P. 1
Evaluasi Pembelajaran TEP

Evaluasi Pembelajaran TEP

|Views: 1,041|Likes:
Published by Dedi Mukhlas
Evaluasi dalam pembelajaran teknologi pendidikan...
Evaluasi dalam pembelajaran teknologi pendidikan...

More info:

Published by: Dedi Mukhlas on Mar 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

Sections

Menurut Michael Scriven, evaluasi program dibedakan atas dasr fungsinya yaitu:
evaluasi formative dan evaluasi sumatif.
Evaluasi formatif berfungsi untuk mengumpulkan data selama kegiatan sedang
dilaksanakan. Data yang dikumpulkan dapat pula digunakan oleh pengembang
program untuk membentuk dan memodifikasi program. Dalam beberapa hal,
penemuan-penemuan dari evaluasi dapat digunakan sebagai bahan acuan bagi
pelaksana dalam melaksanakan program selanjutnya, agar tidak terjadi pemborosan
biaya, tenaga dan waktu.
Evaluasi sumatif berfungsi untuk mengmpulkan data ketika kegiatan program
benar-benar selesai. Evaluasi sumatif dilaksanakan dengan tujuan untuk
mengetahui kemanfaatan program, terutama jika dibandingkan dengan program lain
yang sejenis. Data yang dikumpulkan selama evaluasi sumatif sangat berguna bagi
pihak pembuat keputusan atau penanggungjawab program dalam menentukan
kebijakan dan tindak lanjut.
Oleh Scriven, evaluasi formatif dan sumatif menunjuk model evaluasi karena
mengandung pengertian tentang:
a. Komponen

1) Formatif : Evaluasi sebagian program
2) Sumatif : Evaluasi seluruh program

b. Instrumen

1) Formatif : Disusun oleh evaluator
2) Sumatif : Terstandar

c. Pelaksana

1) Formatif : Dilakukan orang dalam
2) Sumatif : Dilakukan orang luar
d. Langkah-langkah

1) Formatif : Terus menerus disusun, memperoleh hasil sambil
menggunakan langsung, tidak perlu desain lengkap.
2) Sumatif : Satu kali pelaksanaan: menyeluruh, memperoleh
data, mengolah dan menyimpulkan data dan
menyebarkan kepada pihak pengambil
keputusan. Memerlukan penyusunan desain
secara lengkap.

Langkah-langkah pelaksanaan evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
5. Evaluasi formatif dilaksanakan selama program berlangsung dengan tujuan
untuk menyediakan informasi yang bermanfaat kepada pimpinan atau
penanggungjawab program untuk kepentingan perbaikan dan penyempurnaan
program. Setiap langkah pelaksanaan evaluasi akan menghasilkan umpan balik
segera. Selanjutnya berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan dapat
dipergunakan untuk merevisi dan menyempurnakan progran apabila diperlukan.
6. Evaluasi sumatif dilaksanakan pada akhir kegiatan untuk memberi-kan
informasi kepada kemampuan potensial tentang manfaat atau kegunaan program.
7. Evaluasi formatif hendaknya menarah kepada keputusan tentang program,
termasuk perbaikan, modifikasi dan penyempurnaan. Sedangkan evaluasi sumatif
mengarah kepada kebutuhan mengenai kelanjutan program berikutnya atau
program yang ditersukan pengabdosiannya.
8. Jelasnya bahwa kedua evaluasi ini penting karena keputusan yang diperlukan
selama proses, tingkat pengembangan program, untuk memperbaiki dan
memperkuat keputusan progran yang diambil. Dan apabila sudah stabil dapat

24

24

Sumber: Facebook Melati Kamilatila

dipakai untuk mengevaluasi manfaat progran atau untuk memutuskan masa
depan/kelanjutan program yang bersangkutan.

5. Model Evaluasi Discrepancy (Kesenjangan)
Malcolm Provus sebagai perintis dan pengembang model ini berpendapat bahwa
evaluasi kesenjangan berfungsi untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara standar
yang sudah ditetapkan dengan penampilan aktual program yang bersangkutan.
Sedangkan menurut AECT (1979), evaluasi kesenjangan adalah suatu metode untuk
mengidentifikasi perbedaan/kesenjangan antara tujuan khusus yang ditetapkan
dengan penampilan aktual.
Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan model evaluasi kesenjangan adalah:
Tahap Penyusunan Desain, kegiatan yang dilakukan antara lain:Merumuskan tujuan
program. Menyiapkan audience, personil dan kelengkapan lainnya. Menentukan
kriteria dalam bentuk rumusan yang menunjuk pada sesuatu yang dapat diukur.
Tahap pemasangan Instalasi, kegiatan yang dilakukan antara lain:Menilai kembali
penetapan kriteria (standar) yang telah ditetapkan pada tahap penyusunan desain.
Meninjau/memonitor program yang sedang dilaksanakan. Meneliti kesenjangan
antara apa yang telah direncanakan dengan apa yang telah dicapai. Tahap proses
pengumpulan data, kegiatan yang dilakukan antara lain: mengadakan evaluasi
terhadap tujuan-tujuan manakah yang telah dan akan dicapai. Pada tahap ini
disebut tahap pengumpulan data dari pelaksanaan program. Tahap pengukuran
tujuan (product), yaitu mengadakan analisis data dan menetapkan tingkat output
yang diperoleh. Tahap perbandingan (comparison), yaitu membandingkan hasil
yang telah dicapai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam tahap
ini evaluator menulis semua temuan tentang kesenjangan. Selanjutnya disajikan
kepada pengambil kebijakan/ pembuat keputusan, agar mereka dapat memutuskan
kelanjutan dari program tersebut. Kemungkinan hasil keputusan yang ditetapkan
adalah (a) menghentikan program, (b) mengganti atau merevisi program, (c)
meneruskan progran yang telah didesain atau (d) memodifikasi atau
menyempurnakan tujuannya.

6. Model Ekonomi Mikro
Sebenarnya model ekonomi mikro ini nukan hanya satu. Tetapi untuk memudahkan
pembahasan, dan lagi pula satu sama lainnya saling bertautan, model-model yang
dikembangkan dari ekonomi mikro ini dimasukkan dalam satu kelompok
pembahasan. Dengan cara demikian, diharapkan pengulangan pembahasan yang
tidak perlu dapat dihindari.
Pada mulanya, model-model ekonomi mikro ini hanya dikenal oleh orang-orang
yang belajar ekonomi. Oleh karena itu yang dievaluasi adalah pola program dan
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan perekonomian dalam arti
kata sempit. Artinya, kegiatan yang dievaluasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh
lembaga-lembaga sosial budaya, mempunyai karakteristik khusus yang tidak selalu
mendasarkan dirinya atas perhitungan ekonomi. Jadi kajian evaluatif mengenai
pendidikan seolah-olah tidak memerlukan adanya perhitungan biaya dan
keuntungan dalam pengertian ekonomi. Pandangan yang demikian kemudian
berubah. Keadaan perekonomian yang tidak selalu cerah menyebabkan orang mulai
berpikir bahwa kegiatan pendidikan pun harus dapat dipertanggungjawabkan dari
segi finansiil. Lagipula, prinsip efisiensi seperti yang dilaksanakan presiden

25

25

Sumber: Facebook Melati Kamilatila

Johnson, dan prinsip akuntabilitas yang dicanangkan presiden Nixon, mengukuhkan
kedudukan model-model ekonomi mikro dalam kajian evaluasi di bidang
pendidikan pada saat sekarang, kuliah-kuliah mengenai model ini banyak
ditawarkan di berbagai fakultas ilmu pendidikan di AS. Ada kalanya kuliah
merupakan sesuatu yang berdiri sendiri sebagai suatu mata kaliah mandiri, tapi
banyak pula yang mebahas konsep-konsep ekonomi yang digunakan model ini
dalam suatu perkuliahan kependidikan dengan judul berbeda. Ada yang
membicarakannya dalam kuliah perencanaan pendidikan, dan ada pula yang
membicarakannya sebagai topik dalam kuliah evaluasi. Apapun modus yang
digunakan, kenyataan tersebut menunjuk-kan peranan model ini yang semakin
dirasakan manfaatnya dalam kajian evaluasi di bidang pendidikan. Demikian pula
kajian di bidang evaluasi kurikulum, penggunaan model ini pun tak sepi.
Menurut Levin (1983:17), dalam model yang digunakannya “cost analysis
approaches” ini terdapat 4 model yang berbeda, yaitu cost effectiveness, cost
benefit, cost-utility, dan cost-feasibility. Di antara keempatnya, model sost-
effectiveness adalah model yang paling banyak digunakan dalam evaluasi
kurikulum. Diikuti kemudian oleh model cost-benefit. Meskipun demikian, kempat-
empatnya akan dibahas dalam bagian ini karena di masa mendatang tampaknya
cost-utility dan cost-feasibility akan pula menarik perhatian yang besar.
Dalam bukunya yang berjudul “Cost Effectiveness: A primer” Levin (1983:17)
memberikan pengertian tentang cost effectiveness sebagai berikut:
Cost-effectiveness (CE) analysis refers to the evaluation of alternative according to
both their costs and their effect with regard to producing some outcome or set
outcomes. Typically, educational evaluation and decision making must focus on the
choice of an educational intervention or alternative for meeting a particular
objective, such as increasing test scores in basic skills or reducing dropouts.

Dari kutipan tersebut jelas bahwa evaluator yang menerapkan model cost
effectiveness harus dapat membandingkan dua program atau lebih baik dalam
pengertian dana yang digunakan untuk masing-masing program maupun hasil yang
diakibatkan oleg setiap program. Perbandingan ini akan memberikan petunjuk
bagio para pembuat keputusan mengenai program mana yang lebih menguntungkan
dilihat dari hubungan antara dana dan hasil.
Contoh dari penerapan model cost-effectiveness dalam evaluasi kurikulum mulai
mengisi jurnal-jurnal profesional. Pada umumnya studi ini menggunakan desain
eksperimen di mana kurikulum yang baru merupakan variabel perlakuan yang akan
dibandingkan dengan kurikulum yang sudah ada. Dana yang harus dikeluarkan
sebagai konsekuensi operasional setiap program dihitung. Tentu diaya yang
dihitung di sini adalah biaya yang diperkirakan harus dikeluarkan apabila
kurikulum itu dilaksanakan dalam kegiatan rutin pendidikan; biaya khusus yang
harusdikeluarkan karena kegiatan eksperimen tidak diperhitungkan sebagai biaya
yang harus dikeluarkan.
Dalam pengukuran hasil, dipergunakan instrumen yang sudah distandardisasi.
Penggunaan instrumen standar ini penting karena hanya dengan demikian
perbandingan antara biaya dengan hasil dapat dilakukan. Di sini terihat bahwa
penerapan model cost-effectiveness ini menggunakan pendekatan pengembangan
kriteria pre-ordinate. Dengan demikian karakteristik masing-masing kurikulum
yang dibandingkan tidak diper-hitungkan. Oleh karena itu Levin (1984:18)
mengatakan bahwa model ini hendaknya diterapkan untuk membandingkan dua
kurikulum atau program yang mempunyai tujuan identik atau serupa. Apabila tidak,
validitas perbandingan semakin menimbulkan persoalan.

26

26

Sumber: Facebook Melati Kamilatila

Misalnya ada dua kurikulum yang mempunyai tujuan yang berbeda. Satu
kurikulum berusaha mengembangkan keterampilan siswa dalam mancari,
mengolah, dan mempergunakan informasi. Di dalam kurikulum ini persoalan
banyak pengetahuan yang dimiliki siswa bukan persoalan utama.
Dasar teoritis yang mendasari ide pengembangan kurikulum tersebut ialah
keterampilan memperoleh, mengolah dan mempergunakan pengetahuan merupakan
keterampilan pokok yang akan membantu kehidupan siswa di masyarakat. Dengan
keterampilan yang demikian, siswa akan terus aktif mengembangkan dirinya baik
sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang pesat akan dapat dihadapi dengan penuh
keyakinan apabila siswa tersebut memiliki keterampilan yang dimaksud.
Kurikulum lainnya mempunyai tujuan yang berbeda karena didasarkan atas
pandangan teoritis yang berbeda pula. Kurikulum ini, misalnya, dikembangkan atas
pandangan bahwa siswa harus memiliki pengetahuan siap yang cukup. Dengan
pengetahuan yang demikian, siswa yang telah menyelesaikan pelajarannya segera
dapat menggunakan pengetahuannya tersebut untuk berkomunikasi dengan anggota
masyarakat. Oleh karena itu, dalam proses belajar siswa tersebut harus mencerna
banyak pengetahuan yang termuat dalam buku-buku teks, menghafal letak berbagai
kota dan dapat menunjukkannya dengan tepat pada sebuah peta buta, dan lain
sebagainya.
Bagimana kedua kurikulum tersebut dapat dibandingkan? Instrumen standar mana
yang harus digunakan? Tes standar manapun yang digunakan tentu akan
memberikan perlakuan yang tidak adil terhadap salah satu kurikulum. Dengan
perkataaan lain, hasil yang diperoleh dari tes standar itu tidak akan mencerminkan
kekuatan yang sesungguhnya pada diri anak didik. Artinya, walaupun tes standar
tadi memiliki validitas isi dan reliabilitas tinggi, tapi data yang dihasilkannya justru
menimbulkan persoalan validitas data yang sukar dapat dipertanggungjawabkan.
Persoalan mengenai kesamaan tujuan kurikulum yang akan dibandingkan tidak
akan dialami oleh evaluator yang akan menerapkan model cost-benefit dalam
kajiannya. Berbeda dengan cost-effectiveness yang menggunakan angka (score)
sebagai unit pengukuran hasil, cost-benefit menggunakan unit uang dalam
mengukur hasilnya. Oleh karena itu, perbedaan karakteristik kedua kurikulum yang
dibandingkan, baik perbedaan dalam tujuan, proses, isi, dan lain sebagainya,
tidaklah merupakan pesoalan bagi model cost-benefit. Bahkan perbedaan-pebedaan
seperti itu memberikan keuntungan teoritis penggunaan model cost-benefit. Justru
perbedaan yang demikian dapat memberikan dapat memberikan informasi kepada
pembuat keputusan mengenai program mana yang lebih nerorientasi kepada
kebutuhan pasar (market-oriented) (Levin, 1987:84; Caterral, 1984:19).
Perbedaan lain antara kedua model tersebut adalah dalam waktu yang digunakan
untuk mengukur hasil. Apabila dalam pendekatan cost-effectiveness hasil dapat
segera diukur setelah siswa menyelesaikan programnya, tidak demikian halnya
dengan model cost-benefit. Hasil dalam cost-effeciveness adalah angka hasil
belajar yang diperoleh siswa berdasarkan kemampuannya menjawab suatu tes.
Hasil dalam cost-benefit yaitu keuntungan yang diperoleh seseorang setelah seelsai
dari suatu program studi. Keuntungan itu pada dasarnya nilai uang dari aktivitas
yang dilakukan-nya setelah ia dinyatakan berhasil dari suatu program. Oleh karena
itu ia memerlukan waktu yang lama (Caterral, 1984:12). Kadangkala waktu yang
diperlukan adalah 5 tahun atau 10 tahun, bahkan ada yang menghitung sampai
waktu orang tersebut pensiun.
Suatu program dianggap berhasil apabila memberikan keuntungan yang lebih besar
dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Suatu program dianggap lebih
memenuhi kebutuhan pasar dibandingkan program lainnya apabila angka ratio cost-

27

27

Sumber: Facebook Melati Kamilatila

benefit yang lebih kecil. Misalnya biaya untuk program A adalah sebesar
Rp.100.000.000,- sedangkan untuk program B Rp. 150.000.000,-. Setelah diukur
keuntungannya, diperoleh angka bahwa keuntungan untuk program A
Rp.200.000.000,-. Angka keuntungan yang sama pula diperoleh program B. oleh
karena itu rasio cost-benefit untuk program A adalah biaya dibagi keuntungan sama
dengan setengah atau 50%. Angka rasio untuk program B adalah 1,5/2 atau 75%.
Dengan demikian, dilihat darti model cost-benefit program A lebih meguntungkan
daripada program B.
Di samping keuntungan dalam persoalan unit pengukuran yang sama, pengukur-an
benefit dalam bentuk uang ini merupakan pula kesulitan dalam pengukuran.
Persoalannya ialah tidak semua hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan pendidikan
tertentu dapat diterjemahkan dengan nilai uang secara mudah. Banyak program
dalam pendidikan yang tidak diarahkan untuk pengembangan keterampilan baik
kognitif maupun psikomotorik. Program-program yang bertujuan untuk
mengembangkan ranah afektif sangat sukar, apabila tidak dapat dikatakan tidak
mungkin, diterjemahkan dalam nilai uang. Katakanlah penataran-penataran P4 yang
bertujuan terutama dalam pengembangan sikap bangsa berdasarkan Pancasila. Nilai
rupiah apa yang dapat diberikan kepada orang yang taat dalam beragama sebagai
manifestasi sila pertama Pancasila. Berapa rupiah yang dapat diberikan kepada
orang yang memiliki semangat nasionalisme yang merupakan pelaksanaan dari sila
persatuan Indonesia, dan seterusnya.
Dalam ruang lingkup pendidikan formal, misalnya, banyak pula contoh yang dapat
dikemukakan. Seorang yang belajar sejarah Indonesia atau bahasa Indonesia dapat
digunakan sebagai contoh untuk menjelaskan persoalannya. Katakanlah pada suatu
waktu Depertemen Pendidikan Nasional mengembangkan dua jenis program yang
berbeda untuk bidang studi sejarah dan bahasa Indonesia. Standar apa yang dapat
digunakan untuk mengatakan bahwa suatu program memberikan benefit yang lebih
besar dibandingkan program lainnya. Upaya apa yang dapat digunakan untuk
menentu-kan bahwa suatu program memberikan kontribusi benefit yang lebih besar
dari program lainnya setelah siswa tersebut bekerja.
Persoalan pengukuran lain yang timbul adalah disebabkan oleh sistem upah yang
tidak dibedakan berdasarkan keunggulan program yang ditempuh. Seorang yang
tamat SMU akan dibayar sama dengan siswa tamatan SMU lainnya kalau mereka
bekerja sebagai pegawai negeri atau dalam suatu perusahaan yang sama. Sebagai
pegawai negeri, mereka juga akan dikenakan proasedur dan persyaratan promosi
yang sama. Dulu pernah ada perbedaan dalam kepangkatan pertama antara mereka
tamatan sekolah menengah umum dengan sekolah menengah kejuruan. Mereka
yang tamat sekolah kejuruan diberikan pangkat dan golongan awal yang lebih
tinggi dari mereka tamatan sekolah menengah umum. Sekarang aturan yang
demikian tidak belaku lagi.
Model ketiga dalam kelompk mikro ekonomi ialah apa yang diistilahkan dengan
cost-utility. Levin (1983:26) mendefinisikan model ini sebagai “the evaluation of
alternative according to a comparison of their cost and the estimated utility or value
of their outcomes”. Penegrtian cost sama dengan apa yang dibicarakan dalam
model soct-effectiveness, cost-benefit yang telah dikemukakan. Pengertian utility
yang dimaknakan sebagai “the estimate utility or value od their outcomes”.
Memerlukan kajian lebih jauh.
Pengertian utility di sini menurut Levin (1983:26) memberikan peluang bagi
evaluator untuk menggunakan baik data kuantitatif maupun data kualitatif. Dengan
peluang ini evaluator tidak dibatasi ruang geraknya hanya atas satu jenis data saja.
Perkiraan-perkiraan dari para pakar mengenai kegunaan atau nilai satu atau lebih
peogram dapat digunakan. Untuk itu Levin (1983:27) menganjurkan digunakannya

28

28

Sumber: Facebook Melati Kamilatila

skala kegunaan (utility scale). Skala ini dapat bergerak dari 0-10 tapi dapat pula
bergerak 0-4, atau lainnya. Pokok utama skala yang digunakan ialah bahwa setiap
orang yang diminta pendapat diberikan skala yang sama.
Hal penting lainnya ialah bahwa skala itu berada dalam tingkat pengukuran interval
dan bukan ordinal. Dengan demikian setiap orang yang menempatkan kegunaan
ataupun nilai suatu program menyadari bahwa jarak antara satu titik skala dengan
titik skala lainnya dipergunakan mempunyai jarak yang sama dengan titik
berikutnya dalam skala. Levin (1983:28) memperguakan istilah “cardinal”.
Pakar yang diminta pendapatnya harus memberikan penilaiannya mengenai nilai
tujuan yang akan dicapai program. Misalnya, kembali kepada contoh bahasa
Indonesia tadi. Pakar-pakar yang diminta pendapatnya (orang kebanyakan dapat
pula diminta pendapatnya) harus memberikan pertimbangan mengenai nilai tujuan
yang akan dicapai oleh program bahasa Indonesia yang satu dan program bahasa
Indonesia lainnya. Beberapa kriteria dapat saja dikembangkan untuk memberikan
pertimbangan nilai tujuan tadi. Informasi ini yang kemudian diolah dan dijadikan
masukan bagi para pengambil keputusan. Pengolah yang dimaksud adalah
membandingkan antara nilai rata-rata yang diperoleh suatu program dengan
costnya.
Cara lain adalah bukan meminta nilai tujuan yang akan dicapai tapi meminta
pendapat pakar tadi mengenai kemungkinan yaitu pemberian nilai terhadap tujuan
yang akan dicapai, cara kedua ini lebih rumit. Untuk dapat menentukan
kemungkinan pencapaian tujuan, seseorang yang dimintakan pendapatnya haruslah
mengetahui program tersebut secara keseluruhan dan bukan hanya tujuan. Oleh
karena itu kiranya tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa dalam cara kedua ini
orang yang dimintakan pendapatnya itu sebaiknya adalah orang yang mengetahui
dan punya pengalaman di lapangan pendidikan. Dengan pengetahuan dan
pengalaman yang dimilikinya, pertimbangan mengenai kemungkinan pencapaian
tujuan yang diberikannya akan lebih berdasar.
Seperti cara pertama, dalam cara kedua inipun dicari kemunkinan rata-rata
pendapat tersebut. Angka rata-rata pendapat ini kemudian dibandingkan dengan
biaya yang dikeluarkan atau akan dikeluarkan untuk masing-masing program.
Dengan cara ini biaya dengan kemungkinan pencapaian untuk masing-masing
program dapat diperoleh. Program yang memiliki angka rasio yang menguntungkan
kemungkinan pencapaian yang lebih besar tentu merupakan program yang
diinginkan.
Dalam menetukan kemungkinan tersebut dapat saja dipergunakan skala seperti
pada waktu memberikan nilai terhadap tujuan. Tetapi dapat pula dipergunakan
prosentase kemungkinan pencapaian tujuan. Dengan prosentase ini, makin besar
angka persen yang diberikan artinya, makin besar pula kemungkinan pencapaian
tujuan yang dimaksud.
Cara ketiga dalam cost-utility ini adalah menggabungkan kedua cara tersebut. Jadi,
baik pemberian nilai tujuan yang akan dicapai berdasarkan skala tertentu maupun
kemungkinan pencapaian tujuan berdasarkan persen. Dengan penggabungan ini
kelemahan-kelemahan cara pertama dan kedua dapat diatasi tetapi perhitunganya
menjadi makin kompleks.
Kelemahan cara pertama terutama adalah pertimbangan yang diberikan hanya
berdasarkan nilai tujuan yang akan dicapai. Apakah tujuan tersebut memeng
berguna berdasarkan pandangan tertentu atau kurang bahkan tidak sama sekali.
Pertimbangan mengenai apakah tujuan tersebut dapat dicapai tidak diperhitungkan.
Jasi aspek proses tidak mendapat tempat dalam pertimbangan. Kelemahan cara
kedua ialah pertimbangan yang diberikan hanya mengenai aspek kemungkinan
pencapaian tujuan. Pertimbangan apakah tujuan itu berguna atau tidak bukan

29

29

Sumber: Facebook Melati Kamilatila

merupakan aspek yang diperhatikan. Kelemahan keduanya ini menjadi hilang
apabila kedua cara tersebut digabungkan.
Dengan penggabungan kedua aspek itu harus diperhitungkan dalam pengolahan
data. Data dari hasil pertimbangan mengenai nilai tujuan yang akan dicapai
dikalikan dengan cara dari pertimbangan mengenai kemungkinan pencapaian.
Hasilnya merupa-kan gambaran tentang kegunaan (utility) dari program tersebut
yang kemudian merupakan dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk
program. Hasil perbandingan tersebut merupakan rasio cost-utility.
Dengan cara tersebut dua program atau lebih dapat dibandingkan. Kembali kepada
contoh bahasa Indonesia yang telah dikemukakan di atas. Katakan program bahasa
Indonesia X mempunyai kemungkinan pencapaian .7 (70%) dan nilai tujuan yang
akan dicapainya 8 sedangkan biaya yang diperlukan 5 juta. Sedangkan program
bahasa Indonesia Y memiliki kemungkinan pencapaian 8, nilai tujuan 7 sedangkan
biaya 3 juta. Maka rasio cost utility program bahasa Indonesia X adalah 5 juta
dibadi.7 X 8, yaitu Rp. 892.857.143. Sedangkan program bahasa Indonesia Y
mempunyai rasio cost utility 3 juta dibagi .6 X 7 yaitu Rp. 714.285.714. Dengan
demikian program bahasa Indonesia Y lebih menguntungkan dilihat dari model
cost-utility.
Model terakhir dari kelompok mikro ekonomi ini ialah yang dinamakan model
cost-fesibility. Berbeda dengan ketiga model terdahulu, model cost-fesibility tidak
berusaha mencari hubungan antara biaya dengan hasil tertentu. Sesuai dengan
namanya fesibility, model ini justru mencoba menjawab pemasalahan evaluasi
apakah biaya yang diperlukan memang tersedia. Artinya, setelah ide suatu program
diformulasikan, perhitungan biaya dilakukan. Apabila angka sudah diperoleh
pertanyaan yang diajakan ialah apakah pengadaan biaya yang diperlukan mungkin.
Kalau lembaga atau departemen yang bersangkutan memiliki biaya yang
diperlukan, perhitungan berikutnya ialah bagaimana dengan kelanjutan biaya
dimasa mendatang. Biaya terakhir ini perlu diperhitungkan agar program yang akan
dikembangkan tersebut mendapat jaminan tidak hanya dalam pengembangan dan
pelaksanaan dalam waktu dekat saja. Maksudnya, jangan sampai biaya yang
tersedia hanya untuk satu atau dua tahun saja sedangkan biaya untuk tahun-tahun
berikutnya merupakan masalah. Kalau keadaan terakhir ini yang terjadi, kontinuitas
program tidak terjamin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->