Kisah Arya Penangsang dan Kemelut Berdarah di Kerajaan Demak

Genetik kita diwariskan dari leluhur secara turun temurun dan leluhur kita pernah hidup di zaman dahulu kala. Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita zaman Sriwijaya, zaman Majapahit, genetik bawaan dari pembangun Candi Monumental Borobudur dan juga genetik pelaku kekerasan Ken Arok dan Arya Penangsang . Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam genetik seseorang terdapat catatan evolusi panjang kehidupannya sampai saat ini. Kita perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik kita pada saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa. Leluhur kita pernah beragama tersebut dan genetiknya telah terwariskan kepada kita. Kalaupun kita mempercayai pandangan Sejarawan Inggris Arnold Toynbee (1889-1975) yang mengemukakan teori siklus ‘lahir-tumbuh-mandek-hancur’ dari suatu kehidupan sosial atau suatu peradaban, dan pada kenyataannya, kerajaan-kerajaan di Nusantara juga mengalami proses tersebut, akan tetapi semua pengalaman tersebut telah tercatat dalam DNA kita. Adalah perjuangan sebuah bangsa untuk mengembangkan karakter bangsa yang baik dan memutus siklus karakter bangsa yang tidak baik. Kemelut di Demak Para pemimpin di Demak di masa itu, telah melihat kemelut yang terjadi di Istana Majapahit dan yakin pemerintahan Raden Patah dengan penasehat para Wali akan mengalami kejayaan kembali seperti Kerajaan Majapahit di masa jayanya berdasarkan tuntunan agama yang mulia. Mungkin mereka lupa apa yang ditabur akan dituai, perebutan kekuasaan Kerajaan Majapahit akan dialami pula oleh Kerajaan Demak. Kerajaan Majapahit mampu bertahan selama 4 abad, akan tetapi Kerajaan Demak, hanya beberapa generasi saja. Raden Patah digantikan oleh Pati Unus menantu Raden Patah yang akhirnya meninggal sewaktu menyerang Malaka dan terkenal dengan sebutan ‘Pangeran Sabrang Lor’, Pangeran yang menyeberangi laut ke utara. Putra Raden Patah, Pangeran Bagus Surawiyata, dibunuh oleh Sunan Prawoto, putra Trenggono, adik Pangeran Bagus Surawiyata. Trenggono lah yang kemudian menjadi Sultan Demak. Pangeran Bagus Surawiyata sering disebut dengan sebutan ‘Pangeran Sekar Seda Lepen’, Pangeran yang meninggal di kali. Arya Penangsang adalah putra Pangeran Bagus Surawiyata yang merasa berhak mewarisi tahta, apalagi dia telah diangkat anak oleh Sunan Kudus dan sudah menjadi Adipati di Jipang Panolan. Bagaimana pun semua keputusan harus mendapatkan kesepakatan dari para Wali. Meninggalnya Sultan Trenggono di Panarukan membuat kemelut Istana Demak memuncak. Ada perbedaan pendapat di antara para Wali. Pendapat Sunan Kalijaga, adalah Hadiwijaya Adipati Pajang menantu Sultan Trenggono yang pantas menggantikan sebagai Raja. Alasannya meski bukan keturunan langsung Raden Patah, tetapi masih mempunyai darah Raja Majapahit. Sunan Kalijaga mengingatkan bahwa para Wali pernah mengangkat Pati Unus, menantu Raden Patah sebagai Sultan Demak, padahal Pati Unus tidak memiliki darah Raja Majapahit. Sunan Kudus berpendapat bahwa Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan, putra Pangeran Bagus Surawiyata yang terbunuh yang berhak sebagai Sultan Demak. Sunan Kudus meyakinkan bahwa Arya Penangsang memiliki kemampuan dalam tata negara dan

Pada suatu malam. keangkuhan dan nafsu diri tidak berubah hanya karena berganti keyakinan. Kesultanan Pajang. Karena pada sore hari air Bengawan Solo pasang maka air di saluran juga mengalami pasang. Dia kembali mengirim pembunuh gelap untuk membunuh Sultan Hadiwijaya. karena Pajang adalah sebuah kerajaan tersendiri. mereka dicegat pasukan Arya Penangsang dan Pangeran Hadiri terbunuh. maka dia akan mempermalukan lembaga keyakinan yang dinutnya. Wali lebih baik mensyi‟arkan agama tanpa menggunakan kekuasaan. Oleh karena itu saluran tersebut dikenal dengan nama Bengawan Sore. Wali adalah ahli da‟wah bukan ahli tata negara. Demak dinyatakan sudah kehilangan wahyu kraton dan berdirilah kerajaan baru. Sunattulah akan berlaku bagi mereka berdua. berdiri tahun 1530 tanpa ada pesta pelantikan. Sunan Prawata dibunuh oleh Rangkud orang kepercayaan Arya Penangsang atas restu Sunan Kudus. Kecuali dihadiri oleh Sunan Kalijaga dengan kapasitas sebagai seorang Guru Jaka Tingkir. Alasannya adalah sesuai adat dan hukum. Boleh saja seseorang mengaku mempunyai keyakinan yang paling benar. Biarkanlah urusan tata negara dilakukan oleh ahlinya masing-masing. Seorang Guru yang berpikiran jernih berpendapat bahwa apa pun keyakinan yang dianut. Tidak ikut campur dalam urusan “rumah tangga” anak-anak. ‘Sing becik ketitik sing ala ketara’. Akan tetapi sepulang dari Sunan Kudus. Sunan Giri berpendapat bahwa Pangeran Bagus Mukmin (Sunan Prawata). Puteri Sultan Trenggono. Keserakahan. putra Sultan Trenggono yang berhak menjadi Sultan. bahkan menurut kisah turun temurun masyarakat disekitar wilayah Pajang. Sebetulnya Arya Penangsang sudah tidak berhak mengklaim tahta Demak kepada Sultan Hadiwijaya. Banten dan Cirebon memisahkan diri dari Demak dan berdiri sendiri sebagai kerajaan yang berdaulat sehingga Kasultanan Demak sudah berkurang wilayahnya. Wali sebagai ulama dapat menempatkan diri sebagai orang tua. Dikisahkan Sunan Kalijaga memohon kepada Sunan Kudus agar para sepuh.merupakan pemimpin yang kharismatik. Ratu Kalinyamat sakit hati terhadap Sunan Kudus sebagai Hakim Agung di Demak yang memihak kepada Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat beserta suaminya Pangeran Hadiri datang menghadap Sunan Kudus untuk meminta keadilan atas kematian kakaknya dan oleh Sunan Kudus dijelaskan sebab musabab Sunan Prawoto terbunuh. Setelah itu tidak ada lagi Wali sebagai pengambil keputusan bidang pemerintahan. mengulangi keberhasilan pembunuhan terhadap Sunan Prawata. Biarkanlah Arya Penangsang dan Hadiwijaya menyelesaikan persoalanya sendiri. Dia ingin menjauhkan peran para Wali di Demak terhadap pemerintahan dan kemudian bertapa telanjang di Gunung Danaraja dan tidak akan berpakaian sebelum Arya Penangsang mati. Akan tetapi dendamnya kepada putera dan mantu Sultan Trenggono belum pupus. agar suasana yang penuh ketegangan dapat mereda. Akhirnya Sunan Prawata diangkat sebagai Sultan. Di masa Sunan Prawata menjadi raja. Akan tetapi pembunuhan tersebut tidak berhasil. Raja Hadiwijaya tidak dilantik oleh para Wali. Jangan sampai para Wali terpecah belah karena berpihak . Masyarakat yang akan menilai. dimana adik iparnya menjadi adipati di sana. Terbunuhnya Arya Penangsang oleh Sutawijaya Arya Penangsang membuat saluran air melingkari Jipang Panolan dan dihubungkan dengan Bengawan Solo. sebetulnya akhlaknya tergantung pada diri pribadi. Kesultanan Pajang dibawah Sultan Hadiwijawa (Jaka Tingkir). akan tetapi kalau dia tidak memperbaiki akhlaknya. Ratu Kalinyamat amat marah dan mengatakan administrasi Kerajaan dipindah ke Pajang. Dan yang sepuh sebagai pengamat.

Apa kata rakyat jelata. dan kalian akan melihat banyaknya aliran muncul”. Hampir semua Guru menyampaikan: “Setelah tidak ada aku nanti. Pangeran Benawa lahir. Mataram. seandainya Guru masih hidup maka kebenaran dapat ditanyakan dan tidak akan ada permasalahan. Setelah pertemuan usai. Dikisahkan Sunan Kudus sebagai Guru Sultan Hadiwijaya. Akhirnya Arya Penangsang dengan kuda „Gagak Rimang‟nya dipancing dengan kuda betina Sutawijaya yang berada di luar Bengawan Sore atas saran penasehat Ki Gede Pemanahan dan ki Penjawi. Begitu berada di luar Bengawan Sore kesaktian Arya Penangsang berkurang yang akhirnya dia dapat terbunuh. sibuk berkelahi sendiri. Dan. mengundang Sultan untuk datang ke Kudus untuk mendinginkan suasana.kepada salah satu diantara mereka. tetapi mereka tetap punya ‘clash of minds’. mereka merasa bahwa tindakan yang dipilihnya benar menurut pemahamannya. Konon Sunan Kudus berteriak: “Apa-apaan kalian! Penangsang cepat sarungkan senjatamu. Pada saat itu terjadi perang mulut antara Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya dan mereka saling menghunus keris. Atas jasanya Ki Penjawi diberi tanah di Pati dan Ki Gede Pemanahan diberi tanah di Mentaok. dan masalahmu akan selesai!” Arya Penangsang patuh dan menyarungkan keris „Setan Kober‟nya. Sutawijaya adalah putra Ki Gede Pemanahan dan merupakan putra angkat Sultan Hadiwijaya sebelum putra kandungnya. . tetapi perebutan kekuasaan menggunakan perbedaan pemahaman atau keyakinan sebagai alat yang ampuh. Mereka yang gila kekuasaan menggunakan pemahaman terhadap wasiat Guru sebagai alat untuk membangun kekuasaan. ‘clash of egoes’. anak keturunannya masih berdarah Raja Majapahit. Arya Penangsang menaiki „Gagak Rimang‟ yang bersemangat menyeberangi Bengawan Sore. Sutawijaya konon dikawinkan dengan putri Sultan sehingga Sutawijaya yang akhirnya menjadi Sultan Pertama Mataram yang bergelar Panembahan Senopati. jika melihat para Wali ‘udregudregan’. mungkin pentolanpentolan kelompokku sudah tidak punya ‘clash of vision’. Yang terjadi bukan perang berdasarkan perbedaan keyakinan. maksud Sunan Kudus adalah menyarungkan keris ke tubuh Sultan Hadiwijaya dan masalah akan selesai. konon Sunan Kudus menyayangkan Arya Penangsang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful