Modernitas, Mesianisme, Mukjizat Walter Benjamin dan Carl Schmitt

Oleh Akhmad Sahal*

.... netralisasi dan depolitisasi, dengan kata lain liberalisme, itulah yang bagi Schmitt menjadi penyebab utama kebekuan dan ³kenormalan´ modernitas. Dan kenormalan ini perlu didobrak dengan cara memberi peluang bagi munculnya the sovereign yang bisa mengambil keputusan pada/tentang state of exception. Memakai ungkapannya sendiri, kita bisa mengatakan bahwa Schmitt mendambakan suatu dunia yang tidak lagi dikuasai oleh deisme yang tidak mengenal mukjizat atau intervensi dari luar sejarah. Tulisan ini sebelumnya adalah makalah yang dipresentasikan pada diskusi Ramadan di Komunitas Salihara, 2009. ______________________ Membaca esai Walter Benjamin ³Theses on the Philosophy of History (1940),´ saya langsung disergap oleh pertanyaan: ke manakah kesetiaan filosof Yahudi Jerman ini pada akhirnya dilekatkan: ke materialisme historis atau teologi; dan siapakah tokoh sentral baginya, malaikat sejarah atau sang Messiah. Esai yang ditulis menjelang Benjamin bunuh diri karena gagal melarikan diri dari cengkraman Nazi itu memang dengan jelas menunjukkan pertautan Benjamin pada materialisme historis, meski yang ia maksudkan dengan terma itu sangat berbeda dari apa yang selama ini dipahami oleh kaum Marxis lain . Sementara kaum Marxis pada umumnya mendefinisikan materialisme historis dalam kerangka revolusi sosialis untuk menciptakan masa depan yang lebih baik, Benjamin memaknainya sebagai upaya menyelamatkan dan mengingat masa lalu dan menyusun kembali fragmenfragmen sejarah yang ditenggelamkan dan dibungkam agar menjadi utuh kembali. Para penganut doktrin materialisme historis, yang nota bene merupakan anak kandung Pencerahan, memeluk teguh the idea of progress. Tapi Benjamin justru bersikap sebaliknya. Ia skeptis dengan optimisme semacam itu karena menurutnya, kemajuan tidak lain hanyalah akumulasi reruntuhan masa lalu, yang tegak berdiri di atas tumpukan korban yang terbungkam. Tulisnya, ³there is no document of civilization which is not at the same time a document of barbarism.´ Sejarah baginya selalu ditulis oleh mereka yang menang. Akibatnya, mereka yang kalah, yang mati, dilupakan, dianggap tidak pernah ada. Oleh karena itu, revolusi dalam bingkai materialisme historis dalam versi Benjamin adalah semacam , untuk meminjam istilah Milan Kundera, perjuangan ingatan dalam melawan lupa. Tugas materialisme historis menyerupai ³malaikat keadilan´ seperti pada lukisan ³Angelus Novus ³karya Paul Klee, yang wajahnya mengarah ke masa lalu dan berkehendak untuk membangunkan yang mati dan membuat utuh kembali apa yang telah dihancurkan.

Materialisme historis versi Benjamin ini kerap dibaca sebagai ihtiar menampik dominasi ide kemajuan yang menjadi ciri modernitas, yang atas nama rasionalitas universal mendesakkan suatu narasi sejarah universal dan memaksakan suatu konsep waktu yang seragam, yakni waktu yang kosong dan homogen, yang pada gilirannya akan membungkam keragaman dan menekan suara-suara lain. Tidak heran kalau pandangan Benjamin ini disejajarkan dengan konsep heteroglosia dan karnaval dari Michael Bakhtin. Benjamin juga dianggap sebagai salah satu sumber inspirasi pascastrukturalisme, terutama konsep genealogi Michael Foucault yang menekanakan pentingnya ³insurrection of subjugated knowledges´ sebagai misi utama ³perjuangan´ pascastrukturalisme. Kesimpulan semacam itu dalam batas tertentu memang memkiat. Tapi sejauh menyangkut esai ³Theses,´ ada pokok soal yang tampaknya kurang mendapatkan perhatian. Dalam esai tersebut, Benjamin memang banyak merujuk kepada materialisme historis. Tapi perlu diingat, Benjamin juga menegaskan bahwa materialisme historis mesti mendapat bimbingan dari teologi jika ingin menang. Sejarah di mata Benjamin adalah semacam permainan catur, di mana materialisme historis sepintas lalu tampak memegang kendali permainan, padahal yang terjadi ia hanyalah bidak yang dikontrol oleh tangan tersembunyi teologi. Lagipula, malaikat sejarah ternyata gagal karena ketika ia hendak menjalankan misinya, ia tibatiba terbawa badai yang meniupnya dari surga, badai yang dinamai ³kemajuan.´ Benjamin lantas berharap kepada sang Messiah, yang dalam teologi Yahudi diyakini bisa melakukan intervensi terhadap sejarah kapan saja dan karena itu mampu menghindarkan masa depan Yahudi dari cengkeraman waktu modern, ymenurutnya ditandai dengan karakternya yang homoge dan kosong. Sang Messiah inilah yang pada akhirnya, dalam pandangan Benjamin, berhasil menunaikan tugas yang gagal ditunaikan oleh malaikat keadilan. Atas dasar itulah Gershom Scholem, pemikir Judaisme yang juga sobat karib Benjamin, mengklaim bahwa menjelang akhir hayatnya, kesetiaan Benjamin sesungguhnya lebih condong ke Messianisme teologi Yahudi ketimbang ke materialisme historis. Bahkan dalam amatan Scholem, titik temu antara Benjamin dan kaum Marxis lain dalam soal materialisme historis hanyalah sebatas kesamaan dalam sebutan saja. Tapi apa peran sang Mesiah dalam kritik Benjamin terhadap modernitas? Perlu diingat, Walter Benjamin adalah seorang Yahudi sekuler yang tumbuh dalam tradisi kiri di Jerman awal abad 20. Ia tentu tidak mengartikan kehadiran Mesiah secara harfiah sepertihalnya kaum ultra-Orthodox. Selain itu, di antara Yahudi Marxis di Eropa saat itu, bukan hanya Benjamin yang menaruh iman dan harapan kepada mesianisme sekular. Ambil contoh George Lukacs, Marxis dari Hungaria yang terkenal lewat bukunya ³History and Class Consciousness.´ Lukacs percaya bahwa kelas proletar merupakan manifestasi nyata dari mesiah sekular karena kelas proletarlah yang mampu melepaskan diri dari ³antinomi kultur borjuasi´ dan membebaskan masyarakat dari reifikasi dan fetishisme komoditas yang mencirikan kapitalisme.

Namun berbeda dengan Lukacs. empty time. yang ³homogenous.´ Dalam Political Theology: Four Chapters on the Concept of Sovereignty (1922). ³for every second of time was the strait gate througth which the Messiah might enter´ Bagaimana kita mesti memaknai ungkapan tersebut? Apakah itu berarti bahwa bagi Benjamin. Bukankah Benjamin adalah penentang dan sekaligus korban Nazisme sedangkan Schmitt adalah pemikir Jerman pro-Nazi. kata Benjamin.´ Dengan diktum itu Schmitt menegaskan kedaulatan tidak bisa didasarkan pada . especially the ³Diktatur. Pada titik inilah saya tertarik untuk membandingkan Walter Benjamin dengan Carl Schmitt dalam hal kritiknya terhadap modernitas dan konsep waktu modern. Perhaps I may also say. dari luar sejarah. Lantas apa arti Mesianisme bagi Benjamin? Ia mengatakan di bagian akhir ³Theses on The Philosophy of History´ bahwa konsep waktu di masa depan dalam eskatologi Yahudi sama sekali bukanlah seperti konsep waktu modernitas. termasuk ³Theses. Dikotomi antara modernitas dan mesianisme ini buat saya menarik karena pandangan Benjamin tersebut punya kemiripan dengan konsep Carl Schmitt tentang dikotomi antara situasi normal dengan situasi darurat. pandangan Schmitt tentang state of exception yang menjadi dasar bagi konsep kedaulatan dan distingsi yang dibuat Schmitt antara ³waktu normal´ dan ³waktu darurat´ juga membayang-bayangi Benjamin dalam esai-esainya. yang digelari sebagai sang ahli hukum the Third Reich? Menurut saya perbandingan semacam itu tidak aneh sama sekali. in addition. Schmitt menyatakan diktumnya yang terkenal.´ Karena. surat Walter Benjamin kepada Schmitt pada Desember 1930 yang mendedahkan utang teoritis Benjamin kepada Schmitt: Esteemed Professor Schmitt. Tapi lebih dari itu. termasuk dianggap sebagai kaum Marxis yang skeptis dengan peran revolusioner kaum buruh. dari wilayah yang transenden. Benjamin tidak mengaitkan Mesianisme dengan proletariat. Bahkan ia. misalnya. that I have also derived from your later works. Simaklah. untuk bisa bebas dari terkaman waktu modern yang hampa dan homogen kita memerlukan sang Mesiah yang bisa melakukan intervensi dari luar tatanan itu sendiri. Selintas perbandingan ini terdengar aneh. begitu juga koleganya di Mazhab Frankfurt. You will receive any day from now from the publisher my book The Origin of the German Mourning Play«You will very quickly recognize how much my book is indebted to you for its presentation of the doctrine of sovereignty in the seventeenth century.´ a confirmation of my modes of research in the philosophy of art from yours in the philosophy of the state« With my expression of special admiration Your very humble Walter Benjamin Dari surat Benjamin kita tahu betapa konsep Schmitt mengenai kedaulatan punya pengaruh besar terhadap telaah Benjamin mengenai drama tragedi Jerman. ³yang berdaulat adalah yang memutuskan tentang/pada situasi darurat. di masa depan.

Paralelisme yang lain. kedaulatan terletak pada situasi darurat.norma atau aturan dalam situasi normal karena kedaulatan itu justru sumber dari norma tersebut. paham yang bagi Schmitt paling merepresentasikan modernitas. Bahkan ia punya kekuatan untuk memutuskan kapan situasi normal bermula dan kapan berakhir. Di mata Schmitt. Bahkan bisa dikatakan ia bersandar pada ketiadaan. liberalisme menegasikan state of exception yang menjadi lokus bagi kedaulatan yang sesungguhnya. semacam creatio ex nihilo. di mata Schmitt dibutuhkan situasi darurat untuk memecah kebekuan situasi normal dari modernitas. situasi darurat mesti dideklarasikan oleh pihak dari luar situasi/masa normal tadi.´ Dengan kata lain. Dengan sendirinya. Dan karena kerangka normalitas tidak bisa dipecah/dihentikan dari dalam. waktu abnormal. dan peran Tuhan untuk melakukan intervensi terhadap alam semesta juga ditampik. seperti Alan Badiou dan para pemikir demokrasi radikal. tendensi semacam ini. Dalam dunia deistis. yang di luar normal. Paham semacam ini dalam pandangan Schmitt mirip dengan paham deisme yang melihat alam semesta seperti mesin yang berjalan dengan sendirinya. bisa kita temukan padanannya dalam sejumlah kritik mutakhir terhadap modernitas dan liberalisme. meski dengan fromulasi dan alur argumen yang berbeda. yang abnormal yang tidak bisa disandarkan pada norma apapun. Menariknya. Bertolak dari klaim tersebut Schmitt kemudian menggebuk liberalisme. Schmitt menganalogkan ³state of exception´ dengan mukjizat yang datang dari Tuhan untuk menginterupsi jalannya hukum alam yang normal. Di mata mereka. Lantas dari mana kedaulatan muncul? Bagi Schmitt. sementara bagi Benjamin dibutuhkan Mesiah untuk keluar dari dominasi waktu modern yang homogen dan kosong. Kalau Benjamin dalam ³Theses´ mengaitkan materialisme historis dengan teologi. baik Benjamin dan Schmitt sebenarnya bersandar pada kekuatan di luar sejarah dalam upayanya untuk membongkar modernitas yang beku dan repetitif (Schmitt) atau mengelak dari dominasi modernitas yang mendesakkan konsep waktu yang homogen dan kosong (Benjamin). Karena kedaulatan berada di luar wilayah situasi normal. situasi darurat yang menginterupsi jalannya situasi normal juga datang dari the sovereign yang berada di luar. Sepertihalnya mukjizat. Bahkan Schmitt lebih jauh mengklaim bahwa hampir seluruh konsep dalam tatanan politik modern tidak lain adalah konsepkonsep teologi yang sudah tersekulerkan. maka Carl Schmitt juga menekankan betapa teori politik juga berimpitan dengan teologi. maka keberadaannya berkaitan erat dengan waktu darurat. Schmitt menulis dalam Political Theology. Di sini kita bisa melihat sejumlah paralelisme yang menarik antara Schmitt dan Benjamin. problem . ³in the time of exception. Yang menarik. the power of true life breaks through the crust of a mechanics caught in a continuous repetition. mukjizat tidak punya tempat. sistem demokrasi liberal yang mendasarkan diri pada konstitusi modern demi melindungi hak-hak individu adalah sistem yang memposisikan dirinya sebagai sistem yang otonom karena ia berdasar pada rule of law yang netral.

penyakit modernitas hanya bisa disembuhkan dengan antidot (penawar) yang transendental.yang memaksakan kebetulan (forcer le hasard) ´ ke dalam saat yang sudah matang untuk diiintervensi. bahkan bertentangan satu sama lain? Schmitt menjadi pro fasisme sementara Benjamin justru bunuh diri karena ancaman fasisme. mengapa Schmitt dan Benjamin. baik yang di kiri maupun kanan. Weber melihat penyebaran rasionalitas ke pelbagai sektor kehidupan yang menjadi ciri modernitas sebagai proses disenchantment of the world. terkait dengan naiknya asketisme Protestan yang lebih menekankan pentingnya logika kalkulatif dan rasionalitas instrumental. irasionalitas yang keras kepala ini hanyalah reaksi belaka terhadap gencarnya rasionalisasi itu sendiri. Kita tahu. narasi tunggal yang universal. yang sama-sama bersandar pada kekuatan di luar sejarah sebagai pijakan kritiknya terhadap modernitas. Tapi bagaimana kita menjelaskan fenomena George Lukacs. Oleh karena itu. Tapi menurut Weber. yang justru menimbulkan ketidakbebasan. Dan proses sepertinya tak terelakkan dan tak bisa dibalikkan. filosof Marxis Yahudi yang mengacu pada Mesianisme sekular untuk membela komunisme dan akhirnya berujung sebagai apologis bagi totalitarianisme Soviet? Bagaimana pula menjelaskan sejumlah pemikir Katholik Jerman yang dengan keras menentang Nazisme? Saya kira perbedaan trajectory antara Schmitt dan Benjamin dalam hal kritik mereka terhadap modernitas perludilihat dalam perspektif yang lebih luas. proses rasionalisasi yang menyeluruh pada masyarakat Eropa dalam perkembangannya mengubah kehidupan menjadi semacam iron cage yang mencengkeram (misalnya birokrasi. Dan ini bertentangan secara diametral dengan esensi demokrasi yang merayakan pluralisme. yang muncul dari wilayah di luar atau pra sistem rasional. Itulah yang ditawarkan oleh para penyokong ide demokrasi radikal seperti Chantal Mouffe dan Ernesto Laclau ketika mereka menyerukan dibangkitkannya kembali watak antagonisme yang hakiki dari ³the political. sebagai faset dari diskursus tentang modernitas di kalangan pemikir Eropa pada awal abad 20.modernitas yang cenderung mengeksklusi the other tidak bisa diatasi dengan memperbaiki prosedur dan mekanisme konsensus dalam sistem tersebut atau dengan mengacu kepada prinsip rasionalitas yang mendasarinya. Dan proses ini. solusi semacam ini pada akhirnya akan semakin meringkus kenyataan yang majemuk ke dalam kesatuan. Kenapa? Karena di mata mereka.´ tampaknya ia bersepakat dengan gagasan ³state of exception-sebagai-mukjizat´ dari Carl Schmitt. yakni ³sesuatu peristiwa yang mengguncang dan menerobos situasi yang ada. menempuh jalur yang jauh berbeda. Pertanyaannya kemudian. kapitalisme). Apakah Mesianisme Benjamin yang bersumber dari agama Yahudi dan mukjizat Schmitt yang bertolak dari Katholik memang secara intrinsik berbeda satu sama lain? Mungkin saja. terutama dalam sektor ekonomi.´ Begitu juga ketika Alan Badiou berbicara tentang perlunya ³Kejadian´ dalam politik. tapi pada saat yang sama mereka menolak kesimpulannya. yang secara umum berada dalam bayang-bayang Max Weber. Ironisnya. yang datang dari luar sistem itu dan mengintervensinya. . Para pemikir dari kiri (misalnya Mazhab Frankfurt) dan kanan (Carl Schmitt) banyak dipengaruhi oleh analisis Weber. seperti yang ditawarkan oleh Juergen Habermas dengan rasionalitas komunikatifnya atau John Rawls dengan liberalisme politiknya.

metafisika kemudian diganti oleh etika dan moralitas humanitarian pada abad 18. emosi dan subjektivitas yang irasional sebagai tolok ukur dalam menghadapi kenyataan. sebagai mesin yang netral. Eropa sejak abad 16 terus mencari semacam prinsip pengendali utama²suatu ruang pusat (Zentralgebiet)²yang bisa berperan sebagai sumber perdamaian dan kesepakatan bersama. maka kaum liberal melihat politik dan urusan negara sebagai sekadar teknologi. kuantitatif dan positivistik yang kemudian disokong oleh teknologisme. yaitu sebagai sarana netralisasi dan depolitisasi.tentu dengan alur argumen yang tidak selalu serasi satu sama lain. implikasi dari pandangan semacam ini adalah bahwa elemen fundamental dari negara itu sendiri. yakni distingsi antara kawan dan lawan. Ruang pusat tersebut bisa saja berganti setiap abad. Schmitt menegaskan bahwa dominasi dua cara berpikir ini tidak hanya terlihat pada praktek kapitalisme modern. Menurut Schmitt. tapi sesungguhnya keduanya saling mengandaikan dan punya perangai yang sama: Yang pertama adalah ekonomisme yang berbasiskan cara berpikir yang kalkulatif. maka teologi yang sering menjadi sumber konflik sampai abad 16 diganti pada abad 17 oleh metafisika. Menurut Schmitt. menjadi hilang atau terabaikan. Demikianlah. negara dilihat sebagai berdiri di atas rule of law yang netral. ia jelas mengabaikan kekhasan dan kualitas yang kongkret dari kenyataan. dan akhirnya teknologi menempati peran sebagai ruang sentral yang lebih netral lagi pada abad 20. romantisisme di Eropa yang meletakkan perasaan. Berikutnya. Carl Schmitt. yang perannya sebagai ruang pusat jelas lebih netral. para penganut . dengan hilangnya kemampuan untuk menentukan mana kawan mana lawan. Sebagai respon terhadap perseteruan agama dan perang antar negara yang tak henti-henti.´ (1929) Schmitt mengungkapkan bahwa dinamika sejarah Barat modern dipacu oleh hasrat untuk mencari wilayah netral yang sepenuhnya bebas dari konflik dan perseteruan. Gejala kedua adalah romantisisme yang muncul sebagai antitesis yang ekstrim terhadap ekonomisme. Sebaliknya. Berbeda denganekonomisme yang bersandar pada rasionalitas instrumental. tren rasionalisasi tidak bisa dilepaskan dari menguatnya fenomena netralisasi yang menyertai semakin kukuhnya modernitas di Eropa. melainkan juga pada demokrasi liberal di Barat. Ekonomisme melihat kenyataan sebagai komoditas. Gejala netralisasi yang menandai semakin kukuhnya modernitas menurut Schmitt terbukti melahirkan dua anak kembar yang sekilas bertentangan satu sama lain. menolak pandangan Weber bahwa irasionalitas yang menyertai modernitas hanya reaksioner sifatnya. Dalam bacaan Schmitt. pangkal persoalannya justru terletak pada proyek rasionalisasi itu sendiri.Menurut Schmitt. ekonomisme dan romantisisme sesungguhnya merupakan dua sisi dari koin yang sama karena keduanya sama-sama mengabaikan realitas yang kongkret. Karena itu. tapi tujuan utamanya tetap. Dalam esainya ³The Age of Neutralizations and Depolitizations. yang kemudian bergeser ke wilayah ekonomi pada abad 19. yang oleh Schmitt disebut sebagai the political. Dalam hemat Schmitt. konon pernah menjadi murid Weber. produk yang bisa diperjualbelikan. dengan matinya the political. Menurut cara bepikir ini.

Dan ini justru bertentangan dengan niatnya semula yang ingin mentransedir diri dari irasionalitas dalam kategori modernitas Weberian.´ Benjamin menyatakan bahwa setiap generasi. Dan kenormalan ini perlu didobrak dengan cara memberi peluang bagi munculnya the sovereign yang bisa mengambil keputusan pada/tentang state of exception. termasuk era sekarang. Jauh dari itu. Saya kira yang didambakan Schmitt adalah tatanan a la republik klasik seperti Sparta. . Schmitt ternyata terjebak dalam mistifikasi the political dan meletakkannya dalam status yang sakral dan irasional. dengan kata lain liberalisme. yang dengan gampang membuka peluang bagi fasisme. Singkat kata. tapi sosok sang Mesiah dalam bayangan Benjamin bukan the sovereign yang memutuskan pada momen darurat. Penekanan Carl Schmitt yang berlebihan kepada the political buat Benjamin sama halnya dengan estetisasi politik. Schmitt ingin melakukan radikalisasi demokrasi dengan membuang jauh-jauh elemen liberalisme darinya. kekhasan setiap objek juga dikorbankan. Memang benar bahwa Benjamin juga kenormalan modernitas.romantisisme mengklaim menghargai partikularitas dan kekongkretan kenyataan. Memakai ungkapannya sendiri. perlu didobrak dengan intervensi sang Mesiah. Wallahu A¶lam. maka objek-objek yang ada hanya menjadi kendaraan belaka bagi ekpresi mereka sendiri. Tapi dosa tak terampunkan dari kaum romantis adalah kepasifan mereka. yang juga berujung pada pengabaian terhadap the political. Tapi berhubung yang jadi ukuran adalah subjektivitas mereka sendiri. Hal semacam itu sulit kita bayangkan terjadi pada Walter Benjamin. Dengan begitu. Dengan kata lain. kehidupan yang dikuasai oleh konsep waktu yang homogen dan kosong. setiap era.´ dan karena itulah ia menaruh harapan agar materialisme historis tidak terpaku pada proyek membangun masa depan. Dan inilah saya kira salah satu pijakan pemikiran yang ia gunakan ketika memutuskan untuk menjadi pendukung Hitler. netralisasi dan depolitisasi. dengan cara mengingat momen-momen Mesianistik pada setiap zaman. kita bisa mengatakan bahwa Schmitt mendambakan suatu dunia yang tidak lagi dikuasai oleh deisme yang tidak mengenal mukjizat atau intervensi dari luar sejarah. selalu dianugerahi dengan ³kekuatan mesianik yang lemah. yang memberi tempat kepada state of exception dan punya kemampuan menarik garis batas mana kawan mana lawan. itulah yang bagi Schmitt menjadi penyebab utama kebekuan dan ³kenormalan´ modernitas. Lalu siapakah sang Mesiah menurut Benjamin? Dalam ³Theses. Tapi itu tidak berarti Schmitt adalah pendukung teokrasi atau semacamnya. melainkan menyelamatkan masa lalu. dan kemudian membangkitkan kembali the political.

Berhari-hari penyiksaan berlangsung. menurut Moqsith. termasuk lebih besar dari segala konsep yang dirumuskan manusia tentang-Nya. Tapi Sri seperti tak merasakan sakit. Sri tetap tak mau mengaku. jika seseorang mengerti bahasa Arab. Menurut Moqsith. Duka. memiliki arti ³Allah lebih besar. Tapi tetap saja Sri Ambar tak mengaku. dan tak ada hasilnya. ³Sang interogator mengambil keputusan: Sri dan si pengkhianat ditelanjangi dan dipukuli. Seorang tahanan lain yang melihat itu jatuh pingsan tak tahan melihat begitu banyak darah keluar. Kisah tersebut menguraikan tentang Sri Ambar. dan dengan setengah sadar mengatupkan luka tubuhnya itu agar darah tertahan mengalir. karena terlalu banyak darah mengalir. maka ia akan tahu bahwa arti dari Allahu Akbar bukanlah ³Allah maha besar´ sebagaimana sering diterjemahkan kebanyakan orang. dengan kaki hampir menyentuh tanah. Ia memerintahkan si penikam melakukannya sekali lagi di pantat Sri yang kanan. Maka terpahamilah manakala Septemmy meyakini bahwa kisah ini adalah ³penubuhan´ dari apa yang disebut sebagai ringkihnya hipotesa akan ³kebaikan Tuhan´ atau anti-theodise GM.: Sebuah Pertimbangan AntiTheodise) Siapapun akan terkesiap manakala pekikan Sri Ambar yang diulas begitu lugasnya dalam buku Goenawan Mohamad (selanjutnya disingkat GM) dibacakan Septemmy E. Acep tak menghentikan siksaan.´ (Petikan dari buku Goenawan Mohamad. Lakawa dengan khidmat. Hari semakin malam. memerintahkan seorang petugas menghunjamkan sebilah pisau ke pantat kiri Sri Ambar. ³Kamu sadis!´. duka. Anti-theodise yang merupakan gejala pesimisme akan kemahabijakan dan adilnya Tuhan itu dapat kita iyakan (afirmasi) melalui jerit pedih Sri Ambar dalam menjalani kisah tragisnya. sikap yang ditampilkan GM melalui patahan-patahan kata yang terkadang muram itu.Tentang Iman dan Anti-Theodise Oleh Evi Rahmawati* Bagi Moqsith. Opsir di tempat tahanan itu.: ISA Itu Tubuh Mengucur darah Mengucur darah Roboh Patah Mendampar Tanya: aku salah? . Sampai pagi.´ Lantas dengan cergas Moqsith menafsirkan Allahu Akbar sebagai Allah yang lebih besar. Acep. Ia malah berteriak. ketika Septemmy dengan lirih membacakan Chairil Anwar tentang Isa yang seolah ia dengar melalui kisah tersebut dalam debu. Allahu Akbar. dsb. dsb. Debu. Kedua orang itu pun diikat tergantung di sebatang pohon. Apalagi. Perempuan setengah baya itu akhirnya pingsan. perempuan pesakitan yang mengalami penyiksaan sangat keji dari militer karena dipandang mengkhianati Pancasila dengan statusnya sebagai aktivis Gerwani. justru tampak sebagai sebuah upaya untuk mengatasi arogansi manusia dalam membahasakan Tuhan.

yang mendasarkan diri pada sola scriptura. Melalui kisah-kisah dan lirih kata yang dihadirkan GM. apakah kata-kata yang dimunculkannya itu benar-benar ada? Dengan kata lain. apakah iman orang Kristen yang sifatnya tekstual (sola scriptura) masih bisa bermakna tanpa theodise? Bertolak dari pertanyaan-pertanyaan tersebut Septemmy akhirnya berpandangan bahwa Goenawan Mohammad membaca teks kitab suci dengan cara berbeda. menurut Septemmy. khususnya Protestan. GM tidak setuju dengan Leibniz yang dengan theodise-nya menyatakan bahwa Tuhan itu adil dan harus dibela sifat keadilannya di hadapan fakta adanya evil (kejahatan dan penderitaan). bahkan di hadapan penderitaan yang tidak terperikan. khususnya teologi Protestan dalam garis Calvinisme. Duka.Kulihat Tubuh mengucur darah Aku berkaca dalam darah Terbayang terang di mata masa Bertukar rupa ini segera Mengatup luka Aku bersuka Itu Tubuh Mengucur darah Mengucur darah ³Anti-theodise bukanlah persoalan yang benar-benar baru dalam tradisi Kristiani´. Diskui ini diselenggarakan di Serambi Salihara dalam rangka membedah dua buku GM. tidak menutup kemungkinan seorang pembaca akan merasa digiring untuk bertanya-tanya. membedah buku GM memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Untuk lebih memahami persoalan yang disingkapkan melalui buku GM tersebut. dan sola gratia. dan Teks dan Iman pada 14 Desember 2011 lalu. Iman dan AntiTheodise. . yang menjadi pembicara dalam diskusi dengan tajuk. Dalam tesisnya di buku tersebut. di manakah letak keadilan Tuhan? Mungkin dari sanalah benih anti-theodise mulai menjangkiti kepercayaan seseorang. terutama dalam menjabarkan katakata rumit yang kerap dimunculkannya. tak umum di masyarakat. puisi. Septemmy mencoba bersikap rileks dengan membiarkan buku tersebut membedah dirinya sendiri. demikan ungkap Septemmy.´ ungkap Septemmy. Karenanya. Inilah yang disebut theodise. sehingga. Bagi Septemmy. tanpa theodise? Apa artinya membicarakan teologi tanpa bisa mengasumsikan bahwa Tuhan itu adil? Apa artinya jika dalam tradisi Calvinisme menjadi tidak mungkin lagi membicarakan Tuhan itu maha kuasa mengatasi segala sesuatunya di hadapan realitas penderitaan? Lantas. Septemmy mengawali langkahnya dengan bertolak dari pertanyaan-pertanyaan mengenai eksistensi teologi Kristiani tanpa theodise serta kemungkinan kebermaknaan iman seorang Kristen. sola fide. Tuhan harus diberi maaf sebesar-besarnya. lepas dari segala keidentikan penulisnya dan latar belakang Septemmy sebagai pembacanya. GM kerap menghadirkan kata (bahkan memproduksinya. Sebuah cara yang ingin berkelit dari kepercayaan Leibniz mengenai keadilan Tuhan. Pertanyaannya: Apa artinya teologi Kristen. syair. dengan sendirinya buku tersebut membantu Septemmy bahkan membedah teologinya sendiri (Protestan). dsb. mungkin) yang tak biasa. Debu. ³Yang khas dari Goenawan Mohamad ketika membicarakan anti-theodise adalah caranya menulis melalui bahasa. disertai ungkapan-ungkapan yang seringkali membuat orang tercengang sembari bertanya-tanya.

³demikian Septemmy menutup ulasannya yang sangat khidmat dalam diskusi tersebut. ³Karena itulah dua buku GM tengah membedah teologi saya. sebagaimana sang pendeta menyampaikan khutbahnya. Agama harus berganti fungsi. hadir pula pembicara selanjutnya. dengan kata lain hidup dengan janji. Lantas Septemmy mengutip GM: ³Maka lebih baik kita hidup dengan keterbatasan karena bahasa. Abdul Moqsith Ghazali. Ketika Maria Magdalena melihat kehadiran Yesus. Dalam hal ini. mystic-poetic.´ demikian Septemmy mengutip kalimat GM. ³Jika demikian. Tuhan dalam ketidakhadiran. sebagai ekspresi dari rindu rasa. Duka. yang memperkuat ulasan Septemmy tentang ketaktersentuhan Tuhan oleh realitas bahasa. lalu mengatur sedemikian rupa. Padahal pasca kebangkitan. Agama selalu berusaha mengungkung yang sangat transenden itu. . Ini adalah teologi via negativa. Pada kesempatan itu.´ Bagi Septemmy. Sembari mengungkapkan kekagumannya atas GM yang selalu memberi titik tekan berbeda ketika membicarakan konsep ketuhanan. Kelak ada Makna Terang yang akan datang ±betapapun mustahil.´ ujar Septemmy. Moqsith merujuk pemikiran GM dalam tulisan GM tentang konsep keimanan yang disodorkan al-Ghazali. namun penolakannya untuk disentuh dapat menjadi metafor yang lain tentang teologi. Bagi Moqsith. yang karenanya orang bisa memahami mengapa kemudian GM lebih memilih sikap seperti al-Ghazali dan alHallaj ketimbang Ibn Arabi yang sibuk mengkonseptualisasikan Tuhan secara rasional. jangan sentuh aku! ³Ini iman dalam kekurangan dan keda¶ifan ±ikhtiar yang tak henti-hentinya. merumuskan. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman. nalurinya menuntun ia untuk memeluk Yesus. Septemmy menutup pembicaraannya dengan kisah Maria Magdalena pada hari kebangkitan Yesus. pesan Sang Ilahi justru: Jangan. betapa iman dan teks telah demikian ditutup. sabar dan tawakal. Dengan sendirinya tesis yang dibangun tersebut membentuk sebuah kepercayaan theodise yang ingin disangkal oleh GM. bahasa yang rindu untuk menyentuh Tuhan yang hidup. Itu tubuh mengucur darah.Buku Debu. maka dalam berteologi saya mesti belajar lagi bertutur dalam bahasa yang retak. apa yang salah. kata-kata GM yang menjadi favoritnya itu menggiringnya pada satu kesimpulan: teologi harus berganti fungsi. kemudian Septemmy mengambil posisi tersendiri: tetap mengusulkan ³middlespace´ yang dengan begitu bisa mempertimbangkan akibat dari konstruk yang ingin dibangun anti-theodise. GM selalu memiliki pandangan tersendiri manakala mengulik konsep ketuhanan yang disuguhkan al-Ghazali. tetapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang. yang ditulis GM terkait dengan pristiwa tsunami Aceh 24 Desember 2004 silam itu merupakan sebuah penolakan atas kepercayaan orang-orang masa itu yang mengasalkan bencana besar tersebut sebagai akibat dari ketidakpatuhan manusia atas ketentuan Tuhan. Kerinduan untuk menyentuh Tuhan. yang semula berujud truth menjadi good lalu bergeser pada ruang-ruang yang disebut beauty. dsb. Ini merupakan paradigma pergeseran dalam teologi Kristen. rindu rupa yang ditolak oleh Tuhan justru di dalam kehadiran Tuhan sebagai saksi atas karibnya kematian dengan kehidupan. dia bukan lagi seperti hakim di ruang sidang yang mengontrol apa yang benar. namun kalimat pertama yang diungkapkan Yesus justru: ³Jangan sentuh aku!´ ³Bagi saya ini adalah sebuah penolakan terhadap teologi. Teologi selalu berusaha menangkap.

´ Ketaktersentuhan Tuhan oleh bahasa memang kerap kita baca pada tulisan-tulisan GM yang tersebar luas selama ini. Moqsith menambahkan. Termasuk dalam buku ini. memiliki arti ³Allah lebih besar. sikap yang ditampilkan GM melalui patahan-patahan kata yang terkadang muram itu. Lalu. jika seseorang mengerti bahasa Arab. dan sebab itu ia Budha. Moqsith mengutip demikian: ³Budha bukanlah Budha. dalam pandangan Moqsith. ³kata Allah sendiri itu sebenarnya adalah ruang kosong. bertanya kepada masyarakat sebelum Islam. inti dari antitheodise yang ingin dikemukakan GM tampaknya berlabuh pada sebuah gerak yang lebih leluasa dalam menangguhkan makna Tuhan yang paten. justru tampak sebagai sebuah upaya untuk mengatasi arogansi manusia dalam membahasakan Tuhan. Panggilan untuk Tuhan masyarakat Arab pada masa itu adalah Alah. belum ditebalkan: Allah.´ demikian Moqsith menambahkan.Soal pembahasaan Tuhan itu.´ Bagi Moqsith. ketika kemudian Islam datang. tergantung bagaimana kita mengisinya. Di samping itu. telah menjadi khas Moqsith membawa persoalan pada akar bahasanya. Mencoba mengaitkan dengan theodise. Moqsith memberi paparan mengenai sebuah kata yang begitu agung dan teramat sering diserukan orang Islam: Allahu Akbar. Moqsith memaparkan ayat al-Quran yang mengungkapkan bahwa kata Allah sendiri sesungguhnya telah mengakar kuat dalam tradisi ketuhanan masyarakat Arab. yang makna dan pengertiannya sangat ditentukan oleh subjek pembaca itu sendiri. la yaqulunnallah´ (Apabila kamu. siapa yang menciptakan langit dan bumi. syadidul µiqab. termasuk lebih besar dari segala konsep yang dirumuskan manusia tentang-Nya. Menurut Moqsith. dalam al-Quran muncul kata al-Rahman. Muhammad. pastilah mereka akan menjawab: Alah). karena kata-kata selalu terbatas untuk menjangkau kemisteriusan Tuhan. Ini berarti bahwa energi para filsuf dan para teolog dalam merumuskan sebuah konsepsi tentang ketuhanan memang tak akan pernah selesai. maka berubahlah kata Alah yang dibaca tipis tersebut menjadi Allah. maka turunlah ayat: ³Qul id¶ullaha aw id¶urrahman´ (berdoalah dengan menyebut nama Allah atau al-Rahman). ´Ketika kita menyadari bahwa Budha atau Tuhan yang kita acu dalam kata itu sebenarnya tak terwakili oleh kata tersebut. Lalu. jauh sebelum Islam datang: ³Wa la in sa-altahum man khalaqa as-samawati wal ardla.´ Ini selaras dengan kutipan lain yang berasal dari sebuah Sutra dalam kepercayaan Budha. pada perkembangan selanjutnya. kemudian Moqsith mengutip GM: ³Maka tiap kali Tuhan kita sebut. Lalu. lantas turun wahyu yang juga masih menyebut Alah. Tuhan bisa pula menghadirkan diri sebagai yang antagonis. Kita bisa melihatnya dari ungkapan jujur GM: ´Konsepsi manusia tentang Tuhan adalah fantasi manusia tentang Tuhan itu sendiri.´ Demikian juga.´ Lantas dengan cergas Moqsith menafsirkan Allahu Akbar sebagai Allah yang lebih besar. Muhammad menghendaki penggunaan kata lain untuk menyebut Tuhan. terutama persoalan dalam Islam yang dirujukkan ke dalam bahasa Arab. Tuhan yang maha ganas. yang telah selesai. Allahu Akbar. ³Kalau begitu. Ini adalah Tuhan . maka sebenaranya kita tak menyebutnya. Menjawab keheranan masyarakat akan nama Tuhan yang berganti-ganti itu. maka kita pun akan menyadari tentang Sang Budha dan Sang Tuhan yang tak terwakili olehnya. Hingga Umar bin Khattab mengajukan keberatan mengenai kesamaan nama Tuhannya dengan Tuhan yang disembah umat lain. al-jabbar al-muntaqim. maka ia akan tahu bahwa arti dari Allahu Akbar bukanlah ³Allah maha besar´ sebagaimana sering diterjemahkan kebanyakan orang. menurut Moqsith.´ demikian Moqsith menegaskan.

umat Islam yang menggunakan kekerasan atas nama Tuhan. maka tak mengherankan jika pemaknaan Tuhan yang merupakan hasil dari perjumpaan akal manusia dengan bahasa itu pun melahirkan pengertian yang berbeda-beda. Tuhan kemudian bergerak di antara dua ketegangan. Moqsith menutup ulasannya dengan mensarikan ajaran Islam yang teramat luhur. ³selalu para sufi menghadirkan jenis Tuhan yang lain. wa taubaty min qauli la ilaha illa allah.´ (Manusia lumrah bertaubat dari dosadosanya. dengan begitu. bagi Moqsith. yang ketika menemukan manusia melanggar ketentuan-Nya. Jika Tuhan Rabiah Adawiyah adalah Tuhan yang penuh cinta. maka sebenarnya allah. ³Tetapi.´ urai Moqsith. sebagaimana termaktub dalam hadis qudsi. atau Tuhan yang hadir pada nabi-nabi sebelum Islam. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. bahwa Tuhan tidak bisa dirumuskan dan dikerucutkan maknanya melalui proses pembahasaan. Kuntu kanzan makhfiyan (Aku adalah khazanah kesunyian). ³Masalah bahasa itulah yang membuat aqidah dan teologi menjadi problematik. Karenanya. pemaknaan Tuhan kemudian menjadi sangat subjektif.´ lanjut Moqsith. maka Tuhan mereka itu bukanlah arrahman dan arrahim. Begitu pula para teolog. Tetapi aku [Al-Busthami] bertaubat dari perkataan la ilaha illa allah). telah keluar dari kata-kata itu. mengkonseptualisasikan Tuhan ke dalam sebuah kata.yang hadir pada Bani Israil misalnya. tetapi Tuhan yang penuh kasih dan penyayang. Ia mengamini ungkapan GM. . Karena itulah. dibumihanguskan. sebuah bahasa. kembali Moqsith menegaskan. Karena begitu kita mengkonseptualisasikan tuhan ke dalam sebuah kata. maka serta merta mereka dijungkirbalikkan. ³Oleh karena itu. antara hadir-Nya sebagai yang protagonis dan antagonis. Dengan kata lain. orang Islam yang baik tidak akan menggunakan kekerasan atas nama Tuhan. Tuhan yang seakanakan hadir untuk memberikan sanksi kepada manusia yang tidak memenuhi kewajiban-Nya. bukan Tuhan yang buas. Karena keterbatasan bahasa yang dimiliki manusia. jika dipahami dan dihayati dengan baik pula: Islam menganjurkan agar umat muslim membaca bismillahirrahmanirrahim dalam memulai segala aktivitasnya. Yakni. li anna allaha kharijun µan al hurufi wa al-alat. dzat yang tak bernama itu. Oleh karena itu. hanya akan membatasi Tuhan itu sendiri.´ Moqsith pun mengutip Al-Busthamy yang menyatakan: ³Taubatun nas min dzunubihim. lain halnya dengan Tuhan yang hadir di antara para ahli fikih yang terkesan ganas dan buas. karena Tuhan kemudian dipahami sebagai yang maha pengasih dan penyayang.

Dalam konsepsi umat beriman. maka dalam bahasa apakah Dia berbicara? Jika jawabannya. . Tuhan berbicara kepada manusia. Tuhan adalah Mutakallim. termasuk manusia di dalamnya. Saat Tuhan memakai bahasa manusia. terpaksa harus tunduk pada hukum-hukum kebahasaan yang terkandung dalam bahasa manusia itu. Secara teologis. hanyalah cerminan dari usaha manusia untuk menjadikan firman itu bisa masuk akal. memberikan panduan moral dan etis untuknya. sebab alam. dialektika antara yang transenden dan immanen. Di dalamnya ada dimensi-dimensi semantis dan kebahasaan yang rumit. bukankah Tuhan terperangkap dalam suatu ³wadah duniawi´ yang serba terbatas? Bukankah Tuhan adalah Maha Tak Terbatas? Dengan memakai bahasa tertentu. pertanyaan yang segera menunggu di belokan gang adalah: Apakah Tuhan mempunyai bahasa? Pertanyaan berikutnya lagi: bukankah bahasa apapun yang dipakai Tuhan adalah bahasa manusia? Jika Tuhan memakai bahasa itu. taruhlah bahasa Arab. walau seincipun. dalam konteks konvensi kebahasaan yang sudah ada pada bahasa manusia itu sendiri. Bahasa manusia tetaplah bahasa manusia seperti apa adanya. Ini berbeda. Tuhan berbicara dalam bahasa A. Zat Yang Mengujar ± speech producing God. tidak dengan sendirinya watak bahasa itu berubah total hanya gara-gara Dia telah memakainya. dapat dipahami. serta memberikan ancaman-ancaman agar manusia tidak berjalan melenceng. Bagaimana Tuhan terlibat dalam kehidupan manusia? Sebagaimana diyakini oleh umat-umat agama lain. keterbatasan? Ini perdebatan teologis yang pada suatu zaman di masa lampau menimbulkan heboh bahkan gejolak politik yang disebut dengan mihnah atau inkwisisi ± yakni pengadilan atas keyakinan. dalam bentuk ³bayan´ seperti dikatakan Al-Shafii. Atau. Hamid Abu Zayd sebagai dialektika antara teks dan konteks (jadaliyyat al-nass wa al-waqi¶). dari panduan itu. Di sini berlangsung apa yang pernah disebut oleh Prof. bukankah Tuhan akan terjebak dalam suatu finitude. dengan Tuhan kaum deis: Tuhan yang istirahat total setelah menciptakan alam dan segala isinya. Jika Tuhan berbicara. tentu jawabannya jelas: Ya. Apakah Tuhan terlibat dalam kehidupan manusia? Menurut keyakinan orang-orang beriman. kita bisa mengatakan: dialektika antara kehendak Tuhan dan realitas empiris dalam sejarah manusia. bisa berjalan dengan sendirinya (bak sebuah otomaton) sesuai dengan hukum-hukum tertentu yang sudah pasti ± kerap disebut dengan hukum alam atau hukum kodrat.Tatkala Tuhan Memerintah* Beberapa Pemikiran Al-Razi Oleh Ulil Abshar-Abdalla Perintah Tuhan tidaklah sesuatu yang sederhana. Kenapa hal ini terjadi? Saya kira alasannya adalah karena perintah Tuhan disampaikan melalui medium bahasa manusia yang mengandung elemen ambiguitas di dalamnya. umat Islam memiliki kepercayaan. Usaha para sarjana ushul fiqh untuk memahami firman Tuhan dalam bentuk perintah seperti saya sebutkan di atas. Pesan Tuhan. misalnya. ini menimbulkan soalan yang menjadi bahan perdebatan panjang dalam khazanah ilmu kalam atau teologi Islam. Tuhan terlibat aktif dalam mengarahkan kehidupan manusia.

Dengan kata lain. ada furu¶. Dalam disipilin pengetahuan yang disebut ushul fiqh (teori hukum Islam). yang paling utama adalah segi tematik. tentu oleh manusia. Keragaman itu bisa kita lihat dalam berbagai segi. Kata itu secara harafiah artinya adalah keterangan. Ada ushul. mutasha¶¶ibat al-furu¶). yaitu Kitab Suci atau Quran. meskipun bisa dirangkum dalam konsep-konsep kunci tertentu (ism jami¶ li ma¶an mujtami¶at al-ushul. Ushul fiqh sebetulnya adalah upaya manusia. bisa bermacam-macam (mutasha¶¶ib). Ada ayat-ayat yang berbicara tentang . firman Tuhan biasa disebut dengan khithab atau wacana. terdapat keragaman. toh tak terlalu banyak manfaatnya. Tuhan menyampaikan ujaran kepada manusia karena ada alasan yang masuk akal²bahwa firman itu mengandung potensi untuk bisa dipahami. untuk melakukan konseptualisasi atas cara-cara yang mungkin dan sistematis guna memahami bayan atau keterangan Tuhan. Al-Shafii berangkat dari pertanyaan dasar: kenapa Tuhan berbicara kepada manusia? Apa tujuan pokoknya? Jawabannya adalah karena Tuhan ingin menjelaskan suatu pesan tertentu kepada manusia. atau bisa juga membuat sesuatu yang semula remang-remang menjadi terang. Dalam khithab Tuhan. maka apa gunanya ia diujarkan kepada manusia. Ada pokok. tetapi juga sekaligus kesatuan. Jika Tuhan hendak menyampaikan suatu bayan kepada manusia. khithab adalah proses suatu pesan disampaikan dari satu ujung (yaitu pengujar) kepada ujung yang lain (pendengar atau lawan bicara ± interlocutor). Kata itu saya pakai di sini sebagai padanan untuk istilah yang biasa dipakai dalam bahasa Inggris: intellegibility ± kenyataan bahwa suatu ujaran bisa dipahami. Bagaimana bayan itu terselenggara melalui medium bahasa. Istilah ³menjelaskan´ menjadi kata kunci di sini.Kita tak usah terseret terlalu jauh dalam labirin perdebatan ini. Usaha pertama untuk membuat teoretisasi atas khithab atau firman Tuhan dilakukan oleh AlShafii (w. Tuhan berbicara kepada manusia dengan sebuah perantara linguistis yang disebut bahasa. Ada banyak hal yang dibicarakan dalam kanon yang menghimpun firman Tuhan. Sejak awal. Tetapi manusia bisa menemukan pokokpokok (ushul mujtami¶a) yang dengannya ia bisa memahami firman Tuhan itu dengan masuk akal. Di sini juga terkandung suatu asumsi lain bahwa Tuhan bertindak karena suatu alasan yang masuk akal. ada cabang. Dia menciptakan istilah yang ia pinjam dari Quran. Kita simak bagaimana Al-Shafii menjelaskan pengertian bayan dalam traktatnya yang terkenal. pendiri mazhab Shafii yang terkenal itu. Jika firman gelap total seperti kaca yang tak tembus pandang. Kata Al-Shafii. Penjelasan Al-Shafii ini sangat menarik karena mengandung embrio yang belakangan akan dikembangkan oleh para pengikutnya menjadi suatu arsitekur teori yang canggih tentang bagaimana memahami ujaran Tuhan. para fukaha¶ sadar bahwa dalam firman Tuhan terkandung keragaman. Persisnya. tetapi juga ada buhul-buhul yang mempersatukannya. Yang lebih menarik adalah melihat bagaimana sarjana dan ulama Islam meletakkan dasar-dasar dalam memahami ujaran atau firman Tuhan. bayan. Al-Risalah. Inilah pesan pokok yang dapat kita tangkap dari penjelasan Al-Shafii tersebut. maka asumsi dasar yang harus diterima adalah bahwa khithab atau ujaran Tuhan itu bisa dipahami oleh manusia. atau menerangkan. dalam hal ini para sarjana fikih. bayan adalah istilah yang mencakup pengertian yang begitu bermacam-macam. 820). alias klarifikasi. Tuhan berbicara kepada manusia dengan bahasa karena hendak menyampaikan suatu keterangan. yaitu bayan. Kata ³masuk akal´ di atas sangat penting.

Ini tentu nyaris serupa dengan hirarki epistemologis dalam filsafat Yunani. Karena itu. bukan tindakan. ujaran mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada tindakan. tapi baru terlihat penting saat kita berhadapan dengan contoh yang empirik. tetapi ada juga ayat tentang petunjuk moral bagi manusia agar bisa bertindak secara benar dan tepat. boleh dijalankan atau diabaikan (dari sini lahir konsep tentang mubah [netralitas total]. adalah bahwa perintah pada dasarnya adalah suatu kategori ujaran. tapi dalam pengertiannya yang metaforik (makna kelas dua. Pendapat sebagian besar sarjana Sunni. Oleh karena itu. maka bagaimana firman itu harus dipahami? Apa hakikat dari suatu perintah? Bagaimana perintah itu diungkapkan? Apa jenis-jenis perintah itu? Pertanyaan-pertanyaan ini. pengertian tahap pertama (makna konototatif/haqiqat) dari suatu perintah adalah bahwa ia haruslah sebuah ujaran. sebagai otoritas kedua setelah Tuhan dalam konteks meletakkan dasar-dasar moral dan etis bagi tindakan seorang beriman. makruh [netralitas yang mendekati pendulum haram] dan mandub [netralitas yang mendekati pendulum wajib]). termasuk AlRazi. yaitu segi literer: secara kebahasaan. Tindakan bisa dipahami sebagai sebuah perintah. sejumlah tema-tema di atas disamapaikan dengan strategi kebahasaan yang bermacam-macam. entah secara positif (perintah) atau negatif (larangan). kita melihat suatu konstruksi ontologis yang menarik tentang ujaran dan tindakan. merupakan salah satu bagian yang paling menarik dalam disiplin ushul fiqh. dalam bentuk ujaran. dan firman yang membiarkan. tetapi membiarkan suatu tindakan dalam keadaan primitifnya. keadaan asalnya: yakni netral. Isu pertama yang langsung menyergap kita dalam pembahasan ini adalah karakter dari perintah: apakah perintah itu harus diujarkan. tentang perintah dan larangan. Ada juga firman yang tak muntuntut apa-apa. atau bukan. Jika firman Tuhan menuntut sesuatu dari kita. di mana teori diletakkan dalam level yang lebih tinggi daripada praksis. ujaran berada satu tingkat di atas tindakan. 1209) mengulas masalah ini dalam jilid kedua dari Al-Mahsul (dalam edisi Taha Jabir µAlwani) dengan judul: Al-Kalam fi alAwamir wa al-Nawahi (pembahasan tentang perintah-perintah dan larangan-larangan). yang kedua takhyir. eskatologi atau akhir zaman. Nabi. Keragaman ini tentu akan membingungkan kalau tak diikat dengan pengikat tertentu yang bisa menyatukan keseluruhannya.fenomena alam. Di sinilah ushul fiqh masuk. Sejauh menyangkut firman Tuhan yang berkaitan dengan tuntutan moral. ada dua jenis khithab Tuhan: firman yang menuntut. dan karena itu harus dicontoh. Di sini. Fokus utama para juris Islam adalah pada jenis firman yang pertama itu ± firman yang memuat kandungan etis dan moral yang tinggi. Pertanyaan ini tampak seolah-olah sepele. Jika Nabi melakukan sesuatu. Ini dijelaskan dalam bab tentang amr dan nahy. firman yang menuntut (khithab al-iqtidha¶). sejarah masa lampau. bisa pula disebut ³menuntut sesuatu´ secara moral jika tuntutannya itu dikemukakan dalam suatu ujaran. . Yang pertama biasa disebut dengan iqtidha¶. atau menuntut untuk menjauhi sesuatu (ini melahirkan konsep tentang haram). Dalam konstruski ini. atau bisa sekedar dicontohkan dalam tindakan. misalnya makan dan minum. Al-Razi (w. Keragaman juga bisa ditinjau dari segi yang lain. Ada firman yang menuntut untuk bertindak (ini melahirkan konsep tentang wajib). menurut saya. Tuhan bisa disebut sebagai ³menuntut sesuatu´ jika itu diselenggarakan dalam suatu kerangka linguistis. apakah itu sebuah perintah. dari sudut hirarki moral. majazi).

maka ujaran itu memiliki kandungan ³moral´ yang jelas: yakni perintah mengambil buku kepada orang tersebut. Definisi yang di permukaan tampak baik-baik saja ini. tetapi kata perintah dipakai untuk menjelaskan dirinya sendiri. Begitulah aturan main yang dibuat oleh kaum logician. bagi mereka. sekilas. Ini pun masih harus dikaitkan dengan konteks yang ada di sekitar. ³Ambilkan laptop itu´. maka tindakan saya itu tak punya kandungan moral apa-apa. Sesuatu tak bisa menjelaskan dirinya sendiri. Perintah. tetapi dalam pengertian yang negatif. yakni saya melanggar larangan untuk menulis pesan pendek di sebuah tempat. Di manakah letak persoalannya? Adalah karena ia memuat kata yang sama dengan kata yang dedefinisikan. Muncul definisi kedua dari kalangan Mu¶tazilah. yaitu Al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani (w. aha!. kata yang kosong makna (muhmal). Tetapi apakah sesungguhnya perintah itu? Tatkala kita mendengar ucapan ³Bacalah´. Kalau saya berkata kepada seseorang. apakah itu bisa disebut perintah? Jika saya berkata kepada teman sejawat saya di kantor. menimbulkan kerumitan jika kita masuk ke dalamnya dan mencoba melakukan konseptualisasi teoritis. pertama dari tokoh penting dalam sekte Ashariyyah. Akan tetapi. memang segala hal yang nampak sepele di permukaan tidak selalu demikian dalam kenyataannya. maka akan terjadi ³lingkaran setan´ atau siklus bolak-balik tanpa henti (al-dawr). oleh Al-Razi juga dianggap mengandung soalan. Dan. ahli logika Aristotelian. Al-Razi menyebut dua versi definisi tentang perintah. maka tindakan saya itu memang mengandung kandungan moral. Ini tentu tak masuk akal. ³Lakukanlah!´ atau kata lain yang pengertiannya sama. tentu baik-baik saja dan masuk akal. sebab bisa kita pahami dalam konteks kehidupan sehari-hari yang kongkret. Ini jelas. Jika di samping saya ada tanda ³Dilarang menulis sms di ruangan ini´. jika di hadapan orang itu saya menulis suatu pesan pendek di telpon genggam. ³Ambilkan buku!´ dengan nada tertentu yang dapat dipahami sebagai suatu perintah. Mari kita telaah definisi di atas: di sana terkandung kata perintah diulang-ulang sebanyak dua kali ± ³diperintah´ dan ³diperintahkan´.Konstruksi semacam ini sebetulnya tidak terlalu mengejutkan. Penjelasan harus diambil dari sumber eksternal. atau hanyalah permohonan biasa saja? Ternyata perkara perintah yang di permukaan kelihatan sepele dan ringan ini. tanpa kita ketahui siapa pengujar kalimat itu. Pertama: taruhlah kata ³Lakukanlah´ itu tidak mengandung makna apa-apa dari sudut konvensi kebahasaan. ialah ucapan seseorang yang lebih tinggi derajatnya kepada yang lebih rendah. 1013). jika ada suatu kandungan tertentu yang bisa dikeluarkan dari tindakan saya itu. ialah bahwa menulis pesan pendek di telpon genggam adalah tindakan yang boleh-boleh saja. Fungsi definisi adalah menjelaskan suatu konsep tertentu. jika definisi memuat kata yang sama dengan kata yang hendak didefinisikan. alias kosong: bukan suatu perintah. harus dicari definisi lain yang jauh lebih ³cespleng´. apakah seseorang yang mengucapkan kata itu bisa dianggap memerintah? Tentu tidak. Karena itu. bukan pula suatu larangan. Al-Baqillani mengatakan: Perintah ialah ujaran yang menuntut seseorang yang di-perintah untuk menaatinya dengan cara melakukan apa yang di-perintah-kan oleh ujaran itu (al-qawl al-muqtadli tha¶at al-ma¶mur bi fi¶l al-ma¶mur bihi). Karena itu. Paling jauh. bisakah ini disebut sebagai perintah. Keberatan kedua: seandainya kata . tapi tidak di mata Al-Razi. Mari kita dengarkan bagaimana dia mengajukan keberatan. Kita sedang ingin mencari kejelasan tentang apa makna ³perintah´. Definisi di atas.

Entah anda mengatakan ³Minumlah!´ (bahasa Indonesia). hirarki (isti¶la¶). Jika Tuhan memerintahkan sesuatu. juga para sarjana Sunni yang lain. tanpa anda sadari. ³Bacalah!´ apakah saya menghendaki tindakan membaca dari anak saya atau tidak? Jawaban yang segera meloncar ke pikiran awam kita adalah: Tentu saja. Kenapa demikian? Marlah kita dengar penjelasan kubu Sunni di bawah ini.³Lakukanlah´ itu diucapkan oleh seseorang yang sedang tidur. Dengan demikian. telah bergabung dengan kubu Mu¶tazilah. maka anda. Saya ingin menyinggung sedikit di sini. kata Al-Razi. apakah Dia juga menghendakinya? Jika saya mengatakan kepada anak saya. apakah tuntutan itu? Apakah ia itu sesuatu yang terkandung secara intrinsik dalam sutau ujaran. Apalah gunanya ia memerintah kalau tak menghendakinya. Ada soal kecil yang menyangkut perkara perintah ini dan menjadi pertengkaran antara kaum Sunni dan Mu¶tazilah. perintah mengandaikan situasi komunikasi yang hirarkis ± si pembicara berada pada level yang lebih tinggi dari lawan bicara. yakni tuntutan untuk minum. ataukah ia pengertian eksternal yang bersemayam dengan damai di luarnya. tetapi ujaran itu disampaikan dengan cara yang mengindikasikan bahwa seorang pengujar memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari lawan bicara yang diujari. Persis seperti dalam konsepsi modern yang pernah diungkapkan oleh kaum linguisstrukturalis seperti Ferdinand de Saussure. pengertian yang terkandung dalam perintah tidak terdapat secara intrinsik dalam suatu ujaran atau bahasa. sementara ujaran hanyalah ia pakai sebagai baju untuk mengungkapkan diri agar keluar dari dunia kegaiban ke dunia pencerapan yang bisa dirasakan oleh indera kita? Kita coba ikuti konseptualisasi yang dibuat Al-Razi. Yang dimaksud ³meninggi´ di sini bukan nada ujaran. misalnya. dianggap perintahkah ia? Tentu tidak. Manakala seseorang memerintahkan sesuatu. tetapi berada di luarnya. tindakan (fi¶l). ³Drink!´ (Inggris). Menurut dia: pengertian tuntutan yang dikandung dalam suatu ujaran (misalnya tuntutan minum dalam ujaran ³Minumlah!´) bukanlah sesutau yang terdapat secara intrinsik dalam ujaran itu. Jadi. Kalau anda berpendapat demikian. Konsepsi Al-Razi ini bisa diungkapkan dengan cara lain: Hubungan antara pengertian dan kata adalah arbitrer. salat atau puasa. ³Trinke!´ (Jerman). Dengan kata lain. Ada empat elemen penting dalam perintah: ujaran (qawl). sudah tentu ia menghendaki sesautu itu terjadi. dan inilah pendapat yang paling sesuai dengan akal sehat secara selintas. Kenapa? Sebab pengertian tuntutan yang terkandung dalam satu ujaran bersifat universal dan seragam dari bahasa satu ke bahasa lain. meskipun diujarkan dalam bentuk luaran yang berbeda-beda. bersikeras menolak identifikasi antara perintah dengan kehendak. bagaimana definisi perintah yang paling baik menurut Al-Razi? Perintah. tuntutan (thalab). . Jika Tuhan memerintahkan sesuatu. Soal yang diperdebatkan mereka ialah: apakah perintah (amr) sama dengan kehendak (iradah). ialah: menuntut (seseorang) melakukan sesuatu melalui ujaran dengan cara meninggi (thalab alqawl bi µl-fi¶l µala sabil al-isti¶la¶). maka itu bukan berarti Dia menghendakinya. ucapan ³Lakunkanlah´ yang menjadi kunci dalam definisi kelompok Mu¶tazilah itu tak memiliki bobot apa-apa. Jadi. Al-Razi. menurut dia. Jika perintah adalah tuntutan atau thalab. ³Ishrab!´ (Arab) ± semuanya memuat pengertian yang sama.

maka Dia juga sekaligus menghendakinya. free will). Karena orang-orang itu tetap saja kafir. memiliki kehendak sendiri yang bebas. puasa. para sarjana Sunni seperti Al-Razi memisahkan antara perintah dan kehendak. Itulah sebabnya. Jika Tuhan memerintahkan sesuatu. Di permukaan. Tuhan memerintahkan orang-orang kafir untuk beriman. maka ia bisa menolak perintah itu. soal yang lebih mendasar dipertengkarkan. perbedaan pandangan mengenai status perintah dan kehendak itu berkaitan dengan wawasan teologis soal kehendak bebas (hurriyyat al-iradah. yakni soal konsepsi ketuhanan. Apakah manusia menciptakan tindakan mereka sendiri. jika dilihat dari sudut pandang teologis seperti ini. tentang status tindakan manusia. menjadi bermasalah. Perdebatan-perdebatan semacam ini jelas menunjukkan bahwa disiplin ushul fiqh seperti dikerjakan oleh para sarjana seperti Al-Razi dan umumnya para ulama di lingkungan mazhab Syafii. Tapi yang terjadi toh tidaklah demikian. tak puasa. atau tindakan dan kehendak mereka seluruhnya diciptakan oleh Tuhan? Dengan kata lain. Karena itu. orang-orang kafir itu akan dengan sendirinya langsung berubah sikap. Namun. Tetapi. kehendak seluruhnya berada pada tangan Tuhan. Tetapi karena manusia memiliki kehendak sendiri yang terpisah dari kehendak Tuhan. Hanya dengan konsepsi tentang Tuhan Yang Maha Bebas seperti inilah. maka kehendakNya sudah pasti terjadi. tetapi dua hal yang berbeda. maka. Dalam hampir semua literatur klasik ushul fiqh. walaupun sudah menerimah perintah dari Tuhan. Sebab. jika Tuhan menghendaki. sebagaimana kita tahu. tak salat. demikian nalar yang dipakai oleh Al-Razi dan kubu Sunni.Kita semua tahu. Pandangan dunia Sunni disusun begitu rupa sehingga menempatkan Tuhan sebagai Agen Kehendak yang sepenuhnya bebas. Manusia tak mampu menciptakan atau menimbulkan kehendak dari dirinya sendiri. mencampuradukkan antara isu hukum dan teologi. Dalam pandangan kubu Sunni. dan sebagainya. Kubu Mu¶tazilah. Tetapi Tuhan tak menghendaki mereka untuk melakukan itu semua. Dalam pandangan semacam ini. Ini memperlihatkan bahwa kehendak dan perintah bukanlah dua hal yang sama. kita akan menjumpai pembahasan soal perintah dan kehendak ini. Menghilangkan konsep tentang Kehendak Bebas pada Tuhan sama saja menghancurkan seluruh bangunan keyakinan Islam itu sendiri. Jika keduanya identik. isu ini menjadi bahan debat yang sengit. Jika kita mengejar lebih jauh lagi dengan sebuah pertanyaan: kenapa soal kehendak bebas ini menjadi isu yang penting? Apakah konsekwensi praktis dari sana? Tentu saja sudah jelas dengan sendirinya bahwa tak ada konsekwensi praktis dari pertanyaan-pertanyaan abstrak semacam ini. tidak ada masalah untuk menyamakan antara kehendak dan perintah. dari kekafiran menuju kepada keimanan. kaum Sunni bisa menjelaskan kenapa ada mukjizat yang menjadi fondasi kebenaran fenomena kenabian (nubuwwah). isu ini tampak abstrak serta tak mengandung konsekwensi praktis apapun. di sana. karena menyangkut ±meminjam istilah yang kerap kita dengar akhir-akhir ini² ³pokok keyakinan´ yang mendasar mengenai status kehendak bebas manusia. perintah dan kehendak tak identik. Perbedaan ini sebetulnya bersumber dari wawasan teologis yang berbeda yang memandu pandangan kaum Sunni dan Mu¶tazilah. Praksis intelektual semacam ini jauh berbeda dengan apa yang kita lihat pada sarjana ushul fiqh di lingkungan mazhab Hanafi yang . menganut pandangan bahwa manusia punya kehendak bebas. bahkan Tuhan sendiri tak bisa diatur dan diikat oleh hukum alam yang Ia ciptakan sendiri. identifikasi antara kehendak dan perintah. maka begitu mendapatkan perintah beriman dari Tuhan. salat.

maka ia mengandung makna keharusan (wujub). dalam bentuk ³bayan´ seperti dikatakan Al-Shafii. ketiga. hanyalah cerminan dari usaha manusia untuk menjadikan firman itu bisa masuk akal. muncul pertanyaan: jika suatu ujaran ³Minumlah!´ diucapkan oleh seseorang yang derajatnya lebih tinggi kepada yang lebih rendah. Saya hanya mengambil sampel kecil saja dari sejumlah tema yang dibahas dalam ushul fiqh. seperti pada kasus Al-Razi dan lain-lain. Ia bisa mengandung makna keharusan. sekali lagi. perintah Tuhan tidaklah sesuatu yang sederhana. apakah ia dengan sendirinya bermakna perintah yang mengharuskan? Ataukah ada makna-makan lain yang dikandungnya? Menurut Al-Razi. Di dalamnya ada dimensidimensi semantis dan kebahasaan yang rumit. kelompok ketiga ini tentu tak hanya berhenti pada sikap ³nihil´ yang total. Ini yang menjelaskan adanya dua pendekatan dalam disiplin ushul fiqh: pendekatan para mutakallimun atau teolog. Tetapi. Pesan Tuhan. Dengan kata lain. Mereka berpendapat bahwa kandungan semantis suatu perintah hanya bisa diketahui melalui konteksnya. karena tak memberikan isyarat yang jelas tentang kandungan semantis dari ujaran perintah.cenderung meminimalisir diskusi isu-isu teologis dalam ushul fiqh. dan karena itu kita tak bisa memastikannya. kandungan maknanya tak jelas. Hamid Abu Zayd sebagai dialektika antara teks dan konteks (jadaliyyat al-nass wa al-waqi¶). Kenapa hal ini terjadi? Saya kira alasannya adalah karena perintah Tuhan disampaikan melalui medium bahasa manusia yang mengandung elemen ambiguitas di dalamnya. atau negatif dalam bentuk larangan. tidak dengan sendirinya watak bahasa itu berubah total hanya gara-gara Dia telah memakainya. Bahasa manusia tetaplah bahasa manusia seperti apa adanya. dialektika antara yang transenden dan immanen. tergantung konteks yang spesifik. yaitu tema tentang perintah. Entah perintah atau larangan hanya bisa diketahui melalui petanda kebahasaan (signifier) yang disebut perintah. ujaran ³Lakukanlah´ atau semacamnya. kita bisa mengatakan: dialektika antara kehendak Tuhan dan realitas empiris dalam sejarah manusia. kedua. ia mengandung makna anjuran saja (nadb).Yang paling banyak diikuti oleh para sarjana ushul fiqh adalah pendapat yang pertama. dapat dipahami. atau sekedar anjuran saja. baik secara positif dalam bentuk perintah. Usaha para sarjana ushul fiqh untuk memahami firman Tuhan dalam bentuk perintah seperti saya sebutkan di atas. jika dilepaskan dari konteks apapun. adalah tuntutan. 1039) berjudul Taqwim alAdillah fi Ushul al-Fiqh. Sebab inilah fondasi hukum agama sebagaimana kita kenal dalam . dan pendekatan para fuqaha¶ seperti yang kita lihat pada karya ushul fiqh yang dikarang oleh sarjana mazhab Hanafi Al-Dabbusi (w. terpaksa harus tunduk pada hukum-hukum kebahasaan yang terkandung dalam bahasa manusia itu. dalam konteks konvensi kebahasaan yang sudah ada pada bahasa manusia itu sendiri. Tetapi di sini. sekurang-kurangnya tiga pendapat utama: pendapat pertama. Saat Tuhan memakai bahasa manusia. Di sini berlangsung apa yang pernah disebut oleh Prof. **** Fondasi utama dalam hukum Islam. Atau. Pandangan yang ketiga memang nampak nihilistis.

pada umumnya. Kaum fundamentalis agama. serta membawa pesan yang sangat sederhana: betapa tak sederhananya perkara perintah Tuhan itu. dengan seluruh kerumitan di dalamnya. yakni kesatuan umat Islam. memandang teks agama sebagai sesuatu yang transparan. Prinsip ini pertama kali dikenalkan oleh para kaum reformis Protestan pada abad ke-16. Yang transenden dan immanen bertaut-berkelindan dalam cara yang unik: absolut dan relatif sekaligus. dengan cara yang ternyata tak sederhana. Tuhan memerintah manusia. Kesatuan makna dalam sebuah teks dipandang sebagai satu-satunya jalan untuk menjamin kesatuan sosiologis-empiris. tetapi ia ada sebagai tendensi yang dominan dalam hampir semua gejalan keagamaan yang fundamentalistis dalam agama manapun. Asumsi yang terkandung di balik prinsip perspikuitas ialah bahwa teks agama tak bisa ditafsirkan dengan cara yang beragam.fikih Islam selama ini. melalui medium bahasa. 12 Agustus 2011 di Utan Kayu. ³Lakukanlah!´. tembus pandang. Hasil petualangan mereka ini menghasilkan khazanah intelektual yang sangat menarik sekali. kita melihat sautu petualangan hermeneutis yang dilakukan oleh sarjana ushul fiqh untuk memahami kandungan semantis dari ujaran yang sederhana. Manusia harus merumuskan skema tertentu agar perintah itu bisa dipahami dengan masuk akal. Sampel kecil ini memperlihatkan suatu watak penting dalam teks Kitab Suci. Sebagaimana kita lihat dalam pembahasan mengenai tema perintah dalam ushul fiqh. Ini terjadi karena perintah Tuhan ³terperangkap´ dalam formula kebahasaan yang bersumber dari konvensi masyarakat manusia. Prinsip ini. seperti kaca tembus pandang. tanpa mengandung ambiguitas dan keremang-remangan sedikitpun. Makna teks agama sudah jelas. hanya satu saja. ujaran yang mengandung pengertian perintah atau tuntutan (thalab). Keragaman pemahaman harus diusir jauh-jauh. Keragaman pemahaman akan mengancam kesatuan semacam itu. meskipun dikemukakan pertama-partama oleh kalangan Protestan. Prinsip yang kerap dipakai oleh kelompok fundamentalis dalam agama apapun adalah apa yang disebut ³perspicuitas´: bahwa Kitab Suci sudah terang-benderang maknanya. Apa yang berasal dari Tuhan kemudian juga harus dioleh melalui suatu medium historis yang bernama ³human agency´.[] *Makalah ini disampaikan dalam diskusi bulan Ramadan di Jaringan Islam Liberal (JIL) tentang Fakhr al-Din al-Razi pada Jumat. juga evolusi di dalamnya yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Dengan kata lain. keagenan manusia. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful