MOBILISASI DINI IBU POST PARTUM

Dr. Suparyanto, M.Kes MOBILISASI DINI IBU POST PARTUM DEFINISI MOBILISASI

Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk berjalan bangkit berdiri dan kembali ke tempat tidur, kursi, kloset duduk, dan sebagianya disamping kemampuan mengerakkan ekstermitas atas. (Hincliff, 1999) Mobilisasi dini menurut Carpenito tahun 2000 adalah suatu upaya mempertahankan kemandirian sedini mungkin dengan cara membimbing penderita untuk mempertahankan fungsi fisiologis.

BENTUK MOBILISASI DINI 1. Berdiri 2. Duduk 3. Berpindah dari satu kelompok lain, seperti :
      

  

Dari tempat tidur ke kursi, Dari kursi biasa ke kursi berlubang, Dari kursi roda ke kloset duduk, Dari lantai ke kursi atau tempat tidur, Bangkit dari duduk, Berjalan : dengan bantuan (1). Penyangga kaki dari logam, 2). Sepatu khusus, 3). Bidai, 4). Kaki palsu), Menggerakkan tubuh, bahu, tangan dan lengan untuk berbagai macam gerakan, seperti : 1). Menggerakkan dan melepaskan pakaian, 2). Menjaga kebersihan pribadi, 3). Mengerjakan pekerjaan rumah tangga Melakukan gerakan badan Mobilisasi dengan bantuan alat mekanik Kursi roda : di dorong oleh orang lain di jalanan sendiri. (Roper, 2002)

BENTUK LAIN MOBILISASI DINI 1. Membantu pasien duduk di tempat tidur

Tindakan ini merupakan salah satu cara mempertahankan kemampuan mobilitas pasien : Memenuhi kebutuhan mobilitas

Mempertahankan kenyamanan 2.    Mempertahankan toleransi terhadap aktivitas Mempertahankan kenyamanan Bentuknya meliputi : Mengatur posisi pasien di tempat tidur 1. baik miring ke kanan atau miring ke kiri. Perawatan daerah genitalia 2. Posisi pada proses persalinan 5. 3. 4. Tujuan : Memberikan kenyamanan Melakukan hukna Memberikan obat per anus (supositorial) Melakukan pemeriksaan daerah anus 3. Posisi SIM   Pada posisi ini pasien berbaring miring. Tujuan :memperlancar peredaran darahke otak 4. Pemeriksaan genetalia 3. 2. Memfasilitas fungsi pernafasan 2. Posisi fowler   Posisi dengan tubuh setengah duduk atau duduk Tujuan : 1. pasien ditempatkan pada posisi terlentang dengan kedua lutut fleksi di atas tempat tidur.  Posisi ini menempatkan pasien di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah dari bagian kaki. Posisi Dorsal Recumbent   Pada posisi ini. Tujuan :  1. Posisi Litotomi . Posisi trendelenburg 1.

Tujuan : melatih otot skelet mencegah kontraktur Mempertahankan kenyamanan pasien mempertahankan kontrol diri pasien Memindahkan pasien untuk pemeriksaan (diagnosa. 4. Perawat mengkaji beberapa toleransi pasien terhadap aktivitas. 2. pasien menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada bagian alas tempat tidur. 3. Proses persalinan 3. Posisi Genu Pektoral (Knee chest)  Pada posisi genu pektoral. adanya nyeri dan keseimbangan pasien untuk menentukan jumlah bantuan yang diperlukan paien. Tujuan : Memindahkan pasien dari rungan satu ke ruangan yang lain untuk tujuan tertentu (pemeriksaan diagnostik atau pindah ruangan) 4. Pemindahan ini biasanya dilakukan pada pasien yang tidak dapat atau tidak boleh melakukan pemindahan sendiri. kekuatan.  Pada tindakan ini pemindahan pasien dilakukan oleh dua sampai tiga orang perawat. Hal yang perlu disiapkan sama dengan pemindahan pasien ke tempat tidur ke kursi roda. Tujuan :  1. Pemasangan alat kontrasepsi 6. Memindahkan pasien dari tempat tidur satu ke kursi roda   Aktivitas ini dilakukan pada pasien yang membutuhkan bantuan untuk berpindah dari tempat tidur ke kursi roda. Pemeriksaan alat genetalia 2. pasien ditempatkan pada posisi terlentang dengan mengangkat kedua kaki dan ditarik ke atas abdomen. . Pemindahan ini dapat dari tempat tidur atau ke brankart atau dari satu tempat tidur ke tempat tidur yang lain. membantu pasien berjalan memerlukan persiapan. fisik) 3. Memindahkan pasien oleh dua atau tiga perawat  1. Membantu pasien berjalan   Seperti halnya tindakan lain. Tujuan : pemeriksaan daerah rektum dan sigmoid 2. Pada posisi ini.

4. sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme. 2. dengan topangan 3 50 Gerakan yang normal melawan gravitasi 4 75 Gerakan yang penuh melawan gravitasi dan melawan tahanan minimal 5 100 Kekuatan normal.Aziz. Kesempatan yang baik untuk mengajari merawat atau memelihara anaknya MACAM MOBILISASI DINI .  Melancarkan pengeluaran lokia. perawat dapat melakukan aktivitas ini meskipun tanpa menggunakan alat. 2008 manfaat mobilisasi dini adalah : 1. Melancarkan sirkulasi darah 2. Aktivitas ini memungkinkan memerlukan alat seperti kruk dan tongkat. Namun ada prinsipnya. Mencegah terjadinya kontraktur sendi Tabel Derajat Kekuatan Otot Skala % Kekuatan Normal Keterangan 0 0 Paralisis sempurna 1 10 Tidak ada gerakan. 1998) Menurut Rambey. mengurangi infeksi peurperium Mempercepat involusi alat kandungan Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan Meningkatkan kelancaran peredaran darah. 2004) MANFAAT MOBILISASI DINI 1. gerakan penuh yang normal melawan gravitasi dan melawan tahanan penuh. Faal usus dan kandung kencing lebih baik 3. Membantu proses pemulihan 3. (A. Ibu merasa lebih sehat dan kuat 2. Memulihkan kembali toleransi aktivitas 2. 3. kontraksi otot dapat di palpasi atau di lihat 2 25 Gerakan otot penuh melawan gravitasi. Tujuan :  1. (Manuaba. Mencegah terjadinya infeksi yang timbul karena gangguan pembuluh darah balik serta menjaga pedarahan lebih lanjut  Menurut Fizari. Alimul Hidayat dan Musrifatul Uliyah. 2009 manfaat lain dari mobilisasi dini adalah: 1.

Otot  Otot dibagi menjadi 3. Mobilisasi penuh  Yaitu seluruh anggota dapat melakukan mobilisasi secara normal. Pada sistem muskuloskeletal 3. Mobilisasi sebagian permanen disebabkan karena rusaknya sistem saraf yang reversibel (hemiplagi karena kecelakaan). mengeluarkannya bila dibutuhkan.1. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMAMPUAN GERAK 1. berwarna putih dan tidak elastis untuk melekatkan otot pada tulang.Tulang dapat tumbuh dan memperbaiki dirinya. Fungsi tulang sebagai tuas untuk menggerakkan otot-otot dan menyimpan kalsium dan fosfat. Tulang  Merupakan jaringan hidup yang mempulnyai banyak suplai darah. yaitu: . disebabkan oleh trauma yang reversibel 2. 5. 3. Mobilisasi penuh mempunyai peranan penting dalam menjaga kesehatan baik secara fisiologis maupun psikologis. terdiri dari : 1. Terjadi pada pasien dengan gangguan saraf motorik dan sensorik. Tendon  Merupakan jaringan ikat yang kuat. Mobilisasi sebagian dengan temporer. Ligamen  Merupakan pita jaringan fibrosa yang kuat dan berfungsi untuk mengikat serta menyatukan tulang atau bagian lain untuk menyangga suatu organ. Sendi  Yaitu pertemuan antara dua atau lebih ujung tulang 2. 4. 2. Mobilisasi sebagian   Yaitu sebagian dari anggota badan yang dapat melakukan mobilisasi secara normal.

3. 1998)  FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOBILISASI DINI 1. Penyakit tertentu dan cidera  Penyakit-penyakit tertentu dan cidera berpengaruh terhadap mobilitas misalnya penderita multipe aklerosis dan cidera pada urat saraf tulang belakang. Demikian juga pada pasien post operasi atau yang mengalami nyeri. 2. Selain itu tingkat usia juga berpengaruh terhadap aktivitas. . (Cambridge Comunication Limited. Sistem syaraf  Jaringan syaraf dibentuk dari neuron yang sel-selnya terkadang mengalami proses yang sangat panjang dikhususkan untuk penghantar implus syaraf yang menyokong dan memberi makan neuron-neuron. Gangguan pernafasan yaitu sekret akan terakumulasi pada saluran pernafasan yang akan berakibat klien sulit batuk dan mengalami gangguan bernafas. Terkadang seseorang membatasi aktivitas tanpa mengetahui penyebabnya. 3. cenderung membatasi gerakan. Otot skeletal yaitu otot yang ditemukan pada tulang rawan atau kulit. Dikendalikan melalui sistem syaraf otonom. serat-seratnya memperlihatkan garis-garis melintang. Dikendalikan melalui sistem syaraf pusat. 2. Misalnya orang pada usia pertengahan cenderung mengalami penurunan aktivitas yang berlanjut sampai usia tua. Otot polos ditemukan pada dinding visera dan pembuluh darah. misalnya : 1. Energi  Tingkat energi bervariasi pada setiap individu. Otot jantung yang hanya ditemukan di jantung 6. Neuron adalah unit dasar sistem persyarafan.1. Budaya  Beberapa faktor budaya juga mempunyai pengaruh terhadap aktivitas. Misalnya di Jawa berpenampilan halus dan merasa tabu bila mengerjakan aktivitas berat dan pria cenderung melakukan aktivitas lebih berat. serat-seratnya tidak memperlihatkan garis melintang. RESIKO BILA TIDAK MELAKUKAN MOBILISASI  Berbagai masalah dapat terjadi bila tidak melakukan mobilisasi dini.

Pada saluran perkemihan yang mungkin terjadi adalah statis urin yang disebabkan karena pasien pada posisi berbaring tidak dapat mengosongkan kandung kemih secara sempurna. Gerakan yang menjauhkan ujung-ujung alat atau bagian tubuh. 4. Fleksi  Yaitu tindakan menekuk dua ujung sesuatu alat saling mendekati atau keadaan dua ujung sesuatu alat yang tertekuk berekatan. Ekstensi  Yaitu gerakan yang membesarkan sudut antara dua ujung tulang yang bersendi. Rotasi  Yaitu gerakan memutari pusat axis dari tulang 5. Pada sistem kardiovaskuler terjadi hipotensi ortostatik yang disebabkan oleh sistem syaraf otonom tidak dapat menjaga keseimbangan suplai darah sewaktu berdiri dari berbagai dalam waktu yang lama. Pada gastrointestinal terjadi anoreksia diare atau konstipasi. Inversi  Yaitu putar bagian telapak kaki kebagian dalam membentuk sudut dari persendian 7. JENIS GERAKAN SENDI 1. maka pasien dapat mengalami konstipasi.2. Abduksi   Yaitu gerakan anggota badan atau mata kesisi menjahui sumbu tengah tubuh 4. Eversi  Yaitu tindakan memutarkan telapak kaki kebagian luar 6. 3. 2. Hiperektensi yaitu ekstensi lebih lanjut. 3. Anoreksia disebabkan oleh adanya gangguan katabolisme yang mengakibatkan ketidak seimbangan nitrogen karena adanya kelemahan otot serta kemunduran reflek deteksi. Pronasi  Yaitu pemutaran lengan bawah ke dalam .

Mobilisasi mengacu pada kemampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas dan imobilisasi mengacu pada ketidakmampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas.Dari Kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa mobilisasi dini adalah suatu upaya mempertahankan kemandirian sedini mungkin dengan cara membimbing penderita untuk mempertahankan fungsi fisiologis. Mobilisasi dini merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat pemulihan pasca bedah dan dapat mencegah komplikasi pasca bedah.1993). Supinasi  Yaitu gerakan memutar lengan bawah ke luar. tetapi pada klien lain. Konsep mobilisasi mula – mula berasal dari ambulasi dini yang . berada pada kondisi imobilisasi mutlak dan berlanjut sampai jangka waktu tidak terbatas. juga adanya gangguan peristaltik maupun berkemih. 1999). (Hincliff. Mobilisasi dan imobilisasi berada pada suatu rentang dengan banyak tingkatan imobilisasi parsial.com/2011/08/mobilisasi-dini-ibu-post-partum.8. Menurut Carpenito (2000). Disinilah peran perawat sebagai edukator dan motivator kepada klien sehingga klien tidak mengalami suatu komplikasi yang tidak diinginkan. Sering kali dengan keluhan nyeri di daerah operasi klien tidak mau melakukan mobilisasi ataupun dengan alasan takut jahitan lepas klien tidak berani merubah posisi. Beberapa klien mengalami kemunduran dan selanjutnya berada di antara rentang mobilisasi-imobilisasi. Mobilisasi sangat penting dalam percepatan hari rawat dan mengurangi resiko-resiko karena tirah baring lama seperti terjadinya dekubitus. Mobilisasi dini merupakan suatu aspek yang terpenting pada fungsi fisiologis karena hal itu esensial untuk mempertahankan kemandirian. http://dr-suparyanto.html Definisi Mobilisasi Dini Mobilisasi dini adalah kebijaksanaan untuk selekas mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan membimbingnya selekas mungkin berjalan (Soelaiman. kekakuan/penegangan otot-otot di seluruh tubuh dan sirkulasi darah dan pernapasan terganggu.blogspot. Banyak keuntungan bisa diraih dari latihan ditempat tidur dan berjalan pada periode dini pasca bedah.

Rentang Gerak Dalam Mobilisasi Menurut Carpenito (2000) dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :1) Rentang gerak pasifRentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien2) Rentang gerak aktifHal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya. Dengan bergerak.Faal usus dan kandung kencing lebih baik. 1) Peningkatan suhu tubuhKarena adanya involusi uterus yang tidak baik sehingga sisa darah tidak dapat dikeluarkan dan menyebabkan infeksi dan salah satu dari tanda infeksi adalah peningkatan suhu tubuh. maka resiko perdarahan yang abnormal dapat dihindarkan. mempercepat kesembuhan. Aktifitas ini juga membantu mempercepat organ-organ tubuh bekerja seperti semula. Kerugian Bila Tidak Melakukan Mobilisasi.3) Rentang gerak fungsionalBerguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan. dengan demikian ibu akan cepat merasa sehat dan bias merawat anaknya dengan cepat3) Mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. dengan mobilisasi sirkulasi darah normal/lancar sehingga resiko terjadinya trombosis dan tromboemboli dapat dihindarkan. manfaat mobilisasi bagi ibu post operasi adalah :1) Penderita merasa lebih sehat dan kuat dengan early ambulation. 2) Perdarahan yang abnormalDengan mobilisasi dini kontraksi uterus akan baik sehingga fundus uteri keras. otot –otot perut dan panggul akan kembali normal sehingga otot perutnya menjadi kuat kembali dan dapat mengurangi rasa sakit dengan demikian ibu merasa sehat dan membantu memperoleh kekuatan. 2) Mobilisasi dini memungkinkan kita mengajarkan segera untuk ibu merawat anaknya. Perubahan yang terjadi pada ibu pasca operasi akan cepat pulih misalnya kontraksi uterus. Dengan bergerak akan merangsang peristaltic usus kembali normal.1996). karena kontraksi membentuk penyempitan pembuluh darah yang terbuka 3) Involusi uterus yang tidak baikTidak dilakukan mobilisasi secara dini akan menghambat pengeluaran darah dan sisa plasenta sehingga menyebabkan terganggunya kontraksi uterus . Manfaat Mobilisasi Dini Menurut Mochtar (1995).merupakan pengembalian secara berangsur – angsur ke tahap mobilisasi sebelumnya untuk mencegah komplikasi (Roper.

Kemudian posisi tidur terlentang dirubah menjadi setengah dudukSelanjutnya secara berturut-turut. tangan.Tahap-tahap Mobilisasi Dini Menurut Kasdu (2003) mobilisasi dini dilakukan secara bertahap berikut ini akan dijelaskan tahap mobilisasi dini pada ibu post operasi seksio sesarea :1) Setelah operasi. posisi atau adanya kegiatan yang dilakukan ibu setelah beberapa jam melahirkan dengan persalianan Caesar.Mobilisasi secara teratur dan bertahap serta diikuti dengan istirahat dapat membantu penyembuhan ibu. pada 6 jam pertama ibu paska operasi seksio sesarea harus tirah baring dulu. TUJUAN MOBILISASI Membantu jalannya penyembuhan penderita / ibu yang sudah melahirkanMobilisasi yang dilakukan meliputi: Hari ke 1 :lakukan miring ke kanan dank e kiri yang dapat dimulai sejak 6-10 jam setelah penderita / ibu sadarLatihan pernafasan dapat dilakukan ibu sambil tidur terlentang sedini mungkin setelah sadar. Adapun saran-saran yang peneliti ingin sampaikan mengenai . menegangkan otot betis serta menekuk dan menggeser kaki2) Setelah 6-10 jam. Hari ke 2 :Ibu dapat duduk 5 menit dan minta untuk bernafas dalamdalam lalu menghembuskannya disertai batuk. [Pemesanan/ Pembelian Kapsul Herbal Alami Binahong Untuk Mempercepat Penyembuhan Luka Luar dan Dalam. belajar berjalan kemudian berjalan sendiri pada hari ke 3 sampai 5 hari setelah operasi. mengangkat tumit. hari demi hari penderita/ibu yang sudah melahirkan dianjurkan belajar duduk selama sehari. ibu diharuskan untuk dapat miring kekiri dan kekanan mencegah trombosis dan trombo emboli3) Setelah 24 jam ibu dianjurkan untuk dapat mulai belajar untuk duduk4) Setelah ibu dapat duduk. Mobilisasi dini yang bisa dilakukan adalah menggerakkan lengan.batuk kecil yang gunanya untuk melonggarkan pernafasan dan sekaligus menumbuhkan kepercayaan pada diri ibu/penderita bahwa ia mulai pulih. menggerakkan ujung jari kaki dan memutar pergelangan kaki. dianjurkan ibu belajar berjalan MOBILISASI PASCA SC PENGERTIAN MOBILISASI Mobilisasi adalah suatu pergerakan dan posisi yang akan melakukan suatu aktivitas / kegiatanMobilisasi ibu post partum adalah suatu pergerakan.

setelah 6 jam selesai tindakan operasi anastesi umum dibantu dengan perawat. Kemudian. Kepada perawat diharapkan mampu melakukan mobilisasi secara terstruktur setelah 6 jam pasien selesai dioperasi.blogspot. persalinan merupakan proses yang melelahkan. ibu bisa . lalu menggerakkan kaki. Bagi PasienKepada pasien. melancarkan peredaran darah dan menghindari komplikasi lainnya. Bagi Pihak Rumah Sakit Mengingat efek yang ditimbulkan sangat fatal jika tidak dilakukan mobilisasi dini setelah pasien 6 jam selesai di operasi.com/2009/05/pentingnya-mobilisasi-dini. Setelah itu. Mobilisasi hendaknya dilakukan secara bertahap. Selanjutnya cobalah untuk duduk di tepi tempat tidur. Dimulai dengan gerakan miring ke kanan dan ke kiri. lalu menggerakkan kaki. Bagi Bidan/ perawat Mobilisasi dini pada pasien post operasi anastesi umum sangat perlu dilakukan dimana keuntungan yang didapat pasien dapat lebih cepat mengakhiri puasanya karena peristaltik nya sudah baik dan mencegah komplikasi yang lain. ibu bisa turun dari ranjang dan berdiri. Kemudian. Itulah mengapa ibu disarankan tak langsung turun ranjang setelah melahirkan karena dapat menyebabkan jatuh pingsan akibat sirkulasi darah yang belum berjalan baik. http://bidanlia. hal ini perlu menjadi perhatian yang sangat penting bagi pihak Rumag Sakit yaitu diharapkan mobilisasi secara terstruktur dapat menjadi protap yang harus dilakukan setalah 6 jam pasien selesai di operasi dengan anastesi umum. 3. Khusus bagi ibu yang menjalani sesar dianjurkan untuk turun dari tempat tidur setelah beristirahat selama 24 jam. ibu bisa turun dari ranjang dan berdiri PERHATIKAN TAHAP MOBILISASI Memang benar. Namun setelah istirahat 8 jam. Selanjutnya cobalah untuk duduk di tepi tempat tidur.html Mobilisasi hendaknya dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan gerakan miring ke kanan dan ke kiri. Pasien mau melakukan tindakan mobilisasi dini dengan mengabaikan rasa malas dan sedikit nyeri juga rumor yang berpendapat bahwa jika banyak bergerak setelah operasi maka jahitan operasi akan lepas.penelitian ini antara lain : 1. mobilisasi sangatlah perlu agar tidak terjadi pembengkakan akibat tersumbatnya pembuluh darah ibu. Mobilisasi dilakukan untuk mempercepat terjadinya platus. 2.

terganggunya fungsi otot. Mobilisasi jangan dilakukan terlalu cepat sebab bisa menyebabkan ibu terjatuh. Hambatan aliran darah bisa menyebabkan terjadinya trombosis vena dalam atau DVT (Deep Vein Thrombosis) dan bisa menyebabkan infeksi. aliran darah tersumbat. Jangan melakukan mobilisasi secara berlebihan karena bisa membebani jantung. . 3. 4. Khususnya jika kondisi ibu masih lemah atau memiliki penyakit jantung. Bahkan. 2. dan lain-lain. Yakinlah ibu bisa melakukan gerakan-gerakan di atas secara bertahap. Dengan begitu. Kondisi tubuh akan cepat pulih jika ibu melakukan mobilisasi dengan benar dan tepat. Terkait dengan mobilisasi. karena bisa menyebabkan gangguan fungsi organ tubuh. sirkulasi darah di tubuh akan berjalan dengan baik.pergi ke kamar mandi. Tidak cuma itu. Sistem sirkulasi di dalam tubuh pun bisa berfungsi normal kembali akibat mobilisasi. Gangguan yang tak diinginkan pun bisa dihindari. penelitian menyebutkan early ambulation (gerakan sesegera mungkin) bisa mencegah aliran darah terhambat. mobilisasi yang terlambat dilakukan juga sama buruknya. ibu sebaiknya mencermati faktor-faktor berikut ini: 1. Meski begitu.

AKI Indonesia menempati . Jika setiap tahun hampir sekitar setengah juta warga dunia harus menemui ajalnya karena persalinan.1 Latar Belakang Pada dasawarsa terakhir ini. 1995 (www. Dan nampaknya hal ini menarik perhatian yang cukup besar sehingga dilakukannya berbagai usaha untuk menanggulangi masalah kematian ibu ini. Selain usaha-usaha tersebut. ada pula beberapa konferensi internasional yang juga bertujuan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) seperti International Conference on Population and Development. dunia internasional nampaknya benar-benar terguncang. Bila dibandingkan negara-negara Asean. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia berjumlah 307/100. atau program gerakan sayang ibu (safe motherhood program) yang dilaksanakan oleh Indonesia sebagai salah satu rekomendasi dari konferensi internasional di Mesir. Usaha tersebut terlihat dari beberapa program yang dilaksanakan oleh organisasi internasional misalnya program menciptakan kehamilan yang lebih aman (making pregnancy safer program) yang dilaksanakan oleh World Health Organization (WHO).000 kelahiran hidup.or. di Beijing. Kairo tahun 1994.rahima. 1994 dan The World Conference on Women.KTI PENDAHULUAN 1. di Kairo. 2003).id.

Mengenai target menurunkan AKI menjadi 125/100. atau dokter menginginkan cara yang mudah. et. 2004). operasi caesar sekitar 10 sampai 15%. peristiwa operasi caesar meningkat dengan pesat. juga tidak mempunyai alasan Kebanyak beralasan.depkes.go.posisi mengkhawatirkan. kedua mengupayakan komplikasi ibu saat mengandung dan melahirkan dapat ditangani. dimana SC adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding rahim. perdarahan. Pemerintah melaksanakan strategi utama adalah memberi pertolongan persalinan yang diberikan tenaga kesehatan. Di .000. embolisme paru-paru. hanya karena pasien menginginkan operasi tersebut. Di Australia dan Inggeris. ketiga mengupayakan pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan. Tetapi beberapa yang tepat. agaknya sulit mencapai target tersebut (www.id . Menurut Jones (2005) dalam tahun 30 tahun belakangan. infeksi puerperal. ruptur uteri dan juga dapat terjadi pada bayi seperti kematian perinatal (Mansjoer. Yang menyebabkan AKI tinggi ada dua faktor penyebab yaitu medis dan akses ke pelayanan kesehatan. namun pada kenyataannya masih sering terjadi komplikasi pada ibu post partum seperti. Salah satu jenis pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah Sectio Caesaria (SC). Untuk mendukung Making Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan WHO. 1999).all. luka pada kandung kencing.

komplikasi 515 kasus (47. dimana terdapat 14 orang ibu (2.25%).27%).75%). dimana jumlah persalinan normal sebanyak 156 persalinan (14.389 (22. Sedangkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Propinsi Lampung tahun 2006 ditemukan jumlah persalinan dengan caesar sebanyak 612 persalinan. perdarahan sebelum 63 kasus (5.85%).6%) (healthsolutionlpg_2006). kebanyakan ahli kebidanan.Amerika Serikat. pre eklampsia 53 kasus (4. Dari hasil laporan Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta tercatat bahwa pada tahun 2005 jumlah persalinan dengan operasi caesar meningkat menjadi 24% dengan jumlah 1.76%). sekitar 16% sampai 20%.28%) yang mengalami infeksi saat persalinan dengan caesar. Kemudian dari data yang didapatkan di Ruang ZZZ pada periode triwulan I tahun 2006 didapatkan data persalinan sebanyak 152 kasus. perdarahan sesudah 41 kasus (3. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti pada minggu ke-tiga dan ke-empat bulan Juni 2006 di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Propinsi Lampung didapatkan data jumlah pasien tahun 2005 dengan jumlah persalinan sebanyak 1093.09%) dan SC sebanyak 412 kasus (38. infeksi 37 kasus (3. Alasan tingginya jumlah kejadian operasi caesar di Amerika Serikat adalah. lain-lain seperti partus tidak maju berjumlah 307 (28.39%).38%). eklampsia 26 kasus (2. dimana jumlah .757 persalinan dari jumlah semula sebesar 1.12%).

2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas.25%).persalinan normal sebanyak 20 kasus (13. Fenomena lain yang tampak pada saat peneliti melakukan pengamatan terhadap 69 orang ibu post partum di Ruang Kebidanan pada tahun 2007 adalah masih banyak ditemui ibu-ibu yang tidak mengetahui tentang pentingnya melakukan mobilisasi dini setelah melakukan persalinan dengan sectio casesaria atau persalinan dengan komplikasi yaitu berjumlah 32 orang (46. dapat diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut: 1. Kemudian diketahui bahwa dari jumlah 69 kasus tersebut. .39%). selain itu masih tingginya kepercayaan ibu-ibu hamil terhadap mitos-mitos yang ada di masyarakat seperti. Berdasarkan latar belakang dan fenomena tersebut di atas.1 Diketahui bahwa pada tahun 2006 terjadi persalinan dengan SC sebanyak 412 kasus (38.37%).2.16%) dan persalinan SC sebanyak 69 kasus (45.02%). tidak boleh banyak bergerak karena melawan pantangan dan makanan yang dikonsumsi tidak boleh berasal dari ikan-ikan laut sebanyak 49 orang (71. 11 diantaranya (15. peneliti merasa tertarik untuk mengetahui “Hubungan Mobilisasi Dini pada ibu Post Sectio Caesaria (SC) dengan Proses Penyembuhan Luka Operasi di Ruang ZZZ Tahun 2007” 1.94%) melakukan mobilisasi dini dengan alasan untuk mempercepat penyembuhan luka yang dideritanya.

Tujuan Khusus Mengidentifikasi mobilisasi dini post SC ibu di Ruang ZZZ Tahun 2007. seperti makan-makanan tidak boleh berasal dari ikan-ikan laut dan tidak boleh banyak bergerak sebanyak karena melawan pantangan 49 orang (71.39%).4.2 Didapatkan jumlah persalinan dengan SC pada tahun 2007 (Januari – Maret) sebanyak 69 kasus (45.4. 1.94%) ibu-ibu melakukan mobilisasi dini dengan alasan untuk mempercepat penyembuhan yang dideritanya.1. 1.2 Permasalahan Permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat hubungan antara mobilisasi dini pada ibu dengan proses penyembuhan luka operasi”. Mengidentifikasi penyembuhan luka operasi pos SC ibu di Ruang ZZZ Tahun 2007.4 1.02%).2 1.4 Diketahui bahwa masih terdapat ibu-ibu yang percaya akan mitos-mitos yang tersebar di masyarakat. .2. 1.3. 2.1 Tujuan Penelitian Tujuan umum Untuk mengetahui hubungan mobilisasi dini pada ibu post sectio caesaria (SC) dengan proses penyembuhan luka operasi di Ruang ZZZ tahun 2007.2.3 11 dari 69 orang (15. 1.3. 1.1 Masalah dan Permasalahan Masalah Masalah dalam penelitian ini adalah “Masih banyak ditemui ibu-ibu yang post operasi SC yang tidak melakukan mobilisasi dini di Ruang ZZZ tahun 2007 ”.3 1. 1.2.

2 Bagi Ruang ZZZ Sebagai bahan masukan bagi Ruang ZZZ untuk dapat mengoptimalkan sistem penatalaksanaan dan perawatan pada ibu post partum pasca post operasi SC dalam tindakan mobilisasi dini. Manfaat Penelitian 1. 1.5. Mengidentifikasi ada tidaknya hubungan mobilisasi dini pada ibu post sectio caesaria (SC) dengan proses penyembuhan luka operasi di Ruang ZZZ Tahun 2007.5.3 Bagi mahasiswa Dapat mengetahui hubungan mobilisasi dini pada ibu post SC dengan penyembuhan luka operasi dan diharapkan dapat menjadi masukan yang berharga untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. antara lain: 1. 1. .3.5. sebagai data awal melakukan penelitian selanjutnya.5 Dari penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terkait.1 Bagi Institusi Pendidikan Dapat memberikan masukan bagi institusi pendidikan.

6 Ruang Lingkup Penelitian : Korelasi nis penelitian byek yang akan diteliti : ibu post SC di Ruang ZZZ : Hubungan mobilisasi dini pada ibu post sectio caesaria (SC) dengan proses penyembuhan luka operasi : Ruang ZZZ : Juli 2007 (minggu ke-1 dan ke-2) yek penelitian kasi penelitian ktu .1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful