P. 1
syirkah(3)

syirkah(3)

|Views: 104|Likes:
Published by amarhaeni

More info:

Published by: amarhaeni on Mar 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/07/2012

pdf

text

original

SYIRKAH

Sebagai tugas mata kuliah Fiqh Muamalah semester II

Arief Widyananto Azhary Husni Dewinta Maharani Elvira Sitna Hajar Iwan Hermawan

0806484093 0806484055 0806484124 0806450445 0806484175

PUSAT STUDI TIMUR TENGAH DAN ISLAM KEKHUSUSAN EKONOMI DAN KEUANGAN SYARIAH UNIVERSITAS INDONESIA

Dalam istilah fikih syirkah adalah suatu akad antara dua orang atau lebih untuk berkongsi modal dan bersekutu dalam keuntungan. Dalam hal ini mencampur satu modal dengan modal yang lain sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pengertian Secara bahasa syirkah atau musyarakah berarti mencampur. yakni masing-masing mengizinkan pihak lainnya berbuat hukum terhadap harta milik bersama antara kedua belah pihak. Menurut Hanafiyah syirkah adalah : Perjanjian antara dua pihak yang bersyarikat mengenai pokok harta dan keuntungannya. Menurut ulama Malikiyah syirkah adalah : Keizinan untuk berbuat hukum bagi kedua belah pihak. Sedangkan menurut Syafi‟iyah : 2 . Menurut Hanabilah : Berkumpul dalam berhak dan berbuat hukum. Syarikah atau syirkah secara termonologis perserikatan dalam kepemilikan hak untuk melakukan tasharruf (pendayagunaan harta). disertai dengan tetapnya hak berbuat hukum (terhadap harta tersebut) bagi masing-masing.2009 I.

II. Ayat ini sebenarnya tidak memberikan landasan syariah bagi semua jenis syirkah. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Jika seseorang mati. ia hanya memberikan landasan kepada syirkah jabariyyah ( yaitu perkongsian beberapa 3 . An Nisa :12) • ‫وإن كان رجل يورث كللة أو امرأة وله أخ أو أخت فلك حل واح حد‬ ٍ ِ َ ّ ُ َِ ٌ ْ ُ ْ َ ٌ َ ُ ََ ٌ ََ ْ َ ً ََ َ ُ َ ُ ٌ ُ َ َ َ َِ ‫منهما السدس فإن كانوا أكثر من ذلك فهم شحركاء فححي الثل حث مححن‬ ِ ِ ُّ ِ َ َ ُ ْ ُ َ َ َِ ِ َ َ ْ َ ْ َ ُ َ ِ َ ُ ُ ّ َ ُ ْ ّ ‫بعد وصية يوصى بهآ أو دين غيحر مضححآر وصحية محن الح والح‬ ّ َ ّ َ ّ ً ّ ِ َ ّ َ ُ َ ْ َ ٍ ْ َ ْ َ َ ِ َ ُ ٍ ِّ َ ِ ْ َ ‫َِ ٌ َليم‬ ٌ ِ‫عليم ح‬ Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. 1. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu.Dari Al-Qur’an (Q. namun dapat dipahami intinya bahwa syirkah adalah perjanjian kerjasama antara dua pihak atau beberapa pihak.Meskipun rumusan yang dikemukakan para ulamatersebut redaksional berbeda. baik mengenai modal ataupun pekerjaan atau usaha untuk memperoleh keuntungan bersama. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)[274]. hadis dan ijma’. jika mereka tidak mempunyai anak. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah.S. baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Jika kamu mempunyai anak. Landasan Syariah Akad syirkah ini mendapatkan landasan syariahnya dari al-Qur’an.

orang yang terjadi di luar kehendak mereka karena mereka sama-sama mewarisi harta pusaka).Ijma’ 4 .S. Shaad-24) ‫قال لقد ظلمك بسؤال نعجتك إلى نعاجه وإن كثي حرا م حن الخلطححاء‬ َ َ ُ ْ ْ ّ ً ِ َ ّ ِ َ ِ ِ َ ِ َِ َ ِ َ ْ َ ِ َ ُ ِ َ َ ََ ْ َ َ َ َ ِ َ‫ّ ل‬ ‫َليبغي بعضهم عَلى بع حض ِإل اّل حذين آمنححوا وعمُلححوا الصححاِحات‬ ِ َ َ َُ َ ِ ّ ٍ ْ َ َ ْ ُ ُ ْ َ ِ ْ َ ‫وقليل ما هم وظن داوود أنما فتناه فاستغفر ربه وخر راكعا‬ ً ِ َ ّ َ َ ُ ّ َ َ َ ْ َ ْ َ ُ ّ َ َ َ ّ َ ُ ُ َ ّ َ َ ْ ُ ّ ٌ َِ َ ‫”وأناب‬ َ ََ Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berkongsi itu benar-benar berbuat zalim kepada sebagian lainnya kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh”. maka Allah meninggalkan mereka dengan tidak memberikan berkah dan pertolongan sehingga perniagaan itu merugi. Di samping itu masih banyak hadis yang lain yang menceritakan bahwa para sahabat telah mempraktekkan syirkah ini sementara Rasulullah SAW tidak pernah melarang mereka. 3. Ayat ini mencela perilaku orang-orang yang berkongsi atau berserikat dalam berdagang dengan menzalimi sebagian dari mitra mereka. Shaad: 24. 2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Rasulullah telah memberikan ketetapan kepada mereka. Arti hadis ini adalah bahwa Allah SWT akan selalu bersama kedua orang yang berkongsi dalam kepengawasanNya. (Q. Q. Abu Dawud dan Hakim).Dari Sunnah Di riwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda : • ‫)أنا ثا لث الشاركين ما لم يخن أحدهما صا حبه فاذا خانه خرجت من بينهما )رواه أبو داود‬ “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman : “Aku pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satunya tidak menghianati lainnya” (HR. penjagaanNya dan bantuanNya. Allah akan memberikan bantuan dalam kemitraan ini dan menurunkan berkah dalam perniagaan mereka. Kedua ayat al-Qur’an ini jelas menunjukkan bahwa syirkah pada hakekatnya diperbolehkan oleh risalah-risalah yang terdahulu dan telah dipraktekkan. Jika keduanya atau salah satu dari keduanya telah berkhianat.S.

Hal ini penting karena dalam kenyataan. Jenis usaha fisik yang dilakukan dalam syirkah ini harus dapat diwakilkan kepada orang lain.Ijma menurut pakar ushul fikih merupakan salah satu prinsip dari syariat Islam. Tidak diperbolehkan modal masih berupah utang atau uang yang tidak dapat dihadirkan ketika akad atau beli. menurut ulama Hanafiyah bahwa rukun syirkah ada dua. 2. 5 . c. Modal yang disetor harus berupa barang yang dihadirkan. Ijma adalah suatu konsensus (kesepakatan) mengenai permasalahan hukum Islam baik dinyatakan secara diam maupun secara nyata. Dalam konteks musyarakah. Karena syirkah ini dapat diwujudkan dengan akad dan bukan dengan modal. b.Rukun dan Syarat Syirkah Rukun syirkah masih diperselisihkan oleh para ulama.” III. Modal harus berupa uang kontan. maka akan sulit menjalankan perusahaan dengan gesit. Masing-masing patner harus mengetahui saham keuntungannya seperti 10 % atau 20 % misalnya. Keuntungan yang didapat nanti dari hasil usaha harus diketahui dengan jelas. Karena barang-barang ini tidak dapat dijadikan ukuran sehingga akan menimbulkan persengketaan di kemudian hari karena keuntungan yang dihasilkannya juga menjadi tidak jelas proporsinya dengan modal yang disetor akibat sulitnya dinilai. Tidak disyaratkan modal yang disetor oleh para patner itu dicampur satu sama lain. 1. Adapun yang lain seperti 2 orang atau pihak yang berakad dan harta berada diluar pembahasan akad seperti terdahulu dalam akad jual beli. Keuntungan harus disebar kepada semua patner. Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni. Syarat-syarat khusus a. yaitu: Ijab & Kabul. mengatakan : “ Kaum muslimin telah berkonsensus terhadap legitimasi musyarakah secara global walaupun terdapat perbedaan pendapat dalam beberapa elemen darinya. Sebab Ijab Qabul (akad) menentukan adanya syirkah. Tidak diperbolehkan modal dalam bentuk harta yang tidak bergerak atau barang. dan merupakan konsensus seluruh ulama (mujtahid) di kalangan kaum muslimin pada suatu masa setelah Rasulullah SAW wafat atas hukum syara’ mengenai suatu kejadian. Syarat-syarat umum syirkah a. sering kali satu patner mewakili perusahaan untuk melakukan dealing dengan perusahaan lain. Jika syarat ini tidak ada dalam jenis usaha. b.

bahwa dalam mufawadhah disyaratkan: a. yaitu pembagian keuntungan harus jelas dan dapat diketahui dua pihak. seperti Junaih. Modal (pokok harta) dalam syirkah mufawadhah harus sama b. satu yang disepakati dan tiga yang diperselisihkan yaitu : 6 . Sesuatu yang bertalian dengan syarikat mufawadhah. syarat-syarat yang berhubungan dengan syirkah dibagi menjadi empat yaitu: 1. sepertiga dan yang lainnya 2. yakni pada semua macam jual beli atau perdagangan. atau usaha komersial bersama. IV. baik jumlahnya sama maupun berbeda. Syirkah al-‘aqad sendiri ada empat (Mazhab Hambali memasukkan syirkah mudharabah sebagai syirkah al’aqad yang kelima). yang berarti kemitraan yang terjadi karena adanya kontrak bersama. Bahwa modal yang dijadikan objek akad syirkah adalah alat pembayaran (nuqud). dan Rupiah b. misalnya setengah.Menurut Hanafiyah. dalam hal ini terdapat dua perkara yang harus dipeuhi yaitu: a. Jenis-jenis Syirkah/Musyarakah Dalam terminology Fikih Islam dibagi dalam dua jenis : a) Syirkah al-milk atau syirkah amlak atau syirkah kepemilikan. Bagi yang dijadikan objek akad disyaratkan syirkah umum. Dalam hal ini terdapat dua syarat. yaitu kepemilikan bersama dua pihak atau lebih dari suatu property. dan b) Syirkah al-‘aqd atau syirkah ‘ukud atau syirkah akad. Yang dijadikan modal (harta pokok) ada ketika akad syirkah dilakukan. Sesuatu yang berkaitan dengan bentuk yirkah baik dengan harta maupun dengan yang lainnya. yaitu: Berkenaan dengan benda yang diakadkan adalah harus dapat diterima sebagai perwakilan Yang berkenaan dengan keuntungan. 3. Sesuatu yang bertalian dengan syirkah mal (harta). Riyal. Bagi yang bersyirkah ahli untuk kafalah c.

. Syirkah ini dinamakan syirkah mufawadhoh karena modal yang disetor para patner dan usaha fisik yang dilakukan mereka sama atau proporsional. Mufawadhoh artinya sama-sama. Jadi syirkah mufawadhoh merupakan suatu bentuk akad dari beberapa orang yang menyetorkan modal dan usaha fisik yang sama. Syirkah ‘Inan merupakan suatu akad di mana dua orang atau lebih berkongsi dalam modal dan sama-sama memperdagangkannya dan bersekutu dalam keuntungan. • Syirkah al-mufawadhah. Adapun kerugian harus dibagi menurut perbandingan saham yang dimiliki oleh masing-masing patner. Syirkah ini dinamakan juga dengan syirkah shona’i atau taqobul. Mazhab Hanafi dan Maliki membolehkan bentuk syirkah ini. Jumhur (mayoritas) ulama. Mereka menyewa satu tempat untuk perniagaannya dan bila mendapatkan keuntungan dibagi menurut kesepakatan di antara mereka. ‘Inan artinya sama dalam menyetorkan atau menawarkan modal. Yang perlu diperhatian dalam syirkah ini adalah persamaan dalam segala hal di antara masing-masing patner. Sementara itu mazhab Syafi’I dan Hambali melarangnya karena secara realita sukar terjadi persamaan pada semua unsurnya. Hal ini disebabkan karena bentuk perkongsian ini lebih mudah dan praktis karena tidak mensyaratkan persamaan modal dan pekerjaan. Salah satu dari patner dapat memiliki modal yang lebih tinggi dari pada mitra yang lain. • Syirkah al-a’mal atau syirkah Abdan. Misalnya satu pihak tukang cukur dan pihak lainnya tukang jahit. Begitu pula salah satu pihak dapat menjalankan perniagaan sementara yang lain tidak ikut serta. Hukum jenis syirkah ini merupakan titik kesepakatan di kalangan para fukoha. Masing-masing patner saling menaggung satu dengan lainnya dalam hak dan kewajiban.• Syirkah al-amwal atau syirkah al-‘inan. yaitu dari madzhab 7 . Syirkah ini dibentuk oleh beberapa orang dengan modal profesi dan keahlian masing-masing. Para ulama sepakat membolehkan bentuk syirkah ini. Pembagian keuntunganpun dapat dilakukan sesuai dengan kesepakatan mereka bahkan diperbolehkan salah seorang dari patner memiliki keuntungan lebih tinggi sekiranya ia memang lebih memiliki keahlian dan keuletan dari pada yang lain. Profesi dan keahlian ini bisa sama dan bisa juga berbeda. Dalam syirkah ini tidak diperbolehkan satu patner memiliki modal dan keuntungan yang lebih tinggi dari para patner lainnya. Demikan juga syirkah ini merupakan bentuk syirkah yang paling banyak dipraktekkan kaum Muslimin di sepanjang sejarahnya. dan banyak mengandung unsur gharar aau ketidakjelasan.

bank melepaskan penyertaannya dan pemilik perusahaan akan mengambil alih kembali. membolehkan bentuk syirkah ini. mazhab Hanafi dan Hambali membolehkan bentuk syirkah ini. Dalam hal ini. • Syirkah al-wujuh/ Syirkah ini dibentuk tanpa modal dari para patner. Syirkah Mutanaqisah Syirkah mutanaqisya. Secara bertahap. b. bank memberikan pembiayaan dengan prinsip penyertaan. madzhab Syafi’I melarangnya karena madzhab ini hanya membolehkan syirkah modal dan tidak boleh kerja syirkah. baik yang berasal dari setoran pemegang saham yang ada maupun dengan mengundang pemegang saham baru. Sementara itu. Mereka hanya bermodalkan nama baik yang diraihnya karena kepribadiannya dan kejujurannya dalam berniaga. Pada bank syariah. karena modal pihak yang lain telah dialihkan kepada temannya. V. pembiayaan investasi menggunakan skema musyarakah mutanaqishah. Keuntungan yang dihasilkan dari usaha ini kemudian dibagi menurut persyaratan yang telah disepakati antara mereka. Syirkah Mutanaqishah dan Syirkah Muntahiyat Bit Tamlik a. sedangkan mazhab Maliki dan Syafi’I melarangnya. Syirkah ini terbentuk manakala ada dua orang atau lebih yang memiliki reputasi yang baik dalam bisnis memesan suatu barang untuk dibeli dengan kredit (tangguh) dan kemudian menjualnya dengan kontan. salah satu bentuk kerja sama antara dua pihak yang pada saat kerja samanya berlangsung salah satu pihak melepas modalnya untuk dimiliki oleh pihak lainnya.Hanafi. baik dengan menggunakan surplus cashflow yang tercipta maupun dengan menambah modal. Syirkah Muntahiya Bit Tamlik Syirkah Muntahiyat bit Tamlik tergolong dalam kategori Bai’ al-takjiri atau ijarah al-muntahiya bit-tamlik merupakan akad (kontrak) kerja sama antara dua 8 . Maliki dan Hambali. Sehingga pada akhirnya hanya satu pihak yang mengelola investasi tersebut.

2. 9 . Mengenai dua akad dalam satu transaksi lainnya yang tidak dibolehkan adalah jual-beli inai. A berjanji menyewa barang yang dijualnya tadi kepada B. Aplikasi Musyarakah di Lembaga Keuangan Syariah Aplikasi Musyarakah dalam praktek lembaga keuangan adalah : 1. pengusaha mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati kepada lembaga keuangan. Memang. VI. Modal Ventura Pada lembaga keuangan khusus yang dibolehkan melakukan investasi dalam kepemilikan perusahaan. yaitu contohnya A menjual barang kepada B namun dengan perjanjian suatu ketika A akan membeli lagi dari B. Kepemilikan Rumah dengan Akad Syirkah Mutanaqishah Umumnya untuk produk Kepemilikan Rumah Sederhana (KPRS) bank-bank syariah masih menggunakan akad murabahah sebagai akad pembiayaannya. Pembiyaan Proyek Lembaga keuangan dan pengusaha secara bersama-sama menyediakan dana untuk membiayai sebuah proyek. dimana pihak penyewa mempunyai hak untuk memiliki barang pada akhir masa sewa (financial lease). Praktek leasing konvensional mengenal sistem sewa-beli sebagai berikut: A menjual barang kepada B. Dikatakan oleh Muhammad dalam salah satu sesi pada Short Course Perbankan Syari’ah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yogyakarta pada bulan Desember 2006 bahwa bai’ al-takjiri atau ijarah al-muntahiya bit-tamlik bukanlah seperti praktek leasing (sewa-beli) yang dikenal saat ini. 3. Setelah proyek selesai. Penanaman modal dilakukan untuk jangka waktu tertentu. dan setelah itu penyedia dana melakukan divestasi atau menjual bagian sahamnya. akad ini dikalangan para praktisi perbankan syariah sudah banyak didiskusikan.orang atau lebih dengan cara menggabungan sewa dan beli. Hal ini dilarang dalam Islam karena ada dua akad dalam satu transaksi. Untuk saat ini akad musyarakah mutanaqishah masih dalam proses pembahasan. musyarakah diterapkan dalam skema modal ventura. baik secara langsung atau bertahap. Dalam akad mereka.

Revenue sharing dalam arti perbankan adalah perhitungan bagi hasil didasarkan kepada total seluruh pendapatan yang diterima sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut. Sebuah akad agar bisa diterapkan di perbankan syariah menunggu proses difatwakan oleh DSN-MUI.Mereka sudah mulai membahas dan agar segera dipraktekkan diperbankan syariah. Profit dan Revenue Sharing Profit sharing adalah perhitungan bagi hasil didasarkan kepada hasil bersih dari total pendapatan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut. ada bank syariah yang telah menerapkan akad syariah yang prinsipnya sama dengan akad musyarakah mutanaqishah. Mereka menyebutnya sebagai syirkatul milk. DSN-MUI sampai saat ini masih proses menampung penjelasan-penjelasan tentang akad tersebut dari berbagai pihak. dimana di antara keduanya akan terikat kontrak bahwa di dalam usaha tersebut jika mendapat keuntungan akan dibagi kedua pihak sesuai nisbah kesepakatan di awal perjanjian. VII. Untuk akad musyarakah mutanaqishah DSN-MUI masih dalam proses pembahasan dan mengkajinya dalam kaitan kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip syariah dan prinsip-prinsip lembaga keuangan. untuk kemudian dikaji lebih lanjut apakah sesuai dengan prinsip syariah atau tidak? Apakah bisa diterapkan atau tidak untuk praktek perbankan syariah di Indonesia? Tapi memang. Namun. Sistem revenue sharing berlaku pada pendapatan bank yang akan dibagikan dihitung berdasarkan pendapatan 10 . yang setiap 3 tahun sekali dapat dilakukan review berkaitan dengan pricing sewa. Setelah terbitnya PBI bank-bank syariah baru dapat melaksanakannya. Akad ini digunakan sebagai pembiayaan untuk pembelian suatu barang. selanjutnya diterbitkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI). Berarti secara legal akad musyarakah mutanaqishah belum bisa diterapkan. terutama praktisi perbankan syariah. seperti rumah atau mobil. Sistem profit and loss sharing dalam pelaksanaannya merupakan bentuk dari perjanjian kerjasama antara pemodal (Investor) dan pengelola modal (enterpreneur) dalam menjalankan kegiatan usaha ekonomi. dan begitu pula bila usaha mengalami kerugian akan ditanggung bersama sesuai porsi masing-masing. sampai saat ini akad musyarakah mutanaqishah belum di fatwakan oleh Dewan Syariah Nasional. Majelis Ulama Indonesia (DSNMUI).

baik karena gila. hal ini merupakan indikator pencabutan atau pembatalan kerelaan syirkah oleh salah satu pihak. 4. Pembatalan Syirkah Kontrak kerja sama (perjanjian ) antara dua pihak atau lebih dalam musyarakah berakhir atau batal. 6. yang berakhir atau batal adalah yang meninggal saja. Salah satu pihak meninggal dunia. Salah satu pihak ditaruh di bawah pengampunan. meskipun tanpa persetujuan pihak lainnya. Salah satu pihak dari pihak-pihak yang bekerja sama hilang atau tidak mempunyai kapabilitas dan keahlian dalam manajemen keuangan (mengelola harta. usaha). 3. 11 . tetapi apabila anggota musyarakah tersebut lebih dari dua pihak. yang digunakan dalam menghitung bagi hasil untuk produk pendanaan bank. Dan kontrak tersebut tidak ada keharusan untuk dilaksanakan apabila salah satu pihak tidak menginginkannya lagi. 2.kotor (gross sales). apabila ahli waris dari pihak yang meninggal menghendaki turut serta dalam musyarakah tersebut. Modal dari para pihak yang terlibat dalam musyarakah tersebut hilang atau lenyap sebelum dibelanjakan atas nama musyarakah. yang menanggung resiko adalah para pemiliknya sendiri. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa keadaan pailit atau bangkrut itu tidak membatalkan atau mengakhiri perjanjian yang disepakati oleh yang bersangkutan. menjadi resiko bersama. apabila : 1. Pendapat ini dikemukakan oleh mazhab Maliki. VII. Salah satu pihak menderita kebangkrutan (pailit) yang berdampak tidak memilki secara penuh atas harta yang menjadi saham musyarakah. maka dapat dilakukan perjanjian (kontrak) kerja sama yang baru bagi ahli waris yang bersangkutan. Bila modal tersebut hilang atau lenyap sebelum terjadi percampuran harta atau dana sehingga tidak dapat lagi dipisah-pisahkan lagi. baik karena boros yang terjadi pada saat kontrak perjanjian syirkah sedang berjalan maupun sebab yang lainnya. Kerusakan terjadi setelah dibelanjakan. Apabila modal hilang atau lenyap setelah terjadi percampuran harta atau dana sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan lagi. Salah satu pihak yang mengikat kontrak tersebut membatalkannya. Musyarakah dapat terus berlangsung selama pihak-pihak lainnya masih hidup. depresi/stres berat maupun karena sebab lainnya. Syafi’i dan Hambali. dan apabila masih ada sisa harta atau modal maka musyarakah tersebut masih dapat berlangsung dengan kekayaan (asset) yang masih ada. 5. maka hal itu menjadi tanggungan resiko bersama. sebab syirkah atau musyarakah adalah suatu akad (kontrak) yang terjadi atas dasar kerelaan antara kedua belah pihak atau lebih.

FATWA DEWAN SYARI'AH NASIONAL NO: 08/DSN-MUI/IV/2000 Tentang PEMBIAYAAN MUSYARAKAH Menimbang Mengingat Memperhatikan MEMUTUSKAN Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN MUSYARAKAH Pertama : Beberapa Ketentuan: 1. d. Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum. tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad). Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad). Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak. c. e. Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan dana untuk kepentingannya sendiri. Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan. b. 3. atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern. Modal 12 : : : : . Obyek akad (modal. Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk mengelola aset dan masing-masing dianggap telah diberi wewenang untuk melakukan aktifitas musyarakah dengan memperhatikan kepentingan mitranya. melalui korespondensi. b. dengan memperhatikan halhal berikut: a. 2. keuntungan dan kerugian) a. kerja. dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil. Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah dalam proses bisnis normal. Akad dituangkan secara tertulis.Lampiran. dan memperhatikan hal-hal berikut: a. c.

b. iv. kecuali atas dasar kesepakatan. iii. ii. LKS dapat meminta jaminan. ii. Kerja i. ii. d. Pada prinsipnya. Keuntungan i. Jika modal berbentuk aset. Seorang mitra boleh melaksanakan kerja lebih banyak dari yang lainnya. Modal yang diberikan harus uang tunai. meminjamkan. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. dan sebagainya. Kerugian Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara proporsional menurut saham masing-masing dalam modal. Biaya Operasional dan Persengketaan a. properti. 4. Para pihak tidak boleh meminjam. emas. perak atau yang nilainya sama. Kedudukan masing-masing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak. namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan. Sistem pembagian keuntungan harus tertuang dengan jelas dalam akad. Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra. Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan musyarakah. iii.i. Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 08 Muharram 1421 H / 13 April 2000 M 13 . kelebihan atau prosentase itu diberikan kepadanya. dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan. Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi keuntungan atau penghentian musyarakah. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. b. c. kesamaan porsi kerja bukanlah merupakan syarat. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan. Setiap mitra melaksanakan kerja dalam musyarakah atas nama pribadi dan wakil dari mitranya. seperti barang-barang. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama. dan dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan tambahan bagi dirinya. harus terlebih dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra. akan tetapi. menyumbangkan atau menghadiahkan modal musyarakah kepada pihak lain.

Jakarta : Pt.DAFTAR PUSTAKA Al Mushlih. Syafii. Syafe’i. DARUL HAQ. Jakarta. Bank Syariah Dalam Teori & Praktek. Abdullah. 2007. Fiqih Sunnah. Jakarta Ascarya. Fiqih Muamalah. 1987. PT Raja Grafindo Persada. 2004. Hendi. Jilid 13. 2001. Fiqih Ekonomi Keuangan Islam. Rahmat. 2002. M. Pustaka Setia. PUSTAKA. Bandung. Antonio. 2006. Jakarta. Raja Grafindo Persada. Jawa Barat 14 . Sabiq. Sayyid. Jakarta Suhendi. Fiqih Muamalah. Akad & Produk Bank Syariah. dan Shalah ash-Shawi. Gema Insani Pers.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->