P. 1
LAPORAN PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM

|Views: 640|Likes:
Published by Selfi Wullur

More info:

Published by: Selfi Wullur on Mar 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/27/2013

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK

OKSIDIMETRI PENENTUAN KADAR Fe(II) DALAM AIR SUMUR DENGAN METODE PERMANGANOMETRI

NAMA

: MUH. SYARIF AQA’ID H311 08 855 SELFI WULLUR H311 09 007

KELOMPOK : V (LIMA) HARI, TANGGAL PERCOBAAN : JUMAT, 2 MARET 2012

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

Untuk keperluan titrasi ini maka digunakan senyawa permanganat. Untuk analisis kimia biasanya digunakan pada larutan asam. tergantung dari pH larutannya.berwarna sangat cerah (ungu). dimana senyawa tersebut direduksi menjadi Mn2+(aq). MnO4_ kurang cocok untuk titrasi pada larutan alkali sebab hasil reduksi MnO2 yang tidak larut mengaburkan titik akhir. Kekuatan sebagai oksidator juga berbeda-beda sesuai dengan reaksi yang terjadi pada pH yang berbeda itu.1 Latar Belakang Permanganometri merupakan metode titrasi yang didasarkan atas reaksi oksidasi reduksi. Hal ini dikarenakan air sumur berasal dari air dari permukaan yang terserap kembali ke dalam tanah dan kemungkinan mengandung berbagai macam mineral. Mn2+ mempunyai warna pink (merah muda) sangat pucat yang dapat dilihat dengan mata telanjang. . MnO4. Untuk mempelajari metode permanganometri ini lebih lanjut maka dilakukan percobaan penentuan kadar besi(II) dalam sampel yang berupa air sumur. KMnO4 merupakan zat pengoksida yang penting.BAB I PENDAHULUAN 1. Reaksi yang bermacam ini disebabkan oleh keragaman valensi mangan. contoh disiapkan dengan cara yang sama untuk reaksi dan dititrasi dengan MnO4-(aq). Pada analisis besi dengan MnO4-. Pada titik akhir titrasi larutan yang dititrasi mempunyai warna akhir pink (merah muda) pekat dengan hanya penambahan satu tetes lagi MnO4_. Kalium permanganat merupakan oksidator kuat yang dapat bereaksi dengan cara berbeda-beda.

di mana volume titran digunakan untuk menentukan kadar Fe(II).3.2 Tujuan Percobaan 1. Menentukan konsentrasi larutan baku KMnO4 melalui standarisasi asam oksalat 2.3.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1.2.3 Prinsip Percobaan 1.1.1 Maksud Percobaan Untuk mengetahui dan mempelajari penentuan kadar suatu zat berdasarkan titrasi oksidasi reduksi dengan menggunakan metode permanganometri.2. Menentukan kadar Fe(II) dalam air sumur 1. 1. 1. Titrasi larutan asam oksalat dalam suasana asam (asam sulfat) pada suhu 70 oC dengan perubahan warna dari bening menjadi merah muda pada titik akhir titrasi.2 Penentuan Kadar Fe(II) dalam Sampel Air Sumur Penentuan kadar Fe(II) dalam air sumur melalui penitaran dengan KMnO4 dalam suasana asan yang akan membentuk warna merah muda. .1 Standarisasi KMnO4 dengan Menggunakan Larutan Baku Asam Oksalat KMnO4 dapat mengoksidasi asam oksalat (H2C2O4) menjadi CO2 dan H2O dalam suasana asam.

Suatu contoh yang lazim terjadi dalam penetapan besi dalam suatu bijih. Biasanya ditambahkan reagensia itu secara berlebih dan orang harus mampu menyingkirkan kelebihannya dengan tidak repot sehingga kelebihan ini tidak bereaksi dengan titran dalam titrasi berikutnya (Day dan Underwood. 3. Sekali bijih itu sudah dilarutkan. agar titrasi redoks ini dapat berlangsung dengan baik. 2. setiap titrasi redoks dilakukan sesuai dengan bagan berikut: .9%). Pada dasarnya. Harus tersedia cara penentuan titik akhir yang sesuai (Rivai. Harus tersedia pasangan sistem redoks yang sesuai sehingga terjadi pertukaran elektron secara stoikimetris. Reagensia redoks yang digunakan dalam tahap pendahuluan ini haruslah mampu mengubah analit itu dengan lengkap dan cepat menjadi keadaan oksidasi yang diinginkan. Dalam banyak prosedur analitis analitnya berada dalam lebih dari satu keadaan oksidasi dan harus diubah ke suatu keadaan oksidasi tunggal sebelum dititrasi. Namun demikian. maka persyaratan berikut harus terpenuhi: 1. 1995). Reaksi redoks harus berjalan cukup cepat dan berlangsung secara teratur (kesempurnaan 99. 1989).BAB II TINJAUAN PUSTAKA Titrasi redoks banyak digunakan dalam pemeriksaan kimia karena berbagai zat organik dan zat anorganik dapat ditentukan dengan cara ini. Besi itu harus direduksi sempurna menjadi keadaan +2 sebelum titrasi dengan suatu zat pengoksid. besi berada baik dalam keadaan oksidasi +2 maupun +3.

K2Cr2O7. Natrium tiosulfat sebagai titran. 4. kepada larutan yang volumenya lazim digunakan dalam titrasi. I2 sebagai titran. murah. 3. n1 dan n2 seringkali tidak sama dengan satu. 1990): 1. dikenal sebagai titrasi yodometri langsung dan kadang-kadang dinamakan yodometri. sedangkan n1 dan n2 menunjukkan faktor stoikiometri reaksi redoks (Rivai. Suatu oksidator kuat sebagai titran. Dalam persamaan di atas. Karena itu. Suatu reduktor kuat sebagai titran. karena faktor ini diperlukan untuk menetapkan bobot tara senyawa yang ditentukan (Rivai. Kalium permanganat telah digunakan sebagai zat pengoksidasi secara meluas lebih dari 100 tahun ini. Titrasi redoks dapat dibedakan menjadi beberapa cara berdasarkan pemakaiannya (Harjadi. sebelum titrasi redoks dilaksanakan. dikenal sebagai yodometri tak langsung. Setelah permanganat 0. 1995). faktor stoikiometri ini harus diketahui terlebih dahulu dengan pasti. Reagensia ini mudah diperoleh. dan tak memerlukan indikator kecuali bila digunakan larutan yang sangat encer. Ce(IV). Warna ini digunakan untuk menyatakan berlebihnya .1 N memberikan warna merah muda yang tampak. 2.Untuk penentuan reduktor: n2red1 + In1ox2 → n2ox1 + n1red2 Untuk penentuan oksidator: n2ox1 + In1red2 → n2red1 + n1ox2 tanda panah ke arah bawah (I) menunjukkan pentiter. 1995). Diantaranya yang paling sering dipakai adalah KMnO4.

MnO4. ion OH .51 V (1) Reaksi inilah yang terjadi dalam larutan yang sangat asam (0. 1985). Kalium permanganat merupakan zat padat coklat tua yang menghasilkan larutan ungu bila dilarutkan dalam air. MnO4.dapat dihilangkan. karena mangan dapat memiliki keadaan oksida +2.+ 4H+ + 3e MnO2(s) + 2H2O E° = +1. +6 dan +7. namun beberapa zat memerlukan pemanasan atau katalis untuk mempercepat reaksi. Permanganat bereaksi dengan cepat dengan banyak zat pereduksi menurut reaksi (1).+ 8H+ + 5e Mn2+ + 4H2O E° = +1.reagensia itu. MnO4. Reaksi-reaksi ini diringkas di bawah ini: MnO4.+ 8H+ + 4e Mn(H2P2O7)33. reaksi (2) akan terjadi. Seandainya banyak . dan juga mencegah terjadinya reduksi lebih lanjut (Day dan Underwood.70 V (2) Reaksi ini terjadi dalam larutan yang keasamannya lebih rendah. Biasanya barium klorida ditambahkan untuk mengendapkan BaMnO4.54 V (4) Reaksi ini hanya berlangsung dalam larutan yang sangat basa. Zat ini merupakan pengoksid kuat yang bekerja berlainan menurut pH dari medium (Svehla.1 N atau lebih). Reaksi yang paling lazim dijumpai dalam laboratorium pengantar adalah yang pertama. reaksi dalam larutan yang sangat asam. Reaksi ini menang dalam jangkauan pH antara sekitar 2 ke 12. dengan demikian warna hijau dari MnO42.+ 4H2O E° = +1.sekitar 1 M.50 V (3) Keadaan oksidasi +3 (dari) mangan ini tidak stabil. +4. dalam larutan dengan pH lebih rendah. +3. yang merupakan cirri khas untuk permanganat.+ 3H2P2O72. 1989). akan menstabilkan ion itu. namun anion pengompleks seperti pirofosfat atau fluoride. Permanganat bereaksi secara beraneka.+ e MnO42E° = +0.

untung bahwa reaksi ini lambat. menimbulkan penguraian. 3Mn2+ + 2MnO4. Namun. Misalnya permanganat merupakan zat pengoksid yang cukup kuat untuk mengoksidasi Mn(II) menjadi MnO2 menurut persamaan. Biasanya dianjurkan untuk melarutkan kristal. orang tak pernah boleh menambahkan permanganat berlebih kepada suatu zat pereduksi dan . konsentrasinya tidak akan berubah dengan nyata dalam kurun waktu beberapa bulan (Day dan Underwood. sehingga biasanya MnO2 tidak diendapkan pada titik akhir titrasi permanganat (Day dan Underwood. Runutan MnO2 yang ada pada awalnya dalam permanganat.+ 4H+ → 4MnO2(s) + 3O2(g) + 2H2O Reaksi ini lambat dalam larutan encer pada temperatur kamar. dan jika disimpan dalam gelap dan tak diasamkan. Mangan dioksida mengatalisis penguraian larutan permanganat. atau terbentuk oleh reaksi permanganat dengan runutan zat pereduksi dalam air. akan dijumpai lebih banyak kesulitan dalam menggunakan reagensia ini.reaksi itu tidak lambat. kemudian pemanasan untuk memusnahkan zat pereduksi. 1989). dan penyaringan lewat asbes atau kaca maser (filter yang tak mereduksi) untuk mentingkirkan MnO2.+ 2H2O → 5MnO2(s) + 4H+ Sedikit kelebihan permanganat yang ada pada titik akhir suatu titrasi telah cukup untuk menimbulkan pengendapan MnO2. larutan itu kemudian distandarkan. Dalam mempersiapkan larutan permanganat harus dilakukan tindakan pencegahan khusus. Larutan asam (dari) permanganat tidak stabil karena asam permanganat terurai menurut persamaan 4MnO4. 1989).

.kemudian menaikkan temperatur untuk mempercepat oksidasi. karena reaksi tersebut di atas akan berlangsung pada laju yang cukup nyata (Day dan Underwood. 1989).

Ilmu Kimia Analitik Dasar.. L. Jakarta. G. W. Jakarta. Svehla. Asas Pemeriksaan Kimia. Harjadi. Erlangga. A. Jakarta.. 1995.. 1990. Universitas Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Day. R. 1990. 1989. dan Underwood. PT Kalman Media Pusaka. A. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Rivai. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Kelima.. Jakarta. H. . PT Gramedia.

2 Alat Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah buret 100 mL. klem. statif. gelas ukur 10 mL. termometer skala 0 . labu takar 250 mL. dan akuades.3 Prosedur Percobaan A. Larutan tersebut dititrasi dalam keadaan panas dengan larutan KMnO4 0. pipet skala.1 N. bulb. erlenmeyer 100 mL. Ditambahkan 10 mL asam sulfat 6 N dan dipanaskan kira-kira hingga suhu 70 oC. gelas kimia 250 mL. 3. sendok tanduk. labu takar 100 mL. pipet volume 25 mL. pipet volume 10 mL. batang pengaduk. dan neraca analitik. Larutan tersebut dipipet sebanyak 10 mL ke dalam erlenmeyer.05 N hingga terbentuk larutan berwarna merah muda. Penetapan ini dilakukan duplo. larutan H3PO4 85%. . larutan KMnO4 x N.1 Bahan Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan asam oksalat (H2C2O4) 0. larutan H2SO4 6 N.6304 gram asam oksalat. 3. kemudian dilarutkan ke dalam labu takar hingga volume 100 mL. labu semprot. pipet tetes. penangas listrik. Standarisasi KMnO4 dengan H2C2O4 yang telah dibakukan Ditimbang sebanyak 0. Dihitung konsentrasi dari larutan KMnO4.100 oC.BAB III METODE PERCOBAAN 3.

Penetapan dilakukan duplo.B. Dihitung konsentrasi Fe(II) dalam sampel. Dititrasi dengan larutan KMnO4 0. . Dicatat volume KMnO4 yang digunakan.05 N hingga terjadi perubahan warna. Penentuan Kadar Fe(II) dalam Sampel Dipipet 15 mL larutan sampel ke dalam erlenmeyer. Ditambahkan 10 mL H2SO4 dan 2 mL H3PO4 85 %.

x mL sampel mL KMnO4 Perubahan warna 4. Penentuan Kadar Fe(II) dalam Sampel No.→ Mn2+ + 4H2O : C2O42. x mg H2C2O4. 1.+ 8H+ + 5e.→ 2CO2 + 2e2MnO4. Standarisasi KMnO4 dengan bahan baku asam oksalat Red Oks : MnO4.1 Hasil Pengamatan A.2H2O mL KMnO4 Perubahan warna B.2H2O No.→ Reaksi lengkap: 2KMnO4 + 3H2SO4 + 5H2C2O4 → 2MnSO4 + 8H2O + 10CO2 + K2SO4 2Mn2+ + 8H2O + 10CO2 x2 x5 . 2. 2. 1.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.2 Reaksi 1.+ 16H+ + 5C2O42. Standarisasi KMnO4 dengan H2C2O4.

2.→ Mn2+ + H2O : Fe2+ → Fe3+ + eMnO4. Penentuan kadar Fe(II) dalam garam fero Red Oks : MnO4.+ 8H+ + 5e.+ 8H+ + 5Fe2+ → Mn2+ + 5Fe3+ + 4H2O Reaksi lengkap: 2KMnO4 + 8H2SO4 + 10FeSO4 → 2MnSO4 + 5Fe2(SO4)3 + 8H2O + K2SO4 x1 x5 .

1 Kesimpulan 5.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.2 Saran .

kemudian dihomogenkan H2SO4 .Ditambahkan akuades hingga tanda batas.84 g/mL) H2SO4 .395 gram kemudian dilarutkan dalam labu ukur 250 mL .Ditimbang 0.Ditambahkan akuades hingga tanda batas.Diambil sebanyak 16.05 N KMnO4 .N 6 .1 N  Pembuatan larutan asam sulfat (H2SO4) 6 N (dari larutan pekat 98%.Lampiran BAGAN KERJA  Pembuatan larutan KMnO4 0.3177 mL kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL . BJ = 1. kemudian dihomogenkan KMnO4 0.

1 N .Dipipet 10 mL dan dimasukkan dalam Erlenmeyer . Oksalat 0.Dititrasi dengan KMnO4 yang telah distandarisasi hingga terjadi perubahan warna .Dicatat volume KMnO4 yang terpakai .Dihitung normalitas KMnO4 Hasil * diulang 2x (duplo) . Standarisasi (pembakuan) larutan KMnO4 As.Ditambahkan 10 mL H2SO4 6 N .Dipanaskan hingga suhu 70 oC .

Dititrasi dengan KMnO4 yang telah distandarisasi hingga terjadi perubahan warna .Dihitung konsentrasi Fe(II) dalam sampel Hasil * diulang 2x (duplo) .Ditambahkan 10 mL H2SO4 6 N dan 2 mL H3PO4 85% . Penentuan Kadar Fe(II) dalam Sampel Sampel .Dicatat volume KMnO4 yang terpakai .Dipipet 15 mL dan dimasukkan dalam Erlenmeyer .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->