DESENTRALISASI PENDIDIKAN

April 23rd, 2010 a.Desentralisasi Pendidikan Desentralisasi menurut UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penyelenggaraan pendidikan merupakan salah satu urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah untuk kabupaten atau kota. Kewenangan tersebut dikenal dengan istilah desentralisasi pendidikan. Sedangkan desentralisasi pendidikan menurut Salilm (2004:297-299) adalah penyerahan sebagian kewenangan pemerintah pusat kepada daerah dan masyarakat, dengan melalui fase dan bentuk desentralisasi sebagai berikut: a. Pertama, desentralisasi pendidikan di Indonesia dalam bentuk ‘deconsentration’. Model ini telah berlangsung cukup lama dengan adanya organisasi vertikal berupa Kantor Wilayah (Kanwil) di tingkat propinsi dan Kantor Departemen (Kandep) di tingkat kabupaten/kota. Kanwil dan Kandep merupakan organisasi vertikal yang melaksanakan tugas-tugas dekonsentrasi di bidang pendidikan dari Departemen Pendidikan Nasional. b. Kedua, desentralisasi dalam bentuk ‘delegation’. Model desentralisasi ini telah dirintis sejak penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 65 tahun1951, yang menyatakan penyelenggaraan sekolah dasar (SD) menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Tingkat I (propinsi). Berdasarkan ketentuan tersebut, kewenangan penyelenggaraan SD, khususnya dalam urusan man, money, dan material (3 M) telah diserahkan pemerintah pusat kepada pemerintah propinsi. c. Ketiga, desentralisasi pendidikan dalam bentuk ‘devolusi’. Model ini baru dilaksanakan melalui UU Nomor 22 tahun 1999 (tertanggal 7 Mei 1999) tentang Pemerintah Daerah, dan UU Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Berdasarkan keputusan ini, urutan penyelenggaraan pendidikan mulai dari taman kanak-kanak, SD, sampai pendidikan menengah diserahkan pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten/kota, kecuali pendidikan luar biasa diserahkan kepada pemerintah propinsi. Desentralisasi pendidikan menurut Yuyarti (2004:1) tercantum di dalam UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan PP No.25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Konsekuensi dari otonomi daerah ini antara lain adanya kewenangan yang lebih besar bagi daerah untuk mengatur manajemen pengembangan silabus dan pelaksanaanya. Oleh sebab itu, manajemen pendidikan berbasis pusat perlu diubah menjadi manajemen berbasis sekolah (MBS). Program MBS ini merupakan program rintisan yang mengembangkan berbagai pendekatan untuk meningkatkan mutu pendidikan Sekolah Dasar dalam lingkungan desentralisasi pemerintah otonomi daerah. Artinya bahwa program tersebut memberikan lebih banyak kewenangan kepada sekolah dan masyarakat untuk mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta lebih tanggap terhadap kebutuhan daerah masing-masing.

Namun terdapat beberapa urusan yang masih menjadi tanggung jawab dan kewenangan pemerinta pusat dan propinsi. pendidikan menengah. pendidikan dasar. (2)Memiliki kewenangan dalam penerimaan siswa baru sesuai dengan ruang kelas yang tersedia. terbelakang dan atau tidak mampu. warga belajar dan mahasiswa (5) Menetapkan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun bagi pendidikan dasar. Kewenangan pemerintah pusat dapat disebutkan sebagai berikut: Menetapkan standar kompetensi siswa (1) Menetapkan standar materi pelajaran pokok (2) Menetapkan persyaratan perolehan dan penggunaan gelar akademik (3) Menetapkan pedoman pembiayaan penyelenggaraan pendidikan (4) Menetapkan persayaratkan penerimaan. (3) Mendukung/membantu penyelenggaraan pendidikan tinggi. 2004:269-270). tujuan.Berdasarkan pendapat tersebut di atas. misi.22 tahun 1999 desentralisasi semakin luas. dan material (3 M). Sedangkan setelah penerbitan UU No. logo. maka dapat disimpulkan bahwa desentralisasi pendidikan merupakan penyerahan sebagian wewenang pemerintah pusat kepada daerah (kabupaten/kota) dalam bidang pendidikan. (4) Pertimbangan pembukaan dan penutupan perguruan tinggi. strategi. Bahkan wewenang penyelenggaraan pendidikan telah diberikan hingga ke tingkat sekolah. Kewenangan Pemerintah Pusat dan Propinsi di Bidang Pendidikan Pada dasarnya semua urusan bidang pendidikan dasar dan menengah telah diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota. akreditasi dan pengangkatan tenaga akademis. dan tata tertib sekolah. menyelenggarakan sekolah luar biasa dan balai pelatihan dan/atau penataran guru (Salim. Apabila dilihat dari sejarahnya. (3)Menetapkan kegiatan intrakulikuler dan ekstrakulikuler yang akan diadakan dan dilaksanakan oleh sekolah. Beberapa urusan dalam bidang pendidikan yang secara langsung dapat diserahkan kepada sekolah adalah sebagai berikut: (1)Menetapkan visi. perpindahan. (2) Menyediakan bantuan pengadaan buku pelajaran pokok/modul pendidikan untuk TK. sebenarnya desentralisasi pendidikan sudah diberlakukan sejak penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 65 tahun1951. dan pendidikan luar sekolah. akan tetapi desentralisasi pada waktu itu ruang lingkupnya masih sangat sempit yaitu hanya terfokus pada penyelenggaraan SD. fasilitas yang ada. jumlah guru. dan luar sekolah (6) Mengatur dan mengembangkan pendidikan tinggi. Kewenangan-kewenangan pemerintah propinsi ini dapat disebutkan sebagai berikut: (1) Menetapkan kebijakan penerimaan siswa dan mahasiswa dari masyarakat minoritas. lagu. . money. Pemerintah propinsi memiliki kewenangan yang berbeda dari kewenangan pemerintah pusat. menengah. selain pengaturan kurikulum. pendidikan jarak jauh serta menngatur sekolah internasional. Desentralisasi Pendidikan di Tingkat Sekolah Desentralisasi pendidikan di tingkat sekolah merupakan satu bentuk desentralisasi yang langsung sampai ke ujung tombak pendidikan di lapangan. dan tenaga administratif yang dimiliki. Meskipun masih ada beberapa urusan yang masih menjadi kewenangan pemerintah pusat. khususnya dalam urusan man. sertifikasi siswa.

kesehatan. kebijakan pendidikan diserahkan di daerah otonom. yakni pekerjaan umum. propinsi. pembelajaran pun akan sesuai dengan muatan standar isi masing-masing mapel. menitikberatkan kebijakan pendidikan kepada/menjadi kewenangan pemerintah daerah kabuaten/kota. baik dari segi sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. penanaman modal. Berdasarkan uraian tersebut diatas. Sedangkan menurut tim penyusun buku Manajemen Berbasis Sekolah. pertanahan. perhubungan.22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah pada hakekatnya memberi kewenangan dan keleluasaan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan adanya otonomi sekolah berbarti guru pun memiliki otonomi terhadap siswa dan lingkungan kelas. industri dan perdagangan. Kewenangan daerah dan kota. mencakup semua bidang pemerintahan. pemerintah propinsi dan sekolah. (5)Penghapusan barang dan jasa dapat dilaksanakan sendiri oleh sekolah. maupun kabupaten. Senada dengan pendapat Agus Salim di atas. Dengan demikian. pertanian.(4)Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan. Sehingga. Pendidikan yang pembangunannya diserahkan di daerah otonom Dengan adanya UU No. Menurut Hanson dalam Salim (2004: 299-300) tujuan pendidikan adalah untuk: (1) Mempercepat pertumbuhan ekonomi (2) Meningkatkan efisiensi manajemen (3) Distribusi tanggung jawab dalam bidang keuangan (4) Meningkatkan demokrasi melalui distribusi kekuasaan (5) Kontrol lokal menjadi lebih besar melalui deregulasi (6) Pendidikan berbasis kebutuhan pasar (7) Menetralisasi pusat-pusat kekuasaan (8) Meningkatkan kualitas pendidikan . (7)Urusan teknis edukatif yang lain sejalan dengan konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) merupakan urusan yang sejak awal harus menjadi tanggung jawab dan kewenangan sekolah. jelaslah bahwa kebijakan pendidikan di bawah kewenangan daerah kabupaten dan kota. b. dengan adanya desentralisasi pendidikan maka tiap-tiap daerah kabupaten/kota dapat menjalankan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan daerahnya sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Adanya wewenang yang diberikan kepada pihak sekolah menimbulkan munculnya manajemen berbasis sekolah (MBS) dimana sekolah dapat mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sekolah yang bersangkutan.22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. lingkungan hidup. koperasi serta tenaga kerja. (6)Proses pengajaran dan pembelajaran. dengan mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Hal itu dikarenakan masing-masing daerah otonom memiliki kemampuan dan kapasitas yang berbeda. sebagaimana dirumuskan dalam pasal 11. tim penyususn buku Manajemen Berbasis Sekolah (2003:2) mengemukakan bahwa dengan dundangkannya UU No. pendidikan dan kebudayaan. maka dapat dilihat bahwa Agus Salim membagi wewenang dalam bidang pendidikan menjadi tiga yaitu wewenang pemerintah pusat. Menurut saya penyerahan tersebut merupakan salah satu alternatif peningkatan mutu pendidikan yang tepat dan saya sangat setuju dan sangat mendukung. Sehingga. dengan memperhatikan standar dan ketentuan yang ada. termasuk buku pelajaran dapat diberikan kepada sekolah.

Jakarta: Rineka Cipta. Poedjawijatnya. Indonesia Belajarlah Membangun Pendidikan Indonesia. Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik simpulan bahwa langkah pemerintah dalam menetapkan desentralisasi pendidikan sudah tepat. Agus.id/karatikahernawan/2010/04/23/desentralisasi-pendidikan/ hari senin 5 maret 2012.ac. H. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan Unnes. 2003. Jakarta: Uhamka Press. Usaha Menigkatkan Mutu Pendidikan Melalui Program MBS. Modul untuk bahan bacaan bagi peserta workshop Kepala Madrasah Aliyah dalam rangka peningkatan mutu sekolah menengah tahun 2003. Pembimbing ke Arah Alam Filasafat.Berkenaan dengan peningkatan kualitas pendidikan tersebut menurut Sallis dalam Anwar. Tim Penyusun. apa yang menjadi produk pendidikan. (2004:57-58) ada dua hal yang selalu menjadi pertanyaan mendasar. Profesi Jabatan Kependidikan dan Guru sebagai Upaya Menjamin Kualitas Pembelajaran. jam 17.45 . dan pendapat yang tidak dapat dipandang dari siswa. Sedangkan berhasil atau tidaknya tinggal melihat dari pelaksanaannya. karena mereka mempunyai pengalaman emosi. 2004. Kedua. Manajemen Berbasis Sekolah. http://blog. dkk. siapa yang dimaksud dengan pelanggan (customer) pendidikan. Guna memperoleh jaminan kualitas produk pendidikan diperlukan: (1) pengawasan yang spesifik terhadap suplai.unnes. Semarang: Gerbang Madani Indonesia. I. Salim. Pertama. R. tetapi ditentukan ole jasa pendidikan yaitu pengajaran atau pelayanan belajar. Pendapat Lynton dan Gray menyatakan bahwa manusia dikenal sebagai elemen atau unsur nonstandar. 2004. PAKEM. Qomari. dan PSM.. dkk. 1983. DAFTAR PUSTAKA Anwar. dan (2) bahan mentah atau bahan baku (raw material) harus memenuhi standar yang ditentukan sehingga proses pendidikan dan outputnya sesuai dengan spesifikasi yang didefinisikan. UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Siswa tidak dapat disebut produk jaminan standar tertentu. 2004. Yuyarti.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful