Oleh: Dr. Adian Husaini DALAM beberapa hari belakangan, ada sejumlah SMS yang masuk ke HP saya.

Isinya, meminta saya mengkaji sebuah buku berjudul Satu Tuhan Banyak Agama, Pandangan Sufistik Ibn „Arabi, Rumi dan al-Jili, (Mizan, 2011). Rabu (19/10/2011), saya baru sempat mencari buku ini di sebuah toko buku.

sampul buku Satu Tuhan Banyak Agama yg menyesatkanSetelah membaca dengan seksama, saya segera berusaha memberikan sejumlah ulasan berikut ini. Dari segi penampilan luar, buku karya Dr. Media Zainul Bahri (dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta) tampak berwibawa, dengan tebal 500 halaman lebih. Ada pengantar dari Rektor UIN Jakarta, Prof. Komaruddin Hidayat dan juga pujian dari Prof. Kautsar Azhari Noer, guru besar Perbandingan Agama, UIN Jakarta. Dengan tampilan semacam itu, wajar jika orang menyangka bahwa buku ini berbobot ilmiah yang tinggi. Apalagi, ini juga disertasi doktor di UIN Jakarta.

Tentu, usaha penulis buku ini dalam mengkaji pemikiran-pemikiran tiga tokoh sufi tersebut perlu diberikan apresiasi. Harapannya, ke depan, makin terbuka kajian-kajian semacam ini yang lebih serius dan lebih Islami. Akan tetapi, sebagai karya terbuka, tentu buku ini wajib dikaji secara kritis. Berikut ini catatan kritis untuk buku ini:

Pertama, buku ini mengambil konsep Pluralisme, Perenialisme dan Kesatuan Transendensi Agama-agama/KTAA (Transcendent Unity of Religions) sebagai dasar analisis. Pemikiran tiga tokoh sufi dianalisis dari konsep ini. Tidak ada catatan kritis apa pun terhadap konsep KTAA tersebut. Penulis buku ini sudah meyakini kebenaran konsep tersebut dan kemudian berusaha mencari legitimasi pada karya-karya klasik dan kontemporer dari para ulama dan sarjana Muslim klasik dan kontemporer. Padahal, jika ditelaah sepintas saja, kita akan menjumpai berbagai paradoks dan kerancuan dalam pemikiran-pemikiran yang disajikan. Sebagai contoh, tertulis: “Dalam diskursus pluralisme agama, penjelasan tentang transendensi Ilahi ini dan bahwa setiap agama lahir dan terikat pada konteks tertentu menjadi argumen bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi/sempurna atas yang lain. Semua bentuk-bentuk agama adalah sederajat, karena semuanya sedang mewadahi ke-Mahabenaran dan ke-Mahamutlakan Tuhan.” (hal. 21).

anehnya. menganggap bahwa satu agama pada dirinya lebih baik dari agama lain adalah sebuah pandangan keliru. Mereka menolak “klaim kebenaran” dari masing-masing pemeluk agama. bahkan sebaiknya manusia itu memperturutkan hawa nafsu.” (hal. dalam buku ini tidak didefinisikan apa yang disebut “agama” dan apa batasannya? Misalnya. Tidak ada yang lebih baik atau lebih sempurna antara satu dengan yang lain. bukankah orang itu juga berpandangan sempit? Seorang “pluralis sejati”. ditulis: “Dengan kata lain. seharusnya bersikap permisif terhadap semua paham dan agama.Itulah salah satu keganjilan pemikiran pluralisme agama. karena semuanya dianggap benar! Terbuktilah. logika kaum pluralis ini memang mau menang sendiri dan asal-asalan: merasa benar sendiri dengan pendapatnya. misalnya. dikatakan: “Semua jalan-jalan itu menuju kepada puncak yang sama. aliran. bahwa kita tidak dapat mengatakan agama yang satu lebih baik dari yang lain. sebagaimana paham kaum pluralis tersebut. jika orang hanya mengakui paham Pluralisme saja yang benar. bahwa “semuanya benar”. (hal. Bhairawatantra memiliki ajaran. seharusnya dia juga mengakui kebenaran paham para penganut agama yang meyakini kebenaran agamanya sendiri (bersikap eksklusif). satu cara melihat sesuatu. ofensif. 379-380). pendapat Paul F. Sebab bila manusia terpuaskan nafsunya. tetapi pada saat yang sama mereka justru menolak keberagaman. 379). semua agama adalah sama. tetapi menyalahkan umat beragama yang meyakini kebenaran agamanya sendiri! Kedua. Tetapi. Tuhan Yang Mahabenar secara mutlak – meminjam ungkapan Schuon – tidak mungkin kebenaran-Nya secara sempurna dikandung hanya oleh satu agama atau berapa agama. Ia tentu paham bahwa jumlah agama di dunia ini adalah ribuan. Mereka memaksa semua pemeluk agama melepaskan klaim kebenarannya masing-masing lalu dipaksa berpindah menuju satu keyakinan. 380). Saat ini. Semua agama adalah relatif. Knitter. dalam arti sama-sama mengandung kebenaran yang terbatas. dan menyerang paham yang berbeda dengannya. betapa paradoks dan absurdnya logika penganut pluralisme ini! Di dalam buku ini. Ibarat ribuan bahkan jutaan aliran air sungai dan anak sungai semuanya mengalir dan sedang meluncur ke samudera yang sama. dan berpandangan sempit. bahwa manusia hendaknya jangan menahan hawa nafsu. Bukankah ini satu sikap yang paradoks dan justru anti-pluralisme! Simaklah.” (hal. atau paham. maka jiwanya akan menjadi merdeka. bahkan jutaan agama sekali pun. jika ia mengakui kebenaran semua agama. terbatas. kita banyak menjumpai berbagai kecaman terhadap orang-orang yang tidak sejalan dengan pemikiran pluralisme. parsial. Logikanya. Dikutip. tidak lengkap. . Kita balik bertanya. Ambillah satu contoh agama bernama Bhairawatantra yang hidup di Indonesia sebelum kedatangan Islam. Mari kita uji logika Doktor lulusan UIN Jakarta ini.

Semua Agama Tidak Sama. Ngakan Made Madrasuta menulis kata pengantarnya dengan judul “Mengapa Takut Perbedaan?” Ngakan mengkritik pandangan yang menyamakan semua agama. Hal. Sedjarah Kebudajaan Indonesia I: Bangsa Hindu. Semua yoga ini ada dalam agama Hindu. si dosen Ushuluddin UIN Jakarta tersebut sedang memeluk dan meyakini agama apa? Sulit dibayangkan. sehingga mereka berlogika. ungkapan itu hanya khayalan penulis saja! Tahun 2006. Terjemahan. bahwa praktik prostitusi adalah satu bentuk ritual suci kepada Tuhan! Ketiga. (Paul Michel Munoz. masih banyak dijumpai agama yang mengajarkan agar pemimpin dan jemaatnya semuanya bertelanjang bulat saat melakukan ritual.” (hal. Salah satu bentuk ritual yang paling esoterik. saat menulis bukunya ini. dan Raja Yoga. jika logika si dosen ini suatu ketika dipungut oleh para pelacur. Sebagai contoh. Bhakti Yoga. Ngakan Made Madrasuta (ed). 1953). (Mitra Abadi. Ritualnya meliputi persembahan berupa meminum darah manusia dan memakan dagingnya. 253 dan 448).” (Lihat. Ada juga agama pemuja setan. adalah pemujaan yang memerlukan persembahan berupa manusia. (J. Yogyakarta. sebagaimana kebiasaan kaum yang mengaku pluralis agama. Apakah agama Bhairawatantra yang mengajarkan ritual seks bebas dan penyembelihan manusia ini sama derajatnya dengan agama Islam? Di era modern ini. Agama Hindu menyediakan banyak jalan. xxx. yang berbeda dengan pemahaman para pemeluk agama tersebut. Jnana Yoga. Maka. Kamis 20 Oktober 2011). sesuai dengan kemampuan dan kecenderungannya. 381). Sloka itu berbunyi: “Jalan mana pun ditempuh manusia ke arah-Ku. JakartaGroningen. Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia.B. bisa juga ditanyakan. salah satu kitab suci Hindu. Hinduisme dan Bahaisme adalah dua agama yang secara eksplisit mengapresiasi pluralisme agama. penulis buku ini juga mengutip sejumlah ayat dari Kitab suatu agama menuruti pemahamannya sendiri. (Lihat lebih jauh tentang aliran ini di Jurnal IslamiaRepublika. memuat dua sloka popular yang selalu menjadi rujukan bagi pluralisme. 2006). semuanya Aku terima. terbit sebuah buku berjudul Semua Agama Tidak Sama. Hal. Prijohutomo. ia menulis: “Di antara agama-agama dunia.” Padahal. Editor buku ini. Bhagawatgita.) . dan tidak ada dalam agama lain. dalam arti mengakui jalan-jalan keselamatan pada agamaagama lain. semuanya Kuterima. jelas Ngakan: “Yang disebut “Jalan” dalam Gita adalah empat yoga yaitu Karma Yoga. Benarkah agama Hindu kondisinya seperti itu? Ternyata.(Dr. termasuk yang dipromosikan oleh sebagian kaum Pluralis yang suka mengutip Bagawadgita IV:11: “Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku. 2006) hal. Wolter. Wahai Arjuna. bukan hanya satu – bagi pemeluknya. 89). (Media Hindu. manusia mengikuti jalan-Ku pada semua jalan.

bahwa tidak ada persyaratan bagi orang Yahudi. Abduh dan Ridha menetapkan lima syarat keselamatan. kekafiran dan kemusyrikannya. bahwa QS 2:62 dan 5:69 adalah membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang kepada mereka dakwah Nabi (Islam) tidak sampai menurut yang sebenarnya dan kebenaran agama tidak tampak bagi mereka. Secara ilmiah.Bahkan. (Yogyakarta: Safiria Insania Press. lihat. mereka diperlakukan seperti Ahlul Kitab yang hidup sebelum kedatangan Nabi. di sini tampak jelas kekeliruan si penulis. yang – katanya – berpendapat. yakni iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan. apalagi oleh seorang dosen Ushuluddin. Keempat. penulis buku menyimpulkan bahwa dia telah mematahkan argumentasi dari para sarjana ISTAC. karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memelihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi Negara maju. . unik dan berbeda satu sama lain. karena masingmasing umat memiliki wahyu dan nabi yang khusus. hal. (hal. majalah MEDIA HINDU. 71-99). Dan Ahli Kitab Pun Masuk Surga: Pandangan Muslim Modernis Terhadap Keselamatan Non-Muslim. dosen Ushuluddin UIN Jakarta ini pun mencoba mencari legitimasi pemikirannya dengan mengutip pendapat Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh. tentu dia tidak akan berani menulis semacam itu. Dalam Tafsir al-Manar Jilid IV yang membahas tentang keselamatan Ahlul Kitab. Jadi. (5) tidak menjual ayat-ayat Allah dengan apapun dari kesenangan dunia. Karena itu. Jika si penulis buku tersebut mau meneliti dengan sungguh-sungguh dan jujur pendapat Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh. Syamsuddin Arif dan Anis Malik Thoha. menurunkan laporan utama berjudul “Kembali ke Hindu.. (Lebih jauh tentang keselamatan Ahli Kitab. 382-383). (2) beriman kepada al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. disebutkan. Hal ini lantaran kitab itu terjamin keutuhannya. karena al-Quran merupakan landasan untuk berbuat dan menjadi pemberi koreksi serta kata putus ketika terjadi perbedaan. 2005). Bila Indonesia Ingin Berjaya Kembali Seperti Majapahit” dengan menyimpulkan: “Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan. tidak ada yang hilang dan tidak mengalami pengubahan. Sedangkan bagi Ahli Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka (sesuai rincian QS 3:199).” Itulah agama Hindu yang ditulis oleh orang Hindu sendiri! Sebagaimana sejumlah penganut paham pluralis. Hamim Ilyas. dan Sabean untuk beriman kepada Nabi Muhammad Saw. 2). Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh sama sekali tidak berpendapat seperti yang ditulis oleh penulis buku ini. Dr. edisi Oktober 2011. (4) rendah hati (khusyu') yang merupakan buah dari iman yang benar dan membantu untuk melakukan perbuatan yang dituntut oleh iman. (3) beriman kepada kitab-kitab yang diwahyukan bagi mereka. (hal. seperti Sani Badron. Mereka mengatakan bahwa syarat ini disebutkan lebih dahulu daripada tiga syarat yang lainnya. yaitu: (1) beriman kepada Allah dengan iman yang benar. Nasrani. cara-cara seperti ini tidak patut dilakukan.

yaitu Dzakha‟ir al-A„laq syarh Tarjuman al-Asywaq (ed. . yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya.118). Cairo: Ein for Human and Social Studies.” Dr.” Seolah membenarkan asumsinya sendiri (self-fulfilling prophecy). biasanya „kalangan‟ ini mengutip tiga bait puisi Ibn Arabi dalam karya kontroversialnya. biara bagi para rahib. batu tulis Taurat. Syamsuddin Arif berjudul “Pluralisme” dan Manipulasi Orientalis.” Tesis Sani bin Badron ini tidak ditemukan dalam daftar referensi buku ini. penulis tidak mengkaji karya-karya para sarjana tersebut dengan mendalam dan cermat. demikianlah agama dan keimananku. Sani bin Badron mengkritik cara berpikir kaum Transendentalis yang memaksakan posisi teologis Ibn Arabi ke dalam pola pikir mereka: “Then only may we see clearly – at least in the case of Ibn al-„Arabi – how far the Trancendentalists have been right or have been deviated by their own belief. Jadi. W.C.. SH Nasr menyimpulkan bahwa di sinilah Ibnu Arabi “came to realize that the divinely revealed paths lead to the same summit” (Lihat: Three Muslim Sages [Delmar. Dr. ia merupakan padang rumput bagi menjangan. dan mushaf bagi al-Qur‟an. fi Maqam al-Mahabbah). yaitu agama syari„at dan sunnah Nabi Muhammad saw. ka„bah tempat orang bertawaf.245-6). semua agama adalah sama. Di situ dinyatakan bahwa yang ia maksudkan dengan „agama cinta‟ adalah agama Nabi Muhammad saw. S. 1964]. Tarjuman al-Asywaq. Syamsuddin Arif juga sudah melakukan kajian serius tentang konsep agama-agama Ibn Arabi yang mengkritik cara-cara kaum Transendentalis dalam membaca karya Ibn Arabi. sama sumbernya (Tuhan). Vol. Chittick dalam tulisan-tulisan mereka yang kini tampak mendapat banyak pengikut di Indonesia. kalau kalian betul-betul mencintai Allah. Pemahaman semacam ini dipopulerkan oleh F. Penulis hanya mengutip artikel Sani Badron di Majalah Islamia. Ibn Arabi „dijadikan bemper‟ untuk melegitimasi asumsi para penganut „agama perennial‟ (religio perennis) bahwa dalam aspek esoteris dan pada dataran transenden. perdamaian. hlm. “Katakanlah [hai Muhammad!].„Alamuddin asy-Syaqiri. „agama cinta‟ yang dimaksud Ibn Arabi adalah Islam.” Padahal. Di akhir kesimpulan Tesisnya. yang berbunyi: “Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa. Berikut ini petikan sebuah artikel Dr. M. kuil anjungan berhala. Untuk mendukung klaimnya.” Oleh kaum Pluralis. Nasr. karena semuanya sama benarnya. dsb). 1. dan sama misinya (pesan moral. Sebenarnya.” Dalam kitab Futuhat-nya (bab 178. maka ikutilah aku! --niscaya Allah akan mencintai kalian.Sayangnya. 1995. merujuk kepada firman Allah dalam al-Quran 3 (Ali Imran):31. no.H. Sani bin Badron telah menulis Tesis yang serius berjudul “Ibn al-Arabi‟s Conception of Religion. dan bukan „la religion du coeur‟ versi Schuon dan para pengikutnya itu. Ibn Arabi menyatakan bahwa cinta kepada Tuhan harus dibuktikan dengan mengikuti syari„at dan sunnah Rasul-Nya saw (al-ittiba„ li-rasulihi saw fima syara„a). 3 (2004) yang berjudul “Ibn al-Arabi Tentang Pluralisme Agama. Schuon. Ibnu Arabi telah menjelaskan maksud semua ungkapannya dalam syarah yang ditulisnya sendiri. New York: Caravan Books. Agamaku adalah agama cinta. hlm. Dr Mohd.

Salah satu kritik tajam disampaikan oleh Mark Sedwigk melalui bukunya Againts the Modern World. yaitu Fritjoph Schuon. Ia juga tak segan-segan membuat lukisan telanjang. Oxford University Press.” (Wa hadza „Isa idza nazala ma ya‟ummuna illa minna. hal. bab 36).Menurut Ibn Arabi. “Nabi Isa pun. niscaya tidak akan mengimami kita. (Ibid. banyak sekali kritik terhadap pemikiran Schuon dan praktik ritual tarekat Maryamiyya yang dibentuknya. 124). Uniknya. wa la yahkumu fina illa bi syar„ina). Ada sungai yang kering . Perkawinan ini dijuluki sebagai “perkawinan vertikal” atau “perkawinan spiritual”. 148). Orang Yahudi atau Nasrani yang masuk Islam tidak dikatakan murtad. karena ajaran murni agama mereka memang mengharuskan beriman mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. Faktanya. 2004). (Futuhat. bahwa Schuon sangat permisif dalam soal pelaksanaan syariat Islam. (to the unveiling of truth in the sense of gnosis and to liberating mercy. bahwa semua agama menuju Tuhan yang sama. itu sebagai simbol untuk mengungkapkan kebenaran dan membebaskan kasih sayang. sebagai simbol esoterisme. Mark Sedgwick menulis. Demikian hasil kajian Dr. Schuon memiliki hobi melukis.” tegas Ibn Arabi (Lihat: Futuhat. hal 151). hal. Sedwigk memaparkan beberapa penyimpangan yang dilakukan oleh Schuon maupun tarekat Maryammiyah. adalah sebuah teori fabrikasi dan khayalan belaka. atau ibaratnya.” (Ibid. ay bi sunnatina. fi Ma„rifati hal quthb kana manziluhu “wa man yartadid minkum „an dinihi fayamut wa huwa kafir”). Validitas itu tidak berlanjut setelah kedatangan Rasulullah saw. muncul.” (Ibid. tidak semua sungai mengalir ke laut. 152-153). Kelima. kesalahan fatal penulis buku ini adalah menjiplak mentah-mentah dan mengimani tanpa kritis sosok dan pemikiran KTAA. Setelah mengaku “bertemu” dengan Bunda Maria (Virgin Mary). “He believed that esoteric practice was what really mattered and that its esoteric framework was less important. semua sungai akan mengalir ke Laut yang sama. Dan ini merupakan bagian dari rukun iman. Schuon menikah lagi. seandainya sekarang ini turun. (Ibid. dan tidak akan memutuskan suatu perkara kecuali dengan syari„at kita. Sebenarnya. tanpa perlu bercerai dengan suaminya terdahulu. Padahal. Schuon juga membuat lukisan yang terkadang menggambarkan Bunda Maria dalam keadaan telanjang bulat atau telanjang sebagian yang mempertontonkan payudaranya. hal. Tahun 1965. Sikap Ibn Arabi tentang konsep mukmin-kafir juga jelas. semua agama dan kitab suci terdahulu harus diakui kebenarannya dalam konteks sejarah masing-masing -. Syamsuddin Arif tentang konsep agama Ibn Arabi yang berbeda dengan cara pandang penulis buku ini. kali ini ia menikahi salah satu muridnya sendiri. Pembaca bisa membandingkan hasil kajian Sani bin Badron dan Dr Syamsuddin Arif dengan kajian penulis disertasi ini. Katanya. Penutup. (Mark Sedgwick.yakni sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. kecuali dengan mengikut sunnah kita [Ummat Muhammad]. Against the Modern World . teori KTAA. Traditionalism and the Secret Intellectual History of Twentieth Century. bab 495. yang sudah beriman secara bulat-bulat kepada teori Transendentalisme Fritjoph Schuon.

manusia pasti akan menyembah Tuhan sesuai dengan imajinasi dan kreativitasnya masing-masing! Jika semuanya dikatakan sah dan benar. yaitu agama Tauhid. Jika konsep eksoteris direlatifkan dan dibebaskan dalam bentuk apa pun. Faktanya juga. Tetapi ada juga yang menghalalkannya. dia tetap iblis dan kafir. tetapi yang benar adalah “Satu Tuhan. saat ini. tidak semua sungai airnya jernih. dan Tuhan yang SATU itu hanya menurunkan SATU agama kepada para Nabi-Nya. menurut penganut KTAA. bukan pula agama wahyu (revealed religion). Orang yang sehat akalnya pasti menyatakan. Satu Agama!” Sebagai Muslim. Nama-Nya pun sudah disebutkan. 85. Lalu. tidak mungkin semua ajaran itu sama-sama benar dan berasal dari Tuhan yang sama! Adalah sebuah khayalan belaka. Tapi ada juga yang melarang khitan! Ada agama yang melarang kawin sejenis (homo/lesbi). bahwa aspek esoterik (batin) lebih penting dari aspek eksoterik (aspek syariah). tetapi ada juga agama yang mengajarkan praktik seks bebas! Ada agama yang mengharamkan babi. Ada sungai yang airnya keruh. Teori KTAA juga menafikan bahwa Tuhan Yang Satu itu sudah mengenalkan diri-Nya melalui wahyu yang disampaikan kepada Nabi Terakhir. Jika kita renungkan. Ada agama yang mewajibkan khitan. sebagai SATU-SATU-nya Tuhan – maka jelas itu bukan agama dari Allah. di level transenden pun ada Iblis yang kafir. ada agama yang mengajarkan bahwa zina adalah perbuatan bejat. sesuai penjelasan ayat-ayat alQuran. . bahwa Tuhan itu SATU. Tapi. Agama Tauhid menuhankan Allah. bukan menuhankan Iblis. nama apa pun untuk Tuhan. yakni Muhammad saw. yang penting Tuhan.duluan. 3:19. juga sebuah khayalan dari pengikut paham KTAA. Banyak Agama”. Tanpa panduan dan contoh dari Nabi. Jadi. melainkan agama budaya (cultural religion). lalu untuk apa Nabi Muhammad saw diutus? Yang bisa dinilai dari suatu agama adalah justru aspek eksoterisnya. yang logis bukan konsep “Satu Tuhan. Jadi. sah-sah saja! Kata mereka. Sedangkan aspek esoterik adalah sesuatu yang abstrak. bahwa Iblis pernah berdialog dengan Allah di level itu. manusia tidak perlu mengarang nama Tuhan Yang Satu itu. dan bukan agamanya para Nabi. bahwa agama-agama akan bertemu pada level esoterik/transenden. itu sama saja dengan merusak agama itu sendiri. misalnya QS 16:36. Selama tidak mengajarkan TAUHID – yakni mengakui dan tunduk kepada Allah. Ingatlah. sebagai satu-satunya Tuhan. Faktanya. saya memahami. Seorang Muslim -. bahkan ada yang busuk dan beracun. yang dalam pandangan Islam tidak dapat dipisahkan dari aspek syariat. Faktanya. Ada juga agama yang membolehkan kawin sejenis. Kalau ada orang menyebut Tuhan Yang Satu itu dengan nama “Setan Gundul” – menurut seorang Muslim – nama itu harus ditolak.yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah – pasti meyakini bahwa salah satu tugas penting dari Nabi Muhammad saw adalah mengajarkan bagaimana cara menyembah Tuhan Yang Satu itu! Itu aspek syariat.

sejatinya. 1 kali dibagikan  o Djoen Tongkol Maksud te opo sam 1 tuhan bayak agama. saya sudah memilih Islam. meskipun saya tidak membenarkannya.yaitu Allah! Bukan asal Tuhan.Dan untuk mengenal Allah – bukan Genderuwo atau Setan Gundhul – mutlak perlu beriman kepada kenabian Muhammad saw. Padahal. atau Tuhan asal--asalan. Saya bukan Kristen. Jadi. yaitu saya Muslim. Itulah makna toleransi dan mutual understanding. bukan Fakultas “Uculuddin”! Wallahu a‟lam. KTAA bukannya memperkuat basis ushuluddin (dasar-dasar agama) seorang Muslim. atau penganut paham kebenaran semua agama. Saya tidak boleh memaksa orang lain mengikuti pendapat saya. Itu karena posisi saya sudah jelas. saya membaca syahadat: Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kamis pukul 5:52 · Suka · Tambah Sebagai Teman o Gatot Mulyono di woco disik tulisane engkok lak ngerti maksude :-) Kamis pukul 5:54 · Suka · Tambah Sebagai Teman o M Alief Amalfi yo'i pak'e! Kamis pukul 6:02 · Suka · Tambah Sebagai Teman o .. saya bukan Yahudi. dan saya sangat menghormati keyakinan yang berbeda dengan saya. Tuhan saya jelas. Jadi. saya bukan Hindu. penulis buku ini adalah dosen di Fakultas Ushuluddin. Karena itulah. Itu keyakinan saya. teori Kesatuan Transendensi Agama-agama (KTAA) adalah teori yang absurd (senseless).* Suka · · Bagikan    4 orang menyukai ini.. tetapi justru mengajak Muslim untuk menjadi “uculuddin” (bahasa Jawa: lepas agamanya). dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Tuhan itu satu tapi kita melihatnya dengan banyak cara.com heheheh Kamis pukul 11:10 · Suka · Tambah Sebagai Teman o Ian Compu Centre podo-podo rebutan pepesan kosong.Dia mencontohkan matahari yang hanya satu.. seorang dosen saya mengatakan.. melayang kesana kemari bagai lay. yg lain melihatnya m...Lihat Selengkapnya Kamis pukul 20:30 · Suka · 1 · Tambah Sebagai Teman o .. Orang yang punya penilaian seperti itu telah kehilangan pegangan hidup. Kamis pukul 18:58 · Suka · Tambah Sebagai Teman o Dadang Roekman Membela keyakinan dan keimanan dari hujatan orang atau organisasi yang dilakukan secara sistematis. namun ketika seseorang melihat bayangannya melalui ember....Lihat Selengkapnya Kamis pukul 9:41 · Suka · 3 o Gatot Mulyono di UIN Jakarta proyek2 'bohongisasi' sedang marak dilakukan para akademisi hingga stata S3... Kamis pukul 9:44 · Suka · Tambah Sebagai Teman o Karin Tercerahkan saya sudah baca ini dari dulu ketika di hidayatullah.. bukanlah rebutan pepesan kosong..Dahniar Idris suatu ketika saat masih kuliah.

...." :-). atau mungkin bahasa saya caper=cari perhatian tuannya di amrik karena masuk dlm agenda 'menjauhkan umat Islam dari agamanya' Jumat pukul 7:10 · Suka · Tambah Sebagai Teman o Herwit Soyutz Tuhan itu hanyalah sosok delusif. penulis yg bikin sensasi agar bukunya laku saja. :) Kemarin jam 7:51 · Suka · Tambah Sebagai Teman .. gmn sampeyan baru kepergok pepesan yg I kosong ya? mungkin tulisannya "maaf anda belum beruntung . iya cari sensasi doang.. gmn? Kamis pukul 21:04 · Suka · Tambah Sebagai Teman o Mahfud Suhendra sptnya ingin mencari agama sendiri2 layaknya sidharta .. hahaha....bodoh aaahhhh.Gatot Mulyono ‎ an Compu Centre. Jumat pukul 6:57 · Suka o Gatot Mulyono ust Mahfud Suhendra..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful