P. 1
askep nifas

askep nifas

|Views: 86|Likes:
Published by diah wulan

More info:

Published by: diah wulan on Mar 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2012

pdf

text

original

PENGERTIAN - Masa nifas adalah masa pulihnya kembali dari persalinan selesai alat-alat kandungan kembali seperti

prahamil, yaitu 6-8 minggu (Mochtar, 1998 : 115). - Masa nifas adalah waktu penyembuhan dan perubahan yang diperlukan waktu kembali pada keadaan tidak hamil dan penyesuaian terhadap penambahan keluarga baru (Hamilton, 1995 : 281). - Masa nifas adalah kala puerperium berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari, merup[akan waktu yang diperlukan untuk pulihnta alat kandungan pada keadaan yang normal (Mochtar, 1998 : 190) B. FISIOLOGI NIFAS 1. Involusio Adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat-alat kandungan dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga mencapai keadaan seperti sebelum hamil. a. Involution rahim menurut Manuaba (1998 : 192) : Setelah bayi dilahirkan, uterus yang selama persalinan mengalami kontraksi dan retraksi akan menjadi keras, sehingga menutup pembuluh darah besar yang bermuara pada bekas implantasi plasenta. Otot rahim terdiri dari 3 lapis otot yang membentuk anyaman sehinga pembuluh darah dapat tertutup sempurna, dengan demikian terhindar dari perdarahan post partum. Pada involusi rahim, jaringan ikat dan jaringan otot mengalami proses proteolitik. Berangsur-angsur akan mengecil sehingga pada akhir kala nifas besarnya seperti semula, dengan 30 gram. Proses pretelitik adalah pemecahan protein yang akan dikeluarkan melalui urine. Dengan penimbunan air saat hamil akan terjadi pengeluaran urin setelah persalinan, sehingga pemecahan protein dapat dikeluarkan. 2

Involusio TFU Berat Uterus .Plasenta lahir 7 hari (1 minggu) 14 hari (2 minggu) 42 hari (6 minggu) 56 hari (8 minggu) .Setinggi pusat Pertengahan pusat-sympisis Tidak teraba Sebesar hamil 2 minggu Normal .1000 gram 500 gram 350 gram 50 gram 30 gram b. Involusi tempat Plasenta Bekas implantasi plasenta segera setelah plasenta lahir seluas 12 x 15 cm, permukaan kasar dimana pembuluh darah besar bermuara, kesembuhan sempurna pada saat akhir masa puerperium (Manuaba, 1998 : 192). c. Perubahan pembuluh darah rahim Pada pembuluh darah terjadi pembentukan trombose, disamping pembuluh darah tertutup karena kontraksi otot rahim. (Manuaba, 1998:192) d. Perubahan pada serviks dan vagina Beberapa hari setelah persalinan, bentuk serviks agak menganga seperti

corong berwarna merah kehitaman, konsistensi lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bias masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2 ± 3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari (Mochtar, 1998 : 116). e. Ligament ± Ligamen Ligamen, fasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan setelah bayi secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retroflexi, karena ligament rotundum menjadi kendur (Mochtar, 1998 : 116). 2. Lochea - Adalah secret yang berasal dari kavum dan vagina dalam masa nifas. - Pada hari pertama dan kedua lochea rubra (cruenta) terdiri atas darah segar bercampur sisa selaput ketuban, sel desodua, sisa vernik kaseosa lanuga dan mekonium. - Lochea sanguinolenta yaitu pada hari ke-3 samapai hari ke-7 berupa darah bercampur lender. - Lochea serosa yaitu pada hari ketujuh sampai 19, lockea cair tidak berdarah lagi warna agak kuning. - Lochea alba yaitu lebih dari 2 minggu, berupa cairan putih. - Lokiostasis yaitu lochea yang tidak lancer keluar (Prawirohardjo, 2007 : 241) 3. Laktasi - Kolostrum dihasilkan sampai hari kedua atau ketiga dan selanjutnya akan diproduksi ASI ± payudara akan mengeras, membesar dan bertambah berat setelah ASI diproduksi. Ibu mungkin merasa kurang nyaman selama 1 ± 2 hari. Setelah ASI mengalir dan bayi menyusui secara teratur, maka payudara menjadi lebih lunak dan terasa lebih nyaman.

- Menyusui juga memberikan keuntungan bagi ibu dan keluarganya, karena mencegah terjadinya perdarahan akibat stimulasi produksi oksitosin. Oksitosin menyebabkan uterus berkontraksi dan membantu pengeluaran ASI ketika bayi menghisap payudara. (Depkes RI, 1999 : 72) C. PERIODE NIFAS Nifas dibagi dalam 3 periode menurut Mochtar (1998 : 115) : 1. Puerperium dini Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari. 2. Puerperium Intermedial Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6 ± 8 minggu. 3. Remote Puerperium Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil/waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bias berminggu-minggu, bulanan atau tahunan. D. PENGELOLAAN 1. Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan kesejahteraan mereka. Segera setelah mereka cukup kuat untuk berjalan, bantu ibu untuk mandi Instruksikan padanya untuk mencuci putting susu pertama kali, kemudian tubuh dan terakhir perineum. Sediakan pembalut yang bersih (Hamilton, 1995 : 278). 2. Istirahat Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan, sarankan untuk kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan serta untuk tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur, kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal : a. Mengurangi ASI yang diproduksi.

b. Memperlambat proses infolusi dan memperbanyak perdarahan. c. Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri (Saifuddin, 2002 : N ± 25) 3. Latihan Diskusikan pentingnya otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung. Jelaskan bahwa latihan beberapa menit setiap hari sangat membantu memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul (latihan kegel). Berdiri dengan tungkai dirapatkan, kencangkan otototot pantat dan panggul serta tahan sampai 5 hitungan. Kendorkan dan ulangi sebanyak 5x (Saifuddin, 2002 : N ± 25). 4. Gizi Ibu menyusui harus a. Mengkonsumsi tambahan sebanyak 500 kalori/hari. b. Makan dengan diit berimbang protein, mineral dan vitamin yang cukup. c. Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui) d. Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat besi setidaknya selama 40 kali setelah persalinan e. Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bias memberikan vitamin A pada bayi melalui ASI (Saifuddin, 2002 : N ± 25). 5. Menyusui ASI mengandung semua bahan yang diperlukan bayi, mudah diberna, member perlindungan terhadap infeksi, selalu segar, bersih dan siap untuk diminum, cara untuk meningkatkan sulpat ASI : a. Untuk bayi 1) Menyusui bayi tiap 2 jam, siang dan malam dengan lamanya menyusui

5 ± 10 menit disetiap payudara. 2) Bangunkan bayi, lepaskan baju yang menyebabkan rasa gerah dan duduklah selama menyusui. 3) Pastikan bayi menyusui dengan posisi menempel yang baik dan dengarkan suara menelan yang aktif. 4) Susui bayi ditempat yang tenang dan nyaman serta minumlah setiap kali menyusui. 5) Tidurlah bersebelahan dengan bayi b. Untuk ibu menurut Saifuddin, 2002 : N ± 26 1) Ibu harus meningkatkan istirahat dan minum. 2) Petugas kesehatan harus mengamati ibu yang menyusui bayinya dan mengoreksi setiap kali terdapat masalah pada posisi penempelan. 3) Yakinkan bahwa ia dapat memproduksi susu lebih banyak dengan melakukan hal-hal diatas. 6. Perawatan payudara a. Menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama putting susu. b. Menggunakan BH yang menyokong payudara. c. Apabila putting susu lecet oleskan colostrums/ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusui. d. Payudara selalu disokong bila terasa penuh dengan cara menetekkan pada bayi atau dengan cara menampungnya pada sebuah gelas bersih dan tertutup. (Saifuddin, 2002 : N ± 27) 7. Senggama Secara fisik aman untuk memenuhi hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jarinya kedalam vagina tanpa rasa sakit atau nyeri. Begitu darah berhenti dan ibu tak merasa nyeri, aman

untuk memenuhi melakukan hubugan seksual kapan saja. Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan seksual sampai masa waktu tertentu, misalnya 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan (Saifuddin, 2002 : N ± 27). 8. Keluarga Berencana a. Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menetapkan sendiri kapan dan bagaimana ingin merencanakan tentang keluarga. b. Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovum) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama meneteki (amenorhoe laktasi). Oleh karena itu metode amenorhoe laktasi dapat terjadinya kehamilan baru. c. Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko menggunakan kontrasepsi tetap aman, terutama apabila ibu sudah haid lagi (Saifuddin, 2002 : N ± 28) E. PENGKAJIAN DATA 1. Data Subyektif a. Biodata 1) Usia produksi yang baik adalah 20 ± 35 tahun untuk usia 35 tahun atau multi gravid akan beresiko terhadap kontraksi uterus dan perdarahan yang terjadi. Bila itu telah dirawat diruang post partum selama kala IV (Hamilton, 1995 : 286). 2) Pendidikan Pendidikan rendah atau tidak berpendidikan akan sulit menerima penjelasan yang diberikan meskipun pada akhirnya insting keibuan akan lebih berperan dalam perawatan bayinya (Ibrahim, 1996 : 28) Pekerjaan Pekerjaan ibu yang terlalu berat pada masa kehamilan akan

berpengaruh terhadapa fisik ibu yaitu fisik ibu akan menjadi lemah dan perjalanan masa nifas yang abnormal. 4) Status Perkawinan Remaja yang hamil diluar nikah menghadapi berbagai masalah psikologis yaitu rasa takut, kecewa, menyesal dan rendah diri terhadap kehamilannya sehingga berusaha untuk menghilangkannya dengan jalan abortus (Manuaba, 1998 : 26). 5) Alamat Dengan diketahui alamat, bidan dapat mengetahui tempat tinggal klien dan lingkungannya. Untuk mengetahui ibu tinggal dimana, menjaga kemungkinan bila ada ibu-ibu yang namanya sama. b. Keluhan Utama Akibat dari proses involusi akan menimbulkan rasa mules, saat pertama ASI diproduksi akan menimbulkan rasa nyeri pada payudara, ibu akan merasa letih karena tenaganya telah banyak terkuras saat persalinan, ibu akan mengalami gangguan eliminasi. (retensio urine) yang disebabkan ibu takut untuk melakukan mobilisasi dini (Wiknjosastro, 199 : 236). c. Riwayat Kesehatan Keadaan kesehatan ibu dengan penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, GO, akan mempengaruhi masa nifas tersebut : 1) Penyakit DM sering menyebabkan infeksi nifas serta menghambat penyembuhan jalan lahir. 2) Penyakit jantung tingkat IV ibu dilarang menyusui bayinya 3) Ibu dengan pre eklamasi cenderung mengalami karena Antonia uteri/inertia uteri. 4) Ibu dengan TBC, hepatitis harus diisolasi dan tidak dianjurkan menyusui bayinya.

5) Ibu dengan infeksi clamiolia,Taxoplasmosis, GO diperbolehkan menyusui bayinya (Wiknjosastro, 2007 : 519) 6) Ibu dengan anemia akan beresiko perdarahan post partum, karena otonia uteri (Wiknjosastro, 2007 : 450). d. Riwayat Kesehatan Keluarga Dari pihak keluarga ibu maupun suami yang tinggal seatap tidak ada yang menderita penyakit menular seperti TBC, hepatitis, dan penyakit menurun yaitu DM, jantung, ginjal, hipertensi dan asma (Ibrahim, 1993 : 56) Ibu nifas yang memiliki keluarga yang yinggal dengan ibu dengan penyakit menular akan berpotensi tertular penyakit tersebut (Wiknjosastro, 2007 : 519) e. Riwayat Kebidanan 1) Haid Kembalinya haid pada klien post partum yang tidak menyusui masa infertile kira-kira berlangsung 6 minggu (Saifuddin, 2002 : 26). Pengeluaran lochea rubra (warna merah) pada hari 1 dan 3, lochea sanguinolenta (warna kecoklatan hari 3 ± 7), lochea serosa (warna kekuningan hari 7 ± 14), lochea alba (setelah hari ke ± 14) warna putih 8 6) Ibu dengan anemia akan beresiko perdarahan post partum, karena otonia uteri (Wiknjosastro, 2007 : 450). d. Riwayat Kesehatan Keluarga Dari pihak keluarga ibu maupun suami yang tinggal seatap tidak ada yang menderita penyakit menular seperti TBC, hepatitis, dan penyakit menurun yaitu DM, jantung, ginjal, hipertensi dan asma (Ibrahim, 1993 : 56) Ibu nifas yang memiliki keluarga yang yinggal dengan ibu dengan penyakit menular akan berpotensi tertular penyakit tersebut (Wiknjosastro, 2007 : 519)

e. Riwayat Kebidanan 1) Haid Kembalinya haid pada klien post partum yang tidak menyusui masa infertile kira-kira berlangsung 6 minggu (Saifuddin, 2002 : 26). Pengeluaran lochea rubra (warna merah) pada hari 1 dan 3, lochea sanguinolenta (warna kecoklatan hari 3 ± 7), lochea serosa (warna kekuningan hari 7 ± 14), lochea alba (setelah hari ke ± 14) warna putih (Manuaba, 1998 : 193). 2) Riwayat Kehamilan - Pada TM I sering ditemukan emesis ringan, fatique, sering BAK. - Pada TM II mengeluh sulit tidur, pegal di daerah panggul, rasa tegang sewaktu-waktu di perut, oedem kaki yang menghilang di pagi hari. - Pada TM III mengeluh nyeri pinggang, sering BAK, obstipasi, oedem tungkai dank ram kaki. - ANC ditempat pelayanan kesehatan minimal 4x (Depkes RI, 1993 : 168). - Mulai pergerakan janin usia 20 minggu. TT diberikan 2x dengan interval minimal 4 minggu. Nasehat yang diberikan meliputi gizi bumil, personal hygiene, aktifitas, prawatan payudara tanda kehamilan resiko tinggi, pentingnya ANC, imunisasi (Sarwono, 2002 : N ± 2 ± N ± 4 - Terapi yang didapat a) Pemberian Fe. Tujuan pemberian tablet Fe adalah untuk memenuhi kebutuhan Fe pada ibu hamil dan nifas, karena pada kehamilan dan nifas kebutuhannya meningkat.

b) Pemberian tablet multivitamin yang mengandung mineral. Tujuan adalah untuk memenuhi kebutuhan akan bergizi vitamin dan mineral bagi ibu dan janin selama hamil dan nifas. (Depkes RI, 1994 : 16) 3) Riwayat persalinan - Kala I : Untuk primi 13 jam, multi 7 jam. His pembukaan serviks sampai terjadi pembukaan lengkap 10cm, mulai kuat, teratur dan sakit. - Kala II : Untuk primi 2 jam, multi 1 jam, persalinan spontan dan BBL sehat serta normal. - Kala III : Plasenta lahir spontan, lengkap primi ½ jam, multi ¼ jam. - Kala IV : 2 jam post partum perdarahan tidak boleh >500cc. apabila dalam persalinan berlangsung normal tanpa penyulit maka dalam masa nifas akan berlangsung normal pula, tetapi persalinan harus berakhir dengan tindakan maka secara otomatis akan mempengaruhi masa nifasnya. Misalnya pada kasus partus lama biasanya akan terjadi retensio urin karena terjadi oedema pada spinter uretranya. (Manuaba, 1998 : 239) 4) Riwayat Nifas Sekarang Pada riwayat nifas ini perlu dikaji adalah bagaimana dengan keadaan 2 jam PP, data ini perlu dikaji karena pada masa ini perdarahan post partum yang normal harus didapatkan : - Keadaan umum ibu baik - TTV dalam batas normal. - Tensi :1 0 0/70 mmHg ±1 4 0/90 mmHg.

- Nadi 60 ± 90 x/menit. - Suhu 36,5 ± 37,5oC. - Pernafasan : 16 ± 20 x/menit. - TFU satu / 2 jari atau setinggi pusat. - Laklasi, ASI sudah keluar. - Kontraksi baik, tidak ada peradarahan abnormal, pengeluaran pervaginaan tidak lebih dari 400 ± 500 cc. (Manuaba, 1998 : 166) 5) Riwayat KB Perlu ditanyakan pada ibu yang mengikuti atau pernah mengikuti KB yaitu jenis kontrasepsi yang dipakai, efek samping, alas an pemberhentian kontrasepsi (bila tidak memakai lagi) lamanya penggunaan kontrasepsi (Depkes RI, 1994 : 16) f. Pola Kebidanan sehari-sehari 1) Nutrisi Makanan yang dimakan ibu menyusui tidak dengan langsung mempengaruhi kuantitas ASI. Karena dalam tubuh ibu, biasanya terdapat persediaan zat gizi yang dapat digunakan sewaktu-waktu (Ibrahim, 1987 : 26). 2) Ibu menyusui diberi kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bias memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASInya. Total kalori 2800 KKal, protein 100 gr, calk 2 mg, Fe 15 mg, Vit B2 3mg, vit C 150 mg, riboflavin 3 mg, vit D 800 mg (RDA, 1998). Tiap hari harus ada kelompok makanan dasar yaitu makanan harian, daging, protein, mineral. Pada ibu nifas terutama bagi ibu yang menyusui harus mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari dalam bentuk makanan seimbang, minum sedikitnya 3 liter air setiap hari, porsi makanan ibu

nifas untuk membantu proses penyembuhan luka dan laktasi (Saifuddin, 2002 : N ± 25). 3) Eliminasi Pada masa post partum kandung kemih cepat terisi karena diuresi dan cairan intravena ibu nifas dapat berkemih spontan dalam 6 jam, BAB biasanya tertunda selama 2 ± 3 hari setelah melahirkan karena enema pra persalinan, diit cairan, obat-obat analgesic selama persalinan dari perineum yang sangat sakit (Hamilton, 1995 : 288). 4) Istirahat tidur Terganggu karena mules, nyeri perineum dan pembendungan ASI kebutuhan istirahat ibu + 8 ± 10 jam sehari untuk siang dan malam (Hamilton, 1995 : 259). 5) Personal hygiene Ibu harus menjaga kebersihan seleruh tubuhnya, terutama kebersihan daerah genetalia dengan sabun dan air, membersihkan daerah vulva atau cebok harus dilakukan dengan benar dari depan ke belakang pembalut harus sering diganti bila kotor, kebersihan buah dada diperhatikan, pakaian yang dipakai oleh ibu sebaiknya yang bersih dan mudah menyerap keringat (Saifuddin, 2002 : N ± 24). Perawatan mammae dilakukan 2x sehari bersamaan mandi. Putting dikompres dengan kapas diberi minyak selama 5 ± 15 menit, kemudian diurut dari pangkal kearah putting dengan satu tangan menopang mammae urut dengan sisi ulnar tangan kea rah aerola, bilas dengan air hangat dan dingin, kemudian pangkal BH yang menopang (Saifuddin, 2002 : N ± 24). 6) Aktifitas Mobilisasi dini sangat dianjurkan bagi ibu setelah melahirkan karena

memiliki keuntungan sebagai berikut : - Ibu merasa lebih sehat dan kuat. - Fungsi usus dan kandung kemih akan lebih baik - Memungkinkan kita mengajarkan ibu memelihara anaknya (Saifuddin, 2002 : N ± 25). Early ambulation dimulai sejak 2 jam PP dimulai dari miring kiri, kanan, duduk, lalu berjalan disekitar tempat tidur, bila tidak ada keluhan mulai berjalan seperti biasanya, ketika kekuatan abdomen dan dasar pelvic telah baik dimulai dengan senam post partum. 7) Hubunagan Seksual Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan, keputusan bergantung pada pasangan yang bersangkutan (Sarwono, 2002 : N ± 27) 8) Ketergantungan Pada ibu yang memiliki ketergantungan terhadap obat-obatan, rokok yang dapat mempengaruhi ASI nya (Wiknjosastro : 1999 : 154). 9) Latar Belakang Sosial Budaya a. Menghindari makanan berpotensi seperti ikan atau telur. 12 - Memungkinkan kita mengajarkan ibu memelihara anaknya (Saifuddin, 2002 : N ± 25). Early ambulation dimulai sejak 2 jam PP dimulai dari miring kiri, kanan, duduk, lalu berjalan disekitar tempat tidur, bila tidak ada keluhan mulai berjalan seperti biasanya, ketika kekuatan abdomen dan dasar pelvic telah baik dimulai dengan senam post partum. 7) Hubunagan Seksual

Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan, keputusan bergantung pada pasangan yang bersangkutan (Sarwono, 2002 : N ± 27) 8) Ketergantungan Pada ibu yang memiliki ketergantungan terhadap obat-obatan, rokok yang dapat mempengaruhi ASI nya (Wiknjosastro : 1999 : 154). 9) Latar Belakang Sosial Budaya a. Menghindari makanan berpotensi seperti ikan atau telur. b. Penggunaan bebat perut pada nifas (2- 4 jam pertama). c. Penggunaan kantong es atau pasir untuk menjaga uterus berkonsentrasi. d. Memisahkan bayi dari ibunya untuk masa yang lama pada 1 jam pertama setelah kelahiran (Saifuddin, 2002 : N ± 29). e. Memberikan MPASI untuk bayi sebelum 6 bulan. f. Membuang kolostrum/ASI jolong. g. Member ramuan pada tali pusat. Kebiasaan pijat dan minum jamu tradisional dapat mempengaruhi proses nifas terutama dalam proses laktasi (Hamilton, 1995 : 28) 10) Riwayat Psikologi Ibu merasa bangga dan bahagia dengan kelahiran anaknya yang sangat diharapkan. Ibu dan keluarga akan beradaptasi dengan penambahan anggota keluarga (Hamilton, 1995 : 28). a. Taking in - Tingkah laku ibu tergantung orang lain dan hanya nifas pada dirinya sendiri. - Terjadi pada 1 ± 2 hari PP.

- Mengenang pengalaman melahirkan. - Pasif . b. Taking hold - Terjadi perpindahan dan tergantung menjadi mandiri - Terjadi 3 ± 10 hari PP - Focus lebih besar - Mandiri dalam self care - Terbuka untuk penyuluhan - Kurang percaya diri c. Letting go - Terjadi perpindahan dari mandiri keperan ibu. - Terjadi pada hari ke 7 ± 10. - Menerima tanggung jawab peran - Kemandirian. - Menyesuaikan dengan keluarga tempat tinggal bayi. (Hamilton, 1995 : 293 ± 294) 2. Data Objektif a. Keadaan umum : baik dan kesadaran komposmentis (Hamilton, 1995 : 281) b. Tanda ± tanda vital - Tekanan darah : tidak boleh >1 4 0/90 mmHg. Kenaikan diastole tidak boleh > 30 mmHg dan kenaikan systole tidak boleh> 15 mmHg. Periksa setiap 15 menit selama 1 jam atau sampai stabil, kemudian 30 menit untuk jam ± jam berikutnya. Persalinan dan kelelahan, hal ini akan normal kembali dalam 1 jam (Hamilton, 1995 : 282). - Nadi : diperiksa setiap 15 menit selama 1 jam atau sampai stabil kemudian setiap 30 menit untuk jam berikutnya

14 - Suhu : periksa sekali pada 1 jam suhu tubuh mungkin meningkat bila dehidrasi atau keletihan (Hamilton, 1995 : 282). - Pernafasan : menunjukkan keadaan normal, teratur, cukup dalam frekuensi + 18 x/menit apabila pernafasan tidak teratur, dangkal berbunyi frekuensi rendah atau terlalu tinggi menunjukkan bahwa keadaan jantung dan paru-paru tidak normal (Ibrahim, 1996 : 39). c. Pemeriksaan Fisik Kepala y Muka : Muka lebih pucat, biru, menunjukkan tanda kegelisahan setelah penyinaran warna muka penderita maupun karena adanya perdarahan. Apabila syanosis merupakan gejala awal pekerjaan jantung dan paru-paru kurang baik sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan O2 dalam tubuh (Christina, 1996 : 39). y Mata : Simetris, konjungtiva warna merah muda, bila pucat (anemia), sclera putih, bila kuning ibu terinfeksi hepatitis (Depkes RI, 2000 : 19). y Dada dan Payudara : Hari pertama air susu mengandung kolostrum yang merupakan cairan kuning lebih kental dari air susu, mengandung protein albumin dan

globulin dan benda-benda kolostrum dengan diameter 0,001 ± 0,025. Payudara bengkak sering terjadi pada hari ketiga atau keempat sesudah ibu melahirkan (Sotjiningsih, 1997 : 107). d. Abdomen 1) Tinggi fundus uteri dan kontraksi rahim 2) Segera setelah plasenta lahir TFU + 2 jari dibawah pusat. 3) Pada hari ke 5 TFU + 7 cm diatas simphisis atau setengah symphisis Pusat 4) Sesudah 12 hari uterus tidak dapat diraba lagi diatas symphisis. (Wiknjosastro, 2007 : 237). e. Genetalia 1) Perineum utuh atau terjadi rupture. Observasi perdarahan tiap 15 menit pada jam I dan 30 menit selama jam II (Saifuddin, 2002 : N ± 27). 2) Lochea rubra : hari 1 ± 3, berwarna merah dan hitam. 3) Lochea sanguinolenta : hari 7 ± 14, berwarna putih bercampur merah. 4) Lochea serosa : hari 7 ± 14, berwarna kekuningang. 5) Lochea alba : setelah 14 hari berwarna putih. (Manuaba, 1998 : 193) f. Diagnose Kebidanan P1/>1, post partum, hari ke 1 ± 40 hari, KU baik/jelek, persalinan normal/tidak, laktasi lancer/belum, involusi baik/tidak, lochea, kandung kemih kosong/penuh, resiko ««., prognosa «««, dengan masalah «.. (Hamilton, 1995 : 295) g. Perencanaan

Menurut Hamilton (1995 : 295-296) : 1. Diagnosa : P1/>1, post partum, hari ke 1-40 hari, KU baik/jelek, persalinan normal/tidak, laktasi lancar/belum involusi baik/tidak, lochea, kandung kemih kosong/penuh resiko «., prognosa. Tujuan : Masa nifas dapat dilalui dengan baik tanpa ada penyulit atau komplikasi. Kriteria : - Keadaan umum ibu baik T :1 10/70 ±1 2 0/80 mmHg N : 80 ± 100 x/menit S : 36 ± 37oC R : 16 ± 24 x/menit - ASI keluar lancar - Involusi normal sesuai harinya - Kontraksi uterus baik, teraba keras dan bundar pertengan pusat dengan symphisis - Lochea lancer dan normal y Lochea rubra (merah) hari 1 ± 2. y Lochea sanguinolenta (keciklatan) hari 3 ± 7. y Lochea serosa (kekuningan) hari 7 ± 14. y Lochea alba (putih) hari 14. - Eliminasi lancar (kandung kemih kosong)

- Keluhan nyeri berkurang, aktifitas sehari-hari dapat dilakukan secara mandiri, ibu dapat mengatasi masalah yang timbul. - Keadaan umum bayi baik. y R : 30 ± 60 x/menit. y S : 36,5 ± 37,5oC. y Kulit kemerahan. y Tangis kuat. y Gerakan aktif. y Menetek setiap saat Intervensi a. Jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga. R/ Ibu mengetahui keadaan dirinya dan lebih kooperatif dengan tindakan yang akan dilakukan. b. Jelaskan tentang fisioligis nifas. R/ Ibu memahami perubahan-perubahan yang terjadi pada ibu nifas. c. Jelaskan patologi nifas. R/ Deteksi dini adanya kelainan sehingga bias segera diatasi. d. Beritahu ibu tentang kebutuhan dasar ibu nifas meliputi : - Konseling mengenai nutrisi, eliminasi, istirahat, personal

hygiene, hubungan seksual dan KB. - Pelatihan mengenai perawatan payudara dan senam nifas. - Pelatihan mengenai perawatan anak meliputi memandikan bayi, merawat tali pusat, ASI eksklusif, MP ASI, dan imunisasi . Observasi KU ibu dan TTV. R/ Deteksi dini adanya kelainan gejala cardinal. f. Observasi proses involusi, TFU, kontraksi uterus, pengeluaran lochea. R/ Memastikan ibu sedang dalam proses penyembuhan yang aman. g. Anjurkan mobilisasi dini R/ Tirah baring lebih dari 8 jam PP merupakan faktor penyebab trombosit dan trombo embolin. h. Jelaskan dan anjurkan cara vulva hygiene yang benar. R/ Mencegah infeksi dan memberikan rasa nyaman serta mempercepat penyembuhan luka perineum. 2. Resiko nyeri. Tujuan : Tidak dapat tanda-tanda Kriteria : - Luka perineum bersih - Tidak terdapat tanda-tanda infeksi, warna luka tidak kemerahan, suhu normal, tidak bengkak. Intervensi a. Kaji catatan prenatal dan intranatal, perhatikan frekuensi pemeriksaan vagina dan komplikasi seperti KPD, persalinan lama,

laserasi, hemoragic, dan tertahannya plasenta. R/ Mengidentifikasi faktor resiko yang dapat menggangu penyembuhan dan atau kemunduran pertumbuhan epitel jaringan endomentrium dan member kecenderungan klien terkena infeksi. b. Pantau suhu, nadi sesuai indikasi, catat adanya tanda-tanda menggigil, anoreksia, dan malaise. R/ Peningkatan suhu sampai 38,3oC pada 2 dan 10 hari pertama PP adalah bermakna c. Catat jumlah dan bau lochea atau perubahan kemajuan dari rubra menjadi serosa. R/ Lochea secara normal memiliki baud aging namun pada endometritis lochea mungkin purulenta dan berbau busuk, mungkin juga gagal dari lochea rubra, serosa sampai alba. d. Inspeksi sisi perbaikan episiotomy setiap 8 jam. Perhatikan nyeri tekan berlebihan, kemerahan, eksudat, oedema, kehilangan perletakan atau adanya laserasi. R/ Diagnosa dini dari infeksi lokal dapat mencegah penyebaran pada jaringan uterus. e. Anjurkan perawatan perineal dengan mencuci dari arah sympisis ke anal dan mengeringkan lakukan random duduk 3 ± 4 x sehari atau setelah berkemih atau defekasi jika perlu. R/ Pembersihan sering dari depan kebelakang (Sympisis kea rah anal) membantu mencegah kontaminasi rectal memasuki vagina dan uretra. f. Anjurkan klien untuk mandi setiap hari/ganti pembalut yang basah dan kotor minimal 3 ± 4 x sehari atau jika basah.

R/ Dengan menjaga kebersihan akan mengurangi kemungkinan terjadi infeksi. g. Berikan informasi tentang makanan pilihan tinggi protein, vitamin c dan zat besi, anjurkan klien untuk meningkatkan masukan cairan sampai 200 ml/hari. R/ Protein membantu meningkatkan penyembuhan dan regenerasi jaringan baru, zat besi perlu untuk sintesis dinding sel, peningkatan cairan membantu mencegah statis urin dan masalah ginjal. 3. Tindakan nyaman (Nyeri). Tujuan : Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi. Kriteria : Ibu mengerti keadaan dirinya, rasa nyaman terpenuhi minimal dapat terkondisi dengan keadaannya Intervensi : a. Tentukan adanya laktasi dan ketidaknyamanan, tinjau ulang persalinan dan catat kelahiran. R/ Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan khusus dan intervensi yang tepat. b. Inspeksi perbaikan perineum dan episiotomy, perhatikan oedema, ekimosis, nyeri tekan lokasi, eksudat purulen atau kehilangan perlekatan jahitan. R/ Dapat menunjukkan adanya trauma berlebihan pada jaringan perineal atau terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi yang selanjutnya. c. Berita kompres panas lembab diantara 38oC sampai 43,2oC selama

20 menit 3 ± 4 x sehari setelah 24 jam pertama. R/ Meningkatkan sirkulasi pada perineum, meningkatkan oksigenasi dan nutrisi jaringan pada menurunkan oedema, meningkatkan penyembuhan . d.Ajarkan duduk dengan otot gluteal. R/ Pengencangan gluteal saat duduk menurunkan stress dan tekanan langsung pada perineum. e. Kaji nyeri tekan uterus, tentukan adanya dan frekuensi after pains faktor pemberat. R/ Selama 12 jam PP kontraksi uterus kuat dan regular dan ini berlanjut selama 2 ± 3 hari berikutnya meskipun frekuensi dan intensitasnya berkurang. Faktor ± faktor yang memperberat after pains meliputi multipara, overdistensi uterus. f. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgetik. R/ Analgetik mengurangi nyeri. 4. Kebutuhan kurang tidur. Tujuan : Kebutuhan istirahat tidur terpenuhi. Kriteria : - Ibu dapat mengganti kebutuhan tidurnya pada waktu Lain - Mata tidak sayu, mengantuk, tidak lemas dan ibu Nampak lebih segar. Intervensi : a. Anjurkan ibu agar istirahat cukup. R/ Mencegah keletihan b. Sarankan ia untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga

secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau istirahat dapat berakibat : - Mengurangi produksi ASI - Memperlambat proses involusi dan memperbanyak perdarahan. - Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri. c. Motivasi ibu melanjutkan aktivitas secara bertahap memberikan jarak antara aktivitas mereka, dan untuk istirahat sebelum menjadi keletihan. R/ Ambulasi secara bertahap memberikan kesempatan kepada ibu untuk melatih kembali otot-ototnya yang tegang selama persalinan dan mencegah thrombosis d. Berikan ibu manfaat kebutuhan tidur. R/ Tidur memberikan kesempatan pada otot-otot untuk istirahat bukan hanya berarti mengurangi aktivitas otot-otot tetapi juga meringankan ketegangan urat. 5. Eliminasi usus/kandung kemih. Tujuan : Kebutuhan eliminasi (usus dan kandung kemih) dapat terpenuhi Kriteria : - Ibu mengetahui batas normal eliminasi dan manfaatnya. - Pola dan frekuensi eliminasi dalam batas normal BAK : 4 ± 5 x/hari BAB : 1 ± 2 x/hari Intervensi :

a. Anjurkan ibu untuk meningkatkan asupan cairan yang adekuat dan diit tinggi serat. R/ Cairan yang cukup dan diit tinggi serat memperlancar proses BAB. b. Anjurkan ibu untuk melakukan kembali kegiatan makan dan ambulasi secara teratur. R/ Membantu regulasi BAB. c. Anjurkan ibu minum yang banyak. R/ Meningkatkan dieresis. d. Kaji pola pengosongan kandung kemih, implementasikan tindakan-tindakan memudahkan berkemih, intruksikan klien untuk melakukan latihan kegel sesuai kondisi ibu dan tingkat diastasis. R/ Kembalinya fungsi normal kandung kemih memerlukan waktu 4 ± 7 hari dan overdistensi kandung kemih dapat menciptakan perasaan dorongan dan ketidaknyamanan. latihan kegel membantu penyembuhan dan pemulihan dari tonus otot dasar panggul untuk : - Membantu jahitan lebih merapat. - Menambah sirkulasi ke jalan lahir. - Mempercepat penyembuhan. - Menandakan hemoroid dari varikositas vulva. e. Kosongkan kandung kemih dengan melakukan rangsangan yaitu dengan mengguyur vulva dengan air hangat dan kompres hangat, dingin dengan suprapubis. R/ Merangsang BAK. 6. Kurangnya perawatan diri Tujuan

: Ibu dapat melakukan perawatan diri. Kriteria : - Ibu tampak bersih dan segar - Ibu dapat melakukan teknik perawatan diri yang benar. - Ibu dapat beraktivitas secara bertahap ntervensi : a. Jelaskan pada ibu tentang pentingnya perawatan dini saat nifas. R/ Meningkatkan motivasi ibu untuk melakukan perawatan dini. b. Anjurkan ibu untuk mobilisasi secara bertahap dan merawat kebersihan. R/ Melatih otot-otot sehingga dapat beraktivitas secara bertahap dan mampu menjaga kebersihan dirinya. c. Bantu ibu dalam memenuhi kebutuhan perawatan dini. R/ Ibu mampu merawat dirinya sendiri secara mandiri d. Anjurkan ibu mandi berendam dan mandi siram sehingga perdarahan melambat, menjaga agar tetap bersih, terutama putting susu dan pireneum, air hangat biasanya sudah memadai, sabun bias menimbulkan rasa gatal/mongering cuci tangan dengan sabun dan air, mengganti dengan kain bantalan, menjaga agar pakaian dan tempat tidur bersih. R/ Menjaga kebersihan seluruh tubuh, member rasa amandan nyaman serta menjaga, mencegah terjadinya infeksi e. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut/kain pembalut setidaknya dua kali sehari. R/ Memberi rasa nyaman. f. Sarankan ibu cuci tangan dengan sabun dan air, sebelum dan

sesudah membersihkan daerah kelaminya. R/ Menguji kemungkinan terjadi infeksi. F. PELAKSANAAN langkah pelaksanaan dalam asuhan dilakukan sesuai dngan rencana yang telah ditetapkan, baik secara mandiri, kolaborasi/rujukan. Pelaksanaan tindakan diupayakan dalam waktu yang singkat dan efektif, hemat dan berkualitas. (Depkes RI, 1995 : 11) G. EVALUASI - Evaluasi adalah langkah akhir dari proses manajemen kebidanan. - Tindakan pengukuran antara keberhasilan dan rencana. - Tujuan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan tindakan yang dilakukan. (Depkes RI, 1995 : 11) Dalam evaluasi harus dicantumkan juga ; S : Data subyektif Menggambarkan pendokumentasian hasil melalui anamnesa. O : Data objektif Menggambarkan pendokumentasian laboratorium tes, diagnose yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung assessment. A : Assesment Menggambarkan hasil analisa data dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi. 1. Diagnosa/masalah 2. Antisipasi diagnose lain/masalah potensial

P 3. : Planning 4. Menggambarkan perdokumentasian, perencanaan, tindakan, evaluasi 5. berdasarkan assessment. 6. (Depkes RI, 1995 : 7 ± 10 http://www.scribd.com/doc/42009251/Askeb-Nifas-Normal-Gressta-e-n 15;39

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->