SISTEM HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL

SISTEM HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL A. Pengertian Hukum Internasional Pada dasarnya yang dimaksud hukum internasional dalam pembahasan ini adalah hukum internasional publik, karena dalam penerapannya, hukum internasional terbagi menjadi dua, yaitu: hukum internasional publik dan hukum perdata internasional. Hukum internasional publik adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara, yang bukan bersifat perdata. Sedangkan hukum perdata internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan perdata yang melintasi batas negara, dengan perkataan lain, hukum yang mengatur hubungan hukum perdata antara para pelaku hukum yang masing-masing tunduk pada hukum perdata yang berbeda. (Kusumaatmadja, 1999; 1) Awalnya, beberapa sarjana mengemukakan pendapatnya mengenai definisi dari hukum internasional, antara lain yang dikemukakan oleh Grotius dalam bukunya De Jure Belli ac Pacis (Perihal Perang dan Damai). Menurutnya “hukum dan hubungan internasional didasarkan pada kemauan bebas dan persetujuan beberapa atau semua negara. Ini ditujukan demi kepentingan bersama dari mereka yang menyatakan diri di dalamnya ”. Sedang menurut Akehurst : “hukum internasional adalah sistem hukum yang di bentuk dari hubungan antara negara-negara” Definisi hukum internasional yang diberikan oleh pakar-pakar hukum terkenal di masa lalu, termasuk Grotius atau Akehurst, terbatas pada negara sebagai satu-satunya pelaku hukum dan tidak memasukkan subjek-subjek hukum lainnya. Salah satu definisi yang lebih lengkap yang dikemukakan oleh para sarjana mengenai hukum internasional adalah definisi yang dibuat oleh Charles Cheny Hyde : “ hukum internasional dapat didefinisikan sebagai sekumpulan hukum yang sebagian besar terdiri atas prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh negara-negara, dan oleh karena itu juga harus ditaati dalam hubungan-hubungan antara mereka satu dengan lainnya, serta yang juga mencakup : a. organisasi internasional, hubungan antara organisasi internasional satu dengan lainnya, hubungan peraturan-peraturan hukum yang berkenaan dengan fungsi-fungsi lembaga atau antara organisasi internasional dengan negara atau negara-negara ; dan hubungan antara organisasi internasional dengan individu atau individu-individu ; b. peraturan-peraturan hukum tertentu yang berkenaan dengan individu-individu dan subyeksubyek hukum bukan negara (non-state entities) sepanjang hak-hak dan kewajiban-kewajiban individu dan subyek hukum bukan negara tersebut bersangkut paut dengan masalah masyarakat internasional” (Phartiana, 2003; 4) Sejalan dengan definisi yang dikeluarkan Hyde, Mochtar Kusumaatmadja mengartikan ’’hukum internasional sebagai keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas-batas negara, antara negara dengan negara dan negara dengan subjek hukum lain bukan negara atau subyek hukum bukan negara satu sama lain’’. (Kusumaatmadja, 1999; 2) Berdasarkan pada definisi-definisi di atas, secara sepintas sudah diperoleh gambaran umum tentang ruang lingkup dan substansi dari hukum internasional, yang di dalamnya terkandung unsur subyek atau pelaku, hubungan-hubungan hukum antar subyek atau pelaku, serta hal-hal

karena adanya faktor-faktor penunjang. Sedangkan mengenai subyek hukumnya. prinsip-prinsip hukum dalam semua sistem hukum bukan berasal dari buatan manusia. kewilayahan atau territorial. antara lain : (1) Setelah Kongres Wina 1815. kedaulatan. Sejak saat itulah. 6) Sementara itu. hukum internasional modern mulai berkembang pesat pada abad XVI. netralitas. kemerdekaan dan persamaan derajat. mulai muncul negara-negara yang bercirikan kebangsaan. serta prinsip-prinsip dan kaidah atau peraturanperaturan hukumnya. tetapi berasal dari prinsip-prinsip yang berlaku secara universal. hukum yang mengatur hubungan antar negara adalah prinsip-prinsip yang dibuat oleh negara-negara dan atas kemauan mereka sendiri. Banyak dibuatnya perjanjian-perjanjian (law-making treaties) di bidang perang. dimanapun mereka berada. Menurut golongan Naturalis. (Kusumaatmadja. hukum internasional mengalami perkembangan yang sangat pesat. Di abad XX. Fransisco de Vittoria. negara-negara Eropa berjanji untuk selalu menggunakan prinsip-prinsip hukum internasional dalam hubungannya satu sama lain. 1999 . sedangkan Ius Gentium adalah hukum yang diterapkan bagi orang asing. Tokoh lain yang menganut aliran Positivis ini. Seperti yang dinyatakan oleh JeanJacques Rousseau dalam bukunya Du Contract Social. Fransisco Suarez dan Alberico Gentillis. antara lain Cornelius van Bynkershoek. Tokoh terkemuka dari golongan ini adalah Hugo de Groot atau Grotius. tampak bahwa negara tidak lagi menjadi satu-satunya subyek hukum internasional. yang terbagi menjadi dua aliran utama. Banyaknya negara-negara baru yang lahir sebagai . 4) Sesungguhnya. Droit de Gens (Perancis) dan kemudian juga dikenal sebagai Law of Nations (Inggris). hukum internasional berkembang dengan cepat. La loi c’est l’expression de la Volonte Generale. dan bukan dibuat. yaitu sejak ditandatanganinya Perjanjian Westphalia 1648. sebagaimana pernah jadi pandangan yang berlaku umum di kalangan para sarjana sebelumnya. Ius Ceville adalah hukum nasional yang berlaku bagi masyarakat Romawi. karena dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut: (1). bahwa hukum adalah pernyataan kehendak bersama. yaitu pada zaman Romawi Kuno. (Mauna. Golongan Naturalis mendasarkan prinsip-prinsip atas dasar hukum alam yang bersumber dari ajaran Tuhan. sepanjang masa dan yang dapat ditemui oleh akal sehat. Prof. Orang-orang Romawi Kuno mengenal dua jenis hukum. (2). peradilan dan arbitrase. yang mengakhiri perang 30 tahun (thirty years war) di Eropa. Ius Gentium berubah menjadi Ius Inter Gentium yang lebih dikenal juga dengan Volkenrecth (Jerman). (Phartiana. 2003 . Hukum harus dicari. yaitu Ius Ceville dan Ius Gentium. Dasar hukum internasional adalah kesepakatan bersama antara negara-negara yang diwujudkan dalam perjanjian-perjanjian dan kebiasaan-kebiasaan internasional. (3). menurut golongan Positivis. yang bukan berkebangsaan Romawi. Ricard Zouche dan Emerich de Vattel Pada abad XIX. yaitu golongan Naturalis dan golongan Positivis. B. 2003 . 41) Perkembangan hukum internasional modern ini.atau obyek yang tercakup dalam pengaturannya. Sejarah dan Perkembangan Hukum Internasional Hukum internasional sebenarnya sudah sejak lama dikenal eksisitensinya. Berkembangnya perundingan-perundingan multilateral yang juga melahirkan ketentuan-ketentuan hukum baru. Dalam kondisi semacam inilah sangat dimungkinkan tumbuh dan berkembangnya prinsip-prinsip dan kaidahkaidah hukum internasional. juga dipengaruhi oleh karya-karya tokoh kenamaan Eropa. Dalam perkembangannya.

Pada awal mula. Kebiasaan internasional (international custom). regional maupun bersifat global. (3). 2. wilayah tertentu. seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan berbagai organ subsidernya. yang merupakan sumber hukum internasional tambahan. 2003. pemerintahan. Keputusan pengadilan (judicial decision) dan pendapat para ahli yang telah diakui kepakarannya. (4). Dalam bentuk atau wujud apa sajakah hukum itu tampak dan berlaku. kualifikasi suatu negara untuk disebut sebagai pribadi dalam hukum internasional adalah: a. hanya negaralah yang dipandang sebagai subjek hukum internasional Dewasa ini subjek-subjek hukum internasional yang diakui oleh masyarakat internasional. Negara Menurut Konvensi Montevideo 1949. baik bersifat bilateral. serta Badan-badan Khusus dalam kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyiapkan ketentuan-ketentuan baru dalam berbagai bidang. Sumber-sumber Hukum Internasional Pada azasnya. 2003. pemegang atau pendukung hak dan pemikul kewajiban berdasarkan hukum internasional. 1990. tempat diketemukannya ketentuan-ketentuan hukum internasional yang dapat diterapkan pada suatu persoalan konkrit. metode penciptaan hukum internasional. Banyaknya perjanjian-perjanjian internasional yang dibuat.akibat dekolonisasi dan meningkatnya hubungan antar negara. adalah: 1. penduduk yang tetap. maupun khusus. 2. 7) C. adalah: 1. Sumber hukum dalam arti materiil adalah sumber hukum yang membahas materi dasar yang menjadi substansi dari pembuatan hukum itu sendiri. (Burhan Tsani. (2). Dalam bentuk atau wujud inilah dapat ditemukan hukum yang mengatur suatu masalah tertentu. b. 14) Menurut Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional. Bermunculannya organisasi-organisasi internasional. c. Sumber hukum dalam arti formal adalah sumber hukum yang membahas bentuk atau wujud nyata dari hukum itu sendiri. Perjanjian internasional (international conventions). d. dari kelahiran dan pertumbuhan hukum internasional. 197) D. yaitu: sumber hukum dalam arti materiil dan sumber hukum dalam arti formal. baik yang bersifat umum. Subyek Hukum Internasional Subyek hukum internasional diartikan sebagai pemilik. 3. Prinsip-prinsip hukum umum (general principles of law) yang diakui oleh negara-negara beradab. kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan negara lain . Kemajuan pesat teknologi dan ilmu pengetahuan yang mengharuskan dibuatnya ketentuan-ketentuan baru yang mengatur kerjasama antar negara di berbagai bidang. sumber hukum terbagi menjadi dua. Sumber hukum internasional dapat diartikan sebagai: 1. 4. 3. mengenai Hak dan Kewajiban Negara. (Mauna. sumber-sumber hukum internasional yang dipakai oleh Mahkamah dalam mengadili perkara. (Phartiana. dasar kekuatan mengikatnya hukum internasional.

Kaum Pemberontak / Beligerensi (belligerent) Kaum belligerensi pada awalnya muncul sebagai akibat dari masalah dalam negeri suatu negara berdaulat. tidak seluas tugas dan kewenangan negara. (Phartiana. sehingga hanya memiliki kekuatan moral saja. Namun karena faktor sejarah. yang kemudian membentuk Palang Merah Nasional di masing-masing wilayahnya. sudah diakui secara luas di seluruh dunia. Palang Merah Internasional Sebenarnya Palang Merah Internasional. namun wibawa Paus sebagai pemimpin tertinggi Tahta Suci dan umat Katholik sedunia. contohnya adalah World Bank. Perjanjian Lateran tersebut pada sisi lain dapat dipandang sebagai pengakuan Italia atas eksistensi Tahta Suci sebagai pribadi hukum internasional yang berdiri sendiri. Namun apabila pemberontakan tersebut bersenjata dan terus berkembang. 2003. dengan cara menempatkan kedutaan besarnya di Vatikan dan demikian juga sebaliknya Tahta Suci juga menempatkan kedutaan besarnya di berbagai negara. Dengan pengakuan tersebut. maka salah satu sikap yang dapat diambil oleh adalah mengakui eksistensi atau menerima kaum pemberontak sebagai pribadi yang berdiri sendiri. banyak negara membuka hubungan diplomatik dengan Tahta Suci. 1. seperti perang saudara dengan akibat-akibat di luar kemanusiaan. yaitu Swiss. c. penyelesaian sepenuhnya merupakan urusan negara yang bersangkutan. walaupun tugas dan kewenangannya. dan lain-lain. hanyalah merupakan salah satu jenis organisasi internasional. contohnya adalah Perserikatan Bangsa Bangsa . 125) 1. Europe Union. didirikan oleh lima orang berkewarganegaraan Swiss. International Labor Organization. antara lain: Association of South East Asian Nation (ASEAN). UNESCO. Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan secara global dengan maksud dan tujuan yang bersifat umum. Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan global dengan maksud dan tujuan yang bersifat spesifik. Wolfe : a. b.1. Organisasi Internasional Klasifikasi organisasi internasional menurut Theodore A Couloumbis dan James H. antara pemerintah Italia dan Tahta Suci Vatikan mengenai penyerahan sebidang tanah di Roma. bahkan meluas ke negara-negara lain. Pada awal mulanya. (Phartiana. Palang Merah Nasional dari negar-negara itu kemudian dihimpun menjadi Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) dan berkedudukan di Jenewa. Swiss. Palang Merah Internasional merupakan organisasi dalam ruang lingkup nasional. International Monetary Fund. Oleh karena itu. keberadaan Palang Merah Internasional di dalam hubungan dan hukum internasional menjadi sangat unik dan di samping itu juga menjadi sangat strategis. 123) 1. Kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Palang Merah Internasional mendapatkan simpati dan meluas di banyak negara. yang dipimpin oleh Henry Dunant dan bergerak di bidang kemanusiaan. Tahta Suci Vatikan Tahta Suci Vatikan di akui sebagai subyek hukum internasional berdasarkan Traktat Lateran tanggal 11 Februari 1929. 2003. sebab hanya terbatas pada bidang kerohanian dan kemanusiaan. kaum pemberontak menempati status sebagai pribadi atau subyek hukum internasional . Organisasi internasional dengan keanggotaan regional dengan maksud dan tujuan global. walaupun sikap ini akan dipandang sebagai tindakan tidak bersahabat oleh pemerintah negara tempat pemberontakan terjadi. Oleh karena itu. berarti bahwa dari sudut pandang negara yang mengakuinya.

memang merupakan suatu fakta yang tidak bisa disangkal lagi. Berlakunya hukum internasional dalam lingkungan hukum nasional memerlukan ratifikasi menjadi hukum nasional. hukum internasional dan hukum nasional saling berkaitan satu sama lainnya. Menurut teori ini. maka yang diutamakan adalah hukum nasional suatu negara. Menurut teori Monisme. Eksistensinya dewasa ini. Menurut teori Dualisme. Penyelesaian sengketa secara damai dibedakan menjadi: penyelesaian melalui pengadilan dan di luar pengadilan. Hukum nasional tunduk dan harus sesuai dengan hukum internasional. 7. yang memberi keputusan dengan tidak harus terlalu terpaku pada pertimbangan-pertimbangan hukum. keamanan internasional dan keadilan tidak sampai terganggu”. dan hal ini semakin mengukuhkan eksistensi individu sebagai subyek hukum internasional yang mandiri. Deklarasi tersebut meminta agar “semua negara menyelesaikan sengketa mereka dengan cara damai sedemikian rupa agar perdamaian. Individu Pertumbuhan dan perkembangan kaidah-kaidah hukum internasional yang memberikan hak dan membebani kewajiban serta tanggungjawab secara langsung kepada individu semakin bertambah pesat. (Burhan Tsani. 1990. E. Ketentuan hukum internasional telah melarang penggunaan kekerasan dalam hubungan antar negara. yang tentu saja berpengaruh terhadap eksistensi. Arbitrase Internasional Penyelesaian sengketa internasional melalui arbitrase internasional adalah pengajuan sengketa internasional kepada arbitrator yang dipilih secara bebas oleh para pihak. Arbitrase . yang kemudian dikukuhkan oleh pasal 2 ayat (3) Piagan Perserikatan bangsa-Bangsa dan selanjutnya oleh Deklarasi Prinsip-Prinsip Hukum Internasional mengenai Hubungan Bersahabat dan Kerjasama antar Negara. 26) F. Penyelesaian melalui pengadilan dapat ditempuh melalui: 1. negara-negara dan organisasi internasional mengadakan hubungan dengan perusahaan-perusahaan multinasional yang kemudian melahirkan hak-hak dan kewajiban internasional. yaitu: teori Dualisme dan teori Monisme. hukum nasional kedudukannya lebih rendah dibanding dengan hukum internasional. merupakan dua sistem hukum yang secara keseluruhan berbeda. hukum internasional dan hukum nasional. terutama setelah Perang Dunia II. Hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang terpisah. Perusahaan Multinasional Perusahaan multinasional memang merupakan fenomena baru dalam hukum dan hubungan internasional. Di beberapa tempat. hukum internasional itu adalah lanjutan dari hukum nasional. Yang akan dibahas pada kesemapatan kali ini hanyalah penyelesaian perkara melalui pengadilan. Keharusan ini seperti tercantum pada Pasal 1 Konvensi mengenai Penyelesaian Sengketa-Sengketa Secara Damai yang ditandatangani di Den Haag pada tanggal 18 Oktober 1907. Sedangkan menurut teori Monisme. Hubungan Hukum Internasional dengan Hukum Nasional Ada dua teori yang dapat menjelaskan bagaimana hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional. Kalau ada pertentangan antar keduanya. tidak saling mempunyai hubungan superioritas atau subordinasi. Lahirnya Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) pada tanggal 10 Desember 1948 diikuti dengan lahirnya beberapa konvensi-konvensi hak asasi manusia di berbagai kawasan. struktur substansi dan ruang lingkup hukum internasional itu sendiri. Penyelesaian Sengketa Internasional Secara Damai.1. yaitu hukum nasional untuk urusan luar negeri.

dan. prinsip-prinsip hukum atau keadilan yang harus diterapkan untuk mencapai suatu kesepakatan. Menurut Pasal 92 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa disebutkan bahwa Mahkamah Internasional merupakan organ hukum utama dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. atau dengan perjanjian arbitrase yang telah ada. 1990. Pasal 14 Liga Bangsa-Bangsa menugaskan Dewan untuk menyiapkan sebuah institusi Mahkamah Permanen Internasional. Namun. 211) Secara esensial. karena banyak nomor-nomor dan pasal-pasal yang tidak mengalami perubahan secara signifikan .adalah merupakan suatu cara penerapan prinsip hukum terhadap suatu sengketa dalam batasbatas yang telah disetujui sebelumnya oleh para pihak yang bersengketa. Pengadilan arbitrase dilaksanakan oleh suatu “panel hakim” atau arbitrator yang dibentuk atas dasar persetujuan khusus para pihak. 4. Pengadilan Internasional Pada permulaan abad XX. Pusat Arbitrase Dagang Regional untuk Afrika (Regional Centre for Commercial Arbitration). 216) 1. (Burhan Tsani. waktu dan tempat hearing (dengar pendapat). Namun sesungguhnya. yaitu mulai dari komposisi. Pusat Arbitrase Dagang Regional untuk Asia (Regional Centre for Commercial Arbitration). 4. 1990. 3. Liga Bangsa-Bangsa mendorong masyarakat internasional untuk membentuk suatu badan peradilan yang bersifat permanent. berkedudukan di Kuala Lumpur. Arbitrase terdiri dari seorang arbitrator atau komisi bersama antar anggota-anggota yang ditunjuk oleh para pihak atau dan komisi campuran. wewenang dan tata kerjanya sudah dibuat sebelumnya dan bebas dari kehendak negara-negara yang bersengketa. berkedudukan di Kairo. setelah berakhirnya Perang Dunia II. maka negara-negara di dunia mengadakan konferensi di San Fransisco untuk membentuk Mahkamah Internasional yang baru. karenanya persetujuan para pihaklah yang mengatur pengadilan arbitrase. 2. dan (2). batas-batas fakta yang harus dipertimbangkan. pendirian Mahkamah Internasional yang baru ini. Malaysia. walaupun didirikan oleh Liga Bangsa-Bangsa. persetujuan para pihak untuk terikat pada keputusan arbitrase. organisasi. Hal-hal yang penting dalam arbitrase adalah : (1). Di San Fransisco inilah. 2. pada dasarnya hanyalah merupakan kelanjutan dari Mahkamah Internasional yang lama. Mesir. arbitrase merupakan prosedur konsensus. (Burhan Tsani. yang terdiri dari orang-orang yang diajukan oleh para pihak dan anggota tambahan yang dipilih dengan cara lain. Persetujuan arbitrase tersebut dikenal dengan compromis (kompromi) yang memuat: 1. 5. (Burhan Tsani. Sengketa diselesaikan atas dasar menghormati hukum. metode pemilihan panel arbitrase. 3. Pengadilan Arbitrase Kamar Dagang Internasional (Court of Arbitration of the International Chamber of Commerce) yang didirikan di Paris. antara lain: 1. 214) Masyarakat internasional sudah menyediakan beberapa institusi arbitrase internasional. Mahkamah Permanen Internasional. Hingga pada tahun 1945. Pusat Penyelesaian Sengketa Penanaman Modal Internasional (International Centre for Settlement of Investment Disputes) yang berkedudukan di Washington DC. tahun 1919. bukanlah organ dari Organisasi Internasional tersebut. kemudian dirumuskan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Statuta Mahkamah Internasional. Perlunya persetujuan para pihak dalam setiap tahap proses arbitrase.

yurisdiksi (kewenangan hukum) Mahkamah Pidana Internasional ini. 217) Sedangkan. yaitu yurisdiksi atas perkara biasa. Italia. tidak dapat banding dan hanya mengikat para pihak. Mahkamah Pidana Internasional (International Court of Justice/ICJ) Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak pembentukannya telah memainkan peranan penting dalam bidang hukum inetrnasional sebagai upaya untuk menciptakan perdamaian dunia. Negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak secara otomatis terikat dengan yurisdiksi Mahkamah ini. Prinsip-prinsip hukum umum (general principles of law) yang diakui oleh negara-negara beradab.Secara umum. Kebiasaan internasional (international custom). 2. adalah di bidang hukum pidana internasional yang akan mengadili individu yang melanggar Hak Asasi Manusia dan kejahatan perang. namun semua jenis sengketa dapat diajukan ke Mahkamah Internasional. Advisory Opinion tidaklah memiliki sifat mengikat bagi yang meminta. Jika tidak ada persetujuan. 4. namun hal ini bisa dilakukan jika ada kesepakatan antar negara-negara yang bersengketa. namun biasanya diberlakukan sebagai “Compulsory Ruling”. adalah: 1. namun kemudian harus ada persetujuan dari pihak yang lain. Selain Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) yang berkedudukan di Den Haag. Mahkamah Internasional juga sebenarnya bisa mengajukan keputusan ex aequo et bono. (Mauna. Keputusan pengadilan (judicial decision) dan pendapat para ahli yang telah diakui kepakarannya. jika telah disahkan oleh 60 negara. melaksanakan “Contentious Jurisdiction”. pada bulan Juni 1998. yaitu pendapat mahkamah yang bersifat nasehat. yang didasarkan pada persetujuan para pihak yang bersengketa. genosida (pemusnahan ras). Yang dapat menjadi pihak hanyalah negara. G. Keputusan Mahkamah Internasional sifatnya final. yang merupakan sumber hukum internasional tambahan. yaitu didasarkan pada keadilan dan kebaikan. saat ini Perserikatan Bangsa-bangsa juga sedang berupaya untuk menyelesaikan “hukum acara” bagi berfungsinya Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC). Statuta tersebut akan berlaku. sumber-sumber hukum internasional yang dipakai oleh Mahkamah dalam mengadili perkara. memberikan “Advisory Opinion”. Berbeda dengan Mahkamah Internasional. Belanda. tetapi harus melalui pernyataan mengikatkan diri dan menjadi pihak pada Statuta Mahkamah Pidana Internasional. Masalah pengajuan sengketa bisa dilakukan oleh salah satu pihak secara unilateral. Perjanjian internasional (international conventions). 3. 1990. maupun khusus. kejahatan humaniter (kemanusiaan) serta agresi. Peradilan-Peradilan Lainnya di Bawah Kerangka Perserikatan Bangsa-bangsa 1. menurut Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional. dan bukan berdasarkan hukum. Mahkamah Internasional mempunyai kewenangan untuk: 1. 2003. yaitu keputusan wajib yang mempunyai kuasa persuasive kuat (Burhan Tsani. baik yang bersifat umum. karena Mahkamah Internasional tidak akan memutus perkara secara in-absensia (tidak hadirnya para pihak). maka perkara akan di hapus dari daftar Mahkamah Internasional. 2. Keputusan juga diambil atas dasar suara mayoritas. 263) . yang statuta pembentukannya telah disahkan melalui Konferensi Internasional di Roma.

antara tahun 1975 sampai dengan 1979 yang telah membunuh sekitar 1. Hukum Internasional. Cetakan ke-9. 2003. Alumni. Putra Abardin Mauna Boer. Pengantar Hukum Internasional. namun Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah menyiapkan pembentukan mahkamah. 264) 3. Pengertian. yang dituduh telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan melanggar hukum perang. Alumni. yang sebagaimana diketahui memiliki sifat ad hoc (sementara). Jika diperkirakan bahwa tugas Mahkamah Peradilan Yugoslavia dan Rwanda telah menyelesaikan tugas mereka.000 orang Rwanda. (Mauna. Belanda. 2003.000 orang. Mahkamah Kriminal untuk Rwanda (International Criminal Tribunal for Rwanda) Mahkamah ini bertempat di Arusha. sudah 84 orang yang dituduh melakukan pelanggaran berat dan 20 diantaranya telah ditahan. pada tahun 1994. Fourth Edition. dan juga Clement Kayishema dan Obed Ruzindana yang telah dituduh melakukan pemusnahan ras (genosida) .700. (Mauna. 1999. 1999. tuduhan juga dikeluarkan terhadap pemimpin-pemimpin terkenal. Mahkamah Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia (The International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia/ICTY) Melalui Resolusi Dewan Keamanan Nomor 827. Cetakan ke-4. Mahkamah mulai menjatuhkan hukuman pada tahun 1998 terhadap Jean-Paul Akayesu. sebagai sebuah kelompok suku. Oxford Burhantsani. Walaupun tugas dari Mahkamah Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia dan Mahkamah Kriminal untuk Rwanda belum selesai. 265) REFERENSI Ardiwisastra Yudha Bhakti. Hukum Internasional. Perserikatan BangsaBangsa membentuk The International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia. Bandung Phartiana I Wayan. Semenjak Mahkamah ini dibentuk. Muhammad. Mahkamah mengungkap bahwa bahwa pembunuhan massal tersebut mempunyai tujuan khusus. seperti Slobodan Milosevic (Presiden Republik Federal Yugoslavia). mantan Walikota Taba. yang bertempat di Den Haag. Milan Milutinovic (Presiden Serbia). Yogyakarta : Penerbit Liberty. Pada tanggal 27 Mei 1999. terutama dari suku Tutsi. tanggal 25 Mei 1993. yaitu pemusnahan orang-orang Tutsi. maka Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengeluarkan resolusi untuk membubarkan kedua Mahkamah tersebut. Principles of Public International Law. 1990. Clarendon Press. PT. 2003. tugas Mahkamah ini adalah untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku kejahatan pembunuhan missal sekitar 800. Hukum dan Hubungan Internasional. Bandung Brownlie Ian.untuk Kamboja untuk mengadili para penjahat perang di zaman pemerintahan Pol Pot dan Khmer Merah.2. Bunga Rampai. Peran dan Fungsi dalam Era Dinamika Global. Bandung . Tugas Mahkamah ini adalah untuk mengadili orang-orang yang bertanggungjawab atas pelanggaran-pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional yang terjadi di negara bekas Yugoslavia. Kusamaatmadja Mochtar. Penerbit Mandar maju. tanggal 8 November 1994. 2003. Tanzania dan didirikan berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 955. 2003. Pengantar Hukum Internasional.

Identifikasi dan Reformulasi Sumber-Sumber Hukum Internasional. Penerbit Mandar Maju. Whisnu. A. Bandung . 1989.Situni F.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful