HERMENEUTIKA SEBAGAI SISTEM INT~ERPRETASI PAUL RICOEUR DALAM MEMAHAMI TEKS- TEKS SENI

Abdul Wachid B.S. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto
Abstract
Based on henneneutics' history, it is knDwn that Paul Ricoeur brings henneneutics into activities of interpreting and understanding texts (textual exegesis). According to Ricoeur, who is a professor of philosophy at Nanterre University, "BasicaIly the whole philosophy is an interpretation to interpretation." He agrees with Nietzsche that "Life itself is an interpretation. If there emerges plurality of meanings, interpretation is needed". To study the henneneutics ofinterpretation of Paul Ricoeur, we do not need to trace its root to the previous growth ofthis study. Richard E. Palmer even places Ricoeur's henneneutics separated from other previous similar studies, like the henneneutics of sacred-book interpretation theory, henneneutics of philology method, henneneutics of linguistic understanding, henneneutics of human science foundation (Geisteswissenschaften), and henneneutics of dasein phenomenology. Key words: henneneutics, interpretation and understanding of text

A. Pendahuluan
Kata "henneneutik" berasal dari bahasa Yunanihermeneuein yang berarti "menafsirkan", dan kata bendanya hermeneia yang berarti "penafsiran" atau "interpretasi", dan kata hermeneutes yang berarti interpreter (penafsir). Istilah Yunaniberkenaan dengankata "hennenuetik" ini dihubungkan dengan nama dewa Hennes, yaitu seorang utusan yang bertugas menyampaikan pesan-pesan Jupiter kepada umat manusia. Tugas Hennes menerjemahkan pesan-pesan dari dewa di Gunung Olympus ituke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia. Fungsi Hermes menjadi penting sebab jika terjadi kesalah-pahaman dalam menginterpretasikan pesan dewa akibatnya akan fatal bagi umat manusia. Sejak itu Hennes menjadi simbol seorang duta yang ditugasi menginterpretasikan pesan, dan berhasil tidaknya tugas itu sepenuhnya tergantung bagaimana pesan tersebut disampaikan (Sumaryono, 1999:23-24). B. Konsep Dasar Hermenutika Gambaran umum dari pengertian "henneneutika" diungkapkan juga oleh Zygmunt Bauman, yakni "sebagai upaya menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidakjelas, kabur, remangremang, dan kontradiktif, yang menimbulkan kebingungan bagi pendengar atau pembaca" (Faiz,2003:22).
Perkembangan Seni Kriya di Tengah Perubahan Masyarakat (I Ketut Sunarya)

210

"hermeneutik" cenderung terdengar sebagaiadjektif. Menurut Palmer (2003:15-36)bahwa mediasi dan proses membawa pesan "agar dipahami" yang diasosiasikan dengan Dewa Hennes itu terkandung dalam tiga bentukmakna dasardari herme>neuein dan herme>neia. Dengan memilih istilah "henneneutika". Dalam konteks ini. atau "to say" (menyatakan). dalam transliterasi Indonesia disertakan hurup "a" sehingga menjadi "henneneutika". "to assert" (menegaskan). herme>neuein sebagai "to explain" (menjelaskan). Kata "henneneutika" (hermeneutics) merupakan kata benda (noun).2003:15). misalnya henneneutik Hans-Georg Gadamer.221 . "proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti". memiliki keuntungan antara lain: dapat menunjuk kepada bidang henneneutika secara umum. Interpretasi lebih menitikberatkan pada penjelasan daripada dimensi interpretasi ekspresif. Oleh sebab itu. dan mengekspresikannya merupakan interpretasi. menurut Palmer (2003: vii).2. Agustus 2006 : 210 . sebagaiberikut. (2) ilmu untuk mengetahui maksud Imaji.kita dapat melihat melalui penglihatannya. Dipilihnya penggunaan kata "henneneutika" merupakan bentuk singular dari bahasa Inggris. membedakannya dengan bentuk adjektif"hermeneutik" (hermeneutic tanpa hurup "s") atau "henneneutis" (hermeneutical). Kedua. serta menjelaskannyajuga merupakan bentuk interpretasi. No. jauh dan tak dapat dipahami ke dalam mediasi bahasa seseorang itu sendiri.Tiga bentuk tersebut menggunakan verba dari herme>neuein.4. di samping itu. kecuali disertai "the ". menjelaskan sesuatu.211 Bwmglmtdarimi1o~ Y\llu~nj ~ata "henneneutik" diartikan sebagai iW. Hal yang paling esensial dari kata-kata bukanlah mengatakan sesuatu. Pada dimensi ini "to interpret" (menafsirkan) bennakna "to translate" (menerjemahkan) yang merupakan bentuk khusus dari proses interpretatif dasar "membawa sesuatu untuk dipahami". bahwa bahasa adalah perbendaharaan nyata dari pengalaman kultural. Seseorang dapat mengekspresikan situasi tanpa menjelaskannya. hal ini terkait dengan fungsi "pemberitahuan" dari Hennes. penerjemah menjadi media antara satu dunia dengan dunia yang lain. Ketiga. terutama proses ini melibatkan bahasa sebab bahasa merupakan mediasi paling sempuma dalam proses (Palmer. membuatnya jelas. kita eksis di dalam dan melalui media ini. hermeneutics dengan hump "s". merasionalisasikannya. bahkan persepsi-persepsi kita. seseorang membawa apa yang asing. "Penerjemahan" membuat kita sadar akan cara bahwa kata-kata sebenamya membentuk pandangan dunia. interpretasi sebagai penjelasan menekankan aspek pemahaman diskursif. seperti Dewa Hennes. Pertama. Vol. herme>neuein sebagai "to express" (mengungkapkan). herme>neuein sebagai "to translate". dan membedakan spesifikasi. kata ini mengandung tiga arti : (1) ilmu penafsiran.

(3) penyampaian pesan itu oleh sang Perantara agar bisa dipahami dan sampai kepada yang menerima (Faiz. Dengan mempertimbangkan tiga horison tersebut diharapkan suatu upaya pemahaman ataupun penafsiran menjadi kegiatan rekonstruksi dan reproduksi makna teks. dan (3) pernindahan ungkapan pikiran yang kurang jelas. "hermeneutika" tidak saja berurusan dengan teks yang dihadapi secara tertutup. dan bertindak sebagai penafsir. "hermeneutika" selalu berurusan dengan tiga unsur dalam aktivitas penafsirannya. 2003:21). pada masa itu Aristoteles pun sudah berminat kepada penafsiran (interpretasi).212 yang terkandung dalam kata-kata dan ungkapan penulis. yaitu teks. Akan tetapi. 2003:21). Budi Hardiman. pengalaman-pengalaman mentalnya yang disimbolkannya Hermeneutika Sebagai Sistem Interpretasi (Abdul Wachid B. diubah menjadi ungkapan yang jelas (via Faiz. Oleh sebab itu. Sejalan dengan pemahaman tersebut.) . dan horison pembaca. dan muatan apa yang masuk dan ingin dimasukkan oleh pengarang ke dalam teks yang dibuatnya. bisa didefinisikan dalam tiga hal yaitu : (1) mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata. horison pengarang. secara lebih aplikatif kata "hermeneutika" ini. Sebagai metode penafsiran. dan ia pernah mengatakan dalam tulisannyaPeri Hermeneias (DeInterpretatione) bahwa: "Kata-kata yang kita ucapkan adalah simbol dan pengalaman mental kita. yakni horison teks. menurut F. (2) usaha mengalihkan dan suatu bahasa asing yang maknanya tidak diketahui ke dalam bahasa lain yang bisa dimengerti oleh pembaca. Jika ditarik sejarah ke belakang. yaitu : (1) tanda. menerjemahkan. dan (3) penafsiran yang secara khusus menunjuk kepada penafsiran kitab suci (Fakhruddin Faiz. 2003:22). Namun. berangkat dan istilah yang diasumsikan kepada dewa Hermes itu. hermeneutika memperhatikan tiga hal sebagai komponen pokok dalam upaya penafsiran. Adapun alasan Faiz (2003:11-12)sebagaiberikut. maka demikian pula ia tidak memiliki kesamaan bahasa ucapan dengan yang lain. dan kata-kata yang kita tulis adalah simbol dari kata-kata yang kita ucapkan itu.S. yang di samping melacak bagaimana suatu teks itu dimuncuIkan oleh pengarangnya.juga berusaha melahirkan kembali makna tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi saat teks tersebut dibaca atau dipahami. sebagai sebuah metode pena [siran. Sebagaimana seseorang tidak mempunyai kesamaan bahasa tulisan dengan orang lain. Dengan kata lain. Faiz (2003:11) menyebutnya sebagai "mempertimbangkan horison-horison yang melingkupi teks tersebut". melainkan penafsiran teks tersebut membuka diri terhadap teks-teks yang melingkupinya. dan merunut kepadajaman Yunaniklasik. kemudian melakukan upayakontekstualisasi. pesan atau teks yang menjadi sumber atau bahan dalam penafsiran yang diasosiasikan dengan pesan yang dibawa oleh Hermes. konteks. (2) perantara atau penafsir (Hermes).

hermeneutika mengalami perubahanperubahan. Selanjutnya. Hans-Georg Gadamer mengembangkan hermeneutika menjadi metode filsafat. Lalu. Hal yang diungkapkan di depan hanyalah problem umum hermeneutika. kesusastraan.E. Syarnsuddin. Wilhelm Dilthey mengembangkan hermeneutika sebagai landasan bagi ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften). 2003:8). (3) hermeneutika sebagai pemahaman linguistik. Heiddeger. filsafat. Sejarah mencatat bahwa istilah "hermeneutika" dalarnpengertian sebagai "ilmu tafsir" mulai muncul di abad ke-17. Perkembangan dari hermeneutika ini merambah ke berbagai kajian keilmuan. 1999:24). dan gambaran kronologis perkembangan pengertian dan pendifinisian hermeneutika dengan lengkap diungkapkan oleh Richard E.- - - 213 ~~w~r~ 1al\e~\1l\e itu'a~alah sarna untuk semua orani? seba~aimana pengalamanpengalarnan imajinasi kita untuk menggarnbarkan sesuatu" (via Sumaryono.dkk. hukum. namun demikian jasanya yang paling besar ialah dalam bidang ilmu sejarah dan kritiks teks. (2) hermeneutika sebagai metode filologi.2003:53). dan hermenutika sebagai penggalian filosofis dari sifat dan kondisi yang tidak bisa dibindarkan dari kegiatan memahami (palmer. Sekalipun hermeneutika mengalami perkembangan pesat sebagai "alat menafsirkan" berbagai kajian keilmuan. khususnya kitab suci (Faiz. Agustus 2006 : 210 . dan ilmu yang terkait erat dengan kajian hermeneutika adalah ilmu sejarah. dan Jacques Derrida. kemudian berkembang menjadi "filsafat penafsiran" yang dikembangkan oleh ED. Schleiermacher. yakni (I) hermeneutika sebagai teori penafsiran kitab suci. and Gadamer (1969).221 . Dilthey. (5) hermeneutika sebagai fenomenologi dasein. Dalam perkembangannya. hermeneutika lebibjauh dikembangkan oleh para filosof seperti Paul Ricoeur. Jurgen Habermas. (4) hermeneutika sebagai fondasi dari ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften). 2003: II. Dalam buku tersebut Palmer (2003:33) membagi perkembangan hermeneutika menjadi enam kategori. Hermeneutika pada awal perkembangannya lebih sebagai gerakan eksegesis di kalangan gereja. terutama di dalam bukunya yang terkenal Truthand Method. Ia dianggap sebagai "Bapak Hermeneutika Modem" sebab membakukan hermeneutika menjadi metode umum interpretasi yang tidak terbatas pada kitab suci dan sastra. yang diteIjemahkan oleh Musnur Hery menjadi Hermeneutika Teori Baru mengenai Interpretasi (2003). Palmer dalam bukunya Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher. istilah ini dipaharni dalam dua pengertian. dan ilmupengetahuan tentang kemanusiaan.. No. VolA.2. yaitu hermeneutika sebagai seperangkat prinsip metodologis penafsiran. Hal tersebut hanya dimaksudkan memberi gambaran singkat terhadap pengertian Imaji. dan (6) hermeneutika sebagai sistem interpretasi. Kemudian.

1982:145). juga Emilio Betti yang mewakili tradisi hermeneutika metodologis. maka di situ interpretasi dibutuhkan" (Sumaryono. hermeneutika metode filologi. Paul Ricoeur mengatakan bahwa hermeneutika merupakan "teori mengenai aturan-aturan penafsiran. Paul Ricoeur (lahir 1913 di Valence. atau tanda. yang dianggap sebagai teks".2003:203). atau tanda. Menurutnya. Karenanya." Paul Ricoeur sependapat dengan Nietzsche bahwa "Hidup itu sendiri adalah interpretasi. yaitu henneneutika teori penafsiran kitab suci. 1999:105). Dalam perspektif Paul Ricoeur. hermeneutika pemahaman linguistik. Palmer (2003:38-47) pun menempatkan posisi henneneutika Paul Ricoeur sepenuhnya terpisah dari tokoh-tokoh hermeneutik yang dibahas sebelumnya. Paul Ricoeur merujuk kepada bahasa sebagai event. hermeneutika fondasi dari ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften). tidak perlu melacak akamya kepada perkembangan hermeneutika sebelumnya. Paul Ricoeur juga menganggap bahwa "seiring perjalanan waktu niat awal dari penulis sudah tidak lagi digunakan sebagai acuan utama dalam memahami teks" (Ricoeur. "Penafsiran terhadap teks tertentu. Bila terdapat pluralitas makna. C. Hermeneutika sebagai Sistem Interpretasi Paul Ricoeur Dari kesejarahan henneneutika. atau simbol. Menurut profesor filsafat di Universitas Nanterre (perluasan dari Universitas Sorbonne) ini. dan hermeneutika fenomenologidasein." Namun. yaitu penafsiran terhadap teks tertentu. atau simbol. bahasa yang di saat ia digunakan untuk Henneneutika Sebagai Sistem Interpretasi (Abdul Wachid B.214 dan konsep dasar henneneutika sehingga menjadi ancang-ancang pemahaman tatkala mengurai henneneutika sebagai sistem interpretasi terhadapkesusastraan. Untuk mengkaji henneneutika interpretasi Paul Ricoeur. "Hermeneutika adalah kajian untuk menyingkapkan makna objektif dari teks-teks yang memilikijarak ruang dan waktu dari pembaca. yaitu bahasa yang membicarakan tentang sesuatu. De l'interpretation (1965). di lain pihak mencari daya yang dimiliki kerja teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan 'hal'-nya teks itu muncul ke permukaan" (via Sumaryono.S. Perancis Selatan) yang lebih mengarahkan hermeneutika ke dalam kegiatan penafsiran dan pemahaman terhadap teks (textual exegesis). Paul Ricoeur mengatakan bahwa teks adalah "any discourse fixed by writing" (dalam Thomson. 2003:376). "tugas utama hermeneutik ialah di satu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja di dalam sebuah teks. dan keduanya tokoh hermeneutika kontemporer. 1999:105. Melalui bukunya. Dengan istilah "discourse" ini.Pennata. sebagaimana HansGeorg Gadamer yang mewakili tradisi hermeneutika filosofis. "Pada dasarnya keseluruhan filsafat itu adalah interpretasi terhadap interpretasi.) . yang dianggap sebagai teks" ini menempatkan kita harus memahami "What is a text?" Dalam sebuah artikelnya.

sebagaimana bahasa lisan terikat kepada pendengarya. Oleh sebab itu pula. Oleh sebab itu. sekunder dan figuratif dan yang dapat Imaji. terlepas dari proses pengungkapannya (the act of saying). Vo1. Agustus 2006 : 210 . makna lain yang tidak langsung.. 1) Dalam sebuah teks makna yang terdapat pada "apa yang dikatakan (what is said). Sementara itu. 1999:107)... dan bahasa itu sendiri mempakan syarat utama bagi pengalaman manusia. dalam dirinya sendiri maupun dalam hubungannya dengan teks-teks yang lain. ia tidak terikat pada konteks asli dari pembicaraan. . "Bahasa dinyatakan dalam bentuk simbol. 4) Teks juga tidak lagi terikat kepada audiens awal. 3) Karena tidak terikat pada sebuah sistem dialog.. dan pengalaman juga dibaca melalui pemyataan atau ungkapan sirnbol-simbol" (Ricoeur via Sumaryono. 2) Makna sebuah teks juga tidak lagi terikat kepada pembicara. bahkan semua bentuk seni yang ditampilkan secara visual pun diinterpretasi dengan menggunakan bahasa.. Apa yang ditunjuk oleh teks.215 berkomunikasi. Paul Ricoeur mengalamatkan penafsiran kepada "tanda.. penafsir bertugas untuk mengurai keseluruhan rantai kehidupan dan sejarah yang bersifat laten di dalambahasa.. "Manusia pada dasamya mempakan bahasa. 1999:108). melainkan kepada siapa pun yang bisa membaca. No. maka sebuah teks tidak lagi terikat kepada konteks semula (ostensive reference).2. pokok atau literer menunjuk kepada. maksud penulis sudah terhalang oleh teks yang sudah membaku. 2003:347). Sebuah teks ditulis bukan untuk pembaca tertentu. sebagai tambahan. teks mempakan sebuah korpus yang otonom. dan tidak terbatas pada mang dan waktu. Kata Paul Ricoeur : "Saya mendifinisikan 'simbol' sebagai struktur penandaan yang di dalamnya sebuah makna langsung.. dengan demikian adalah dunia imajiner yang dibangun oleh teks itu sendiri.221 . Apa yang dimaksud teks tidak lagi terkait dengan apa yang awalnya dimaksudkan oleh penulisnya. yang mereduksi sirnbolmenjadi analogi. Bukan berarti bahwa penulis tidak lagi diperlukan. Hal itu sebab selumh aktivitas kehidupan manusia berurusan dengan bahasa. hermeneutik adalah cara bam 'bergaul' dengan bahasa. Sebuah teks membangun hidupnya sendiri karena sebuah teks adalah sebuah monolog" (Ricoeurvia Permata. 2003:217-220). sedangkan dalam bahasa lisan kedua proses itu tidak dapat dipisahkan.. sebagaimana bahasa lisan. akan tetapi.4.. atau simbol. Paul Ricoeur memaknakan simbol secara lebih luas daripada para pengarang yang bertolak dari retorika Latin atau tradisi neoPlatonik. yang dianggap sebagai teks"." kata Paul Ricoeur (via Sumaryono. Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah "interpretasi atas ekspresi-ekspresi kehidupan yang ditentukan secara linguistik" (Ricoeur dalam Josef Bleicher. yang dicirikan oleh empat hal sebagaiberikut.Karenanya.

Sumaryono." kata Paul Ricoeur (dalam Josef Bleicher. "Hermeneutika bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbolsimbol tersebut". yang dimaksudkan dengan "mengambil jarak terhadap peristiwa sejarah dan budaya" tidak berarti seseorang bekerja dengan "tangan kosong" (via E. Hal itu artinya.216 dipahami hanya melalui yang pertama" Sekali lagi. simbol dan interpretasi merupakan konsep yang mempunyai pluralitas makna yang terkandung di dalam simbol atau kata-kata di dalam bahasa. yang semuanya itu hanya dapat dimengerti melalui simbol-simbol itu. kata-kata di dalam bahasa keseharian juga merupakan simbol-simbol sebab menggambarkan makna lain yang sifatnya tidak langsung. setiap interpretasi ialah usaha membuka lipatan makna yang terkandung di dalam karya sastra. 2003: 376). dan intensi yang tersembunyi. yaitu penafsir harus mengambil jarak agar ia dapat melakukan interpretasi dengan baik. dan di dalam interpretasilah pluralitas makna termanifestasikan" (dalam Josef Bleicher.S. Oleh sebab itu. vorsicht (apa yang ia lihat).Posisi pembaca bekerja tidak dengan "tangan kosong" ini.) . Setiap interpretasi adalah upaya untuk membongkar makna yang terselubung. "Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol. seperti halnya posisi karya sastra itu sendiri yang tidak dicipta dalam keadaan kekosongan budaya (A. Akan tetapi. 2003: 376). setiap kali kita membaca suatu teks. pada tingkat makna yang tersirat di dalam makna literer". 1999:106). menurut Paul Ricoeur. Walaupunbegitu." tegas Paul Ricoeur (via Sumaryono. interpretasi dilakukan dengan cara "pcrjuangan melawan distansi kultural". Namun. yang dimaksudkan Paul Ricoeur dengan "distansi kultural" itu tidaklah steril dari "anggapan-anggapan". Sumaryono. Dengan begitu. Kata-kata penuh dengan makna. seseorang dalam interpretasi tidaklah dapat menghindarkan diri dari "prasangka" (via E. Dalam konteks karya sastra. tidak dapat menghindar dari "prasangka" yang dipengaruhi oleh kultur masyarakat. "Setiap kata adalah sebuah simbol. dan vorgrifJ(apa yang akan menjadi konsepnya kemudian). "adalah karya pemikiran yang terdiri atas penguraian makna tersembunyi dari makna yang terlihat. dalam perspektif Paul Ricoeur. 1981:11). bagaimana interpretasi dilakukan? "Interpretasi". Lalu. seorang pembaca atau penafsir itu "masih membawa sesuatu yang oleh Heideger disebut vorhabe (apa yang ia miliki). 1999:107). Menurut Paul Ricoeur. interpretasi muncul di mana makna jamak berada. Karenanya. tradisi yang hidup dari berbagai gagasan. Di samping itu. terkadang ada yang berupa bahasa kiasan. 1999:106). "Simbol dan interpretasi menjadi konsep yang saling berkaitan. "sebuah teks harus kita Henneneutika Sebagai Sistem Interpretasi (Abdul Wachid B. Memang. Teuw. Tidak hanya kata-kata di dalam karya sastra.

Fakhrnddin Faiz. (2) situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks (konteks). hams dapat mengatasi situasi dikotomis. ini berarti kita mengijinkan teks memberikan kepercayaan kepada diri kita. atau semacamnya. Mengapa demikian? Hal itu disebabkan bahwa : "Dalam interpretasi terhadap teks. Karenanya.anD tidakpemah tanra ren~andaian. 2003:12). Sumaryono. seorang hermeneut hams melakukan pembacaan "dari dalam" teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut. dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangka kebudayaan dan sejarahnya sendiri. 1999:109. di sini kita juga masih Imaji." Hal ini hanya dapat dilakukan dengan cara "membuka diri terhadap teks. Kitajuga hams mempunyai konsep-konsep yang kita ambil dari pengalaman-pengalaman kita sendiri yang tidak mungkin kita hindarkan keterlibatannya sebab konsep-konsep ini dapat kita ubah atau disesuaikan tergantung pada kebutuhan teks. dan diwamai dengan situasi kita sendiri dalam kerangka waktu yang khusus" (Ibid. menurnt Paul Ricoeur.4. serta harns dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subjektif dan objektif. Dikotomi antara objektivitas dan subjektivitas ini oleh Paul Ricoeur diselesaikan dengan jalan "sistem bolak-balik".- -- -- 217 ~f~jrkandalam bahasa . :108). sebuah teks selalu berdiri di antara penjelasan struktural dan pemahaman hermeneutika. Agustus 2006 : 210 . Namun. untuk dapat berhasil pembacaan "dari dalam" itu. Selanjutnya. Semantaraitu. Karenanya. maka kontekstua/isasi yang dimaksudkan bahwa materi teks "melepaskan diri" dari cakrawala yang terbatas dari pengarangnya. yakni (1) intensi atau maksud pengarang (teks). dan (3) untuk siapa teks itu dimaksudkan (kontekstualisasi) (Paul Ricoeur via E. inilah yang dimaksudkan dengan rekontekstua/isasi. dan melakukan langkah kembali ke konteks (rekontekstualisasi) untuk melihat latarbelakang terjadinya teks. sedangkan pemahamanhermeneutikamemberi kesan kita subjektif. Dekontekstualisasi maupun rekontekstualisasi itu bertumpu pada otonomi teks.Yang dimaksudkan dengan "membuka diri terhadap teks" ini adalah proses meringankan dan mempermudah isi teks dengan cara menghayatinya. yakni penafsir melakukan "pembebasan teks" (dekontekstualisasi) dengan maksud untuk menjaga otonomi teks ketika penafsir melakukan pemahaman terhadap teks. No.III. yang saling berhadapan. "ia harns dapat menyingkirkan distansi yang asing. Atas dasar otonomi teks itu." kata Paul Ricoeur (via Sumaryono.2. tetapi kita hams dapat 'membaca ke dalam' teks itu. Vol. 1999:110). Cet. otonomi teks ini ada tiga macam.221 . dan. teks tersebut membuka diri terhadap kemungkinan dibaca dan ditafsiri secara luas oleh pembaca yang berbeda-beda. Dengan jalan "sistem bolak-balik" itu. Penjelasan struktural bersifat objektif. kita tidak perlu bersitegang dan bersikap seakan-akan menghadapi teks yang beku.

bagaimana pemyataan Paul Ricoeur ini dapat diterima sebab pemahaman hanya dapat terjadi pada tingkat pengetahuan." Namun. Mengapa Hermeneutika Sebagai Sistem Interpretasi (Abdul Wachid B. sedangkan pemahaman eksisitensial atau ontologis adalah pemahaman pada tingkat keberadaan makna itu sendiri. dan interpretasi. Karenanya. mendekati ontologis. 3) langkah filosofis. Pada umumnya.S.Faiz. dan bukan cara mengetahui atau cara memperoleh pengetahuan" ini. Paul Ricoeur menegaskan bahwa "pemahaman itu pada dasamya 'cara berada' (mode of being) atau "cara menjadi".2003:162-164.) . Paul Ricoeur hanya ingin menyentakkan kesadaran kita bahwa hermeneutik adalah sebuah metode yang sejajar dengan metode di dalam sains. penjelasan. yakni langkah semantik. yang berlangsung mulai dari "penghayatan terhadap simbol-simbol". pemahaman refleksif setingkat lebih tinggi. yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titiktolaknya (Ricoeur. Namun. "Engkau hams memahami untuk percaya. bum-bum Paul Ricoeur menegaskan bahwa : "lingkaran tersebut hanya semu saja sebab tidak ada satu pun hermeneut yang pada kenyataannya mau mendekatkan diri pada apa yang dikatakan oleh teks jika ia tidak menghayati sendiri suasana makna yang ia cari. 2) pemberian makna oleh simbol serta "penggalian" yang cermat atas makna. Ia tidak berkehendak memperlakukan metode hermeneutika ini dengan kaku dan terstmktur sebagaimana terdapat di dalam ilmu ilmiah lainnya.218 berkisar pada teks sekalipun dalam interpretasi kita juga membawa segala kekhususan mang dan waktu kita". dan eksistensial atau ontologis.Sumaryono. sesungguhnya bemjung kepada tugas utama hermeneutika. para hermeneut membedakan antara pemahaman. 1999:111. Tentang sirkularitas ini. dan percaya untuk memahami. refleksif. yakni memahami teks. Langkah semantik mempakan pemahaman pada tingkat bahasa yang mumi. dan cara pemahaman selalu mendapat bantuan dari pengetahuan? Tentang pendapat Paul Ricoeur bahwa "Pemahaman mempakan cara berada atau cara 'menjadi'. Bagaimana langkah-Iangkah pemahaman terhadap teks tersebut? Dalam perspektif Paul Ricoeur melalui bukunya The Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning. langkah pemahaman itu ada tiga. selengkapnya berikut ini : 1) langkah simbolik atau pemahaman dari simbol-simbol. sampai ke tingkat gagasan tentang "berpikir dari simbol-simbol". Paul Ricoeur mengatakan. ia hams mulai dengan pengertian yang seakan-akan 'masih mentah' sebab jika tidak demikian ia tidak akan mulai melakukan interpretasi". Hermeneut hams menggumuli interpretasinya sendiri. Cara-cara tersebut. 2003:36). Ketiga langkah tersebut erat hubungannya dengan langkah pemahaman bahasa. namun sekaligus ada sirkularitas antara ketiganya.

keburukannya. bahasa sastra dan uraian falsafah bersifat simbolik. hermeneutik hams mampu membedakan antara bahasa puitik yang bersifat simbolik dan metaforikal. yang eksistensinya terkandung di dalam pemahaman terhadap being". Bahasa sastra menyampaikan makna secara simbolik melalui citraan-citraan dan metafora yang dicerap oleh indra.M.. 1999:111-112). hermeneutikatatkala "memahami" manusia dan hasil kerja budayanya. Bagaimana langkah pemahaman terhadap teks itu diimplemantasikan kepada teks sastra? Dalam buku Paul Ricoeur lain. "Pertanyaan tentang kebenaran bukan lagi menjadi pertanyaan tentang metode. Sementara itu. serta segala sesuatu yang membuatnya menjadi "khas". oleh karena itu dalam memahami teks diperlukan proses hermeneutik yang berbeda pula.- - -- - - - 219 q~p1iki~J17 BaOi Paul Ricoeur "Sebab remahaman adalah salah satu aspek 'proyeksi Dasein' (proyeksi manusia seutuhya) dan keterbukaannya terhadap being. 2004:90-92)." Apalagi yang dihadapi adalah teks sastra. Namun. Perlakuan pemaknaan teks sastra berbeda dengan teks selainnya itu diakibatkan bahasa sastra memiliki kekhasan. dan sulit dijangkau oleh ilmu-ilmu alamiah sekalipun. Ada perbedaan antara seorang pakar bidang sains dan seorang hermeneut dalam memahami sesuatu.221 .2. ia menegaskan bahwa "setiap teks berbeda komponen dan struktur bahasa atau semantiknya. termasuk di dalamnya kesusastraan. dan konseptual. puitik. Kita tidak dapat memberi makna referensial terhadap karya sastra dan falsafah sebagaimana dilakukan terhadap teks yang menggunakan bahasa penuturan biasa. Hal itu sebab kita memahami manusia dari segala aspek yang ia miliki. citacitanya. Agustus 2006 : 210 . Di dalamnya berpadu makna dan kesadaran. sedangkan bahasa bukan sastra bemsaha menjauhkan bahasa atau kata-kata dari dunia makna yang luas. Vo1. dengan bahasa diskursif non-sastra yang tidak simbolik." Dengan begitu. dalam bahasa sastra Imaji. kita memahami manusia sebagaimana ia "menjadi" (via Sumaryono. No.4. dan ia bergantung kepada diagram ilmiah untuk memberikan penjelasannya. melainkan pertanyaan tentang pengejawantahan being untuk being. manusia sebagai Dasein : sejarahnya. yakni dengan jalan melakukan interpretasi. Seorang pakar bidang sains berhenti pada kasus yang ia terangkan sebagai suatu fakta atau peristiwa. Pertama. Rule of Mataphor (1977) (via Hadi W. Kedua. manusia seutuhnya. apakah setiap orang dapat mencapai pemahaman pada tingkat tertinggi sebagaimana korespondensi satu lawan satu antara penafsir dan sasarannya? "Pemahaman" tersebut. gaya penampilan. Oleh sebab itu.. memang terlalu ideal. 1999:111-112) Dalam hal ini. yang ciri utamanya dapat dikenali sebagai berikut. cara hidupnya. seorang hermeneut memahami sesuatu tanpa hams ada penjelasan yang terikat kepada diagram ilmiah tertentu sebab ia mempergunakan "metode interpretasi" (Sumaryono.

M. 2004.III. penta'wil mesti terlibat dalam analisis struktural mengenai maksud penyajian teks. Henneneutika Sebagai Sistem Interpretasi (Abdul Wachid B. metaforikal. Ahmad Norma. Cet. Filsafat Wacana. tidak dapat dibaca secara sekilas lintas. Yogyakarta: Mahatari. Yogyakarta: Ircisod. 2002. dalam. Cet. Sumaryono. 2003. Penandaan harus dilakukan. bahasa sastra berpeluang menerbitkan pengalaman fictional dan pada hakikatnya lebih kuat dalam menggambarkan ekspresi kehidupan (via Abdul Hadi W. Terj. dan tanda harus diselami maknanya. 1999:113) menjawabnya bahwa "Interpretasi selalu bersifat openended sebab jika kita memperoleh titik akhir dari suatu interpretasi. Action and Interpretation. Tanda dalam bahasa simbolik sastra mesti dipahami sebagai sesuatu yang mempunyai peran konotatif. menggunakan symphatic imagination (imajinasiyang penuh rasa simpati). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Richard E. Penutup Akhimya.M. dalam Paul Ricoeur. Yogyakarta: Qolam. 1) Pertama.II.. dan Religiusitas. Estetika. "Hermeneutics and the Human Sciences. 2003. Hermeneutika al-Qur'an.).. teks harus dibaca dengan kesungguhan. Barulah kemudian penta'wil memberikanbeberapa pengandaian atau hipotesis. teIj.2004:90-92). Teori Baru Mengenai Interpretasi. Membelah Makna dalam Anatomi Bahasa.S.) . Musnur Hery. 1982. Thomson (Ed. 3) Ketiga. DAFTARPUSTAKA Faiz. Paul Ricoeur. D. John B. Hermeneutika. Permata. Cambridge: Cambridge University. menurut Paul Ricoeur. Hermeneutika. hal ini berarti "pemerkosaan" terhadapinterpretasi". prosedur hermeneutikanya secara garis-besar dapat diringkas sebagaiberikut. 2) Kedua. Essays on Language..2004:90-92). dan sugestif.220 pasangan rasa dankesadaran menghasilkan objek estetik yang terikat pada dirinya. apakah interpretasi mempunyai titik akhir? Paul Ricoeur (via E. Fakhruddin. penta'wil mesti melihat bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan makna dan gagasan dalam teks itu merupakan pengalaman tentang kenyataan non-bahasa (Hadi W. Ketiga. Palmer.M. Musnur Hery. Hadi W. menentukan tanda-tanda (dilal) yang terdapat di dalarnnya sebelum dapat menyingkap makna terdalam dan sebelum menentukan rujukan serta konteks dari tanda-tanda signifikan dalam teks. Abdul. Dalam upaya interpretasi teks diperlukan proses hermeneutik yang berbeda itu.

No. Hermeneutik. Paul. Teuw. Hermeneutika Kontemporer.-- -- 221 Ricoeur. Yogyakarta: Kanisius. Agustus 2006: 210 . 1981. dalam Josef Bleicher. E.221 . Ahmad Norma Permata.1999.4. TergantungpadaKata. Terj.2. Sebuah Metode Filsafat.A. 2003. Vol. 1999. Imaji.Yogyakarta:Fajar Pustaka Sumaryono. Jakarta: PustakaJaya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful