P. 1
Mollusca

Mollusca

2.0

|Views: 2,370|Likes:
Published by Darwin azis

More info:

Published by: Darwin azis on Mar 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2013

LAPORAN PRAKTIKUM TAKSONOMI HEWAN

MOLLUSCA

OLEH :

NAMA NIM KELOMPOK ASISTEN

: DARWIN AZIS : 08101004060 : VI (ENAM) : MUHAMMAD AGUS

LABORATORIUM ZOOLOGI JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA 2012

ABSTRAK Praktikum dengan judul “Mollusca” ini bertujuan untuk mengamati dan mengenal morfologi beberapa spesies anggota filum Mollusca. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 07 Maret 2012. Pukul 08.00-10.00 WIB dan, bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya Indralaya. Alat yang digunakan adalah bak preparat, dan pinset. Sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah Achatina fulica, Octopus sp, Loligo indica, dan Sepia officinalis. Hasil yang didapat berupa gambar dari bahan tersebut diatas. Kesimpulan yang didapat antara lain Achatina fulica termasuk kelas Gastropoda dimana pada kelas ini alat gerak terdapat pada baigian perut sehingga bergerak seolaholah dengan menggunakan perut. Loligo indica termasuk kedalam kelas Cephalopoda, pada Loligo indica dimana dua dari jantung mereka berlokasi dekat dengan masingmasing insangnya. Hal ini, mereka dapat memompa oksigen ke bagian tubuh yang beristirahat dengan mudah. Octopus sp adalah hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala).

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Filum Mollusca mendapatkan namanya dari kata latin molluscus yang artinya lunak. Tetapi nampaknya nama ini tidak sesuai dengan kenyataan umumnya kelompok hewan ini, karena sifat utama filum Mollusca adalah terdapatnya cangkang kapur yang keras (shell). Namun asal-usul nama itu dapat dicari mulai dari zamannya Aristotle. Hewan-hewan ini dibagi menjad dua kelompok utama, yakni mereka yang bercangkang dan mereka yang tak bercangkang. Yang terakhir ini termasuk cumi-cumi dan gurita (sekarang termasuk kelas Cephalopoda) dan diketahui mempunyai sederetan nama, yang asalnya bernama Malachia, tetapi kemudian berubah menjadi Mollusca (Rohmimohtarto 2007: 172). Hewan-hewan yang termasuk filum Mollusca memiliki tubuh lunak, tidak bersegmen, dengan cirri tubuh bagian anterior ialah kepala, sisi ventral berfungsi sebagai kaki muskuler, dan massa viscera terdapat pada sisi dorsal. Keadaan tubuh yang lunak itu yang merupakan dasar pemberian nama filum ini; mollusca dari kata mollis artinya lunak. Termasuk di dalam filum ini antara lain tiram, kerang, cumicumi, siput air, siput darat dan lain-lain (Brotowidjoyo 1995: 353). Sifat-sifat khusus filum Mollusca yang berlaku sampai sekarang, dengan memisahkan teritip, Brachiopoda dan Tunicata keluar dari filum ini, adalah adanya pembagian tubuh, suatu “basis kepala-kaki” yang menampung massa visera (visceral mass). Kepala dianggap berbeda nyata dengan alat-alat pengindera seperti mata dan tentakel. Kakinya berupa suatu sol atau telapak kaki yang lebar untuk melata dan mendorong hewan ini dengan gerakan otot atau gerakan bulu getar atau dengan kedua-duanya. Massa visera dikelilingi oleh lipatan yang menutupi di sebelah atas yang dinamakan mantel (Rohmimohtarto 2007: 173). Keong atau bekicot dan slug (sejenis siput tak bercangkang), tiram dan temis, dan gurita serta cumi-cumi adalah hewan Mollusca. Secara keseluruhan, anggota filum Mollusca memiliki lebih dari 150.000 spesies yang telah diketahui. Sebagian besar Mollusca adalah hewan laut, meskipun beberapa di antaranya hidup di air tawar, serta ada juga keong dan slug yang hidup di darat; Mollusca adalah hewan

berbadan lunak (latin molluscus, lunak), tetapi sebagian besar terlindungi oleh suatu cangkang keras yang mengandung kalsium karbonat. Slug, cumi-cumi, dan gurita memiliki cangkang yang tereduksi, dimana sebagian besar diantaranya adalah cangkang internal, atau mereka telah kehilangan keseluruhan cangkang selama proses evolusinya (Campbell 2003: 224). Filum Mollusca meliputi keong, kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, sotong dan sebangsanya. Bentuknya simetri bilateral, tidak beruas, dan banyak di antara mereka mempunyai cangkang daru kapur. Kerang, tiram, keong dan cumi0cumi Nampak sekilas tidak menunjukkan bentuk serupa, akan tetapi jika dipelajari secara teliti mereka mempunyai beberapa struktur yang sama. Salah satunya adalah alat yang disebut kaki. Pada keong kaki ini biasanya digunakan untuk merayap atau berjalan di permukaan, pada kerang digunakan untuk mengeduk melalui dasar lumpur dan pada cumi-cumi untuk menangkap mangsa. Dalam masing-masing rubuh hewan ini terdapat suatu rongga yang dinamakan rongga mantel yang terletak di antara tubuh utama dan mantel, yakni suatu amplop pembungkus (Rohmimohtarto 2007: 173). Mollusca dibagi menjadi lima kelas berdasarkan simetri, sifat-sifat kaki, eksoskeleton, pallium, insang dan sistem nervosum. Lima kelas itu ialah Amphineura, Gastropoda, Scaphopoda, Cephalopoda dan Pelychopoda.

Amphineura memiliki tubuh simetri bilateral, sering dengan sebuah eksoskeleton yang disusun dari delapan buah lembaran-lembaran transversal dari bahan kapur atau kalsium karbonat dan sejumlah pasangan-pasangan lembaran insang (Anonima 2012: 1). Gastropoda memiliki tubuh asimetris dan biasanya eksoskeleteon terputar seperti spiral. Scaphopoda memiliki eksoskeleton dan pallium yang menyerupai tabung. Cephalopoda memiliki tubuh simetris bilateral dan memiliki lengan-lengan yang dilengkapi dengan alat gerak sedangkan Pelychopoda tubuh simetri bilateral da mempunyai cangkang setangkup dan sebuah mantel. (Brotowidjoyo 1995: 353).

1.2. Tujuan Praktikum Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mengenal ciri morfologi beberapa spesies anggota filum Mollusca.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Filum Mollusca (“bertubuh lunak”) terdiri atas tujuh kelas berbeda. Kelaskelas tersebut dicirikan oleh keberagaman luar biasa dalam hal bentuk dan gaya hidup; kebanyakan moluska bercangkang, tetapi sebagian di antaranya kehilangan cangkangnya dalam perjalanan evolusinya. Semua kelas, kecuali Bivalvia (remis dan tiram), memiliki sebuah lidah kasar yang dapat diulurkan, disebut radula. Deretan gigi tajam di sepanjang struktur yang biasanya pipih itu berperan sebagai gergaji ketika radula diulurkan dan ditarik kembali di daerah tempat terdapatnya banyak makanan (Fried 2006: 349). Ada tujuh kelas Mollusca hidup. Lima diantaranya banyak kita jumpai. Ketujuh kelas tersebut adalah Polyplacophora atau Araphineura (chiton); Gastropoda (keong); Pelecypoda (kerang); Cephalopoda (cumi-cumi atau gurita); dan Scaphopoda (cangkang tanduk). Kelas keenam, Aplacophora (oleh sementara ahli zoology dipashkan menjadi otdo di bawah kelas Amphineura), terdiri dari hewan kecil seperti cacing dan hidup bentik. Kelas ketujuh, Monaplacophora adalah hewan bercangkang yang terkecil. Ia ditemukan pada permulaan tahun 50an pada kejelukan 3.500, oleh kapal Galathea di lepas pantai pasifik Meksiko. Kedua kelas terakhir tidak dibicarakan karena jarang ditemukan

(Rohmimohtarto 2007: 176). Meskipun terdapat perbedaan yang jelas, semua molluska memiliki kemiripan dalam bangun tubuh. Tubuh molluska memiliki tiga bagian utama: kaki berotot, umumnya digunakan untuk pergerakan; massa visceral yang mengandung sebagian besar organ-organ internal; dan mantel, suatu lipatan jaringan yang menutupi massa visceral dan mensekresi cangkang (jika ada). Pada banyak moluska, mantel meluas melebihi massa visceral, dan menghasilkan suatu tuang yang penuh air, atau rongga mantel (mantle cavity), yang menampung insang, anus, dan pori ekskretoris. Banyak moluska mengambil makanan menggunakan organ kasar mirip tali karet yang disebut radula untuk mengorek makanan (Campbell 2003: 224). Ditinjau dari keadaan yang primitif, tubuh Mollusca menunjukkan simetri bilateral, tetapi tidak bersegmen, dan banyak pula yang memiliki eksoskeleton dari

kalsium karbonat. Sepintas lalu tidak ada perbedaan umum antara tiram, cumi-cumi dan siput, tetapi jika diamati lebih teliti akan tampak adanya beberapa bangunan yang dimiliki ketiga-tiganya. Satu diantaranya ialah kaki, pada siput biasanya digunakan untuk merayap di atas permukaan, pada tiram digunakan untuk menggali dasar perairan, dan pada cumi-cumi sudah mengalami modifikasi menjadi bangunan yang berfungsi dalam pernapasan yaitu berupa pipa atau siphon. Tubuh utama diselubungi oleh lipatan kulit yang disebut pallium, dan ruangan di antara tubuh utama dengan pallium disebut cavum pallii (Brotowidjoyo 1995: 353). Para ahli zoologi memperdebatkan hubungan moluska dengan

protostoma selomata lainnya. Siklus hidup banyak moluska laut meliputi tahapan larva bersilia yang disebut trofokor (trochopore), yang juga merupakan karekteristik Annelida laut (cacing bersegmen) dan beberapa protostoma lainnya. Akan tetapi, moluska tidak memiliki sifat yang paling menentukan bagi keturunan Annelida-segmentasi sejati. Moluska Neopilina (kelas Monoplacophora) memiliki beberapa organ internal yang berulang, tetapi kondisi ini mungkin telah berevolusi secara sekunder dari moluska nenek moyang dengan organ yang tak berulang (Campbell 2003: 224). Di lautan Atlantik sebelah selatan terdapat cumi-cumi raksasa (Architeuthis princeps) dapat mencapai kepanjangan 20 meter. Kedua jenis hewan ini jelas berbeda dari bekicot yang hidup di kebun kita. Tetapi ketiga macam hewan ini adalah anggota dari phylum besar, yaitu phylum Mollusca, yang dalam jumlah spesiesnya menempati nomor dua sesudah Arthropoda. Mollusca tidak bersegmensegmen. Tetapi, seperti phylum-phylum lainnya yang telah kita bahas. Mollusca mempunyai sistem saraf, “jantung” yang memompa darah dan sistem pencernaan berbentuk tabung, yang dinamakan saluran pencernaan. Di samping itu, Mollusca mempunyai alat yang pada kebanyakan spesiesnya mengeluarkan zat pembentuk dinding yang keras (Sastrodinoto 1998: 166). Polyplacophora, dinamakan demikian karena banyaknya cangkang (sebenarnya delapan buah) yang ada di atas permukaan dorsalnya, diwakili oleh kiton. Walaupun kiton merupakan sebuah kelompok moluska yang relative kecil, kiton mirip sekali dengan bentuk nenek moyang hipotesis semua moluska. Ketiga daerah dasar yang ditemukan pada nyaris semua moluska adalah kaki yang pipih

dan sangat berotot, cangkang dan mantel, yang membungkus organ-organ internal secara dorsal dan terletak di sepanjang kaki. Pada moluska-moluska bercangkang, mantel yang membungkus organ-organ internal secara dorsal dan terletak disepanjang kaki (Fried 2006: 349). Bukti-bukti genetik dan molekuler menunjukkan bahwa segmentasi itu berkembang pada nenek moyang semua hewan bilateral. Jika demikian halnya, sifat dan ciri ini telah hilang selama evolusi awal moluska. Beberapa ahli zoologi meragukan bahwa moluska berkembang dari nenek moyang bersegmen dan lebih menyukai hipotesis tradisional bahwa segmentasi muncul bukan pada nenek moyang hewan protostoma yang mirip annelida. Menurut pandangan ini, segmentasi berkembang secara indipenden pada protostoma dan deuterostoma. Bangun dasar tubuh moluska telah berkembang dengan berbagai cara pada kelas uang berlainan dalam suatu filum (Campbell 2003: 223). Pada moluska-moluska bercangkang, mantel yang mensekresikan cangkang. Rongga mantel, yang terletak di antara mantel dan kaki, mengandung insang, yang biasanya merupakan kelepak-kelepak seperti daun yang memanjang dari kaki. Gastropoda adalah siput, keong , bekicot dan lintah bulan atau slug (gastropoda tak bercangkang). Gastropoda merupakan kelompok moluska yang paling besar dan beragam, dengan lebih dari 75.000 spesies anggota. Cangkangnya seringkali cukup kompleks dan berhiaskan pola. Keseluruhan hewan biasanya dapat menarik diri ke dalam cangkang untuk melindungi diri (Fried 2006: 349). Beberapa Mollusca mempunyai dinding yang terbagi menjadi dua. Ada lagi yang dindingnya terbagi-bagi menjadi banyak bagian. Tetapi ada pula anggotaanggotanya yang tidak mempunyai dinding. Beberapa jenis merayap pada permukaan yang keras. Jenis lainnya bergerak sangat perlahan-lahan dengan susah payah melalui pasir dan lumpur, sedangkan ada lagi yang menggunakan pancaran air untuk dapat maju, seperti ikan gurita, dan cumi-cumi. Pada Mollusca cara makan yang biasa ialah mengikis tumbuhan kecil-kecil yang hidup pada bantuan. Kerang dan tiram menyaring zarah-zarah makanan dari air bilamana air ini melewati insangnya. Ikan gurita menyambar mangsanya, memegangnya dengan tentakel dan mengoyak-ngoyaknya dengan rahangnya yang tajam

(Sastrodinoto 1998: 166).

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 07 Maret 2012, pukul 08.00-10.00 WIB. Bertempat di laboratorium Zoologi, jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Indralaya. Alam, Universitas Sriwijaya,

3.2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah bak preparat, kaca pembesar, pinset, jarum, dan scalel sedangkan bahan yang dibutuhkan Achantia fulica, Loligo indica, Sepia officinalis dan Octopus sp

3.3. Cara Kerja Pada Achatina fulica, diambil seekor yang masih hidup, dibiarkan merayap pada papan preparat. Kemudian diamati spesimen tersebut secara seksama. Lalu dibedakan bagian-bagian tubuhnya secara morfologi. Hasil dari pengamatan digambar dan diberi keterangan serta ditulis klasifikasinya. Achantia fulica, Loligo indica, Octopus sp, dan Sepia officinalis, diamati preparat-preparat tersebut bagian ventral dan dorsal. Disebutkan nama-nama bagian-bagiannya kemudian dituliskan klasifikasi spesimen yang diamati.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4. 1. Hasil Dari praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil sebagai berikut : a. Acahtina fulica Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies Keterangan 1. Rahang 2. Organon visus 3. Mulut 4. Hati 5. Tentakel dorsal 6. Tutup cangkang 7. Alat peraba 8. Kaki 9. Anus 10. Lidah 11. Lambung 12. Paru-paru : : Animalia : Mollusca : Gastropoda : Sytromatophora : Achantinidae : Achatina : Achatina fulica :

Deskripsi : Siput atau keong adalah nama umum yang diberikan untuk anggota kelas moluska Gastropoda. Dalam arti sempit, istilah ini diberikan bagi mereka yang memiliki cangkang bergelung pada tahap dewasa. Dalam arti luas, yang juga menjadi

makna "Gastropoda", mencakup siput dan siput bugil (siput tanpa cangkang, dalam bahasa Jawa dikenal sebagai resrespo). Kelas Gastropoda menempati urutan kedua terbanyak dari segi jumlah spesies anggotanya setelah Insecta (serangga). Habitat, bentuk, tingkah laku, dan anatomi siput pun sangat bervariasi di antara anggotaanggotanya. Siput dapat ditemukan pada berbagai lingkungan yang berbeda: dari parit hingga gurun, bahkan hingga laut yang sangat dalam. Sebagian besar spesies siput adalah hewan laut. Banyak juga yang hidup di darat, air tawar, bahkan air payau. Kebanyakan siput merupakan herbivora, walaupun beberapa spesies yang hidup di darat dan laut dapat merupakan omnivora atau karnivora predator. Beberapa contoh Gastropoda adalah bekicot (Achatina fulica), siput kebun (Helix sp.), siput laut (Littorina sp.) dan siput air tawar (Limnaea sp.) (Anonim 2012 :1)

b. Loligo indica Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies Keterangan : : Animalia : Mollsuca : Cephalopoda : Decapoda : Longinidae : Loligo : Loligo indica :

1. Sirip lateral 2. Badan 3. Penghisap 4. Mata 5. Kepala 6. Mulut 7. Lengan 8. Tentakel 9. Sucker

Deskripsi : Cumi-cumi adalah grup cephalopoda besar. Seperti semua cephalopoda, cumicumi dipisahkan dengan memiliki kepala yang berbeda. Akson besar cumi-cumi ini memiliki diameter 1 mm. Cumi-cumi banyak digunakan sebagai makanan Ketika cumicumi membutuhkan banyak energi untuk bergerak secepat yang mereka lakukan, mereka mempunyai tiga jantung. Cumi-cumi berdarah biru. Dua dari jantung mereka berlokasi dekat dengan masing-masing insangnya. Hal ini, mereka dapat memompa oksigen ke bagian tubuh yang beristirahat dengan mudah. Cumi-cumi memiliki pokok sistem pernafasan senyawa tembaga. Hal ini berbeda dengan manusia dimana manusia mempunyai pokok sistem pernafasan senyawa besi (Anonim 2012 : 1)

c. Sepia officinalis. Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies Keterangan : : Animalia : Mollusca : Chepalopoda : Decapoda : Sapiidae : Sepia : Sepia officinalis :

1. Sirip lateral 2. Mantel 3. Kepala 4. Mata 5. Tentakel 6. Lengan 7. Sucker 8. Colar

Deskripsi : Sotong atau "ikan" nus adalah binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai maupun laut atau danau. Hewan ini dapat ditemukan di hampir semua perairan yang berukuran besar baik air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Sotong juga merupakan makanan sejenis seafood. Sotong sering kali disalahtafsirkan sebagai cumi-cumi. Keduanya berbeda karena sotong bertubuh pipih, sementara cumicumi lebih berbentuk silinder. Selain itu, cangkang dalam sotong tersusun dari kapur yang keras, sedangkan pada cumi-cumi lunak (Anonim 2012 : 1)

d. Octopus sp Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies Keterangan 1. Tentakel 2. Kepala 3. Mata 4. Sucker 5. Lengan 6. Badan : : Animalia : Mollsuca : Cephalopoda : Octapoda : Octopodidae : Octopus : Octopus sp :

Deskripsi : Gurita adalah hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala), ordo Octopoda dengan terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup sepertiga dari total spesies kelas Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut Octopus yang sering hanya mengacu pada hewan dari genus Octopus. Gurita memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa. Lengan gurita merupakan struktur hidrostat muskuler yang hampir seluruhnya terdiri dari lapisan otot tanpa tulang atau tulang rangka luar. Tidak seperti hewan Cephalopoda lainnya, sebagian besar gurita dari subordo Incirrata mempunyai tubuh yang terdiri dari otot dan tanpa tulang rangka dalam. Gurita tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar seperti halnya Nautilus dan tidak memiliki cangkang dalam atau tulang seperti sotong dan cumi-cumi. Paruh adalah bagian terkeras dari tubuh gurita yang digunakan sebagai rahang untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil (Anonim 2012 : 2).

BAB V KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Mollusca terbagi menjadi empat kelas yaitu, gstropoda, Chephalopoda, Bivalvia dan Amphineura. 2. Mollusca adalah hewan bertubuh lunak tanpa segmen dengan tubuh yang lunak dan biasanya memiliki pelindung tubuh yang berbentuk cangkang atau cangkok yang terbuat dari zat kapur untuk perlindungan diri dari serangan dan gangguan lainya. 3. Octopus sp memilki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat pengisap berupa bulatanbulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak didasar laut dan menangkap mangsa. 4. Anandontaa woodiana dalah hewan air yang termasuk hewan berrtubuh lunak, kerang brsifat umum dan tidak memiliki arti secara biologi namun penggunaanya luas dan dipakai dalam kegiatan ekonomi. 5. Pada kelas Bivalvia tubuhnya simetris bilateral, memiliki cangkang dengan dua buah katup.

DAFTAR PUSTAKA Anonima 2012. Mollusca. http://id.wikipedia.org/wiki/Mollusca. Diakses pada tanggal 05 Maret 2012 pukul 19.00 WIB. Anonimb 2012. Mollusca. http://id.Filum mollusca.html/Mollusca. Diakses pada tanggal 05 Maret 2012 pukul 19.00 WIB. Brotowidjoyo. 1995. Zoologi Dasar. Erlangga : Jakarta. xii + 349 hlm. Campbell, N.A. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarta. Erlangga : xxii + 403 hlm. Fried, George. 2006. Biologi Edisi Kedua. Jakarta. Erlangga: x + 386 hlm. Rohmimohtarto, Kasijan. 2007. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Jakarta. Djambatan : xii + 540 hlm. Sastrodinoto, S. 1998. Biologi Umum. Jakarta. Erlangga: v + 766 hlm.

LAMPIRAN

Achatina fulica

Octopus Sp

Sepia officinalis

Loligo indica

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->