P. 1
Contoh Proposal Penelitian Kualitatif

Contoh Proposal Penelitian Kualitatif

|Views: 397|Likes:
Published by Darmuji Tambun

More info:

Published by: Darmuji Tambun on Mar 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2014

pdf

text

original

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI XXXX PROGRAM PASCASARJANA

RANCANGAN TESIS Diajukan oleh : Nama : XXXX NIM : XXXX Program Studi : Pendidikan Matematika

A. Judul COOPERATIVE LEARNING DAN ANALISIS SIKAP DALAM UPAYA MENGURANGI TINGKAT KENAKALAN SISWA SMK SEBAGAI SARANA PENINGKATAN KUALITAS LULUSAN SMK (STUDI KASUS SISWA JURUSAN TEKNIK BANGUNAN SMK DI XXXX) B. Pendahuluan Berdasarkan informasi dari beberapa guru SMK di Semarang mengatakan bahwa sebagian besar siswa SMK sangat sulit dikendalikan dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Siswa banyak yang bertindak sekeinginan hatinya. Kenyataan yang terjadi saat ini, ada guru yang sama sekali tidak dihiraukan oleh siswanya sendiri. Guru telah mencoba untuk mengatasinya, tetapi masih saja guru belum berhasil untuk memecahkan masalah tersebut. Berdasarkan hasil diskusi antara guru kelas dan dosen, sampailah pada suatu intuisi bahwa pada umumnya dalam belajar, siswa menginginkan sebuah suasana yang harmonis dan menyenangkan. Tetapi permasalahan tidak berhenti pada hal itu saja. Konsep menyenangkan antara guru dan siswa SMK sangatlah berbeda dan sangat sulit untuk dapat dipertemukan kedua konsep tersebut sehingga permasalahan tersebut tetap saja berlangsung sampai dengan saat ini. Dengan permasalahan tersebut, yang terjadi saat ini adalah rendahnya hubungan antar personal guru dengan siswa SMK. Guru hanya mementingkan tugas mengajar tanpa mengikutsertakan tugas membimbingnya. Dan siswa pun akhirnya menjadi acuh tak acuh, sehinga proses pendidikan yang terjadi di sekolah menjadi sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Adanya permasalahan tersebut dapat diduga bahwa akhirnya pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi siswa. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Outhred & Michelmore dalam Silberman (2001) bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menerapkan konsep untuk memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang diberikan selama sekolah seakan-akan menjadi sia-sia. Mereka hanya secara formalitas bersekolah hanya untuk mendapat uang saku, dan akhirnya orientasi mereka bersekolah pun menjadi lain. Sikap seperti inilah yang kemudian dilampiaskan kepada tawuran dan hal-hal negatif lain. Sudah menjadi rahasia umum bahwa siswa SMK mudah untuk

melakukan tawuran. Tanpa ikatan yang kuat dari sekolah bukan hal yang mustahil jika setiap hari terjadi perkelahian di sebuah SMK. Untuk mengatasi permasalahan yang diuraikan tersebut perlu adanya suatu penelitian yang menerapkan suatu strategi pembelajaran tertentu yang dapat meningkatkan ketertarikan siswa pada materi pelajaran. Selain itu juga perlu dilakukan sebuah penelitian yang mengukur sikap siswa dan guru dalam pembelajaran. Penelitian ini difokuskan kepada siswa dan guru SMK jurusan teknik bangunan. C. Rumusan Masalah Permasalahan yang telah diuraikan dalam pendahuluan dapat dirumuskan sebagai berikut. Bagaimanakah cara untuk mengurangi tingkat kenakalan siswa SMK? Bagaimanakah cara meningkatkan minat siswa SMK untuk belajar? Untuk menjawab permasalahan tersebut akan di jawab melalui penelitian dengan berdasarkan pada refleksi awal (keadaan sebelum penelitian dilakukan). Selanjutnya permasalahan yang ada diuraikan dalam pertanyaan sebagai berikut. a. Bagaimanakah cara untuk mengurangi tingkat kenakalan siswa SMK? b. Metode pembelajaran yang bagaimanakah yang dapat digunakan untuk meningkatkan minat siswa SMK dalam proses pembelajaran dalam kelas? c. Bagaimanakah hubungan guru dan siswa SMK yang seharusnya? D. Pemecahan Masalah Untuk memecahkan masalah yang telah dirumuskan akan dilakukan kegiatan sebagai berikut. Untuk memecahkan masalah pertama dilakukan dengan mengadakan diskusi antar pihak yang terkait di luar siswa yang bersangkutan, kemudian dirumuskan pemecahannya. Selain itu dilakukan penelitian kualitatif yang menganalisis sikap siswa dan hubungannya dengan guru di kelas. Untuk memecahkan masalah kedua akan digunakan strategi pembelajaran kooperatif, di mana dalam metode ini dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan keterampilan sosial. Untuk memecahkan masalah ketiga peneliti akan menggunakan analisis sikap guru dan siswa. Guru dan siswa diberikan angket untuk mengetahui sejauhmana sikap guru terhadap siswa dan sebaliknya sejauhmana sikap siswa terhadap guru kelasnya. Dengan analisis sikap ini nantinya akan dapat dirumuskan solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. E. Tinjauan Pustaka 1. Pembelajaran Kooperatif Dalam strategi pembelajaran perlu dikembangkan suatu strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar aktif . Belajar aktif meliputi ...............................................................dst.

Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistic-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan

pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan.

Format Proposal Penelitian Kualitatif

1. Konteks Penelitian atau Latar Belakang Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian, untuk maksud apa peelitian ini dilakukan, dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian. (Lihat juga membuat pendahuluan skripsi )

2. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. Apabila digunakan istilah rumusan masalah, fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan. Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas, sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik, induktif, dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan.

3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini, sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan.

4.

Landasan Teori

Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian

Dalam penelitian kuantitatif. kehadiran peneliti. analisis data. Kegunaan Penelitian Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Kehadiran Peneliti Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. 6. struktur . dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. ekologis. prosedur pengumpulan data. interaktif. 5. Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis. atau kritik seni (hermeneutik). yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala. dan tahap-tahap penelitian. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. kebudayaan. interaksi simbolik. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. penelitian berangkat dari teori menuju data.kualitatif. grounded theory. c. b. a. pengamat partisipan. Oleh karena itu. Selain itu juga dikemukakan orientasi teoretik. pengecekan keabsahan data. tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. partisipatoris. Lokasi Penelitian Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas. sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data. atau penelitian kelas. etnometodologis. misalnya letak geografis. Dengan kata lain. dan berakhir dengan suatu “teori”. Metode Penelitian Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian. misalnya fenomenologis. bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi). sumber data. studi kasus. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan. penelitian tindakan. memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas. uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh. atau pengamat penuh. dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan. kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. lokasi penelitian.

sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik. metode. pengungkapan hal yang penting. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti. analisis kasus negatif. format ringkasan rekaman data. logika. bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu. dan pengecekan anggota. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan. peneliti. catatan lapangan dan bahan-bahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. program. Selain itu dikemukakan caracara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data. d. Pengecekan Keabsahan Temuan Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. triangulasi(menggunakan beberapa sumber. dan analisis tema. dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. analisis komponensial. keunikan. dan suasana sehari-hari.organisasi. dengan teknik-teknik misalnya analisis domain. pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola. misalnya matriks dan logika. dan waktu. peneliti pernah bekerja di situ. dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. teori). Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman. pelacakan kesesuaian hasil. Dalam penelitian kualitatif. e. subjek. wawancara mendalam. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling). Analisis Data Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara. misalnya observasi partisipan. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi. analisis taksonomis. . bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional. dan dengan cara bagaimana data dijaring. atau estetika. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan. siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian. etika. sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). Sumber Data Pada bagian ini dilaporkan jenis data. observasi yang diperdalam. Dengan pemilihan lokasi ini. Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. (lihat analisis ) g. atau peneliti telah mengenal orang-orang kunci. pembahasan sejawat. dan penentuan apa yang dilaporkan. pengorganisasian. bagaimana karakteristiknya. Prosedur Pengumpulan Data Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan. Analisis ini melibatkan pengerjaan. informan. da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai. maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan. f. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin. Pengambilan sampel dikenakan pada situasi. Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah. sumber data. peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data. dan dokumentasi.

h. Tahap-tahap Penelitian Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan. judul. 2. Daftar Rujukan Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Tatacara penulisan daftar rujukan. Pendahuluan . Judul Penelitian Penggunaan Pendekatan Pragmatik dalam Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicara bagi Siswa SMPN 3 Tarakan Kalimantan Timur oleh Yones P B. tanpa gelar akademik. nama penerbit. C. tahun penerbitan 3. dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) . nama awal. semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi.Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability). ketergantungan pada konteksnya (dependability). penelitian sebenarnya. A. 2 Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. sampai pada penulisan laporan. Bidang Kajian Penelitian ini meliputi Bidang Kajian sebagai berikut: 1 Keterampilan Berbicara dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Artinya. pengembangan desain. nama tengah. bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir. kota tempat penerbitan. 7. tesis. dan 5. termasuk subjudul 4. dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi: 1.

kreatif. khususnya keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang komunikatif. Selain itu. belum seperti yang diharapkan. Yang lebih memprihatinkan. di antaranya kelancaran berbicara. Namun. ada pihak yang sangat ekstrim berani mengatakan bahwa tidak ada mata pelajaran Bahasa Indonesia pun siswa dapat berbahasa Indonesia seperti saat ini. kritis. . keterampilan berbicara di kalangan siswa SMP. struktur kalimat. kalimatnya tidak efektif. Dengan menguasai keterampilan berbicara. diksi (pilihan kata)-nya payah. Keterampilan berbicara siswa SMP berada pada tingkat yang rendah. dan berbudaya adalah keterampilan berbicara. peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia sedang berbicara. keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan. Indikator yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam berbicara. Berdasarkan hasil observasi. Sementara itu. jelas. ketepatan pilihan kata (diksi). alur tuturannya pun tidak runtut dan kohesif.Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas. kelogisan (penalaran). Kalimantan Timur. hanya 20% (8 siswa) dari 40 siswa yang dinilai sudah terampil berbicara dalam situasi formal di depan kelas. dan mudah dipahami. Kondisi ini tidak lepas dari proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah yang dinilai telah gagal dalam membantu siswa terampil berpikir dan berbahasa sekaligus. dan menulis oleh guru (Depdiknas 2004:9). hasil observasi empirik di lapangan juga menunjukkan fenomena yang hampir sama. dan kontak mata. asalkan mereka diajari berbicara. pikiran. Demikian juga keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMPN 3 Tarakan. atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. struktur tuturannya rancu. membaca. harus diakui secara jujur. runtut. Bahkan. keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara.

rendahnya keterampilan berbicara bisa menjadi hambatan serius bagi siswa untuk menjadi siswa yang cerdas. banyak keluarga yang menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai bahasa percakapan di lingkungan keluarga. guru bahasa Indonesia cenderung menggunakan pendekatan yang konvensional dan miskin inovasi sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan. Dengan kata lain. di antaranya pengaruh penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan keluarga dan masyarakat. kreatif. keterampilan berbicara hanya sekadar melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional dan kognitif belaka. atau sumber pembelajaran yang digunakan oleh guru memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap tingkat keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Artinya. yaitu faktor eksternal dan faktor internal. yang ditekankan adalah penguasaan tentang bahasa (form-focus). pendekatan pembelajaran. 2000). siswa tidak terbiasa untuk berbahasa Indonesia sesuai dengan konteks dan situasi tutur. Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia telah menyimpang jauh dari misi sebenarnya. Rata-rata bahasa ibulah yang digunakan sebagai sarana komunikasi. Kalau ada tokoh masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia. pada umumnya belum memperhatikan kaidah-kaidah berbahasa secara baik dan benar. kritis. Ini artinya. Pada umumnya. Akibatnya. Demikian juga halnya dengan penggunaan bahasa Indonesia di tengah-tengah masyarakat. Para peserta tidak diajak untuk belajar berbahasa. metode. tetapi cenderung diajak belajar tentang bahasa. dibandingkan mengajarkan kemampuan berbahasa Indonesia secara nyata (Nurhadi.Paling tidak. Dalam proses komunikasi sehari-hari. Akibatnya. belum manunggal secara emosional dan afektif. Dari faktor internal. Guru bahasa Indonesia lebih banyak berkutat dengan pengajaran tata bahasa. media. Yang termasuk faktor eksternal. melainkan diajak untuk mempelajari teori tentang berbicara. Guru lebih banyak berbicara tentang bahasa (talk about the language) daripada melatih menggunakan bahasa (using language). apa yang disajikan oleh guru di kelas bukan bagaimana siswa berbicara sesuai konteks dan situasi tutur. dan berbudaya. ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam berbicara. .

siswa diajak untuk berbicara dalam konteks dan situasi tutur yang nyata dengan menerapkan prinsip pemakaian bahasa secara komprehensif. dan menjalin kontak mata dengan pihak lain secara komunikatif dan interaktif pada saat berbicara. Guru juga memberikan pengalaman kepada siswa melalui pembelajaran terpadu dengan . diperlukan pendekatan pembelajaran keterampilan berbicara yang inovatif dan kreatif. monoton. Melalui pendekatan pragmatik. kreatif. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif. dan membosankan. dan menyenangkan. guru berusaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan berbahasa di dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks. memilih kata (diksi) yang tepat. Siswa tidak hanya diajak untuk belajar tentang bahasa secara rasional dan kognitif. aktif. tetapi juga diajak untuk belajar dan berlatih dalam konteks dan situasi tutur yang sesungguhnya dalam suasana yang dialogis. efektif. Dalam konteks demikian. Para siswa akan terus-menerus mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara lancar.Jika kondisi pembelajaran semacam itu dibiarkan berlarut-larut. Dengan cara demikian. yaitu kurangnya inovasi dan kreativitas guru dalam menggunakan pendekatan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan. sehingga proses pembelajaran bisa berlangsung aktif. Dalam pendekatan pragmatik. interaktif. menyusun struktur kalimat yang efektif. efektif. dan menyenangkan adalah pendekatan pragmatik. menarik. Kalimantan Timur. Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengatasi faktor internal yang diduga menjadi penyebab rendahnya tingkat kemampuan siswa klas VII-A SMPN 3 Tarakan. bukan tidak mungkin keterampilan berbicara di kalangan siswa SMP akan terus berada pada aras yang rendah. Pembelajaran keterampilan berbicara pun menjadi sajian materi yang selalu dirindukan dan dinantikan oleh siswa. dan menyenangkan. siswa tidak akan terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku. dalam berbicara. membangun pola penalaran yang masuk akal.

pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara diharapkan mampu membawa siswa ke dalam situasi dan konteks berbahasa yang sesungguhnya sehingga keterampilan berbicara mampu melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional. (3) penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip kerja sama. emosional. serta mampu menemukan dan menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. mampu menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. dan emosional yang ada dalam dirinya. para siswa juga akan mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku. yaitu (1) penggunaan bahasa dengan memperhatikan aneka aspek situasi ujaran. Perumusan dan Pemecahan Masalah 1. arif.Perumusan Masalah 1. Selain itu. Yang tidak kalah penting.menggunakan proses yang saling berkaitan dalam situasi dan konteks komunikasi alamiah senyatanya. dan (4) penggunaan bahasa dengan memperhatikan faktor-faktor penentu tindak komunikatif. Melalui prinsip-prinsip pemakaian bahasa semacam itu. mereka juga akan terlatih untuk mengemukakan gagasan dan perasaan secara cerdas dan kreatif. D. para siswa SMP akan mampu menumbuhkembangkan potensi intelektual. dan afektif.1 Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP? . serta mampu memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. sosial. Prinsip-prinsip pemakaian bahasa yang diterapkan dalam pendekatan pragmatik. baik secara lisan maupun tulis. Melalui penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara. kognitif. dan dewasa. sehingga kelak mereka mampu berkomunikasi dan berinteraksi sosial secara matang. (2) penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip kesantunan.

4. 4. bahkan guru bahasa Indonesia di tingkat satuan pendidikan yang lebih rendah.1 Para guru bahasa Indonesia dapat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara. Kalimantan Timur. atau yang lebih tinggi. khususnya bagi siswa SMP. Pemecahan Masalah 3. untuk memaparkan hasil keterampilan berbicara siswa SMP setelah pendekatan pragmatik digunakan dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia. seperti SD/MI. yang menjadi subjek penelitian ini mengalami peningkatan yang signifikan. diharapkan juga menggunakan hasil penelitian ini dalam upaya melakukan inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia. 4. Kajian Teori dan Pustaka Untuk mengkaji penggunaan pendekatan pragmatik dalam meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP digunakan teori yang berkaitan dengan keterampilan berbicara dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP dan teori yang berkaitan dengan pendekatan . Tujuan Penelitian 3. E. Manfaat Penelitian Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 4.1.3 Para guru bahasa Indonesia SMP diharapkan menggunakan pendekatan pragmatik dalam menyajikan aspek keterampilan berbicara.2 Apakah penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP? 2.1 untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP.2 Keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMPN 3 Tarakan.. 1. seperti SMA/SMK/MA.

berbicara. I. Melalui harapan tersebut. khususnya tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs secara eksplisit dinyatakan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual. surat-surat pembaca. dan menulis dengan baik menggunakan media bahasa Indonesia (Samsuri. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya. mengemukakan gagasan dan perasaan. dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah. Apa pun bahan atau aturan-aturan bahasa yang diberikan kepada anak-anak. membaca. 1988). brosur-brosur. Berpikir kritis dan kreatif dalam membaca 5. Membuat karangan-karangan bebas untuk majalah. berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan . seperti 1. Secara garis besar. Membuat surat lamaran pekerjaan 3. dan budaya orang lain. Itu berarti agar anak-anak mampu menyimak. 1987 dan Sadtono. Menulis laporan ilmiah atau laporan perjalanan 2. koran.1 Keterampilan berbicara dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Saat ini. dan sebagainya. tujuan utama pengajaran bahasa Indonesia adalah agar anak-anak dapat berbahasa Indonesia dengan baik.pragmatik sebagai inovasi tindakan yang dilakukan dalam upaya meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP. dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan praktis semacam itu. sosial. arah pembinaan bahasa Indonesia di sekolah dituangkan dalam tujuan pengajaran bahasa Indonesia yang secara eksplisit dinyatakan dalam kurikulum. budayanya. pengajaran bahasa Indonesia dikelola agar anak-anak memiliki keterampilan-keterampilan praktis berbahasa Indonesia. Berbicara di depan umum atau berdiskusi 4.

Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia semacam itu diharapkan: 1. dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. nasional. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan. Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya. Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah. 3. dan global. Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan. 1. baik secara lisan maupun tulis. 2. dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. regional.bahasa tersebut. serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri. Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal. dan . kebutuhan. serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. keterampilan berbahasa. dan minatnya. 2.

dan (4) menulis. menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan. menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. 2. menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual. serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.(6) Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional. 3. (2) berbicara. ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakupi komponen.kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek: (1) mendengarkan. menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. 1. Adapun tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah agar peserta didik memiliki kemampuan: 1. (3) membaca. 4. . memperhalus budi pekerti. memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. 5. serta kematangan emosional dan sosial. berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku. Sedangkan. baik secara lisan maupun tulis.

. yaitu: (1) menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif. dan menulis. Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengembangkan kompetensi dasar siswa kelas VII semester I dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif. siswa kelas VII SMP diharapkan mampu mengembangkan dua kompetensi dasar. dan (2) menyampaikan pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimatkalimat yang lugas dan sederhana. Menyampaikan pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimatkalimat yang lugas dan sederhana Berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut dapat disimpulkan bahwa pada semester I.Berdasarkan pernyataan tersebut dapat ditegaskan bahwa keterampilan berbicara merupakan salah salah satu aspek kemampuan berbahasa yang wajib dikembangkan di SMP. Keterampilan berbicara memiliki posisi dan kedudukan yang setara dengan aspek keterampilan mendengarkan.2. standar kompetensi dan kompetensi dasar keterampilan berbicara dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP/MTs kelas VII semester berdasarkan Standar Isi dalam lampiran Peraturan Mendiknas Nomor 22/2006 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Keterampilan Berbicara Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas VII Semester I Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Berbicara 2. membaca. Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan berbicara dan menyampaikan pengumuman 2.1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif 2. Sementara itu.

2. dan perasaan. serta kematangan emosional dan sosial. dsb. menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual. Selanjutnya. Berbicara juga . 1996:144) dijelaskan bahwa berbicara adalah “berkata. Dia menyatakan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa atau katakata untuk mengekspresikan pikiran. bercakap. ed. menyatakan. dinyatakan bahwa berbicara merupakan sistem tanda yang dapat didengar dan dilihat yang memanfaatkan otototot dan jaringan otot manusia untuk mengomunikasikan ide-ide.) atau berunding”. Sementara itu. gagasan. Hal senada juga dikemukakan oleh Mulgrave (1954:3-4). 1. berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku secara lisan. berbahasa. 2. seta menyampaikan pikiran. berbicara dinyatakan sebagai suatu alat untuk mengomunikasikan gagasangagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. Sedangkan. atau melahirkan pendapat (dengan perkataan. tulisan. Tarigan (1983:15) dengan menitikberatkan pada kemampuan pembicara menyatakan bahwa berbicara merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atas kata-kata untuk mengekspresikan.Fokus penelitian ini relevan dengan kegiatan pembelajaran aspek keterampilan berbicara dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP yang diarahkan agar siswa memiliki kemampuan untuk: 1. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kridalaksana. menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. sebagai bentuk atau wujudnya.

kita membutuhkan lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan yang banyak atau kaya bagi siswa untuk menggunakan bahasa di dalam cara-cara yang fungsional (Gay Su Pinnel dan Myna L. mengekspresikan. I. gagasan. dan perasaan kepada orang lain. belajar melalui bahasa. menyampaikan pikiran. dan belajar tentang bahasa. semantik. psikis. dan linguistik secara ekstensif sehingga dapat digunakan sebagai alat yang sangat penting untuk melakukan kontrol sosial. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada. Oleh karena itu. dan penempatan jeda. Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka. sementara itu tugas-tugas komunikasi yang kompleks adalah inti kemahirwacanaan tingkat tinggi (high literacy) (CED. menyatakan. neurologis. keterampilan berbicara bisa dipahami sebagai keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan. menyampaikan pikiran. . Berdasarkan beberapa pernyataan tersebut dapat dikemukakan bahwa berbicara pada hakikatnya merupakan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa. Komunikasi adalah inti pengajaran language arts. 1989:2). tekanan. Matlin. gagasan. menyatakan.dipahami sebagai bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor fisik. Dalam konteks demikian. aktivitas berbicara dapat diekspresikan dengan bantuan mimik dan pantomimik pembicara.2 Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara di SMP Menurut Halliday (1975) siswa itu belajar berbahasa. Pengembangan bahasa pada anak memerlukan kesempatan menggunakan bahasa. 2001). dan perasaan. Merujuk pada pendapat tersebut. Guru yang memberi siswa kesempatan mengembangkan keterampilan berbahasa di dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks akan meningkatkan pembelajaran karena mereka (guru) memberi siswa pelatihan di dalam keterampilan yang terintegrasi dengan literasi tingkat tinggi. keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk menceritakan.

Pembelajaran Bahasa Indonesia lebih cenderung bersifat teoretis dan kognitif daripada mengajak siswa untuk belajar berbahasa Indonesia dalam konteks dan situasi yang nyata. Siswa hanya tahu bahwa tugasnya adalah mengenal fakta-fakta. dan menyenangkan. Namun. menarik. menulis. 2002). Dalam konteks demikian. Hal ini bisa menimbulkan dampak yang cukup serius terhadap keterampilan siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia dalam peristiwa dan konteks komunikasi. sebagian hanya hafalan dengan tingkat pemahaman yang rendah. . Dengan kata lain. interaktif.Selanjutnya. secara jujur harus diakui bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP belum berlangsung seperti yang diharapkan. Apa yang kita amati dari hasil pembelajaran di sekolah dasar dan menengah di Indonesia adalah ketidakmampuan anak-anak menghubungkan antara apa yang dipelajari dengan bagaimana pengetahuan itu dimanfaatkan untuk memecahkan persoalan sehari-hari (Direktorat SLTP. diperlukan upaya serius melalui penggunaan pendekatan yang inovatif dan kreatif agar pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP bisa berlangsung dalam suasana yang kondusif. Akibatnya. Melalui proses pembelajaran semacam itu. sosial. berbicara. dan mendengarkan untuk komunikasi alamiah senyatanya (authentic commmunication) (Salinger. terbuka. pembelajaran Bahasa Indonesia terlepas dari konteks pengalaman dan lingkungan siswa. Apa yang anak-anak peroleh di sekolah. dan emosional. sementara keterkaitan antara fakta-fakta itu dengan pemecahan masalah belum mereka kuasai. apa yang diperoleh siswa di kelas dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak bisa diterapkan secara praktis dalam kehidupan seharihari. sehingga mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar sesuai dengan konteks dan sitiuasinya. siswa diharapkan dapat menumbuhkembangkan kemampuan intelektual. 2001). guru yang memberi pengalaman kepada siswa dengan pembelajaran terpadu melalui lingkungan mahir literasi (literate environment) ternyata dapat meningkatkan pembelajaran karena mereka (siswa) menggunakan proses-proses yang saling berkaitan antara membaca. dinamis.

Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi proses pemerolehan bahasa . serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. tetapi juga ketepatan dalam konteks sosial (Zahorik dalam Kurikulum 2004: Naskah Akademik Mata pelajaran Bahasa Indonesia 2004:4). Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya. berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. Hymes menciptakan istilah communicative competence. yaitu kompetensi berbahasa yang tidak hanya menuntut ketepatan gramatikal. dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. interaktif. dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya. Pendekatan pragmatik termasuk salah satu pendekatan komunikatif yang mulai digunakan dalam pengajaran bahasa sejak munculnya penolakan terhadap paham behaviorisme melalui metode Drill-nya.Hal itu sejalan dengan pernyataan dalam lampiran Peraturan Mendiknas RI Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. baik secara lisan maupun tulis. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu menciptakan suasana yang kondusif. kreatif. Dalam lampiran tersebut secara eksplisit ditegaskan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual. sosial. dinamis. mengemukakan gagasan dan perasaan. Proses pemerolehan bahasa mempersyaratkan adanya interaksi yang bermakna dalam bahasa sasaran. budayanya. dan budaya orang lain. dan menyenangkan adalah pendekatan pragmatik. inovatif. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. terbuka. menarik. khususnya yang berkaitan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMP/MTs. Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa dirintis oleh Michael Halliday dan Dell Hymes.

Dari berbagai penelitian tentang pengajaran bahasa disimpulkan bahwa keterampilan berbahasa anak. dan 3. yaitu lingkungan bahasa makro dan lingkungan bahasa mikro. dan beradu argumen . Faktor eksternal masih dipilah menjadi dua macam lagi. (2) Anak-anak mengembangkan bahasa keduanya dengan cara mengolah input dari ujaran orang lain. lebih tepat. yaitu faktor eksternal dan faktor internal (Chaika. peranan anak-anak dalam berkomunikasi. menjawab. yaitu bagaimana guru bisa menciptakan kelas agar anak-anak bisa belajar keterampilan berbahasa. 1. 1986). Lingkungan mikro adalah keadaan lingkungan kelas tempat anak-anak belajar. yaitu pengikutsertaan anak-anak dalam latihan komunikasi itu amat penting. sedangkan faktor internal berkaitan dengan keadaan intern di dalam diri pelahar bahasa. menyanggah. khususnya keterampilan berbicara. l982). bukan hanya tahu tentang bahasa saja. Hal itulah yang kemudian menjadi cacatan penting dalam penelitian pengajaran bahasa. Lingkungan makro terdiri atas: 1. yaitu: (1) anak-anak mengembangkan bahasa keduanya dengan memproduksi ujaran dalam bahasa target secara lebih sering. 2. dan (3) anak-anak mengembangkan bahasa keduanya melalui pelibatan diri dalam tugas atau interaksi yang menuntut adanya kemampuan kreatif berkomunikasi dengan orang lain (Ellis. Anak-anak dengan tingkat pembangkitan input yang tinggi (high input generating) memperoleh kemampuan berbahasanya dari bertanya. tersedianya sumber yang dapat membetulkan untuk menjelaskan makna. kealamiahan bahasa. Faktor eksternal berkaitan dengan lingkungan bahasa seseorang.dapat dipilah menjadi dua golongan. dan dalam variasi yang luas. dikembangkan melalui tiga cara. ketersediaan model atau contoh yang bisa ditiru.

6. . bukan sekedar ketepatan bahasa. 2. Secara umum ada korelasi antara perilaku aktif ini dengan perolehan belajar anak. hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri. keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman. membaca. 2. kompetensi komunikatif menjadi tujuan utama. Dengan kata lain. hasil penelitian dalam bidang pengajaran bahasa menyarankan adanya program pengajaran bahasa yang menekankan pada pembangkitan input anak-anak (latihan bercakap-cakap. atau menulis yang sebenarnya). 1. bukan kompetensi kebahasaan. Siswa didorong untuk selalu berinteraksi dengan siswa lain (Brown. 3. berarti ia juga pasif dalam berlatih berbahasa nyata atau pasif dalam berkomunikasi menggunakan bahasa. mengalahkan struktur dan bentuk. target penguasaan sistem bahasa itu dicapai melalui proses mengatasi hambatan berkomunikasi. 5. belajar bahasa itu belajar berkomunikasi. makna itu penting. konteks itu penting. 3. bukan item bahasa. 2001:45). Pembelajaran kompetensi komunikatif yang menjadi muara akhir pencapaian pembelajaran bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri: 1. 4. Penggunaan pendekatan paragmatik dalam pengajaran Bahasa Indonesia juga dilandasi oleh semangat pembelajaran kontruktivistik yang memiliki ciri-ciri: perilaku dibangun atas kesadaran diri. seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya. Anak-anak yang lambat belajar. kelancaran dan keberterimaan bahasa menjadi tujuan. Penelitian-penelitian itu pada akhirnya menghasilkan sejumlah hipotesis baru tentang pembelajaran bahasa.dengan orang lain. Inti dari temuan itu adalah bahwa keaktifan anak-anak di kelas dalam pembelajaran bahasa perlu dilakukan melalui aktivitas berlatih berujar secara nyata. berdasarkan motivasi intrinsik.

hasil belajar diukur dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber. dengan cara memberi makna pada pengalamannya. saling mengoreksi. pembelajaran terjadi di berbagai konteks dan setting (Zahorik dalam Kurikulum 2004: Naskah Akademik Mata pelajaran Bahasa Indonesia 2004:21-22). 8. Prinsip pertama menyarankan agar pengetahuan dan keterampilan berbahasa yang diperoleh. penekanan pada kemampuan berbahasa praktis. ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif. serta mampu mengungkapkan gagasan dalam bahasa Indonesia. Penggunaan pendekatan pragmatik dalam pengajaran Bahasa Indonesia juga didasari oleh prinsip bahwa guru mengajarkan bahasa Indonesia sebagai sebuah keterampilan. pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran. berguna dalam komunikasi seharihari (meaningful). Tidak ada peran guru yang dominan. siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok. Dengan kata lain. bukan sebagai tujuan. dan interaksi yang produktif antara guru dengan siswa.4. pembelajaran bahasa dilakukan dengan pendekatan komunikatif. antara lain pengintegrasian antara bentuk dan makna. 5. siswa diharapkan mampu menangkap ide yang diungkapkan dalam bahasa Indonesia. maka pengetahuan itu tidak pernah stabil. agar dihindari penyajian materi (khususnya kebahasaan) yang tidak bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari. siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksi) oleh manusia sendiri. terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif. Prinsip kedua menekankan bahwa melalui pengajaran bahasa Indonesia. . diskusi. pengetahuan tata bahasa bahasa Indonesia yang sangat linguistis. Penilaian hanya sebagai sarana pembelajaran bahasa. misalnya. 7. Prinsip ketiga mengharapkan agar di kelas terjadi suasana interaktif sehingga tercipta masyarakat pemakai bahasa Indonesia yang produktif. sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru. baik lisan maupun tulis. 6. selalu berkembang (tentative & incomplete). 9. baik secara lisan maupun tertulis. yaitu siswa diajak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dalam konteks nyata.

yaitu: 1. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik memperoleh gambaran penggunaan bahasa Indonesia dalam konteks dan situasi yang nyata. Konteks adalah sesuatu yang menjadi sarana pemerjelas suatu maksud. yaitu: 1.Guru diharapkan sebagai “pemicu” kegiatan berbahasa lisan dan tulis. kapan diucapkan. sedangkan konteks yang berupa situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian disebut konteks (contex) (Rustono 1999:20). waktu. 2. pembicara. latar atau scene. kode. peristiwa. dan sebagainya. yaitu tempat dan suasana peristiwa tutur. ada sejumlah faktor yang menandai keberadaan peristiwa itu. iklan. pemberitahuan. Menurut Hymes (1968) (melalui Rustono 1999:21). act. yaitu tindakan yang dilakukan penutur di dalam peristiwa tutur. end atau tujuan. pendengar. dan 2. tempat adegan. faktor-faktor itu berjumlah delapan. pengumuman. 3. dan sarana. esai. Sarana itu meliputi dua macam. mitra tutur. Ciri lain yang menandai adanya penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara adalah penggunaan konteks tuturan. Menurut Alwi et al. bentuk amanat. siapa pendengarnya. seperti situasi. 1. berupa bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud. participant. antara lain dapat berupa surat. konteks terdiri dari unsur-unsur. dan lain-lain (Lubis 1993:57). Di dalam peristiwa tutur. atau pihak lain. Peran guru sebagai orang yang tahu atau pemberi informasi pengetahuan bahasa Indonesia agar dihindari. Konteks yang berupa bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud disebut koteks (co-text). topik. yaitu penutur. berupa situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian. . Bentuk amanat sebagai unsur konteks. Makna sebuah kalimat baru dapat dikatakan benar apabila diketahui siapa pembicaranya. (1998:421).

yaitu penutur. yaitu penutur dan mitra tutur. mitra tutur. diskusi. Maksud tuturan yang sebenarnya hanya dapat diidentifikasi melalui situasi tutur yang mendukungnya. dan tuturan sebagai produk tindak verbal. amanat atau pesan. Komponen-komponen situasi tutur menjadi kriteria penting di dalam menentukan maksud suatu tuturan. Di dalam komunikasi. kampanye. tujuan tuturan. saluran atau media. waktu dan tempat bertutur. Pertanyaan apakah yang dihadapi itu berupa fenomena pragmatis atau fenomena semantis dapat dijawab dengan kriteria pembeda yang berupa situasi tutur. 1. dan (8) genre. Penentuan maksud tuturan tanpa mengalkulasi situasi tutur merupakan langkah yang tidak akan membawa hasil yang memadai. kode (dialek atau gaya). Pernyataan ini sejalan dengan pandangan bahwa tuturan merupakan akibat. konteks tuturan tampak pada dialog antartokoh yang memenuhi ciri-ciri konteks sebagaimana dikemukakan oleh Hymes (1968). 2. dan peristiwa atau kejadian. situasi tutur adalah situasi yang melahirkan tuturan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa ciri-ciri konteks itu mencakupi delapan hal. situasi tutur mencakupi lima komponen. tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Di dalam novel. mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran sekaligus kawan penutur di dalam peristiwa tutur. yaitu alat elalui telepon atau bersemuka. Di dalam peristiwa komunikasi. Memperhitungkan situasi tutur amat penting di dalam pragmatik.4. . yaitu nada suara dan ragam bahasa yang digunakan di dalam mengekspresikan tuturan dan cara mengekspresikannya. Komponen situasi tutur yang pertama adalah penutur dan mitra tutur. sedangkan situasi tutur merupakan sebabnya. norm atau norma. seperti wawancara. peran penutur dan mitra tutur dilakukan secara silih berganti. Menurut Rustono (1999:26). yaitu orang yang menyatakan tuturan tertentu di dalam peristiwa komunikasi. dan sebagainya. konteks tuturan. instrument. Penutur adalah orang yang bertutur. Sementara itu. key. tidak ada tuturan tanpa situasi tutur. yaitu jenis kegiatan. Menurut Leech (1983:13-15). yaitu aturan permainan yang harus ditaati oleh setiap peserta tutur. topik tuturan.

demikian pula sebaliknya. berbagai tuturan dapat diekspresi untuk mencapai suatu tujuan. konteks tuturan mencakupi semua aspek fisik atau latar sosial yang relevan dengan tuturan yang diekspresi. Konteks berperan membantu mitra tutur di dalam menafsirkan maksud yang ingin dinyatakan oleh penutur. Jika mencubit yang berperan adalah tangan dan menendang yang berperan adalah kaki. pada tindakan bertutur alat ucaplah yang berperan. Di dalam peristiwa tutur. yaitu tindak mengekspresikan kata-kata atau bahasa. Konteks yang bersifat fisik. Komponen ini mengandung maksud bahwa tindak tutur merupakan tindakan juga tidak ubahnya sebagai tindakan mencubit dan menendang.Yang semula berperan sebagai penutur pada tahap berikutnya dapat menjadi mitra tutur. konteks berarti semua latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama oleh penutur dan mitra tuturnya. Aspek-aspek yang terkait dengan penutur dan mitra tutur antara lain usia. yaitu tindakan verbal dan tindakan nonverbal. Semua tuturan orang normal memiliki tujuan. Komponen ini menjadi hal yang melatarbelakangi tuturan. Di dalam pragmatik. yaitu fisik tuturan dengan tuturan lain yang biasa disebut dengan ko-teks. sedangkan berbicara atau bertutur adalah tindakan verbal. sedangkan konteks latar sosial lazim dinamakan konteks. Yang berbeda adalah bagian tubuh yang berperan. Hal ini berarti tidak mungkin ada tuturan yang tidak mengungkapkan suatu tujuan. tingkat keakraban. kaki. Komponen lain yang dapat menjadi unsur situasi tutur antara lain . Di dalam tata bahasa. yaitu apa yang ingin dicapai oleh penutur dengan melakukan tindakan bertutur. dan alat ucap adalah bagian tubuh manusia. Komponen situasi tutur yang kelima adalah tuturan sebagai produk tindak verbal. Komponen situasi tutur yang ketiga adalah tujuan tuturan. Karena tercipta melalui tindakan verbal. Mencubit dan menendang adalah tindakan nonverbal. latar belakang sosial ekonomi. tingkat pendidikan. Tindakan manusia dibedakan menjadi dua. Komponen situasi tutur yang kedua adalah konteks tuturan. Komponen situasi tutur yang keempat adalah tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Tuturan itu merupakan hasil suatu tindakan. jenis kelamin. tuturan itu merupakan produk tindak verbal. Tangan.

yaitu: 1. yaitu penggunaan pendekatan pembelajaran yang tidak mampu membawa siswa ke dalam situasi penggunaan bahasa secara nyata atau terlepas dari konteks dan situasi tuturan.waktu dan tempat pada saat tuturan itu diproduksi. F. Metode Penelitian Penelitian ini dimulai dengan melakukan identifikasi masalah atau refleksi awal terhadap rendahnya tingkat keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur. Apakah penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Berdasarkan refleksi awal ditemukan penyebab rendahnya tingkat keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur. proses pembelajaran berlangsung monoton dan membosankan. dan 2. Oleh karena itu. Akibatnya. Berdasarkan penggunaan pendekatan pragmatik yang ditawarkan sebagai solusi. dirumuskan tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini. Selanjutnya. dirumuskan masalah yang akan diteliti. dan . untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Tuturan yang sama dapat memiliki maksud yang berbeda akibat perbedaan waktu dan tempat sebagai latar tuturan. Berdasarkan beberapa pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan pragmatik sebagai inovasi dalam pengajaran keterampilan berbicara di SMP dimaksudkan untuk melatih dan membiasakan siswa untuk berbicara sesuai dengan konteks dan situasi tutur senyatanya sehingga siswa dapat memperoleh manfaat praktis untuk diterapkan dalam peristiwa komunikasi sehari-hari. yaitu: 1. Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP. diperlukan pendekatan pembelajaran yang diduga mampu membawa siswa ke dalam situasi penggunaan bahasa secara nyata sehingga siswa memperoleh manfaat praktis untuk diterapkan dalam peristiwa komunikasi seharihari.

Langkah selanjutnya adalah melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana dengan melibatkan seorang kolaborator untuk melakukan observasi terhadap tindakan yang dilakukan. Berdasarkan rumusan tujuan. peneliti melakukan refleksi terhadap hasil analisis data. dilakukan analisis data yang diperoleh dari hasil keterampilan berbicara siswa klas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur. dan kontak mata. dilakukan kajian teori sehingga pendekatan yang ditawarkan sebagai solusi dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan dan observasi. dilakukan perencanaan tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP klas VII-A SMPN Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur. Berdasarkan rumusan hipotesis tindakan. struktur kalimat. peneliti melakukan tindakan sesuai dengan replanning yang telah disusun dengan melibatkan . Bersama kolaborator. Dari hasil kajian teori dirumuskan hipotesis tindakan. Teori yang digunakan adalah teori yang berkaitan dengan aspek keterampilan berbicara dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP dan teori yang berkaitan dengan pendekatan pragmatik sebagai inovasi tindakan yang dilakukan dalam upaya dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa SMP. yaitu 70% (28 siswa) dari 40 siswa klas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur terampil berbicara berdasarkan aspek kelancaran berbicara. dilakukan refleksi untuk memperbaiki langkahlangkah yang perlu dilakukan pada siklus berikutnya. Langkah selanjutnya adalah menyusun replanning (rencana tindakan) untuk siklus II berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan bersama kolaborator. Jika hasil analisis data belum menunjukkan hasil yang signifikan. Data tersebut dibandingkan dengan indikator keberhasilan penggunaan pendekatan pragmatik. Pada siklus II. ketepatan pilihan kata (diksi). untuk memaparkan hasil keterampilan berbicara siswa SMP setelah pendekatan pragmatik digunakan dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia. kelogisan (penalaran).2. yaitu penggunaan pendekatan pragmatik dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa SMP.

Selanjutnya. Data ini masih jauh dari standar ketuntasan belajar minimal secara nasional. F. Materi pembelajaran berseumber dari standar isi dalam lampiran Peraturan Mendiknas No. dilakukan replanning untuk siklus III. Jika hasilnya belum signifikan. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII-A SMPN 3 Tarakan yang terdiri atas 40 siswa.2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Menceritakan .kolaborator untuk mengamati efektivitas pelaksanaan tindakan. Ini artinya. yaitu 75%. Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan refleksi awal. dengan rincian 18 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. khususnya keterampilan siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur. Lokasi dan Subjek Penelitian Lokasi penelitian adalah SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur.1 berikut ini. siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur yang dinilai sudah mampu menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif baru sekitar 20% (8 siswa) dari 40 siswa. Tabel 7. dilakukan analisis terhadap data keterampilan berbicara siswa klas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur dibandingkan dengan indikator keberhasilan untuk direfleksi bersama kolaborator.2 Pemecahan Masalah Seperti telah peneliti kemukakan bahwa masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah rendahnya tingkat keterampilan berbicara. F. 22/2006 tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs seperti pada tabel 7.1. Jika penggunaan pendekatan pragmatik sudah menunjukkan hasil yang signifikan dengan indikator keberhasilan. tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya. dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif. penggunaan pendekatan pragmatik dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa SMP seperti yang telah dirumuskan dalam hipotesis tindakan.

1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif.4 Siswa mencatat tujuan tuturan.2. 7. Secara garis besar. yaitu latar belakang pengetahuan yang dimiliki penutur dan mitra tutur.2.2 Siswa mencatat identitas penutur dan mitra tutur.2.6 Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan nonverbal untuk memperjelas tindakan verbal yang telah dilakukan. 7. . yaitu orang-orang yang terlibat dalam pengalaman yang akan diceritakan. 7. mimik.2. berupa kata-kata dan kalimat.2.1 Siswa memilih dan mencatat pengalaman mengesankan yang ingin diceritakan.3 Siswa mencatat konteks tuturan. Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan berbicara dan menyampaikan pengumuman 2. gerak tangan. antara lain sebagai berikut: 7. yaitu apa yang ingin dicapai oleh penutur berdasarkan pengalaman yang akan diceritakan. Masalah rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif akan dipecahkan dengan menggunakan pendekatan pragmatik melalui enam langkah. 7. Bentuk tindakan verbal berupa tindak tutur yang dihasilkan oleh alat ucap.Pengalaman yang Paling Mengesankan dengan Menggunakan Pilihan Kata dan Kalimat Efektif Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Berbicara 2. 7.2. atau gerak anggota badan yang lain. Tindakan nonverbal berupa tindak tutur yang dihasilkan melalui kontak mata.5 Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan verbal berdasarkan hal-hal yang telah dicatat sebelumnya.

kegiatan belajar. siswa diharapkan dapat menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif sesuai konteks dan situasi tutur. pilihan kata dan struktur kalimat yang digunakan dalam berbicara sangat ditentukan oleh konteks dan situasi tutur yang telah ditentukan oleh siswa. 22/2006).alur penggunaan pendekatan pragmatik yang digunakan untuk memecahkan masalah rendahnya tingkat keterampilan siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur. antara lain sebagai berikut. kompetensi dasar. dan contoh instrumen). standar kompetensi. Artinya. aspek. penilaian (teknik.1 Guru menyusun silabus berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar keterampilan berbicara mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII semester I seperti yang tercantum dalam Standar Isi (lampiran Permendiknas No. bentuk. F. alokasi waktu.2 Guru mengembangkan silabus Menjadi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat komponen: nama sekolah. aspek. F. dan standar kompetensi). kompetensi dasar.3.3. komponen. kelas/semester. F. identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran. komponen. alokasi . kelas/semester. indikator. Pendekatan ini memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih dan menentukan pengalaman yang hendak diceritakan. dan sumber/media belajar. sedangkan guru hanya memberikan rambu-rambu sebagai pedoman bagi siswa dalam berbicara. Dalam silabus dicantumkan nama sekolah.3 Rencana Tindakan Rencana tindakan yang akan dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan pilihan kata dan kalimat yang efektif. identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran. Melalui alur penggunaan pendekatan pragmatik tersebut. indikator. materi pokok.

3. peneliti melibatkan kolaborator untuk mengamati pelaksanaan tindakan.waktu). F. langkahlangkah kegiatan pembelajaran. Langkah selanjutnya adalah melakukan refleksi berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator.4 Peneliti menganalisis data hasil keterampilan siswa dalam berbicara mengenai pengalaman mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif. metode pembelajaran.3.6 Peneliti melakukan replanning untuk merencanakan tindakan yang akan dilakukan pada siklus berikutnya berdasarkan hasil refleksi bersama kolaborator.3. Jika penggunaan pendekatan pragmatik dinilai belum memberikan hasil yang signifikan. Pada tahap ini. kolaborator memberikan masukan dan bersama-sama dengan peneliti melakukan langkah-langkah perbaikan untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.3.5 Hasil analisis data dibandingkan dengan hasil tes awal untuk mengetahui efektiktivitas penggunaan pendekatan pragmatik.8 . tujuan pembelajaran.3.3 Guru melaksanakan tindakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun. materi pembelajaran. F. F. F. F. sumber belajar. F.7 Peneliti melaksananakan tindakan pada siklus II sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun.3. penilaian dan pedoman penilaian.

1.1 .4.2 Pelaksanaan Tindakan Pada tahap pelaksanaan tindakan. F. F. peneliti kembali melakukan refleksi bersama kolaborator untuk merencanakan tindakan perbaikan (replanning) yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya.4. peneliti yang sekaligus sebagai guru menyiapkan silabus. Namun.4.4 Tahap Pelaksanaan Tahap-tahap yang dilakukan pada tahap pelaksanaan tindakan terinci sebagai berikut.1 Tahap Persiapan Tindakan Pada tahap persiapan tindakan. F. peneliti melaksanakan tindakan sesuai rencana yang tersusun dalam RPP. F. tindakan yang dilaksanakan pada setiap siklus sesuai dengan yang tersusun dalam RPP antara lain sebagai berikut. RPP. jika hasil analisis data belum menunjukkan hasil yang signifikan. dan media belajar yang digunakan untuk mendukung efektivitas pelaksanaan tindakan.2.2. Jika penggunaan pendekatan pragmatik dinilai sudah memberikan hasil yang signifikan sesuai dengan indikator keberhasilan. Secara garis besar.4.9 Hasil analisis data dibandingkan dengan hasil tes siklus I untuk mengetahui efektiktivitas penggunaan pendekatan pragmatik. sumber belajar.3. F.1 Tindakan Awal F. penelitian dinyatakan selesai dan tinggal melakukan tindakan pemantapan kepada siswa (subjek penelitian).Peneliti menganalisis data hasil keterampilan siswa dalam menceritakan pengalaman mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif. Langkah selanjutnya adalah melakukan refleksi berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator. instrumen.

2..1. F.2.2.4.2. F.4.4.1 Siswa menyimak contoh cerita pengalaman yang mengesankan yang disampaikan oleh peneliti. F.2.4.2.5 Siswa mencatat konteks tuturan. F...2.2.6 . F.4.2.2 Siswa melakukan tanya jawab dengan guru dan teman sekelas untuk menentukan langkahlangkah menceritakan pengalaman mengesankan berdasarkan contoh cerita yang disimak.2. yaitu orang-orang yang terlibat dalam pengalaman yang akan diceritakan. F.2.4..2.2.4. yaitu latar belakang pengetahuan yang dimiliki penutur dan mitra tutur. F.2Tindakan Inti F.2.4 Siswa mencatat identitas penutur dan mitra tutur.4.2 Motivasi: peneliti memberikan motivasi kepada siswa agar gemar menceritakan pengalaman yang mengesankan kepada orang lain.3 Siswa memilih dan mencatat pengalaman mengesankan yang ingin diceritakan..Apersepsi: peneliti mengaitkan materi pembelajaran tentang dengan pengalaman siswa..

. F.7 Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan verbal berdasarkan halhal yang telah dicatat sebelumnya.Siswa mencatat tujuan tuturan. yaitu apa yang ingin dicapai oleh penutur berdasarkan pengalaman yang akan diceritakan.2. di antaranya: 1.2.8 Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan nonverbal untuk memperjelas tindakan verbal yang telah dilakukan. Halhal yang perlu diamati dan dicatat oleh kolaborator dalam lembar observasi.2. F. F..3.2. F.2. respon siswa.2.1 Siswa bersama peneliti menyimpulkan cara menceritakan pengalaman mengesankan dengan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif.4.2. perubahan yang terjadi selama proses pembelajaran.3 Pelaksanaan Pengamatan Ketika peneliti melaksanakan tindakan.4.2 Siswa bersama peneliti melakukan refleksi untuk mengetahui kesan siswa ketika menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan pendekatan prgmatik.. .3. F.4.3Tindakan Akhir F.4.4. anggota peneliti sebagai kolaborator melakukan pengamatan terhadap situasi yang terjadi selama kegiatan pembelajaran berlangsung.. 2.4.

Berdasarkan hasil analisis data akan diketahui unsur-unsur mana saja yang masih menjadi hambatan siswa dalam menceritakan pengalamannya yang mengesankan. yaitu 70% (28 siswa) dari 40 siswa klas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur terampil berbicara berdasarkan aspek kelancaran berbicara. baik dalam tindakan awal.1 Tes Teknik tes digunakan untuk mengetahui tingkat keterampilan siswa dalam menceritakan pengalaman yang mengesankan kepada orang lain. Aspek-aspek yang dinilai. dan kemampuan menjalin kontak mata. dan 1.5. data dikumpulkan melalui cara/teknik berikut ini: F. maupun tindakan akhir. Penelitian tidak perlu dilakukan lagi pada siklus berikutnya jika hasil analisis data menunjukkan pengingkatan yang signifikan sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian yang telah ditetapkan. kesesuaian antara rencana dan implementasi tindakan. yaitu . yaitu kelancaran berbicara. tindakan inti.1. dan kontak mata. peneliti menganalisis data yang diperoleh berdasarkan unjuk kerja yang dilakukan siswa ketika menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan pilihan kata dan kalimat yang efektif. kolaborator memberikan masukan kepada peneliti berdasarkan hasil pengamatan yang telah dicatat untuk melakukan langkah-langkah perbaikan pada siklus berikutnya. struktur kalimat. kelogisan penalaran.4. keefektifan kalimat. ketepatan pilihan kata.5 Cara Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang valid.4 Analisis dan Refleksi Pada tahap ini. Unsur-unsur yang dianalisis. Pada saat melakukan refleksi. ketepatan pilihan kata (diksi). kelogisan (penalaran). Hasil analisis data tersebut juga sangat penting dan berharga sebagai bahan untuk melakukan refleksi bersama kolaborator. keterampilan guru dalam menggunakan pendekatan pragmatik. F. F.

Wawancara terutama dilakukan kepada siswa yang menonjol karena kelebihan atau kekurangannya. struktur kalimat.2 Nontes Teknik nontes yang digunakan dalam penelitian ini. kreatif. siswa juga membuat jurnal setiap kali mengikuti kegiatan pembelajaran yang digunakan untuk mengungkapkan: (1) respon siswa (baik yang positif maupun negatif) terhadap penggunaan pendekatan pragmatik. inovatif.1 Observasi (pengamatan): teknik ini digunakan oleh kolaborator untuk mengobservasi pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh peneliti. (2) metode pembelajaran yang disukai siswa.2.2. F.2 Wawancara: teknik ini digunakan oleh peneliti dan kolaborator untuk mengetahui respon siswa secara langsung dalam berbicara dengan menggunakan pendekatan pragmatik. dan (3) kemampuan peneliti dalam menciptakan pembelajaran yang aktif. efektif. situasi pembelajaran. Jurnal tersebut dijadikan sebagai bahan refleksi diri bagi peneliti untuk mengungkap aspek: 1. 2. antara lain sebagai berikut: F. ketepatan pilihan kata (diksi).kelancaran berbicara. F. dan 3.5.2.3 Jurnal: teknik ini digunakan oleh peneliti setiap kali selesai mengimplementasikan tindakan.5..5.5. Selain peneliti. Pelaksanaan wawancara dilakukan di luar kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pedoman wawancara. kekurangpuasan peneliti terhadap pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan. dan kontak mata. . dan menyenangkan. kelogisan (penalaran). respon siswa terhadap penggunaan pendekatan pragmatik. F.

juga dideskripsikan jumlah skor. rata-rata nilai. Pada setiap siklus dideskripsikan jumlah skor yang diperoleh semua siswa. dan tingkat daya serap. . ketepatan pilihan kata (diksi). struktur kalimat. dan kontak mata. dan ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus.F. Selain itu. jumlah nilai. daya serap. dan rata-rata skor untuk aspek kelancaran berbicara..6 Teknik Analisis Data Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik tabulasi data secara kuantitatif berdasarkan hasil tindakan yang dilaksanakan pada setiap siklus. Hasil tindakan pada setiap siklus dibandingkan dengan hasil tes awal untuk mengetahui persentase peningkatan keterampilan siswa kelas VII-A SMPN 3 Tarakan dalam menceritakan pengalaman yang mengesankan. kelogisan (penalaran).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->