buah 9.

4. Saat tiba di tempat pengambilan sampel lakukan pengamatan terhadap kondisi sekitar lokasi. sampah. 6.5 liter. 2.5m. 1 botol buret 11. Melakukan pengukuran nilai ph dengan ph meter.0125 molar 6. Larutan N2S2O3 0.2.2. 8. 2. 19 . 1 buah ball filler merah 12.2.Cara Kerja 3. Mengukur kecepatan alir air dengan meletakkan jeruk di parit dan mengukur waktu dengan stopwatch untuk menempuh jarak yang sudah ditentukan sebelumnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan anatara lain : pemukiman. Bahan 1. 1 buah corong 3. 1 buah statis 13. Mengukur kedalaman dengan mencelupkan kayu pengukur kedalaman. organisme air.1 Sampling Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan sampel 1. Larutan MnSO4 3.1. 5. 7. Mengambil gambar 3.10. Melakukan pengukuran suhu dengan thermometer. Larutan H2SO4 pekat 3. sesuai dengan pita yang diikatkan pada tali setiap 0. Air sampel 1. Indikator amilum 5. Tancapkan kayu yang sudah diikatkan tali pada parit sehingga tali membentang selebar parit tersebut. vegetasi. Mengukur lebar parit dengan meteran ukur.dan warna air permukaan. industri. lahan kosong. Larutan alkali iodida azida 4.

Bila masih belum larut tambahkan lagi 2 ml H2SO4 agar endapan larut 7.2. 3. Selisih antara volume sebelum dan sesudah titrasi adalah jumlah tiosulfat yang digunakan. kemudian botol segera di tutup kembali 6. 3.2 1. Titrasi dengan larutan tiosulfat dilanjutkan. kemudian di kocok dengan membalik-balik botol beberapa kali 5. Kemudian sampel diambil pada bagian parit yang terdalam. 10. Tunggu 5-10 menit biarkan mengendap.3 Metode Pengukuran BOD 20 . 9. 11.0125 M sampai warna kuning muda. Amati perubahan volume tiosulfat sebelum dan sesudah titrasi. Bila proses pengendapan sudah sempurna tambahkan 2 mL H2SO4 pekat. Botol digoyangkan dengan hati-hati sehingga semua endapan larut. Botol di tutup kembali dengan hati-hati untuk mencegah terperangkapnya udara dari luar. Masukkan air dari botol ke dalam 2 buah botol winkler sampai penuh lalu pastikan botol winkler tertutup rapat sehingga oksigen tidak masuk kedalamnya. sampai warna biru hilang sambil digoyang. 2. alirkan melalui dinding dalam leher botol. 3. 8. 10. Tambahkan 2 tetes amilum ke masing-masing tabung Erlenmeyer hingga berwarna biru. Melakukan pengambilan air sampel dengan mengikatkan botol pada kayu pengukur. Metode Pengukuran DO sampel air dimasukkan kedalam botol DO hingga penuh Tambahkan 2 mL MnSO4 menggunakan pipet ukur 2 ml Tambahkan 2 mL alkali iodide azida dengan pipet ukur 2 ml yang berbeda 4. Iodin yang dihasilkan dari reaksi tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0.9.2. Setelah larut masukkan larutan tadi ke dalam tabung Erlenmeyer masingmasing 50 ml.

2. Jumlah N2S2O3 yang diperlukan dalam percobaan 1. Menambahkan alkali iodida azida 2 ml ke dalam botol winkler 2 dengan pipet pengukur. 15. 4. Menambahkan larutan MnSO4 2 ml ker dalam botol winkler 2 dengan pipet pengukur. 3. 10. 9. 7. lalu membuang larutan berlebih dan dikocok agar endapan larut dengan sempurna. Melakukan titrasi dengan N2S2O3 sampai larutan menjadi jernih kembali. 21 . Memasukkan air sampel ke dalam ke 2 botol winkler sampai penuh dengan hati-hati. 13. 16. 12. Lalu diamkan selama 5-15 menit sampai terbentuk endapan sempurna. 8. Botol winkler yang kedua untuk pengukuran DO o. Setelah 5 hari lakukan langkah 4 – 14 pada botol winkler pertama yang telah dimasikkan dalam lemari inkubator untuk menghitung DO 5. 11. (percobaan dilakukan 3 kali) 14. Botol dengan ditutup segera dan hati-hati agar oksigen tidak terperangkap. Menambahkan 2 ml H2SO4 pekat kemudian menutup botol winkler dengan hati-hati.dan 3 dijumlahkan dan dihitung menjadi nilai rata-rata N2S2O3 yang diperlukan dalam titrasi . Titrasi deangan Larutan Natrium Tiosulfat hingga larutan berubah kuning muda. 1 botol winkler disimpan ke dalam lemari inkubator dengan suhu 20o C selama 5 hari. 6.2. Menambahkan amilum secukupnya hingga larutan berubah warna menjadi ungu pekat. Menghitung banyaknya N2S2O3 yang diperlukan untuk menitrasi larutan tersebut. Memasukkan 50 ml larutan tersebut ke dalam labu elemenyer.1. 5. Ulangi langkah 8 – 11 sebanyak 2 kali lagi.Nilai tersebut kemudian dimasukkan ke dalam rumus untuk menghitung DO. Nilai DO 0 dikurangi dengan nilai DO 5 untuk memperoleh nilai BOD air permukaan pada daerah pengambilan sampel. Membuang larutan yang berlebih lalu kocok merata selama 30 detik.

2 m 6 7 8 9 Warna air Suhu air PH air Jenis sampah 10 11 Lebar sungai / parit Lebar jembatan 22 .BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.00 WIB Sedang dalam keadaan surut Panas Parit di daerah Sepakat 2.13WIB – 11.7         Sampah plastik Sedotan Kulit pisang Botol plastik Daun-daun Cangkang telur Kulit kacang Kemasan minuman 6m 6.1. di depan Asrama      Mahasiswa SANTO BONAVENTURA 5 Rona lingkungan Di depan pemukiman penduduk Di sebelah kiri lokasi terdapat rumah makan Terdapat banyak sampah Terdapat banyak ikan kecil. Data Pengamatan LEMBAR PRAKTIKUM DATA PENGAMATAN Perlakuan dan pengamatan di lapangan Hari / tanggal : Rabu / 5 januari 2011 NO 1 2 3 4 Waktu Kondisi pasang surut Cuaca Tempat / lokasi PERLAKUAN PENGAMATAN Pukul 10. terdapat tumbuhan air Di depan sebelah kiri parit terdapat 1 buah pohon ketapang Coklat keruh 280C 6.

02 s LEMBAR PRAKTIKUM DATA PENGAMATAN Perlakuan dan pengamatan di laboraturium Hari / tanggal : Rabu / 5 januari 2011 Pengukuran DO0 NO 1 PERLAKUAN Memasukkan air sample ke botol winkler PENGAMATAN Gelembung udara sudah tidak ada karena isolasi yang dilakukan. Belum terjadi perubahan.52 s t5 : 42. namun volume air bertambah kurang Memasukkan 2 ml larutan 2 MnSO4 23 .30 s t3 : 40.12 Pengukuran kedalaman sungai Pita 1 : 68 cm 2 : 103 cm 3 : 100 cm 4 : 100 cm 5 : 94 cm 6 : 87 cm 7 : 76 cm 8 : 68 cm 9 : 63 cm 10 : 65 cm 11 : 56 cm 12 : 56 cm 13 : 54 cm 13 Pengukuran kecepatan s : 235 cm t1 : 42.99 s t2 : 50.24 s t4 : 42.

24 berubah menjadi .2 ml Tabung Erlenmeyer II. v masing tabung erlenmeyer. 8 Menambahkan amilum pekat ke masing-masing tabung    Tabung Erlenmeyer I : 2 tetes Tabung Erlenmeyer II : 2 tetes Tabung Erlenmeyer III : 3 tetes erlenmeyer yang sudah di titrasi hingga warna larutan tersebut biru.5 ml Tabung Erlenmeyer II. v Na2S2O3 0.0.3 ml III. v Na2S2O3 0. v Na2S2O3 0. Kotoran dalam air mulai mengendap.iodida .45 ml Tabung Erlenmeyer Na2S2O3 0.azida serta kemudian di kocok-kocok 4 Mengocok dengan cara botol   lebih 2 ml hingga keluar dari mulut botol winkler.22 M 3 Menambahkan 2 ml larutan alkali . masing-masing 50 ml 7 Mentitrasi dengan larutan Na2S2O3 (titrasi 1) pada masing-masing tabung erlenmeyer yang telah berisi larutan sample 50 ml tersebut hingga warna larutan sample berubah bening dari semula. Catat volume Na2S2O3 yang digunakan pada masing- Tabung Erlenmeyer I. membolak-balikkan kemudian Endapan mulai terlihat lebih jelas Warna air menjadi lebih bening dari sebelumnya mendiamkannya    selama 5-10 menit 5 Menambahkan 2 ml larutan H2SO4 pekat 6 Memasukkan ke dalam 3 buah tabung erlenmeyer    Endapan mulai mengendap sempurna Endapan terlihat berkurang karena endapan mulai larut Warna air menjadi kuning terang / bening Masih terdapat sisa air sample di botol winkler. 9 Mentitrasi tersebut kembali dengan larutan Na2S2O3   Tabung Erlenmeyer I.

  v Na2S2O3 0.25 ml Tabung Erlenmeyer Na2S2O3 0. 4 Mengocok dengan membolak   Endapan mulai terlihat lebih jelas Warna air menjadi lebih bening dari sebelumnya Endapan terlihat sempurna mengendap balikkan botol winkler kemudian mendiamkannya selama 10 menit. kemudian dikocok-kocok Kotoran dalam air secara perlahan mulai mengendap. botol winkler.3 ml DO0 = 5.82 III. dengan membolak-balikkan botol winkler. (sebelum 2 Menambahkan 2 ml larutan Volume air bertambah karena penambahan MnSO4 tersebut sehingga keluar dari mulut MnSO4 menggunakan pipet ukur. 5 Menambahkan 2 ml H2SO4 pekat 25 . 3 Menambahkan 2 ml larutan alkali – iodida – azida menggunakan pipet ukur. PENGAMATAN Air berwarna kuning keruh dan bersuhu lebih dingin dari sebelumnya diinkubasi).hingga warna biru menjadi hilang (titrasi 2). v 10 Diperoleh DO0 hasil pengukuran LEMBAR PRAKTIKUM DATA PENGAMATAN Perlakuan dan pengamatan di lapangan Hari / tanggal : Rabu / 12 januari 2011 Pengukuran DO5 NO 1 PERLAKUAN Mengambil air sample yang telah diinkubasi selama 5 hari pada suhu 200 C.

9 Diperoleh hasil pengukuran DO5 DO5 = 0 (nol) 26 . tabung larutannya tidak satupun yang menjadi Erlenmeyer berubah biru. Maka dari itu titrasi hanya dilakukan sekali saja.  6 Memasukkan ke dalam 3 botol Erlenmeyer masing-masing berisi 50 ml larutan sample yang telah ditambahkan H2SO4 tadi. v Menambahkan amilum pekat ke masing-masing erlenmeyer yang sudah di titrasi hingga warna larutan tabung    Tabung Erlenmeyer I : 2 tetes Tabung Erlenmeyer II : 2 tetes Tabung Erlenmeyer III : 2 tetes tersebut berubah menjadi biru. v berisi larutan sample 50 ml tersebut hingga warna larutan sample berubah bening dari semula.1 ml Tabung Erlenmeyer Na2S2O3 0.1 ml I. 8  III. Keterangan : Setelah ditambah amilum pekat ke dalam masing-masing tabung Erlenmeyer. Mentitrasi Na2S2O3 dengan (titrasi 1) larutan pada tabung Tabung Erlenmeyer Na2S2O3 0.1 ml Tabung Erlenmeyer Na2S2O3 0. 7  Endapan berkurang karena telah larut dengan sempurna warna air menjadi lebih bening dari sebelumnya Masih terdapat sisa larutan sample pada botol winkler. v masing-masing erlenmeyer yang telah  II.

32 sekon t5 : 42.2.68 m titik 0.65 m titik 5.5 m : 65 = 0.Kedalaman : Kedalaman dihitung setiap 0.87 m titik 3.30 sekon t3: 40.5 m : 68 = 0.56 m titik 5.5 meter sbb titik 0 : 68 cm = 0. 02 sekon . Kecepatan rata-rata.99  50.5 m : 103 cm = 1.0 m : 76 = 0.68 m titik 4.2.99 sekon t2: 50.35 m.03 m titik 1 m : 100 = 1 m titik 1.5 m : 87 = 0. Perhitungan .0 m : 56 = 0.0 m : 54 = 0.0 m : 94 = 0.56 m titik 6.5 m :100 = 1 m titik 2.Kecepatan Aliran : diamati dengan 5 kali pengulangan dengan menggunakan stopwatch.5 m : 56 = 0. dengan panjang lintasan sample 2.614 sekon 5 27 . diperoleh data sbb: t1 : 42.54 m 4.02 = 43.24 sekon t4: 42.63 m titik 4.1 Perhitungan Data Praktikum Sampling Dari pengamatan diperoleh perhitungan sbb: a. Waktu rata-rata (t) = 42.24  42.0 m : 63 = 0.76 m titik 3.Lebar Sungai : 6 m .52  42.94 m titik 2.4.30  40.

35 = 0.56) x 0. Luas I = ½ x (0.0539 = 0. 0539 m/s 43.5 = ½ x (0.5 = ½ x (1+1) x 0.645 x 0.5 = ½ x (0.Debit air Debit air (Q) = A · v = 4.4275 m2 = 0.5 = ½ x (0.5075 m2 = 0.76) x 0.68) x 0.2 Pehitungan Data Praktikum Penentuan DO dan BOD Melalui praktikum pengukuran DO0 diperoleh hasil. sehingga diperoleh perhitungan data sbb : 1) Erlenmeyer 1 : jumlah tiosulfat pada titrasi I II : 0.5 = ½ x (0.56+0.485 m2 = 0. Luas XI 12.5 = ½ x (0.5 = ½ x (0.94+0.2503655 m3/s 4.4075 m2 = 0. 45 mL : 0.56+0.614 .68 + 1.32 m2 = 0.5 = ½ x (0. 2 mL + 0.03 + 1) x 0.87) x 0.3275 m2 = 0.4525 m2 = 0. Luas VI 7. Luas III 4.65+0.5 = ½ x (0.3025 m2 = 0. Luas XII = ½ x (1.03) x 0. 7 mL 2) Erlenmeyer 2 : jumlah tiosulfat pada titrasi I II : 0.94) x 0.5 m2 = 0. Luas IX 10.36 m2 = 0.28 m2 = 0.56) x 0. Luas X 11.Luas Penampang = 1. Luas VII 8.5 2.2.5 = 0.275 m2 + = 4. Luas VIII 9. Luas IV 5.54) x 0.645 m2 ∑ Luas penampang .63) x 0.65) x 0. Setiap langkah kerja telah dilaksanakan.87+0.63+0.76+0.5 mL : 0. 25 mL + 28 .68 + 0. Luas II 3. Luas V 6. kemudian sampailah pada langkah titrasi dengan tiosulfat.Kecepatan rata rata (v) = jarak/waktu rata-rata= 2.5 = ½ x (1+0.

3 mL + 0.82 ppm 29 .3 mL : 0.67 x0.82 – 0 = 5. 70 mL 3) Erlenmeyer 3 : jumlah tiosulfat pada titrasi I II : 0.4571272 ppm BOD = DO0 – DO5 = 5. 6 mL 4)  Volume rata-rata tiosulfat : hasil pengukuran DO0 Hasil perhitungan berdasarkan jumlah tiosulfat yang digunakan pada saat titrasi.0.05x8 = 5. sehingga diperoleh hasil DO5 sebagai berikut : DO5 = 0 BP = Q.2503655 x 5.82 mgO2/L (ppm) 50  4  Hasil Pengukuran DO5 dan BOD Setiap langkah kerja dapat dilaksanakan dengan baik.C = 0. sebagai berikut: Perhitungan DO0 : x volume rata-rata tiosulfat x konsentrasi tiosulfat x 8 mg O2/L Keterangan : O T/DO = Oksigen terlarut (mgO2/L) Hasil pengukuran DO0 adalah : DO0 : 1000 x0.82 = 1.

3. Nilai tersebut masih tergolong normal dibandingkan dengan suhu rata-rata udara setahun.0539 m/s dan debit airnya 0. 4.4 Kekeruhan/Warna Kondisi air di Parit Sepakat 2 berwarna kecoklatan dan keruh . Hal ini dipengaruhi oleh cuaca. dilakukan analisa tingkat pencemaran yang terjadi di aliran Parit Sepakat 2. lingkungan. 4.3.2 Kecepatan dan Debit Kecepatan aliran air Parit Sepakat 2 yang didapat adalah 0. Kekeruhan tersebut dapat disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi. Mikroorganisme memanfaatkan bahan organic tersebut untuk melakukan proses oksidasi dan dihasilkan energi. dapat disebabkan karena limbah-limbah buangan baik dari pemukiman maupun perindustrian yang terdapat di sekitar lokasi. Hal ini dapat dilihat dari tingkat kecerahan dari air sungai tersebut. Pembahasan Dari hasil penelitian yang dilakukan. Limbah-limbah terutama Sampah organik menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme. sedangkan yang organic 30 . Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti sampah-sampah organic dan anorganik serta pendangkalan parit akibat dari aktivitas warga di sekitar parit yang dapat menghalangi kecepatan arus. Kecepatan dan debitnya tergolong sedang-lambat.7 dan air bersifat agak asam.3. Nilai pH yang berbeda dari pH air netral.4.3 Suhu/ Temperatur Suhu air Parit Sepakat 2 yang diperoleh adalah 28 oC. 4. baik yang bersifat organic maupun anorganik.3.2503 m3/s. Lalu sisanya asam karbonat dibuang ke air tersebut. Hubungan parameter-parameter tersebut dengan pencemaran yang terjadi di aliran Parit sepakat 2 antara lain: 4.3. Zat anorganic.1 Keasaman (pH) Dari hasil pengamatan diperoleh pH 6. Sehingga membuat air parit menjadi lebih asam yang menyebabkan PH akan lebih rendah. Tingkat pencemaran berlangsung. yang bernilai 7. biasanya berasal dari lapukan batuan dan logam. dan suhu sekitar pada saat pengambilan sampel yang berada pada keadaan normal.

Selanjutnya masukkan larutan alkali iodida azida adalah bahan yang digunakan untuk membuat suasana larutan menjadi ioda.82 ppm yang berada di bawah nilai standar air yang sehat yaitu >6 ppm sehingga kurang baik untuk penggunaan seharihari dan air minum.3.3.82 ppm yang sama dengan nilai DO awal.3. Selanjutnya botol DO ditutup dan dihomogenkan dengan cara dibolak – balik.3. 4.7. karena mikroba terlindung oleh zat tersuspensi tersebut. Pertama tutup botol DO dibuka dan diteteskan MnSO4 sebanyak 2 ml yang bertujuan mengikat endapan coklat dan digunakan untuk mengikat O2. Tutup Botol dan goyangkan. Tingkat kekeruhan ini jika digambarkan dengan warna maka warnanya adalah kecoklatcoklatan. Selanjutnya ditambahkan larutan H2SO4 sebanyak 2 ml yang berfungsi untuk pengenceran endapan coklat dan 31 . angka DOo tidak mutlak menunjukkan kualitas air yang sebenarnya. Hasil BOD yang diperoleh adalah 5.berasal dari lapukan tanaman dan hewan. Ini diindikasikan karena titrasi yang agak berlebihan dan perubahan penetapan konsentrasi larutan natrium tiosulfat. bakteri juga merupakan zat organic teersuspensi. sehingga pertambahannya akan menambah pula kekeruhan air. bila botol telah penuh selanjutnya dilakukan pengujian dengan larutan – larutan kimia. Buangan industri dapat juga menjadi sumber kekeruhan.5 Kelarutan oksigen (DO) Dari hasil praktikum diperoleh kadar DO0 5. Zat organic dapat menjadi makanan bakteri sehingga mendukung perkembangbiakan.7 Pembahasan Spesifik 4. Air yang keruh sulit untuk didesinfeksi. 4.1 Cara Kerja Pada saat praktikum ekologi perairan dilakukan pengukuran DO. Hal ini menunjukkan aktivitas mikroorganisme dalam menggunakan oksigen dalam mengurai bahan organik yang ada dalam air tersebut. masukkan air ke dalam Botol winkler.6 Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Terjadi penurunan nilai DO yang menunjukkan adanya selisih sehingga dapat diketahui nilai BOD. 4. Pertama siapkan alat dan bahan yang digunakan yaitu. Tetapi. Hal ini berarti seluruh oksigen di air habis digunakan untuk aktivitas mikroorganisme air. Setelah itu di tunggu sampai pemisahan oksigen yang menyatu dengan endapan coklat.

Amati perubahan volume tiosulfat sebelum dan sesudah titrasi. o Natrium tjiosulfat (Na S2 O3) adalah bahan yang digunakan untuk mengganti I2 yang telah habis / ion-ion yang telah berikatan setara dengan O2 yang telah dilepas air sample. Waktu Pengambilan Sampel Kami melakukan pengambilan sampel pada pukul 10. Selisih antara volume sebelum dan sesudah titrasi adalah jumlah tiosulfat yang digunakan.13-11.00 WIB. Masukkan air sampel ke dalam 3 tabung Erlenmeyer masingmasing 50 ml. jumlah oksigen terlarut yang terdapat dalam air di parit sepakat 2 semakin bertambah banyak. Pada siang hari. lalu di homogenkan.2 Fungsi Zat Kimia pada pengukuran DO o Aquadest adalah bahan yang digunakan untuk membersihkan membran refrakltometer.3. ketika tumbuhan air melakukan proses fotosintesis. 32 . Terakhir dititrasi dengan larutan Nathiosulfat hingga berubah warna menjadi bening.7.pengondisian asam. Terakhir dicatat volume titrasi dan hitung DO dengan rumus : 4. Bila air sample berubah menjadi warna biru maka air memliki kandungan oksigen. o Larutan MnSO4 adalah bahan yang digunakan untuk mengikat O2. lalu titrasi dengan tiosulfat hingga berubah warna menjadi berwarna kuning muda.7. o Laarutan alkali iodida azida adalah bahan yang digunakan untuk membuat suasana larutan menjadi ioda o Larutan H2SO4 adalah bahan yang digunakan untuk menghancurkan endapan (melarutkan ikatan Mn dengan O2). Tambahkan amylum 2 -3 tetes yang berfungsi untuk indikator warna biru dan pengondisian basa. Sebagai Bahan titrasi dan mengikat I2 untuk membentuk 2NaI 4. Natrium tiosulfat (N2 S2 O3) adalah bahan yang digunakan untuk mengganti I2 yang telah habis / ion-ion yang telah berikatan setara dengan O2 yang telah dilepas air sample.3. o Amilum sebagai indikator warna saat titrasi.3 Hubungan Kondisi Lapangan dengan pengukuran dan a.

tumbuhan hijau melakukan fotosintesis untuk menghasilkan oksigen dan bahan organik. agak keruh. c. dan yang paling keruh. 2000). Kedalaman Sungai Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan. kita dapat mengetahui sampai dimana masih ada kemungkinan terdapatnya oksigen untuk proses asimilasi dalam air. 33 . seperti lumpur dan sebagainya. lapisan-lapisan manakah yang tidak keruh. yang akan dimanfaatkan oleh hewan yang lebih tinggi tingkatannya dalam rantai makanan (Ghosal et al. sampah organik. Limbah tersebut berupa limbah cair. semakin laju air yang mengalir sehingga mengakibatkan semakin meningkatnya proses difusi oksigen dari udara sehingga jumlah oksigen didalam air bertambah. Kedalaman air mempengaruhi kecepatan aliran air. organik tcrlarut dan yang paling besar disebabkan oleh densitas plankton (Hargreaves. 1999). kedalaman Parit Sepakat 2 bervariasi.1990). Cuaca Panas (cerah) Cahaya matahari mempunyai peranan yang sangat besar terhadap kualitas air secara keseluruhan.b. karena dapat mempengaruhi reaksi-reaksi yang terjadi dalam air. Sehingga kita dapat menentukan baik buruknya kualitas air tersebut. Semaakin dangkal suatu kedalaman air maka. Pada air murni kira-kira 53% dari cahaya yang masuk akan ditransformasi ke dalam bentuk panas dan selanjutnya akan padam pada kedalaman kurang dari satu meter (Boyd. Dengan mengetahui kecerahan suatu perairan. Turbiditas dan warna air disebabkan oleh koloid dari partikelpertikel lumpur. Kekeruhan air dipengaruhi oleh benda-benda halus yang disuspensikan. Sebagai produsen primer. Semakin banyak jumlah bahan organik yang diuraikan maka semakin banyak pula kebutuhan oksigen yang diperlukan. Di daerah pemukiman penduduk Parit sepakat 2 terletak disekitar pemukiman penduduk tepatnya di dekat rumah makan. yang paling terdalam yaitu 103 cm. sehingga banyak ditemukan limbah rumah tangga yang terdapat disekitar parit. adanya jasad renik (plankton). dan anorganik. d. Turbiditas (kekeruhan) akan menurunkan kemampuan air untuk meneruskan cahaya kedalamnya. Kemampuan cahaya matahari untuk menembus sampai kedasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan (turbidity) air.Cahaya matahari sangat diperlukan oleh tumbuhan air sebagai sumber energi untuk melakukan fotosintesis. Jumlah oksigen yang diperlukan bakteri dalam penguraian bahan organik didalam air tergantung dari konsentrasi dan banyaknya bahan organik yang terdapat dalam air. Sehingga pada waktu air sampel di inkubasi selama 5 hari oksigen terlarut yang terdapat dalam air semakin habis berkurang bahkan habis. Di dalam limbah tersebut banyak mengandung bakteri. virus dan protozoa. dan warna air.

3. Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme. Suhu 28 oC merupakan kategori suhu yang optimal untuk kehidupan organisme di perairan tropis termasuk ikan. Suhu normal perairan tropis berkisar antara 20-30 oC. Suhu air dapat mempengaruhi kehidupan biota air secara tidak langsung. pH air di parit sepakat 2 adalah 6. Perubahan pH ini merupakan efek langsung dari fotosintesis yang menggunakan CO2 selama proses tersebut. CO2 banyak terpakai dalam proses tersebut. suhu air diparit sepakat 2 yaitu 28 oC.7. Plankton yang mengandung klorofil dan mampu melakukan fotosintesis disebut fitoplankton. sehingga oksigen yang terdapat dalam air tersebut semakin bertambah. Ketika fotosintesis terjadi pada siang hari. maka semakin meningkat pula aktivitas fotosintesis tumbuhan air yang akan menghasilkan jumlah oksigen yang lebih banyak. h. Semakin tinggi suhu air maka semakin rendah daya larut oksigen didalam air begitu juga sebaliknya.e. f. karena itu penyebaran organisme didalam air parit sepakat 2 dibatasi oleh suhu air tersebut. jika semakin tinggi suhu air maka semakin tinggi kebutuhan oksigen biologis yang diperlukan untuk bakteri melakukan oksidasi semakin bertambah. Hasil fotosintesis Fitoplankton tersebut berupa udara untuk kebutuhan oksigen biota air (oksigen terlarut). DO 34 . Namun. yaitu melalui pengaruhnya terhadap kelarutan oksigen dalam air. Kekeruhan tersebut disebabkan oleh mikroorganisme yaitu jasad-jasad renik (plankton) yang melayang-layang dalam air dan selalu mengikuti gerak air. Semakin banyak jumlah fitoplankton didalam air maka semakin tinggi jumlah oksigen yang dihasilkan maka semakin tinggi pula nilai DO yang diperoleh. Suhu air Berdasarkan hasil penelitian yang telah kami lakukan.7. Semakin banyak CO2 yang dihasilkan dari proses respirasi organisme. di dalam parit sepakat 2 terdapat ikan-ikan kecil dan tumbuhan air. Warna air Pada saat pengambilan sampel. Biota air Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan. air disepakat 2 berwarna coklat keruh. pH air Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan. 4. g.4 Indikasi dari Hasil yang Didapatkan a. Tumbuhan tersebut mengalami proses fotosintesis pada siang hari.

b.3 = hanya sedikit jenis ikan yang dapat bertahan pada masa pemaparan singkat 0.2503655 x 5. 110/2003 tentang Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Pada Sumber Air.0 = hampir semua organisme akuatik menyukai kondisi ini Kami mendapatkan hasil DO = 5. BOD5 yang kami dapatkan adalah 5. 4. Maka kami menyimpulkan bahwa air yang kami uji kualitas DO-nya pada salah satu titik di parit Sepakat 2 masih berada pada kondisi normal. BOD Perairan alami memilki nilai BOD = 0.0 = pemaparan lama dapat mengakibatkan kematian ikan 1.0 – 5.7.82.0 ppm (Jeffries and Miles 1996). Melihat dari kutipan sumber di atas maka kami menyimpulkan bahwa titik yang kami ambil sampelnya tergolong normal pada perairan alami.3 – 1.3.5 Perbedaan Hasil dan 35 . Daya tampung beban cemaran adalah kemampuan air pada suatu sumber air.4571272 Maka kami menyimpulkan beban pencemaran pada titik yang kami ambil sample-nya tergolong normal.5 – 7. c. BP = Q x c = 0.82. untuk menerima masukan beban pencemaran tanpa mengakibatkan air tersebut menjadi cemar yang dapat dicari dengan jumlah kadar cemaran yang diijinkan keberadaannya sesuai baku mutu lingkungan dikurangi dengan kadar cemaran terukur.0 = ikan dapat bertahan hidup akan tetapi pertumbuhannya terganggu >5. Beban Pencemaran Kepmen LH No.82 = 1.Dari data yang kami dapat yaitu: <0.

Hal ini disebabkan adanya makhluk hidup seperti ikan dan tanaman air di parit sepakat 2. pada saat pengambilan sample. setelah air sample di inkubasi selama 5 hari dalam suhu 20’ celcius oksigen sudah habis terpakai oleh mikroorganisme dalam air untuk memecah (mendegradasi) bahan buangan organic yang ada dalam air menjadi karbondioksida dan air. 4. 2000. Selain itu. 36 . Menurut Salmin. Hal ini juga menyebabkan jumlah oksigen di dalam air meningkat.3. Akibatnya bagian yang sering dipakai untuk aktivitas tersebut memiliki (tepi parit) lebih dalam dibandingkan dengan bagian tengah parit. dijelaskan bahwa oksigen dalam suatu perairan berasal dari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut. Karena aktivitas warga tadi membuat lumpur yang berada di parit tersebut berkumpul di tengah parit dan di pinggir parit yang lain. kondisi parit dalam keadaan pasang karena terjadi hujan pada hari sebelumnya yang menyebabkan debit air meningkat sehingga terjadi proses difusi air.8 Bentuk Penampang Parit Bentuk parit sepakat 2 tempat kelompok kami mengambil sampel memiliki bentuk yang berbeda dengan bentuk penampang parit pada umumnya. Ini dikarenakan adanya aktivitas warga untuk mencuci dan mandi pada bagian sisi parit.Hasil perhitungan DO0 berbeda dengan DO5 disebabkan karena pada saat pengambilan sample air untuk perhitungan DO0 oksigen masih banyak terdapat di dalam air. Sedangkan pada saat perhitungan DO5.

37 . Para penduduk di sekitar aliran parit harus lebih memperhatikan dan menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah pada aliran air parit agar kualitas air tetap terjaga. Dari data hasil praktikum yang dilakukan kami menyimpulkan bahwa kondisi air pada salah satu titik parit di Sepakat 2 masih dalam kondisi normal atau tingkat pencemaran yang rendah. Dalam praktikum harus memahami konsep dan prosedur kerja agar kesalahan dalam pengukuran DO dan BOD dapat diminimalisir. 2. Dalam perairan oksigen berperan dalam proses oksidasi den reduksi bahan kimia menjadi senyawa yang lebih sederhana sebagai nutrien yang sangat dibutuhkan organisme perairan. maka kadar oksigen terlarutnya (DO) > 5 ppm dan kadar oksigen biokimianya (BOD) berkisar 0 . Suatu perairan yang tingkat pencemarannya rendah dan bisa dikatagorikan sebagai perairan yang baik.10 ppm.BAB V PENUTUP 5. Untuk mengetahui kualitas suatu perairan. 2. Prinsip penentuannya bisa dilakukan dengan cara titrasi iodometri atau langsung dengan alat DO meter. Oksigen sangat dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan dan proses metabolisme. 4.2 Saran 1. 3. Sumber utama oksigen diperairan berasal dari proses difusi udara bebas dan hasil proses fotosintesis. 5.1 Simpulan 1. parameter oksigen terlarut (DO) dan kebutuhan oksigen biokimia (BOD) memegang peranan penting.

Teknik Sampling Untuk Survey dan Eksperimen. Dampak Pencemaran Lingkungan.ac. Otto.eprints.ejournal. Ghufran H.usu.1995. Jakarta: CV Rajawali Soemarwoto.undip. Jakarta: Rineka Cipta www.repository.Edisi II. 2001.1994.Lipi. Betty Sri Laksmini dan Winiati Pudji Rahayu. Kordi K. Penanganan Limbah Industri Pangan. Chay.elearning. 2000.id diunduh tanggal 12 Januari 2011 38 . Atur Diri Sendiri Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup Pembangunan Ramah Lingkungan: Gadjah Mada University Press Sumestri.Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS Chandra. Jakarta : UI Press Supranto.id diunduh tanggal 10 Januari 2011 www. Jakarta : UI Press Suripin.upnjatim.ac.ac.2001.1997.Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Andi Baso dan M. Tancung. Metode riset dan Aplikasinya dalam Pemasaran. Budiman. Metoda Penelitian Air. Pengelolaan Kulaitas Air dalam Budi Daya Perairan.Yogyakarta:Andi.go.Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air.Pengantar Kesehatan Lingkungan.Surabaya : Usaha Nasional Supranto.2007.gunadarma. Jakarta:EGC Wardhana. UN.id diunduh tanggal 11 Januari 2011 www. 1986.unud. 2007.peni.staff. Wisnu Arya.clib.id diunduh tanggal 12 Januari 2011 www. Yogyakarta: Andi Jenie. 2000.DAFTAR PUSTAKA Asdak.id diunduh tanggal 12 Januari 2011 www. 1993.ac.Jakarta: Penerbit Djambatan Soemarwoto. Otto.pdii.ac.Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri.2004. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Mahida.id diunduh tanggal 10 Januari 2011 www. Sri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful