1

 Bioenergetika
Bioenergetika atau termodinamika biokimia adalah ilmu pengetahuan mengenai perubahan
energi yang menyertai reaksi biokimia.
 Hukum I Termodinamika
 Untuk setiap perubahan kimia atau fisika, jumlah energi total adalah konstan.
Jadi, energi dapat berubah bentuk atau dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain
namun tidak dapat dihilangkan atau diciptakan.
 Hukum II Termodinamika
 Perubahan kimia atau fisika yang berlangsung spontan selalu diikuti oleh
peningkatan derajat keacakan (randomness).
Pada suhu dan tekanan yang tetap, hubungan ∆G dan ∆S berdasar hukum termodinamika
dinyatakan :

Keterangan :
∆G = perubahan energi bebas
∆H = perubahan entalpi (panas)
T = suhu absolut
∆S = perubahan entropi


Sandra Dewitha Que
102008167
“Tugas Kimia”
∆G = ∆H –T∆S


2

 Energi di dalam reaksi kimia
1. Energi bebas Gibbs (G)
Energi bebas : kemampuan melakukan kerja selama reaksi yang berlangsung pada
temperatur dan tekanan tetap.
Jika, ∆G (-) ÷ proses berlangsung spontan (eksergonik), terdapat sejumlah energi
yang dibebaskan sistem
∆G (+) ÷ proses berlangsung tidak spontan (endergonik), sistem membutuhkan
energi.
∆G nol ÷ proses berada pada keadaan seimbang.
2. Entalphi (H)
Entalphi (H) merupakan panas yang terdapat dalam sistem.
Jika, ∆H (-) ÷ ada panas yang dilepaskan ke lingkungan (eksotermik)
∆H (+) ÷ ada panas yang dibutuhkan sistem (endotermik)
3. Entropi (S)
Entropi merupakan nilai kuantitatif keacakan sistem. Untuk setiap reaksi, secara
keseluruhan (total) selalu terjadi peningkatan entropi.
Jika ∆S (+) ÷ derajat keacakan sistem meningkat.

 Energi untuk sel
Sel adalah sistem yang bekerja pada temperatur tetap (isotermal) dan tekanan
tetap. Sel tidak dapat memanfaatkan energi panas. Sel hanya dapat memanfaatkan energi
bebas (G). Energi bebas yang diperoleh dikonversi ke senyawaan berenergi tinggi seperti
ATP.
ATP merupakan donor fosfat berenergi tinggi (donor energi bebas) bagi senyawa-
senyawa di bawahnya. Di sisi lain, ADP dapat menerima fosfat berenergi tinggi untuk
membentuk ATP


3


Ada 3 sumber utama gugus fosfat berenergi tinggi yang berperan dalam konservasi atau
penangkapan energi.
1. Fosforilasi oksidatif
Fosforilasi oksidatif adalah sumber gugus fosfat berenergi tinggi terbesar
dalam organisme aerobik. Energi bebas untuk menggerakkan proses ini berasal dari
oksidasi rantai respirasi di dalam mitokondria dengan menggunakan oksigen.
Pada organisme aerob, akseptor elektron terakhir adalah oksigen. Namun
elektron tidak langsung ditransfer langsung ke oksigen, melainkan dipindah ke
pengemban-pengemban khusus antara lain nikotinamida adenin dinukleotida (NAD
+
)
dan flavin adenin dinukleotida (FAD).
Pengemban tereduksi ini selanjutnya memindahkan elektron ke oksigen
melalui rantai transport elektron yang terdapat pada sisi dalam membran mitokondria.
Gradien proton yang terbentuk sebagai hasil aliran elektron ini kemudian mendorong
sintesis ATP dari ADP dan P
i
dengan bantuan enzim ATP sintase. Proses tersebut
dinamakan fosforilasi oksidatif.

2. Glikolisis
Tahap awal metabolisme konversi glukosa menjadi energi di dalam tubuh
akan berlangsung secara anaerobik melalui proses yang dinamakan Glikolisis
(Glycolysis). Proses ini berlangsung dengan mengunakan bantuan 10 jenis enzim yang
berfungsi sebagai katalis di dalam sitoplasma (cytoplasm) yang terdapat pada sel
eukaryotik (eukaryotic cells). Inti dari keseluruhan proses Glikolisis adalah untuk
mengkonversi glukosa menjadi produk akhir berupa piruvat.
Pada proses Glikolisis, 1 molekul glukosa yang memiliki 6 atom karbon pada
rantainya (C
6
H
12
O
6
) akan terpecah menjadi produk akhir berupa 2 molekul piruvat
(pyruvate) yang memiliki 3 atom karbom (C
3
H
3
O
3
). Proses ini berjalan melalui
beberapa tahapan reaksi yang disertai dengan terbentuknya beberapa senyawa antara
seperti Glukosa 6-fosfat dan Fruktosa 6-fosfat. Selain akan menghasilkan produk
akhir berupa molekul piruvat, proses glikolisis ini juga akan menghasilkan molekul
ATP serta molekul NADH (1 NADH3 ATP). Molekul ATP yang terbentuk ini
kemudian akan diekstrak oleh sel-sel tubuh sebagai komponen dasar sumber energi.
Melalui proses glikolisis ini 4 buah molekul ATP & 2 buah molekul NADH (6 ATP)


4

akan dihasilkan serta pada awal tahapan prosesnya akan mengkonsumsi 2 buah
molekul ATP sehingga total 8 buah ATP akan dapat terbentuk.
Tahap metabolisme energi berikutnya akan berlangsung pada kondisi aerobik
dengan mengunakan bantuan oksigen (O
2
). Bila oksigen tidak tersedia maka molekul
piruvat hasil proses glikolisis akan terkonversi menjadi asam laktat. Dalam kondisi
aerobik, piruvat hasil proses glikolisis akan teroksidasi menjadi produk akhir berupa
H
2
O dan CO
2
di dalamtahapan proses yang dinamakan respirasi selular (Cellular
respiration).

3. Siklus asam sitrat
Tahap kedua dari proses respirasi selular yaitu Siklus Asam Sitrat merupakan
pusat bagi seluruh aktivitas metabolisme tubuh. Siklus ini tidak hanya digunakan
untuk memproses karbohidrat namun juga digunakan untuk memproses molekul lain
seperti protein dan juga lemak. Siklus Asam Sitrat (Citric Acid Cycle) yang berfungsi
sebagai pusat metabolisme tubuh.
Enzim sitrat sintase mengkatalisis reaksi kondensasi antara asetil koenzim-A
dengan oksalo asetat menghasilkan sitrat. Pembentukan isositrat dari sitrat melalui
Cis-akonit dikatalisis secara reversibel oleh enzim akonitase. Oksidasi isositrat
menjadi alfa ketoglutarat berlangsung pembentukan senyawa antara oksalosuksinat
yang berikatan dengan enzim isositrat dehidrogenase dengan NAD sebagai koenzim.
Oksidasi alfa ketoglutarat menjadi suksinat melalui pembentukan suksinil koenzim-A,
merupakan reaksi yang irreversibel dan dikatalisis oleh enzim alfa ketoglutarat
dehidrogenase. Suksisnil koenzim A adalah senyawa tioester yang berenergi tinggi.
Selanjutnya suksinil koenzim-A melepaskan koenzim –A dengan dirangkaikan
dengan reaksi pembentuk energi GTP dari GDP. GTP yang terbentuk dipakai untuk
sintesis ATP dari ADP dengan enzim nukleosida difosfat kinase. Pembentukan GTP
dikaitkan dengan reaksi deasilasi suksinil koenzim-A ini disebut “fosforilasi tingkat
substrat” Suksinat dioksidasi menjadi fumarat oleh enzim suksinat dehidrogenase
dengan FAD sebagai koenzim. FAD berperan sebagai gugus penerima hidrogen.
Reaksi reversibel penambahan satu molekul H
2
O ke ikatan rangkap fumarat,
menghasilkan malat yg dikatalisis oleh fumarase. Tahap akhir, L-malat dioksidasi
menjadi oksalo asetat oleh enzim L-malat dehidrogenase yg berikatan dengan NAD
(reaksi endergonik) atau laju reaksi berjalan ke kanan,karena reaksi berikut


5

kondensasi oksaloasetat denga asetil koenzim-A yaitu reaksi eksergonik yang
irreversibel.

 Reaksi eksergonik – endergonik
o Reaksi berpasangan (Coupled Reaction)
Proses endergonik tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus menjadi komponen suatu
sistem eksergonik/endergonik yang berpasangan (coupling).
Prinsip reaksi berpasangan : reaksi yang secara termodinamika disukai dapat dipakai
untuk mendorong terjadinya reaksi yang secara termodinamika tidak disukai.
o Metabolisme
Metabolisme merupakan kombinasi proses katabolik dan anabolik.
Reaksi eksergonik dalam sistem biologik diberi nama katabolisme yaitu
pemecahan/oksidasi molekul bahan bakar
Anabolisme merupakan reaksi endergonik yang meliputi reaksi-reaksi sintesis untuk
membentuk berbagai substansi.

 Reduksi – Oksidasi dalam sistem biologis
 Oksidasi = pelepasan elektron
 Reduksi = pengikatan electron
Reaksi oksidasi-reduksi merupakan reaksi kimia yang melibatkan transfer elektron dari
satu zat ke zat yang lain. Oksidasi akan selalu disertai reduksi akseptor elektron. Prinsip
oksidasi reduksi berlaku pada berbagai reaksi biokimia Banyak oksidasi biologi dapat
berlangsung tanpa peran serta molekul oksigen.

 Kinetika
Kinetika : kecepatan dan meknisme reaksi. Kecepatan reaksi menjelaskan seberapa cepat
reaktan dipergunakan atau seberapa cepat produk dihasilkan.




6

Faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi :
- Konsentrasi
Molekul-molekul harus bertumbukan agar terjadi reaksi dalam konteks ini laju reaksi
proporsional dengan konsentrasi reaktan. Konsentrasi reaktan tinggi apabila berada
pada jarak lebih berdekatan dibandingkan dengan konsentrasi rendah. Kecepatan akan
bertambah dengan bertambahnya konsentrasi.
- Fase
Besarnya jumlah tumbukan antar partikel ditentukan oleh fase fisik partikel tersebut.
Partikel dalam fase liquid lebih dekat dari pada fase solid. Jika reaktan berupa solid,
ukuran partikel solid yang semakin kecil akan memungkinkan kontak yang lebih
efektif, dibandingkan dengan solid berukuran besar.
- Temperatur
Molekul harus bertumbukan dengan energi yang cukup untuk bereaksi. Peran
temperatur adalah meningkatkan energi dan jumlah tumbukan antar partikel. Naiknya
temperatur akan menaikan kecepatan reaksi.
- Katalis
Katalis adalah suatu senyawa yang dapat menaikkan laju reaksi, tetapi tidak ikut
menjadi reaktan / produk dalam sistem itu sendiri. Setelah reaksi selesai, katalis dapat
diperoleh kembali tanpa mengalami perubahan kimia. Katalis berperan dengan
menurunkan energi aktifasi. Sehingga untuk membuat reaksi terjadi, tidak diperlukan
energi yang lebih tinggi. Dengan demikian, reaksi dapat berjalan lebih cepat. Karena
katalis tidak bereaksi dengan reaktan dan juga bukan merupakan produk, maka katalis
tidak ditulis pada sisi reaktan atau produk. Umumnya katalis ditulis di atas panah
reaksi yang membatasi sisi reaktan dan produk.
Katalis terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu
1. Katalis Homogen
Suatu katalis disebut homogen apabila berada dalam fasa yang sama dengan reaktan
maupun produk reaksi yang dikatalisa. Katalis ini berperan sebagai zat antara dalam
reaksi. Tanpa penggunaan katalis, reaksi ini berlangsung sangat lambat, bahkan pada
suhu tinggi sekalipun. Kelemahan dari katalis homogen ini adalah ketika reaksi
selesai, diperlukan perlakuan kimia selanjutnya untuk memisahkan katalis dari
campuran reaksi.


7

2. Katalis Heterogen
Katalis heterogen adalah katalis yang fasanya tidak sama dengan reaktan atau produk
reaksi yang dikatalisa. Katalis heterogen biasanya berfungsi sebagai permukaan
tempat terjadinya reaksi. Contohnya adalah reaksi antara H
2
dan O
2
pada permukaan
logam. Logam berfungsi sebagai permukaan adsorben dimana H
2
dan O
2
akan
menempel dan bereaksi.
 Kecepatan reaksi (r) merupakan perubahan konsentrasi terhadap waktu. Perubahan
konsentrasi dapat berupa penurunan atau kenaikan konsentrasi baik konsentrasi reaktan
atau produk.

Satuan kecepatan reaksi : Ms
-1
atau M jam
-1
.

 Hukum Kecepatan Reaksi
Hukum kecepatan reaksi : menggambarkan hubungan antara konsentrasi reaktan dan
kecepatan.
Misalkan suatu reaksi :
A + B ÷ produk
Maka, persamaan kecepatan dituliskan sebagai :
r = k[A]
m
[B]
n
keterangan:
k = konstanta kecepatan reaksi
m, n = orde reaksi
Orde reaksi : mengindikasikan sensitivitas kecepatan terhadap perubahan konsentrasi
reaktannya. Orde reaksi tidak berhubungan dengan koefisien reaksi.
Eksponen nol untuk reaktan berarti kecepatan tidak bergantung pada konsentrasi reaktan.
Sedangkan eksponen 1 artinya kecepatan berbanding lurus dengan konsentrasi reaktan.
Jika konsentrasi dikali dua, kecepatan menjadi dua kali lipat. Reaksi tersebut memiliki
orde 1 terhadap reaktan. Orde reaksi keseluruhan adalah jumlah seluruh orde reaksi.








8

Contoh :
r = k[A] [B]
0
m = 1, n = 0
Reaksi memiliki orde 1 untuk A dan orde nol untuk B. Jumlah orde reaksi = 1 + 0 = 1.
Dapat ditulis juga r= k[A]. Perlu diingat bahwa orde reaksi harus ditentukan melalui
eksperimen. Orde reaksi tidak dapat ditentukan melalui persamaan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan hukum kecepatan konstanta kecepatan
(k) adalah :
1. Besaran k bergantung pada orde reaksi total
2. Besaran k tidak bergantung pada konsentrasi dan waktu
3. Besaran k merujuk pada temperatur tertentu dan perubahan kecepatan apabila
temperatur diubah.
Hanya temperatur yang mempengaruhi konstanta kecepatan reaksi (k). Naiknya
temperatur menyebabkan kenaikan nikai k. Dengan persamaan Arhenius :
k = A e
-Ea/RT

dimana k = konstanta laju reaksi
A = faktor pra eksponensial
Ea = energi aktifasi (kJ/mol)
R = tetapan gas ideal
= 8,314 kJ / mol
= 1,987 kal / mol K
T = suhu mutlak (K)
Jika persamaan di atas ditulis dalam bentuk logaritma, maka akan didapat
ln k = ln A - |
.
|

\
|
T R
Ea 1

Pada suhu yang berbeda dapat digunakan persamaan :
ln
|
|
.
|

\
|
2
1
k
k
=
R
Ea
|
|
.
|

\
|
÷
1 2
1 1
T T



9

atau
log
|
|
.
|

\
|
2
1
k
k
=
R
Ea
. 303 , 2
|
|
.
|

\
|
÷
1 2
1 1
T T


 Waktu paruh
Waktu paruh didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan untuk konsentrasi reaktan
berkurang menjadi setengah dari konsentrasi mula-mula.
k
1
=
t1/2
1
ln
2 / 1
1

k
1
=
2 / 1
693 , 0
t



































10

Daftar Pustaka

1. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. Biokimia Harper. Dalam; Mayes
PA. Bioenergetika dan Metabolisme Karbohidrat Serta Lipid. Ed. 25.
Jakarta:EGC.2003.p.114-187.
2. Bioenergetika. 2010. Di unduh dari http://mhanafi123.files.Wordpress.com/2010/0/
bioenegetika.pdf. 3 Agustus 2011.
3. Bioenergetika dan Fosforilasi Oksidatif. 2004. Di unduh dari http://repository.usu.
ac.id/bitstream/123456789/3512/1/biokimia-helvi.pdf. 3 Agustus 2011.
4. Pengertian Dasar Kinetika. 2005. Di unduh dari http://usupress.usu.ac.id/files/Kin
etika%20Kimia;%20Reaksi%20Elementer_Normal_bab%201.pdf. 3 Agustus 2011.

Energi bebas Gibbs (G) Energi bebas : kemampuan melakukan kerja selama reaksi yang berlangsung pada temperatur dan tekanan tetap. Jika ∆S (+)  derajat keacakan sistem meningkat. secara keseluruhan (total) selalu terjadi peningkatan entropi. ADP dapat menerima fosfat berenergi tinggi untuk membentuk ATP 2 . Di sisi lain. 2.  Energi untuk sel Sel adalah sistem yang bekerja pada temperatur tetap (isotermal) dan tekanan tetap. Sel hanya dapat memanfaatkan energi bebas (G). ∆H (-)  ada panas yang dilepaskan ke lingkungan (eksotermik) ∆H (+)  ada panas yang dibutuhkan sistem (endotermik) 3. sistem membutuhkan energi. ∆G (-)  proses berlangsung spontan (eksergonik). Untuk setiap reaksi. ATP merupakan donor fosfat berenergi tinggi (donor energi bebas) bagi senyawasenyawa di bawahnya. terdapat sejumlah energi yang dibebaskan sistem ∆G (+)  proses berlangsung tidak spontan (endergonik). Jika. Jika. ∆G nol  proses berada pada keadaan seimbang. Entalphi (H) Entalphi (H) merupakan panas yang terdapat dalam sistem. Energi di dalam reaksi kimia 1. Entropi (S) Entropi merupakan nilai kuantitatif keacakan sistem. Energi bebas yang diperoleh dikonversi ke senyawaan berenergi tinggi seperti ATP. Sel tidak dapat memanfaatkan energi panas.

Inti dari keseluruhan proses Glikolisis adalah untuk mengkonversi glukosa menjadi produk akhir berupa piruvat. Proses tersebut dinamakan fosforilasi oksidatif. Proses ini berjalan melalui beberapa tahapan reaksi yang disertai dengan terbentuknya beberapa senyawa antara seperti Glukosa 6-fosfat dan Fruktosa 6-fosfat. 1 molekul glukosa yang memiliki 6 atom karbon pada rantainya (C6H12O6 ) akan terpecah menjadi produk akhir berupa 2 molekul piruvat (pyruvate) yang memiliki 3 atom karbom (C3H3O3). Proses ini berlangsung dengan mengunakan bantuan 10 jenis enzim yang berfungsi sebagai katalis di dalam sitoplasma (cytoplasm) yang terdapat pada sel eukaryotik (eukaryotic cells). melainkan dipindah ke pengemban-pengemban khusus antara lain nikotinamida adenin dinukleotida (NAD+) dan flavin adenin dinukleotida (FAD). Pada organisme aerob. Pengemban tereduksi ini selanjutnya memindahkan elektron ke oksigen melalui rantai transport elektron yang terdapat pada sisi dalam membran mitokondria. 1. Pada proses Glikolisis. Glikolisis Tahap awal metabolisme konversi glukosa menjadi energi di dalam tubuh akan berlangsung secara anaerobik melalui proses yang dinamakan Glikolisis (Glycolysis). 2. akseptor elektron terakhir adalah oksigen.Ada 3 sumber utama gugus fosfat berenergi tinggi yang berperan dalam konservasi atau penangkapan energi. Melalui proses glikolisis ini 4 buah molekul ATP & 2 buah molekul NADH (6 ATP) 3 . Selain akan menghasilkan produk akhir berupa molekul piruvat. Namun elektron tidak langsung ditransfer langsung ke oksigen. proses glikolisis ini juga akan menghasilkan molekul ATP serta molekul NADH (1 NADH3 ATP). Gradien proton yang terbentuk sebagai hasil aliran elektron ini kemudian mendorong sintesis ATP dari ADP dan Pi dengan bantuan enzim ATP sintase. Energi bebas untuk menggerakkan proses ini berasal dari oksidasi rantai respirasi di dalam mitokondria dengan menggunakan oksigen. Molekul ATP yang terbentuk ini kemudian akan diekstrak oleh sel-sel tubuh sebagai komponen dasar sumber energi. Fosforilasi oksidatif Fosforilasi oksidatif adalah sumber gugus fosfat berenergi tinggi terbesar dalam organisme aerobik.

Suksisnil koenzim A adalah senyawa tioester yang berenergi tinggi. Pembentukan isositrat dari sitrat melalui Cis-akonit dikatalisis secara reversibel oleh enzim akonitase. 3. Enzim sitrat sintase mengkatalisis reaksi kondensasi antara asetil koenzim-A dengan oksalo asetat menghasilkan sitrat. Reaksi reversibel penambahan satu molekul H2O ke ikatan rangkap fumarat. FAD berperan sebagai gugus penerima hidrogen. Siklus Asam Sitrat (Citric Acid Cycle) yang berfungsi sebagai pusat metabolisme tubuh. Siklus asam sitrat Tahap kedua dari proses respirasi selular yaitu Siklus Asam Sitrat merupakan pusat bagi seluruh aktivitas metabolisme tubuh. menghasilkan malat yg dikatalisis oleh fumarase. Pembentukan GTP dikaitkan dengan reaksi deasilasi suksinil koenzim-A ini disebut “fosforilasi tingkat substrat” Suksinat dioksidasi menjadi fumarat oleh enzim suksinat dehidrogenase dengan FAD sebagai koenzim. Oksidasi isositrat menjadi alfa ketoglutarat berlangsung pembentukan senyawa antara oksalosuksinat yang berikatan dengan enzim isositrat dehidrogenase dengan NAD sebagai koenzim.akan dihasilkan serta pada awal tahapan prosesnya akan mengkonsumsi 2 buah molekul ATP sehingga total 8 buah ATP akan dapat terbentuk. GTP yang terbentuk dipakai untuk sintesis ATP dari ADP dengan enzim nukleosida difosfat kinase. merupakan reaksi yang irreversibel dan dikatalisis oleh enzim alfa ketoglutarat dehidrogenase. piruvat hasil proses glikolisis akan teroksidasi menjadi produk akhir berupa H2O dan CO2 di dalamtahapan proses yang dinamakan respirasi selular (Cellular respiration). Bila oksigen tidak tersedia maka molekul piruvat hasil proses glikolisis akan terkonversi menjadi asam laktat. Selanjutnya suksinil koenzim-A melepaskan koenzim –A dengan dirangkaikan dengan reaksi pembentuk energi GTP dari GDP.karena reaksi berikut 4 . Siklus ini tidak hanya digunakan untuk memproses karbohidrat namun juga digunakan untuk memproses molekul lain seperti protein dan juga lemak. Oksidasi alfa ketoglutarat menjadi suksinat melalui pembentukan suksinil koenzim-A. Tahap akhir. Tahap metabolisme energi berikutnya akan berlangsung pada kondisi aerobik dengan mengunakan bantuan oksigen (O2). L-malat dioksidasi menjadi oksalo asetat oleh enzim L-malat dehidrogenase yg berikatan dengan NAD (reaksi endergonik) atau laju reaksi berjalan ke kanan. Dalam kondisi aerobik.

tetapi harus menjadi komponen suatu sistem eksergonik/endergonik yang berpasangan (coupling). Oksidasi akan selalu disertai reduksi akseptor elektron. Prinsip reaksi berpasangan : reaksi yang secara termodinamika disukai dapat dipakai untuk mendorong terjadinya reaksi yang secara termodinamika tidak disukai.  Kinetika Kinetika : kecepatan dan meknisme reaksi. 5 . Prinsip oksidasi reduksi berlaku pada berbagai reaksi biokimia Banyak oksidasi biologi dapat berlangsung tanpa peran serta molekul oksigen.  Reaksi eksergonik – endergonik o Reaksi berpasangan (Coupled Reaction) Proses endergonik tidak dapat berdiri sendiri.kondensasi oksaloasetat denga asetil koenzim-A yaitu reaksi eksergonik yang irreversibel. Reaksi eksergonik dalam sistem biologik diberi nama katabolisme pemecahan/oksidasi molekul bahan bakar Anabolisme merupakan reaksi endergonik yang meliputi reaksi-reaksi sintesis untuk membentuk berbagai substansi. yaitu  Reduksi – Oksidasi dalam sistem biologis  Oksidasi = pelepasan elektron  Reduksi = pengikatan electron Reaksi oksidasi-reduksi merupakan reaksi kimia yang melibatkan transfer elektron dari satu zat ke zat yang lain. o Metabolisme Metabolisme merupakan kombinasi proses katabolik dan anabolik. Kecepatan reaksi menjelaskan seberapa cepat reaktan dipergunakan atau seberapa cepat produk dihasilkan.

dibandingkan dengan solid berukuran besar. Naiknya temperatur akan menaikan kecepatan reaksi. Katalis terbagi menjadi dua golongan besar. reaksi ini berlangsung sangat lambat. Dengan demikian. katalis dapat diperoleh kembali tanpa mengalami perubahan kimia. ukuran partikel solid yang semakin kecil akan memungkinkan kontak yang lebih efektif. 6 . bahkan pada suhu tinggi sekalipun. Konsentrasi reaktan tinggi apabila berada pada jarak lebih berdekatan dibandingkan dengan konsentrasi rendah.  Katalis Katalis adalah suatu senyawa yang dapat menaikkan laju reaksi.  Temperatur Molekul harus bertumbukan dengan energi yang cukup untuk bereaksi. Setelah reaksi selesai. diperlukan perlakuan kimia selanjutnya untuk memisahkan katalis dari campuran reaksi. maka katalis tidak ditulis pada sisi reaktan atau produk.Faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi :  Konsentrasi Molekul-molekul harus bertumbukan agar terjadi reaksi dalam konteks ini laju reaksi proporsional dengan konsentrasi reaktan. reaksi dapat berjalan lebih cepat. Kecepatan akan bertambah dengan bertambahnya konsentrasi. Katalis Homogen Suatu katalis disebut homogen apabila berada dalam fasa yang sama dengan reaktan maupun produk reaksi yang dikatalisa.  Fase Besarnya jumlah tumbukan antar partikel ditentukan oleh fase fisik partikel tersebut. Sehingga untuk membuat reaksi terjadi. Katalis berperan dengan menurunkan energi aktifasi. Jika reaktan berupa solid. tetapi tidak ikut menjadi reaktan / produk dalam sistem itu sendiri. Tanpa penggunaan katalis. Katalis ini berperan sebagai zat antara dalam reaksi. Kelemahan dari katalis homogen ini adalah ketika reaksi selesai. Peran temperatur adalah meningkatkan energi dan jumlah tumbukan antar partikel. Karena katalis tidak bereaksi dengan reaktan dan juga bukan merupakan produk. Umumnya katalis ditulis di atas panah reaksi yang membatasi sisi reaktan dan produk. tidak diperlukan energi yang lebih tinggi. Partikel dalam fase liquid lebih dekat dari pada fase solid. yaitu 1.

persamaan kecepatan dituliskan sebagai : r = k[A]m[B]n keterangan: k = konstanta kecepatan reaksi m. kecepatan menjadi dua kali lipat. Sedangkan eksponen 1 artinya kecepatan berbanding lurus dengan konsentrasi reaktan. Eksponen nol untuk reaktan berarti kecepatan tidak bergantung pada konsentrasi reaktan. Perubahan konsentrasi dapat berupa penurunan atau kenaikan konsentrasi baik konsentrasi reaktan atau produk.  Kecepatan reaksi (r) merupakan perubahan konsentrasi terhadap waktu. Katalis heterogen biasanya berfungsi sebagai permukaan tempat terjadinya reaksi.2. Orde reaksi tidak berhubungan dengan koefisien reaksi. Reaksi tersebut memiliki orde 1 terhadap reaktan. 7 . Katalis Heterogen Katalis heterogen adalah katalis yang fasanya tidak sama dengan reaktan atau produk reaksi yang dikatalisa. Orde reaksi keseluruhan adalah jumlah seluruh orde reaksi. n = orde reaksi Orde reaksi : mengindikasikan sensitivitas kecepatan terhadap perubahan konsentrasi reaktannya. Contohnya adalah reaksi antara H2 dan O2 pada permukaan logam. Logam berfungsi sebagai permukaan adsorben dimana H2 dan O2 akan menempel dan bereaksi.  Hukum Kecepatan Reaksi Hukum kecepatan reaksi : menggambarkan hubungan antara konsentrasi reaktan dan kecepatan. Jika konsentrasi dikali dua. Misalkan suatu reaksi : A + B  produk Maka. Satuan kecepatan reaksi : Ms-1 atau M jam-1.

Hanya temperatur yang mempengaruhi konstanta kecepatan reaksi (k). Dapat ditulis juga r= k[A]. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan hukum kecepatan konstanta kecepatan (k) adalah : 1. Besaran k tidak bergantung pada konsentrasi dan waktu 3.Contoh : r = k[A] [B]0 m = 1. Dengan persamaan Arhenius : k = A e-Ea/RT dimana k = konstanta laju reaksi A = faktor pra eksponensial Ea = energi aktifasi (kJ/mol) R = tetapan gas ideal = 8. n = 0 Reaksi memiliki orde 1 untuk A dan orde nol untuk B.987 kal / mol K T = suhu mutlak (K) Jika persamaan di atas ditulis dalam bentuk logaritma. Jumlah orde reaksi = 1 + 0 = 1. maka akan didapat ln k = ln A Ea  1    R T  Pada suhu yang berbeda dapat digunakan persamaan : ln    k1  k2  Ea  1 1  =     R  T2 T1     8 . Besaran k bergantung pada orde reaksi total 2. Perlu diingat bahwa orde reaksi harus ditentukan melalui eksperimen. Besaran k merujuk pada temperatur tertentu dan perubahan kecepatan apabila temperatur diubah. Naiknya temperatur menyebabkan kenaikan nikai k. Orde reaksi tidak dapat ditentukan melalui persamaan.314 kJ / mol = 1.

693 t1 / 2 k1 = 9 .303 . k1 = 1 1 ln t1/2 1 / 2 0.R  1 1    T T  1   2  Waktu paruh Waktu paruh didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan untuk konsentrasi reaktan berkurang menjadi setengah dari konsentrasi mula-mula.atau log    k1  k2  Ea =  2.

Daftar Pustaka 1. 2004.usu. 10 . 4.pdf. Pengertian Dasar Kinetika. Ed. 2.ac.Wordpress. 3. Bioenergetika dan Metabolisme Karbohidrat Serta Lipid. 3 Agustus 2011.usu. 3 Agustus 2011. Jakarta:EGC. 3 Agustus 2011. 25. Mayes PA.com/2010/0/ bioenegetika. Di unduh dari http://repository.files. Rodwell VW. Murray RK. Bioenergetika dan Fosforilasi Oksidatif. Mayes PA. Dalam.id/files/Kin etika%20Kimia.2003.%20Reaksi%20Elementer_Normal_bab%201. Di unduh dari http://mhanafi123.id/bitstream/123456789/3512/1/biokimia-helvi. Bioenergetika.p. ac. 2005. Di unduh dari http://usupress.pdf.pdf. Biokimia Harper.114-187. Granner DK. 2010.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful