P. 1
Sistem Hukum Dan Peradilan Internasional

Sistem Hukum Dan Peradilan Internasional

|Views: 71|Likes:
Published by Yuli Setiawan

More info:

Published by: Yuli Setiawan on Mar 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2013

pdf

text

original

SISTEM HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL

SISTEM HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL A. Pengertian Hukum Internasional Pada dasarnya yang dimaksud hukum internasional dalam pembahasan ini adalah hukum internasional publik, karena dalam penerapannya, hukum internasional terbagi menjadi dua, yaitu: hukum internasional publik dan hukum perdata internasional. Hukum internasional publik adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara, yang bukan bersifat perdata. Sedangkan hukum perdata internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan perdata yang melintasi batas negara, dengan perkataan lain, hukum yang mengatur hubungan hukum perdata antara para pelaku hukum yang masing-masing tunduk pada hukum perdata yang berbeda. (Kusumaatmadja, 1999; 1) Awalnya, beberapa sarjana mengemukakan pendapatnya mengenai definisi dari hukum internasional, antara lain yang dikemukakan oleh Grotius dalam bukunya De Jure Belli ac Pacis (Perihal Perang dan Damai). Menurutnya “hukum dan hubungan internasional didasarkan pada kemauan bebas dan persetujuan beberapa atau semua negara. Ini ditujukan demi kepentingan bersama dari mereka yang menyatakan diri di dalamnya ”. Sedang menurut Akehurst : “hukum internasional adalah sistem hukum yang di bentuk dari hubungan antara negara-negara” Definisi hukum internasional yang diberikan oleh pakar-pakar hukum terkenal di masa lalu, termasuk Grotius atau Akehurst, terbatas pada negara sebagai satu-satunya pelaku hukum dan tidak memasukkan subjek-subjek hukum lainnya. Salah satu definisi yang lebih lengkap yang dikemukakan oleh para sarjana mengenai hukum internasional adalah definisi yang dibuat oleh Charles Cheny Hyde : “ hukum internasional dapat didefinisikan sebagai sekumpulan hukum yang sebagian besar terdiri atas prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh negara-negara, dan oleh karena itu juga harus ditaati dalam hubungan-hubungan antara mereka satu dengan lainnya, serta yang juga mencakup : a. organisasi internasional, hubungan antara organisasi internasional satu dengan lainnya, hubungan peraturan-peraturan hukum yang berkenaan dengan fungsi-fungsi lembaga atau antara organisasi internasional dengan negara atau negara-negara ; dan hubungan antara organisasi internasional dengan individu atau individu-individu ; b. peraturan-peraturan hukum tertentu yang berkenaan dengan individu-individu dan subyeksubyek hukum bukan negara (non-state entities) sepanjang hak-hak dan kewajiban-kewajiban individu dan subyek hukum bukan negara tersebut bersangkut paut dengan masalah masyarakat internasional” (Phartiana, 2003; 4) Sejalan dengan definisi yang dikeluarkan Hyde, Mochtar Kusumaatmadja mengartikan ’’hukum internasional sebagai keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas-batas negara, antara negara dengan negara dan negara dengan subjek hukum lain bukan negara atau subyek hukum bukan negara satu sama lain’’. (Kusumaatmadja, 1999; 2) Berdasarkan pada definisi-definisi di atas, secara sepintas sudah diperoleh gambaran umum tentang ruang lingkup dan substansi dari hukum internasional, yang di dalamnya terkandung unsur subyek atau pelaku, hubungan-hubungan hukum antar subyek atau pelaku, serta hal-hal

Prof. yaitu pada zaman Romawi Kuno. Banyaknya negara-negara baru yang lahir sebagai . yaitu Ius Ceville dan Ius Gentium. yang bukan berkebangsaan Romawi. (3). karena adanya faktor-faktor penunjang. serta prinsip-prinsip dan kaidah atau peraturanperaturan hukumnya. karena dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut: (1). hukum internasional modern mulai berkembang pesat pada abad XVI. Ricard Zouche dan Emerich de Vattel Pada abad XIX. kemerdekaan dan persamaan derajat. Sedangkan mengenai subyek hukumnya. Dalam kondisi semacam inilah sangat dimungkinkan tumbuh dan berkembangnya prinsip-prinsip dan kaidahkaidah hukum internasional. yang mengakhiri perang 30 tahun (thirty years war) di Eropa. sedangkan Ius Gentium adalah hukum yang diterapkan bagi orang asing. Sejarah dan Perkembangan Hukum Internasional Hukum internasional sebenarnya sudah sejak lama dikenal eksisitensinya. sepanjang masa dan yang dapat ditemui oleh akal sehat. Tokoh terkemuka dari golongan ini adalah Hugo de Groot atau Grotius. menurut golongan Positivis. dan bukan dibuat. La loi c’est l’expression de la Volonte Generale. prinsip-prinsip hukum dalam semua sistem hukum bukan berasal dari buatan manusia. 41) Perkembangan hukum internasional modern ini. Di abad XX. yang terbagi menjadi dua aliran utama. antara lain : (1) Setelah Kongres Wina 1815. (Phartiana. netralitas. Seperti yang dinyatakan oleh JeanJacques Rousseau dalam bukunya Du Contract Social. kedaulatan. 1999 . antara lain Cornelius van Bynkershoek. bahwa hukum adalah pernyataan kehendak bersama. Golongan Naturalis mendasarkan prinsip-prinsip atas dasar hukum alam yang bersumber dari ajaran Tuhan. hukum internasional mengalami perkembangan yang sangat pesat. Ius Gentium berubah menjadi Ius Inter Gentium yang lebih dikenal juga dengan Volkenrecth (Jerman). Droit de Gens (Perancis) dan kemudian juga dikenal sebagai Law of Nations (Inggris). Dasar hukum internasional adalah kesepakatan bersama antara negara-negara yang diwujudkan dalam perjanjian-perjanjian dan kebiasaan-kebiasaan internasional. 2003 . (Mauna. Hukum harus dicari. kewilayahan atau territorial. (2). Sejak saat itulah. mulai muncul negara-negara yang bercirikan kebangsaan. hukum yang mengatur hubungan antar negara adalah prinsip-prinsip yang dibuat oleh negara-negara dan atas kemauan mereka sendiri. Menurut golongan Naturalis. tampak bahwa negara tidak lagi menjadi satu-satunya subyek hukum internasional. 2003 . Tokoh lain yang menganut aliran Positivis ini.atau obyek yang tercakup dalam pengaturannya. Dalam perkembangannya. yaitu sejak ditandatanganinya Perjanjian Westphalia 1648. Ius Ceville adalah hukum nasional yang berlaku bagi masyarakat Romawi. Orang-orang Romawi Kuno mengenal dua jenis hukum. Fransisco de Vittoria. tetapi berasal dari prinsip-prinsip yang berlaku secara universal. peradilan dan arbitrase. Fransisco Suarez dan Alberico Gentillis. juga dipengaruhi oleh karya-karya tokoh kenamaan Eropa. hukum internasional berkembang dengan cepat. sebagaimana pernah jadi pandangan yang berlaku umum di kalangan para sarjana sebelumnya. B. Berkembangnya perundingan-perundingan multilateral yang juga melahirkan ketentuan-ketentuan hukum baru. Banyak dibuatnya perjanjian-perjanjian (law-making treaties) di bidang perang. (Kusumaatmadja. negara-negara Eropa berjanji untuk selalu menggunakan prinsip-prinsip hukum internasional dalam hubungannya satu sama lain. 6) Sementara itu. dimanapun mereka berada. yaitu golongan Naturalis dan golongan Positivis. 4) Sesungguhnya.

Prinsip-prinsip hukum umum (general principles of law) yang diakui oleh negara-negara beradab. Dalam bentuk atau wujud apa sajakah hukum itu tampak dan berlaku. 197) D. pemegang atau pendukung hak dan pemikul kewajiban berdasarkan hukum internasional. b. mengenai Hak dan Kewajiban Negara. adalah: 1. Kebiasaan internasional (international custom). sumber-sumber hukum internasional yang dipakai oleh Mahkamah dalam mengadili perkara. dari kelahiran dan pertumbuhan hukum internasional. (4). 2. metode penciptaan hukum internasional. adalah: 1. Pada awal mula. yang merupakan sumber hukum internasional tambahan. Subyek Hukum Internasional Subyek hukum internasional diartikan sebagai pemilik. regional maupun bersifat global. Sumber hukum dalam arti materiil adalah sumber hukum yang membahas materi dasar yang menjadi substansi dari pembuatan hukum itu sendiri. Kemajuan pesat teknologi dan ilmu pengetahuan yang mengharuskan dibuatnya ketentuan-ketentuan baru yang mengatur kerjasama antar negara di berbagai bidang.akibat dekolonisasi dan meningkatnya hubungan antar negara. tempat diketemukannya ketentuan-ketentuan hukum internasional yang dapat diterapkan pada suatu persoalan konkrit. pemerintahan. serta Badan-badan Khusus dalam kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyiapkan ketentuan-ketentuan baru dalam berbagai bidang. penduduk yang tetap. Bermunculannya organisasi-organisasi internasional. (3). wilayah tertentu. Banyaknya perjanjian-perjanjian internasional yang dibuat. Sumber hukum internasional dapat diartikan sebagai: 1. 4. Negara Menurut Konvensi Montevideo 1949. 1990. Perjanjian internasional (international conventions). dasar kekuatan mengikatnya hukum internasional. baik bersifat bilateral. 2003. (Phartiana. kualifikasi suatu negara untuk disebut sebagai pribadi dalam hukum internasional adalah: a. 7) C. 14) Menurut Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional. d. sumber hukum terbagi menjadi dua. Sumber hukum dalam arti formal adalah sumber hukum yang membahas bentuk atau wujud nyata dari hukum itu sendiri. hanya negaralah yang dipandang sebagai subjek hukum internasional Dewasa ini subjek-subjek hukum internasional yang diakui oleh masyarakat internasional. 2003. Dalam bentuk atau wujud inilah dapat ditemukan hukum yang mengatur suatu masalah tertentu. 2. 3. (Burhan Tsani. seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan berbagai organ subsidernya. (2). baik yang bersifat umum. (Mauna. kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan negara lain . Sumber-sumber Hukum Internasional Pada azasnya. Keputusan pengadilan (judicial decision) dan pendapat para ahli yang telah diakui kepakarannya. 3. yaitu: sumber hukum dalam arti materiil dan sumber hukum dalam arti formal. maupun khusus. c.

Palang Merah Nasional dari negar-negara itu kemudian dihimpun menjadi Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) dan berkedudukan di Jenewa. yang dipimpin oleh Henry Dunant dan bergerak di bidang kemanusiaan. contohnya adalah World Bank. Tahta Suci Vatikan Tahta Suci Vatikan di akui sebagai subyek hukum internasional berdasarkan Traktat Lateran tanggal 11 Februari 1929. walaupun sikap ini akan dipandang sebagai tindakan tidak bersahabat oleh pemerintah negara tempat pemberontakan terjadi. Dengan pengakuan tersebut. Organisasi Internasional Klasifikasi organisasi internasional menurut Theodore A Couloumbis dan James H. Namun apabila pemberontakan tersebut bersenjata dan terus berkembang. 123) 1. Oleh karena itu. didirikan oleh lima orang berkewarganegaraan Swiss. Europe Union. dengan cara menempatkan kedutaan besarnya di Vatikan dan demikian juga sebaliknya Tahta Suci juga menempatkan kedutaan besarnya di berbagai negara. yaitu Swiss. antara lain: Association of South East Asian Nation (ASEAN). International Labor Organization. UNESCO. Kaum Pemberontak / Beligerensi (belligerent) Kaum belligerensi pada awalnya muncul sebagai akibat dari masalah dalam negeri suatu negara berdaulat. 2003. dan lain-lain. sehingga hanya memiliki kekuatan moral saja. Pada awal mulanya. (Phartiana. antara pemerintah Italia dan Tahta Suci Vatikan mengenai penyerahan sebidang tanah di Roma. 125) 1. Perjanjian Lateran tersebut pada sisi lain dapat dipandang sebagai pengakuan Italia atas eksistensi Tahta Suci sebagai pribadi hukum internasional yang berdiri sendiri. berarti bahwa dari sudut pandang negara yang mengakuinya. walaupun tugas dan kewenangannya. International Monetary Fund. Organisasi internasional dengan keanggotaan regional dengan maksud dan tujuan global. Swiss. b. contohnya adalah Perserikatan Bangsa Bangsa . bahkan meluas ke negara-negara lain. (Phartiana. Kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Palang Merah Internasional mendapatkan simpati dan meluas di banyak negara. penyelesaian sepenuhnya merupakan urusan negara yang bersangkutan. 1. Wolfe : a. kaum pemberontak menempati status sebagai pribadi atau subyek hukum internasional . 2003. seperti perang saudara dengan akibat-akibat di luar kemanusiaan. hanyalah merupakan salah satu jenis organisasi internasional. namun wibawa Paus sebagai pemimpin tertinggi Tahta Suci dan umat Katholik sedunia. keberadaan Palang Merah Internasional di dalam hubungan dan hukum internasional menjadi sangat unik dan di samping itu juga menjadi sangat strategis. c. Oleh karena itu.1. Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan global dengan maksud dan tujuan yang bersifat spesifik. yang kemudian membentuk Palang Merah Nasional di masing-masing wilayahnya. Palang Merah Internasional Sebenarnya Palang Merah Internasional. banyak negara membuka hubungan diplomatik dengan Tahta Suci. Namun karena faktor sejarah. sudah diakui secara luas di seluruh dunia. sebab hanya terbatas pada bidang kerohanian dan kemanusiaan. maka salah satu sikap yang dapat diambil oleh adalah mengakui eksistensi atau menerima kaum pemberontak sebagai pribadi yang berdiri sendiri. Palang Merah Internasional merupakan organisasi dalam ruang lingkup nasional. Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan secara global dengan maksud dan tujuan yang bersifat umum. tidak seluas tugas dan kewenangan negara.

memang merupakan suatu fakta yang tidak bisa disangkal lagi. Arbitrase . struktur substansi dan ruang lingkup hukum internasional itu sendiri. 1990. Sedangkan menurut teori Monisme. 26) F. Keharusan ini seperti tercantum pada Pasal 1 Konvensi mengenai Penyelesaian Sengketa-Sengketa Secara Damai yang ditandatangani di Den Haag pada tanggal 18 Oktober 1907. Berlakunya hukum internasional dalam lingkungan hukum nasional memerlukan ratifikasi menjadi hukum nasional. Menurut teori Dualisme. hukum internasional itu adalah lanjutan dari hukum nasional. Hukum nasional tunduk dan harus sesuai dengan hukum internasional. Penyelesaian sengketa secara damai dibedakan menjadi: penyelesaian melalui pengadilan dan di luar pengadilan. Penyelesaian melalui pengadilan dapat ditempuh melalui: 1. Ketentuan hukum internasional telah melarang penggunaan kekerasan dalam hubungan antar negara.1. Penyelesaian Sengketa Internasional Secara Damai. yaitu hukum nasional untuk urusan luar negeri. dan hal ini semakin mengukuhkan eksistensi individu sebagai subyek hukum internasional yang mandiri. Di beberapa tempat. negara-negara dan organisasi internasional mengadakan hubungan dengan perusahaan-perusahaan multinasional yang kemudian melahirkan hak-hak dan kewajiban internasional. yang kemudian dikukuhkan oleh pasal 2 ayat (3) Piagan Perserikatan bangsa-Bangsa dan selanjutnya oleh Deklarasi Prinsip-Prinsip Hukum Internasional mengenai Hubungan Bersahabat dan Kerjasama antar Negara. Hubungan Hukum Internasional dengan Hukum Nasional Ada dua teori yang dapat menjelaskan bagaimana hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional. tidak saling mempunyai hubungan superioritas atau subordinasi. hukum internasional dan hukum nasional. Menurut teori ini. Eksistensinya dewasa ini. maka yang diutamakan adalah hukum nasional suatu negara. Yang akan dibahas pada kesemapatan kali ini hanyalah penyelesaian perkara melalui pengadilan. hukum nasional kedudukannya lebih rendah dibanding dengan hukum internasional. Menurut teori Monisme. merupakan dua sistem hukum yang secara keseluruhan berbeda. Perusahaan Multinasional Perusahaan multinasional memang merupakan fenomena baru dalam hukum dan hubungan internasional. (Burhan Tsani. 7. Deklarasi tersebut meminta agar “semua negara menyelesaikan sengketa mereka dengan cara damai sedemikian rupa agar perdamaian. Lahirnya Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) pada tanggal 10 Desember 1948 diikuti dengan lahirnya beberapa konvensi-konvensi hak asasi manusia di berbagai kawasan. Individu Pertumbuhan dan perkembangan kaidah-kaidah hukum internasional yang memberikan hak dan membebani kewajiban serta tanggungjawab secara langsung kepada individu semakin bertambah pesat. yaitu: teori Dualisme dan teori Monisme. Hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang terpisah. Kalau ada pertentangan antar keduanya. keamanan internasional dan keadilan tidak sampai terganggu”. yang memberi keputusan dengan tidak harus terlalu terpaku pada pertimbangan-pertimbangan hukum. E. hukum internasional dan hukum nasional saling berkaitan satu sama lainnya. Arbitrase Internasional Penyelesaian sengketa internasional melalui arbitrase internasional adalah pengajuan sengketa internasional kepada arbitrator yang dipilih secara bebas oleh para pihak. yang tentu saja berpengaruh terhadap eksistensi. terutama setelah Perang Dunia II.

4. walaupun didirikan oleh Liga Bangsa-Bangsa. pendirian Mahkamah Internasional yang baru ini. Persetujuan arbitrase tersebut dikenal dengan compromis (kompromi) yang memuat: 1. karena banyak nomor-nomor dan pasal-pasal yang tidak mengalami perubahan secara signifikan . 211) Secara esensial. Namun sesungguhnya. metode pemilihan panel arbitrase. arbitrase merupakan prosedur konsensus. Pusat Penyelesaian Sengketa Penanaman Modal Internasional (International Centre for Settlement of Investment Disputes) yang berkedudukan di Washington DC. Malaysia. (Burhan Tsani. 3. wewenang dan tata kerjanya sudah dibuat sebelumnya dan bebas dari kehendak negara-negara yang bersengketa. Pusat Arbitrase Dagang Regional untuk Afrika (Regional Centre for Commercial Arbitration). dan. 214) Masyarakat internasional sudah menyediakan beberapa institusi arbitrase internasional. karenanya persetujuan para pihaklah yang mengatur pengadilan arbitrase. 2. Perlunya persetujuan para pihak dalam setiap tahap proses arbitrase. berkedudukan di Kuala Lumpur. organisasi. yang terdiri dari orang-orang yang diajukan oleh para pihak dan anggota tambahan yang dipilih dengan cara lain. Pengadilan Arbitrase Kamar Dagang Internasional (Court of Arbitration of the International Chamber of Commerce) yang didirikan di Paris. Menurut Pasal 92 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa disebutkan bahwa Mahkamah Internasional merupakan organ hukum utama dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. setelah berakhirnya Perang Dunia II. bukanlah organ dari Organisasi Internasional tersebut. 3. Liga Bangsa-Bangsa mendorong masyarakat internasional untuk membentuk suatu badan peradilan yang bersifat permanent. prinsip-prinsip hukum atau keadilan yang harus diterapkan untuk mencapai suatu kesepakatan. pada dasarnya hanyalah merupakan kelanjutan dari Mahkamah Internasional yang lama. Mesir. dan (2). Di San Fransisco inilah. 1990. Pusat Arbitrase Dagang Regional untuk Asia (Regional Centre for Commercial Arbitration). Namun. 5. Hingga pada tahun 1945. Pasal 14 Liga Bangsa-Bangsa menugaskan Dewan untuk menyiapkan sebuah institusi Mahkamah Permanen Internasional. Pengadilan Internasional Pada permulaan abad XX. 2. (Burhan Tsani. waktu dan tempat hearing (dengar pendapat). Pengadilan arbitrase dilaksanakan oleh suatu “panel hakim” atau arbitrator yang dibentuk atas dasar persetujuan khusus para pihak. berkedudukan di Kairo. antara lain: 1. (Burhan Tsani. Mahkamah Permanen Internasional. persetujuan para pihak untuk terikat pada keputusan arbitrase. 1990. Hal-hal yang penting dalam arbitrase adalah : (1). batas-batas fakta yang harus dipertimbangkan. Arbitrase terdiri dari seorang arbitrator atau komisi bersama antar anggota-anggota yang ditunjuk oleh para pihak atau dan komisi campuran. yaitu mulai dari komposisi.adalah merupakan suatu cara penerapan prinsip hukum terhadap suatu sengketa dalam batasbatas yang telah disetujui sebelumnya oleh para pihak yang bersengketa. maka negara-negara di dunia mengadakan konferensi di San Fransisco untuk membentuk Mahkamah Internasional yang baru. tahun 1919. 216) 1. 4. atau dengan perjanjian arbitrase yang telah ada. Sengketa diselesaikan atas dasar menghormati hukum. kemudian dirumuskan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Statuta Mahkamah Internasional.

maupun khusus. Masalah pengajuan sengketa bisa dilakukan oleh salah satu pihak secara unilateral. adalah di bidang hukum pidana internasional yang akan mengadili individu yang melanggar Hak Asasi Manusia dan kejahatan perang. yaitu yurisdiksi atas perkara biasa. tidak dapat banding dan hanya mengikat para pihak. 2003. Berbeda dengan Mahkamah Internasional. maka perkara akan di hapus dari daftar Mahkamah Internasional. G. 263) . Keputusan Mahkamah Internasional sifatnya final. pada bulan Juni 1998. yang didasarkan pada persetujuan para pihak yang bersengketa. saat ini Perserikatan Bangsa-bangsa juga sedang berupaya untuk menyelesaikan “hukum acara” bagi berfungsinya Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC). Yang dapat menjadi pihak hanyalah negara. Negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak secara otomatis terikat dengan yurisdiksi Mahkamah ini. Perjanjian internasional (international conventions). Selain Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) yang berkedudukan di Den Haag. jika telah disahkan oleh 60 negara. genosida (pemusnahan ras). karena Mahkamah Internasional tidak akan memutus perkara secara in-absensia (tidak hadirnya para pihak). kejahatan humaniter (kemanusiaan) serta agresi. tetapi harus melalui pernyataan mengikatkan diri dan menjadi pihak pada Statuta Mahkamah Pidana Internasional. 1990. Advisory Opinion tidaklah memiliki sifat mengikat bagi yang meminta. yaitu pendapat mahkamah yang bersifat nasehat. Mahkamah Pidana Internasional (International Court of Justice/ICJ) Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak pembentukannya telah memainkan peranan penting dalam bidang hukum inetrnasional sebagai upaya untuk menciptakan perdamaian dunia. yaitu didasarkan pada keadilan dan kebaikan. adalah: 1. menurut Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional. Italia. Jika tidak ada persetujuan. yurisdiksi (kewenangan hukum) Mahkamah Pidana Internasional ini. Statuta tersebut akan berlaku. baik yang bersifat umum. 2. Peradilan-Peradilan Lainnya di Bawah Kerangka Perserikatan Bangsa-bangsa 1. 3. namun biasanya diberlakukan sebagai “Compulsory Ruling”. yang statuta pembentukannya telah disahkan melalui Konferensi Internasional di Roma. sumber-sumber hukum internasional yang dipakai oleh Mahkamah dalam mengadili perkara.Secara umum. 4. 217) Sedangkan. Prinsip-prinsip hukum umum (general principles of law) yang diakui oleh negara-negara beradab. namun semua jenis sengketa dapat diajukan ke Mahkamah Internasional. Keputusan juga diambil atas dasar suara mayoritas. yaitu keputusan wajib yang mempunyai kuasa persuasive kuat (Burhan Tsani. namun kemudian harus ada persetujuan dari pihak yang lain. Mahkamah Internasional mempunyai kewenangan untuk: 1. namun hal ini bisa dilakukan jika ada kesepakatan antar negara-negara yang bersengketa. Kebiasaan internasional (international custom). melaksanakan “Contentious Jurisdiction”. (Mauna. Mahkamah Internasional juga sebenarnya bisa mengajukan keputusan ex aequo et bono. memberikan “Advisory Opinion”. Belanda. 2. Keputusan pengadilan (judicial decision) dan pendapat para ahli yang telah diakui kepakarannya. dan bukan berdasarkan hukum. yang merupakan sumber hukum internasional tambahan.

2003. Belanda. sudah 84 orang yang dituduh melakukan pelanggaran berat dan 20 diantaranya telah ditahan. yang dituduh telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan melanggar hukum perang. Hukum Internasional. Pada tanggal 27 Mei 1999. PT. namun Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah menyiapkan pembentukan mahkamah. Kusamaatmadja Mochtar. Cetakan ke-9. Milan Milutinovic (Presiden Serbia). Pengantar Hukum Internasional. Muhammad. tanggal 25 Mei 1993. Alumni.700. 1999. Semenjak Mahkamah ini dibentuk. 264) 3. Mahkamah Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia (The International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia/ICTY) Melalui Resolusi Dewan Keamanan Nomor 827. 2003. Pengantar Hukum Internasional.untuk Kamboja untuk mengadili para penjahat perang di zaman pemerintahan Pol Pot dan Khmer Merah. Tugas Mahkamah ini adalah untuk mengadili orang-orang yang bertanggungjawab atas pelanggaran-pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional yang terjadi di negara bekas Yugoslavia. 2003. 2003.000 orang Rwanda. Bandung Brownlie Ian. Mahkamah Kriminal untuk Rwanda (International Criminal Tribunal for Rwanda) Mahkamah ini bertempat di Arusha. Mahkamah mulai menjatuhkan hukuman pada tahun 1998 terhadap Jean-Paul Akayesu.2. Perserikatan BangsaBangsa membentuk The International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia. (Mauna. Fourth Edition. Putra Abardin Mauna Boer. Oxford Burhantsani. Bandung . maka Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengeluarkan resolusi untuk membubarkan kedua Mahkamah tersebut. (Mauna. 1999. pada tahun 1994. Hukum dan Hubungan Internasional. 2003. tanggal 8 November 1994. Tanzania dan didirikan berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 955. Jika diperkirakan bahwa tugas Mahkamah Peradilan Yugoslavia dan Rwanda telah menyelesaikan tugas mereka. Alumni. yang bertempat di Den Haag. 265) REFERENSI Ardiwisastra Yudha Bhakti. tuduhan juga dikeluarkan terhadap pemimpin-pemimpin terkenal. yaitu pemusnahan orang-orang Tutsi. tugas Mahkamah ini adalah untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku kejahatan pembunuhan missal sekitar 800. Cetakan ke-4. Peran dan Fungsi dalam Era Dinamika Global. Hukum Internasional. Pengertian. Yogyakarta : Penerbit Liberty.000 orang. terutama dari suku Tutsi. Bunga Rampai. 1990. Mahkamah mengungkap bahwa bahwa pembunuhan massal tersebut mempunyai tujuan khusus. Bandung Phartiana I Wayan. sebagai sebuah kelompok suku. Walaupun tugas dari Mahkamah Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia dan Mahkamah Kriminal untuk Rwanda belum selesai. antara tahun 1975 sampai dengan 1979 yang telah membunuh sekitar 1. Penerbit Mandar maju. seperti Slobodan Milosevic (Presiden Republik Federal Yugoslavia). dan juga Clement Kayishema dan Obed Ruzindana yang telah dituduh melakukan pemusnahan ras (genosida) . mantan Walikota Taba. Principles of Public International Law. Clarendon Press. yang sebagaimana diketahui memiliki sifat ad hoc (sementara).

A.Situni F. Identifikasi dan Reformulasi Sumber-Sumber Hukum Internasional. Penerbit Mandar Maju. Whisnu. Bandung . 1989.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->