PENGERTIAN USHUL FIQIH DAN AL-AHKAM TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui: Penger tian

Ushul Fiqih, Objek pembahasan Ushul Fiqih, Al-Ahkam, Al-Hakim, Mahkum Bih, Mahkum 'Alaih, Rukhshah dan 'Azimah. BAHASAN A. Pengertian Ushul Fiqih Ushul Fiq ih terdiri atas dua kata, yaitu jama' (plural) dari dan . merupakan bentuk , dan , yang secara etimologi artinya adalah secara terminologi adalah: Adapun , secara etimologi ialah , dan secara terminologi ialah: Maka, ushul fiqih adalah: "Ilmu pengetahuan dari hal kaidah-kaidah dan pembahasa npembahasan yang dapat membawa kepada pengambilan hukum-hukum tentang amal perbu atan manusia dari dalil-dalil yang terperinci". B. Objek Pembahasan Ushul Fiqih Yang menjadi objek pembahasan (maudlu') Ushul Fiqih ialah: dalil-dalil syara' it u sendiri dari segi bagaimana penunjukannya kepada suatu hukum secara ijmâli (menu rut garis besarnya). C. Al-Ahkam Menurut para ahli Ushul Fiqih (Ushuliyyun), yan g dimaksud dengan hukum syar'i ialah: "Khithab pencipta syari'at yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan orang mukallaf, yang mengandung suatu tuntutan, atau pilihan yang menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau pengahalang bagi adan ya sesuatu yang lain". Hukum syar'i dibagi kepada dua macam, yaitu (1) Hukum tak lifi, dan (2) Hukum Wad'i. 1

1. Hukum taklifi. Hukum taklifi adalah khithab syar'i yang mengandung tuntutan u ntuk dikerjakan oleh para mukallaf atau untuk ditinggalkannya atau yang mengandu ng pilihan antara dikerjakan dan ditinggalkannya. Hukum taklifi ada lima macam, yaitu : a. Wajib. Yaitu suatu perbuatan apabila perbuatan itu dikerjakan oleh se seorang maka akan mendapat pahala, dan apabila perbuatan itu ditinggalkan akan m endapat siksa. b. Mandub atau sunnat. Yaitu perbuatan yang apabilan perbuatan it u dikerjakan, maka orang yang mengerjakannya mendapat pahala dan apabila ditingg alkan, maka orang yang meninggalkannya tidak mendapat siksa. c. Haram. Yaitu per buatan yang apabila ditinggalkan, maka orang yang meninggalkannya akan mendapat pahala, dan apabila perbuatan itu dikerjakan mendapat siksa. d. Makruh. Yaitu pe rbuatan yang apabila perbuatan itu ditinggalkan, maka orang yang meninggalkannya akan mendapat pahala dan apabila dikerjakan, maka orang yang mengerjakannya tid ak mendapat siksa. e. Mubah. Yaitu suatu perbuatan yang bila dikerjakan, orang y ang mengerjakan tidak mendapat pahala, dan bila ditinggalkan tidak mendapat siks a. 2. Hukum wadh'i. Hukum wadh'i ialah khithab syara' yang mengandung pengertian bahwa terjadinya sesuatu itu adalah sebagai sebab, syarat atau penghalang sesua tu. a. Sebab. yaitu sesuatu yang dijadikan pokok pangkal bagi adanya musabbab (h ukum). Artinya dengan adanya sebab terwujudlah musabbab (hukum) dan dengan tiada nya sebab, tidak terwujudlah suatu musabbab (hukum). Oleh karena itu, sebabnya h aruslah jelas lagi tertentu dan dialah yang dijadikan oleh Syari' sebagai 'illat atas suatu hukum. b. Syarat. Yaitu sesuatu yang tergantung kepada adanya masyru t dan dengan tidak adanya, maka tidak ada masyrut. Dengan arti bahwa syarat itu tidak masuk hakikat masyrut. Oleh karena itu, tidak mesti dengan adanya syarat i tu ada masyrut. c. Mani' (Penghalang). Yaitu sesuatu yang karena adanya tidak ad a hukum atau membatalkan sebab hukum. 2

D. Al-Hakim Al-Hakim ialah pihak yang menjatuhkan hukum atau ketetapan. Tidak ad a perselisihan di antara para ulama bahwa hakikat hukum syar'i itu ialah khithab Allah yang berhubungan dengan amal perbuatan mukallaf yang berisi tuntutan, pil ihan atau menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau mani' bagi sesuatu. Demi kian juga tidak ada perselisihan di antara mereka bahwa satu-satunya Hakim adala h Allah. E. Mahkum Bih Mahkum bih adalah perbuatan-perbuatan mukallaf yang dibebani suatu hukum (perbuatan hukum). Tidak ada pembebanan selain pada perbuatan. Artinya be ban itu erat hubungannya dengan perbuatan orang mukallaf. Oleh karena itu apabil a Syari' mewajibkan atau mensunnahkan suatu perbuatan kepada seorang mukallaf, m aka beban itu tak lain adalah perbuatan yang harus atau seyogianya dikerjakan. F . Mahkum 'Alaih Mahkum 'alaih ialah mukallaf, orang balig yang berakal yang dibe bani hukum. G. Rukhshah dan 'Azimah Rukhshah ialah ketentuan yang disyari'atkan oleh Allah sebagai peringan terhadap mukallaf dalam hal-hal yang khusus. Sedangk an 'azimah ialah peraturan syara' yang asli yang berlaku umum. Artinya ia disyar i'atkan agar menjadi peraturan yang umum bagi seluruh mukallaf dalam keadaan yan g biasa. Rangkuman Ushul Fiqih adalah ilmu pengetahuan dari hal kaidah-kaidah da n pembahasanpembahasan yang dapat membawa kepada pengambilan hukum-hukum tentang amal perbuatan manusia dari dalil-dalil yang terperinci. Objek pembahasan Ushul Fiqih ialah: dalil-dalil syara'. Hukum syar'i ialah Khithab pencipta syari'at y ang berkaitan dengan perbuatanperbuatan orang mukallaf, yang mengandung suatu tu ntutan, atau pilihan yang menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau pengahal ang bagi adanya sesuatu yang lain. Hukum syar'i dibagi kepada dua macam, yaitu ( 1) Hukum taklifi, dan (2) Hukum Wad'i. 3

Al-Hakim ialah pihak yang menjatuhkan hukum atau ketetapan. yaitu Allah Swt. Mahkum 'alaih adalah mukallaf. Mahkum bih. Rukh shah ialah keringan hukum. 3. Hakim. Dan 'azimah ialah peraturan syara' yang asli yang ber laku umum. Jelaskan pengertian Ushul Fiqih secara bahasa da n istilah! 2. dan Mahkum 'alaih! 4 . Bedakan hukum taklifi dan hukum wadhi'y. Jelaskan pengertian Hu kum. Tugas Terstruktur 1. Mah kum bih adalah perbuatan-perbuatan mukallaf.

Al-Nahyu dan Kaidah-kaidahnya 5 . 4. 6. (4) Jumlah khabariyah (kalimat berita) yang diartikan selaku jumlah insaniyah (kalimat yang mengandung tuntutan). 7. B. (2) Fi'il mudhari' yang dimasuki lam al-amr. dan al-Nahyu dan kaidah-kaidahnya. 9. BAHASAN A. (3) Sesuatu yang diperlakuk an sebagai fi'il amr. Al-Amr dan Ka idah-kaidahnya Al-Amr ialah suatu lafaz yang dipergunakan oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya untuk menuntut kepada orang yang lebih rendah derajatnya aga r melakukan suatu perbuatan.AL-AMR DAN AL-NAHYU TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui al-Amr dan kaidahkaidahnya. 2. Kaid ah-kaidah al-Amr. 8. seperti isim fi'il. 1. 3. 5. Shigat (bentuk-bentuk) lafaz amr itu ialah: (1) Fi' il amr.

2. 3. 4. 5. Jelaskan pen gertian al-Amr dan al-Nahyu! 2. Dan al-Nahyu ialah sua tu lafaz yang digunakan untuk menuntut agar meninggalkan suatu perbuatan.Al-Nahyu ialah suatu lafaz yang digunakan untuk menuntut agar meninggalkan suatu perbuatan. Rangkuman Al-Amr ialah suatu lafaz yang diperg unakan oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya untuk menuntut kepada orang yan g lebih rendah derajatnya agar melakukan suatu perbuatan. Al-Amr dan al-Nahyu mempunyai kaidah-kaidah yang dapat digunakan untuk pengambilan huk um-hukum dari dalil-dalil tafshili (terperinci Tugas Terstruktur 1. Kaid ah-kaidah al-Nahyu 1. Cari contoh dalam Alquran dan Hadis tentang al-A mr dan al-Nahyu. masing-masing dua buah! AL-'AM DAN AL-KHASH TUJUAN 6 . Bentuk-bentuk lafaz al-Nahyu adalah: (1) Fi'il Mudhari' yang diserta i la-nahiyah. (2) Jumlah khabariyah yang diartikan selaku jumlah insaniyah.

Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui al-'Am dan kai dahkaidahnya, serta Khash Takhshish dan macam-macamnya. BAHASAN A. Al-'Âm dan kaid ah-kaidahnya Lafaz 'am ialah yang sengaja diciptakan oleh bahasa untuk menunjukk an satu makna yang dapat mencakup seluruh satuan-satuan yang tidak terbatas dala m jumlah tertentu. Lafaz-lafaz yang digunakan untuk memberi faedah 'am antara la in: (1) Lafaz kullun dan jamî'un. (2) Lafaz jama' yang di-ta'rif-kan dengan idhafa t atau dengan alif-lam ( ) jinsiyah. (3) Isim mufrad yang di-ta'rif-kan dengan alif-lam jinsiyah. (4) Isimisim maushul, seperti al-ladzi, al-ladzina, al-lati, al-la'i, maa dan lain sebag ainya. (5) Isim-isim isyarat, seperti man, ma, dan ayyuma. (6) Isim-isim istifha m (untuk bertanya), seperti man (siapakah), ma dza (apakah), dan mata (kapan). ( 7) Isim nakirah dalam susunan kalimat nafi (negatif). Macam-macam 'am 1. 'Âm yurâdu bihi al-'âm. Yaitu 'am yang tidak disertai qarinah yang menghilangkan kemungkinan untuk dikhususkannya. 2. 'Âm yurâdu bihi al-khusus. Yaitu 'am yang disertai qarinah yang menghilangkan arti umumnya dan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan 'am i tu adalah sebagian dari satunya. 3. 'Âm makhshush. Yaitu 'am mutlak. Am yang tidak disertai qarinah yang menghilangkan kemungkinan dikhususkan dan menghilangkan k eumumannya. Pada kebanyakan nashnash yang didatangkan dengan shigat umum tidak d isertai qarinah, sekalipun qarinah lafzhiyah (tertulis), 'aqliyah (dalam pemikir an) atau 'urfiyah (adat kebiasaan) yang menyatakan keumumannya atau kekhususanny a. Lafaz-lafaz 'am semacam ini adalah jelas menunjukkan keumumannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Kaidah-kaidah ‘Am 1. 7

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. B. Khash Takhshish dan Macamnya Lafaz khash ialah lafaz yang diciptakan untuk memberi pengertian satu satuan yang tertentu. Baik menunjuk pribadi seseorang, seperti lafaz Muhammad, atau menunjuk macam sesuatu, seperti lafaz insan (manusi a) dan rajulun (orang laki-laki), atau menunjuk jenis sesuatu, seperti lafaz hay awan (hewan), atau menunjuk benda konkrit atau abstrak, seperti lafaz 'ilm (ilmu ) dan jahl (kebodohan), atau penunjukkan arti kepada satu satuan itu secara haki ki atau i'tibari (anggapan) seperti lafaz-lafaz yang diciptakan untuk memberi pe ringatan banyak yang terbatas, seperti lafaz tsalasah (tiga), mi'atun (seratus), jam'un (seluruhnya) dan fariq (kelompok). Hukum lafaz khash Lafaz khash dalam n ash syara' adalah menunjuk kepada dalalah qath'iyyah terhadap makna khusus yang dimaksud dan hukum yang ditunjukkannya adalah qath'iy, bukan zhanniy, selama tid ak ada dalil yang memalingkannya kepada makna yang lain. Macam-macam Khash 1. Mu ttashil (yang bersambung). Yakni mukhashshish-nya ada dalam susunan yang menjadi satu dengan yang umumnya. Khash muttashil terdapat berbagai macam: a. Istitsna', yaitu kata 'illa' ( b. Syarath (syarat). c. Shifat (kata sifat). d . Gayah, yaitu kata 'hatta' ( ). ) dan 'ila' ( ). 8

e. Badlul ba'dhi (pengganti). f. Hal (keadaan). 2. Munfashil (yang terpisah). Ya kni mukhashshish-nya terdapat pada tempat lain, tidak bersama dengan lafaz yang umum. Khash munfashil juga terdapat berbagai macam: a. Takhshish al-kitab bi alkitab. b. Takhshish al-kitab bi al-sunnah. c. Takhshish al-sunnah bi al-kitab. d . Takhshish al-sunnah bi al-sunnah. e. Takhshish bi al-qiyas. f. Takhshish bi al -'aql. g. Takhshish bi al-hiss. h. Takhshish bi al-siyaq Rangkuman Lafaz 'am ial ah yang sengaja diciptakan oleh bahasa untuk menunjukkan satu makna yang dapat m encakup seluruh satuan-satuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu. 'Am ter bagi kepada tiga macam, yaitu 'Âm yurâdu bihi al-'âm, 'Âm yurâdu bihi al-khusus, dan 'Âm mak hshush. Dan lafaz khash ialah lafaz yang diciptakan untuk memberi pengertian sat u satuan yang tertentu. Khash terbagi pada dua macam, yaitu Muttashil dan Munfas hil. Soal Terstruktur 1. Jelaskan pengertian al-'Am dan al-Khash! 2. Sebutkan ma cam-macam al-'Am dan al-Khash! 3. Buatkan contoh al-'Am dan al-Khash dari Alqura n! MUJMAL DAN MUBAYYAN ZHAHIR DAN MUAWWAL TUJUAN 9

Kemujmalan suatu lafaz dengan sebab yang mana pun juga dari tiga macam sebab tersebut di atas tidak ada jalan lain untuk memberikan penjelasan atau menghilangkan kemujmalannya ataupun mentafsirkan apa yang dikehendakinya. Lafaz itu musytarak yang sulit ditentuk an artinya. maka la faz mujmal tersebut tergolong lafaz musykil dan terbukalah jalan untuk membahas dan berijtihad guna menghilangkan kemusykilannya. bukan dari luar. maka lafaz mujmal tersebut tergolong lafaz mujmal mufa ssar. Oleh karena itu. Sedangkan mubayyan ialah suatu perkataan yang terang dan jelas maksudnya tanpa memerlukan penjelasan dari lainnya. Makna lafaz-lafaz yang menurut makna lugawi (bahasa) itu dipindah oleh Syari' kepada makna yang pantas untuk istilah syari'at. sedang bayan itu tidak cukup untuk menghilangkan kemujmalannya. Apabila Syari' mendatangkan suatu bayan untuk lafaz mujmal. Mujmal dan Mubayyan Mujmal ialah lafa z yang shigat-nya sendiri tidak menunjukkan makna yang dikehendaki dan tidak pul a didapati qarinah lafzhiyah (tulisan) atau haliyah (keadaan) yang menjelaskanny a. haji dan lain sebagainya. A pabila Syari' mendatangkan penjelasan (bayan) untuk lafaz mujmal dengan bayan ya ng sempurna lagi qath'iy. disebabkan: 1. shiyam dan lain sebagainya adalah lafaz-lafaz yang dipindahkan oleh Syari' dari makna menurut bahasa kepada makna yang khash dalam istilah syari'at. bul a tidak disertai qarinah yang dapat menyampaikan maksud tersebut dinamai mujmal. melainkan sudah memadailah suatu ijtihad dari seora ng mujtahid. bayan-nya tid ak tergantung kepada Syari'. zakat. Kekaburan makna lafaz mujmal lantaran lafaz sendiri. 3. setiap lafaz yang tidak dapat dipahami maksudnya dengan sendirinya. Misalnya lafaz sha lat. 2. Makna lafaz-lafaz yang menurut makna yang umum itu dipergunakan oleh Syari' sendiri untuk suatu makna yang khusus. Jadi. selain kembali kepada Syari' yang memujmalkannya sendiri. seperti bayan yang datang secara terperinci terhadap perintah shalat. serta Zhahir dan Muawwal BAHASAN A. 10 . zaka t.Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui Mujmal dan Mub ayyan.

apabila hukum tersebut berkairan dengan hukum furu' (cabang) yang dapat berubah menurut kemaslahatannya.Macam-macam Bayan 1. men-ta'wil-kan atau me-nasak h-kannya. selama tidak ada dalil yang menafsirkan. Bila ada dalil yang meng-taqyidkannya. Zhahir dan Muawal Zhahir ialah lafaz yang menunjuk kepad a suatu makna yang dikehendaki oleh shigat lafaz itu sendiri. 4 . Jika ada dalil yang men-t akhshish-kannya.. 2. tetapi bukanlah ma kna itu yang dimaksud oleh siyaq al-kalam dan lafaz itu sendiri masih dapat di-t a'wil-kan. 4. selama tidak ada dalil yang men-takhshish-kannya. Dalam keadaan umum ('am) maka ia tetap dalam keumuman nya. diamalkan dalil y ang meng-taqyid-kannya. Dengan diam. Dengan perbuatan. selama tidak ada qarinah yang memaksa untuk dialihkan kepada arti yang majazi. Dengan isyarat. 2. yaitu pada zaman Rasulullah Saw. Dengan ma cam-macam takhshish. Hu kum Lafaz Zhahir Lafaz zhahir itu wajib diamalkan sesuai dengan makna yang dikeh endakinya. Dalam keadaan mutlaq. Dengan meninggalkan perbuatan. hendaklah diartikan menurut arti yang haqiqi itu. Pada masa pemb inaan hukum syari'at. Dengan tulisan. B. ditafsirkan dan dapat pula di-nasakh-kan pada masa Rasulullah Saw. Dengan perkataan. hendaklah diamalkan sesuai dengan mukhashish-nya. 3. selama tidak ada dalil yang meng-taqyid-kannya (me mbatasi kemutlakannya). Mempunyai arti hakikat. lafaz zhahir itu dapat d i-nasakh dalalahnya. 3. 11 . 7. Artinya hukum yang dipetik dari lafaz zhahir dapat diganti dengan hukum yang berlainan. Oleh karena itu apabila lafaz zhahir itu : 1. ma ka tetap dalam kemutlakannya. 6. 5.

Harus mempunyai keterangan atau jalan yang menunjukkan bahwa ia boleh diartikan demik ian. istilah-ist ilah yang terpakai dalam syariat. Zhahir ial ah lafaz yang menunjuk kepada suatu makna yang dikehendaki oleh shigat lafaz itu sendiri. Perkataan yang ditakwilkan disebut mu'awwal. 2. Perkataan yang ditakwilkan disebut mu'aw wal. Syarat-syarat Ta'wil 1. Sesuai dengan penggunaan bahasa (Arab).Ta'wil ialah memindahkan suatu perkataan dari makna yang terang (zhahir) kepada makna yang kepada arti atau makna lain. Sebutkan macam-macam Bayan. Jelaskan pengertian Zhahir dan Ta'wil! 3. Jelaskan pengertian Mujmal dan Mubayyan! 2. Dan Ta'wil ialah memindahkan suatu perkataan dari makna yang terang (z hahir) kepada makna yang kepada arti atau makna lain. dan sy arat-syarat Ta'wil ! MANTHUQ DAN MAFHUM MUSYTARAK DAN MACAM-MACAMNYA TUJUAN 12 . dan dengan kebiasaan yang dipakainya. Rangkuman Mujmal ialah lafaz yang shigat-nya sendiri tidak menunjukkan makn a yang dikehendaki dan tidak pula didapati qarinah lafzhiyah (tulisan) atau hali yah (keadaan) yang menjelaskannya. Sedangkan mubayyan ialah suatu perkataan yang terang dan jelas maksudnya tanpa memerlukan penjelasan dari lainnya. Tugas Terstruktur 1.

Manthuq dan Mafhum Manthuq artinya yang diucapkan. Macam-macam Mafhum 1. Mafhum muwafaqah dibagi kepada dua bagian. yaitu Fahwal Khithab dan Lahnul Khithab. Mafhum muwafaqah yang tergolong dalam Fahwal khitha b ialah apabila „illat hukum yang dijadikan dasar untuk mempersamakan hukum perbua tan yang tidak disebutkan oleh nash kepada perbuatan yang telah ditetapkan hukum nya oleh nash itu lebih tinggi tarafnya. 13 .Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui Manthuq dan Ma fhum. yang dimaksud dengan manthuq ialah suatu la faz atau susunan menurut sebagaimana yang diucapkan seseorang. Sedangkan Mafhum artinya yang dipahami. Sedangkan Lahnal khithab tarafnya sama. BAHASAN A. M aka. Yaitu menetapkan lawan hukum bag i maskut „anhu dengan melalui suatu sifat yang terdapat dari manthuq bih. inilah yang dise but mafhum. Macam-macam Mafhum Mukhalafah a. serta Musytarak dan macam-macamnya. Mafhum Mukhalafah Mafhum mukhalafah ialah penetapan lawan hukum yang diambil dari dalil yang disebutkan dalam nash (manthuq bih) kepada suatu yang tidak dis ebutkan dalam nash (maskut „anhu). Mafhum muwafaqah ialah mafhu m kesesuaikan. Mafhum Washfi. Dalam Ushul. Dengan kata lain bahwa hukum yang ditetapkan ol eh maskut „anhu adalah berlawanan dengan hukum yang ditetapkan oleh manthuq bih. Yaitu jika hukum yang diperoleh sesuai dengan hukum dari lafaz ya ng disebutkan (manthuq). yaitu sesuatu ketentuan yang dipahami dari manthuq itu. baik hukum itu sesuai dengan hukum dari lafaz yang disebutkan maupun berbeda. suatu hukum yang diperoleh bukan dari lafaz yang disebutkan. Mafhum Muwafaqah. 2.

Dengan demikian para ahli bahasa memasukannya ke dalam gologan lafaz musytarak. Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dengan melalui sua tu gayah (batasan) yang terdapat dalam manthuq bih. Pemakaia n secara majazi ini masyhur pula. Mafhum „adad. Mafhum syarat. Lafaz yang diciptakan menurut hakikatnya untuk satu makna. c. Lafaz Musytarak d iciptakan untuk beberapa makna yang penunjukannya kepada makna itu dengan jalan bergantian. Yaitu menetapka n lawan hukum maskut „anhu dari hukum manthuq bih yang dikaitkan dengan isim „alam ( nama orang). kemudian sampai kepada kita d engan kedua makna tersebut tanpa ada keterangan dari hal perbedaan yang dimaksud oleh penciptanya. aktivitas. 2. tidak sekaligus. Mafhum gayah. Lafaz itu di gunakan oleh suatu suku bangsa (qabilah) untuk makna tertentu dan oleh suku bang sa yang lain digunakan untuk makna yang lain lagi. Mafhum laqab. isim washf (menunjukkan kualitas. 14 . ila dan lain-lain) adalah berlawanan dengan hukum dari nash sebelum adanya gayah. Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dari hukum manthuq bih yang dibatasi dengan suatu syarat. kemudian dipakai pula kepada makna lain tetapi secara majazi (kiasan). Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dari manthuq bih yan g dibatasi dengan bilangan yang sudah tertentu. Lafaz tersebut m emerlukan penjelasan yang seksama apa yang dimaksud dengannya. sehingga orang-orang menyangka bahwa pemakaian nya dalam arti yang kedua itu adalah hakiki. bukan majazi. Sebab-sebab Lafaz Menjadi Musytarak 1. pernyataan) dan isim j ins (nama-nama untuk material).b. e. Musytarak Lafaz Musytarak ialah lafaz yang mempunyai dua arti atau lebih y ang berbeda-beda. f. Artinya hukum yang ditetapka n setelah adanya suatu gayah (hatta. Yaitu menetapkan lawan hukum ba gi maskut „anhu dari hukum manthuq bih yang di-hashr-kan (khususkan hanya untuknya ). Misalnya: lafaz “quru'” mempunyai arti “suci” dan “haid”. Mafhum hashr. B. d.

Lafaz itu semula diciptakan untuk satu makna. Mafhum dibagi pada dua macam. kemudian dipindahkan kepada ist ilah syari'at untuk arti yang lain. yaitu Mafhum muwafaqah da n Mafhum mukhalafah. maka hendaklah diambil makna menurut istlah syar'i. Lafaz Musytarak ialah lafaz yang mempunyai dua arti atau le bih yang berbeda-beda.3. Sebutkan macam-macam Mafhum ! 3. kemudian menurut arti istilah syar'i ialah shalat seb agaimana yang kita kenal sekarang. Tugas Terstruktur 1. Misalnya lafaz “shalat”. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Ma nthuq dan Mafhum ! 2. menurut arti bahasa sem ula artinya adalah berdoa. Hukum Lafaz Musytarak Apabila persekutuan art i lafaz musytarak pada suatu nash syar'i itu terjadi antara makna lugawi dengan makna istilah syar'i. Rangku man Manthuq ialah suatu lafaz atau susunan menurut sebagaimana yang diucapkan se seorang. yaitu sesuatu ketentuan yang di pahami dari manthuq itu. Sedangkan Mafhum artinya yang dipahami. Jelaskan apa yang dimaksu d dengan Musytarak ! NASAKH DAN TARJIH 15 .

BAHASAN A. baik berupa kalimat atau bukan. Nasakh bisa berlaku setelah hukum syari'at yang ditunjuk oleh dalil yang datang lebih dahulu diberlakukan. Pen dapat pertama menyatakan. Dalam menasakh Kitab dengan Sunah ini t erdapat dua macam pendapat di antara para ahli Ushul tentang boleh tidaknya. Dengan demikian pengertian pen ghapusan hukum syari'at oleh Syar'i meliputi menghapus hukum syari'at sebelum Is lam oleh syari'at Islam dan menghapuskan sebagian hukum syari'at Islam oleh seba gian hukum syari'at Islam yang lain. bukan sunah Ahad. serta Tarjih dan macam-macamnya. Macam-macam Nasakh 1. menasakh Alquran dengan Sunah diperkenankan. Sedang pendapat kedu a menyatakan. 3. Berlainan dengan Takhsish al-'am. selalu bersama-sama datangnya dengan lafaz 'am itu. 16 . asalkan d engan Sunah Mutawatir atau Sunah Masyhur. 2. Nasakh dan Macammacamnya Perkataan nasakh yang menurut bahasa berarti menghilangkan). Pengertia n hukum syari'at hendaklah diartikan secara luas. karena derajat Alq uran lebih tinggi dari pada Sunah. Naskhul sunnah bis-sunnah. sehingga mencakup tidak saja s yari'at Islam tetapi juga syari'at sebelum Islam. Naskhul sunnah b il-kitab. Naskhul kitab bil kitab. menasakh Alquran dengan Sunah tidak dibolehkan. Karena maksud takhshish itu sejak s emula memberlakukan sebagaia satuan artinya. 4. Naskhul kitab bis-sunnah. yang mukhashshish-nya.TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui Nasakh dan macammacamnya. Padahal syarat nasikh itu adalah yang lebih t inggi derajatnya atau sepadan. oleh para ahli Ushul Fiqih diartikan dengan: (membatalkan dan “Penghapusan hukum Syar'i dengan suatu dalil syar'i yang datang kemudian”.

B. 8. 4. Syarat-syarat Tarjih 1. Tarjih bi hasb al-umur al-kharijah. Naskhul ijma' bil-ijma'. Naskhul qiyas. 7. Adanya persamaan dalam kekuatannya. seperti Hadis ahad atau kepada dalil-dal il zhanniy aldalalah (dalil yang petunjuk isinya zhanni). Oleh karena itu tidak te rjadi ta'arudh antara Alquran (yang qath'iy al-tsubut) dengan Hadis ahad (yang z hanniy al-tsubut). 3. Kare na dalam hal semacam ini Hadis mutawatirlah yang harus didahulukan. Tarjih b i i'tibar al-madlul. maka tidak ada ta'arudh. 2. Tarjih dan Macam-macamnya Tarjih diartikan dengan: menjadi kan sesuatu lebih kuat atau mempunyai kelebihan dari pada yang lain. jika yang satu d alil itu Hadis mutawatir dan yang lain Hadis ahad. Naskhun nas bil-ijma'. 6. Sebagian ul ama membuat batasan tarjih ialah menyatakan keistimewaan salah satu dari dua dal il yang sama dengan suatu sifat yang menjadikan lebih utama dilihat dari yang la in. 2.5. Tarjih bi i'tibar al-isnad. Tarjih ini tidak akan dapat dipakai selain kepada dalil-dalil zhanniy al-tsu but (status ketetapan dalilnya zhanni). Dengan demikian tarjih itu hanya terjadi pada nash-nash Alquran dan Hadis mutaw atir yang dalalahnya zhanniyah atau Hadis-hadis ahad yang dalalahnya zhanniyah a tau qath'iyyah. Tarjih bi i'tibar al-matan. seperti Alquran dan Ha dis mutawatir yang berdalalah zhanni atau Hadir ahad yang dalalahnya zhanni itu. Naskhul Ijma' bin-nash. Jadi. Macam-macam Tarjih 1. Adanya persamaan antara dua dalil terseb ut tentang ke-tsubut-annya (status ketetapan dalilnya). Rangkuman 17 .

dan Naskhul qiya s. Naskhul ijma' bilijma'. Naskhul sunnah bis-sunnah. Tarjih bi i'tibar al-matan. yaitu: Naskhul kitab bil kitab. Sebutkan macam-macam Nasakh dan Tarjih ! ALQURAN DAN AL-SUNNAH 18 . yaitu: Tarjih bi i'tibar al-is nad. Tugas Terstruktur 1. Naskhul sunnah bil-kitab. Naskhu l kitab bis-sunnah. Tarjih terbagi kepada beberapa macam. Jelaskan pengertian Nasakh ! 2. Naskhun nas bil-ijma'. dan Tarjih bi hasb al-umur al-kharijah. Jelas kan pengertian Tarjih ! 3. Nasakh terbagi pada beberapa macam. Tarjih ialah menjadikan sesuatu lebih kuat atau mempunyai kelebihan dari pada yang lain. Tarjih bi i'tibar al-madlul. Naskhul Ijma' bin-nash.Nasakh ialah penghapusan hukum Syar'i dengan suatu dalil syar'i yang datang kemu dian.

Hukum-hukum Amaliyah. Alquran dalam menetapkan hukum. Tinjauan Bahasa Kata Alquran berasal dari ka ta nya / Qara'a artinya 'membaca'. Alquran dalam menetapkan hukum Kebijaksanaan Alquran dalam menetapkan hukum menggunakan prinsip: a. dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengert ian Alquran. hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia. c. Alquran memberikan hukum sejalan dengan kemaslahatan manusia. pengertian al-Sunnah. Al quran Sumber Hukum Islam Pertama 1. Memberikan kemudahan dan tidak menyulitkan. Hukum dalam Alquran a. 2. Hukum-hukum Khuluqiyyah. bila membacanya mengandung nilai ibadah. tertulis dalam mushhaf berbahasa Arab. yaitu hukum yang berhubungan dengan akhlak. kedudukan al-Sunnah terhadap Alquran. c. Secara istilah Alquran adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. macam-mac am al-Sunnah. Bertahan dalam me nterapkan hukum d. serta perbedaan hadits dan sunnah. BAHASAN A. Menyedikitkan tuntutan. hukum dalam Alquran. Bentuk mashdarartinya 'bacaan' dan 'apa yang tertulis padanya'. Kehujjahan Alquran 19 . yang sampai kepada kita dengan jalan muta watir. 3. kehujjahan alSunnah. kehujjahan Alq uran. Hukum-hukum I'tiqadi yyah. b. dilalah alhadits. b. Alquran dalil kulli dan juz'i. Hukum amaliyah ini ada dua: Mengenai Ibada h dan Mengenai muamalah dalam arti yang luas. 4. Alquran dalil qath'i dan zhanni. yaitu hukum yang berhubungan dengan keimanan.

dan ini memberi keyakinan bahwa Alquran itu benar-benar datang dari Allah melalui Ma laikat Jibril kepada Muhammad saw. Hukumhukum yang rinci ini. Mukzijat Alquran menurut para ahli ushul fiqh dan ahli tafsir terlihat ke tika ada tantangan dari berbagai pihak untuk menandingi Alquran itu sendiri sehi ngga para ahli sastra Arab di mana dan kapan pun tidak bisa menandinginya. 5. Alquran itu diturunkan kepada Rasulullah saw diketahui secara mutawatir. anta ranya. hukum-hukum yang dikan dung Alquran ada kalanya bersifat qath'i dan ada kalanya bersifat zhanni (relati f benar). dan muthlaq. umum. b. menurut para ahli ushul fiqh sebagai hukum taabbudi. yang membawa risalah ilahi dengan satu perbuatan di luar kebiasaan umat ma nusia. 6. dan muthlaq 20 . Alquran Dalil Kully dan J uz'i Alquran sebagai sumber utama hukum Islam menjelaskan hukum-hukum yang terka ndung di dalamnya dengan cara : a. Penjelasan Alquran terhadap sebagian besar hukum-hukum itu. Mukzijat Alquran juga merupakan dalil yang pasti tentang kebenaran Alquran da tang dari Allah swt.a. dari seg i turunnya berkualitas qath'i (pasti benar). Al quran Dalil Qath'i dan Zhanni Alquran yang diturunkan secara mutawatir. c. yang dikenal sebagai orang yang paling diperc aya. Ayat yang bersifat qath'i adalah lafal-lafal yang mengandung pengertia n tunggal dan tidak bisa dipamahi makna lain darinya. Adapun ayat-ayat yang meng andung hukum zhanni adalah lafal-lafal yang dalam Alquran mengandung pengertian lebih dari satu dan memungkinkan untuk dita'wilkan. Banyak ayat yang menyatakan bahwa Alquran itu datangnya dari Allah. bersifat global / kully. umum. Akan tetapi. Penjelasan rinci (zuj'i) terhadap sebagian hu kum-hukum yang dikandungnya. Mukzijat Alquran bertujuan untuk menjelaskan kebenaran Nabi saw. b. Untuk hukum-hukum yang bersifat global. yang tidak bisa dimasuki oleh logika.

Dalil Al-Sunnah. Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar. Dalil Alquran. dan membatasinya. mereka bertanya kepada sahabat lain mungkin di antara mereka ada ya ng hafal dan ingat. Kemudian hal tersebut dijadikan ketetapan hukum sesuai yang disampaikan sahabat kepadanya. Ijma Shahabat. Tidak ada seorang pun dari antar a mereka yang menolak dan mengingkari bahwa sunnah Rasulullah wajib diikuti.ini. Tinjauan Bahasa Sunnah secara bahasa be rarti 'cara yang dibiasakan' atau 'cara yang terpuji'. perbuat an atau persetujuan. juga Umar bin K hatab dan para sahabat lain serta para Tabi'in. “Semua yang bersumber dari Nabi saw. para sahabat jika mendapatkan satu permasalahan. dan jika tidak mendapatkan d ari Alquran. Setelah wafatnya Rasulullah saw. Rasulullah saw. Hal inilah yang diungkapkan Alquran dalan surat al-Nahl : 44 B. Kehujjahan Sunnah Dalil-dalil yang menetapkan Sunnah dapa t jadi hujjah sebagai sumber hukum: a. misalnya dalam Ali Imran: 32: b. = baru. mereka mencarinya dari Alquran. Al-Sunnah Sumber Hukum Islam Kedua 1. di antaranya : c. yang berarti: Secara istilah menurut ulama ushul fiqh: = dekat. = berita. selain Alquran baik berupa perkataan.” 2. 21 . Sunnah lebih umum disebut hadis. mengkhususkan. melalui sunnahnya bertugas menjelaskan.

Alquran mengharamkan t entang bangkai. Misalnya. tidak terperinci baik caranya maupun syarat-syaratnya. Rasulullah melarang untuk binatang buas dan yang bertaring kuat. kemudian al-Sunnah mengkhususkan dengan m emberikan pengecualian kepada bangkai ikan laut. Hal ini perlu pada penjelasan sehingga tidak salah dalam melaksanakannya. Sebagai Muaqqid.an yang belum je las. yang didengar a tau disampaikan oleh seorang atau beberapa orang sahabat kepada yang lain. Yaitu menguatkan hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan Alquran. maka kehadira n sunnah merupakan penjelas terhadap kemujmalan Alquran. 22 . dimana hal ini tidak disebutkan d alam Alquran. 4) Me nciptakan hukum baru. Misalnya. seperti dua berita yang berlawan an dan berita yang menyalahi ketentuan-ketentuan syara. Kedudukan Al-Sunnah terhadap Alquran a. Sunnah Qauliyah. b. Seba gai Bayan. dalam hal ini ada tiga hal : 1) Memberikan perincian terhadap ayat-ayat Alq uran yang masih mujmal. dan burung yang berkuku kuat. Alquran memerintahkan kepada manusia beberapa kewajiban. Lalu Al-Su nnah membatasinya. darah dan daging babi. 3. dipe rjelas dengan Sunnah. Yaitu al-Sunnah menjelaskan terhadap ayat-ayat Alqur. 3) Mentakhshishkan keumuman.d. Logika. 4. Alq uran memerintahkan berwasiat. Sunnah Qauliyah ini seri ng juga dinamakan khabar. hati dan limpa. Macam-macam Sunnah a. pada umumnya bersipat global. seperti khaba r yang datang dari Allah dan dari Rasulullah diriwayatkan oleh orang yang diperc aya dan khabar mutawatir. Sunna h Qauliyah dapat dibedakan kepada tiga hal : 1) Diyakini benarnya. belalang. 2) Membatasi kemutlakan (taqyid al-muthlaq). Misalnya. dengan tidak dibatasi berapa jumlahnya. atau berita berupa perkataan Nabi saw. dikuatkan dan dipertegas lagi oleh Al-Sunnah. misalnya perintah shalat dalam Alquran yang mujmal. 2) Diyaniki dustanya.

Sunnah fi'liyah ini menunjukkan tidak ada kewa jiban untuk diikuti (bersifat mubah). b) Khabar yang lebih d ikuatkan benarnya daripada dustanya. 5) Apa yang dilakukan Nabi saw. dan tidak boleh diikuti oleh umatnya. itu harus diikuti oleh orang muslim. 23 . c) Khabar yang lebih dikuatkan dustanya dar ipada benarnya. Jumhur ulama memandangnya kepada jenis Mubah. Sunnah Taqririyah Yaitu perbuatan atau ucapan sahabat yang dilaku kan di hadapan Nabi saw. b. Ini lebih pada urusan k eduniaan. Sunnah fi'liya h terbagi kepada beberapa bentuk. yaitu: 1) Gharizah atau Nafsu yang terkendalikan oleh k einginan dan gerakan kemanusiaan. namun Nabi diam dan tidak menc egahnya. tapi sebawah dari urusan al-qurbah / ibadah. 4) Sesuatu yang bersifat khusus bagi Nabi saw. dan juga tidak diyakini dustanya. Maka hukumnya sama dengan hukum mujmal tersebut. hal ini ada t iga: a) Tidak kuat benarnya dan tidak kuat pula dustanya. budaya dan kebiasaan Pada bagian ini tidak ada perintah untuk diikuti dan diperhatikan. Sunnah Fi'liyah Yaitu setiap perbuatan yang dilakukan Nabi sa w. karena Nabi itu Ma'sum (terjaga dari berbua n dan menyetujuan sahabat berbuat kemunkaran. dan ada y ang tidak harus diikuti. maka sikap diam dan tidak mencegahnya. menjelaskan akan keboleh an / jawaz. Ini lebih dari sekedar urusan jibilah. ada yang harus diikuti oleh umatnya. menunjukan persetujuan Nabi. 3) Perangai yang membawa kepada syara' menurut kebiasaan yang baik dan tertentu. atau sepengetahuan Nabi. karena membiarkan dan menyetujuan atas kemunkaran sama dengan berbuat kemunkaran. yang diketahui dan disampaikan oleh sahabat kepada orang lain. 6) Apa yang dilakukan Nabi saw. c. 2) Sesuatu yang tidak berhubungan dengan I badah. yang oleh sebagian ahli ushul disebut al-Jibilah. Adapun urusan al-Qurbah ibadah yang bersifat umum tidak hanya bagi Nabi saw. Hal ini karena kalau Nabi tidak setuju.3) Yang tidak diyakini benarnya. berupa penjelasan te rhadap sesuatu yang bersifat mujmal/samar tidak jelas. tentu Nabi tidak akan membiarkan sahabatnya berbuat atau mengatakan yang salah.

Hadi ts Ahad Hadits Ahad adalah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. ole h para shahabat atau kelompok orang banyak yang tidak sampai pada batas mutawati r. 2) M utawatir Ma'nawi. 1) Hadits masyhur adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw.5. Kemudian dari para sahabat itu diriwayatkan pula oleh para tabi'in dan oran g berikutnya dalam jumlah yang seimbang seperti para sahabat yang meriwayatkan p ertama kali. Pada sunnah qauliya h tidak sebanyak sunnah amaliyah yang mencapai derajat mutawatir. sampai kepada Rasulullah. Yaitu jika redaksi dan kandungan sunnah yang disampaikan banyak perawi itu adalah sama benar dalam lafazh dan maknanya. Hasan dan Dhaif. shaum. Shahih. Hadits ini disebut juga dengan khabar Ahad. Hadits Mutawatir dan Ahad. dan sempurna ketelitiannya. a. tidak mempunyai cacat. hadis dibagi kepada. Sedangkan menurut jumhur. b. sanad nya bersambung. perbuatan itu disaksikan oleh banyak orang. tapi sus unan masing-masing redaksi yang berbeda itu mempunyai hal-hal yang sama. Yaitu yang berbeda susunan redaksinya satu sama lain. Masyhur dan Ahad. dan tida k berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. Dilalah Al-Hadits Para Ulama Hanafiyah membagi hadits ditinjau dari sisi peri wayatannya kepada hadis: Mutawatir. sedangkan hadits Masyhur masuk p ada pembagian hadits ahad. oleh sejumlah orang yang tidak sampai pada batas Mutawatir dalam tiga masa. 24 . Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh sek ian banyak sahabat yang menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakat untuk berdu sta. Dalam definisi lain. Hadits mutawatir itu banyak kita jumpai pada sunnah amaliyah (yang langsung dikerjakan oleh Rasulullah) seperti cara mengerjakan shalat. illat. kemudian diriwayatkan pada masa tabi'in dan masa tabi'ut tabi'in oleh sejumla h orang yang sampai pada batas mutawatir. haj i dan lain-lain. yaitu h adits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. masyhur adalah ya ng mempunyai jalan yang terbatas lebih dari dua jalan. Hadits Ahad ini terbagi kepada: Masyhur. 2) Hadits Shahih. Hadis Mutawati r itu ada dua: 1) Mutawatir lafzhi.

ijma shahabat. segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw. ialah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. bila membacanya mengandung nilai ibadah. tertuli s dalam mushhaf berbahasa Arab. Yang menjadi kehujjahan Alquran adalah dalil ayat Alqura n. Sunnah adala h semua yang bersumber dari Nabi saw. Sunnah terbagi kepada tiga macam. ya itu sunnah fi'liyah. walaupun hanya sekali saja dalam hidup. Jelaskan pengertian Alquran dan Al-Sunnah secara bahasa dan istilah ! 2. Perbedaan anta ra hadits dan sunnah Hadits. tidak mepunyai cacat dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. Jadi hadits / k habar berorientasi kepada ucapan. 6. dan walaupun diriwayatkan hanya seorang. mudallas. m udraj. munkar dan mubham. perb uatan atau persetujuan. dalil sunnah. bukan dalam Asal / pokok amal. penjelasan dari ayat-ayat Alquran. Bagaim ana kehujjahan Alquran dan al-Sunnah? 3. mudtharib. Hadits Dhaif tidak dapat dijadikan hujjah dalam meneta pkan hukum.3) Hadits Hasan. sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah. dan sunnah taqririyah Tugas Terstruktur 1. Hadits Dhaif ini banyak macamnya. yang dinukil kepada kita dengan amaliyah yang mutawatir pula. Sebutkan dengan rinci macam-macam al-Su nnah ! 25 . selain Alquran baik berupa perkataan. dimulai dengan surat Al-Fatihah dan dia khiri dengan surat An-Nas. sunnah qauliyah. antara lain Hadits Maudhu. munqathi. mursal. mu'allaq. yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir. dan logika. inilah s ejelek-jeleknya hadits dhaif. Menurut Imam An-Nawawi. yakni cara Rasul melaksanakan ibada h. Sunnah adalah nama amaliyah yang mutawatir. tetapi ku rang ketelitiannya. Yang menjadi kehujjahan Alquran adalah disampaikan se cara mutawawir. para ulama bersepakat hadits dhaif dapat dig unakan dalam hal fadhilah Amal. R angkuman Alquran adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. sedang sunnah berorientasi kepada perbuatan. 4) H adits Dhaif ialah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih dan had its hasan. dan mukjizatnya.

syarat-syarat ijtihad. berupaya artinya. Ijtihad pada masa Rasul Saw. yang harus dilakukan m ujtahid dalam berijtihad. macammacam mujtahid.IJTIHAD TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian Ijtihad. maka tidak ada jalan untuk melakukan i jtihad. Dalam hal seperti ini melakukan apa yang ditunjukkan oleh Nash Qath'i. L ingkup yang dilakukan ijtihad itu: 26 . Lingkup Ijtihad Apabila peristiwa yang hendak ditetapkan hukumnya itu telah ditunjukan oleh dalil yang qath'i. 2. lingkup Ijtihad. dan Khulafa R asyidin. ia berupaya keras mengangkat batu “Mencurahkan segala kemampuan untuk sampai pada satu urusan dari beberapa urusan a tau satu pekerjaan dari beberapa pekerjaan.” Dan menurut Istilah Ulama Ushul berar ti : “Mencurahkan segala kesungguhan dan segala upaya baik dalam mengeluarkan hukum-huk um syara (dengan jalan penelitian) maupun dalam pengaplikasiannya. dan alasan ijtihad menjadi hujjah . Pengertian Bahasa Secara bahasa ijtihad diambil dari kata keras. Ijtihad fardi dan jama'i. Dan juga bermakna: artinya yaitu kesulitan.” Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa Ijtihad itu ada Ijtihad dalam mengeluarkan hukum ( ijtihad fi akhrij ahkam) dan Ijtihad dalam menerapkan hukum (Ijtihad fi tathbiq ahkam). BAHASAN IJTIDAH SUMBER HUKUM KETIGA 1. seperti kata penggilingan.

Ijtihad Fardi. ad alah tentang tawanan perang Badar. Rasulullah menetap kan pendapat Abu Bakar. Ijtihad Fardi dan ijtihad jama'i Ditinjau d ari subyek yang melakukan ijtihad. 4. yaitu tidak menghukum orang yang mencuri dengan potong tangan. Umar dan Ibnu Abbas menetapkan bahwa saudara terhijab oleh kak ek. Peristiwa yang ditunjukan oleh nash yang zhanniy al-wurud (hadits-hadits ahad ). Istishab. Ini dapat dilakukan dengan. Istihsan. Peristiwa yang tidak ada nashnya sama sekali. d an aku tidak akan meninggalkannya). maka ijtihad terbagi pada : a. yaitu ijtihad yang dilakukan secara perorangan. Ijtihad pada masa Ras ul saw. dan tidak ditemukan dala m Alquran dan al-Sunnah.a. Muadz menjawab (aku akan berijtihad dengan pikiranku. Di sini kakek tidak menghijab saudara. karena ada bencana kelaparan yang menyeret manusia kepada makan secara tidak halal. Sedangkan menurut Zaid dan Ibnu Mas'ud Kakek bermuqasamah (membagi sama) den gan Saudara. dan pesanny a kepada Qadhi Suraih agar berijtihad apabila tidak jelas dalam al-Sunnah 3) Men genai ahli waris yang ditinggalkan oleh yang mati. Alasannya antara lain: 1) Rasul ullah dapat membenarkan dan dapat menerima jawaban Muadz bin Jabal saat ditanya Rasul saw jika dihadapkan kepadanya suatu permasalahan. dan zhanniyu al-dalalah (nash Alquran dan al-Hadits yang masih dapat ditafsir kan dan dita'wilkan). dll. Abu Bakar. terdiri dari Kakek bersama sa udara. b. dan Khulafa Rasyidin Di antara ijtihad yang dilakukan Rasulullah saw. 2) Intruksi Umar bin Khatab kepada Abu Musa Al-Asy'ari yang memerintahkan agar menggunakan Ijtihad dengan Qiyas. Qiyas. yakni menerima tebusan. Dari dua pendapat itu. Urf. Dalam sidang Umar mengusulkan agar tawanan pe rang Badar itu dibunuh saja. Sementara Abu Bakar mengusulkan agar mereka menebus diri dan Rasul menerima uang tebusan. 27 . dan Ijtihad Umar. Di antara ijtihad para Shahabat ialah: Ijtihad Abu Bakar dalam hal memerangi orang yang membangkang membayar zak at dan memushhafkan Alquran. 3.

sanggup mengetahui illat hukum. f. disamping harus mengetahui nilai dan derajat hadits. mutasyabihmuhk am.. d. Yaitu Ijtihad yang dilakukan oleh sekelompok orang. Mengetahui nash-nash had is. b. Ijtihad Jama'i. agar hukum hasil ijtihad lebih mendekati kepada kebenaran. dan tahu antara 'aam-khash. metode menemukan dan menerapkan huk um. Mengua sai ilmu bahasa Arab dengan segala cabangnya. sharaf. haqiqat-majaz. tapi juga orang ya ng ahli dibidang yang terkait dengan hukum yang akan diijtihadkan. 6. dapat mengqiyaskan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya hingga menetap kan hukum sesuai dengan maksud syariat dan kemaslahatan umat. yakni mengetahui hukum syar'i dari hadits dan mampu mengeluarkan hukum/istin bath daripadanya. Apa yang harus dilakukan dan d ijadikan dasar jika perkara tidak ditemukan dalam Alquran dan Al-Sunnah? Maka Ra sulullah menyuruh agar dimusyawarahkan dengan ahlinya. sebagai ilmu metoda istinbath. jawaban Rasu lullah terhadap Ali bin Abi Thalib yang bertanya. c. ta'w il. Memiliki akhla k terpuji dan niat yang ikhlas dalam berijtihad. juga ditunjang dengan seluk-beluk kesusastraan Arab baik prosa (natsar) maupun syair (nadham). Alasannya ialah.b. Mengetahui nash-nash Alquran perihal hukum syara yang dikandungnya. 5. dan lainnya. ilmu nahwu. Juga mengetahui asbab al-nuzul. ayat-aya t hukum dan cara mengistinbath daripadanya. Dalam Ijt ihad ini tentu tidak hanya ahli hukum Islam yang harus hadir. jika ia tidak menemukan dari perbuatan Nabi saw. dan tafsir dari ayat-ayat yang akan diistinbath. e. hendaklah pertama kali ia memperhatikan nashnash Alquran dan Al-sunnah dan mengetahui hukum manthuq dan ma fhum dari keduanya. Yang harus dilakukan mujtahi d dalam berijtihad Seorang mujtahid dalam berijtihad. Mengetahui maqashid al-syar'iyyah. Mengetahui ilmu Ushul Fiqih. a. lalu memperhatikan taqrir Nabi terh adap shahabatnya. Syarat-syarat Ijtihad. lalu 28 . Di sini adany a persetujuan dari para mujtahid terhadap masalah. tingkah laku dan adat keb iasaan manusia yang mengandung mashlahat dan madharat. lalu memperhatikan pada perbuatan Nabi (hadits fi'li). balaghah dan l ainnya.

d. Dan jika mujtahid men dapatkan dua dalil yang berlawanan. Mentarjihkan salah satunya. dengan membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat la in dari yang terdahulu. 7. akan tetapi mereka hanya mengikuti imam mazhab yang telah ada. Menjama'kan kedua nash yang me nurut lahirnya berlawanan. Mujtahid al-Muntasib. dan berbeda dalam hal cabang. mujtahid itu ada beber pa tingkatan. c. Mereka men gkhususkan kepada qaidah-qaidah yang telah ditetapkan imam-imam terdahulu. Mujtahid yang hasil ijtihadnya tidak membentuk mazhab terse ndiri. Yaitu yang berkemampuan mengijtihadkan seluruh masalah syar i'at yang hasilnya diikuti dan dijadikan pedoman oleh orang-orang yang tidak san ggup berijtihad. Membekukan (tawaqquf). tapi hany a melakukan tarjih. Mujtahid fi syar'i. Meneliti sejarah datangnya kedua nash untuk ditentukan yang datang kemudian/ belakangan sebagai nasikh atau penghapus terhadap yang datang lebih awal. mengembangkan dasar-dasar mazhab. d. sesuai dengan luasnya dan sempitnya cakupan bidang ilmu. meletakkan dasar-dasar tarjih. Mujtahid fi Madzhab. dan perbandinga n di antara pendapat. maka tidak terjadi ta'arudh / berlawanan pada hakikatnya. Jika usaha tidak berhasil lakukan. yaitu: a.selanjutnya memperhatikan Qiyas juga ijma shahabat. Jika usaha ini berhasil. 29 . mencari mana yang kuat dan mana yang kurang kuat. b. hendaknya: a. Yaitu mujtahid yang tidak mengist inbath hukum-hukum cabang yang tidak diijtihadkan oleh yang terdahulu. b. Yaitu mujtahid yang hasil ijtihadnya mengikuti p endapat Imam terdahulu dalam hal asal / pokok. dengan menggunakan ilmu tarjih. jika semuanya mendapat kesul itan maka berpegang sesuai aslinya atau tidak berkomentar. lalu menetapkan sebagian pendapat yang kuat dan lemah de ngan argumen qaidah tarjih. Macam-macam mujtahid Menurut Abu Zahrah. dan berijtihad dengan hasil se ndiri. untuk beristidlal dengan kedua nash terseb ut dan berpindah beristidlal dengan dalil lain bila usaha yang berturut-turut ti dak tercapai. Merekalah yang membangun mazhab. c. Mujtahid al-Murajjih. mengi stinbath hukum yang tidak dinashkan dalam qaidah-qaidah lama.

Ini dilakukan agar bag ian-bagian tersebut tidak tertukar antara yang satu dengan lainnya. tapi mengetahui mana yang ku at. 8. antara pendapat dan riwayat-riwayat. Tingkatan Muqallid. dan tidak mendatangkan ilmu karena tidak mampu menentukan dan membedakan tingkat antingkatan tarjih. mereka beribadah mengikuti apa yang terdapat dari kitab-kitab tidak lebih dari itu. dan menyususn derajat-derajat tarjih sesuai yang telah dilakukan oleh pentar jih. Alasan Ijtihad me njadi hujjah Alasan ijtihad dapat jadi hujjah berdasar kepada: a. riwayat yang jarang . yaitu m ereka membandingkan antara pendapat dan riwayat. Al-Hadits 30 . Tingkatan Muhafidh. Alquran b.Disampimg itu ada mujtahid yang tidak jauh berbeda dengan tingkatan ini. tapi tidak mampu melakukan tarjih atau menentukan mana yang kuat antara pendapat. Menurut Ibnu 'Abidin pada masa terakhir ini atau juga sekarang banyak yang seperti ini. yaitu mereka yang mampu membaca dan memahami kitab-kitab. tapi han ya mengumpulkan apa yang mereka temukan. e. mereka menetapkan bahwa pendapa t ini lebih jelas dan lebih kuat dalilnya dari yang lain. Tingkat ini yang paling rendah dari tingkatan yang t elah lalu. f. mereka tidak dapat membedak an antara dalil-dalil. Maka pekerjaan mereka itu bukan melakukan tarjih. Mereka tidak bisa membedakan antara kanan dan kiri. mazhab yang zhahir. riwayat. riwayat yang zhahir. Yaitu mereka yang dapat membedakan antara yang lebih kuat dari yang k uat dan yang lemah.

Apa saja syarat Ijtihad itu? Dan apa yang h arus dilakukan seorang mujtahid? 31 . Jelaskan pengertian Ijtihad menurut bah asa dan istilah ! 2. dan seorang mujtahid harus mengetahui apa yang harus ia lak ukan. Lingkup yang dilakukan ijtihad itu nash zhanniy al-wurud dan zhanniy al-dalalah. Rangkuman Ijtih ad ialah mencurahkan segala kesungguhan dan segala upaya baik dalam mengeluarkan hukum-hukum syara (dengan jalan penelitian) maupun dalam pengaplikasiannya. Logika. Tugas Terstruktur 1. Oleh karena itu tidak mungkin nash-nash yang terbatas jumlahnya itu mencu kupi untuk menghadapai peristiwa-peristiwa yang terus terjadi.c. sedang peristiwa yang dihadapi manusia selalu timbul dengan tidak ter batas. Ditinjau dari subjek yang melakukan Ijtihad. selagi tidak ada jalan untuk menegnal hukum peristiwa baru tanpa melalui ijtihad. maka ijtihad te rbagi pada: ijtihad fardi dan ijtihad jama'i. dan logika. Ijtihad mempunyai beberapa syarat yang harus dipenuhi. hadi s Nabi. Alasan ijtihad dapat dijadikan hujjah berdasarkan pada dalil Alquran. terbagi kepada berapakan Ijtihad itu? Jelaskan! 3. Ditinjau dari subyek yang melakukan ijtihad. Sebagaimana kita ketahui bahwa nash-nash Alquran dan hadits terbatas jumlahnya.

Jumhur ulama ushul Fiqih mengemukakan bahwa ijma ' adalah: “Kesepakatan seluruh mujtahid Islam dalam suatu masa sesudah wafat Rasulullah saw. syarat Qiyas. kemungkinan Ijma'. serta mengetahui pengertian Qiyas. Ijma'. seperti para muj tahid. macam-macam Ijma'. pemegang urusan mencakup pada urusan duniawi. Ijma sebagai hujjah Kehujjahan Ijma dida sarkan atas beberapa alasan: a. BAHASAN A. dan mencakup pemegang urusan agama. unsur-unsur Ijma'.IJMA' DAN QIYAS TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan me ngetahui pengertian Ijma'. para mufti dan para ulama. Kehujahan dan Macam-macamnya 1.” 2. Ijma' sebagai hujjah. maka wajib diikuti. Alasan Alquran Lafadz ulil amri. menteri dan lainnya. Karena itu jika masing-masing dari mereka tela h sepakat untuk menetapkan suatu hukum agama. Juga berarti tekad atau niat ( ). kehujjahan Qiyas. Alasan Hadi ts 32 . seperti kepala n egara. Tinjauan Bahasa Kata Ijma secara bahasa berarti: kesepakatan a tau konsensus. dan macammacam Qiyas. r ukun Qiyas. b. akan suatu hukum syariat yang amali.

Karena itu sebagian ulama telah mengecualikan yaitu Ijma shah abat karena mereka para shahabat yang berijma yaitu para ulama jumlahnya masih s edikit. Imam Daud berkata: 5. Unsur-uns ur Ijma a. ak an tetapi hujjah itu karena sandarannya kepada Alquran dan Al-Sunnah. Juga tidak adanya ukuran umum yang menetapkan kriteria seorang mujtahid.. Firman Allah Al-Nisa: 59 3. Terdapat beberapa orang mujtahid. Dalam hal ini tidak disebutkan sejauhman a seseorang telah mencapai tingkatan ijtihad. menyendiri. karena sukar menentukan seorang apakah mu jtahid atau bukan. Mereka mengatakan bahwa yang mengingkari kemungkinan terjadinya Ijma adala h mengingkari hal yang nyata terjadi. karena kesepakatan baru bisa terjad i apabila ada beberapa mujtahid. 33 . Macam-macam Ijma Ditinjau dari ruang lingkup para mujtahid yang berijma'. Harus ada kesepakatan di antara mereka. atau dengan perkataannya. b. misalnya Qadhi d engan keputusannya. c. baik dengan perbuatannya. Kemungkinan Ijma Jumhur ulama mengatakan bahwa Ijma' itu mungkin terjadi menurut adat kebia saan. Salah seorang ulama bernama Al-Nazham dan sebagian ulama syi'ah mengatakan bahwa Ijma yang unsur-unsurnya seperti tersebut di atas tak mungkin terjadi berdasarkan adat. maka terdiri dari : a. ijma itu bukanlah dalil yang . K ebulatan pendapat harus tampak nyata. Kebulata n pendapat orang-orang yang bukan mujtahid tidaklah disebut ijma. bahwa ijma itu bukanlah hujjah karena dirinya. 4. Abdul Hamid Hakim menyebutkan. karena itu ahli Ushul Fiqih menyebutkan. misalnya dengan fatwa. Hal ini lantaran sukarnya melakuk an ijtihad dengan unsur-unsur yang ada. d.

maka Ijma ini ditempatkan sebagai sumber hukum yang ketiga sesudah Alquran dan Al-Sunnah. Yaitu pers esuaian faham segala ulama shahabat terhadap sesuatu urusan. Yaitu persesuaia n faham ulama-ulama Ahli Madinah terhadap sesuatu kasus. Disebut juga ijma Haqiqi. Yaitu persesuaian ahli Kufah. atas dasar Jika dilihat dari cara terjadinya dan martabatnya. Qiyas. Ijma ini bagi Imam Mali k adalah hujjah. Yaitu Ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan oleh sebagian mujtahid. Ijma ini oleh se bagian ulama dianggap hujjah. Dilihat dari sisi prosesnya. b. D isebut juga ijma I'tibari. c. Ijma itu dihasilkan oleh para mujtahid. Yaitu kesepakatan atau persesuaian fa ham terhadap sesuatu pada khalifah yang empat. Yaitu persesuaian faham Abu Bakar dan Umar dalam suatu hukum. Ijma ini dianggap hujjah bagi Imam Hanifah. tidak jelas apakah mereka menyetujui atau menentang. Ijma ini oleh sebagian ulama dian ggap hujjah atas dasar hadis: –f.Ijma Ummat. Kehujahan dan Macam-macamnya 34 . ijma terbagi kepada dua: a. e. Ijma ini yang dimaksud dengan definisi pada permulaan. Yaitu ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan baik dengan ucapan maupun de ngan perbuatan (menfatwakan atau mempraktekkan). terhadap sesuatu masalah. karena itu termasuk pada salah satu bentuk Ijtihad. b. d. B. seda ng sebagian lainnya diam. Jika dilihat dari sisi hukum yang dihasilkan dengan konsensus para ulama yang harus ditaati.

. sukatan. Pengertian Bahasa Kata Qiyas berasal dari kata : Ia telah mengukur. b. 1) Perkataan Umar bin Khatab kepada Abu Mus a al-Asy'ari : 2) Dalam peristiwa pembai'atan Abu Bakar r. Para ahli us hul fiqih memberi definisi Qiyas secara istilah: “Menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nash dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nash dikarenakan kesatuan illat hukum antara keduanya. untuk menjadi khalifah. Al-Sunnah.” 2 . Perkataan dan perbuatan shahabat. Alquran.1. c.a. diqiyaskan kepada Nabi Muhamad saw. ukuran.yang menyuruh Abu Bakar mengimami shalat. Jadi kata qiyas itu artinya: ukuran. Kehujjahan Qiyas Kehujjahan Qiyas dapat ditunjukan dengan beberapa alasan : a. : Ia seda ng mengukur. d. sebagai ganti pada waktu Beliau sakit. timbang/an. Alasan Logika 35 .

3) Huk um Pokok tidak merupakan hukum pengecualian. Karena kemaslahatan yang menjadi tujuan dari syariat. tidak menetapkan hukum buat hamba kalau bukan untuk kemaslahatan b agi hamba. Oleh karena itu jika dilarang minum yang memabukan dengan nash. 3) Q iyas adalah dalil yang sesuai dengan naluri manusia dan logika yang sehat. Yaitu sesuatu yang sudah dinashkan hukumnya yang menjadi tempat mengqiyaskan. maka diduga keras dapat memberikan kemaslahatan bagi hamba. Yaitu huk um syara yang dinashkan pada pokok yang kemudian akan menjadi hukum pada cabang. Maka Qiyas merupakan sumber perundangan yan g dapat mengikuti kejadian baru dan dapat menyesuaikan dengan kemaslahatan. d. sedangkan kejadian pada manusia it u tidak terbatas dan tidak berakhir. maka logislah setiap minuman yang memabukan diqiaskan kepada minuman tersebut. kalau tidak ada. maka tidak boleh ada pemindahan hukum. hukum tersebut harus dimansukh. Suatu sifat yang nyata dan tertentu yang berkaitan atau munasabah den gan ada dan tidak adanya hukum.1) Allah swt. dan jika illat itu tidak ada maka hukum itu juga tidak ada. Karena adanya illat itu maka hukum itu ada. Caba ng. b. tapi illatnya sama dengan yang ada na shnya. Asal . 4. 2) H ukum yang ada pada pokok harus hukum syara' bukan hukum akal atau bahasa. 2) Nash yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah itu terbatas. Illat. / al-maqis / al musyabbah. Karena itu jika ada suatu masalah yang tidak ada nashnya. Syarat-syarat Cabang: 36 . dalam ilmu u shul fiqih disebut al-far'u. Syara t-syarat Pokok: 1) Hukum pokok itu masih ada atau berlaku / tsabit. c. 3. Yaitu sesuatu yang tidak dinashkan hukumnya. atau al-maqis 'alaih / musyabah bih. Rukun Qiyas a. Hukum Asal. b. Syarat Qiyas a. dalam ushul fiqih disebut al-Ashlu. ia yang diqiaskan.

melalui menghitung-hitung dan memisah-misahkan sifat pada pokok. Untuk ini tentu diperlukan pe mahaman yang mendalam. Yaitu dengan cara meneliti dan mencari illat. manakala ada illat. Sebab adanya illat tersebut adalah demi kebaikan manusia. 3) Illat yang terdapat pada cabang harus sama dengan illat yang terd apat pada pokok. Syarat-syarat Illat: 1) Illat Harus tetap berlaku. Illat yang dit unjukan oleh nash itu sendiri dengan memperhatikan kata-kata. Cara mengetahui Illat / masalik al-'illat 1 Dengan nash Illat yang ditunjukan ol eh nash adakalanya jelas (sharih). b. Al-Munasabah. maka hukumnya qath 'i. jika berlawanan maka nash yang didahuluka n. tentu ada hukum. 37 . dan adakalanya dengan isyarat. artinya hukum harus terwujud ketika terdapat il lat. dan a danya illat itu dalam cabang juga demikian serta tidak ada dalil yang menentangnya. yang menurut ulama Ushul 'apabila datang nash. 3) Illat tidak berlawanan dengan nash. Dengan Ijma Apabila Ijma itu qath'i dan datangnya kepada kita juga qath'i.1) Hukum cabang tidak lebih dulu ada daripada hukum pokok. Al-Sabru wa al-Taqsim. 3 Dengan istinbath / penelitian Dengan cara ini dapat ditempuh melalui beber apa bentuk: a. 2) Cabang tidak mempunyai ketentuan tersendiri. qiyas menj adi batal'. Jika Qiyas itu dibena rkan berarti menetapkan hukum sebelum adanya Illatnya. Yaitu mencari persesuaian antara suatu sifat dengan perintah atau larangan yang membawa kemanfaatan atau menolak kemadharatan bagi manusia. dan ti dak ada hukum bila tidak ada illat. seperti 2 . 4) Hukum cabang harus sama dengan hukum pokok c. 2) Illat berpengaruh pada hukum. diambil illat hukumnya dan dipisahkan yang bukan illat hukumnya.

sama dengan i llat hukum yang ada pada mulhaq bih. Ditinjau dari ruang lingkup para mujtahid yang berijma'. Qiyas Aula. tapi diperselisihkan pada cabang. Yaitu membersihkan dan menetapkan satu illat dari illat-illat lain yang samar.c. 38 . akan suatu hukum s yariat yang amali. Yaitu qiyas dimana mulhaq-nya dapat diqiaska n kepada dua mulhaq bih (pokok). Qiyas Syibhi. Yaitu mencari dan mengeluarkan illat sampai diketahui. Maka diqiaskan kepada mulhaq bih yang mengandun g banyak persamaannya dengan mulhaq. Yaitu qiyas di mana ill at yang ada pada mulhaq / yang disamakan. Sedangkan jika dilihat dari cara terjadinya dan martabatnya. Ijma memiliki beberapa unsur yang mesti ada. Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adany a hukum. Tanqih alManath. lebih rendah dibandingkan dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih. Takhrij al-Manath. b. Kehujjahan Ijma didasarkan atas alasan ayat Alquran dan hadis . dan illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. apa bila illatnya tidak diketahui baik dengan nash maupun dengan Ijma. Yaitu qiyas yang illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. Qiyas al-Adwani. Macam-macam Qiyas a. c. misalnya dengan mengqiaskan cabang kepada pokok dan meninggalkan sifat-si fat yang berbeda. d. Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum. Tahqiq Al-manath. 5. Yaitu sifat tersebut telah ada dan disepa kati pada pokok. e. d. ijma' terbagi kepada dua. Rangkuman Ijma' adalah kesepakatan seluruh mujtahid Islam dalam suatu masa sesudah wafat Rasulullah saw. Qiyas Musawy. ijma' terbagi kepada enam macam. menunjukan hukum. Qiyas Dilalah. tetapi tidak mewajib kan hukum padanya. e. dan yang disamakan ata u yang dibandingkan (mulhaq) mempunyai hukum yang lebih utama daripada yang diba ndingi (mulhaq bih).

dan logika. Jelaskan pengertian Ijma' dan Qiy as secara bahasa dan istilah ! 2.Qiyas adalah menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nash dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nash dikarenakan kesatuan illat hukum ant ara keduanya. al-sunnah. (2) Qiyas Musawy. (2) Cabang. Bagaimana kehujjahan Ijma dan Qiyas? 3. Tugas Terstruktur 1. Syarat Qiyas terdiri dari: (1) Syarat-sy arat pokok. (2) Syarat-syarat cabang. Dan (4) 'Illat. Rukun Qiyas terdiri dari: (1) Asal. Kehujjahan Qiyas dapat berdasarkan pada Alquran. perkat aan dan perbuatan shahabat. (4) Qiyas Dilal ah. (3) Syarat-syarat 'Illat. Dan Qiyas terbag i kepada: (1) Qiyas Aula. (3) Qiyas al-Adwani. (3) Hukum asal. Sebutk an macam-macam Ijma' dan Qiyas! 39 . Dan (5) Qiyas Syibhi.

/ al-Istishabu / al-Mashlahah al-Mursalah / al-Istihsanu / Qaul al-Shahabi / S addu al-Dzara'i / Syar'un man Qablana / Dilalah al-Ilham. 5.ISTIDLAL. istishab. Dan jika Ia tidak menemukan pada Alquran. menjelaskan istidlal itu ada beberapa macam. ISTISHAB. MASHLAHAH AL-MURSALAH. 8 . maka hendaklah mencari dalil lain (Istidlal). Pengertian Bahasa 40 . 2. Definisi di atas menunjukan bahwa seorang mujtahid dalam memutuskan sesuatu kepu tusan hukum hendaklah mendahulukan Alquran. BAHASAN A. Al-Ijma d an Qiyas. ti dak ada pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas. dan istihsan. 7. Para ulama ushul fiqih. menarik kesimpulan. ISTISHHAB 1. lalu al-Ijma sel anjutnya Alqiyas. 6. 4. / al-Urf B. memperoleh dalil. 3. Menurut Imam Abdul Hamid Hakim. antara lain: 1. kemudian al-Sunnah. ISTIDLAL Secara bahasa kata berasal dari kata / Istadalla artinya: minta petunjuk. serta mengetahui macam-macamnya. al-Sunnah. DAN ISTIHSAN TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian istidlal. istidlal adalah mencari dalil yang tidak ada pada nash Alquran dan al-Sunnah. mashlahah al-mursalah.

Istishab seperti ini diperselisihkan ulama tentang kehujahannya. Kata lain dala m Bahasa Arab: Menurut Istilah ilmu Ushul Qiqih yang dikemukakan Abdul Hamid Hakim: Istishab ya itu menetapkan hukum yang telah ada pada sejak semula tetap berlaku sampai sekar ang karena tidak ada dalil yang merubah. Istishab yang ditun jukkan oleh al-syar'u atau al-Aqlu. Istishab Washfi. Kehujahan Is tishab Mayoritas pengikut Maliki. Yaitu sesuatu yang telah ditetapkan dengan hukum mubah atau haram. Macam-macam Istishab a. c. Seperti keadaan hidupnya seseorang dinisbahkan kepada orang yang hilang. 41 . Sementara segolongan dari ulama Mutakallimin. Istishab ini adalah terlepas dari tanggung jawab atau terle pas dari suatu hukum. Istishab hukum yang ditetapkan ijma' lalu terjadi perselisihan.Kata Istishab berasal dari kata suhbah artinya 'menemani' atau 'menyertai'. sehingga ada dalil yang menunjukan. Istishab al-Hukmi / Dalil umum. Kebolehan tersebut didasarkan kepada firman Allah d. selama tidak ada dalil yang merubah. s ampai ditetapkannya hukum yang berbeda dengan hukum itu. Ahmad dan sebagian ulama Hanafi menya takan bahwa istishab dapat jadi hujah. atau almushahabah: menemani. juga istimrar al-suhbah. b. 4. Syafi'i. e. Dan sebagian besar dari ulama muta'akhirin juga demikian. Istishab AlBara'ah al-Ashliyah. 2. terus menemani. Dan asal dalam sesuatu (mu'amalah) adalah kebolehan. Yaitu sifat yang melekat pada suatu hukum. Dengan kata lain sampai adanya dalil yang mengkhususkan atau yang membatalkannya. m aka hukum itu terus berlangsung sampai ada dalil yang mengharamkan yang asalnya mubah atau membolehkan yang asalnya haram.

Kemaslahatan tersebut harus bersifat rasional. bermakna : = mengutus.seperti 'Hasan al-Basri'. 3. bukan kemaslahatan yang dikira-kirakam c. Ben tuk isim maf'ulnya = diutus. 2. dikirim. Pelaksanaannya tidak menimbulkan kesulitan yang tidak wajar. Yaitu sesuatu yang mendatangkan kebaikan. kebaikan yang dipergunakan menetapkan suatu huku m Islam. keturunannya dan h artanya. MASH LAHAH MURSALAH 1. berarti prinsip kemaslahatan. kep ada hambanya tentang pemeliharaan agamanya. C. dari nash Alqur‟an dan Al -Sunnah b. Ia adalah perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh Allah swt. Sedangkan menurut istilah ulama ushul fiqih. dipakai. jiwanya. hingga yakin hal tersebut memberikan manfaat atau menolak kemadaratan. d. da lil-dalil kulli. Kemaslahatan tersebut be rsifat umum. Dilihat dari sumbernya 42 . Tidak boleh bertentangan dengan Maqasid syariah. Juga dapat berarti. dan juz‟I yang qath‟I wurud dan dalalahnya. akalnya. karen a untuk menetapkan hukum yang lama dan sekarang harus berdasarkan dalil. = beres. suatu perbuatan yang mengandung nilai baik atau ber manfaat. Tinjauan Bahasa Kata Kata al-Mashlahah dari kata tersusun dari dua kata yaitu al-mashlahah dan al-Mursalah. menyatakan bahwa istishab tidak bisa jadi hujah. Perpaduan dari dua kata menjadi mashlahah mursalah . Macam-macam Mashlahah a. Syarat-syarat a. dari kata dipergunakan. Dan Kata murs alah. artinya harus ada pene litian dan pembahasan. kemaslahatan. Bentuk mashdarnya atau = keberesan.

2) Maslahah Hajiyah. yaitu semua ben tuk perbuatan dan tindakan yang tidak terkait dengan dasar (mashlahah dharuriyah ). Dilihat dari kepentingannya 1) Mashlahah Dharuriyah. 43 . keturunan dan harta.1) Kemashlahatan yang ditegaskan oleh Alqur‟an dan Al-Sunnah. (4) . kemashlahatan ini diakui oleh para ulama. akal. hifdul aqli dll. Kehujahan mashlahah mursalah. yaitu lafaz: (1) (2) (5) . 3) Kemaslahatan yang tidal dinyatakan oleh syara dan tidak ada dalil yang menolaknya. b. (4) . (3) . hifdu nasal. 3) Mashlahah Tahsiniyah. . yaitu mempergunakan semua yang layak dan pantas yang dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan t ercakup pada bagian mahasinul akhlak. denga n berdasar pada firman Allah swt. Maka inilah yang dimaksud dengan mashlahah mursalah. dapat menghindarkan kesu litan dan menghilangkan kesempitan. misalnya hifd ulmal. 5. yaitu kemashl ahatan yang apabila ditinggalkan akan menimbulkan kemadharatan dan kerusakan. 2) Kemashlahatan yang bertent angan dengan nash yang qath‟i. . Ini kembali kepada yang lima. Kebanyakan ulama menolak kemaslahatan yang bertenta ngan dengan nash yang qath‟I ini. jiwa. Abdul Ham id Hakim menyebutkan bahwa syara' memperhatikan kemashlahatan secara umum. – Ayat di atas memberi isyarat dari lafaz yang ditunjukannya. hifdun nafsi. ka rena itu mashlahah ini mesti ada terwujud. yang disebut juga de ngan mashlahah mu‟tabarah. yang dibutuhkan juga oleh masyarakat tetap terwujud. memelih ara agama.

Mengecualikan hukum juz‟i ( bagian a tau khusus ) dari pada hukum kulli ( umum).Untuk itu Ibnu Taimiyah berkata: D. Secara istilah Istihsan menurut ahli Ushul Fiqih adalah : Istihsan itu adalah berpindah dari suatu hukum yang sudah diberikan. Pengertian bahasa Dilihat dari asal bahasa Istihsan dari kata –– artinya mencari kebaikan. Mengutamakan qiyas khafi ( yang samar-samar) dari pada qiy as jalli ( yang jelas ) berdasarkan dalil. Adanya perbedaan pendapat ulama tentang istihsan karen a tidak adanya persesuaian pendapat dalam mengartikan istihsan. Al-Hasan menyebutakn makna istihsan secara bahasa dengan ungka pan artinya mencari yang lebih baik. Malikiyah dan sebagian ulama Hambaliah. Sebenarnya istih san itu mengalihkan suatu dalil yang nyata atau mengalihkan hukum kulli kepada s uatu dalil yang lebih sesuai dengan untuk kemaslahatan. bukan mengalihkannya kep ada sesuatu menurut kemauan hawa nafsu. Golongan Hanafiyah sangat mengagungkan Istihsan. H ambali dan Maliki juga memakainya. Sedangkan Imam Syafi‟i menentang Istihsan karena akan me mbuka pintu untuk menetapkan hukum sesuai dengan kehendaknya. kepada huku m lain yang sebandingnya karena ada suatu sebab yang dipandang lebih kuat. sebab bukanlah sum ber yang berdiri sendiri. Beliau berkata: “man istahsana faqad syarra'a”. Ma cam-macam Istihsan a. ISTIHSAN 1. 3. 2. b. tetapi masih membatasinya. istihsan merupakan dalil yang kuat dalam menetapkan hukum. 44 . Kehujahan Istihsan Menurut ulama Hanafiyah.

2. akalnya. dan Istihsan secara bahasa dan istilah ! 3. J elaskan pengertian Istishhab. kepada hambanya tentang pemelihar aan agamanya. dan sebutkan macam-macamnya. Mashlahah al-mursalah. Istihsan adalah berpi ndah dari suatu hukum yang sudah diberikan. Bagaimana kehujjahan Istishhab.Untuk itu Imam Asy-Syatibi berpendapat. Tugas Terstruktur 1. Mashlahah al-mursalah ialah perbuatan yang berma nfaat yang telah diperintahkan oleh Allah swt. barangsiapa beristihsan tidaklah berarti bahwa ia memulangkannya kepada perasaan dan kemauan hawa nafsunya. keturunannya dan hartanya. Jelaskan pengertian Istidlal secara bahasa dan istilah. tidak ada pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas. kepada hukum lain yang sebandingnya karena ada suatu sebab yang dipandang lebih kuat. Mashlahah al-mursalah. Rangkuman Istidlal adalah mencari dalil yang tidak ada pada nash Alquran d an al-Sunnah. dan Isti hsan secara bahasa dan istilah? 45 . tetapi ia me mulangkannya kepada maksud syar‟i yang umum dalam peristiwa-peristiwa yang dikemuk akan. Istishab yaitu menet apkan hukum yang telah ada pada sejak semula tetap berlalu sampai sekarang karen a tidak ada dalil yang merubah. jiwanya.

Sadd al-Zara' i. Satu pendapat mengatakan bahwa madzhab s hahabat bisa jadi hujah. serta dijadikan rujukan oleh generasi sesudahnya dan mempunyai h ubungan khusus dengan Rasulullah saw. Namun yang masih diperselisihkan adalah apakah pendapat shahabat bisa m enjadi hujjah atas Tabi'in dan orang-orang yang telah datang setelah tabi‟in. mengikuti serta hidup bersamanya. Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang Qaul Shahabi. BAHASAN A. dan apabila pendapat shahabat bertentangan dengan qiyas. SADD AL-ZARA'I. Kehujahan Qaul Shahaby Pendapat shahaba t tidak menjadi hujjah atas shahabat lainnya. maka penda pat shahabat didahulukan. SYAR'U MAN QABLANA TUJUAN Selesai mengikuti perkul iahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian Qaul Shahabi.QAUL SHAHABI. Pendapat lain menyatakan bahwa pendapat shahabat itu jadi hujah. Yang dimaksu d dengan shahabat menurut ulama ushul fiqih adalah seseorang yang bertemu dengan Rasulullah saw. 2. QAUL SHAHABI 1. 46 . hal ini telah disepakati para ulam a ushul. b. yaitu: Yang dimaksud dengan Qaul al-Shahaby (Mazdhab Shahaby) adalah pendapatpendapat p ara shahabat dalam masalah ijtihad. beriman kepadanya. Ada yang mengatakan bahwa qaul shahaby secara muthlaq tidak bisa dijadikan hujah. Dengan kata lain Qaul shahabi adalah pendapa t para shahabat tentang suatu kasus yang dinukil para ulama. baik berupa fatwa m aupun ketetapan hukum. c. yang tidak dijelaskan dalam ayat atau hadis. dan Syar'u man Qablana. Ulam a ushul memiliki tiga pendapat: a. dalam wakt u yang panjang.

SADDU DZARA’I 1. bahwa seorang mujt ahid tidak dibebaskan untuk mencari dalil dari pendapat seorang shahabat. atau jalan untuk sampai kepada yang diharamkam atau yang dihalalkan. dzariah adalah washilah yang menyampaikan kepada tujuan. kesempurnaan ilmunya tentang keadaan Nabi saw. 2) Fatwa yang didengar dari orang yang m endengar dari Nabi saw. akan tetapi b ila tidak menemukannya.Ibnu Qayyim berkata. jalan kepada wajib. B. wajib pula. Dengan kata lain. 47 . Pengertian bahasa Kata b erarti artinya yaitu media. bahwa fatwa shahabat tidak keluar dari enam bentuk: 1) Fatw a yang didengar shahabat dari Nabi saw. bila i a menemukannya tidak dibenarkan menyandarkannya pada shahabat itu. maka mengikutinya adalah lebih baik ketimbang mengikuti pendapat yang berdasarkan hawa nafsu. dan maksudmaksud nya. Dan kata jalan. Jalan yang menya mpaikan kepada haram hukumnya haram pula. Ustadz Ali Hasaballah merangkum pendapat-pendapat di atas. Dalam bahasa syariat Dzariah : “apa yang m enjadi media / jalan kepada yang artinya mencegah atau menyumbat diharamkan atau yang dihalalkan”. Kelima ini adalah hujah yang diikuti. Hukum washilah (jalan yang menyampaikan kepada tujuan) sama dengan hukum tujuan. 6) Fatwa yang berdasarkan pemahaman y ang tidak datang dari Nabi dan salah pemahamannya. atau jalan. 3) Fatwa yang didasarkan atas pemahamannya terhadap Alqu r‟an yang agak kabur dari ayat tersebut pemahamannya bagi kita 4) Fatwa yang disep akati oleh tokoh-tokoh shahabat yang sampai kepada kita melalui salah seorang sh ahabat. 5) Fatwa yang didasarkan kepada kesempurnaan ilmunya baik bahasa maupun tingkah lakunya. dan jalan yang menyampaikan kepada har am hukumnya haram pula. Maka ini tidak bisa jadi huja h.

atau me nyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan. 3. d. Sunah Rasulullah 48 .” 2. tetapi belum mencapai tujuan kuat timbulnya kerusakan itu. Dzariah yang lebih banyak menimbulkan kerusakan. Dzariah yang jarang berakibat kerusakan atau bahaya. Macam-macam Dz ariah Pada dasarnya yang menjadi dzariah adalah semua perbuatan ditinjau dari se gi akibatnya yang dapat dibagi pada empat macam: a. Dzariah yang menurut dugaan kuat akan menimbulkan bahaya. c.Definisi lain menyebutkan: “Mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan. Kehujahan Saddu Dzara’i a. Dalam keadaan ini dugaan kuat disamakan dengan yakin karena menutup jalan adalah wajib sebagai ikhtiar untuk berhati-hati terhadap t erjadinya kerusakan. Ayat-ayat Alquran b. Dzariah yang akibatnya menim bulkan kerusakan atau bahaya secara pasti. tidak diyakini dan tidak pula dianggap jarang. b.

C. bagi umat-umat dahulu melalui nabi-nabinya yang diutus kepada umat itu seperti Nabi Ibrahiem. Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang syar‟un man qablana. yaitu: “Segala apa yang dinukilkan kepada kita dari hukum-hukum syara‟ yang telah disyaratk an Allah swt. d an menurut Abu Hanifah dzariah masuk kedalam Istihsan. Pandangan Para Imam Pada dasarnya para fuqaha memakai dasar ini. sedang Imam Syafi‟i dan Abu Hanifah tidak seperti mereka. Nabi Musa. Menurut Syafi‟i. dan Nabi Isya as. Ada ulama ushul yang meny ebutkan: 1) Saddu Dzara‟i digunakan apabila menjadi cara untuk menghindarkan dari mafsadat yang telah dinashkan dan tertentu. maka dzariah dalam hal ini berfungsi sebagai pelayan terhadap nash. lebih besar daripada pelaksanaan sesuatu perbuatan atas dasar saddu dzar iah.c. 2) Fathhu dzara‟i digunakan apabila me njadi cara atau jalan untuk sampai kepada maslahat yang dinashkan. dzariah masuk ke dalam qiyas. 3) Tentang masalah-masalah yang berhubungan deng an amanat ( tugas-tugas keagamaan ) telah jelas bahwa kemadharatan meninggalkan amanat. Kedudukan syar’un man q ablana Sesungguhnya syari‟at samawi pada asalnya adalah satu. jika merupak an satu-satunya washilah kepada ghayah/tujuan. Imam Malik dan Imam Ahmad banyak berpegang pada dzari‟ah. SYAR’UN MAN QABLANA 1.” 2. Karena maslah at dan mafsadat yang dinashkan adalah qath‟i. sesuai firman Allah : 49 . w alaupun mereka tidak menolak dzariah secara keseluruhan dan tidak mengakuinya se bagai dalil yang berdiri sendiri.

karena dikalangan umat Islam nilai sesuatu hukum didasarkan kepada sumbersumber hukum Islam. misalnya daging bagi Bani Israil. Pendapat kedua menyatakan bahwa syariat sebelum Islam tidak menjadi syariat bagi Rasulullah saw. maka ada hal yang disepakati ulama : 1) Hukum-hukum syara yang ditetapkan b agi umat sebelum kita. atau tidak ada nash bahwa hukum it u telah dihapuskan. bila hukum yang diterangkan Allah dan Rasulnya bag i umat terdahulu. b. sering pula di ceritakan dalam Alqur‟an dan al Sunnah kepada umat Islam. 50 . otomatis hukum tersebut tidak bisa berlaku lagi bagi kita. Disertai petunjuk tentang sudah dinasakhkannnya / dihapus dalam syariat I slam c. Cerita tersebut dibedaka n dalam tiga bentuk yang masing-masing mempunyai konsekuensi yang berbeda bagi u mat Islam: a. dan umatnya. tidaklah dianggap ada tanpa melalui sumber-sumber hukum I slam. Macam-macam dan kehu jjahan Syar’un man qablana Syariat atau hukum yang berlaku dalam agama samawi yang diturunkan Allah swt kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Untuk ini ada du a pendapat: Pendapat pertama. Dengan perbedaan pendapat di a tas. tidak ada nash yang menunjukan bahwa hal itu diwajibkan bagi k ita sebagai mana diwajibkan juga bagi mereka. seper ti keharaman beberapa makanan. Demikian juga hukum -hukum yang dikhususkan bagi umat tertentu. 3. seperti qishash. Disertai petunjuk tetap diakuinya dan lestarinya dalam syariat Isl am. tidak berlaku bagi umat Islam. Tidak disertai petunjuk tentang nasakh atau lestarinya.Oleh karena itu terdapat penghapusan terhadap sebagian hukum umat-umat yang sebe lum kita (umat Islam) dengan datangnya syari‟at Islamiyah dan sebagian lagi hukumh ukum umat yang terdahulu tetap berlaku. 2) Segala sesuatu hukum yang dihapuskan dengan syariat Islam .

maka ti dak wajib bagi umat Islam untuk mengikutinya. sebelum diutus ti dak beribadah atas syariat. yang tidak dijelaskan dalam ayat atau 51 .. beribadah dengan syariat Nabi Ibrahiem as. Rangkuman Qaul shahabi adalah pendapat para shahabat tentang suatu kasus yang dinukil para ulama. karena Rasulullah sering mencari d ari syariat Ibrahiem as. menurutnya. bersyariat kepada syariat Nabi Nuh as. tetap berlaku bagi umat Islam. karena kalaulah berada pada satu agama t entu Nabi menjelaskannya dan tidak menyembunyikannya. Sedangkan Muhammad Abu Zahrah menyatakan. Imam Al-Syaukan i mengembalikan kepada perkataan yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. baik berupa fatwa maupun ketetapan hukum. Ibnu Qusyairi berkata. Sandaran syariat Nabi saw. 6) Bahkan ada yang berpendapat. bersyariat kepada syariatnya nabi Ibrahim as. Namun apabila hukum-hukum itu bers ipat umum. 4. karena ketetapan nash Islam itu tadi bukan karena ditetapkannya bagi umat yang telah la lu. sebelum diut us Untuk ini Abdul Hamid Hakim mengutip perkataan Imam Al-Syaukani. beramal dengan apa yang sampai kepadanya dari syariat Ibrahiem. dan juga seperti yang diketahui dari ayat Alqur‟an setelah beliau diutus untuk mengikuti Millah Ibrahiem as. maka hukumnya juga berlaku umum bagi seluruh umat. 5) Dan yang menyatakan Rasululla h bersyariat kepada syariat Isa as. yang menyebu tkan bahwa terdapat beberapa pendapat : 1) Bahwa Rasulullah saw. apabila syariat sebelum Islam itu dinyatakan dengan dalil khusus bahwa hukum-hukum itu khusus bagi mereka. karena Nabi yang paling dekat dengan Rasulul lah saw. seperti hukum qish ash dan puasa yang ada dalam Alquran. Menurutnya. bah wa semua perkataan itu berlawanan dan tidak ada dalil yang qath‟i.3) Segala yang ditetapkan dengan nash yang dihargai oleh Islam seperti juga dite tapkan oleh agama samawi yang telah lalu. bahwa Rasulullah saw. 3) Bahwa Rasulullah s aw. beribadah denga n syariat Nabi Adam as. 2) Ba hwa Rasulullah saw. 4) Ada pula yang menyatakan Ra sulullah beribadah dengan syariat Nabi Musa as. karena syariat itu merupakan syariat yang pertama.

dan Syar'u man Qablana? 3. bagi umat-umat dahulu melalui nabi-nabinya yang diutus kepada umat itu seperti Nabi Ibrahiem. dan Nabi Isya as.hadis. Sunnah. Namun yang masih diperselisihkan adalah apakah p endapat shahabat bisa menjadi hujjah atas Tabi'in dan orang-orang yang telah dat ang setelah tabi‟in. hal ini tel ah disepakati para ulama ushul. Tugas Terstruktur 1. dan Syar'u man Qablana ! 2. Bagaimana keh ujjahan Qaul Shahabi. Sadd al-Dzara'i. Kehujjahan Sadd al-Dzara'i berdasarkan pada ayat Alquran. Nabi Mu sa. Jelaskan pen gertian Qaul Shahabi. atau menyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan. Sadd al-Dzara'i. Terdapat penghapusan terhadap sebagian hukum umat-umat yan g sebelum kita (umat Islam) dengan datangnya syari‟at Islamiyah dan sebagian lagi hukum-hukum umat yang terdahulu tetap berlaku. Sebutkan macam -macam Dzari'ah dan Syar'u man Qablana ! 52 . Sadd al-Dzari'ah adalah mencegah sesuatu yang menjadi jalan k erusakan. dan pandangan para imam/ulama. Syar'u man Qablana adalah segala apa yang dinukilkan kepada ki ta dari hukum-hukum syara‟ yang telah disyaratkan Allah swt. Pendapat shahabat tidak menjadi hujjah atas shahabat lainnya.

Pengertian Secara etimologi „Urf‟ berarti sesu atu yang dipandang baik. Urf adalah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dan diterima oleh tabiat yang ba ik serta telah dilakukan oleh penduduk sekitar Islam dengan ketentuan tidak bert entangan dengan nash syara. tetapi muncul dari pemikiran dan pengalaman. yang dapat diterima akal sehat. serta beristidlal denga n Ilham. 'URF DAN 'ADAT 1. Dengan demikian „Urf‟ bukanlah kebiasaan alami sebagaima na berlaku dalam kebanyakan adat. 53 . Adat didefinisikan dengan: Adat adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan r asional. BAHASAN A.'URF DAN 'ADAT ISTIDLAL DENGAN ILHAM TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini ma hasiswa diharapkan mengetahui pengertian 'Urf dan 'Adat. bukan „Adat‟. Para ulama ushul Fiqih membedakan antara „Adat„ dengan „Urf„ dalam keduduka nnya sebagai dalil untuk menetapkan hukum syara. Y ang dibahas ulama Ushul Fiqih dalam kaitannya dengan dalil dalam menetapkan huku m syara adalah „Urf‟. Menurut kebanyakan ulam a „Urf‟ dinamakan juga „Adat„. sebab perkara yang telah dikenal itu berulang kali dilaku kan manusia.

Urf harus umum berlaku pada semua peristiwa at au sudah umum berlaku. Apabila dalam memahami ungkapan perkataan diperlukan arti lain. 2) Urf al-Khash. 2) Al-Urf al-Amali. juga tidak membatalkan yang wajib. 54 . a. dari cakupannya. y aitu: 1) Al-Urf al-„Aam yaitu kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas di selur uh masyarakat dan di seluruh daerah. karena membawa kepada menghalalkan yang haram a tau membatalkan yang wajib. Urf terbagi kepada dua bagian. yaitu kebiasaan yang berla ku di daerah dan masyarakat tertentu. yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang. Dari sisi cakupannya. Oleh karena itu tidak dibenarkan sesuatu yang telah menjadi biasa yang berte ntangan dengan nash yang qath‟i. Urf tidak bertentangan dengan nash yang qa th‟i. dapat dibagi pada dua bagian yaitu: 1) Al-Urf al-Shahih adalah kebiasaan y ang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertentangan dengan dalil syara‟. 2) Al-Urf al-Fasid. b. ma ka itu bukanlah 'urf. Macam-macam ‘Urf’ Urf itu dapat dilihat dari obyeknya. 3. dan hakim dalam memutuskan perk ara. Dari sisi keabsahannya dalam pandangan syara‟. c. ber lawanan dengan ketentuan syari‟at. disyaratkan sebagai berikut : a. Dari sisi obyeknya.2. adalah kebiasaan masyarakat yang berka itan dengan perbuatan. Syarat-syarat Urf Urf yang menjadi tempat kembali nya para mujtahid dalam berijtihad dan berfatwa. Urf dapat dibagi pada dua macam yaitu: 1) A l-Urf al-Lafdhi adalah kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan lafaz atau ungka pan tertentu. tiada menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. dan dari keabsahannya. b.

Golongan Syafi‟iyyah dan Hanbaliyah. tetapi erat kaitannya dengan al-mashlahah al-mursalah. banyak sekali ayat yang mengukuhkan kebiasaan yang terdapat di tengah-tengah masyaraka t. bedanya kemaslahatan da lam urf ini telah berlaku sejak lama sampai sekarang. Mereka beralasan. Oleh karena itu. Golongan Hanafiyah dan Malikiyah berpendap at bahwa 'urf adalah hujah untuk menetapkan hukum. 5.c. Tidak ada dalil yang khusus untuk kasus tersebut dalam Alqur‟an atau hadits. Apabila kita perhatikan penggunaan 'Urf ini. Qaidah Fiqhiyah dari Urf Para ulama ushul fiqih merum uskan kaidah-kaidah fiqih yang berkaitan dengan urf. meskipun bertentangan dengan urf yang datang kemudian. bahkan pada hal-hal yang akan diberlakukan. keduanya tidak menganggap urf sebagai huja h atau dalil hukum syar‟i. Pemakaiannya tida k mengakibatkan dikesampingkannyanash syari‟ah dan tidak mengakibatkan kemadaratan juga kesempitan 4. e. Adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum b. Urf harus berlaku selamanya. ketika ayat ayat Alqur‟an turun. sedangkan dalam al-mashlah ah al-mursalah kemashlahatan itu bisa terjadi pada hal-hal yang sudah biasa berl aku dan mungkin pula pada hal-hal yang belum biasa berlaku. di antaranya: a. a. Kehujahan Urf Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama ushul fiqh tentang kehujahan 'urf. Mereka beralasan firman Allah b. bukanlah dalil yang berdiri sendiri . Tidak diingkari perubahan hukum disebabkan perubahan zaman dan tempat 55 . Maka tidak dibenarkan urf yang datang kemudian. d. orang yang berwakaf harus dibawakan kepada urf pada waktu mewak afkan.

Al-Syamsu: 8. Qaf: 16. karena itu boleh beramal dengannya. Al-An'am: 121. sedangkan yang datang dari Syaitan dan jiwa tidak bisa dijadikan hujah. itu disebut Ijtihad bukan disebut Ilham. Dan pula kadang yan g ada dalam hati itu dari Al-Nafs/jiwa seperti firman Allah dalam QS. Yang ditetapkan dengan urf sama dengan yang ditetapkan dengan nash. Sedangkan jika beristidlal / mencari petunjuk dalil dar i Al-Qur‟an dan Al-Sunnah. B. Pengertian Secara bahasa Ilham artinya = memberitahukan d an menempatkan. pengkajian dan mencari petunjuk dalil da ri Al-Qur‟an dan AlSunnah. 56 . Kehuj ahan Ilham itu menurut mereka hanyalah kemungkinan atau dugaan semata. ISTIDLAL ‘AL-ILHAM ‘ 1. Secara istilah menurut ulama Ushul Fiqih antara lain: Ilham adalah sesuatu yang di tuangkan ke dalam hati berupa ilmu yang mendorong u ntuk beramal tanpa petunjuk ayat dan tanpa memperhatikqan hujah. Akan tetapi. Macam-macam dan Kehujahan Ilham Sebagian kalangan Sufi berpendapat bahwa Ilham dapat di jadi kan hujah dalam menentukan hukum. 2. Yang baik itu menjadi urf sebagaimana yang disyaratkan itu menjadi syarat d. Dan hakek atnya tidak mungkin seseorang dapat membedakan di antara macam-macam Ilham terse but kecuali setelah melalui penelitian. Mereka ber alasan dengan firman Allah Swt dalam QS.c. P ara ahli ushul fiqih berpendapat ilham yang datang dari Allah dapat menjadi huja h. dan juga ada dari syaitan seperti pada QS. Jumhur ulama ushul fiqih berkata bahwa ilham tidak bisa dijadikan hujah dalam menentukan huk um syara‟ dan tidak boleh beramal dengan berdasar kepada Ilham karena yang ada di dalam hati itu adakalanya dari Allah seperti yang tertuang pada ayat Al-Syamsu: 8.

dan dari keabsahannya. Selain itu. Tugas Terstruktur 1. dari cakupannya. Rangkuman 'Adat adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan rasional. Ilham adalah sesuatu yang di tuangkan ke dalam hati berupa ilmu yang mendorong untuk beramal tanpa petunjuk ayat dan tanpa memperha tikqan hujah. Sedangkan 'Urf adalah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dan diterima oleh tabiat yang baik serta telah dilakukan oleh pendudu k sekitar Islam dengan ketentuan tidak bertentangan dengan nash syara. Dengan memperhatikan apa yang diungkapkan oleh para ulama di atas maka Ilham itu tidak bisa dijadikan hujah dan tidak boleh beramal dengan bersandar ke pada Ilham. Dengan memperhatikan apa yang diungkapkan oleh para ulama di atas maka Ilham itu tidak bisa dijadikan hujah dan tidak boleh beramal dengan bersand ar kepada Ilham. 'Urf mempunyai beberapa syarat yang harus dipenuhi. I‟lam itu bisa terjadi karena ada usaha sebelumnya dan kadang tidak melalui usaha sebelumnya yaitu dengan jalan tanbih/ gugahan. 'urf dan ilham secara bahasa dan istilah! 2.Imam Al-Jurjani berpendapat bahwa Ilham tidak bisa jadi hujah menurut para ulama ushul fiqih kecuali menurut kalangan orang sufi. 'urf jug a mempunyai beberapa qaidah. Sebutkan qaidah-qaidah fiqhiyyah dari 'urf ! 3. Al-Jurjani menyebutkan ada yan g disebut Ilham dan ada yang disebut i‟lam. 'Urf terbagi pada beberapa macam. Jelaskan pengertian 'adat. Perbedaan antara Ilham dan I‟lam sesungg uhnya Ilham itu lebih khusus daripada I‟lam. Ba gaimana kehujjahan 'urf dan ilham? 57 . Dilihat d ari obyeknya.

Qaidah pertama : . landasan kaidah dan kaidah-kaidah yang Artinya : Urusan itu tergantung kepada maksudnya.QAWAID FIQHIYYAH TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan m emahami qaidah dan qaidah masuk padanya. BAHASAN A. Landasan Qaidah 58 .

2. Qaidah kedua : Keyakinan tidak dapat dihapus dengan keragu-raguan Landasan Qaidah Qaidah-qaidah 1. Apa yang disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan menentukannya secara rinci.Qaidah-qaidah: 1. memberlakukan keadaan semula atas keadaan yang s ekarang 2. B. Pokok setiap peristiwa penetapannya menurut masa yang terdekat dengan kejadian 59 . Maksud –maksud lafadh tergantung kepada niat ora ng yang melafadhkan. jika ia menentukannya dan menyalah i maka tidak menjadi madharat. Pokok itu bebas tanggung jawab 3. 3. Menurut pokok. Apa yang tidak disyaratkan menghadapkan niat secara j umlah dan tidak disyaratkan untuk merincinya. jika ia menentukannya kemudia menyalahi maka menjadi madharat.

Rangkuman Arti kaidah arti kaidah raguan”. antara lain antara lain adala h: “urusan itu tergantung kepada maksudnya”. dan landasan kaidah antara lain hadis shahih riwayat Muslim. Sebutkan landasan kaidah 3. dan adalah: “keyakinan tidak dapat dihapu s dengan keraguSoal Terstruktur 1. Landasan kaidah antara lain QS. Ali Imr an: 144. Kaidah yan g termasuk dalam kaidah dan yang termasuk kaidah . Jelaskan pengertian kaidah 2. Se butkan kaidah yang masuk dalam kaidah ! dan dan dan ! ! 60 .

terpaksa. Qaidah ketiga : . Sebab-sebab timbulnya keringanan 1).QAIDAH FIQHIYYAH . bepergian. 2) kebodohan. . 7). 6). landasan kaidah. Macam-macam ke ringanan sakit . 5) 61 . 4) kesukaran. lupa. . dan kaidah yang masuk ke Kesukaran itu menarik kemudahan Landasan Qaidah . TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui kaidah dan dalamya. 3) kurang mampu. BAHASAN A.

3). keringanan keringanan keringanan kemurahan. Sesuatu itu bila sempit menjadi luas 2. keringanan pengganti. 5). keringanan pengguguran. Kemadharatan tidak dapat hilang dengan kemadharatan 2. mendahulukan. keringanan dengan perubahan.1). 7). keringanan mengakhirkan. Tidak ada haram karena darurat dan tidak ada makruh karena hajat / perlu. pengurangan. Sesuatu itu bila luas m enjadi sempit B. 4). Kemadhar atan membolehkan yang terlarang 3. 62 . Qaidah keempat : Artinya: Kemadharatan itu harus dilenyapkan Landasan Qaidah Qaidah-qaidah 1. 2). 6 ). Qaidah-qaidah 1.

Apabila berlawanan antara kemashlahatan dan kemafsadatan. diterima akal sehat. Di sini Qaidah-qaidah 1. 5. = setiap ketentuan yang dikeluarjan syara secara mutlak dan tidak ada pembatasan d alam syara dan dalam ketentuan bahasa. 7. dikembalikan kepada Urf. 8. C. Adat sesuatu yang berulang-ulan g tidak ada hubungan dengan akal. Qaidah kelima : maka harus Adat kebiasaan itu ditetapkan sebagai hukum Landasan Qaidah Perintahlah dengan ma‟ruf dan berpalinglah dari orang-orang bodoh Uruf itu ialah s esuatu yang dipandang baik. maka harus dipelihaha yang lebih berat madharatnya dengan melaksan akan yang lebih ringan dari padanya. Menolak mafsadat didahulukan dari pada mengambil manfaat. diperhatikan mana yang lebih kuat / rajih di antara keduanya.4. hendaklah diukur denganUkurannnya. Hajat (keperluan) kadang menempati tempat darurat 6. Apa yang diperbolehkan karena darurat. Apabila dua kerusakan salin g berlawanan. 63 .

Al-Baqarah: 185. kaidah . Al-Qashash: 77 . di antaranya adalah di antaranya adala h di antaranya adalah Kaidah yang termasuk ke dalam kaidah . dan kaidah ! . Sebutkan kaidah yang masuk dalam kaidah . Al-A'raf: 199. Sebutkan landasan kaidah ! 3 . arti . adalah: “kemadharatan itu harus dilenyapkan. Jelaskan pengertian kaidah ! 2. Soal Terstruktur 1. dan di antara adalah QS. Landasan kaidah landasan kaidah landasan kaidah di antaranya adalah QS. dan arti kaidah . yang termasuk kaidah dan yang termasuk ka idah . kaidah dan k aidah . Adat kebiasaan yang titerapkan dalam satu segi tidak dapat menempati tempat s yarat Rangkuman Arti kaidah kaidah adalah: “kesukaran itu menarik kemudahan”. kaidah dan kaidah 64 . adalah: “adat kebias aan itu ditetapkan sebagai hukum”. di antaranya adalah QS.2.

Abdul H amid Hakim. Ushul Fiqih 1. Mukhtar Yahya. Departemen Agama RI. Orba Sa kti. al-Harmain. Bandung. Muhammad al -Thahan. Bulan Bintang. Ushul al-Fiqh. Surabaya. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Abdul Wahab Khalaf. Syafi'i Karim. Munawar Khalil. DDII. 1981. 1992. Muhammad Abu Zahrah. Baerut. Jakarta: Akadem ika Pressindo.A. Dar al-Fikr. Al-Khudari. Ushul al-Fiqh. Al-Ma'arif. Ilmu Fiqh. Dkk. Bandung: Pustaka Setia. Sa'adiyah Putra. 1958. Kembali Kepada Alqur'an dan Al-Sunnah. Bangil: Yayasan Al-Muslimun. Qamarudin Saleh. Al-Ta‟rifat. Asbabun Nuzul. 1 998. 1986. Kaidah-kaidah Hukum Islam. Dar Al Kitab Al Arabi. 1995. 1993.Djazuli. Syekh Muhammad Ali As-Sayis. Diponegoro. Chaerul Uman. Al-Jurjani. 1985. Bandung 1993. Dasar-dasar Pembinaan Hu kum Fiqh Islami. Fiqi h Ushul Fiqh. Dar Fikr al-Arabi. H. 65 . As-Sulam dan Al-Bayan. Ushul Fiqih. Taisir Mushthalah al-Hadits. 1996. Jakarta. Abdul Qadir Hassan. Baerut 1992. Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam. 1972. 1977.

66 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful