BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Indonesia disebut Negara Agraris, karena kurang lebih 75% penduduknya hidup di pedesaan dan sebagian besar (54%) menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan sektor yang memiliki peranan penting bagi perekonomian Indonesia, karena merupakan sumber mata pencaharian utama dari sebagian besar penduduk Indonesia. Selain itu, sektor pertanian ikut memberi sumbangsih bagi sektor lainnya, yaitu sektor industri dimana sebagian besar bahan baku yang digunakan berasal dari produk pertanian. Sektor pertanian telah menggerakkan perekonomian nasional, dan pada periode tahun 1980-1990 telah memberikan kontribusi utama dalam penurunan tingkat kemiskinan. Pada saat terjadi krisis ekonomi akhir tahun 1997 sektor pertanian mampu menyediakan lapangan kerja bagi tenaga kerja non pertanian yang kehilangan pekerjaan. Peranan sektor pertanian semakin kokoh dengan ditetapkannya revitalisasi pertanian sebagai prioritas pembangunan nasional dan sebagai landasan pembangunan ekonomi selanjutnya dalam rencana strategis pembangunan tahun 2005-2009. Namun permasalahannya kebanyakan petani pada negara kita merupakan petani kecil dan luas area yang kecil, sehingga dalam penggarapannya mereka cenderung menggunakan tenaga kerja dari keluarga sendiri. Tapi pada suatu saat tertentu tidak bisa dipungkiri kalau petani kecil itu membutuhkan bantuan tenaga kerja dari luar keluarga untuk penggarapan lahan mereka, disisi lain mengingat sebagian besar petani di Indonesia adalah petani kecil dengan penghasilan yang kecil mereka kesulitan dalam membayar tenaga kerja dari luar keluarga mereka. Oleh karena itu pengembangan usaha tani yang mereka jalankan kurang bisa berkembang karena terhalang oleh masalah permodalan. Dalam produksi pertanian, modal adalah peringkat ke 2 faktor produksi terpenting setelah tanah. Bahkan kadang-kadang orang menyebut “modal” adalah satu-satunya milik petani yaitu tanah disamping tenaga kerja yang dinilai murah. Dalam ekonomi pertanian disebutkan pula modal adalah barang atau uang yang bersama-sama faktor produksi tanah

Namun keberadaan LKM di lapangan masih terbatas jumlahnya. Anggapan tersebut sering menjadi bahan pertimbangan penyedia permodalan resmi pemerintah enggan untuk memberikan pinjaman modal untuk petani kecil itu sendiri. dikarenakan pemerintah cendedrung meremehkan petani kecil dalah hal pengembalian modal yang meereka pinjam dan lembaga – lembaga resmi dari pemerintah cenderung mempersulit para petani kecil untuk mendapatkan pinjaman modal. akan tetapi syarat – syarat peminjaman modal dari lembaga non resmi tersebut lebuh mudah dibandingkan dengan lembaga dari pemerintah.dan tenaga kerja menghasilkan barang-barang baru atau komoditi pertanian (Mubyarto. yaitu sulitnya pengembalian peminjaman modal itu sendiri dan syarat – syarat untuk mendapatkan pinjaman modal tersebut. . Sulitnya pemeran usaha tani di tingkat pedesaan untuk mengakses pinjaman permodalan dari lembaga resmi pemerintah terutama petani kecil. 1993). Oleh karena itu para petani kecil lebih memilih mendapatkan pinjaman modal dari lembaga swasta. Bahkan lebih parahnya lagi penyedia permodalan non resmi seperti LKM juga enggan memberikan bantuan permodalan yang sesuai dengan harapan petani kecil. terkendala persyaratan administrasi yang tidak dapat memenuhinya sehingga peluangnya kecil. tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk untuk petani besar. Satu-satunya sumber keuangan yang dapat diandalkan adalah lembaga jasa keuangan atau lembaga keuangan mikro (LKM) yang dikelola petani. Di sisi lain untuk mendapatkan modal dengan mengandalkan lembaga keuangan formal yang ada. Adapun bentuk usaha lembaga ini mencakup pelayanan jasa pinjaman/kredit dan penghimpunan dana masyarakat tani yang terkait dengan persyaratan pinjaman atau bentuk pembiayaan lainnya. Adapula masalah lain yang menghalangi permodalan pertanian. namun yang menjadi permasalahannya bunga pengembalian tersebut lebih besar dari lembaga pemerintah dan itu bukan harapan dari petani kecil.

Akhmad. Perlawanan Terhadap Liberalisasi dan Oligopoli Pasar Produk Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana. Tegalan Diterbitkan oleh BABAD. . Membangun Gerakan Ekonomi Kolektif dalam Pertanian Berkelanjutan. S. 2008. Fariyanti A. Purwokerto. Jawa Tengah. Perilaku ekonomi rumahtangga petani sayuran dalam menghadapi risiko produksi dan harga produk di Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung [disertasi]. 2007..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful