P. 1
Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja

|Views: 781|Likes:
Published by septiasari_etty

More info:

Published by: septiasari_etty on Mar 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2012

pdf

text

original

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

I. PENDAHULUAN
Tujuan dari pembangunan yang dilakukan secara terencana adalah untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tetapi dampak negatif dari pembangunan yang dilaksanakan tidak jarang merusak lingkungan hidup. Badan lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat adalah salah satu SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang bergerak dalam pengelolaan lingkungan hidup. Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat (BLHD Prov. Kalbar) dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 10 tahun 2008 tentang Susunan Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Kalimantan Barat, dan telah ditetapkan BLHD Provinsi Kalimantan Barat sebagai salah satu teknis daerah yang diserahi tugas di bidang lingkungan hidup. Sebagai tindak lanjut dari peraturan daerah tersebut, ditetapkan Peraturan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 60 Tahun 2008 tanggal 10 November 2008 tentang Tugas pokok, Fungsi dan Tata Kerja Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat ( Berita Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2008 Nomor 60). Berdasarkan Peraturan Gubernur tersebut, Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat adalah unsur pelaksana pemerintah dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Adapun struktur organisasi Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat yang sesuai Peraturan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 60 Tahun 2008, terdiri atas :

Page 1

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

STRUKTUR ORGANISASI BADAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH (BLHD) PROVINSI KALIMANTAN BARAT
KEPALA BADAN

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
SUBBAG RENCANA KERJA DAN MONEV

SEKRETARIAT

SUBBAG UMUM DAN APARATUR

SUBBAG KEUANGAN DAN ASSET

BIDANG DAMPAK DAN PENAATAN HUKUM LINGKUNGAN KASUBBID KAJIAN DAMPAK LINGKUNGAN KASUBBID PERUNDANGUNDANGAN DAN PENAATAN HUKUM

BIDANG PENGENDALIAN DAN KONSERVASI DAN SDA SUBBID PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN SUBBID KONSERVASI SDA LINGKUNGAN

BIDANG KERJA SAMA DAN PENGEMBANGAN KAPASITAS SUBBID KERJASAMA DAN LITBANG SUBBID PENGEMBANGAN KAPASITAS KELEMBAGAAN DAN SDM

Gambar 1. Struktur Organisasi BLHD Prov. Kalbar Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik di bidang lingkungan daerah , melaksanakan tugas dekonsentrasi dan tugas lainnya yang diserahkan oleh Gubernur sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Adapun fungsi dari Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat adalah 1. Perumusan kebijakan teknis di bidang dampak dan Penaatan Hukum Lingkungan Hidup, pengendalian dan konservasi sumber daya alam, kerjasama dan pengembangan kapasitas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 2. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang dampak dan Penaatan Hukum Lingkungan Hidup, pengendalian dan konservasi sumber daya alam, kerjasama dan pengembangan kapasitas sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

Page 2

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

3. Penyelenggara urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang dampak dan Penaatan Hukum Lingkungan Hidup, pengendalian dan konservasi sumber daya alam, kerja sama dan pengembangan kapasitas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 4. Pelaksanaan tugas di bidang dampak dan penaatan hokum lingkungan hidup, pengendalian dan konservasi sumber daya alam, kerjasama dan pengembangan kapasitas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 5. Penyelenggaraan monitoring, evaluasi dan pelaksanaan tugas di bidang dampak dan Penaatan Hukum Lingkungan Hidup, pengendalian dan konservasi sumberdaya alam, kerjasama dan pengembangan kapasitas pada Kabupaten/Kota sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 6. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas dan fungsi dampak dan Penaatan Hukum Lingkungan Hidup, pengendalian dan konservasi sumber daya alam, kerjasama dan pengembangan kapasitas pada Kabupaten/Kota sesuai dengan peraturan perundang-undangan berlaku; 7. Pengelolaan administrasi kepegawaian, keuangan dan asset di lingkungan Badan Lingkungan Hidup Daerah; 8. Pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas lainnya di bidang dampak dan Penaatan Hukum Lingkungan Hidup, pengendalian dan konservasi sumber daya alam, kerjasama dan pengembangan kapasitas yang diserahkan oleh Gubernur. Kalbar dengan luas 146.807 km2 (14, 86 juta hektar) memiliki luas hamparan gambut 1,7 juta hektar dengan luas kawasan hutan yang ditetapkan oleh pemerintah 9 juta hektar dan memiliki 27 wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS). Ada beberapa permasalahan lingkungan di Kalimantan Barat yang memerlukan penanganan secara terpadu dan melibatkan berbagai sektor, seperti sektor pertanian, pertambangan, industri, kehutanan dan lainnya. Berbagai sektor tersebut secara langsung dan tidak langsung juga berkontribusi terhadap terhadap timbulnya pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Page 3

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Permasalahan lingkungan yang terjadi di Kalimantan Barat umumnya juga terjadi di seluruh wilayah provinsi di Indonesia seperti eksploitasi kayu legal dan illegal, kegiatan tambang legal dan illegal, aktivitas perkebunan monokultur skala besar yang mengkonversi tegakan hutan alam dan gambut. Konversi hutan untuk perkebunan sawit skala besar di Kalimantan Barat masih menjadi masalah utama di tahun 2011 dan merupakan penyebab hilangnya tegakan hutan dan konflik lahan dengan masyarakat. Isu tambang juga menjadi masalah yang selalu dibahas pada tahun 2011, karena menyangkut kualitas dan kuantitas air di sungai utama yaitu sungai Kapuas yang memiliki panjang 1.086 km dan melintasi 5 Kabupaten dan Kota. Aktivitas tambang yang merusak lingkungan ini hampir terdapat di semua Kabupaten dan Kota di Kalimantan Barat. Merkuri yang digunakan untuk memisahkan emas dengan material lainnya sudah mencemari sungai-sungai utama Kalimantan Barat. Masalah kebakaran hutan dan lahan di tahun 2011 sudah lebih kurang dibandingkan pada dekade sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya perubahan pola iklim global sehingga musim kemarau tidak panjang seperti pada dekade sebelumnya. Musim kemarau yang panjang ini menjadi penyebab terjadinya kebakaran hutan di Kalimantan Barat. Kebakaran hutan yang pernah terjadi di Kalimantan Barat pada tahun 1990-an yang lalu, menyebabkan terjadinya kabut asap. Kabut asap ini menyebabkan masalah kesehatan terutama yang berhubungan dengan pernafasan. Selain itu, perubahan pola iklim ini tentunya berdampak buruk pada masyarakat pedalaman yang menggantungkan hidup dari pertanian, sehingga diperkirakan akan mengalami gagal panen. Badan Lingkungan Hidup sebagai badan organisasi bentukan Pemerintah mempunyai fungsi untuk melakukan pemantauan dan penanggulangan kerusakan lingkungan serta pengawasan dan penaatan hukum. Untuk itu dilaksanakan berbagai program untuk mengurangi dampak negatif dari kegiatan pembangunan sehingga permasalahan lingkungan dapat diminimalisir.

Page 4

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

II. PELAKSANAAN

PROGRAM

KERJA

/

KEGIATAN TAHUN ANGGARAN 2011
II.1. Program Penanggulangan Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan. Kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Penanggulangan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup adalah upaya untuk menghentikan meluas dan meningkatnya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup serta dampaknya. Program penanggulangan kerusakan dan pencemaran lingkungan adalah salah upaya preventif (pencegahan) yang dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka mengantisipasi terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan. Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat melakukan usaha penanggulangan kerusakan dan pencemaran lingkungan dengan melakukan sosialisasi pengendalian pencemaran akibat limbah organik. Limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya. Menurut sifatnya, limbah dapat diberdakan menjadi limbah organik dan anorganik. Limbah organik adalah limbah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob. Limbah organik mudah membusuk, seperti sisa makanan, sayuran, daun-daunan kering, potonganpotongan kayu, dan sebagainya. Limbah organik terdiri atas bahan-bahan yang besifat organik seperti dari kegiatan rumah tangga maupun kegiatan industri. Limbah anorganik adalah limbah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi. Limbah ini tidak dapat diuraikan oleh organisme detrivor atau dapat diuraikan tetapi dalam jangka waktu yang lama. Limbah ini tidak dapat membusuk, oleh karena itu dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya. Limbah anorganik yang dapat di daur ulang, antara lain adalah plastik, logam, dan kaca. Namun, limbah yang dapat didaur ulang tersebut harus diolah terlebih dahulu dengan cara sanitary landfill, pembakaran (incineration), atau penghancuran (pulverisation).

Page 5

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Kegiatan sosialisasi ini dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota seKalimantan Barat. Dengan jumlah peserta 50 orang yang berasal dari kalangan masyarakat dan pegawai di instansi lingkungan hidup, kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat mencapai hasil (outcome) berupa menurunnya volume sampah sebagai limbah organik. Selain itu, dengan adanya sosialisasi ini diharapkan akan muncul kelompok-kelompok masyarakat yang mampu melakukan pengolahan sampah sebagai limbah organik dan anorganik dengan memiliki pemahaman :
1) Mengkategorikan limbah organik dan anorganik serta sumbernya. 2) Mengidentifikasi jenis limbah yang mungkin dapat didaur ulang.

3) Mengelompokkan jenis limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3).
4) Memperlakukan (treatment) terhadap limbah.

II.2. Program Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan

Pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup adalah upaya pencegahan dan penanggulangan serta pemulihan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup. Pelaksanaann pengawasan atas pengendalian kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup harus dilakukan secara periodik untuk mencegah kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup dan secara intensif untuk menanggulangi dampak dan pemulihan lingkungan hidup. Adapun program yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat dalam rangka pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup meliputi pemantauan RKL dan RPL, Kajian Lingkungan Hidup Strategis, Pembinaan Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/ Kota, Penilaian Persyaratan Perizinan Dalam Rangka Sertifikasi dan Standarisasi Komisi Penilai AMDAL, Penyelesaian Pengaduan dan Sengketa Lingkungan, Penanganan Yustisi Kebakaran Hutan dan Lahan, Penyusunan Raperda Kualitas Air Sungai Kapuas, Pemantauan Kualitas Air Sungai, Penilaian Peningkatan Peringkat Kinerja (Proper), Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Limbah di Daerah Pemukiman Tepian Sungai Sambas dan Koordinasi Penilaian Kota Bersih dan Teduh (Adipura).

Page 6

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

II.2.1. Pemantauan RKL dan RPL Pemantauan RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan) dan RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan) adalah tindak lanjut dari pelaksanaan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). RKL adalah rencana pengelolaan lingkungan yang mempunyai upaya berupa pencegahan, penanggulangan dampak negatif serta pengembangan dampak posisitf. RPL adalah rencana pemantauan lingkungan guna melihat dampak yang ada yang mungkin timbul dan merupakan masukan untuk RKL. Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat melakukan pemantauan RKL dan RPL pada 20 perusahaan meliputi perusahaan perkebunan, HPHTI, dan pertambangan di Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, Landak, Sanggau, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu dan Sambas.
II.2.2. Kajian Lingkungan Hidup Strategis

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah proses sistematis untuk mengevaluasi pengaruh lingkungan hidup dari, dan menjamin diintegrasikannya prinsip-prinsip keberlanjutan dalam, pengambilan keputusan yang bersifat strategis. KLHS berfungsi untuk menelaah efek dan/atau dampak lingkungan dari suatu kebijakan, rencana atau program pembangunan. Sedangkan definisi kedua, menekankan pada keberlanjutan pembangunan dan pengelolaan sumberdaya. KLHS adalah sebuah bentuk tindakan stratejik dalam menuntun, mengarahkan, dan menjamin tidak terjadinya efek negatif terhadap lingkungan dan keberlanjutan dipertimbangkan secara inheren dalam kebijakan, rencana dan program [KRP]. Pada tahun 2011, Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat eksemplar. II.2.3. Pembinaan Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/ Kota Komisi penilai Amdal yang selanjutnya disebut komisi penilai adalah komisi yang bertugas menilai dokumen amdal sesuai dengan kewenangannya. Komisi penilai
Amdal berkedudukan di instansi pusat, provinsi, atau kabupaten/kota, dengan keanggotaan yang mencakup tenaga ahli di bidang biogeofisik-

membuat Dokumen KLHS Kawasan

Perbatasan untuk kebijakan pembangunan jalan lintas perbatasan sebanyak 100

Page 7

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

kimia, ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, perencanaan pembangunan

wilayah, dan lingkungan hidup. Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat melakukan pembinaan komisi Amdal terhadap 14 Kabupaten/Kota se-Kalimantan Barat. Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Kalimantan Barat bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Ekoregion Kalimantan dan Kementerian Lingkungan Hidup, menyelenggarakan Bimbingan Teknis bagi Komisi Penilai AMDAL untuk seluruh daerah Kalimantan Barat bertempat di Hotel Aston Pontianak, pada tanggal 2 s/d 4 Mei 2011. Pertemuan dihadiri oleh Tim dari Kementerian Lingkungan Hidup, Pusat Pengelolaan Ekoregion Kalimantan, Komisi Penilai AMDAL Provinsi serta Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/Kota se Kalimantan Barat.

Gambar 2. Pelaksanaan Bimtek Komisi Penilai Amdal Dasar hukum melakukan pembinaan komisi Amdal adalah Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pembinaan dan Pengawasan Terhadap Komisi Penilai AMDAL Daerah. Pembinaan dan pengawasan dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. Pembinaan yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat dilakukan melalui pelatihan penyusunan dan/atau penilaian AMDAL dan peningkatan pemahaman dan kemampuan aspek teknis proses penilaian AMDAL. Sedangkan pengawasan dilakukan melalui

Page 8

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

evaluasi terhadap pelaksanaan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang AMDAL serta evaluasi terhadap kinerja komisi penilai AMDAL daerah. Adapun tujuan diadakannya Bimbingan Teknis adalah untuk peningkatan kemampuan SDM di bidang AMDAL yang ada di Komisi Penilai AMDAL daerah dalam melakukan penilaian terhadap dokumen AMDAL, UKL-UPL, DELH/DPLH, DPPL, SPPLH, Sertifikasi, Kompetensi, Lisensi, Akreditasi serta peraturan terkait lainnya. Materi yang disampaikan antara lain:
1) Kebijakan dan peraturan tentang AMDAL, yang disampaikan oleh Asisten Deputi

Pengkajian Dampak Lingkungan.
2) Penjelasan UKL-UPL, Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH), Dokumen

Pemantauan Lingkungan Hidup (DPLH), Dokumen Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (DPPLH), Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan Hidup (SPPLH), yang disampaikan oleh Tim Teknis AMDAL Kementerian Lingkungan Hidup.
3) Sertifikasi, Akreditasi, Kompetensi dan Lisensi Bidang Lingkungan Hidup, yang

disampaikan oleh Tim Teknis AMDAL Kementerian Lingkungan Hidup. Bimbingan teknis juga memberikan pelatihan penilaian terhadap dokumen AMDAL, mulai dari sistematika penilaian Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA ANDAL), penilaian dokumen ANDAL, sistematika penilaian RKL/RPL, UKL-UPL, serta simulasi sidang komisi penilai AMDAL. Acara tersebut dipandu oleh Tim Teknis AMDAL dari Kementerian Lingkungan Hidup. Setelah mengikuti Bimbingan Teknis ini, diharapkan baik Komisi Penilai AMDAL Provinsi maupun Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/ Kota akan seragam dalam melakukan penilaian dokumen AMDAL sehingga dokumen yang disusun memiliki kualitas baik dan dapat diimplementasikan dilapangan. Selain itu, pada tahun 2011 ini akan diterbitkan rekomendasi Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/ Kota yang telah mengajukan permohonan kepada BLHD Provinsi Kalimantan Barat, sebagaimana hasil rapat tim terpadu yang sudah dilaksanakan dalam pembahasan kelengkapan persyaratan rekomendasi/lisensi komisi penilai AMDAL Kabupaten/Kota. Berkaitan dengan hal tersebut, diinformasikan juga bahwa BLHD Provinsi Kalimantan Barat telah mendapat rekomendasi Komisi Penilai AMDAL dari Kementerian Lingkungan Hidup dengan No:

Page 9

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

B-2326/Dep.I/LH/03/2011 pada tanggal 21 Maret 2011 dan dari rekomendasi tersebut BLHD Provinsi Kalimantan Barat telah mendapatkan tanda bukti lisensi dari Gubernur Kalimantan Barat pada tanggal 12 April 2011, yang berlaku selama 3 tahun.
II.2.4. Penilaian

Persyaratan

Perizinan

Dalam

Rangka

Sertifikasi

dan

Standarisasi Komisi Penilai AMDAL Kegiatan sertifikasi dan standarisasi Komisi AMDAL Kabupaten Kota adalah kegiatan penilaian terhadap institusi lingkungan hidup Kabupaten/ Kota dalam melakukan penilaian dokumen Amdal yang berkualitas. Komisi penilai Amdal yang terdiri dari komisi penilai pusat, provinsi, atau kabupaten/kota sebagai komisi yang bertugas menilai dokumen amdal sesuai dengan kewenangannya harus memiliki lisensi sebagai syarat untuk melakukan penilaian dokumen amdal. Sejak diberlakukannya Undang-Undang No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, dimana pemerintah daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dengan harapan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan melalui pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, maka saat ini setiap daerah sedang berpacu untuk dapat melaksanakan otonomi yang diberikan oleh pemerintah. Sejalan dengan itu pula sebagaimana Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 29 ayat (2) disebutkan Komisi Penilai AMDAL wajib memiliki lisensi dari Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya serta berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 15 Tahun 2010 tentang Persyaratan dan Tata Cara Lisensi Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Oleh karena itu berkaitan dengan lisensi tersebut terlebih dahulu harus ada Rekomendasi Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/Kota dari Gubernur Kalimantan Barat yang selanjutnya menjadi dasar Bupati /Walikota dalam memberikan tanda bukti lisensi bagi Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/Kota. Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat melakukan penilaian persyaratan perizinan (lisensi) adalah dalam rangka memberikan sertifikasi dan standarisasi terhadap Komisi Penilai AMDAL di 10 Kabupaten/Kota se-Kalimanatan Barat. Pelaksanaan sertifikasi tersebt dilaksanakan pada 10 Kabupaten/ Kota seKalimantan Barat.

Page 10

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

II.2.5. Penyelesaian Pengaduan dan Sengketa Lingkungan

Sejalan dengan pesatnya aktifitas pembangunan di Indonesia, permasalahan lingkungan pun semakin meningkat. Peningkatan ini ditandai pula dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap permasalahan lingkungan yang mereka hadapi. Peningkatan pembangunan di sektor industri, di samping telah memperbesar usaha pendayagunaan sumber daya alam, juga mempengaruhi keadaan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi kelestariannya. Hal ini seringkali menimbulkan pengaduan kasus-kasus lingkungan yang semakin meningkat, bahkan tidak jarang menimbulkan keresahan sosial dan berdampak politis. Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Tata cara pengajuan gugatan dalam masalah lingkungan hidup oleh orang, masyarakat, dan/atau organisasi lingkungan hidup mengacu pada Hukum Acara Perdata yang berlaku. Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan (gugatan class action) ke pengadilan dan/atau melaporkan ke penegak hukum mengenai berbagai masalah lingkungan hidup yang merugikan perikehidupan masyarakat. Jika diketahui bahwa masyarakat menderita karena akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup sedemikian rupa sehingga mempengaruhi perikehidupan pokok masyarakat, maka instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. Salah satu program/ kegiatan yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat adalah Penyelesaian Pengaduan dan Sengketa Lingkungan. Hal ini dilakukan dengan pembentukan pos pengaduan Dan Pelayanan Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup (Pos P3SLH). Tujuan pembentukannya adalah terselesaikannya pengaduan dan sengketa lingkungan. Ruang lingkup pelayanan ini meliputi seluruh Kabupaten dan kota se-Kalimantan Barat. Berikut ini daftar pengaduan masalah lingkungan yang masuk ke BLHD Prov. Kalbar selama tahun 2011.

Page 11

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Tabel 1. Kasus Pengaduan Masalah Lingkungan Hidup Di Kalimantan Barat Tahun 2011 No 1 Jenis Kasus sungai lingkungan Temuan dan Sumber Informasi Sumber Penyebab PT. Segoro Mandiri Beno Lokasi

Pencemaran air, Sdr. Beno

Global Kolam ikan milik Sdr. di Kabupaten Jelai di

(pertambangan emas) Landak Lapangan PT. Harita Prima Sungai Abadi (pertambangan

Tim BLHD

Mineral Kabupaten Ketapang

Harian Post

bauksit) Pontianak PT. Poli dan Surat Sejahtera

Plant Sungai Jelai dan Silat di Kabupaten Ketapang

Kepala KLH Kab. Ketapang. PT. PLN PT. Star Rubber PT. Patiware PT. PLN PT. Star Rubber dan PT. Patiware Segoro Global Alam Kabupaten Kubu Raya Sungai Kabupaten Pontianak

Sungai

Landak

di

Kabupaten Landak Pontianak Post PT. Segoro Global PT.

Mandiri Mandiri PT. Kusuma Alam PT. Kusuma 2 Kebakaran hutan dan lahan Hot Spot Hot Spot Sari Hot Spot Sari PT. Peniti

Purun PT. Parna Agro Mas PT. Sumatera Unggul

Makmur Hot Spot PT. Sintang Raya Hot Spot PT. Patiware PT. Kayong Agro PT. Kayong Agro Lestari Lestari

Page 12

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

3

Proper

PT. Bintang Harapan PT. Bintang Harapan Desa PT. Sime Indo Agro Desa PT. Bintang Harapan Kecamatan Austral Kelapa Kabupaten Sanggau XIII Mas Kabupaten Sambas Sawit Kabupaten Sintang Sempadan Pantai Pasir Pendek Singkawang 21 Kota Bodok

Desa PT. Mitra Austral PT. Mitra 4 Perkebunan Sejahtera PTPN XIII Sejahtera Perkebunan Sawit PT. Kaliau PTPN Kembayan Mas PT. Kaliau Perkasa Sawit PT. Sinar

Kabupaten Sanggau

Perkasa PT. Sinar 5 Pembangunan Villa

Andalan Andalan LSM Peduli Bangsa Kota Singkawang

Jumlah kasus Sumber : BLHD Prov. Kalbar, 2011

II.2.6. Penanganan Yustisi Kebakaran Hutan dan Lahan Kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu bentuk gangguan yang makin sering terjadi. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan cukup besar mencakup kerusakan ekologis, menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah, perubahan iklim mikro maupun global, dan asapnya mengganggu kesehatan masyarakat serta mengganggu transportasi baik darat, sungai, danau, laut dan udara.

Dalam rangka menjalankan fungsinya dalam menjaga lingkungan untuk tetap lestari, mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan terutama yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan, BLHD Prov. Kalbar melalui kegiatan Yustisi Karhutla melakukan pemantauan dan verifikasi lapangan terhadap para pelaku pembakaran lahan yang melalui pemantauan. Kegiatan pemantauan tersebut dilaksanakan di seluruh Kabupaten dan kota se-Kalimantan Barat.

Page 13

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Berdasarkan data pada tabel 1, kasus kebakaran hutan dan lahan yang telah ditangani oleh BLHD Prov. Kalbar selama tahun 2011 berjumlah 6 kasus yang umumnya terjadi di lahan perkebunan milik swasta yaitu PT. Peniti Sungai Purun, PT. Parna Agro Mas, PT. Sumatera Unggul Makmur, PT. Sintang Raya, PT. Patiware, dan PT. Kayong Agro Lestari dengan sumber informasinya berasal dari Hot Spot. II.2.7. Penyusunan Raperda Kualitas Air Sungai Kapuas Dalam rangka penanganan penyusunan Draft dan naskah akademik Raperda Kualitas Air Sungai Kapuas BLHD Prov. Kalbar menyelenggarakan Rapat Koordinasi yang dihadiri oleh Badan Lingkungan Hidup Prov. Kalbar, Biro Hukum Setda Prov. Kalbar dan beberapa instansi terkait lainnya. Rapat koordinasi tersebut bertujuan untuk menyamakan persepsi antar instansi terkait dalam penyusunan Raperda Kualitas Air Sungai Kapuas. Selain rapat koordinasi tersebut, BLHD juga mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk penyusunan Raperda Kualitas Air Sungai Kapuas dari Dinas/Instansi Lingkungan Hidup di Kabupaten/Kota se Provinsi Kalbar II.2.8. Pemantauan Kualitas Air Sungai Air permukaan yang ada seperti sungai dan situ banyak dimanfaatkan untuk keperluan manusia seperti tempat penampungan air, alat transportasi, mengairi sawah dan keperluan peternakan, keperluan industri, perumahan, sebagai daerah tangkapan air, pengendali banjir, ketersediaan air, irigasi, tempat memelihara ikan dan juga sebagai tempat rekreasi. Sebagai tempat penampungan air maka sungai dan situ mempunyai kapasitas tertentu dan ini dapat berubah karena aktivitas alami maupun antropogenik.

Sungai sebagai salah satu sumber daya air memerlukan pengelolaan yang baik, sehingga suatu manfaat yang maksimal dapat kita rasakan. Hasil yang sangat diharapkan dari pengelolaan sumber daya air sungai adalah ketersediaan air dengan kualitas yang sesuai dengan baku mutu serta jumlah yang cukup untuk semua jenis pemakaian. Pemanfaatan air untuk menunjang seluruh kehidupan manusia jika tidak dibarengi dengan tindakan bijaksana dalam pengelolaannya akan mengakibatkan kerusakan pada sumberdaya air. Untuk menjaga kualitas air agar tetap pada kondisi

Page 14

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

alamiahnya, perlu dilakukan pengelolaan dan pengendalian pencemaran air secara bijaksana. Untuk itu, BLHD Prov. Kalbar melakukan pemantauan terhadap kualitas air sungai secara rutin untuk mengetahui kualitas air sungai melalui pengambilan sampel dan pengujian sehingga didapatkan data kualitas air sungai. Pemautauan terhadap kualitas air sungai dilakukan di 8 Kabupaten dan Kota yang berada dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas.
II.2.9. Penilaian Peningkatan Peringkat Kinerja (Proper)

PROPER ditetapkan

merupakan peraturan

salah

satu

bentuk

kebijakan

pemerintah, PROPER

untuk juga

meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan perusahaan sesuai dengan yang telah dalam perundang-undangan. Selanjutnya merupakan perwujudan transparansi dan demokratisasi dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia. Penerapan instrumen ini merupakan upaya Kementerian Negara Lingkungan Hidup untuk menerapkan sebagian dari prinsip-prinsip Good Governance (transparansi, berkeadilan, akuntabel dan pelibatan masyarakat) dalam pengelolaan lingkungan. Pengembangan PROPER sebagai instrumen penaatan, berlandaskan pemikiran dan analisis bahwa upaya peningkatan kinerja penaatan perusahaan akan lebih efektif melalui penerapan instrumen kebijakan campuran. Pelaksanaan PROPER diharapkan dapat memperkuat berbagai instrumen pengelolaan lingkungan yang ada, seperti penegakan hukum lingkungan, dan instrumen ekonomi. Disamping itu penerapan PROPER dapat menjawab kebutuhan akses informasi, transparansi dan partisipasi publik dalam pengelolaan lingkungan. Penilaian Peringkat Kinerja Penaatan dalam Pengelolaan Lingkungan pada awalnya difokuskan pada penilaian peringkat kinerja penaatan perusahaan terhadap pengendalian pencemaran air dari perusahaan yang masuk dalam Program Kali Bersih (PROKASIH). Penilaian kinerja penaatan untuk media tunggal (pengendalian pencemaran air) ini relatif mudah dilakukan, waktu yang dibutuhkan lebih singkat, dan biaya yang dibutuhkan juga relatif lebih murah. Namun informasi kinerja penaatan perusahaan media tunggal yang disampaikan kepada masyarakat belum mencerminkan kinerja pengelolaan lingkungan perusahaan secara keseluruhan. Hal ini terkadang

Page 15

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

membingungkan masyarakat. Perusahaan dapat dikategorikan peringkat Hijau atau Biru dalam PROPER PROKASIH, padahal perusahaan tersebut belum melakukan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dan pengendalian pencemaran udara dengan baik. Karena kurang kondusifnya situasi di Tanah Air akibat krisis ekonomi dan politik dalam kurun waktu 1998 – 2001, pelaksanaan PROPER pernah terhenti. Guna memberikan gambaran kinerja penaatan perusahaan lebih menyeluruh, maka sejak tahun 2002 aspek penilaian kinerja penaatan dalam PROPER diperluas. Kinerja penaatan yang dinilai dalam PROPER mencakup: penaatan terhadap pengendalian pencemaran air, udara, pengelolaan limbah B3, dan penerapan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Sedangkan penilaian untuk aspek upaya lebih dari taat, meliputi penerapan sistem manajemen lingkungan, pemanfaatan limbah dan konservasi sumber daya, dan pelaksanaan kegiatan pengembangan masyarakat (commmunity development). Penilaian ini dapat mengukur penerapan CSR (Corporate Social Responsibility). Mengingat keberhasilan PROPER sebagai instrument penaatan sangat tergantung kepada sikap proaktif dan kritis para pemangku pihak dalam mensikapi hasil kinerja penaatan yang telah dilakukan oleh perusahaan , maka diharapkan para pemangku kepentingan agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam mensikapi hasil pengumuman peringkat kinerja penaatan perusahaan PROPER. Berbagai upaya dapat dilakukan oleh pemangku kepentinagn untuk lebih meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan oleh perusahaan terkait dengan pelaksanaan PROPER, antara lain memberikan penghargaan kepada perusahaan yang berkinerja baik, dan secara konsisten mendorong perusahaan yang belum menunjukkan kinerja yang baik untuk lebih dapat meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungannya. Pada saat ini pelaksanaan PROPER difokuskan kepada perusahaan yang memenuhi kriteria antara lain adalah perusahaan yang berdampak besar terhadap lingkungan hidup, perusahaan yang berorientasi ekspor dan/atau bersinggungan langsung dengan masyarakat, serta perusahaan publik. Penilaian kinerja penaatan perusahaan dalam PROPER dilakukan berdasarkan atas kinerja perusahaan dalam memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kinerja perusahaan dalam pelaksanaan berbagai kegiatan yang terkait dengan kegiatan pengelolaan lingkungan yang belum produknya

Page 16

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

menjadi persyaratan penaatan (beyond compliance). Pada saat ini, penilaian kinerja penaatan difokuskan kepada penilaian penaatan perusahaan dalam aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, dan pengelolaan limbah B3 serta berbagai kewajiban lainnya yang terkait dengan AMDAL. Untuk sektor pertambangan, belum dilakukan penilaian kinerja perusahaan terkait dengan upaya pengendalian kerusakan lingkungan, khususnya kerusakan lahan. Sedangan penilaian untuk aspek beyond compliance dilakukan terkait dengan penilaian terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan oleh perusahaan dalam penerapan Sistem Manajemen Lingkungan (SML), Konservasi dan Pemanfaatan Sumber daya, serta kegiatan Corporate Social Responsibilty (CSR) termasuk kegiatan Community Development. Mengingat hasil penilaian peringkat PROPER ini akan dipublikasikan secara terbuka kepada publik dan stakeholder lainnya, maka kinerja penaatan perusahaan dikelompokkan ke dalam peringkat warna. Melalui pemeringkatan warna ini diharapkan masyarakat dapat lebih mudah memahami kinerja penaatan masing-masing perusahaan. Sejauh ini dapat dikatakan bahwa PROPER merupakan sistem pemeringkatan yang pertama kali menggunakan peringkat warna. Peringkat kinerja penaatan perusahaan PROPER dikelompokkan dalam 5 (lima) peringkat warna dengan 7 (tujuh) kategori. Masing-masing peringkat warna mencerminkan kinerja perusahaan. Kinerja penaatan terbaik adalah peringkat emas, dan hijau, selanjutnya biru, biru minus, merah, dan merah minus dan kinerja penaatan terburuk adalah peringkat hitam.

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 7 Tahun 2008 Tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, kriteria yang digunakan dalam pemeringkatan tersebut adalah sebagai berikut: Tabel 2. Peringkat Warna PROPER Tingkat Penaatan Lebih dari taat Alternatif Peringkat A B    Efek publikasi yang diharapkan Insentif Reputasi Penghargaan Stakeholder

Page 17

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Taat Belum taat

C D E

  

Disinsentif Reputasi

Tekanan Stakeholder

Lima peringkat warna yang digunakan mencakup peringkat Hitam, Merah, Biru, Hijau, dan Emas. Peringkat Emas dan Hijau untuk perusahaan yang telah melakukan upaya lebih dari taat dan patut menjadi contoh, peringkat Biru bagi perusahaan yang telah taat, dan peringkat Merah dan Hitam bagi perusahaan yang belum taat Tabel 3. Indikator Warna Indikator Warna Telah EMAS melakukan Penjelasan Warna pengelolaan sistem lingkungan pengelolaan lebih dari yang yang

dipersyaratkan dan telah melakukan upaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle), menerapkan lingkungan berkesinambungan, serta melakukan upaya-upaya yang berguna bagi kepentingan masyarakat pada jangka panjang Telah melakukan pengelolaan lingkungan HIJAU lebih dari yang

dipersyaratkan, telah mempunyai sistem pengelolaan lingkungan, mempunyai hubungan yang baik dengan masyarakat, termasuk melakukan upaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, akan tetapi beberapa upaya belum mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, akan tetapi baru sebagian mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, akan tetapi baru sebagian kecil mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan Belum melakukan upaya pengelolaan lingkungan berarti, secara sengaja tidak melakukan upaya pengelolaan lingkungan sebagaimana yang dipersyaratkan, serta berpotensi mencemari lingkungan

BIRU BIRU MINUS

MERAH

MERAH MINUS

HITAM

Page 18

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Sistem penilaian dengan lima peringkat warna ini, juga telah memperhatikan perbedaan tingkat upaya masing-masing perusahaan yang belum taat, yaitu peringkat Hitam dan peringkat Merah, serta perbedaan tingkat upaya perusahaan yang lebih dari taat, yaitu peringkat Hijau dan Emas. Badan Lingkungan Hidup Daerah Prov. Kalbar melaksanakan program Proper pada 14 pabrik dan industri di Kabupaten Kubu Raya, Sanggau, Melawi, Kota Singkawang dan Pontianak. Berikut ini daftar nama2 perusahaan peserta proper tahun 2011. Tabel 4. Perusahaan Peserta Proper Tahun 2011 di Kalimantan Barat No. 1 2 3 4 5 Perusahaan PT. Erna Djuliawati (Lyman Group) PT. New Kalbar Processor PT. Sumber Djantin PT. Giat Usaha Dieng PT. Perkebunan Nusantara XIII 6 7 8 9 10 11 (Persero) PT. Sinar Dinamika Kapuas PT. Sari Bumi Kusuma (plywood) PT. Lintang Harapan Desa PT. Mitra Austra Sejahtera PT. Sime Indo Agro PT. PLN (Persero) Sektor Kapuas Area 12 PLTD/PLTG Siantan PLTD Kubu Raya PEM PEM Industri Sawit Industri Sawit Industri Sawit Energi PLTU Agro Sawit Melawi Kubu Raya Sanggau Sanggau Sanggau Pontianak BUMN Sektor Agro Agro Agro Agro Agro Sub Sektor Plywood Karet Karet Karet Sawit Kab/Kota Sanggau Pontianak Kota Pontianak Kota Pontianak Sanggau Permodalan

Page 19

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

13

PT. PLN (Persero) Sektor Kapuas Area PLTD Sungai WiePLTD Sudirman PT. Mega Citra Utama PT. Persada Pratama Cemerlang PT. Citra Mineral Investindo PT. Harita Prima Abadi Mineral PT. Harapan Sawit Lestari PT. Poliplant Sejahtera PT. Kalimantan Sanggar Pusaka PT. Agro Nusa Investama PT. Bumi Pratama Khatulistiwa PT. Poly Plant PT. Kawedar Wood Industri PT. Kendawangan Putra Lestari PT. Sumber Djantin PT. Eka Tambang PT. Sibelco Lautan Mineral Alu Sentosa PT. Mahkota Karya

PEM

Energi PLTD

Pontianak

14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

PEM PEM PEM PEM Agro Agro Agro Agro Agro

Tambang Tambang Tambang Tambang Sawit Sawit Sawit Sawit Sawit Industri Sawit Hutan Alam Bijih Besi Industri Karet Tambang Emas Tambang Lempung Tambang Bauksit Bauksit Ketapang Sambas Kayong Bengkayang Sanggau Sanggau Ketapang Ketapang Sekadau Sambas Kubu Raya Ketapang

Page 20

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

31

Utama Dempal Resource

Bauksit

Sanggau

II.2.10.

Monitoring

dan

Evaluasi

Pengelolaan

Limbah

di

Daerah

Pemukiman Tepian Sungai Sambas Pemukiman merupakan salah satu sektor penyumbang limbah kepada lingkungan. Limbah pemukiman adalah limbah domestik yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga. Limbah pemukiman dapat berupa sampah organik dan sampah anorganik seperti kertas, plastik, gelas atau kaca, kain, kayu-kayuan, logam, karet dan kulit. Sampah organik ini tidak dapat diuraikan oleh bakteri (nonbiodegradable). Kondisi geografis Kalimantan Barat yang umumnya memiliki banyak aliran sungai menyebabkan pertumbuhan kotanya mengikuti daerah aliran sungai yang biasa disebut sebagai kota tepi air (water front city). Jika pola hidup masyarakat yang bermukim di tepian sungai belum menyadari akan pentingnya kebersihan lingkungan, dapat menyebabkan mereka membuang limbah domestik di sungai sehingga timbul pencemaran air. Timbulnya pencemaran air oleh limbah domestik yang dihasilkan dari pemukiman, dapat menyebabkan turunnya kualitas air sungai sebagai air baku untuk keperluan MCK masyarakat. Untuk mencegah terjadinya pencemaran limbah organik oleh kegiatan pemukiman, BLHD Prov. Kalbar melaksanakan program Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Limbah di Daerah Pemukiman Tepian Sungai Sambas. Kegiatan ini dilaksanakan di 2 kabupaten yaitu Kabupaten Sambas dan Bengkayang sebagai daerah yang dilalui oleh aliran Sungai Sambas. II.2.11. Koordinasi Penilaian Kota Bersih dan Teduh (Adipura)

Adipura adalah sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Adipura diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Adipura merupakan penghargaan lingkungan hidup untuk kota di Indonesia yang dinilai bersih teduh (clean and green city) dengan menerapkan prinsip-prinsip Good Governance. Dalam penilaiaannya, kota terbagi

Page 21

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

dalam 4 kategori yakni kota metropolitan (berpenduduk lebih dari 1 juta jiwa), kota besar (500.001-1.000.000 jiwa), kota sedang (100.001-500.000 jiwa), dan kota kecil (kurang dari 100.000 jiwa). Maksud dilaksanakannya program adipura ini, adalah untuk mendorong dan memotivasi kinerja Pemerintah bersama masyarakat Kabupaten Kota di Kalimantan Barat dalam menciptakan daerah menjadi daerah yang hijau dan berwawasan lingkungan, sehingga akan terciptanya pemerintahan yang bersih dan hijau. Kriteria Penilaian Adipura meliputi : Tabel 5. Kriteria Penilaian Adipura Perumahan menengah dan : Meliputi kompleks perumahan atau permukiman

sederhana (wajib) Perumahan pasang surut (tidak : Meliputi perumahan yang berada di daerah yang wajib) Ruang Terbuka Hijau (RTH) dipengaruhi oleh pasang surut air laut/sungai : Meliputi penilaian untuk : 1. Hutan kota, 2. Taman kota, 3. Keteduhan dan penghijauan di seluruh Hutan Kota (wajib) lokasi lainnya. : Meliputi hutan di wilayah perkotaan yang memiliki luas minimum 0.25 ha dan/atau sudah Taman Kota (wajib) ditetapkan sebagai hutan kota. : Meliputi taman di wilayah perkotaan, bukan merupakan median jalan atau pulau – pulau lalu Keteduhan dan penghijauan lintas (mis: pemisah jalan, bunderan) : Apabila ada ruang maka keteduhan dan

penghijauan dinilai, namun apabila tidak ada ruang maka yang dinilai hanya penghijauan. Terminal wajib) bus/angkot Untuk jalan yang dinilai hanya keteduhan. (tidak : Meliputi terminal bus/angkot yang resmi (bukan bayangan).

Page 22

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Pelabuhan (tidak wajib)

: Meliputi badan air pelabuhan dan kawasan terminal penumpang yang dikelola, oleh pemerintah (PT Pelindo, PT. ASDP, atau pemkab/pemkot). Apabila tidak ada terminal penumpang, maka tidak perlu dinilai. : Meliputi bagian jalan yang diperuntukkan untuk pejalan kaki, walaupun berupa tanah atau semen dan tidak menggunakan paving block. Penilaian wajib untuk jalan arteri. : Meliputi pasar tradisional utama, termasuk pasar induk. Bukan berupa pasar burung, konveksi, batu akik,onderdil, dsb. : Meliputi kantor bupati/walikota dan kantor gubernur, sedangkan bila ada penambahan diutamakan bagi kantor pemerintah daerah lainnya. Kantor swasta dapat dimasukkan apabila kantor pemerintah sudah dipantau seluruhnya. : Meliputi sekolah negeri (SD, SMP,dan SMA atau sederajat), sedangkan penambahan TK, Universitas dan sekoloah swasta dapat dilakukan apabila sekolah negeri dari sudah lokasi dipantau pantau

Trotoar

Pasar (wajib)

Perkantoran (wajib)

Sekolah (wajib)

TPS

dengan

seluruhnya pengangkutan : Pengangkutan

sampah

langsung

langsung ke TPA

Page 23

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Tabel 6. Kriteria Penilaian Adipura Transfer depo : Ada 3 jenis :
1. Ada bangunan, landasan dan container (luas±200 m2 ) 2. Ada bangunan, landasan dan container (luas ±100-150m2)

Rumah Sakit (wajib)

3. Tidak ada bangunan, tapi ada landasan dan container) : Diutamakan RSUD dan atau RSUP serta Puskesmas. Penambahan RS Swasta dimungkinkan dengan perbandingan RS

Swasta : Puskesmas adalah 1:3 Perairan Terbuka (tidak : Meliputi sungai/danau/situ/ dan wajib) Sungai Saluran Terbuka Badan Air Bantaran

saluran

terbuka.

Yang

diperhatikan adalah badan air dan bantaran. : Meliputi sungai yang melintasi kota tersebut. Satu aliran sungai dinilai sebagai satu titik pantau, minimal 2 titik sampel. : Hanya meliputi badan air : Muka sungai (areal sungai)/kanal/danau/situ yang berfungsi sebagai tempat air. : Pinggiran sungai/kanal/danau/situ yang secara umum tidak berfungsi sebagai aliran air tetapi lebih cenderung sebagai pembatas (bukan tanggul) : Wajib dinilai untuk semua kota. Jika tidak ada atau ada tapi tidak difungsikan maka nilainya 30 : Kawasan pantai yang lokasinya masih dalam cakupan kawasan perkotaan (urban area) dan dapat diakses oleh umum : Meliputi tepi jalan sampai air laut.

TPA Pantai Wisata Sarana Areal Pantai

Pelaksanaan Penilaian Kota Bersih dan Teduh dalam Rangka menunjang Program Adipura Nasional merupakan kerjasama antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup, PPLH Regional Kalimantan dan BLHD Provinsi Kalimantan Barat. Tujuan penilaian Adipura adalah untuk mendorong Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam mewujudkan ” Kota Bersih dan Teduh ” dengan menerapkan prinsip-prinsip Good Governance (transparansi, partisipasi dan akuntabilitas). Penilaian Adipura pada dasarnya terdiri dari 2 komponen yaitu fisik dan non-fisik. Penilaian terhadap komponen fisik berfokus pada kinerja Pemerintah Daerah dalam menyediakan, menjaga kebersihan dan keteduhan fasilitas publik, perumahan, sungai

Page 24

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

dan sistem drainase, fasilitas kebersihan dan lokasi-lokasi wisata. Komponen non-fisik mencakup penilaian terhadap institusi, managemen dan daya tanggap Pemerintah Daerah dalam pengelolaan lingkungan perkotaan. Sasaran pelaksanaan Program Adipura adalah terlaksananya 2 (dua) kali pemantauan Adipura untuk periode 2011-2012 di Kabupaten/Kota se-Kalimantan Barat, yaitu: 1.Kota Pontianak Dilakukan pemantauan I oleh Tim I pada tanggal 10-12 Nopember 2011 2.Kota Singkawang Dilakukan pemantauan I oleh Tim I pada tanggal 22-24 Nopember 2011 3.Kabupaten Sambas Dilakukan pemantauan I oleh Tim I pada tanggal7-9 Nopember 2011 4.Kabupaten Pontianak Dilakukan pemantauan I oleh Tim I pada tanggal 29-31 Oktober 2011 5.Kabupaten Bengkayang Dilakukan Pemantauan I oleh Tim I pada tanggal 19-21 Oktober 2011 6.Kabupaten Sanggau Dilakukan pemantauan I oleh Tim II pada tanggal 28 Oktober-1 Nopember 2011 7.Kabupaten Kapuas Hulu Dilakukan pemantauan I oleh Tim II pada tanggal 19-22 oktober 2011 8.Kabupaten Sintang Dilakukan pemantauan I oleh Tim II pada tanggal 2-5 Nopember 2011 9.Kabupaten Kubu Raya Dilakukan pemantauan I oleh Tim II pada tanggal 26-28 Oktober 2011 10.Kabupaten Sekadau Dilakukan pemantauan I oleh Tim II pada tanggal 12-15 Nopember 2011 11.Kabupaten Melawi Dilakukan pemantauan I oleh Tim II pada tanggal 7-10 Nopember 2011 12.Kabupaten Ketapang Dilakukan pemantauan I oleh Tim II pada tanggal 1-4 Nopember 2011 13.Kabupaten Landak

Page 25

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Dilakukan pemantauan I oleh Tim II pada tanggal 27 Oktober 2011 14.Kabupaten Kayong Utara Untuk Kabupaten Kayong Utara belum mengajukan pemantauan untuk Adipura Pelaksanaan pemantauan untuk periode 2011 dilaksanakan 2 kali pemantauan ditambah 1 kali pemantauan verifikasi yaitu: 1. 2. 3. Pemantauan Adipura Tahap I (PI) dilaksanakan pada bulan Pebruari sampai Maret 2011 di 14 Kabupaten/Kota se Kalimantan Barat. Pemantauan Adipura Tahap II (P II) dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Nopember 2011tanggal sampai dengan Pemantauan verifikasi dilaksanakan oleh tim dari unsur Provinsi dan Pusat Pengelolaan Ekoregion Kalimantan. II.3. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam
II.3.1. Monitoring Evaluasi Peningkatan Konservasi Daerah Tangkapan Air

Daerah tangkapan air (catchment area) adalah suatu daerah yang dibatasi oleh pembatas topografi berupa punggung-punggung bukit atau gunung yang menampung air hujan yang jatuh diatasnya dan kemudian mengalirkannya melalui anak sungai dan sungai ke laut atau ke danau. Daerah Tangkapan Air (DTA) merupakan satu kesatuan fisik yang tidak terikat dengan batasan politik dan administrasi. DTA merupakan daerah yang memiliki banyak kegunaan (multiple use) oleh beragam pengguna (multi user), bersifat lintas sektoral dan lintas daerah dari hulu sampai ke hilir. Indonesia memiliki daerah aliran sungai (DAS) sebanyak 5.590. Sekitar 80 % (4.472 sungai) diantaranya memiliki daerah tangkapan sungai yang minim atau kurang dari 500 km2. Akibatnya, kondisi sungai tersebut sangat rentan terhadap terjadinya bencana banjir. Hal ini dikarenakan aliran sungai tersebut tidak dapat menampung kapasitas air jika terjadi curah hujan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, daerah tangkapan air perlu untuk dilakukan konservasi. BLHD Prov. Kalbar melakukan kegiatan Monitoring Evaluasi Peningkatan Konservasi Daerah Tangkapan Air (DTA) dengan tujuan untuk meningkatkan konservasi daerah tangkapan air agar potensi terjadinya banjir dapat di minimalisir, mengingat daerah di Kalimantan Barat memiliki banyak daerah aliran sungai (DAS).

Page 26

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

II.3.2. Koordinasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Pengendalian kebakaran hutan adalah semua usaha, pencegahan, pemadaman, pengananan pasca kebakaran hutan dan penyelamatan. (Pasal 1 Permenhut No P. 12/Menhut-II/2009 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan). Kegiatan Pengendalian Kebakaran meliputi pencegahan, pemadaman dan penanganan pasca kebakaran. (Pasal 20 ayat 1 PP No. 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan). Penyebab kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terdiri dari dua faktor yaitu faktor alam antara lain petir, letusan gunung berapi atau potensi batu bara yang terbakar dan faktor manusia baik yang sengaja maupun tidak sengaja. Menurut penelitan, hampir 100% kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia akibat adanya kegiatan pembukaan lahan. BLHD Prov. Kalbar melakukan koordinasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan tujuan untuk mencegah dan membatasi kerusakan hutan di Kalimantan Barat. Karena menurut data statistik, luas hutan di Kalimantan Barat mencapai 9 juta hektar (± 9.178.759 Ha). Dengan pola kehidupan masyarakat yang menggunakan sistem ladang berpindah dan membuka lahan pertanian dengan cara dibakar, Kalbar sangat rentan terhadap terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
II.3.3. Penilaian Monitoring Menuju Indonesia Hijau

Program Menuju Indonesia Hijau sudah dicangkan sejak tahun 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono sebagai suatu program pengawasan dan evaluasi pemerintah dalam perbaikan kualitas lingkungan. Program ini dilaksanakan karena tutupan hutan dan vegetasi pada kawasan yang memiliki fungsi lindung tidak proporsional. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyediaan tambahan lahan tutupan setiap tahun.

Tujuan dari Menuju Indonesia Hijau adalah sebagai sarana pengawasan kinerja pemerintah kabupaten dalam peningkatan penaatan terhadap pelaksanaan peraturan bidang konservasi sumber daya alam dan kerusakan lingkungan. Untuk penghargaan terhadap Kabupaten yang melaksanakan Menuju Indonesia Hijau ini diberikan

Page 27

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

penghargaan Reksaniyata. Ada 4 sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan Menuju Indonesia Hijau yaitu : 1. Meningkatnya tutupan vegetasi yang di ikuti dengan perbaikan tata air dan kuantitas pada sumber air, menurunnya resiko bencana banjir dan tanah longsor serta tertahannya laju kerusakan wilayah pesisir. Indikator : Perubahan penutupan hutan dan upaya penanaman. 2. Meningkatnya konservasi energy melalui pemanfaatan energy biofuel dan energy biomassa dari berbagai kegiatan penambahan tutupan vegetasi. Indikaornya : Masyarakat menggunakan energy alternatif 3. 4. Menurunnya laju kemerosotan keanekaragaman hayati. Indikator : pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk pembangunan berkelanjutan Meningkatnya perlindungan lapisan atmosfer. Indikator : penggunaan bahan non Bahan Perusak Ozon (BPO) Ruang lingkup pengawasan Menuju Indonesia Hijau dilakukan terhadap : 1. Pengendalian kerusakan hutan dan lahan 2. Pengelolaan kualitas dan kuantitas sumber daya air yang terdiri dari mata air, sungai termasuk estuary, danau/waduk dan rawa. 3. Pengendalian kerusakan pesisir dan laut 4. Pengelolaan keanekaragaman hayati 5. Pengendalian sumber penyebab kerusakan atmosfer 6. Konservasi energy dan penggunaan energy alternatif. Pelaksanaan program Menuju Indonesia Hijau di kuatkan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2006, dengan arah pelaksanaan adalah seluruh Kabupaten di Indonesia dengan prinsip penilaian secara Lingkungan, Ekonomi dan Sosial dengan aspek 2 besar yakni :

Aspek fisik dengan parameter tutupan vegetasi, kesesuaian fungsi kawasan, daerah penyangga Aspek Non Fisik dengan parameter potensi sumber daya alam, kelembagaan, pemantauan dan pengawasan serta partisipasi masyarakat (kearifan lokal) Program Menuju Indonesia Hijau yang dicanangkan oleh Presiden Susilo

Bambang Yudhoyono pada tahun 2006 memiliki tujuan agar pemerintah daerah dapat mempertahankan atau menambah tutupan vegetasi, yang didukung oleh aspek

Page 28

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

manajemen pemerintah daerah dan peran serta masyarakat. Dalam rangka meningkatkan sinergi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota, pada tahun 2012 akan dilakukan juga penilaian kinerja terhadap pemerintah provinsi. Program juga diarahkan untuk mengetahui simpanan karbon (carbon stock) dari tutupan lahan dan mendukung kebijakan Presiden dalam penurunan gas rumah kaca 26 persen. Dalam rangka mendukung program Menuju Indonesia Hijau yang diarahkan pada setiap pemerintah daerah untuk meningkatkan luas tutupan vegetasinya, BLHD Prov. Kalbar melaksanakan kegiatan penilaian monitoring terhadap seluruh Kabupaten dan Kota se-Kalimantan Barat dengan tujuan untuk memberikan penilaian dan memberikan fasilitas terhadap program tersebut.
II.3.4. Penyuluhan Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Dampak Asap

Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan Kebakaran hutan adalah suatu keadaan dimana hutan dilanda api sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan atau hasil hutan yang menimbulkan kerugian ekonomis dan atau nilai lingkungan (Pasal 1 Peraturan Menteri Kehutanan/ Permenhut No P. 12/Menhut-II/2009 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan). Dampak dari kebakaran hutan dan lahan dapat mengakibatkan antara lain : • Degradasi hutan dan deforestasi • Kerugian material berupa kayu, non kayu • Timbulnya asap dari hasil pembakaran yang menimbulkan kabut, mencemari udara, dapat mengganggu kesehatan masyarakat terutama gangguan saluran pernapasan, mengganggu transportasi khususnya tranportasi udara disamping transportasi darat, sungai, danau, dan laut. • Meningkatkan gas rumah kaca. Untuk meminimalisasi dampak negatif akibat timbulnya asap hasil kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, BLHD Prov. Kalbar melaksanakan kegiatan penyuluhan. Penyuluhan tersebut bertujuan untuk membina masyarakat pada daerah yang rawan terhadap terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
II.3.5. Sosialisasi Pengendalian Dampak Perubahan Iklim

Page 29

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Perubahan iklim adalah masalah yang terjadi akibat pemanasan global (Global Warming). Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Pemanasan global yang terjadi saat ini dikarenakan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), gas metan (CH4), dinitrogen oksida (N2O), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx) dan sulfur dioksida (SO2). Di Indonesia kontribusi terbesar GRK berasal dari karbon dioksida, metan dan dinitrogen oksida. Bagian terbesar emisi ini dihasilkan oleh sektor kehutanan dan energi. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. Untuk mengatasi dampak terjadinya perubahan iklim akibat pemanasan global, masyarakat sebagai penyebab dan penerima dampak dari perubahan iklim harus mengerti fenomena tersebut. Oleh karena itu, BLHD Prov. Kalbar melaksanakan Sosialiasi Pengendalian Dampak Perubahan Iklim. Diharapkan dengan sosialiasasi ini perilaku masyarakat yang dapat menyebabkan peningkatan gas rumah kaca sebagai penyebab utama perubahan iklim dapat diminimalisir dan masyarakat memahami cara untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Khususnya sektor pertanian dan perikanan yang terkena dampak akibat perubahan iklim.

II.4. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan

Lingkungan Hidup
II.4.1. SLHD, Database, Statistik

Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) adalah pelaporan status lingkungan hidup sebagai sarana penyediaan data dan informasi lingkungan dapat menjadi alat yang berguna dalam menilai dan menentukan prioritas masalah, dan membuat rekomendasi bagi penyusunan kebijakan dan perencanaan untuk membantu pemerintah daerah dalam

Page 30

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

pengelolaan lingkungan hidup dan menerapkan mandat pembangunan berkelanjutan. Penyusunan laporan SLHD yang dilakukan sejak 2002 didasarkan pada surat Menteri Negara Lingkungan Hidup kepada pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota untuk menyusun laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) dengan mengacu kepada Pedoman Umum Penyusunan Laporan SLHD yang dikeluarkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH). Sejak tahun 2008, buku laporan status lingkungan hidup di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota disebut sebagai Laporan Status Lingkungan Hidup provinsi (SLH provinsi) atau Laporan Status Lingkungan Hidup kabupaten/kota (SLH kabupaten/kota). Penyusunan laporan SLH provinsi dan kabupaten/kota meliputi pemantauan kualitas lingkungan hidup di daerah, pengumpulan dan pengolahan data, analisis data, dokumentasi kebijakan, dan penyajian laporan dengan model P-S-R (Pressure-State-Response). Kerangka laporan SLHD didasarkan kepada konsep hubungan sebab akibat dimana kegiatan manusia memberikan tekanan kepada lingkungan (pressure) dan menyebabkan perubahan pada sumber daya alam dan lingkungan baik secara kualitas maupun kuantitas (state). Selanjutnya pemerintah dan masyarakat/stakeholder melakukan reaksi terhadap perubahan ini baik melakukan adaptasi maupun mitigasi melalui berbagai kebijakan, program, maupun kegiatan (societal respons). Hal yang terakhir merupakan umpan balik terhadap tekanan melalui kegiatan manusia.

Gambar 3.

Page 31

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Diagram Model PSR (Tekanan-Status-Respon) Ada tiga indikator utama dalam kerangka PSR yang akan dianalisis, yaitu:
1. Indikator tekanan terhadap lingkungan (pressure). Indikator ini menggambarkan

tekanan dari kegiatan manusia terhadap lingkungan dan sumberdaya alam.
2. Indikator kondisi lingkungan (state). Indikator ini menggambarkan kualitas dan

kuantitas sumberdaya alam dan lingkungan yang menggambarkan situasi, kondisi, dan pengembangannya di masa depan.
3. Indikator respon (response). Indikator ini menunjukkan tingkat kepedulian

stakeholder terhadap perubahan lingkungan yang terjadi, baik dari kalangan pemerintah, industri, LSM, lembaga penelitian, maupun masyarakat umum. Laporan SLHD yang disusun oleh BLHD Prov. Kalbar berdasarkan pada database (data dasar) dan statistik yang berasal dari Badan Pusat Statistik dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berada di lingkungan pemerintah daerah provinsi Kalimantan Barat dan dibukukan dalam basis data dan statistik lingkungan hidup yang diterbitkan setiap tahun.

II.4.2. Pemilihan Duta Lingkungan Hidup Prov. Kalbar

Pemilihan duta lingkungan hidup adalah salah satu bentuk kampanye melalui jalur budaya untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Pendekatan melalui jalur budaya (soft power) dapat menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan. tujuan diadakannya kegiatan pemilihan Duta Lingkungan Hidup ini adalah mengkampanyekan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup serta membentuk agen sosial dari generasi muda yang peduli terhadap lingkungan hidup, khususnya di Kalimantan Barat dan Indonesia pada umumnya. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan akan menjadi kekuatan yang sangat besar dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan.

Page 32

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Dengan Pemilihan Duta Lingkungan Hidup 2011 ini diharapkan dapat menjadi wahana guna menggali kepedulian masyarakat yang ada di Kabupaten/ Kota seKalimantan Barat terhadap potensi wilayahnya dan berkomitmen untuk menjaga kualitas lingkungannya. Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana kualitas serta kuantitas para peserta yang tersebar di Provinsi Kalimantan Barat di dalam pemahamannya terhadap permasalahan lingkungan hidup. Selanjutnya para pemenang akan mewakili Provinsi Kalimantan Barat dalam setiap event penting, baik di tingkat Kabupaten, Provinsi, Regional Kalimantan maupun Nasional. Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah : 1. Sebagai media kampanye dalam percepatan pelaksanaan Pendidikan Lingkungan Hidup di Kabupaten/ Kota Provinsi Kalimantan Barat. 2. Memotivasi kepedulian masyarakat yang ada di Kabupaten/ Kota se Provinsi Kalimantan Barat, khususnya generasi muda untuk peduli terhadap lingkungan hidup. 3. Membentuk juru bicara dan agen sosialisasi Lingkungan Hidup dari kalangan generasi muda kepada stakeholder (masyarakat, industri dan pemerintahan). 4. Merangsang dan memotivasi Kepedulian Lingkungan Hidup pada setiap masyarakat Kalimantan Barat.

Gambar 4. Kunjungan peserta Duta LH Kalbar 2011 ke kantor DPRD

Page 33

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Pelaksanaan pemilihan duta LH dilaksanakan di hotel kapuas palace tanggal 22 Juli 2011 yang diikuti oleh para Finalis Kabupaten/Kota se Kalimantan Barat berjumlah 25 orang, antara lain berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Kota Pontianak Kota Singkawang Kabupaten Sambas Kabupaten Bengkayang Kabupaten Pontianak Kabupaten Kubu Raya Kabupaten Ketapang Kabupaten Landak Kabupaten Sanggau Kabupaen Sekadau Kabupaten Sintang Kabupaten Melawi Kabupaten Kapuas Hulu Kabupaten kayong Utara : : : : : : : : : : : : : : 2 Orang 2 Orang 2 Orang 2 Orang 2 Orang 2 Orang 2 Orang 1 Orang 2 Orang 2 Orang 2 Orang 2 Orang 2 Orang

II.5. Program Peningkatan Pengendalian Polusi II.5.1. Pemantauan Kualitas Udara Ambient Secara Kontinue

Pengukuran kualitas udara ambien bertujuan untuk mengetahui konsentrasi zat pencemar yang ada di udara. Data hasil pengukuran tersebut sangat diperlukan untuk berbagai kepentingan, diantaranya untuk mengetahui tingkat pencemaran udara di suatu daerah atau untuk menilai keberhasilan program pengendalian pencemaran udara yang sedang dijalankan. Dalam pelaksanaan pengukuran kualitas udara ambien dapat dilakukan secara kontinyu menggunakan peralatan automatik yang dapat mengukur zat pencemar secara langsung dan dengan cepat, sehingga fluktuasi konsentrasi zat pencemar di udara ambien dapat dipantau . BLHD Prov. Kalbar melaksanakan pemantauan kualitas udara ambient secara kontinue untuk mendapatkan data ISPU dan Kalibrasi AQMS. Data Indeks Standart Pencemaran Udara dari pemantauan AQMS Stasiun Kantor Gubernur Kalimantan Barat di Tahun 2011 pada beberapa bulan terakhir sepanjang bulan Februari dan Maret masih dalam tahap wajar dalam konsentrasi pencemaran udara untuk Parameter PM10 masih rata-rata baik atau berada pada kisaran 0-50 ug/m3 di waktu-waktu tertentu, nilai konsentrasi pencemaran berada di atas 0-50 ug/m3, terutama pada pukul 22.00 hingga

Page 34

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

pukul 23.00 tapi kategori ISPU masih berkisar pada level sedang belum menyentuh pada level tidak sehat. Sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas udara masih di ambang batas wajar atau belum berpengaruh signifikan terhadap kesehatan.
II.5.2. Pemantauan Kualitas Udara Ambient

Udara Ambien adalah udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada di dalam wilayah yurisdiksi Republik Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya. Sedangkan Baku Mutu Udara Ambien adalah ukuran batas atau kadar zat, energi, dan/atau komponen yang ada atau yang seharusnya ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam udara ambien.

BLHD Prov. Kalbar melaksanakan pemantauan kualitas udara ambient secara kontinue untuk mendapatkan data hasil uji emisi udara ambient. Pengambilan sampel dilakukan pada 4 lokasi dengan jumlah sampel 48 buah. Pengambilan lokasi bertempat di 4 Kabupaten/Kota yaitu Kota Pontianak, Kabupaten Ketapang, Sanggau dan Kapuas Hulu. Dalam pemantauan kualitas udara, yang harus di perhatikan adalah bagaimana menjaga baku mutu udara ambien agar tidak tercemar oleh emisi yang kadarnya melebihi baku mutu udara ambien. Kualitas udara ambien dapat dilihat dari 2 hal yaitu kuantitas emisi cemaran yang dihasilkan oleh sumber cemaran seperti proses transportasi dan konversi serta penghilangan sumber cemaran di atmosfer. Baku mutu kualitas udara lingkungan atau udara ambien yang ditetapkan untuk cemaran yaitu: meliputi O3 (ozon), CO (karbon monoksida), NOX (nitrogen oksida), SO2 (sulfur oksida), hidrokarbon non-metana, dan partikulat.
II.5.3. Inventarisasi Potensi Emisi Gas Rumah Kaca

Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berb eda yaituefek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca

Page 35

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer seperti gas Karbondioksida (CO 2), Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen Monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon (CFC). BLHD Prov. Kalbar melakukan inventarisasi potensi gas rumah kaca dengan tujuan untuk mendapatkan data tingkat emisi gas rumah kaca. Menurut perkiraan, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5 - 4,5°C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.

II.6. Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup II.6.1. Penerbitan Buletin dan Kliping Lingkungan Hidup

BLHD Prov. Kalbar menerbitkan bulletin dan klipping lingkungan hidup dengan tujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan baik pegawai di lingkungan BLHD Prov. Kalbar maupun masyarakat mengenai perkembangan kondisi lingkungan hidup di Indonesia maupun secara global. Bulletin dan klipping ini juga menjadi sarana untuk para pejabat fungsional dalam mengembangakan kemampuan menulis ilmiahnya. Bulletin dan klipping ini terbit satu kali dalam sebulan (edisi bulanan). II.6.2. Rapat Koordinasi Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup BLHD Prov. Kalbar melaksanakan Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH) tidak hanya untuk seluruh wilayah Kabupaten/Kota se-Kalimantan Barat tetapi juga untuk regional (Rakoreg) seKalimantan. Dasar dilaksanakannya Rakoreg se-Kalimantan adalah adanya permasalahan lingkungan hidup di Kalimantan relatif cukup kompleks, seperti adanya degradasi di berbagai bidang, terjadinya deplesi sumber daya alam yang diakibatkan oleh berbagai hal. Hal ini berbalik dengan kondisi peningkatan pembangunan yang dilakukan di wilayah Kalimantan yang tidak diikuti dengan pengawasan yang ketat

Page 36

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

terhadap dampak yang terjadi, telah memberikan andil yang cukup besar terhadap rusaknya lingkungan hidup di Kalimantan.

Gambar 5. Pelaksanaan Rapat Koordinasi Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup Gambaran kondisi lingkungan hidup saat ini menunjukkan perlunya komitmen dan kesadaran yang sangat tinggi dari semua pihak untuk secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan hidup dari semua kalangan, baik dari eksekutif, legislatif maupun dunia usaha. Era Otonomi Daerah merupakan peluang besar bagi daerah untuk melakukan perbaikan daan penyempurnaan pelaksanaan pembangunan dengan memberdayakan potensi sosial ekonomi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat di daerahnya. Daerah diberi peluang untuk membangun sendiri daerahnya. Desentralisasi peran dan tanggung jawab yang nyata kepada Pemerintah Daerah, diharapkan dapat memperbaiki kualitas pelayanan yang membuat sektor publik lebih tanggap terhadap kebutuhan-kebutuhan dan prioritas-prioritas masyarakat di daerahnya dan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembuatan kebijakan dan proses pengawasannya. Undang-Undang RI No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, sasaran pengelolaan lingkungan hidup tidak semata hanya tercapainya keselarasan, keserasian, keseimbangan, kelestarian dan keberlanjutan lingkungan hidup, melainkan kaidahnya mencakup : Ekoregion, pencemar membayar (polluter must pay principle), partisipatif, kearifan lokal, tata kelola (good enviromental govermance), dan antisipatif terhadap perubahan lingkungan global.

Page 37

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Hal lain yang menjadikan UU No 32 tahun 2009 ini lebih komprehensif adalah adanya rangkaian aspek manajemen yang utuh mulai dari perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan hingga penegakan hukum. Perencanaan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) dilaksanakan melalui tahapan inventarisasi lingkungan hidup dan penetapan wilayah ekoregion. Penyusunan Masterplan Pengelolaan Lingkungan Hidup atau dengan istilah lain Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) di level Pusat, Provinsi maupun Daerah menurut UU RI No 32 Tahun 2009 dibentuk dengan mempertimbangkan wilayah Ekoregion.

Pemerintah melalui Kementerian Negara Lingkungan Hidup telah membuat gebrakan dalam penanganan isu lingkungan hidup. Paradigma yang dulu hanya diserahkan kepada setiap daerah Kabupaten atau Kota, kini penanganannya lebih diintegrasikan dengan menggunakan instrumen yang ada di UU RI No 32 Tahun 2009. Instrumen itu membentuk ekoregion untuk seluruh wilayah Indonesia yang di bagi dalam 5 (lima) wilayah yaitu : Ekoregion Sumatera, Balinusa (untuk Bali, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat), Sumapapua (untuk Sulawesi, Maluku dan Papua), Jawa, Kalimantan. Ekoregion dalam konsep ini ditekankan pada upaya sinergi, integral dalam menjalankan fungsi koordinasi, dan seminasi informasi sehingga menjadi lancar terhadap penanganan isu-isu lingkungan. Pembentukan ekoregion termasuk hal yang baru, sehingga perlu adanya sosialisasi ditingkat Kabupaten dan Kota. Berdasarkan hal tersebut, BLHD Provinsi Kalimantan Barat menyelenggarakan Rapat Koordinasi Teknis Lingkungan Hidup se-Kalimantan Barat pada tanggal 16 s/d 17 Maret 2011 bertempat di Hotel Kapuas Pontianak. Selain guna mensinkronisasikan Program LH juga ingin mengupas secara tuntas tentang ; RPPLH, konsep Ekoregion dalam Perlindungan dan Pengelolaan LH, Program ADIPURA 2011 dan Program Adiwiyata 2012.

Page 38

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Secara khusus maksud dilaksanakannya kegiatan Rakornis antara lain sebagai berikut :
1) Meningkatkan Koordinasi antara BLHD Provinsi dan Badan/Kantor LH di

Kabupaten/Kota se Kalimantan Barat.
2) Meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan dan program yang dilaksanakan

oleh masing-masing lembaga.
3) Menyamakan persepsi dan mensinkronkankan program antar daerah dalam

perlindungan dan pengelolaan LH secara substansi.
4) Meningkatkan pengetahuan SDM dalam pengelolaan LH bagi masing-masing

lembaga, karena dengan forum ini akan terjadi tukar menukar informasi dan pengalaman.

Sedangkan sasaran kegiatan ini adalah diharapkan adanya sinergi antara BLHD Provinsi dan Kantor/Badan LH Kabupaten/Kota se Kalbar dalam melaksanakan kegiatan tahun 2012, dan diharapkan hasil rumusan Rakornis ini dapat dijadikan bahan rumusan Rakoreg tahun 2011 yang akan dilaksanakan pada tanggal 29 - 30 Maret 2011 di Banjarmasin serta kedepannya untuk menjembatani rencana RPJM tahun 2010 – 2014 dalam menyusun program kegiatan-kegiatan Perlindungan dan Pengelolaan LH dan mengacu kepada UU No.32 tahun 2009 yang bersifat sinergis dan saling mendukung antara satu dengan lainnya terhadap 14 Kabupaten/Kota se Kalimantan Barat untuk direncanakan dan ditingkatkan lebih baik pelaksanaan sinkronisasi kegiatan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Disamping itu melalui kegiatan Rapat Koordinasi Tenis Lingkungan Hidup se kalimantan Barat ini juga dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi untuk bertukar informasi maupun pengalaman terhadap penanganan Lingkungan Hidup. Peserta Rakornis berjumlah kurang lebih 45 orang yang terdiri dari unsur ; Badan/Kantor Lingkungan Hidup Kab/Kota se Kalimantan Barat dan BLHD Prov. Kalimantan Barat. Sebagai narasumber dalam kegiatan ini antara lain adalah :
1) Deputi IV Bidang B3 dan Pengelolaan Limbah B3 Kementerian Negara

Lingkungan Hidup, menyampaikan materi Program ADIPURA 2011.

Page 39

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

2) Deputi VI Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan masyarakat

Kementerian Negara Lingkungan Hidup, menyampaikan materi Program ADIWIYATA Tahun 2012.
3) Kepala Pusat Pengelolaan Ekoregion (PPE) Kalimantan, menyampaikan materi

Konsep Ekoregion Dalam Perlindungan dan Pengelolaan LH di Kalimantan dan RPPLH 4) Kepala Badan, Sekretaris dan Kepala Bidang Badan Lingkungan Hidup Daerah Prov. Kalimantan Barat, menyampaikan materi Program LH BLHD Prov. Kalbar, antara lain : DAK LH, SLHD, Penaatan Lingkungan, KLHS, Pengendalian dan Konservasi SDA, serta Program Bidang Kerjasama dan Pengembangan Kapasitas.

Acara Rakornis dibuka secara resmi oleh Gubernur Kalimantan Barat, dalam hal ini diwakili oleh Kepala BLHD Prov. Kalimantan Barat, pada tanggal 16 Maret 2011 di Function Hall 2 Hotel Kapuas Pontianak. Pada acara pembukaan, hadir pula pihakpihak/instansi terkait. Dari pelaksanaan kegiatan Rakornis PLH se-Kalimantan Barat tahun 2011 dapat menghasilkan rumusan yang disepakati dan ditandatangani oleh Kepala berikut :
1) Koordinasi dan sinkronisasi program dan kegiatan antara Pemerintah, Pemerintah

BLHD

Prov.

Kalbar

dan

Kepala Badan/kantor

Lingkungan

Hidup

Kabupaten/Kota se Kalimantan Barat. Adapun hasil rumusan tersebut adalah sebagai

Provinsi dan Pemerintah Kabupaten / Kota dalam rangka upaya Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan tetap memperhatikan kewenangan serta tugas pokok dan fungsi masing-masing sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku serta norma, standart, prosedur dan kriteria (NSPK) ;
2) Pemerintah Provinsi dan Kabupaten / Kota melaksanakan program kegiatan yang

mengarah pada Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal bidang Lingkungan Hidup yang ditetapkan melalui Peraturan Gubernur Bupati, Walikota atau perda termasuk membentuk Pos Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa Lingkungan (P3SL);

Page 40

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

3) Penguatan dan Pengembangan Data dan Informasi Perlindungan dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup melalui penyediaan data yang akurat dan terkini up to date ;
4) Instansi Lingkungan Hidup Provinsi dan Kabupaten/Kota secara koordinatif

melakukan pembinaan terhadap kegiatan yang telah mendapatkan rekomendasi kelayakan Lingkungan Hidup dari Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya dengan mengevaluasi konsistensi pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan Lingkungan Hidup terhadap Dokumen Lingkungan Hidup ; 5) Penataan Komisi Penilai AMDAL Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam melakukan penilaian AMDAL perlu dilengkapi dengan Lisensi Komisi Penilai AMDAL yang diterbitkan oleh Gubernur bagi Komisi Penilai AMDAL Provinsi dan Bupati/Walikota bagi Komisi Penilai AMDAL Kabupaten /Kota mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2010 tentang Persyaratan
6) Pemerintah

dan

Tatacara

Lisensi

Komisi

Penilai

AMDAL

;

Provinsi dan Kabupaten/Kota wajib melakukan inventarisasi

Lingkungan Hidup, dan penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sesuai dengan kewenangannya selambat-lambatnya tahun 2014 ;
7) Pemerintah Provinsi mendorong Pemerintah Kabupaten/Kota dalam penguatan

kapasitas kelembagaan Lingkungan Hidup setingkat eselon II ;
8) Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota wajib menyusun KLHS

RTRW , RPJM dan RPJP serta KLHS Kebijakan Rencana atau Program yang berpotensi menimbulkan dampak dan atau resiko Lingkungan Hidup ;
9) Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota mendorong Pemerintah

Pusat untuk segera menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Menteri sesuai yang di amanatkan UU No.32 Thn 2009. Rumusan yang telah disepakati bersama diharapkan tidak hanya sekedar menjadi hasil dari suatu kegiatan belaka, akan tetapi perlu ditindaklanjuti oleh BLHD Provinsi Kalbar serta BLH Kabupaten/Kota se Kalimantan Barat. II.6.3. Bimbingan Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup

Page 41

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

BLHD Prov. Kalbar melaksanakan bimbingan teknis pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) laboratorium Kabupaten/Kota penerima dana DAK-LH. Adapun tujuan penyelenggaraan bimbingan teknis antara lain : 1) Mendorong instansi Badan/ Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota agar dapat mengoptimalkan sarana dan prasarana yang telah dimiliki.
2) Meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan keterampilan bagi para pengelola

lingkungan hidup dan kaitannya dengan peran laboratorium lingkungan sehingga memiliki tanggung jawab terhadap percepatan pelestarian lingkungan hidup di daerahnya.
3) Menyiapkan sumberdaya manusia khususnya pengelola lingkungan hidup agar

memiliki sikap profesional sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

II.6.4. Pendidikan Lingkungan Hidup (Green and Clean School) dan Adiwiyata

Pendidikan lingkungan Hidup (environmental education – EE) adalah suatu proses untuk membangun populasi manusia di dunia yang sadar dan peduli terhadap lingkungan total (keseluruhan) dan segala masalah yang berkaitan dengannya, dan masyarakat yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap dan tingkah laku, motivasi serta komitmen untuk bekerja sama , baik secara individu maupun secara kolektif , untuk dapat memecahkan berbagai masalah lingkungan saat ini, dan mencegah timbulnya masalah baru. Pendidikan lingkungan hidup haruslah : 1) Mempertimbangkan lingkungan sebagai suatu totalitas — alami dan buatan, bersifat teknologi dan sosial (ekonomi, politik, kultural, historis, moral, estetika);
2) Merupakan suatu proses yang berjalan secara terus menerus dan sepanjang hidup,

dimulai pada jaman pra sekolah, dan berlanjut ke tahap pendidikan formal maupun non formal; 3) Mempunyai pendekatan yang sifatnya interdisipliner, dengan menarik/mengambil isi atau ciri spesifik dari masing-masing disiplin ilmu sehingga memungkinkan suatu pendekatan yang holistik dan perspektif yang seimbang.

Page 42

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

4) Meneliti (examine) issue lingkungan yang utama dari sudut pandang lokal, nasional, regional dan internasional, sehingga siswa dapat menerima insight mengenai kondisi lingkungan di wilayah geografis yang lain; 5) Memberi tekanan pada situasi lingkungan saat ini dan situasi lingkungan yang potensial, dengan memasukkan pertimbangan perspektif historisnya; 6) Mempromosikan nilai dan pentingnya kerjasama lokal, nasional dan internasional untuk mencegah dan memecahkan masalah-masalah lingkungan; 7) Secara eksplisit mempertimbangkan/memperhitungkan aspek lingkungan dalam rencana pembangunan dan pertumbuhan; 8) Memampukan peserta didik untuk mempunyai peran dalam merencanakan pengalaman belajar mereka, dan memberi kesempatan pada mereka untuk membuat keputusan dan menerima konsekuensi dari keputusan tersebut;
9) Menghubungkan (relate) kepekaan kepada lingkungan, pengetahuan, ketrampilan

untuk memecahkan masalah dan klarifikasi nilai pada setiap tahap umur, tetapi bagi umur muda (tahun-tahun pertama) diberikan tekanan yang khusus terhadap kepekaan lingkungan terhadap lingkungan tempat mereka hidup; 10) Membantu peserta didik untuk menemukan (discover), gejala-gejala dan penyebab dari masalah lingkungan; 11) Memberi tekanan mengenai kompleksitas masalah lingkungan, sehingga diperlukan kemampuan untuk berfikir secara kritis dengan ketrampilan untuk memecahkan masalah. 12) Memanfaatkan beraneka ragam situasi pembelajaran (learning environment) dan berbagai pendekatan dalam pembelajaran mengenai dan dari lingkungan dengan tekanan yang kuat pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya praktis dan memberikan pengalaman secara langsung (first – hand experience). Salah satu bentuk pendidikan lingkungan hidup adalah melalui program Adiwiyata. Adiwiyata adalah salah satu program Kementerian Negara Lingkungan Hidup dalam rangka penerapan Kesepakatan Bersama antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 03/MENLH/02/2010 dan Nomor : 01/II/KB/2010. Tujuan program Adiwiyata adalah menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran & penyadaran warga sekolah (guru, murid & pekerja lainnya), sehingga di kemudian hari warga sekolah

Page 43

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan & pembangunan berkelanjutan. BLHD Prov. Kalbar melaksanakan program adiwiyata dengan tujuan untuk menciptakan dan mewujudkan sekolah - sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan. Keberhasilan untuk menjadi sekolah Adiwiyata tidaklah mudah, apabila tanpa adanya niat dan upaya dari sekolah itu sendiri serta dukungan dari semua pihak yang terkait.
II.6.5. Peningkatan Pemahaman dan Wawasan Stakeholder terhadap Pengelolaan

Lingkungan Hidup (Terlaksananya Hari Besar Lingkungan Hidup, Kalpataru dan Apresiasi Masyarakat Terhadap Lingkungan Hidup) BLHD Prov.Kalbar melaksanakan program peningkatan pemahaman dan wawasan stakeholder terhadap pengelolaan lingkungan hidup adalah dalam rangka pelaksanaan hari besar lingkungan hidup, kalpataru dan apresiasi masyarakat terhadap lingkungan hidup. Peringatan Hari Krida Pertanian, Hari Koperasi, Hari Keluarga Nasional, Hari Lingkungan Hidup, Hari Pangan Sedunia dan Hari Menanam Pohon Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011 dilaksanakan dalam bentuk rangkaian berbagai kegiatan yang dilaksanakan selama empat hari, diantaranya adalah pameran, perlombaan, hiburan, bakti sosial, dan penanaman pohon. 1) Pameran Peserta pameran terdiri dari Pemerintah Kabupaten se-Kalimantan Barat, SKPD lingkup Pemerintah Provinsi, dan SKPD lingkup Kabupaten Kayong Utara. Jumlah stand disediakan sebanyak 32 stand dengan biaya sewa setiap tand sebesar Rp. 2.500.000 (tidak termasuk PPN). Fasilitas yang tersedia berupa tenda, kursi 2 buah, dan listrik 450 watt. Badan Lingkungan Hidup Daerah Prov. Kalbar ikut berpatisipasi pada pameran ini. 2) Penyuluhan KB, Pemutaran Film dan Sunatan Masal Penyuluhan keluarga berencana dilakukan sambil memutar film hiburan bagi masyarakat, khususnya pengunjung pameran. 3) Hiburan Rakyat Hiburan rakyat diisi oleh artis KDI dan artis lokal

Page 44

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

4) Pemberian piagam penghargaan dari Gubernur Badan Lingkungan Hidup Daerah Prov. Kalbar memberikan penghargaan Gubernur kepada:  Kota Sintang mendapatkan penghargaan Adipura  Sekolah-sekolah yang menerima penghargaan Adiwiyata adalah: - SDN 12 Singkawang Tengah- Kota Singkawang - SMPN 4 Singkawang Tengah- Kota Singkawang - SMUN 4 Pontianak  Sdr. Samuel Oton Sidin penerima Kalpataru. 5) Dialog 6) Bazar 7) Program Makan Telur dan Gemar Makan Sayur 8) Penanaman Pohon Puncak acara berupa upacara tanpa penaikan bendera dilaksanakan pada hari kedua yang dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Barat yang diwakili Asistensi II Sekda. Maksud dari pelaksanaan ini diantaranya adalah untuk meningkatkan kesadaran bersama agar lebih banyak berbuat dengan aksi nyata untuk mengisi pembangunan di sektor pertanian, pangan, keluarga berencana, koperasi dan lingkungan hidup. Adapun sasaran dari kegiatan ini antara lain : 1) Meningkatkan citra Pemerintahan Prov. Kalimantan Barat ditengah-tengah masyarakat. 2) Membangun kesadaran dan pemahaman di kalangan masyarakat akan tugas-tugas Pemerintah dalam membangun daerah. 3) Membangun kesadaran masyarakat akan perlunya peran serta masyarakat dalam pembangunan. 4) Mendorong peningkatan kinerja aparatur Pemerintah. 5) Mendorong pertumbuhan perekonomian Kalimantan Barat yang berwawasan lingkungan.

Page 45

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

III. TINDAK LANJUT
Dari berbagai program yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat selama tahun 2011, belum semuanya dapat diikuti dan diketahui perkembangan umpan balik (feed back) dan dampak (impact) yang signifikan terhadap tujuan dilaksanakannya program tersebut. Sehingga dari beberapa program yang dilaksanakan tersebut, masih perlu tindak lanjut dan perbaikan secara terusmenerus (kontinyu) mengingat permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini begitu kompleks sehingga perlu penanganan secara holistik dan terintegrasi antara stakeholder yang saling berkepentingan dan terkait termasuk seluruh masyarakat sebagai bagian dari lingkungan. Untuk kedepannya, program-program yang dilaksanakan diharapkan tidak hanya menyangkut masalah regional yang ada di Kalimantan, tetapi juga diperluas ke arah nasional yang berkaitan dengan karakteristik lingkungan di Kalimantan seperti penanganan deforestasi dan degradasi di lahan gambut, melakukan penurunan emisi gas rumah kaca sebagai bagian dari Rencana Aksi Daerah (RAD) yang berpedoman pada Rencana Aksi Nasional (RAN).

Page 46

Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011

Selain itu, diharapkan ke depannya program yang dilaksaankan oleh BLHD Prov. Kalbar juga diperluas ke arah penanganan sampah dengan sistem “bank sampah”, mengadopsi sistem yang telah berhasil di lakukan ditempat (daerah) lain. Untuk melaksanakan program ini tentu saja tidak bisa dilakukan secara sendiri melainkan bekerja sama dengan Satuan kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang lain dan berkaitan dengan penganganan masalah sampah.

IV. PENUTUP
Sebagai penutup dari Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja / Kegiatan BLHD Prov. Kalbar Tahun 2011, ada beberapa hal yang dapat dijadikan saran, yaitu :
1)

Program yang dilaksanakan oleh BLHD Prov. Kalbar sebaiknya juga

mengikuti isu lingkungan yang berkembang secara global. Sebagai contoh : permasalahan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, penurunan emisi gas rumah kaca.
2)

Pelaksanaan program oleh

BLHD Prov. Kalbar sebaiknya juga

melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang lain dan berkaitan dengan permasalahan lingkungan karena masalah lingkungan bersifat lintas sektoral dan tidak terkait batas administrasi. Oleh karena itu, keterkaitan antara berbagai SKPD sangat diperlukan, tidak hanya pelibatan Badan/Kantor Lingkugan Hidup Kabupaten/Kota, guna membantu permasalahan lingkungan yang semakin kompleks.

Page 47

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->