P. 1
kaltim

kaltim

|Views: 370|Likes:
Published by Bani Dipra Ramdani

More info:

Published by: Bani Dipra Ramdani on Mar 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/04/2013

pdf

text

original

Sections

2009

Laporan Pembangunan Berkelanjutan

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

i

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
1 3 5
Dari Redaksi Pengantar Chief Executive Officer Tentang Laporan Ini 6 7 8 8 8 8 8 Tujuan Pembuatan Laporan Pendekatan Sistem Laporan Penilaian Laporan Pedoman Dasar Lingkup Laporan Verifikasi Independen Penghargaaan 2009

13

Tentang KPC 14 14 16 18 21 22 23 30 31 35 36 36 Pemilihan Serta Evaluasi Dewan Direksi dan Dewan Komisaris Manajemen KPC Strategi dan Pendekatan Pembangunan Berkelanjutan Keterlibatan Pemangku Kepentingan Proses Penambangan Kami Operasi Pertambangan Kami Produksi Batu bara Kami Pasar Batu bara Kesehatan dan Keselamatan Kerja Benefit Karyawan Penyediaan dan Pemantauan Lahan Rencana Pasca Tambang

39

Kualitas Produk Kami 39 39 40 40 Tanggung Jawab Terhadap Produk Kepuasan Pelanggan Program Komunikasi Pemasaran Pelanggaran Privasi Konsumen

ii

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

DAFTAR ISI 41

Tata Kelola Perusahaan 42 43 43 43 43 44 44 Penanggung Jawab Pembangunan Berkelanjutan Monthly Board Meeting Executive Committee HSE Forum HRCR Forum & HR Network Sistem Manajemen Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan Forum MSH-CSR (Multi Stakeholder for Corporate Social Responsibility)

45

Kinerja Ekonomi 45 45 45 47 Kontribusi Bagi Pembangunan Ekonomi Nasional Pengaruh Curah Hujan Terhadap Produksi Keterlibatan Supplier Dampak KPC terhadap Perekonomian di Sekitar Tambang

49

Kinerja Sosial 50 54 58 Peningkatan Ekonomi Masyarakat Membangun Harmoni Pelestarian Alam dan Budaya

61

Kinerja Lingkungan 62 62 62 62 62 63 66 66 67 69 69 70 71 71 74 Kebijakan Lingkungan Tanggung Jawab Pengelolaan Lingkungan Pelatihan Pemantauan dan Tindak Lanjut Indikator Lingkungan Kebutuhan Air untuk Produksi dan Air Minum Pembukaan Lahan dan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Program Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Areal Reklamasi Relokasi Orangutan Pengelolaan Kualitas Air Pengelolaan Air Asam Batuan Pengelolaan Kualitas Udara dan Pemantauan Emisi Udara Pengelolaan Gas Rumah Kaca Pengelolaan Limbah Total Biaya Pengelolaan Lingkungan

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

iii

DAFTAR ISI 75

Kinerja Perburuhan 75 78 80 81 81 81 82 82 Sumber Daya Manusia Hubungan Industrial Pelatihan dan Pengembangan Peluang Berkarir Penilaian Kinerja Karyawan Program Retensi Karyawan Menarik Orang-orang Berpotensi Program Beasiswa Bagi Anak Karyawan

83

Kinerja Hak Asasi Manusia 83 83 83 83 84 84 Tindakan Diskriminasi Buruh Anak Kerja Paksa Praktek Pengamanan Penduduk Pribumi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

85 91

Referensi Silang GRI Daftar Singkatan

iv

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

DARI ReDAkSI

DARI ReDAkSI
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan dewasa ini menjadi bagian yang wajib dilaksanakan oleh perusahaan. Seperti yang tercantum dalam UU Republik Indonesia No.40/2007, pemerintah mengatur dengan tegas bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Sebagai perusahaan batu bara kelas dunia, KPC telah melaksanakan tanggung jawab ini dan secara berkala melaporkan kinerja ekonomi, lingkungan, dan sosialnya dalam suatu laporan tahunan yaitu Laporan Pembangunan Berkelanjutan. Tahun 2010 ini, KPC mengeluarkan Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009 yang merupakan laporan yang ke-7. Membuat Laporan Pembangunan Berkelanjutan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Secara konsisten tim pembuat laporan ini terus melakukan perbaikan-perbaikan baik dalam segi kualitas isi maupun tampilan laporan itu sendiri. Tim yang telah dibekali pengetahuan mengenai Pembangunan Berkelanjutan dan standard Global Report Initiatives (G3) adalah suatu kelebihan yang dimiliki oleh KPC. Selama tiga tahun terakhir ini, Laporan Pembangunan Berkelanjutan KPC mendapatkan penghargaan dalam ajang ISRA (Indonesian Sustainability Reporting Award). Bentuk penghargaan ini tidak hanya mencerminkan kualitas laporan yang telah dibuat oleh KPC tetapi juga sekaligus menjadi motivasi bagi KPC untuk secara konsisten melakukan serta melaporkan tanggung jawab sosialnya. Kami masih tetap konsisten untuk melakukan audit eksternal yang dilakukan oleh badan verifikasi dan sertifikasi independen yaitu SGS Indonesia untuk menjaga tingkat akurasi, akuntabilitas, dan transparansi laporan ini. Masukan dari SGS atas laporan tahun sebelumnya kami laksanakan untuk meningkatkan kualitas laporan. Secara singkat bisa dikatakan bahwa Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009 ini adalah rangkuman dari kegiatan operasi perusahaan, pengawasan, serta evaluasi dalam satu tahun. Kami sadar bahwa penyusunan laporan ini masih belum sempurna, untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan laporan di masa yang akan datang sangat kami harapkan. Kritik, saran serta pertanyaan mengenai data dan informasi yang kami sajikan, mohon disampaikan ke: Divisi External Affairs & Sustainable Development PT.Kaltim Prima Coal Gedung M2 – Mine Site Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur 75611 INDONESIA Telp. +62 549 521451 Fax. +62 549 521701 Website: www.kaltimprimacoal.co.id (3.4) Selamat membaca,

Redaksi

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

1

2

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

PeNGANTAR CHIeF eXeCUTIVe OFFICeR

Pengantar Chief exeCutive OffiCer
Para pemangku kepentingan yang kami hormati, Dunia kita saat ini semakin dihadapkan pada tantangan besar berupa perubahan iklim, akibat pemanasan global. Salah satu penyumbang pemanasan global adalah pemakaian energi berbahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, gas alam dan lainnya. Pada sisi lain, standar hidup masyarakat dunia terus berubah dan menuntut kualitas kehidupan yang lebih baik setiap harinya. Kondisi ini tidak diimbangi dengan inovasi teknologi yang mampu menggantikan energi berbahan bakar fosil, sehingga kebutuhannya makin tinggi setiap tahunnya. Dalam situasi ini, PT.Kaltim Prima Coal (KPC) berusaha untuk memanfaatkan cadangan batu bara yang ada di wilayah Kabupaten Kutai Timur, namun dengan semaksimal mungkin tidak dengan merusak kehidupan di masa yang akan datang. Dalam semangat itu, KPC berusaha untuk menerapkan praktek pertambangan yang baik (good mining practice), meluncurkan berbagai program pelestarian lingkungan, efisiensi pemakaian energi dan lainnya. Tantangan yang tidak kalah hebatnya adalah kondisi perekonomian dunia yang fluktuatif, yang berimbas pada kenaikan harga produksi, menurunnya permintaan pasar, dan rendahnya harga jual batu bara. Pada sisi lain, perusahaan juga harus mampu memberikan nilai tambah yang signifikan kepada pemegang saham, karyawan dan pemerintah berupa pembayaran royalti dan pajak. Untuk mengimbangi hal itu, KPC melakukan berbagai langkah penghematan dengan mengoptimalkan

(1.1; 1.2)

peran dari Divisi Business Improvement, memperluas jaringan pasar dan meningkatkan kualitas layanan kepada pembeli. Pada tingkat lokal, tingkat harapan dan ketergantungan perekonomian masyarakat terhadap perusahaan masih tinggi. Hal itu bisa dilihat dari performa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Kutim yang menunjukkan angka dominant berasal dari sektor tambang, yakni sekitar 80 % nilai PDRB. Untuk menurunkan tingkat ketergantungan itu dan menciptakan masyarakat yang mandiri pasca tambang, KPC merumuskan kebijakan pembangunan berkelanjutan masyarakat yang berorientasi pada peningkatan kapasitas masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi non tambang dan menciptakan sumber daya manusia untuk masa depan Kutai Timur. Sebagai perusahaan tambang batu bara, KPC terus melakukan operasional perusahaan untuk memasok batu bara termal kelas dunia. Meski demikian, perlindungan tenaga kerja dari sisi keamanan dan kesehatan kerja menjadi bagian yang tak terpisahkan dari operasional KPC. KPC juga tetap menjalankan usahanya dengan mematuhi hukum yang berlaku di Indonesia, tata nilai yang dikandung masyarakat dan nilai-nilai internasional seperti kepatuhan terhadap HAM, Global Compact, Millenium Development Goals (MDGs) dan nilai-nilai lainnya. Pada tahun 2009, terjadi beberapa hal penting untuk menjadi pengalaman yang berharga yang harus kita perhatikan agar dalam menghadapi tahun kerja 2010 yang akan datang, kita dapat memperbaiki serta meningkatkan kinerja kita di semua bidang sehingga mendapatkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

3

PeNGANTAR CHIeF eXeCUTIVe OFFICeR
Dalam bidang Keselamatan Kerja, kinerja tahun 2009 ini merupakan yang terburuk sepanjang tiga tahun terakhir ini. Dalam tahun ini telah terjadi sebanyak 32 LTI dan salah satunya telah mengakibatkan kematian. Hal ini menjadikan tingkat kekerapan kejadian kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan jam kerja (LTIFR) sebesar 0,56. Untuk itu saya mengingatkan kembali agar kita selalu mengutamakan keselamatan dalam melakukan setiap pekerjaan, bekerja lebih keras lagi untuk menciptakan lingkungan bekerja yang aman bagi seluruh karyawan. Hindari melakukan jalan pintas dan melanggar ketentuan dasar dari keselamatan kerja. Dalam hal produksi, kendala utama seperti cuaca yang sulit untuk diperkirakan, keterlambatan tibanya peralatan yang dipesan serta rendahnya ketersediaan alat produksi telah mengakibatkan pencapaian produksi pemindahan tanah penutup maupun batu bara di bawah rencana yaitu masing-masing -2% untuk pemindahan tanah penutup dan -5 % untuk produksi batu bara. Sedangkan penjualan total dalam tahun 2009 ini adalah 38,8 juta mt, atau -5% di bawah rencana penjualan (41 juta mt), dengan harga rata-rata USD $ 63/mt (20% di bawah rencana US $ 79/mt). Hal ini mengakibatkan keuntungan yang diperoleh dalam tahun 2009 ini jauh di bawah yang telah direncanakan.
(EC 2)

ini, yang berdampak langsung terhadap turunnya harga jual batu bara akibat turunnya permintaan, upaya-upaya efisiensi dan penghematan harus kita lakukan dengan terus menerus. Perusahaan telah membentuk tim-tim kecil untuk mempelajari dan merekomendasikan perbaikan di berbagai bidang, dalam rangka efisiensi dan penghematan biaya operasi. Penghargaan terhadap kinerja tim-tim ini patut kita sampaikan karena langkah-langkah perbaikannya telah berhasil menurunkan biaya operasi dalam tahun 2009 ini. Tentunya hal ini harus terus kita lanjutkan di tahun yang akan datang. Kegiatan penting lainnya dalam tahun 2009 ini adalah proses penyusunan AMDAL untuk peningkatan produksi menjadi 70 juta ton per tahun yang telah berjalan sesuai dengan rencana. Kita harapkan dapat dipresentasikan serta mendapat persetujuan Komisi AMDAL pada paruh pertama tahun depan. Perusahaan juga telah menyelesaikan dan mempresentasikan kepada pemerintah laporan rencana strategis dan rencana penutupan tambang. Seperti tahun-tahun sebelumnya perusahaan juga telah melaksanakan kewajibannya membuat dan mempresentasikan RKTTL dan RKAB untuk tahun 2010, yang telah dilaksanakan pada minggu pertama bulan Desember 2009. Semua hal tersebut di atas dapat tercapai berkat dukungan semua pihak, untuk itu atas nama pimpinan perusahaan saya sampaikan terima kasih. Semua target itu tentunya harus kita capai dengan cara yang aman, sehingga kita bisa membuktikan bahwa KPC selain menjadi tambang terbesar juga merupakan tambang dengan lingkungan kerja teraman bagi seluruh karyawannya.

Rendahnya harga jual batu bara ini tidak lepas dari pengaruh krisis ekonomi dunia, yang tentunya berakibat menurunnya permintaan batu bara dari negara-negara pembeli seperi Jepang dan lainnya. Hal lain yang telah mengganggu dan mengakibatkan turunnya volume penjualan dalam tahun ini adalah kerusakan pada OLC (Overland Conveyor) akibat logam yang telah mengikis belt conveyor sepanjang hampir 3 km. Upaya perbaikan telah dilakukan dengan sangat optimal, dan untuk itu terima kasih kepada semua pihak terkait dalam upaya perbaikan ini atas semua kerja kerasnya. Menghadapi situasi ekonomi dunia yang terkena krisis

Terima kasih,

Endang Ruchijat Chief Executive Officer

4

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG LAPORAN INI

TeNTANG LAPORAN INI
Laporan ini merupakan Laporan Pembangunan Berkelanjutan ke-7 PT.Kaltim Prima Coal. Setiap tahunnya, PT.KPC melaporkan kegiatan pembangunan berkelanjutan dengan mengacu kepada standar Global Report Initiative. Penggunaan standar ini sangat membantu pelaporan yang memenuhi prinsip-prinsip transparansi, sustainability, dan kejelasan (clarity) atas segala aspek kegiatan yang dilakukan PT.KPC di bidang ekonomi, lingkungan, dan sosial. Laporan Pembangunan Berkelanjutan PT.Kaltim Prima Coal memaparkan kinerja operasional tambang batu bara serta komitmennya. Selain itu, dalam laporan ini, dipaparkan juga bagaimana perusahaan memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan melalui kemitraan dengan pemangku kepentingan khususnya adalah masyarakat di sekitar tambang. Kinerja operasional tercermin melalui penerapan prinsip-prinsip good corporate governance serta praktek operasional tambang yang secara konsisten mengacu kepada standar keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi. Selain itu, perusahaan juga memegang komitmen untuk menjalankan program pengembangan masyarakat yang berkelanjutan dengan secara aktif melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan.

(3.3)

Program-program kegiatan tersebut tidak hanya semata-mata sebagai pemenuhan persyaratan AMDAL 2005 di bidang sosial dan ekonomi, tetapi juga merupakan upaya proaktif tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) PT.Kaltim Prima Coal. Dalam pelaksanaannya, program kegiatan disesuaikan dengan rencana strategis jangka panjang demi kelangsungan hidup masyarakat sekitar tambang menjelang rencana penutupan tambang tahun 2021. Tiga kunci pokok keberlanjutan meliputi manfaat kegiatan ekonomi yang dipertimbangkan sebagai konsekuensi dari hubungan sosial serta dampak lingkungan yang akan muncul; kedua, dalam mempergunakan sumber daya, perusahaan harus mempertimbangkan kebutuhan serta harapan dari generasi yang akan datang; dan yang ketiga, pemerintah, para pelaku industri serta berbagai anggota masyarakat harus bergerak bersama dalam rangka menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Dengan terus menerapkan standar keselamatan, kesehatan kerja, lingkungan, dan kesehatan masyarakat yang tinggi serta menjalin kemitraan dengan pemerintah dan masyarakat lokal, KPC mencoba untuk menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial jangka panjang. Berikut ini adalah 6 Laporan Pembangunan Berkelanjutan yang telah dihasilkan oleh KPC. (3.2)

SDR 2003 GRI 2002 Level 1

SDR 2004 GRI 2002 Level 1 Score 33%

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

5

TeNTANG LAPORAN INI

SDR 2005 GRI 2002 Level 2 Score 45%

SDR 2006 GRI 2003 (G3) Level 2 Score 82,5%

SDR 2007 GRI 2006 (G3) Level 2 Score 91% Laporan Berkelanjutan 2009 PT. KPC mengacu pada standar GRI 2006 (G3) yang peringkat pencapaiannya terus ditingkatkan. Hal ini membuktikan bahwa PT. Kaltim Prima Coal terus berupaya untuk meningkatkan kualitas laporan pembangunan berkelanjutannya. Pada laporan ini, akan ditunjukkan GRI standard disclosure yang digunakan pada halaman-halaman tertentu untuk mempermudah pembaca mengetahui indikator dalam GRI yang ditampilkan dalam laporan ini.

SDR 2008 GRI 2006 (G3) Level 2 Score 93% ketepatan (Accuracy),menyeluruh (Completeness), serta reliabilitas (Reliability) merupakan prinsip yang kami gunakan untuk menampilkan informasi dalam laporan ini. Melalui proses internal dan external audit yang kami lakukan, memberikan jaminan bahwa ketiga prinsip tersebut ada dalam laporan ini. Pemenuhan bagian-bagian penting yang disyaratkan dalam Indikator Parameter yang terdapat dalam GRI G-3 tetap dilakukan dalam laporan kali ini. Staf perusahaan yang ditunjuk telah mendapatkan pelatihan mengenai GRI standar turut serta dalam penyusunan laporan ini. Selain itu, KPC mengirimkan 12 kontributor data laporan ini dalam pelatihan CSRS (Certified Sustainability Reporting Specialist) yang diselenggarakan oleh NCSR (National Center for Sustainability Reporting). Hal ini memperkokoh tim penyusun Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009 PT.Kaltim Prima Coal dan mendapat dukungan tinggi dari manajemen perusahaan. Agar laporan ini dapat menyajikan data yang akurat dan terpercaya, maka seperti tahun sebelumnya kami telah meminta pihak luar yang berkompeten untuk menguji keabsahan isi laporan ini.

Tujuan Pembuatan Laporan
Laporan ini bertujuan untuk mengkomunikasikan komitmen dan kinerja ekonomi, lingkungan, dan sosial perusahaan kepada para pemangku kepentingan serta masyarakat secara transparan. Dengan adanya laporan ini diharapkan para pemangku kepentingan bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan terbuka mengenai segala kegiatan pembangunan berkelanjutan di PT.Kaltim Prima Coal. Laporan ini juga menampilkan capaian serta perubahan yang terjadi selama tahun 2009. Prinsip

6

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG LAPORAN INI
Pendekatan Sistem Laporan (3.11)
Laporan pembangunan berkelanjutan kali ini masih menekankan pada pelaporan kinerja program dalam mencapai pembangunan berkelanjutan serta keterlibatan pemangku kepentingan dalam pembangunan tersebut. Data yang disyaratkan dalam • • • • • • • Pengumpulan data kinerja tahun 2009 Data yang dikumpulkan harus diverifikasi oleh manajer untuk memastikan ketepatannya Tim redaksi menganalisa data dan menyusun draft laporan Draft laporan diedit oleh Penanggung Jawab Redaksi Laporan yang telah diedit dikirimkan kembali ke kontributor Pengeditan final dilakukan Internal audit dilakukan dipimpin oleh Specialist Reporting yang bersertifikat sebagai assuror dari NCSR (National Centre for Sustainability Reporting) Temuan dari internal audit ditindak lanjuti sebagai bahan draft final laporan Laporan diserahkan kepada independent assuror untuk diaudit indikator GRI akan tetap disampaikan dalam bentuk statistik. Struktur Laporan Berkelanjutan (3.5) Laporan pembangunan berkelanjutan ini disusun dengan tahapan sebagai berikut:

Departemen terkait menyediakan data unjuk lingkungan, sosial dan keuangan

Penulisan laporan

Pengeditan laporan

Pengecekan akurasi

Pengeditan final

Audit Internal

• •

Draft Final

Audit Eksternal

Laporan Akhir

Yang Kami Laporkan adalah: (3.1; 3.6) • Kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan yang disyaratkan dalam indikator GRI. Laporan tahun ini mencoba menampilkan semua indikator yang ada dalam GRI standar. • Perubahan-perubahan yang terjadi selama tahun 2009. • Kegiatan yang bersifat operasional yang disyaratkan dalam indikator GRI. • Kegiatan operasional yang memenuhi kepatuhan perundang-undangan atau ketentuan lainnya. • Indikator tambahan (additional indicator) yang ada dalam GRI. • Indikator yang ada dalam Sustainability Reporting Guidelines & Mining and Metal Sector Supplement RG Version 3.0/MMSS Final Version.

GRI indicator

KPC Sustainable Development Report
KPC Objectives & Targets

Monthly Report

Quarterly Report
External (Limited) External (stakeholder)

Internal

Scale of issues related to KPC Operation

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

7

TeNTANG LAPORAN INI
Penilaian Laporan
Laporan tahun ini diaudit berdasarkan penilaian laporan tingkat 2 (dua) oleh pihak independen guna meningkatkan keandalan dari laporan kami. Penilaian laporan tingkat 2 (dua) ini mencakup: 1. Evaluasi atas ketepatan laporan 2. Analisa gap terhadap koridor GRI 3. Penilaian dengan sistem skor dan persentasenya terhadap persyaratan GRI Kami juga melaporkan tindakan perbaikan yang diminta tim auditor pada laporan tahun sebelumnya. Seperti pelengkapan semua indikator GRI, penampilan pemangku kepentingan dan masukannya, serta penekanan pada isu global. Kami meyakini bahwa laporan ini berada di GRI 2006 dengan level A+. Rujukan terhadap pemenuhan pedoman GRI dapat dilihat pada halaman 81-86.

Lingkup Laporan (3.7)
Laporan ini melaporkan semua aspek kinerja operasional dalam wilayah penambangan KPC serta perubahan-perubahan yang kami alami selama tahun 2009, mencakup pembangunan berkelanjutan, kondisi keuangan serta hasil produksi. Akan tetapi, kinerja lingkungan kontraktor KPC belum dilaporkan dalam laporan ini. Seperti yang telah kami sampaikan sebelumnya bahwa dalam laporan kali ini mengacu kepada Sustainability Reporting Guidelines & Mining and Metal Sector Supplement RG Version 3.0/MMSS Final Version.

Verifikasi Independen
Isi laporan ini telah diverifikasi oleh SGS Indonesia. SGS merupakan perusahaan pelopor dalam bidang inspeksi, pengujian, serta verifikasi yang beroperasi di 140 negara. Dalam laporan kali ini pernyataan verifikasi mereka akan akurasi serta transparansi laporan ini kami cantumkan pada halaman terakhir.

Pedoman Dasar (3.8; 3.9)
Laporan ini dibuat dengan mengacu kepada Sustainability Reporting Guidelines & Mining and Metal Sector Supplement RG Version 3.0/MMSS Final Version. Selain itu, data dan perhitungan dalam laporan ini sesuai dengan hasil audit internal maupun eksternal perusahaan.

Penghargaan 2009 (2.10)
Bidang Lingkungan Hidup
• • Sertifikat Proper Hijau Propinsi untuk Site Bengalon (24 Juni 2009) Sertifikat Proper Emas Propinsi untuk Site Sangatta (24 Juni 2009)

8

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG LAPORAN INI
• • Aditama Pengelolaan Batuan Penutup dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral, Batu bara, dan Panas Bumi (Desember 2009) Aditama Pengelolaan Pengendalian Erosi dan Sedimentasi dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral, Batu bara, dan Panas Bumi (Desember 2009)

• •

Aditama Pemantauan Lingkungan Pertambangan dari Departemen of Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral, Batu bara, dan Panas Bumi (Desember 2009) Aditama Pengelolaan Pembibitan dari Departemen of Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral, Batu bara, dan Panas Bumi (Desember 2009)

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

9

TeNTANG LAPORAN INI
• • Aditama Pengelolaan Reklamasi Lahan Bekas Tambang dari Departemen of Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral, Batu bara, dan Panas Bumi (Desember 2009) Aditama Pengelolaan Kegiatan Sarana Penunjang dari Departemen of Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral, Batu bara, dan Panas Bumi (Desember 2009)

Penghargaan Pengelolaan Lingkungan Terbaik dari Departemen of Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral, Batu bara, dan Panas Bumi (Desember 2009)

10

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG LAPORAN INI
Bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja
• • • Penghargaan dari Bupati Kutai Timur sebagai Perusahaan Pelaksana Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terbaik Tingkat Kabupaten Kutai Timur tahun 2009 (12 Februari 2009) Best OHS Founder from Kutai Timur Regent (Februari 2009) KPC Team (termasuk 2 orang dari PTDH, masing-masing 1 orang dari Thiess, PAMA and ISOS) meraih trofi juara ke-dua untuk kategori Warehouse Fire Search dalam IFRC ke-12 (Juli 2009)

KPC mendapatkan Penghargaan Kecelakaan Nihil (untuk 8.854.561 jam kerja bebas LTI periode 6 April – 31 Desember 2008) dari Menakertrans (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi). (14 Oktober 2009)

Penghargaan Utama Keselamatan Pertambangan tahun 2009, dari Direktorat Jenderal Mineral, Batu bara, dan Panas Bumi. (3 Desember 2009)

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

11

TeNTANG LAPORAN INI
Bidang Pembangunan Masyarakat
• • Penghargaan Kepedulian Sosial Nasional 2009 dengan predikat platinum untuk Program Pergizi (Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi) dari Departemen Sosial Indonesia. The Best Sustainability Report Overall in ISRA (Indonesian Sustainability Reporting Award) 2009 dari IAMI (Ikatan Akuntan Manajemen Indonesia), INA (Indonesian Netherlands Associations), dan NCSR (National Centre for Sustainability Reporting). The Best Sustainability Report untuk kategori A (Agriculture, Plantation, Mining and Basic Industry, and Chemicals Companies) dalam ISRA 2009. Commendation for Sustainability Reporting; Assurance Practices dalam ISRA 2009.

• •

12

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG kPC

TeNTANG kPC

Foto dari kiri ke kanan baris depan (pertama) : R. Utoro • Endang Ruchijat •Ashok Mitra Foto dari kiri ke kanan baris kedua : Khudori • M Sumali • Herlan Siagian • Frank Sinatra • Dasril • Huzainsyah Akma Foto dari kiri ke kanan baris ketiga : M. Rudy • Richard Schloss • Shane Bennet • Bartley Hopkins • Imanuel Manege • Pratikto

MANAJeMeN PT. kALTIM PRIMA COAL

KPC merupakan perusahaan tambang batu bara yang terletak di Kabupaten Kutai Timur yang didirikan dengan akta No 28 tanggal 9 Maret 1982 dan mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman RI sesuai dengan Surat Keputusan No Y.A.5/208/25 tanggal 16 Maret 1982 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal 30 Juli 1982 No 61 Tambahan Nomor 967. Sejak awal beroperasi pada tahun 1992, KPC merupakan perusahaan modal asing (PMA) yang dimiliki oleh British Petroleum International Ltd (BP) dan Conzinc Rio Tinto  of Australia Ltd. (Rio Tinto) dengan pembagian saham masing-masing 50%. Berdasarkan Akta No. 9 tanggal 6 Agustus 2003  dan Bukti Pelaporan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI No. C-UM. 02 01.12927 tertanggal 11 Agustus 2003, saham KPC yang dimiliki oleh BP dan Rio Tinto telah dialihkan kepada Kalimantan Coal Ltd. dan Sangatta Holding Ltd, dan yang

selanjutnya pada tanggal 18 Oktober 2005, sesuai dengan Akta Notaris No 3 tanggal 18 Oktober 2005, PT.Bumi Resources Tbk telah mengakuisisi saham Kalimantan Coal Ltd dan Sangatta Holding Ltd. Berdasarkan akta notaris No 34 tanggal 4 Mei 2007, pemegang Saham PT.Kaltim Prima Coal mengalihkan 30% sahamnya kepada Tata Power (Mauritius) Ltd. (2.6) Berdasarkan Perjanjian Kontrak Karya Pengusahaan Pertambangan Batu bara (PKP2B) yang ditandatangani pada tanggal 8 April 1982, pemerintah memberikan izin kepada KPC untuk melaksanakan eksplorasi, produksi dan memasarkan batu bara dari wilayah perjanjian sampai dengan tahun 2021. Wilayah perjanjian PKP2B ini mencakup daerah seluas 90.938 ha di Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur.

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

13

TeNTANG kPC
Pemilihan Serta evaluasi Dewan Direksi dan Dewan komisaris (4.2)
Pemilihan Dewan Direksi dan Dewan Komisaris ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Secara umum, kualifikasi yang digunakan dalam penentuan Dewan Direksi dan Dewan Komisaris adalah senioritas, latar belakang pendidikan, serta pengalaman kerja. Evaluasi kinerja Dewan Direksi dan Dewan Komisaris dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dengan melihat kinerja perusahaan di bidang ekonomi, sosial, lingkungan, serta keselamatan dan kesehatan kerja. Dalam jajaran Dewan Direksi, Dewan Komisaris dan Pemegang saham, KPC tidak memiliki pihak independen, yang tidak memiliki financial interest terhadap perusahaan. (4.3)

Manajemen kPC (2.3; 4.1; 4.7)
Operasional tambang kami didukung oleh tim manajemen yang terdiri dari para profesional yang ahli dan sangat kompeten di bidangnya masingmasing serta mempunyai pengalaman lebih dari sepuluh tahun. Tidak ada anggota manajemen yang merupakan anggota independen. Adapun susunan tim manajemen kami adalah sbb:

2008

2009

Chief Executive Officer Chief Operating Officer Chief Financial Officer GM Mining Development Division GM Human Resources Division GM External Affairs & Sustainable Development Division GM Contract Mining Division GM Marketing Division Expansion Project Coordinator GM Mining Operation Division GM Health, Safety & Environment Division GM Mining Support Division GM Processing and Infrastructure Division GM Supply Chain Division Head of Project Expansion Team GM Business & Performance Improvement

Endang Ruchijat R. Utoro Ashok Mitra Shane Bennet Tulus Siregar (Act) Harry Miarsono M. Rudy Herlan Siagian Yulianti Subian Frank Sinatra Khudori Richard Schloss M. Sumali Pratikto Bartley Hopkins Dasril

Endang Ruchijat R. Utoro Ashok Mitra Shane Bennet Khudori Huzainsyah Akma M. Rudy Herlan Siagian Yulianti Subian Frank Sinatra Imanuel Manege Richard Schloss M. Sumali Pratikto Bartley Hopkins Dasril

14

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

Organization Structure
BOARD OF COMMISSIONERS

BOARD OF DIRECTORS AUDIT COMMITEE

CHIEF EXECUTIVE OFFICER

Secretary to CEO

Chief Operating Officer

Chief Operating Officer

General Manager Mining Development General Manager MARKETING General Manager Contract Mining General Manager Mining Support Head of Project Expansion Team

General Manager Human Resources (Acting)

General Manager External Affairs & Sustainable Dev.

General Manager Health, Safety & Environmental General Manager Finance

General Manager Mining Operations

General Manager Processing & infrastructure

General Manager Business & Performance Improvement

General Manager Supply Chain

Socio Political Advisor

Manager Geology Manager Marketing Manager Environment

Manager Human Resources Manager Mining Services

Manager Community Empowerment

Manager Contract Mining (PT DH-Bengalon) Manager Coal Terminal Processing Plant

Manager Heavy Equipment Maintenance

Manager Equipment and Workshop facilities Expansion

Manager Operation Analysis

Manager Acounting & Tax

Manager Logistics

Manager Business Analyst

Manager Audit

Manager

Manager Mine Planning (Acting) Manager Sales Operations Manager Occupational Health & Safety Manager Pit Bintang

Manager Compensation & Benefit

Manager Land Empowerment Manager Contract Mining TCl Manager Haul Truck Maintenance

Manager Coal Terminal OLC & Power Manager Infrastructure Support Project

Manager Treasury

Manager Supply

Manager Strategic Planning Manager Coal Technology Manager Contract Mining Pama & FBS Manager Pit Hatari Manager Maintenance Sysem (Acting)

Manager Learning & Dev. Services

Manager External Relations

Manager Civil and Bengalon Development

Manager Risk & Asset Management

Manager Industrial Relations Manager Pit J

Manager Project Management & Evaluation

Manager Contract Maintenance

Manager Procurement Expansion

Manager Project Government Relations Manager Coal Mining Manager Maintenance Services

Manager in Pit OLC & Crushers Project

Manager Mine Optimisation

Manager Power Station Project & Electrical Support (Acting)

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

Manager OL C-Stock Pile Ship Loader Duplication Projects

TeNTANG kPC

15

TeNTANG kPC
Profil Perusahaan hingga 31 Desember 2009 (2.1; 2.8; 2.9; EC 1) Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu bara (PKP2B Kontrak No.J2/Ji.D4/16/82) 8 April 1982 Operasi produksi (SK Penciutan Produksi No.940.K/20.01/DJP/1999 Tanggal 24 Desember 1989) Batu bara 30 tahun sejak disetujui tahap produksi (1 Januari 1992) 90.938 ha (D4KW 96PB0363) PT.Kaltim Prima Coal, Mine Site Building, Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (2.4) 32,4 % PT. Sitrade Coal 30 % Bhira Investments Limited 13,6 % PT. Bumi Resources 9,5 % Sangatta Holding Limited 9,5% Kalimantan Coal Limited 5 % Kutai Timur Energi Karyawan permanen (3.941) Karyawan ‘fixed term’ (1.032) 38.758.082 ton Prima: 1,3 % Pinang: 56,3 % Melawan: 42,5 % USD 2.158,81 juta USD 309,82 juta USD 568,29 juta USD 810.220.038,78 USD 134.016.037,98 USD 90,07 juta

Jenis perizinan

Batu bara terjual

Tanggal penandatanganan Tahapan kegiatan Bahan galian Masa berlaku Luas Lokasi/Alamat Kantor Pusat

Net sales Royalti yang dibayarkan pada tahun 2009 Total tax payment Dana untuk pasokan barang Dana untuk penggunaan jasa Employee wages and benefits Community expenditure commitment Contractor Cost Biaya lingkungan

USD 5.000.000

Pemilik Saham

USD 775.576.993 USD 23.380.952

Tenaga kerja

Sumber: Financial Statements With Independent Auditors’ Report for the Year Ended December 31, 2009 and Data from Supply Department

Strategi dan Pendekatan Pembangunan Berkelanjutan (4.11; SO1)
Motto Tidak Hanya Menambang merupakan inspirasi bagi pelaksanaan program pengembangan masyarakat berkelanjutan di PT.Kaltim Prima Coal yang tergambarkan hingga kegiatan pasca tambang. Motto ini juga telah menjadi pendekatan di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dilakukan perusahaan. Hal ini membuktikan bahwa operasional tambang KPC tidak hanya mengambil sumber daya alam yang tak terbarukan, akan tetapi juga melakukan usahausaha mitigasi lingkungan serta meningkatkan sumber daya terbarukan dengan menjaga hubungan baik dengan para pemangku kepentingan. Hal itu dilakukan dengan meningkatkan kemampuan masyarakat dan lembaga masyarakat serta pemerintah, selain itu juga menumbuhkan iklim usaha dan budaya kerja yang

lebih baik bagi masyarakat di area sekitar operasi tambang KPC. Tingkat ketergantungan masyarakat Kutai Timur terhadap sektor tambang batu bara yang masih cukup tinggi (sebesar 86,17 %) merupakan persoalan yang mendapat perhatian dari KPC. Hal ini membuat visi KPC untuk menjadi pemasok utama batu bara termal kelas dunia tidak sebatas hanya pada produksi batu bara untuk pemenuhan permintaan dunia, tetapi juga pelaksanaan tanggung jawab sosial secara aktif dalam hal melestarikan lingkungan serta meningkatkan kemandirian ekonomi lokal. Sebagai bukti nyata pelaksanaan tanggung jawab sosialnya, KPC memprakarsai program-program yang mendukung kemandirian ekonomi lokal yang selaras dengan program penutupan tambang. Dengan

16

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG kPC
pelaksanaan program yang terarah, masyarakat diharapkan lebih mandiri pada tahun 2025 dan tidak tergantung pada sektor tambang semata. Oleh karena 2005 - 2010 Studi pengembangan pertanian Pelatihan intensif Studi Perikanan Indentifikasi lahan Studi tata ruang Analisa potensi Tambang 65% Non Tambang 35% Tambang 50% Non tambang 50% Tambang 35% Non tambang 65% Tambang 5% Non tambang 95& 2010 - 2015 Implementasi studi pengembangan pertanian Pemanfaatan lahan rehabilitasi Pengembangan Pertanian itu konsep pengembangan ekonomi lokal diarahkan kepada prinsip kemitraan, partisipasi masyarakat, dan pemberdayaan. 2015 - 2020 Pengembangan pertanian Industri perikanan Pelayanan/jasa Pengembangan teknologi agribisnis 2021 - 2025 Pengembangan industri pertanian Pelayanan/jasa Pengembangan ekspor agribisnis

Rencana Strategis Jangka Panjang Pelaksanaan Pembangunan Berkelanjutan KPC

Sampai dengan tahun 2010, KPC akan melakukan identifikasi lahan dan tata ruang serta kajian pengembangan pertanian dan perikanan baik di daerah bekas tambang maupun di luar tambang. Kajian dan studi ini dilaksanakan untuk menjajaki kemampuan daya dukung lingkungan dan mencari potensi pengembangan sumber daya alam yang terbarukan. KPC masih menjadi partisipan UNGC pada tahun 2009 ini. Hal ini merupakan salah satu bentuk dari keterlibatan KPC dalam isu-isu global. Lebih dari pada itu, KPC juga masih terus melakukan dukungan terhadap MDGs melalui program-program Tanggung Jawab Sosialnya. Untuk menjadi mitra pembangunan bagi masyarakat serta pemerintah, KPC, melalui organisasi-organisasi publik yang ada, ikut ambil bagian dalam menentukan kebijakan-kebijakan publik. Organisasi-organisasi tersebut adalah KONI (Komite Olah raga Nasional Indonesia), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Kamar Dagang dan Industri (KADIN), BUN (Bakrie Untuk Negeri), ALPINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia), dan forum Multi Stakeholder Corporate Social Responsible (MSH-CSR). Selain itu KPC juga anggota aktif dari Corporate Forum on Community Development (CFCD), Indonesia Business Link (IBL), Forum Reklamasi Lahan Bekas Tambang (FRLBT), Indonesian Mining Association (IMA), PERHAPI (Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia), serta Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI). (SO 5)

Sehubungan dengan Program Business Improvement di KPC, Business Improvemnet Division telah melembagakan business improvement di KPC serta telah berhasil menjalankan sebanyak 3 gelombang (cycle) Proyek Business Improvement. Improvement yang dilakukan tetap fokus kepada pengurangan unit costs, peningkatan produktivitas, dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang fokus kepada keselamatan serta aspek sumberdaya manusia. (2.9) Sampai dengan akhir tahun 2009, KPC Business Improvement telah menghemat $41,78 juta dari rencana $ 103,95 juta. Penghematan terbesar didapatkan terutama dari Proyek Coal Trucking dan Proyek Peningkatan Output melalui Trans-shipment, Proyek Fuel Efficiency, dan Proyek Peningkatan utilitas alat muat (Liebherr 996 dan Hitachi EX3500/EX3600). Sampai dengan cycle 3 ini, beberapa rencana yang telah tercapai antara lain adalah: Mengembangkan visi dan misi divisi business improvement, menetapkan rencana strategis, melengkapi struktur organisasi dan memilih metode yang sesuai untuk mendapatkan komitmen dari pihak manajemen. Melakukan pilot project yang dilakukan dalam 2 gelombang. Masing-masing terdiri dari 6 proyek. Proyek
Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

17

TeNTANG kPC
yang dipilih adalah yang mempunyai dampak terbesar dalam organisasi. Semua pilot project yang dilakukan dapat berjalan dengan baik bahkan beberapa proyek yang melebihi mandat yang diberikan dan dapat dilakukan dalam batas waktu yang diberikan. Pilot project yang dilakukan juga terbukti tidak mengganggu normal operation dan mendapatkan feedback yang positif dari anggota tim improvement dan manajemen. Roll out Business Improvement Program dan membangun infrastruktur untuk menjamin keberlanjutan dari improvement yang dilakukan. Sebelum roll out, manajemen sepakat untuk menunjuk apa yang disebut sebagai Business Improvement Champion. Business Improvement Champion adalah wakil divisi yang bertanggung jawab memonitor dan mengarahkan business improvement di divisi masingmasing. Pada saaat roll out ini, Business Improvement melibatkan lebih banyak orang dan memerlukan peran aktif dari sponsor (General Manager) dan Manager Area dimana improvement dilakukan. Selain itu, beberapa yang dilakukan adalah komunikasi yang gencar kepada karyawan dan penghargaan yang sesuai untuk personel yang terlibat proyek improvement. Roll out yang merupakan Improvement gelombang 3 ini dipilih 16 proyek yang melibatkan sekitar 120 personel business improvement yang melibatkan hampir semua divisi. Saat ini Business and Performance Improvement Division sedang berada pada tahap yang lebih lanjut yaitu meyakinkan Business Improvement membudaya di KPC. Untuk melakukan perubahan budaya, sebagai manajemen, pertama kita perlu menciptakan lingkungan yang aman dan prduktif bagi para operator. Untuk melakukan hal tersebut diperlukan perubahan perilaku dengan cara membuat semua orang peduli terhadap lingkup kerja dan keselamatan diri dan rekan sejawat. Di masa yang akan datang, disamping mengerjakan proyek-proyek besar dengan target penghematan besar, akan banyak lagi proyek yang sifatnya ‘area based project’ yang melibatkan karyawan pada level terendah, dan lebih fokus pada house keeping, meningkatkan safety area dan mempermudah pekerjaan karyawan. dan Pembangunan Berkelanjutan yang ditandatangani oleh Presiden Direktur KPC. Dalam kebijakan tersebut secara tidak langsung tertuang komitmen KPC untuk membantu masyarakat dalam menemukan jawaban atas persoalan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat di daerah sekitar operasional tambang dan juga generasi yang akan datang. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kemandirian masyarakat lokal serta kualitas hidup masyarakat yang lebih baik. Dalam kegiatan operasionalnya, KPC berupaya untuk melibatkan para pemangku kepentingan perusahaan. Dengan melibatkan pemangku kepentingan, KPC secara terus menerus menjawab kebutuhan pemangku kepentingan yang terkini dengan melakukan perubahan-perubahan ataupun penyesuaianpenyesuaian ke arah yang lebih baik. Jalinan kerja sama dilakukan dengan pendekatan yang berbeda sesuai dengan kepentingan perusahaan dan para pemangku kepentingan. Interaksi dengan para pemangku kepentingan dilakukan untuk saling memahami permasalahan ekonomi, sosial, lingkungan yang berdampak terhadap proses penambangan. KPC selalu berupaya untuk menjalin interaksi itu melalui beberapa cara. Masyarakat lokal (tokoh agama/tokoh masyarakat/ pemuda): dengan melakukan pemetaan sosial, studi dampak sosio-ekonomi dan lingkungan,

keterlibatan Pemangku kepentingan
Sejak tahun 2007, KPC mempunyai kebijakan K3L (Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan Hidup)
KPC yang diwakili salah satu stafnya mengikuti pertemuan anggota UNGC (United Nation Global Compact) pada bulan Desember 2009. Ini merupakan salah satu bentuk keterlibatan KPC dengan pemangku kepentingan dan isu-isu global.

18

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG kPC

Kebijakan K3L dan Pembangunan Berkelanjutan (4.8)

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

19

TeNTANG kPC
forum konsultasi, pengembangan tenaga kerja lokal. Pengusaha lokal: pelatihan, konsultasi bisnis dengan Kadin, Hipmi, dan kontraktor lokal. Akademisi: Departemen Anestesiologi dan Reanimasi FK UNAIR, penelitian/studi, seminar/diskusi, konsultasi dengan Untag Samarinda, Unmul, ITB, UGM, IPB, dan ANU. Lembaga penelitian: kegiatan penelitian dan konsultasi di bidang pengembangan pertanian dengan Balitjestro, Puslit Koka, Balitro(Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik). LSM (baik lokal, nasional maupun internasional): kerja sama dalam pengembangan masyarakat, pelayanan kesehatan seperti dengan PMI, Pusdakota, Indonesian Business Link, GTZ, Wawasan, Interplast Australia dan Selandia Baru, Uplift International, PUPUK (Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil) Bandung. Lembaga donor internasional: kerja sama dalam pengembangan wilayah dengan Ford Foundation, British Council, Unicef, World Bank, International Chamber of Commerce, dan AusAID. Pemerintah (baik kabupaten, propinsi maupun pusat): Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Subdit Pemberantasan Penyakit Menular Departemen Kesehatan Republik Indonesia, konsultasi dengan dinasdinas terkait di Pemkab dan Pemprop, departemen terkait seperti ESDM dan KLH. kontraktor/supplier: Proses tender dan kontrak, review kinerja dengan custodian, pengenalan K3, audit ISO 14001, OHSAS 18001, konsultasi dan diskusi. Pembeli (customers): site visit untuk proposal pembelian (Request for Proposal/RFP), persyaratan batu bara, proses tender, analisa pasar. karyawan: evaluasi kinerja, sosialisasi GCG, komunikasi ISO14001, safety, OHSAS 18001, kegiatan sosial dan olah raga, program pendidikan dan kesehatan, konsultasi dengan serikat pekerja/serikat buruh. Investor: mengundang untuk site visit, dan melakukan road show di negara-negara pembeli. (4.13) Menyadari arti pentingnya keterlibatan para pemangku kepentingan dalam operasional KPC, maka berbagai forum komunikasi formal dan informal tetap dibangun dan dijalankan bersama. Melalui pertemuanpertemuan tersebut terjalin komunikasi informasi yang efektif dan efisien sehingga harapannya visi dan misi strategis KPC dalam hal pembangunan masyarakat yang berkelanjutan mencapai sasarannya. Forum komunikasi dengan para pemangku kepentingan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Pemangku kepentingan PT. Kaltim Prima Coal dan Keterlibatannya (4.4; 4.14; 4.16; 4.17)
No 1 Pemangku Kepentingan Tokoh lokal, agama dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan Pemerintah kabupaten   Pendekatan Komunikasi Forum toga tomas dan partisipatif Tim Kemitraan Frekuensi 3 bulan sekali atau jika diperlukan 4 bulan sekali atau jika diperlukan. Hasil Silaturahmi, sosialisasi program CSR, tenaga kerja lokal, sosialisasi tentang pengelolaan air di tambang. Rumusan program Comdev 2009, rumusan mekanisme pelaksanaan kegiatan, system monitoring, evaluasi dan pelaporan, penyusunan program Pembangunan berkelanjutan, dan jalinan kerjasama antar dinas yang ada di pemkab untuk membantu menjalankan programprogram yang telah tersusun. - Persetujuan Pemerintah Pusat mengenai perizinan - Pembahasan Perpu - Program magang - Standard Recruitment Procedure - Sinergi program pemberdayaan Masyarakat Perubahan tunjangan perumahan, tunjangan makan, dan penghargaan masa kerja. Mendapatkan informasi terbaru mengenai pasar batu bara dunia serta melakukan kegiatan penjualan.

2

3

Pemerintah pusat   Kontraktor pertambangan  

Informal meeting

tergantung kebutuhan 2 bulanan

4

Forum KPC-Contractor HRCR (Human Resources & Community Relations) Pembahasan PKB

5

Serikat pekerja  

2 tahun sekali    tahunan

6

Pembeli  

Forum Coal Trans

20

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG kPC
Berdasarkan definisi pemangku kepentingan, KPC menentukan pemangku kepentingan berdasarkan kelompok-kelompok yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas KPC. Berdasarkan pendekatan komunikasi dan frekuensi komunikasi yang dilakukan, maka secara garis besar para pemangku kepentingan dikelompokkan menjadi tokoh masyarakat, pemerintah lokal, pemerintah pusat, kontraktor pertambangan, serikat pekerja, dan pembeli. Para pemangku kepentingan ini memiliki pengaruh yang sangat penting bagi kelangsungan operasional KPC. Itulah sebabnya dengan masingmasing kelompok, KPC melakukan pertemuan dan komunikasi yang terus ditingkatkan sehingga terdapat kualitas hubungan yang lebih baik lagi serta sinergis dengan isu-isu berkelanjutan demi kepentingan semua pihak. (4.15) serta pemindahan tanah pucuk. Sebelum kegiatan pembukaan lahan dimulai, dilakukan kegiatan identifikasi dan dokumentasi flora dan fauna yang ada di daerah tersebut. Beberapa jenis spesies tanaman penting dikoleksi sebagai bibit tanaman bagi kegiatan rehabilitasi nanti. Tanah pucuk akan dipindahkan ke lokasi penyimpanan yang sudah disiapkan atau bisa langsung digunakan untuk rehabilitasi area timbunan yang sudah permanen. Setelah melalui tahap penebangan pohon dan pemindahan tanah pucuk, selanjutnya dilakukan pemboran dan peledakan tanah penutup. Tanah penutup yang sudah diledakkan kemudian akan dimuat oleh shovel dan backhoe yang akan diangkut oleh truk untuk ditimbun di lokasi timbunan yang sudah direncanakan. Tanah penutup yang mengandung asam/PAF (Potential Acid Forming) dan yang tidak mengandung asam/NAF (Non Acid Forming) akan ditimbun secara terpisah di lokasi yang sudah direncanakan. Tanah penutup dengan kategori NAF akan ditimbun di lokasi timbunan yang sudah permanen untuk kemudian dilakukan rehabilitasi. Sedangkan tanah penutup dengan kategori PAF akan ditimbun di lokasi timbunan sementara. Proses ini dilakukan dengan menggunakan kontrol sistem elektronik (sistem Dispatch) untuk memonitor dan mengontrol alokasi masing-masing tipe tanah penutup (PAF dan NAF). Setelah tanah penutup dipindahkan, batu bara yang sudah terbuka akan ditambang oleh beberapa alat muat yang khusus memuat batu bara. Untuk batu

Proses Penambangan kami
Secara garis besar, operasi penambangan PT. Kaltim Prima Coal dibagi menjadi 3 bagian, yaitu tahap persiapan penambangan, penambangan, dan pasca penambangan. Tahap persiapan penambangan diawali dengan kegiatan survei eksplorasi. Kegiatan eksplorasi ini meliputi pemetaan lapangan, pengukuran struktur geologi, pengambilan sampel singkapan, pemboran eksplorasi, logging geofisika, dan penaksiran cadangan. Setelah melalui tahap survei eksplorasi, dilakukan permodelan geologi dari data eksplorasi yang telah diperoleh dengan menggunakan software tambang (Minex Software 4.1-G) untuk melakukan perhitungan cadangan. Setelah mengetahui data cadangan batu bara, dibuatlah rencana penambangan. Selanjutnya adalah perhitungan cadangan secara lebih detil dengan melibatkan analisis ekonomi menggunakan Minex Software versi 4.1-G yang kemudian akan dibuat suatu desain pit, timbunan tanah penutup, jalan tambang dan sistem drainase yang optimal untuk merencanakan suatu tahapan penambangan yang memberikan hasil jumlah tanah penutup yang akan dipindahkan dan batu bara yang diperoleh. Pada tahap ini juga dihitung jumlah tanah pucuk yang dipindahkan, rencana area rehabilitasi dan jumlah peralatan tambang yang diperlukan. Tahap berikutnya adalah tahap penambangan atau tahap produksi. Tahap produksi diawali dengan kegiatan penebangan dan pemotongan pohon

Gambar 2. Bagan Alur Operasi PT.Kaltim Prima Coal

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

21

TeNTANG kPC
bara dengan ketebalan lebih dari 2 meter dilakukan proses peledakan terlebih dahulu. Batu bara kemudian diangkut oleh truk langsung menuju lokasi peremukan (crusher) atau ditimbun sementara di lokasi penyimpanan batu bara (stockpile batu bara) sesuai dengan kualitas batu bara. Di crusher, batu bara akan diremuk sesuai ukuran yang sudah ditetapkan. Pada tahap ini juga dilakukan proses pencucian untuk batu bara kotor. Batu bara yang sudah mengalami reduksi dan siap jual selanjutnya akan diangkut menggunakan ban berjalan (belt conveyor) menuju ke lokasi timbunan batu bara di pelabuhan Tanjung Bara (Coal terminal). Seiring dengan peningkatan produksi, pengangkutan batu bara juga menggunakan coal trucking dari stockpile batu bara di CPP ke stockpile Batu bara di Port stockpile dengan jumlah yang terbatas. Batu bara siap jual selanjutnya akan dimuat ke dalam kapal untuk dikirim ke para pelanggan (customer). Setelah proses penambangan selesai, tidak berarti area bekas penambangan ditinggalkan begitu saja. Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan, PT. KPC memiliki program rehabilitasi yang bertujuan untuk mengembalikan lahan ke kondisi aman, stabil, dan produktif. Rehabilitasi dilakukan secara bertahap. Program rehabilitasi meliputi perencanaan, pemindahan tanah sebelum penambangan, penempatan batuan penutup, pembentukan akhir, penempatan tanah pucuk, pembangunan sarana pengendali air (drainage), penanaman, perawatan, dan pemantauan.

Operasi Pertambangan kami (2.5; MM 2)
Usaha pertambangan batu bara PT.Kaltim Prima Coal pada tahun 2009 dioperasikan oleh KPC sendiri

Gambar 3. Peta Area Kuasa Penambangan PT.Kaltim Prima Coal

dalam hal ini Divisi MOD dan beberapa kontraktor pertambangan. Beberapa lokasi pit yang dioperasikan langsung oleh KPC di tahun 2009 adalah pit Bendili, pit J, Big AB, Kenari, Kasela, dan Inul KWest. Sedangkan pit-pit yang dioperasikan oleh kontraktor adalah Pit A Bengalon Area oleh PT.Darma Henwa, Pit Pelikan, dan Kangguru oleh PT.Pama Persada, Pit Melawan, Belut, Beruang, Mustahil dan Khayal oleh PT.Thiess. Dalam

operasinya, KPC tidak pernah bekerja sama dengan artisanal and small scale mining (ASM). (MM 8) Berdasarkan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan PKP2B, pemerintah memberikan izin kepada KPC untuk melaksanakan eksplorasi, produksi dan pemasaran batu bara di wilayah seluas 90.938 ha sampai tahun 2021 di Kabupaten Kutai Timur, Propinsi

22

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG kPC
penerangan (lighting plant dan lighting tower), dozer, grader serta alat – alat pendukung lainnya. Sarana pendukung lainnya yang kami gunakan dalam operasi penambangan kami antara lain 6 unit alat pemecah batu (crusher) dan beberapa pond yang dibangun untuk keperluan pengelolaan air (water management) yaitu Tiung, Meranti, Mahoni, AB103 dan Meruya. Pada tanggal 6 Juni 2009, Divisi Mining Operation mencapai 8 juta jam kerja aman tanpa LTI (Lost Time Injury). Pencapaian ini merupakan rekor pertama kali di KPC. Selain pencapaian tersebut, KPC melakukan tiga kali percobaan pengurangan debu (dust suppression) yang bertujuan untuk mengurangi kadar debu dalam tambang. Langkah ini diambil untuk memenuhi peraturan pemerintah terkait paparan debu di tambang dan untuk mengurangi potensi kecelakaan akibat kurangnya jarak pandang akibat debu (visibility). Pada audit sertifikasi bulan Juli 2009 dan November 2009, MOD berkontribusi besar terhadap dipertahankannya sertifikasi KPC dalam bidang OHS yaitu sertifikasi OHSAS 18001 dan bidang enviro yaitu sertiikat ISO 14001. Tidak ada temuan minor maupun major pada audit sertifikasi tersebut.

Dalam operasinya, KPC tidak pernah terlibat dengan artisanal and small scale mining (ASM).

Kalimantan Timur, Indonesia (lihat gambar). (MM 1) Produksi pemindahan tanah penutup KPC di tahun 2009 adalah 444.221 Kbcm yang berada di bawah rencana produksi yaitu 457.362 Kbcm. Penurunan produksi tanah penutup yang 3% di bawah rencana terjadi antara lain disebabkan oleh keterlambatan kedatangan alat produksi baru. Selain itu produktivitas yang rendah karena ketersediaan fisik alat-alat produksi dan kekurangan alat pendukung juga memberi kontribusi dalam ketidaktercapaian target produksi 2009. (MM 3) Produksi pemindahan tanah penutup yang lebih rendah dari rencana tahun 2009 tentunya berpengaruh pada perolehan batu bara di tahun tersebut. Rencana perolehan batu bara PT. KPC tahun 2009 adalah 43.573 kt sedangkan realisasi yang terjadi adalah 40.268 kt. Hal ini dapat disebabkan oleh rendahnya produksi tanah penutup sehingga mengakibatkan rendahnya batu bara yang bisa ditambang. Selain itu, ketersediaan fisik alat angkut batu bara yang rendah juga mengakibatkan angka aktual batu bara tertambang berada dibawah rencana. Hal lain yang mempengaruhi adalah curah hujan pada bulan Februari–April yang berada di atas perkiraan. Untuk mendukung operasi penambangan kami, ada beberapa tambahan peralatan baik yang bergerak dan tidak bergerak yg kami operasikan selama tahun 2009 ini seperti alat gali, alat angkut (truk), alat gali kapasitas kecil (PC 750, PC300, PC200), pompa, sarana

Produksi Batu bara kami (2.2)
Batu bara yang diproduksi oleh PT KPC diklasifikasikan ke dalam beberapa kelas berdasarkan kualitasnya. Batu bara yang siap jual terbagi menjadi Prima, Pinang dan Melawan. Batu bara Prima adalah batu bara kelas terbaik yang bermutu tinggi. Batu bara kelas berikutnya adalah jenis Pinang yang terbagi menjadi beberapa spesifikasi berdasarkan nilai kalori. Kelas batu bara yang ke-3 adalah Melawan yang dibagi lagi dengan spesifikasi yang berbeda menjadi 2 tipe yaitu Melawan A dan Melawan B. Batu bara Prima termasuk salah satu batu bara bermutu tinggi yang diperdagangkan di pasar internasional. Batu bara ini merupakan batu bara bitumin yang sangat mudah menguap (volatile) dengan nilai kalor yang tinggi, kandungan abu yang sangat rendah, kandungan sulfur yang sedang, dan total kelembaban yang relatif rendah. Batu bara Prima juga merupakan salah satu jenis batu bara yang mengkilat dengan kandungan vitrinite yang tinggi. Batu bara Pinang serupa dengan Batu bara Prima,

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

23

TeNTANG kPC
namun jenis ini memiliki kadar kelembaban yang lebih tinggi dan energinya lebih rendah. Sementara itu, Batu bara Melawan merupakan batu bara sub-bitumin yang sangat bersih dengan kandungan sulfur,abu yang sangat rendah. Batu bara Prima dan Melawan
Tabel 2. Kualitas Batu bara Prima

diproduksi di pit Sangatta, sedangkan Batu bara Pinang dihasilkan di pit Sangatta maupun pit Bengalon. Untuk melihat kualitas masing–masing tipe batu bara berikut tabel kualitas batu bara. (PR 3)
Tabel 3. Kualitas Batu bara Melawan

24

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG kPC
Tabel 4. Kualitas Batu bara Pinang

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

25

TeNTANG kPC
Tabel 4. Kualitas Batu bara Pinang

26

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG kPC
Tabel 4. Kualitas Batu bara Pinang

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

27

TeNTANG kPC
Tabel 4. Kualitas Batu bara Pinang

28

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG kPC

Produksi pemindahan tanah penutup KPC di tahun 2009 adalah 444.221 Kbcm

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

29

TeNTANG kPC
Pasar Batu bara
Penjualan batu bara KPC tahun 2009 mencapai 38.758.082 ton. Tabel 5. Penjualan Batu bara
No 1 2 3 Jenis Batu bara Pinang Melawan Prima Total Penjualan Batu bara 2008 2009 23.512.371 ton 21.805.291 ton 11.772.783 ton 16.465.971 ton 487.169 ton 486.820 ton 35.772.323 ton 38.758.082 ton
Melawan 42.48% Pinang 56.26%

Penjualan Batu Bara berdasarkan Produk Tahun 2009
Prima 1.26%

Grafik 1. Penjualan batu bara berdasarkan produk

Tabel 6. Penjualan batu bara berdasarkan wilayah (2.7) No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Wilayah Penjualan
Jepang Eropa Taiwan India Indonesia Korea Cina Malaysia Thailand Filipina Chili Pakistan Hong Kong USA Italia Total

Penjualan Batu bara 2008
10.033.998 ton 5.529.058 ton 4.972.814 ton 3.842.868 ton 3.332.973 ton 1.863.617 ton 127.561 ton 1.700.578 ton 1.291.308 ton 842.617 ton 430.418 ton 176.315 ton 1.628.198 ton 35.772.323 ton

2009
8.132.604 ton 2.951.503 ton 4.763.369 ton 3.210.078 ton 3.419.350 ton 2.161.408 ton 8.092.209 ton 1.587.204 ton 458.900 ton 950.475 ton 1.829.792 ton 116.436 ton 1.084.754 ton 38.758.082 ton

Sumber data: Business Analyst

Korea 5.6% Jepang 21.0% Thailand 1.2% Malaysia 4.1% USA 0.3% Eropa 7.6%

Italia 2.8% Indonesia 8.8% India 8.3% Hong Kong 4.7% Other 23.8%

Taiwan 12.3% Filipina 2.5% Cina 20.9%

30

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG kPC

Penjualan batu bara KPC tahun 2009 mencapai 38.758.082 ton

kesehatan dan keselamatan kerja (LA 8)
KPC berkomitmen untuk selalu menjaga kesehatan dan keselamatan karyawannya. Berbagai aturan telah diberlakukan guna mencapai tujuan tersebut. Ada 11 tipe pekerjaan yang memiliki potensi resiko fatal telah diidentifikasi serta ditinjau ulang baik dari standard, petunjuk pelaksanaan, kriteria audit dan pelatihannya berdasarkan OHSAS 18001. Aturan baku standard keselamatan kerja yang dikenal dengan istilah ”Golden Rules” sudah dilaksanakan sejak beberapa tahun terakhir. Dalam pelaksanaan di lapangan sejumlah karyawan bertugas setiap hari secara langsung khusus menangani persoalan kesehatan dan keselamatan kerja karyawan. Tercatat 284 karyawan (koordinator K3 dan petugas K3) atau 1,39 % dari total 20.297 karyawan KPC dan kontraktor yang terlibat dalam tugas ini. Selain itu terdapat 118 karyawan KPC sebagai perwakilan keselamatan dan kesehatan kerja yang tersebar pada

setiap divisi dan departemen operasional tambang. Penanganan K3 juga merupakan bagian tanggung jawab dari staff manajemen lini. (LA 6) Kinerja Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sepanjang tahun 2009 diwarnai dengan terjadinya kecelakaan fatal pada tanggal 22 Oktober 2009, yang menimpa seorang operator truk yang terjatuh dari ketinggian (2,5m) ketika menuruni anak tangga untuk menyelamatkan diri setelah truk yang dioperasikannya terbakar saat akan membuang material. Pada tahun 2009, tingkat kekerapan kejadian kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan jam kerja (LTIFR) sebesar 0,56 (2009) per 1.000.000 jam kerja atau 12% di atas nilai ambang batas maksimal yang telah ditetapkan untuk tahun 2009 yakni 0,50. Angka ini meningkat dibandingkan dengan yang terjadi pada tahun 2008 yaitu 0,23. Tren peningkatan ini bisa dilihat pada grafik berikut.

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

31

TeNTANG kPC
Grafik 3. Tingkat kekerapan kejadian kecelakaan (LTIFR) (LA 7)
Prima Nirbhaya/NOSA Implementation 39 36 2.86 2.59 No. of LTI 2.43 35 FPE & New Golden Rules Implementation 2.31 25 23 22 19 1.51 1.36 1.11 0.93 0.76 0.75 0.45 0.27 0.23 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 0.56 0.50 18 12 20 29 LTI LTIFR 1.50 12 3.50 Nilai Ambang Batas LTIFR 2009 : 0,50 3.00 L TIFR (per 1,000,000 Jam Kerja)

2.50

2.00

1.00

0.00

Sumber Data: Departemen Occupational Health, and Safety

Dari 32 kecelakaan yang mengakibatkan LTI, 9 kecelakaan terjadi di KPC dan 23 kecelakaan terjadi di kontraktor. Penyebab kecelakaan bervariasi, sebanyak 50% (16 dari 32) berhubungan dengan jalan pintas (shortcut) dan/atau pelanggaran aturan/prosedur keselamatan. Sementara itu, injury rate yang tidak menyebabkan LTI adalah 2,4. Sebanyak 137 kejadian terjadi tanpa mengakibatkan LTI. Pengukuran tingkat kepatuhan terhadap persyaratan Elemen Pencegahan Kecelakaan Fatal (Fatality

Prevention Element) dilakukan oleh Bagian Audit Keselamatan Kerja KPC sebanyak 85 kali pada tahun 2009. Pengukuran yang dilakukan di berbagai wilayah kontraktor dan departemen KPC ini meningkat dibandingkan dengan yang dilakukan pada tahun 2008 yaitu sebanyak 59 kali. Selain itu, peningkatan yang cukup pesat terjadi pada Prinasa (Program Observasi Perilaku) oleh jajaran manajemen dan praktisi K3. Dari 15.353 Prinasa di tahun 2008, meningkat menjadi 21.919 di tahun 2009. Target tahun 2009 yang hanya 16.790 terlampaui sebanyak 30,5%. Fokus Prinasa yang berhubungan dengan Elemen Pencegahan Kecelakaan Fatal pada tahun 2009 sebanyak 17.571 atau 80,1% dari total Prinasa yang telah dilakukan. Masih terjadinya kecelakaan kerja serius atau berakibat kehilangan jam kerja mendorong KPC untuk terus melakukan berbagai program pelatihan terkait dengan pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja. Hal itu dilakukan untuk membantu karyawan beserta keluarganya dalam mencegah terjadinya kecelakaan. Jenis pelatihan yang dilaksanakan antara lain HSE Induction, Job Safety Analysis, Human Element (Fatigue Management untuk karyawan), Fatigue Management for Spouse, Change Management, Accident Investigation (Basic dan Advance), Safety Risk Assessment, Safety Inspection, CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation), First Aid, Conducting Safety Talks, Awareness untuk Working

Pengecekan kendaraan dengan speed gun untuk memastikan setiap pengemudi mematuhi batas kecepatan yang berlaku. Ini merupakan salah satu penerapan golden rules di KPC

32

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG kPC
peralatan rescue baru dan melakukan pergantian peralatan yang sudah lama antara lain penambahan 3 buah perahu karet, 1 perangkat peralatan hidrolik untuk mengeluarkan korban, peralatan evakuasi ketinggian, dan lainnya. Untuk meningkatkan pelayanan terhadap pencegahan kecelakaan, KPC juga melakukan penambahan personel rescue/fire fighter sebanyak 12 orang yang telah diberikan pelatihan dasar rescue/fire fighting. Selain itu, KPC melakukan pelatihan Leadership Rope Rescue dan GPS bagi personel Emergency Response Team KPC dengan mendatangkan pelatih dari International Fire and Rescue Dynamics, Australia selama 6 minggu. Sementara itu hasil kesimpulan dari tim program rehabilitasi kerja (pimpinan klinik perusahaan dan perwakilan perusahaan) memutuskan bahwa selama tahun 2009 tidak ada karyawan yang sakit akibat pekerjaan yang ditanganinya. Jumlah peserta pelatihan K3L selama tahun 2009 mencapai 41.123karyawan (52,8 % dari total peserta semua jenis pelatihan), dengan jam pelatihan 115.245 (24.9 % dari total jam semua jenis pelatihan). Perbandingan jumlah pelatihan K3L sejak 2000 hingga 2009 dengan semua jenis pelatihan yang telah dilaksanakan ditunjukkan dalam grafik di bawah ini. Selama kurun waktu tersebut terlihat bahwa komitmen perusahaan terhadap pelatihan K3 bagi karyawan sangat tinggi. (LA 8)

Aturan Baku atau Golden Rules selalu ditekankan kepada setiap karyawan KPC maupun kontraktornya. Salah satunya adalah dengan poster seperti ini.

at Heights, Working Near Water, Electrical Safety dan Confined Space, Escort Training, Working at Height for Workers, Fire Extinguisher, Fire Warden, Prinasa, dan Prinutama. Di samping pelatihan, KPC juga melakukan berbagai upaya kampanye keselamatan dan kesehatan antara lain: pesan keselamatan harian melalui Radio GWP 100,2 FM, Buletin Warga Sehat dan Selamat, Safety Alert, Spanduk K3, perlombaan (melukis, menulis dan foto) dan seminar dalam rangka memperingati Bulan K3 Nasional 2009 dan lain-lain. Pada tahun 2009, KPC melakukan pengadaan 3 mobil ambulance baru. 2 diantaranya ditempatkan di Pos P3K Pit AB dan Lubuk Tutung, sedangkan 1 ambulance lainnya untuk menggantikan ambulance yang lama. Hal ini bisa mengurangi waktu tempuh bagi tim paramedic jika terjadi kecelakaan di areal-areal tersebut. Selain ambulance, KPC juga mengadakan beberapa

Penggunaan PPE (Personal Protection Equipment) yang benar akan menunjang kinerja karyawan dan mencegah terjadinya kecelakaan. Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

33

TeNTANG kPC
Grafik 4. Jumlah peserta training K3L tahun 2000-2009 Untuk karyawan dan kontraktornya, pada tahun 2009 ini KPC melalui Departemen Occupational Health and Safety memberikan penyuluhan dan pelatihan mengenai program pemeliharaan pendengaran yang bekerja di area bising. KPC juga memberikan penyuluhan dan sosialisasi Hepatitis B dalam kaitannya dengan penentuan kelayakan kerja karyawan kepada dokter dan penyedia layanan Medical Check Up di Sangatta, bekerja sama dengan CMO (Chief Medical Officer) dari ISOS. Inspeksi Food Hygiene di kantin perusahaan maupun kantin sekolah juga dilakukan untuk mengontrol kualitas makanan. Info mengenai kesehatan dan keselamatan kerja juga disampaikan dalam bentuk Buletin Warga Sehat dan

Sumber Data: Departemen Occupational Health, and Safety

Grafik 5. Jumlah jam pelatihan K3L tahun 2000-2009

Sumber Data: Departemen Occupational Health, and Safety

Untuk mendapatkan dukungan dari seluruh jajaran karyawan KPC dalam berbagai program K3, maka beberapa hal penting yang berkaitan dengan K3 telah dicakup di dalam Perjanjian Kerja Bersama Prima Perkasa antara Manajemen PT. KPC dan Serikat Pekerja / Serikat Buruh. (LA 9) Sebagai pencegahan timbulnya penyakit baik yang disebabkan oleh lingkungan kerja maupun pola hidup karyawan, KPC melakukan beberapa program. Salah satunya adalah monitoring potensi bahaya kesehatan di tempat kerja seperti kebisingan, kadar debu, penerangan, ventilasi, tekanan panas, kandungan gas beracun, dan getaran di alat berat. Selain itu penyuluhan dan pelatihan mengenai pengendalian keletihan diberikan kepada istri pekerja shift. (LA 8)

Gambar 4. Contoh poster sebagai sarana sosialisasi serta penyuluhan mengenai kesehatan di tempat kerja

34

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG kPC
Selamat yang terbit setiap 2 bulan serta artikel dan poster-poster yang berisi kampanye atau promosi kesehatan. Semua anggota Satuan Pengamanan (Security) KPC disyaratkan mengikuti Pendidikan Dasar (DIKSAR) yang diadakan oleh Polda dimana dalam kurikulum pelatihan tersebut terdapat pelajaran tentang hak-hak asasi manusia. Sebanyak 495 orang atau 98 % dari 505 anggota Satuan Pengamanan di Group4 dan Global Arrow telah mengikuti Pendidikan Dasar (DIKSAR). Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 90,3%. (HR 3, HR 8) Semakin baik kinerja perusahaan, maka remunerasi yang diterima karyawan juga akan meningkat. Dalam menjaga ”internal equity ”, perusahaan memberikan besar kecilnya remunerasi yang diterima karyawan sesuai dengan tingkat tanggung jawab karyawan dalam perusahaan. Dibandingkan dengan Upah Minimum Sektor Kabupaten Kutai Timur (UMSK) untuk sektor batu bara sebesar Rp 1.387.500,- (satu juta tiga ratus delapan puluh tujuh ribu lima ratus rupiah) pada tahun 2009 KPC memberikan gaji minimum kepada karyawan sebesar Rp 1.637.000,- (satu juta enam ratus tiga puluh tujuh ribu rupiah )atau 18% lebih tinggi dari UMSK. Jika dibandingkan dengan upah minimum kabupaten sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) KPC memberikan 64% lebih tinggi. Sementara jika dibandingkan dengan Upah Minimum Provinsi Kalimantan Timur sebesar Rp. 955.000,- (sembilan ratus lima puluh lima ribu rupiah), KPC telah memberikan gaji kepada karyawan perusahaan sebesar 71% lebih tinggi. Gaji minimum tersebut telah naik 8,9% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1.502.000,-.
(EC 5)

Benefit karyawan (4.5; EC 3; LA 3)
Dalam operasinya di tahun 2009, dana yang dikeluarkan oleh KPC untuk karyawan mengalami kenaikan menjadi USD 90,07 juta dibandingkan dengan tahun lalu yang sebanyak USD 78,13 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk pembayaran gaji karyawan, bonus, Tunjangan Hari Raya Keagamaan, pengobatan, akomodasi, perumahan, tunjangan kerja bergilir, Jaminan Hari Tua, pension, dan benefit lain untuk karyawan. KPC mendasarkan penentuan kompensasi pada kompetensi dan kinerja karyawan. Semakin tinggi kompetensi dan kinerja karyawan kompensasi yang diterima karyawan juga semakin meningkat. Selain itu, salah satu benefit dimana keterlibatan karyawan sangat tinggi dan menjadi perhatian semua pihak di lingkungan perusahaan adalah diberlakukannya ”Safety Voucher”. Benefit ini sebagai pendorong, pengingat dan pemacu semua karyawan akan pentingnya keselamatan kerja baik diri sendiri, rekan kerja maupun lingkungan kerjanya. Benefit ini diberikan dalam kinerja pencapaian jam kerja aman dan selama tidak terjadi kecelakaan fatal. Pemberian safety voucher diberlakukan kepada karyawan maupun tenaga kerja kontraktor yang diawasi secara langsung oleh pengawas KPC yang memenuhi syarat dengan besaran/nilai bonus yang sama. Penentuan remunerasi karyawan didasarkan kepada kinerja perusahaan dan survei penggajian dimana setiap tahun perusahaan melakukan”salary survey” dengan perusahaan sejenis. Baik dengan bantuan konsultan maupun dengan membandingkan langsung ke perusahaan tambang sekelas (benchmarking).

Bagi karyawan yang telah mencapai usia pensiun, perusahaan akan memberikan manfaat pensiun sesuai dengan peraturan dana pensiun KPC masing-masing iuran pasti untuk karyawan yang diterima sebelum 1Juli 2007 yang dikelolah oleh Dana Pensiun KPC dan manfaat pasti bagi karyawan yang diterima setelah tanggal 1 Juli 2007 yang pengelolaannya diserahkan ke pihak ketiga. Selain itu karyawan yang telah mencapai usia pensiun normal juga akan diberikan bonus masa kerja, bantuan pemulangan ke tempat penerimaan atau maksimal biaya transportasi ke Jakarta dengan kapal laut kelas 3, dan uang pisah masing-masing 2 kali upah pokok untuk masa kerja dibawah 5 tahun, 3 kali upah pokok untuk masa kerja antara 5 tahun sampai dengan kurang dari 10 tahun dan 4 kali upah pokok untuk masa kerja 10 tahun ke atas. Benefit lain yang dapat diterima oleh karyawan adalah cuti tahunan sebanyak 16 hari kalender. Dimana perusahaan menyediakan uang cuti (Annual Leave Premium) sebesar 225% dari upah pokok dan uang tambahan sebesar Rp 750.000,- (PKB, artikel 41). Transport cuti (Leave Fares) diberikan kepada karyawan permanen dan tanggungan yang sah, sedangkan pegawai status kontrak hanya diberikan untuk yang
Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

35

TeNTANG kPC
bersangkutan saja. Demi alasan keamanan, efektifitas dan efisiensi waktu dan bahan bakar, perusahaan juga menyediakan bus antar jemput karyawan dari dan ke tempat kerja, demikian juga dengan anak-anak karyawan disediakan jemputan dari dan ke sekolah perusahaan. (EN 7; EN 29) Mengingat keterbatasan daya tampung sekolah yang dikelola oleh Perusahaan maka sebagian kecil anak karyawan bersekolah di sekolah-sekolah umum. Sebagai wujud kepedulian Perusahaan atas kondisi tersebut Perusahaan memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak karyawan yang bersekolah di luar sekolah perusahaan sesuai pada tabel berikut ini : Tabel 7. Bantuan Pendidikan untuk anak karyawan Tingkat Pendidikan Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Umum Universitas Bantuan per tahun Rp. 1.000.000,Rp. 1.250.000,Rp. 1.500.000,Rp. 3.250.000,Ha. Kinerja pembebasan lahan di 2009 lebih besar dari tahun 2008 yang seluas 3.952,14 Ha. Hal ini terjadi untuk kepentingan perluasan tambang dan sarana pendukungnya. Program pemantauan dilakukan dengan pihak pihak terkait seperti polisi dan security terhadap lahan yang sudah dibebaskan. Pemantauan rutin ini bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik dan klaim atas lahan oleh masyarakat di masa yang akan datang. Pemantauan ini juga akan mendeteksi secara dini upaya-upaya pihak yang tidak bertanggung jawab atas timbulnya penambangan tanpa izin (PETI). Relokasi dan atau Resettlement merupakan salah satu alternatif pilihan dalam rangka pengelolaan dampak operasional tambang secara langsung yang diterapkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teknis, ekonomis, sosial, lingkungan budaya dan lainnya yang diperoleh dari study –study yang dilakukan baik secara langsung oleh Perusahaan maupun melalui pihak ke tiga (konsultan) yang dipercaya mampu dan bisa diterima tidak hanya oleh perusahaan akan tetapi dapat diterima juga oleh pemerintah setempat dan masyarakat.   Resettlement Segading merupakan program pengelolaan dampak lingkungan yang tengah dikerjakan oleh ESD dimana secara kewilayahan lokasi   masyarakat Dusun Segading Desa Keraitan akan terisolir pada saat tambang di Pit B  dan C mulai beroperasi. Resettlement Segading ini direncanakan akan memindahkan kurang lebih 57 kepala keluarga ke tempat yang telah dipilih dan disetujui bersama. Study rencana program segading resettlement ini dilakukan baik secara langsung oleh KPC maupun dilakukan oleh pihak ketiga dalam hal ini salah satunya adalah dilakukan oleh Grahatma. Keterlibatan Pemerintah dalam proses resettlement ini merupakan hal yang paling penting, tidak hanya sekedar sebagai legalisasi namun juga turut mendampingi warga masayarakatnya untuk menerima program. (MM 5; MM 9)

Penyediaan dan Pemantauan Lahan (MM 6; MM 7)
Penyediaan lahan untuk kegiatan tambang merupakan sebuah tahapan yang sangat penting di KPC. Jika lahan tidak dapat disediakan sesuai dengan waktunya, maka aktivitas tambang akan terhambat. Perluasan operasional tambang diawali dengan proses penyediaan lahan dengan jalan melakukan proses pembebasan lahan dari penguasaan dan atau penggarapan lahan masyarakat di dalam area konsesi, sebagaimana pelaksanaan amanat dalam PKP2B (perjanjian Kontrak Pertambangan Batu bara) dan Undang-undang nomor 11 tahun 1967 tentang pokokpokok pertambangan. Pendekatan proses pembebasan dilakukan secara musyawarah dan mufakat sesuai dengan SOP (Standard Operating Procedure) pembebasan lahan untuk mendapatkan kesepakatan nilai ganti rugi maupun dalam proses penyelesaian sengketa pertanahan, namun ada juga dilakukan penyelesaian permasalahan melalui proses hukum bilamana proses secara musyawarah maupun mediasi pemerintah tidak menemukan titik temu penyelesaian. Sepanjang tahun 2009, KPC telah membebaskan lahan seluas 8.327,08 Ha dari target seluas 4,509.71

Rencana Pasca Tambang (MM 2; MM 10)
Pada akhir bulan Juni 2009, KPC telah menyampaikan laporan Rencana Penutupan Tambang (RPT) ke Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral, Batu bara dan Panas Bumi, Departemen ESDM Jakarta. Rencana Penutupan Tambang PT.KPC ini disusun dalam rangka

36

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TeNTANG kPC
pemenuhan persyaratan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.18 Tahun 2008 tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang. KPC menyadari bahwa penutupan tambang merupakan suatu hal yang pasti terjadi dari suatu operasi penambangan. Untuk tetap menjamin bahwa penutupan tambang dapat dilakukan dengan baik maka diperlukan proses perencanaan penutupan tambang yang baik. Prinsip ini sejalan dengan komitmen yang tertuang dalam Kebijakan Pembangunan Berkesinambungan, Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan PT.KPC. Sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan kegiatan penutupan tambang diupayakan menjamin keberlanjutan taraf hidup masyarakat yang berdiam di sekitar lokasi penambangan PT.KPC dan keberlanjutan pembangunan daerah Kutai Timur. Untuk itu penutupan tambang perlu direncanakan dengan sebaik mungkin dengan perencanaan yang terintegrasi dalam setiap tahap kegiatan pertambangan dan tentunya dengan melibatkan para pemangku kepentingan. Beberapa hal yang akan dilakukan dalam proses penutupan tambang adalah reklamasi, pemantauan lingkungan, rehabilitasi lahan, remediasi material berbahaya, pembongkaran fasilitas tambang, dan program pemberdayaan masyarakat. Pada tahun 2009, beberapa program pasca tambang sudah mulai dilakukan. Dalam rangka rehabilitasi lahan, KPC melanjutkan studi pemanfaatan air void (kolam) pasca tambang dan studi desain restorasi ekosistem lahan bekas tambang telah dilakukan. Sementara itu, KPC juga meneruskan program PESAT (Pengembangan Peternakan Sapi Terpadu). Hal ini akan dijelaskan dalam bab lain dalam laporan ini. Program-program RPT tersebut telah disampaikan kepada Pemerintah Daerah dan KPC telah mendapat rekomendasi persetujuan dari Bupati Kutai Timur dengan surat no. 1104/Distamb-1.1/X/2009 tertanggal 14 Oktober 2009.

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

37

TeNTANG kPC

38

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kUALITAS PRODUk kAMI

kUALITAS PRODUk kAMI
Tanggung Jawab Terhadap Produk
Sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk menghasilkan produk yang aman, pemantauan terhadap kualitas produk merupakan komponen yang sangat penting dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan serta kontrol terhadap proses penambangan, penyediaan batu bara, serta proses pengangkutan. Quality Control Team memonitor proses tersebut selama 24 jam untuk memastikan tidak adanya produk yang tidak berkualitas. Walaupun survei pelanggan tidak dilakukan oleh KPC pada tahun 2009 ini, tidak adanya keluhan dari customer mengenai adanya dampak negatif dari penggunaan produk merupakan suatu indikasi kepuasan pelanggan KPC. Selain itu intensitas pelanggan yang terus memperpanjang kontrak pembelian menjadi sebuah indikasi bahwa produk kami aman digunakan. Kepercayaan pelanggan ini juga tidak lepas dari prestasi KPC yang terus mempertahankan sertifikasi OHSAS 18001 di bidang kesehatan dan keselamatan kerja dan ISO 14001 di bidang lingkungan pada tahun 2009 ini. Oleh karena produk KPC adalah batu bara, maka pengemasan produk secara khusus tidak dilakukan. (PR 5; EN 27)

(PR 1; PR 2; PR 3; MM 11)

dapat diandalkan dengan harga bersaing. Mutu dan ukuran sumber daya batu bara dan kemampuannya untuk memuati armada angkutan besar dari terminal kelas dunia yang dimilikinya membuat KPC mampu memiliki portfolio yang berbeda untuk kontrak berkala. Inilah yang menjadi tulang punggung bisnis KPC. KPC memberikan perhatian kepada layanan purna jual melalui : 1. Pengelolaan Manajemen Kualitas dan Kuantitas Batu bara 2. Pemasaran teknis yang mendukung pelanggan. Coal Technology Department KPC memberikan bantuan teknis kepada konsumen akhir dalam penanganan dan pembakaran batu bara dan secara aktif terlibat dengan konsumen guna menjamin agar mutu batu baranya memenuhi syarat. Bagian Manajemen Kualitas Batu bara merupakan bagian dari keseluruhan operasional KPC. Beberapa target yang telah ditetapkan bagi manajemen mutu batu bara meliputi: 1. Optimasi jadwal produksi dan permintaan 2. Optimasi sumber daya,dan 3. Menjamin semua pengiriman kepada konsumen sesuai spesifikasi Oleh karena produk kami berupa batu bara, kami tidak melakukan labeling pada produk kami secara khusus. Akan tetapi, konsumen mendapatkan informasi produk sesuai dengan permintaan mereka. Pada tahun 2009, tidak terjadi pelanggaran atas penyediaan informasi produk yang kami lakukan. Hal ini terjadi karena bagian pemasaran KPC mengirimkan sampel kepada pembeli sesuai persyaratan kontrak penjualan dan juga mengirimkan sampel kepada pihak independen, jika diminta oleh konsumen. Sampel produk KPC juga
Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kepuasan Pelanggan
Pelanggan KPC sebagian besar merupakan perusahaan pembangkit listrik. KPC memiliki produk-produk dan mutu yang cukup cocok dengan semua desain pembangkit tenaga listrik di seluruh dunia. Dengan adanya lokasi pelabuhan dan ongkos angkut KPC yang lebih rendah dibanding produsen batu bara lainnya, serta dikarenakan letak Indonesia yang strategis, merupakan salah satu faktor kepuasan pelanggan. KPC diakui sebagai salah satu pemasok batu bara yang

39

kUALITAS PRODUk kAMI
dikirim ke surveyor yang memiliki reputasi dunia untuk memenuhi sumber data yang dapat diandalkan guna memperoleh mutu dari masing-masing produk. (PR 4) Berikut ini adalah diagram lengkap:
• Bore Core Quality Data • In Situ Quality & Quantity • Mine Plan • Quality & design Cut Offs for Saleable Coal • As Mined Quality & Quantity • Production Schedules • Selective Mining Practices • Clean Coal Production • Crushed Coal Quality & Quantity • Sampled and Tested on Hourly Basis • Quality Control feedback to Mining Operations • Stockpile Management Practices • Blend to meet Contractual Specifications • Properly Blended Product Coal • Independent Inspection Company • Sampling & Testing • Draught Survey • Certificates of Analysis & Weight

harga setiap tahun. Komunikasi dijalin melalui email, faksimile, telepon, dan kunjungan ke lokasi. Pada tahun 2009, tidak terjadi pelanggaran mengenai komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh KPC. Kehadiran sebagai peserta di dalam lokakarya dan konferensi atau menjadi pembicara dapat mendukung upaya Pemasaran KPC dalam menjual dan mempromosikan produk-produk KPC ke seluruh dunia. KPC selalu hadir dalam setiap pertemuan Coaltrans yang diadakan beberapa kali dalam setahun. Untuk tahun 2009, KPC menghadiri Coaltrans China, Coaltrans Bali, Coaltrans Australia, dan Coaltrans London. Penjualan sebagian besar dilakukan dengan cara Free on Board (FOB), Cost and Freight (CNF/CFR), Cost, Insurance and Freight (CIF) dan kadang dengan Delivered ex Ship (DES).

GEOLOGICAL MODELS PIT DESIGNS ROM MODEL MINING PRODUCT COAL

STOCKPILING+BLEND

LOADING TO VESSEL

Pelanggaran Privasi konsumen (PR 8; PR 9) Program komunikasi Pemasaran (PR 6; PR 7)
Tim Pemasaran KPC tetap berkomunikasi dan melakukan kunjungan konsumen seperti yang diminta. Dengan kunjungan, Bagian Pemasaran KPC dapat membina hubungan yang baik dengan konsumen dan juga para calon konsumen. Untuk para konsumen jangka panjang, dilakukan pula negosiasi Hingga saat ini belum pernah terjadi keluhan dari konsumen sehubungan dengan pelanggaran privasi konsumen. Telah dibuat sistem guna melindungi privasi konsumen. ‘Confidentiality Agreement’ senantiasa merupakan salah satu klausul dalam sales contract master dengan pihak konsumen. Sampai saat ini tidak pernah terjadi pelanggaran terhadap perjanjian tersebut.

Kepercayaan pelanggan tidak lepas dari prestasi KPC yang terus mempertahankan sertifikasi OHSAS 18001 di bidang kesehatan dan keselamatan kerja dan ISO 14001 di bidang lingkungan pada tahun 2009 ini.

40

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TATA keLOLA PeRUSAHAAN

TATA keLOLA PeRUSAHAAN
Sebagai anak perusahaan PT. BUMI Resources Tbk, KPC mendukung dan menerapkan Good Corporate Governance (GCG) melalui penerapan Pedoman Perilaku. Pedoman Perilaku yang disahkan oleh Presiden Komisaris dan Presiden Direktur melalui surat keputusan No.739//BR-BOD/IX/06 tanggal 20 September 2006 ini menjabarkan nilai-nilai utama dan norma perilaku yang menjadi dasar bagi perusahaan dalam menjalankan usahanya.  Semua supplier ataupun kontraktor yang bekerja di KPC juga diwajibkan untuk mengikuti Pedoman Perilaku tersebut yang di dalamnya terdapat klausul-klausul hak asasi manusia.
(4.6; 4.8; HR 1)

(4.1; 4.4; SO 6; SO 7)

perusahaannya, Dewan Komisaris dan Direksi membentuk Komite Pedoman Perilaku. Komite tersebut beranggotakan perwakilan dari PT.Bumi Resources Tbk., PT.Arutmin Indonesia dan PT.KPC dengan masa keanggotaan 2 tahun dan dapat ditunjuk kembali maksimal untuk periode berikutnya atau sesuai kebutuhan. Pengawasan penerapan Pedoman Perilaku dilakukan melalui Speak Up System, yang dikelola oleh pihak ketiga yang independen. Speak Up System memudahkan karyawan dan pihak eksternal untuk melaporkan pelanggaran Pedoman Perilaku dengan cara yang terstruktur, independen dan terjamin kerahasiaannya. Setiap laporan pelanggaran Pedoman Perilaku baik yang melibatkan karyawan maupun manajemen senior akan ditindaklanjuti dengan investigasi atas laporan yang diterima. Sanksi terhadap pelanggar akan ditetapkan sesuai dengan peraturan perusahaan yang berlaku. Melalui Speak Up System ini pelapor juga akan mendapatkan status tindak lanjut dari pelanggaran yang dilaporkannya. Kinerja Speak Up System dievaluasi dan dilaporkan setiap bulan kepada Divisi Internal Audit, Direksi dan Dewan Komisaris melalui Komite Audit BUMI. Sejak bulan Maret 2008-April 2009, tercatat 73 laporan diterima melalui Speak Up System. Sejak diluncurkan pada tanggal 25 April 2008, Sosialisasi Pedoman Perilaku dan Speak Up System dilakukan oleh Komite Pedoman Perilaku serta masing-masing bisnis unit. Untuk PT.KPC, sosialisasi telah dilakukan kepada 4.450 karyawan atau 89,48 % dari total 4.973

Empat nilai utama perusahaan yang secara berkesinambungan akan dilaksanakan adalah bekerja dengan penuh integritas, mengutamakan keunggulan, bersikap secara profesional dan mengutamakan keselamatan dan lingkungan serta mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku. Salah satu yang ditanamkan dalam bersikap integritas adalah menolak keras adanya korupsi, kolusi dan nepotisme, salah satunya dengan cara menghindari benturan kepentingan. KPC sendiri tidak pernah melakukan suatu tindakan yang berhubungan dengan kegiatan anti-competitive, antitrust, dan monopoli. Tidak memberikan donasi kepada partai politik juga merupakan salah satu cara untuk menghindari benturan kepentingan yang dilakukan oleh KPC. Guna memudahkan pemahaman karyawan dalam memahami nilai dan etika perusahaan, diciptakan maskot GCG yaitu Mr. SPIRIT yang melambangkan komitmen yang tinggi terhadap Semangat, Profesional, Independen, Rajin, Integritas, dan Tanggung Jawab. Untuk mengawasi penerapan Pedoman Perilaku di lingkungan PT.Bumi Resources Tbk dan anak

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

41

TATA keLOLA PeRUSAHAAN
karyawan. Karyawan yang belum mengikuti sosialisasi adalah karyawan yang pada waktu sosialisasi sedang tidak masuk kerja dikarenakan sakit, perjalanan dinas, cuti, izin, dan beberapa alasan lain. Untuk membantu sosialisasi, poster mengenai “Speak Up System” dipasang di tempat-tempat strategis supaya karyawan bisa mengetahui mengenai sistem tersebut. (HR 3; SO 3)   Selain Speak Up System, sejak 30 April 2008 perusahaan juga menerapkan Sistem Manajemen Resiko Korporat (Enterprise Risk Management) dengan tujuan agar perusahaan mampu mengidentifikasi dan mengelola resiko dengan mengembangkan sistem pengelolaan dan pengawasan resiko yang handal. Hal ini dilakukan dengan cara menanamkan kegiatan manajemen resiko yang mendukung keseluruhan koordinasi dan penyelarasan, serta membuat rencana spesifik untuk menangani resiko yang signifikan. Salah satu bagian dari Sistem Manajemen Resiko Korporat yang telah dilakukan adalah ”Fraud Risk assessment” di bidang cash management, procurement dan supply chain untuk mengidentifikasi praktek-praktek yang mengindikasikan kemungkinan terjadinya korupsi.
(SO 2)

Hal ini dilakukan untuk mengamankan perusahaan dari pelanggaran karyawan yang mengakibatkan kecelakaan kerja, konflik kepentingan, serta menjaga kinerja perusahaan di bidang lingkungan dan sosial. Di dalam dokumen kebijakan perusahaan untuk pembangunan yang berkelanjutan, tampak jelas bagaimana perusahaan akan menjalankan visi dan misi untuk ketiga hal di atas. Kerangka yang kami miliki untuk memenuhi tata laksana dan tata kelola perusahaan yang baik meliputi kepatuhan pada hukum dan undang-undang (legal compliance), kebijakan pembangunan yang keberlanjutan (sustainable development policy), good corporate governance dan kode etik (GCG dan COC), perencanaan target tahunan dan tolok ukurnya, prosedur, pedoman dan perangkatnya, audit dan inspeksi, risk management, pelatihan dan kepedulian (training and awareness), penugasan, annual performance review, management review, pengakuan dan penghargaan. Untuk menjalankan komitmen tersebut maka KPC memiliki struktur organisasi yang sesuai dengan masing-masing tanggung jawab di bidang ekonomi, sosial dan lingkungan. Selain itu, KPC juga memiliki sebuah sistem yang jelas untuk memantau jalannya operasional tambang yang memenuhi ketiga cakupan bidang di atas, serta proses pengambilan keputusan oleh manajemen yang mengarah kepada kerangka acuan tersebut.

Disamping itu sebagai kegiatan rutin, KPC juga melakukan Risk Assessment (RA) untuk divisi-divisi berikut: Mining Operation Division (MOD), Supply Chain Division (SCD), Marketing, Finance, Mining Service Division (MSD), Accounting and Tax, dan Processing and Infrastructure Division (PID). Hasil dari RA adalah Risk Register, Risk Map, dan Mitigation Plan. Evaluasi efektivitas proses manajemen resiko, pengendalikan dan tata kelola perusahaan dilakukan oleh divisi internal audit yang memberikan jasa assurance dan konsultasi yang independen dan obyektif untuk memberikan nilai tambah dan membantu manajemen dalam mencapai sasarannya melalui pendekatan yang sistematis dan terarah. Para auditor internal mengacu pada Standar Internasional untuk Praktik Profesional Audit Internal (International Standards for the Professional Practice of Internal Auditing) yang diterbitkan oleh Institute of Internal Auditors (IIA), termasuk memenuhi Kode Etik Audit Internal yang juga dikeluarkan oleh IIA. KPC memiliki strategi tata kelola dan tata laksana operasional di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Penanggung Jawab Berkelanjutan

Pembangunan

Dalam rangka ketatalaksanaan perusahaan, KPC memiliki organisasi yang bertanggung jawab menjalankan prinsip keberlanjutan yakni: • Divisi External Affairs & Sustainable Development bertanggung jawab menjalankan mandat pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. • Divisi HSE memiliki tanggung jawab untuk menjaga kinerja lingkungan dan keselamatan kerja di lingkungan perusahaan serta menjaga mutu lingkungan sekitar operasi tambang agar tetap sesuai dengan standar yang ditetapkan di dalam undangundang lingkungan maupun persyaratan AMDAL. Divisi HR menjaga tata laksana perusahaan

42

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

TATA keLOLA PeRUSAHAAN
berlangsung sesuai dengan peraturan perusahaan. • Divisi Finance selain menjaga kondisi keuangan perusahaan juga melakukan risk analysis tahunan untuk mengantisipasi setiap kegiatan di setiap divisi perusahaan agar sesuai dengan kerangka aturan ekonomi perusahaan. Pemantauan kinerja ekonomi juga dilakukan melalui kegiatan audit keuangan setiap 4 bulan sekali dan audit governance yang selalu ditinjau setiap tahun. Divisi Supply Chain Development yang mengelola ketersediaan barang dan jasa bagi perusahaan baik secara lokal, regional, nasional maupun internasional. Hal ini termasuk juga bagaimana setiap kegiatan bisnis perusahaan dianalisa sebaik mungkin agar sesuai dengan target pencapaian tahunan baik di bidang produksi tambang, maupun pengeluaran perusahaan baik untuk kepentingan operasional di lingkungan internal perusahaan maupun pengembangan masyarakat. terkait erat dengan kegiatan produksi melaksanakan rapat mingguan yang dipimpin oleh COO. Rapat ini membahas pokok persoalan di divisi tambang, support tambang, proses batu bara, proyek ekspansi, masalah ketenagakerjaan, serta isu eksternal yang berhubungan dengan pembebasan lahan yang akan ditambang, serta hubungan dengan instansi pemerintah atau masyarakat. Rapat eksekutif juga dilakukan oleh komite kontrak (Contract Committee) yang terdiri dari CEO, COO, CFO, GM SCD, GM ESD, GM Finance dan Manajer Supply khusus untuk membahas tender proyek strategis yang dilakukan perusahaan.

HSe Forum
Berbagai aspek kesehatan dan keselamatan kerja dibicarakan secara rutin dalam berbagai forum pertemuan baik di KPC maupun kontraktornya. Pertemuan dengan para karyawan umumnya diadakan harian atau mingguan oleh para pengawas masingmasing, terutama di berbagai divisi dan departemen operasional. Para koordinator safety di seluruh divisi atau departemen berperan aktif dalam menyiapkan topik, materi atau penyampaian pesan-pesan, prosedur dan peraturan kesehatan dan keselamatan kerja dalam forum-forum tersebut. Aspek-aspek kesehatan dan keselamatan kerja juga merupakan bagian yang dibahas dalam berbagai forum pertemuan rutin para pengawas dan pimpinan. Di divisi-divisi operasional seperti Mining Operation, Mining Support dan Processing & Infrastructure juga diadakan pertemuan bulanan yang melibatkan para manajer departemen, kontraktor dan koordinator safety. Secara berkala juga diadakan pertemuan safcon (safety contractor) yang melibatkan pimpinan dan koordinator safety dari seluruh kontraktor KPC.

Monthly Board Meeting (4.10)
Pertemuan Board of Directors dan Commissioners diadakan sebulan sekali. Pertemuan ini meninjau kembali kinerja perusahaan dibandingkan dengan perencanaannya. Pertemuan ini juga membahas proposal di luar rencana bisnis. Annual business untuk tahun 2010 disetujui oleh BoD pada tahun 2009. Perencanaan tersebut disiapkan dengan masukan dari semua divisi di KPC. Sekarang ini, annual business plan telah menjadi dasar untuk membandingkan kinerja perusahaan perbulannya.

executive Committee (4.9)
Seluruh GM KPC melaksanakan rapat rutin yang dipimpin oleh CEO pada setiap dua minggu sekali melalui forum rapat Exco (Executive Committee) untuk membahas seluruh aspek yang terkait kegiatan operasional tambang dari semua segi termasuk perencanaan, status saat itu, serta kebijakan dan hal-hal penting yang patut dibicarakan untuk pengambilan keputusan atau penentuan kebijakan. Secara rutin forum rapat ini memahami permasalahan kegiatan tambang yang dialami dari tingkat paling bawah hingga tingkat paling tinggi. Selain rapat ini juga khusus untuk kegiatan yang

HRCR Forum & HR Network
Forum ini dibentuk oleh KPC bersama para subkontraktornya pada tahun 2004. Pembentukan forum ini didasari pada kesamaan permasalahan isu mengenai koordinasi KPC dengan kontraktornya menyangkut ketenagakerjaan, hubungan industrial, community development. Forum ini di adakan setiap dua bulan dengan pembahasan materi sesuai kesepakatan dari Forum dan peserta. Forum jejaring HR tidak hanya dilaksanakan dengan
Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

43

TATA keLOLA PeRUSAHAAN
para subkontraktor namun juga dengan perusahaan tambang lainnya yang dikenal dengan the Big-4 yakni KPC, FMI, INCO, NNT yang di dalamnya terakomodasi seluruh masalah seputar ketenagakerjaan.

Forum MSH-CSR (Multi Stakeholder for Corporate Social Responsibility)
KPC merupakan salah satu anggota forum ini dan aktif dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat. Forum ini dibentuk oleh Bupati Kutai Timur pada tahun 2006 melalui SK Bupati nomor 71/02.188.45/ HK/III/2006. Melalui forum ini KPC memaksimalkan cara pengelolaan dana pengembangan masyarakat yang dialokasikan USD 1,5 juta dari seluruh dana comdevnya setiap tahun. Pengelolaan forum ini juga dibarengi dengan pertemuan KPC dengan anggota sekretariat forum secara rutin termasuk perencanaan program, pelaksanaan program, serta pemantauan dan evaluasi program. Melalui forum ini KPC memberikan masukan berupa pedoman kebijakan, prosedur kerja serta kontrol program atau proyek yang maksimal. Pada tahun 2009, Forum MSH-CSR telah menyelesaikan proses presentasi dan asistensi kepada seluruh proponennya. Mekanisme ini sekaligus merupakan bentuk familiarisasi prosedur persetujuan proposal yang diajukan masyarakat. Lebih daripada itu, mekanisme ini lebih mempertajam kemampuan masyarakat atau proponen di dalam perencanaan programnya. Secara bulanan, pemantauan dilakukan oleh tim Forum MSH-CSR untuk melihat seberapa jauh perkembangan program yang telah berjalan. Mekanisme ini juga memberi arahan bagi perusahaan untuk melihat bahwa dana bantuan yang diberikan benar-benar dimanfaatkan sesuai kepentingannya.

Sistem Manajemen kesehatan, keselamatan kerja dan Lingkungan (Health, Safety, and Environment Management System)
Sistem ini merupakan panduan bagi KPC dalam mengelola semua isu yang berkaitan dengan pengelolaan kesehatan, keselamatan kerja, dan lingkungan. Sistem ini merupakan peningkatan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja Prima Nirbhaya dengan menggabungkan aspek Sistem Manajemen Lingkungan ke dalamnya. Sistem ini dibangun dengan menerapkan prinsip perencanaan, pelaksanaan, pengecekan dan tinjauan (Plan-DoCheck-Action/P-D-C-A) secara efektif dan efisien. Secara berkala sistem ini diperbarui dan ditinjau kembali sejalan dengan kegiatan perusahaan. Beberapa standar yang menjadi acuan dalam sistem ini adalah: ISO14001 dan OHSAS18001. Pelaksanaan dan pemantauan program yang mengacu kepada kedua standar di atas juga dilakukan melalui kegiatan audit dan inspeksi demi tercapainya peningkatan yang terus menerus (continuous improvement).

KPC bekerjasama dengan pemerintah, masyarakat, LSM, serta perusahaan lain dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan program CSR melalui Forum MSH-CSR

44

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA ekONOMI

kINeRJA ekONOMI
Untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan, KPC mengeluarkan dana investasi sebesar USD 56,1 juta pada tahun 2009. Dana tersebut digunakan untuk bidang infrastruktur, pembelian alat-alat berat, dan lain-lainnya. pemerintah Republik Indonesia, sedangkan untuk pajak tahun 2009 mencapai USD 568,29 juta. Jumlah yang tidak sedikit ini tidak lepas dari peran serta pemerintah yang telah memberikan pelayanan yang baik bagi operasional perusahaan. Terhitung sejak tanggal 13 September 2006, KPC dan perusahaan lain yang tergolong dalam PKP2B generasi pertama, telah dibebaskan dari pembayaran pajak ekspor. Dalam menjalankan kegiatan pertambangannya selama ini, KPC tidak menerima bantuan keuangan secara langsung dari Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Daerah. (EC 4)

kontribusi Bagi Pembangunan ekonomi Nasional (EC 9)
Peran serta KPC dalam pembangunan ekonomi di Indonesia tidak hanya sebatas pada kegiatan CSR saja. Pada tahun 2009, KPC membayar royalti batu bara sebesar USD 309,82 juta untuk tahun 2009 kepada

Grafik 6. Produksi, Penjualan, dan Royalti Batu bara pertahun
45 45 35 30 25 20 15 10 5 0

1998 14.57 41.13

1999 14.33 14.01 20.43

2000 13.49 13.25 44

2001 15.91 15.64 67.5

2002 18.26 17.19 64.52

2003 16.38 16.61 55.05

2004 22.13 21.38

2005 28.3 27.53

2006 38.21 34.9

2007 36.34 39.72

2008 37.46 35.77

2009 40.27 38.76

400 350 300 250 200 150 100 50 0

Batubara tertambang 14.96 Batubara terjual Royalti

juta ton

90.61 146.96 189.5 228.95 349.15 309.82 Batubara terjual Royalti

Batubara tertambang

Sumber data: Data dari Business Analyst KPC

Pengaruh Produksi

Curah

Hujan

Terhadap

hal ini memberikan pengaruh kepada pencapaian produksi pemindahan tanah penutup dan batu bara. Selain itu, produktivitas alat-alat produksi juga menurun disebabkan alat tidak dapat bekerja secara optimal di saat curah hujan yang tinggi. Perubahan produksi
Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

Pengaruh cuaca yang sulit untuk diperkirakan akibat adanya pemanasan global tidak berdampak secara langsung terhadap keuangan perusahaan. Akan tetapi

juta USD

45

kINeRJA ekONOMI
batu bara ini berdampak kepada pendapatan dari hasil penjualan. seperti yang tertuang dalam Sistem Pengelolaan Kontraktor dan Kontrak. Beberapa persyaratan yang berhubungan dengan aspek hak asasi manusia adalah adanya perjanjian kerja setiap karyawan kontraktor, terdaftarnya karyawan kontraktor dalam keanggotaan Jamsostek, pernyataan gaji minimum karyawan beserta komponen gaji, dan beberapa persyaratan lainnya. Untuk kedepannya, KPC akan lebih menekankan aspek hak asasi manusia dalam pemilihan kontraktornya. Grafik 7. Jumlah pemasok barang tahun 2008 dan 2009

keterlibatan Supplier
Selama tahun 2009, operasional KPC telah didukung oleh baik kontraktor dan supplier lokal, nasional, maupun luar negeri. Dana yang telah dikeluarkan untuk pasokan barang sepanjang 2009 adalah sebesar USD 810.220.038,78, sedangkan dana yang digunakan untuk penggunaan jasa sebesar USD 134.016.037,98. KPC sangat bertanggung jawab terhadap kontraktor karena kontraktor merupakan perluasan dari tenaga kerja KPC. Jika pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor tidak dikelola secara efektif, KPC berpotensi untuk menghadapi risiko-risiko yang penting dari perspektif komersial, teknis, dan K3L. Untuk menanggulangi risiko-risiko tersebut, KPC telah menciptakan Sistem Pengelolaan Kontraktor dan Kontrak atau yang biasa disingkat menjadi CMS (Contract and Contractor Management System) . Tujuan dari Sistem Pengelolaan Kontraktor & Kontrak secara mutlak adalah untuk memastikan bahwa semua pekerjaan yang dikontrakkan dilakukan oleh kontraktor yang berkompeten, sesuai spesifikasi, terjangkau anggaran dan tanpa insiden, sesuai dengan persyaratan KPC dalam hal K3L, teknis dan komersial. Hal ini dicapai dengan memastikan bahwa kontrak dan kontraktor terkait dikelola secara efektif. KPC berkomitmen untuk menjunjung prinsip saling percaya dengan para supplier. Semua kontraktor dan supplier harus menandatangani Code of Conduct dan General Condition yang di dalamnya terdapat klausul hak asasi manusia. Penandatanganan harus dilakukan oleh pimpinan tertinggi organisasi tersebut dan mereka harus mematuhi apa yang terdapat dalam dokumen tersebut. Bagi KPC, adalah sebuah hal yang penting bahwa supplier dan mitra bisnis KPC juga menjunjung prinsip ini. Adanya penerapan standar keselamatan, serta tidak mempekerjakan anak di bawah umur sesuai dengan undang-undang yang berlaku, merupakan kriteria yang diterapkan oleh KPC dalam menjalin kerja sama dengan para supplier dan mitra bisnis KPC. (HR 2) Semua kontraktor yang menjadi kontraktor KPC diwajibkan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan

Sumber: Data dari Departemen Supply KPC

Grafik 8. Jumlah pemasok jasa tahun 2008 dan 2009

Sumber: Data dari Departemen Supply KPC

46

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA ekONOMI
Grafik 8. Jumlah pemasok jasa tahun 2008 dan 2009 Tabel 9. Komposisi supplier dalam pengadaan jasa tahun 2009 Wilayah Pemesanan Jasa Lokal Kutim Lokal Kaltim Nasional Luar Negeri Total Pembelian Jasa dan Contract Service Total (dalam USD) 23.339.944,42 22.510.508,22 76.516.538,13 11.649.047,21 134.016.037,98

Sumber: Data dari Departemen Supply KPC

Sumber: Data dari Departemen Supply KPC

Grafik 11. Pembelian Jasa

Tabel 8. Komposisi supplier dalam pengadaan barang tahun 2009 Wilayah Pembelian Barang Lokal Kutim Lokal Kaltim Nasional Luar Negeri Total Pembelian Barang Total (dalam USD) 6.679.335,34 16.693.462,66 428.230.798,34 358.616.442,43 810.220.038,77

Sumber: Data dari Departemen Supply KPC

Grafik 10. Pembelian Barang Domestik dan Impor

Sumber: Data dari Departemen Supply KPC

Sumber: Data dari Departemen Supply KPC

KPC mempunyai komitmen untuk mengembangkan, meningkatkan dan memberdayakan perekonomian lokal, dan meningkatkan peran serta masyarakat sekitar tambang untuk ikut menjadi pemasok keperluan barang dan jasa yang bisa diandalkan. Departemen Supply telah membentuk subsection LBD atau Local Business Development. Gagasan ’local business development’ ini dicetuskan pertama kali oleh divisi ESD pada awal tahun 2007 yang kemudian secara bersama-sama dikembangkan dengan Departemen Supply secara lebih intensif pada kuartal ke-4 tahun 2007. Sistem dan mekanisme yang lebih terstruktur telah diperdalam secara bersama dengan melakukan studi banding ke perusahaan-perusahaan yang telah memiliki sistem ini sebagai acuan pelaksanaan. Prakarsa local business development ini menjadi sangat penting karena sekaligus membuktikan kepedulian KPC kepada pengembangan ekonomi lokal masyarakat yang pada
Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

47

kINeRJA ekONOMI
akhirnya bisa membawa kesejahteraan masyarakat di sekitar perusahaan. Upaya lain yang dilakukan adalah meningkatkan pembelanjaan di lokal Kutai Timur yang tahun ini meningkat sebanyak 3 %. (EC 6) Departemen Supply juga mempunyai aturan-aturan baku dalam proses tender. KPC mengundang supplier/ kontraktor dalam pengadaan barang dan jasa untuk menjaga kredibilitas, keadilan, dan kepercayaan para pemasok barang/jasa. Hal ini sesuai dengan aturan Departemen Supply yang tertuang di dalam SOP (Standard Operation Procedures). Namun, jika ada keperluan yang sangat mendesak, end user bisa menunjuk langsung supplier/kontraktor dengan melengkapi waive to tender document yang harus sepengetahuan pimpinan divisi dan mendapat persetujuan Chief Executive Officer selama nilainya dibawah USD 500,000.00. Jika nilai kontrak di atas nilai tersebut, maka harus mendapat persetujuan dari komite kontrak.

Dampak kPC terhadap perekonomian sekitar tambang
Peran kegiatan pertambangan KPC terhadap ekonomi Kutai Timur masih sangat menonjol. Berdasarkan data BPS Kabupaten Kutai Timur tahun 2009, sektor pertambangan pada Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 86,17 %. Selain itu, dengan bertambahnya karyawan KPC, secara tidak langsung memberikan dampak terhadap perekonomian sekitar tambang. Dengan mengacu pada hasil studi CSSR tahun 2007, setiap satu juta rupiah upah dan gaji pekerja KPC dapat membentuk pendapatan di Kutai Timur sebesar 2,4234 juta rupiah. Hal ini juga didukung oleh survei yang dilakukan oleh Universitas 17 Agustus 1945 pada tahun 2008, bahwa pendapatan rata-rata responden yang berada di lingkungan sekitar tambang mencapai Rp 2.880.603/bulan. Untuk tahun 2009, tidak ada survei maupun penelitian serupa, sehingga survei dan penelitian yang tahun sebelumnya dijadikan acuan bertambahnya dampak perekonomian yang ditimbulkan oleh KPC.

Wilayah kota Sangatta yang terus berkembang ini masih sangat bergantung kepada sektor pertambangan

Setiap satu juta rupiah upah dan gaji pekerja KPC dapat membentuk pendapatan di Kutai Timur sebesar 2,4 juta rupiah

48

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA SOSIAL

kINeRJA SOSIAL
Proses penambangan batu bara disadari bisa menimbulkan dampak sosial kepada masyarakat sekitar tambang. Berdasarkan studi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) KPC, dampak sosial itu bisa berupa hilangnya potensi pendapatan masyarakat karena alih fungsi lahan pertanian, dan menurunnya tingkat kesehatan masyarakat karena debu, kebisingan, getaran, dan penurunan kualitas air dan lingkungan. Dampak sosial lain yang bisa ditimbulkan, adalah hilangnya mata pencaharian langsung dan tidak langsung berkaitan dengan penambangan batu bara KPC. KPC melalui Divisi External Affairs and Sustainable

(4.12; SO 1)

Development (ESD), merumuskan dan menjalankan berbagai program, untuk menanggulangi dampak tersebut. Program yang dijalankan berupa program peningkatan ekonomi masyarakat, peningkatan derajat sosial, serta dukungan terhadap pelestarian alam dan budaya. Dalam pelaksanaan program tersebut, KPC mengacu pada prinsip Triple Bottom Line, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Prinsip Triple Bottom Line ini secara tegas dirumuskan dalam visi dan misi Divisi External Affairs and Sustainable Developement sebagaimana tertuang dalam bagan berikut.

VISI & MISI Divisi External Affairs and Sustainable Development PT kaltim Prima Coal

Menjadi mitra dalam pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat

VISI

Misi-1 Menjalin hubungan yang harmonis dengan pemangku kepentingan (stakeholder) berdasarkan prinsip saling percaya dan saling menghargai

Misi-2 Mendorong pertumbuhan perekonomian lokal yang saling menguntungkan untuk menuju masyarakat yang mandiri dan sejahtera

Misi-3 Menjaga tatanan masyarakat dengan memelihara kelestarian alam dan budaya

Pengembangan Agribisnis

Pengembangan KUKM

Kesehatan Masyarakat

Pendidikan dan Pelatihan

Peningkatan Infrastruktur

Pelestarian Alam & Budaya

Peningkatan Kapasitas Pemerintah & Masyarakat

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

49

kINeRJA SOSIAL
Visi dan misi tersebut dijabarkan lagi melalui tujuh program pemberdayaan masyarakat KPC, yang tujuan akhirnya adalah terciptanya kemandirian masyarakat pasca tambang. Hal ini akan membuat masyarakat sudah mampu untuk melakukan kegiatan ekonomi berbasis pada sumber daya yang terbarukan di akhir kontrak KPC dengan pemerintah (PKP2B). tenaga Pendamping Wilayah (PW) di masing-masing desa pada empat kecamatan tersebut. Pemantauan pelaksanaan program dilakukan melalui mekanisme survei terhadap masyarakat, dan pertemuan rutin dengan masyarakat. Dalam tahun 2009, progam peningkatan ekonomi masyarakat berfokus pada kegiatan agribisnis dan UMKM, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan jumlah dan kapasitas kontraktor lokal dalam rantai pasokan usaha KPC dan sub kontraktornya. Pengembangan Agribisnis KPC memandang, sektor agribisnis merupakan satu peluang usaha jangka panjang yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan bagi Kabupaten Kutai Timur. Hal itu didukung dengan ketersediaan lahan yang cukup luas dan daya dukung iklim tropis, yang mana Kutai Timur berada di daerah garis katulistiwa. Selain itu, program pengembangan agribisnis juga merupakan bentuk dukungan terhadap grand strategy pembangunan Kabupaten Kutai Timur, yakni, Gerakan Daerah Pengembangan Agribisnis (Gerdabangagri). (4.12) Pada tahun 2009, program agribisnis berfokus pada tanaman pangan, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Sebanyak 2.718 orang mendapat manfaat secara langsung dari program-program agribisnis yang dikembangkan KPC. Mereka umumnya berasal dari keluarga yang berada di wilayah sekitar tambang KPC, yakni Kecamatan Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Bengalon dan Rantau Pulung.

Peningkatan ekonomi Masyarakat
Dalam menjalankan program peningkatan ekonomi masyarakat, KPC secara berkesinambungan mendorong kemandirian, melibatkan partisipasi masyarakat, serta menggali sumber daya yang terbarukan dan berjangka panjang. Selain itu, program peningkatan ekonomi juga diarahkan untuk membangun sinergi dengan program Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, mendukung pencapaian pembangunan millenium (Millenium Development Goals) kategori 1 yaitu pemberantasan kemiskinan, dan diselaraskan dengan program penutupan tambang KPC. (4.12) Cakupan wilayah yang diprioritaskan adalah pada daerah di sekitar tambang, yakni Kecamatan Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Bengalon dan Rantau Pulung. Untuk mendapatkan hasil yang optimal dan obyektif, KPC melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, LSM, lembaga donor internasional, dan lainnya. Sedangkan untuk menyerap aspirasi masyarakat secara tepat dan akuntabel, KPC menempatkan tenaga-

Tabel 10. Program Agribisnis Tahun 2009 No 1 Program Budidaya jeruk Bentuk Kegiatan Distribusi sebanyak 29.888 bibit jeruk dan pembukaan lahan baru seluas 309 ha Temu petani Kakao seluruh Kutai Timur, identifikasi potensi produksi kakao Penerima Manfaat 659 orang (60 kelompok tani) 296 petani (15 kelompok tani) Lokasi (Kecamatan) Rantau Pulung

2

Pengembangan kakao

Rantau Pulung

50

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA SOSIAL
KPC bersama dengan Pemerintah Daerah Kutai Timur dan Komite Pechole Borneo melakukan pendampingan kegiatan agribisnis nilam serta melakukan pengembangan sms-gateway. Pendampingan kelompok dan pemberian stimulan berupa 299.500 ekor bibit ikan dan pakan sebanyak 6.000 kg. Pemagangan masyarakat lokal, pembangunan kandang sapi untuk kapasitas 110 ekor sapi, unit biogas, kebun rumput 4 Ha, pembelian 11 ekor sapi.

3

Pengembangan nilam

2000 orang (dalam mata rantai agribisnis nilam)

Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Rantau Pulung dan Bengalon

4

Perikanan air tawar

208 orang

Bengalon dan Rantau Pulung

5

Peternakan sapi terpadu

14 orang

Sangatta

Sementara itu, dalam rangka mendukung program nasional, swasembada daging pada tahun 2015, KPC mengembangkan peternakan sapi terpadu sebagai salah satu program agribisnis. Program ini memanfaatkan lahan bekas tambang, setelah melewati uji penelitian “Teknik Pengembangan Tanaman Penutup Tanah pada Lahan Paska Tambang Batu bara sebagai Pastura” yang dilakukan oleh dosen Universitas Mulawarman. Sebagai bentuk tindak lanjut, KPC bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), merencanakan pengembangan sapi dengan kapasitas sampai dengan 110 ekor di lokasi bekas Pit Surya, D2 Murung. Dalam tahun 2009, sebanyak 11 ekor sapi dari jumlah yang direncanakan telah didatangkan. Dalam tahun yang sama, KPC menyelesaikan sebagian besar pembangunan sarana dan prasarana pendukung peternakan sapi, seperti pembangunan kandang sapi, pembuatan saluran drainase, pembangunan sarana pengolahan limbah, penanaman dan pemeliharaan rumput raja (king grass) untuk pakan sapi, dan pembangunan lookout. Untuk mendukung percepatan pengembangan di tingkat masyarakat, kegiatan pemagangan tahap 1 telah mulai dilakukan. Peserta magang adalah masyarakat putus sekolah yang tidak terjaring dalam pasar tenaga

Program budidaya jeruk ini telah melibatkan 60 kelompok tani di Kutai Timur yang beranggotakan lebih dari 600 orang petani

kerja sektor tambang KPC. Rencananya, para lulusan magang inilah yang nantinya mengembangkan sapi di luar wilayah tambang. Karena itu, setelah dinyatakan kompeten dalam budidaya sapi, mereka diberikan bekal berupa anakan sapi, dari kandang D2 Murung. Sebagai kelanjutan dari dukungan terhadap swasmbada daging dan dukungan terhadap grand strategy pembangunan Kutai Timur ‘Gerdabangagri’, KPC menjalin kerja sama dengan IPB dalam program Beasiswa Utusan Daerah. Dalam tahun 2009, KPC memberikan 4 beasiswa penuh kepada pelajar di
Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

51

kINeRJA SOSIAL

Pengembangan agribisnis perikanan terutama dititik beratkan di wilayah Bengalon yang cukup dekat dengan sungai dan laut

4 penerima beasiswa penuh ke Institut Pertanian Bogor (dari kiri ke kanan): Yusi Ariska, Yudha Yaniari Satriya Putri, Rangga Lawe Sandjaya,

Kutai Timur, untuk mengikuti kuliah program S1 di IPB. Jurusan yang menjadi pilihan adalah Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pangan, Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Teknologi Industri Pertanian, dan Ilmu Gizi. Menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM) Bagi kemajuan ekonomi Masa Depan Sesuai komitmen perusahaan untuk menyediakan peluang ekonomi masa depan yang tidak bergantung pada sumber daya tambang, KPC menggelar berbagai program pendidikan. Untuk tujuan itu, KPC menyediakan beasiswa setiap tahunnya bagi masyarakat dari jenjang SMP, SMA, D3/S1, S2 dan S3. Dalam tahun 2009, total beasiswa yang diberikan, mencapai 122 beasiswa, terdiri dari 30 beasiswa

untuk SMP, 30 beasiswa untuk SMA, 30 beasiswa D3/ S1, 20 beasiswa program S2 dan dua beasiswa untuk S3. Program beasiswa ini juga merupakan bentuk dukungan terhadap Millenium Development Goal kategori 2, yaitu tercapainya pendidikan dasar universal dan dukungan terhadap program Pemerintah Kutai Timur ‘Kutim Cemerlang’. (4.12) Selain beasiswa, KPC juga menggelar berbagai pelatihan bagi guru untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Kutai Timur. Dalam tahun 2009, pelatihan yang digelar adalah pelatihan KTSP dan Training of Trainer (TOT) Pendidikan Gizi dan Kesehatan Anak Sekolah. Program lainnya dalah Celoteh Pendidikan, yakni, program Talk Show di Radio yang digelar sekali seminggu, dengan tema pendidikan, kesehatan, lingkungan dan lainya.

Fajriati Sunia, salah seorang penerima beasiswa dari KPC yang meraih IPK tertinggi di STPMD APMD Yogyakarta

KPC terus memberikan beasiswa kepada pelajar di Kutai Timur untuk menciptakan tenaga kerja yang handal di bidangnya

52

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA SOSIAL
Pengembangan UMkM dan kontraktor Lokal Salah satu program peningkatan ekonomi masyarakat sekitar tambang KPC adalah peningkatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) baik yang berhubungan dengan agribisnis maupun tidak. Tujuan utama dari program ini adalah turut membantu Pemerintah dalam melakukan pengembangan dan percepatan perekonomian berdasarkan sumber daya yang terbaharukan sebagai bagian dari strategy persiapan penutupan tambang. Dalam tahun 2009, kegiatan UMKM berupa pelatihan dan pendampingan ekonomi masyarakat pedesaan oleh Yayasan Bioma di Sangatta Selatan dan pelatihan serta pendampingan kegiatan usaha masyarakat (pelatihan perbengkelan) oleh Yayasan Maritim Borneo di Teluk Pandan. Kegiatan lainnya berupa bantuan modal usaha koperasi Nurussa’adah di Sangkulirang, bantuan modal usaha KUB Kerupuk Rantau Pulung, bantuan dana pembinaan dan modal kerja Koperasi Maloy Sangkulirang. Beberapa jenis produk seperti produk olahan makanan, produk kerajinan anyaman rotan, produk aneka tas berbahan baku sampah plastik serta produk berbahan baku limbah kertas koran juga terus dikembangkan melalui pendampingan kelompok-kelompok usaha. Dalam rangka membantu pemasaran atas produkproduk tersebut, KPC juga secara intensif melakukan promosi dalam berbagai event baik internal maupun keluar Sangatta dengan melibatkan dampingan kelompok-kelompok usaha. Selain itu, KPC juga melibatkan kontraktor lokal skala kecil dan menengah dalam tender-tender untuk berbagai pekerjaan yang ada di KPC. Dalam tahun 2009, perusahaan telah melibatkan 30 kontraktor lokal untuk 49 pekerjaan infrastruktur masyarakat. Pekerjaan yang dilakukan antara lain, perbaikan jalan Sepaso Timur, perbaikan jalan KPPS I, perbaikan jalan KPPS II, pembangunan kandang sapi D2 Murung, perawatan jalan ADM Sangatta-Rantau Pulung dan lainya. Dalam design jangka panjang sesuai dengan rencana penutupan tambang tahun 2021, KPC juga menyiapkan langkah menuju kemandirian masyarakat, melalui penyiapan pelaku bisnis yang handal. Program yang diluncurkan adalah pendidikan dan pelatihan kewirausahaan mandiri kepada pelajar SMP, SMA dan Perguruan Tinggi di Kutai Timur dan Kaltim. Program ini bekerja sama dengan lembaga nirlaba Prestasi Junior Indonesia (PJI) dan merupakan kelanjutan dari program yang sama sejak tahun 2003 lalu. Saat ini sembilan sekolah dilibatkan dalam program PJI. Bentuk programnya adalah simulasi bisnis global, pendirian perusahaan siswa, pendampingan manajemen perusahaan siswa dan berbagai pelatihan manajemen usaha kepada para siswa. Secara berkala program dipantau langsung baik oleh KPC maupun oleh Direktur Operasional Prestasi Junior Indonesia. Pembangunan Infrastruktur (EC 8) KPC meyakini, ketersediaan infrastruktur merupakan salah satu kunci bagi peningkatan ekonomi yang bermuara pada terciptanya kemandirian masyarakat. Pada tahun 2009, KPC telah membangun beberapa sarana infrastruktur sebagai dukungan untuk meningkatkan pembangunan ekonomi lokal dan penguatan kapasitas pemerintah dan masyarakat.

Jalan Soekarno-Hatta yang menghubungkan Road 9 ke kawasan kantor pemerintah Bukit Pelangi, dan Flyover Soewandi yang menghubungkan jalan Soekarno-Hatta dengan Jalan Raya Bengalon merupakan pekerjaan infrastruktur besar yang telah diselesaikan KPC pada tahun 2009 Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

53

Infrastruktur yang dibangun dalam tahun 2009, antara lain, perbaikan jalan ADM yang menghubungkan Rantau-Pulung dan Sangatta sepanjang 29 km, perbaikan jalan Sepaso Timur sepanjang 1850 m, perbaikan jalan akses ke kantor Desa Rantau Pulung sepanjang 800 m. Selain itu, terdapat dua pekerjaan jalan yang cukup besar yang telah diselesaikan di tahun 2009 ini. Pertama adalah Jalan Soekarno-Hatta yang menghubungkan Road 9 ke kawasan kantor pemerintah Bukit Pelangi, dan Flyover Soewandi yang menghubungkan jalan Soekarno-Hatta dengan Jalan Raya Bengalon. Pembangunan kedua jalan ini tidak hanya meningkatkan aspek keamanan pengguna jalan tetapi juga aksesibilitas ke Bukit Pelangi, serta tumbuhnya peluang ekonomi baru di sepanjang jalan tersebut.

Penanganan keluhan dan komunikasi eksternal Dalam menjalankan operasi perusahaannya, KPC dituntut untuk mematuhi aturan yang berkaitan dengan kelayakan tambang. Salah satu aturan yang diamanatkan dalam AMDAL 2005 adalah pengelolaan keluhan masyarakat akibat aktivitas tambang. Kepatuhan KPC ini diatur dalam Rencana Pengelolaan Lingkungan Sosial. KPC melalui Departemen Community Empowerment, melakukan proses komunikasi melalui pertemuan toga tomas, pertemuan formal/informal dari program yang dijalankan. Selain itu, secara spesifik mengelola keluhan masyarakat yang berkaitan dengan isu lingkungan, bencana alam, dan konflik sosial. Selain itu, KPC juga melakukan koordinasi dan fasilitasi bagi kelancaran proses monitoring sosial bekerja sama dengan instansi pemerintahan terkait dan pemerintah lokal kecamatan di masing-masing wilayah. Pengelolaan tersebut mencakup pemecahan pertentangan atau persinggungan dan kekecewaan masyarakat akibat aktivitas tambang KPC. Untuk menangani keluhan kritikal, KPC masih tetap menggunakan Sistem Umpan Balik Masyarakat (Community Feedback System) yang tertuang dalam memo Ref. M004/ESD/VII/06. Penanganan isu-isu ini dilakukan sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) ESDMS/DOC/SOP/ESD/CFS/002 sebagai panduan pelaksanaan teknis.

Membangun Harmoni Sosial
Dalam operasional tambangnya di Kabupaten Kutai Timur, KPC selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan semua pemangku kepentingan dan selalu menjaga tatanan sosial masyarakat setempat. Untuk hal itu, perusahaan mendorong sistem komunikasi berdasarkan prinsip saling percaya dan saling menghargai, meningkatkan kualitas masyarakat melalui program kesehatan, dan memberikan dukungan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerintah.

Grafik 12. Komposisi Keluhan Tahun 2009

komposisi keluhan Tahun 2009
18 16 14 12 10 8 6 4 2 0

Ju Ag li u Se stus pt em be Ok r to b No er ve m De ber se m be r Ju m la h

nu a Fe ri br ua ri M ar et Ap r il M ei Ju ni

Sangatta Bengalon Jumlah

Sumber: Data dari Departemen Community Empowerment

54

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

Ja

Seperti yang terlihat pada grafik di atas, terjadi 16 keluhan di tahun 2009. Dibandingkan dengan tahun 2008 dengan 17 keluhan, di tahun 2009 ini terjadi penurunan jumlah keluhan. Dari 16 keluhan yang

terjadi, permasalahan yang paling banyak adalah konflik sosial. Umumnya konflik sosial disebabkan oleh permasalahan tenaga kerja lokal, isu masyarakat lokal dan pengelolaan dana pengembangan masyarakat.

Grafik 13. Komposisi Keluhan Berdasarkan Kriteria Tahun 2009 komposisi keluhan Berdasarkan kriteria tahun 2009

Udara Air Blasting Pengaruh Kebisingan Bencana Alam Conflict Sosial

Sumber: Data dari Departemen Community Empowerment

Permasalahan mengenai air dan udara, menurun menjadi sebanyak tiga keluhan dibandingkan dengan tahun 2008 sebanyak tujuh keluhan. Dari 16 keluhan yang muncul, semuanya berstatus closed. Walaupun demikian, proses pemantauan di lapangan tetap berlangsung untuk memperbaharui status dan perkembangan isu di masyarakat. Pada periode tahun 2009 ini, tidak terjadi pemogokan maupun blokade dari masyarakat. Tetapi terdapat potensi menuju blokade yang terlihat dan muncul unjuk rasa dari Forum Masyarakat Bengalon. Tahun 2009, keluhan paling banyak berasal dari wilayah Kecamatan Bengalon yang jumlahnya sebanyak 10 keluhan, semenatara wilayah Sangatta sebanyak enam keluhan. (MM 4) Pada tahun 2009 ini dapat disimpulkan bahwa masalah pengelolaan dana pengembangan masyarakat menjadi salah satu sumber potensi konflik dan keluhan dari masyarakat, terutama berbedanya pemahaman masyarakat terhadap masalah pengelolaan dana masih belum tepat. Oleh karena itu, KPC terus menerus mengembangkan mekanisme sosialisasi dan informasi kepada masyarakat mengenai sistem pengelolaan dana pengembangan masyarakat dan hasil dari program yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

n ‚ 0 Fe 9 b ‚ 0 M 9 ar ‚ 0 Ap 9 r ‚ 0 M 9 ei ‚ 0 Ju 9 n ‚ 09 Ju l ‚ Ag 09 st ‚ 0 Se 9 p ‚ 0 Ok 9 t ‚ 0 No 9 v ‚ 0 De 9 s ‚ 0 Ju 9 m la h

Ja

Selain itu, KPC juga memberikan pemahaman kepada masyarakat, bahwa pengelolaan lingkungan telah dilakukan dengan baik melalui program monitoring oleh Departemen Environment. Komunikasi mengenai tata-cara dan hasil dari pengelolaan lingkungan tersebut, dapat juga meningkatkan pemahaman masyarakat akan kinerja perusahaan dalam mengelola lingkungannya.

Tahap I RSUD Sangatta telah dikerjakan oleh KPC, sedangkan Tahap II akan dirampungkan pada tahun 2010 Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

55

kINeRJA SOSIAL
dn penyakit menular lainnya), terus dilanjutkan pada tahun 2009 ini. Bersama Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Timur dan Dinas Kesehatan kabupaten Kutai Timur dan PPTI, telah mengadakan kegiatan pencegahan HIV/AIDS di masyarakat, berupa Zero Survey pada 250 orang di lokalisasi Kampung Kajang, Sangatta dan Segadur, Bengalon. Secara berkala tim mengadakan pemeriksaan IMS (Infeksi Menular Seksual) di klinik yang berada di dua lokalisasi tersebut, dan melakukan penyuluhan kepada masyarakat umum termasuk mahasiswa, anak sekolah dan ibu rumah tangga. Selain itu, KPC juga tetap melanjutkan program pengendalian penyakit menular, TB (Tuberkulosis). Dalam tahun 2009, dilakukan penyuluhan di masyarakat dalam rangka hari ”TB Sedunia” dengan menggandeng institusi kesehatan seperti PPTI, PMI (Palang Merah Indonesia) Kutim dan YSB (Yayasan Sangatta Baru). Untuk meningkatkan derajat sosial dan meningkatkan kepercayaan diri para penderita bibir sumbing dan memulihkan pasien luka bakar di Kalimantan Timur, KPC melanjutkan program Senyum dan Harapan, yakni operasi bibir sumbing dan luka bakar. Dalam tahun 2009, program rutin sejak tahun 1993 itu berhasil memulihkan 75 orang. Sebanyak 57 orang pasien bibir sumbing dan 18 orang pasien luka bakar.

Pembangunan Taman Intai Lanal (Taman Pesawat) sebagai salah satu kontribusi KPC bagi keindahan dan keasrian lingkungan di kawasan Bukit Pelangi dan Sangatta

Peningkatan Kesehatan Masyarakat Dalam mengatasi dampak kesehatan yang mungkin timbul akibat aktifitas tambang, KPC melakukan upayaupaya di bidang pemeliharaan dan pemantauan lingkungan yang bisa dilihat pada bagian Kinerja Lingkungan laporan ini. Selain itu, KPC melalui Departemen Community Empowerment melakukan program peningkatan kesehatan masyarakat. di Kabupaten Kutai Timur. Program ini sekaligus menjadi dukungan terhadap Millenium Development Goals, khususnya pada kategori 4 “Menurunkan Kematian Anak” dan kategori 5 “Meningkatkan Kesehatan Ibu”. Kedua kategori MDGs tersebut terlihat pada program PERGIZI (Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi Anak Balita). (4.12) Pada tahun 2009, program ini telah mengintervensi sebanyak 103 anak yang teridentifikasi mengalami gizi buruk dan gizi kurang, di 12 Posyandu sekitar tambang KPC. Intervensi gizi itu berupa program peningkatan status gizi, dengan cara memberikan pengetahuan kepada ibu mereka dan memberikan makanan tambahan serta vitamin. Program intervensi gizi yang berjalan selama 24 minggu ini dimonitor secara teratur oleh Kader Posyandu dan Petugas Puskesmas. Secara konsisten, kepedulian KPC terhadap isu kesehatan global yang terkait erat dengan program MDG’s pada kategori 6 (memerangi HIV/AIDS, Malaria

Senyum Alwa dan Salma menghiasi wajah mereka, kedua anak kembar ini merupakan peserta Program Interplast KPC yang telah menjalani beberapa kali operasi bibir sumbing

56

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA SOSIAL
Dalam program ini, KPC menggandeng berbagai lembaga, antara lain Interplast Australia/Selandia Baru, Pemerintah Daerah Propinsi Kaltim, Rumah Sakit Umum “Kanudjoso Djatiwibowo”, Pemerintah Kota Balikpapan. Program kemanusiaan ini mendapat dukungan finansial dari perusahaan-perusahaan seperti Trakindo Utama, PAMA Persada Nusantara, Thiess Contractor Indonesia dan BHP Billiton. Dampak keberadaan kegiatan operasional KPC bagi masyarakat dan lingkungan dimonitor melalui survei kesehatan dan lingkungan yang melibatkan 600 rumah tangga dengan 1.652 responden yang diwawancari untuk mengetahui aspek kesehatan terutama yang terkait dengan isu kesehatan secara global seperti HIV/AIDS, Tuberkulosis, Malaria, demam Berdarah, air bersih dan perilaku kesehatan masyarakat. Sementara itu aspek lingkungan dilakukan monitor dampak debu, ledakan tambang dan vibrasi, kualitas air dan udara. Rekomendasi survei disampaikan ke divisi dan departemen terkait untuk ditindaklanjuti. Peningkatan kesehatan masyarakat perlu didukung oleh fasilitas infrastruktur kesehatan yang baik. Oleh karena itu, KPC berkomitmen untuk membangun rumah sakit daerah yang bisa digunakan secara luas untuk masyarakat di Kutai Timur. Pada bulan Maret 2009, KPC menyelesaikan tahap I Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sangatta. Bangunan terdiri dari dua gedung yaitu Gedung Utama dan Gedung Unit Gawat Darurat (UGD). Bangunan yang bernuansa modern ini terletak di Jalan Soekarno-Hatta yang mengubungkan Road 9 dan Bukit Pelangi. Pada 2010, KPC akan menyelesaikan tahap II yaitu Sewage Treatment Plant, Ground Reservoir, Kamar Mayat, Dapur, Ruang Cuci, pekerjaan landscaping, koridor, selasar, dan ruang VIP. (EC 8) Pada tahun ini juga, KPC telah membangun 4 WTP (Water Treatment Plant) di beberapa tempat, yaitu Singa Geweh, Sepaso Selatan, Sekerat, dan Rantau Pulung. Setiap program air bersih disesuaikan dengan kondisi ketersedian sumber air bersih dan tidak mendapatkan program yang sama dari Pemerintah (PDAM). KPC bekerja sama dengan penyedia WTP memberikan bantuan dana untuk alat WTP, pendampingan organisasi untuk manajemen teknis, pengelolaan dan keuangan. Pada setiap pelaksanaan program, KPC selalu mendorong masyarakat untuk melakukan sharing atas program ini dan memastikan kemandirian menjadi tujuan akhir program. (EC 8) Penguatan kapasitas Masyarakat dan Pemerintah Untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerintahan desa hingga kecamatan, KPC melaksanakan program-program community development yang berhubungan dengan hal itu. Peningkatan kapasitas tersebut akan membantu pelaksanaan peran dan tugas mereka masing-masing. Sementara itu komitmen KPC untuk memberikan kesempatan lebih luas kepada tenaga kerja lokal tertuang di dalam surat Managing Director (ref L-051/MD-ESD5-2/VII/06) yang ditujukan bagi KPC dan subkontraktornya. Komitmen ini menunjukkan kepedulian KPC terhadap pengembangan sumberdaya manusia di Kutai Timur. Dalam penerimaan tenaga kerja non pengalaman, sejak tahun 2005 KPC mengacu ke Surat Keputusan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kutai Timur Nomor: 562/973-PLK/Disnaker/VII/2005 yang mengatur sistem penerimaan berdasarkan ”Scoring System”. Kandidat dengan skor tertinggi akan mendapatkan prioritas utama untuk dilakukan seleksi penerimaan kemudian menyusul skor yang ada dibawahnya. (EC 7)

Tabel 11. Skor tempat kelahiran dan pendidikan RING RING I RING II RING III RING IV LOKASI SANGATTA DAN BENGALON KUTAI TIMUR KALIMANTAN TIMUR LUAR KALIMANTAN TIMUR SKOR Tempat lahir 40 30 20 10 SD 30 20 10 5 SMP 15 10 5 0 SMA 15 10 5 0

Sumber: Data dari Departemen Community Empowerment

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

57

kINeRJA SOSIAL
Program operator trainee pada tahun 2009 terbagi menjadi 9 tahap termasuk 1 tahap khusus. Sebanyak 2.811 peserta dipanggil untuk mengikuti psikotes, tetapi hanya 1.258 yang mengikuti psikotes, dan 536 diantaranya lulus psikotes. Dari jumlah tersebut sebanyak 361 lulus Medical Check Up dan berhak untuk bekerja di KPC.

Sumber: Data dari Departemen Community Empowerment

Tahap 1 2 3 4 5 6 7 8 9 (khusus) Total

Tabel 12. Jumlah peserta program operator trainee Jumlah (2008) Jumlah(2009) 20 17 29 56 37 31 55 21 33 73 81 38 11 141 361

Selain program operator trainee, juga dilakukan perekrutan untuk program mechanic trainee dengan sistem perkerutan yang menggunakan sistem skoring. Pada tahun 2008, sebanyak 827 orang yang mengikuti tes seleksi mulai dari psikotes sampai medical tes. Dari jumlah tersebut terserap sebanyak 113 orang untuk mengikuti kelas mechanic traininee. Program mekanik yang dimulai dari tahun 2007, telah terekrut peserta magang ini menjadi karyawan KPC sejumlah 77 orang untuk menjadi mekanik dan 26 orang untuk menjadi operator.

Pelestarian Alam dan Budaya
KPC tetap menunjukkan konsistensinya dalam menjaga tatanan masyarakat melalui pelestarian alam dan budaya di Kutai Timur dan wilayah lainnya di Kalimantan Timur. Salah satu hal yang dilakukan adalah Kampanye Kesadaran dan Kepedulian Orangutan di tiga kecamatan, yaitu Rantau Pulung, Bengalon dan Sangatta, pada 25 November 2009. Kampanye ini bekerja sama dengan tim dari Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA). Kampanye ini dilakukan karena adanya beberapa laporan dari daerah Bengalon dan Rantau Pulung, bahwa di sejumlah lokasi ditemukan Orangutan yang masuk ke areal kebun masyarakat. Selain itu, hal ini juga merupakan bentuk perhatian KPC kepada spesies terancam menurut daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature). (4.12)

Sebagai bagian dari program kampanye yang merupakan kegiatan utama dari Mitra Taman Nasional Kutai, dimana KPC merupakan salah satu anggotanya, perusahaan telah melakukan inisiasi pengembangan ekowisata di wilayah Taman Nasional Kutai. Survei potensi telah dilakukan dan sejumlah pertemuan telah dilakukan dengan masyarakat Dusun Kabo Jaya sebagai lokasi pertama yang akan dikembangkan. Uji coba dalam memandu rombongan wisatawan telah dilakukan pada bulan November dan Desember 2009, dengan melakukan pelayanan paket wisata kepada beberapa grup wisatawan lokal dan mancanegara. Survei dan pendampingan dilakukan bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Kutai, CIFOR, PILI dan BIKAL. Website ekowisata juga telah diluncurkan, sebagai bagian dari tahap sosialisasi keberadaan kegiatan ini. Dalam rangka mendukung Pemerintah Kutai Timur dalam menanggulangi masalah persampahan, Program Gerak Bersemi (Gerakan Bersih, Sehat dan Mandiri), yang dimulai sejak tahun 2008, masih terus dilanjutkan. Program Gerak Bersemi bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat agar ikut mengelola kebersihan Kota Sangatta. Pendampingan di tiga wilayah percontohan Triple E (Eco-Waste Management Model, Eco-Health Community Model, Eco-Enterprise Business Model) terus dilakukan. Program ini bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum, Kader dan LSM Pusdakota, Surabaya. Pembentukan

58

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA SOSIAL
wilayah percontohan dengan model Triple E dimaksudkan, agar ketiga wilayah ini dapat menjadi percontohan bagi wilayah pemukiman lainnya dalam melakukan pengorganisasian pengelolaan sampah, mulai dari sumbernya. Ketiga wilayah tersebut adalah Gang Mushola (Desa Teluk Lingga), Margo Santoso (Desa Sangatta Utara) dan Gunung Teknik (Desa Sangatta Selatan). Diharapkan akan terjadi replikasi model di wilayah permukiman lainnya, sehingga jumlah sampah yang terkelola akan terus meningkat. Sejumlah 50 unit RAM (Rotary Active Microorganism) atau komposter telah dibuat oleh bengkel lokal, dengan memanfaatkan drum plastik bekas yang berasal dari tambang sebagai bagian dari program 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Masing-masing wilayah percontohan mendapatkan 10 unit sebagai sarana pendukung Model Triple E. Untuk meningkatkan pemanfaatan sejumlah sampah non organik, selain plastik yang telah lebih dahulu berkembang, telah dilakukan pelatihan “Pengelolaan Limbah Kertas Koran Bekas Menjadi Kerajinan” pada tanggal 20-24 Desember 2009. Program ini bekerja sama dengan SEMESTA Recycling, Yogyakarta. Sebagai rencana tindak lanjut, beberapa peserta pelatihan ini akan diseleksi untuk mendapatkan pelatihan lebih lanjut. Mereka diharapkan dapat menghasilkan produk yang dapat memenuhi kebutuhan perusahaan akan souvenir hari Lebaran. Untuk menjaga semangat kader Gerak Bersemi dan meningkatkan jumlah masyarakat yang peduli terhadap persoalan lingkungan di Sangatta, KPC telah melakukan beberapa rangkaian kegiatan. Pada tanggal 26 April 2009, KPC menyelenggarakan peringatan Hari Bumi dengan menggelar beberapa acara yaitu jalan sehat, penanaman pohon, dan beberapa lomba yang bertemakan lingkungan dan penyerahan bantuan berupa sebuah truk untuk pengangkutan sampah dan tiga buah tricycle kepada UPTD KPP (Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman). Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan prakarsa bersama pemodelan Triple E di tiga wilayah percontohan dilakukan oleh perwakilan komunitas dari tiga wilayah, Bupati Kutai Timur, KPC dan Kementrian Lingkungan Hidup. Sementara itu pada tanggal 26-27 Juni 2009, dalam rangka peringatan Hari Lingkungan digelar berbagai lomba dan pameran yang melibatkan berbagai
Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kelompok masyarakat, pemerintah, serta kontraktor KPC, sedangkan pada hari ke-dua diadakan seminar dengan tema Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu Untuk Pembangunan Berkelanjutan di Sangatta. Dalam bidang pelestarian budaya, KPC melalui Forum MSH-CSR memberikan bantuan pembuatan lamin adat dayak oleh Bapemas di Kaliorang, dan pembuatan rumah layak huni suku Dayak Basaf oleh Dinas Kesejahtreaan Sosial di Sandaran. Dalam bidang kebudayaan, KPC turut mendukung acara kebudayaan setempat baik secara langsung maupun tidak langsung. KPC melalui Forum MSH-CSR juga memberikan bantuan pembuatan Lamin Adat Dayak oleh Bapemas di Kaliorang, dan pembuatan Rumah Layak Huni suku Dayak Basaf oleh Dinas Kesejahtreaan Sosial di Sandaran.

59

Pengembangan agribisnis kakao terus ditingkatkan dengan mendorong partisipasi aktif petani melalui pelatihan dan pertemuan rutin

60

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA LINGkUNGAN

kINeRJA LINGkUNGAN
Bentuk komitmen KPC untuk terus memperbarui kinerja sistem K3L (Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan) diwujudkan dengan menetapkan parameter indikator kinerja lingkungan seperti tertera pada tabel 13. Indikator kinerja lingkungan ditetapkan setiap tahun berdasarkan suatu penilaian terhadap dampak penting dari kegiatan penambangan serta peraturan lingkungan yang berlaku. Indikator tersebut meliputi pencapaian kegiatan rehabilitasi daerah bekas tambang, kualitas air, kualitas udara dan pengelolaan limbah/sampah dan hydrocarbon. Upaya perbaikan terus dilakukan untuk setiap parameter sebagai komitmen dari manajemen KPC untuk memenuhi ketentuan di dalam peraturan lingkungan yang ada. Untuk mengukur kinerja lingkungan dilakukan pemantauan (baik secara internal maupun eksternal

(EN 26)

oleh laboratorium terakreditasi) terhadap parameter kualitas air, kualitas udara, pencapaian target reklamasi, dan pengelolaan hidrokarbon dan limbah. Parameter lingkungan yang dipantau dan frekuensi pemantauannya mengacu kepada RKL-RPL Amdal dan peraturan pemerintah yang berlaku. Evaluasi terhadap pencapaian sasaran yang dijabarkan dalam bentuk tingkat kepatuhan dilakukan setiap tahun dalam forum management review yang merupakan salah satu persyaratan dari Standar ISO 14001. Manajemen KPC selanjutnya menetapkan rencana perbaikan kinerja lingkungan pada setiap parameter indikator untuk tahun mendatang. Dengan demikian kinerja lingkungan akan terus diperbaiki dari tahun ke tahun untuk mencapai tingkat kepatuhan yang maksimal sehingga dampak lingkungan dari operasional dapat dikendalikan. (4.12)

Tabel 13. Tingkat kepatuhan terhadap peraturan Lingkungan Tahun 2009 No 1. 2. Parameter Area Reklamasi (ha) Kualitas Air TSS (%) pH (%) Mn (%) Fe (%) Kualitas Udara Emisi cerobong PLTU (%) Konsentrasi Debu Total (TSP) Getaran Tanah dan Getaran Suara Realisasi 2007 230,00 99 100 90 97 100 100 100 Pencapaian Tingkat Kepatuhan Realisasi 2008 Rencana 2009 439,58 450 100 100 100 100 100 100 100 95 95 100 100 100 100 100 Realisasi 2009 451,11 100 100 100 100 100 100 100

3.

Sumber : data hasil pengukuran internal dan eksternal laboratorium

Sehubungan dengan rencana KPC untuk meningkatkan produksi batu bara hingga 70 juta ton per tahun, KPC telah mendapatkan persetujuan atas

Studi Kelayakan peningkatan produksi dari Direktorat Pembinaan Pengusahaan Mineral dan Batu bara dengan surat no. 2771/30.01/DBM/2008 tertanggal 9
Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

61

kINeRJA LINGkUNGAN
Desember 2008. Dengan disetujuinya studi kelayakan dan dalam rangka memenuhi ketentuan PP No.27 Tahun 1999, maka KPC melakukan revisi AMDAL untuk peningkatan produksi hingga 70 juta ton per tahun. KPC telah memulai proses penyusunan revisi AMDAL untuk produksi 70 juta ton per tahun sejak triwulan pertama 2009. Kegiatan-kegiatan terkait dengan revisi AMDAL yang dilaksanakan selama tahun 2009 adalah sebagai berikut: • Sosialisasi/konsultasi publik terkait rencana revisi Amdal kepada para perwakilan masyarakat, pihak Eksekutif dan Legislatif yang ada di Kabupaten Kutai Timur serta pemerhati lingkungan di Sangatta dan Bengalon yang difasilitasi oleh Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur. Sosialisasi telah dilakukan pada triwulan pertama dan triwulan kedua 2009 berturut-turut yaitu di kecamatan Sangatta Utara pada tanggal 16 Maret 2009, di kecamatan Bengalon pada tanggal 18 Maret 2009, di kecamatan Sangatta Selatan pada tanggal 5 Mei 2009, dan di kecamatan Rantau Pulung pada tanggal 19 Juni 2009. • Menyampaikan dan mempresentasikan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL pada tanggal 14 April 2009, bertempat di kantor Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur. Persetujuan KA Andal telah diperoleh melalui surat dari Kepala Badan Lingkungan Hidup Kutai Timur no. 529/660.1/2.1/LH/V/2009 tertanggal 18 Mei 2009, perihal Persetujuan KA Andal Peningkatan Kapasitas Produksi Batu bara Hingga 70 Juta Ton/Tahun PT.Kaltim Prima Coal di Kec. Sangatta, Kec. Rantau Pulung dan Kec. Bengalon Kabupaten Kutai Timur. • Pada triwulan ketiga dan keempat 2009, KPC melanjutkan proses penyusunan Dokumen AMDAL dibantu oleh Tim Konsultan LAPI ITB dan pihak lainnya sebagai narasumber. Direncanakan pada triwulan pertama 2010, revisi dokumen AMDAL dapat disampaikan dan dipresentasikan ke Komisi Amdal Kabupaten Kutai Timur untuk persetujuan. mencakup pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja serta lingkungan (K3L), kebijakan pembangunan berkesinambungan, dan kebijakan keamanan yang ditandatangani oleh Presiden Direktur pada tanggal 1 September 2009. Mengingat kegiatan penambangan menyebabkan perubahan bentang alam, maka keanekaragaman hayati (biodiversity) dan reklamasi menjadi isu penting. Oleh karenanya, dalam pernyataan kebijakan lingkungan, KPC menekankan komitmen untuk menjaga keanekaragaman hayati dan mengembalikan lahan bekas tambang menjadi areal yang stabil, aman dan produktif.

Tanggung Jawab Pengelolaan Lingkungan
Secara struktural pengelolaan lingkungan dilakukan oleh Departemen Environment, dimana departemen ini menginduk kepada Divisi Health Safety Environment & Security. Namun demikian secara tanggung jawab pengelolaan lingkungan melekat pada masing-masing divisi. Sesuai dengan Kepmen 555.K/26/M.PE/1995-1, maka secara fungsional yang bertanggung jawab atas terlaksananya serta ditaatinya peraturan perundangundangan K3L (Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lingkungan) adalah Kepala Teknik Tambang.

Pelatihan
Dalam rangka peningkatan pengetahuan dan keterampilan karyawan, KPC mengembangkan beberapa program pelatihan lingkungan yang dilakukan secara in-house. Pelatihan tersebut meliputi materi EMS ISO 14001 dan aspek lingkungan penting (hidrokarbon, limbah, dan reklamasi yang mencakup kualitas air, pengelolaan air asam tambang, dan revegetasi). Sejumlah 241 orang telah mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut selama tahun 2009. Ketentuan untuk membuat serta mengembangkan kebutuhan pelatihan untuk setiap pemegang posisi/ jabatan di KPC diatur dalam MSE 2.03 (Selection, Training, Competency & Authorisation).

kebijakan Lingkungan
Kebijakan lingkungan yang merupakan penjabaran dari komitmen KPC dalam pengelolaan lingkungan dikeluarkan pada 1 Desember 1998. Kebijakan tersebut kemudian mengalami penyempurnaan seiring dengan pemenuhan kewajiban yang disyaratkan dalam standar ISO 14001. Kebijakan termutakhir

Pemantauan dan Tindak Lanjut
Kegiatan pemantauan kinerja lingkungan dilakukan secara internal untuk mengukur pencapaian tujuan dan sasaran lingkungan. Pemantauan yang dilakukan

62

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA LINGkUNGAN
meliputi pemantauan parameter kunci terhadap pemenuhan baku mutu lingkungan, audit, inspeksi, dan pengamatan visual. Prosedur pemantauan diatur dalam MSE 3.01 HSE performance measurement and monitoring. Sementara untuk frekuensi dan lokasi pemantauan yang terkait dengan parameter kunci diatur dalam dokumen AMDAL. Pemantauan yang sifatnya inspeksi dan audit dilakukan dengan merujuk daftar ERA (Environmental Risk Assessment). Selain program pemantauan terhadap parameter kunci, berbagai inspeksi dan audit juga dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Pada tahun 2007, telah dimulai program audit integrasi (limbah, hidrokarbon dan Sistim Manajemen Lingkungan) di seluruh unit kerja di wilayah KPC dan kontraktor, dan selama tahun 2009 telah dilakukan audit integrasi terhadap 32 unit kerja (workshop). . Bilamana dalam kegiatan pemantauan ditemukan adanya ketidaksesuaian baik terhadap sistem, prosedur dan baku mutu, maka akan diterbitkan CPAR (Corrective/ Preventive Action Request). Aturan penerbitan dan siklus penyelesaiannya ditetapkan dalam MSE 3.2 Investigation, Nonconformity, Corrective Action & Preventive Action. Selain itu, KPC juga diaudit oleh pihak independent dalam kaitannya dengan pemeliharaan sertifikasi EMS ISO 14001. KPC mendapat sertifikasi dari SGS pada tanggal 24 September 2004. Sertifikat ke-dua diterbitkan pada tanggal 24 September 2007 dan berlaku hingga 23 September 2010. Audit surveillance ISO 14001 telah dilakukan oleh SGS pada tanggal 12-15 Oktober 2009, merekomendasikan bahwa sertifikat ISO 14001 untuk KPC tetap dapat dipertahankan. Kinerja pengelolaan lingkungan di KPC juga diaudit oleh pemerintah baik Pemerintah Pusat (Kementrian Lingkungan Hidup dan Direktorat Jenderal Mineral Batu bara & Panas Bumi) maupun Pemerintah Daerah (Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur dan Kabupaten Kutai Timur). Selama sepuluh tahun berturut-turut sejak tahun 2000 hingga 2009 KPC telah mendapat penghargaan Sertifikat Emas dari penilaian PROPER Batu bara untuk wilayah Kalimantan Timur untuk areal tambang Sangatta, sedangkan areal tambang Bengalon mendapat penghargaan Sertifikat Hijau pada tahun 2008 dan 2009. Hasil penilaian PROPER tingkat nasional yang dilakukan oleh KLH untuk kurun waktu Januari 2008 hingga Maret 2009, memberikan peringkat HIJAU kepada KPC. Pada bulan Desember 2009, KPC juga mendapat enam (6) penghargaan Aditama dari Dirjen Mineral, Batu bara dan Panas Bumi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral untuk kategori: pemantauan lingkungan pertambangan, pengelolaan reklamasi lahan bekas tambang, pengelolaan batuan penutup, pengelolaan pembibitan, pengelolaan kegiatan sarana penunjang, dan pengelolaan pengendalian erosi dan sedimentasi.

Indikator Lingkungan
Dalam menjalankan operasi penambangan, KPC membutuhkan beberapa jenis material untuk keperluan bahan peledak, bahan untuk pencucian batu bara, dan pelumas untuk alat berat, sebagaimana tercantum dalam Tabel 14. (EN 1)

Tabel 14 . Konsumsi Material untuk Operasi Penambangan Tahun 2009 No 1. 2. 3. 4. 5 6. Jenis Material Amonium Nitrat Magnetite Flocculant Lime Lime Oli (lubricating oil) Penggunaan Bahan peledak Pencucian batu bara Pencucian batu bara Pencucian batu bara Pengapuran air asam Pelumas Satuan 2008 Ton Ton Ton Ton Ton kL 91.081 620 25,8 195 1.036 4.157 Jumlah 2009 119.844 1.460 61,2 325 2.787 5.128

Sumber : Ellipse System Departemen Supply PT.KPC

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

63

kINeRJA LINGkUNGAN
Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik, KPC mengoperasikan 2 unit PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) berkapasitas masing-masing 5 MW sebagai pembangkit listrik utama, dan beberapa genset (diesel generator) pendukung sebagai cadangan apabila PLTU mengalami gangguan, perawatan berkala atau terjadi kerusakan, dan apabila pemakain listrik lebih besar dari daya PLTU. Produksi listrik keseluruhan tahun 2009 adalah 101.997 MWh (lihat Tabel 16). Listrik tersebut digunakan untuk kebutuhan operasi tambang KPC di Sangatta yang meliputi proses pengolahan dan pencucian batu bara, pengiriman batu bara dari tambang sampai ke kapal, seluruh perkantoran dan perumahan. Dengan pengoperasian PLTU dan diesel generator tersebut, KPC dapat memenuhi kebutuhan listrik internal sehingga tidak membeli atau menjual ke pihak luar. Tambang Bengalon dioperasikan oleh PT. Darma Henwa, dan belum dilakukan perhitungan produksi listrik oleh genset yang dioperasikan di areal Tabel 15. Rencana Program Konservasi Energi 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Penginstalan KWH Meter Kampanye penghematan energi listrik Penginstalan timer untuk beberapa Pusat Penyejuk Udara Penginstalan photocell switch pada sitem pencahayaan di beberapa area workshop dan fixed plants Penggantian semua lampu di areal bangunan KPC dengan lampu hemat energi secara bertahap Pembuatan SOP (Standard Operational Procedure) untuk mematikan lampu yang tidak digunakan di camp karyawan KPC. Pengurangan lampu untuk area yang berlebihan cahaya Melakukan tinjauan ulang terhadap proses desain teknis untuk memastikan bahwa konservasi energi menjadi pertimbangan penting dalam proses desain teknis. Melakukan tinjauan ulang terhadap OTP (Objective, Target, Program) KPC untuk memastikan sudah mencakup perhatian terhadap konservasi energi listrik. Mengganti window type AC dengan split AC secara bertahap Total konservasi energi
Sumber: Data dari Divisi Processing and Infrastructure

tambang Bengalon selama tahun 2009. Pada tahun 2009, KPC berinisiatif untuk melakukan konservasi energi berupa program penghematan listrik (lihat tabel 15) di KPC fixed plants dan bangunanbangunan utama di areal KPC serta bangunanbangunan pendukung operasi KPC. Selain bertujuan untuk mengurangi konsumsi energi listrik, program ini juga merupakan salah satu upaya KPC dalam menanggulangi dampak pemanasan global serta perubahan iklim yang terjadi di dunia saat ini. (EN 5; EN 7) Salah satu hal yang dilakukan pada tahun 2009 adalah pemasangan timer AC di gedung C8. AC otomatis akan mati setelah jam kerja. Selain itu, KPC juga telah mempersiapkan program lain yang akan dilakukan pada tahun 2010. Beberapa program yang telah disiapkan untuk dilaksanakan pada tahun 2010 bisa dilihat pada tabel berikut ini.

Program

Perkiraan Konservasi Energi (KWH/tahun)

657.000 588.322 525.600 481.800 14.016

9 10

17.987 2.284.725

64

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA LINGkUNGAN
Sumber energi lain yang digunakan selain listrik adalah bahan bakar minyak (solar dan pertamax), yang digunakan untuk menggerakkan peralatan operasional KPC dan kontraktor (kendaraan ringan, alat berat di tambang, bus karyawan, dll). Konsumsi bahan bakar minyak tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 16. Konsumsi Energi Langsung dan Tidak Langsung Tahun 2007-2009 (EN 3) Produksi Listrik (MWh) No 1. 2. 3. Energy Listrik Listrik Listrik Sumber PLTU KPC Genset PLN 2007 68.069,2 34.256,64 Nil 2008 60.931,2 36.298,77 Nil 2009 68.736 33.261,14 Nil Konsumsi Bahan Bakar 2007 41.119,6 (ton) 9.384,5 (kL) Nil 2008 37.686 (ton) 9.924,55 (kL) Nil 2009 42.553,5 (ton) 9.040,53 (kL) Nil

Jenis bahan bakar Batu bara Solar

Sumber: data produksi listrik PLTU dan genset, Departemen Coal Terminal OLC & Power PT.KPC

Tabel 17. Konsumsi Bahan Bakar Minyak Tahun 2007-2009 (EN 4) No 1. 2. Jenis 2007 Solar Pertamax 420.521.491 L 682.037 L Konsumsi Bahan Bakar (L) 2008 530.255.451 L 607.711 L 2009 518.468.664 L 564.557 L

Sumber: Ellipse System Departemen Supply PT. KPC

Meningkatnya jumlah kendaraan berdampak pada meningkatnya konsumsi bahan bakar. Untuk itu KPC telah melakukan upaya efisiensi (penghematan) khususnya dalam hal penggunaan bahan bakar solar pada alat-alat berat, yang telah dimulai sejak tahun 2008, melalui beberapa program antara lain: meningkatkan kontrol dan sosialisasi penghematan bahan bakar melalui pelatihan dan aplikasi SOP yang terkait (SOP Mematikan Mesin Pada Saat Tidak produktif dan SOP Menjaga Match Factor (Keseimbangan) TruckShovel Pada Operasional yang Optimum). Selama tahun 2009, jumlah solar yang bisa dihemat mencapai 11,79 juta liter. (EN 5; EN 6; EN 7) Sehubungan dengan konsumsi bahan bakar solar dan oli yang cukup tinggi, KPC telah memiliki prosedur dan tim untuk penanggulangan tumpahan solar atau oli (oil spill response team) sejak tahun 2004 sehingga proses penanganan tumpahan dapat dilakukan dengan segera. Sebagai tambahan, pada setiap bengkel telah dilengkapi dengan ”oil spill kit” sebagai peralatan tanggap darurat apabila terjadi tumpahan di area bengkel. Kejadian tumpahan hidrokarbon (solar

dan oli) telah terjadi lima kali selama tahun 2009 di dalam areal bengkel, stasiun bahan bakar dan di dalam areal tambang, dengan perkiraan total tumpahan + 13.117 liter. Namun semua tumpahan tersebut dapat diisolasi dan dilakukan pembersihan sehingga tidak ada tumpahan yang keluar dari areal tambang. (EN 23)

Pemanfaatan ban bekas untuk drop structure

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

65

kINeRJA LINGkUNGAN
kebutuhan Air untuk Produksi dan Air Minum
Kebutuhan air bersih dan air minum dipenuhi dari Tabel 18. Produksi dan Konsumsi Air Tahun 2008-2009 No 1.       2. 3.       4. Keterangan 2008 Volume (m3)   2.478.422 619.189 3.097.611 2.478.422   1.651.110 434.846 2.085.956 1.997.365 1.762.181 438.860 2.201.041 2.102.992 2.420.330 517.424 2.937.754 2.200.056 2009 Volume (m3) air sungai dan sumur bor yang diolah di instalasi pengolahan air atau WTP (Water Treatment Plant). Jumlah air yang dihasilkan dan digunakan selama tahun 2008-2009 tertera pada tabel 18. (EN 8; EN 9)

Pengambilan Air Permukaan & Air Tanah (sebagai air baku) Air Sungai Sangatta (diambil di Papa Charlie) Air permukaaan dan Sumur Bor Tanjung Bara Total Pengambilan Air Baku Total Air Baku Diolah (Pre Treatment) Pengolahan Air Minum (WTP) WTP Swarga Bara WTP Tanjung Bara Total Produksi Air Minum Total konsumsi Air Minum

Sumber: data produksi air bersih Departemen Infrastruktur PT.KPC

Untuk tujuan konservasi penggunaan air, maka proses pencucian batu bara di CPP menggunakan air dari kolam pengendap secara daur ulang (recycle).

Kegiatan penyiraman jalan tambang dan areal CPP juga menggunakan air yang berasal dari kolam pengendap.

Tabel 19. Air untuk Proses Pencucian Batu bara Secara Daur Ulang (EN 2; EN 10) Debit Air yang Debit Air yang Debit Air yang keluar masuk ke di-daur ulang Batu bara dicuci Tahun ke kolam pengendap pencucian (Recycle) (ton) (m3/jam) (m3/jam) (m3/jam) 2007 280 210 89,1 1.081.679 2008 2009 280 280 210 210 89,1 89.1 1.130.642 1.130.124

Air yang di-recycle/ ton batu bara (m3/ton) 0,372 0,356 0,401

Sumber: data air pencucian CPP, Departemen Coal Processing Plant PT.KPC (perhitungan debit air masuk dengan pendekatan kapasitas pompa; perhitungan debit air yang keluar ke kolam dan yang di daur ulang dengan flow meter).

Pembukaan Lahan dan Reklamasi Lahan Bekas Tambang (EN 11; MM 1)
Dalam rangka peningkatan produksi batu bara, area seluas 1.492 hektar telah dibuka untuk kegiatan penambangan termasuk daerah penimbunan batuan penutup selama tahun 2009. Volume tanah (soil) yang telah dipindahkan untuk kepentingan reklamasi di areal tambang Sangatta selama tahun 2009 sebanyak 14.389 kbcm, dan dari areal tambang Bengalon sebanyak

1.442 kbcm. Penimbunan batuan penutup dilakukan di dalam lubang tambang (metode backfilling) dan di luar lubang tambang. Metode ”backfilling” ini telah banyak dilakukan pada saat ini karena merupakan alternatif paling efisien dan hemat dalam sekuen penambangan, sehingga selalu dijadikan alternatif pertama bilamana situasi dan kondisinya memungkinkan. Selama tahun 2009 sebanyak 238.130 kbcm batuan penutup telah ditimbun di dalam lubang tambang (backfill) dari rencana 200.976 kbcm (18% diatas rencana). Status

66

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA LINGkUNGAN
(tanaman lokal, non lokal, buah dan Dipterocarpaceae), serta komoditas khusus yaitu karet dan sawit. Sebuah unit Hydroseeder digunakan untuk kegiatan penyemprotan lereng dengan campuran biji, pupuk, mulsa, perekat dan kompos, untuk membentuk permukaan lereng yang stabil dan mengurangi terjadinya erosi. Reklamasi dengan cara penyemprotan oleh hydroseeder telah mencapai luas areal 74,47 hektar selama bulan Januari hingga Desember 2009.

Program Pengelolaan keanekaragaman Hayati di Areal Reklamasi (EN 12; EN 13; EN 14; EN
25; MM 2) Analisa kualitas air di Laboratorium Lingkungan

penggunaan lahan sampai akhir tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 20. Sesuai Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1.K/40.00/ DJB/2007 tanggal 1 Januari 2007 tentang penciutan wilayah seluas 22 ha, maka luas area konsesi menjadi 90.938 ha dari luas sebelumnya 90.960 ha. Tabel 20. Penggunaan Lahan untuk Kegiatan Pertambangan KPC No 1. 2. 3. 4. Area Area konsesi (ha) Area terganggu (ha) Area infrastruktur Area reklamasi (ha) Luas (ha) 90.938 14.124,68 348,34 3.732,97

Sumber: data reklamasi Departemen Lingkungan PT.KPC

Kami menyadari bahwa penambangan terbuka akan mengakibatkan perubahan rona awal lingkungan termasuk punahnya keanekaragaman hayati. Untuk mempertahankan keanekaragaman hayati, KPC mengembangbiakkan tanaman lokal dan langka di kebun pembibitan (nursery) seluas 3 hektar di areal Tango Delta, yang selanjutnya akan ditanam di areal reklamasi. Selain itu KPC juga bekerjasama dengan penyedia bibit khususnya bibit tanaman lokal di Bengalon yakni Koperasi Mitra Tani Bengalon sebagai bagian dari upaya pengembangan masyarakat. Tahapan reklamasi yang dilaksanakan terbagi dalam 3 tahapan yaitu: penanaman tanaman penutup untuk mengurangi erosi, penanaman tanaman cepat tumbuh untuk membentuk naungan (canopy), dan penanaman tanaman hutan hujan tropis (rainforest species). Selain upaya tersebut, secara khusus sejak 2006, KPC telah menetapkan suatu daerah reklamasi bekas tambang di D2 Surya dengan luas 22 Ha sebagai daerah arboretum. Hingga akhir tahun 2009 terdapat 110 spesies tanaman yang telah ditanam di lokasi arboretum, yang terdiri dari tanaman lokal (asli), non lokal, buah-buahan dan jenis Dipterocarpaceae. Untuk menjamin terlaksananya pengelolaan keanekaragaman hayati, kami telah memiliki SOP (Standard Operating Procedure) pengelolaan keanekaragaman hayati. Ruang lingkup SOP tersebut adalah mengelola aspek flora dan fauna dari beberapa tahapan kegiatan yaitu: survei flora dan fauna prapenambangan (untuk mengetahui keanekaragaman flora dan fauna yang dijadikan dasar untuk menyiapkan jenis bibit), pembibitan,
Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

Reklamasi lahan bekas tambang di Sangatta dan Bengalon selama tahun 2009 (Januari-Desember 2009) mencapai total luas 451,1 hektar, diatas rencana reklamasi tahun 2009 seluas 450 hektar. Tanaman yang digunakan untuk reklamasi adalah tanaman lokal, tanaman non lokal, tanaman buah dan tanaman hutan hujan tropis (Dipterocarpaceae). Tanaman komoditi juga ditanam di areal reklamasi yaitu kelapa sawit dan karet. Proyek penanaman kelapa sawit hingga akhir tahun 2009 seluas 33,68 hektar, berada di areal Belut, Melawan, dan Taman Rusa, sedangkan penanaman karet di areal Belut dengan total luas 63,63 hektar. Proyek penanaman sawit dan karet ini dimaksudkan dalam rangka penelitian pemanfaatan lahan pasca tambang dalam bidang perkebunan. Pemeliharaan tanaman di areal reklamasi juga dilakukan secara rutin selama tahun 2009. Luas areal pemeliharaan tanaman mencapai luas 724,8 hektar, meliputi tanaman reklamasi

67

kINeRJA LINGkUNGAN
penanaman, pemeliharaan, pemantauan dan evaluasi keberhasilan reklamasi di areal reklamasi bekas tambang Untuk menjaga keanekaragaman jenis flora, telah diupayakan untuk menanam sekitar 30 jenis tanaman pada setiap lokasi reklamasi. Kegiatan pemantauan (monitoring) flora dan fauna dilakukan oleh Departemen Lingkungan mengikuti jadwal monitoring yang terbagi dalam 2 kelompok yaitu Initial monitoring (umur tanaman 1, 3, 9, dan 12 bulan), dan Long Term Monitoring (3, 6, 9, dan 12 tahun). Hasil kegiatan pemantauan selain untuk mengetahui perkembangan areal reklamasi juga memberikan informasi jenis-jenis flora yang mampu tumbuh dan berkembang biak dengan baik di area reklamasi, dan informasi jenis-jenis fauna yang hadir untuk sekedar singgah ataupun menetap dan berkembang biak di areal reklamasi. Parameter pemantauan pada Initial monitoring lebih ditekankan kepada bertahan atau tidaknya tanaman sebagai dasar perlakuan yang perlu dan sesuai diberikan pada areal tersebut seperti pemupukan, pembebasan gulma maupun penyulaman. Dalam analisis selanjutnya juga dihitung Indeks Shanon yang ada di areal reklamasi. Indeks Shanon ini menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis baik antar jenis maupun jumlah tiap jenis dan dominasinya. Pemantauan selama tahun 2009 untuk initial monitoring dilakukan pada 22 lokasi sesuai umur tanaman. Rata-rata jumlah tanaman sebanyak 436 tiap hektar, dengan rata-rata index keanekaragaman 1.08. Pemantauan pada long term monitoring dilakukan pada 4 tingkat plot yaitu: • Understory: untuk melihat penutupan permukaan tanah oleh vegetasi • • • Tree Height: untuk melihat anakan alami Subplot: untuk melihat tegakan dengan diameter kurang dari 20 cm Primary Plot: untuk pohon dengan diameter lebih dari 20 cm

Dari data yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan standar yang merupakan rata-rata kondisi tegakan di areal reklamasi PT.KPC pada tingkat umur tertentu untuk mengetahui kondisi area termasuk timpang, pulih atau lengkap. Salah satu area yang dipantau pada tahun 2009 adalah DS 2, dengan hasil pemantauan termasuk pada kategori pulih dengan nilai 89,88, artinya jika areal tersebut tidak mengalami gangguan yang berarti maka akan mengalami suksesi alami yang baik karena komponen penyusun tegakannya sudah tersedia lengkap pada saat umur pemantauan. Dalam rangka Rencana Penutupan Tambang, telah dilakukan studi oleh tim peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain tata ruang kawasan paska tambang KPC yang telah bervegetasi dalam bentuk zonasi dan mendesain restorasi vegetasi di masing-masing zonasi untuk meningkatkan fungsi dan manfaat ekosistem. Studi telah dimulai pada triwulan keempat 2008 hingga triwulan pertama 2009, dan dilanjutkan dengan kerjasama untuk strategi implementasi zonasi di lapangan. Selain di daerah reklamasi bekas tambang, KPC melakukan pula survei keanekaragaman hayati di daerah perairan (sungai) yang terpengaruh oleh kegiatan penambangan setiap dua tahun sesuai dengan persyaratan AMDAL KPC. Pemantauan biota perairan dilakukan di semua sungai dan anak sungai di Sangatta dan Bengalon yang terpengaruh oleh kegiatan penambangan. Kegiatan pemantauan tersebut telah dilakukan pada triwulan ketiga dan keempat 2009 oleh konsultan dari Universitas Mulawarman Samarinda. Beberapa hal penting yang diperoleh dari survei tersebut adalah: • Jumlah biota perairan yang tertangkap selama pengambilan sampel di wilayah perairan Sangatta sebanyak 633 ekor, diantaranya 623 ekor ikan berasal dari 17 family dengan 32 spesies, sisanya non ikan seperti udang dan kepiting. Spesies ikan

Fasilitas kebun pembibitan (Nursery)

68

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA LINGkUNGAN
otek ( Batrachocephalus min) merupakan spesies ikan yang jumlahnya paling banyak tertangkap yakni 201ekor. Jumlah biota perairan yang tertangkap selama pengambilan sampel di wilayah perairan Bengalon sebanyak 398 ekor diantaranya 369 ekor ikan berasal dari 14 family dengan 33 spesies, sisanya non ikan seperti udang dan ketam. Spesies ikan otek (Batrachocephalus mino) merupakan spesies ikan yang jumlahnya paling banyak tertangkap yakni 66 ekor. Jenis plankton yang paling banyak ditemukan di DAS Sangatta dan DAS Bengalon adalah dari kelas Bacciallriophyta dengan prosentase kehadiran 46– 47%, sedangkan jenis benthos yang paling tinggi kelimpahannya berasal dari kelas gastropoda (Pleurocera acula) Hasil analisis logam berat biota dari seluruh lokasi penelitian masih dibawah konsentrasi maksimum yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI) dan National Research Council (NRC) sehingga masih dalam keadaan aman untuk dikonsumsi oleh manusia. program relokasi Orangutan, KPC memiliki tempat penampungan sementara Orangutan sebelum dilepasliarkan kembali. Jumlah Orangutan yang telah dipindahkan selama tahun 2009 sejumlah 4 ekor, yang dipindahkan ke hutan Melawan.

Pengelolaan kualitas Air
Sebagaimana dipersyaratkan di dalam AMDAL 2005 dan juga standar pengelolaan lingkungan pada operasi penambangan, maka seluruh air keluaran dari kegiatan penambangan dikelola melalui kolam-kolam pengendap (lihat Tabel 26) agar tetap memenuhi baku mutu. Setiap keluaran dipantau secara rutin untuk mengetahui kualitas airnya. Untuk memastikan pemenuhan standar kualitas air yang keluar dari kegiatan penambangan memenuhi baku mutu, maka upaya pengelolaan terus dilakukan seperti pengerukan sedimen dengan kapal keruk (KK) dan ekskavator lengan panjang, serta pembangunan kolam pengendap baru. Pengerukan sedimen selama tahun 2009 dilakukan oleh 2 kapal keruk, yaitu KK LP068 (beroperasi di kolam CPP, Sisi Danau, Kedapat, dan Keny J) dan KK LP125 (beroperasi di kolam Lower Murung dan Melaso). Sebuah ekskavator lengan panjang (long arm excavator) telah dioperasikan di Kolam Tango Delta pada Triwulan I 2009 untuk membersihkan lumpur (sedimen), sehingga akan mengurangi beban sedimentasi ke kolam Sisi Danau. KPC memiliki komitmen untuk membangun kolam pengendap terlebih dahulu sebelum kegiatan penambangan atau penimbunan dilakukan di suatu lokasi. Untuk itu beberapa kolam pengendap baru telah dibangun selama tahun 2009 sebagai persiapan perluasan areal penambangan. Kolam pengendap Pelikan West (Pewe) dan kolam AB103

Relokasi Orangutan (EN 15)
Orangutan yang merupakan satwa khas Kalimantan yang masuk dalam IUCN Red List dengan kategori “endangered”, ada kalanya ditemukan di daerah kegiatan penambangan. Memperhatikan sifat keendemikkannya, KPC berusaha secara maksimal untuk memindahkan Orangutan yang ditemukan di lokasi penambangan ke lokasi yang lebih aman. Relokasi Orangutan tersebut bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam setempat dan BOSF (Balikpapan Orangutan Survival Foundation), sebuah yayasan penyelamat Orangutan yang bertempat di Samboja – Balikpapan. Untuk mendukung

Gambar 7. Pengerukan sedimen di kolam CPP

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

69

kINeRJA LINGkUNGAN
telah selesai dibangun pada Triwulan I 2009. Kolam AB103 selanjutnya menggantikan kolam AB Far North sebagai kolam pengendap terluar. Pada Triwulan III 2009 telah selesai dibangun kolam Meruya (untuk menampung aliran dari Pit Melawan sisi Barat) dan kolam Tiung (untuk menampung aliran dari Pit Inul dan Pit K West) di areal tambang Sangatta. Sebagai kolam pengendap terluar, kedua kolam tersebut juga telah diajukan sebagai titik penaatan kualitas air. Inspeksi oleh BLH (Badan Lingkungan Hidup) Kutai Timur ke kolam Meruya dan Tiung telah dilakukan pada bulan November 2009. Pada Triwulan IV 2009 juga berlangsung pembangunan kolam pengendap baru Meranti dan Mahoni, yang akan menampung aliran dari Pit Mustahil. Di areal tambang Bengalon juga telah dilakukan pembangunan kolam baru Apokayan (di bagian hilir kolam New Pond) pada Triwulan IV 2009. Kolam-kolam pengendap baru tersebut selanjutnya akan diajukan sebagai titik penaatan kualitas air. Penetapan titik penaatan kualitas air diperoleh melalui ijin dari Bupati Kutai Timur. Berdasarkan SK Bupati Kutai Timur No. 188.4.45/225/HK/V/2009, KPC mendapat pembaruan izin untuk pembuangan limbah cair dari air limpasan tambang, yaitu sejumlah 11 titik penaatan seperti tertera pada Tabel 21 dibawah ini. Air keluaran dari kolam pengendap selanjutnya akan mengalir ke perairan umum (sungai dan laut). (EN 21)

Tabel 21. Titik Koordinat Pembuangan Air Limpasan Tambang Titik Penaatan Tahun 2008 Lokasi Sangatta 1 MSW02 2 Melaso 3 WQ06 4 WQ27D 5 WQ33 6 AB Far North 7 Keny J 8 WQ19 Lokasi Bengalon 9 NWD02 10 New Pond 11 Kelawitan Titik Penaatan Tahun 2009 Badan Air penerima

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Lower Melaso WQ06 WQ27D WQ33 AB 103 Keny J WQ19 Pewe (Pelikan West) NWD02 New Pond Kelawitan

Sungai Sangatta Sungai Sangatta Sungai Sangatta Sungai Sangatta S. Pinang Bengalon Sungai Kenyamukan Laut Tanjung Bara Sungai Sangatta Sungai Lembak Sungai Lembak Sungai Lembak

Studi pemanfaatan air void (kolam) paska tambang (EN 14) Dalam rangka Rencana Penutupan Tambang, telah dilakukan suatu studi oleh tim peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada triwulan keempat 2008. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kondisi kualitas dan kuantitas air kolam paska tambang yang akan terbentuk pada akhir masa penambangan di tahun 2021. Sejumlah kolam besar yang akan terbentuk setelah kegiatan penambangan berakhir pada tahun 2021 akan dikaji dengan cara membandingkannya dengan 2 kolam yang telah ada yaitu kolam Sangatta North dan kolam Surya. Hasil studi tersebut antara lain menyatakan

bahwa kualitas air kolam Sangatta North dan kolam Surya memenuhi baku mutu air kelas 1 berdasarkan PP 82/2001, yaitu untuk peruntukan air baku air minum. Potensi air hujan yang cukup besar di wilayah Sangatta dan keberadaan kolam-kolam yang tersisa dapat pula berfungsi sebagai penampungan air bagi keperluan air minum, pertanian, industri dan perkebunan, disamping potensi air sungai di sekitarnya. Pada triwulan keempat 2009 telah dilakukan penyiapan infrastruktur untuk memberdayakan kolam Sangatta North sebagai kolam untuk wisata perairan.

Pengelolaan Air Asam Batuan
Pengelolaan air asam batuan dilakukan dengan cara

70

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA LINGkUNGAN
pengapuran baik secara manual maupun dengan alat neutramill, di beberapa kolam pengendap di areal tambang Sangatta dan Bengalon. Pengapuran secara manual di areal tambang Sangatta dilakukan di Pit Pelikan dan Khayal untuk memperbaiki kualitas air dari areal tersebut yang selanjutnya akan mengalir ke kolam Lower Melaso, serta di kolam Tango Delta untuk menjaga kualitas air yang mengalir ke kolam Sisi Danau. Demikian pula pada kolam-kolam pengendap di Bengalon dilakukan pengapuran baik secara manual (di inlet kolam Kelawitan, inlet kolam NWD2 dan inlet kolam New Pond) maupun dengan alat semi otomatis (di outlet kolam Kelawitan dan outlet kolam New Pond) untuk menjaga kualitas air. Pengapuran dengan menggunakan neutramill statis dilaksanakan di kolam Keny J Pit J secara terus menerus selama tahun 2009. Sebuah neutramill dinamis juga ditempatkan di kolam Keny J untuk membantu proses pengapuran apabila diperlukan. Di kolam pengendap Bengalon, sebuah neutramill juga dioperasikan secara bergantian di kolam Kelawitan dan kolam NWD2. Klasifikasi dan pemisahan batuan penutup dilakukan berdasarkan pada potensi pembentukan asam batuan, yaitu dengan analisa geokimia NAG (Net Acid Generation) yang dilakukan di Laboratorium Lingkungan KPC. Analisa geokimia NAG dilakukan pada percontohan (sample) batuan yang berasal dari areal eksplorasi (diamond core atau geology drill chips), lubang peledakan (blast holes) dan areal penumpukan akhir sebelum reklamasi (final dump). Sebanyak 101.107 sampel batuan telah dianalisa NAG sepanjang tahun 2009. Hasil pemantauan emisi udara dari cerobong PLTU dan cerobong genset juga memenuhi baku mutu selama tahun 2009. PLTU dan genset merupakan sumber energi utama yang digunakan KPC dalam penyediaan listrik, sehingga merupakan sumber emisi utama. Selain PLTU, KPC juga mengoperasikan insinerator untuk memusnahkan limbah terkontaminasi hidrokarbon (filter dan majun) serta limbah klinis. Hasil pemantauan emisi udara dari cerobong insinerator juga memenuhi baku mutu selama tahun 2009.

Pengelolaan Gas Rumah kaca (EN 18; EN 19)
Dalam pengadaan peralatan baru (khususnya truk dan alat berat lainnya), KPC telah membeli alat yang telah memenuhi standar emisi EPA (Environmental Protection Agency) Tier 1 dan Tier 2. Beberapa unit/alat yang telah dibeli pada tahun 2009 yaitu: sebanyak 5 unit truk Liebher T282 dan 26 unit truk Euclid EH4500 yang telah memenuhi standar emisi Tier 1, serta sebanyak 3 unit Komatsu HD785 telah memenuhi standar emisi Tier 2. KPC telah melakukan upaya-upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, namun belum melakukan perhitungan terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca.

Pengelolaan Limbah (EN 22)
Limbah (sampah) umum yang berasal dari areal perumahan dan areal industri KPC dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di areal dumping Hatari East. Limbah kertas yang berasal dari kantor-kantor, dikumpulkan dan diolah sebagai bahan baku kompos. Kegiatan pengomposan dilakukan di Nursery KPC. Selain dari kertas, bahan baku kompos juga berasal dari sampah basah dari dapur di mess karyawan. Kompos yang dihasilkan digunakan sebagai campuran media tanam, baik didalam pot maupun penanaman di areal reklamasi. Limbah kertas yang berasal dari perkantoran juga dimanfaatkan sebagai mulsa (mulch) yang kemudian dicampur dengan bahan lain seperti biji, pupuk dan perekat, kemudian digunakan pada kegiatan penyemprotan lereng oleh alat Hydroseeder. Ban bekas dari alat berat (truk) dimanfaatkan untuk pembuatan sistem drainage (drop structure) di areal reklamasi. Selama tahun 2009, sejumlah 834 ban bekas telah dimanfaatkan di areal reklamasi Panel 4 Dump,

Pengelolaan kualitas Udara dan Pemantauan emisi Udara (EN 16; EN 17; EN 20)
Upaya pengelolaan kualitas udara yang timbul dari kegiatan penambangan dilakukan dengan beberapa cara yaitu  : penyiraman jalan tambang dengan truk air; penanaman pohon di daerah industri; sistem penyemprotan debu (dust suppression system) di lokasi pabrik pemrosesan batu bara (CPP) menggunakan air dan bahan kimia vinasol; serta perawatan stasiun pembangkit listrik dan cerobong PLTU. Pemantauan kualitas udara ambien dilakukan setiap enam bulan dilokasi pemukiman masyarakat di Sangatta & Bengalon, dan menunjukkan hasil memenuhi baku mutu selama tahun 2009.

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

71

kINeRJA LINGkUNGAN
Panel 8 Dump, Mentari Dump; dan di lokasi jalan di Sangatta North, C North, Dump 570. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari kegiatan operasional KPC dikelola dengan mengikuti peraturan pemerintah yang berlaku. Limbah B3 yang dikirim ke pihak ketiga dimaksudkan untuk diolah lebih lanjut sesuai dengan izin yang telah ditetapkan Tabel 22. Jumlah Limbah B3 Yang Dikelola Tahun 2009
No 1       2       3       4 B3       B3       B3       B3       5       6       7 8 9 B3       B3       B3 B3 B3 Hidrogen Peroksida Abu Insinerator Lumpur beroli Grease Bekas     Battery Bekas (Aki)     Hose Beroli     kategori Jenis Limbah Pelumas Bekas       Barang Terkontaminasi       Filter Beroli       Sangatta Bengalon Total Pelumas Bekas   Sangatta Bengalon Total Barang Terkontaminasi   Sangatta Bengalon Total Filter Beroli   Sangatta Bengalon Total Hose Beroli   Sangatta Bengalon Total Battery Bekas (Aki)   Sangatta Bengalon Total Grease Bekas       Lokasi Satuan Liter       Ton       Ton       Ton       Ton       Ton       Ton Ton M3   105.75 20.79 126.54   59.20 5.56 64.76 10.25 17.44 1,052.58   359.00 5.18 364.18   346.21 61.05 407.26 409.89 77.64 487.53 Jumlah Timbulan   8,008,420.00 833,029.00 8,841,449.00   dimanfaatkan secara internal + dikirim pihak III     insinerasi + dikirim pihak III       insinerasi + dikirim pihak III        dikirim pihak III        dikirim pihak III       dikirim pihak III       dikirim pihak III dikirim pihak III Bioremediasi Pengolahan

oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). Pihak ketiga yang dimaksud adalah pengolah limbah B3 berada di Indonesia yang telah mendapat izin dari KLH untuk melakukan pengolahan sebagian jenis limbah atau semua jenis limbah dari penghasil. KPC tidak melakukan pengiriman limbah B3 ke luar negeri. Jumlah limbah B3 yang dikelola selama tahun 2009 tercantum pada tabel di bawah ini. (EN 24)

72

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA LINGkUNGAN
10       11 12 13 B3       B3 B3 B3 Abu Batu bara : Fly Ash Bottom Ash Total Abu Batu Bara Medik Toner Bekas Limbah Kimia             Ton       Ton Ton Ton M3   6,976.00 1,376.20 8,352.20 3.83 0.11 3.69 18,218.00 Pemanfaatan       insinerasi dikirim pihak III dikirim pihak III dikirim ke TPA

14 Non B3 Sampah Umum Sumber: neraca limbah PT. KPC

Pelumas bekas (used oil) yang dihasilkan oleh KPC dimanfaatkan untuk bahan bakar pembantu dalam peledakan (ANFO-emulsi) dengan komposisi yang diizinkan 80% pelumas bekas dan 20% solar baru, sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 560 tahun 2008. Selama tahun 2009 jumlah timbulan

pelumas bekas sebanyak 8.841.449 liter yang berasal dari KPC dan kontraktor. Dari jumlah tersebut sebanyak 3.536.072 liter (40%) digunakan sebagai campuran bahan peledak, dan sisanya dikirim ke pengelola berijin sebanyak 5.305.377 liter (60%). (EN 2)

Grafik 14. Penggunaan Pelumas Bekas
600,000 500,000

Pelumas Bekas (L)

400,000 300,000 200,000 100,000 Jan-10 Feb-10 Mar-10 Apr-10 Mei-09 Jun-10 Jul-10 Agst-09 Sep-10 Okt-09 Nov-10 Des-09

Bulan

Pelumas Bekas ke Pengelola

Pelumas Bekas untuk Peledakan

Sumber: database penggunaan pelumas bekas, Departemen Lingkungan PT.KPC

Abu batu bara (fly ash dan bottom ash) sisa pembakaran dari PLTU dikumpulkan di areal penyimpanan limbah B3 di Tanjung Bara. Limbah abu batu bara tersebut selanjutnya akan dimanfaatkan secara internal sebagai campuran bahan dasar jalan (road base) sesuai ijin dari Kep MENLH No.403 Tahun 2007. Implementasi pemanfaatan abu batu bara untuk bahan dasar jalan telah dilakukan pada tahun 2008, namun selama tahun 2009 tidak ada pemanfaatan abu batu bara. Pengelolaan limbah terkontaminasi hidrokarbon dilakukan dengan cara pembakaran (insinerasi) pada insinerator yang terletak di Sangatta North Dump, sesuai

ijin Kep MENLH no. 789/2008. Limbah yang diijinkan untuk dibakar adalah limbah filter oli bekas, majun yang terkontaminasi oli, dan limbah medis dari klinik perusahaan. Abu hasil insinerasi selanjutnya dikirim ke pengelola limbah berizin. Tanah terkontaminasi minyak dari seluruh bengkel khususnya dari fasilitas interceptor diolah secara biologi menggunakan bakteri Petrophylic. Kegiatan pengolahan tanah terkontaminasi minyak tersebut dilakukan di areal BTU (Biological Treatment Unit) yang terletak di Sangatta North Dump, sesuai ijin Kep MENLH no. 318/2006. Sehubungan dengan telah berakhirnya izin pengolahan tanah terkontaminasi

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

73

kINeRJA LINGkUNGAN
minyak di BTU pada tanggal 8 September 2009, maka pada bulan Agustus 2009 KPC telah mengajukan surat permohonan perpanjangan izin kepada Kementrian Negara Lingkungan Hidup, yang hingga akhir tahun 2009 masih dalam proses.

Total Biaya Pengelolaan Lingkungan (EN 30)
Total biaya yang dikeluarkan untuk program pengelolaan dan pemantauan lingkungan selama tahun 2009 adalah sebagai berikut:

Tabel 23. Total Biaya Pengelolaan Lingkungan PROGRAM 1 2     3 Pengelolaan Lingkungan Umum Reklamasi dan Revegetasi - Penanaman dan pemeliharaan tanaman - Pengelolaan dan pengangkutan tanah, pembuatan drainase - Pemeliharaan armada reklamasi Pemantauan lingkungan - Pemantauan kualitas air dan udara - Pengelolaan sedimen - Pembangunan kolam - Pengelolaan air asam tambang Pengelolaan limbah dan hidrokarbon   TOTAL Biaya (USD) 870,499 1,983,529 9,266,724 7,193,232 552,849 403,492 2,535,931 396,396 178,300 23,380,952

4  

Sumber data: laporan pembiayaan, Departemen Akunting KPC

Komitmen perbaikan secara berkelanjutan dalam hal pengelolaan lingkungan telah ditunjukkan melalui kinerja KPC dalam pengelolaan lingkungan tahun 2009. Data hasil pemantauan kualitas air dan udara telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah, serta target reklamasi lahan telah tercapai. Oleh sebab itu, sepanjang

tahun 2009 KPC tidak mendapat sanksi administratif terkait dengan pelanggaran baku mutu. Hal ini merupakan wujud komitmen pemenuhan kebijakan lingkungan yang akan terus dilaksanakan dalam setiap tahapan operasional KPC. (SO 8; EN 28)

Analisa geokimia NAG di Laboratorium Lingkungan

74

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA PeRBURUHAN

kINeRJA PeRBURUHAN
Sumber Daya Manusia (LA 1; LA 13)
Di tahun 2009, KPC mempekerjakan 4.973 karyawan, yang terdiri dari 4.959 karyawan Indonesia dan 14 karyawan asing. Berdasarkan status kekaryawanan, untuk karyawan Indonesia terdapat 3.927 karyawan permanen dan 1.032 karyawan kontrak, sedangkan seluruh karyawan asing adalah karyawan kontrak. Tidak ada karyawan paruh waktu yang bekerja di KPC. Jumlah karyawan tahun 2009 meningkat menjadi 4.973 karyawan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu 4.347. Distribusi karyawan berdasarkan tingkat jabatan, tingkat pendidikan, status kepegawaian, dan jenis kelamin bisa dilihat sebagai berikut.

Grafik 15. Distribusi karyawan berdasarkan tingkat jabatan

K 2 J H-I F-G D-E C B A
0 500 808 1000 1500 2000 2500 3000 429 18 54 154 768

Sumber data: Divisi Human Resource

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

75

kINeRJA PeRBURUHAN
Grafik 16. Distribusi karyawan berdasarkan tingkat pendidikan

Sumber data: Divisi Human Resource

Tabel 24. Distribusi karyawan berdasarkan status kepegawaian Status Permanen Kontrak (fixed-term) Total Jumlah 3.941 1.032 4.973

Divisi Mining Operation merupakan divisi yang mempunyai komposisi karyawan terbanyak, ini sesuai dengan inti bisnis KPC yaitu sebagai perusahaan tambang batu bara terbuka yang mengoperasikan banyak armada dan operator kelas dunia. Komposisi karyawan masing-masing divisi bisa dilihat sebagai berikut.

Tabel 25. Distribusi karyawan berdasarkan jenis kelamin

Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Total

Jumlah 4.624 349 4.973

Grafik 17. Komposisi karyawan berdasarkan divisi

Sumber data: Divisi Human Resource

76

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA PeRBURUHAN
Dalam penerimaan tenaga kerja, komposisi daerah penerimaan terbesar adalah di Sangatta di mana KPC menjalankan operasi pertambangannya. Sementara itu, jika dilihat dari komposisi umur maka jumlah terbesar adalah karyawan berumur antara 30-40 tahun sebanyak 1.780 karyawan. KPC juga mempunyai karyawan asing sebanyak 14 atau sebesar 0.28 % dari total karyawan.

Grafik 18. Komposisi karyawan berdasarkan daerah penerimaan (point of hire)

Sumber data: Divisi Human Resource

Grafik 19. Komposisi karyawan berdasarkan umur

Sumber data: Divisi Human Resource

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

77

kINeRJA PeRBURUHAN
Tabel 26. Komposisi karyawan Indonesia dan Asing No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Divisi Business Perf. Improvement CEO CFO COO Contract Mining Development Dir of Finance Head of Project Exp.Team ESD Finance HSE Human Resource Information Technology Marketing Mining Operation Division Mining Support Division Processing & Inf Div Project Expansion Team Supply Chain Divison Technical Director Total Komposisi Karyawan Indonesia Asing 9 0 7 0 1 1 2 0 33 0 244 2 1 1 1 0 105 0 37 0 102 0 53 0 23 0 57 2 2.739 0 1.006 5 290 0 103 2 145 0 0 1 4.959 14 orang mewakili SP/SB. Hal-hal yang belum dijabarkan secara detail dalam PKB dijelaskan lebih rinci di dalam Kebijaksanaan Sumber Daya Manusia (KSDM), Buku Panduan Staff (Staff Handbook), Kode Etik, Tata Kelola Perusahaan, dan prosedur operasional lainnya. Prosedur serta notifikasi berhubungan dengan perubahan operasional perusahaan juga telah diatur dalam pasal 13.2 PKB dimana tercantum jika ada rencana perubahan yang berhubungan dengan operasi secara signifikan akan dilakukan pemberitahuan kepada seluruh karyawan minimal 7 (tujuh) hari sebelumnya (PKB Pasal. 13.2). a. Sosialisasi Program Komunikasi secara reguler dilakukan baik kepada para atasan, staff admin, maupun kepada seluruh karyawan dalam rangka mensosialisasikan kebijakan atau peraturan perusahaan. Sosialisasi poin-poin perubahan dalam PKB 2009-2011 telah

Hubungan Industrial (4.4)
Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang digunakan pada tahun 2009 adalah PKB periode 2009-2011 yang telah ditandatangani oleh wakil manajemen dan pengurus serikat pekerja/buruh dan disahkan oleh Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Depnakertras pada tanggal 22 Mei 2009 di Jakarta. Perjanjian Kerja Bersama (PKB) periode Juli 2009 – Juni 2011 tersebut menjadi payung dimana hak dan kewajiban karyawan tercantum didalamnya sesuai status hubungan kerjanya. Beberapa poin perubahan yang tercantum dalam PKB yang baru tersebut seperti uang makan, uang perumahan, penghargaan masa kerja, santunan kematian dan beberapa penyesuaian atas aturan ketenagakerjaan. Seluruh karyawan KPC termasuk level manajerial diatur hak dan kewajibannya dalam Perjanjian Kerja Bersama. Tim PKB periode 2009–2011 berjumlah 22 orang yang terdiri dari 9 orang mewakili manajemen dan 13

78

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA PeRBURUHAN
selesai dilakukan kepada seluruh karyawan pada tanggal 23 Juni 2009. b. Serikat Pekerja/ Serikat Buruh (LA 4; HR 5) Perusahaan mengakui keberadaan Serikat Pekerja/Buruh (SP/SB) termasuk melibatkan mereka dalam perundingan Perjanjian Kerja Bersama secara setara sesuai aturan yang berlaku. Lembaga Kerja Sama Bipartit (LKS) juga telah lama terbentuk dimana pengurus dan anggotanya terdiri dari wakil manajemen dan wakil SP/SB. Saat ini perusahaan membina 6 (enam) Serikat Pekerja / Serikat Buruh masing-masing Korps Pegawai Pertambangan Batu Bara (KORPPRA), Serikat Pekerja Kimia Energi dan Pertambangan (SP-KEP), Federasi Pertambangan dan Energi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (FPE-SBSI), Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), Serikat Pekerja Keadilan (SPK), dan Serikat Pekerja Mining Support Division (SP-MSD) dengan keanggotaan seperti dalam tabel berikut: pemutusan hubungan kerja (mengundurkan diri, pensiun, dsb) pada tahun 2009 adalah sebanyak 117 orang. Bagi karyawan yang mengajukan pengunduran diri maka sesuai dengan UU 13 Ketenagakerjaan dan PKB yang berlaku, maka surat pengunduran diri harus disampaikan kepada atasan minimum 1 bulan sebelumnya. Selain itu, jika terjadi perubahan jadwal kerja karyawan maka akan diberitahukan tujuh hari kalender sebelumnya, kecuali adanya keadaan darurat.
Grafik 20. Turnover karyawan berdasarkan umur

Tabel 27. Serikat buruh dan jumlah anggota Serikat Pekerja / Buruh KORPPRA SP-KEP SBSI PPMI SPK SP-MSD NON SERIKAT Total Karyawan Jumlah Anggota (orang) 1050 1205 806 250 663 172 827 4.973
Grafik 21. Turnover karyawan berdasarkan gender 6

Dari data diatas, terlihat bahwa 83,3 % karyawan bergabung dengan serikat pekerja/buruh, sedangkan 16,6 % karyawan tidak tergabung di dalamnya. c. Layanan konsultasi karyawan Layanan konsultasi kepada karyawan dilakukan setiap saat baik oleh para atasan di masingmasing tempat kerja maupun yang dilakukan oleh staff HRD kepada karyawan tertentu yang dirasa membutuhkan. Secara reguler para atasan juga melakukan coaching dan councelling kepada para bawahan sesuai kebutuhan. Jumlah turnover karyawan (LA 2; LA 5) Jumlah karyawan KPC yang mengalami

111

Grafik 22. Turnover karyawan berdasarkan tempat penerimaan

b.

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

79

kINeRJA PeRBURUHAN
Grafik 33. Total Hari Absen Karyawan (LA 7)

Pelatihan dan Pengembangan
Sebagai pemenuhan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap karyawan, KPC berkomitmen untuk terus mengembangkan sumber daya manusianya agar mampu bertahan dan bersaing dalam bisnis dunia yang begitu cepat berubah terutama di industri pertambangan. KPC menyadari bahwa untuk menjadi pemain kelas dunia dibutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, tangguh, profesional dan mempunyai standar etika yang tinggi dalam setiap aktivitasnya di perusahaan.

Sumber daya manusia sebagai aset penting perusahaan diharapkan mampu menjawab tantangan perusahaan ke depan dengan memberikan kinerja terbaiknya dalam bidang manajerial dan teknis. KPC memberikan pelatihan dan pengembangan bagi karyawan guna meningkatkan dan menyegarkan keahlian dan pengetahuan karyawan. Selama tahun 2009, berbagai macam program pelatihan diberikan kepada karyawan KPC dengan total 356.252 jam pelatihan. Selain itu, KPC juga memberikan program pelatihan kepada karyawan perusahaan kontraktor KPC, dengan total 99.498 jam pelatihan.

Tabel 28. Pelatihan yang diikuti oleh karyawan KPC tahun 2009 (LA 10) No 1 2 3 4 5 6 Total kategori General Management and Commercial Health, Safety, Environment Equipment Operation Equipment Maintenance Engineering karyawan kPC Peserta 1143 4897 12283 16755 6899 224 42201 Jam 8092 72546 40913 174419 57534 2748 356252 karyawan kontraktor Peserta 49 33 28431 5665 832 35010 Jam 1141 1944 73216 14769 8428 99498 Total Peserta 1192 4930 40714 22420 7731 224 77211 Jam 9233 74490 114129 189188 65962 2748 455750

80

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA PeRBURUHAN
Untuk mengembangkan para sarjana baru, KPC menjalankan Program Pengembangan Sarjana Baru (Graduate Development Program/GDP). Para peserta program mendapatkan berbagai pelatihan manajerial dan teknis, serta menjalani rotasi di berbagai area yang relevan dengan bidang mereka. Contoh program rotasi karyawan dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 29. Area rotasi graduate Mining Engineering Area rotasi untuk graduate Mining engineering Pit Technical Long Term Planning Drilling and Blasting Rehabilitation Project Dispatch/Reporting Coal Technical Contract Mining Perkiraan Durasi 9 bulan 6 bulan 6 bulan 3 bulan 4 bulan 4 bulan 4 bulan Program Retensi karyawan Dalam menghargai seluruh kontribusi dan kinerja karyawan serta dalam usaha mempertahankan karyawan unggul agar tetap berkarya dan berkontribusi, perusahaan mengambil beberapa inisiatif berikut: 1. Pengembangan jalur karir fungsional melalui program Dual Career Ladder. 2. Pemberian berbagai pelatihan yang menunjang para karyawan untuk bekerja dengan efektif, seperti Fundamental Leadership serta HR for NonHR Professionals. 3. Pengembangan sistem kompetensi, yang memungkinkan implementasi pengelolaan sumber daya manusia berbasis kompetensi di KPC. dibuka dan diumumkan melalui media internal KPC maupun eksternal melalui harian tertentu. Penilaian kinerja karyawan (LA 12) Semua karyawan KPC mendapatkan performance appraisal setiap tahunnya. Penilaian kinerja karyawan dilakukan setiap akhir kuartal untuk karyawan nonstaf, dan setiap akhir tahun untuk karyawan staf. Hasil dari penilaian kinerja dapat digunakan sebagai dasar kebijakan dan keputusan perusahaan dalam mengelola sumber daya manusianya antara lain adalah : 1. Pelatihan dan pengembangan (manajerial dan teknis) 2. Perencanaan karir 3. Remunerasi dan kebijakan-kebijakan lain yang berhubungan dengan karyawan

Pelatihan Masa Persiapan Pensiun (LA 11) Program pelatihan ini diberikan bagi karyawan dan istrinya untuk mempersiapkan diri secara fisik & mental dalam menghadapi masa pensiun dan membekali mereka dengan ketrampilan maupun pengetahuan dalam mengelola kesehatan dan gizi, hubungan keluarga yang harmonis, konsultasi psikologi dan mengelola keuangan mereka. Pelatihan ini juga memberikan pengetahuan praktis tentang kewirausahaan, disamping itu ada kunjungan lapangan 1 hari penuh untuk melihat-lihat serta memberi wawasan dan berbagi pengalaman dengan para pensiunan KPC yang sudah merintis usaha.   Jumlah peserta yang mengikuti program MPP 15-19 Juni   2009 ada 19 pasang suami/istri (38 peserta)   dengan waktu pelatihan selama 5 hari penuh dengan jumlah jam sebanyak 40 jam. Peluang Berkarir KPC memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh karyawan untuk berkarir sesuai dengan bidang, kualifikasi dan pengetahuannya. Karyawan yang memiliki kesesuaian kualifikasi dengan pekerjaan tersebut dapat melamar dan mengikuti serangkaian tes melalui seleksi internal. Lowongan pekerjaan tersebut

Sebagai pemenuhan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap karyawan, KPC berkomitmen untuk terus mengembangkan sumber daya manusianya agar mampu bertahan dan bersaing dalam bisnis dunia yang begitu cepat berubah terutama di industri pertambangan

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

81

kINeRJA PeRBURUHAN
4. Pemberian pinjaman lunak program kepemilikan rumah di luar daerah operasi perusahaan. Program Beasiswa Bagi Anak karyawan Program beasiswa ini telah berlangsung sejak tahun 2003 hingga sekarang. Beasiswa ini khusus diberikan kepada anak karyawan yang sudah ada pada tingkat perguruan tinggi. Program ini secara rutin dibuka setiap tahunnya. Bagi para peserta yang memenuhi syarat dan lolos dalam seleksi akan mendapatkan uang beasiswa sebesar Rp. 6.000.000/semester selama max 8 semester. Hingga saat ini KPC sudah memberikan beasiswa kepada anak karyawan sebanyak 83 orang. Pada awalnya pemberian beasiswa ini hanya untuk 11 orang saja setiap tahunnya, tetapi sejak tahun 2009 jumlahnya ditingkatkan menjadi 19 orang per tahun. Beasiswa ini tidak hanya diberikan kepada anak-anak karyawan yang bersekolah didalam negeri tetapi juga yang bersekolah diluar negeri. Program ini diciptakan dengan tujuan untuk memotivasi anak-anak para karyawan agar berprestasi selain juga sebagai salah satu cara untuk memberikan apresiasi terhadap kinerja/ kontribusi para karyawan.

Menarik Orang-orang Berpotensi Dalam mencari dan menyeleksi calon karyawan, KPC menempuh berbagai upaya. Metode yang biasa dipakai adalah memasang iklan di media, bekerjasama dengan pusat karir universitas, dan memanfaatkan layanan head hunter. Metode lain untuk menarik orang-orang berpotensi adalah: 1. Memberikan kesempatan Kerja Praktik (KP) dan Tugas Akhir (TA) kepada mahasiswa dari jurusanjurusan yang relevan dengan bisnis KPC. 2. Memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi dari jurusan-jurusan yang sesuai dengan bisnis KPC untuk menempuh tahun terakhir pendidikan mereka. 3. Bekerja sama dengan beberapa universitas ternama untuk mendeteksi calon-calon lulusan terbaik.

Pelatihan di luar maupun di dalam lingkungan KPC dilakukan untuk meningkatkan dan menyegarkan keahlian serta pengetahuan karyawan.

82

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

kINeRJA HAk ASASI MANUSIA

kINeRJA HAk ASASI MANUSIA
Di setiap aspek kegiatan operasi perusahaan, KPC selalu menjunjung tinggi hak asasi manusia. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 45 pasal 28, kebebasan berkumpul dan berserikat diberikan kepada seluruh karyawan dengan membentuk beberapa serikat pekerja dan serikat buruh yang ada di lingkungan perusahaan sebagai wadah komunikasi dan sarana menyampaikan aspirasi. Seluruh karyawan baik laki-laki maupun perempuan mendapatkan hak yang sama untuk keselamatan, kesehatan dan lingkungan, peluang karir, pelatihan dan pengembangan, rotasi dan mutasi, menduduki jabatan tertentu di perusahaan, serta benefit dari perusahaan. Menjadi suatu keharusan bagi para kontraktor dan supplier yang terlibat dalam kerja sama dengan KPC untuk mematuhi peraturan ketenagakerjaan dan standar keselamatan, kesehatan dan lingkungan yang ada di KPC. Hal tersebut tertuang di dalam setiap klausal perjanjian kontrak kerja sama antara kontraktor dan supplier dengan pihak KPC. Dengan demikian secara tidak langsung hak-hak karyawan setiap perusahaan yang terkait menjadi rekanan KPC juga akan terlindungi. Tindakan Diskriminasi (HR 4) Sebagai operator tambang batu bara kelas dunia, KPC tidak membedakan karyawan dari segi agama, suku, maupun jenis kelamin. Proses seleksi karyawan didasarkan pada kualitas, kompetensi dan pengalaman kandidat sehingga karyawan perempuan memperoleh benefit yang sama dengan karyawan laki-laki. Hingga akhir tahun 2009 tidak ada insiden yang diakibatkan dari tindakan diskriminatif di KPC. Atas alasan perbedaan jumlah antara karyawan pria dan wanita serta masa kerja maka terdapat perbedaan dalam gaji dasar antara karyawan pria dan wanita seperti Tabel 30 berikut: Tabel 30. Rasio antara gaji dasar pria dan wanita berdasarkan kategori karyawan (LA 14) Non Staff Staff 1 : 0,87 1 : 0,91

Kegiatan keagamaan sangatlah didukung oleh perusahaan dalam meningkatkan kualitas karyawan dalam hidup beragama. Beberapa fasilitas peribadatan yang di bangun oleh perusahaan adalah Masjid Al Kautsar, Al Ikhlas, Baiturrahman, An Nur, Al Falah, Gereja Oukimene & Gereja Katholik, Pura di Bumi Etam sebagai tempat peribadatan pemeluk agama Hindu. Hari besar keagamaan dirayakan oleh pemeluk agama masingmasing dan perusahaan membantu memberikan fasilitas serta donasi, serta ijin meninggalkan tempat kerja pada hari-hari keagamaan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan agamanya. Buruh Anak (HR 6) Selama menjalankan bisnisnya, KPC tidak mempekerjakan pekerja di bawah 18 tahun. Aturan internal perusahaan secara tegas menyatakan bahwa usia minimal yang dapat diterima sebagai karyawan adalah minimal berusia 18 tahun. kerja Paksa (HR 7) Sejak awal operasinya hingga akhir tahun 2009, KPC tidak pernah melakukan pemaksaan pekerjaan kepada karyawan tertentu. Pemberian tugas selalu mengacu kepada aturan ketenagakerjaan yang berlaku termasuk ketika hendak mempekerjakan karyawan di luar jam kerja normalnya (overtime). Praktek Pengamanan Sebanyak 495 orang atau 98 % dari 505 anggota Satuan Pengamanan di Group4 dan Global Arrow

PT. Kaltim Prima Coal

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

83

kINeRJA HAk ASASI MANUSIA
telah mengikuti Pendidikan Dasar (DIKSAR) dimana dalam kurikulum pelatihan tersebut terdapat pelajaran tentang hak-hak asasi manusia. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 90,3%. Berkaitan dengan tindak korupsi, sepanjang tahun 2009, tidak ada tindakan korupsi yang dilakukan oleh karyawan KPC. (SO 4) Penduduk Pribumi (HR 9) Hingga akhir 2009, tidak pernah terjadi insiden ataupun kekerasan dari pihak KPC terhadap masyarakat di sekitar operasi tambang perusahaan. Hubungan baik selalu dibina melalui berbagai program kemasyarakatan yang diorientasikan untuk memberikan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang. kesehatan dan keselamatan kerja Kesepakatan resmi antara KPC dengan perwakilan serikat berkenaan dengan keselamatan dan kesehatan kerja tercantum dalam PKB 2007-2009, yaitu : Hak dan kewajiban Perusahaan dan karyawan tunduk pada UndangUndang dan Peraturan Pemerintah yang berlaku tentang keselamatan dan kesehatan kerja. Sebelum menandatangani kesepakatan kerja, perusahaan akan meminta calon karyawan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan pra kerja pada fasilitas kesehatan milik perusahaan atau rumah sakit yang ditunjuk. Perusahaan juga melaksanakan pemeriksaan kesehatan berkala sesuai dengan peraturan pemerintah dan standar untuk masing-masing jenis pekerjaan. Karyawan berkewajiban untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin. Seluruh lini manajemen berkewajiban untuk menyebarluaskan Peraturan dan Prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Aturan Standar dan prosedur. Perusahaan tunduk pada tindakan disiplin sesuai dengan Disciplinary Action Guidelines yang ada di perusahaan. Layanan kesehatan Perusahaan menyediakan fasilitas kesehatan berupa Klinik bagi karyawan dan keluarganya dan Sangatta dan menjalin kerja sama dengan beberapa Rumah Sakit ternama di luar daerah operasi. Peralatan Perlindungan Pribadi (PPe) Dalam usaha memberikan perlindungan kepada karyawan selama menjalani pekerjaannya, perusahaan menyediakan peralatan pelindung sesuai dengan standar kesehatan dan keselamatan kerja. Seluruh karyawan wajib menggunakan dan memelihara peralatan keselamatan kerja yang disediakan oleh perusahaan. Peralatan keselamatan tersebut harus digunakan oleh karyawan, tidak boleh disalahgunakan dan dipindahtangankan kepada pihak yang tidak berhak. Seorang karyawan berhak menolak untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja perusahaan termasuk kelengkapan PPE. kecelakaan kerja Semua karyawan wajib melaporkan setiap kecelakaan kerja yang dialaminya kepada atasannya begitupun para atasan berkewajiban dan bertanggung jawab untuk melaporkan setiap kecelakaan kerja yang terjadi diwilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Petugas keselamatan termasuk dokter perusahaan wajib membantu mengumpulkan data yang diperlukan, sehingga petugas dari benefit section dapat membuat laporan ke Kantor Tenaga Kerja, PT.JAMSOSTEK, dan Group Life Insurance dalam waktu kurang dari 48 jam. Sakit di Tempat kerja Perusahaan menyediakan klinik yang dikelolah secara profesional bagi karyawan yang sakit di tempat kerja. Karyawan yang karena penyakitnya tidak bisa bekerja pada posisi semula akan ditempatkan pada posisi/ pekerjaan yang tidak melanggar batasan yang telah ditetapkan oleh Dokter. Pengaturan ijin sakit maupun ijin sakit berkepanjangan diberlakukan bagi karyawan yang karena penyakitnya tidak bisa bekerja. Pemutusan Hubungan Kerja karena alasan kesehatan dilakukan setelah ada putusan dokter yang menyatakan bahwa karyawan tersebut sudah tidak bisa kembali bekerja dengan tetap mengikuti aturan yang berlaku khususnya hak-hak karyawan yang diputus hubungan kerjanya karena alasan kesehatan.

84

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

ReFeReNSI SILANG GRI

ReFeReNSI SILANG GRI
Indeks ini mengacu pada indikator pokok Global Report Initiative (GRI). 1. STRATeGY AND ANALISIS Sepatah kata CEO Dampak utama, Risiko, Peluang Utama PROFIL ORGANISASI Nama Organisasi Merk, Jasa Utama Struktur Operasional Lokasi Kantor Pusat Negara-negara Tempat Operasi Bentuk Badan Hukum Pasar yang dilayani Skala Organisasi Perubahan Signifikan Penghargaan yang diperoleh PARAMeTeR LAPORAN PROFIL LAPORAN Periode Laporan Laporan Sebelumnya Siklus Pelaporan Titik Kontak LINGKUP DAN BATAS LAPORAN Menentukan Isi Laporan Batas Laporan Batas Lingkup Laporan Dasar Pelaporan Ukuran, Perhitungan Uraian Perubahan dibanding Laporan sebelumnya INDEKS ISI GRI TABEL PENUNJUK LOKASI STANDAR Pengungkapan dalam Laporan JAMINAN Praktek Jaminan

(3.12)

GRI

Halaman

1.1 1.2 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 2.10

3 3 16 23 14 16 22 13 26 16 16 8-12

2.

3.

3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 3.9 3.10 3.11

7 5 5 1 7 7 8 8 8 Dikeseluruhan laporan 7

3.12 3.13

81-86

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

85

ReFeReNSI SILANG GRI
4. PeNYeLeNGGARAAN, kOMITMeN DAN keTeRLIBATAN Struktur, Komite Pemisahan Chair/CEO Anggota Independent Mekanisme untuk Rekomendasi kepada manajemen Hubungan antara kompensasi dan kinerja Konflik Kepentingan Kualifikasi Dewan Nilai Sosial Lingkungan Ekonomi Prosedur Pemantauan Kinerja Proses Evaluasi Dewan Direksi KOMITMEN PADA INISIATIF DARI LUAR Pendekatan Kesiagaan Ketangguhan Prinsip Keanggotaan KETERLIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN Pemangku kepentingan yang terlibat Mengidentifikasi Pemangku kepentingan Keterlibatan Pemangku kepentingan Hasil Keterlibatan PeNDekATAN MANAJeMeN DAN INDIkATOR kINeRJA ekONOMI EKONOMI : PENGUNGKAPAN TENTANG PENDEKATAN MANAJEMEN Pengungkapan tentang Pendekatan Manajemen Ekonomi INDIKATOR KINERJA EKONOMI ASPEK : KINERJA EKONOMI Hasil Nilai Ekonomi Risiko Keuangan Akibat Perubahan Iklim Cakupan Program Tunjangan Bantuan Keuangan dari Pemerintah ASPEK : KEBERADAAN PASAR Rasio-rasio Upah Awal Pemakaian Pemasok Lokal Pemakaian Tenaga Kerja Lokal ASPEK : DAMPAK EKONOMI TIDAK LANGSUNG Dampak Investasi Lokal Dampak Ekonomi Tidak Langsung LINGkUNGAN LINGKUNGAN : PENGUNGKAPAN TENTANG PENDEKATAN MANAJEMEN PTPM Lingkungan INDIKATOR KINERJA LINGKUNGAN ASPEK : BAHAN Bahan yang Digunakan Pemakaian Input Daur Ulang ASPEK : ENERGI Energi Langsung yang digunakan Energi Tidak Langsung yang Digunakan

4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 4.9 4.10 4.11 4.12 4.13 4.14 4.15 4.16 4.17

14 14 14 20, 41,78 35 41 14 19, 41 43 43 16 49,50,52,56,58,61 20 20 21 20 20

5.

EC1 EC2 EC3 EC4 EC5 EC6 EC7 EC8 EC9

16 4 35 45 35 48 57 53, 57 45

6.

EN1 EN2 EN3 EN4

63 66, 73 65 65

86

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

ReFeReNSI SILANG GRI
Penghematan Energi Energi Produk yang Dihemat Pengurangan Penggunaan Energi tidak Langsung ASPEK : AIR Penarikan Air Sumber Air yang Terpengaruh Pemakaian Ulang Air ASPEK : KEANEKARAGAMAN HAYATI Lahan keanekaragaman hayati Dampak terhadap keanekaragaman hayati Pemulihan habitat Strategi keanekaragaman hayati Spesies yang dilindungi ASPEK : EMISI, PEMBUANGAN DAN LIMBAH Gas rumah kaca tidak langsung, langsung Gas rumah kaca tidak langsung Pengurangan gas rumah kaca Emisi pengurangan ozon NOx, SOx, lain-lain Pembuangan air Jumlah limbah Tumpahan yang signifikan Limbah berbahaya Dampak pembuangan air ASPEK : PRODUK DAN JASA Mengurangi dampak produk Reklamasi produk terjual ASPEK : KEPATUHAN Pelanggaran terhadap Undang-undang Lingkungan ASPEK : TRANSPORTASI Dampak lingkungan yang signifikan berasal dari transportasi ASPEK : KESELURUHAN Pengeluaran untuk perlindungan lingkungan PRAkTek TeNAGA keRJA DAN PekeRJAAN YANG LAYAk PRAKTEK TENAGA KERJA DAN PEKERJAAN YANG LAYAK : PTPM PTPM Praktek Tenaga Kerja INDIKATOR KINERJA PRAKTEK TENAGA KERJA DAN PEKERJAAN YANG LAYAK ASPEK : TENAGA KERJA Total angkatan kerja Pergantian di kalangan karyawan Tunjangan karyawan ASPEK : TENAGA KERJA/HUBUNGAN MANAJEMEN Cakupan daya tawar kolektif Jangka waktu peringatan EN5 EN6 EN7 EN8 EN9 EN10 EN11 EN12 EN13 EN14 EN15 EN16 EN17 EN18 EN19 EN20 EN21 EN22 EN23 EN24 EN25 EN26 EN27 EN28 EN29 EN30 64, 65 65 36, 65, 64 66 66 66 66 67 67 67, 70 69 71 71 71 71 71 70 71 71 72 67 61-72 39 74 36 74

7.

LA1 LA2 LA3

75 79 35

LA4 LA5

79 79

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

87

ReFeReNSI SILANG GRI
ASPEK : KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA Komite K3 Tingkat cidera dan kecelakaan Serangan penyakit serius K3 Trade Union ASPEK : PELATIHAN DAN PENDIDIKAN Rata-rata jam pelatihan Program Manajemen Ketrampilan Kaji Ulang Resmi ASPEK : KESERAGAMAN DAN PELUANG YANG SETARA Indikator keragaman Perbandingan gaji antara pria/wanita HAk ASASI MANUSIA HAK ASASI MANUSIA : PENGUNGKAPAN TENTANG PENDEKATAN MANAJEMEN TPTM Hak Asasi Manusia INDIKATOR KINERJA HAK ASASI MANUSIA ASPEK : PRAKTEK INVESTASI DAN PENGADAAN Investasi yang sesuai Hak Asasi Manusia Penyaringan pemasok Waktu Pelatihan Hak Asasi Manusia ASPEK : NON-DISKRIMINASI Insiden diskriminasi ASPEK : KEBEBASAN BERSERIKAT & DAYA TAWAR KOLEKTIF Risiko Daya Tawar Kolektif ASPEK : TENAGA KERJA DI BAWAH UMUR/ ANAK-ANAK Risiko Tenaga Kerja di bawah umur ASPEK : KERJA PAKSA Risiko Kerja Paksa ASPEK : PRAKTEK KEAMANAN Pelatihan Tentang Keamanan ASPEK : HAK-HAK WARGA PRIBUMI Pelanggaran atas hak-hak warga pribumi SOSIAL SOSIAL : PENGUNGKAPAN TENTANG PENDEKATAN MANAJEMEN TPTM Masyarakat INDIKATOR KINERJA SOSIAL ASPEK : SOSIAL Dampak terhadap Sosial ASPEK : KORUPSI Risiko korupsi Pelatihan anti korupsi Tanggap korupsi ASPEK : KEBIJAKAN PUBLIK Kebijakan publik dan lobbying

LA6 LA7 LA8 LA9 LA10 LA11 LA12

31 32, 80 31, 33, 34 34 80 81 81

LA13 LA14

75-77 83

8.

HR1 HR2 HR3 HR4

41 46 35, 42 83

HR5

79

HR6 HR7 HR8 HR9

83 87 35 84

9.

SO1 SO2 SO3 SO4 SO5

49-59 42 42 84 17

88

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

ReFeReNSI SILANG GRI
Kontribusi politik ASPEK : PERILAKU ANTI PERSAINGAN Peradilan Monopoli ASPEK : KEPATUHAN Denda atas ketidakpatuhan pada hukum 10. TANGGUNG JAWAB PRODUk TANGGUNG JAWAB PRODUK : PENGUNGKAPAN TENTANG PENDEKATAN MANAJEMEN TPTM Tanggung jawab produk INDIKATOR KINERJA TANGGUNG JAWAB PRODUK ASPEK : KESEHATAN DAN KESELAMATAN KONSUMEN Penilaian Keselamatan Produk Ketidakpatuhan terhadap kesehatan dan keselamatan produk SPEK : PENCANTUMAN LABEL PRODUK DAN JASA Pencantuman label info produk Pencantuman label ketidakpatuhan Kepuasan konsumen ASPEK : KOMUNIKASI PEMASARAN Program Komunikasi Pemasaran Ketidakpatuhan terhadap Komunikasi Pemasaran ASPEK : PRIVASI KONSUMEN Pelanggaran Privasi Konsumen Pelanggaran terhadap perjanjian 11. SekTOR TAMBANG DAN LOGAM INDIKATOR TAMBAHAN UNTUK SEKTOR TAMBANG DAN LOGAM ASPEK: BIODIVERSITY Jumlah tanah (dimiliki atau disewa, dan dikelola untuk aktifitas produksi atau penggunaan ekstraktif ) yang terganggu atau direhabilitasi. Jumlah dan presentasi seluruh area yang memerlukan rencana pengelolaan biodiversity menurut criteria tertentu, dan jumlah (persentase) area dengan perencanaan. ASPEK: EMISI, EFFLUENT, DAN LIMBAH Jumlah overburden, bebatuan, tailing, dan endapan serta resiko terkait. ASPEK: TENAGA KERJA/MANAGEMENT RELATION Jumlah pemogokan dan penghentian kegiatan yang lebih dari satu minggu. ASPEK: HAK WARGA PRIBUMI Jumlah kegiatan yang berada atau berdekatan dengan teritori warga pribumi, dan jumlah serta persentase kegiatan atau daerah dimana ada perjanjian resmi dengan masyarakat asli/pribumi. ASPEK: KOMUNITAS Jumlah dan deskripsi perselisihan yang terkait dengan penggunaan lahan, dan hak komunitas local serta warga pribumi. Penjelasan mengenai mekanisme yang digunakan untuk mengatasi perselisihan yang menyangkut penggunaan lahan, hak komunitas local dan warga pribumi serta hasilnya. SO6 S07 SO8 41 41 74

PR1 PR2 PR3 PR4 PR5 PR6 PR7 PR8 PR9

39 39 24, 39 40 39 40 40 40 40

MM 1

23, 66

MM 2

22, 36, 67

MM 3

23z

MM 4

55

MM 5

36

MM 6

36

MM 7

36

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

89

ReFeReNSI SILANG GRI
ASPEK: Pertambangan artisanal dan skala kecil Keterlibatan perusahaan dalam ASM (Artisanal and Small-scale Mining) ASPEK: PEMINDAHAN TEMPAT TINGGAL Lokasi dimana terjadi pemindahan tempat tinggal, jumlah keluarga, dan bagaimana pengaruhnya dengan kehidupan mereka. ASPEK: RENCANA PENUTUPAN Jumlah dan persentase daerah operasi dengan rencana penutupan. ASPEK: TANGGUNG JAWAB TERHADAP PRODUK Program dan kemajuannya yang berhubungan dengan tanggung jawab terhadap produk

MM 8

22

MM 9

36

MM 10

36

MM 11

39

90

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

DAFTAR SINGkATAN

DAFTAR SINGkATAN
Singkatan AMDAL ANU APBI API B3 BOSF BPMT BPPT BTU CE CEO CFCD CMS COC COO CPAR CPP CSSR DRD EPA ERA ESD FKPL FOB FPE-SBSI FRA GCG GERDABANGAGRI GM GPL GRI GWP HKTI HR HRCR HRD HSE IBL IPB ITB K3 Kepanjangan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Australian National University Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia Asosiasi Pertambangan Indonesia Bahan Berbahaya dan Beracun Borneo Orangutan Survival Foundation Blok Penggandaan Mata Tempel Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Biological Treatment Unit Community Empowerment Chief Executive Officer Corporate Forum on Community Development Contract and Contractor Management System Code of Conduct Chief Operating Officer Corrective/Preventive Action Request Coal Processing Plant Center for Strategic Study of Resources Dewan Riset Daerah Environmental Protection Agency Environmental Risk Assessment External Affairs and Sustainable Development Forum Komunitas Peduli Lingkungan Free On Board Federasi Pertambangan dan Energi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia Fraud Risk Assessment Good Corporate Governance Gerakan Daerah Pembangunan Agribisnis General Manager Griya Prima Lestari Global Report Initiative Gema Wana Prima Himpunan Kelompok Tani Indonesia Human Resource Human Resources and Community Relations Human Resource Division Health, Safety, and Environment Indonesia Business Link Institut Pertanian Bogor Institut Teknologi Bandung Kesehatan, Keselamatan Kerja

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

91

DAFTAR SINGkATAN
K3L KADIN KNPI KONI KORPPRA KPC KSDM KSU KUKM LBD LKS LTIFR MDGs MEI MOD MSD MSH CSR NAF NAG NCSR PAD PAF PDRB PID PKB PKP2B PPMI PW RUPS SCD SDR SGS SML SOP SPK SP-KEP SP-MSD STIPER THR TNK TPA UGM UMSK UNGC Unmul WTP Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan Kamar Dagang dan Industri Komite Nasional Pemuda Indonesia Komite Olah raga Nasional Indonesia Korps Pegawai Pertambangan Batu Bara Kaltim Prima Coal Kebijaksanaan Sumber Daya Manusia Koperasi Serba Usaha Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah Local Business Development Lembaga Kerja Sama Lost Time Injury Frequency Rate Millennium Development Goals Morphoe Edaphic Index Mining Operation Division Mining Service Division Multi-Stakeholder for Corporate Social Responsibility Non Acid Forming Net Acid Generation National Centre for Sustainability Reporting Pendapatan Asli Daerah Potential Acid Forming Pendapatan Domestik Regional Brutto Processing and Infrastructure Division Perjanjian Kerja Bersama Perjanjian Kontrak Karya Pengusahaan Pertambangan Batu bara Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia Pendamping Wilayah Rapat Umum Pemegang Saham Supply Chain Division Sustainable Development Report Societe Generalle de Surveillance Sistim Manajemen Lingkungan Standard Operating Procedure Serikat Pekerja Keadilan Serikat Pekerja Kimia Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Mining Support Division Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Tunjangan Hari Raya Taman Nasional Kutai Tempat Pembuangan Akhir Universitas Gajah Mada Upah Minimum Sektor Kabupaten United Nations Global Compact Universitas Mulawarman Water Treatment Plant

92

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

UMPAN BALIk Umpan Balik Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009 PT. Kaltim Prima Coal
Terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu/Sdr untuk membaca laporan pembangunan berkelanjutan kami ini. Kami sangat menghargai perhatian dan apresiasi Bapak/Ibu/Sdr terhadap laporan kami ini. Untuk meningkatkan pelayanan kami dan pengembangan laporan pembangunan berkelanjutan yang akan datang, maka kami mohon kesediaan Bapak/Ibu/Sdr untuk mengisi kuesioner berikut serta mengirimkannya kembali kepada kami. Kami sangat mengharapkan pemikiran, saran, dan kritik dari Bapak/Ibu/Sdr.

Pernyataan
1. Laporan ini memberikan informasi yang bermanfaat mengenai kebijakan, dampak, dan penyelenggaraan PT.Kaltim Prima Coal dalam bidang ekonomi, lingkungan, dan sosial dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan.

SS
2.

S S S S S S
Setuju

RR RR RR RR RR RR
Ragu-Ragu

TS TS TS TS TS TS
Tidak Setuju

STS STS STS STS STS STS
Sangat Tidak Setuju
Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

Laporan ini menyediakan suatu gambaran dan rangkuman mengenai kinerja PT.Kaltim Prima Coal yang sejalan dengan usaha pencapaian pembangunan yang berkelanjutan.

SS
3.

Laporan ini mudah dimengerti.

SS
4.

Informasi yang ada pada laporan ini cukup lengkap.

SS
5.

Laporan ini layak/dapat dipertanggungjawabkan.

SS SS
Sangat Setuju

93

S

6.

7.

8.

9.

Informasi yang berguna adalah : a. b. c. Informasi yang kurang berguna adalah: a. b. c. Saran mengenai isi, desain, layout, dll. a. b. c. Informasi yang dapat ditambahkan: a. b. c.

Profil Anda
Nama : Umur dan jenis kelamin : Institusi/Perusahaan : Jenis institusi/perusahaan O Pemerintah O LSM

O Industri O Masyarakat

O Media O Lain-lain

Terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu/Sdr untuk meluangkan waktu mengisi lembar feedback ini.

Mohon agar formulir ini dapat dikirim kepada kami. external Affairs & Sustainable Development PT.Kaltim Prima Coal M2 Building, Mine Site Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur Indonesia Telp. 62 549 52 1451 • Fax. 62 549 52 1701

94

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

95

96

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2009

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->