P. 1
Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Ibu Dengan Post Partum Normal

Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Ibu Dengan Post Partum Normal

|Views: 2,174|Likes:
Published by nana45_ana

More info:

Published by: nana45_ana on Mar 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2013

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN IBU DENGAN POST PARTUM NORMAL

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN IBU DENGAN POST PARTUM NORMAL A. Pengertian Masa nifas ( puerperium ) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat – alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6 – 8 minggu. (Rustam Mochtar,1998 ) Masa nifas adalah periode sekitar 6 minggu sesudah melahirkan anak, ketika alat – alat reproduksi tengah kembali kepada kondisi normal. ( Barbara F. weller 2005 ) Post partum adalah proses lahirnya bayi dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat – alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam. (Abdul Bari Saifuddin,2002 ) Masa post partum terbagi 3 tahap, yaitu : 1. Immediet post partum periode ( 24 jam pertama setelah melahirkan ) 2. Early post partum periode ( hari kedua sampai ketujuh setelah melahirkan ) 3. Late post partum ( minggu kedua/ketiga sampai keenam setelah melahirkan ) B. Adaptasi Fisiologi Adaptasi atau perubahan yang terjadi pada ibu post partum normal, yaitu : 1. System reproduksi a. Involusi uterus Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm diatas umbilicus. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1 sampai 2 cm setiap 24 jam. Pada hari pascapartum keenam fundus normal akan berada dipertengahan antara umbilicus dan simpisis pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9 pascapartum. b. Kontraksi Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respons terhadap penurunan volume intrauterine yang sangat besar. Hemostasis pascapartum dicapai terutama akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan bekuan. Hormone oksigen yang dilepas kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengkompresi pembuluh darah, dan membantu hemostasis. Selama 1 sampai 2 jam pertama pascapartum intensitas kontraksi uterus bisa

berkurang dan menjadi tidak teratur. Karena penting sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini, biasanya suntikan oksitosin ( pitosin ) secara intravena atau intramuscular diberikan segera setelah plasenta lahir. c. Afterpains Pada primipara, tonus uterus meningkat sehingga fundus pada umumnya tetap kencang. Relaksasi dan kontraksi yang periodik sering dialami multipara dan bisa menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang masa awal puerperium. d. Lokia Pengeluaran darah dan jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus selama masa nifas disebut lokia. Lokia ini terdiri dari lokia rubra (1-4 hari) jumlahnya sedang berwarna merah dan terutama darah, lokia serosa (4- 8 hari) jumlahnya berkurang dan berwarna merah muda ( hemoserosa ), lokia alba (8-14 hari) jumlahnya sedikit, berwarna putih atau hampir tidak berwarna. e. Serviks Servik mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan , ostium eksterna dapat dimasuki oleh dua hingga tiga jari tangan; setelah 6 minggu postnatal, serviks menutup. f. Vulva dan vagina Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama setelah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu, vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol. g. perineum Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh karena tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada postnatal hari ke 5, perineum sudah mendapat kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan. h. payudara Payudara mencapai maturasi yang penuh selama masa nifas kecuali jika laktasi disupresi, payudara akan menjadi lebih besar, lebih kencang dan mula – mula lebih nyeri tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi. i. traktus urinarius Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Kemungkinan terdapat spasme ( kontraksi otot yang mendadak diluar kemaluan ) sfingter dan edema leher buli – buli sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormone estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan ini menyebabkan diuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal

dapat timbul dalam 48 jam pertama. c. Denyut nadi Nadi umumnya 60 – 80 denyut permenit dan segera setelah partus dapat terjadi takikardi. yang diindikasikan oleh rasa pusing dan seakan ingin pingsan segera berdiri. Pada wanita menyusui. Tanda – tanda vital suhu pada hari pertama ( 24 jam pertama ) setelah melahirkan meningkat menjadi 380C sebagai akibat pemakaian tenaga saat melahirkan dehidrasi maupun karena terjadinya perubahan hormonal. sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita melahirkan sebagian menjelaskan sebab penurunan fungsi ginjal selama masa pascapartum. hematokrit dan eritrosit akan kembali kekeadaan semula sebelum melahirkan. Kadar estrogen dan progesterone menurun secara mencolok setelah plasenta keluar. Tekanan darah Tekanan darah sedikit berubah atau tetap. Pembengkakan buah dada pada hari ke 2 atau 3 setelah melahirkan dapat menyebabkan kenaikan suhu atau tidak. b. kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu keenam setelah melahirkan ( Bowes. System endokrin Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormone – hormone yang diproduksi oleh organ tersebut. 5. Diperlukan kira – kira 2 sampai 8 minggu supaya hipotonia pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali kekeadaan sebelum hamil. Hipotensi ortostatik. 1993 ) pada sebagian kecil wanita. Pada minggu ke 8 sampai ke 10 setelah melahirkan. 3. 6. lama setiap kali menyusui. endometriosis dan sebagainya. bila diatas 380C dan selama dua hari dalam sepuluh dari pertama post partum perlu dipikirkan adanya infeksi saluran kemih. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. dan banyak makanan tambahan yang diberikan. Bila terdapat takikardi dan badan tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada penyakit jantung. System gastrointestinal . 4. 1991 ). denyut nadi kembali ke frekuensi sebelum hamil. ( Cunningham. Pada masa nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibanding suhu. Komponen darah Hemoglobin.dalam tempo 6 minggu. Pada wanita yang tidak menyusui kadar estrogen mulai meningkat pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi dari pada wanita yang menyusui pada pascapartum hari ke 17 ( bowes . System kardiovaskuler a. 2. dkk. dilatasi traktus urinarius bisa menetap selama tiga bulan. kadar terendahnya tercapai kira – kira satu minggu pascapartum. Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui. System perkemihan Perubahan hormonal pada masa hamil ( kadar steroid yang tinggi ) turut menyebabkan peningkatan fungsi ginjal.1991 ) Kadar prolaktin meningkat secara progresif sepanjang masa hamil.

8. Therapy a. Doengous. Kulit yang meregang pada payudara. abdomen. Kelebihan analgesia dan anestesi bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas keadaan normal. hari pertama sampai dengan hari ketiga post partum. darah. Memberikan antibiotik bila ada indikasi E. ibu sudah melaksanakan fungsinya. 2. Penatalaksanaan medis 1. Pengkajian . Asuhan keperawatan Menurut Marylnn E. Fase taking hold yaitu fase transisi dari ketergantungan kemandiri. dari ketiga sampai dengan kesepuluh post partum. 3. hemoglobin/hematokrit ( Hb/Ht ) b. ayah berperan sebagai ayah dan berinteraksi dengan bayi.Ibu biasanya lapar setelah melahirkan. Adaptasi psikologis Rubin ( 1961 ) membagi menjadi 3 fase : 1. diare sebelum persalinan. Stabilisasi sendi lengkap pada minggu keenam sampai ke 8 setelah wanita melahirkan. penurunan tonus dan mortilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. kadar urin. fokus sudah ke bayi. 7. Memberikan tablet zat besi untuk mengatasi anemia b. Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Jumlah darah lengkap. System muskuloskletal Adaptasi ini mencakup hal – hal yang membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran rahim. menyatakan ingin makan dan tidur. mulai terbuka dalam menerima pendidikan kesehatan. mandiri dalam perawatan diri. Hiperpigmentasi diareola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya. laserasi atau hemoroid. enema sebelum melahirkan. sehingga ia boleh mengkonsumsi makan – makanan ringan. Ibu sering kali sudah menduga nyeri saat defekasi karena nyeri yang dirasakannya diperineum akibat episiotomy. paha dan panggul mungkin memudar tapi tidak hilang seluruhnya. 2. 2001 : 1. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum. Fase letting go yaitu fase dimana sudah mengambil tanggung jawab peran yang baru. berperilaku pasif dan ketergantungan. mulai memperhatikan fungsi tubuh sendiri dan bayi. Urinalisis. D. hari kesepuluh sampai dengan enam minggu post partum. sulit membuat keputusan. Fase taking in yaitu fase ketergantungan. fokus pada diri sendiri. C. Tes diagnostic a. System integument Kloasma yang muncul pada masa kehamilan biasanya menghilang saat kehamilan berakhir. kurang makan atau dehidrasi.

Aktivitas/istirahat Insomnia mungkin teramati. Lokhea rubra berlanjut sampai hari ke2 – 3 . d. rupture ketuban lama. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan biokimia. Payudara : produksi kolostrum 48 jam pertama. tergantung kapan menyusui dimulai. Seksualitas Uterus 1 cm diatas umbilicus pada 12 jam setelah kelahiran menurun kira-kira 1 lebar jari setiap harinya. 2000 ) Diagnose keperawatan yang muncul pada klien postpartum menurut Marilyn doengoes. rekumben versus ambulasi berdiri) dan aktivitas ( mis. b. sensivitas rubella. terjadinya HKK atau eklamsia ). takut/menangis ( “postpartum blues” sering terlihat kira-kira 3 hari setelah melahirkan. Nyeri (akut)/ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis. berlanjut pada susu matur. biasanya pada hari ke 3. mal nutrisi. 3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan/atau kerusakan kulit. profil darah abnormal ( anemia.a. berlanjut menjadi lokhea serosa dengan aliran tergantung pada posisi (mis. Perencanaan Asuhan Keperawatan . 2. Sirkulasi Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari. d. c. inkompabilitas Rh ). Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia ( status kesehatan atau resiko perubahan pola ) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan. Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan. g. usia gestasi bayi. membatasi. fungsi regulator ( misal hipotensi ortostatik. mencegah dan merubah ( carpenito. penurunan Hb prosedur invasive dan /atau peningkatan peningkatan lingkungan. tromboembolisme. Integritas ego Peka rangsang. b. c. efek anestesia. 2001 yaitu : a. Makanan/cairan kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan kira-kira hari ketiga f. struktur karakteristik fisik payudara ibu. Eliminasi Diuresis diantara hari kedua dan kelima e. pengalaman sebelumnya. tingkat dukungan. edema/pembesaran jaringan atau distensi. Nyeri/ketidaknyamanan nyeri tekan payudara/pembesaran dapat terjadi diantara hari 3 sampai ke-5 pascapartum. mungkin lebih didini. efek-efek hormonal. menyusui ).

Perhatikan edema. 5) Anjurkan duduk dengan otot gluteal terkontraksi diatas perbaikan episiotomy. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan rasa nyeri teratasi kriteria hasil : mengidentifikasi dan mengunakan intervensi untuk mengatasi ketidaknyamanan dengan tepat. mengungkapkan berkurangnya ketidaknyamanan. mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnose keperawatan. 6) Infeksi hemoroid pada perineum. memberikan kompres panas sebelum member makan. dan melakukan tehnik visualisasi atau aktivitas pengalihan. Anjurkan penggunaan kompres es selama 20 menit setiap 4 jam. Tinjau ulang persalinan dan catatan kelahiran. Nyeri (akut)/ ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis. a. 4) Berikan kompres panas lembab ( misal rendam duduk/bak mandi ) diantara 100o dan 105o F ( 38o sampai 43. eksudat purulen. bila hanya satu putting yang sakit atau luka. penggunaan kompres witch hazel. Intervensi : Mandiri : 1) Tentukan adanya lokasi. khususnya setelah anesthesia subaraknoid. 8) Anjurkan klien berbaring tengkurap dengan bantal dibawah abdomen. efek-efek hormonal. khusus nya selama 24 jam pertama setelah kelahiran. mengubah posisi bayi dengan tepat. edema/pembesaran jaringan atau distensi.Perencanaan merupakan tahap ketiga dari proses keperawatan yang meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah. jika adanya pembesaran dan/atau pitung pecah – pecah. setelah 24 jam 1. atau kehilangan perlekatan jaringan. dan mengeluarkan susu secara berurutan . 3-4 kali sehari. Kolaborasi : . 13) Kaji klien terhadap kepenuhan kandung kemih. 3) Berikan kompres es pada perineum. ekimosis. 9) Inspeksi payudara dan jaringan putting. Hindari member obat klien sebelum sifat dan penyebab dari sakit kepala ditentukan. 12) Berikan kompres es pada area aksila payudara bila klien tidak merencanakan menyusui. nyeri tekan local. 10) Ajurkan untuk mengunakan bra penyokong 11) Berikan informasi mengenai peningkatan frekuensi temuan. 14) Evaluasi terhadap sakit kepala. dan menaikan pelvis pada bantal. dan sifat ketidaknyamanan. 7) Kaji nyeri tekan uterus. 2) Inspeksi perbaikan perineum dan episiotomy. tentukan adanya dan frekuensi/intensitas afterpain.2o C ) selam 20 menit.

Tujuan : setelah dilakukan demostrasi tentang perawatan payudara diharapkan tingkat pengetahuan ibu bertambah. 16) Berikan analgesic 30 – 60 menit sebelum menyusui. Kolaborasi : 9) Rujuk klien pada kelompok pendukung. 8) Berikan pelindung putting payudara khusus untuk klien menyusui dengan putting masuk atau datar. kenutuhan diet khusus. pengalaman sebelumnya. mendemonstrasikan tehnik efektif dari menyusui. mengenai fisiologis dan keuntungan menyusui. Untuk klien yang tidak menyusui. perawatan putting dan payudara. efek anestesia. profil darah abnormal ( anemia. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan biokimia. 2) Tentukan system pendukung yang tersedia pada klien. 4) Demostrasikan dan tinjauan ulang tehnik – tehnik menyusui. usia gestasi bayi. Kriteria hasil : mengungkapkan pemahaman tentang proses menyusui. dan sikap pasangan/keluarga. verbal dan tertulis. 18) Bantu sesuai dengan injeksi salin atau pemberian “ blood patch “ pada sisi pungsi dural. 5) Kaji putting klien. berikan analgesic setiap 3 – 4 jam selama pembesaran payudara dan afterpain. inkompabilitas Rh ). menunjukan kepuasan regimen menyusui satu sama lain. Kaji hipotensi pada klien. dan factor – factor yang memudahkan atau mengganggu keberhasilan menyusui. Perhatikan posisi bayi selama menyusui dan lama menyusui. 17) Berikan sprei anestetik. struktur karakteristik fisik payudara ibu. misal posyandu 10) Identifikasi sumber – sumber yang tersedia dimasyarakat sesuai indikasi c. tetap dengan klien selama ambulasi pertama. . Pertahankan klien pada posisi horizontal setelah prosedur. salep topical. fungsi regulator ( misal hipotensi ortostatik. Rencana tindakan : Mandiri : 1) Kaji pengetahuan dan pengalaman klien tentang menyusui sebelumnya. tingkat dukungan. 3) Berikan informasi. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko cidera teratasi. b. anjurkan klien melihat putting setiap habis menyusui. sensivitas rubella. dengan bayi dipuaskan setelah menyusui. 6) Anjurkan klien untuk mengeringkan putting dengan udara selama 20 – 30 menit setelah menyusui. dan kompres witc hazel untuk perineum bila dibutuhkan. tromboembolisme. 7) Instruksikan klien untuk menghindari pengunaan putting kecuali secara khusus diindikasi. terjadinya HKK atau eklamsia ).15) Berikan bromokriptin mesilat ( parlodel ) dua kali sehari dengan makan selama 2 – 3 minggu. Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan.

4) Catat efek – efek magnesium sulfat ( MgSO4 ). sesuai indikasi. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi. Rencana tindakan : Mandiri : 1) Tinjau ulang kadar hemoglobin ( Hb ) darah dan kehilangan darah pada waktu melahirkan. Berikan bel pemanggil dalam jangkauan klien. Catat tanda – tanda anemia.dalam 72 jam pascapartum. Rencana tindakan : Mandiri : 1. 6) Berikan kompres panas local. 9) Berikan kaus kaki penyokong atau balutan elastic untuk kaki bila risiko – risiko atau gejala – gejala flebitis terjadi. Pantau suhu dan nadi dengan rutin dan sesuai indikasi . tingkatkan tirah baring dengan meninggikan tungkai yang sakit. 3) Berikan klien terhadap hiperrefleksia. dan mempunyai aliran lokhial dan karakter normal. Kriteria hasil : mendemonstrasikan tehnik – tehnik untuk menurunkan risiko/meningkatkan penyembuhan. penurunan Hb prosedur invasive dan /atau peningkatan peningkatan lingkungan. dan tertahannya plasenta. 2) Anjurkan ambulasi dan latihan dini kecuali pada klien yang mendapatkan anesthesia subaraknoid. dan perhatikan tanda – tanda kegagalan pembekuan. 2. persalinan lama. d. Bantu klien dengan ambulasi awal.Kriteria hasil : mendemonstrasikan perilaku untuk menurunkan factor – factor risiko/melindungi diri dan bebas dari komplikasi. laserasi. bila diberikan. mal nutrisi. 5) Inspeksi ekstremitas bawah terhadap tanda – tanda tromboflebitis. tanpa penggunaan bantal atau meninggikan kepala. 11) Berikan Rh0 ( D ) imun globulin ( RhlgG ) LM. Kaji catatan prenatal dan intrapartal. evaluasi factor – factor koagulasi. menunjukan luka yang bebas dari drainase purulen dan bebas dari infeksi. Kolaborasi : 8) Berikan MgSO4 melalui pompa infuse. catat tanda-tanda menggigil. kaji respon patella dan pantau status pernapasan. perhatikan ada atau tidaknya tanda human. . 7) Evaluasi status rubella pada grafik prenatal. hemoragi. nyeri kuadran kanan atas ( KKaA ). atau gangguan penglihatan. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan/atau kerusakan kulit. sesuai indikasi. sakit kepala. rupture ketuban lama. perhatikan frekuensi pemeriksaan vagina dan komplikasi seperti ketuban pecah dini (KPD). kaji klien tehadap alergi pada telur atau bulu. 10) Berikan antikoagulasi. tidak febris. Berikan supervise yang adekuat pada mandi shower atau rendam duduk. yang mungkin yetap berbaring selama 6 – 8 jam.

vitamin C. Menelaah dan modifikasi rencana asuhan keperawatan yang ada Modifikasi rencana asuhanyang telah ada mencakup beberapa langkah. Kaji jumlah sel darah putih ( SPD ). 5. (rujuk pada DK : Nyeri (akut)/ketidaknyamanan). 10. hematuria yang terlihat. Anjurkan klien untuk meningkatkan masukan cairan sampai 2000 ml/hari. memberikan askep untuk mencapai tujuan yang berpusat pada klien. 11. Perhatikan frekuensi/jumlah berkemih. Anjurkan perawatan perineal. 4. Catat berat badan kehamilan dan penambahan berat badan prenatal. dan zat besi. Inspeksi sisi perbaikan episiotomy setiap 8 jam. dengan menggunakan botol atau rendam duduk 3 sampai 4 kali sehari atau setelah berkemih/defekasi. 4. kemerahan atau nyeri tekan. membantu. sekatan pada garis sutura (kehilangan perlekatan). kulit. Tingkatkan tidur dan istitahat. Anjurkan klien mandi setiap hari ganti pembalut perineal sedikitnya setiap 4 jam dari depan ke belakang. 12. Pertama. perhatikan perubahan involusional atau adanya nyeri tekan uterus ekstrem. Tinjau perawatan yang tepat dan tehnik pemberian makan bayi. kemerahan. doronganatau disuria). Perhatikan tampilan rambut. Pelaksanaan keperawatan mencakup melakukan. atau adanya laserasi. Kaji terhadap tanda-tanda infeksi saluran kemih (ISK) atau sisitis (mis : peningkatan frekiensi. mencatat serta melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan perawatan kesehatan berkelanjutan dari klien. Catat jumlah dan bau rabas lokhial atau perubahan pada kemajuan normal dari rubra menjadi serosa. 8. Mengkaji ulang klien Fase pengkajian ulang terhadap komponen implementasi memberikan mekanisme bagi perawat untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang diusulkan masih sesuai. edema. Kaji status nutrisi klien. Kolaborasi : 13. data dalam . pembalut perineal dan linen terkontaminasi dengan tepat. Proses pelaksanaan keperawatan mempunyai lima tahap. perhatikan adanya pecah-pecah. 6. 3. Perhatikan nyeri tekan berlebihan. Berikan informasi tentang makanan pilihan tinggi protein. Pelaksanaan/ Implementasi Pelaksanaan keperawatan merupakan proses keperawatan yang mengikuti rumusan dari rencana keperawatan. kuku. Anjurkan dan gunakan tehnik mencuci tangan cermat dan pembuangan pembalut yang kotor. yaitu : a.anoreksia atau malaise. Kaji lokasi dan kontraktilitis uterus . dan adanya nyeri suprapubis. dan sebagainya. 9. Catat warna dan tampilan urin. 7. eksudat purulen. b. Anjurkan pemeriksaan rutin payudara. Evaluasi kondisi putting.

Pada tahap ini ada 2 evaluasi yang dapat dilaksanakan oleh perawat yaitu : 1. Evaluasi Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implementasi dengan criteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya. Diagnose keperawatan yang tidak relevan dihapuskan. memindahkan. c. Evaluasi formatif yang bertujuan untuk menilai hasil implementasi secara bertahap sesuai dengan kegiatan yang dilakukan sesuai pelaksanaan. ( Potter. Mengimplementasikan intervensi keperawatan Berikut metode untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan : 1) Membantu dalam melakukan aktivitas sehari – hari 2) Mengonsulkan dan menyuluhkan pasien dan keluarga 3) Mengawasi dan mengevaluasi kerja anggota staf lainnya. d. Kedua. 2005 ) 5. perawat yang ditugaskan unutk merawat klien imobilisasi mungkin membutuhkan tambahan tenaga untuk membantu membalik. P : adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis. O : adalah keadaan objektif yang didefinisikan oleh perawat menggunakan pengamatan yang objektif setelah implementasi keperawatan. 2004 ) DAFTAR PUSTAKA . Evaluasi sumatif yang bertujuan menilai secara keseluruhan terhadap pencapaian diagnose keperawatan apakah rencana diteruskan. Mengidentifikasi bidang bantuan Situasi yang membutuhkan tambahan tenaga beragam. Sebagai contoh. Ketiga. diteruskan sebagian. dan diagnose keperawatan yang terbaru ditambah dan diberi tanggal. ( Suprajitno. metoda implementasi spesifik direvisi untuk menghubungan dengan diagnose keperawatan yang baru dan tujuan klien yang baru. Evaluasi disusun dengan mengunakan SOAP yang operasional dengan pengertian : S : adalah ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara subjektif oleh klien dan keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan. diagnose keperawatan direvisi. diteruskan dengan perubahan intervensi/dihentikan. 2. A : adalah merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon subjektif dan objektif klien yang dibandingkan dengan criteria dan standar yang telah ditentukan mengacu pada tujuan rencana keperawatan klien.kolom pengkajian direvisi sehingga mencerminkan status kesehatan terbaru klien. dan mengubah posisi klien karena kerja fisik yang terlibat.

2002. Pengertian Persalinan Normal Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina kedunia luar. Puspa Swara Mansjoer.struktur rahim. (KApita Selekta Kedokteran. terjadi penurunan hormone progesterone dan estrogen.sirkulasi rahim. Marlinn E. 21 Januari 2011 LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN POST PARTUM LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN POST PARTUM 1. Sebab-Sebab Yang Menimbulkan Persalinan Penyebab persalinan belum pasti diketahui. Persalinan premature adalah persalinan saat kehamilan 29-36 minggu dengan berat janin antara 1000-2500gr. yaitu jalan lahir (tulang dan jaringan lunak pada panggul ibu). 1. Jakarta : EGC Helen Farrer. Edisi III Jilid I.2001) Persalinan normal adalah proses kelahiran bayi dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alatalat serta tidak melukai ibu dan bayi. Jkarta : EGC Ida Bagus Gde Manuaba. 1998) B. Persalinan Normal A. (Rustam Mohtar. Persalinan Sehat. Teori penurunan hormone 1-2 minggu sebelum partus mulai. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Arief. Pada saat persalinan ada 3 faktor yang perlu diperhatikan. Perawatan Maternitas. Jakarta : Media Sudi Amus (08095) ASKEP MATERNITAS Jumat. 1996. Kapita Selekta Kedokteran. Kelainan satu atau beberapa faktor diatas dapat menyebabkan distosia. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan : Jakarta EGC Judi Januadi Endjun.Doengoes. Fungsi progesterone sebagai penenang otot –otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan .2001. janin dan kekuatan ibu. Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan ari) yang dapat hidup ke dunia luar dan rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain.pengaruh tekanan pada saraf dan nutrisi. 1999. Persalinan imatur adalah persalinan saat kehamilan 20-28 minggu dengan berat janin antara 500-1000gr.namun beberapa teori menghubungkan dengan factor hormonal.

3. 4. B. 3. Akan tetapi seluruh alat genetal baru pulih kembali seperti sebelumnya ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. 2. c. Bila ganglion ini digeser dan di tekan misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus. Luka-luka jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari 1. Remote puerpenium : waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi . . Pengertian Nifas a. bulanan atau tahunan. Masa nifas atau masa puerperium adalah masa setelah partus selesai dan berkahir setelah kirakira 6 minggu (Kapita Selekta Kedokteran. 2.pembuluh darah sehingga timbul his bila progesterone turun.2007). Teori distensi rahim Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemik otot-otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenta. TFU kurang lebih 2 jari dibawah pusat. lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu (Mochtar. Jadi masa nifas adalah masa setelah melahirkan sampai alat kandungan kembali seperti semula/seperti sebelum hamil. Teori iritasi mekanik Di belakang servik terlihat ganglion servikale(fleksus franterrhauss). Masa puerpenium (nipas) adalah masa setelah partus selesai dan berakhir kira-kira 6-8 minggu. Masa nifas/ peurpenium dibagi dalam 3 periode : 1. C. mulai dari persalinan sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. (Ilmu Kebidanan. Teori placenta menjadi tua Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone menyebabkan kekejangan pembuluh darah yang menimbulkan kontraksi rahim. Perubahan-perubahan yang penting pada masa nifas Involusi adalah suatu keadaan dimana uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. (Obstetri Fisiologi. Puerpenium dini : kepullihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Puerpenium intermedial : kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu. Masa nifas (peurpenium )adalah masa pulih kembali mulai dari persalin selesai samapi alat kandung kembali seperti semula/pra hamil dan lamanya berlangsung yaitu 6 minggu. 2. Masa nifas (poerperium) adalah masa pulih kembali. Konsep Dasar Nifas A. 2000). 2.1998) d. Simpisis dan pada hari ke-12 uterus sudah tidak teraba lagi diatas simpisis dan setelah 6 minggu uterus sudah mencapai ukuran normal (Arif Mansjoer. Involusi. Segera setelah plasenta lahir. Pada hari ke-5 TFU setengah pusat.2001) b. 1998).

cairan tidak berdarah lagi. Lochea serosa : warna kuning. hari ke-3 jalan-jalan dan hari 4-5 sudah diperbolehkan pulang. menyebabkan ibu takut BAB dan perih saat kencing D. setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2-3 jam dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.3. harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. dan mekonium. sebaiknya makan-makanan yang mengandung protein. tangan masih bisa masuk rongga rahim. keluar cairan seperti nanah berbau busuk Locheastasis : lochea tidak lancar keluarnya Setelah persalinan. Diet Makanan harus bermutu. Kemudian boleh miring-miring ke kanan dan kiri untuk mencegah terjadinya thrombosis dan tromboemboli. Setelah bayi lahir. Perineum . Bila dilakukan episiotomy akan terjadi nyeri pada luka di perineum. Serviks 6. banyak cairan. sebaiknya dilakukan kateterisasi. Dengan melakukan mobilisasi secepatnya tak jarang kesulitan miksi dapat diatasi.selama 2 hari pasca persalinan. beergizi dan cukup kalori. mungkin terjadi febris. pada hari ke 7-9 pasca persalinan Lochea alba : cairan putih setelah 2 minggu Lochea purulenta : terjadi infeksi. lanuga. hari ke 3-7 pasca persalinan. Mobilisasi Karena lelah sehabis bersalin. Perawatan Pasca Persalinan 1. Payudara Keluar kolostrum Hiperpigmentasi areola mamae Buah dada agak bengkak dan membesar Luka pada vagina dan serviks yang tidak luas akan sembuh primer. 5. verniks kasensa. 3. Miksi Hendaknya kencing dilakukan sendiri akan secepatnya. Defekasi Buang air besar. 4. sayur-sayuran dan buah-buahan. kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Lochea : cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas Lochea rubra : berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban. konsistensinya lunak. bentuk servik agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk. 2. sel-sel desidua. Lakukan klisma atau 4. ibu harus istirahat. tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan. Bila terjadi obstipasi dan timbul koprostase hingga skibala tertimbun di rectum. Bila kandung kemih penuh dan sulit tenang. Lochea sanguinolenta : berwarna merah kuning berisi darah dan lendir.

Payudara bengkak disebabkan pengeluaran ASI yang tidak lancar karena bayi tidak cukup sering menyusui atau terlalu cepat disapih. Penatalaksanaanya dengan menyusui lebih sering. Putting Lecet. usahakan agar bayi terbangun. Pada bayi mengantuk yang sudah waktunya diberikan ASI. Disamping ASI merupakan makanan utama bayi yang tidak ada bandingannya. kemerahan dan nyeri yang biasanya terjadi beberapa minggu setelah melahirkan. Pada hari pertama. air susu mengandung kolostrum yang merupakan cairan kuning lebih kental 6. monilia diterapi dan menyusui pada payudara yang tidak lecet. Susu dikeluarkan dengan pompa dan pemberian analgesic. Dengan melakukan mobilasasi sedini mungkin tidak jarang kesulitan defekasi dapat diatasi. Payudara tampak edema. menyusui tidak dihentikan. Penatalaksanaan dengan tehink menyusui yang benar. tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayi Jika putting rata. Mastitis. Ibu harus tetap menyusui agar putting selalu sering tertarik. Timbul pengaruh lactogen hormone (prolaktin) kembali dan pengaruh oksitosin mengakibatkan miopitelium kelenjar susu berkontraksi. menyusui bayi sangat baik untuk menjelmakan rasa kasih sayang antara ibu dan anak. Payudara bengkak. pengaruh menekan dari estrogen dan progesterone terhadap hipofisis hilang. Umumnya produksi ASI berlangsung betul pada hari ke-2-3 pp. bingung putting pada bayi yang menyusui diselang seling dengan susu botol. kompres hangat. Putting lecet dapat disebabkan cara menyusui atau perawatan payudara yang tidak benar dan infeksi monilia. putting harus kering saat menyusui. 5. Sejak hamil ibu dapat menarik-narik puting susu. Pada payudara dengan abses ASI dipompa. memijat payudara sebelum menyusui. pemberian antibiotic dan analgesic. Penetalaksanaan dengan kompres hangat/dingin. sehingga terjadi pengeluaran air susu. diberikan antibiotic dan analgesic. abses di insisi. Abses payudara. hindari dengan pemakaian dot botol dan gunakan sendok atau pipet untuk memberikan pengganti ASI. putting diberi lanolin. Bayi yang tidak suka menyusui. serta menyusui dengan terlentang dengan bayi ditaruh diatas payudara. Perawatan payudara Dimulai sejak wanita hamil supaya putting susu lemas. putting rata dan terlalu kecil atau bayi mengantuk. Setelah partus.berikan laksan peroral ataupu perektal. Keadaan ini dapat disebabkan pancaran ASI yang terlalu kuat sehingga mulut bayi terlalu penuh. Pada bayi dengan bingung putting. Laktasi . Bila lecetnya luas menyusui di tunda 24-48 jam dan ASI dikeluarkan dengan tangan atau dipompa. Dianjurkan sekali supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik untuk kesehatan bayinya. Pancaran ASI yang terlalu kuat diatasi dengan menyusui lebih sering.

Latihan senam dapat diberikan mulai hari ke 2 misalnya: Ibu terlentang lalu kedua kaki ditekuk. WOC / Pathway Persalinan . angkat bokong lalu taruh kembali. Pemeriksaan pasca persalinan Pemeriksaan umum : TD. kandung kemih apakah ada rektokel. kedua tangan diatruh di atas dan menekan perut. sisa plasenta atau gumpalan darah dalam kavum uteri. Perasaan mulas sesudah partus akibat kontraksi uterus kadang sangat menggangu selama 2-3 hari pasca persalinan dan biasanya lebih sering pada multipara disbanding pprimipara. Pasien dapat diberikan analgesic atau sedative. Nasehat untuk ibu post natal E. rectum Sekret yang keluar misalnya lochea. dan adanya flour albus. Kedua kaki diluruskan dan disilangkan. dll : ASI. Dengan posisi yang sama. tonus otot spingter ani. Lakukan pernafasan dada lalu pernafasan perut. 9. dinding perut apakah ada hernia. Dianjurkan untuk mengambilan cuti hamil 10. perdarahan pasca persalinan dan eklamsia puerpurale. kandung kemih. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat keadaan umum. mengandung banyak protein dan globulin 7. keluhan. dapat pula timbul bila masih ada sisa selaput ketuban . nadi. Duduklah pada kursi. Kelainan yang dapat ditemukan selama nifas ialah infeksi nifas. putting susu : perineum. selera makan. Perasaan mulas lebih terasa saat menyusui. lalu kencangkan otot seperti menahan miksi dan defekasi. 8. flour albus Sebaiknya bayi disusui Bawakan bayi untuk imunisasi Lakukanlah KB Fisioterapi post natal sangat baik bila diberikan Ibu diharapkan kembali memeriksakan diri pada 6 minggu pasca persalinan. dll Keadaan umum Payudara Dinding perut : suhu. keadaan payudara dan putingnya. keadaan perineum.daripada susu. perlahan bunbgkukkan badan sambil tangan berusaha menyentuh tumit. 11.

tindakan episiotomi / tidak) Respon psikologis Fisiologis Resti infeksi Terputusnya kontinuitas Respon Jaringan dan saraf Nyeri akut Kurangnya pengalaman anggota keluarga . Perdarahan Trauma mekanis trauma kandung ketakutan bergerak kemih .Normal (Kala I.

PLT b) Elektrolit sesuai indikasi . WBC .Keterbatasangerak dan aktifitas Resti kekurangan volume cairan kurang pengetahuan (kebutuhan belajar mengenai perawatan Perubahan eliminasi urine Perubahan peran menjadi orang tua Retensi urine diri dan bayi) Ketidakefektifanmenyusui Resti Cedera Penurunan Kurangpengetahuan Tonus otot Resiko konstipasi F. . PEMERIKSAAN PENUNJANG a) Darah lengkap : Hb .

PENGKAJIAN a) Keluhan Utama Sakit perut . perdarahan . takut bergerak b) Riwayat Kehamilan Umur kehamilan serta riwayat penyakit menyetai c) Riwayat Persalinan • • • • • • • • • • • • • • • • f) • • II.B. pengalaman sebelumnya . ASUHAN KEPERAWATAN I. karakteristik payudara 3. penurunan Hb . pecah ketuban . Ketdakefektifan menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan . malnutrisi d) Riwayat Nifas Yang Lalu e) Pemeriksaan Fisik . prosedur invasive . respon keluarga terhadap bayi DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan . Tempat persalinan Normal atau terdapat komplikasi Keadaan bayi Keadaan ibu Pengeluaran ASI lancar / tidak BB bayi Riwayat ber KB / tidak Keadaan umum pasien Abdomen Saluran cerna Alat kemih Lochea Vagina Perinium + rectum Ekstremitas Kemampuan perawatan diri Pemeriksaan psikososial Respon + persepsi keluarga Status psikologis ayah . profil darah abnormal 4. edema / pembesaran jaringan atau distensi efek – efk hormonal 2. nyeri pada luka jahitan . tingkat dukungan . Nyeri akut berhubungan dengan trauma mekanis . Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan biokimia efek anastesi .

dehidrasi . Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan penurunan masukan / penggantian tidak adekuat . mempercepat involusi dan mengurangi nyeri secara bertahap. Demonstransikan dan tinjau ulang teknik menyusui diharapkan ibu dapat mencapai kepuasan menyusui dengan criteria evaluasi : ibu mengungkapkan proses situasi menyusui. Keterbatasan gerak dan aktivitas berhubungan dengan nyeri luka jahitan perineum III. tidak merasa nyeri saat mobilisasi . Kaji ulang tingkat pengetahuan dan pengalaman ibu tentang menyusui sebelumnya. bayi mendapat ASI yang . trauma mekanis . efek anastesi ditandai dengan distensi kandung kemih . feses kurang dari biasanya Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) mengenai perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang pemahaman . Berikan kompres hangat Rasional : meningkatkan sirkulasi pada perinium e. b. Dx 1 Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nyeri ibu berkurang dengan criteria evaluasi : skala nyeri 0-1 . 8. Motivasi : untuk mobilisasi sesuai indikasi Rasional : memperlancar pengeluaran lochea. Dx 2 Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan cukup. salah interpretasi tidak tahu sumber – sumber 9. perubahan – perubahan jumlah / frekuensi berkemih 6. Anjurkan ibu agar menggunakan teknik relaksasi dan distraksi rasa nyeri Rasional : untuk mengalihkan perhatian ibu dan rasa nyeri yang dirasakan c. Kaji ulang skala nyeri Rasional : mengidentifikasi kebutuhan dan intervensi yang tepat b.5. PERENCANAAN 1. TD = 120/80 mmHG . Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot . R = 18 – 20 x / menit Intervensi : a. kehilangan cairan berlebih ( muntah . Delegasi pemberian analgetik Rasional : melonggarkan system saraf perifer sehingga rasa nyeri berkurang 2. efek progesteron . Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan efek hormonal . N = 80 x/menit . peningkatan keluaran urine ) 7. edema jaringan . hemoragi . Rasional : membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan saat ini agar memberikan intervensi yang tepat. d. tanda vital dalam batas normal . nyeri perineal ditandai dengan perubahan bising usus . ibu mengatakan nyerinya berkurang sampai hilang . Intervesi : a. S = 37 C .

Tinjau ulang kadar Hb dan kehilangan darah waktu melahirkan observasi dan catat tanda anemia. jumlah urine 1. Anjurkan mobilitas dan latihan dini secara bertahap Rasional : meningkatkan sirkulasi dan aliran darah ke ekstremitas bawah c. : Kaji dan catat cairan masuk dan keluar tiap 24 jam. Rasional : peningkatan suhu > 38°C menandakan infeksi. tidak terdapat tanda-tanda infeksi. Sarankan ibu membersihkan perineal dari depan ke belakang. 3. Sarankan pada ibu agar mengganti pembalut tiap 4 jam. Rasional : pembalut yang lembab dan banyak darah merupakan media yang menjadi tempat berkembangbiaknya kuman. Kaji ada hiperfleksia sakit kepala atau gangguan penglihatan Rasional : bahaya eklamsi ada diatas 72 jam post partum sehingga dapat diketahui dan diinteraksikan 4. Rasional : dapat mengetahui kesenjangan kondisi ibu dan intervensi yang cepat dan tepat b. Rasional : untuk dapat mendeteksi tanda infeksi lebih dini dan mengintervensi dengan tepat. Rasional : membantu mencegah kontaminasi rektal melalui vaginal. Pantau tanda-tanda vital. jumlah) kontraksi uterus dan kondisi jahitan episiotomi. c. Intervensi a. 5. e. Lakukan rendam bokong. bau. Anjurkan ibu mengeringkan puting setelah menyusui Rasional : agar kelembapan pada payudara tetap dalam batas normal. dapat mendemonstrasikan prilaku unsure untuk menurunkan faktor risiko/melindungi harga diri bebas dari komplikasi. Intervensi : a. Rasional : untuk memperlancar sirkulasi ke perinium dan mengurangi udema. b. c. .5-2 liter/hari. Kaji lochea (warna. Dx 5 Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan ibu tidak mengalami gangguan eliminasi (BAK) dengan KE : ibu dapat berkemih sendiri dalam 6-8 jam post partum tidak merasa sakit saat BAK. d.Rasional : posisi yang tepat biasanya mencegah luka/pecah putting yang dapat merusak dan mengganggu. Dx 4 Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan infeksi pada ibu tidak terjadi dengan KE : dapat mendemonstrasikan teknik untuk menurunkan resiko infeksi. Dx 3 Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan cedera pada ibu tidak terjadi dengan criteria evaluasi : ibu Intervensi : a.

c. Rasional : agar kencing yang tidak dapat keluar. menyusui. Rasional : untuk mencegah mengedan dan stres perineal. Anjurkan ibu BAB pada WC duduk. perawatan perinium. Rasional : melatih otot-otot perkemihan. b. Rasional : mengurangi distensi kandung kemih. feses lembek. Kolaborasi pemasangan kateter. : setelah diberikan askep ibu diharapkan tidak kekurangan volume cairan dengan : KE : cairan masuk dan keluar seimbang. c.5-2 Liter/hari. Rasional : membantu meningkatkan peristaltik gastrointestinal. Pertahankan cairan peroral 1. Rasional : peningkatan suhu dapat memperhebat dehidrasi. b. Intervensi a. Pertahankan diet reguler dengan kudapan diantara makanan. Kolaborasi pemberian laksantia supositoria. Berikan teknik merangsang berkemih seperti rendam duduk. Anjurkan berkamih 6-8 jam post partum. Hb/Ht dalam batas normal (12. tensi. Periksa ulang kadar Hb/Ht. progresif. alirkan air keran. Dx 9 Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan pengetahuan ibu tentang perawatan dini dan bayi bertambah dengan KE : mengungkapkan kebutuhan ibu pada masa post partum dan dapat melakukan aktivitas yang perlu dilakukan dan alasannya seperti perawatan bayi. Rasional : mengurangi rasa nyeri. nadi. : Anjurkan pasien untuk melakukan ambulasi sesuai toleransi dan meningkatkan secara . Rasional : penurunan Hb tidak boleh melebihi 2 gram%/100 dL. d. Dx 7 Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan konstipasi tidak terjadi pada ibu dengan KE : ibu dapat BAB maksimal hari ke 3 post partum. Dx 6 Tujuan Intervensi a. Observasi perubahan suhu. Rasional : makanan seperti buah dan sayuran membantu meningkatkan peristaltik usus. d. tingkatkan makan buah dan sayuran. c. 7. d. b.0-16. 8. 6. Rasional : memberi rangsangan pada uterus agar berkontraksi kuat dan mengontrol perdarahan.Rasional : mengetahui balance cairan pasien sehingga diintervensi dengan tepat. Rasional : mencegah terjadinya dehidrasi. bisa dikeluarkan sehingga tidak ada retensi.0 gr/dL) Ajarkan ibu agar massage sendiri fundus uteri.

b. c. KIE perawatan luka jahitan periniom. Evaluasi formatif : evaluasi yang dilakukan berdasarkan respon pasien terhadap tindakan yang dilakukan. Doenges. Menyusui efektif Cidera tidak terjadi Tidak terjadi infeksi Eliminasi urine kembali normal Tidak terjadi kekurangan volumen cairan Konstipasi dapat teratasi Pengetahuan pasien tentang perawatan diri dan bayi Gerakan tidak terbatas karena nyeri. 8.J. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. lochea. Rasional : meningkatkan sirkulasi dan aliran darah ke ekstremitas bawah. Jakarta : EGC Mansjoer. Rasional : melonggarkan sistem saraf parifer sehingga rasa nyeri berkurang IV. 9. Evaluasi :1. Nyeri dapat diatasi 2. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan . L. mempercepat penyembuhan dan berperan pada adaptasi yang positif dari perubahan fisik dan emosional. : Berikan informasi tentang perawatan dini (perawatan perineal) perubahan fisiologi.Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. S. istirahat. Berikan informasi tentang perawatan bayi (perawatan tali pusat. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal Edisi 3. Arif. Rasional : membantu mencegah infeksi.Intervensi a. Dx 10 Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan gerak dan aktivitas terkoordinasi dengan KE : sudah tidak nyeri pada luka jahitan saat duduk. PELAKSANAAN / IMPLEMENTASI Implementasi yang dilakukan sesuai dengan masalah yang ada berdasarkan perencanaan yang telah dibuat (Doenges M. EVALUASI Evaluasi dilakukan dengan 2 cara yaitu evaluasi formatif dan sumatif.dkk. 6. b. 2001.E. Kolaborasi pemberian analgetik. 5. 2000. Evaluasi sumatif : evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui secara keseluruhan apakah tujuan tercapai atau tidak. 7. Intervensi : a. 2000. Rasional : mempercepat kesembuhan luka sehingga memudahkan gerak dan aktivitas. a. 4. meningkat DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Rasional : memperjelas pemahaman ibu tentang apa yang sudah dipelajari. ari. Sarankan agar mendemonstrasikan apa yang sudah dipelajari. c. Rasional : menambah pengetahuan ibu tentang perawatan bayi sehingga bayi tumbuh dengan baik. 2001. Jakarta : EGC. luka jahitan perinium sudah tidak sakit (nyeri berkurang). Anjurkan mobilisasi dan latihan dini secara bertahap. b. 3. 2001) V.E. perubahan peran. 9.Jakarta: FKUI Prawirohardjo. M. KB. memandikan dan imunisasi).

Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.neonatal. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->