P. 1
LP hiperbilirubin

LP hiperbilirubin

|Views: 1,166|Likes:
Published by mtêäqå

More info:

Published by: mtêäqå on Mar 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2013

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERBILIRUBIN

NAMA : MUSTIKA HAYATI NIM : 712405S.10.044

AKADEMI KEBIDANAN ABDDI PERSADA BANJARMASIN TAHUN AJARAN 2011/2012

secara klinis ikterus pada neonatus akan tampak bila konsentrasi bilirubin serum lebih dari 5 mg/dL2 B. mukosa. Sirkulus enterohepatikus meningkat karena masih berfungsinya enzim β Glukoronidase di usus dan belum ada nutrien. ETIOLOGI Peningkatan kadar bilirubin umum terjadi pada setiap bayi yang baru lahir karena :    Hemolosis yang disebabkan oleh jumlah sel darah merah lebih banyak dan berumur lebih pendek. sklera. Fungsi hepar yang belum sempurna ( jumlah dan fungsi enzim glukuronil transferase. 1988) š Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai joundice pada sklera mata. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI A. š Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus (Dorothy R. .Bilirubin tidak terkonjugasi (unconjugated bilirubin) disebut juga bilirubin indirect disebabkan oleh peningkatan produksi bilirubin. bila bilirubin tidak dikendalikan maka akan menjurus terjadinya kernicterus.Bilirubin terkonjugasi (conjugated bilirubin) disebut juga bilirubin direct disebabkan oleh gangguan sekresi intrahepatik dan gangguan ekskresi ekstrahepatik. PENGERTIAN š Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek patologi yang mana pada setiap bayi berbeda-beda. š Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum yaitu ≥ 13 mg/dL2 š Peningkatan kadar bilirubin serum bisa berupa peningkatan kadar bilirubin : . . G.A. UDPG/T dan ligand dalam protein belum adekuat) → penurunan ambilan bilirubin oleh hepatosit dan konjugasi. kulit. Marlon. penurunan ambilan bilirubin oleh sel hati dan gangguan konjugasi. selaput lendir dan organ lain akibat penunmpukan bilirubin. membran mukosa dan cairan tubuh (Adi Smith. 1988) š Ikterus adalah gambaran klinis gambaran klinis berupa perwarnaan kuning pada kulit.

Hemolisis karena genetik Sferositosis herediter. Piruvat kinase.Penyebab Hiperbilirubin pada neonatal : 1.vitamin K. hematoma. dll Galaktosemia  - Hemolisis karena induksi obat. Sekresi Subnormal a)   Penurunan ambilan bilirubin hepatik Pirai duktus venosus persisten Protein reseptor sitosol (y) dihambat oleh → obat-obatan. sindrom sumbatan mekonium Penurunan peristaltis → Puasa atau kurang makan. menelan darah.G6PD. penyakit hischsprung. obat-obatan (hexamethoniums.fetal atau fetofetal Tranffusi plasenta ( cord stipping) Sirkulasi enterohepatik yang berlebihan   d) Obstruksi mekanik → Atresia dan stenosis. Overproduksi a)   Kelainan hemolitik Inkompatibilitas darah fetomaternal. β-δ. stenosis pilorus 2. Defek enzim. penghambat susu manusia abnormal Penurunan konjugasi bilirubin b) .thalasemia . dll.thalasemia. perdarahan pulmonal dan cerebral. b) Darah ekstravaskular-petekie. ileus mekonium. atropin). dan lain-lain. ABO. c)    Polisitemia Hipoksia fetal kronik Tranfusi maternal. Hemoglobinopati – α. Rh.

hepatitis. Cytomegalovirus (CMV). galaktosemia (awal). sindromm lucey-drisscoll. Native American. defisiensi α-1 antritypsin. obstruksi ekstrinsik ( tumor atau perekatan) 3. sifilis. Yunani) Komplikasi kehamilan (DABO dan Rh) Penggunaan infus oksitosin dalm larutan hipotonik Asi Faktor perinatal Lahir(sefalhematom.virus.protozoa) . herpes virus hominis. susu manusia abnormal Gangguan transport bilirubin terkonjugasi keluar hepatosit c)    Defek transpor konginetal-sindrom dubin johnson dan rotor Kerusakan hepatoseluler karena kelainan metabolik → galaktosemia (terlambat). Dll. eritroblastosis berat.ekimosis) Trauma Infeksi(bakteri. bayi ibu diabetes. b) Infeksi post natal (sepsis) c) Kelainan multisistem → prematuritas ± sindrom distress respirasi (SDR). Campuran a) Infeksi prenatal → toksoplasmosis. kista koledokal. tirosinemia. intoleransi fruktosa herediter Obstruksi toksik(alimentasi IV) Obstruksi aliran empedu d)  Atresia bilier. B.  Reduksi kongenital aktivitas glukuronil transferase → Ikterus familial non hemolitik ( tipe 1 dan 2). hipermetioninemia. pregnanediol. FAKTOR RESIKO Faktor resiko untuk timbulnya ikterus nenonatarum : Faktor Maternal Ras atau kelompok etnik tertentu (asia. rubela. fibrosis kistik. sindrom gilbert Inhibitor enzim → obat dan hormon – novobiocin.

penyebabnya organ hati yang belum matang dalam memproses bilirubin. Pola ikterus fisiologis pada bayi baru lahir sebagai berikut: Kadar bilirubin serum total biasanya mencapai puncakpada hari ketiga sampai kelima kehidupan dengan kadar 5-6 mg/dL kemudian . Kemampuan hati untuk melaksanakan konjugasi terbatas terutama pada disfungsi hati sehingga menyebabkan kenaikan bilirubin yang tidak terkonjugasi.Ikterus kolestatik disebabkan oleh bendungan dalam saluran empedu sehinga empedu dan bilirubin terkonjugasi tidak dapat dialirkan ke dalam usus halus. KLASIFIKASI . Akibat kerusakan hati maka terjadi gangguan bilirubin tidak terkonjugasi masuk ke dalam hati serta gangguan akibat konjugasi bilirubin yang tidak sempurna dikeluarkan ke dalam doktus hepatikus karena terjadi retensi dan regurgitasi. Akibatnya adalah peningkatan bilirubin terkonjugasi dalam serum dan bilirubin dalam urin.Ikterus Neonatus Patologis karena faktor penyakit atau infeksi.Ikterus Neonatus Fisiologis terjadi pada 2 – 4 hari setelah bayi lahir dan akan sembuh pada hari ke 7. Biasanya disertai suhu badan yang tinggi dan berat badan tak bertambah.Ikterus prehepatik disebabkan oleh produksi bilirubin yang berlebihan akibat hemolisis sel darah merah. Menurut HTA Indonesia (2004) Klasifikasi Ikterus adalah sebagai berikut : 1. Ikterus Fisiologis Secara umum setiap neonatus mengalami peningkatan konsentrasi bilirubin serum. .Faktor Neonatus Premturitas Faktor genetik Polisitemia Obat(streptomycin.benzyl-alkohol. .namun kurang12 mg/dl pada hari ketiga hidupnya dipertimbangkan sebagai ikterus fisiologis. tetapi tidak didapatkan urobilinogen dalam tinja dan urin.sulfixoazol) Rendahnya asupan ASI Hipoglikemia Hipoalbuminemia 3.kloramfenikol. . .Ikterus hepatic disebabkan karena adanya kerusakan sel parenkim hati.

B. 2. C. Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Bilirubin indirek akan mudah melewati sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah. Setelah itu perlahanlahan akan turun mendekati nilai normal dalam beberapa minggu. asidosis. polisitemia. Hipoksia.dan puncaknya pada hari ke 3-5. Pada derajat tertentu bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. hepatitis neonatus dan obstruksi bilier. PATOFISIOLOGI Bertambahnya beban hepar mengakibatkan pengahancuran yang meningkat sehingga menimbulkan ketidakcocokan pada Rh dan golongan A. Billirubin mulai meningkat secara normal setelah 24 jam. Billirubin pada neonatus meningkat akibat terjabinya pemecahan eritrosit.Apabila keadaan umum bayi baik .tidak ada tatalaksana khusus meskipun ada peningkatan kadar billirubin. penghancuran eritrosit.dapat terjadi ikterus yang berkepanjangan.O. Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Gangguan konjugasi. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan.aktif. Dengan demikian mengakibatkan bilirubin tak terkonjugasi. kadar bilirubin dalam plasma meningkat sehingga terjadi difusi pada jaringan dan terlihat kuning. juga akan menurunkan glucoronil trasaferasi. Toksisitas terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak.Hal ini dapat terjadi karena adanya faktor tertentu dalam ASI yang diduga meningkatkan absorbsi bilirubin diusus halus. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang. atau pada bayi hipoksia. . Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan.Kadang dapat muncul peningkatan kadar billirubin sampai 12 mg/dL dengan billirubin terkonjugasi < 2 mg/dL.menurun kembali dalam minggu pertama setelah lahir. Ikterus pada bayi mendapat ASI(Breast milk jaundice) Pada sebagian bayi yang mandapat ASI eksklusif.minum kuat. Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati sawar darah otak tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Hipoglikemia. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.Bila tidak ditemukan faktor resiko lain ASI tidak perlu dihentikan dan frekuensi ditambah.

gangguan pendengaran. PEMERIKSAAN PENUNJANG Penegakan diagnosis untuk hiper billirubinemia adalah sebagai berikut:  Visual Pemeriksaan dilakukan dengan pencahayaan yang cukup (di siang hari dengan cahaya matahari) karena ikterus bias terlihat lebih parah bila dilihat dengan pencahayaan yang kurang.D. E.           MANIFESTASI KLINIS Kulit berwarna kuning sampai dengan jingga Pasien tampak lemah Nafsu makan berkurang Reflek hisap kurang Urine pekat Perut buncit Pembesaran lien dan hati Gangguan neurologik Feses seperti dempul Kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl Gejala klinis Ensefalopati Billirubin: 1) Gejala Akut Letargi Tidak mau minum Hipotermi 2) Gejala Kronik Hipertonus Epistotonus Bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralise serebral dengan atetosis . Tekan kulit bayi dengan lembut dengan jari untuk mengetahui warna dibawah kulit dan jaringan subkutan. .paralisis sebagian otot mata dan displasia dentalis.

tangan dan kaki pada hari kedua. seperti abses hati atau hepatoma. Tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan kadar bilirubin serum untuk memulai terapi sinar.  Bilirubin serum Beberapa hal yang perlu dipertimbangan dalam pelaksanaan pemeriksaan serum bilirubin adalah tindakan ini merupakan tindakan invasif yang dianggap dapat meningkatakn morbiditas neonatus. sirosis hati. tungkai. hepatoma. © Pemeriksaan radiology Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati.  Pemeriksaan bilirubin bebas dan CO Bilirubin bebas secara difusi dapat melewati sawar darah otak . © Biopsi hati Digunakan untuk memastikan diagnosa teutama pada kasus yang sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis.Tentukan keparahan ikterus berdasarkan umur bayi dan bagian tubuh yang tampak kuning.  Bilirubinometer transkutan Umumnya pemeriksaan bilirubin transkutan dilakukan sebelum bayi pulang untuk tujuan skrining. © Peritoneoskopi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. © Ultrasonografi Digunakan untuk membedakan antara kolestasis intra hepatic dengan ekstra hepatik.Umumnya yang diperiksa adalah bilirubin total. Pada penelitian ini hiperbilirubinemia dibatasi pada konsentrasi bilirubin serum > 14. Beberapa senter menyarankan pemeriksaan bilirubin direk bila kadar bilirubin total >20 mg/dL atau usia bayi >2 minggu.4 mg/dL (249 umol/l).Bila kuning terlihat pada bagian tubuh manapun pada hari pertama dan terlihat pada lengan . © Laparatomi . maka digoongkan sebagai ikterus sangat berat dan memerlukan terapi sinar secepatnya. Hal ini dapat menerangkan mengapa ensefalopati bilirubin dapat terjadi pada konsentrsi bilirubin yang rendah .

Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. bila kadar haemoglobin < 13 g/dL (hemaktokrit < 40 %) dan tes coombs positif segera rujuk bayi. . Imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawa. . (Rh. Namun pemberian ini tidak efektif karena dapat menyebabakan gangguan metabolik dan pernafasan baik pada ibu dan bayi. v Tindakan khusus .Terapi tranfusi tukar® digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin yang tinggi. Terapi ini juga digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada neonatus dengan hiperbilirubinemia jinak hingga moderat.Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir. atau bayi baru lahir yang dapat menimbulkan ikterus. F.Mencegah trauma lahir.Pemberian fenobarbital ® mempercepat konjugasi dan mempermudah ekskresi. . . Bila . pemberian obat pada ibu hamil. KOMPLIKASI v Retardasi mental v Gangguan pendengaran dan penglihatan v Kematian G.Memberi substrat yang kurang untuk transportasi / konjugasi ® misalnya pemberian albumin karena akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin lebih mudah dikeluarkan dengan tranfusi tukar. PENATALAKSANAAN v Tindakan umum Memeriksa golongan darah ibu.Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi ® untuk mencegah efek cahaya berlebihan dari sinar yang ditimbulkan dan dikhawatirkan akan merusak retina. infeksi dan dehidrasi. ABO) dll pada waktu hamil .

Bila hemoglobin < 8 g/dL (Hemaktokit <24 %). informasikan kepada ibu untuk menghindari zzat-zat tertentu untuk mencegah terjadinya hemolisis pada bayi(contoh : obat anti malaria. PENCEGAHAN Ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan : Nasehati Ibu : 1.dll) pengawasan antenatal yang baik . selain itu juga berguna untuk mengurangi timbulnya bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hati. contoh : Sulfaforazol. terapi sebagai ikterus berkepanjangan (prolonged jaundice) . Menyusui bayi dengan ASI Terapi sinar matahari Berikan tranfusi darah bila hemoglobin < 10 g/dL (memaktokrit . aspirin. H. perkembangan dan pendengaran serta fisioterapi dengan rehabilitasi terhadap gejala sisa. periksa kadar hemoglobin setiap minggu selama 4 minggu. Bila penyebab ikterus adalah inkompatibilitas Rhesus. 2. oksitosin.Foolow up setelah kepulangan.5 kg atau lahir sebelum kehamilan 37 minggu). obatobatan golongan sulfa. v Tindak lanjut Tindak lanjut terhadap semua bayi yang menderita hiperbilirubin dengan evaluasi berkala terhadap pertumbuhan. berikan transfusi darah.Bila ikterus menetap selama 2 minggu Tu lebih pada bayi cukup bulan atau 3 minggu lebih lama pada bayi kecil (berat lahir . pastikan ibu mendapatkan informasi yang cukup mengenai hal inin karena berhubungan dengan kehamilan berikutnya.belerubin serum tidak bisa diperiksa dan tidak memungkinkan untuk dilakukan tes coombs segera rujuk bayi bila ikterus telah terlihat sejak hari 1 dan hemoglobin <13 g/dL(HT <40%) . 2. 30 %) . Bila bayi memiliki defisiensi G6PD. Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonatus. .Terapi obat – obatan ® misalnya obat phenobarbital/luminal untuk meningkatkan peningkatan bilirubin di sel hati yang menyebabkan sifat indirect menjadi direct. Novobiosin.menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi dan masa kehamilan dan kelahiran.

.- Penggunaan fenobarbital pada ibu 1 – 2 hari sebelum partus. Pemberian makanan yang dini. Imunisasi yang baik pada bayi baru lahir. Pencegahan infeksi.

FKUI : Jakarta.Jakarta : EGC.Jakarta : FKUI.com/pustaka/dasar/hati/hiperbilirubenia. Ilmu Kesehatan Anak. 1991.1987.Jakarta : FKUI. H.DAFTAR PUSTAKA http://klinikku. Soeparman. Buku I.html Markum. .1985. Surasmi. Asrining.2003.Perawatan Bayi Resiko Tinggi.Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak.Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 Edisi Ke 2. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak.

NIK.20 Menyetujui.LEMBAR PERSETUJUAN JUDUL : NAMA : NIM : Banjarmasin.. Pembimbing Pendidikan (CT) Pembimbing Lahan Praktik (CI) NIK. .………………….

20 Mengesahkan.. NIK.…………………. AKBID ABDI PERSADA Banjarmasin . Pembimbing Pendidikan (CT) Pembimbing Lahan Praktik (CI) NIK. Masy.LEMBAR PENGESAHAN JUDUL : NAMA : NIM : Banjarmasin. Klinik dan Pengabd. Mengetahui. Bagian Prakt.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->