Resume Hipertensi By : BRIPTU KH.DR.dr.N`S M.LUTFI ALFARISI M.KEP.M,PD.

S,J Hipertensi atau Darah Tinggi adalah keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu yang lama). Hipertensi merupakan kelainan yang sulit diketahui oleh tubuh kita sendiri. Satu-satunya cara untuk mengetahui hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah kita secara teratur.

Diketahui 9 dari 10 orang yang menderita hipertensi tidak dapat diidentifikasi penyebab penyakitnya. Itulah sebabnya hipertensi dijuluki pembunuh diam-diam atau silent killer. Seseorang baru merasakan dampak gawatnya hipertensi ketika telah terjadi komplikasi. Jadi baru disadari ketika telah menyebabkan gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung, koroner, fungsi ginjal, gangguan fungsi kognitif atau stroke .Hipertensi pada dasarnya mengurangi harapan hidup para penderitanya. Hipertensi selain mengakibatkan angka kematian yang tinggi (high case fatality rate) juga berdampak kepada mahalnya pengobatan dan perawatan yang harus ditanggung para penderita. Perlu pula diingat hipertensi berdampak pula bagi penurunan kualitas hidup. Hipertensi sebenarnya dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Jika salah satu orang tua terkena Hipertensi, maka kecenderungan anak untuk menderita Hipertensi adalah lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki orang tua penderita Hipertensi. Diagnosis Secara umum seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastoliknya melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg). Sistolik adalah tekanan darah pada saat jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi (saat jantung mengkerut). Diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung mengembang dan menyedot darah kembali (pembuluh nadi mengempis kosong).

Sebetulnya batas antara tekanan darah normal dan tekanan darah tinggi tidaklah jelas, sehingga klasifikasi Hipertensi dibuat berdasarkan tingkat tingginya tekanan darah yang mengakibatkan peningkatan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Menurut WHO, di dalam guidelines terakhir tahun 1999, batas tekanan darah yang masih dianggap normal adalah kurang dari 130/85 mmHg, sedangkan bila lebih dari 140/90 mmHG dinyatakan sebagai hipertensi; dan di antara nilai tsb disebut sebagai normal-tinggi. (batasan tersebut diperuntukkan bagi individu dewasa diatas 18 tahun). Gejala

2. tengkuk terasa pegal. Hipertensi sekunder/li> Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui. . serta kelumpuhan. dan lain-lain. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku. Karena golongan terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensia esensial. berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi primer. Oleh sebab itu. pecahnya pembuluh darah di otak. sehingga tekanan darah juga meningkat. sakit kepala. Berdasarkan faktor pemicu. antara lain kelainan pembuluh darah ginjal. Hipertensi dibedakan atas yang tidak dapat dikontrol seperti umur. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua.Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya .Mekanisme Terjadinya Hipertensi Gejala-gejala hipertensi antara lain pusing. muka merah. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi adalah kerusakan ginjal. Namun. pendarahan pada selaput bening (retina mata). jika aktivitas memompa jantung berkurang. sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut.Terjadi penebalan dan kekakuan pada dinding arteri akibat usia lanjut. dan banyak cairan keluar dari sirkulasi. Hipertensi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu : 1. dan hereditas (keturunan). Maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil. Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong Hipertensi primer sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder. gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid). Hipertensi esensial atau primer Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih belum dapat diketahui. keluar darah dari hidung secara tiba-tiba. Pada 70-80% kasus Hipertensi primer. didapatkan riwayat hipertensi di dalam keluarga. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. arteri mengalami pelebaran. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. stres psikologis. Berdasarkan faktor akibat Hipertensi terjadi peningkatan tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara: . dan keturunan. maka . Penyebab Berdasarkan penyebabnya.Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. maka penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditujukan ke penderita hipertensi esensial. jenis kelamin. penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme). seperti bertambahnya umur. dan lain lain. Volume darah dalam tubuh meningkat.

Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota. kegemukan merupakan ciri khas dari populasi Hipertensi dan dibuktikan bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan terjadinya Hipertensi dikemudian hari. Hindari kebiasaan lainnya seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol diduga berpengaruh dalam meningkatkan resiko Hipertensi walaupun mekanisme timbulnya belum diketahui pasti. Pencegahan Hipertensi dapat dicegah dengan pengaturan pola makan yang baik dan aktivitas fisik yang cukup. Pengobatan Olah raga lebih banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi. akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hipertensi juga banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot (satu telur). apabila salah satunya menderita Hipertensi. Dugaan ini menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran didalam terjadinya Hipertensi. Pengobatan non obat (non farmakologis) 2. Walaupun hal ini belum terbukti. aerobic) yang teratur dapat memperlancar peredaran darah sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten (tidak menentu). kurang olahraga. dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. tetapi penyelidikan membuktikan bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal. Hubungan antara stress dengan Hipertensi. serta konsumsi alkohol dan garam. stress. Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis) . Faktor lingkungan ini juga berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi esensial. Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu: 1. Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas. Apabila stress berkepanjangan. Berdasarkan penyelidikan. diduga melalui aktivasi saraf simpatis. jogging. saraf parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita tidak beraktivitas. Olah raga juga dapat digunakan untuk mengurangi/ mencegah obesitas dan mengurangi asupan garam ke dalam tubuh (tubuh yang berkeringat akan mengeluarkan garam lewat kulit). merokok. Walaupun belum dapat dijelaskan hubungan antara obesitas dan hipertensi esensial. Sedangkan yang dapat dikontrol seperti kegemukan/obesitas. karena olah raga isotonik (spt bersepeda.dugaan Hipertensi primer lebih besar.

5. Cara pengobatan ini hendaknya tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal. Nasehat pengurangan garam.  Penghambat Simpatetik Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas ). Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu. pengobatan non farmakologis dapat dipakai sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan yang lebih baik. 3. tetapi lebih baik digunakan sebagai pelengkap pada pengobatan farmakologis. Contoh obatannya adalah Hidroklorotiazid. harus memperhatikan kebiasaan makan penderita. Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh 2. Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis) Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang beredar saat ini. .  Diuretik Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat kencing) sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan. Ciptakan keadaan rileks Berbagai cara relaksasi seperti meditasi. Sedangkan pada keadaan dimana obat anti hipertensi diperlukan. Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh. Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah : 1.Pengobatan non obat (non farmakologis) Pengobatan non farmakologis kadang-kadang dapat mengontrol tekanan darah sehingga pengobatan farmakologis menjadi tidak diperlukan atau sekurang-kurangnya ditunda. 4. Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter. yoga atau hipnosis dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.

Pada orang tua terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat harus hati-hati. Diltiasem dan Verapamil.  Penghambat ensim konversi Angiotensin Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah).  Antagonis kalsium Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Pada penderita diabetes melitus harus hati-hati. Contoh obatnya adalah : Metoprolol. sakit kepala dan muntah. Efek samping yang mungkin timbul adalah : sembelit.  Vasodilator Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos (otot pembuluh darah).Contoh obatnya adalah : Metildopa. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial. Klonidin dan Reserpin. sakit kepala dan lemas.  Betabloker Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung. Yang termasuk golongan obat ini adalah : Nifedipin. karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi penderitanya). Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah Kaptopril. Yang termasuk dalam golongan ini adalah : Prasosin. Propranolol dan Atenolol.  Penghambat Reseptor Angiotensin II . Hidralasin. pusing. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini adalah : sakit kepala dan pusing. Efek samping yang mungkin timbul adalah : batuk kering. pusing.

lemas dan mual. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan). Efek samping yang mungkin timbul adalah : sakit kepala. serta menghindari faktor resiko terjadinya hipertensi. maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan. . Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur.Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. pusing.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful