Sejarah Hukum Acara Pidana di Indonesia

Posted on Januari 22, 2011 Ketika kita membicarakan sebuah hal yang berkaitan dengan sejarah, maka tidak bisa pernah dipisahkan dengan yang namanya pembabakan sejarah, sehingga dalam penulisan sejarah mengenai Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana Indonesia inipun penulis akan melakukan pembabakan sejarah, sehingga diharapkan nantinya bisa lebih sistematis. 1. Masa Penjajahan Belanda Sebenarnya pada masa-masa kedatangan Belanda pertama kali di Nusantara, negeri ini bukanlah sebuah negeri yang tidak memiliki hukum. Masyarakat kita sudah memiliki peraturan-peraturan yang berlaku secara eksklusif bagi tiap-tiap kesatuan masyarakat. Peraturan yang berlaku juga berlaku secara eksklusif kepada anggota masing-masing kelompok masyarakat, peraturan-peraturan ini sering kita sebut sebagai hukum adat. Umumnya dalam Hukum Adat tidak mengenal adanya pembedaan antara Hukum Privat dengan Hukum Publik, seperti yang kita kenal dalam dunia Modern saat ini, semuanya adalah kesatuan, baik itu yang dikenal dengan Hukum Acara Pidana ataupun Acara perdata, semuanya dalam satu-kesatuan hukum ada begitu pula dengan lembaga-lembaga yang mengaturnya. Lembaga seperti Kejaksaan yang menurut kebiasaan orang dilahirkan di Perancis adalah sebuah lembaga baru yang dulu tidak terdapat dalam hukum yang dibuat oleh masyarakat primitif. Seseorang bisa dinyatakan bersalah apabila dia dianggap mengganggu keseimbangan yang ada dalam masyarakat adat tersebut, entah keseimbangan yang berhubungan dengan sesama manusia ataupun dengan alam. Supomo menunjukan bahwa pandangan rakyat Indonesia terhadap alam semesta merupakan suatu totalitas. Manusia beserta makhluk yang lain dengan lingkungannya merupakan kesatuan. Menurut alam pikiran itu, yang paling utama ialah keseimbangan atau hubungan harmonis yang satu dengan yang lain. Segala perbuatan yang menggangu keseimbangan tersebut merupakan pelanggaran hukum (adat). Pada tiap pelanggaran hukum para penegak hukum mencari bagaimana mengembalikan keseimbangan yang terganggu itu. Mungkin hanya berupa pembayaran keseimbangan yang terganggu itu1. Sedangkan untuk pembuktiannya seringkali didasarkan pada apa yang namannya kekuasaan atau kehendak tuhan. Bentuk-bentuk sanksi hukum adat (dahulu) dihimpun dalam Pandecten van het Adatrecht bagian X yang disebut juga : 1. Pengganti kerugian “immateriil” dalam berbagai bentuk seperti paksaan menikahi gadis yang telah dicemari. 2. Membayar “ uang adat “ kepada orang yang tersakiti, dengan pembayaran yang berupa benda yang sakti sebagai pengganti kerugian rohani. 3. Selamatan (korban) untuk membersihkan masyarakat dan segala kotoran gaib. 4. Penutup malu, permintaan maaf 5. Berbagai macam hukuman badan, hingga hukuman mati 6. Pengasingan hingga dikeluarkan dari komunitas adat. A. Perubahan Undang-Undang Di Belanda Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang dipandang sebagai salah satu Undang-undang yang dibuat oleh bangsa Indonesia sendiri, merupakan sebuah lanjutan dari asas-asas Hukum Acara Pidana yang ada dalam Herzein Inlandsch Reglement (HIR) ataupun Ned strafvordering 1926 yang lebih moderen itu. Untuk mencari kejelasan sejarah, kita harus kembali membuka memori pada masa lalu, tepatnya pada masa maraknya perubahan perundang-undangan dinegeri Belanda pada tahun 1838. Saat itu mereka baru

bersama dengan Mr. dan diumumkan pada tanggal 5 april 1848. Pada tahun 1941 dengan Staatblad 1941 nomor 44 Inlands Reglement digantikan dengan Herziene Inlands Reglement atau HIR. Tugas dari Hooggerechtshof ini diatur dalam pasal 158 Indische Staatsregeling (IS) dan RO 2. Pada masa itu berlaku ketentuan bahwa kebiasaan-kebiasaan bukanlah sebuah hukum kecuali kebiasaan tersebut mendapatkan kekuatan hukum dari Undang-undang ( aturan hukum yang yang tertulis dan terbuat dengan sengaja ). ia diangkat oleh gubernur Jendral de Eerens sebagai panitia untuk mempersiapkan sebuah Undang-undang baru di Hindia-Belanda. Pada saat itu.saja terlepas dari penjajahan yang di lakukan oleh Perancis. Dengan jabatan sebagai Presidan Hooggerechtshof yang ia peroleh pada tahun 1837. dalam prakteknya ternyata IR masih berlaku disamping HIR. Sebelum berlakunya Undang-undang baru dinegeri Belanda. diumumkan dalam Staatblad 1849 nomor 63. Untuk daerah luar Jawa dan Madura terdapat pengadilan yang dinamakan magistraatsgerecht. dikelurkanlah sebuah aturan peralihan khusus di wilayah Jawa dan Madura. Inlands Reglement kemudian Herziene Inlands Reglement Berdasarkan pengumuman Gubernur Jenderal Hindia-Belanda pada tanggal 3 Desember 1847 Staatblad Nomor 57. tetapi pada umumnya ia tetap mempertahankan hasil karyanya tersebut. Penelitian tersebut dilanjutkan pula oleh Daendels dan Raffles untuk mendalami hukum adat sepanjang dengan apa yang dipahaminya. Yang menjadi titik penting dari perubahan IR ke HIR adalah adanya lembaga Openbaar Ministerie (OM) atau penuntut umum. Lembaga tersebut langsung melakukan penelitian terhadap hukum-hukum adat yang ada di Jawa sehingga proyek ini dikenal dengan sebutan “Javasche Wetten” (Undang-undang Jawa). Surabaya. serta dikuatkan dengan Firman Raja Belanda tanggal 29 september 1849 nomor 93. yang pada masa IR ditempatkan dibawah kekuasaan Pamong Praja. dibentuklah sebuah lembaga peradilan yang dinamakan Hooggerechtshof yang putusan-putusannya disebut Arrest. Staatblad nomor 16. masih ada pengadilan lain seperti districhtsgerecht. B. yang menurut ketentuan Reglement Buitengewesten dipergunakan untuk memutus perkara perdata yang kecil. maka usaha ini ditangguhkan. Mijer. Untuk golongan bumiputera atau pribumi. kelompok legis atau kelompok yang memandang bahwa seharusnya semua peraturan hukum harus dibuat dalam bentuk undang-undang sangat kuat. Bandung. Malang. pada tahun 1836. Semarang. Scholten van OudHaarlem telah menyatakan kesediannya untuk mempersiapkan Undang-undang baru di Hindia-Belanda. Meskipun seperti itu. Dengan perubahan ini maka Openbaar Ministerie dibuat secara bulat dan tidak lagi terpisah-pisahkan (een en ondeelbaar) berada dibawah naungan Officier Van Justitie dan Procureur General. Reglemenn tersebut disahkan oleh Gubernur Jendral. Pada tahun 1747 di Indonesia VOC telah membentuk sebuah lembaga peradilan yang dikhususkan untuk mengadili masyarakat pribumi. Sedangkan HIR berlaku dikota-kota besar seperti Jakarta (Batavia). regentshapsgerecht. terutama didaerah Jawa dan Madura. Dengan demikian ketentuan Hukum Acara Pidana pada umumnya tidak berubah. Akhirnya. Wichers melakukan beberapa kali perubahan atas anjuran Gubernur Jendral. Undang-undang (Osamu Serei) Nomor 1 tahun 1942 yang mulai berlaku pada tanggal 7 Maret 1942. dan lain-lain. selain berlaku ketentuan yang ada dalam IR dan HIR. salah satu peraturan yang dinyatakan mulai berlaku pada tanggal 1 Mei 1948 adalah Inlands Reglement atau disingkat IR. tetapi dengan kejadian di negeri Belanda tersebut. kecuali penghapusan Raad van Justitie yang biasanya digunakan sebagai sebagai pengadilan untuk golongan Eropa. Mr. sehingga HIR dan Reglement voor de Buitengewesten beserta Landgerechtsreglement dinyatakan berlaku untuk Pengadilan . sebenarnya tidak terjadi sebuah perubahan yang mendasar dalam Hukum Acara Pidana. Sebagai pengdilan yang tertinggi yang meliputi seluruh wilayah Hindia-Belanda. van Vloten dan Mr P. Acara Pidana Pada Zaman Pendudukan Jepang Pada masa penjajahan Jepang.

berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) dinyatakan masih berlaku sebagai Hukum Nasional Indonesia selama belum ada Undang-Undang atau peraturan lain yang mencabutnya. maka wawasan untuk mencapa sebuah tujuan pembangunan nasional adalah Wawasan Nusantara yang dalam bidang hukum menyatakan bahwa seluruh kepulauan Nusantara ini sebagai kesatuan hukum dalam arti bahwa hanya ada satu hukum nasional yang mengabdi kepada kepentingan nasional. maka pada tahun 1981 Pemerintah Republik Indonesia bersama dengan Dewan Peerwakilan Rakyat Republik Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana. maka Indonesia telah memiliki dasar hukum yang paling utama bagi sebuah negara untuk membentuk sebuah undang-undang sendiri yang disesuaikan dengan kepentingan dan keperluan serta berdasarkan Local Wisdom Indonesia sendiri. (Tambahan Lembaran Negara Nomor 81) serta semua peraturan pelaksanaannya dan ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan lainnya sepenjang hal itu mengenai Hukum Acara Pidana. karena sudah tidak sesuai dengan cita-cita hukum nasional. Tahun 1951. salah satu alasan yang dikemukakan oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia seperti yang ada dalam konsideran undang-undang tersebut adalah bahwa Hukum Acara Pidana yang termuat dalam Het Herziene Inlandsch Reglement (Staatsblad tahun 1941 Nomor 44) dihubungkan dengan Undang-undang nomor 9. Dengan berdasarkan pada ketentuan tersebut maka ketentuan ketentuan yang ada dalam HIR masih berlaku dan bisa dipergunakan sebagai Hukum Acara Pidana di Pengadilan-pengadilan diseluruh Indonesia. 3. Oleh karena itu perlu diadakan pembangunan serta pembaharuan hukum dengan menyempurnakan peraturan perundang-undangan serta dilanjutkan dengan sebuah usaha untuk melakukan kodifikasi dan unifikasi hukum dalam bidang tertentu dengan memperhatikan kesadaran hukum dalam masyarakat yang berkembang ke arah modernisasi. akan tetapi ketentuan yang ada dalam UU tersebut ternyata belum memberikan jaminan dan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusi (HAM). perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia sebagaimana wajarnya dimiliki oleh sebuah negara yang menyatakan diri sebagai sebuah Negara Hukum. 1 Drt. yang sebelum adanya UU ini terdiri dari dua hal yakni Hukum Acara Pidana bagi Landraad serta Hukum Acara Pidana bagi Raad van Justice. Adapun susunan pengadilan ini diatur melalui Osamu Serei Nomor 3 tahun 1942 tanggal 20 september 1942. 1951 telah menetapkan. Adanya UU Nomor 1 Drt. termasuk juga didalamnya peraturan yang mengatur mengenai masalah Acara Pidana. Aturan-aturan yang berlaku di Indonesia pada zaman penjajahan berdasarkan asas Konkordansi. pasal 20 ayat (1) dan pasal 27 (1) Undang-Undang Dasar 1945. Dinyatakan dalam Undang-Undang Dasar 1945 bahwasannya Indonesia adalah sebuh negara yang didasarkan atas hukum (Rechstaat) dan bukan didasarkan atas kekuasaan belaka (Machtsstaat). Pengadilan Tinggi (Koot Hooin) den Pengadilan Agung (Saiko Hooin). Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (yang didasarkan pada Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1978). Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indoensia Nomor IV/MPR/1978. Perlu dicabut. Walaupun UU No. 1951 ini dimaksudkan untuk mengadakan Unifikasi dalam bidang Hukum Acara Pidana. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman . b. bahwa hanya ada satu Hukum Acara Pidana yang berlaku untuk seluruh Indonesia yaitu RIB. Dengan segala pertimbangan seperti yang telah penulis tuliskan diatas. Undang-Undang tersebut didasarkan pada : a. Pasal 5 ayat (1). Adanya dualisme hukum dalam Hukum Acara Pidana ini merupakan akibat dari adanya perbedaan antara Peradilan bagi golongan penduduk Bumi Putri dan Peradilan bagi golongan Eropa.Negeri (Tihoo Hooin). Acara Pidana Pada Zaman Kemerdekaan sampai Sekarang Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Hal ini kemudian diperkuat dengan ketentuan pada pasal 6 Undang-undang Nomor 1 Drt. c.

Tambahan Lembara Negara Nomor 2951). Satu-satunya pemeriksaan pada masa itu adalah untuk memperoleh pengakuan dari tersangka. Khususnya dalam kejahatan berat. Dalam pelaksanaannya penyelidikan terdapat seorang ”investigating judge” atau pejabat yang tidak memihak yang ditunjuk untuk menyelidiki bukti-bukti . pengembangan lebih lanjut atau dalam penundaaan perkara yang bersangkuatan. yang dikenal dengan the modern continental criminal procedure. Setelah petugas selesai melakukan tugasnya. apabila tersangka tidak mau secara sukarela untuk mengakui perbuatannya atau kesalahannya itu.Undang Hukum Acara Pidana telah Menimbulkan perubahan fundamental baik secara konsepsional maupun secara implemental terhadap tata cara penyelesaian perkara di Indonesia. Dengan keluarnya UU No. akan tetapi proses penyelidikan dapat dilaksanakan oleh public prosecutor. Hukum acara pidana di Indonesia dimulai dari masa penjajahan Belanda terhadap bangsa Indonesia. Apabila diteliti. kemudian dia akan menyampaikan berkas hasil pemeriksaanya kepada pengadilan. maka petugas pemeriksa memperpanjang penderitaan tersangka melalui cara penyiksaan sampai diperoleh pengakuan. Perkembangan sistem peradilan pidana sudah sejak abad ke-13 dimulai di eropa dengan diperkenalkannya sistem inquisitoir sampai dengan pertengahan abad ke-19. Pengadilan akan memeriksa perkara tersangka hanya atas dasar hasil pemeriksaan sebagaimana tercantum dalam berkas tersebut. Sebelum berlakunya UU RI No. maka dengan tegas UU ini juga mencabut berlakunya Het Herziene Inlandsch Reglement (Staatsblad Tahun 1941 Nomor 44) dihubungkan dengan UU No. Walaupun pada. Tahun 1951 (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 9. Selain itu pada sistem ini peradialan dilakukan secara terbuka. Pada sistem themixed type tahap pemeriksaan pendahuluan sifatnya inquisitoir. namun ia tidak memiliki peranan yang berarti dalam proses penyelesaian perkara. Kemudian dengan timbulnya gerakan revolusi Perancis yang telah mengakibatkan banyak bentuk prosedur lama didalam peradilan pidana dianggap tidak sesuai dengan perubahan iklim social dan politik secara revolusi. 1 Drt. Munculnya sistem baru dalam peradialn pidana ini diprakarsai oleh para cendikiawan eropa.(Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 74. Khususnya dalam bidang peradilan pidana muncul bentuk baru yakni the mixed type. masa ini telah ada penuntut umum. Tambahan Lembaran Negara Nomor 81) beserta semua peraturan pelaksanaannya. akan tampak proses penyelesaian perkara pidana pada masa itu sangat singkat dan sederhana. khususnya dalam pengajuan. Jadi perkembangan hukum acara pidana Indonesia juga dipengaruhi oleh sistem hukum Eropa. SEJARAH HUKUM ACARA PIDANA INDONESIA Posted by hariswandi on Oktober 20. Sementara itu sistem hukum belanda sedikit banyak juga dipengaruhi oleh sistem hukum eropa yang dimulai pada abad ke-13 yang terus mengalami perkembangan hingga abad ke19. peoses pemeriksaan perkara pidana berdasarkan sistem inqusitoir dimasa itu dimulai dengan adnya inisiatif dari penyidik atas kehendak sendiri untuk menyelidiki kejahatan.8 thn 1981. Yang menggambarkan suatu sistem peradialan pidana modern di dataran eropa. hukum acara pidana di Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perkembangannya. 2011 Berlakunya Undang-Undang RI No.8 tahun 1981 tentang Kitab Undang. 8/1981 Tentang Hukum Acara Pidana.

Meskipun undang-undang Nomor 1 drt. Jadi. perlindungan terhadap harkat dan mertabat menusia sebagaimana wajarnya dimiliki oleh suatu Negara hukum. berhubungan dengan Undang-Undang Nomor 1 Drt tahun 1951 serta semua pelaksanaannya dan ketentuan yang diatur dalam peaturan perundang-undangan lainnya. hukum acara pidana di Indonesia merupakan produk dari pada pemerintahan Bangsa Belanda.8 tahun 1981) di Indonesia maka segala peraturan perundang-undangan sepanjang mengatur tentang pelaksanaan daripada hukum acara pidana dicabut. akan tetapi ketentuan yang tercantum didalamnyabelum memberikan jaminan dan tehadap hak-hak asasi manusia. Kemudian peraturan yang menjadi dasar bagi pelaksanaan hukum acara pidana dalam lingkungan peradilan adalah Reglemen Indonesia yang dibaharui atau juaga dikenal dengan nama Het Herziene inlandsch Rgelement atau H. negeri ini tidaklah gersang dari lembaga tata negara dan lembaga tata hukum. bahwa hanya ada satu hukum acara pidana yang berlaku di seluruh Indonesia yaitu R. kesimpulannya adalah hukum acara pidana di Indonesia merupakan produk hukum dari belanda dyang dituangkan dalam bentuk Het Herziene Inlansch Reglement (H. Tidak terdapat masyarakat primitif.8 Tahun 1981 tentang hukum acara pidana. demi pembangunan dalam bidang hukum and sehubungan dengan hal sebagaimana telah dijelaskan.R terdapat dua macam penggolongan hukum acara pidana yaitu hukum acara pidana bagilandraad dan hukum acara pidana bagi raad van justitie.I.Undang No. sepanjang hal itu mengenai hukum pidana perlu dicabut karena tidak sesuai dengan cita-cita hukum nasional dan diganti dengan Undang-Undang hukum acara pidana yang baru yang mempunyai cirri kodifikatif dan unifikatif berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang dasar 1945. Thn 1951 telah menetapkan. Prancis biasa disebut orang sebagai tempat kelahiran lembaga itu.B.R) yang masih terpengaruh oleh sistem hukum Negara-negara eropa yang kemudian digantikan dengan Unadang-Undang No.R (staatsblad tahun 1941 nomor 44). tidak membedakan kedua bidang hukum itu.I. Dengan diberlakuaknnya Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Undang. Menurut alam . yang berlaku sampai dengan sekarang. Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Di Indonesia merupakan hukum yang berlaku secara nasional yang didasrkan pada falsafah pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Hukum acara perdata tidak terpisah dari hukum acara pidana. ACARA PIDANA SEBELUM ZAMAN KOLONIAL Pada waktu penjajah Belanda pertama kali menginjakan kakinya dibumi nusantara. baik di Indonesia maupun didunia barat (termasuk Belanda). A.I. Penggolongan hukum acara pidana ini merupakan akibat semata dari pembedaan peradilan bagi golongan penduduk bumi putra dan peradilan bagi golongan bangsa eropa dan timur asing di jaman hindia belanda. Tuntutan perdaata dan tuntutan pidana merupakan kesatuan.dalam perkara pidana. Pada bagian belakang dapat dibaca bahwa istilah jaksa sendiri yang berasal dari bahasa Sansekerta adhyaksa artinya sama dengan hakim pada dunia moderen sekarang ini. Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana telah diletakkan dasar-dasar humanisme dan merupakan suatu era baru dalam lingkungan peradilan di Indonesia. Telah tercipta hukum yang lahir dari masyarakat tradisional sendiri yang kemudian disebut hukum adat. maka Het Herziene Inlandsch Reglement.I. Pada umumnya pada masyarakat primitif pertumbuhan hukum privat dan hukum publik dalam dunia moderen. Kemudian ketika bangasa belanda melakukan penjajahan di Indonesia. termasuk lembaga-lembaganya. Oleh karena itu. Manusia beserta makhluk yang lain dengan lingkungannya merupakan kesatuan. Supomo menunjukan bahwa pandangan rakyat Indonesia terhadap alam semesta merupakan suatu totalitas. Jadi lembaga seperti jaksa atau penunut umum adalah lembaga baru. Dalam H.

dan dikuatkan dengan firman Raja tanggal 29 september 1849 \nomor 93. PERUBAHAN PERUNDANG-UNDANGAN DINEGERI BELANDA YANG DENGAN ASAS KONKORDANSIDIBERLAKUKAN PULA DIINDONESIA KUHAP yang dipandang produk nasional. B. Pengasingan dari masyarakat serta meletakkan orang diluar tata hokum 1. Mr Wichers mengadaan beberapa perbaikan atas anjuran Gubernur Jendral. yaitudalam tahun 1836. yang berupa benda yang sakti sebagai pengganti kerugian rohani.pikiran itu. hingga hukuman mati 6. bahkan ada yang menyebutkannya suatau karya agung. Ia memangku jabatannya itu pada tahun 1837 dan bersama dengan Mr. Penutup malu. dan diumumkan pada tanggal 5 april 1848. Didaerah Wojo dahulu dikenal cara pembuktian dengan membuat asap pada abu raja yang dianggap paling adil dan bijaksana (Puang ri Magalatung). Sebelum berlakunya perunang-undangan baru dinegeri Belanda. diumumkan dalam Sbld 1849 nomor 63. Yang terpenting dari perubahan IR menjadi HIR ialah . Bentuk-bentuk sanksi hukum adat (dahulu) dihimpun dalam Pandecten van het Adatrecht bagian X yang disebut juga : 1. Pengganti kerugian “immateriil” dalam pelbagi rupa seperti paksaan menikahi gadis yang telah dicemarkan 2. merupakan penerusan pula asas-asas hukum acara pidana yang ada dalam HIR ataupun Ned strafvordering 1926 yang lebih moderen itu. Bayaran “ uang adat “ kepada orang yang terkena. 1. maka usaha ini ditangguhkan. kecuali bilamana kelaziman tersebut ditunjuk dalam undang-undang ( aturan hukum yanghukum yang tertulis dan terbuat dengan sengaja ). yang paling utama ialah keseimbangan atau hubungan harmonis yang satu dari yang lain. C. permintaan maaf 5.Sistem pimidanaannya pun sangat sederhana. pada waktu mana mereka baru saja terlepas dari penjajahan Prancis. Sbld nomor 16. Dalam usaha menengok masa lampau itu kita terbawa oleh rus kepada perubahan penting perundang-undangan dinegeri Belanda pada tahun 1838. yang langsung memikirkan tentang “Javasche wetten” (undang-undang Jawa). Selamatan (korban) untuk membersihkan masyarakat dan segala kotoran gaib 4. golongan legis yaitu yang memandang bahwa semua peraturan hukum seharusnya dalam bentuk undang-undang sangat kuat. Pada tahun 1747 VOC telah mengatur organisasi peradilan pribumi dipedalan. Pelbagai rupa hukuman badan. ia diangkat oleh gubernur jendral de Eerens sebagai panitia untuk mempersiapkan perundang-undangan baru iu di hindia Belanda. Mijer. tetapi ia mempertahankan hasil karyanya itu pada umumnya. Berlaku ketentuan pada waktu itu bahwa kelaziman-kelaziman tidak merupakan. Dengan Sbld 1941 nomor 44 di umumkan kembali dengan Herziene Inlands Reglement atau HIR. 3. Segala perbuatan yang menggangu keseimbangan tersebut merupakan pelanggaran hukum (adat). reglemenn tersebut disahkan oleh Gubernur Jendral. van Vloten dan Mr P. Akhirnya. Hukum pembuktian pada masyarakat tradisional Indonesia sering digantungkan pada kekuasaan Tuhan. Tetapi dengan kejadian di negeri Belanda tersebut. Pada tiap pelanggaran hukum para penegak hukum mencari bagaimana mengembalikan keseimbangan yang terganggu itu. scholten van Oud-Haarlem telah menyatakan kesediannya untuk mempersiapkan perundang-undangan baru diHindia Belanda disamping jabatannya sebagai presidan Hooggerechtshof. Mungkin hanaya berupa pembayaran keseimbangan yang terganggu itu. Kemana asap itu mengarah pihak itulah yang dipandang paling benar. Pada waktu itu. INLANDS REGLEMENT KEMUDIAN HERZIENE INLANDS REGLEMENT Salah satu peraturan yang mulai berlaku pada tanggal 1 mei 1848 berdasarkan pengumuman Gubernur Jendral tanggal 3 desember 1847 Sld Nomor 57 ialah Inlands Reglement atau disingkat IR. Hal itu diteruskan pula oleh Daendels dan Raffls untuk menyelami hukum adat sepanjang pengetahuannya.

Dalam praktek IR masih masih berlaku disamping HIR dijawa dan madura. Perbandingan antara HIR dan KUHPidana HIR: A. Segala pengadilan kepolisian dan alat penuntut umum padanya. ACARA PIDANA PADA ZAMAN PENDUDUKAN JEPANG DAN SESUDAH PROKLAMASI KEMERDEKAAN Pada zaman pendudukan jepang. 7. 2. regentshapsgerecht. Berlaku sebagian daerah (p. Sebagai pengadilan yang tertinggi meliputi seluru “Hindia Belanda”. dan lain-lain. D. Dengan demikian. masih ada pengadilan lain seperti districhtsgerecht. HIR berlaku dikota-kota besar seperti jakarta (batavia). Surabaya. Apeelraad di Medan. Bandung. 6. E. Dengan undang-undang (osamu serei) nomor 1 tahun 1942 yang mulai berlaku pada tanggal 7 maret 194. dikelurkan aturan peralihan dijawa dan madura. Kedudukannya ada pada lapangan public C. Dengan perubahan ini maka openbaar ministerie (OM) atau parket itu secara bulat dan tidak terpisah-pisahkan (een en ondeelbaar) berada dibawah officier van justitie dan procureur generaal. Untuk golongan bumiputera. Merupakan hukum materiil B. HUKUM ACARA PIDANA MENURUT UNDANG – UNDANG NOMOR 1 (DRT) TAHUN 1951 Dengan undang – undang tersebut dapat dikatakan telah diadakan unifikasi hukum acara pidanadan susunanpengadilan yang beraneka ragam sebelumnya. pada umumnya tidak terjadi perubahan aasi kecuali hapusnya Raad van justitie sebagai pengadilan untuk golongan Eropa. 3. ialah Hooggerechtshof yang putusan-putusannya disebut arrest. 4. Segala pengadilan kabupaten . Kedudukannya ada pada lapangan hukum privat C. Susunan pengadilan ini diatur dengan Osamu Serei nomor 3 tahun 1942 tanggal 20 september 1942. Berlaku untuk selruh Indonesia 1. Tugasnya diatur dalam pasal 158 Indische Staatsregeling dan RO. Segala pengadilan Negara dan segala landgerecht (cara baru) dan alat penuntut umum padanya. dan luar jawa dan madura terdapatterdpat magistraatsgerecht menurut ketentuan Reglement Buitengewesten yang memutus perkara perdata yang kecil-kecil. Pengadilan tinggi (koot Hooin) den pengadilan Agung (Saiko Hooin). Semarang. Segala pengadilan magistraad (pengadilan rendah). 1.dengan perubahan itu dibentuk lembaga openbaar ministerie atau penuntut umum.Jawa dan Madura) KUHPpidana: A. Hukum formal atau mengatur bagaimana penegakan atau pelaksanaan BW B. Mahkamah Yustisi di Makasar dan alat penuntut umum padanya. Menurut Pasal 1 undang – undang tersebut dihapus yaitu sebagai berikut : 1. 5. Appelraad di Makasar. selain yang telah disebutkan dimuka. sedangkan di kota-kota lain berlaku IR. yag dahulu ditempatkan dibawah pamongpraja. cara pidana pun pada umumnya tidak berubah. Malang. HIR dan Reglement voor de Buitengewesten serta Landgerechtsreglement berlaku untuk pengadilan negeri (Tihoo Hooin).

11. kegiatan dalam penyusunan rencana tersebut diitensifkan. Undang – undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman juga tidak menghapusnya. Yang dicabut oleh KUHAP ialah yang mengenai acara pidana sedangkan HIR dan Undang – undang Nomor 1 (drt) 1951 juga mengatur acara perdata dan hukum pidana materiil. F. Pada waktu Mochtar Kusumaatmadja menggantikan Oemar Seno Adji menjadi Menteri Kehakiman. Hakim perdamaian desa yang diatur oleh Pasal 3a RO itu masih berhak hidup dengan alasan sebagai berikut : 1./IX/1979. Tapi kenyataannya setelah 19 tahun berlakunya KUHAP.U. Hankam termasuk didalamnya Polri dan Departemen Kehakiman. Pasal 284 ayat (2) menjajikan bahwa dalam 2 tahun akan diadakan perubahan peninjauan kembali terhadap hukum acara pidana khusus seperti misalnya yang terdapat dalam Undang – undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 2. Pengadilan adat.08/P. Pada Tahun 1974 rencana terseut dilimpahkan kepada Sekretariat Negara dan kemudian dibahas olehwmpat instansi.8. 1. Kejaksaan Agung. Akhirnya. LAHIRNYA KITAB UNDANG – UNDANG HUKUM ACARA PIDANA Setelah lahirnya orde baru terbukalah kesempatan untuk membangun segala segi kehidupan. . Puluhan undang – undang diciptakan. Yang terakhir menjadi masalah dalam pembicaran Tim Sinkronisasi dengan wakil pemerintah. dibentuk suatu panitia di departemen Kehakiman yang bertugas menyusun suatu rencana undang – undang Hukum Acara Pidana. Setelah Moedjono menjadi Menteri Kehakiman. berdasarkan peraturan perundang – undangan (Pasal 17 PP Nomor 27 Tahun 1983). Pengadilan swapraja. Pejabat Penyidik yang berwenang yang lain. Jaksa. 9. tidak ada tanda – tanda adanya usaha untuk meninjau kembali acara khusus tersebut. Penyidik 2. dilakukan oleh berikut ini. penyempurnaan rencana itu diteruskan. 1. yaitu Mahkamah Agung. terutama merupakan pengganti peraturan warisan kolonial. 3. Sejak Oemar Seno Adji menjabat Menteri Kehakiman. 10. ialah pasal peralihan yang kemudian dikenal dengan Pasal 284. Segala pengadilan negorij. Segala raad distrik. Rancangan Undang – undang Hukum Acara Pidana itu disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk dibahas dengan amanat Presiden pada tanggal 12 September1979 Nomor R. bahkan dengan PP Nomor 27 Tahun 1983 telah ditegaskan oleh Pemerintah bahwa penyidikan delik – delik dalam perundang – undangan pidana khusus tersebut.

alat bukti saksi 3. sehingga dalam perkara pidana. macamnya telah ditentukan oleh UU yaitu: 1. angka atau perforasi yang memiliki makna. Keterangan terdakwa. yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana. tanda.Rancangan Undang – Undang Hukum Acara Pidana disahkan oleh siding paripurna DPR pada tanggal 23 September 1981. alat bukti persangkaaan 4. (KUHAP. maupun yang terekan secara elektronik yang berupa tulisan. Petunjuk 5. atau kejadian yang telah terjadi atau perbuatan hukum yang harus dilakukan oleh seseorang nantinya. suara. (Pasal 164 HIR/Pasal 284 RBg/Pasal 1866 BW) Hal ini berbeda dengan penyebutan alat-alat bukti dalam hukum acara pidana yang urut-urutan alat bukti itu sebagai berikut: 1. alat bukti tertulis 2. Surat 4. baik yang tertuang diatas kertas. karena surat justru dibuat untuk membuktikan suatu keadaan. dokumen. Pasal 184 ayat 1) Perluasan pengertian alat bukti yang sah dalan KUHAP sesuai dengan perkembangan teknologi telah diatur dalam pasal 26 A UU No. TLN Nomor 3209. benda fisik apapun selain kertas. Bukti dalam pengertian sehari-hari adalah segala hal yang dipergunakan untuk meyakinkan pihak lain yang dapat dikatakan macamnya tidak terbatas asalkan bukti tersebut bisa meyakinkan pihak lain tetang pendapat. Keterangan saksi 2. untuk membuktikan suatu dalih tentang hak dan kewajiban didalam sengketa pengadilan. Semua alat bukti tersebut tentunya untuk dipergunakan membuktikan peristiwa yang dikemukakan di .31 Tahun 1999 yaitu: Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam pasal 188 ayat 2 UU No. peristiwa. foto. LN 1981 Nomor 76. diterima. dibaca. gambar. pembuktian akan dititikberatkan pada keterangan saksi. dan atau didengar. rancangan. alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan. dikirim. Keterangan ahli 3. yakni setiap rekaman data atau informasi yang dilihat.8 tahun 1981 tentang KUHAP. dan b. Kenapa? Karena seseorang didalam melakukan kejahatan tentu akan berusaha menghilangkan jejaknya. alat bukti pengakuan 5. alat bukti sumpah Dalam hukum acara perdata penyebutan alat bukti tertulis (surat) merupakan alat bukti yang utama. peta. khususnya untuk tidak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari: a. kemudian Presiden mensahkan menjadi undang – undang pada tanggal 31 Desember 1981 dengan nama KITAB UNDANG – UNDANG ACARA PIDANA (Undang – undang Nomor 8 Tahun 1981. Jadi keterangan saksi disini adalah alat bukti yang utama. Tetapi Pengertian bukti menurut hukum adalah sudah ditentukan menurut UU. huruf. atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu. keadaan. apa saja? Yuk kita simak dibawah ini: Didalam ilmu hukum acara perdata.

b.muka sidang. Barang-barang yang menjadi sasaran tindak pidana (corpora delicti) Barang-barang yang terjadi sebagai hasil dari tindak pidana (corpora delicti) Barang-barang yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana (instrumenta delicti) . hal.shvoong. e. benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana. 19).com/law-and-politics/1922279-alat-bukti/#ixzz1oKK25swi A. benda yang digunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak pidana. Selain itu di dalam Hetterziene in Landcsh Regerment (”HIR”) juga terdapat perihal barang bukti. Dalam sistem pembuktian hukum acara pidana yang menganut stelsel negatief wettelijk. keterangan ahli. c. benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana. Hal ini berarti bahwa di luar dari ketentuan tersebut tidak dapat dipergunakan sebagai alat bukti yang sah. pejabat atau pun orang-orang berwenang diharuskan mencari kejahatan dan pelanggaran kemudian selanjutnya mencari dan merampas barangbarang yang dipakai untuk melakukan suatu kejahatan serta barang-barang yang didapatkan dari sebuah kejahatan. Sumber: http://id. surat. Sistem Pembuktian dan Alat-alat Bukti. Barang Bukti Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana memang tidak menyebutkan secara jelas tentang apa yang dimaksud dengan barang bukti. benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya. b. c. hanya alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang yang dapat dipergunakan untuk pembuktian (Martiman Prodjohamidjojo. d. Penjelasan Pasal 42 HIR menyebutkan barang-barang yang perlu di-beslag di antaranya: a. 14). Dalam Pasal 42 HIR disebutkan bahwa para pegawai. Namun dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP disebutkan mengenai apa-apa saja yang dapat disita. Atau dengan kata lain benda-benda yang dapat disita seperti yang disebutkan dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP dapat disebut sebagai barang bukti (Ratna Nurul Afiah. B. petunjuk dan keterangan terdakwa. Barang Bukti Dalam Proses Pidana. benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan. yaitu: a. Alat Bukti Dalam Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (”KUHAP”) disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah: keterangan saksi. hal.

b. barang bukti atau corpus delicti adalah barang bukti kejahatan. hal. karena ada beberapa tindak pidana yang dalam proses pembuktiannya tidak memerlukan barang bukti. Barang bukti yang merupakan penunjang alat bukti mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam suatu perkara pidana. . Andi Hamzah mengatakan. Dalam sistem Common Law ini.d. Dalam Pasal 181 KUHAP majelis hakim wajib memperlihatkan kepada terdakwa segala barang bukti dan menanyakan kepadanya apakah ia mengenali barang bukti terebut. baik berupa gambar ataupun berupa rekaman suara f. Dalam Criminal Procedure Law Amerika Serikat. Hukum Acara Pidana Indonesia. real evidence (barang bukti) merupakan alat bukti yang paling bernilai. c. documentary evidence. disita oleh penyidik untuk digunakan sebagai barang bukti pengadilan. Barang-barang yang pada umumnya dapat dipergunakan untuk memberatkan atau meringankan kesalahan terdakwa (corpora delicti) Selain dari pengertian-pengertian yang disebutkan oleh kitab undang-undang di atas. dari pendapat beberapa Sarjana Hukum di atas dapat disimpulkan bahwa yang disebut dengan barang bukti adalah : a. Prof. yang disebut forms of evidence atau alat bukti adalah: real evidence. Ansori Hasibuan berpendapat barang bukti ialah barang yang digunakan oleh terdakwa untuk melakukan suatu delik atau sebagai hasil suatu delik. alat-alat bukti tersebut sangat berbeda. Benda tersebut dapat memberikan suatu keterangan bagi penyelidikan tindak pidana tersebut. Jika dianggap perlu. d. pengertian mengenai barang bukti juga dikemukakan dengan doktrin oleh beberapa Sarjana Hukum. Barang Bukti. Merupakan objek materiil Berbicara untuk diri sendiri Sarana pembuktian yang paling bernilai dibandingkan sarana pembuktian lainnya Harus diidentifikasi dengan keterangan saksi dan keterangan terdakwa Menurut Martiman Prodjohamidjojo. termasuk juga barang yang merupakan hasil dari suatu delik (Andi Hamzah. Tetapi kehadiran suatu barang bukti tidak mutlak dalam suatu perkara pidana. b.19). hal. 254). c. Jadi. d. Ciri-ciri benda yang dapat menjadi barang bukti : a. Barang yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana Barang yang dipergunakan untuk membantu melakukan suatu tindak pidana Benda yang menjadi tujuan dari dilakukannya suatu tindak pidana Benda yang dihasilkan dari suatu tindak pidana e. seperti tindak pidana penghinaan secara lisan (Pasal 310 ayat [1] KUHP) (Ratna Nurul Afiah. Padahal real evidence atau barang bukti ini tidak termasuk alat bukti menurut hukum acara pidana kita. testimonial evidence dan judicial notice (Andi Hamzah). barang bukti dalam perkara pidana adalah barang bukti mengenai mana delik tersebut dilakukan (objek delik) dan barang dengan mana delik dilakukan (alat yang dipakai untuk melakukan delik). hakim sidang memperlihatkan barang bukti tersebut. Bila kita bandingkan dengan sistem Common Law seperti di Amerika Serikat.

1941 No.Bila memperhatikan keterangan di atas. Jadi. Dasar hukum: 1. Menguatkan kedudukan alat bukti yang sah (Pasal 184 ayat [1] KUHAP). kesalahannya harus terbukti dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah. (S. Mencari dan menemukan kebenaran materiil atas perkara sidang yang ditangani. Het Herzien Inlandsch Reglement (HIR) / Reglemen Indonesia Yang Diperbaharui (RIB). Undang-Undang No. S. dan atas keterbuktian dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah tersebut. 3. Pasal 183 KUHAP mengatur bahwa untuk menentukan pidana kepada terdakwa. 44) 2. 16. 1848 No. 2. tidak terlihat adanya hubungan antara barang bukti dengan alat bukti. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana . Setelah barang bukti menjadi penunjang alat bukti yang sah maka barang bukti tersebut dapat menguatkan keyakinan hakim atas kesalahan yang didakwakan JPU. hakim memperoleh keyakinan bahwa tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. dapat kita simpulkan bahwa fungsi barang bukti dalam sidang pengadilan adalah sebagai berikut: 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful