P. 1
Pemikiran Induktif Dan Deduktif

Pemikiran Induktif Dan Deduktif

|Views: 755|Likes:
Published by zainul mustofa
percobaan ilmiah selalu diikuti dengan pemikiran induktif dan deduktif
percobaan ilmiah selalu diikuti dengan pemikiran induktif dan deduktif

More info:

Published by: zainul mustofa on Mar 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

PENERAPAN PEMIKIRAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF MELALUI PERCOBAAN AYUNAN SEDERHANA DALAM KAJIAN ILMU FISIKA

MAKALAH UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH Dasar-dasar Sains yang dibina oleh Bapak Drs. Kadim Masjkur, M.Pd

Oleh Resa Mahesta Rina Antika Zainul Mustofa (110321419521) (110321419535) (110321419526)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN FISIKA MARET 2012

DAFTAR ISI Halaman sampul ……………………………………………………. Daftar isi……………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN Latar belakang………………………………………………………... Tujuan penulisan……………………………………………………… BAB II PEMBAHASAN Pemikiran induktif dan deduktif……………………………………… 2 Pentingnya Pemikiran Induktif dan Deduktif dalam Percobaan …………. 4 Penentuan Rumus Dasar Ayunan Sederhana Melalui Percobaan………... 4 Penerapan Rumus Ayunan Sederhana dalam Kehidupan ………………… 5 BAB III PENUTUP Kesimpulan…………………………………………………………… Saran…………………………………………………………………….. DAFTAR PUSTAKA………………………………………………… 8 8 9 1

i ii

Rumusan Masalah………………………………………………………... 1 1

i

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam pembelajaran fisika yang dimulai dari sekolah menengah pertama hingga perguruan tinggi, materi tentang ayunan sederhana yang sebagian besar siswa belum sempurna mengerti dan memahami proses ditemukannya berbagai rumus pada pembahasan tersebut. Padahal fisika adalah ilmu yang pembelajarannya menggunakan metode inquiri (penemuan), akibatnya banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam pemahaman tentang hubungan antara periode dengan frekuensi, hubungan antara periode dengan panjang tali, dan hubungan periode dan penentuan gaya gravitasi lokal bumi.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang terpaparkan diatas, rumusan masalah dalam makalah ini adalah 1. Apakah yang dimaksud dengan pemikiran induktif dan deduktif? 2. Bagaimana peran pemikiran induktif dan deduktif dalam percobaan ayunan sederhana? 3. Bagaimana cara menentukan rumus ayunan sederhana melalui percobaan? 4. Bagaimana penerapan rumus ayunan sederhana dalam kehidupan?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah 1. Memahami tentang pemikiran induktif dan deduktif. 2. Mengetahui pentingnya pemikiran induktif dan deduktif dalam percobaan ayunan sederhana. 3. Mengetahui bagaimana penentuan rumus dasar gerak ayunan sederhana melalui percobaan. 4. Memahami penerapan rumus ayunan sederhana dalam kehidupan seharihari 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pemikiran Induktif dan Deduktif Suatu penelitian` pada hakekatnya dimulai dari hasrat keingintahuan manusia, merupakan anugerah Allah SWT, yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaanpertanyaan maupun permasalahan-permasalahan yang memerlukan jawaban atau pemecahannya, sehingga akan diperoleh pengetahuan baru yang dianggap benar. Pengetahuan baru yang benar tersebut merupakan pengetahuan yang dapat diterima oleh akal sehat dan berdasarkan fakta empirik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan pemikiran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah. Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis pemikiran, yaitu pemikiran deduktif dan pemikiran induktif. Pemikiran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pembentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks pemikiran deduktif tersebut, konsep dan teorinya merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Pemikiran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini pemikiran induktif merupakan kebalikan dari pemikiran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memiliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati situasi di lapangan. Dari pengamatan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan 2

mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap suatu gejala. Memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi. Dalam melaksanakan penelitian ilmiah kita memerlukan sarana berpikir ilmiah untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu suatu penelitian dapat dilakukan. Berbagai sarana berfikir ilmiah tersebut adalah: 1. Bahasa Bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif, dan afektif. Fungsi simbolik sangat menonjol dalam komunikasi ilmiah. Bahasa diperlukan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan terutama dalam hal mengkomunikasikan hasil penelitian. Komunikasi ilmiah tersebut harus bersifat reproduktif, artinya informasi yang dikomunikasikan peniliti harus sama dengan informasi yang diterima pihak lain. Hal ini bisa dicapai jika bahasa yang digunakan adalah jelas (eksplisit) dan objektif sehingga tidak terjadi kesalahan pemahaman atau interpretasi. 2. Matematika Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkan makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan padanya. Misal, variable harga barang dilambangkan dengan P, jumlah barang dengan Q, dan sebagainya. Pemberian makna melalui simbol-simbol tersebut akan dibahas dalam pengukuran variabel dan teknik penskalaan di bab-bab selanjutnya. Yang terpenting, matematika digunakan untuk menghilangkan sifat kabur, majemuk, dan emotif dari bahasa verbal. 3. Statistika Pengujian secara empiris meruapakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah. Pengujian tersebut merupakan suatu proses pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis yang akan dibuktikan kebenarannya. Disinilah peranan statistika yaitu dalam proses induksi. Statistika memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi sasaran. Jadi statistika adalah sarana untuk melakukan induksi. 3

Pemikiran deduktif dan induktif seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori (Heru Nugroho; 2001: 6970). 2.2 Pentingnya Pemikiran Induktif dan Deduktif dalam Percobaan Pemikiran induktif dan deduktif dalam suatu percobaan ilmiah sangat diperlukan, bahkan hampir semua penelitian yang menghasilkan teori-teori yang ada berasal dari penelitian dengan pemikiran induktif dan deduktif. Dengan kedua pemikiran ini, suatu percobaan akan menghasilkan suatu kesimpulan atau implementasi yang mendekati kebenaran. Pentingnya pemikiran induktif dan deduktif terwujud ketika suatu penelitian memiliki kesamaan atau keekuivalen dengan berbagai masalah dalam konsep yang sama. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan yang tepat tentang permasalahan tersebut. 2.3 Penentuan Rumus Dasar Ayunan Sederhana Melalui Percobaan Ayunan sederhana adalah benda yang idealnya sebagai sebuah massa titik yang digantungkan pada tali ringan (massa tali diabaikan) dan tidak elastis.

Bandul ditarik sejauh s sehingga membentuk sudut θ. Pada bandul bekerja dua buah gaya, yaitu gaya tegang tali T dan gaya berat bandul (mg) yang arahnya vertikal ke bawah. Komponen gaya berat (mg) yang bekerja pada bandul adalah mg cos θ ini selalu seimbang terhadap gaya tegang tali. Komponen lain adalah gaya pemulih yang bernilai mg sin θ, gaya ini selalu menuju titik kesetimbangan ayunan dan tegak lurus terhadap tegangan tali.

4

Gaya pemulih yang menyebabkan bergetar adalah F= mg sin θ. Jika benda menyimpang sejauh x maka x= l sin θ. Oleh karena gaya (F) sebanding dengan simpangnya (x) maka: F= k.x dengan k = konstanta getar yang besarnya k= 4П2m/ T2 Maka didapatkan, mg sin θ = k. l sin θ k = m.g / l …….persamaan (1) k = 4П2m/ T2….persamaan (2) dari persamaan (1) dan (2) diperoleh 4П2m/ T2 = m.g / l Didapatkan rumus dasar ayunan sederhana yaitu: f = 1/2П(g/l)1/2 dan T = 2П(g/l)1/2 frekuensi dan periode getaran dipengaruhi oleh panjang tali (l) dan percepatan gravitasi bumi(g). 2.4 Penerapan Rumus Ayunan Sederhana dalam Kehidupan Sehari-hari Penerapan ayunan sederhana dalam kehidupan adalah ayunan yang biasanya digunakan anak-anak bermain dan bandul grandfather clock.Grandfather clock mempunyai bandul (pendulum) yang terus bergerak, ke kiri dan ke kanan. Jam ini mempunyai rantai-rantai dengan beban yang harus ditarik tiap beberapa hari. Saat jarum panjang menunjuk angka 12, bila-bila besi pada jam ini akan menghasilkan denting suara yang merdu. Bandul rantai, dan suara merdu inilah yang membuat jam bandul masih tetap diminati hingga sekarang, bukan hanya oleh para pencinta benda antik. Ada dua jenis jam bandul. Jenis pertama menggunakan tenaga yang berasal dari gerakan rantai dan beban. Jenis kedua menggunakan tenaga pegas atau per. Baik jam pegas atau jam rantai memiliki mekanisme pemutar. Pada bagian pemutar ini terdapat roda-roda gigi yang saling bertautan. Diantaranya roda gigi penunjuk detik, menit, dan jam. Tidak ketinggalan pula roda-roda gigi untuk bilah-bilah pada penunjuk waktu. Pada jam bandul yang punya fasilitas lengkap, terdapat juga roda gigi penunjuk hari dan bulan. Karena tidak menggunakan baterai, jam bandul bekerja dengan memanfaatkan tenaga gravitasi atau pegas. bandul memiliki peranan penting. Poros bandul ini 5

terkait dengan bagian yang berfungsi menggerakkan roda gigipenunjuk detik, menit, jam, dan seterusnya. Tampa adanya gerakan bandul jam tidak dapat menunjukkan waktu dengan benar. Bila bandul atau pendulum berhenti bergerak, otomatis jam bandul akan mati. Itu sebabnya, sebeleum bandul berhenti, rantai beban harus ditarik keposisi semula. Gerakan rantai akibat gravitasi akan memutar roda utama yang selanjutnya menggerakkan bandul dan memutar roda gigi. Biasanya rantai harus ditarik 2-3 hari sekali.

sumber gambar : putrigurlztar.blogspot.com

Bandul (eng: Pendulum) merupakan sebuah benda yang terikat oleh seutas tali dan dapat berayun secara bebas dan periodik. Gerak pendulum merupakan gerak yang mempunyai lintasan melengkung. Disebut gerak harmonis sederhana, karena bandul bergerak bolak-balik disekitar titik kesetimbangan. Bandul akan berada pada titik kesetimbangan jika tidak diberikan gaya luar (ditarik atau diberi sentuhan. Pada Jam kakek, bandul terletak di bagian bawah, yang terikat oleh seutas tali sepanjang L. Kita anggap bandul jam bermassa M ini diberi gaya (ditarik sejauh a), maka kini bandul jam tersebut akan berayun sejauh A dari titik setimbangnya. cos a = A/L A = L cos a keterangan: A = Amplitudo (simpangan terjauh) (m) L = panjang tali (m) 6

a = sudut deviasi (o) Jika sebuah benda diberi gaya, maka akan ada sebuah gaya pemulih atau timbal balik. Gaya pemulih inilah yang menyebabkan bandul untuk selalu kembali ke titik setimbang ayunan bandul. Gaya tersebut sebagai konsekuensi gravitasi terhadap benda pada bandul bermassa M dalam bentuk gaya gravitasi Fg yang saling meniadakan dengan gaya yang diberikan.

7

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari makalah ini antara lain : 1. Pemikiran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu

peristiwa umum yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. 2. Pemikiran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa

khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. 3. Pemikiran induktif dan deduktif pada suatu percobaan akan menghasilkan

suatu kesimpulan atau implementasi yang mendekati kebenaran. 4. Dari pemikiran deduktif pada percobaan bandul sederhana, seseorang akan

menghasilkan sebuah perhitungan mengenai amplitudo, frekuensi, periode dan segala sesuatu yang nilainya dapat diukur melalui rumus-rumus yang telah ada. 5. Dari pemikiran induktif pada percobaan bandul sederhana, seseorang

mampu mengetahui proses terjadinya pergerakan bandul dan dapat mengetahui penerapan bandul sederhana dalam kehidupan sehari-hari, misal ayunan anakanak.

3.2 Saran Saran yang dapat diberikan untuk penulisan berikutnya antara lain: Dalam pemecahan masalah seseorang kadang menggunakan pola pikir induktif, kadang deduktif, dan kadang keduanya. Dalam pemecahan masalah kadang sulit memisahkan antara penggunaan pola pikir induktif dan deduktif. Diharapkan kepada pembaca, dalam memecahkan suatu masalah atau pembelajaran khususnya bandul sederhana beracuan dengan penggunaan pola pikir induktif dan deduktif yang keduanya dapat digunakan untuk membangun misalnya suatu konsep fisika berdasarkan pada pengalaman pribadi.

8

DAFTAR PUSTAKA Santoso, slamet. 2008. Penalaran Induktif dan Deduktif, (online), (http://ssantoso.blogspot.com), diakses 5 maret 2012 Adiyani, V. 2011. Aplikasi Ayunan Mekanik: Pendulum Clocks, (online), (http://veethaadiyani.blog.uns.ac.id), diakses 6 maret 2012 Serway A Raymond, John W. Jewett. 2004. Physics for Scientists and Engineers. California: Thomson Brooks

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->