P. 1
81403043 Pengaruh Pembelajaran Lintas Budaya Terhadap Kualitas Pelayanan Industri Pariwisata

81403043 Pengaruh Pembelajaran Lintas Budaya Terhadap Kualitas Pelayanan Industri Pariwisata

|Views: 6|Likes:
Published by brokenpieces

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: brokenpieces on Mar 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/19/2013

pdf

text

original

PENGARUH PEMBELAJARAN LINTAS BUDAYA TERHADAP KUALITAS PELAYANAN INDUSTRI PARIWISATA

I Nengah Aristana oneman_onehero@yahoo.com nengah.aristana@triatma-mapindo.ac.id

SEKOLAH TINGGI PARIWISATA TRIATMA JAYA 2011

Abstrak
Dalam pembelajaran kooperatif bertujuan agar maha siswa memahami pengaruh pembelajaran lintas budaya dengan baik karena. Dengan pemberlajaran lintas budaya yang didapatkan mahasiswa dan calon tenga kerja yang akan memasuki industri pariwisata diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang akan diberikan kepada wisatawan. Dari hasil pembahasan yang dilakukan ditemukan berapa erat hubungan atau pengaruh antara pembelajaran lintas budaya terhadap kualitas pelayanan dalam industri pariwisata. Maka tujuan dari tulisan ini diharapkan mampu memberikan masukan untuk institusi agar labih menekankan seberapa pentingnya hal-hal yang berhubungan dengan wisatawan seperti: kebiasaan, budaya, social, dan prilaku dari wisatawa itu sendiri. Dengan demikian para lulusan yang nantinya akan menjadi calon tenaga kerja agar lebih siap dan matang dalam menghadapi dunia kerja dalam hal ini Industri Pariwisata itu sediri. Key word: Lintas Budaya dan Kualitas Budaya.

ABSTRACT
The aims of cooperative learning is the student can compehend the influence of cross cultural learning well. By cross cultural learning which is gotten by the student and the candidate of the employee entering tourism industry is hoped can increase the quality of service given to the tourist. From the discussion conducted it is found a tight relationship / connection between cross cultural learning towards the quality of service in tourism industry. From this uniting, it is hoped that this uniting can give suggestion for institution in or den to emphasize how important the things which are connected / associate with tourism such as habit, culture, social and the attitude from the tourist themselves. So the graduation of the candidates of employee are more ready and well prepared in in facing the jobs opportunity in this case the tourism itself.

Key word: cross cultural and Culture’s Quality

1. 1. Latar Belakang Pariwisata adalah kegiatan dinamis manusia dalam mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang menyenangkan termasuk berwisata dengan motivasi kultural. Saat berwisata, wisatawan tentunya ingin dilayani untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Mereka melakukan kontak sosial terutama dengan tuan rumah dan penyedia jasa. Interaksi sosial dan multikulturalisme menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari dan lintas budaya pun menjadi kondisi yang tidak bisa dipungkiri apalagi dengan pergerakan kegiatan wisata yang mengarah pada globalisasi maka lintas budaya pasti akan terjadi. Institusi dan perusahaan di industri pariwisata berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan terutama dalam hal kesiapan tenaga kerjanya untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin. Namun yang sering terjadi, institusi dan perusahaan di industri pariwisata secara intensif melatih keterampilan mahasiswa dan karyawan. Materi pembelajaran yang mengasah kemampuan mahasiswa dan karyawan dirancang sedemikian rupa agar menghasilkan lulusan yang kompeten, namun seringkali terlupakan, bahwa pelayanan kepada wisatawan tidak hanya membutuhkan kemahiran tetapi juga membutuhkan kepekaan dan pemahaman psikologis wisatawan melalui pemahaman lintas budaya. Hasilnya, mereka adalah personil siap kerja

tetapi tidak siap berinteraksi dengan wisatawan karena mereka tidak memahami bentuk karakteristik wisatawan. Semangat lintas budaya dengan dasar saling memahami di atas merupakan proses terus-menerus, bukan proses sekali jadi dan sesudah itu berhenti. Di sinilah setiap mahasiswa dan karyawan yang akan terjun di industri pariwisata dituntut untuk belajar terus-menerus atau belajar berkelanjutan. Proses pembelajaran lintas budaya harus terus-menerus dan berkesinambungan dilakukan. Bertolak belakang dari kondisi tersebut, maka penulisan ini mengambil topik “ Pengaruh Pembelajaran Lintas Budaya Terhadap Kualitas Pelayanan Dalam Industri Pariwisata.” 1.2. Rumusan Masalah Penulisan ini mengungkap jawaban dari pertanyaan berikut:
a. Apa manfaat pembelajaran lintas budaya bagi mahasiswa dan calon tenaga

kerja di industry pariwisata?
b. Bagaimana proses pembelajaran yang menarik sehingga semangat lintas

budaya dapat dengan mudah diterima oleh mahasiswa dan calon tenaga kerja yang akan terjun di industri pariwisata? 1.3. Tujuan Penulisan Penulisan bertujuan untuk:
a. Mengenalkan manfaat pembelajaran lintas budaya bagi mahasiswa dan calon tenaga

kerja di industri pariwisata.

b. Mengetahui proses pembelajaran yang menarik sehingga semangat lintas budaya

dapat dengan mudah diterima oleh mahasiswa dan calon tenaga kerja yang akan memasuki industri pariwisata 1.4. Ruang Lingkup Penelitian ini mengulas tentang pelaksanaan pembelajaran lintas budaya dalam kepariwisataan yang dilakukan pada institusi pendidikan dan pelatihan yaitu Sekolah Tinggi Pariwisata Triatma Jaya. Kajian Teori 2.1. Pembelajaran Pembelajaran adalah proses interaksi antara murid atau siswa atau peserta didik dengan pendidik dimana mereka memiliki sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pembelajaran, peserta diberi pelajaran bukan sekedar menguasai isi pelajaran tetapi juga mencapai sesuatu tujuan yang ditentukan (aspek kognitif), mengalami perubahan sikap (aspek afektif), serta peningkatan keterampilan (aspek psikomotor). Pembelajaran mengutamakan

adanya interaksi antara sumber belajar dengan peserta. Pembelajaran merupakan suatu proses proses terus-menerus, bukan proses sekali jadi dan sesudah itu berhenti. Perkembangan jaman menuntut untuk belajar terusmenerus atau belajar berkelanjutan agar tujuan pembelajaran dapat berkembang dan terpelihara dengan baik. 2.2. Pariwisata Pariwisata adalah fenomena yang unik dimana wisata menjadi intinya. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagai dari kegiatan tersebut yang dilakukan oleh wisatawan (sebutan bagi orang yang melakukan kegiatan tersebut) secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata Pariwisata merupaka segala sesuatu yang berhubungan dengan pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usahanya yang terkait dibidang tersebut yang pada pada dasarnya mengandung beberapa unsur yaitu: a. Manusia, baik sebagai pelaku maupun sebagai penyedia jasa. b. Kegiatan dengan beragam tujuan atau motivasi perjalanan. c. Interaksi antara wisatawan dengan wisatawan, wisatawan dengan tuan rumah, dan wisatawan dengan penyedia jasa. Kepergian setiap wisatawan ke destinasi wisata di luar tempat tinggalnya menyebabkan mereka bertemu dengan orang-orang dari budaya yang berbeda sehingga dipastikan dalam pariwisata terjadi multikulturalisme dan lintas budaya.

2.3. Lintas Budaya Lintas budaya terjadi ketika manusia dengan budayanya berhubungan dengan manusia lain yang berasal dari budaya berbeda, berinteraksi dan bahkan saling mempengaruhi. Lintas budaya adalah istilah yang sering digunakan untuk menjabarkan situasi ketika sebuah budaya berinteraksi dengan budaya lain dan keduanya saling memberikan pengaruh dan dampak baik positif maupun negatif, seperti yang terjadi dalam setiap kegiatan wisata, dimana wisatawan dipastikan melakukan interaksi dan memberikan dampak baik positif maupun negatif kepada masyarakat setempat. Perbedaan budaya timbul karena sifatnya dinamis dan berevolusi sehingga perlu beragam pendekatan untuk memahami kebudayaan seperti dengan berasimilasi, melakukan integrasi dan menyadari lintas budaya. Lintas Budaya menciptakan nilai untuk menentukan mana yang tepat dan mana yang dapat diterima oleh budaya lain. Lintas budaya membuat manusia dapat berkomunikasi dengan baik dan pada akhirnya, lintas budaya dapat mempererat manusia dengan manusia lain dan memberikan keunikan pada diri manusia dan masyarakat. Dengan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, manusia dan manusia lain berupa untuk saling memahami dan melengkapi sehingga terciptakan perdamaian dan harmonisasi kehidupan melalui lintas budaya. 2.4. Pembelajaran lintas budaya

Pemahaman tentang lintas budaya sudah merupakan hal yang penting untuk dapat menciptakan harmonisasi bermasyarakat dan perlu dilakukan terusmenerus dan berkesinambungan. Pengetahuan tentang lintas budaya berguna meningkatkan kemampuan mengenal perbedaan antar budaya dan kemampuan belajar hidup bersama di tengah perbedaan dapat dibentuk, dipupuk, serta dikembangkan dengan beragam kegiatan, keberanian, dan kegemaran seperti perantauan budaya, kesadaran lintas budaya dan pembelajaran lintas budaya. Lintas budaya dapat dipelajari melalui pendidikan dalam keluarga, sosialisasi nilai-nilai dalam masyarakat baik melalui pergaulan sosial maupun media, dan melalui pembelajaran multikultur, yaitu pembelajaran yang dapat menfasilitasi peserta dalam memahami materi pembelajaran tanpa adanya kendala perbedaan latar belakang cultural (Bryant dalam Mendatu, 1996) dan pemahaman akan keberagaman dan penghargaan akan perbedaan, serta bagaimana bersikap dan bertindak dalam situasi multietnikmultikultur (Matsumoto dalam Mendatu, 1996). Metodelogi Populasi dan Sampel Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa STIPAR Triatma Jaya yang telah menempuh praktek kerja industri. Jumlah populasi yang digunakan sebanyak 40 orang mahasiswa yang terdiri dari 16 mahasiswa laki-laki dan 24 mahasiswa perempuan.

Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa STIPAR Triatma Jaya. Data yang dikumpulkan dengan cara mengambil sampel secara acak atau dengan kata lain disebut dengan simple random sampling. Banyaknya mahasiswa yang dipilih berdasarkan jumlah populasi yang digunakan sebanyak 40 orang mahasiswa. Instrumen Penelitian Instrumen itu merupakan alat yang digunakan untuk melakukan sesuatu sedangkan penelitian yang memiliki arti penyelidikan, pemeriksaan, kegiatan pengumpulan, pengelolaan, analisis, dan penyajian data secara sistematis dan objektif. Pada

penelitian ini dikemukakan instrumen yang digunakan untuk mengukur pengaruh variabel yang diteliti. Jenis Data 1. Data kuantitatif yaitu data yang diperoleh dari pihak mahasiswa STIPAR Triatma Jaya yang dapat diukur dalam satuan – satuan tertentu dan biasanya berupa angka – angka seperti jumlah Mahasiswa. 2. Data kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari pihak mahasiswa STIPAR Triatma Jaya yang biasanya tidak dapat diukur dalam satuan, data tersebut berupa informasi – informasi. Sumber Data

1. Data primer, yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti atau suatu lembaga tertentu langsung dari sumbernya, dicatat dan diamati untuk pertama kalinya dan hasilnya digunakan langsung oleh peneliti atau lembaga itu sendiri untuk memecahkan masalah yang akan dicari jawabannya. 2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh peneliti bukan dari hasil pengumpulan dan pengolahan data melainkan dilakukan oleh suatu lembaga dan peneliti tinggal memasukkan ke dalam suatu penelitian.

Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian ini adalah: 1. Kuisioner (daftar pertanyaan) yang diberikan kepada mahasiswa STIPAR Triatma Jaya mengenai tanggapannya tentang gaya pembelajaran lintas budaya terhadap kualitas pelayanan pada industri pariwisata. 2. Wawancara, mengumpulkan data melalui tatap muka yang ditujukan untuk melengkapi data yang diperoleh

Metode Analisis Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan 2 analisis statistik, yang dijelaskan sebagai berikut: Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat keputusan yang bersifat umum. Termasuk dalam analisis analisis deskriptif antara lalin adalah penyajian data melalui tabel, grafik, diagram, pengukuran tendensi sentral (Modus, Median dan Means), perhitungan penyebaran data (perhitungan rata – rata dan standar deviasi) dan perhitungan persentase (Sugiyono, 2005:143). Dalam penelitian ini analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden dan variabel – variabel penelitian. Analisis Paired T-test Analisis Paired T-test adalah mencari perbedaan antara suatu antara dua variabel yang sama atau digunakan untuk membandingkan berarti pada subjek yang sama atau terkait dari waktu ke waktu atau dalam keadaan yang berbeda. Data yang diamati adalah dari subjek yang sama atau dari subjek yang cocok dan diambil dari populasi dengan distribusi normal.

D t=

Rumus:

t D SD N

= nilai t hitung = rata-rata selisih pengukuran1&2 = standar deviasi pengukuran1&2 = Jumlah

Untuk menginterpretasikan t-test terlebih dahulu harus ditentukan: Apabila : t hitung > table berbeda secara signifikan maka Ho ditolak t hitung < table tidak berbeda secara signifikan maka H1 diterima Nilai α df (degree of freedom) = N – k (untuk paired t-test df = N-1) Bandingkan Nilai t hitung dengan t table

Dalam penelitian ini semua perhitungan data tersebut diatas akan dibantu dengan mempergunakan program SPSS for Windows Version 15.0

3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Karakteristik Responden 3.1.1. Karakteristik Responden Karateristik Responden yang diteliti dikaitkan dengan kualitas pelayanan dimana sebelumnya dilakukan pengelompokan untuk kualitas pelayanan yang rendah dan kualitas pelayanan yang tinggi. Penilaian kualitas pelayanan

dilakukan dengan menggunakan lima indikator dimana skor jawaban terendah adalah 1 ( sangat tidak setuju) dan skor jawaban tertinggi adalah 5 (sangat setuju). Dari data ini akan diperoleh total skor jawaban terendah adalah 5 (5x1) dan skor jawabn tertinggi adalah 25 (5x5). Selanjutnya dari total skor jawaban ini dibuat klasifikasi sebagai berikut: Skor terendah Skor tertinggi Selisih skor Jumlah kelas Interval kelas Pembagian Interval kelas =5 = 25 = 20 = 2 (tertinggi dan terendah) = 20/2 = 10 = 5 – 15 kepuasan kerja rendah 15 – 35 kepuasan kerja tinggi Skor jawaban responden yang berada di bawah 15 dikatagorikan mempunyai tingkat kualitas pelayanan yang rendah, sedangkan diatas 15 diatas dikategorikan mempunyai tingkat kualitas pelayanan yang tinggi. Data penelitian diperoleh dari hasil kuesioner yang telah disebarkan kepada responden penelitian yang berjumlah 40 orang. Karakteristik responden yang diteliti meliputi lima aspek yaitu: umur responden, jenis kelamin dan tingkat pendidikan. Karakteristik dari responden dibedakan dalam faktor usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan. Tabel 1. Profil responden berdasarkan usia

Calon Tenaga Kerja 17-21 23 22-26 17 Jumlah 40 Sumber: Data Olahan (2011) Umur Mayoritas responden berusia 17 - 21 tahun (57,5) Mereka memiliki ciri-ciri diantaranya, sedang menikmati masa remaja, berada pada posisi pencarian jati diri, mudah bergaul dan mencari panutan serta selalu menginginkan hal baru yang dinamis. Tabel 2. Profil responden berdasarkan jenis kelamin Jenis Kelamin Mahasiswa Jenis Calon Tenaga Kerja Kelamin Laki - laki 16 Perempuan 24 Jumlah 40 Sumber: Data Olahan (2011) Responden mahasiswa didominasi perempuan karena proses pembelajaran disyaratkan berjenis kelamin perempuan. Tabel 3. Profil responden berdasarkan pendidikan Calon Tenaga Kerja Diploma 33 Sarjana 7 Jumlah 40 Sumber: Data Olahan (2011) Pendidikan Responden rata-rata adalah lulusan diploma (82,5%) menunjukkan mereka memiliki pengetahuan yang cukup untuk dibekali dengan pembelajaran lintas

budaya. Seluruh responden dinilai dalam berbagai hal diantaranya kemampuan interpersonal seperti disiplin, perhatian pada pelanggan, respek, tanggungjawab, inisiatif, senyuman, sikap penolong, keramahan,

persahabatan, rajin dan kerja sama.

3.1.2. Uji Validitas dan Reliabelitas Uji Instrumen dalam penelitian dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang ingin diukur dan dikatakan reliabel jika dapat mengukur gajala yang sama secara tetap atau konsisten. Suatu instrumen dikatakan valid apabila memiliki koefisien korelasi antara butir dengan skor total dalam intrumen tersebut lebih besar dari 0,3 dengan tingkat kesalahan Alpha 0,05. Sedangkan intrumen dikatakan reliabel apabila memiliki koefisien Alpha Cronbach minimal 0,6. Untuk analisis validitas dan reliabelitas diselesaikan dengan menggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS) for Windows versi 15,0. Untuk hasil Uji validitas instrument dalam penelitian
Correlations X1.7 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .160 .307 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 .811** .000 43 X1.1 X1.1 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.2 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.3 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.4 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.5 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.6 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.7 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.8 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.9 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.10 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.11 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.12 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.13 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.14 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1.15 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N lintas budaya Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 1

ini seperti terlihat dalam tabel.
43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .160 .307 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 .811** .000 43 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .260 .093 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .836** .000 43 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .160 .307 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 .811** .000 43

X1.2 .403** .007 43 1

Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Instrumen Penelitian
43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .260 .093 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .836** .000 43 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .260 .093 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .836** .000 43

X1.3 1.000** .000 43 .403** .007 43 1

X1.4 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1

X1.5 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1

X1.6 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .160 .307 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 .811** .000 43

X1.8 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1 43 .403** .007 43 .260 .093 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .836** .000 43

X1.9 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1 43 .160 .307 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 .811** .000 43

X1.10 .160 .307 43 .260 .093 43 .160 .307 43 .260 .093 43 .260 .093 43 .160 .307 43 .160 .307 43 .260 .093 43 .160 .307 43 1

43 .260 .093 43 .260 .093 43 .160 .307 43 .260 .093 43 .260 .093 43 .304* .048 43

X1.11 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .260 .093 43 1 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .836** .000 43

X1.12 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .260 .093 43 1.000** .000 43 1 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .836** .000 43

X1.13 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .160 .307 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1 43 .403** .007 43 .403** .007 43 .811** .000 43

X1.14 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .403** .007 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 .260 .093 43 1.000** .000 43 1.000** .000 43 .403** .007 43 1 43 1.000** .000 43 .836** .000 43

X1.15 lintas budaya .403** .811** .007 .000 43 43 1.000** .836** .000 .000 43 43 .403** .811** .007 .000 43 43 1.000** .836** .000 .000 43 43 1.000** .836** .000 .000 43 43 .403** .811** .007 .000 43 43 .403** .811** .007 .000 43 43 1.000** .836** .000 .000 43 43 .403** .811** .007 .000 43 43 .260 .304* .093 .048 43 43 1.000** .836** .000 .000 43 43 1.000** .836** .000 .000 43 43 .403** .811** .007 .000 43 43 1.000** .836** .000 .000 43 43 1 .836** .000 43 43 .836** 1 .000 43 43

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Uji Reliabelitas Penelitian
Correlations Y1.2 Y1.2 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 1 43 .214 .168 43 .805 ** .000 43 .450 ** .002 43 .270 .080 43 .760 ** .000 43 .695 ** .000 43 .433 ** .004 43 .742 ** .000 43 .742 ** .000 43 .482 ** .001 43 .433 ** .004 43 .787 ** .000 43 Y1.3 .214 .168 43 1 43 .307 * .046 43 .624 ** .000 43 .747 ** .000 43 .268 .082 43 .164 .293 43 .657 ** .000 43 .202 .194 43 .202 .194 43 .583 ** .000 43 .657 ** .000 43 .575 ** .000 43 Y1.4 .805 ** .000 43 .307 * .046 43 1 43 .311 * .042 43 .454 ** .002 43 .775 ** .000 43 .629 ** .000 43 .492 ** .001 43 .751 ** .000 43 .751 ** .000 43 .436 ** .003 43 .492 ** .001 43 .802 ** .000 43 Y1.5 .450 ** .002 43 .624 ** .000 43 .311 * .042 43 1 43 .561 ** .000 43 .061 .698 43 .029 .856 43 .620 ** .000 43 .039 .802 43 .039 .802 43 .578 ** .000 43 .620 ** .000 43 .495 ** .001 43 Y1.6 .270 .080 43 .747 ** .000 43 .454 ** .002 43 .561 ** .000 43 1 43 .283 .066 43 .335 * .028 43 .775 ** .000 43 .302 * .049 43 .302 * .049 43 .689 ** .000 43 .775 ** .000 43 .677 ** .000 43 Y1.7 .760 ** .000 43 .268 .082 43 .775 ** .000 43 .061 .698 43 .283 .066 43 1 43 .716 ** .000 43 .397 ** .008 43 .855 ** .000 43 .855 ** .000 43 .413 ** .006 43 .397 ** .008 43 .770 ** .000 43 Y1.8 .695 ** .000 43 .164 .293 43 .629 ** .000 43 .029 .856 43 .335 * .028 43 .716 ** .000 43 1 43 .491 ** .001 43 .849 ** .000 43 .849 ** .000 43 .640 ** .000 43 .491 ** .001 43 .788 ** .000 43 Y1.9 .433 ** .004 43 .657 ** .000 43 .492 ** .001 43 .620 ** .000 43 .775 ** .000 43 .397 ** .008 43 .491 ** .001 43 1 43 .569 ** .000 43 .569 ** .000 43 .899 ** .000 43 1.000 ** .000 43 .843 ** .000 43 Y1.10 .742 ** .000 43 .202 .194 43 .751 ** .000 43 .039 .802 43 .302 * .049 43 .855 ** .000 43 .849 ** .000 43 .569 ** .000 43 1 43 1.000 ** .000 43 .568 ** .000 43 .569 ** .000 43 .848 ** .000 43 Y1.11 .742 ** .000 43 .202 .194 43 .751 ** .000 43 .039 .802 43 .302 * .049 43 .855 ** .000 43 .849 ** .000 43 .569 ** .000 43 1.000 ** .000 43 1 43 .568 ** .000 43 .569 ** .000 43 .848 ** .000 43 Y1.12 .482 ** .001 43 .583 ** .000 43 .436 ** .003 43 .578 ** .000 43 .689 ** .000 43 .413 ** .006 43 .640 ** .000 43 .899 ** .000 43 .568 ** .000 43 .568 ** .000 43 1 43 .899 ** .000 43 .836 ** .000 43 kualitas Y1.13 pelayanan .433 ** .787 ** .004 .000 43 43 .657 ** .575 ** .000 .000 43 43 .492 ** .802 ** .001 .000 43 43 .620 ** .495 ** .000 .001 43 43 .775 ** .677 ** .000 .000 43 43 .397 ** .770 ** .008 .000 43 43 .491 ** .788 ** .001 .000 43 43 1.000 ** .843 ** .000 .000 43 43 .569 ** .848 ** .000 .000 43 43 .569 ** .848 ** .000 .000 43 43 .899 ** .836 ** .000 .000 43 43 1 .843 ** .000 43 43 .843 ** 1 .000 43 43

Y1.3

Y1.4

Y1.5

Y1.6

Y1.7

Y1.8

Y1.9

Y1.10

Y1.11

Y1.12

Y1.13

kualitas pelayanan

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Dari hasil analisis kita dapat melihat pada baris TOTAL dimana nilai sig.2tailed adalah lebih besar dari nilai kritis α = 0,05, sedangkan item yang memiliki nilai lebih kecil dari α = 0,05 dapat dikatakan tidak valid. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seluruh item pengujian valid. Sesuai dari ketentuan bedasarkan

nilai total sig.2-tailed pengaruh pembelajaran lintas budaya terhadap kualitas pelayanan memiliki koefisien (r) diatas > 0,05. Uji Reliabelitas terhadap Instrumen penelitian ini menggunakan nilai Alpha Cronbach, yakni untuk mengetahui unidimensional butir – butir pernyataan terhadap variabel laten yang diteliti (Lintas Budaya dan Kualitas Pelayanan). Nilai Alpha Cronbach dinyatakan reliabel jika nilainya lebih besar atau sama dengan 0,60 (Ghozali,2002:4). Uji reliabelitas terhadap instrumen penelitian dapat dilihat dari rekapitulasi pada tabel
Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted 87.47 86.88 87.47 86.88 86.88 87.47 87.47 86.88 87.47 87.47 86.88 86.88 87.47 86.88 86.88 44.42 Scale Variance if Item Deleted 110.588 111.391 110.588 111.391 111.391 110.588 110.588 111.391 110.588 110.588 111.391 111.391 110.588 111.391 111.391 32.392 Corrected Item-Total Correlation .812 .829 .812 .829 .829 .812 .812 .829 .812 .812 .829 .829 .812 .829 .829 .983 Cronbach's Alpha if Item Deleted .775 .777 .775 .777 .777 .775 .775 .777 .775 .775 .777 .777 .775 .777 .777 .969

X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 X1.6 X1.7 X1.8 X1.9 X1.10 X1.11 X1.12 X1.13 X1.14 X1.15 lintas budaya

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted 70.14 69.63 70.14 69.74 69.58 70.00 69.93 69.53 69.95 69.95 69.49 69.53 36.42 Scale Variance if Item Deleted 79.932 82.287 79.123 82.338 81.154 79.190 77.447 79.445 77.617 77.617 79.256 79.445 21.630 Corrected Item-Total Correlation .767 .544 .781 .455 .650 .745 .759 .828 .829 .829 .819 .828 1.000 Cronbach's Alpha if Item Deleted .756 .765 .753 .766 .761 .754 .748 .754 .748 .748 .753 .754 .933

Y1.2 Y1.3 Y1.4 Y1.5 Y1.6 Y1.7 Y1.8 Y1.9 Y1.10 Y1.11 Y1.12 Y1.13 kualitas pelayanan

Berdasarkan uji reliabilitas yang dilakukan, nilai Uji Statistik Cronbach Alpha adalah sebesar 0,607, artinya bahwa hasil tersebut lebih besar daripada 0,6 pada selang kepercayaan 5%. Dengan demikian data yang digunakan adalah valid dan memiliki reliabilitas yang baik. Maka pengaruh pemberlajaran lintas budaya terhadap kualitas pelayanan pariwisata dinyatakan memiliki hubungan yang kuat dan nyata.
Paired Samples Statistics Mean 19.43 30.53 N 40 40 Std. Deviation 2.417 2.926 Std. Error Mean .382 .463

Pair 1

pre-test post-test

Paired Samples Correlations N Pair 1 pre-test & post-test 40 Correlation .287 Sig. .073

Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 10.071 12.129

Pair 1

pre-test - post-test

Mean 11.100

Std. Deviation 3.217

Std. Error Mean .509

t 21.823

df 39

Sig. (2-tailed) .000

Bagian pertama paired sample test statistic Menunjukan bahwa rata-rata pengaruh sebelum pembelajaran lintas budaya dan sesudah pembelajaran lintas budaya terhadap kualitas pelayanan pariwisata. Sebelum pembelajaran lintas budaya dilakukan, tingkat kualitas pelayanan terhadap

mahasiswa rata-rata 19,43. Sedangkan setelah dilakukan pembelajaran lintas budaya tingkat kualitas pelayanan meningkat dengan rata-rata 30,53. Bagian kedua paired sample test correlation Hasil uji menunjukan bahwa korelasi antara dua variable adalah sebesar 0,287 dengan sig. sebasar 0.073. Hal ini menunjukan bahwa kolerasi antara sebelum pembelajaran lintas budaya dan sesudah dilakukan pembelajaran lintas budaya adalah tidak erat dan tidak terjadi hubungan secara nyata. Bagian ketiga (paired sample test) • H0 = kedua rata-rata populasi adalah indentik (rata-rata populasi sebelum pembelajaran lintas budaya dan sesudah pembelajaran lintas budaya adalah sama/tidak berbeda secara nyata) • Hi = kedua rata-rata Populasi adalah tidak identik (rata-rata populasi berat sebelum pembelajaran lintas budaya dan sesudah pembelajaran lintas budaya adalah tidak sama/berbeda secara nyata) Uji Hipotesis Nilai t hitung adalah sebesar 21.823 dengan probabilitas 0,000 karena dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak artinya rata-rata tingkat kepuasan sebelum pembelajaran lintas budaya dan sesudah pembelajaran lintas budaya adalah tidak sama (berbeda). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terjadi peningkatan tingkat kepuasan meningkat setelah pembelajaran lintas budaya. Berdasarkan nilai Probabilitas • Jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima

Jika probabilitas < 0,05 maka Ho diterima

NB: Dalam kasus ini dapat juga dinyatakan bahwa, Terdapat perbedaan mean sebesar 0,509 (lihat hasil output SPSS) Anga ini berasal dari: Tingkat stress sebelumnya tertawa - tingkat stress sesudah tertawa Atau 30,53 - 19,43 = 11,1 Dari hasil pembahasan maka dapat diketahui adanya hubungan atau pengaruh antara Pembelajaran Lintas Budaya Dalam Kualitas Pelayanan Industry Pariwisata. Kesimpulan Industir Pariwisata yang sarat dengan lintas budaya memberikan banyak manfaat terutama ketika terjadi komunikasi, hubugan sosial dan pelayanan. Pembelajaran lintas budaya diberikan dengan tujuan diantaranya: 1. Memberikan pelayanan lebih baik kepada tamu-tamu mancanegara 2. Meningkatkan kemampuan kerja dengan pengalaman multi kultural 3. Memberikan pelayanan lebih baik kepada masyarakat setempat 4. Meningkatkan reputasi industri dan organisasi 5. Meningkatkan return business atau jumlah pelanggan Dalam pembelajarannya, materi lintas budaya menggambarkan upaya untuk membawa bersama dua budaya yang berbeda, melebur dengan cara memahami bagaimana mereka yang berasal dari budaya lain bertingkah laku, berbahasa, berpikir dan hal lainnya dalam kebudayaannya. Materi lintas budaya merupakan upaya untuk

menghasilkan panduan dimana seseorang dengan orang lain dari budaya berbeda dapat berinteraksi dengan lebih baik Pembelajaran ini berusaha memberdayakan peserta untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberi kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda etnis atau rasnya secara langsung. Selainitu pembelajaran ini juga membantu peserta untuk mengakui ketepatan dari pandangan-pandangan budaya yang beragam, membantu dalam

mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka, menyadarkan bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok. Pembelajaran lintas budaya dapat diidentifikasi: (1) untuk memfungsikan keaneka ragaman budaya; (2) untuk membantu membangun perlakuan yang positif terhadap perbedaan budaya; (3) memberikan ketahanan dalam mengambil keputusan dan keterampilannya; (4) untuk membantu membangun ketergantungan lintas budaya dan memberi gambaran positif kepada mereka mengenai perbedaan kelompok. Pembelajaran ini membangun konsep mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan serta memajukan kecakapan, keterampilan terhadap lintas batas-batas etnik dan budaya untuk berpartisipasi dalam beberapa kelompok dan budaya lain.

DAFTAR PUSTAKA

Bryant, N.A. (1996), Make The Curriculum Multicultural. The Science Teacher, 63 (2),28-31. English, L.M dan Lynn, S (1995) Business Across Cultures: Effective Communication Strategies, Longman, New York Ghozali Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS, Semarang : Universitas Diponogoro. Matsumoto, D. (1996). Culture and Psychology, Brooks/Cole Publishing, California Peter, J.H dan Ameijde, L (2003) Hospitality In Motion: State of the Art in Service Management, Gramedia, Jakarta Poerwadi, B (2006) Pengaruh Pelatihan TCC pada Awak Kabin Initial Garuda Indonesia, Tesis, Universitas Sahid, Jakarta Regency International Centre for Hospitality Leisure and Food Studies (1999) CultureAwareness: Work in a Socially Diverse Environment, Regency Publishing, Sydney Reisinger, Y dan Turner, L.W (2003) Cross-cultural Behaviour in Tourism, Elsevier, Oxford Trompenaars. F dan Hampden-Turner, C (1998) Riding the Waves of Culture:

Understanding Cultural Diversity in Business, Nicholas Brealey Publishing, London

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->