asuhan keperawatan bayi baru lahir

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Bayi Baru Lahir dengan Resiko Tinggi (BBLR, SGN, Hiperbilirubinemia)”. Adapun tujuan dibuat makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan pembaca mengenai asuhan keperawatan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi (BBLR, SGN, Hiperbilirubinemia). Penulis menyadari tanpa bantuan dari berbagai pihak tidak mungkin penulisan makalah ini akan berhasil dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah ikut memberikan bantuan dan fasilitas dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya dosen pembimbing, orang tua, teman-teman dan pihak lain yang telah membantu. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, baik dalam penulisan maupun penyajiannya. Hal ini mengingat segala keterbatasan ilmu pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan dan bahan masukan bagi penulis dalam penulisan makalah dimasa yang akan datang. Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………… DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….…. BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………….. 1. LATAR BELAKANG………………………………………………………………… 1 2. RUMUSAN MASALAH…………………………………………………….…….… 1 3. TUJUAN……………………………………………………………………………… 1 BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………… 1. BAYI DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) ………………… 2 2. SINDROMA GAWAT NAPAS ………………………………………………….. 22 3. HIPERBILIRUBINEMIA ………………………………………………………..

i ii 1

2

39

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………… 47 1. KESIMPULAN…………………………………….…………………………….… 47 2. SARAN…………………………………………………………….………………. 47 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………….….……..

BAB I PENDAHULUAN

1. A. LATAR BELAKANG Banyak masalah yang terdapat dalam keperawatan anak ini, salah satunya yang kita bahas dalam bab ini yaitu asuhan keperawatan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi. Pada bab ini, kami memfokuskan kepada masalah BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), SGN (Sindrom Gawat Nafas), dan Hiperbilirubinemia. Solusi dalam hal ini adalah peningkatan kesehtan bayi baru lahir dan keluarga.Namun dalam menjalankannya seseorang harus mengetahui bayak hal seperti penyesuaian terhadap kehidupan , pengkajian klinis dan yang pasti asuhan keperawatan pada bayi baru lahir (pengkajian, perencanaan , intervensi, implementasi, dan evaluasi) .Dalam hal ini penulis dapat membantu pembaca untruyk mendapatkan informasi tersebut, sehingga pembaca dapat mengetahui tentang asuhan apa saja yang akan diberikan kepada bayi baru lahir yang beresiko tinggi.

1. B. RUMUSAN MASALAH 1. 2. 3. 4. Bagaimana konsep dasar masing-masing penyakit? Apa saja tanda dan gejala yang sering terdapat pada bayi sesuai dengan penyakitnya? Apa saja masalah yang sering dialami pada anak sesuai dengan penyakit? Bagaimana perencanaan tindakan pada anak sesuai dengan masalah pada masing-masing penyakit?

1. C. TUJUAN 1. Tujuan Umum Bias dan mampu melakukan Asuhan Keperawatan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi. 1. Tujuan Khusus 1. Mampu menjelaskan tentang konsep dasar masing-masing penyakit. 2. Mampu mengkaji tanda dan gejala yang sering terdapat pada bayi sesuai dengan penyakitnya. 3. Mampu menentukan masalah yang sering dialami pada anak sesuai dengan penyakit.

4. Mampu menentukan perencanaan tindakan pada anak sesuai dengan masalah pada masing-masing penyakit.

BAYI DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR)

1. I. KONSEP DASAR BBLR 1. Pengertian Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) adalah seluruh bayi dengan berat badan saat lahir kurang dari 2500 gram 1. Klasifikasi BBLR dapat diklasifikasikan menjadi :
 

Prematuritas murni Dismatur

Prematuritas Murni 1. a. Definisi Adalah bayi lahir dengan masa kehamilan < 37 minggu dan berat badan sesuai dengan masa gestasi tersebut atau disebut juga neonatus kurang bulan. Namun beberapa sumber ada yang mengatakan < 38 minggu ( Murray, Sharon SMH, 2002) 1. b. Etiologi Penyebab pasti belum diketahui, tetapi ada beberapa factor resiko yang berperan, yaitu :

Faktor ibu

Penyakit yang berhubungan dengan kehamilan seperti toxemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisis dan psikologis, netritis akut, DM, infeksi akut, penyakit maternal dan kelainan kardiovaskuler Usia ibu, angka kejadian tinggi pada ibu dengan usia < 18 tahun atau >40 tahun dan pada multigravida yang mempunyai jarak kehamilan yang terlalu dekat. Keadaan social ekonomi, hal ini berhubungan dengan keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang

Kondisi ibu saat hamil, peningkatan berat badan ibu yang tidak adekuat, ibu yang merokok.

Faktor janin

Hidramnion/polihidramnion, kehamilan ganda, kelainan janin, gangguan dalam uterus, infeksi janin dan lain-lain. 1. c. Manifestasi Klinis
  

        

Umumnya BB < 2500 gram, panjang badan < 45 cm, llingkar dada < 30 cm, lingkar kepala < 33 cm Kepala relative lebih besar daripada badannya, kulit tipis,transparan, lanugo banyak, lemak subkutan sedikit. Osifikasi tengkorak sedikit, ubun-ubun dan sutura lebar, genitalia immature, labia minora dan klitoris terlihat besar, labia minora belum tertutup oleh labia mayora. Pada laki-laki testis belum turun. Pembuluh darah kulit banyak terlihat dan peritaltik ususpun dapat terlihat. Rambut biasanya tipis, halus dan teranyam sehingga sulit terlihat satu per Satu Daun telinga datar, lembut karena tulang rawannya masih sedikit Putting susu belum terbentuk dengan baik, jaringan mamae belum terbentuk semua Muskuler pleksornya belum berkembang serta tonus otot belum sempurna Kondisi ekstermitas lemah dengan sedikit gerakan atau tidak ada kegiatan yang aktif bergerak Berbaring dalam posisi ekstensi Bayi lebih banyak tertidur daripada terbangun, tangisnya lemah, pernafasan belum teratur dan sering terdapat apneu Otot masih hipnotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua tungkai dalam keadaan abduksi, sendi lutu dan kaki dalam keadaan fleksi dan kepala menghadap kearah satu jurusan Reflek tonus otot biasanya masih lemah, reflek moro (+). Reflek menghisap dan menelan belum sempurna, begitu juga dengan reflek batuk. Frekuensi nadi 100-140/menit, pernafasan pada hari pertama 40-50/menit, pada hari-hari berikutnya 35-45/menit.

1. d. Masalah yang umum terjadi pada bayi premature

Sistem respirasi

Yang umum terjadi adalah serangan apneu, karena surfaktan yang berperan untuk tegangan albveoli yang berkaitan erat dengan penurunan tegangan permukaan alveoli dan akan mengurangi resistensi terhadap pengembangan pada waktu inspirasi dan mencegah pada waktu kolaps alveolus pada waktu ekspirasi. Pada bayi premature surfaktan belum smpurna dihasilkan sehingga bayi muda terserang sindroma gawat napas (SGN).

Masalah termoregulasi

infeksi fetal dari rubella atau cytomegalovirus Gangguan fungsi plasenta seperti ukuran kecil. Definisi Dismatur adalah bayi yang BB lahirnya dibandingkan dengan BB yang seharusnya pada masa gestasinya (IKA. Fototerapi bisa menyebabkan banyak kehilangan cairan. water loss yang terjadi melalui repirasi dan GIT  Masalah integument Kulit lebih mudah robek. terutama berhubungan dengan keadaan yang mengganggu pertukaran zat antara ibu dan janin Kelainan congenital. Tindakan sering dilakukan seperti cairan endotrakeal. perdarahan spontan pada ventrikel otak yang biasanya disebabkan oleh anoksia jaringan Hiperbilirubenemia karena gangguan pertumbuhan hati Dismatur 1. penyakit membrane hialin. dismatur dapat juga terjadi pada preterm.postterm. plasenta menua. a. Komplikasi     SGN.UI 2002) BB yang kurang dari BB lahir seharusnya untuk masa gestasi tertentu adalah BB lahirnya di bawah persentil 10 menurut kurva pertumbuhan. biasanya disebabkan oleh surfaktan yang inadekuat/tidak sempurna dalam tubuh Pneumonia aspirasi karena reflek menelan dan batuk belum sempurna Pre ventrikuler-intra ventrikuler hemoragi. Lemak subkutan sedikit. malnutrisi yang berat pada ibu . IV. sehingga panas cepat hilang. e. term . Etiologi      Banyak factor yang menyebabkannya. dll Penyakit pada ibu seperti hipertensi selama kehamilan Rokok. rusak dan permeable.Terjadi karena kulit tipis dan dekat dengan permukaan. Komplikasinya dapat terjadi hipoglikemi dan masalah respirasi  Masalah keseimbangan cairan dan elektrolit Bayi ini mudah kehilangan cairan karena sedikit perlindungan subkutan dan komposisi air dalam tubuh lebih besar. betadine sebelum tindakana invasive dapat merusak kulit dan mudah menyerap. 1. dan lamanya sangat merusak kulit. pusat control temperature di otak belum matur dan biasanya lebih lanjut menyebabkan afiksia. b. kulit lebih permeable dibandingkan dengan bayi normal. 1. alcohol. Permukaan tubuh klien lebih besar dari BB. Nama lain yang sering digunakan adalah KMK (Kecil Masa Kehamilan). Bagitu juga dengan tindakan desinfektan seperti alcohol.

retardasi mental dan wasting Pada term gejala yang menonjol adalah wasting Poast term sama dengan term Bayi dismatur dengan tanda wasting atau insufisiensi palsenta dapat dibagi dalam 3 atadium menurut berat dan ringannya wasting yaitu : 1. Stadium III : ditemukan stadium II ditambah dengan kulit berwarna kuning. Stadium I : bayi tampak kurus dan realatif lebih panjang. pakai topi untuk menghindari kehilangan panas  Awasi frekuensi pernapsan terutama dalam 24 jam pertama. Manifestasi klinis    Pada preterm. Stadium II : didapatkan tanda-tanda stadium I ditambah warna kehjauan pada kulit. kering seperti perkamen tetapi bel. Komplikasi dismatur  Sindrom aspirasi mekonium Akibat mekonium dilepaskan dalam liquor amnion. umbilicus dan plasenta sebagai akibat anoksia intrauterine 3. guna mengetahui syndrome aspirasi mekonium/sindrom gangguan pernapasan idiopatik . selimut. demikian pila pada kuku dan tali pusat. terlihat gejala fisus bayi premature murni dan gejala dismaturitas. d. 4. plasenta dan umbilicus. c. kering. cairan yang mengandung amnion masuk ke paru akibat inhalasi  Hipoglikemi simptomatik Biasanya terjadi akibat persediaan glikogen yang sangat kurang   Asfiksia neonatorum Penyakit membran hialin Karena bayi dismatur preterm belum cukup surfaktannya sehingga alveoli selalu kolap  Hiperbilirubenemia Diesbabkan karena gangguan pertumbuhan hati Penatalaksanaan BBLR  Pastikan bahwa bayi terjaga tetap hangat Bungkus bayi dengan kain lunak.1. kulit longgar. hal ini kemudian mengendap kedalam kulit.um terdapat noda mekonium 2.

mencucui tangan sesudah dan sebelum menyentuh bayi serta gunakan gound dan masker.obat-obatan yang mungkin digunakan saat hamil Riwayat kesehatan sekarang (ditemukan saat pemeriksaan fisik) Riwayat kesehatan keluarga (ada anggota keluarga lainnya yang melahirkan dengan BBLR) 1. pengisian kapiler.giziburuk saat hamil karena sosek yang rendah. Suhu ruangan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah tidak sesuai dengan seharusnya dapat meningkatkan kematian bayi BBLR Dorong ibu menyusui dalam 1 jam sekali Jika bayi haus.      Suhu diawasi jangan sampai kediniginan karena BBLR mudah hipotermi akibat dari luas permukaan tubuh bayi realitf besar dari lemak subkutan. Pengkajian Fisik  Sirkulasi Nadi apikal mungkin cepat dan / atau tidak teratur dalam batas normal (120-160 dpm). membran mukosa dan bibir Tentukan tekanan darah Gambarkan nadi perifer. BMR dari BBLR rendah saat lahir dan meningkat cepat selama 10 hari pertama kehidupan. Riwayat kesehatan    Riwayat pra. Oleh karena itu penting untuk mempertahankan suhu tubuh dengan memberikan pakaian pada bayi. Perika kadar gula darah tiap 8-12 jam. Cegah infeksi oleh karena rentan oleh pemindahan IgB dari ibu ke janin terganggu. ikterik Kaji warna bantalan kuku. 1. Bayi BBLR ditempatkan di ruang khusus. Tarikan dinding dada ke dalam atau merintih beri O2 melalui kateter hidung. Pengkajian 1.intra.postnatal seperti persalinan saat usia muda. perfusi perifer Makanan / Cairan o Berat badan kurang dari 2500 gr o Tentukan adanya distensi abdomen .jarak kehamilan yang dekat. I. beri makanan dini berguna untuk mencegah hipoglekimia Jika bayi sinaosis atau sukar bernafas (frekuensi < 30 atau 60/menit)).kehamilan ganda. Pengkajian tambahan :        Tentukan frekuensi dan irama jantung Gambarkan bunyi jantung termasuk adanya murmur Gambarkan warna bunyi : sianosis. pucat. ASUHAN KEPERAWATAN BBLR B. Murmur jantung yang dapat didengar dapat menandakan duktus arteriosus paten (PDA). harus ada pengaturan izin masuk.

jarum. konsistensi. komponen pertama reflek moro (ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan) tampak pada gestasi minggu ke 28. retraksi  Tentukan frekuensi dan keteraturan pernapasan  Tentukan apakah penghisapan diperlukan  Auskultasi dan gambarkan bunyi pernapasan  Skor apgar mungkin rendah  Pernapasan mungkin dangkal. biasanya suhu berfluktuasi dengan mudah  Tentukan hubungan dengan suhu lingkungan  Gambarkan adanya perubahan warna. lepuh. dan bau dari adanya muntah Palpasi daerah tepi hati Gambarkan jumlah. lesi kulit atau tanda lahir  Tentukan apakah kateter. komponen kedua (fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke 32. warna dan konsistensi feces Gambarkan bising usus Neurosensori  Gambarkan gerakan bayi. menelan dan bernafas nbiasa terbentuk pada gestasi minggu ke 32 .  Pernapasan  Gambarkan bentuk dada. pH. frekuensi aliran. infus IV. kesimetrisan. halus. selang dada  Gambarkan penggunaan otot aksesoris. fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. tampilkan area insersi . evaluasi berdasarkan usia gestasi  Gambarkan jumlah. pecahpecah. sutura mungkin mudah digerakkan. temuan lapstick dan berat jenis urin  Periksa BB  Tubuh biasanya panjang. warna. berada pada tempatnya dan amati apakah ada tanda-tanda inflamasi  Gambarkan jalur pemasangan kateter IV. kering. mata mungkin merapat (tergantung usia gestasi)  Refleks tergantung : rooting terjadi dengan gestasi minggu ke 32. terkelupas  Gambarkan adanya ruam. jenis jarum. koordinasi refleks untuk menghisap.  Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputar  Edema kelopak mata umum terjadi. gambarkan tipe penghisapan. abrasi. area kemerahan. drainase Gambarkan jumlah. lemas dengan perut agak gendut  Ukuran kepala besar dalam hubungannya dengan tubuh. kurus.o o o o o o Tentukan adanya tanda-tanda regurgitasi dan kulit yang berhubungan dengan pemberian makan. tanda iritasi. area gundul  Tentukan tekstur dan turgor kulit . pernafasan cuping hidung. karakter dan jumlah sisa bila diberi makanan melalui lavase. warna. Bila selang NGT terpasang. jenis infus. adanya insisi. pernapasan diafragmatik intermitten atau periodik (40-60x/menit)  Keamanan  Tentukan suhu kulit dan aksila. tidak teratur.

pH. 1. Penyuluhan /Pembelajaran Riwayat ibu dapat menunjukkan faktor-faktor yang memperberat persalinan praterm. mungkin ada kaput suksedaneum Kulit kemerahan atau tembus pandang. akrosianosis atau sianosis/pucat Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh Ekstremitas mungkin tampak edema Garis telapak kaki mungkin atau mungkin tidak ada pada semua atau sebagian telapak Kuku mungkin pendek Genitourinaria  Persalinan atau kelahiran mungkin tergesa-gesa  Genitalia . temuan lapstick dan berat jenis urin. Pemeriksaan Diagnostik Pilihan tes dan hasil yang diperkirakan tergantung pada adanya masalah dan komplikasi sekunder :  Studi cairan amniotik Untuk rasio lesitin terhadap sfingomielin (L/S). labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora dengan klitoris menonjol. Testis pria mungkin tidak turun.  Gambarkan jumlah. rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum. warna. 1. profil paru janin dan fosfatidilinositol mungkin telah dilakukan selama kehamilan untuk mengkaji maturitas janin. dijual bebas atau obat jalanan.        Menangis mungkin lemah Wajah mungkin memar.  Jumlah darah lengkap (JDL) . seperti :            Usia muda Latar belakang sosial ekonomi rendah Rentang kehamilan dekat Gestasi multipel Nutrisi buruk Kelahiran praterm sebelumnya Komplikasi obstetrik seperti abrupsio plasentae Ketuban pecah dini Dilatasi serviks prematur Adanya infeksi Inkompabilitas darah berhubungan dengan eritroblastosis fetalis atau penggunaan obat yang diresepkan. warna mungkin merah muda/kebiruan.

000/mm3 dengan pertukaran kekiri (kelebihan dini dari netrofil dan pita) yang biasanya dihubungkan dengan penyakit bakteri berat. K+.  Laju sedimentasi eritrosit Meningkat menunjukkan respon inflamasi akut.  Dekstrostik Menyatakan hipoglikemia. Cl-) Biasanya pada awal tetap berada pada batas normal  Golongan darah Dapat menyatakan potensial inkompabilitas ABO  Penentuan Rh dan Coomb Langsung Bila ibu Rh negatif dan ayah Rh positif. sepsis atau kesulitan nafas yang lama. Sel darah putih mungkin kurang dari 10.Penurunan pada hemoglobin/hematokrit mungkin dihubungkan dengan anemia atau kehilangan darah. Penurunan ESR menunjukkan resolusi inflamasi  Protein C-reaktif (beta globulin) Ada dalam serum sesuai proporsi beratnya proses radang infeksius atau non infeksius  Jumlah trombosit Trombositopenia dapat menyertai sepsis  Kadar fibrinogen Dapat menurun selama koagulasi intravaskuler diseminata (KID) atau menjadi meningkat selama cedera atau inflamasi . Menentukan inkompabilitas  Gas darah arteri PO2 mungkin rendah. Tes glukosa serum mungkin diperlukan bila hasil dekstrostik kurang dari 45 mg/ml  Kalsium serum Mungkin rendah  Elektrolit (Na++. PCO2 mungkin meningkat dan menunjukkan asidosis ringan / sedang.

II.006 sampai 1. Diagnosa Keperawatan 1. Dapart menunjukkan penampilan ground glass (RDS)  Seri USG kiranial Mendeteksi ada ada dan beratnya hemoragi intraventrikuler (IVH)  Punksi lumbal Dapat dilakukan untuk mengesampingkan meningitis. 1.d imaturitas control dan pengatur suhu tubuh dan berkurangnya lemak sub cutan didalam tubuh. cedera ginjal  Berat jenis urin Rentang antara 1.013 meningkat pada dehidrasi  Klinites / klinistik Mengidentifikasi adanya gula dalam darah  Hemates Memeriksa adanya darah pada feces. hasil positif menunjukkan nekrotisasi enterokolitis  Tes shake aspirat lambung Menentukan ada atau tidaknya surfaktan  Sinar X dada Sinar X dada (PA dan Lateral) dengan bronkogram udara. . Produk split fibrin Ada pada KID  Kultur darah Mengidentifikasi organisme penyebab yang dihubungkan denagn sepsis  Urinalisis Mendeteksi abnormalitas. Tidak efektifnya termoregulasi b.

bila ibu RH-negatif sebelumnya telah disensitasi oleh antigen RH-positif. 3. Tinjau catatan intrapartum terhadap sendiri. antibodi ibu melewati plasenta dan bergabung pada SDM janin. Resiko gangguan integritas kulit b. atau polisitemia. Kondisi klinis tertentu dapat menyebabkan pembalikan barier darah-otak. Intervensi Diagnosa I : Tidak efektif termoregulasi b.2. berat badan lahir rendah ( BBLR) atau IUGR.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi). menyebabkan hemolisis lambat atau segera. prematuritas. dari semua kehamilan dan paling umum terjadi pada ibu dengan golongan darah O. yang antibodinya anti-A dan anti-B melewati sirkulasi janin. kurang pengetahuan.la dalam 35.d situasi krisis. menyebabkan aglutinasi dan hemolisis SDM. Perhatikan kelompok dan golongan Inkompatibilitas ABO mempengaruhi 20% darah ibu/bayi. sirkulasi abnormal.sepsis. proses metabolik abnormal. memungkinkan ikatan bilirubin terpisah pada tingkat membran sel atau dalam sel itu 1. 4.d ketidakmampuan tubuh dalam mencerna nutrisi (imaturitas saluran cerna). III. meningkatkan risiko terhadap faktor risiko yang khusus.5-37. Serupa dengan itu. Resiko infeksi b. Resorpsi darah yang terjebak pada jaringan kulit kepala janin dan hemolisis yang berlebihan dapat meningkatkan jumlah bilirubin yang dilepaskan dan menyebabkan . seperti keterlibatan SSP. Hasil yang diharapkan :   Mempertahankan suhu kulit / aksi. 5. Kecemasan orang tua b.3oC Bebas dari tanda-tanda stress dingin seperti menggigil.d tipisnya jaringan kulit. Tindakan/Intervensi Rasional 1. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d imaturitas control dan pengatur suhu tubuh dan berkurangnya lemak sub cutan didalam tubuh. imobilisasi. cedera vaskular.

perhatikan kemungkinan Mendeteksi bukti/derajat ikterik. yang bersaing dengan diberi ASI. Penampilan hipoproteinemia . sehingga meningkatkan kadar bilirubin yang bersirkulasi dengan bebas ( tidak berikatan ). Kaji bayi terhadap adanya sefalohematoma dan ekimosis atau petekie yang berlebihan ikterik. pantau kulit dan suhu inti dengan sering. yang dapat melewati barier darah otak. yang bersaing pada sisi ikatan pada albumin. Satu gram albumin membawa 16mg bilirubin tidak terkonjugasi. Asfiksia dan asidosis menurunkan afinitas bilirubin terhadap albumin. Kekurangan albumin yang cukup meningkatkan jumlah sirkulasi bilirubin tidak terikat (indirek).1. Stres dingin berpotensi melepaskan asam lemak.Dapatkan kadar dextrostix. Evaluasi tingkat nutrisi ibu dan prenatal. atau asidosis. asfiksia.sesuai indikasi. Perhatikan penggunaan ekstrator vakum untuk kelahiran. Hipoglikemia memerlukan dalam 4 sampai 6 jam setelah penggunaan simpanan lemak untuk asam kelahiran. khususnya bila bayi lemak pelepas energi. Hipoproteinemia pada bayi baru lhir dapat mengakibatkan ikterik. 1. Pertahankan bayi tetap hangat dan kering. Tinjau ulang kondisi bayi pada kelahiran.Kaji bayi terhadap bilirubin untuk bagian ikatan pada albumin. Mulai pemberian makan oral awal mekonium. turunkan sirkulasi enterohepatik bilirubin (melintasi hepar dengan duktus venosus menetap) dan menurunkan resorpsi bilirubin dari usus dengan meningkatkan pasase 1. 1. Keberadaan flora usus yang sesuai untuk pengurangan bilirubin terhadap urobilinogen. perhatikan kebutuhan terhadap resusitasi atau petunjuk adanya ekimosis atau petekie yang berlebihan. 1. tanda-tanda hipoglikemi.

batang tubuh 5-12 mg/dl. seperti kelebihan SDM yang diperlukan untuk mempertahankan oksigenasi adekuat pada janin tidak lagi diperlukan oleh bayi baru lahir dan dihemolisis. 1. Observasi bayi dalam sinar alamiah.neonatus.yang juga dianggap menghambat konjugasi bilirubin. Tanda-tanda ini mungkin berhubungan dengan hidrops fetalis. klinis dari ikterik jelas pada bilirubin lebih besar dari 7-8 mg/dl pada bayi cukup bulan. lengan/kaki 11-18mg/dl.dan kantung konjungtiva pada bayi baru lahir yang berkulit gelap. 4-8 mg/dl.dan bagian tubuh tertentu terlibat.khususnya pada bayi praterm. mempengaruhi hanya 1%-2% bayi menyusu. dan pada hemolisis uterus SDM janin. Perhatikan usia bayi pada awitan ikterik. ASI dari banyak wanita dianggap mengandung enzim (pregnanediol) yang menghambat transferase(enzim hepar yang berkonjugasi dengan bilirubin).atau patologis) Ikterik fisiologis biasanya tampak antara hari pertama dan kedua dari kehidupan. atau mengandung beberapa kali konsentrasi ASI normal dari asam lemak bebas tertentu. Memberikan skrining noninvasif terhadap ikterik. 1. inkompatibilitas RH. Ikterik karena ASI biasanya tampak antara hari keempat dan keenam kehidupan. lipat paha 8-16 mg/dl. kulit menguning segera setelah pemutihan. . Kaji mukosa oral. Perkiraan derajat ikterik adalah sebagai berikut: dengan ikterik yang dimulai dari kepala ke jari kaki.menghitung warna kulit dalam hubungannya dengan bilirubin serum total. perhatikan sklera dan mukosa oral. produk pemecahan akhir dari heme.akibat ASI.bagian posterior dari palatum keras. fisiologis. sehingga melepaskan bilirubin. Ikterik patologis tampak dalam 24 jam pertama kehidupan dan lebih mungkin menimbulkan perkembangan kernikterus/ensefalopati bilirubin. Pigmen dasar kuning mungkin normal pada bayi berkulit gelap. bedakan tipe ikterik( mis. dan tangan/kaki 1520 mg/dl.

anti-A. 1. 1. Bayi potensial terhadap kernikterus diprediksi paling baik melalui peningkatan kadar bilirubin indirek. transfusi kembarankembaran. atau hepatomegali. dan bilirubin indirek yang dikonjugasi dan tampak dalam bentuk bebas dalam darah atau terikat pada albumin. edema. 11. yang dikonjugasi oleh enzim hepar glukoronil transferase. Bilirubin direk dan indirek. sesuai indikasi.Evaluasi bayi terhadap pucat. .kemungkinan disebabkan oleh pelambatan pengkleman tali pusat. Kekuatan kombinasi CO2 Jumlah retikulosit dan smear perifer Peningkatan kadar Hb/Ht menandakan polisitemia.atau anti-B) SDM pada neonatus. Penurunan konsistensi dengan hemolisis Hemolisis berlebihan menyebabkan jumlahretikulosit meningkat. Pantau pemeriksaan laboratorium. Peningkatan kadar bilirubin indirek 18-20 mg/dl pada bayi cukup bulan. mengidentifiaksi SDM abnormal atau imatur.10. KOLABORASI 1. transfusi maternal ibu. adalah bermakna. Hasil positif dari tes coombs indirek menandakan adanya antibodi ( Rh –positif atau anti-A atau anti-B) pada darah ibu dan bayi menandakan adanya sensitisasi ( Rh positif.ibu diabetes atau stres intrauterus kronis dan hipoksia seperti terlihat pada bayi BLR atau bayi dengan penurunan sirkulasi plasenta. Swear Tes coombs darah tali pusat direk /indirek. atau lebih besar dari 13-15 mg/dl pada pratern atau bayi sakit. Gunakan meter ikterik transkutaneus Bilirubin tampak dalam dua bentuk : bilirubin direk.

Hitung kapasitas ikatan plasma bilirubin-albumin Diagnosa Keperawatan II: Nutrisi. Hb/Ht Kadar rendah protein serum ( kurang dari 3 gr/dl ) menandakan penurunan kapasitas ikatan terhadap bilirubin. Protein serum total 1.refleks lemah. Bila nilai bilirubin total dibagi dengan kadar protein total serum kurang dari 3. Mempertahankan glukosa serum DBN dan keseimbangan nitrogen positif. Namun. kloramfenikol) 1. penurunan produksi asam hidrokolik. risiko tinggi terhadap imaturasi produksi enzim. tidak ada atau tidak sinkron berkenaan dengan pemberian makan. Hasil yang diharapkan:   Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan berat badan dalam kurva normal.perubahan.7 bahaya kernikterus sangat rendah. imaturasi sfingter kardia.adanya hipoksia atau asidosis dan aturan obat ( mis sulfonamid. Membantu dalam menentukan risiko kemikterus dan kebutuhan tindakan. otot abdominal lemah. dengan penambahan berat badan tetap sedikitnya 20-30 g/hari. ketidakadekuatan kadar nutrisi simpanan. . kapasitas lambung kecil.kurang dari kebutuhan tubuh.1. risiko cedera tergantung pada derajat prematuritas.

Bila distress pernafasan ada. Pemasukan makanan ke dalam lambung yang terlalu cepat dapat menyebabkan respon balik cepat dengan regurgitasi. yang tepat untuk bayi. smua ini menurunkan status pernafasan. Mulai memberi makan sementara atau dengan menggunakan selang sesuai indikasi. gag. Pemberian makan per selang mungkin perlu untuk memberikan nutrisi yang adekuat pada bayi yang telah mengalami koordinasi menghisap yang buruk dan refleks menelan atau yang menjadi lelah selama pemberian makan. Kaji pemasangan yang tepat dari selang pemberian makan pada bayi.dan distensi abdomen. Pemasangan pada trakea yang tiadak tepat dapat menurunkan fungsi pernafasan. Penggunaan energi berlebihan selama . 1.INTERVENSI RASIONAL 1. Kaji status fisik dan status pernafasan. Kaji maturitas refleks berkenaan dengan Menentukan metoda pemberian makan pemberianmakan(mis:menghisap. Auskultasi terhadap adanya bising usus. 1. ditunda.peningkatan risiko aspirasi. dan batuk) Pemberian makan pertama pada bayi stabil yang memiliki peristaltic dapat dimulai 6-12 jam setelah kelahiran. dan cairan per oral harus 1.menelan. cairan parenteral diindikasikan.gunakan prosedur pengkleman yang tepat untuk mencegah masuknya udara ke dalam lambung.

ibu dapat menggosok dot pada payudara. meningkatkan laju metabolisme dan kebutuhan kalori bayi. Menandakan kerusakan fungsi lambung. Kaji tingkat energi dan penggunaannya. membantu mencegah regurgitasi berkenaan dengan peningkatan penanganan. kemungkinan mengorbankan pertumbuhan dan peningkatan berat . 1. Tunda drainase postural selama sedikitnya 1 jam setelah pemberian makan. dan lama waktu yang diperlukan untuk makan. Bila bayi menjadi kadang-kadang menyusu ASI. Memberikan kepuasan oral sehingga bayi menghubungkan kepuasan diri dalam menghisap dengan kenyamanan dari pengisian lambung. Masukkan ASI/ formula dengan perlahan makan menurunkan ketersediaan kalori selama 20menit pada kecepatan 1ml/menit.1. hipoksia. melembabkannya dengan sedikit ASI untuk memberi bau padanya. frekuensi pernafasan. 1. dan penanganan yang berlebihan.risiko hipoglikemia meningkat. Karena hepar imatur tidak menyimpan atau melepaskan glikogen dengan baik. Memungkinkan pencernaan optimal dan absorpsi dari pemberian makan. Ia dapat jg menggendong bayi selama pemberian makan. Penuhi kebutuhan menghisap pada bayi dengan menggunakan dot selama pemberian makan per selang. 1. untuk pertumbuhan dan perkembangan normal. derajat kelelahan. Stres dingin.

regurgitasi.Gangguan pada bayi harus seminimal mungkin.residu lambung berlebihan. Perhatikan adanya diare. dan sianosis) 13. biasanya septicemia candida. Pertumbuhan mendorong peningkatan kebutuhan kalori dan kebutuhan protein. untuk menyesuaikan formula. bayi antara15001800g (3bln sampai 4 bl) diberi makan setiap 3jam. Kira-kira 50% komplikasi yang berhubungan dengan nutrisi parenteral total (NPT) adalah karena sepsis. Pantau bayi terhadap reaksi local atau sistemik untuk pemberian makan parenteral (mis Pemberian makan dini mencegah peningkatan suhu. Komplikasi lain meliputi kelebihan beban cairan dan obrtruksi atau perubahan posisi kateter.Catat pertumbuhan dengan membuat pengukuran berat badan setiap hari dan setiap minggu dari panjang badan dan lingkar kepala. trombosis pembuluh penurunan cadangan darah.dispnea. Pertumbuhan dan peningkatan berat badan adalah criteria untuk penentuan kebutuhan kalori. Pantau kadar dextrostix dan clinitest per protocol.badan. muntah. muntah. 12. Pertahankan termonetral lingkungan dan oksigenasi jaringan yang tepat. atau hasil positif dari tes guaiak. 11. 1. dan untuk menentukan frekuensi pemberian makan. Bayi kurang dari 1250g (2 lb 12 oz) diberi makan setiap 2jam. Masukkan kalori harus cukup untuk . 10.

17.KOLABORASI mencegah katabolisme. untuk meningkatkan keadekuatan nutrisi dan menurunkan risiko infeksi. protein total. Formula yang pekat memberikan lebih banyak kalori dalam volume yang lebih sedikit. Berikan vitamin dan mineral. dan ASI atau formula.glukosa.blogspot.D. Pantau pemeriksaan laboratorium mis: glukosa serum. Tambahkan suplemen ke ASI untuk pemberian makan melalui selang sesuai kebutuhan. Mulai pemberian makan dengan air steril. perlu karena penurunan kapasitas dan pengosongan lambung. 15. elektrolit.dan E dan zat besi sesuai indikasi.C. serta bahaya menekan ginjal imatur.yang 14. 16. Sumber : http://kumpulan-asuhan-keperawatan.com . dengan tepat.com http://download-my-ebook. Gunakan formula pekat untuk memberikan 120-150 kal/kg/hari atau lebih. dengan protein 3-4 Mengukur ketepatan NPT g/kg/hari.blogspot. 18. Beri makan sesering mungkin sesuai indikasi berdasarkan berat badan bayi dan perkiraan Menggantikan simpanan nutrient rendah kapasitas lambung. khususnya A.

.

( Ngatisyah. KONSEP DASAR 1. interkostal pada saat inspirasi. Bayi dengan sianosis sentral ( biru pada lidah dan bibir ) .2005 hal 23 ) Kumpulan gejala yang terdiri dari frekuensi nafas bayi lebih dari 60x/i atau kurang dari 30x/i dan mungkin menunjukan satu atau lebih dari gejala tambahan gangguan nafas sebagai berikut: 1. A. RDS ) adalah:   Kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperpnea dengan frekuensi pernafasan besar 60 x/i. merintih waktu ekspirasi dan retraksi didaerah epigastrium. sianosis.SINDROMA GAWAT NAPAS 1. suprosternal. PENGERTIAN Sindrom gawat nafas ( respiratory distress syndroma. 1.

google. 2.com ) 1.com ) Menurut Murray et.pneumonia asfiksia d. 2003 hal 70 ) Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan perkembangan maturitas paru ( Whalley dan wong. ada infiltrat bilateral pada foto thorak. kerosakan paru ringan sampai sedang atau kerosakan yang berat dan adanya disfungsi organ non pulmonar. dan adanya hyaline membran pada saat otopsi ( www.kelainan atau malformasi kongenital Pada bayi cukup bulan . ( www. 2. 3.google. perdarahan otak Kelainan metabolik: hipoglikemia. Ada tarikan dinding dada 3. asidosis metabolik Kelainan bedah: pneumotoraks. 1995 ) Menurut Petty dan Asbaugh (1971).google. ETIOLOGI       Kelainan paru: pneumonia Kelainan jantung: penyakit jantung bawaan. 4. edema paru.al (1994) apabila onset akut. ( www. sianosis yang menetap dengan terapi oksigen. adanya kerosakan paru akut dengan PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan 300. penyakit membran hialin Bila menurut masa gestasi penyebab gangguan nafas adalah : 1. kongesti vascular.adanya gambaran infiltrat alveolar yang merata pada foto thorak dan adanya atelektasis.al (1988) disebut RDS apabila ditemukan adanya kerosakan paru secara langsung dan tidak langsung.2.dkk. asrining. frekuensi nafas meningkat (tachypnea ). Apnea ( nafas berhenti lebih dari 20 detik ) ( PONED.2004 )      Istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. definisi dan kriteria RDS bila didapatkan sesak nafas berat (dyspnea ). adanya sindrom gawat napas akut yang ditandai PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan 200. perdarahan. Merintih 4. menyokong suatu RDS . disfungsi miokardium Kelainan susunan syaraf pusat akibat: Aspiksia. ( Surasmi. Pada bayi kurang bulan penyakit membran hialin b. fistel trakheoesofageal. hernia diafragmatika Kelainan lain: sindrom Aspirasi mekonium. tekanan arteri pulmonal =18mmHg dan tidak ada bukti secara klinik adanya hipertensi atrium kiri.com ) Menurut Bernard et. penurunan daya pengembangan paru.

Kelumpuhan saraf frenikus. Hernia Diafragmatika. menyebabkan kerosakan pada endothelial dan epithelial sel jalan pernafasan bagian distal sehingga menyebabkan eksudasi matriks fibrin yang berasal dari darah. 4. Membran . sering terjadi pada bayi caesar karena dadanya tidak mengalami kompresi oleh jalan lahir sehingga menghambat pengeluaran cairan dari dalam paru. Paru-paru terisi cairan. hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik. Luar traktus respiratoris: kelainan jantung kongenital. 3. kelainan metabolik. lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga agar alveoli tetap mengembang. Oleh sebab itu paru-paru memerlukan tekanan pembukaan yang tinggi untuk mengembang. Secara makroskopik.1. 2. Hipertensi pulmonal. Kelainan kongenital(Choanal Atresia. Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Pleural Effusion. Hipoplasia Paru. tetapi alveoli menjadi tertarik karena adanya defisiensi surfaktan ini. Pierre. shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia berat. Telah diketahui bahwa surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10% protein . Secara histologi. Berhubungan dengan kurangnya masa gestasi ( bayi prematur )  Transient Tachypnoe of the Newborn(TTN). produksi surfaktan kurang sempurna. adanya atelektasis yang luas dari rongga udara bahagian distal menyebabkan edema interstisial dan kongesti dinding alveoli sehingga menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II. paru-paru nampak tidak berisi udara dan berwarna kemerahan seperti hati. Hal tersebut menyebabkan perubahan fisiologi paru sehingga daya pengembangan paru (compliance) menurun 25% dari normal. Dengan adanya atelektasis yang progresif dengan barotrauma atau volutrauma dan keracunan oksigen. Sindrom Aspirasi Mekonium pneumonia asidosis kelainan atau malformasi kongenital Gangguan traktus respiratorius:  Hyaline Membrane Disease(HMD).robin syndrome). Dilatasi duktus alveoli. darah dan SSP 1. pengembangan kurang sempurna kerana dinding thorax masih lemah. pernafasan menjadi berat.          Infeksi(Pneumonia). 3. Sindroma Aspirasi. PATOFISIOLOGI Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur disebabkan oleh alveoli masih kecil sehingga kesulitan berkembang.

yaitu: 1. KLASIFIKASI Secara klinis gangguan nafas dibedakan menjadi 3 kelompok. Retraksi suprasternal dan substernal 10. Pernafasan dangkal 3. Apneu dan pernafasan tidak teratur 8. Mendengkur 4. Menurut Surasmi. pada bayi yang immatur dan mengalami sakit yang berat dan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan chorioamnionitis sering berlanjut menjadi Bronchopulmonal Displasia (BPD). Takhipneu (> 60 kali/menit) 2. 1. Klasifikasi Gangguan Nafas Klasifikasi Gangguan nafas berat Frekuensi nafas Gejala tambahan 60 kali/ menit90 kali/ menit Dengan sianosis sentral dan tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasiDengan sianosis sentral atau tarikan dinding dada atau merintih saat .72 jam setelah lahir. Gangguan nafas sedang 3. dkk (2003) tanda dan gejala yang muncul adalah sebagai berikut : 1. semakin berat gejala klinis yang ditujukan. Gangguan nafas berat 2. Gangguan nafas ringan Tabel 1. Epithelium mulai membaik dan surfaktan mulai dibentuk pada 36. 4.hyaline yang meliputi alveoli dibentuk dalam satu setengah jam setelah lahir. Sianosis 5. Penurunan suhu tubuh 9. Pernafasan cuping hidung 1. Pucat 6. 5. MANIFESTASI KLINIS Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi oleh tingkat maturitas paru. Kelelahan 7. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan. Proses penyembuhan ini adalah komplek.

kelelahan dan depresi SSP yang merupakan tanda memburuknya keadaan klinik. Anggukan kepala ke atas. merintih. gerakan tubuh berirama.ekspirasi Dengan atau tanpa gejala lain dari gangguan nafas 60-90 kali/ menit> 90 kali/ Dengan tarikan dinding menit dada atau merintih saat ekspirasi tetapi tanpa sianosis sentralTanpa tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi atau sianosis sentral 60-90 kali/ menit Tanpa tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi atau sianosis sentral Gangguan nafas sedang Gangguan nafas ringan 1. 6. Penilaian fungsi respirasi meliputi: 1. retraksi subkostal/interkostal. Frekuensi nafas yang sangat lambat dan ireguler sering terjadi pada hipotermi. diare. sulit bernafas dan sentakan dagu. Pada awalnya suara nafas mungkin normal kemudian dengan menurunnya pertukaran udara. pernafasan cuping hidung. diabetikum. hipotonus. . keracunan salisilat. yang sering dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan penyakit alveolar. dehidrasi. PEMERIKSAAN  Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu (> 60 kali/menit). Frekuensi nafas Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi. Pengkajian fisik pada bayi dan anak dengan kegawatan pernafasan dapat dilihat dari penilaian fungsi respirasi dan penilaian fungsi kardiovaskuler. sianosis dan pucat. retraksi dinding dada. stridor dan ekspansi memanjang menandakan terjadi gangguan mekanik usaha pernafasan. 1. pernafasan mendengkur. nafas menjadi parau dan pernapasan dalam. apneu. Takhipneu tanpa tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha kompensasi terhadap terjadinya asidosis metabolik seperti pada syok. dan insufisiensi ginjal kronik. ketoasidosis. Mekanika usaha pernafasan Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping hidung.

Perfusi kulit kulit yang memburuk dapat dilihat dengan adanya bercak. pucat dan sianosis. dan atau kelainan fungsi jantung. dan glukosa darah ( untuk mengetahui hipoglikemia ). 1. Penilaian fungsi kardiovaskuler meliputi: 1. 7. Frekuensi jantung dan tekanan darah Adanya sinus tachikardi merupakan respon umum adanya stress. warna kulit tubuh terlihat berbercak (mottled).1. 1. pemeriksaan dekstrostik dan fosfatidigliserol meningkat pada usia kehamilan 33 minggu. hiperkapnia. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekwat. lesitin/spingomielin rasio 2 :1 mengindikasikan bahwa paru sudah matur. Pemeriksaan pada pengisian kapiler dapat dilakukan dengan cara: 1. Selanjutnya tekanan dilepaskan pucat akan menghilang 2-3 detik. Blancing Skin Test. 1. analisis gas darah arteri dengan PaO2 kurang dari 50 mmHg dan PCO2 diatas 60 mmHg. peningkatan kadar kalium darah. Perfusi pada otak dan respirasi Gangguan fungsi serebral awalnya adalah gaduh gelisah diselingi agitasi dan letargi. tangan dan kaki terlihat kelabu. urine. nyeri. pemeriksaan sinar-X menunjukkan adanya atelektasis.  Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik meliputi pemeriksaan darah. PENATALAKSANAAN Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) dan Surasmi. biasanya tampak kepucatan. Kalsim serum ( untuk menentukan hipokalsemia ). Warna kulit/membran mukosa Pada keadaan perfusi dan hipoksemia. demam. Kualitas nadi Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui volume dan aliran sirkulasi perifer nadi yang tidak adekwat dan tidak teraba pada satu sisi menandakan berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran darah pada daerah tersebut. Pada iskemia otak mendadak selain terjadi penurunan kesadaran juga terjadi kelemahan otot. pucat dan teraba dingin.dkk (2003) tindakan untuk mengatasi masalah kegawatan pernafasan meliputi : 1. Nail Bed Pressure ( tekan pada kuku) 2. caranya yaitu dengan meninggikan sedikit ekstremitas dibandingkan jantung kemudian tekan telapak tangan atau kaki tersebut selama 5 detik. kejang dan dilatasi pupil. ansietas. .

Mencegah hipotermia. Segera periksa kadar gula darah e. bila masih sesak dapat diberikan O2 4-5 liter/menit dengan sungkup Bayi jangan diberi minukm Jika ada tanda berikut. segera dilakukan menajemen lanjut sesuai dengan kemungkinan penyebab dan jenis atau derajat gangguan nafas. Gangguan nafas ringan Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan napas ringan pada waktu lahir tanpa gejala-gejala lain disebut “Transient Tacypnea of the Newborn” (TTN). 1.2. Gangguan napas ringan merupakan tanda awal dari infeksi sistemik. yang paling sering dan bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa 5 %    Pantau selalu tanda vital Jaga patensi jalan nafas Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal) 1. Bila terjadi kejang potong kejang d. Biasanya kondisi tersebut akan membaik dan sembuh sendiri tanpa pengobatan. Terutama terjadi setelah bedah sesar. Mempertahankan suhu lingkungan netral. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekwat. Pasang jalur infus intravena. 4. Meskipun demikian. 3. Mempertahankan perfusi jaringan adekwat. 6. 5. Mempertahankan keseimbangan asam basa. Pemberian nutrisi adekuat Setelah menajemen umum. . Gangguan nafas sedang    Lakukan pemberian O2 2-3 liter/ menit dengan kateter nasal. Menajemen spesifik atau menajemen lanjut: 1.  Penatalaksanaan secara umum : 1. sesuai dengan kondisi bayi. pada beberapa kasus. Jika bayi mengalami apneu   Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan Lakukan penilaian lanjut c. berikan antibiotika (ampisilin dan gentamisin) untuk terapi kemungkinan besar sepsis.

Apabila suhu kembali abnormal ulangi tahapan tersebut diatas. (cusson. Penatalaksanaan medis: 1.36.          Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis. terapi untuk kemungkinan besar sepsis Bila bayi mulai menunjukan tanda-tanda perbaikan kurangai terapi o2secara bertahap .1992) . Pasang pipa lambung. berikan antibiotika untuk terapi kemungkinan besar seposis Jika suhu normal. Gangguan nafas ringan Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah:      Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan caiaran paru Fenobarbital Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen Metilksantin ( teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik. Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan napas. Hentikan pemberian O2 jika frekuensi napas antara 30-60 kali/menit. demam curiga infeksi berat atau ketuban pecah dini (> 18 jam)  Bila suhu aksiler 34. minumbaik dan tak ada alasan bayi tatap tinggal di Rumah Sakit bayi dapat dipulangkan Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam berikutnya. Terapi untuk kemungkinan kesar sepsis dan tangani gangguan nafas sedang dan dan segera dirujuk di rumah sakit rujukan.5 ˚C atau 37.- Suhu aksiler <> 39˚C Air ketuban bercampur mekonium Riwayat infeksi intrauterin. teruskan amati bayi. Bila dalam pengamatan ganguan nafas memburuk atau timbul gejala sepsis lainnya. Jika tidak dapat menyusu. berikan ASI peras dengan memakai salah satu cara pemberian minum Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik dihentikan.5-39˚C tangani untuk masalah suhu abnormal dan nilai ulang setelah 2 jam: Bila suhu masih belum stabil atau gangguan nafas belum ada perbaikan. nilai kembali bayi setelah 2 jam Apabila bayi tidak menunjukan perbaikan atau tanda-tanda perburukan setelah 2 jam. Bila bayi kembali tampak kemerahan tanpa pemberian O2 selama 3 hari. berikan ASI peras setiap 2 jam. Bila tidak berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu cara alternatif pemberian minuman. Berikan ASI bila bayi mampu mengisap.

retraksi substernal. perubahan. Lakukan pengkajian fisik BBL dan pengkajian gestasi 2. Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan dalam pengobatan RDS adalah pemberian surfaktan eksogen (derifat dari sumber alami misalnya manusia. mencegah tindakan seksio sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis.d defisiensi surfaktan. gangguan termoregulasi 5. B. tidak responsif.d ketidakmampuan mencerna makanan. 8. Lakukan pengkajian sistemik dengan penekanan khusus pada pengkajian pernafasan 3. atelektasis . pernapasan cuping hidung eksternal. rendahnya tekanan darah sistemik 2. Observasi adanya . Diagnosa : Pola nafas tidak efektif b.kelelahan. krekel inspirasi. melaksanakan manajemen yang tepat terhadap kehamilan dan kelahiran bayi resiko tinggi. didapat dari cairan amnion atau paru sapi.Diagnosa Keperawatan  Pola nafas tidak efektif b. risiko tinggi terhadap pengasingan dari orang terdekat.  Pertumbuhan dan perkembangan. lemah dan lesu. 3. dan pada penatalaksanaan kelahiran dengan usia kehamilan 32 minggu atau kurang dianjurkan memberi dexametason atau betametason 48-72 jam sebelum persalinan. keadaan seperti syok. Pemberian glukortikoid juga dianjurkan karana berfungsi meningkatkan perkembangan paru janin. TINDAKAN PENCEGAHAN Tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah komplikasi pada bayi resiko tinggi adalah mencegah terjadinya kelahiran prematur. ketidakadekuatan perawatan. pernapasan mengorok.Intervensi Keperawatan 1. penurunan fungsi nafas.d defisiensi surfaktan. tetapi bisa juga berbentuk surfaktan buatan) 1. sulit bernapas. penurunan curah jantung. 1. Penyakit yang berat berhubungan dengan hal berikut . efekefek kondisi/ ketidakmampuan kronis. takipneu. Bila penyakit berlanjut . atelektasis o Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. sering mengalami episode apnea. kurang lingkungan dan stimulasi. 4. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN SGN 1. sianosis.Pengkajian 1.respon pengasuh tidak konsisten/multiple.

1. Takikardi. Kaji status pernapasan. Catat frekuensi dan kedalaman nafas 1. bunyi napas. misal . Lakukan tindakan untuk memperbaiki / mempertahankan jalan nafas. diidentifikasi dengan tikdak adanya bunyi napas. Intervensi Mandiri1. krekel. cuping hidung. 1. 1. Ht 41-50%) Tanda distress pernapasan tidak ada Rasional 1. Menunjukkan tanda dari efek gawat napas yang lama memerlukan pemantauan yang ketat. Auskultasi paru untuk penurunan / tidak adanya bunyi nafas atau adanya bunyi tambahan. abnormalitas setiap 4 jam. sianosis. Kegagalan pernapasan lebih berat menyertai kehilangan unit paru fungsional dari sedang sampai berat. takipneu dan perubahan TD menunjukkan hipoksia dan asidosis. Jalan nafas yang lengket / tersumbat menurunkan fungsi alveoli. 1. Awasi tanda-tanda vital 1. Takipnea dan dispnea menyertai obstruksi paru. 1.Kriteria Hasil :    Pola nafas efektif dengan ventilasi adekuat (nafas 46-60x/i) GDA dalam batas normal (Hb 9-14 mg%. 1. retraksi dinding dada. 1. Kaji tingkat kesadaran / .

1. Auskultasi bunyi usus. 1. Menentukan intervensi penambahan O2. Kaji toleransi aktivitas. 2. 1. derajat penurunan motalitas gaster karena kesulitan makan. Intervensi Mandiri Rasional 1. Hipoksemia menurunkan aktivitas tanpa dispnea berat. P : 30-40x/I. Memaksimalkan sediaan O2 untuk pertukaran gas. 1. Kaji masukan. S : 36-37. Awasi GDA 1. pembatasan masukan cairan. 3. 1. Penurunan BU menunjukkan 1. Berikan O2 1.2oC). menyusun terapi untuk BB. Diagnosa : Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan mencerna makanan. . kebiasaan diet. kelelahan Kriteria hasil :      Berat badan meningkat Turgor kulit baik Pergerakan aktif Penambahan BB 1 kg/bulan Tanda vital stabil ( N : 140-160x/i.penuruman mental. Kolaborasi 1. 2. Hipoksia dapat ditunjukkan dengan penurunan mental secara progresif. Menentukan kebutuhan kalori. Pasien distress pernapasan sering anoreksia karena dispnea dan obat. takikardi dan disritmia. kelemahan.

Memberikan data dasar untuk menggunakan Denver Development memperhatikan kemajuan / atau alat skrining serupa. perubahan. perubahan masa datang dan mengidentifikasi kebutuhan terapi. Tentukan status individu dengan 1. timbang BB sesuai indikasi. Diskusikan persepsi pemberi asuhan oleh pemberi asuhan dapat tentang kemampuan bayi dan membatasi stimulus sensori/ gerakan rencana untuk pertumbuhan. Peningkatan penyakit. adanya . Efek ibu pengguna obat. pencapaian. 1. Metode makanan dan kebutuhan kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal. 1. perawatan di dan antisipasi kerangka waktu dalam rumah sakit yang lama/berulang. Konsultasi pada ahli diet 1. menurunkan dispnea dan meningkatkan energi untuk meningkatkan masukan. risiko tinggi terhadap pengasingan dari orang terdekat. dan motivasi. INTERVENSI Intervensi Rasional 1.1. Identifikasi hambatan perkembangan 3. 4. 2. Beri tambahan O2 1. Kontak mata dan kedekatan bayi meningkatkan respon orang dewasa. Kolaborasi 1. Menguatkan keyakinan bahwa bayi dapat berkembang dengan dukungan dan intervensi yang tepat. 2. pengabaian/perlindungan berlebihan 2. efek-efek kondisi / ketidakmampuan kronis. ketidakadekuatan perawatan.respon pengasuh tidak konsisten/multiple. Diagnosa Keperawatan: Pertumbuhan dan perkembangan. kurang lingkungan dan stimulasi.

merusak ikatan. Meningkatkan rasa control dan memberikan dorongan untuk menikmati kemungkinan saat ini dan masa datang. Memberikan informasi. Diskusikan cara memberikan situasi . 5.meningkatkan proses ikatan. Observasi interaksi bayi-orang tua. Anjurkan pengungkapan perasaan oleh orang tua /anggota keluarga. yang mungkin sangat kuat bila bayi asimptomatik.atau defensive berkenaan dengan diagnosis. mendengar dengan aktif. 2. 8. Orang tua perlu melanjutkan kecepatan mereka sendiri. 1. 1. Perlu untuk membahas isu-isu kompleks dan memaksimalkan potensi bayi karena semua area saling berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan. penyakit. Hindari melawan penyangkalan. memberikan informasi tanpa mengatur. Mengidentifikasi pelambatan membuat janji palsu. 1. 1. Kesadaran terhadap perasaan ini memberikan kesempatan untuk menjalaninya dan mengembangkan hubungan positif dengan bayi. 6. Anjurkan / dukung upaya keluarga perkembangan dan keefektifan terapi (mis: program intervensi awal [EIP]).menyangkal. perasaan bersalah dan kecewa dapat diekspresikan sebagai marah. atau perlambatan perkembangan dapat mencegah atau membatasi interaksi bayi. dan mendukung serta memberikan harapan tanpa 10. dan menerima seseorang dengan cara tidak menghakimi meningkatkan progresi dan resolusi lebih positif. untuk perawatan bayi. 7.1. Interaksi seseorang bahkan setelah periode terbebas. Seringkali. Konsul tanpa menggurui.

dan terapi wicara. Koordinasikan konferensi tim multidisiplin untuk melibatkan dokter anak.normal ( mis menggunakan waktu di luar rumah. 10. WOC SINDROM GAWAT NAPAS NEONATUS Bayi premature Peny. terapis fisik/okupasi. dukungan nutrisi. Tekankan pentingnya sering dilakukan skrining dan evaluasi formal oleh spesialis perkembangan. menggunakan system pendukung secara efektif) KOLABORASI 1. psikologis atau psikiatris. perawat primer. Membran hialin Maturitas paru Def. pekerja social. surfaktan Kemampuan paru mpertahankan stabilitas Pengem berlebih Alveolu Robeka .

KONSEP DASAR . PCO2 Ggn fungsi O2-CO2 Pirau (Shunt) Penurunan O2 ke jaringan Jantung Kompensasi Jantung Bradikardi Kardiomegapati O2 jar turun Kerusakan endotel kapiler epitel duktus Transudasi dlm paru Fibrin dan jar.Terganggu Kolaps alveolar dan paru Kompensasi tek intratoraks berkurang.nekrotik As. A. inspirasi kuat-kuat Ventilasi terganggu SGN PO2 . Laktat menumpuk Asidosis respiratorik Kompensasi tubuh hiperventilasi Sesak nafas MK ola napas tak efektif HCO3 turun Sesak napas Asidosis metabolik sekret di sal nafassPe Obstruksi sal nafas MK: Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Otak kesadaranPe reflek batukPe kerja silia Metabolisme anaerob MK : Ggn. Pertukaran gas Pemasangan alat bantu nafas Hospitalisasi pada anak Perlukaan MK : Risiko perubahan p MK : Resiko injury HIPERBILIRUBINEMIA 1.

akibat asidosis. II. Gangguan Transportasi Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkut ke hepar. . DEFENISI : Hiperbilirubinemia adalah keadaan meningginya kadar bilirubin didalam jaringan ekstravaskuler sehingga kulit. ETIOLOGI : Secara garis besar etiologi ikterus neonatorum dapat dibagi : 1. kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin. piruvat kinase. ABO. hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase. 1. golongan darah lain. Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat. defisiensi protein Y dalam hepar yang berperanan penting dalam „uptake‟ bilirubin ke hepar. Perawatan Anak Sakit. defisiensi enzim G–6-PD. Gangguan dalam proses „ uptake‟ dan konjugasi hepar Disebabkan oleh imaturitas hepar. 1. perdarahan tertutup. I. Produksi yang berlebihan Hal ini melebihi kemampuan bayi mengeluarkannya . konjungtiva.2. dan sepsis. ( Ngastiyah. sulfafurazole. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak. p 197 ) 1. misalnya pada hemolisis yang meningkat pada inkomptabilitas darah Rh. gangguan fungsi hepar. mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning.

dan sepsis ) Bilirubin direk lebih dari 1 mg % atau kenaikan bilirubin serum 1 mg % /dl/jam atau lebih 5 mg/dl/hari . Gangguan Dalam Eksresi Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar. pada BBLR 10 mg %. defisiensi enzim G-6-PD. minum baik. Ikterus yang disertai proses hemolisis ( inkomptabilitas darah. KLASIFIKASI IKTERUS 1. serum bilirubin total > 12 mg % Peningkatan kadar bilirubin 5 mg % atau lebih dalam 24 jam Konsentrasi bilirubin serum melebihi 10 mg % pada BBLR dan 12.1. FKUI. enzim Glukoronyl transferase yang belum cukup jumlahnya. Bayi tampak biasa. dan akan hilang pada hari ke 14. Buku kuliah 3. tampak jelas pada hari ke 5-6 dan menghilang pada hari ke 10.5 mg % pada bayi cukup bulan. ( Ilmu Kesehatan Anak. Ikterus Patologis      Ikterus timbul dalam 24 jam pertama kehidupan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi atau kerusakan hepar oleh penyebab lain. Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. 1. 1985 ) III. Penyebab ikterus fisiologis diantaranya karena kekurangan protein Y dan Z. Ikterus Fisiologi     Timbul pada hari ke 2 atau ke 3. berat badan naik biasa Kadar bilirubin serum pada bayi cukup bulan tidak lebih dari 12 mg %.

PATOFISIOLOGI Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan: 1. mekonium ileus. salisilat . perdarahan karena trauma lahir. sifilis. galaktosemia 6. p 198) IV. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein-Y berkurang atau pada keadan protein-Y dan protein-Z terikat oleh anion lain. terdapatnya penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang terlalu berlebihan. ABO. infeksi saluran kemih. polisitemia. penyakit hemolitik. atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik 2. polisitemia. Ikterus menetap sesudah bayi umur 10 hari ( bayi cukup bulan ) dan lebih dari 14 hari pada BBLR Berikut adalah beberapa keadaan yang menimbulkan ikterus patologis : 1. obat2an yang menggantikan ikatan bilirubin dengan albumin seperti : sulfonamid. kelainan dalam se darah merah seperti pada defisiensi G-6-PD 3. memendeknya umur eritrosit janin/bayi. gentamisin. hemolisis. dsb. gangguan ambilan bilirubin plasma. penyakit karena toksoplasmosis. Perawatan Anak Sakit. obstruksi usus letak tinggi. kelainan metabolik. stenosis pilorik. meningkatnya bilirubin dari sumber lain. 4. infeksi : septisemia. hipoglikemia. meningitis. 7. Pirau enteropatik yang meninggi. 2. isoantibodi karena ketidakcocokan golongan darah ibu dan anak seperti Rhesus antagonis. dsb. hepatitis 5. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit. rubela. (Ngastiyah. hematoma. penyakit hirschsprung. sodium benzoat. misalny pada bayi anoksia/hipoksia .

Dapat tuli. gangguan bicara dan retardasi mental. Asuhan Keperawatan Anak Sakit. fatigue. p 199) VI. warna tinja pucat (Suriadi. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. warna urine gelap.Pada derajat tertentu. (Ngastiyah. Asuhan Keperawatan Pada Anak. leher kaku. kejang. akhirnya opistotonus Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat terjadi spasme otot. Edisi 1 .         MANIFESTASI KLINIS Tampak ikterus : sclera. opistotonus. Perawatan anak sakit. bilirubin ini akan bersifat toksik (terutama bilirubin indirek yang larut dalam lemak) dan merusak jaringan tubuh. kuku. Edisi 1) Letargi ( lemas ) Kejang Tak mau menghisap Tonus otot meninggi.   KOMPLIKASI Bilirubin Encephalopathy ( komplikasi serius ) Kernikterus ( Suriadi. anoreksia. kulit dan membran mukosa Muntah. V.

Pemebrian glukosa perlu untuk kojugasi hepar sebagai sumber energi.6 jam sekali. 5. setiap 6 jam bila mungkin. VII. 2. Memberikan substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi. Perhatikan apakah terjadi iritasi atau tidak. Sebelumnya katupkan dahulu kelopak matanya. terapi dihentikan walaupun belum 100 jam. 3. telentang. Setelah 1 jam kontrol kembali suhunya. Jika tetap hubungi dokter. Mungkin lebih bermanfaat bila diberikan pada ibu kira kira 2 hari sebelum melahirkan. . Selanjutnya hubungi dokter. Dapat dengan kain kasa yang dilipat lipat dan dibalut. dam observasi suhu tiap 4. penutup mata dibuka. Terapi sinar menimbulkan dekomposisi bilirubin dari suatu senyawa tetrapirol yang sulit larut dalam air menjadi senyawa dipirol yang mudah larut dalam air dan dikeluarkan melalui urin. 6. agar sinar merata.1. tinja. Pengobatan dengan cara ini tidak begitu efektif dan membutuhkan waktu 48 jam baru terjadi penurunan bilirubin yang berarti. coba lihat kembali apakah lampu belum melebihi 500 jam digunakan. Bila kadar bilirubin telah turun menjadi 7. 4. hanya genitalia yang ditutup ( maksmal 500 jam ) agar sinar dapat merata ke seluruh tubuh. Pertahankan suhu bayi agar selalu 36.5 mg % atau kurang. Melakukan dekompensasi bilirubin dengan fototerapi Terapi sinar diberikan jika kadar bilirubin darah indirek lebih dari 10 mg %. tengkurap. dikeluarkan. Mungkin perlu transfusi tukar. 7. Albumin dapat diganti dengan plasma dosis 15 – 20 ml/kgbb. Selain itu pada terapi sinar ditemukan pula peninggian konsentrasi bilirubin indirek dalam cairan empedu duodenum dan menyebabkan bertambahnya pengeluaran cairan empedu kedalam usus sehingga peristaltik usus meningkat dan bilirubin akan keluar bersama feses. Mempercepat proses konjugasi. dipangku. Baringkan bayi telanjang. Pada waktu memberi bayi minum. Pelaksanaan Terapi Sinar : 1. Perhatikan asupan cairan agar tidak terjadi dehidrasi dan meningkatkan suhu tubuh bayi. Kedua mata ditutup dengan penutup yang tidak tembus cahaya. 9. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. Jika setelah terapi selama 100 jam bilirubin tetap tinggi / kadar bilirubin dalam serum terus naik. Posisi bayi sebaiknya diubah ubah. Kadar bilirubin diperiksa setiap 8 jam setelah pemberian terapi 24 jam 8. Jika terjadi kenaikan suhu matikan sebentar lampunya dan bayi diberikan banyak minum. misalnya dengan pemberian fenobarbital.5 37 C. sehingga kadr bilirubin menurun. ( untuk mencegah kerusakan retina ) 3. 2. Contohnya : pemberian albumin untuk mengikat bilirubin yang bebas.

Frekuensi defekasi meningkat sebagai akibat meningkatnya bilirubin indirek dalam cairan empedu dan meningkatkan peristaltik usus. Komplikasi pada gonad yang menurut dugaan dapat menimbulkan kelainan ( kemandulan ) tetaapi belum ada bukti. 6. dan memperbaiki anemia. Transfusi tukar. Gangguan retina jika mata tidak ditutup. Timbul kelainan kulit sementara pada daerah yang terkena sinar ( berupa kulit kemerahan ) tetapi akan hilang jika terapi selesai. 4. bayi dikompres dingin. 7. membuang natibodi yang menyebabkan hemolisis.Pada kasus ikterus karena hemolisis. Jika hal ini terjadi sebagian sinar lampu dimatikan terapi diteruskan. 3. Kenaikan suhu akibat sinar lampu. Indikasi untuk melakukan transfusi tukar adalah : 1. dan berikan ektra minum. menurunkan kadar bilirubin indirek. Komplikasi terapi sinar : 1. 3.10. 4. 5.3 – 1 mg % / jam anemia berat pada neonatus dengan gejala gagal jantung bayi dengan kadar hemoglobin tali pusat kurang 14 mg % dan uji coomb‟s positif. yaitu 0. Terjadi dehidrasi karena pengaruh sinar lampu dan mengakibatkan peningkatan insesible water loss. kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg % kenaikan kadar bilirubin indirek cepat. kadar Hb diperiksa tiap hari. . 2. Tujuan transfusi tukar adalah mengganti eritrosit yang dapat menjadi hemolisis. Jika suhu naik terus lampu semua dimatikan sementara. 2.

d hilangnya air ( insensible water loss ) tanpa disadari sekunder dari fototerapi. kulit. c. membran mukosa mulut. ASUHAN KEPERAWATAN 1.risiko gangguan integritas kulit b.risiko injury internal b. konjungtiva. urine.B. risiko kurangnya volume cairan b.d peningkatan serum bilirubin sekunder dari pemecahan sel darah merah dan gangguan eksresi bilirubin 1. 1. DIAGNOSA KEPERAWATAN : a. Pemeriksaan bilirubin menunjukkan adanya peningkatan Tanyakan berapa lama jaundice muncul dan sejak kapan Apakah bayi ada demam Bagaimana kebutuhan pola minum Riwayat keluarga Apakah anak sudah mendapat imunisasi hepatitis B 1. dan tinja. PENGKAJIAN         Pemeriksaan fisik Inspeksi warna : sclera. 2.d fototerapi .

6. refleks hisap dan menelan baik.kurangnya pengetahuan b. orangtua memahami kondisi bayi dan alasan pengobatan dan berpartisipasi dalam perawatan bayi : dalam peberian minum dan mengganti popok. refleks moro normal. Bayi terbebas dari injury yang ditandai dengan bilirubin serum menurun. 2. temperatur dalam batas normal. PERENCANAAN 1. membran mukosa normal. dan tidak ada ruam macular eritematosa. orangtua tidak nampak cemas yang ditandai dengan orangtua mengekspresikan perasaan dan perhatian pada bayi dan aktif dalam partisipasi perawatan bayi. tidak ada jaundice. ubun ubun tidak cekung.4 jam dan catat ·Berikan fototerapi sesuai program ·Monitor kadar bilirubin 4 –8 jam sesuai program ·Antsipasi kebutuhan transfusi tukar ·Monitor Hb dan Ht 1. Mencegah adanya injury ( internal )      ·Kaji hiperbilirubin tiap 1.d dengan kondisi bayi dan gangguan bonding e. tidak terdapat sepsis. 4. bayi tidak mengalami injury pada mata yang ditandai dengan tidak ada konjungtivitis. bayi tidak menunjukkan tanda tanda dehidrasi yang ditandai dengan urine output ( pengeluaran urine ) kurang dari 1-3 ml/kg/jam.d fototerapi 3. bayi tidak menunjukkan adanya iritasi pada kulit yang dtndai dengan tidak terdapat rash.d kurangnya pengalaman orangtua 1. 3. 4. risiko injury pada mata b. IMPLEMENTASI 1. 7. f. kecemasan orantua b. 5.1. Mencegah terjadinya kurangnya volume cairan .

Mengurangi rasa cemas pada orangtua    Perahankan kontak mata orangtua dan bayi Jelaskan kondisi bayi. Mencegah gangguan integritas Kulit      ·Inspeksi kulit tiap 4 jam ·Gunakan sabun bayi ·Merubah posisi bayi dengan sering ·Gunakan pelindung daerah genital ·Gunakan pengalas lembut 1. mata ·Monitor temperatur tiap 2 jam 1. ubun2. Orangtua memahami kondisi bayi dan mau berpartisipasi dalam perawatan   Ajak orangtua untuk diskusi dengan menjelaskan tentang fisiologis. dan perhatian orantua 1. membran mukosa. dengarkan rasa takutnya. alasan perawatAn.      ·Pertahankan intake cairan ·Berikan minum sesuai jadwal ·Monitor intake dan output ·Berikan terapi infus sesuai program bila ada indikasi ·Kaji dehidrasi. pengobatan Libatkan dan ajarkan orangtua dalam perawatan bayi . perawatan dan pengobatannya Ajarkan orangtua untuk mengekspresikan perasaanya. turgor kulit.

kekauan otot. 1. tidak mau makan. Jelaskan komplikasi dengan mengenal tanda dan gejala : letargi. menangis terus. hindarkan penekanan pada mata yang berlebihan. . Mencegah injury pada mata   Gunakan pelindung mata pada saat fototerapi Pastikan mata tertutup. kejang.

.

.

(2) Awasi frekuensi pernapsan terutama dalam 24 jam pertama. mencucui tangan sesudah dan sebelum menyentuh bayi serta gunakan gound dan masker. selimut. (4) Dorong ibu menyusui dalam 1 jam sekali. Penatalaksanaan BBLR: (1) Pastikan bahwa bayi terjaga tetap hangat. A. kering. harus ada pengaturan izin masuk. KESIMPULAN Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) adalah seluruh bayi dengan berat badan saat lahir kurang dari 2500 gram. (7) Cegah infeksi oleh karena rentan oleh pemindahan IgB dari ibu ke janin terganggu. bungkus bayi dengan kain lunak. beri makanan dini berguna untuk mencegah hipoglekimia.BAB III PENUTUP 1. Tarikan dinding dada ke dalam atau merintih beri O2 melalui kateter hidung. BMR dari BBLR rendah saat lahir dan meningkat cepat selama 10 hari pertama kehidupan. pakai topi untuk menghindari kehilangan panas. Bayi BBLR ditempatkan di ruang khusus. BBLR dapat diklasifikasikan menjadi: Prematuritas murni dan dismatur. Suhu ruangan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah tidak sesuai dengan seharusnya dapat meningkatkan kematian bayi BBLR. (6) Jika bayi sinaosis atau sukar bernafas (frekuensi < 30 atau 60/menit)). (8) Perika kadar gula darah tiap 8-12 jam. guna mengetahui syndrome aspirasi mekonium/sindrom gangguan pernapasan idiopatik. (5) Jika bayi haus. . Oleh karena itu penting untuk mempertahankan suhu tubuh dengan memberikan pakaian pada bayi. (3) Suhu diawasi jangan sampai kediniginan karena BBLR mudah hipotermi akibat dari luas permukaan tubuh bayi realitf besar dari lemak subkutan.

Dibutuhkan perbanyakan literature dalam penulisan makalah. Tidak Lancarnya Absorbsi Cairan Paru. Aspirasi Mekonium. Penatalaksanaan medis pada prinsipnya adalah untuk: (1) Mempercepat proses konjugasi. waktu ekspansi dan restraksi di daerah epigastrium. 1. . Bagi pustakawan yang lain. (4) Gangguan ekskresi. Bila didengar stetoskop akan terdengar penurunan masukan udara kedalam paru. Hiperbilirubinemia adalah peningkatan kadar bilirubin serum dihubungkan dengan hemolisis sel darah merah dan reabsorbsi lanjut dari bilirubin yang tidak terkonjugasi dari usus kecil ( Marilyn. 2001). (3) Melakukan dekompensasi bilirubin dengan fototerapi. Sepsis. 2. suprastenal. (4) Transfusi Tukar. (3) Gangguan transportasi. SARAN 1. (2) Memberikan substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi. B. Secara garis besar etiologi ikterus neonaturum dapat dibagi: (1) Produksi bilirubin meningkat. sianosis.Sindrom Gawat Nafas Neonatus (SGNN) atau Respiratory Distress Syndrom (RDS) merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperpnea dengan frekuensi pernapasan lebih dari 60x/i . Hipotermia. (2) Gangguan proses uptake dan konjugasi hepar. Pneumonia Bakteri atau Virus. semoga makalah ini dapat dijadikan referensi dan masukan untuk memaksimalkan fungsi perpustakaan dilembaga masing-masing. Obstruksi Mekanis. Etiologi SGN: Defisiensi Surfaktan. interkosial pada saat inspirasi. merintih.

Jakarta: EGC Manuaba.patricia.com/ http://kumpulan-asuhan-keperawatan. A dkk.com .Perawatan Anak Sakit Edisi 2.dkk.2005.dkk.Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Ilmu Kebidanan.Asrining.blogspot. Ilmu Kesehatan Anak Jilid I.Jakarta: EGC http://askep-askeb-kita. Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan.blogspot. Jakarta: EGC Ladewig. 2002.2003.1985.2006.DAFTAR PUSTAKA FKUI .Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir Edisi 5. Ida Bagus Gde.com http://download-my-ebook.blogspot. Jakarta : FKUI Ngatisyah. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: EGC Mansjoer.Jakarta: EGC Pelatihan PONED Komponen Neonatal 28-30 Oktober 2004) Surasmi.

Ilmu Kesehatan Anak jilid 1. Jakarta: EGC Buku Kuliah 3 Ilmu kesehatan Anak. Asuhan Keperawatan Anak edisi 1 Markum. All. FKUI Suriadi. 1999. Jakarta: EGC Incoming search terms:           contoh askep bayi baru lahir asuhan keperawatan sindrom aspirasi mekonium asuhan primer pada bayi 6 minggu macam-macam asuhan primer pada bayi baru lahir makalah sgnn makalah kasus mekonium aspirasi sydrom makalah askep bbl normal intervensi kurang pengetahuan (perawatan tali pusat) b d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah contoh makalah sindrom aspirasi mekonium(SAM) askep anak tentang sindrom aspirasi mekonium Artikel Terkait        Ebook Sulap Download Contoh Formulir Pengajuan Tesis resep ayam presto Contoh Difusi. 1997. 1985. 2001.Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit. Pengertian Difusi Contoh Fortopolio SEARCH  Tags .

9 semester 1 dan 2 Download Pancasila Sebagai Sistem Filsafat Register Log in Entries RSS Comments RSS WordPress.org o o o o o  Advertisements .akuntansi KTSP latihan Makalah masakan matematika Minuman PHP resep RPP silabus Silabus Tik soal soal snmptn soal uan sma surat kuasa surat  ADVERTISEMENT menyurat surat pernyataan Tutorial XAMPP  Recent Posts o o o o o  Meta Download Pembahasan SNMPTN 2010 Download Panduan Peserta SNMPTN 2011 Koneksi PHP dan SQL Server Download Silabus TIK SMP EEK kelas 7.8.

  Popular Search Terms o o o o o o o o o o  daun sangjo contoh surat kuasa pengambilan bpkb sepeda motor contoh metode ilmiah tentang tumbuhan khasiat jantung pisang CIRI-CIRI BUDAYA POLITIK nama lain daun sangjo penyakit yang menyerang telinga alat musik gonrang daun sangjo nama lain rpp k3lh smk makalah kasus mekonium aspirasi sydrom nama lain daun sangjo bank soal sosialisasi politik surat penawaran peralatan kantor situs kumpulan soal dinamika partikel sma materi sholat dan tayamum fiqih kelas 7 silabus dan rpp bimb konseling download soal kuantitatif daun sangjo pengertian idiofon Recent Search Terms o o o o o o o o o o .

Peava WordPress Theme By web directory submit Christopher blue jeans | overcoming jealousy | tattoo books Copyright © 2011. All Rights Reserved. .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.