KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya keliping tentang EMPAT PILAR KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA, karena tanpa izinNya tidak mungkin keliping ini terselesaikan. Keliping ini saya buat satu jilid yang berisi tentang EMPAT PILAR KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA yang disajikan secara sistematis dan disertai kata-kata yang relevan sehingga mempermudah untuk mempelajarinya. Akhir kata, tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan keliping ini, masih jauh dari sempurna. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penyampaian atau penulisan keliping ini. Oleh karena itu, saya nantikan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan keliping ini. Terima Kasih,

Riki Sanggul Simanullang, dkk

I. menjadi seragam tanpa menghormati kebhinnekaan. seorang narapidana meregang nyawa dihabisi oleh petugas lembaga pemasyarakatan adalah contoh nyata bagaimana implementasi dan perlindungan hukum di lapangan amatlah diskriminatif. yang satu. kita melihat kebobrokan yang sedemikian rupa yang menyentuh rasa keadilan yang paling mendasar. Bukannya makin terkikis. yang sekalipun amat disadari terdiri dari beragam suku bangsa yang menjadi elemen penyusunnya semakin terusik dengan berbagai gerakan yang bersifat sektarian dan primordialisme. Indonesia seolah semakin dipaksakan untuk menjadi Ika. dan amat ramah terhadap mereka yang mapan. . hukum lebih terlihat berwajah keras terhadap mereka yang rawan. Di bidang penegakan hukum. Negara Bangsa yang dicitakan dimana negara berdiri di atas semua golongan mulai ditarik-tarik untuk berpihak pada kelompok tertentu baik melalui proses legislasi maupun dalam tindakan di lapangan. sementara di tempat lain di Banyumas. Bukannya memberi perlindungan dan pengayoman. Pendahuluan Lebih dari satu dasawarsa reformasi telah dijalani rakyat Indonesia. namun digunakan dan dimanfaatkan segelintir orang apa yang disebut dengan kaum elite dan pengusaha dan korporasi termasuk pihak asing. namun semakin hari wajah bangsa makin terlihat muram dan suram. Hukum yang dicitakan berlaku sama (equal) terhadap semua warga negara dan termasuk pejabat negara sebagai esensi paham negara hukum (rule of law) sebagaimana diamanatkan konstitusi terlihat-terbukti diterapkan secara diskriminatif. Kekerasan yang mengatasnamakan agama dan pembiaran negara terhadapnya telah membuat kaum minoritas agama menjadi tak nyaman berada dalam satu wangsa Indonesia. Sumber Daya Alam semakin digunakan bukan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. tebang pilih. korupsi justeru semakin merajalela dengan modus operandi yang semakin kreatif dan inovatif. Keutuhan bangsa yang Ika.1. Terpidana yang menikmati fasilitas penuh kemewahan seperti dinikmati Arthalita Suryani.

kepentingan mana amat bergantung pada pembuatnya. dan Bhinneka Tunggal Ika dapat benar-benar fungsional dalam menopang kehidupan berbangsa dan bernegara? Bagaimana hukum seharusnya didayagunakan dalam konteks keempat pilar tersebut. Maka. Kerapkali bahkan negara bertindak beyond the law. legitimasi segala tindakan koruptif dan eksploitatif. dapat digunakan untuk berbagai kepentingan. Hukum ditegakkan. Tulisan ini akan mencoba menjawab secara ringkas permasalahan tersebut di atas dalam perspektif hukum kenegaraan agar negara Indonesia yang dicitakan sesuai dengan amanat Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Pembukaan UUD 1945 tetap berdiri kokoh. Ia adalah instrumen. Hukum menjadi alat pembenar (justification). Hukum digunakan sebagai alat untuk menindas. semata justifikasi untuk melanggengkan kuasa. Tiada kebebasan berkumpul. Menjadi menarik untuk direnungkan kembali adalah bagaimana seharusnya empat pilar kebangsaan yakni Pancasila. DETIK pada 1994 adalah contoh bagaimana hukum ditegakkan melalui sebuah Peraturan Menteri Penerangan (lawful). yang oleh karenanya harus selalu setiap saat bersedia mengabdi dan menurut kehendak dan kemuan yang berkuasa. extrajucicial killing penembak misterius pada awal 80-am. Hukum terutama hukum pidana didayagunakan untuk menghukumi mereka yang dianggap mempertanyakan kekuasaan. EDITOR. III. Permasalahan Berbagai fenomena di atas sebenarnyalah sebagian kecil dari kompleksnya permasalahan bangsa di tengah arus globalisasi dunia. mereka yang berbeda pendapat dengan negara akan dijerat dengan pasal-pasal anti subversi yang tak demokratis. berpendapat yang menjadi fitur negara demokrasi konstitusional. suatu alat yang ibarat pisau. Hukum Sebagai Alat Kekuasaan Patut disadari bahwa hukum bukanlah suatu entitas bebas yang nilai.1. Pembredelan terhadap TEMPO. namun tak berkeadilan (just) karerea mengingkari prinsip kebebasan pers. hanyalah hamba manakala berhadapan dengan negara. Peembunuhan massal 1965/1966. Warga hanyalah kawula. yang bahu membahu dengan kekuatan kapital untuk mengeksploitasi mereka yang lemah. Pembahasan 1. pemenjaraan di Pulau Buru tanpa peradilan. II. UUD 1945. tercermin dalam berbagai wajah hukumnya yang oppresive dan eksploitatif. 1. penghilangan aktifis . Dalam perspektif Marxian bahkan diyakini bahwa hukum adalah alat penguasa. dapat dimengerti kalau pada masa pemerintahan Orde Baru. Pada masa Orde Baru. berserikat dan mengemukakan pendapat sebaliknya berbagai instrumen hukum yang membatasi dan mengkebirilah yang dibuat. paradigma negara kekuasaan menemukan bentuknya yang paling nyata. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). tapi akan tetapi justice diingkari.

yang oleh karenanya. Kemajemukan bangsa Indonesia disadari sebagai hal yang menjadikan bangsa ini unik. dan untuk memajukan kesejahteraan umum. mencerdaskan kehidupan bangsa. Kelemahan yang ada pada UUD 1945 yang asli diperbaharui dengan menambahkan klausul-klausul hak asasi manusia. dan berbagai krisis multidimensi yang kini kita hadapi dan rasakan. Sebagaimana Deklarasi Kemerdekaan Amerika. dengan keanekaragaman budaya. prinsip demokrasi.1997/1998. entitas bernama negara Indonesia didirikan untuk melayani rakyat. dan Dewan Perwakilan Daerah dalam rangka menciptakan check and balances agar kekuasaan tak menyimpang. Kesemuanya ditujukan agar kekuasaan terbatasi. Supremasi MPR digantikan dengan Supremasi Hukum. Berdasarkan Pancasila yang disepakati sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa. karena terdiri dari berbagai suku dan bahasa. Jelas dinyatakan dalam penjelasan UUD 1945 sebelum perubahan bahwa Indonesia bukanlah negara berdasarkan kekuasaan. Indonesia yang didirikan divisikan sebagai negara yang menganut negara hukum (rule of law). adalah sedikit dari berbagai contoh wajah negara kekuasaan pada masa order baru. Negara hukum yang tadinya lebih condong kepada kepastian hukum (rechstaat) belaka kini lebih kepada negara hukum yang prismatik yang tak saja mengedepankan kepastian namun juga keadilan. diciptakan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Negara Indonesia Yang Dicitakan Memasuki kehidupan bernegara seperti tersebut di atas. rakyatlah pemilik kuasa sesungguhnya. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.[3] Pembaharuan hukum berupa amandemen UUD 1945 sebagai agenda utama reformasi telah menciptakan desain ketatanegaraan yang lebih ideal bagi terciptanya negara Indonesia yang demokratik. Oleh karenanyalah Bhinneka Tunggal Ika menjadi semboyan bangsa kita. apa yang dalam istilah Belanda disebut sebagai machstaat. dan rakyat harus tunduk pada kemauan negara 1. Kemajemukan itu bisa berpotensi disintegrasi jika antara satu dan lain tidak merasa sebagai bagian dari entitas bernama Indonesia. dan kedaulatan rakyat dengan konstitusi sebagai hukum dasar. Pendiri bangsa kita mencitakan bahwa negara didirikan. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sesuatu yang disepakati oleh segenap rakyat Indonesia untuk tak dirubah. Negara adalah superior. menciptakan lembaga baru seperti Mahkamah Konstitusi. Komisi Yudisial. disepakati untuk tidak dirubah dalam proses Reformasi 1998. agar ada demokratisasi yang pada gilirannya akan membawa kepada kesejahteraan masyarakat. menyadarkan kita selalu . bukanlah menjadi cita Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Pembukaan UUD 1945. Sementara itu.

dan bahkan berperan serta aktif dalam mengawal segenap kebijakan pemerintah untuk tak melenceng dari cita-cita bangsa. namun dalam tataran implementasinya masih jauh panggang dari api. Perundangan dibuat lebih kepada memenuhi syahwat politik daripada diabdikan untuk kepentingan rakyat.bahwa kita memiliki keanekaragaman. yang selaras dengan jiwa Pancasila. jika kita telah berhukum dengan melupakan empat pilar kebangsaan tersebut maka pembaharuan dan koreksi terus menerus terhadap hukum itulah yang harus dilakukan. suatu tekad yang telah dicanangkan sejak Sumpah Pemuda. Tanpanya. adalah hal yang berbeda. berbagai peraturan hukum yang diciptakan masih tak demokratis dan justeru bertolak belakang dengan fungsi empat pilar kebangsaan tersebut. dan kelompok akan merasa dapat berdiri sendiri tanpa suatu wadah negara Indonesia. Bisa jadi kita telah beralih dari empat pilar tersebut: entah dalam kapasitas kita sebagai penyelenggara negara. maka kontrol terhadap kekuaasaan adalah sesuatu yang mutlak dilakukan. Lebih lanjut. Masyarakat memiliki kesempatan melalui jalur yang konstusional menyampaikan kritik melalui media. NKRI. masyarakat mengabdi pada . 1. suku. Ada setidaknya dua spekulasi mengenai hal ini. Lebih jauh. Namun yang penting adalah bahwa segala kelemahan dan kekurangan tersebut dapat dikoreksi melalui mekanisme yang demokratis. jawaban pertanyaan atas bagaimana peranan hukum selama ini terkait masih terjadinya krisis multidimensi yang melanda bangsa kita akhirakhir ini dapatlah dicari jawabannya dengan merenungkan kembali apakah kita masih menggunakan dan bahkan berhukum yang berkeselarasan dengan empat pilar tersebut guna menopang negara dan bangsa yang kita proklamasikan pada 17 Agustus 1945. Jika dalam tataran implementasinya hukum masih jauh dari empat pilar kebangsaan. setiap daerah. melalui lembaga perwakilan. termasuk hukum dasar yang demokratis. namun pula kepada para penyelenggara negara. Kepentingan politik jangka pendek mewarnai proses legislasi yang pada gilirannya akan merugikan rakyat. Di sini. Pertama. UUD 1945. capaian yang tak maksimal dalam tataran implementasi juga bisa disebabkan karena minimnya kesadaran hukum. Krisis Multidimensi: Dilupakannya Empat Pilar Kebangsaan? Oleh karenanya. Pada akhirnya. hukum dan penegakan hukum. tak pelak sosialisasi hukum menjadi penting untuk dilakukan. Keduanya. dan Bhinneka Tunggal ika. setiap entitas etnis. maupun sebagai warga negara. kita telah memiliki berbagai hukum. Kedua. Harus disadari bahwa adanya konstitusi. bisa jadi. namun kesemuanya satu. tak saja terhadap warga negara. adanya hukum bukan serta merta menjadi jaminan dan sulapan bahwa semua aspek kehidupan bernegara tak akan mengalami penyimpangan dalam tataran implementasi.

1. Namun demikian. Hukum bisa direview oleh pelaku kekuasaan kehakiman yang dalam hukum kenegaraan kita diemban oleh dua pelaku kekuasaan kehakiman yakni Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung. IV. Jika penopang yang satu tak kuat. sesuatu yang tentu tak diinginkan. hal ini dapat diatasi dengan koreksi melalui prosedur yang telah tersedia. Pembangunan hukum oleh karenanya haruslah dalam aras yang berkesesuaian dengan empat pilar kebangsaan tersebut. . yang bernafaskan Pancasila. Pada akhirnya bukan tak mungkin Indonesia akan ambruk. karena kekuasaan memang bertendensi untuk melanggengkan diri dan menyimpang. yang konstitusional. Penutup Tegaknya NKRI pada akhirnya berpulang pada apakah kita masih menggunakan empat pilar kebangsaan. Alih-alih tercipta order. adanya hukum justeru menimbulkan disorder. Kondisi seperti ini bukan sesuatu yang mengherankan dalam perspektif ilmu hukum kenegaraan. disintegratif daripada integratif.hukum. suku bangsa dan agama. dan bukan sebaliknya: hukum mengabdi pada masyarakat. dalam kerangka NKRI. maka akan berpengaruh pada pilar yang lain. Jika salah satu foundasi itu tidak dijadikan pegangan. dan untuk menjamin keanekaragaman budaya. maka akan goyahlah negara Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful