DASAR PEMIKIRAN DAN LATAR BELAKANG PERUBAHAN UUD 1945 Ananta (03) Oka (07) Dea (09) Reza (23) Revian (25) Lukman (20

)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini kami buat dalam rangka perbaikan nilai (remidi) , dan sebagai proses dari menuntut ilmu. Dan semoga, makalah ini dapat menambah ilmu dan pengetahuan kami mengenai DASAR PEMIKIRAN DAN LATAR BELAKANG PERUBAHAN UUD 1945 serta dapat berkontribusi dalam kesuksesan kami kelak. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bu Puji selaku guru Pkn yang telah membimbing kami selama ini, dan kepada teman – teman yang memantu proses pembuatan makalah ini. Kami berharap, makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khuhusnya, dan masyarakat umumnya. Dan apa yang menjadi tujuan pembuatan makalah ini tercapai. Kami juga mohon maaf apabila terdapat kasalahan dalam makalah ini. Karena, kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, dan kesalahan ada pada kami. Oleh karena itu, daran dan kritik sangat kami harapkan.

Surabaya, 22 Februari 2012

Hal ini berakibat pada tidak terjadinya checks and balances pada institusi-institusi ketatanegaraan. UUD 1945 terlalu banyak memberi kewenangan kepada kekuasaan Presiden untuk mengatur hal-hal penting dengan Undang-undang. justru yang berkembang adalah sistem monopoli dan oligopoli. Undang-Undang Dasar 1945 membentuk struktur ketatanegaraan yang bertumpu pada kekuasaan tertinggi di tangan MPR yang sepenuhnya melaksanakan kedaulatan rakyat. Rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggaraan negara belum cukup didukung ketentuan konstitusi yang memuat aturan dasar tentang kehidupan yang demokratis. Tidak adanya check and balances antar lembaga negara dan kekuasaan terpusat pada presiden. b. Undang-Undang Dasar 1945 memberikan kekuasaan yang sangat besar kepada pemegang kekuasaan eksekutif (Presiden). antara lain sebagai berikut: a. misalnya Pasal 7 UUD 1945 (sebelum di amandemen). Sistem yang dianut UUD 1945 adalah executive heavy yakni kekuasaan dominan berada di tangan Presiden dilengkapi dengan berbagai hak konstitusional yang lazim disebut hak prerogatif (antara lain: memberi grasi.DASAR PEMIKIRAN DAN LATAR BELAKANG PERUBAHAN UUD 1945 1. Infra struktur yang dibentuk. abolisi dan rehabilitasi) dan kekuasaan legislatif karena memiliki kekuasan membentuk Undang-undang. c. Kesejahteraan sosial berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 tidak tercapai. 3. amnesti. pemberdayaan rakyat. 4. . antara lain partai politik dan organisasi masyarakat. supremasi hukum. 5. Hal ini membuka peluang bagi berkembangnya praktek penyelengaraan negara yang tidak sesuai dengan Pembukaan UUD 1945. penghormatan hak asasi manusia dan otonomi daerah. d. Pemilihan Umum (Pemilu) diselenggarakan untuk memenuhi persyaratan demokrasi formal karena seluruh proses tahapan pelaksanaannya dikuasai oleh pemerintah. UUD 1945 mengandung pasal-pasal yang terlalu “luwes” dan “fleksibel” sehingga dapat menimbulkan lebih dari satu penafsiran (multitafsir). Presiden juga memegang kekuasaan legislatif sehingga Presiden dapat merumuskan hal-hal penting sesuai kehendaknya dalam Undangundang. 2.

tanggal 7-18 Agustus 2000 →Perubahan Kedua UUD 1945 Sidang Tahunan MPR 2001. adanya pasal-pasal yang terlalu "luwes" (sehingga dapat menimbulkan multitafsir). Dalam kurun waktu 1999-2002. eksistensi negara demokrasi dan negara hukum. tanggal 14-21 Oktober 1999 → Perubahan Pertama UUD 1945 Sidang Tahunan MPR 2000. kekuasaan yang sangat besar pada Presiden. HAM. tanggal 1-9 November 2001 →Perubahan Ketiga UUD 1945 Sidang Tahunan MPR 2002. UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan (amandemen) yang ditetapkan dalam Sidang Umum dan Sidang Tahunan MPR:     Sidang Umum MPR 1999. Perubahan UUD 1945 dengan kesepakatan diantaranya tidak mengubah Pembukaan UUD 1945. serta hal-hal lain yang sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. kedaulatan rakyat. Latar belakang tuntutan perubahan UUD 1945 antara lain karena pada masa Orde Baru. tetap mempertahankan susunan kenegaraan (staat structuur) kesatuan atau selanjutnya lebih dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). serta mempertegas sistem pemerintahan presidensiil. pembagian kekuasaan.Periode UUD 1945 Amandemen Salah satu tuntutan Reformasi 1998 adalah dilakukannya perubahan (amandemen) terhadap UUD 1945. Tujuan perubahan UUD 1945 waktu itu adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan negara. tanggal 1-11 Agustus 2002 →Perubahan Keempat UUD 1945 . kekuasaan tertinggi di tangan MPR (dan pada kenyataannya bukan di tangan rakyat). serta kenyataan rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggara negara yang belum cukup didukung ketentuan konstitusi.

dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama. Pasal 7 Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun. dan sesudahnya dapat dipilih kembali. . hanya untuk satu kali masa jabatan. diubah menjadi Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun. Perubahan Pertama menyempurnakan pasal-pasal berikut: Pasal 5 “ “ “ “ (1) Presiden memegang kekuasan membentuk undangundang dengan persetujuan Dewan Perwakilan rakyat.Perubahan Pertama Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan Pertama UUD 1945. adalah perubahan pertama pada UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagai hasil Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 1999 tanggal 14-21 Oktober 1999. ” ” ” ” diubah menjadi (1) Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama. atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat sebagai berikut: Sumpah Presiden (Wakil Presiden): "Demi Allah. memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa". 1) ” diubah menjadi “ (1) Sebelum memangku jabatannya.Pasal 9 “ Sebelum memangku jabatannya. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama. saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. atau berjanji dengan sungguhsungguh di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat sebagai berikut: Sumpah Presiden (Wakil Presiden): "Demi Allah. memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan seluruslurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa." Janji Presiden (Wakil Presiden): "Saya berjanji dengan sungguh-sungguh akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadiladilnya. saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik ” .

atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan disaksikan oleh Pimpinan Mahkamah Agung. Pasal 13 “ “ (1) Presiden mengangkat duta dan konsul. (2) Presiden menerima duta Negara lain." Janji Presiden (Wakil Presiden): "Saya berjanji dengan sungguh-sungguh akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadiladilnya. Presiden memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat. memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa".Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama. 1) (2) Jika Majelis Permusyawaratan Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat tidak dapat mengadakan sidang. (2) Dalam hal mengangkat duta. memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan seluruslurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa. ” . ” diubah menjadi (1) Presiden mengangkat duta dan konsul.

menjadi Presiden memberi gelar tanda jasa.(3) Presiden menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat. 2. Menteri-menteri itu memimpin Departemen Pemerintahan. amnesti. Tiap-tiap undang-undang menghendaki persetujuan Dewan Perwakiln rakyat. Pasal 14 Presiden memberi grasi. Menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan undang-undang. Setiap menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan. Pasal 20 1. tanda dyasa dan lain-lain tanda kehormatan. abolisi dan rehabilitasi. Menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Pasal 15 Presiden memberi gelaran. Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. Pasal 17 2. . 3. menjadi 2. menjadi 1. 3.

tidak disahkan oleh Presiden. maka rancangan tadi tidak boleh dimajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan rakyat masa itu. Dalam hal rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu tiga puluh hari semenjak rancangan undang-undang tersebut disetujui.Jika rancangan undang-undang itu tidak mendapat persetujuan bersama. rancangan undang-undang itu tidak boleh dimajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat masa itu. maka rantjangan tadi tidak boleh dimajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan rakyat masa itu. 3. meskipun disetudjui oleh Dewan Perwakilan rakyat. Anggota-anggota Dewan Perwakilan rakyat berhak memajukan rancangan undang-undang. 2. 4. rancangan undang-undang tersebut sah menjadi undang-undang dan wajib diundangkan. Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undangundang. Pasal 21 1. Setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama. menjadi 1. Presiden mengesahkan rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama untuk menjadi undang-undang. Jika sesuatu rantjangan undang-undang tidak mendapat persetujuan Dewan Perwakilan rakyat. menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat berhak mengajukan usul rancangan undang-undang. . 2.2. Jika rancangan itu.

Pasal 18B 4. BAB XA HAK ASASI MANUSIA Pasal 28A Pasal 28B Pasal 28C Pasal 28D Pasal 28E Pasal 28F Pasal 28G Pasal 28H 11. Pasal 20A 7. Pasal 22A 8. 4. Pasal 27 1. Pasal 20 6. adalah perubahan kedua pada UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 26 2. Perubahan Kedua menyempurnakan dan menambahkan pasal-pasal berikut: 1. . Pasal 22B 9. Pasal 25E 10. BAB X WARGA NEGARA DAN PENDUDUK 1. 7. Pasal 18 2. 2. sebagai hasil Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 2000 tanggal 718 Agustus 2000. 3. Pasal 19 5. 6. BAB IXA WILAYAH NEGARA 1. 5.Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan Kedua UUD 1945. 8. Pasal 18A 3.

Pasal 36A 2. DAN LAMBANG NEGARA. Pasal 30 13. Pasal 28J 12. BAB XV BENDERA. Pasal 36B 3. Pasal 36C . Pasal 28 I 10. SERTA LAGU KEBANGSAAN 1. BAHASA.9. BAB XII PERTAHANAN DAN KEAMANAN NEGARA 1.

Pasal 1 2. Pasal 7A 6. Pasal 23G 12. 11. sebagai hasil Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 2001 tanggal 1–9 November 2001. Pasal 6 4.Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah perubahan ketiga pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. . Pasal 7B 7. Pasal 22C 2. Pasal 7C 8. Pasal 22D BAB VIIB PEMILIHAN UMUM 1. Pasal 17 BAB VIIA DEWAN PERWAKILAN DAERAH 1. Pasal 23C BAB VIIIA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1. Pasal 22E 2. Pasal 23 3. 13. Pasal 3 3. Perubahan Ketiga menyempurnakan dan menambahkan pasal-pasal berikut: 1. Pasal 11 10. Pasal 23F 3. Pasal 6A 5. Pasal 23A 4. Pasal 23E 2. Pasal 8 9.

17. 16. Pasal 24 Pasal 24A Pasal 24B Pasal 24C .14. 15.

Pasal 6A 3. sebagai hasil Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 2002 tanggal 1-11 Agustus 2002. Pasal 37 10. Pasal 31 2. Pasal 23D 3. Pasal 24 7. Pasal 34 9. Pasal 11 5. adalah perubahan keempat pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. ATURAN PERALIHAN 1. . BAB XIII PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 1. Pasal 33 2. Pasal 8 4. BAB IV DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG 1. Pasal II 3. BAB XIV PEREKONOMIAN NASIONAL DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL 1.Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan Keempat UUD 1945. Pasal 2 2. Pasal 16 6. Pasal I 2. Pasal 23B 2. Perubahan Keempat menyempurnakan dan menambahkan pasal-pasal berikut: 1. Pasal III ATURAN TAMBAHAN 11. Pasal 32 8.

Pasal II .1. Pasal I 2.

agar sesuai dengan perkembangan paham demokrasi. menyempurnakan aturan dasar mengenai tatanan negara agar dapat lebih mantap dan mencapai tujuan nasional yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Ketujuh. dan solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat. menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan pelaksanaan kedaulatan rakyat. Pertama. dengan cara melakukan langkah-langkah sebagai berikut. menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan perlindungan hak asasi manusia. dan peradaban umat manusia yang sekaligus merupakan syarat bagi suatu negara hukum yang dicita-citakan oleh UUD 1945. antara lain melalui pembagian kekuasaan yang lebih tegas. seperti pengaturan wilayah negara dan pemilihan umum. menyempurnakan aturan dasar mengenai kehidupan bernegara dan berbangsa sesuai perkembangan aspirasi. agar sesuai dengan perkembangan paham hak asasi manusia. melengkapi aturan dasar dalam penyelenggaraan negara yang sangat penting bagi eksistensi negara dan perjuangan negara mewujudkan domokrasi. menegakkan etika. sistem checks and balances yang lebih ketat dan transparan. Kedua. berdasarkan Pancasila dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. berbangsa. menyempurnakan aturan dasar penyelenggaraan negara secara demokratis dan modern.Tujuan perubahan Undang-Undang Dasar 1945 Tujuan perubahan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang akan dicapai oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). dan bernegara sesuai harkat dan martabat kemanusiaan dalam perjuangan mewujudkan negara kesejahteraan. dan pembentukan lembaga-lembaga negara yang baru untuk mengakomodasi perkembangan kebutuhan bangsa dan tantangan zaman. Keenam. dan tidak bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945. Keempat. mencerdaskan kehidupan bangsa. serta memperluas partisipasi rakyat. Kelima. kebutuhan dan kepentingan . moral. menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan konstitusional dan kewajiban negara mewujudkan kesejahteraan sosial. Ketiga.

Ketetapan ini mencabut Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum. Sebelum perubahan UUD 1945 dilakukan. . Panitia Ad Hoc I MPR menyusun kesepakatan dasar dalam upaya melakukan perubahan UUD 1945 tersebut. Perubahan Pertama 1999. Ketetapan MPR Nomor XIII/MPR/1998 tentang Pembatasan Masa Jabatan Presiden dan Wakil Presiden. yaitu: Pertama. dan Perubahan Keempat 2002. dan sesudahnya dapat dipilih kembali. Ketetapan MPR ini mengharuskan diselenggarakannya terlebih dahulu Referendum. Ketetapan MPR ini telah mengubah UUD 1945. Kedua. Persyaratannya sungguh sulit. sehingga pintu kemungkinan perubahan UUD 1945 tertutup rapat. misalnya dalam ketentuan Pasal 27. Pasal 29 ayat (2). Pasal 28. 4) Penjelasan UUD 1945 ditiadakan serta hal-hal normatif dalam Penjelasan dimasukkan ke dalam pasal-pasal. Sidang-sidang MPR sejak tahun 1999 hingga 2002. telah mengubah UUD 1945 tidak kurang dari empat kali. untuk mencegah kemungkinan terjadinya pembahasan yang melebar ke mana-mana atau terjadi perubahan tanpa arah. yakni ketentuan Pasal 7 yang menentukan: “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama masa lima tahun.” Ketiga. yaitu: 1) Tidak mengubah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Kesepakatan dasar ini menjadi koridor dan platform bagi setiap anggota MPR. Sebenarnya. Sebelum dilakukan perubahan UUD 1945. Ketetapan MPR Nomor VIII/MPR/1998. Perubahan Kedua 2000.bangsa dan negara Indonesia dewasa ini. Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. yang dipandang sebagai penyempurnaan mengenai ketentuanketentuan tentang hak asasi manusia yang sudah diatur di dalam UUD 1945. Perubahan Ketiga 2001. Dengan kesepakatan tersebut diharapkan perubahan yang bakal terjadi merupakan penjabaran dan penegasan cita-cita yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. dan 5) Perubahan dilakukan dengan “adendum”. MPR telah mengeluarkan tiga ketetapan yang secara tidak langsung telah menyentuh materi muatan UUD 1945. Kesepakatan dasar yang menjadi pegangan para anggota MPR. 2) Tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3) Mempertegas sistem pemerintahan presidensial. Ketiga Ketetapan MPR tersebut. sekaligus mengakomodasi kecenderungannya untuk kurun waktu yang akan datang. Selain tujuan perubahan UUD 1945 tersebut.

tau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan /atau Wakil Presiden. Presiden dan Wakil a. Hal ini membalik rumusan sebelum perubahan yang menempatan Presiden sebagai pemegang kekuasaan membentuk UU. mereka mempunyai legitimasi yang sangat kuat. 3. penyuapan. kekuasaan DPR diperkuat dan dikukuhkan keberadaannya terutama diberikannya kekuasaan membentuk UU yang memang merupakan karakteristik sebuah lembaga legislatif. maka DPD merupakan lembaga perwakilan yang mencerminkan perwakilan daerah (territorial reprentation). Berbeda dengan sistem pemilihan Presiden dan Wapres sebelumnya yang dipilih oleh MPR. korupsi. Dewan Perwakilan Daerah a. Hal ini diatur dalam pasal 7A UUD 1945 : Presiden dan/ atau Wakil Presiden hanya dapat diberhentikan dalam masa jabatannya apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. Jika DPR merupakan lembaga perwakilan yang mencerminkan perwakilan politik (political representation). b.SISTEM PEMERINTAHAN RI SESUDAH AMANDEMEN 1. tindak pidana berat lainnya. Pasangan calon Presiden dan Wapres diusulkan oleh parpol atau gabungan parpol peserta pemilu. Dewan Perwakilan Rakyat a. Keberadaan DPD terkait erat dengan aspirasi dan . Dalam pengaturan ini memperkuat kedudukan DPR terutama ketika berhubungan dengan Presiden. 2. Melalui perubahan UUD 1945. Konsekuensinya karena pasangan Presiden dan Wapres dipilih oleh rakyat. UUD 1945 sekarang menentukan bahwa mereka dipilih secara langsung oleh rakyat. b.

suatu hal yang . Majelis Permusyawaratan Rakyat a. yaitu : • Mengubah dan menetapkan UUD • Melantik Presiden dan/atau Wapres • Memberhentikan Presiden dan/atau Wapres dalam masa jabatannya menurut UUD 5. Kini MPR tidak lagi melaksanakan sepenuhnya kedaulatan rakyat dan tidak lagi berkedudukan sebagai Lembaga Tertinggi Negara dengan kekuasaan yang sangat besar. hubungan pusat daerah. dan kemajuan daerah. b. Di bidang legislasi. Melalui perubahan konstitusi keberadaan BPK diperkukuh. Keberadaan MPR pasca perubahan UUD 1945 telah sangat jauh berbeda dibanding sebelumnya. b. 4. pembangunan. Badan Pemeriksa Keuangan a. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. antara lain ditegaskan tentang kebebasan dan kemandirian BPK. dan pertimbangan sseperti halnya DPR. RUU yang berkaitan dengan otonomi daerah. Hanya saja konstitusi menentukan kewenangan itu terbatas tidak sama dengan yang dimiliki DPR. pengawasan. wewenang DPD adalah dapat mengajukan kepada DPR. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. Sekarang MPR menurut UUD 1945 adalah lembaga negara yang mempunyai kewenangan pokok yang terbatas. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. dapat mengakomodir kepentingan daerah selain karena mendorong percepatan demokrasi. anggaran. DPD mermpunyai kewenangan di bidang legislasi.kepentingan daerah agar prumusan dan pengambilan keputusan nasisonal mengenai daerah. termasuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Sebagai lembaga legislatif.

dan perilaku hakim. Salah satu materi perubahan UUD 1945 adalah dibentuknya lembaga baru MK. Selain itu juga mengatur rekrutmen hakim agung yang diusulkan KY kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden. 8. Dalam perubahan UUD 1945 pengaturan mengenai MA lebih diperbanyak lagi. Mahkamah Agung a. Tugas utama KY adalah mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Hasil kerja BPK diserahkan kepada DPR. 7. Lembaga negara yang termasuk baru ini mempunyai ruang lingkup tugas yang terkait erat dengan kekuasaan kehakiman (yudikatif). Pembentukan lembaga baru ini dimaksudkan sebagai pengawal konstitusi untuk menjamin agar proses demokratisasi di Indonesia dapat berjalan lancar dan sukses.mutlak ada untuk sebuah lembaga negara yang melaksanakan tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara. 6. Mahkamah Konstitusi a. DPD. Komisi Yudisial a. dan DPRD serta ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan atauu badan sesuai dengan UU. Untuk memperkuat jangkauan wilayah pemeriksaan. antar lain ditentukan kewenangan MA adalah mengadili pada tingkat kasasi. dan wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang. keluhuran martabat. menguji peraturan perundang –undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. BPK memiliki perwakilan di setiap Propinsi. Hal ini dilakukan melalui pelaksanaan tugas konstitusionalnya yang diarahklan kepada terwujudnya penguatan checks and balances antar cabang kekuasaan negara dan perlindungan dan .

Kewenangan MK sbg Pengawal Konstitusi a. penyuapan. Hubungan yang bersifat Fungsional b. dan Presiden dalam pengangkatan hakim (dalam konteks memberikan rekomendasi) d. Memutus perselisihan hasil pemilihan umum e. atau perbuatan tercela dan/atau pendapat bahwa Presiden dan/atau Wapres tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wapres. Hubungan antara KY.jaminan pelaksanaan hak-hak konstitusional warga negara sebagaimana telah diatur dalam UUD. pendapat. juga untuk menyampaikan usul. tindak pidana berat lainnya. DPR. Melakukan pengujian undang-undang terhadap UUD b. Memutus pembubaran partai politik d. BPK dengan lembaga negara lain ( terutama Presiden dan Menterimenteri) dalam penyelenggaraan keuangan lembaga-lembaga tersebut . korupsi. Hubungan antara DPR dengan DPD dalam membuat peraturan atau kebijakan yang berhubungan dengan otonomi daerah c. serta imunitas b. Memutus pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wapres telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianantan terhadap negara. Hubungaan Antar Lembaga Negara Pasca Amandemen UUD 1945 a. Hubungan yang bersifat Pengawasan c. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD c. Hubungan yang berkaitan dengan Penyelesaian Sengketa d. Hubungan yang bersifat Pelaporan atau Pertanggungjawaban Hubungan yang Bersifat Fungsional a. Hubungan antara DPR/DPD dengan Presiden dalam membuat UU dan APBN.

Hubungan antara DPD dengan Pemerintah Pusat dan Daerah. Hubungan antara Presiden dengan DPR dalam melaksanakan pemerintahan b. MK dengan lembaga-lembaga negara lain. Komisi Ombudsman Nasional dengan Pemerintah dan Aparatur Pemerintah. Komisi Hukum Nasional (KHN) dengan Presiden untuk memberikan pendapat tentang kebijakan hukum dan masalah-masalah hukum serta membantu Presiden sebagai penitia pengarah dalam mendesain pembaruan hukum g. untuk menguji konstitusionalitas UU e. khususnya dalam pelaksanaan otonomi daerah c. untuk menguji peraturan perundang-undangan di bawah Undang-undang d. dalam pelaksanaan pelayanan umum agar sesuai dengan asasasas umum pemerintahan yang baik ( good governance) Hubungan yang Berkaitan dengan Penyelesaian Sengketa a. KPU dengan Pemerintah dalam penyelenggaraan Pemilu f. MK dengan DPR/DPD dan Presiden ( sebagai pembentuk UU ).e. untuk menyelesaiakn sengketa kewenangan antar lembaga Negara b. KPK dengan Kepolisian dan Kejaksaan Agung dalam melakukan penyelidikan atas adanya dugaan korupsi Hubungan yang Bersifat Pengawasan a. KPK dengan Pemerintah f. Aparat Lembaga Negara serta lembaga penegak hukum dan peradilan. MA dengan Presiden. MK dengan penyelenggara pemilu untuk menyelesaikan perselisihan hasil pemilu Hubungan yang Bersifat Pelaporan atau Pertanggungjawaban .

Presiden dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha.a. Komisi Perlindungan Anak Indonesia . DPR/DPD dalam lembaga MPR dengan Presiden b. Komisi Anti Kekerasan terhadap Perempuan c. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. DPR dengan komisi-komisi negara seperti Komnas HAM. Komisi Ombudsman Nasional. KPK.

KATA PENUTUP Demikian makalah yang kami buat. guna melanjutkan pembangunan bangsa. 22 Februari 2012 . semoga apa yang kami buat. Kami menyadari bahwa makalah ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Surabaya. dan dapat menambah ilmu kami. Terima kasih atas perhatian yang diberikan. Karena itu. Kami mohon maaf apabila ada kesalahan. kami berterima kasih atas saran dan kritik yang telah diberikan. dapat bermanfaat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful