GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG IMUNISASI TETANUS TOXOID DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KALIWEDI KABUPATEN CIREBON

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada era modern sekarang ini, di dalam dunia kesehatan peran pelayanan kesehatan tentunya sangatlah penting. Salah satu peran penting seorang pelayan kesehatan adalah penanggulangan penyakit menular, Seperti diketahui penyakit menular disebabkan oleh infeksi berbagai organisme maupun mikroorganisme di antaranya bakteri dan virus. Contoh penyakit menular yang disebabkan infeksi bakteri misalnya: difteri, pertusis, tuberkulosis dan tetanus sedangkan yang disebabkan oleh virus misalnya hepatitis, polio, dan campak. Penyakit-penyakit di atas sebetulnya sudah dapat dicegah melalui imunisasi baik imunisasi dasar saat bayi 0-11 bulan maupun imunisasi lanjutan saat anak usia sekolah, ada pula imunisasi yang diberikan pada ibu hamil dan calon pengantin wanita yaitu imunisasi tetanus toxoid. Imunisasi sendiri sebetulnya sudah berlangsung lama, misalnya menurut hikayat Raja Pontus melindungi dirinya dari keracunan makanan dengan cara minum darah itik, sedangkan penggunaan hati anjing gila untuk pengobatan rabies menjadi basis pendekatan pembuatan vaksin rabies. Pembuatan vaksin dapat dikatakan dimulai tahun 1877 oleh Pasteur menggunakan kuman hidup yang dilemahkan yaitu untuk vaksinasi cowpox dan smallpox; pada tahun 1881 mulai dibuat vaksin anthrax dan tahun 1885 dimulai pembuatan vaksin rabies. Sejarah imunisasi di Indonesia dimulai pada tahun 1956 dengan imunisasi cacar; dengan selang waktu yang cukup jauh yaitu pada tahun 1973 mulai dilakukan imunisasi BCG untuk tuberkulosis, disusul Imunisasi tetanus toxoid pada ibu hamil pada tahun 1974. Imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus) pada bayi mulai diadakan pada tahun 1976. Pada tahun 1977 WHO mulai menetapkan program imunisasi sebagai upaya global dengan EPI (Expanded Program on Immunization) dan pada tahun 1981 mulai dilakukan imunisasi polio, tahun 1982 imunisasi campak mulai diberikan, dan tahun 1997 imunisasi hepatitis mulai dilaksanakan. Adapun kegiatan imunisasi yang rutin diadakan adalah : 1. Imunisasi dasar pada bayi umur 0-11 bulan meliputi : BCG (1 kali pemberian), DPT (3 kali), Polio (4 kali), Hepatitis B (3 kali), dan Campak (1 kali). 2. Imunisasi lanjutan pada anak sekolah yaitu imunisasi DT (1 kali) dan TT (2 kali). 3. Imunisasi lanjutan pada ibu hamil dan calon pengantin wanita ialah TT 5 kali pemberian. Penyakit tetanus akibat infeksi bakteri anaerob Clostridium Tetani di tempat luka dan menghasilkan Eksotoksin yang akan menyerang otot sehingga akan terjadi spasmus (kejang) otot. Kuman ini terdapat di usus hewan sehingga penularan terjadi karena kontak daerah luka dengan feses hewan yang mengandung kuman tersebut. Masa inkubasi antara 3 -21 hari kadang-kadang antara 1 hari sampai beberapa bulan. Penyakit ini dapat menyerang bayi baru lahir (tetanus neonatorum) yang biasanya akibat pertolongan persalinan yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip kesehatan. Penyakit ini merupakan masalah kesehatan serius di negara berkembang : pemberian imunisasi toxoid tetanus pada calon pengantin wanita dan pada ibu hamil diharapkan dapat menurunkan kasus ini. Di Indonesia ada kebijakan MNTE (Maternal Neonatal Tetanus Elimination) untuk akselerasi pencapaian imunisasi WUS (wanita usia subur) dalam mengatasi penyakit ini melalui pendekatan golongan resiko tinggi yang diharapkan akan meluas dan memberi efek positif melalui kerja sama terpadu lintas program dan kerjasama antara para profesional, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan swasta. Berdasarkan data yang diperoleh dari bagian rekamedik Puskesmas Kaliwedi Kabupaten Cirebon yang dilakukan dari tanggal 01 Januari – 31 Desember 2009. Cakupan program imunisasi tetanus toxoid di Puskesmas Kaliwedi dengan jumlah ibu hamil sebanyak 834 orang dan ibu hamil yang mengikuti program imunisasi TT1 sebanyak 748 ibu hamil sedangkan yang mengikuti program imunisasi TT2 sebanyak 757 ibu hamil sehingga dapat dilihat prosentasenya dalam tabel sebagai berikut : Tabel 1.1 Cakupan Program Imunisasi Tetanus Toxoid di Puskesmas Kaliwedi Kabupaten Cirebon dari periode Januari – Desember 2009

Rumusan Masalah Dari uraian diatas dapat ditarik rumusan masalah yaitu bagaimana gambaran pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi tetanus toxoid. D. Sehingga dapat diambil suatu kesimpulan sementara adalah masih sebagian besar ibu-ibu hamil belum mengetahui tentang imunisasi tetanus toxoid. 3. Bagi Puskesmas Sebagai informasi dan solusi untuk mengatasi adanya keterkaitan antara pengetahuan ibu hamil atau wanita usia subur tentang pentingnya pemberian imunisasi tetanus toxoid.Jenis Imunisasi Target Cakupan Kesenjangan TT 1 100% 89. Tujuan Umum Tujuan umum penelitian ini adalah supaya ibu-ibu yang sedang hamil dapat mengetahui dan memahami tentang imunisasi tetanus toxoid. Jika di prosentasekan dalam prosentase dari target yang telah direncanakan sebesar 100% maka masih terdapat kesenjangan pada imunisasi TT1 sebesar 10. d. sehingga diharapkan dapat meningkatkan cakupan kunjungan imunisasi tetanus toxoid di wilayah kerja Puskesmas Kaliwedi Kabupaten Cirebon. c. Tujuan Penelitian 1. Bagi Perawat Dengan penelitian ini diharapkan perawat dapat mengetahui pengetahuan ibu hamil atau wanita usia subur tentang pentingnya imunisasi tetanus toxoid sehingga mampu melakukan intervensi dengan memberikan penyuluhan tentang pentingnya imunisasi tetanus toxoid. C. terutama berkaitan dengan tingkat pengetahuan ibu terhadap imunisasi tetanus toxoid.3% dikarenakan kurangnya pengetahuan ibu hamil atau wanita usia subur tentang pentingnya imunisasi tetanus toxoid sehingga masih rentannya ibu atau bayi yang baru lahir terkena penyakit tetanus toxoid. Ibu-ibu hamil dapat memahami tentang pentingnya manfaat imunisasi tetanus toxoid.7% 9. Ibu-ibu hamil dapat mengetahui tentang periode waktu mendapatkan imunisasi tetanus toxoid. e. Dari hasil studi pendahuluan oleh peneliti bahwa ibu hamil berjumlah 10 orang. 2. B. b. Bagi Pendidikan Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan bagi institusi pendidikan sebagai informasi yang dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut. Ibu-ibu hamil dapat memahami tentang efek samping dari Imunisasi tetanus toxoid. Manfaat Penelitian 1.4 % TT 2 100% 90. Tujuan Khusus a.6% 10. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 4 orang diantaranya mengetahui pengertian dan manfaat imunisasi tetanus toxoid. Sedangkan 6 orang lainnya sama sekali tidak mengetahui tentang imunisasi tetanus toxoid. 2.4% dan imunisasi TT2 sebesar 9. Ibu-ibu hamil dapat mengetahui cara mendapatkan pelayanan Imunisasi tetanus toxoid.3 % Sumber : Rekamedik Puskesmas Kaliwedi Menurut data di atas dari cakupan program imunisasi tetanus toxoid di wilayah Puskesmas Kaliwedi dengan jumlah ibu hamil sebanyak 834 orang dan ibu hamil yang mengikuti program imunisasi TT1 sebanyak 748 ibu hamil sedangkan yang mengikuti program imunisasi TT2 sebanyak 757 ibu hamil. Oleh karena itu berdasarkan permasalahan di atas penulis dalam hal ini tertarik mengambil judul “ Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Imunisasi Tetanus Toxoid “. Ibu-ibu hamil dapat mengetahui dan memahami tentang pengertian imunisasi tetanus toxoid.

hlm 23) pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setiap orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek. e. b. Sedangkan menurut Nursalam (2001. menangis. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang suatu objek yang diketahui. dimana pengetahuan akan berpengaruh terhadap kesehatan. 4. Pengetahuan semacam ini diperoleh melalui jalan pendidikan baik formal maupun informal. hlm 44). tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.A. Sintesis (syntesis) . Sehingga yang dimaksud perilaku manusia. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan. hlm 6). e. d. pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan. terhadap berbagai informasi. c. c. (Suparlan. 2. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih di percaya dari yang belum cukup tinggi kedewasannya. 2001. yang boleh jadi merupakan kepastian. Perilaku Menurut Notoatmodjo (2003 : 96) dari segi biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas orgnisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. (Depkes RI. membaca. makin banyak pengetahuan sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui panca indera penglihatan dan pendengaran. d. Definisi 1. Analisis (analisys) Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. termasuk kesehatan. kuliah dan sebagainya. 2004 : 83) pengetahuan berasal dari akal pikiran akan meningkatkan kepercayaan serta memiliki perkiraan dan pendapat. menulis. dan masih berkaitan satu sama lain. Pengalaman Individu sebagai orang yang menerima pengalaman. Inteligensi Inteligensi pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan penyesuaian diri cara-cara pengambilan keputusan (latipon. tetapi masih didalam struktur organisasi. Aplikasi (application) Yaitu suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang dipelajari pada suatu kondisi yang sebenarnya. Pengetahuan yang tercakup dalam kognitif mempunyai enam tingkatan sebagai berikut : a. orang yang melakukan tangggapan atau penghayatan biasanya tidak melepaskan pengalaman yang sedang dialaminya. dan menginterprestasikan materi tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan a. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwa. 3. Pendidikan Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang. b. Umur Semakin cukup umur. Pengertian Pengetahuan Notoatmodjo (2003 : 121) mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. 1999. makin mudah menentukan informasi. Pekerjaan Ibu yang bekerja disektor formal memiliki akses yang lebih baik. Tahu (know) Tahu artinya mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk dalam pengetahuan adalah mengingat kembali apa yang telah dipelajari atau yang telah diterima.

Evaluasi (evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi / penilaian terhadap suatu materi atau objek. Imunisasi adalah suatu upaya yang dilakukan dengan cara memasukkan kuman yang dilemahkan (vaksin ke dalam tubuh dengan tujuan sebagai tameng terhadap virus yang masuk sehingga akan menciptakan kekebalan. 2005). Manfaat Pemberian Imunisasi Tetanus Toxoid. MH memandang sosok ibu sebagai perempuan yang harus dihormati dan dijaga hatinya jangan sampai anak menyakitinya dengan alasan apapun. Sebagai seorang istri Dalam konteks ketiga golongan ini sering terjadi penerapan tentang kodrat sosok bergeser katanya menurut ia. yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang system syaraf pusat (Syaifuddin dkk. Konteks umum pengertian ibu ada tiga golongan : a. Dokter. hlm 38) yaitu : a. 5. . b. Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka (Depkes RI. Imunisasi tetanus toksoid adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya pencegahan terhadap infeki tetanus (Idanati. 8.com/tetanustoxoid/cdk. Tinjauan Teoritis 1. 2000 : 12). 2005 : 5). c. dapat berupa tiroid dan rekayasa genetika (rekombinasi) (Depkes RI. pergeseran tersebut akibat beberapa faktor yakni karena timbulnya asa emansipasi sosial budaya dan spiritual agama. Sasaran imunisasi adalah termasuk ibu hamil dan bayi (berusia kurang 1 bulan). f. baik lisan maupun tulisan. 1992. penilaian didasarkan pada kriteria yang telah ditentukan. dll) untuk menyelamatkan anaknya yang sakit. Pengukuran Tingkat Pengetahuan Pengukuran kemampuan dapat diketahui dengan cara orang yang bersangkutan mengungkapkan apa-apa yang diketahuinya dalam bentuk bukti atau jawaban. Vaksin adalah antigen yaitu dapat berupa bibit penyakit yang sudah dilumpuhkan atau dimatikan (bakteri. b. Arti Ibu Praktisi hukum yang juga Presiden LSM perjuangan hukum politik (PHS) HMK Aldian Pinem. 2001 : 78). SH. Ibu sebagai orang yang telah melahirkan b. Tetanus Neorotum adalah penyakit tetanus yang sering terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang dari 1 bulan) yang disebabkan oleh Clostridium tetani. Imunisasi adalah antigen untuk memicu imunitas (Cristine Hancock. 2004). Rumah Sakit. 7. Melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neorotum (BKKBN. Sebagai orang yang berkarya / berkarir c. hlm 63). diberikan kepada balita atau ibu hamil untuk mencegah penyakit PD3I (Penyakit Dapat Dicegah Dengan Imunisasi). Pengertian Imunisasi Tetanus Toxoid. 1999 : 226). 2006. Imunisasi atau vaksinasi merupakan prinsipprinsip imunolog yang paling dan terkenal berhasil terhadap kesehatan manusia.kalbefarma. 2005 : 61). Ibu (pendidikan Ibu) Gadwel mengungkapkan teori bagaimana pendidikan ibu mempengaruhi tingkat kesehatan keluarga (Kartono Muhammad. Sedangkan Ibu hamil adalah ibu yang mengandung mulai trimester I sampai dengan trimester III (Dinkes Jateng. virus atau riketsia). a. Tidak dibenarkan untuk menciptakan suatu perbuatan yang dapat menggores hati ibunya.html). Pendidikan mengurangi sifat fatalistik (pasrah kepada masalah ketika anak sakit). Vaksin tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang dilemahkan dan kemudian dimurnikan (Setiawan dkk. Pendidikan ibu meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan dan sarana kesehatan yang ada (Puskesmas.Kemampuan untuk meletakkan / menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu kesuluruhan yang baru / kemampuan merumuskan formulasi baru dari yang sudah ada. 2. Pendidikan mengubah perkembangan dalam menjaga kesehatan keluarga dari sifat yang tradisional yang mengutamakan pada kepentingan suami atau mertua kepada sikap yang sudah lebih seimbang terhadap kepentingan anak-anaknya. B. bukti atau jawaban tersebut merupakan suatu reaksi dari satu stimulus yang dapat berupa pertanyaan baik lisan maupun tulisan. Penyakit tetanus adalah penyakit yang diakibatkan oleh infeksi bakteri anaerob Clostridium Tetani di tempat luka dan menghasilkan Eksotoksin yang akan menyerang otot sehingga akan terjadi spasmus (kejang) otot (http://www. 6.

karena interval yang panjang akan mempertinggi respon imunologik dan diperoleh cukup waktu untuk menyeberangkan antibodi tetanus dalam jumlah yan cukup dari tubuh ibu hamil ke tubuh bayinya. Seperti difteri. 2000 : 10). TT1 dapat diberikan sejak diketahui positif hamil dimana biasanya pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan (Depkes RI. Jarak pemberian TT pertama dan kedua. masuk dan menyebar melalui aliran darah janin ke seluruh tubuh janin.1 Pemberian Imunisasi TT dan Lamanya Perlindungan Dosis Saat Pemberian Perlindungan (%) Lama Perlindungan TT1 TT2 TT3 TT4 TT5 Pada kunjungan pertama atau sedini mungkin pada kehamilan Minimal 4 minggu setelah TT1 Minimal 6 bulan setelah TT2 atau selama kehamilan berikutnya Minimal setahun setelah TT3 atau selama kehamilan berikutnya Minimal setahun setelah TT4 atau selama kehamilan berikutnya 0 . Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap (BKKBN. Sedangkan menurut Depkes RI (2000 : 12) pemberian (interval) imunisasi TT1 dengan TT2 adalah minimal 4 minggu. serta jarak antara TT kedua dengan saat kelahiran. yang akan mencegah terjadinya tetanus neonatorum. Kekebalan terhadap tetanus hanya dapat diperoleh melalui imunisasi TT. Umur kehamilan untuk mendapatkan imunisasi TT dan interval pemberian vaksin. Imunisasi TT pada ibu hamil diberikan 2 kali (2 dosis). Pada ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT tidak didapatkan perbedaan resiko cacat bawaan ataupun abortus dengan mereka yang tidak mendapatkan imunisasi . sangat menentukan kadar antibodi tetanus dalam darah bayi. 3. Tabel 2. Semakin lama interval antara pemberian TT pertama dan kedua serta antara TT kedua dengan kelahiran bayi maka kadar antibodi tetanus dalam darah bayi akan semakin tinggi. 2005 : 21). 2004 : 11). Ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT dalam tubuhnya akan membentuk antibodi tetanus. Imunisasi tetanus toxoid mempunyai antigen yang juga aman untuk ibu hamil dan tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT . antibodi tetanus termasuk dalam golongan Ig G yang mudah melewati sawar plasenta.Kedua manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonarotum (Depkes RI.

Posyandu. Antibodi ini biasanya dibuat di dalam kuda. dan sebagainya. virus hepatitis B. Polindes. Imunisasi Pasif Imunisasi pasif perlu diberikan pada kondisi-kondisi tertentu. 2000 : 8). Lebih dari 1000 donor digunakan untuk setiap kumpulan (pool). kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntik (Depkes RI. Bidan Praktik. toksin dalam sirkulasi perlu dinetralisasi dengan antibodi terhadap tokin tersebut. Serum yang digunakan harus diskrin terhadap HIV (human immunodeficiency virus). penggunaan antibodi monoclonal yang dihasilkan melalui kultur Sel atau rekayasa protein mungkin dapat menggantikan metode tradisional ini. di masa mendatang. Kumpulan imunoglobin manusia yang mengandung cukup antibodi terhadap infeksi-infeksi yang umum didapat dengan dosis 100-400 mg IgG dapat melindungi penderita hipogamaglobulinemia selama sebulan. Efek samping Imunisasi TT dan tempat pelayanan untuk mendapatkan imunisasi TT. Menurut Depkes RI (2004 : 6) ibu hamil mendapatkan imunisasi TT di tempat-tempat pelayanan milik pemerintah seperti : Puskesmas.80 % 95% 99% 99% Tidak ada 3 Tahun 5 Tahun 10 Tahun Selama usia subur (Sumber : http://www. botulism. tetapi kadang-kadang juga bisa diperoleh dari penderita yang baru sembuh.kalbefarma. dan rabies. pascapajanan terhadap hepatitis B. Biasanya hanya gejala-gejala ringan seperti nyeri. . Rumah Sakit. Antibodi dari luar perlu diberikan bila penderita belum pernah diimunisasi sehingga tidak dapat diharapkan timbul respons sekunder terhadap toksin ini.html) 4. Puskesmas Pembantu. Sedangkan menurut Saifuddin dkk (2001 : 13) imunisasi tetanus toxoid mempunyai antigen yang juga aman untuk wanita hamil dan tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT. Rumah Sakit Swasta. Antibodi diberikan pada kasus-kasus gas gangrene. Antibodi juga diberikan pada penderita varisela-zoster dengan imunodefisiensi. Pada difteria atau tetanus.com/cdk/imunisasi/tetanustoxoid. gigitan ular atau kalajengking berbisa. misalnya neonatus. dan C. Dokter Praktik. 5. Rumah Bersalin.

Efektivitas semua vaksin ditinjau kembali secara terusmenerus. Bila jenis infeksi tidak jelas. seperti pada malaria. kadang-kadang dikombinasikan dengan organisme utuh yang mati. lebih sulit pula dibuat vaksin yang efektif utnuk penyakit tersebut. pes. Banyak faktor yang mempengaruhi efektivitas vaksin. meningokokus. Antigen Yang Digunakan Sebagai Vaksin Tipe antigen yang digunakan pada vaksin bergantung pada berbagai faktor.2 Preparat antigenic yang digunakan sebagai vaksin Jenis Antigen Contoh Vaksin Organisme Hidup Alamiah Vaksin untuk cacar Dilemahkan Vaksin polio oral (Sabin). campak. kecuali pada penyakit yang disebabkan oleh toksin. Vaksin yang efektif harus memiliki hal-hal seperti : 1) Merangsang timbulnya imunitas yang tepat : antibodi untuk toksin dan organisme ekstraseluler seperti Streptococcus pneumonie . Toksoid tetanus ternyata mempunyai peran lain yang berguna. Fragmen subseluler Kapsul polisakarida Pneumokokus. varisela-zoster (human herpes virus 3). yang mana antigen cukup dibuat dari toksin saja. Vaksin yang didasarkan pada toksin adalah sebagai berikut : 1) Toksoid difteri yang dinonaktifkan dengan formalin dan sering diberikan secara kombinasi dalam alum-precipited. Organisme utuh Virus Polio (Salk). Prinsip pembuatannya dapat diterapkan untuk beberapa infeksi yang lain. 4) Toksoid Clostridium perfringens. tifus (bukan demam tifoid) Bakteri Pertusis. demam tifoid. a. Vaksin ini dibuat dari Eksotosin yng dinonaktifkan. b. imunitas seluler untuk organisme intraseluler seperti basil tuberkolosis. hepatitis A. atau memerlukan rantai pendingin (cold chain) yang sempurna dari pabrik ke klinik. kolera. Antigen mikroba juga dapat diekspresikan pada sel lain yang berfungsi sebagai vektor. Vaksin a. Pada umumnya. rabies. Vaksin yang akan digunakan harus betul-betul efektif. Haemophilus influenza Antigen permukaan Hepatitis B Toksoid Tetanus difteria Berbasis rekombinasi DNA Ekspresi klon gen Hepatitis B (dari ragi) 7. Hal ini tidak selalu . influenza. Tabel 2.6. rubella. Organisme cenderung lebih efektif organisme mati. Efektifitas Vaksin. yang dinonaktifkan dengan formalin untuk anak kambing baru lahir (belum ada manusia). makin banyak antigen mikroba yang dipertahankan dalam vaksin makin baik. Toksoid Tetanus Dapat Digunakan Sebagai “ Pembawa (Carier) “ untuk vaksin lain. demam kuning 17D. yaitu sebagai “ pembawa “ vaksin peptide kecil yang kalau sendirin tidak imunogenik. 2) Toksoid tetanus yang dinonaktifkan dengan formalin dan sering diberikan secara kombinasi dalam alumprecipited. BCG (untuk tuberkolosis). Yang paling berhasil dari semua vaksin bakteri adalah vaksin tetanus dan difteri. 3) Toksin subunit B dari Vibrio cholerea. Cara ini dapat dilakukan karena kebanyakan orang telah divaksinasi terhadap tetanus sehingga mempunyai sel T memori yang mengenali toksin. 2) Stabil dalam penyimpanan : hal ini sangat penting untuk vaksin hidup yang biasanya perlu disimpan di tempat dingin. parotitis. Toksoid Merupakan Vaksin Bakteri yang paling berhasil.

Pasien dapat hipersensitif terhadap protein kontaminan. 4) Bentuk-bentuk kehidupan di alam bebas dan hospes binatang : basil tetanus dapat hidup untuk waktu yang cukup lama di alam bebas karena bakteri tersebut membentuk spora. Semua antigen EPI (Expended Programme on Imunization) aman dan efektif untuk diberikan bersamaan. dosis pertama vaksin DPT dan Polio serta Hepatitis B. ataukah (2) vaksin hanya mampu mengurangi beratnya penyakit tanpa dapat sepenuhnya melindungi dari penyakit. vaksin hidup harus diberikan dengan jarak minimum 4 minggu (misalnya vaksin campak dan polio) untuk menghindari terjadinya entereferensi efek. Beberapa komplikasi yang serius dapat berasal dari vaksin atau dari pasien. terutama di Asia. namun. Keamanan Vaksin. vaksin-vaksin tersebut tidak boleh dicampur dalam satu spuit karena dapat menurunkan efektivitas masing-masing vaksin. Bila tidak diberikan pada hari yang sama. Beberapa vaksin (DPT. beberapa vaksin dapat diberikan bersamaan dalam satu kali kunjungan. zat pembawa. bila anak terlambat datang untuk imunisasi berikutnya. Vaksin dapat terkontaminasi oleh protein atau toksin yang tidak diinginkan atau bahkan oleh virus hidup. c. 1) Interval pemberian vaksin yang sama. Namun. Efektivitas imunisasi pertusis hanya sekitar 70%. Keamanan vaksin sangat penting untuk diperhatikn karena vaksin diberikan kepada orang yang tidak sakit. agak sulit mengharapkan eradikasi beberapa penyakit karena beberapa alasan berikut ini : 1) Status pengidap (carier state) : eradikasi hepatitis B tidak akan mudah karena memerlukan pemutusan rantai pengidap. tempat hepatitis B banyak ditransmisikan secara vertical (dari ibu ke bayi). Vaksin polio. parotitis. Pengaruh Imunisasi pada Epidemiologi Penyakit Pengaruh imunisasi pada epidemiologi penyakit dipengaruhi oleh apakah (1) vaksin dapat melindungi manusia dari infeksi. atau menghambat . tidak diperlukan dosis tambahan. 8. Oleh karena itu. Sistem imun pasien dapat terganggu (immunocompromised) sehingga vaksin hidup merupakan kontradikasi. 3) Mempunyai imunogenetas yang cukup : imunogenitas vaksin bahan mati sering perlu dinaikkan dengan ajuvan. Memperpanjang interval pemberian dapat meningkatkan respons antibodi. Keberhasilan Vaksin. campak. Vaksin yang hanya perlu dapat mengurangi beratnya penyakti. anak berumur 1 tahun yang belum pernah diimunisasi bisa sekaligus mendapatkan imunisasi BCG. segera berikan imunisasi tersebut pada kesempatan pertama kontak dengan petugas kesehatan kemudian lanjutkan imunisasi berikutnya seperti biasa. Polio. b. TT. 3) Efek samping : vaksin pertusis dicurigai mempunyai efek samping sehingga mengurangi kesedian masyarakat untuk divaksinasi. Vaksin bahan mati belum betul-betul mati atau vaksin mikroba hidup yang dilemahkan dapat hidup kembali ke tipe liarnya. seperti vaksin pertusis dan BCG. dan rubella juga menunjukkan keberhasilan yang sangat menakjubkan sehingga keempat penyakit tersebut diharapkan dapat dieradikasi dari muka bumi pada awal abad ke-21 ini. Campak. 2) Pemberian lebih dari satu macam vaksin secara bersamaan. Imunisasi cacar telah berhasil mengeradikasi penyakit cacar di dunia. Misalnya. Harus dihindari pemberian vaksin yang sama dengan interval kurang dari 4 minggu karena akan mengurangi respons antibodi. Untuk mengurangi jumlah kontak yang diperlukan dalam menyelesaikan seluruh seri imunisasi. 2) Efektivitas suboptimal : efektivitas BCG sangat bervariasi. dan Hepatitis B) harus diberikan lebih dari satu dosis untuk mendapatkan respons antibodi yang adekuat. DT.mudah dicapai. Vaksin yang telah digunakan secara luas ternyata mempunyai angka keberhasilan yang sangat bervariasi. Dalam satu kunjungan anak bisa mendapatkan beberapa jenis imunisasi yang disuntikan pada tempat yang berbeda. Demam kuning juga akan sulit diberantas arena mempunyai hospes binatang sebagai reservoir. tetapi lebih penting untuk segera menyelesaikan imunisasi dasar bagi anak segera terlindungi dari penyakit daripada berusaha mendapatkan respons imun yang maksimal. Interval pemberian yang lebih panjang daripada yang disarankan tidak akan mengurangi kadar antibodi akhir. terutama karena peningkatan insidens tuberkolosis akibat peningkatan jumlah penderita AIDS (Acquired Imummunodeficiency Syndrome) akhir-akhir ini. dan sebagainya.

Sampel Sampel menurut Sugiyono (2006 : 56) adalah “sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. yang akan dilaksanakan dalam bulan April 2010. Sedangkan Sampel yang dipilih dalam penelitian ini menggunakan probability sampling yaitu setiap subyek dalam populasi mempunyai kesempatan untuk terpilih atau tidak terpilih sebagai sampel (Nursalam. rubella. Hard immunity menyangkut efek tidak langsung vaksin. Kedua efek tersebut berhubungan dengan hard immunity yang ditimbulkannya. Jenis Penelitian dan Pendekatan Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau fenomena yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Arikunto.1. a. parotitis. 1999). Besarnya populasi yang diambil adalah 834 orang dengan derajat kepercayaan atau ketetapan adalah 0. Populasi Menurut Sugiyono (2007:55) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari”. Waktu Penelitian Peneltian mengenai gambaran pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi tetanus toxoid di wilayah kerja Puskesmas Kaliwedi. transmisi agen infeksi akan berkurang sehingga menurunkan resiko terpejannya individu (termasuk orang yang tidak diimunisasi) pada agen infeksi. . mempunyai dua efek penting pada epidemilogi penyakit. penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan untuk membuat gambaran atau deskriftif tentang suatu keadaan secara objektif. tidak dapat menimbulkan imunitas komunitas (hard immunity). 2003). Maka setelah dilakukan perhitungan batas minimum sampel yang diperlukan dalam penelitian adalah 89 orang. Dibulatkan menjadi 89 orang sebagai sampel Keterangan : n = Besarnya Sampel N = Besarnya Populasi d = Presisi atau Tingkat Kepercayaan (0. Dalam hal ini peneliti ingin memperoleh gambaran pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi tetanus toxoid di wilayah kerja Puskesmas Kaliwedi Kabupaten Cirebon. Pemilihan sampel dilakukan dengan cara acak dengan dadu atau dengan menulis nama dikertas lalu diambil secara acak. B. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kaliwedi Kabupaten Cirebon.1) (Nursalam. 1. yaitu apabila sebagian besar komunitas diimunisasi. Cenderung terjadi wabah setelah beberapatahun bebas penyakit. Dalam Penelitian ini populasinya adalah seluruh ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kaliwedi Kabupaten Cirebon. seperti vaksin. Berdasarkan dari bagian rekamedik Pukesmas Kaliwedi Kabupaten Cirebon dari bulan Januari sampai dengan Desember 2009 ibu hamil saat ini tercatat adalah 834 orang jadi populasinya menjadi sebanyak 834 orang. Vaksin yang dapat melindungi dari infeksi.”. 2003) Pada penelitian ini menggunakan Simple Random Sampling. dan poliomyelitis.munculnya gejala penyakit. Populasi dan Sampling 1. campak. D. C. seperti toksodi tetanus. Imunisasi mengubah distribusi relative umur kasus dan terjadi pergeseran ke umur yang lebih tua. Kerangka Penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. C. Menurut Notoatmojo (2002). b.

. Cara Pengumpulan Data Alat yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang berstruktur dimana dalam setiap nomor pertanyaan diberikan kemungkinan jawaban untuk dipilih sesuai dengan pendapatnya paling tepat dan benar kuesioner dibagikan berisi 15 pertanyaan tertutup dengan jawaban pilihan ganda. mengelompokkan kemudian melakukan koding berdasarkan variable yang diteliti setelah itu dilakukan tabulasi data. H. yaitu mengelompokkan data menggunakan tabel distribusi frekuensi yang dihitung dengan prosentase. yaitu dilakukan validasi (mengontrol kebenaran dalam mengisi kuesioner) editing (memilih dan memilah).Selama melakukan penelitian ini peneliti telah menggunakan objek berupa responden yang akan dijadikan bahan penelitian. Informed Concent Lembar persetujuan penelitian diberikan kepada responden. E. Rencana Analisa Data Data yang terkumpul. langkah ini dimaksudkan untuk pemilihan data yang akurat dan representative yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya. diolah secara manual. Oleh karena itu perlu diolah untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Lembar tersebut hanya diberikan nomer kode tertentu. selanjutnya dilakukan pengolahan data : 1. jika menolak untuk diteliti. Untuk mengetahui prosentase tingkat pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi tetanus toxoid. 3. pengolahan data dilakukan dengan cara menghitung data yang ada dengan menggunakan rumus prosentase sebagai berikut : Keterangan : P = Prosentase f = Frekuensi jawaban benar n = Jumlah pertanyaan I. Tabulasi data (entry data). Confidentiality Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti. yaitu data yang dikelompokkan akan disusun dalam tabel sehingga data yang belum jadi bisa dianalisa. peneliti mengajukan permohonan ijin kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon dan Kepala Puskesmas Kaliwedi Kabupaten Cirebon untuk mendapatkan persetujuan dalam melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Kaliwedi Kabupaten Cirebon. Kemudian angket penelitian dikirimkan kepada responden yang diteiti dengan menekankan pada masalah etika yang meliputi : 1. maka peneliti tidak akan memaksa dan menghormati haknya. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah berupa test (daftar soal) agar hasil dalam penelitian ini valid dan realiabel maka perlu dilakukan uji coba. Cara Pengolahan Data Data yang diperoleh merupakan data yang mentah atau data belum jadi sehingga belum memberikan gambaran yang diharapkan. Tujuannya adalah responden mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang diteliti selama pengumpulan data. F. Mengelompokkan data (coding). 2. peneliti tidak akan mencantumkan nama responden. Jika responden bersedia diteliti. G. 2. Menyeleksi data (editing). Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian. maka harus menandatangani dilembar persetujuan. 3. Anonimity Untuk menjaga kerahasiaan responden.

Ibu hamil adalah ibu yang mengandung mulai trimester I s/d trismester III (Dinkes Jateng. Pengertian Imunisasi Tetanus Toksoid adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus (Idanati. 2000). Rumah bersalin e. Jumlah dan dosis pemberian imunisasi TT untuk ibu hamil Imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali (BKKBN. Saifuddin dkk. 2000). Melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neonatorum (BKKBN. 2001). Efek samping imunisasi TT Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri. Bidan praktik (Depkes RI.1. dan i. 2005). 2004) 1. Efek samping tersebut berlangsung 1-2 hari. Depkes RI. Manfaat imunisasi TT ibu hamil a. 2005).5 cc di injeksikan intramuskuler/subkutan dalam (Depkes RI. 2005. Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani. Dokter praktik. Polindes f. Chin. . TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk wanita hamil. Puskesmas pembantu c. ini akan sembuh sendiri dan tidak perlukan tindakan/pengobatan (Depkes RI. Rumah sakit d. 2001). 2004). Umur kehamilan mendapat imunisasi TT Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap (BKKBN. 2000). Rumah sakit swasta h. dengan dosis 0. 2000). Tempat-tempat pelayanan milik pemerintah imunisasi diberikan dengan gratis. 2000) 1. 2006). 2005) 1. 2000) Kedua manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonatorum (Depkes. 2001. Posyandu g. Jarak pemberian imunisasi TT1 dan TT2 Jarak pemberian (interval) imunisasi TT1 dengan TT2 adalah minimal 4 minggu (Saifuddin dkk. 1. b. yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistim saraf pusat (Saifuddin dkk. TT1 dapat diberikan sejak di ketahui postif hamil dimana biasanya di berikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan (Depkes RI. 2000). Tempat pelayanan untuk mendapatkan imunisasi TT a. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT (Saifuddin dkk. Puskesmas b. Vaksin Tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan (Setiawan. Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka (Depkes RI. 1. 2005. 1. 2001). kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan (Depkes RI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful