1.

2.

3.

4.

Perbedaan Nabi dan Rasul Masalah lain yang perlu disinggung sehubungan dengan masalah kenabian ini adalah tentang perbedaan antara nabi dan rasul. Ada beberapa pandangan mengenai perbedaan antara nabi dan rasul. Di antaranya dikatakan bahwa nabi itu lebih umum daripada rasul. Karena nabi itu tidak mempunyai kitab samawi tertentu, tetapi rasul itu mempunyai kitab tertentu, seperti al-Quran, Taurat, Zabur dan Injil. Dengan kata lain ada titik persamaan antara nabi dan rasul, yaitu sama-sama ditugaskan untuk menyampaikan hukumhukum dan syariat Tuhan kepada umat manusia dan membimbing mereka kepada akhlak yang baik serta mengatur urusan mereka baik politik, ekonomi maupun sosial. Perbedaannya hanyalah bahwa nabi itu tidak memiliiki kitab samawi tertentu, sementara rasul itu memiliki kitab samawai tertentu. Tetapi pandangan yang tepat menurut Ali Ghulbayghani adalah bahwa sesuai dengan ayat-ayat alQuran yang menggunakan kata nabi dan rasul, bahwa nabi itu adalah utusan Tuhan yang berupa manusia, tetapi rasul itu adalah utusan Tuhan yang bisa jadi bukan berupa manusia saja, artinya bisa jadi berupa malaikat, angina, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bahwa rasul itu lebih umum sifatnya dibandingkan dengan nabi. Misalnya dalam firman Tuhan surat Yunus ayat 21 terdapat kata rusulunâ yang diartikan sebagai para malaikat , bukan rasul dari jenis manusia. Dengan demikian ayat tersebut berarti, Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami menuliskan tipu dayamu. [1] Urgensi Kehadiran Nabi dan Rasul Di dalam kitab yang sama, Ali Ghulpayghani menjelasakan beberapa urgensi diutusnya para nabi dan rasul sebagai berikut: Menjustisikasi ilmu dan pengetahuan yang dicapai oleh akal pikiran manusia. Misalnya, pengetahuan manusia tentang adanya Sang Pencipta alam semesta ini, tentang sifat-sifat-Nya yang baik dan suci dari segala kekurangan. Artinya manusia dengan akal pikirannya itu mampu memahami bahwa alam semesta ini memiliki pencipta yang memiliki sifat-sifat sempurna dan suci dari segala kekurangan. Diutusnya rasul atau nabi, hanyalah untuk mengokohkan pengetahuan mereka tersebut. Menyampaikan dan menjelaskan hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia. Misalnya, masalah alam kubur atau alam barzakh, tentang surga, neraka, situasi dan kondisi hari kiamat, dan lain sebagainya. Hal-hal ini tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran kita. Oleh karena itu, diutuslah rasul atau nabi untuk menjelaskan itu semua. Nabi atau rasul diutus untuk menghilangkan perasaan takut yang ada pada manusia. Yakni, ketika seseorang itu memahami bahwa dirinya dan semua urusannya itu milik Tuhan serta di bawah penguasaan-Nya, dan juga menyadari bahwa dirinya itu adalah hamba Tuhan, maka akalnya memahami bahwa ia tidak boleh berbuat sembarangan di dalam dunia ini kecuali dengan izin Tuhannya. Namun, ketika orang ini merasa bahwa sikap dan perbuatannya tidak diridhai oleh Tuhan, artinya ia merasa khawatir atas sikap dan perbuatannya tersebut. Kemudian Tuhan mengutus nabi atau rasul-Nya untuk menjelaskan mana perbuatan yang dilarang dan diridhai oleh Tuhan. Dengan adanya penjelasan nabi atau rasul itu, maka sirnalah rasa khawatirnya. Karena apa yang ia lakukan -misalnya- sesuai dengan ketentuan-ketentuan Tuhan. Menjelaskan kepada umat manusia tentang perintah, larangan, manfaat, maslahat, dan mudharat suatu perbuatan, dimana akal manusia tidak dapat menjangkau hakikat perbuatan tersebut. Misalnya, berpuasa di bulan Ramadhan, perintah melaksanakan shalat lima kali dalam sehari, perintah melakukan haji bagi yang mampu, tentang larangan berbuat zina, mencuri, berdusta, dan lain sebagainya. Sesungguhnya akal manusia, betapa pun maju dan tingginya, tidak akan mampu memahami rahasia di balik amal-amal ibadah dan berbagai larangan di dalam syariat tersebut. Mengajarkan dan membimbing manusia mencapai akhlak dan budi pekerti yang mulia, masalahmasalah politik, mengelolah negara dan pemerintahan, bagaimana bermasyarakat, dan menjalin hubungan antara satu dengan yang lainnya. Tanpa bimbingan dan teladan mereka, umat manusia tetap berada dalam kegelapan dan kesesatan. Karenanya untuk mengatur kehidupan manusia dalam seluruh aspeknya diperlukan adanya seorang pembimbing yaitu seorang rasul, nabi, dan ulama. Manfaat dan maslahat diutusnya nabi dan rasul itu, tidak terbartas hanya pada zaman dan tempat tertentu, sebagaimana pula tidak terbatas hanya pada suatu kaum atau bangsa saja.

Antara Nabi dan Rasul Sebagian ulama berpendapat bahwa nabi sama dengan rasul. Namun pendapat yang benar adalah nabi berbeda dengan rasul, walaupun terdapat beberapa persamaan. Nabi adalah

Nabi dan rasul ada yang diturunkan kepadanya kitab. Sedangkan rasul diutus untuk menyampaikan syariat kepada kaum yang menyelisihinya. Al Hajj:52). walaupun mereka memiliki syariat-syariat yang berbeda. (Diringkas dari Syarh al µAqidah Ath Thahawiyah Syaikh Sholeh Alu Syaikh. hal 227-234) Para Nabi dan Rasul Mengajarkan Agama yang Satu Seluruh Nabi mengajarkan agama yang satu. ada pula yang tidak. Persamaan Nabi dan Rasul adalah : y Nabi dan Rasul sama-sama utusan Allah yang diberi wahyu oleh Allah. ´(QS. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.seseorang yang Allah beri wahyu kepadanya dengan syariat untuk dirinya sendiri atau diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaum yang sudah bertauhid. makanlah dari makanan yang baik-baik. ³Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim. Sedangkan rasul adalah seorang yang Allah beri wahyu kepadanya dengan syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaum yang menyelisihnya.dan terkadang membawa syariat baru. ´Dan akan datang Nabi yang tidak memiliki satu pun pengikut´. Dalam ayat ini Allah membedakan antara nabi dan rasul. Musa. dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya«. Allah Ta¶ala berfirman. ³Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi«´ (QS. Sesungguhnya . y y Nabi dan rasul sama-sama diutus untuk menyampaikan syariat. sedangkan Rasul terkadang mengikuti syariat sebelumnya -seperti Yusuf yang diutus untuk kaumnya dengan syariat yang dibawa oleh Ibrahim dan Ya¶qub. Perbedaan Nabi dan Rasul : y y Nabi diberi wahyu untuk disampaikan kepada kaum yang sudah bertauhid atau untuk diamalkan bagi dirinya sendiri. sebagaimana dalam sebuah hadist. Asy Syuuraa:13) {51} {52} ³Wahai para rasul. berdasarkan firman Allah. namun menjelasakan kalau keduanya merupakan utusan Allah. dan kerjakanlah amal yang shaleh. Nabi mengikuti syariat sebelumnya yang sudah ada. Nabi dan rasul memiliki beberapa persamaan dan perbedaan.

Musa. berarti ia telah mendustakan seluruh para rasul.(agama tauhid) ini. Yang diberikan kepada kita seperti Muhanmad. Musa. Musa. Al Ahzab:7) « ³Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim. ³Sesungguhnya seluruh nabi memiliki agama yang satu. Allah tidak akan menerima agama selain Islam. Mendustakan Satu = Mendustakan Semuanya Kewajiban seorang mukmin adalah beriman bahwa risalah para Rasul adalah benar-benar dari Allah. dari Nuh. Ibrahim. sekalipun hanya salah seorang di antara mereka. dan menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang musyrik. (Al Irsyaad ilaa Shahiihil I¶tiqaad hal 159-160). dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya´ (QS. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta¶ala : ³Kaum Nabi Nuh telah mendustakan para Rasul´ (QS. maka bertakwalah kepada-Ku´ (QS. Sebagiannya diberitakan kepada kita dan sebagiannya tdak diberitakan kepada kita. padahal ketika diutusnya Nuh belum ada seorang Rasulpun selain Nabi Nuh µalaihis salaam. Ibrahim. ³Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri). Berdasarkan hal ini maka orang-orang Nasrani yang mendustakan Muhammad shallallahu µalaihi wa sallam dan tidak mau mengikuti beliau berarti mereka telah mendustakan Al Masih bin Maryam (Nab Isa µalaihis salaam) dan tidak mengikuti ajarannya. Allah Ta¶ala telah menyebut mereka pada dua (tempat) surat di dalam Al Quran yakni surat Al Ahzaab dan As Syuraa. yaitu agama Islam. dan Nuh µalahimus shalatu wa salaam. dan Isa bin Maryam«´ (QS. Yang dimaksud dengan islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya. Barangsiapa mendustakan risalah mereka. dan para nabi adalah saudara´ (Muttafaqun µalaih). (Syarhu Ushuulil Iman hal 34-35) Mengimani Nama Para Rasul Termasuk pokok keimanan adalah kita beriman bahwa para Rasul Allah memiliki nama. Asy Syuraa:13) . agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu. Al Mu¶minun:51-52) Nabi shalallahu µalaihi wa salaam bersabda. tunduk kepada Allah dengan mentaatinya. Kelima nama tersebut adalah para Rasul µUlul Azmi. Agama seluruh para Nabi adalah satu. µIsa. adalah agama kamu semua. Asy Syu¶araa¶:105) Dalam ayat in Allah menilai tindakan kaum Nuh sebagai pendustaan kepada para rasul yang diutus oleh Allah.

Al Mukmin:78). ³Sesungguhnya Kami telah memberkan wahyu kepadamu sebagaman Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya«´ (An Nisaa¶:163) Para ulama berdalil dengan ayat ini bahwa Nuh adalah rasul pertama.Adapun terhadap para Rasul yang tidak kita ketahui nama-namanya. di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu´ (QS.hal 35) Para Rasul Pemberi Kabar Gembira Sekaligus Pemberi Peringatan Allah mengutus para Rasul untuk menyampaikan kabar gembira sekaligus memberikan peringatan. An Nisaa¶ 165). Allah Ta¶ala berfirman. ³Dan sesungguhnya telah Kami utus bebrapa orang rasul sebelum kamu. karena ia adalah rasul pertama yang diutus ke muka bumi´. Hadist ini merupakan dalil yang paling kuat menunjukkan bahwa Nuh adalah rasul pertama. Adapun dalil dari sunnah adalah sebuah hadist shahih tentang syafa¶at. Maksud menyampaikan kabar gembira adalah menyebutkan pahala bagi orang yang taat. Jika ada rasul sebelum Nuh tentunya akan dikatakan dalam ayat ini. Dalil yang menunjukkan bahwa Nuh adalah Rasul pertama adalah firman Allah. ³Pergilah kalian kepada Nuh. (Husuulul Ma¶muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuulhal 195-196) Nuh yang Pertama. (Syarhu Ushuulil Iman. Dan bagi siapa yang menentang perintah-Nya dan mendustakan para rasul-Nya akan diancam dengan hukum dan siksaan. beliau berkata kepada mereka. Sisi pendalilannya adalah dari kalimat ³dan nabi-nabi yang kemudiannya´. Dan Nabi Adam sendiri menyebutkan bahwa Nuh sebagai Rasul pertama di atas muka bumi. Ini merupakan salah satu dari hikmah diutusnya para rasul kepada manusia. Ayat ini merupakan dalil bahwa tugas para Rasul ialah memberikan kabar gembira bagi siapa saja yang mentaati Allah dan mengikuti keridhaan-Nya dengan melakukan kebaikan. kita beriman secara global. (Husuulul Ma¶muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuulhal 196-197) . ketika manusia mendatangi Nabi Adam untuk meminta syafaat. sekaligus memberikan peringatan kemudian mengancam orang yang durhaka dan orang kafir dengan kemurkaan dan siksa Allah. ³(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada lagi alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu´ (QS. Allah Ta¶ala berfirman. Muhammad Penutupnya Termasuk keyakinan Ahlus sunnah adalah beriman bahwasanya Rasul yang petama diutus adalah Nuh µalaihis salaam dan yang terkhir adalah Muhammad shallallahu µalaihi wa sallam. Maka mereka pun mendatangi Nuh dan berkata: ³engkau adalah rasul pertama yang diutus ke bumi«´ (Muttafaqun µalaihi).

dan beliau berkata :¶ Tidak ada Nabi sesudahku´. ³Aku adalah penutup para Nabi. Makna berakhirnya kenabian dengan kenabian Muhammad yakni tidak adanya pensyariatan baru setelah kenabian dan syariat yang dibawa oleh Muhammad shallallahu µalaihi wa sallam. Sumber Rujukan: . serta memberikan pujian yang layak bagi mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta¶ala. Hal ini melazimkan berakhirnya diutusnya para Rasul. ³Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian. Mengetahui akan rahmat Allah dan perhatian-Nya kepada manusia dengan mengutus kepada mereka para Rasul untuk memberi petunjuk kepada merka kepada jalan Allah dan memberikan penjelasan kepada mereka bagaimana beribadah kepada Allah karena akal manusia tidak dapat menjangkau hal tersebut. Rasulullah sholallahu µalaihi wa salaam bersabda. tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. mengagungkan mereka . Bersyukur kepada Allah atas nikmat yang sangat agung ini. (Al Irsyaad ilaa Shahiihil I¶tiqaad hal 173). Buah Manis Iman yang Benar Terhadap Para Rasul Keimanan yang benar terhadap para Rasul Allah akan memberikan faedah yang berharga. Dia adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu´ (QS. Washolallahu µalaa Nabiyyina Muhammad. Al Ahzab:40). Karena mereka adalah utusan Allah Ta¶ala dan senantiasa menegakkan ibadah kepada-Nya serta menyampaikan risalah dan memberikan nasehat kepada para hamba. (Syarhu Ushuuill Iman hal 36) Semoga Allah Ta¶ala senantiasa menetapkan hati kita kepada keimanan yang benar. karena berakhirnya yang lebih umum (yakni diutusnya Nabi) melazimkan berakhirnya yang lebih khusus (yakni diutusnya Rasul).Sedangkan Rasul yang terakhir adalah Muhammad sholallahu µalaihi wa salaam. 2.. 3. di antaranya adalah: 1. Mencintai para Rasul.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful