P. 1
Artikel Orientasi Supervsi Kelas

Artikel Orientasi Supervsi Kelas

|Views: 95|Likes:
Published by hartoyoame
Beberapa alternatif melakukan supervisi secara profesional
Beberapa alternatif melakukan supervisi secara profesional

More info:

Published by: hartoyoame on Mar 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2012

pdf

text

original

ORIENTASI PENDEKATAN SUPERVISI Sebagai Upaya Mereduksi Kendala dan Sikap Guru Terhadap Supervisi Kelas Hartoyo

Kepala SMP Negeri 3 Porong Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Malang

Abstract: Classroom Supervision Approach Orientation. Classroom supervision remains many problems at education today. The headmaster and the school superintendant still use conventional approach when founding for the teachers in the classroom. As snoopervisor they conduct inspections in the classroom. The effect, of course the teachers feel upset, discouraged and uncomfortable at learning process. It’s offering some classroom supervision approaches should be selection the suitable one. Keywords: superintendant, snoopervisor, approach.

Supervision is service activity that exists to help teachers do their job better. (Wiles,1955 dalam Imron,A, 1995:10, Indrafachrudi,2006:87) definisi di atas dijelaskan bahwa supervisi merupakan serangkaian bantuan yang berwujud layanan profesional yang diberikan oleh orang yang lebih ahli (Kepala Sekolah, Penilik Sekolah, Pengawas dan ahli lainnya) kepada guru agar dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar sehingga tujuan pendidikan yang direncanakan dapat tercapai. Sergiovani and Starrat dalam Mulyasa, (2005:111) mendefinisikan “Supervision is a process designed to help teacher and supervisor learn more about their practice; to better able to use their knowledge and skills; to better serve parents and schools and to make the school more effective learning community”. Kutipan di atas menunjukkan bahwa supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu guru dan supervisor dalam mempelajari tugas sehari-hari di sekolah, agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada orang tua dan sekolah, serta berupaya menjadikan sekolah sebagai masyarakat pembelajar yang efektif. Chan,MS dan Sam,TT (2005:82) menyatakan: ”Kepala Sekolah dalam menjalankan fungsinya sebagai supervisor dituntut dari dirinya suatu kompetensi yang memungkinkan dapat atau mampu meneliti, mencari dan menentukan syarat-syarat yang diperlukan bagi upaya mencapai kemajuan sekolahnya”. Pernyataan ini sangat beralasan bila kita merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah khususnya pada Dimensi Kompetensi Supervisi yang didalamnya terdapat tiga kompetensi yang disyaratkan yaitu: (1) Merencanakan Program Supervisi Akademik dalam rangka peningkatan
1

profesionalitas guru, (2) Melaksanakan Supervisi Akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat, (3) Menindaklanjuti hasil Supervisi Akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalitas guru. Kecenderungan tuntutan kompetensi supervisi kepala sekolah hanya pada supervisi akademis yang terkait dengan proses pembelajaran di kelas. Permendiknas Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah, terdapat dua Dimensi Kompetensi Supervisi yaitu Kompetensi Supervisi Manajerial dan Kompetensi Supervisi Akademis. Pada Dimensi Kompetensi Supervisi Manajerial seorang pengawas diharapkan memiliki delapan Kompetensi yaitu (1) Menguasai metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, (2) Menyusun program kepengawasan berdasarkan visi-misi-tujuan dan program pendidikan di sekolah, (3) Menyusun metode kerja dan instrumen yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi pengawasan di sekolah, (4) Menyusun laporan hasil-hasil pengawasan dan menindaklanjutinya untuk perbaikan program pengawasan berikutnya di sekolah, (5) Membina kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah, (6) Membina kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah, (7) Mendorong guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya di sekolah, (8) Memantau pelaksanaan standar nasional pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah dalam mempersiapkan akreditasi sekolah. Pada Dimensi Kompetensi Supervisi Akademis, diharapkan juga memiliki delapan kompetensi yaitu: (1) Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di sekolah, (2) Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di sekolah, (3) Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di sekolah berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan prinsipprinsip pengembangan KTSP, (4) Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa melalui bidang pengembangan atau mata pelajaran di sekolah, (5) Membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di sekolah, (6) Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium, dan/atau di lapangan) untuk mengembangkan
2

potensi siswa pada tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di sekolah, (7) Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di sekolah, (8) Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran/ bimbingan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran di sekolah. Kompetensi yang diharapkan baik dari sisi seorang kepala sekolah maupun seorang pengawas sekolah sangatlah ideal, bila hal tersebut dapat diaplikasikan di sekolah mutu pembelajaran dan pendidikan tentunya terjamin akan meningkat. Kenyataan yang terjadi dan masih laten seperti ungkapan Glickman, 2004:6, bahwa “From the 17th. to the late 19th. century, supervision took the form of committees of lay persons conducting inspections of schools, teachers, and students learning”. (Cooper,1982). Pada saat itu supervisi dilakukan sebagai inspeksi sekolah terhadap guru dan siswa, didalam buku Orientation to Supervision supervisor semacam itu biasa disebut sebagai “Snoopervisor”, dimana supervisor melakukan pengamatan terhadap guru dan siswa untuk mencari kekurangankekurangan guru didalam membelajarkan siswa. Begitu juga ungkapan Daresh CJ, (1989:8), Mantja,W (2000:18), Sahertian,AP, (2000:16), Muslim,SB (2009:37), cara-cara seperti itu diistilahkan sebagai “Snoopervision” yaitu pekerjaan inspeksi. Gwynn,1961 dalam Imron,A, (1995:11) menjelaskan pengertian supervisi yaitu: “ Supervision originated as inspection of school”. Pengertian inspection dalam hal ini adalah mencari-cari kesalahan, mengkritisi atau memperingatkan dengan tujuan untuk memperbaiki. Cara ini terjadi dalam historis sebelum diterapkannya model supervsi tradisional. Lebih lanjut dijelaskan bahwa konsep seperti ini tidak baik menyebabkan guru-guru menjadi takut dan mereka bekerja tidak dengan lebih baik karena selalu takut dipersalahkan. Topik Pembahasan Kajian ini memaparkan tentang: (1) Kendala-kendala dalam melaksanakan supervisi kelas, (2) Sikap guru didalam terhadap pelaksanaan supervisi kelas, (3) Kiat-kiat untuk mereduksi kendala-kendala dalam melaksanakan supervisi kelas, (4) Pendekatan-pendekatan supervisi kelas yang lebih edukatif.

Tujuan Penulisan Makalah Penulisan makalah tentang kendala dan sikap guru terhadap supervisi bertujuan untuk: (1) Menambah khasana bahan kajian dan pengetahuan tambahan sebagai upaya didalam meningkatkan profesionalitas Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah terkait dengan
3

melaksanakan supervisi kelas. (2) Makalah ini dapat dijadikan literasi berkenaan dengan kendala-kendalah dan sikap guru terhadap supervisi dan kiat-kiat mereduksi permasalahan tersebut. Teks Utama Seperti yang telah dijelaskan dalam topik pembahasan di atas bahwa makalah ini mengkaji tentang kendala-kendala dalam melaksanakan supervisi kelas, sikap guru terhadap supervisi kelas berserta kiat-kiat untuk mereduksi kendala-kendala tersebut, dan

memperkenalkan pendekatan-pendekatan supervisi yang lebih baik dipaparkan dan diulas sebagai berikut: Kendala-kendala dalam melaksanakan supervisi kelas Beeby, (1979) dalam Mantja,W. (2000:45) menyebutkan empat kendala tentang pelaksanaan supervisi di Indonesia diantaranya: (1) Kurangnya pemahaman supervisor, sehingga pelaksanaannya tidak lebih dari suatu kegiatan administrasi rutin, (2) Kurang lancarnya komunikasi dan transportasi akibat kondisi geografis, (3) Sistem birokrasi terbaginya loyalitas supervisi sebagai dampak dualisme pengelolaan di sekolah dasar, dan (4) Sikap guru serta supervisor terhadap pembaruan pendidikan. Poin satu dan empat menjadi fokus dalam kajian ini. Senada dengan Beeby, Semiawan (1985) dalam Imron,A (1995) mengemukakan beberapa hambatan dalam supervisi sekolah antara lain: (1) Pembinaan yang masih menekankan aspek administratif dan mengabaikan sikap profesional, (2) Tatap muka antara pembina dan guru sangat sedikit atau terbatas, (3) Pembina banyak yang sudah lama tidak mengajar, sehingga banyak dibutuhkan bekal tambahan agar dapat mengikuti perkembangan baru, (4) Pada umumnya masih menggunakan jalur searah, dari atas ke bawah, (5) Potensi guru sebagai pembina kurang dimanfaatkan. Berdasarkan hasil evaluasi Badan Pengawas Peningkatan Pendidikan dan Kebudayaan (BP3K) (1983) dalam Mantja,W (2000:45) tentang kendala-kendala pelaksanaan supervisi di Indonesia diantaranya: (1) Pelaksanaan supervisi yang cenderung kesegi administrasi, (2) Kurang jelasnya perbedaan fungsi administrasi dan supervisi dari pedoman yang ada sehingga kepala sekolah tidak dapat melakukan tugas masing-masing fungsinya dengan baik, (3) Kurangnya kinerja guru yang dikaitkan dengan keefektifaan supervisi, (4) Kurangnya sarana yang diperlukan untuk menunjang kegiatan supervisi dan melakukan pembaharuan kurikulum.

4

Depdikbud (1986) dalam Mantja,W (2000:45) dan Imron,A (1995:11) mencatat indikasi pelaksanaan supervisi yang perlu diperbaiki yaitu: (1) Sistem pembinaan yang kurang memadai, hal ini terjadi karena pembinaan hanya menekankan pada aspek administratif dari pada aspek profesional; (a) kurangnya tatap muka antara pembina dan guru; (b) terbatasnya pengetahuan para pembina tentang perkembangan baru dari berbagai mata pelajaran; (c) pembina masih menggunakan jalur tunggal dan searah dari atas kebawah dan (d) potensi guru yang mampu menjadi pembina rekan (pembina sebaya) kepada guru lain kurang dimanfaatkan. (2) Sikap mental yang kurang menunjang, antara lain (a) hubungan emosional yang kaku dan kurang akrab antara atasan dan bawahan atau sikap otoriter pembina tertentu sehingga guru kurang terbuka terhadap pembina; (b) pembina dan guru beranggapan dirinya sudah cukup pengalaman sehingga tidak perlu belajar lagi; (c) pembina dan guru tertentu terlalu cepat merasa puas atas hasil belajar dan berfikir bahwa dengan cara itu sebagian besar siswa juga akan naik kelas, lulus ujian dan guru-guru mereka terdahulu juga cara mengajarnya sama seperti itu; (d) guru selalu dibayangi rasa takut kalau tidak dapat mencapai target kurikulum pada akhir semester sehingga mereka berceramah agar bahan pelajarannya segera dapat diselesaikan; (e) guru kurang bersemangat untuk menerapkan hasil pelatihan karena guru lainnya tidak melakukannya; (f) guru takut mencoba hal-hal yang baru dan merasa lebih nyaman mengajar dengan cara-cara lama; (g) sebagian guru berfikir masa bodoh terhadap kegiatan profesional dan lebih berfikir tentang kesejahteraan. (3) Kurang terkoordinasinya kegiatan pembinaan berbagai pihak yang berwenang di lapangan.

Sikap guru terhadap pelaksanaan supervisi kelas Penerapan supervisi kelas yang kurang edukatif menyebabkan timbulnya gejala-gejala sikap guru yang kurang akomodatif misalnya: hasil analisis Chan dan Sam (2005:87) menemukenali bahwa Kepala Sekolah seringkali lebih banyak berperan sebagai pimpinan atau penguasa tunggal di sekolah. Pada kondisi yang demikian itu, tindakan supervisi baik oleh kepala sekolah maupun pengawas sekolah sama artinya dengan tindakan mencari-cari kesalahan atau kekurangan bawahannya. Supervisi dalam hal ini merupakan ajang untuk melakukan penekanan-penekanan. Dalam situasi seperti itu, suasana yang muncul adalah suasana ketakutan, seperti takut berbuat kesalahan, takut dimarahi, takut keliru, takut tidak menentu atau takut yang tidak beralasan. Imron,A, (1995:11) menambahkan bahwa pembinaan guru atau supervisi dengan model lama (inspeksi) bisa menjadikan penyebab (1) Guru merasa takut, (2) Tidak bebas dalam

5

melaksanakan tugas, dan (3) Merasa terancam keamannya bila bertemu dengan supervisor. Hal ini tidak memberi dorongan bagi kemajuan guru. Senada dengan Imron, Depdikbud (1986) mengetengahkan beberapa sikap guru terhadap supervisi kelas antara lain: (1) Guru kurang terbuka terhadap pembina karena sikap otoritas pembina, (2) Guru beranggapan dirinya sudah cukup pengalaman sehingga tidak perlu belajar lagi, (3) Guru tertentu terlalu cepat merasa puas atas hasil belajar dan berfikir bahwa dengan cara itu sebagian besar siswa juga akan naik kelas, lulus ujian, (4) Guru-guru mereka terdahulu juga cara mengajarnya sama seperti itu, (5) Guru selalu dibayangi rasa takut kalau tidak dapat mencapai target kurikulum pada akhir semester sehingga mereka berceramah agar bahan pelajarannya segera dapat diselesaikan, (6) Guru kurang bersemangat untuk menerapkan hasil pelatihan karena guru lainnya tidak melakukannya, (7) Guru takut mencoba hal-hal yang baru dan merasa lebih nyaman mengajar dengan cara-cara lama, (8) Sebagian guru berfikir masa bodoh terhadap kegiatan profesional dan lebih berfikir tentang kesejahteraan. Paparan di atas menunjukkan bahwa fungsi supervisi di kelas belum dilaksanakan secara proporsional, hal ini dikarenakan keterbatasan supervisor didalam memahami perubahan paradigma pembelajaran dan pendekatan supervisi yang lebih baik sesuai dengan perubahan paradigma pembelajaran.

Kiat-kiat mereduksi kendala dalam melaksanakan supervisi kelas Agar kendala-kendala dalam melaksanakan supervisi sekolah tereduksi perlu dilakukan prinsip-prinsip supervisi sebagai berikut: (1) Supervisi bersifat ilmiah yaitu dilaksanakan secara sistematis, obyektif dan menggunakan instrumen. (2) Kooperatif, terdapat kerjasama yang baik antara pembina dan guru, (3) Konstruktif, didalam melakukan pembinaan hendaknya mengarah kepada perbaikan, (4) Realistik, sesuai dengan keadaan, (5) Progresif, terjadi peningkatan secara bertahap, (6) Inovatif, melakukan pembaruan dan berusaha menemukan hal-hal yang baru dalam pembinaan, (7) Kondusif, memberikan perasaan aman bagi guru, (8) Self evaluation, memberikan kesempatan kepada pembina dan guru untuk mengevaluasi diri sendiri dan menemukan cara yang tepat untuk mengatasi permasalahannya. Djajadisastra (1976), Tahalele (1979) dalam Imron,A (1995:14). Indrafachrudi,S.(2006:90), memberikan enam statements agar supervisi dapat dilaksanakan dengan baik yakni: (1) Demokratis dan kooperatif, yaitu memberi kesempatan kepada guru untuk melahirkan pikiran, perasaan, dan pendapat mereka dan keputusan diambil melalui jalan musyawarah. Karena tujuan yang akan dicapai adalah tujuan mereka bersama. (2) Kreatif dan Konstruktif, yaitu memberi dorongan kepada guru untuk mengembangkan
6

keterampilannya secara optimal dan memperbaiki apa yang dianggap masih kurang, (3) Scientific dan efektif, berusaha membantu guru untuk melaksanakan pembelajaran yang tepat sasaran sesuai dengan tujuan yang direncanakan, mendengarkan masalah dengan penuh perhatian, mengumpulkan data, mengolah dan menarik kesimpulan serta mengambil suatu keputusan. (4) Memberi perasaan aman kepada guru, supervisi tidak untuk mencari-cari kesalahan tetapi membantu guru dalam meningkatkan kualitas pekerjaan agar tumbuh dan mampu meraih profesionalitas mereka. (5) Berdasarkan kenyataan, supervisi yang dilaksanakan berdasarkan realita yang terjadi selama proses pembelajaran nyata yang terdapat di sekolah. (6) Memberi kesempatan kepada supervisor dan guru untuk mengadakan self evaluation. Supervisor sebaiknya melaksanakan evaluasi diri terlebih dahulu agar dapat mengembangkan dan memperbaiki kekurangan-kekurangannya, dengan demikian maka supervisor akan mampu membantu para guru untuk melakukan penilaian diri serta membantu bagaimana cara mengatasi kelemahannya. Agar pembinaan guru dapat dilakukan dengan baik perlu dipedomani prinsip-prinsip dalam melakukan aktivitas supervisi sebagai berikut: (1) Dilakukan sesuai dengan kebutuhan guru, (2) Hubungan antara guru dengan pembina didasarkan atas kerabat kerja, (3) Pembinaan ditunjang sifat keteladanan dan terbuka,(4) Dilakukan secara terus menerus, (5) Dilakukan melalui berbagai wadah yang ada, (6) Diperlancar melalui peningkatan koordinasi dan sinkronisasi horizontal dan vertikal baik di tingkat pusat maupun daerah. Depdikbud, (1986) dalam Imron,A, (1995:14).

Beberapa pendekatan supervisi yang lebih edukatif Perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran yang berkaitan dengan keefektifan layanan supervisi, supervisor seharusnya mendorong guru agar berupaya melakukan peningkatan kemampuan personal dan profesionalnya. Supervisor diharapkan mampu menggiring perhatian guru dalam wawancara terhadap temuan spesifik dari observasi kelas agar guru mau melakukan perubahan dan perbaikan dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Keefektifan layanan supervisi di sekolah tidak terlepas dari tanggung jawab kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Keberhasilan melembagakan

(membudayakan) observasi kelas dan melakukan wawancara supervisi menunjukkan keprofesionalannya, hal ini diperlukan kemampuan membangun hubungan yang baik dengan seluruh staf sekolahnya. (Mark et all, 1981 dalam Mantja, W,2000:48). Kemampuan mengaktualisasi hubungan tersebut menunjukkan kemampuan pemimpin yang sejati, karena

7

mampu memaknakan supervisi sebagai kebutuhan guru. Stogdill dalam Bass, (1981) dalam Mantja,W, (2000:48). Berikut ini diperkenalkan beberapa pendekatan supervisi yang lebih edukatif antara lain: (a) Sergiovani, 1982, mengemukakan: “Supervision then has many faces three of which – the sciencetific, the artistic and the clinical”. Penulis sengaja hanya menyuplik satu dari tiga pendekatan ini, karena pendekatan klinis disarankan untuk dipergunakan untuk supervisi kelas dewasa ini. Ada 3 episode pembinaan guru dengan menggunakan pendekatan klinis ini. Pertama, episode pertemuan awal (pre conference), (2) episode observasi pembelajaran, dan (3) episode balikan. (Imron.A,1995:56). Dengan cara ini guru merasa siap ketika akan diamati di kelas, karena sebelumnya telah mengadakan pertemuan dengan supervisor. Setelah proses pengamatan di kelas, supervisor memberikan balikan kepada guru, agar guru mengetahui apa saja yang mestinya perlu perbaikan untuk ditindak lanjuti. http://www.tc.columbia.edu/lessonstudy/lessonstudy.html, diakses tanggal 10 November 2011. menggambarkan secara pintas bagaimana cara menggunakan pendekatan Lesson study (LS) yaitu: “ Working on these study lessons involves planning, teaching, observing, and critiquing the lessons. To provide focus and direction to this work, the teachers select an overarching goal and related research question that they want to explore. This research question then serves to guide their work on all the study lessons”.Terdapat empat langkah melaksanakan pendekatan ini yaitu: merencanakan, melakukan pembelajaran, melakukan observasi kelas dan memberikan kritikan (masukan). Pendekatan ini juga bagus karena sistematika pelaksanaannya runtut dari bagaimana guru merencanakan pembelajaran yang disusun bersama koleganya, kemudian perencanaan tersebut diterapkan di kelas dalam proses pembelajaran, dilakukan pengamatan selama proses pembelajaran, dan dilanjutkan dengan mendiskusikan hasil pengamatan, untuk perbaikan perencanaan selanjutnya. Selama proses kegiatan ini, guru selalu didampingi oleh seorang ahli pembelajaran sebagai konsultanya. DBE3 (2009:148) memberikan sinyalemen lima langkah pendampingan yang efektif. Pendampingan yang dimaksudkan adalah setelah pembina atau supervisor melakukan observasi kelas dilanjutkan dengan wawancara sebagai refleksi supervisi melalui pernyataan atau pertanyaan yang memunculkan jawaban-jawaban dari diri guru itu sendiri berdasarkan pengalaman selama proses supervisi dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Memberi penghargaan kepada guru, pernyataan yang disampaikan misalnya:“Saya sungguh-sungguh menghargai kreativitas anda yang menunjukkan...” (2) Peserta melakukan refleksi kritis dari diri sendiri, pertanyaan yang diungkapkan supervisor: “Menurut pendapat anda, apa isi terpenting dari pembelajaran tadi? Mengapa?” (3) Peserta melakukan sendiri perbaikan8

perbaikan, pertanyaan-pertanyaan yang diungkapkan supervisor:“Kalau anda melaksanakan lagi, apa yang akan anda ubah? Mengapa? Menurut anda apa yang akan meningkatkan hasil belajar siswa? Bagaimana untuk meningkatkan pengelolaan siswa?” (4) Pendamping memberikan usul, saran atau mendiskusikan hal-hal yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, pertanyaan supervisor:“Ada berapa siswa yang kurang terlibat dalam pembelajaran dan bagaimana supaya terlibat penuh?” (5) Mengembangkan Rencana Tindak Lanjut (RTL), pertanyaan supervisor: “Apa yang perlu kita lakukan sekarang?”. Sedangkan Whittingham,T and Townend,L. (2010:5) mengistilahkan pendampingan ini dengan istilah coaching mereka lebih mengedepankan wawancara dengan guru sebelum melaksanakan pembelajaran agar perencanaan yang akan dilakukan guru dapat berhasil dengan baik. Langkah-langkah “GROW” (Goal, Reality, Options and Will/Wrapt Up) yang mereka tawarkan sebagai berikut:
Tabel 1 GROW Sequences Objectives and guidance To enable coachee to own the goals.  Goal for the coaching session itselft  End goal or final objective (may not be entirely within your control)  Performance goal (the level of performance that is within your control and will give a good chance of achieving the end goal)  Can be generated by scoring a number of goals and asking coachee to pick one work. To establish a clear picture of the current situation.  Be objective and detached  Describe, don’t evaluate  Be specific  Reality questions; what, when, where, who, how involved?  Reality includes facts, figures, descriptions, and feelings.  Follow the line of interest of the coachee be specific. To generate a large quantity of options and ideas.  Do not evaluate as you go-leave until the end.  Generate creative environment - encourage thinking outside the box.  The coach notes all the ideas  Only produce coach’s own options when the coachee’s line of reasoning is exhausted.  Facilitated the choice of one option to preceed with. To convert the discussion into a decision.  Check commitment  Conclude, summarise action plan and give coachee a written copy.

Sequence Goal

Sample Questions  What do you want to get out of this session?  What do you want to get out of this process overall?  What do you want to achieve and by when?  What do you want to have done by the end?  Is your goal challenging yet realistic?  Is your goal stated in the positive?                   

Reality

Options

Will/ Wrap Up

What is the state of things now? What actions have you taken sofar? What were the efect of this action? Who is involve? What is happening around you/inside you? What are the major constraints to progress? What are you noticing most? When, in terms of action, do you notice this happening? How confident are you on a scale of 1 to 10 that you will succeed? What might prevent success? What options do you have? What other options do you have? (keep repeating) What if you had...unlimited budgets, lots of people, a magic wand, access to the world’s foremost expert-then what would you do? What do you think in your heart you could do? What would you do if you were the boss? Would like another option/suggestion from me? What are you personaly going to do? When are you going to do it exactly? Will these action meet your original needs and goals?

9

 Offer support and contact in achieving the plan.  Schedule the next decision if necesaary.  Leave coachee feeling good about themselvess and their chances of achieving their plan.

    

What obstacles might you meet along the way? How will you overcome them? What support you need? How and when will you get this support? Where are you on a scale 1-10? (if <8 break task into smallesr steps until score 8+), are you committed to succeed?  How clear are you? (head)  How enthusiastic are you? (heart)  How willing are you to go for it? (gut)

Penutup Dari beberapa pendekatan supervisi yang dipaparkan di atas bila kita bandingkan dengan pendekatan yang lama (Konvensional), dapat disimpulkan perubahan-perubahannya antara lain: (1) Dilaksanakan secara demokratif dan terbuka, komunikatif, mengikuti kebutuhan guru, dan berkelanjutan. (Glickman,CD, Gordon,SP, Ross-Gordon,JM,2004:450) juga mengemukakan simpulan yang sama yaitu: (1) Para guru menghendaki supervisi dari kepala sekolah sebagaimana yang seharusnya dikerjakan oleh personil lain yang berjabatan sebagai supervisor. (2) Para guru lebih menghargai dan menilai positif kepada supervisor yang “hangat”, saling mepercayai, bersahabat dan menghargai guru. (3) Supervisi dianggap bermanfaat apabila supervisor merencanakannya dengan baik, bersikap membantu dan menyediakan model-model pembelajaran yang efektif. (4) Supervisor memberikan peranserta yang cukup tinggi kepada guru untuk mengambil keputusan dalam wawancara. (5) Supervisor mengutamakan pengembangan keterampilan hubungan insani dan keterampilan teknis, karena secara eksplisit tingkat komitmen guru terhadap profesi tidak ajeg dipengaruhi usia. (Imron,A. dalam Uno,HB.2007:65) dan (6) Supervisor seharusnya menciptakan iklim organisasi yang terbuka, memantabkan hubungan yang saling menunjang (supportive). Sergiovanni,TJ (1982:59) menambahkan “...teachers need in order to work happily in the classroom”.

Daftar Rujukan Chan dan Sam. 2005. Analisis SWOT Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. Jakarta: PT Raja grafindo Persada. Daresh, C. J. 1989.Supervision as a Proactive Process. New York: Longman Inc. 95 Church Street, White Plains. DBE 3.2009. Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 2. Jakarta.DBE3. Glickman,CD.1981. Developmental Supervision. North Washington Street: Association for Supervision and Curriculum Development.

10

Glickman,CD,Gordon,SP,Ross-Gordon,JM. Supervision and Instructional Leadership. United State of America: Pearson AB. http://www.tc.columbia.edu/lessonstudy/lessonstudy.html, diakses tanggal 10 November 2011 Imron,A.1995. Pembinaan Guru di Indonesia. PT Dunia Pustaka Jaya. Jakarta. Indrafachrudi,S.2006.Bagaimana Memimpin Sekolah Yang Efektif. Bogor: Ghalia Indonesia Mantja,W. 2000. Bahan Ajar Model Pembinaan Supervisi Pengajaran. Program Pasca Sarjana. Universitas Negeri Malang. Mulyasa.E, 2005. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Muslim,SB.2009. Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru. Bandung: PT. Alfabeta. Universitas Negeri Malang, 2010. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Universitas Negeri Malang. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor: 12 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Pengawas Sekolah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor: 13 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah. Sergiovanni,TJ.1982. Supervision of Teaching. North Washington Street: Association for Supervision and Curriculum Development. Uno,HB.2007. Profesi Kependidikan Problema, Solusi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. Whittingham,T and Townend,L.2010. Leadership Development in Indonesia. British Council.

11

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->