P. 1
hujan

hujan

|Views: 58|Likes:
Published by Komang Tri

More info:

Published by: Komang Tri on Mar 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/09/2012

pdf

text

original

Pengelolaan air perlu disesuaikan dengan sumber daya fisik alam (tanah, iklim, sumber air) dan biologi

dengan memanfaatkan berbagai disiplin ilmu untuk membawa air ke perakaran tanaman sehingga mampu meningkatkan produksi (Nobe and Sampath 1986). Sasaran dari pengelolaan air adalah tercapainya empat tujuan pokok, yaitu: (1) efisiensi penggunaan air dan produksi tanaman yang tinggi, (2) efisiensi biaya penggunaan air, (3) pemerataan penggunaan air atas dasar sifat keberadaan air yang selalu ada tapi terbatas dan tidak menentu kejadian serta jumlahnya, dan (4) tercapainya keberlanjutan sistem penggunaan sumber daya air yang hemat ramah lingkungan.

KETERSEDIAAN HUJAN WILAYAH
Pemahaman yang mendalam tentang sifat hujan wilayah sangat diperlukan agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Pada saat terjadi hujan, air yang jatuh tidak semuanya dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Hujan yang jatuh hanya sebagian yang terserap tanaman yang disebut curah hujan efektif, dan sisanya terbuang dalam bentuk penguapan, perkolasi atau melimpas. Nilai curah hujan efektif dapat diketahui dengan

persamaan FAO/AGLW: Pe = 0,6 Ptotal 10, untuk CH < 70 mm Pe = 0,8 Ptotal 25, untuk CH > 70 mm Keterangan :Pe = curah hujan efektif Ptotal = total curah hujan Nilai curah hujan efektif pada beberapa lokasi di Indonesia yang dihitung dengan menggunakan metode FAO/AGLW disajikan pada Gambar 1. Nilai seri curah hujan pada lima wilayah Indonesia dijadikan dasar dalam penentuan jadwal tanam dan pola tanam dengan tingkat risiko gagal panen akibat kekurangan air seminimal mungkin.

MENGHITUNG CURAH HUJAN (CH) RATA-RATA
Data jumlah curah hujan (CH) rata -rata untuk suatu daerah tangkapan air (catchment area) atau daerah aliran sungai (DAS) merupakan informasi yang sangat diperlukan oleh pakar bidanghidrologi. Dalam bidang pertanian data CH sangat berguna, misalnya untuk pengaturan air irigasi , mengetahui neraca air lahan, mengetahui besarnya aliran permukaan (run off). Untuk dapat mewakili besarnya CH di suatu wilayah/daerah diperlukan .

penakar CH dalam jumlah yang c ukup. Semakin banyak penakar dipasang dilapangan diharapkan dapat diketahui besarnya rata -rata CH yang menunjukkan besarnya CH yang terjadi di daerah tersebut. Disamping itu juga diketahui variasi CH di suatu titik pengamatan Menurut (Hutchinson, 1970 ; Browning, 1987 dalam Asdak C. 1995) Ketelitian hasil pengukuran CH tegantung pada variabilitas spasial CH, maksudnya diperlukan semakin banyak lagi penakar CH bila kita mengukur CH di suatu daerah yang variasi curah hujannya besar. Ketelitian akan semakin meningkat dengan semakin banyak penakar yang dipasang, tetapi memerlukanbiaya mahal dan juga memerlukan banyak waktu dan tenaga dalam pencatatannya di lapangan.

PRAKTIKUM
Media yang digunakan 1. Kalkulator atau 2. Komputer dengan program Sofware MS Excel Tujuan Praktikum 1. Menghitung curah hujan dengan metode Rata rata aritmatik. 2. Menghitung curah hujan dengan Teknik poligon (Thiessen polygon). 3. Menghitung curah hujan dengan Teknik Isohet (Isohyetal).

1. Cara rata-rata aritmatik
Cara rata-rata aritamatik adalah cara yang paling mudah diantara cara lainnya (poligon dan isohet). Digunakan khususnya untuk daerah seragam dengan variasi CH kecil. Cara ini dilakukan dengan mengukur serempak untuk lama waktu tertentu dari semua alat penakar dan dijumlahkan seluruhnya. Kemudian hasil penjumlahannya dibagi dengan jumlah penakar hujan maka akan dihasilkan rata-rata curah hujan di daerah tersebut. Secara matimatik ditulis persamaan sbb: Rata-rata CH = ( Ri)/n

Dimana Ri = Besarnya CH pada Stasiun ke-I n = Jumlah penakar (stasiun) Cth perhitungan: Untuk mengukur rata-rata curah hujan yang Mewakili suatu daerah X diperlukan 4 penakar hujan yaitu pada stasiun A, B, C dan D. Tercatat selama waktu tertentu di stasiun A sebesar 60 mm, di B (100 mm), di C (80 mm) dan di D (110 mm). Maka : Rata-rata CH = (60+100+80+110)/4 = 80,75 mm

2. Cara Poligon (Thiessen polygon)

Cara ini untuk daerah yang tidak seragam dan variasi CH besar. Menurut Shaw (1985) cara ini tidak cocok untuk daerah bergunung dengan intensitas CH tinggi. Cara penentuannya dilakukan dengan membagi suatu wilayah (luasnya A) ke dalam beberapa daerah-daerah membentuk poligon (luas masing-masing daerah ai), seperti pada gambar berikut :

a1 a2

a3 a4

A

Gambar 1. Daerah-daerah poligon (a1, a2, a3, a4) yang dibatasi oleh garis putus-putus pada Wilayah A.

Tabel 1. Perhitungan prosentasi luas daerah (a i)pada suatu wilayah A (10.000 ha) Daerah Daerah Luas daerah a1 Luas daerah Tetapan Prosentase a1 (ha) (ha) Thiessen Luas a1 a1 a2 a2 a3 a3 a4 a4 Jumlah Jumlah 1.000 1.000 3.000 3.000 1.500 1.500 4.500 4.500 10.000 10.000 0.10 0.30 0.15 0.45 100 10% 30% 15% 45% 100

Tetapan Thiessen = ratio luas a/luas A Untuk menghitung Curah Hujan ra ta-rata cara poligon menggunakan persamaan :

Rata-rata CH = R1(a1/A)+R2(a2/A)+R3(a3/A)+R4(a4/A) R = Jumlah CH pada stasiun didaerah a Tabel 2. Perhitungan Curah Hujan rata -rata cara poligon di suatu Wilayah A Daerah Kedalaman CH yg terukur (cm) 6 10 8 11 Ratio ai/A Volume CH (cm) daerah a 0.60 3.00 1.20 4.95 9.75

a1 a2 a3 a4

0.10 0.30 0.15 0.45

Curah Hujan Rata-rata Wilayah A

3. Cara Isohet (Isohyetal)
Cara ini dipandang paling baik, tetapi bersifat subyektif dan tergantung pada keahlian, pengalaman, pengetahuan pemakai terhadap sifat curah hujan pada daerah setempat. Isohet adalah garis pada peta yang menunjukkan tempat -tempat dengan curah hujan yang sama (Gambar 2). Cara ini memperhitungkan faktor topografi dan arah datangnya angin/hujan. Karena itu cara ini digunakan apabila daerahnya heterogen, misalnya suatu DAS dengan keadaan topografi beragam

I1 (7 cm)

I3 (5.5 cm)

I4 (4.5 cm)

I2 (6.5 cm)

I5 (4 cm)

Gambar 3. Garis-garis besarnya curah hujan pada masing-masing Isohet (I).

Dalam metode isohet ini Wilayah dibagi dalam daerah daerah yang masing-masing dibatasi oleh dua garis isohet yang berdekatan, misalnya Isohet 1 dan 2 atau (I1 I2). Oleh karena itu, dalam Gambar 2, curah hujan rata rata untuk daerah I1 I2 adalah (7 cm + 6,5 cm)/2 = 6,75 cm. Untuk menghitung luas darah ( I1 I2) dalam suatu peta kita bisa menggunakan Planimeter. Sercara sederhana bisa juga menggunakan kertas milimeter block dengan cara menghitung kotak yang masu k dalam batas daerah yang diukur.

Tabel 3. Perhitungan Curah Hujan rata rata cara Isohet pada wilayah A
Daerah antara dua isohet Curah Hujan antara dua isoet (cm) 6.75 6.00 5.00 4.25 Prosentase antara dua isohet *) 40% 20% 25% 15% Volume CH (Cm)

I1 I2 I2 I3 I3 I4 I4 I5

2.700 1200 1250 0.638 5.788

Curah Hujan rata-rata wilayah A

*) Terhadap luas wilayah A

Metode isohet berguna terutama untuk mempelajari p engaruh hujan terhadap perilaku aliran air sungai terutama untuk daerah dengan tipe curah hujan orografik (daerah pegunungan).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->