P. 1
revisi pkn

revisi pkn

|Views: 71|Likes:
Published by aajunaidii

More info:

Published by: aajunaidii on Mar 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/31/2012

pdf

text

original

KLASIFIKASI PERJANJIAN INTERNASIONAL

Perjanjian internasional sebagai sumber formal hukum internasional dapat diklasifikasikan sebagai berikut. 1. Berdasarkan Isinya      Segi politis, seperti pakta pertahanan dan pakta perdamaian. Segi ekonomi, seperti bantuan ekonomi dan bantuan keuangan. Segi hukum Segi batas wilayah Segi kesehatan.

Contoh :  NATO, ANZUS, dan SEATO  CGI, IMF, dan IBRD 2. Berdasarkan Proses/Tahapan Pembuatannya  Perjanjian bersifat penting yang dibuat melalui proses perundingan, penandatanganan, dan ratifikasi.  Perjanjian bersifat sederhana yang dibuat melalui dua tahap, yaitu perundingan dan penandatanganan. Contoh :  Status kewarganegaraan Indonesia-RRC, ekstradisi.  Laut teritorial, batas alam daratan.  Masalah karantina, penanggulangan wabah penyakit AIDS. 3. Berdasarkan Subjeknya  Perjanjian antarnegara yang dilakukan oleh banyak negara yang merupakan subjek hukum internasional.  Perjanjian internasional antara negara dan subjek hukum internasional lainnya.

dan Landas Benua). Zona Bersebelahan. Zona Ekonomi Esklusif. . perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura yang ditandatangani pada tanggal 27 April 2007 di Tampaksiring. adalah perjanjian yang diadakan oleh dua pihak. Contoh :  Perjanjian antar organisasi internasional Tahta suci (Vatikan) dengan organisasi MEE. yaitu menutup kemungkinan bagi pihak lain untuk turut dalam perjanjian tersebut.  Perjanjian bilateral. Perjanjian ini bersifat tertutup. tetapi juga mengatur hal-hal yang menyangkut kepentingan umum dan bersifat terbuka yaitu memberi kesempatan bagi negara lain untuk turut serta dalam perjanjian tersebut. konvensi Wina tahun 1961 (tentang hubungan diplomatik) dan konvensi Jenewa tahun 1949 (tentang perlindungan korban perang). Bersifat khusus (treaty contact) karena hanya mengatur halhal yang menyangkut kepentingan kedua negara saja. Contoh :  Perjanjian antara Indonesia dengan Filipina tentang pemberantasan dan penyelundupan dan bajak laut.  Kerjasama ASEAN dan MEE. 4. sehingga perjanjian ini sering disebut law making treaties. Bali.  Konvensi hukum laut tahun 1958 (tentang Laut teritorial. adalah perjanjian yang diadakan oleh banyak pihak. yaitu organisasi internasional organisasi internasional lainnya.  Perjanjian Multilateral. tidak hanya mengatur kepentingan pihak yang terlibat dalam perjanjian. Perjanjian antarsesama subjek hukum internasional selain negara. Berdasarkan Pihak-pihak yang Terlibat. perjanjian Indonesia dengan RRC pada tahun 1955 tentang dwi kewarganegaraan.

Perjanjian internasional menjadi hukum terpenting bagi hukum internasional positif. sebab perjanjian internasional diadakan secara tertulis. Konvensi Wina (tahun 1961) tentang hubungan diplomatik. . konvensi Jenewa (tahun 1949) tentang Perlindungan Korban Perang. Perjanjian internasional lebih menjamin kepastian hukum. Perjanjian internasional mengatur masalah-masalah kepentingan bersama diantara para subjek hukum internasional. diantaranya sebagai berikut : 1. akibatakibat yang timbul dalam perjanjian tersebut hanya mengikat dua negara saja yaitu Indonesia dan RRC. adalah suatu perjanjian yang meletakkan ketentuan-ketentuan atau kaidah-kaidah hukum bagi masyarakat internasional secara keseluruhan (bersifat multilateral). Kedudukan perjanjian internasional dianggap sangat penting karena ada beberapa alasan. 2. adalah perjanjian yang menimbulkan hak dan kewajiban. Konvensi hukum laut (tahun 1958). yang hanya mengikat bagi negara-negara yang mengadakan perjanjian saja (perjanjian bilateral). karena lebih menjamin kepastian hukum. Contoh : Perjanjian Indonesia dan RRC tentang dwikewarganegaraan. Berdasarkan Fungsinya  Law Making Treaties / perjanjian yang membentuk hukum.  Treaty contract / perjanjian yang bersifat khusus. Di dalam perjanjian internasional diatur juga hal-hal yang menyangkut hak dan kewajiban antara subjek-subjek hukum internasional (antarnegara). 5.

Protokol hanya mengatur masalah-masalah tambahan seperti penafsiran klausal-klausal tertentu dari suatu konvensi. Sifat persetujuan tidak seformal traktat dan konvensi. Contohnya perjanjian persahabatan dan kerja sama di AsiaTenggara (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia) tertanggal 24 Februari1976.ISTILAH-ISTILAH DALAM PERJANJIAN INTERNASIONAL  Traktat (treaty) : yaitu persetujuan yang dilakukan oleh dua Negara atau lebih yang mengadakan hubungan antar mereka. ekonomi. baik tentang pekerjaan kesatuan-kesatuan tertentu maupun ruang lingkup hak.  Perikatan (arrangement) : yaitu suatu perjanjian yang biasanya digunakan untuk transaksi-transaksi yang bersifat sementara dan tidak seformal traktat dan konvensi. atau hokum. perjanjian bilateral. kewajiban. dan perjanjian tidak resmi.  Protokol (protocol) : yaitu persetujuan yang isinya melengkapi (suplemen) suatu konvensi dan pada umumnya dibuat oleh kepala Negara.  Deklarasi (declaration) : yaitu pernyataan bersama mengenai suatu masalah dalam bidang politik. . Deklarasi dapat berbentuk traktat.  Konvensi (convention) : yaitu persetujuan resmi yang bersifat multilateral atau persetujuan yang diterima oleh organ suatu organisasi internasional. Agreement ini biasanya merupakan persetujuan antar pemerintah dan dilegalisir oleh wakil-wakil departemen tetapi tidak perlu diratifikasi oleh DPR Negara yang bersangkutan. tugas. Kekuatan traktat sangat ketat karena mengatur masalah-masalah yang bersifat fundamental. dan tanggung jawab lembaga-lembaga internasional. Konvensi tidak berkaitan dengan kebijakan tingkat tinggi. dokumen tidak resmi.  Persetujuan (agreement) : yaitu suatu perjanjian internasional yang lebih bersifat teknis administratif. wewenang.  Piagam (statue) : yaitu himpunan peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh persetujuan internasional.  Pakta (pact) yaitu traktat dalam pengertian sempit yang pada umumnya berisi materi politis.

1966) dan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi. Nama general act dipakai oleh Liga Bangsa-bangsa dalam kasus General Act for the Pasific Settlement of International Disputes yang dikeluarkan oleh Majelis Liga pada tahun1928 dan naskah revisinya disahkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa tanggal 28 April 1949. jadi digunakan sebagai konstitusi suatu organisasi internasional. Social. Biasanya metode ini dilakukan oleh wakil-wakil militer dan Negara serta dapat bersifat nonagresi.  Convenant : merupakan anggaran dasar dari PBB. Sebuah organisasi internasional yang konstitusinya memakai istilah covenant adalah Liga Bangsa-Bangsa (Covenant of the League of Nations).  Charter : yaitu istilah yang digunakan dalam perjanjian internasional untuk pendirian badan yang melakukan fungsi administratif.  Pertukaran nota (exchange of notes) : yaitu metode tidak resmi yang sering digunakan dalam praktik perjanjian internasional.Sosial dan Budaya. tanggal 16 Desember 1966 (Internasonal Covenant on Civil and Political Rights of December 16.  Proses verbal : yaitu catatan-catatan atau ringkasan-ringkasan atau kesimpulan-kesimpulan konferensi diplomatik atau catatancatatan suatu pemufakatan. 1966)  Ketentuan umum (general act) : General Act adalah benar-benar sebuah traktat tetapi sifatnya mungkin resmi mungkin juga tidak resmi. Modus vivendi : yaitu dokumen untuk mencatat suatu persetujuan yang bersifat sementara. 16 Desember 1966 (International Covenant on Economic. . Proses verbal ini tidak perlu diratifikasi. Di samping itu suatu perjanjian yang bukan merupakan konstitusi organisasi internasional ada juga yang memakai istilah covenant seperti Kovenan Intenasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik. Istilah kovenan (Covenant) juga mengandung arti yang sama dengan piagam. and Cultural Rights. Metode ini menimbulkan kewajiban-kewajiban yang mengikat mereka. December 16.

utusanutusan dari Negara yang turut berunding. . kecuali pernyataan tersebut disertai atau merupakan hasil persetujuan atau kesepakatan pemikiran dari para pihak yang dikehendaki oleh keduanya untuk mengikat.  Memorandum of Understanding sebuah perjanjian yang berisi pernyataan persetujuan tidak langsung atas perjanjian lainnya atau pengikatan kontrak yang sah atas suatu materi yang bersifat informal atau persyaratan yang longgar. serta masalah-masalah yang disetujui dalam konferensi dan tidak memerlukan ratifikasi.  Ketentuan penutup (final act) : yaitu ringkasan-ringkasan hasil konferensi yang menyebutkan Negara-negara peserta. Kompromis : yaitu tambahan atas persetujuan yang telah ada.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->