P. 1
makalah itjihad

makalah itjihad

|Views: 1,891|Likes:
Published by Ayundha Nabilah

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Ayundha Nabilah on Mar 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/19/2013

pdf

text

original

MAKALAH IJTIHAD : SUMBER PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Agama

Islam

Oleh Ayundha Nabilah Hanifah Jullyana Rindy Berinda R 1101291 1101290 1101436

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS CIBIRU 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke Hadirat Ilahi Rabbi yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga tugas ini dapat terselesaikan. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini. Tidak sedikit hambatan yang ditemukan selama pengerjaan makalah ini, walaupun begitu kiranya masih banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah ini baik dalam hal isi, sistematika maupun teknik penulisannya. Sehingga peran serta semua pihak dalam hal kritik dan saran membangun sangatlah kami butuhkan untuk bias membuat makalah yang lebih baik di waktu mendatang Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca dan dapat membantu semua pihak dalam menambah pengetahuan dan wawasannya.

Bandung, Oktober 2011

DAFTAR ISI
Kata Pengantar………………………………………………………………… DAFTAR ISI………………………………………………………………….. BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………….. i ii 1

A. Latar belakang……………………………………………………… 1 B. Rumusan masalah…………………………………………………... 1 C. Tujuan penulisan……………………………………………………. 1 D. Metode penulisan…………………………………………………… 1 E. Sistematika penulisan……………………………………………….. 1 BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………….. 3 A. Pengertian ijtihad......................................................................... B. Bentuk-bentuk dan metodologi ijtuhad...................................... C. Hasil serta seruan tentang ijtihad............................................... BAB III PENUTUP A. Kesimpulan…………………………………………………………… B. Saran………………………………………………………………….. DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sesungguhnya ijtihad adalah suatu cara untuk mengetahui hukum sesuatu melalui dalil-dalil agama yaitu Al-Qur'an dan Al-hadits dengan jalan istimbat. Adapun mujtahid itu ialah ahli fiqih yang menghabiskan atau mengerahkan seluruh kesanggupannya untuk memperoleh persangkaan kuat terhadap sesuatu hukum agama. Oleh karena itu kita harus berterima kasih kepada para mujtahid yang telah mengorbankan waktu,tenaga, dan pikiran untuk menggali hukum tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam baik yang sudah lama terjadi di zaman Rosullulloh maupun yang baru terjadi. Kita telah mengetahui bersama bahwa sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah Al-Qur‟an dan Hadits. Didalam keduanya terdapat hukum-hukum yang relevan dalam kehidupan kita bermasyarakat, beragama dan menjalani kehidupan kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Tanpa disadari, keterikatan muslimin untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan dengan kekhawatiran akan jatuh dalam kekufuran, menjadikan setiap muslim berjanji untuk mengikuti Al- Quran dan Hadits/Sunnah. Tapi, ada hal yang tidak dapat ditolak, yakni adanya perubahan persepsi di kalangan muslim dalam memahami keduanya. Dari dasar sumber yang sama, ternyata, muslimin memahami dengan berbeda. Awal perbedaan ini, nampak jelas ketika Rasulullah SAW wafat. Al-Quran, dalam artian wahyu atau kalam Ilahi dan penjelas dalam praktik kehidupan sehari-hari Nabi SAW itu terhenti. Sebagian muslimin berpandangan bahwa periode dasar hukum telah terhenti, sehingga mereka berpandangan hanya Al-Quran dan Sunnah Nabi saja sebagai sumber hukum yang mutlak. Sebagian muslimin yang lain memiliki pandangan dan keyakinan berbeda. Seiring berjalannya waktu, permasalahan-permasalahan yang ditemui umat islam pun kian berkembang. Ketika permasalahan-permasalahan tersebut tidak dapat lagi diselesaikan hanya melalui nash Al-Qur‟an dan Hadist secara eksplisit, timbul istilah ijtihad.

B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan ijtihad? 2. Apa saja bentuk dari ijtihad? 3. Adakah perbedaan hasil ijtihad? C. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui pengertian dari ijtihad. 2. Untuk mengetahui bentukbentuk ijtihad. 3. Untuk mengetahui perbedaan hasil ijtihad. D. Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode studi pustaka, dimana penulis mendapatkan sumber dari buku dan internet yang kemudian disusun dan dijabarkan kembali dengan bahasa yang sesuai kemampuan dan keterampilan diri sendiri.

E. Sistematika Penulisan Makalah ini terdiri dari tiga bab. Bab pertama sebagai pendahuluan yang memiliki sub-bab lima buah yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Yang kemudian dilanjutkan pada bab kedua dengan berisi pembahasan yang memiliki tiga sub-bab yaitu pengertian ijtihad, bentuk-bentuk dan metodologi ijtuhad, dan hasil serta seruan tentang ijtihad Di bab terakhir terdapat bab ketiga yaitu penutup yang berisikan kesimpulan dan sa ran dari semua pembahasan yang telah dijelaskan dalam makalah ini.

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Ijtihad Ijtihad berasal dari kata ijtahada yang artinya berusaha bersungguh-sungguh atau mengerahkan segala kemampuan. Ijtihad secara istilah didefinisikan para Ushul Fikih sebagai usaha mutjahid (orang yang beritjihad) dengan segenap kesungguhan dan kesanggupan untuk mendapatkan ketentuan hukum sesuai masalah dengan menggunakan metodologi yang benar, dari kedua sumber hukum Al-Qur‟an dan Assunnah. Ijtihad bukanlah dilakukan oleh sembarang orang. Orang yang memiliki otoritas untuk melakukan ijtihad disebut mutjahid. Para mutjahid harus melakukan ijtihadnya dengan penuh kesungguhan dan dalam bidang yang sangat dikuasainya disertai metodologi yang benar. Sumber hukumnya yang pertama adalah ayat-ayat Al-Qur‟an yang berjumlah lebih dari enam ribu ayat, baik sebagai kesatuan yang utuh-bulat, satu kesatuan surat persurat maupun secara parsial ayat perayat. Yang ke dua adalah hadist-hadist Nabi yang juga berjumlah ribuan dan melalui seleksi yang ketat tentang ke-shahis-annya. Dan yang ketiga adalah ijma para sahabat Nabi. Para Imam mutjahid mutlak (yaitu Imam Jafar, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi‟I, dan Imam Hanbali) merumuskannya dengan langkah-langkah gambling, tapi ketat. Metode yang dimaksud terutama qiyas (Empat Mazhab), istihsan (Imam Hanafi), mashalih mursalah (Imam Maliki), dan istidlal (Imam Syafi‟i). Dalam Islam Syi‟ah, ijtihad tidak menggunakan metode-metode semacam qiyas dan mashalih mursalah tersebut. Ijtihad adalah penyimpulan hukum dari Al-Qur‟an dan Sunah melalui prinsip-prinsip umum syara‟. Atau penyimpulan suatu hukum pada kasus baru dengan bersandar pada prinsip-prinsip umum yang sudah jelas dan terang benderang dalam Al-Qur‟an dan Assunnah. Yang dijadikan sandaran dalam beritjuhad adalah hadist tentang Muadz bin Jabal tatkala diutus oleh Nabi saw. Untuk menjadi hakim di negeri Yaman. Rasulullah saw. Bertanya “ Bagaimana engkau akan memutus perkara apabila dihadapka kepadamu suatu pengaduan?”. Ia menjawab “Saya akan memutus dengan hukum yang tercantum di dalam Al-Qur‟an. Beliau bertanya “Apabila tidak di dalam Al-Qur‟an?”. Ia menjawab “Dengan Assunnah Rasulullah saw.”. Beliau bertanya lagi “Apabila tidak ada di dalam Assunnah Rasulullah?”. Ia menjawab “Saya akan berusaha keras menggunakan fikiranku dan tidak berhenti berusaha”. (Ali Hasbullah, 1986:90)

B. Bentuk & Metodologi Ijtihad

Banyak model dan metodologi ijtihad yang dikembangkan oleh para Imam Mujtahid yang mutlak diantaranya yang paling utama adalah ijma’, qiyas, istihsan, mashalih mursalah dan ‘urf atau adat kebiasaan atau yang diklasifikasikan pula menjadi jenis-jenis ijtihad, yakni : 1. Ijma’ Yaitu kesepakatan yakni kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hokum-hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits dalam suatu perkara yang terjadi. Adalah keputusan bersama yang dilakukan oleh para ulama dengan cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dan disepakati. Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat. Bentuk ijtihad ini didasarkan pada hadist Nabi SAW : “Ummatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan.” Ijma yang dihasilkan haruslah didasarkan pada hadist dan Al-quran yang diterima. Ijma‟ adapula yang merupakan kesepakatan para sahabat Nabi yang disebut ijma’ Shahabat yang dianggap sebagai sumber hukum Islam ketiga setelah Al-qur‟an dan Assunah seperti mendirikan bagi masyarakat islam dan mengangkat pemimpin (khalifah) bagi ummat. 2. Qiyas Secara bahasa artinya ialah analogi, secara istilah ialah Ushul Fikih yang berarti menetapkan suatu hukum “baru” yang belum ada nash-nya dengan hukum “ yang sudah ada” nash nya. Nash menurut bahasa adalah rof‟u assyari‟ atau munculnya segala sesuatu yang tampak. Sedangkan menurut syara‟ adalah : Suatu lafadz yang maknanya lebih jelas Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari kejelasannya, melainkan timbul dari pembicara sendiri yang diketahui Muhammad Adib Salih berkesimpulan bhawa yang dimaksud Nash adalah: Lafaz yang menunjukan hukum dengan jelas yang diambil menurut alur pembicaraan, namun ia mempunyai kemungkinan. Disini Nash lebih memberi kejelasanmaknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa. Adapun Kedudukan (hukum) lafadz nash yaitu wajib diamalkan sepanjang tidak ada dalil yang menakwilkan (menentukan beberapa makna yang mungkin terkandung di dalam ayat al-Quran yang mempunyai berbagai makna).

Qiyas menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan suatu hukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalam sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama. Dalam Islam, Ijma dan Qiyas sifatnya darurat, bila memang terdapat hal hal yang ternyata belum ditetapkan pada masa-masa sebelumnya

Beberapa definisi qiyâs (analogi) Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya, berdasarkan titik

1.

persamaan di antara keduanya. 2. Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya, melalui suatu

persamaan di antaranya. 3. Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan di dalam [Al-

Qur'an] atau [Hadis] dengan kasus baru yang memiliki persamaan sebab (ilat). karena adanya persamaan ‘illat hukum (maksud dan tujuan hukum) dari peristiwa tersebut. Contohnya hukum menempeleng orang tua, itu belum ada nash-nya. Nash yang sudah ada adalah mengatakan “Ah” seperti yang tercantum pada Q.S Al-Isra/17:23. „illat hukum atau yang disebut juga sebab dan tujuan seperti yang disebutkan tadi larangan mengatakan ahh dan membentak orang tua karena akan menyakiti hati orang tua. Qiyas pertama kali digunakan secara luas oleh Imam Hanafi. Tetapi berdasarkan luas dan terbatasnya qiyas secara berturut-turut digunakan oleh Imam Syafi‟I, Imam Maliki dan yang paling terbatas adalah Imam Hambali. Adapun Imam Ja‟fari menolak penggunaan metodologi ini karena menurut Ia masalah agama tidak dapat digeneralisasikan. 3. Istihsan Merupakan perluasan dari qiyas. Jadi istihsan adalah meninggalkan qiyas jalli (qiyas nyata) untuk menjalankan qiyas khafi (qiyas samar), atau meninggalkan hokum kulli (hokum umum) untuk menjalankan hokum istisna‟I (pengecualian) karena adanya dalil logika yang membenarkannya. Istihsan juga menetapkan suatu hokum dimana yang berlainan dengan hasil qiyas karena pertimbangan kepentingan dan kemaslahatan umat menghindarkan terjadinya kesulitan dan kezaliman.

Contohnya penggunaan ihtihsan dalam jual beli. Islam hanya membenarkan transaksi jual beli jika barangnya sudah nyata adanya. Pada prakteknya yang disebut salam, ada diantaranya praktek jual beli dengan dibayar terlebih dahulu tetapi barangnya di kemudian hari, ini dilarang oleh Islam. Padahal tentu saja maksudnya agar tidak terjadi kecurangan. Tetapi seiring perkembangan zaman dan teknologi transaksi bisnis masa kini semakin cepat berjalan. Pembayaran ini disebut praktek salam yang merupakan kekecualian dari yang umum terjadi. 4. Mashalih al-mursalah Ialah suatu kemaslahatan yang tidak ditetapkan oleh syara dan tidak adapula nash-nya, baik yang memerintah maupun yang melarang. Contohnya dalam menentukan hukuman. Dalam islam menetapkan hokum qisas dimana jika ada seorang pezina dan penuduh zina tidak dapat menghadirkan saksi empat orang , atau hokum potong tangan bagi pencuri. Dalam perkembangan hokum yang terjadi adanya keberagaman tindak pidana namun tidak tercakup secara tegas dalam syara‟. Kemudian muncullah penjara. Syara‟ itu sendiri tidak memerintahkan ataupun melarang pembuatan penjara. Tapi karena dilihat kembali pada fungsinya bagi keamanan dan ketertiban masyarakat maka keberadaan penjara pun dipandang maslahat. Sebenarnya mashalih al-mursalah mirip dengan istihsan yakni mencari kemaslahatan. Bedanya jika istihsan mengambil qiyas khafi dari qiyash jalli, maka mashalih al-mursalah menetapkan suatu hokum yang tidak diperintahkan ataupun dilarang oleh syara‟. 5. „urf atau adat kebiasaan Urf merupakan adat kebiasaan masyarakat baik berupa perkataan maupun perbuatan yang baik, yang karenanya dapat dibenarkan oleh syara‟. Contoh dalam kehidupan sehariharinya ketika kita belanja di supermarket kita memilih barang dan membayarnya tanpa ijab qabul, tetapi sebenarnya ketika kita membayar ke kasir sudah terjadi ijab qabu;. Ini dikarenakan hokum kebiasaan („urf) lah yang menetapkan sahnya transaksi demikian. Ada juga „urf yang rusak seperti misalnya praktek riba yang menjadi kebiasaan masyarakat padahal syara‟ nya mengharamkan hal seperti itu. Adapun syarat-syarat yang memenuhi adat kebiasaan sebagai dasar penetapan hokum secara islami adalah : 1. Berlaku secara umum di masyarakat atau kelompok tertentu

2. Adat itu sudah ada saat terjadinya suatu perkara hokum 3. Tidak bertentangan dengan dalil syara‟ dan prinsip hokum islam Adapula tambahan dari jenis ijtihad yaitu Sududz Dzariah adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentingan umat. Di Indonesia, ijtihad sering dilakukan secara kolektif (ijtihad jam‟iyah), antara lain terjadinya dalam forum seperti Forum Bahtsul Masail Diniyah (Nahdhatul Ulama) dan berbagai majelis dan organisasi agama lainnya. Agar pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang bahits dalam mengkaji sebuah permasalahan kontemporer memiliki sandaran syar`i dan memiliki metodologi yang jelas, serta bisa dipertanggungjawabkan, maka seorang pengkaji syariat (bahits) perlu memakai metodologi, sebagai berikut; A. Marhalah tashwir sebuah permasalahan (mengetahui dengan seksama sebuah permasalahan yang dihadapi) Marhalah ini meliputi langkah-langah: 1. Mengetahui dengan jelas definisi sebuah permasalahan yang sedang dibahas. Mengetahui definisi dengan jelas bertujuan agar seorang bahits mengetahui dengan jelas permasalahan yang akan dibahasnya. Mengetahui definisi ini dimulai dari pemahaman terhadap mufradat yang menjadi bagian dari definisi i. Mengetahui definisi mufradat secara etimologi, melihat kepada akar bahasa arab fushah. Untuk melihat akar bahasa mesti merujuk kepada kitab-kitab ma`ajim yang mu`tamad, sept: lisan al arab, taj al `arus, muktar al shahah, misbah al munir, dll. contoh: Mengetahui makna kalimat shalat secara bahasa arab : do`aii. Mengetahui definisi dari mufradat secara etimologi 1. Mengatahui makna mufradat yang dipakai secara syar`i dan dalam suatu disiplin ilmu. Contoh mengetahui makna kalimat shalat yang diartikan dengan: “perbuatan dan perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam”. 2. Mengetahui mufradat dan istilah yang sudah umum dipakai oleh para ulama, pemikir, cendikiawan, dll. Contoh: kalimat faidat al bunuuk Seorang bahits mesti mengenal dulu makna faidah dan bunuuk secara akar bahasa arab, kemudian mengenali makna faidah yang dimaksudkan oleh para ekonom.

b. Mengetahui definisi mufradat ketika sudah menjadi susunan kalimat (tarkib) i. Boleh jadi bentuknya adalah Tarkib idhafi (mudhaf + mudhaf ilaih), gabungan dua isim. ii. Atau bentuknya Tarkib washfiy (sebagai penjelas) Contoh: kalimat faidat al bunuuk merupaka bentuk mudhaf-mudhaf ilaih, maka si bahits mesti mengetahui makna dari susunan kalimat yang terdiri dari mudhaf dan mudhaf ilaih ini, sebagai satu kesatuan istilah yang sudah dikenal oleh para ilmuwan. Seorang bahits juga mesti menyelesaikan permasalahan kebahasaan yang akan menyulut perbedaan pendapat yang meliputi permasalahan haqiqah, majaz, isytirak, taraduf dan pelbagai permasalahan kebahasaan lainya. Apabila seorang bahits ingin membuat Ta`rif (definisi) sebuah permasalahan maka, ia mesti membuat sebuah definisi dengan memenuhi kriteria berikut: 1. Membuat definisi secara tashawwur sebuah disiplin ilmu (ex; definisi menurut ilmu kedokteran) 2. Membuat definisi tashawwur secara fiqh. 3. Menambahkan kriteria yang bersifat mencakupi semua unsur yang menjadi objek bahasan. 4. Menambahkan kriteria yang bersifat mencegah masuknya semua unsur yang bukan menjadi objek bahasan. 5. Membuang bagian pengulangan, tambahan, bagian tidak penting dari sebuah definisi. 6. Menjadikan lafaz akhir -yang telah disusun yang memberikan sebuah pengertian yang jelas dan menampakkan balaghah- sebagai sebuah definisi. Syarat dari sebuah ta`rif adalah mesti memenuhi kriteria yang jami` dan mani`. Mencakup semua unsur permasalahan yang didefinisikan dan tidak bercampur dengan permasalahan lain yang bukan bagian dari permasalahan yang didefinisikan. Untuk mengetahui definisi lebih lengkap, silahkan rujuk kembali di dalam kitab-kitab mantiq dan kitab adab al bahts wa al munazharah. 2. Mengetahui dengan jelas bentuk riil dari sebuah permasalahan. a. Mengetahui bentuk permasalahan secara disiplin sebuah keilmuan i. Merujuk kepada referensi ilmiah. ii. Merujuk kepada referensi studi research yang sudah ada b. Mengetahui secara teori (dalam logika, khayalan, perenungan, pengandaian, dll) sebuah permasalahan dengan memperhatikan kaidah `aqliyyah (wajib, mungkin dan mustahil).

3. Mengidentifikasi dan membedakan istilah yang ada kemiripan, jikalau ada. a. Mengetahui unsur kesamaan istilah yang dilihat dari seluruh sisi. b. Mengetahui unsur perbedaan yang dilihat dari seluruh sisi. 4. Mengetahui motivasi/faktor pendorong pentingnya untuk membahas sebuah permasalahan, dilihat dri sisi; a. Inisiatif pribadi b. Kepentingan secara ilmiah c. Sosial kemasyarakatan d. Politik e. Ekonomi, dll. Mengetahui hal diatas bertujuan agar segala usaha yang dikorbankan oleh si bahits tidak hanya sia-sia dan hanya membuang-buang waktu dan finansial. B. Memasuki marhalah takyiif al fiqhy (melihat dari kaca mata fiqh) 5. Mengindetifikasi sumber perdebatan dalam sebuah permasalahan. a. Mengetahui sisi–sisi yang disepakati oleh pelbagai kelompok yang memiliki pandangan terhadap permasalahan. b. Mengetahui sisi–sisi yang diperselisihkan oleh pelbagai kelompok yang memiliki pandangan terhadap permasalahan. c. Mengetahui permulaan munculnya sebuah perbedaan pandangan. 6. Mengetahui penyebab perbedaan pendapat (perdebatan) dalam sebuah permasalahan dan menjelaskan sebab perbedaan. a. Hukum asal dari sebuah perbuatan adalah boleh. b. Hukum asalah dari sebuah permasalahan adalah haram. c. Tidak ada faktor dan dalil yang menyebabkan suatu perbuatan dilarang. 7. Memprediksi kemungkinan persepsi (pandangan pelbagai mazhab) secara fiqh. Dari sebab khilaf akan diketahui kecendrungan pendapat masing-masing mazhab 8. Mengemukakan dalil masing-masing mazhab Dalam memaparkan dalil, perlu diurutkan dalil berdasarkan urutan kekuatan dali dalam ilmu ushul fiqh; a. Dalil yang disepakati oelh para fuqaha; i. Al Qur`an

ii. Sunnah iii. Ijma` (jikalau ada ijma` yang mirip dengan permasalahan yang sedang dibahas) iv. Qiyas (kecuali Ibnu Hazm) b. Dalil yang masih menjadi perbedaan di kalangan fuqaha; i. Masalih mursalah ii. Sadd al zara`i` iii. Al istihsan, dll c. Melihat Hikmah disyariatkannya sebuah bentuk permasalahan (maqashid) d. Qawaid fiqhiyyah kubra e. Qawaid fiqhiyyah sughra f. dll 9. Munaqasyah dalil-dalil yang ada Dalil yang dikemukan oleh masing-masing kelompok dimunaqasyahkan dengan amanah ilmiah, bersikap objektif, jujur, tawadhu`, tanpa bermaksud sombong dan mempropaganda/medoktrin orang lain kepada suatu pendapat tertentu. 10. Mengutamakan upaya jam`u al adillah daripada tarjih. Bahits berupaya mengumpulkan seluruh dalil yang ada dan mencari korelasi semua dalil, karena i`mal al dalil aula min ihmalih (mengamalkan seluruh dalil yang ada, lebih baik daripada mengabaikan sama sekali atau sebagian dalil) dan al khuruj min al khilaf mustahab (berupaya untuk keluar dari khilaf sangat dianjurkan). Ketika metode al jam`u tidak mungkin dilakukan, maka bahits menggunakan metode tarjih berdasarkan kaidah ta`arudl wa al tarjih yang dijelaskan secara detail di dalam kitab-kitab usul fiqh. 11. Menjelaskan pendapat yang rajih ( lebih kuat) atau mukhtar (yang dipilih) menurut persepsi bahits. Setelah mengkaji semua dalil yang dikemukan seorang bahits kemudian menetapkan pendapat yang rajih atau mukhtar menurutnya. Selain menjelaskan pendapat yang rajih atau mukhtar menurut bahits, kepada bahits juga diharuskan untuk menjelaskan sebab tarjih atau sebab ikhtiyar (pemilihan) pendapat bahits. C. Memasuki marhalah menghukumi sebuah permasalahan. 12. Menghukumi secara syar`i Setelah mengkaji sebuah permasalahan secara komprehensif, setelah mengkaji semua dalil,

memunaqasyahkan dan mentarjih pendapat yang lebih kuat dalam persepsi si bahits, maka si bahits bisa menghukumi permasalahan secara syar`i, menurut persepsi bahits. D. Memasuki marhalah berfatwa. 13. Berfatwa Jika masalah ini merupakan permasalahan yang bersumber dari permintaan fatwa/pertanyaan, maka si bahits sudah bisa berfatwa kepada si penanya dengan memperhatikan adab fatwa. Metodologi ini diadopsi dari muhadarah-muhadarah yang disampaikan selama satu tahun pelatihan materi qahaya fiqhiyyah mu`ashirah, oleh DR. Sa`duddin Mus`ad Hilaly, pada kegiatan Pelatihan Fatwa yang diselenggarakan oleh Lembaga Fatwa Mesir. (2007-2008). C. Perbedaan Hasil Ijtihad Mengapa hasil ijtihad para mujtahid bisa berbeda? Dan bagaimanakah sikap kita terhadap perbedaan hasil ijtihad tersebut? Ada beberapa sebab, pertama, dilihat dari sifat kata yang ada (baik dalam Alquran maupun Hadis), terkadang dalam satu kata mengandung arti ganda. Bahkan keduanya bersifat Hakiki. Contoh klasik adalah istilah quru‟ dalam Q.S. Al-Baqarah [2]:288. Ulama Hanafiyah memaknai quru sebagai haidh (menstruasi), sedangkan Ulama Syafi‟iyah memakai thuhr (suci). Implikasi hukumnya jelas berbeda. Bagi imam Hanafi, jika seorang istri yang telah bercerai mau menikah lagi dengan laki-laki lain, ia cukup menunggu tiga kali haidh, sedangkan menurut Imam Syafi‟I, ia harus menunggu tiga kali suci. Hikmah quru‟ diartikan dengan haidh (dalam pandangan Hanafiyah) adalah agar wanita yang telah bercerai dengan suaminya bias segera menikah lagi dengan laki-laki lain pilihannya, sementara hikmah diartikan dengan suci (dalam pandangan Syafi‟i) adalah memberi kesempatan yang luas kepada suami-istri yang telah bercerai untuk merenung baik-buruknya perceraian yang telah dijatuhkannya, sehingga keputusan apapun yang mereka ambil memang telah dipertimbangkannya matang-matang dan dalam waktu yang lama. Ada lagi satu kata yang mempunyai makna hakiki dan majazi (kiasan) sekaligus. Contohnya lafal “yunfau” dalam Q.S. Al-Maidah [5]:33. Ulama umumnya mengartikan “yunfau” dengan “diusir dari kampong halaman”. Dan ini memang makna hakikinya. Tapi ulama Hanafiyah mengartikannya dengan “penjara”. Implikasi hukumnya jelas berbeda. Ulama pertama menetapkan hukuman bagi orang-orang yang menerangi Allah dan Rasul-Nya, atau membuat kerusakan di bumi, dengan hukuman “diusir dari kampong halamannya”. Sedangkan ulama Hanafiyah menetapkan “penjara” sebagai hukumannya. Dua kasus diatas merupakan contoh yang sangat sederhana proses dan hasil ijtihad dengan maksud agar mudah dicerna. Jelas, bahwa lafal Alquran dan hadis itu demikian adanya, sehingga terkadang menimbulkan perbedaan paham.

Contoh lain lagi adalah dalam menetapkan kata yang qath‟i (memiliki kepastian) dan mana pula lafal yang zhanni (tidak memiliki kepastian). Menurut Quraish Shihab, dilihat dari segi maknanya, ayat yang qath‟i mempunya arti yang pasti (maknanya), sedangkan ayat yang zhanni adalah tidak pasti. Pada ayat yang zhanni inilah ada peluang untuk berbea pandangan. Untuk menentukan manakah ayat yang qath‟i biasanya memerlukan kesepakatan ulama. Tapi kesepakatan itu tidak resmi diumumkan, bahwa ayat itu adalah qath‟i. kesepakatan itu terjadi hanyalah secara kebetulan,alamiah. Labih jauh lagi umat islam, termasuk sebagian ulama, kerap kali beranggapan bahwa suatu masalah telah menjadi kesepakatan ulama, padahal sebenernya hal itu baru merupakan kesepakatan di lingkungan mazhabnya. Oleh sebab itu, yang disepakati ke-qath‟i-annya tentang sesuatu makna perlu diteliti secara cermat. Dengan demikiannpemahaman tentang Alquran, atau pengambilan makna dari nash Alquran (termasuk dari hadis) mengandung kemungkinan hasil yang berbeda. Oleh karena itu, sikap kita yag penting terhadap hasil ijtihad (sebagai proses kegiatan akal) hendaknya senantiasa bijak. Artinya, pertama, perbedaan itu harus disadari kebenarannya. Kedua, perbedaan itu dipengaruhi oleh kultur, kondisi, situasi, ruang dan waktu. Ruang dan waktu antara dahulu dan sekarang, malah yang akan datang adalah berbeda. Hal ini sesuai dengan perkembangan zaman dan yang ketiga, karena hasil ijtihad dipengaruhi oleh ruang dan waktu, maka ia belum tentu cocok dengan masa sekarang. Sama halnya, hasil ijtihad sekarang belum tentu cocok untuk masa yang akan datang. Dan begitulah seterusnya.

D. Seruan Baru Untuk Ijtihad Berbeda dengan kaum tradisional untuk umat ber-taqlid dengan imam-imam mazhab, kaum Salafi dan terutama modernis di abad 19 dan awal abad 20 justru mengajak umat untuk ber-ijtihad dan meninggalkan taqlid. Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha (Mesir), Syaikh Waliullah, Ahmad Khan, dan Muhammad Iqbal (India-Pakistan), dan Muhammad bin Abdul Wahab (Saudi Arabia) disebut-sebut sebagai ulama cendekiawan yang paling gencar menyerukan perlunya ber-ijtihad dan meninggalakan taqlid. Di Indonesia, K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Ustad A. Hasan (pendiri Persis) dikategorikan sebagai ulama yang ittiba. Adapun Hadratussyaikh Hasyim Asy‟ari (pendiri NU) justru melarang ijtihad bagi orang yang tidak memenuhi syarat, malah menganjurkan taqlid. Ulama mazhab memang tidak mentah-mentah menolak ijtihad. Anjuran taqlid terutama ditunjukkan untuk orang awam. Adapun ulama cerdik, pandai yang telah memenuhi syarat ijtihad malah di anjurkan pulan untuk ber-ijtihad. Tapi kaum Salafi dan modernis tetap melarang taqlid bagi orang awam sekalipun. Orang yang tidak mampu ber-ijtihad oleh kaum Salafi dan modernis dianjurkan untuk ber-ittiba (berusaha memahami proses ijtihad para mujtahid).

E. Ijtihad Dan Taqliq di Kalangan NU-Muhammadiyah Hadratussyaikh Hasyim Asy‟ari (pendiri NU) dalam risalah Ahlussunnah wal Jama‟ah bagian “Dasar-dasar Jam‟iyah NU” yang disusun tahun 1941 membuat satu pasal tentang keharusan taqlil bagi orang yang tidak mempunyai kemampuan beritjihad. Menurut pendapat Jumhur ulaa mahaqqiq bagi setiap orang yang tidak memiliki kualifikasi tjihad mutlak (meskipun ia menguasai ilmu-ilmu yang dapat diakui untuk berijtihad) wajib mengikti pendapat para mtjahid dan mengikuti fatwa mereka agar ia terlepas dari beban taklif, dengan mengikuti siapa saja diantara mereka yang ia kehendaki. Dengan demikian, orang yang tidak mengerti beberapa hal yang penting, diwajibkan untuk bertanya. Ini merupakan taqlid terhadap orang yang berpengetahuan (alim). Ada kesepakatan bahwa orang awam harus mengikuti mutjahid. Pemahaman orang awam terhadap Al-Kitab dan Assunnah tidak diperhitungkan, apabila tidak sesuai dengan pemahaman para ulama besar dan terpilih dari ahl al-haq. Semua pembuat bid‟ah dan orang-orang tersesat juga memahami hukumhukum yang batil dari Al-Kitab dan Assunnah, dan mengambil dari keduanya, padahal semua itu tidak dapat membantu sedikit pada kebenaran. Orang awam tidak diharuskan bersikap konsisten pada satu mazhab dalam setiap kejadian. Andaikata ia menganut mazhab tertentu, Syafi‟I umpamanya, maka ia tidak diwajibkan menganutnya terus menerus, melainkan diperbolehkan berpindah ke mazhab lainnya. Orang awam yang tidak memiliki semacam pemikiran, istidlal dan tidak membaca satu kitab pun mengenai masalah furu mazhab, apabila ia mengatakan “saya bermazhab Syafi‟I”, hal ini tidak dapat diterima begitu saja. Dikatakan bahwa apabila seorang awam menetapi satu mazhab tertentu, maka ia merasa harus tetap pada mazhab tertentu, sebab ia mempunyai keyakinan bahwa mazhab yang dianutnya adalah benar, sehingga ia harus tetap setia dengannya sesuai dengan keyakinannya. Tapi dalam peristia tertentu, misal dalam shalat berjamaah, seseorang yang mengikuti suatu mazhab (muqallid) boleh mengikuti imam lain. Ia diperbolehkan mengikuti seorang imam data melakukan shalat Dzuhur misalnya, dan magikuti imam lain dalam shalat „Asar. Berbeda dengan Muhammadiyah, sejak awal didirika, Jam‟iyah ini justru mengajak umat untuk kembali secara langsung kepada Al-Qur‟an dan Assunnah, dan melarang taqlid. Dalam Kongres XVI tahun 1927 di Pekalongan, atau satu tahun setelah berdirinya NU yang telah mengeluarkan fatwa tentang wajibnya bermazhab, Muhammadiyah mendirikan Majelis Tarjih. Tujuannya, untuk menetapkan suatu hukum yang sesuai dengan Al-Qur‟an dan Assunnah. Tahun 1935 muncul gagasan tentang Mabadi Khamsah Manhaj Tarjih Muhammadiyah, yaitu al-Din, al-Dunya, al-Ibadah, Sabilillah, dan al-Qiyas. Tapi perumusannya baru terealisir pada akhir tahun 1954 dan awal 1955 dalam muktamar khusu Majelis Tarjih di Yogyakarta. Muktamar khusu ini menegaskan maksud Assunnah sebagai hadist yang shahih, sebagai lawan dari hadist yang dla‟if. Dalam Muktamar ke-41 di Solo, Tahun 1986, Muhammadiyah berhasil merumuskan Mahaj Tarjih dan beberapa metode itjihad yang telah digunakan, agar dimaklumi oleh anggota Majelis

Tarjih pada khususnya dan warga Muhammadiyah pada umumnya. Keputusan ini secara implisit menegaskan tentang perlunya beritjihad bagi setiap warga Muhammadiyah, baik yang memiliki kemampuan berijtihad maupun masyarakat awam.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Ijtihad adalah suatu upaya pemikiran atau penelitian untuk mendapatkan hukum dalam kitabullah dan sunah rosul. Bentuk metodologi ijtihad yaitu ijma, qiyas, istihsan, mashalih, al-mursalah, „urf/adat kebiasaan. Sebab perbedaan hasil ijtidah dikarenakan beberapa faktor yaitu dari sifat kata yang ada, dan terkadang satu kata mempunyai makna berbeda. B. Saran Para pembaca hendaknya memahami betul masalah-masalah mengenai ijtihad. Karena dengan ijtihad seseorang mampu menetapkan hukum syara' dengan jalan menentukan dari kitab dan sunnah.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Ijtihad http://killer-killermaniac2.blogspot.com/2011/05/pengertian-dzahir-dan-nash.html http://jamalaljauhari.blogspot.com/2010/02/tafsir-dan-takwil.html http://syariahkita.wordpress.com/2010/03/29/metodologi-ijtihad/ http://indonesia-admin.blogspot.com/2010/02/makalah-ijtihad.html http://www.tugaskuliah.info/2010/01/contoh-makalah-islam-ijtihad.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->