P. 1
HAKIKAT Dan Proses Pemerolehan Bahasa

HAKIKAT Dan Proses Pemerolehan Bahasa

|Views: 2,334|Likes:
Published by Dawai Senja

More info:

Published by: Dawai Senja on Mar 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2013

pdf

text

original

HAKIKAT, PERMASALAHAN, DAN TAHAP-TAHAP PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA HAKIKAT, PERMASALAHAN, DAN TAHAP-TAHAP PEMEROLEHAN BAHASA

PERTAMA KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Adapun tujuan penulis membuat makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikolinguistik dan juga menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan. Diharapkan makalah ini dapat memberikan manfaat dan peranan penting dalam pembentukan kepribadian kita sebagai mahasiswa yang cinta tanah air dan berbudi luhur. Penulis sadar bahwa sebagai manusia biasa pasti punya kesalahan. Oleh sebab itu saya berharap sekali akan kritik dan saran dari para pembaca demi perbaikan makalah di masa yang akan datang. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak ysng telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat bagi segenap pembaca, terima kasih.

Semarang, Penulis

10

September

2009

PEMBAHASAN A. HAKIKAT PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA Bahasa adalah segala komunikasi dimana pikiran dan perasaan seseorang disimbolisasikan agar dapat menyampaikan arti kepada orang lain. Oleh karena itu, perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu bertutur kata. Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu: periode Prelinguistik (0-4 tahun) dan Linguistik (1-5 tahun). Istilah ‗pemerolehan‘ merupakan padanan kata acquisition. Istilah ini dipakai dalam proses penguasaan bahasa pertama sebagai salah satu perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak lahir (Darmojuwono dan Kushartanti, 2005: 24). Secara alamiah anak akan mengenal bahasa sebagai cara berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Bahasa pertama yang dikenal dan selanjutnya dikuasai oleh seorang anak disebut bahasa ibu (native language). Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167). Pada hakekatnya, proses pemerolehan bahasa itu pada setiap anak sama, yaitu melalui pembentukan dan pengujian hipotesis tentang kaidah bahasa. Pembentukan kaidah itu

dimungkinkan oleh adanya kemampuan bawaan atau struktur bawaan yang secara mental dimiliki oleh setiap anak. Inilah yang disebut dengan alat pemerolehan bahasa (Language Acquisition Devical/ LAD). Dengan ini setiap anak dapat memperoleh bahasa apa saja serta ditentukan oleh faktor lain yang turut mempengaruhinya. Data kebahasaan yang harus diproses lebih lanjut oleh anak merupakan hal yang penting. B. PERMASALAHAN PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA Hal yang patut dipertanyakan dalam pemerolehan bahasa pertama adalah bagaimana strategi si anak dalam memperoleh bahasa pertamanya dan apakah setiap anak memiliki strategi yang sama dalam memperoleh bahasa pertamanya? Berkaitan dengan hal ini, Dardjowidjojo, (2005:243-244) menyebutkan bahwa pada umumnya kebanyakan ahli kini berpandangan bahwa anak di mana pun juga memperoleh bahasa pertamanya dengan memakai strategi yang sama. Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi dan neurologi manusia yang sama, tetapi juga oleh pandangan mentalistik yang menyatakan bahwa anak telah dibekali dengan bekal kodrati pada saat dilahirkan. Di samping itu, dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga anak secara mental telah mengetahui kodrat-kodrat yang universal ini. Chomsky mengibaratkan anak sebagai entitas yang seluruh tubuhnya telah dipasang tombol serta kabel listrik: mana yang dipencet, itulah yang akan menyebabkan bola lampu tertentu menyala. Jadi, bahasa mana dan wujudnya seperti apa ditentukan oleh input sekitarnya. C. TAHAP-TAHAP PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA Perlu untuk diketahui adalah seorang anak tidak dengan tiba-tiba memiliki tata bahasa B1 dalam otaknya dan lengkap dengan semua kaidahnya. B1 diperolehnya dalam beberapa tahap dan setiap tahap berikutnya lebih mendekati tata bahasa dari bahasa orang dewasa. Menurut para ahli, tahap-tahap ini sedikit banyaknya ada ciri kesemestaan dalam berbagai bahasa di dunia. Tahap-tahap pemerolehan bahasa pertama adalah sebagai berikut: 1. Fase satu kata atau Holofrase Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kornpleks, baik yang bcrupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa perbedaan yang jelas. Misalnya kata duduk, bagi anak dapat berarti ―saya mau duduk‖, atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti ―mama sedang duduk‖. Orang tua baru dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksudkan oleh anak tersebut, apabila kita tahu dalam konteks apa kata tersebut diucapkan, sambil mengamati mimik (raut muka) gerak serta bahasa tubuh lainnya. Pada umumnya kata pertama yang diucapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja. 2. Fase lebih dari satu kata. Fase dua kata muncul pada anak berusia sekitar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan tata bahasa yang tidak benar. Setelah dua kata, muncullah kalimat dengan tiga kata, diikuti oleh empat kata dan seterusnya. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi egosentris, dari dan untuk dirinya sendiri. Mulailah mcngadakan komunikasi dengan orang lain secara lancar. Orang tua mulai melakukan tanya jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan kalimat-kalimatnya sendiri yang sederhana. 3. Fase ketiga adalah fase diferensiasi Periode terakhir dari masa balita yang berlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang ―saya‖ untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan,

Sebagaimana fungsi bahasa lain. misalnya terhadap orang tua (ayah dan ibu) saudara dan orang lain yang dapat mememuhi atau mengerti akan pikiran anak. Bahasa tubuh sering kali dilakukan tanpa disadari. Dengan demikian kemampuan berbicara dapat mengurangi frustasi anak yang disebabkan oleh orang tua atau lingkungannya tidak mengerti apa saja yang dimaksudkan oleh anak. Anak mulai dapat mengkritik. memerintah. . Bahasa Tubuh Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa salah satu jenis bahasa adalah bahasa tubuh. Oleh karena itu baik bayi maupun anak kecil selalu berusaha agar orang lain mengerti maksudnya. knrena merupakan ekspresi perasaan serta keinginan mereka terhadap orang lain. Dengan keterampilan berkomunikasi anakanak lebih mudah diterima oleh kelompok sebayanya dan dapat memperoleh kesempatan lebih banyak untuk mendapat peran sebagai pemimpin dari suatu kelompok. misalnya: 1) Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan. jika dibandingkan dengan anak yang kurang terampil atau tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik. Namun hal tersebut kurang mengerti apa yang dimaksud oleh anak. langkah serta gaya tersebut pada umumnya disebut bahasa tubuh. Cara memahami dan menganalisis bahasa antara lain: a. kesepian atau bosan pada waktu tertentu. b. sikap tubuh. Dengan melalui keterampilan berbicara anak berpendapat bahwa perhatian orang lain terhadapnya mudah diperoleh melalui berbagai pertanyaan yang diajukan kepada orang tua misalnya apabila anak dilarang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. 3) Sebagai alat untuk membina hubungan social. bertanya. gerak tubuh atau ekspresi wajahnya. memberi tahu dan bentuk-bentuk kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan ―gaya‖ dewasa. Hal ini yang mendorong orang untuk belajar berbicara dan membuktikan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain yang dipakai anak sebelum pandai berbicara. Melalui bahasa tubuh anak. Dengan berbicara anak mudah untuk menjelaskan kebutuhan dan keinginannya tanpa harus menunggu orang lain mengerti tangisan. dan bahkan dengan mempergunakan keterampilan berbicara anak dapat mendominasi situasi sehingga terdapat komunikasi yang baik antara anak dengan teman bicaranya. 4) Sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri. yaitu melalui gerak isyarat. Dari pernyataan orang lain anak dapat mengetahui bagaimana perasaan dan pendapat orang tersebut terhadap sesuatu yang telah dikatakannya. orang tua dapat mempelajari apakah anaknya menangis karena lapar. Kemampuan anak berkomunikasi dengan orang lain merupakan syarat penting untuk dapat menjadi bagian dari kelompok di lingkungannya. menjawab. bahasa tubuh juga merupakan ungkapan komunikasi anak yang paling nyata. 2) Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain Pada umumnya setiap anak merasa senang menjadi pusat perhatian orang lain.akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan. ekspresi wajah. Bahasa tubuh adalah cara seseorang berkomunikasi dengan mempergunakan bagian-bagian dari tubuh. sakit. Semenjak anak masih bayi sering kali menyadari bahwa dengan mempergunakan bahasa tubuh dapat terpenuhi kebutuhannya. sekalipun sering kali tidak masuk akal bagi orang tua. Di samping itu berbicara juga dapat untuk menyatakan berbagai ide. Di samping anak juga mendapat kesan bagaimana lingkungan menilai dirinya. Oleh karena bagi anak bicara tidak sekedar merupakan prestasi akan tetapi juga berfungsi untuk mencapai tujuannya. Bicara Bicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Dengan kata lain anak dapat mengevaluasi diri melalui orang lain.

anak mulai memperoleh kalimat tanya dengan kata tanya seperti apa. pada tahap ini anak sudah dapat menghasilkan kalimatkalimat seperti orang dewasa. Di samping itu anak juga sudah mengenal bentuk ingkar. Tuturan hanya terdiri atas dua kata. Tahap 5: Tuturan dua kata. fonemik yang sama. Tahap 7: Bentuk Tanya dan bentuk ingkar. Anak juga memperoleh kalimat dengan struktur yang rumit. seorang linguis besar dan terkemuka mengemukakan bahwasanya bahwa bahasa anak di seluruh dunia mengembangkan suatu sistem yang sama. Tahap 4: Tuturan satu kata.t/ adalah tiga konsonan yang diperoleh pertama kali oleh anak-anak dan ketiganya hampir terdapat dalam semua proses berbahasa. Tahap meraban merupakan pelatihan bagi alat-alat ucap. Perkembangan Produksi Bahasa Perkembangan produksi bahasa antara lain : 1. Roman Jakobson. 6) Untuk mempengaruhi perilaku orang lain Dengan kemampuan berbicara dengan baik dan penuh rasa percaya diri anak dapat mempengaruhi orang lain atau teman sebaya yang berperilaku kurang baik menjadi teman yang bersopan santun. dan sebagainya. Tahap 3: Pola intonasi. Kemampuan dan keterampilan berbicara dengan baik juga dapat merupakan modal utama bagi anak untuk menjadi pemimpin di lingkungan karena teman sebayanya menaruh kepercayaan dan simpatik kepadanya. fonemik dan fonotaktik. . Dalam bahasa Indonesia yang tidak mengenal istilah infleksi. misalnya kata kerja yang mengandung awalan atau akhiran.5) Untuk dapat mcmpengaruhi pikiran dan perasaan orang lain Anak yang suka berkomentar. anak sudah mulai berusaha menafsirkan meskipun penafsirannya dilakukan secara keliru. menyakiti atau mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang orang lain dapat menyebabkan anak tidak populer atau tidak disenangi lingkungannya. Tahap 6: Infleksi kata. Sebaliknya bagi anak yang suka mengucapkan kata-kata yang menyenangkan dapat merupakan modal utama bagi anak agar diterima dan mendapat simpati dari lingkungannya. pada umur satu tahun sampai delapan belas bulan anak mulai mengucapkan tuturan satu kata. Vokal dan konsonan dihasilkan secara serentak. tahap ini mulai berlangsung pada anak usia sekitar enam minggu. siapa. anak mulai menirukan pola-pola intonasi.m. Ia menyatakan bahwa anak-anak mengembangkan satu sistem fonemik yang umum terdapat dalam semua bahasa di dunia dan baru ke dalam bahasa ibu atau bahasa warisannya. kapan. Pada usia ini anak memperoleh sekitar lima belas kata meliputi nama orang. seperti pemerolehan kalimat majemuk. Tahap 9: Tuturan yang matang. binatang. Selain tahap pemerolehan bahasa yang disebutkan di atas. umumnya pada usia dua setengah tahun anak sudah menguasai beberapa ratus kata. dan lain-lain. mungkin berwujud pemerolehan bentuk-bentuk derivasi. kata-kata yang dianggap remeh dan infleksi mulai digunakan. tahap ini berlangsung ketika usia anak mendekati enam bulan. ada juga para ahli bahasa seperti Aitchison mengemukakan beberapa tahap pemerolehan bahasa anak sebagai berikut : Tahap 1: Mendengkur. Tahap 8: Konstruksi yang jarang atau kompleks. Tahap 2: Meraban. a. Tuturan yang dihasilkan mirip dengan yang diucapkan ibunya. Bunyi yang dihasilkan mirip dengan vokal tetapi tidak sama dengan bunyi vokal orang dewasa. Pemerolehan dalam bidang fonologi Perkembangan fonologi meliputi bidang fonetik. Beberapa kaidah yang dikemukakan oleh Jakobson antara lain:  Konsonan /p.

Sementara itu Fenson dkk (dalam Barret 1995:363) mengatakan bahwa pada saat anak dapat memproduksi 10 kata. Sebagian peneliti mengatakan bahwa kemampuan anak dalam komprehensi adalah lima kali lipat dibandingkan dengan produksinya (Benedict 1979 dalam Fletcher dan Garman 1981:6). Pada akhir periode berceloteh. dan pemikiran Manusia. Anak terus memperbaiki bahasanya sampai usia sepuluh tahun. Pada aspek ini. Dia telah akan bias memahami perintah untuk menaruh bungkus makanan . to do. b. Pemerolehan dalam bidang morfologi dan sintaksis Kita mengetahui bahwa aspek morfologi dalam berbagai bahasa tidak sama. Pada usia 3 tahun anak sudah membentuk beberapa morfem yang menunjukkan fungsi gramatikal nomina dan verba yang digunakan. Kata-kata tertentu selalu berada pada tempat tertentu pula dan ada kata-kata yang tidak pernah muncul sendirian. Bagi anak-anak Inggris atau yang orang tuanya tahu lalu berbahasa Inggris. posisinya juga dimana saja dan bias muncul sendirian. anak-anak mula-mula belajar dengan cara meniru. Kata-kata yang jumlahnya lebih besar. Sebagai orang dewasa. modulasi nada. Begitu juga anak. jadi 11 kali lipat daripada produksinya. kasus. Bahasa Inggris misalnya mengenal modifikasi yang berhubungan dengan kata. anak sudah mampu mengendalikan intonasi. Selanjutnya vocal /a/ tersebut akan pecah menjadi vocal /i/ dan pecah lagi menjadi /u/. dan modifikasi kata kerja. kita akan selalu mendengar kata bantu to be. Perkembangan Keterampilan Berbicara Perkembangan keterampilan berbicara antara lain : 1. Kata-kata yang sering muncul. Hubungan produksi. to have. misalnya menggantikan bunyi /l/ yang sudah dipelajari dengan bunyi /r/ yang belum dipelajari. komprehensinya adalah 110 kata. dimanapun juga kemampuan anak untuk memahami apa yang dikatakan orang jauh lebih cepat dan jauh lebih baik daripada produksinya. baik anak maupun dewasa mempunyai dua tingkat kemampuan yang berbeda dalam berbahasa. Ketidak-seimbangan antara komprehensi dengan produksi ini tampak pada perilaku bahasa sehari-hari si anak. Pada tahun 1963 Martin Braine. Kemudian konsonan /p/ juga akan dipertentangkan lagi dengan konsonan /t/. Sampai umur 3 tahun anak mencoba terus yang tentunya mendapat pengukuhan orang di sekelilingnya. yang munculnya tidak sesering seperti yang ada pada (a). Alamsyah (2007:21) menyebutkan bahwa anak-anak mengembangkan tingkat gramatikal kalimat yang dihasilkan melalui beberapa tahap. kita menyadari bahwa jumlah kosakata yang kita pakai secara aktif adalah lebih rendah daripada kata-kata yang dapat kita mengerti. komprehensi. Ketiga anak yang dia selidiki tampaknya membagi kata-kata mereka menjadi dua kelompok: a. jumlah. orang.  Vokal pertama yang dikuasai oleh anak-anak adalah vocal /a/. mendapati dalam penelitiannya bahwa urutan dua kata yang dipakai anak ternyata mengikuti aturan tertentu. Pemerolehan tata bahasa pada anak. yaitu melalui peniruan. melalui penggolongan morfem. Anak menggunakan bunyi-bunyi yang telah dipelajarinya dengan bunyi-bunyi yang belum dipelajari. 2. Fonem pertama yang dikuasai oleh anak-anak adalah fonem-fonem yang secara artikulatoris dapat dengan mudah dibedakan dan dipertentangkan. Kesalahan gramatika sering terjadi pada tahap ini karena anak masih berusaha mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Konsonan /p/ akan segera dipertentangkan dengan konsonan bilabial nasal /m/. yang tidak pernah sendirian. yang berbeda dengan kenyataan-kenyataan yang terdapat di dalam bahasa Indonesia. Universitas California di Santa Barbara. dan melalui penyusunan dengan cara menempatkan kata-kata secara bersama-sama untuk membentuk kalimat. b. dan kontur bahasa yang dipelajarinya. 3. dan muncul pada posisi tertentu.

dst.com/2009/04/14/pemerolehan-bahasa-pertama/ http://yanris. artinya bahasa yang kita pakai tidak selamanya apik. kecepatan ujaran orang dewasa pada anak adalah 50% dari kecepatan waktu bicara dengan orang dewasa yang lain. Andoyo Sastromiharjo. DAFTAR PUSTAKA Chaer. 2003. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta. demikian juga nada suaranya tidak lagi tinggi terus. Prosentase pada anak ini naik secara gradual. Dia akan menangis kalau dimarahi ibu atau ayahnya: dia akan dating kalau dipanggil. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Bahasa sang ibu adalah bahasa yang dipakai oleh orang dewasa pada waktu berbicara dengan anak yang sedang dalam proses memperoleh bahasa ibunya. Menurut Chomsky bahasa sang ibu itu ―amburadul‖ (degenerate). 2.wordpress.com/katalanjang/kelahiran-bahasa-dan-pemerolehan-bahasa-padaanak/ . Intonasi orang dewasa juga makin lama akan kurang berlebihan. Bahasa seorang anak umur 15 tahun. Pine 1994:15. Yudibrata. banyak memakai kata sapaan (Moskowitz 1981. Linguistik Umum. dari input yang tidak apik ini anak dapat menyaringnya menjadi system yang apik.wordpres. Harras. Jakarta : Rineka Cipta Dardjowidjojo.net/index. Orang-orang seperti Gleitman (1977) dan Snow (1997) menemukan dalam penelitian mereka bahwa bahasa sang ibu itu ternyata tidak sejelek seperti yang dinyatakan Chomsky. Barton dan Tomasello 1994:109) Ciri-ciri ini makin lama makin berkurang sesuai dengan perkembangan anak. Kualitas input ini menjadi bahan yang controversial. Psikolinguistik.php?pilih=news&mod=yes&aksi=recommend&id=105 http://nahulinguistik. Kholid A.com/2008/04/29/perkembangan-bahasa-anak/ http://whandi. laju ujaran agak lambat e. http://massofa. banyak redundansi (pengulangan) f. misalnya meskipun dia belum dapat mengucapkan satu kata pun dengan baik. waktu bicara dengan adiknya yang berumur 2 tahun adalah juga bahasa sang ibu. Bahasa sang ibu mempunyai ciri-ciri khusus: a. Akan tetapi. dst. Abdul. nada suaranya biasanya tinggi c. kalimatnya umumnya pendek-pendek b.wordpress. Karna. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta. 2005. misalnya. Bahasa sang ibu dan ujaran sang bayi.ke tempat sampah. Dalam hal ujaran. 1997/1998. intonasinya agak berlebihan d.

com/pemerolehan-bahasa-anak-usia-tiga-tahundalam-lingkungankeluarga/ http://sobariari.40 kamis .com/2010/04/hakikat-permasalahan-dan-tahap-tahap.http://www.infodiknas.html 20.blogspot.

serta fungsi kontrol sosial. bukan makhluk lain. manasuka/arbitrer. bunyi ujaran. Maksud dari pernyataan tersebut adalah tidak adanya hubungan yang logis antara bunyi bahasa dengan makna yang disimbolkannya. Namun binatang tersebut hanya dapat mengucapkan kosa kata tertentu dan kosa katanya tidak dapat berkembang. artinya bahasa berfungsi untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain. dan menelannya. tatakalimat/sintaksis. artinya bahasa berfungsi untuk menyalurkan atau mengungkapkan perasaan. Fungsi bahasa di antaranya. fungsi informasi. misalnya burung beo. Selain berkaitan dengan pengertian. mengunyah. artinya bahasa menjadi berfungsi selama manusia yang memanfaatkannya. Fungsi ekspresi. artinya bahasa berfungsi untuk menyampaikan informasi timbal balik antar anggota masyarakat. Hubungan antara bunyi bahasa dan maknanya tersebut terserah/tergantung pada masyarakat pemakai bahasa yang bersangkutan. hakikat bahasa juga berkaitan dengan fungsi bahasa. Bahasa bersifat sistemik karena bahasa diatur oleh sistem bunyi dan sistem makna. artinya bahasa berfungsi untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat. kenapa bunyi k u r s i mengarah kepada makna tempat untuk duduk. kaidah dalam bahasa Indonesia diatur dalam tata bahasa Indonesia yang terdiri atas tatabunyi/fonologi. 08 Februari 2011 1. dan tatamakna/semantik. artinya unsur suatu bahasa yang dipilih secara acak tanpa dasar yang pasti oleh masyarakat pemakai bahasa. Suatu bahasa juga bersifat manasuka/arbitrer. gagasan. Kaidah lain. Fungsi kontrol sosial. fungsi adaptasi dan integrasi.1 HAKIKAT BAHASA DAN TEORI PEMEROLEHAN BAHASA Hakikat Bahasa Pada hakikatnya bahasa merupakan alat komunikasi yang memiliki beberapa karakteristik. Fungsi adaptasi dan integrasi. Misalnya. Misalnya. yaitu bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut.2 Pemerolehan Bahasa . rangkaian bunyi a n m k a adalah rangkaian bunyi bahasa yang belum bermakna. artinya berupa ucapan sedangkan media bahasa adalah bunyi-bunyi bahasa secara lisan dan berupa lambang bunyi/tulisan. sedangkan rangkaian bunyi m a k a n merupakan rangkaian bunyi bahasa yang bermakna. dsb. Selain itu bahasa bersifat sistemik karena penyusunan suatu bahasa harus mengikuti kaidah tertentu. Bahasa berupa bunyi ujaran. sikap.HAKIKAT BAHASA DAN TEORI PEMEROLEHAN BAHASA By Mudji on Selasa. Bahasa bersifat manusiawi. misalnya kaidah penulisan yang diatur dalam tataejaan yang tertuang dalam buku Ejaan Yang Disempurnakan. dan komunikatif. Bahasa terdiri atas rangkaian bunyi/bunyi bahasa yang mempunyai makna atau arti tertentu. tatabentuk kata/morfologi. 1. Misalnya. yaitu: sistemik. fungsi ekspresi. dll. Ada binatang tertentu yang dapat berbahasa seperti manusia. manusiawi. Fungsi informasi. bukan mengarah pada makna lain alat untuk menulis. 1. Bahasa bersifat komunikatif karena digunakan untuk berkomunikasi masyarakat pemakai bahasa.

dilihat. Bruner. Bahasa yang dimiliki anak dapat mendorong perkembangan pikiran anak. bahasa orang dewasa sangat berpengaruh pada perkembangan bahasa dan pikiran anak. yaitu proses penyesuaian/adaptasi dan pengorganisasian. Beroda Kend. dirasakan. pikiran anak berkembang melalui jenjang/periode sesuai dengan tingkat kematangan anak secara keseluruhan dan interaksinya dengan lingkungan. Aspek Bahasa yang Berperan dalam Perkembangan Pikiran Anak Aspek bahasa yang berperan dalam perkembnagan pikiran anak adalah aspek kelambangan. Contoh: Kendaraan Kendaraan Bermesin Kendaraan Tidak Bermesin Kend. Proses penyesuaian terdiri atas proses asimilasi dan akomodasi. baik secara fisik maupun psikis.a. b. Peranan Bahasa dalam Perkembangan Pikiran anak Menurut Piaget. Menurut Vigotsky. bahasa anak berkembang sejalan dengan perkembangan biologisnya. dan melalui indra penciuman. Bruner berpendapat bahwa (1) bahasa merupakan pendorong perkembangan pikiran. Asimilasi artinya anak mengenali dan memahami objek-objek dalam lingkungannya sesuai dengan pola pikiran yang telah ada. Anak memperoleh bahasa melalui segala sesuatu yang didengar. (2) Aspek Kategorisasi Kategorisasi adalah proses penggolongan objek/suatu hal berdasarkan kesamaan atau kemiripan ciri-cirinya. diraba. dan dan aspek proposisi.S. Piaget berpendapat bahwa pikiran yang dimiliki anak/kemampuan berpikir dapat mendorong perkembangan bahasa. Terdapat dua jenis proses dalam berinteraksi dengan lingkungan. c. Akomodasi yaitu terjadinya penyesuaian antara pemahaman suatu objek dalam pola pikiran anak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Hakikat Perkembangan Bahasa Anak Pada hakikatnya. (3) perkembangan bahasa dan pikiran saling mendukung. Bahasa anak berkembang secara bertahap sesuai dengan perkembangan bahasa dan pikiran anak. aspek kategorisasi. Pendapat lain berkaitan tentang bahasa dan pikiran dikemukakan oleh J. Beroda Kend. (2) pikiran dapat berkembang bila sebelumnya mendapat pengalaman-pengalaman dari lingkungan. Pengorganisasian yaitu proses interaksi dengan lingkungan melalui hal-hal yang bersifat refleks kemudian berkembang menjadi kata dan kalimat yang terkoordinasi. Aspek kelambangan iinilah yang memungkinkan anak dapat berpikir secara abstrak.Dgn grakn Mnsia Dgn gerakan Hewan Dua Tiga Empat Spd Spd Mtr Pedati Andong Bemo Bjy Bus Truk Colt Becak gerobak perahu dayung Dokar . (1) Aspek Kelambangan Bahasa adalah lambang bunyi yang bersistem yang dapat diubah menjadi hurufhuruf/lambang tulisan dan mengandung makna/arti.

Psycolinguistics. Pada ungkapan di atas nampak bahwa manusia tanpa bahasa sama seperti burung tanpa sayap. Fakultas Humaniora dan Budaya. tidak seorangpun bisa diajari bahasa karena manusia diciptakan untuk berbahasa.blogspot. tetapi tidak diajari agar bisa berjalan.com/2011/02/1-hakikat-bahasa-dan-teori-pemerolehan_08. Keywords Language Acquisition.com> Abstract Studies on language acquisition become the pillar of Psycholinguistics as a branch of Applied Linguistics that deals with the relationship between human‘s thought and language as well as how human beings comprehend. Lewis. menyebutkan bahwa jika kita mempelajari bahasa maka pada hakikatnya kita sedang mempelajari esensi manusia. Most references on psychology of language discuss language disorder in general. Manusia dirancang untuk berjalan. Demikian pula dalam berbahasa. karena sayaplah yang mecirikan burung dan bahasalah yang mencirikan manusia. yang menjadikan keunikan manusia itu sendiri. demikian kata George H. Noam Chomsky. Universitas Islam Negeri (UIN) Malang e-mail: < rn. Deviation on language development to some extent gets little attention from psycholinguists. Language acquisition does not merely involve children‘s first or second language development. Children Pendahuluan ―Manusia berbahasa ibarat burung bersayap‖. Dalam artian bahwa pada kenyataannya manusia akan berbahasa tanpa bisa dicegah agar dia tidak memperoleh bahasa. but also temporer language disorder –which does not belong to permanent language disorder.html 20. Bahasa tak terlepas dari hakikat keberadaan manusia karena itulah yang menjadi piranti komunikasi antar manusia. Bahasa dikatakan menjadi keunikan yang mencirikan manusia dan membedakannya . acquire and develop their language. The following article deciphers what and how language acquisition can be done and cannot be completed.46 PROSES PEMEROLEHAN BAHASA: KEKURANGMAMPUAN BERBAHASA Rohmani Nur Indah DARI KEMAMPUAN HINGGA Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris.indah@gmail. bapak Linguistik dunia. whereas the current issues on this area are still rarely found.http://schnipers-01.

Pernyataan ini tidak berarti bahwa hanya manusia yang memiliki piranti komunikasi. munculnya kreatifitas dan kemampuan pemolaan unit bahasa. semua itu adalah contoh piranti komunikasi binatang. sedangkan kemampuan gramatika anak terasah dari pemerolehan yang disimaknya. dan fungsi (Field. pembelajaran. tempo bunyi yang didengungkan lebah. Perihal pemerolehan bahasa dan seluk beluknya menjadi tema kajian Psikolinguistik yang merupakan studi psikologi bahasa yang mengulas proses mental yang terjadi pada penggunaan dan pemerolehan bahasa. perintah ‗duduk‘ atau ‗kejar‘ yang dipahami anjing. misalnya: linguistik. . Field kemudian mengkategorikan ciriciri tersebut ke dalam kelompok-kelompok yang meliputi saluran bahasa. manusia sejak lahir akan mempelajari bahasa dengan sendirinya. serta sosiolinguistik. dan aplikasi secara sosial. struktur. nyanyian burung yang berirama. Studi ini terkait dengan disiplin ilmu lainnya. Ocehan burung kakatua yang bisa menyerupai ucapan manusia. Linguis lain menyebutkan bahwa keutamaan bahasa adalah pada kebermaknaan dan fungsi komunikatifnya. yang membahas tentang hubungan antara bahasa dan perilaku sosial (Field. ciri-ciri semantis. perkembangan pemecahan masalah visuo-motor yang merupakan gabungan fungsi penglihatan dan motorik halus. Piranti ini tidak serta merta disebut bahasa walaupun memang menyerupai bahasa. Kembali pada pendapat Chomsky tadi. Binatang disebut tidak berbahasa tapi tetap bisa berkomunikasi. Namun demikian kompleksitas berbahasa kurang menjadi titik tekannya. suara-suara yang dikeluarkan ikan paus.dengan makhluk hidup lainnya. meski serumit apapun anak akan memperoleh bahasa. kebermaknaan dan pembedaan unit-unit kosakata. Contoh piranti komunikasi di atas tidak menyandang sebutan bahasa karena tidak memenuhi prasyarat bahasa seperti: unsur pertukaran pesan dari pembicara pada pendengar dan sebaliknya. aturan-aturan gramatika. yang mengkaji struktur dan perubahan bahasa. Ciri-ciri di atas dicetuskan pertama kali oleh Charles Hockett (1963) yang kemudian melahirkan pro-kontra seputar pengistilahan bahasa. tidak dengan cara menghapalkan kosakata. neurolinguistik. 2003:40). Dalam pembahasan berikut ini akan dikupas perkembangan bahasa pada anak yang kemudian mengarah pada paparan tentang pemerolehan bahasa pertama dan kedua pada anak sebelum pada akhirnya mengangkat tentang gangguan berbahasa. 2003:40). serta perkembangan sosial. Proses pemerolehan ini berlangsung secara alami. kemampuan monyet untuk memahami perintah ujaran manusia. adanya umpan-balik dari pembicara. Dari paparan di atas. Perkembangan Bahasa pada Anak dan Ragamnya Perkembangan bahasa merupakan salah satu mata rantai pertumbuhan anak selain perkembangan lain seperti perkembangan motorik kasar. Kamus bahasa dalam otak anak tersusun secara otomatis tanpa teori. yang mempelajari hubungan antara otak dan bahasa. nyatalah bahwa hanya manusia yang layak disebut berbahasa mengingat kompleksnya kebahasaan itu sendiri. serta penggunaan ungkapan yang bukan bermakna literal. adanya proses transmisi kultural yang melatarbelakangi ujaran. pengendalian maksud bicara dan peralihan giliran bicara.

Tabel berikut meringkas tahapan perkembangan bicara pada anak yang meliputi fungsi reseptif dan ekspresif dimulai sejak bayi baru lahir hingga berumur 4 tahun. gerakan tubuh. Fungsi ekspresif ini dipengaruhi fungsi reseptif dan merupakan kemampuan yang lebih kompleks mengingat anak memulai dengan komunikasi preverbal. dan pada akhirnya dengan menggunakan kata-kata atau komunikasi verbal (Pusponegoro. dan proses ini terjadi hingga kira-kira umur 5 tahun. meskipun dalam beberapa hal.Perkembangan bahasa sering menjadi tolok ukur tingkat intelejensi anak meskipun pada hakikatnya perkembangan seorang anak merupakan suatu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi. Sesudah itu pada masa pubertas (sekitar 12-14 tahun) hingga menginjak dewasa (sekitar 18-20 tahun).1 Tahap perkembangan bicara pada anak Fungsi reseptif Perkembangan Bereaksi terhadap suara Tersenyum sosial Orientasi terhadap suara Usia lahir 5 minggu 4 bulan Fungsi ekspresif Perkembangan Oooo-ooo Guu-guu A-guu. Indikator perkembangan bahasa ini meliputi fungsi reseptif –yaitu kemampuan anak untuk mengenal dan bereaksi terhadap seseorang. yaitu proses kompetensi dan proses performasi. dilanjutkan komunikasi dengan ekspresi wajah.guu Mengoceh Usia 6 minggu 3 bulan 4 bulan 4 – 6 bulan Menoleh pada 5 bulan . a. Proses pemahaman melibatkan kemampuan mempersepsi kalimat yang didengar. ia belajar B1 terus menerus selama hidupnya. Fungsi berbahasa merupakan fungsi yang paling kompleks di antara seluruh faset perkembangan sebagaimana yang dijabarkan di atas. yaitu Kemampuan anak mengutarakan keinginannya dan pekirannya. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. anak itu akan tetap belajar B1. Ketika seorang anak sedang memperoeh bahasa B1-nya. Setiap anak yang normal pertumbuhan pikirannya akan belajar B1 atau bahasa ibu dalam tahun-tahun pertama dalam hidupnya. mengerti maksud mimik dan suara dan akhirnya kata-kata—dan fungsi ekspresif. terjadi dua proses. Tabel. Pemerolehan B1 kita anggap bahasa yang utama bagi anak karena bahasa ini yang paling mantap pengetahuan dan penggunaannya. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses performasi yang menyangkut proses pemaham dan proses memproduksi ujaran. 1997:80). umpamanya dalam kosakata. terhadap kejadian lingkungan sekitarnya. Artinya seorang anak tidak dapat dikatakan cerdas jika dia hanya bisa memecahkan masalah visuo-motor dan fasih berbahasa tanpa diimbangi kemampuan bersosialisasi. Sesudah pubertas ketrampilan bahasa anak tidak banyak kemajuannya. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. Sedangkan proses memproduksi ujaran menjadi kemapuan linguistik selanjutnya.

pertama Kata kedua ketiga 4 – 6 kata 10 bulan kata 11 bulan dan 12 – 13 bulan 8 bulan 15 bulan 17 7 – 10 kata bulan Kalimat pendek 2 21 kata bulan 50 kata. 30% dari anak dengan keterlambatan ringan akan sembuh -atau menjadi normal. kalimat 2 tahun terdiri dari 2 kata 250 kata. dan merupakan kelainan perkembangan yang paling sering terjadi.Fase III Mengerti perintah ‗tidak boleh‘ Mengerti perintah ditambah mimic Mengerti perintah tanpa mimik Menunjuk 5 bagian badan yang disebutkan 7 bulan 9 bulan Dadada (menggumam) 6 bulan Da-da tanpa arti 8 bulan Ma-ma tanpa arti 11 bulan 14 bulan 17 bulan Dada Mama. kurang pandai.dengan sendirinya. 70% akan mengalami kesulitan berbahasa.suara bel . maka anak dikatakan mengalami keterlambatan bicara atau kesulitan berbahasa jika kemampuannya menyimpangan dari standar tersebut. atau mengalami kesulitan . Sisanya. Keterlembatan bicara terjadi pada 3-15% anak.Fase II . kalimar terdiri dari 3 kata Kalimat terdiri dari 4-5 kata.Fase I . Dari jumlah tersebut. bercerita Menanyakan kata Menghitung sampai 20 arti 3 tahun 4 tahun Dengan mengacu pada tabel perkembangan bicara di atas. sebanyak 1% anak yang mengalami keterlambatan bicara tetap tidak dapat berbicara.

1992) pada masa emas otak manusia masih sangat elastis sehingga memungkinkan seorang anak memperoleh bahasa pertama dengan mudah dan cepat. 5) deprivasi atau kurangnya stimuli dari lingkungan. dan 7) autisme atau deviansi komunikasi baik dalam berbahasa maupun bertingkah laku yang sedang tren dibicarakan saat ini (Sutardi. Sebut saja beberapa nama seperti Amila dan Kayla yang ditemukan di belantara India pada tahun 1920. Genie yang terisolir dari kehidupan manusia dan segala kontak sosial hingga tahun 1970. 2) gangguan pendengaran. 2) gangguan bicara pada anak-anak penderita tunarungu. Kesulitan berbicara yang megkerucut pada kemampuan berbahasa dari tinjauan sitaksis dan pragmatis belum banyak diangkat. Anak akan lebih cepat menguasai bahasa jika ia memperoleh bahasa dalam masa emas atau periode ideal (critical age) yaitu usia 6-15 tahun. Masa kritislah yang bertanggung jawab atas lateralisasi yang membuat proses pemerolehan bahasa secara alamiah akan berkurang hingga akhirnya hilang sama sekali. Menurut Lanneberg (dalam Subyakto. Adapun pada usia pubertas telah dicapai kematangan kognitif pada saat selesainya fungsi-fungsi otak tertentu. Pada teori lain diasumsikan bahwa usia kritis tersebut berkisar 0-6 tahun. Penyebab keterlambatan bicara dan berbahasa secara umum sangat beragam. dan 4) gangguan bicara pada anak yang mengalami cidera otak. Kajian tentang keterlambatan atau gangguan bicara di beberapa literatur psikologi bahasa masih terbatas pada kesulitan berbicara dalam tataran umum. merupakan proses kreatif dimana aturan-aturan bahasa dipelajari anak berdasarkan input yang diterimanya dari bentuk tersederhana hingga bentuk yang paling kompleks. yaitu: 1) gangguan bicara pada anak dengan keterlambatan mental. 4) mutisme selektif atau ketidakmauan berbicara pada keadaan tertentu. Hipotesis bahwa periode usia di atas disebut masa emas pemerolehan bahasa diperkuat oleh beberapa kasus keterlambatan bicara pada orang dewasa yang memperoleh bahasa di atas usia 15 tahun. namun pada intinya batasan periode ideal yang dimaksud adalah prapubertas. diantaranya: 1) retardasi mental yang menyebabkan kurangnya kepandaian anak dibandingkan anak lain seusianya. 6) kekurangan gizi yang mengakibatkan kelainan saraf. Hal inilah yang disebut lateralisasi. Pemerolehan Bahasa Pertama pada Masa Awal Pemerolehan bahasa pada anak yang baru lahir berawal dari suara tangisnya yang menjadi bentuk respon terhadap stimuli dari lingkungannya. 3) kelainan organ bicara. 3) gangguan bicara pada anak penyandang autisma. Carrol (1986:30) menggolongkan gangguan bicara menjadi 4 (empat). Efektifnya pemerolehan bahasa pada usia tersebut telah diujikan dalam beberapa penelitian. atau yang kerap disebut bahasa ibu.belajar lainnya. Nama yang terakhir ini kisah hidupnya difilmkan dimana diceritakan tentang betapa sulitnya mengembalikan anak pada kemampuan berbahasa dan berkomunikasi . khususnya fungsi verbal yang menjadi mantap di bagian otak sebelah kiri. dan Victor yang ditemukan di hutan Aveyson pada tahun 1978. Pemerolehan bahasa pertama. Caranya merespon akan berkembang seiring kematangan mentalnya. 1997:67). Selanjutnya anak akan terus menyimpan stimuli bahasa pada memorinya.

Pemerolehan bahasa lebih baik jika diawali sejak dini. Setelah dipasang alat bantu dengar. pakar psikolinguistik. Bermula dari kecerobohan diagnosis dokter yang menyebutkan bahwa Chelsea mengalami keterlambatan mental. mengaji. berpendapat bahwa anak akan lebih cepat belajar bahasa tanpa kesukaran dibandingkan dengan orang dewasa. Kesimpulannya. Pasca pubertas kelenturan ini akan berkurang dan pencapaiannya tidak . Dalam masyarakat Jawa misalnya.) anak kecil adalah bagaikan menulis di atas batu dan mengajari orang tua bagaikan menulis di atas air. Pernyataan ini diperkuat oleh studi Bellugi dan Klima (dalam Fromkin. Pemerolehan Bahasa Kedua dan Kesulitannya Pemerolehan bahasa selain penguasaan bahasa ibu atau bahasa pertama disebut bahasa kedua. Mc Laughin dan Genesee. Sebelum masa pubertas. di atas masa emas otak manusia tidak bisa secara maksimal memperoleh kemampuan sintaktik dan morfologis. Contoh kasus keterlambatan pemerolehan bahasa terjadi pada Chelsea yang mulai memperoleh bahasa saat berusia 31 tahun.secara sosial dengan seutuhnya. dll. Lennenberg. Daya penyerapan bahasa pada anak berfungsi secara otomatis. cukup dengan self-exposure atau dilibatkan dalam komunikasi partisipatif dalam bahasa target. seorang pakar neurolinguistik. Kemampuan memproduksi kata anak tunarungu ternyata lebih cepat dibandingkan kemampuan memproduksi kata pada anak normal. dia tidak pernah dilibatkan dalam kontak sosial yang memungkinkan pemerolehan bahasanya. ketiga dan seterusnya. 2003:73). Pada kasus di atas tidak bisa diasumsikan bahwa bahasa isyarat lebih mudah dibandingkan bahasa lisan karena keduanya memiliki kesamaan dalam hal universalitas linguistik. dan tidak terlepas dari adanya faktor kesilapan berbahasa. membaca. Waktu yang dibutuhkan Chelsea lebih lama dibandingkan waktu pemerolehan bahasa anak pada masa emas. Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa anak yang diajarkan menggunakan bahasa isyarat pada usia 0-6 tahun lebih baik dalam pemahaman dan produksi kata daripada yang belajar pada usia 12 tahun ke atas. ternyata Chelsea bisa berbicara dan menirukan ucapan orang lain. otak atau daya pikir anak lebih lentur dan plastis sehingga dapat diajari bahasa apapun dengan lebih mudah. memungkinkan terjadinya perkembangan dan perubahan kebahasaan. Keterlambatan pemerolehan bahasa berakibat ketidakmampuan secara sepenuhnya penguasaan morfologis dan sintaktika bahasa (Field. Kemampuan menggunakan bahasa dalam proses pemerolehan bahasa secara sistimatis dan akurat memang tidak mudah. bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa kedua jika anak dibesarkan dalam komunitas wicara bahasa Jawa. Selain itu Eric H. sistim gramatika. Tidak mudahnya pemerolehan kemampuan ini membuktikan bahwa pengendalian otot larinks dan organ bicara pada anak normal lebih kompleks jika dibandingkan dengan pengendalian otot tangan pada anak tunarungu. Dus. Setelah beranjak dewasa baru diketahui bahwa Chelsea menderita tuli yang sebetulnya bisa diatasi dengan diajari bahasa isyarat. 1999) yang menunjukkan bahwa anak tunarungu yang tumbuh dan dibesarkan oleh orang tua tunarungu dapat menguasai bahasa isyarat. juga menegaskan bahwa kondisi otak mendukung pendapat tersebut. adalah benar bahwa ada ungkapan mengajari (bahasa.

Kedua. Namun hal ini tidak berlangsung lama. anak belajar bahasa kedua setelah bahasa ibu dapat diucapkan dengan baik. Kedua. motivatif dan atraktif. Permasalahan berbicara sebagaimana yang dijelaskan di atas bersifat permanen yang menyebabkan ketidakmampuan berbahasa secara baik dan benar. kedua metode ini dapat dipakai dengan catatan memperhatikan suasana pemerolehan bahasa yang bersifat interaktif. Pertama. 1992:66) Gangguan Berbahasa Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah bahwa gangguan berbahasa berdampak pada 2 (dua) hal. terjadi kesulitan dalam pemerolehan bahasa akibat kelainan tumbuh kembang. artinya gangguan akibat operasi. Secara umum ada dua pendapat mengenai pemerolehan bahasa kedua. saat anak makin besar kemampuan itu akan terasah dengan sendirinya. artinya gangguan akibat kelainan yang dibawa sejak lahir. stroke. Contoh faktor medis yaitu gangguan sebagai akibat cidera otak yang menyebabkan kerusakan sistem syaraf. Metode pertama dapat berakibat munculnya keterlambatan berbicara karena otak anak bekerja keras memetakan bahasa apa yang digunakan oleh orang yang mengajaknya berbicara. Menyimpang dari bentuk baku pada anak yang memperoleh bahasa dengan urutan yang berbeda dari kebanyakan anak. Kesulitan pada pemerolehan bahasa kedua masih terkait dengan teori masa emas seperti yang dijelaskan di atas. Disebut kurang . atau anak tersebut memiliki kemampuan yang sangat berbeda dari penutur asli bahasanya sendiri. Adapun jika ditinjau dari asalnya. Pada sebagian anak. Lambat dalam pemerolehan bahasa – sebagai contoh. kecelakaan atau penuaan.maksimal (Field. anak berusia lima tahun memiliki kompetensi bahasa setara dengan anak usia dua tahun. namun demikian tetap memiliki kekurangan. 2003:84). sampai menjadi agak sukar dan lambat setelah pubertas sehingga orang jarang mencapai kefasihan fonologi bahasa kedua jika ia mempelajarinya sesudah pubertas atau setelah berakhirnya masa emas. gangguan psikogenik. Kedua. Gangguan berbahasa dan berkomunikasi dapat diakibatkan faktor medis dan faktor lingkungan. Kedua pendapat ini sama baiknya. Pertama. Anak dalam metode pertama akan terbiasa dengan pengucapan dan aksen yang lebih jelas. menurut Schovel dan Krashen kemampuan belajar bahasa kedua tidak berkurang terlalu banyak meskipun proses laterlisasi telah usai (Subyakto-Nababan. Sungguhpun begitu. gangguan berbahasa dapat dikategorikan kedalam 2 (dua) kelompok. gangguan berbahasa yang berkembang. Metode kedua mengakibatkan pelafalan bahasa kedua akan lebih buruk daripada anak dengan metode pertama. Faktor medis berimplikasi pada gangguan berbicara. Namun demikian. Pertama. dan gangguan pada sistem mekanisme organ wicara. gangguan berbahasa yang diperoleh. anak sejak lahir sudah dibiasakan terekspos dengan berbagai bahasa. Demikian pula halnya dengan kerusakan sistem saraf yang menyebabkan terputusnya jaringan antara wilayah auditori dan produksi tutur sehingga pesan ujaran tidak tersampaikan. gangguan berbahasa dan gangguan berpikir. Adapun beberapa gangguan lain bersifat temporer sehingga mengakibatkan kekurangmampuan berbahasa. Secara umum kita melihat bahwa kemudahan anak belajar bahasa makin lama makin berkurang setelah umur 5-7 tahun.

Namun demikian bagi penderita tunarungu dengan kerusakan pendengaran yang sangat parah hanya dapat diajari dengan bahasa isyarat. Keterampilan komunikasi yang dicapai terbatas pada komunikasi tatap muka atau face-to-face. sebagai imbasnya dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk belajar membaca dan menulis. dengan demikian tanpa teknologi visual sulit dilakukan percakapan pertelepon. Pada penderita gangguan neurologis tahap ini mempersulit proses interpretasi sehingga menghalangi keberlangsungan proses selanjutnya. gangguan mengolah informasi linguistik. makin sedikit bentuk yang diingat. Kekurangmampuan berbahasa sebagaimana dijelaskan di atas pada hakikatnya dapat terjadi pada tiga tahapan rekonstruksi ingatan kebahasaan yang membangun proses pemerolehan bahasa secara lengkap. Pada saat seseorang mendengar atau membaca suatu wacana ia membuat catatan mengenai isi atau pesan kebahasaan sekaligus membuat interpretasi. Secara umum perkembangan bahasa pada anak tunarungu ditentukan oleh 3 (tiga) faktor mendasar. Adapun penyimpanan jangka panjang menyangkut pesan kalimat yang dapat dipelihara untuk jangka waktu lama yang berbeda dari satu individu ke individu yang lain. gangguan dalam mengkondisikan ketidaksempurnaan organ. Contoh kategori pertama di atas yaitu yang dialami tunarungu. Mengingat rumitnya fase belajar bahasa anak tunarungu yang bertingkat dari bahasa isyarat dan membaca gerak bibir. artinya makin lama seorang pendengar mendapat kesempatan mengingat suatu ujaran. Salah satu pertanyaan yang sering muncul yaitu apakah kelainan visual mengakibatkan keterlambatan dalam memperoleh bahasa? Hal ini mengingat kondisi anak . 1998:75). gangguan berkognisi. sebaliknya makin banyak makna yang diingat. Para ahli membedakan dua konsep penyimpanan yaitu penyimpanan jangka pendek dan jangka panjang. 2) status pendengaran orang tua (apakah normal atau tunarungu). tunanetra dan penyandang gangguan mekanisme berbicara. Tahapan pertama yaitu masukan. Tahapan kedua yaitu penyimpanan. Ketidaksempurnaan organ menyebabkan pendidikan tunarungu diprioritaskan pada pengajaran bahasa isyarat. Dengan menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa ibu. Baik ketidakmampuan maupun kekurangmampuan berbahasa yang diartikan sebagai gangguan bicara permanen dan temporer dapat dikategorikan ke dalam 3 (tiga) jenis. Kedua. Misalnya pada penderita gagap yang disebabkan pengaruh perasaan afektif sehingga pikiran dan ucapan tidak bersambung dengan baik. kesukaran melafalkan kata-kata tertentu dan kurang menguasai topik pembicaraan (Gleason dan Ratner. Penyimpanan jangka pendek berupa katakata atau angka sejumlah maksimal 7 frase sehingga orang dapat mengingat 7 digit nomor telepon dalam jangka waktu pendek.karena tidak mengacu pada kata ―tidak‖ melainkan ―belum‖. yaitu: 1) tingkat kerusakan pendengaran. Dewasa ini mengajarkan pemahaman membaca gerak bibir lebih ditekankan. tunarungu kemudian memahami bahasa lisan dan tulis sebagai bahasa kedua. Ketiga. Pada penderita tunanetra beberapa keraguan mengenai kemampuannya berbahasa kerap dilontarkan. Pertama. dan 3) usia diperkenalkan pada sistem komunikasi tertentu serta konsistensi latihan berkomunikasi (Carrol. Yang terakhir yaitu tahap hasil dimana terjadi kontras antara kedua jenis ingatan. 1986:65). Oleh karenanya kemampuan baca tulis anak tunarungu lebih lambat dibandingkan anak normal.

Dengan demikian kemampuan linguistiknya mengacu pada kelainan kognitif yang dialaminya. malah cenderung berupaya mengakhirinya. Contoh yang disebutkan di atas jarang ditemui pada anak-anak. Gangguan berbahasa karena kognisi yang lebih umum ditemui yaitu pada penderita Down Syndrome dan Autisma. proses . lidah. mirip bahasa dalam telegram). intonasinya tergolong abnormal. bahasa tubuh atau pandangan pada obyek disekitarnya. gangguan berbicara dapat terjadi akibat kelainan pada paru-paru (pulmonal). Curah verbal deprefis umpamanya. Hal ini disebut gangguan mekanisme berbicara. Artikel ini menitikberatkan pada kekurangmampuan berbahasa pada anak. hanya bersifat terlambat (bukan bersifat kurang atau tidak mampu). dicoraki topik yang menyedihkan. Anak tunanetra kadang-kadang bingung dengan fonem yang mirip dalam pengucapan. meskipun mereka lebih dapat menangkap kontruksi kalimat afirmatif daripada negasi. menyalahi dan mengutuk diri sendiri. otot-otot yang membentuk rongga mulut serta kerongkongan. sedang (IQ 36-52). pembicaraan sering terputus karena arah pembicaraan tidak teringat atau sering berpindah ke topik lain. yang dialami penderita sindroma down baik anak-anak maupun dewasa. pada lidah (lingual). Anak sindrom down juga bermasalah dengan pelafalan. Riset membuktikan bahwa anak tunanetra ternyata memperoleh sistem fonologi lebih lambat daripada anak normal. Sisofrenik dan depresif mengalami hambatan dalam melakukan curah verbal yang sesuai dengan konteks akibat gangguan berpikir. Adapun kemampuan sintaksisnya dapat dicapai pada usia dewasa. Menurut Kendler (Carrol. Hal ini terjadi pada orang yang pikun (demensia). Kemampuan anak tunanetra sama dengan anak normal ketika mulai meracau dan mengatakan kata-kata pertama. gangguan berpikir menyebabkan ekspresi verbalnya diwarnai dengan kesukaran menemukan kata-kata yang tepat. Anak tunanetra umumnya kurang memvariasikan kata kerja. serta pada rongga mulut dan kerongkongan (resonental) Pada kategori kedua. Dengan suaranya yang khas parau. sehingga gangguan akibat demensia tidak dibahas secara detail.Komunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh (gesture) lebih dipilih oleh anak dengan sindroma down berat dan parah. Secara umum dapat disimpulkan bahwa gangguan berbahasa. Secara umum perkembangan fonologisnya lambat. Namun demikian terdapat perbedaan pada isi kosakata awal mereka. dan paru-paru. Kalimat seringkali diulang-ulang. tidak mampu menikmati kehidupan. pada pita suara (laringal). Menurut Chaer (2002) berdasarkan mekanismenya.yang tidak terbantu dengan ekspresi wajah. gangguan berbahasa terjadi karena adanya gangguan berkognisi. Kajian tentang Down Syndrome atau keterbelakangan mental menunjukkan adanya hubungan antara kelainan kognitif dengan kegagalan memperoleh kompetensi linguistik sepenuhnya. Artinya dengan perkembangan yang berlangsung lamban. misalnya /n/ dan /m/. kehilangan semangat bekerja dan gairah hidup. hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki keterbatasan pengkategorian yang berdampak pada keberagaman kosakatanya. berat (IQ 20-35) dan parah (IQ di bawah 20). Hanya sedikit kosakata dapat dikuasai dan ucapannya cenderung pendek dan telegrafis (tanpa imbuhan dan kata sambung. Pada penderita demensia. Pada penderita Down Syndrome kemampuan intelektualnya sangat beragam dan salah jika kita menganggap kemampuan berbahasa semua penderitanya sama. 1986:95) tingkatannya terbagi atas: ringan (IQ 53-68). Ketidaksempurnaan organ wicara menghambat kemampuan seseorang memproduksi ucapan (perkataan) yang sejatinya terpadu dari pita suara. penderita sisofrenia dan depresif.

Tingkat kelainan dan gejalanya bervariasi antar individu. tahun. Kemampuan memahami semantik juga lamban. Secara fonologis. yaitu mengulang-ulang kalimat yang tidak relevan dengan konteks. misalnya membedakan antara “The girl feeds the baby” dengan “The baby feeds the girl”. Misalnya substitusi atau menyebut dengan kata lain. Segala aspek komunikasi sulit dicapai penyandang autisma.). artikulasinya cukup jelas meskipun sering muncul beragam kesalahan dalam penyebutan obyek. Hal ini tergantung tingkat parahnya kelainan yang diderita. tanggal. Penutup Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan berkomunikasi ditunjang dari proses pemerolehan kecakapan berbahasa. Penyandang autisma bisa jadi membisu hingga usia lima tahun. Perkembangan ketrampilan bahasanya tidak saja mengalami keterlambatan tetapi juga penyimpangan. Secara umum penderita disleksia mengalami kesulitan pada area kognitif tertentu. termasuk membedakan kiri/kanan. menambahkan dengan suku kata yang salah. kecuali aspek fonologis yang pada sebagian penyandang tetap dapat dikuasai. pangkal tenggorok dll. juga konsep waktu seperti hari. menghilangkan suku kata tertentu. Kekurangmampuan ini hanya bersifat gangguan atau DAFTAR PUSTAKA .pemerolehan bahasa yang dilaluinya mirip dengan urutan normal meskipun pada sebagian penderita tidak dapat mencapai kompetensi penuh sebagai mana pembicara dewasa normal. serta pengolahan secara matematis. Mutlaknya kebutuhan akan kemampuan berbahasa membuat tidak tepatnya sebutan ketidakmampuan berbahasa –melainkan menyebutnya sebagai kekurangmampuan berbahasa. Misalnya masalah kefasihan yang terjadi pada anak yang gagap dan latah atau pada penderita gangguan fisiologis yang menyangkut kesalahan formasi dan pengolahan organ artikulasi (seperti mulut. asimilasi dengan kata lain. lidah. Mata rantai pertumbuhan kemampuan berbahasa tidak seragam pada satu orang dengan orang lainnya. bulan. Sebagian penderita disleksia juga mengalami keterbatasan fonologis misalnya tidak bisa menduga bagaimana membedakan ejaan kata atau bukan kata. Hal ini mengindikasikan bahwa penyandang autisma memiliki keterbatasan alam pikir. langit-langit. Disleksia atau kesulitan membaca kerap diikuti dengan disgrafia atau kesulitan menulis. Kemampuan sintaksisnya sangat lamban karena sering muncul kalimat peniruan atau echolalia. Pada kasus Autisma terjadi kombinasi antara kelainan kognitif dan sosial. barat/timur. Penderita lain sekedar menghafal ejaan kata dan tidak dapat mengingat ejaan kata-kata lain. Variasi inilah yang menghasilkan perbedaan pencapaian kemahiran kognitif yang difasilitasi kompetensi dan performasi berbahasa. artinya mereka tidak mampu memahami dunia dari sudut pandang orang lain. anak dapat mengalami gangguan berbahasa secara linguistik yaitu ketidakmampuan dalam pemerolehan dan pemrosesan informasi linguistik. Selain itu anak dapat menghadapi masalah baca tulis. Disini perlu dibedakan antara disleksia dan disgrafia. Kompleksitas bahasa menuntut akumulasi pemerolehan yang juga berkesinambungan dari tataran tersederhana hingga yang membutuhkan gabungan kemampuan berbahasa dan bersosialisasi. Intonasinya cenderung datar dan salah dalam membuat penekanan ucapan. atau hanya membeo kata-kata orang dewasa yang didengarnmya. Pada kategori ketiga.

Fromkin. Victoria: Wadsworth Thomson Learning. Pacific Grove-California: Brooks/Cole Publishing Company. Victoria. Dalam Simposium Autisme: Gangguan Perkembangan Pada Anak. 1986. Sutardi. 1997. 2003. 1998. Psycholinguistics: a second language perspective. H. Rudi. New York: Routledge. Psycholinguistics: a resource book for students. Ltd. Psychology of Language. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama . 1999. Jakarta: Yayasan Autisme Indonesia. 1992. Subyakto-Nababan. Blair. Gleason. Evelyn Macussen. John. David W. An Introduction to Language. Jakarta: Yayasan Autisme Indonesia. Jean Berko dan Ratner. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Peter. Hatch.Carrol.D. Sri Utari. Field. 1997. Inc. Apakah Perkembangan Anak Anda Normal? Dalam Simposium Autisme: Gangguan Perkembangan Pada Anak. David and Collins. Pusponegoro. Psycholinguistics. Autisme: Gangguan Perkembangan pada Anak. 1983. Sydney: Harcourt. Nan Bernstein. Rowley: Newbury House Publisher.

Pemerolehan bahasa pertama berkaitan dengan segala aktivitas seseorang dalam menguasai bahasa ibunya. . dalam bukunya Henry Guntur Tarigan (1995:4). Jalur kegiatannya dapat melalui pendidikan informal dan pendidikan formal. Henry Guntur Tarigan menyebut pendidikan informal itu sebagai pengajaran bahasa secara alamiah dan pendidikan formal sebagai pengajaran bahasa secara ilmiah . Mereka yang beranggapan bahwa pengajaran bahasa secara informal tidak sama dengan pengajaran bahasa secara formal memberikan argumentasi sebagai berikut: belajar bahasa secara informal itu tidak berencana. Jalur kegiatannya dapat melalui pendidikan informal dan pendidikan formal. sedangkan pendidikan formal disebut oleh pakar ersebut sebagai ―learning a language at school ‖ atau ―tutored or classroom acquisition ‖. 1986:21) atau ―untutored or naturalistic acquisition ‖ (Ellis. sehingga kita kenal istilah pemerolehan bahasa pertama (PB1) atau first language acqisition dan pemerolehan bahasa kedua (PB2) atau second language acquisition . (1981:11) dalam bukunya Henry Guntur Tarigan (1995:5) berpendapat bahwa pengajaran bahasa secara alamiah sama dengan pengajaran bahasa secara ilmiah. 1987:5). Dulay [et al].PEMEROLEHAN BAHASA (LANGUAGE ACQUISITION) A. Pemerolehan bahasa kedua berlangsung setelah seseorang menguasai atau mempelajari bahasa pertama. HAKEKAT PEMEROLEHAN BAHASA (LANGUAGE ACQUISITION ) Istilah pemerolehan bahasa atau language acquisition biasanya diikuti oleh kata pertama atau kedua . Istilah pendidikan informal itu. Demikian pula menurut Ellis dalam buku yang sama bahwa kedua istilah itu dapat dipertukarkan dengan pengertian yang ku rang lebih sama. biasa juga disebut ―learning a language at home ‖ (Harding & Riley. Para pakar tersebut sependapat bahwa pengajaran bahasa secara alamiah disebut pemerolehan bahasa (language acquisition) dan pengajaran bahasa secara ilmiah disebut pemelajaran bahasa (language learning).

Pendekatan behavioristik berfokus pada aspek-aspek perilaku linguistik yang dapat dimengerti . 1. Dimana jalur kegiatannya bisa didapat melalui pendidikan informal dan pendidikan formal. disengaja. Sementara pemelajaran bahasa didapat dengan melalui pendidikan formal tentunya dengan cara direncanakan dan disengaja dan juga disadari. PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA (FIRST LANGUAGE ACQUISITION ) Seperti apa yang telah diuraikan diatas bahwa pemerolehan bahasa pertama diperoleh melalui aktivitas seseorang dalam menguasai bahasa ibunya. Teori Behavioristik (Behavioristc Theories ) Pada teori ini bahwa bahasa adalah bagian yang fundamental pada segenap sikap manusia dan ahli si kap telah menguji bahwa eori ini digunakan untuk memformulasikan teori-teori pemerolehan bahasa yang konsisten. tidak disengaja. B.kebetulan. Dibawah ini dibahas tentang teori-teori dan juga pendekatan-pendekatan pada pemerolehan bahasa pertama (first language acquisition) yang diambil dari Brown (1980) dalam bukunya yang berjudul ―Principles of Language Learning and Teaching‖. sedangkan belajar bahasa secara formal berdasarkan perencanaan yang matang. dan tidak disadari. Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa (language acquisition) diperoleh melalui pendidika n informal yaitu pedidikan yang didapat dirumah atau dipelajari secara alamiah dengan tidak direncanakan dan tidak disengaja bisa dengan sendirinya dengan tidak disadari. dan di disadari.

bayi tidak bisa bicara atau terdiam. yaitu pengkondisian organisme manusia untuk memancarkan sebuah respon. 2. dengan pendekatan rasionalistiknya. dan yang kedua adalah yang disebut pendekatan kognitif (cognitive approach) dimana pada pendekatan ini yang menurut Brown (1980:25) bahwa pendekata n kognitif lebih menekankan pada tingkatan terdalam dari bahasa dimana memori. termasuk persepsi sistematis bahasa sekitar kita.‖ Pelan-pelan bayi itu berkembang dari . persepsi. dan keduanya memberikan rankaian yang sama. Tipe pertama adalah pendekatan nativis (nativeist approach) dimana dalam pendekatan ini bahwa pemerolehan bahasa ditentukan melalui bawaan sejak lahir (innate) dengan berjenis alat yang membangun yang merupakan konstruksi sistem terdalam dari bahasa untuk memberi kecenderungan memperoleh bahasa. BAGAIMANA ANAK-ANAK MEMPEROLEH BAHAS A PERTAMA Ketika baru dilahirkan. Teori Skinner pada verbal behaviour merupakan perluasan dari teori umumnya pada teori belajar ―Operant Conditioning‖. pikiran. Teori Generatif Bertolak pada rangkaian teoritis kita menjumpai teori-teori pada bahasa anak. Salah satu upaya yang sangat terkenal pada konstruksi sebuah model behavioristik pada behavior linguistik adalah ―Verbal Behavior‖ oleh klasiknya Skinner (1957) yang dengan eksperimennya yaitu binatang didalam ―Skinner‘s boxes‖ atau boks-boks Skinner. Para ahli bahasa mulai melihat bahwa bahasa merupakan manifestasi perkembangan umum suatu aspek kemampuan kognitif dan afektif untuk berhubungan dengan dunia dan diri sendiri.[1] C. makna dan emosi secara saling bergantung dan tersusun dalam superstruktur otak manusia. atau operant. Ada dua tipe teori generatif yang menandai pada penelitian bahasa anak.atau direspon yang bisa diamati secara umum dan hubungan respon-respon tersebut dengan peristiwa yang ada didunia yang melingkupinya. Kata ―infant‖ berasal dari kata Latin yang artinya ―Tanpa bahasa.

uca pan yang tidak mempunyai arti sampai pada satu atau dua ucapan kata dan akhirnya pada ucapan dalam bentuk kalimat yang lengkap sesuai dengan stuktur bahasa. Skinner berpendapat bahwa proses pemerolehan bahsa diawali dengan proses meniru sebagaimana bayi meniru apa yang diucapkan ibunya. Secara neurologi anak sudah dilengkapi dengan kemampuan berbahasa. semua anak-anak diseluruh dunia mempunyai perintah (commands) pada bahasa utamanya. Hal ini karena bahasa dan pikiran mereka saling berhubungan. LANGKAH-LANGKAH PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA . Para ahli psikologi berpendapat bahwa memperoleh bahasa tidak cukup dengan reinforcement (penguasaan tata bahasa) tetapi harus diikuti dengan penguatan pemahaman. Bahasa berpengaruh terhadap pikiran. tetapi mereka juga bisa mengungkapkan hal-hal yang berada di tempat lain dan hal-hal yang ada dalam imajinasi mereka. sesuai dengan bahasa yang dipakai di lingkungannya. Seorang anak yang sudah menguasai bahasanya tidak hanyabisa mengungkapkan apa yang dilihat di sekitarnya sekarang. Para behavioris sependapat dengan hal ini dan percaya bahasa harus diperoleh dengan proses belajar. karena otak kita sudah mempunyai susunan bahasa yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan manusia. tuang. Seorang anak sudah memperoleh bahasanya. 1979) berpendapat bahwa pemerolehan bahasa adalah proses pendewasaan. Menurutnya seorang anak sudah dibekali dengan kemampuan berbahasa di dalam otaknya. Chomsky (1972. melalui penguasaan kosakata yang kita pelajari akan menentukan kategori yang kita gunakan untuk mengerti jalan pikiran kita tentang waktu. Sebaliknya. Pada usia empat atau lima tahun. 1975. dan permasalahan karena tata bahasa memberikan pengertian yang berbeda-beda. D.

menangis karena marah (the anger cry) dan menagis karena kesakitan (the pain cry). bayi membuat suara-suara dari semua bahasa. Semua anak normal menguasai kaedah-kaedah dasar bahasa apa saja yang mereka dengar. Seorang ibu dengan cepat belajar untuk mendeteksi perbedaanperbedaan tersebut pada bunyi yang maknanya menangis dan memberi tanggapan kepadanya dengan semestinya.Meskipun perbedaan yang luas didalam budaya. suara bayi akan menarik perhatian yang lain dan meskipun mereka tidak bermaksud untuk berkomunkasi. pola ritme dasar (the basic rhythmical pattern) yang sering disebut sebagai menangis karena lapar (the hunger cry). Brown and Hanlon. 1970. Meskipun seorang anak mungkin mulai menggunakan kata-kata lebih awal dari pada yang lain untuk bicara lebih lancar. mengucapkan kata-kata terus menerus dengan menggunakan suku katanya yang sama. Ada tiga pola menangis yang dimiliki oleh masing-masing bayi. Bloom. bayi tersebut mulai merengek pada usia lima atau enam bulan. Tidak lama setelah enam bulan bayi yang bisu berhenti babbling dimungkinkan karena tidak pernah dirangsang oleh pendengaran ucapan manusia. 1969) Suara-suara lain segera nampak menjelang usia tiga bulan. 1973)[2] . . suaranya berhasil didalam memberi informasi kepada orangtuanya tentang keperluan yang dia inginkan. dia segera menuju ke ruangan bayi (Wolff. 1963. anak-anak di setiap masyarakat nampaknya memperoleh bahasa dengan cara yang sama (Brown and Fraser. Misalnya. Prespeech Communication Dari minggu-minggu awal. 1970. memberi tanggapan pada tangisan rasa sakit. Brown. Dalam ucapan awal. ucapan mbabling bayi dari China tidak bisa dibedakan dari ucapan babbling bayi dari Amerika. Mereka mulai babbling (ngoceh). Lama kelamaam anak-anak mengembangkan pengendalian melalui suara yang mereka buat dan mulai meniru suara yang dibuat oleh yang lain.

intonasi. Pada usia sepuluh bulan. 1978). menanyakan sebuah pertanyaan (―Is that a door?‖) . dan banya yang telah memproduksi kata-kata pertamanya. bayi sering menggunakan sebuah kata untuk banyak tujuan. bahasa anak belum mengenal salah penempatan pada kata-kata. hanya dengan merangkak mempersiapkan bayi untuk berjalan. melihat lagi ke orang dewasa dan membuat babbling yang teratur yang semakin keras jika orang dewasa yang ada didekatnya tidak menanggapinya. seorang bayi yang telah belajar kata ―door‖ dapat. membuat sebuah pernyataan (―That‘s a door‖).Bayi tidak terbatas pada pengucapan/suara. dengan menggunakan informasi. mengutamakan pada intonasi untuk mendapatkan arti. tapi juga menggunakan gerak tubuh (gesture) untuk berkomunikasi. pada tahap kata tunggal. . Pengucapan kata-kata tunggal tersebut hanya bisa dimengerti melalui konteks. 1969). Jika anak kecil yang baru belajar berjalan ingin mencapai tombol pintu. First words Sekitar tahun-tahun petamanya. Umumnya. bayi mulai mencari bantuan dari orang dewasa. Kata-kata pertama yang menunjukkan dengan cepat bisa disentuh dan bisa dilihat. kata-kata tersebut merupakan nama-nama benda-benda yang layak dibicarakan dan mempunyai nama (Nelson and Nelson.atau menyatakan sebuah tuntutan (―Open the door!‖) (Menyuk and Bernholtz. Bahasa memerlukan kata-kata untuk digabung menurut aturan-aturan tertentu. mencari mainan yag diluar jangkauannya. Kepemilikan kosakata dasar tidak sama seperti pemerolehan bahasa. pengucapan satu kata mempersiapkan mereka untuk bicara dengan cara seperti pada manusia seutuhnya. Misalnya. dia lebih aman ntuk menekankan pada kata ―Door!‖ yang maksudnya ―Open the door!‖ Namun demikian. keberhasilan dari ucapan kata-kata tunggal tersebut tergantung pada kemampuan dari orang-orang lain untuk menggunakan konteks. tapi Tatabahasa (Grammar) tidak bisa mendekat sampai anak telah sampai pada sebuah level tertentu pada pemahaman. Akan tetapi. dan gerak tubuh (gestures) untuk menginterpretasikan keinginan pragmatis anak. anak-anak mengerti nama-nama untuk beberapa orang-orang atau benda-benda.

It‘s the cow that kisses the horse. Anak-anak tidak sekedar hanya menjalankan ucapannya. Misalnya. Didalam menguasai aturan tatabahasa.First Sentences Pada masa anak-anak mencapai usia dua tahun. anak-anak mungkin akan melalui beberapa strategi. pola dasar pada tata bahasa (grammar) ini telah nampak didalam ucapan anak-anak. anak-anak bisa berkomunikasi tentang apa yang terjadi kemarin dan apa yang mungkin akan terjadi besok. anak-anak yag berumur dua. konteks merupakan sangat penting didalam percakapan orang dewasa. Put on your shoe!‖ Meskipun apa yang telah kita lihat. bahasa anak-anak menjadi kurang kontekstual seperti kalimat-kalimat yang panjang dan mereka mulai menggunakan kata depan (preposition). Acquiring complex Rules Seperti pada ucapan satu kata. ―Mommy shoe‖ bisa berarti ―This is Mommy‘s shoe‖ atau ― Mommy is wearing her shoe‖ atau ―There‘s mud on Mommy‘s shoe― atau ―Mommy. 1973). Mereka sekarang bicara dalam bentuk kalimat. The cow kisses the horse. namun mereka mengikuti aturan sintaksisnya mengenai susunan katanya (word order) yang didalam bahasa Inggris akan menentukan urutan Subject-verb-object untuk menunjukkan arti. Sehingga anak pada usia dua tahun akan mengucapkan ―eat cake‖ (verb-object‖ tapi bukan ―cake eat‖ (object-verb) (Brown. 2. tidak ada jedah (pause) antara kata dan intonasi yang turun yang menyeluruh pada segenap pengucapannya. dan kemampuan ini menunjukkan kemampuan untuk meningkatkan didalam daya ingat yang singkat. sekarang mereka bisa merencanakan dan memproduksi sebuah pernyataan sebelum kata pertama dilupakan. tiga dan empat tahun menggunakan sebuah mainan seperti mainan kuda-kudaan dan mainan sapi-sapian untuk memperagakan kalimat-kalimat berikut ini. infleksi kata kerja (verb inflection) dan yag lainnya. 1970). konjungsi (conjunction). kalimat dua kata sesungguhbya tidak mungkin untuk diinterpretasikan pada konteks. . 3. mereka mulai menggunakan dua kata bersama-sama. It‘s the horse that the cow kisses. Pada tahap dua-kata ini. 1. Didalam belajarnya (Bever. Seperti mereka menguasai aturan tatabahasa yang compleks.

bahwa anak pada usia empat tahun mengadopsi strategi yang berbeda.4. anak umur dua tahun dengan sederhana akan menebak. tapi pada kalimat 4. Anak umur empat thaun juga memperagakan dua kalimat pertama dengan benar. tapi didalam kalimat 4 mereka membalikan interpretasinya. Anak-anak umur dua tahun memperagakan ketiga kalimat pertama diatas dengan benar. salah dalam . dimana anak umur dua tahun mengintepretasikan dengan benar. kata benda itu adalah sebagai pelakunya. Tapi jika kata-kata lain memotong urutannya. mereka seperti mengucapkan kuda mencium sapi (The horse kisses the cow) yang seharusnya sapi yang mencium kuda (The cow kisses the horse) . dengan konsisten akan mengatakan bahwa kuda mencium sapi. Menurut sipeneliti. Mereka mendengar kata benda pertama didalam sebuah kalimat sebagai pelaku dan kata benda yang mengikutinya kata kerja sebagai objek dari sasaran pelaku. Strategi semacam ini akan mengarahkan mereka menginterpretasikan kalimat seperti pada kalimat 3 dan 4. anak umur dua tahun menduga bahwa ketika kata benda diikuti oleh kata kerja. The horse is kissed by the cow. Mereka juga menentukan kuda sebagai pelakunya didalam kalimat 3. seperti pada kalimat 4. Menurut sipeneliti.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->