P. 1
Memonopoli perdagangan

Memonopoli perdagangan

|Views: 81|Likes:
Published by Aly Muchamad

More info:

Published by: Aly Muchamad on Mar 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/07/2012

pdf

text

original

Hak istimewa voc: 1.Memonopoli perdagangan 2. Memiliki pengadilan dan tentara sendiri 3.

Menguasai dan mengikat perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di daerah monopoli perdagangan 4. Membuat uang sendiri 5. Mendirikan benteng pertahanan 6. Mengangkat/ memberhentikan penguasa setempat

1. Banyak pegawai VOC yang curang dan korupsi. 2. Banyak pengeluaran untuk biaya peperangan contoh perang melawan Hasanuddin dari Gowa. 3. Banyaknya gaji yang harus dibayar karena kekuasaan yang luas membutuhkan pegawai yang banyak. 4. Pembayaran Devident (keuntungan) bagi pemegang saham turut memberatkan setelah pemasukan VOC kekurangan. 5. Bertambahnya saingan dagang di Asia terutama Inggris dan Perancis. 6. Perubahan politik di Belanda dengan berdirinya Republik Bataaf 1795 yang demokratis dan liberal menganjurkan perdagangan bebas. Akhirnya VOC dibubarkan pada 31 Desember 1799 dengan hutang 136,7 juta gulden dan kekayaan yang ditinggalkan berupa kantor dagang, gudang, benteng, kapal serta daerah kekuasaan di Indonesia pelayaran hongi untuk memberantas penyelundupan. Tindakan yang dilakukan VOC adalah merampas setiap kapal penduduk yang menjual langsung rempah-rempah kepada pedagang asing seperti Inggris, Perancis dan Denmark. Hal ini banyak dijumpai di pelabuhan bebas Makasar. Hongi adalah nama jenis perahu di Maluku yang bentuknya panjang dipakai untuk patroli laut Belanda yang didayung secara paksa oleh penduduk setempat

Cultuurstelsel (atau secara kurang tepat diterjemahkan sebagai Tanam Paksa) adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak. Tanam Paksa ini mulai dilaksanakan di Indonesia khususnya di Pulau Jawa pada tahun 1830, dan hal ini merupakan manifestasi dari “forced specialization” yang didasarkan pada analisis manfaat komparatif Ricardo oleh pihak penjajah. Spesialisasi tanam paksa ini dijalankan dengan cara pembiayaan brutal dalam bentuk kerja paksa atau mobilisasi paksa dan ini merupakan komersialisasi kolonial di sektor pertanian. Proses ini

Agrarische Wet. yaitu pembukaan perkebunan-perkebunan besar di Jawa dan Sumatra Timur setelah cultuurstelsel berakhir. yaitu menjadi 3. Seorang Asisten Residen di Lebak.mengakibatkan surplus ekonomi yang praktis tanpa modal pokok yang berarti. atau untuk tanaman semusim seperti tebu dan tembakau dalam bentuk sewa jangka pendek. Surplus ekspor (sesudah dikurangi impor) sebagai hasil cultuurstelsel tercatat berjumlah 781 juta Gulden dalam periode 1840-1875 dan melonjak luar biasa ketika terjadi pembukaan perkebunanperkebunan besar di Jawa dan Sumatera. Eduard Douwes Dekker mengarang buku Max Havelaar (1860).3 milyar gulden dalam periode 1915-1920 (Hatta. Kaum liberal di negeri Belanda berpendapat bahwa seharusnya pemerintah jangan ikut campur tangan dalam kegiatan ekonomi. teh. Dalam buku itu diceritakan kondisi masyarakat petani yang menderita akibat tekanan pejabat Hindia Belanda. Mereka mempunyai tujuan lebih lanjut. Banten. karena modal pokok dalam investasi tanam paksa ini adalah tenaga kerja petani kita di Pulau Jawa (Frank. menjadi sumber buruh murah bagi perkebunan-perkebunan besar ini. dengan diberlakukannya UU Agraria. kelapa sawit. UU ini memperbolehkan perusahaan-perusahaan perkebunan swasta menyewa lahan-lahan yang luas dengan jangka waktu paling lama 75 tahun. Gerakan liberal di negeri Belanda dipelopori oleh para pengusaha swasta. tarum (nila). . Kondisi kemiskinan dan penindasan sejak tanam paksa dan UU Agraria. Pengiriman penduduk dari pulau Jawa ke Sumatera mirip dengan pengiriman budak oleh kekuasaan kolonial Inggris ke West Indies untuk dipaksa bekerja di perkebunan-perkebunan gula disana. menyediakan prasarana. Kelompok proletariat desa ini kemudian dalam sejarah investasi kolonial berikutnya.5% dari penduduk pedesaan Jawa tergolong sebagai lapisan miskin desa atau proletariat desa. namun demikian tanam paksa ini tidak memberikan kemakmuran bagi negara jajahannya. Tetapi tujuan yang hendak dicapai oleh kaum liberal tidak hanya terbatas pada penghapusan Tanam Paksa. Mereka menghendaki agar kegiatan ekonomi ditangani oleh pihak swasta. sementara pemerintah bertindak sebagai pelindung warga negara. Namun demikian usaha kaum liberal di negeri Belanda agar Tanam Paksa dihapuskan telah berhasil pada tahun 1870. kopi. Oleh karena itu kebebasan yang mereka perjuangkan terutama kebebasan di bidang ekonomi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Egbert de Vries (1931) atas kajiannya mengenai kasus kegiatan pertanian di Pasuruan yang menjadi contoh kehidupan petani pada waktu itu. Pada tahun 1926 Vries menggambarkan bahwa sebanyak 62. ini mendapat kritik dari para kaum humanis Belanda. untuk ditanami tanaman keras seperti karet. menegakkan hukuman dan menjamin keamanan serta ketertiban. 1981) Tenaga kerja yang diperas dengan pendapatan riil yang kecil menempatkan para petani menjadi tenaga kerja yang optimal bagi Belanda yang mana akhirnya proyek ini menciptakan strata sosial di dalam masyarakat dan menempatkan petani pada strata sosial bawah yang tidak sanggup memperbaiki dirinya sendiri apalagi untuk melakukan mobilitas sosial secara vertikal. 1972). Dalam bukunya Douwes Dekker menggunakan nama samaran Multatuli.

tetapi oleh para pemegang saham bangsa Belanda di Negeri Belanda.Hatta (1972) melaporkan bahwa upah buruh perkebunan pada tahun 20an adalah sekitar 50 sen per harinya. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikkan produktivitas buruh Indonesia bukan dinikmati oleh penduduk negeri ini. tetapi juga memberikan kontribusi terhadap kemiskinan dan diskriminasi yang dialami oleh bangsa Indonesia . Perbedaan yang mencolok ini mengakibatkan perbedaan kualitas pendidikan antara bumiputera dengan bangsa belanda. Hatta juga melaporkan bahwa tahun 1925 pengeluaran pemerintah Hindia Belanda untuk anak-anak Indonesia hanya 32 sen per kapita. pemerintah Hindia Belanda memberikan sebanyak 75 gulden per kapita atau lebih besar 225 kali lipat. sedangkan dividen yang diterima oleh pemegang saham modal swasta di negeri Belanda di Negeri Belanda rata-rata berada di atas 40%. Sedangkan untuk pendidikan anak-anak Belanda di Indonesia. Contoh lain akibat penindasan dan diskriminasi secara ekonomi ini. Dari sini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sistem ekonomi kolonial Belanda baik berupa tanam paksa ataupun pembukaan perkebunan oleh kaum pemodal-liberal Belanda di Indonesia bukan hanya mengobrak-ngabrik struktur ekonomi Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->